1 Beberapa dekade terakhir, perhatian pada kesehatan mental

advertisement
Beberapa dekade terakhir, perhatian pada kesehatan mental meningkat
seiring dengan ditemukan tingginya prevalensi masyarakat dunia yang
mengalami gangguan mental. Pada 2001, dilaporkan satu dari empat orang di
seluruh dunia mengalami gangguan mental (http://www.who.int/en/). World
Health Report (2001) merilis data bahwa lebih dari 450 juta orang mengalami
gangguan mental di seluruh dunia. Jumlah ini tidak sebanding dengan kasus
yang sudah tertangani oleh profesional di bidang kesehatan mental seperti
psikiater dan psikolog. Kohn, Saxena, Levav, & Saraceno (2004) menjelaskan
hal tersebut sebagai treatment gap yang merepresentasikan perbedaan yang
signifikan antara prevalensi gangguan dengan proporsi tritmen yang dikenakan
pada individu yang mengalami gangguan. Treatment Gap ini menggambarkan
banyaknya penderita gangguan yang tidak mendapatkan tritmen yang layak bagi
gangguan yang dialaminya.
Chong (2013) mengemukakan dalam Regional World Health Summit
bahwa treatment gap bila tidak tertangani akan menimbulkan disabiltas secara
global. Disabilitas yang dimaksud di antaranya adalah risiko pada peningkatan
keparahan gangguan dan kesukaran akan penangannya, muncul komorbiditas
gangguan yang semakin kompleks, serta timbul kerugian dalam aspek-aspek
kehidupan seseorang. Salah satu rekomendasi untuk mengatasi masalah ini
adalah dengan mengintegrasikan layanan kesehatan mental di Layanan
Kesehatan Primer (Kohn, dkk., 2004). Pada seting layanan ini, tercatat bahwa
60% pasien yang datang sebetulnya memiliki kemungkinan terdiagnosis
gangguan mental namun tidak mendapatkan tritmen atas gangguannya. Hal ini
semakin mendorong adanya perhatian serius pada identifikasi gangguan mental
1
yang dapat dilakukan di seting Layanan Kesehatan Primer (WHO & Wonca,
2008).
Di Indonesia sendiri, khususnya di Kota Yogyakarta dan Kabupaten
Sleman, D.I. Yogyakarta, layanan kesehatan mental sudah mulai diintegrasikan
di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) melalui praktik layanan Psikologi
(Klinis) sejak 2004 (Retnowati, 2011). Rekomendasi dari WHO pada 2008 seperti
yang disebutkan di atas, memperkuat peran dan strategi penanganan kesehatan
mental di Puskesmas sebagai cara untuk semakin mendekatkan layanan ini
pada masyarakat. Besarnya peran Puskesmas ini dilansir dari artikel “DETEKSI
KESEHATAN JIWA DILAKUKAN DI PUSKESMAS” dalam situs resmi Depkes
Kabupaten Sleman, sangat membantu untuk mengidentifikasi dan melakukan
deteksi dini pasien gangguan jiwa sebelum dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa
(http://www.depkes.go.id). Meskipun demikian, hal ini tidak berlangsung tanpa
masalah. Kendala di lapangan menunjukkan bahwa jumlah angka kasus yang
terdeteksi
dengan
jumlah
kasus
yang
ditangani
masih
menunjukkan
kesenjangan.
Di Indonesia, data lain yang dikutip dari artikel “HARGAILAH PENDERITA
GANGGUAN JIWA” dalam website Depkes menunjukkan bahkan hanya 10%
dari jumlah prevalensi penderita gangguan jiwa yang tertangani di layanan
kesehatan (http://www.depkes.go.id). Hal ini menunjukkan terjadi kesenjangan
pengobatan mencapai 90% yang merugikan ekonomi negara lebih dari Rp. 20
Trilyun. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013, angka prevalensi orang
dewasa yang mengalami gangguan mental emosional sebesar 6% dari seluruh
penduduk Indonesia (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia [Kemenkes RI],
2013). Mengacu data yang diperoleh di lapangan, dari seluruh pasien
2
Puskesmas, 30% yang datang, mengalami gangguan mental dimana 69%
diantaranya
datang
dengan
keluhan
fisik
(Retnowati,
2011).
