psychological impact on students high school bullying

advertisement
PSYCHOLOGICAL IMPACT ON
STUDENTS HIGH SCHOOL BULLYING
Christin, Dona Eka Putri, SPsi., MPsi.
Undergraduate Program, Faculty of Psychology, 2009
Gunadarma University
http://www.gunadarma.ac.id
Key Word : Psychological Impact, Bullying, High School Students
ABSTRACT :
Every day we are getting closer to the violence, especially bullying made
against high school students. Act of bullying can occur in the school environment
and surroundings. The victims were the juniors who could be quite vulnerable to
bullying by seniors or senior both physical bullying, verbal bullying, mental or
psychological bullying and relational bullying.
In this study, researchers wanted to see how the image of bullying
experienced by the subject, anything that causes the subject to be targeted as a
victim of bullying, what are the indications of bullying on the victim subject's
behavior and what are the effects of bullying for the subject. Researchers use
traditional qualitative methods to gain an understanding of the whole, intact and indepth about the phenomenon under study. The researchers used interview
techniques. The subjects studied were someone who had experienced bullying
when high school as much as two people.
Results indicated that the two subjects experienced various acts of bullying
both physical bullying, verbal bullying and bullying are mentally or
psychologically, but only two subjects who experienced bullying is relational
which refuses friendship with the victim. One of the main subjects to be targeted as
victims of bullying because of acts of bullying has become a tradition at the second
school subject. One indication of the victims of bullying on the subject's behavior
that is not going to school. The impact of bullying for both subjects, among others,
the impact of physical, emotional impact and psychological impact. Only two
subjects are up to the psychological impact that is felt traumatized after
experiencing bullying. In this research are to build public sensitivity about the
issue of bullying that happens in the school environment and surroundings,
especially at high school students, all parties, both family and school should make
the handling action if there are children or students who experience bullying and
take action to prevent bullying does not occur for again in the future. Both subjects
should have an understanding of treatment measures that can be done alone when
subjected to bullying, take precautionary action to avoid experiencing bullying in
the future for the psychological impact of bullying they experienced did not affect
his daily life.
DAMPAK PSIKOLOGIS BULLYING PADA SISWA SMA
NPM
: 10505033
Nama
: CHRISTIN
Pembimbing : Dona Eka Putri, SPsi., MPsi.
Tahun Sidang : 2009
Subjek
: Dampak Psikologis, Bullying, Siswa SMA
Judul
DAMPAK PSIKOLOGIS BULLYING PADA SISWA SMA
Abstraksi
Semakin hari kita semakin dekat dengan peristiwa kekerasan khususnya
bullying yang dilakukan terhadap siswa SMA. Tindakan bullying dapat terjadi di
lingkungan sekolah dan sekitarnya. Para korban adalah para junior yang dapat
dikatakan cukup rentan mengalami bullying yang dilakukan oleh kakak kelas atau
senior baik bullying secara fisik, bullying secara verbal, bullying secara mental
atau psikologis dan bullying relasional.
Dalam penelitian ini, peneliti ingin melihat bagaimana gambaran bullying
yang dialami oleh subjek, apa saja yang menyebabkan subjek menjadi target
sasaran sebagai korban bullying, apa saja indikasi bullying pada perilaku subjek
korban dan apa saja dampak bullying bagi subjek. Peneliti mengggunakan metode
kualitatif agar memperoleh pemahaman yang menyeluruh, utuh dan mendalam
tentang fenomena yang diteliti. Peneliti menggunakan teknik wawancara. Subjek
yang diteliti adalah seseorang yang pernah mengalami bullying ketika SMA
sebanyak dua orang.
Hasil penelitian menunjukan bahwa kedua subjek mengalami berbagai
macam tindakan bullying baik bullying secara fisik, bullying secara verbal dan
bullying secara mental atau psikologis tetapi hanya subjek kedua yang mengalami
bullying secara relasional yaitu menolak pertemanan dengan korban. Salah satu
penyebab utama subjek menjadi target sasaran sebagai korban bullying karena
tindakan bullying sudah menjadi tradisi di sekolah kedua subjek. Salah satu
indikasi bullying pada perilaku subjek korban yaitu tidak mau pergi ke sekolah.
