Isolasi Bakteri dari Lumpur Limbah Tekstil dan

advertisement
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Industri tekstil dan produk tekstil Indonesia (TPT) memainkan peran yang
cukup besar dalam menunjang perekonomian nasional. Pada tahun 2006,
industri ini memberikan kontribusi sebesar 11,7% terhadap ekspor nasional,
20,2% terhadap surplus perdagangan nasional dan 3,8% terhadap pembentukan
Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Disamping itu, Industri ini tekstil mampu
menyerap tenaga kerja sekitar 1,84 juta orang (Miranti 2007). Namun, saat ini
keberadaan industri tekstil menjadi industri kontroversi karena di samping
berkontribusi besar terhadap peningkatan perekonomian nasional pada sisi lain
industri tekstil penghasil limbah cair tinggi dianggap sebagai salah satu penyebab
terjadinya pencemaran air. Industri TPT di Indonesia sekitar 85% terkonsentrasi
di pulau Jawa sedangkan sisanya tersebar di Sumatera dan Bali.
Di Bali, sampai saat ini tekstil dan produk tekstil masih menjadi salah satu
komoditas
ekspor
potensial
dalam
meningkatkan
pendapatan
daerah.
Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali periode
Januari sampai Desember 2006, komoditas ekspor hasil industri terhadap total
nilai ekspor sebesar 35,36%. Dari ekspor hasil industri tersebut, tekstil dan
produk
tekstil
(TPT)
merupakan
komoditas
ekspor
terbesar
(26,44%)
dibandingkan dengan komoditas ekspor hasil industri berupa tas (0,58%), sepatu
(1,75%), plastik (4,37%), komponen/rumah jadi ( 0,7%), dan ikan kaleng (1,52%).
Observasi terhadap beberapa sentral industri pencelupan tekstil yang ada
di Bali, keberadaan industri pencelupan tekstil ini sangat berpotensi menimbulkan
pencemaran lingkungan terutama pencemaran air. Hal ini disebabkan lokasi
industri sebagian besar letaknya dekat sungai dan kurang dilengkapi dengan
instalasi pengolahan air limbah yang memadai. Pada umumnya, industri
pencelupan tekstil menampung limbahnya dalam bak penampung kemudian
dibuang ke badan-badan air atau langsung ke sungai melalui pipa penyalur.
Kandungan zat warna dalam air sebesar 1 mg/L sudah menyebabkan air tampak
berwarna, sementara kandungan zat warna pada limbah tekstil umumnya
berkisar antara 20-200 mg/L sehingga dapat menyebabkan terjadinya perubahan
yang ekstrim pada beberapa parameter kualitas air (Pandey et al. 2007).
2
Pada proses pencelupan tekstil lebih banyak memakai zat warna sintetik
dibandingkan zat warna alam karena zat warna sintetik dapat memenuhi
kebutuhan skala besar, warna lebih bervariasi dan pemakaiannya lebih praktis
(Montano 2007). Di antara zat warna sintetik yang tersebar di pasaran, zat paling
banyak digunakan dalam pencelupan tekstil adalah zat warna reaktif azo.
Zat warna reaktif azo merupakan zat warna sintetik yang mengandung
paling sedikit satu ikatan ganda N=N dan mempunyai gugus reaktif yang dapat
membentuk ikatan kovalen dengan gugus –OH, -NH atau –SH pada serat. Zat
warna reaktif azo banyak digunakan dalam pencelupan kain terutama dari serat
selulosa, rayon dan wool. Hal ini disebabkan zat warna reaktif azo dapat terikat
kuat pada kain, memberikan warna yang baik dan tidak mudah luntur (Blackburn
dan Burkinshaw 2002). Zat warna reaktif azo disintesis untuk tidak mudah rusak
oleh perlakuan kimia maupun fotolitik. Dengan demikian, bila terbuang ke
lingkungan dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama dan mengalami
akumulasi dalam lingkungan sampai pada tingkat konsentrasi tertentu dapat
menimbulkan dampak negatif terhadap daya dukung lingkungan.
Studi yang dilakukan oleh Suganda et al. (2005), tentang evaluasi
pencemaran limbah industri tekstil terhadap kelestarian lahan sawah melaporkan
bahwa lahan sawah yang tergenang limbah tekstil dapat mengurangi produksi
padi. Dalam data penelitian tersebut dinyatakan lahan sawah yang sering terkena
aliran limbah industri tekstil menghasilkan produksi gabah sebesar sekitar 3 - 3,5
ton/ha/musim sedangkan yang tidak kena aliran limbah tekstil produksinya
mencapai 5 - 5,5 ton/ha/musim. Turunnya produksi gabah pada lahan yang
terkena aliran limbah tekstil disebabkan karena air limbah tekstil merusak akar
dan batang padi.
