perjanjian kerja bersama

advertisement
PERJANJIAN KERJA BERSAMA
Buku PKB Percontohan ini adalah panduan yang dipersiapkan untuk membantu anggota FSP FARKES
Reformasi di sektor Kesehatan dalam pembuatan PKB ditempat kerjanya. Pemakaiannya adalah untuk
kalangan terbatas.
Kata Pengantar
Salam solidaritas,
Salah satu fungsi serikat pekerja sebagaimana disebutkan dalam UU No. 21 tahun
2000 adalah melakukan perundingan pembuatan Perjanjian Kerja Bersama (PKB).
Untuk itu PKB merupakan produk asli serikat pekerja.
PKB dibuat berdasarkan kesepakatan serikat pekerja dengan pengusaha atau wakil
pemilik perusahaan berdasarkan surat kuasa penuh. Jadi wakil perusahaan yang
hadir atau mewakili pengusaha adalah yang bisa memutuskan atau mengambil sikap
dalam perundingan PKB.
Saya juga menulis buku yang berjudul Panduan Tentang Praktek Hubungan
Industrial Bagi Aktivis Dan Anggota Serikat Pekerja. Buku tersebut memang
diperuntukan internal FSP FARKES R tetapi secara umum seluruh pekerja di
Indonesia bisa mempergunakannya. Salah satu isinya yang perlu di dalami dari isi
buku tersebut adalah Bab II tentang Perundingan Bersama.
Dalam Bab tersebut secara rinci dijelaskan tehnik sampi dengan klasifikasi Perjanjian
Kerja Bersama (PKB). Berangkat dari bab tersebut kemudian FSP FARKES R
mencoba menterjemahkan isi dari Bab II buku tersebut dalam PKB Percontohan
terutama untuk sektor kesehatan. Masih ada pekerja di sektor kesehatan yang
berserikat dan sudah memiliki PKB akan tetapi masih ada hal – hal yang secara
umum belum dimasukan dalam PKB.
Dalam buku Percontohan PKB ini memunculkan beberapa hal yang dianggap perlu
diperjuangkan untuk dimasukan dalam klausul PKB diantaranya:
a) Keberadaan serikat pekerja di perusahaan;
b) Uang Insetip Pelayanan (Service Charge);
c) Dana Pengembangan dan Pelatihan Pekerja (DP3) yang didapat dari
Uang Insentif Pelayanan.
d) Laporan Keuangan dan hasil audit eksternal rumah sakit.
e) Rumusan kenaikan upah berkala
Buku Percontohan PKB ini kita kerjakan melalui beberapa proses pertemuan dan
workshop yang dibantu oleh Public Services International (PSI), dimana FSP FARKES
R berafiliasi, dengan maksud bahwa bisa menjadi panduan untuk meningkatkan
kualitas PKB anggota khususnya di sektor kesehatan dan juga mereka yang belum
memiliki PKB. Buku ini diterbitkan untuk kalangan, semoga dapat bermanfaat.
Djufnie Ashary
Ketua Umum
1|Contoh PKB Sektor Kesehatan
– FSP FARKES Reformasi
PERJANJIAN KERJA BERSAMA
BAB I
PENGERTIAN UMUM
Pasal 1
Pengertian Umum
1. Perjanjian Kerja Bersama adalah perjanjian yang merupakan hasil perundingan
antara Serikat Pekerja dengan pengusaha, yang memuat syarat-syarat kerja, hak
dan kewajiban kedua belah pihak yang saling mengikat.
2. Pengusaha adalah Perwakilan (Representasi) Pemilik Rumah Sakit ….. yang
beralamat di. Jl. ………..
3. Serikat pekerja …. Adalah perwakilan (Refresentatif) pekerja yang tercatat di ….
Dengan Nomor Pencatatan …. Tanggal … alamat … yang fungsinya sebagai
Serikat Pekerja yang sah secara hukum sesuai dengan peraturan
ketenagakerjaan.
4. Pekerja adalah mereka yang bekerja dan mendapatkan upah dan terdaftar serta
memiliki nomor identitas di bagian Sumber Daya Manusia (personalia).
5. Perjanjian Kerja waktu Tertentu (PKWT) adalah perjanjian antara pekerja dengan
pengusaha atau pemberi kerja yang memuat syarat – syarat kerja, hak dan
kewajiban para pihak berdasarkan jangka waktu atau selesainya suatu pekerjaan
tertentu.
6. Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu adalah perjanjian antara pekerja dengan
pengusaha atau pemberi kerja yang memuat syarat – syarat kerja, hak dan
kewajiban para pihak untuk jangka waktu tidak tentu atas suatu pekerjaan
7. Pekerja Alih Daya /Outsourcing adalah pekerjaan yang diserahkan kepada
perusahaan lain yang dilakukan terpisah dari kegiatan utama, merupakan
kegiatan atau pekerjaan penunjang dan tidak menghambat proses pekerjaan
utama secara langsung.1
8. Isteri atau suami Pekerja adalah orang yang terikat dalam perkawinan secara sah
menurut hukum dan perundang-undangan yang berlaku dan terdaftar dibagian
Sumber Daya Manusia (personalia).
9. Anak adalah anak sah hasil dari perkawinan yang sah pekerja atau adopsi sesuai
ketentuan perundang - undangan, berumur dibawah 21 tahun dan belum
menikah, jumlahnya maksimal sampai dengan anak ketiga, tercatat di bagian
Sumber Daya Manusia (personalia).
10. Ahli Waris adalah Isteri/Suami/Anak/Orang Tua atau orang lain yang ditunjuk
yang berhak mendapatkan hak waris pekerja yang tercatat di bagian Sumber
Daya Manusia (personalia).
1
Lihat UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 65
2|Contoh PKB Sektor Kesehatan
– FSP FARKES Reformasi
11. Klinik Perusahaan adalah klinik yang tersedia atau ditunjuk Perusahaan untuk
melayani Pekerja dan keluarganya yang tercatat di bagian Sumber Daya manusia
(Personalia) dan atau disesuaikan dengan pelaksanaan BPJS.
12. Waktu Kerja adalah jam-jam dimana Pekerja melakukan pekerjaan ditempat
bekerja yang dilaksanakan pada pagi hari, siang hari dan atau malam hari.
13. Kerja Lembur adalah jam-jam dimana Pekerja melakukan pekerjaan melebihi jam
kerja yang ditentukan.
14. Hari Libur Mingguan adalah Sabtu dan Minggu setelah melakukan pekerjaan 40
jam dalam satu minggu sesuai dengan jadwal kerja masing-masing pekerja.
15. Surat Peringatan adalah surat resmi yang dikeluarkan oleh pengusaha kepada
pekerja atas pelanggaran disiplin atau ketentuan dalam Perjanjian Kerja Bersama
dengan tujuan pembinaan.
16. Upah adalah hak pekerja yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang
sebagai imbalan dari Pengusaha setelah pekerja melakukan pekerjaannya.
17. Upah minimum adalah upah yang diberikan kepada pekerja yang belum
menempuh masa kerja kurang dari 1 (satu) tahun dan belum berkeluarga
dengan nominal sama dan atau lebih dari upah minimum yang berlaku di domisili
perusahaan.
18. Tunjangan tetap adalah segala tunjangan yang diterima oleh pekerja yang
pemberiannya tidak dikaitkan dengan kehadiran pekerja.
19. Tunjangan tidak tetap adalah tunjangan, uang dan/atau premi yang diterima
pekerja yang pemberiannya dikaitkan dengan kehadiran pekerja
20. Bonus adalah tunjangan khusus yang diberikan rumah sakit kepada seluruh
pekerja.
21. Insentif Pelayanan adalah imbalan yang diterima pekerja dalam bentuk uang
sebagai motivasi atas jasa pelayanan pasien yang diberikan kepada rumah sakit. 2
22. Tunjangan Hari Raya adalah tunjangan yang diberikan kepada pekerja
berdasarkan perayaan keagamaan yang dianut dan diberikan sesuai dengan hari
raya masing – masing pekerja.
BAB II
PIHAK – PIHAK YANG MEMBUAT PERJANJIAN KERJA BERSAMA
Pasal 2
Pihak-Pihak yang membuat Perjanjian Kerja Bersama
Perjanjian Kerja Bersama ini dibuat antara :
2
Lihat PP No. 78 tahun 2015 tentang Pengupahan Pasal 10
3|Contoh PKB Sektor Kesehatan
– FSP FARKES Reformasi
1. Rumah Sakit …...yang berbentuk badan hukum PT/Yayasan/Perkumpulan yang
didirikan di/oleh …… dengan akta notaris No…beralamat di JI. ………. yang
selanjutnya disebut sebagai Pengusaha.
2. Serikat Pekerja … merupakan Serikat Pekerja yang telah terdaftar dan disahkan
oleh kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi … dengan No. Pencatatan:
…….. yang mewakili dan bertindak untuk dan atas nama para pekerja yang
selanjutnya disebut sebagai Serikat Pekerja
Pasal 3
Asas - Asas Kesepakatan
Perjanjian Kerja Bersama ini didasarkan pada asas
1. Hasil perundingan antara Pengusaha dan Serikat Pekerja yang mengikat dan
memuat syarat – syarat kerja, hak dan kewajiban untuk mengatur dan
melindungi para pihak agar tujuan bersama antara Pengusaha dan Serikat
Pekerja dalam menjalankan usaha berjalan baik.
2. Kepastian hukum, yakni setiap pelaksanaan Perjanjian Kerja Bersama
mengutamakan landasan kaedah hukum otonom yang dibuat secara mandiri oleh
para pihak dan kemudian menggunakan kaedah hukum peraturan perundangundangan yang berlaku.
3. Akuntabilitasi, yakni setiap pelaksanaan hubungan kerja para pihak harus dapat
mempertanggungjawabkannya satu dengan lainnya
4. Non Diskriminatif, Keadilan, dan kesetaraan, yakni bahwa dalam pelaksanaan
Perjanjian Kerja Bersama ini para pihak diberikan kesempatan yang sama dan
tidak membedakan perlakuan berdasarkan gender, suku, agama, ras, dan
golongan
5. Kesejahteraan, yakni pelaksanaana Perjanjian Kerja Bersama diarahkan guna
mewujudkan kesejahteraan pekerja/buruh dan pertumbuhan perusahaan
6. Persuasive yaitu dalam pelaksanaan Perjanjian Kerja Bersama ini, apabila ada
polemic atau perselisihan, pendekatan kekeluargaan dan musyawarah mufakat
harus didahulukan.