Dampak bullying bagi kedua subjek antara lain dampak fisik, dampak emosional
dan dampak psikologis. Hanya subjek kedua saja yang sampai berdampak
psikologis yaitu merasa trauma setelah mengalami bullying. Dalam penelitian ini
diharapkan dapat membangun kepekaan masyarakat mengenai isu bullying yang
terjadi di lingkungan sekolah dan sekitarnya khususnya pada siswa SMA, seluruh
pihak baik keluarga dan sekolah sebaiknya melakukan tindakan penanganan jika
anak atau para siswa ada yang mengalami bullying dan melakukan tindakan
pencegahan agar bullying tidak terjadi lagi di kemudian hari. Kedua subjek
sebaiknya memiliki pemahaman mengenai tindakan penanganan yang dapat
dilakukan sendiri ketika mengalami bullying, melakukan tindakan pencegahan
agar tidak mengalami bullying lagi di kemudian hari agar dampak psikologis
bullying yang dialaminya tidak mempengaruhi kehidupannya sehari-hari.
DAMPAK PSIKOLOGIS BULLYING PADA SISWA SMA
CHRISTIN
Program Sarjana, Universitas Gunadarma
Abstraksi
Semakin hari kita semakin dekat dengan peristiwa kekerasan khususnya
bullying yang dilakukan terhadap siswa SMA. Tindakan bullying dapat terjadi di
lingkungan sekolah dan sekitarnya. Para korban adalah para junior yang dapat
dikatakan cukup rentan mengalami bullying yang dilakukan oleh kakak kelas atau
senior baik bullying secara fisik, bullying secara verbal, bullying secara mental
atau psikologis dan bullying relasional.
Dalam penelitian ini, peneliti ingin melihat bagaimana gambaran bullying
yang dialami oleh subjek, apa saja yang menyebabkan subjek menjadi target
sasaran sebagai korban bullying, apa saja indikasi bullying pada perilaku subjek
korban dan apa saja dampak bullying bagi subjek. Peneliti mengggunakan metode
kualitatif agar memperoleh pemahaman yang menyeluruh, utuh dan mendalam
tentang fenomena yang diteliti. Peneliti menggunakan teknik wawancara. Subjek
yang diteliti adalah seseorang yang pernah mengalami bullying ketika SMA
sebanyak dua orang.
Hasil penelitian menunjukan bahwa kedua subjek mengalami berbagai
macam tindakan bullying baik bullying secara fisik, bullying secara verbal dan
bullying secara mental atau psikologis tetapi hanya subjek kedua yang mengalami
bullying secara relasional yaitu menolak pertemanan dengan korban. Salah satu
penyebab utama subjek menjadi target sasaran sebagai korban bullying karena
tindakan bullying sudah menjadi tradisi di sekolah kedua subjek. Salah satu
indikasi bullying pada perilaku subjek korban yaitu tidak mau pergi ke sekolah.
Dampak bullying bagi kedua subjek antara lain dampak fisik, dampak emosional
dan dampak psikologis. Hanya subjek kedua saja yang sampai berdampak
psikologis yaitu merasa trauma setelah mengalami bullying. Dalam penelitian ini
diharapkan dapat membangun kepekaan masyarakat mengenai isu bullying yang
terjadi di lingkungan sekolah dan sekitarnya khususnya pada siswa SMA, seluruh
pihak baik keluarga dan sekolah sebaiknya melakukan tindakan penanganan jika
anak atau para siswa ada yang mengalami bullying dan melakukan tindakan
pencegahan agar bullying tidak terjadi lagi di kemudian hari. Kedua subjek
sebaiknya memiliki pemahaman mengenai tindakan penanganan yang dapat
dilakukan sendiri ketika mengalami bullying, melakukan tindakan pencegahan
agar tidak mengalami bullying lagi di kemudian hari agar dampak psikologis
bullying yang dialaminya tidak mempengaruhi kehidupannya sehari-hari.
