MAKALAH SEJARAH PERADABAN ISLAM : Karya Tulis Ilmiah : http

advertisement
This page was exported from Karya Tulis Ilmiah [ http://karyatulisilmiah.com ]
Export date: Tue Jul 18 16:49:21 2017 / +0000 GMT
MAKALAH SEJARAH PERADABAN ISLAM
LINK DOWNLOAD [145.42 KB]
MAKALAH
SEJARAH PERADABAN ISLAM
Di ajukan untuk memenuhi tugas terstuktur
Mata kuliah : Sejarah Peradaban Islam
Dosen pengampu : Anwar Sanusi, M. Ag.
Disusun Oleh :
Nama NIM
Melia 1414152081
Widya Ningsih 1414152101
Desi Ratnasari 1414153112
JURUSAN MATEMATIKA”C”- SEMESTER 1
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI CIREBON
2014
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan 1
C. Tujuan 1
BAB II. Pembahasan
A. Sejarah Kelahiran Nabi Muhammad SAW 2
B. Periode Mekah 4
C. Periode Madinah................. 7
DAFTAR PUSTAKA 11
KATA PENGANTAR
Assalamu'alaikum Wr.Wb
Segala puji kehadirat Allah SWT karena kehendak dan ridhanya, yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya berupa nikmat iman dan nikmat islam, kesehatan dan kemampuan berfikir serta nikmat-nikmat lainnya
yang tak terhitung banyaknya. Sehingga makalah ini dapat tersusun dan terselesaikan dengan lancar. Shalawat
serta salam tak lupa penulis curahkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW yang telah memberikan
pedoman hidup yakni Al-qur'an dan Sunnah untuk keselamatan didunia dan akherat.
Alhamdulilah, penulis dapat menyelesaikan makalah tentang “Sejarah Nabi Muhammad SAW”. Makalah ini
merupakan tugas terstuktur dari mata kuliah Sejarah Peradaban Islam yang dipegang oleh dosen pengampu
bapak. Anwar Sanusi, M. Ag. Penulis mengucapkan banyak berterima kasih kepada beliau yang telah
membimbing dalam proses pembelajaran.
Dalam makalah ini sekiranya masih banyak kekurangan dan kesalahan, hal ini dikarenakan penulis masih
dalam proes belajar. Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan, dan semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi semua pembaca.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Cirebon, September 2014
Penulis
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sejarah dalam bahasa arab, Tarikh atau history (inggis), adalah cabang ilmu pengetahuan yang berkenaan
dengan kronologi berbagai peristiwa. Definisi serupa di ungkapkan oleh Abd. Ar-Rahman As-Sakhawi bahwa
sejarah adalah seni yang berkaitan dengan serangkaian anekdot yang berbentuk kronologi peristiwa. Secara
teknis formula, Nisar Ahmad Faruqi menjelaskan formula yang di gunakan dikalangan sarjana barat bahwa
sejarah terdiri dari (man + time +space = History).
Secara esensial, kelahiran Nabi Muhammad pada masyartakat Arab adalah terjadinya kristalisasi pengalaman
baru dalam dimensi ketuhanan yang memengaruhi segala aspek kehidupan masyarakat, termasuk hukumhukum yang di gunakan pada masa itu. Keberhasilan Nabi Muhammad SAW dalam menegakan kepercayaan
bangsa arab pada waktu yang relative singkat kemampuannya dalam memodifikasi jalan hidup orang-orang
arab. Sebagian dari nilai dan budaya arab Pra-islam, untuk beberapa hal di ubah dan di teruskan oleh
masyarakat Muhammad kedalam tatanan moral islam. Secara geonologis, ia merupakan keturunan suku
Quraisy, suku yang terkuat dan berpengaruh di Arab.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut :
1. Bagaimana sejarah Nabi Muhammad SAW ?
2. Bagaimana masa Periode perjuangan dakwah di makkah ?
3. Bagaimana masa Periode perjuangan dakwah di madinah?
C. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui Sejarah Nabi kita Muhammad SAW
2. Untuk mengetahui masa periode Nabi Muhammad SAW di Makkah
3. Untuk mengetahui masa periode Nabi Muhammad SAW di Madinah
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Kelahiran Nabi Muhammad SAW
Muhammad SAW adalah putra pasangan Abdullah bin Abdul Mutholib dan Siti Aminah binti Wahab, yang
semuanya berasal dari keluarga terhormat. Bapaknya (25 tahun) Meninggal di madinah ketika Muhammad masih
dalam kandungan.