Pasal 4
Ruang Lingkup
1. Syarat-syarat kerja umum dan peraturan-peraturan yang diuraikan di dalam
Parjanjian Kerja Bersama ini bersifat mengikat dan berlaku bagi semua pekerja
rumah sakit. 3
3
Lihat Permanaker RI No. 28 tahun 2015 tentang Tata Cara Pembuatan Dan Pengesahan PP Serta Pembuatan
Dan Pendaftaran PKB Pasal 15
4|Contoh PKB Sektor Kesehatan
– FSP FARKES Reformasi
2. Hal - hal yang tidak diatur dalam Perjanjian Kerja Bersama dibicarakan dengan
Serikat Pekerja.
Pasal 5
Tujuan dari Perjanjian Kerja Bersama
Tujuan dari Perjanjian Kerja Bersama adalah :
a. Untuk mengatur hak dan kewajiban Pengusaha dengan Serikat Pekerja dan
Pengusaha dengan pekerja dalam dalam suatu hubungan kerja; dan
b. Memberikan pengaturan lebih jelas perihal potensi perbedaan pendapat
dalam penegakkan norma ketenagakerjaan, peningkatan produktifitas kerja,
pelayanan dan tujuan bersama lainnya.
Pasal 6
Isi Perjanjian Kerja Bersama
1. Perjanjian Kerja Bersama ini memuat Perjanjian - Perjanjian antara Pengusaha
dan Serikat Pekerja tentang syarat-syarat kerja dan hubungan kerja antara
Serikat Pekerja dengan Pengusaha, maupun antara Pengusaha dengan seluruh
Pekerja.
2. Dalam hal Pengusaha atau Serikat Pekerja mengadakan pembaharuan nama atau
bentuk, maka pasal-pasal dari Perjanjian Kerja Bersama ini tetap berlaku.
3. Masing-masing pihak bertanggung jawab untuk menyebarluaskan Perjanjian
Kerja Bersama ini kepada Pekerja, agar isinya dapat diketahui, dipahami dan
dilaksanakan.
4. Masing-masing pihak berkewajiban untuk mentaati dan menjalankan isi
Perjanjian Kerja Bersama ini.
BAB III
PENGAKUAN PARA PIHAK
Pasal 7
Pengakuan Terhadap Hak-Hak Pengusaha
Serikat Pekerja Mengakui :
a. Pengusaha mempunyai wewenang penuh untuk mengatur dan mengelola
Perusahaan sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan dan kebijakan pemerintah yang berlaku.
5|Contoh PKB Sektor Kesehatan
– FSP FARKES Reformasi
b. Pengusaha berhak serta berwenang untuk menerima, mengangkat dan atau
memindahkan seorang pekerja dari suatu jabatan tertentu ke suatu
jabatan/pekerjaan dan/atau tempat tertentu sesuai kemampuan, keinginan, dan
keterampilan pekerja yang bersangkutan guna memupuk daya guna kerja dan
menuntut tanggung jawab kerja dari seorang pekerja demi kepentingan
operasional perusahaan.
c. Bahwa Pengusaha berhak mengambil langkah - langkah yang dipandang layak
berdasarkan penalaran yang wajar untuk mengamankan hasil usaha serta sarana
produksi Perusahaan serta seluruh harta kekayaannya tarmasuk tindakan kepada
Pekerja, dengan terlebih dahulu menyepakati dengan Serikat Pekerja.
Pasal 8
Pengakuan Terhadap Hak-Hak Serikat Pekerja
Pengusaha mengakui :
1. Serikat Pekerja sebagai organisasi pekerja yang sah dalam perusahaan yang
mewakili seluruh Pekerja sebagai anggotanya, yaitu Serikat Pekerja …. dengan
No. Pencatatan : ...
2. Serikat Pekerja sebagai organisasi, yang dalam fungsinya bertindak dan
melaksanakan tugasnya untuk kepentingan para pekerja anggotanya dan tidak
bertentangan dengan Perjanjian Kerja Bersama dan Peraturan Perundangundangan.
3. Bahwa pengusaha tidak menghalang-halangi dan atau memaksa pekerja untuk
membentuk atau tidak membentuk, menjadi pengurus atau tidak menjadi
pengurus, menjadi anggota dan tidak menjadi anggota dan/atau menjalankan
atau tidak menjalankan kegiatan Serikat Pekerja dengan cara :
a. Melakukan pemutusan hubungan kerja, memberhentikan sementara,
menurunkan jabatan, atau melakukan mutasi;
b. Tidak membayar atau mengurangi upah pekerja
c. Melakukan intimidasi berupa tindakan untuk memaksa orang atau pihak lain
berbuat sesuatu yang dilakukan dalam bentuk gertakan maupun ancaman
intimidasi berupa tindakan menakut-nakuti, terutama untuk memaksa orang
atau pihak lain berbuat sesuatu yang dilakukan dalam bentuk gertakan
maupun ancaman baik dilakukan secara verbal maupun lisan;
d. Melakukan kampanye anti pembentukan Serikat Pekerja.4
4
Lihat UU No. 21 tahun 2000 tentang SP/SB Pasal 28
6|Contoh PKB Sektor Kesehatan
– FSP FARKES Reformasi
4. Pengusaha terbuka untuk memberikan akses informasi yang transparan kepada
seluruh pekerja untuk meminta keterangan perihal :
a. Keberadaan serikat pekerja di perusahaan;
b. Uang Insetip Pelayanan (Service Charge);
c. Dana Pengembangan dan Pelatihan Pekerja (DP3) yang didapat dari Uang
Insentif Pelayanan.
d. Laporan Keuangan dan hasil audit eksternal rumah sakit.
Pasal 9
Keanggotaan dan Kepengurusan Serikat Pekerja
1. Yang diterima menjadi anggota Serikat Pekerja adalah pekerja rumah sakit ,
yang telah memenuhi syarat sebagai anggota sesuai dengan Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga Serikat Pekerja.
2. Sesuai dengan perundang – undangan, untuk jabatan tertentu yang sifatnya
mewakili rumah sakit tidak diperkenankan menjadi pengurus Serikat Pekerja
namun tetap diperbolehkan menjadi anggota serikat pekerja.
3. Jabatan yang dimaksud adalah Manager HRD/Direktur HRD dan
Manager/Direktur Keuangan.5
Pasal 10
Bantuan dan Fasilitas Bagi Serikat Pekerja
1. Pengusaha atas permintaan tertulis Serikat Pekerja melakukan pemotongan iuran
sesuai dengan formulir keanggotaan yang diserahkan pengurus Serikat Pekerja.
2. Pengusaha menyerahkan :
a. Laporan per semester yang berisikan daftar anggota, penambahan atau
pengurangan jumlah anggota, paling lambat tanggal 15 bulan berjalan.
b. Besarnya jumlah potongan upah untuk iuran anggota setiap bulannya melalui
transfer bank.
c. Biaya transfer ditanggung oleh pihak Pengusaha.
3. luran anggota Serikat Pekerja yang telah dipotong dibayarkan kepada Serikat
Pekerja sesuai dengan surat resmi dari Serikat Pekerja termasuk di dalamnya
data dan tata cara pembayaran paling lambat 5 hari kerja awal bulan berikutnya.
4. Pengusaha menyediakan :
a. Ruang kerja khusus beserta kelengkapannya untuk keperluan organisasi
serikat pekerja.
5
Lihat Penjelasan Pasal 15 UU No. 21 tahun 2000 tentang SP/SB
7|Contoh PKB Sektor Kesehatan
– FSP FARKES Reformasi
b. Papan pengumuman yang dapat dipergunakan oleh Serikat Pekerja
ditempat-tempat yang mudah diakses dan sering dilalui oleh anggota
serikat pekerja.
c. Ruangan dan peralatan yang diperlukan untuk rapat anggota serikat
maupun perangkat organisasi dengan memperolah persetujuan terlebih
dahulu setidaknya dari kepala bagian perlengkapan perusahaan atau yang
setingkatnya.
Pemberitahuan harus diajukan secara tertulis sekurang-kurangnya 1 (satu)
minggu sebelum pelaksanaan kegiatan tersebut kepada atasan dari
pekerja/ tersebut dan ditembuskan kepada pimpinan perusahaan.
5. Pengusaha mengijjinkan pekerja/anggota dan atau pengurus serikat pekerja :6
a. Minimal 1 (satu) orang penggurus Serikat Pekerja bekerja penuh waktu
(full time) di kantor Sekretariat Serikat Pekerja dengan upah penuh untuk
menghadiri undangan pelatihan, konsolidasi, undangan dari instansi
pemerintah/lembaga negara yang berkaitan dengan kepentingan Serikat
Pekerja baik dari perangkat organisasi pemerintah maupun
lembaga/institusi lainnya.
Pengusaha berhak mendapatkan pemberitahuan paling lambat 1 (satu)
hari sebelumnya, dan pekerja/anggota atau pengurus tetap mendapatkan
upah penuh.
b. Menghadiri pertemuan bersama Pengusaha dan Lembaga Penyelesaian
Perselisihan Hubungan Industrial untuk mencari jalan keluamya.
6. Dalam proses penyelesaian perselisihan ketenagakerjaan dilakukan secara
musyawarah untuk mufakat. Akan tetapi bila tidak tarcapai, maka pengusaha dan
pekerja atau Serikat Pekerja sepakat untuk menempuh prosedur Penyelesaian
PerselisihanHubungan Industrial yang diatur dengan undang-undang.
7. Perusahaan memberikan bantuan untuk pembiayaan kegiatan serikat pekerja
seperti mengikuti Munas, Musda, Muscab, seminar, pendidikan atau pelatihan
ketenagakerjaan.
BAB IV
HUBUNGAN KERJA
Pasal 11
Syarat – syarat Penerimaan Pekerja
Pengusaha memiliki wewenang penuh melakukan penerimaan pekerja.
6
Lihat UU No. 21 tahun 2000 tentang SP/SB Pasal 29
8|Contoh PKB Sektor Kesehatan
– FSP FARKES Reformasi
1. Penerimaan pekerja berdasarkan pada kebutuhan Perusahaan dan kualifikasi
calon pekerja.
2. Syarat-syarat penerimaan pekerja :
a. Memenuhi syarat-syarat pendidikan, pengalaman kerja dan keahlian khusus
yang dibutuhkan oleh perusahaan dengan dibuktikan melalui sertifikat atau
bukti lain tertulis dari instansi yang berkaitan.
b. Menunjukkan surat kelakuan baik yang dikeluarkan oleh pihak yang
berwenang.
c. Melampirkan surat yang menyatakan bebas narkoba dari pihak berwajib.
d. Lulus wawancara dan proses tes yang diadakan oleh Perusahaan.
e. Pihak-pihak yang terlibat langsung dalam penerimaan pekerja/buruh baru
harus bebas dari unsur kolusi, dan mengikuti prosedur yang berlaku.
f. Memiliki kinerja, perilaku dan dedikasi yang baik selama menjalankan tugas,
tidak pemah mendapatkan Surat Peringatan tertulis
g. Harus tunduk dan menerima peraturan dan ketentuan kerja yang berlaku
pada Perusahaan secara tertulis.
