Karunia Melayani

advertisement
Bab Delapan-Belas (Chapter Eighteen)
Karunia Melayani (The Ministry Gifts)
Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut
ukuran pemberian Kristus. …… Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul
maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan
pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan
pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai
kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan
penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. (Efesus
4:7, 11-13, tambahkan penekanan).
Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul,
kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat
karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk
memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. (1 Korintus 12:28,
tambahkan penekanan).
Sesuai istilahnya, karunia-karunia pelayanan adalah berbagai panggilan dan
kemampuan yang diberikan kepada orang-orang percaya tertentu yang memungkinkan
mereka memegang jabatan rasul, nabi, penginjil, pendeta atau guru. Tak seorangpun
dapat memposisikan dirinya dalam salah satu jabatan-jabatan itu. Sebaliknya, seseorang
harus merasa terpanggil dan diberikan karunia oleh Allah.
Dari lima jabatan itu, seseorang bisa saja memegang lebih dari satu jabatan, tetapi
hanya kombinasi tertentu yang layak. Misalnya, bisa saja seorang percaya merasa
terpanggil untuk menjabat pendeta dan guru atau nabi dan guru. Tetapi seseorang tak
mungkin menjabat pendeta dan penginjil hanya karena pelayanan pendeta
mensyaratkannya untuk tetap di satu tempat untuk melayani jemaat lokal, sehingga ia tak
dapat memenuhi panggilan sebagai penginjil yang harus sering bepergian.
Walaupun diberikan karunia-karunia berbeda dengan tujuan-tujuan berbeda, semua
lima jabatan itu telah diberikan kepada gereja untuk satu tujuan umum, yakni
“memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan” (Efesus 4:12).1 Tujuan
setiap pelayan haruslah memperlengkapi orang-orang suci (yang merupakan arti dari
kata “saints”) untuk pekerjaan pelayanan. Namun, sangat sering para pelayan bertindak
seolah-olah mereka dipanggil, bukan untuk memperlengkapi orang-orang kudus untuk
pelayanan, tetapi untuk menyenangkan orang-orang duniawi yang ikut beribadah di
gereja. Setiap orang yang terpanggil untuk salah satu jabatan itu harus terus mengevaluasi
kontribusinya kepada “tindakan memperlengkapi orang-orang kudus untuk pekerjaan
pelayanan.” Jika setiap pelayan melakukannya, banyak orang akan meninggalkan banyak
kegiatan yang secara keliru dianggap sebagai “pelayanan.”
Apakah Beberapa Karunia Pelayanan Hanya untuk Gereja Mula-Mula? (Were
Some Ministry Gifts Only for the Early Church?)
Berapa lama karunia-karunia pelayanan itu akan diberikan kepada gereja? Yesus akan
memberikan karunia-karunia itu selama orang-orangNya yang suci perlu diperlengkapi
untuk pelayanan, sampai Ia kembali. Gereja terus-menerus menerima orang-orang
Kristen lahir baru yang memerlukan pertumbuhan, dan kita selalu punya kesempatan
untuk menjadi dewasa secara rohani.
Tetapi, sebagian orang berkesimpulan hanya ada dua jenis pelayanan kini —pendeta
dan penginjil— seolah-olah Allah telah mengubah rencanaNya. Tidak, kita masih butuh
pelayanan rasul, nabi dan guru seperti yang dilakukan oleh gereja mula-mula. Kita tidak
menyaksikan contoh-contoh karunia itu di gereja-gereja di seluruh dunia hanya karena
Yesus memberikan karunia-karunia itu kepada gerejaNya, bukan kepada gereja yang
sesat, yang tidak suci dan yang injilnya sesat. Dalam gereja sesat, hanya dapat ditemukan
orang-orang yang tak sanggup memenuhi peranan beberapa karunia pelayan (sebagian
besar pendeta dan mungkin beberapa penginjil), tetapi mereka hampir tak menunjukkan
karunia-karunia pelayanan menurut panggilan dan urapan Tuhan yang Yesus berikan
kepada gerejaNya. Mereka tentu tak memperlengkapi orang-orang kudus untuk kegiatan
pelayanan, karena injil yang mereka beritakan tidak menghasilkan kesucian; injil itu
hanya menipu orang-orang yang menganggap diri mereka sudah diampuni. Dan orangorang itu tak ingin diperlengkapi untuk pelayanan. Mereka tak mau menyangkali diri
1
Ungkapan ini hanyalah cara lain untuk mengatakan, “Untuk melakukan pemuridan of Yesus Kristus.”
mereka sendiri dan tak mau memikul salibnya masing-masing.
Bagaimana Anda Tahu jika Anda Dipanggil? (How do You Know that You are
Called?)
Bagaimana mengetahui apakah seseorang dipanggil untuk salah satu jabatan di gereja?
Yang terutama, ia akan merasakan panggilan ilahi dari Allah. Ia akan merasa diri
terbeban untuk memenuhi tugas tertentu, yang jauh lebih dari sekedar memahami adanya
kebutuhan yang perlu dipenuhi. Sebaliknya, rasa lapar yang Tuhan berikan di dalam diri
memaksa seseorang untuk melakukan pelayanan tertentu. Jika ia benar-benar dipanggil
Allah, ia tak merasa puas sampai ia mulai memenuhi panggilannya. Hal itu tak terkait
dengan penunjukan satu atau beberapa orang. Tuhanlah yang melakukan panggilan itu.
Kedua, orang yang benar-benar dipanggil akan merasa Allah memperlengkapinya
untuk memenuhi tugas Allah. Setiap jabatan dari lima jabatan itu memerlukan urapan
adikodrati bagi orang yang memungkinkan dia mewujudkan panggilan Allah. Dengan
panggilan itu, urapan akan datang. Bila tak ada urapan, maka tak ada panggilan.
Seseorang bisa berharap melakukan tugas pelayanan tertentu, masuk Sekolah Alkitab
empat tahun untuk mendidik dan menyiapkannya bagi pelayanan itu; namun tanpa urapan
Allah, ia tak punya kesempatan untuk berhasil.
Ketiga, ia akan tahu bahwa Allah telah membuka pintu kesempatan baginya untuk
mengerjakan karunia-karunia khusus yang dimilikinya. Sehingga, ia dapat membuktikan
bahwa dirinya setia, dan akhirnya ia akan dipercayakan untuk mendapat kesempatan,
tanggung-jawab dan karunia-karunia yang lebih besar.
Jika seseorang belum merasakan desakan dan panggilan ilahi di dalam dirinya untuk
salah satu dari lima karunia pelayanan, atau jika ia tak menyadari akan urapan khusus
untuk memenuhi tugas pemberian Allah, atau jika tak ada kesempatan untuk melakukan
karunia-karunia yang dianggap sebagai miliknya, maka orang itu tak perlu menjadi
sesuatu yang Allah belum kehendaki baginya. Sebaliknya, ia harus bekerja untuk menjadi
berkat di antara jemaat lokal, tetangganya, dan di tempat kerjanya. Meskipun tak
dipanggil untuk pelayanan “lima kali lipat”, ia dipanggil untuk melayani dengan
memakai karunia-karunia yang telah diberikanNya, dan ia harus tetap membuktikan
kesetiaan dirinya.