Nabi Muhammad SAW di lahirkan pada tahun gajah- tahun ketika pasukan gajah Abraha menyerang Mekah
untuk menghancurkan ka'bah, namun pasukan Abrahah mengalami kehancuran. Peristiwa itu terjadi kira-kira
pada tahun 570 M. (12 Rabiul Awal). Merupakan suatu kebiasaan di antara orang-orang kaya dan kaum
bangsawan Arab bahwa ibu-ibu tidak mengasuh anak-anak mereka, tetapi mereka mengirimkan anak-anak itu
ke pedesaan untuk diasuh dan dibesarkan disana. Begitu pula Muhammad, setelah di asuh beberapa lama oleh
ibunya, beliau di percayakan kepada Halimah binti Ab Dzuabi As-Sa'diah dari suku Banu Sa'ad untuk diasuh
dan di besarkan hingga usia 6 tahun. Ketika Muhammad dikembalikan kepada ibunya, Aminah. Pada waktu
itu, ibunya bermaksud menziarahi makam suaminya di madinah, tempat suaminya di makamkan. Namun di
tengah perjalanan yaitu di Abw-Madinah, Aminah menderita sakit dan menghembuskan nafas yang terakhir di
sana. Dengan demikian pada usia 6 tahun, Muhammad sudah kehilangan kedua orang tuanya.
Setelah Aminah meninggal, abdul Mutholib mengambil alih tenggung jawab merawat Muhammad. Namun 2
tahun kemudian abdul Mutholib meninggal dunia karena renta. Tanggung jawab selanjutnya beralih kepada
pamannya, Abu Tholib. Seperti hal nya abdul Mutholib, sang paman sangat di segani dan di hormati orang
Quraisy dan penduduk mekah secara keseluruhan, walaupun beliau tergolong keluarga tidak mampu(miskin).
Dalam usia muda, Muhammad hidup sebagai pengembala kambing milik keluarganya dan kambing penduduk
mekah. Melalui kegiatan pengembalaan ini, beliau menemukan tempat untuk berfikir dan merenung. Dalam
suasana demikian, beliau ingin melihat sesuatu di balik semuanya. Pemikiran dan perenungan ini membuatnya
jauh dari segala pemikiran nafsu duniawi, sehingga beliau terhindar dari berbagai macam noda yang dapat
merusak namanya. Oleh karena itu, sejak muda beliau sudah dijuliki al-Amin, orang yang terpercaya.
Selanjutnya, Nabi Muhammad melakukan perjalanan (usaha) untuk pertama kali dalam khafilah dagang ke
Siria (syam) dalam usia baru 12 tahun. Khafilah itu dipimpin oleh abu Thalib. Dalam perjalanan ini, di Bushra,
sebelah selatan siria beliau bertemu dengan pendeta kristen bernama Buhairah. Pendeta ini melihat tanda-tanda
kenabian pada Muhammad sesuai dengan petunjuk cerita-cerita Kristen. Sebagian sumber menceritakan bahwa
pendeta itu menasehati Abu Tholib agar tidak terlalu jauh memasuki daerah siria, sebab dikhawatirkan orangorang yahudi yang mengetahui tanda-tanda itu akan berbuat jahat terhadapnya. Perkiraan pendeta tersebut
akhirnya dibuktikan dengan sejarah kenabian Muhammad sampai sekarang.
Ketika nabi Muhammad berusia 25 tahun, beliau berangkat ke siria membawa barang dagangan milik seorang
saudagar wanita kaya raya yang telah lama menjanda, Khodijah. Dalam perdagangan ini, Muhammad
memperoleh laba yang sangat besar. Itu semua berkat kejujuran dan keagungan pekerti Muhammad.
