BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini peneliti menuliskan

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini peneliti menuliskan mengenai teori-teori yang dapat mendukung
argumentasi penulis. Tinjauan teori yang penulis tampilkan pada BAB ini
meliputi hipertensi, latihan senam aerobik low impact serta pengaruh senam
aerobik low impact terhadap penurunan tekanan darah pasien hipertensi.
2.1 Hipertensi
2.1.1
Pengertian Hipertensi
Tekanan darah merupakan gaya (atau dorongan) darah ke dinding
arteri saat darah dipompa keluar dari jantung ke seluruh tubuh.
Tekanan darah tinggi atau hipertensi secara umum didefinisikan
sebagai tekanan sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik
lebih dari 90 mmHg Guyton & Holl (2006). Menurut (Bryan wiliams,
2007 ) tekanan darah merupakan daya yang dihasilkan oleh darah
terhadap setiap satuan luas dinding pembuluh darah. Lebih terperinci
lagi dijelaskan bahwa tekanan darah (BP=Blood Pressure) dinyatakan
dengan millimeter (mm) merkuri (Hg).
Tekanan darah dapat berfluktuasi dalam batas tertentu tergantung oleh
umur, diet dan tingkat stress yang dialami (Tambayong, 2000).
11
12
Tekanan darah tinggi atau disebut dengan
Hipertensi merupakan
kondisi yang terjadi karena menurunnya elastisitas arteri pada proses
menua (Wahyunita dan Fitrah, 2010). Pengaturan tekanan darah pada
hipertensi
merupakan
pengendalian
ginjal
proses
yang
terhadap natrium
kompleks
dan
menyangkut
retensi
air, serta
pengendalian sistem saraf terhadap tonus pembuluh darah. Darah yang
mengalir ditentukan oleh volume darah yang dipompakan oleh
ventrikel kiri setiap kontraksi dan kecepatan denyut jantung
(Syarifudin, 2006).
Jadi dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa hipertensi
merupakan peningkatan tekanan darah sistole > 140 dan tekanan darah
diastole > 90 mmhg yang dapat berubah-ubah sesuai dengan umur,
aktivitas, elastisitas arteri tingkat strees pengendalian ginjal serta
pengendalian sistem saraf terhadap tonus pembuluh darah.
2.1.2
Jenis Hipertensi
Hipertensi merupakan salah satu gangguan pembuluh darah yang
menyebabkan suplai darah dan oksigen terhambat ke jaringan tubuh
sehingga mengakibatkan jantung harus memompa darah lebih cepat
(Sustrani, 2006). Menurut Corwin (2009), beberapa faktor yang
merupakan penyebab umum dari hipertensi, dibagi menjadi 2 golongan,
yaitu hipertensi esensial atau primer dan hipertensi sekunder.
13
a. Hipertensi esensial atau hipertensi primer
Hipertensi esensial ini merupakan jenis hipertensi idiopatik karena
tidak diketahui dengan jelas penyebabnya. Terdapat banyak faktor
yang mempengaruhi seperti genetik, lingkungan, hiperaktifitas
susunan saraf simpatis, sistem renin, angiotensin, peningkatan Na
dan Ca intraseluler (Santoso, 2009). Menurut Baradero, Mary
(2008), faktor risiko hipertensi esensial meliputi : umur, riwayat
keluarga, obesitas yang dikaitkan dengan peningkatan volume
intravaskuler, aterosklerosis, merokok, kadar garam tinggi (natrium
membuat retensi air yang dapat menyebabkan volume darah
meningkat), mengkonsumsi alkohol dan stress emosi yang
merangsang system saraf simpatis.
b. Hipertensi sekunder atau hipertensi renal
Hipertensi sekunder merupakan peningkatan tekanan darah akibat
dari penyakit atau ganguan tertentu seperti gangguan pada ginjal,
penyakit parenkim ginjal (glomerulus, gagal ginjal), penyakit
renovaskular,
ganguan pada kelenjar adrenal, fenokromositoma,
koartasi aorta dan trauma kepala ( Mary, Baradero, 2005). Faktor
pencetus terjadinya hipertensi sekunder antara lain pengunaan
kontrasepsi oral neurogenik (tumor otak, ensefalitis, gangguan
psikiatrik), peningkatan volume intravascular, tumor kranial,
14
syndrome cushing, hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan (
Unjianti, 2010).
2.1.3
Klasifikasi Hipertensi
Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) memilih klasifikasi sesuai
WHO/ISH karena memiliki sebaran yang lebih luas.Klasifikasi
hipertensi menunjukkan nilai tekanan darah yang sebelumnya
dipertimbangkan normal ternyata dapat menyebabkan peningkatan
resiko komplikasi kardiovaskuler.Klasifikasi hipertensi pada orang
dewasa menurut WHO tahun 2010 seperti yang tercantum dalam
tabel Berikut.