3. Sebelum dipekerjakan, setiap calon pekerja harus lulus tes kesehatan yang
dinyatakan oleh dokter yang dirujuk atau puskesmas.
4. Seorang pegawai baru memiliki kesempatan untuk bertemu dengan perwakilan
dari serikat pekerja tanpa kehilangan penghasilan rutin. Tujuan dari pertemuan
ini adalah untuk memperkenalkan para karyawan dengan perwakilan seperti
serikat pekerja dan isi Perjanjian Kerja Bersama.
5. Dalam penerimaan pekerja baru, rumah sakit berkoordinasi dengan serikat
pekerja dalam hal jenis pekerjaan yang bersifat tetap atau boleh kontrak
maupun penggunaan alih daya.
Pasal 12
Masa Percobaan
1. Lamanya masa percobaan adalah 3 (tiga) bulan terhitung dari tanggal efektif
mulai bekerja.
2. Selama masa percobaan masing-masing pihak berhak untuk melakukan
Pemutusan Hubungan Kerja tanpa syarat dan kompensasi apapun, kecuali
dinyatakan lain dalam Perjanjian Kerja yang nilainya lebih baik dari undang –
undang.
3. Setelah melewati masa percobaan, pekerja yang dinyatakan lulus dan melewati
semua persyaratan yang diperlukan diatas, status pekerja berubah menjadi
9|Contoh PKB Sektor Kesehatan
– FSP FARKES Reformasi
pekerja perjanjian kerja waktu tidak tertentu/tetap dan masa kerjanya dihitung
semenjak pekerja tersebut menjalani masa percobaan
4. Selama masa percobaan pekerja mendapatkan besaran upah/gaji dan hak – hak
lainya dengan pekerja di level yang sama dan diikutsertakan dalam program
BPJS Ketenagakerjaan maupun BPJS Kesehatan.
5. Tunjangan hari raya akan diberikan kepada pekerja dengan perhitungan dan
besarannya dalam Pasal mengenai THR.
Pasal 13
Status Pekerja
1. Status pekerja di rumah sakit adalah :
-
Pekerja kontrak (PKWT) untuk pekerja berdasarkan musiman atau pekerjaan
yang dilakukan sementara atau bukan pekerjaan utama.
Pekerja tetap (PKWTT) untuk pekerja berdasarkan pekerjaan yang dilakukan
terus menerus.
2. Jenis perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) tidak mensyaratkan masa
percobaan 3 (tiga) bulan.
3. Jenis penjanjian kerja waktu tidak tertentu (PKWTT) harus melalui masa
percobaan maksimal selama 3 (tiga) bulan.
BAB V
PEMINDAHAN, PROMOSI, PENURUNAN
Pasal 14
Pemindahan / Mutasi
1. Mutasi/Pemindahan pekerja adalah pemindahan dari satu bagian ke bagian lain
didalam Perusahaan berbadan hukum sama dengan tidak merubah/mengurangi
tingkatan, masa kerja, upah dan kesejahteraan yang diberikan kepada pekerja
dari yang sebelumnya.
2. Pemindahan pekerja sesuai dengan kebutuhan operasional rumah sakit dan
pendidikan pekerja dan mutasi bukan merupakan sebuah hukuman.
3. Pengusaha memberitahukan terlebih dahulu 2 (dua) bulan sebelumnya kepada
pekerja mengenai rencana pemindahan dan atasan alasan pemindahan dengan
tetap mempertimbangkan hak-hak pekerja.
4. Pekerja yang dipindahkan akan dibekali pelatihan yang dibutuhkan di tempat
yang akan ditempati.
10 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
5. Pengusaha mempertimbangkan pengajuan pemindahan dan pekerja/buruh
dengan syarat ketentuan:
a. Kebutuhan Operasional Rumah Sakit;
b. Kompetensi/kecakapan pekerja yang mengajukan dengan kebutuhan
c. Menunjukkan Kinerja dan Perilaku yang baik
d. Surat transfer/mutasi diberikan kepada pekerja setelah diberikan
pemberitahuan pemindahan yang ditandatangani oleh Kepala Sumber Daya
Manusia.
6. Setiap Mutasi dilakukan dengan adanya penetapan secara tertulis dari rumah
sakit dengan menyertakan secara jelas identitas pekerja yang dimutasi beserta
jabatan dan jobdesk barunya tersebut yang penetapannya tersebut ditembuskan
kepada Serikat Pekerja.
7. Pekerja berhak menyampaikan pengajuan keberatan yang disertai dengan alasan
- alasan yang dapat diterima untuk dipertimbangkan kembali oleh Bagian Sumber
Daya Manusia dan Bagian Terkait.
8. Pekerja berhak menolak pemindahan jika pengusaha tidak memberikan
kesempatan bagi pekerja untuk belajar dan memahami tugas baru di tempat
yang akan ditugaskan.
9. Dalam hal tidak terpenuhinya persyaratan dalam hal mutasi sebagaimana
dimaksud dalam ketentuan pasal ini, maka penetapan mutasi tersebut batal demi
hukum dan pekerja berhak tetap menempati pekerjaannya semula.
Pasal 15
Promosi /Kenaikkan Jabatan
1. Promosi/Kenaikan Jabatan adalah pemindahan pekerja dan satu jabatan tertentu
kepada jabatan di atasnya dalam rangka memenuhi kebutuhan operasional
perusahaan dan pengembangan karir pekerja.
2. Atasan langsung dapat merekomendasikan pekerja untuk mendapatkan promosi
secara tertulis.
3. Usulan Promosi harus disampaikan ke bagian Sumber Daya Manusia, dengan
mengutamakan calon intemal untuk mendapatkan persetujuan dan General
Manager.
4. Promosi dilakukan apabila :
a. Adanya kekosongan posisi atau adanya permintaan terhadap posisi tertentu
yang memungkinkan pekerja untuk mendapatkan promosi
11 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
b. Dalam rangka pengembangan karir pekerja maka bagian Sumber Daya
Manusia akan mempertimbangkan kompetensi, kondite kerja, masa kerja dan
sertifikasi keahlian.
c. Apabila terdapat lebih dari satu kandidat yang masuk dalam kualifikasi, akan
diadakan test oleh Bagian dan Bagian Sumber Daya Manusia.
d. Pekerja telah menunjukkan dedikasi yang baik dan telah memiliki kecakapan.
5. Pekerja yang sedang dalam menjalankan sanksi pelanggaran (peringatan) tidak
dapat dipromosikan sebelum surat peringatan (SP) bagi pekerja yang
bersangkutan berakhir masa berlakunya.
6. Pekerja telah lulus penilaian prestasi kerja yang dilakukan melalui Perfomance
Appraisal/Review.
7. Masa percobaan 3 (tiga) bulan berlaku untuk pekerja yang dipromosikan.
8. Pengusaha meninjau dan mengevaluasi hasil kerja selama 3(tiga) bulan kepada
pekerja yang dipromosi.
9. Apabila setelah 3 (tiga) bulan pekerja diterima menjadi pekerja, maka pekerja
akan mendapatkan hak dan benefit sesuai dengan jabatannya yang baru.
10. Namun apabila hasil evaluasi tersebut menunjukkan hasil yang tidak memuaskan,
maka pengusaha akan menempatkan kepada posisi semula berikut hak dan
benefit semula.
11. Atas keputusan hasil evaluasi yang tidak memuaskan pekerja, maka pekerja
berhak menyampaikan pengajuan keberatan yang disertai dengan alasan-alasan
yang dapat diterima untuk dipertimbangkan kembali oleh Bagian Sumber Daya
Manusia dan Bagian Terkait.
BAB VI
PELATIHAN PEKERJA
Pasal 16
Pangembangan dan Pelatihan Pekerja
1. Pengusaha mengikut sertakan pekerja dalam sebuah pelatihan atau seminar baik
yang dilakukan sendiri maupun dilakukan di luar perusahaan.7
2. Pengusaha memberikan fasilitas bagi Program Pengembangan dan Pelatihan
pekerja sebagai berikut :
a. Biaya pelatihan yang timbul diantaranya namun tidak terbatas berupa
registrasi, program, akomodasi atau tempat penyelenggaraan, transportasi.
b. Upah penuh selama mengikuti program Pengembangan/Pelatihan.
7
UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 11
12 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
3. Apabila pekerja mengundurkan diri/berhenti bekerja di rumah sakit selama ikatan
Dinas, pekerja tidak wajib mengembalikan biaya pengembangan dan pelatihan.
Pasal 17
Jenis Program Pengembangan & Pelatihan Pekerja/buruh
1. Leadership Skill Training, program-program e-learning, Motivational training,
wajib diikuti oleh level Supervisor ke atas atau oleh Pekerja lainnya apabila
dipersyaratkan oleh Kepala Bagian.
2. Departmental Training/Pelatihan memuat program untuk pelatihan kepada
setiap pekerja menyangkut provesi termasuk ketrampilan bahasa asing,
komputer agar bisa mengikuti era Pasar Bebas.
3. Program Internal dilaksanakan pelatihan sambil bekerja untuk mendalami
ketrampilan yang dilakukan di dalam lingkungan rumah sakit.
4. Program Ekternal pelatihan sambil bekerja diberikan untuk mendalami
ketrampilan yang dilakukan di luar lingkungan rumah sakit.
BAB VII
WAKTU, JADWAL ISTIRAHAT KERJA
Pasal 18
Hari dan Jam Kerja
1. Hari kerja adalah Senin – Jum’at
2. Waktu kerja adalah :
Jadwal Kerja
Non Shift
Shift 1
Shift 2
Shift 3
Waktu
07.30
07.00
16.00
23.00
–
–
–
–
16.30
16.00
23.00
07.00
3. Waktu efektif yang dipergunakan pekerja untuk bekerja dengan ketentuan 40
(empat puluh) jam seminggu tidak termasuk jam istirahat.
4. Lamanya waktu kerja adalah 8 (dalapan) jam dalam satu hari, di luar jam
istirahat selama maksimal 1 (satu jam).
13 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
5. Jam kerja pekerja diatur sesuai dengan kebutuhan rumah sakit setelah disepakati
oleh serikat pekerja.
6. Kepala Ruang/Bagian bertanggung jawab atas pengaturan jadwal kerja karyawan
dari bagian masing - masing.
Pasal 19
Waktu istirahat
1. Waktu istirahat kerja maksimal 1 (satu) jam pada hari kerja dilakukan pekerja
sesuai dengan kepentingan operasional.
2. Waktu istirahat mingguan adalah 2 (dua) hari istirahat sebagai libur mingguan
dalam waktu 40 jam kerja.
3. Pengambilan hari libur disesuaikan dengan kebutuhan operasional rumah sakit
serta tidak harus berurutan.
