A. Definisi B. Anatomi

advertisement
http://medlinux.blogspot.com/2008/12/apendisitis.html
Apendisitis
undefined undefined
Appendicitis merupakan penyakit yang sering dijumpai sehingga harus dicurigai sebagai keadaan
yang paling mungkin menjadi penyebab nyeri akut abdomen. Penyakit ini sering ditemukan pada
anak-anak dan dewasa muda. Insidensi pada laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Insidensi
tertinggi pada laki-laki pada usia 10-14 tahun, sedangkan pada perempuan pada usia 15-19 tahun.
Penyakit ini jarang ditemukan pada anak-anak usia di bawah 2 tahun.(1)
Diagnosis appendicitis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang. Ketepatan diagnosis dan penanggulangannya tergantung dari kemampuan melakukan
analisis pada data-data tersebut. Tak jarang kasus-kasus appendicitis yang lolos dari diagnosis
bahkan ada yang salah didiagnosis. Kadang-kadang untuk menegakkan diagnosis appendicitis sulit
karena letak appendix di abdomen sangat bervariasi.(2,3)
Penatalaksanaan appendicitis dilakukan dengan appendectomi, yaitu suatu tindakan bedah dengan
mengangkat appendix. Keputusan untuk melakukan tindakan bedah harus segera diambil karena
setiap keterlambatan akan menimbulkan penyulit yang berakibat meningkatkan morbiditas dan
mortalitas, seperti dapat menyebabkan terjadinya perforasi atau ruptur pada appendix.(1)
A. Definisi
Appendicitis adalah suatu peradangan pada appendix. Peradangan ini pada umumnya disebabkan
oleh infeksi yang akan menyumbat appendix.(3,4)
B. Anatomi
Appendix adalah suatu pipa tertutup yang sempit yang melekat pada secum (bagian awal dari
colon). Bentuknya seperti cacing putih.Secara anatomi appendix sering disebut juga dengan
appendix vermiformis atau umbai cacing.(3)
Appendix terletak di bagian kanan bawah dari abdomen. Tepatnya di ileosecum dan merupakan
pertemuan ketiga taenia coli. Muara appendix berada di sebelah postero-medial secum.Dari
topografi anatomi, letak pangkal appendix berada pada titik Mc.Burney, yaitu titik pada garis
antara umbilicus dan SIAS kanan yang berjarak 1/3 dari SIAS kanan.(4,5)
Seperti halnya pada bagian usus yang lain, appendix juga mempunyai mesenterium. Mesenterium
ini berupa selapis membran yang melekatkan appendix pada struktur lain pada abdomen.
Kedudukan ini memungkinkan appendix dapat bergerak. Selanjutnya ukuran appendix dapat lebih
panjang daripada normal. Gabungan dari luasnya mesenterium dengan appendix yang panjang
menyebabkan appendix bergerak masuk ke pelvis (antara organ-organ pelvis pada wanita). Hal ini
juga dapat menyebabkan appendix bergerak ke belakang colon yang disebut appendix retrocolic.(3)
Appendix dipersarafi oleh saraf parasimpatis dan simpatis. Persarafan parasimpatis berasal dari
cabang n. vagus yang mengikuti a. mesenterica superior dan a. appendicularis. Sedangkan
persarafan simpatis berasal dari n. thoracalis X. Karena itu nyeri viseral pada appendicitis bermula
disekitar umbilicus.Vaskularisasinya berasal dari a.appendicularis cabang dari a.ileocolica, cabang
dari a. mesenterica superior.(2)
C. Fisiologi
Fungsi appendix pada manusia belum diketahui secara pasti. Diduga berhubungan dengan sistem
kekebalan tubuh. Lapisan dalam appendix menghasilkan lendir. Lendir ini secara normal dialirkan
ke appendix dan secum. Hambatan aliran lendir di muara appendix berperan pada patogenesis
appendicitis.(1,3,5)
Dinding appendix terdiri dari jaringan lymphe yang merupakan bagian dari sistem imun dalam
pembuatan antibodi. Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated
Lymphoid Tissue) yaitu Ig A. Immunoglobulin ini sangat efektif sebagai pelindung terhadap
infeksi.(2,3)
D. Patofisiologi
Appendicitis pada umumnya disebabkan oleh obstruksi dan infeksi pada appendix. Beberapa
keadaan yang dapat berperan sebagai faktor pencetus antara lain sumbatan lumen appendix oleh
mukus yang terbentuk terus menerus atau akibat feses yang masuk ke appendix yang berasal dari
secum. Feses ini mengeras seperti batu dan disebut fecalith. (3)
Adanya obstruksi berakibat mukus yang diproduksi tidak dapat keluar dan tertimbun di dalam
lumen appendix. Obstruksi lumen appendix disebabkan oleh penyempitan lumen akibat hiperplasia
jaringan limfoid submukosa. Proses selanjutnya invasi kuman ke dinding appendix sehingga terjadi
proses infeksi. Tubuh melakukan perlawanan dengan meningkatkan pertahanan tubuh terhadap
kuman-kuman tersebut. Proses ini dinamakan inflamasi. Jika proses infeksi dan inflamasi ini
menyebar sampai dinding appendix, appendix dapat ruptur. Dengan ruptur, infeksi kuman tersebut
akan menyebar mengenai abdomen, sehingga akan terjadi peritonitis. Pada wanita bila invasi
kuman sampai ke organ pelvis, maka tuba fallopi dan ovarium dapat ikut terinfeksi dan
mengakibatkan obstruksi pada salurannya sehingga dapat terjadi infertilitas. Bila terjadi invasi
kuman, tubuh akan membatasi proses tersebut dengan menutup appendix dengan omentum, usus
halus atau adnexsa, sehingga terbentuk massa peri-appendicular. Di dalamnya dapat terjadi
nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi. Appendix yang ruptur juga dapat
menyebabkan bakteri masuk ke aliran darah sehingga terjadi septicemia. (1,3,6,7)
Appendix yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna tetapi akan membentuk jaringan
parut yang menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitarnya. Perlengketan ini menimbulkan
keluhan berulang di perut kanan bawah. Pada suatu ketika organ ini dapat meradang lagi dan
disebut mengalami eksaserbasi akut (2).
E. Gejala Klinis
Gambaran klinis yang sering dikeluhkan oleh penderita, antara lain (4,5,6,7):
1. Nyeri abdominal.
Nyeri ini merupakan gejala klasik appendicitis. Mula-mula nyeri dirasakan samar-samar dan
tumpul yang merupakan nyeri viseral di daerah epigastrium atau sekitar umbilicus. Setelah
beberapa jam nyeri berpindah dan menetap di abdomen kanan bawah (titik Mc. Burney). Nyeri
akan bersifat tajam dan lebih jelas letaknya sehingga berupa nyeri somatik setempat. Bila terjadi
perangsangan peritoneum biasanya penderita akan mengeluh nyeri di perut pada saat berjalan atau
batuk.
2. Mual-muntah biasanya pada fase awal.
3. Nafsu makan menurun.
4. Obstipasi dan diare pada anak-anak.
5. Demam, terjadi bila sudah ada komplikasi, bila belum ada komplikasi biasanya tubuh belum
panas. Suhu biasanya berkisar 37,7°-38,3° C.
Gejala appendicitis akut pada anak tidak spesifik. Gejala awalnya sering hanya rewel dan tidak
mau makan. Anak sering tidak bisa melukiskan rasa nyerinya. Karena gejala yang tidak spesifik ini
sering diagnosis appendicitis diketahui setelah terjadi perforasi (1,2).
F. Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi
Kadang sudah terlihat waktu penderita berjalan sambil bungkuk dan memegang perut. Penderita
tampak kesakitan. Pada inspeksi perut tidak ditemukan gambaran spesifik. Kembung sering terlihat
pada penderita dengan komplikasi perforasi. Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada massa
atau abses appendiculer (2,6).
2. Palpasi
Dengan palpasi di daerah titik Mc. Burney didapatkan tanda-tanda peritonitis lokal yaitu:
- Nyeri tekan di Mc. Burney.
- Nyeri lepas.
- Defans muscular lokal. Defans muscular menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietal
(2,5,6)
.
Pada appendix letak retroperitoneal, defans muscular mungkin tidak ada, yang ada nyeri pinggang
(2,5,6)
.
3. Auskultasi
Peristaltik usus sering normal. Peristaltik dapat hilang karena ileus paralitik pada peritonitis
generalisata akibat appendicitis perforata (2).
Pemeriksaan Colok Dubur
Akan didapatkan nyeri kuadran kanan pada jam 9-12. Pada appendicitis pelvika akan didapatkan
nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur (5).
Tanda-Tanda Khusus
1. Psoas Sign
Dilakukan dengan rangsangan m.psoas dengan cara penderita dalam posisi terlentang, tungkai
kanan lurus ditahan pemeriksa, penderita disuruh hiperekstensi atau fleksi aktif. Psoas sign (+) bila
terasa nyeri di abdomen kanan bawah (5,6).
2. Rovsing Sign
Perut kiri bawah ditekan, akan terasa sakit pada perut kanan bawah (5,6).
