BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengasuh Skizofrenia Selama 50

advertisement
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengasuh Skizofrenia
Selama 50 tahun terakhir, munculnya perawatan berbasis komunitas,
penutupan rumah sakit jiwa dan cepatnya pengeluaran pasien tanpa
dukungan yang memadai dalam komunitas telah menyebabkan pergeseran
progresif perawatan untuk pasien skizofrenik dari sistem kesehatan formal
kepada penyedia layanan informal seperti keluarga dan organisasi sukarela.2
Skizofrenia merupakan suatu gangguan kronis, gangguan yang
menyebabkan disabilitas yang mempengaruhi sekitar 1% dari populasi
dengan prevalensi mulai dari 0,6 sampai 8,3 kasus per 1000 penduduk.
Skizofrenia umumnya kronis dengan kekambuhan psikotik akut yang
memerlukan rawat inapyangsering. Gambaran klinis tergantung pada fase
penyakit mencakup berbagai gejala, gejala positif seperti delusi, halusinasi
dan disorganisasi konseptual: gejala negatif menyajikan penarikan emosional
dan sosial, afek tumpul dan kurangnya spontanitas: berbagai defisit kognitif:
dan gejala afektif seperti depresi dan agitasi. Di luar berbagai gejala
disabilitas tersebut, juga dijumpai disabilitas yang menonjol pada gangguan
skizofrenia
yaitu
fungsional
dan
sosial.Akibatnya,
secara
signifikan
skizofrenia menimbulkan beban baik langsung dan tidak langsung bagi
pasien, keluarga mereka dan masyarakat pada umumnya.2
Beban langsung meliputi biaya untuk rawat inap, perawatan psikiatri
dalam waktu lama, obat-obatan dan dukungan ekonomi dan sosial.Yang
Universitas Sumatera Utara
menonjol
di
antara
beban
tidak
langsung
adalah
hilangnya
produktivitas.Meskipun beban keluarga dan pengasuh penyedia perawatan
dianggap signifikan, tidak ada estimasi beban yang dapat diandalkan yang
berkaitan dengan perawatan tersebut. Meskipun obat merupakan dasar dari
manajemen selama 50 tahun terakhir, intervensi lain seperti rehabilitasi dan
dukungan psikososial sama-sama penting. Salah satu tantangan yang harus
dihadapi
dalam
pengelolaan
skizofrenia
adalah
sering
perilaku
ketidakpatuhan, tidak hanya dengan obat-obatan tetapi juga dengan janji dan
intervensi terapi lainnya, yang menyebabkan sering kambuh sehingga
memerlukan rawat inap.Selain itu, lebih dari 30% dari pasien skizofrenik
mungkin tidak merespons secara memadai terhadap obat standar.Demikian
pula, spektrum yang luas dari efek samping yang berkaitan dengan obat
antipsikotik sering membatasi kegunaan mereka. Program rehabilitasi dan
dukungan psikososial yang memadai penting namun sering kekurangan dana
atau tidak tersedia.2
Memberikan
perawatan
dapat
berupa
manajemen
pendukung
emosional pasien, fisik atau finansial, koordinasi / kesehatannya dan
beberapa layanan sosial, kesehatan rutin ( memperoleh obat-obatan,
pengobatan, follow-up, dll ), perawatan pribadi ( mandi, makan, perlengkapan
mandi, pakaian dll ), transportasi, belanja, melakukan homecare kecil,
manajemen keuangan dan berbagi rumah yang sama. Pengobatan pasien
psikiatrik kronis umumnya dilakukan di rumah daripada di institusi seperti
rumah sakit dan pusat perawatan sehingga keluarga pasien harus
Universitas Sumatera Utara
berhadapan dengan tuntutan perawatan seumur hidup pada pasien kronis
yang mana hal ini merupakan kebutuhan multidimensi dan masalah bagi
mereka .Faktor yang mempengaruhi beban pengasuh adalah umur, etnis dan
jenis kelamin dari pengasuh, hubungan dengan pasien, status relawan untuk
memberikan perawatan, tingkat pendidikan, status ekonomi, adanya penyakit
kronis, coping skills, kepercayaan, dukungan sosial dan karakteristik budaya
masyarakat.9
