Analisis Dampak Perubahan Iklim Lokal Terhadap

advertisement
ANALISIS DAMPAK PERUBAHAN IKLIM LOKAL
TERRHADAP KESEJAHTERAAN PETAMBAK UDANG
(Studi Kasus di Kecamatan Muaragembong
Kabupaten Bekasi Provinsi Jawa Barat)
NURMAN SYAHBANA
DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENGATAKAN BAHWA SRIPSI YANG BERJUDUL
“ANALISIS
DAMPAK
PERUBAHAN
IKLIM
LOKAL
TERHADAP
KESEJAHTERAAN PETAMBAK UDANG (STUDI KASUS DI KECAMATAN
MUARAGEMBONG KABUPATEN BEKASI PROVINSI JAWA BARAT)”
BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU
LEMBAGA
LAIN
MANAPUN
UNTUK
MEMPEROLEH
GELAR
AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN SKRIPSI INI
BENAR-BENAR HASIL KARYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG
BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH
PIHAK
LAIN
KECUALI
SEBAGAI
BAHAN
RUJUKAN
YANG
DINYATAKAN DALAM NASKAH.
Januari 2011
Nurman Syahbana
iv
RINGKASAN
NURMAN SYAHBANA. Analisis Dampak Perubahan Iklim Lokal Terhadap
Kesejahteraan Petambak Udang (Studi Kasus di Kecamatan Muaragembong
Kabupaten Bekasi Provinsi Jawa Barat). Dibimbing Oleh Aceng Hidayat.
Dunia diramaikan oleh isu perubahan iklim bumi akibat meningkatnya gas
rumah kaca yang memicu terjadinya pemanasan global. Perubahan iklim telah
berdampak negatif terhadap sektor perikanan dan kelautan. Perubahan iklim yang
terjadi diduga akan berdampak pada perikanan budidaya atau tambak udang.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi apakah perubahan iklim
menyebabkan perubahan produksi yang berimplikasi terhadap kesejahteraan
petambak udang khususnya di Kecamatan Muaragembong. Tujuan dari penelitian
ini adalah: (1) mengidentifikasi fenomena perubahan iklim lokal di Kecamatan
Muaragembong, (2) mengidentifikasi dan menganalisis dampak dari fenomena
perubahan iklim lokal terhadap kesejahteraan petambak udang di Kecamatan
Muaragembong, dan (3) mengidentifikasi strategi adaptasi yang dilakukan
petambak udang di Kecamatan Muaragembong terhadap perubahan iklim lokal.
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi,
Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive)
dengan alasan Kecamatan Muaragembong merupakan daerah muara dari Sungai
Citarum, pesisir pantai dan merupakan salah satu daerah yang banyak terdapat
tambak udang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-Oktober 2010 untuk
pengambilan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari hasil
wawancara dengan responden (petambak udang) melalui kuesioner. Sedangkan
data sekunder diperoleh melalui pengumpulan data dari Badan Pusat Statistik
(BPS) Kabupaten Bekasi, Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten
Bekasi, Dinas Hidro dan Oseanografi (Dishidros) TNI AL, LIPI Oseanografi
Jakarta, dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta
literatur-literatur yang relevan dalam penelitian. Perubahan tingkat kesejahteraan
petambak udang dilihat dengan menggunakan analisis deskriptif mengenai
kerugian, penurunan produktifitas dan volume produksi, Nilai Tukar Petambak
Udang (NTPU), analisis ecological footprint, dan analisis regresi linear berganda.
Sedangkan untuk mengidentifikasi strategi adaptasi yang dilakukan oleh
petambak dalam menghadapi perubahan iklim digunakan metode analisis
deskriptif. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan komputer dengan
program Microsoft Office Excel 2007 dan SPSS 16.0.
Hasil penelitian menunjukkan telah terjadi perubahan iklim di daerah
Kecamatan Muaragembong Kabupaten Bekasi Provinsi Jawa Barat. Fenomena
perubahan iklim lokal yang terjadi adalah meningkatnya jumlah curah hujan,
meningkatnya jumlah hari hujan, meningkatnya jumlah hari atau bulan kering
ketika musim kemarau, meningkatnya suhu rata-rata, meningkatnya ketinggian
banjir dan intensitas pasang, dan meningkatnya ketinggian dan intensitas banjir
sungai di Kecamatan Muaragembong yang dirasakan oleh para petambak udang.
Perubahan iklim yang terjadi menyebabkan gagal panen dan kerugian
kepada para petambak udang. Perubahan iklim juga mengakibatkan terjadinya
penurunan produktifitas tambak udang. Penurunan produktifitas yang terjadi akan
ii
menyebabkan terjadinya penurunan terhadap volume produksi udang 25-50%.
Selain itu, telah terjadi peningkatan total biaya dari para petambak untuk
beradaptasi dengan perubahan iklim meningkat sebesar 201,01%. Berdasarkan
perhitungan NTPU, dapat diketahui bahwa telah terjadi penurunan tingkat
kesejahteraan para petambak udang di tahun 2010 akibat dari perubahan iklim.
Rata-rata NTPU sebelumnya sebesar 1,74 pada tahun 1999 menjadi 1,16 pada
tahun 2010 atau mengalami penurunan sebesar 33,58%. Namun, petambak masih
dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari hidupnya (kebutuhan primer) dan
mempungai potensi untuk mengkonsumsi kebutuhan sekunder serta menabung
(saving) karena NTPU lebih besar dari satu.
Berdasarkan hasil perhitungan analisis Ecological Footprint (EF), nilai
footprintnya sebesar 0,0905, nilai biocapacity (BC) sebesar 4.379,14, dan daya
dukung lingkungannya (CC) sebesar 48.378. Berdasarkan analisis linear berganda
dengan menggunakan bantuan program SPSS 16.0 untuk menentukan fungsi
produksi sebagai variabel tidak bebas (dependent) dan unsur iklim dan luas areal
tambak sebagai variabel bebas (independent) didapatkan model produksi udang:
Y = 13,291 + 0,081 X1 + 0,257 X2 – 0,333 X3 – 0,822 X4 dimana variabel X1 (luas
lahan tambak), X2 (curah hujan rata-rata), X3 (jumlah hari hujan), dan X4 (suhu
rata-rata). Model fungsi produksi udang tersebut memiliki R-square sebesar
0,649. Adanya dampak dari perubahan iklim menyebabkan para petambak udang
untuk melakukan adaptasi. Sebagian besar petambak melakukan adaptasi dengan
merubah waktu panen udang, membuat atau meninggikan tanggul untuk menahan
banjir, dan menanam pohon di sekitar tambak.
Kata Kunci: Perubahan iklim, tambak udang, petambak, dan kesejahteraan.
iii
ANALISIS DAMPAK PERUBAHAN IKLIM LOKAL
TERRHADAP KESEJAHTERAAN PETAMBAK UDANG
(Studi Kasus di Kecamatan Muaragembong
Kabupaten Bekasi Provinsi Jawa Barat)
Nurman Syahbana
H44062151
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk
Memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
Judul Skripsi : Analisis Dampak Perubahan Iklim Lokal Terhadap
Kesejahteraan Petambak Udang (Studi Kasus di Kecamatan
Muaragembong Kabupaten Bekasi Provinsi Jawa Barat)
Nama
: Nurman Syahbana
NIM
: H44062151
Menyetujui,
Pembimbing,
Dr. Ir. Aceng Hidayat, MT.
NIP: 19660717 199203 1 003
Mengetahui,
Ketua Departemen
Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan
Dr. Ir. Aceng Hidayat, MT.
NIP: 19660717 199203 1 003
Tanggal lulus:
i
RIWAYAT HIDUP
Nurman Syahbana dilahirkan di Depok pada tanggal 29 Maret 1988 dari
pasangan Abdul Rachim Suroso dan Siti Sofiah. Penulis merupakan anak kedua
dari empat bersaudara. Penulis menempuh pendidikan Sekolah Dasar Negeri
(SDN) 01 Bojong Gede, kemudian melanjutkan ke Sekolah Lanjutan Tingkat
Pertama (SLTP) Negeri 5 Bogor, dan kemudian lulus dari Sekolah Menengah
Atas Negeri (SMAN) 2 Bogor pada tahun 2006.
Pada tahun 2006, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur
Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) dan setahun kemudian masuk ke
Fakultas Ekonomi dan Manajemen pada Departemen Ekonomi Sumberdaya dan
Lingkungan dengan minor manajemen fungsional. Selama kuliah, penulis aktif
dalam berbagai organisasi dalam kampus yaitu KOPMA IPB pada tahun 20062009, BEM FEM IPB sebagai staf departemen politik, kajian strategis, dan
advokasi (Polkastrad) pada periode 2007-2008, Shariah Economic Student Club
(SES-C) FEM IPB sebagai staf divisi sumberdaya insani, BEM KM IPB sebagai
staf kebijakan daerah pada periode 2008-2010, BEM Se Bogor sebagai tim kajian
Kabupaten Bogor pada periode 2008-2009, dan Entrepreneurship Centre
(ENTER) FEM IPB periode 2009-2010. Selain itu penulis pun aktif dalam
berbagai kepanitiaan. Prestasi penulis yang pernah diraih selama menjadi
mahasiswa IPB ialah finalis Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) yang
ke 23 yang diadakan di Universitas Mahasaraswati (UNMAS) Denpasar Bali.
v
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat
dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Skripsi
dengan judul “Analisis Dampak Perubahan Iklim Lokal Terhadap Kesejahteraan
Petambak Udang (Studi Kasus di Kecamatan Muaragembong Kabupaten Bekasi
Provinsi Jawa Barat)” disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Ekonomi pada Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Fakultas
Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi fenomena perubahan iklim lokal di
Kecamatan Muaragembong, mengidentifikasi dan menganalisis dampak dari
fenomena perubahan iklim lokal terhadap kesejahteraan petambak udang, dan
mengidentifikasi strategi adaptasi yang dilakukan oleh petambak udang terhadap
perubahan iklim lokal. Penulis berharap semoga penelitian ini dapat memberi
manfaat bagi pembangunan perikanan budidaya tambak udang di Kecamatan
Muaragembong pada umumnya serta dalam rangka mempersiapkan strategi
adaptasi terhadap dampak dari perubahan iklim yang terjadi agar tercapainya
kesejahteraan para petambak secara berkelanjutan. Semoga skripsi ini dapat
menjadi bahan referensi dan berguna bagi banyak pihak.
Bogor, Januari 2011
Penulis
vi
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang senantiasa
melimpahkan kasih sayang-Nya kepada penulis sehingga pada skripsi ini dapat
diselesaikan. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih sebesarbesarnya kepada:
1. Kedua orang tua penulis yaitu Abdul Rachim Suroso dan Siti Sofiah, tante
Sutarti B.A, kedua adik penulis (Qorry Fatahillah dan Ahmad Fajarullah), dan
kakek Dr. Nurdin Ibrahim, M.Pd yang senantiasa tiada hentinya memberi
dukungan, do’a, dan bantuan kepada penulis.
2. Dr. Ir. Aceng Hidayat, MT sebagai dosen pembimbing yang telah banyak
meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, saran, motivasi dan
pengarahan kepada penulis dalam penyusunan skripsi.
3. Keluarga besar Bapak Ahdar Tuhuteru (Pak Ahdar dan istri, Daeng, dan
Rifay), keluarga besar Bapak lurah Pantai Bahagia (Pak Romli dan istri, Bang
Jafar, dan Mas Gunawan RT) yang telah membantu selama penulis melakukan
penelitian.
4. Pak Karim, Pak Kastana Sapanli, S.Pi, M.Si, Ibu Pini Wijayanti, S.P, M.Si,
dan Pak Rizal Bachtiar, S.Pi, M.Si yang bersedia memberikan masukan
terhadap penelitian.
5. Staf
Dishidros
TNI
AL,
staf
LIPI
Oseanografi,
staf
Kecamatan
Muaragembong, staf Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten
Bekasi, dan staf BPS Kabupaten Bekasi.
6. Teman-teman “Gank Macho” (Aditya Iqbal, Andi Aditya Atmaja, Rendra
Juniarza Dinata, Aseb Hasan Irfandi, dan Nala) yang telah banyak
vii
memberikan bantuan, saran, kritik, dan pengalaman yang begitu berarti bagi
penulis.
7. Teman-teman seperjuangan (Osmaleli, Rosi Caesaria Hutabarat, dan Putri
Damayanti) atas kerjasama dan dukungan serta do’anya selama bimbingan
dan penyusunan skripsi.
8. Teman-teman IWA BERGER Corp. (Adit, Jihan, Nanda, dan Widisya) yang
senantiasa memberi motivasi dan berjuang bersama hingga PIMNAS XXIII di
Denpasar Bali.
9. Teman-teman ESL 43 dan IPB 43 yang tidak dapat disebutkan satu persatu
yang telah banyak memberikan bantuan dan memberikan kenangan indah.
10. Seluruh staf pengajar, staf tata usaha, dan karyawan/i Departemen ESL FEM
IPB yang telah banyak membantu selama masa perkuliahan yang tidak dapat
disebutkan satu persatu.
11. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu
penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Semoga Allah SWT membalas kebaikan semua pihak yang telah membantu
penulis dalam penyusunan skripsi ini.
Bogor, Januari 2011
Penulis
viii
DAFTAR ISI
Halaman
Lembar Pengesahan............................................................................
i
Ringkasan…………...........................................................................
ii
Halaman Pernyataan...........................................................................
iv
Riwayat Hidup……...........................................................................
v
Kata Pengantar...................................................................................
vi
Ucapan Terima Kasih.........................................................................
vii
Daftar Isi.............................................................................................
ix
Daftar Tabel........................................................................................
xii
Daftar Gambar....................................................................................
xiii
Daftar Lampiran..................................................................................
xv
I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang..........................................................................
1
1.2 Perumusan Masalah...................................................................
4
1.3 Tujuan Penelitian.......................................................................
6
1.4 Manfaat Penelitian.....................................................................
6
1.5 Ruang Lingkup Penelitian.........................................................
7
II. Tinjauan Pustaka
2.1 Cuaca dan Iklim........................................................................
8
2.2 Perubahan Iklim dan Dampaknya.............................................
2.2.1 Fenomena Pemanasan Global dan Perubahan Iklim........
2.2.2 Perubahan Iklim di Indonesia...........................................
2.2.3 Dampak Perubahan Iklim.................................................
9
10
11
12
2.3 Dampak Terhadap Perikanan Budidaya...................................
17
2.4 Pengertian Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim.................
23
III. Kerangka Pemikiran……………..................................................
25
IV. Metode Penelitian
4.1 Tempat dan Waktu Penelitian...................................................
28
4.2 Jenis dan Sumber Data..............................................................
28
4.3 Metode Pengambilan Contoh....................................................
29
4.4 Metode dan Prosedur Analisis...................................................
29
ix
4.4.1 Analisis Dampak Perubahan Iklim Terhadap Usaha Tambak
Udang di Kecamatan Muara Gembong………………..
30
4.4.2 Analisis Regresi.............................................................
31
4.4.3 Analisis Nilai Tukar Petambak Udang……………….
32
4.4.4 Analisis Daya Dukung Lingkungan dengan Ecological
Footprint………………………………………………
33
4.4.5 Analisis Persepsi dan Adaptasi Petambak Udang
Terhadap Perubahan Iklim.............................................
35
V. Gambaran Umum Penelitian
5.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian...........................................
37
5.2 Potensi Sumberdaya Perikanan dan Kelautan Kecamatan
Muaragembong.........................................................................
40
5.3 Pemanfaatan Lahan di Kecamatan Muaragembong..................
41
5.4 Rencana Pemanfaatan Lahan di Kecamatan Muaragembong...
41
5.5 Komoditas Udang.....................................................................
42
5.6 Karakteristik Responden
5.6.1 Jenis Kelamin dan Usia...................................................
5.6.2 Tingkat Pendidikan Terakhir...........................................
5.6.3 Status Perkawinan dan Jumlah Tanggungan...................
5.6.4 Luas dan Status Kepemilikan Tambak Udang................
5.6.5 Lama Pengalaman Bertambak Udang.............................
VI. Hasil dan Pembahasan
43
44
45
46
47
6.1 Identifikasi Fenomena Perubahan Iklim Lokal di Kecamatan
Muaragembong
6.1.1 Jumlah Hari Hujan dan Curah Hujan...............................
6.1.2 Suhu.................................................................................
6.1.3 Ketinggian Pasang............................................................
6.1.4 Kecepatan Angin..............................................................
6.1.5 Persepsi Petambak Udang Terhadap Perubahan Iklim.....
6.1.5.1 Penilaian Responden Terhadap Suhu Udara........
6.1.5.2 Penilaian Responden Terhadap Curah Hujan.......
6.1.5.3 Penilaian Responden Terhadap Jumlah Hari Hujan
6.1.5.4 Penilaian Responden Terhadap Jumlah Hari
atau Bulan Kering.................................................
6.1.5.5 Penilaian Responden Terhadap Tinggi dan
Intensitas Banjir Pasang.......................................
6.1.5.6 Penilaian Responden Terhadap Tinggi dan
Intensitas Banjir sungai.........................................
48
51
52
53
54
54
55
56
56
57
58
6.2 Identifikasi dan Analisis Dampak dari Perubahan Iklim Terhadap
Kesejahteraan Petambak Udang di Kecamatan Muaragembong. 58
6.2.1 Penurunan Produktifitas Udang Dampak dari Perubahan
Iklim…………………………………………………….
59
x
6.2.2 Analisis Nilai Tukar Petambak Udang (NTPU)
di Kecamatan Muaragembong..........................................
6.2.3 Analisis Ecological Footprint...........................................
6.2.4 Analisis Regresi Berganda................................................
60
61
64
6.3 Strategi Adaptasi Petambak Udang terhadap Peubahan Iklim....
66
VII. Kesimpulan dan Saran
7.1 Kesimpulan..................................................................................
68
7.2 Saran............................................................................................
69
Daftar Pustaka........................................................................................
71
Lampiran................................................................................................
74
xi
DAFTAR TABEL
Nomor
Halaman
1. Luas Lahan Tambak dan Total Produksi Udang di Kecamatan
Muaragembong Tahun 2000-2009....................................................
4
2. Sektor-Sektor yang Akan Terkena Dampak Perubahan Iklim dan
Upaya Adaptasi yang Dapat Dilakukan............................................
16
3. Matriks Perbedaan Antara Musim Kemarau dan Musim Hujan Serta
Pengaruhnya Terhadap Kualitas Air dan Kondisi/Kualitas Udang..
22
4. Metode Prosedur Penelitian..............................................................
30
5. Tabel Isian Analisis Footprint………..............................................
35
6. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk di Kecamatan
Muaragembong Tahun 2000-2008....................................................
39
7. Data Potensi Lahan Perikanan di Kecamatan Muaragembong Tahun
2009…………………………………………………………...........
40
8. Penggunaan Lahan di Kecamatan Muaragembong Tahun 2009.......
41
9. Nilai Tukar Petambak Udang (NTPU) di Kecamatan Muaragembong
61
10. Hasil Perhitungan Analisis Ecological Footprint..............................
62
xii
DAFTAR GAMBAR
Nomor
1.
Halaman
Proyeksi Dampak Perubahan Iklim Berdasarkan Hasil
Studi dan Model……….....................................................................
15
2.
Kerangka Pemikiran…………….......................................................
27
3.
Peta Letak Kecamatan Muaragembong..............................................
37
4.
5.
Jumlah Luas Lahan Tambak dan Total Produksi Udang
di Kecamatan Muaragembong Tahun 2000–2009.............................
Karakteristik Responden Berdasarkan Usia.......................................
43
44
6.
Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Terakhir
44
7.
Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan..............
45
8.
Karakteristik Responden Berdasarkan Luas Areal Tambak Udang
yang Dikelola......................................................................................
46
Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Pengalaman
Dalam Bertambak Udang...................................................................
47
10. Grafik Jumlah Hari Hujan Menurut Bulan di Kecamatan
Muaragembong Tahun 2000–2009…………….................................
48
11. Grafik Jumlah Curah Hujan Menurut Bulan di Kecamatan
Muaragembong Tahun 2000–2009…………….................................
50
12. Suhu Rata-Rata di Kecamatan Muaragembong Tahun 2000-2009....
51
13. Ketinggian Rata-Rata Pasang Surut di Perairan Teluk Jakarta Tahun
2000-2009…………………………………………………………...
