Tipologi Mangrove Dan Ketrkaitannya Dengan

advertisement
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Ekosistem Mangrove
Kata mangrove merupakan kombinasi antara bahasa Portugis mangue
dan bahasa Inggris grove (Macnae, 1968). Dalam bahasa Inggris kata
mangrove digunakan baik untuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah
jangkauan pasang-surut maupun untuk individu-individu spesies tumbuhan
yang menyusun komunitas tersebut. Sedangkan dalam bahasa Portugis kata
mangrove digunakan untuk menyatakan individu spesies tumbuhan, sedangkan
kata mangal untuk menyatakan komunitas tumbuhan tersebut. Bengen (2004)
mendefinisikan hutan mangrove sebagai komunitas vegetasi pantai tropis dan
sub tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu
tumbuh dan berkembang pada daerah pasang-surut pantai berlumpur. Adapun
menurut Aksornkoae (1993), hutan mangrove adalah tumbuhan halofit yang
hidup di sepanjang areal pantai yang dipengaruhi oleh pasang tertinggi sampai
daerah mendekati ketinggian rata-rata air laut yang tumbuh di daerah tropis dan
sub-tropis.
Ekosistem mangrove di pulau-pulau kecil merupakan ekosistem utama
yang sangat berperan penting bagi ketersediaan sumberdaya ikan di kawasan
tersebut, dan bagi kelangsungan hidup ekosistem lainnya serta bermanfaat bagi
masyarakat sekitarnya. Ekosistem mangrove di pulau-pulau kecil menghadapi
gradien karakter lingkungan yang berat, sehingga hanya jenis tertentu yang
memiliki toleransi terhadap kondisi lingkungan yang dapat bertahan dan
berkembang.
Peran penting dari pohon mangrove adalah luruhan daun yang gugur ke
dalam air (serasah). Serasah ini merupakan sumber bahan organik yang penting
dalam rantai makanan yang bisa mencapai 7 – 8 ton /ha/tahun, dan berperan
penting dalam kesuburan perairan di sekitarnya.
Bengen (2004), memaparkan lebih jauh tentang fungsi ekologis hutan
mangrove sebagai berikut :
¾
Sebagai peredam gelombang dan angin badai, pelindung pantai dari abrasi,
penahan lumpur dan perangkap sedimen yang diangkut oleh aliran air
permukaan.
¾
Sebagai penghasil sejumlah detritus, terutama yang berasal dari daun dan
dahan pohon mangrove yang rontok. Sebagian dari detritus ini dapat
dimanfaatkan sebagai bahan makanan bagi para pemakan detritus, dan
sebagian lagi diuraikan secara bakterial menjadi mineral-mineral hara yang
berperan dalam penyuburan perairan.
¾
Sebagai daerah asuhan (nursery ground), daerah mencari makan (feeding
ground) dan daerah pemijahan (spawning ground) bermacam biota perairan
(ikan, udang dan kekerangan) baik yang hidup di perairan pantai maupun
lepas pantai.
Pemanfaatan hutan mangrove saat ini sangat tinggi, terutama sebagai
penghasil kayu bakar, bahan baku untuk membuat arang, dan juga untuk
pembuatan bubur kertas (pulp). Disamping itu ekosistem mangrove dimanfaatkan
sebagai pemasok larva ikan dan udang alam, bahkan Saenger et al (1983) dalam
Bengen
(2004) telah mengidentifikasi lebih dari 70 macam kegunaan pohon
mangrove bagi kepentingan umat manusia, baik dalam bentuk produk langsung
maupun produk tidak langsung.
Lugo dan Snedaker (1974) dalam Woodroffe (1992), membagi mangrove
berdasarkan fungsi dan substrat dasarnya sebagai berikut (Gambar 2) :
1.
Overwash (genangan pasut) mangrove, merupakan tanaman mangrove
yang berada dalam bentuk pulau kecil dengan jenis Rhizophora sp yang
dominan dan sedimen dasar terbentuk dari tanah humus serasah
mangrove yang terakumulasi.
2.
Fringe (tepian pantai) mangrove, merupakan mangrove yang terletak di
tepian pantai dengan sedimen pasir berlumpur yang dipengaruhi pasang
surut, umumnya didominasi oleh Rhizophora sp.
3.