3. Obturator Sign
Dilakukan dengan menyuruh penderita tidur terlentang, lalu dilakukan gerakan fleksi dan
endorotasi sendi panggul. Obturator sign (+) bila terasa nyeri di perut kanan bawah (5,6).
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
- Pemeriksaan darah : akan didapatkan leukositosis pada kebanyakan kasus appendisitis akut
terutama pada kasus dengan komplikasi. Pada appendicular infiltrat, LED akan meningkat (4,7).
- Pemeriksaan urin : untuk melihat adanya eritrosit, leukosit dan bakteri di dalam urin.
Pemeriksaan ini sangat membantu dalam menyingkirkan diagnosis banding seperti infeksi saluran
kemih atau batu ginjal yang mempunyai gejala klinis yang hampir sama dengan appendicitis (4).
2. Abdominal X-Ray
Digunakan untuk melihat adanya fecalith sebagai penyebab appendicitis. Pemeriksaan ini
dilakukan terutama pada anak-anak (4).
3. USG
Bila hasil pemeriksaan fisik meragukan, dapat dilakukan pemeriksaan USG, terutama pada wanita,
juga bila dicurigai adanya abses. Dengan USG dapat dipakai untuk menyingkirkan diagnosis
banding seperti kehamilan ektopik, adnecitis dan sebagainya (4).
4. Barium enema
Yaitu suatu pemeriksaan X-Ray dengan memasukkan barium ke colon melalui anus. Pemeriksaan
ini dapat menunjukkan komplikasi-komplikasi dari appendicitis pada jaringan sekitarnya dan juga
untuk menyingkirkan diagnosis banding.(4)
5. CT-Scan
Dapat menunjukkan tanda-tanda dari appendicitis. Selain itu juga dapat menunjukkan komplikasi
dari appendicitis seperti bila terjadi abses.(4,5)
6. Laparoscopi
Yaitu suatu tindakan dengan menggunakan kamera fiberoptic yang dimasukkan dalam abdomen,
appendix dapat divisualisasikan secara langsung.Tehnik ini dilakukan di bawah pengaruh anestesi
umum. Bila pada saat melakukan tindakan ini didapatkan peradangan pada appendix maka pada
saat itu juga dapat langsung dilakukan pengangkatan appendix.(4)
H. Diagnosis Banding
1. Gastroenteritis
Pada gastroenteritis, mual-muntah dan diare mendahului rasa sakit. Sakit perut lebih ringan dan
tidak berbatas tegas. Hiperperistaltik sering ditemukan. Panas dan leukositosis kurang menonjol
dibandingkan dengan appendicitis.(2)
2. Limfadenitis mesenterica
Biasanya didahului oleh enteritis atau gastroenteritis. Ditandai dengan nyeri perut yang samarsamar terutama disebelah kanan, dan disertai dengan perasaan mual dan muntah. (2)
3. Peradangan pelvis
Tuba Fallopi kanan dan ovarium terletak dekat appendix. Radang kedua oergan ini sering
bersamaan sehingga disebut salpingo-ooforitis atau adnecitis.Untuk menegakkan diagnosis
penyakit ini didapatkan riwayat kontak sexsual. Suhu biasanya lebih tinggi daripada appendicitis
dannyeri perut bagian bawah lebih difus. Biasanya disertai dengan keputihan. Pada colok vaginal
jika uterus diayunkan maka akan terasa nyeri. (2,3)
4. Kehamilan Ektopik
Ada riwayat terhambat menstruasi dengan keluhan yang tidak menentu. Jika terjadi ruptur tuba
atau abortus diluar rahim dengan perdarahan akan timbul nyeri yang mendadak difus di daerah
pelvis dan mungkin akan terjadi syok hipovolemik. Pada pemeriksaan colok vaginal didapatkan
nyeri dan penonjolan kavum Douglas, dan pada kuldosentesis akan didapatkan darah. (2)
5. Diverticulitis
Meskipun diverticulitis biasanya terletak di perut bagian kiri, tetapi kadang-kadang dapat juga
terjadi disebelah kanan. Jika terjadi peradangan dan ruptur pada diverticulum gejala klinis akan
sukar dibedakan dengan gejala-gejala appendicitis. (3)
6. Batu Ureter atau Batu Ginjal
Adanya riwayat kolik dari pinggang ke perut menjalarr ke inguinal kanan merupakan gambaran
yang khas. Hematuria sering ditemukan. Foto polos abdomen atau urografi intravena dapat
memestikan penyakit tersebut. (2)
H. Penatalaksanaan
Bila diagnosis appendicitis akut telah ditegakkan, maka harus segera dilakukan appendektomi. Hal
ini disebabkan perforasi dapat terjadi dalam waktu < 24 jam setelah onset appendicitis.Penundaan
tindakan pembedahan ini sambil diberikan antibiotik dapat mengakibatkan terjadinya abses atau
perforasi (1,5,7)
Appendectomi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara terbuka dan laparoscopi.
Dengan cara terbuka dilakukan insisi di abdomen kanan bawah kemudian ahli bedah
mengeksplorasi dan mencari appendix yang meradang.Setelah itu dilakukan pengangkatan
appendix, dan abdomen ditutup kembali.
Tindakan laparoscopi merupakan suatu tehnik baru untuk mengangkat appendix dengan
menggunakan lapariscop.Tindakan ini dilakukan pada kasus-kasus yang meragukan dalam
menegakkan diagnosis appendicitis. Pada appendicitis tanpa komplikasi biasanya tidak diperlukan
pemberian antibiotik, kecuali pada appendicitis perforata.(1,2,3,4)
DAFTAR PUSTAKA
1. Helwick, CA, Appendicitis, Gale Encytopedia of medicine. htm.
2. Hamami, AH, dkk, Usus Halus Appendiks, Kolon, dan Anorektum, dalam Sjamsuhidajat, R, De
jong. W, Buku Ajar Ilmu bedah, Edisi Revisi, EGC, Jakarta, 1997, hal 865-75.
3. Anonim, Appendectomy, Medicine Net. Com.
4. Anonim, Appendicitis, Medicine Net. Com.
5. Anonim, Appendicitis, The Merck Manual Sec 3, htm.
6. O’rourke. R, Acute Appendicitis, The Iowaclinic. Com.
7. Anonim, Appendicitis, The Merck Manual, Sec 9, htm.
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
http://dc396.4shared.com/doc/XNg4iTDj/preview.html
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Seiring dengan kemajuan teknologi dan peningkatan status sosial ekonomi yang semakin
meningkat, masalah kesehatan juga semakin meningkat di masyarakat yang disebabkan oleh
karena kurangnya pengetahuan terutama tentang pola hidup yang sehat sehingga berbagai
macam masalah mulai timbul dari saluran pernapasan, system sirkulasi dan system pencernaan.
Penyakit dari saluran pencernaan yang salah satunya adalah appendiksitis. Appendiksitis atau
inflamasi pada usus buntu adalah merupakan suatu peradangan pada daerah umbai cacing di
saluran pencernaan.
Dampak yang terjadi akibat dari appendiksitis adalah muncul berbagai macam gejala yang
dapat membuat penderita tidak merasa nyaman, yaitu: gejala-gejala yang mengganggu aktivitas
kehidupan sehari-hari seperti nyeri dengan tiba-tiba didaerah abdomen dan ulu hati, bila
dibiarkan terus menerus appendiksitis dapat terjadi obstruksi lumen usus. Jika Appendiksitis
tidak dilakukan penanganan segera akan terjadinya infeksi berat, bisa menyebabkan pecahnya
lumen usus sehingga memerlukan penanganan yang khusus yaitu Laparatomi.
Appendiksitis merupakan kasus gawat bedah abdomen yang paling sering terjadi.
Kejadian paling tinggi ditemukan pada usia dekade kedua dan ketiga, appendiksitis didapatkan
1,3-1,6 kali lebih sering pada laki-laki dari pada wanita. Penyebab appendiksitis yaitu berupa
fekalit, cacing ascariasis, dan hyperplasia jaringan limfe.
Prevalensi di Inggris, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Douglas et al terdapat
302 pasien yang terkena suspek appendiksitis setelah dilakukan pemeriksaan ultrasonografi.
Dan untuk mengatasi appendiksitis tersebut telah dilakukan apendiktomi dengan angka
kegagalan sekitar 9 – 11%, dan 89% berhasil untuk mengatasi apendiksitis. Dan penelitian lain
yang dilakukan oleh Zielke et al, sekitar 2000 pasien mengatakan bahwa sekitar 6%
ultrasonografi mendeteksi appendiksitis (Sari Wirya Netty, 2009).
2. Tujuan
1. Tujuan Umum
Membantu mahasiswa dalam memahami materi dari pengertian sampai pada asuhan
keperawatan
2. Tujuan Khusus
Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan tentang:
•
Pengertian appediksitis
•
Etiologi appediksitis
•
Anatomi dan fisiologinya
•
Patofisiologi
•
Pathway
•
Pemeriksaan penunjang
•
Penatalaksanaan
•
Asuhan keperawatan
BAB II
ISI
1. Pengertian
Appendiks adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira-kira 10 cm (4 inci),
melekat pada sekum tepat dibawah katup ileosekal. Appendiks berisi makanan dan
mengosongkan diri secara teratur kedalam sekum. Karena pengosongan tidak efektif, dan
lumennya kecil, appendiks cenderung menjadi tersumbat dan terutama rentan terhadap infeksi
(appendiksitis) (Smeltzer, 2001).