52
14. Grafik Kecepatan Angin Menurut Bulan di Perairan Teluk Jakarta
Tahun 2000-2009................................................................................
53
15. Penilaian Responden Terhadap Perubahan Suhu di Kecamatan
Muaragembong………………………………...................................
55
16. Penilaian Responden Terhadap Curah Hujan
di Kecamatan Muaragembong............................................................
55
17. Penilaian Responden Terhadap Jumlah Hari Hujan
di Kecamatan Muaragembong............................................................
56
9.
18. Penilaian Responden Terhadap Jumlah Hari Kering atau Bulan Kering
di Kecamatan Muaragembong............................................................
57
19. Penilaian Responden Terhadap Tinggi dan Intensitas
Banjir Pasang......................................................................................
57
20. Persepsi Petambak Terhadap Penyebab Gagal Panen
Akibat Perubahan Iklim......................................................................
58
xiii
21. Bentuk Adaptasi yang Dilakukan Responden Terhadap
Perubahan Iklim..................................................................................
67
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Kuesioner Penelitian.................................................................
75
Lampiran 2. Hasil Regresi Linear Berganda Menggunakan SPSS 16.0........
78
Lampiran 3. Data Produksi, Luas Lahan Tambak, Curah Hujan, Jumlah
Hari Hujan, dan Suhu Rata-Rata..............................................
80
Lampiran 4. Perhitungan Nilai Tukar Petambak Udang Tahun 1999 dan 2010
81
Lampiran 5. Dokumentasi Penelitian.............................................................
83
xv
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dunia diramaikan oleh isu perubahan iklim bumi akibat meningkatnya gas
rumah kaca yang memicu terjadinya pemanasan global. Pemanasan global yang
memicu terjadinya perubahan iklim bumi telah menyebabkan perubahanperubahan terhadap sistem fisik dan biologis bumi kita. United Nations
Development Program (2007), melaporkan bahwa pemanasan global dalam kurun
waktu 2000-2004 telah menyebabkan sekitar 262 juta orang terkena bencana iklim
(climate disaster), dan 8%-nya adalah penduduk di dunia ketiga. Pada dekade
terakhir ini, 90% bencana yang terjadi di berbagai belahan dunia terkait dengan
perubahan iklim.
Dampak perubahan iklim akan dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.
Namun yang paling merasakan dampaknya adalah masyarakat miskin. Pertama,
sumber nafkah sebagian masyarakat miskin berada di sektor pertanian dan
perikanan, sehingga sumber-sumber pendapatan mereka sangat di pengaruhi oleh
iklim. Kedua, sanitasi yang buruk mengakibatkan banjir ketika curah hujan lebat,
masyarakat akan terkena berbagai macam penyakit seperti malaria, diare, kolera,
demam berdarah, dan lain-lain. Ketiga, iklim yang berubah-ubah sering
menyebabkan terjadinya gagal panen yang pada akhirnya menyebabkan
kekurangan pangan. Keempat, kekurangan persediaan air akibat pola hujan yang
berubah-ubah (Moediarta dan Stalker, 2007).
Selain itu, perubahan iklim juga berdampak negatif pada kehidupan di
daerah pesisir pantai. Intergovernmental Panel on Climate Change (1990) dalam
1
makalah Dekimpraswil (2002), mengemukakan kenaikan permukaan air laut
Indonesia sebesar 30-60 cm. Kenaikan muka air laut selain mengakibatkan
perubahan arus laut pada wilayah pesisir juga mengakibatkan hilangnya lahanlahan budidaya seperti sawah, payau, kolam ikan, kerusakan mangrove, dan
penurunan produktivitas lahan perikanan budidaya. Apabila keberadaan mangrove
tidak dapat dipertahankan lagi, maka abrasi pantai akan kerap terjadi karena tidak
adanya penahan gelombang, pencemaran dari sungai ke laut akan meningkat
karena tidak adanya filter polutan, dan zona budidaya (aquaculture) pun akan
terancam dengan sendirinya. Peningkatan volume air pada kawasan pesisir akan
memberikan efek akumulatif apabila kenaikan muka air laut serta peningkatan
frekuensi dan intensitas hujan terjadi dalam kurun waktu yang bersamaan.
Perubahan iklim juga menyebabkan gelombang pasang dan banjir yang sering
terjadi, hujan lebat, badai, kekeringan yang silih berganti, sulitnya ketersediaan air
bersih, dan penyebaran berbagai penyakit.
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah pulau tidak kurang
dari 17.500 serta memiliki garis pantai sepanjang 81.000 km sehingga memiliki
sumberdaya laut yang melimpah seperti perikanan, terumbu karang, udang, cumicumi, kerang, lobster, dan berbagai sumberdaya laut lainnya. Bagi Indonesia
sebagai negara kepulauan, pesisir merupakan kawasan strategis dengan berbagai
keunggulan komparatif dan kompetitif sehingga berpotensi menjadi penggerak
utama (prime mover) pembangunan nasional. Penduduk Indonesia yang tinggal di
daerah pesisir cukup besar, sebagai contoh 65% penduduk Jawa mendiami daerah
pesisir (Dekimpraswil, 2002). Kondisi tersebut menyebabkan negara kita sangat
rawan terhadap dampak negatif perubahan iklim. Perubahan iklim telah mengubah
2
pola presipitasi dan evaporasi sehingga berpotensi menimbulkan banjir di
beberapa lokasi. Hal ini sangat mengancam berbagai bidang mata pencaharian di
tanah air terutama pada sektor perikanan. Perubahan iklim jelas mengganggu
aktivitas warga pesisir secara ekonomi, pendidikan, dan sosial.
Salah satu potensi perikanan yang dimiliki Indonesia adalah perikanan
budidaya tambak udang yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Udang
merupakan salah satu komoditas unggulan dari sektor perikanan Indonesia. Udang
selalu menjadi komoditas perdagangan terpenting dilihat dari aspek nilainya yang
mencapai 45,6% dari keseluruhan nilai perdagangan (ekspor) komoditas
perikanan Indonesia. Komoditas udang didapatkan melalui penangkapan yang
dilakukan oleh para nelayan di laut ataupun melalui penangkapan atau pemanenan
yang dilakukan oleh para petani tambak (budidaya). Produksi udang terutama
dihasilkan dari budidaya sebesar 56,81% dan dari penangkapan di laut sebesar
40,85% (Anwar, 2009).
Kecamatan Muaragembong merupakan salah satu daerah pesisir pantai
Teluk Jakarta dan hilir Sungai Citarum. Muaragembong adalah salah satu
kecamatan yang berada di Kabupaten Bekasi sebagai sentra produksi perikanan
laut dan darat (budidaya) di pesisir Teluk Jakarta. Sebagian besar daerahnya
berada di kawasan pesisir pantai dan 76,67% penggunaan lahannya untuk tambak
sehingga masyarakatnya sebagian besar bermata pencaharian utama sebagai
petambak udang.
Selama periode 2000–2009 luas areal tambak mengalami peningkatan
sebesar 1.764 ha. Pada tahun 2000 luas areal tambak sebesar 8.977 ha dan pada
tahun 2009 luas areal tambak sebesar 10.741 ha. Namun, penambahan total
3
produksi udang hanya sebesar 207,9 ton dari tahun 2000 sebesar 1569,1 ton
menjadi 1.777 ton pada tahun 2009. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel
1 berikut ini.
Tabel 1. Luas Lahan Tambak dan Total Produksi Udang di Kecamatan
Muaragembong Tahun 2000-2009
Tahun
Luas (ha)
Produksi (ton)
2000
8.977
1.569,1
2001
8.977
1.929
2002
10.199
1.898,6
2003
10.204
1.915,8
2004
10.231
1.956,1
2005
10.233
864,8
2006
10.736
1.145,9
2007
10.743
1.620,6
2008
10.741
1.717,25
2009
10.741
1.777
Sumber: BPS dan Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kab. Bekasi, 2010
Perubahan iklim yang terjadi pada saat ini mempengaruhi kualitas
lingkungan diduga berdampak terhadap produktifitas dan volume produksi udang
di Kecamatan Muaragembong. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan
informasi apakah perubahan iklim menyebabkan perubahan produksi yang
berimplikasi terhadap kesejahteraan petambak udang khususnya di Kecamatan
Muaragembong.
1.2 Perumusan Masalah
Perikanan merupakan salah satu sektor yang terkena dampak dari perubahan
iklim. Kecamatan Muaragembong merupakan salah satu wilayah perikanan
budidaya tambak terluas di Kabupaten Bekasi yakni sebesar 10.741 ha.
Muaragembong merupakan salah satu wilayah pesisir Teluk Jakarta yang menjadi
sentral perikanan budidaya tambak khususnya tambak udang di Kabupaten
Bekasi.
4
Perubahan iklim global yang terjadi akibat meningkatnya gas rumah kaca
dalam skala lokal memicu timbulnya fenomena perubahan iklim lokal. Perubahan
iklim lokal yang terjadi diduga akan mempengaruhi kondisi lingkungan dan
menimbulkan dampak terhadap perikanan budidaya tambak udang. Perubahan
iklim lokal yang terjadi diindikasikan oleh adanya perubahan suhu yang semakin
meningkat, curah hujan yang meningkat, jumlah hari hujan yang meningkat, dan
peningkatan permukaan air laut. Tingkat suhu yang tinggi dapat meningkatkan
salinitas dan tingkat keasaman (PH) air tambak. Curah hujan dan jumlah hari
hujan yang tinggi dapat menurunkan tingkat salinitas air, tingkat kecerahan (air
menjadi lebih keruh), tingkat keasaman (PH) yang rendah, dan fluktuasi suhu di
tambak yang akan berakibat pada menurunnya daya tahan tubuh dari udang dan
menimbulkan penyakit. Selain itu, jika curah hujan, jumlah hari hujan, dan pasang
yang tinggi terjadi secara bersamaan bisa mengakibatkan banjir pada daerah
tambak.
Terbatasnya informasi yang diperoleh oleh para petambak mengenai adanya
fenomena perubahan iklim lokal yang berpengaruh pada aktifitas usaha budidaya
tambak udang dalam merespon dampak dari perubahan iklim yang terjadi
sehingga menyebabkan kerugian bagi para petambak. Hal ini dapat menyebabkan
menurunnya produktifitas dan volume produksi tambak udang yang akan
berimplikasi menurunnya pendapatan petambak. Oleh karena itu, diperlukan
analisis mengenai dampak dari perubahan iklim lokal terhadap kesejahteraan
petambak udang.
Berdasarkan uraian di atas, masalah dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
5
1. Bagaimana fenomena perubahan iklim lokal di Kecamatan Muaragembong?
2. Bagaimana dampak dari perubahan iklim lokal terhadap kesejahteraan
petambak udang di Kecamatan Muaragembong?
3. Bagaimana strategi adaptasi yang dilakukan petambak udang di Kecamatan
Muaragembong akibat perubahan iklim?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengidentifikasi
fenomena
perubahan
iklim
lokal
di
Kecamatan
Muaragembong.
2. Mengidentifikasi dan menganalisis dampak dari fenomena perubahan iklim
lokal terhadap kesejahteraan petambak udang di Kecamatan Muaragembong.
3. Mengidentifikasi strategi adaptasi yang dilakukan petambak udang di
Kecamatan Muaragembong terhadap perubahan iklim lokal.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Bagi peneliti diharapkan ini dapat berguna di dalam pengembangan ilmu
pengetahuan.
2. Sebagai bahan pertimbangan untuk pemerintah dalam membuat kebijakan
dalam menanggulangi dampak yang diakibatkan oleh perubahan iklim
terhadap sektor perikanan tambak khususnya tambak udang di Kecamatan
Muaragembong Kabupaten Bekasi.
3. Sebagai bahan referensi untuk penelitian berikutnya.
6
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian dilakukan di Kecamatan Muaragembong hanya mengidentifikasi
fenomena gejala-gejala perubahan iklim lokal, mengidentifikasi dan menganalisis
dampak dari perubahan iklim yang dirasakan oleh petambak udang, dan
mengidentifikasi strategi adaptasi petambak udang di Kecamatan Muaragembong,
Identifikasi fenomena perubahan iklim lokal dilihat dari data jumlah curah hujan,
jumlah curah hujan, suhu rata-rata, ketinggian pasang surut air laut, kecepatan
angin, dan persepsi dari petambak. Dampak perubahan iklim terhadap
kesejahteraan petambak dilihat dengan melakukan analisis deskriptif penurunan
produktifitas, kenaikan biaya adaptasi, nilai tukar petambak udang, dan analisis
ecological footprint.
7
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Cuaca dan Iklim
Menurut Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah (2002), cuaca dan
iklim adalah proses interaktif alami (kimia, biologis, dan fisis) di alam, khususnya
di atmosfer. Hal ini terjadi karena adanya sumber energi, yaitu matahari dan
gerakan rotasi bumi pada poros (kurang dari 24 jam) serta revolusi bumi
mengelilingi matahari. Dalam peristiwa ini, pendekatan fisis lebih dominan
daripada kimia dan biologis. Cuaca sebagai kondisi udara sesaat dan iklim sebagai
kondisi udara rata-rata dalam kurun waktu tertentu yang merupakan hasil interaksi
proses fisis. Iklim selalu berubah menurut ruang dan waktu. Dalam skala waktu
perubahan iklim akan membentuk pola atau siklus tertentu, baik harian, musiman,
tahunan maupun siklus beberapa tahunan. Selain perubahan yang berpola siklus,
aktivitas manusia menyebabkan pola iklim berubah secara berkelanjutan, baik
dalam skala global maupun skala lokal.
Menurut Sutjahjo dan Susanta (2007), cuaca adalah rata-rata kondisi
atmosfer di suatu tempat tertentu dengan waktu yang relatif singkat. Iklim adalah
keadaaan rata-rata cuaca dari suatu wilayah yang luas dan diperhitungkan dalam
jangka waktu yang lama. Cuaca dan iklim mempunyai unsur-unsur sebagai
berikut:
1. Temperatur atau suhu udara adalah keadaan panas atau dinginnya udara
disuatu tempat pada waktu tertentu.
2. Kelembaban udara adalah banyaknya kandungan uap air yang terdapat di
udara.
8
3. Curah hujan adalah titik-titik air hasil pengembunan uap air di udara yang
jatuh ke bumi.
4. Angin adalah udara yang bergerak dari daerah yang bertekanan udara
maksimum ke daerah yang bertekanan udara minimum.
5. Tekanan udara adalah udara yang mempunyai massa atau tenaga yang
menekan bumi.
6. Penyinaran matahari adalah penerimaan energi matahari oleh permukaan bumi
dalam bentuk sinar-sinar gelombang pendek yang menerobos atmosfer.
Banyak atau sedikitnya panas dari sinar matahari yang sampai ke bumi
dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya:
a). Besarnya sudut datang sinar matahari.
b). Lama penyinaran matahari.
c). Jenis tanah atau benda yang disinari oleh matahari.
d). Keadaan awan pada waktu penyinaran.
2.2 Perubahan Iklim dan Dampaknya
Menurut Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah (2002), perubahan
iklim didefinisikan sebagai perubahan pada iklim yang dipengaruhi langsung atau
tidak langsung oleh aktivitas manusia yang merubah komposisi atmosfer, yang
akan memperbesar keragaman iklim teramati pada periode yang cukup panjang.
Menurut Hardjawinata (1997), perubahan iklim (climate change) adalah
berubahnya kondisi fisik atmosfer bumi. Proses perubahan iklim ditentukan oleh
proses eksternal maupun internal dan kegiatan manusia. Proses eksternal tercakup
antara lain variasi aktivitas matahari, variasi rotasi bumi, variasi dan proses
kegiatan bumi. Dalam proses internal dapat bersifat global, regional maupun
9
lokal, yang kemudian lebih dikenal sebagai elemen iklim, yaitu suhu udara,
kelembapan udara, curah hujan, angin, radiasi matahari, dan penguapan.
Sedangkan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia adalah daya kehidupan,
pembukaan dan pemakaian lahan, polusi, dan sebagainya.
2.2.1
Fenomena Pemanasan Global dan Perubahan Iklim
Menurut Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Dekimpraswil)
(2002), pemanasan global (global warming) pada dasarnya merupakan fenomena
peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah
kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas
seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O), dan CFC
sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. Berbagai literatur
menunjukkan kenaikan temperatur global termasuk Indonesia yang terjadi pada
kisaran 1,5–40C pada akhir abad 21. Iklim bumi dipengaruhi oleh suhu global
rata-rata dan peka terhadap perubahan suhu. Suhu bumi ditentukan oleh
keseimbangan antara energi yang datang dari matahari dan energi yang
diemisikan dari permukaan bumi ke luar angkasa. Radiasi inframerah dari
permukaan bumi sebagian diserap oleh beberapa gas rumah kaca (khususnya CO2
dan uap air) diatmosfer dan sebagian diemisikan ke permukaan untuk memanasi
permukaan bumi dan atmosfer bawah.
Menurut Lembaga Penelitian Antariksa Nasional (2002), gas rumah kaca
(GRK) merupakan gas-gas di atmosfer yang memiliki kemampuan dalam
menyerap gelombang radiasi gelombang panjang yang dipancarkan kembali ke
atmosfer oleh permukaan bumi. Sifat termal radiasi inilah penyebab pemanasan
global. Tanpa GRK suhu bumi akan lebih dingin 330C dibandingkan pada kondisi
10
sekarang. Akumulasi konsentrasi GRK yang cepat di atmosfer dapat
mengakibatkan penyimpangan iklim.
Menurut Koesmaryono (1999), perubahan iklim dan pemanasan global
diduga akan meningkatkan kekerapan dan intensitas peristiwa El-Nino Southern
Oscillation (ENSO). Peristiwa ini sering dikaitkan dengan penghangatan atau
pendinginan suhu muka laut yang menyimpang dari normal yang berakibat pada
cuaca atau sering disebut dengan El-Nino dan La-Nina. Kejadian kekeringan
akibat El-Nino telah menyebabkan meningkatnya luas daerah tanam yang terkena
kekeringan sampai 8-10 kali lipat dan sebaliknya La-Nina menyebabkan
meningkatnya luas tanaman yang terkena banjir sempai 4-5 kali lipat dari kondisi
normal.
Studi yang dilakukan Ratag et al. (1998) dalam laporan akhir Kementerian
Lingkungan Hidup (2001), menunjukkan bahwa apabila konsentrasi CO2
meningkat dua kali lipat dari konsentrasi CO2 saat ini, maka diperkirakan
konsentrasi kejadian ENSO yang saat ini terjadi sekali dalam 3-7 tahun akan
meningkat menjadi 2-5 tahun. Dengan demikian, perubahan iklim akan mengarah
pada terjadinya penurunan atau peningkatan curah hujan yang berlebihan pada
suatu lokasi tertentu.
2.2.2 Perubahan Iklim di Indonesia
Kenaikan atau peningkatan GRK berpengaruh dalam kenaikan suhu di
lintang sedang atau tinggi. Indonesia menurut Boer et al. (2003), berdasarkan data
hujan historis yang dibagi dua periode, yaitu tahun 1931-1960 dan 1961-1990,
diperoleh kecenderungan bahwa curah hujan dimusim penghujan wilayah selatan
Indonesia dan sebagian kawasan Indonesia Timur akan semakin basah dan musim
11
kemarau akan semakin kering. Sedangkan pada Indonesia bagian utara, curah
musim penghujan akan semakin berkurang dan musim kemarau akan semakin
bertambah. Dengan demikian, sebenarnya Indonesia sudah mengalami perubahan
iklim.
Menurut Tjahyono (1997) dalam laporan akhir Kementerian Lingkungan
Hidup (2001), menyebutkan bahwa pengaruh El-Nino kuat pada daerah yang
dipengaruhi oleh sistem monsoon, lemah pada daerah sistem equatorial dan tidak
jelas pada daerah dengan sistem lokal. Menurut Koesmaryono (1999), gejala
kebalikan dari El-Nino adalah La-Nina, yaitu mendinginnya permukaan laut
Pasifik Timur sehingga pusat konvergensi udara pasifik tropis akan berada di
wilayah Indonesia dimana udara panas cenderung membentuk awan dan hujan
serta memungkinkan terjadinya banjir. Frekuensi kejadian La-Nina dalam kurun
waktu 100 tahun terakhir sekitar separuh jumlah kejadian El-Nino dan 16 kali
peristiwa La-Nina, sekitar 87% terjadi berdampingan dengan El-Nino, serta
umumnya La-Nina mendahului El-Nino.