Walaupun Alkitab menyebutkan lima karunia pelayanan, tidak berarti setiap orang
yang memegang jabatan tertentu akan punya pelayanan yang persis sama. Paulus menulis
bahwa ”ada rupa-rupa pelayanan” (1 Korintus 12:5), yang memungkinkan adanya variasi
di antara para pelayan yang menjabat. Lagipula, tampak ada berbagai tingkat urapan pada
orang-orang yang memegang jabatan tersebut, sehingga kita dapat membagi setiap
jabatan menurut tingkat urapan. Misalnya, dibandingkan guru-guru lain, ada beberapa
guru yang lebih diurapi dalam beberapa cara. Hal yang sama berlaku juga pada karuniakarunia pelayanan lainnya. Saya pribadi percaya bahwa setiap pelayan dapat melakukan
hal-hal untuk meningkatkan urapan pada pelayanannya, seperti membuktikan dirinya
tetap setia selama satu periode waktu dan sungguh-sungguh menyucikan dirinya untuk
Allah.
Perhatian yang Lebih Dalam pada Jabatan Rasul (A Closer Look at the Office of
Apostle)
Kata bahasa Gerika yang diterjemahkan sebagai rasul adalah apostolos, yang berarti
“orang yang diutus.” Rasul sejati Perjanjian Baru adalah orang percaya yang diutus
secara ilahi ke satu atau lebih tempat untuk mendirikan gereja. Ia meletidak akan dasar
rohani dari “bangunan“ Allah dan mirip seperti “kontraktor umum,” seperti rasul Paulus
tuliskan:
Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan
Allah. Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku
sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletidak akan dasar, dan orang
lain membangun terus di atasnya. (1 Korintus 3:9-10a, tambahkan penekanan).
“Ahli bangunan” atau kontraktor umum mengawasi keseluruhan proses pembangunan
—ia mendapatkan gambaran tentang hasil akhir. Ia bukan ahli seperti tukang kayu atau
penyusun bata. Ia bisa saja melakukan pekerjaan tukang kayu atau penyusun bata, tetapi
mungkin tidak sebaik yang dilakukan oleh tukang kayu atau penyusun bata yang ahli.
Demikian juga, rasul memiliki kemampuan bertugas sebagai seorang penginjil atau
pendeta, tetapi hanya selama waktu yang terbatas ketika ia mendirikan gereja. (Rasul
Paulus biasanya tinggal di satu tempat selama enam bulan sampai tiga tahun).
Rasul adalah ahli pembangun jemaat dan kemudian mengawasi jemaat agar tetap
mengikuti jalur Allah. Rasul bertanggung-jawab menunjuk penatua/pendeta/penilik untuk
menggembalakan sidang jemaat yang dibentuk oleh rasul itu (lihat Kisah Para Rasul
14:21-23; Titus 1:5).
Rasul yang Benar dan Rasul yang Sesat (True dan False Apostles)
Beberapa pelayan kini, yang ingin menguasai gereja-gereja, tampak tergesa-gesa
menyatakan panggilan mereka untuk menjadi rasul-rasul, tetapi banyak yang menemui
masalah. Karena mereka tidak mendirikan gereja-gereja (atau mungkin hanya satu atau
dua gereja) dan tak memiliki karunia-karunia dan urapan seorang rasul yang Alkitabiah,
mereka harus mencari pendeta yang tulus-hati yang akan memungkinkan mereka untuk
memiliki kuasa atas gereja-gereja mereka. Jika anda seorang pendeta, jangan tersesat oleh
rasul-rasul yang hanya memuliakan dirinya dan haus akan kekuasaan. Mereka biasanya
ialah serigala berbulu domba yang, sering mengejar uang. Alkitab mengingatkan kita
untuk melawan rasul-rasul sesat (lihat 2 Korintus 11:13; Wahyu 2:2). Jika mereka berkata
bahwa mereka adalah rasul-rasul, mungkin itu indikasinya mereka bukanlah rasul-rasul.
Buah-buah mereka menunjukkan siapa diri mereka.
Pendeta, yang mendirikan jemaatnya sendiri dan melayani selama bertahun-tahun,
bukanlah seorang rasul. Pendeta itu, mungkin, disebut “pendeta apostolik/kerasulan”
karena ia merintis jemaatnya sendiri. Namun, ia tak memegang jabatan rasul karena
seorang rasul terus-menerus merintis jemaat-jemaat.
Seorang “misionaris” menduduki jabatan rasul; ia diutus dan diurapi Tuhan sesuai
sebutannya kini, dan panggilan utamanya adalah mendirikan jemaat-jemaat. Di lain
pihak, misionaris yang bekerja untuk mendirikan Sekolah-Sekolah Alkitab atau melatih
pendeta-pendeta bukan disebut rasul, namun guru.
Pelayanan seorang rasul sejati ditandai dengan berbagai mujizat adikodrati, yang
merupakan instrumen dalam membantunya membangun gereja-gereja. Paulus menulis:
Karena meskipun aku tidak berarti sedikitpun, namun di dalam segala hal aku tidak
kalah terhadap rasul-rasul yang luar biasa itu. Segala sesuatu yang membuktikan,
bahwa aku adalah seorang rasul, telah dilakukan di tengah-tengah kamu dengan
segala kesabaran oleh tanda-tanda, mujizat-mujizat dan kuasa-kuasa. (2 Korintus
12:11b-12).
Jika seseorang tidak mendapat tanda-tanda mujizat yang menyertai pelayanannya,
maka ia bukanlah rasul. Jelas, rasul yang benar jarang ada, dan tidak ada rasul di dalam
gereja yang sesat, yang tidak suci dan yang injilnya sesat. Saya bertemu mereka terutama
di tempat-tempat di dunia yang wilayahnya masih belum terjangkau oleh Injil.
Tingkatan Tinggi Rasul (The High Rank of Apostle)
Dalam kedua daftar Perjanjian Baru dari karunia-karunia pelayan, jabatan rasul ada di
urutan pertama, sehingga itulah panggilan tertinggi (lihat Efesus 4:11; 1 Korintus 12:28).
Tak seorangpun memulai pelayanannya sebagai rasul. Seseorang dapat saja dipanggil
menjadi rasul secara bertahap, tetapi ia tidak akan memulai dalam jabatan itu. Ia harus
mula-mula membuktikan diri sebagai orang yang setia berkhotbah dan mengajar selama
bertahun-tahun, lalu akhirnya menduduki jabatan yang Allah telah siapkan untuknya.
