katkan stabilitas agregat tanah dan memperbaiki struktur tanah sawah yang memadat akibat penggenangan dan pelumpuran secara terus-menerus. Tanah menjadi lebih mudah diolah dan cukup baik untuk pertumbuhan akar tanaman palawija yang ditanam setelah padi. Pada tanah Latosol Cicurug Sukabumi dengan tingkat kesuburan tanah cukup baik, pemberian jerami selama 6 musim meningkatkan hasil padi dan efisiensi pupuk N dan P. Pemupukan urea 200 kg/ha dan TSP 150 kg/ha + 5 ton jerami menghasilkan gabah sekitar 7 t/ha. Pengembalian jerami 5 t/ha disertai pupuk N, P, K dan dolomit meningkatkan hasil gabah hingga 40% (1,7 t/ha) pada lahan sawah intensifikasi di Sumatera Barat. Pengembalian jerami yang dikombinasikan dengan pupuk kandang 5 t/ha meningkatkan hasil padi sekitar 1,0 t/ha. Pemberian jerami ke tanah sawah dalam jangka panjang tidak hanya bermanfaat untuk mempertahankan kandungan unsur hara makro dan mikro dalam tanah, tetapi juga meningkatkan kesuburan dan memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, serta efisiensi pemupukan. Kendala Aplikasi Jerami Anjuran untuk mengembalikan jerami ke tanah sawah menemui beberapa kendala. Umumnya petani membakar jerami karena beberapa alasan, antara lain mengejar waktu tanam. Bila indeks pertanaman tiga kali, petani tidak cukup waktu untuk mengomposkan jerami. Teknologi pengelolaan jerami yang tepat perlu dikembangkan. Jerami sebaiknya tidak langsung dikembalikan ke sawah pada musim tanam berikutnya, tetapi ditunda dahulu selama satu musim tanam agar jerami melapuk secara alami. Jerami dikumpulkan di bagian pinggir petakan sawah atau di tempat lain dan dibiarkan melapuk secara alami. Penumpukan jerami selama satu musim tanam akan mengurangi luas areal tanam. Namun, keuntungan pengembalian jerami ke tanah sawah akan mengkompensasi masalah berkurangnya areal tanam, seperti takaran pupuk yang perlu diberikan berkurang, meningkatkan produksi, dan memperbaiki kesuburan tanah. Penggunaan jerami segar sebagai pupuk dapat menghambat pertumbuhan tanaman terutama pada Sukun: Bisakah Menjadi Bahan Baku Produk Pangan? Saat ini memang masih banyak orang memandang sebelah mata pada sukun karena pemanfaatannya masih terbatas. Paling ada sukun goreng dan keripik. Padahal, sukun bisa diolah menjadi aneka produk pangan mulai dari camilan sampai mi dan roti, sesuai dengan nama asingnya breadfruit. Seiring dengan pengembangan tanaman sukun di berbagai wilayah melalui program "Tanam, Tebar dan Pelihara Pohon untuk Diversifikasi Pangan", produksi makin melimpah. Teknologi telah siap menyambut produksi buah sukun yang melimpah. S ukun (Artocarpus communis) merupakan tanaman sejenis nangka, biasanya ditanam sebagai tanaman sela di pekarangan. Tanaman ini berasal dari daerah New Guenia, Pasifik, yang kemudian berkembang ke Malaysia hingga Indonesia. Sukun merupakan salah satu jenis tanaman penghijauan karena dapat tumbuh pada lahan kritis, pohonnya kokoh, tinggi, dan daunnya rimbun. awal pertumbuhan karena adanya persaingan pengambilan hara dengan mikroba. Cara ini juga mengganggu lingkungan karena dapat terbentuk gas metana serta asamasam organik. Bila jerami ingin segera dikembalikan ke lahan sambil menunggu pengolahan tanah pertama, jerami dapat dikomposkan dan diaplikasikan bersamaan dengan pengolahan tanah ke dua. Pelapukan jerami dapat dipercepat dengan teknik pengomposan yang mudah, cepat, dan murah. Untuk mempercepat proses pengomposan dapat digunakan dekomposer (inokulan mikroba), baik yang dibuat sendiri berupa mikroba lokal atau membeli dekomposer di pasaran (Wiwik Hartatik) . Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Balai Penelitian Tanah Jalan Ir. H. Juanda No. 98 Bogor 16123 Telepon : (0251) 8 3 3 6 7 5 7 Faksimile : (0251) 8 3 2 1 6 0 8 E-mail : [email protected] Pada bulan November 2008, sukun menjadi primadona pada kegiatan "Tanam, Tebar dan Pelihara Pohon untuk Diversifikasi Pangan". Melalui kegiatan tersebut, dalam beberapa tahun lagi buah sukun akan melimpah karena tiap pohon dapat menghasilkan 50150 kg buah. Pemanfaatan buah sukun sebagai bahan pangan makin penting untuk menunjang diversifikasi pangan. Indonesia memiliki beberapa varietas sukun lokal dengan ciri fisik maupun cita rasa buah yang bervariasi. Ciri fisik meliputi ukuran dan bentuk buah, permukaan kulit (berduri atau tidak), dan banyak sedikitnya getah. Buah sukun mengandung tepung atau karbohidrat cukup banyak, yaitu 28,2 g tiap 100 g buah yang sudah tua. Jika 5 dibuat tepung, kandungan karbohidratnya 78,9-84,03 g. Kadar amilosa tepung sukun Bone, Cilacap, Kediri, Sukabumi, dan sukun Pulau Seribu berkisar antara 11-17%. Karena itu, tekstur produk olahannya sangat pulen. Tepung sukun yang mengandung amilosa 17-20% menghasilkan produk olahan yang pulen, seperti sukun Kulon Progo dan Purworejo. Kadar gula total sukun berkisar antara 0,21-0,32%. Kandungan pektin sukun Cilacap, Sukabumi, dan Kediri cukup tinggi, yaitu 20%, sedangkan sukun Kulon Progo, Pulau Seribu, Bone, dan Purworejo kandungan pektinnya rendah (10%). Sukun Bone mengandung vitamin A 64 IU dan vitamin C 9 mg/100 mg, paling tinggi dibanding sukun lainnya. Buah sukun yang melimpah saat panen raya harus bisa diawetkan, seperti dibuat gaplek atau tepung. Bila sudah menjadi tepung, akan sangat mudah mengolahnya menjadi berbagai makanan. Sukun memiliki manfaat bagi kesehatan karena mengandung senyawa aktif alkaloid dan saponin yang banyak digunakan dalam pengobatan. Secara empiris, sukun digunakan sebagai obat penekan asam urat. Hasil percobaan menunjukkan, ekstrak sukun mampu menurunkan kadar asam urat pada tikus percobaan, meskipun lebih rendah dibanding alopurinol, bahan yang biasa digunakan sebagai penurun asam urat. Pasta Sukun Yang dimaksud pasta sukun di sini adalah sukun yang dikukus kemudian dilumatkan atau dihancurkan dan siap untuk diolah lanjut. Pasta sukun dapat dibuat dari sukun tua atau sukun matang. Pengolahan sukun menjadi pasta cocok untuk skala rumah tangga yang kemudian dikembangkan lagi menjadi aneka produk makanan. Pasta dari buah sukun tua tetapi masih mentah dapat diolah menjadi berbagai kue basah, bubur, kue yang digoreng, dan makanan 6 camilan kering seperti stik sukun keju dan kue gabus sukun. Juga dapat dibuat roti dan mi basah dengan dicampur terigu berprotein sedang-tinggi. Pasta buah sukun matang cocok untuk pembuatan aneka kue basah, bubur, dan lainnya, dengan aroma harum sukun matang yang kuat. Pasta sukun dapat disimpan beku, dan jika akan digunakan dilelehkan terlebih dahulu. Namun, dalam jumlah