Soskes kelompok 3 penelitian edit by radit 30112010

advertisement
SOSIOLOGI KESEHATAN
Gambaran Kondisi Kesehatan
pada Tiga Negara
(Studi Kasus : Kanada,
Indonesia, dan Somalia)
KELOMPOK 3
Alessia Anindiya M
(0806347580)
Ariyanto Aji P (0806347630)
Danar Pratomo (0806463800)
Emirsyah Muhammad Fauzan
(0806347744)
Mohana Pridayanti
(0806322666)
Raditia Wahyu Supriyanto
(0806347826)
Rukita Wustari W (0806347864)
DEPARTEMEN SOSIOLOGI
FAKUTAS ILMU SOSIAL dan ILMU
POLITIK
UNIVERSITAS INDONESIA
2010
BAB I
PENDAHULUAN
I.1
Latar Belakang Masalah
Pembangunan kesehatan merupakan investasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya
manusia. Dalam pengukuran Indeks Pembangunan Manusia, kesehatan adalah salah satu komponen
utama selain pendidikan dan ekonomi. Pada hakekatnta aspek yang perlu diperhatikan di dalam
investasi sumber daya manusia pada umumnya dan pekerja pada khususnya yaitu berkaitan dengan
kesehatan masyarakat. Usaha-usaha peningkatan derajat kesehatan penduduk secara langsung akan
meningkatkan kualitas dari masyarakat itu sendiri. Investasi di bidang kesehatan juga merupakan
investasi modal manusia yang akan meningkatkan produktivitas seseorang. Hal ini mendasari
pemikiran bahwa dengan status kesehatan yang baik akan meningkatkan kemampuan setiap individu.
Perbaikan gizi dan kesehatan sangat penting untuk meningkatkan produktivitas seseorng, oleh sebab
itu investasi yang dilaksanakan untuk perbaikan gizi dan kesehatan dapat dipandang sebagai salah satu
aspek human capital.
Berbagai kondisi mengenai status kesehatan dan keberhasilan pencapaian sasaran
pembangunan kesehatan tentunya sangat dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya yaitu faktor
sosial. Faktor sosial ini diantaranya terkait dengan perbedaan kesehatan berdasarkan kelas sosial, usia,
jenis kelamin, gaya hidup dan lain sebagainya. Hal ini dapat dilihat dari penelitian-penelitian yang
menemukan bahwa terdapat hubungan antara ketidaksamaan kedudukan dalam stratifikasi dengan
berbagai gejala sosial seperti kestabilan keluarga, keanggotaan dalam kelompok keagamaan, gaya
berbusana, dan sikap politik serta hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan seperti fertilitas, harapan
hidup, dan kesehatan jiwa dan lain sebagainya.
Berkaitan dengan hal tersebut, Fuch juga merumuskan bahwa kesehatan tidak hanya
ditentukan oleh ketersediaan sarana kesehatan dan tingginya penghasilan seorang individu, namun
juga sangat ditentukan oleh keputusan individu mengenai gaya hidup dan keputusan kolektif
mengenai pengelolaan lingkungan hidup. Oleh karena perbedaan faktor sosial di kalangan masyarakat
inilah yang kemudian menimbulkan penyakit menjadi tidak terdistribusi secara merata di kalangan
penduduk. Kondisi ini sejalan dengan asumsi dari Rochelle dan Kern yang melihat adanya hubungan
antara kesehatan dengan faktor sosial seperti kemiskinan, faktor ekonomi, dan pekerjaan. Hal ini
memunculkan suatu istilah yang dinamakan epidemiologi, yang mempelajari bagaimana kesehatan
didistribusikan di kalangan penduduk dan faktor apa yang menentukan kesehatan penduduk. Lebih
1
lanjut peneliti merumuskan social epidemiology untuk menggarisbawahi pentingnya faktor sosial
dalam pola penyakit.
I.2.
Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah di jelaskan di atas maka pertanyaan penelitian yang
peneliti ajukan yaitu Bagaimana gambaran kondisi kesehatan di tiga negara yaitu Kanada sebagai
negara maju, Indonesia sebagai negara berkembang dan Somalia sebagai negara miskin, dilihat dari
kelas sosial, gaya hidup, jenis kelamin, etnis, serta usia di setiap negara ?
I.3.
Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai di dalam penelitian ini adalah
1. Mengetahui bagaimana gambaran kesehatan di tiga negara yaitu Kanada sebagai negara maju,
Indonesia sebagai negara berkembang dan Somalia sebagai negara miskin yang berbeda dilihat
dari kelas sosial, gaya hidup, jenis kelamin, etnis, serta usia.
2. Mengetahui bagaimana gambaran perkembangan penyakit HIV dan AIDS di tiga negara yaitu
Kanada sebagai negara maju, Indonesia sebagai negara berkembang dan Somalia sebagai
negara miskin
I.4
Metode Penelitian
Di dalam sub-bagian ini akan di jelaskan mengenai metode penelitian yang dipergunakan oleh
peneliti di dalam penelitian serta berdasarkan berbagai aspek yang berkaitan dengan teknis penelitian
yang dilakukan. Pertama, terkait dengan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
pendekatan dengan metode deskriptif berdasarkan studi literatur yang diharapkan mampu memberikan
gambaran secara menyeluruh mengenai gambaran kesehatan di tiga negara yaitu Kanada sebagai
negara maju, Indonesia sebagai negara berkembang dan Somalia sebagai negara miskin.
Kedua, berdasarkan jenis penelitian kami melihat dalam empat dimensi, yaitu (1) berdasarkan
tujuan, penelitian ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan (menggambarkan) gambaran kesehatan
pada tiga negara yaitu Kanada sebagai negara maju, Indonesia sebagai negara berkembang dan
Somalia sebagai negara miskin yang dilihat dari kelas sosial, gaya hidup, jenis kelamin, etnis, serta
usia. (2) Berdasarkan manfaat, penelitian ini merupakan penelitian murni yang merupakan usaha
untuk menjelaskan pengetahuan yang amat mendasar mengenai dunia sosial, di mana dalam penelitian
ini berusaha untuk menjawab pertanyaan penelitian yang dilakukan. (3) Berdasarkan teknik
pengumpulan data penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu data yang bukan diusahakan
2
sendiri oleh peneliti melainkan diambil dari literatur dari buku yang dianggap relevan dan
dokumentasi.
I.5.Kerangka Konsep
I.5.1.
Social Epidemiology
Social Epidemiology merupakan kajian yang mempelajari penyebaran penyakit, Impairment, dan
status kesehatan masyarakat diberbagai kelompok sosial masyarakat dalam populasi masyakat yang
sama. Dalam awal kajian mengenai Social Epidemiology ini, ternyata merupakan hasil dari
perkembangan kajian epidemi (study of epidemics). yang melihat bagaimana epidemi dapat terjadi,
bagaimana penyakit bisa menyebar dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan sebagainya.
Social Epidemiology kini lebih menitikberatkan pada penyakit nonepidemi dan kecelakaan (seperti
kanker, tekanan darah, kecelakaan mobil, kecanduan narkoba/ alcohol, dan bunuh diri).
Berdasarkan epidemiologist, Social Epidemiology menitikberatkan pada mencari tahu apa pola
penyebaran penyakit, serta kapan dan dimana penyakit menghilang atau musnah. Sedangkan
berdasarkan pada mechanic, pandangan analisis Social Epidemiology berlandaskan pada sosiologi
medis. Pandangan dari sosiologi epidemi ini melihat penyakit dari agen-agen penyebaran penyakit di
konteks sosial yang besar, menimbulkan efek yang berbeda tergantung pada karakteristik aktor,
dicakupan sosiokultural yang lebih besar dan lingkungan fisiknya.
Tugas utama dari Social Epidemiology ini adalah untuk membuka karakteristik sosial masyarakat
yang dalam populasinya sedang dilanda suatu wabah penyakit. Kemudian dari sana Social
Epidemiology menghasilkan pemahaman yang lebih baik mengenai penyakit, terutama yang belum
diketahui penyebabnya. Sehingga darisini dapat dilihat, cakupan kajian Social Epidemiology ini tidak
semata-mata pada level individu saja, akan tetapi pada permasalahan penyakit di kelompok sosial atau
social aggregate (dimana individu-individu berbagi karakteristik sosial yang sama). Intinya, Social
Epidemiology ini kajiannya sama dengan alur seorang detektif, menginvestigasi dan mencari
petunjuk-petunjuk dari permasalahan criminal, yang kemudian merekonstruksi kembali hal-hal
kejadian untuk menjelaskan mengapa masyarakat dengan karakteristik sosial yang sama lebih mudah
terjangkit suatu penyakit.