Apendisitis adalah peradangan yang terjadi pada apendiks vermiformis, dan merupakan
penyebab abdomen akut yang paling sering1. Apendiks disebut juga umbai cacing. Istilah usus
buntu yang selama ini dikenal dan digunakan di masyarakat kurang tepat, karena yang
merupakan usus buntu sebenarnya adalah sekum. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti
apa fungsi apendiks sebenarnya. Namun demikian, organ ini sering sekali menimbulkan
masalah kesehatan (Sjamsuhidajat, R., Jong, W.D, 2005).
2. Etiologi
Terjadinya apendisitis akut umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri. Namun terdapat
banyak sekali faktor pencetus terjadinya penyakit ini. Diantaranya obstruksi yang terjadi pada
lumen apendiks. Obstruksi pada lumen apendiks ini biasanya disebabkan karena adanya
timbunan tinja yang keras ( fekalit), hipeplasia jaringan limfoid, penyakit cacing, parasit, benda
asing dalam tubuh, cancer primer dan striktur. Namun yang paling sering menyebabkan
obstruksi lumen apendiks adalah fekalit dan hiperplasia jaringan limfoid (Mansjoer Arif et all,
2000) .
3. Anatomi dan Fisiologi
1. Anatomi
Appendiks adalah suatu pipa tertutup yang sempit yang melekat pada secum (bagian
awal dari colon). Bentuknya seperti cacing putih.Secara anatomi appendiks sering disebut
juga dengan appendiks vermiformis atau umbai cacing.
Appendiks terletak di bagian kanan bawah dari abdomen. Tepatnya di ileosecum dan
merupakan pertemuan ketiga taenia coli. Muara appendiks berada di sebelah posteromedial secum. Dari topografi anatomi, letak pangkal appendiks berada pada titik
Mc.Burney, yaitu titik pada garis antara umbilicus dan SIAS kanan yang berjarak 1/3 dari
SIAS kanan. Seperti halnya pada bagian usus yang lain, appendiks juga mempunyai
mesenterium. Mesenterium ini berupa selapis membran yang melekatkan appendiks pada
struktur lain pada abdomen. Kedudukan ini memungkinkan appendiks dapat bergerak.
Selanjutnya ukuran appendiks dapat lebih panjang daripada normal. Gabungan dari luasnya
mesenterium dengan appendiks yang panjang menyebabkan appendiks bergerak masuk ke
pelvis (antara organ-organ pelvis pada wanita). Hal ini juga dapat menyebabkan appendiks
bergerak ke belakang colon yang disebut appendiks retrocolic.
Appendiks dipersarafi oleh saraf parasimpatis dan simpatis. Persarafan parasimpatis
berasal dari cabang n. vagus yang mengikuti a. mesenterica superior dan a. appendicularis.
Sedangkan persarafan simpatis berasal dari n. thoracalis X. Karena itu nyeri viseral pada
appendicitis bermula disekitar umbilicus.Vaskularisasinya berasal dari a.appendicularis
cabang dari a.ileocolica, cabang dari a. mesenterica superior.
2. Fisiologi
Fungsi appendiks pada manusia belum diketahui secara pasti. Diduga berhubungan dengan
sistem kekebalan tubuh. Lapisan dalam appendiks menghasilkan lendir. Lendir ini secara
normal dialirkan ke appendiks dan secum. Hambatan aliran lendir di muara appendiks
berperan pada patogenesis appendicitis. Dinding appendiks terdiri dari jaringan lymphe
yang merupakan bagian dari sistem imun dalam pembuatan antibodi. Immunoglobulin
sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue) yaitu IgA.
Immunoglobulin ini sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi
(http://medlinux.blogspot.com )
4. Patofisisologi
Appendicitis pada umumnya disebabkan oleh obstruksi dan infeksi pada appendiks.
Beberapa keadaan yang dapat berperan sebagai faktor pencetus antara lain sumbatan lumen
appendiks oleh mukus yang terbentuk terus menerus atau akibat feses yang masuk ke
appendiks yang berasal dari secum. Feses ini mengeras seperti batu dan disebut fecalith.
Adanya obstruksi berakibat mukus yang diproduksi tidak dapat keluar dan tertimbun di dalam
lumen appendiks. Obstruksi lumen appendiks disebabkan oleh penyempitan lumen akibat
hiperplasia jaringan limfoid submukosa. Proses selanjutnya invasi kuman ke dinding
appendiks sehingga terjadi proses infeksi. Tubuh melakukan perlawanan dengan
meningkatkan pertahanan tubuh terhadap kuman-kuman tersebut. Proses ini dinamakan
inflamasi. Jika proses infeksi dan inflamasi ini menyebar sampai dinding appendiks,
appendiks dapat ruptur. Dengan ruptur, infeksi kuman tersebut akan menyebar mengenai
abdomen, sehingga akan terjadi peritonitis. Pada wanita bila invasi kuman sampai ke organ
pelvis, maka tuba fallopi dan ovarium dapat ikut terinfeksi dan mengakibatkan obstruksi pada
salurannya sehingga dapat terjadi infertilitas. Bila terjadi invasi kuman, tubuh akan membatasi
proses tersebut dengan menutup appendiks dengan omentum, usus halus atau adnexsa,
sehingga terbentuk massa peri-appendicular. Di dalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan
berupa abses yang dapat mengalami perforasi. Appendiks yang ruptur juga dapat
menyebabkan bakteri masuk ke aliran darah sehingga terjadi septicemia.
Appendix yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna tetapi akan membentuk
jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitarnya. Perlengketan ini
menimbulkan keluhan berulang di perut kanan bawah. Pada suatu ketika organ ini dapat
meradang lagi dan disebut mengalami eksaserbasi akut (Price, SA, Wilson,LM. 2005).
5. Pathway
6. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
•
Pemeriksaan darah : akan didapatkan leukositosis pada kebanyakan kasus appendisitis akut
terutama pada kasus dengan komplikasi. Pada appendicular infiltrat, LED akan meningkat.
•
Pemeriksaan urin : untuk melihat adanya eritrosit, leukosit dan bakteri di dalam urin.
Pemeriksaan ini sangat membantu dalam menyingkirkan diagnosis banding seperti infeksi
saluran kemih atau batu ginjal yang mempunyai gejala klinis yang hampir sama dengan
appendicitis.
2. Abdominal X-Ray
Digunakan untuk melihat adanya fecalith sebagai penyebab appendicitis. Pemeriksaan ini
dilakukan terutama pada anak-anak.
3. USG
Bila hasil pemeriksaan fisik meragukan, dapat dilakukan pemeriksaan USG, terutama pada
wanita, juga bila dicurigai adanya abses. Dengan USG dapat dipakai untuk menyingkirkan
diagnosis banding seperti kehamilan ektopik, adnecitis dan sebagainya.
4. Barium Enema
Yaitu suatu pemeriksaan X-Ray dengan memasukkan barium ke colon melalui anus.
Pemeriksaan ini dapat menunjukkan komplikasi-komplikasi dari appendicitis pada
jaringan sekitarnya dan juga untuk menyingkirkan diagnosis banding.
5. Laporoscopi
Yaitu suatu tindakan dengan menggunakan kamera fiberoptic yang dimasukkan dalam
abdomen, appendix dapat divisualisasikan secara langsung.Tehnik ini dilakukan di bawah
pengaruh anestesi umum. Bila pada saat melakukan tindakan ini didapatkan peradangan
pada appendix maka pada saat itu juga dapat langsung dilakukan pengangkatan appendiks.
6. CT-Scan
Dapat menunjukkan tanda-tanda dari appendicitis. Selain itu juga dapat menunjukkan
komplikasi dari appendicitis seperti bila terjadi abses.
(Mansjoer Arif et all, 2000)
7. Diagnosa Banding
1. Gastroenteritis
Pada gastroenteritis, mual-muntah dan diare mendahului rasa sakit. Sakit perut lebih ringan
dan tidak berbatas tegas. Hiperperistaltik sering ditemukan. Panas dan leukositosis kurang
menonjol dibandingkan dengan appendicitis.
2. Limfadenitis mesenterica
Biasanya didahului oleh enteritis atau gastroenteritis. Ditandai dengan nyeri perut yang
samar-samar terutama disebelah kanan, dan disertai dengan perasaan mual dan muntah.
3. Peradangan pelvis
Tuba Fallopi kanan dan ovarium terletak dekat appendiks. Radang kedua oergan ini sering
bersamaan sehingga disebut salpingo-ooforitis atau adnecitis.Untuk menegakkan diagnosis
penyakit ini didapatkan riwayat kontak sexsual. Suhu biasanya lebih tinggi daripada
appendicitis dan nyeri perut bagian bawah lebih difus. Biasanya disertai dengan keputihan.
Pada colok vaginal jika uterus diayunkan maka akan terasa nyeri.