besar, penyimpanan beku memerlukan energi listrik yang banyak dan mahal. Tepung Sukun Pembuatan tepung sukun dimulai dengan pengupasan buah, perendaman dan pencucian, pemotongan, pemblansiran selama 10 menit, perajangan/penyawutan, pengepresan, pengeringan, dan penepungan. Yang perlu mendapat perhatian saat pengolahan adalah buah sukun mengandung polifenol cukup tinggi sehingga saat dikupas dan dirajang akan cepat menjadi kecoklatan. Oleh karena itu, setelah dikupas, buah segera direndam dalam air kemudian dilakukan pemblansiran untuk menonaktifkan enzim fenolase. Demikian pula saat perajangan atau penyawutan, sawut harus segera direndam dalam air lalu dipres untuk mengeluarkan air dan senyawa fenol. Sawut basah lalu dikeringkan dengan alat pengering selama 7 jam atau dijemur 2 hari pada cuaca cerah sampai kadar air 14%. Rendemen sawut kering sebesar 20,82% dan rendemen tepung sukun 20,1%. Pengolahan buah sukun menjadi tepung memerlukan alat pengupas, penyawut, pengepres, rak untuk menjemur, penepung, dan ayakan tepung. Industri tepung sukun akan lebih menguntungkan bila dikembangkan dekat dengan sentra produksi sukun sehingga harga tepung dapat bersaing. Tepung sukun diharapkan dapat mensubstitusi terigu sehingga harganya harus lebih murah dari terigu. Rendemen tepung sukun berkisar 17-24,4%, bergantung vari- etas. Sukun Kulon Progo (Wates), Sukabumi, dan Kroya memiliki rendemen tepung rendah (1719%), sedangkan sukun unggul dari Cilacap dan Bone mempunyai rendemen tepung 21-24%. Tingkat ketuaan buah juga menentukan rendemen tepung; makin tua buah makin tinggi kandungan tepung. Derajat putih tepung sukun berkisar antara 50-70%. Buah dengan tingkat ketuaan optimal dan masih mentah menghasilkan tepung paling putih. Jika buah kurang tua, tepung yang dihasilkan berwarna kecoklatan karena sukun muda banyak mengandung getah dan senyawa polifenol. Sukun matang menghasilkan tepung yang kurang baik karena kadar gula tinggi sehingga memperlambat proses pengeringan. Tepung sukun pada kadar air antara 2-6% memiliki kadar abu 2,0-3,8%, protein 2,0-3,6%, lemak 0,7-1,3%, dan karbohidrat 8791%. Makin tua umur panen makin tinggi kadar protein, lemak dan karbohidrat, namun kadar abu menurun. Komposisi gizi buah dan tepung sukun disajikan pada Tabel 1. Pemanfaatan Tepung Sukun Tepung sukun dapat dicampur dengan tepung lain seperti terigu, tepung beras, maizena atau tepung ketan, dengan tingkat substitusi tepung sukun 25-75%, bergantung jenis kue yang akan diolah. Tepung sukun dapat dimanfaatkan untuk membuat berbagai kue kering, kue basah, cake, roti, dan mi. Untuk membuat kue kering, tepung sukun dapat dicampurkan 20-50% dalam terigu. Kue kering tersebut memiliki warna dan penampakan yang disukai panelis. Namun, rasa khas dan aroma sukun kadang kurang disukai panelis. Substitusi tepung sukun 20% pada terigu untuk bahan baku roti menghasilkan roti yang bagus dan disukai panelis. Makin banyak tepung sukun yang ditambahkan, roti menjadi tidak mengembang dan aroma khas sukun makin tajam. Harapan Tabel 1. Komposisi zat gizi buah sukun dan tepung sukun per 100 g bahan. Komponen Buah sukun muda Energi (kalori) Air (g) Protein (g) Lemak (g) Karbohidrat (g) Serat (g) Abu (g) Kalsium (mg) Fosfor (mg) Besi (mg) Vitamin B1 (mg) Vitamin B2 (mg) Vitamin C (mg) 46 87,1 2,0 0,7 9,2 2,2 1,0 59 46 0,12 0,06 21 Buah sukun tua Tepung sukun 108 69,3 1,3 0,3 28,2 0,9 21 59 0,4 0,12 0,06 17 302,4 15 3,6 0,8 78,9 2,0 58,8 165,2 1,1 0,34 0,17 47,6 Sumber: FAO (1972) Pengembangan Tepung Sukun Tepung sukun dapat dikembangkan sebagai salah satu bahan substitusi terigu, asalkan harganya murah dan ketersediaannya terjamin. Observasi di sentra sukun lima tahun lalu menunjukkan harga buah sukun terendah Rp500/buah terjadi pada musim panen tahun 2003 di Kediri, sedangkan harga tertinggi Rp1.500-Rp2.000/buah di Cilacap. Harga sukun akan menentukan harga sawut dan tepung sukun. Berdasarkan perhitungan kasar, bila harga sukun lebih dari Rp750/kg maka kurang layak dibuat tepung karena harga tepung menjadi Rp4.704/kg, lebih tinggi dari harga terigu tahun 2003 yaitu Rp3.500/kg. Pada harga tepung terigu Rp7.000-Rp8.000/ kg, tepung sukun cukup menarik sebagai bahan substitusi terigu jika harganya tidak lebih dari Rp5.000/kg. Tanaman sukun telah menghijau di pekarangan di kampung serta perkotaan. Buah melimpah, berlebih untuk keperluan sendiri. Pengolahan adalah alternatif pemanfaatannya, dan teknologi pengolahannya telah tersedia. Karena itu, tinggal kemauan kita bersama untuk memasukkan tepung sukun atau pasta sukun dalam adonan untuk membuat aneka produk makanan yang kita konsumsi di rumah, saat rapat dinas, untuk hidangan pada pertemuan atau makanan kering yang khas sebagai oleh-oleh (Sulusi Prabawati dan Suismono) . Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian Jalan Tentara Pelajar No. 12 Bogor 16114 Telepon : (0251) 8350920 Faksimile : (0251) 8321762 E-mail : [email protected] Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol. 31, No. 1 2009 Dilepas, Varietas Unggul Baru Padi dan Palawija Pada tahun 2008 pemerintah melepas sembilan varietas padi, tiga varietas jagung hibrida, lima varietas kedelai, satu varietas kacang hijau, dan dua varietas ubi jalar. Pengembangan varietas unggul baru tanaman pangan ini diharapkan mendukung keberlanjutan ketahanan pangan nasional. T elah teruji keandalannya, teknologi padi dan palawija yang diterapkan petani mampu memberikan sumbangan yang nyata terhadap peningkatan produksi tanaman pangan dan pendapatan mereka. Secara nasional, kontribusi pengembangan varietas unggul padi, jagung, dan kedelai terhadap peningkatan pendapatan pada tahun 2007 masing-masing mencapai Rp22,68 triliun, Rp3,87 triliun, dan Rp1,75 triliun. Dibandingkan dengan komponen teknologi lainnya, varietas unggul lebih mudah diadopsi dan di- kembangkan petani. Dewasa ini sebagian besar petani telah menggunakan varietas unggul padi, sebagaimana terbukti lebih dari 90% lahan sawah irigasi telah ditanami dengan varietas unggul seperti Ciherang, Cigeulis, Cibogo, Way Apoburu, dan IR64. Varietas unggul jagung, kedelai, kacang hijau, dan ubi jalar juga telah dikembangkan oleh sebagian petani. Meskipun demikian, tantangan peningkatan produksi tanaman pangan ke depan makin berat, terutama berkaitan dengan perubahan iklim global yang berdampak terhadap kekeringan, banjir, dan naiknya air laut yang menyebabkan salinitas. Perkembangan biotipe dan ras hama dan penyakit juga perlu diantisipasi karena organisme pengganggu tumbuhan ini dapat me- 7