usulan penelitian - Universitas Sumatera Utara

advertisement
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Konstipasi
2.1.1 Definisi
Konstipasi adalah ketidakmampuan melakukan evakuasi tinja secara
sempurna, yang tercermin dari 3 aspek, yaitu berkurangnya frekuensi
berhajat dari biasanya, tinja yang keras dari sebelumnya, dan pada palpasi
abdomen teraba masa tinja (skibala) dengan atau tidak disertai enkopresis.5
Konstipasi fungsional yang juga dikenal sebagai konstipasi idiopatik atau
tahanan feses.10
Petunjuk paktis pada World Gastroenterology Organization (WGO)
menjelaskan sebagian besar pasien menyebutkan konstipasi sebagai
defekasi keras (52%), tinja seperti pil atau butir obat (44%), ketidakmampuan
defekasi saat diinginkan (34%), atau defekasi yang jarang (33%).11 Kriteria
ROME III untuk konstipasi fungsional pada anak yaitu jika terdapat 2 atau
lebih dari kriteria berikut pada anak minimal umur 4 tahun yang tidak
memenuhi kriteria untuk irritable bowel syndrome, dialami minimal 1 kali
seminggu selama setidaknya 2 bulan sebelum diagnosis ditegakkan. Kriteria
tersebut adalah :12
-
Buang air besar (BAB) 2 kali seminggu atau kurang
-
Mengalami setidaknya 1 kali inkontinensia feses per minggu
Universitas Sumatera Utara
-
Riwayat retensi feses
-
Riwayat nyeri saat buang air besar atau feses yang keras
-
Terdapatnya massa feses yang besar di rektum
-
Riwayat diameter feses yang besar sehingga dapat menyumbat toilet.
Konstipasi digolongkan akut bila berlangsung sampai 4 minggu dan kronis
bila berlangsung lebih dari 4 minggu.12
2.1.2 Epidemiologi
Konstipasi sering terjadi pada anak, Loening-Baucke pada studi retrospektif
tahun 2004 melaporkan prevalensi konstipasi pada anak usia 4 sampai 17
tahun adalah 22.6%,13 dan Lee dkk pada tahun 2007 menunjukkan prevalensi
konstipasi untuk usia di bawah 4 tahun sebesar 28,8%.14 Studi longitudinal
tahun 2003, Saps dkk melaporkan 18% anak usia 9 sampai 11 tahun
menderita konstipasi.15
2.1.3 Etiologi
Penyebab konstipasi pada anak dapat dibagi menjadi organik dan fungsional.
Hampir 95% konstipasi pada anak disebabkan kelainan fungsional dan hanya
5% oleh kelainan organik (Tabel 2.1).12 Konstipasi fungsional pada umumnya
terkait dengan kurangnya asupan serat, kurangnya minum, kurang aktivitas
Universitas Sumatera Utara
fisik, stress dan perubahan aktivitas rutin, ketersediaan toilet dan masalah
psikososial.5
Tabel 2.1 Penyebab konstipasi pada anak
Penyebab
Idiopatik atau fungsional
95%
Sekunder karena lesi anal
Fissura ani, stenosis anal, anus letak anterior
Neurologis
Lesi medulla spinalis, palsi serebral, penyakit
Hirschsprung
Endokrin/metabolik
Hipotiroid, asidosis tubulus renal, diabetes
insipidus, hiperkalsemia
Antikonvulsan, antipsikotik, mengandung
Obat-obatan
kodein, antidiare, antasida
2.1.4 Patofisiologi
Frekuensi defekasi pada anak-anak bervariasi menurut umur. Bayi yang
minum ASI lebih sering berhajat dibandingkan bayi yang minum susu
formula. Namun mendekati usia 4 bulan, apapun susu yang diminumnya
rerata buang air besar adalah dua kali per hari. Pada umur 2 tahun, frekuensi
rerata defekasi menurun menjadi dua kali per hari.5 Frekuensi defekasi
normal pada bayi dan anak (Tabel 2.2).5,12
Tabel 2.2 Frekuensi defekasi normal pada bayi dan anak.
