1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada zaman modern saat ini persaingan bisnis sangat ketat terutama pada sarana transportasi.Sepeda motor dianggap paling efektif jika dibandingkan dengan sarana transportasi lainnya. Produk sepeda motormatik sebagai salah satu yang banyak diminati, terutama pada kalangan mahasiswa. Motor matik dianggap lebih simple, cepat dan gaya. Harganyapun terjangkau dan juga hemat bahan bakar.Selain itu tampilan yang beragam dengan desain yang menarik sebagai salah satu daya tarik.Sepeda motor merupakan salah satu alat transportasi yang dapat menjadi solusi dalam mengahadapi jalan yang macet karena ukurannya yang lebih kecil, pajak kendaraan dan biaya perawatan yang lebih murah, dan semain banyaknya dealer-dealer sepeda motor yang memberikan berbagai kemudahan untuk dapat memiliki sepeda motor (Manik,2012). Menyadari permintaan masyarakat terhadap sepeda motor terus meningkat, hal ini menuntut perusahaan untuk semakin kreatif dalam menginovasikan produknya. Berbagai cara dilakukan perusahaan untuk meningkatkan penjualan serta memuaskan para pelanggannya. Oleh karena itu, perusahaan harus melakukan kegiatan promosi yang baik guna untuk mempertahankan pelanggannya, mendapatkan laba serta memperkuat posisi dalam menghadapi perusahaan pesaing. 2 Proses pembelian dimulai ketika seseorang menyadari kebutuhannya. Orang tersebut mulai menyadari perbedaan keadaanya sekarang dan keadaan yang diinginkan. Perilaku pembelian seseorang dapat dikatakan sebagai sesuatu yang unik, karena preferensi dan sikap terhadap obyek setiap orang berbeda. Selain itu, konsumen berasal dari berbagai segmen, sehingga apa yang diinginkan dan dibutuhkan juga berbeda.Keputusan membeli konsumen dipengaruhi oleh keterlibatan konsumen dan kepercayaan mereka. Semakin tinggi konsumen terlibat dalam upaya pencarian informasi produk, semakin besar dorongan konsumen untuk melakukan pembelian. Di sisi lain, konsumen semakin selektif di dalam melakukan pemilihan produk untuk dikonsumsi. Hal ini disebabkan oleh perkembangan arus informasi sehingga konsumen dapat menyerap informasi serta pengetahuan tentang keberadaan suatu produk dengan cepat.Dengan keadaan seperti ini perusahaan dituntut semakin tanggap dengan keinginan konsumen serta dapat mengkomunikasikan produknya secara tepat. Selain itu, perusahaan perlu memberikan informasi tentang produknya dengan baik sehingga konsumen akan memberikan tanggapan yang positif terhadap produk. Perusahaan menggunakan komunikasi pemasaran sebagai strategi utama untuk memperluas pangsa pasar dan menciptakan citra merek dibenak konsumen. Perusahaan yang mampu melakukan komunikasi pemasaran yang baik apabila perusahaan tersebut mampu menginformasikan produk dengan baik kepada target sasaran. Salah satu bentuk komunikasi pemasaran tersebut adalah periklanan. 3 Berkembangnya media informasi di Indonesia menyebabkan banyaknya iklan yang membanjiri media salah satunya media elektronik televisi. Televisi dinilai lebih efektif sebagai media beriklan karena televisi dapat secara langsung menampilkan gambar dan suara secara bersamaan sehingga iklan yang ditampilkan dapat dengan mudah diterima dan diingat oleh orang yang menonton iklan tersebut. Perusahaan harus memiliki cara kreatif dalam beriklan agar dapat menarik perhatian konsumen dan menciptakan preferensi terhadap merek. Salah satu cara kreatif dalam beriklan adalah dengan menggunakan celebrity endorser. Menurut Suyanto (2006) “Celebrity Endorser adalah pribadi (Tokoh, aktor, aktris, entertainer, atlet) yang telah dikenal oleh masyarakat untuk mendukung suatu merek”.Shimp(2003:460) mendefinisikan “Celebrity Endorser adalah tokoh yang dikenal masyarakat karena prestasinya di bidang-bidang yang berbeda dari golongan produk yang didukungnya”.Kehadiran selebriti dalam iklan bertujuan untuk mengkomunikasikan merek produk, membentuk identitas, dan menentukan citra produk yang diiklankan serta dapat menyampaikan suatu pesan iklan. Celebrity endorser sangat berperan penting dalam meningkatkan citra merek dari perusahaan tersebut. Ciri utama suatu perusahaan sukses adalah karena merek (brand). Bagi perusahaan yang menjalankan roda usahanya melalui brand, tidak saja sekedar mempunyai brand, tetapijuga harus memperjuangkan brand tersebut (Ambadar, dkk, 2007:45).Brand memiliki nilai kualitas sebuah barang atau jasa yang diperoleh dari pengalaman penggunaan satu produk atau lebih dari dua produk. Istilah brand muncul ketika persaingan produk semakin tajam menyebabkan perlunya penguatan peran label untuk 4 mengelompokkan produk-produk dan jasa yang dimilikinya dalam satu kesatuan yang dapat membedakan grup produk dengan produk milik pesaing lainnya. Brandbanyak membantu perusahaan besar menguasai pasar, konsumen justru lebih hafal nama brand dari pada merek barang itu sendiri (Soemanagara, 2006:98). Tabel 1.1 TOP BRAND AWARD 2015 SEPEDA MOTOR MATIC MEREK TBI TOP Yamaha Mio 36.6% TOP Honda Beat 28.9% TOP Honda Vario 15.6% TOP Honda Vario 4.6% Techno Honda Scoopy 3.8% Sumber : http://www.topbrand-award.com/ Salah satu brand motor matik yang banyak dikenal konsumen adalah Yamaha Mio. Yamaha Mio adalah salah satu produk motor matik yang banyak diminati konsumen. Awalnya Mio diciptakan untuk kaum hawa. Tapi berkat teknologi matik, 5 handling dan akselerasi yang luar biasa membuat banyak lelaki yang juga jatuh cinta pada motor ini. Yamaha Mio dikenal oleh sebagian besar Motobikers dan modifikator sebagai motor yang paling mudah untuk dimodifikasi. Perusahaan Yamaha meluncurkan banyak produk matik salah satunya yang terbaru adalah Yamaha Mio M3.Produk tersebut diperkenalkan kekonsumen pada akhir tahun 2014 dan sudah banyak digemari oleh masyarakat, mulai dari pria maupun wanita. Yamaha Mio M3 sendiri adalah generasi ke tiga dan merupakan produk matik kesempurnaan dari Mio Sporty dan Mio J. Kini spesifikasi Mio M3 lebih modern dan canggih dibandingkan motor matik lainnya. Dengan system Blue Core menjadikan Mio M3 lebih irit dalam bahan bakar, mesin lebih bertenaga dan dilengkapi dengan teknologi yang handal. Banyak hal yang berpengaruh terhadap keputusan konsumen dalam membeli Yamaha Mio M3 Salah satu yang dianggap berpengaruh adalah celebrity endorser (Heruwati,2010). Aliando Syarif merupakan salah satu celebrity endorser yang dipercaya untuk ikut serta dalam memasarkan produknya dan dianggap mampu membentuk brand image yang baik dimata konsumen. 6 Tabel 1.2 Penjualan Yamaha Mio M3 di Dealer YamahaMataram Sakti, Semarang Januari-Maret 2015 Bulan Type Total Jan Feb Mar GT 125 37 39 17 93 MIO M3 71 88 79 238 SOUL GT 25 17 8 50 FINO 17 5 3 27 X-RIDE 9 5 11 25 N MAX 5 3 3 11 Sumber Data : Dealer Yamaha Mataram Sakti Semarang (2015) Tabel diatas dapat dijelaskan bahwa penjualan tersebut mengalami fluktasi, dimana penjualan bulan Februari terdapat peningkatan namun bulan Maret mengalami penurunan. Jika melihat fenomena penjualan data tersebut,produk matik Yamaha MIO M3 lebih menonjol dari pada produk matik lainnya. Artinya bahwa produk matik tersebut sudah dipercaya kualitasnya. Berbagai macam inovasi-inovasi baru yang mampu membuat Yamaha Mio M3 menjadi banyak diminati. 7 Berikut ini adalah data 10 motor matik terlaris di Indonesia: Tabel 1.3 Penjualan Motor Matik Januari-Juni 2015 Urutan Merek Penjualan (unit) 1 Honda Beat FI 984.276 2 Yamaha Mio M3 307.357 3 Honda Vario 125 eSP 285.884 4 Honda Vario 150 eSP 257.278 5 Honda Scoopy FI 163.259 6 Honda Vario CW FI 106.054 7 Yamaha All New Soul GT 94.866 8 Yamaha Fino FI 45.798 9 Yamaha X Ride 36.797 10 Yamaha GT 125 36.405 Sumber: http://www.merdeka.com/ Tabel 1.3 menunjukan bahwa produk Yamaha Mio M3 masuk pada urutan ke 2 dari 10 besar penjualan motor matik terlaris di Indonesia. Barisan 6 besar didominasi dengan produk Honda, walaupun Yamaha kurang unggul tetapi perusahaan Yamaha mempunyai kelebihan yaitu mampu menciptakan motor matik yang beragam type jika dibandingkan dengan Honda. Dengan kekurangan dan kelemahan tersebut perusahaan Yamaha terus mengembangkan dan menciptakan kembali produk agar tetap menjadi yang terdepan. 8 Dalam kasus ini, karakteristik yang digunakan peneliti sebagai selebriti endorser yaitu daya tarik, kepercayaan serta keahlian selebriti. Karateristik selebriti diatas merupakan faktor faktor yang akan mempengaruhi brand image sehingga akan mempengaruhi persepsi konsumenakan produk tersebut. Apabila selebriti memiliki nilai lebih dari karakteristik tersebut akan menimbulkan brand image yang positif. Begitupula sebaliknya, apabila selebriti tidak memiliki salah satu dari karakteristik tersebut maka brand image yang terbentuk akan negatif. Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis mengambil judul“Pengaruh Penggunaan Celebrity Endorser (Daya Tarik, Kepercayaan, Keahlian) pada Iklan Yamaha Mio M3 terhadap Pembentukan Brand Image(Studi pada Yamaha Mataram Sakti Semarang). 1.2 Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang diatas dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut: 1. Apakah daya tarik celebrity endorser berpengaruh positif signifikan terhadap pembentukan brand image? 2. Apakah kepercayaan yang dimilikicelebrity endorserberpengaruh positif signifikan terhadap pembentukan brand image? 3. Apakah keahlian yang dimilikicelebrity endorser berpengaruh positifsignifikan terhadap pembentukan brand image. 9 1.3 Tujuan penelitian Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk menganalisis pengaruh daya tarik celebrity endorserterhadap pembentukan brand image. 2. Untuk menganalisis pengaruh kepercayaan celebrity endorser terhadap pembentukan brand image. 3. Untuk menganalisis pengaruh keahlian celebrity endorser terhadap pembentukan brand image. 1.4 Manfaat penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada pihak-pihak yang bersangkutan. Pihak-pihak yang bersangkutan adalah sebagai berikut: 1. Bagi akademis Memberikan sumbangan pemikiran dalam perkembangan ilmu pengetahuan di bidang pemasaran pada umumnya dan khususnya tentang promosi yaitu periklanan produk atau jasa. 2. Bagi peneliti Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi bagi peneliti lain di masa yang akandatang. 10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Periklanan a. Pengertian Periklanan Periklanan merupakan alat utama promosi yang digunakan oleh perusahaan untuk mengarahkan komunikasi yang meyakinkan kepada sasaran pembeli dan publik.Periklanan dapat dipandang sebagai kegiatan penawaran kepada suatu kelompok masyarakat baik secara lisan ataupun dengan penglihatan (berupa berita), tentang suatu produk, jasa, atau ide.Berita yang disampaikan tersebut dinamakan iklan atau advertensi. Kotler (2009) mendefinisikan periklanan adalah semua bentuk terbayar atas presentasi non pribadi dan promosi non ide, barang, atau jasa oleh sponsor yang jelas. Iklan bisa menjadi cara yang efektif dari segi biaya untuk mendistribusikan pesan, baik dengan tujuan membangun preferensi merek atau mendidik orang. Bahkan dalam lingkungan media yang penuh tantangan saat ini, iklan yang baik akan menghasilkan hasil yang memuaskan. Menurut Kriyantono (2008) iklan bisa didefinisikan sebagai bentuk komunikasi nonpersonal yang menjual pesan-pesan persuasif dari sponsor yang jelas untuk mempengaruhi orang membeli produk dengan membayar sejumlah biaya untuk media. Presetasi non personal terjadi karena iklan melibatkan media massa yang dapat menyampaikan pesan kepada segmen pasar yang dituju. Iklan bukanlah suatu alat promosi yang memungkinkan munculnya komunikasi dua arah yaitu dari pemasar ke 11 pasar yang dituju maupun sebaliknya.Hal inilah yang menjelaskan pernyataan non personal dalam definisi iklan.Konsekuensi dari komunikasi satu arah ini adalah pemasar tidak mungkin mendapatkan atau bahkan mengetahui respon pasar sasaran secara langsung. b. Tujuan dan Fungsi Iklan Tujuan periklanan ialah fungsi komunikasi khusus yang ditujukan kepada khalayak sasaran tertentu selama jangka waktu tertentu (Mahmud Machfoed, 2005:90). Tujuan periklanan dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuannya, yaitu sebagai berikut: 1. Menginformasikan a. Memberi informasi kepada pasar tentang produk baru b. Menganjurkan cara baru penggunaan produk baru c. Menginformasikan perubahan harga kepada pasar d. Menerangkan cara kerja produk baru e. Mengoreksi kesan yang salah f. Menurunkan tingkat kekhawatiran pembeli g. Membangun citra perusahaan 2. Menganjurkan a. Membangun preferensi merek b. Memotivasi konsumen agar mengalihkan perhatian dari merek yang telah digunakan kemerek yang telah diiklannkan oleh suatu perusahaan c. Menganjurkan konsumen agar segera membeli d. Menganjurkan konsumen agar menerima kunjungan penjualan 12 3. Mengingatkan a. Mengingatkan konsumen bahwa produk yang diiklankan mungkin diperlukan pada waktu yang akan datang b. Mengingatkan konsumen tentang tempat penjualan produk yang diiklankan c. Mempertahankan agar konsumen tetap meningat produk yang diiklankan d. Menjaga agar produk yang diiklankan berada pada urutan pertama dalam ingatan konsumen. Tujuan periklanan yang utama adalah menjual atau meningkatkan penjualan barang, jasa, atau ide.Adanya kegiatan periklanan sering mengakibatkan terjadinya penjualan dengan segera meskipun banyak juga penjualan yang baru terjadi pada waktu mendatang. Dari segi lain periklanan yang riil adalah mengadakan komunikasi secara efektif. Tujuan iklan harus mengalir dari keputusan sebelumnya tentang pasar sasaran, positioning merek, dan program pemasaran. Tujuan iklan adalah tugas komunikasi khusus dan tingkat pencapaian yang harus dicapai dengan pemirsa tertentu dalam jangka waktu tertentu seperti yang dikemukakan oleh Kotler (2009).Karena ada beberapa tujuan iklan yang bisa dipertimbangkan oleh pemasar, maka sebelum desain suatu iklan dibuat, pemasar harus cukup jeli untuk melihat dua hal penting yaitu tujuan pembuatan iklan dan profil pasar yang ingin disasar. 13 Adapun fungsi iklan menurut Liliweri (2008) yaitu sebagai berikut : 1. Mengirimkan informasi. 2. Memanfaatkan jasa non personal, karena iklan memindahkan informasi tidak melalui manusia, individu atau kelompok, melainkan melalui media bukan manusia. 3. Memanfaatkan media massa, karena iklan memindahkan informasi melalui media massa, baik cetak maupun elektronik. 4. Persuasif, karena iklan pada umumnya berisi bujukan terhadap individu atau kelompok sasaran agar mereka memiliki informasi yang lengkap mengenai produk barang dan jasa. 5. Sponsor, karena iklan yang dimuat dalam media dibayar oleh pihak tertentu yang disebut sponsor. 6. Tujuan, karena iklan mempunyai tujuan tertentu, misalnya untuk mengubah sikap dan sasaran terhadap produk barang dan jasa. Fungsi-fungsi periklanan di dalam pemasaran menurut pendapat Basu Swastha DH (2006:246) adalah sebagai berikut: 1. Memberikan informasi. Advertising berfaedah untuk memberikan keterangan-keterangan tentang produk yang ditawarkan, agar konsumen mengetahui lebih mendalam tentang kegunaan, kualitas, waktu, tempat dimana produk harus dibeli. 14 2. Membujuk atau mempengaruhi. Dalam hal ini advertising berfungsi sebagai alat untuk membujuk atau mempengaruhi konsumen sehingga mereka tertarik terhadap produk yang ditawarkan, dengan jalan bahwa produk tersebut adalah lebih baik daripada produk pesaing. 3. Menciptakan kesan. Kadang-kadang dalam melaksanakan pembelian suatu barang, seorang pembeli tidak dilandasi pertimbangan yang rasional atau memperhatikan nilai-nilai ekonomisnya tetapi lebih terdorong oleh hal-hal yang tidak rasional. Dalam keadaan ini maka advertising akan sangat bermanfaat untuk menciptakan kesan terhadap produk yang ditawarkan. 4. Memuaskan keinginan. Karena kekurangtahuan konsumen terhadap produk suatu perusahaan, maka pembelian yang dilakukan dapat mengakibatkan timbulnya rasa kurang puas, karena produk yang dibeli kurang sesuai dengan yang diinginkan. Dalam keadaan yang demikian maka advertising sangatlah membantu, karena biasanya advertising memberikan keterangan-keterangan mengenai produk yang ditawarkan, sehingga konsumen bisa lebih mengetahui produk yang akan dibelinya. Dengan pengetahuan tersebut, maka mereka dapat mempertimbangkan produk apa yang akan dibeli, sehingga mereka akan puas terhadap produk yang dibelinya. 15 5. Sebagai alat komunikasi. Dalam hal ini periklanan berfungsi sebagai alat untuk membuka komunikasi dua arah antara penjual dan pembeli. Sehingga keinginan mereka dapat melakukan pertukaran yang saling memuaskan. Fungsi dan tujuan iklan tidak hanya menginformasikan, menganjurkan dan mengingatkan tetapi juga adding value. Menurut Shimp (2003:36) adding value atau pertambahan nilai dapat dilakukan dengan melakukan 3 cara yaitu sebagai berikut: a. Inovasi b. Penyempurnaan kualitas c. Mengubah persepsi konsumen 2.1.2 Daya tarik Shimp (2007:304) menjelaskan bahwa attractiveness (daya tarik) adalah Phsycal attractiveness refers to the trait of being regarded as pleasant to look at in terms of perticular group’s concept of attractiveness. Attractiveness (daya tarik fisik) mengacu pada diri yang dianggap sebagai yang menarik untuk dilihat dalam kaitannya dengan konsep kelompok tertentu dengan daya tarik fisik. Shimp (2007:305) menyatakan jika pemilih menemukan sesuatu pada diri endorser yang dia sukai maka bujukan bekerja lewat identifikasi. Artinya, lewat identifikasi, pemilih akan mengadopsi perilaku, sikap atau preferensi. Ketika mereka menemukan hal menarik dalam diriendoser. Endorser dengan tampilan fisik yang baik dan/atau karakter non-fisik yang menarik dapat menunjang iklan dan dapat menimbulkan minat audience untuk menyimak iklan (Belch dan Belch, 2004).Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa 16 daya tarik fisik dari seorang celebrity endorser dapat meningkatkan brand image dari produk itu sendiri. 2.1.3 Kepercayaan Kepercayaan (trustworthiness) dapat diartikan sebagai kejujuran, integritas, kepercayaan terhadap sumber untuk mencari selebriti atau figur yang dapat dipercaya oleh konsumen.Istilah trustworthiness (dapat dipercaya) menurut Shimp (2007:304) adalah mengacu pada sejauh mana sumber dipandang memiliki kejujuran, integritas dan dapat dipercaya. Sumber dapat dipercaya (trustworthiness) secara sederhana berarti endorser sebuah merek secara bertingkat membuat audience memiliki kepercayaan pada apa yang mereka katakan. Jika sumber atau endorser tersebut adalah selebriti maka trustworthiness lebih mengarah pada kemampuan selebriti untuk memberi kepercayaan atau percaya diri pada konsumen suatu produk. Rhenald Kasali (2008:173) mengemukakan berdasarkan hasil riset bahwa : model iklan yang menarik dan popular bias menambah kepercayaan produk , yang pada akhirnya mampu “memaksa” khalayak sasaran untuk membeli dan model iklan yang dipakai harus sesuai dengan produk yang diiklankan. 2.1.4 Keahlian Keahlian (Expertise) merupakan competitive advantage yang dimiliki pendukung untuk meyakinkan audience dalam hal keterampilannya, lebih jauh lagi Shimp (2007:205) menjelaskan bahwa Expertise (keahlian) adalah expertise refers to the knowledge, experience, or skill possessed by an endorser as they relate to the endorser brand. Keahlian (expertise) mengacu pada pengetahuan, pengalaman atau keahlian yang 17 dimiliki oleh seorang endorser yang dihubungkan dengan merek yang didukung. Seorang endorser yang diterima sebagai seorang yang ahli pada merek yang didukungnyaakan lebih persuasive dalam menarik audience dari pada seorangendorser yang tidak diterima sebagai seorang yang ahli. 2.1.5 Celebrity Endorser Keberhasilan sebuah iklan tidak terlepas dari pesan bintang iklan dalam mempromosikan sebuah merek produk, terutama bila iklan tersebut ditayangkan melalui media televisi. Penggunaan bintang iklan dalam sebuah iklan di televisi merupakan alternatif strategi yang tepat untuk memperkenalkan produk kepada konsumen. Selebriti yaitu pribadi (bintang film, penghibur, atau atlet) yang dikenal oleh masyarakat karena kemampuannya dalam bidang tertentu yang dapat mendukung produk yang diiklankan. Selebriti memiliki kekuatan untuk menghentikan (stopping power). Mereka dapat menarik perhatian atas pesan iklan ditengah banyaknya iklan lain (Belch & Belch, 2004:12). Menurut Suryani (2008:227) selebriti seperti penyanyi, pemain musik, artis pelawak, dan atlit, eksekutif, politikus, merupakan orang-orang yang mempunyai popularitas tinggi dan mempunyai pengaruh kuat. Selebriti dapat digunakan sebagai alat yang cepat untuk mewakili segmen pasar yang dibidik (Royan,2005:12). Sedangkan endorser sering juga disebut sebagai direct source (sumber langsung) yaitu seorang pembicara yang mengantarkan sebuah pesan dan atau memperagakan sebuah produk atau jasa (Belch & Belch, 2004:168). Endorser juga diartikan sebagai orang yang dipilih mewakili imej sebuah produk (product image).Biasanya dari kalangan tokoh masyarakat 18 memiliki karakter menonjol dan daya tarik yang kuat (Hardiman, 2006:38). Maka keahlian yang dimiliki selebriti dengan merek produk yang diiklankan haruslah relevan (Jewler&Drewniany, 2008). Berikut ini adalah beberapa peran selebriti sebagai model iklan yang bisa digunakan perusahaan dalam sebuah iklan (Schiffman dan Kanuk, 2008) a. Testimonial, jika secara personal selebriti menggunakan produk tersebut maka pihak dia bisa memberikan kesaksian tentang kualitas maupun benefit dari produk atau merek yang diiklankan tersebut. b. Endorsement, ada kalanya selebriti diminta untuk membintangi iklan produk dimana dia secara pribadi tidak ahli dalam bidang tersebut. c. Actor, selebriti diminta untuk mempromosikan suatu produk atau merek tertentu terkait dengan peran yang sedang iabintangi dalam suatu program tayangan tertentu. d. Spokeperson, selebriti yang mempromosikan produk, merek atau suatu perusahaan dalam kurun waktu tertentu masuk dalam kelompok peran spokerperson. Penampilan mereka akan diasosiasikan dengan merek atau produk yang mereka wakili. Penggunaan selebriti sebagai bintang iklan diyakini memiliki daya tarik tersendiri.Selain memiliki keuntungan publisitas dan kekuatan memperoleh perhatian dari konsumen, selebriti juga mempunyai kekuatan untuk dijadikan sebagai alat untuk membujuk, merayu, serta mempengaruhi konsumen sasaran, yaitu dengan ketenaran yang dimilikinya.Dengan memanfaatkan ketenaran tersebut diharapkan dapat menarik 19 minat konsumen untuk melakukan pembelian terhadap produk yang diiklankannya.Penggunaan selebriti sebagai bintang iklan juga memiliki peranan yang penting dalam membentuk personaliti merek (brand personality) pada sebuah produk. Bagi perusahaan, personaliti merek ini sangatlah penting untuk membedakannya dengan merek lain. Personality yang demikian oleh selebriti harus disesuaikan dengan image produk yang diiklankan dan kemudian personality tersebut ditransfer kedalam merek produk yang diiklankan sehingga konsumen sadar akan keberadaan dari merek tersebut. Selain itu, diharapkan pula dengan dibentuknyapersonaliti merek pada sebuah produk dapat membantu perusahaan dalam meningkatkan kinerja merek produk tersebut dipasarkan.Di dalam memilih selebriti yang menjadi endorser diperlukan pertimbanganpertimbangan dari pengiklan karena karakter endorser diakui sangat efektif dalam mengangkat citra produk dan brand awareness (Royan, 2005:23). Beberapa kriteria selebriti endorser menurut (Shimp, 2003:464-467) adalah sebagai berikut: 1. Kredibilitas selebriti 2. Kecocokan selebriti dengan merek 3. Kecocokan selebriti dengan khalayak 4. Daya tarik selebriti 2.1.6 Brand Image a. Pengertian Brand (merek) Brand atau merek merupakan pembeda antara suatu produk dengan produk lain. Merek merupakan salah satu faktor terpenting dalam stategi pemasaran.Bagi produsen, 20 pemilihan merek merupakan hal yang sangat penting dan produsen menaruh perhatian yang sangat besar terhadap merek. Asosiasi Pemasaran Amerika mendefinisikan merek (brand) sebagai nama, istilah, tanda, simbol, atau rancangan, atau kombinasi dari semuanya, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikannya dari barang atau jasa pesaing (Kotler, 2008: 332). Sedangkan menurut Kotler (2007)”Brand is a name, sign, symbol, or design, or a combination of them, intended to identity the goods or service of one or group of seller and to differentiate them from those of competitor”. Maksudnya, “merek adalah nama, istilah, tanda, simbol atau desain atau kombinasi semuanya itu yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang dan jasa dari seseorang atau sekelompok penjual untuk membedakannya dari produk atau barang pesaing”. Merek merupakan janji penjual untuk secara konsisten memberikan tampilan, manfaat dan jasa tertentu pada pelanggan. Merek - merek terbaik memberikan jaminan dan kualitas. Menurut Kotler (2007) merek memilki enam tingkatan, meliputi : 1. Atribut,merupakan hal yang pertama kali yang menandai ciri-ciri merek. 