use style: paper title - e-Journal | IAIN Bukittinggi

advertisement
ALHURRIYAH : Jurnal Hukum Islam
Vol 1, No 1, Januari – Juni 2016
EKSISTENSI RAKYU DALAM PENGEMBANGAN HUKUM ISLAM
Ismail
Dosen Pascasarjana IAIN Bukittinggi
E-mail : [email protected]
Diterima: 23 Februari 2016
Direvisi : 3 Mei 2016
Diterbitkan: 15 Juni 2016
Abstract
Ijtihad which has evolved since the era of Khulafa` al-Rasyidin has outlined positive values in
determining the law at the time of the passage of al-Qur`an and Sunnah do not determine the law
explicitly. In this condition rakyu is necessary to avoid a gap in legal when needed. The Prophet
permission to use rakyu also identifies that the legal provisions explicitly limited while law events
are always evolve following future developments. This is where ijtihad has a very important role in
the development of Islamic law. The role of ijtihad here is looking for appropriate and relevant legal
alternatives for the situation and the conditions in which ijtihad was done, especially when linked
to the current condition that is far different from the situation at the time of the revelation (Wahyu)
revealed. Nevertheless, the use of rakyu must be done by using the clear signs and do not follow the
passions, such as the stance taken by the mujtahid from previous generations. The use of rakyu in
performing law istibath undoubtedly has contributed significantly in the development of Islamic
law.
Keywords: Rakyu, ijtihad, the development of Islamic law.
Abstrak
Ijtihad yang telah berkembang sejak era Khulafa` al-Rasyidin telah menggariskan nilainilai positif dalam menetapkan hukum pada saat nas al-Qur`an dan Sunnah tidak
menentukan hukumnya secara eksplisit. Dalam kondisi inilah rakyu diperlukan agar
tidak terjadi kekosongan hukum pada saat dibutuhkan. Adanya izin Rasulullah SAW
untuk menggunakan rakyu sekaligus juga menunjukkan bahwa ketentuan-ketentuan
hukum secara eksplisit terbatas sedangkan peristiwa demi peristiwa hukum selalu
berkembang mengikuti perkembangan masa. Di sinilah ijtihad memiliki peran yang
sangat penting dalam pengembangan hukum Islam. Peranan ijtihad di sini adalah
mencari alternatif-alternatif hukum yang tepat dan relevan untuk situasi dan kondisi di
mana ijtihad itu dilakukan, apalagi bila dihubungkan dengan kondisi kekinian yang jauh
berbeda dengan kondisi pada saat wahyu diturunkan. Walaupun demikian pemakaian
rakyu mesti dilakukan dengan menggunakan rambu-rambu yang jelas dan tidak
mengikuti hawa nafsu, sebagaimana sikap yang diambil oleh generasi-generasi mujtahid
sebelumnya. Pemakaian rakyu dalam mengistinbathkan hukum tidak diragukan lagi telah
memberikan sumbangan yang sangat signifikan dalam pengembangan hukum Islam.
Kata Kunci: Rakyu, ijtihad, pengembangan hukum Islam.
pandangan tentang rakyu ini pada periode
LATAR BELAKANG
awal
Rakyu atau pemikiran sebagai sumber
hukum
Islam
telah
lama
melahirkan
dua
aliran
mainsream dalam metodologi hukum Islam,
menjadi
yakni aliran ra’yu dan aliran hadis. Namun
perbincangan di kalangan ulama. Perbedaan
Ismail
telah
51
Eksistensi Rakyu dalam ......
ALHURRIYAH : Jurnal Hukum Islam
Vol 1, No 1, Januari – Juni 2016
demikian, bila diperhatikan secara seksama,
mujtahid untuk sampai kepada hokum
diketahui bahwa perbedaan antara kedua
tersebut dituntut untuk menyusun dan
aliran ini tidak bersifat diametral. Karena,
menggunakan metodologi yang tepat. Hal
aliran rakyu bukanlah aliran yang semata-
ini
mata menggunakan rakyu dalam ijihadnya
digunakannya tidak salah kaprah. Tulisan
dan menolak hadis. Begitu juga sebaliknya,
ini berusaha untuk menjelaskan bagaimana
aliran
yang
rakyu dapat menjadi dalil hukum syara’
menolak penggunaan rakyu secara total.
serta peranannya dalam pengembangan
Keduanya hanya berbeda dalam tingkat
hukum Islam.
hadis
bukan
pula
aliran
sangat
penting
agar
ra’yu
yang
atau intensitas penggunaan rakyu. Ahli
rakyu yang berpusat di Kufah dan Bashrah
yang
jauh
Pengertian Ra’yu
dari
sumber
hadis,
lebih
banyak
menggunakan
bentuk mashdār dari kata ‫ رأى‬yang secara
rakyu. Sebaliknya, Ahli hadis atau ahli Hijaz
etimologi berarti melihat. Kata ra’yu atau
yaitu
yang
yang seakar dengan itu terdapat dalam 328
merupakan sumber hadis, dalam ijtihadnya
ayat yang tersebar dalam al-Quran. Tentang
tidak banyak menggunakan rakyu. Dengan
apa yang dimaksud dengan kata ra’yu itu
demikian, rakyu sebenarnya diterima oleh
dalam al-Quran tergantung kepada apa
kedua aliran tersebut dalam ijtihad. Hingga,
yang menjadi objek dari perbuatan melihat
yang menjadi persoalan adalah tentang
itu. Objek dari perbuatan melihat itu dalam
bagaimana rakyu dalam penetapan hukum
al-Quran secara garis besar dapat dibagi
Islam tersebut berperan.
dua, yaitu objek yang konkrit (berupa) atau
Menurut pandangan jumhur ulama bahwa
objek yang abstrak (tidak berupa).1
ijtihadnya
Mekah
pada
dan
dasarnya
dalam
Medinah,
semua
tindak
Kata
(‫)رأي‬
ra’yu
menurut
adalah
tanduk
manusia terdapat hukumnya dalam al-
Terhadap objek yang kongkrit kata rakyu
Quran
berarti melihat dengan mata kepala atau
dan
bentuknya
as-Sunnah.
tidak
selalu
Hanya
dalam
saja,
memperhatikan.
bentuk
Umpamanya
firman
Allah, Q.S. al-An’am (6): 78:
tersurat. Kadang-kadang hukum tersebut
turun
2
secara tersirat, bahkan tersuruk.
Terhadap hukum-hukum yang turun dalam
‫االية‬... ‫ال َه َذا َريِّب َه َذا أَ ْكبَ ُر‬
َ َ‫س بَا ِزغَةً ق‬
ْ ‫فَلَ َّما َرأَى الش‬
َ ‫َّم‬
bentuk tersurat tersebut, tidak diperlukan
Kemudian tatkala dia melihat matahari
rakyu untuk menemukakannya. Namun,
terbit, dan berkata inilahTuhanku, ini lebih
terhadap hukum yang turun dalam bentuk
besar....”
tersirat dan tersuruk, diperlukan usaha keras
dan
pemikiran
yang
mendalam
untuk
Terhadap objek yang abstrak, kata
sampai kepada hukum tersebut. Melalui
ra’yu tidak mungkin diartikan dengan
pemikiran atau rakru inilah kemudian
melihat dengan mata kepala, tetapi
seorang mujtahid sampai kepada hukumhukum Allah. Namun demikian, untuk
sampai
bukanlah
Ismail
kepada
hal
hukum-hukum
yang
mudah.
