BAB II LANDASAN TEORI 2.1 2.1.1 Loyalitas Konsumen Pengertian Loyalitas Perilaku setelah pembelian suatu produk ditentukan oleh kepuasan atau ketidakpuasan akan suatu produk sebagai akhir dari proses penjualan. Konsep loyalitas pelanggan lebih banyak dikaitkan dengan perilaku (behavior) daripada sikap. Salah satu sikap positif konsumen dapat ditunjukkan melalui setia kepada produk perusahaan dan merekomendasikan produk tersebut kepada konsumen lain, sedangkan sikap negatif ditunjukkan melalui perkataan negative (word of mouth) kepada konsumen lain dan berpindah kepada perusahaan lain. Kesetiaan merupakan sesuatu yang timbul tanpa adanya paksaan tetapi timbul dengan sendirinya. Adapun definisi loyalitas adalah pembentukan sikap dan pola perilaku seorang konsumen terhadap pembelian dan penggunaan produk hasil dari pengalaman mereka sebelumnya (Griffin, 2005). Customer loyalty is deefly held commitment to rebuy or repatnorize a preferred product or service consistenly in future, despite situasional influences and marketing effort having the potential to cause switching behavior (Oliver yang dikutip Hurriyati, 2005). Dari definisi tersebut dapat didefinisikan loyalitas adalah komitmen pelanggan bertahan secara mendalam untuk berlangganan kembali atau melakukan pembelian ulang produk atau jasa terpilih sebagai sikap konsisten dimasa yang akan datang, meskipun pengaruh situasi dan usaha-usaha pemasaran mempunyai potensi untuk menyebabkan perubahan perilaku. Konsumen yang dapat dikategorikan sebagai konsumen yang setia adalah konsumen yang puas dengan produk tertentu sehingga mereka mempunyai antusiasme untuk memperkenalkannya pada siapapun yang mereka kenal. Selanjutnya konsumen yang loyal juga akan menunjukkan kesetiaan mereka dengan membeli produk-produk lainnya dari perusahaan yang sama. Dari pengertian diatas kita dapat menyimpulkan bahwa loyalitas terbentuk dari dua komponen, loyalitas sebagai perilaku yaitu pembelian ulang yang 8 konsisten dan loyalitas sebagai sikap yaitu sikap positif terhadap suatu produk atau produsen (penyedia jasa) ditambah dengan pola pembelian yang konsisten. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa loyalitas konsumen terhadap suatu produk berhubungan dengan sikap positif yang dimiliki konsumen tersebut terhadap produk dengan melakukan pembelian ulang secara konsisten. 2.1.2 Karakteristik Loyalitas Konsumen Loyalitas pelanggan merupakan ukuran yang dapat diandalkan untuk memprediksi pertumbuhan penjualan dan juga loyalitas pelanggan dapat didefinisikan berdasarkan perilaku pembelian yang konsisten (Griffin, 2005). Berikut adalah karakteristik dari loyalitas konsumen: 1. Melakukan pembelian berulang secara teratur Konsumen melakukan pembelian secara continue pada suatu produk tertentu. Contoh: pencinta motor Harley Davidson akan membeli motor Harley baru jika ada model Harley Davidson yang terbaru, bahkan tidak hanya membeli tetapi mereka juga mengeluarkan uang tambahan untuk mengubahnya sesuai dengan keinginan mereka. 2. Membeli antar lini produk atau jasa (purchase across product and service lines) Konsumen tidak hanya membeli jasa dan produk utama tetapi konsumen juga membeli lini produk dan jasa dari perusahaan yang sama. Contoh: konsumen tidak hanya membeli motor Harley Davidson saja, tetapi mereka juga membeli aksesoris dari Harley Davidson untuk mempercantik motor mereka. 3. Mereferensikan kepada orang lain (Refers other) Dimana konsumen melakukan komunikasi dari mulut ke mulut (word of mouth) berkenaan dengan produk tersebut. Contoh: seorang konsumen Harley Davidson yang sudah lama memakai motor tersebut, menceritakan tentang kehebatan dan keunggulan dari motor tersebut, kemudian setelah itu temannya tertarik untuk membeli motor Harley Davidson karena mendengar cerita tersebut 9 4. Menunjukkan kekebalan terhadap tarikan dari pesaing (demonstrates an immunity to the full of the competition) Konsumen menolak untuk menggunakan produk atau jasa alternatif yang ditawarkan oleh pesaing. Contoh: para pencinta motor Harley Davidson menolak untuk menggunakan motor lain, bahkan mereka juga cenderung menolak untuk mengetahui ada jenis-jenis motor lainnya. Pelanggan yang loyal merupakan aset bagi perusahaan, hal ini dapat dilihat berdasarkan karakteristik yang dimiliknya. Oleh karena itu, loyalitas konsumen merupakan suatu ukuran yang bisa diandalkan untuk memprediksi pertumbuhan dimasa yang akan datang bagi suatu perusahaan. 2.1.3 Jenis-Jenis Loyalitas konsumen Menurut Griffin (2005), ada empat jenis loyalitas konsumen yaitu: 1. Tanpa Loyalitas (no loyalty) Untuk berbagai alasan, beberapa konsumen yang tidak mengembangkan loyalitas terhadap produk atau jasa tertentu. Artinya, konsumen tidak akan pernah menjadi konsumen yang loyal, mereka hanya berkontribusi sedikit terhadap suatu perusahaan. Secara umum perusahaan harus menghindari suatu kelompok yang masuk kategori tanpa loyalitas untuk dijadikan target pasar karena mereka tidak akan pernah menjadi konsumen yang loyal. 