Universitas Sumatera Utara
Umur
Defekasi/minggu
Defekasi/hari
0-3bulan : ASI
5-40
2.9
0-3bulan: Formula
5-28
2.0
6-12 bulan
5-28
1.8
1-3 tahun
4-21
1.4
> 3 tahun
3-14
1.0
Patofisiologi konstipasi fungsional pada anak berhubungan dengan
kebiasaan anak menahan defekasi akibat pengalaman nyeri pada defekasi
sebelumnya, biasanya disertai fissura ani. Pengalaman nyeri berhajat ini
menimbulkan penahanan tinja ketika ada hasrat untuk defekasi. Kebiasaan
menahan tinja yang berulang akan meregangkan rektum dan kemudian kolon
sigmoid yang menampung tinja berikutnya. Tinja yang berada di kolon akan
terus mengalami reabsorbsi air dan elektrolit dan membentuk skibala.
Seluruh proses akan berulang dengan sendirinya, yaitu tinja yang keras dan
besar menjadi lebih sulit dikeluarkan melalui kanal anus, menimbulkan rasa
sakit dan kemudian retensi tinja selanjutnya.5
2.1.5 Diagnosis
Pada anamnesis ditanyakan riwayat buang air besar meliputi frekuensi,
ukuran dan konsistensi feses, kesulitan BAB, BAB berdarah dan nyeri saat
Universitas Sumatera Utara
BAB. Kemudian riwayat makanan, masalah psikologik dan gejala lain seperti
nyeri perut, anoreksia dan muntah. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan
teraba massa feses pada abdomen. Pada pemeriksaan anorektal ditentukan
lokasi anus, adanya prolaps, peradangan perianal, fissure dan tonus dari
saluran anus. Pemeriksaan penunjang dilakukan pada kasus-kasus tertentu
yang diduga mempunyai penyebab organik.12
2.1.6 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan konstipasi fungsional membutuhkan alur yang belum
dipahami antara interaksi fisik dan faktor psikologis.16 Tatalaksana konstipasi
fungsional meliputi evakuasi tinja bila terjadi skibala, terapi rumatan berupa
pemberian obat, modifikasi perilaku, edukasi pada orang tua, dan
konsultasi.5,12,16 Jika edukasi, pola makanan tidak menunjukkan perubahan
dalam 2 minggu, pengobatan medis dapat segera diberikan. Tujuan
pengobatan ini adalah untuk melunakkan konsistensi feses sehingga
memudahkan defekasi. Pengobatan di evaluasi selama 2 minggu, kemudian
dilakukan penilaian ulang, jika konstipasi tetap berlangsung pengobatan
dilanjutkan selama 2 bulan, pengurangan dosis dilakukan setelah 2 bulan jika
frekuensi defekasi dijumpai lebih dari 3x dalam seminggu dan tidak dijumpai
gejala konstipasi lainnya.17
Universitas Sumatera Utara
1. Evakuasi tinja
Evakuasi tinja adalah proses yang dilakukan untuk mengeluarkan massa tinja
atau skibala yang teraba pada pada palpasi regio abdomen bawah. Evakuasi
skibala ini perlu dilakukan sebelum terapi rumatan. Evakuasi tinja dapat
dilakukan dengan obat oral atau rektal. Program evakuasi tinja biasanya
dilakukan selama 2 sampai 5 hari sampai terjadi evakuasi tinja secara
lengkap (Tabel 2.3).5,12,18,19
Tabel 2.3. Anjuran obat yang diberikan untuk evakuasi tinja pada bayi dan
anak dengan konstipasi fungsional
Obat-obatan
Bayi (< 1 tahun)
- Gliserin supositoria
- Enema: 6 ml/kgBB (maks 135 ml)
Anak – anak (>1 tahun)
• Evakuasi tinja secara cepat
- Enema: 6 ml/kg (maks 135 ml) setiap 12- 24 jam --> 1-3 kali
- Minyak mineral
- Fosfat
Pengobatan kombinasi: enema,supositoria, dan pencahar
- Hari 1: enema setiap 12-24 jam
Universitas Sumatera Utara
- Hari 2: Bisakodil supositoria (10 mg) setiap 12-24 jam
- Hari 3: Bisakodil tablet setiap 12-24 jam
