BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pendahuluan Komunikasi visual merupakan sebuah rangkaian proses penyampaian kehendak atau maksud tertentu kepada pihak lain dengan penggunaan media penggambaran yang dapat terbaca oleh indera penglihatan. Komunikasi visual mengkombinasikan seni, lambang, tipografi, gambar, desain grafis, ilustrasi, dan warna dalam penyampaiannya. Di dalam era informasi saat ini kehadiran desain komunikasi visual sangatlah dibutuhkan. Sesuai dengan namanya, komunikasi visual mempunyai tujuan untuk mengkomunikasikan pesan yang dapat ditangkap oleh massa dengan benar. Komunikasi visual adalah bidang ilmu yang me mpelajari konsep komunikasi, khususnya komunikasi visual. Menurut Cenadi (1999:4) menjelaskan pengertian ruang lingkup komunikasi visual adalah desain yang mengkomunikasikan informasi dan pesan yang ditampilkan dengan menggunakan dan memadukan elemen rupa, huruf, dan citra sebagai bahasa untuk berkomunikasi secara visual dengan khalayak sasaran yang spesifik. Desain komunikasi visual merupakan lahan profesi bergengsi yang makin diminati kaum muda saat ini karena peluang untuk bekerja begitu besar dengan gaji dan fasilitas yang baik, kesempatan berwirausaha pun terbuka luas. Teknologi komputer yang makin bcanggih membuat dunia desain komunikasi visual kian marak. Ide-ide kreatif dapat dituangkan tanpa batas dalam merancang berbagai media komunikasi visual, seperti brosur, iklan, poster, website, kemasan, sign, film animasi, corporate identity, dan lain-lain. Fotografi sudah sejak lama berhubungan dengan Desain Komunikasi Visual, sejak awal Swiss International Style. Kedua bidang ini ( Komunikasi Visual dan Fotografi) telah bekerja sama sejak dulu 1 2 untuk menghasilkan sebuah karya yang dapat menyampaikan pesan dari sebuah visual secara menarik. Fotografi dapat menjawab keinginan Komunikasi Visual untuk mencapai konsep yang sebelumnya tidak dapat dicapai dengan illustrasi. Misalkan untuk membuat iklan makanan, dengan menggunakan fotografi pesan yang dimuat akan lebih tersampaikan dibandingkan dibuat dengan illustrasi. Saat ini dunia advertising pun banyak memakai fotografi sebagai elemen pembantu untuk mencapai konsep desain yang diingkan. Saat ini dengan kemajuan teknologi, semakin banyak studio foto yang menggunakan jasa Komunikasi Visual. Semakin banyaknya studio foto yang menggunakan jasa desain maka desain dalam studio fotografi sudah dijadikan bagian inti dari sebuah perusahaan studio foto. Begitu pula dengan studio foto Alesha Photography. Alesha Photography merupakan studio foto yang baru didirikan, sehingga belum dikenal oleh masyarakat di Semarang. Alesha Photography menawarkan jasa, diantaranya: foto prewedding, wedding, photoboth dll. Alesha Photography mempunyai kualitas hasil foto yang sangat baik dan permainan komposisi yang sesuai.Dengan desain kemasan yang menarik dan unik dapat memperindah hasil kemasan foto serta dapat melindungi hasil cetakan foto dari debu dan lembabnya udara yang dapat merusak hasil foto. Masyarakat kota Semarang masih banyak yang belum mengetahui tentang Alesha Photography, ini di karenakan Studio tersebut baru saja didirikan. Jadi hanya masyarakat disekitar lokasi saja yang mengetahui dan dari mulut ke mulut. Studio Alesha Photography memerlukan komunikasi visual untuk mempromosikan studio dan jasa yang tawarkan, agar masyarakat Semarang mengetahui adanya Alesha Photography tersebut. Berdasarkan masalah diatas, penulis mengambil judul “Perancangan Komunikasi Visual Alesha Photpgraphy Untuk Media Promosi Di Semarang”. 