Amir Syarifuddin, Pembaharuan Pemikiran
Dalam Hukum Islam (Padang: Angkasa Raya, 1993), h. 45
2Amir, Pembaharuan….., h. 46
1
tersebut
Seorang
52
Eksistensi Rakyu dalam ......
ALHURRIYAH : Jurnal Hukum Islam
Vol 1, No 1, Januari – Juni 2016
harus diartikan dengan melihat dengan
mujtahid sampai kepada hukum-hukum
mata hati atau dengan memikirkan.
Allah. Namun demikian untuk sampai
Umpamanya firman Allah dalam surat
kepada hukum-hukum tersebut bukanlah
Luqman (31): 20:
hal yang mudah. Seorang mujtahid dituntut
untuk
ِ ‫السمو‬
ِ
َّ َّ ‫أَ ََلْ تَرْوا أ‬
‫ات َوَما ِِف‬
َ َ َّ ‫َن اللهَ َس َّخَر لَ ُك ْم َما ِف‬
َ
menyusun
dan
menggunakan
metodologi yang tepat agar ra’yu yang
digunakannya tidak salah kaprah.
ِ ‫ْاْل َْر‬
‫ض…االية‬
Dalam kaitannya dengan istinbath
hukum, ra’yu memiliki dua fungsi yaitu
Tidakkah kamu perhatikan Allah telah
pertama, untuk mengetahui hukum-hukum
menundukkan untuk (kepentingan) mu
yang tersirat di balik lafaz al-Quran dan al-
apa yang di langit dan apa yang di
Sunnah. Untuk tujuan ini ra’yu dapat
bumi…
menemukannya
dengan
menggunakan
metode qiyas. Kedua, untuk menemukan
Dalam pembahasan ini kata rakyu
hukum-hukum yang tersuruk (tersembunyi)
digunakan untuk pengertian memikirkan,
di balik keduanya. Untuk tujuan ini ra’yu
hasil pemikiran, atau ratio. Pengertian
menemukannya
seperti ini sama dengan yang terdapat
mashlahah.
dengan
metode
4
dalam Misbah al-Munir:
I.
al-‘Umuri, penyusun kitab al-Ijtihād fi
3
‫الرأي ىف اللغة العقل و التدبر‬
al-Islām; Ushuluh Ahkamuh Afāquh, yang
mengemukakan dua tugas atau fungsi dari
Ra’yu
pada
asalanya
ra’yu ini, yaitu:
berarti
1. Mempelajari
memikirkan dan merenungkan.
maksud
dan
tujuan
sejumlah nash syara’ dengan menggali
hikmah
Untuk pengertian berpikir dalam al-
pada
setiap
nash
syara’.
Quran juga digunakan kata “fakara” atau
Kemudian mempelajari tujuan syari’at
kata lain yang berakar kepada kata tersebut.
secara
Sedangkan kata yang digunakan Allah
bermacam-macam
dalam al-Quran untuk arti ini adalah
yang diistinbathkan.
nazhara atau yang biasa disebut dalam
keseluruhan
dari
kumpulan
ketentuan
hukum
2. Melakukan istinbath hukum terhadap
bahasa Indonesia dengan nalar. Walaupun
masalah-masalah
secara bahasa kata ini berarti melihat atau
penjelasan nashnya, karena nash tidak
memperlihatkan, namun bila digunakan
lagi bertambah, sedangkan masalah-
untuk objek yang abstrak artinya menjadi
masalah baru terus saja muncul. Dalam
memikirkan
keadaan demikian tidak ada jalan lain
Sebagai
pikiran
dalil
dapat
hukum,
ra’yu
mengantarkan
yang
tidak
ada
atau
seorang
Ahmad bin Muhammad bin Ali al-Mugni alFayyumiy (w. 770), Misbah al-Munir, Juz I, (Ttp: Dar alFikr, Tanpa Tahun), h. 247
3
Ismail
Amir, Pembaharuan…, h. 48
4
53
Eksistensi Rakyu dalam ......
ALHURRIYAH : Jurnal Hukum Islam
Vol 1, No 1, Januari – Juni 2016
kecuali menetapkan hukum terhadap
sumbernya, metode istinbath adalah cara-
masalah tersebut dengan ra’yu.
cara yang ditempuh oleh mujtahid dalam
5
menggali dan menetapkan hukum syara’
dari sumber sumbernya. Untuk tujuan ini
Metode Istinbath atau Ijtihad bi Ra’yi
yang perlu diketahui adalah bagaimana cara
Istinbath secara etimologi berasal dari
seorang mujtahid menyelesaikan masalah
kata nabth atau nubth dengan kata kerja
hukum yang dihadapinya; sumber dan dalil
nabatha, yanbuthu, yang berarti “air yang
hukum apa saja yang digunakan dan
mula-mula keluar dari sumur yang digali”.
bagaimana caranya menggunakan sumber
Kata kerja ini kemudian dijadikan bentuk
dan dalil tersebut.
transitif, sehingga menjadi anbatha dan
Secara umum di kalangan mujtahid
istanbatha, yang berarti mengeluarkan air
dan ulama ushul dalam menetapkan hukum
dari sumur (sumber tempat air tersimpan).
menggunakan
Jadi kata istinbath pada asalnya berarti
sebagaimana yang terdapat dalam ushul
“usaha
fiqh,
mengeluarkan
air
persembunyiannya”.
dari
Kata
tempat
yakni
langkah
mengikuti
langkah
langkah-langkah
tersebut
Mu’az bin Jabal yang telah disetujui oleh
kemudian dipakai sebagai istilah fiqh,
Nabi. Dalam hadis yang sangat populer
bahkan banyak literatur yang menyebut
dikatakan:
dengan idhafat kepada fiqh, yakni istinbath
‫عن اناس من اهل محص من اصحاب معاذ بن جبل ان رسول‬
al-ahkam.Istilah ini kemudian berarti “usaha
untuk mengeluarkan hukum dari sumber-
‫ كيف‬:‫اهلل ملا اراد ان يبعث معاذ بن جبل اىل اليمن قال‬
sumbernya”6. Dengan demikian Istinbath
sama
dengan
istikhrāj,
:‫ قال‬. ‫تقضي اذا عرض لك قضاء ؟ قال اقضي بكتاب اهلل‬
mengeluarkan
hukum, seperti kalimat yang berbunyi,
‫ فان‬:‫ قال‬. ‫ فبسنة رسول اهلل‬:‫فان َل جتد ِف كتاب اهلل ؟ قال‬
‫استنبط الفقيه الباطن باجتهاده وفهمه والذين يستنبطونه هم‬
7
‫ فضرب‬,‫َل جتد ِف سنة رسول اهلل ؟ قال أجتهد برأيي وال الو‬
‫العلماء‬
‫ احلمدهلل الذي وفق‬:‫ وقال‬. ‫رسول اهلل عليه وسلم علي صدره‬
‫رسول رسول اهلل َل يرضي اهلل ورسوله‬ ‫رواه أبو داود‬
Faqih itu mengeluarkan hukum yang tidak
jelas
dengan
jalan
ijtihad
dan
pemahamannya.
