ANALISA FAKTOR-FAKTOR YANG

advertisement
ANALISA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERINGKAT
SUKUK
(Studi Kasus Pada Perusahaan Penerbit Sukuk Non Keuangan)
SKRIPSI
Disusun Oleh :
Dimas Pangga Wisesa
NIM : 1113081000117
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1437 H/2016 M
ANALISA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERINGKAT
SUKUK
(Studi Kasus Pada Perusahaan Penerbit Sukuk non Keuangan)
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Untuk Memenuhi Syarat-syarat untuk Meraih Gelar Sarjana Ekonomi
Disusun Oleh :
Dimas Pangga Wisesa
NIM: 1113081000117
Di Bawah Bimbingan
Pembimbing I
Pembimbing II
Dr. Pudji Astuty, SE, MM
Deni Pandu, SE, M.Sc
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1437 H/2016 M
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI
Hari ini, 25 November 2016 telah dilakukan Ujian Skripsi atas Mahasiswa:
1.
2.
3.
4.
Nama
NIM
Jurusan
Judul Skripsi
:
:
:
:
Dimas Pangga Wisesa
1113081000117
Manajemen/ MIPS
Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Peringkat
Sukuk (Studi Kasus Pada Perusahaan Penerbit Sukuk
Non Keuangan)
Setelah mencermati dan memperhatikan penampilan dan kemampuan yang
bersangkutan selama proses ujian skripsi, maka diputuskan bahwa mahasiswa
tersebut diatas dinyatakan lulus dan skripsi ini diterima sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 25 November 2016
1. Titi Dewi Warninda, SE., M.Si.
NIP.19731221 200501 2 002
(
2. Dr. Pudji Astuty, SE., MM.
NIP.-
(
3. Dr. Indoyama Nasaruddin, SE. ,MAB.
NIP. 19741127 200112 1 002
(
4. Dr. Pudji Astuty, SE., MM.
NIP.-
(
5. Deni Pandu, SE., M.Sc.
NIP.-
(
)
Ketua
)
Sekretaris
)
Penguji Ahli
)
Pembimbing I
)
Pembimbing II
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPERHENSIF
Hari ini Rabu Tanggal 10 Bulan Agustus 2016 telah dilakukan Ujian
Komprehensif atas mahasiswa:
Nama
: Dimas Pangga Wisesa
NIM
: 1113081000117
Jurusan
: Manajemen Informasi Perbankan Syariah
Judul Skripsi : Analisa Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Peringkat Sukuk
Setelah mencermati dan memperhatikan penampilan dan kemampuan yang
bersangkutan selama proses ujian komprehensif, maka diputuskan bahwa
mahasiswa tersebut di atas dinyatakan lulus dan diberi kesempatan untuk
melanjutkan ke tahap Ujian Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 10 Agustus 2016
Supriyono, SE, MM.
NIP.19720111201411101
Rahmat Gunawan, SE, MM.
NIP.
LEMBAR PERNYATAAN
KEASLIAN KARYA ILMIAH
Yang bertanda tangan di bawah ini
Nama
: Dimas Pangga Wisesa
NIM
: 1113081000117
Jurusan
: Manajemen Informasi Perbankan Syariah
Fakultas
: Ekonomi dan Bisnis
Dengan ini menyatakan bahwa dalam penulisan skripsi ini, saya:
1. Tidak menggunakan ide orang lain tanpa mampu mengembangkan
dan mempertanggungjawabkan.
2. Tidak melakukan plagiasi terhadap naskah karya orang lain.
3. Tidak menggunakan karya orang lain tanpa menyebutkan sumber
asli atau tanpa izin pemilik karya.
4. Tidak melakukan pemanipulasian dan pemalsuan data.
5. Mengerjakan sendiri karya ini dan mampu bertanggung jawab atas
karya ini.
Jikalau di kemudian hari ada tuntutan Dari pihak lain atas karya saya, dan telah
melalui pembuktian yang dapat dipertanggung jawabkan, ternyata memang
ditemukan bukti bahwa saya telah melanggar pernyataan ini, maka saya siap
dikenai sanksi berdasarkan aturan yang berlaku di Fakultas Ekonomi dan Bisnis
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.Demikian pernyataan ini saya buat dengan
sesungguhnya.
Jakarta, 25 November 2016
Yang Menyatakan
Dimas Pangga Wisesa
1113081000117
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
IDENTITAS HIDUP
Nama
: Dimas Pangga Wisesa
Tempat / Tanggal Lahir
: Ciamis, 15 Februari 1994
Tinggi / Berat
: 171cm / 74kg
Agama
: Islam
Alamat
: Komplek. Batan Lama A – 14, Kecamatan Setu,
Kota Tangerang Selatan.
Telp / Hp
: 089622371171
Email
: [email protected]
: [email protected]
PENDIDIKAN FORMAL
2000-2006
: SDN Puspiptek
2006-2009
: SMPN 2 Cisauk (SMPN 8 Kota Tangerang Selatan)
2009-2012
: SMAN 3 Kota Tangerang Selatan
2012-2014
: CCIT-FTUI
2013-2016
: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
i
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dari variabel
independen yaitu rasio-rasio keuangan yang diwakili oleh rasio likuiditas,
leverage, profitabilitas dan aktifitas, dan variabel independen non-rasio keuangan
yaitu ukuran perusahaan terhadap peringkat sukuk yang diterbitkan perusahaan
non-keuangan yang terdaftar di Badan Pemeringkat Pefindo periode Januari 2012Desember 2015. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling untuk
pengambilan sampelnya. Sampel perusahaan yang digunakan adalah 37 sampel.
Metode analisis yang digunakan menggunakan analisis regresi berganda dengan
menggunakan bantuan program spss 16.0 .Hasil penelitian ini menunjukan bahwa
model penelitian ini layak digunakan karena telah memenuhi asumsi klasik.
Berdasarkan Uji koefisien determinasi, bahwa besarnya kemampuan prediksi dari
kelima variabel independen terhadap peringkat sukuk sebesar 85,4%. Berdasarkan
Uji F menunjukan bahwa model layak digunakan karena memiliki nilai signifikan
yang kurang dari taraf nyata 5%. Berdasarkan Uji t menunjukan bahwa, rasio
likuiditas, dan ukuran perusahaan berpengaruh secara parsial terhadap peringkat
sukuk dan rasio proftabilitas, leverage dan aktivitas tidak berpengaruh secara
parsial terhadap peringkat sukuk.
Kata Kunci : Rasio Likuiditas, Rasio Leverage, Rasio Profitabilitas, Rasio
Aktivitas, Ukuran Perusahaan, dan Peringkat Sukuk.
ii
ABSTRACT
The purpose of this study is to analyze the influence of independent variabel
that is Liquidity ratio, Leverage ratio, Profitability ratio, Activity Ratio,
Company Size, toward sukuk rate that was published by non-financial company
listed in rating agencies PEFINDO on period between January 2012-Desember
2015. This research method purposive sampling for sampling. There 37 sample
used by. The analytical method used multiple regression analysis by using spss
programme 16.0. The result of this research show that research model is fit to use
because has fullfilled classical assumption. Based on the coefficient
determination, that the measure of the predictive capability of five independent
variables toward sukuk rate amounting to 85.4%. Based on the F test showed that
the model fit to use because it has a significance value of less than 5%. Based on
the T test showed that liquidity ratio and company size partialy influenence sukuk
rate and profitability ratio, leverage ratio, and activity ratio are not partialy
influenence sukuk rate.
Key Word : Liquidity ratio, Leverage ratio, Profitability ratio, Activity Ratio,
Company Size, and sukuk rate.
iii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT. Atas segala rahmat dan karunia-Nya.
Sholawat serta salam kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita
Dari zaman kegelapan ke zaman yang terang benderang. Mudah-mudahan kita
mendapat syafaatnya di akhirat. Aamiin. Rasa syukur kami haturkan kepada Allah
SWT
karena dengan izin-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang
berjudul “Analisa Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Peringkat Sukuk”, sebagai
salah satu syarat untuk menyelsaikan Program Sarjana (S1) Jurusan Manajemen
Informasi Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Banyak kendala dan hambatan yang dihadapi penulis dalam penyusunan
skripsi ini, hingga akhirnya skripsi ini dapat diselsaikan. Selesainya penulisan
skripsi ini tidak lepas Dari bantuan dan bimbingan Dari berbagai pihak. Oleh
karenanya penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada:
1. Kedua orang paling berpengaruh dalam hidup saya, yang memberikan kasih
sayang dan waktunya untuk membimbing saya hingga saat ini dan selalu
menanamkan nilai-nilai kejujuran dan kebaikan dalam kehidupan. Ibu Dra.
Rina Yanti dan Ayah Ir. Imam Prasetyo. Semoga ridho keduanya bersama
penulis.
2. Teruntuk adik saya Adithya Raidipa Wisesa yang turut mendoakan
kelancaran penyusunan skripsi. Semoga kita berdua dapat membanggakan Ibu
dan Ayah.
3. Bapak Dr. M. Arief Mufraini, Lc, M.Si.selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, beserta
jajarannya.
4. Ibu Dr. Pudji Astuti sebagai Dosen Pembimbing I yang telah meluangkan
waktunya di tengah kesibukan untuk membimbing dan mengarahkan penulis
dalam menyusun skripsi ini serta motivasinya yang begitu besar pada penulis.
iv
5. Bapak Deni Pandu, SE, M.Sc. sebagai Dosen Pembimbing II yang telah
meluangkan waktunya di tengah kesibukan untuk membimbing dan
mengarahkan penulis dalam menyusun skripsi ini serta motivasinya yang
begitu besar pada penulis.
6. Ibu Titi Dewi Warnida, SE, M.Si.selaku Ketua Jurusan Manajemen Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
7. Ibu Ela Patriana, MM. selaku Sekretaris Jurusan Manajemen Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
8. Bapak Sopyan, SE, MM. selaku Dosen Penasehat Akademik yang telah
mengarahkan dan memotivasi selama penulis menuntut ilmu di kampus ini.
9. Seluruh Bapak/Ibu Dosen yang telah mencurahkan dan mengamalkan ilmu
yang tak ternilai hingga penulis menyelesaikan studi di Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
10. Seluruh Staf Tata Usaha dan karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membantu
dan penulis dalam mengurus segala kebutuhan administrasi dan lain-lain.
11. Sahabat terbaikku, Eka Ulfatul Fitriani yang membantu penulis dalam
penulisan skripsi dan selalu memberi semangat dalam mengerjakan skripsi.
12. Teman-teman yang membantu dalam penyelsaian skripsi ini, Asep Septian
Firdaus, Azka Amany dan Indita Indriana atas bantuan dan waktunya.
13. Teman seperjuanganku selama di CCIT FTUI dan MIPS, terimakasih atas
dukungan dan motivasi kalian. Semoga Allah SWT selalu memudahkan
langkah kalian untuk menuju cita-cita dan tujuan.
14. Dan terakhir semua pihak yang berperan dalam penulisan skripsi ini dari awal
yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Tangerang Selatan, 25 November 2016
Dimas Pangga Wisesa
v
DAFTAR ISI
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ................................................................................................... i
ABSTRACT ...............................................................................................................................ii
KATA PENGANTAR .............................................................................................................. iv
DAFTAR ISI............................................................................................................................. vi
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................. viii
DAFTAR TABEL ..................................................................................................................... ix
BAB I ......................................................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................................................ 1
B. Perumusan Masalah................................................................................................... 12
C. Tujuan Penelitian....................................................................................................... 12
D. Manfaat Penelitian..................................................................................................... 13
BAB II...................................................................................................................................... 14
A. Landasan Teori .......................................................................................................... 14
1.
Definisi Pasar Modal ................................................................................................. 14
2.
Lembaga Penunjang Pasar Modal ............................................................................. 18
3.
Fungsi Pasar Modal ................................................................................................... 19
4.
Jenis Pasar Modal ...................................................................................................... 20
5.
Pasar Modal Syariah.................................................................................................. 21
6.
Definisi Sukuk ........................................................................................................... 21
7.
Ketentuan Sukuk ....................................................................................................... 24
8.
Jenis-jenis Sukuk ....................................................................................................... 25
9.
Keistimewaan Sukuk ................................................................................................. 26
10.
Resiko Sukuk ......................................................................................................... 28
11.
Peringkat Sukuk ..................................................................................................... 30
12.
Laporan Keuangan ................................................................................................. 31
13.
Analisa Laporan Keuangan ................................................................................... 35
14.
Analisis Rasio Keuangan ....................................................................................... 35
15.
Macam – Macam Rasio Keuangan ........................................................................ 36
16.
Ukuran Perusahaan (Company Size) ..................................................................... 40
vi
B. Penelitian Terdahulu ................................................................................................. 40
C. Keterkaitan Antar Variabel ....................................................................................... 47
D. Kerangka Pemikiran .................................................................................................. 49
E. Hipotesis .................................................................................................................... 53
BAB III .................................................................................................................................... 55
A. Ruang Lingkup Penelitian ......................................................................................... 55
B. Metode Penentuan Sampel ........................................................................................ 55
C. Metode Pengumpulan Data ....................................................................................... 57
D. Metode Analisis Data ................................................................................................ 57
E.
Operasional Variabel Penelitian ................................................................................ 69
BAB IV .................................................................................................................................... 73
A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian .............................................................. 73
B. Analisa Pembahasan Data ......................................................................................... 74
2.
Analisis Deskriptif..................................................................................................... 74
3.
Uji Asumsi Klasik ..................................................................................................... 76
4.
Uji Regresi Berganda ................................................................................................ 82
5.
Uji Hipotesis.............................................................................................................. 86
6.
Interpretasi Hasil ....................................................................................................... 88
BAB V ..................................................................................................................................... 91
A. Kesimpulan................................................................................................................ 91
B. Saran .......................................................................................................................... 91
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 93
LAMPIRAN ............................................................................................................................. 96
vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. 1 Grafik .................................................................................................................. 6
Gambar 3. 1 PP Plots ............................................................................................................77
Gambar 3. 2 Scatterplot ......................................................................................................... 81
viii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Daftar Perusahaan non-Keuangan Penerbit Sukuk .................................................. 9
Tabel 3. 1 Proses Pemilihan Sampel ...................................................................................... 56
Tabel 3. 2 Sampel Penelitian ................................................................................................. 56
Tabel 4.1 Descriptive Statistics .............................................................................................. 75
Tabel 4.2 One Sample Kolmogorov-smirnov ........................................................................ 78
Tabel 4.3 Model Summary .................................................................................................... 79
Tabel 4.4 Run Test ................................................................................................................. 79
Tabel 4.5 Hasil Uji Multikolinearitas .................................................................................... 80
Tabel 4.6 Coefficients ............................................................................................................ 81
Tabel 4.7 Coefficients ............................................................................................................ 85
ix
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehidupan sosial ekonomi Islam, termasuk investasi, tidak dapat dilepaskan
Dari prinsip-prinsip syariah. Investasi syariah adalah investasi yang didasarkan
prinsip-prinsip syariah. Baik investasi pada sektor riil maupun sektor keuangan.
Islam mengajarkan investasi yang menguntungkan semua pihak (win win
solution) dan melarang manusia melakukan investasi zero sum game atau win
loss. Al qur’an melarang manusia mencari rizki dengan berspekulasi atau cara
lainnya yang merugikan salah satu pihak.
Islam juga melarang investasi yang mengandung riba, gharar (mengubah
kondisi certainty menjadi kondisi uncertainty untuk mendapatkan keuntungan),
maysir (judi), menjual sesuatu yang tidak dimiliki, dan berbagi transaksi lain
yang merugikan salah satu pihak. Islam juga melarang semua tindakan yang
merusak dan merugikan. Islam menghendaki aktivitas perekonomian yang
didasarkan pada prinsip saling meridhoi. Islam juga tidak melarang umatnya
untuk menanggung risiko dalam menjalankan investasi. Setiap mukmin harus
melakukan tindakan yang terbaik untuk hari ini dan menyerahkan hasilnya
kepada Allah. Sebab manusia tidak mengetahui hasil upaya yang dilakukan saat
ini (Muhammad Nafik, 2009:23).
Dalam Islam, investasi merupakan kegiatan muamalah yang sangat di
anjurkan, karena dengan berinvestasi harta yang dimiliki menjadi produktif dan
juga mendatangkan manfaat bagi orang lain. Investasi menurut definisi adalah
menanam atau menempatkan aset, baik berupa harta maupun dana pada sesuatu
1
yang diharapkan akan memberikan hasil pendapatan atau akan meningkatkan
nilainya di masa yang akan datang.
Untuk mengimplementasikan anjuran dalam berivestasi, maka harus
diciptakan sarana untuk berinvestasi. Banyak pilihan untuk menanamkan modal
dalam bentuk investasi. Sejumlanh instrumen investasi yang disediakan yang
diharapkkan akan meningkatkan nilai di masa mendatang diantaranya sukuk ritel
dan deposito. Investasi itu sendiri berbeda dengan menabung, karena investasi
biasanya dilakukan dengan perencaan yang lebih matang berbeda dengan
menabung yang biasanya tanpa perencanaan. Dalam prosesnya investasi dan
menabung hampir sama tetapi orientasi Dari keduanya yang berbeda jika
menabung hanyalah kegiatan menetapkan sejumlah dana yang kita miliki pada
produk tabungan, dalam hal ini kita hanya akan mendapatkan bunga atau bagi
hasil Dari setiap bulannya akan tetapi berbeda dengan investasi merupakan
kegiatan penanaman modal untuk suatu tujuan tertentu pada jangka menengah
dan panjang yang berkaitan dengan mengakumulasi suatu bentuk aktiva dengan
harapan mendapatkan keuntungan di masa depan dan investasi itu sendiri
banyak jenisnya seperti sukuk yang semakin diminati.
Salah satu bentuk instrumen keuangan syariah yang telah banyak diterbitkan
baik oleh korporasi maupun negara adalah sukuk. Di beberapa negara, sukuk
telah menjadi instrumen pembiayaan anggaran negara yang penting. Pada saat
ini, beberapa negara telah menjadi regular issue dari sukuk, misalnya Malaysia,
Bahrain, Brunei Darussalam, Uni Emirat Arab, Qatar, Pakistan, dan State sof
Saxony Anhalt – Jerman. Penerbitan sovereign sukuk biasanya ditujukan untuk
keperluanpembiayaan negara secara umum (general funding) atau untuk
pembiayaan proyek-proyek tertentu, misalnya pembangunan bendungan, unit
2
pembngkit listrik, pelabuhan, bandar udara, rumah sakit, dan jalan tol.Selain itu,
sukuk juga dapat digunakan untuk keperluan pembiayaan cash-mismacth, yaitu
dengan menggunakan sukuk dengan jangka waktu pendek (Islamic Tresury
Bills) dan juga dapat digunakan sebagai instrumen pasar uang.Total emisi sukuk
internasional berkembang pesat dari semula pada tahun 2002 hanya sekitar USD
1 miliar, menjadi USD 17 miliar pada bulan April 2007. jumlah dan jenis
instrumen sukuk juga terus berkembang, dari semula hanya dikenal sukuk al
ijarah berkembang menjadi 14 jenis sukuk sebagaimana ditetapkan oleh The
Accounting and Auditing Organization of Islamic Financial Institutions
(AAOIFI). adapun investor sukuk, tidak lagi hanya terbatas pada investor islami,
karena pada saat ini sebagain besar investor sukuk justru merupakan investor
konvensional.
Perkembangan sukuk yang menjadikan salah satu investasi pilihan adalah
karena sukuk memiliki keistimewaan tersendiri dibanding investasi lain yang
membuat pertumbuhan sukuk meningkat yaitu dikarenakan sukuk memberikan
penghasilan atau nisbah bagi hasil yang lebih kompetitif dan dibayarkan setiap
bulannya, pembayaran imbalan dan nilai nominal sampai dengan sukuk jatuh
tempo dijamin oleh pemerintah, memunginkan didapatnya penghasilan
tambahan berupa margin (capital gain) dan yang terpenting sukuk aman dan
terbebas dari unsur riba, gharar dan maysir.