15
Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah Menurut WHO (2010).
Tekanan sistolik
(mmHg)
Tekanan diastolik
(mmHg)
Tensi optimal
<120
<80
Tensi normal
<130
<85
Kategori
Kategori
Tekanan diastolik
(mmHg)
Tensi normal tinggi
130-139
85-89
Tingkat 1 : hipertensi
ringan
140-159
90-99
Subgroup : batas
140-149
90-94
Tingkat 2 :hipertensi
sedang
160-179
100-109
Tingkat 3 :hipertensi berat
180-209
110-119
>140
<90
140-149
<90
>210
>120
Hipertensi sistolik isolasi
Subgroup: batas
Tingkat 4 : hipertensi
maligna
2.1.4
Tekanan sistolik
(mmHg)
Faktor - faktor yang mempengaruhi tekanan darah
Tekanan darah tidak konstan namun dipengaruhi oleh banyak factor (
Potter & Perry, 2005). Hipertensi disebabkan oleh faktor-faktor yang
dapat dimodifikasi atau dikendalikan serta faktor yang tidak dapat
dimodifikasi.
a. Faktor yang dapat dimodifikasi atau dikontrol
16
1)
Merokok
Rokok memiliki kandungan 4.000 racun kimia yang berbahaya.
Adapun bahan utama dari rokok terdiri dari 2 zat, yaitu: nikotin
dan karbon monoksida (Manik, 2011). Zat nikotin yang terdapat
dalam rokok dapat merusak lapisan dinding arteri. Kandungan
nikotin dalam rokok dapat meningkatkan hormone epinefrin
yang membuat penyempitan pada pembuluh darah arteri. Selain
hal tersebut kandungan karbonmonoksida dalam rokok dapat
menyebabkan jantung bekerja lebih keras untuk menggantikan
pasokan
oksigen
ke
jaringan
tubuh
sehingga
dapat
meningkatkan tekanan darah ( Marliani, Lily dan Tantan, 2007).
2)
Alkohol
Alkohol memiliki efek yang dapat meningkatkan keasaman
darah. Darah akan menjadi kental sehingga jantung akan
dipaksa bekerja lebih kuat (Komaling dan Wongkar, 2013).
Konsumsi alkohol merupakan salah satu faktor penting yang
memiliki hubungan dengan tekanan darah. Mengkonsumsi tiga
gelas
atau
lebih
minuman
beralkohol
perhari
dapat
meningkatkan risiko menderita hipertensi sebesar dua kali
(Bustan, 2007).
17
3)
Kurang aktivitas olahraga
Aktivitas fisik sangat mempengaruhi stabilitas tekanan darah. Pada
orang yang tidak aktif melakukan kegiatan fisik cenderung
mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi. Hal
tersebut mengakibatkan otot jantung bekerja lebih keras pada
setiap kontraksi. Makin keras usaha otot jantung dalam memompa
darah, makin besar pula tekanan yang dibebankan pada dinding
arteri
sehingga
meningkatkan
tahanan
perifer
yang
menyebabkan kenaikkan tekanan darah. Kurangnya aktifitas
fisik dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan yang
akan
menyebabkan
risiko
hipertensi
meningkat.
Studi
epidemiologi membuktikan bahwa olahraga secara teratur
memiliki efek antihipertensi dengan menurunkan tekanan darah
sekitar 6-15 mmHg pada penderita hipertensi (Effendi Sianturi,
2004).
4)
Obesitas
Obesitas dapat meningatkan tekanan darah hal ini berbuhungan
dengan peningkatan volume intravaskuler dan curah jantung.
Kandungan lemak yang berlebihan dalam darah menyebabkan
timbunan kolesterol pada dinding pembuluh darah. Hal ini dapat
18
membuat pembuluh darah menyempit dan akibatnya tekanan
darah akan meningkat (Ellisa,2009).
5)
Intake garam
Kadar garam tinggi (natrium) membuat retensi air yang dapat
menyebabkan volume darah meningkat. Konsumsi garam
berlebih membuat pembuluh darah pada ginjal menyempit dan
menahan aliran darah. Konsumsi garam per hari yang
dianjurkan adalah sebesar 1500-2000 mg atau setara dengan
satu sendok (Basha, 2008). Garam menyebabkan penumpukan
cairan dalam tubuh karena menarik cairan di luar sel agar tidak
keluar, sehingga akan meningkatkan volume dan tekanan darah
(Sugiharto, 2007).
6)
Stress
Hubungan antara stress dengan hipertensi melalui aktivitas saraf
simpatis, yang dapat meningkatkan tekanan darah secara
bertahap. Stress atau ketegangan jiwa (rasa tertekan, murung,
bingung, cemas, berdebar-debar, rasa marah, dendam, rasa
takut, rasa bersalah) dapat merangsang hormon adrenalin dan
memacu jantung berdenyut lebih cepat serta lebih kuat,
sehingga tekanan darah akan meningkat ( Hasurungan, J. 2002).
