Untitled - Unissula

advertisement
DIMENSI SOSIAL MASYARAKAT SEBAGAI INDIKATOR
PEMBANGUNAN PERDESAAN YANG BERKELANJUTAN
Disusun oleh : Eppy Yuliani
(Dosen Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik UNISSULA)
Abstrak
Pembangunan perdesaan yang memberdayakan masyarakat desa akan merupakan modal
sosial dalam pembangunan berkelanjutan. Karena keberdayaan masyarakat inilah yang akan
meningkatkan kemandirian , rasa percaya diri yang besar dengan tidak menggantungkan
kepada pihak-pihak luar dalam hal pemasokan produksi dan pemasarannya.
Berbagai permasalahan dalam pembangunan perdesaan menjadi hambatan sekaligus
tantangan menuju terwujudnya masyarakat yang sejahtera. Makalah ini membahas dimensi
sosial masyarakat yang merupakan indikator dalam pembangunan perdesaan yang
berkelanjutan.
PENDAHULUAN
Pembangunan wilayah dipandang sebagai suatu proses perubahan, yang perlu pemahaman
berbagai aspek keseimbangan kebutuhan antar wilayah dan atar dimensi waktu baik sekarang
maupun waktu masa depan.
Dalam konsep Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) adalah pembangunan
yang berguna untuk memenuhi kebutuhan dalam kehidupan saat ini tanpa perlu merusak atau
menurunkan kemampuan generasi yang akan datang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Terkait dengan pemahaman pembangunan berkelanjutan, pembangunan wilayah perdesaan
harus mampu meningkatkan kualitas kehidupan secara umum, yaitu : meningkatkan tingkat
pendidikan, pendapatan/kesejahteraan dan derajat kesehatan masyarakat. Dalam hal ini
konsep lingkungan hidup dan kelangsungan hidup masyarakat antar wilayah harus
terintegrasi dalam satu kesatuan. Kompensasi terhadap generasi mendatang oleh generasi
sekarang adalah dalam bentuk : peningkatan modal manusia (human capital), modal sosial
(social capital) modal produksi (manufacturing capital) dan modal sumberdaya alam
(natural capital).
Secara garis besar pembangunan berkelelanjutan memiliki demensi sosial, demensi
lingkungan hidup, demensi ekonomi dan demensi kelembagaan.
Keempat demensi tersebut merupakan indikator dari keberhasilan pengembangan wilayah
yang berkelanjutan.
Ruang lingkup materi makalah ini dibatasi meliputi : masyarakat sebagai demensi sosial
dalam konsep Pembangunan perdesaan yang berkelanjutan.
MASYARAKAT
SEBAGAI
MODAL
SOSIAL
PEMBANGUNAN
BERKELANJUTAN
Pembangunan berkelanjutan tidak hanya meliputi pembangunan fisik saja, melainkan juga
pembangunan sosial. Pembangunan Sosial sebagai pendekatan pembangunan yang bertujuan
meningkatkan kualitas kehidupan manusia secara paripurna, yakni memenuhi kebutuhan
manusia yang terentang mulai dari kebutuhan fisik sampai sosial
Dalam konteks keruangan, pembangunan tidak lepas daripada kondisi suatu wilayah. Dimana
kondisisi wilayah satu dengan yang lainnya memiliki karakter yang berbeda.
Menurut Karmaji (2010) , Indikator pembangunan wilayah hendaknya mengikuti beberapa
karakteristik sebagai berikut :
1. Menjembatani berbagai prinsip pembangunan wilayah sekaligus menunjukkan adanya
integrasi antar elemen dan prinsip pembangunan wilayah tersebut.
2. Berfokus pada efek aktual (actual outcomes) daripada tindakannya.
3. Berujung pada kegiatan praktis berdasarkan kejadian nyata.
4. Mengarah terciptanya inovasi.
5. Tersedianya pengukuran yang relevan sampai pada administrasi pemerintahan yang
lebih rendah.
6. Menggambarkan sudut pandang yang menyeluruh terhadap pembangunan wilayah
yang berkelanjutan.
7. Memiliki kemampuan ilustratif untuk menunjukkan pola perubahan antar waktu
(trend).
Untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan diperlupan 4 (empat ) modal yaitu :

Modal manusia (human capital), yang berupa kemampuan sumberdaya manusia ;

modal sumber daya alam (natural capital) yang meliputi semua potensi sumberdaya
alam baik hayati maupun non hayati;

modal produksi (manufactured capital) berupa finansial dan teknologi produksi;