2. Manfaat, suatu merek lebih dari sekumpulan atribut, pelanggan tidak membeli atribut tapi membeli manfaat yang ditawarkan produk tersebut. Dengan demikian atribut harus diterjemahkan menjadi manfaat fungsional dan emosional. 3. Nilai, merupakan nilai-nilai yang dianut produsen yang tercermin dalam merek. 4. Budaya, merek juga memiliki budaya tertentu. 5. Kepribadian, merek juga mencerminkan kepribadian tertentu. 6. Pemakai, merek merupakan jenis konsumen yang membeli atau yang menggunakan produk tersebut. 21 Merek merupakan salah satu yang terpenting dalam strategi pemasaran, oleh karena itu, merek harus dipilih secara hati-hati karena merek yang tepat dapat menambah peluang kesuksesan produk. Pada saat ini, pelanggan tidak hanya melihat sesuatu produk dari kualitas dan harga tetapi juga melihat brand image (citra merek) yang melekat pada produk yang dikonsumsi. b. Pengertian Image (citra) Menurut Kotler dan Keller (2009) mengemukakan, pengertian citra sebagai berikut : “Image is the set of beliefs, ideas, and impressions that a person holds regarding an object. Peopels’s attitude and actions towards an object are highly cinditioned by that object’s image”. Artinya citra terdiri dari kepercayaan, ide, dan kesan yang dipegang oleh seseorang terhadap sebuah objek. Sebagian besar sikap dan tindakan orang terhadap suatu objek di pengaruhi oleh image suatu objek. Aaker (2006:22) mengemukakan pengertian citra, “The total impression of what person or group of people think and know about an object”. Artinya total kesan dari pikiran seseorang atau kelompok tentang sebuah objek. Citra (image) menurut American Marketing Association adalah: “The costumer perception of a product with reality or actifity. Yang artinya: “persepsi konsumen mengenai produk perusahaan, merek, bisnis maupun perorangan dengan melihat ada tidaknya kesesuaian dengan realitas maupun dengan kenyataan yang ada. Citra atau image merupakan hasil evaluasi dari diri seseorang berdasarkan pengertian dan pemahaman terhadap rangsangan yang telah di olah, diorganisasikan dan di simpan dalam benak konsumen. Citra dapat diukur melalui pendapat, kesan tanggapan 22 seseorang dengan tujuan untuk mengetahui secara pasti apa yang ada pada setiap pikiran individu mengenai suatu objek, bagaimana mereka memahami dan apa yang mereka sukai dan tidak dari objek tersebut. Suatu citra terhadap objek bisa berlainan tergantung persepsi perorangan bahkan bisa saja citra satu objek sama bagi semua orang. c. Pengertian Brand Image (citra merek) Brand image dapat diartikan “the set of beliefs consumers hold about a particular brand” (Kotler, 2007). Maksudnya, “Brand image adalah sejumlah kepercayaan yang dipegang oleh konsumen yang berkaitan dengan merek. Kepercayaan merek membangun citra merek atau brand image”. Setiap pelanggan memiliki kesan tertentu terhadap suatu merek. Kesan dapat timbul setelah calon pelanggan melihat, mendengar, membaca atau merasakan sendiri merek produk baik melalui televisi, radio, maupun media cetak .Menurut J. Paul Peter dan Jerry C. Olson (2005) mendefinisikan citra merek terdiri dari pengetahuan dan kepercayaan terhadap ciri merek, konsekwensi penggunaan merek, dan pemanfaatan yang tepat, disamping evaluasi, perasaan dan emosi sehubungan dengan suatu merek. Citra merek (Brand Image) merupakan representasi dari keseluruhan persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan pengalaman masa lalu terhadap merek itu.Citra terhadap merek berhubungan dengan sikap yang berupa keyakinan dan preferensi terhadap suatu merek. Konsumen yang memiliki citra yang positif terhadap suatu merek, akan lebih memungkinkan untuk melakukan pembelian. (Setiadi 2003:180). 23 Berdasarkan konsep-konsep diatas dapat dirumuskan bahwa konsumen mengenai merek secara keseluruhan, kepercayaan konsumen terhadap merek tertentu dan bagaimana konsumen memandang atau mempunyai persepsi tertentu pada suatu merek. Citra adalah gambaran atau konsep tentang sesuatu. Dengan demikian citra itu ada, tapi tidak nyata atau tidak bisa digambarkan secara fisik, karena citra hanya ada dalam pikiran. Citra merek mempresentasikan keseluruhan persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan pengolahan masa lalu terhadap merek itu. Konsumen akan melakukan pembelian terhadap suatu produk apabila memiliki citra atau persepsi yang positif terhadap merek tersebut. Oleh karena itu, kegunaan utama dari iklan diantaranya adalah membangun citra yang positif terhadap merek. Komponen brand image terdiri atas 3 bagian, yaitu (Simamora, 2004:65): 1. Citra perusahaan (corporate image), yaitu sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap perusahaan yang membuat suatu produk atau jasa. 2. Citra pemakai (user image), yaitu sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap pemakaiyang menggunakan suatu barang atau jasa. 3. Citra Produk (product image),yaitu sekumpulan asosiasi yangdipersepsikan konsumen terhadap suatu produk. 24 Dari konsep-konsep di atas ahli-ahli juga menyatakan citra merek adalah bagaimana masyarakat mangartikan tanda-tanda yang disampaikan oleh merek melalui produk-produk dan pelaksanaan komunikasinya, atau dengan kata lain citra adalah reputasi, sedangkan identitas merek adalah aspirasional; bagaimana merek tersebut akan diterima dalam benak konsumen, yang akan dilakukan melalui produk-produknya dan pelaksanaan komunkasinya tadi. Bahwa brand image ada pada konsumen sebagai penerimanya terhadap suatu merek disebabkan oleh produk-produk atau proses komunikasi yaitu identitas merek yang dilakukan perusahaan sebagai pihak pengirim pesan. Agar brand image dapat terbentuk sesuai atau mendekati brand identity yang diharapakan perusahaan, maka perusahaan sebagai produsen harus mampu memahami dan mengeksploitasi unsur-unsur yang membentuk suatu merek menjadi merek yang memiliki citra yang baik.Brand image ini diharapkan dapat menghasilkan suatu kualitas yang penting menurut persepsi konsumen. Inilah yang disebut dengan received quality. Hal ini harus didukung oleh kenyataan yang bukan sekedar hal yang di komunikasikan tanpa adanya bukti. Bila pada mulanya sebuah merek hanyalah sebuah nama, logo, atau symbol, tetapi dengan persaingan yang tajam, sebuah merek harus memperjuangkan awarenesnya yang memiliki empat tingkatan, yaitu top of mind, brand recall, brand recognationdan unrecognationbrand.Selanjutnya merek harus diusahakan agar memiliki citra yang positif dan dipersepsikan sebagai merek ynag memiliki kualitas keseluruhan menurut 25 criteria konsumen. Pada akhirnya sebuah merek baru dikatakan mempunyai ekuitas yang kuat bila dapat merebut loyalitas dari pelanggannya. Adapun yang dimaksud dengan ”brand assosiationatau asosiasi merek adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan ingatan seseorang mengenai merek. Faktor – faktor pendukung terbentuknyabrand image dalam keterkaitannya dengan asosiasi merek: (Keller, 2009) 1. Favorability of brand association / Keunggulan asosiasi merek 2. Strength of brand association/familiarity of brand association / Kekuatan asosiasi merek 3. Uniquesness of brand association / Keunikan asosiasi merek 2.1.7 Perilaku Konsumen a. Pengertian Perilaku Konsumen Menurut Mowen dan Minor (2004), studi perilaku konsumen terpusat pada cara individu mengambil keputusan untuk memanfaatkan sumber daya mereka yang tersedia (waktu, uang, usaha) guna membeli barang-barang yang berhubungan dengan konsumsi. Sedangkan menurut J.F. Engel (2004) perilaku konsumen didefinisikan sebagai tindakan - tindakan individu yang secara langsung terlibat dalam suatu usaha memperoleh dan menggunakan barang - barang jasa ekonomis termasuk proses - proses - pengambilan keputusan yang mendahului dan menentukan tindakan - tindakan tersebut. 26 London dan Della Bitta (2006) menjelaskan perilaku konsumen adalah proses pengambilan keputusan dan aktivitas individu secara fisik yang dilibatkan dalam mengevaluasi, memperoleh, menggunakan atau dapat mempergunakan barang - barang dan jasa. Pengertian tersebut mengandung unsur yaitu proses pengambilan keputusan dan kegiatan pembeliannya, proses pengambilan keputusan sebagai kegiatan yang tampak (pembelian) adalah akibat atau hasil dari pengambilan keputusan. Menurut Tjiptono (2008:20) ada lima macam peranan yang dapat dilakukan oleh seseorang dalam mengambil keputusan pembelian. Ada kalanya peranan tersebut dilakukan oleh satu orang, tetapi ada kalanya juga dilakukan oleh beberapa orang. Peranan tersebut ialah: 1. Initiator adalah individu yang mempunyai inisiatif pembelian barang tertentu. 2. Influencer adalah individu yang berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Informasi mengenai kriteria yang diberikan akan di pertimbangkan baik secara sengaja atau tidak. 3. Decider adalah yang memutuskan apakah akan membeli atau tidak, apa yang akan dibeli, bagaimana membelinya. 4. Buyer adalah individu yang melakukan transaksi pembelian sesungguhnya. 5. User yaitu individu yang mempergunakan produk atau jasa yang dibeli. Keputusan konsumen dalam pembelian selain dipengaruhi oleh karakteristik konsumen, dapat dipengaruhi oleh rangsangan perusahaan yang mencakup produk, 27 harga, tempat dan promosi. Variabel-variabel diatas saling mempengaruhi proses keputusan pembelian sehingga menghasilkan keputusan pembelian yang didasarkan pada pilihan produk, 30 pilihan merk, pilihan penyalur, waktu pembelian, jumlah pembelian (Kotler. 2009:53). b. Model Perilaku Konsumen Titik awal untuk memahami perilaku konsumen adalah model respons rangsangan yang diperlihatkan dalam Gambar 2.1.rangsangan pemasaran dan lingkungan memasuki kesadaran konsumen, dan sekelompok proses psikologis digabungkan dengan karakteristik konsumen tertentu menghasilkan proses pengambilan keputusan dan keputusan akhir pembelian. Gambar 2.1 Model Perilaku Konsumen Sumber: Kotler dan Keller (2009:178) 28 c. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen Perilaku konsumen sangat dipengaruhi oleh keadaan dan situasi lapisan masyarakat dimana ia dilahirkan dan berkembang. Ini berarti konsumen berasal dari lapisan masyarakat atau lingkungan yang berbeda akan mempunyai penilaian, kebutuhan, pendapat, sikap, dan selera yang berbeda-beda, sehingga pengambilan keputusan dalam tahap pembelian akan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen menurut Kotler (2008:25) terdiri dari: 1. Faktor Kebudayaan. Faktor kebudayaan berpengaruh luas dan mendalam terhadap perilaku konsumen. Faktor kebudayaan terdiri dari: budaya, subbudaya, kelas sosial, 2. Faktor Sosial. Selain faktor budaya, perilaku seorang konsumen dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial seperti kelompok acuan, keluarga serta status sosial. 3. Faktor Pribadi. Faktor pribadi yang memberikan kontribusi terhadap perilaku konsumen terdiri dari: usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan dan lingkungan ekonomi, gaya hidup, kepribadian dan konsep diri. 4. Faktor Psikologis. Pilihan pembelian seseorang dipengaruhi oleh empat faktor psikologi utama yaitu motivasi, persepsi, pembelajaran, serta keyakinan dan pendirian. 