Beberapa tahun terakhir telah terlihat peningkatan kesadaran peran
pengasuh dalam perawatan jangka panjang pasien psikiatrik, dan literatur
tentang beban pengasuh, hasil pengasuh yang buruk, kurangnya dukungan
pengasuh, dan kurangnya keberhasilan, dengan intervensi yang bertujuan
mengurangi beban memberi perawatan.10
Aydın dan kawan-kawan pada tahun 2009 dalam studinya mempelajari
hubungan antara beban pengasuh dan sosiodemografi dan karakteristik
skizofrenia. Mereka melaporkan bahwa beban perawatan meningkat seperti
memperburuk skizofrenia, jumlah rawat inap meningkat, dan tingkat
kecemasan dan depresi pada pengasuh meningkat.11
Kebanyakan studi meneliti keluarga pengasuh pasien skizofrenik
termasuk orang tua, dan di antara orang tua para ibu adalah kelompok yang
umum dijumpai.Katschnig dan kawan-kawan melaporkan bahwa 77% subjek
mereka terdiri dari orang tua (ibu 71%, ayah 6%). Hanya jumlah yang sangat
kecil studi difokuskan pada kerabat lainnya, seperti saudara atau anak-anak
Universitas Sumatera Utara
pasien, tetapi harus dipertimbangkan bahwa saudara atau anak-anak sangat
jarang peduli untuk pasien.skizofrenik.12
Pengasuh adalah seseorang, baik anggota keluarga atau penyedia,
yang memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan fisik dan
psikologis bayi , anak , atau orang dewasa. Sementara orang mungkin
menganggap fungsi pengasuh, pengasuh utama adalah individu yang
membantu pasien dengan setidaknya satu kegiatan instrumental hidup
sehari-hari, seperti mandi, makan, berpakaian, atau untuk mendapatkan janji,
atau orang yang mengawasi pasien yang mengalami disabilitas. Dua jenis
pengasuh utama yaitu: pengasuh formal, orang yang dibayar untuk
memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis pasien, dan pengasuh informal
yaitu individu yang menyediakan kebutuhan tersebut secara sukarela. Studi
menemukan
hasil
yang
beragam
untuk
yang
kondisinya
paling
umum.Sebagian besar percaya bahwa depresi adalah konsekuensi yang
paling umum dijumpai pada kesehatan mental dari pengasuh. Richard Schulz
dan kawan-kawan dalam studinya, menemukan bahwa sepertiga dari
pengasuh mengalami gangguan depresi selama tahun pengasuhan mereka,
dibandingkan dengan kontrol hanya 5 persen dari selama periode waktu yang
sama. 13
Meskipun prevalensi lebih rendah dari gangguan depresi atau
ansietas, hal ini adalah salah satu yang paling memberatkan dan penyakit
termahal di dunia. Sejumlah penelitian telah dilakukan untuk menilai tingkat
beban, tingkat stres dan kemampuan coping antara pengasuh pasien
Universitas Sumatera Utara
skizofrenik, namun beberapa upaya telah dibuat untuk menemukan dan
menjelaskan prevalensi, tingkat keparahan dan faktor yang mempengaruhi
depresi antara pengasuh. Pengasuhan pada pasien skizofrenik adalah tugas
besar dan sebagian pengasuh tampaknya siap menjadi bagian dan durasi
penyakit seperti skizofrenia.Diagnosis skizofrenia pada anggota keluarga
dapat menyebabkan campuran emosi seperti shock, marah, depresi,
kebingungan dan penolakan antara pengasuh.Penyakit seperti skizofrenia
dengan program beberapa rumah sakit, kambuh dan eksaserbasi akut dapat
menyebabkan depresi dan stres kronis antara pengasuh. Pengasuhan itu
sendiri merupakan konsep multi-tematik meliputi, fisik, psikologis, emosional,
perubahan sosial dan keuangan bahwa pengasuh diperhadapkan dalam
proses memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang mengalami
skizofrenia. Pengasuhan pada skizofrenia memikul tanggung jawab yang
tidak dibayar dan tak terduga bagi pasien yang pada gilirannya, tidak dapat
membalas dan mungkin memiliki kesulitan dalam pemeliharaan hubungan
