produktivitas lebah trigona spp. sebagai penghasil

advertisement
PRODUKTIVITAS LEBAH TRIGONA SPP. SEBAGAI
PENGHASIL PROPOLIS PADA PERKEBUNAN PALA
MONOKULTUR DAN POLIKULTUR DI JAWA BARAT
HEARTY SALATNAYA
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER
INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Produktivitas Lebah Trigona spp.
sebagai Penghasil Propolis pada Perkebunan Pala Monokultur dan
Polikultur di Jawa Barat, adalah karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk
apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau
dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir
tesis ini.
Bogor, September 2012
Hearty Salatnaya
NIM D151100041
ABSTRACT
HEARTY SALATNAYA. Productivity of Trigona spp. as a Propolis Producer at
Monoculture and Policulture Nutmeg Plantation in East Java. Supervised by A.M.
FUAH and W.D. WIDODO
One of the stingless bee, namely Trigona spp. is a good propolis producer
but, until now the species is not cultivated yet. Propolis is made from resin
collected by bee from plants and mixed with enzim from bee saliva. The best resin
produced by plants that used as medicine. Nutmeg is original plant from
Indonesia, and commonly used as medicine. The aim of this study was to analyze
the productivity of Trigona bee as propolis producer which were cultivated at
monoculture and policulture plantations. This study was carried on at the
Experimental Plantation (Cicurug Monoculture Farm) and Community Plantation
(Cijeruk Policulture Farm) and data collection were conducted for three months
from March until May 2012. Methodology used in this study was direct
observation on daily activity and measurement the colony weight of Trigona that
was kept at two different farms. Propolis production was measured in the two
agroecosyestems and analysed to measure the flavonoid content of propolis
produced in each locality. The results showed that the weight of Trigona at
monoculture farm was higher than those at the policulture (299 g : 170 g), but the
weight of propolis at policulture farm was higher than monoculture farm (92,75 g
: 65,57 g). The result of flavonoid content of propolis at monoculture farm is
0,186%, and 0,288% at policulture farm. The difference might be related to the
activity of the stingless bee which were more active at the monoculture farm to
develop their colony rather than their product (propolis). It shows that the activity
of the stingless bee at monoculture was more active than those at the policulture
farm.
Keywords: trigona spp., monoculture, policulture, productivity, propolis
RINGKASAN
HEARTY SALATNAYA. Produktivitas Lebah Trigona spp. sebagai Penghasil
Propolis pada Perkebunan Pala Monokultur dan Polikultur di Jawa Barat.
Dibimbing oleh. A.M. FUAH dan W.D.WIDODO
Trigona spp. adalah salah satu jenis lebah bersengat (stingless bee) sebagai
penghasil propolis yang baik. Namun, spesies ini belum banyak dibudidaya oleh
masyarakat, karena merupakan penghasil madu yang sedikit. Tidak adanya sengat
memungkingkan Trigona diternak secara meluas, karena propolis yang dihasilkan
memiliki nilai jual yang tinggi.
Propolis adalah salah satu produk dari lebah yang berasal dari getah (resin)
tanaman yang kemudian dicampur dengan ludah (saliva). Propolis digunakan oleh
lebah untuk melindungi sarangnya dari kontaminasi bakteri, virus dan jamur.
Sedangkan bagi manusia, propolis sangat bermanfaat bagi kesehatan. Kandungan
zat yang berfungsi sebagai antibiotik dan antimikroba membuat propolis dapat
digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Propolis juga dapat
digunakan untuk terapi penyakit, sebagai bahan pengawet dan dapat digunakan
untuk beberapa industri.
Sumber resin yang terbaik berasal dari resin tanaman yang telah digunakan
sebagai obat. Pala (Myristica fragrans Houtt) adalah tanaman asli Indonesia, dan
biasanya digunakan sebagai obat dan merupakan penghasil resin. Untuk itu,
dilakukan penelitian dengan tujuan mempelajari produktivitas lebah Trigona spp.
sebagai penghasil propolis yang dibudidaya pada perkebunan pala monokultur dan
polikultur. disamping itu propolis juga dianalisis untuk mengetahui kandungan
flavonoidnya.
Penelitian ini telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Cicurug dan
Perkebunan Rakyat Cijeruk, dan penelitian dilaksanakan selama tiga bulan mulai
dari bulan Maret sampai dengan Mei 2012. Metode yang digunakan adalah
pengamatan langsung terhadap aktivitas harian lebah dan menghitung bobot
koloni Trigona secara berulang yang dipelihara pada dua kebun yang berbeda.
Produksi propolis terjadi secara berulang pada dua perkebunan.
Hasil menunjukkan bahwa bobot Trigona pada kebun monokultur lebih
tinggi dari kebun polikultur (299 g : 170 g), tetapi bobot propolis pada kebun
polikultur lebih tinggi dibandingkan kebun monokultur (92,75 g : 65,57 g).
Perbedaan ini ada kaitannya dengan aktivitas lebah pada kebun monokultur yang
lebih aktif mengembangkan koloni, sehingga menghasilkan bobot koloni lebih
tinggi dibandingkan menghasilkan produk (propolis). Hal ini menunjukkan bahwa
aktivitas dari lebah tidak bersengat (stingless bee) pada kebun monokultur lebih
aktif dibandingkan lebah pada kebun polikultur. Aktivitas yang tinggi dari koloni
lebah di kebun monokultur dipengaruhi oleh musim berbunga tanaman dan jarak
tanaman yang ada di masing-masing lokasi penelitian. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa aktivitas Trigona dimulai pada pukul 06.00, dan aktivitas
tertinggi terjadi pada pukul 10.00-12.00, kemudian semakin menurun sampai
dengan pukul 17.00.
Flavonoid adalah salah satu senyawa kimia yang penting pada propolis.
Hasil analisa kandungan flavonoid pada propolis di kebun monokultur adalah
0,186%, dan 0,288% pada kebun polikultur. senyawa flavonoid pada propolis
berfungsi sebagai antioksidan yang mampu mengatasi senyawa radikal
bebas sehingga sangat baik sebagai antikanker.
Lebah adalah serangga berdarah dingin yang peka terhadap perubahan suhu
lingkungan. Lingkungan juga mempengaruhi perkembangan dan produktivitas
koloni lebah. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap aktivitas lebah adalah
temperatur, kelembaban udara, dan intensitas cahaya matahari. Hasil pengamatan
menunjukkan bahwa aktivtas lebah dimulai pada saat suhu berkisar antara 22-23
o
C, dengan kelembaban 70-88%, dan intensitas cahaya 183-4344 lux. Aktivitas
tertinggi terjadi pada saat suhu mencapai 26-28 oC, kelembaban 55-71%, dan
intensitas cahaya 46.875-91.347 lux.
Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa produktivitas
Trigona spp. berdasarkan bobot koloni lebah yang dipelihara pada kebun pala
monokultur sangat nyata lebih tinggi dibandingkan kebun polikultur, yang
dipengaruhi oleh musim berbunga dan jarak tanaman yang ada pada masingmasing lokasi. Kandungan flavonoid yang merupakan senyawa kimia yang
penting pada propolis yang dihasilkan oleh Trigona pada kebun pala monokultur
dan polikultur menunjukkan hasil yang bervariasi, yang berkaitan erat dengan
variasi lingkungan dan manajemen pemeliharaan.
Faktor lingkungan (suhu, kelembaban dan intensitas cahaya) dan waktu
nyata berpengaruh terhadap aktivitas terbang Trigona. Suhu dan intensitas cahaya
yang tinggi, meningkatkan aktivitas lebah, sementara kelembaban yang tinggi
menurunkan aktivitas lebah.
Kata Kunci: trigona spp., produktivitas, propolis, monokultur, polikultur
© Hak cipta milik IPB, tahun 2012
Hak cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau
menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
yang wajar IPB.
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB.
PRODUKTIVITAS LEBAH TRIGONA SPP. SEBAGAI
PENGHASIL PROPOLIS PADA PERKEBUNAN PALA
MONOKULTUR DAN POLIKULTUR DI JAWA BARAT
HEARTY SALATNAYA
Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada
Program Mayor Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012
Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Dr. Ir. Salundik, M.Si
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Tesis
Nama
Nomor Pokok
: Produktivitas Lebah Trigona spp. sebagai Penghasil
Propolis pada Perkebunan Pala Monokultur dan Polikultur
di Jawa Barat
: Hearty Salatnaya
: D151100041
Disetujui
Komisi Pembimbing
Dr. Ir. Asnath Maria Fuah, MS
Ketua
Dr. Ir. Winarso Drajad Widodo, MS
Anggota
Diketahui
Ketua Program Studi/Mayor
Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan
Dekan Sekolah Pascasarjana IPB
Prof. Dr. Ir. Muladno, MSA
Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc. Agr
Tanggal Ujian: 27 September 2012
Tanggal Lulus:
PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
penyertaan-Nya, sehingga penulisan tesis ini dapat diselesaikan. Penulis
menyampaikan terima kasih kepada Dr. Ir. Asnath Maria Fuah, MS dan Dr. Ir.
Winarso Drajad Widodo, MS, sebagai komisi pembimbing yang telah
memberikan motivasi, bimbingan, arahan dan masukan kepada penulis mulai dari
proses penyusunan hingga akhir penulisan tesis.
Kepada Dr. Ir. Salundik, M.Si, selaku penguji luar komisi yang telah
memberikan saran dan masukannya bagi penulisan tesis ini, penulis menghaturkan
penghargaan dan ucapan terima kasih. Ucapan terima kasih juga disampaikan
kepada Dr. Ir. Rarah Ratih Adjie Maheswari, DEA selaku ketua program studi
Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan yang telah memberikan arahan dan
bimbingan selama studi dan termasuk proses penyelesaian tugas akhir.
Drs. Wawan Lukman bersama seluruh staf Kebun Percobaan Cicurug Balai
Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (BALITRO), yang telah membantu
penulis sehingga tesis ini dapat diselesaikan, Dr. Ir. Eddy Ch. Papilaya, M.Si dan
seluruh staf pengajar Sekolah Tinggi Pertanian Kewirausahan (STPK) Banau
Halmahera Barat, terima kasih atas bantuan dan dukungannya, serta perhatian
yang diberikan, yang memungkinkan penyelesaian penelitian dan penulisan tesis
ini.
Rekan-rekan mahasiswa Pascasarjana ITP 2010 IPB, rekan-rekan Sisters
Voice, rekan-rekan Persekutuan Oikumene Umat Kristen Kampus IPB Dramaga
dan sekitarnya (POUKADS), Jemaat Sektor 27 GPIB Zebaoth Bogor, Persatuan
Mahasiswa Maluku (PERMAMA) Bogor, dan Gita Swara Pascasarjana (GSP)
Institut Pertanian Bogor, ungkapan terima kasih atas support dan doa serta
pertemanannya selama ini. Keluarga Eureka Zatnika, Keluarga SabandarDahoklory, Keluarga Leiwakabessy-Matrutty, Keluarga Bawole-Apituley,
Keluarga Jambormias, Keluarga Manuputty, Keluarga Tupan-Hitijiaubessy,
bantuan dan dukungan yang diberikan selama ini, merupakan kekuatan bagi
penulis untuk dapat menyelesaikan tesis ini.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan
kepada Keluarga tercinta, Mama tersayang, Risye, Rigo, Gerald dan Tante Lotje,
Keluarga Besar Salatnaya dan Keluarga Besar Hehakaya atas doa, cinta kasih,
pengertian, dan pengorbanan yang menjadi pendorong semangat dalam
menyelesaikan studi di Institut Pertanian Bogor.
Semoga tesis ini bermanfaat, Tuhan memberkati
Bogor, September 2012
Hearty Salatnaya
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Kota Ambon, Maluku pada tanggal 19 September 1982
sebagai anak kedua dari pasangan Johannes Salatnaya (Alm) dan Henriette
Magdalena Hehakaya. Setelah lulus dari SMU Negeri 2 Ambon pada tahun 2001,
penulis menempuh program sarjana di Jurusan Ilmu Produksi Ternak, Program
Studi Ilmu Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Sam Ratulangi
pada tahun 2001-2005. Pada tahun 2010, penulis berkesempatan melanjutkan
pendidikan pada Sekolah Pascarjana Institut Pertanian Bogor, Program Studi Ilmu
Produksi dan Teknologi Peternakan.
Sejak tahun 2009 hingga saat ini, penulis bekerja sebagai staf pengajar pada
Program Studi Agroekoteknologi, Sekolah Tinggi Pertanian Kewirausahaan
(STPK) Banau Halmahera Barat.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ............................................................................................. xii
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xiv
PENDAHULUAN .............................................................................................. 1
Latar Belakang .............................................................................................. 1
Tujuan Penelitian ................................................................................................. 2
Manfaat Penelitian ............................................................................................... 2
Kerangka Pemikiran ............................................................................................ 2
TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................................... 5
Klasifikasi Lebah Trigona spp. ........................................................................... 5
Siklus Hidup Trigona spp. ................................................................................... 6
Tingkah Laku dan Habitat Trigona spp. ............................................................. 9
Produk Lebah .....................................................................................................12
Madu ..............................................................................................................12
Polen ..............................................................................................................13
Royal Jelly ....................................................................................................14
Propolis .........................................................................................................14
Jenis dan Sumber Pakan Lebah .........................................................................17
Karakteristik Tanaman ......................................................................................20
Pala (Myristica fragrans Houtt) ...................................................................20
Nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.) ............................................ 22
Mangga (Mangifera indica L.) ............................................................... 22
Rambutan (Nephellium lappaceum L.) ................................................... 23
Jambu Biji (Psidium guajava Linn) ....................................................... 23
Jambu Air (Eugenia aquea Burn) ........................................................... 24
Pisang (Musa spp.) ................................................................................ 24
Nanas (Ananas comosus (L.) Merr ......................................................... 24
Durian (Durio zibethinus Murr.) ............................................................ 25
Manggis (Garcinia mangostana L.) ....................................................... 25
Kedondong (Spondias cytherea) ............................................................ 26
Lengkeng (Euphoria longan (Lour) Steud ............................................. 26
Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz) ................................................... 26
Cengkeh (Syzygium aromaticum (L.) ..................................................... 27
Jati (Tectona Grandis L.F) ..................................................................... 27
Pengaruh Faktor Lingkungan Terhadap Produktivitas Lebah ....................... 28
METODE PENELITIAN .........................................................................................31
Tempat dan Waktu .............................................................................................31
Materi dan Alat ..................................................................................................31
Prosedur Penelitian .................................................................................... 32
Rancangan Penelitian ................................................................................. 32
Parameter yang diukur ............................................................................... 33
Analisis Data .............................................................................................. 34
HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................................... 35
Kondisi Umum Tempat Penelitian .............................................................. 35
Produktivitas Koloni .................................................................................. 38
Kandungan Propolis ................................................................................... 41
Aktivitas Trigona ....................................................................................... 42
Faktor Lingkungan dan Aktivitas Trigona .................................................. 46
SIMPULAN DAN SARAN ............................................................................... 49
Simpulan .................................................................................................... 49
Saran .......................................................................................................... 49
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 50
DAFTAR TABEL
Halaman
1
Siklus hidup lebah Trigona spp. ................................................................... 9
2
Tanaman sumber resin ............................................................................... 17
3
Jenis tumbuhan sumber pakan lebah di Indonesia ....................................... 18
4
Suhu dan aktivitas harian lebah .................................................................. 28
5
Jenis dan jumlah tanaman yang terdapat pada kebun polikultur .................. 32
6
Kondisi lingkungan kebun pala monokultur selama penelitian..................... 35
7
Jenis tanaman sumber pakan dan resin pada kebun polikultur ...................... 36
8
Kondisi lingkungan kebun polikultur selama penelitian ............................... 37
9
Curah hujan pada wilayah Cijeruk dan Cicurug ........................................... 38
10 Hasil panen 6 koloni lebah Trigona spp. pada kebun pala monokultur
dan polikultur ............................................................................................. 38
11 Kandungan flavonoid pada propolis di kebun pala monokultur
dan polkultur.. ............................................................................................ 41
12 Faktor lingkungan dan aktivitas Trigona di kebun pala monokultur ............ 46
13 Faktor lingkungan dan aktivitas Trigona di kebun pala polikultur .............. 47
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1 Kasta sosial lebah Trigona spp. ...................................................................... 6
2 Sarang Trigona spp. ..................................................................................... 11
3 Rataan perkembangan bobot koloni Trigona spp. pada kebun pala
monokultur dan polikultur ............................................................................ 38
4 Perkembangan koloni Trigona spp. pada kebun pala monokultur dan
polikultur....................................................................................................... 40
5 Grafik aktivitas Trigona pada kebun pala monokultur dan polikultur ............ 42
6 Aktivitas lebah Trigona di kebun pala monokultur dan polikultur ................. 44
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1 Uji t terhadap bobot koloni ........................................................................... 56
2 Uji t terhadap waktu dan aktivitas ................................................................. 56
3 Uji t terhadap lingkungan dan aktivitas ......................................................... 57
4 Lokasi penelitian ........................................................................................... 58
5 Lay out kebun percobaan tanaman pala ........................................................ 59
PENDAHULUAN
Latar belakang
Lebah adalah serangga sosial kaya manfaat karena menghasilkan madu yang
dikenal berkhasiat untuk kesehatan. Selain madu, produk lain yang dihasilkan
berupa polen, royal jelly, propolis, malam lebah, bisa lebah, larva lebah, madu
sarang, dan roti lebah yang memiliki nilai nutrisi yang tinggi (Suranto 2007).