Bila
digeneralisasikan pada seluruh pasien yang datang dengan keluhan fisik ke
Puskesmas sebagai layanan kesehatan primer di Indonesia, diprediksi angka
temuannya akan meningkat drastis. Fenomena treatment gap seperti yang diulas
sebelumnya menjelaskan hal ini sebagai hal yang layak mendapatkan perhatian
serius.
Kegagalan mengidentifikasi gejala gangguan mental disebabkan salah
satunya karena dokter umum di layanan primer kurang peka dalam mengenali
dan mendeteksi gejala gangguan mental (Collings, 2005; Liu, Mann, Cheng,
Tjung, & Hwang, 2004) yang menyebabkan kurang maksimalnya diagnosis dan
penanganan yang diberikan di layanan kesehatan primer (Carver & Jones,
2013). Tantangan bagi klinisi di seting ini adalah menyediakan alat skrining
sebagai asemen terstandar untuk mengidentifikasi gangguan mental sehingga
pasien mendapatkan penanganan yang tepat (Fitzgerald, Galyer, & Ryan, 2009;
Thekkumpurath, Venkateswaran, Kumar, & Bennett, 2008) dibandingkan dengan
penanganan atas kondisi fisiknya. Thekkumpurath, dkk. (2008) melanjutkan,
instrumen skrining terhadap gejala (distress) psikologis menunjang manajemen
penanganan pasien dan pendeteksian gangguan sehingga meningkatkan
pelayanan dan intervensi yang diperlukan. Kebutuhan ini telah diinisiasi dikaji
dengan melakukan validasi instrumen General Health Questionnaire (GHQ)-12
sebagai instrumen skrining gangguan-gangguan mental yang prevalensinya
tinggi di Puskesmas di Kabupaten Sleman, di antaranya pada gangguan
penyesuaian (Primasari, 2012) dan gangguan somatoform (Salma, 2013).
3
Penelitian
ini
hendak
melanjutkan
pengembangan
alat
asesmen
terstandardisasi untuk deteksi dini ganggguan mental, terutama pada gangguan
yang memiliki prevalensi tinggi yang ditangani di Puskesmas. Puskesmas yang
dimaksud adalah pada Puskesmas Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman di
wilayah Provinsi D.I. Yogyakarta. Hal ini mengindikasikan paling tidak ada dua
hal yang perlu diperhatikan dalam penelitian pengembangan instrumen, yaitu
mengenai gangguan dengan prevalensi cukup tinggi dan instrumen yang akan
distandardisasi.
Pertama, gangguan yang akan diprediksi dalam penelitian ini adalah
Gangguan
Somatoform
yang
menempati
2,7%
sesi
penanganan
dari
keseluruhan sesi yang ditangani oleh Psikolog di 18 Puskesmas Kota
Yogyakarta dan 1,7% sesi di sejumlah Puskesmas Kabupaten Sleman selama
Juli 2010 hingga Februari 2014 (data dari Sistem Informasi Kesehatan Mental
online [CPMH, 2014]). Gangguan somatoform sendiri merupakan sekumpulan
kondisi yang melibatkan keluhan atas gejala fisik yang seolah-olah memerlukan
penanganan medis namun dalam pemeriksaan tidak ditemukan patologis atau
abnormalitas
fisik
untuk
menjelaskan
keluhannya.
DSM-IV-TR
mengklasifikasikan Gangguan Somatoform dalam tujuh subkategori mayor yaitu:
(1) Gangguan Somatisasi, (2) Gangguan Somatoform Yang-Tak-Tergolongkan
(YTT), (3) Gangguan Konversi, (4) Gangguan Nyeri, (5) Hipokondriasis, (6)
Gangguan Dismorfik Tubuh, (7) Gangguan Somatoform lainnya (APA, 2000).