4. Hari istirahat mingguan Pekerja dapat diatur secara fleksible dalam rentang
waktu 2 (dua) mingguan apabila operasional rumah sakit sangat membutuhkan.
5. Pekerja yang bekerja pada hari libur nasional, hari libur umum (pubilc holiday)
berhak atas perhitungan upah lembur yang besarannya 4 (empat) kali upah
lembur setiap jamnya.
Pasal 20
Kehadiran dan Daftar Hadir
1. Setiap pekerja mendaftarkan kehadiran dengan melakukan mengisi daftar hadir.
2. Pekerja melaporkan kepada petugas berwenang bila mendapatkan masalah saat
melakukan daftar hadir.
BAB VIII
ISTIRAHAT/CUTI
Pasal 21
Istirahat/Cuti Tahunan
1. Pekerja yang mempunyai masa kerja 1 (satu) tahun atau lebih berhak atas cuti
tahunan sebanyak 12 (dua belas) hari kerja dengan pembayaran upah penuh.
2. Pekerja yang yang belum mempunyai masa kerja kurang dari 1 (satu) tahun
berhak atas cuti tahunan dengan dasar perhitungan prorata satu bulan 1 (satu)
hari.
3. Bila libur nasional jatuh pada saat pekerja menjalankan cuti tahunan maka libur
tersebut tidak diperhitungkan sebagai hari cuti.
14 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
4. Cuti tahunan tidak dapat diganti dengan uang.
Pasal 22
lstirahat Sakit
1. Istirahat sakit dengan upah penuh diberikan kepada Pekerja karena sakit
yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Dokter Perusahaan atau Surat
Keterangan Dokter dari luar Perusahaan.
2. Pekerja yang tidak dapat bekerja karena sakit harus memberitahukan Kepala
Bagian/Ruang atau atasan langsung selambat-lambatnya 3 (tiga) jam
sebelum jam kerja dan atau menyerahkan Surat Keterangan Sakit kepada
perusahaan selambat-lambatnya pada hari pertama bekerja setelah sakit.
3. Istirahat sakit adalah sebanyak jumlah hari yang dicantumkan dalam Surat
Keterangan Dokter.
4. Jika dalam periode waktu 90 (sembilan puluh) hari pekerja meminta ijin cuti
sakit 3 (tiga) kali maka Bagian Sumber Daya Manusia berhak meminta dokter
Perusahaan melakukan pemeriksaan lebih Ianjut.
5. Cuti sakit yang lebih dari 3 (tiga) hari diwajibkan untuk memeriksakan ulang
ke dokter atau harus dirawat di rumah sakit.
Pasal 23
Cuti Haid
1. Pekerja perempuan yang dalam masa haid merasakan sakit berhak tidak
masuk kerja pada hari pertama dan kedua dengan memberitahukan terlebih
dahulu secara lisan kepada perusahaan dan wajib menunjukkan Surat
Keterangan Sakit dari dokter pada hari dimana masuk kerja pertama,dengan
tetap mendapatkan upah yang biasa diterimanya
2. Perusahaan memberikan 1 (satu) pack pembalut haid bagi pekerja yang
masuk kerja pada hari pertama dan kedua haid.
Pasal 24
Cuti Hamil dan Melahirkan / Keguguran
1. Cuti melahirkan/keguguran tidak mengurangi hak cuti tahunan.
2. Pekerja perempuan yang akan melahirkan berhak atas cuti hamil selama total 14
(empat belas) minggu cuti melahirkan.8
8
Dalam UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 82 cuti melahirkan 13 minggu.
15 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
3. Perusahaan mengganti biaya cuti hamil senilai yang diterima oleh pasien kelas 1
(satu) di rumah sakit Tipe B
4. Pemberian fasilitas/biaya Cuti Hamil dan Melahirkan hanya diberikan untuk 3
(tiga) kali melahirkan.
5. Untuk kehamilan yang ke 4 (empat) dan seterusnya, pekerja berhak mendapat
cuti hamil tetapi tanpa bantuan biaya melahirkan.
6. Kelahiran anak kembar dihitung sebagai satu kelahiran.
7. Apabila pekerja perempuan mengalami keguguran pada usia kehamilan berhak
mendapatkan cuti maksimal selama 1,5 (satu setengah) bulan atau sesuai
dengan rekomendasi dari Surat Keterangan Dokter setelah keguguran.
8. Pekerja perempuan yang mengalami keguguran harus disertai Surat Keterangan
Dokter
Pasal 25
Cuti di Luar Tanggungan Perusahaan
1. Pada dasarnya perusahaan tidak memberikan cuti di luar tanggungan, namun
dengan beberapa alasan dapat diberikan antara lain:
 Melanjutkan sekolah atas inisiatif sendiri dengan persetujuan dari pengusaha.
 Merawat keluarga sakit yang memiliki hubungan darah satu garis (semenda).
 Melakukan kegiatan keagamaan di luar yang telah diatur dalam PKB.
2. Jangka waktu cuti di luar tanggungan adalah maksimal 2 (dua) bulan selama
setahun.
3. Pengajuan cuti di luar tanggungan minimal 1 (satu) bulan sebelumnya dan atau
mendapat persetujuan dari General Manager.
Pasal 26
Cuti Panjang
1. Pekerja yang sudah bekerja 5 (lima) tahun terus-menerus berhak mendapat hak
atas cuti panjang pada tahun ke-6 (enam).
2. Pengajuan cuti panjang dilakukan pekerja kepada kepala bagian Sumber Daya
Manusia atau yang setingkat yang ditembuskan kepada pimpinan perusahaan
setidaknya 1 (satu) minggu sebelum pelaksanaan cuti panjang tersebut.
3. Penundaan Cuti Panjang diberikan dalam jangka waktu tidak lebih dari 2(dua)
bulan.
4. Lamanya hak cuti panjang adalah sebagai berikut :
Masa Kerja
(tahun)
5-8
Lebih dari
8, kurang
dari 11
16 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
Lebih dari
11, kurang
dari 15
–
Lebih dari
15, kurang
dari 20
Lebih dari
20
FSP FARKES Reformasi
Hak Cuti
Panjang
…
…
…
…
…
5. Selama menjalankan hak cuti panjang pekerja berhak atas upah penuh.
6. Cuti Panjang harus dianggap sebagai hari libur dan tidak dapat diganti dengan
uang.
Pasal 27
Ijin Menjalankan Ibadah Keagamaan
1) Perusahaan memberikan ijin untuk melaksanakan ibadah keagamaan yang
diakui pemerintah.
2) Permohonan ijin dilakukan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sebelumnya
kepada Bagian Sumber Daya Manusia.
3) Pekerja harus menyerahkan bukti konfirmasi menjalankan ibadah keagamaan
yang dikeluarkan oleh instansi terkait.
4) Lamanya menjalankan ibadah keagamaan harus sesuai dengan jadwal yang
dikeluarkan oleh instansi terkait.
5) Selama ijin menjalankan ibadah keagamaan, pekerja mendapatkan upah
penuh sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
6) ljin menjaIankan ibadah keagamaan tidak mengurangi jatah cuti tahunan
atau cuti Iainnya.
Pasal 28
Ijin Meninggalkan Pekerjaan Dengan Mendapat Upah Penuh
1. Pekerja yang akan meninggalkan pekerjaan terlebih dahulu menyampaikan Surat
Permohonan kepada Kepala Bagian/Ruang .
2. Pekerja mendapatkan ijin meninggalkan pekerjaan dengan mendapatkan upah
adalah untuk keperluan di bawah ini:
a. pekerja menikah, dibayar untuk selama 3 (tiga) hari
b. menikahkan anaknya, dibayar untuk selama 2 (dua) hari
c. mengkhitankan anaknya. dibayar untuk selama 2 (dua) hari
d. membaptiskan anaknya, dibayar untuk selama 2 (dua) hari
e. Istri melahirkan atau keguguran kandungan, dibayar untuk salama 2 (dua)
hari
f. suami/isteri,anak, orang tua/mertua atau anak atau menantu meninggal
dunia, dibayar untuk selama 2 (dua) hari
17 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
g. anggota keluarga (keponakan, sepupu) dalam satu rumah meninggal dunia,
dibayar untuk selama 1 (satu) hari:
Pasal 29
Libur Resmi Nasional dan Hari Besar Keagamaan
1. Perusahaan wajib memberikan libur kepada setiap pekerja pada hari libur resmi
nasional dan atau hari besar keagamaanyang ditetapkan oleh Pemerintah dengan
tetap mendapat upah.
2. Apabila rumah sakit akan mengganti libur nasional maka hal itu atas kesepakatan
dengan serikat pekerja.
BAB IX
PENGUPAHAN
Pasal 30
Umum
1. Pembayaran upah dilakukan satiap 1 (satu) bulan sekali yang dibayarkan minggu
terakhir bulan berjalan, yang merupakan perhitungan hari kerja dan tanggal 1
(satu) sampai tanggal 28 atau 29 atau 30 atau 31 bulan berjalan.
2. Pekerja yang baru mulai masuk bekerja tidak dimulai pada tanggal 1 (satu) atau
terjadi pemutusan hubungan kerja sebelum akhir bulan, maka upah pada bulan
tersebut dihitung secara proporsional dengan jumlah hari kerja.
3. Rumah sakit yang tidak membayar upah pekerja sesuai dengan jadwal yang
disepakti dengan serikat pekerja/ terlambat, maka rumah sakit dikenakan denda
keterlambatan sebesar 5% (lima persen) perharinya untuk jangka waktu 10
(sepuluh) hari kedepan.9
4. Untuk jangka waktu di atas 10 (sepuluh) hari, maka besaran denda adalah 1,5 %
perharinya.
Pasal 31
Komponen Upah
1. Komponen Upah terdiri dari:
a. Upah Pokok;
b. Tunjangan Tetap;
9
PP No. 78 tahun 2015 tentang Pengupahan Pasal 55 ayat (1.a)
18 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
c. Tunjangan Tidak Tetap.
2. Dalam hal komponen upah terdiri dari upah pokok dan tunjangan
tetap maka besarnya upah pokok sedikit–dikitnya 75 % ( tujuh puluh lima
perseratus ) jumlah upah dan sisanya tunjangan tetap.
3. Komponen upah yang menjadi perhitungan pesangon adalah upah pokok,
tunjangan tetap dan tunjangan tidak tetap.
Pasal 32
Lembur
1. Kerja Lembur adalah jam-jam dimana Pekerja melakukan pekerjaan setelah atau
diluar jam kerja biasa atau pada saat hari libur.
2. Dikarenakan kebutuhan operasional rumah sakit maka pengusaha dapat
menugaskan pekerja untuk bekerja lembur.
3. Surat tugas untuk bekerja lembur disetujui oleh Kepala Bagian dan pekerja.
4. Besarnya upah lembur berdasarkan rumusan menghitung upah sejam adalah
1/173 kali upah sebulan.