Polyethylen Glycol (PEG) secara oral atau nasogastric tube (NGT): 25
ml/kgBB/jam (maks 1000 ml/jam)  selama 4 jam perhari
•
Evakuasi tinja secara lambat
- Minyak mineral dengan dosis tinggi secara oral: 15-30 ml/tahun usia/hari
(maks 240 ml)
untuk 3 atau 4 hari
- Senna oral: 15 ml setiap 12 jam untuk 3 dosis
- Magnesium sitrat (maks 300 ml)
2. Terapi rumatan
Segera setelah berhasil melakukan evakuasi tinja, terapi ditujukan untuk
mencegah kekambuhan. Terapi rumatan meliputi intervensi diet, modifikasi
perilaku, dan pemberian obat- obatan untuk menjamin interval defekasi yang
normal dengan evakuasi tinja yang sempurna (Tabel 2.4).5,16,18,19
Tabel 2.4. Anjuran obat untuk terapi rumatan pada anak diatas 1 tahun
dengan konstipasi fungsional.
Obat- obatan
Lubrikan
- Minyak mineral: 1-3 ml/kgBB/hari
Universitas Sumatera Utara
Laksatif osmotik
- Laktulosa
- Mg hidroksida (kons 400 mg/5ml) --> 1-3 ml/kgBB/hari --> dosis terbagi
- Mg hidroksida (kons 800 mg/5ml) --> 0,5 ml/kgBB/hari --> dosis terbagi
- Polyethylen Glycol / PEG (17 gr/240 ml air) --> 1 gr/kgBB/hari --> dosis
terbagi
- Sorbitol: 1-3 ml/kgBB/hari --> dosis terbagi
Laksatif stimulan
- Sirup senna
- Bisakodil tablet: 1-3 tab/hari
Pemberian melalui rektal
- Gliserin supositoria
- Bisakodil supositoria
Terapi rumatan mungkin diperlukan selama beberapa bulan. Bila defekasi
telah normal, terapi rumatan dapat dikurangi untuk kemudian dihentikan.
Pengamatan masih perlu dilakukan karena angka kekambuhan tinggi, dan
pada pengamatan jangka panjang banyak anak yang masih memerlukan
terapi rumatan sampai dewasa.5
2.2 Selenium
Universitas Sumatera Utara
Selenium (Se) merupakan salah satu trace elemen essensial bagi tubuh,6,20,21
tetapi hanya digunakan dalam jumlah yang kecil.22 Selenium merupakan
unsur alami yang ditemukan di batu, batu pasir, batu kapur, batu bara, tanah,
air permukaan dan tumbuh-tumbuhan.6 Tanaman menyerap selenium
anorganik dari tanah dan di metabolisme untuk membentuk asam amino
selenomethionine.7,20
Selenium akan memberikan efek biologi setelah berikatan dengan
protein membentuk selenoprotein, yang dijumpai lebih dari 30 bentuk
selenoprotein
pada
mammalia
dan
25
bentuk
selenoprotein
pada
manusia.20,23 Dikenal banyak bentuk selenoprotein diantaranya: enzim
gluthation
peroxidase
(4
jenis),
iodothyronine
deiodinase
(3
jenis),
thioredoksin reduktase, selenophosfat sintetase, selenoprotein P dan
selenoprotein W. Enzim gluthation peroxidase terdiri dari 4 atom selenium
yang terikat sebagai selenocystein. Enzim ini terdiri dari 4 tipe, yaitu seluler
gluthation peroksidase (cGPx), ekstraseluler gluthation peroksidase (eGPx),
gastrointestinal glutathione peroksidase (GPx-GI) dan fosfolipid glutathione
peroksidase (PhGPx).7 Fungsi selenium ini pada tubuh sebagai antioksidan,
metabolisme hormon tiroid, reaksi redoks, reproduksi dan fungsi immun.23
Peranan selenoprotein secara rinci dijelaskan pada Tabel 2.5.21
Tabel 2.5 Fungsi selenoprotein
Universitas Sumatera Utara
Selenoprotein
Fungsi
Glutathione
Enzim
peroxidases
peroksida, lipid dan fosfolipid hidroperoksida
(GPx1,
GPx2,
antioksidan:
menghilangkan
hidrogen
GPx3, (sehingga mempertahankan integritas membran,
GPx4)
memodulasi
sintesis
eicosanoid,
modifikasi
peradangan dan kemungkinan propagasi lebih
lanjut dari kerusakan oksidatif biomulekul (seperti
lipid, lipoprotein, dan DNA).