Kata Kunci : Dampak Psikologis, Bullying, Siswa SMA
A. LATAR BELAKANG
Peristiwa kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah seperti tidak
pernah ada habisnya. Beberapa insiden kekerasan yang telah terjadi di institusi
pendidikan. Salah satunya adalah bullying yang terjadi di lingkungan sekolah.
Saat ini mulai sering muncul berbagai kabar mengenai aksi bullying yang
terjadi di kalangan pelajar khususnya siswa Sekolah Menengah Atas.
Bullying adalah perbuatan atau perkataan yang menimbulkan rasa takut,
sakit atau tertekan baik secara fisik maupun mental yang dilakukan secara
terencana oleh pihak yang merasa lebih berkuasa terhadap pihak yang
dianggap lebih lemah (Coloroso, 2007). Hal ini dilakukan dengan
menggunakan alasan yang dibuat-buat untuk merasionalisasikan tindakan
kekerasannya misalnya untuk membentuk mental junior yang tahan banting
padahal alasan tersebut hanya untuk membenarkan tindakannya agar
kekerasan menjadi tradisi (Sejiwa, 2008). Bullying dapat terjadi di sekitar
lingkungan sekolah dengan menggunakan kekerasan atau kekuatan yang
dimiliki oleh para senior atau kakak kelas yang ditujukan kepada para junior
atau adik kelas. Kakak kelas atau para senior memberikan tekanan kepada
para junior bahkan ada senior yang tega melakukan penganiayaan kepada adik
kelas atau juniornya.
Pada beberapa waktu yang lalu, masyarakat dikejutkan dengan berita
mengenai adanya kekerasan kepada para siswa junior yang dilakukan oleh
para siswa senior di sekitar lingkungan Sekolah Menengah Atas. Hal ini cukup
mendapat perhatian dari berbagai kalangan dan menjadi suatu fenomena baru
yang terjadi di masyarakat. Salah satu contohnya adalah bullying yang dialami
oleh seorang siswa SMA Negeri 34, Pondok Labu, Jakarta Selatan yang
bernama Muhammad Fadhil (16 tahun). Fadhil menjadi korban kekerasan atau
praktik bullying yang dilakukan oleh para seniornya yang tergabung dalam
suatu komunitas geng sekolah bernama Gazper. Alasan penganiayaan tersebut
karena Fadhil menolak ajakan seniornya untuk bergabung menjadi anggota
geng tersebut. Para seniornya marah karena menerima penolakan tersebut
sehingga mereka melakukan penganiayaan kepada Fadhil.
Beberapa kasus bullying bullying yang dilakukan oleh siswa Sekolah
Menengah Atas tidak terlepas dari pengaruh “pewarisan ideologi” yang
dilakukan oleh para senior. Faktor ini sangat berpengaruh terhadap pewarisan
tradisi siapa “kawan” dan siapa “lawan” dalam bullying. Media massa
memegang peranan penting untuk memberikan edukasi yang antisosial
khususnya dalam sejumlah sinetron atau film remaja yang berisi “kebencian”
hanya karena alasan kelompok kaya atau miskin, kelompok cantik atau jelek,
kelompok gaul atau cupu. Meskipun hal tersebut hanya bersifat fiksi namun
secara tidak langsung akan memberikan model bagi siswa Sekolah Menengah
Atas untuk melakukan bullying. Usia yang rentan menjadi korban bullying
adalah usia remaja yaitu sekitar 15 tahun sampai 18 tahun dimana dalam
periode tersebut dianggap sebagai masa yang sangat penting dalam kehidupan
seseorang khususnya dalam pembentukan kepribadian. Secara umum,
periode remaja merupakan klimaks dari periode perkembangan sebelumnya
karena apa yang diperbolehkan dalam masa sebelumnya akan diuji dan
dibuktikan sehingga dalam periode selanjutnya individu tersebut telah
mempunyai kepribadian yang lebih matang (Irwanto, 2002).
Bullying memiliki dampak bagi anak-anak yang menjadi korban.
