BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Komunikasi Massa 2.1.1 Pengertian Komunikasi Massa Komunikasi massa kita diadopsi dari bahasa inggris mass communication yang merupakan kepedekan dari mass media communication. Artinya adalah komunikasi yang menggunakan media massa, baik cetak (surat kabar, majalah) atau elektronik (radio, televisi, internet) yang dikelola oleh suatu lembaga atau orang yang dilembagakan, yang ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar di banyak tempat, anonim, dan heterogen. Pesan – pesannya bersifat umum, disampaikan secara cepat, serenak dan selintas (khususnya media elektronik). (Mulyana, 2005: 75) Pada dekade sebelum abad ke-20, alat – alat mekanik yang menyertai lahirnya komunikasi massa adalah alat – alat percetakan (press printed) yang menghasilkan surat kabar, buku – buku, majalah, brosur dan materi cetakan lainnya. Gejala ini semakin meluas ketika film, dan radiopun mulai digunakan secara luas dan juga disusul televisi pada dekade selanjutnya. Sampai saat ini kitapun sudah memasukin era telekomunikasi dengan digunakannya sistem satelit ruang angkasa dan jaringan komputer. Terdapat perbedaan yang cukup terlihat di dalam alat komunikasi yang digunakan dalam komunikasi massa seperti dalam paradigma lama alat – alat komunikasi massa hanya meliputi surat kabar, majalah, tabloid, buku, televisi, radio, kaset dan film. Sedangkan dalam paradigma baru alat – alat tersebut menjadi surat kabar, majalah, tabloid, televisi, radio dan internet. Perubahan tersebut dikarenakan perkembangan teknologi komunikasi massa yang cepat. 12 13 Gambar 2.1 Media Massa dalam Paradigma Lama Film Televisi Surat Kabar Alat Komunikasi Massa Radio Majalah Tabloid Buku Sumber : Mulyana, 2005 Gambar 2.2 Media massa dengan paradigma baru Surat Kabar Televisi Majalah Alat Komunikasi massa Radio Tabloid Internet Sumber : Mulyana, 2005 Sebagian atau sejumlah besar dari peralatan mekanik itu dikenal sebagia alat – alat komunikasi massa atau lebih populer dengan nama media massa, yang meliputi 14 semua (alat – alat) saluran, ketika narasumber (komunikator) menjangkau sejumlah penerima (komunikan) yang luas secara serentak dengan kecepatan yang relatif tinggi. Dalam Nurudin (2009: 12), Jay Black and Frederick C. Whitney menyebutkan, “ Mass communication is a process where by mass-produced message are transmitted to large, anonymous, anda heterogeneous masses of receivers.” Yang berarti komunikasi massa adalah sebuah proses di mana pesan – pesan yang diproduksi secara massal atau tidak sedikit itu disebarkan kepada massa penerima pesan yang luas, anonym, dan heterogen. Menurut Alexis S. Tan dalam komunikasi massa itu komunikatornya adalah organisasi sosial yang mampu memproduksi pesan dan mengirimkannya secara serempak ke sejumlah orang banyak yang terpisah.(Nurudin, 2009: 11) Dari definisi – definisi di atas maka penulis menyimpulkan bahwa komunikasi massa merupakan komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan suatu saluran media untuk menjangkau target audience dalam jumlah yang besar dengan waktu yang serentak. 2.1.2 Unsur – Unsur Komunikasi Massa Dalam Mulyana (2005: 136), Harold D. Laswell menjelaskan guna memahami komunikasi massa, kita harus mengerti unsur – unsur yang terdapat di dalamnya. Laswellpun memformulasikan unsur - unsur komunikasi massa itu ke dalam bentuk pertanyaan ” who says what in which channel to whom and with what effect?” 