Gangguan somatoform lebih cocok digolongkan ke dalam gangguan
psikologis daripada gangguan fisik karena pada penderitanya tidak ditemukan
abnormalitas
secara
fisik
yang
dapat
menjelaskan
keluhan
fisiknya.
Ketidakmampuan penderita akibat keluhannya, misalnya rasa sakit atau kaku,
4
(harus) tidak ada hubungannya dengan gangguan fisik apapun (Halgin &
Whitbourne, 2005). Hal ini yang membedakan dengan gangguan psikosomatis
(psikofisiologis) yang mana faktor psikologis berperan secara nyata pada sakit
fisik (Passer & Smith, 2007).
Penderita gangguan somatisasi biasanya mengeluhkan lebih dari empat
gejala somatik pada lebih dari dua sistem metabolisme tubuh disertai dengan
disabilitas dalam pekerjaan dan sosial, serta perilaku memeriksakan diri yang
berulang-ulang. Bila pada penderitanya hanya ditemukan keluhan nyeri pada
satu bagian tubuh secara progresif, maka diklasifikasikan ke dalam gangguan
nyeri. Keluhan ekstrim misalnya kebutaan dan kelumpuhan cenderung mengarah
pada diagnosis gangguan konversi sedangkan penderita yang mengalami
hipokondriasis secara khas ditunjukkan melalui ketakutannya yang sangat besar
sedang mengalami sakit yang menimbulkan kematian.
Diagnosis gangguan
somatoform YTT mensyaratkan lebih sedikit gejala yang berlangsung selama
minimal 6 bulan terakhir (APA, 2000).
Berdasarkan hal di atas, bentuk keluhan fisik penderita somatoform dapat
sangat beragam hingga tampak sebagai keluhan yang sangat ekstrim, atau
berupa gangguan pada sistem saraf, atau berupa gejala fisik yang majemuk dan
konstans dalam satu waktu, seperti problem nyeri kronis, gangguan perut, dan
sakit kepala (pening, pusing). Penderita gangguan ini cenderung menolak atau
tidak puas pada hasil pemeriksaan dokter maupun hasil tes medis yang
menegasi sakit tertentu. Mereka cenderung memeriksakan diri berulang kali
pada dokter dibandingkan pada ahli kesehatan mental. Akibatnya, keluhan yang
dimunculkan sulit dievaluasi secara objektif. Para dokter terkadang kesulitan
mengenali
penyebab
faktor
psikologis
5
pada
masalah
pasien
sehingga
menjalankan prosedur medis yang tidak diperlukan untuk mengobati pasien
(Oltmanns & Emery, 2012).
Melihat kondisi tersebut, hal yang kedua perlu diperhatikan adalah
dengan menyediakan sekaligus memvalidasi instrumen deteksi dini yang dapat
digunakan saat pemeriksaan medis (Thekkumpurath, dkk., 2008). Instrumen
yang dimaksud untuk divalidasi adalah Recent Life Changes Questionnaire
(RLCQ) (Miller & Rahe, 1997) sebagai instrumen pengukuran bobot stres
psikososial. Hasil pengukuran instrumen RLCQ berupa data dan informasi
mengenai stresor psikososial sekaligus bobot stres total yang dialami pasien.
Hasil asesmen ini dapat membantu dokter umum mendeteksi potensial
gangguan yang muncul sekaligus memudahkan penegakan Axis IV dalam
diagnosis multiaksial. Axis IV memengaruhi diagnosis psikiatrik pada Axis I, dan
menjadi sarana komunikasi serta psikoedukasi antara klinisi dan pasien
mengenai kaitan stresor dan gangguan (Moncur & Luthra, 2009), serta
menentukan prognosis gangguan (Gillman, Trinh, Smoller, Fava, Murphy, &
Breslau, 2013). Moncur & Luthra (2009) melanjutkan, Axis IV yang berisi stresor
psikososial dan lingkungan dapat membantu klinisi mengidentifikasi faktor
etiologi dan menentukan intervensi non-farmakologis yang diperlukan. Instrumen
RLCQ menyediakan data kluster peristiwa perubahan dalam kehidupan yang
dapat diklasifikasikan sejalan dengan stresor psikososial dan lingkungan pada
Axis IV DSM, yang disajikan pada Tabel 1.