Dampak tersebut dapat bersifat fisik maupun psikologis. Beberapa dampak
fisik yang dapat ditimbulkan oleh bullying antara lain kondisi fisik yang
menurun, merasa sakit pada bagian tubuh tertentu dan mengalami luka secara
fisik. Dampak fisik tersebut dapat berakibat fatal bahkan dapat mengakibatkan
kematian. Dampak lain yang kurang terlihat namun memiliki efek jangka
panjang adalah menurunnya kesejahteraan psikologis dan penyesuaian sosial
yang buruk. Korban bullying akan merasakan emosi yang negatif dalam
dirinya seperti perasaan marah, dendam, kesal, tertekan, takut, malu, sedih,
tidak nyaman dan terancam serta merasa tidak berdaya untuk mengatasi
permasalahan yang dialaminya. Dalam jangka waktu yang cukup panjang,
emosi tersebut akan menimbulkan perasaan rendah diri karena merasa dirinya
tidak berharga. Hal yang paling ekstrim mengenai dampak psikologis yang
dialami yaitu munculnya gangguan psikologis misalnya rasa cemas yang
berlebihan, merasa ketakutan, depresi dan memiliki keinginan untuk bunuh
diri serta munculnya gejala gangguan stres pasca trauma (Sejiwa, 2008).
Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin mengetahui lebih dalam tentang
dampak psikologis bullying pada siswa SMA.
B. PERTANYAAN PENELITIAN
Peneliti akan mengemukakan beberapa pertanyaan penelitian antara lain:
1. Bagaimana gambaran bullying yang dialami oleh subjek?
2. Apa yang menyebabkan subjek menjadi target sasaran sebagai korban
bullying?
3. Apa saja indikasi bullying pada perilaku subjek korban?
4. Apa dampak bullying bagi subjek?
C. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui gambaran bullying yang
dialami oleh subjek, mengetahui penyebab subjek menjadi target sasaran
sebagai korban bullying, mengetahui indikasi bullying pada perilaku subjek
korban dan mengetahui dampak bullying bagi subjek.
D. MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini diharapkan memiliki dua manfaat yaitu :
1. Manfaat Teoritis
Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah dapat
memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan khususnya psikologi
pendidikan dan psikologi kepribadian mengenai dampak psikologis
bullying pada siswa SMA. Penelitian ini juga dapat digunakan sebagai
acuan untuk penelitian selanjutnya.
2. Manfaat Praktis
Manfaat yang dapat diambil adalah untuk menambah wawasan
tentang dampak psikologis bullying pada siswa SMA. Membantu para
siswa Sekolah Menengah Atas agar terhindar dari bullying yang dapat
menyebabkan berbagai dampak yang akan berpengaruh pada kehidupan
sehari-hari serta agar para siswa tersebut mengetahui cara mengantisipasi
bullying. Memberikan pemahaman kepada para orang tua agar dapat
mengetahui perkembangan kepribadian anak dan berperan aktif dalam
penanganan bullying pada anak. Memberikan pedoman kepada institusi
pendidikan khususnya para pengajar untuk dapat mencegah dan
melakukan penanganan terhadap bullying yang terjadi di lingkungan
sekolah.
E. LANDASAN TEORI
Bullying adalah perilaku agresif yang dilakukan secara berulang-ulang
oleh seseorang atau sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan terhadap
siswa dan siswi lain yang lebih lemah dengan tujuan menyakiti orang tersebut
(Riauskina, 2005).
Berikut ini merupakan beberapa jenis bullying (Coloroso, 2008) :
a. Bullying secara fisik
Contoh bullying fisik antara lain memukuli, berkelahi, mencekik,
menyikut, meninju, menendang, menggigit, memiting, mencakar,
meludahi korban, menekuk anggota tubuh korban hingga ke posisi yang
menyakitkan, merusak dan menghancurkan barang pakaian serta
barang-barang milik korban, menampar, menimpuk, menginjak kaki,
menjegal, memalak, melempar dengan barang, menghukum dengan berlari
keliling lapangan, menghukum dengan cara push up, menolak sesuatu,
menarik rambut, mencubit dan pemerasan.