4. Kehamilan Ektopik
Ada riwayat terhambat menstruasi dengan keluhan yang tidak menentu. Jika terjadi ruptur
tuba atau abortus diluar rahim dengan perdarahan akan timbul nyeri yang mendadak difus di
daerah pelvis dan mungkin akan terjadi syok hipovolemik. Pada pemeriksaan colok vaginal
didapatkan nyeri dan penonjolan kavum Douglas, dan pada kuldosentesis akan didapatkan
darah.
5. Diverticulitis
Meskipun diverticulitis biasanya terletak di perut bagian kiri, tetapi kadang-kadang dapat
juga terjadi disebelah kanan. Jika terjadi peradangan dan ruptur pada diverticulum gejala
klinis akan sukar dibedakan dengan gejala-gejala appendicitis.
6. Batu Ureter atau Batu Ginjal
Adanya riwayat kolik dari pinggang ke perut menjalar ke inguinal kanan merupakan
gambaran yang khas. Hematuria sering ditemukan. Foto polos abdomen atau urografi
intravena dapat memastikan penyakit tersebut.
(Price, SA, Wilson,LM. 2005)
9. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Medis
•
Appendektomi dilakukan jika diagnose appendicitis sudah ditegakkan.
•
Laparatomi yaitu dengan melakukan insisi di abdomen dan mencari appediks yang
meradang, dan dilalukan pengangkatan appendiks kemudian abdomen ditutup kembali.
Laparatomi dilakukan dengan menggunakan alat lapariscop.
2. Penatalaksanaan farmakologi
•
Antibiotic
1. Sefalosporin generasi III: sefotaksim dan sefriakson
2. Sefalosporin generasi IV: sefpirom
3. Metronidazol
4. Aminoglikosida (gentamisin)
5. Penisilin (ampisilin)
6. Karbapenem (meropenem)
•
Analgetik (ketorolak trometamin, metamizol Na, dan tramadol HCl)
•
Terapi cairan infuse sesuai advis dokter
•
Antiulser
•
antiemetika
(Price, SA, Wilson,LM. 2005)
10. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
•
Identitas klien (Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/bangsa,
pendidikan, pekerjaan, pendapatan, alamat, dan nomor register).
•
Identitas penanggung
•
Riwayat kesehatan sekarang.
•
Keluhan utama: Klien mengatakan nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke perut kanan
bawah. Timbul keluhan Nyeri perut kanan bawah mungkin beberapa jam kemudian setelah
nyeri di pusat atau di epigastrium.
•
Sifat keluhan Nyeri dirasakan terus-menerus, dapat hilang atau timbul nyeri dalam waktu
yang lama. Keluhan yang menyertai Biasanya klien mengeluh rasa mual dan muntah,
panas.
•
Riwayat kesehatan masa lalu Biasanya berhubungan dengan masalah kesehatan klien
sekarang.
•
Pemeriksaan fisik Keadaan umum Klien tampak sakit ringan/sedang/berat. Berat badan
Sebagai indicator untuk menentukan pemberian obat.
•
Sirkulasi : Klien mungkin takikardia
•
Respirasi : Takipnoe, pernapasan dangkal
•
Aktivitas/istirahat : Malaise
•
Eliminasi: konstipasi pada awitan awal, diare kadang-kadang. Distensi abdomen, nyeri
tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada bising usus.
•
Nyeri/kenyamanan: nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus, yang meningkat
berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burney, meningkat karena berjalan, bersin, batuk,
atau napas dalam. Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki
kanan/posisi duduk tegak.
•
Keamanan: Demam, biasanya rendah
•
Data psikologis: Klien nampak gelisah. Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan. Ada
perasaan takut. Penampilan yang tidak tenang.
2. Diagnosa Keperawatan
•
Infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh, perforasi,peritonitis
sekunder terhadap proses inflamasi.
•
Nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal.
•
Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi
•
Konstipasi berhubungan dengan peningkatan flora usus
3. Intervensi Keperawatan
•
Diagnosa keperawatan: Infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh,
perforasi,peritonitis sekunder terhadap proses inflamasi.
Tujuan: tidak terjadi infeksi
Kriteria Hasil:
1. Penyembuhan luka berjalan baik
2. Tidak ada tanda infeksi seperti eritema, demam, drainase purulen
3. Tekanan darah >90/60 mmHg
4. Nadi lebih 100x/menit dengan pola dan kedalaman normal
5. Abdomen lunak, tidak ada distensi
6. Bising usus 5-34 x/menit
Intervensi
Intervensi
Rasional
•
Kaji dan catat kualitas, lokasi dan
durasi nyeri. Waspadai nyeri
yang menjadi hebat.
•
Awasi dan catat tanda vital
terhadap peningkatan suhu, nadi,
adanya pernapasan cepat dan
dangkal.
Lakukan perawatan luka dengan
tehnik aseptic.
Lihat insisi dan balutan. Catat
karakteristik drainase luka/drain,
eriitema.
•
•
•
•
•
•
Kolaborasi: antibiotic
•
•
Untuk mengetahui sejauh mana
tingkat nyeri dan merupakan
indiaktor secara dini untuk
dapat memberikan tindakan
selanjutnya.
Dugaan adanya
infeksi/terjadinya sepsis, abses,
peritonitis.
Menurunkan resiko penyebaran
bakteri.
Memberikan deteksi dini
terjadinya proses infeksi
dan/atau pengawasan
penyembuhan peritonitis yang
telah ada sebelumnya.
Untuk menurunkan jumlah
mikroorganisme penyebab
infeksi.
Diagnosa keperawatan: Nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal
Tujuan: nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x24 jam.
Kriteria hasil:
1. Persepsi subyektif tentang nyeri menurun
2. Tampak rileks
3. Pasien dapat istirahat dengan cukup
Intervensi:
Intervensi
•
Beri penjelasan pada klien tentang
sebab dan akibat nyeri.
Rasional
•
Penjelasan yang benar
membuat klien mengerti
•
•
Ajarkan teknik relaksasi dan
destraksi.
•
•
Bantu klien menentukan posisi yang
nyaman bagi klien.
•
•
•
•
Rawat luka secara teratur daan
aseptic.
sehingga dapat diajak bekerja
sama.
Dapat mengurangi ketegangan
atau mengalihkan perhatian
klien agar dapat mengurangi
rasa nyeri.
Penderita sendiri yamg
merasakan posisi yang lebih
menyenangkan untuk
mengurangi rasa nyeri.
Perawatan luka yang teratur
dan aseptik dapat menghindari
sekecil mungkin invasi kuman
pada luka operasi.
Analgesik dapat mengurangi
rasa nyeri
Kolaborasi dengan dokter utuk
pemberian obat analgesic
Diagnosa keperawatan: Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi
Tujuan: tidak terjadi infeksi dan hipertermia
Kriteria hasil:
1. Suhu kembali normal 35.5-37,5oC
2. Mengidentifiksi faktor-faktor resiko hipertermia
3. Menurunkan faktor-faktor risiko hipertermia
Intervensi
Intervensi
•
Pantau masukan dan haluaran dan
berikan minuman kesukaan untuk
Rasional
•
Mencegah terjadinya dehidrasi
•
•
•
mempertahankan keseimbangan
masukan dan haluaran
Pantau tanda-tanda terjadinya
infeksi
Monitor TTV
Kolaborasi dengan dokter dalam
pemberian obat anti panas
•
•
Panas/ kolor merupakan salah
satu tanda dari infeksi
Dugaan adanya
infeksi/terjadinya sepsis, abses,
peritonitis
Menurunkan panas yang di
derita oleh klien.
•
Diagnosa keperawatan: Konstipasi berhubungan dengan peningkatan flora usus
Tujuan: BAB lancar dan tidak terjadi konstipasi
Kriteria hasil: mendapatkan kembali pola fungsi usus yang normal.
Intervensi:
Intervensi
•
Auskultasi bising usus
Rasional
•
Kembalinya fungsi GI mungkin
terlambat oleh efek inflamasi
•
•
•
Selidiki keluhan nyeri abdomen
•
•
Observasi gerakan usus,
perhatikan warna, konsistensi
dan jumlah.
•
Anjurkan makanan/cairan yang
tidak mengiritasi bila masukan
oral
•
Kolaborasi dengan dokter untuk
pemberian pelunak feses,
supositorial gliserin sesuai
indikasi
•
intraperitoneal
Mungkin berhubungan dengan
distensi abdomen atau
terjadinya komplikasi.
Indikator kembalinya fungsi
GI, mengidentifikasi ketepatan
intervensi
Menurunkan resiko iritasi
mukosa
Mungkin perlu untuk
merangsang peristaltik dengan
perlahan/ evakuasi feses.
REFERENSI
Apendiksiti. 2008. In:
http://medlinux.blogspot.com/2008/12/apendisitis.html
Doenges, Marylinn E. 1997. Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran, EGC.
Mansjoer Arif et all, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Media
Aesculapius.