Paulus dipanggil sebagai rasul sejak masih dalam rahim ibunya, tetapi ia melayani
sepenuh-waktu selama bertahun-tahun sebelum akhirnya menjabat rasul (lihat Galatia
1:15-2:1). Sebenarnya ia mulai menjabat guru dan nabi (lihat Kisah Para Rasul 13:1-2),
lalu naik menjadi rasul ketika ia diutus oleh Roh Kudus (lihat Kisah Para Rasul 14:14).
Kita temukan sebutan rasul-rasul lainnya di samping Paulus dan duabelas rasul awal
dalam Kisah Para Rasul 1:15-26;14:14; Roma 16:7; 2 Korintus 8:23; Galatia 1:17-19;
Filipi 2:25 dan 1 Tesalonika 1:1 dengan 2:6. (Kata yang diterjemahkan temanku yang
bekerja bersama-sama dalam 2 Korintus 8:23 dan teman sekerja serta teman
seperjuanganku dalam Filipi 2:25 adalah kata dalam bahasa Gerika apostolos). Ini
mengenyahkan teori bahwa jabatan rasul terbatas hanya kepada duabelas orang.
Tetapi, hanya duabelas rasul yang diklasifikasikan sebagai “Rasul-Rasul Domba
Allah”, yang akan mendapat tempat khusus dalam pemerintahan seribu tahun Kristus
(lihat Matius 19:28; Wahyu 21:14). Kita tidak lagi perlu rasul-rasul seperti Petrus,
Yakobus dan Yohanes yang mendapat ilham khusus untuk menulis Alkitab, karena
pewahyuan Alkitab sudah lengkap. Tetapi, kita masih butuh rasul-rasul yang mendirikan
jemaat-jemaat oleh kuasa Roh Kudus, sebagaimana yang dilakukan oleh Paulus dan
rasul-rasul lain, seperti diuraikan dalam Kisah Para Rasul.
Jabatan Nabi (The Office of Prophet)
Nabi adalah orang yang menerima pewahyuan adikodrati dan berbicara melalui ilham
ilahi. Secara alami, ia sering dipakai dalam karunia roh nubuatan juga karunia-karunia
pewahyuan: kata-kata hikmat, kata-kata pengetahuan, dan pengenalan akan roh-roh.
Setiap orang percaya dapat dipakai oleh Allah dalam karunia nubuatan sesuai
kehendak Roh, tetapi hal itu tak menjadikannya sebagai nabi. Mulanya, seorang nabi
adalah pendeta yang dapat berkhotbah atau mengajar dengan urapan. Karena, nabi adalah
panggilan tertinggi kedua (lihat urutan dalam 1 Korintus 12:28), bahkan seorang pelayan
penuh-waktu tidak memegang jabatan nabi sampai ia sudah melayani beberapa tahun.
Jika ia benar-benar memegang jabatan itu, ia akan memiliki kelengkapan adikodrati yang
mengikuti jabatan tersebut.
Yudas dan Silas adalah dua orang yang disebut nabi dalam Perjanjian Baru. Pada
Kisah Para Rasul 15:32, keduanya menyampaikan nubuatan panjang kepada jemaat
Antiokhia:
Yudas dan Silas, yang adalah juga nabi, lama menasihati saudara-saudara itu dan
menguatkan hati mereka.
Contoh lain seorang nabi dalam Perjanjian Baru adalah Agabus. Kisah Para Rasul
11:27-28 menyebutkan:
Pada waktu itu datanglah beberapa nabi dari Yerusalem ke Antiokhia. Seorang dari
mereka yang bernama Agabus bangkit dan oleh kuasa Roh ia mengatakan, bahwa
seluruh dunia akan ditimpa bahaya kelaparan yang besar. Hal itu terjadi juga pada
zaman Klaudius.
Perhatikan, Agabus diberi perkataan hikmat —satu hal tentang masa-depan
diungkapkan kepadanya. Agabus tentu saja tidak tahu setiap hal yang akan terjadi di
masa depan; ia hanya tahu apa yang Roh Kudus ingin ungkapkan kepadanya.
Dalam Kisah Para Rasul 21:10-11, ada contoh lain mengenai ucapan hikmat yang
terjadi melalui pelayanan Agabus. Kali ini, atas nama satu orang, Paulus:
Setelah beberapa hari kami tinggal di situ, datanglah dari Yudea seorang nabi
bernama Agabus. Ia datang pada kami, lalu mengambil ikat pinggang Paulus.
Sambil mengikat kaki dan tangannya sendiri ia berkata: "Demikianlah kata Roh
Kudus: Beginilah orang yang empunya ikat pinggang ini akan diikat oleh orangorang Yahudi di Yerusalem dan diserahkan ke dalam tangan bangsa-bangsa lain."
Sesuai perjanjian baru, apakah mencari bimbingan pribadi dari nabi adalah tindakan
yang Alkitabiah? Tidak. Karena tiap orang percaya memiliki Roh Kudus di dalam dirinya
untuk membimbing mereka. Seorang nabi hanya menegaskan kepada orang percaya
bahwa apa yang sudah diketahuinya adalah petunjuk Allah dalam rohnya sendiri.
Misalnya, ketika Agabus menubuatkan kepada Paulus, ia tidak memberinya petunjuk
tentang hal yang harus dilakukan oleh Paulus; ia hanya menegaskan apa yang sudah
Paulus ketahui.
Seperti disebutkan sebelumnnya, Paulus memegang jabatan nabi (dan guru) sebelum ia
dipanggil kepada pelayanan rasul (lihat Kisah Para Rasul 13:1). Kita tahu bahwa Paulus
menerima pewahyuan dari Tuhan menurut Galatia 1:11-12, dan ia juga mengalami
banyak penglihatan (lihat Kisah Para Rasul 9:19; 18:9-10; 22:17-21; 23:11; 2 Korintus
12:1-4).
Rasul-rasul sejati tidak ditemukan di dalam jemaat yang sesat. Jemaat yang sesat akan
(dan benar-benar) menolak nabi-nabi sejati seperti Silas, Yudas atau Agabus. Nabi-nabi
sejati akan membawa pewahyuan tentang ketidaksenangan Allah terhadap ketidaktaatan
mereka (seperti yang dilakukan Yohanes kepada sebagian besar jemaat di Asia Kecil
pada dua pasal awal Kitab Wahyu). Jemaat yang sesat tidak terbuka akan hal tersebut.
Jabatan Guru (The Office of Teacher)
Menurut urutan dalam 1 Korintus 12:28, jabatan guru adalah panggilan tertinggi
ketiga. Guru adalah orang yang diurapi secara adikodrati untuk mengajar Firman Tuhan.
Hanya karena seseorang mengajarkan Alkitab tidak berarti ia adalah guru Perjanjian
Baru. Banyak orang mengajar hanya karena mereka ingin atau merasa wajib, tetapi
seseorang yang menjabat guru diberikan karunia adikodrati untuk mengajar. Guru sering
diberikan pewahyuan adikodrati mengenai Firman Tuhan dan ia dapat menjelaskan
Alkitab dalam cara yang mudah dipahami dan dapat diterapkan.