Berdasarkan karakteristik biologi, lebah terbagi menjadi dua kelompok
besar yaitu kelompok yang bersengat dan yang tidak bersengat. Genus Apis
merupakan jenis lebah bersengat dan memiliki produktivitas yang baik untuk
menghasilkan madu, sedangkan genus Trigona merupakan jenis lebah tidak
bersengat (stingless honeybee) yang belum banyak dibudidayakan, karena
menghasilkan madu lebih sedikit dibandingkan genus Apis. Namun, genus ini
merupakan salah satu penghasil propolis yang sangat baik. Propolis banyak
digunakan sebagai obat alami yang sangat bermanfaat untuk kesehatan dan
ketahanan tubuh. Trigona spp. biasanya menghasilkan sedikit madu, namun
propolis yang dihasilkan lebih banyak dibandingkan dengan yang dihasilkan jenis
lebah lokal yang lain (Syariefa et al. 2010; Suranto 2007).
Propolis dibuat dari getah yang dikumpulkan oleh lebah dari berbagai pucuk
tanaman dan dari tanaman yang patah yang dicampur dengan enzim yang terdapat
dalam kelenjar ludah lebah dan digunakan untuk melindungi sarang dari
kontaminasi bakteri, virus dan jamur (Ghisalberti 1979; Gojmerac 1983; Marcucci
1995; Popova et al. 2005; Chen et al. 2008). Komponen utama propolis berasal
dari resin atau getah tanaman yang dikumpulkan oleh lebah. Banyak jenis
tanaman yang dapat dijadikan sumber resin untuk bahan baku pembentuk
propolis. Sumber resin yang terbaik berasal dari tanaman yang resinnya memang
sudah dimanfaatkan sebagai bahan farmasi atau obat. Tanaman pala (Myristica
fragrans Houtt) merupakan tanaman asli Indonesia yang memiliki nilai ekonomi
tinggi dan digunakan sebagai bahan rempah yang bermanfaat untuk mengobati
beberapa penyakit (Sunanto 1993; Muis et al. 2008). Tanaman pala termasuk
dalam tanaman yang dapat dijadikan sumber resin bagi Trigona (Siregar et al.
2011).
2
Trigona spp. memiliki potensi untuk menghasilkan propolis dengan jumlah
yang cukup tinggi dengan manfaat bagi kesehatan sebagai bahan untuk
pengobatan alternatif karena tidak memiliki efek samping. Namun demikian
Trigona spp. masih belum banyak dibudidayakan oleh masyarakat, padahal modal
yang dibutuhkan tidak terlalu mahal, koloni lebah tidak mudah kabur dan produk
propolisnya memiliki nilai jual yang tinggi (Mahani et al. 2011). Hal ini
merupakan peluang bagi masyarakat untuk dapat membudidayakannya dengan
memanfaatkan pala sebagai sumber daya alam untuk menghasilkan propolis.
Untuk pengembangan peternakan lebah Trigona perlu dilakukan suatu penelitian
tentang produktivitas propolis dari lebah Trigona.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas lebah Trigona spp.
sebagai penghasil propolis yang dibudidayakan pada perkebunan pala monokultur
dan polikultur.
Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat:
1. Memberikan informasi bagi masyarakat tentang produktivitas Trigona spp.
sebagai penghasil propolis pada perkebunan pala monokultur dan polikultur.
2. Memberikan informasi tentang budidaya Trigona spp. pada lokasi monokultur
dan polikultur.
Kerangka Pemikiran
Ternak lebah yang selama ini dikembangkan di Indonesia adalah jenis yang
berasal dari luar, yakni Apis mellifera dan lebah madu lokal (Apis cerana) yang
menghasilkan madu sebagai produk utama. Produksi propolis yang tinggi, dapat
diperoleh dari sejenis lebah yang produksi madunya sangat rendah, yaitu lebah
Trigona spp.
Trigona cukup adaptif terhadap berbagai kondisi sarang, dimana koloninya
terdiri dari ratu, lebah pekerja, dan lebah jantan. Trigona di alam banyak
ditemukan pada batang-batang pohon yang besar, di lubang batu, tiang listrik,
3
celah-celah dinding, dan lubang bambu di dalam rumah (Syariefa et al. 2010).
Namun, bila akan diternakkan dengan tujuan komersil, yaitu diambil propolisnya
atau juga sebagai obat-obatan tentu saja membutuhkan sarang yang higienis.
Sarang yang disiapkan tidak harus mahal atau mewah. Tempat sarang dapat dibuat
dari bambu, kayu, kardus, pot, styrofoam, atau tempurung kelapa (Siregar et al.
2011).
Salah satu syarat hidup Trigona agar dapat berkembang dengan baik adalah
ketersediaan pakan. Vegetasi yang beragam menentukan kestabilan pertumbuhan
koloni Trigona (Siregar et al. 2011). Semakin beragam dan banyak jenis tanaman,
semakin pesat pula pertumbuhan koloninya. Trigona memerlukan lingkungan
dengan vegetasi yang menyediakan polen dan nektar alami, sehingga Trigona
dapat berkembang biak dan menghasilkan beragam produk lebah. Lebah sangat
terangsang untuk mengunjungi bunga-bunga tanaman disebabkan oleh sifat-sifat
bunga yang sangat menarik yang dapat dilihat dari bentuk bunga, warna bunga,
aroma bunga serta ada tidaknya kandungan nektar bunga. Karena ukuran
tubuhnya yang sangat kecil, Trigona dapat mengambil madu dari bunga-bunga
yang kecil (Syariefa et al. 2010). Selain mencari nektar dan tepung sari, lebah ini
gemar mengambil getah pohon (terutama dari bekas luka tebangan) untuk
menutup celah sarang. Jumlah madu yang dihasilkan sedikit, berasa asam, dan
sering digunakan untuk obat sariawan. Lilinnya digunakan untuk membatik yang
dikenal dengan sebutan malam klanceng. Lebah ini tidak memiliki sengat dan
mudah dipelihara. Propolis yang dihasilkan lebah berfungsi untuk mensterilkan
sarang dari kontaminasi bakteri, cendawan, dan virus.
Propolis mempunyai banyak manfaat untuk pengobatan karena kandungan
bahan kimia serta komposisinya yang kompleks dan beragam membuat propolis
mempunyai khasiat yang bermacam-macam, diantaranya sebagai antikanker,
antivirus, dan antibiotika. Propolis juga digunakan dalam industri farmasi sebagai
obat luka, dan campuran pasta gigi.
Setiap jenis lebah memiliki sumber resin tertentu yang ada di daerah
masing-masing sehingga komposisi propolis amat bervariasi. Variasi propolis
tergantung jenis pohon, suhu, wilayah, bahkan hari (saat) ketika propolis
dikumpulkan. Sumber resin yang terbaik berasal dari tanaman yang resinnya
4
memang sudah dimanfaatkan selama ini sebagai bahan farmasi atau obat (Syariefa
et al. 2010; Siregar et al. 2011).
Pala (Myristica fragrans Houtt) dikenal sebagai tanaman rempah yang
memiliki nilai ekonomi dan multiguna karena setiap bagian tanaman dapat
dimanfaatkan dalam berbagai industri. Beberapa bahan kimia yang terkandung
dalam pala diantaranya saponin, polifenol, flavonoid, dan minyak terbang.
Minyak yang dihasilkan dari biji, fuli, kulit, kayu, daun dan bunga hasil sarinya
sebagai oleoresins sering digunakan dalam industri pengawetan minuman ringan
dan kosmetik. Efek farmakologi pala diantaranya anti kembung, anti-insomnia,
peluruh kentut (carminative), dan perangsang (stimulant), mengobati gangguan
pencernaan, sakit perut, kejang lambung, mual, muntah-muntah, diare, muntaber,
jantung berdebar-debar, haid tidak lancar, kencing batu, kencing manis (DM),
demam nifas, lemah syahwat, tidak dapat tidur (insomnia), sakit telinga (otitis),
sariawan, menambah nafsu makan (stomachia), kepala pusing, sakit kepala,
rematik, sakit pinggang, dan kudis (scabies) (Sunanto 1993; Muis et al. 2008).
Penelitian tentang produktivitas lebah Trigona spp. sebagai penghasil
propolis masih belum banyak dilakukan. Tanaman pala merupakan salah satu
jenis tanaman perkebunan yang banyak dijumpai di beberapa daerah di Jawa Barat
dan Maluku, dan berpotensi sebagai sumber pakan bagi lebah Trigona. Untuk itu
perlu dilakukan suatu penelitian mengenai produktivitas Trigona spp. untuk
menghasilkan propolis yang berasal dari pohon pala di perkebunan monokultur
dan perkebunan polikultur. Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat
diketahui berapa banyak jumlah propolis yang dapat dihasilkan oleh lebah
Trigona spp. dan kandungan propolis yang dihasilkan dari pohon pala.
TINJAUAN PUSTAKA
Klasifikasi Lebah Trigona spp.
Lebah termasuk hewan serangga atau insekta. Dalam klasifikasi dunia
binatang, lebah dimasukkan dalam ordo Hymenoptera yang artinya “bersayap
bening”. Lebah ada yang memiliki sengat ada juga yang tidak. Penggolongan
zoologisnya adalah sebagai berikut (Singh 1962; Free 1982; Gojmerac 1983;
Sihombing 2005) :
Kingdom
: Animalia
Filum
: Arthropoda
Kelas
: Insecta
Ordo
: Hymenopetra
Subordo
: Apocrita
Famili
: Apidae (lebah madu)
Genus
: Trigona
Spesies
: Trigona spp.
Trigona spp. merupakan jenis lebah yang tidak menyengat (stingless bee).
Lebah bersengat lebih dikenal luas, tetapi hasil riset ahli taksonomi
menyimpulkan bahwa lebah tidak bersengat Trigona justru merupakan lebah
tertua yang pernah diketahui. Jenis lebah ini termasuk di dalam famili Apidae.
Lebah Trigona spp. ditemukan di daerah tropika dan sub tropika, seperti
Australia, Afrika, Asia Tenggara dan sebagian Meksiko dan Brazil. Lebah
Trigona spp. di daerah tropika selalu aktif sepanjang tahun, sedangkan di daerah
temperate menjadi tidak aktif di musim dingin. Lebah Trigona spp. merupakan
salah satu serangga yang hidup berkelompok dan membentuk koloni (Free 1982).
Sejak dahulu, Trigona telah dikenal oleh masyarakat Indonesia. Dalam
bahasa daerah lebah ini disebut klanceng atau lonceng (Jawa), teuweul (Sunda),
gala-gala atau lilin lebah (Perum Perhutani 1986). Di dunia tercatat ada sekitar
150 jenis Trigona, dan Indonesia memiliki kurang lebih 37 spesies yang tersebar
di berbagai pulau. Misalnya, di pulau Jawa sudah diketahui sekitar sembilan
spesies Trigona, Sumatera 18 spesies Trigona, Kalimantan 31 spesies Trigona,
dan Sulawesi dua spesies Trigona. Jumlah ini dapat lebih banyak lagi karena tiap
daerah memiliki keragaman spesies yang berbeda. Spesies yang paling luas
6
penyebarannya adalah Trigona indipennis atau T. laeviceps,
diikuti spesies
lainnya yaitu T. apicalis, T. fusco-balteata, T-valdezi, T. collina, dan T. terminate.
T. laeviceps pertama kali ditemukan di India, menghuni hutan di kawasan Asia
dan meluas ke Timur sampai Kepulauan Salomon, spesies ini juga yang
diternakkan di Lawang, Gunung Kidul, Yogyakarta, dan Pandeglang (Banten)
(Siregar et al. 2011).
Siklus Hidup Trigona spp.
Lebah hidup dalam sebuah koloni dengan sistem masyarakat yang
berhirarki, dimana dalam satu koloni lebah terdapat tatanan kehidupan yang penuh
gotong royong dan saling ketergantungan. Koloni mempunyai sifat polimorfisme
yaitu anggotanya mempunyai keunikan anatomis, fisiologis dan fungsi
biologisnya yang berbeda satu golongan atau strata lainnya (PPP 2003).
Koloni stingless bee terdiri atas beberapa ratus hingga mencapai sepuluh
ribu ekor, dan pertukaran informasi antara lebah pekerja merupakan kunci masa
depan untuk efisiensi pencarian pakan untuk koloni dan secara tidak langsung
untuk perkembangan koloni dan kesuksesan reproduksi (Biesmeijer & Slaa 2004).
Free (1982) menambahkan, satu koloni lebah Trigona berjumlah 300-80.000
lebah.
Lebah memiliki kasta sosial, dalam setiap kelompok masyarakat lebah
terdapat seekor lebah ratu (queen) yang memimpin lebah pekerja (worker-bees)
dan lebah jantan (drones) yang dapat dilihat pada Gambar 1 (Sihombing 2005).
A
B
C
Sumber: Koleksi Pribadi (2012)
Gambar 1 Kasta sosial lebah Trigona spp. A. Lebah jantan (Drone), B. Lebah
ratu (Queen), C. Lebah pekerja (Worker).
7
Ratu adalah anggota koloni yang teramat penting, suatu koloni tidak dapat
bertahan tanpa ratu. Dalam perkembangan evolusi lebah, ratu mengalami
spesialisasi hanya sebagai penghasil telur. Lebah ratu kehilangan kemampuan
dalam beberapa hal penting seperti mengasuh keturunannya (telur, larva, pupa),
menghasilkan malam (lilin lebah, wax), membuat sarang, dan mencari makan
(PPP 2003). Pendapat ini didukung oleh Sihombing (2005), bahwa ratu bahkan
untuk membuang kotorannya dari sarang pun tidak ada waktu. Untuk
mengeluarkan telur dari perutnya pun ratu harus dibantu oleh lebah pekerja, yaitu
para pekerja mengibas-ngibaskan antenanya ke perut ratu sehingga mudah keluar.
Menyisir atau membersihkan sayapnya sendiri pun harus dilakukan oleh lebah
pekerja.
Lebah ratu berpenampilan mencolok dan berbeda dari lebah pekerja karena
berukuran 3-4 kali lebih panjang dari lebah pekerjanya. Sifatnya tidak mau
berpindah-pindah tempat karena sangat gemuk dan tidak pandai terbang. Lebah
hanya pindah kalau sarangnya sudah terlampau tua dan buruk, atau lilinnya terlalu
keras. Pindahnya hanya ke tempat-tempat terdekat. Lebah ratu berfungsi sebagai
penghasil telur dan juga sebagai pabrik penghasil senyawa kimia, yaitu feromon,
yang merupakan pemersatu koloni dalam satu unit yang terorganisasi. Feromon
merupakan senyawa kimia sebagai alat komunikasi lebah madu yang membawa
informasi-informasi tentang apa yang harus dilakukan atau tingkah laku apa yang
yang harus diperhatikan oleh anggota-anggota koloni sesuai dengan keadaan yang
sedang ataupun akan dihadapi. Setiap lebah ratu menghasilkan senyawa kimia
yang berbeda-beda sehingga hal tersebut digunakan sebagai tanda pengenal pada
masing-masing koloni. Lebah pekerja maupun pejantan tidak mungkin tersesat
atau masuk koloni yang berbeda oleh karena memiliki tanda pengenal yang
berbeda (Perum Perhutani 1986; Sihombing 2005).
Berdasarkan kasta, lebah jantan masuk kasta kelompok kedua terbesar
dalam koloni lebah. Lebah jantan dalam koloninya dikenal sebagai lebah pemalas
karena lebah enggan mencari makan, tidak mau memelihara sarang, dan tak
pernah mengurus dirinya termasuk makan. Semua aktivitas-aktivitas tersebut
dilakukan oleh lebah pekerja, bahkan setiap hari lebah jantan minta disuapi dan
dibersihkan badannya (Singh 1962; Sihombing 2005).
8
Fungsi lebah jantan satu-satunya selama hidupnya adalah mengawini ratu
perawan (virgin queen). Lebah jantan suka bermalas-malasan di dalam sarang dan
hanya mau keluar dari sarangnya jika cuaca cerah, dan mau terbang tinggi kalau
mau meminang ratu lebah. Pada saat musim paceklik tiba sebagian lebah-lebah
jantan akan dibinasakan dan dikeluarkan oleh lebah-lebah pekerja dari sarang.
Hanya koloni yang tidak normal, seperti koloni yang kehilangan ratu atau kurang
subur, mempunyai lebah jantan pada musim paceklik (Singh 1962; Free 1982;
PPP 2003; Sihombing 2005). Pada musim kawin, sang ratu akan terbang ke udara
yang diiringi oleh para lebah jantan. Perkawinan terjadi ketika udara cerah dan
sesudah perkawinan, lebah jantan akan mati karena kantong sperma terpisah dan
tertinggal dalam kantong sperma ratu yang disebut spermatheca. Spermatecha
merupakan tempat penyimpanan sperma lebah jantan hasil perkawinan pada ratu
lebah (Gojmerac 1983; Amano 2002; Sihombing 2005).