Price, SA, Wilson,LM. 2005. Patofisiologi Proses-Proses Penyakit. Edisi 4. Vol 1. Jakarta. EGC
Sari Wirya Netty. 2009. Appendiksitis. In:
http://sariwiryanetty.blogspot.com/2009/10/appendik.html
Smeltzer, Bare (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Volume 2. Jakarta, EGC.
http://id.netlog.com/genk_easther/blog/blogid=53018#blog
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Appendisitis (radang usus buntu) merupakan penyakit yang sering dijumpai sehingga harus
dicurigai sebagai keadaan yang paling mungkin menjadi penyebab nyeri akut abdomen. Penyakit
ini sering ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda. Insidensi pada laki-laki lebih banyak
daripada perempuan. Insidensi tertinggi pada laki-laki pada usia 10-14 tahun, sedangkan pada
perempuan pada usia 15-19 tahun. Penyakit ini jarang ditemukan pada anak-anak usia di bawah 2
tahun (Helwick,1997).
Radang usus buntu (appendisitas) diawali dengan adanya obstruksi pada bagian mukosa dan
kemudian melibatkan seluruh lapisan dinding appendiks mulai dari submukosa, lamina muskularis
dan lamina serosa. Obstruksi pada bagian yang lebih proksimal dari lumen akan menyebabkan
stasis bagian distal appendiks, sehingga mucus yang terbentuk secara terus-menerus akan
terakumulasi dan selanjutnya akan menyebabkan tekanan intraluminer meningkat. Kondisi ini akan
menyebabkan adanya invasi flora normal usus seperti Bacteriodes Fragilis dan E.coli dan
menyebabkan infeksi. Adanya infeksi akan membut tubuh melakukan perlawanan dengan
meningkatkan pertahanan tubuh dan menyebabkan radang (Sjamsuhidajat R, de Jong W, 2005).
Penatalaksanaan appendisitis dilakukan dengan appendiktomi, yaitu suatu tindakan bedah dengan
mengangkat appendiks. Hal ini harus segera dilakukan tindakan bedah karena setiap keterlambatan
akan berakibat meningkatkan morbiditas dan mortalitas, yaitu dapat menyebabkan terjadinya
perforasi atau ruptur pada appendiks. Bedah appendik juga memiliki dampak yang dapat
membahayakan bagi pasien pasca operasi khususnya pada luka sayatan. Namun demikian, bahaya
tersebut dapat dicegah dengan menggunakan antibiotik profilaksis untuk penyembuhan luka
(Helwick,1997).
Dalam penggunaan antibiotik indikasinya harus tepat pada pasien, untuk itu kerasionalan obat
perlu diperhatikan. Hal tersebut ditujukan untuk mencegah timbulnya resistensi agen infeksi
terhadap antibiotik. Kerasionalan obat adalah penggunaan obat yang tepat indikasi, tepat penderita,
tepat obat, tepat dosis, waspada efek samping serta kontraindikasi. Ketidakrasionalan penggunaan
obat dapat memberikan dampak pada mutu pelayanan kesehatan (pengobatan) dan terhadap
pemakaian sumber data kesehatan. Bentuk ketidakrasionalan pemakaian obat antara lain peresepan
kurang (under prescribing), peresepan boros (extravagant), peresepan berlebih (overprescribing),
peresepan yang salah (incorrect prescribing), peresepan majemuk (multiple prescribing) (Santoso
dkk, 2003).
Sekarang ini, kerasionalan penggunaan obat di Indonesia masih sangat rendah. Hal ini disebabkan
karena kurangnya informasi para praktisi medis terhadap pemilihan obat. Obat yang diresepkan
harus aman dan efikasinya tepat bagi pasien. Akan tetapi, proses pengambilan keputusan dalam
pemilihan obat saat ini sering tidak didasarkan pada bukti-bukti ilmiah yang terkini dan valid.
Perlu adanya pedoman penggunaan obat di setiap rumah sakit untuk meningkatkan kerasionalan
oabt dan keberhasilan terapi. Penggunaan obat di rumah sakit diatur dalam Standar Pelayanan
Medis (SPM) dan Formularium Rumah Sakit (FRS). Standar pelayanan medis adalah dokumen
sistematis untuk membantu praktisi kesehatan dalam membuat keputusan guna pemberian
pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kondisi medis tertentu suatu pasien. Standar pelayanan
medis ini digunakan oleh praktisi medis di rumah sakit sebagai standar tearp terhadap pasien.
Sedangkan formularium rumah sakit merupakan daftar produk obat yang telah disepakati untuk
digunakan di rumah sakit yang bersangkutan, beserta informasi yang relevan mengenai indikasi,
cara penggunaan, dan informasi lin mengenai tiap produk (Depkes RI,2000).
Namun, kadang terjadi peresepan obat untuk penyakit tertentu yang tidak sesuai dengan standar
pelayanan medis dan formularium rumah sakit, padahal tujuan pengembangan dan penerapan
formularium rumah sakit sebenarnya adalah untuk meningkatkan mutu pelayanan melalui
penggunaan obat yang aman, efektif, rasional dan juga dalam rangka efisiensi biaya pengobatan.
Oleh karena itu, penulis ingin mengetahui kesesuaian peresepan antibiotik profilaksis pada pasien
bedah Appendik terhadap standar pelayanan medis dan formularium Rumah Sakit Umum Daerah
(RSUD) Kota Sleman.
RSUD Kota Sleman merupakan rumah sakit umum kelas C, menjadi salah satu tempat pelayanan
kesehatan masyarakat kota Sleman. Melihat banyaknya kasus pembedahan pada poli bedah, yaitu
bedah appendik dan mengingat semakin meningkatnya jumlah pasien serta pentingnya
kerasionalan penggunaan obat khususnya antibiotik profilaksis dalam rangka menurunkan risiko
infeksi pasca operasi appendik, maka perlu dilakukan analisis kesesuaian penggunaan antibiotik
profilaksis pada pasien bedah appendik terhadap standar pelayanan medis dan formularium rumah
sakit di instalasi rawat inap RSUD Kota Sleman.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Seperti apa pola penggunaan antibiotik sebagai profilaksis pada pasien bedah appendik di RSUD
Kota Sleman periode 2009?
b. Bagaimana kesesuaian peresepan antibiotik sebagai profilaksis pada pasien bedah appendik
dengan pedoman pengobatan di RSUD Kota Sleman?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
a. Mengetahui pola penggunaan antibiotik sebagai terapi profilaksis pada pasien bedah appendik di
RSUD Kota Sleman Periode 2009.
b. Mengetahui kesesuaian peresepan obat antibiotik dengan pedoman pengobatan Standar
Pelayanan Medis (SPM) dan standar terapi lain untuk terapi profilaksis pada pasien bedah
appendik di RSUD Kota Sleman selama periode 2009.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini ditujukan agar dapat menjadi salah satu sumber informasi tentang kesesuaian
peresepan antibiotik pada pasien bedah Appendik di RSUD Sleman terhadap Standar Pelayanan
Medis dan Formularium Rumah Sakit, sehingga informasi ini dapat digunakan untuk melakukan
evaluasi (menambah wawasan) pada terapi profilaksis pasien bedah Appendik yang telah
dilakukan sebelumnya dan sebagai bahan pertimbangan untuk terapi berikutnya.
E. Tinjauan Pustaka
1. Peresepan Obat
Pengertian obat Menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No 193/Kab/B.VII/71 adalah
suatu bahan atau paduan bahan-bahan yang dimaksudkan untuk digunakan dalam menetapkan
diagnosis, mencegah, mengurangkan, menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala
penyakit. Obat berperan penting dalam pelayanan serta peningkatan kesehatan. Obat akan
diresepkan oleh dokter sesuai dengan diagnosis pada pasien (Joenoes,1990).
Resep merupakan dokumen legal, sebagai sarana komunikasi professional dari dokter dokter,
dokter gigi, atau dokter hewan kepada apoteker untuk membuatkan obat dalam bentuk sediaan
tertentu dan menyerahkan kepada pasien sesuai dengan kebutuhan medis yang telah ditentukan.
Peresepan obat adalah tindakan terakhir dari dokter untuk pasiennya, yaitu setelah menentukan
anamnesis, diagnosis dan prognosis serta terapi yang akan diberikan. Terapi tersebut dapat
merupakan terapi profilaksis, terapi kausal atau simtomatik (Joenoes,1990).
2. Penggunaan Obat Rasional
Penggunaan obat rasional adalah pola pemberian obat yang tepat yaitu pemilihan obat sesuai
dengan diagnosis penyakitnya, tepat konsumsinya, tepat dosisnya, tepat jangka waktu
pemberiannya, dan aman, dengan harga semurah mungkin serta dengan pemberian informasi yang
obyektif. Penggunaan obat rasional merupakan pola pemakaian obat yang aman dan efektif (costeffective), efisien dengan hasil yang baik. Penggunaan obat rasional akan meminimalkan medikal
error serta efek samping suatu obat (Depkes RI,2000).
Penggunaan obat yang tidak rasional seperti definisi diatas kan menyebabkan beberapa dampak
yang merugikan, terutama pada pasien. Dampak merugikan dari penggunaan obat yang tidak
rasional adalah :
1. Dampak pada mutu terapi obat dan perawatan medik
Praktik penulisan obat yang tidak tepat baik secara langsung maupun tidak langsung dapat
membahayakan mutu perawatan pasien dan secara negative mempengaruhi hasil pengobatan
(Siregar, 2004).