Stress akan meningkatkan resisitensi pembuluh darah perifer
19
dan curah jantung, sehingga akan menstimulasi aktivitas saraf
simpatik (Arieska Ann Soenarta, 2008).
b. Faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi
1) Usia
Umur mempengaruhi terjadinya hipertensi. Setelah berumur
> 45 tahun, dinding arteri akanmengalami penebalan karena
adanya penumpukan zat kolagen pada lapisan otot, sehingga
pembuluh darah akan menyempit dan menjadi kaku. Tekanan
darah sistolik meningkat karena kelenturan pembuluh darah
besar berkurang. Pada usia lanjut peningkatan tekanan darah
terjadi akibat adanya penurunan elastisitas pembuluh darah
peningkatan resistensi pembuluh darah perifer serta aktifitas
simpatik (Anggraeni, 2009).
2) Jenis kelamin
Jenis kelamin berhubungan dengan adaya efek perlindungan
esterogen pada wanita dalam meningkatkan kadar kolesterol
HDL
yang
dapat
mencegah
terjadinya
penyumbatan
pembuluh darah (Ramayulis, 2009). Secara klinis tidak ada
perbedaan yang signifikan dari tekanan darah pada anak lakilaki atau perempuan. Setelah pubertas, pria cenderung
20
memiliki tekanan darah yang lebih tinggi, sedangkan setelah
menopause wanita cenderung memiliki tekanan darah lebih
tinggi dari pada pria usia dewasa (Scanlon & Sanders, 2007).
3) Faktor Genetik
Riwayat keluarga dekat yang menderita hipertensi (faktor
keturunan) meningkatkan resiko terkena hipertensi, terutama
pada hipertensi primer (esensial). Faktor genetik ini berkaitan
dengan
metabolisme
pengaturan
garam
dan
renin
membranesel (Smletzer, 2004). Menurut Davinson bila
kedua orang tua menderita hipertensi maka 45% anak akan
menderita hipertensi dan bila salah satu orang tua yang
menderita hipertensi maka sekitar 30% anak akan menderita
hipertensi ( Depkes RI, 2006).
2.1.5
Patofisiologi Hipertensi
Mekanisme kontraksi dan relaksasi pembuluh darah berada di pusat
vasomotor, yang terletak pada
medula otak. Mekanisme tersebut
dimulai dari pusat vasomotor melalui jaras saraf simpatis ke ganglia
simpatis yang berlanjut ke korda spinalis dan keluar dari columna
medulla spinalis ke ganglia simpatis di torakoabdominal. Rangsangan
dari pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak
ke bawah melalui saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini,
21
neuron pre ganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang
serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan
dilepaskannya norepinepfrin mengakibatkan konstriksi pembuluh
darah. ( Smelzer et al,.2008).
Menurut
(Corwin, 2009) hipertensi terjadi melalui beberapa
mekanisme yaitu curah jantung dan tahanan perifer, sistem reninangiotensin serta sistem saraf simpatis. Curah jantung dan tahanan
perifer dapat meningkatkan tekanan darah. Peningkatan curah jantung
terjadi melalui dua cara yaitu peningkatan volume cairan atau preload
dan rangsangan saraf yang mempengaruhi kontraktilitas jantung. Curah
jantung meningkat secara mendadak akibat adanya rangsang saraf
adrenergik.
Peningkatan pelepasan renin atau aldosteron maupun penurunan aliran
darah ke ginjal dapat mengubah penanganan air dan garam oleh ginjal.
Peningkatan volume plasma menyebabkan peningkatan volume
diastolik akhir sehingga terjadi peningkatan volume sekuncup dan
tekanan darah. Peningkatan preload biasanya berkaitan dengan
peningkatan tekanan sistolik (Lam Murni, 2011).
Tekanan darah ditentukan oleh konsentrasi sel otot halus yang terdapat
pada arteriol kecil. Peningkatan konsentrasi sel otot halus berpengaruh
pada
peningkatan
konsentrasi
kalsium
intraseluler.
Peningkatan
22
konsentrasi otot halus mengakibatkan penebalan pembuluh darah
arteriol
yang
dimediasi
oleh
angiotensin
dan
menjadi
awal
meningkatnya tahanan perifer yang irreversible (Gray, Darkins, Morgan,
dan Simpon, 2005). Perubahan struktur pembuluh darah meliputi
aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat, dan penurunan
relaksasi otot polos pembuluh darah, yang mengakibatkan penurunan
kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah (Corwin, 2009).