Riverine (sepanjang sungai) mangrove, merupakan mangrove yang
berada di kanan dan kiri sungai yang umumnya ke arah darat
membentuk zonasi dan substratnya adalah pasir dan lumpur.
4.
Basin (genangan sungai) mangrove, merupakan mangrove yang
terdapat di bagian dalam hutan mangrove berbentuk cekungan seperti
mangkuk dengan sedimen berasal dari serasah mangrove.
5.
Hammock (berelevasi) mangrove, merupakan tipe mangrove seperti
basin mangrove, tetapi sedimen dasar di bawah serasah mangrove
adalah limestone.
6.
Scrub (semak) mangrove, merupakan mangrove dalam bentuk belukar
yang berukuran kerdil dan umumnya areal ini miskin nutrien.
Overwash
Basin
fringe
Riverine
Scrub
Hammock
Gambar 2 Tipe komunitas mangrove (Lugo dan Snedaker, 1974 dan Tomascik
et al , 1997)
2.2. Produktivitas Ekosistem Mangrove
Ekosistem
mangrove
memiliki
peran
yang
sangat
penting
yaitu
berhubungan dengan produktivitas primer yang tinggi jika dibandingkan dengan
ekosistem lain di wilayah pesisir. Secara biologi ekosistem mangrove merupakan
produsen primer energi hidup melalui serasah yang dihasilkan. Produktivitas
primer ekosistem ini diperkirakan lebih besar daripada produktivitas ekosistem
perairan pantai lainnya seperti ekosistem terumbu karang dan padang lamun
(Indradjaya, 1992).
Soenardjo (1999) mengatakan bahwa produksi primer bersih merupakan
bagian dari produksi primer fotosintesis tumbuhan yang tersisa setelah beberapa
bagian digunakan untuk respirasi tumbuhan yang bersangkutan. Fotosintesis
dan respirasi adalah dua elemen pokok dari produksi primer bersih. Komponenkomponen produksi primer bersih adalah keseluruhan dari organ utama
tumbuhan meliputi daun, batang dan akar. Selanjutnya Clough (1986) dalam
Soenardjo (1999) menyatakan produksi primer bersih mangrove berupa materi
yang tergabung dalam biomassa tumbuhan yang selanjutnya akan lepas sebagai
serasah atau dikonsumsi oleh organisme heterotrof atau dapat juga dinyatakan
sebagai akumulasi materi organik baru dalam jaringan tumbuhan sebagai
kelebihan dari respirasi yang biasanya dinyatakan dalam berat kering materi
organik.
Tumbuhan mangrove sebagaimana tumbuhan lainnya mengkonversi
cahaya matahari dan zat hara (nutrien) menjadi jaringan tumbuhan (bahan
organik) melalui proses fotosintesis. Tumbuhan mangrove merupakan sumber
makanan potensial, dalam berbagai bentuk, bagi semua biota yang hidup di
ekosistem hutan mangrove. Berbeda dengan ekosistem pesisir lainnya,
komponen dasar dari rantai makanan di ekosistem hutan mangrove bukanlah
tumbuhan mangrove itu sendiri, tetapi serasah yang berasal dari tumbuhan
mangrove (daun, ranting, buah, batang dan sebagainya) (Bengen, 2004).
Sebagian serasah mangrove di dekomposisi (dihancurkan/diuraikan) oleh
bakteri dan fungi menjadi zat hara (nutrien) terlarut yang dapat dimanfaatkan
langsung oleh fitoplankton, alga, ataupun tumbuhan mangrove sendiri dalam
proses
fotosintesis,
sebagian
lagi
sebagai
partikel
serasah
(detritus)
dimanfaatkan oleh ikan, udang, dan kepiting sebagai makanannya. Proses
makan memakan dalam berbagai kategori dan tingkatan biota membentuk suatu
jala/rantai makanan (Bengen, 2004).
Serasah atau detritus organik meliputi semua bahan tumbuhan yang telah
mati dan melalui beberapa tahapan dekomposisi yang dapat menghasilkan
energi potensial bagi kehidupan konsumer. Sebutan serasah biasanya digunakan
untuk ekosistem daratan khususnya bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan
tinggi sedangkan detritus digunakan untuk ekosistem perairan (Mason, 1977).
