penerapan teknologi dlc (digital loop carrier) pada jaringan lokal

advertisement
Makalah Seminar Kerja Praktek
PENERAPAN TEKNOLOGI DLC (DIGITAL LOOP CARRIER)
PADA JARINGAN LOKAL AKSES FIBER
Oleh : Tri Legawa (L2F006090)
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Diponegoro
Abstrak
Jaringan lokal akses fiber adalah jaringan transmisi yang menghubungkan sentral lokal ke arah
terminal pelanggan dengan menggunakan media transmisi serat optik. Teknologi Jarlokaf yang saat ini banyak
digunakan adalah teknologi Digital Loop Carrier (DLC). Teknologi DLC merupakan hasil teknologi PCM-30
pada sistem jaringan pelanggan. Teknologi ini memiliki dua perangkat utama yaitu di sisi sentral (CT/Central
Terminal) dan di sisi pelanggan (RT/Remote Terminal). DLC merupakan perangkat yang me-multiplexing
sinyal keluaran dari sentral dengan kecepatan 64 kbps menjadi sinyal dengan kecepatan 2 Mbps di sisi
pelanggan. Jika dibentuk jaringan lokal tersendiri maka diperlukan dua DLC yang identik yaitu di bagian sisi
sentral dan sisi pelanggan.
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa
ini,
perkembangan
teknologi
telekomunikasi yang sangat cepat berdampak pada
pengguna jasa telekomunikasi yang semakin mudah
untuk mendapatkan informasi global maupun lokal.
Bagi PT.Telkom kondisi demikian merupakan suatu
tantangan tersendiri guna mengembangkan kinerja
perusahaan dalam melayani kebutuhan masyarakat dan
meningkatkan citra nasional di persaingan global.
Salah satu bentuk layanan PT. Telkom adalah
penyediaan jasa telepon rumah. Kemudian layanan ini
dikenal sebagai telepon tetap (fix phone) atau istilah
teknisnya sebagai PSTN (Public Switch Telephone
Network). Teknologi tersebut menggunakan kawat
tembaga sebagai media perantara dari kantor pusat
(central office) ke pelanggan (User) yang kemudian
dikenal dengan istilah JARLOKAT (Jaringan Lokal
Akses Tembaga). Namun, permintaan konsumen yang
semakin meningkat mengakibatkan teknologi kawat
menjadi konvensional.
Kebutuhan
konsumen
yang
semakin
meningkat mengakibatkan PT. Telkom sebagai
penyedia jasa telekomunikasi harus mampu
menyediakan media transmisi yang lebih efisien dari
kawat tembaga yaitu fiber optik. Jaringan ini dikenal
dengan istilah JARLOKAF ( Jaringan Lokal Akses
Fiber ).
Dalam jaringan lokal akses fiber, terdapat
beberapa teknologi yang dapat diaplikasikan, salah
satunya adalah Digital Loop Carrier (DLC). DLC
merupakan teknologi jarlokaf yang diterapkan pada
daerah pelanggan terkonsentrasi dengan hubungan titik
ke titik ( point to point ) antara sisi jaringan sentral
lokal dengan pelanggan. DLC memiliki dua komponen
utama yaitu central terminal (CT) dan remote terminal
(RT). Oleh karena itu, pada makalah ini akan dibahas
komponen-komponen pada CT dan RT, serta
konfigurasi dari DLC.
1.2 Tujuan
Tujuan dari kerja prektek di PT. Telkom
Kandatel Semarang adalah:
1. Mengetahui penerapan teknologi DLC pada
jaringan lokal akses fiber.
2. Mengetahui komponen-komponen DLC serta
fungsinya masing-masing.
1.3 Batasan masalah
Pada penulisan makalah ini hanya membahas
mengenai penerapan DLC secara umum pada jarlokaf
yang meliputi konfigurasi DLC, bagian-bagian DLC
dan fungsinya masing-masing.
II. JARINGAN LOKAL AKSES FIBER
2.1 Pengertian Jaringan Lokal Akses Fiber
Sistem Jarlokaf setidaknya memiliki 2 buah
perangkat opto-elektronik, yaitu satu perangkat optoelektronik di sisi sentral dan satu perangkat optoelektronik di sisi pelanggan. Lokasi perangkat optoelektronik di sisi pelanggan selanjutnya disebut Titik
Konversi Optik (TKO). Secara praktis TKO berarti
batas terakhir kabel optik ke arah pelanggan yang
berfungsi sebagai lokasi konversi sinyal optik ke sinyal
elektronik.