Dalam negeri sendiri, pasar
keuangan syariah, termasuk pasar sukuk juga tumbuh secara cepat, meskipun
proporsinya dibandingkan konvensional masih relatif kecil. untuk keperluan
pengembangan basis sumber pembiayaan anggaran negara dan dalam rangka
pengembangan pasar keuangan syariah dalam negeri, pemerintah telah
menyusun RUU tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). UU SBSN
3
tersebut akan menjadi legal basis bagi penerbitan dan pengelolaan sukuk negara
atau SBSN.
Pasar Modal Syariah di Indonesia dimulai dengan diterbitkannya Reksa Dana
Syariah oleh PT. Danareksa Investment Management pada 3 Juli 1997.
Selanjutnya, Bursa Efek Indonesia (d/h Bursa Efek Jakarta) berkerjasama
dengan PT. Danareksa Investment Management meluncurkan Jakarta Islamic
Index pada tanggal 3 Juli 2000 yang bertujuan untuk memandu investor yang
ingin menginvestasikan dananya secara syariah. Dengan hadirnya indeks
tersebut, maka para pemodal telah disediakan saham-saham yang dapat
dijadikan sarana berinvestasi sesuai dengan prinsip syariah. Pada tanggal 18
April 2001, untuk pertama kali Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama
Indonesia (DSN-MUI) mengeluarkan fatwa yang berkaitan langsung dengan
pasar modal, yaitu Fatwa Nomor 20/DSN-MUI/IV/2001 tentang Pedoman
Pelaksanan Investasi Untuk Reksa Dana Syariah. Selanjutnya, instrumen
investasi syariah di pasar modal terus bertambah dengan kehadiran Obligasi
Syariah PT. Indosat Tbk pada awal September 2002. Instrumen ini merupakan
Obligasi Syariah pertama dan akad yang digunakan adalah akad mudharabah.
Pasar Modal Syariah juga dapat ditelusuri Dari perkembangan institusional
yang terlibat dalam pengaturan Pasar Modal Syariah tersebut. Perkembangan
tersebut dimulai Dari MoU antara Bapepam dan DSN-MUI pada tanggal 14
Maret 2003. MoU menunjukkan adanya kesepahaman antara Bapepam dan
DSN-MUI untuk mengembangkan pasar modal berbasis syariah di Indonesia.
Pada tanggal 23 Nopember 2006, Bapepam-LK menerbitkan paket Peraturan
Bapepam dan LK terkait Pasar Modal Syariah. Paket peraturan tersebut yaitu
Peraturan Bapepam dan LK Nomor IX.A13 tentang Penerbitan Efek Syariah dan
4
Nomor IX.A.14 tentang Akad-akad yang digunakan dalam Penerbitan Efek
Syariah di Pasar Modal. Selanjutnya, pada tanggal 31 Agustus 2007 BapepamLK menerbitkan Peraturan Bapepam dan LK Nomor II.K.1 tentang Kriteria dan
Penerbitan Daftar Efek Syariah dan diikuti dengan peluncuran Daftar Efek
Syariah pertama kali oleh Bapepam dan LK pada tanggal 12 September 2007.
Perkembangan Pasar Modal Syariah mencapai tonggak sejarah baru dengan
disahkannya UU Nomor 19 tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara
(SBSN) pada tanggal 7 Mei 2008. Undang-undang ini diperlukan sebagai
landasan hukum untuk penerbitan surat berharga syariah negara atau sukuk
negara. Pada tanggal 26 Agustus 2008 untuk pertama kalinya Pemerintah
Indonesia menerbitkan SBSN seri IFR0001 dan IFR0002.
Pada tahun 2002, PT Indosat pertama kali menerbitkan sukuk senilai 175
miliar yang direspon baik oleh pasar. Sejak saat itu, sukuk mulai dikembangkan
dalam pasar modal Indonesia dan diikuti sampai sekarang. Hingga tahun 2013,
total nilai sukuk yang bereDar yaitu 8,387 miliar rupiah. Pada tahun 2009,
terjadi lonjakan penerbitan emisi sukuk dari 29 menjadi 43. Di tahun 2009
terjadi kenaikan emisi sukuk mencapai 48%. Di tahun 2008 tercatat nilai sukuk
5,4 Triliun di akhir tahun 2009 tercatat nilai emisi sukuk sebesar 7 Triliun.
Kenaikan sebesar 1,6 Triliun ini adalah kenaikan terbesar dibanding tahun-tahun
lain yang rata-rata kenaikannya tidak mencapai 1 Triliun. Keunggulan sukuk,
Sukuk mampu tumbuh cepat di tengah krisis finansial global 2007. Meskipun
nilai outstanding Sukuk relatif kecil dibanding obligasi konvensional, tetapi
Pasar Sukuk Indonesia mengalami perkembangan yang sangat signifikan dari
tahun ke tahunnya.
5
Gambar 1. 1 Grafik
Perkembangan Sukuk
(Sumber: Laporan OJK per Desember 2015)
Dari grafik ini dapat kita lihat bahwa perkembangan sukuk pertahunnya
hampir mengalami kenaikan. Dapat dilihat kenaikan nilai outstanding sukuk
mengalami kenaikan pertahunnya walaupun tidak terlalu signifikan dibandingan
dengan nilai akumulasi penerbitan yang terus meningkat signifikan, akan tetapi
perkembangan nilai akumulasi penerbitan yang signifikan dikarenakan investasi
pada produk sukuk
semakin menarik minat investor untuk berinvestasi
dikarenakan banyaknya kelebihan yang ditawarkan dari investasi sukuk.
Terdapat sejumlah kelebihan yang didapat bila menerbitkan sukuk antara
lain; (1) Investasi yang aman (pemerintah sebagai penjamin). (2) Memberikan
return yang relatif tinggi (12% gross => 9.6% nett) dibandingkan produk
konservatif lain seperti reksadana pasar uang atau deposito. (3) Mendapatkan
pembayaran imbalan yang dilakukan secara berkala (perbulan). (4) Berpotensi
memperoleh Capital Gain, ketika harga sedang naik di pasar sekunder.
6
Namun dalam dunia investasi sukuk memiliki resiko yang harus diperhatikan
para investor antara lain, Resiko Gagal Bayar (Default Risk), adalah resiko
dimana investor tidak dapat memperoleh pembayaran dana yang dijanjikan oleh
penerbit pada saat produk investasi jatuh tempo. berhubung yang menerbitkan
pemerintah, resiko ini sangatlah kecil (diasumsikan risk free). Resiko Pasar
(Market Risk), adalah potensi kerugian bagi investor (capital loss) karena
menjual sukuk ritel sebelum jatuh tempo (pada saat nilainya turun). Resiko
Likuiditas (Likuiditas Risk), adalah kesulitan dalam pencairan, resiko ini bisa
disebabkan karena kecenderungan produk syariah ditahan (tidak diperjual
belikan hingga jatuh tempo), tetapi untuk sukuk ritel para agen penjual telah
menjamin untuk membeli kembali barang yang dijual oleh investor. resiko yang
bisa terjadi adalah investor terpaksa menjual kepada agen penjual dengan harga
di bawah harga pasar. apabila pembelian dalam jumlah tidak besar, bunganya
yang relatif kecil dan ditransfer ke bank bisa menjadi tidak signifikan dan bisa
terpakai. Agar investor memiliki gambaran tingkat risiko ketidakmampuan
perusahaan dalam membayar, maka sebelum perusahaan mengeluarkan sukuk,
akan dilakukan proses pengujian terhadap sukuk tersebut, dimana di Indonesia
dilakukan oleh Bapepam selaku pengawas pasar modal dengan melakukan
pengujian peringkat (rating) sukuk.
Rating itu sendiri merupakan salah satu acuan Dari investor ketika akan
memutuskan
membeli
suatu
obligasi.
Proses
rating
sebuah
obligasi
membutuhkan waktu sekitar satu sampai dua bulan. Terdapat dua kategori
kelompok peringkat obligasi yaitu kategori kelas investasi (investment grade)
dan kategori bukan kelas investasi (non investment grade). Sehingga muncul
pertanyaan apakah pemeringkatan obligasi sudah tepat dan akurat sebagai
7
pandangan para investor nantinya. Peringkat obligasi syariah memberikan
pernyataan informatif dan memberikan sinyal tentang probabilitas default
hutang perusahaan. Peringkat juga berfungsi untuk membantu kebijakan publik
untuk membatasi investasi spekulatif para investor. Sehingga kualitas obligasi
dapat dinilai dari peringkatnya. (Margareta dan Poppy : 2009)
Dari rating inilah kita dapat menentukan apakah investasi yang kita pilih
adalah investasi yang baik dan mengguntungkan, dan rating ini memberikan
gambaran seberapa besar perkembangan suatu sukuk yang diterbitkan kepada
publik. Dan proses rating ini melewati pengolahan dari data keuangan dan non
keuangan, data keuangan untuk melakukan rating didapat dari rasio – rasio
keuangan perusahaan yang diolah dari data laporan keuangan yang diterbitkan
perusahaan dan data non keuangan yang digunakan adalah kemampuan audit
dari auditor independen yang melakukan audit pada tingkat produktivitas, secure
dan maturity yang dimiliki perusahaan.
Di Indonesia terdapat salah satu lembaga pemeringkat sekuritas hutang
yaitu,PT Pemeringkat Efek Indonesia atau yang lebih dikenal dengan PEFINDO
merupakan rating agency tertua di Indonesia. Hingga saat ini PEFINDO telah
memberi peringkat kepada lebih Dari 500 perusahaan dan pemerintah daerah.
Selain itu, instrumen pasar modal seperti obligasi, sukuk, medium-term notes
telah diperingkat oleh PEFINDO. PEFINDO juga merupakan market leader
rating agency di Indonesia. Dengan menggunakan peringkat yang diberikan oleh
PEFINDO diharapkan penelitian ini dapat mencakup sebagian besar sukuk yang
telah diterbitkan di Indonesia. Karena kebanyakan sukuk diperingkat oleh
PEFINDO. Peringkat obligasi yang diberikan oleh agen pemeringkat dapat
dikategorikan menjadi dua, yaitu investment grade dan non-investment grade.
8
Obligasi investment grade memiliki peringkat AAA, AA, A, dan BBB.
Sedangkan untuk non-investment grade dengan peringkat BB, B, CCC, dan D.
Investment grade merupakan obligasi dengan risiko kredit yang rendah sehingga
berperingkat 3 tinggi. Non investment grade merupakan obligasi yang memiliki
risiko tinggi sehingga berperingkat rendah.
Tabel 1.1 Daftar Perusahaan non-Keuangan Penerbit Sukuk
Nama Perusahaan
Kode
ADHI
MPPA
MAPI
MYOR
ROTI
3
AISA
1
7
PT Adhi Karya (Persero)
PT Matahari Putra Prima Tbk.
PT Mitra Adiperkasa Tbk.
PT Mayora Indah Tbk.
PT Nippon Indosari Corpindo
Tbk.
PT Tiga Pilar Sejahtera Food
Tbk.
PT Sumberdaya Sewatama
Jumlah Sukuk yang
Beredar
7
1
4
3
SSMA
2
8
PT Matahari Putra Prima Tbk.
MPPA
1
9
PT. PPLN
PPLN
12
37
No
1
2
3
4
5
6
Jumlah Sampel
Sumber : data diolah
Dari gambar tabel di atas dapat dilihat beberapa sukuk non keuangan yang
diterbitkan dan telah mendapatkan peringkat dari perusahaan pemeringkat
Pefindo antara tahun 2012-2015. Dapat dilihat peringkat sukuk yang beredar di
indonesia adalah A, AA dan AAA, bisa disimpulkan bahwa sukuk yang beredar
di Indonesia berada pada kategori investment grade. Untuk mengukur peringkat
sukuk tersebut Pefindo menggunakan beberapa faktor untuk mengukur peringkat
salah satunya rasio keuangan.
Sejumlah penelitian yang meneliti faktor apa saja yang dapat mempengaruhi
peringkat sukuk. Adapun diantaranya telah dilakukan oleh: Purwaningsih (2013)
yang memberikan bukti bahwa rasio leverage, likuiditas secure, dan maturity
9
mampu digunakan untuk memprediksi peringkat sukuk, begitu juga dengan
penelitian Afiani (2010) yang menemukan bahwa rasio likuiditas dan
profitabilitas mampu digunakan untuk memprediksi peringkat sukuk dan rasio
leverage dan produktivitas tidak dapat digunakan untuk memprediksi peringkat
sukuk. Penelitian Magreta dan Poppy (2009) meneliti faktor-faktor yang
mempengaruhi prediksi peringkat obligasi, dengan hasil bahwa Firm Size,
likuiditas, profitabilitas, leverage, produktivitas, secure, maturity dan reputasi
auditor berpengaruh terhadap prediksi peringkat sukuk. Penelitian Melis (2014)
yang menemukan bahwa likuiditas berpengaruh terhadap peringkat sukuk
sedangkan profitabilitas, leverage, produktivitas, secure, maturity dan reputasi
auditor tidak berpengaruh terhadap peringkat sukuk. Penelitian ini mencoba
untuk menguji kembali faktor-faktor yang mempengaruhi peringkat sukuk.
penelitian ini akan menggunakan variabel Profitablitas, Likuiditas, Leverage.
Penggunaan variabel tersebut dikarenakan pada penelitian sebelumnya masih
terjadi perbedaan hasil, sehingga memotivasi penulis mengambil variabelvariabel tersebut.
Inkonsistensi hasil dari berbagai penelitian juga menjadi salah satu motivasi
penulis. Sejumlah penelitian mengenai sukuk maupun obligasi yang penulis
sebutkan sebelumnya menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Pemilihan variabel
yang bervariasi dalam model penelitian diasumsikan dapat mempengaruhi
peringkat sukuk. Adanya research gap penelitian ini yang membuat penulis
tertarik untuk meneliti kembali mengenai pemeringkatan sukuk. Berdasarkan
latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian Faktor –
faktor yang mempengaruhi peringkat sukuk karena terdapat banyak hasil yang
menunjukan research gap dari setiap penelitian sebelumnya dan Penelitian ini
10
menggunakan faktor akuntansi yaitu rasio keuangan likuiditas, leverage,
profitabilitas dan aktivitas dan ukuran perusahaan. Dari faktor akuntansi diteliti
pengaruhnya terhadap peringkat sukuk, maka oleh karena itu penulis mengambil
judul: “Analisa Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Peringkat Sukuk
(Studi Kasus Pada Perusahaan Penerbit Sukuk Non Keuangan)”
11
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka perumusan masalah yang akan
diangkat adalah sebagai berikut:
1. Apakah rasio keuangan (likuiditas) mempengaruhi secara parsial
peringkat sukuk?
2. Apakah rasio keuangan (leverage) mempengaruhi secara parsial
peringkat sukuk?
3. Apakah rasio keuangan (profitabilitas) mempengaruhi secara parsial
peringkat sukuk?
4. Apakah rasio keuangan (aktivitas) mempengaruhi secara parsial
peringkat sukuk?
5. Apakah ukuran perusahaan mempengaruhi secara signifikan parsial
sukuk?
6. Apakah rasio keuangan (likuiditas, profitabilitas, leverage, dan aktivitas)
dan ukuran perusahaan mempengaruhi peringkat sukuk secara bersamasama?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah :
1. Menganalisa pengaruh rasio keuangan (likuiditas)
secara parsial
terhadap peringkat sukuk.
2. Menganalisa pengaruh rasio keuangan (leverage) secara parsial terhadap
peringkat sukuk.
3. Menganalisa pengaruh rasio keuangan (profitabilitas)
secara parsial
terhadap peringkat sukuk.
12
4. Menganalisa pengaruh rasio keuangan (aktivitas) secara parsial terhadap
peringkat sukuk.
5. Menganalisa pengaruh ukuran perusahaan
secara parsial terhadap
peringkat sukuk.
6. Menganalisa
pengaruh
rasio
keuangan
(likuiditas,
profitabilitas,
leverage, dan aktivitas) dan ukuran perusahaan secara bersama-sama
terhadap peringkat sukuk.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah :
1. Bagi Peneliti/Akademisi
Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan referensi ataupun landasan
pijak bagi penelitian selanjutnya.
2. Bagi Perusahaan
Diharapkan penelitian ini dapat masukan mengenai faktor – faktor
keuangan (khususnya rasio keuangan) yang berpotensi mempengaruhi
peringkat sukuk.
3. Bagi Investor dan Calon Investor
Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan masukan dalam pengambilan
keputusan investasi sukuk.
13
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Landasan Teori
1. Definisi Pasar Modal
Pasar modal (Capital Market) merupakan kegiatan yang
bersangkutan dengan penawaran umum perdagangan efek perusahaan
publik yang berkaitan dengan produk. Dalam arti sempit pasar modal
adalah suatu pasar dimana dana-dana jangka panjang baik hutang
maupun modal sendiri diperdagangkan. Dengan kata lain pasar modal
merupakan tempat pertemuan antara penawaran dan permintaan surat
berharga. Jenis surat berharga yang diperjualbelikan di pasar modal
memiliki jatuh tempo lebih dari satu tahun. Dua jangka ynag
merupakan modal sendiri berbentuk saham biasa (Common Stock) dan
saham prefern (Preferen Stock), sedangkan dana jangka hutang
berbentuk obligasi (Bond). (Martono, 2004:181)
Pasar Modal dalam arti sempit adalah suatu tempat yang
terorganisasi di mana efek-efek diperdagangkan yang disebut bursa
efek.Bursa efek atau stock exchange adalah suatu sistem yang
terorganisasi yang mempertemukan penjual dan pembeli efek yang
dilakukan baik secara langsung maupun dengan melalui wakilwakilnya. Fungsi bursa efek ini antara lain adalah menjaga kontinuitas
pasar dan menciptakan harga efek yang wajar melalui mekanisme
permintaan dan penawaran (Siamat, 2005:487).
14
Di dalam Undang-Undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995,
pengertian pasar modal dijelaskan dengan lebih spesifik sebagai
kegiatan
yang
bersangkutan
dengan
Penawaran
Umum
dan
Perdagangan Efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan Efek yang
diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek.
Pengertian pasar modal berdasarkan keputusan presiden No. 52 tahun
1976 tentang pasar modal menyebutkan bahwa pasar modal adalah
Bursa Efek seperti yang dimaksud dalam undang-undang No. 15 tahun
1952. menurut undang-undang tersebut, bursa adalah gedung atau
ruangan yang ditetapkan sebagai kantor dan tempat kegiatan
perdagangan efek, sedangkan surat berharga yang dikategorikan efek
adalah saham, obligasi serta surat bukti lainnya yang lazim dikenal
sebagai efek.
Pasar modal merupakan tonggak penting dalam perekonomian
dunia saat ini. Banyak industri dan perusahaan yang menggunakan
institusi ini sabagai media untuk menyerap investasi dan media untuk
memperkuat posisi keuangannya. Pasar modal memiliki peran yang
sangat besar bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal
menjalankan dua fungsi sekaligus, yaitu fungsi ekonomi dan fungsi
keuangan. Pasar modal dikatakan memiliki fungsi ekonomi karena
pasar modal menyediakan fasilitas yang mempertemukan dua
kepentingan yaitu pihak yang memiliki kelebihan dana (investor) dan
pihak yang memerlukan dana (issuer). (Darmadji dan Fakhruddin,
2001: 2). Pasar modal secara umum adalah suatu sistem keuangan yang
terorganisasi, termasuk didalamnya adalah bank-bank komersial dan
15
semua lembaga perantara dibidang keuangan, serta keseluruhan suratsurat berharga yang beredar. Dalam arti sempit, pasar modal adalah
suatu
pasar
(tempat,
berupa
gedung)
yang
disiapkan
guna
memperdagangkan saham-saham, obligasi-obligasi, dan jenis surat
berharga lainnya dengan memakai jasa para perantara pedagang efek
(Kasmir, 2009:104).