Kajian Social Epidemiology juga mencakup studi tentang pola-pola penyakit serta pencarian
determinan-determinan penyakit tersebut. Dapat disimpulkan bahwa Social Epidemiology adalah ilmu
yang memepelajari tentang penyebaran penyakit serta determinan-determinan yang mempengaruhi
penyakit tersebut. Terdapat 3 elemen yang menjadi batasan-batasan Social Epidemiology yakni :
a. Mencakup semua penyakit
3
Epidemiologi mempelajari semua penyakit, baik penyakit infeksi maupun penyakit non
infeksi, seperti kanker, penyakit kekurangan gizi (malnutrisi), kecelakaan lalu lintas maupun
kecelakaan kerja, sakit jiwa dan sebagainya. Bahkan di negara-negara maju, epidemiologi ini
mencakup juga kegiatan pelayanan kesehatan.
b. Populasi
Apabila kedokteran klinik berorientasi pada gambaran-gambaran dari penyakit-penyakit
individu maka epidemiologi ini memusatkan perhatiannya pada distribusi penyakit pada
populasi (masyarakat) atau kelompok.
c. Pendekatan ekologi
Frekuensi dan distribusi penyakit dikaji dari latar belakang pada keseluruhan lingkungan
manusia baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Hal inilah yang dimaksud pendekatan
ekologis. Terjadinya penyakit pada seseorang dikaji dari manusia dan total lingkungannya.
Jawaban-jawaban atau pertanyaan-pertanyaan ini adalah merupakan faktor-faktor yang
menentukan terjadinya suatu penyakit. Dari hal ini dapat dilihat bahwa terjadinya atau penyebaran
suatu penyakit ditentukan oleh 3 faktor utama yakni agent, house, dan environment. Ini dalapat
dijelaskian melalui segitu Epidemologi.
1.5.2
Segitiga Epidemologi
Segitiga epidemiologi adalah modal utama yang harus dimiliki oleh seorang epideniolog. Ini
merupakan teori dasar yang terkenal sejak disiplin ilmu epidemiologi mulai digunakan di dunia1.
Dalam bidang epidemiologi terdapat sedikitnya 3 segitiga epidemiologi yang saling terkait satu sama
lain yaitu Agent, Host, dan Environment.
Gambar 1
Segitiga Epidemiologi
Host
Agent
1
Nur nasry noor,2000.Dasar epidemiologi,Rineka cipta,Jakarta. Hal.25-27
4
Environment
Segitga epidemiologi ini sangat umum digunakan oleh para ahli dalam menjelaskan kosep
berbagai permasalahan kesehatan termasuk salah satunya adalah terbentuknya suatu penyakit.
Terjadinya suatu penyakit sangat tergantung dari keseimbangan dan interaksi ke tiganya.
1.5.2.1 Agent
Agent ini merupakan penyakit yang disebabkan oleh berbagai unsur seperti unsur biologis
mikro organisme seperti virus, bakteri, jamur, parasit, protzoa dan metazoa, unsur nutrisi karena bahan
makanan yang tidak memenuhi standar gizi yang ditentukan, unsur kimiawi yang disebabkan karena
bahan dari luar tubuh maupun dari dalam tubuh sendiri seperti karbon monoksid, obat-obatan, arsen
dan pestisida, unsur fisika yang disebabkan oleh panas, benturan, serta unsur psikis atau genetik yang
terkait dengan keturunan. Demikian juga dengan unsur kebiasaan hidup seperti merokok, minumminuman berakohol, perubahan hormonal dan unsur fisioloigis seperti kehamilan, dan persalinan.2
1.5.2.2 Host
Host merupakan keadaan manusia yang sedemikan rupa sehingga menjadi faktor risiko untuk
terjadinya suatu penyakit. Faktor ini di sebabkan oleh faktor intrinsik. Faktor penentu yang biasanya
menjkadi faktor untuk timbulnya suatu penyakit adalah sebagai berikut :
1. Umur
Umur adalah variabel yang selalu diperhatikan didalam penyelidikan-penyelidikan epidemiologi.
Angka-angka kesakitan maupun kematian didalam hampir semua keadaan menunjukkan hubungan
dengan umur. Dengan cara ini orang dapat membacanya dengan mudah dan melihat pola kesakitan
atau kematian menurut golongan umur. Persoalan yang dihadapi adalah apakah umur yang dilaporkan
tepat, apakah panjangnya interval didalam pengelompokan cukup untuk tidak menyembunyikan
peranan umur pada pola kesakitan atau kematian dan apakah pengelompokan umur dapat
dibandingkan dengan pengelompokan umur pada penelitian orang lain.
Didalam mendapatkan laporan umur yang tepat pada masyarakat pedesaan yang kebanyakan
masih buta huruf hendaknya memanfaatkan sumber informasi seperti catatan petugas agama, guru,
lurah dan sebagainya. Hal ini tentunya tidak menjadi soal yang berat dikala mengumpulkan
keterangan umur bagi mereka yang telah bersekolah.. Untuk keperluan perbandingan maka WHO
menganjurkan pembagian-pembagian umur yaitu menurut tingkat kedewasaan, 0 - 14 tahun adalah
bayi dan anak-anak, 15 - 49 tahun adalah orang muda dan dewasa, dan 50 tahun keatas adalah orang
tua.
2
Heru subari,dkk,2004.Manajemen epidemiologi,Media presindo,Yogyakarta. Hal.15-16
5
2. Jenis Kelamin
Angka kesakitan lebih tinggi dikalangan wanita sedangkan angka kematian lebih tinggi dikalangan
pria terjadi pada semua jenis golongan umur. Dalam konteks Indonesia masih perlu dipelajari lebih
lanjut mengenai hal tersebut. Perbedaan angka kematian ini, dapat disebabkan oleh faktor-faktor
intinsik. Diantaranya pertama diduga meliputi faktor keturunan yang terkait dengan jenis kelamin atau
perbedaan hormonal sedangkan yang kedua diduga oleh karena berperannya faktor-faktor lingkungan
seperti pria lebih banyak mengisap rokok, minum minuman keras, candu, bekerja berat, berhadapan
dengan pekerjaan-pekerjaan berbahaya, dan hal lainnya. Dibandingkan dengan wanita yang cukup
jarang melakukan aktifitas-aktifitas yang merusak tubuh tersebut
Sebab-sebab adanya angka kesakitan yang lebih tinggi dikalangan wanita, dihubungkan dengan
kemungkinan bahwa wanita lebih bebas untuk mencari perawatan. Di Indonesia keadaan itu belum
diketahui. Terdapat indikasi bahwa kecuali untuk beberapa penyakit alat kelamin, angka kematian
wanita untuk berbagai penyakit lebih tinggi pada kalangan pria. Misalnya, penyakit kelenjar gondok,
kolesistitis, diabetes melitus cenderung terjadi pada wanita serta kanker serviks yang hanya terjadi
pada wanita atau penyakit kanker prostat yang hanya terjadi pada laki-laki atau yang cenderung terjadi
pada laki-laki seperti hipertensi, dan jantung.
3. Golongan Etnis
Berbagai golongan etnis dapat berbeda didalam kebiasaan makan, susunan genetika, gaya hidup
dan sebagainya yang dapat mengakibatkan perbedaan-perbedaan didalam angka kesakitan atau
kematian. Didalam mempertimbangkan angka kesakitan atau kematian suatu penyakit antar golongan
etnis hendaknya diingat kedua golongan itu harus distandarisasi menurut susunan umur dan kelamin
ataupun faktor-faktor lain yang dianggap mempengaruhi angka kesakitan dan kematian itu. Penelitian
pada golongan etnis dapat memberikan keterangan mengenai pengaruh lingkungan terhadap
timbulnya suatu penyakit.
1.5.2.3
Environment
Faktor lingkungan adalah faktor yang ketiga sebagai penunjang terjadinya penyakit, hali ini
Karen faktor ini datangnya dair luar atau bisas disebut dengan faktor ekstrinsik. Faktor lingkungan ini
dapat dibagi menjadi:
1. Lingkungan Biologis (flora & fauna)
Mikro organisme penyebab penyakit Reservoar, penyakit infeksi (binatang, tumbuhan). Vektor
pembawa penyakit umbuhan & binatang sebagai sumber bahan makanan, obat dan lainnya
2. Lingkungan Fisik
6
Yang dimaksud dengan lingkungan fisik adalah yang berwujud geografis dan musiman.
Lingkungan fisik ini dapat bersumber dari udara, keadaan tanah, geografis, air sebagai sumber
hidup dan sebagai sumber penyakit, Zat kimia atau polusi, radiasi, dll
3. Lingkungan Sosial Ekonomi
Yang termasuk dalam faktor lingkungan sosial ekonomi adalah sistem ekonomi yang berlaku yang
mengacu pada pekerjaan sesorang dan berdampak pada penghasilan yang akan berpengaruh pada
kondisi kesehatannya. Selain itu juga yang menjadi masalah yang cukup besar adalah terjadinya
urbanisasi yang berdampak pada masalah keadaan kepadatan penduduk rumah tangga, sistem
pelayanan kesehatan setempat, kebiasaan hidup masyarakat, yang dapat menimbulkan berbagai
masalah kesehatan terutama munculnya bebagai penyakit.