Dan
orang
yang
‫والرتمذي‬8
mengeluarkan hukum itu adalah ulama”
Diriwayatkan
Jika istinbath berarti usaha untuk
mengeluarkan
hukum
dari
sahabat
sumber-
Mu’az
Rasulullah
bin
SAW
penduduk
Homs,
Jabal,
bahwa
ketika
bermaksud
mengutus Mu’az ke Yaman,
Nadiyah Syarif al-‘Umurri, al-Ijtihad fi alIslam Ushuluh, Ahkamuh, Afaquh (Muasat al-Risalat,
1401 H/1979 M), h. 259
6 Ibrahim Husen,
“Memecahkan Masalah
Hukum Baru”, dalam Ijtihad Dalam Sorotan, Haidar
Baqir dan Syafiq Basri (ed), (Bandung: Penerbit Mizan,
1988 M.). h,. 25
7Nadiyah Syarif al-‘Umuri, al-Ijtihad……, h.
261
5
Ismail
dari
Nabi
bertanya kepada Mu’az, “ Jika suatu
tindakan hukum dihadapkan kepada anda,
Abu Daud, Sunan Abi DaudJuz II (Kairo:
Mustafa al-Babi al-Halabi, 1952), h. 272 ; al-Tirmizi,
Sunan al-Tirmizi (Beirut: Dar al-Fikr, 1967), Juz. I, h.
157
8
54
Eksistensi Rakyu dalam ......
ALHURRIYAH : Jurnal Hukum Islam
bagaimana
anda
Vol 1, No 1, Januari – Juni 2016
menyelesaikannya
?
quran
dan
sunnah
sebagaimana
yang
Mu’az menjawab, “Aku akan menetapkan
dikemukakan di atas. Dalam hadisnya yang
hukum dengan kitab Allah. Nabi bertanya
sangat populer di kalangan ahli hukum
lagi, “ Jika pada kitab Allah tidak engkau
Islam
jumpai hukumnya? Ia menjawab, “Aku
membenarkan
akan menetapkannya berdasarkan sunnah
berijtihad dengan ra’yunya ketika tidak
Rasul Allah saw. Nabi kemudian bertanya
ditemuakannya hukum suatu peristiwa dari
lagi, “ Bagaimana jika pada Sunnah
quran dan sunnah. Kata Rasul; Segala puji
Rasulu Allah saw juga tidak engkau
bagi Allah yang telah memberikan taufik
jumpai ? Ia menjawab,” Aku akan
kepada utusan Rasul-Nya untuk melakukan
berijtihad dengan ra’yu (pikiran) ku dan
sesuatu yang diakui dan diredhai-Nya.
aku akan berusaha secara maksimal.
tersebut,
Rasul
dengan
tindakan
Pengakuan
bangga
Mu’az
Nabi
untuk
terhadap
Kemudian, Rasulullah menepuk dadanya,
penggunaan ra’yu dalam ijtihad tersebut
seraya bersabda, “Segala puji bagi Allah
juga diamalkan oleh para Khula al-Rasyidin,
yang telah memberikan taufiq kepada
seperti Abu Bakar dan Umar bin Khatab.
utusan Rasulullah sesuai dengan yang
Abu Bakar dalam menetapkan hukum suatu
diredhai Allah dan Rasul-Nya.H.R. Abu
perkara pertama-tama mengacu kepada
Daud dan al-Turmuzi.
nash al-Quran dan Sunnah, jika tidak
9
ditemukannya beliau mengajak sahabatsahabat yang lain untuk mendiskusikannya.
Dari dialog Nabi dengan Mu’az pada
Diriwayatkan dari Maimun Ibn Mahran,
hadis di atas dapat dipahami bahwa
“Abu Bakar semasa hidupnya, apabila
seorang mujtahid bila menemukan suatu
disampaikan kepadanya suatu kasus, ia
masalah hukum, ia harus terlebih dahulu
mencari jawabannya terlebih dahulu dalam
mencari jawabannya dalam al-Quran. Jika
Quran, jika ia mendapatkannya, perkara itu
tidak
akan
menemukan
dalam
al-Quran,
diselesaikannya
dengan
jawaban
iamencarinya dalam al-Sunnah. Bila pada
tersebut.
al-Sunnah
ia
mendapatkan jawabannya dalam quran dan
melakukan ijtihad dengan menggunakan
dia tahu bahwa jawaban itu terdapat dalam
ra’yunya.
Sunnah maka ia akan memutuskan perkara
juga
tidak
ditemukan,
Selanjutnya
jika
ia
tidak
Menggunakan rakyu di saat tidak
itu berdasarkan sunnah. Jika ia menemui
terdapat nash merupakan sunnah Rasul
kesulitan untuk mendapatkan jawabannya,
yang
ia pun pergi menemui sahabat yang lain dan
beliau
jalankan
yang
juga
dipraktekkan oleh para Khulafa al-Rasyidin
dan para ahli fiqh di kalangan sahabat
9
Ijtihad menurut bahasa berarti upaya
pengerahan seluruh kemampuan dan potensi untuk
samapai pada suatu perkara atau perbuatan. Menurut
ulama Ushul Fiqh Ijtihad adalah usaha seorang ahli
hukum
dengan
mengguanakan
seluruh
kemampuannya untuk
menggali hukum yang
bersifat amaliyah dari dalil-dalil yang tertentu. Abu
Zahrah, Ushul al-Fiqh, (Tt. Dar al-Fiqh al-Arabi, tt).,
hal. 379
setelah beliau, menurut kadarnya masingmasing. Beliau sendiri pernah memberikan
wewenang penuh kepada Mu’az bin Jabal
untuk
menggunakan
ra’yu
dan
akal
fikirannya dalam menyelesaikan perkara
yang tidak ditemukan hukumnya pada
Ismail
55
Eksistensi Rakyu dalam ......