RLCQ terdiri dari 74 peristiwa perubahan dalam kehidupan yang
potensial terjadi pada kehidupan seseorang yang digolongkan dalam lima subkategori: (1) Pekerjaan; (2) Rumah Tangga dan Keluarga; (3) Kesehatan; (4)
Pribadi dan Sosial; dan (5) Persoalan Keuangan. Daftar peristiwa atau kejadian
6
dalam RLCQ berasal dari 30 aitem peristiwa hidup yang memiliki bobot Satuan
Perubahan Hidup (SPH) dari instrumen Social Readjustment Ratting Scale
(SRRS) yang ditambah dengan 44 aitem baru peristiwa hidup yang lebih spesifik
(Miller & Rahe, 1997; http://www.proqolid.org). RLCQ memiliki koefisien
reliabilitas test-retest sebesar 0,84 (Pearson & Long, 1985 ) dan koefisien
Spearman yang sangat signifikan (koefisien rho sebesar 0,84 hingga 0,96) (
Miller & Rahe, 1997).
Tabel 1
Klasifikasi Kluster Peristiwa Hidup dalam RLCQ dan Aspek Stresor
Psikososial dan Lingkungan Axis IV DSM
Penggolongan Kluster dalam RLCQ Aspek Axis IV dalam DSM dan
PPDGJ
Pekerjaan
Masalah pekerjaan
Rumah Tangga dan Keluarga
Masalah dengan “primary support
group” (keluarga)
Masalah perumahan
Kesehatan
Masalah akses ke pelayanan kesehatan
Pribadi dan Sosial
Masalah berkaitan dengan lingkungan
sosial
Masalah pendidikan
Masalah berkaitan interaksi dengan
hukum/kriminal
Masalah psikososial dan lingkungan lain
Persoalan Keuangan
Masalah ekonomi
Kluster life event atau peristiwa sosial pada RLCQ terbukti memiliki
etiologi yang signifikan pada munculnya gangguan atau penyakit dan memberi
sumbangan pada variabel waktu onset munculnya gangguan (Holmes & Rahe,
1967; Miller & Rahe, 1997; Dana, 1984; Huling, Baccaglini, Choquette, Feinn, &
Lalla, 2012). Peristiwa hidup dalam RLCQ memiliki skor bobot stres pada SPH
yang
dapat diakumulasikan. Akumulasi SPH selama 6 bulan terakhir
mengindikasikan tingginya bobot stres yang dialami seseorang dan diprediksi
7
memiliki pengaruh pada kondisi fisik dan mentalnya (Miller & Rahe, 1997;
http://www.michellecederberg.com; http://www.proqolid.org).
Stres dialami seseorang sebagai reaksi atas situasi yang mendatangkan
ketidaknyamanan, baik berasal dari situasi lingkungan yang mengancam, faktor
fisik, psikologis, serta sosial yang kuantitas dan kesukarannya melebihi batas
kapasitas normal, yang menimbulkan sensasi tegang dan cemas, serta
mengancam kesejahteraan psikologis seseorang sehingga membutuhkan upaya
untuk mengatasinya (Stuart-Hamilton, 2007; Sunberg, Winebarger, & Taplin,
2007; Halgin & Whitbourne, 2005; Passer & Smith, 2007; Weiten, Dunn, &
Hammer, 2012). Faktor-faktor yang menyebabkan stres disebut dengan stresor
(Stuart-Hamilton, 2007). Peristiwa yang menyebabkan stres (stresor) sifatnya
adalah akumulatif, artinya peristiwa harian yang dialami sehari-hari pun dapat
menjadi stresor yang besar bila dialami terus menerus dalam jangka waktu
tertentu (Weiten, dkk., 2012; Butcher, Mineka, & Hooley, 2013; Rabkin &
Struening, 1976).