2. Loyalitas yang Lemah (inertia loyalty) Keterkaitan yang lemah digabung dengan pembelian ulang tinggi akan menghasilkan loyalitas yang lemah. Konsumen yang memiliki sikap ini biasanya membeli berdasarkan kebiasaan. Dasar yang digunakan untuk pembelian produk biasanya karena sudah terbiasa atau karena selalu menggunakan produk tersebut. Kesetiaan semacam ini biasanya banyak terjadi pada produk yang sering dipakai, tetapi tidak menutup kemungkinan konsumen yang memiliki loyalitas yang lemah berubah dengan cara mendekatkan diri kepada konsumen tersebut melalui 10 produk yang lebih dibandingkan pesaing, misalnya dengan meningkatkan kualitas produk tersebut dan dengan penambahan fasilitas lainnya. 3. Loyalitas Tersembunyi (latent loyalty) Tingkat preferensi yang relatif tinggi yang digabung dengan tingkat pembelian berulang yang rendah menunjukkan loyalitas yang tersembunyi. Pengaruh situasi dan sikap yang menetukan pembelian ulang. Perusahaan dapat mengatasi loyalitas tersembunyi ini dengan cara memahami faktor situasi yang berkontribusi pada loyalitas tersembunyi itu. 4. Loyalitas Premium (premium loyalty) Loyalitas premium merupakan jenis loyalitas yang terjadi bilamana suatu tingkat ketertarikan yang tinggi berjalan selaras dengan aktifitas pembelian kembali. Loyalitas seperti inilah yang sangat diharapkan oleh perusahaan. Pada tingkat preferensi yang tinggi, maka konsumen akan bangga menemukan dan menggunakan produk tersebut dan dengan senang hati membagi pengetahuan dari pengalaman mereka kepada teman, keluarga, atau konsumen lainnya. 2.1.4 Tahapan Loyalitas Konsumen Proses seorang konsumen atau calon konsumen untuk menjadi konsumen yang loyal terbentuk melalui beberapa tahapan. Setiap tahap memiliki kebutuhan khusus, dengan mengenali setiap kebutuhan tersebut, perusahaan mempunyai peluang yang besar untuk mengubah konsumen atau calon konsumen menjadi konsumen yang loyal. Menurut Griffin (2005) ada tujuh tahap pertumbuhan seseorang menjadi konsumen yang loyal, yaitu: 1. Tersangka (suspect) Orang yang mungkin akan membeli produk atau jasa perusahaan. Kita menyebutnya tersangka karena kita percaya atau menyangka mereka akan membeli, tetapi kita masih belum cukup yakin. 11 2. Prospek (prospect) Merupakan orang yang membutuhkan produk atau jasa tertentu dan memiliki kemampuan untuk membelinya. Meskipun prospect belum melakukan pembelian dari perusahaan, tetapi mereka telah mendengar tentang keberadaan perusahaan, membaca tentang perusahaan atau ada yang merekomendasikan perusahaan kepadanya. Prospect mungkin mengetahui siapa kita, dimana kita dan apa yang kita jual, tetapi mereka belum membeli dari perusahaan. 3. Konsumen yang didiskualifikasi (disqualified prospect) Merupakan prospek yang sudah cukup perusahaan pelajari untuk mengetahui bahwa mereka tidak membutuhkan, atau tidak memiliki kemampuan membeli produk perusahaan. 4. Konsumen yang pertama kali (first time customer) Merupakan orang yang telah membeli dari perusahaan satu kali. Orang tersebut bisa jadi merupakan konsumen perusahaan sekaligus konsumen pesaing perusahaan. 5. Konsumen yang melakukan pembelian berulang (repeat customer) Konsumen berulang adalah orang-orang yang telah membeli dari perusahaan dua kali atau lebih. Mereka mungkin telah membeli produk yang sama dua kali atau membeli dua produk atau jasa yang berbeda pada dua kesempatan sama atau lebih. 6. Mitra (client) Seorang client membeli semua yang perusahaan jual dan dapat digunakan. Client membeli secara tertaur. Perusahaan memiliki hubungan yang kuat dan berlanjut, dan menjadikannya kebal terhadap pesaing. 7. Penganjur (advocates) Sama seperti client, penganjur membeli apapun yang perusahaan jual yang mungkin bisa ia gunakan dan membelinya secara tertaur. Tetapi seorang penganjur akan berusaha mencari orang lain untuk membeli dari perusahaan. Seorang penganjur membicarakan perusahaan, 12 melakukan pemasaran untuk perusahaan dan membawa pelanggan kepada perusahaan. 2.1.5 Merancang dan Menciptakan Loyalitas Loyalitas konsumen tidak bisa tercipta begitu saja, tetapi harus dirancang oleh perusahaan. Menurut Smith yang dikutip Hurriyati (2005), ada beberapa tahapan perancangan loyalitas konsumen, yaitu: 1. Define Customer Value a. Identifikasi segmen pelanggan. b. Definisikan nilai pelanggan sasaran dan tentukan nilai pelanggan mana yang menjadi pendorong keputusan pembelian dan penciptaan loyalitas. c. Ciptakan diferensiasi brand image. 2. Design The Branded Customer Experience a. Mengembangkan pemahaman customer experience. b. Merancang perilaku karyawan untuk merealisasikan brand promise. c. Merancang perubahan strategi secara keseluruhan untuk merealisasikan pengalaman yang baru. 3. Equip People and Deliver Consistenly a. Mempersiapkan pemimpin untuk menjalankan dan memberikan pengalaman kepada pelanggan. b. Melengkapi pengetahuan dan keahlian karyawan untuk mengembangkan dan memberikan pengalaman kepada pelanggan dalam setiap interaksi yang dilakukan pelanggan terhadap perusahaan. c. Memperkuat kinerja perusahaan melalui pengukuran dan tindakan kepemimpinan. 4. Sustain and People Deliver Performance a. Gunakan respon timbal balik pelanggan dan karyawan untuk memelihara pelanggan secara berkesinambungan dan mempertahankan pengalaman pelanggan. 13 b. Membentuk kerja sama antara sistem HRD (human resource development) dengan proses bisnis yang terlibat langsung dalam memberikan dan menciptakan pengalaman pelanggan. c. Secara terus menerus mengembangkan dan mengkomunikasikan hasil untuk menanamkan branded Customer Experience yang telah dijalankan perusahaan. 