Para pemain utama yang terlibat di pasar modal dan lembaga
penunjang yang terlibat langsung dalam proses transaksi antara pemain
utama sebagai berikut :
a. Emiten. Perusahaan yang akan melakukan penjualan surat-surat
berharga atau melakukan emisi di bursa (disebut emiten). Dalam
melakukan emisi, para emiten memiliki berbagai tujuan dan hal ini
biasanya sudah tertuang dalam rapat umum pemegang saham
(RUPS), antara lain :
1) Perluasan usaha, modal yang diperoleh dari para investor
akan digunakan untuk meluaskan bidang usaha, perluasan
pasar atau kapasitas produksi.
2) Memperbaiki struktur modal, menyeimbangkan antara
modal sendiri dengan modal asing.
3) Mengadakan pengalihan pemegang saham. Pengalihan dari
pemegang saham lama kepada pemegang saham baru.
b. Investor. Pemodal yang akan membeli atau menanamkan modalnya
di perusahaan yang melakukan emisi (disebut investor). Sebelum
membeli surat berharga yang ditawarkan, investor biasanya
16
melakukan penelitian dan analisis tertentu. Penelitian ini mencakup
bonafiditas perusahaan, prospek usaha emiten dan analisis lainnya.
Tujuan utama para investor dalam pasar modal antara lain :
1) Memperoleh deviden. Ditujukan kepada keuntungan yang
akan diperolehnya berupa bunga yang dibayar oleh emiten
dalam bentuk deviden.
2) Kepemilikan perusahaan. Semakin banyak saham yang
dimiliki maka semakin besar pengusahaan (menguasai)
perusahaan.
3) Berdagang. Saham dijual kembali pada saat harga tinggi,
pengharapannya adalah pada saham yang benar-benar dapat
menaikkan keuntungannya dari jual beli sahamnya.
c. Lembaga Penunjang. Fungsi lembaga penunjang ini antara lain
turut serta mendukung beroperasinya pasar modal, sehingga
mempermudah baik emiten maupun investor dalam melakukan
berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pasar modal. Lembaga
penunjang yang memegang peranan penting di dalam mekanisme
pasar modal adalah sebagai berikut :
1) Penjamin emisi (underwriter). Lembaga yang menjamin
terjualnya saham/obligasi sampai batas waktu tertentu dan
dapat memperoleh dana yang diinginkan emiten.
2) Perantara perdagangan efek (broker / pialang). Perantaraan
dalam jual beli efek, yaitu perantara antara si penjual
(emiten) dengan si pembeli (investor). Kegiatan-kegiatan
yang dilakukan oleh broker antara lain meliputi :
17
a) Memberikan informasi tentang emiten
b) Melakukan penjualan efek kepada investor
2. Lembaga Penunjang Pasar Modal
Lima lembaga penunjang pasar modal berikut ini merupakan lembaga
yang menyediakan kegiatan yang membantu terselenggaranya pasar
modal yang sehat. (Tandelilin, 2010:71)
a. Biro Administrasi efek (Securities Administration Bureau)
Biro administrasi efek adalah pihak yang berdasarkan kontrak
dengan emiten melaksanakan pencatatan pemilikan efek dan
pembagian hak yang berkaitan dengan efek.
b. Kustodian
Kustodian (custodian) adalah pihak yang memberikan jasa penitipan
efek dan harta lain yang berkaitan dengan efek serta jasa lain,
termasuk menerima dividen, bunga, dan hak lain menyelesaikan
transaksi efek, dan mewakili pemegang rekening yang menjadi
nasabahnya.
c. Wali Amanat
Wali amanat (trustee), adalah pihak yang mewakili kepentingan
pemegang efek bersifat utang.
d. Penasihat Investasi
Penasihat investasi (investment advisor) adalah pihak yang memberi
nasihat kepada pihak lain mengenai penjualan atau pembelian efek.
e. Pemeringkat Efek
Perusahaan pemeringkat efek (rating agencies) merupakan lembaga
yang dapat menjembatani kesenjangan informasi antara emiten dan
investor dengan menyediakan informasi standar atas tingkat risiko
kredit suatu perusahaan.
18
3. Fungsi Pasar Modal
Pasar modal berperan penting dalam perekonomian suatu negara
karena dapat menciptakan fasilitas bagi investor dalam memenuhi
permintaan dan penawaran modal sehingga banyak industri maupun
perusahaan yang memanfaatkan pasar modal ini sebagai media untuk
menarik investor yang dapat memperkuat posisi keuangan perusahaan
tersebut. disebutkan bahwa pasar modal memiliki dua fungsi utama
yaitu: (Darmadji dan Fakhruddin, 2001: 2)
a. Fungsi ekonomi. Maksud dari pasar modal memiliki fungsi ekonomi
adalah peran dimana pasar modal bertindak sebagai media
penghubung dua kepentingan yaitu pihak yang memiliki dana
(investor) dengan pihak yang memerlukan dana (issuer). Pasar modal
diharapkan
dapat
menjadi
fasilitator
bagi
investor
untuk
menginvestasikan dana yang ia miliki dengan harapan memperoleh
imbalan di masa depan sedangkan bagi pihak issuer atau perusahaan
dapat memanfaatkan dana tersebut tanpa harus menunggu dana
tersedia dari operasi perusahaan.
b. Fungsi keuangan. Maksud dari pasar modal disebut memiliki fungsi
keuangan adalah karena pasar modal memberikan kemungkinan dan
15 kesempatan memperoleh imbalan (return) bagi pemilik dana sesuai
dengan karakteristik dan instrumen investasi yang dipilih.
19
4. Jenis Pasar Modal
Dalam menjalankan fungsinya, pasar modal dibagi menjadi tiga
macam, yaitu: (Umam, 2013:178)
a. pasar perdana, pasar sekunder, dan bursa paralel. Pasar perdana
adalah penjualan perdana efek atau penjualan efek oleh perusahaan
yang menerbitkan efek sebelum efek tersebut dijual melalui bursa
efek. Pada pasar perdana, efek dijual dengan harga emisi, sehingga
perusahaan yang menerbitkan emisi hanya memperoleh dana dari
penjualan tersebut.
b. Pasar sekunder adalah penjualan efek setelah penjualan pada pasar
perdana berakhir. Pada pasar sekunder ini harga efek ditentukan
berdasarkan kurs efek tersebut. Naik turunnya kurs suatu efek
ditentukan oleh daya tarik menarik antara permintaan dan penawaran
efek tersebut. Bagi efek yang dapat memenuhi syarat listing dapat
menjual efeknya di dalam bursa efek, sedangkan bagi efek yang
tidak memenuhi syarat listing dapat menjual efeknya di luar bursa
efek.
c. Bursa paralel merupakan pelengkap bursa efek yang ada. Bagi
perusahaan yang menerbitkan efek yang akan menjual efeknya
melalui bursa dapat dilakukan melalui bursa paralel. Bursa paralel
diselenggarakan oleh Persatuan Perdagangan Uang dan Efek-efek
(PPUE).
20
5. Pasar Modal Syariah
Pasar modal merupakan tempat perusahaan menerbitkan surat
berharga, baik berupa saham ataupun obligasi, agar memperoleh dana
dari investor. Di Bursa Efek Indonesia, saham atau obligasi yang
diterbitkan berdasarkan klasifikasi aspek kesyariahannya yang dapat
dilihat pada DES. Adapun indikator perkembangansaham yang sesuai
syariah dinyatakan dalam Jakarta Islamic Index (JII). Bank syariah
yang memiliki kelebihan dana dan memandang penempatan pasar
modal syariah merupakan sesuatu yang menguntungkan, secara bisnis
dapat menggunakan surat berharga untuk menyalurkan kelebihan
likuiditas tersebut. Sejauh ini, untuk menyalurkan kelebihan likuiditas
di pasar modal, bank syariah diizinkan sebatas pembelian
sukuk.(Yaya dkk, 2014:21)
6. Definisi Sukuk
Menurut Accounting and Auditing Organization for Islamic
Financial Institutions (AAOIFI), sukuk adalah “certificate of equal
value representing undivided shares ownership of tangible asset,
usufruct and services (in the ownership of) the assets of particular
projects or special investment activity”. Jadi sukuk adalah sebagai
sertifikat dari suatu nilai yang dipresentasikan setelah menutup
pendaftaran, bukti terima nilai sertifikat, dan menggunakannya sesuai
rencana. sama halnya dengan bagian dan kepemilikan atas aset yang
jelas, barang, atau jasa atau modal dari suatu proyek tertentu atau
modal dari suatu aktivitas investasi tertentu. Sukuk pada prinsipnya
mirip dengan obligasi konvensional, dengan perbedaan pokok antara
21
lain berupa penggunaan konsep imbalan dan bagi hasil sebagai
pengganti bunga, adanya suatu transaksi pendukung (underlying
transaction) berupa sejumlah tertentu aset yang menjadi dasar
penerbitan sukuk, dan adanya akad atau perjanjian antara para pihak
yang disusun berdasarkan prinsip-prinsip bagi syariah. selain itu,
sukuk juga harus distruktur secara syariah agar instrumen keuangan
ini aman dan terbebas dari riba, gharar dan maysir. Pendapat lain
mengartikan sukuk sebagai sertifikat dengan nilai yang sama yang
mewakili
bagian
kepemilikan
sepenuhnya
terhadap
aset
yang tangible, manfaat dan jasa atau (kepemilikan dari) aset dari
suatu proyek atau aktivitas investasi khusus. (Huda dan Edwin, 2007:
122)
Menurut
fatwa
Majelis
Ulama
Indonesia
No.
31/DSN-
MUI/IX/2002 sukuk adalah suatu surat berharga jangka panjang
berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan emiten kepada
pemegang obligasi syariah. sukuk mewajibkan emiten untuk
membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi
hasil margin/fee, serta membayar kembali dana obligasi pada saat
jatuh tempo.
Sedangkan menurut Keputusan Badan Pengawas Pasar Modal
dan Lembaga Keuangan No. KEP-130/BL/2006 tahun 2006 Peraturan
No. IX .A. 13, sukuk ádalah efek syariah berupa sertifikat atau bukti
kepemilikan yang bernilai sama dan mewakili bagian penyertaan yang
tidak terpisahkan atau tidak terbagi atas kepemilikan aset berwujud
tertentu nilai manfaat dan jasa atas aset proyek tertentu atau aktivitas
22
investasi tertentu, dan kepemilikan atas aset proyek tertentu atau
aktivitas investasi tertentu.
Dari sisi istilah, sukuk didefinisikan suatu dokumen sah yang
menjadi bukti penyertaan modal atau bukti utang terhadap pemilik
suatu harta yang boleh dipindahmilikan dan bersifat jangka panjang.
(Nazaruddin,
2010:93).
Sampai
saat
ini
masih
seringkali sukuk disamakan dengan obligasi syariah. Pengertian
obligasi syariah adalah surat utang dari suatu lembaga atau
perusahaan yang dijual kepada investor untuk mendapatkan dana
segar. Para investor akan mendapatkan return dalam bentuk tingkat
suku bunga tertentu yang sangat bervariasi tergantung kekuatan bisnis
penerbitnya. (Sudarsono, 2004 : 221).
Karakteristik sukuk yang banyak dikenal di Indonesia tidak
berbeda juga dengan karakteristik sukuk secara internasional. Berikut
karakteristik sukuk: (Umam, 2013 : 178).
a.
Merupakan bukti kepemilikan suatu asset berwujud atau hak
manfaat (beneficial title)
b.
Pendapatan berupa imbalan (kupon), margin, dan bagi hasil,
sesuai jenis akad yang digunakan
c.
Terbebas dari unsur riba, gharar, dan maysir
d.
Penerbitannya melalui special purpose vehicle (SPV)
e.
Memerlukan underlying asset
f.
Penggunaan proceeds harus sesuai prinsip syariah.
23
7.
Ketentuan Sukuk
Ketentuan AAOIFI dalam al-Ma‟ayir al-Syar‟iyah, Mi‟yar no.
17 tentang Sukuk al-Istitsmar, bagian penerbitan, perdagangan, dan
penarikan kembali (redemption) Sukuk Milkiyah al-Maujudat:
Boleh melakukan sekuritisasi (menerbitkan sukuk yang mewakili
kepemilikan atas) aset, baik barang (tangible assets), manfaat
(usufructs) maupun jasa (services); dengan cara membagi/memecah
asset tersebut menjadi beberapa bagian yang sama dan menerbitkan
sukuk sesuai dengan nilainya. Sedangkan piutang yang masih menjadi
tanggung jawab orang lain tidak boleh disekuritisasi dengan tujuan
untuk diperdagangkan.
Sejak
diterbitkan
memindahtangankan
sampai
dengan
(memperdagangkan)
jatuh
Sukuk
tempo,
Milkiyah
boleh
al-
Maujudat al-Mu‟jarah au al-Mau‟ud Bisti‟jariha (sukuk yang
mewakili kepemilikan atas asset yang disewakan atau asset yang akan
disewakan) setelah pemegang sukuk tersebut memilikinya.
24
Penerbit Sukuk Milkiyah al-Maujudat al-Mu‟jarah au al-Mau‟ud
Bisti‟jariha boleh menarik kembali (redeem) Sukuk tersebut sebelum
jatuh tempo, dengan harga pasar atau harga yang disepakati oleh
penerbit dan pemegang Sukuk pada saat penarikan (at the date of
redemption) (Fatwa DSN. NO: 76/DSN-MUI/ VI/2010).
8.
Jenis-jenis Sukuk
Sukuk, berdasarkan strukturnya terdapat berbagai jenis, yang
dikenal secara internasional dan telah mendapatkan endorsement dari
The Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial
Institutions (AAOIFI) adalah :
a. Sukuk Ijarah : Sukuk yang diterbitkan berdasarkan perjanjian atau
akad ijarah, dimana satu pihak bertindak sendiri atau melalui
wakilnya menyewakan hak manfaat atas suatu aset kepada pihak
lain berdasarkan harga dan periode yang disepakati, tanpa diikuti
perpindahan kepemilikan aset itu sendiri.
b. Sukuk
Mudharabah:
perjanjian
atau
akad
Sukuk
yang
diterbitkan
mudharabah,
dimana
berdasarkan
satu
pihak
menyediakan modal (rab-al-maal/shahibul maal) dan pihak lain
menyediakan tenaga dan keahlian (mudharib), keuntungan dari
kerjasama
tersebut
akan
dibagi
berdasarkan
proporsi
perbandingan (nisbah) yang disepakati sebelumnya. Kerugian
yang timbul akan ditanggung sepenuhnya oleh pihak penyedia
modal, sepanjang kerugian tersebut tidak ada unsur moral hazard
(niat tidak baik dari mudharib).
25
c. Sukuk Musyarakah : Sukuk yang diterbitkan berdasarka perjanjian
atau akad musyarakah, dimana dua pihak atau lebih bekerjasama
menggabungkan
modal
untuk
membangun
proyek
baru,
mengembangkan proyek yang sudah ada, atau membiayai
kegiatan usaha. Keuntungan maupun kerugian yang timbul
ditanggung bersama sesuai dengan jumlah partisipasi modal
masing-masing pihak.
d. Sukuk Istishna : Sukuk yang diterbitkan berdasarkan perjanjian
atau akad istishna, dimana para pihak menyepakati jual-beli
dalam rangka pembiayaan suatu proyek atau barang. Adapun
harga,
waktu
penyerahan
dan
spesifikasi
proyek/barang
ditentukan terlebih dahulu berdasarkan kesepakatan.
9.
Keistimewaan Sukuk
Dengan mengamati berbagai sifat umum mengenai sukuk, dapat
dilihat bahwasukuk memiliki kualitas yang sama dengan semua pasar
lain yang berorientasi aset keuangan konvensional, termasuk hal – hal
berikut:(Huda dan Edwin, 2007 : 124)
26
Tabel 2.1
Keistimewaan Sukuk
Dapat diperdagangkan
Sukuk mewakili pihak pemilik aktual
dari aset yang jelas, manfaat aset atau
kegiatan bisnis dan juga dapat
diperdagangkan pada harga pasar.
Dapat diperingkat
Sukuk dapat diperingkat dengan mudah
oleh Agen Pemberi Peringkat regional
dan internasional.
Dapat ditambah
Sebagai tambahan terhadap aset utama
atau
kegiatan
bisnis, sukuk dapat
dijamin dengan bentuk kolateral
berlandaskan syariah lainnya.
Fleksibelitas hukum
Sukuk dapat distruktur dan ditawarkan
secara nasional dan global dengan pajak
yang berbeda
Dapat ditebus
Struktur sukuk diperbolehkan
kemungkinan penebusan.
untuk
Sumber : data diolah
Keistemewaan lain yang ada pada sukuk dalam referensi yang
berbeda adalah:
a. Memberikan penghasilan berupa imbalan atau n isbah bagi hasil
yang kompetitif dibandingkan dengan instrumen keuangan lain.
b. Pembayaran
imbalan
dan
nilai
nominal
sampai
dengan sukuk jatuh tempo dijamin oleh Pemerintah.
c. Dapat diperjual belikan di pasar sekunder.
d. Memungkinkan diperolehnya tambahan pengahasilan berupa
margin (capital again).
e. Aman
dan
terbebas
dari riba
(unsury),
gharar
(uncertainty), dan maysir (gambling).
f. Berinvestasi sambil mengikuti dan melaksanakan ajaran Islam.
27
10. Resiko Sukuk
Secara umum, risiko pada sukuk mirip dengan risiko obligasi
konvensional karena keduanya merupakan instrumen pada pasar
modal.Menurut Chartered Financial Analyst , risiko-risiko yang
dihadapi investor sukuk sebagai berikut:
a. Risiko Tingkat Pengembalian (Rate of Return Risk) Risiko tingkat
pengembalian ada pada semua tipe sukuk dengan pengembalian
tetap (fixed rate). Imbal hasil yang mengacu pada LIBOR
atau benchmark konvensional
lainnya
membuat
return pada sukuk dipengaruhi suku bunga. Sedangkan pada akad
mudharabah, imbal hasil sangat bergantung pada kinerja
perusahaan yang dapat naik dan turun.
b. Risiko
Kredit (Current
ratioedit
Risk)
Risiko
kredit
pada sukuk ijarah dihadapi oleh investor disebabkan kegagalan
pembayaran
(default)
atas
sewa underlying
asset.
Kecenderungan default menjadi lebih besar karena mekanisme
penjadwalan ulang atas hutang dengan imbal hasil/suku bunga
lebih tinggi tidak diperbolehkan dalam hukum Islam. Risiko kredit
pada sukuk harus dinilai secara independen khususnya jika
pemberi pinjaman memiliki alternatif penggantian lain ketika
underlying asset tidak dapat menutupi kerugian yang terjadi.
c. Risiko Nilai Tukar (Foreign Exchange Rate Risk) Risiko nilai
tukar
dapat
terjadi
jika return atas
pengelolaan underlying
asset diberikan dalam mata uang asing. Penerbit dapat menghitung
28
dan memberikan jaminan atas risiko tersebut dalam rangka
melindungi investor dari pergerakan nilai tukar.
d. Risiko Tingkat Harga (Price/Collateral Risk) Risiko tingkat harga
terjadi ketika spesifikasi aset yang tercermin pada nilai
penerbitan sukuk yang diajukan berbeda dengan
sesungguhnya
dan
laporan
atas
nilai pasar
nilai underlying
asset. Sukuk ijarah paling rentan menghadapi risiko ini karena aset
yang disewakan dapat mengalami depresiasi hingga dibawah
harga pasar. Pengelolaan yang baik atas aset menjadi faktor
penting dalam menghadapi risiko ini.
e. Risiko Likuiditas (Likuiditas Risk) Pertumbuhan pasar sekunder
yang lambat membuat investor sukuk menghadapi risiko likuditas.