Toksisitas zat warna reaktif azo menurut kriteria Uni Eopa untuk bahan
berbahaya adalah tergolong rendah. Zat warna azo umumnya mempunyai LD50
sebesar 250-2000 mg/kg berat badan dan hanya sedikit yang mempunyai LD50 di
bawah 250 mg/kg berat badan (Van der Zee 2002). Walaupun toksisitas akut zat
warna azo relatif rendah, akan tetapi keberadaan zat warna dalam air dapat
menghambat penetrasi sinar matahari ke dalam air sehingga mengganggu
aktivitas fotosintesis mikroalga. Dampak lanjutannya adalah pasokan oksigen
dalam air menjadi berkurang dan akhirnya memicu aktivitas mikroorganisme
anoksik-anaerob yang menghasilkan produk berbau tak sedap ( Montano 2007).
Disamping itu, perombakan zat warna azo secara anaerob pada dasar perairan
3
menghasilkan senyawa amina aromatik yang kemungkinan lebih toksik
dibandingkan dengan zat warna azo itu sendiri (Van der Zee 2002). Untuk itu,
sistem pengendalian pencemaran limbah tekstil melalui penyediaan instalasi
pengolahan air limbah sangat perlu dilakukan.
Dalam rangka pengendalian pencemaran lingkungan oleh limbah industri,
Pemerintah
Republik
Indonesia
telah
mengeluarkan
KepMen
LH
No.
51/MENLH/10/1995 tentang baku mutu limbah industri cair bagi kegiatan industri
dan PP No.82 tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian
pencemaran air. Kedua perundang-undangan tersebut pada intinya mewajibkan
setiap usaha dan atau kegiatan melakukan pengolahan limbah sampai
memenuhi persyaratan baku mutu air limbah sebelum dibuang ke lingkungan.
Perlindungan terhadap sumber-sumber air saat ini memang harus dilakukan
karena air merupakan komponen lingkungan hidup yang sangat penting bagi
kelangsungan hidup. Konsekuensi dari perundang-undangan tersebut adalah
pelaku industri yang aktivitas industrinya menghasilkan limbah dalam jumlah
besar dan berpotensi mencemari lingkungan harus membangun instalasi
pengolahan air limbah yang memadai.
Sampai saat ini, pembangunan IPAL tekstil masih menjadi masalah
terutama bagi industri kelas menengah ke bawah karena keterbatasan biaya
untuk pembuatan IPAL. Disamping itu, ketersediaan metode pengolahan limbah
yang ada belum banyak bisa diaplikasikan secara langsung pada skala lapang.
Kebanyakan metode pengolahan air limbah tekstil menggunakan cara kimia dan
fisika.
Pelaku
industri
pencelupan
tekstil
mengolah
limbahnya
dengan
menambahkan natrium hipoklorit dan alum yang dikombinasikan dengan batu
kapur. Pengolahan limbah tekstil cara kimia dan fisika cukup efektif
menghilangkan warna, akan tetapi memerlukan biaya yang relatif tinggi dan
pemakaian bahan-bahan kimia yang banyak serta menimbulkan sludge yang
banyak. Adanya sludge dapat mempercepat pendangkalan bak pengolah bak
pengolah limbah sehingga, memerlukan penanganan lanjutan.
Mengingat
kelemahan-kelemahan
pada
pengolahan
limbah
tekstil
menggunakan cara kimia dan fisika, maka alternatif pengolahan yang mulai
digagas adalah menggunakan cara biologi. Penggunaan mikroorganisme untuk
mengolah limbah tekstil sangat potensial untuk dikembangkan karena limbah
tekstil mempunyai kandungan bahan organik yang tinggi dapat dimanfaatkan
oleh mikroorganisme tertentu sebagai sumber nutrisi untuk pertumbuhannya.