2.1.6 Keuntungan-Keuntungan Konsumen yang Loyal Griffin (2005) mengemukakan keuntungan-keuntungan yang akan diperoleh perusahaan apabila memiliki konsumen yang loyal: 1. Penjualan meningkat karena pelanggan membeli lebih banyak dari perusahaan. 2. Perusahaan memperkuat posisi dipasar bila para pelanggan membeli dari perusahaan bukan dari pesaing perusahaan. 3. Biaya perusahaan menurun karena perusahaan tidak perlu mengeluarkan uang untuk memikat pelanggan secara berulang. Selain itu, konsumen yang merasa puas akan bercerita ke konsumen lain, dengan demikian bisa mengurangi kebutuhan perusahaan untuk memasang iklan atau melakukan promosi. 4. Perusahaan lebih terlindungi dari persaingan harga karena pelanggan yang loyal kecil kemungkinan terpikat diskon. 5. Pelanggan yang puas cenderung mencoba lini produk perusahaan yang lain, dengan demikian membantu perusahaan mendapatkan pangsa pelanggan yang lebih besar. Sedangkan menurut Solihin (2004), ada beberapa keuntungan yang akan diperoleh perusahaan bila memiliki konsumen yang loyal, yaitu: 1. Sales Growth Pertumbuhan penjualan yang berlangsung dalam jangka panjang tidak dapat dicapai oleh perusahaan tanpa adanya loyalitas konsumen terhadap produk atau jasa yang dihasilkan perusahaan. menaikkan pangsa pasar dan menurunkan biaya untuk mendapatkan konsumen- 14 konsumen yang loyal terhadap perusahaan dan menginformasikan kepada calon-calon konsumen baru perusahaan. Dengan demikian, akan mengurangi biaya untuk mendapatkan konsumen (promosi), bahkan akan menambah laba perusahaan, artinya konsumen-konsumen yang loyal terhadap perusahaan akan cenderung memesan lebih banyak terhadap produk perusahaan. 2. Profitability Sejalan dengan meningkatnya penjualan, perusahaan memiliki peluang besar untuk memperoleh laba apabila produk perusahaan memiliki pertumbuhan penjualan yang baik. 3. Referral Konsumen yang loyal dan terpuaskan kebutuhannya dengan produk atau jasa yang dihasilkan perusahaan akan memberikan saran penggunaan produk dan jasa kepada orang lain. 2.2 2.2.1 Produk Pengertian Produk Produk merupakan elemen kunci dari penawaran dipasar untuk dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Produk adalah sesuatu yang ditawarkan ke pasar untuk memuaskan keinginan atau kebutuhan (Kotler, 2007). Menurut Tjiptono (2008) Produk merupakan segala sesuatu yang dapat ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan atau keinginan pasar yang bersangkutan, produk yang ditawarkan bisa meliputi barang fisik (seperti sepeda motor, computer, TV), jasa (restoran, penginapan, transportasi). Jadi produk bisa berupa manfaat tangible maupun intangible. 2.2.2 Tingkatan Produk Menurut Saladin (2006), tingkatan produk yang bisa dilakukan oleh pemasar yaitu: 15 1. Manfaat Inti (core benefit) Yaitu manfaat inti yang sesungguhnya dibeli dan diperoleh konsumen.. Contoh: dalam bisnis perhotelan, manfaat utama yang dibeli para tamu adalah istirahat dan tidur. 2. Produk Dasar (basic product) Artinya pada inti produk tersebut terdapat manfaat bentuk dasar atau mampu memenuhi fungsi dasar produk kebutuhan konsumen. Contoh: hotel merupakan suatu bangunan yang memiliki banyak ruangan untuk disewakan yang salah satu fungsinya untuk tempat istirahat. 3. Produk yang Diharapkan (expected product) Yaitu produk formal yang ditawarkan dengan berbagai atribut produk atau jasa dan kondisinya secara normal (layak) diharapkan dan disepakati untuk dibeli. Contoh: tamu hotel mengharapkan tempat tidur dan kamar hotel yang bersih. 4. Produk yang Ditingkatkan (augmented product) Yaitu berbagai atribut produk yang dilengkapi atau ditambahi berbagai manfaat dan layanan, sehingga dapat memberikan tambahan kepuasan dan bisa dibedakan dengan produk pesaing. Contoh: hotel bisa menambahkan fasilitas TV kabel, check-in yang cepat, dan pelayanan kamar yang baik. 5. Produk Potensial (Potential Product) Yaitu bagaimana harapan masa depan produk tersebut apabila terjadi perubahan dan perkembangan teknologi serta selera konsumen. Kebutuhan konsumen adalah masa depan produk. Misalnya sebuah hotel perlu melakukan inovasi dengan menggunakan peralatan canggih yang dikombinasikan dengan peralatan yang sifatnya tradisional. 16 Level Produk Kebutuhan Konsumen Produk Utama Manfaat Produk Generik Fungsional Produk Harapan Kelayakan Produk Pelengkap Kepuasan Produk Potensial Masa Depan Gambar 2.1. Tingkat Tingkatan (Level) Produk Sumber: Tjiptono (2008) 2.2.3 Hierarki Produk Masing-masing produk berkaitan dengan produk tertentu lainnya. Hierarki produk ini membentang mulai dari kebutuhan-kebutuhan dasar hingga kebutuhankebutuhan khusus yang memuaskan kebutuhan khusus pula. Kotler (2007) mengidentifikasi tujuh level hierarki produk, yaitu: 1. Rumpun Kebutuhan (need family) Kebutuhan inti yang mendasari keberadaan suatu kelompok produk. Contoh: keamanan. 2. Rumpun Produk (product family) Semua kelas produk yang dapat memenuhi semua kebutuhan inti dengan efektivitas yang memadai. Contoh: tabungan dan penghasilan. 3. Kelas Produk (product class) Sekelompok produk dalam rumpun produk yang diakui mempunyai kesamaan fungsional. Contoh: instrumen keuangan. 