Kecenderungan membeli dan menahan (buy and hold) pada
mayoritas
investor sukuk
membuat
mekanisme
transfer
kepemilikan sukuk tidak efisien. Hal ini terjadi pula pada Sukuk
Salam, dimana aset yang mewadahi kontrak merupakan komoditas
pertanian.
Sehingga
perdagangan
pada
sekuritas
tersebut
menimbulkan unsur spekulasi. Zero Coupon Sukuk seperti Sukuk
Istisna dan Murabahah juga tidak dapat diperdagangkan dipasar
sekunder karena mirip dengan jual beli hutang (bai ad-dayn) yang
dilarang oleh mayoritas ulama.
f. Risiko
Kepatuhan
Perkembangan
pasar
Syariah (Sharia
yang
pesat
Compliance
Risk)
memungkinkan
adanya
struktur sukuk yang tidak memenuhi aspek syariah. Standarisasi
dan perhatian atas aturan-aturan syariah pada sukuk dibuat dalam
29
rangka melindungi investor muslim dari praktek-praktek yang
prinsip-prinsip Islam.
11. Peringkat Sukuk
Peringkat sukuk adalah suatu standarisasi yang diberikan oleh
Lembaga
pemeringkat
terkemuka
sukuk
yang
mencerminkan
kemampuan penerbit sukuk dan kesediaan mereka untuk membayar
pembayaran pokok sesuai jadwal. Badan-badan ini menggunakan alat
kuantitatif dan penilaian kualitatif untuk mengevaluasi kelayakan
kredit dari penerbit. Secara umum, hanya obligasi yang diterbitkan
oleh perusahaan terbesar dan terkuat yang menunjukkan kredit relatif
tinggi. Peringkat kualitas tertinggi adalah triple- A . Tingkat Peringkat
turun ke triple- C sebagai kemungkinan gagal bayar meningkat dan
akhirnya ke D, atau default. Analis dan para investor sering
menggunakan peringkat sebagai deskriptor dari kualitas kredit emiten
obligasi dari pada deskripsi kualitas obligasi sendiri (Hull, Predescu,
dan White, 2004).
Indonesia memiliki lembaga pemeringkat efek yang disebut PT.
Pefindo. Pemeringkatan sukuk sangat diperlukan untuk mencerminkan
kemampuan emiten memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo,
dengan kualitas sukuk yang baik maka akan semakin meningkatkan
minat investor untuk memilih berinvestasi pada sukuk. Adapun teknis
pemeringkatan sukuk korporasi di Indonesia agak berbeda dengan
pemeringkatan obligasi korporasi konvensional karena dalam
penerbitan sukuk, pemeringkatan juga dilakukan dengan menelaah
30
aset dasar atau underlying asset yang digunakan sebagai jaminan
untuk pelunasan hutang.
12. Laporan Keuangan
a. Definisi Laporan Keuangan
Dalam upaya untuk membuat keputusan yang rasional, pihak ekstern
perusahaan maupun pihak intern perusahaan seharusnya menggunakan
suatu alat yang mampu menganalisis laporan keuangan yang disajikan
oleh perusahaan yang bersangkutan. Laporan Keuangan adalah laporan
yang diharapkan bisa memberi informasi mengenai perusahaan, dan
digabungkan dengan informasi yang lain, seperti industri, kondisi
ekonomi, bisa memberikan gambaran yang lebih baik mengenai prospek
dan risiko perusahaan.(Mamduh dan Halim, 2005:63).
Disini laporan keuangan digunakan sebagai gambaran data awal
untuk menghitung rasio – rasio keuangan yang dibutuhkan dalam
penelitian ini.
b. Jenis Laporan Keuangan
Analisis laporan keuangan melibatkan penggunaan berbagai macam
laporan keuangan yang terdiri atas bagian tertentu mengenai suatu
informasi
yang penting. Sebenarnya laporan keuangan banyak
macamnya, namun yang akan penulis bahas di sini hanyalah laporan
keuangan yang pokok saja, yaitu neraca dan laporan rugi laba.
1) Laporan Neraca
Neraca adalah laporan yang meringkas posisi keuangan suatu
perusahaan pada tanggal tertentu. Neraca menampilkan sumber daya
ekonomis (asset), kewajiban ekonomis (hutang), modal saham, dan
31
hubungan antar item tersebut.(Mamduh dan Halim, 2005:63).
Laporan Neraca, yang disebut juga dengan laporan posisi keuangan
perusahaan, adalah laporan yang menggambarkan posisi aktiva,
kewajiban dan modal pada saat tertentu.(Sofyan, 2006:107).
Neraca itu sendiri mempunyai elemen-elemen antara lain
sebagai berikut :
a) Aktiva (Assets, Harta)
Aktiva adalah sumber-sumber ekonomi yang dimiliki oleh suatu
perusahaan. Aktiva biasanya terdiri dari :
b) Aktiva Lancar
Meliputi kas dan aktiva lain yang dapat diharapkan untuk
dicairkan atau ditukarkan dengan uang tunai. Aktiva lancar
disajikan di neraca berdasarkan urutan likuiditasnya, dimulai dari
akun yang paling likuid. Yang termasuk dalam aktiva lancar,
yaitu kas, surat berharga, piutang usaha, persediaan barang
dagangan, dan lainnya.
c) Aktiva Tetap
Merupakan aktiva tetap perusahaan yang secara fisik tidak dapat
dinyatakan dan biasanya memiliki tingkat ketidakpastian yang
tinggi mengenai manfaatnya dimasa yang akan dating. Aktiva
tetap antara lain : peralatan, mesin, bangungan, dan lainnya.
d) Aktiva Lain-Lain
Pos-pos yang tidak dapat secara layak digolongkan ke dalam
aktiva lancar maupun aktiva tetap perusahaan, antara lain : hak
paten, nama baik ( goodwill ), dan lainnya.
32
e) Hutang ( Liabilities )
Hutang adalah kewajiban-kewajiban yang harus dilunasi oleh
suatu perusahaan. Hutang biasanya terbagi menjadi :
(a). Hutang Lancar
adalah kewajiban-kewajiban yang harus segera dilunasi oleh
perusahaan dengan penggunaan aktiva lancar atau dengan
pembentukan kewajiban lancar lainnya dalam jangka waktu
tidak lebih dari satu tahun. Yang termasuk hutang lancar
adalah hutang dagang, hutang gaji, hutang biaya, serta hutang
lancar lainnya.
(b). Hutang Jangka Panjang
Adalah kewajiban-kewajiban yang tidak diharapkan untuk
segera dilunasi dalam siklus operasi normal perusahaan,
tetapi pengembaliannya dilakukan dalam jangka waktu lebih
dari satu tahun. Yang termasuk hutang jangka panjang adalah
hutang hipotek, hutang obligasi, dan hutang jangka panjang
lainnya.
f)
Modal
Modal pada hakikatnya adalah hak pemilik perusahaan atas
kekayaan perusahaan. Yang termasuk elemen dalam modal antara
lain modal saham, laba ditahan, dan elemen modal lainnya.
2) Laporan Laba Rugi
Laba rugi menggambarkan hasil yang diperoleh atau diterima
oleh perusahan selama satu periode tertentu, serta biaya-biaya yang
dikeluarkan untuk mendapatkan hasil tersebut. Hasil dikurangi biaya-
33
biaya merupakan laba atau rugi. Kalau hasil lebih besar dari biaya
berarti laba,sebaliknya, kalau hasil lebih kecil dari biaya-biaya, berarti
rugi.(Sofyan, 2006:73).
Laporan LabaRugi adalah lebih meringkaskan hasil dari kegiatan
perusahaan selama periode akuntansi tertentu. Laporan Laba/Rugi
sendiri punya elemen-elemen antara lain sebagai berikut : (Mamduh
dan Halim, 2005:56)
a) Pendapatan
Adalah aliran masuk atau kenaikan aktiva suatu perusahan atau
penyelesaian kewajiban (kompensasi keduanya) selama periode
tertentu, yang timbul dari penjualan barang-barang, penyerahan
jasa, dan elemen pendapatan lainnya.
b) Biaya
Adalah kenaikan dalam ekuitas atau penggunaan selama periode
tertentu yang timbulnya dari penjualan barang, penyerahan jas,
dan lainnya.
c) Keuntungan
Adalah kenaikan dalam aktiva bersih yang timbul dari transaksitransaksi atau kejadian lain dank arena kondisi-kondisi yang
mempengaruhi aktiva bersih.
d) Kerugian
Adalah penurunan dari aktiva bersih yang timbul dari transaksitransaksi atau kegiatan lain dan kondisi yang mempengaruhi
aktiva bersih.
34
13. Analisa Laporan Keuangan
Analisis laporan keuangan terbagi menjadi dua yaitu, analisis dan
laporan keuangan. Kata analisis adalah memecahkan atau menguraikan
suatu unit menjadi berbagai unit terkecil. Sedangkan laporan keuangan
adalah laporan yang menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha
suatu perusahaaan pada ssat tertentu atau jangka waktu tertentu.(Sofyan,
2006:189).
Sehingga dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa analisis laporan
keuangan adalah menguraikan pos-pos laporan keuangan maenjadi unit
informasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat
signifikan atau yang mmpunyai makna antar satu dengan yang lain
antara data kuantitatif maupun data non kuantitatif dengan tujuan untuk
mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam
proses menghasilkan putusan yang tetap.
14. Analisis Rasio Keuangan
Rasio dalam analisa laporan keuangan adalah suatu angka yang
menunjukan hubungan antara suatu unsur dengan unsur lainnya dalam
laporan keuangan. Rasio keuangan merupakan kegiatan membagikan
angka-angka yang ada dalam laporan keuangan dengan cara membagi
satu angka dengan angka lainnya. Perbandingan dapat dilakukan antara
satu komponen dengan komponen dalam satu laporan keuangan atau
antarkomponen yang ada di antara laporan keuangan. Kemudian angka
yang dibandingkan dapat berupa angka-angka dalam satu periode
maupun beberapa periode.(Kasmir, 2009:104)
35
Analisis rasio adalah suatu angka yang menunjukkan hubungan
antara unsur-unsur dalam laporan keuangan. Hubungan tersebut
dinyatakan dalam bentuk matematis yang sederhana. (Arief Sugiono,
2009:64). Analisis rasio sangat bermanfaat untuk perencanaan dan
pengevaluasian
prestasi
atau
kinerja
bagi
perusahaanya
bila
dibandingkan dengan rata-rata industri, sedangkan bagi para kreditor
analisis rasio dapat digunakan untuk memperkirakan potensi yang akan
dihadapi dikaitkan dengan adanya jaminan kelangsungan pembayaran
bunga dan pengembalian pokok pinjamannya. Analisis rasio juga
bermanfaat bagi para investor dalam mengevaluasi nilai saham dan
adanya jaminan atas kemanana dana yang akan ditanamkan pada suatu
perusahaan. Dengan demikian analisis rasio keuanga dapat diterapkan
dalam setiap model analisis, baik yang dipergunakan oleh manajemen
untuk pegambilan keputusan jangka pendek maupun jangka panjang,
peningkatan efisiensi dan efektivitas operasi, serta untuk mengevaluasi
dan meningkatkan kerja.
15. Macam – Macam Rasio Keuangan
a.
Rasio Likuiditas
Tingkat rasio likuiditas yang tinggi mengindikasikan bahwa
perusahaan tersebut memiliki kemampuan untuk membayar seluruh
kewajiban lancarnya dan menunjukkan kuat kondisi keuangan yang
dimiliki oleh perusahaan tersebut. Likuiditas perusahaan ditunjukkan
oleh besar kecilnya aset lancar yaitu aset yang mudah untuk diubah
menjadi kas yang meliputi kas, surat berharga, piutang, persediaan. Jadi
36
semakin tinggi rasio likuiditas ini berarti semakin besar kemampuan
perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Fred Weston dikutip dari Kasmir (2008:129): menyebutkan bahwa
rasio likuiditas (likuiditas ratio) merupakan rasio yang menggambarkan
kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban (utang) jangka
pendek. Dalam rasio-rasio likuiditas, Rasio yang digunakan adalah:
1) Rasio Lancar (Current ratio)
Rasio lancar merupakan rasio untuk
mengukur kemampuan
perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau utang
yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan. Dengan
kata lain, seberapa banyak aktiva lancar yang tersedia untuk
memenuhi kewajiban jangka pendek yang segera jatuh tempo.
(Kasmir, 2009:134)
b. Rasio Profitabilitas
Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam
hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri.
Profitabilitas ini memberikan gambaran seberapa efektif perusahaan
beroperasi sehingga memberikan keuntungan bagi perusahaan. Tingkat
profitabilitas yang tinggi dapat mengindikasikan kemampuan perusahaan
untuk going concern. Profitabilitas yang tinggi juga dapat menunjukkan
kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya. (Sofyan,
2008:304). Rasio yang digunakan adalah:
37
c. Rasio Leverage
Menurut Fred Weston dikutip dari (Kasmir, 2009:150),
Rasio
Leverage adalah rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana
aktiva perusahaan dibiayai dengan utang dan mengukur kemampuan
perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya, baik jangka pendek
maupun jangka panajang apabila perusahaan dilikuidasi (dibubarkan).
Rasio yang digunakan adalah:
1) Rasio Hutang Terhadap Aktiva (Total Debt to asset ratio ) Rasio ini
mengukur seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh utang atau
seberapa besar hutang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan
aktiva. Rumusnya dibawah ini
d. Rasio Aktifitas
Rasio aktivitas adalah rasio yang mengukur seberapa efektif
perusahaan dalam memanfaatkan semua sumber daya yang ada padanya.
Semua rasio aktivitas ini melibatkan perbandingan antara tingkat
penjualan dan investasi pada berbagai jenis aktiva. Rasio-rasio aktivitas
menganggap bahwa sebaiknya terdapat keseimbangan yang layak antara
penjualan dan beragam unsur aktiva misalnya persediaan, aktiva tetap
dan aktiva lainnya. Aktiva yang rendah pada tingkat penjualan tertentu
akan mengakibatkan semakin besarnya dana kelebihan yang tertanam
pada aktiva tersebut. Dana kelebihan tersebut akan lebih baik bila
38
ditanamkan pada aktiva lain yang lebih produktif. Rasio yang digunakan
adalah :
1) Total Asset Turn Over
Total assets turn over merupakan perbandingan antara
penjualan dengan total aktiva suatu perusahaan dimana rasio ini
menggambarkan kecepatan perputarannya total aktiva dalam satu
periode tertentu. Total assets turn over merupakan rasio yang
menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan keseluruhan aktiva
perusahaan dalam menghasilkan volume penjualan tertentu. Total
assets turn over merupakan rasio yang menggambarkan perputaran
aktiva diukur dari volume penjualan. Jadi semakin besar rasio ini
semakin baik yang berarti bahwa aktiva dapat lebih cepat berputar
dan meraih laba dan menunjukkan semakin efisien penggunaan
keseluruhan aktiva dalam menghasilkan penjualan. Dengan kata lain
jumlah asset yang sama dapat memperbesar volume penjualan
apabila assets turn overnya ditingkatkan atau diperbesar. Total
assets turn over ini penting bagi para kreditur dan pemilik
perusahaan, tapi akan lebih penting lagi bagi manajemen
perusahaan, karena hal ini akan menunjukkan efisien tidaknya
penggunaan seluruh aktiva dalam perusahaan. Total assets turn
over dihitung sebagai berikut:
39
16. Ukuran Perusahaan (Company Size)
Ukuran perusahaan merupakan proksi volatilitas operasional dan
inventory cotrolability yang seharusnya dalam skala ekonomis besarnya
perusahaan menunjukkan pencapaian operasi lancar dan pengendalian
persediaan. Ukuran perusahaan diproksikan dari penjualan bersih (net
sales). Total penjualan mengukur besarnya perusahaan. Karena biayabiaya yang mengikuti penjualan cenderung lebih besar, maka perusahaan
dengan tingkat penjualan yang tinggi cenderung memilih kebijakan
akuntansi yang mengurangi laba.
B. Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian mengenai kemampuan rasio keuangan dalam
peringkat sukuk diantaranya :
a. Purwaningsih (2013), melakukan penelitian dengan menggunakan
data sampel sebanyak 35 emisi dari 5 perusahaan. Rasio keuangan
yang digunakan adalah sebanyak 2 rasio keuangan yaitu current ratio
dan debt to equity ratio dan digunakan juga variabel secure dan
maturity
untuk
membantu
proses
penelitian.
Penelitian
ini
menggunakan teknik pengambilan sampel dengan menggunakan
metode purposive sampling dan menggunakan pengujian data dengan
teknik analisis regresi berganda. Hasil dari penelitian ini menunjukan
bahwa variabel leverage secara parsial tidak berpengaruh terhadap
rating sukuk. Variabel liqudity secara parsial tidak berpengaruh
terhadap rating sukuk. Variabel secure secara parsial berpengaruh
terhadap rating sukuk. Variabel maturity secara parsial berpengaruh
terhadap rating sukuk. Leverage, likuiditas, secure dan maturity
secara simultan berpengaruh terhadap rating sukuk.
40
b. Afiani (2010), melakukan penelitian dengan menggunakan data
sampel sebanyak 51 emisi dari 17 perusahaan. Rasio keuangan yang
digunakan adalah sebanyak 4 rasio keuangan yaitu current ratio, debt
to equity ratio, Total Asset Turn Over dan Return on asset . Penelitian
ini menggunakan teknik pengambilan sampel dengan menggunakan
metode purposive sampling dan menggunakan pengujian data dengan
teknik analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa
pengujian
secara
simultan
ke
empat
variabel
tidak
mempengaruhi peringkat sukuk. Pengujian secara parsial, variabel
likuiditas
dan
profitabilitas
mempengaruhi
peringkat
sukuk,
sedangkan produktivitas dan leverage tidak mempengaruhi peringkat
sukuk.
c. Margreta, dan Poppy Nurmayanti (2009), melakukan penelitian
dengan menggunakan data sampel sebanyak 80 emisi. Rasio
keuangan yang digunakan adalah sebanyak 4 rasio keuangan yaitu
likuiditas, profitabilitas produktivitas dan leverage dan digunakan
juga variabel secure, maturity, firm size dan reputasi auditor untuk
membantu proses penelitian. Penelitian ini menggunakan teknik
pengambilan sampel dengan menggunakan metode purposive
sampling dan menggunakan pengujian data dengan teknik analisis
regresi logistik. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa variabel
leverage, liqudity, profitabilitas, firm size dan reputasi auditor tidak
berpengaruh signifikan terhadap rating sukuk. Variabel secure dan
productivity berpengaruh signifikan terhadap rating sukuk.
41
d.
Enny Dwi Maharti Drs. Daljono Msi, Akt (2014), melakukan
penelitian dengan menggunakan data sampel sebanyak 45 emisi.
Rasio keuangan yang digunakan adalah sebanyak 3 rasio keuangan
yaitu likuiditas, profitabilitas, dan leverage dan digunakan juga
variabel firm size dan guarantee untuk membantu proses penelitian.
Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel dengan
menggunakan metode
purposive sampling dan menggunakan
pengujian data dengan teknik analisis regresi logistik. Hasil penelitian
ini mengungkapkan bahwa tidak ada variabel independen yang
signifikan pada tingkat 0,05. Namun pada tingkat 0,10 ada satu
variabel
yang
signifikan
yaitu
leverage.