2.2.3 Dampak Perubahan Iklim
Menurut Sutjahjo dan Susanta (2007), efek pemanasan global yang akan
terjadi di daerah tropis adalah kelembaban yang tinggi yang akan berdampak
antara lain sebagai berikut:
a). Curah hujan akan meningkat. Kondisi saat ini, curah hujan di seluruh dunia
telah meningkat sebesar 1% dalam seratus tahun terakhir. Hal ini dikarenakan
untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan akan mengakibatkan kenaikan
curah hujan sebesar 1%.
b). Badai akan menjadi lebih sering terjadi.
12
c). Air tanah akan lebih cepat menguap.
d). Beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya.
e). Angin akan bertiup lebih kencang dengan pola yang berbeda-beda.
f). Terjadinya badai topan akan menjadi lebih besar.
g). Beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi.
h). Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.
Pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim akan berpengaruh
kepada sektor pertanian dan perikanan Indonesia antara lain menurunkan
produktivitas pertanian dan perikanan khususnya pada wilayah pantai akibat
naiknya temperatur bumi; terjadinya iklim ekstrim yang meningkat sehingga
sektor pertanian dan perikanan akan kehilangan produksi akibat bencana kering
dan banjir yang silih berganti; kerawanan pangan akan meningkat di wilayah yang
rawan bencana kering dan banjir;
dan tanaman pangan dan hutan dapat
mengalami serangan hama dan penyakit yang lebih beragam dan lebih hebat.
Menurut Handoko et al (2008), konsekuensi perubahan iklim bagi Indonesia
adalah:
1. Perubahan Musim dan Curah Hujan
Petani di Jawa dan Sumatera telah mengeluhkan kejadian cuaca yang tidak
normal dalam beberapa tahun terakhir. Permulaan musim hujan bergeser 10-20
hari lebih lambat dan musim kering sekitar 10-60 hari lebih cepat. Daerah-daerah
Indonesia yang berada di selatan garis khatulistiwa akan mengalami musim kering
yang lebih panjang dan musim hujan yang lebih pendek namun lebih intensif.
Selain itu cuaca menjadi lebih bervariasi dengan variabilitas curah hujan menjadi
lebih tinggi.
13
2. Kondisi cuaca yang semakin ekstrem
Indonesia akan mengalami potensi bencana kekeringan dan banjir yang
lebih sering dengan magnitude yang lebih tinggi karena cuaca yang ekstrim.
Curah hujan yang tinggi juga berpotensi mengakibatkan bencana longsor pada
berbagai daerah di Indonesia.
3. Kenaikan tinggi muka air laut
Peningkatan suhu global mengakibatkan pencairan salju dan gleicer di kutub
utara dan selatan yang menyebabkan kenaikan tinggi muka laut antara 9 hingga
100 cm. Hal ini akan mempercepat erosi pantai, intrusi air laut ke dalam air tanah,
merusak lahan-lahan basah di pantai dan menenggelamkan pulau-pulau kecil.
2. Suhu Lautan yang menghangat
Air laut yang menghangat dapat menurunkan perkembangan plankton dan
membatasi pasokan nutrisi bagi ikan, sehingga ikan akan bermigrasi ke daerahdaerah yang lebih dingin dan memiliki cukup pakan. Air laut yang menghangat
juga menyebabkan kerusakan koral (coral).
3. Suhu udara semakin meningkat
Kondisi ini akan mengubah pola vegetasi serta distribusi serangga termasuk
nyamuk, sehingga mampu bertahan pada daerah-daerah yang sebelumnya terlalu
dingin.
14
Secara skematis, dampak-dampak perubahan iklim dapat dilihat pada
Gambar 1 berikut.
1.
2.
3.
4.
5.
Dampak Positif:
Meningkatkan
potensi
hasil
tanaman
pada
beberapa
daerah
lintang
tengah
akibat
naiknya
suhu.
Meningkatnya
suplai kayu global
dari
hutan
produksi.
Meningkatnya
ketersediaan
air
untuk
manusia
pada daerah kurang
air ~ misalnya
sebagian wilayah
Asia Tenggara.
Menurunnya
tingkat kematian
pada musim dingin
di daerah lintang
tinggi.
Menurunnya
konsumsi
energi
untuk pemanasan
karena
naiknya
suhu pada musim
dingin.
1.
2.
Dampak
Perubahan
Iklim
3.
4.
5.
Dampak negatif:
Menurunnya
produksi
potensial
pertanian di daerah
tropik dan sub tropik
akibat naiknya suhu.
Menurunnya
ketersediaan
air
khususnya
pada
daerah subtropik.
Meningkatnya
jumlah manusia yang
terekspose terhadap
penyakit
menular
(seperti malaria dan
kolera) dan kematian
karena panas.
Meluasnya wilayah
beresiko banjir di
daerah permukiman
akibat meningkatnya
curah hujan dan
naiknya muka air
laut.
Meningkatnya
konsumsi
energi
untuk
AC
atau
terganggunya suplai
energi
dari
pembangkit
listrik
tenaga air.
Sumber: IPCC (2001) dalam Boer et al, 2003
Gambar 1 . Proyeksi Dampak Perubahan Iklim Berdasarkan Hasil Studi dan
Model
Menurut UNDP (2007), sektor-sektor yang akan terkena dampak perubahan
iklim dan upaya adaptasi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut dalam
Tabel 2.
15
Tabel 2. Sektor-Sektor yang Akan Terkena Dampak Perubahan Iklim dan
Upaya Adaptasi yang Dapat Dilakukan
Sektor
Dampak
Adaptasi
1. Kendala suplai irigasi dan 1. Perencanaan, pembagian air,
air
minum,
dan
dan komersialisasi.
Pengairan
peningkatan salinitas.
2. Suplai air alternatif dan
2. Intrusi air asin ke daratan
mundur.
dan aquifer pantai.
Ekosistem 1. Peningkatan salinitas di Perubahan praktek penggunaan
Darat
lahan pertanian dan aliran lahan, pengelolaan pertamanan,
air.
pengelolaan lahan, dan
2. Kepunahan
perlindungan terhadap
keanekaragaman hayati.
kebakaran.
3. Peningkatan
resiko
kebakaran.
4. Invasi gulma.
Ekosistem 1. Salinisasi lahan sawah di 1. Intervensi fisik.
Air
wilayah pantai.
2. Perubahan alokasi air.
2. Perubahan
ekosistem 3. Perubahan alokasi air dan
sungai dan sawah.
mengurangi aliran masuk
3. Eutropikasi.
hara.
Ekosistem 1. Perusakan terumbu karang. Penyemaian terumbu karang.
Pantai
2. Limbah beracun.
1. Penurunan produktivitas, 1. Perubahan pengelolaan dan
resiko
banjir
dan
kebijakan,
perlindungan
kekeringan, dan resiko
terhadap kebakaran, dan
kebakaran hutan.
peramalan musim.
2. Perubahan pada pasar 2. Pemasaran, perencanaan, dan
Pertanian
global.
perdagangan karbon.
dan
3. Peningkatan
serangan 3. Pengendalian terpadu dan
Kehutanan
hama dan penyakit.
penyemprotan.
4. Peningkatan produksi oleh 4. Merubah teknik usaha tani
peningkatan CO2 diikuti
dan industri.
dengan
penurunan
produksi oleh perubahan
iklim.
Dampak campuran dan
Relokasi
Hortikultura tergantung spesies dan
lokasi.
Perikanan
Perubahan tangkapan.
Monitoring dan pengelolaan
Perumahan Peningkatan dampak banjir,
Pewilayahan dan perencanaan
dan
badai, dan kenaikan muka air bencana.
Industri
laut.
Kesehatan 1. Ekspansi dan perluasan 1. Karantina, eradikasi atau
vektor penyakit.
pengendalian penyakit.
2. Peningkatan
polusi 2. Pengendalian emisi.
fotokimia udara.
Sumber: United Nations Development Program–Indonesia, 2007
16
2.3 Dampak Terhadap Perikanan Budidaya
Kegiatan perikanan sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim karena
lokasinya yang berada pada dataran rendah (low lying area). Untuk kegiatan
budidaya, dampak utama berupa penggenangan kawasan budidaya, kehilangan
aset ekonomi dan infrastruktur perikanan, meningkatnya erosi dan rusaknya lahan
budidaya di wilayah pesisir serta keanekaragaman hayati pesisir dan pulau-pulau
kecil.
Kerugian akan diderita oleh masyarakat pesisir, nelayan tangkap, dan
pembudidaya dalam bentuk:
a). Menurunnya kualitas lingkungan pesisir dan pulau-pulau kecil akibat erosi
pantai, intrusi air laut, dan pencemaran.
b). Berkurangnya produktifitas perikanan karena rusaknya ekosistem mangrove
dan terumbu karang akibat kenaikan suhu permukaan air laut dan perubahan
rezim air tanah.
c). Kerusakan lahan budidaya perikanan akibat penggenangan oleh air laut
maupun banjir yang disebabkan kenaikan muka air laut.
d). Kerusakan rumah dan potensi kehilangan jiwa akibat kejadian ekstrim seperti
badai tropis dan gelombang tinggi.
Untuk menghitung kerugian secara ekonomis masih memerlukan kajian
lebih detail terkait dengan nilai ekonomi sumberdaya, lahan produktif, kegiatan
ekonomi, dan infrastruktur di wilayah pesisir. Sebagai gambaran umum, saat ini
Indonesia telah memiliki ± 400.000 ha lahan budidaya tambak dan berbagai
infrastruktur perikanan. Penggenangan lahan tersebut tentu saja akan mengganggu
produksi terutama udang yang merupakan komoditas ekspor strategis. Selain itu,
17
dampak perubahan iklim juga akan memperburuk kondisi sosial ekonomi dari
sekitar 8.000 desa pesisir dengan populasi sekitar 16.000.000 jiwa dengan indeks
kemiskinan mencapai 32% (Dekimpraswil, 2002).
Pada sektor pertambakan, perubahan iklim membuat udang menjadi lebih
rentan dengan perubahan cuaca. Daya tahan udang menurun sehingga mudah
terserang penyakit. Selain itu, perubahan cuaca dan suhu perairan dapat memicu
stress pada udang.
Menurut Muralidhar et al (2010), menyatakan bahwa curah hujan dan
jumlah hari hujan yang tinggi mengakibatkan terjadinya penurunan salinitas,
fluktuasi tingkat keasaman (PH), dan mengurangi Dissolved Oxygen (DO) air
tambak. Dampak yang akan ditimbulkan adalah daya tahan tubuh udang akan
turun, molting, udang terkena penyakit, dan biaya produksi yang keluarkan
menjadi besar. Suhu yang tinggi mengakibatkan salinitas meningkat, tingkat
keasaman (PH) meningkat, dan kekeringan sehingga menyebabkan tingkat
pertumbuhan udang rendah, periode budidaya meningkat, dan meningkatnya
biaya produksi.
Menurut Sutanto (2009)1, peralihan dari musim hujan ke kemarau dan
perubahan cuaca yang ekstrem menurunkan daya tahan udang sehingga di
beberapa daerah mulai merebak penyakit virus pada udang. Di Jawa Timur,
penyakit Infectious Myo Necrosis Virus (IMVN) menyebar pada beberapa areal
tambak di Banyuwangi, Situbondo, dan Malang. Adapun di Lampung terjadi
serangan penyakit bintik putih atau White Spot Syndrome Virus (WSSV). Serangan
virus telah menyebabkan produksi udang turun 30-40 persen. Gangguan penyakit
1. Harian Kompas Selasa 5 Mei 2009. Perubahan Cuaca Ekstrem, Penyakit Udang Merebak.
Http://koralonline.com/artikel/12. Diakses tanggal 1 Oktober 2010.
18
pada udang memang setiap tahun terjadi. Biasanya terjadi pada periode
Desember-Februari, yang dipicu oleh perubahan cuaca dan suhu perairan.
Menurut Subiyakto (2009)2, budidaya udang juga terpengaruh dampak
peralihan musim hujan ke musim kemarau yang berkepanjangan. Selain itu,
dampak perubahan iklim yang tercermin dari pergantian cuaca harian yang
ekstrem, yakni panas dan hujan datang bergantian sehingga membuat suhu
perairan di tambak berfluktuasi 280–310C. Gejolak perubahan cuaca dan suhu
perairan telah memicu stress pada udang dan melemahnya daya tahan tubuh benih
udang (benur). Menurunnya daya tahan tubuh mengakibatkan udang lebih mudah
terjangkit penyakit. Perubahan suhu perairan juga memacu meletupnya
pertumbuhan plankton di perairan, hal ini dapat menggangu sirkulasi oksigen di
tambak yang akhirnya berdampak pada udang. Selain udang dewasa, perubahan
cuaca yang ekstrem juga berpengaruh pada benur. Angka kehidupan benur yang
biasanya 75-80% kini turun menjadi sekitar 50%.
Beberapa item yang perlu diwaspadai pada saat musim hujan terkait dengan
teknis budidaya antara lain:
1.
Tingkat kestabilan kualitas air tambak. Pada saat musim hujan, kualitas air
tambak cenderung tidak stabil dan berfluktuasi serta pada kondisi ekstrim
akan terjadi penurunan kualitas perairan secara drastis. Kualitas perairan erat
sekali dengan aktivitas plankthon (phytoplankthon) dalam berfotosintesa
untuk menghasilkan cholorophyl (zat hijau daun) yang sangat berguna
dalam menjaga keseimbangan ekosistem perairan tersebut. Kegiatan
fotosintesa oleh plankthon (phytoplankthon) tersebut sangat tergantung oleh
2. Harian Kompas Selasa 5 Mei 2009. Perubahan Cuaca Ekstrem, Penyakit Udang Merebak.
Http://koralonline.com/artikel/12. Diakses tanggal 1 Oktober 2010.
19
adanya sinar matahari, sedangkan pada musim hujan intensitas sinar
matahari di dalam perairan tambak relatif minim sehingga kualitas air
tambak cenderung tidak stabil. Pada saat curah hujan sangat tinggi, bahkan
sering dijumpai fenomena “plankthon collaps”, yaitu plankthon yang ada di
dalam perairan tambak mengalami “kematian secara massal”. Pada kondisi
kualitas air tambak tidak stabil, udang akan sangat mudah mengalami stress
dan sangat rentan terhadap berbagai ancaman penyakit.
2.
Sumber pemasukan air (inlet). Di Indonesia secara umum sumber
pemasukan air (inlet) yang digunakan untuk sirkulasi air tambak adalah air
yang diambil secara langsung dari laut atau sungai besar. Pada saat musim
hujan sumber pemasukan air ini relatif keruh dan kotor karena erosi dan
kotoran yang terbawa oleh aliran air laut atau sungai. Kondisi air seperti ini
jika digunakan secara langsung dalam proses sirkulasi air tambak akan
berpengaruh terhadap kualitas air yaitu adanya partikel-partikel di dalam
perairan tambak. Kondisi seperti ini dapat mengakibatkan penyakit insang
merah pada udang.
3.
Program pemberian pakan. Pada saat musim hujan, program pemberian
pakan (terutama yang terkait dengan pakan harian) biasanya terganggu baik
itu frekuensi yang diberikan maupun tingkat rataan sebaran pakan dalam
petakan. Kondisi seperti ini lebih terkait dengan sikap dan kedisiplinan dari
petugas pemberi pakan, karena biasanya seseorang cenderung malas dan
seenaknya dalam memberikan pakan dalam kondisi hujan. Perubahan
frekuensi pakan dan sebaran pakan yang tidak merata secara tidak langsung
20
dapat mengakibatkan ukuran udang atau tingkat variasi udang akan beragam
dan pada kondisi ekstrim dapat memperburuk kondisi udang.
Menurut Marindro (2008), faktor musim memiliki pengaruh yang nyata
terhadap proses budidaya udang terutama terkait dengan pengelolaan kualitas air
tambak dan kondisi serta kualitas udang. Sebagai negara tropis Indonesia
memiliki dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan yang masingmasing memiliki karakteristik yang berbeda terhadap proses budidaya udang.
Karakteristik tersebut terkait dengan intensitas sinar matahari dan intensitas air
hujan pada perairan tambak. Mengacu pada perbedaan karakteristik tersebut maka
sudah selayaknya jika sistem pengelolaan budidaya udang pada kedua musim
tersebut juga berbeda agar tidak terjadi treatment error yang dapat merugikan
usaha budidaya udang pada periode tersebut.
Pengetahuan dasar tentang karakteristik musim kemarau dan musim hujan
bagi proses budidaya udang sudah sewajarnya dipahami oleh para pelaku
budidaya udang, karena bagaimanapun juga pada umumnya proses budidaya
udang di Indonesia dilakukan pada dua periode musim tersebut dalam satu tahun
secara bergantian. Tabulasi di bawah ini merupakan matriks perbedaan antara
musim kemarau dan musim hujan serta pengaruhnya terhadap kualitas air dan
kondisi atau kualitas udang.
21
Tabel 3. Matriks Perbedaan Antara Musim Kemarau dan Musim Hujan
Serta Pengaruhnya Terhadap Kualitas Air dan Kondisi/Kualitas
Udang
No.
Items
Musim Kemarau
Musim Hujan
1. Intensitas sinar matahari Tinggi
Rendah
2. Salinitas air tambak
Tinggi
Rendah – sedang
3. Kestabilan plankton
Stabil – booming
Tidak stabil –
collaps
4. Pertumbuhan udang
Lambat – kuntet
Normal
5. Kecerahan air
Cenderung rendah (pada Cenderung tinggi
kecerahan
tinggi
berpotensi menumbuhkan
lumut di dasar tambak)
6. Warna air
Dominan hijau, hijau Dominan coklat
pupus,
dan
hijau dan
coklat
kekuningan, Pada malam kehijauan.
hari terkadang dijumpai
fenomena air menyala
Sumber: Marindro, 20083
Berdasarkan Tabel 3 di atas terlihat bahwa intensitas sinar matahari sangat
berpengaruh terhadap kualitas air tambak yang pada akhirnya ikut berpengaruh
pula pada pertumbuhan udang. Meskipun memiliki karakteristik yang berbeda,
proses budidaya udang pada kedua musim tersebut sama-sama memerlukan
penanganan yang cermat terutama dalam pengelolaan kualitas air tambak.
Kecermatan penanganan dibutuhkan sebagai upaya mencegah kecenderungan
perubahan kualitas air secara drastis yang disebabkan oleh karakteristik kedua
musim tersebut. Pengetahuan dasar tentang karakteristik musim kemarau dan
musim hujan bagi proses budidaya udang sudah sewajarnya dipahami oleh para
pelaku budidaya udang, karena bagaimanapun juga pada umumnya proses
budidaya udang di Indonesia dilakukan pada dua periode musim tersebut dalam
satu tahun secara bergantian.
3. Marindro, I. 2008. Waspada Terhadap Musim Hujan. Dalam Http://marindro-ina.blogspot.com//. Diakses
pada tanggal 30 September 2010.
22
2.4
Pengertian Adaptasi Perubahan Iklim
Menurut Bennett (1978) dalam Mulyadi (2005), menyatakan bahwa adaptasi
merupakan tingkah laku penyesuain (behavioral adaptation) yang menunjuk pada
tindakan. Menurut Vayda dan Rappaport (1968) dalam Mulyadi (2005), adaptasi
manusia dapat dilihat secara fungsional dan prosesual. Adaptasi fungsional
merupakan respon suatu organisme atau sistem yang bertujuan untuk
mempertahankan kondisi stabil. Adaptasi prosesual merupakan sistem tingkah
laku yang dibentuk sebagai akibat dari proses penyesuaian manusia terhadap
berbagai perubahan lingkungan di sekitarnya.
Proses adaptasi merupakan satu bagian dari proses evolusi kebudayaan,
yakni proses yang mencakup rangkaian usaha-usaha manusia untuk menyesuaikan
diri atau memberi respon terhadap perubahan lingkungan fisik maupun sosial
yang terjadi secara temporal. Perubahan lingkungan yang sangat berpengaruh
terhadap sistem adaptasi manusia adalah perubahan lingkungan yang berupa
bencana, yaitu kejadian yang mengancam terhadap kelangsungan hidup
organisme termasuk manusia. Dalam menghadapi perubahan lingkungan akibat
bencana tersebut, manusia mengembangkan pola adaptasi yang berbentuk polapola tingkah laku yang salah satunya adalah perubahan strategi mata pencaharian
(Mulyadi, 2005).