4. Lini Produk (product line) Sekelompok produk dalam suatu kelas produk yang berkaitan erat karena produk-produk tersebut melaksanakan fungsi yang serupa, dijual pada kelompok pelanggan yang sama, atau berada dalam rentang harga tertentu. Contoh: asuransi jiwa. 17 5. Jenis Produk (product type) Sekelompok dalam lini produk yang sama-sama memiliki sejumlah kemungkinan bentuk produk. Contoh: asuransi berjangka. 6. Merek (brand) Nama yang diasosiasikan dengan satu atau beberapa atribut produk dalam lini produk yang digunakan untuk mengidentifikasi sumber atau karkter produk tersebut. Contoh: Honda. 7. Unit Produk (item) Disebut juga unit pencatatan persediaan/stockkeeping unit, varian produk /product varian). Satu unit tersendiri dalam suatu merek atau lini produk yang dapat dibedakan menurut ukuran, harga, penampilan, atau atribut lain. Contoh: asuransi jiwa yang dapat diperpanjang. 2.2.4 Klasifikasi Produk Klasifikasi produk bisa dilakukan atas berbagai macam sudut pandang. Salah satunya berdasarkan wujud atau tidaknya. Menurut Tjiptono (2008), produk dapat diklasifikasikan kedalam dua kelompok utama, yaitu: a. Barang Barang merupakan produk yang berwujud fisik, sehingga bisa dilihat, diraba, disentuh, dirasa, dipegang, disimpan, dipindahkan, dan perlakuan fisik yang lainnya. Ditinjau dari aspek daya tahannya, terdapat dua macam barang yaitu: 1. Barang tidak tahan lama (non durable goods) Barang tidak tahan lama adalah barang berwujud yang biasanya habis dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali pemakaian. Dengan kata lain, umur ekonomisnya dalam kondisi pemakaian normal kurang dari 1 tahun. Contohnya adalah sabun, minuman dan makanan, kapur tulis, gula, dan garam. Oleh karena barang jenis ini dikonsumsi dengan cepat (dalam waktu singkat) dan frekuensi pembeliannya sering terjadi, maka strategi yang paling tepat adalah menyediakannya dibanyak lokasi, menerapkan mark- 18 up yang kecil, dan mengiklankannya secara gencar untuk merangsang orang agar mencobanya dan sekaligus untuk membentuk preferensi. 2. Barang tahan lama (durable goods) Barang tahan lama merupakan barang berwujud yang biasanya bisa bertahan lama dengan banyak pemakaian (umur ekonomisnya untuk pemakaian normal adalah 1 tahun atau lebih). Contohnya TV, lemari es, mobil, dan komputer. Umumnya jenis barang ini membutuhkan personal selling dan pelayanan yang lebih banyak daripada barang tidak tahan lama, memberikan keuntungan yang lebih besar, dan membutuhkan jaminan/garansi tertentu dari penjualnya. b. Jasa Jasa merupakan aktivitas, manfaat atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual. Contohnya bengkel reparasi, salon kecantikan, kursus, hotel, dan lembaga pendidikan. 2.2.5 Kualitas Produk Kita dapat mengatakan bahwa penjual telah menghasilkan suatu produk yang berkualitas apabila produk yang dihasilkannya tersebut dapat melebihi atau memenuhi harapan pelanggan. Menurut Kotler (2007), kualitas adalah keseluruhan fitur dan sifat produk atau jasa yang berpengaruh pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau yang tersirat. Sedangkan kualitas produk adalah kemampuan suatu produk untuk melakukan fungsi-fungsinya; kemampuan itu meliputi daya tahan, kehandalan, ketelitian yang dihasilkan, kemudahan dioperasikan dan diperbaiki, dan atribut lain yang berharga pada produk secara keseluruhan. Dari dua pengertian tersebut, dapat dismpulkan bahwa kualitas produk merupakan kemampuan produk dalam melaksanakan fungsinya. Termasuk didalamnya keandalan, sifat dan kegunaan suatu barang dan lain-lain. Walaupun beberapa atribut dapat diukur secara objektif, dari sudut pandang pemasaran, 19 kualitas juga harus diukur dari segi persepsi konsumen. Dalam mengembangkan produk, pemasar lebih dulu harus memilih tingkatan kualitas yang dapat mendukung posisi produk di pasar sasarannya. Selain semata-mata mengurangi kecacatan produk, tujuan akhiir kualitas produk adalah semata-mata untuk meningkatkan kepuasan dan nilai lebih bagi pelanggan, dengan begitu akan tercipta loyalitas konsumen. 2.2.6 Dimensi Kualitas Jika kualitas produk didefinisikan dalam konteks penampilan yang sangat baik atau sangat menarik, maka harga produk tersebut cenderung lebih mahal untuk diproduksi dan mungkin dijual dalam jumlah yang lebih sedikit karena harga yang lebih tinggi. Secara keseluruhan, dimensi-dimensi kualitas meliputi rentang konsep yang sangat luas. Ada delapan dimensi kualitas menurut Boyd, Walker, dan Larreche (2000), yaitu: 1. Kinerja (performance) Harus berwujud melalui karakteristik pengoperasian dasar suatu produk. 2. Tampilan (feature) Karakteristik pada produk kedua yang dirancang untuk memperkuat fungsi dasar produk, dan juga memberikan nilai tambah terhadap produk itu sendiri agar konsumen lebih tertarik untuk memilih produk tersebut. 3. Kehandalan (reliability) Kemungkinan bahwa suatu produk tampil memuaskan sepanjang waktu tertentu. 4. Konformansi (conformance) Cara bagaimana karakteristik operasi sebuah produk memenuhi spesifikasi tertentu. 5. Daya tahan (durability) Merupakan ukuran hidup sebuah produk, mencakup dimensi teknis (penggantian) dan dimensi ekonomi (biaya perbaikan). 20 6. Kemampuan melayani (serviceability) Berkaitan dengan kecepatan dan kemudahan memperoleh perbaikan yang mantap. 