3 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan Pendahuluan yang telah diuraikan diatas, dapat disimpulkan rumusan masalah sebagai berikut : Bagaimana merancang Komunikasi Visual Alesha Photography untuk media promosi yang informatif di Semarang? 1.3 Tujuan Penelitian Dalam sebuah perancangan tentunya tidak lepas dari tujuan yang hendak dicapai. Dalam perancangan ini memiliki tujuan sebagai berikut : Membuat perancangan komunikasi visual Alesha Photography untuk media promosi yang informatif di Semarang agar semua masyarakat mengetahui tentang studio foto tersebut. 1.4 Manfaat Penelitian Adapun dengan dilaksanakannya perancangan Komunikasi Visual ini diharapkan memiliki suatu kegunaan, maka perancang berharap perancangan ini bermanfaat antara lain : 1.4.1 Manfaat untuk Klient (Alesha Photography) Diharapkan dengan adanya perancangan ini dapat membantu client dalam mempublikasikan studio fotonya tersebut kepada masyarakat. 1.4.2 Manfaat untuk Penulis Dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan bagi penulis tentang komunikasi visual. 1.4.3 Manfaat untuk Masyarakat Masyarakat dapat mengetahui tentang Alesha Photography dan jasa yang ditawarkan, sehingga dapat dijadikan referensi studio foto di Semarang. 4 1.5 Batasan Masalah Untuk membatasi ruang lingkup pembahasan agar tidak menyimpang dari tujuan yang ingin dicapai maka dalam perancangan ini akan dibuat batasan masalah sebagai berikut : a. Perancangan Komunikasi Visual untuk Alesha Photography jangkauan promosinya mencakup wilayah seluruh kota Semarang. b. Target yang nantinya diharapkan dapat mengerti maksud dari Komunikasi Visual yang akan dirancang ini adalah masyarakat pria dan wanita yang akan menikah dari kalangan menengah ke bawah, dan semua usia dapat mengetahui informasi dan jasa yang ditawarkan Alesha Photograpy sehingga dapat dijadikan referensi. 1.6 Metode Dan Sistematika Perancangan 1.6.1 Metode Perancangan Dalam menyusun proposal ini, penulis menggunakan metode perancangan sebagai berikut: 1.6.1.1Metode Pengumpulan Data Berdasarkan tujuan perancangan, maka penulisan dalam proses pengumpulan data menggunakan teknik pengumpulan data, antara lain: a. Studi pustaka ( library research ) Metode pengumpulan data dengan mencari, membaca buku – buku sebagai referensi acuan, dalam perancangan dan memperoleh wawasan yang berhubungan dengan teori-teori tentang iklan komersial dan konsep perancangan iklan komersial. b. Wawancara ( Interview ) Dalam metode ini penulis melakukan wawancara kepada pemilik Alesha Photography dan masyarakat di sekitar Alesha Photography. Agar penulis mendapatkan informasi yang sesuai dengan komunikasi visual. 5 c. Observasi ( Observation ) Dalam observasi ini, penulis langsung melakukan pengamatan ke lokasi Alesha Photography. Penulis akan melakukan pengamatan seputar media promosi yang selama ini digunakan Alesha Photography. d. Metode Analisis Data Metode analisis akan menggunakan analisis deskriptif kualitatif, yaitu dengan cara pengumpulan data yang diperoleh akan diuraikan dan menafsirkan, data yang berkenaan dengan situasi yang terjadi dilapangan yang di kategorikan ataupun dalam bentuk lainnya, seperti foto, dokumen, dan catatan-catatan lapangan pada saat penelitian dilakukan. dimana data yang diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan analisis SWOT. Proses analisis adalah usaha untuk menemukan jawaban dari permasalahan dalam perancangan. 