7
BAB II
DESKRIPSI HASIL TEMUAN
II.1
Kanada
II.1.1 Kondisi Demografi
Tiap negara memiliki populasi dan memiliki laporan terkait dengan populasinya, termasuk
Kanada. Kanada merupakan negara di benua Amerika yang bisa dikategorikan sebagai salah satu
negara maju. Menurut Population Division of the Department of Economic and Social Affairs of the
United Nations Secretariat, World Population Prospects: The 2008 Revision, populasi di Kananda
mengalami peningkatan dari tahun 2000 hingga tahun 2010. Pada tahun 2000 jumlah populasi di
Kanada sebesar 30.687.000. Pada tahun 2005 bertambah hingga mencapai angka 32.307.000.
Kenaikan jumlah populasi di Kanada terus terjadi hingga tahun 2010 yang mencapai 33.890.000. dari
jumlah tersebut diketahui sebaran berdasarkan jenis kelamin yaitu penduduk laki-laki sebanyak
15.196.000 pada tahun 2000, 16.000.000 pada tahun 2005, dan 16.787.000 pada tahun 2010.
Sedangkan penduduk perempuan sebanyak 15.491.000 pada tahun 2000, 16.307.000 pada tahun 2005,
dan 17.103.000 pada tahun 2010.
Selain sebaran penduduk berdasarkan jenis kelamin, persentasi penduduk berdasarkan usia
juga dijelaskan. Penduduk berusia 0-14 tahun dan di atas 60 tahun sebesar 51,8% pada tahun 2000,
52,5% pada tahun 2005, dan 54,3% pada tahun 2010. Sedangkan usia penduduk 15-24 tahun pada
tahun 2000 dan 2005 sebesar 13,5%, dan pada tahun 2010 sebesar 13,3%. Data juga menunjukkan
persentasi penduduk perempuan berusia 15-49 tahun pada tahun 2000 sebesar 51,4%, pada tahun 2005
sebesar 50,1%, dan pada tahun 2010 yaitu 48,2%
Informasi yang juga terdapat di data yaitu tentanng perubahan populasi per tahun di Kanada.
Perubahan populasi dari tahun 2000 hingga 2005 mencapai 324.000 dan dari tahun 2005 hingga 2010
mengalami penurunan menjadi 317.000. Angka nataalitas di Kanada pada tahun 2000 hingga 2005
sebesar 334.000 dan pada tahun 2005 hingga 2010 mencapai 352.000. sedangkan angka mortalitas
pada tahun 2000 hingga 2005 yaitu 227.000 dan pada tahun 2005 hingga 2010 yaitu 245.000.
Pertumbuhan penduduk di Kanada mengalami penurunan dari tahun 2000 hingga tahun 2010. Pada
tahun 2000 hingga 2005 pertumbuhan penduduknya mencapai 1,03%, sedangkan pada tahun 2005
hingga 2010 mengalami penurunan hingga mencapai angka 0,96%. Angka harapan hidup penduduk
laki-laki di Kanada mengalami peningkatan, pada tahun 2000 hingga 2005 angka harapan hidup
penduduk laki-laki Kanada yaitu 77,3 tahun, sedangkan pada tahun 2005 hingga 2010 mencapai 78,3
tahun. Begitu juga dengan penduduk perempuan di Kanada, pada tahun 2000 hingga 2005 yaitu 82,3
tahun, sedangkan pada tahun 2005 hingga 2010 mencapai 82,9 tahun.
8
II.1.2 Status Kesehatan
Kanada merupakan negara maju yang terletak di benua Amerika. Sebagai negara maju,
Kanada berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik dari berbagai hal bagi masyarakatnya,
termasuk kesehatan. Sebelum menjelaskan komitmen Kanada melayani kesehatan penduduknya,
dijelaskan tentang kondisi kesehatan penduduknya dari beberapa kelompok berikut.
Kondisi Kesehatan Anak di Kanada
Anak-anak di Kanada umumnya memiliki kesehatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu
mereka contohnya akses ke perawatan kehamilan, dan penggunaan terbatas pada obat-obatan dan
alkohol selama kehamilan, dan kondisi kesehatan sekitar kelahiran mereka.
Kondisi aktivitas
psikologis merupakan suatu hal yang cukup penting untuk pertumbuhan dan perkembangan
kesehatan. Hal ini menjadi suatu hal yang cukup penting sekali karena ketika pertumbuhan dan
perkembangan setiap anak tinggi akan berdampak jangka panjang terhadap keberlangsungan
kesehatan negara di masa depan.
Sekitar 85% hingga 90% penduduk berusia di atas 2 tahun pada populasi Kanada telah
diimunisasi lengkap terhadap difteri, tetanus pertusis, Hemophilius influenzae tipe b (Hib), polio,
gondok, rubella, dan campak. Kondisi tersebut membuat tingkat kesehatan anak di Kanada cukup baik
Kondisi Kesehatan Pemuda di Kanada
Kesehatan pemuda di Kanada dipengaruhi oleh gaya hidup yang dipilih. Pilihan gaya hidup
seperti penggunaan alkohol dan tembakau mempengaruhi kesehatan penduduk muda Kanada. Pada
tahun 1994-1995, 55% dari usia 12 tahun ke atas dilaporkan mengkonsumsi minuman beralkohol
setidaknya satu minuman per bulan. Sedangkan konsumsi tembakau secara keseluruhan menurun
sebesar 27% dari tahun 1970-1990, dan tetap stabil sejak tahun 1990. Kebanyakan perokok pemula
merupakan kelompok usia 12 tahun ke atas. Sebanyak 29% Kelompok perempuan usia 15-19-tahun
dan 26% kelompok laki-laki berusia 15-19 tahun adalah perokok teratur
Kondisi Kesehatan Orang Tua di Kanada
Para penduduk usia 65 ke atas sering mengalami keterbatasan aktivitas dan bergantung kepada
kelompok produktif. Sekitar 29% dari golongan berusia 65-69 tahun di Kanada mengalami sakit
kronis tua. Angka yang lebih tinggi sebesar 35% terdapat pada golongan berusia 75 tahun ke atas.
Sumber sakit kronis termasuk sakit kepala migrain, radang sendi, rematik, angina, dan penyakit
pembuluh darah. Jatuh dan cedera juga berdampak terhadap kesehatan dari para manula3
Peraturan dan Fasilitas Kesehatan di Kanada
3
http://www.paho.org/english/sha/prflcan.htm
9
Peraturan pemerintah Kanada mengatur tegas masalah kesehatan. Pemerintah berkomitmen untuk
memberikan layanan kesehatan yang terbaik bagi penduduk di Kanada tanpa memperhitungkan latar
belakang sosial ekonominya. Bagi kelompok yan gberasal dari kelas menengah ke bawah, pemerintah
menyediakan kemudahan bagi kelompok mengakses kesehatan. Dengan menggunakan lima isu pokok
layanan kesehatan4, pemerintah menyediakan layanan kesehatan bagi masyarakatnya. Kelima isu
pokok yang digunakan yaitu
-
Badan kesehatan provinsi harus nirlaba
-
Seluruh kebutuhan medis rakyat berusaha dipenuhi
-
Seluruh penduduk di provinsi harus terjamin kesehatannya
-
Jaminan harus tetap diberikan jika penduduk berpindah tempat atau sedang melakukan
perjalanan
-
Tidak ada halangan finansial untuk mendapatkan layanan kesehatan
Dengan komitmen tersebut, Kanada mencoba untuk
bertanggung jawab terhadap kesehatan
masyarakatnya. Sebagai salah satu negara maju Kanada terus mencoba menunjukkan keberhasilan
negaranya memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya termasuk tentang kesehatan.
Selain itu untuk fasilitas-fasilitas kesehatan, pemerintah Kanada telah memiliki sarana dan
prasarana kesehatan yang sangat baik. Kondisi fasilitas-fasilitas kesehatan di Kanada ini tergabung di
dalam sistem kesehatan Kanada (Canada’s Health Care System) dibawah Departemen Kesehatan
Kanada. Sistem kesehatan ini ditujukan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan kesehatan yang
ada di dalam masyarakat. Salah satu inovasi dari sistem kesehatan di Kanada yaitu program yang di
namakan sebagai eHealth. eHealth ini merupakan sebuah sistem kesehatan elektronik yang di
dalamnya di isikan mengenai data-data terkait dengan kesehatan pasien yang berobat di sebuah
institusi kesehatan tertentu di Kanada. Sistem ini terbentuk berjaringan antar institusi kesehatan,
sehingga setiap institusi kesehatan baik itu rumah sakit maupun institusi lainnya mampu mengakses
data-data kesehatan terkait dengan kondisi seorang pasien. Siste berjaringan ini tentunya sangat
memudahkan pemerintah, maupun masyarakat itu sendiri dalam melihat perkembangan kondisi
kesehatan.