2. Dampak pada biaya
Penggunaan obat yang berlebihan bahkan obat yang tidak diperlukan, menyebabkan pembelanjaan
sediaan obat yang berlebihan dan penghamburan biaya, baik oleh pasien maupun system pelayanan
kesehatan (Siregar, 2004).
3. Dampak psikologis
Penulisan obat yang berlebihan mengkomunikasikan pada pasien bahwa mereka membutuhkan
obat untuk setiap dan semua kondisi, bahkan untuk kondisi yang ringan. Konsep bahwa ada obat
untuk setiap rasa sakit adalah berbahaya (Siregar, 2004).
3. Standar Pelayanan Medis
Standar Pelayanan Medis adalah dokumen sistematis untuk membantu praktisi kesehatan dalam
membuat keputusan guna pemberian pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kondisi medis
tertentu suatu pasien. Standar pelayanan medis digunakan sebagai pedoman pengobatan bagi para
praktisi medis dalam memberikan layanan medis kepada pasien. Standar pelayanan medis dibuat
dengan tujuan untuk meminimalkan terjadinya kasus-kasus malpraktek (Depkes RI,2000).
Undang Undang No. 29 tahun 2004 pasal 44 menyebutkan bahwa dokter atau dokter gigi dalam
menyelenggarakan praktek kedokteran wajib mengikuti standar pelayanan kedokteran atau
kedokteran gigi. Dokter dalam melaksanakan praktek kedokteran mempunyai kewajiban untuk
memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta
kebutuhan medis pasien. Dengan adanya peraturan tersebut diharapkan pasien akan terhindar dari
kesalahan pelayanan medis. Rumah sakit harus memiliki standar pelayanan medis yang menjadi
acuan dalam memberikan layanan medis kepada pasien. Dengan demikian, kebutuhan dasar
masyarakat akan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan patient safety dapat terpenuhi. Selain
itu, standar pelayanan medis akan menjadi tolak ukur mutu pelayanan medis suatu rumah sakit dan
menghindarkan rumah sakit dari kemungkinan tuntutan hukum jika terjadi medikal error.
4. Formularium Rumah Sakit
Formularium adalah daftar obat baku yang dipakai oleh Rumah Sakit yang dipilih secara rasional
dan dilenkapi dengan penjelasan sehingga merupakan informasi obat yang lengkap untuk
pelayanan medik Rumah Sakit, yang terdiri dari obat-obatan yang tercantum dalam Daftar Obat
Essensial Nasional (DOEN) dan beberapa jenis obat yang sangat diperlukan oleh Rumah Sakit
(Daftar obat supplement/tambahan) yang dapat ditinjau kembali sesuai dengan perkembangan
bidang kefarmasian dan terapi serta keperluan Rumah Sakit yang bersangkutan (Anonim, 2009a).
Formularium Rumah Sakit adalah daftar obat yang terseleksi yang digunakan sebagai pedoman
pemilihan obat dalam peresepan dokter di rumah sakit beserta informasi yang relevan mengenai
indikasi, cara penggunaan, dan informasi lain mengenai tiap produk. Formularium memberikan
alternatif pilihan obat untuk terapi suatu penyakit pada pasien. Sistem formularium menetapkan
pengadaan, penulisan, dispensing, dan pemberian suatu obat dengan nama dagang atau obat
dengan nama generik apabila obat itu tersedia dalam dua nama (Depkes RI,2000).
Formularium berisi pilihan obat yang tepat pada kasus-kasus penyakit. Seorang praktisi medis
harus menjalankan formularium dalam pelayanan bagi pasien. Hal tersebut bertujuan untuk
meminimalkan ketidakrasionalan penggunaan obat. Agar dokter dapat tetap konsisten
memanfaatkan formularium dalam penulisan resep, maka sistem formularium harus dikelola
dengan optimal dan terus-menerus direvisi serta memuat tambahan penting lainnya yang
merefleksikan pertimbangan klinik terbaru. Dalam formularium rumah sakit yang ada, biasanya
tidak dimanfaatkan secara optimal dalam peresepan dokter dan pemanfaatan formularium
cenderung tidak konsisten. Pemanfaatan formularium yang tidak optimal dalam peresepan dokter,
berdampak menurunkan mutu dan kualitas pelayanan kesehatan (Depkes RI,2000).
Formularium disusun dengan alasan untuk penyempurnaan pengobatan, penurunan risiko,
penurunan biaya, serta sebagai penyempurnaan suplai (Aslam dkk., 2003).
5. Rumah Sakit
Rumah sakit adalah suatu organisasi yang kompleks, menggunakan gabungan alat ilmiah khusus
dan rumit, dan difungsikan oleh berbagai kesatuan personil terlatih dan terdidik dalam menghadapi
dan menangani masalah medik modern, yang semuanya terikat bersama-sama dalam maksud yang
sama, untuk pemulihan dan pemeliharaan kesehatan yang baik. Rumah sakit sebagai suatu fungsi
organisasi akan selalu mengalami perkembangan. Sesuai perkembangan yang dialaminya, rumah
sakit dibedakan menjadi rumah sakit umum dan rumah sakit umum (Azwar, 1996).
Pengertian rumah sakit umum menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
983/Menkes/SK/XI/1992 tentang pedoman organisasi rumah sakit umum adalah rumah sakit yang
memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar, spesialis, dan subspesialis yang mempunyai
tugas melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan
mengutamakan upaya penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara terpadu dan serasi
dengan peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan (Anonim, 1992 .
Rumah sakit umum biasanya merupakan fasilitas yang mudah ditemui di suatu negara, dengan
kapasitas rawat inap sangat besar untuk perawatan intensif ataupun jangka panjang. Rumah sakit
jenis ini juga dilengkapi dengan fasilitas bedah, bedah plastik, ruang bersalin, laboratorium, dan
sebagainya.
Rumah sakit khusus adalah rumah sakit yang hanya melayani satu bentuk pelayanan kesehatan
saja. Rumah sakit jenis ini mencakup trauma center, rumah sakit anak, rumah sakit manula, atau
rumah sakit yang melayani kepentingan khusus seperti psychiatric (psychiatric hospital), penyakit
pernapasan, dan lain-lain. Klasifikasi rumah sakit berdasarkan kemampuan yang dimiliki terkait
sarana dan prasarana antara lain Rumah Sakit tipe A, Rumah Sakit tipe B, Rumah Sakit tipe C,
Rumah Sakit tipe D, dan Rumah Sakit tipe E.Contohnya RSUD Sleman yang termasuk ke dalam
tipe C. Rumah sakit umum ini hanya memiliki pelayanan medis spesialistik dasar, dan kapasitas
tempat tidur 250-500 buah. Rumah sakit tipe ini minimal harus mempunyai pelayanan spesialis
terbatas, yaitu spesialis penyakit dalam, bedah, pelayanan kesehatan anak, dan spesialis kebidanan
dan kandungan.
6. Antibiotik Profilaksis
Antibiotik adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan/atau bakteri, yang memiliki khasiat
mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman, sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif
kecil (Tan dan Rahardja, 2007). Sedangkan antibiotik profilaksis bedah merupakan antibiotik yang
diberikan sebelum adanya kontaminasi pada jaringan atau tubuh. Tujuan dari pemberian antibitik
profilaksis adalah untuk mencegah terkenanya infeksi pada daerah yang dibedah (Dipiro dkk.,
2005). Berdasarkan mekanisme kerjanya, antibiotik digolongkan menjadi lima kelompok:
1. antibiotik yang mengganggu metabolisme sel mikroba,
2. antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel,
3. antibiotik yang mengganggu permeabilitas membran sel,
4. antibiotik yang menghambat sintesis protein, dan
5. antibiotik yang menghambat sintesis atau merusak asam nukleat
Penggunaan antibiotik harus sesuai dengan indikasi yang tepat pada pasien. Hal tersebut bertujuan
untuk mencegah terjadinya resistensi mikroba oleh pemberian antibiotik. Faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya resistensi adalah penggunaan antibiotik yang terlalu sering, irasional,
berlebih, serta penggunaan jangka waktu yang lama (Anonim,1998).
Secara umum dapat dikatakan bahwa bila suatu antibiotik digunakan untuk mencegah infeksi
kuman tertentu (yang peka terhadap antibiotik tersebut) sebelum terjadinya kolonisasi dan
multiplikasi, maka profilaksis ini seringkali berhasil. Tetapi bila profilaksis dimaksudkan untuk
mencegah kemungkinan infeksi oleh segala macam mikroba yang ada disekitar pasien, maka
profilaksis ini biasanya gagal (Sulistia dkk., 2007).
Untuk profilaksis kasus bedah berlaku prinsip sebagai berikut :
1. Penggunaan antibiotik untuk profilaksis selalu harus dibedakan dari penggunaan untuk terapi.
2. Pemberian profilaksis antibiotik hanya diindikasikan untuk tindakan bedah tertentu yang disertai
infeksi pascabedah, atau yang membawa akibat berat bila terjadi infeksi pascabedah.