1.6.2 Sistematika Perancangan - BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini menjelaskan uraian yang mencakup latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan perancangan, manfaat perancangan, batasan lingkup perancangan, metode perancangan, dalam metode perancangan didalamnya terdapat metode pengumpulan data, sistematika perancangan, serta tinjauan teori yang mendukung perancangan . - BAB II IDENTIFIKASI DAN ANALISIS DATA Dalam bab ini Identifikasi dan analisis data pada perancangan media promosi ini adalah mengumpulkan data-data yang bersifat kualitatif, yaitu berupa wawancara dengan narasumber, dalam hal ini adalah Alesha Photography. Dengan Analisis Kelemahan (weakness), kelebihan (streght), peluang (opportunity), ancaman (threats) dan Matrix SWOT, - BAB III KONSEP PERANCANGAN 6 Dalam bab ini menjelaskan uraian mengenai konsep-konsep pokok media promosi, strategi kreatif, program kreatif, perencanaan media dan biaya kreatif. - BAB IV VISUALISASI Dalam bab ini menjelaskan uraian tentang Penjaringan Ide Visual | sketsa kasar, Proses Pengembangan Ide Visual mulai dari desain kasar desain komprehensif , kemudian tahap visual akan dilakukan dan dilaksanakan sehingga terciptanya media-media yang sudah terkonsep akan tervisualisasikan. - BAB V PENUTUP Dalam bab ini akan dilakukan kesimpulan dan saran mengenai media promosi yang dirancang. 1.7 Tinjauan Teori 1.7.1 Teori Tentang Permasalahan Yang Dikaji Istilah Desain Komunikasi Visual sudah sering didengar, namun masih saja banyak yang belum mengetahui sebanarnya istilah tersebut dan sejauh mana ruang lingkup hingga pengaruhnya dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebagian orang secara gampang mengartikan Desain Komunikasi Visual identik dengan tukang reklame atau pekerjaan tukang bikin iklan di sepanjang jalan dengan papan nama yang bertuliskan advertising “ menerima pesanan sepanduk satu jam jadi, cetak undangan, sablon dll. Itulah gambaran sekilas dari sebagian masyarakat kita, sehingga mereka memandang sebelah mata orang yang bergelut di dunia desain. Bagi kalangan praktisi periklanan dan dunia akademik di bidang komunikasi istilah ini telah dikenal, walaupun Desain Komunikasi Visual merupakan istilah yang baru. Itu karena representasi sosial budaya masyarakat dan salah satu manifestasi kebudayaan yang berwujud produk dari nilai-nilai yang berlaku pada waktu tertentu. Hal ini merupakan kebudayaan yang benar-benar dihayati, bukan kebudayaan dalam arti sekumpulan sisa bentuk, warna, dan gerak masa 7 lalu yang kini dikagumi sebagai benda asing terlepas dari diri manusia yang mengamatinya. Desain komunikasi visual adalah ilmu yang mempelajari konsep komunikasi dan ungkapan daya kreatif, yang diaplikasikan dalam berbagai media komunikasi visual dengan mengolah elemen desain grafis terdiri dari gambar (ilustrasi), huruf, warna, komposisi dan layout. Semuanya itu dilakukan guna menyampaikan pesan secara visual, audio, dan audio visual kepada target sasaran yang dituju. Desain komunikasi visual sebagai salah satu bagian dari seni terap yang mempelajari tentang perencanaan dan perancangan berbagai bentuk informasi komunikasi visual. Perjalanan kreatifnya diawali dari menemukenali permasalahan komunikasi visual mencari data verbal dan visual, menyusun konsep kreatif yang berlandaskan pada karakteristik target sasaran, sampai dengan penentuan visualisasi final desain untuk mendukung tercapainya sebuah komunikasi verbal-visual yang fungsional, persuasif, artistik, estetis, dan komunikatif. Artinya, menurut Tinarbuko (1998:66) “Desain komunikasi visual dapat dipahami sebagai salah satu upaya pemecahan masalah komunikasi visual untuk menghasilkan suatu desain yang paling baru di antara desain yang baru. Istilah desain komunikasi visual, dalam bahasa gaul anak muda disebut dekave, digunakan untuk memperbaharui atau memperluas jangkauan cakupan ilmu dan wilayah kerja kreatif desain grafis. Di dalam ranah desain komunikasi