29 2.2 Pengaruh Antar Variabel Dan Pengembangan Hipotesis 2.2.1 Pengaruh Pengaruh Daya Tarik Selebriti terhadap Brand Image Daya tarik bukan hanya berarti daya tarik fisik, meskipun daya tarik bias menjadi atribut yang sangat penting tetapi meliputi sejumlah karakteristik yang dapat dilihat khalayak dalam diri pendukung, kecerdasan, sifat-sifat kepribadian, gaya hidup, dan keatletisan postur tubuh (Shimp, 2003:465). Sebagai komunikator (spokesperson), daya tarik merupakan hal yang penting.Penampilan fisik yang menarik dari selebriti menjadi salah satu bagian dari daya tarik. Konsumen akan cenderung membentuk kesan positif dan lebih percaya pada yang disampaikan oleh selebriti dengan penampilan fisik yang menarik. Dengan digunakannya selebriti sebagai bintang iklan suatu produk, daya tarik yang dimiliki oleh selebriti tersebut telah menjadi suatu dimensi penting terhadap image suatu produk yang diwakili. Konsumen cenderung membentuk kesan positif, dan lebih percaya terhadap selebriti sebagai bintang iklan karena daya tarik yang dimiliki oleh selebriti tersebut, sehingga dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Ditunjukkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Aswita (2006) mengenai pengaruh daya tarik fisik endorser (yang dalam hal ini adalah Aming) terhadap pemilihan acara televisi Extraganza. Dalam penelitian tersebut ditunjukkan bahwa ada pengaruh positif antara daya tarik fisik terhadap sikap pemirsa untuk memilih acara televisi. Oleh karena itu hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: 30 H1: Daya tarik selebriti memiliki pengaruh positif signifikan terhadap pembentukan brand image 2.2.2 Pengaruh Keterpercayaan Selebriti terhadap Brand Image Selebriti mewakili suatu gaya hidup yang ideal, dimana sebagian orang atau paling tidak penggemar dan pengikutnya ingin meniru gaya hidup tersebut. Melihat adanya perilaku pasar yang ingin meniru gaya hidup selebriti, perusahaan rela mengeluarkan sejumlah uang yang tidak sedikit untuk menggunakan selebritidalam mempromosikan produk atau merek mereka. Keterpercayaan selebriti dapat dipercaya dan dianggap memiliki wawasan tentang isu tertentu, seperti kehandalan merek, akan menjadi orang yang paling mampu meyakinkan orang lain untuk mengambil suatu tindakan keputusan pembelian (Shimp, 2003:464). Para pemasang iklan memanfaatkan nilai kepercayaan dengan memilih para pendukung yang secara luas dipandang sebagai jujur, dapat dipercaya, dan dapat diandalkan. Keterpercayaan mengacu pada kecenderungan untuk percaya kepada seseorang. Bila suatu sumber informasi seperti pendukung iklan, dianggap dapat dipercaya, sikap seseorang berubah melalui suatu proses psikologis yang disebut internalisasi. Internalisasi terjadi bila seseorang menerima posisi pendukung tentang suatu isu sebagai miliknya sendiri.Suatu sikap bila suatu sumber pesan dilupakan atau bila sumber beralih pada posisi yang berbeda.Secara umum, pengiriman pesan dengan menggunakan sumber yang memiliki kredibilitas yang tinggi akan membuat pesan menjadi lebih mudah untuk dibaca dan dapat lebih berpengaruh terhadap pembentukan brand image. 31 Oleh karena itu hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H2: Kepercayaan selebriti memiliki pengaruh positif signifikan terhadap pembentukan brand image 2.2.1 Pengaruh Keahlian Selebriti terhadap Pembentukan Brand Image Keahlian selebriti dalam memberikan kontak person terhadap produk yang dipromosikan mampu membawa konsumen untuk ikut serta dalam pemanfaatan produk perusahaan.Keahlian selebriti dapat mengacu mengenai informasi yang disampaikan oleh sumber pesan, dengan cara mempersepsikan produk yang dibawakan. Hal ini menunjang keterkaitan dengan produk atau merek yang mereka wakili (Noviandra, 2006: 68), sehingga mampu menarik minat konsumen. Dalam menyampaikan pesan iklan kepada konsumen, maka selebriti yang digunakan adalah mereka yang mempunyai keahlian, pengetahuan, dan pengalaman yang terkait dengan produk atau merek yang mereka wakili sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dan dipercaya oleh konsumen. Oleh karena itu hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H3: Keahlian selebriti memiliki pengaruh positif signifikan terhadap pembentukan brand image. 32 2.3 Kerangka Konseptual Dari pengembangan hipotesis diatas maka dapat digambarkan secara sistematis model penelitian seperti dibawahini : Gambar 2.2 Gambar Kerangka Konseptual DAYA TARIK (X1) H1 PEMBENTUKAN KEPERCAYAAN (X2) H2 KEAHLIAN (X3) 2.4 BRAND IMAGE (Y) H3 Hipotesis Hipotesis menurut (Sugiono 2010) adalah jawaban sementara terhadap rumusan penelitian dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan.Hipotesis merupakan dugaan sementara yang mungkin benar dan mungkin salah, sehingga dapat dianggap atau pandangan sebagai kesimpulan yang sifatnya sementara, sedangkan penolakan atau penerimaan terhadap faktor-faktor yang dikumpulkan, kemudian ditarik kesimpulan. Berdasarkan penjelasan hubungan masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen maka dapat disimpulkan rumusan hipotesis dalam penelitian ini adalah : 33 H1 : diduga ada pengaruh positif signifikan terhadap pembentukan brand image, semakin tinggi daya tarik maka semakin tinggi pembentukan brand image H2 : diduga ada pengaruh positif signifikan terhadap pembentukan brand image, semakin tinggi kepercayaan maka semakin tinggi pembentukan brand image H3 : diduga ada pengaruh positif signifikan terhadap pembentukan brand image,semakin tinggi keahlian maka semakin tinggi pembentukan brand image 2.5 Penelitian Terdahulu Dibawah ini disajikan tabel review penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang diangkat oleh peneliti. Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu Penelitian Tujuan Penelitian Alat Analisis Hartini& Ike Menganalisis pengaruh Regresi (2012) faktor celebrity endorser linear (daya tarik, kepercayaan, berganda dan keahlian) pada iklan shampoo sunslik dalam pembentukan brand image. Hasil Penelitian Variabel daya tarik, kepercayaan, dan keahlian berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembentukkan brand image pada iklan sunslik. 34 Dinny&Edin (2011) Meneliti pengaruh celebrity Regresi endorser ayu ting ting linear dalam iklan televisi Berganda terhadap brand image produk mie sarimi variabel attractiveness dan credibility secara bersamasama berpengaruh positif dan signifikan terhadap brand image mie Sarimi dan variabel credibility merupakan variabel yang paling signifikan mempengaruhi brand image mie Sarimi. Endang&Dina (2012) Mengetahui pengaruh regresi penggunaan linier selebriti pendukung, Agnes berganda Monica, pada pembentukan citra merek Honda Vario Ni Wayan, I Wayan, Ni Nyoman (2015) Mengetahui pengaruh Regresi simultan dari kredibilitas, linear daya tarik, dan keahlian berganda bintang iklan (celebrity Endorser) terhadap keputusan pembelian sepeda motor Yamaha Mio-GT. Pengaruh parsial dari kredibilitas, daya tarik, dan keahlian bintang iklan (celebrity Endorser) terhadap keputusan pembelian sepeda motor Yamaha Mio-GT. Variabel yang paling dominan yang berpengaruh diantara kredibilitas, daya tarik, dan keahlian bintang iklan (celebrity Endorser) terhadap keputusan pembelian sepeda motor Yamaha Mio-GT. ada pengaruh positif dan signifikan variabel visibilitas, kredibilitas, daya tarik dan kekuatan terhadap pembentukan citra merek Honda Vario. Berdasarkan hasil uji t, variabel yang paling dominan berpengaruh dalam membentuk citra merek adalah variabel kekuatan kredibilitas bintang iklan secara simultan dan parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian, daya tarik dan keahlian bintang iklan secara secara simultan dan parsial berpengaruh positif signifikan terhadap keputusan pembelian dan variabel yang paling dominan mempengaruhi keputusan pembelian adalah daya tarik bintang iklan. 35 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 3.1.1 Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah konsep abstrak yang diukur lewat dimensi dan elemen (Ibnu Widiyanto, 2008). Variabel-variabel penelitian meliputi: a. Variabel dependen Variabel dependen adalah variabel yang menjadi pusat perhatian peneliti (Ferdinand, 2006). Variabel dependen mencerminkan masalah dalam suatu analisis. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah brand image. b. Variabel independen Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi variabel dependen, baik yang pengaruhnya positif maupun yang pengaruhnya negatif (Ferdinand, 2006). Variabel independen adalah variabel yang menjelaskan mengenai cara sebuah masalah dipecahkan dalam suatu analisis. Variabel independen dalam penelitian ini adalah daya tarik , keterpercayaan dan keahlian selebriti. 3.1.2 Definisi Operasional Definisi operasional yang dijelaskan adalah operasionalisasi konsep agar dapat diteliti atau diukur melalui gejala-gejala yang ada. Definisi operasional merupakan petunjuk tentang bagaimana suatu variabel diukur, sehingga peneliti dapat mengetahui baik buruknya pengukuran tersebut. Definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 36 1. Daya Tarik Selebriti (X1) Yang dimaksud dengan daya tarik selebriti disini adalah karakteristik fisik atau yang nampak dari selebriti (Shimp, 2003). Indikator-indikator daya tarik selebriti yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pada iklan Yamaha Mio M3 mengacu pada penelitian Sugiyono (2008) antara lain: 1. Daya tarik fisik 2. Tingkat ketenaran 3. Keseringan tampil 4. Kecerdasan 5. Kepribadian 6. Gaya hidup 2. Keterpercayaan Selebriti (X2) Yang dimaksud dengan keterpercayaan selebriti adalah pandangankonsumen tentang pribadi selebriti (Shimp, 2003).Indikator-indikator keterpercayaan selebriti yang digunakan dalam penelitian ini yaitu padaiklan Yamaha Mio M3 mengacu pada penelitian Sugiyono (2008)antara lain: 1. Kejujuran dalam menyampaikan pesan 2. Kejujuran menyampaikan kualitas produk 3. Kepercayaan yang tinggi dimasyarakat 4. Kemampuan daya tarik 37 3. Keahlian Selebriti (X3) Yang dimaksud dengan keahlian disini adalah pengetahuanselebriti tentang produk yang diendors-nya (Shimp, 2003). Indikator-indikator keahlian selebriti yang digunakan dalampenelitian ini yaitu pada iklan Yamaha Mio M3 mengacu pada penelitian Sugiyono (2008)antara lain: 1. Kepemiliki keahlian 2. Pengalaman 3. Berbakat 4. Keragaan bagus 4. Brand Image (Y) Brand Image adalah hasil presepsi dan pemahaman konsumen mengenai merek Yamaha Mio M3 yang dilihat, dipikirkan atau dibayangkan. Indikator-indikator menurut Sugiyono (2008). 1. Kualitas produk 2. Produk popular 3. Kesukaan wanita 4. Cantik dan percaya diri 5. Diproduksi perusahaan sukses dan besar 6. Kepercayaan dari masyarakat 38 3.2 Populasi dan Sampel Populasi adalah kumpulan elemen yang sejenis akan tetapi dapat dibedakan satu dengan yang lainnya karena adanya karakteristik yang berlainan dalam penelitian ini dalam populasinya adalah konsumen Yamaha Mataram Sakti di Kota Semarang. Sampel adalah dari populasi yang karakteristiknya hendak diselidiki dan dianggap bisa mewakili keseluruhan populasi. Dalam penelitian ini teknik sampel yang digunakan adalah purposive sampling terhadap objek yang diteliti, dimana peneliti telah membuat kriteria-kriteria tertentu berdasarkan ciri subyek yang akan dijadikan sampel penelitian. Adapun kriteria dalam penelitian ini adalah pengguna motor Yamaha Mio M3 di Dealer Yamaha Mataram Sakti Semarang sebanyak 100 responden. 3.3 Metode Pengumpulan Data 1. Questioner Memberikan daftar pertanyaan yang telah disusun sebelumnya untuk dijawab oleh responden mengenai celebrity endorser yang meliputidaya tarik (attractiveness), kepercayaan (trustworthiness), dan keahlian (ecpertise). 2. Kepustakaan Kegiatan penelitian yang dilakukan dengan menghimpun data berbagai literature, baik diperusahaan maupun tempat-tempat lain. 3. Skala Pengukuran Masing-masing variable yang digunakan dalam penelitian yang meliputi daya tarik (attractiveness), kepercayaan (trustworthiness), dan keahlian (ecpertise) akan masukkedalam pertanyaan yang diajukan kepada responden dalam kuesioner. Skala 39 yang digunakan adalah pertanyaan dengan skala interval, Likert Scale 5 poin penilaian. Presentase tertentu akan digunakan untuk mengetahui kecenderungan terbesar jawaban responden. 