5. Cara perhitungan upah kerja lembur
sebagai berikut :
a. Kerja lembur dilakukan pada hari kerja untuk jam kerja lembur pertama harus
di bayar upah sebesar 1,5 (satu setengah) kali upah sejam. Untuk setiap jam
kerja lembur berikutnya harus dibayar upah lembur sebesar 2 (dua) kali upah
sejam;
b. Kerja lembur dilakukan pada hari istirahat mingguan untuk waktu kerja 6
(enam) hari kerja, maka untuk 7 (tujuh) jam pertama dibayar 2 (dua) kali
upah sejam. Jam ke delapan dibayar 3 (tiga) kali upah sejam. Jam ke
Sembilan dan sepuluh di bayar 4 (empat) kali upah sejam.
c. Untuk kerja lembur jatuh pada hari libur resmi atau nasional perhitungan
upah lemburnya 4 (empat) kali upah sejam.
6. Pekerja dengan jabatan Manager ke atas tidak berhak mendapatkan upah
lembur.
7. Upah lembur dibayarkan bersamaan dengan waktu pengupahan.
Pasal 33
Kenaikan Upah Berkala
1. Rumah sakit membuat struktur dan skala upah dengan mengacu pada
Kepmenakertrans RI No. 49 tahun 2004.
19 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
2. Kenaikan upah berkala adalah penentuan upah pekerja secara berkala minimal
setahun sekali .
3. Kenaikan upah berkala dibicarakan pengusaha dengan serikat pekerja.
4. Kenaikan berkala berlaku bagi pekerja dengan masa kerja di atas 1 (satu) tahun.
5. Rumusan kenaikan berkala adalah:
Upah/gaji baru = Penyesuaian + masa kerja + prestasi kerja + pendidikan
Pasal 34
Upah Pada Waktu Pemberhentian Sementara (Skorsing)
Pekerja yang dikenakan skorsing atau pemberhentian sementara pembayaran
upahnya ditentukan sebagai berikut :
1. Upah Pokok dan tunjangan tetap dibayar penuh setiap bulannya selama masa
skorsing tanpa mendapatkan Insentip Pelayanan dan atau tunjangan tidak tetap
2. Upah akan dihentikan pembayarannya apabila ada kapastian hukum atas
putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap atau kesepakatan para
pihak.
Pasal 35
Upah Pekerja Pada Waktu Sakit, Menjalan Ibadah dan atau Tugas Negara
1. Pekerja yang tidak dapat melakukan pekerjaan karena sakit yang berkelanjutan,
berhak mendapatkan upah pokok dan tunjangan tetap.
2. Pekerja yang tidak dapat melakukan pekerjaan karena menjalankan ibadah
Keagamaan dan Tugas Negara akan mendapatkan upah pokok dan tunjangan
tetap
Pasal 36
Hak Upah Pekerja Yang Terkait Proses Hukum
1. Pekerja yang tidak dapat melakukan pekerjaan karena ditahan Pihak Berwajib
bukan atas pengaduan pengusaha, pekerja tersebut tidak mendapatkan upah,
akan tetapi perusahaan memberikan bantuan kepada keluarga pekerja.
20 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
2. Besarnya bantuan yang diberikan adalah:
Tanggungan pekerja
(orang)
4
3
2
1
Bantuan Pengusaha
100% upah penuh
75 % upah penuh
50 % upah penuh
40 % upah penuh
3. Bantuan pengusaha diberikan untuk paling lama 6 (enam) bulan.
4. Apabila dalam masa 6 (enam) bulan pekerja dinyatakan tidak bersalah oleh
pengadilan, maka pengusaha wajib menerima pekerja untuk jabatan atau posisi
sebelumnya.
5. Apabila pekerja dinyatakan bersalah oleh pengadilan , maka pengusaha berhak
melakukan pemutusan hubungan kerja dan kepada pekerja pengusaha wajib
membayar hak – haknya sesuai peraturan perundang – undangan dan PKB ini.
Pasal 37
Pajak Pendapatan
1. Pajak pendapatan pekerja atas penghasilan yang diterima setiap bulan
ditanggung oleh pekerja. Bukti setoran pajak tahunan tersebut disampaikan
kepada pekerja yang bersangkutan sesuai dengan jadwal dari Pemerintah yang
berlaku.
2. Setiap pekerja diwajibkan untuk memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak Perorangan
(NPWP) sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Perusahaan membantu pekerja dalam hal pembuatan NPWP bekerjasama
dengan instansi terkait dengan waktu yang dijadwalkan oleh perusahaan.
4. Hal-hal yang terkait dengan pemotongan pajak bagi yang tidak memiliki NPWP
sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pekerja.
Pasal 38
Tunjangan Hari Raya (THR) Keagamaan
1. Tunjangan Hari Raya Keagamaan adalah tunjangan yang diberikan kepada
pekerja yang merayakan Hari Raya Keagamaan.
2. Pambayaran THR Keagamaan diberikanpaling lama 1 (satu) minggu sebelum hari
Raya ldul Fitri (Lebaran) bagi pemeluk agama Islam dan pertengahan bulan
Desember bagi pemeluk agama non Islam.
21 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
3. Tunjangan Hari Raya Keagamaan diberikan kepada pekerja yang telah
mempunyai masa kerja 1 (satu) bulan atau lebih secara terus menerus.
4. Besamya THR adalah:
Masa kerja
THR
0 (nol) tahun – 1 (satu) tahun
1 – 6 tahun
Di atas 6 tahun
Prorata
.... kali upah penuh
.... kali upah penuh
Pasal 39
lnsentif Kehadiran
1. lnsentif Kehadiran adalah tunjangan tidak tetap yang diberikan oleh
pengusaha kepada pekerja setiap kehadiran.
2. Pengusaha memberikan lnsentif Kehadiran sebesar Rp. .... per kehadiran.
3. Peninjauan lnsentif kehadiran akan dilakukan sebagai adendum yang akan
dievaluasi setiap bulan Januari tahun berjalan berdasarkan masukan dari
Serikat Pekerja.
4. lnsentif Kehadiran dibayarkan bersamaan dengan waktu pembayaran upah.
5. Pengusaha menyediakan jasa transportasi bagi pekerja perempuan sampai di
tempat tujuan yang berangkat dan pulang bekerja diantara pukul 23:00
hingga 06:00.
BAB X
BPJS / KESEJAHTERAAN SOSIAL
Pasal 40
BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan
1. Pengusaha wajib mengikutsertakan setiap pekerja beserta keluarganya kedalam
Program BPJS Kesehatan maupun BPJS Ketenagakerjaan
2. Kepesertaan pekerja ke dalam program BPJS Kesehatan tidak
menghilangkan/mengurangi manfaat yang sudah diterima program yang sudah
ada sebelumnya.
3. Perusahaan mengikut sertakan pekerja dalam BPJS Kesehatan kelas 1 (satu)
selain manfaat jaminan sosial kesehatan yang selama ini telah diterima
oleh pekerja.
4. Program BPJS Ketenagakerjaan menyelenggarakan program:
a. jaminan kecelakaan kerja;
b. jaminan hari tua;
c. jaminan pensiun; dan
22 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
d. jaminan kematian.
5. Pengusaha melalui Bagian Sumber Daya Manusia harus memberikan Laporan
Tahunan BPJS Ketenagakerjaan kepada pekerja setiap tahunnya.
Pasal 41
Bantuan Biaya Pangobatan Rawat Jalan dan Rawat Inap
1. Selain mengikutsertakan pekerja dan keluarganya dalam BPJS Kesehatan,
Pengusaha juga memberikan bantuan biaya penggantian pengobatan rawat
jalan dan rawat inap.
2. Pengobatan rawat jalan adalah pengobatan terhadap penyakit yang tidak
memerlukan rawat inap rumah sakit. Pengobatan Ini dilakukan atas anjuran
dokter perusahaan atau dokter lain yang memiliki ijin praktek resmi atau layanan
medis lain yang bekerjasama dengan rumah sakit.
3. Bantuan pengobatan rawat jalan selama jangka waktu 1 (satu) tahun kalender
adalah sebesar 6 (enam) bulan upah penuh. Untuk pekerja dan 3 (tiga) bulan
upah untuk anggota keluarga pekerja.
4. Masa berlaku pengajuan klaim adalah 1 (satu) bulan kalender dari tanggal
kuitansi resmi yang diterima HRD.
5. Bantuan pengobatan rawat jalan yang dimaksud adalah biaya pemeriksaan
dokter, laboratorium, obat-obatan, imunisasi BCG, DPT, Polio, Hepatitis B dan
Campak dengan melampirkan kuitansi resmi.
6. Biaya perawatan gigi atas rekomendasi dokter, berlaku bagi pekerja dan sudah
termasuk dalam biaya pangobatan rawat jalan sebesar Rp. ... dan Rp. ... untuk
keluarga pekerja. Bantuan pengobatan untuk terapi kehamilan dan indikasi
gangguan alat reproduksi dibatasi maksimal 2 (dua) bulan upah penuh.
7. Pengusaha memberikan insentif sebesar 3 ( tiga) kali upah pokok penuh kepada
pekerja yang tidak memanfaatkan bantuan rawat jalan selama tahun kalender (1
Januari sampai dengan 31 Desember), baik berupa penggantian biaya
pengobatan rawat jalan maupun panggunaan obat-obatan dari House Clinic.
8. Nama - nama karyawan yang berhak atas insentif ini akan diumumkan di papan
pengumuman karyawan.
9. Pembayaran bantuan pengobatan dilakukan bersamaan dengan pembayaran
upah bulanan, dengan mengkuti periode penghitungan absensi setiap bulannya.
Pasal 42
Bantuan Pembelian Kaca Mata
23 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
1. Bantuan diluar dari biaya pengobatan rawat jalan yang diberikan pengusaha
untuk pembelian kaca mata kepada pekerja atas rekomendasi dokter.
2. Bantuan pembelian kaca mata berupa lensa dan bingkai kaca mata termasuk
lensa kontak dengan diberikan penggantian 1 (satu) kali dalam tenggang waktu
2 (dua) tahun untuk setiap penggantiannya atau sesuia dengan rekomendasi
dokter.
3. Besarnya penggantian ditetapkan sebesar Rp. ...
Pasal 43
Bantuan Rawat lnap dan Melahirkan
1. Bantuan pengobatan rawat inap melahirkan berlaku bagi :
a. Pekerja dengan 1 (satu) orang istri/suami yang sah dan maksimal 3 (tiga)
anak kandung/anak angkat yang sah secara hukum dengan batas usia
maksimal 21 tahun atau belum menikah. Jika anak pertama sudah melewati
usia tanggungan pengusaha maka anak keempat dapat manggantikan
sebagai anak ke-tiga yang terdaftar di Bagian Sumber Daya Manusia.
b. Pekerja yang telah melewati 3 (tiga) bulan masa kerja.