yang lebih dewasa.Hal ini memberatkan pengasuhan dan mungkin bukan
pengalaman yang memuaskan bagi banyak pengasuh.Hal ini juga diketahui
bahwa kerabat derajat pertama pasien skizofrenik (yang sering pengasuh)
menderita morbiditas psikologis sendiri.1
Sejumlah studi di India telah meneliti beban keluarga dan stres pada
pengasuh skizofrenia.Studi bahkan menemukan beban pengasuh lebih besar
daripada gangguan psikiatri kronik lainnya.Studi keluarga skizofrenia
menyatakan broken homes, pengasuhan anak yang buruk, kurangnya kohesi
Universitas Sumatera Utara
sebagai unit keluarga, psikopatologi orangtua dan kekerasan keluarga,
semua hal ini sebagai faktor risiko untuk pengembangan skizofrenia pada
pasien.Sudah tidak diragukan lagi bahwa pengasuh yang berasal dari
lingkungan seperti itu juga rentan terhadap penyakit psikiatri.Sementara
pengasuh seringkali merupakan sumber bantuan ekonomi, sosial dan
emosional bagi semua anggota keluarga mereka, kehidupan mereka sendiri
dapat sangat dipengaruhi oleh peran pengasuhan.1
Gangguan fungsi keluarga berkontribusi terhadap depresi pada
pengasuh dan telah dicatat dalam studi sebelumnya oleh salah satu
authors.Mengatasi
perilaku
pasien
adalah
tugas
sulit
lainnya
bagi
pengasuh.Pasien skizofrenik menunjukkan sejumlah gejala positif, negatif,
vegetatif dan simtom residual yang seringkali sangat sulit bagi pengasuh
untuk memahami dan menanggapi.Studi telah melaporkan bahwa gejala
negatif skizofrenia ditemukan lebih sulit untuk diatasi pengasuh daripada
gejala positif dan skizofrenia akut.Telah dicatat bahwa pengasuh pasien
skizofrenik sering kali tidak mampu menyelesaikan dan mencapai peran yang
diinginkan dan tanggung jawab, pada pribadi, pekerjaan, keluarga dan tingkat
sosial.Perubahan peran dan konflik peran antara pengasuh telah dilaporkan
dalam banyak studi.Dalam studi yang ada, hanya beberapa upaya telah
dilakukan untuk menemukan dan menjelaskan faktor yang mempengaruhi
depresi antara pengasuh.1
Universitas Sumatera Utara
2.2. Depresi
Depresi adalah salah satu konsekuensi yang paling penting yang
merugikan pengasuh oleh karena hal ini umum dijumpai, terkait dengan
kualitas hidup yang buruk, dan merupakan faktor risiko untuk kerugian
lainnya termasuk penurunan fungsional dan kematian.Penelitian sebelumnya
menunjukkan depresi pada pengasuh merupakan hasil dari interaksi
kompleks dari faktor-faktor yang meliputi karakteristik pasien dan pengasuh,
serta faktor budaya.Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengasuh
dengan kesehatan yang lebih buruk, atau sumber daya keuangan yang lebih
sedikit, berada pada risiko tinggi untuk depresi.14
Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa setidaknya sepertiga
dari pengasuh mengalami peningkatan kecemasan atau depresi sehubungan
dengan peran mereka sebagai pengasuh, dan beberapa peneliti menemukan
hingga 60% dari pengasuh merasa sangat cemas dan depresif.15
Depresi merupakan salah satu gangguan psikologis yang paling umum
terlihat pada pasien perawatan primer, dengan tingkat prevalensi sebesar
23%.Deteksi depresi pasien perawatan primer sangat penting karena 50-75%
dari individu mencari pengobatan pada dokter untuk gangguan depresi
mereka sedangkan hanya 16-23% yang mendatangi praktisi kesehatan
mental.Karena depresi sering tidak terdeteksi dalam perawatan primer, lebih
dari setengah pasien dalam perawatan primer mengalami gangguan depresi
mayor namun tidak diobati.Pasien dengan depresi yang tidak diobati
menunjukkan gangguan fungsional yang signifikan dan mortalitas dan
Universitas Sumatera Utara