b. Bullying secara verbal
Contoh bullying verbal antara lain memberikan julukan nama
tertentu, celaan, fitnah, kritik kejam, penghinaan baik yang bersifat pribadi
maupun rasial, pernyataan-pernyataan yang bernuansa seksual atau
pelecehan seksual, perampasan uang jajan atau barang-barang,
telepon yang kasar, email yang mengintimidasi, surat-surat kaleng yang
berisi ancaman kekerasan, tuduhan yang tidak benar, kasak kusuk yang
keji dan keliru, gosip yang dapat menjadi penindasan, memaki, menjuluki,
meneriaki, mempermalukan di depan umum, menuduh, menebar gosip,
menolak dan mengejek, mengancam, merendahkan, mengganggu.
c. Bullying secara mental atau psikologis
Contoh bullying mental atau psikologis antara lain memandang
sinis, memandang dengan penuh ancaman, mempermalukan di depan
umum, mendiamkan, mengucilkan, mempermalukan, meneror lewat pesan
pendek telepon genggam atau email, memandang yang merendahkan,
me me lototi, me nc ibir, me ngintim idasi, me nga ba ika n dan
mendiskriminasikan.
d. Bullying relasional
Bullying relasional dapat digunakan untuk mengasingkan atau
menolak seorang teman atau secara sengaja ditujukan untuk merusak
persahabatan. Perilaku ini dapat mencakup sikap tersembunyi seperti
pandangan yang agresif, lirikan mata, bahu yang bergidik, helaan nafas,
cibiran, tawa yang mengejek dan bahasa tubuh yang kasar.
Beberapa ciri anak yang bisa dijadikan korban bullying (Sejiwa, 2008)
antara lain memiliki fisik yang kecil dan lemah, anak yang berpenampilan lain
dari biasanya, anak mengalami kesulitan dalam bergaul, anak memiliki
kepercayaan diri yang rendah, anak yang canggung (sering melakukan
kesalahan ketika sedang berbicara, bertindak dan berpakaian), anak yang
memiliki aksen berbeda, anak yang dianggap menyebalkan dan suka
menantang, anak yang cantik atau tampan dan anak yang kurang cantik atau
kurang tampan, anak yang berasal dari keluarga yang kurang mampu atau
anak orang kaya, anak yang kurang pandai, anak yang gagap, anak yang
dianggap sering argumentatif.
Biasanya para korban memiliki persepsi yang beragam mengenai
bullying (Riauskina, 2005) antara lain para korban mempunyai persepsi bahwa
para pelaku melakukan bullying karena tradisi dan balas dendam karena
mereka pernah diperlakukan seperti itu (menurut korban laki -laki),
para pelaku ingin menunjukkan kekuasaan, para pelaku marah karena korban
tidak berperilaku sesuai dengan yang diharapkan, agar para pelaku
mendapatkan kepuasan (menurut korban perempuan), dan adanya perasaan iri
hati (menurut korban perempuan). Para korban juga mempersepsikan dirinya
sendiri menjadi korban bullying karena memiliki penampilan yang menyolok,
tidak berperilaku dengan sesuai, perilaku dianggap tidak sopan, dan tradisi.
Beberapa gej ala yang dapat dijadikan tanda-tanda bahwa seorang anak
telah mengalami bullying (Sejiwa, 2008) antara lain mengurung diri,
menangis, minta pindah sekolah, konsentrasi anak berkurang, prestasi belajar
menurun, tidak mau bermain atau bersosialisasi, suka mengambil atau
membawa barang-barang tertentu (sesuai dengan permintaan para pelaku),
anak menjadi penakut, marah-marah atau uring-uringan, merasa gelisah,
sering berbohong, melakukan perilaku bullying terhadap orang lain,
memar atau lebam-lebam, tidak bersemangat, anak menjadi pendiam,
mudah sensitive, anak menjadi rendah diri, menyendiri, anak menjadi kasar
dan dendam, mengompol waktu tidur, berkeringat dingin, tidak percaya diri,
mudah cemas, mengalami mimpi buruk, anak mudah tersinggung.