Hasil
tersebut
diinterpretasikan penilaian tidak difokuskan pada rasio utang saja
tetapi juga point kredibilitas perusahaan.
e. Kalia Melis (2014), melakukan penelitian dengan menggunakan data
sampel sebanyak 65 emisi. Rasio keuangan yang digunakan adalah
sebanyak 3 rasio keuangan yaitu likuiditas, profitabilitas, dan
leverage dan digunakan juga variabel reputasi auditor untuk
membantu proses penelitian. Penelitian ini menggunakan teknik
pengambilan sampel dengan menggunakan metode purposive
sampling dan menggunakan pengujian data dengan teknik analisis
regresi logistik. Hasil pengujian secara parsial menunjukkan bahwa
variabel rasio likuiditas (current ratio) berpengaruh secara positif
terhadap rating sukuk. Sedangkan rasio profitabilitas (return on
assets), rasio leverage (debt to equity ratio), dan reputasi auditor tidak
berpengaruh terhadap rating sukuk. Secara simultan, variabel rasio
42
likuiditas (current ratio), rasio profitabilitas (return on assets), rasio
leverage (debt to equity ratio) dan reputasi auditor bersama-sama
mempengaruhi rating sukuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
model ini dapat dipakai untuk memprediksi rating sukuk.
f. Maylia P Sari (2007), melakukan penelitian dengan menggunakan
data sampel sebanyak 160 emisi dari 38 perusahaan. Rasio keuangan
yang digunakan adalah sebanyak 5 rasio keuangan yaitu likuiditas,
profitabilitas, produktivitas, solvability dan leverage. Penelitian ini
menggunakan teknik pengambilan sampel dengan menggunakan
metode purposive sampling dan menggunakan pengujian data dengan
teknik analisis regresi logistik dan MDA. Hasil pengujian dengan
diskriminan analisis menghasilkan rasio yang signifikan yaitu
sejumlah sembilan variabel (LEVTLE, LIKCLWC, LIKWCTA,
SOLNWLTLFA, SOLNWTL, PRFOIS, PRFCFOTS, PRODSTA dan
PRODCFOTA) dengan tingkat kebenaran overall percentage yang
tinggi yaitu sebesar 96,9 %. Maka hipotesis kedua (H2) diterima
karena rasio keuangan terbukti mempunyai kemampuan untuk
memprediksi peringkat obligasi suatu perusahaan.
g. Hengki Junius Sihombing dan Eka Nuraini Rachmawati (2015),
melakukan penelitian dengan menggunakan data sampel sebanyak 45
emisi. Rasio keuangan yang digunakan adalah sebanyak 2 rasio
keuangan yaitu profitabilitas, dan leverage dan digunakan juga
variabel Firm Size dan Pertumbuhan Perusahaan untuk membantu
proses penelitian. Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan
sampel dengan menggunakan metode purposive sampling dan
43
menggunakan pengujian data dengan teknik analisis regresi logistik.
Hasil analisis menunjukkan bahwa Ukuran (Firm Size) secara
signifikan berpengaruh terhadap Peringkat obligasi pada level of
significance
kurang
dari
5%,
namun,
Pertumbuhan(Growth),
Leverage (DER) dan Profitabilitas (return on asset) tidak berpengaruh
terhadap Peringkat Obligasi.
h. Ni Putu Tresna Widiastuti dan Henny Rahyuda (2016), melakukan
penelitian dengan menggunakan data sampel sebanyak 26 emisi.
Rasio keuangan yang digunakan adalah sebanyak 2 rasio keuangan
yaitu likuiditas, dan aktivitas dan digunakan juga variabel maturity
dan Pertumbuhan Perusahaan untuk membantu proses penelitian.
Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel dengan
menggunakan metode
purposive sampling dan menggunakan
pengujian data dengan teknik analisis regresi logistik. Hasil analisis
menunjukkan bahwa maturity secara signifikan berpengaruh terhadap
Peringkat obligasi namun, Pertumbuhan, Likuiditas
dan aktivitas
tidak berpengaruh terhadap Peringkat Obligasi.
44
Tabel 2.2
Penelitian Terdahulu
No
1
2
3
4
5
Peneliti
Tujuan
Septi
Mengetahui
Purwaningsih. pengaruh
(2013)
leverage,
likuiditas,
secure
dan
maturity
terhadap
rating sukuk.
Damalia
Mengetahui
Afiani. (2010) pengaruh
leverage,
likuiditas,
productivity
dan
profitabilitas
terhadap
rating sukuk.
Margreta, dan menjelaskan
Poppy
faktor
yang
Nurmayanti.
mempengaruhi
(2009)
obligasi
tersebut.
Metode
Penelitian
Variabel
leverage,
Analisis
likuiditas, secure Regresi
dan maturity
Berganda
Variabel
independen
dan
periode
penelitian
leverage,
likuiditas,
productivity
profitabilitas
Variabel
independen
dan
periode
penelitian
Analisis
Regresi
dan Berganda
Firm
Size,
likuiditas,
profitabilitas,
leverage,
produktivitas,
secure, maturity
dan
reputasi
auditor
Enny
Dwi menjelaskan
(1)profitabilitas,(2)
Maharti Drs. faktor
yang likuiditas,(3) firm
Daljono Msi, mempengaru- size,(4) leverage,
Akt (2014)
hi
obligasi and (5) guarantee
tersebut
(bond give or not).
Kalia Melis Menganalisis
(2014)
faktor
yang
mempengaruhi
tingkat sukuk
Perbedaan
Analisis
Regresi
Logistik
Dalam
penelitian
ini
lebih
mangacu
pada
(sukuk)
Analisis
Regresi
Logistik
Dalam
penelitian
ini
lebih
mangacu
pada
(sukuk)
Variabel
independen
dan
periode
penelitian
Reputasi auditor, Analisis
likuiditas,
Regresi
profitabilitas,
Berganda
leverage,
45
Lanjutan Tabel 2.2
No
Peneliti
6
Maylia
P
Sari (2007)
7
Hengki
Junius
Sihombing
Eka Nuraini
Rachmawati
(2015)
8.
Ni
Putu
Tresna
Widiastuti
dan Henny
Rahyuda
(2016)
Metode
Perbedaan
Penelitian
Sebagai bukti bond
rating, MDA
Dalam
empiris
financial
ratios
penelitian
tentang rasio (leverage,
ini
lebih
keuangan
likuidity,
mangacu
dalam
solvability,
pada
membentuk
profitabilitas and
(sukuk)
model
yang productivity)
digunakan
untuk
memprediksi
obligasi rating
Menguji
Peringkat
regresi
Dalam
pengaruh
Obligasi, Ukuran logistik
penelitian
Ukuran
Perusahaan,
ordinal
ini
lebih
Perusahaan,
Pertumbuhan
mangacu
Pertumbuhan
perusahaan
,
pada
Perusahaan,
Leverage
,
(sukuk)
Leverage, dan Profitabilitas
Profitabilitas
terhadap
Peringkat
Obligasi.
Penelitian ini pertumbuhan
regresi
Dalam
bertujuan
perusahaan, rasio logistik
penelitian
untuk
likuiditas,
ini
lebih
mengetahui
maturity, dan rasio
mangacu
signifikansi
aktivitas
pada
pengaruh
(sukuk)
variabel
pertumbuhan
perusahaan,
rasio
likuiditas,
maturity, dan
rasio
aktivitas
terhadap
peringkat
obligasi
Tujuan
Variabel
46
C. Keterkaitan Antar Variabel
Likuiditas
Current Ratio
Leverage
Debt To Asset Ratio
Profitabilitas
Return On Asset
Peringkat Sukuk
Aktivitas
Total Asset Turn
Over
Ukuran Perusahaan
Company Size
Rasio likuiditas adalah rasio yang menggambarkan kemampuan
perusahaan dalam memenuhi kewajiban (utang) jangka pendek. Tingkat
likuiditas dapat dijadikan faktor untuk mengukur peringkat sukuk.
Penelitian Purwaningsih (2013), Afiani (2010), Margareta & Poppy
(2009), Melis (2014), Maharti & Daljono (2014), Sari (2007),
menemukan hubungan antara likuiditas dengan rating sukuk. Sehingga
semakin tinggi tingkat likuiditas suatu perusahaan maka semakin baik
kemungkinan peringkat sukuk perusahaan tersebut. Sehingga dapat
47
disimpulkan apabila perusahaan memiliki rasio likuiditas yang tinggi,
maka kemungkinan peringkat sukuk akan tinggi. Rasio likuiditas dalam
penelitian ini adalah Current ratio.
Rasio leverage merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur
sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dengan utang dan mengukur
kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya, baik
jangka pendek maupun jangka panjang apabila perusahaan dilikuidasi.
Penelitian Purwaningsih (2013), Sari (2007), menemukan hubungan
secara parsial dari leverage dengan rating sukuk, sehingga dapat
disimpulkan bahwa tingkat leverage perusahaan dapat memprediksi
peringkat sukuk perusahaan. Rasio leverage yang digunakan adalah Debt
to asset ratio.
Rasio profitabilitas merupakan rasio yang mengukur kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba. Penelitian Afiani (2010),
Margareta & Poppy (2009),
menunjukan adanya pengaruh rasio
profitabiltas terhadap kenaikan dan penurunan peringkat sukuk. Rasio
yang digunakan dalam penelitian ini adalah Return on asset.
Rasio aktivitas adalah rasio yang mengukur seberapa efektif
perusahaan dalam memanfaatkan semua sumber daya yang ada padanya.
Rasio ini digunakan sebagai rasio baru sebagai pembeda dengan
penelitian sebelumnya. Rasio yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Total Asset Turn Over. Penelitian Ni Putu Tresna Widiastuti dan Henny
Rahyuda (2016), menunjukan bahwa rasio aktivitas tidak berpengaruh
secara parsial terhadap peringkat.
48
Ukuran perusahaan merupakan proksi volatilitas operasional dan
inventory cotrolability yang seharusnya dalam skala ekonomis besarnya
perusahaan menunjukkan pencapaian operasi lancar dan pengendalian
persediaan. Penelitian Margareta & Poppy (2009), Maharti & Daljono
(2014) menunjukan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh secara
signifikan dan penelitian Hengki & Eka (2015) ukuran perusahaan
berpengaruh secara signifikan.
D. Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran adalah model konseptual yang berkaitan dengan
bagaimana seseorang menyusun teori atau menghubungkan secara logis
beberapa faktor yang dianggap penting untuk masalah (Sekaran, 2014:114).
Kerangka pemikiran membahas saling ketergantungan hubungan antar
variabel yang dianggap perlu untuk melengkapi paradigma situasi dan
kondisi yang sedang diteliti.
Sukuk pada prinsipnya mirip dengan obligasi konvensional yaitu surat
kepemilikan modal hutang yang diperjualbelikan di pasar modal, dengan
perbedaan pokok antara lain berupa penggunaan konsep imbalan dan bagi
hasil sebagai pengganti bunga, adanya suatu transaksi pendukung (underlying
transaction) berupa sejumlah tertentu aset yang menjadi dasar penerbitan
sukuk, dan adanya akad atau perjanjian antara para pihak yang disusun
berdasarkan prinsip-prinsip bagi syariah. selain itu, sukuk juga harus
distruktur secara syariah agar instrumen keuangan ini aman dan terbebas dari
riba, gharar dan maysir merupakan. Seorang investor yang hendak membeli
sukuk harus memperhatikan risiko yang mungkin terjadi yaitu salah satunya
adalah risiko tingkat pengembalian (Rate of Return Risk) risiko tingkat
49
pengembalian ada pada semua tipe sukuk dengan pengembalian tetap (fixed
rate). Imbal hasil yang mengacu pada LIBOR atau benchmark konvensional
lainnya membuat return pada sukuk dipengaruhi suku bunga. Sedangkan
pada akad mudharabah, imbal hasil sangat bergantung pada kinerja
perusahaan yang dapat naik dan turun.
Sebelum sukuk diterbitkan, sukuk terlebih dahulu diperingkatkan oleh
lembaga pemeringkat yang sudah terpercaya. Lembaga pemeringkat adalah
lembaga independen yang memberikan informasi pemeringkatan berdasarkan
skala risiko. Proses pemeringkatan ini dilakukan untuk menilai kinerja
perusahaan, sehingga dapat memnetukan sukuk yang diterbitkan layak
diinvestasikan atau tidak.
Salah satu alat yang dipergunakan untuk melakukan pridiksi terhadap
peringkat sukuk ialah dengan menggunakan rasio-rasio keuangan yang
terdapat dalam laporan keuangan. Dalam penelitian ini hendak menganalisis
apakah rasio-rasio yang digunakan (current ratio, debt to asset,return on
asset dan total asset turn over) dan ukuran perusahaan(company size) dapat
membedakan kinerja keuangan perusahaan dan apakah dapat membentuk
faktor yang signifikan untuk digunakan dalam mengetahui pengaruhnya
terhadap peringkat sukuk atau tidak.
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dilakukan
pengujian normalitas dengan uji One Sample Kolmogrov-Smirnov, uji ini
dilakukan untuk melihat apakah setiap data yang digunakan dapat
berdistribusi dengan normal. Selain melakukan uji normalitas penelitian ini
juga menggunakan uji asumsi klasik dan regresi linear berganda. Uji asumsi
klasik berfungsi untuk menguji apakah sampel memenuhi untuk dilakukan
50
pengujian regresi linear berganda. Sedangkan regresi berganda digunakan
untuk mengetahui apakah faktor-faktor yang diuji sebelumnya tadi mampu
untuk membentuk model dan dapat digunakan untuk mengetahui
pengaruhnya terhadap peringkat sukuk.
51
Sumber Data : Bursa Efek Indonesia,
Laporan Keuangan Perusahaan, Pefindo
Current Ratio (X1)
Debt to Asset Ratio (X2)
Total Asset Turn Over (X4)
Return on Asset (X3)
Company Size (X5)
Peringkat Sukuk (Y)
Metode Analisis :
Uji Asumsi Klasik
Regresi Linear berganda
Uji Hipotesis
Hasil & Interpretasi
Kesimpulan & Saran
52
E. Hipotesis
Hipotesis bisa di definisikan sebagai hubungan yang diperkirakan
secara logis diantara dua atau lebih variabel yang diungkapkan dalam
bentuk pernyataan yang dapat di uji (Sekaran, 2014:135). Berdasarkan
uraian perumusan diatas, maka penulis mengajukan hipotesis untuk
dilakukan pengujian ada tidaknya pengaruh variabel independen terhadap
variabel dependen. Dan hasil hipotesis sementara dari penelitian ini ialah :
1. Terdapat pengaruh current ratio terhadap peringkat sukuk.
Ho: β1 = 0 Artinya, current ratio tidak berpengaruh secara parsial
terhadap peringkat sukuk.
H1: β1 ≠ 0 Artinya, current ratio berpengaruh secara parsial terhadap
peringkat sukuk.
2. Terdapat pengaruh debt to asset terhadap peringkat sukuk.
Ho: β1 = 0 Artinya, debt to asset tidak berpengaruh secara parsial
terhadap peringkat sukuk.
H1: β1 ≠ 0 Artinya, debt to asset berpengaruh secara parsial terhadap
peringkat sukuk.
3. Terdapat pengaruh return on asset terhadap peringkat sukuk.
Ho: β1 = 0 Artinya, return on asset tidak berpengaruh secara parsial
terhadap peringkat sukuk.
H1: β1 ≠ 0 Artinya, rasio return on asset berpengaruh secara parsial
terhadap peringkat sukuk.
4. Terdapat pengaruh total asset turn over terhadap peringkat sukuk.
Ho: β1 = 0 Artinya, total asset turn over tidak berpengaruh secara
parsial terhadap peringkat sukuk.
53
H1: β1 ≠ 0 Artinya, rasio total asset turn over berpengaruh secara
signifikan terhadap peringkat sukuk.
5. Terdapat pengaruh company size terhadap peringkat sukuk.
Ho: β1 =
0 Artinya, company size tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap peringkat sukuk.
H1: β1 ≠ 0 Artinya, company size berpengaruh secara signifikan
terhadap peringkat sukuk.
6. Terdapat pengaruh secara simultan current ratio, debt to asset,
return on asset, total asset turn over, dan company size terhadap
peringkat sukuk.
Ho: β1 = 0 Artinya, current ratio, debt to asset, return on asset, total
asset turn over, dan company size tidak berpengaruh secara simultan
terhadap peringkat sukuk.
H1: β1 ≠ 0 Artinya, current ratio, debt to asset, return on asset, total
asset turn over, dan company size berpengaruh secara simultan
terhadap peringkat sukuk.
54
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini, penelitian menggunakan data kuantitatif.
Dimana data kuantitatif adalah data yang bersifat numerik atau angka.
Penelitian ini menggunakan studi literatur mengenai faktor – faktor yang
mempengaruhi peringkat
sukuk. Penelitian ini menggunakan Analisis
Deskriptif ,Uji Asumsi Klasik, Uji Regresi Linear Berganda dan Uji
Hipotesis.
Rasio yang digunakan dalam Penelitian ini sebanyak 4 rasio dan
ukuran perusahaan, yaitu Current ratio, Debt to asset ratio, Return on asset,
Total Asset Turn Over dan Company Size. Sampel sukuknya ada sebanyak 37
sampel dengan periode penelitian yaitu selama 4 tahun mulai dari tahun 2012
hingga 2015.
B. Metode Penentuan Sampel
Sampel adalah suatu himpunan bagian (subset) dari unit populasi.
Sedangkan sampling, adalah proses memilih sejumlah elemen dari sebuah
populasi yang mencukupi untuk mempelajari sampel dan memahami
karakteristik elemen populasi. Metode sampling yang digunakan dalam
penelitian ini diambil secara purposive sampling, karena mengambil sampel
dari populasi berdasarkan suatu kriteria tertentu. Kriteria Perusahaan yang
terdaftar pada agen pemeringkat PT PEFINDO yang menjadi sampel dalam
penelitian ini meliputi:
1. Perusahaan yang menerbitkan sukuk terdaftar dalam agen pemeringkat
PT PEFINDO dalam kurun periode pengamatan.
55
2. Perusahaan yang memiliki laporan keuangan pada periode 2012 – 2015.
3. Perusahaan Non Keuangan yang menerbitkan sukuk.
Tabel 3. 1 Proses Pemilihan Sampel
No
1
2
3
Keterangan
Perusahaan yang menerbitkan sukuk
terdaftar dalam agen pemeringkat PT
PEFINDO dalam kurun periode
pengamatan.
Perusahaan yang memiliki laporan
keuangan pada periode 2012 – 2015
Perusahaan Non Keuangan yang
menerbitkan sukuk
Jumlah Sampel
13
13
9
Tabel diatas menunjukan bahwa dari 13 perusahaan penerbit sukuk yang
terdaftar dalam agen PEFINDO hanya terdapat 9 perusahaan non keuangan
saja yang menerbitkan sukuk dan memili laporan keuangan pada periode
2012 – 2015. Dan dapat dilihat pada tabel dibawah jumlah sukuk yang
diterbitkan perusahaan non keuangan periode 2012-2015.
Tabel 3. 2 Sampel Penelitian
Nama Perusahaan
Kode
ADHI
MPPA
MAPI
MYOR
ROTI
3
AISA
1
7
PT Adhi Karya (Persero)
PT Matahari Putra Prima Tbk.
PT Mitra Adiperkasa Tbk.
PT Mayora Indah Tbk.
PT Nippon Indosari Corpindo
Tbk.
PT Tiga Pilar Sejahtera Food
Tbk.
PT Sumberdaya Sewatama
Jumlah Sukuk yang
Beredar
7
1
4
3
SSMA
2
8
PT Matahari Putra Prima Tbk.