visual ini dipelajari semua bentuk komunikasi yang bersifat visual seperti desain grafis, desain iklan, desain multimedia interaktif.” Bagi Widagdo (1993:31) “Desain komunikasi visual dalam pengertian modern adalah desain yang dihasilkan dari rasionalitas. Dilandasi pengetahuan, bersifat rasional, dan pragmatis. Jagat desain komunikasi visual senantiasa dinamis, penuh gerak, dan perubahan. Hal itu karena peradaban dan ilmu pengetahuan modern memungkinkan lahirnya industrialisasi. Sebagai produk kebudayaan yang terkait dengan sistem sosial dan ekonomi, desain komunikasi visual juga berhadapan pada konsekuensi sebagai produk massal dan konsumsi massa.” 8 Terkait dengan itu, Sutanto (2005:15-16) menyatakan, “Desain komunikasi visual senantiasa berhubungan dengan penampilan rupa yang dapat dicerap orang banyak dengan pikiran maupun perasaannya; rupa yang mengandung pengertian atau makna, karakter serta suasana, yang mampu dipahami (diraba dan dirasakan) oleh khalayak umum atau terbatas.” Dalam pandangan Sanyoto (2006:8) “Desain komunikasi visual memiliki pengertian secara menyeluruh, yaitu rancangan sarana komunikasi yang bersifat kasat mata. Komunikasi visual, yang dalam bentuk kehadirannya seringkali perlu ditunjang dengan suara.” Menurut Pirous (1989) “Pada hakikatnya adalah suatu bahasa. Tugas utamanya adalah membawakan pesan dari seseorang, lembaga, atau kelompok masyarakat tertentu kepada orang lain. Sebagai bahasa, maka efektivitas.”Penyampaian pesan tersebut menjadi pemikiran utama seorang desainer komunikasi visual. Seorang desainer haruslah, pertama-tama, memahami betul seluk beluk bentuk pesan yang ingin disampaikan. Dengan memahami bentuk pesan yang ingin disampaikan, maka seorang desainer akan dengan mudah „‟mengendalikan‟‟ target sasaran untuk masuk ke dalam jejaring komunikasi visual yang ditawarkan oleh sang komunikator (desainer komunikasi visual). Sebab sejatinya, karya desain komunikasi visual mengandung dua bentuk pesan sekaligus, yaitu pesan verbal dan pesan visual. Tetapi dalam konteks desain komunikasi visual, bahasa visual mempunyai kesempatan untuk merobek konsentrasi target sasaran, karena pesannya lebih cepat dan sangat mudah dipahami oleh para pihak. 1.7.2 Media Promosi a. Definisi media Pengertian Media menurut Purnamawati dan Eldarni (2001:4), “Media merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar.” 9 Gerlach dan Ely (1971), menjelaskan bahwa Media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Selain itu, AECT (Association of Education and Communication Technology, 1977) memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. Dijabarkan juga oleh Djamarah (1995 : 136), “Media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai Tujuan pembelajaran”. Media menurut pengertian kamus adalah sebuah alat, sarana komunikasi, penghubung, atau yang terletak diantara dua pihak. Media memiliki beragam pengertian, karena adanya perbedaan sudut pandang, maksud, dan tujuan. (http://media-grafika.com/pengertian-media-pembelajaran) b. Definisi Promosi Suatu perusahaan banyak aktivitas yang dilakukan tidak hanya menghasilkan produk atau jasa, menetapkan harga, dan menjual produk atau jasa, tetapi banyak aktivitas lainnya yang saling berkaitan satu dengan lainnya. Salah satunya adalah promosi, kegiatan promosi adalah salah satu bagian dari bauran pemasaran perusahaan, yang isinya memberikan informasi kepada masyarakat atau konsumen tentang produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan. Tidak hanya itu, kegiatan promosi merupakan kegiatan komunikasi antara perusahaan dengan pelanggan atau konsumen. Perusahaan dewasa ini menganggap bahwa promosi