7 BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Pengetahuan a

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Pengetahuan
a. Pengertian
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah
orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting
dalam membentuk tindakan seseorang ( Notoatmodjo, 2003).
b. Proses Adopsi Perilaku
Menurut Notoatmodjo (2003) mengungkapkan bahwa sebelum
orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), di dalam diri orang
tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni :
1) Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti
mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu.
2) Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus.
3) Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus
tersebut bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebih
baik lagi.
4) Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru.
7
8
5) Adoption,
subjek
telah
berperilaku
baru
sesuai
dengan
pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
c. Tingkat Pengetahuan di Dalam Domain Kognitif.
Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai
6 tingkatan:
1) Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah
dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini
adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari
seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling
rendah.
2) Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat
menginterprestasikan materi tersebut secara benar.
3) Aplikasi (aplication)
Aplikasi
diartikan
sebagai
kemampuan
untuk
menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi
real (sebenarnya).
4) Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan
materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi
9
masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya
satu sama lain.
5) Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk
meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu
bentuk keseluruhan yang baru.
6) Evaluasi (evaluation)
Evaluasi
ini
berkaitan
dengan
kemampuan
untuk
melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau
objek.
2. Sikap
a.
Pengertian
Menurut Notoatmodjo (2010), sikap adalah respons tertutup
seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu yang sudah
melibatkan
faktor
pendapat
dan
emosi
yang
bersangkutan
(senang/tidak senang, setuju/tidak setuju, baik/tidak baik, dan
sebagainya). Sikap menurut Thurston dalam Winarsunu (2008) adalah
taraf positif dan negatif dari efek terhadap suatu obyek yang
menyatakan bahwa sikap merupakan konstruk hipotetik yang tidak
dapat diukur secara langsung, oleh karenanya harus disimpulkan dari
respon-respon pengukuran yang dapat diamati. Respon sikap dapat
diklasifikasikan menjadi 3 yaitu : kognitif, afektif, dan konatif.
Respon kognitif adalah respon yang menggambarkan persepsi dan
10
informasi tentang obyek sikap. Respon afektif adalah respon yang
menggambarkan penilaian dan perasaan terhadap obyek sikap.
Sedangkan
respon
konatif
merupakan
kecenderungan
perilaku, intensi, komitmen, dan tindakan yang berhubungan dengan
obyek sikap. Dengan demikian yang dimaksud dengan sikap terhadap
keselamatan kerja adalah taraf kognitif, afektif, dan konatif seseorang
pekerja terhadap keselamatan kerja.
b.
Tingkatan Sikap
Seperti halnya pengetahuan, sikap juga mempunyai tingkattingkat berdasarkan intensitasnya (Notoatmodjo, 2010) adalah sebagai
berikut :
1) Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau
menerima stimulus yang diberikan (objek).
2) Menanggapi (responding)
Menanggapi disini diartikan member jawaban atau
tanggapan terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi.
3) Menghargai (valuing)
Menghargai
diartikan
subjek,
atau
seseorang
memberikan nilai yang positif terhadap objek atau stimulus,
dalam arti, membahasnya dengan orang lain dan bahkan
mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain
merespons.
11
4) Bertanggung Jawab (Responsible)
Sikap
yang
paling
tinggi
tingkatannya
adalah
bertanggung jawab terhadab apa yang telah diyakininya.
Seseorang yang telah mengambil sikap tertentu berdasarkan
keyakinannya, dia harus berani mengambil sikap tertentu
berdasarkan keyakinannya, dia harus berani mengambil resiko
bila ada orang lain yang mencemoohkan atau adanya resiko lain.
3. Ketersediaan APD
a.
Pengertian
Menurut Notoatmodjo (2010), ketersediaan atau enabling
adalah fasilitas berupa sarana dan prasarana kesehatan yang bertujuan
memberdayakan pekerja agar mampu mengadakan sarana dan
prasarana kesehatan bagi mereka.
b.
Dasar Hukum
Dalam UU No. 1 Tahun 1970 pasal 14 butir c menyatakan
bahwa pengurus (pengusaha) diwajibkan untuk mengadakan secara
Cuma-Cuma, semua alat perlindungan diri yang diwajibkan pada
tenaga kerja yang berada dibawah pimpinannya dan menyediakan bagi
setiap orang lain yang memasuki tempat kerja tersebut, disertai
dengan petunjuk-petunjuk yang diperlukan menurut petunjuk pegawai
pengawas atau ahli-ahli keselamatan kerja.