ALHURRIYAH : Jurnal Hukum Islam
Vol 1, No 1, Januari – Juni 2016
ia katakan “saya menghadapi masalah ini
Sunnah Nabi dan kebijakan yang
dan itu, apakah kamu mengetahui bahwa
ditempuh
rasul pernah memutuskan perkara seperti
menggunakan
itu? Jika sejumlah orang datang kepadanya,
mereka ketika tidak dijumpai nash al-Quran
di
menyebutkan
dan Sunnah ini kemudian juga diikuti oleh
keputusan Rasul tentang itu. Abu Bakar
para ulama mujtahid sesudahnya, bahkan
berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah
pada masa pengkodifikasian fiqh (sekitar
menyediakan orang yang akan memelihara
abad ke II H.) metodologi ijtihad dengan
pengetahuan Nabi kita untuk kita. Sebalinya
menggunakan rakyu atau akal fikiran
jika dia tidak juga mendapatkan sunnah
tersebut telah terumuskan dengan baik.
mana
tiap-tiapnya
para
sahabat
ra’yu
atau
beliau
dalam
akal
fikiran
dari sahabat-sahabatnya itu, ia kumpulkan
Metodologi qias misalnya, metologi
para pemuka dan orang-orang terpilih, lalu
ini mengandung arti mengukur sesuatu
meminta
mereka
dengan ukuran tertentu dan sebagaimana
sependapat tentang penyelesaian perkara
diketahui dalam istilah fiqh kata itu berarti
tersebut, ia putuskan dengan pendapat
menyamakan hukum sesuatu yang tidak
dimaksud.10 Apa yang dilakukan oleh Abu
ada nash hukumnya dengan hukum sesuatu
Bakar di atas menunjukkan bahwa dalam
yang lain yang ada nash hukumnya atas
keadaan tidak ada nash dimungkinkan
dasar persamaan illat. Untuk mengetahui
baginya untuk melakukan ijtihad secara
dan
bersama-sama.
persamaan illat itu meperlukan pemikiran
pendapatnya.
Jika
Tidak jauh berbeda dengan Abu
menentukan
ada
atau
tidaknya
yang mendalam.
Bakar, Umar bin Khattab juga berpegang
dengan rakyu dan akal fikiran ketika tidak
Para mujtahid yang menggunakan
didapatinya nash. Dalam sebuah suratnya
qias ini mendasari pemikirannya kepada
kepada
ayat dan hadis serta perbuatan sahabat,
Abu
Musa
al-Asy’ari,
Umar
menulis, “ Pahamilah, pahamilah apa yang
sebagaimana
meragukanmu tentang apa yang terdapat
sebelumnya. Hal ini sekaligus menunjukkan
dalam al-Kitab dan al-Sunnah. Kenalilah
bahwa ra’yu atau akal fikiran memiliki
hal-hal yang serupa dan yang sama, dan
peranan
ketika itu hubungkan dan bandingkan satu
penetapan hukum Islam. Di samping itu
sama lain. Dan peganglah perkara yang
adanya sandaran hukum yang jelas dari
lebih dekat kepada Allah dan yang lebih
qias, sebagai salah satu model ijtihad bi al-
dekat kepada kebenaran”.
ra’yi,
11
yang
yang
juga
telah
cukup
dikemukakan
penting
menunjukkan
dalam
bahwa
penggunaan akal fikiran sebagai dasar
penetapan hukum
Abdul Wahhab Abu Sulaiman, Dauru AlAqli fi Al-Fiqh Al-Islami, edisi terjemahan Sayid Agil
Husin al-Munawwar dan Hadri Hasan, Peranan Akal
Dalam Hukum Islam, (Semarang : Dina Utama, 1994),
hal.15
11
Mustafa Ahmad al-Zarqa, al-Ishtishlah wa alMashalih al-Mursalah fi Syari’at al-Islamiyah wa Ushul
Fiqhiha (Dar al-Qalam, 1988), hal. 17
Ismail
berada di bawah
naungan nash.
10
Selanjutnya terdapat pula metode
istihsan,
yang
mengandung
arti
memandang lebih baik, dan dalam istilah
ushul
fiqh
didefiniskan
dengan
“Berpindahnya mujtahid dari tuntutan qias
56
Eksistensi Rakyu dalam ......
ALHURRIYAH : Jurnal Hukum Islam
Vol 1, No 1, Januari – Juni 2016
jalli kepada qias khafi, atau dari hukum
majaz, antara yang sharih dan yang
umum kepada hukum kecualian, “ karena
kinayah.
di pandang lebih baik. Tidak jauh berbeda
penunjukannya secara ibarah, isyarah,
dengan metode qias, metode istihsan ini
iqthidah dan dilalah. Diperiksa pula
juga tidak dapat dilepaskan dari pemikiran.
mantuqnya dan dicari mafhum yang
Tanpa
di
terdapat di balik manthuq itu. Bila
dalamnya seorang mujtahid tidak dapat
mujtahid tidak menemukan jawaban
mengetahui
terjadinya
hukum dari apa yang tersurat secara
pemalingan hukum dari qias jalli kepada
jelas dalam teks atau manthuq al-Quran,
qias khafi atau dari hukum kulli ke hukum
Ia mencarinya dari pengertian yang
juz’i.
terkandung (tersirat) di balik teks al-
12
adanya
unsur
pemikiran
kemungkinan
Di samping dua metode ijtihad bi al-
Kemudian
diteliti
Quran.
ra’yi sebagaimana yang dikemukakan di
Mengenai bagaimana cara mengambil
atas masih terdapat metode-metode lain,
hukum dari yang tersirat di balik teks al-
seperti istishlah atau mashalih al-mursalah, urf,
Quran ini, terdapat dua metode, yakni
dan saddu alzari’ah, yang secara keseluruhan
dengan menggunakan qaedah mafhum
tidak
dan
dapat
melepaskan
diri
dari
keterlibatan pemikiran atau akal.
Berdasarkan
menggunakan
metode
qiyas.
ia
2) Jika mujtahid tidak menemukannya
mengemukakan beberapa langkah yang
dalam al-Quran, ia melangkah ke tahap
mesti ditempuh seorang mujtahid yang
berikutnya
hendak mengistinbathkan hukum, sebagai
Sunnah Nabi. Mula-mula mencarinya
berikut ini:
dari sunnah yang mutawatir, kemudian
1) Langkah pertama yang harus dilakukan
dari sunnah yang tingkat kesahihannya
mujtahid adalah merujuk kepada al-
berada di bawah sunnah mutawattir.
Quran. Bila menemukan dalil atau
Kemudian, sama halnya dengan mencari
petunjuk yang umum dan zahir, si
hukum
mujtahid harus mencari penjelasannya
menemukan dari yang tersurat dalam
baik dalam bentuk lafazh khas yang
lafaz hadis, mujtahid mencarinya dari
akan mentakhsiskan, lafaz muqayyad
yang tersirat dari lafaz hadis tersebut.
yang menjelaskan yang mutlaq, qarinah
3) Langkah berikutnya, mujtahid mencari
yang akan menjelaskan maksudnya.
jawabannya dari kesepakatan ulama
Selanjutnya, dalam meneliti ayat al-
sahabat. Bila dari sini dia menemukan
Quran
hukum
hukum, maka ia menetapkan hukum
tersebut perlu pula dipilah-pilah antara
menurut apa yang telah disepakati oleh
lafaz yang zhahir, nash, mufassar, dan
ulama sahabat tersebut. Kesepakatan
muhkam. Perlu pula dipilah antara
tersebut dinamai dengan ijma’.
yang
penunjukannya
ini
dengan
pula
mengandung
secara
hakikat
dan
yaitu
pada
merujuk
al-Quran,
jika
kepada
tidak
4) Bila tidak dijumpai kesepakatan ulama
sahabat tentang hukum yang dicarinya,
maka mujtahid menggunakan segenap
12
Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh,
(Kairo : Maktabah al-Nasr, 1956), hal. 89
Ismail
kemampuan daya dan ilmunya untuk
57
Eksistensi Rakyu dalam ......