3.4 Jenis Data dan Sumber Data Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer adalah data yang didapat dari sumber pertama baik dari individu atau perorangan, seperti dari wawancara atau pengisian kuesioner yang dilakukan oleh penelitian (Umar, 2013:42). Dalam penelitian ini sumber data tersebut berasal dari kuesioner yang diberikan kepada 100 responden, kemudian dari hasil pernyataan tersebut dianalisis. 3.5 Metode Analisa 3.5.1 Analisa Data Kuantitatif Dalam penelitian ini analisa data kuantitatif yang digunakan adalah dengan angket atau kuesioner.Data kuesioner ditentukan dengan skala Linket yaitu berhubungan dengan pernyataan tentang sikap seseorang terhadap sesuatu hal (Umar, 2013: 70).Sedangakan skala Liket dalam penelitian ini menggunakan skala ordinal yaitu dengan penilaian sebagai berikut : a. Untuk jawaban “STS” sangat tidak setuju diberikan nilai = 1 b. Untuk jawaban “TS” tidak setuju diberikan nilai = 2 c. Untuk jawaban “N” netral diberikan nilai = 3 d. Untuk jawaban “S” setuju diberikan nilai = 4 e. Untuk jawaban “SS” sangat setuju diberikan nilai = 5 40 𝑅𝑆 = nilai tertinggi − nilai terendah banyaknya kelas Perhitungan tersebut adalah sebagai berikut : 𝑅𝑆 = 5−1 = 0,8 5 Standar kategori lima kelas tersebut adalah : 1,00 – 1,80 = Sangat Rendah 1,81 – 2,60 = Rendah 2,61 – 3,40 = Cukup 3,41 – 4,20 = Tinggi 4,21 – 5,00 = Sangat Tinggi 3.5.2 Uji Instrumen a. Uji Validitas Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner (Ghozali,2006:49). Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Jadi validitas adalah mengukur apakah pertanyaan dalam kuesioner yang sudah dibuat betulbetul dapat mengukur apa yang hendak diukur. Uji validitas dapat diketahui dengan melihat r hitumg dam r tabel (Ghozali,2006). Apabila r hitung > r tabel, maka valid. Apabila r hitung < r tabel, maka tidak valid. b. Uji Reliabilitas Reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk (Ghozali,2006:45). Suatu kuesioner dikatakan 41 reliabel jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Jawaban responden terhadap pertanyaan ini dikatakan reliabel jika masing-masing pertanyaan dijawab secara konsisten atau jawaban tidak boleh acak oleh karena masing-masing pertanyaan hendak mengukur hal yang sama. Pengukuran reliabilitas dapat dilakukan dengan One Shot atau pengukuran sekali saja. Disini pengukurannya hanya sekali dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan pertanyaan lain atau mengukur korelasi antar jawaban pertanyaan. Alat untuk mengukur reliabilitas adalah Cronbach Alpha. Suatu variabel dikatakan reliabel, apabila hasil α > 0,60 = reliabel dan hasil α < 0,60 = tidak reliabel. 3.5.3 Pengujian Asumsi Klasik Sebelum melakukan interpretasi terhadap hasil regresi, terlebih dahulu dilakukan pengujian terhadap asumsi-asumsi klasik model sehingga hasilnya layak digunakan. Pada prakteknya ada beberapa uji asumsi klasik yang sering digunakan yaitu pengujian normalitas, heterokedastisitas, dan multikolinearitas. a. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah data yang akan digunakan dalam model regresi berdistribusi normal atau tidak (Ghozali,2006:147). Uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar, maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil. Untuk mengetahui data yang digunakan dalam model regresi berdistribusi normal atau tidak dapat dilakukan dengan menggunakan Kolmogorov smirnov. Jika nilai Kolmogorov smirnov lebih besar dari α =0,05 maka data normal (Ghozali,2006:152) 42 b. UjiHeterokedastisitas Uji heterokedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varians dari residual satu ke pengamatan lain tetap, maka disebut homokedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah homokedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali,2006:129). Adanya heteroskedastisitas dalam regresi dapat diketahui dengan menggunakan beberapa cara, salah satunya uji Glesjer, jika variabel independen signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen, maka indikasi terjadi heterokedastisitas (Ghozali,2006:129). Jika signifikansi diatas tingkat kepercayaan 5 % maka tidak mengandung adanya heteroskedastisitas. c. UjiMultikolinearitas Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel bebas. Jika variabel bebas saling berkorelasi, maka variabelvariabel ini tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel bebas yang nilai korelasi antar sesama variabel bebas sama dengan nol (Ghozali,2006:95). 3.6 Teknik Analisis 3.6.1 Analisis Regresi Linier Berganda Regresi berganda digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih, juga menunjukkan arah hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen (Ghozali,2006:86). 43 Rumus : Y = b0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e Keterangan : Y = Brand image b0 = Konstanta b1,b2, b3 = Koefisien Regresi X1 = Daya tarik X2 = Kepercayaan X3 = Keahlian e = error 3.6.2 Pengujian Hipotesis Untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel bebas pada variabel terikat perlu dilakukan pengujian signifikansi dari masing-masing koefisien regresi yaitu dengan menggunakan Uji t dan Uji F. a. Uji t Pengujian hipotesis dengan menggunakan uji statistik t dengan langkah-langkah sebagai berikut : a. Merumuskan Hipotesis (Ho : Ha) Ho1 : β1 = 0 (tidak ada pengaruh positif dan signifikan antara daya tarik terhadap pembentukanbrand image) Ha1 : β1 ≠ 0 (terdapat pengaruh positif dan signifikan antara daya tarik terhadappembentukanbrand image) 44 Ho2 : β2 = 0 (tidak ada pengaruh positif dan signifikan antara kepercayaan terhadappembentukanbrand image) : β2 ≠ 0 (terdapat pengaruh positif dan signifikan antara kepercayaan Ha2 terhadappembentukanbrand image) Ho3 : β3 = 0 (tidak ada pengaruh positif dan signifikan antara keahlian terhadap pembentukanbrand image) Ha3 : β3 ≠ 0 (terdapat pengaruh positif dan signifikan antara keahlian terhadap pembentukanbrand image) b. Batasan t hitung b. Ho diterima : bila sig. > α = 0,05 Ho ditolak : bila sig. < α = 0,05 Uji F Pengujian hipotesis dengan menggunakan uji statistik distribusi F, dengan langkah-langkah sebagai berikut : a. Merumuskan Hipotesa (Ho : Ha) Ho4 : β1 = β2 = β3 = 0 (tidak terdapat pengaruh positif dan signifikan antara daya tarik, kepercayaan, keahlian terhadap brand image) Ha4 : β1 ≠ β2 ≠ β3 ≠ 0 (terdapat pengaruh positif dan signifikan antara daya tarik, kepercayaan, keahlian terhadap brand image) 45 b. Batasan F hitung Ho diterima : bila sig. > α = 0,05 Ho ditolak : bila sig. < α = 0,05 3.6.3 Koefisien Determinasi Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol (0) dan satu (1). Nilai R2 yang kecil berarti kemampuasn variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi-variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen. Secara umum koefisien determinasi untuk data silang (crossection) relatif rendah karena adanya variasi yang besar antara masing-masing pengamatan, sedangkan untuk data runtun waktu (time series) biasanya mempunyai nilai koefisien determinasi yang tinggi (Ghozali,2006:87). Kelemahan mendasar penggunaan koefisien determinasi adalah bias terhadap jumlah variabel independen yang dimaksudkan ke dalam model. Setiap tambahan satu variabel dependen, maka R2 pasti meningkat tidak peduli apakah variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen. Oleh karena itu banyak peneliti menganjurkan untuk menggunakan nilai Adjusted R2 (Adjusted R Square) pada saat mengevaluasi mana model regresi terbaik. Tidak seperti R2, nilai Adjusted R2 dapat naik atau turun apabila satu variabel independen ditambahkan ke dalam model (Ghozali,2006:87). 46 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Obyek Penelitian 4.1.1 Sejarah Yamaha Mataram Sakti Sejak awal Mataram Sakti merupakan perusahaan yang bergerak di bidang distribusi sepeda motor. Dengan adanya kesepakatan antara ATPM Yamaha dan Mataram Sakti, maka pada bulan Agustus 2002 Mataram Sakti secara resmi ditunjuk menjadi dealer resmi Yamaha. Seiring perjalanan waktu, Mataram Sakti yang pada awalnya hanya membuka 3 showroom telah berkembang dengan begitu pesatnya sehingga kini telah mempunyai jaringan penjualan, pelayanan purna jual dan suku cadang yang tersebar di berbagai area di Jawa Tengah, yang meliputi Eks Karesidenan Semarang, Eks Karisidenan Pati, Eks Karisidenan Kedu, DIY, dan Eks Karisidenan Banyumas. Dalam usianya yang relatif masih sangat muda ini, Mataram Sakti telah ikut menyumbangkan daya upayanya dalam mendongkrak pasar dalam negeri untuk produk – produk sepeda motor Yamaha di Jawa Tengah. Dengan omzet penjualan yang terus meningkat dari waktu ke waktu, saat ini Mataram Sakti telah menjadi salah satu perusahaan distribusi sepeda motor Yamaha yang terbesar, terbaik dan terpercaya di Jawa Tengah, Jogjakarta, Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, Jambi, Jawa Timur dan Bali. 47 4.1.2 Visi dan Misi Perusahaan Visi Yamaha Mataram Sakti : 1. Menjadi perusahaan distributor motor, produk dan jasa pendukungnya yang memiliki jaringan pemasaran Terbesar di Indonesia. Menjadi perusahaan yang Terpercaya, meliputi sumber daya manusia, keuangan, teknologi & informasi, dan sumber daya fisik. Misi Yamaha Mataram Sakti : 1. Menyediakan pelayanan terbaik bagi konsumen 2. Menyediakan produk dan jasa yang berkualitas. 4.1.3 Tujuan Perusahaan Tujuan dari Yamaha Mataram Sakti yaitu : 1. Bergerak dibidang otomotif dan menguasai pangsa pasar dengan memberikan pelayanan kepada pelanggan dengan sepenuh hati 4.1.4 Filosofi Perusahaan Filosofi Yamaha Mataram Sakti meliputi : 1. Bekerja adalah ibadah. 2. Kepuasan pelanggan adalah komitmen kami. 3. Kerja tim adalah kekuatan kami. 4. Kerja keras adalah kebiasaan kami. 5. Perubahan dan perbaikan adalah kunci sukses kami. 48 4.1.5 Produk Yang Dihasilkan Yamaha Mataram Sakti menyediakan berbagai tipe motor Yamaha yang dapat memenuhi kebutuhan dan selera konsumen. Berikut ini adalah produk yang ditawarkan Yamaha Mataram Sakti pada table 4.1. Tabel 4.1 Produk Yamaha PRODUK MATIC MOPED SPORT All new SOUL GT MX KING R 25 MIO M3 125 VEGA RR R 15 NEW XEON RC JUPITER MX NEW VIXION MIO GT JUPITER Z1 BYSON SOUL GT FORCE SCORPION Z X RIDE MIO FINO GT 125 4.1.6 Struktur Organisasi Untuk menjalankan operasinya perusahaan membuat struktur organisasi yang menggambarkan garis tanggung jawab yang jelas. Dengan diterapkan struktur organisasi tersebut, masing-masing pejabat didalam perusahaan sudah mengetahui tugas dan tanggung jawabnya. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang otomotif, maka sudah selayaknya bila Yamaha Mataram Sakti mempunyai bagian yang terstruktur dan terorganisasi untuk 49 kelancaran pelaksanaan tugas masing-masing bagian. Struktur Yamaha Mataram Sakti terlihat pada gambar 4.1 Gambar 4.1. Struktur Organisasi Yamaha Mataram Sakti Struktur organisasi tersebut terdiri dari : Manajer Area Memimpin, mengelola dan mengendalikan semua aktivitas operasional perusahaan agar dapat dicapai standar pelayanan yang telah ditetapkan dan dapat mencapai target pendapatan dan pengeluaran biaya sesuai dengan budget operasi. Kepala Cabang 1. Memberi motivasi, dukungan, merencanakan even. 2. Mengawasi roda perusahaan mengawasi, merencanakan penjualan, 50 3. Bisa mengangkat dan memecat yang lainnya Supervisor 1. Mengawasi sales 2. Bertanggung jawab atas sales 3. Mengangkat dan memecat sales 4. Melaporkan hasil laporan penjualan produk kepada kepala cabang setiap bulannya Sales 1. Menjual barang 2. Mencari pelanggan Admin 1. Mengimput data kepada yamaha mataram sakti pusat 2. Mengimput pencairan dana leasing 3. Mengimput absensi dan pembayaran gaji semua karyawan Kepala Mekanik 1. Mengatur anak buah mekanik 2. Melaporkan penghasilan service kpd kepala cabang Sales Counter 1. Menerima tamu atau pelanggan yang datang ke dealer untuk meyakinkan produk yang dimiliki Yamaha Mataram Sakti 51 Counter Service 1. Melaporkan dan meminta identitas motor hasil service kemudian hasilnya dilaporkan ke kepala mekanik Office Boy 1. Office boy bertugas menjaga kebersihan kantor agar selalu terlihat bersih dan nyaman 4.2 Deskripsi Responden Pada bab ini akan dilakukan analisis data dan pembahasan pada data yang peneliti dapatkan dari responden melalui kuesioner yang dibagikan. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 100 sampel dan responden dalam sampel ini adalah konsumen Yamaha Mataram Sakti Semarang. Dengan demikian, 100 kuesioner yang disebar dan terkumpul dapat diolah lebih lanjut. Berikutnya disajikan hasil penyebaran kuesioner pada tabel 4.2 Tabel 4.2 Penyebaran Kuesioner dan Pengumpulan Data No Keterangan 1 Jumlah kuesioner yang disebar 2 Jumlah kuesioner yang tidak kembali 3 Jumlah kuesioner yang kembali 4 Jumlah kuesioner yang tidak lengkap Jumlah kuesioner yang dapat diolah Sumber : Data primer yang diolah, 2015 Jumlah 100 0 100 0 100 52 Hasil penyebaran kuesioner yang dilakukan menunjukan bahwa dari sebanyak 100 kuesioner yang disebarkan terlihat bahwa semua kuesioner dapat dikembali dan terisi secara lengkp. Dari data sebanyak 100 responden yang telah melakukan pengisian kuesioner maka langkah selanjutnya mendeskripsikan menurut usia. 1. Deskripsi Responden berdasarkan Usia Usia para responden tentunya beragam dan untuk memudahkan dalam melaksanakan analisa maka dapat dikelompokan ke dalam beberapa ketegori usia seperti pada tabel 4.3. Tabel 4.3 Deskripsi Responden berdasarkan Usia No 1 2 3 Usia 21 – 30 31 – 40 41 – 50 Jumlah Sumber: Data primer yang diolah, 2015 Jumlah 57 34 9 100 Presentase 57% 34% 9% 100% Dari tabel 4.3 dapat diketahui bahwa berdasarkan responden pengguna Yamaha sebagian besar berusia antara 21-30 tahun yaitu sebanyak 57%. Sedangkan usia 31-40 tahun sebanyak 34% dan usia 41-50 tahun sebanyak 9%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kebanyakan responden Yamaha Mataram Sakti berusia 21-30 tahun yaitu 57%. 53 2. Deskripsi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Penyajian atas hasil pengelompokan responden menurut jenis kelamin ditampilkan dalam tabel 4.4 Tabel 4.4 Deskripsi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin NO Jenis Kelamin 1 Pria 2 Wanita Jumlah Sumber: Data primer yang diolah, 2015 Jumlah 47 53 100 Presentase 47% 53% 100% Dari tabel 4.4 dapat disimpulkan bahwa berdasarkan responden pengguna Yamaha Mataram Sakti Semarang sebagian besar berjenis kelamin perempuan sebesar 53% sedangkan pria sebesar 47%. 4.3 Hasil Analisis Data Dalam penelitian ini analisa data kuantitatif yang digunakan adalah dengan angket atau kuesioner pada Yamaha Mataram Sakti Semarang. Data kuesioner ditentukan dengan skala Linket yaitu berhubungan dengan pernyataan tentang sikap seseorang terhadap sesuatu hal (Umar, 2013: 70). Sedangakan skala Liket dalam penelitian ini menggunakan skala ordinal yaitu dengan penilaian sebagai berikut : a. Untuk jawaban “STS” sangat tidak setuju diberikan nilai = 1 b. Untuk jawaban “TS” tidak setuju diberikan nilai = 2 c. Untuk jawaban “N” netral diberikan nilai = 3 54 d. Untuk jawaban “S” setuju diberikan nilai = 4 e. Untuk jawaban “SS” sangat setuju diberikan nilai = 5 𝑅𝑆 = nilai tertinggi − nilai terendah banyaknya kelas Perhitungan tersebut adalah sebagai berikut : 𝑅𝑆 = 5−1 = 0,8 5 Standar kategori lima kelas tersebut adalah : 1,00 – 1,80 = Sangat Rendah 1,81 – 2,60 = Rendah 2,61 – 3,40 = Cukup 3,41 – 4,20 = Tinggi 4,21 – 5,00 = Sangat Tinggi Berdasarkan dari nilai rentang skala, maka berikut ini akan dilihat hasil analisis deskripsi masing-masing variabel penelitian. 4.3.1 Analisis Deskripsi Variabel Daya Tarik Analisis deskriptif variabel daya tarik dapat dianalisa berdasarkan dari nilai indeks pernyataan responden terhadap enam pernyataan yang digunakaan untuk mengukur variabel daya tarik. Hasil pernyataan ini dilengkapi pada tabel 4.5. 55 Tabel 4.5 Pernyataan Responden Mengenai Daya Tarik No Pernyataan STS 1 TS 2 N 3 S 4 SS 5 Indeks 2. Aliando Syarief mempunyai Daya tarik fisik Tingkat ketenaran Aliando Syarief baik 3. Aliando Syarief sering tampil di televise 1 1 6 12 36 108 54 216 3 15 3,52 4. Aliando Syarief selebriti yang cerdas 1 1 2 4 36 108 57 228 4 20 3,61 5. Kepribadian Aliando Syarief baik 0 0 6 12 43 129 47 188 4 20 3,49 1. 1 1 6 12 41 123 48 192 4 20 3,48 0 0 5 10 48 144 45 180 2 10 3,44 Nilai Indeks Daya Tarik 3,50 Sumber : Data Primer Yang Diolah, 2015 Dari tabel 4.5 diatas nilai indeks persepsi responden mengenai daya tarik adalah tinggi yaitu sebesar 3,50 yang berarti para konsumen memberikan penilaian yang baik terhadap daya tarik celebrity endorser pada iklan Yamaha Mio M3. Persepsi responden tertinggi menyatakan bahwa Aliando Syarief selebriti yang cerdas sebesar 3,61. Dengan adanya daya tarik maka akan meningkatkan keinginan konsumen untuk memiliki produk Yamaha Mio M3. Persepsi responden mengenai Aliando Syarief sering tampil di televisi dengan nilai rata-rata 3,52. Kepribadian Aliando Syarief baik dengan nilai rata-rata 3,49. Aliando Syarief mempunyai daya tarik fisik dengan nilai rata-rata 3,48 dan pada pernyataan terbawah yaitu tingkat ketenaran Aliando Syarief baik dengan nilai rata-rata 3,44. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa persepsi responden mengenai daya tarik Aliando Syarief adalah tinggi. 56 4.3.2 Analisis Deskripsi Variabel Kepercayaan Analisis deskripsi variabel kepercayaan dapat dianalisa berdasarkan dari nilai indeks pernyataan responden terhadap empat pernyataan yang digunakan untuk mengukur variabel kepercayaan. Hasil pernyataan ini dilengkapi pada tabel 4.6. Tabel 4.6 Pernyataan Responden Mengenai Kepercayaan N o Pernyataan Iklan menunjukkan Aliando Syarief jujur dalam menyampaikan pesan Iklan menunjukan Aliando Syarief jujur dalam 2. menyampaikan kualitas produk Pesan iklan yang disampaikan 3. Aliando Syarief dapat dipercaya Nilai Indeks Kepercayaan 1. STS 1 TS 2 N 3 S 4 SS 5 Indeks 0 0 4 8 49 147 45 180 2 10 3,45 0 0 6 12 43 129 48 192 3 15 3,48 0 0 4 8 49 147 43 172 4 20 3,47 3,46 Sumber : Data Primer Yang Diolah, 2015 Dari tabel 4.6 diatas nilai indeks persepsi responden mengenai kepercayaan adalah tinggi yaitu sebesar 3,46 yang berarti para konsumen memberikan penilaian yang baik terhadap kepercayaan celebrity endorser pada iklan Yamaha Mio M3. Persepsi responden tertinggi menyatakan bahwa Iklan menunjukan Aliando Syarief jujur dalam menyampaikan kualitas produk dengan nilai rata-rata 3,48. Sedangkan pernyataan mengenai pesan iklan yang disampaikan Aliando Syarief dapat dipercaya dengan nilai rata-rata 3,47. Kemudian pernyataan terbawah yaitu iklan menunjukkan Aliando Syarief jujur dalam menyampaikan pesan yaitu dengan rata-rata 3,45. Dari pernyataan diatas 57 dapat disimpulkan bahwa persepsi responden mengenai kepercayaan Aliando Syarief adalah tinggi. 4.3.3 Analisis Deskripsi Variabel Keahlian Analisa deskripsi variabel keahlian dapat dianalisa berdasarkan dari nilai indeks pernyataan responden terhadap empat pernyataan yang digunakan untuk mengukur variabel keahlian. Hasil pernyataan ini dilengkapi pada tabel 4.7. Tabel 4.7 Pernyataan Responden Mengenai Keahlian No Pernyataan Aliando Syarief mempunyai keahlian menarik konsumen Aliando Syarief artis 2. yang berpengalaman Aliando Syarief artis 3. yang berbakat Aliando Syarief 4. berkeragaan bagus Nilai Indeks Keahlian 1. STS 1 TS 2 N 3 S 4 SS 5 Indeks 1 1 4 8 49 147 43 172 3 15 3,43 1 1 3 6 51 153 41 164 4 20 3,44 1 1 4 8 45 135 48 192 2 10 3,46 0 0 0 0 53 159 47 188 0 0 3,47 3,45 Sumber : Data Primer Yang Diolah, 2015 Dari table 4.7 diatas nilai indeks persepsi responden mengenai keahlian adalah tinggi yaitu sebesar 3,45 yang berarti para konsumen memberikan penilaian yang baik terhadap keahlian celebrity endorser pada iklan Yamaha Mio M3. Nilai rata-rata tertinggi 3,47 yaitu Iklan menunjukan Aliando Syarief berkeragaan bagus. Aliando Syarief artis yang berbakat dengan nilai rata-rata 3,46. Aliando Syarief artis yang berpengalaman dengan nilai rata-rata 3,44. Dan pernyataan dengan nilai terbawah 3,43 58 yaitu Aliando Syarief mempunyai keahlian menarik konsumen. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa persepsi responden mengenai keahlian Aliando Syarief adalah tinggi. 4.3.4 Analisis Deskripsi Variabel Brand Image Analisa deskripsi variabel Brand Image dapat dianalisa berdasarkan dari nilai indeks pernyataan responden terhadap enam pernyataan yang digunakan untuk mengukur variabel Brand Image. Hasil pernyataan ini dilengkapi pada tabel 4.8. Tabel 4.8 Pernyataan Responden Mengenai Brand image N o Pernyataan Yamaha Mio M3 mempunyai kualitas produk yang baik Yamaha Mio M3 2. merupakan produk motor matik terpopuler Yamaha Mio M3 adalah 3. motor matik kesukaan wanita Pengguna Yamaha Mio 4. M3 merasa cantik dan percaya diri Yamaha merupakan 5. perusahaan sukses dan besar Yamaha merupakan 6. perusahaan yang sudah dipercaya masyarakat Nilai Indeks Brand Image 1. STS 1 TS 2 N 3 S 4 SS 5 Indeks 3 3 4 8 37 111 52 208 4 20 3,50 0 0 6 12 54 162 38 152 2 10 3,36 2 2 3 6 40 120 49 196 6 30 3,54 1 1 3 6 43 129 49 196 4 20 3,52 1 1 3 6 43 129 50 200 3 15 3,51 0 0 5 10 55 165 38 152 2 10 3,37 Sumber : Data Primer Yang Diolah, 2015 3,46 59 Dari table 4.8 diatas nilai indeks persepsi responden mengenai brand image adalah tinggi yaitu sebesar 3,46 yang berarti para konsumen memberikan penilaian yang baik terhadap brand image pada iklan Yamaha Mio M3. Nilai rata-rata tertinggi 3,54 yaitu Yamaha Mio M3 adalah motor matik kesukaan wanita. Pengguna Yamaha Mio M3 merasa cantik dan percaya diri dengan nilai rata-rata 3,52. Yamaha merupakan perusahaan sukses dan besar dengan nilai rata-rata 3,51. Yamaha Mio M3 mempunyai kualitas produk yang baik dengan nilai rata-rata 3,50. Yamaha merupakan perusahaan yang sudah dipercaya masyarakat dengan nilai rata-rata 3,37. Yamaha Mio M3 merupakan produk motor matik terpopuler dengan nilai rata-rata 3,36. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa persepsi responden mengenai keahlian Aliando Syarief adalah tinggi. 4.4 Uji Kualitas Data 4.4.1 Uji Validitas Uji validasi ini digunakan untuk mengetahui valid tidaknya jawaban dari responden. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesionermampu untuk mengungkap sesuatu yang akan dukur oleh kuesioner tersebut ( Ghozali, 2006 ) . Kriteria dikatakan valid apabila nilai r hitung ≥ nilai r tabel. Berdasarkan tabel ini menunjukan bahwa pengujian validitas untuk masing-masing variabel daya tarik, kepercayaan dan keahlian terhadap brand image. Uji validitas dilakukan dengan perbandingan nilai r hitung dengan r tabel untuk degree of freedom (df) = n-2. Dalam hal ini n adalah jumlah sampel. Besar (df) = 100-2 maka 60 didalam angka 98, alpha = 0,05 didpat r tabel. Hasil uji validitas dapat dilihat pada tabel 4.9. Tabel 4.9 Hasil Uji Validitas Variabel R hitung Daya Tarik (X1) Indikator 1 0,544 Indikator 2 0,440 Indikator 3 0,517 Indikator 4 0,475 Indikator 5 0,598 Kepercayaan (X2) Indikator 1 0,473 Indikator 2 0,514 Indikator 3 0,590 Keahlian (X3) Indikator 1 0,610 Indikator 2 0,474 Indikator 3 0,387 Indikator 4 0,173 Brand Image (Y) Indikator 1 0,592 Indikator 2 0,416 Indikator 3 0,625 Indikator 4 0,702 Indikator 5 0,526 Indikator 6 0,503 Sumber : Data Primer yang diolah, 2015 R table Keterangan 0,1654 0,1654 0,1654 0,1654 0,1654 Valid Valid Valid Valid Valid 0,1654 0,1654 0,1654 Valid Valid Valid 0,1654 0,1654 0,1654 0,1654 Valid Valid Valid Valid 0,1654 0,1654 0,1654 0,1654 0,1654 0,1654 Valid Valid Valid Valid Valid Valid 4.4.2 Uji Reliabilitas Pengujian reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau kontruk ( Ghozali, 2006 ). Suatu kuesioner dikatakan reliabel dan handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Pengujian yang dipakai adalah cronbach 61 alpha. Variabel yang dikatakan reliabel jika memberikan nilai cronbach alpha > 0,60. Tabel 4.10 menunjukan hasil penguji reliabilitas yang dilakukan terhadap variabel daya tarik, kepercayaan dan keahlian terhadap brand image. Tabel 4.10 Uji Reliabilitas Indikator Variabel Cronbach’s Alpha Daya Tarik 0,750 > 0,60 Kepercayaan 0,706 > 0,60 Keahlian 0,627 > 0,60 Brand Image 0,803 > 0,60 Sumber : Data Primer Yang Diolah, 2015 Variabel Keterangan Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Hasil uji reliabilitas memperlihatkan setiap cronbach alpha dari masing-masing indikator lebih besar dibandingkan standar reliabilitas. Hal ini menunjukkan indikator dari variabel daya tarik, kepercayaan, keahlian dan brand image dinyatakan baik sebagai alat ukur dalam variabel penelitian. 