Mendengar cerita maesaroh, abdi yang disertakan dalam misi dagang, Khadijah dengan langsung kesengsem
bin kepincut (tertarik dan merasa suka) pada pekerti Muhammad. Khodijah kemudian melamarnya. Lamaran
itu diterima dan perkawinan segera dilaksanakan. Ketika itu Muhammad berusia 25 tahun dan khodijah 40
tahun. Dalam perkembangan selanjutnya, Khodijah adalah wanita pertama yang masuk islam dan banyak
membantu nabi dalam perjuangan menyebarkan islam. Perkawinan bahagia dan saling mencintai itu dikaruniai
6 orang anak, 2 putra dan 4 putri: Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqoyah, Umu Kulsum dan Fatimah. Kedua
putranya meninggal waktu kecil. Nabi Muhammad tidak menikah lagi sampai Khodijah meninggal ketika
Muhammad berusia 50 tahun.
Fase kenabian Nabi Muhammad dimulai ketika beliau bertahanus atau menyepi di gua Hira, sebagai imbas
keprihatinan beliau melihat keadaan bangsa Arab yang menyembah berhala. Ditempat inilah beliau menerima
wahyu pertama, yang berupa surah Al-‘Alaq ayat 1-5. Dengan wahyu yang pertama ini, maka beliau telah
diangkat menjadi Nabi, utusan Allah. Pada saat itu, Nabi Muhammad belum di perintahkan untuk menyeru
kepada umatnya, namun setelah turun wahyu kedua, yaitu surah Al-Muddatstsir ayat 1-7, Nabi Muhammad
diangkat menjadi Rosul yang harus berdakwah. Dalam hal ini dakwah Nabi Muhammad dibagi menjadi dua
periode, yaitu:
1. Periode Mekah, cirri pokok dari periode ini adalah pembinaan dan pendidikan tauhid (dalam arti luas) ;
2. Periode Madinah, ciri pokok dari periode ini adalah pendidikan sosial dan politik (dalam arti luas).
B. Periode Mekah
Pada periode ini, tiga tahun pertama, dakwah islam dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Nabi Muhammad
mulai melaksanakan dakwah islam di lingkungan keluarga, mula-mula istri beliau sendiri, yaitu Khadijah yang
menerima dakwah beliau, kemudan Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar sahabat beliau, lalu Zaid bekas budak
beliau. Disamping itu, juga banyak orang masuk islam dengan perantaraan Abu Bakar yang terkenal dengan
julukan Assabiqunal Awwalun (orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam), mereka adalah Utsman bin
Affan, Zubair bin Awwan, Sa'ad bin Abi Waqqash, Abdur Rahman bin Auf, Arqam bin Abil Arqam, yang
rumahnya dijadikan markas untuk berdakwah (rumah Arqam).
Kemudian setelah turun ayat 94 Surah Al-Hijr, Nabi Muhammad memulai berdakwah secara terang-terangan.
“ Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan
berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. (QS. Al-Hijr:94).”
Namun dakwah yang dilakukan beliau tidak mudah karena mendapat tantangan dari kaum kafir Quraisy. Hal
tersebut timbul karena beberapa factor, yaitu sebagai berikut:
1. Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan. Mereka mengira bahwa tunduk pada
seruan Nabi Muhammad berarti tunduk kepada kepemimpinan Bani Abdul Muthalib.
2. Nabi Muhammad menyerukan persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya.
3. Para pemimpin Quraisy tidak mau percaya ataupun mengakui serta tidak menerima ajaran tentang
kebangkitan kembali dan pembalasan di akhirat.
4. Taklid kepada nenek moyang adalah kebiasaan yang berurat akar pada bangsa arab,sehingga sangat berat
bagi mereka untuk meninggalkan agama nenek moyang dan mengikuti agama islam.
5. Pemahat dan penjual patung memandang islam sebagai penghalang rezeki.
Banyak cara dan upaya yang ditempuh para pemimpin Quraisy untuk mencegah dakwah Nabi Muhammad SAW,
namun selalu gagal, baik secara diplomatik dan bujuk rayu maupun tindakan-tindakan kekerasan secara fisik.