2. Bantuan biaya melahirkan hanya terbatas untuk 3 (tiga) orang anak, apabila
Pekerja dan/atau istri pekerja pada permulaan masa kerja sudah mempunyai 3
(tiga) orang anak atau lebih, tidak berhak mendapat bantuan biaya melahirkan
sabagaimana diatur dalam program Jaminan Rawat Inap.
3. Besarnya pengganti biaya melahirkan/keguguran adalah sesuai dengan biaya
rumah sakit kelas B.
Pasal 44
Sumbangan Duka
Bila seorang Pekerja, istri/suami, anak, orang tua kandung maupun mertua dari
Pekerja meninggal dunia, maka ahli warisnya menerima sumbangan duka dari
perusahaan sebesar Rp. ...
Pasal 45
Dana Pengembangan dan Pelatihan Pekerja (DP3)
1. DP3 adalah dana yang diperoleh dari potongan 10% dari total Insentif
Pelayanan setiap bulannya.
2. DP3 digunakan untuk kegiatan pengembangan ilmu dan kemampuan diri pekerja
dalam bentuk pelatihan, seminar atau workshop.
24 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
3. DP3 dikelola oleh Komite yang merupakan gabungan dari pengusaha dan Serikat
Pekerja.
4. Setiap kegiatan dan keputusan yang dilakukan oleh Komite diwajibkan untuk
diinformasikan kepada Bagian Sumber Daya Manusia dan Pengurus Serikat
Pekerja.
Pasal 46
Uang Insentif Pelayanan/Uang Jasa10
1. Adalah retribusi yang dipungut sebesar 5 % dari setiap total pembayaran yang
dilakukan oleh pasien/keluarga pasien.
2. Uang Jasa Pelayanan bukan merupakan komponen upah.
3. Dasar perhitungan Uang Jasa Pelayanan mengacu kepada pendapatan rumah
sakit.
Pasal 47
Distribusi Uang Insentif Pelayanan
Uang Insentif Pelayanan diberikan kepada seluruh Pekerja baik medis maupun non
medis.
1. Sistem penghitungan perolehan uang jasa pelayanan dihitung per tanggal 16
setiap bulan sebelumnya sampai dengan tanggal 15 bulan berjalan.
2. Uang Insentif Pelayanan dibagikan sebesar 90% berdasarkan sistem bagi rata.
3. 10 % dari uang Insentif Pelayanan tersebut digunakan untuk Dana
Pengembangan dan Pelatihan Pekerja (DP3)
4. Uang Insentif Pelayanan yang tidak tertagih akan diperhitungkan pada uang jasa
pelayanan bulan berikutnya.
5. Perhitungan jumlah yang tidak tertagih dapat dilakukan sekaligus.
6. Cuti yang mendapatkan uang Insentif Pelayanan adalah :
a. Cuti tahunan
b. Cuti Insidentil
c. Cuti panjang .
d. Cuti melahirkan bagi pekerja perempuan, perhitungan berdasarkan jumlah
hari cuti yang diambil
e. Libur Resmi Nasional dan hari besar keagamaan sesuai dengan penetapan
pemerintah.
f. Cuti sakit.
g. Cuti sakit berkepanjangan, pendistribusian mengikuti sistem pengupahan cuti
sakit berkepanjangan sasuai dengan perundang-undangan yang berlaku.
10
PP No. 78 tahun 2015 Pasal 6 ayat (2.c)
25 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
h. Cuti yang dalam hal pekerja ditahan pihak yang berwajib karena diduga
melakukan tindak pidana bukan atas pengaduan pengusaha, maka
pendistribusian berdasarkan ketentuan undang-undang yang berlaku
i. Skorsing yang tidak terbukti bersalah akan mandapatkan di bulan berikutnya
(penghitungan berdasarkan hari yang belum dibayarkan).
7. Beberapa hal yang tidak mendapatkan uang jasa pelayanan :
 Cuti menjalankan ibadah keagamaan
 Cuti diluar tanggungan Perusahaan
BAB XI
KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA ( K3 )
Pasal 48
Panitia Pembina Keselamatan & Kesehatan Kerja (P2K3)
1. Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3) Rumah Sakit ….. sesuai dengan peraturan
pemerintah yang berlaku. Panitia Pembina Keselamatan & Kesehatan Kerja
(P2K3) RS …. terdaftar dengan Nomor : ……
2. Pengusaha dan pekerja harus mentaati ketentuan-ketentuan tentang
keselamatan kerja guna mencegah timbulnya kecelakaan kerja dan sakit akibat
kerja, mentaati petunjuk-petunjuk keselamatan dan kesehatan kerja dan
menjaga kebersihan lingkungan di tempat kerja sesuai dengan Peraturan
perundang-undengan yang berlaku tentang sistem Manajeman Keselamatan dan
Kesehatan kerja.
3. Pengusaha dan serikat pekerja memprogramkan pelatihan dan menyediakan
perlengkapan keselamatan kerja dan perlindungan diri.
4. Pekerja wajib memelihara dan memakai perlengkapan pelindung diri yang telah
disediakan. Bagi Pekerja yang melanggamya akan dikenakan sangsi sesuai jenis
kesalahan yang berlaku.
5. Pelatihan K3 bersifat wajib, apabila pekerja tidak mangikuti pelatihan K3 setelah
dijadwalkan, tanpa atasan yang wajar dan atau izin dan Kepala Departemen,
maka dianggap melakukan pelanggaran.
Pasal 49
Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
1. Pengusaha dan pekerja bertanggung jawab bersama dalam menjaga
keselamatan dan kesehatan lingkungan kerja.
2. Pengusaha menjadwalkan pemeriksaan kesehatan berkala bagi pekerja pada
posisi tertentu, seperti :
a. Pemeriksaan setiap 6 (enam) bulan bagi semua pekerja yang berhubungan
dengan medis.
26 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
b. Pemeriksaan setiap 1 (satu) tahun sekali bagi pekerja yang bekerja pada
tempat kerja non medis.
3. Laporkan semua kebiasaan yang tidak aman, kondisi yang membahayakan
secepatnya kepada atasan langsung.
4. Periksa peralatan sebelum digunakan dan laporkan semua peralatan yang
macet/tidak berfungsi dan jangan gunakan peralatan yang belum pernah dilatih
untuk menggunakannya.
5. Pasang rambu-rambu apabila pekerjaan yang sedang dikerjakan mengandung
resiko bahaya: separti area basah, licin, benda tajam dan sebagainya.
BAB XII
TATA TERTIB
Pasal 50
Peraturan Tata Tertib
1) Pekerja mencatat kehadiran dan kepulangannya pada mesin pencatat kehadiran.
2) Pekerja berada di lokasi kerja tepat waktu.
3) Menetapkan rumah sakit sebagai kawasan bebas asap rokok (NO SMOKlNG
AREA)
4) Pekerja melaporkan dan menghubungi bagian Security atas penemuan barang di
area rumah sakit yang tidak diketahui kepemilikannya.
5) Pekerja dan pengusaha tidak dibenarkan untuk meminta dan menerima uang,
barang, jasa, komisi, hadiah, lmbalan atau keuntungan lain untuk kepentingan
pribadi dari pihak pasien.
6) Pekerja memberitahukan kepada Bagian Sumber Daya Manusia (personalia)
mengenai perubahan status pribadi seperti perubahan alamat, nomor telepon,
status atau jumIah keluarga yang menjadi tanggungan.
7) Menjungjung tinggi kode etik profesi masing-masing
8) Mendukung visi dan misi organisasi
BAB XIII
SANKSI – SANKSI
Pasal 51
Pengertian
1. Peringatan Lisan adalah peringatan yang di berikan oleh atasan langsung pekerja
atas kesalahan atau kealphaan pekerja atas pekerjaan dan atau tanggung jawab
pekerja yang tidak membahayakan pekerja, rumah sakit maupun pasien atau
keluarga pasien.
2. Surat Peringatan adalah Surat yang dikeluarkan oleh atasan langsung atau
Kapala Bagian yang fungsinya sebagai peringatan / pembinaan terhadap
kesalahan yang dilakukan oleh pekerja didalam menjalankan tugas atau
peraturan tata tertib yang berlaku setelah beberapa kali diberi Peringatan Lisan.
27 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
3. Surat Skorsing adalah pembebasan tugas pekerja dari kewajiban bekerja karena
kesalahan atau kealphaan yang dilakukan setelah sebelumnya sudah diberi Surat
Peringatan
Pasal 52
Tata Cara Pemberian Surat Peringatan
1. Surat Peringatan diberikan oleh atasan langsung dan atau 1 (satu) tingkat di
atasnya kepada pekerja yang melakukan pelanggaran peraturan dan syarat kerja
yang berlaku.
2. Surat Peringatan dibuat dalam Bahasa Indonesia.
3. Surat Peringatan dibuat rangkap 3 (tiga)
- Asli untuk arsip Pekerja di bagian Sumber Daya Manusia
- Lembar kedua untuk Kepala Bagian yang bersangkutan
- Lembar ketiga untuk pekerja yang bersangkutan,
- Serikat Pekeria memperoleh duplikat surat peringatan dari pengusaha
dan/atau pekerja yang menjadi anggota serikat pekerja.
4. Surat skorsing ditembuskan ke Disnakertrans setempat sebagai pemberitahuan
apabila dikemudian hari menjadi proses pemutusan hubungan kerja (PHK).
Pasal 53
Tingkat Pelanggaran, Sanksi dan Kewenangan
Tingkat
Pelanggaran
Sanksi
1
Peringatan lisan
2
Peringatan tertulis
pertama
3
Peringatan tertulis
kedua
4
Peringatan tertulis
ketiga (terakhir)
Masa
Berlaku
3 bulan
3 bulan
3 bulan
Yang berwenang / berkewajiban
Atasan langsung,
Cc: Bagian Sumber Daya Manusia
Kepala Bagian
Cc: Bagian Sumber Daya Manusia
Kepala Bagian
Cc: Bagian Sumber Daya Manusia
-
3 bulan
-
Kepala bagian dan Petugas Sumber
Daya Manusia atas permintaan
Kepala Bagian
Serikat pekerja
Cc : Sudinaker
5
Pembebasan tugas
sementara
Paling lama 3
Sumber Daya Manusia/HRD
bulan
28 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
(Skorsing)
5
Pemutusan
Hubungan Kerja
Sampai
putusan PHI
Kepala bagian dan Petugas Sumber Daya
Manusia atas permintaan Kepala Bagian
Cc : Sudinaker
BAB XIII
SKORSING DAN PHK
Pasal 54
Skorsing
1. Skorsing adalah tindakan pemberhentian sementara yang dilakukan pengusaha
kepada pekerja karena :
-
Pembinaan; atau
Sedang manunggu proses pemutusan hubungan kerja atau penyelesaian
perselisihan hubungan lndustrial.