2.2 Arsitektur Jarlokaf
Berikut adalah macam – macam arsitektur
jarlokaf yang telah diaplikasikan di lapangan:
1. Fiber To The Building (FTTB)
TKO terletak di dalam gedung dan biasanya
terletak pada ruang telekomunikasi basement.
Terminal pelanggan dihubungkan dengan TKO melalui
kabel tembaga indoor. FTTB dapat dianalogikan
dengan Daerah Catu Langsung (DCL) pada jaringan
akses tembaga.
Gambar 1. Modus aplikasi FTTB
2. Fiber To The Zone (FTTZ)
TKO terletak di suatu tempat di luar bangunan,
baik di dalam kabinet maupun manhole. Terminal
pelanggan dihubungkan dengan TKO melalui kabel
tembaga hingga beberapa kilometer. FTTZ dapat
dianalogikan sebagai pengganti RK.
b. Pada sisi pelanggan (Remote DLC Unit) terdiri dari:
 Perangkat DLC mengandung konverter analog ke
digital dan orde pertama multiplexer (PM).
 Multiplexer orde tinggi (HOM) menyediakan
antarmuka di sisi pelanggan yang berfungsi
mengubah sinyal optik menjadi sinyal elektrik oleh
OLTE dan melakukan demultiplexing ke sinyal 2
Mbps.
Antara RT-DLC ke pelanggan dihubungkan
melalui kabel tembaga. Jarak antara CT-DLC ke RTDLC adalah sampai 30 km untuk daya sedang. Untuk
daya rendah 10 km dan untuk daya tinggi 60 km.
Gambar 5. Konfigurasi umum DLC
Gambar 2. Modus aplikasi FTTZ
3. Fiber To The Curb (FTTC)
TKO terletak di suatu tempat di luar bangunan,
baik di dalam kabinet, di atas tiang maupun manhole.
Terminal pelanggan dihubungkan dengan TKO melalui
kabel tembaga hingga beberapa ratus meter. FTTC
dapat dianalogikan sebagai pengganti KP.
Keterangan:
LE : Local Exchange
CT : Central Terminal
RT : Remote Terminal
Sistem DLC bisa digunakan untuk konfigurasi
star karena memiliki hubungan kabel fiber optik dari
sisi sentral ke sisi pelanggan sebagai hubungan ke
setiap titik. Namun DLC dapat digunakan juga dengan
konfigurasi ring, dengan menggunakan transmisi SDH.
Gambar 3. Modus aplikasi FTTC
4. Fiber To The Home (FTTH)
TKO terletak di rumah pelanggan. Terminal
pelanggan dihubungkan dengan TKO melalui kabel
tembaga indoor atau IKR hingga beberapa puluh
meter. FTTH dapat dianalogikan sebagai pengganti
Terminal Blok (TB).
Gambar 4. Modus aplikasi FTTH
III. DIGITAL LOOP CARRIER (DLC)
3.1
Gambaran Umum DLC
Penerapan teknologi DLC pada jarlokaf
memerlukan dua DLC yang identik yaitu di bagian sisi
sentral dan sisi pelanggan.
a. Pada sisi sentral (Exchange DLC Unit) terdiri dari:
 Perangkat DLC mengandung konverter analog ke
digital dan orde pertama multiplexer (PM).
 Multiplexer orde tinggi (HOM) menyediakan
antarmuka di sisi sentral yang berfungsi untuk
multiplexing sinyal keluaran dari perangkat DLC
(2Mbps) dan mengubah sinyal elektrik menjadi
sinyal optik.
Gambar 6. Konfigurasi DLC
Fungsi bagian Penyusun DLC adalah :
A. Jarlokaf dengan topologi point-to-point (Single star)
B. Terdiri dari dua perangkat utama:
1. CT (Central Terminal) di sisi sentral, dan
2. RT (Remote Terminal) di sisi pelanggan
C. Fungsi CT adalah :
1. Interfacing dengan sentral lokal
2. Multiplexer/Demultiplexer
3. Crossconnect dan Controller
4. Interfacing dengan ODN (E/O
Converter/OLTE)
D. Fungsi RT adalah :
1. Interfacing dengan ODN (E/O
Converter/OLTE)
2. Multiplexer/Demultiplexer
3. Interfacing dengan pelanggan
E. DLC pada umumnya digunakan untuk pelanggan
yang terkonsentrasi atau untuk gedung bertingkat
(high rise building)
3.2 Topologi DLC
Secara umum topologi yang digunakan pada
teknologi DLC adalah topologi point to point (titik ke
titik). Topologi ini digunakan untuk melayani
kelompok pelanggan yang terkonsentrasi pada suatu
wilayah tertentu.