Adaptasi perubahan iklim adalah upaya antisipasi untuk menyesuaikan diri
yang harus dilakukan berbagai sektor pembangunan dengan terjadinya perubahan
iklim global yang akan menimbulkan berbagai dampak terhadap seluruh aktivitas
manusia (Tim Peneliti LPPM-IPB, 2010). Menurut Murdiyarso (2001), adaptasi
terhadap dampak perubahan iklim adalah salah satu cara penyesuaian yang
23
dilakukan secara spontan atau terencana untuk memberikan reaksi terhadap
perubahan iklim yang diprediksi atau yang sudah terjadi.
Persepsi petambak yang tidak akurat mengenai perubahan iklim akibat dari
rendahnya kesadaran dan pemahaman. Hal ini akan menyebabkan perbedaan cara
adaptasi yang dilakukan oleh petambak udang. Menurut Natawijaya et al. (2009),
faktor penghambat utama adaptasi adalah kurangnya akses terhadap informasi
yang relevan. Akibatnya informasi dan pengetahuan terkait perubahan iklim
menjadi rendah. Sedangkan faktor yang membantu adaptasi adalah pengalaman
dan mengikuti petambak lain.
24
III. KERANGKA PEMIKIRAN
Perubahan iklim global yang diakibatkan dari meningkatnya emisi gas
rumah kaca salah satunya ditandai dengan munculnya gejala El Nino dan La-Nina
dengan konsekuensi dampak pada fluktuasi variabilitas iklim global dengan
adanya kekeringan yang berkepanjangan dan musim hujan yang panjang sehingga
terjadi banjir ditempat lain serta munculnya gejala cuaca ekstrim. Perubahan iklim
global dapat mempengaruhi iklim lokal. Dalam konteks lokal perubahan iklim
dapat dilihat dari peningkatan suhu, perubahan jumlah curah hujan, perubahan
jumlah hari hujan, dan perubahan ketinggian pasang surut.
Perubahan iklim merupakan ancaman bagi kegiatan perikanan budidaya
yaitu penurunan produksi, memperlambat pertumbuhan, dan dapat menyebabkan
timbulnya penyakit. Sehinga diperlukan penelitian mengenai dampak perubahan
iklim lokal terhadap usaha perikanan tambak salah satunya adalah tambak udang.
Diperlukan kajian secara komprehensif mengenai fenomena gejala-gejala
perubahan iklim, dampak perubahan iklim terhadap kesejahteraan petambak
udang, dan strategi adaptasi yang dilakukan oleh petambak udang akibat dari
perubahan iklim.
Berdasarkan penjelasan di atas penelitian ini akan melihat keterkaitan antara
tiga komponen di atas. Langkah pertama adalah mengidentifikasi fenomena
perubahan iklim lokal yang terjadi di Kecamatan Muaragembong. Langkah
selanjutnya adalah mengidentifikasi dan menganalisis dampak dari perubahan
iklim terhadap kesejahteraan petambak udang di Kecamatan Muaragembong.
Hipotesis pertama adalah perubahan iklim lokal berpengaruh terhadap
kesejahteraan petambak udang. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menganalisis
25
data penurunan produktifitas udang, kenaikan biaya adaptasi,
Nilai Tukar
Petambak Udang (NTPU), dan analisis ecological footprint. Hipotesis kedua
adalah produksi udang dipengaruhi oleh variabel iklim (curah hujan, jumlah hari
hujan, dan suhu rata-rata) dan luas lahan yang berpengaruh terhadap jumlah
produksi udang. Analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda.
Langkah yang terakhir adalah dengan mengidentifikasi bentuk-bentuk
adaptasi yang dilakukan oleh petambak udang di Kecamatan Muaragembong
akibat dari perubahan iklim. Data yang diperlukan adalah data primer yang
diperoleh dari hasil survei dan wawancara langsung terhadap petambak udang.
Setelah itu data tersebut dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif.
Kemudian ditentukan rekomendasi kebijakan untuk permasalahan akibat
perubahan iklim yang berdampak pada sektor perikanan budidaya tambak udang
di Kecamatan Muaragembong. Untuk lebih jelasnya mengenai kerangka
pemikiran dari penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 2.
26
Perubahan iklim global
Fenomena perubahan
iklim lokal
Potensi dampak perubahan iklim lokal
terhadap perikanan budidaya
Analisis dampak perubahan iklim
lokal terhadap usaha tambak udang
Identifikasi fenomena
perubahan iklim lokal
Strategi adaptasi
petambak akibat
perubahan iklim lokal
Identifikasi dan analisis
dampak perubahan iklim lokal
Perubahan iklim lokal
berpengaruh terhadap
kesejahteraan petambak
udang
Analisis penurunan
produktifitas, kenaikan
biaya adaptasi , Nilai
Tukar Petambak Udang,
dan analisis ecological
footprint
Produksi udang
dipengaruhi oleh
variabel iklim (curah
hujan, jumlah hari
hujan, dan suhu ratarata).
Analisis regresi
Rekomendasi
kebijakan
Gambar
2. Kerangka
Pemikiran
IV. METODE
PENELITIAN
27
IV. METODE PENELITIAN
4.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi,
Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive)
dengan alasan Kecamatan Muaragembong merupakan daerah muara dari Sungai
Citarum, pesisir pantai Teluk Jakarta, dan merupakan salah satu daerah yang
banyak terdapat tambak udang di Kabupaten Bekasi. Penelitian ini dilakukan pada
bulan Juli-Oktober 2010 untuk pengambilan data primer dan sekunder.
4.2 Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer dan data
sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan responden
(petambak udang) melalui kuesioner. Data primer meliputi data karakteristik
petambak udang, pendapatan dan pengeluaran petambak udang, jumlah musim
panen, dan adaptasi dari petambak udang akibat perubahan iklim serta data
lainnya yang diperlukan dalam penelitian.
Sedangkan data sekunder diperoleh melalui pengumpulan data dari Badan
Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bekasi, Kecamatan Muaragembong, Dinas
Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Bekasi, Dinas Hidro dan
Oseanografi (Dishidros) TNI AL, LIPI Oseanografi Jakarta, dan Badan
Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta literatur-literatur yang
relevan dalam penelitian. Data sekunder berupa daerah penelitian, data produksi
udang, luas areal tambak udang, jumlah hari hujan, curah hujan, suhu, dan lainlain yang diperlukan dalam penelitian dengan series data dari tahun 2000-2009.
28
4.3 Metode Pengambilan Contoh
Pengambilan sampel dilakukan dengan sengaja (purposive sampling) dengan
metode non-probability sampling pengambilan sampel dengan cara tidak acak.
Dengan teknik ini tidak semua individu dalam populasi memiliki peluang yang
sama untuk menjadi sample. Pengambilan sampel akan dilakukan secara sengaja
atau dipilih berdasarkan suatu kriteria tertentu agar suatu individu dijadikan
sampel. Kriteria yang dipilih adalah petambak yang bertempat tinggal secara pasti
di Kecamatan Muaragembong tersebut dan telah bertambak udang selama lima
tahun.
Hal ini agar mendapat responden yang berpengalaman sehingga diperoleh
informasi yang mendalam mengenai akibat perubahan iklim yang mempengaruhi
usaha tambak udang. Dalam penelitian ini objek yang akan dijadikan sampel
adalah para petambak udang di Kecamatan Muaragembong Kabupaten Bekasi.
Jumlah responden sebanyak 62 orang yang mewakili pelaku usaha tambak udang
di Kecamatan Muaragembong.
4.4 Metode dan Prosedur Analisis
Penelitian ini dilakukan melalui studi literatur, observasi, browsing melalui
internet, pengisian kuesioner, dan wawancara secara langsung dengan responden.
Metode pengisian kuesioner dan wawancara langsung dilakukan secara purposive
dalam penentuan respondennya. Data yang diperoleh dalam penelitian dianalisis
secara kualitatif dan kuantitatif. Pengolahan dan analisis data dilakukan secara
manual dan menggunakan komputer dengan bantuan program Microsoft Office
Exxcel dan SPSS 16.0. Metode prosedur penelitian yang digunakan dapat dilihat
pada Tabel 4 berikut ini.
29
Tabel 4. Metode Prosedur Penelitian
Tujuan
Jenis dan
Sumber Data
Mengidentifikasi Data primer dari
fenomena
petambak udang
perubahan iklim di Kecamatan
lokal.
Muaragembong.
Kabupaten Bekasi
dan data sekunder
dari BPS
Kabupaten Bekasi,
LIPI Oseanografi,
Dishidros TNI
AL, dan BMKG
Bogor.
Mengidentifikasi Data primer dari
dan menganalisis petambak udang
dampak dari
di Kecamatan
fenomena
Muaragembong,
perubahan iklim Kabupaten Bekasi.
lokal terhadap
Data sekunder
kesejahteraan
dari BPS
petambak udang Kabupaten Bekasi,
di Kecamatan
LIPI Oseanografi,
Muaragembong. Dishidros TNI AL
dan BMKG
Bogor.
Mengidentifikasi
strategi adaptasi
yang dilakukan
oleh petambak
udang dalam
menghadapi
perubahan iklim
lokal.
Data primer dari
petambak udang
di Kecamatan
Muaragembong,
Kabupaten Bekasi
Pengumpulan
Data
Wawancara,
kuesioner, dan
studi literatur
Metode Analisis
Data
Analisis
deskriptif
Kuesioner,
wawancara, dan
studi literatur
Analisis
deskriptif
mengenai
kenaikan biaya
adaptasi,
penurunan
produktifitas,
Nilai Tukar
Petambak Udang
(NTPU), Analisis
ecological
footprint, dan
analisis regresi
linear berganda.
Analisis
deskriptif
Kuesioner dan
wawancara
4.4.1 Analisis Dampak Perubahan Iklim Terhadap Usaha Tambak Udang di
Kecamatan Muaragembong
Dampak dari perubahan iklim dapat dilihat dari trend produksi di sektor
perikanan tambak udang. Data mengenai jumlah udang per panen atau per tahun
sangat berguna untuk melihat trend yang terjadi, apakah mengalami peningkatan
atau penurunan. Perubahan iklim akan menyebabkan periode panen menjadi
30
berubah-ubah sehingga pendapatan petambak udang menjadi tidak menentu.
Dampak perubahan iklim terhadap sektor perikanan tambak yang akan dianalisis
adalah perubahan kenaikan pasang surut air laut, perubahan produktifitas,
perubahan biaya, perubahan musim hujan dan kemarau, dan intensitas banjir
akibat kenaikan curah hujan.
4.4.2 Analisis Regresi
Analisis regresi diperlukan untuk melihat keterkaitan hasil produksi dengan
unsur iklim dalam rangka menginterpretasikan tingkat kesejahteraan petambak.
Model rancangan regresi tersebut yaitu (Lains, 2003):
Y = α + β1X1 + β2 X2 +………+βn Xn+εi ……………………….......……………(i)
Dimana :
Y
: Nilai rata-rata dugaan
α
: Intersep
β1
: Parameter yang mempengaruhi nilai rataan
X1
: Variabel yang mempengaruhi nilai rataan
βn
: Parameter ke n
Xn
: Variabel ke n
εi
: Galat/error
Dalam penelitian ini analisis regresi dilakukan melalui analisis hubungan
antara produksi udang dan indikator perubahan iklim yaitu:
Y = a + b1 X1 + b2 X2 + b3 X3 + b4 X4 + ε …………………………..…………(ii)
Dimana: Y : Produksi udang (ton)
X1 : Luas lahan tambak (ha)
X2 : Curah hujan (mm/tahun)
X3 : Jumlah hari hujan (hari)
X4 : Suhu rata-rata (0C)
Rumus regresi tersebut diformulasikan dari hasil studi yang dilakukan oleh
Buwono (1993), DKP (2002), Kisworo (2007), dan Marindro (2008) tentang
kesesuaian lahan untuk tambak udang, menyatakan bahwa produksi tambak udang
dipengaruhi oleh faktor luas lahan tambak dan variabel iklim (curah hujan, jumlah
hari hujan, dan suhu rata-rata). Dengan demikian, penelitiaan ini menggunakan
31
fungsi produksi udang sebagai fungsi dari luas lahan, curah hujan, jumlah hari
hujan, dan suhu rata-rata. Dalam konteks ini produksi udang akan dipengaruhi
oleh perubahan yang terjadi pada variabel-variabel iklim dan luas lahan. Produksi
akan dipengaruhi oleh peningkatan luas lahan akan menyebabkan meningkatnya
jumlah produksi udang. Peningkatan curah hujan, jumlah hari hujan, dan suhu
rata-rata menyebabkan meningkatnya intensitas dan ketinggian banjir serta
datangnya penyakit pada udang yang dapat mengakibatkan turunnya jumlah
pruduksi udang.
4.4.3 Analisis Nilai Tukar Petambak Udang
Salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan petambak adalah
menggunakan Nilai Tukar Petambak Udang (NTPU) berasal dari konsep Nilai
Tukar Nelayan atau Nilai Tukar Petani. NTPU mempertimbangkan seluruh
pendapatan dan seluruh pengeluaran keluarga. Pada dasarnya NTPU merupakan
indikator untuk mengukur kesejahteraan petambak secara relatif. Oleh karena
indikator tersebut juga merupakan ukuran kemampuan keluarga petambak untuk
memenuhi kebutuhan subsistennya. NTPU juga disebut nilai tukar subsisten
(subsistence term of trade). Oleh karena itu, segala upaya pemerintah untuk
memberdayakan masyarakat petambak atau nelayan yang bertujuan untuk
meningkatkan kesejahteraan petambak dan nelayan harus mampu meningkatkan
NTPU atau NTN secara teratur secara terus menerus. NTPU merupakan indikator
untuk mengukur nilai kesejahteraan masyarakat yang mengusahakan tambak
udang secara relatif dengan rumus sebagai berikut:
NTPU = Yt / Et .........................................(4.3)
Yt
= YFt + YNFt ..................................(4.4)
32
Et
= EFt + EKt ...................................(4.5)
Dimana:
YFt
= Total pendapatan dari usaha perikanan (Rp)
YNFt
= Total pendapatan dari non-perikanan (RP)
EFt
= Total pengeluaran untuk usaha perikanan (Rp)
EKt
= Total pengeluarn untuk konsumsi keluarga (Rp)
t
= Periode waktu (tahun)
4.4.4 Analisis Daya Dukung Lingkungan dengan Ecological Footprint
Analisis ecological footprint merupakan alat analisis untuk menghitung daya
dukung lingkungan. Prinsip ecological footprint dalam suatu populasi adalah
mengestimasi jumlah lahan dan air yang dibutuhkan untuk memproduksi semua
barang konsumsi serta menyerap limbah yang dihasilkan oleh populasi tersebut
(Wackernagel dan Rees, 1996). Ecological footprint menunjukkan seberapa besar
suatu populasi atau bangsa menggunakan alam.
Secara konseptual, ecological footprint tidak boleh melebihi biocapacity.
Biocapacity dapat diartikan sebagai daya dukung biologis atau daya dukung saja.
Ferguson (2002) dalam PKSPL
(2005), mendefinisikan biocapacity sebagai
sebuah ukuran ketersediaan lahan produktif secara ekologis. Daya dukung
lingkungan adalah daya dukung suatu kawasan untuk menopang suatu kehidupan
biota dan populasi disuatu daerah tertentu. Daya dukung suatu kawasan dapat
turun atau naik tergantung dari kondisi ekologis, biologis, dan pemanfaatan
manusia terhadap sumberdaya alam. Daya dukung yang menurun, disebabkan
oleh meningkatnya pemanfaatan manusia dan bencana alam yang terjadi.
Sementara itu daya dukung lingkungan dalam kaitan ini dapat disajikan dalam
bentuk jumlah orang yang dapat hidup di lokasi tersebut, dapat didukung oleh
biocapacity yang ada.
33
Daya dukung lingkungan (carrying capacity) adalah total biocapacity dibagi
dengan total ecological footprint. Menurut Ceballos-Lasurian (1991) dalam Azizy
(2009), daya dukung lingkungan didefinisikan sebagai kapasitas dari suatu
ekosistem untuk mendukung pemeliharaan organisme yang sehat baik
produktifitasnya, kemampuan beradaptasi, dan kemampuan pembaruan.
Daya dukung lingkungan adalah daya dukung suatu kawasan yang ditunjang
dari sumberdaya yang tersedia, energi yang diperlukan, dan produktifitas. Dari
analisis ecological footprint dihasilkan konsumsi dan produktifitas masyarakat
dalam suatu kawasan. Dengan demikian akan diketahui daya dukung suatu
lingkungan untuk menopang kehidupan suatu wilayah. Apabila daya dukung
lingkungan menurun ini artinya konsumsi masyarakat terhadap sumberdaya alam
berkurang dan produktifitasnya meningkat tanpa ada pemanfataan yang
berkelanjutan.
Harberl et al. (2001) dalam Azizy (2009), menggunakan tiga metode yang
berbeda dalam menentukan ecological footprint. Metode yang pertama
menggunakan data produktifitas rata-rata dunia tahun 1995 sebagai acuan tetap.
Metode yang kedua menggunakan data produktifitas rata-rata dunia pada tahun
yang bersangkutan (bervariasi). Metode yang ketiga menggunakan data
produktifitas lokal pada tahun yang bersangkutan.
Dalam penelitian ini yang akan digunakan adalah data produktivitas lokal
maka ecological footprint dihitung dengan rumus (Wackernagel dan Rees, 1996):
EFi = (DEi / Ylkl i) ................................................(4.6)
EF = ∑ EFi ...........................................................(4.7)
EFi
EF
DEi
: Ecological Footprint produk ke-i
: Total Ecological Footprint (dalam satuan lokal)
: Domestic Extraction produk ke-i (Kg/kapita)
34
Ylkl i
: Yield (produktivitas lokal) produk ke-i (Kg/ha)
Sementara itu biocapacity (BC) dihitung dengan menggunakan rumus:
BClok = ∑ Ak ........................................................(4.8)
Ak
: Luas land cover kategori ke-k (ha)
Agar biocapacity dapat diekspresikan sehingga setara dengan perhitungan
ecological footprint, maka biocapacity dikalikan bukan dengan YF global tapi
dengan produksi lokal (Ylkl k):
BC = ∑ Ak YFlkl k ................................................(4.9)
Ak
YFlkl k
: Luas land cover kategori ke-k (ha)
: Yield Factor land cover kategori ke-k
Selanjutnya daya dukung lingkungan (CC) dihitung dari:
CC = (BC / EF) ..................................................(4.10)
Analisis selanjutnya adalah membandingkan komponen EFi yang sejenis
dengan CCk yang sesuai. Analisis ini untuk melihat komponen EFi mana yang
tersedia di lokasi dan EFi mana yang tidak tersedia dan harus disediakan dari
daerah lain.
Tabel 5. Tabel Isian Analisis Footprint
Kategori Produktivitas
Konsumsi
(Y) =Kg/ha (DE)=Kg/kapita
Komponen
footprint (FP)
= ha/kapita
Biocapacity
(BC) = ha
DD = BC/EF
Bahan pangan dari Tambak Udang
1. Udang
2. Lainnya
4.4.5 Analisis Persepsi dan Adaptasi Petambak Udang Terhadap Perubahan
Iklim
Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan atau menjelaskan
karakteristik responden dengan tujuan untuk membuat deskripsi, gambaran atau
lukisan secara sistematis, faktual dan akurat, mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta
hubungan antar fenomena yang diselidiki untuk mengkaji persepsi dan adaptasi
35
petambak udang akibat perubahan iklim. Analisis deskriptif menurut Nazir (1988)
adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek,
kondisi, serta suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa
sekarang. Tujuannya adalah membuat suatu deskripsi, gambaran atau lukisan
secara sistematis, faktual dan akurat, mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta
hubungan antar fenomena yang diselidiki.
Bentuk pertanyaan untuk mengkaji persepsi maupun adaptasi berupa
kombinasi pertanyaan tertutup dan terbuka. Pertanyaan mengenai persepsi
meliputi pemahaman mengenai perubahan iklim dan sumber informasi terkait
perubahan iklim. Selain itu ditanyakan juga mengenai masalah perubahan iklim
yang dihadapi dalam bertambak dan dampaknya terhadap produktivitas tambak
udang. Sedangkan pertanyaan terkait dengan adaptasi meliputi bentuk adaptasi
yang dilakukan serta hambatan apa saja yang dihadapi dalam melakukan adaptasi.