3. Antibiotik yang dipakai harus sesuai dengan jenis kuman/bakteri yang potensial menimbulkan
infeksi pascabedah.
4. Cara pemberian biasanya intravena atau intramuskular
5. Pemberian dilakukan pada saat induksi anestesi, tidak dibenarkan pemberian yang lebih dini dan
biasanya hanya diberikan 1-2 dosis. Pemberian profilaksis lebih dari 24 jam tidak dibenarkan
(Sulistia dkk., 2007).
Profilaksis untuk bedah hanya dibenarkan untuk kasus dengan risiko infeksi pascabedah yang
tinggi yaitu yang tergolong clean-contaminated dan contaminated. Tindakan-tindakan bedah yang
bersih (clean) tidak memerlukan profilaksis antibiotik, kecuali bila dikhawatirkan akan terjadi
infeksi pascabedah yang berat sekali (Sulistia dkk., 2007).
Kejadian infeksi pada apendiktomi adalah 5-15%. Dalam kaitannya dengan profilaksis, jenis
operasi digolongkan ke dalam 4 kategori, yaitu :
a. Operasi bersih
Operasi bersih adalah operasi yang dilakukan pada daerah kulit pada kondisi prabedah tanpa
peradangan dan tidak membuka traktus respiratorius, traktus gastrointestinal, orofaring, traktus
urinarius, atau traktus bilier ataupun operasi yang berencana dengan penutupan kulit primer dengan
atau tanpa pemakaian drain tertutup.
b. Operasi bersih terkontaminasi
Operasi bersih terkontaminasi adalah operasi yang membuka traktus digestivus, traktus bilier,
traktus urinarius, traktus respiratorius sampai orofaring, tarktus reproduksi kecuali ovarium
ataupun operasi tanpa pencemaran nyata (Gross Spilage).
Antibiotik profilaksis disii dianjurkan seperti pada diseksi leher dan masuk orofaring; diseksi
lambung, membuka kolon, ileum bagian distal; operasi kolon atau usus kecil dengan gangguan
vaskularisasi dari usus; operasi yang menembus saluran empedu (ekstra hepatal); operasi saluran
kemih dan operasi yang melalui vagina. Sehingga, untuk apendiktomi digolongkan sebagai operasi
bersih terkontaminasi.
c. Operasi terkontaminasi
Operasi terkontaminasi adalah operasi yang membuka traktus digestivus, traktus bilier, traktus
urinarius, traktus respiratorius sampai dengan orofaring atau traktus reproduksi kecuali ovarium
dengan pencemaran yang nyata ataupun operasi pada luka karena kecelakaan dalam waktu kurang
dari 6 jam (Golden period).
Antibiotik profilaksis disini dianjurkan seperti pada operasi yang menembus saluran empedu yang
terinfeksi; operasi yang menembus saluran kemih yang terinfeksi; operasi radang akut tanpa
pembentukan nanah dan operasi pada fraktur (patah tulang) terbuka.
d. Operasi kotor dengan infeksi
Operasi kotor dengan infeksi adalah operasi pada perforasi traktus digestivus, traktus urogenitalis
atau traktus respiratorius yang terinfeksi ataupun operasi yang melewati daerah purulen (inflamasi
bacterial). Dapat pula operasi pada luka lebih dari enam jam setelah kejadian atau terdapat jaringan
non vital yang luas atau nyata kotor.
Antibiotik disini dianjurkan seperti pada pemberian antibiotik terapetik dan bukan lagi profilaksis,
terutama bila operasi dilakukan pada jaringan sehat akan dilalui oleh nanah; pemberian antibiotik
profilaksis dengan tujuan mencegah penyebaran intrakaviter, penyebaran ke tempat yang jauh atau
ke jaringan yang sebelumnya tidak terkontaminasi.
(Anonim, 1992a)
Prinsip Penggunaan Antibiotik Profilaksis
1. Tepat Indikasi
Antibiotik profilaksis diberikan pada pembedahan dengan klasifkasi bersih kontaminasi (lihat tabel
1), yang mempunyai kemungkinan terjadi ILO sebesar 10,1% Dengan pemberian antibiotik
profilaksis maka angka kejadian ILO dapat diturunkan menjadi 1,3% .
Antibiotik profilaksis juga diberikan pada pembedahan kriteria bersih yang memasang bahan
prostesis. Juga diberikan pada operasi bersih yang jika sampai terjadi infeksi akan menimbulkan
dampak yang serius seperti operasi bedah syaraf, bedah jantung, dan mata.
Antibiotik profilaksis tidak tepat digunakan pada operasi kontaminasi atau kotor karena telah
terjadi kolonisasi kuman dalam jumlah besar atau sudah ada infeksi yang secara klinis belum
manifest.
2. Tepat Obat
Antibiotik yang digunakan untuk untuk tujuan profilaksis berbeda dengan obat yang digunakan
untuk tujuan terapi. Pada umumnya dipilih antibiotik dengan spektrum sempit, generasi yang lebih
tua dibandingkan antibiotik untuk tujuan terapi.
Dengan memperhatikan spektrum, antibiotik ditujukan pada kuman yang potensial menimbulkan
ILO, dan antibiotik tersebut dapat melakukan penetrasi ke jaringan yang dilakukan pembedahan
dengan konsentrasi yang cukup. Walaupun disatu bidang pembedahan kadang didapatkan banyak
macam kuman normoflora, namun tidak semuanya potensial menimbulkan infeksi dan jumlah
koloninya tidak banyak.
Dalam pemilihan antibiotik harap diperhatikan faktor alergi, efektivitas, toksisitas, serta
kemudahan cara pemberiannya. Pada umumnya untuk berbagai macam pembedahan masih
digunakan sefalosporin generasi I yaitu sefazolin, sedangkan sefalosporin generasi III tidak
dianjurkan untuk antibiotik profilaksis.
3. Tepat dosis
Untuk tujuan profilaksis diperlukan antibiotika dosis tinggi, agar didalam sirkulasi dan didalam
jaringan tubuh dicapai kadar diatas MIC (minimal inhibitory concentration) antibiotik terhadap
kuman yang potensial menimbulkan infeksi. Untuk itu kadang diperlukan loading-dose yang
takarannya 2-4 kali dosis normal.
Dosis yang kurang adekwat, tidak hanya tidak mampu menghambat pertumbuhan kuman tetapi
justru merangsang terjadinya resistensi kuman.
4. Tepat rute
Agar antibiotik dapat segera didistribusikan ke jaringan maka pemberiannya dilakukan secara
intravena
5. Tepat waktu pemberian
Pemberian antibiotik profilaksis dilakukan pada 30 menit (intravena) atau 1 jam (intramuskular)
sebelum insisi dengan maksud agar pada saat insisi maka kadar antibiotik didalam jaringan sudah
mecapai puncaknya. Pemberian antibiotik profilaksis lebih baik dilakukan di dalam kamar operasi,
pada waktu anestesi melakukan induksi, untuk itu dapat minta tolong anaestesis untuk
memberikannya. Antibiotik tersebut harus mencapai kadar puncak didalam jaringan sebelum
terjadinya inokulasi kuman kedalam jaringan di lapangan operasi. Antibiotik tidak bermanfaat
untuk mencegah terjadinya ILO jika diberikan sebelum 2 jam atau sesudah 3 jam dilakukan insisi.
Pada operasi kolon, diberikan juga antibiotik peroral yaitu neomisin dan eritromisin masingmasing 1g pada jam 13.00, 14.00 dan 23.00. obat lain yang dapat diberikan juga ialah
metronidazole + kanamycin/ neomycin.
6. Tepat lama pemberian
Pada operasi yang lama > 3 jam atau perdarahan selama operasi > 1500 ml akan terjadi penurunan
dosis antibiotik didalam jaringan, oleh karena itu pada kondisi tersebut dapat diberikan dosis
tambahan. Jika operasi sangat memanjang maka pemberian dosis tambahan dapat diberikan setiap
2 jam untuk sefoksitin atau setiap 4 jam untuk sefazolin.
Pada beberapa operasi yang sederhana seperti apendiktomi atau herniotomi menggunakan mesh
maka antibiotik profilaksis cukup diberikan sekali preoperatif saja. Pada umumnya pemberian
antibiotik profilaksis tambahan sebanyak 1 dosis setiap 8 jam diberikan hanya selama 1 hari saja,
karena pemberian lebih dari 1 hari tidak memberikan manfaat lebih.
Macam Antibiotik untuk profilkasis
1. Penisilin
Cara kerja :
i. Menghambat pembelahan karena terjadi pertumbuhan dinding sel abnormal
ii. Menghambat fase 3 sintesis dinding sel
Resistensi :
i. Mempengaruhi pecillin-binding protein
ii. Tidak mampu menembus dinding sel
iii. Enzim hidrolisa molekul protein
Spektrum :
i. Cocci Gram-positif ( Streptococcus A dan
ii. Bacilli Gram-positif ( Corynebacterium diphtheria)
iii. Cocci Gram negatif (Neisseria meningitidis)
iv. Bacilli Gram-negatif (Streptobacillus moniliformis)
v. Anaerob(Clostridium,Fusobacterium,Peptostreptococc- us sp)
vi. Lain (Treponema pallidum, Leptospira, Enterobacter, Acinebacter sp.)