15 Unsur – unsur dari pernyataan Laswell tersebut dapat dijabarkan, antara lain : 1. Who (sumber atau komunikator) Sumber utama di sini adalah lembaga ataupun organisasi, dimana organisasi yang merupakan perusahaan surat kabar atau berita, stasiun radio atau televisi dan penerbit buku. 2. Say What (pesan) Informasi atau berita yang bersifat umum dan ditujukan kepada khalayak dalam waktu yang serentak dan menyeluruh dan berlangsung satu arah. 3. In Which Channel (saluran pesan) Proses penyebaran informasi (pesan) dilakukan dengan menggunakan berbagai alat media seperti melalui majalah, radio, televisi, ataupun internet. 4. To Whom (penerima atau komunikan) Penerima pesan terdiri dari jumlah yang banyak, tersebar dan tidak saling mengenal satu dan yang lainnya. 5. With what Effect (umpan balik) Komunikator mendapatkan umpan balik dari informasi yang diberikan kepada penerimanya secara tidak langsung. Gambar 2.3 Sumber : Mulyana, 2005 16 Unsur – unsur komunikasi massa menurut (Nurudin, 2009: 95) adalah komunikator, isi, audience, umpan balik, gangguan (saluran dan semantik), gatekeeper, pengatur, filter, dan efek. 2.1.3 Ciri – Ciri Komunikasi Massa Dalam bukunya Nurudin (2009: 19) ia memaparkan beberapa ciri dari komunikasi massa, yaitu : a. Komunikator dalam komunikasi massa melembaga Artinya, gabungan dari berbagai orang dan bekerja satu sama lain dalam sebuah lembaga. b. Komunikan bersifat Heterogen Dimana penerima pesan berasal dari berbagai kelompok masyarakat yang berbeda, tidak saling mengenal, dan tidak berinteraksi satu sama lainnya. c. Pesan bersifat umum Pesan – pesan di dalam komunikasi massa tidak hanya ditunjukan kepada satu orang atau kelompok tertentu saja, melainkan kepada masyarakat luas. Oleh karenanya pesan – pesan yang disampaikanpun harus bersifat umum agar diterima oleh semua penerimanya. d. Komunikasi berlangsung satu arah Karena adanya jarak antara pengirim dan penerima, maka alur komunikasipun hanya berlangsung satu arah, yang berarti penerima pesan tidak dapat langsung memberikan responnya. 17 e. Komunikasi Massa Menimbulkan Keserempakan Terdapat keserempakkan dalam proses penyebaran pesannya, keserempakkan ini dapat dirasakan betul jika kita mengamati media komunikasi massa sperti internet. Dengan internet berita lebih cepat disiarkan secara menyeluruh. f. Mengandalkan Peralatan Teknis Dalam menjangkau penerimanya, komunikasi massa memerlukan peralatan teknis. Peralatan tersebut antara lain seperti alat pemancar yang digunakan untuk media elektronik. g. Dikontrol oleh Gatekeeper Gatekeeper atau yang biasa disebut sebagai penjaga gawang adalah orang yang sangat berperan dalam penyebaran informasi di media massa. Tugasnya yaitu untuk menyunting, menganalisis dan mengemas pesan yang disebarkan agar lebih mudah dipahami. 2.1.4 Fungsi Komunikasi Massa Menurut Jay Black dan Frederick dalam (Nurudin, 2009: 64), fungsi komunikasi massa antara lain : a. to inform (menginformasikan) b. to entertain (memberi hiburan) c. to persuade (membujuk) d. transmission of the culture (transmisi budaya) Fungsi komunikasi massa menurut Alexis S.Tan, yaitu : a. memberi informasi 18 b. mendidik c. mempengaruhi d. menghibur.