PENDAHULUAN Latar Belakang Kekayaan flora dunia mencapai kurang lebih 300 000 jenis tumbuhan (Tjitrosoepomo, 2000). Dari sekian banyak jenis tumbuhan, ada yang digunakan sebagai tanaman hias, obat, peneduh, dan masih banyak lagi penggunaan lainnya. Di Indonesia, perkembangan tanaman hias sangat menjanjikan. Salah satu tanaman yang banyak diminati baik oleh konsumen dalam negeri maupun mancanegara yaitu keladi hias (Caladium hortulanum Birdsey). Keladi termasuk dalam famili Araceae (Tjitrosoepomo, 2000). Famili ini mencakup berbagai macam tumbuhan monokotil. Ciri khas dari famili ini yaitu bunganya yang berbentuk tongkol (spadix) dan dilindungi oleh seludang (spathe). Beberapa genus dari famili Araceae merupakan tanaman yang banyak dikonsumsi oleh manusia. Genus tersebut meliputi Alocasia, Amorphophallus (Suweg), dan Colocasia (Talas). Bagian yang sering dikonsumsi yaitu umbinya. Selain itu, beberapa genus juga telah digunakan sebagai tanaman hias, diantaranya Dieffenbachia, Aglaonema, dan Anthurium. Salah satu anggota dari famili Araceae, Amorphophallus titanum Becc. (Bunga Bangkai Raksasa), memegang rekor sebagai bunga majemuk tunggal terbesar di dunia1. Genus Caladium meliputi 7 spesies, yang berasal dari daerah tropis di Amerika Selatan. Keladi-keladi tersebut tumbuh di area terbuka hutan. Walaupun keladi adalah tanaman tropis, bila keladi tumbuh pada musim panas yang kering, keladi akan menggugurkan daunnya dan diikuti dengan masuknya umbi menuju periode istirahat. Pada daerah sub-tropis, keladi tidak tumbuh sepanjang tahun. Akan tetapi, penanaman pada musim dingin dimungkinkan dengan cara ditanam di dalam ruangan yang hangat (Konemann, 2004). Deng and Harbaugh (2006) menyatakan bahwa keladi dibudidayakan sebagai tanaman hias karena warna dan corak pada daun yang sangat beragam serta ukuran daunnya yang cukup lebar. Warna daun bervariasi mulai dari putih, merah muda, merah, sampai hijau. Tanaman ini dapat tumbuh sampai mencapai 1 http://id.wikipedia.org/wiki/Araceae 2 ketinggian antara 30-60 cm dan telah dibudidayakan di Eropa sejak akhir tahun 1700-an2. Fancy-leaf dan lance-leaf adalah dua tipe utama keladi yang banyak dibudidayakan secara komersial3. Kultivar fancy-leaf memiliki daun besar yang berbentuk seperti hati, tumbuh dengan baik pada kondisi sedikit ternaungi, dan dapat tumbuh mencapai ketinggian 30-76 cm, tergantung pada jenis varietas dan lingkungan tumbuhnya. Sedangkan kultivar lance-leaf memiliki bentuk daun yang lebih memanjang seperti panah, dan sangat cocok untuk dijadikan sebagai tanaman pot dengan ukuran daun yang lebih kecil. Perbanyakan keladi dapat dilakukan melalui biji, kultur jaringan, dan umbi4. Perbanyakan melalui biji hanya dilakukan untuk kegiatan pemuliaan karena membutuhkan waktu yang lama. Sementara perbanyakan melalui kultur jaringan mahal sehingga jarang dilakukan. Hampir semua perbanyakan keladi dilakukan melalui umbi. Hartmann et al. (1990) menyatakan perbanyakan keladi melalui umbi dilakukan dengan cara memotong umbi menjadi beberapa bagian, dimana setiap bagian memiliki 1 mata tunas. Umbi selanjutnya ditanam sehingga menghasilkan tanaman baru. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Tjia (2006). Dirjen Tanaman Hias (2005) mencatat bahwa impor yang meliputi umbi batang, umbi akar, dan rhizome pada tahun 2005 adalah sebesar 8.5 ton, sedangkan jumlah ekspornya hanya 1.7 ton. Ini berarti terdapat defisit sebesar 6.8 ton. Sementara itu, sentra produksi umbi keladi untuk tujuan komersial selama ini dilakukan di daerah sub-tropis di Florida. Keladi yang di tanam di Bogota yang beriklim tropis, dimana panjang hari antara siang dan malam hampir sama, tumbuh subur namun umbi yang terbentuk berukuran kecil5. Sementara itu, keladi yang ditanam di Florida yang beriklim sub-tropis dimana terdapat perbedaan panjang hari antara siang dan malam, umbi yang terbentuk berukuran besar. Di Indonesia, penanaman dimungkinkan untuk dilakukan sepanjang tahun, namun panjang hari antara siang dan malam hampir sama. Produksi di Indonesia yang dapat dilakukan sepanjang tahun akan sangat 2 http://en.wikipedia.org/wiki/Caladium http://hgic.clemson.edu/factsheets/HGTC1160.htm 4 http://www.aces.edu/pubs/docs 5 Tjia (2009) 3 3 menguntungkan karena dapat memenuhi kebutuhan pada musim dingin di belahan bumi bagian utara dan selatan dimana harga yang jual akan menjadi lebih tinggi. Untuk itu, sangat perlu untuk dilakukan penelitian mengenai pengaruh panjang hari terhadap pembentukan umbi pada keladi hias agar produksi umbi keladi yang berkualitas untuk memenuhi kebutuhan pasar yang defisit dapat dilakukan di Indonesia dan menjadi peluang untuk ekspor. 4 Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh panjang hari terhadap pembentukan dan produksi umbi pada keladi hias (Caladium hortulanum Birdsey). Hipotesis Hipotesis penelitian ini adalah (1) Terdapat pengaruh panjang hari yang bertindak sebagai rangsangan dalam proses pembentukan umbi keladi hias, (2) Diperlukan panjang hari selama periode tertentu yang berkaitan aktif dengan pembentukan umbi, (3) Terdapat waktu panen yang menghasilkan pertumbuhan umbi keladi dengan bobot terbaik.