Sistem teknologi elektronik yang berkembang di Kanada ini pun dapat melihat kadar tingkat
nutrisi dan komposisi makanan serta obat yang baik atau cukup untuk kesehatan seseorang. Setiap
makanan serta obat ini di masukan kedalam beberapa kelompok berdasarkan tingkat nutrisi dan
komposisi yang terbentuk. Makanan serta obat yang tidak memenuhi atau melebihi standar yang di
4
http://www.dpr.go.id/complorgans/commission/commission9/visit/K9_kunjungan_LAPORAN_KUNJUNGAN_KERJA_
LUAR_NEGERI_KOMISI_IX_DPR_RI_KE_KANADA_.pdf
10
tetapkan, dapat terus beredar di masyarakat, karena pada hakekatnya masyarakat lain yang nanti
menentukan makanan serta obat yang akan mereka pergunakan.
II.2
Indonesia
II.2.1 Kondisi Demografi
Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk yang tidak sedikit.
Menurut
Population Division of the Department of Economic and Social Affairs of the United Nations
Secretariat, World Population Prospects: The 2008 Revision, populasi di Indonesia mengalami
peningkatan dari tahun 2000 hingga tahun 2010. Pada tahun 2000 jumlah populasi di Indonesia
sebesar 205.280.000. Pada tahun 2005 bertambah hingga mencapai angka 219.210.000. Jumlah
populasi di Indonesia terus meningkat hingga tahun 2010 yang mencapai 232.517.000. Dari jumlah
tersebut diketahui sebaran berdasarkan jenis kelamin yaitu penduduk laki-laki sebanyak 102.675.000
pada tahun 2000, 109.513.000 pada tahun 2005, dan 116.062.000 pada tahun 2010. Sedangkan jumlah
penduduk perempuan sebanyak 102.605.000 pada tahun 2000, 109.697.000 pada tahun 2005, dan
116.455.000 pada tahun 2010.
Selain sebaran penduduk berdasarkan jenis kelamin, dijelaskan juga persentasi penduduk
berdasarkan usia. Penduduk berusia 0-14 tahun pada tahun 2000 sebesar 30,3%, pada tahun 2005
sebesar 28,4%, dan pada tahun 2010 sebesar 26,6%. Sementara penduduk berusia di atas 60 tahun
sebesar 13,1% pada tahun 2000, pada tahun 2005 sebesar 14,4%, dan pada tahun 2010 sebesar
15,8%. Sedangkan penduduk berusia 15-24 tahun pada tahun 2000 sebesar 20,1%, tahun 2005 sebesar
19,0%, dan pada tahun 2010 sebesar 17,6%. Data juga menunjukkan persentasi penduduk perempuan
berusia 15-49 tahun pada tahun 2000 sebesar 54,6%, pada tahun 2005 sebesar 19,0%, dan pada tahun
2010 yaitu 17,6%.
Selain informasi di atas, terdapat juga data tentang perubahan populasi per tahun di Indonesia.
Perubahan populasi dari tahun 2000 hingga 2005 mencapai 2.786.000 dan dari tahun 2005 hingga
2010 mengalami penurunan menjadi 2.661.000. Angka kelahiran di Indonesia pada tahun 2000 hingga
2005 sebesar 4.395.000 dan pada tahun 2005 hingga 2010 mengalami penurunan menjadi 4.236.000.
Sedangkan angka kematian pada tahun 2000 hingga 2005 yaitu 1.409.000 dan pada tahun 2005 hingga
2010 mengalami peningkatan yaitu 1.429.000. Pertumbuhan penduduk di Indonesia mengalami
penurunan dari tahun 2000 hingga tahun 2010. Pada tahun 2000 hingga 2005 pertumbuhan
penduduknya mencapai 1,31%, sedangkan pada tahun 2005 hingga 2010 mengalami penurunan
hingga mencapai angka 1,18%. Angka harapan hidup penduduk laki-laki di Indonesia mengalami
peningkatan, pada tahun 2000 hingga 2005 angka harapan hidup penduduk laki-laki Indonesia yaitu
66,7 tahun, sedangkan pada tahun 2005 hingga 2010 mencapai 68,7 tahun. Begitu juga dengan
11
penduduk perempuan di Indonesia, pada tahun 2000 hingga 2005 yaitu 70,5 tahun, sedangkan pada
tahun 2005 hingga 2010 mencapai 72,7 tahun.
II.2.2 Status Kesehatan
Beberapa pihak seperti pemerintah, masyarakat, dan swasta telah melakukan berbagai upaya
kesehatan, seperti pelayanan kesehatan dasar (meliputi pelayanan kesehatan ibu dan anak, pelayanan
keluarga berencana, pelayanan imunisasi), pelayanan kesehatan rujukan (meliputi pelayanan
kesehatan di rumah sakit, pelayanan jaminan kesehatan masyarakat), pencegahan dan pemberantasan
penyakit (meliputi pengendalian penyakit polio, penyakit TB-Paru, penyakit ISPA, penyakit
HIV/AIDS dan PMS, penyakit DBD, penyakit malaria, penyakit kusta, penyakit filariasis, penyakit
Avian Influenza), perbaikan gizi masyarakat (meliputi pemberian kapsul vitamin A, pemberian tablet
besi), dan pelayanan kesehatan dalam situasi bencana.5 Pelayanan kesehatan tersebut tentunya
ditujukan kepada orang sakit.
Selain upaya kesehatan, di Indonesia juga terdapat beberapa macam sarana kesehatan seperti
Puskesmas, rumah sakit, Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM), sarana produksi dan
distribusi sediaan dan farmasi alat kesehatan, dan institusi pendidikan tenaga kesehatan.6 Menurut data
dari Departemen Kesehatan, jumlah Puskesmas di Indonesia sampai dengan akhir tahun 2008 adalah
sebanyak 8.548 unit dan jumlah rumah sakit sebanyak 1.372 unit terdiri dari Rumah Sakit Umum
(RSU) 1.080 unit dan Rumah Sakit Khusus (RSK) 292 unit. Rumah sakit tersebut dikelola oleh
Depatemen Kesehatan, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, TNI/Polri, departemen
lain/BUMN, dan sektor swasta. Sedangkan UKBM terdiri dari Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu),
Polindes (Pondok Bersalin Desa), Poskesdes (Pos Kesehatan Desa), dan POD (Pos Obat Desa) dan
institusi yang mengelola pendidikan tenaga kesehatan (Diknakes) adalah institusi pendidikan tenaga
kesehatan terdiri dari institusi politeknik kesehatan (Politektes) dan institusi Diknakes Non Poltektes.
Sarana kesehatan yang terakhir yaitu sarana produksi dan distribusi sediaan dan farmasi alat
kesehatan, yang fungsinya adalah untuk melihat kemampuan ketersediaan obat dan alat kesehatan
bagi masyarakat.
Walaupun ada berbagai macam upaya dan sarana kesehatan, namun tetap saja di Indonesia
terdapat masalah kesehatan. Salah satu masalah kesehatan yang sering diperbincangkan adalah gizi
buruk. Berdasarkan data Departemen Kesehatan tahun 2008, secara umum prevalensi gizi buruk di
Indonesia adalah 5,4%, gizi kurang sebesar 13,0%, serta gizi buruk dan kurang sebesar 18,4%.
5
Profil Kesehatan Indonesia 2008,
http://www.depkes.go.id/downloads/publikasi/Profil%20Kesehatan%20Indonesia%202008.pdf, diakses pada tanggal 28
November 2010, pada pukul 19.18 WIB
6
Ibid
12
Walaupun prosentase tersebut terlihat cukup bagus, tapi persebaran kasus gizi buruk tidak merata di
setiap provinsi. Artinya, ada beberapa provinsi di Indonesia yang kasus gizinya cukup parah.
II.3
Somalia
II.3.1 Kondisi Demografi
Somalia berada pada ujung benua Afrika yang berbatasan langsung dengan Etiopia. Somalia
sering dujuluki sebagai negara tanduk Afrika karena letak negaranya yang berada di ujung tengah
benua Afrika dan bentuk fisik negaranya yang menyerupai tanduk yang menonjol.
Data PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) menunjukkan berbagai fakta perihal demografi
kependudukan negara Somalia sebagai berikut:7 jumlah populasi penduduk somalia secara
keseluruhan pada tahun 2010 menunjuk pada angka sekitar 9.359 juta jiwa dengan tingkat
pertumbuhan penduduk sebesar 2,27 %. Untuk populasi klasifikasi berdasarkan jenis kelamin sendiri,
Somalia memiliki populasi laki-laki sebesar 4.642 juta jiwa, dan perempuan sebesar 4.717 juta jiwa.