Puncak dari segala cara itu adalah dengan di berlakukannya pemboikotan terhadap Bani Hasyim yang merupakan
tempat Nabi Muhammad berlindung. Pemboikotan ini baru berhenti setelah kaum Quraisy menyadari bahwa apa
yang mereka lakukan sangat keterlaluan, terlebih setelah meninggalnya dua orang yang selalu melindungi dan
menyokong Nabi Muhammad dari orang-orang kafir, yaitu paman beliau, Abu Tholib, dan istri tercinta beliau,
Khadijah. Peristiwa itu terjadi pada tahun kesepuluh kenabian. Tahun ini merupakan tahun kesedihan bagi Nabi
Muhammad SAW sehingga dinamakan Amul Khuzn.
Karena di mekah dakwah nabi Muhammad SAW mendapat rintangan dan tekanan, pada akhirnya nabi
memutuskan untuk berdakwah di luar mekah. Namun, di Thaif beliau di caci dan dilempari batu sampai beliau
terluka. Hal ini semua hampir menyebabkan Nabi Muhammad putus asa, sehingga untuk menguatkan hati
beliau, Allah mengutus dan mengisra' dan memi'rajkan beliau pada tahun kesepuluh kenabian itu. Berita
tentang isra' dan mi'raj ini menggemparkan masyarakat mekah. Bagi orang kafir, peristiwa itu dijadikan bahan
propaganda untuk mendustakan Nabi Muhammad SAW. Sedangkan bagi orang yang beriman ini merupakan
ujian keimanan.
Setelah peristiwa Isra' dan Mi;raj, suatu perkembangan besar bagi kemajuan dakwah islam terjadi, yaitu
dengan datangnya sejumlah penduduk Yatsrib (Madinah) untuk berhaji ke Mekah. Mereka terdiri dari dua
suku yang saling bermusuhan, yaitu suku Aus dan Khazraj yang masuk islam dalam tiga gelombang. Pada
gelombang pertama pada tahun kesepuluh kenabian , mereka datang untuk memeluk agama islam dan
menerapkan ajarannya sebagai upaya untuk mendamaikan permusuhan antara kedua suku. Mereka kemudian
mendakwahkan islam di yatsrib. Gelombang kedua, pada tahun ke 12 kenabian mereka datang kembali
menemui nabi dan mengadakan perjanjian yang dikenal dengan perjanjian (Aqabah Pertama), yang berisi ikrar
kesetiaan. Rombongan ini kemudian kembali ke yatsrib sebagai juru dakwah disertai oleh mus'ab bin umair
yang diutus oleh nabi untuk berdakwah bersama mereka. Gelombang ke tiga, pada tahun ke-13 kenabian,
mereka datang kembali kepada nabi untuk menyampaikan pesan yang harus disampaikan kepada Nabi
Muhammad saw. Pesan itu adalah berupa permintaan masyarakat Yatsrib agar Nabi Muhammad saw, bersedia
datang ke kota mereka, memberikan penerangan tentang ajaran Islam dan sebagainya. Nabi pun akhirnya
menyetujui usul mereka untuk berhijrah. Perjanjian ini disebut perjanjian (Aqabah kedua) karena terjadi pada
tempat yang sama.
Akhirnya nabi Muhammad bersama kurang lebih 150 kaum muslimin berhijrah ke yatsrib. Dan ketika sampai
disana, sebagai penghormatan kepada nabi Muhammad , Nama Yatsrib di rubah menjadi Madinah.
Demikian periode mekah terjadi. Dalam periode ini Nabi Muhammad SAW mengalami hambatan dan
kesulitan dalam berdakwah islamiyah. Dalam periode ini nabi Muhammad belum berfikir untuk menyusun
suatu masyarakat islam yang teratur, karena perhatian Nabi Muhammad lebih terfokus pada penanaman teologi
atau keimanan masyarakat.
C. Periode Madinah
Dalam periode ini, pengembangan Islam lebih ditekankan pada dasar-dasar pendidikan masyarakat Islam dan
pendidikan sosial kemasyarakatan. Oleh karena itu, Nabi kemudian meletakkan dasar-dasar masyarakat Islam
di Madinah, sebagai berikut.