Salah satu dampak bullying yang dapat secara jelas terlihat adalah
kesehatan fisik yang menurun. Beberapa dampak fisik yang dapat ditimbulkan
oleh bullying antara lain merasa sakit kepala, sakit tenggorokan, flu, batuk,
bibir pecah-pecah dan sakit pada daerah dada. Dampak fisik tersebut dapat
berakibat fatal bahkan dapat mengakibatkan kematian. Para korban bullying
yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri merupakan salah satu contoh
ekstrim betapa tragisnya akibat yang dapat ditimbulkan dari tindakan bullying.
Dampak psikologis yang dapat dialami oleh para korban bullying antara
lain merasa tidak aman, takut, trauma, khawatir atau paranoid, kehilangan
percaya diri, rendah diri dan merasa tidak berharga, korban dapat
mengembangkan mentalitas dengan merasa bahwa dirinya layak untuk tidak
dihargai, korban menjadi kurang terampil dala m bersosialisasi,
hanya memiliki sedikit dan sering merasa kesepian, akan memiliki kondisi
fisik yang lemah, kemungkinan mengalami trauma fisik dan muncul gej ala
psikosomatis, menjadi sulit berkonsentrasi sehingga akan berpengaruh
terhadap prestasi akademis, korban dapat melampiaskan kemarahan atau
perasaan dendam kepada orang lain yang lebih lemah dari dirinya,
beresiko lebih besar untuk depresi bahkan dapat melakukan bunuh diri karena
menganggap bunuh diri merupakan jalan keluar atas masalah yang dialaminya
dan terdapat kecenderungan sebelum anak yang bersangkutan bunuh diri maka
akan membunuh orang yang telah menyakitinya terlebih dahulu
(Coloroso, 2007).
F. METODE PENELITIAN
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
penelitian kualitatif karena penelitian kualitatif dapat memahami suatu
permasalahan manusia atau permasalahan sosial serta dapat menciptakan suatu
gambaran menyeluruh mengenai permasalahan tertentu dan secara kompleks
dapat disajikan dengan cara melaporkan suatu pandangan terinci yang
diperoleh dari para sumber informasi. Melalui penelitian kualitatif,
peneliti akan mendapatkan pemahaman mengenai suatu permasalahan
berdasarkan pengalaman subjek yang mengalami peristiwa tertentu dan
dengan melakukan proses pelaporan yang sebenar-benarnya. Selain itu
penelitian kualitatif dapat digunakan untuk memahami bagaimana para
partisipan mengambil makna dari lingkungan sekitar serta bagaimana makna
te rs e b u t m e m pe n g a ru h i pe r ila k u o ra n g ya n g be r s a n g k uta n .
Dengan pendekatan kualitatif ini diharapkan penelitian juga dapat lebih
fleksibel sehingga tidak menutup kemungkinan adanya perkembangan baru.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
wawancara dengan pedoman wawancara dan observasi berupa catatan
lapangan.
G. SUBJEK PENELITIAN
Dalam penelitian ini, subjek penelitian yang digunakan adalah siswa
SMA yang pernah mengalami bullying. Jumlah subjek penelitian yang
digunakan ada dua orang.
H. HASIL PENELITIAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti, bullying yang
dialami oleh subjek 1 antara lain bullying secara fisik (memalak, memukul dan
berkelahi), bullying secara verbal (mengancam dan menuduh), bullying secara
mental atau psikologis (memelototi dan mempermalukan di depan umum).
Sedangkan bullying yang dialami oleh subjek 2 antara lain bullying secara
fisik (para pelaku bullying melempar sesuatu kepada korban), bullying secara
verbal (menuduh, menebarkan gosip dan mengejek), bullying secara mental
atau psikologis (mempermalukan di depan umum, memandang sinis dan
memandang dengan penuh ancaman), bullying relasional (menolak
pertemanan dengan korban).