Lebah pekerja merupakan anggota koloni yang paling banyak jumlahnya
dan beragam tugasnya. Jumlah lebah pekerja lebih banyak dalam satu koloni akan
lebih ideal. Lebah pekerja mempunyai tugas mencari dan mengumpulkan nektar.
Lebah-lebah pekerja merupakan lebah yang sangat sibuk. Lebah tidak pernah
berhenti bekerja. Ketika musim tanaman berbunga lebah mencari polen dan
nektar. Di dalam sarang, nektar dan polen yang dibawa oleh lebah pekerja
lapangan diserahkan pada lebah rumah tangga untuk disimpan dalam sel
penyimpanan cadangan makanan. Saat musim berbunga usai, lebah terbang
mencari getah atau resin di daun, pucuk, dan batang tanaman sebagai bahan untuk
memperbaiki dan menambal sarang yang rusak. Pekerjaan mencari resin
merupakan tugas lebah pekerja tua. Resin yang dikumpulkan dari tanaman
digunakan untuk menghasilkan propolis. Di dalam sarang lebah pekerja tidak
tinggal diam. Lebah pekerja membersihkan sarang dari kotoran dan sampah,
misalnya hama atau individu yang mati. Lebah pekerja berwarna hitam, berkepala
besar dan berahang tajam untuk menggigit musuh bila diganggu (Singh 1962;
Amano 2002; Syariefa et al. 2010).
Menjadi seekor lebah dewasa, baik lebah ratu, lebah jantan dan lebah
pekerja harus melewati perkembangan dari telur menjadi dewasa. Secara ringkas
9
waktu yang dibutuhkan dalam perkembangan lebah mulai dari stadium telur
sampai menjadi lebah dewasa ditampilkan dalam Tabel 1.
Tabel 1 Siklus hidup lebah Trigona spp.
Kasta
Ratu
Pekerja
Jantan
Telur
(hari)
3
3
3
Larva
(hari)
5.5
6
6.5
Pupa
(hari)
7.5
12
14.5
Total
(hari)
16
21
24
Dewasa
2-5 tahun
6 pekan
8 pekan
Sumber: Syariefa et al. (2010)
Lebah pekerja adalah lebah betina yang alat reproduksinya tidak
berkembang sempurna. Dalam keadaan darurat, lebah pekerja dapat bertelur tetapi
tidak bisa melahirkan telur berjenis kelamin betina karena tidak memiliki
spermatheca untuk menampung sperma. Namun demikian, Lebah pekerja
mempunyai organ-organ tubuh yang memungkinkannya mampu melakukan
berbagai tugas dalam koloni. Tugas yang harus dikerjakan oleh lebah pekerja
dipengaruhi oleh keadaan anatomi dan kondisi fisik lebah tersebut, rangsangan
lingkungan, dan pembagian kerja sesuai dengan kriteria umurnya (Singh 1962;
PPP 2003; Sihombing 2005).
Tingkah Laku dan Habitat Trigona spp.
Trigona spp. merupakan lebah yang memiliki ukuran tubuh 3-8 mm, dan
sangat lincah bergerak. Untuk mengenalinya dari cara hidupnya yang selalu
bergerombol, baik saat terbang maupun di sarang. Serangga ini mempunyai 3
pasang kaki yang semuanya beruas-ruas. Sepasang kaki belakang memiliki duri
yang sangat banyak sehingga mampu „memegang‟ erat polen yang dipetik dari
tanaman. Di bagian kepala terdapat sepasang mata yang sangat lebar, mirip mata
belalang, sepasang antena, dengan mulut berbentuk moncong panjang sehingga
mudah menghisap madu. Sepasang sayap di punggungnya berukuran lebih
panjang sedikit dibandingkan badan yang membuatnya dapat bergerak sangat
lincah (Syariefa et al. 2010).
Tidak adanya sengat memungkinkan Trigona spp. diternak secara meluas.
Trigona memiliki pertahanan dengan cara atau membakar kulit musuhnya dengan
10
larutan basa atau menggigit musuhnya (Free 1982). Lebah tidak bersengat
memiliki beberapa keuntungan, diantaranya kurang berbahaya bagi manusia dan
hewan peliharaan.
Lebah tidak
bersengat
dapat
membantu pelestarian
keanekaragaman hayati dari populasi spesies tanaman yang ekosistemnya
terganggu akibat perbuatan manusia. Koloni lebah tidak bersengat juga hampir
tidak pernah melarikan diri dan resisten terhadap penyakit dan parasit (Heard
1999).
Trigona sangat menyukai tempat teduh dengan berbagai jenis tanaman.
Semakin banyak jenis tanaman, semakin banyak populasi yang akan berkembang
(Siregar et al. 2011). Sarang Trigona dibangun dari campuran lilin dan resin. Di
dalam sarang terdapat sel-sel tetasan yang dilindungi oleh selubung lembut yang
disebut involucrum dan sel-sel ini dikelilingi tempat penyimpanan makanan.
Madu dan polen disimpan dalam pot-pot terpisah. Trigona yang lebih primitif,
membangun sarang yang lebih sederhana. Pot-pot sferikal untuk menyimpan
madu dan pipa-pipa yang kaya lilin untuk menyimpan polen. Kadang-kadang
madu dan polen disimpan pada pot yang sama. Daerah tetasan dan penyimpanan
makanan disanggah oleh tiang-tiang dan semuanya dilindungi lapisan terluar yang
keras disebut batumen. Untuk mencapai bagian dalam sarang, dibuat lubang
masuk pada dindingnya. Sel-sel tetasan Trigona dibuat vertikal dan terbuka pada
bagian atasnya, sementara sisiran-sisiran sel disusun secara horizontal, yang
berbeda dengan jenis lebah madu yang lain. Trigona juga menyimpan banyak
persediaan makanan (Free 1982). Susunan sarang Trigona dapat dilihat pada
Gambar 2.
Keragaman Trigona terlihat pada pintu masuk. Pintu masuk ada yang kecil
sehingga cukup dilewati seekor Trigona, tetapi ada juga yang jauh lebih besar.
Selain itu, lorong masuk ada yang panjang atau pendek. Pintu-pintu masuk itu
dibuat dari batumen atau campuran cerumen, propolis, lumpur atau kapur serta
kotoran hewan atau serat tumbuhan. Ada spesies tertentu mendekorasi sarangnya
berbentuk cerobong pipa dari cerumen atau resin untuk sirkulasi udaranya, tetapi
saat malam hari ditutup lagi (Syariefa et al. 2010). Pintu masuk koloni terbuat dari
resin dan pintu masuk yang baru dibuat sangat lembek, setelah itu akan menjadi
lebih gelap dan menjadi keras (Danaraddi 2007).
11
A
C
B
Sumber: Koleksi Pribadi (2012)
Gambar 2 Sarang Trigona spp. A.Sel telur baru; B. Sel telur lama;
C. Tempat Pakan.
Keragaman juga ditemukan pada bentuk sarang. Secara garis besar terdapat
dua bentuk sarang, yaitu bentuk gunduk dan sisir. Sarang-sarang tersebut dibentuk
dari campuran lilin yang diproduksi oleh Trigona dan resin yang diambil dari
tanaman (Siregar et al. 2011). Sarang Trigona yang sudah diambil madunya
disebut raw propolis. Raw propolis terdiri atas sekitar 50% senyawa resin
(flavanoid dan asam fenolat), 30% lilin lebah, 10% minyak aromatik, 5% polen
dan 5% berbagai senyawa organik (Pietta et al. 2002). Trigona spp. atau klanceng
membuat sarang di dalam lubang-lubang pohon, celah-celah dinding atau lubang
bambu di dalam rumah (Perum Perhutani 1986).
Interior dalam sarang lebah Trigona jauh lebih rumit bila dibandingkan
genus Apis. Sel untuk anak-anak lebah atau brood, sel penyimpanan madu, dan
polen berbeda ukuran dan letaknya. Sel anakan lebih kecil ukurannya, sementara
sel pekerja dan jantan sama ukuran dan bentuknya, dan sel ratu ukuran sedikit
lebih besar. Sisiran sel untuk anakan tersusun horizontal. Dalam sarang Trigona
itu terdapat tumpukan atau lembaran lilin yang disebut involucrum, propolis,
kotoran, dan sampah, serta plat batumen (Syariefa et al. 2010).
Lebah Trigona dan lebah Apis memiliki cara komunikasi yang berbeda
untuk memberitahu sumber makanan pada koloninya. Lebah Apis menari-nari di
depan sarang untuk memberitahu kawanannya arah dan lokasi sumber makanan,
12
tercatat ada 8 tarian yang dimiliki Apis. Lebah Trigona tidak menggunakan tarian
sebagai alat komunikasi, namun Trigona memberi tahu koloninya sumber nektar
dengan meninggalkan bau di sepanjang lintasan terbangnya. Usai menemukan
sumber makanan, lebah terbang lalu hinggap di tanaman, batu, kayu, di sepanjang
lintasan pulang sambil meninggalkan bau sebagai tanda jejak. Trigona yang lain
terbang zig-zag menuju sarang setelah menemukan sumber makanan. Trigona
juga mengeluarkan suara sebagai tanda pada teman-temannya. Saat itu juga aroma
nektar, polen, dan resin ditangkap kawannya. Setelah makanan disimpan di
sarang, Trigona kembali terbang meninggalkan sarang ke sumber makanan diikuti
teman-temannya (Lindauer & Kerr 1960). Menurut Nieh (2004), kemampuan
terbang Trigona sangat terbatas, hanya 300-500 m/hari.
Produk Lebah
Madu
Madu adalah cairan manis berasal dari nektar tumbuhan yang diproduksi
oleh lebah. Lebah mengumpulkan nektar dari bunga yang mekar, cairan tumbuhan
yang mengalir di dedaunan dan kulit pohon, atau dari madu embun (Honey dew).
Nektar adalah senyawa kompleks yang dihasilkan kelenjar necteriffier dalam
bunga, bentuknya berupa cairan, berasa manis alami dengan aroma lembut. Nektar
mengandung air (50-90%), glukosa, fruktosa, sukrosa, protein, asam amino,
karoten, vitamin, dan minyak serta mineral esensial (Sihombing 2005). Madu
embun (honey dew) adalah zat manis yang lengket seperti tetesan embun di atas
daun dan kulit pohon yang diproduksi oleh beberapa jenis serangga yang
mengisap cairan tumbuhan. Komposisinya mirip nektar, tetapi mengandung lebih
banyak mineral. Biasanya lebah mengumpulkan madu embun bila nektar yang ada
tidak mencukupi (Suranto 2007). Sewaktu nektar dikumpulkan oleh lebah pekerja
dari bunga, bahan tersebut masih mengandung air tinggi (80%) dan juga gula
(sukrosa) tinggi. Setelah lebah mengubah nektar menjadi madu, kandungan air
jadi rendah dan sukrosa diubah menjadi fruktosa dan glukosa (Sihombing 2005).
Madu telah dimanfaatkan manusia sejak 7000 tahun sebelum Masehi.
Masyarakat mesir menggunakan madu untuk kegiatan spiritual, sosial, dan
ekonomi. Madu dipercaya sebagai obat yang ampuh untuk mencegah dan
13
mengobati berbagai macam penyakit. Kebiasaan minum madu yang dilakukan
oleh para atlit Mesir sebelum bertanding, menambah keyakinan bahwa madu
selain memiliki khasiat untuk pengobatan juga mampu menjaga kebugaran
(Gojmerac 1983). Secara umum madu berkhasiat untuk menghasilkan energi,
meningkatkan daya tahan tubuh, dan meningkatkan stamina. Banyak penyakit
dapat disembuhkan dengan madu diantaranya penyakit lambung, radang usus,
jantung dan hipertensi (Suranto 2008).
Madu dari lebah tanpa sengat memiliki kandungan air yang tinggi (>24%)
dan jumlahnya sedikit, tetapi tidak cepat terfermentasi (Mutsaers et al. 2005).
Syariefa et al. (2010) menyatakan bahwa produksi madu satu koloni lebah
Trigona hanya 6,5 kg per tahun. Namun menurut Suranto (2008), madu yang
dihasilkan oleh Trigona sangat baik untuk mengobati penyakit asam urat, jantung,
asma, dan kadar kolesterol yang tinggi.
Polen
Lebah mengumpulkan polen dari benang sari bunga. Polen menempel pada
bulu-bulu lebah pada saat lebah mengambil nektar. Lebah menghilangkan polen
dari bulu-bulunya dengan menggunakan sisir pada kakinya dan menambahkan
ludah untuk membantu terbentuknya bola-bola polen yang kemudian dimasukkan
ke kantong polen pada kaki bagian belakang dan dibawa pulang ke sarang. Lebah
penjaga sarang akan menerima polen tersebut, kemudian mengolah polen tersebut
dengan sedikit madu dan ludahnya, kemudian menyimpannya pada kantong polen
di dalam sarang (Mutsaers et al. 2005). Menurut Sihombing (2005), polen
dimakan oleh lebah terutama sebagai sumber protein dan lemak, sedikit
karbohidrat dan mineral-mineral. Sekitar separuh dari polen digunakan untuk
pemeliharaan tetasan. Polen berbentuk butiran berwarna dan berukuran 1-3 mm.
Warna polen tergantung dari jenis tumbuhan, yaitu kuning terang, oranye, coklat
tua, biru terang, ungu hitam, dan hijau. Rasa polen juga bervariasi dari manis
sampai pahit dengan bau seperti madu bunga. Polen diberikan pada larva sejak
hari kedua. Suranto (2007) menyatakan bahwa, polen juga menjadi makanan
pokok bagi lebah pekerja untuk memenuhi kebutuhan nitrogen, protein, dan
vitamin.
14
Royal Jelly
Royal jelly (susu lebah) adalah bahan makanan bagi tetasan lebah yang
dihasilkan oleh lebah pekerja muda dari kelenjar hipofarink (Mutsaers et al. 2005;
Sihombing 2005). Larva lebah pekerja, lebah jantan dan calon ratu memakan
produk ini untuk perkembangan lebah (Mutsaers et al. 2005). Suranto (2007)
menambahkan bahwa lebah pekerja hanya mengkonsumsi royal jelly pada dua
hari pertama saat larva, selanjutnya mendapatkan cairan yang lebih encer. Ratu
lebah mengkonsumsi royal jelly sepanjang hidupnya. Inilah yang menyebabkan
ratu lebah menjadi penghasil telur sejati dengan ukuran badan besar.
Royal jelly secara tradisional telah digunakan sejak berabad-abad yang lalu
untuk meremajakan kulit, meningkatkan daya tahan tubuh dan vitalitas. Orangorang mesir kuno percaya bahwa royal jelly dapat mempertahankan elastisitas
kulit hingga tetap bersinar dan awet muda (Suranto 2007).
Propolis
Selain mengambil madu, Trigona juga memanfaatkan resin (getah) dari
pohon tertentu. Resin keluar ketika ada bagian pohon, misalnya batang, dahan,
dan ranting yang rusak karena pemanenan oleh manusia, serangan hama, atau
diterjang angin rebut. Resin dikumpulkan dari berbagai macam pohon dan semak
belukar, kemudian dicampur dengan enzim yang terdapat dalam kelenjar ludah.
Resin yang telah diolah oleh lebah dikenal dengan nama propolis (Syariefa et al.
2010; Gojmerac 1983).
Propolis (lem lebah) merupakan nama generik dari resin yang dikumpulkan
oleh lebah dari berbagai macam tanaman. Kata propolis berasal dari bahasa
Yunani, yaitu “pro” artinya pertahanan dan “polis” artinya kota. Jadi propolis
artinya pertahanan kota atau sistem pertahanan pada sarang lebah (Ghisalberti
1979). Menurut Krell (1996), propolis digunakan oleh lebah untuk memperbaiki
sarang, melindungi sel-sel telur, menambal sarang yang retak atau berlubang,
memperkecil ukuran pintu keluar-masuk sarang. Jika ada binatang yang mati
dalam sarang dan terlalu berat untuk dibuang, lebah akan membungkusnya dengan
propolis. Propolis juga digunakan sebagai campuran malam untuk menutupi sel
berisi larva sehingga terlindung dari serangan penyakit. Lebah menggunakan
15
propolis untuk melindungi sarang dari kontaminasi bakteri, virus dan jamur
(Ghisalberti 1979; Marcucci 1995; Popova et al. 2005; Chen et al. 2008).
Presentase lebah pekerja yang bertugas mengumpulkan propolis sangat
rendah, tetapi dilakukan setiap saat. Di lokasi sumber, lebah pekerja pencari
propolis menggigit propolis dengan mandibulanya (rahang bawah) dan dengan
bantuan sepasang kaki pertamanya, propolis ditransfer ke keranjang polen.
