jenis-jenis artritis

advertisement
This page was exported from - Karya Tulis Ilmiah
Export date: Tue Oct 31 20:22:15 2017 / +0000 GMT
JENIS-JENIS ARTRITIS
TINJAUAN TEORI
DEFINISI ARTRITIS
Artritis merupakan suatu bentuk penyakit sendi yang sering dijumpai, meliputi bermacam-macam kelainan dengan penyebab yang
berbeda. (Robbbin & Kumar,1995).
a. JENIS-JENIS ARTRITIS
Dilihat dari faktor penyebab timbulnya arthtitis, arthritis dapat dibagi dalam 4 jenis, yaitu:
1. Artritis Infektif (bakterialis)
2. Artritis Lyme
3. Osteoartritis
4. Artritis rhematoid
Artritis infektif dan artritis rhematoid disebabkan oleh proses peradangan yang sebenarnya, sementara osteoartritis terutama
merupakan penyakit degeneratif dengan sedikit peradangan. Akan tetapi nama tersebut digunakan selama bertahun-tahun, meskipun
telah diusahakan nama baru untuk kelainan tersebut yaitu ?penyakit degeneratif sendi? (degeneratif joint disease). Artritis Lyme
disebabkab oleh spirochaeta yang baru diidentifikasi, disebut Borellia burgdorferi, yang ditularkan oleh kutu Ixodes dammini.
Selanjutnya dalam makalah ini akan dibahas tentang Artritis rhematoid sesuai dengan kasus yang dikelola oleh kelompok penyusun.
A.
B. ARTRITIS RHEMATOID
C.
D. DEFINISI
E. RHEMATOID ARTRITIS ADALAH PERADANGAN YANG KRONIS SISTEMIK, PROGRESIF DAN LEBIH BANYAK
TERJADI PADA WANITA, PADA USIA 25-35 TAHUN.
F.
G. PATOFISIOLOGI
H. INFLAMASI MULA-MULA MENGENAI SENDI-SENDI SINOVIAL SEPERTI EDEMA, KONGESTI VASKULAR,
EKSUDAT FEBRIN DAN INFILTRASI SELULAR. PERADANGAN YANG BERKELANJUTAN, SINOVIAL MENJADI
MENEBAL, TERUTAMA PADA SENDI ARTIKULAR KARTILAGO DARI SENDI. PADA PERSENDIAN INI GRANULASI
MEMBENTUK PANNUS, ATAU PENUTUP YANG MENUTUPI KARTILAGO. PANNUS MASUK KE TULANG SUB
CHONDRIA. JARINGAN GRANULASI MENGUAT KARENA RADANG MENIMBULKAN GANGGUAN PADA NUTRISI
KARTILAGO ARTIKUER. KARTILAGO MENJADI NEKROSIS. TINGKAT EROSI DARI KARTILAGO MENENTUKAN
TINGKAT KETIDAKMAMPUAN SENDI. BILA KERUSAKAN KARTILAGO SANGAT LUAS MAKA TERJADI ADHESI
DIANTARA PERMUKAAN SENDI, KARENA JARINGAN FIBROSA ATAU TULANG BERSATU (ANKILOSIS).
KERUSAKAN KARTILAGO DAN TULANG MENYEBABKAN TENDON DAN LIGAMEN JADI LEMAH DAN BISA
MENIMBULKAN SUBLUKSASI ATAU DISLOKASI DARI PERSENDIAN. INVASI DARI TULANG SUB CHONDRIAL
BISA MENYEBKAN OSTEOPOROSIS SETEMPAT.
I. LAMANYA ARTHRITIS RHEMATOID BERBEDA DARI TIAP ORANG. DITANDAI DENGAN MASA ADANYA
SERANGAN DAN TIDAK ADANYA SERANGAN. SEMENTARA ADA ORANG YANG SEMBUH DARI SERANGAN
PERTAMA DAN SELANJUTNYA TIDAK TERSERANG LAGI. YANG LAIN. TERUTAMA YANG MEMPUNYAI FAKTOR
RHEMATOID (SEROPOSITIF GANGGUAN RHEMATOID) GANGGUAN AKAN MENJADI KRONIS YANG PROGRESIF.