7. Estetika (esthetic) Berkaitan dengan bagaimana sebuah produk terlihat, terasa, terdengar, tercicipi, dan terbuat. Penilaiannya bersifat subjektif dan berhubungan pada bagaimana konsumen mengharapkan mutu. 8. Persepsi Mutu (perceived quality) Sering dihasilkan dari penggunaan ukuran tidak langsung ketika konsumen mungkin kurang atau tidak memiliki informasi tentang atribut produk. Jadi persepsi ini mungkin dihasilkan dari isyarat tertentu seperti harga, nama merek, iklan, dan reputasi. Beberapa dimensi melibatkan atribut produk yang terukur, yang lainnya mencerminkan selera indivifu. Beberapa merupakan tujuan dan tidak memerlukan waktu, yang lainnya bergeser mengikuti perubahan mode. Beberapa melekat dengan karakteristik barang sementara yang lainnya merupakan karakeristik yang diraih. 2.3 2.3.1 Atribut Produk Pengertian Atribut Produk Atribut produk menyatakan bahwa kepuasan seseorang terhadap barang atau jasa yang dibeli sebenarnya bukan terletak pada barang itu sendiri tetapi dari karakteristik atau atribut yang melekat pada barang yang bersangkutan. Dengan kata lain, bila seseorang membeli suatu barang, sebenarnya bukan membeli barangnya tetapi membeli atribut pada produk itu sendiri, atribut dari suatu barang bukan hanya satu, namun ada beberapa (Setiadi, 2008). Dalam penelitian ini, ada lima atribut produk yang digunakan yaitu tingkat kepulenan, daya tahan beras, bentuk/tekstur beras, bau, dan banyaknya pilihan beras. Loyalitas konsumen juga diukur dengan menggunakan lima indikator yaitu seringnya membeli produk beras Tri Jaya, akan merekomendasikan kepada orang lain, 21 menolak menggunakan produk lain yang sejenis, harga yang terjangkau, dan tidak akan tertarik kepada produk lain. Menurut Tjiptono (2008) atribut produk adalah unsur-unsur produk yang dipandang penting oleh konsumen dan dijadikan pasar pengambilan keputusan pembelian. 2.3.2 Jenis-Jenis Atribut Produk Berikut merupakan contoh-contoh dari atribut produk: 1. Merek Merek merupakan nama, istilah, tanda, simbol/lambang, desain, warna, gerak, atau kombinasi atribut-atribut produk lainnya yang diharapkan dapat memberikan identitas dan diferensiasi terhadap produk pesaing. Pada dasarnya suatu merek juga meerupakan janji penjual untuk secara konsisten menyampaikan serangkaian ciri-ciri, manfaat, dan jasa tertentu kepada para pembeli. Merek sendiri digunakan untuk beberapa tujuan, yaitu: • Sebagai identitas, yang bermanfaat dalam diferensiasi atau membedakan produk suatu perusahaan dengan produk pesaingnya. Ini akan memudahkan konsumen untuk mengenalinya saat berbelanja dan saat melakukan pembelian ulang. • Alat promosi, yaitu sebagai daya tarik produk. • Untuk membina citra, yaitu dengan memberikan keyakinan, jaminan kualitas, serta prestise tertentu kepada konsumen. • Untuk mengendalikan pasar. 2. Kemasan Pengemasan (packaging) merupakan proses yang berkaitan dengan perancangan dan pembuatan wadah (container) atau pembungkus (wapper) untuk suatu produk. Tujuan penggunaan kemasan antara lain meliputi: • Sebagai pelindung isi (protection), misalnya dari kerusakan, kehilangan, dan berkurangnya kadar/isi. 22 • Untuk memberikan kemudahan dalam penggunaan (operating), misalnya supaya tidak tumpah, sebagai alat pemegang, dan mudah menyemprotkannya (seperti obat nyamuk, parfum. • Bermanfaat dalam pemakaian ulang (reusable), misalnya untuk diisi kembali (refill) atau untuk wadah lain. • Memberikan daya tarik (promotion), yaitu aspek artistik, warna, bentuk, maupun desainnya. • Sebagai identitas (image) produk, misalnya berkesan kokoh/awet, lembut, mewah. • Distribusi (shipping), misalnya mudah dihitung, disusun, ditangani. • Sebagai cermin inovasi produk, berkaitan dengan kemajuan teknologi dan daur ulang. 3. Pemberian Label (labelling) Labeling berkaitan erat dengan pengamanan. Label merupakan bagian dari suatu produk yang menyampaikan informasi mengenai produk dan penjual. Sebuah label bisa merupakan bagian dari kemasan, atau bisa pula merupakan etiket (tanda pengenal) yang dicantelkan pada produk. Dengan demikian, ada hubungan erat antara labeling, packaging, dan branding. Secara garis besar terdapat tiga macam label, yaitu: • Brand label,yaitu nama merek yang diberikan pada produk atau dicantumkan pada kemasan. • Descriptive label, yaitu label yang memberikan informasi obyektif mengenai penggunaan, kontruksi/pembuatan, perawatan/ perhatian dan kinerja produk, serta karakteristik-karakteristik lainnya yang berhubungan dengan produk. • Grade label, yaitu label yang mengidentifikasi penilaian kualitas produk (product’s judge quality) dengan suatu huruf, angka atau kata. Di Amerika, misalnya buah persik dalam kaleng diberi label A, B, dan C, sedangkan jagung dan gandum diberi label 1 dan 2. 