CT
RT
(RT) diletakkan pada pada suatu wilayah outdoor, dan
mampu mencakup jumlah pelanggan yang lebih
banyak dan tersebar lokasinya, namun masih berada
dekat dengan lokasi penempatan RT.
PELANGGAN
FO
Gambar 9. Modus aplikasi FTTZ
LE
Gambar 7. Topologi DLC titik ke titik
Pertimbangan-pertimbangan
yang
harus
diperhatikan untuk menentukan wilayah catuan serta
peletakkan perangkat teknologi DLC:
1. Batas-batas fisik yang menonjol seperti sungai,
rawa, jalan raya, bukit serta fasilitas umum.
2. Letak pelanggan yang terkonsentrasi
3. Jarak minimal yang berhubungan dengan
pertimbangan ekonomis
4. Jarak dari sentral DLC Unit ke Remote DLC
Unit harus memperhatikan jarak maksimal
berdasarkan kemampuan sistem.
Untuk meningkatkan keandalan jaringan PT.
Telkom Kandatel Semarang mengkombinasikan
dengan topologi ring. Keunggulan dari topologi ring
yaitu adanya proteksi link titik ke titik dari jaringan.
FDA
FDB
CT
LE
FDC
Gambar 8. Ring DLC
Pada prinsipnya tiap perangkat DLC (CT/RT)
pada topologi ring ini memiliki 2 pasang transmitter
(Tx) dan receiver (Rx). Sepasang Tx-Rx sebagai
primer, dan lainnya sebagai sekundernya dengan arah
aliran sinyal yang berlawanan. Fungsinya, misalkan
pada suatu saat ada gangguan pada satu Remote
Terminal (RT) FDB, maka FDB tersebut tidak dapat
berkomunikasi dengan perangkat DLC lainnya.
FDC yang terhubung dengan FDB pada jalur
primernya (CT-FDA-FDB-FDC) berada di bawah
FDB. Akibatnya FDC tidak dapat berhubungan dengan
CT sehingga pelanggan yang terhubung dengan FDB
dan FDC tidak dapat berkomunikasi. Hal ini tentu saja
akan merugikan pelanggan.
Untuk menangani hal ini maka digunakanlah
jalur yang sekunder, jadi FDC dapat langsung
berhubungan dengan CT secara point to point.
Keunggulan lain dari topologi ring ini yaitu dapat
menghemat jumlah serat optik yang aktif.
3.3 Model Aplikasi DLC
Model Aplikasi DLC yang digunakan oleh PT.
Telkom Kandatel Semarang adalah model Fiber to The
Zone (FTTZ). Pada model FTTZ ini, Remote Terminal
RT ini merupakan pembatas antara sisi
pelanggan dengan sisi jaringan akses. Dari RT ini
ditarik kabel-kabel pelanggan menuju DP untuk
kemudian salurkan ke pelanggan. Jadi fungsi RT mirip
Rumah Kabel (RK) pada teknologi Jarlokat.
3.4 Bagian-Bagian DLC
PT.Telkom
Kandatel
Semarang
mengoperasikan DLC dari beberapa merk pabrikan,
yaitu TeleData, ComLine, Siemens, dan Huawei.
Kebijakan ini diambil agar tidak terjadi ketergantungan
terhadap pabrikan tertentu. Bagian-bagian DLC yang
akan dijelaskan di bawah ini adalah DLC merk
TeleData.
3.4.1 Central Terminal (CT)
Central Terminal terletak pada Sentral Telepon
Otomat (STO). Hubungan antara STO dengan CT
dilayani maksimal 4 buah interface V.52 dengan
kapasitas 60 E1. Bagian-bagian utama dari CT terdiri
dari Rectifier, AC/DC Box, Fans, Baterai, MDF,
Optical Tray, dan Cage.
Rectifier merupakan perangkat pada DLC
yang berfungsi sebagai penyearah tegangan. Rectifier
diperlukan karena suplai energi listrik untuk DLC
diperoleh dari listrik PLN yang bertegangan bolakbalik sedangkan yang diperlukan untuk dapat
beroperasinya DLC adalah tegangan atau arus searah.