morbiditas yang lebih tinggi daripada rata-rata, dan cenderung menggunakan
pelayanan medis.Untuk meningkatkan tingkat deteksi dan pengobatan
depresi dalam perawatan primer, penyedia layanan kesehatan primer
menggunakan instrumen skrining seperti Beck Depression Inventory – II
(BDI-II).Namun, meskipun digunakan secara luas, relatif sedikit diketahui
tentang sifat-sifat psikometri dari BDI-II pada pasien perawatan primer.BDI-II
adalah versi revisi dari 2l-item Beck Depression Inventory, yang menilai
tingkat keparahan depresi pada orang dewasa dan remaja.14
Gejala yang tercantum untuk diagnosis episode depresi dalam ICD-10
dimana individu biasanya menderita suasana perasaan (mood), yang
depresif, kehilangan minat dan kegembiraan, dan berkurangnya energi yang
menuju
meningkatnya
keadaan
mudah
lelah
dan
berkurangnya
aktifitas.Biasanya ada rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja.
Gejala lazim lainnya adalah; konsentrasi dan perhatian berkurang, harga diri
dan kepercayaan diri berkurang, gagasan tentang perasaan bersalah dan
tidak berguna (bahkan pada episode tipe ringan sekalipun), pandangan masa
depan yang suram dan pesimistis, gagasan atau perbuatan membahayakan
diri atau bunuh diri, tidur terganggu, nafsu makan berkurang. 15
Tanda utama dari episode depresif adalah mood depresi atau hilang
minat atau kesenangan yang menonjol selama sedikitnya 2 minggu dan
menyebabkan distres atau hambatan yang bermakna dalam fungsi sosial,
pekerjaan, fungsi area lainnya pada seorang individu. Selama masa ini
seseorang juga menampilkan sedikitnya 4 gejala tambahan dari mood
Universitas Sumatera Utara
depresi adalah gejala yang paling khas terjadi pada lebih dari 90 %
pasien.Pasien melaporkan sendiri perasaan sedih, murung, hampa, putus
asa, muram atau tenggelam dalam kesedihan.Kualitas mood sebaliknya
dilukiskan berbeda dari perasaan kesedihan yang normal atau duka cita.16
Anhedonia tidak mampu menikmati aktifitas yang biasa dilakukan
adalah yang paling umum dialami pasien depresi.Pasien atau keluarganya
melaporkan dengan jelas adanya penurunan minat pada semua, atau hampir
semua aktifitas yang sebelumnya dinikmati seperti seks, hobi, rutinitas sehari
– hari.16
Perubahan nafsu makan sekitar 70 % pasien depresi yang diamati
terdapat penurunan nafsu makan bersamaan dengan kehilangan berat
badan.Hanya sedikit pasien yang mengalami peningkatan nafsu makan,
sering dikaitkan dengan makanan khusus seperti permen.16
Perubahan tidur sekitar 80 % pasien depresi mengeluhkan beberapa
tipe gangguan tidur. Yang paling umum dan tidak menyenangkan adalah
terjaga pada dini hari ( biasanya sekitar jam 4 – 5 pagi) dan kadang lebih
berat gejala depresifnya pada awal hari. Sementara insomnia initial
khususnya sering bersamaan dengan kecemasan (komorbid).Beberapa
pasien mengeluhkan hipersomnia daripada insomnia terdapat pada depresi
atipikal dan gangguan afektif dan sering berkaitan dengan hiperfagia.16-17
Perubahan aktifitas fisik sekitar setengah dari pasien depresi menjadi
lambat
atau
perlambatan
dalam
aktifitas
normal
mereka.Mereka
menunjukkan lambat berfikir, berbicara, pergerakan tubuh atau menurunnya
Universitas Sumatera Utara
volume isi pembicaraan dengan jeda yang panjang sebelum menjawab. Pada
sekitar 70 % pasien perempuan yang depresi dan 50 % laki – laki yang
depresi, kecemasan ditampilkan dalam bentuk agitasi psikomotor dengan
melangkah mondar-mandir, tidak mampu duduk tenang dan meremas-remas
tangan. 16
Hilang energi hampir semua pasien depresi melaporkan hilang energi
secara bermakna khususnya kelelahan dan umumnya kurang efisien bahkan
dalam tugas yang ringan.16
2.3.