1. Mendirikan Masjid.
Tujuan Rasulullah mendirikan masjid adalah untuk mempersatukan umat Islam dalam satu majelis, sehingga di
majelis ini umat Islam bias bersama-sama melaksanakan shalat berjama'ah secara teratur, mengadili perkaraperkara dan bermusyawarah. Masjid ini memegang peranan penting untuk mempersatukan kaum muslimin dan
mempererat tali ukhuwah Islamiyah.
2. Mempersatukan dan mempersaudarakan antara kaum Anshar dan Muhajirin.
Rasulullah mempersatukan keluarga-keluarga Islam yang terdiri dari Muhajirin dan Anshar. Dengan cara
mempersaudarakan antara kaum Ansar dan Muhajirin yang berdasarkan agama pengganti persaudaraan yang
berdasar kesukuan seperti sebelumnya.
3. Perjanjian saling membantu antara sesama kaum muslimin dan bukan muslimin.
Nabi Muhammad hendak menciptakan toleransi antargolongan yang ada di Madinah, oleh karena itu Nabi
membuat perjanjian antara kaum muslimin dan nonmuslimin.
Menurut Ibnu Hasyim, isi perjanjian tersebut antara lain sebagai berikut.
a. Pengakuan atas hak pribadi keagamaan dan politik.
b. Kebebasan beragama terjamin untuk semua umat.
c. Adalah kewajiban penduduk Madinah, baik muslim maupun nonmuslim, dalam hal moril maupun materil.
Mereka harus bahu-membahu menangkis semua serangan terhadap kota mereka (Madinah).
d. Rasulullah adalah pemimpin umum bagi penduduk Madinah. Kepada beliaulah dibawa segala perkara dan
perselisihan yang besar untuk untuk diselesaikan.
4. Meletakkan dasar-dasar politik, ekonomi, dan social untuk masyarakat baru.
Ketika masyarakat Islam terbentuk maka diperlukan dasar-dasar yang kuat bagi masyarakat yang baru
terbentuk tersebut. Oleh karena itu ayat-ayat Al-Qur'an yang diturunkan dalam periode ini terutama ditujukan
kepada pembinaan hukum. Ayat-ayat ini kemudian diberi penjelasan oleh Rasulullah, baik dengan lisan
maupun dengan perbuatan beliau sehingga terdapat dua sumber hukum dalam Islam, yaitu Al-Qur'an dan
Hadist. Dari kedua sumber hukum Islam tersebut didapat suatu sistem untuk bidang politik, yaitu musyawarah.
Dan untuk bidang ekonomi dititikberatkan pada jaminan keadilan sosial, serta dalam bidang kemasyarakatan,
diletakkan pula dasar-dasar persamaan derajat antara masyarakat atau manusia, dengan penekanan bahwa yang
menentuksn derajat manusia adalah ketakwaan. Namun Sikap ingkar janji yang dilakukan kaum Yahudi mulai
terlihat, ketika terjadinya perang pertama dalam sejarah Islam yang dikenal dengan perang badr, yakni perang
antara kaum muslimin dengan musyrik quraisy pada tanggal 8 Ramadhan tahun kedua hijriyah, di daerah
Badar, kurang lebih 120 km dari Madinah. Dalam peperangan ini kaum muslimin menang atas kaum
musyrikin. Namun, orang-orang Mekkah memerangi nabi. Bukti penyelewengan kaum Yahudi yang lain
adalah pada waktu terjadi perang Uhud, dimana kaum Yahudi berjumlah 300 orang dengan pemimpin
Abdullah bin Ubay keluar kota. Sebagian besar mereka mengungsi ke Khaibar. Sedangkan suku Yahudi
lainnya, yaitu Bani quraizah, masih tetep berada di Madinah.
Pengkhianatan kaum Yahudi yang lain adalah dengan bergabungnya kaum Yahudi dengan orang-orang kafir
untuk menyerang Madinah (perang Ahzab atau perang Khandak). Dalam suasana kritis ini, orang-orang
Yahudi Bani Quraizah di bawah pimpinan Ka'ab bin Asad berkhianat. Namun usaha pengepungan tidak
berhasil, yang pada akhirnya dihentikan. Sementara itu, pengkhinat-pengkhianat Yahudi Bani Quraizah
dijatuhi hukuman mati.