Pengumpulan propolis membutuhkan waktu yang lama. Di dalam sarang, lebah
penjaga sarang memindahkan propolis dari lengan pekerja pencari dan meracik
propolis dengan mandibulanya, serta kadang-kadang ditambahkan sedikit lilin.
Kemudian diangkut ke tempat yang membutuhkan atau disimpan sebagai
cadangan (Ghisalberti 1979).
Sifat fisik dan kimia propolis tergantung pada sumber tanamannya, dan
propolis memiliki fungsi yang unik bagi lebah. Propolis dapat memperkuat
stabilitas struktural sarang lebah, mengurangi getaran yang berasal dari luar
sarang, melindungi sarang lebah dengan cara menambal celah-celah yang rusak,
mencegah parasit dan penyakit masuk ke dalam sarang, serta mencegah
pembusukan dalam sarang (Siregar et al. 2011). Pada suhu 20-45 oC propolis
menjadi sangat lengket, lentur, dan tidak keras. Di atas suhu tersebut, propolis
menjadi makin lengket dan seperti permen karet. Sedangkan pada suhu rendah,
propolis menjadi keras dan rapuh. Pada suhu 60-70 oC propolis mulai mencair
(Krell 1996). Warna, aroma, dan kandungan propolis bervariasi tergantung dari
tumbuhan asal. Propolis berwarna kuning sampai coklat tua, bahkan ada yang
transparan. Kebanyakan propolis berwarna cokelat terang sampai gelap, tetapi ada
yang berwarna hijau, merah, hitam, kuning, maupun putih. Hal ini dipengaruhi
oleh kandungan flavonoidnya (Gojmerac 1983).
Menurut Mahani et al. (2011), propolis yang dihasilkan oleh Apis mellifera
dan Trigona memiliki perbedaan karakteristik. Propolis Apis mellifera yang telah
dipanen dan disimpan pada suhu rendah akan berubah menjadi keras dan rapuh.
Sifat plastis, liat, dan lengket hilang. Sedangkan propolis dari Trigona, masih
agak sedikit bertahan. Namun, secara keseluruhan, propolis akan mengeras dan
rapuh pada suhu rendah. Pada suhu tinggi (>70o C), propolis berubah fase dari
padat menjadi cair. Warna propolis Apis mellifera cenderung berwarna seragam,
16
yaitu coklat kehitaman. Sedangkan propolis Trigona beragam, mulai dari warna
yang agak gelap (coklat kehitaman) hingga warna agak terang (kuning
kemerahan). Lokasi propolis dari Apis mellifera biasanya terdapat pada lubanglubang stup, pinggir kotak atau kawat kasa. Lokasi propolis ini relatif terpisah.
Oleh karena itu, memanen propolis Apis mellifera relatif lebih mudah meskipun
tetap membutuhkan kecermatan. Sementara itu, memanen propolis Trigona
sedikit lebih rumit. Lokasi propolis kadang menyebar, dan yang paling sulit ketika
propolis menyatu dengan sarang.
Propolis tidak mengandung protein, karbohidrat atau lemak sehingga tidak
memiliki nilai energi, namun memiliki efek antibiotik (Mutsaers et al. 2005).
Propolis mengandung bahan campuran kompleks malam, resin, balsam, minyak,
sedikit polen (Gojmerac 1983). Menurut Mahani et al. (2011), propolis
mengandung senyawa kompleks lebih dari 180 senyawa, dan memiliki berbagai
macam efek biologis dan aktivitas farmakologis. Propolis juga mengandung zat
aromatik, zat wangi, dan berbagai mineral (PPP 2003; Mutsaers et al. 2005).
Salah satu komposisi kimia yang penting pada propolis adalah senyawa
flavonoid. Flavonoid merupakan salah satu senyawa fenol alami yang tersebar
luas pada tumbuhan yang disintesis dalam jumlah sedikit dan memiliki peran
sangat penting untuk sistem kekebalan tubuh dan digunakan untuk pengobatan.
(Ghisalberti 1979; Mahani et al. 2011). Pada propolis senyawa ini dikumpulkan
oleh lebah dari bagian-bagian tanaman seperti bunga, batang, daun, akar dan buah.
Banyaknya kandungan flavonoid di dalam propolis menggambarkan kualitas dari
propolis (Mahani et al. 2011). Syariefa et al. (2010) menambahkan, sumber getah
terbaik berasal dari tanaman yang resinnya memang selama ini sudah
dimanfaatkan, misal sebagai bahan farmasi atau obat. Tabel 2 menunjukkan jenis
tanaman yang dapat dijadikan sumber resin.
Propolis yang dihasilkan oleh lebah memiliki manfaat yang sangat penting
bagi manusia. Propolis telah digunakan sejak zaman purba karena memiliki
banyak
keistimewaan.
Bangsa
Yunani
dikenal
sebagai
bangsa
yang
mengembangkan peternakan lebah madu pertama kali. Bangsa Yunani
menggunakan propolis sebagai bahan utama parfum yang disebut polyanthus.
Propolis dapat mengurangi pembengkakan, melunakkan jaringan yang mengeras,
17
mengurangi nyeri, dan menyembuhkan luka. Propolis juga dapat digunakan untuk
menambah stamina dan kualitas kesehatan (Siregar et al. 2011).
Kandungan zat yang berfungsi sebagai antibiotik dan antimikroba membuat
propolis dapat digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Propolis dapat
digunakan dalam dunia kesehatan dan kecantikan. Propolis juga dapat digunakan
untuk terapi penyakit, sebagai bahan pengawet dan dapat digunakan untuk
beberapa industri (Siregar et al. 2011).
Tabel 2 Tanaman sumber resin
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
Nama Populer dan Nama Ilmiah Tanaman
Damar (Agathis spp.)
Cemara Norfolk (Araucaria spp.)
Nangka (Artocarpus spp.)
Cemara-cemaraan (Cupressaceae)
Damar (Shorea spp.)
Manggis (Garcinia spp.)
Kemenyan (Styrax spp.)
Kenari (Canarium spp.)
Kopaiba (Copaiba officinalis)
Meranti-merantian (Dipterocarpaceae)
Philodendron (Philodendron spp.)
Pinus dan Pinaceae lain
Rasamala (Altingia excels)
Sawo (Manilkara zapota)
Singkong Karet (Manihot glaziovii)
Trenggulun (Protium javanicum)
Sumber : Siregar et al. (2011)
Jenis dan Sumber Pakan Lebah
Lebah
membutuhkan
berbagai
zat
makanan
untuk
pertumbuhan,
perkembangan, reproduksi dan produksinya. Lebah memerlukan enam golongan
bahan makanan pokok, yakni karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin dan
air. Bahan makanan lebah madu adalah dalam bentuk nektar, polen, honey dew
dan royal jelly (Sihombing 2005).
Lebah dapat berkembangbiak dengan baik dan produktif sepanjang tahun di
daerah tropika karena tumbuhan sebagai sumber pakan tersedia sepanjang tahun.
Lebah, Trigona dan Apis merupakan organisme yang bersifat opportunis. Jika
lebah diternakkan, lokasi peternakannya harus dekat dengan sumber tanaman
yang berbunga seperti perkebunan atau hutan agar produktivitasnya terjamin.
18
Vegetasi yang beragam menentukan kestabilan pertumbuhan koloni Trigona.
Semakin beragam dan banyak jenis tanaman, semakin pesat pula pertumbuhannya
(Siregar et al. 2011). Jenis dan sumber pakan lebah dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Jenis tumbuhan sumber pakan lebah di Indonesia
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
Jenis Tanaman
Aren
Lamtoro
Puspa
Api-api
Padi
Kelapa sawit
Widara
Tembakau
Jambu mete
Delima
Lobi-lobi
Alpukat
Nam-nam
Jambu bol
Salak
Jagung
Jengkol
Turi
Kacang panjang
Kentang
Ketumbar
Wortel
Krokot
Rumput Blambangan
Rumput kembangan
Rumput jampang pait
Rumput kerbau
Incuran
Rumput king
Putri malu
Lemuran
Wedusan
Ketapang
Akasia
Sengon
Sonokeling
Sonorbit
Asam Jawa
Mahoni
Kaliandra
Musim Berbunga
Jan-Des
Jan-Des
Jun-Jul
TMT
TMT
Jan-Des
Jan-Des
TMT
Mar-Des
Jan-Des
Feb dan Jul
TMT
Jun dan Sept
Apr dan Jun
Jan-Des
TMT
Mei-Jun
Jun-Agst
TMT
TMT
TMT
TMT
Jan-Des
Jan-Des
Jan-Des
Jan-Des
Jan-Des
Jan-Des
Jan-Des
Jan-Des
Apr-Okt
Setelah 2 bln
Apr-Mei
Jan-Des
Jun dan Sept
Sept dan Nov
Agst dan Okt
Apr-Agst
TMT
TMT
Nektar
*
*
*
*
*
*
*
*
Polen
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
19
Tabel 3 Lanjutan
No
Jenis Tanaman
41. Pelawan
43. Karet
44. Kapas
45. Mangga
46. Mancang
47. Langsant
48. Belimbing
49. Rambutan
50. Jambu air
51. Kacang gude
52. Petai
53. Cabai
54. Nanas domba
55. Nanas sebrang
56. Ubi jalar
57. Labu air
58. Oyong
59. Paria
60. Labu siem
61. Bawang merah
62. Kumis kucing
63. Eucalyptus
64. Stoenklaver
65. Randu
66. Tebu
67. Vanili
68. Kelapa
69. Wijen
70. Kopi
71. Kedondong
72. Durian
73. Papaya
74. Waluh
75. Semangka
76. Kesemek
77. Pisang
78. Belimbing
79. Apel
80. Jeruk manis
81. Jeruk besar
82. Lengkeng
83. Leci
84. Anggur
85. Kubis
86. Ketimun
87. Kacang tanah
Musim Berbunga
Kemarau
Sept-Okt
TMT
Jun dan Agst
Jun dan Agst
Jun dan Jul
Kemarau
Okt-Nov
Mei dan Agst
TMT
TMT
3 – 4 kali
Mar-Apr
Mei-Jun
Okt-Nov
TMT
Kemarau
TMT
TMT
TMT
Jan-Nov
3 thn bunga
TMT
Mei-Agst
TMT
TMT
Mar-Des
TMT
Mei dan Agst
Jun dan Agst
Jun dan Sept
Jan-Des
TMT
TMT
Agst-Sept
TMT
Jan-Des
Mar-Apr
Agst dan Nov-Des
Sept dan Nov
Agst-Okt
Agst dan Sept
Jul-Agst
TMT
TMT
TMT
Nektar
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Polen
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
20
Tabel 3 Lanjutan
No
Jenis Tanaman
88. Kedelai
89. Bunga matahari
90. Flamboyan
Musim Berbunga
TMT
Kemarau
Feb dan Agst
Nektar
*
*
*
Polen
*
*
*
TMT: Tergantung Masa Tanam
(*) : Sumber nektar /polen pada tanaman
Sumber: PPP (2003)
Karakteristik Tanaman
Pala (Myristica frasgrans Houtt)
Pala (Myristica fragrans Houtt) termasuk keluarga Myristicaceae,
merupakan tanaman asli Indonesia yang berasal dari Banda dan Kepulauan
Maluku, kemudian menyebar ke pulau lain disekitarnya, termasuk pulau Jawa.
Tanaman pala terkenal karena biji buahnya yang tergolong sebagai rempahrempah. Biji dan selaput (fuli) atau sering disebut dengan bunga pala. Sampai saat
ini Indonesia merupakan produsen pala terbesar di dunia sebesar 70% (Sunanto
1993; Muis et al. 2008; Purseglove et al. 1981).
Bagian dari tanaman pala yang memiliki nilai ekonomi tinggi adalah
buahnya. Biji pala dan fuli digunakan sebagai bumbu masak. Selain sebagai
tanaman rempah-rempah, pala juga berfungsi sebagai tanaman penghasil minyak
atsiri yang banyak digunakan sebagai bahan baku dalam industri pengalengan,
pengawetan ikan, pembuatan sosis, makanan kaleng, minuman penyegar, adonan
kue, obat-obatan, pembuatan sabun, dan kosmetik. Daging buah pala banyak
digunakan pada industri makanan seperti selai, jeli, sirup pala dan produk olahan
lainnya (Sunanto 1993; Muis et al. 2008).
Tanaman pala memiliki banyak jenis, namun yang banyak dibudidayakan
karena mampu memberikan hasil produksi yang memiliki nilai ekonomi tinggi
adalah jenis Myristica fragrans Houtt. Pala tumbuh dengan baik pada daerah
tropika, dengan ketinggian dapat mencapai 15-18 meter. Tajuk pohon bentuknya
meruncing ke atas dan pucuk tajuknya tumpul. Daunnya berwarna hijau
mengkilap dengan ukuran panjang 10-15 cm dan panjang tangkai daun sekitar 11,5 cm. Tanaman ini sebagian besar berumah satu, yaitu pada satu pohon hanya
terdapat bunga jantan yang menghasilkan tepungsari atau hanya bunga betina
21
yang menghasilkan putik. Namun, ada juga yang berumah dua dan hemaprodite.
Tanaman berumah dua yaitu pada satu pohon terdapat bunga jantan dan betina.
Sedangkan tanamam hemaprodite yaitu tanaman yang dalam satu bunga terdapat
benangsari (betina) dan putik (jantan) (Sunanto 1993).
Menurut Muis et al. (2008), penentuan pohon pala jantan dan betina dapat
dilihat melalui percabangannya, percabangan pohon betina bersudut tumpul
(mendatar) sedangkan percabangan pohon jantan bersudut runcing. Bentuk
helaian daun yang terkulai adalah pala betina, sedangkan bentuk helaian daun
lebih tegak adalah pala jantan. Pala jantan menghasilkan banyak bunga yaitu
sekitar 3-15 bunga per kuntum. Bunga betina memiliki kelopak dan mahkota
meskipun perkembangannya tidak sempurna. Warnanya kuning dengan diameter
+ 2,5 mm dan panjangnya + 3 mm. Sunanto (1993) menambahkan bentuk bunga
jantan agak berbeda dengan bunga betina. Warnanya juga kuning, dengan
diameter 1 mm dan panjang + 3 mm.
Buah pala berbentuk bulat sampai lonjong, berwarna hijau kekuningkuningan, dengan diameter 3-9 cm, daging buahnya tebal dan rasanya masam. Biji
pala berbentuk bulat sampai lonjong, panjangnya 1,5-4,5 cm dengan lebar 1-2,5
cm, warnanya coklat mengkilap di bagian luar, kernelnya berwarna keputiputihan. Fulinya merah gelap, ada juga yang putih kekuning-kuningan dan
membungkus biji (Muis et al. 2008). Tanaman pala dapat tumbuh dengan baik
pada daerah dengan ketinggian 500-700 m dpl. Pada ketinggian di atas 700 m,
produktivitas tanaman pala akan rendah. Pala membutuhkan tanah yang gembur,
subur dan sangat cocok pada tanah vulkanis yang mempunyai pembuangan air
(drainase) yang baik (Sunanto 1993). Muis et al. (2008) menambahkan bahwa
tanaman pala memerlukan iklim tropis yang panas dengan curah hujan yang tinggi
tanpa adanya periode kering yang nyata. Suhu yang terbaik untuk pertumbuhan
tanaman pala yaitu antara 25o -30 oC. Tanaman pala sangat peka terhadap angin
kencang, oleh karena itu penanaman pala membutuhkan tanaman pelindung atau
penahan angin. Pohon pelindung yang cocok untuk tanaman pala adalah kelapa,
duku dan pohon buah-buahan lainnya yang tahan terhadap tiupan angin (Muis et
al. 2008; Sunanto 1993).
22
Pengembangan tanaman pala diawali dengan penanaman pohon pelindung.
Jarak tanam pohon pala adalah 8 x 8 m (Muis et al. 2008). Menurut Sunanto
(1993), tanaman pala mulai berbunga pada umur 5-7 tahun. Namun, pada
umumnya pohon pala mulai berbuah pada umur 7 tahun. Produksi pala akan terus
meningkat dan pada umur 25 tahun mencapai produksi tertinggi. Pohon pala dapat
terus berproduksi sampai umur 60-70 tahun. Dalam satu tahun, pohon pala dapat
dipetik hasilnya sebanyak dua kali. Panen raya berada di tengah-tengah musim
hujan, panen lebih sedikit pada awal musim hujan dan pada akhir musim hujan.
Panen buah pala pada permulaan musim hujan memberikan hasil paling baik
(berkualitas tinggi) dan bunga pala (fuli) yang paling tebal. Setengah hasil panen
setahun terletak dalam bulan juli dan Agustus. Pada umumnya buah pala dapat
dipetik setelah cukup masak, yaitu sekitar 6-7 bulan sejak mulai bunga. Marzuki
et al. (2006) menambahkan bahwa tanaman pala berbunga lebat dua kali setahun
yaitu pada bulan April dan Mei serta November dan Desember. Masa berbunga
dan berbuah tanaman pala akan terus berlangsung silih berganti tanpa ada batas
yang jelas antara musim pertama dan kedua.
Nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk.)