J.
K. ETIOLOGI
L. PENYEBAB DARI ARTRITIS RHEMATOID BELUM DAPAT DITENTUKAN SECARA PASTI, TETAPI DAPAT DIBAGI
DALAM 3 BAGIAN, YAITU:
1. MEKANISME IMUNITAS (ANTIGEN ANTIBODI) SEPERTI INTERAKSI IGG DARI IMUNOGLOBULIN DENGAN
RHEMATOID FAKTOR
2. FAKTOR METABOLIK
3. INFEKSI DENGAN KECENDERUNGAN VIRUS
Output as PDF file has been powered by [ Universal Post Manager ] plugin from www.ProfProjects.com
| Page 1/4 |
This page was exported from - Karya Tulis Ilmiah
Export date: Tue Oct 31 20:22:15 2017 / +0000 GMT
M.
N. TANDA DAN GEJALA
1. TANDA DAN GEJALA SETEMPAT
? SAKIT PERSENDIAN DISERTAI KAKU DAN GERAKAN TERBATAS
? LAMBAT LAUN MEMBENGKAK, PANAS MERAH, LEMAH
? SEMUA SENDI BISA TERSERANG, PANGGUL, LUTUT, PERGELANGAN TANGAN, SIKU, RAHANG DAN BAHU
2. TANDA DAN GEJALA SISTEMIK
? LEMAH, DEMAM TACHIKARDI, BERAT BADAN TURUN, ANEMIA
O.
P. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. TES SEROLOGI
? BSE POSITIF
? DARAH, BISA TERJADI ANEMIA DAN LEUKOSITOSIS
? RHEMATOID FAKTOR, TERJADI 50-90% PENDERITA
2. PEMERIKASAAN RADIOLOGI
? PERIARTRICULAR OSTEOPOROSIS, PERMULAAN PERSENDIAN EROSI
? KELANJUTAN PENYAKIT: RUANG SENDI MENYEMPIT, SUB LUKSASI DAN ANKILOSIS
3. ASPIRASI SENDI
? CAIRAN SINOVIAL MENUNJUKKAN ADANYA PROSES RADANG ASEPTIK, CAIRAN DARI SENDI DIKULTUR DAN
BISA DIPERIKSA SECARA MAKROSKOPIK.
Q.
R. PENATALAKSANAAN
S. BILA RHEMATOID ARTRITIS PROGRESIF DAN ,MENYEBABKAN KERUSAKAN SENDI, PEMBEDAHAN
DILAKUKAN UNTUK MENGURANGI RASA NYERI DAN MEMPERBAIKI FUNGSI. PEMBEDAHAN DAN
INDIKASINYA SEBAGAI BERIKUT:
1. SINOVEKTOMI, UNTUK MENCEGAH ARTRITIS PADA SENDI TERTENTU, UNTUK MEMPERTAHANKAN FUNGSI
SENDI DAN UNTUK MENCEGAH TIMBULNYA KEMBALI INFLAMASI.
2. ARTHROTOMI, YAITU DENGAN MEMBUKA PERSENDIAN.
3. ARTHRODESIS, SERING DILAKSANAKAN PADA LUTUT, TUMIT DAN PERGELANGAN TANGAN.
4. ARTHROPLASTY, PEMBEDAHAN DENGAN CARA MEMBUAT KEMBALI DATARAN PADA PERSENDIAN.
T.
U. DIAGNOSA KEPERAWATAN
V. BERDASARKAN TANDA DAN GEJALA YANG DIALAMI OLEH PASIEN DENGAN ARTRITIS DITAMBAH DENGAN
ADANYA DATA DARI PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK, MAKA DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG SERING MUNCUL
YAITU:
1. GANGGUAN BODY IMAGE BERHUBUNGAN DENGAN PERUBAHAN PENAMPILAN TUBUH, SENDI, BENGKOK,
DEFORMITAS.
