BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Diabetes

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Diabetes Melitus adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh ketidak
mampuan tubuh untuk memproduksi hormone insulin. Penyakit diabetes
mengalami peningkatan prevalensi di seluruh dunia. Kenaikan jumlah
penduduk penderita diabetes semakin mengkhawatirkan. Dalam beberapa
tahun terakhir ini, jumlah penderita diabetes di dunia semakin meningkat dari
tahun ke tahun. Hal tersebut didapat dari hasil survey lembaga kesehatan dunia
yaitu world health organization (WHO). WHO menyatakan bahwa terjadi
peningkatan signifikan terhadap penambahan penderita diabetes mellitus 30
tahun terakhir, berdasarkan survey yang dilakukan oleh WHO.
Tabel 1.1 Tabel Data Dunia untuk Penderita Diabetes (WHO, 2016)
No
Negara
Thn. 2000
Thn. 2030
Growth
1
India
31,705,000
79,441,000
151%
2
China
20,757,000
42,321,000
104%
3
United States of America
17,702,000
30,312,000
71%
4
Indonesia
8,426,000
21,257,000
152%
Berdasarkan Tabel 1.1 menunjukkan data statistik jumlah penderita
diabetes di dunia versi WHO dari tahun 2000 dan proyeksi hingga tahun 2030,
1
http://digilib.mercubuana.ac.id/
2
Indonesia menduduki
peringkat ke- 4 dunia dengan pertumbuhan sebesar
152% atau dari jumlah penderita 8.426.000 pada tahun 2000 menjadi
21.257.000 pada tahun 2030.
Di Indonesia pada khususnya, pada Tahun 2016 penderita diabetes sudah
mencapai angka 12.191.564, dan penderita diabetes meningkat dengan sangat
cepat di masing-masing provinsi, hal tersebut dibuktikan dengan data statistik
dari profil kesehatan Indonesia (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia
2013).
Grafik 1.1 Riskesdas 2007 dan 2013 (Kemenkes, 2013)
Dijelaskan bahwa perbandingan prevalensi diabetes di Indonesia
berdasarkan wawancara sejak tahun 2007 sampai dengan tahun 2013 adalah
2,1%. Angka tersebut lebih tinggi dibanding dengan angka pada tahun 2007
http://digilib.mercubuana.ac.id/
3
(1,1%). Menunjukkan kenaikan prevalensi penyakit diabetes yang cukup
berarti. Prevalensi tertinggi Diabetes pada umur ≥ 15 tahun menurut diagnosis
dokter/gejala hasil Riskesdas tahun 2013 adalah di Provinsi Sulawesi Tengah
(3,7%). Kemudian disusul Sulawesi Utara (3,6%) dan Sulawesi Selatan (3,4%).
Sedangkan yang terendah ialah di Provinsi Lampung (0,8%), kemudian
Bengkulu dan Kalimantan Barat (1,0%). Provinsi dengan kenaikan prevalensi
terbesar adalah Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu 0,8% pada tahun 2007 menjadi
3,4% pada 2013. Sedangkan provinsi dengan penurunan prevalensi terbanyak
adalah Provinsi Papua Barat, yakni 1,4% pada tahun 2007 menjadi 1,2% pada
2013.
Pada grafik 1.1 di atas tampak terjadinya peningkatan jumlah penderita
diabetes di Indonesia. Padahal, sejak tahun 2011 banyak forum dari kalangan
anak muda Indonesia hingga para orang tua ikut berpartisipasi dalam gerakan
peduli diabetes untuk memberikan rangkaian edukasi untuk menjaga pola
hidup, pola makan, edukasi diabetes terhadap keturunan, edukasi diabetes
terhadap faktor psikologis penderita. Yang dengan menggelar forum dan
kampanye diabetes tersebut, diharapkan akan dapat menurunkan tingkat
penderita diabetes yang ada di Indonesia.