MPPA
1
9
PT. PPLN
PPLN
12
37
No
1
2
3
4
5
6
Jumlah Sampel
56
Tabel diatas menunjukan jumlah sukuk yang beredar dari dari perusahaan
yang telah terdaftar di PEFINDO, dari kelima perusahaan tersebut didapatkan
37 sampel sukuk yang beredar pada kurun waktu 2012-2015.
C. Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitiam ini data yang digunakan adalah data sekunder yang
telah diolah sebelumnya dan bersumber dari data -data statistik yang
diterbitkan oleh :
1. Bursa Efek Indonesia
2. Indonesian Stock Exchange (IDX)
3. PT PEFINDO
4. Laporan Keuangan Perusahaan
D. Metode Analisis Data
1. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang
tepat. Penelitian deskriptif mempelajarai masalah-masalah dalam
masyarakat serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasisituasi tertentu, termasuk tentang hubungan, kegiatan-kegiatan, sikapsikap,
pandangan-pandangan,
serta
proses-proses
yang
sedang
berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. Dalam metode
deskriptif, peneliti bisa membandingkan fenomena-fenomena tertentu
sehingga merupakan suatu studi komparatif.
Peneliti juga bisa
mengadakan klasifikasi, serta penelitian terhadap fenomena-fenomena
dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga
banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei
normatif (normative survey). Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki
57
kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara
satu faktor dengan faktor yang lain. Karenanya, metode deskriptif juga
dinamakan studi status (status study).
Prosedur Deskriptif juga memiliki kegunaan pokok untuk melakukan
pengecekan terhadap input data, mengingat bahwa analisis ini akan
menghasilkan resume data secara umum. Seperti berapa jumlah
responden laki – laki, berapa jumlah responden perempuan dan
sebagainya. Disamping itu, analisis ini juga memiliki kegunaan untuk
menyediakan informasi deskripsi data dan demografic sampel yang
diambil (Wahyono, 2009:18).
a. Standar deviasi, menunjukan dispersi rata – rata sampel
b. Maximum, menunjukan nilai tertinggi dari suatu deretan data
c. Minimum, menunjukan nilai terendahi dari suatu deretan data
d. Mean, menunjukan nilai rata – rata dari sampel
2. Uji Asumsi Klasik
Karena pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan alat
analisis regresi berganda (multiple regression), maka diperlukan uji
asumsi klasik yang terdiri dari:
a. Uji Normalitas
Uji normalitas adalah pengujian tentang kenormalan
distribusi data. Penggunaan uji normalitas karena pada analisis
statistik parametik, asumsi yang harus dimiliki oleh data adalah
bahwa data tersebut harus terdistribusi secara normal. Maksud
data terdistribusi secara normal adalah bahwa data akan
mengikuti bentuk distribusi normal (Santosa dan Ashari,
58
2005:231). Uji normalitas bisa dilakukan dengan dua cara. Yaitu
dengan "Normal P-P Plot" dan "Tabel Kolmogorov Smirnov".
Yang paling umum digunakan adalah Normal P-P Plot.
Pada Normal P-P Plot prinsipnya normalitas dapat
dideteksi dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu
diagonal grafik atau dengan melihat histogram dari residualnya.
Dasar pengambilan keputusan:
a. Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah
garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola
distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi
normalitas.
b. Jika data menyebar jauh garis diagonal dan/atau tidak mengikuti
arah garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan pola
distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi
normalitas (Ghozali 2012:110-112).
Pada Uji Normalitas dengan grafik dapat menyestakan jika
tidak hati hati secara visual kelihatan normal, padahal secara
statistik bisa sebaliknya. Oleh sebab itu disamping uji grafik
dapat dilengkapi dengan uji statistik. Uji statistik yang digunakan
untuk menguji normalitas adalah uji statistik non – parametik
Kolmogrov-Smirnov (K-S).
b. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi merupakan pengujian asumsi dalam regresi di
mana variabel dependen tidak berkorelasi dengan dirinya sendiri,
maksud korelasi dengan diri sendiri adalah bahwa nilai dari
59
variabel dependen tidak berhubungan dengan nilai variabel itu
sendiri, baik nilai periode sebelumnya atau nilai periode
sesudahnya (Santoso dan Ashari, 2005:240). Autokorelasi
muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu
berkaitan antara satu dengan lainnya. Model regresi yang baik
adalah yang bebas dari autokorelasi (Ghozali, 2012). Untuk
mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi, dilakukan dengan uji
Durbin Watson. Pengambilan keputusan mengenai ada atau
tidaknya autokorelasi adalah sebagai berikut:
1.
Bila nilai D-W terletak antara angka -2 sampai +2, maka
koefisien pada regresi tidak terdapat autokorelasi.
2.
Bila D-W lebih rendah atau di bawah angka -2, maka
koefisien pada regresi mengalami autokorelasi positif.
Dan untuk memastikan apakah ulang apakah pengujian
autokorelasi sudah benar maka dapat kita lakukan pengujian lain
untuk menentukan apakah variabel independen tidak terjadi
autokorelasi dengan melakukan uji run test dengan melihat nilai
Asymp. Sig. (2-tailed) berada diatas nilai signifikansi > 0,05.
c. Uji Multikolonearitas
Uji Multikolonearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam
model regresi yang digunakan ditemukan adanya korelasi antar
variabel bebas (independen). Uji Multikolonearitas data dapat
dilihat dari besarnya nilai VIP (Variance Inflation Factor) dan
nilai teloransi. Jika terdapat nilai korelasi diantara variabel
independen adalah satu maka koefisiennya : (a) koefisien untuk
60
nilai-nilai regresi tidak dapat diperkirakan (b) nilai standard error
dari setiap nilai koefisien regresi menjadi nilai yang tak
terhingga. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolonieritas
dapat dilihat dari (1) Nilai tolerance (TOL) dan lawannya (2)
variance inflation faktor (VIF). Nilai tolerance yang rendah sama
dengan nilai VIF yang tinggi (karena VIF=1/Tolerance). Nilai
Cut off yang umum dipakai untuk menunjukan adanya
multikolonieritas adalah nilai Tolerance <0,10 atau sama dengan
nilai VIF>10 (Ghazali, 2012).
Cara mengatasi multikolonieritas adalah (a) transformasi
variabel. Jika terlihat pada model awal dengan adanya gejala
multikolonieritas maka dapat dilakukan transformasi variabel
yang bersangkutan kedalam bentuk logaritma natural atau bentukbentuk tranformasi lainnya, sehingga nilai t hitung yang
dihasilkan secara individu variabel independen dapat secara
signifikan mempengaruhi variabel terikat, (b) Meningkatkan
jumlah data sampel. Dengan adanya peningkatan jumlah data
sampel diharapkan mampu menurunkan standar error disetiap
variabel independen dan akan diperoleh yang benar-benar bisa
menaksirkan koefisien regresi secara tepat.
d. Uji Heteroskedastisitas
Uji heterokedastisitas dilakukan untuk menguji apakah dalam
model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu
pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual
satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari
61
residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka
disebut
homoskedastisitas,
namun
jika
berbeda
disebut
heterokedstisitas. Salah satu cara untuk mendeteksi ada tidaknya
heterokedastisitas adalah dengan melihat grafik plot antara nilai
prediksi variabel dependen yaitu ZPRED dengan residualny
SRESID.
Deteksi
ada
tidaknya
heteroskedastisitas
dapat
dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya pola tertentu pada
grafik scatterplot antara ZPRED dan SRESID dimana sumbu Y
adalah y yang telah diprediksi, dan sumbu x adalah residual (Y
prediksi – Y sesungguhnya) yang telah di-studentized (Ghozali,
2006). Dasar analisisnya adalah sebagai berikut:
1) Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yanga da membentuk
pola tetentu yang teratur (bergelombang, melebar, kemudian
menyempit)
maka
mengindikasikan
telah
terjadi
heteroskedastisitas.
2) Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas
dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi
heteroskedastisitas. Cara lain untuk mendeteksi ada tidaknya
heteroskedastisitas adalah dengan uji Glejser yang dilakukan
dengan meregres logaritma dari kuadrat residual sebagai
variabel
independen
dengan
variabel
dependen
yang
digunakan dalam model regresi dalam penelitian. Apabila hasil
output SPSS menunjukkan bahwa koefisien parameter beta
dari persamaan regresi tersebut signifikan secara statistic, hal
ini menunjukkan bahwa dalam data model empiris yang
62
diestimasi
terdapat
heteroskedastisitas.
Namun
apabila
parameter beta tidak signifikan secara spesifik, maka dalam
model regresi tersebut tidak terdapat heteroskedastisitas.
Dalam
penelitian
ini
deteksi
ada
atau
tidaknya
heterokedastisitas dapat dilihat juga dengan menggunakan uji
glejser. Uji glejser dilakukan dengan meregres nilai absolut
residual terhadap variabel independen. Jika nilai signifikansi
variabel independen diatas tingkat kepercayaan 5% maka model
regresi
dapat
dikatakan
tidak
mengandung
adanya
heterokedastisitas. Sebaliknya, jika nilai signifikansi variabel
independen berada dibawah tingkat kepercayaan 5% maka, model
regresi mengandung heterokedastisitas.
3. Uji Regresi Linear Berganda
Analisis regresi berganda bertujuan untuk menganalisis pengaruh
variabel independen terhadap variabel dependen. Metode analisis statistic
ini dipilih karena penelitian ini dirancang untuk meneliti variabel-variabel
independen yang berpengaruh terhadap variabel dependen. Adapun
model regresinya adalah:
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + e
Dimana:
Y = Peringkat Sukuk
a = Konstanta
X1 = Current ratio
X2 = Debt to asset Ratio
X3 = Return on asset
63
X4 = Total Asset Turn Over
X5 = Company Size
b1, b2, b3, b4, b5 = Koefisien regresi
e = Standar error
4. Uji Hipotesis
Pengujian
hipotesis
dalam
penelitian
ini
dilakukan
dengan
menggnakan software SPSS for windows versi 16.0, dimana metode
analisis yang digunakan untuk meguji hipotesis adalah metode regresi
berganda, yaitu untuk memperkirakan atau meramalkan nilai dari variabel
dependen (Y) dengan memperhitungkan variabel-variabel dependen.
Untuk meramalkan variabel dependen (Y) apabila semua nilai variabel
bebas (X) diketahui, dalam pengujian hipotesis analisis dilakukan
melalui:
a. Uji t-statistik
Uji t-statistik pada dasaranya menunjukkan seberapa jauh
prediksi satu variabel penjelas/variabel independen secara individual
dalam menerangkan variasi variabel dependen. Untuk mengetahui
prediksi variabel independen terhadap variabel dependen adalah
apabila jumlah degree of freedom (df) adalah 20 atau lebih, dan
derajat kepercayaannya sebesar 5% maka H0 dapat ditolak bila nilai t
lebih besar dari 2 (dalam nilai absolut). Membandingkan nilai statistik
t dengan titik kritis menurut tabel. Apabila nilai statistik t hasil
perhitungan lebih tinggi dibandingkan nilai t tabel, maka hipotesis
alternatif diterima (Ghazali, 2012).
64
Langkah-langkah yang dilakukan dalam melakukan Uji t
adalah sebagai berikut:
1) Merumuskan Hipotesis
Uji T memerlukan perumusan hipotesis nol (H0) dan hipotesis
alternatif (H1). Hipotesis nol dan hipotesis alternatif dalam Uji T
dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
(a)
Terdapat pengaruh current ratio terhadap peringkat
sukuk.
Ho: β1 = 0 Artinya, current ratio tidak berpengaruh secara
parsial terhadap peringkat sukuk.
H1: β1 ≠ 0 Artinya, current ratio berpengaruh secara parsial
terhadap peringkat sukuk.
(b)
Terdapat pengaruh debt to asset terhadap peringkat
sukuk.
Ho: β1 = 0 Artinya, debt to asset tidak berpengaruh secara
parsial terhadap peringkat sukuk.
H1: β1 ≠ 0 Artinya, debt to asset berpengaruh secara parsial
terhadap peringkat sukuk.
(c)
Terdapat pengaruh return on asset terhadap peringkat
sukuk.
Ho: β1 = 0 Artinya, return on asset tidak berpengaruh secara
parsial terhadap peringkat sukuk.
H1: β1 ≠ 0 Artinya, rasio return on asset berpengaruh secara
parsial terhadap peringkat sukuk.
65
(d)
Terdapat pengaruh fixed asset turn over terhadap
peringkat sukuk.
Ho: β1 = 0 Artinya, total asset turn over tidak berpengaruh
secara parsial terhadap peringkat sukuk.
H1: β1 ≠ 0 Artinya, rasio total asset turn over berpengaruh
secara parsial terhadap peringkat sukuk.
(e)
Terdapat pengaruh company size terhadap peringkat
sukuk.
Ho: β1 = 0 Artinya, company size tidak berpengaruh secara
parsial terhadap peringkat sukuk.
H1: β1 ≠ 0 Artinya, company size berpengaruh secara parsial
terhadap peringkat sukuk.
2) Merumuskan Dasar Pengambilan Keputusan
Dasar pengambilan keputusan dalam hal ini maksudnya adalah
dasar yang digunakan sehingga dapat menetapkan diterima
tidaknya hipotesis penelitian. Kemudian, menetapkan taraf
signifikansi sebesar 0,05. Lebih lanjutnya dapat dilihat melalui
kriteria atau dasar pengambilan keputusan berikut.
(a). Jika nilai signifikan < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima.
(b). Jika nilai signifikan > 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak.
Nilai signifikan penelitian dapat diketahui dari hasil pengolahan
data dengan SPSS pada tabel Coefficients dalam kolom Sig.
(Sarwono, 2007:91)
66
b. Uji statistik F
Untuk mengetahui apakah suatu model regresi benar atau
salah, diperlukan uji hipotesis dengan menggunakan Uji F
dimaksudkan agara dapat diketahui pengaruh dari current ratio, debt
to asset ratio dan return on asset secara simutan terhadap peringkat
sukuk. Dengan kata lain Uji F dipergunkan untuk melihat pengaruh
dari semua variabel bebas secara gabungan terhadap variabel terikat.
(Sarwono, 2007:88)
Langkah-langkah yang dilakukan dalam melakukan Uji F
adalah sebagai berikut :
2) Merumuskan Hipotesis
Langkah pengujian hipotesis dapat dimulai dari menetapkan
hipotesis
nol
(null
hypothesis) dan hipotesis
alternatif
(alternative hypothesis). Hipotesis nol (H0) dan hipotesis
alternatif (H1) dalam Uji F dari penelitian ini adalah:
Ho: β1 = 0 Artinya, current ratio, debt to asset, return on asset,
fixed asset turn over, dan company size tidak berpengaruh
secara simultan terhadap peringkat sukuk.
H1: β1 ≠ 0 Artinya, current ratio, debt to asset, return on asset,
fixed asset turn over, dan company size berpengaruh secara
simultan terhadap peringkat sukuk.
3) Merumuskan Dasar Pengambilan Keputusan
Dasar pengambilan keputusan dalam hal ini maksudnya adalah
dasar yang digunakan sehingga dapat menetapkan diterima
tidaknya hipotesis penelitian. Yang pertama dilakukan adalah
67
menetapkan taraf signifikansi sebesar 0,05. Taraf signifikansi
diperlukan untuk menjadi pembanding dalam menentukan
diterima tidaknya hipotesis. Selanjutnya dapat dilihat melalui
kriteria atau dasar pengambilan keputusan berikut.
(a). Jika nilai signifikan < 0,05 maka H0 ditolak dan H1
diterima.
(b). Jika nilai signifikan > 0,05 maka H0 diterima dan H1
ditolak.
Nilai signifikan penelitian dapat diketahui dari hasil pengolahan
data dengan SPSS pada tabel ANOVA dalam kolom Sig.
c.
Uji Adjusted R square
Uji Adjusted R square digunakan karena dalam penelitian ini
variabel independen jumlahnya lebih dari satu, yaitu dua variabel
independen. Uji adjusted R square digunakan untuk menentukan
seberapa besar variabel independen dapat menjelaskan
variabel
dependen. Jika nilai Adjusted R square sebesar 1 berarti, fluktuasi
variabel dependen seluruhnya dapat dijelaskan oleh variabel
independen dan tidak ada faktor lain yang menyebabkan fluktuasi
variabel dependen. Jika nilai Adjusted R square berkisar diantara 0
sampai dengan 1, berarti semakin kuat kemampuan variabel
independen
dapat
menjelaskan
fluktuasi
variabel
dependen.
Sedangkan jika nilai adjusted R square semakin mendekati 0 berarti
semakin lemah kemampuan variabel independen dapat dijelaskan
fluktuasi variabel dependen (Ghazali, 2012).
68
E. Operasional Variabel Penelitian
Pada bagian ini diuraikan definisi dari masing – masing variabel
penelitian yang digunakan, berikut operasional dan cara pengukurannya.
Penjelasan dari masing – masing variabel yang digunakan dalam penelitian ini
antara lain:
1. Variabel Dependen
Variabel dependen adalah variabel yang nilainya dipengaruhi
variabel bebas.
a. Rating Sukuk
Variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini ialah peringkat
sukuk. Skala peringkat mulai dari AAA sampai dengan D secara umum
terbagi menjadi dua kategori, yaitu investment grade (AAA, AA, A.
BBB) dan non - investment grade (BB, B, CCC, D) pengukuran variabel
dilakukan dengan memberi nilai pada masing – masing peringkat sesuai
dengan peringkat yang dikeluarkan oleh PEFINDO. Pemberian nilai
peringkat sukuk sebagai berikut :
Tabel 3.3
Kategori Peringkat Sukuk
Nilai
Peringkat
0
1
2
3
4
5
6
7
Sumber : Pefindo data diolah
Peringkat
D
CCC
B
BB
BBB
A
AA
AAA
Kategori
Non - Investment Grade
Non - Investment Grade
Non - Investment Grade
Non - Investment Grade
Investment Grade
Investment Grade
Investment Grade
Investment Grade
69
2. Variabel Independen
Variabel independen adalah variabel yang nilainya mempengaruhi
variabel terikat.
a. Rasio Likuiditas
Tingkat rasio likuiditas yang tinggi mengindikasikan bahwa
perusahaan tersebut memiliki kemampuan untuk membayar seluruh
kewajiban lancarnya dan menunjukkan kuat kondisi keuangan yang
dimiliki oleh perusahaan tersebut. Likuiditas perusahaan ditunjukkan
oleh besar kecilnya aset lancar yaitu aset yang mudah untuk diubah
menjadi kas yang meliputi kas, surat berharga, piutang, persediaan.
Jadi semakin tinggi rasio likuiditas ini berarti semakin besar
kemampuan
perusahaan
untuk
memenuhi
kewajiban
jangka
pendeknya.
Fred Weston dikutip dari Kasmir (2008:129): menyebutkan
bahwa rasio likuiditas (likuiditas ratio) merupakan rasio yang
menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban
(utang) jangka pendek. Dalam rasio-rasio likuiditas, Rasio yang
digunakan adalah:
1) Rasio Lancar (Current ratio)
Rasio lancar merupakan rasio untuk
mengukur
kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka
pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat
ditagih secara keseluruhan. Dengan kata lain, seberapa
banyak aktiva lancar yang tersedia untuk memenuhi
70
kewajiban jangka pendek yang segera jatuh tempo.