2. NYERI BERHUBUNGAN DENGAN PERUBAHAN PATOLOGIS OLEH ARTRITIS RHEMATOID.
3. RISIKO CEDERA BERHUBUNGAN DENGAN HILANGNYA KEKUATAN OTOT, RASA NYERI.
4. GANGGUAN AKTIFITAS SEHARI-HARI BERHUBUNGAN DENGAN TERBATASNYA GERAKAN.
5. KURANG PENGETAHUAN BERHUBUNGAN DENGAN KURANGNYA INFORMASI.
W.
X.
Y. BAB II
Z. ANALISA KASUS
AA.
1. RIWAYAT PENYAKIT
BB. TN R, 54 TAHUN DENGAN KELUHAN UTAMA BADAN TERASA PEGAL-PEGAL SEHABIS OLAHRAGA SEJAK 1
BULAN LALU. KLIEN BERKONSULTASI DENGAN AHLI SYARAF, LALU DIANJURKAN KE ORTHOPEDI DAN
Output as PDF file has been powered by [ Universal Post Manager ] plugin from www.ProfProjects.com
| Page 2/4 |
This page was exported from - Karya Tulis Ilmiah
Export date: Tue Oct 31 20:22:15 2017 / +0000 GMT
DIPASANG TRAKSI SERVIKAL. SETELAH PEMAKAIAN TRAKSI, ADA BENJOLAN DI BAGIAN KANAN ATAS
(DADA). KLIEN TIDAK BISA MENGGERAKKAN TANGAN KANAN, LALU DILAKUKAN OPERASI PENGANGKATAN
TUMOR. RASA NYERI MUNCUL KEMBALI SETELAH 2 HARI POST OPERASI. KLIEN KEMUDIAN MENJALANI
PEMERIKSAAN DIAGNOSA DENGAN HASIL YAITU CHRONIS ARTRITIS STERNOCLAVICULAR JOINT DEXTRA.
CC.
2. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. RADIOLOGI (SCAN)
DD. DITEMUKAN ADANYA SOFT TISSUE SWELLING DI DAERAH STERNOCLAVICULAR JOINT PARASTERNAL
DEXTRA.
2. HISTOPATOLOGI
EE. MAKROSKOPIK : - JARINGAN SEBESAR BIJI JAGUNG, PUTIH. PADA PEMOTONGAN MERUPAKAN KISTA
FF. BERISI MASSA KUNING SEPERTI MENTEGA.
GG. MIKROSKOPIK : - SEDIAAN MENUNJUKKAN JARINGAN DERMIS DAN LEMAK DENGAN SEBUKAN RINGAN
HH. SEL RADANG YANG TIDAK SPESIFIK.
II. - SEDIAAN TERDAPAT SARANG-SARANG ABSES, JARINGAN GRANULASI, VASKULER, JARINGAN
JJ. FIBROKOLAGEN, SYARAF TEPI DAN JARINGAN OTOT LURIK DENGAN SEL-SEL RADANG.
3. HEMATOLOGI
KK. HB 12,8 GR%; HT 37%; ERITROSIT 4,1 JUTA/UL; LEUKOSIT 13700/UL; TROMBOSIT 436000/UL.
LL.
MM. 3. PENATALAKSANAAN
NN. SAAT DILAKUKAN PEMBEDAHAN, DITEMUKAN ADANYA ARTRITIS STERNOCLAVICULAR DEXTRA DAN
DISLOKASI. SELANJUTNYA DILAKUKAN DEBRIDEMEN UNTUK MEMBUANG JARINGAN-JARINGAN GRANULASI
PADA DAERAH SENDI, SINOVEKTOMI DAN OBLIQUE INSISI MEDIAL CLAVICULA UNTUK MEMBUANG BAGIAN
YANG TELAH MERADANG.
OO.