ALHURRIYAH : Jurnal Hukum Islam
Vol 1, No 1, Januari – Juni 2016
menggali dan menemukan hukum Allah
dalam
yang dia yakini pasti ada, kemudian
bentuk ini disebut sebagai hukum
merumuskannya
yang tersirat di balik lafaz al-Quran
dalam
formulasi
hukum yang kemudian disebut fiqh
c)
(hukum Islam).
Hukum
dalam
Hukum Allah tidak dapat ditemukan
dari harfiah lafaz dan tidak pula dari
Dengan demikian, dapat dipahami
bahwa
al-Quran.
seorang
mujtahid
isyarat atau lafaz yang terdapat dalam
apabila
al-Quran dan Sunnah, tetapi dapat
dihadapkan kepada suatu peristiwa atau
ditemukan
masalah yang perlu dicarikan ketetapan
keseluruhan. Hukum Allah dalam
hukumnya, terlebih dahulu mengembalikan
bentuk
persoalan tersebut kepada al-Quran dan
tersuruk (tersembunyi) di balik al-
Sunnah, dua sumber hukum yang hakiki
Quran.13
dalam Islam. Dua sumber hukum ini
Untuk
sebenarnya
cukup
memadai
untuk
dalam
ini
jiwa
disebut
mengetahui
hukum
hukum
dari
yang
Allah
dalam bentuk yang pertama, yakni yang
menjawab segala peritiwa dan persoalan
tersurat
hukum
setiap
mengandalkan apa yang tersurat dalam al-
peristiwa yang terjadi di atas permukaan
Quran dan penjelasannya dari Nabi (atau
bumi ini, telah ada ketetapan hukumnya
dari dalil nash). Peranan ijtihad dalam hal
pada al-Quran dan al-Sunnah. Namun
ini hampir tidak berarti. Mujtahid dalam hal
demikian,
bahwa
ini hanya berusaha memahami nas yang
ketentuan hukum itu tidak selalu dalam
berisi hukum dan merumuskannya dalam
bentuk harfiah atau tersurat. Kadang-
bentuk operasional.14
yang
muncul.
perlu
Karena
diperhatikan
kadang hukum tersebut diberikan Allah
pada
Untuk
lafaz,
mengetahui
kita
hukum
dapat
Allah
dalam bentuk tidak gamlang dan tidak
dalam bentuk yang kedua, hukum yang
mudah ditangkap oleh pikiran.
tersirat di balik lafaz, dibutuhkan suatu
pengkajian dengan menggunakan ra’yu.
Berkenaan
menarik
Ra’yu dalam hal ini berfungsi sebagai
pendapat yang dikemukakan oleh Amir
sarana untuk mengetahui hakikat dan
Syarifuddin, guru besar hukum Islam UIN
tujuan dari suatu lafaz dalam al-Quran. Hal
Jakarta, bahwa hukum Allah itu sebenarnya
ini dimungkinkan untuk merentangkan
dapat ditemukan dalam tiga bentuk, yaitu:
hukum
a)
Hukum Allah yang dapat ditemukan
tersebut
dalam ibarat lafaz al-Quran menurut
bermunculan di balik lafaz tersebut.
yang
dengan
disebutkan
Bentuk
ini
ini,
secara
disebut
harfiah.
hukum
Hukum
Allah
yang
yang
maupun
kejadian
lafaz
lain
yang
yang lain.
tidak
dapat
Pertama,
Sunnah,
perentangan
suatu
lafaz
kepada maksud lain dengan pemahaman
tetapi
Amir, Pembaharuan…, h. 48
14Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 2. (Bukit
Pamulang Indah: Logos, 1999), h. 283.
13
dapat ditemukan melalui isyarat atau
petunjuk dari lafaz yang disebutkan
Ismail
kepada
dalam
untuk perentangan makna lafaz itu kepada
ditemukan secara harfiah dalam lafaz
al-Quran
ditentukan
Ada dua cara yang dapat dilakukan
tersurat dalam al-Quran.
b)
yang
58
Eksistensi Rakyu dalam ......
ALHURRIYAH : Jurnal Hukum Islam
Vol 1, No 1, Januari – Juni 2016
lafaz semata.15 Dalam ushul fiqh cara ini
al-Sunnah, dapat ditetapkan hukumnya
disebut dengan mafhum, baik mafhūm
melalui
muwāfaqah
17
Perentangan makna nash tersebut bisa
Umpamanya memukul orang tua, dipahami
dengan menggunakan kaedah mafhum,
dari keharaman mengucapkan kata-kata
baik mafhum muwaffaqat maupun mafhum
kasar kepada orang tua yang terdapat
mukhallafat, dan bisa pula melalui qiyas.
dalam
Dua metode ini akan mampu menjangkau
maupun mafhūm mukhalafah.
16
Q.S.
haramnya
al-Isra’
merusak
(17):23.
harta
18
Hukum
anak
yatim,
perentangan
hukum-hukum
dipahami dari larangan memakan harta
yang
makna
disampaikan
nash.
oleh
syari’ secara tersirat pada nash.
anak yatim secara zalim yang ketentuan
Kemudian,
yang
untuk
tersuruk
mengetahui
hukumnya terdapat dalam al-Quran surat
hukum
(tersembunyi),
al-Nisa’ (4): 10.19
diperlukan daya dan kemampuan ra’yu
Kedua, perentangan kepada maksud
yang tinggi. Bila dalam mengetahui hukum
lain berdasarkan pemahaman alasan hukum
yang tersirat ada pedoman yang digunakan
atau illat.
dalam
Cara perentangan lafaz dalam
menetapkan
kaitannya
minum alkohol yang tidak jelas hukumnya
mengetahui hukum yang tersuruk tidak ada
dalam al-Quran dikiyaskan kepada larangan
yang dapat dijadikan pedoman yang kuat.
meminum khamar yang terdapat dalam Q.S.
Untuk
al-Maidah (5): 90,21 karena jenis minuman
kemampuan menggali hakikat dari tujuan
itu
Allah dalam menetapkan hukum suatu
illat
yang
sama,
yaitu
memabukkan.
Dari
keterangan
maksud
nash,
ini
maka
yaitu
bentuk ini disebut qiyas.20 Umpamanya
memiliki
dengan
hukumnya,
sangat
dalam
diperlukan
kejadian.22
di
atas
dapat
Untuk mengetahui hukum dalam
disimpulkan bahwa untuk menetapkan
bentuk yang ketiga ini, mujtahid dapat
hukum yang tidak dijelaskan oleh Syari’
berpedoman kepada maksud dan tujuan
secara tekstual (harfiyah) pada al-Quran dan
Syari’ dalam menetapkan hukum. Karena
bila
Amir, Pembaharuan…, h. 49
16Mafhum Muwafaqah adalah yang lafaznya
menunjukkan bahwa hukum yang tidak disebutkan
sama dengan hukum yang disebutkan dalam lafaz.