kenaikan yang sangat tinggi tersebut dikarenakan kebanyakan masyarakat
Indonesia
tidak
mampu
mengenali
gejala-gejala
diabetes
sehingga
penanganannya menjadi terlambat. Hal tersebut dijawab pada penelitian
kualitatif dalam laporan yang berjudul “Blueprint for Change” ini juga
menunjukkan bahwa banyak orang yang hidup dengan diabetes tidak
http://digilib.mercubuana.ac.id/
4
mengetahui serba-serbi penyakit ini yang kemungkinan besar disebabkan oleh
edukasi yang rendah. (Majalah Tempo, 2013)
Dilansir pada kampanye diabetes yang diselenggarakan pada 26 oktober
2011 bahwa kalangan publik figur pun ikut berpartisipasi untuk kampanye
diabetes pada anak, agar diharapkan melakukan pembekalan edukasi sejak dini
pada anak sehingga dapat lebih jauh dari penyakit diabetes itu sendiri.
Gambar 1.1 kampanye publik figur (antaranews, 2011)
Hingga perusahaan farmasi ternama seperti ‘kalbe farma’ pun ikut
berpartisipasi untuk kampanye mengenai diabetes, pada 12 november 2014,
kalbe berpartisipasi untuk gencarkan kampanye 3J. yaitu, ‘Jumlah’, ‘Jenis’, dan
http://digilib.mercubuana.ac.id/
5
‘Jadwal’. Yang berarti pengaturan pola makan sehat dengan mengatur jumlah
makanan, jenis makanan, dan jadwal makan yang teratur agar terhindar dari
risiko diabetes dan untuk tetap hidup sehat walaupun menderita diabetes.
Gambar 1.2 kampanye diabetes oleh pihak swasta (radar pena, 2014)
Pemanfaatan kampanye dengan cara yang sudah dilakukan oleh para publik
figur dan perusahaan ternama di atas pun dirasa belum cukup, melihat
peningkatan penderita diabetes dari tahun ke tahun yang semakin meningkat
tajam. Hingga pada 24 agustus 2015, dikutip oleh majalah kartini seorang
animator muda membuat sebuah kampanye jenis baru bertajuk kampanye
diabetes pun dibuat. Dengan memberikan pesan moral pada film animasi yang
dibuat tersebut, diharapkan dapat merubah pola pikir masyarakat dan sadar
akan risiko penyakit diabetes.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
6
Gambar 1.3 kampanye melalui film animasi (majalahkartini, 2015)
Penyakit diabetes merupakan penyakit yang disebabkan oleh beberapa
faktor, antara lain disebutkan pada jurnal Education and Health (Ayyagari,
2011) mengatakan bahwa orang yang berpendidikan tinggi cenderung lebih
sedikit berisiko terkena penyakit diabetes, hal tersebut membuktikan bahwa
orang yang tidak memiliki edukasi yang cukup baik cenderung lebih berisiko
terkena penyakit diabetes. Selain faktor edukasi, adapun faktor lain yang
disebutkan pada jurnal Lifestyle and Health ( Kanaya, 2012) mengatakan
bahwa gaya hidup yang tidak sehat cenderung lebih berisiko terkena penyakit
diabetes, didalam hasil jurnal nya tersebut adalah menciptakan gaya hidup
translasi berbasis masyarakat dan hasilnya sangat berpengaruh untuk
mempengaruhi gaya hidup masyarakat menjadi lebih sehat. Faktor lainnya
disebutkan pada jurnal Life Environtment (Stokes, 2009) yang mengatakan
http://digilib.mercubuana.ac.id/
7
bahwa Lingkungan Hidup berpengaruh besar dalam peningkatan jumlah risiko
penderita diabetes.
Untuk memahami fenomena tersebut, peneliti melakukan survei dan
wawancara terhadap 30 responden penderita diabetes mengenai faktor-faktor
yang memicu terjadinya diabetes pada responden.