(Kasmir, 2009:134)
b. Rasio Profitabilitas
Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba
dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal
sendiri. Profitabilitas ini memberikan gambaran seberapa efektif
perusahaan beroperasi sehingga memberikan keuntungan bagi
perusahaan. Tingkat profitabilitas yang tinggi dapat mengindikasikan
kemampuan perusahaan untuk going concern. Profitabilitas yang
tinggi juga dapat menunjukkan kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajibannya. (Sofyan, 2008:304). Rasio yang digunakan
adalah:
c. Rasio Leverage
Menurut Fred Weston dikutip dari Kasmir (150:2008),
Rasio
Leverage adalah rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana
aktiva perusahaan dibiayai dengan utang dan mengukur kemampuan
perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya, baik jangka
pendek maupun jangka panajang apabila perusahaan dilikuidasi
(dibubarkan). Rasio yang digunakan adalah:
1) Rasio Hutang Terhadap Aktiva (Total Debt to asset ratio ) Rasio
ini mengukur seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh
71
utang atau seberapa besar hutang perusahaan berpengaruh
terhadap pengelolaan aktiva. Rumusnya dibawah ini
d. Rasio aktivitas
Rasio aktivitas adalah rasio yang mengukur seberapa efektif
perusahaan dalam memanfaatkan semua sumber daya yang ada
padanya. Semua rasio aktivitas ini melibatkan perbandingan antara
tingkat penjualan dan investasi pada berbagai jenis aktiva.
1) Total Asset Turn Over
Total assets turn over merupakan perbandingan antara
penjualan dengan total aktiva suatu perusahaan dimana rasio ini
menggambarkan kecepatan perputarannya total aktiva dalam satu
periode tertentu. Total assets turn over dihitung sebagai berikut:
e. Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan merupakan proksi volatilitas operasional
dan inventory cotrolability yang seharusnya dalam skala ekonomis
besarnya perusahaan menunjukkan pencapaian operasi lancar dan
pengendalian persediaan.
72
BAB IV
ANALISA DAN PEMBAHASAN
A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian
PT. PEFINDO atau "PT Pemeringkat Efek Indonesia" didirikan di
Jakarta pada tanggal 21 Desember 1993, melalui inisiatif Badan Pengawas Pasar
Modal (BAPEPAM) dan Bank Indonesia. Pada tanggal 31 Agustus 1994,
PEFINDO memperoleh izin usahanya dari BAPEPAM dengan Nomor. 39/PMPI/1994 dan menjadi salah satu lembaga penunjang pasar modal di Indonesia.
Tugas utama PEFINDO adalah untuk menyediakan suatu peringkat atas risiko
kredit yang objektif, independen, serta dapat dipertanggung jawabkan atas
penerbitan surat hutang yang diperdagangkan kepada masyarakat luas.
Disamping
melaksanakan
kegiatannya
dalam
melakukan
pemeringkatan surat hutang, PEFINDO juga menerbitkan dan mempublikasikan
informasi kredit sehubungan dengan pasar perdagangan efek. Publikasi ini
terdiri dari opini kredit atas perusahaan-perusahaan penerbit obligasi beserta
sektor aset acuannya. PEFINDO adalah Perseroan Terbatas yang sahamnya per
Desember 2006 tercatat dimiliki oleh 96 perusahaan domestik, yang terdiri dari
dana pensiun, perbankan, asuransi, Bursa Efek Jakarta, Bursa Efek Surabaya dan
perusahaan sekuriti. Guna meningkatkan metodologi pemeringkatan yang
digunakan dan kriteria dalam melakukan pemeringkatan, maka PEFINDO
didukung oleh mitra globalnya yaitu Standard & Poor's Rating Services (S&P's).
PEFINDO juga aktif berpartisipasi dalam Asian Credit Rating Agencies
Association (ACRAA).
73
B. Analisa Pembahasan Data
2. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif dimaksudkan untuk mengetahui gambaran dari masingmasing variabel dalam penelitian. Dari analisis tersebut dapat diketahui nilai
minimum, maksimum, mean dan standar deviasi atau tingkat penyimpangan dari
masing-masing variabel.
Dalam melakukan pengolahan data, penelitian ini menggunakan fasilitas
elektronik yaitu dengan Ms.Excel dan SPSS 16.0 untuk mempermudah
perolehan data sehingga dapat menjelaskan variabel-variabel yang diteliti.
Sebelumnya, penelitian ini melakukan penentuan sampel berdsarkan kriteria
tertentu. Dengan menggunakan metode tersebut, didapat sebanyak 21 sampel
yang memenuhi kriteria yang ditentukan.
Statistik deskriptif dapat memberikan gambaran tentang suatu data yang
dilihat dari nilai minimum, maksimum, rata-rata (mean) dan standar deviasi
yang dihasilkan dari variabel penelitian. Variabel-variabel yang digunakan
dalam penelitian ini meliputi current ratio, debt to asset dan return on asset,
total asset turn over dan company size sebagai variabel independen, serta
peringkat sukuk sebagai variabel dependen. Variabel-variabel tersebut akan diuji
secara statistik deskriptif dengan menggunakan program SPSS seperti yang
terlihat dalam tabel dibawah ini:
74
Tabel 4.1 Descriptive Statistics
Descriptive Statistics
N
Minimum
Maximum
Mean
Std. Deviation
CR
37
.52
2.44
1.3035
.42733
DAR
37
.96
.99
.9754
.00960
ROA
37
.64
.86
.7973
.04823
TATO
37
.34
1.04
.8522
.20365
Size
37
13.22
16.75
15.0278
1.33604
Valid N (listwise)
37
Dari hasil pengolahan data yang telah dilakukan dengan menggunakan spss
16.0, output spss menunjukan bahwa dari 37 sampel current ratio(CR) yang
diuji menunjukan nilai terendah 0.52 dan nilai tertingginya 2.24. mean atau ratarata variabel current ratio menunjukan nilai 1.3035 dan standar deviasi dari
variabel current ratio adalah sebesar 0.42733. hal ini menunjukan bahwa
terdapat penyimpangan dari variabel current ratio sebesar 0.42733 di atas ratarata hitungnya.
Hasil analisis dengan statistik deskriptif
terhadap variabel debt to asset
ratio(DAR) menunjukan bahwa dari 37 sampel debt to asset ratio yang diuji
menunjukan nilai terendah 0.96 dan nilai tertingginya 0.99. mean atau rata-rata
variabel debt to asset ratio menunjukan nilai 0.9754 dan standar deviasi dari
variabel debt to asset ratio adalah sebesar 0.00960. hal ini menunjukan bahwa
terdapat penyimpangan dari variabel debt to asset ratio sebesar 0.00960 di atas
rata-rata hitungnya.
Hasil analisis dengan statistik deskriptif
terhadap variabel return on
asset(ROA) menunjukan bahwa dari 37 sampel return on asset yang diuji
menunjukan nilai terendah 0.64 dan nilai tertingginya 0.86. mean atau rata-rata
variabel return on asset menunjukan nilai 0.7973 dan standar deviasi dari
75
variabel return on asset adalah sebesar 0.04823. hal ini menunjukan bahwa
terdapat penyimpangan dari variabel return on asset sebesar 0.04823 di atas
rata-rata hitungnya.
Hasil analisis dengan statistik deskriptif terhadap variabel total asset turn
over(TATO) menunjukan bahwa dari 37 sampel total asset turn over yang diuji
menunjukan nilai terendah 0.34 dan nilai tertingginya 1.04. mean atau rata-rata
variabel total asset turn over menunjukan nilai 0.8522 dan standar deviasi dari
variabel total asset turn over adalah sebesar 0.20365 hal ini menunjukan bahwa
terdapat penyimpangan dari variabel fixed asset turn over sebesar 0.20365 di
atas rata-rata hitungnya.
Hasil analisis dengan statistik deskriptif
terhadap variabel Company
Size(Size) menunjukan bahwa dari 37 sampel Company Size yang diuji
menunjukan nilai terendah 13.22 dan nilai tertingginya 16.75. mean atau ratarata variabel Company Size menunjukan nilai 15.0278 dan standar deviasi dari
variabel Company Size adalah sebesar 1.33604 hal ini menunjukan bahwa
terdapat penyimpangan dari variabel Company Size sebesar 1.33604 di atas ratarata hitungnya.
3. Uji Asumsi Klasik
a. Uji Normalitas
Uji normalittas dilakukan untuk mengetahui apakah model
variabel bebas (independen) mempunyai distribusi normal atau tidak.
Uji ini dilakukan dengan menggunakan One-Sample Kolmogorov
Smirnov Test. Data yang berdistribusi normal dapat menunjukkan
bahwa hasil penelitian akan valid secara statistik dan dapat
mempresentasikan keadaan yang sebenarnya Dari kejadian di
76
lapangan. Hasil dari uji ini dapat diketahui melalui dua cara. Cara
yang pertama adalah dengan melihat grafik PP Plots yang
menggambarkan
distribusi
frekuensi
dari
variabel
dependen
dibandingkan dengan distribusi frekuensi data. Cara ke kedua adalah
dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Pada tabel uji
Kolmogorov-Smirnov, pada baris "Asymp. Sig. (2-tailed)" baris
paling bawah, apabila nilai tiap variabel lebih dari (>0,05) maka uji
normalitas bisa terpenuhi.
Gambar 3. 1 PP Plots
Grafik PP Plots menunjukkan titik-titik yang mendekati garis
diagonal yang berarti bahwa model regresi terdistribusi secara
normal.
77
Tabel 4.2 One Sample Kolmogorov-smirnov
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N
Normal Parameters
37
a
Mean
Std. Deviation
Most Extreme Differences
.0000000
.31786065
Absolute
.192
Positive
.192
Negative
-.189
Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
1.166
.132
a. Test distribution is Normal.
Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa semua variabel baik
itu current ratio, debt to asset, return on asset, total asset turn over,
dan company size telah terdistribusi normal. Hal ini didasarkan pada
nilai Asymp.Sig. (2-tailed), jika nilainya >0.05maka data tersebut
dapat dinyatakan terdistribusi dengan normal. Sebaliknya apabila
nilainya <0.05 maka dikatakan tidak berdistribusi normal.
Dari hasil perbedaan yang dilakukan, dengan menggunakan 5
rasio, semua rasio secara signifikan berbeda satu sama lain dan terjadi
sampel acak. Dengan melihat hasil pengujian secara keseluran maka
dapat disimpukan setiap sampel berbeda.
78
b. Uji Autokorelasi
Tabel 4.3 Model Summary
b
Model Summary
Model
R
1
R Square
.935
a
Adjusted R
Std. Error of the
Durbin-
Square
Estimate
Watson
.874
.854
.34254
1.255
a. Predictors: (Constant), Size, DAR, ROA, TATO, CR
b. Dependent Variable: Rating
Hasil pengujian autokorelasi menunjukan nilai DurbinWatson(dW hitung) adalah sebesar 1.255. nilai dW hitung berada
diantara -2 dan 2 yaitu, -2 < 1.255 < 2 maka dapat dikatakan bahwa
hasil uji berhasil dan tidak terjadi autokorelasi.
Tapi untuk memastikan hasil uji Durbin-Watson itu benar
dapat dilakukan pengujian kedua dengan melakukan uji run untuk
melihat apakah terjadi autokorelasi pada sampel yang diuji atau tidak.
Tabel 4.4 Run Test
Runs Test
Unstandardized
Residual
a
Test Value
.01629
Cases < Test Value
17
Cases >= Test Value
20
Total Cases
37
Number of Runs
20
Z
.041
Asymp. Sig. (2-tailed)
.967
a. Median
79
Setelah dilakukan uji run maka dapat dilihat nilai Asymp. Sig.
(2-tailed) adalah 0.098 dan nilai itu >0.05 maka dapat dinyatakan
bahwa uji run berhasil menunjukan bahwa tidak terjadi autokorelasi
antar variabel.
c. Uji Multikolinearitas
Untuk dapat melihat gejala multikolinearitas, dapat dilihat dari
hasil pengolahan data dengan menggunakan SPSS. Jika nilai toleransi
masing-masing variabel bebas > 0,1 dan VIF < 10, maka dapat
disimpulkan bahwa model regresi tidak mengandung gejala
multikolinearitas.
Tabel 4.5 Hasil Uji Multikolinearitas
Model
CR
DAR
ROA
TATO
Size
Tolerance
VIF
0,474
2,110
0,348
2,870
0,613
1,630
0,501
1,998
0,552
1,810
Hasil uji multikolinearitas menunjukan bahwa current ratio,
current ratio, debt to asset, return on asset, fixed asset turn over, dan
company size tidak mengalami multikolinearitas karena nilai
tolerance setiap variabel lebih besar dari 0.10 dan nilai VIF semua
variabel independen lebih kecil dari 10.00. maka dapat disimpulkan
dari pengujian multikolinearitas tidak terjadi multikolinearitas.
d. Uji Heterokedaktisitas
Untuk melihat persamaan regresi suatu penelitian apakah
memenuhi asumsi heterokedastisitas ataukah tidak dapat dilihat dari
80
penyebaran residual yang terdapat pada hasil pengolahan data dengan
memanfaatkan aplikasi SPSS.
Gambar 3. 2 Scatterplot
Berdasarkan output Scatterplot di atas, terlihat bahwa titiktitik tidak menyebar bebas dan hampir membentuk pola yang teratur
tapi Scatterplot memiliki kelemahan yang cukup signifikan sebab
sejumlah pengamatan tertentu sangat mempengaruhi hasil ploting
maka untuk mengetahui apakah terjadi heteroskedastisitas atau tidak
maka dilakukan uji glejser sebagai pengujian ulang.
Tabel 4.6 Coefficients
Coefficients
Model
1
(Constant)
CR
DAR
ROA
TATO
Size
Unstandardized
Coefficients
Std.
B
Error
a
Standardized
Coefficients
t
Sig.
.000
1.000
.000
.000
1.000
.764
.000
.000
1.000
.000
.027
.000
.000
1.000
.000
.321
.000
.000
1.000
.000
.000
1.000
4,11E12
1.261
.000
.177
.000
.000
.056
a. Dependent Variable: Unstandardized Residual
Beta
81
Nilai t-tabel dicari dengan distribusi nilai t-tabel n = 37 dan
diperoleh nilai t-tabel = 2.037. Berdasarkan uji heteroskedastisitas
dengan uji glejser diperoleh nilai t-hitung lebih kecil dibandingkan ttabel dan nilai signifikansi yang lebih besar dari 0.05, sehingga dapat
disimpulkan tidak terjadi masalah heterokedastisitas.
4. Uji Regresi Berganda
a. Uji t
Uji statistik t digunakan untuk mengetahui ada atau
tidaknya pengaruh masing-masing variabel independen secara
individual terhadap variabel dependen yang diuji pada tingkat
signifikansi 0,05. Hasil uji t dalam penelitian ini ditunjukkan
dalam tabel dibawah ini.
Tabel 4.7 Coefficients
Coefficients
Model
1
Unstandardized
Coefficients
Std.
B
Error
a
Standardized
Coefficients
Beta
t
Sig.
(Constant)
.528
.601
.443
4.787
.000
10.073
.114
1.055
.299
-.256
1.512
-.014
-.169
.867
.734
.396
.167
1.854
.073
-.712
a. Dependent Variable: Rating
.057
-1.060
-12.386
.000
CR
DAR
ROA
TATO
Size
5.670
10.746
.929
.194
10.632
1) Uji hipotesis 1, variabel current ratio mempunyai nilai
signifikan 0,000 lebih kecil dari taraf signifikansi yaitu
0,05. Oleh karena itu H0 ditolak dan H1 diterima, artinya H1
82
yang menyatakan current ratio mempunyai pengaruh
terhadap peringkat sukuk, diterima.
2) Uji hipotesis 2, variabel debt to asset ratio mempunyai
nilai signifikan 0,299 lebih besar dari taraf signifikansi
yaitu 0,05. Oleh karena itu H0 diterima dan H1 ditolak,
artinya H1 yang menyatakan debt to asset ratio mempunyai
pengaruh terhadap peringkat sukuk, ditolak.
3) Uji hipotesis 3, variabel return on asset mempunyai nilai
signifikan 0,867 lebih besar dari taraf signifikansi yaitu
0,05. Oleh karena itu H0 diterima dan H1 ditolak, artinya H1
yang menyatakan return on asset mempunyai pengaruh
terhadap peringkat sukuk, ditolak.
4) Uji hipotesis 4, variabel total asset turn over mempunyai
nilai signifikan 0,073 lebih besar dari taraf signifikansi
yaitu 0,05. Oleh karena H0 diterima dan H1 ditolak, artinya
H1 yang menyatakan total asset turn over mempunyai
pengaruh terhadap peringkat sukuk, ditolak.
5) Uji hipotesis 5, variabel company size mempunyai nilai
signifikan 0,000 lebih kecil dari taraf signifikansi yaitu
0,05. Oleh karena itu H0 ditolak dan H1 diterima, artinya H1
yang menyatakan company size mempunyai pengaruh
terhadap peringkat sukuk, diterima.
83
b. Persamaan Regresi
Dengan analisis regresi berganda maka dapat diketahui
seberapa besar current ratio, debt to asset ratio, return on asset,
total asset turn over, dan company size yang merupakan variabel
bebas berpengaruh terhadap Peringkat Sukuk sebagai variabel
terikat.
Persamaan regresi berganda yang digunakan dalam
penelitian ini adalah:
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + e
Dimana:
Y = Peringkat Sukuk
a = Konstanta
X1 = Current ratio
X2 = Debt to asset Ratio
X3 = Return on asset
X4 = Total Asset Turn Over
X5 = Company Size
b1, b2, b3, b4, b5 = Koefisien regresi
e = Standar error
84
Hasil regresi dari penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.8 Coefficients
Coefficients
Model
1
Unstandardized
Coefficients
Std.
B
Error
a
Standardized
Coefficients
Beta
t
Sig.
(Constant)
.528
.601
.443
4.787
.000
10.073
.114
1.055
.299
-.256
1.512
-.014
-.169
.867
.734
.396
.167
1.854
.073
-.712
a. Dependent Variable: Rating
.057
-1.060
-12.386
.000
CR
DAR
ROA
TATO
5.670
10.746
.929
.194
10.632
Size
Berdasarkan tabel persamaan regresi berganda penelitian ini adalah:
Y = 5.670 + 0.929X1 - 0.712X5 + e
a. Koefisien konstanta (a) sebesar 5.670
Nilai konstanta yang positif menunjukkan bahwa tanpa
ditambahkan variabel current ratio, debt to asset, return on asset,
total asset turn over, dan company size nilai peringkat sukuk akan
tetap mengalami kenaikan.
b. Koefisien regresi current ratio (X1) sebesar 0.706
Koefisien regresi likuiditas bernilai positif. Hal ini berarti
ketika variabel current ratio meningkat, sedangkan variabel debt
to asset, return on asset, total asset turn over, dan company size
dianggap konstan maka peringkat sukuk juga akan meningkat.
c. Koefisien regresi company size (X5) sebesar -0.706
Koefisien regresi company size bernilai negatif. Hal ini berarti
ketika variabel company size menurun, sedangkan variabel
85
current ratio, debt to asset, return on asset dan total asset turn
over dianggap konstan maka peringkat sukuk juga akan
meningkat.
5. Uji Hipotesis
a. Uji F
Untuk mengetahui apakah suatu model regresi benar
atau salah, diperlukan uji hipotesis dengan menggunakan Uji
F dimaksudkan agara dapat diketahui pengaruh dari current
ratio, debt to asset, return on asset, total asset turn over,
dan company size secara simutan terhadap peringkat sukuk.
Tabel 4.9 Anova
b
ANOVA
Sum of
Model
Squares
Mean
df
Square
1 Regression
25.336
5
Residual
3.637
31
28.973
36
Total
F
Sig.
5.067 43.187 .000
a
.117
a. Predictors: (Constant), Size, DAR, ROA, TATO, CR
b. Dependent Variable: Rating
Dari hasil uji F pada penelitian ini didapatkan nilai F
hitung sebesar 43.187 dengan angka signifikansi (P value)
sebesar 0.000. Dengan tingkat signifikansi 95% (α =0,05).