Stressful Life Event (SLE) oleh Passer & Smith (2007) dijelaskan sebagai
unit-unit peristiwa yang mempunyai probabilitas mendatangkan stres. Ingram &
Luxton (2005) menyebutkan bahwa peristiwa yang memiliki tingkat keparahan
yang cukup dapat memicu munculnya problem psikopatologis meskipun tanpa
ada kerentanan atau predisposisi karakter psikologis dan biologis. Perubahan
dalam hidup merupakan salah satu aspek yang mendatangkan stres pada
kehidupan manusia. Weiten, dkk., (2012) mengelompokkan ‘perubahan’
(change) pada sumber mayor stres, selain sumber mayor lain yaitu frustrasi,
konflik internal, dan tekanan. Perubahan menuntut proses penyesuaian yang
menimbulkan kondisi stressful. Sejalan dengan penelitian Holmes & Rahe
8
(1967), perubahan dapat berasal dari peristiwa kehidupan yang positif maupun
negatif yang dalam hasil penelitiannya memiliki kemungkinan yang sama
mendatangkan stres bagi seseorang.
SLE dalam banyak penelitian terbukti berperan penting pada prevalensi
munculnya gangguan fisik dan psikologis (Newcomb, Huba, & Bentler, 1981;
Mueller, Edwards, & Yarvis, 1977; Rabkin & Struening, 1976; Schless, Teichman,
Mendels, Weinstein, & Weller, 1977; Dana, 1984), termasuk gangguan
somatoform (Oltmanns & Emery, 2012). Nietzel, Bernstein, & Milich (1994)
menjelaskan etiologi gangguan klinis dari pola interaksi antara sistem biologis,
psikologis, dan sosial, yang diterminologikan dalam istilah Diathesis Stress
Model, yang memiliki tiga komponen, yaitu: (1) Kerentanan biologis yang dimiliki
seseorang, biasanya mencakup kecacatan pada sistem biokemis atau struktural
pada sistem saraf otonom dimana hal ini bisa merupakan turunan genetika
maupun akibat adanya trauma, infeksi, dan bawaan penyakit lain, (2) Risiko
biologis tersebut membuat seseorang rentan terpapar gangguan psikologis. Hal
ini sering dikenal dengan istilah predisposisi terhadap gangguan, (3) Jika mereka
yang berisiko ini mengalami pathogenic stresses, predisposisi dapat berkembang
menjadi lebih buruk hingga mengalami gangguan (ill). Menurut model ini berarti
stres dapat memicu kemunculan gangguan sebagai reaksinya dengan
predisposisi yang dimiliki seseorang.
Penyakit fisik yang banyak dikaitkan dengan stres yaitu tukak lambung
(maag), asma, sakit kepala, sakit jantung (Nevid, Rathus, Greene, 2003),
gangguan tidur (Oltmanns & Emery, 2012), dan hipertensi (Butcher, dkk., 2013).
Meskipun bukan satu-satunya penyebab, stres memiliki potensi risiko yang besar
bagi munculnya gangguan fisik. Rabkin & Struening (1977) menegaskan bahwa
9
SLE berperan sebagai faktor pencetus yang memengaruhi onset munculnya
gangguan, baik mental maupun fisik, bukan memengaruhi tipe episode
gangguannya. Hasil penelitian tersebut telah dibuktikan baik dalam kerangka
studi retrospektif maupun prospektif.