Dalam Perjanjian Baru, Apolos adalah teladan orang yang menjabat guru. Paulus
membandingkan pelayanan apostoliknya dengan pelayanan pengajaran Apolos dalam 1
Korintus, dengan berkata:
Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. ……
Aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletidak akan dasar, dan
orang lain membangun terus di atasnya. (1 Korintus 3:6, 10b, tambahkan
penekanan).
Apolos tidak melakukan perintisan awal atau peletakan dasar. Malahan, ia menyirami
tunas-tunas baru dengan Firman Tuhan dan membangun tembok pada fondasi yang ada.
Apolos disebutkan juga dalam Kisah Para Rasul 18:27-28:
Karena Apolos ingin menyeberang ke Akhaya, saudara-saudara di Efesus mengirim
surat kepada murid-murid di situ, supaya mereka menyambut dia. Setibanya di
Akhaya maka ia, oleh kasih karunia Allah, menjadi seorang yang sangat berguna
bagi orang-orang yang percaya. Sebab dengan tak jemu-jemunya ia membantah
orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa
Yesus adalah Mesias.
Perhatikan, Apolos “banyak membantu” orang-orang yang telah menjadi Kristen dan
pengajarannya “memiliki kuasa.” Pengajaran yang diurapi selalu memiliki kuasa.
Bagi jemaat, pelayanan pengajaran bahkan lebih pentung daripada pekerjaan mujizatmujizat atau karunia-karunia kesembuhan. Itu sebabnya, pelayanan pengajaran
dicantumkan sebelum karunia-karunia dalam 1 Korintus 12:28:
Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul,
kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat
karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk
memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. (tambahkan penekanan).
Sayangnya, orang-orang percaya kadang-kadang lebih tertarik melihat kesembuhan
bukannya mendengarkan pengajaran Firman yang mudah dipahami yang akan
menghasilkan pertumbuhan rohani dan kesucian bagi kehidupan mereka.
Alkitab berbicara tentang khotbah dan pengajaran. Pengajaran lebih logis dan memberi
arahan, sedangkan khotbah lebih memberikan ilham dan dorongan. Penginjil umumnya
berkhotbah. Guru dan pendeta umumnya mengajar. Rasul berkhotbah dan mengajar.
Patut disesalkan, beberapa orang percaya tidak mengakui nilai pengajaran. Sebagian
bahkan menganggap bahwa waktu urapan turun kepada pembicara adalah saat ia
berkhotbah dengan keras dan cepat! Tidaklah demikian.
Yesus adalah teladan terbaik dari guru yang diurapi. PengajaranNya adalah bagian
dominan dalam pelayananNya di mana banyak orang menunjukNya sebagai “Guru”
(Matius 8:19; Markus 5:35; Yohanes 11:28).
Untuk menyelidiki lebih lanjut tentang guru dan pengajaran, lihat Kisah Para Rasul
2:42; 5:21, 25, 28, 42; 11:22-26;13:1; 15:35; 18:11; 20:18-20; 28:30-31; Roma 12:6-7; 1
Korintus 4:17; Galatia 6:6; Kolose 1:28; 1 Timotius 4:11-16; 5:17; 6:2; 2 Timotius 1:11;
2:2 dan Yakobus 3:1. Ayat terakhir menyatakan bahwa guru-guru akan mendapatkan
hukuman lebih berat, sehingga mereka harus lebih hati-hati dengan pengajaran mereka.
Mereka hanya boleh mengajarkan Firman.
Jabatan Penginjil (The Office of Evangelist)
Penginjil adalah orang yang diurapi untuk memberitakan Injil. Pesan-pesannya
didesain untuk memimpin setiap orang kepada pertobatan dan iman dalam Tuhan Yesus
Kristus. Dia disertai dengan mujizat-mujizat yang menarik perhatian orang yang tidak
percaya, dan dia dituntut akan kebenaran dari pesan yang disampaikannya.
Pasti ada banyak penginjil di jemaat mula-mula, tetapi hanya satu orang penginjil
dalam Kisah Para Rasul. Namanya Filipus: “Pada keesokan harinya kami berangkat dari
situ dan tiba di Kaisarea. Kami masuk ke rumah Filipus, pemberita Injil itu, yaitu satu
dari ketujuh orang yang dipilih di Yerusalem, dan kami tinggal di rumahnya.” (Kisah
Para Rasul 21:8, tambahkan penekanan).
Filipus memulai pelayanannya sebagai hamba (atau mungkin “diaken”) yang
menunggu di meja (lihat Kisah Para Rasul 6:1-6). Jabatannya naik menjadi penginjil
sekitar masa penganiayaan gereja yang terkait dengan peristiwa mati sahidnya Stefanus.
Penyampaian khotbah Injil pertamanya dialkukan di Samaria:
Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada
orang-orang di situ. Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan
melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima
apa yang diberitakannya itu. Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat
keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang
lumpuh dan orang timpang yang disembuhkan. Maka sangatlah besar sukacita
dalam kota itu. (Kisah Para Rasul 8:5-8).
Perhatikanlah, Filipus punya satu pesan —Kristus. Ia bertujuan untuk memuridkan
orang-orang, yakni menjadi pengikut yang taat kepada Kristus. Ia menyatakan Kristus
sebagai pembuat mujizat, Anak Allah, Tuhan, Juruselamat dan Hakim yang segera
datang. Ia mendesak orang-orang untuk bertobat dan mengikuti Tuhannya.
Perhatikan juga, Filipus dibekali dengan berbagai mujizat adikodrati yang menegaskan
pesannya. Orang yang memegang jabatan penginjil akan diurapi dengan karunia-karunia
kesembuhan dan karunia-karunia lain dari roh. Gereja yang sesat hanya punya penginjil
sesat yang menyampaikan injil sesat. Dunia kini penuh dengan penginjil seperti itu, dan
jelaslah Allah tidak meneguhkan pesan mereka dengan mujizat-mujizat dan kesembuhan.
Itu karena mereka tidak memberitakan InjilNya. Dan mereka tidak sungguh-sungguh
memberitakan tentang Kristus, dan biasanya berkhotbah tentang kebutuhan manusia dan
bagaimana Kristus dapat memberikan hidup berkelimpahan, atau berkhotbah tentang
rumusan keselamatan yang tidak membahas tentang pertobatan. Juga, mereka memimpin
orang kepada pertobatan sesat yang meredakan rasa bersalah mereka namun tidak
menyelamatkan mereka. Hasil-hasil penyampaian khotbah mereka adalah orang-orang
hanya punya sedikit kesempatan untuk dilahirkan kembali, karena kini mereka tak perlu
menerima apa yang mereka anggap sudah dimiliki. Para penginjil itu sebenarnya
membantu membangun kerajaan Setan.