4.5 Pengujian Asumsi klasik 4.5.1 Uji Normalitas Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data sampel dalam penelitian telah terdistribusi secara normal. Hasil uji normalitas data menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 4.11 62 Tabel 4.11 Hasil uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test N Normal Parameters(a,b) Most Extreme Differences Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) a Test distribution is Normal. b Calculated from data. Unstandardi zed Residual 100 .0000000 1.46076893 .071 .071 -.040 .711 .694 Sumber : Data primer yang diolah, 2015 Data diatas menunjukkan bahwa nilai asymp sig (2-tailed) sebesar 0,694 > 0,05 sehingga data berdistribusi normal. 4.5.2 Uji Heterokedastisitas Pengujian ini bertujuan untuk mendeteksi apakah kesalahan pengganggu dari model yang diamati tidak memiliki varians yang konstans dari satu observasi ke obsenvasi lain. Untuk mengetahui ada tidaknya gejala heterokedastisitas dapat dilakukan dengan menggunakan grafik scatterplot untuk memprediksi nilai varibel terikat dan variabel bebas. Dari scatterplot terlihat titik-titik yang menyebar secara acak serta tersebar diatas maupun dibawah angka nol pada sumbu Y dan tidak membentuk suatu pola tertentu. Gambar pola heterokedastisitas dapat dilihat pada tabel 4.12. 63 Tabel 4.12 Uji Heterokedastisitas Sumber : Data primer yang diolah, 2015 Grafik scatterplots memperlihatkan bahwa titik-titik pada grafik membentuk pola tertentu yang jelas dimana titik-titik berkumpul diatas dan dibawah angka nol pada sumbu Y. Dengan demikian terjadi heterokedastisitas. Oleh karena itu dilakukan uji gletser untuk menguji kembali Heterokedatisitas. Hasil uji glesjer dapat dilihat pada tabel 4.13. 64 Tabel 4.13 Uji Glesjer Unstandardized Standardized Collinearity Coefficients Coefficients Statistics t Sig. Model Std. Beta Tolerance VIF B Error Constant 2.352 .775 3.036 .003 X1 (Daya Tarik) .117 .063 .304 1.862 .066 .364 2.747 X2 (Kepercayaan) -.152 .086 -.252 -1.771 .080 .479 2.086 X3 (Keahlian) -.122 .075 -.230 -1.638 .105 .490 2.040 a Dependent Variable: AbsRes Sumber : Data primer yang diolah, 2015 Dibuktikan dengan Uji Glesjer diatas bahwa nilai sign ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bebas heterokedastisitas. 4.5.3 Uji Multikolinearitas Untuk dapat mendeteksi gejala multikolinearitas dapat dilakukan dengan cara melihat nilai Variance Inflation Factor (VIF), Ghozali, 2006. Pada perhitungan inti tidak ada satupun variabel bebas yang memiliki nilai VIF lebih dari 10, maka data ini dikatakan bebas dari multikolinearitas. Sedangkan berdasarkan nilai tolerance tidak ada satupun variabel bebas yang memiliki tolerance kurang dari 0,10. Untuk dapat mengetahuinya dapat dilihat dari tabel 4.14. 65 Tabel 4.14 Uji Multikolinearitas Model Collinearity Statistics Tolerance Constant X1 (Daya Tarik) X2 (Kepercayaan) X3 (Keahlian) .364 .479 .490 VIF 2.747 2.086 2.040 Sumber : Data primer yang diolah, 2015 Nilai VIF untuk masing-masing variabel bebas dalam persamaan memiliki nilai lebih dari 10 dan nilai tolerance kurang dari 0,1 maka semua variabel dalam model ini tidak terkena masalah multikolinearitas karena tidak ada hubungan kolerasi antara variabel bebas. 4.6 Analisis Regresi Linear Berganda Analisis regresi berganda digunakan untuk melihat pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen. Pada penelitian ini akan dilihat pengaruh daya tarik, kepercayaan, keahlian terhadap Brand Image pada Yamaha Mataram Sakti Semarang. Proses analisis regresi berganda menggunakan program SPSS dan untuk dapat melihat hasilnya pada tabel 4.15. 66 Tabel 4.15 Hasil Regresi Berganda Unstandardized Coefficients Model Std. B Error Constant -.464 1.278 X1 (Daya Tarik) .406 .104 X2 (Kepercayaan) .531 .142 X3 (Keahlian) .626 .123 Sumber : Data Primer Yang Diperoleh, 2015 Standardized Coefficients t Sig. -.363 3.914 3.739 5.080 .717 .000 .000 .000 Beta .332 .276 .371 Berdasarkan dari hasil regresi maka akan dibuat persamaan linear antara daya tarik, kepercayaan, keahlian terhadap brand image sebagai berikut. Brand Image = -0,464+ 0,332 Daya Tarik + 0,276 Kepercayaan + 0,371 Keahlian Persamaan regresi dapat diartikan sebagai berikut : a. Konstanta (α) negatif sebesar -0,464. Hal ini menunjukan bahwa apabila saat variabel daya tarik, kepercayaan, dan keahlian bernilai 0, maka brand image bernilai -0,464. b. Daya tarik mempunyai koefisien regresi sebesar 0,332 dengan arah positif. Hal ini menunjukan bahwa apabila daya tarik meningkat maka nilai brand image meningkat pula. c. Kepercayaan mempunyai koefisien sebesar 0,276 dengan arah positif. Hal ini menunjukan bahwa apabila kepercayaan meningkat maka nilai brand image meningkat pula. 67 d. Keahlian mempunyai koefisien sebesar 0,371 dengan arah positif. Hal ini menunjukan bahwa apabila keahlian meningkat maka nilai brand image meningkat pula. 4.7 Goodness Of Fit ( Uji Model ) Berdasarkan dari hasil regresi dapat juga dilakukan pengujian hipotesis uang diajukan dalam penelitian ini. Pengujian dilakukan dari hasil uji – t untuk uji secara parsial dan uji – F uji simultan. 4.7.1 Uji Signifikansi Simultan (F) Hasil uji – F antara daya tarik, kepercayaan dan keahlian terhadap brand image diperoleh hasil seperti pada tabel 4.16. Tabel 4.16 Hasil Uji – F ANOVA(b) Model Sum of Squares Df Mean Square 209.583 2.201 F Sig. 1 Regression 628.749 3 95.242 .000(a) Residual 211.251 96 Total 840.000 99 a Predictors: (Constant), X3 (Keahlian), X2 (Kepercayaan), X1 (Daya Tarik) b Dependent Variable: Y (Brand Image) Sumber : Data Yang Diolah,2015 Tingkat signifikan yang didapat lebih kecil (<) α = 0,05, sehingga menerima Ha yang menyatakan daya tarik, kepercayaan, keahlian secara simultan / bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap brand image. 68 4.7.2 Uji Parsial (t) Hasil uji – t antara daya tarik, kepercayaan, keahlian berpengaruh terhadap brand image diperoleh hasil seperti pada tabel 4.17. Tabel 4.17 Hasil Uji – t Model 1 (Constant) X1 (Daya Tarik) X2 (Kepercayaan) X3 (Keahlian) Beta -.464 .332 .276 .371 Sig. .717 .000 .000 .000 Sumber : Data Yang Diolah,2015 Berdasarkan hasil uji-t maka akan dapat dilakukan pembuktian sebagai berikut: 1. Pengaruh daya tarik terhadap brand image Hipotesis : H1 : daya tarik berpengaruh positif dan signifikan terhadap brand image Syarat penerimaan hipotesis : Hipotesis diterima sig. ≤ 0,05 dan koefisien regresi positif Hasil uji – t daya tarik = 0,332 dengan sig 0.000. tingkat signifikan yang didapat lebih kecil (<) α = 0,05, sehingga menerima H1 Yang menyatakan daya tarik berpengaruh positif dan signifikan terhadap brand image. 2. Pengaruh kepercayaan terhadap brand image Hipotesis : H2 : kepercayaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap brand image 69 Syarat penerimaan hipotesis : Hipotesis diterima sig. ≤ 0,05 dan koefisien Regresi Positif Hasil uji – t kepercayaan = 0,276 dengan nilai sig. 0,000. Tingkat signifikan yang didapat lebih kecil (<) α = 0,05, sehingga menerima H2 yang menyatakan kepercayaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap brand image. 3. Pengaruh keahlian terhadap brand image Hipotesis : H3 : keahlian berpengaruh positif dan signifikan terhadap brand image Syarat penerimaan hipotesis : Hipotesis diterima sig ≤ 0,05 dan koefisien regresi positif Hasil uji – t keahlian = 0,371 dengan sig. 0,000. Tingkat signifikan yang didapat lebih kecil (<) α = 0,05, sehingga menerima H3 yang menyatakan keahlian berpengaruh positif dan signifikan terhadap brand image. 4.8 Koefisien Determinasi (R2) Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan variable independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen (Gozali, 2006). Hasil koefisien dapat dilihat pada tabel 4.18. 70 Tabel 4.18 Hasil Koefisien Determinasi Model Summary(b) Std. Error Durbinof the Watson Estimate 1 .865(a) .749 .741 1.48342 2.063 a Predictors: (Constant), X3 (Keahlian), X2 (Kepercayaan), X1 (Daya Tarik) b Dependent Variable: Y (Brand Image) Sumber : Data Yang Diolah,2015 Model R R Square Adjusted R Square Koefisien determinasi dapat dilihat pada Adjusted R Square sebesar 0,741. Hal ini dapat diartikan bahwa variable daya tarik, kepercayaan, keahlian mampu menjelaskan brand image sebesar 74,1% (0,741x100%). Sementara untuk 25,9 (100% 74,1%) brand image pada Yamaha Mataram Sakti Semarang dipengaruhi oleh variabel selain daya tarik, kepercayaan dan keahlian. 4.9 Pembahasan 4.9.1 Pengaruh Daya Tarik Celebrity Endorser Terhadap Pembentukan Brand Image Pada pengujian pengaruh variabel daya tarik terhadap brand image dihasilkan nilai koefisien regresi sebesar 0,332 dan nilai signifikansi (0,000) < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa secara statistik daya tarik terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap brand image. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin baik daya tarik celebrity endorser yang dirasakan konsumen Yamaha Mataram Sakti Semarang maka semakin baik pula brand image. Sebaliknya, jika semakin rendah daya tarik celebrity endorser yang diterima maka semakin rendah pula pembentukan brand image nya. 71 Dalam hal ini daya tarik bukan hanya berarti daya tarik fisik, meskipun daya tarik bisa menjadi atribut yang sangat penting tetapi meliputi sejumlah karakteristik yang dapat dilihat khalayak dalam diri pendukung, kecerdasan, sifat-sifat kepribadian, gaya hidup, dan keatletisan postur tubuh (Shimp, 2003:465). Celebrity endorser dianggap sebagai seseorang yang secara fisik menarik dan dapat menyebabkan sikap yang positif dan respons perilaku dari konsumen. Dengan digunakannya selebriti sebagai bintang iklan suatu produk, daya tarik yang dimiliki oleh selebriti tersebut telah menjadi suatu dimensi penting terhadap image suatu produk yang diwakili. Konsumen cenderung membentuk kesan positif, dan lebih percaya terhadap selebriti sebagai bintang iklan karena daya tarik yang dimiliki oleh selebriti tersebut, sehingga dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dinny dan Edin S (2011) yang menyatakan bahwa sebuah iklan yang menggunakan selebriti terkenal sebagai endorsernya lebih menarik perhatian khalayak dibanding dengan yang tidak menggunakan selebriti terkenal. Dalam penelitian tersebut ditunjukan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan antara daya tarik celebrity endorser terhadap brand image. 4.9.2 Pengaruh Kepercayaan Celebrity Endorser Terhadap Pembentukan Brand Image Pada pengujian pengaruh variabel kepercayaan terhadap brand image dihasilkan nilai koefisien regresi sebesar 0,276 dan nilai signifikansi (0,000) < 0,05 maka dapat 72 disimpulkan bahwa secara statistik kepercayaan terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap brand image. Ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kepercayaan celebrity endorser yang diterima konsumen Yamaha Mataram Sakti Semarang maka semakin tinggi pula brand image. Sebaliknya, jika semakin rendah kepercayaan yang diterima maka semakin rendah pula pembentukan brand image nya. Kepercayaan yang timbul dibenak konsumen terhadap produk Yamaha Mio M3 tidak terbentuk begitu saja, sebab calon konsumen harus benar-benar meyakini bahwa pesan yang disampaikan oleh sumber iklan memang benar sesuai dengan keadaan. Oleh karena itu pemasar memilih selebriti untuk membintangi iklannya. Faktor kepercayaan yang dimiliki oleh selebriti sebagai sumber pesan dapat melekat dihati konsumen karena pesan yang disampaikan bintang iklan dianggap sesuai dengan kualitas yang ditawarkan oleh Yamaha Mio M3. Menurut Shimp (2003) keterpercayaan selebriti dapat dipercaya dan dianggap memiliki wawasan tentang isu tertentu, seperti kehandalan merek, akan menjadi orang yang paling mampu meyakinkan orang lain untuk mengambil suatu tindakan keputusan pembelian. Selebriti mewakili suatu gaya hidup yang ideal, dimana sebagian orang atau paling tidak penggemar dan pengikutnya ingin meniru gaya hidup tersebut. Melihat adanya perilaku pasar yang ingin meniru gaya hidup selebriti, perusahaan rela mengeluarkan sejumlah uang yang tidak sedikit untuk menggunakan selebriti dalam mempromosikan produk atau merek mereka. 