Amir, Ushul…,, h. 147
17Mafhum mukhalafah adalah mafhum yang
lafaznya menunjukkan bahwa bahwa hukum yang
tidak disebutkan berbeda dengan hukum yang
disebutkan.Atau bisa juga diartikan dengan hukum
yang berlaku berdasarkan mafhum yang berlawanan
dengan hukum yang berlaku pada manthuq (hukum
yang tertulis atau yang disebutkan) Amir, Ushul…,, h.
147
18 ‫ك‬
َ ‫ك أَ اَّل تَ ْعبُدُوا إِ اَّل إِيااهُ َوبِ ْال َوالِ َد ْي ِن إِحْ َسانًا إِ اما يَ ْبلُغَنا ِع ْن َد‬
َ ُّ‫ضى َرب‬
َ َ‫َوق‬
ً
َ
َ
‫َري ًما‬
‫ك‬
‫َّل‬
‫ق‬
‫ا‬
‫م‬
‫ه‬
‫ل‬
ْ‫ْال ِكبَ َر أَ َح ُده ُ َما أَوْ ِك ََلهُ َما فَ ََل تَقُلْ لَهُ َما أُفٍّ َو ََّل تَ ْنهَرْ هُ َما َوقُلْ ُ َ و‬
ِ
19 ‫كلُونَ في بُطُونهم نَارًا‬
ُ ْ‫إِنا الا ِذينَ يَأْ ُكلُونَ أَ ْم َوا َل ْاليَتَا َمى ظُ ْل ًما إِنا َما يَأ‬
ِْ ِ
ِ
‫َو َسيَصْ لَوْ نَ َس ِعيرًا‬
20 Amir, Pembaharuan… ,h. 49
53 ‫ز ََّلم‬
َ ‫يَاأَيُّهَا الا ِذينَ َءا َمنُوا إِنا َما ْال َخ ْم ُر َو ْال َم ْي ِس ُر َو ْاْلَ ْن‬
ُ ْ َ‫صابُ َو ْاْل‬
‫ا‬
ْ
‫ِرجْ سٌ ِم ْن َع َم ِل ال اش ْيطَا ِن فَاجْ تَنِبُوهُ لَ َعل ُك ْم تُفلِحُون‬
15
Ismail
dianalisa
hukum-hukum
yang
ditetapkan Allah dalam al-Quran, akan
dapat diketahui bahwa pada dasarnya Allah
menetapkan
hukum
adalah
untuk
mendatangkan kemaslahahan atau untuk
menghindarkan kemudaratan (kerusakan)
dari
manusia. Karena itu, hakikat dari
tujuan hukum itu dapat dijadikan pedoman
dalam menetapkan hukum.
Dengan demikian, bila pada suatu
kejadian
terdapat
kemaslahahan
yang
bersifat umum dan tidak ada dalil nash
yang berbenturan dengannya, maka pada
22
59
Amir, Pembaharuan…, h. 50
Eksistensi Rakyu dalam ......
ALHURRIYAH : Jurnal Hukum Islam
kejadian
itu
seorang
Vol 1, No 1, Januari – Juni 2016
dapat
dengan kata lain Syari’ mendiamkannya,
melahirkan suatu ketentuan hukum. Usaha
hukum tersebut dapat ditetapkan melalui
penemuan hukum yang seperti inilah yang
kajian terhadap maksud dan tujuan Syari’
dikenal dalam istilah ushul fiqh dengan
dalam
mashlahah mursalah.
Karena
Sebagai
contoh
mujtahid
dari
penemuan
hukum dengan mashlahah mursalah
menetapkan
Syari’
hukum-hukum-Nya.
menetapkan
hukum-
hukumnya bertujuan untuk mendatangkan
ini
kemaslahahan
dan
menghindarkan
antara lain adalah pencangkokan kornea
kemudaratan (kerusakan) dari
mata dari seseorang yang telah mati kepada
mujtahid dengan landasan pikir seperti itu
seseorang yang memerlukan pengobatan.
dapat
Masalah ini tidak terdapat jawababannya
peristiwa-peristiwa yang tidak terdapat
secara harfiah dalam al-Quran, begitu pula
hukumnya secara tersurat dan tersirat
dalam sunnah Nabi. Tidak terdapatnya
dalam al-Quran.
pula
menetapkan
manusia,
hukum
atas
keterangan tentang pencangkokan kornea
mata itu secara harfiah dalam al-Quran atau
Objek Istinbath atau Lapangan Ijtihad
bi al-Ra’yi
pun Sunnah, antara lain disebabkan oleh
terbatasnya ayat-ayat hukum dalam al-
Di
Quran, sementara Sunnah sendiri lebih
atas
telah
hukum
yang terjadi pada masa Nabi, sedangkan
mukallaf kadang-kadang dapat ditemukan
pencangkokan kornea mata belum terjadi
secara harfiah pada al-Quran, kadang-
ketika itu. Di samping nashnya tidak ada,
kadang secara tersirat, dan kadang-kadang
kaitannya dengan salah satu lafaz yang ada
secara tersuruk (tersembunyi). Terhadap
dalam
ditemukan.
hukum-hukum yang telah disebutkan oleh
Sedangkan manfaat dari pencangkokan
Syari’ secara tersurat pada al-Quran atau
kornea mata ini jelas sangat besar, yakni
Sunnah, ijtihad tidak berfungsi. Ijtihad
seseorang yang tadinya buta, dapat melihat
berfungsi
kembali di samping tidak ada kepentingan
kejadian
orang
hukumnya secara harfiah dalam al-Quran.
lain
demikian,
juga
yang
mujtahid
tidak
terganggu.
dapat
Dengan
Begitu
menetapkan
segala
bahwa
banyak merupakan refleksi dari peristiwa
nash
tentang
disinggung
menetapkan
yang
pula
tidak
dalam
tindak-tanduk
hukum
suatu
terdapat
aturan
keadaan-keadaan
melakukan
tertentu, ijtihad dapat pula dipergunakan
pencangkokan kornea mata. Demikian pula
terhadap hal-hal yang sudah ada nash tetapi
dengan masalah-masalah lain seperti bayi
dalam pengaturannya tidak dikemukakan
tabung, bedah plastik dan kejadian-kejadian
secara pasti.
hukum
berupa
kebolehan
Berkenaan dengan ini ijtihad dapat
baru lainnya.23
digunakan dalam dua hal yaitu:
Dengan demikian, sekalipun hukum
(1) Dalam
suatu peristiwa tidak ditemukan secara
hal-hal
yang
tidak
ada
hukumnya sama sekali. Dalam hal ini
eksplisit atau tersurat dalam lafaz al-Quran
menemukan hukum secara murni dan
dan tidak pula secara inplisit (tersirat), atau
tidak
akan
berbenturan
dengan
Amir, Pembaharuan…, h. 51
23
Ismail
60
Eksistensi Rakyu dalam ......
ALHURRIYAH : Jurnal Hukum Islam
Vol 1, No 1, Januari – Juni 2016
ketentuan nash yang sudah ada, karena
poligami. Dalam surat al-Nisa’ (4): 4,
memang belum ada nashnya.
disebutkan bahwa poligami dengan syarat-
(2) Dalam hal-hal yang sudah diatur oleh
syarat tertentu hukumnya boleh. Kemudian,
nash tetapi penunjukannya terhadap
dalam surat yang sama, al-Nisa’ (4): 129,
hukum tidak secara pasti (zhanniy al-
disebutkan pula tentang sulitnya memenuhi
dalālah). Nash hukum dalam bentuk ini
syarat-syarat kebolehan poligami itu.26
memberikan
kemungkinan
kemungkinanpemahaman.