Sel endotel pembuluh darah juga memiliki peran penting dalam
pengontrolan pembuluh darah jantung dengan cara memproduksi
sejumlah vasoaktif lokal yaitu molekul oksida nitrit dan peptida
endotelium. Disfungsi endotelium banyak terjadi pada kasus hipertensi
primer (Anggie Hanifa, 2009).
2.1.6
Manifetasi klinis hipertensi
Gejala umum yang terjadi pada hipertensi yaitu sakit kepala, epistkasis,
pusing, dan tinnitus berhubungan dengan naiknya tekanan darah. Empat
akibat utama hipertensi adalah stroke, infark miokard, gagal ginjal, dan
ensefalopati (Tambayong, 2000). Beberapa penderita hipertensi yang
tidak
menunjukkan
gejala
sampai
bertahun-tahun
biasanya
.menunjukkan kerusakan vaskuler, dengan manifestasi yang khas sesuai
sistem organ yang divaskularisasi oleh pembuluh darah. Keterlibatan
pembuluh darah dalam otak dapat menimbulkan stroke atau serangan
23
iskemik dengan tanda gejala paralisis sementara pada satu sisi
(hemiplegia) atau gangguan ketajaman penglihatan ( Rokhaeni, 2001).
Menurut Corwin (2009), manifestasi klinis hipertensi terjadi setelah
mengalami hipertensi bertahun tahun, dan berupa sakit kepala saat
terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah, akibat peningkatan
tekanan darah intrakranium. Penglihatan kabur akibat kerusakan
hipertensif pada retina, cara berjalan yang tidak bagus Karena
kerusakan susunan saraf pusat, nokturia yang disebabkan akibat
peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerulus serta edema
dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler
2.1.7
Komplikasi Hipertensi
Tekanan darah tinggi apabila tidak diobati dan ditanggulangi, maka dalam
jangka panjang akan terjadi komplikasi serius pada organ-organ tubuh baik
secara langsung maupun tidak langsung (Yugiantoro, 2006). Beberapa
komplikasi yang timbul akibat hipertensi diantaranya
stroke, infark
miokard, gagal ginjal, enselopalopati, kejang.
a. Stroke
Stroke dapat terjadi akibat hemoragik tekanan darah tinggi di otak,
atau akibat embolus yang terlepas dari pembuluh selain otak yang
terpajan tekanan tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronis
24
apabila arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertropi dan
penebalan, sehingga aliran darah ke area otak yang diperdarahi
berkurang. Arteri pada otak mengalami arteriosclerosis dapat
melemah sehingga meningkatkan kemungkinaan terbentuknya
aneurisma (Yugiantoro, 2006).
b. Infark miokard
Infark miokard dapat terjadi apabila arteri koroner mengalami
arterosklerosis atau apabila terbentuk trombus yang menghambat
aliran darah yang melalui pembuluh darah tersebut, sehingga
miokardium
tidak
mendapatkan
cukup.Kebutuhan oksigen miokardium
suplai
oksigen
yang
yang tidak terpenuhi
menyebabkan terjadinya iskemia jantung, yang pada akhirnya dapat
menjadi infark (Lam Murni, 2011).
c. Gagal ginjal
Penyakit ginjal
dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat
tekanan tinggi
pada
kapiler-kapiler
ginjal
dan
glomerolus.
Kerusakan glomerulus akan mengakibatkan darah mengalir ke unitunit fungsional ginjal, sehingga nefron akan terganggu dan berlanjut
menjadi hipoksia dan kematian ginjal. Kerusakan membran
glomerulus menyebabkan protein keluar melalui urin sehingga
terjadi edema sebagai akibat dari tekanan osmotik koloid plasma
25
yang berkurang. Hal tersebut terutama terjadi pada hipertensi kronik
( Corwin, 2009).
d. Ensefalopati juga dapat terjadi terutama pada hipertensi maligna atau
hipertensi dengan onset cepat. Tekanan yang tinggi pada kelainan
tersebut menyebabkan peningkatan tekanan kapiler, sehingga
mendorong cairan masuk ke dalam ruang intertisium di seluruh
susunan saraf pusat. Hal tersebut menyebabkan neuron-neuron di
sekitarnya kolap dan terjadi koma bahkan kematian (Lam Murni
Sagala, 2011)
e. Kejang
Kejang dapat terjadi pada wanita preeklamsia. Bayi yang baru lahir
mungkin memiliki berat lahir kecil akibat fungsi placenta tidak
adekuat , kemudian dapat dialami hipoksia dan asidosis jika ibu
kejang selama atau sebelum proses persalinan ( Elisabeth J Corwin ,
2009: 487-488).