4. Alat Pelindung Diri (APD)
a. Pengertian
12
Alat pelindung diri (APD) adalah seperangkat alat keselamatan
yang digunakan oleh pekerja untuk melindungi seluruh atau sebagian
tubuhnya dari kemungkinan adanya paparan potensi bahaya lingkungan
kerja terhadap kecelakaan dan penyakit akibat kerja (Tarwaka, 2008).
b. Perundang-undangan
Ketentuan mengenai alat pelindung diri diatur oleh Peraturan
pelaksanaan UU RI No. I tahun 1970 yaitu Instruksi Menteri Tenaga
Kerja No. Ins. 2/M/BW/BK/1984 tentang Pengesahan Alat Pelindung
Diri; Instruksi Menteri Tenaga Kerja No. Ins. 05/M/BW/97 tentang
Pengawasan Alat Pelindung Diri; Surat Edaran Dirjen Binawas No. SE
05/BW/97 tentang Penggunaan Alat Pelindung Diri dan Surat Edaran
Dirjen Binawas No. SE 06/BW/97 tentang Pendaftaran Alat Pelindung
Diri. Intruksi dan Surat Edaran tersebut mengatur ketentuan tentang
pengesahan, pengawasan dan penggunaan alat pelindung diri. Jenis
APD menurut ketentuan tentang pengesahan, pengawasan, dan
penggunaannya meliputi alat pelindung kepala, alat pelindung telinga,
alat pelindung muka dan mata, alat pelindung pernafasan, pakaian kerja,
sarung tangan, alat pelindung kaki, sabuk pengaman, dan lain-lain
(Suma’mur, 2009).
Kewajiban dalam penggunaan alat pelindung diri di tempat
kerja yang mempunyai resiko terhadap timbulnya kecelakaan dan
penyakit akibat kerja telah diatur dalam Undang-Undang No. 1 Tahun
13
1970 Tentang Keselamatan Kerja. Pasal-pasal yang mengatur tentang
penggunaan alat pelindung diri antara lain:
1) Pasal 3 (1:f)
: Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-
syarat keselamatan kerja untuk memberikan alat-alat pelindung diri
pada pekerja.
2) Pasal 9 (1:c)
:
Pengurus
diwajibkan
menunjukan
dan
menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru tentang, alat-alat
pelindung diri bagi tenaga kerja yang bersangkutan.
3) Pasal 12 (b)
: Dengan peraturan perundangan diatur keajiban dan
atau hak tenaga kerja untuk, memakai alat-alat pelindung diri yang
diwajibkan.
4) Pasal 14 (c)
: Pengurus diwajibkan menyediakan secara Cuma-
Cuma, semua alat pelindung diri yang diwajibkan pada tenaga kerja
yang berada dibawah pimpinannya dan menyediakan bagi setiap
orang lain yang memasuki tempat kerja tersebut, disertai dengan
petunjuk-petunjuk yang diperlukan menurut petunjuk pegawai
pengawas atau ahli-ahli keselamatan kerja.
c. Jenis-jenis APD
Jenis-jenis alat pelindung diri berdasarkan bagian tubuh yang
dilindungi dari kontak dengan potensi bahayanya dijelaskan sebagai
berikut (Tarwaka, 2008) :
1) Alat Pelindung Kepala (Hardware)
14
Alat pelindung untuk melindungi kepala dari bahaya terbentur
benda tajam atau keras, bahaya kejatuhan benda, percikan bahaya
kimia korosif, dll. Jenis pelindung kepala antara lain :
a) Topi pelindung (Safety Hekmets)
b) Tutup kepala
c) Topi (Hats/Cap)
2) Alat Pelindung Mata (Eye Protection)
Alat pelindung untuk melindungi mata dari percikan dari bahaya
korosif, debu, dan partikel-partikel kecil yang melayang di udara,
gas atau uap yang dapat menyebabkan iritasi mata, radiasi
gelombang, dll. Jenis pelindung mata antara lain :
a) Kacamata (Spectacles)
b) Goggles
3) Alat Pelindung Telinga (Ear Protection)
Alat pelindung jenis ini digunakan untuk mengurangi intensitas
suara yang masuk kedalam telinga, antara lain:
a) Sumbat telinga (Ear plug)
b) Tutup telinga (Ear muff)
4) Alat Pelindung Pernapasan (Respiratory Protection)
Alat pelindung untuk melindungi pernapasan dari resiko paparan
gas, uap, debu, dan kontaminan lain. Jenis pelindung pernapasan
antara lain :
a) Masker
15
b) Respirator
5. Kepatuhan Pemakaian APD
Kepatuhan merupakan perubahan perilaku atau kepercayaan
seseorang sebagai dari akibat adanya tekanan kelompok yang terdiri dari
pemenuhan dan penerimaan, serta mengikuti peraturan atau perintah
langsung yang diberikan kepada suatu kelompok maupun individu (David
G Mayer, 2012).