Dalam
memahami
kedua
ayat
Adapun
tersebut, ditambah dengan kenyataan yang
peranan ijtihad dalam masalah ini
berlaku waktu Nabi SAW masih hidup,
adalah
kemungkinan-
timbul ketidakpastian tentang kebolehan
kemungkinan atau alternatif-alternatif
poligami, antara boleh dengan syarat yang
hukum yang dianggap lebih tepat oleh
lunak dan boleh dengan syarat yang
mujtahid.
berat.Dalam kesulitan tersebut ulama dapat
menemukan
24
Sebagai contoh adalah batas masa
iddah
wanita
Sebenarnya
yang
nash
ditalak
suami.
al-Quran
telah
saja menetapkan salah satu dari hukumnya,
baleh atau tidak boleh, tergantung kepada
pertimbangan kemashlahahan yang ada.
menyebutkan bahwa wanita yang ditalak
Melalui dua contoh di atas tergambar
oleh suaminya beriddah tiga quru’ (al-
bagaimana
Baqarah (2): 228, namun karena kata quru’
menetapkan hukum-hukum dari peristiwa
itu
qath’i)
yang oleh nash tidak dijelaskan secara pasti.
maksudnya, dimungkinkan bagi mujtahid
Peranan ijtihad di sini adalah mencari
dengan ra’yunya menetapkan hukum mana
alternatif-alternatif hukum yang tepat dan
sebenarnya yang dimaksudkan oleh Nash.
relevan untuk situasi dan kondisi di mana
Sekelompok
ijtihad itu dilakukan.
tidak
pasti
(atau
mujtahid
Syafi’iyah—setelah
petunjuk
dan
tidak
–di
antaranya
memperhatikan
qarinah
Adapun
ijtihad
terhadap
dalam
hukum-hukum
ada,
yang telah dijelaskan oleh nash secara pasti,
menetapkan batas tiga kali suci. Sedangkan
Ijtihad tidak berperan sama sekali.27Karena
kelompok lain, di antaranya Hanafiyah,
terhadap hukum-hukum yang tersurat dan
setelah
dengan
memiliki petunjuk yang pasti, peranan
penggaliannya dengan berpedoman kepada
ijtihad sama sekali tidak ada. Artinya tidak
dalil dan qarinah, menetapkan tiga kali
perlu
haid.
menemukan hukumnya dan tidak perlu
menggunakan
yang
peranan
ra’yu
25
lagi
melakukan
ijtihad
untuk
Contoh lain yang menarik pula untuk
pula mempertanyakan lagi hukum tersebut.
dikemukakan bahwa ketidakpastian suatu
Apapun hasil yang dicapai ijtihad tanpa
dalil
mengikuti
mungkin
pula
terjadi
dalam
dalil
itu,
akan
berbenturan
pemahaman dua dalil yang menunjukkan
dengan dalil itu sendiri. Misalnya Firman
kepada dua hukum yang sama. Sebagai
Allah dalam surat al-Nisak (4): 11 yang
contoh dalam hal ini antara lain adalah
Amir, Pembaharuan…, h.52
Abdurrahman, Ushul Fiqh, (Jakarta: Amzah,
26
27
Amir, Pembaharuan…, h. 52
Amir, Pembaharuan…, h.52
2011). H
24
25
Ismail
61
Eksistensi Rakyu dalam ......
ALHURRIYAH : Jurnal Hukum Islam
Vol 1, No 1, Januari – Juni 2016
menjelaskan hak anak laki-laki sebesar dua
Dengan demikian, dapat dikatakan
kali hak anak perempuan. Maksud dari ayat
bahwa dalam berijtihad seorang mujtahid
ini jelas sekali dan penunjukannya terhadap
dituntun untuk menempuh jalan tengah
hukum adalah pasti. Dalam hal-hal yang
(moderat). Jalan pikiran semacam ini dalam
seperti ini ijtihad tidak berperan sama
istilah ushul fiqh biasa juga disebut dengan
sekali. Berkenaan dengan ini para fuqaha’
" ‫( "إثباا الوواباو وتغييار المتغيارا‬mempertahankan
menetapkan sebuah kaedah:
hal-hal yang sudah baku dan merubah halhal
‫ال مساغ لالجتهاد ىف موضع النص الصريح‬
yang
memang
sifatnya
dapat
berubah/elastis). Sikap sepeti ini merupakan
jalan tengah di antara jalan-jalan ekstrim
lainnya, yaitu " ‫"إثباااا الوواباااو وإثباااا المتغيااارا‬
Tidak ada lapangan untuk ijtihad
(mempertahankan hal-hal yang sudah baku
dalam hal yang sudah ditetapkan
(hukumnya)
jelas”.
dengan
nash
dan membakukan hal-hal yang sebenarnya
yang
bersifat elastis), " ‫"تغييااار الوواباااو وتغييااار المتغيااارا‬
28
(merubah hal-hal yang sudah baku dan
merubah hal-hal yang memang sifatnya
Menurut Abdul Wahhab Khallaf hal-
elastis),
hal yang sudah ada ketentuan hukumnya
membakukan
dan dalālahnya, wajib dilaksanakan sesuai
Dengan
berijtihad padanya.29
yang
sebenarnya
demikian,
ijtihad
mesti
dilakukan dengan menggunakan rambu-
Berdasarkan keterangan di atas dapat
rambu yang jelas. Sikap setiap muslim
diketahui bahwa lapangan ijtihad pada
terhadap masalah-masalah yang hukumnya
dasarnya adalah masalah-masalah yang
ditetapkan berdasarkan dalil yang "qath'iy al-
tidak ada ketentuan hukumnya di dalam
tsubut" dan qath'iy al-dalalah" adalah harus
nash secara eksplisit ( ‫ )اَّلجتهاا فيماا َّلناي فيا‬dan
menerimanya dengan senang hati dan
semua masalah yang hukumnya ditetapkan
pasrah, seperti yang dijelaskan Allah dalam
berdasarkan dalil yang zhanniy, baik dalil
surat Al-Ahzab: 36:
itu "zhanniy al-tsubūt (otentisitas sumbernya
belum pasti, seperti hadis ahad), maupun
al-dalālah"
hal-hal
dapat berubah/elastis).
dengan ketentuan nash dan tidak boleh
"zhanniy
" ‫"تغييرالوواباااااو وإثباااااا المتغيااااارا‬
(merubah hal-hal yang sudah baku dan
yang jelas (sharih), qath’i al-tsubūt, wurūd,
yang
dan
‫ِ م‬
ِ ِ
‫ض ر اللَّ هُ َوَر ُس ولُهُ أ َْم ًرا أَ ْن‬
َ َ‫َوَم ا َك ا َن ل ُم ْ م من َوال ُم ْ منَ ة َِ َذا ق‬
ِ ‫يَ ُك و َن َُُ ُم ا ِْيَ َرُْ ِم ْن أ َْم ِرِه ْم َوَم ْن يَ ْع‬
‫ص اللَّ هَ َوَر ُس ولَهُ فَ َق ْد‬
‫ضالال ُمبِينًا‬
َ ‫ض َّل‬
َ
(tunjukannya
terhadap makna yang dimaksud belum
pasti). Dalam kedua lapangan tersebut
hukum Islam dapat berkembang sesuai
dengan perkembangan ruang dan waktu
Dan tidaklah pantas bagi seorang mukmin
dan dapat berubah menurut keadaan,
laki-laki dan mukmin perempuan bila
waktu dan tempat.