2.1.8
Penatalaksanaan Hipertensi
Penanganan untuk setiap pasien hipertensi adalah mencegah terjadinya
morbiditas dan mortalitas penyerta dan mempertahankan tekanan darah
di bawah 140/90 mmHg (Smeltzer & Bare, 2002). Secara umum
penatalaksanaan untuk menurunkan tekanan darah dibagi menjadi dua,
26
yaitu
terapi
farmakologis
farmakologis
adalah
dan
pengobatan
nonfarmakologis.
dengan
Pengobatan
menggunakan
obat
antihipertensi untuk menurunkan tekanan darah yang biasanya
menggunkaan satu atau lebih obat. Pengobatan farmakologis yang
digunakan untuk menurunkan tekanan darah terdiri dari tujuh golongan,
yaitu golongan diuretik (aceinhibitor, karbonik anhydrase, loop
diuretic, tirazid, osmotic dan hemat kalium, beta blocker (acebutalol,
metoprolol dsb), angiotensin converting
enzyme ( captopril, dsb),
angiotensin II receptor bloker (Iosartan, olmesartan), obat yang bekerja
di system saraf pusat ( clonidin, metildopa) dan vasodilator (
fenolpopan , hidralazin, dan minoxidili) (Lili dan Tantan, 2007).
Pengobatan nonfarmakolgis adalah pengobatan yang dilakukan tanpa
menggunakan
obat-obatan.
Untuk
menurunkan
tekanan
darah,
penderita penyakit hipertensi harus melakukan perubahan pola hidup
yang lebih baik. Mengubah pola hidup dengan pola hidup yang sehat
dapat memperbaiki derajat kesehatan dan untuk mengurangi faktor
resiko yang dapat memperburuk penyakit, diantaranya dengan
mengurangi asupan garam, mengurangi berat badan, mengurangi
makanan
yang
mengandung
tinggi
lemak,
mengurangi
atau
menghentikan kebiasaan merokok, mengurangi atau menghentikan
mengkonsumsi alkohol dan kafein, menghindari stress, mengontrol
27
gula darah dan kolesterol, melakukan aktifitas fisik atau olahraga dan
relaksasi. Salah satu aktifitas fisik atau olahraga untuk lansia adalah
aktivitas aerobic low impact (Gilang, 2007)..
2.2 Lansia
2.2.1 Pengertian Lansia
Menurut Undang-undang Republik Indonesia nomor 13 tahun 1998
tentang kesejahteraan lanjut usia, Pasal 1 ayat (2) ,(3), (4) dalam Nugroho
(2008). Menyebutkan bahwa lanjut
usia adalah seseorang yang telah
mencapai usia lebih dari 60 tahun. Menurut Mickey (2006), menyatakan
lansia merupakan kelompok usia 60 tahun keatas yang rentan terhadap
kesehatan fisik dan mental. Penuaan pada lansia atau dikenal dengan
aging merupakan tahap lanjut dari proses kehidupan yang ditandai dengan
penuruan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan stress lingkungan.
Penurunan kemampuan berbagai organ dan fungsi sistem tubuh pada
lansia bersifat alamiah atau fisiologis.
2.2.2 Perubahan Morfologis dan fungsi tubuh pada lansia
Pada sistem kardiovaskular terjadi perubahan pada organ jantung lansia
yang meliputi katup jantung menebal dan menjadi kaku, kemampuan
jantung memompa darah menurun 1% per tahun, berkurangnya kardiak
output, berkurangnya heart rate terhadap respon stress, hilangnya elastisitas
28
pembuluh darah. Selain itu bertambahnya usia sistem aorta dan arteri perifer
menjadi kaku dan tidak lurus. Perubahan ini terjadi akibat peningkatan serat
kolagen dan hilangnya serat elastis dalam lapisan medial arteri (Mickley,
2006). Menurut Santoso (2009), perubahan yang terjadi pada lansia
diantaranya perubahan fisik, dan psikologis.
1) Perubahan kondisi fisik
Perubahan pada kondisi fisik pada lansia meliputi perubahan dari tingkat
sel sampai ke semua sistem organ tubuh, diantaranya sistem pernafasan,
pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler, sistem pengaturan tubuh,
muskolosketal, gastrointestinal, urogenital, endokrin, dan integumen.
Masalah fisik yang sering ditemukan pada lansia diantaranya lansia
mudah jatuh, mudah lelah, kekacuan mental akut, nyeri pada dada,
berdebar-debar, sesak nafas, pada saat melakukan aktifitas atau kerja
fisik, pembengkakan pada kaki bawah, nyeri pinggang atau punggung,
nyeri sendi pinggul, sulit tidur, dan sering pusing (Santoso, 2009).
2) Perubahan Psikologis
Masalah perubahan psikososial serta reaksi individu terhadap perubahan
sangat beragam, bergantung pada kepribadian individu lansia yang
bersangkuatan. Menurut Miller (2004) dan Cornelius (1993), dalam
Endah
(2009),
lansia
sering
mengalami
kebingungan
yang
akanmempengaruhi kemampuan untuk berkonsentrasi, sehingga dapat
29
mengakibatkan kekhawatiran atau kecemasan. Kemudian perasaan
stress, depresi atau adanya sesuatu yang hilang dan perasaan berduka
juga dapat meningkatkan risiko terkena penyakit demensia.