Daun-daun mangrove yang jatuh didefinisikan oleh Chapman (1976) sebagai
berat materi tumbuhan mati yang jatuh dalam satuan luas permukaan tanah
dalam periode waktu tertentu.
Dekomposisi adalah proses penghancuran organisme secara bertahap
sehingga strukturnya tidak lagi dalam bentuk yang kompleks tetapi telah di
uraikan menjadi bentuk-bentuk yang sederhana. Lamanya proses dekomposisi
daun mangrove
antara jenis mangrove yang satu dengan lain berbeda.
Organisme-organisme yang telah mati mengalami penghancuran yaitu pecahanpecahan berukuran besar menjadi partikel-partikel lebih kecil dan akhirnya
menjadi molekul-molekul.
Dekomposisi mencakup interaksi rumit dari faktor-faktor lingkungan fisik
dan aktivitas biologi. Mason (1977) membagi proses-proses dekomposisi menjadi
3 yaitu pelindihan (leaching), penghawaan (weathering) dan aktivitas biologi.
Ketiga proses tersebut berlangsung secara simultan. Pelindihan adalah
mekanisme hilangnya bahan-bahan yang dapat larut dari serasah atau detritus
organik oleh hujan atau aliran air. Penghawaan adalah mekanisme pelapukan
atau faktor-faktor fisik seperti pengikisan oleh angin, es atau pergerakan
gelombang. Sementara aktivitas biologi adalah proses yang menghasilkan
pecahan-pecahan bahan organik (detritus) secara bertahap oleh makhluk hidup.
Produksi serasah daun untuk setiap jenis mangrove berbeda. Hal ini dapat
disebabkan oleh faktor internal dan eksternal nyang saling berkaitan. Hasil
penelitian Soerojo (1986) di Kembang Kuning Cilacap yaitu jumlah serasah daun
mangrove
yang
dihasilkan
oleh
jenis
Rhizopora
apiculata
2.12
gram
kering/m2/hari. Perbedaan jumlah serasah yang dihasilkan antara satu lokasi
lokasi dengan lokasi lainnya disebabkan oleh beberapa faktor lingkungan yang
mempengaruhi produktivitas, kesuburan tanah, kelembaban tanah, kerapatan,
musim dan tegakan.
Hasil penelitian Sediadi dan Pramudji (1987) menunjukkan bahwa pada
tegakan Rhizopora, jumlah jatuhan serasahnya meningkat secara nyata sesuai
dengan pertambahan umur dan jumlah maksimumnya didapatkan pada usia 10
tahun. Tegakan di atas 10 tahun tidak menghasilkan perbedaan nyata. Jarak
tumbuh dari garis pantai secara tidak langsung juga mempengaruhi jumlah
serasah yang jatuh. Mangrove dengan tegakan tua akan menghasilkan jatuhan
serasah lebih banyak dan tegakan Rhizopora menghasilkan jatuhan serasah
lebih banyak dibanding dengan tegakan Avicenia.
Pelepasan nutrisi anorganik selama periode dekomposisi sangat penting
dalam mempertahankan keberlangsungan siklus nutrisi di lingkungan alam.
Dengan terpeliharanya siklus nutrisi maka pertumbuhan alga dapat berlangsung
secara lestari. Produksi zat hara dalam siklus ini tidak saja sebagai faktor penting
bagi produksi alga akan tetapi juga untuk pertumbuhan plankton pada perairan
pantai yang mempunyai hubungan dengan ekosistem mangrove (Soenardjo,
1999).
2.3. Peran Mangrove sebagai Habitat Moluska
Dalam ekosistem mangrove kelas gastropoda merupakan kelompok yang
dominan dari moluska. Menurut Frith (1977), kelompok gastropoda yang
dominan pada hutan mangrove ádalah dari famili Neritidae, Littorinidae,
Potamididae, Muricidae, Onchinidae dan Ellobidae. Selanjutnya Budiman dan
Darnaedi
(1982)
menambahkan
bahwa
jenis-jenis
moluska
dari
famili
Potamididae dan Ellobiidae mempunyai frekuensi kehadiran yang cukup tinggi di
hutan mangrove karena luasnya daerah yang disukai oleh Ellobiidae (kering,
lembab, berpasir) dan Potamididae (lumpur, berair, terbuka). Kehadiran jenis-
jenis moluska yang tinggi tergantung pada kemampuan menyesuaikan diri atau
memiliki toleransi lingkungan yang luas, seperti tahan kering (Littorina,
Brachiodontes dan Crassostrea), jenis yang dapat menghindar dari air pasang
(Nerita dan Littorina) dan jenis yang tahan terendam air (Cerithidea).