2. Skorsing pembinaan diberikan kepada pekerja dalam rangka mengajak pekerja
untuk introspeksi atas kesalahan atau kelalaian yang dilakukan pekerja.
3. Skorsing pembinaan berlangsung selama paling lama 14 (empat belas) hari kerja.
4. Selama skorsing baik pembinaan maupun menunggu proses penyelesaian
perselisihan, pekerja berhak atas upah penuh.
Pasal 55
Kepastian Hukum Setelah Pemberhentian Sementara/Skorsing
1. Pekerja yang terkena skorsing dalam penyelesaian Hubungan Industrial apabila
terbukti tidak bersalah, dipekerjakan kembali pada posisi/jabatan sebelum
diberlakukannya skorsing atau posisi/jabatan lain yang diputuskan secara
bipartite.
2. Pekerja yang terkena skorsing dan terbukti bersalah, diputuskan hubungan
kerjanya dan pekerja mendapatkan haknya sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku.
3. Pemberhentian sementara harus diberitahukan oleh pengusaha secara terbuka
kepada pekerja/buruh dengan tembusan kepada serikat pekerja/buruh.
Pasal 56
Pemutusan Hubungan Kerja
29 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
Pemutusan hubungan kerja (PHK) adalah pengakhiran hubungan kerja karena suatu
hal yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara pekerja dan
pengusaha.
Pemutusan hubungan kerja dapat terjadi dengan :
1. Pemutusan hubungan kerja dapat dilakukan oleh pekerja, pengusaha, maupun
kesepakatan keduanya
2. Proses PHK harus mengacu pada penetapan dari lembaga panyelesaian
perselisihan hubungan Industrial dengan tetap mengacu kepada hak dan
kewajiban berdasarkan Perjanjian Kerja Bersama yang berlaku.
3. Perusahaan dapat melakukan PHK tanpa penetapan dari lembaga penyelesaian
perselisihan hubungan Industrial dalam hal berikut:
a. Pekerja masih dalam masa percobaan kerja
b. Pekerja mengajukan permintaan pengunduran diri
c. Pekerja mancapai usia pensiun
d. Pekerja meninggal dunia .
e. Keadaan kesehatan Pekerja yang tidak mengijinkan untuk bekerja seperti
menderita penyakit kejiwaan, cacat sepenuhnya, dan/atau permanen
berdasarkan rekomendasi dokter sehingga tidak dapat menjalankan
kewajibannya dalam bekerja.
4. Pemutusan hubungan kerja karena tindakan pelanggaran tata tertib perusahaan.
5. Perusahaan tidak membayar upah 3 (tiga) bulan berturut-turut atau lebih
sebagaimana dimaknai dalam putusan Mahkamah Konstitusi No. 58/PUU-IX/2011
Pasal 56
PHK Selama Masa Percobaan
1. PHK dengan masa percobaan adalah Pemutusan Hubungan Kerja yang dilakukan
pengusaha kepada pekerja atau sebaliknya selama masa percobaan.
2. Pengusaha dapat melakukan PHK dikarenakan atas penilaian dari atasan
langsung dan/atau Kepala Bagian/Ruang karena pekerja tidak memenuhi
kelayakan kerja yang diinginkan pengusaha.
3. Pekerja tidak berkeinginan melanjutkan pekerjaan di rumah sakit.
Pasal 57
PHK Pengunduran Diri
1. PHK karena pengunduran diri adalah Pemutusan Hubungan Kerja sepihak yang
dilakukan karena keinginan sendiri dari pekerja.
2. PHK karena pengunduran diri harus melalui :
a. Permohonan pengunduran diri oleh pekerja yang diajukan secara tertulis
kepada Kepala Bagian Sumber Daya Manusia dan Kepala Bagian yang
30 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
bersangkutan selambat-Iambatnya 30 (tiga puluh) hari sebelum tanggal
pengunduran diri.
b. Tetap menjalankan kewajiban sampai dengan hari terakhir pengunduran
dirinya.
c. Melakukan prosedur pengembalian barang milik rumah sakit.
3. Pekerja yang menjalankan prosedur mengundurkan diri mendapatkan
penggantian hak cuti atau hari libur yang belum diambil, serta berhak atas uang
pisah.
4. Pekerja yang mengundurkan diri dengan tidak memberikan surat pengunduran
diri minimal 30 (tiga puluh) hari sebelumnya tidak berhak atas uang pisah,
kecuali posisi atau jabatan tertentu yang karena sifat kerjanya harus disegerakan
pengunduran diri.
Pasal 58
PHK Karena Usia Pensiun
1. PHK karena usia pensiun adalah pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh
pengusaha atau pekerja karena telah memasuki usia pensiun yaitu 55 (lima
puluh Iima) tahun atau usia lain diatas 45 (empat puluh lima) tahun / pensiun
dini berdasarkan kesepakatan antara pengusaha dan pekerja.
2. Pengusaha memberikan surat pemberitahuan kepada pekerja yang akan
memasuki usia pensiun (55 tahun) 2 (dua) bulan sebelumnya.
3. Pensiun karena keinginan dari pekerja dengan usia di bawah 55 tahun (pension
dini), maka pekerja wajib mengajukan surat kepada Bagian Sumber Daya
Manusia 1 (satu) bulan sebelumnya.
4. Pekerja yang disetujui pensiun, selain manfaat yang didapatkan dari kepesertaan
BPJS, juga mendapatkan dari perusahaan :
- Uang Pesangon 2 (dua) kali sebagaimana diatur dalam peraturan perundangundangan yang berlaku;
- uang Panghargaan Masa kerja satu kali sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku;
- hak lain sesuai dengan perundang – undangan; dan
- Uang Pisah.
5. Pekerja yang disetujui pensiun wajib melakukan prosedur pengembalian barang
rumah sakit di hari terakhir bekerja.
Pasal 59
PHK karena Pekerja Meninggal Dunia
1. Hubungan Kerja antara pekerja dan pengusaha putus demi hukum karena
meninggalnya pekerja.
31 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
2. Pihak ahli waris pekerja yang meninggal dunia berhak atas uang pesangon, uang
penghargaan masa kerja, dan uang penggantian hak sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku dan manfaat jaminan kematian dari pihak BPJS
Ketenagakerjaan.
3. Pihak ahli waris wajib menyerahkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan ke
Bagian Sumber Daya Manusia paling lama 30 (tiga puluh) hari.
Pasal 60
PHK karena Sakit Berkepanjangan
1. PHK karena sakit berkepanjangan adalah pemutusan hubungan kerja oleh pihak
pengusaha kepada pekerja atau permohonan dari pihak pekerja kepada
pengusaha dikarenakan pekerja mengalami sakit berkepanjangan atau
mengalami cacat tetap karena kecelakaan kerja maupun diluar kecelakaan kerja
dan tidak dapat kembali bekerja dan telah melampaui masa 12 (dua belas)
bulan.
2. Pekerja yang di PHK karena hal tersebut berhak mendapatkan uang pesangon,
uang penghargaan masa kerja, dan uang penggantian hak sesuai peraturan
perundangan yang berlaku.
Pasal 61
PHK karena Pelanggaran syarat kerja
1. Yang dimaksud PHK pada pasal ini adalah pekerja melakukan pelanggaran tata
tertib diatur dalam Parjanjian Kerja Bersama, yang merupakan pengulangan
pelanggaran sebelum habis masa berlaku surat peringatan ke tiga.
2. Pekerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja dengan alasan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memperoleh uang pesangon, uang
penghargaan masa kerja. dan uang penggantian hak sesuai peraturan
perundangan yang berlaku.
Pasal 62
PHK karena perubahan status kepemilikan perusahaan
1. Dalam kondisi perubahan status, merger (Pengabungan), perubahan kepemilikan
(akuisisi) perusahaan dan pekerja memilih tidak melanjutkan hubungan kerja.
2. Perusahaan melakukan efisiensi berupa tutup tidak permanen atau bersifat tidak
sementara waktu sebagaimana dimaknai dalam putusan Mahkamah Konstitusi
No. 19/PUU-IX/2011
3. Pekerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja dengan alasan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) memperoleh minimal Uang
32 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
Pesangon 2 (dua) kali peraturan, uang Panghargaan Masa kerja satu kali sesuai
peraturan perundang-undangan yang berlaku dan Uang Pisah.
Pasal 63
PHK karena Pelanggaran Kewajiban Perusahaan
1. Pekerja dapat mengajukan pemutusan hubungan kerja manakala perusahaan
tidak menjalankan kewajibannya
2. Tindakan perusahaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dilakukan
pengajukan pemutusan hubungan kerja dari pekerja sebagaimana telah diatur
dalam peraturan perundang-undangan dan juga dalam kondisi perusahaan tidak
membayar upah 3(tiga) bulan berturut-turut atau lebih sebagaimana dimaknai
dalam putusan Mahkamah Konstitusi No. 58/PUU-IX/2011
3. Pekerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja dengan alasan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) memperoleh minimal Uang Pesangon 2
(dua) kali peraturan, uang Panghargaan Masa kerja satu kali sesuai peraturan
perundang-undangan yang berlaku dan Uang Pisah
BAB XIV
UANG PESANGON, UANG PENGHARGAAN MASA KERJA, UANG PENGGANTI
HAK DAN UANG PISAH
Pasal 64
Uang Pesangon
1. Pemberian Uang Pesangon, Uang Penghargaan Masa Kerja dan Uang
Penggantian Hak dalam hal Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), disesuaikan
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Besarnya Uang Pesangon yang dimaksud adalah
Perhitungan uang pesangon sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) paling
sedikit sebagai berikut:
a. masa kerja kurang dari 1 (satu) tahun, 1 (satu) bulan upah;
b. masa kerja 1 (satu) tahun atau lebih tetapi kurang dari 2 (dua) tahun, 2
(dua) bulan upah;
c. masa kerja 2 (dua) tahun atau lebih tetapi kurang dari 3 (tiga) tahun, 3 (tiga)
bulan upah;
d. masa kerja 3 (tiga) tahun atau lebih tetapi kurang dari 4 (empat) tahun, 4
(empat) bulan upah;
e. masa kerja 4 (empat) tahun atau lebih tetapi kurang dari 5 (lima) tahun, 5
(lima) bulan upah;
f. masa kerja 5 (lima) tahun atau lebih, tetapi kurang dari 6 (enam) tahun, 6
(enam) bulan upah;
33 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
g. masa kerja 6 (enam) tahun atau lebih tetapi kurang dari 7 (tujuh) tahun, 7
(tujuh) bulan upah.
h. masa kerja 7 (tujuh) tahun atau lebih tetapi kurang dari 8 (delapan) tahun,
8 (delapan) bulan upah;
i. masa kerja 8 (delapan) tahun atau lebih tetapi kurang dari 10 (sepuluh) tahun,
9 (sembilan) bulan upah;
j. masa kerja lebih dari 10 (sepuluh) tahun, 12 (dua belas) bulan upah.