Penyebab subjek 1 menjadi target sasaran sebagai korban bullying
karena karena tidak berperilaku sesuai dengan yang diharapkan oleh para
pelaku bullying; subjek memiliki keinginan untuk melakukan balas dendam
kepada para pelaku bullying karena merasa kesal; subjek termasuk salah satu
anak yang cukup pintar di kelasnya dan cukup menonjol dalam prestasi
akademik; bullying sudah menjadi tradisi di sekolah subjek dimana para
pelaku secara berkelompok melakukan bullying kepada siswa lainnya;
adanya komunitas geng sekolah. Sedangkan penyebab subjek 2 menjadi target
sasaran sebagai korban bullying karena tidak berperilaku sesuai dengan yang
diharapkan oleh para pelaku bullying; subjek memiliki keinginan untuk
melakukan balas dendam kepada para pelaku bullying agar mereka juga dapat
merasakan hal yang sama seperti yang telah dialami subjek ketika sedang di
bullying; subjek termasuk salah satu anak yang berprestasi dimana subjek
selalu mendapatkan peringkat kelas dan menjadi juara umum di sekolah;
bullying sudah menjadi tradisi di sekolah subjek subjek dimana para pelaku
ketika masih junior pernah menjadi korban bullying juga; adanya komunitas
geng sekolah yang terdiri dari sepuluh orang siswi senior; perilaku subjek
dianggap tidak sopan oleh para pelaku bullying; subjek berasal dari keluarga
yang mampu; perilaku subjek cukup menyolok dan tampak sangat berbeda
dengan anak yang lain; para pelaku merasa iri hati terhadap subjek.
Indikasi bullying pada perilaku subjek 1 korban antara lain mengalami
kesulitan dalam berkonsentrasi ketika sedang belajar di kelas; merasa malas
dan tidak mau pergi ke sekolah; subjek berusaha menghindar agar tidak
bertemu dengan para pelaku bullying; subjek menjadi anak yang cenderung
menyendiri; subjek merasa tidak percaya diri jika menghadapi para pelaku
bullying hanya seorang diri. Sedangkan indikasi bullying pada perilaku
subjek 2 korban antara lain tidak mau masuk sekolah; subjek pernah
kehilangan barang-barang milik pribadinya; subjek menjadi anak yang
cenderung pendiam; subjek merasa terisolasi karena tidak mempunyai teman
dan tidak ada yang membela dirinya ketika di bullying; subjek menjadi anak
yang mudah menangis walaupun hal tersebut tidak ditunjukan secara langsung
di hadapan para pelaku bullying.
Dampak bullying bagi subjek 1 antara lain prestasi akademik mengalami
penurunan, merasa tertekan, merasa takut, merasa tidak tenang,
mengalami kesulitan menyesuaikan diri, mengalami kesulitan belajar dan
merasa tidak nyaman. Sedangkan dampak bullying bagi subjek 2 antara lain
merasa takut, merasa lebih sensitif, meminta untuk pindah sekolah,
Beberapa saran aplikatif ini diperuntukan bagi kedua subjek,
orang tua, kalangan pendidik yaitu guru dan pihak sekolah.
membolos sekolah, mengalami cedera fisik, sering berbohong dan merasa
trauma.
I. KESIMPULAN
Bullying yang dialami oleh kedua subjek antara lain bullying secara fisik,
bullying secara verbal, bullying secara mental atau psikologis dan bullying
secara relasional. Kedua subjek menjadi target sasaran sebagai korban
bullying karena tidak berperilaku sesuai dengan yang diharapkan oleh para
pelaku bullying, subjek memiliki keinginan untuk melakukan balas dendam
kepada para pelaku bullying, subjek termasuk salah satu anak yang cerdas dan
berbakat di sekolah, adanya tradisi bullying di sekolah dan adanya komunitas
geng sekolah. Indikasi bullying pada perilaku subjek korban yaitu tidak mau
pergi ke sekolah. Dampak bullying yang dialami oleh kedua subjek yaitu
merasa takut.
J. SARAN
1. Saran untuk perkembangan ilmu pengetahuan
Peneliti menyadari bahwa dalam penelitian ini terdapat banyak
kekurangan. Berikut ini, peneliti memberikan beberapa saran untuk
memperbaiki kelemahan tersebut bagi penelitian selanjutnya.