merupakan bagian penting dari pemasaran, karena pihak perusahaan berharap dengan promosi yang dilaksanakan secara efektif dapat meningkatkan kualitas produk atau jasa perusahaan sesuai dengan target penjualan yang telah ditetapkan dan dapat bersaing dengan perusahaan lain yang menghasilkan produk atau jasa yang sejenis. Dengan pandangan demikian perusahaan berharap dengan dilaksanakannya kegiatan promosi secara berkesinambungan dan 10 terarah akan mampu mencapai hasil penjualan dan keuntungan yang maksimal. Peneliti akan mengemukakan beberapa pendapat dari para ahli pemasaran dan praktisi tentang penelitian promosi, yaitu sebagai berikut : Pengertian promosi menurut Saladin dan Oesman (2002 : 123) : “Promosi adalah suatu komunikasi informasi penjual dan pembeli yang bertujuan untuk merubah sikap dan tinakah laku pembeli, yang sebelumnya tidak mengenal menjadi mengenal sehingga menjadi pembeli dan mengingat produk tersebut.” Sedangkan pengertian promosi menurut Alma (2006 : 179) adalah : “Promosi adalah sejenis komunikasi yang memberi penjelasan. dan meyakinkan calon konsumen mengenai barang dan jasa dengan tujuan untuk memperoleh perhatian, mendidik, mengingatkan dan meyakinkan calon konsumen”. Promosi merupakan alat komunikasi dan penyampaian pesan yang dilakukan baik oleh perusahaan maupun perantara dengan tujuan memberikan informasi mengenai produk, harga dan tempat. Informasi itu bersifat memberitahukan, membujuk, mengingatkan kembali kepada konsumen, para perantara atau kombinasi keduanya.” (http://elib.unikom.ac.id) 1.7.3 Tujuan Media Promosi Media Promosi merupakan suatu alat untuk mengkomunikasikan suatu produk/jasa/image/perusahaan ataupun yang lain untuk dapat lebih dikenal masyarakat lebih luas. Media promosi yang paling tua adalah media dari mulut ke mulut. Media ini memang sangat efektif, tetapi kurang efisien karena kecepatan penyampainanya kurang bisa diukur dan diperkirakan. Media promosi yang klasik berupa; brosur, poster, booklet, leaflet, spanduk, baliho, billboard, neon box, standing banner, kartu nama, kop surat, seragam pegawai, jam dinding, poster di mobil/truk, piring/gelas, iklan di tv, radio, spanduk terbang (ditarik pesawat), balon udara, iklan di media cetak, daftar menu, daftar harga dan sebagainya. 11 Tidak ada satupun media yang sangat tepat. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Artinya, jika kita hanya menggunakan satu media untuk mempromosikan produk kita, jelas secara pasti efektifitasnya menjadi terbatas. Tujuan dari promosi adalah untuk meningkatkan hasil penjualan atau agar konsumen menjadi mengenal produk atau jasa yang sebelumnya belum mengenalnya. Menurut Boon dan Kurtz (2002 :134), tujuan promosi adalah : menyediakan informasi, mendeferensiasikan sebuah produk, menaikkan penjualan, menstabilkan penjualan, dan menonjolkan nilai produk. (musliadipnl.wordpress.com). 1.7.4 Warna Menurut Sadjiman (2006:11) “Warna dapat didefinisikan secara obyektif sebagai sifat cahaya yang dipancarkan, atau secara psikologis sebagai bagian dari pengalaman indra penglihatan.” Menurut Widia (2007 : 837) “Warna pada ilmu kimia merupakan unsur rupa yang terbuat dari pigmen atau zat warna. Warna sebagai unsur visual yang terkait dengan bahan yang mendukung keberadaannya ditentukan oleh jenis pigmentnya. Adapun sebagai kesan yang diterima oleh mata, lebih ditentukan oleh cahaya. Salah satu elemen visual yang dapat dengan mudah menarik perhatian pembaca adalah warna. Akan tetapi, jika pemakaian warna kurang tepat maka dapat merusak citra, mengurangi nilai keterbacaan, dan bahkan dapat menghilangkan gairah baca.” Menurut Supriyono (2010:70) “Dalam seni rupa