Menurut Sunarjono (1998), nangka diduga merupakan tanaman asli India
yang telah menyebar luas ke seluruh dunia. Nangka merupakan tanaman hutan
yang pohonnya dapat mencapai tinggi 25 m. Seluruh bagian tanaman bergetah,
yang biasanya disebut pulut. Bunganya ada dua macam, yaitu bunga jantan dan
betina yang terpisah namun berada pada satu pohon. Tanaman nangka baik
dikembangkan di dataran rendah sampai dengan ketinggian 1.000 m dpl. Daerah
budidaya sebaiknya beriklim basah sampai agak kering dengan kedalaman air
tanah antara 50-200 cm. Curah hujan yang cocok bagi tanaman nangka antara
1.000-2.000 mm per tahun. Tanaman nangka dapat berbuah sepanjang tahun,
tetapi waktu musim panen raya adalah bulan Agustus-Januari.
Mangga (Mangifera indica L.)
Menurut Sunarjono (2005), mangga merupakan tanaman pendatang dari
India, Srilanka, dan Pakistan. Ada dua tipe mangga, yaitu monoembrioni (satu biji
23
tumbuh satu tunas) dan poliembrioni (satu biji tumbuh lebih dari satu tunas).
Tanaman menyerbuk silang melalui serangga lebah madu. Umumnya tanaman ini
hanya berbunga setahun sekali, yaitu pada musim kemarau. Tohir (1981)
menambahkan, waktu berbuah pohon mangga adalah pertengahan AgustusDesember.
Tanaman mangga hidup baik di dataran rendah hingga ketinggian 300 m
dpl. Tipe iklimnya kering, dengan curah hujan 1.000-2.000 mm per tahun dengan
4-7 bulan masa kering. Dataran tinggi hingga 1.200 m dpl atau suhu rendah dapat
merangsang pembungaan, tetapi kurang baik untuk perkembangan buah. Di
daerah beriklim basah dan musim keringnya kurang dari tiga bulan,
pembuahannya rendah (Sunarjono 2005).
Rambutan (Nephellium lappaceum L.)
Rambutan merupakan buah-buahan tropis beriklim basah. Tinggi pohon
rambutan mencapai 7 m, banyak bercabang dengan arah cenderung mendatar,
mahkota daun rimbun, tetapi pada musim kemarau daunnya banyak yang gugur.
Daunnya mengandung minyak terpentin sehingga mudah terbakar. Bunganya ada
tiga macam, yaitu bunga jantan, bunga betina, dan bunga hemaprodit. Tanaman
menyerbuk dengan penyerbuk (pollinator) lebah klanceng (Trigona). Tanaman
tumbuh dan berbuah baik di dataran rendah sampai ketinggian 500 m dpl dengan
tipe iklim basah, dengan curah hujan 1.500-3.00 mm per tahun (Sunarjono 1998).
Jambu Biji (Psidium guajava Linn)
Jambu biji adalah salah satu tanaman buah jenis perdu yang berasal dari
Brazil, Amerika Tengah (Agromedia 2009). Pohonnya rendah, buahnya berbentuk
bulat dan berbiji banyak. Jambu biji dapat ditanam di dataran rendah dan di
pegunungan hingga ketinggian 1000 m dpl. Jambu biji tidak tahan pada iklim dari
daerah kering. Jambu biji sudah berbuah setelah berumur 2-3 tahun (Tohir 1981).
Nakasone & Paul (1999) menambahkan, bunganya berwarna putih dan mekar
pada bulan Mei dan Juni, dan menghasilkan nektar dan polen.
Jambu biji mempunyai rasa dan aroma khas karena mengandung senyawa
eugenol. Buahnya dimanfaatkan sebagai buah segar atau jus. Tanaman jambu biji
24
juga dimanfaatkan sebagai pagar di pekarangan dan tanaman hias. Dalam
pengobatan tradisional, daunnya digunakan untuk mengobati diare, diabetes
mellitus, maag, masuk angin, sakit kulit, dan luka baru (Agromedia 2009).
Jambu Air (Eugenia aquea Burm)
Menurut Tohir (1981), Jambu air warnanya merah-jambu atau putih dan
memiliki bentuk seperti buah peer. Jambu air dapat ditanam dari dataran rendah
hingga ketinggian 1000 m dpl. Jambu air dapat berkembang biak dengan baik
pada tanah yang banyak mengandung air. Tanaman ini mulai berbunga pada umur
3-4 tahun, dan berbunga sebanyak dua kali yaitu pada bulan Juli dan September
dan buahnya masak dalam bulan Agustus dan November.
Pisang (Musa spp.)
Pisang adalah tanaman semak berbatang semu yang berasal dari Asia
Tenggara. Pisang tingginya bervariasi antara 1-4 m, tergantung varietasnya.
Daunnya lebar, panjang, tulang daun besar, dan tepi daunnya tidak ada ikatan.
(Sunarjono 1998). Pisang berbunga sepanjang tahun, dan dikunjungi lebah karena
menghasilkan nektar dan polen (Singh 1962).
Bunga pisang disebut jantung dan berwarna merah tua, tetapi ada pula yang
berwarna kuning dan ungu. Setiap jantung terdiri dari satu atau banyak bakal buah
(sisir) yang dilindungi oleh daun seludang bunga (bractea). Bunga sempurna,
tetapi pada ujung jantung umumnya berbunga jantan. Bunga pisang menyerbuk
silang melalui serangga penyerbuk tetapi tepung sarinya umumnya tidak fertil.
Tanaman pisang dapat tumbuh baik di dataran rendah sampai dataran tinggi 1.000
m dpl yang bertipe iklim basah. Curah hujan berkisar antara 1.000-3.000 mm per
tahun. Pisang tumbuh dengan baik di tanah yang subur dengan pH tanah 4,5-7,5.
di daerah beriklim kering dengan musim kemarau 4-6 bulan, tanaman pisang
masih tumbuh asalkan keadaan air tanah kurang dari 150 cm di bawah permukaan
laut. Pisang tidak mengenal musim panen karena berbuah setiap saat. Hasilnya
dapat mencapai 1-7 sisir setiap tandan atau 4-40 kg per tandan (Sunarjono 1998).
25
Nanas (Ananas comosus (L.) Merr
Tanaman nanas berasal dari Amerika Tropis, yakni Brazil, Argentina, dan
Peru. Tanaman nanas merupakan rumput yang batangnya pendek sekali. Tanaman
nanas berbunga pada ujung batang dan hanya sekali berbunga yang arahnya tegak
ke atas. Tanaman nanas menyerbuk silang dengan perantaraan burung penyanyi
(burung prenjak) dan lebah. Tanaman nanas berbunga setiap saat, namun suhu
yang dingin terutama suhu malam dengan sinar matahari yang rendah, cenderung
dapat memacu pembungaan nanas. Nanas tumbuh dengan baik pada dataran
rendah sampai dataran tinggi 1.200 m dpl dan tahan terhadap kekeringan. Curah
hujan antara 1.000-2.500 mm per tahun, dengan tanah yang subur (Sunarjono
1998).
Durian (Durio zibethinus Murr.)
Durian berasal dari Asia Tenggara, dan merupakan tanaman kayu hutan dari
pohon besar yang tingginya dapat mencapai 30 m dengan buah yang besar dan
berduri. Bunganya besar berbentuk mangkuk dengan benang sari dan mahkota
berwarna kuning emas sampai merah dan sempurna (hermaprodit). Tanaman yang
berasal dari biji mulai berbunga pada umur 8-15 tahun. Bunganya mekar pada
sore hari dan menyerbuk secara silang melalui kelelawar pencari madu untuk
membantu persilangan. Buahnya dapat dipanen pada umur 4-5 bulan setelah
bunga mekar. Tanaman ini umumnya berbunga pada bulan September-November.
Durian tumbuh dan berbuah baik di dataran rendah sampai ketinggian 800 m dpl
dengan tipe iklim basah, dan curah hujan 1.500-2.500 mm per tahun dan merata
sepanjang tahun (Sunarjono 1998).
Manggis (Garcinia mangostana L.)
Tanaman manggis berasal dari daerah semenanjung Malaysia, dan
merupakan pohon hutan. Pohon manggis tingginya sekitar 20 m. Mahkota daun
bentuknya setengah kerucut, daunnya tebal dan lebar. Batang dan cabangnya
umumnya tidak rata karena banyak benjolan. Bunga besar dengan kelopak tebal
berwarna hijau yang terdiri dari 4 helai. Putiknya pendek dengan bakal buah yang
bulat besar berwarna hijau. Semua bagian tanaman yang masih muda bergetah
26
kekuningan. Kayu pohon manggis tidak biasa digunakan sebagai bahan bangunan.
Namun, kulit kayunya dapat digunakan untuk ramuan obat tradisional, karena
mengandung zat kimia yang bersifat antibiotik (xanthonin) dan dapat pula
digunakan sebagai bahan cat antikarat. Tumbukan kulit buah manggis bila
dioleskan pada tangkai manggar (seludang) dapat merangsang keluarnya cairan
nira lebih banyak pada penyadapan kelapa. Tanaman manggis dapat hidup pada
dataran rendah sampai ketinggian 600 m dpl yang mempunyai tipe iklim basah.
Curah hujan antara 1.500-3.000 mm per tahun dan merata sepanjang tahun,
dengan suhu udara rata-rata 20-30 oC, dan pH tanah 5-7, tetapi lebih toleran pada
pH rendah (masam) di lahan gambut. Tanaman yang diperbanyak dengan biji
umumnya mulai berbuah pada umur sekitas 8-15 tahun., dan dapat dipanen 120
hari setelah bunga mekar (Sunarjono 1998).
Kedondong (Spondias cytherea)
Kedondong hidup di daerah kering, dan bertumbuh dengan baik pada
dataran rendah sampai 700 m dpl. Tanah yang dibutuhkan adalah tanah yang
gembur dan tidak banyak air yang tergenang. Kedondong mulai berbunga pada
bulan Juni-Agustus dan berbuah selama bulan Januari-April (Tohir 1981).
Lengkeng (Euphoria longan (Lour) Steud
Lengkeng merupakan tanaman hutan yang tingginya mencapai 40 m, dan
diduga berasal dari Myanmar. Bunganya berumah dua, tetapi ada pula yang
berumah satu (hemaprodit). Bunga biasanya menyerbuk silang dengan
perantaraan lebah madu, semut, dan lalat. Petani lengkeng memanfaatkan tanah di
bawah tanaman lengkeng untuk memelihara lebah madu dan diambil madunya.
Tanaman berbunga setahun sekali pada bulan Agustus-Oktober, dan buah matang
4 bulan setelah bunga mekar. Lengkeng lebih cocok ditanam di dataran rendah
atara 300-900 m dpl yang bertipe iklim basah dengan musim kering tidak lebih
dari 4 bulan. Curah hujan 1.500-3.000 mm per tahun dengan 9-12 bulam basah
dan 2-4 bulan kering. Suhu malam yang dingin 15-20 oC selama musim kemarau
mendorong tanaman berbunga (Sunarjono 1998)
.
27
Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz)
Ketela pohon atau ubi katu merupakan tanaman perdu yang berasal dari
Brazil. Semua bagian tanaman ubi katu mengandung glukosida. Kandungan
glukosida tertinggi terdapat pada pucuk muda. Curah hujan yang sesuai untuk
tanaman ketela pohon yaitu antara 1.500-2.500 mm/tahun. Kelembaban optimal
antara 60-65%, dengan suhu minimal 10 oC. Jika suhu di bawah 10 oC,
pertumbuhan tanaman akan sedikit terhambat, tanaman menjadi kerdil karena
pertumbuhan bunga kurang sempurna. Tanah yang paling sesuai adalah tanah
berstruktur gembur, tidak terlalu liat, dan kaya akan bahan organik. Ketinggian
tempat yang ideal antara 10-700 m dpl. Ketela pohon dimanfaatkan untuk bahan
pangan pokok. Daunnya untuk bahan sayuran dan obat-obatan. Kayunya
digunakan untuk pagar kebun atau untuk kayu bakar. Ketela pohon juga
digunakan pada industri makanan (Purwono & Purnamawati 2008).
Cengkeh (Syzygium aromaticum (L.)
Cengkeh merupakan tanaman asli Indonesia yang berasal dari kepulauan
Maluku, banyak tumbuh tersebar di daerah tropik dan subtropik. Tanaman ini
berbentuk pohon yang tingginya mencapai 15-40 cm. Tanaman cengkeh pada
umumnya menyerbuk silang dan sedikit kemungkinan menyerbuk sendiri
(Hadipoentyanti 1997).
Pohon cengkeh mulai berbunga setelah umur 6 tahun. Tanaman cengkeh
termasuk pohon yang musim berbunganya tidak merata lebatnya. Masing-masing
daerah waktu berbunga tidak sama, tergantung pada keadaan iklim, tempat,
varietas dan faktor lain yang mempengaruhi. Wilayah Sumatera panen pada bulan
April-Juni, Wilayah Jawa panen pada bulan Mei-Juli, Wilayah Maluku panen
pada bulan Oktober-Januari (Kanisius 1990).
Jati (Tectona Grandis L.F).
Pohon jati termasuk golongan kayu keras yang memiliki jaringan kuat dan
dalam, serta mendominasi hutan di Indonesia. Jati memiliki batang yang bulat
lurus dengan tinggi mencapai 40 meter. Tanaman ini dapat ditanam di berbagai
kondisi dan lingkungan, seperti hutan dataran rendah, hutan dataran tinggi, hutan
28
pegunungan, hutan tanaman industri, lahan kering tidak produktif, lahan basah
tidak produktif, dan lahan perkebunan. Pohon jati dapat tumbuh pada lahan
dengan ketinggian maksimum 700 m dpl, suhu udara 13-43 oC, pH tanah 6, dan
kelembaban lingkungan 60-80% (Mulyana & Asmarahman 2011).
Pengaruh Faktor Lingkungan Terhadap Produktivitas Lebah
Aktivitas terbang dari lebah dipengaruhi oleh kondisi dari dalam koloni dan
lingkungan (Hilario et al. 2000). Lingkungan merupakan salah satu faktor yang
turut menentukan perkembangan dan produktivitas koloni lebah. Lingkungan
yang optimal dan kondusif akan mendukung produktivitas lebah. Faktor-faktor
yang berpengaruh terhadap aktivitas lebah adalah temperatur, kelembaban udara,
intensitas cahaya matahari, kecepatan angin, curah hujan dan ketersediaan pakan
(Sulaksono et al. 1986; Widhiono 1986).
Lebah adalah serangga berdarah dingin yang peka terhadap perubahan suhu
lingkungan. Faktor abiotik,
yaitu suhu, waktu,
dan intensitas cahaya
mempengaruhi aktivitas lebah (Junior et al. 2010). Aktivitas harian lebah
berdasarkan suhu lingkungan dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Suhu dan aktivitas harian lebah
Suhu Lingkungan
(oC)
38
33-35
33-36
20
16
14
10
5
5
-2
Aktivitas Lebah
Lebah pekerja mencari air
Pemeliharaan anakan secara normal
Lebah pekerja mensekresikan lilin
Ratu menolak terbang mencari pasangan (lebah pejantan)
Lebah pejantan menolak terbang ke luar sarang
Lebah pekerja membentuk kerumunan
Lebah pekerja tidak sanggup terbang
Lebah pekerja kehilangan kemampuan bergerak
Lebah pekerja mulai jatuh dari kerumunan
Lebah membeku hingga mati
Sumber: Gojmerac (1983)
Data pada tabel 4 menunjukkan bahwa lebah mengatur sarangnya pada suhu
antara 33-35 oC. Pada suhu sekitar 14 oC, lebah akan membentuk kelompok. Saat
koloni dapat bertahan pada kondisi iklim yang buruk, masing-masing individu
akan berupaya untuk mempertahankan dirinya pada kondisi iklim tersebut. Lebah
29
tidak dapat terbang pada saat suhu mencapai 10 oC, kehilangan kekuatan untuk
bergerak pada saat suhu 5 oC, dan membeku pada saat suhu mencapai -2 oC
(Gojmerac 1983).
Aktivitas serangga sosial di wilayah tropis tinggi pada pagi hari, dimana
pengumpulan polen lebih tinggi dibandingkan nektar (Roubik 1989). Menurut
Junior et al. (2010), lebah mengumpulkan polen di pagi hari sampai dengan siang
hari. Lebah yang kembali ke sarang dengan membawa nektar atau air meningkat
frekuensinya di siang hari pada musim panas. Sepanjang musim hujan,
pengumpulan nektar lebih banyak dilakukan pada pagi hari dan menjelang siang
hari. Suhu mempengaruhi produksi propolis karena lebah menggunakan propolis
untuk mengisolasi dan melindungi sarang dari faktor lingkungan. Suhu selalu
mempengaruhi jumlah propolis yang dikumpulkan oleh lebah pekerja. Kenaikan
suhu membuat resin dan lilin dari tanaman menjadi lunak dan memudahkan lebah
untuk memprosesnya. Pada hari yang sangat panas, lebah mulai bekerja lebih
pagi, namun pada suhu yang rendah pada pagi hari lebah tidak akan
mengumpulkan
propolis.