4
Pengolahan limbah tekstil secara biologi dapat berlangsung pada kondisi
anaerob,
aerob
maupun
kombinasi
anaerob-aerob,
sedangkan
proses
pengolahannya dibedakan menjadi dua yaitu proses pengolahan dengan
pertumbuhan tersuspensi (suspended growth treatment processes) dan proses
pengolahan
dengan
pertumbuhan
terlekat
(attached
growth
treatment
processes). Pengolahan dengan proses pertumbuhan terlekat dilakukan dengan
mengamobilisasi mikrob pada padatan pendukung membentuk lapisan tipis yang
disebut dengan biofilm. Mikrob yang teramobil pada padatan menghasilkan
densitas populasi lebih tinggi dan stabil, lebih tahan terhadap perubahan kondisi
lingkungan sehingga dalam penggunaannya untuk mengolah limbah mampu
menghasilkan efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan
tersuspensi (HeFang et al. 2004).
1.2. Kerangka Pemikiran
Industri pencelupan tekstil dalam proses produksinya menghasilkan produk
samping berupa air limbah dalam jumlah yang besar dan mengandung berbagai
macam bahan-bahan kimia. Bahan kimia seperti enzim, asam, detergen, sabun,
dan soda abu biasanya digunakan pada proses pengkanjian, pengelantangan
dan pewarnaan. Pewarnaan kain umumnya dilakukan dengan cara mencelupkan
kain yang akan diwarnai ke dalam larutan zat warna tekstil. Air sisa dari
pencelupan tekstil ini, apabila dibuang begitu saja ke perairan tanpa adanya
proses pengolahan terlebih dahulu, maka dapat berdampak negatif bagi
keberlangsungan ekosistem perairan.
Sejauh ini, industri tekstil terutama skala kecil dan menengah belum
mempunyai IPAL yang memadai karena keterbatasan biaya. Untuk mencegah
dampak yang lebih luas akibat limbah tekstil ini, maka penyediaan sistem
pengolahan limbah yang murah, efektif dan efisien serta mudah diaplikasikan
pada skala lapang saat ini sangat diperlukan. Salah satu metode pengolahan
limbah tekstil yang potensial adalah pengolahan limbah menggunakan bakteri
karena limbah tekstil kaya bahan organik, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai
sumber karbon dan energi bagi kehidupannya. Mengingat bahan organik
terutama zat warna reaktif azo yang terkandung dalam air limbah tekstil sangat
tinggi, maka pengolahan limbah yang memenuhi kriteria adalah pengolahan
dengan sistem kombinasi anaerob-aerob. Pada tahap pengolahan anaerob, zat
warna reaktif azo dirombak menjadi senyawa amina aromatik sehingga warna
menjadi hilang. Namun, pada tahap pengolahan anaerob kandungan bahan
5
organik biasanya masih tinggi disertai adanya bau yang tak sedap. Untuk itu,
perlu dilakukan pengolahan lanjutan yaitu tahap pengolahan aerob. Pengolahan
aerob merupakan pengolahan lanjutan yang ditujukan untuk menurunkan bahanbahan pencemar yang belum sempurna terombak pada tahap anaerob.
Kelemahan pengolahan limbah tekstil menggunakan bakteri adalah
efisiensi perombakannya masih rendah. Beberapa faktor yang mempengaruhi
efisiensi perombakan antara lain jumlah dan jenis bakteri, kondisi lingkungan dan
proses yang digunakan dalam mengolah limbah. Untuk itu, pengkajian
penggunaan berbagai jenis bakteri, kondisi lingkungan dan proses pengolahan
limbah menjadi hal yang sangat menarik untuk diteliti. Salah satu pengembangan
teknologi pengolahan limbah tekstil yang dilakukan adalah sistem kombinasi
anaerob-aerob dengan proses pertumbuhan terlekat menggunakan potensi
sumberdaya lokal. Sumberdaya lokal yang digunakan adalah bakteri yang
diisolasi dari lumpur tempat pembuangan limbah tekstil dan media pelekatan
bakteri menggunakan batu vulkanik. Berdasarkan uraian di atas, kerangka
pemikiran penelitian ini disajikan pada Gambar 1.
Industri tekstil
Kondisi sosial, ekonomi,
budaya dan perilaku
masyarakat
Limbah padat
dan cair
Investasi rendah
Jenis
mikroorganisme
Efektif dan efisien
Karakteritik limbah
Biaya operasional murah
Keasaman (pH)
Penambahan
kosubstrat
Konsentrasi zat
warna
Lama pengolahan
Pencemaran
air
Pengolahan limbah
sistem kombinasi
anaerob-aerob
Pemilihan teknologi
pengolahan limbah
Standar baku mutu
Tidak
memenuhi
Gangguan pada kualitas
air,organisme perairan,
estetika dan kesehatan
Memenuhi
Dapat dibuang ke
lingkungan
Menimbulkan kerugian dan
dampak negatif terhadap
lingkungan dan masyarakat
Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian.