2.3 Senam Aerobik
2.3.1 Pengertian Senam aerobic
Menurut Wicaksono (2011), senam aerobik adalah olahraga yang
dilakukan secara terus menerus dimana kebutuhan oksigen masih dapat
dipenuhi tubuh. Latihan aerobik dimulai dengan pemanasan selama 5
menit kemudian diikuti dengan latihan pokok dengan mengukur
rmaksimum detak jantung dengan pencapaian 220 dikurangi usia yang
sedang berlatih per menit (DNM). Latihan ini dilakukan selama 20
menit, namun bila dilakukan setiap hari atau bila tidak ada waktu boleh
dilakukan 3x 30 menit per minggu (Mahalayati, 2010).
Menurut Tangkudung (2004), senam aerobik ialah serangkaian gerak
yang dipilih secara sengaja dengan cara mengikuti irama musik yang
juga dipilih sehingga melahirkan ketentuan ritmis, kontinuitas, dan
durasi tertentu. Tangkudung (2004) juga menjelaskan senam aerobik
bertujuan untuk meningkatkan kemampuan jantung dan paru-paru.
Pefrosky
(2005)
menjelaskan
karakteristik
senam
aerobic
diantaranya adalah mempunyai tujuan meningkatkan kemampuan
jantung dan paru serta menggunakan irama musik. Senam aerobik
30
low impact merupakan senam yang gerakannya ringan, bisa
dilakukan mulai dari usia anak-anak, dewasa bahkan lansia.
Gerakannya ini berupa gerakan-gerakan kaki, seperti jalan di tempat,
jalan maju mundur tepuk tangan, serta dikombinasikan dengan
gerakan-gerakan tangan dan bahu, sehingga olahraga jenis ini cocok
digunakan untuk orang yang menderita penyakit jantung maupun
hipertensi (Sunanto, 2009).
2.3.2 Manfaat Senam Aerobic low impact
Manfaat senam aerobic yaitu untuk menjaga kesehatan jantung dan
stamina tubuh. Menurut Muhajir (2007), senam aerobik dapat
meningkatkan daya tahan jantung dan paru-paru, membakar lemak
yang berlebihan di tubuh, mengencangkan tubuh dan
mencegah
timbulnya penyakit kardiovaskuler seperti stroke. Selain itu latihan
senam dapat menghilangkan kebiasaan buruk
seperti merokok.
Menurut Moh Gilang (2007), kegiatan senam aerobik dapat
meningkatkan kelenturan, keseimbangan, koordinasi, kelincahan
daya tahan tubuh. Dengan melakukan aerobik selama 20 menit,
maka energi akan meningkat sebesar 20%.
2.3.3 Prinsip Senam Aerobic Low Impact
Untuk mencapai target heart rate dalam senam aerobic low impact
diperlukan prinsip-prinsip latihan yang menunjang sebagai berikut:
31
1)
Intensitas Latihan
Intensitas latihan sangat diperlukan dalam mencapai target
heart rate. Intensitas latihan yang baik berada dalam rentang
70-85% dari denyut nadi maksimal. Rentang daerah ini lazim
disebut sebagai training zone atau daerah latihan. Suatu latihan
yang telah dilakukan seseorang dinilai telah memenuhi takaran
yang baik apabila denyut latihannnya berada dalam rentang 7085% dari denyut nadi maksimalnya (Malahayati, 2010). Untuk
mengetahui denyut nadi dalam satu menit, bisa memakai dua
cara, cara pertama yaitu dengan menggunakan alat yang
bernama pulse meter. Alat ini sangat terbatas dan hanya tersedia
di laboratorium olahraga. Dengan memasukkan jari telunjuk
selama 1 menit, maka secara otomatis hasil penghitungan
denyut nadi langsung dapat diketahui. Cara kedua dengan cara
palpasi yaitu dengan cara meraba denyut nadi pada pergelangan
tangan atau pada pangkal leher menggunakan jari telunjuk dan
jari tengah (Moh Gilang, 2007).
2)
Durasi
Lama latihan berbanding terbalik dengan intensitas latihan.
Intensitas latihan yang berat membutuhkan waktu yang lebih
pendek dibandingkan dengan intensitas latihan yang ringan.
32
Latihan dengan tempo yang terlalu lama atau terlalu pendek
akan memberikan hasil yang kurang efektif. Dalam senam
aerobik total waktu latihan yang baik umumnya antara 20-60
menit dalam satu sesi latihan (Suharno, 2009).