Angka signifikansi (P value) sebesar 0.000<0.05. Atas
dasar perbandingan tersebut, maka H0 ditolak atau berarti
current ratio, debt to asset, return on asset, total asset turn
86
over, dan company size yang berpengaruh simultan secara
bersama-sama terhadap variabel peringkat sukuk.
b. Uji Adjusted R square
Uji Adjusted R square digunakan karena dalam
penelitian ini variabel independen jumlahnya lebih dari satu,
yaitu dua variabel independen. Uji adjusted R square
digunakan untuk menentukan seberapa besar variabel
independen dapat menjelaskan variabel dependen.
Tabel 4.10 Model Summary
b
Model Summary
Model
1
R
R Square
.935
a
Adjusted R
Std. Error of the
Durbin-
Square
Estimate
Watson
.874
.854
.34254
1.255
a. Predictors: (Constant), Size, DAR, ROA, TATO, CR
b. Dependent Variable: Rating
SPSS
model
summary menghasilkan
besarnya
adjusted R square adalah 0.854 yang berarti 85.4 %.
Koefisien ini menunjukkan bahwa besarnya variabel terikat
(peringkat sukuk) dipengaruhi oleh variabel bebas (current
ratio, debt to asset ratio dan return on asset) sebesar 85.4%
dan sisanya 14.6 % dipengaruhi oleh variabel lain yang
tidak diteliti dalam penelitian ini.
87
6. Interpretasi Hasil
Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis yang
dilakukan dalam penelitian ini. melalui uji normalitas One-Sample
Kolmogorov-Smirnov
Test
diketahui
bahwa
semua
variabel
independen yaitu current ratio, debt to asset ratio dan return on asset
sudah terdistribusi dengan normal dan uji asumsi klasik yang
dilakukan pada keseluruhan variabel telah memenuhi standar
pengujian yang berarti syarat untuk melakukan uji regresi berganda
sudah terpenuhi.
Hasil uji regresi berganda yang didapat adalah yang
berpengaruh dan signifikan adalah current ratio, return on asset, total
asset turn over, dan company size dan yang tidak berpengaruh dan
tidak signifikan adalah debt to asset dan secara keseluruhan current
ratio, debt to asset, return on asset, total asset turn over, dan
company size bersama-sama berpengaruh secara simultan.
a. Pengaruh current ratio terhadap peringkat sukuk
Hipotesis
pertama
menyatakan
bahwa
current
ratio
berpengaruh terhadap peringkat sukuk. Terlihat pada Tabel
coefficients atas variabel current ratio sebagai proksi dari rasio
likuiditas sebesar 0.000. Karena nilai probabilitas lebih kecil dari
α sebesar 5% maka H1 diterima. Kondisi ini menunjukkan bahwa
current ratio berpengaruh secara parsial terhadap peringkat
sukuk. Dengan demikian, hasil temuan penelitian ini konsisten
dengan Purwaningsih (2013), Margreta, dan Poppy Nurmayanti
(2009) dan Enny Dwi Maharti Drs. Daljono Msi, Akt (2014).
88
Arah pengaruh current ratio bernilai positif yang berarti
semakin besar current ratio berarti semakin baik peringkat sukuk
yang
diperoleh.
Hasil
penelitian
ini
konsisten
dengan
Purwaningsih (2013), Afiani (2010), Margareta & Poppy (2009),
Melis (2014), Maharti & Daljono (2014), Sari (2007),
menemukan hubungan antara likuiditas dengan rating sukuk.
Sehingga semakin tinggi tingkat likuiditas suatu perusahaan maka
semakin baik kemungkinan peringkat sukuk perusahaan tersebut.
Sehingga dapat disimpulkan apabila perusahaan memiliki rasio
likuiditas yang tinggi, maka kemungkinan peringkat sukuk akan
tinggi.
b. Pengaruh debt to asset ratio terhadap peringkat sukuk
Hipotesis kedua menyatakan bahwa debt to asset berpengaruh
terhadap peringkat sukuk. Terlihat pada Tabel coefficients atas
variabel debt to asset sebagai proksi dari rasio leverage sebesar
0.299. Karena nilai probabilitas lebih besar dari α sebesar 5%
maka H1 ditolak. Kondisi ini menunjukkan bahwa debt to asset
tidak berpengaruh secara parsial terhadap peringkat sukuk.
Dengan demikian, hasil temuan penelitian ini konsisten dengan
Enny Dwi Maharti Drs. Daljono Msi, Akt (2014) dan Maylia P
Sari (2007).
c. Pengaruh return on asset terhadap peringkat sukuk
Hipotesis
ketiga menyatakan bahwa
return
on asset
berpengaruh terhadap peringkat sukuk. Terlihat pada Tabel
coefficients atas variabel return on asset sebagai proksi dari rasio
89
profitabilitas sebesar 0.867. Karena nilai probabilitas lebih besar
dari α sebesar 5% maka H1 ditolak. Kondisi ini menunjukkan
bahwa return on asset tidak berpengaruh secara parsial terhadap
peringkat sukuk. Dengan demikian, hasil temuan penelitian ini
konsisten dengan Melis (2014), Margreta, dan Poppy Nurmayanti
(2009) dan Enny Dwi Maharti Drs. Daljono Msi, Akt (2014).
d. Pengaruh total asset turn over terhadap peringkat sukuk
Hipotesis keempat menyatakan bahwa fixed asset turn over
berpengaruh terhadap peringkat sukuk. Terlihat pada Tabel
coefficients atas variabel total asset turn over sebagai proksi dari
rasio aktivitas sebesar 0.073. Karena nilai probabilitas lebih besar
dari α sebesar 5% maka H1 ditolak. Kondisi ini menunjukkan
bahwa total asset turn over tidak berpengaruh secara parsial
terhadap peringkat sukuk. Dengan demikian hasil temuan ini
konsisten dengan Ni Putu Tresna Widiastuti dan Henny Rahyuda
(2016).
e. Pengaruh size terhadap peringkat sukuk
Hipotesis keempat menyatakan bahwa size berpengaruh
terhadap peringkat sukuk. Terlihat pada Tabel coefficients atas
variabel size sebagai proksi dari company size sebesar 0.000.
Karena nilai probabilitas lebih kecil dari α sebesar 5% maka H1
diterima. Kondisi ini menunjukkan bahwa size berpengaruh
secara parsial terhadap peringkat sukuk. Hasil menunjukan bahwa
pengaruh size (ukuran perusahaan) konsisten dengan penelitian
Hengki & Eka (2015).
90
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan yang sudah dilakukan pada bab-bab sebelumnya bahwa
penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Current
ratio debt to asset, return on asset, total asset turn over, dan company size
terhadap peringkat sukuk dengan tahun penelitian dari 2012 hingga 2015. Maka
berdasarkan hasil regresi berganda penelitian ini dapat di tarik kesimpulan :
1. Current ratio berpengaruh secara parsial terhadap peringkat sukuk.
2. Debt to asset Ratio tidak berpengaruh secara parsial terhadap peringkat
sukuk.
3. Return on asset tidak berpengaruh secara parsial terhadap peringkat sukuk.
4. Total asset turn over tidak berpengaruh secara parsial terhadap peringkat
sukuk.
5. Company Size berpengaruh secara parsial terhadap peringkat sukuk
6. Current ratio, debt to asset, return on asset, total asset turn over, dan
company size yang berpengaruh simultan secara bersama-sama terhadap
variabel peringkat sukuk.
B. Saran
Berdasarkan pada hasil kesimpulan penelitian yang diperoleh, maka dapat
diajukan beberapa masukan lebih lanjut dengan maksud dapat meningkatkan
penelitian selanjutnya. Maka diharapkan saran sebagai berikut:
91
1. Bagi Investor dan Calon Investor
Peringkat sukuk dapat dijadikan sebagai acuan dalam memilih sukuk
yang berkualitas dan untuk mengetahui peringkat sukuk dapat dilihat dari
rasio keuangan pada perusahaan tersebut.
2. Bagi Penelitian Selanjutnya
a. Diharapkan penelitian selanjutnya dapat meningkatkan jumlah sampel
yang diuji agar pengujian yang dilakukan mendekati akurat.
b. Penambahan variabel independen lain selain rasio keuangan, seperti
pertumbuhan, maturity dan secure untuk mengukur peringkat sukuk.
c. Dari hasil uji adjusted R square, model ini dapat dijelaskan oleh
variabel independen sebesar 85,4% maka penelitian ini sudah dikatakan
cukup baik jadi bagi penelitian selanjutnya dapat menggunakan model
lain.
92
DAFTAR PUSTAKA
Afiani, Damalia. “Pengaruh Likuiditas, Produktivitas, Profitabilitas, Dan Leverage
Terhadap Peringkat Sukuk (Studi Empiris Pada Bank Umum Syariah Dan Unit
Usaha Syariah Periode 2008-2010)”: Accounting Analysis Journal 1, Hal
111-113. 2013
Darmadji, Tjiptono dan Fakhruddin, Hendy M. “pasar modal di Indonesia
pendekatan Tanya jawab”. Selemba Empat, Jakarta 2001
Enny Dwi Maharti dan Drs. Daljono Msi, Akt. “Analisis Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Peringkat Obligasi. Jurnal” : Universitas Diponogoro. 2011.
Ghozali, Imam. “Aplikasi Analisis Multivariete dengan Program IBM SPSS”. Badan
Penerbit UNDIP. Semarang.
Hanafi, Mamduh dan Halim, Abdul. “Analisis Laporan Keuangan. Edisi ketiga”.
Penerbit UPP STIM YKPN. Yogyakarta. 2012.
Hengki Junius Sihombing Eka Nuraini Rachmawati. “Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Peringkat Obligasi Pada Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa
Efek Indonesia”. 118 Jurnal Ekonomi, Manajemen dan Akutansi I Vol. 24 No.
1 Juni 2015.
Huda, Nurul & Edwin, Mustafa. “Investasi Pada Pasar Modal Syariah” Penerbit
Kencana Prenada Media Group.Jakarta. 2007.
Huda, Nurul dan Heykal,, Mohammad. Lembaga Keuangan Islam Tinjauan Teoritis
dan Praktis, Kencana Prenada Media Group, Jakarta. 2010
Kasmir. “Analisis Laporan Keuangan”. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 2009.
93
Margreta, dan Poppy Nurmayanti. “Faktor-FaktorYang Mempengaruhi Prediksi
Peringkat Obligasi Ditinjau Dari Faktor Akuntansi Dan Non Akuntansi”.
Dalam Jurnal Bisnis dan Akuntansi, Volume 11 No. 3. 2009.
Maylia Pramono Sari. “Kemampuan Rasio Keuangan Sebagai Alat Untuk
Memprediksi Peringkat Obligasi. Jurnal Bisnis dan Ekonomi (JBE)”, Hal 172182. 2007.
Nafik, Muhammad. Bursa Efek dan Investasi Syariah. Jakarta: Serambi Ilmu
Semesta. Cahaya Amanah. Surabaya. 2009.
Purwaningsih, S. “Faktor Yang Mempengaruhi Rating Sukuk Yang Ditinjau Dari
Faktor Akuntansi Dan Non-Akuntansi”. Accounting Analysis Journal 2 (3).
Hal. 360-368. 2013.
Rahardjo, Budi. “Keuangan dan Akuntansi”, Edisi Pertama, Cetakan Pertama, Graha
Ilmu, Yogyakarta.2007.
Sekaran, Uma. “Research Methods for business Edisi I and 2”. Salemba Empat.
Jakarta. 2011.
Siamat, Dahlan. “Manajemen Lembaga Keuangan Kebijakan Moneter dan
Perbankan”, Edisi Lima, Lembaga Penerbit FEUI, Jakarta, 2005.
Syafri Harahap, Sofyan. “Analisa Kritis atas Laporan Keuangan”, PT. Raja
Grafindo Persada, Jakarta. 2006.
Tandelilin, Eduardus. “Portofolio Investasi dan Investasi, Teori dan Aplikasi”, Edisi
Pertama, Kanisius, Jakarta, 2010.
Umam, Khairul. “Pasar Modal Syariah & Praktek Pasar Modal Syariah”, CV
Pustaka Setia, Bandung. 2013
Wahid, Nazaruddin Abdul. “Sukuk, Memahami & Membedah Obligasi Pada
Perbankan Syariah”, Ar-Ruzz Media. Yogyakarta. 2010.
94
Widiastuti, Ni Putu Tresna dan Henny Rahyuda. “Pengaruh Pertumbuhan
Perusahaan , Rasio Likuiditas, Maturity, Dan Rasio Aktivitas Terhadap
Peringkat Obligasi Pada Perusahaan Jasa” E-Jurnal Manajemen Unud, Vol. 5,
No. 11, 2016
Yaya, Rizal. Dkk. “Akuntansi Perbankan Syariah” Salemba Empat. Jakarta. 2014
Data
Perkembangan
Pasar
Modal
Syariah,
data
diakses
pada
april
2016
http://www.ojk.go.id/id/kanal/syariah/Pages/Pasar-Modal-Syariah.aspx.
95
LAMPIRAN
Lampiran 1 : Data Rasio Keuangan
Kode
ADHI
MAPI
MYOR
SMRA
ROTI
PPLN
AISA
SSMM
MPPA
2012
2,71
7,22
8,97
7,28
12,38
5,38
6,56
4,71
2,91
ROA
2013
2014
4,20
3,12
4,20
0,84
10,90
3,98
8,02
9,02
8,67
8,80
6,12
7,59
6,91
5,13
2,27
0,41
6,76
9,50
2015
2,77
0,32
11,02
5,67
10,00
5,23
2,91
2012
1,24
1,22
2,76
1,17
1,12
1,04
1,27
1,22
1,87
2013
1,39
1,12
2,44
1,28
1,14
0,96
1,75
0,61
1,37
96
CR
2014
1,30
1,34
2,09
1,52
1,37
0,98
2,66
0,52
1,42
2015
1,56
1,73
2,37
1,48
2,05
1,62
1,41
Kode
ADHI
MAPI
MYOR
SMRA
ROTI
PPLN
AISA
SSMM
MPPA
Kode
ADHI
MAPI
MYOR
SMRA
ROTI
PPLN
AISA
SSMM
MPPA
TATO
2012
0,46
1,01
1,01
0,89
1,00
0,89
0,98
0,95
1,02
2012
0,85
0,64
0,63
0,65
0,45
0,71
0,47
0,76
0,53
2013
0,58
1,01
1,01
0,88
0,99
0,90
0,99
0,94
1,04
2013
0,84
0,69
0,59
0,66
0,57
0,78
0,53
0,79
0,50
2014
0,45
1,01
1,02
0,90
0,99
0,91
0,98
0,95
1,05
DAR
2014
0,83
0,70
0,60
0,61
0,55
0,73
0,51
0,80
0,52
2015
0,34
1,01
1,02
0,88
0,99
0,97
#NUM!
1,05
2015
0,69
0,69
0,54
0,60
0,56
0,56
0,56
97
Kode
ADHI
ADMF
MAPI
MYOR
SMRA
ROTI
PPLN
AISA
SSMM
MPPA
2012
15,88
17,05
15,61
15,93
16,20
14,00
13,22
15,17
14,84
15,92
LnTA(Firm Size)
2013
2014
16,09
16,16
17,25
17,21
15,87
15,98
16,09
16,15
16,43
16,55
14,42
14,58
13,30
13,31
15,43
15,81
15,07
15,12
15,70
15,58
2015
16,63
17,14
16,07
16,24
16,75
14,81
16,02
15,66
98
Lampiran 2 : Data Peringkat Sukuk
No
Emiten
1
PT Adhi Karya (Persero)
2
3
4
PT Mitra Adiperkasa Tbk.
PT Mayora Indah Tbk.
PT Summarecon Agung Tbk.
PT Nippon Indosari Corpindo
Tbk.
5
6
7
8
9
PT. PPLN
PT Tiga Pilar Sejahtera Food
Tbk.
PT Sumberdaya Sewatama
PT Matahari Putra Prima Tbk.
I Tahun 2012
II Tahun 2013
I Tahun 2009
II Tahun 2012
I Tahun 2008
2012
A(sy)
AA-(sy)
A+(sy)
Rating
2013
2014
A(sy)
A(sy)
A(sy)
A(sy)
AA-(sy) AA-(sy)
AA-(sy) AA-(sy)
A+(sy)
A+(sy)
I Tahun 2013
I Tahun 2006
II Tahun 2007
III Tahun 2009
IV Tahun 2010
V Tahun 2010
AAA(sy)
AAA(sy)
AAA(sy)
AAA(sy)
AAA(sy)
AA-(sy)
AAA(sy)
AAA(sy)
AAA(sy)
AAA(sy)
AAA(sy)
I Tahun 2013
I Tahun 2012
II Tahun 2013
-
A(sy)
A(sy)
-
Kode
Obligasi
ADHI
ADHI
MAPI
MYOR
SMRA
ROTI
PPLN
AISA
SSMM
MPPA
2015
A(sy)
A(sy)
AA-(sy)
AA-(sy)
A+(sy)
AAA(sy) AAA(sy)
AAA(sy)
AAA(sy)
AAA(sy)
AAA(sy)
AAA(sy)
A(sy)
A(sy)
-
99
Lampiran 3 : Statistik Deskriptif
Descriptive Statistics
N
Minimum
Maximum
Mean
Std. Deviation
CR
37
.52
2.44
1.3035
.42733
DAR
37
.96
.99
.9754
.00960
ROA
37
.64
.86
.7973
.04823
TATO
37
.34
1.04
.8522
.20365
Size
37
13.22
16.75
15.0278
1.33604
Valid N (listwise)
37
Lampiran 4 : Uji Autokorelasi
b
Model Summary
Model
1
R
.935
R Square
a
.874
Adjusted R
Std. Error of the
Square
Estimate
.854
.34254
Durbin-Watson
1.255
a. Predictors: (Constant), Size, DAR, ROA, TATO, CR
b. Dependent Variable: Rating
100
Lampiran 5 : Uji Autokorelasi (Run Test)
Runs Test
Unstandardized
Residual
a
Test Value
.01629
Cases < Test Value
17
Cases >= Test Value
20
Total Cases
37
Number of Runs
20
Z
.041
Asymp. Sig. (2-tailed)
.967
a. Median
Lampiran 6 : Uji Heterokedastisitas (Glejser)
Coefficients
Model
1
(Constant)
CR
DAR
ROA
TATO
Unstandardized
Coefficients
Std.
B
Error
a
Standardized
Coefficients
t
Sig.
.000
1.000
.000
.000
1.000
.764
.000
.000
1.000
.000
.027
.000
.000
1.000
.000
.321
.000
.000
1.000
.000
.000
1.000
4,11E12
1.261
.000
.177
.000
Beta
Size
.000
.056
a. Dependent Variable: Unstandardized Residual
101
Lampiran 6 : Uji Regresi & Uji T(Parsial)
Coefficients
Model
1
Unstandardized
Coefficients
Std.
B
Error
a
Standardized
Coefficients
Beta
t
Sig.
(Constant)
.528
.601
.443
4.787
.000
10.073
.114
1.055
.299
-.256
1.512
-.014
-.169
.867
.734
.396
.167
1.854
.073
-.712
a. Dependent Variable: Rating
.057
-1.060
-12.386
.000
CR
DAR
ROA
TATO
5.670
10.746
.929
.194
10.632
Size
Lampiran 7 : Uji F
b
ANOVA
Sum of
Model
Squares
Mean
df
Square
1 Regression
25.336
5
Residual
3.637
31
28.973
36
Total
F
Sig.
5.067 43.187 .000
a
.117
a. Predictors: (Constant), Size, DAR, ROA, TATO, CR
b. Dependent Variable: Rating
102
Download