( Nurudin, 2009: 65) 2.2 Komunikasi Pemasaran 2.2.1 Pengertian Komunikasi Pemasaran John E Kennedy (2009: 4) mendefinisikan bahwa ”komunikasi pemasaran adalah aplikasi komunikasi yang bertujuan untuk membantu kegiatan pemasaran sebuah perusahaan.” Pemasaran merupakan bagian penting dari perusahaan. Dengan adanya pemasaran yang baik, perusahaan dapat mencapai tujuan yang diinginkan dengan baik. Bagi segelintir orang, pemasaran hanya diartikan sebagai proses memasarkan produk dan jasa yang dilakukan oleh perusahaan. Banyak yang tidak menyadari bahwa pemasaran itu bukan hanya sekedar proses memasarkan, mengenalkan, atau menginformasikan produk atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan kepada konsumen. Proses-proses tadi hanyalah satu dari berbagai proses yang terdapat dalam pemasaran. Pemasaran juga dapat diartikan ”sekumpulan rancangan kegiatan yang saling terkait untuk mengenali kebutuhan konsumen dan mengembangkan, mendistribusikan, mempromosikan, serta menetapkan harga yang tepat dari sebuah produk dan layanan untuk mencapai kepuasan dari konsumen yang bertujuan untuk menghasilkan keuntungan.”(Kennedy, 2009: 13) Dari berbagai pernyataan tersebut, penulis mengambil kesimpulan bahwa pemasaran adalah suatu proses sosial dalam penciptaan produk atau jasa yang melibatkan proses pemberian harga, promosi, dan pendistribusian yang bertujuan untuk 19 memenuhi kebutuhan konsumen serta keinginan perusahaan di masa sekarang dan juga di masa yang akan datang. Dalam prakteknya, proses pemasaran ini perlu dikelola atau diatur oleh perusahaan agar menjadi mata rantai yang tidak pernah putus. Oleh karena itu proses pemasaran ini perlu perencanaan, pelaksanaan dan juga pengawasan agar berjalan sesuai keinginan perusahaan. 2.2.2 Bauran Komunikasi Pemasaran Di dalam buku teknik dan strategi John E. Kennedy, Kotler menyebutkan bahwa pemasaran terdiri dari product (produk), place (penempatan), price (harga), dan promotion (promosi) atau yang biasa disebut dengan istilah four of Ps dan jika digabung dengan aplikasi pemasaran disebut dengan four of Cs. Dimana product berkaitan dengan customer Solution, price berkaitan dengan customer cost, place berkaitan dengan convenience dan promotion berkaitan dengan communication. Gambar 2.4 Bauran Pemasaran Product Customer Solutions Promotion Communication s Marketing mix Place Convenience Sumber : John Kennedy, 2009 Price Customer Cost 20 Kotlerpun juga mengatakan bahwa terdapat bauran promosi (promotion mix) di dalam sebuah konsep pemasaran, yaitu terdiri atas lima perangkat utama, yakni : 1) Advertising Merupakan semua penyajian non personal, promosi ide-ide, promosi produk atau jasa yang dilakukan sponsor tertentu yang dibayar. 2) Sales Promotion Berbagai insentif jangka pendek untuk mendorong keinginan mencoba atau membeli suatu produk atau jasa. 3) Public relation and publicity Berbagai program untuk mempromosikan dan/atau melindungi citra perusahaan atau produk individualnya. 4) Personal Selling Interaksi langsung dengan calon pembeli atau lebih untuk melakukan suatu presentasi, menjawab langsung dan menerima pesanan. 5) Direct marketing Penggunaan surat, telepon, faksimil, e-mail dan alat penghubung nonpersonal lain untuk berkomunikasi secara dengan atau mendapatkan tanggapan langsung dari pelanggan tertentu dan calon pelanggan. 21 Gambar 2.5 Bauran Pemasaran dan Promosi Sumber : John Kennedy, 2009 Dari penjelasan di atas untuk mempengaruhi konsumen, pemasar dapat melakukan beberapa cara yaitu melalui advertising (periklanan), sales promotion (promosi penjualan), public relation dan publicity (hubungan masyarakat dan publisitas), personal selling (penjualan personal) dan direct marketing (pemasaran langsung). Dengan adanya elemen- elemen tersebut, pemasar dapat memberi tahu segala sesuatu kepada konsumen. Selain itu, kegiatan pemasaran tersebut dapat berpengaruh terhadap tingkat kesadaran merek dengan menyamakan asosiasi yang benar tentang brand image pada ingatan konsumen. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan adanya kegiatan komunikasi pemasaran ini, pemasar dapat membentuk brand image yang mereka 22 inginkan kedalam ingatan target pasarya masing – masing. Sehingga brand image yang tercipta pada konsumen sama dengan brand image yang diinginkan oleh pemasar. 2.2.3 Tujuan Komunikasi Pemasaran Menurut Shimp (2003: 3), tujuan komunikasi pemasaran diarahkan pada beberapa tujuan seperti di bawah ini : a. Membangkitkan keingian akan satu kategori produk. b. Menciptakan kesadaran akan merek (brand awareness) c. Mendorong sikap positif terhadap produk dan mempengaruhi niat membeli (membaca). d. Memfasilitasi pembelian ataupun penggunaan produk. 2.3 Periklanan 2.3.1 Pengertian Periklanan Iklan merupakan sarana komunikasi terhadap produk yang disampaikan melalui berbagai media dengan biaya pemrakarsa agar masyarakat tertarik untuk menyetujui dan mengikuti (Pujianto, 2001: 3) Iklan menurut Kotler (2007: 363) adalah seluruh bayaran presentasi non-personal dan promosi dari ide suatu barang atau jasa yang berasal dari sposor yang teridentifikasi. Penulispun menarik kesimpulan bahwa periklanan adalah salah satu bentuk khusus dari komunikasi untuk memenuhi fungsi pemasaran, apa yang dilakukan dalam kegiatan periklanan tentu lebih dari sekedar memberikan informasi pada khalayak. Periklanan harus mampu membujuk khalayak untuk dapat berperilaku sesuai yang diinginkan dari proses pemasaran itu sendiri. 23 Suatu iklan dapat dikatakan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh audience-nya sehingga dapat memberikan respon yang diharapkan. Agar suatu iklan tersebut dapat sampai dengan efektif, tentu harus dikemas semenarik dan sekreatif mungkin. Prinsip utama dalam sebuah iklan yaitu harus bertahan dan menonjol dari iklan lainnya. Untuk merealisasikan prinsip tersebut para pemilik produk menggunakan strategi kreatif untuk mengemas produknya agar menarik dan jelas ketika dikklankan. (Shimp, 2003: 10) menjelaskan ada tujuh aspek kreatif di dalam strategi kreatif itu sendiri, yakni : 1. Fear Appeals (Ancaman, ketakutan); memotivasi konsumen untuk mengambil tindakan. 2. Humor ; metode yang efektif untuk menarik perhatian konsumen pada iklan, dan efektif digunakan untuk produk baru. 3. Comparative Ads ; iklan yang secara langsung maupun tidak langsung melakukan perbandingan produk dengan produk kompetitor. 4. Subliminal Messages ; mengacu pada proses mental dari seseorang yang berada pada posisi ketidaksadaran (unwareness) pada produk. 5. Sex Appeals ; bertindak sebagai penarik perhatian yang dapat mempertahankan perhatian dalam jangka waktu yang lama dan biasanya memperlihatkan keindahan dari sang model. 6. Endorser ; penggunaan orang pupuler atau tokoh yang ahli di bidang tertentu untuk menguatkan tingat kepercayaan dari produk yang diiklankan. 24 7. Music ; merupakan komponen terpenting dalam sebuah iklan, sehingga dapat menimbulkan perasaan senang/gembira dan mempengaruhi mood audience. 