Jabatan penginjil tidak disebutkan dengan karunia-karunia pelayanan lainnya dalam 1
Korintus 12:28 juga dalam Efesus 4:11. Tetapi, saya anggap bahwa acuan kepada
“berbagai mujizat dan karunia kesembuhan” berlaku pada jabatan penginjil karena
berbagai mujizat dan karunia kesembuhan memberikan karakter kepada pelayanan
Filipus sang penginjil, dan berbagai mujizat dan karunia kesembuhan itu biasanya
memberikan penegasan adikodrati kepada pelayanan seorang penginjil.
Banyak orang, yang pergi dari gereja ke gereja yang menyebut diri mereka penginjil,
benar-benar bukan penginjil karena mereka hanya berkhotbah di gedung-gedung gereja
kepada orang-orang Kristen, dan mereka tak dibekali dengan karunia-karunia
kesembuhan atau mujizat. (Sebagian orang pura-pura memiliki karunia-karunia itu, tetapi
mereka hanya membodohi orang-orang yang naif. Mujizat-mujizat mereka membuat
orang-orang tersandung sesaat, ketika ketika mereka menyesatkan orang-orang itu). Para
pelayan keliling itu bisa saja menjadi pengkhotbah atau penasehat (lihat Roma 12:8),
tetapi mereka tidak menduduki jabatan penginjil. Allah bisa saja memulai pelayanan
seseorang sebagai penasehat atau pengkhotbah, lalu menaikkan posisinya ke jabatan
penginjil.
Untuk menyelidiki lebih lanjut tentang jabatan penginjil, baca Kisah Para Rasul 8:440, catatan pelayanan Filipus. Perhatikan juga pentingnya saling-ketergantungan karuniakarunia pelayan (lihat ayat-ayat 14-25) dan bagaimana Filipus menginjili orang banyak
dan dipimpin Allah untuk melayani setiap orang juga (lihat Kisah Para Rasul 8:25-39).
Tampaknya, penginjil ditugaskan untuk membaptiskan para petobat, tetapi ia tak
secara langsung ditugaskan melayani baptisan Roh Kudus kepada orang-orang percaya
baru. Tugas itu menjadi tanggung-jawab rasul-rasul atau pendeta/penatua/penilik.
Jabatan Pendeta (The Office of Pastor)
Pada dua bab terdahulu, saya bandingkan peranan pendeta menurut Alkitab dengan
peranan pendeta-pendeta gereja lembaga. Tetapi, masih ada orang yang mengatakan
tentang pelayanan pendeta.
Untuk mengerti sepenuhnya pengajaran Alkitab tentang jabatan pendeta, kita perlu
mengerti tiga kata bahasa Gerika, yakni (1) poimen, (2) presbuteros dan (3) episkopos.
Ketiga kata itu diterjemahkan sebagai (1) shepherd atau gembala/pendeta, (2) penatua,
dan (3) penilik atau bishop.
Kata poimen disebutkan delapan-belas kali dalam Perjanjian Baru dan diterjemahkan
shepherd/gembala tujuh-belas kali dan pendeta satu kali. Bentuk kata kerja poimaino
disebutkan sebelas kali dan paling sering diterjemahkan menjadi shepherd/gembala.
Dalam Perjanjian Baru, kata dalam bahasa Gerika presbuteros disebutkan enam-puluh
enam kali, yang diterjemahkan sebagai penatua atau tua-tua.
Kata bahasa Gerika episkopos disebutkan lima kali dalam Perjanjian Baru, dan empat
kali diterjemahkan sebagai penilik. Terjemahan dalam Alkitab King James adalah bishop.
Ketiga kata di atas menunjuk pada jabatan di gereja, dan digunakan secara bergantian.
Kapanpun rasul Paulus membentuk jemaat, ia mengangkat penatua-penatua (presbuteros)
yang ia tinggalkan untuk menjaga jemaat-jemaat lokal (lihat Kisah Para Rasul 14:23,
Titus 1:5). Mereka bertanggung-jawab menjadi penilik (episkopos) dan menggembalakan
(poimaino) domba-dombanya. Misalnya, dalam Kisah Para Rasul 20:17 kita baca:
Karena itu ia menyuruh seorang dari Miletus ke Efesus dengan pesan supaya para
penatua [presbuteros] jemaat datang ke Miletus. (tambahkan penekanan).
Dan, apa yang Paulus katakan kepada penatua-penatua gereja?
Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang
ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik [episkopos], untuk menggembalakan
[poimaino] jemaat Allah yang diperolehNya dengan darah AnakNya sendiri. (Kisah
Para Rasul 20:28, tambahkan penekanan).
Perhatikan pemakaian tiga kata yang sama artinya dalam bahasa Gerika. Ketiganya
bukanlah jabatan berbeda. Paulus berkata kepada penatua-penatua bahwa mereka adalah
penilik yang bertindak seperti gembala.
Petrus menuliskan dalam suratnya yang pertama:
Aku menasihatkan para penatua [presbuteros] di antara kamu, aku sebagai teman
penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam
kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. Gembalakanlah [poimaino] kawanan
domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai
dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan
pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas
mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi
kawanan domba itu. Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan
menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu. (1 Petrus 5:1-4, tambahkan
penekanan).
Petrus meminta para penatua untuk menggembalakan domba-domba mereka. Kata
kerja yang diterjemahkan di sini shepherd diterjemahkan (dalam bentuk kata benda)
sebagai gembala dalam Efesus 4:11:
Dan Ialah [Yesus] yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik
pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar.
(tambahkan penekanan).
Maka, kita percaya bahwa penatua dan pendeta adalah sama. Paulus juga memakai
kata penatua (presbuteros) dan kata penilik (episkopos) secara bergantian dalam Titus
1:5-7:
Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau
mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan penatuapenatua di setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu. ….Seorang
penilik jemaat harus tidak bercacat. (tambahkan penekanan).
Jadi, memang jabatan pendeta, penatua, dan penilik sama sekali bukan jabatan sama.
Karena itu, apapun tulisan tentang penilik dan penatua dalam suratan-suratan Perjanjian
Baru berlaku bagi pendeta.
Pengaturan Gereja (Church Governance)
Dari kutipan ayat-ayat Alkitab di atas, jelas bahwa penatua/pendeta/penilik diberikan
tugas untuk mengawasi gereja secara rohani, dan juga mereka diberi kuasa untuk
mengatur. Sederhananya, setiap penatua/pendeta/penilik bertanggung-jawab, dan para
anggota jemaat harus tunduk kepada mereka:
Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan Firman Allah
kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka. (Ibrani
13:17).
Sudah tentu, tak ada orang Kristen yang tunduk pada pendeta yang tidak tunduk pada
Allah, namun memang tidak ada pendeta yang sempurna. Setiap pendeta/penatua/penilik
memiliki kuasa atas gereja sebagaimana seorang ayah memiliki kuasa atas keluarganya:
Karena itu penilik [pendeta/penatua] jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, ….
seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya
(jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat
mengurus Jemaat Allah?) (1 Timotius 3:2-5, tambahkan penekanan).