modal sosial (social capital) berupa sikap percaya , toleransi, kelompok, dan jejaring
yang dimiliki setiap individu dalam masyarakat.
Modal sosial merupakan pelengkap dari tiga modal pembangunan yang selama ini
berkembang. Dalam hal ini masyarakat akan secara mandiri membentuk jejaring dan berbagi
nilai, norma dan kesepahaman yang akan memfasilitasi kerjasama antar individu dan
kelompok dalam kehidupan bermasyarakat.
MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN PERDESAAN YANG
BERKELANJUTAN
Menurut Bintarto (1989) Desa adalah hasil perpaduan antara kegiatan sekelompok manusia
dengan lingkungannya hasil perpaduan ini adalah suatu wujud atau penampakan dimuka
bumi yang ditimbulkan oleh unsur–unsur fisiografis, sosial, ekonomi, politik, dan kultural
yang saling berinteraksi antar unsur tersebut dalam hubungannya dengan daerah/wilayah lain.
Ditinjau dari pengertian tersebut menunjukkan ada tiga aspek utama yaitu manusia
/masyarakat, alam dengan lingkungannya, serta aktivitas/tata kehidupan
Tata kehidupan tersebut tidak dapat dilepaskan dari seluk beluk usaha penduduk untuk
mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraannya.
Menurut Daldjoeni (1998) setiap desa memiliki ‘’geograpical setting’’ dan ‘’human
effortnya’’ masing– masing yang berbeda. Ada desa yang bersumber daya menguntungkan
tetapi semangat membangun, ketrampilan dan pengetahuan masyarakatnya serba kurang,
sehingga desa tersebut tak dapat maju. Sebaliknya ada desa yang meski sumber dayanya
serba terbatas, tetapi dapat maju ekonominya, berkat kemampuan penduduknya mengatasi
berbagai hambatan alam lain, dipengaruhi oleh unsur–unsur geografis wilayah yang
ditempati.
Sedangkan Khairudin (1992) menyatakan karakteristik perdesaan adalah unsur
perdesaan yang memberikan kekhususan dan perbedaan sehingga menjadi ciri wilayah
perdesaan secara umum terdiri atas pekerjaan (accupation), ukuran masyarakat (size of
community), kepadatan penduduk (density of population), lingkungan (environment),
kehidupan sosial masyarakat.
Salah satu konsep yang digunakan untuk pembangunan perdesaan yang berkelanjutan
adalah pembangunan perdesaan yang terintegrasi ( Integrated Rural Development-IRD),
seperti proses berikut ini.
Sistem sosial dan Mobilitas Masyarakat :
 Tingkat sosial
 Ideologi
 Tingkat pendidikan
 Tingkat kesukuan
perilaku
Sistem produksi dan keuangan
 Pemilikan tanah
 Sistem kredit
 UU tenaga kerja
 Kesempatan kerja di
luar sektor pertanian
Sumber
Seluruh masyarakat
perdesaan
transformasi
Sistem transformasi dan
distribusi :
 Peran pasar
 Kebijakan transfer
 Mekanisme distribusi
Kekuasaan
Proses pengambilan keputusan :
 kelembagaan
 organisasi
 parsisipasi
 administrasi
Sumber : Manig, W.1985 dalam Ananda , Candra F.2000
Dari diagram tersebut diatas menunjukkan bahwa aspek ekonomi digambarkan pada sistem
produksi yang ada pada masyarakat. Dengan pengembangan beberapa subsistem elemen
tersebut , diharapkan dapat mempengaruhi arah pembangunan perdesaan.
Aspek sosial dapat ditunjukkan untuk menggambarkan kondisi sosial masyarakat dari
segi ideologi, pendidikan serta etnis. Masyarakat hendaknya dilibatkan dalam keputusan
pembangunan melalui perencanaan ‘botom up”, dengan demikian menunjukkan peran aspek
sosial dalam pembangunan perdesaan
Aspek politik ditunjukkan dalam proses pembelajaran politik bagi masyarakat luas
(perdesaan) dalam hal satu sisi utamanya fungsi kontrol, sedangkan sisi lain menunjukkan
peran pemerintah dan negara dalam hal penyelenggaraan negara. Peran pemerintah cukup
besar, karena memiliki peran ganda baik kedalam maupun keluar. Untuk hal tersebut perlu
pembagian kekuasaan dari pemerintah dan masyarakat terutama dalam proses pembuatan
kebijakan. perlunya penataan organisasi, kelembagaan serta administrasi pembangunan di
pedesaan. Disinilah partisipasi masyarakat sangat diperlukan.
Aspek lingkungan menyangut kebijakan publik terutama yang tidak mampu ditangani
oleh prinsip pasar, yaotu eksternalitas. Dalam hal ini ditekankan pada aspek tansfer dan
pajak. Perlu dicari bentuk terbaik agar kebijakan yang muncul tidak mematikan kegiatan
ekonomi.beberapa aspek transfer dan pajak memerlukan persyaratan seperti tansparansi,
akuntabilitas, konsistensi, dan sebagainya. Dengan demikian adanya aspek ini diharapkan
pembangunan yang dicapai secara susah payah dapat berkelanjutan.
PENUTUP
Pada dasarnya dalam mewujudkan pembangunan perdesaan yang berkelanjutan sangat
diperlukan partisipasi masyarakat yang besar yang berperan sebagai modal sosial. Dalam era
otonomi
daerah
memberikan
keleluasaan
masyarakat
untuk
berpartisipasi
dalam
pembangunan. Melalui model pembangunan perdesaan yang terintegrasi, diharapkan mampu
membangiktkan kesadaran masyarakat dalam membangun desanya dan terwujudnya
kesejahteraan serta kemakmuran masyarakat, menuju masyarakat mandiri dengan tetap
memiliki kearifan lokal.
DAFTAR PUSTAKA
Ananda, Candra F. 2000. Pembangunan Perdesaan dan Partisipasi, Lembaga Penelitian
Fakultas Ekonomi, Universitas Bawidjaya.Malang
Bintarto, 1989. Metode Analisa Geografi. LP3ES.Jakarta
Daljoeni, 1998. Interaksi Desa Kota. Gadjah Mada Press.Yogyakarta
Inayah, 2012. PerananModal Sosial dalam Pembangunan. Jurnal Pengembangan Humaniora.
Volume 12 , April 2012. www.polines.ac.id
Karmadji, 2010.Perspektif Pembangunan Wilayah Berkesinambungan. Esensi Erlangga
Group. Jakarta.
Download