23 4. Layanan Pelengkap Dewasa ini produk apapun tidak terlepas dari unsur jasa atau layanan, baik itu jasa sebagai produk inti (jasa murni) maupun jasa sebagai pelengkap. Produk inti umumnya sangat bervariasi antara tipe bisnis yang satu dengan tipe yang lain. Tetapi layanan pelengkap memiliki kesamaan. Layanan pelengkap diklasifikasikan menjadi delapan kelompok, yaitu: • Informasi, misalnya jalan/arah menuju tempat produsen, jadwal atau schedule penyampaian produk/jasa, harga, instruksi bagaimana cara menggunakan produk inti atau layanan pelengkap, peringatan (warnings), kondisi penjual/layanan, pemberitahuan adanya perubahan, dokumentasi, konfirmasi reservasi, rekapitulasi rekening, tanda terima tiket dan lain-lain. • Konsultasi, seperti pemberian saran, konseling pribadi, dan konsultasi manajemen/teknis. • Order taking, meliputi aplikasi, order entry, dan reservasi (tempat duduk, meja, ruangan) • Hospitality, diantaranya sambutan, food and beverages, toilet dan kamar kecil, perlengkapan kamar mandi, fasilitas menunggu (majalah, hiburan, koran, ruang tunggu), transportasi, dan security. • Caretaking, terdiri dariperhatian dan perlindungan atas barang milik pelanggan yang mereka bawa (parkir kendaraan roda dua dan empat, penanganan bagasi, penitipan tas, dan lain-lain), serta perhatian dan perlindungan atas barang yang dibeli pelanggan (pengemasan, transportasi, pengantaran, instalasi, pembersihan, inspeksi dan diagnosis, renovasi dan inovasi, dan lain-lain) • Exception, meliputi permintaan khusus sebelum penyampaian produk, menangani komplain/saran, pemecahan masalah (jaminan dan garansi atas kegagalan pemakaian produk, kesulitan yang muncul dari pemakaian produk, kesulitan yang disebabkan kegagalan produk, termasuk masalah dengan staf atau pelanggan 24 lainnya), dan restitusi (pengembalian uang, kompensasi, dan sebagainya) • Billing, meliputi laporan rekening produk, faktur untuk transaksi individual, laporan verbal mengenai jumlah rekening, mesin yang memperlihatkan jumlah rekening, dan self billing. • Pembayaran, berinteraksi berupa dengan swalayan karyawan oleh pelanggan, perusahaan pelanggan yang menerima pembayaran, pengurangan otomatis atas rekening nasabah, serta kontrol dan verifikasi. 5. Jaminan (garansi) Jaminan adalah janji yang merupakan kewajiban produsen atas produknya kepada konsumen, dimana para konsumen akan diberi ganti rugi laba bila produk ternyata tidak bisa berfungsi sebagaimana yang diharapkan atau dijanjikan. Jaminan bisa meliputi kualitas produk, reparasi, ganti rugi (uang kembali atau produk ditukar), dan sebagainya. Jaminan sendiri ada yang bersifat tertulis dan ada juga yang bersifat tidak tertulis. Dewasa ini jaminan seringkali dimanfaatkan sebagai aspek promosi, terutama pada produk-produk tahan lama. 2.3.3 Pendekatan Atribut Analisa atribut pada perilaku konsumen merupakan teori permintaan yang cukup baru (Rika, 2011). Atribut produk menyatakan bahwa kepuasan seseorang terhadap barang atau jasa yang dibeli sebenarnya bukan terletak pada barang itu sendiri tetapi dari karakteristik atau atribut yang melekat pada bersangkutan. Dengan kata lain, bila seseorang membeli barang yang suatu barang, sebenarnya bukan membeli barangnya tetapi membeli atribut pada produk itu sendiri, atribut dari suatu barang bukan hanya satu, namun ada beberapa. Dengan demikian, bila terdapat beberapa barang atau jasa yang akan dikonsumsi, pertimbangan pertama yang dilakukan adalah membandingkan nilai-nilai atribut pada masing-masing barang atau jasa tersebut (Setiadi, 2008). Berikut merupakan contoh penyelesaian soal dengan menggunakan metode pendekatan atribut: 25 Tabel 2.1. Peringkat dan Rasio Atribut Pada Beberapa Rumah Makan Rumah Makan Peringkat Atribut Rasio Nyaman Enak Ny/En A 89 22 4,05 B 94 50 1,88 C 76 86 0,88 D 18 72 0,25 Tabel 2.2. Harga per Unit dan Batas Efisien pada Setiap Rumah Makan Rumah Makan A B C D Harga Perunit 2,200.00 2,500.00 2,750.00 1,800.00 Anggaran Jumlah Unit 4.55 4.00 3.64 5.56 Batas Efisien Nyaman Enak 404.55 100.00 376.00 200.00 276.36 312.73 100.00 400.00 10,000.00 Nyaman A 404,55 376 B C 276,36 IC 100 D 100 Enak 200 312,73 400 Gambar 2.2. Kombinasi antara atribut nyaman dan enak Sumber: Buku Business Economics and Managerial Decision Making (Setiadi, 2008) 26 2.4 Kajian Penelitian Terdahulu Sebagai landasan dalam penelitian ini, digunakan beberapa penelitian yang dulu pernah dilakukan, diantaranya Anggraeni (2010) melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Loyalitas Konsumen Pada Skaters Clothing”. Dari hasil analisis mengenai pengaruh kualitas produk terhadap loyalitas konsumen dengan melakukan perhitungan korelasi Rank Spearman, dapat diketahui bahwa adanya hubungan yang cukup kuat antara kualitas produk (variable X) dan loyalitas konsumen (variable Y) dengan nilai korelasi 0,405 (40,5%) yang artinya apabila kualitas produk ditingkatkan, maka loyalitas konsumen juga akan meningkat. Penelitian lainnya dilakukan oleh Sutanty (2008) yang meneliti pengaruh kualitas produk pada D’LOOPS Clothing Company terhadap loyalitas konsumen yang mengatakan bahwa terdapat pengaruh antara kualitas produk terhadap loyalitas konsumen, dimana indikator yang digunakan untuk kualitas produk diantaranya daya tahan, kenyamanan, bentuk dan desain. Sedangkan indikator untuk loyalitas konsumen yang digunakan diantaranya frekuensi pembelian, merekomendasikan kepada orang lain dan menolak menggunakan produk lain yang sejenis. Penelitian lainnya dilakukan oleh Marisa (2009) yang meneliti pengaruh kualitas produk pada sentra sepatu dan tas Diana terhadap loyalitas konsumen dengan indikator kualitas produk dan loyalitas konsumen yang hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Sutanty (2008), mengatakan bahwa terdapat hubungan yang positif antara kualitas produk terhadap loyalitas konsumen. Namun pada salah satu indikator loyalitas konsumen yaitu indikator akan merekomendasikan kepada orang lain, tanggapan dari responden ternyata kurang baik, karena rata-rata jawaban dari responden yaitu 2, 33 dari interval jawaban 1 sampai 4. Astuti (2008) melakukan penelitian mengenai pengaruh kualitas produk terhadap loyalitas konsumen pada pandawa Chat Shoes di Subang, penelitian tersebut menggambarkan bahwa kualitas produk mempunyai hubungan yang positif terhadap loyalitas konsumen. Indikator kualitas produk yang digunakan diantaranya kenyamanan produk, daya tahan, tampilan, dan warna. Indikator 27 loyalitas konsumen yang digunakan diantaranya penolakan terhadap produk pesaing, merekomendasikan kepada konsumen lain, dan meningkatkan frekuensi pembelian. Rika (2011) meneliti mengenai pengaruh atribut produk terhadap loyalitas konsumen pada handphone blackberry dikalangan mahasiswa Universitas Widyatama. Hasil penelitian tersebut mengatakan bahwa terdapat hubngan yang positif antara atribut produk Handphone blackberry dengan loyalitas konsumen. Indikator atribut produk yang digunakan adalah kualitas produk, merek, harga, kemasan, dan layanan pelengkap. Sedangkan indikator loyalitas konsumen yaitu menolak menggunakan produk lain, merekomendasikan kepada orang lain, melakukan dan pembelian ulang yang konsisten. Penelitian berikutnya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Ferrina (2010) yang meneliti pengaruh kualitas produk dan relationship marketing dalam membangun loyalitas konsumen pada harian pagi Bandung express. Hipotesis yang diajukan penulis yaitu adanya pengaruh kualitas produk dan relationship marketing dalam membangun loyalitas konsumen, dapat diterima. Hal tersebut dapat dilihat \secara simultan, bahwa adanya pengaruh yang signifikan dari kualitas produk dan relationship marketing terhadap loyalitas konsumen. Sedangkan secara parsial hanya kualitas produk saja yang berpengaruh terhadap loyalitas konsumen. Landasan terakhir yaitu penelitian yang dilakukan oleh sadi (2009) yang meneliti mengenai pengaruh kualitas pelayanan dan kualitas produk terhadap loyalitas pelanggan tahu bakso Ibu Pudi di Ungaran Semarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan tidak terbukti berpengaruh terhadap peningkatan loyalitas pelanggan karena konsumen yang datang mengesampingkan kualitas pelayanan terhadap konsumen dan hanya berorientasi terhadap kualitas produk tahu bakso itu saja. Penelitian ini juga mengatakan bahwa meningkatnya kualitas produk secara signifikan dapat meningkatkan loyalitas pelangan tahu bakso Ibu Puji, hal ini diketahui dari jawaban responden bahwa yang sangat mempengaruhi jadi konsumen yang loyal adalah produknya atau rasanya lebih 28 enak dan mereka percaya bahwa tahu bakso ibu pudji tidak memakai bahan pengawet. 2.5 Kerangka Pemikiran Persaingan dibidang produksi pasokan beras sekarang ini sangat kompetitif sekali dan membuat persaingan yang ada semakin ketat. Setiap pemilik perusahaan harus bisa menentukan langkah-langkah pemasaran dan startegi-strategi yang dilakukan dengan sebaik-baiknya. Selain itu, kualitas produk juga perlu ditingkatkan, karena kualitas produk sangat mempengaruhi konsumen untuk membeli produk yang dihasilkan. Heizer (2005) mengatakan bahwa peningkatan kualitas produk membantu perusahaan meningkatkan penjualan dan mengurangi biaya, yang mana keduanya akan meningkatkan keuntungan. Jika semua hal dikerjakan dengan baik, maka perusahaan bisa menghasilkan produk yang berkualitas tinggi dan mempunyai keunggulan bersaing dengan perusahaan lain. Kualitas produk yang terjaga bisa menyebabkan seorang konsumen menjadi puas akan produk yang dibelinya, dan kepuasan tersebut akan menyebabkan konsumen melakukan pembelian ulang terhadap produk yang sudah dibeli sebelumnya. Bahkan lama kelamaan kepuasan konsumen tersebut akan menyebabkan konsumen loyal terhadap produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Dalam mengembangkan produk, pemasar lebih dahulu harus memilih tingkatan kualitas yang dapat mendukung posisi produk dipasar sasarannya. Kualitas produk adalah kemampuan suatu produk untuk melakukan fungsifungsinya, kemampuan itu meliputi daya tahan, kehandalan, ketelitian yang dihasilkan, kemudahan dioperasikan dan diperbaiki, dan atribut lain yang berharga pada produk secara keseluruhan (Kotler & Amstrong, 2001). Menurut Tjiptono (2003) kualitas produk merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan. Penelitian ini juga menggunakan atribut produk untuk menganalisis pengaruh kualitas produk terhadap loyalitas konsumen. Atribut produk 29 menyatakan bahwa kepuasan seseorang terhadap barang atau jasa yang dibeli sebenarnya bukan terletak pada barang itu sendiri tetapi dari karakteristik atau atribut yang melekat pada barang yang bersangkutan. Dengan kata lain, bila seseorang membeli suatu barang, sebenarnya bukan membeli barangnya tetapi membeli atribut pada produk itu sendiri, atribut dari suatu barang bukan hanya satu, namun ada beberapa (Setiadi, 2008). Ada lima atribut produk yang digunakan yaitu tingkat