2.4 Endorser 2.4.1 Pengertian Endorser Menurut Terence A. Shimp (2002: 455) endorser adalah pendukung iklan atau juga yang dikenal sebagai bintang iklan yang mendukung produk yang di iklankan. Endorser merupakan bintang atau penguat atau seseorang yang memiliki kelebihan dibandingkan orang lain, seperti selebritis, model, atlet bahkan mungkin politikus, yang dapat di tampilkan dalam sebuah iklan. (Wells, 2007: 24) Para pemasar dan biro – biro periklananpun bersedia membayar harga yang tinggi kepada kaum selebriti tersebut yang sekiranya disukai dan dihormati oleh khalayak agar menjadi sasaran yang diharapkan untuk mempengaruhi sikap dan prilaku konsumen yang baik terhadap produk yang didukung. Karenanya, tak heran bila endorser dari kalangan selebriti seringkali digunakan pemasar sebagai sumber pesan dalam menyampaikan informasi produk mereka pada khalayak. Keberadaan endorser sebagai sumber pesan dalam iklan, seringkali diperlukan untuk memperkuat pesan yang disampaikan. Pemasar dengan bangga menggunakan kaum selebriti di dalam periklanan atau sejumlah kegiatan promosi mereka karena atribut populer yang mereka (selebriti) miliki seperti keahlian, keberanian, bakat, jiwa olahraga, keanggunan, kekuasaan dan daya tarik seksual seringkali merupakan pemikat yang diinginkan untuk merek – merek yang mereka dukung. 25 2.4.2 Karakteristik Endorser Dalam memilih endorser, pemasar produk perlu memperhatikan karakteristik yang dapat mempengaruhi keberhasilan endorsement yang dilakukan oleh perusahaan. Adapun Model Viscap yang dikembangkan Ohanian (Royan, 2004: 132) ada tiga karakteristik yang dibutuhkan oleh endorser. Ketiga karakteristik itu adalah daya tarik (attractiveness), dapat dipercaya (trustworthiness), dan keahlian (expertise). 1. Attractiveness (Daya Tarik), bukan hanya berarti daya tarik fisik, tetapi meliputi sejumlah karakteristik yang dapat dilihat khalayak dalam diri pendukung: kecerdasan, sifat-sifat kepribadian, gaya hidup, keatletisan tubuh, dan sebagainya 2. Trustworthiness (Kepercayaan), dimana tingkat kepercayaan, ketergantungan, seperti seseorang yang dapat dipercaya. 3. Expertise (Keahlian), keahlian yang mengacu pada pengetahuan, pengalaman, atau keterampilan yang dimiliki seseorang pendukung yang berhubungan dengan topik yang diwakilinya. 2.4.3 Fungsi dan Manfaat Penggunaan Selebriti ( Endorser ) Kelompok selebriti yang digunakan sebagai bintang iklan adalah para artis film, sinetron, penyanyi, musisi, pelawak dan semua orang – orang terkenal yang bergerak dan memiliki keahlian khusus di bidangnya masing – masing. Endorser disini yang merupakan orang – orang terkenal yang digunakan untuk mempromosikan produk mereka, dapat berfungsi untuk : a. memberikan kesaksian (testimonial) b. memberikan dorongan dan penguatan (endorsement) c. bertindak sebagai aktor dalam topik (iklan) yang diwakilinya. 26 d. bertindak sebagai juru biacara perusahaan. Selebriti tersebut akan memberikan manfaat kepada perusahaan dan juga produk yang diperankannya karena selebriti tersebut memiliki popularitas, bakat, kharisma dan juga kredibilitas. Dari keempat unsur itu, kredibilitas merupakan hal terpenting bagi konsumen (pembaca). Sumarwanpun menegaskan dalam buku Perilaku Konsumen (2003: 258), bahwa kredibilitas selebriti itulah yang akan menggambarkan persepsi konsumen (pembaca) terhadap keahlian dan pengetahuan selebriti mengenai produk yang diiklankan dan juga kepercayaan dari selebriti itu sendiri (kejujuran mengenai produk yang diiklankan). 