Perjanjian Hudaibiyah
Pada tahun 6 H, ketika ibadah haji sudah disyariatkan, nabi Muhammad dengan sekitar seribu kaum muslimin
berangkat ke mekah bukan untuk berperang, tetapi untuk melaksanakan ibadah umrah, namun penduduk
mekah tidak mengizinkan mereka masuk kota. Akhirnya, diadakan perjanjian Hudaibiyah yang isinya antara
lain sebagai berikut.
1. Kaum muslimin belum boleh mengunjungi ka'bah tahun itu, tetapi ditangguhkan sampai tahun depan.
2. Tiap kabilah yang ingin masuk ke dalam persekutuan kaum quraisy atau kaum muslimin, bebas
melakukannya tanpa mendapat rintangan.
3. Kaum muslimin wajib mengembalikan orang-orang Mekah yang melarikan diri ke Madinah, namun
sebaliknya, pihak Quraisy tidak harus menolak orang-orang Madinah yang kembali ke Mekah.
4. Selama sepuluh tahun diberlakukan gencatan senjata antara masyarakat Madinah dan Mekah.
5. Kesepakatan ini disetujui kedua belah pihak dan tidak boleh ada penghianatan atau pelanggaran
Dengan perjanjian ini, harapan untuk mengambil alih Ka'bah dan menguasai Mekah smakin terbuka. Ada dua
factor pokok yang mendorong kebijaksanaa ini; pertama, Mekah adalah pusat keagamaan bangsa Arab dan
melalui konsolidasi bangsa Arab dalam Islam, Islam bias tersebar keluar. Kedua, Apabila suku Quraisy dapat
di Islamkan, Islam akan memperoleh dukungan yang kuat karena orang-orang Quraisy mempunyai kekuasaan
dan pengaruh yang besar.
Fathu makah
Setelah dua tahun perjanjian Hudaibiyah berlangsung, dakwah islam sudahmenjangkau seluruh jazirah arab,
hingga akhir ke pelosok jazirah arab. Hal tersebut membuat orang-orangkafir mekah khawatie dan merasa
terpojok, oleh karena itu, orang-orang kafir quraisy secara sepihak melanggar perjanjian Hdaibiyah. Melihat
hal ini, Nabi kemudian bersama dengan sepuluh tentara bertolak ke mekah untuk meghadapi kaum kafir. Dan
tanpa perlawanan berarti nabipin dapat menguasai mekah. Meski demikian masih ada dua suku arab yang masi
menentang, yaitu Bani Tsaqit dan Bani Hawazin. Kedua suku ini kemudian bersatu untuk memerangi islam.
Mereka ingin menuntut atas penghancuran berhala-berhala dengan melakukan penyerbuan terhadap mekah.
Akan tetapi, mereka dapat dengan mudah di takhlukan.
Melihat kenyataan bahwa kekuasaan islam mulai mengancam wilayah romawi, maka Heraclius menyusun
pasukan untuk mengantisipasinya. Namun setelah melihat kekuatan pasukan islam, akhirnya mereka
mengurungkan diri.
DAFTAR PUSTAKA
Supriyadi, Dedi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandug: CV Pustaka Setia
Munir Amin, Samsul. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Sinar Grafika Offcet
Mashad, Dhurorudin. 2002. Mutiara Hikmah Kisah 25 Rosul. Jakarta: Erlangga.
Chalil, Moenawar. 2001. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Jilid 1. Jakarta: Gema Insani
http://hikmah-kata.blogspot.com/2012/11/isi-perjanjian-aqabah-2-dua.html
http://www.fanzila.com/baca_al_quran_dan_maknanya/post/107493/
Post date: 2016-04-21 10:43:29
Post date GMT: 2016-04-21 10:43:29
Post modified date: 2016-04-21 10:44:10
Post modified date GMT: 2016-04-21 10:44:10
Powered by [ Universal Post Manager ] plugin. MS Word saving format developed by gVectors Team www.gVectors.com
Download