73 Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bahram R, Zahra S, Zahra Momeni (2011) yang menyatakan bahwa kredibilitas celebrity sangat mempengaruhi persepsi konsumen terhadap merek suatu produk. Konsumen akan lebih percaya terhadap suatu produk yang dibintangi oleh celebrity yang memiliki kredibilitas tinggi. Dalam penelitian tersebut ditunjukan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan antara kepercayaan celebrity endorser terhadap brand image. 4.9.3 Pengaruh Keahlian Celebrity Endorser Terhadap Pembentukan Brand Image Pada pengujian pengaruh variabel keahlian terhadap brand image dihasilkan nilai koefisien regresi sebesar 0,371 dan nilai signifikansi (0,000) < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa secara statistik keahlian terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap brand image. Ini menunjukkan bahwa semakin tinggi keahlian celebrity endorser yang diterima konsumen Yamaha Mataram Sakti Semarang maka semakin tinggi pula brand image. Sebaliknya, jika semakin rendah keahlian yang diterima maka semakin rendah pula pembentukan brand image nya. Keahlian selebriti dalam memberikan kontak person terhadap produk yang dipromosikan mampu membawa konsumen untuk ikut serta dalam pemanfaatan produk perusahaan. Keahlian selebriti dapat mengacu mengenai informasi yang disampaikan oleh sumber pesan, dengan cara mempersepsikan produk yang dibawakan. Hal ini menunjang keterkaitan dengan produk atau merek yang mereka wakili (Noviandra, 2006: 68). 74 Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hartini dan Ike (2012) bahwa Faktor keahlian yang dimiliki oleh selebriti sebagai sumber pesan dapat menarik perhatian konsumen, karena selebriti tersebut sudah memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan dalam dunia periklanan. Dalam penelitian tersebut ditunjukan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan antara keahlian celebrity endorser image. terhadap brand 75 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Dari analisis yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : a. Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara daya tarik yang dimiliki Aliando Syarief sebagai celebrity endorser terhadap pembentukan brand image Yamaha Mio M3 di Yamaha Mataram Sakti Semarang. Hal ini juga dibuktikan dengan pengujian hipotesis yang menunjukan nilai koefisien regresi sebesar 0,332 dan nilai yang signifikan yaitu 0,000< 0,05. Hal ini berarti bahwa daya tarik berpengaruh positif dan signifikan terhadap brand image Yamaha Mio M3 di Yamaha Mataram Sakti Semarang. b. Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara kepercayaan yang dimiliki Aliando Syarief sebagai endorser terhadap brand image Yamaha Mio M3 di Yamaha Mataram Sakti Semarang. Hal ini juga dibuktikan dengan pengujian hipotesis yang menunjukan nilai koefisien regresi sebesar 0,276 dan nilai signifikan yaitu 0,000< 0,05. Hal ini berarti bahwa kepercayaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap brand image Yamaha Mio M3 di Yamaha Mataram Sakti Semarang. c. Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara keahlian yang dimiliki Aliando Syarief sebagai endorser terhadap brand image Yamaha Mio M3 di Yamaha Mataram Sakti Semarang. Hal ini juga dibuktikan dengan pengujian 76 hipotesis yang menunjukan koefisien regresi sebesar 0,371 dan nilai signifikan yaitu 0,000< 0,05. Hal ini berarti bahwa keahlian berpengaruh positif dan signifikan terhadap brand image Yamaha Mio M3 di Yamaha Mataram Sakti Semarang. 5.3 SARAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel daya tarik, kepercayaan, keahlian terbukti memiliki pengaruh yang nyata dalam membentuk brand image. Oleh sebab itu, untuk dapat meningkatkan pembentukan brand image maka saran-saran yang diajukan diarahkan pada ketiga variabel-variabel tersebut: 1. Hasil analisis dapat dilihat bahwa hasil nilai variabel yang paling tinggi adalah keahlian. Variabel keahlian celebrity endorser Aliando Syarif memiliki pengaruh yang paling dominan pada iklan Yamaha Mio M3 yang artinya bahwa keahlian celebrity endorser Aliando Syarif pada iklan Yamaha Mio M3 memberikan kontribusi yang paling besar. Oleh sebab itu keragaan Aliando Syarief yang bagus mampu memberikan nilai positif terhadap konsumen, bakat Aliando Syarif tidak diragukan lagi oleh konsumen, pengalaman Aliando Syarif sebagai seorang celebrity endorser mampu membuat konsumen percaya oleh produk yang diiklankan, keahlian Aliando Syarif dalam menarik konsumen lebih ditingkatkan lagi misal lebih menjiwai dalam memerankan iklan. 2. Hasil analisis dapat dilihat bahwa hasil nilai variabel yang tinggi adalah daya tarik . Daya tarik celebrity endorser Aliando Syarif juga memberikan kontibusi 77 yang besar pada iklan Yamaha Mio M3 oleh sebab itu kecerdasan celebrity endorser Aliando Syarief dalam berakting memerankan iklan Yamaha M3 sangat dibutuhkan, seringnya kemunculan Aliando Syarief di televisi membuat konsumen lebih mengenalnya, kepribadian Aliando Syarief yang baik sangat dibutuhkan dalam meningkatkan citra produk yang diiklankan, daya tarik fisik Aliando Syarief yang tampan dan proporsional mampu menjadi pusat perhatian konsumen terutama kalangan wanita, ketenaran Aliando Syarief sangat dibutuhkan untuk menunjang brand image karena dengan ketenaran persepsi konsumen terhadap brand image akan menigkat. 3. Hasil analisis dapat dilihat bahwa hasil nilai variabel yang rendah adalah kepercayaan . Kepercayaan celebrity endorser Aliando Syarief kurang memberikan kontibusi pada iklan Yamaha Mio M3 oleh sebab itu kejujuran Aliando Syarief dalam menyampaikan kualitas produk sebaiknya lebih ditingkatkan, agar pesan yang disampaikan pada iklan Yamaha Mio M3 mampu menimbulkan kepercayaan dibenak konsumen. 78 DAFTAR PUSTAKA A, Hardiman. 2006. Insomnia, Suatu Tinjauan Kesehatan Jiwa. Majalah Dokter Keluarga. 8 (2) : 107-112. Aaker, David A., 2006, Managing Brand Equity: Capitalizing on The Value of aBrand Name., United States of America, The Free Press. Ambadar, Jackie. AbidinMiranty dan Isa Yanty. 2007. Mengelola Merek. Yayasan Bina Karsa Mandiri. Jakarta. Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Aswita, Ayu Riri. 2006. Pengaruh Selebriti Pendukung (Celebrity Endorser) Aming terhadap keputusan memilih tontonan komedi Extravaganza pada warga Komplek Perumahan Wartawan Medan.Jurnal FE USU. Augusty, Ferdinand. 2006. Metode Penelitian Manajemen. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. BasuSwastha, dan T. Hani Handoko.( 2007 ). Manajemen Pemasaran : Analisa Perilaku Konsumen. Yogyakarta : LIBERTY. BasuSwastha, DH dan Irawan. 2006. Manajemen Pemasaran Modern, Liberty: Yogyakarta. Belch, George E, dan Belch, Michael A. 2004. Advertising and Promotion, An Integrated Marketing Communications Perspective, sixth edition. New York: McGraw-Hill/Irwin. .2007, Advertising and Promotion: An Integrated Marketing Communication Perspective, Fourth Edition, Mc-Graw Hill, New York. BilsonSimamora. 2004. Panduan Riset Perilaku Konsumen. PT. Gramedia Pustaka Utama:Jakarta. EndangSulistya, Dina. Pengaruh Agnes Monica Sebagai Celebrity Endorser Terhadap Pembentukan Brand Image Honda Vario.Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol.6, No.1, Januari 2012, Hal. 1 – 12. Drewiany dan Jewler. 2008. Creative Strategy in Advertising 9th edition. USA: Thomson Wadsworth. 79 Engel, James F. 2004. Consumer Behavior, Illinois: The Dryden Press. Eni, Heruwati. 2010. Analisis Pengaruh Daya Tarik, Kredibilitas dan Keahlian Celebrity Endorser Terhadap Keputusan Pembelian Sepeda Motor Yamaha Mio (Studi Pada konsumen PT Harpindo Jaya Jl. Dr. Cipto No.61 Semarang). Jurnal Manajemen Universitas Diponegoro. FandyTjiptono (2008). Service Management Mewujudkan Layanan Prima penerbit C. V Andi Offset edisi II Yogyakarta. Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS, Edisi Keempat, Penerbit Universitas Diponegoro. Hartini dan Ike Puspa. 2012. Pengaruh Pengunaan Faktor Celebrity Endorser (Daya Tarik, Kepercayaan, Keahlian) pada Iklan Shampoo Sunslik terhadap Pembentukan Brand Imgae. Ekomaks, Vol.1 No.1. https://yamahamataramsakti.wordpress.com/profil/visi/ Ibnu, Widiyanto, 2008. Pointers : Metodologi Penelitian. Semarang: BP Undip. Indrayani, Ni Wayan., Suwendra, I Wayan dan Ni NyomanYulianthini. 2015. Pengaru Kredibilitas, Daya Tarik, Keahlian Bintang Iklan Terhadap Keputusan Pembelian Sepeda Motor Yamaha Mio GT. Jurnal Manajemen, Vol.3, J. Paul Peter and Jerry C. Olson.2005. Consumer Behaviour, Perialaku Konsumen dan Strategi Pemasaran Edisi 4 Jilid 2. Penerbit Erlangga. Khasali, Rhenald. 2008. Manajemen Periklanan, Konsep dan Aplikasinya di Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Kotler, Keller. 2009. Manajemen Pemasaran 1. Edisi Tigabelas. Jakarta: Erlangga. Kotler, Philip and garyAmstrong. 2008. Principles of Marketing. 10 Edition. New Jersey: prentice hall. Kotler, Phillip dan Keller, Kevin Lane. 2007. Manajemen Pemasaran. Edisi 12. Jakarta: PT. Macanan Jaya Cemerlang. Krisyantono, Rachmat. 2008. Teknik Praktis Riset Komunikasi: Disertai Contoh Praktis Riset Pemasaran Media, Public Relation, Advertising, Komunikasi Organisasi, Komunikasi Pemasaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Liliweri, Alo. 2008. Dasar-Dasar Komunikasi Kesehatan. Yogyakarta: Pustaka pelajar. Loudon, David L., and Albert J. Della Bitta. 2006. Consumer Behavior: Concept and Applications, The United State of Amerika: McGraw-Hill Inc. 80 Machfoedz, Mas‟ud dan Mahmud Machfoedz. 2005. Kewirausahaan Metode, Manajemen, Implementasi. Yogyakarta: BPFE-Ygyakarta. Manik, Nova. 2012. Pengaruh Brand Positioning Sepeda Motor Merek Yamaha Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Pada Mahasiswa Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.Jurnal Universitas Sumatra Utara. Mowen dan Miror.Perilaku Konsumen. Penerbit Erlangga. Jakarts. 2004 Noviandra K, W Mahestu.2006. Evaluasi Citra Produk dan Accessbilitypada Perilaku Perpindahan Merek Pembelian Produk Pemutih Kulit.MODUS, Vol. 18, No. 1, h. 62-72. Rahmawati, Nur. 2013. Pegaruh Peggunaan Celebrity Endorser Dalam Iklan Sabun Mandi Lux Terhadap Perilaku Konsumen di Kelurahan Sungai Dama Samarinda: ejournal. ilkom. fisip-unmul. org. Rd. Soemanagara. 2006. Strategic Marketing Strategisdan Terapan. Jakarta: Alfabeta. Communication-Konsep Royan, Frans M. 2005. Marketing Celebrities.Jakarta : PT. Elex Media Komputindo. Dini, Edin.S. 2011. Pengaruh Celebrity Endorser Ayu Ting-Ting dalam Iklan Televisi Terhadap Brand Image Produk Mie Sarimi. Jurnal Manajemen STIE MPD. Schiffman, Leon, &Kanuk, Leslie Lazar. 2008. Edition(Perilaku Konsumen). Jakarta: PT. Indeks. Consumer Behaviour 7th Setiadi, Nugroho J. 2003. Perilaku Konsumen. Jakarta: Prenata Media. Shimp, A.T. 2003.Periklanan Promosi. Terjemahan oleh Revyani. Jakarta: Erlangga. .2007, Integrated Marketing Communication In Advertising and Promotion, Edisi Ketujuh, New York, McGrawHill. Sugiono. 2008. Metodelogi Bandung:Alfabeta. .2010. Metodelogi Bandung:Alfabeta. Penelitian Penelitian Kuantitatif Kuantitatif Kualitatif Kualitatif dan R&D. dan R&D. Suryani, Tatik. 2008. Perilaku Konsumen: Implikasi pada Strategi Pemasaran. Edisi 1. Yogyakarta: Graha Ilmu. 81 Suyanto M. 2006.Strategi Perancangan Dunia.Yogyakarta: Penerbit ANDI. Iklan Televisi Perusahaan Top Umar, Husen. 2013. Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis.Edisi kedua.Cetakan 12.PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.