2.5 Brand Image 2.5.1 Pengertian Brand Image Dalam Aura Merek (Simamora, 2003: 96) Aaker menyatakan bahwa ”citra merek adalah seperangkat asosiasi unik yang ingin diciptakan atau dipelihara para pemasar.” Asosiasi – asosiasi itu menyatakan apa sesungguhnya merek dan apa yang dijanjikan kepada konsumen. Banyak pakar lain yang mendefinisikan brand image berdasarkan sudut pandangnya masing – masing (Sitinjak dan Tumpal, 2005: 172), diantaranya menurut Keller, brand image adalah sebagai persepsi atau kesan tentang suatu merek yang direfleksikan oleh sekumpulan asosiasi yang menghubungkan pelanggan dengan merek dalam ingatannya. Aaker dan Joachimsthaler menjelaskan brand image adalah identitas (personality, symbol, proposi nilai, brand essence dan posisi merek) sedangkan brand image menurut Davis memiliki dua komponen yaitu asosiasi merek (brand association) 27 dan pesona merek (brand pesona). Asosiasi merek membantu memahami manfaat merek yang diterima konsumen dan pesona merek adalah deskripsi dari merek dalam konteks karakteristik manusia. Hal ini membantu memahami kekuatan dan kelemahan merek. Kotler dan Fox mendefinisikan citra sebagai jumlah dari gambaran – gambaran, kesan – kesan, dan keyakinan – keyakinan yang dimiliki seseorang terhadap suatu objek. Citra terhadap merek berhubungan dengan sikap yang berupa keyakinan dan persepsi terhadap suatu merek. (Sutisna, 2003: 83) Dari berbagai pandangan tersebut, penulis mengambil kesimpulan bahwa brand image adalah sekumpulan asosiasi merek yang terbentuk di benak konsumen. Brand Image pada dasarnya memang terjadi di dalam alam pikiran masing – masing individu, namun dalam kasus ini dari adanya sosok Pak Bondan pada setiap kegiatan promosi dan juga iklan DetikFood diharapakan mampu meningkatkan brand image yang positif dimata pembacanya. Adapun empat dimensi yang membentuk brand image menurut Cheratony dan McDonald yang dijelaskan dalam buku Strategic Brand Management : Building, Measuring, and Managing Brand Equity (p.730) yang juga disunting oleh Dwi Andika Oscaria dalam jurnalnya yaitu core product, actual product, augmented product dan image product. Core product adalah produk itu sendiri. Actual product merupakan dimensi product yang nyata yang merupakan nilai produk yang sesungguhnya. Dimensi ini terdiri dari fungsi, desain, karakteristik nyata (feature), kualitas kemajuan (effiency), harga (price), dan kemasan (packaging). Fungsi dan kualitas kemajuan merupakan manfaat produk yang sesungguhnya sedangkan desain karakteristik yang nyata dan kemasan merupakan aspek estetika produk. 28 Dimensi augmented product adalah dimensi produk yang tidak nyata (intangible) yang diharapkan diterima oleh konsumen yang menjadi nilai tambahan produk. Dan dimensi terakhir adalah image product, merupakan dimensi produk yang tidak nyata (intangible) yang merupakan keseluruhan makna suatu penilaian terhadap produk. Dimensi ini terdiri dari persepsi atas kualitas, persepsi nilai, pengaruh pengguna lain, reputasi, citra perusahaan, nama merek, dan organisasi. Kualitas pada dimensi image product yaitu kualitas yang dipersepsikan oleh konsumen dalam hal ini pembaca. Nilai yaitu ketika konsumen merasakan, mendapatkan manfaat atas pengorbanan yang dilakukan atas suatu produk, reputasi merupakan kinerja merek menurut penilaian konsumen, sedangkan citra perusahaan merupakan suatu penilaian konsumen akan merek dengan melihat kinerja perusahaan merek tersebut. 