(Sperma)
mitokondria Bentuk
kapsul selenoprotein
glutation
Mengembangkan
peroksidase
sel
perisai
(GPX4):
sperma
dari
kerusakan oksidatif dan kemudian dipolimerisasi
ke protein struktural yang diperlukan untuk
stabilitas / motilitas sperma matang.
Iodothyronine
Produksi dan pengaturan tingkat hormon tiroid
deiodinases (3 isoform)
yang aktif, T3 dari tiroksin, T4.
Thioredoxin reductases Pengurangan nukleotida dalam sintesis DNA,
(mungkin tiga isoform)
regenerasi
sistem
antioksidan,
pemeliharaan
redoxstate intraseluler, penting untuk proliferasi
sel dan viabilitas; regulasi ekspresi gen oleh
kontrol redoks pengikatan faktor transkripsi DNA
Selenophosphate
Diperlukan untuk biosintesis selenophosphate,
sintetase, SPS2
cikal bakal selenocysteine, dan karena itu untuk
sintesis seleoprotein
Selenoprotein P
Ditemukan dalam plasma dan terkait dengan sel
endotel. Melindungi sel-sel endotel dari kerusakan
peroxynitrite
Selenoprotein W
Dibutuhkan untuk fungsi otot
Universitas Sumatera Utara
Epitel prostat
Ditemukan
Selenoprotein (15 kDa)
Tampaknya Memiliki fungsi redoks (menyerupai
GPX4),
pada
sel
melindungi
epitel
prostat
ventral.
perkembangan
sel-sel
sekretori karsinoma
DNA-terikat
Memiliki aktivitas seperti glutation peroksidase.
selenoprotein spermatid Ditemukan di perut dan di inti spermatozoa.
(34 kDa)
Melindungi perkembangan sperma. Selenoprotein
18 kDa selenoprotein
penting, ditemukan di ginjal dan sejumlah besar
jaringan
lainnya.
Disimpan
ketika
terjadi
kekurangan selenium
Belum
ada
uji
klinis
ataupun
penelitian
pada
mamalia
yang
mengevaluasi pengaruh defisiensi Se secara komprehensif. Penelitian
eksperimental oleh Pramita dkk, 2008 dilakukan untuk mengungkapkan
pengaruh defesiensi Se terhadap sistem pertahanan antioksidan enzimatik
(superoksida dismutase/ SOD, catalase/ CAT dan GPX) dan non-enzimatik
(glutathione, TBARS dan tiol) pada jaringan hati dan otot tikus serta
mengungkapkan efek defisiensi Se terhadap kadar hormone tiroid plasma
(T 3 , T 4 , TSH dam rT 3 plasma). Pada penelitian ini terjadi penurunan secara
bermakna aktivitas glutation peroksidase (GPX) hari sebesar 95% dan
plasma sebesar 74% pada kelompok defisiensi Se dibandingkan kontrol.