Kuesioner diolah dan dibuat dalam bentuk persentase kemudian dideskripsikan
sehingga dapat diketahui persepsi dan adaptasi petambak udang terhadap
perubahan iklim.
Selain itu analisis deskriptif yang dilakukan adalah dengan melihat
bagaimana cara petambak udang dalam beradaptasi akibat terjadinya perubahan
iklim baik secara ekonomi, sosial, maupun teknologi. Misalnya petambak udang
akan memanen sebelum waktunya atau berhenti bertambak dan mencari sumber
pendapatan lain apabila terjadi banjir akibat meningkatnya curah hujan atau cuaca
ekstrim, petambak udang akan membuat tanggul untuk menahan banjir atau
menanam mangrove untuk meminimalisasi kerugian akibat dari perubahan iklim.
36
V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN
5.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian
Kecamatan Muaragembong berada pada posisi 6 000’-6005’ Lintang Selatan
dan 106057’-107002’ Bujur Timur. Kecamatan ini mempunyai luas 14.009 km2
yang merupakan kecamatan dengan luas wilayah terbesar di Kabupaten Bekasi.
Secara administrasi, batas-batas wilayah Kecamatan Muargembong adalah
sebagai berikut:
a.
Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa.
b.
Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Karawang.
c.
Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Cabang Bungin, Kecamatan
Tambelang, dan Kecamatan Babelan.
d.
Sebelah Barat berbatasan dengan Laut Jawa.
Sumber: BPS Kab. Bekasi, 2010
Gambar 3. Peta Letak Kecamatan Muaragembong
37
Kecamatan Muaragembong meliputi memiliki enam desa yakni Desa Jaya
Sakti, Desa Pantai Sederhana, Desa Pantai Bahagia, Desa Pantai Bakti, Desa
Pantai Mekar, dan Desa Pantai Harapan Jaya. Dari enam desa ini secara tata letak
berdekatan, lima desa yakni Desa Pantai Sederhana, Desa Pantai Bahagia, Desa
Pantai Bakti, Desa Pantai Mekar, dan Desa Pantai Harapan Jaya berada di sekitar
pantai dan dialiri muara sungai. Wilayahnya berada di antara pertemuan Laut
Jawa dengan sungai Citarum menjadikan wilayah ini berlumpur. Hal ini dapat di
lihat dari pengelolaan lahan untuk tambak yang mencapai 10.741 ha dari luas
total 14.009 ha. Sedangkan Desa Jaya Sakti lebih terisolasi dari garis pantai
namun dialiri aliran sungai. Disamping itu memiliki daerah garis pantai atau
pesisir sepanjang 22 km yang membentang dari Muara CBL hingga Muara
Bungin. Secara topografi, Kecamatan Muaragembong Kabupaten Bekasi dapat
dikategorikan sebagai dataran rendah, dengan elevasi 0-5 derajat dan ketingian
dari permukaan laut ± 0,74 m.
Jumlah penduduk Kecamatan Muaragembong pada tahun 2008 sebanyak
38.967 jiwa dengan kepadatan rata-rata 3 jiwa/ha. Jumlah tersebut meningkat dari
tahun sebelumnya yang hanya berjumlah 37.780 jiwa. Jumlah penduduk
Muaragembong tersebar di enam desa dengan perbandingan 50,22% laki-laki dan
49,78% perempuan. Kepadatan penduduk terbesar berada di Desa Pantai Mekar
dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 4 jiwa/km2. Sebanyak 4.731 jiwa
(12,14%) usia balita (0–5 tahun), 18.641 jiwa (47,83%) usia sekolah (6-21 tahun),
14.412 jiwa (36,99%) usia kerja (22-59 tahun), dan 1.183 jiwa (3,04%) usia
manula (60 tahun keatas).
38
Tabel 6. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk di Kecamatan
Muaragembong Tahun 2000-2008
Jumlah Penduduk
Kepadatan Penduduk
Tahun
(jiwa)
(jiwa/km2)
2000
31.309
2
2001
32.593
2
2002
33.052
2
2003
33.852
2
2004
34.723
2
2005
36.108
3
2006
36.538
3
2007
37.780
3
2008
38.967
3
Sumber: BPS Kabupaten Bekasi, 2009
Perbandingan penduduk laki-laki dan perempuan tidak menunjukan tingkat
kelahiran laki-laki lebih tinggi dari perempuan atau tingkat kematian laki-laki
lebih rendah dari perempuan. Namun, faktor lain yang dapat mempengaruhi
komposisi penduduk tersebut adalah banyaknya penduduk laki-laki dari luar
daerah yang datang ke Muaragembong untuk mencari nafkah (nomaden).
Sedangkan,
ada
kecenderungan
perempuan
mencari
pekerjaan
di
luar
Muaragembong. Penduduk di Kecamatan Muaragembong secara umum tergolong
masyarakat yang aktif bekerja. Hal ini terlihat dari keaktifan dalam hal mencari
nafkah, tidak hanya kaum laki–laki saja akan tetapi kaum perempuan pun ikut
serta, bahkan para remaja juga ikut membantu orang tua dalam mengerjakan
pekerjaan mereka.
Terdapat empat jenis usaha yang menjadi andalan masyarakat Kecamatan
Muaragembong yaitu perikanan tangkap (termasuk pengolahan), tambak, dagang,
dan pertanian. Di Desa Pantai Mekar, Pantai Bahagia, Pantai Sederhana, Harapan
Jaya, dan Pantai Bakti jenis usaha yang paling dominan adalah petambak dan
nelayan tangkap. Sedangkan di Desa Jaya Sakti jenis usaha yang paling dominan
adalah pertanian dan perdagangan.
39
5.2
Potensi Sumberdaya
Muaragembong
Perikanan
dan
Kelautan
Kecamatan
Kecamatan Muaragembong adalah kecamatan dengan wilayah terluas di
Kabupaten Bekasi. Luas wilayah tersebut merupakan potensi pengembangan
ekonomi terutama budidaya (tambak) dan penangkapan ikan di laut. Potensi lahan
tambak mencapai 10.881 ha dan yang sudah dimanfaatkan 10.741 ha (Dinas
Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kab. Bekasi, 2009). Sedangkan laut
Muaragembong yang memiliki garis pantai mencapai 22 km menjanjikan untuk
pengembangan perikanan budidaya laut. Selama ini perikanan yang dikelola
adalah perikanan tangkap dan budidaya (tambak) dengan komoditi unggulan
berupa rajungan, kepiting, cumi, udang windu, udang putih, dan bandeng.
Pembesaran ikan di perairan tambak payau adalah bandeng, udang windu, udang
putih, udang api-api, dan udang peci. Sedang pengolahan hasil perikanan diolah
dalam bentuk terasi, ikan asin, kepiting, kupas rajungan, dan kerang.
Tabel 7. Data Potensi Lahan Perikanan di Kecamatan Muaragembong
Tahun 2009
Potensi (ha)
Pemanfaatan (ha)
No.
Desa
Tambak
Kolam
Tambak
Kolam
1.
Pantai Mekar
1.147
1
1.143
0,03
2.
Pantai Sederhana
1.140
1.137
3.
Pantai Bahagia
2.887
2.887
4.
Pantai Bakti
2.890
0,5
2.851
5.
P. Harapan Jaya
2.033
5
1.983.5
0,12
6.
Jaya Sakti
784
15
739
0,27
Total
10.881
21,5
10.741
0,42
Sumber: Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kab. Bekasi, 2009
Kecamatan Muaragembong memiliki satu Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI)
yang terletak di Muara Bendera. Lokasi Muaragembong yang dekat dengan TPI
Cilincing menyebabkan produksi ikan di PPI Muara Bendera relatif kecil. Untuk
40
mendapatkan harga yang lebih tinggi nelayan dan petambak mendaratkan hasil
produksinya di PPI Cilincing.
5.3 Pemanfaatan Lahan di Kecamatan Muaragembong
Kawasan Kecamatan Muaragembong terdiri dari areal pemukiman, kebun,
tegalan, sawah, tambak, semak, dan hutan. Sebagian besar pemanfaatan lahan
didominasi oleh tambak dan sawah yang dikelola secara tradisional oleh
masyarakat setempat. Luas areal tambak mencapai 76,67% dari seluruh kawasan
Kecamatan Muaragembong, yakni sebesar 10.741 ha, sawah 15,91% (2.228 ha),
hutan 2,62% (367 ha), kebun campuran 2,14% (299,8 ha), perkampungan 1,49%
(208,7 ha), semak 0,95% (137 ha), dan tegalan 0,9% (26,6 ha). Untuk lebih jelas
dapat di lihat pada Tabel 8 di bawah ini.
Tabel 8. Penggunaan Lahan di Kecamatan Muaragembong Tahun 2009
Penggunaan Lahan
Luas (ha)
Persentase (%)
- Pemukiman
208,7
1,49
- Sawah
2.228,8
15,91
- Tambak
10.741,0
76,67
- Kebun Campuran
299,8
2,14
- Tegalan
26,6
0,19
- Semak
137
0,95
- Hutan
367
2,62
Jumlah
14.009
100%
Sumber: Kecamatan Muaragembong, 2009
5.4 Rencana Pemanfaatan Lahan di Kecamatan Muaragembong
Rencana tata ruang dari pemerintah daerah yang dibuat oleh Badan
Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) berdasarkan Perda No. 5
tahun 2003 tentang rencana tata ruang wilayah khusus Pantai Utara Kabupaten
Bekasi, sampai saat ini belum terlaksana. Hampir keseluruhan isi dari rencana
pengembangan kawasan ini berbenturan dengan perencanaan pengelolaan yang
dibuat oleh Departemen Kehutanan. Dalam perencanaan ini, Kecamatan
41
Muaragembong akan dijadikan sebagai bagian dari pengembangan Kota Pantai
Makmur, sesuai dengan pasal 19 Perda No. 5 tahun 2003.
Rencana pemanfaatan ruang mencakup rencana pengembangan sektor
pertanian, perdagangan dan jasa, industri, perkantoran, pariwisata serta
pergudangan atau terminal peti kemas. Pengembangan usaha agribisnis di
kawasan Pantai Utara Kabupaten Bekasi ini diarahkan kepada subsektor
perikanan khususnya perikanan laut dan tambak. Pengembangan dilakukan
dengan mengembangkan areal produksi perikanan terutama komoditas unggulan
dengan memanfaatkan potensi atau kesesuaian lahan. Rencana pengembangan
komoditas perikanan dilaksanakan di Kecamatan Muaragembong bagian Utara
(KP V), yakni pengembangan kepiting di Desa Pantai Bakti, budidaya rumput laut
di Desa Pantai Sederhana, dan Tambak di seluruh Muaragembong bagian Utara
Desa Pantai Sederhana, Desa Pantai Bakti, dan Desa Pantai Bahagia.
5.5 Komoditas Udang
Selain budidaya ikan laut, potensi perikanan lain yang ada di Kecamatan
Muaragembong adalah budidaya tambak. Budidaya tambak mendominasi
penggunaan kawasan sebesar 76,67 % dari total luas kawasan, dengan udang
sebagai produk utama. Beberapa jenis udang yang dibudidayakan adalah udang
windu, udang putih, dan udang api-api. Selama periode 2000–2009 luas areal
tambak mengalami peningkatan sebesar 1.764 ha, pada tahun 2000 luas areal
tambak sebesar 8.977 ha dan pada tahun 2009 luas areal tambak sebesar 10.741
ha. Namun, penambahan total produksi udang hanya sebesar 207,9 ton dari tahun
2000 sebesar 1.569,1 ton menjadi 1.777 ton pada tahun 2009. Pada tahun 2005
jumlah volume produksi udang di Kecamatan Muaragembong mengalami
42
penurunan karena pada saat itu banyak petambak yang mengalami gagal panen
akibat kekeringan (kemarau panjang). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
Ha
Gambar 4 berikut ini.
11000
2500
10500
2000
10000
1500 T
9500
1000
9000
500
8500
0
Luas (Ha)
Produksi udang (Ton)
o
n
Sumber: Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan dan BPS Kab. Bekasi, 2010
Gambar 4. Jumlah Luas Lahan Tambak dan Total Produksi Udang di
Kecamatan Muaragembong Tahun 2000–2009
5.6 Karakteristik Responden
5.6.1 Jenis Kelamin dan Usia
Penduduk yang menjadi responden dalam penelitian terdiri atas jenis
kelamin laki-laki dan perempuan. Jenis kelamin mempengaruhi jenis pekerjaan
yang dilakukan petambak. Petambak dengan jenis kelamin laki–laki lebih
diandalkan untuk bertambak dibandingkan jenis kelamin perempuan. Umur
berkaitan dengan kemampuan fisik responden untuk melakukan kegiatan. Umur
juga menjadi faktor yang menentukan pola pikir seseorang dalam menentukan
jenis pekerjaan yang akan dilakukan dan termasuk keputusan untuk
mengalokasikan pendapatan yang diperoleh. Petambak udang yang menjadi
responden sebanyak 62 orang yang terdiri dari 96,7 % laki–laki dan 3,23%
perempuan. Pada Gambar 5 terlihat bahwa sebanyak 29,03 % berusia 41–50
43
tahun; 27,42% berusia 31–40 tahun; 20,97% berusia 20–30 tahun; 16,33% berusia
51–60 tahun; dan 6,45% berusia lebih dari 60 tahun. Adapun sebaran kelompok
umur responden dapat dilihat pada Gambar 5 berikut ini.
6.45%
16.13%
20.97%
29.03%
27.42%
20-30 Tahun
31-40 Tahun
41-50 Tahun
51-60 Tahun
>60 Tahun
Sumber: Data Primer Diolah, 2010
Gambar 5. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
5.6.2 Tingkat Pendidikan Terakhir
Pendidikan menunjukkan pendidikan formal yang pernah ditempuh
seseorang. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi berpengaruh terhadap
pemahaman dan pola pikir seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan dan
tindakan yang akan diambil untuk memenuhi kelangsungan hidupnya. Selain itu
tingkat pendidikan juga berpengaruh terhadap jenis pekerjaan yang dimiliki. Jenis
pekerjaan mempengaruhi jumlah pendapatan yang kemudian jumlah pendapatan
berpengaruh terhadap kesejahteraan seseorang. Berdasarkan hasil wawancara
yang dilakukan, tingkat pendidikan terakhir responden masih sangat rendah.
9.68%
6.45%
12.90%
Tidak Sekolah
SD
70.97%
SLTP
SLTA
Sumber: Data Primer Diolah, 2010
Gambar 6. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Terakhir
44
Pada Gambar 6 terlihat bahwa responden yang berpendidikan terakhir SD
sebanyak 70,79% dan yang tidak sekolah sebanyak 6,45%. Sementara responden
yang berpendidikan SLTP sebanyak 12,90% dan SLTA sebanyak 9,68%.
Rendahnya tingkat pendidikan disebabkan oleh keadaan perekonomian yang
masih tergolong rendah dan fasilitas pendidikan yang kurang ketika itu.
Rendahnya pendidikan para petambak menyebabkan pemahaman dan pola pikir
mereka yang masih rendah sehingga dalam melakukan teknik budidaya tambak
udang masih tradisional dan adaptasi yang dilakukan terhadap perubahan iklim
masih sangat sederhana.
5.6.3 Status Perkawinan dan Jumlah Tanggungan
Status perkawinan dan jumlah tanggungan menunjukkan tingkat konsumsi
keluarga dalam kebutuhan primernya. Seseorang yang sudah menikah dan
memiliki anak, pendapatan yang diperolehnya untuk memenuhi konsumsi
keluarga. Jumlah tanggungan responden ditentukan dari jumlah anggota rumah
tangga yang terdiri dari istri, anak, dan anggota keluarga lainnya yang tinggal
bersama dalam satu atap dan menjadi tanggungan.
12.90%
9.68%
17.74%
Jumlah Tanggungan 2 orang
24.19%
Jumlah Tanggungan 3 orang
Jumlah Tanggungan 4 orang
35.48%
Jumlah Tanggungan 5 orang
Jumlah Tanggungan >5 orang
Sumber: Data Primer Diolah, 2010
Gambar 7. Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan
Berdasarkan hasil survei yang telah dilaksanakan, sebanyak 93,55%
responden sudah menikah dan sebanyak 6,45% responden belum menikah. Pada
45
Gambar 7 terlihat bahwa jumlah tanggungan para responden sebanyak 35,48%
responden memiliki tanggungan sebanyak empat orang, 24,19% responden
memiliki tanggungan tiga orang, 17,74% responden memiliki tanggungan
sebanyak lima orang, 12,90% responden memiliki tanggungan lebih dari lima
orang, dan 9,68% responden memiliki tanggungan dua orang.
5.6.4 Luas dan Status Kepemilikan Tambak Udang
Luas tambak dan status kepemilikan menunjukkan jumlah produksi udang
dari lahan tambaknya dan pendapatan yang diterima dari usaha tambak udang.
Luas lahan yang semakin luas maka jumlah produksinya akan tinggi. Jika status
kepemilikan lahan tambaknya adalah pemilik maka pendapatannya lebih besar
dari penyewa dan penjaga tambak (bujang). Pada Gambar 8 terlihat bahwa luas
lahan yang dikelola oleh responden bervariasi, yakni sebanyak 77,42% responden
luas areal tambak udang yang dikelola seluas 1–5 ha, 11,29% responden luas areal
tambak udang yang dikelola seluas 5,11–10 ha dan 11,29% responden luas areal
tambak udang yang dikelola seluas dari 10 ha. Sedangkan berdasarkan status
kepemilikannya yakni 67,74% pemilik tambak, 19,35% bujang (penjaga tambak),
dan 12,90% penyewa.
11.29%
11.29%
77.42%
1 - 5 Ha
5.1 - 10 Ha
> 10 Ha
Sumber: Data Primer Diolah, 2010
Gambar 8. Karakteristik Responden Berdasarkan Luas Areal Tambak
Udang yang Dikelola
46
5.6.5 Lama Pengalaman Bertambak Udang
Pengalaman
bertambak menunjukkan pengetahuan
dan
penguasaan
petambak dalam usaha tambak udang. Petambak yang memiliki pengalaman yang
lama maka tingkat pengetahuan dan penguasaan dalam bertambak udang lebih
tinggi. Berdasarkan wawancara umumnya responden telah memiliki pengalaman
dalam usaha budidaya tambak udang. Sebanyak 46,77% responden telah memiliki
pengalaman 5-10 tahun, sebanyak 20,97% responden dengan pengalaman lebih
dari 20 tahun, sebanyak 19,35% responden dengan pengalaman 16–20 tahun, dan
sebanyak 12,90% responden dengan pengalaman sebanyak 11–15 tahun.
Persentase lama pengalaman bertambak udang dapat dilihat pada Gambar 9.
20.97%
46.77%
5 - 10 Tahun
11 - 15 Tahun
19.35%
16 - 20 Tahun
12.90%
>20 Tahun
Sumber: Data Primer Diolah, 2010
Gambar 9. Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Pengalaman Dalam
Bertambak Udang
Pada uraian karakteristik di atas, responden petambak udang di Kecamatan
Muaragembong bersifat homogen. Ini terlihat pada tingkat pendidikan terakhir
yang mayoritas rendah. Sehingga pengetahuan serta pola berfikir antar responden
masih relatif sama. Selain itu, dilihat dari status perkawinan dan jumlah
tanggungan serta status kepemilikan dan luas areal tambak yang relatif sama
menunjukkan bahwa status sosial antar responden juga homogen.
47
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
2.3 Identifikasi Fenomena
Muaragembong
Perubahan
Iklim
Lokal
di
Kecamatan
6.1.1 Jumlah Hari Hujan dan Curah Hujan
Berdasarkan data dari BPS Kabupaten Bekasi dan BMKG, jumlah hari hujan
di Kecamatan Muaragembong Kabupaten Bekasi dari tahun 2000 hingga tahun
2009 berfluktuatif. Pada tahun 2000, jumlah hari hujan di Kecamatan
Muaragembong Kabupaten Bekasi sebanyak 79 hari. Jumlah hari hujan tersebut
meningkat drastis pada tahun 2001 menjadi sebanyak 105,1 hari. Namun, pada
tahun 2002 jumlah hari hujan di Kecamatan Muaragembong turun menjadi 57 hari
hujan. Jumlah hari kering ditahun 2002 lebih banyak dibandingkan dengan jumlah
hari hujannya. Dalam wawancara dengan responden, pada tahun 2002 musim
kemarau lebih panjang. Setelah tahun 2002,
jumlah hari hujan kembali
mengalami peningkatan hingga tahun 2009.