6
1.3. Perumusan Masalah
Daerah sentral industri tekstil di Bali seperti Gianyar, Tabanan dan
Denpasar umumnya masuk pada katagori usaha skala kecil dan menengah.
Industri tekstil skala kecil dan menengah yang ada di Bali, sebagian besar
membuang limbahnya begitu saja tanpa dilakukan pengolahan terlebih dahulu.
Sedangkan beberapa industri yang sudah dilengkapi dengan IPAL masih
diragukan efektivitasnya oleh berbagai pihak. Hal ini disebabkan air limbah yang
keluar dari IPAL masih mempunyai warna yang intensitasnya cukup tinggi. Air
limbah tekstil yang dibuang secara langsung ke badan air dapat menimbulkan
permasalahan estetika karena muculnya bau tak sedap dan mengancam
kehidupan organisme akuatik. Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah
belum tersedianya cara pengolahan limbah tekstil yang efektif, murah dan ramah
lingkungan yang bisa diaplikasikan secara langsung pada skala lapang.
Penelitian ini mengembangkan cara pengolahan limbah tekstil dengan
sistem kombinasi anaerob-aerob menggunakan bakteri yang sudah lama
beradaptasi dengan lingkungan limbah tekstil. Beberapa bakteri seperti
Aeromonas sp., Pseudomonas sp., Sphingomonas sp. dan
Rhizobium
radiobacter telah dilaporkan mampu digunakan untuk merombak zat warna tekstil
(Cutright
2001).
Walaupun
demikian,
penelusuran
bakteri-bakteri
dalam
pemanfaatannya untuk mengolah limbah tekstil masih perlu diupayakan untuk
menghasilkan teknologi pengolahan limbah yang lebih optimal. Pengolahan
limbah tekstil menggunakan bakteri sering berlangsung kurang optimal. Hal ini
dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain penggunaan jenis dan jumlah
bakteri yang tidak sesuai, proses pengolahan yang kurang tepat dan kondisi
lingkungan seperti pH, waktu tinggal limbah, ada tidaknya kosubstrat dan
konsentrasi limbah yang kurang mendukung. Proses pengolahan limbah tekstil
dapat dilakukan menggunakan proses pertumbuhan tersuspensi dan proses
pertumbuhan terlekat. Hasil penelitian ini, memperlihatkan pengaruh faktor
lingkungan terhadap efisiensi perombakan zat warna. Disamping itu, penelitian
ini juga memperlihatkan seberapa besar efisiensi pengolahan yang dihasilkan
dari proses pertumbuhan tersuspensi dan terlekat serta menggunakan kultur
tunggal dan konsorsium bakteri yang terlekat pada batu vulkanik.
Menurut Van der Zee (2002), perombakan zat warna azo berlangsung lebih
efisien pada kondisi anaerob dibandingkan pada kondisi aerob. Permasalahan
pengolahan pada kondisi anaerob adalah hasil pengolahan masih mempunyai
7
nilai COD dan BOD5 yang tinggi dan perombakan zat warna azo menghasilkan
amina aromatik yang lebih toksik dibandingkan dengan zat warna azo sendiri.
Oleh karena itu, diperlukan pengolahan lanjutan tahap aerob untuk menstabilkan
bahan organik dan merombak amina aromatik sampai pada tingkat yang lebih
aman sebelum dibuang ke lingkungan. Uji toksisitas terhadap hasil pengolahan
dilakukan untuk melihat tingkat toksisitas relatif dari limbah yang akan dibuang ke
badan air. Lingkup permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini disajikan pada
Gambar 2.
Limbah cair industri tekstil
Bahan organik dan
intensitas warna tinggi
Pengolahan secara
biologi
Glukosa
Konsentrasi zat warna
Lama pengolahan
Kultur tunggal
pH
Pertumbuhan
terlekat
Konsorsium
Tidak toksik
Kultur tunggal
Pengolahan
tahap anaerob
Pertumbuhan
tersuspensi
Pengolahan
tahap aerob
Konsorsium
Memenuhi Standar Baku Mutu
Limbah Industri
Gambar 2 Ruang lingkup permasalahan penelitian.
1.4. Tujuan
1. Mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri yang hidup di lingkungan limbah
tekstil digunakan untuk mengolah limbah tekstil.