AC/DC box berfungsi sebagai Main Circuit
Breaker (MCB) DLC. Fans adalah kipas yang
ditujukan untuk pendingin DLC sehingga dapat
bekerja dengan normal.
Baterai pada DLC digunakan sebagai sumber
energi listrik
cadangan ketika listrik PLN
padam.Biasanya terdapat 4 buah baterai yang disusun
secara seri dengan total tegangan sebagai penyuplai
DLC sebesar 48 volt. Daya tahan baterai adalah 100
mAh, yang berarti bila arus listrik yang digunakan
adalah 10 mA, maka baterai dapat bertahan selama 10
jam.
Nilai arus listrik pada DLC bergantung pada
jumlah pelanggan yang aktif (memakai channel).
Semakin banyak pelanggan yang aktif maka nilai arus
listrik akan semakin besar, sebaliknya bila pelanggan
yang aktif berkurang nilai arus listrik yang digunakan
akan berkurang juga.
MDF digunakan sebagai pendistribusi kabel
yang menuju ke Local Exchange (LE). Kabel yang
digunakan adalah kabel 2 M.
Optical tray atau biasa disebut Optical
Terminal Board (OTB) digunakan untuk terminasi
media transmisi yang berupa kabel fiber optik baik dari
maupun menuju ke CT.
Gambar 10. Optical Tray
Cage adalah bagian dari DLC yang berfungsi
sebagai tempat penempatan modul-modul fungsional
dari DLC. Ada 2 tipe cage untuk DLC merk TeleData,
yaitu Cage 40-M dan Cage 40-MIN.
Pada Cage 40-M terdapat 21 slot untuk
penempatan modul-modul DLC. Berikut adalah fungsi
dari masing-masing slot:
a. Slot 1-13 digunakan untuk modul-modul servis
b. Slot 14-15 digunakan untuk matriks ATM / servis
c. Slot 16-17 digunakan untuk modul-modul kontrol
d. Slot 18-19 digunakan untuk modul-modul transmisi
e. Slot 20-21 digunakan untuk modul-modul power
Sedangkan Cage 40-MIN memiliki ukuran
yang lebih kecil daripada cage 40-M. Pada Cage 40MIN hanya terdapat 10 slot dengan fungsi masingmasing slot sebagai berikut :
a. Slot 1-4 digunakan untuk modul-modul
servis
b. Slot 3-4 matriks ATM / servis
c. Slot 5-6 digunakan untuk modul-modul
kontrol
d. Slot 7-8 digunakan untuk modul-modul
transmisi
e. Slot 9-10 digunakan untuk modul-modul
power
Gambar 11. Cage 40-M
Ada 6 jenis modul pada Central Terminal
(CT). Jenis dan fungsi dari masing-masing modul
adalah sebagai berikut:
1. Modul LI-4E1
Modul LI-4E1 diletakkan pada slot 1-4 atau
12-14 Cage 40-M. Modul ini merupakan modul E1
yang digunakan untuk menghubungkan antara Central
Unit dan Local Exchange (LE).
Untuk LI-4E1CF juga bisa digunakan untuk
menghubungkan antara CT dan RT. Fungsinya yaitu
untuk proses grooming, yakni pemisahan trafik circuit
switching (telepon biasa) dengan trafik channel
switching (trafik leased line : terdiri dari message
switching dan packet switching).
Proses grooming terdiri atas proses konsolidasi
dan segregasi. Proses konsolidasi yaitu mengumpulkan
trafik circuit switching atau channel switching menjadi
satu kemudian menyalurkannya, segregasi adalah
proses kebalikannya.
2. Modul IP-UL-X
Merupakan modul IP uplink single-mode yang
menyediakan 10/100 base-T atau gigabit Ethernet
uplink ke IP backbone. Digunakan untuk layanan
Ethernet atau DSL.
3. Modul ATM
Terdiri dari interface dan control card yang
berfungsi sebagai ATM matriks dari broad access
sistem. Dapat digunakan dalam suatu ring ATM/
digunakan untuk point to point uplink dari RT berupa
konfigurasi single side unit.
Modul ATM mendukung fungsi:
a. VP/VC cross connect
b. Traffik managemen
c. Proteksi
Modul antarmuka jaringan pada Central Terminal
(CT) yaitu modul ATMX-UNI dan ATM-UNI-M
berfungsi untuk mengirim data dalam format ATM
melalui kabel FO
(STM-1 link) antara Central
Terminal (CT) dan jaringan ATM pada Local
Exchange (LE). Data dari jaringan ATM dikirim lewat
ATM bus ke STM-4 card, pengiriman data lewat SDH
Ring ke RT, dan diterima oleh card ATMX/ATMX-E.