Pada kondisi defisiensi Se, aktivitas GPX akan meningkat dan GPX akan
menggunakan glutation, yang berfungsi sebagai donor elektron untuk
Universitas Sumatera Utara
mengurangi proses peroksidasi selular sehingga akan mengkonsumsi GSHtereduksi.24
Selenium terdapat pada makanan dan tubuh dalam dua bentuk, organik
(selenocysteine,
selenomethionine)
dan
inorganik
(selenite/SeO 3 2-,
selenate/SeO 4 2-).20,22 Selenocysteine bebas diproduksi oleh katabolisme
selenoprotein selular atau selenoprotein ekstra selular. Selenocysteine bebas
tidak dapat terakumulasi karena metabolismenya oleh selenosistein β-lyase.
Selenomethionine tidak tampak sebagai bentuk khusus yang diakui sebagai
senyawa
selenium
Selenomethionine
dan
ini
dimetabolisme
dianggap
dalam
sebagai
kelompok
selenium
metionin.
jaringan
karena
kehadirannya dalam protein metionin dalam darah dan jaringan.22
Diduga absorbsi selenium dalam lumen usus tidak berperan dalam
pengaturan
homeostasis
selenium.
Dalam
bentuk
selenomethionine,
selenium diserap hampir 100% sedangkan dalam bentuk selenocysteine
diserap sedikit lebih rendah. Walaupun absorbsi dari selenium anorganik di
lumen usus dipengaruhi oleh berbagai faktor, namun absorbsi selenium ini
diperkirakan lebih dari 50%.22 Studi nutrisi terbaru menyebutkan bahwa
terdapat hubungan yang erat antara selenium dan vitamin E.25 Vitamin C juga
dapat berperan sebagai coantioksidan dengan regenerasi α-tocoferol (vitamin
E) dari radikal α-tocopheroxyl, yang dihasilkan radikal terlarut lemak.26
Universitas Sumatera Utara
Katabolisme selenomethionine atau selenocysteine akan melepaskan
selenium inorganik (sebagai selenide, HSe-) yang dapat bergabung kembali
kedalam selenoprotein, atau dapat mengalami methylasi menjadi bentuk
ekskresi methyl selenol atau CH 3 SeH, dimethyl selenide atau (CH 3 ) 2 Se,
trimethyl selenonium ion atau (CH 3 ) 3 Se+, dan 1β-methyl-seleno-N-acetyl-Dgalactosamine (CH 3 Se-Ga1N).7
Homeostasis dari selenium diatur dalam mekanisme ekskresi. Apabila
masukan selenium meningkat, dan sebagian besar di absorbsi dalam lumen
usus, maka ekskresi selenium lewat urin ditingkatkan sebagai mekanisme
utama homeostasis.22 Apabila asupan lebih tinggi lagi, maka ekskresi lewat
paru meningkat pula sebagai mekanisme sekunder homeostasis.6,22 Dalam
kedua mekanisme ini, ekskresi sebagian besar dalam bentuk methyl
selenium.22
Kandungan total selenium dalam tubuh, ditetapkan dari pemeriksaan
kadaver, berkisar antar 13.0 sampai 20.3 mg. Otot, hati, darah dan ginjal
mengandung sekitar 61% dari seluruh total selenium di dalam tubuh
manusia, selebihnya dijumpai pada tulang.7 Kriteria utama untuk perkiraan
kebutuhan yang direkomendasikan menurut estimated average requirement
(EAR) dan recommended dietary allowance (RDA) di Amerika dan Standing
committee on the evaluation of dietary reference intakes, 2000 (DRIs) di
Universitas Sumatera Utara
Kanada dan negara-negara lainnya, ditentukan berdasarkan kadar plasma
maksimum gluthatione peroxidase (Tabel 2.6)7,23,27
Tabel 2.6. Kecukupan nutrisi harian yang dianjurkan RDA 2000
Bayi
Anak
Laki-laki
Perempuan
Usia (tahun)
Selenium (microgram)
0,0-0,5
15
0,5-1,0
20
1-3
20
4-6
20
7-10
30
11-14
40
15-18
50
19-24
70
11-14
45
15-18
50
19-24
55
Hamil
65
Menyusui
75
Paparan
berlebihan
terhadap
selenium
pada
manusia
dapat
mengakibatkan nausea dan beberapa kasus dengan muntah dan diare.