(Jager
2001;
Gojmerac
1983).
Krell
(1996)
menambahkan, pengumpulan propolis akan lebih aktif pada awal musim hujan,
dimana lebah mempersiapkan sarang untuk menghadapi musim dingin. Dengan
adanya isolasi sarang dari lingkungan eksternal dan mengatur suhu di dalam,
sarang menjadi lebih mudah untuk diatur.
Aktivitas lebah juga dipengaruhi oleh kelembaban, semakin tinggi
kelembaban aktivitas semakin rendah (Boontop et al 2008). Lebah mengkoleksi
propolis untuk mengisolasi sarang dari embun dengan cara membuat lem pada
pintu dan dinding sarang. Kelembaban relatif memiliki korelasi negatif dengan
komposisi gula dalam nektar. Perubahan konsentrasi gula dapat merubah daya
tarik serangga pengambil nektar bunga. Pada saat kelembaban tinggi, molekul air
pada nektar akan bertambah dan menurunkan konsentrasi gula (Jager 2001).
Semakin tinggi intensitas cahaya, semakin tinggi aktivitas lebah dan akan
mencapai puncaknya pada siang hari dan kemudian menurun. (Hilario et al.
2001). Lebah selalu mengumpulkan propolis untuk melindungi sarang dari
cahaya, hujan dan getaran. Produksi propolis akan meningkat apabila ada celah
yang terbuka dan cahaya masuk ke dalam sarang, dimana cahaya yang masuk
30
akan merangsang lebah untuk mengumpulkan propolis untuk menutup sarang.
Intensitas dan durasi sinar matahari memiliki hubungan langsung terhadap jumlah
sekresi nektar tanaman (Jager 2001).
Saat keadaan gelap, setelah pukul 18.00 lebah tidak ada lagi yang
beraktivitas di luar, dan menutup pintu keluarnya. Pada pukul 19.00 pintu keluar
sudah tertutup sempurna, kecuali ada lubang kecil di dinding sarangnya. Pintu
akan kembali dibuka oleh lebah pada pagi hari, saat mulai terlihat cahaya, dan
aktivitas dimulai kembali (Wille 1964). Hal ini dilakukan oleh lebah untuk
menjaga suhu sarangnya tetap hangat. Lubang kecil yang disediakan berfungsi
untuk keluar-masuk udara ke dalam sarang.
METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan di dua areal perkebunan yaitu Kebun
Percobaan Cicurug Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik(BALITRO),
Desa Tenjoayu, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Perkebunan ini memiliki luas 3,5 hektar dan ditanami pohon pala dengan jarak
tanam pohon 8 x 8 m, yang memiliki spesies beragam. Perkebunan polikultur
adalah perkebunan rakyat seluas 2 hektar yang terletak di Kampung Gebluk, Desa
Palasari, Cijeruk, Bogor. Percobaan lapangan dilaksanakan mulai dari Maret
hingga Mei 2012. Propolis yang dihasilkan dianalisis di Laboratorium Pusat Studi
Biofarmaka (LPSB), Institut Pertanian Bogor pada Juni 2012. Lokasi penelitian
ditentukan secara purposive berdasarkan karakteristik tanaman yang ada di
masyarakat, yang memiliki potensi sebagai pakan lebah.
Materi dan Alat
Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah lebah Trigona spp.
sebanyak 3 koloni pada perkebunan pala monokultur dan 3 koloni pada
perkebunan polikultur yang diperoleh dari Cipaku. Masing-masing koloni
berjumlah kira-kira 300 ekor, yang terdiri dari satu ratu, beberapa ekor jantan dan
sisanya adalah pekerja. Stup yang digunakan sebagai sarang Trigona adalah kotak
yang terbuat dari kayu jengjeng sebanyak 6 kotak.
Tanaman yang digunakan sebagai sumber pakan lebah pada lahan
monokutur adalah pohon pala (Myristica fragrans Houtt) yang tumbuh pada lahan
seluas 3,5 ha dengan jumlah sebanyak 437 pohon di lahan monokultur. Sementara
itu, jenis tanaman yang ada di lahan polikultur dapat dilihat pada Tabel 5.
Peralatan yang digunakan adalah counter untuk menghitung jumlah lebah
pekerja yang pergi dan pulang ke sarang, termohygrometer untuk mengukur suhu
dan kelembaban, luxmeter, timbangan digital, timbangan analitik, spidol untuk
penandaan stup, pisau steril dan piring plastik yang digunakan untuk memanen
propolis, madu, dan polen, wadah penyimpanan hasil panen (toples plastik), dan
mikropipet untuk mengambil madu.
32
Tabel 5 Jenis dan jumlah tanaman yang terdapat pada kebun polikultur
Jenis Tanaman
Jumlah Tanaman
1
1
1
2
4
2
3
1
2
1
3
5
41
10
1
3
Lamtoro
Jengkol
Lengkeng
Mangga
Rambutan
Jambu Air
Nanas
Markisa
Jambu Biji
Kedondong
Durian
Papaya
Pisang
Pala
Manggis
Nangka
Sumber: Data yang diolah (2012)
Prosedur Penelitian
Pembuatan stup dari kayu jengjeng berukuran 25x15x15 cm3 dan diberi
penomoran, kemudian stup di timbang sebagai koloni kosong. Koloni dari bambu
dipindahkan ke dalam stup dengan cara memindahkan seluruh sarang, telur dan
persediaan makanan lebah ke dalam stup, kemudian pintu masuk dilumuri
propolis yang berasal dari pintu masuk sarang yang lama. Stup yang telah berisi
koloni ditimbang sebagai bobot awal, kemudian ditempatkan pada tempat yang
lama selama 3 hari, dengan tujuan agar koloni tidak kabur. Setelah itu stup
ditempatkan pada tempat yang telah disiapkan di lokasi penelitian.
Rancangan Penelitian
Dalam penelitian ini dilakukan pengamatan langsung terhadap aktivitas
harian dan bobot koloni Trigona spp. yang dipelihara pada 2 lahan perkebunan
yang
berbeda untuk
menghasilkan propolis
secara
berulang (repeated
measurement). Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive, berdasarkan potensi
pakan yang tersedia, dimana Kebun Percobaan Cicurug yang dibina oleh
BALITRO ini merupakan suatu unit produksi tanaman pala. Kebun Percobaan
Cicurug berada di ketinggian 550 m dpl dan iklim tipe A. Perkebunan rakyat
33
yang terletak di Desa Palasari memiliki potensi pakan yang beragam dan terletak
pada daerah dengan ketinggian 400 m dpl dan iklim tipe A.
Parameter yang diukur
Parameter yang diukur dalam penelitian ini adalah:
a. Aktivitas koloni yang ditentukan berdasarkan jumlah lebah yang keluar masuk
sarang.
Aktivitas koloni diperoleh dengan cara menghitung aktivitas koloni keluar dan
masuk selama 5 menit dimulai dari pukul 06.00 – 17.00 WIB setiap hari.
b. Pengukuran suhu, kelembaban dan intensitas cahaya
Pengukuran suhu, kelembaban dan intensitas cahaya dilakukan setiap hari
dimulai pada pukul 06.00 – 17.00 WIB. Pengukuran ini bertujuan untuk
mengetahui aktivitas koloni dengan kondisi lingkungan.
c. Bobot koloni.
Bobot koloni dihitung satu kali dalam seminggu. Bobot koloni diperoleh
dengan persamaan:
Bobot koloni = bobot total - bobot stup kosong
Dimana bobot total adalah hasil dari penimbangan stup secara keseluruhan tiap
minggu.
d. Produksi yang dihasilkan oleh lebah Trigona dalam jangka waktu 3 bulan.
Sarang dipanen kemudian ditimbang dan hasilnya adalah bobot panen yang
terbuat dari propolis bercampur lilin. Pemanenan propolis dilakukan dengan
cara memisahkan madu dan polen, yakni pada tahap pertama, bagian sarang
yang berisi madu diperas, kemudian madunya ditimbang. Kedua, bagian sarang
yang berisi polen dikeluarkan kemudian polen yang dihasilkan ditimbang.
Ketiga, sarang yang telah dipisah dari madu dan polen ditimbang untuk
mengetahui berat propolis.
e. Propolis yang dihasilkan oleh Trigona spp. dianalisis kandungan flavonoidnya
dengan menggunakan pelarut etanol 70%.
34
Analisis Data
Data yang diperoleh dari penelitian ini diuraikan secara deskriptif untuk
menyajikan kondisi dari kedua lokasi, data produktivitas disajikan dalam bentuk
tabel, grafik dan gambar. Data yang berbeda dilakukan uji t (Walpole 1995)
dengan menggunakan program Minitab ® 16.1.0.
dan tidak diketahui
Keterangan:
= jumlah pengamatan di perkebunan polikultur
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum Tempat Penelitian
Kebun Percobaan Cicurug merupakan lokasi yang telah memenuhi syarat
agroekologi untuk kebun koleksi tanaman pala secara ex situ. Kebun Percobaan
Cicurug berada pada ketinggian 550 m dpl dengan jenis tanah latosol dan iklim
tipe A (Muis et al. 2008). Menurut Soerjadi et al. (1996), iklim tipe A berdasarkan
klasifikasi klimatik oleh Koppen untuk iklim dunia adalah iklim hujan tropika.
Iklim di kawasan tropika ditandai dengan tidak ada musim dingin karena
sepanjang tahun suhunya lebih dari 18 oC. Berdasarkan hasil pengamatan di
lapangan, kondisi lingkungan di kebun pala monokultur dapat dilihat pada Tabel
6.
Tabel 6 Kondisi lingkungan kebun pala monokultur selama penelitian
Waktu
06:00
07:00
08:00
09:00
10:00
11:00
12:00
13:00
14:00
15:00
16:00
17:00
Suhu
(oC)
23,08
22,31
23,84
24,25
25,71
26,63
27,27
27,11
26,84
26,03
25,24
24,23
Kelembaban
(%)
70
70
68
65
61
56
55
56
58
59
62
64
Intensitas Cahaya
(lux)
183
723
1963
6919
6071
16634
91347
33062
5679
2558
1521
542
Sumber: Data primer yang diolah (2012)
Selama melaksanakan penelitian, suhu lingkungan di Kebun Percobaan
Cicurug berkisar 22-27 oC dengan kelembaban 55-70%, dan intensitas cahaya
tertinggi pada 91.347 lux. Curah hujan rata-rata pada kebun percobaan sekitar
2.997 mm/thn dengan jumlah hari hujan 112 hari. Kondisi ini hampir sama
dengan kondisi iklim di daerah asal tanaman pala yaitu kepulauan Banda dengan
curah hujan rata-rata 2.656 mm/thn dan jumlah hari hujan 167 hari (Muis et al.
2008).
Tanaman pala pada kebun koleksi ini ditanam di bawah tegakan pohon
kelapa. Tanaman pala tidak tahan terhadap angin kencang karena sistem
36
perakarannya yang tidak terlalu dalam. Oleh karena itu selain sebagai salah satu
koleksi plasma nutfah Kebun Percobaan Cicurug, pohon kelapa juga berfungsi
sebagai tanaman pelindung pohon pala. Kebun Percobaan Cicurug dijadikan
lokasi penelitian untuk pengamatan produktivitas Trigona di kebun monokultur
karena memiliki potensi tanaman pala.
Menurut Siswomartono (1989), monokultur adalah memelihara tanaman
dari satu spesies secara bersamaan. KPU (2003) menyatakan bahwa monokultur
adalah sistem budidaya tanaman dengan hanya menanam satu macam tanaman
pada sebidang tanah dalam jangka waktu satu musim tanam.
Perkebunan Polikultur Rakyat yang terletak di Kampung Gebluk, Desa
Palasari memiliki keanekaragaman jenis tanaman. Perkebunan rakyat ini berada
pada ketinggian 400 m dpl, dengan jenis tanah latosol dan iklim tipe A. Menurut
Sunarjono (1998), daerah yang berada pada ketinggian 400-800 m dpl, tergolong
dataran rendah. Pada perkebunan ini tumbuh berbagai macam pohon yang dapat
dijadikan sumber pakan dan resin bagi lebah, dan dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7 Jenis tanaman sumber pakan dan resin pada kebun polikultur
Musim
Nektar
Polen
Resin
Jenis Tanaman
Berbunga
Lamtoro
Jan-Des
*
Jengkol
Mei-Jun
*
Mangga
Jun dan Agst
*
Rambutan
Okt-Nov
*
Jambu Air
Mei dan Agst
*
Nanas
Mar-Jun
*
Lengkeng
Agst-Okt
*
*
Markisa
Agst-Okt
*
*
Jambu Biji
Mei dan Juni
*
*
Kedondong
Jun dan Agst
*
*
Durian
Jun dan Sept
*
*
Papaya
Jan-Des
*
*
Pisang
TMT
*
*
Pala
Jan-Des
*
*
*
Manggis
Kemarau
*
*
Nangka
Jan-Des
*
Sumber: Data primer yang diolah (2012)
Tanaman sumber pakan yang dimanfaatkan oleh lebah selama penelitian
sebagai sumber pakan adalah tanaman lamtoro, nanas, papaya, pala dan nangka,
37
karena pada saat dilakukan penelitian hanya jenis tanaman tersebut yang
berbunga. Jenis tanaman yang dijadikan sumber resin adalah tanaman pala,
manggis dan nangka.
Menurut KPU (2003), polikultur adalah sistem budidaya tanaman dengan
penanaman beberapa jenis tanaman sayur atau buah dalam kebun yang sama pada
jangka waktu satu tahun. Hasil pengamatan terhadap kondisi lingkungan di kebun
polikultur dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8 Kondisi lingkungan kebun polikultur selama penelitian
Suhu
Kelembaban
Intensitas Cahaya
Waktu
(oC)
(%)
(lux)
06:00
22,52
88
4344
07:00
23,69
92
38738
08:00
26,09
82
138563
09:00
26,95
75
89897
10:00
28,02
71
46875
11:00
28,44
69
37178
12:00
28,25
70
31292
13:00
28,43
70
27943
14:00
27,79
73
27390
15:00
26,05
76
24948
16:00
25,27
80
15586
17:00
25,14
83
4667
Sumber: Data primer yang diolah (2012)
Suhu, kelembaban dan kondisi cahaya selama melaksanakan penelitian di
kebun rakyat sebagai berikut: suhu berkisar 22-28 oC, kelembaban 69-92% dan
intensitas cahaya tertinggi adalah 138.563 lux. Menurut Sunarjono (1998), faktor
suhu dipengaruhi oleh ketinggian tempat. Suhu dataran rendah umumnya 25-35
o
C, ada yang beriklim basah dan kering. Jenis buah-buahan yang dapat
dibudidayakan yaitu durian, rambutan, manggis, pisang, papaya, nanas, nangka,
lengkeng, jambu biji, dan mangga.
Data yang diperoleh dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Stasiun Klimatologi Darmaga Bogor untuk curah hujan selama 3 bulan dapat
dilihat pada Tabel 9. Curah hujan tertinggi pada wilayah Cijeruk yaitu pada bulan
April dengan jumlah 456 mm, sedangkan di wilayah Cijeruk, curah hujan
tertinggi terjadi di bulan Mei yaitu 465 mm. Menurut Sunarjono (1998), selama
satu tahun, Indonesia hanya terdapat dua pergantian musim yaitu hujan dan
38
kemarau/kering. Musim kemarau menimbulkan iklim kering, sedangkan musim
hujan menimbulkan iklim basah atau lembab. Wilayah Indonesia sebelah barat
umumnya beriklim basah, yaitu curah hujannya rata-rata lebih dari 100 mm per
bulan.
Tabel 9 Curah hujan pada wilayah Cijeruk dan Cicurug
Stasiun
Bulan
April
(mm)
456
441
Maret
(mm)
184
430
Cijeruk (Pd. Gede)
Cicurug
Mei
(mm)
147
465
Sumber: BMKG Stasiun Dramaga (2012)
Produktivitas Koloni
Rataan produktivitas koloni Trigona spp. yang dipelihara pada kebun pala
monokultur dan polikultur selama 13 minggu pada Gambar 3 dan produk yang
dihasilkan dapat dilihat pada Tabel 10.
120.00
Bobot Koloni (gr)
100.00
80.00
60.00
40.00
Monokultur
20.00
Polikultur
0.00
BB
Awal
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
Minggu
Gambar 3 Rataan perkembangan bobot koloni Trigona spp. pada kebun pala
monokultur dan polikultur.
Tabel 10 Hasil panen 6 koloni lebah Trigona spp. pada kebun pala monokultur
dan polikultur
Bobot Koloni
Bobot Panen
Madu
Polen Propolis
Kebun
(g)
(g)
(g)
(g)
(g)
Monokultur
299
65,57
7,58
30,20
27,79
Polikultur
170
92,75
0,70
43,25
48,80
Sumber: Data primer yang diolah (2012)
39
Gambar 3 menunjukkan bahwa produktivitas Trigona pada kebun
monokultur lebih tinggi dibandingkan kebun polikultur. Bobot awal koloni pada
kebun monokultur lebih rendah daripada koloni pada kebun polikultur, namun
setelah itu bobot koloni kebun monokultur lebih tinggi daripada koloni kebun
polikultur. Bobot koloni bervariasi karena dipengaruhi kondisi lingkungan,
dimana pada bulan Maret curah hujan cukup tinggi untuk daerah Cicurug,
kemudian mulai menurun pada bulan April. Bulan Mei, curah hujan kembali
tinggi dan hal ini sangat mempengaruhi perkembangan koloni.