2. Menganalisis faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi aktivitas
bakteri dalam merombak zat warna tekstil
3. Mendapatkan sistem kombinasi anaerob-aerob yang lebih efisien dan
potensial digunakan untuk mengolah limbah tekstil.
4. Mengetahui toksisitas hasil pengolahan limbah tekstil sistem kombinasi
anaerob-aerob.
8
1.5. Hipotesis
1. Beberapa bakteri yang hidup dalam lingkungan air limbah tekstil dapat
dimanfaatkan untuk mengolah limbah tekstil dan aktivitas perombakannya
dipengaruhi oleh kondisi lingkungan.
2. Pengolahan limbah tekstil menggunakan bakteri yang teramobil pada batu
vulkanik pada reaktor sistem kombinasi anaerob dan aerob menghasilkan
efisiensi perombakan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengolahan
mengggunakan sel bebas.
1.6. Manfaat Penelitian
1. Memberikan informasi ilmiah tentang pemanfaatan sumberdaya lokal
untuk pengolahan limbah cair industri tekstil.
2. Memberikan informasi ilmiah tentang faktor-faktor yang mempengaruhi
aktivitas bakteri dalam merombak zat warna tekstil
3. Memberikan
sumbangan
ilmiah
terhadap
bidang
bioteknologi
pengendalian limbah cair industri tekstil
1.7. Keterbaruan
Perombakan zat warna tekstil telah banyak dikaji untuk memperoleh cara
penanganan limbah yang tepat, murah dan mudah serta memungkinkan untuk
diaplikasikan pada skala lapang. Kajian yang dilakukan meliputi perombakan
dengan cara fisika, kimia dan biologi atau kombinasi dari ketiga cara tersebut.
Perombakan cara fisika dan kimia dilakukan dengan menggunakan metode
adsorpsi, koagulasi dan oksidasi. Beberapa jenis adsorben yang telah dilaporkan
mampu mengadsorpsi zat warna adalah hidrotalcite (Lazaridis et al. 2003),
karbon aktif (Reddy et al. 2006) dan filtrasi membran (Lubello and Gori 2004).
Metode koagulasi yang telah dikaji di antaranya menggunakan koagulan seperti
FeCl3, dan MgCl2 (Bidhendi et al. 2007), poli-silikat-aluminium-feriklorida dan polialuminium-feriklorida (Yuan et al. 2006). Metode elektro-koagulasi menggunakan
elektroda aluminium dan elektroda besi (Alinsafi et al. 2005; Kashefialasl et al.
2006). Perombakan dengan metode oksidasi menggunakan oksidator kuat
seperti hidrogen peroksida, natrium hipoklorit, kalsium hipoklorit, kalium dikromat
dan kalsium dikromat (Aslam et al. 2004). Metode oksidasi yang banyak
dikembangkan saat ini adalah advanced oxidation processes (AOP) yang
menggunakan oksidator gabungan seperti UV/H2O2, pereaksi fenton, UV/TiO2,
9
H2O2/UV/Fe2+, Ozon/UV, Ozon/H2O2, Ozon/UV/H2O2, dan Ozon/TiO2/H2O2,
(Al-Kdasi et al. 2004). Kajian perombakan zat warna tekstil menggunakan cara
fisika dan kimia pada umumnya memberikan hasil yang cukup efektif. Namun,
pada operasionalnya memerlukan biaya yang relatif tinggi sehingga aplikasinya
pada skala lapang masih menjadi kendala terutama bagi industri skala kecil dan
menengah. Untuk itu, perlu dilakukan inovasi teknologi perombakan zat warna
tekstil ke arah peningkatan efisien dan ramah lingkungan sehingga mampu
menghasilkan teknologi potensial untuk digunakan pada industri tekstil.
Beberapa metode perombakan zat warna tekstil secara biologi yang telah
dilakukan adalah menggunakan jamur, alga dan bakteri. Jamur penghasil enzim
lignolitik seperti lignin peroksidase, mangan peroksidase dan laccase dilaporkan
potensial digunakan untuk mengolah limbah tekstil. Studi tentang beberapa jenis
jamur penghasil enzim lignolitik yang digunakan untuk mengolah limbah tekstil
antara lain, jamur Phanerocaete chrysosporium (Capalash and Sharma 1992),
Trametes villosa dan Trametes pycnoporus (Machado et al. 2006) dan
Aspergillus sp (Ramya et al. 2007). Pemanfaatan alga hijau (green algae) untuk
merombak zat warna monoazo dan diazo (Omar 2008).