kepulenan, daya tahan beras, bentuk/tekstur beras, bau, dan banyaknya pilihan beras. Loyalitas konsumen juga diukur dengan menggunakan lima indikator yaitu seringnya membeli produk beras Tri Jaya, akan merekomendasikan kepada orang lain, menolak menggunakan produk lain yang sejenis, harga yang terjangkau, dan tidak akan tertarik kepada produk lain. Selain semata-mata mengurangi kecacatan produk, tujuan akhir kualitas produk yang baik adalah meningkatkan kepuasan dan nilai bagi pelanggan. Dengan kualitas produk yang baik diharapkan akan menciptakan kepuasan konsumen dan menjadikan konsumen yang loyal. Menurut Maulana, seorang konsumen dikatakan loyal apabila ia mempunyai suatu komitmen yang kuat untuk menggunakan atau membeli lagi secara rutin sebuah produk. Bagaimana cara membentuk loyalitas? Tentunya harus dimulai dengan membeli kualitas produk yang unggul dan superior, sehingga konsumen merasa puas dengan pengalaman mengkonsumsinya. Kepuasan terhadap produk adalah modal utama pembentukan loyalitas. Menurut oliver yang dikutip Hurriyati (2005), loyalitas adalah komitmen pelanggan bertahan secara mendalam untuk berlangganan kembali atau melakukan pembelian ulang produk atau jasa terpilih secara konsisten dimasa yang akan datang, meskipun pengaruh situasi dan usaha-usaha pemasaran mempunyai potensi untuk menyebabkan perubahan perilaku. Menurut Tjiptono (2001) loyalitas adalah situasi dimana konsumen bersikap positif terhadap produk atau produsen (penyedia jasa) dan disertai pola pembelian ulang yang konsisten. Dari pengertian diatas kita dapat menyimpulkan bahwa loyalitas terbentuk dari dua komponen, loyalitas sebagai perilaku yaitu pembelian ulang yang konsisten dan loyalitas sebagai sikap yaitu sikap positif terhadap suatu produk 30 atau perodusen (penyedia jasa) dan ditambah dengan pola pembelian yang konsisten. Jadi dapat disimpulkan bahwa loyalitas konsumen terhadap suatu produk tertentu disebabkan oleh kualitas produk yang baik dan memuaskan. Tingkat Kepulenan Daya Tahan Beras Bentuk atau Tekstur Beras Frekuensi Pembelian KUALITAS LOYALITAS PRODUK KONSUMEN (X) (Y) Merekomendasikan Kepada Orang Lain Ketidaktertarikan Kepada Produk Lain Bau Menolak Menggunakan Produk Lain Yang Sejenis Banyaknya Pilihan Beras Keterjangkauan Harga Gambar 2.3. Kerangka Pemikiran 2.6 Pengembangan Hipotesis Kualitas produk merupakan keseluruhan fitur dan karakteristik produk atau jasa yang mampu memuaskan kebutuhan konsumen yang terlihat atau yang tersamar, Heizer (2005). Loyalitas konsumen adalah situasi dimana konsumen bersikap positif terhadap produk atau produsen dan disertai pola pembelian ulang yang konsisten (Tjiptono, 2001). Tentu saja produk yang dicari konsumen adalah produk yang mempunyai kualitas tinggi. Jika dari kelima atribut produk yang terdiri dari tingkat kepulenan, daya tahan beras, bentuk/tekstur beras, bau, dan banyaknya pilihan beras, dan dari kelima indikator loyalitas konsumen yang 31 terdiri dari seringnya membeli produk beras Tri Jaya, akan merekomendasikan kepada orang lain, menolak menggunakan produk lain yang sejenis, harga yang terjangkau, dan tidak akan tertarik kepada produk lain mendapat tanggapan yang baik dan positif dari responden, maka bisa dikatakan atribut produk mempunyai pengaruh terhadap loyalitas konsumen. Dengan kualitas produk beras yang baik, akan membuat konsumen melakukan pembelian ulang, bahkan bisa menjadikan konsumen loyal terhadap produk beras tersebut. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: H1 : Terdapat pengaruh antara atribut kualitas produk beras dekor cisadane dengan loyalitas konsumen H1a :Terdapat pengaruh antara atribut kualitas produk dengan Frekuensi Pembelian. H1b :Terdapat pengaruh antara atribut kualitas produk dengan akan merekomendasikan kepada orang lain. H1c :Terdapat pengaruh antara atribut kualitas produk dengan menolak menggunakan produk lain yang sejenis. H1d : Terdapat pengaruh antara atribut kualitas produk dengan keterjangkauan harga. H1e : Terdapat pengaruh antara atribut kualitas produk dengan ketidaktertarikan kepada produk lain. H2 : Terdapat pengaruh antara atribut kualitas produk beras IR64 dengan loyalitas konsumen H2a :Terdapat pengaruh antara atribut kualitas produk dengan Frekuensi Pembelian. H2b :Terdapat pengaruh antara atribut kualitas produk dengan akan merekomendasikan kepada orang lain. H2c :Terdapat pengaruh antara atribut kualitas produk dengan menolak menggunakan produk lain yang sejenis. H2d : Terdapat pengaruh antara atribut kualitas produk dengan keterjangkauan harga. 32 H2e : Terdapat pengaruh antara atribut kualitas produk dengan ketidaktertarikan kepada produk lain. H3 : Terdapat pengaruh antara atribut kualitas produk beras Pandan Wangi (PW) dengan loyalitas konsumen H3a :Terdapat pengaruh antara atribut kualitas produk dengan Frekuensi Pembelian. H3b :Terdapat pengaruh antara atribut kualitas produk dengan akan merekomendasikan kepada orang lain. H3c :Terdapat pengaruh antara atribut kualitas produk dengan menolak menggunakan produk lain yang sejenis. H3d : Terdapat pengaruh antara atribut kualitas produk dengan keterjangkauan harga. H3e : Terdapat pengaruh antara atribut ketidaktertarikan kepada produk lain. 33 kualitas produk dengan