Menurut Budiman (1991) batasan masing-masing kelompok moluska
penghuni hutan mangrove adalah sebagai berikut :
1. Kelompok moluska asli hutan mangrove artinya semua jenis moluska yang
seluruh atau sebagian besar hidup dewasanya dihabiskan di hutan
mangrove, dimana jenis-jenis moluska ini sangat jarang ditemukan di luar
ekosistem mangrove. Sebagian besar pemakan serasah, hanya beberapa
jenis pemakan alga. Banyak dijumpai di bagian tengah dan belakang hutan
mangrove. Contohnya Cerithidea cingulata dan Terebralia sulcata.
2. Kelompok
moluska
fakultatif
artinya
jenis-jenis
moluska
yang
mempergunakan hutan mangrove sebagai salah satu tempat hidupnya.
Penyebarannya terutama di bagian depan hutan mangrove dan apabila
keadaan memungkinkan menyebar sampai bagian tengah hutan mangrove.
Contoh Crasosstrea cuculata dan Littorina scabra.
3. Kelompok moluska pendatang artinya jenis-jenis moluska yang secara tidak
sengaja ada dalam ekosistem mangrove, umumnya hidup di area sempit di
sekitar perbatasan dengan ekosistem tempat hidupnya
dan frekuensi
kehadiran dan jumlah individu di luar ekosistem lebih melimpah. contoh
Thiara scabra dan Barbatia pectumcularis.
Menurut Kartawinata et al (1979), adanya perbedaan jenis substrat dan
kondisi mikrohabitat serta kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan
menyebabkan gastropoda menyebar secara mendatar dan menegak. Habitat
hutan mangrove bersifat khusus, setiap jenis biota di dalamnya mempunyai
kisaran ekologis dan mempunyai relung tersendiri. Sebaran mendatar berlaku
bagi jenis-jenis yang hidup pada permukaan substrat baik sebagai infauna
maupun epifauna. Sementara sebaran menegak berlaku bagi jenis fauna yang
hidupnya melekat pada akar atau menempel pada batang dan daun pohon
mangrove. Diantara faktor-faktor substrat yang mempengaruhi distribusí vertikal
adalah : (1) keadaan dan ukuran butiran, (2) jenis, banyaknya dan bentuk bahan
organik yang berasosiasi dengan substrat, (3) derajat kekerasan substrat padat,
(4) jumlah (luasan) daerah dari jenis substrat tertentu, (5) faktor-faktor lingkungan
air seperti gerakan air, cahaya, salinitas, oksigen, tekanan dan sebagainya.
Variasi substrat dalam hutan mangrove meliputi akar-akar, batang dan daun
mangrove, kayu-kayu mati, lumpur, tumpukan pasir dan lainnya (Berry, 1963).
Fauna hutan mangrove berdasarkan habitatnya adalah; (1) Fauna yang
hidup di atas permukaan tanah (surface fauna/epifauna), (2) Fauna yang hidup
meliang dalam tanah (infauna), (3) Fauna yang hidup di pohon mangrove (tree
fauna) (Sasekumar 1974). Lebih lanjut Berry dalam Budiman dan Darnaedi
(1982), mengatakan bahwa semua gastropoda yang termasuk pemanjat pohon,
bergerak aktif turun dan naik mengikuti pasang dan surut, hal ini merupakan
suatu adaptasi terhadap perubahan lingkungan yang disebabkan oleh pengaruh
pasang surut di dalam hutan mangrove. Cockroft dan Forbes dalam Kusrini
(1988) menambahkan bahwa penghindaran air selama periode pasang naik
dapat merupakan mekanisme menghindari pemangsaan.
Budiman (1991) mengatakan bahwa jenis-jenis yang hidup di daerah
pasang surut memiliki beberapa cara mengatasi problem lingkungan hidup
antara lain:
1. Menyimpan air dalam cangkang.
2. Bergerak mencari tempat yang masih digenangi air atau masih lembab.
3. Memofifikasi atau menambah alat pernafasan lain selain insang, sehingga
dapat mengambil oksigen langsung dari udara.