4. Modul CPT
Modul CPT terdiri dari modul kontrol yang
berisi software sistem Broadaccess. Fungsinya:
a. Mengendalikan keseluruhan sistem
b. Sinkronisasi
c. Mengatur Laju suara dan pensinyalan
d. Antarmuka suara dan pensinyalan pada
modul servis.
Ada 2 macam modul kontrol pada CT yaitu CPT dan
CPT-S.
5. Modul STM-4
Modul STM-4 merupakan modul transmisi
optik yang menyediakan 4 link STM-1 antara Central
Terminal (CT) dan Remote Terminal (RT). Setiap
STM-1 mengandung sampai 63 E1 untuk masingmasing empat sistem trafik ATM.
6. MODUL PSDC
Merupakan modul power yang digunakan
untuk mencatu modul-modul lainnya dalam cage.
Dalam satu cage maksimum terdiri dari 2 buah modul
power yang satu sebagai mandatory dan lainnya
sebagai cadangan.
Modul power juga berfungsi sebagai filter
tegangan listrik dari power supply, jadi nilai tegangan
listrik yang masuk hanya sebesar yang dibutuhkan
sehingga tidak terjadi kelebihan tegangan yang dapat
merusak modul-modul dalam cage.
3.4.2 Remote Terminal (RT)
Remote Terminal (RT) merupakan perbatasan
antara jaringan akses dengan sisi pelanggan. Remote
terminal dapat dikatakan sebagai Titik Konversi Optik
(TKO), karena setelah dari RT menuju ke pelanggan
sudah menggunakan kebel tembaga.
Gambar 12. Remote Terminal (RT)
Gambar di atas menunjukkan sebuah Remote
Terminal dengan kabinet yang bertuliskan FDA, STOTUGU. Maksudnya adalah RT ini merupakan fiber
distribution pertama (A) suatu ring DLC dengan
Central Terminalnya berada pada STO Tugu. Untuk
fiber distribution kedua diberi nama FDB, dan
seterusnya.
Sama seperti CT, pada RT juga terdapat
bagian-bagian utama yang terdiri dari Rectifier,
AC/DC Box, Fans, Baterai, SDF, Optical Tray, dan
Cage.
Untuk SDF (Subscriber Distribution Frame),
mirip dengan MDF hanya saja pendistribusian
kabelnya ke arah pelanggan.
2. Modul LI-ADSL
Modul LI-ADSL menyediakan layanan ADSL
dan POTS untuk pelanggan, termasuk di dalamnya
splitter untuk mendukung saluran POTS. Fungsinya
secara lebih spesifik sebagai berikut:
a. Modul LI-ADSL 8P, LI-ADSL 8C, dan LIADSL 16P membagi trafik ADSL dan POTS
dari ADSL interface ke dalam dua streams.
b. Trafik ADSL ditransmisikan dalam sel ATM
melalui internal ATM bus pada cage menuju
modul ATM di RT.
c. Trafik POTS ditransmisikan melalui internal
TDM bus pada cage menuju ke modul CPTE.
d. Modul CPT dan ATM memindahkan trafik sel
dan trafik POTS ke modul STM-4 melalui ring
SDH ke CT.
e. Selanjutnya trafik ditangani modul yang
bersesuaian di CT.
3. Modul ONTU-E1
Modul ONTU-E1 berfungsi memberikan
transmisi optik untuk membawa E1 pada 34 Mbps
antara CT dan RT melalui PDH fiber (E3) link.ONTUE1 CS dapat juga membawa sampai 4 eksternal E1 link
melalui infrastruktur Broad Access.
4. MODUL ATMX-E
Modul ATMX-E merupakan modul antarmuka
jaringan yang berfungsi untuk mentransfer data ATM
antara service card pada RT dan ATMX-UNI/ ATMUNI-M pada CT melalui SDH Ring.
5. Modul CPTE
Modul CPTE terdiri dari modul kontrol yang
berisi software sistem Broadaccess.Fungsinya:
a. Mengendalikan keseluruhan sistem
b. Sinkronisasi
c. Mengatur Laju suara dan pensinyalan
d. Antarmuka suara dan pensinyalan pada
modul servis.
Ada 2 macam yaitu CPTE dan CPTS.