Selama 3 bulan penelitian bobot koloni yang dihasilkan pada kebun
monokultur 299 g dan kebun polikultur 170 g. Hasil uji t menunjukkan
perkembangan koloni pada kebun pala monokultur dan polikultur berbeda nyata
(P < 0,05) dengan nilai 95,5 + 10,8 g pada kebun pala monokultur dan 61,3 + 11,7
g pada kebun polikultur. Namun, setelah dilakukan pemanenan ternyata produk
yang dihasilkan Trigona pada kebun monokultur hanya 21,93% dari bobot koloni
dan pada kebun polikultur 54,56%. Produk yang paling banyak dihasilkan oleh
Trigona pada kebun monokultur adalah polen, sedangkan pada kebun polikultur
yang paling banyak dihasilkan adalah propolis. Menurut Perum Perhutani (1986),
pada saat membangun sarang, lebah akan sangat giat melakukan pembuatan sel
sepanjang keadaan makanan dan faktor lingkungan baik, terutama pada musim
bunga. Sihombing (1995) menambahkan, kehadiran ratu mempengaruhi
pengumpulan polen melalui aktivitas bertelur yang akan menghasilkan tetasan.
Bau dari tetasan akan merangsang pengumpulan polen. Pengumpulan polen akan
berlangsung hanya sampai tingkat pemenuhan kebutuhan koloni saja, sehingga
tingkat penimbunan polen di dalam sarang tidak jauh melebihi jumlah yang
diperlukan koloni selama periode tertentu. Polen dimakan oleh lebah sebagai
sumber protein dan lemak, juga untuk memelihara tetasannya.
Perkembangan koloni pada kebun pala monokultur dan polikultur dapat
dilihat pada Gambar 4. Gambar 4 menunjukkan bahwa di kebun monokultur pada
awal penelitian, jumlah pakan dan sel telur hampir berimbang (Gambar 4 A),
setelah 3 bulan ternyata terjadi perkembangan koloni dan jumlah persediaan
pakan hanya sedikit (Gambar 4 B). Gambar 4 (C) memperlihatkan kondisi koloni
di kebun polikultur yang berbeda dengan koloni di kebun monokultur. Jumlah
40
pakan dan propolis banyak, sedangkan sel telur hanya sedikit. Gambar 4 (D)
merupakan kondisi terakhir dari koloni lebah di kebun polikultur setelah
dipelihara selama 3 bulan. Jumlah pakan dan sel telur hampir berimbang.
A
B
C
D
Gambar 4 Perkembangan koloni Trigona spp. pada kebun pala monokultur dan
polikultur. A. Koloni Trigona pada kebun pala monokultur di awal
penelitian; B. Koloni Trigona pada kebun pala monokultur di akhir
penelitian; C. Koloni Trigona pada kebun pala polikultur di awal
penelitian; D. Koloni Trigona pada kebun pala polikultur di akhir
penelitian.
Perkembangan koloni dapat dikaitkan dengan musim berbunga tanaman
pada kedua kebun dan lingkungan. Tanaman pala merupakan tanaman yang
berbunga sepanjang tahun, namun masa berbunga yang banyak terjadi pada bulan
April dan Mei. Masa berbunga ini bertepatan dengan pelaksanaan kegiatan
penelitian, sehingga terjadi perkembangan koloni. Lebah membutuhkan pakan
untuk memenuhi kebutuhan hidup dan perkembangan koloninya. Diduga jumlah
pakan yang dikumpulkan oleh lebah di kebun monokultur tidak terlalu banyak.
Pakan yang dikumpulkan digunakan untuk perkembangan koloninya. Namun,
perkembangan koloni tidak terlalu pesat karena pada saat pengamatan dilakukan,
41
kondisi lingkungan tidak terlalu mendukung akibat terjadi perubahan cuaca di
alam, dimana hujan lebih banyak dibandingkan panas.
Perkembangan koloni di kebun polikultur lebih sedikit daripada kebun
monokultur, namun produk yang dihasilkan lebih banyak. Hal ini disebabkan pada
saat dilakukan penelitian, musim bunga dari tanaman yang tersedia pada kebun
polikultur hanya beberapa jenis tanaman yaitu pala 10 pohon, lamtoro 1 pohon,
nangka 3 pohon, nanas 3 pohon, papaya 5 pohon, dan jambu biji 2 pohon. Diduga
lebah menimbun pakan karena jumlah tanaman yang berbunga hanya sedikit.
Menurut Siregar et al. (2011), Trigona membutuhkan lingkungan dengan vegetasi
yang menyediakan polen dan nektar alami, agar dapat berkembang biak dan
menghasilkan beragam produk lebah, seperti madu, polen dan propolis.
Kandungan Propolis
Propolis yang dihasilkan oleh Trigona dianalisa kandungan flavonoidnya
dengan menggunakan teknik analisis spektrofotometeri, yang hasilnya dapat
dilihat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11 Kandungan flavonoid pada propolis di kebun pala monokultur dan
polikultur
Kebun
Kadungan Flavonoid
(% (b/b))
Monokultur
0,186
Polikultur
0,288
Sumber: Data primer yang diolah (2012)
Hasil analisa menunjukkan bahwa kandungan flavonoid pada kebun
monokultur lebih rendah dibandingkan kebun polikultur. Komposisi kimia
propolis sangat bervariasi dan tergantung pada jenis pohon yang terdapat pada
lokasi pembudidayaan (Marcucci 1995; Bankova et al. 2000). Nektar dan polen
yang dikumpulkan oleh lebah dinamakan berdasarkan sumber tanamannya,
sedangkan propolis merupakan salah satu produk yang dihasilkan oleh lebah dan
tidak dinamakan berdasarkan sumber resinnya. Bahan-bahan yang digunakan
untuk menghasilkan propolis berasal dari berbagai macam tanaman dan berbagai
bagian dari tanaman (Bankova et al. 2000). Propolis mengandung senyawa
kompleks, dan memiliki berbagai macam efek biologis dan aktivitas farmakologis.
42
Komposisi kimia dari propolis sangat kompleks dan berdasarkan sumber
tanamannya. Propolis yang sangat dikenal adalah propolis yang berasal dari
tanaman Poplar. Tanaman poplar tidak tumbuh pada daerah tropis, sehingga
kandungan flavonoidnya berbeda. Flavonoid terdapat hampir di semua spesies
bunga dan merupakan salah satu komposisi kimia yang penting pada propolis
(Ghisalberti 1979; Bankova et al. 2000; Mahani et al. 2011).
Jenis flavonoid yang terpenting dalam propolis adalah pinocembrin dan
galangin. Kandungan kimianya sedikit berbeda dengan flavonoid dari bunga
karena adanya pemrosesan oleh lebah. Kandungan flavonoid dalam propolis
bervariasi, yaitu sekitar 10-20%. Kandungan ini merupakan yang terbanyak
dibandingkan kandungan flavonoid dalam produk lebah lainnya. Senyawa
flavonoid propolis berfungsi sebagai antioksidan yang mampu mengatasi senyawa
radikal bebas sehingga sangat baik sebagai antikanker (Mahani et al. 2011).
Aktivitas Trigona
Hasil pengamatan yang dilakukan selama 12 jam terhadap aktivitas keluar
dan masuk lebah Trigona spp. pada kebun pala monokultur dan polikultur dapat
dilihat pada Gambar 5.
Kebun Pala Polikultur
80
80
70
70
60
60
Jumlah Lebah (ekor)
Jumlah Lebah (ekor)
Kebun Pala Monokultur
50
40
30
50
40
30
20
20
10
10
0
0
Aktivitas Keluar
Waktu
Aktivitas Masuk
Aktivitas Keluar
Waktu
Aktivitas Masuk
Gambar 5 Grafik aktivitas Trigona pada kebun pala monokultur dan polikultur
Berdasarkan pengamatan, aktivitas Trigona dimulai pada pukul 06.00 dan
semakin meningkat. Aktivitas tertinggi terjadi pada pukul 10.00-12.00, kemudian
semakin menurun sampai dengan pukul 17.00. Hasil penelitian ini didukung oleh
43
Rodrigues et al. (2007) yang menyatakan bahwa aktivitas lebah dimulai sekitar
pukul 06.00 dan menurut Nascimento D & Nascimento F (2012), aktivitas akan
berakhir sekitar pukul 18.00. Hilario et al. (2001), menyatakan bahwa aktivitas
tertinggi terjadi antara pukul 11.00-13.00, setelah itu akan mengalami penurunan.
Hasil uji t terhadap aktivitas keluar masuk menunjukkan berbeda nyata (P < 0,05)
dengan nilai 36,5
20,9 ekor/5 menit pada kebun monokultur dan 24,88
8,96
ekor/ 5 menit dan polikultur.
Gambar 6 menunjukkan aktivitas yang dilakukan oleh Trigona selama
dilakukan pengamatan. Gambar 6 (A) dan (B) memperlihatkan aktivitas lebah
pada saat kembali ke sarang membawa pakan untuk koloninya berupa nektar dan
polen. Lebah juga mengumpulkan resin yang digunakan untuk membangun
sarangnya. Resin yang dikumpulkan ini dicampur dengan enzim lebah dan
menghasilkan propolis (Gambar 6 C). Lebah akan mengumpulkan sampah di
dalam sarang kemudian membuangnya keluar dari sarang agar kebersihan sarang
tetap terjaga. Lebah yang cacat akan diusir dari koloninya, dan bangkai lebah
ataupun predator yang mati di dalam sarang akan dibuang oleh lebah agar
kebersihan tetap terjaga (Gambar 6 D - F). Penjagaan sarang dari predator
dilakukan oleh lebah penjaga sarang yang selalu berada di depan pintu sarang
(Gambar 6 G). Penjaga sarang akan mempertahankan keamanan dari koloninya
dengan cara menyerang musuh yang datang ke sarangnya. Apabila ada lebah yang
tidak berasal dari koloninya menyerang, lebah akan saling menggigit perut sampai
mati (Gambar 6 H).
Koloni stingless bee terdiri atas beberapa ratus sampai ribuan individu, dan
pertukaran informasi antara pekerja merupakan kunci masa depan koloni untuk
efisiensi pencarian pakan dan secara langsung perkembangan koloni dan
keberhasilan reproduksi (Nascimento D & Nascimento F 2012; Boontop et al.
2008). Masing-masing individu lebah pekerja memiliki tingkah laku yang
menentukan pola pengumpulan pakan dari koloninya. Keputusan dilakukan
berdasarkan faktor intrinsik dan informasi dari koloni serta lingkungan (Wallace
2010).
Aktivitas terbang merupakan aktivitas lebah keluar dan masuk sarang untuk
mencari pakan (foraging). Ada dua faktor yang mempengaruhi aktivitas pencarian
44
pakan pada lebah, yaitu: 1). Faktor internal, seperti ingatan individu dan respon
penjaga pintu terhadap rangsangan pencarian pakan, dan 2). Faktor eksternal,
seperti lingkungan dan kondisi koloni yang menentukan tingkatan tanggapan yang
merangsang koloni untuk mengambil keputusan (Biesmeijer & Vries 2001).
B
A
C
D
E
F
G
H
Gambar 6 Aktivitas lebah Trigona di kebun pala monokultur dan polikultur.
A. Mengumpulkan dan membawa pulang madu; B. Mengumpulkan
dan membawa pulang polen; C. Mengumpulkan dan membawa
pulang propolis; D. Membuang sampah; E. Membuang dan
mengusir lebah yang cacat; F. Membuang bangkai; G. Menjaga
sarang dari serangan predator; H. Saling serang untuk
mempertahankan koloni.
45
Tiga tipe bahan yang dikumpulkan oleh lebah dan dibawa pulang ke
sarangnya adalah: 1). Nektar (termasuk semua cairan yang dikeluarkan oleh
tanaman), 2). Polen (hanya pada korbikula), dan 3). Resin (pada karbikula, bisa
juga termasuk semua jenis zat kimia lengket yang tidak dapat dibedakan)
(Leonhardt et al. 2007).
Menurut Perum Perhutani (1986), lebah di daerah panas akan mencari
makan pada pagi hari dan berhenti ketika sinar matahari mulai panas dan
dilanjutkan sebelum matahari terbenam. Danaraddi (2007) menambahkan,
aktivitas pencarian pakan pada serangga sosial untuk pengumpulan polen yang
paling baik dilakukan adalah pagi hari. Pendapat ini didukung oleh Wille (1964)
dan Nascimento D & Nascimento F (2012), yang menyatakan bahwa lebah sangat
aktif di pagi hari, lebah memulai kegiatan pengambilan polen pada pagi hari saat
kelembaban masih sangat tinggi serta suhu dan intensitas cahaya masih sedang.
Menurut Fidalgo & Kleinert (2007), pengumpulan resin dilakukan dalam satu hari
terdiri dari dua periode. Pertama, pengumpulan propolis dilakukan bersamaan
waktunya dengan pengumpulan nektar dan polen. Kedua, pengumpulan propolis
dilakukan pada saat lebah akan mengakhiri aktivitasnya.
Aktivitas keluar-masuk Trigona pada kebun monokultur lebih tinggi
dibandingkan pada kebun polikultur. Hal ini terkait dengan ketersediaan pakan
dan jarak stup dengan pakan lebah. Pada kebun monokultur, pakan tersedia
sepanjang tahun, dan pada saat pengamatan merupakan waktu berbunga yang
lebat. Koloni pada kebun monokultur lebih banyak beraktifitas karena jarak
tanaman dengan stup tidak lebih dari 100 m, sehingga lebah cepat untuk
mengumpulkan pakan dan kembali ke stup. Pada kebun polikultur, walaupun
pakan yang tersedia beragam, namun pakan yang tersedia tidak seluruhnya
berbunga. Selain itu, letak dan jarak stup dengan pakan yang sedang berbunga
lebih dari 100 m. Hal ini diduga berpengaruh terhadap jumlah lebah yang keluar
dan masuk. Lebah lebih lama tiba di lokasi pakan, kemudian lebah juga akan lebih
lama mengumpulkan pakan karena lebah akan mengumpulkan pakan sampai
penuh, setelah itu lebah akan kembali ke sarang. Menurut Sihombing (2005),
jarak sumber makanan dari sarang akan mempengaruhi intensitas pengumpulan
makanan. Hal ini akan memperkecil frekuensi perjalanan dalam satu hari,
46
sebaliknya akan meningkatkan jumlah energi yang dihabiskan selama menempuh
perjalanan tersebut.
Faktor Lingkungan dan Aktivitas Trigona
Pengaruh faktor lingkungan (suhu, kelembaban, dan intensitas cahaya)
terhadap aktivitas Trigona di kebun pala monokultur dapat dilihat pada Tabel 12
dan di kebun polikultur dapat dilihat pada Tabel 13.
Hasil pengamatan yang dilakukan pada kebun monokultur dan polikultur
menunjukkan bahwa lingkungan mempengaruhi aktivitas keluar-masuk Trigona.
Aktivitas Trigona di kebun monokultur dimulai pada saat suhu 23,08 oC,
kelembaban 70% dan intensitas cahaya masih rendah yaitu 183 lux. Jumlah lebah
yang keluar 4 ekor/5 menit, dan lebah yang masuk 3 ekor/5 menit. Aktivitas
keluar tertinggi sebanyak 60 ekor/5 menit terjadi pada suhu 26,63 dengan
kelembaban 56%, dan intensitas cahaya 16.634 lux. Aktivitas masuk tertinggi
sebanyak 72 ekor terjadi pada saat suhu mencapai 27,27 oC, kelembaban 55% dan
intensitas cahaya 91.347 lux.
Tabel 12 Faktor lingkungan dan aktivitas Trigona di kebun pala monokultur
Aktivitas
Waktu
06:00
07:00
08:00
09:00
10:00
11:00
12:00
13:00
14:00
15:00
16:00
17:00
Keluar
Masuk
Suhu
(oC)
4
12
25
30
42
60
54
51
42
30
22
11
3
12
29
34
50
71
72
66
60
44
34
19
23,08
22,31
23,84
24,25
25,71
26,63
27,27
27,11
26,84
26,03
25,24
24,23
Kelembaban
(%)
70
70
68
65
61
56
55
56
58
59
62
64
Intensitas
Cahaya
(lux)
183
723
1963
6919
6071
16634
91347
33062
5679
2558
1521
542
Sumber: Data primer yang diolah (2012)
Menurut Rodrigues et al. (2007), aktivitas lebah dimulai pada pukul 06.00
dengan kelembaban yang tinggi sekitar 65%, intensitas cahaya masih rendah dan
47
temperatur berkisar 22
o
C. Aktivitas terbang tertinggi terjadi pada saat
kelembaban mencapai 43-65 %. Kelembaban akan relatif konstan sekitar 40%
pada pukul 17.00 sampai lebah masuk ke dalam sarang dan tidak beraktivitas di
luar sarang.