warna dibagi menjadi tiga dimensi yaitu hue, pembagian warna berdasarkan namanama warna, seperti merah, biru, kuning, dan seterusnya. Kedua, value yaitu gelap terangnya warna dan yang ketiga intensity yaitu tingkat kemurnian dan kejernihan warna.” Sedangkan menurut Darmaprawira (2002 : 35) “Banyak orang memiliki reaksi yang sama tentang arti warna yaitu : a. Merah : Dari semua warna yang ada merah memiliki kroma yang paling kuat dan memiliki daya atraksi tertinggi. Merah adalah positif, 12 agresif dan menarik. Selain itu merah adalah warna yang paling populer terutama bagi wanita. b. Biru : warna biru memiliki karakter dingin, segar, pasif, dan terang. c. Hijau : warna hijau memiliki bebarapa kesamaan dengan warna biru. Dibandingkan dengan warna-warna lain, warna hijau lebih netral dalam pengaruh emosi, cenderung lebih pasif. Oleh karena itu, warna hijau dianggap sebagai warna yang paling penuh ketenangan dibandingkan dengan warna-warna lain. d. Kuning : warna kuning merupakan warna yang paling terang dan bercahaya dari semua warna yang ada. Warna kuning dengan tone yang lebih gelap kurang populer dibandingkan dengan warna-warna yang lain. e. Ungu : memberi kesan kaya, impresif, megah, mulia, dan angkuh. f. Putih : memberi kesan positif, penuh stimulasi, dan bersih. Juga bercahaya, segar, ringan, gembira, lembut, dan suci. g. Hitam : warna hitam memberi kesan khidmat, menaklukkan, tertekan, dan dalam. h. Kelabu (abu-abu) : Kelabu mengambil campuran dari hitam dan putih. Warna kelabu memiliki kesan lunak lebih dalam dari pada putih. Sebaliknya tidak terlalu kuat seperti warna hitam. Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa warna merupakan unsur visual yang bukanlah gejala hanya dapat diamati saja, warna itu mempengaruhi kelakuan, emosi, dan memegang peranan penting dalam penilaian estetis dan turut menentukan suka tidaknya kita akan bermacam-macam benda. 1.7.5 Tipografi Menurut Sihombing (2001:58) “hadirnya tipografi dalam sebuah media terapan visual merupakan faktor yang membedakan antara desain grafis dan media terapan visual (lukisan)”. Tipografi merupakan representasi visual dari sebuah bentuk komunikasi verbal dan merupakan poperti visual yang pokok dan efektif. Lewat kandungan nilai fungsional 13 dan nilainya estetikanya, huruf memiliki potensi untuk menterjemahkan atmosfer-atmosfer yang tersirat dalam sebuah komunikasi verbal yang dituangkan melalui abstraksi bentukbentuk verbal visual. Ada empat buah prinsip pokok tipografi yang sangat mempengaruhi keberhasilan suatu desain tipografi, menurut Danton Sihombing yaitu: 1. Legibility Yang dimaksud dengan legibility adalah kualitas pada huruf yang membuat huruf tersebut dapat terbaca. Seorang desainer harus mengenal dan mengerti karakter dari bentuk suatu huruf dengan baik. 2. Clarity Yang dimaksud dengan clarity yaitu kemampuan hurufhuruf yag digunakan dalam suatu karya desain dapat dibaca dan dimengerti oleh target pengamat yang dituju. Beberapa unsur desain yang dapat mempengaruhi clarity antara lain visual hierarcy, warna, pemilihan type, dan lain-lain. 3. Visibility Yang dimaksud dengan visibility adalah kemampuan satu huruf, kata, atau kalimat dapat terbaca dalam jarak baca tertentu. Setiap karya desain mempunyai satu target jarak baca, dan huruf-huruf yang digunakan dalam desain tipografi harus dapat terbaca dalam jarak tersebut sehingga suatu karya desain dapat berkomunikasi dengan baik 4. Readibility Yang dimaksud dengan Readibility adalah penggunaan huruf dengan memperhatikan hubungannya dengan huruf yang lain sehingga terlihat jelas. Dalam menggabungkan hubungannya dengan huruf dan huruf, baik untuk membentuk