4. Toleransi terhadap fluktuasi salinitas yang besar terutama di daerah tropis
yang mengalami penyinaran matahari kuat dan frekuensi hujan yang cukup
tinggi, berpengaruh terhadap perairan pantai.
Hughes (1986) mengatakan bahwa pada pantai berbatu di daerah terbuka
yang kering Littorina neritoides menutup cangkangnya dengan operculum sampai
kondisi lingkungan kembali lembab, dan difusi oksigen sekitar operculum
diminimalkan.
Menurut Nybakken (1992), pemilihan habitat dari gastropoda tergantung
dari ketersediaan makanan yang berupa detritus dan makroalgae serta kondisi
lingkungan
yang
terlindung
dari
gerakan
massa
air.
Hawkes
(1979)
menambahkan bahwa faktor físika dan kimia seperti pasang surut, kedalaman,
substrat, kecepatan arus, Oksigen terlarut, pH, Logam berat dan unsur hara serta
interaksi kedua faktor tersebut dapat mempengaruhi kehidupan perairan.
Salah satu jenis gastropoda yang memanfaatkan mangrove sebagai habitat
adalah Littorina spp. Menurut Tantanasiriwong (1978), gastropoda yang
ditemukan pada hutan mangrove termasuk dalam sub kelas Prosobranchia.
Beberapa
famili
yang
umum
ditemukan
yaitu:
Littorinidae,
Neritidae,
Potamididae, Cerithiidae. Jenis Littorina spp merupakan gastropoda dari famili
Littorinidae dan termasuk kelompok moluska fakultatif . Adapun susunan
taksonomi gastropoda L. neritoides adalah sebagai berikut:
Filum : Moluska
Kelas : Gastropoda
Subkelas : Prosobranchia
Ordo : Mesogastropoda
Famili : Littorinidae
Genus : Littorina
Spesies : Littorina neritoides
Penyebaran kelompok ini terutama di bagian muka ekosistem mangrove
dan apabila keadaan memungkinkan dapat menyebar sampai bagian tengah
hutan mangrove. Menurut Kartawinata et al (1978), Littorina spp merupakan
jenis yang sifatnya semiterestris yaitu jenis yang hidupnya hampir selalu di atas
air, artinya selalu berada pada tajuk pohon mangrove di atas permukaan laut.
Genus Littorina ditemukan hidup di batang, akar, cabang dan daun mangrove.
Akar dan batang mangrove dimanfaatkan sebagai mikrohabitat, karena
memerlukan ketersediaan substrat keras tempat melekat serta untuk melindungi
diri dari mangsa. Penelitian yang dilakukan oleh Samson (1999) menemukan
bahwa pada daerah yang ditumbuhi Bruguiera gymnorrhiza, yang memiliki sistem
perakaran berupa akar lutut yang rendah ditemukan sedikit individu gastropoda.
Sistem perakaran akar lutut kurang baik untuk substrat tempat melekatnya
gastropoda
yang
membutuhkan
substrat
yang
lebih
tinggi,
sehingga
memungkinkan mereka terhindar dari air. Selain itu diduga arus air yang
melewatinya bergerak relatif lebih cepat tanpa hambatan yang berarti dari akar.
Dari penelitian tersebut didapatkan bahwa kondisi yang kurang menguntungkan
ini hanya dapat diadaptasi dengan baik oleh Nerita lineata yang melekat erat
dalam jalinan akar Bruguiera gymnorrhiza.