30
2000
25
20
2001
2002
2003
15
10
2004
2005
2006
5
2007
0
2008
2009
Sumber: BPS Kabupaten Bekasi dan BMKG, 2010
Gambar 10. Grafik Jumlah Hari Hujan Menurut Bulan di Kecamatan
Muaragembong Tahun 2000-2009
48
Berdasarkan data yang diperoleh, hujan sering terjadi pada bulan Desember
hingga bulan Maret. Namun, berdasarkan data BMKG telah terjadi pergeseran
bulan jumlah hari hujan terbanyak (puncak musim hujan). Pada tahun 2001
jumlah hari hujan terbanyak terjadi di bulan Desember namun pada tahun–tahun
berikutnya jumlah hari hujan terbanyak terjadi pada bulan Januari, Februari, dan
Maret.
Gambar 10 menunjukkan bahwa jumlah hari hujan di Kecamatan
Muaragembong mengalami turun naik (fluktuatif). Gambar 10 juga menunjukkan
puncak musim hujan terjadi pada bulan Desember-Maret. Pada tahun 2000 jumlah
hari hujan terbanyak pada bulan Januari yakni sebanyak 15 hari hujan. Jumlah
hari hujan terbanyak terjadi pada bulan Desember 2001 yakni 29 hari hujan. Pada
tahun 2002, jumlah hari hujan terbanyak pada bulan Januari dan Februari yakni
sebanyak 15 hari hujan. Pada tahun 2003, jumlah hari hujan terbanyak pada bulan
Februari yakni sebanyak 20 hari hujan. Pada tahun 2004, jumlah hari hujan
terbanyak pada bulan Februari yakni sebanyak 16 hari hujan.
Pada tahun 2005, jumlah hari hujan terbanyak pada bulan Maret yakni
sebanyak 26 hari hujan. Pada tahun 2006, jumlah hari hujan terbanyak pada bulan
Januari yakni sebanyak 15 hari hujan. Pada tahun 2007, jumlah hari hujan
terbanyak pada bulan Februari yakni sebanyak 18 hari hujan. Pada tahun 2008,
jumlah hari hujan terbanyak pada bulan Februari yakni sebanyak 24 hari hujan.
Pada tahun 2009, jumlah hari hujan terbanyak pada bulan Februari yakni
sebanyak 20 hari hujan.
Sementara itu, jumlah curah hujan di Kecamatan Muaragembong dari tahun
2000–2009 juga berfluktuatif. Pada tahun 2000, jumlah curah hujan di Kecamatan
49
Muaragembong sebanyak 2.252 mm tertinggi pada bulan Januari. Jumlah curah
hujan terbanyak terjadi pada tahun 2007 yakni sebanyak 2.441.9 mm tertinggi
terjadi pada bulan Februari. Curah hujan terendah terjadi pada tahun 2002 yakni
sebanyak 1.146 mm tertinggi pada bulan Januari. Untuk lebih jelasnya mengenai
perkembangan curah hujan menurut bulan di Kecamatan Muaragembong dapat di
lihat pada Gambar 11 berikut ini.
1000.0
900.0
800.0
(mm)
700.0
600.0
500.0
400.0
300.0
200.0
100.0
0.0
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
Sumber: BPS Kabupaten Bekasi dan BMKG, 2010
Gambar 11. Grafik Jumlah Curah Hujan Menurut Bulan di Kecamatan
Muaragembong Tahun 2000-2009
Pada tahun 2001 dan 2002 jumlah curah hujan di Kecamatan
Muaragembong mengalami penurunan jumlah menjadi 1.530 mm tahun 2001 dan
1.146 mm tahun 2002 dengan curah hujan tertinggi pada bulan Februari. Pada
tahun 2003 dan 2004 jumlah curah hujan meningkat kembali menjadi 2.393 mm
dan 2.416 mm dengan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Februari. Pada
tahun tahun berikutnya jumlah curah hujan turun drastis menjadi 1.442 mm tahun
2005 dan 1.593 mm tahun 2006 dengan jumlah curah hujan tertinggi terjadi di
bulan Januari.
50
Pada tahun 2007, jumlah curah hujan kembali meningkat menjadi 2.441,9
mm dengan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Februari. Pada tahun 2008
dan 2009 jumlah curah hujannya lebih kecil dari tahun 2007 yaitu 1.568 mm
dengan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Februari tahun 2008 dan 1.610
mm curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari 2009. Jumlah curah hujan
pada tahun 2010 menurut perkiraan Badan Meteorologi. Klimatologi. dan
Geofisika (BMKG) akan terus meningkat diperkirakan akan terjadi La Nina.
6.1.2 Suhu
Suhu adalah keadaan derajat panas pada suatu tempat. Pada periode 20002009 terjadi peningkatan suhu rata-rata di Kecamatan Muaragembong. Hal ini
dapat di lihat pada Gambar 12 di bawah ini.
28.80
28.70
28.60
28.50
28.40
28.30
28.20
28.10
28.00
Suhu Rata-Rata (0C)
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009
Sumber: Dishidros TNI AL, 2010
Gambar 12. Suhu Rata-Rata di Kecamatan Muaragembong Tahun 20002009
Pada Gambar 12 dapat dilihat bahwa pada rentang waktu 2000–2009 suhu
udara rata-rata di Kecamatan Muaragembong berkisar antara 28,09–28,75 0C.
Suhu rata-rata maksimum terjadi pada tahun 2005 dan 2006 yakni sebesar
28,730C dan 28,750C. Berdasarkan data BMKG pada tahun 2005 dan 2006 terjadi
curah hujan dan jumlah hari hujan terendah. Hal ini berarti pada tahun tersebut
51
mengalami musim kemarau yang cukup panjang. Suhu rata-rata terendah terjadi
pada tahun 2001 yakni sebesar 28,010C.
Namun,
dalam
rentang
waktu
2000-2009
suhu
di
Kecamatan
Muaragembong mengalami fluktuasi dan perubahan-perubahan dalam bulan suhu
maksimum. Terjadinya fluktuasi dan perubahan suhu yang tidak menentu
berakibat pada pertumbuhan udang. Suhu yang tidak menentu mengakibatkan
udang stress dan pertumbuhannya terhambat.
6.1.3 Ketinggian Pasang
Berdasarkan data Dinas Hidro dan Oseanografi (Dishidros) TNI AL,
ketinggian pasang rata-rata di perairan Teluk Jakarta termasuk Muaragembong.
mengalami fluktuasi. Hal ini dapat di lihat pada Gambar 13 berikut ini.
60.07
60.05
60.03
60.01
Ketinggian RataRata Pasang Surut
(Cm)
59.99
59.97
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009
Sumber: Dishidros TNI AL, 2010
Gambar 13. Ketinggian Rata-Rata Pasang Surut di Perairan Teluk Jakarta
Tahun 2000-2009
Ketinggian pasang surut harian di perairan Teluk Jakarta meliputi
Muaragembong berkisar antara 10–120 cm. Sedangkan ketinggian pasang surut
menurut bulan berkisar antara 59,84–60,80 cm. Ketinggian maksimum terjadi
pada bulan Desember 2001 yakni sebesar 60,80 cm. Ketinggian minimum terjadi
pada bulan November tahun 2003 sebesar 59,84 cm.
52
Ketinggian pasang surut rata-rata maksimum biasanya terjadi pada bulan
Februari dan Maret. Namun pada tahun 2001, ketinggian maksimum terjadi pada
bulan Desember. Pada tahun 2009, ketinggian rata-rata maksimum terjadi dua kali
yakni pada bulan Februari dan Desember. Biasanya para petambak dapat
memperkirakan kapan terjadinya pasang, namun sekarang para petambak tidak
bisa. Para petambak mengalami kerugian akibat banjir yang ditimbulkan jika
ketinggian pasang air laut, curah hujan, dan jumlah hari hujan yang tinggi terjadi
bersamaan.
6.1.4 Kecepatan Angin
Angin memiliki pengaruh yang penting terhadap pembentukan gelombang,
arus air, dan perpindahan pasir. Angin merupakan udara yang bergerak dari
daerah yang bertekanan udara tinggi ke daerah yang bertekanan udara rendah.
Kecepatan angin yang terjadi di daerah perairan Teluk Jakarta termasuk
Muaragembong tahun 2000-2009 dapat dilihat pada Gambar 14.
14
(Km/Jam)
12
10
2000
2001
2002
2003
8
2004
6
2005
2006
4
2
2007
2008
2009
Sumber: Dishidros TNI AL, 2010
Gambar 14. Kecepatan Angin Menurut Bulan di Perairan Teluk Jakarta
Tahun 2000-2009
53
Perubahan musim menyebabkan perubahan arah dan kecepatan angin.
Berdasarkan Gambar 14 dapat dilihat bahwa kecepatan angin maksimum terjadi
pada bulan Desember 2001 sebesar 14,1 km/jam. Kecepatan angin minimum
terjadi pada bulan Mei tahun 2008 sebesar 2 km/jam.
Kecepatan angin yang besar dapat menyebabkan gelombang yang menuju
pantai menjadi besar dan kuat. Gelombang yang besar dan kuat dapat
membahayakan tanggul sehingga rentan untuk rusak. Apabila tanggul–tanggul
rusak maka udang-udang akan keluar dari kolam. Karena itu petambak harus
menambah biaya tambahan untuk meninggikan atau membuat penahan agar
tanggulnya tidak rusak atau abrasi.
6.1.5 Persepsi Petambak Udang Terhadap Perubahan Iklim
Berdasarkan hasil wawancara terhadap responden mengenai persepsinya
terhadap perubahan iklim, semua responden pernah mendengar istilah perubahan
iklim. Mayoritas mendengar istilah perubahan iklim berasal dari informasi media
televisi. Mayoritas responden memahami apa yang dimaksud dengan perubahan
iklim hal ini dibuktikan dengan penjelasan yang diberikan oleh mereka mendekati
dengan fenomena–fenomena yang ditimbulkan akibat perubahan iklim. Menurut
mereka perubahan iklim adalah berubahnya cuaca, musim hujan tidak menentu,
dan pasang surut yang tidak menentu lagi serta semakin tinggi.
6.1.5.1 Penilaian Responden Terhadap Suhu Udara
Berdasarkan hasil wawancara terhadap responden, sebagian besar responden
merasakan telah terjadi peningkatan suhu di Kecamatan Muaragembong.
Berdasarkan data dari BMKG menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan suhu
rata-rata di daerah Muaragembong dalam selang waktu 2000-2010. Hal ini
54
menunjukkan bahwa, persepsi responden petambak udang sesuai dengan data.
Untuk lebih jelasnya mengenai penilaian responden terhadap perubahan suhu
dapat dilihat pada Gambar 15.
12.90%
0%
24.19%
Meningkat
Tetap
Menurun
Tidak Tahu
62.90%
Sumber: Data Primer Diolah, 2010
Gambar 15. Penilaian Responden Terhadap Perubahan Suhu di Kecamatan
Muaragembong
6.1.5.2 Penilaian Responden Terhadap Curah Hujan
Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, sebanyak 50% responden
merasakan telah terjadi peningkatan curah hujan di Kecamatan Muaragembong
selama 10 tahun terakhir. Berdasarkan data dari BMKG dan BPS Kabupaten
Bekasi menunjukkan bahwa telah terjadi kenaikan curah hujan selama 10 tahun
terakhir (2000-2010) yang fluktuatif. Hal ini menunjukkan bahwa, persepsi
responden petambak udang sesuai dengan data yang didapatkan. Untuk lebih
jelasnya mengenai penilaian responden terhadap curah hujan dapat dilihat pada
Gambar 16.
20.97%
Meningkat
11.29%
50%
17.74%
Tetap
Menurun
Tidak Tahu
Sumber: Data Primer Diolah, 2010
Gambar 16. Penilaian Responden Terhadap Curah Hujan di Kecamatan
Muaragembong
55
6.1.5.3 Penilaian Responden Terhadap Jumlah Hari Hujan
Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, sebanyak 69,35%
responden merasakan bahwa telah terjadi peningkatan jumlah hari di Kecamatan
Muaragembong selama 10 tahun terakhir. Sedangkan responden yang berpendapat
bahwa jumlah hari hujan tidak mengalami peningkatan sebanyak 25,91%.
Sementara itu, responden yang berpendapat bahwa jumlah hari hujan mengalami
penurunan sebanyak 3,23%, sedangkan sisanya 1,61% menyatakan tidak tahu.
Berdasarkan data dari BMKG dan BPS Kabupaten Bekasi menunjukkan telah
terjadi kenaikan jumlah hari hujan selama 10 tahun terakhir (2000-2010)
walaupun fluktuatif. Hal ini menunjukkan bahwa, persepsi responden petambak
udang sesuai dengan data sekunder yang didapatkan. Untuk lebih jelasnya
mengenai penilaian responden terhadap curah hujan dapat dilihat pada Gambar
17.
3.23%
1.61%
25.81%
Meningkat
69.35%
Tetap
Menurun
Sumber: Data Primer Diolah, 2010
Gambar 17. Penilaian Responden Terhadap Jumlah Hari Hujan di
Kecamatan Muaragembong
6.1.5.4 Penilaian Responden Terhadap Jumlah Hari atau Bulan Kering
Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, sebanyak 54,84%
responden merasakan telah terjadi peningkatan jumlah hari kering dimusim
kemarau di Kecamatan Muaragembong selama 10 tahun terakhir. Sedangkan
responden yang berpendapat bahwa jumlah hari kering tidak mengalami
56
peningkatan sebanyak 33,87%. Sementara itu, responden yang berpendapat bahwa
jumlah hari kering mengalami penurunan sebanyak 4,84%, sedangkan sisanya
6,45% menyatakan tidak tahu. Untuk lebih jelasnya mengenai penilaian
responden terhadap jumlah hari kering dapat dilihat pada Gambar 18.
4.84%
6.45%
Meningkat
54.84%
33.87%
Tetap
Menurun
Tidak Tahu
Sumber: Data Primer Diolah, 2010
Gambar 18. Penilaian Responden Terhadap Jumlah Hari atau Bulan Kering
di Kecamatan Muaragembong
6.1.5.5 Penilaian Responden Terhadap Tinggi dan Intensitas Banjir Pasang
Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, sebanyak 82,20%
responden merasakan telah terjadi peningkatan tinggi dan intensitas banjir pasang
di Kecamatan Muaragembong selama 10 tahun terakhir dan sebanyak 17,74%
mengatakan tetap. Selain itu juga, mereka mengatakan bahwa pasang yang terjadi
pada saat ini sudah tidak menentu atau tidak dapat diperkirakan lagi. Untuk lebih
jelasnya
mengenai penilaian responden terhadap tinggi dan intensitas banjir
pasang dapat dilihat pada Gambar 19.
17.74%
0% 0%
Meningkat
Tetap
82.26%
Menurun
Tidak Tahu
Sumber: Data Primer Diolah, 2010.
Gambar 19. Penilaian Responden Terhadap Tinggi dan Intensitas Banjir
Pasang
57
6.1.5.6 Penilaian Responden Terhadap Tinggi dan Intensitas Banjir Sungai
Berdasarkan hasil wawancara terhadap responden. seluruh responden
merasakan bahwa telah terjadi peningkatan tinggi dan intensitas banjir pasang di
Kecamatan Muaragembong selama 10 tahun terakhir. Dengan meningkatnya
jumlah curah dan hari hujan di Kecamatan Muaragembong mengakibatkan banjir
sungai. Selain itu juga, peningkatan banjir sungai di Kecamatan Muaragembong
disebabkan karena adanya peningkatan curah dan jumlah hari hujan di daerah
hulu yang mengakibatkan banjir kiriman.
6.2 Identifikasi dan Analisis Dampak dari Perubahan Iklim Terhadap
Kesejahteraan Petambak Udang di Kecamatan Muaragembong
Berdasarkan hasil survei dan wawancara dengan responden, sebanyak
45,16% responden merasakan adanya perubahan iklim yang berdampak pada
usaha budidaya tambak sejak tahun 2005. Sebanyak 30,65% responden mereka
merasakan adanya perubahan iklim yang berdampak pada usaha budidaya tambak
mereka sejak tahun 2000. Sebanyak 24,19% responden tidak memperhatikan
fenomena–fenomena perubahan iklim.
37.10%
24.19%
Hujan yang tidak menentu.
Pasang yang tidak menentu; dan hujan yang
tidak menentu.
25.81%
12.90%
Hujan yang tidak menentu; dan kemarau
panjang.
Pasang yang tidak menentu; hujan yang tidak
menentu; dan kemarau panjang.
Sumber: Data Primer Diolah, 2010
Gambar 20. Persepsi Petambak Terhadap Penyebab Gagal Panen Akibat
Perubahan Iklim
58
Berdasarkan hasil survei dan wawancara terhadap responden, seluruh
responden menjawab mengalami kerugian dan gagal panen akibat perubahan
iklim. Pada Gambar 20 dapat dilihat bahwa sebanyak 37,10% responden
mengalami gagal panen akibat pasang yang tidak menentu, hujan yang tidak
menentu, dan kemarau yang panjang. Sebanyak 25,81% responden mengalami
gagal panen akibat dari pasang yang tidak menentu dan hujan yang tidak menentu.
Sebanyak 24,19% responden mengalami gagal panen akibat hujan yang tidak
menentu. Sisanya sebanyak 12,90% responden mengalami gagal panen akibat dari
hujan yang tidak menentu dan kemarau yang panjang.
Menurut keterangan yang didapatkan dari responden, kemarau panjang
mengakibatkan tambak–tambak mengalami kekeringan dan meningkatkan suhu
air ditambak sehingga tingkat keasaman (PH) air tambak menjadi asam. Hal ini
dapat menyebabkan udang stress atau berpenyakit dan kemudian akan mati.
Jumlah curah hujan dan hari hujan yang banyak akan mengakibatkan banjir pada
tambak mereka yang mengakibatkan gagal panen. Hal ini juga dapat diperparah
dengan pasang yang semakin tidak menentu dan ketinggiannya semakin naik.
Perubahan iklim yang terjadi menyebabkan tambak udang gagal panen.
Kegagalan panen menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi para petambak
udang. Berdasarkan hasil wawancara terhadap responden. kerugian akibat gagal
panen berkisar antara Rp. 1.000.000.- sampai Rp. 2.000.000.- untuk setiap hektar
lahan tambak udang.
6.2.1 Penurunan Produktifitas Udang Dampak Dari Perubahan Iklim
Berdasarkan hasil wawancara terhadap 62 responden, terdapat keterkaitan
antara perubahan iklim yang mengakibatkan terjadinya penurunan produktifitas
59
tambak udang. Penurunan produktifitas menyebabkan penurunan total produksi
tambak udang di Kecamatan Muaragembong sebesar 25–50%. Menurut penelitian
yang dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan di daerah Lampung telah
terjadi penurunan produksi udang sebesar 30–40% dan di Jawa Timur sebesar
40% yang terkait dengan perubahan iklim.
Perubahan iklim membuat udang menjadi lebih rentan dengan perubahan
cuaca. Daya tahan udang menurun sehingga mudah terserang penyakit. Selain itu,
perubahan cuaca dan suhu perairan dapat memicu stress pada udang. Perubahan
iklim juga menyebabkan menyebarnya berbagai macam penyakit udang seperti
virus myo atau Infectious Myo Necrosis Virus (IMNV) dan penyakit bintik putih
atau White Spot Syndrome Virus (WSSV).
Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, perubahan iklim juga
membutuhkan biaya untuk beradaptasi dan meminimalisasi dampak dari
perubahan iklim. Total biaya adaptasi terhadap perubahan iklim sebesar
Rp.205.900.000,- (meningkat sebesar 201,01%), naik dari Rp. 203.700.000,menjadi Rp. 409.600.000,-.
6.2.2 Analisis Nilai Tukar Petambak Udang (NTPU) di Kecamatan
Muaragembong
Perubahan iklim lokal telah mengakibatkan penurunan jumlah produksi
udang yang mengakibatkan pada penurunan pendapatan dan kesejahteraan
petambak udang. Ukuran tingkat kesejahteraan tidak hanya berdasarkan
perubahan pendapatan. tetapi juga dengan membandingkan total pendapatan
dengan total pengeluaran untuk kebutuhan rumah tangga.
Salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan petambak adalah
menggunakan Nilai Tukar Petambak Udang (NTPU) dengan mengadoptasi
60
konsep Nilai Tukar Nelayan atau Nilai Tukar Petani. NTPU memperhitungkan
seluruh pendapatan dan seluruh pengeluaran keluarga. Pada dasarnya NTPU
merupakan indikator untuk mengukur kesejahteraan petambak secara relatif.
NTPU juga merupakan ukuran kemampuan keluarga petambak untuk memenuhi
kebutuhan subsistennya, karena itu disebut nilai tukar subsisten (subsistence term
of trade). NTPU dihitung dengan cara membandingkan total pendapatan
petambak dengan total pengeluaran petambak udang.
Tabel
9.
Nilai Tukar Petambak
Muaragembong
Udang
No.
Uraian
1 Total Pendapatan (Rp./Tahun)
2 Total Pengeluaran (Rp./Tahun)
3 Nilai Tukar Petambak Udang (NTPU)
(NTPU)
di
Kecamatan
Tahun
1999
2010
38.063.010
29.084.214
21.843.290
25.128.774
1,74
1,16
Sumber: Data Primer Diolah, 2010
Pada Tabel 9 terlihat bahwa rata-rata NTPU di Kecamatan Muaragembong
Kabupaten Bekasi mengalami penurunan sebesar 33,58%. Pada tahun 1999,
NTPU sebesar 1,74 menjadi 1,16 pada tahun 2010. NTPU di Kecamatan
Muaragembong masih lebih besar dari 1 (NTPU > 1) yang artinya rata-rata para
petambak tersebut mempunyai tingkat kesejahteraan yang cukup baik. Dalam hal
ini, rata-rata petambak udang di Kecamatan Muaragembong mempunyai
kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari hidupnya (primer) dan
mempunyai potensi untuk mengkonsumsi kebutuhan sekunder serta menabung
(saving).
6.2.3 Analisis Ecological Footprint
Analisis jejak ekologi (ecological footprint analysis) merupakan alat analisis
untuk menentukan atau menghitung daya dukung lingkungan. Ecological
footprint menunjukkan seberapa besar suatu populasi atau bangsa memanfaatkan
61
alam. Analisis ecological footprint ditentukan berdasarkan konsumsi masyarakat
di Kecamatan Muaragembong Kabupaten Bekasi.
Berdasarkan hasil perhitungan analisis footprint menunjukkan bahwa nilai
footprint udang sebesar 0,04, nilai biocapacity (BC) sebesar 2.685,25, dan daya
dukung lingkungan parsial tambak udang (CC) sebesar 75.240. Artinya adalah
untuk memenuhi kebutuhan konsumsi udang setiap orang dalam setahun dapat
dipenuhi dengan 0,04 ha lahan tambak udang, dengan daya dukung biologis atau
ukuran ketersediaan lahan produktif secara ekologis sebanyak 2.685,25 ha. dan
kapasitas dari lahan tambak udang di Kecamatan Muaragembong untuk
menopang kehidupan suatu wilayah yang berkelanjutan sebanyak 75.240 orang
dengan udang sebagai bahan pangannya.
Tabel 10. Hasil Perhitungan Analisis Ecological Footprint
Komponen
Kategori Produktifitas
Konsumsi
Footprint
(DE)=
(FP)=
(Y)= Kg/ha
Kg/kapita
ha/kapita
Bahan Pangan Dari Tambak Udang
1. Udang
297,57
10,62
0,04
297,57
10,62
Sub Total
Daya dukung Parsial (Tambak Udang)
Bahan Pangan Kebutuhan Pokok
1. Beras
4.570
219
2. Sayuran
11.725
81
211
Sub Total
Daya dukung Parsial (Pertanian)
Total
Total Daya Dukung Lingkungan
0,04
0,0479
0,0069
0,0548
0,0905
Biocapacity
(BC)= ha
DD=BC/EF
YF= 0,25
A = 10.741 ha
2.685,25
75.240
YF=0,76
A= 2.228,8 ha
1.693,89
30.894
4.379,14
48.378
Sumber: Data Primer diolah, 2010
Berdasarkan hasil perhitungan analisis footprint menunjukkan bahwa nilai
footprint pertanian sebesar 0,0548, nilai biocapacity (BC) sebesar 1.693,89 dan
daya dukung lingkungan parsial pertanian (CC) sebesar 30.894. Artinya adalah
62
untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pangan kebutuhan pokok setiap orang
dalam setahun dapat dipenuhi dengan 0,0548 ha lahan pertanian, dengan daya
dukung biologis atau ukuran ketersediaan lahan produktif secara ekologis
sebanyak 1.693,89 ha, dan dengan kapasitas dari lahan pertanian di Kecamatan
Muaragembong untuk menopang kehidupan suatu wilayah yang berkelanjutan
sebanyak 30.894 orang dengan beras dan sayuran sebagai bahan pangan
pokoknya.
Melalui metode footprint menunjukkan total daya dukung lingkungan di
Kecamatan Muaragembong sebesar 48.378 orang yang lebih besar dari jumlah
penduduk di Kecamatan Muaragembong 38.967 orang, maka dapat disimpulkan
bahwa telah terjadi kelebihan (surplus) sumberdaya sehingga “mengekspor” ke
daerah luar. Selain itu, total nilai footprint di Kecamatan Muaragembong sebesar
0,0905 lebih kecil dari perbandingan antara jumlah penduduk dengan nilai daya
dukung lingkungan sebesar 0,81 menunjukkan telah terjadi surplus sumberdaya
sehingga “diekspor” ke daerah lain.
Jika dilihat dari kondisi iklim akibat dari perubahan iklim yang terkadang
tidak menentu akhir-akhir ini mengakibatkan menurunnya produktifitas tambak
udang dan kualitas lahan tambak. Dengan menurunnya produktifitas udang dan
kualitas lahan tambak akan mengakibatkan menurunnya kemampuan dari daya
dukung lingkungan (carrying capacity) dan biocapacity lahan tambak udang di
Kecamatan Muaragembong Kabupaten Bekasi ini. Apabila kondisi iklim yang
tidak menentu dampak dari perubahan iklim maka akan menghakibatkan
kemampuan daya dukung lingkungannya dan sumberdaya alam dan lingkungan di
63
Kecamatan
Muaragembong
tidak
mampu
lagi
memenuhi
kebutuhan
masyarakatnya.
6.2.4 Analisis Regresi Berganda
Analisis regresi berganda digunakan untuk menentukan fungsi produksi
sebagai variabel tidak bebas (dependent) dan unsur iklim dan luas areal tambak
sebagai variabel bebas (independent). Berikut ini adalah model fungsi produksi
dari udang dengan menggunakan data sekunder yang diolah dengan program
SPSS 16.0:
Y = 13,291 + 0,081 X1 + 0,257 X2 – 0,333 X3 – 0,822 X4 + ε
Dimana: Y = Produksi udang (ton)
X1 = Luas lahan tambak (ha)
X2 = Curah hujan (mm/tahun)
X3 = Jumlah hari hujan (hari/tahun)
X4 = Suhu rata-rata (0C)
Model fungsi produksi udang diatas memiliki R-square sebesar 0,649 yang
artinya variabel luas lahan tambak, curah hujan, jumlah hari hujan, dan suhu ratarata, dalam model dugaan di atas mampu menjelaskan 64,9% terhadap variabel
produksi udang (Y) dan sisanya dijelaskan oleh varibel lain yang tidak
dimasukkan kedalam model. Berikut ini adalah penjelasan mengenai koefisien
yang berada pada model:
1. Luas lahan tambak (X1), nilai koefisien regresi untuk luas tambak dalam
model bertanda positif artinya kenaikan 1 ha luas lahan tambak udang diduga
akan meningkatkan produksi udang sebesar 0,081 ton dengan asumsi varibel
X2, X3, dan X4 (konstan).
64
2. Curah hujan (X2), nilai koefisien regresi untuk curah hujan dalam model
bernilai positif artinya kenaikan curah hujan sebesar 1 mm/tahun diduga akan
meningkatkan produksi udang sebesar 0,257 ton dengan asumsi variabel X1,
X3, dan X4 tetap (konstan). Menurut DKP (2002) dan Buwono (1993), kriteria
lahan budidaya udang yang sesuai untuk curah hujan di daerah tambak udang
adalah 1.000–3.000 mm /tahun. Hasil regresi curah hujan di Kecamatan
Muaragembong berpengaruh positif karena curah
hujan di Kecamatan
Muaragembong masih berada dibatas kriteria kesesuaian curah hujan di
wilayah pertambakan. Curah hujan akan berpengaruh negatif terhadap
produksi udang jika curah hujan di daerah tambak udang melebihi atau
kurang dari batas kesesuaian curah hujan di daerah tambak udang. Selain itu,
apabila curah hujan dan jumlah hari hujan di Kecamatan Muaragembong dan
di daerah hulu tinggi, maka akan bernilai negatif karena akan menimbulkan
banjir yang dapat menurunkan jumlah produksi. Pada saat curah hujan sangat
tinggi, bahkan sering dijumpai fenomena “plankthon collaps”, yaitu
plankthon yang ada di dalam perairan tambak mengalami “kematian secara
massal”. Pada kondisi kualitas air tambak tidak stabil, udang akan sangat
mudah mengalami stress dan sangat rentan terhadap berbagai ancaman
penyakit.
3. Jumlah hari hujan (X3), nilai koefisien regresi untuk jumlah hari hujan dalam
model bernilai negatif artinya kenaikan jumlah hari hujan sebesar 1 hari
diduga akan menurunkan produksi udang sebesar 0,333 ton dengan asumsi
variabel X1, X2, dan X4 tetap (konstan).
65
4. Suhu rata-rata (X4), nilai koefisien regresi untuk suhu udara rata-rata dalam
model bernilai negatif artinya kenaikan suhu rata-rata sebesar 10C diduga akan
menurunkan produksi udang sebesar 0,822 ton dengan asumsi variabel X1, X2,
dan X3 tetap (konstan). Gejolak perubahan suhu telah memicu stress pada
udang dan melemahnya daya tahan tubuh benih udang (benur). Menurunnya
daya tahan tubuh mengakibatkan udang lebih mudah terjangkit penyakit.
Perubahan suhu perairan juga memacu meletupnya pertumbuhan plankton di
perairan, hal ini dapat mengganggu sirkulasi oksigen di tambak yang akhirnya
berdampak pada udang.
6.3 Adaptasi Petambak Udang Terhadap Perubahan Iklim
Berdasarkan hasil wawancara terhadap responden, seluruh responden
melakukan adaptasi terhadap perubahan iklim. Bentuk adaptasi yang dilakukan
didasarkan pada pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki. Bentuk adaptasi
yang dilakukan adalah berhenti sejenak untuk bertambak, merubah waktu panen
udang, membuat atau meninggikan tanggul untuk menahan banjir, dan menanam
pohon mangrove di sekitar tambak, Masing–masing para responden melakukan
adaptasi yang berbeda–beda.
Bentuk–bentuk adaptasi yang dilakukan oleh para petambak masih
tergolong sangat sederhana. Mereka hanya mengandalkan pengalaman dan
“insting” mereka sebagai seorang petambak udang. Tingkat pendidikan yang
masih rendah sangat mempengaruhi teknologi adaptasi yang dilakukan. Sebagian
besar responden melakukan adaptasi dengan merubah waktu panen udang,
membuat atau meninggikan tanggul untuk menahan banjir dan erosi, dan
66
menanam pohon di sekitar tambak. Bentuk adaptasi yang dilakukan oleh para
responden disajikan dalam Gambar 21.
Berhenti sejenak bertambak; merubah waktu
panen udang; dan membuat atau meninggikan
tanggul untuk menahan banjir.
6.45%
20.97%
8.06%
8.06%
14.52%
41.94%
Berhenti sejenak bertambak; membuat atau
meninggikan tanggul untuk menahan banjir;
dan menanam pohon mangrove di sekitar
tambak.
Merubah waktu panen udang; membuat atau
meninggikan tanggul untuk menahan banjir;
dan menanam pohon mangrove di sekitar
tambak.
Merubah waktu panen udang; dan membuat
atau meninggikan tanggul untuk menahan
banjir.
Membuat atau meninggikan tanggul untuk
menahan banjir; dan menanam pohon
mangrove di sekitar tambak.
Berhenti sejenak bertambak; merubah waktu
panen udang; membuat atau meninggikan
tanggul untuk menahan banjir; dan menanam
pohon mangrove disekitar tambak.
Sumber: Data Primer Diolah, 2010
Gambar 21. Bentuk Adaptasi yang Dilakukan Responden Terhadap
Perubahan Iklim
Selain itu, dari hasil wawancara diketahui bahwa para petambak masih
sering berspekulasi dalam menentukan waktu untuk menebar benur udang. Hal ini
menyebabkan pertumbuhan udang menjadi kurang baik dan kurang maksimal bila
waktu menebar yang tidak tepat. Para petambak udang juga terkadang tidak
memperhatikan kondisi iklim dan cuaca dalam menebar benur sehingga dapat
menimbulkan kerugian apabila waktunya tidak tepat. Hampir sebagian besar
tambak udang yang berada di Kecamatan Muaragembong masih dikelola secara
tradisional. Karena dikelola secara tradisional petambak hanya mengandalkan
kondisi alam dan iklim untuk mendapatkan hasil udang yang lebih baik. Bila alam
dan iklim berubah maka hasil udang yang mereka dapatkan pun akan berubah.
67
VII. KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, maka penelitian ini dapat
menyimpulkan beberapa hal, yaitu:
1. Fenomena perubahan iklim lokal di Kecamatan Muaragembong Kabupaten
Bekasi Provinsi Jawa Barat telah terjadi. Hal ini berdasarkan dari data yang
diperoleh dari BMKG, BPS Kabupaten Bekasi, LIPI Oseanografi, Dishidros
TNI AL, dan hasil wawancara terhadap para petambak udang. Fenomena
perubahan iklim meliputi meningkatnya jumlah curah hujan, meningkatnya
hari hujan, meningkatnya jumlah hari atau bulan kering ketika musim
kemarau, meningkatnya suhu rata-rata, meningkatnya ketinggian banjir dan
intensitas pasang, dan meningkatnya ketinggian dan intensitas banjir sungai di
Kecamatan Muaragembong yang dirasakan oleh para petambak udang.
2. Perubahan iklim yang terjadi menyebabkan gagal panen dan kerugian bagi
para petambak udang. Perubahan iklim juga mengakibatkan terjadinya
penurunanan produktifitas tambak udang. Penurunan produktifitas yang terjadi
menyebabkan terjadinya penurunan terhadap volume produksi udang 25-50%.
Selain itu, telah terjadi peningkatan total biaya produksi sebesar 201,01%
yaitu meningkat dari Rp. 203.700.000,- menjadi Rp. 409.600.000,- akibat
adanya perubahan iklim. NTPU turun dari 1,74 tahun 1999 menjadi 1,16 pada
tahun 2010 atau mengalami penurunan sebesar 33,58%. Melalui metode
Ecological Footprint (EF) menunjukkan total daya dukung lingkungan di
Kecamatan Muaragembong sebesar 48.378 orang, nilai footprintnya 0,0905
ha/kapita, dan biocapacity (BC) 4.379,14 ha. Total nilai footprint di
68
Kecamatan Muaragembong sebesar 0,0905 lebih kecil dari perbandingan
antara jumlah penduduk dengan nilai daya dukung lingkungan sebesar 0,81
menunjukkan telah terjadi surplus sumberdaya sehingga “diekspor” ke daerah
lain.
3. Perubahan iklim telah mendorong para petambak udang melakukan adaptasi.
Bentuk adaptasi
yang dilakukan didasarkan pada
pengalaman dan
pengetahuan yang dimiliki. Bentuk adaptasi yang dilakukan adalah berhenti
sejenak untuk bertambak, merubah waktu panen udang, membuat atau
meninggikan tanggul untuk menahan banjir, dan menanam pohon mangrove di
sekitar tambak.
7.2 Saran
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan kepada instansi yang
terkait seperti Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Bekasi,
pemerintah Kabupaten Bekasi, dan dinas lainnya yang terkait dalam melakukan
kebijakan. Adapun beberapa saran yang dihasilkan dalan penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Diperlukan adanya sosialisasi mengenai perubahan iklim kepada para
petambak udang secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini dilakukan
agar para petambak udang memiliki pengetahuan yang baik mengenai
perubahan iklim dan dapat memahami serta mampu merespon dengan baik
dampak perubahan iklim.
2. Pemerintah serta stakeholder yang terkait harus membantu petambak udang
dalam menyediakan sarana dan prasarana yang baik dan menunjang
khususnya yang memerlukan modal besar. Hal ini dapat berupa pembangunan
69
tanggul permanen untuk menahan banjir, pemecah ombak dan pasang agar
tidak terlalu besar, pembuatan saluran-saluran air yang lebih baik, dan
penyediaan pompa air.
3. Masih tradisionalnya teknik tambak udang yang dilakukan oleh para petambak
membuat produktifitasnya masih rendah karena masih sangat bergantung
kepada alam. Sehingga diperlukan fasilitator dari pemerintah untuk
meningkatkan pengetahuan para petambak udang dalam melakukan usaha
budidaya tambak udang yang baik dan benar serta mendatangkan penghasilan
yang besar. Selain itu juga diperlukan bantuan dari pemerintah mengenai
perbaikan teknologi penangkapan dan penyediaan modal berbunga rendah.
4. Diperlukannya penelitian lanjutan untuk keterkaitan mengenai penurunan
produktifitas, daya dukung lingkungan, dan tingkat kesejahteraan dengan
perubahan iklim dilakukan dengan uji statistik serta menggunakan data dalam
rentang waktu yang cukup lama sehingga keterkaitannya lebih jelas terlihat.
70
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, N. 2009. Analisis Respon Produksi, Permintaan Domestik, dan
Penawaran Ekspor Udang Indonesia. Skripsi. Departemen Ilmu Ekonomi
Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB. Bogor.
Azizy, A. 2009. Analisis Keterkaitan Daya Dukung Ekosistem Terumbu Karang
Dengan Tingkat Kesejahteraan Nelayan Tradisional (Studi Kasus
Kelurahan Pulau Panggang, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu,
Provinsi DKI Jakarta). Tesis. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Badan Meterorologi, Klimatologi, dan Geofisika Bogor. 2010. Curah dan Jumlah
Hari Hujan Menurut Bulan. BMKG Bogor. Bogor.
Badan Pusat Satistik Kabupaten Bekasi. 2009. Kecamatan Muaragembong Dalam
Angka. BPS Kabupaten Bekasi. Bekasi.
Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Japara. 2007. Penerapan Best
Management Practices (BMP) Pada Budidaya Udang Windu (Penaeus
monodon Fabricius) Intensif. Direktorat Jendral Perikanan Budidaya
Departemen Kelautan dan Perikanan. Jepara.
Boer R, Baharsjah J. S, Las I, Pawitan H. 2003. Analisis Kerentanan dan Adaptasi
Terhadap Keragaman dan Perubahan Iklim. Di dalam seminar Anomali dan
Perubahan Iklim Sebagai Peluang Untuk Meningkatkan Hasil Perikanan dan
Ketahanan Pangan 9-10 September 2003 di Bogor. PERHIMPI. Bogor.
Britain’s
Meteorological
Office.
November
1999.
Dalam
http://www.ecobridge.org.htm. Diakses tanggal 30 September 2010.
Buwono, I.D. 1993. Tambak Udang Windu Sistem Pengelolaan Berpola Intensif.
Kanisius. Yogyakarta.
Dinas Hidro dan Oseanografi TNI AL. 2010. Data Ketinggian Pasang Surut
Perairan Indonesia. Dishidros TNI AL. Jakarta.
Dekimpraswil. 2002. Review Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional: Kebijakan
Nasional Untuk Pengembangan Kawasan Budidaya. Bahan Sosialisasi
RTRWN dalam rangka Roadshow dengan Departemen Pertanian 17
Oktober. Ditjen Penataan Ruang Dekimpraswil. Jakarta.
Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Bekasi. 2008. Kajian
Potensi Perikanan Laut di Kecamatan Muaragembong. Dinas Peternakan.
Perikanan. dan Kelautan. Bekasi.