Sedangkan pada klasifikasi populasi berdasarkan kelompok usia, berdasarkan pada populasi secara
keseluruhan, dapat diketahui bahwa alokasi presentase populasi tertinggi dipengang oleh penduduk
kelompok umur 5-14 tahun, yaitu dengan 27,1 % dari seluruh populasi; disusul dengan kelompok
umur 15-24 tahun, yaitu dengan 18,6 % dari total seluruh populasi, dan penduduk dengan kelompok
umur 0-4 tahun dengan presentase populasi sebesar 17,8 % dari keseluruhan populasi. Sedangkan
pada penduduk kelompok umur 60 dan 60 tahun ke atas, presentase populasi hanya sebesar 7,3 % dari
keseluruhan populasi.
Lebih lanjut, data tersebut menunjukkan bahwa terdapat sekitar 392 ribu kelahiran dan sekitar
141 ribu kematian setiap tahunnya pada penduduk Somalia secara keseluruhan. Angka kelahiran kasar
penduduk Somalia menunjukkan angka sebesar 44,2 % pada setiap 1000 populasi, yang berjarak
cukup jauh dengan angka kematian kasar yang merujuk pada angka 15,9 % pada tiap 1000 populasi.
Harapan hidup pada penduduk Somalia cenderung kecil. Pada keseluruhan secara umum, ratarata tingkat harapan hidup penduduk Somalia adalah 49,6 tahun. Namun apabila tingkat harapan hidup
diklasifikasikan berdasarkan jenis kelamin, angka harapan hidup bagi perempuan menginjak angka
yang lebih tinggi, yaitu sektitar 51,0 tahun, yang dibandingkan dengan angka harapan hidup laki-laki
yang hanya sebesar 48,2 tahun.
7
Population Division of The Department of Economic And Social Affairs of The United Nations Secretariat, World
Population Prospect: The 2008 Revision, http://esa.un.org/unpp, diakses pada tanggal 23 November 2010 Pukul 02.31
WIB
13
Profil dari penduduk Somalia, yang didapatkan dari Index Mundi,8 menunjukkan bahwa
penduduk Somalia yang mampu membaca dan menulis hanya sebesar 37,8%. Penduduk Somalia
secara umum terdiri dari etnik Somali, Buntu, dan etnik lain (termasuk Arab), dengan presentase pada
Somali sebesar 85% dan pada etnik lain hanya 15% saja. Agama yang mendominasi di Somalia adalah
Islam Sunni. Namun begitu, penduduk Somalia masih kental dengan hal-hal mistik yang mereka
percayai, seperti penyembahan patung yang dianggap suci, penyimpanan dan pemujaan jimat-jimat
yang mereka percayai dapat membawa keberuntungan duniawi bagi mereka.9
Struktur dan karakteristik masyarakat Somalia sendiri cukup unik. Mereka membagi
masyarakat ke dalam berbagai kelas sosial dengan indikator berupa kepemilikan hewan ternak seperti
domba dan unta, juga seberapa banyak bahan makanan yang mereka miliki, dan seberapa sering
mereka mengadakan pesta perjamuan makan.10 Semakin banyak ternak dan bahan makanan yang
dimiliki, serta semakin sering mereka mengadakan perjamuan makan, maka kelompok masyarakat
tersebut akan dipandang sebagai masyarakat kelas atas.
Secara horisontal, penduduk Somalia terbagi dalam banyak klan. Heterogenitas klan ini
membuat mereka cenderung individualis dan memperbesar potensi konflik antar klan.11 Potensi
konflik ini diperparah dengan konstruksi masyarakat Somalia yang menganggap diri mereka
merupakan pejuang, khususnya bagi para laki-laki, sehingga para laki-laki sering berlatih dan
membebankan urusan rumah tangga secara penuh kepada pihak perempuan.12
Apabila kita menyinggung keadaan fisik Somalia, maka dapat kita katakana bahwa negara
Somalia merupakan negara yang dapat dikategorikan sebagai negara yang kering, dengan hanya
memperoleh hujan tidak lebih dari 100 mm per tahun.13 Hal ini menyebabkan penduduk Somalia
cenderung hidup berpindah-pindah untuk mencari sumber air.
II.3.2 Status Kesehatan
Berdasarkan pemaparan yang tertera pada situs resmi United Nations Children's Fund
(UNICEF), Somalia, sebuah negara di Benua Afrika yang berbatasan langsung dengan Ethiopia dan
Kenya, termasuk dalam kategori negara yang masih mengalami kendala yang besar dalam
mewujudkan kehidupan yang sehat.
8
Somalia Demographics Profile 2010, http://www.indexmundi.com/somalia/demographics_profile.html, diakses pada
tanggal 29 November 2010, pada pukul 22.54 WIB.
9
Orang Somali di Somalia, http://www.sabda.org/misi/orang_somali_di_somalia, diakses pada tanggal 29 November
2010, pada pukul 22.45 WIB.
10
Ibid.
11
Ibid.
12
Ibid.
13
Somalia Demographics Profile 2010, Op.cit.
14
Hal tersebut terbukti dengan tingginya tingkat mortalitas pada kalangan balita, anak-anak, dan
perempuan dewasa. Penyebab kematian tersebut dapat disebabkan oleh adanya keberadaan beberapa
penyakit yang "mematikan" seperti tuberculosis, campak, diare yang disebabkan karena dehidrasi,
malaria, tetanus, dan terutama penyakit-penyakit yang menyerang sistem reproduksi perempuan, yang
kemudian mengakibatkan tingkat mortalitas yang tinggi pada perempuan dewasa14.
Dapat dikatakan juga bahwa kondisi alam di Somalia yang cukup "kering", sehingga
ketersediaan air bersih tidak maksimal, dan ketersediaan bahan pangan yang minim serta tingkat
kesadaran akan kebersihan yang rendah, juga turut mempengaruhi beragamanya jenis-jenis penyakit
dan tingginya tingkat mortalitas di Somalia15. Adapun jenis penyakit yang berkembang di Somalia
dengan subur setidaknya adalah: hepatitis A dan E, demam berdarah, malaria, schistosomiasis, rabies,
dan diare.16
Situs resmi UNICEF juga memaparkan bahwa dibandingkan dengan negara-negara di Benua
Afrika lainnya, Somalia memiliki tingkat kewaspadaan yang rendah terhadap penyakit-penyakit
"berbahaya", seperti HIV/AIDS. Rendahnya tingkat kewaspadaan tersebut disebabkan karena adanya
keterbatasan akses informasi, sehingga penduduk Somalia itu sendiri tidak paham mengenai tindaktindak pencegahan dan risiko dari penyakit-penyakit yang berbahaya seperti HIV/AIDS tersebut17.
Jumlah penderita HIV/AIDS di Somalia itu sendiri berdasarkan data pada tahun 2008 yang
dimiliki oleh University of California, San Fransisco, adalah 24.000 jiwa dari total penduduk Somalia
pada saat itu, yaitu 9,1 juta jiwa18.
14
United Nations Children's Fund, "Somalia: Health Issue", www.unicef.org/somalia/health.html, diakses pada tanggal 28
November 2010, pada pukul 20.03 WIB
15
Regional Health Systems Observatory - EMRO, "Health Status and Demographics",
gis.emro.who.int/HealthSystemObservatory/PDF/Somalia/Health%20status%20and%20demographics.pdf, diakses pada
tanggal 28 November 2010, pada pukul 20.10 WIB
16
Somalia Demographics Profile 2010, Op.cit.
17
United Nations Children's Fund, "Somalia: Communication, Protection, and Participation Impact: HIV/AIDS",
http://www.unicef.org/somalia/cpp_135.html, diakses pada tanggal 28 November 2010, pada pukul 20.15 WIB
18
University of California, San Fransisco, HIV InSite, "HIV/AIDS in Somalia", hivinsite.ucsf.edu/global?page=cr09-so00, diakses pada tanggal 28 November 2010, pada pukul 20.22 WIB
15
BAB III
ANALISA
III.1
Hubungan antara Epidemiologi Sosial dengan Kesehatan
Di dalam pembahasan mengenai epidemiologi sosial tentunya tidak dapat terlepas pada hal-hal
yang terkait dengan pertumbuhan serta perkembangan masyarakat yaitu usia, jenis kelamin, ras/etnis,
dan status sosial ekonomi. Kajian Social Epidemiology juga mencakup studi tentang pola-pola
penyakit serta pencarian determinan-determinan penyakit tersebut. Untuk
menganalisa perilaku
kesehatan dalam tiga negara yang memiliki kondisi sosial yang berbeda berdasarkan hasil studi
literatur, maka peneliti akan menjelaskannya dengan menggunakan segitiga epidemologi. Segitiga
epidemiologi ini tentunya sering dipergunakan oleh para ahli dalam menjelasakan konsep berbagai
permasalahan kesehatan termasuk. Hal ini sangat komprehensif dalam memprediksi suatu penyakit.