Paulus selanjutnya berkata,
Penatua-penatua [pendeta-pendeta /penilik] yang baik pimpinannya patut dihormati
dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar.
(1 Timotius 5:17, tambahkan penekanan).
Jelaslah, penatua mendapat bagian sebagai pimpinan di gereja.
Penatua yang tidak Alkitabiah (Unscriptural Elders)
Banyak gereja percaya bahwa struktur pimpinannya sesuai Alkitab karena ada
beberapa penatua yang mengatur dalam gereja. Masalahnya adalah mereka memiliki
konsep keliru tentang penatua. Penatua dipilih secara reguler dan digilir di dalam jemaat.
Mereka sering disebut sebagai “Dewan Penatua.” Tetapi, mereka bukanlah para penatua
menurut definisi Alkitab. Jika kita perhatikan syarat yang diuraikan oleh Paulus untuk
orang yang akan menjadi penatua, hal itu cukup jelas. Paulus menulis bahwa penatua
menjabat penuh-waktu, sehingga harus digaji, dan mengajar/berkhotbah dan mengatur
jabatan di dalam gereja (lihat 1 Timotius 3:4-5; 5:17-18; Titus 1:9). Hanya sedikit sekali,
jika ada, orang yang duduk di “badan penatua” gereja yang memenuhi syarat-syarat itu.
Mereka tak dibayar; mereka tidak berkhotbah atau mengajar; mereka tidak bekerja
penuh-waktu di gereja; dan mereka jarang tahu cara mengelola satu gereja.
Tata kelola gereja yang tidak Alkitabiah dapat menimbulkan lebih banyak masalah di
dalam gereja-gereja lokal dibandingkan hal-hal lain. Ketika orang-orang yang keliru
mengelola gereja, maka akan muncul kesulitan. Tata kelola itu dapat menimbulkan
konflik, kompromi dan kehancuran total gereja. Struktur pengaturan gereja yang tidak
Alkitabiah bagaikan mengundang masuk si Iblis.
Saya tersadar karena saya tengah menulis bagi pendeta-pendeta di gereja-gereja
lembaga dan juga di gereja-gereja rumah. Beberapa pendeta gereja lembaga dapat
melayani atau menggembalakan gereja-gereja yang telah memiliki struktur pengaturan
gereja yang tidak Alkitabiah di mana penatua dipilih dari jemaat. Struktur pengaturan itu
biasanya tak dapat diubah tanpa muncul perselisihan.
Saya sarankan kepada pendeta-pendeta itu, dengan pertolongan Allah, untuk sebaikbaiknya merubah struktur penataan gereja dan menghadapi kemungkinan munculnya
konflik sesaat, karena konflik nanti tak dapat dihindari jika ia tak berbuat sesuatu. Jika ia
berhasil menghadapi kesulitan sesaat, ia akan terhindar dari kesulitan kelak. Jika ia gagal,
ia dapat memulai gereja baru dan melakukannya dari awal lagi menurut Alkitab.
Walaupun menyakitkan, akhirnya ia akan menghasilkan buah lebih banyak untuk
Kerajaan Allah. Jika mereka yang kini mengatur gerejanya adalah murid-murid sejati
Kristus, ia benar-benar punya kesempatan untuk dapat meyakinkan mereka untuk
mengubah struktur jika ia dapat meyakinkan para pendeta untuk membuat perubahan
yang diperlukan menurut Alkitab.
Pluralitas Penatua? (The Plurality of Elders?)
Sebagian orang menyatakan bahwa penatua selalu disebut dalam Alkitab dalam bentuk
jamak, maka tidaklah Alkitabiah bila kita hanya memiliki seorang penatua/pendeta/
penilik yang memimpin kawanan domba. Tetapi, menurut saya, itu bukan bukti
kesimpulan. Alkitab memang menyebutkan hal itu di kota-kota tertentu lebih dari yang
dilakukan oleh seorang penatua untuk mengawasi jemaat, tetapi it tidak berkata bahwa
penatua-penatua itu sama kedudukannya atas satu sidang jemaat. Misalnya, ketika Paulus
mengumpulkan para penatua dari Efesus (lihat Kisah Para Rasul 20:17), jelas mereka itu
berasal dari satu kota di mana keseluruhan tubuh Kristus terdiri dari ribuan dan mungkin
puluhan ribu orang (lihat Kisah Para Rasul 19:19). Jadi, pasti ada banyak jemaat/kawanan
domba di Efesus, dan mungkin saja tiap penatua mengawasi satu gereja rumah.
Alkitab tidak menyebut contoh di mana Allah memanggil satu komite untuk
melakukan satu tugas. Ketika Ia hendak membebaskan Israel dari Mesir, Ia memanggil
hanya satu orang pemimpin, yakni Musa. Orang-orang lain dipanggil untuk membantu
Musa, tetapi kedudukan semuanya ada di bawah Musa, dan seperti Musa, masing-masing
memiliki tanggung-jawab perorangan atas sub-kelompok tertentu. Pola ini berkali-kali
muncul dalam Alkitab. Ketika Allah memiliki tugas, Ia memanggil seseorang untuk
bertanggung-jawab, dan Ia memanggil orang-orang lain untuk membantu orang itu.
Jadi, tidak mungkin Allah memanggil sekumpulan penatua yang memiliki kuasa sama
untuk mengawasi setiap gereja rumah yang berangotakan duapuluh orang. Tampaknya ini
hanya mengundang masalah.
Bukan berarti, setiap gereja rumah harus diawasi oleh hanya satu penatua. Dengan kata
lain, jika ada lebih dari satu penatua di sebuah gereja, (para) penatua yang lebih muda
dan kurang dewasa rohani harus tunduk kepada penatua tertua dan paling dewasa rohani.
Menurut Alkitab, gereja-gereja, bukan sekolah-sekolah Alkitab, yang harus menjadi
tempat pelatihan bagi para pendeta/penatua/penilik muda, sehingga mungkin dan bahkan
menyenangkan karena ada beberapa penatua/pendeta/penilik di satu gereja rumah, di
mana orang yang lebih muda rohani didisiplinkan oleh orang yang lebih tua rohani.
Saya perhatikan gejala ini bahkan di gereja-gereja yang diawasi oleh para penatua
“yang sederajat”. Selalu ada seseorang yang dihormati oleh penatua-penatua lain. Atau
ada seorang yang dominan selagi orang-orang lain lebih pasif. Jika tidak, akhirnya akan
timbul masalah. Nyata, badan/komite selalu memilih seorang ketua. Ketika kelompok
orang yang sederajat memulai satu tugas, mereka harus punya satu pemimpin. Maka, itu
ada di gereja.
Lagipula, Paulus berkata bahwa tanggung-jawab penatua setara dengan tanggungjawab kepala keluarga dalam 1 Timotius 3:4-5. Penatua harus menata rumah-tangganya,
jika ia hendak memenuhi syarat untuk menata gereja. Tetapi seberapa baik penataan satu
keluarga dengan dua bapak? Saya ragu, nanti akan timbul masalah.