4. ASUHAN KEPERAWATAN
A. PRE OPERATIF.
PP. SEBELUM DILAKUKAN OPERASI, KLIEN TELAH DIPUASAKAN DAN MENJALANI PENGOSONGAN SALURAN
CERNA DENGAN KLISMA DAN DIBERIKAN DULCOLAK 4 TABLET. PREMEDIKASI DIBERIKAN YAITU VALIUM
TABLET 10 MG. DARI HASIL PENGKAJIAN DITEMUKAN BAHWA KLIEN MENGATAKAN MERASA CEMAS DENGAN
OPERASI YANG DI JALANI. BERDASARKAN DATA INI, PERAWAT MENGANGKAT DIAGNOSA YAITU CEMAS
BERHUBUNGAN DENGAN KRISIS SITUASI, YANG DITANDAI DENGAN PENINGKATAN KETEGANGAN DAN
PENINGKATAN TEKANAN DARAH SERTA ADANYA PERNYATAAN CEMAS DARI KLIEN. ADAPUN TUJUAN DARI
INTERVENSI INI ADALAH AGAR KLIEN TIDAK MENGALAMI KECEMASAN MENJALANI OPERASI, DENGAN
KRITERIA HASIL KLIEN NAMPAK RELAKS DAN MAU MENDISKUSIKAN KECEMASANNYA. INTERVENSI YANG
DILAKUKAN ADALAH MENGKAJI TINGKAT KECEMASAN KLIEN DAN MENGGUNAKAN SUPPORT SISTEM YANG
ADA BERUPA ORANG YANG TERDEKAT DENGAN KLIEN UNTUK MENEMANI KLIEN. SETELAH DILAKUKAN
INTERVENSI AKHIRNYA KECEMASAN KLIEN MENURUN TERLIHAT DENGAN KLIEN DAPAT BERCAKAP-CAKAP
SANTAI DENGAN KAKAK KLIEN. SETELAH ITU KLIEN MENJALANI OPERASI.
QQ.
B. INTRA OPERATIF.
RR. SELAMA DILAKUKAN OPERASI, PERAWAT BERPERAN MEMBANTU KELANCARAN OPERASI DAN BEKERJA
DALAM SUATU TIM DENGAN DOKTER BEDAH DAN ANESTESI. PERAN PERAWAT MULAI DARI PERSIAPAN
ALAT-ALAT OPERASI (SEBAGAI INSTRUMENTATOR MAUPUN PERAWAT KELILING), PEMBERSIHAN BAGIAN
TUBUH YANG AKAN DI OPERASI DAN MEMBERSIHKAN KEMBALI RUANGAN SETELAH OPERASI, SERTA
MENGECEK ALAT-ALAT PADA PASIEN, BERUPA INFUS RL, DEXTROSE 5%, DRAIN, KATETER, DAN FIKSASI
DENGAN FIGURE OF 8 MEMAKAI MITELLA 3 MGG.
SS.
C. POST OPERATIF.
Output as PDF file has been powered by [ Universal Post Manager ] plugin from www.ProfProjects.com
| Page 3/4 |
This page was exported from - Karya Tulis Ilmiah
Export date: Tue Oct 31 20:22:15 2017 / +0000 GMT
TT. PADA POST OPERATIF, (DI RECOVERY ROOM), YANG PALING BANYAK BERPERAN ADALAH BAGIAN
ANESTESI UNTUK MENILAI TINGKAT KESADARAN KLIEN YANG SELANJUTNYA AKAN DIBAWA KEMBALI KE
RUANGAN. PERAWAT BERPERAN DALAM MENGOBSERVASI KEADAAN KLIEN KHUSUSNYA PERDARAHAN
PADA DAERAH OPERASI. PADA PASIEN INI TIDAK DITEMUKAN PERDARAHAN LANJUT, DAN SETELAH KURANG
LEBIH 30 MENIT DI RUANG PULIH SADAR, KLIEN KEMBALI KE RUANGAN..
1) DAFTAR PUSTAKA
Barbara C. Long, Perawatan Medikal Bedah, Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran, Bandung, 1996.
Robins & Kumar, Buku Ajar Patologi II, EGC, Jakarta, 1995
Output as PDF file has been powered by [ Universal Post Manager ] plugin from www.ProfProjects.com
| Page 4/4 |
Download