Kelemahan tersebut antara lain peneliti mengalami kesulitan untuk
menemukan subjek penelitian yaitu siswa SMA yang mengalami bullying
selain itu berhubung subjek penelitian yang digunakan adalah anak yang
sudah menjadi alumni tetapi pernah mengalami bullying ketika SMA maka
peneliti tidak dapat melakukan catatan lapangan mengenai perilaku subjek
ketika mengalami situasi bullying tersebut.
2. Saran Aplikatif
(a) Bagi Subjek 1
Subjek 1 pernah mengalami bullying ketika sedang duduk di bangku
SMA tetapi subjek berusaha untuk menangani masalahnya sendiri
dengan baik dan melakukan berbagai pencegahan agar tidak
mengalami bullying di kemudian hari. Subjek diharapkan dapat
mengubah perilaku menjadi lebih baik dalam melakukan aktivitas
sehari-hari. Subjek diharapkan dapat lebih mengendalikan diri agar
tidak membalas setiap perlakuan yang diberikan oleh orang lain
kepadanya. Subjek juga diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan
baik terhadap situasi di lingkungan sekitarnya.
(b) Bagi subjek 2
Subjek pernah mengalami bullying ketika duduk di bangku SMA.
Subjek dapat menyelesaikan kasus tersebut seorang diri dengan baik.
Subjek juga berusaha agar tidak melakukan tindakan kekerasan kepada
orang lain dan subjek berharap tidak akan mengalami bullying di
kemudian hari. Sebaiknya subjek dapat melakukan aktivitas sehari-hari
dengan lebih baik. Subjek sebaiknya dapat lebih membuka diri ketika
berinteraksi dengan orang lain terutama dengan orang baru sehingga
subjek dapat menjalin relasi yang cukup baik.
(c) Bagi orang tua
Meskipun dalam penelitian ini tidak dikemukakan mengenai peranan
kedua orang tua ketika anaknya mengalami bullying tetapi bukan
berarti kedua orang tua tidak memiliki kepedulian saat anaknya
mengalami bullying. Sebaiknya kedua orang tua senantiasa dapat
melakukan pengawasan terhadap aktivitas yang dilakukan oleh
anaknya, mengamati perkembangan anaknya dengan baik, melakukan
Beberapa saran aplikatif ini diperuntukan bagi kedua subjek,
orang tua, kalangan pendidik yaitu guru dan pihak sekolah.
penanganan ketika anaknya mengalami tindakan kekerasan dan
melakukan pencegahan agar anaknya tidak mengalami bullying di
kemudian hari.
(d) Bagi pihak sekolah
Kalangan pendidik hendaknya dapat memberikan pengarahan kepada
anak didik bahwa bullying tidak baik untuk dilakukan sehingga tradisi
bullying di sekolah dapat dihapuskan. Pihak sekolah juga hendaknya
dapat mengisi waktu luang para siswa di sekolah dengan melibatkan
mereka dalam berbagai kegiatan yang positif, dapat menyalurkan
minat dan bakat anak serta meningkatkan kemampuan anak untuk
berinteraksi dengan anak yang lain termasuk dengan para pelaku yang
telah melakukan bullying kepadanya. Pihak sekolah sebaiknya
melakukan pengawasan terhadap kegiatan para siswa dan melakukan
pengamatan di lokasi-lokasi tertentu yang dianggap rawan terjadinya
bullying di sekitar lingkungan sekolah. Pihak sekolah sebaiknya
melakukan penanganan bullying dengan lebih baik yaitu dengan
memperketat peraturan sekolah dan memberikan sangsi kepada
anak-anak yang terlibat dalam bullying. Sedangkan tindakan yang
dapat dilakukan oleh pihak sekolah untuk mencegah agar bullying
tidak terjadi di kemudian hari adalah sebaiknya menghapus segala
bentuk senioritas di sekolah, sebaiknya pihak sekolah memberikan
sosialisasi mengenai bullying dan lebih sering mengadakan kegiatan
yang melibatkan seluruh siswa sehingga mereka dapat terjalin
hubungan yang baik antara junior dengan senior.
Download