Selenosis akut dan kronik dapat menimbulkan perubahan pada kuku dan
rambut, neuropati perifer, mudah lelah dan gelisah. Pernafasan berbau
Universitas Sumatera Utara
bawang juga menunjukkan keracunan selenium.6 Gejala ini akan muncul
pada asupan selenium diantara 3200 sampai 6700 mikrogram/hari.7 Paparan
pada kulit terhadap selenium dapat mengakibatkan iritasi lokal yang berat,
mengakibatkan nyeri terbakar, kemerahan, dan dermatitis alergi.6
Defisiensi selenium pada manusia jarang, akan tetapi akibat kadar
selenium yang rendah di wilayah Cina, dijumpai dua penyakit endemik yaitu
Keshan
disease
(kardiomiopati
endemik)
dan
Keshin-Beck
disease
(osteoarthritis endemik).23 Berbagai bentuk kurang selenium juga ditemukan
dalam
kaitannya
terhadap
Kurang-Energi
Protein,
Acquired
Immuno
Deficiency Syndrome (AIDS), alkoholisme dan short bowel syndrome.22
Selenium pertama kali diketahui sebagai elemen toksin, didasarkan
pada tingginya kadar pada tanah yang menghasilkan penumpukan selenium
pada tanaman, yang kemudian mengakibatkan toksisitas akut dan kronis
pada perternakan.7 Konsentrasi selenium pada darah secara umum
digunakan untuk pengukuran status dan asupan selenium, tetapi jaringan
lainnya seperti rambut dan kuku juga digunakan.6,23 Status selenium jangka
pendek ditujukkan oleh plasma atau serum selenium. Kuku jari kaki dan
rambut digunakan untuk pengukuran status selenium jangka panjang.7
2.2 Mekanisme Kerja
2.2.1 Radikal bebas
Universitas Sumatera Utara
Radikal bebas didefinisikan sebagai molekul atau fragmen molekuler yang
mengandung satu atau lebih elektron tidak berpasangan pada lingkar terluar
atom atau orbit molekular dan kemampuan dari keberadaannya yang bebas.
Reactive oxygen species (ROS) dan reactive nitrogen species (RNS)
menunjukkan radikal bebas dan derivat reakif non radikal lainnya. Reaktifitas
radikal bebas secara umum lebih kuat dibandingkan spesies non-radikal.28
ROS dan RNS meliputi radikal seperti superoksida (O2•-), hidroksil
(OH•), peroksil (RO 2 •), hydroperoxyl (HO 2 •), alkoxyl (RO•), peroksil (ROO •),
nitric oxide (NO•), nitrogen dioksida (NO 2 •) dan lipid peroksil (Loo •), dan non
radikal seperti hidrogen peroksida (H 2 O 2 ), asam hipoklorit (HOCl), ozon (O 3 ),
singlet oxygen (1Δg), peroxynitrate (ONOO-), asam nitrit (HNO 2 ), dinitrogen
trioxyide (N 2 O 3 ), lipid peroxyde (LOOH). Pada konsentrasi tinggi, ROS dapat
menjadi mediator penting terhadap kerusakan struktur sel, asam nukleat,
lemak dan protein.28 Reactive oksigen nitrogen spesies (RONS) berperan
dalam patogenesis dari beberapa penyakit saluran pencernaan, termasuk
gastroesophageal
reflux
disease
(GERD),
gastritis,
dan
idiopathic
inflammatory bowel disease (IBD).29
2.2.2 Antioksidan
Antioksidan adalah zat apapun yang dapat menunda atau menghambat
kerusakan oksidatif pada molekul target. Pada saatnya molekul antioksidan
Universitas Sumatera Utara
dapat bereaksi dengan radikal bebas tunggal dan mampu untuk menetralkan
radikal bebas dengan menyumbang satu elektron mereka sendiri, mengakhiri
reaksi karbon-mercuri.30
Tubuh
memiliki
pertahanan
antioksidan
menyeluruh,
termasuk
antioksidan endogen enzimatik seperti SOD, CAT yaitu glutation peroksidase
(GPX) dan antioksidan nonenzimatik seperti glutathione (GSH), asam urat,