Keterkaitan antara agent, host dan environment ini dapat dilihat dari kondisi kesehatan di
setiap negara yang memiliki latar belakang berbeda. Pertama yaitu agent, penyakit-penyakit yang
muncul di negara-negara ini salah satunya dipengaruhi oleh unsur biologis yang dikarenakan oleh
mikro organisme. Akibat dari penyakit yang berasal dari virus atau bakteri ini biasanya berupa sakit
flu, sakit perut akibat bakteri, dan lain-lain. Selain itu, suatu hal yang tidak dapat di kesampingkan
bahwa penduduk Kanada memiliki gaya hidup yang tidak baik untuk kesehatan diantaranya seperti
merokok, dan minum minuman beralkohol.
Pilihan gaya hidup seperti penggunaan alkohol dan tembakau mempengaruhi kesehatan
penduduk muda
Kanada. Pada tahun 1994-1995, 55% dari usia 12 tahun ke atas dilaporkan
mengkonsumsi minuman beralkohol setidaknya satu minuman per bulan. Sedangkan konsumsi
tembakau secara keseluruhan menurun sebesar 27% dari tahun 1970-1990, dan tetap stabil sejak tahun
1990. Kebanyakan perokok pemula merupakan kelompok usia 12 tahun ke atas. Sebanyak 29%
Kelompok perempuan usia 15-19-tahun dan 26% kelompok laki-laki berusia 15-19 tahun adalah
perokok teratur.
Selanjutnya hal kedua yaitu Host, berdasarkan hasil temuan data melalui studi literatur
ternyata dalam kelas bawah maupun pada kelas atas, informasi yang peneliti dapat bahwa umur yang
semakin tua akan semakin rentan terkena penyakit dibandingkan orang yang masih umur muda. Di
Kanada para penduduk usia 65 ke atas sering mengalami keterbatasan aktivitas dan bergantung
kepada kelompok produktif. Sekitar 29% dari golongan berusia 65-69 tahun di Kanada mengalami
sakit kronis. Angka yang lebih tinggi sebesar 35% terdapat pada golongan berusia 75 tahun ke atas.
16
Sumber sakit kronis termasuk sakit kepala migrain, radang sendi, rematik, angina, dan penyakit
pembuluh darah. Jatuh dan cedera juga berdampak terhadap kesehatan dari para manula. 19
Selanjutnya ketiga yaitu environment. Di negara maju seperti Kanada penyakit-penyakit yang
cukup berkembang di negara ini merupakan penyakit dari virus atau bakteri. Dalam prosesnya
hubungan-hubungan ini terjadi saling terkait satu sama lainnya sehingga membentuk sebuah pola
hubungan yang mendukung satu sama lainnya. Sebagai sebuah negara yang memiliki tingkat
pendapatan perkapita yaitu U$ 45,051.105 Kanada menjadikan kesehatan sebagai salah satu pilar
utama di dalam pembangunan. Pendapatan perkapita yang cukup besar ini menjadikan kehidupan
masyarakat di negara ini cukup terjamin dari segi pemenuhan makanan mereka. Sehingga, dampaknya
juga terkait dengan kesehatan. Dalam hal pemenuhan gizi untuk anak-anak di Kanada umumnya
memiliki kesehatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu mereka.
Kelas sosial mereka yang cukup tinggi membuat mereka mulai mencegah penyakit tersebar
dari awal dengan memberikan imunisasi lengkap terhadap difteri, tetanus pertusis, Hemophilius
influenzae tipe b (Hib), polio, gondok, rubella, dan campak. Kondisi lingkungan fisik yang ada di
Kanada seperti cuaca yang cukup dingin membuat penyakit-penyakit seperti Hemophilius influenzae
tipe b (Hib), polio, gondok, rubella, dan campak sering menerpa masyarakat disana termasuk anakanak.
Implikasi dari tingkat pertumbuhan industri yang maju juga berdampak di dalam negara
seperti Kanada. Pabrik-pabrik serta banyaknya kendaraan bermotor menyebabkan polusi udara yang
tidak dapat terelakan, sehingga banyak individu yang mengalami penyakit atau kesehatannya
terganggu karena udara di sekitar rumah menjadi kotor.
Pandangan bahwa kesehatan sebagai pilar kehidupan ini diikuti dengan pembangunan fasilitasfasilitas kesehatan yang sangat menunjang bagi kesehatan masyarakat. Fasilitas-fasilitas yang cukup
inovatif yaitu penggunaan sistem teknologi elektronik untuk melihat kadar nutrisi dan komposisi
makanan yang beredar di masyarakat. Sehingga hal ini dapat dilihat hasil nya bahwa angka harapan
hidup penduduk laki-laki di Kanada mengalami peningkatan setiap tahunnya, pada tahun 2000 hingga
2005 angka harapan hidup penduduk laki-laki Kanada yaitu 77,3 tahun, sedangkan pada tahun 2005
hingga 2010 mencapai 78,3 tahun. Begitu juga dengan penduduk perempuan di Kanada, pada tahun
2000 hingga 2005 yaitu 82,3 tahun, sedangkan pada tahun 2005 hingga 2010 mencapai 82,9 tahun.
Di Indonesia, juga terdapat hubungan antara epidemiologi sosial dengan kesehatan. Variabelvariabel sosial di dalam epidemiologi sosial terkait dengan kesehatan di Indonesia. Misalnya saja
umur. Ada penjabaran mengenai hubungan yang terjadi antara harapan hidup dan umur. Pada tahun
2000-2005, besar angka harapan hidup adalah 68,6 tahun. Sedangkan angka harapan hidup pada tahun
19
http://www.paho.org/english/sha/prflcan.htm
17
2005-2010 adalah 70,7 tahun. Hal ini bisa terjadi karena ada peningkatan jumlah upaya dan fasilitas di
bidang kesehatan, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta.20 Sama halnya dengan umur,
jenis kelamin juga berhubungan dengan kesehatan. Bahwa angka harapan hidup perempuan lebih
besar daripada laki-laki. Angka harapan hidup perempuan pada tahun 2005-2010 sebesar 72,7 tahun,
sedangkan angka harapan hidup laki-laki hanya sebesar 68,7 tahun. Angka harapan hidup laki-laki
lebih rendah daripada perempuan karena dalam keluarga, laki-laki merupakan tulang punggung
keluarga sehingga dituntut untuk bekerja lebih keras ketimbang perempuan. Untuk etnisitas juga
sama. Dari data Umur Harapan Hidup (UHH) dari Departemen Kesehatan, terlihat bahwa Provinsi DI
Yogyakarta memiliki UHH paling tinggi, disusul dengan DKI Jakarta dan Sulawesi Utara. Sedangkan
NTB menempati UHH terendah. Dari data tersebut, secara tidak langsung kita bisa menarik
kesimpulan bahwa bahwa etnis Jawa (etnis mayoritas yang tinggal di DI Yogyakarta) memiliki UHH
tertinggi. Sedangkan etnis lokal NTB memiliki UHH terendah. Maka secara tidak langsung, etnisitas
memiliki hubungan dengan harapan hidup. Untuk status sosial ekonomi tidak jauh berbeda. Bahwa
orang yang memiliki penghasilan rendah sulit mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak.21 Hal
tersebut berbeda dengan orang yang berpenghasilan tinggi. Mereka memiliki akses untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak, bahkan mewah.
Kita juga bisa menjelaskan keterkaitan antara host, agent, dan environtment. Bahwa penduduk
Indonesia dari segalam macam usia, jenis kelamin, dan etnis dapat terganggu kesehatannya karena
melakukan gaya hidup tertentu dan tinggal di lingkungan yang kurang baik. Seperti yang telah
dijelaskan, sebagian penduduk Indonesia melakukan gaya hidup yang negatif seperti merokok, minum
minuman beralkohol, dan kurang makan buah dan sayur. Penduduk Indonesia juga terganggu
kesehatannya dan bahkan terserang penyakit karena tinggal di lingkungan yang tidak baik, seperti
lingkungan yang terdapat vektor penyakit dan pencemaran air. Pencemaran air mengakibatkan air
yang biasa mereka konsumsi (untuk minum dan mandi) menjadi tidak layak lagi untuk dikonsumsi.
Jam kerja yang lamanya melebihi standar dan penghasilan di bawah UMR juga berdampak pada
kondisi kesehatan mereka.
Tingkat kesehatan yang rendah di Somalia menyebabkan mudahnya wabah penyakit epidemic
mewabah disana. Malaria merupakan salah satu penyakit yang mewabah di banyak daerah di Somalia.