Berdasarkan hasil survei diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 1.2 Responden Penderita Diabetes di Indonesia
Demografi
Gender
Pria
Wanita
Kelompok Usia
17 - 30 tahun
31 - 45 tahun
>45 tahun
Pekerjaan
Karyawan Swasta
Wiraswasta
PNS
Tidak Bekerja
Other
Jumlah (orang)
14
16
14
8
8
16
4
4
5
1
Jumlah responden cukup berimbang responden pria (14 orang ) dan wanita
(16 orang) dan didominasi oleh 53% responden perempuan . 53% pekerjaan
responden adalah karyawan swasta. Sedangkan 48% usia responden terbanyak
adalah 17 – 30 tahun.
Sementara itu, untuk mengetahui pengaruh terjadinya penyakit diabetes,
peneliti melakukan analisis berdasarkan 3 faktor yang diduga mempengaruhi
penderita berdasarkan Tabel berikut :
http://digilib.mercubuana.ac.id/
8
Tabel 1.3 Faktor Kampanye Edukasi
Tingkat Pengaruh Faktor Edukasi
Ya
Tidak
11
19
13
17
10
20
Responden sering mendengar informasi
kampanye diabetes.
Responden mengetahui dampak dan
pencegahan penyakit diabetes.
Responden mendapatkan edukasi yang
baik saat kampanye diabetes berlangsung.
Sumber : Hasil Data Prestudy oleh Peneliti pada Club Diabetes
Berdasarkan hasil data pada Tabel 1.7 tersebut di atas 57% responden tidak
pernah mendengar kampanye diabetes. 51% responden tidak mengetahui
dampak dan cara pencegahan penyakit diabetes. Dan 60% responden tidak
mendapatkan edukasi yang baik saat kampanye.
Tabel 1.4 Faktor Gaya Hidup
Tingkat Pengaruh Faktor Gaya Hidup
Ya
Tidak
3
27
15
15
Responden telah melakukan gaya hidup
yang baik untuk menjaga kadar gula
darahnya sendiri.
Responden sering melakukan himbauan
terhadap teman/kerabat untuk melakukan
gaya hidup sehat.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
9
Responden telah terpengaruh akan
kampanye diabetes untuk melakukan gaya
14
16
hidup sehat.
Sumber : Hasil Data Prestudy oleh Peneliti pada Club Diabetes
Berdasarkan hasil data pada Tabel 1.8 tersebut di atas, 81% responden tidak
melakukan gaya hidup sehat. 50% responden tidak melakukan himbauan
kepada rekan untuk melakukan gaya hidup sehat. Dan 52% responden tidak
terpengaruh untuk melakukan gaya hidup sehat yang dilakukan oleh kampanye
kesehatan.
Tabel 1.5 Faktor Lingkungan Hidup
Tingkat Pengaruh Faktor Lingkungan
Ya
Tidak
5
25
25
5
25
25
Hidup
Responden berada pada lingkungan hidup
yang sehat
Responden ingin menciptakan lingkungan
hidup sehat untuk dirinya sendiri
Responden termotivasi untuk menciptakan
lingkungan hidup untuk teman/kerabat.
Sumber : Hasil Data Prestudy oleh Peneliti pada Club Diabetes
Berdasarkan hasil data pada Tabel 1.9 tersebut di atas, 75% responden tidak
berada pada lingkungan hidup yang sehat, 25% responden tidak ingin menciptakan
http://digilib.mercubuana.ac.id/
10
lingkungan hidup sehat, dan 25% responden tidak ingin menciptakan lingkungan
hidup sehat bagi kerabatnya.
Berdasarkan hasil pre study diatas, peneliti menetapkan 3 faktor tersebut
untuk dijadikan variabel penelitian. Yaitu :
(1) Faktor Kampanye Edukasi, (2) Faktor Gaya Hidup, dan (3) Faktor
Lingkungan Hidup
Dengan demikian, ke 3 faktor tersebut yang akan dilihat pengaruhnya
terhadap kecenderungan orang terkena penyakit diabetes di Indonesia.