Para penatua/pendeta/penilik harus punya satu jaringan dalam organisasi lokal yang
lebih besar sehingga ada saling tanggung-jawab antar sesama penatua yang dapat
membantu jika timbul masalah yang perlu bantuan mereka. Paulus menulis tentang
“sidang penatua” (lihat 1 Timotius 4:14), yang harus melakukan pertemuan presbuteros
(para penatua) dan mungkin orang-orang lain yang memiliki karunia-karunia pelayan.
Jika ada seorang rasul pendiri, ia dapat juga membantu jika timbul masalah dalam satu
gereja lokal akibat kesalahan penatua. Ketika pendeta gereja lembaga melanggar aturan,
maka timbullah masalah besar oleh karena struktur gereja. Sebuah gedung dan programprogram harus dipertahankan. Tetapi, gereja-gereja rumah seketika dapat dibubarkan
ketika pendeta melanggar aturan. Para anggota hanya dapat bergabung dengan gereja
lain.
Kuasa untuk Melayani (Authority to Serve)
Karena Allah memberikan otoritas rohani dan pemerintahan kepada pendeta di dalam
jemaat, hal ini tak memberikannya hak untuk mendominasi umatnya. Ia bukanlah Tuhan
mereka —Yesus adalah Tuhan mereka. Mereka bukanlah kawanan dombanya —mereka
adalah kawanan domba Allah.
Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa,
tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau
mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat
seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu,
tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu. Maka kamu,
apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang
tidak dapat layu. (1 Petrus 5:2-4, tambahkan penekanan).
Ingatlah, suatu hari di hadapan tahta penghakiman Kristus, setiap pendeta harus
memberikan laporan pelayanannya.
Selain itu, dalam urusan keuangan, pendeta/penatua/penilik tidak boleh bertindak
sendiri-sendiri. Jika ada uang yang dikumpulkan secara teratur atau dari mana saja
asalnya dengan alasan apapun, orang-orang lain dalam tubuh Kristus harus bertanggungjawab agar tidak timbul kecurigaan tentang pengelolaan dana (lihat 2 Korintus 8: 18-23).
Pengelolaan itu bisa saja dilakukan oleh satu kelompok yang dipilih atau ditunjuk.
Menggaji Penatua (Paying Elders)
Alkitab jelas menyatakan bahwa penatua/penilik/pendeta harus diberi upah, karena
mereka bekerja sepenuh waktu di gereja. Paulus menulis,
Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama
mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar. Bukankah Kitab Suci
berkata: "Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik,"
dan lagi "seorang pekerja patut mendapat upahnya." (1 Timotius 5:17-18).
Masalahnya jelas —Paulus bahkan memakai kata upah. Bila diperhatikan konteksnya,
maka kita paham frasenya yang kurang jelas bahwa para penatua yang memimpin layak
mendapat kehormatan dua kali lipat. Di ayat-ayat sebelumnya, Paulus jelas menulis
tentang tanggung-jawab gereja untuk memberi bantuan dana bagi para janda, dan ia
memulainya dengan memakai ungkapan yang sama: “Hormatilah janda-janda yang
benar-benar janda.” (lihat 1Timotius 5:3-16). Sehingga dalam konteks ini, menghormati
berarti memberi bantuan dana. Para penatua yang memimpin dengan baik dianggap layak
dihormati dua kali lipat, dengan menerima sedikitnya dua kali jumlah dari yang diberikan
kepada para janda dan lebih banyak lagi jika mereka punya anak-anak yang perlu
dibantu.
Gereja lembaga di seluruh dunia mendukung pendeta-pendetanya (dan bahkan di
negara-negara miskin), tetapi sepertinya banyak gereja rumah di seluruh dunia, terutama
di negara-negara Barat, tidak mendukung para pendetanya. Saya yakin, ada banyak motif
orang-orang di Barat untuk bergabung dengan gereja-gereja rumah karena mereka benarbenar berontak di dalam hatinya, dan mereka mencari dan menemukan bentuk
Kekristenan yang paling sedikit menuntut pengorbanan mereka di atas bumi. Mereka
berkata bahwa mengikuti gereja rumah karena ingin lari dari ikatan gereja lembaga, tetapi
mereka benar-benar ingin lari dari komitmen mereka kepada Kristus. Mereka temukan
gereja-gereja yang tidak meminta komitmen keuangan, gereja-gereja yang menentang apa
yang Kristus harapkan dari murid-muridNya. Orang yang ilahnya adalah uang dan yang
terbukti demikian adanya dengan menumpuk harta di bumi bukannya di sorga bukanlah
murid sejati Kristus (lihat Matius 6:19-24; Lukas 14:33). Jika Kekristenan seseorang
tidak mempengaruhi perilakunya terhadap uangnya, maka ia sama sekali bukan orang
Kristen.
Gereja-gereja rumah yang menyatakan Alkitab sebagai dasarnya harus mendukung
para pendeta mereka, juga memelihara kaum miskin dan mendukung misi. Dalam hal
memberi dan keuangan, gereja-gereja rumah pasti lebih unggul dibandingkan gerejagereja lembaga, karena mereka tak perlu membiayai gedung dan tak perlu menggaji staf.
Hanya diperlukan sepuluh orang untuk memberi perpuluhan demi mendukung seorang
pendeta. Sepuluh orang yang memberi 20% dari pendapatannya dapat mendukung
sepenuhnya seorang pendeta dan misionaris lain yang standar hidupnya sama dengan
pendeta mereka.
Apa tugas Pelayan? (What do Ministers do?)
Andaikan kita bertanya kepada rata-rata jemaat yang hadir di gereja, “Hal-hal berikut
ini menjadi tugas siapa?”
Siapa yang harus menginjili orang yang belum selamat? Siapa yang harus hidup suci?
Siapa yang harus berdoa? Siapa yang harus memberi peringatan, memberi dorongan dan
membantu orang-orang percaya lainnya? Siapa yang harus mengunjungi orang-orang
sakit? Siapa yang harus menumpangkan tangan dan menyembuhkan orang-orang sakit?
Siapa yang harus menanggung beban orang lain? Siapa yang harus mengerjakan karuniakarunianya atas nama tubuh Kristrus? Siapa yang harus menyangkal dirinya, berkorban
demi Kerajaan Allah? Siapa yang harus melakukan pemuridan dan membaptiskan muridmurid, sambil mengajar mereka untuk menaati perintah-perintah Kristus?
Bisanya banyak jemaat gereja menjawab dengan yakin, “semua itu tanggung-jawab
pendeta.” Benarkah demikian?
Menurut Alkitab, setiap orang percaya harus memberitakan Injil kepada orang yang
belum selamat:
Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada
segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang
meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu,
tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat. (1 Petrus 3:15).