melatonin, feritin, seruloplasmin serta antioksidan eksogen (yang terutama
berasal dari diet termasuk vitamin A, C, E, karotenoid, senyawa fenolik,
berbagai pigmen tumbuhan lain dan beberapa ion logam seperti selenium
dan seng).1 Zat antioksidan tersebut memainkan peran penting dalam
pemulungan anion superoksida radikal (O 2 ), hidroksil radikal (-OH), dan
radikal bebas lainnya serta oksigen singlet (1O 2 ), hidrogen peroksida (H 2 O 2 ),
dan reaktif oksigen spesies (ROS), yang dihasilkan berlebihan dalam tubuh
manusia. Antioksidan tersebut berperan penting dalam mencegah gangguan
fisiologis dan patologis dari serangkaian reaksi rantai radikal bebas yang
diinduksi oleh kelebihan O 2 , sehingga melindungi membran sel terhadap
stres oksidasi dan kerusakan oksidasi. Lipoperoksida (LPO) adalah produk
dari peroksidasi (autooksidasi) dari lipid yang terpapar oksigen.3
2.2.3 Stres Oksidasi
Universitas Sumatera Utara
Stres oksidasi adalah kondisi berbahaya yang terjadi ketika ada kelebihan
ROS dan atau penurunan kadar antioksidan, ini mungkin disebabkan oleh
kerusakan jaringan fisik, kimia, faktor psikologis yang menyebabkan cedera
jaringan
dan menimbulkan penyakit yang berbeda-beda.28 Dalam proses
penuaan keseimbangan ini mengarah pada stres oksidasi. Karenanya
menjaga keseimbangan antara prooksidan dan antioksidan merupakan hal
yang sangat penting dalam hal menjaga kesehatan bahkan kalau perlu
diberikan sebagai suplemen.2 Adanya revolusi sistem pertahanan makhluk
hidup yang sangat rumit dan perlawanan tubuh terhadap radikal bebas yang
disebabkan stres oksidasi melibatkan mekanisme pertahanan yang berbeda
seperti mekanisme pencegahan, mekanisme perbaikan, pertahanan fisik dan
pertahanan antioksidan.28
2.3.4 Mekanisme antioksidan pada konstipasi
Telah diketahui bahwa konstipasi dapat menyebabkan perubahan
permeabilitas
usus.
Disamping
respon
imunitas
sistemik,
pada
konstipasi
mempengaruhi sebahagian besar imunitas lokal pada usus. Hal ini
membuktikan bahwa konstipasi kronik dapat menyebabkan stress oksidasi
potensial dan kerusakan radikal bebas. Pada stress oksidatif, antioxidasesuperoxide
dismutase
(SOD)
menurun
dan
produk
oksidasi
yaitu
malondialdehyde mengalami penumpukan.31
Universitas Sumatera Utara
Secara klinis konstipasi dibagi dalam 4 tipe patogenesis yaitu tipe slow
transit, tipe outlet obstruction, tipe slow transit dengan outlet obstruction, dan
irritable bowel syndrome.32 Slow transit constipation (STC) ditandai dengan
gangguan motilitas total dalam usus besar. Dalam studi histologis, usus
besar dengan STC terkait dengan perubahan tidak hanya dalam struktur
sistem saraf enterik, seperti adrenergik dan saraf kolinergik, tetapi juga isi
dan reseptor neurotransmitter.32,33 Beberapa penulis melaporkan penurunan
aktivitas saraf kolinergik dan peningkatan nonadrenergic noncholinergic
(NANC) pada aktivitas saraf inhibitor memainkan peran penting dalam
dismotilitas yang diamati pada kolon pasien dengan STC.33
Selama dekade terakhir, dengan kemajuan dalam farmakologi,
elektrofisiologi, dan immunohistokimia, telah menyatakan bahwa sistem saraf
NANC, memiliki peran penting dalam pengaturan motilitas usus. Juga
diketahui bahwa saraf penghambat NANC bertindak lebih dominan dari saraf
perangsang NANC dalam pengaturan saraf enterik pada usus normal.