Menurut Paine (1996) dalam Boneka (1993), kelimpahan Littorina dikontrol
oleh substrat dalam hal ini permukaan mikrohabitat (tegakan mangrove) dan
dapat juga dikontrol oleh pemangsaan. Boneka et al (1997) mengatakan bahwa
beberapa predator teresterial yang diketahui seperti burung, kadal, dan ular,
sedangkan predator akuatik seperti kepiting dan ikan. Penelitian yang dilakukan
di Pulau Bunaken, Sulawesi Utara menunjukan bahwa predator akuatik seperti
kepiting masuk melalui bagian bawah pohon dan memangsa gastropoda Littorina
scabra, sementara predator teresterial masuk melalui bagian atas pohon. Pada
penelitian ini predator yang ditemukan terutama kepiting: Portunids (Scylla
serrata, Thalamita crenata, Portunus pelagicus), grapsids (Metopograpsus sp,
Sesarma sp) dan Hermit crabs (Calcinus sp). Kepiting ini terutama aktif pada
malam hari. Portunids aktif pada saat pasang tinggi, sedangkan grapsids dan
”hermit crabs” aktif pada kondisi pasang maupun surut. Beberapa kepiting
portunid menggali atau bersembunyi di balik pecahan karang selama periode
surut untuk menghindari keterbukaan. Lebih lanjut Reid (1992) mengatakan
bahwa di Selat Cockle, Magnetic Island, Queensland utara ditemukan dua
predator penting, yaitu burung dan kepiting. Burung merupakan predator yang
memangsa gastropoda yang berada pada bagian pohon yang tinggi yaitu pada
dedaunan (Reid 1986 dalam Boneka et al 1997)). Untuk melindungi diri dari
predator spesies yang memanfaatkan mangrove sebagai habitat terutama
spesies yang cenderung berada pada bagian akar dan batang memiliki warna
yang gelap.
Berkaitan dengan pemilihan habitat di dedaunan mangrove, Boneka (1993)
mengatakan
bahwa
distribusi
dan
kelimpahan
spesies
Littorina
dapat
dihubungkan dengan karakteristik substrat dalam hal ini tegakan mangrove
sebagai mikrohabitat dapat diuraikan sebagai berikut:
1.
Dedaunan mangrove berada pada bagian yang relatif terbuka dibanding
bagian lainnya seperti batang dan akar.
2.
Dedaunan secara alami berada pada level tinggi pada pohon mangrove.
3.
Ketinggian
pohon
(hubungannya
dengan
umur)
dapat
mengontrol
ketersediaan daun untuk gastropoda.
2.4. Nilai Penting Gastropoda Littorina spp
Gastropoda Littorina spp belum memiliki nilai ekonomis penting, namun
dalam ekosistem mangrove sangat berperan penting dalam rantai makanan.
Menurut Nybakken (1992), pada umumnya moluska berperan penting dalam
suatu ekosistem yaitu sebagai bagian dari rantai makanan dan sebagai indikator
pencemaran pada muara-muara sungai (estuaria) dan juga pada bagian pantai
yang terlindung dari gelombang besar.
Beberapa spesies gastropoda telah dimanfaatkan sebagai bahan makanan
dan industri. Menurut Prahoro dan Anthony (2000), jenis-jenis gastropoda yang
sering dimanfaatkan dan dikonsumsi oleh masyarakat Lombok Timur adalah
Vasticardium sp, Donax sp, Codikia sp, Strombus sp, Pila polita, Siphonaria
sirius . Kasinatha dan Shanmugam (1988) melaporkan bahwa telah terjadi
pengambilan secara berlebihan (Overexploitasi) fauna gastropoda seperti
Telescopium sp, Cerithidea fluviantilis, Nitica sp, littorina spp, dan Nassarius sp
di kawasan mangrove Pitchavaram dan estuari Vellar India untuk industri kapur.
Gastropoda Littorina
spp merupakan grazer (micro herbivore) yang
memanfaatkan alga yang melekat pada pohon mangrove. Serasah mangrove
yang didekomposisi menjadi nutrien terlarut dimanfaatkan oleh alga dalam
proses
fotosintesis.
Selain
dimanfaatkan
oleh
gastropoda,
alga
juga
dimanfaatkan oleh udang-udang kecil, ikan dan organisme lainnya. Selanjutnya
kepiting dan ikan akan memanfaatkan gastropoda Littorina spp
ini sebagai
makanan. Menurut Boneka et al (1997) kepiting dan ikan merupakan dari
predator akuatik utama
bagi Littorina spp . Kepiting dan ikan merupakan
sumberdaya hayati yang dapat menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat
setempat sehingga dapat membantu meningkatkan perekonomian.
Dengan terciptanya rantai makanan ini, maka ketika gastropoda Littorina
spp mengalami degradasi akibat adanya gangguan ekosistem mangrove maka
dapat berdampak pada terganggunya rantai makanan bahkan berpotensi
terhadap terputusnya rantai makanan pada ekosistem tersebut. Lebih lanjut akan
berdampak pada berkurangnya sumberdaya hayati dan lebih jauh akan
mempengaruhi perekonomian masyarakat setempat.
Download