Pengukuran terhadap bobot stres yang berkaitan dengan problem
kesehatan fisik dan mental sangat luas digunakan dengan instrumen SRRS dan
pengembangannya terbaru dengan instrumen RLCQ yang digunakan dalam
penelitian ini. Penggunaan instrumen pengukuran bobot stres diduga telah
diaplikasikan pada ribuan penelitian (Weiten, dkk., 2012). SRRS sendiri telah
diberlakukan pada beragam populasi antara lain bagi populasi di penjara (Hart,
1997), untuk identifikasi klien dengan risiko bunuh diri (Blasco-Fontecilla,
Delgado-Gomez, Legido-Gil, de Leon, Perez-Rodriguez, & Baca-Garcia, 2012),
guru (Kamizaki & Sousa, 2000), mahasiswa baru yang mengalami culture shock
(Zhou, Jindal-Snape, Topping, & Todman, 2008), dan perawat (Drozdova &
Kebza, 2011). Pengembangannya yang terbaru dengan RLCQ banyak
diterapkan pada studi prospektif dan kajian gangguan fisik (Rahe, 1978), antara
lain pada studi prospektif yang melihat kemungkinan Life Change Unit
memprediksi kekambuhan penyakit yang dialami wanita dengan Multiple
Sclerosis (Mitsonis, Zervas, Mitropoulos, Dimopoulos, Soldatos, Potagas, &
Sfagos, 2008) juga dalam penelitian hubungan Stressful Life Event dengan onset
kekambuhan penyakit Aphthous Stomatitis (Huling, dkk., 2012). RLCQ juga
digunakan pada studi retrospektif otopsi psikologis yang mengkaji faktor penentu
perilaku bunuh diri warga Rusia di Estonia (Kõlves, Sisask, Anion, Samm, &
Värnik, 2006) serta di Tallinn dan Frankurt (Kõlves, Värnik, Schneider, Fritze,
Allik, 2006).
10
Besarnya implikasi stres pada gangguan mental dan fisik mendorong
penelitian untuk mengkaji pada tingkat sejauh mana Stressful Life Event yang
diukur dalam RLCQ menyebabkan gangguan yang dialami saat ini. Sebagai
salah satu gangguan yang prevalensinya cukup tinggi di Puskesmas, Gangguan
Somatoform menjadi tolok ukur kemampuan RLCQ dalam memprediksi
kemunculan
gangguan.
Secara
teoritis,
gangguan
somatoform
terbukti
dipengaruhi oleh faktor stres, khususnya yang bersifat traumatik pada masa anak
atau remaja (Oltmanns & Emery, 2012) yang tidak pernah dapat diekspresikan
sehingga menyertai seluruh fase perkembangan (Lind, Delmar, & Nielsen, 2014)
dan dari sisi biologisnya, stres mengaktivasi hormon Hipotalamic-PituitaryAdrenal (HPA) yang menghasilkan persepsi akan rasa nyeri (Rief & Barasky,
2005). Lind, dkk., (2014) melanjutkan, predisposisi traumatik tersebut dapat
membuat seseorang menunjukkan hipersensitifitas terhadap stres yang akhirnya
muncul secara khas dalam bentuk preokupasi pada sensasi tubuh selama ‘masa
stres.’ RLCQ hendak divalidasi untuk menguji validitas kliniknya sebagai
instrumen deteksi dini gangguan somatoform.
Pada penelitian instrumen, dilakukan penelitian validasi untuk menguji
seberapa tepat suatu alat ukur mengukur tujuan ukurnya (McDowell, 2006;
Azwar,
2013).
Validitas
sendiri
terkait
dengan
bagaimana
memaknai,
menginterpretasi dan menerapkan skor hasil pengukuran (McDowell, 2006),
termasuk menginterpretasi hasil diagnosis alat tes (Attia, 2003). Pada seting
klinik, klinisi memerlukan instrumen asesmen dan diagnosis yang valid karena
perlu membuat prediksi pada prognosis penyakitnya, menentukan seberapa
mungkin kebenaran diagnosis penyakit, mengambil keputusan dari hasil skrining,
mengidentifikasi pasien dengan risiko tinggi, menentukan serangkaian diagnosis
11
yang memerlukan beragam tes yang berisiko atau berbiaya mahal, dan
melakukan terapi yang efektif (Steyerberg, 2009). Melakukan validasi klinik
artinya melakukan prediksi hasil asesmen atau tes terhadap penegakan
diagnosis dan prognosis.
Berdasarkan fungsi dan keperluan skrining, prognosis berguna untuk
mengidentifikasikan tingkat deteksi dini gejala penyakit (gangguan) dan
melakukan penanganan sebelum gangguan terdiagnosis pada tingkat yang lebih
parah. Dalam prognosis, dua hal yang ditekankan berkaitan dengan masalah
estimasi
dan
pengujian
hipotesis.