1.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah
1.2.1
Identifikasi Masalah
Berdasarkan
latar
belakang
masalah,
maka
permasalahan-
permasalahan yang dapat diidentifikasikan adalah :
1) Sebagian besar responden mengetahui dampak penyakit diabetes,
namun tidak mengetahui cara pencegahan penyakit diabetes, dan
tidak mendapatkan edukasi yang baik saat Kampanye Edukasi
berlangsung. dan menurut data WHO, peningkatan penyakit
diabetes semakin hari semakin meningkat. Hal tersebut membuat
sebuah fenomena apakah Kampanye Edukasi berpengaruh
terhadap Keberhasilan Program Pemasaran Sosial Kampanye
Diabetes.
2) Sebagian besar responden tidak melakukan gaya hidup sehat,
tidak pernah melakukan himbauan kepada teman/kerabat untuk
http://digilib.mercubuana.ac.id/
11
melakukan gaya hidup sehat. dan menurut data WHO,
peningkatan penyakit diabetes semakin hari semakin meningkat.
Hal tersebut membuat sebuah fenomena apakah Kampanye
Edukasi berpengaruh terhadap Keberhasilan Program Pemasaran
Sosial Kampanye Diabetes.
3) Sebagian besar responden tidak berada pada lingkungan hidup
yang sehat. Responden pun ingin menciptakan lingkungan hidup
yang lebih sehat untuk diri sendiri, hingga menghimbau kepada
rekan/kerabat nya. dan menurut data WHO, peningkatan penyakit
diabetes semakin hari semakin meningkat. Hal tersebut membuat
sebuah fenomena apakah Kampanye Edukasi berpengaruh
terhadap Keberhasilan Program Pemasaran Sosial Kampanye
Diabetes.
1.2.2
Perumusan Masalah
Berdasarkan hasil pengindentifikasian masalah, dimana penulis
berhasil mengidentifikasi sejumlah fenomena yang berhubungan
dengan kampanye sosial beserta variable-variabel yang diduga
berpengaruh terhadapnya, sejumlah pertanyaan ilmiah muncul dari
hasil identifikasi ini. Pertanyaan-pertanyaan ini kemudian menjadi
arahan
bagi
pengembangan
hipotesis-hipotesis
penelitian.
Permasalahan yang dimaksud, antara lain :
1) Apakah kampanye edukasi kesehatan yang sudah pernah
dilakukan oleh pemerintah maupun swasta mengenai diabetes
http://digilib.mercubuana.ac.id/
12
berpengaruh terhadap Keberhasilan Program Pemasaran Sosial
Kampanye Diabetes?
2) Apakah gaya hidup sehat berpengaruh terhadap Keberhasilan
Program Pemasaran Sosial Kampanye Diabetes?
3) Apakah
lingkungan
hidup
sehat
berpengaruh
terhadap
Keberhasilan Program Pemasaran Sosial Kampanye Diabetes?
1.3 Tujuan Penelitian
1) Untuk mengetahui dan menganalisa kampanye edukasi kesehatan
yang sudah pernah dilakukan oleh pemerintah maupun swasta
mengenai diabetes berpengaruh terhadap Keberhasilan Program
Pemasaran Sosial Kampanye Diabetes.
2) Untuk mengetahui dan menganalisa gaya hidup sehat berpengaruh
terhadap Keberhasilan Program Pemasaran Sosial Kampanye
Diabetes.
3) Untuk mengetahui dan menganalisa lingkungan hidup sehat
berpengaruh terhadap Keberhasilan Program Pemasaran Sosial
Kampanye Diabetes.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Manfaat praktis dan kebijakan bagi dinas kesehatan, dan pihak swasta
di DKI Jakarta :
Untuk masukan dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitas
kampanye sosial sehingga mampu untuk memberikan pengaruh positif
http://digilib.mercubuana.ac.id/
13
sehingga dapat menekan angka penderita penyakit diabetes di
Indonesia.
2. Bagi Akademis:
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap
pengembangan khasanah ilmu pengetahuan dan menambah referensi
bagi peneliti lain, yang secara umum bertujuan untuk dapat
meningkatkan kualitas layanan kampanye sosial di Indonesia.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Download