suatu kata atau kalimat, harus memperhatikan hubungan antara 14 huruf yang satu dengan yang lainnya,khususnya spasi antar huruf . Jarak antar huruf tidak dapat diukur secara matematika, tetapi harus dilihat dan dirasakan. Ketidaktepatan menggunaan spasi dapat mengurangi kemudahan membaca satu keterangan yang membuat informasi yang disampaikan terkesan kurang jelas. Dapat disimpulakan tipografi merupakan kumpulan huruf yang disajikan sesuai kebutuhan Studio Alesha Photography di semarang sehingga dapat memberi kesan tersendiri yang dapat mempermudah khalayak menerima pesan atau gagasan yang terdapat pada sebuah kata atau kalimat. 1.7.6 Teori Gestalt Desain Grafis merupakan cabang ilmu dari seni visual yang tidak bisa lepas dari ilmu psikologi. Peran psikologi dalam Desain Grafis meliputi bagaimana seseorang secara psikis merespon tampilan visual disekitarnya. Salah satu teori psikologi yang paling populer dan banyak digunakan dalam desain grafis adalah teori Gestalt. Gestalt merupakan sebuah teori psikologi yang menyatakan bahwa seseorang akan cenderung mengelompokkan apa yang dia lihat disekitarnya menjadi suatu kesatuan utuh berdasarkan pola, hubungan, dan kemiripan. Teori ini dibangun oleh tiga ilmuwan asal Jerman yaitu: Kurt Koffka, Max Wertheimer, and Wolfgang Köhler. Gestalt dalam banyak digunakan dalam Desain Grafis karena menjelaskan bagaimana persepsi visual bisa terbentuk. Prinsip-prinsip Gestalt yang banyak diterapkan dalam desain grafis antara lain: adalah proximity (kedekatan posisi); similarity(kesamaanbentuk); closure (penutupan bentuk); continuity (kesinambungan pola); dan figure Ground. 15 Adapun penjelasannya adalah sebagi berikut: 1) Proximity (Kedekatan Posisi) Objek-objek yang berdekatan posisinya akan dikelompokkan sebagai suatu kesatuan. Gambar 1.1 Teory Gestalt Proximity, Logo Unilever. Sumber : http://www.desainstudio.com/2010/12/teori-gestalt-dalam-desaingrafis Objek-objek pada logo unilever di atas dipersepsikan sebagai sebuah kelompok (huruf 'U') karena memiliki kedekatan posisi satu sama lain. 2) Similarity (Kesamaan Bentuk) Objek-objek yang bentuk dan elemennya mirip akan dikelompokkan sebagai suatu kesatuan. 16 Gambar 1.2 Teori Gestalt Similarity, Logo Ikon Burung dan Segitiga Sumber:http://www.desainstudio.com/2010/12/teori-gestalt-dalam-desain-grafis. Tiga segitiga di bagian bawah logo diatas sejatinya adalah bagian dari ikon burung di logo tersebut. Namun karena memiliki kesamaan bentuk dengan segitiga lain, objek tersebut dipersepsikan sebagai bagian kelompok segitiga yang membentuk lingkaran 3) Closure (Penutupan Bentuk) Suatu objek akan dianggap utuh walaupun bentuknya tidak tertutup sepenuhnya. 17 Gambar 1.3 Teori Gestalt Closure, logo WWF Sumber: http://www.desainstudio.com/2010/12/teori-gestalt-dalam-desaingrafis Kita dapat mengenali bahwa ikon pada logo WWF adalah seekor panda. Padahal, gambar tersebut tidaklah lengkap atau belum tertutup sepenuhnya. 4) Continuity ( Kesinambungan Pola) Objek akan dipersepsikan sebagai suatu kelompok karena adanya kesinambungan pola. Gambar 3.4 Teori GestaltContinuity. Sumber:http://www.desainstudio.com/2010/12/teori-gestalt-dalam-desaingrafis 18 Lingkaran-lingkaran di atas dipersepsikan sebagai suatu kelompok karena polanya berkesinambungan walaupun sebenarnya objek-objek tersebut terpisah satu sama lain 5) Figure Ground Yaitu sebuah objek bisa dilihat sebagai dua objek dengan permainan foreground dan background. Masing-masing bisa diidentifikasi sebagai objek tanpa harus membentuknya menjadi solid. 