Kedua hal
tersebut
diatasi dengan
menyediakan suatu model statistik berbasis pendekatan prediktif (Steyerberg,
2009).
Pengukuran statistik pada model prediktif memerlukan adanya suatu
prediktor dan kriteria sejalan dengan konsep validitas prediktif (Anastasi &
Urbina, 2007; Azwar, 2013) untuk menguji tingkat kebenaran asumsi yang
dihasilkan dari hasil pengukuran. Model prediksi memperkirakan probabilitas dari
gangguan berdasarkan diagnosis atau tes, dalam penelitian ini yaitu instrumen
RLCQ. Instrumen yang akan divalidasi berfungsi sebagai prediktor bagi
performansi (gangguan) di masa datang (Azwar, 2013). Hasil diagnosisnya akan
dibandingkan dengan suatu tes standard baku emas sebagai kriteria untuk
menguji kevalidan dari estimasi atau perkiraan dari diagnosisnya (prediktor).
Instrumen standard baku emas adalah instrumen yang ideal untuk mendiagnosis
dengan tingkat sensitivitas 100% dan spesifisitas 100% (McDowell, 2006;
Steyerberg, 2009).
Mengacu pada prinsip studi retrospektif (Hess, 2004; Malouin, 2008),
penelitian ini menerapkan gangguan somatoform yang dialami saat ini sebagai
12
kriteria performansi atas SLE selama enam bulan terakhir yang diukur dengan
RLCQ sebagai prediktor. Pengujian vailiditas memerlukan kriteria validasi yang
tepat (Azwar, 2013). Penelitian ini menggunakan Structured Clinical Interview for
DSM IV Axis I Disorder (SCID-I) sebagai standard baku emas diagnosis
gangguan somatoform. SCID merupakan pedoman wawancara semiterstruktur
yang terdiri dari serangkaian pertanyaan dasar berdasarkan kriteria dari DSM-IV
yang disusun untuk membantu para klinisi menegakkan diagnosis menurut DSMIV secara ringkas dan valid. SCID terdiri dari modul yang dapat diaplikasikan
pada kelas mayor gangguan, termasuk gangguan somatoform (Nietzel, dkk.,
1994).
Berdasarkan uraian di atas, kajian antara stres terhadap gangguan fisik
dan psikologis terutama gangguan somatoform, serta penggunaan RLCQ
sebagai instrumen pengukuran bobot stres di berbagai seting klinik, maka dapat
dugaan umum yang diajukan adalah bahwa stres memprediksi gangguan
psikologis. Pengukuran bobot stres melalui RLCQ akan dieksplorasi hingga
menemukan hubungan prediksi terbaik dengan gangguan somatoform yang
terdiri dari subtipe gangguan somatisasi, gangguan nyeri, dan gangguan
somatoform YTT. Temuan eksploratif akan menangkap sejauh mana perubahan
dalam kehidupan mampu mendeteksi ada tidaknya gangguan somatoform,
mengukur ambang batas total stresor terhadap stres pada pasien, membangun
norma, dan melakukan pembobotan peristiwa hidup.
Hasil penelitian ini nantinya menghasilkan validitas klinik RLCQ sehingga
dapat digunakan sebagai alat ukur yang terstandardisasi untuk mendeteksi
gangguan somatoform. Manfaat lainnya adalah sekaligus menjadi instrumen
asesmen yang dapat digunakan untuk melakukan diagnosis multiaxial, yaitu
13
pada Axis IV (stresor psikososial dan lingkungan). Dengan demikian, dokter
umum maupun psikolog di layanan kesehatan primer dalam asesmennya dapat
mengestimasikan bobot stres setiap peristiwa hidup dengan instrumen RLCQ
dan menggunakannya sebagai sarana edukasi pada pasien mengenai risiko
gangguan yang mungkin dialami akibat perubahan dalam peristiwa hidupnya.
14
Download