3)
Frekuensi
Frekuensi latihan adalah berapa kali latihan intensif yang
dilakukan oleh seseorang. Frekuensi latihan untuk senam
aerobik dilakukan 2-5 kali seminggu. Apabila frekuensi latihan
lebih dari 5 kali maka dikhawatirkan tubuh tidak cukup
beristirahat dan melakukan adaptasi kembali ke keadaan normal
sehingga dapat menimbulkan sakit atau over training. Untuk lansia
senam aerobik cukup dilakukan 3 kali selama seminggu
(Malahayati, 2010).
4)
Intensitas
Intensitas latihan adalah lama waktu atau bobot latihan yang
dilakukan selama melakukan senam aerobic low impact. Latihan
sebaiknya antara 70-85 persen dari denyut jantung maksimum.
Untuk pemula dengan kesehatan yang baik
70 % denyut
jantung maksimum sangat bagus ( Moh Gilang, 2007).
33
5)
Time
Waktu atau lamanya latihan sebaiknya bertahap ditingkatkan
antara 20-60 menit.
2.3.4 Jenis-jenis senam aerobic
1) Low impact ( Benturan Ringan)
Pengertian latihan low impact merupakan latihan yang dilakukan
dengan iringan musik yang sedang, iramanya dengan rangkaian
gerakan yang dipandu, tanpa latihan yang menggunakan lompatanlompatan dan menggunakan otot-otot tubuh baik bagian atas
maupun
bagian
bawah
tubuh.
Tujuan
latihan
ini
adalah
meningkatkan endurance atau daya tahan atau stamina bagi
pelakunya. Latihan ini sangat cocok untuk pemula dan semua usia
(Ashadi, 2008). Menurut Malahayati (2010) senam aerobik low
impacts, hanya mempunyai gerakan ringan seperti berjalan di
tempat, menekuk siku, dan menyerongkan badan. Diiringi alunan
musik yang tidak terlampau keras tapi membuat bersemangat.
Senam aerobik low impact inilah yang tepat digunakan untuk lansia
dan bermanfaat untuk menjaga kesehatan jantung dan stamina
tubuh.
34
2) High Impact
Senam High Impacts (senam aerobik aliran gerakan keras). Jenis
latihan ini sangat cocok bagi mereka yang telah memiliki seperangkat
syarat-syarat kualitas dan teknik senam aerobik yang memadai.
Latihan
high atau lompatan-lompatan
adalah jenis latihan yang
bertujuan meningkatkan power dan meningkatkan kardiovaskular
bagi pelakunya. Latihan ini adalah latihan yang dilakukan dengan
intensitas yang tinggi diiringi oleh musik yang berirama cepat ( Moh,
Gilang, 2007).
3) Moderate Impact
Moderate impact merupakan perpaduan antara senam aerobik low
impact dan senam aerobik high impact. Latihan moderate impact
merupakan latihan yang diperlakukan secara sistematis dan
harmonis serta ritmis untuk meningkatkan endurance atau daya
tahan secara keseluruhan. Senam aerobik moderate impact juga
meningkatkan power bagi pelakunya, apabila dilakukan dalam
waktu yang teratur (Malahayati, 2010).
2.3.5 Kelebihan dan Kelemahan Senam aerobic low impact
Kelebihan Senam aerobik low impact adalah olahraga yang murah
dan mudah dilakukan, tidak membutuhkan peralatan yang rumit dan
35
hampir semua orang dapat melakukannya (Malahayati, 2010).
Senam aerobik low impact juga mempunyai kekurangan antara lain
adalah aerobik low impact tidaklah bebas sama sekali dari
kemungkinan mengalami cidera. Hal ini terjadi karena mereka
melakukan gerakan tangan yang berlebihan, untuk memberikan
kompensasi pada gerakan kaki yang hanya sedikit, dan dapat pula
terjadi cedera pada bahu (Moh Gilang, 2007).
2.3.6 Prosedur Latihan Senam Aerobik low impact
Prosedur latihan senam aerobik low impact terdiri dari pemanasan ,
kegiatan inti dan pendinginan.
a. Pemanasan
Kegiatan pemanasan atau warning up memiliki tujuan yaitu
meningkatkann elastisitas otot-otot dan ligament disekitar
persendian untuk mengurangi resiko cedera, meningkatkan suhu
tubuh dan denyut nadi sehingga mempersiapkan diri agar siap
menuju ke aktivitas utama yaitu aktivitas latihan. Dalam Fase ini,
pemulihan gerakan harus dilakukan dan dilaksanakan secara
sistematis, runtut, dan konsisten dimulai dari kepala, lengan,
dada, pinggang dan kaki (Moh gilang, 2010).