Allah dan RasulNya telah menetapkan
suatu ketentuan, akan ada lagi pilihan lain
(alternatif) dalam urusan mereka".
Amir Syarifuddin, Ushul…, h. 290
29Abdul Wahab Khalaf, ilmu…, h. 216
28
Ismail
62
Eksistensi Rakyu dalam ......
ALHURRIYAH : Jurnal Hukum Islam
Vol 1, No 1, Januari – Juni 2016
Terhadap hal di atas, kalaupun ijtihad
Giver), Allah dan Rasul.Artinya, ra’yu tidak
tetap juga dilakukan, hanyalah sebatas
memberikan petunjuk yang pasti tentang
menyatakan hukum al-Quran ke dalam
hukum, melainkan hanya sebatas dugaan
bentuk formula hukum atau membahasa
kuat dari mujtahid bahwa hukum yang
hukumkannya.
semacam itulah yang dimaksudkan oleh
pembuat hukum.
Dengan
Kekuatan Hukum Penemuan Ijtihad
logika
seperti
di
atas,
dipahami bahwa hukum-hukum penemuan
Dilihat dari segi tingkat kepastian
ra’yu atau ijtihad tidak memiliki tingkat
hukum yang ditunjukkan oleh suatu dalil
penunjukkan terhadap hukum secara pasti
(dalālah), dalil dapat dikategorikan ke dalam
(qath’i al-dalālah), melainkan zhanniy. Ia
dua kategori, qath’i dan zhanniy. Dalil-dalil
merupakan dugaan kuat (zhann) mujtahid
yang memberikan petunjuk secara pasti
bahwa hukum yang semacam itulah yang
dikenal dengan istilah qath’i al-dalālah yaitu
dimaksudkan oleh Allah (zhanni al-dalālah).32
dalil-dalil yang menunjuk kepada makna
tertentu yang harus dipahami menurut
Kesimpulan
teksnya, tidak mengandung kemungkinan
Dari
pembahasan
di
atas
dapat
ta’wil, dan tidak ada tempat atau peluang
disimpulkan bahwa rakyu atau ijtihad
untuk memahami maknanya selain dari
memiliki peran yang sangat penting dalam
makna yang tersebut pada teks.30 Sedangkan
pengembangan
dalil-dalil yang memberi petunjuk kepada
ijtihad di sini adalah mencari alternatif-
hukum dengan tidak pasti disebut zhanniy
alternatif hukum yang tepat dan relevan
al-dalālah
untuk situasi dan kondisi di mana ijtihad itu
yaitu
dalil-dalil
yang
menunjukkan kepada suatu makna tetapi
hukum
Islam.
Peranan
dilakukan.
dapat dipalingkan atau ditakwilkan kepada
Ijtihad
mesti
dilakukan
dengan
makna lain, selain dari makna yang tersebut
menggunakan rambu-rambu yang jelas.
pada taks (nash).31
Sikap setiap muslim terhadap masalah-
Ijtihad sebagai dalil hukum berperan
masalah
yang
hukumnya
ditetapkan
untuk menemukan hukum dari al-Quran
berdasarkan dalil yang "qath'iy al-tsubut"
dan Sunnah, tidak menciptakan hukum.
dan
Dengan
kata
perantaraan
lain,
qath'iy
al-dalalah"
adalah
harus
mujtahid
dengan
menerimanya dengan senang hati dan
hanya
sekedar
pasrah.
ra’yunya
Sebaliknya
terhadap
masalah-
menggali, menemukan, dan mengeluarkan
masalah yang ditetapkan berdasarkan dalil-
hukum yang tersirat di balik yang tersurat
dalil yang zhanni, rakyu memiliki peran
dalam
yang sangat penting.
nash,
dan
melahirkan
yang
tersembunyi dari nash. Karena itu, hukumhukum yang ditemukan oleh ra’yu tidak
dapat
dipastikan
sesuai
dengan
yang
dimaksudkan oleh pembuat hukum (Law
Amir Syarifuddin, Ushul 2…, h. 110
32
Abdul Wahab Khalaf, ilmu…, h. 35
Abdul Wahab Khalaf, ilmu…, h. 35
30
31
Ismail
63
Eksistensi Rakyu dalam ......
ALHURRIYAH : Jurnal Hukum Islam
Vol 1, No 1, Januari – Juni 2016
al-‘Umurri, Nadiyah Syarif, al-Ijtihad fi al-
DAFTAR PUSTAKA
Islam
Abu Sulaiman, Abdul Wahhab, Dauru AlAqli
fi
Al-Fiqh
Al-Islami,
Ushuluh,
Ahkamuh,
Afaquh.
Muasat al-Risalat, 1979
edisi
terjemahan Sayid Agil Husin alMunawwar
dan
Hadri
Hasan,
Peranan Akal Dalam Hukum Islam.
Semarang: Dina Utama, 1994
Khallaf, Abdul Wahhab, Ilmu Ushul Fiqh.
Kairo: Maktabah al-Nasr, 1956
Abdurrahman, Ushul Fiqh. Jakarta: Amzah,
2011
Abu Dawud, Sunan Abi Daud. Juz II. Kairo:
Mustafa al-Babi al-Halabi, 1952
al-Tirmizi, Sunan al-Tirmizi. Juz I. Beirut:
Dar al-Fikr, 1967
Zahrah, Muhammad Abu, Ushul al-Fiqh.
[Tt]: Dar al-Fiqh al-Arabi, [tth]
al-Fayyumiy, Ahmad bin Muhammad bin
Ali al-Mugni, Misbah al-Munir. Juz I,
[Ttp]: Dar al-Fikr, [tth]
Syarifuddin, Amir, Pembaharuan Pemikiran
Dalam
Hukum
Islam.
Padang:
Angkasa Raya, 1993
___________,
Ushul Fiqh Jilid 2. Bukit
Pamulang Indah: Logos, 1999
Husen, Ibrahim,
“Memecahkan Masalah
Hukum Baru”, dalam Ijtihad Dalam
Sorotan, Haidar Baqir dan Syafiq
Basri
(ed.).
Bandung:
Penerbit
Mizan, 1988
al-Zarqa, Mustafa Ahmad, al-Ishtishlah wa alMashalih al-Mursalah fi Syari’at alIslamiyah wa Ushul Fiqhiha. Dar alQalam, 1988
Ismail
64
Eksistensi Rakyu dalam ......
Download