Beberapa laporan bahwa usus dengan STC lebih kuat diinervasi oleh saraf
penghambat, kususnya saraf penghambat NANC dibandingkan kolon normal.
Baru-baru ini nitrit oksida (NO) telah dilaporkan menjadi neurotransmitter
saraf penghambat NANC pada saluran pencernaan manusia.33 Bult dkk,
melaporkan
bahwa
produksi
berlebihan
NO
dapat
menyebabkan
penghambatan yang menetap motilitas kolon pasien dengan STC.34 Oleh
Universitas Sumatera Utara
karena itu, peningkatan NO mungkin berkaitan dengan gangguan motilitas
diamati dalam usus besar STC.33
Mekanisme patofisiologis konstipasi sering melibatkan aktivitas
pendorong kolon yang jelek, gangguan kolon, atau gangguan motorik kolon.
Oleh karena itu, selain faktor psikologis dan fisiologis, transit kolon teratur
dan fungsi anorektal mungkin memainkan peran penting dalam gangguan ini.
Kelainan ini secara bertahap akan menyebabkan penyerapan air meningkat
dan konsistensi tinja padat. Pada saat yang sama, zat toksik pada tinja
seperti amonia, hidrogen sulfida, dan indole, sebagian besar diserap oleh
saluran usus pada anak-anak dengan konstipasi kronis, dan masuk ke dalam
sirkulasi darah. Selain itu, gangguan ini akan menyebabkan flora usus tidak
seimbang, sehingga terjadi pengeringan tinja dan memperberat konstipasi.3
Banyaknya radikal bebas dan reaktif oksigen spesies (ROS) dapat
dihasilkan oleh kelebihan amonia dalam saluran usus dan darah, dan
ketidakseimbangan flora usus. Kelebihan ini dapat berinteraksi langsung
dengan DNA (Deoxyribo Nucleic Acid), sehingga menyebabkan kerusakan
DNA, menghambat atau menekan replikasi DNA, dan juga dapat menyerang
situs aktif dan kelompok dalam struktur molekul dari vitamin C, vitamin E,
SOD, dan CAT. Akibatnya, tingkat vitamin C dan vitamin E maupun aktivitas
SOD dan CAT pada pasien konstipasi kronis menurun secara signifikan.
Selain itu, radikal bebas dan ROS berlebihan, serta penurunan level plasma
Universitas Sumatera Utara
vitamin E dapat mempercepat reaksi lipoperoxidative, yang ditunjukkan oleh
peningkatan lipoperoksida pada anak dengan konstipasi kronis.4
2.4 Kerangka Konseptual
Stres Oksidasi
Diet Serat
Aktifitas Anak
Jumlah Cairan
Obat yang diminum
Konstipasi Fungsional
Selenium
Gastrointestinal
Glutahtione
Peroxidase (GPx-GI)
Konstipasi:
1. Frekuensi BAB
2. Nyeri perut
3. Konsistensi tinja
: Hal yang diamati dalam penelitian
: Diobati dengan supplementasi
Gambar 2.1 Kerangka Konsep Penelitian
BAB 3
Universitas Sumatera Utara
Download