1.7.7 Brand Image / Brand Image Menurut Kotler (2002;349) yaitu: “Brand is a name, term, sign, symbol, or design, or combination of them, intended to identify the goods and services of one seller or group of sellers and differentiance them from those of competitors.” Citra adalah seperangkat keyakinan, ide, dan kesan yang dimiliki orang terhadap suatu obyek. Sikap dan tindakan orang terhadap suatu obyek sangat ditentukan oleh citra obyek tersebut (Kotler, 2001). “Penerapan merek yang tepat pada produk dapat memberikan nilai tersendiri dan akan mejadikan identitas pada produk, yang nantinya akan mempunyai citra, baik itu citra yang positif ataupun citra yang negative. Dengan citra yang positif perusahaan akan diuntungkan karna konsumen akan dengan mudah mengingat merek produk bercitra positif sesuai dengan kebutuhannya, berikut beberapa pengertian citra menurut para ahli.” Defenisi di atas dapat diartikan sebagai berikut: “Merek adalah nama, istilah, desain, simbol, atau rancangan, atau kombinasi semua unsur tersebut, yang bertujuan untuk mengidentifikasi produk atau jasa dari individual atau kelompok penjual dan untuk membedakannya dari produk pesaing.” Menurut Kotler diterjemahkan oleh Molan (2005: 82) tingkatan merek dapat di bagi menjadi enam yaitu: 19 1. Atribut Setiap merek memiliki atribut. Atribut ini perlu dikelola dan diciptakan agar pelanggan dapat mengetahui dengan pasti atribut-atribut apa saja yang terkandung dalam suatu merek. 2. Manfaat Selain atribut, merek juga memiliki serangkaian manfaat. Konsumen tidak saja membeli atribut tetapi juga membeli manfaat. 3. Nilai Merek juga menyatakan sesuatu tentang nilai bagi produsen. Merek yang memiliki nilai tinggi dan dihargai oleh konsumen sebagai merek yang berkualitas dan berkelas, sehingga dapat mencerminkan siapa pengguna merek tersebut. 4. Budaya Merek memiliki budaya tertentu yang dapat mempengaruhinya. 5. Kepribadian Merek memiliki kepribadian, yaitu kepribadian bagi para penggunanya. Jadi diharapkan dengan menggunakan merek, kepribadian si pengguna akan tercermin dengan merek yang digunakan. 6. Pemakai Merek menunjukan jenis konsumen pemakai merek tersebut. Itulah sebabnya para pemasar selalu menggunakan orang-orang yang terkenal untuk penggunaan mereknya. Tantangan dalam pemberian merek adalah untuk mengembangkan sekumpulan pengertian-pengertian yang mendalam tentang merek. Pada saat ini banyak kesalahankesalahan yang sering dilakukan oleh pemasar yaitu dengan hanya mempromosikan merek saja tanpa melihat 20 keunggulan dan manfaat dari suatu produk atau jasa yang ditawarkan. Hal ini dapat mengakibatkan: - Pembeli tidak tertarik pada atribut merek karena sesungguhnya mereka lebih tertarik pada manfaat merek. - Pesaing dapat dengan mudah meniru atribut-atribut tersebut. - Atribut yang sekarang ini kelak akan berkurang nilainya. Dikarenakan oleh hal tersebut merek harus dipromosikan dengan keunggulan dan manfaat dari suatu produk yang ditawarkan. Konsumen mengembangkan keyakinan atas merek (brand beliefs) di mana setiap merek mewakili setiap atribut, sehingga kumpulan dari keyakinan konsumen dan suatu merek akan menghasilkan Citra Merek. Citra Merek mempresentasikan keseluruhan persepsi terhadap merek yang dibentuk dari informasi yang diperoleh dan pengalaman masa lalu terhadap merek tersebut. Citra suatu perusahaan atau suatu merek akan efektif bila melakukan tiga hal yaitu: 1. Menempatkan karakter produk dan usulan nilai. 2. Menyampaikan karakter produk dengan cara yang berbeda sehingga tidak dikacaukan oleh karakter pesaing. 3. Memberikan kekuatan emosional yang lebih dari sekedar citra mental. Dan yang perlu diperhatikan adalah bagaimana caranya untuk mempertahankan dan meningkatkan citra merek yang sudah positif di benak konsumen. 22