Selain itu ada juga wabah kolera di Mogadishu dan Kismayo di selatan22. Data dari
WHO
menyebutkan jumlah staf medis yang beroperasi di Somalia hanya berjumlah 1.270 orang di seluruh
20
http://www.bengkuluekspress.com/ver3/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=26&artid=14169, diakses pada
tanggal 30 November 2010 pada pkul 22.39 WIB
21
Holid Jazuli, Ketidakadilan Pelayanan Kesehatan, http://sehatkita.blog.com/2009/02/15/ketidakadilan-pelayanankesehatan/, diakses pada tanggal 30 November 2010 pada pukul 22.40 WIB
22
http://travel.state.gov/travel/cis_pa_tw/cis/cis_1023.html#medical diakses pada tanggal 29 November 2010 pukul
10.43 PM
18
negeri ini dan termasuk 250 dokter. Jumlah staf medis itu tidak cukup untuk mengatasi masalah
kesehatan di negara ini. WHO juga mengatakan orang-orang baru-baru ini terluka dalam pertempuran
dalam negeri terbaru di Mogadishu tidak mendapatkan perawatan medis yang diperlukan23.
Pandangan dari sosiologi epidemi ini melihat penyakit dari agen-agen penyebaran penyakit di konteks
sosial yang besar, menimbulkan efek yang berbeda tergantung pada karakteristik aktor, dicakupan
sosiokultural yang lebih besar dan lingkungan fisiknya. Berdasarkan segitiga epidimiologi penyakit
maka berdasarkan status dan demografi kesehatan di Somalia maka kita bisa melihatnya dari tiga
aspek, yaitu (1) Agent, Keadaan fisik Somalia yang dapat dikategorikan sebagai negara yang kering,
dengan hanya memperoleh hujan tidak lebih dari 100 mm per tahun.24 Menyebabkan beberapa
penduduknya terpaksa meminum air yang telah ditampung dan dikotori oleh beberapa bakteri-bakteri
penyakit endemik seperti diare atau malaria. Kebiasaan hidup para laki-laki di Somalia yang ingin
selalu berperang menyebabkan angka kematian karena perang saudara sangat tinggi disana, yang
terluka juga tidak dapat disembuhkan karena sangat kurangnya infrastruktur kesehatan di Somalia
meskipun bantuan internasional terus membantu.
Kurangnya infrastruktur kesehatan di Somalia membuat para wanitanya mengalami kesulitan
dalam melahirkan yang ditunjukan dengan data tingkat kematiaan di saat melahirkan yang cukup
tinggi, selain itu penyakit di organ reproduktif juga kerap diderita wanita di Somalia. Selebihnya
banyaknya genangan air atau tempat penampungan air yang kotor di kota-kota seperti Mogadishu dan
kota-kota lainnya di Somalia turut menjadi penyebab penyakit seperti malaria dan kolera. (2) Host,
Tingkat harapan hidup yang rendah baik perempuan maupun laki-laki merupakan salah satu contoh
bagaimana umur merupakan salah satu komponen penting dalam melihat epidemiologi penyakit.
Di Somalia sendiri harapan hidup masyarakat disana rata-rata hanya kurang dari 50 tahun atau
termasuk kedalam kategori merah jika dilihat pada peta penyebaran tingkat harapan hidup yang
dikeluarkan oleh WHO (dapat dilihat pada gambar), rendahnya tingkat harapan hidup di Somalia
berbanding lurus dengan data yang menyebutkan bahwa hanya 7,3 % dari total populasi di Somalia
berumur diatas 60 tahun.
Kebiasaan perang antar etnis (klan)di Somalia menyebabkan jumlah
kematian yang cukup besar dari total populasi, sementara yang luka akibat perang menjadi tidak dapat
disembuhkan karena infrastruktur yang tidak memadai.
23
24
http://www.banadir24.com/news/4455/who-deplores-poor-health-conditions-in-somalia.html
Somalia Demographics Profile 2010, Op.cit.
19
Gambar 1
Peta Penyebaran Angka Harapan Hidup
(3) Environment ; kehidupan lingkungan fisik di Somalia yang tandus meskipun berada pada area
tropis menyebabkan masyarakat Somalia lebih memilih berjalan 20 km untuk mencari air bersih untuk
kebutuhan hidup dan yang lainya lebih memilih untuk menjual apapun yang dimiliki untuk membeli
air. Bahkan menurut laporan dari organisasi World Water Day hanya 29% dari total populasi di
Somalia yang memiliki akses untuk air bersih25.
Kesulitan mencari air bersih menyebabkan
banyaknya penyakit yang muncul karena kekurangan air bersih disana, seperti diare, kolera dan lainlain.
Gambar 2
Kondisi Masyarakat Somalia
Secara segitiga penyebaran penyakit epidemiologi di Somalia berpusat pada satu isu yang menguat
yaitu perang saudara antar klan di sana yang tiada henti terus bergantian menyerang satu sama lain,
hal ini merupakan gaya hidup yang ditemukan disana, berperang bagaikan sebuah aktifitas sehari-hari
klan-klan yang ada di Somalia.
Sehingga tidak ada waktu bagi pemerintah yang baru untuk
memperhatikan isu kesehatan sementara pada politiknya pemerintah Somalia terus dikudeta berulangulang oleh para pemimpin klan-klan disana.
25
Tentu saja masalah kesehatan yang menderita
http://www.nowpublic.com/world/food-and-water-shortage-ravage-somalia-400-000-lives-stake diakses pada 30
November 2010 puku 9.59 PM
20
masyarakat Somalia bukan melulu hanya bisa dinilai lewat keberadaan konsep epidemiologi
kesehatan karena ketidakstabilan politik karena budaya pejuang mereka ternyata telah merebut
kesempatan sebagian besar masyarakat Somalia untuk merasakan air bersih melewati tenggorokan
mereka.
III.2
Gambaran Penyakit HIV dan AIDS di Tiga Negara (Kanada, Indonesia, dan Somalia)
Perkembangan penyakit HIV dan AIDS ini merupakan salah satu penyakit endemik yang
berkembang saat ini. Gaya hidup bebas yang sering dilakukan para individu di dalam masyarakat
menjadi sebuah ‘senjata’ yang cukup mematikan terkait dengan kondisi kesehatan setiap individu.
Di Kanada kasus penyebaran HIV AIDS cukup besar perkembangannya. Menurut sumber
yang menyediakan informasi sebaran HIV dan AIDS di Kanada pada tahun 2007, sebaran HIV dan
AIDS dibagi menjadi sebaran berdasarkan jenis kelamin, ras/etnisitas, serta usia. Sebaran berdasarkan
usia dan jenis kelamin menunjukkan bahwa penderita HIV terbanyak merupakan penduduk laki-laki
berusia 35-39 tahun sebesar 4159 orang. Sedangkan penderita AIDS berasal dari kelompok yang
sama, kelompok laki-laki berusia 35-39 tahun sebesar 19.260 orang. Penyebab dari penyebaran HIV
dan AIDS di kalangan penduduk di Kanada diperkirakan karena penggunaan narkotika dan seks
menyimpang. Kondisi ini juga terjadi karena terkait dengan gaya hidup khususnya remaja yang sangat
erat akan penyakit ini. Hal tersebut menunjukkan bahwa laki-laki usia 35-39 tahun merupakan
kelompok yang lebih banyak mengkonsumsi narkotika dan melakukan tindakan sex menyimpang jika
dibandingkan dengan perempuan. Selain dari usia dan jenis kelamin, penyebaran HIV dan AIDS
didasarkan pada ras. Sumber menunjukkan rasa tau kelompok etnis yang rentan HIV dan AIDS adalah
kelompok kulit putih. Data menunjukkan pada tahun 2007 kelompok kulit putih sebagai penderita
HIV dan AIDS terbanyak yaitu sebesar 71 orang.
Sedangkan di Indonesia, jumlah penderita HIV/AIDS di seluruh kabupaten/kota di Indonesia
pada tahun 2010 diperkirakan mencapai 93 ribu sampai 130 ribu orang.26 Angka itu diperoleh
berdasarkan perkiraan pengaduan penderita terinfeksi HIV/AIDS ke sejumlah rumah sakit, yang
berjumlah tidak lebih dari sepersepuluh korban terinfeksi keseluruhan.