Disamping menggunakan jamur dan alga, kajian penanganan limbah zat
warna tekstil menggunakan bakteri saat ini terus dikembangkan karena diyakini
sebagai strategi pengendalian pencemaran yang efektif, murah dan ramah
lingkungan. Studi pemanfaatan bakteri untuk merombak zat warna tekstil yang
telah dilakukan adalah menggunakan teknik batch maupun aliran (flow) yang
berlangsung pada kondisi anaerob, aerob dan kombinasi anaerob-aerob.
Beberapa jenis bakteri yang digunakan untuk merombak zat warna tekstil dengan
teknik batch pada kondisi anaerob adalah (1) konsorsium bakteri dengan
bantuan glukosa sebagai sumber karbon (Mendez et al. 2004; Georgiou et al.
2003), (2) bakteri fakultatif Sphingomonas sp. BN6 dengan bantuan enzim flavin
reductase (Russ et al. 2000), (3) perombakan menggunakan bakteri Rhizobium
radiobacter
MTCC 8161 (Telke et al. 2008) dan (4) konsorium bakteri dari
lumpur limbah tekstil (Stern et al. 2003). Sedangkan studi perombakan dengan
teknik flow yang telah dilakukan adalah Upflow Anaerobic Sludge Blanket
(UASB) menggunakan riboflavin sebagai mediator redoks (Field and Brady 2003;
Somasiri 2006) dan anaerobic granular sludge bed reactor (Yemashova et al.
2004). Disamping bakteri anaerob, bakteri aerob yang digunakan untuk
merombak zat warna tekstil dengan teknik batch adalah bakteri Bacillus cereus,
10
Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus dan Escherichia coli (Ajibola et al. 2005;
Mona et al. 2008) dan Enterobacter agglomerans (Moutaouakkil et al. 2003).
Konsorsium bakteri yang terdiri dari Pseudomonas sp., Bacillus sp., Halomonas
sp., dan Micrococcus sp. (Padmavathy et al. 2003).
Studi perombakan zat warna tekstil menggunakan sistem kombinasi
anaerob-aerob yang telah dilakukan adalah (1) anaerobic-aerobic sequencing
batch reactor (Luangdilok and Panswad 2000 ; Liyan et al. 2001; Gonsalves et al.
2005), (2) Sequencing batch biofilm reactor menggunakan konsorsium bakteri
dari sungai Lagadar (Wahyuni et al. 2003), (3). Pengolahan dengan kombinasi
anaerob-aerob teknik batch menggunakan lumpur aktif (Manurung et al. 2004;
Melgoza et al. 2004), dan (4) Squential anoxic-aerobic bioreactor menggunakan
konsorsium bakteri Stenotrophomonas sp., Pseudomonas sp., dan Bacillus sp.
yang diamobilkan pada poliuretan. Pada tahap anoksik pengaliran zat warna
dilakukan secara up flow fixed-film column reactor sedangkan pada tahap aerob
menggunakan metode continously stirred aerobic reactor (Khehra et al. 2006)
Berdasarkan kajian perombakan zat warna tekstil secara biologi yang telah
dilakukan, pengolahan limbah tekstil menggunakan sistem kombinasi anaerobaerob berlangsung lebih efisien dibandingkan dengan hanya menggunakan
sistem anaerob atau aerob saja. Pengembangan pengolahan limbah tekstil
sistem kombinasi anaerob-aerob saat ini belum banyak dikembangkan
menggunakan bakteri lokal. Bakteri lokal yang sudah lama beradaptasi dengan
lingkungan limbah tekstil pasti mempunyai kemampuan untuk merombak limbah
tersebut. Apabila bakteri-bakteri lokal yang sudah hidup dan beradaptasi dengan
lingkungan limbah tekstil digunakan untuk mengolah limbah tekstil, maka metode
pengolahan limbah tekstil berbasis bakteri ini dapat diimplementasikan pada
skala lapang secara berkelanjutan. Novelty atau kebaruan dari penelitian ini
adalah melakukan pengolahan limbah industri tekstil dengan sistem kombinasi
anaerob-aerob menggunakan bakteri lokal yang diisolasi dari tempat-tempat
limbah tekstil yang diamobilkan pada batu vulkanik. Batu vulkanik juga belum
pernah digunakan sebagai bahan pengamobil bakteri untuk pengolahan limbah
tekstil.
Download