Hardjawinata, S. 1997. Perubahan Iklim Bumi, di Dalam Sumberdaya Air dan
Iklim dalam Mewujudkan Pertanian Efisien. PERHIMPI. Jakarta. Hal. 255283.
Handoko, I., Y. Sugiharto, dan Y. Syaukat. 2007. Keterkaitan Perubahan Iklim
dan Produksi Pangan Strategis: Telaah Kebijakan Independen dalan
Bidang Perdagangan dan Pembangunan. Seameo Biotrop. Bogor.
71
Intergovermental Panel Climate Change. 2000. Emission Scenarios. Cambridge
University Press. Cambridge.
Jarraud, M. 2008. Perubahan Iklim III: Dampak Terhadap Kawasan Pantai dan
Negara Kepulauan. Dalam lokakarya media 21. Global Journalism
Network. Geneva.
Kementerian Lingkungan Hidup. 2001. Naskah Akademis Rancangan Peraturan
Pemerintah (RPP) Tentang Perubahan Iklim. Laporan Akhir. KLH. Jakarta.
. 2007. Pemanasan Global dan Perubahan Iklim
Konteks dan Implikasinya Bagi Indonesia. Seameo Biotrop. Bogor.
Kisworo, Y. 2007. Analisis Usaha Budidaya Tambak Udang Dengan Pendekatan
Tata Ruang Wilayah Pada Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu
Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan. Tesis.
Program Pascasarjana Universitas Diponegoro. Semarang.
Koesmaryono, I. 1999. Pendekatan IPTEK Dalam Mengantisipasi Penyimpangan
Iklim. Di dalam Prosiding Diskusi Panel Strategi Antisipasif Menghadapi
Gejala Alam El-Nino dan La-Nina untuk Pembangunan Pertanian 1
Desember 1998 di Bogor. PERHIMPI. Bogor. Hal. 43-57.
Kompas. 5 Mei 2009. Perubahan Cuaca Ekstrem, Penyakit Udang Merebak.
Http://koralonline.com/artikel/12. Diakses pada tanggal 1 Oktober 2010.
Lains, A. 2003. Ekonometrika Teori dan Aplikasi Jilid 1. A. Mulyadi, Julius.
Pustaka LP3ES Indonesia. Jakarta.
Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional. 2002. Perubahan Iklim: Basis
Ilmiah dan Dampaknya. LAPAN. Jakarta.
Marindro, I. 2008. Waspada terhadap Musim Hujan. Artikel. Dalam marindroina.blogspot.com. Diakses pada tanggal 30 September 2010.
Moediarta, R dan P, Stalker. 2007. Sisi Lain Perubahan Iklim: Mengapa
Indonesia Harus Beradaptasi untuk Melindungi Rakyat Miskinnya. UNDP
Indonesia. Jakarta.
Mulyadi, S. 2005. Ekonomi Kelautan. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Muralidhar, M., M. Kumaran, B. Muniyandi, N. W. Abery, N. R. Umesh, S. De
Silva, dan S. Jumnongsong. 2010. Perception of Climate Change Impacts
and Adaptation of Shrimp Farming in India: Farmer Focus Group
Discussion and Stakeholder Workshop Report (2nd Edition). Network of
Aquaculture Centers in Asia-Pasific. India.
Murdiyarso, D. 2003. Protokol Kyoto Implikasinya Bagi Negara Berkembang.
Kompas. Jakarta.
Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Laut. 2005. Kajian Daya dukung
Lingkungan Pengembangan Pulau Wetar Kabupaten Maluku Tenggara
Barat. IPB. Bogor.
Natural Nusantara. 2010. Budidaya Udang. PT. Natural Nusantara. Jakarta.
72
Natawijaya, R.S, D. Supyandi, C. Tulloh, A.C. Tridakusumah, E.M. Calford, dan
M. Ford. 2009. Ketahanan Pangan dan Distribusi Pendapatan: Adaptasi
Petani Padi Berlahan Sempit. Crawford School of Economics and
Government at The Australian National University. Australia.
Sari, N. 2005. Penilaian Dampak Perubahan Iklim Terhadap Hasil Tanaman
Jagung (Zea Mays L.) dan Kedelai (Glicine mak L.) di Puspanegara dan
Margahayu Jawa Barat. Skripsi. Departemen Geofisika dan Meteorologi
FMIPA IPB. Bogor.
Satria, A. 2009. Pesisir dan Laut Untuk Rakyat. IPB Press. Bogor.
Suryani, S. 2008. Analisis Kelayakan Ekologi Budidaya Tambak Udang Dalam
Rangka Pengembangan Kawasan Pesisir di Kabupaten Purworejo. Tesis.
Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor
Sutjahjo, H dan Gatut S. 2007. Akankah Indonesia Akan Tenggelam Akibat
Pemanasan Global ? Penebar Plus. Jakarta.
Tahir, A.G. 2000. Kajian Pengembangan Pertambakan Dalam Pemanfaatan
Lahan Pesisir Secara Lestari (Studi Kasus: Kabupaten Takalar, Sulawesi
Selatan). Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). Sulawesi Selatan.
Tim Peneliti LPPM-IPB. 2010. Analisis Dampak Perubahan Iklim Terhadap
Perekonomian Masyarakat Pesisir di Kecamatan Kadang Haur Kabupaten
Cirebon. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM)
IPB. Bogor.
United Nations Development Program – Indonesia. 2007. Sisi lain perubahan
iklim - Mengapa Indonesia harus beradaptasi untuk melindungi rakyat
miskinnya. ISBN: 978-979-17069-0-2.
Ustriyana, I N. G. 2005. Model dan Pengukuran Nilai Tukar Nelayan (Kasus
Kabupaten Karangasem). Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Wackernagel, M and W.E. Rees. 1996. Our Ecological Footprint: Reducing
Human Impact on the Earth. New Society Publishers. Canada.
73
LAMPIRAN
74
Lampiran 1: Kuesioner Penelitian
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN
Jl. Kamper level 5 Wing 5 Kampus IPB Darmaga Bogor (16680)
Telp. (0251) 8621 834. Fax. (0251) 8421 762
Nomor Responden
Nama Responden
Alamat Responden
No. Telpon/HP
KUESIONER PENELITIAN
Hari/Tanggal: ………………………..
: ……………………………………………………………..
: ……………………………………………………………..
: ……………………………………………………………..
……………………………………………………………..
: .........................................................................................
Kuesioner ini digunakan sebagai bahan skripsi mengenai “Analisis
Dampak Perubahan Iklim Lokal Terhadap Kesejahteraan Petambak Udang
(Studi Kasus Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Provinsi
Jawa Barat)” oleh Nurman Syahbana, Mahasiswa Ekonomi Sumberdaya dan
Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, IPB. Saya mohon partispipasi
Bapak/Ibu/Saudara/i untuk mengisi kuesioner ini dengan teliti dan lengkap
sehingga dapat memberikan data yang obyektif. Informasi Bapak/Ibu/Saudara/i
berikan akan terjamin kerahasiaannya, tidak untuk dipublikasikan dan tidak untuk
kepentingan politis. Atas perhatian dan partisipasinya Saya ucapkan terima kasih.
A. Karakteristik Responden
1. Jenis Kelamin
: L/P
2. Usia
: …….. tahun
3. Pendidikan Terakhir
: a. Tidak Sekolah e. D1/Sederajat
b. SD/Sederajat
f. D2/Sederajat
c. SLTP/Sederajat g. D3/Sedarajat
d. SLTA/Sederajat h. S1/Sederajat
4. Status Perkawinan
: a. Menikah
b. Belum Menikah
5. Jumlah Tanggungan
: ………………. Orang
6. Penghasilan Bertambak: Rp. …………………………/Bulan
7. Penghasilan Selain Bertambak: Rp. ………………………./Bulan
8. Jumlah Pengeluaran
: Rp. ………………………...../bulan
Keluarga Untuk Pangan
9. Jumlah Pengeluaran
: Rp. ………………………...../bulan
Keluarga Untuk Non-Pangan
B. Kondisi Sumberdaya Perikanan Tambak
10. Lahan Tambak :
- Luas Lahan : ……………….(Ha)
- Jenis Udang : ……………………….
- Sumber Air : a. Laut
b. Sungai
c. Lainnya………
- Satus Lahan : a. Pemilik b. Penyewa c. Lainnya………
- Pengalaman Bertambak: ……………. Tahun
75
- Jumlah Panen dalam Setahun
: …………. Kali
- Jumlah Produksi Rata-Rata Udang setiap panen: ...............Kg/Ha
- Jumlah Biaya dalam Bertambak
: Rp……………………./Ha
- Jumlah Keuntungan Tambak
: Rp. …………………../Ha
11. Konsumsi Udang Per KK/hari:
- Jenis Udang: ……………………….. (…….Kg/hari)
- Jenis Udang: ……………………….. (…….Kg/hari)
- Lainnya ………………………………
12 Berapa kali makan udang setiap hari? .......................... kali
C. Persepsi Terhadap Perubahan Iklim
13 Apakah Saudara pernah mendengar istilah perubahan iklim?
a. Pernah: Dari 1. TV
2. Radio
3. Koran
4. Petugas Pemerintah
5. Lainnya………………
b. Belum Pernah
14 Apakah Saudara memahami apa yang dimaksud dengan perubahan
iklim?
a. Ya
b. Tidak
Jika Ya. Jelaskan: ………………………………………………………
……………………………………………………………………………
15 Menurut Saudara perubahan apa yang telah dirasakan di daerah
Saudara dalam 10 tahun terakhir?
- Suhu
a. Meningkat
c. Menurun
b. Tetap
d. Tidak Tahu
- Curah hujan
a. Meningkat
c. Menurun
b. Tetap
d. Tidak Tahu
- Jumlah hari/bulan hujan a. Meningkat
c. Menurun
b. Tetap
d. Tidak Tahu
- Jumlah hari/bulan kering a. Meningkat
c. Menurun
b. Tetap
d. Tidak Tahu
- Tinggi dan Intensitas
a. Meningkat
c. Menurun
Banjir Pasang
b. Tetap
d. Tidak Tahu
- Tinggi dan Intensitas
a. Meningkat
c. Menurun
Banjir Sungai
b. Tetap
d. Tidak Tahu
16. Sejak kapan Saudara merasakan adanya perubahan iklim?
a. 0 – 5 tahun lalu
b. 5 – 10 tahun lalu
c. Tidak Jelas
17. Apakah dampak perubahan iklim di Muaragembong sangat
berpengaruh terhadap kehidupan nelayan?
a. Ya
b. tidak
18. Jika Ya, apakah yang dirasakan?............
19. Apakah Saudara mengalami kerugian akibat adanya perubahan iklim?
a. Ya, sejak kapan: ……………………………………………………
b. Tidak, alasan : ……………………………………………………
20. Apakah Saudara pernah mengalami gagal panen akibat perubahan
iklim?
a. Tidak
76
b. Ya, Karena (pilihan boleh lebih dari satu)
- Pasang yang tidak menentu. Kapan? ..................................................
- Hujan yang tidak menentu. Kapan? …………………………………
- Kemarau panjang. Kapan? …………...………………………………
- Lainnya………………………………..……………………………...
Jumlah kerugian : ……………………………..……………………….
21. Menurut Saudara, apakah perubahan iklim telah menurunkan tingkat
produktivitas (hasil) panen udang?
a. Ya
b. Tidak
Jika Ya, kira-kira penurunan dari…………./Ha menjadi
……………/Ha (…….%)
22. Menurut Bapak/ibu/sdr/i apakah perubahan iklim yang terjadi
mempengaruhi total pendapatan sebelum 10 tahun terakhir (19901999)?
a. Ya
b. Tidak
23. Jika ya. bagaimana perubahan total pendapatan sebelum 10 tahun
terakhir (1990-1999):
a. Turun. berapa (Rp)…..?
b. Naik. berapa (Rp)…..?
24. Bagaimana perubahan total pendapatan setelah 10 tahun terakhir
(2000-2009)?
a. Turun. berapa (Rp)................................................
b. Naik. berapa (Rp)……..............................
D. Adaptasi yang Dilakukan Akibat Perubahan Iklim
25. Apakah Saudara melakukan respon akibat perubahan iklim?
a. Ya, (lanjut kepertanyaan berikutnya)
b. Tidak, alasan: ……………………………………………………....
26. Apa yang Saudara lakukan untuk merespon perubahan iklim tersebut?
(pilihan boleh lebih dari satu)
a. Berhenti sejenak bertambak
b. Merubah waktu panen udang
c. Membuat tanggul untuk menahan banjir
d. Menanam pohon mangrove di sekitar tambak
e. Lainnya…………………….
27. Berapa jumlah biaya yang saudara keluarkan untuk merespon akibat
dari perubahan iklim setiap tahunnya?
- Sebelum (1990-1999)
: Rp. ......................................................
- 10 tahun Terakhir (2000-2009): Rp .....................................................
Catatan:
77
Lampiran 2. Hasil Regresi Linear Berganda Menggunakan SPSS 16.0
Variables Entered/Removedb
Model
Variables Variables
Entered Removed Method
1
X4, X3,
. Enter
X2, X1a
a. All requested variables entered.
b. Dependent Variable: Y
Model Summaryb
Model
R
Std. Error
R
Adjusted
of the DurbinSquare R Square Estimate Watson
1
.806a
.649
.369 2.51961
a. Predictors: (Constant). X4. X3. X2. X1
b. Dependent Variable: Y
1.276
ANOVAb
Sum of
Squares
Model
1
Mean
Square
Df
Regression
58.758
4
Residual
31.742
5
F
Sig.
14.689 2.314 .191a
6.348
Total
90.500
9
a. Predictors: (Constant), X4, X3, X2, X1
b. Dependent Variable: Y
Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model
1
B
(Constant) 13.291
Std.
Error
Beta
Collinearity
Statistics
t
2.931
Sig.
4.535
.006
Tolerance VIF
X1
.081
.331
.098
.244
.817
.439 2.276
X2
.257
.251
.338 1.027
.352
.648 1.543
X3
-.333
.363
-.276 -.916
.402
.775 1.290
-.822
.403
-.742 -2.042
.097
.532 1.880
X4
a. Dependent Variable: Y
78
79
Lampiran 3. Data Produksi. Luas Lahan Tambak. Curah Hujan, Jumlah
Hari Hujan, dan Suhu Rata-Rata
Tahun
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
Produksi
(ton)
1569.10
1929.00
1898.60
1915.80
1956.10
864.80
1145.90
1620.60
1717.25
1777.00
Luas
(ha)
8957.00
8977.00
8977.00
10199.00
10204.00
10231.00
10233.00
10736.00
10743.00
10741.00
Curah
Hujan
(mm)
2252.00
1529.50
1146.00
2393.00
2416.00
1442.00
1593.00
2441.90
1568.00
1610.00
Jumlah
Hari Hujan
(hari)
79.00
105.10
57.00
87.00
96.00
96.00
83.00
106.00
84.00
85.00
Suhu
Rata-Rata
(0C)
28.66
28.09
28.32
28.28
28.53
28.73
28.75
28.68
28.63
28.67
80
Lampiran 4. Perhitungan Nilai Tukar Petambak Udang Tahun 1999 dan
2010
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
Total
Pendapatan
(Rp./Tahun)
22.716.000
16.611.600
39.090.000
31.200.000
27.600.000
46.800.000
28.800.000
61.200.000
25.200.000
43.080.000
14.400.000
45.597.000
48.000.000
39.600.000
21.600.000
22.800.000
18.000.000
84.000.000
18.000.000
18.000.000
18.000.000
30.000.000
19.126.667
25.200.000
14.400.000
28.800.000
45.600.000
54.000.000
21.600.000
36.000.000
30.600.000
9.600.000
19.200.000
36.000.000
30.000.000
2010
1999
Total
Total
Total
Pengeluaran
Pendapatan Pengeluaran
(Rp. /Tahun) NTPU (Rp./Tahun) (Rp. /Tahun)
18.000.000
1,26
30.474.000
16.500.000
15.600.000
1,06
24.917.400
11.100.000
28.800.000
1,36
54.311.400
23.800.000
30.000.000
1,04
44.400.000
25.000.000
27.240.000
1,01
34.800.000
22.240.000
36.000.000
1,30
58.320.000
31.000.000
25.200.000
1,14
40.320.000
20.200.000
38.400.000
1,59
73.800.000
33.400.000
22.800.000
1,11
38.160.000
20.300.000
27.804.000
1,55
56.328.000
20.304.000
14.400.000
1,00
21.600.000
11.900.000
36.600.000
1,25
60.955.800
35.900.000
36.000.000
1,33
57.750.000
33.500.000
25.800.000
1,53
46.620.000
20.800.000
25.200.000
0,86
27.450.000
22.700.000
22.800.000
1,00
28.650.000
20.300.000
18.000.000
1,00
25.200.000
15.500.000
45.600.000
1,84
102.000.000
38.100.000
16.800.000
1,07
27.000.000
14.300.000
16.800.000
1,07
25.200.000
14.300.000
16.800.000
1,07
27.000.000
14.300.000
32.400.000
0,93
45.000.000
27.400.000
14.400.000
1,33
26.890.000
13.400.000
25.200.000
1,00
35.280.000
22.700.000
14.400.000
1,00
21.600.000
8.400.000
25.200.000
1,14
35.820.000
20.200.000
38.400.000
1,19
54.240.000
33.400.000
52.440.000
1,03
63.000.000
49.940.000
25.200.000
0,86
32.400.000
22.700.000
28.800.000
1,25
43.200.000
26.300.000
28.800.000
1,06
34.800.000
26.300.000
14.400.000
0,67
13.440.000
11.900.000
18.000.000
1,07
25.200.000
13.500.000
24.000.000
1,50
42.300.000
21.500.000
29.400.000
1,02
39.000.000
26.900.000
81
NTPU
1,85
2,24
2,28
1,78
1,56
1,88
2,00
2,21
1,88
2,77
1,82
1,70
1,72
2,24
1,21
1,41
1,63
2,68
1,89
1,76
1,89
1,64
2,01
1,55
2,57
1,77
1,62
1,26
1,43
1,64
1,32
1,13
1,87
1,97
1,45
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
RataRata
36.000.000
32.400.000
25.200.000
21.600.000
18.000.000
18.000.000
33.600.000
24.000.000
18.000.000
24.000.000
36.000.000
26.400.000
18.000.000
18.000.000
14.400.000
14.400.000
21.600.000
72.000.000
36.000.000
22.800.000
18.000.000
39.600.000
21.600.000
43.200.000
18.000.000
18.000.000
24.000.000
36.000.000
22.020.000
37.200.000
21.600.000
22.200.000
18.600.000
22.800.000
23.400.000
19.200.000
21.600.000
28.800.000
23.400.000
14.400.000
14.400.000
14.400.000
14.400.000
18.000.000
48.000.000
35.640.000
20.040.000
18.000.000
32.400.000
18.000.000
38.400.000
18.000.000
19.800.000
21.600.000
1,00
1,47
0,68
1,00
0,81
0,97
1,47
1,03
0,94
1,11
1,25
1,13
1,25
1,25
1,00
1,00
1,20
1,50
1,01
1,14
1,00
1,22
1,20
1,13
1,00
0,91
1,11
48.000.000
41.400.000
34.800.000
27.000.000
27.000.000
27.000.000
44.400.000
33.000.000
27.000.000
31.200.000
44.400.000
36.000.000
22.680.000
25.200.000
19.080.000
21.600.000
32.400.000
83.700.000
42.000.000
30.000.000
25.200.000
46.620.000
32.400.000
52.800.000
27.000.000
27.000.000
33.600.000
31.000.000
19.520.000
34.700.000
20.100.000
19.700.000
16.100.000
20.300.000
21.900.000
16.700.000
19.100.000
26.300.000
20.900.000
11.900.000
11.400.000
11.900.000
13.400.000
13.500.000
38.000.000
32.640.000
17.540.000
15.500.000
29.400.000
15.000.000
35.900.000
15.500.000
17.300.000
19.100.000
1,55
2,12
1,00
1,34
1,37
1,68
2,19
1,51
1,62
1,63
1,69
1,72
1,91
2,21
1,60
1,61
2,40
2,20
1,29
1,71
1,63
1,59
2,16
1,47
1,74
1,56
1,76
29.084.214
25.128.774
1,16
38.063.010
21.843.290
1,77
82
Lampiran 5: Dokumentasi Penelitian
83
84
Download