Pasal 65
Uang Pengargaan Masa Kerja
Besarnya Uang Penghargaan Masa Kerja adalah :
a. masa kerja 3 (tiga) tahun atau lebih tetapi kurang dari 6 (enam) tahun, 2
(dua) bulan upah;
b. masa kerja 6 (enam) tahun atau lebih tetapi kurang dari 9 (sembilan)
tahun, 3 (tiga) bulan upah;
c. masa kerja 9 (sembilan) tahun atau lebih tetapi kurang dari 12 (duabelas)
tahun, 4 (empat) bulan upah;
d. masa kerja 12 (dua belas) tahun atau lebih tetapi kurang dari 15 (lima
belas) tahun, 5 (lima) bulan upah;
e. masa kerja 15 (lima belas) tahun atau lebih tetapi kurang dari 18 (delapan
belas) tahun, 6 (enam) bulan upah;
f. masa kerja 18 (delapan belas) tahun atau lebih tetapi kurang dari 21
(duapuluh satu) tahun, 7 (tujuh) bulan upah;
g. masa kerja 21 (dua puluh satu) tahun atau lebih tetapi kurang dari 24
(dua puluh empat) tahun, 8 (delapan) bulan upah;
h. masa kerja 24 (dua puluh empat) tahun, 10 (sepuluh ) bulan upah.
i. Masa kerja 25 (dua puluh lima) tahun atau lebih, 12 ( dua belas) bulan upah
Pasal 66
Uang Pengganti Hak
1. Uang Pengganti Hak adalah hak cuti tahunan, cuti panjang. libur nasional yang
belum diambil oleh pekerja.
2. penggantian perumahan serta pengobatan dan perawatan ditetapkan 15%
(limabelas perseratus) dari uang pesangon dan atau uang penghargaan masa
kerja bagi yang memenuhi syarat;
3. Besarnya uang penggantian hak ditetapkan sesuai dengan PKB dan perundangundangan yang berlaku.
Pasal 67
Uang Pisah11
11
UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 156 ayat (4.d)
34 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
Besarnya uang pisah ditetapkan sebagai berikut:
Masa Kerja (tahun)
Besarnya Uang Pisah
3-6
1 bulan upah
7-10
3 bulan upah
11-15
5 bulan upah
>16
7 bulan upah
Pasal 68
Upah Proses
Perusahaaan tetap wajib membayarkan upah yang biasa diterima (upah proses)
apabila terjadi perselisihan hubungan industrial hingga pemutusan hubungan kerja
yang berkekuatan hukum tetap atau sesuai kesepakatan para pihak.12
BAB XV
PENYELESAIAN PENGADUAN
Pasal 69
Pertemuan Rutin
Untuk memastikan komunikasi yang lancar dan hubungan kerja yang harmonis
antara Pengusaha dan Serikat Pekerja/buruh. maka pertemuan antara kedua belah
pihak akan dilakukan minimal sekali dalam 1 (satu) bulan yang waktunya akan
disepakati oleh para pihak.
Pasal 70
Penyelesaian Pengaduan
1. Untuk melaksanakan hubungan kerja yang harmonis antara Pengusaha dan
Pekerja maka para pihak wajib mentaati semua ketentuan peraturan yang
berlaku secara murni dan konsisten.
2. Segala pelanggaran norma ketenagakerjaan yang bersifat regulatif maupun yang
telah disepakati oleh para pihak seperti Perjanjian Kerja Bersama ini dapat
dilaporkan oleh para pihak kepada instansi ketenagakerjaan terkait
3. Hasil pelaporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) yang ditetapkan dalam
bentuk nota pemeriksaan dan sejenisnya wajib dijalankan oleh para pihak
4. Apabila seorang pekerja keberatan dengan surat peringatan atau PHK yang
dilakukan olah Pengusaha maka Pekerja berhak mengajukan keberatannya
kepada Kepala Bagian/Ruang, bertingkat ke Kepala Bagian Sumber Daya Manusia
12
UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 155 ayat 3
35 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
jika belum juga terpenuhi dapat meminta didampingi oleh pengurus Serikat
Pekerja guna menyelesaikan perselisihan yang terjadi (Tingkat Bipartit).
5. Apabila permasalahan tidak dapat diselesaikan pada Tingkat Bipartit, maka dapat
dimintakan bantuan pihak ketiga untuk melakukan mediasi, konsiliasi, ataupun
arbitase.
6. Dalam hal telah dilibatkannya pihak ketiga sebagaimana dimaksud dalam ayat
(5) tidak kunjung tercapai kesepakatan, maka kebenaran masing-masing pihak
akan dapat diuji dalam pengadilan hubungan industrial (PHI) maupun pengadilan
lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
7. Masa atau waktu penyelesaian setiap pengajuan keberatan adalah 7 (tujuh) hari
kerja di luar putusan Pengadilan Hubungan Industrial.
Pasal 71
Keadaan Darurat (Force Majeur)
1. Keadaan Darurat adalah keadaan yang dapat mengakibatkan pemutusan
hubungan kerja yang dikarenakan adanya faktor eksternal dan tidak
berhubungan dengan permasalahan hubungan industrial.
2. Keadaan darurat yang di maksud dalam perjanjian ini meliputi situasi sebagai
akibat dari kebakaran, banjir, gempa bumi, perang, kerusuhan atau situasi lain
yang diluar kendali pihak Pengusaha.
3. Dalam hal Pemutusan Hubungan Kerja Masal karena Perusahaan tutup akibat
mengalami kerugian terus menerus disertai dengan bukti laporan keuangan yang
telah diaudit oleh akuntan publik paling singkat 2 (dua) tahun terakhir atau
keadaan memaksa (Force Majeur), besamya uang pesangon, uang Penghargaan
Masa kerja dan diganti kerugian ditetapkan berdasarkan ketentuan undangundang Ketenagakerjaan atau atas persetujuan kedua belah pihak ditetapkan
lebih besar dari aturan normatif.
BAB XVI
KETENTUAN PERALIHAN DAN PENUTUP
Pasal 72
Ketentuan Peralihan
1. Dengan berlakunya Perjanjian Kerja Bersama ini, merupakan acuan dalam
pemenuhan hak pekerja, Pengusaha dan Serikat Pekerja.
2. Dalam hal terjadi perubahan nama perusahaan ataupun perusahaan
menggabungkan diri dengan perusahaan lain, maka perjanjian kerja bersama ini
tetap berlaku sampai dengan berakhirnya jangka waktu perjanjian kerja bersama
ini kecuali dinyatakan lain oleh serikat pekerja
3. Apabila dalam jangka waktu berlakunya Perjanjian Kerja Bersama ini terbit
peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan yang nilainya lebih tinggi dari
36 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
4.
5.
6.
7.
isi Perjanjian Kerja Bersama ini, maka para pihak sepakat untuk menyesuaikan isi
perjanjian kerja bersama ini dengan peraturan perundang - undangan
ketenagakerjaan yang baru.
Para pihak sepakat untuk melakukan perundingan perjanjian kerja bersama
berikutnya paling lama 3 (tiga) bulan sebelum masa berakhirnya perjanjian kerja
bersama ini.
Apabila pihak Pengusaha tidak mau melakukan perundingan PKB periode
berikutnya atas permintaan pihak Serikat Pekerja, maka pihak Pengusaha berhak
membayar kesejahteraan yang tercantum di PKB in 2 (dua) kali dari nilai
sebelumnya.
Apabila salah satu dan kedua belah pihak yang menandatangani perjanjian ini
tidak lagi menjabat atau tidak lagi bekerja di rumah sakit, maka perjanjian dan
segala isinya tetap berlaku sampai selesai masa berlakunya.
Dalam hal perundingan perjanjian kerja bersama berikutnya belum selesai pada
saat berakhirnya perjanjian kerja bersama ini, maka perjanjian kerja bersama ini
tetap berlaku sampai paling lama 6 (enam) bulan setelah berlakunya jangka
waktu perjanjian kerja bersama
Pasal 73
Berlakunya Perjanjian Kerja Bersama
1. Perjanjian Kerja Bersama ini mulai berlaku dan mengikat sejak tanggal
ditandatangani untuk masa 2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang paling lama 1
(satu) tahun atas kesepakatan kedua belah pihak.
2. Perjanjian Kerja Bersama ini dibuat dan ditandatangani dalam rangkap 3 (tiga)
asli dan dibagikan kepada :
- Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi setempat.
- Pengusaha
- Serikat Pekerja
3. Salinan Perjanjian Kerja Bersama ini dibukukan dan wajib diberikan perusahaan
kepada setiap pekerja untuk dibaca, di sosilisasikan, dipahami dan dilaksanakan.
4. Penerbitan buku Perjanjian Kerja Bersama ini sepenuhnya dibiayai oleh
Pengusaha
Pasal 74
Penutup
1. Dalam Perjanjian Kerja Bersama ini, apabila terdapat pasal-pasal yang
bertentangan dengan Undang – Undang yang berlaku, maka pasal tersebut batal
demi hukum.
2. Hal-hal yang belum diatur dalam Perjanjian Kerja Bersama ini ditambahkan
kemudian berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.
37 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
–
FSP FARKES Reformasi
3. Perjanjian Kerja Bersama ini dapat diubah ataupun ditambah sewaktu-waktu
dalam jangka waktu keberlakuan Perjanjian Kerja Bersama ini sesuai dengan
kesepakatan kedua boleh pihak.
4. Dengan berlakunya perjanjian kerja bersama ini, maka perjanjian kerja bersama
terdahulu/ peraturan perusahaan dinyatakan tidak berlaku
Ditandatangi di
: ...
Pada hari tanggal
: ...
Para Pihak Yang Mengadakan Kesepakatan Perjanjian Kerja Bersama
Pengurus Serikat Pekerja ...
Pimpinan Rumah Sakit ...
Ketua….
Sekretaris
38 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n
Direktur Utama
–
FSP FARKES Reformasi
Panduan contoh PKB ini disusun oleh Federasi Serikat Pekerja Farmasi dan Kesehatan Reformasi (FSP
FARKES R), dan digunakan untuk kalangan sendiri. Bilamana ada pertanyaan atau klarifikasi silahkan
hubungi saudara Iwan Setiawan, Departemen Hukum, Advokasi dan PKB, DPP FSP FARKES R,
39 | C o n t o h P K B S e k t o r K e s e h a t a n – F S P F A R K E S R e f o r m a s i
Email: [email protected]
Download