Data lain juga menyebutkan bahwa umlah penderita HIV/AIDS di seluruh Indonesia sejak
1980-an hingga September 2009 yang terdata oleh Departemen Kesehatan mencapai 18.442 penderita,
dengan perbandingan jumlah penderita laki-laki dan perempuan sebesar tiga berbanding satu.27
Hampir 50% dari penyebaran virus HIV/AIDS terjadi melalui hubungan seksual dan melalui jarum
26
Zumrotul Muslimin, Penderita HIV/AIDS Tahun 2010 Capai 130.000 Orang,
http://www.antaranews.com/berita/1258288316/penderita-hiv-aids-tahun-2010-capai-130000-orang, diakses pada tanggal
27 November, pada pukul 09.10 WIB
27
Ibid
21
suntik (pada pengguna narkoba) mencapai 40,7%. Angka tersebut berdasarkan riset terhadap jumlah
total penderita. Sementara itu, penyebaran virus HIV/AIDS pada gay, waria dan transgender hanya
mencapai 3-4% dari jumlah total penderita. Rentan usia tertinggi penderita HIV/AIDS hingga saat ini
masih tetap berada pada usia produktif yaitu 20-39 tahun. Penyakit HIV/AIDS ada di semua provinsi
di Indonesia, kecuali Provinsi Sulawesi Barat. Sampai sejauh ini, belum ditemukan kasus HIV/AIDS
di provinsi tersebut. Sedangkan provinsi dengan kasus HIV/AIDS terbanyak adalah Provinsi Jawa
Barat. Kondisi ini terjadi karena terkait dengan gaya hidup khususnya remaja yang sangat erat akan
penyakit ini.
Untuk di Somalia, Situs resmi UNICEF memaparkan bahwa dibandingkan dengan negaranegara di Benua Afrika lainnya, Somalia memiliki tingkat kewaspadaan yang rendah terhadap
penyakit-penyakit "berbahaya", seperti HIV/AIDS. Rendahnya tingkat kewaspadaan tersebut
disebabkan karena adanya keterbatasan akses informasi, sehingga penduduk Somalia itu sendiri tidak
paham mengenai tindak-tindak pencegahan dan risiko dari penyakit-penyakit yang berbahaya seperti
HIV/AIDS tersebut28. Sehingga mereka melakukan perilaku-perilaku yang dapat menyebarkan
penyakit ini kepada orang lain. Jumlah penderita HIV/AIDS di Somalia itu sendiri berdasarkan data
pada tahun 2008 yang dimiliki oleh University of California, San Fransisco, adalah 24.000 jiwa dari
total penduduk Somalia pada saat itu, yaitu 9,1 juta jiwa29.
28
United Nations Children's Fund, "Somalia: Communication, Protection, and Participation Impact: HIV/AIDS",
http://www.unicef.org/somalia/cpp_135.html, diakses pada tanggal 28 November 2010, pada pukul 20.15 WIB
29
University of California, San Fransisco, HIV InSite, "HIV/AIDS in Somalia", hivinsite.ucsf.edu/global?page=cr09-so00, diakses pada tanggal 28 November 2010, pada pukul 20.22 WIB
22
BAB IV
PENUTUP
IV. 1 Kesimpulan
Terdapat tiga hal yang menjadi titik kajian utama epidemiologi sosial yaitu dari
Agent, Host, dan environment. Terjadinya suatu penyakit sangat tergantung dari
keseimbangan dan interaksi ke tiganya. Penelitian kami juga menemukan bahwa terdapat
perbedaan yang terlihat dari kelas sosial, gaya hidup, jenis kelamin serta usia. Kelas sosial
yang berbeda seperti dari kaya yang miskin kemudian mempengaruhi fasilitas yang
didapatkan, sehingga memengaruhi gaya hidup mereka.
Dari kajian studi literatur yang di peroleh bahwa setiap negara yaitu Kanada,
Indonesia, dan Somalia memiliki tingkat kesehatan yang berbeda-beda. Perbedaan-perbedaan
ini terbentuk karena latar belakang yang di miliki oleh ketiga negara ini mempunyai
perbedaan cukup signifikan. Dalam penelitian ini di hasilkan bahwa Kanada sebagai negara
maju, memiliki tingkat kesehatan masyarakat yang lebih tinggi di bandingkan dengan
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, dan Somalia sebagai salah satu negara
miskin. Selain itu untuk jenis penyakit HIV dan AIDS perkembangannya di tiga negara telah
mencapai tingkat yang cukup memprihatinkan karena dari tahun ke tahun di setiap negara
baik itu Kanada, Indonesia, maupun Somalia angka perkembangan penyakit ini semakin
bertambah. Di dalam satu kasus ini memang kondisi sosial dari ketiga negara yang sama
yaitu mengenai gaya hidup menjadi poin penting di dalam melihat perkembangan penyakit
HIV dan AIDS.
IV.2
Saran
Berdasarkan pada penelitian yang telah dilakukan, peneliti memiliki beberapa saran
terkait dengan penyelenggaraan sistem kesehatan diantaranya yaitu perlu adanya kerjasama
yang saling berkelanjutan diantara pemerintah, masyarakat, dan swasta di dalam
pembentukan sistem kesehatan yang baik bagi masyarakat. Lalu pembuatan perencanaan
jangka pendek maupun jangka panjang terkait dengan pembentukan sistem kesehatan yang
baik bagi masyarakat.
23
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Heru subari,dkk,2004.Manajemen epidemiologi, Yogyakarta : Media presindo.
Nur nasry noor,2000.Dasar epidemiologi, Jakarta : Rineka cipta.
Sarwono, Solita. 1997. Sosiologi Kesehatan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Sunarto, Kamanto. 2009. Sosiologi Kesehatan. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka.
Internet
http://www.paho.org/english/sha/prflcan.htm
http://www.dpr.go.id/complorgans/commission/commission9/visit/K9_kunjungan_LAPORA
N_KUNJUNGAN_KERJA_LUAR_NEGERI_KOMISI_IX_DPR_RI_KE_KANADA_
.pdf
Profil Kesehatan Indonesia 2008,
http://www.depkes.go.id/downloads/publikasi/Profil%20Kesehatan%20Indonesia%202008.p
df, diakses pada tanggal 28 November 2010, pada pukul 19.18 WIB
Population Division of The Department of Economic And Social Affairs of The United
Nations Secretariat, World Population Prospect: The 2008 Revision,
http://esa.un.org/unpp, diakses pada tanggal 23 November 2010 Pukul 02.31 WIB
Somalia
Demographics
Profile
2010,
http://www.indexmundi.com/somalia/demographics_profile.html, diakses pada tanggal
29 November 2010, pada pukul 22.54 WIB.
Orang Somali di Somalia, http://www.sabda.org/misi/orang_somali_di_somalia, diakses pada
tanggal 29 November 2010, pada pukul 22.45 WIB.
United
Nations
Children's
Fund,
"Somalia:
Health
Issue",
www.unicef.org/somalia/health.html, diakses pada tanggal 28 November 2010, pada
pukul 20.03 WIB
Regional Health Systems Observatory - EMRO, "Health Status and Demographics",
gis.emro.who.int/HealthSystemObservatory/PDF/Somalia/Health%20status%20and%2
0demographics.pdf, diakses pada tanggal 28 November 2010, pada pukul 20.10 WIB
United Nations Children's Fund, "Somalia: Communication, Protection, and Participation
Impact: HIV/AIDS", http://www.unicef.org/somalia/cpp_135.html, diakses pada
tanggal 28 November 2010, pada pukul 20.15 WIB
University of California, San Fransisco, HIV InSite, "HIV/AIDS in Somalia",
hivinsite.ucsf.edu/global?page=cr09-so-00, diakses pada tanggal 28 November 2010,
pada pukul 20.22 WIB
http://www.paho.org/english/sha/prflcan.htm
http://www.bengkuluekspress.com/ver3/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=26&
artid=14169, diakses pada tanggal 30 November 2010 pada pkul 22.39 WIB
Holid
Jazuli,
Ketidakadilan
Pelayanan
Kesehatan,
http://sehatkita.blog.com/2009/02/15/ketidakadilan-pelayanan-kesehatan/, diakses pada
tanggal 30 November 2010 pada pukul 22.40 WIB
http://travel.state.gov/travel/cis_pa_tw/cis/cis_1023.html#medical diakses pada tanggal 29
November 2010 pukul 10.43 PM
http://www.banadir24.com/news/4455/who-deplores-poor-health-conditions-in-somalia.html
24
http://www.nowpublic.com/world/food-and-water-shortage-ravage-somalia-400-000-livesstake diakses pada 30 November 2010 puku 9.59 PM
Zumrotul Muslimin, Penderita HIV/AIDS Tahun 2010 Capai 130.000 Orang,
http://www.antaranews.com/berita/1258288316/penderita-hiv-aids-tahun-2010-capai130000-orang, diakses pada tanggal 27 November, pada pukul 09.10 WIB
United Nations Children's Fund, "Somalia: Communication, Protection, and Participation
Impact: HIV/AIDS", http://www.unicef.org/somalia/cpp_135.html, diakses pada
tanggal 28 November 2010, pada pukul 20.15 WIB
University of California, San Fransisco, HIV InSite, "HIV/AIDS in Somalia",
hivinsite.ucsf.edu/global?page=cr09-so-00, diakses pada tanggal 28 November 2010,
pada pukul 20.22 WIB
25
Download