Beck Depression Inventory II
Beck Depression Inventory II merupakan update dari BDI asli, yang
telah diubah sesuai dengan kriteria dari Diagnostic and Statistical Manual of
Mental Disorder (DSM-IV; American Psychiatric Association, tahun 1994)
untuk gangguan depresi mayor dan memperbaiki validitas isi instrumen.
Sebagai contoh, instrumen revisi meliputi modifikasi pada 17 respons ,
termasuk opsi untuk kenaikan dan penurunan selera makan, berat badan dan
tidur. Sebagai tambahan empat item dikeluarkan ( perubahanbentuk tubuh,
kesulitan bekerja, penurunan berat badan , dan preokupasi somatik ) dan
digantikan oleh empat item baru ( agitasi , tidak berharga , kehilangan energi
, dan kesulitan konsentrasi ). Waktu untuk respons itu diperpanjang dari I
minggu sampai 2 minggu agar sesuai dengan kriteria DSM – IV untuk
episode depresi mayor.BDI - II telah divalidasi pada pasien psikiatri rawat
jalan remaja dan dewasa. Meskipun BDI - II menunjukkan reliabilitas test-
Universitas Sumatera Utara
retest baik, konsistensi internal yang tinggi, dan validitasnya sedang sampai
tinggi, struktur faktor bervariasi di seluruh studi .14,18
Pengukuran BDI-II merupakan alat ukur yang sederhana, singkat dan
jelas terdiri dari 21 butir pertanyaan penilaian sindrom depresif berdasarkan
skala likert 0 hingga 3, dengan pengecualian pada butir nomor 16 dan 18.
Pertanyaan butir 16 mengenai perubahan pola tidur dan butir 18 mengenai
perubahan
selera
makan.Peserta
ditanya
menjelaskan
bagaimana
perasaannya dalam periode 1 hingga 2 minggu terakhir.Waktu yang
dibutuhkan
untuk
dapat
menyelesaikan
BDI-II
adalah
5
–
10
menit.Interpretasi klinis untuk skor BDI-II adalah; 0-13 depresi minimal, 14-19
depresi ringan, 20-28 depresi sedang, 29-63 depresi berat.19-21
Universitas Sumatera Utara
KERANGKA TEORI
Skizofrenia
Faktor yang mempengaruhi beban
pengasuhan











Pengasuh pasien skizofrenik
Memberikan perawatan

Umur
Etnis
Jenis kelamin
Hubungan dengan
pasien
Status yang memberikan
perawatan
Tingkat pendidikan
Status ekonomi
Penyakit kronis
Coping style
Dukungan social
Karakteristik budaya








manajemen pendukung
emosional pasien
fisik atau finansial
koordinasi /kesehatan dan
layanan sosial
kesehatan rutin ( memperoleh
obat-obatan)
perawatan pribadi
(mandi,makan,pakaian)
belanja
pekerjaan rumah
manajemen keuangan
berbagi rumah
Depresi
Universitas Sumatera Utara
KERANGKA KONSEP
PengasuhPasien
Skizofrenik
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Umur
Jenis kelamin
Pendidikan
Pekerjaan
Lama sakit
Hubungan
kekerabatan
Depresi
Universitas Sumatera Utara
Download