Efek samping :
i. Hipersensitivitas (1-5%) ( iritasi yang mengenai sistem syaraf perifer)
ii. nefropati (reaksi alergi berupa nefritis interstisial dan hipokalemia)
2. Sefalosporin
Cara kerja :
i. Menghambat fase 3 sintesis dinding sel
ii. Mengikat protein spesifik pada membran sel
iii. Mempengaruhi permeabilitas sel
iv. Melepaskan autolisin
Resistensi :
i. Menurunkan permeabilitas dinding sel
ii. Membentuk beta-laktamase
Spektrum :
i. Generasi I ( mis. Ancef, Keflin, Kefzol) organisme Gram positif (Staphylococcus, Stretococcus),
Gram negatif, Bacilli anaerob dan erob.
ii. Generasi II (mis. Ceclor, Zinacef, Mefoxin) Kurang efektif terhadap kuman Gram positif
Hemophilus influenzae, baksil Gram negatif, Proteus, Enterobacter sp.
iii. Generasi III (mis. Ceftazidime, Cefotaxim, Cefoperazone) Aerob Gram negatif, Pseudomonas
Efek samping :
i. Hipersensitivitas terutama bila alergi penisilin
ii. Hematologi (neutropenia, leukopenia, trombopenia)
iii. Traktus digestivus (mual, muntah, anoreksia, diare)
3. Eritromisin
Cara kerja :
i. Menghambat sintesa protein bakteri dengan binding pada 50s subunit ribosom
Resistensi :
i. Mempengaruhi komponen protein 50s subunit ribosom
ii. Melalui plasmid
Spektrum :
i. Sama dengan penisilin G
ii. Mycoplasma, Legionella, Actinomyces sp.
iii. Hemophilus influenzae
Efek samping :
i. Gangguan traktus digestivus
ii. Hipersensitivitas
iii. Cholestatic hepatitis
4. Clindamycin
Cara kerja :
i. Menghambat sintesa protein bakteri dengan binding pada 50s subunit ribosom
Resistensi :
i. Mempengaruhi komponen protein 50s subunit ribosom
ii. Melalui plasmid
Spektrum :
i. Aerob dan anaerob Gram positif
ii. Anaerob Gram negatif ( beberapa Staphylococcus resisten)
Efek samping :
i. Kolitis pseudomembran
ii. Nausea, diare
iii. Hipersensitivitas
iv. Leukopenia
v. Hepatotoksik transien (jarang)
5. Metronidazole
Cara kerja :
i. Menurunkan aktivitas metabolit intraseluler kuman
Efek samping :
i. Toksis pada SSP
ii. Gangguan traktus digestivus
iii. Neutropenia
iv. Drug fever
v. aPTT memenjang
vi. Efek sinergis dengan alkohol
Efek samping penggunaan antibiotik profilaksis
Penggunaan antibiotik profilaksis yang tidak tepat dapat memicu terjadinya resistensi kuman. Hal
ini karena pemilihan penderita yang tidak tepat, pemberiannya terlalu lama, atau digunakannya
obat generasi terbaru.
Komplikasi yang jarang tetapi serius ialah terjadinya enterokolitis pseudomembran akibat
pemberian klindamisin, sefalosporin, dan ampisilin. Diare dan panas badan dapat terjadi setelah
pemberian satu dosis antibiotik profilaksis
Rute pemberian antibiotik profilaksis biasanya melalui parenteral, baik intravena maupun
intramuskular, tetapi dapat juga melalui rektal atau per oral (Anonim, 1996). Pemberian antibiotik
secara intravena pada waktu induksi anestesi, intramuskular pada waktu premedikasi, suppositoria
pada 2-4 jam sebelum pembedahan, dan per oral pada 6-12 jam sebelum pembedahan. Pemberian
larutan antibiotik intravena dalam volume yang lebih kecil untuk jangka waktu yang pendek (bolus
IV) akan menghasilkan kadar serum yang tinggi yang dicerminkan oleh lebih cepatnya masuk dan
lebih tingginya konsentrasi dini antibiotik ke dalam cairan luka (Sabiston, 1995).
Antibiotik yang sering digunakan sebagai antibiotik profilaksis adalah antibiotik golongan
Sefalosporin. Mekanisme kerja Sefalosporin adalah menghambat sintesis dinding sel mikroba.
Sefalosporin memiliki struktur, khasiat, dan sifat yang mirip dengan penicillin, tetapi dengan
keuntungan-keuntungan lain seperti spektrumantibakteri yang luas namun tidak mencakup
enterococcus dan kuman-kuman anaerob, dan resisten terhadap penisilinase. Spektrum kerjanya
luas dan meliputi banyak kuman Gram positif dan Gram negative, termasuk E.Coli, Klebsiella dan
Proteus (Tan dan Rahardja, 2007).
7. Bedah Appendik
Appendisitis adalah suatu peradangan pada appendiks. Peradangan ini pada umumnya disebabkan
oleh infeksi yang akan menyumbat appendiks. Appendiks adalah suatu pipa tertutup yang sempit
yang melekat pada secum (bagian awal dari colon). Bentuknya seperti cacing putih.Secara anatomi
appendiks sering disebut juga dengan appendiks vermiformis atau umbai cacing. Appendiks
terletak di bagian kanan bawah dari abdomen. Fungsi appendiks pada manusia belum diketahui
secara pasti. Diduga berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh. Lapisan dalam appendiks
menghasilkan lendir. Lendir ini secara normal dialirkan ke appendiks dan secum. Hambatan aliran
lendir di muara appendiks berperan pada patogenesis appendisitis (Helwick,1997).
Appendisitis pada umumnya disebabkan oleh obstruksi dan infeksi pada appendiks. Beberapa
keadaan yang dapat berperan sebagai faktor pencetus antara lain sumbatan lumen appendiks oleh
mukus yang terbentuk terus menerus atau akibat feses yang masuk ke appendiks yang berasal dari
secum. Feses ini mengeras seperti batu dan disebut fecalith. Adanya obstruksi berakibat mukus
yang diproduksi tidak dapat keluar dan tertimbun di dalam lumen appendiks. Obstruksi lumen
appendiks disebabkan oleh penyempitan lumen akibat hiperplasia jaringan limfoid submukosa.
Proses selanjutnya invasi kuman ke dinding appendiks sehingga terjadi proses infeksi. Tubuh
melakukan perlawanan dengan meningkatkan pertahanan tubuh terhadap kuman-kuman tersebut.
Proses ini dinamakan inflamasi. Jika proses infeksi dan inflamasi ini menyebar sampai dinding
appendiks, appendiks dapat ruptur. Dengan ruptur, infeksi kuman tersebut akan menyebar
mengenai abdomen, sehingga akan terjadi peritonitis. Pada wanita bila invasi kuman sampai ke
organ pelvis, maka tuba fallopi dan ovarium dapat ikut terinfeksi dan mengakibatkan obstruksi
pada salurannya sehingga dapat terjadi infertilitas. Bila terjadi invasi kuman, tubuh akan
membatasi proses tersebut dengan menutup appendiks dengan omentum, usus halus atau adnexsa,
sehingga terbentuk massa peri-appendicular. Di dalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa
abses yang dapat mengalami perforasi. Appendiks yang ruptur juga dapat menyebabkan bakteri
masuk ke aliran darah sehingga terjadi septicemia. Appendiks yang pernah meradang tidak akan
sembuh sempurna tetapi akan membentuk jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan
jaringan sekitarnya. Perlengketan ini menimbulkan keluhan berulang di perut kanan bawah. Pada
suatu ketika organ ini dapat meradang lagi dan disebut mengalami eksaserbasi akut /appendisitis
akut telah ditegakkan, maka harus segera dilakukan appendektomi. Hal ini disebabkan perforasi
dapat terjadi dalam waktu < 24 jam setelah onset appendisitis. Penundaan tindakan pembedahan ini
sambil diberikan antibiotik dapat mengakibatkan terjadinya abses atau perforasi (Hamami
dkk,1997).
Appendektomi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara terbuka dan laparoscopi.
Dengan cara terbuka dilakukan insisi di abdomen kanan bawah kemudian ahli bedah
mengeksplorasi dan mencari appendiks yang meradang. Setelah itu dilakukan pengangkatan
appendiks, dan abdomen ditutup kembali. Tindakan laparoscopi merupakan suatu tehnik baru
untuk mengangkat appendiks dengan menggunakan lapariscop.Tindakan ini dilakukan pada kasuskasus yang meragukan dalam menegakkan diagnosis appendisitis. Pada appendisitis tanpa
komplikasi biasanya tidak diperlukan pemberian antibiotik, kecuali pada appendicitis perforate
(Hamami dkk,1997).
F. Keterangan Empiris
Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai pola penggunaan antibiotik
sebagai profilaksis pada kasus bedah Apendiks, mengetahui kesuaian peresepan antibiotik dengan
pedoman pengobatan Standar Pelayanan Medis (SPM) dan pedoman terapi lain di RSUD Kota
Sleman selama periode 2009.
Download