Gambar 13. Subscriber Distribution Frame (SDF)
SDF berupa panel-panel LSA yang dibagi
menjadi 2 sisi, yaitu sisi primer dan sisi sekunder. Sisi
primer yaitu sisi jaringan akses sedangkan sisi
sekunder yaitu sisi pelanggan. Melalui panel LSA ini
antar sisi primer dan sekunder dihubungkan dengan
cara menjumper kabel.
Untuk modul-modul pada Remote Terminal
(RT) dan fungsinya adalah sebagai berikut:
1. Modul LI-32
Modul LI-32 merupakan modul servis yang
memberikan layanan sebanyak 32 POTS lines ke arah
pelanggan. Berfungsi untuk memberikan layanan voice
2 arah dan signaling interface antara pelanggan dengan
sistem.
6. Modul STM-4D
Modul STM-4D ini sama seperti modul STM
pada CT yang merupakan modul transmisi optik yang
menyediakan 4 link STM-1 antara Central Terminal
(CT) dan Remote Terminal (RT). Setiap STM-1
mengandung sampai 63 E1 untuk masing-masing
empat sistem trafik ATM. Bisa digunakan untuk
hubungan ring dengan output 622 Mbps.
7. Modul PSRG
Modul ini berada pada slot 20 dan 21.
Berfungsi untuk mengatur kebutuhan tenaga, filter
tegangan listrik dari power supply, dan pembangkit
nada dering. Ada 2 pada suatu cage dengan satu untuk
master dan lainnya untuk cadangan.
IV. PENUTUP
Biodata Penulis
4.1 Kesimpulan
Dari hasil kerja praktek di PT. TELKOM
Kandatel Semarang yang telah dilakukan maka dapat
diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut ini :
1. Teknologi DLC yang diterapkan pada Jarlokaf
memiliki dua perangkat utama yaitu Central
Terminal (CT) di sisi sentral dan Remote
Terminal (RT) di sisi pelanggan.
2. Modul-modul fungsional pada DLC dapat
dikelompokkan menjadi modul servis, modul
kontrol, modul transmisi, dan modul power.
3. Modul servis berfungsi untuk menyediakan
layanan voice (POTS) atau layanan data
(ADSL)
4. Modul kontrol berfungsi untuk mengendalikan
keseluruhan sistem, sinkronisasi, mengatur
trafik, dan pensinyalan.
5. Modul transmisi berperan dalam proses
multipleks, demultipleks, dan konversi sinyal.
6. Modul power berfungsi untuk mengatur
kebutuhan tenaga, filter tegangan listrik, dan
pembangkit nada dering.
4.2 Saran
1. Dilakukan pengecekan secara rutin mengenai
kondisi perangkat DLC, sehingga apabila ada
gangguan segera dapat teratasi.
2. Perlu diberi backup media transmisi (fiber
optik), sehingga apabila ada kerusakan misalnya
kabel optik putus, sistem masih dapat berjalan
dan pelanggan masih mendapat layanan tanpa
harus menuggu perbaikan.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Nugroho D, Adi. Remote Unit Pada Digital Loop
Carrier (DLC). Jurusan Teknik Elektro
Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.2007
[2] Sukiswo,
ST.
Buku
Ajar
Jaringan
Telekomunikasi. Jurusan Teknik Elektro
Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Semarang. 2002.
[3] _____, Dasar Sistem Komunikasi Optik :
OPTICAL
ACCESS
NETWORK.
PT.
Telekomunikasi Indonesia. Bandung. 2004.
[4] _____, Operation & Maintenace MS-OAN
TELEDATA. Telkom Learning Center.
Semarang.
[5] _____, Pengantar Teknologi Sistem Komunikasi
Serat Optik. Divlat PT. Telekomunikasi
Indonesia.
[6] _____,
V5.2
Protocol
Implementation:
Specifications, and Applications in Telesis
Switches. TELESIS.2005
Tri Legawa (L2F006090),
adalah mahasiswa Jurusan
Teknik
Elektro
Fakultas
Teknik
Universitas
Diponegoro
konsentrasi
Elektronika Telekomunikasi.
Telah melaksanakan kerja
praktek di PT. Telkom
Kandatel Semarang. Mempunyai moto hidup “ Hidup
itu untuk beribadah “.
Semarang,
Februari 2010
Mengetahui,
Dosen Pembimbing
Ir.Sudjadi, M.T
NIP. 15906191985111001
Download