Peraturan jenis alat pelindung diri yang digunakan harus dipatuhi
oleh tenaga kerja sesuai dengan potensi bahaya yang dihadapi serta sesuai
dengan bagian tubuh yang perlu dilindungi. Sebagaimana yang tercantum
dalam undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja pasal
12 sub b menyebutkan bahwa dengan peraturan perundang-undangan
daftar kewajiban dan atau hak tenaga kerja untuk memakai alay-alat
perlindungan diri yang diwajibkan dan pada pasal 14 menyebutkan bahwa
pengusaha wajib memberikan secara cuma-cuma sesuai alat pelindung
diri yang diwajibkan pada tenaga kerja yang dibawah kepemimpinannya
dan menyiapkan bagi setiap orang lain yang memasuki tempat kerja
tersebut, disertai petunjuk yang diperlukan (Depnakertrans, 2007).
Setiap tempat kerja mempunyai potensi bahaya yang berbedabeda sesuai dengan jenis, bahan dan proses prodeksi yang dilakukan.
Dengan demikian, sebelum melakukan pemilihan alat pelindung diri yang
tepat digunakan, diperlukan adanya suatu identifikasi potensi bahaya yang
ada di tempat kerja masing-masing. Pemilihan dan penggunaan alat
16
pelindung diri harus memperhatikan aspek-aspek sebagai berikut
(Tarwaka, 2008) :
a.
Aspek teknis, meliputi :
1) Pemilihan berdasarka jenis dan bentuknya. Jenis dan bentuk alat
pelindung diri harus disesuaikan dengan bagian tubuh yang
dilindungi.
2) Pemilihan berdasarkan mutu dan kualitas. Mutu alat pelindung diri
akan menentukan tingkat keparahan dari suatu kecelakaan dan
penyakit akibat kerja yang mungkin terjadi. Semakin rendah mutu
alat pelindung diri, maka akan semakin tinggi tingkat keparahan
atas kecelakaan atau penyakit akibat kerja yang terjadi. Adapun
untuk menentukan mutu alat pelindung diri dapat dilakukan
melalui uji laboratorium untuk mengetahui pemenuhan terhadap
standar.
3) Penentuan jumlah alat pelindung diri. Jumlah yang diperlukan
sangat tergantung dari jumlah tenaga kerja yang terpapar potensi
bahaya di tempat kerja. Idealnya adalah setiap pekerja
menggunakan alat pelindung sendiri-sendiri atau tidak dipakai
secara bergantian.
4) Teknik penyimpanan dan pemeliharaan. Penyimpanan investasi
untuk penghematan daripada pembelian alat pelindung diri.
b.
Aspek Psikologis
17
Selain
aspek teknis, maka aspek psikologis
yang
menyangkut masalah kenyamanan dalam penggunaan alat pelindung
diri juga sangat penting untuk diperhatikan. Timbulnya masalah baru
bagi pemakai harus dihilangkan, seperti terjadinya gangguan terhadap
kebebasan bergerak tidak menimbulkan alergi atau gatal-gatal pada
kulit, tenaga kerja tidak malu memakainya karena bentuknya menarik.
Menurut Suma’mur (2009) APD harus memenuhi persyaratan :
1) Enak (nyaman) dipakai.
2) Tidak mengganggu pelaksanaan pekerjaan.
3) Memberikan perlindungan yang efektif terhadap macam bahay
yang dihadapi.
Ketentuan pemilihan alat pelindung diri (Tarwaka, 2008) :
1) Alat pelindung diri harus dapat memberikan perlindungan yang
adekuatterhadap bahaya yang spesifik atau bahaya-bahay yang
dihadapi oleh tenaga kerja.
2) Berat alat hendaknya seringan mungkin dan alat tersebut tidak
menyebabkan rasa ketidaknyamanan berlebihan.
3) Alat harus dipakai secara fleksibel.
4) Bentuknya cukup menarik.
5) Alat pelindung diri tahan lama untuk pemakaian yang lama.
6) Alat
tidak
menimbulkan
bahaya-bahaya
tambahan
bagi
pemakainya, yang dikarenakan bentuknya yang tidak tepat atau
karena salah dalam penggunannya.
18
7) Alat pelindung harus memenuhi standar yang telah ada.
8) Alat tersebut tidak membatasi gerakan dan persepsi sensoris
pemakainya.
9) Suku
cadangnya
pemeliharaannya.
mudah
didapat
guna
mempermudah
19
B. Kerangka Pemikiran
Pengetahuan
Tahu
Memahami
Sikap
Aplikasi
Menerima
Ketersediaan APD
Analisis
Menghargai
UU No. 1 Tahun 1970
Sintesis
Menghargai
Pasal 14 C
Evaluasi
Tanggung Jawab
Jenis APD
Umur
Kepatuhan
Pemakaian APD
Masa Kerja
Tingkat
Pendidikan
Gambar 1. Kerangka Pemikiran
Keterangan :
: Tidak Diteliti
: Diteliti
Aspek Teknik
Aspek Psikologis
20
C. Hipotesis
Ada Hubungan Pengetahuan, Sikap, Dan Kondisi APD Dengan
Pemakaian APD Pada Pekerja Bagian Weaving PT Iskandar Indah Printing
Textile.
Download