Aktivitas Trigona pada kebun polikultur dimulai pada saat suhu terendah
mencapai 22,52 oC, kelembaban 88% dan intensitas cahaya 4344 lux. Jumlah
lebah yang keluar 6 ekor/5 menit dan masuk 5 ekor/5 menit. Aktivitas lebah
semakin meningkat dengan adanya peningkatan suhu lingkungan dan intensitas
cahaya, sedangkan kelembaban semakin menurun. Jumlah tertinggi lebah yang
keluar adalah 34 ekor/5 menit dan jumlah tertinggi lebah yang masuk terjadi pada
saat suhu mencapai 28,02 oC, kelembaban 71%, dan intensitas cahaya 46.875 lux.
Tabel 13 Faktor lingkungan dan aktivitas Trigona di kebun polikultur
Aktivitas
Intensitas
Suhu
Kelembaban
Waktu
Cahaya
o
( C)
(%)
Keluar
Masuk
(lux)
06:00
6
5
22,52
88
4344
07:00
18
18
23,69
92
38738
08:00
31
34
26,09
82
138563
09:00
32
34
26,95
75
89897
10:00
34
37
28,02
71
46875
11:00
31
33
28,44
69
37178
12:00
28
32
28,25
70
31292
13:00
27
31
28,43
70
27943
14:00
26
29
27,79
73
27390
15:00
19
25
26,05
76
24948
16:00
16
22
25,27
80
15586
17:00
13
19
25,14
83
4667
Sumber: Data primer yang diolah (2012)
Beberapa faktor abiotik mempengaruhi aktivitas lebah. Suhu merupakan
faktor yang paling mempengaruhi aktivitas lebah (Boontop el al. 2008). Aktivitas
keluar-masuk meningkat dengan meningkatnya temperatur, dan aktivitas
maximum terjadi pada saat suhu mencapai 26,5-27 oC (Hilario et al. 2001; Danka
et al. 2006). Lebah tidak dapat terbang saat suhu tubuh lebah turun di bawah 10
o
C, kehilangan kekuatan untuk bergerak pada suhu 5 oC dan membeku pada suhu -
1,9 oC (Gojmerac 1983). Contera & Nieh (2007) menambahkan bahwa pada saat
48
suhu rendah, lebah pencari pakan lebih lama berada dalam sarang dibandingkan
pada saat suhu normal.
Kelembaban tinggi terjadi pada saat pagi hari dan hujan, dimana pada saat
hujan tidak ada aktivitas lebah. Pencarian pakan dihalangi oleh hujan, dimana
hujan di pagi hari menunda pengumpulan polen dan hujan yang terus-menerus
menyebabkan penurunan aktivitas pencarian pakan, karena intesitas cahaya pada
saat hujan juga menurun (Sommeijer et al. 1983). Hasil uji t terhadap faktor
lingkungan dan aktivitas lebah menunjukkan berbeda nyata (P < 0,05) dengan
nilai 36,5 + 20,9 ekor pada kebun monokultur dan 25,00 + 8,99 ekor pada kebun
polikultur.
Cuaca pada kedua lokasi penelitian sangat berpengaruh terhadap aktivitas
lebah. Curah hujan masih cukup tinggi sampai bulan Mei, menyebabkan aktivitas
lebah di luar sarang sangat terbatas. Lebah memilih tinggal dalam sarang selama
cuaca tidak mendukung aktivitas di luar sarang. Menurut Someijer et al. (1983),
hujan menghalangi aktivitas lebah untuk mencari pakan. Hujan pada pagi hari
akan menunda pengumpulan polen dan hujan yang terus-menerus akan
menurunkan aktivitas pencarian pakan.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa produktivitas
Trigona spp. berdasarkan bobot koloni lebah yang dipelihara pada kebun pala
monokultur sangat nyata lebih tinggi dibandingkan kebun polikultur (299 g VS
170 g), yang dipengaruhi oleh musim berbunga dan jarak tanaman yang ada pada
masing-masing lokasi. Kandungan flavonoid yang merupakan senyawa kimia
yang penting pada propolis yang dihasilkan oleh Trigona pada kebun pala
monokultur dan polikultur menunjukkan hasil yang bervariasi, yang berkaitan erat
dengan variasi lingkungan dan manajemen pemeliharaan.
Faktor lingkungan (suhu, kelembaban dan intensitas cahaya) dan waktu
nyata berpengaruh terhadap aktivitas terbang Trigona. Suhu dan intensitas cahaya
yang tinggi, meningkatkan aktivitas lebah, sementara kelembaban yang tinggi
menurunkan aktivitas lebah.
Saran
Diperlukan penelitian lanjutan tentang produksi resin per satuan jumlah
pohon pala untuk menghasilkan jumlah propolis tertentu. Jenis flavonoid yang
terkandung dalam propolis lebah yang dibudidaya di kebun pala juga perlu
dianalisis. Selain itu, perlu juga dilakukan analisis tentang sebaran aktivitas
Trigona pada tanaman polikultur.
DAFTAR PUSTAKA
Agromedia. 2009. Buku Pintar Budi Daya Tanaman Buah Unggul Indonesia.
Jakarta: Agromedia Pustaka.
Amano K. 2002. Stingless honeybees for Asia‟s greenhouses. Food and Fertilizer
Technology Center. Newsletter 138:2-3.
Bankova VS, Castro SL de, Marcucci MC. 2000. Propolis: recent advances in
chemistry and plant origin. Apidologie 31:3-15.
Biesmeijer JC, Vries H de. 2001. Exploration and explonation of food sources by
social insect colonies: a revision of the scout-recruit concept. Behav Ecol
Sociobiol 49:89-99.
Biesmeijer JC, Slaa EJ. 2004. Informastion flow and organization of stingless bee
foraging. Apidologie 35:143-157.
Boontop Y, Malaipan S, Chareansom K, Wiwatwittaya D. 2008. Diversity of
stingless bees (Apidae: Meliponini) in Thong Pha Phum District,
Kanchanaburi Province, Thailand. Nat Sci 42:444-456.
Chen WY et al. 2008. Characterisation of taiwanese propolis collected from
different locations and seasons. J Sci Food Agri 88:412-419.
Contera FAL, Nieh JC. 2007. The effect of ambient temperature on forager sound
production and thoracic temperature in the stingless bee, Melipona
panamica. Behav Ecol Sociobiol 61:887-897.
Danaraddi CS. 2007. Studies on Stingless Bee, Trigona Iridipennis Smith with
Special Reference to Foraging Behaviour and Melissopalynology at
Dharwad, Karnataka. [Thesis]. Departement of Agricultural Entomology
College of Agriculture. University of Agriculture Science. Dharwad.
Danka RG, Sylvester HA, Boykin D. 2006. Environmental influences on flight
activity of USDA-ARS Russian and Italian stocks of honey bees
(Hymenoptera: Apidae) during almond pollination. J Econ Entomol
99:1565-1570.
Fidalgo AO, Kleinert MP. 2007. Foraging behavior of Melipona rufiventris
Lepeletier (Apinae, Meliponini) in Ubatuba/SP, Brazil. Braz J Biol 67:137144.
Free JB. 1982. Bees and Mankind. London, UK: George Allen & Unwin.
Ghisalberti EL. 1979. Propolis: a review. Bee World 60: 59-84.
Gojmerac WL. 1983. Bee, Beekeeping, Honey and Pollination. Westport: AVI.
51
Hadipoentyanti E. 1997. Monograf Tanaman Cengkeh. Bogor: Balai Penelitian
Tanaman Rempah dan Obat.
Heard TA. 1999. The role of stingless bees in crop pollination. Annu Rev Entomol
44:183-206.
Hilario SD, Imperatriz-Fonseca VL, Kleinert A de MP. 2000. Flight activity and
colony strength in the stingless bee Melipona bicolor bicolor (Apidae,
Meliponinae). Rev Bras Biol 60:299-306.
Hilario SD, Imperatriz-Fonseca VL, Kleinert A de MP. 2001. Responses to
climatic factors by foragers of Plebeia pugnax Moure (In Litt.) (Apidae,
Meliponinae). Rev Bras Biol 61:191-196.
Jager AJ de. 2001. The Effect Of Increased Propolis Production On The
Productivity A Honeybee Farming System. [Dissertation]. Departement Of
Agricultural Management. Saasveld George Campus. Port Elizabeth
Technikon.
Junior NTF, Blochtein B, de Moraes JF. 2010. Seasonal flight and resource
collection patterns of colonies of the stingless bee Melpona bicolor schencki
Gribodo (Apidae, Meliponini) in an Araucaria forest area in southern Brazil.
Rev Bras de Entomol 54:630-636.
Kanisius 1990. Bagaimana Menanam Cengkeh. Yogyakarta: Kanisius.
[KPU] Kamus Pertanian Umum. 2003. Jakarta: Penebar Swadaya.
Krell. 1996. Value added products from beekeeping. Agri Serv Bull 124, Food
and Agricultural Organization of the U.N, 409.
Lindauer M, Kerr WE. 1960. Comunication between the workers of stingless
bees. Bee World 41:65-71.
Leonhardt SD, Dworschak K, Eltz T, Bluthgen N. 2007. Foraging loads of
stingless bees and utilization of stored nectar for pollen harvesting.
Apidologie 38:125-135.
Mahani, Karim AR, Nurjanah N. 2011. Keajaiban Propolis Trigona. Jakarta:
Pustaka Bunda.
Marcucci MC. 1995. Propolis: chemical, biological properties and therapeutic
activity. Apidologie 26:83-99.
Marzuki I, Hadad EA, Syukur, Assagaf M. 2006. Potensi dan Pengembangan
Pala di Maluku Utara. BALITRO. Bogor.
Muis R et al. 2008. Pedoman Teknis Budidaya Pala. Jakarta: Direktur Jenderal
Perkebunan.
52
Mulyana D, Asmarahman C. 2011. 7 Jenis Kayu Penghasil Rupiah. Jakarta:
Agromedia Pustaka.
Mutsaers M, Blitterswijk H van, Leven L van „t, Kerkvliet J, Waerdt J van de.
2005. Bee Products Properties, Processing and Marketing. Wageningen:
Agromisa Foundation.
Nakasone HY, Paul RE. 1999. Tropical Fruits. New York: CABI Publishing.
Nascimento DL do, Nascimento FS. 2012. Extreme effect of season on the
foraging activities and colony productivity of a stingless bee (Melipona
asilvai Moure, 1971) in Northeast Brazil. H Pub Corp Psyche. Research
Article :1-6.
Nieh JC. 2004. Recruitment communication in stingless bees (Hymenoptera,
Apidae, Meliponini). Apidologie. 35:159-182.
Perum Perhutani Unit Jawa Timur. 1986. Peningkatan kesejahteraan masyarakat
melalui perlebahan. Di dalam: Pembudidayaan Lebah Madu untuk
Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat. Prosiding Lokakarya; Sukabumi,
20-22 Mei 1986. Jakarta: Perum Perhutani.
Pietta PG, Gardana, Pieta AM. 2002. Analytical methods for quality control of
propolis. Filoterapia 73 Suppl 1:7-20.
Popova M, Silici S, Kaftanoglu O, Bankova V. 2003. Antibacterial activity of
Turkish propolis and qualitative and quantitative chemical composition.
Phytomedicine 12:221-228.
[PPP] Pusat Perlebahan PRAMUKA. 2003. Lebah Madu Cara Beternak dan
Pemanfaatan. Jakarta: Penebar Swadaya.
Purwono MS, Purnamawati H. 2008. Budidaya 8 Jenis Tanaman Pangan Unggul.
Jakarta: Penebar Swadaya.
Purseglove JW, Brown EG, Green CL, Robbins S, Longman PJ. 1981. Tropical
Agriculture Series Spices. Volume 1. London: DS New York.
Rodrigues M, Santana WC, Freitas GS, Soares AEE. 2007. Flight activity of
Tetragona clavipes (FABRICUS, 1804) (Hymenoptera, Apidae, Meliponini)
at the Sao Paulo University Campus in Ribeirao Preto. Biosci J 23:118-124.
Roubik DW. 1989. Ecology and natural history of tropical bees. Cambridge UK:
Cambridge Univ. Press.
Sihombing DTH. 2005. Ilmu Ternak Lebah Madu. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
53
Singh S. 1962. Beekeeping in India. New Delhi: Indian Council of Agricultural
Research.
Siregar HCH. Fuah AM. Octavianty Y. 2011. Propolis Madu Multikhasiat.
Jakarta: Penebar Swadaya.
Siswomartono D. 1989. Ensiklopedi Konservasi Sumber Daya. Jakarta: Erlangga.
Soerjadi WH, Soesanto R, Mulyono T, Nureni I. 1996. Kamus Klimatologi.
Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Sommeijer MJ, de Rooy GA, Punt W, de Bruijn. 1983. A Comparative Study
Foraging Behavior and Pollen Resources of Various Stingless Bees (Hym.,
Meliponinae) and Honeybees (Hym., Apinae) in Trinidad, West-Indies.
Apidologie 14:205-224.
Sulaksono S, Suryadi T, Suhendar B, Nismah, Susilohadi RCH. 1986. Biologi
Apis cerna dengan tekanan pada kegiatan mencari makan. Prosiding
Lokakarya: Pembudidayaan Lebah Madu untuk Peningkatan Kesejahteraan
Masyarakat. Perum Perhutani. Hal 49-64.
Sunanto H. 1993. Budidaya Pala Komoditas Ekspor. Yogyakarta: Kanisius
Sunarjono HH. 1998. Prospek Berkebun Buah. Jakarta: Penebar Swadaya.
Sunarjono HH. 2005. Berkebun 21 Jenis Tanaman Buah. Jakarta : Penebar
Swadaya.
Suranto A. 2007. Terapi Madu. Jakarta: Penebar Plus.
Suranto A. 2008. Khasiat dan Manfaat Madu Herbal. Jakarta: Agromedia Pustaka.
Syariefa et al. 2010. Propolis dari Lebah Tanpa Sengat Cara Ternak dan Olah.
Jakarta: PT Trubus Swadaya.
Tohir K. 1981. Bercocok Tanam Pohon Buah-buahan. Jakarta: Pranya Paramita.
Wallace HM. 2010. Resin-foraging by colonies of Trigona sapiens and T.
hockingsi (Hymenoptera: Apidae, Meliponini) and consequent seed
dispersal of Corymbia torelliana (Myrtaceae). Apidologie 41:428-435.
Walpole RE. 1995. Pengantar Statistika. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Widhiono I. 1986. Faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap
penambahan sel dalam sisiran lebah madu. Prosiding Lokakarya:
Pembudidayaan Lebah Madu untuk Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat.
Perum Perhutani. Hal 21-32.
54
Wille A. 1964. Notes on a Primitive Stingless Bee, Trigona (Nogueirapis)
mirandula. Rev Biol Trop 12:117-151.
LAMPIRAN
56
Lampiran 1 Uji t terhadap Bobot Koloni
Bobot Koloni
Taraf 5%
Two-Sample T-Test and CI: Monokultur, Polikultur
Two-sample T for Monokultur vs Polikultur
Monokultur
Polikultur
N
13
13
Mean
95.5
61.3
StDev
10.8
11.7
SE Mean
3.0
3.3
Difference = mu (Monokultur) - mu (Polikultur)
Estimate for difference: 34.23
95% CI for difference: (25.07, 43.39)
T-Test of difference = 0 (vs not =): T-Value = 7.73
= 23
P-Value = 0.000
DF
P-Value = 0.017
DF
Lampiran 2 Uji t terhadap waktu dan aktivitas
Waktu dan Aktivitas
Taraf 5 %
Two-Sample T-Test and CI: Monokultur, Polikultur
Two-sample T for Monokultur vs Polikultur
Monokultur
Polikultur
N
24
24
Mean
36.5
24.88
StDev
20.9
8.96
SE Mean
4.3
1.8
Difference = mu (Monokultur) - mu (Polikultur)
Estimate for difference: 11.67
95% CI for difference: (2.19, 21.14)
T-Test of difference = 0 (vs not =): T-Value = 2.51
= 31
Lampiran 3 Uji t terhadap lingkungan dan aktivitas
57
Lingkungan dan Aktivitas
Taraf 5%
Two-Sample T-Test and CI: Monokultur, Polikultur
Two-sample T for Monokultur vs Polikultur
Monokultur
Polikultur
N
24
24
Mean
36.5
25.00
StDev
20.9
8.99
SE Mean
4.3
1.8
Difference = mu (Monokultur) - mu (Polikultur)
Estimate for difference: 11.48
95% CI for difference: (2.01, 20.94)
T-Test of difference = 0 (vs not =): T-Value = 2.47
= 31
P-Value = 0.019
DF
58
Lampiran 4 Lokasi penelitian
Kebun Monokultur
Kebun Polikultur
Lampiran 5 Lay out kebun percobaan tanaman pala
Download