36
b. Kegiatan Inti
Fase latihan adalah fase utama dari sistematika latihan senam
aerobik low impact yang berlangsung selama 20 menit. Dalam
fase ini target latihan harus tercapai. Salah satu indikator latihan
telah memenuhi target adalah dengan memprediksi bahwa
latihan tersebut telah mencapai training zone (Malahayati,
2010). Training zone adalah daerah ideal denyut nadi dalam
fase latihan. Rentang training zone adalah 60-90% dari denyut
nadi maksimal seseorang (DNM) Denyut nadi yang dimiliki
oleh setiap orang berbeda, tergantung dari tingkat usia
seseorang.
Berikut adalah rumus mencari denyut nadi
maksimal seseorang (DNM). Umumnya rumus ini digunakan
untuk pengukuran denyut nadi). DNM=220-usia (Tahun)
(Irwansyah, 2006).
c. Pendinginan
Gerakan pendinginan merupakan gerakan penurunan dari
intensitas tinggi ke gerakan intensitas rendah. Ditinjau dari segi
faal, perubahan dan penurunan intensitas latihan secara bertahap
berguna untuk menghindari terjadinya penumpukan asam laktat
yang akan menyebabkan kelelahan dan rasa pegal pada bagian
tubuh atau otot tertentu (Malahayati, 2010). Dalam tahap akhir
37
kegiatan aerobik ini bertujuan mengembalikan nadi yang cepat
karena latihan kembali menjadi normal. Pada fase ini gerakan
berangsur diturunkan kecepatannya selama 3-5 menit untuk
mengembalikan ke denyut nadi normal (Giriwijoyo, 2007).
2.4 Pengaruh senam aerobic low impact terhadap penurunan tekanan
darah
Melakukan aktivitas fisik seperti senam aerobik low impact mampu
mendorong jantung bekerja secara optimal. Senam aerobik low impact
mampu meningkatkan kebutuhan energi oleh sel, jaringan dan organ
tubuh,sehingga meningkatkan aktivitas pernafasan dan otot rangka
(Mahayati, 2010). Peningkatan aktivitas pernafasan akan meningkatkan
aliran balik vena sehingga menyebabkan peningkatan volume sekuncup
yang akan langsung meningkatkan curah jantung. Hal ini menyebabkan
tekanan darah arteri meningkat dan akan terjadi fase istirahat. Fase ini
mampu menurunkan aktivitas pernafasan otot rangka dan menyebabkan
aktivitas saraf simpatis meningkat. Setelah itu kecepatan jantung menurun,
volume sekuncup menurun, dan terjadi vasodilatasi arteriol vena.
Penurunan ini mengakibatkan penurunan curah jantung dan penurunan
resistensi perifer total, sehingga terjadi penurunan tekanan darah
(Sherwood, 2005).
38
Olahraga senam aerobik low impact dapat meningkatkan jumlah darah yang
dipompa setiap menitnya oleh jantung khususnya dari ventrikel kiri.
Melalui peningkatan jumlah darah yang dipompa akan mengakibatkan
jumlah oksigen yang beredar ke seluruh tubuh juga meningkat (Stanley,
2006). Jumlah darah yang dipompa jantung bergantung kepada jumlah
darah vena yang kembali ke jantung. Jantung akan memompa darah bila ada
darah vena yang kembali ke jantung. Selama beraktivitas senam aerobik
low impact, terjadi kontraksi otot, difusi oksigen karbonmonoksida di paru
dan konstriksi vena, hal tersebut mengakibatkan peningkatan jumlah darah
vena yang kembali ke jantung (Malahayati, 2010). Melakukan senam
aerobik low impact akan memberikan keuntungan bagi tubuh terutama
jantung dan paru. Otot jantung bertambah kuat, sehingga jantung dapat
memompa darah lebih maksimal. Curah jantung meningkat sehingga dapat
berdenyut lebih lambat.
Disamping itu peningkatan suplai
darah ke
jantung semakin sempurna dengan berkembangnya pembuluh darah yang
baru sehingga jantung mendapatkan lebih banyak zat makanan dan oksigen
serta tidak mudah lelah.
Penelitian menunjukkan bahwa senam aerobik low impact berpengaruh
terhadap tekanan darah pada lansia hipertensi. Hal tersebut didukung
dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh Arfani Asha, (2011). Dalam
penelitian tersebut telah didapatkan hasil bahwa tekanan sistolik sebelum
39
intervensi yaitu 148-215 mmHg dan setelah intevensi turun menjadi 144212 mmHg. Sedangkan tekanan diastole sebelum diberikan intervensi yaitu
80-93 mmHg turun menjadi 80-90 mmhg setelah diberikan intervensi.
Dengan nilai p value adalah 0.000 . Data analisa tersebut dapat menyimpulkan
bahwa terdapat pengaruh latihan aktifitas fisik senam aerobik low impact
terhadap tekanan darah pada lansia penderita hipertensi di Posyandu Lansia
Kelurahan Brebes.
Download