Setiap orang percaya harus hidup suci:
Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia
yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab
Aku kudus. (1 Petrus 1:15-16)
Setiap orang percaya harus berdoa:
Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. 1 Tesalonika 5:16-17).
Setiap orang percaya harus menasehati, menegur dan membela sesama orang percaya:
Kami juga menasihati kamu, saudara-saudara, tegorlah mereka yang hidup dengan
tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah
terhadap semua orang. (1 Tesalonika 5:14, tambahkan penekanan).
Setiap orang percaya harus mengunjungi orang sakit:
Ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu
melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. (Matius
25:36).
Lebih Lagi Tanggung-jawab (More Responsibilities)
Tidak cukup. Setiap orang percaya harus menumpangkan tangan untuk kesembuhan
orang-orang sakit:
“Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan
mengusir setan-setan demi namaKu, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa
yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum
racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletidak akan
tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." (Markus 16:17-18,
tambahkan penekanan).
Setiap orang percaya harus saling menanggung beban orang-orang percaya lain:
Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi
hukum Kristus. (Galatia 6:2).
Setiap orang percaya harus memfungsikan karunia-karunianya atas nama orang lain:
Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia
yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah
kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Jika karunia untuk melayani, baiklah
kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia
untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu,
hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi
pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan
kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita. (Roma 12:6-8).
Setiap orang percaya harus menyangkali dirinya, berkorban demi pemberitaan Injil:
“Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-muridNya dan berkata kepada
mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal diri nya,
memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan
nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya
karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya”. (Markus 8:34-35,
tambahkan penekanan).
Dan, setiap orang percaya harus melakukan pemuridan dan membaptiskan muridmurid, mengajari mereka untuk menaati perintah-perintah Kristus:
Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang
paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki
tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan
dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki
tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. (Matius 5:19, tambahkan penekanan).
Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi
pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah,
dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. (Ibrani 5:12, tambahkan
penekanan).
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka
dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala
sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu
senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20, tambahkan penekanan).2
Semua tanggung-jawab itu diberikan kepada setiap orang percaya, namun sebagian
anggota gereja menganggap tugas-tugas itu hanya diberikan kepada pendeta! Alasannya
mungkin karena pendeta sendiri sering menganggap tugas-tugas itu sebagai tanggungjawabnya.
Jadi, Apa yang Harus Dilakukan oleh Seorang Pendeta? (So What are Pastors
Supposed to do?)
Bila semua tanggung-jawab diberikan kepada setiap orang percaya, lalu apa yang
harus dilakukan oleh pendeta? Sederhana saja, pendeta dipanggil untuk memperlengkapi
orang-orang percaya yang kudus untuk melakukan pekerjaan pelayanan tersebut (lihat
Efesus 4:11-12). Pendeta dipanggil untuk mengajar orang-orang percaya yang kudus
untuk menaati semua perintah Kristus (lihat Matius 28:19-20) melalui pengajaran dan
teladan (lihat 1 Timotius 3:2; 4:12-13; 5:17; 2 Timotius 2:2; 3:16-4:4; 1 Petrus 5:1-4).
Alkitab tak dapat memperjelas hal itu. Peran pendeta menurut Alkitab bukanlah untuk
mengumpulkan sebanyak mungkin orang pada ibadah pagi hari Minggu. Perannya adalah
”memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus”. (Kolose 1:28). Pendeta
yang Alkitabiah tidak memuaskan keinginan telinga orang-orang (lihat 2 Timotius 4:3);
mereka mengajar, mendidik orang dalam kebenaran, memberi nasehat, menegur,
memperbaiki, mengecam dan menghardik, yang semuanya berdasarkan Firman Tuhan
(lihat 2 Timotius 3:16-4:4).
Paulus membuat persyaratan bagi seseorang untuk menjabat pendeta dalam surat
pertamanya kepada Timotius. Empatbelas dari limabelas suratnya terkait dengan karakter
pendeta, yang menunjukkan bahwa yang terpenting adalah teladan gaya hidupnya:
2
Jika murid-murid Yesus diharapkan mengajar murid-murid mereka untuk menaati segala sesuatu yang
telah Ia perintahkan, maka mereka selanjutnya akan mengajar murid-murid mereka untuk melakukan
pemuridan sendiri, dengan membaptis dan mengajar mereka untuk menaati semua yang Kristus
perintahkan. Sehingga, pemuridan, pembaptisan dan pengajaran bagi murid-murid menjadi perintah
berkelanjutan yang mengikat setiap murid berikutnya.
Benarlah perkataan ini: "Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat
menginginkan pekerjaan yang indah." Karena itu penilik jemaat haruslah seorang
yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka
memberi tumpangan, cakap mengajar orang, bukan peminum, bukan pemarah
melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang, seorang kepala keluarga yang
baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. (Jikalau seorang tidak tahu
mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?)
Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena
hukuman Iblis. Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar
jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis. (1 Timotius 3:1-7).
Membandingkan semua syarat tersebut dengan syarat-syarat yang terdapat dalam
daftar gereja-gereja lembaga yang mencari pendeta baru menjadi tanda adanya masalah
di banyak gereja. Mereka mencari manager karyawan/ penyelenggara hiburan/
narasumber/ administrator/ psikolog/ direktur kegiatan dan program/ pengumpul dana/
sahabat semua orang/ pekerja. Mereka ingin orang untuk “melakukan pelayanan gereja.”
Tetapi, penilik menurut Alkitab haruslah orang yang berkarakter unggul dan
berkomitmen kepada Kristus, hamba yang sejati, karena tujuannya adalah mencari orang
yang akan mengikutinya. Ia harus berkata kepada pengikutnya, “Jadilah pengikutku,
sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.” (1 Korintus 11:1).
Untuk penelitian lanjutan tentang jabatan pendeta, lihat juga Kisah Para Rasul 20:2831; 1 Timotius 5:17-20; dan Titus 1:5-9.
Jabatan Diaken (The Office of Deacon)
Pada akhirnya, saya ingin sebutkan tentang diaken. Jabatan diaken adalah satu-satunya
jabatan dalam gereja lokal, dan jabatan itu ada di antara lima karunia pelayan. Diaken tak
punya kuasa memerintah dalam gereja seperti halnya penatua. Bahasa Gerika yang
diterjemahkan sebagai diaken adalah diakonos, yang arti sebenarnya adalah “hamba.”
Tujuh orang yang ditunjuk untuk tugas harian memberi makan para janda di jemaat
Yerusalem biasanya dianggap sebagai diaken-diaken pertama (lihat Kisah Para Rasul 6:16). Mereka dipilih oleh jemaat dan ditugaskan oleh rasul-rasul. Dua dari mereka, Filipus
dan Stefanus, kemudian diangkat oleh Allah menjadi penginjil yang kuat.
Diaken juga dibicarakan dalam 1 Timotius 3:8-13 dan Filipi 1:1. Tampaknya jabatan
ini dapat diisi oleh seorang pria atau wanita (lihat 1 Timotius 3:11).
Download