2.5.2 Manfaat Brand Image Menurut Sutisna (2003: 83) ada beberapa manfaat dari brand image yang positif, antara lain : 1. Konsumen dengan citra yang positif terhadap suatu merek, lebih memungkinkan untuk melakukan pembelian. 2. Perusahaan dapat mengembangkan lini produk dengan memanfaatkan citra positif yang telah terbentuk terhadap merek produk lama. 29 2.6 Kerangka Teori Gambar 2.6 John E Kennedy (2009: 4) mendefinisikan bahwa ”komunikasi pemasaran adalah aplikasi komunikasi yang bertujuan untuk membantu kegiatan pemasaran sebuah perusahaan.” Detikcom adalah portal media online yang memiliki berbagai produk dan salah satu produknya adalah Detik Food Marekting Mix : 1. product (produk) 2. place (penempatan) 3. price (harga) 4. promotion (promosi) Periklanan, (Shimp, 2003: 10) menjelaskan ada tujuh aspek kreatif di dalam strategi kreatif periklanan ; 1.Fear Appeals (Ancaman, ketakutan) 2. Humor 3. Comparative Ads 4. Subliminal Messages 5. Sex Appeals 6. Endorser 7. Music Model Viscap yang dikembangkan Ohanian (Royan, 2004: 132) Endorser Detik Food ; Bondan Winarno dengan karakteristik 1. Attractiveness (Daya Tarik), 2. Trustworthiness (Kepercayaan), 3. Expertise (Keahlian), Tidak Berhasil Melakukan kembali proses pemilihan endorser dan evaluasi terhadap endorser sebelumnya Promotion Mix : 1. advertising (periklanan) 2. sales promotion (promosi penjualan) 3. public relation dan publicity (hubungan masyarakat dan publisitas) 4. personal selling (penjualan personal) 5. direct marketing (pemasaran langsung). Brand Image Detik Food Berhasil Detik Food mendapatkan manfaat berupa : 1. Pembentukan brand image yang positif terhadap suatu merek, lebih memungkinkan konsumen (pembaca) untuk melakukan tindakan seperti memilih produk tersebut (memilih DetikFood sebagai referensi acuan kulinernya). 2. Perusahaan dapat mengembangkan lini produk dengan memanfaatkan citra positif yang telah terbentuk terhadap merek produk lama. 30 2.7 Kerangka Berpikir Kerangka berpikir disusun berdasarkan tinjauan pustaka dan hasil penelitian yang relevan. Kerangka ini berguna untuk menggambarkan hubungan yang berbeda – beda dari variabel penelitian yang akan diteliti, juga mendukung dan menjelaskan latar belakang dari penelitian yang akan digambarkan seperti berikut : Gambar 2.7 Endorser (X) Brand Image (Y) Trustworthiness ( Kepercayaan ) Attractiveness ( Daya Tarik) Brand Image DetikFood Expertise ( Keahlian ) Tiga aspek yang terdapat dalam endorser yakni trustworthiness, attractivenes, dan expertise merupakan kesatuan dan berlaku sebagai variabel bebas dan brand image DetikFood sebagai variabel terikat. Aspek kepercayaan yang dimiliki endorser sangat berperan untuk meningkatkan kredibilitas produk di mata konsumen (pembaca), jika endorser yang dipakai suatu produk memiliki reputasi yang baik maka produk yang dibintangipun akan memiliki 31 reputasi yang baik pula. Attractiveness atau daya tarik adalah juga salah satu aspek dalam endorser yang dapat mempengaruhi minat konsumen untuk memilih atau menggunakan sesuatu produk. Jika sosok endorser memiliki daya tarik fisik dan penampilan yang baik maka akan menarik minat dari konsumennya. Dan aspek expertise atau keahlian juga mempengaruhi minat konsumen, dimana jika endorser suatu produk memiliki keahlian khusus di bidang yang sesuai dengan produk itu maka akan meningkatkan minat konsumen terdahap produk. Hal ini memperlihatkan adanya keterikatan antara komponen endorser tersebut dengan image produk.