21 HASIL DAN PEMBAHASAN Penyebaran Gulma

advertisement
21
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penyebaran Gulma Invasif di Kebun Raya Bogor
Setelah dilakukan pengamatan dan pencatatan langsung di lapang, maka
dapat diketahui tingkat penyebaran gulma invasif yang ada di Kebun Raya Bogor
dengan mendata setiap lokasi vak yang terserang oleh gulma tersebut yang tersaji
dalam Tabel 2. Terdapat tujuh spesies gulma yang dipilih berdasarkan informasi
yang diberikan oleh pihak KRB. Gulma-gulma tersebut sebelumnya sudah
menjadi perhatian khusus di KRB dan sebelumnya telah dilakukan penelitian
terhadap salah satu jenis gulma yaitu Cissus sicyoides Blume. Berdasarkan ploting
dan pengamatan langsung di lapang kemudian dilakukan proses digitasi dengan
software ARCview GIS 3.3 untuk menghitung banyaknya titik penyebaran dan
luas penutupan masing-masing spesies gulma invasif yang ada di Kebun Raya
Bogor (Gambar 5).
Pada Tabel 2 dan Tabel 3 dapat dilihat bahwa tidak semua jenis gulma
dengan tingkat penyebaran yang tinggi memiliki luas penutupan yang besar.
Habitus gulma dan bentuk tajuk mempengaruhi luas penutupannya, seperti kasus
gulma Mikania micrantha dan Cecropia adenopus. Lokasi dan titik penyebaran
Cecropia adenopus lebih besar dibandingkan dengan Mikania micrantha, namun
dalam satu titik penyebaran, luas penutupan Mikania micrantha jauh lebih besar.
Mikania micrantha merupakan tanaman merambat yang memiliki kemampuan
membentuk naungan yang cukup besar dalam waktu singkat.
Pola penyebaran gulma invasif di Kebun Raya Bogor erat kaitannya
dengan karakteristik botani gulma tersebut, terutama mekanisme perbanyakan dan
cara penyebarannya. Gulma invasif yang mekanisme perbanyakannya secara
vegetatif
menyebar tidak jauh dari tanaman induknya.
Organ perbanyakan
vegetatif pada umumnya tidak mampu menyebar jauh, kecuali ada bantuan dari
manusia.
Namun demikian gulma dengan perbanyakan vegetatif cenderung
memiliki kemampuan pertumbuhan yang cepat, sehingga mampu mendominasi
areal dan menyerang tanaman koleksi. Gulma invasif di Kebun Raya Bogor yang
perbanyakannya secara vegetatif adalah Dioscorea bulbifera L., Cissus sicyoides
22
Blume., Mikania micrantha H.B.K. dan Cissus nodosa Blume. Pengamatan di
lapang menunjukan gulma-gulma itu dijumpai menyebar secara kelompok.
Tabel 2. Lokasi Penyebaran Gulma Invasif di Kebun Raya Bogor
Lokasi Penyebaran (vak)
∑
vak
Frekuensi
Mutlak
(%)
Dioscorea
bulbifera L.
I.F , VI.C , XI.D , XII.A , XII.C, XII.E ,
XIII.J , XV.A , XV.B , XV.C , XV.D ,
XV.E , XV.F , XV.G , XV.J a.b , XVI.A ,
XVI.G , XVII.B , XVII.D , XVII.E ,
XVII.G , XVIII.A , XVIII.B , XVIII.D ,
XIX.A , XIX.B , XIX.D , XIX.F , XIX.G ,
XIX.H , XIX.I , XIX.K , XIX.M , XIX.N ,
XIX.Z , XX.B , XX.D , XX.E , XXIII ,
XXIV.A , XXIV.B , XXIV.C , XXV.A ,
XXV.B
44
22.91%
Ficus elastica
Roxb.
I.K , I.L , II.C , III.E , III.J , III.K , IV.B ,
IV.C , IV.F , V.L , VI.B , VI.C , VIII.D ,
IX.D , XI.D , XII.A , XII.B , XII.C, XII.E
, XV.I , XV.J a , XVI.F , XVIII.D , XIX.M
, XXIV.A , XXIV.B , XXIV.C, XXV.A
28
14.58%
Cecropia
adenopus
Mart. ex Miq.
I.B , II.F , II.L , II.K , II.P , III.G , IV.A
IV.B , IV.D , IV.H , V.L , VI.C , VII.E
VIII.D , XI.A , XI.D , XII.C , XIII.J
XVII.B , XIX.K , XIX.M , XXIII
XXIV.A , XXIV.B , XXV.A , XXV.B
26
13.54%
Cissus
sicyoides
Blume.
II.F , II.L , II.O , II.P , III.G , III.L , IX.D ,
XII.B , XII.C , XII.E , XV.A , XV.B ,
XV.C , XV.F , XV.G , XV.I , XVI.A ,
XVI.F , XVII.E , XVIII.A , XVIII.D ,
XIX.G , XXIV.B , XXIV.C , XXV.A
25
13.02%
Cissus nodosa
Blume.
II.F , II.P , IV.I , V.H , XII.A , XII.C ,
XII.E , XV.C , XV.K , XVII.D , XIX.A ,
XIX.C , XIX.M , XIX.N , XX.D , XXIII ,
XXIV.A , XXV.A
18
9.37%
Mikania
micrantha
H.B.K.
II.L , II.O , II.Q , IV.H , XI.A , XVII.B ,
XVII.D , XVII.E , XVIII.B , XVIII.D ,
XX.D , XXIV.A , XXV.A
13
6.77%
7
3.64%
Nama Spesies
Paraserianthes
I.B , I.I , II.C , II.D , II.F , II.L , II.K
falcataria
Keterangan : Frekuensi Mutlak =
,
,
,
,
Gambar 5. Penyebaran Gulma Invasif di Kebun Raya Bogor
23
24
Tabel 3. Jumlah Titik Penyebaran dan Luas Penutupan Gulma Invasif di
Kebun Raya Bogor
No
Nama spesies
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Dioscorea bulbifera L.
Ficus elastica Roxb.
Cissus sicyoides Blume.
Mikania micrantha H.B.K
Cecropia adenopus Mart. ex Miq.
Cissus nodosa Blume.
Paraserianthes falcataria
Jumlah Titik
Penyebaran
138
94
94
32
53
68
14
Luas Penutupan
Total (m2)
5 641.0
2 585.0
2 154.0
1 642.5
1 457.5
873.1
385.0
Gulma invasif yang perbanyakannya melalui biji dan penyebarannya
dibantu oleh angin atau hewan mampu menyebar lebih jauh dari tanaman
induknya.
Ficus elastica Roxb., Cecropia adenopus Mart. ex Miq. dan
Paraserianthes falcataria merupakan jenis gulma invasif di Kebun Raya Bogor
(KRB) yang dijumpai di lapang menyebar secara acak. Jenis gulma tersebut
penyebaran bijinya dibantu oleh angin dan hewan.
Pada periode tahun 2003 – 2004 terdapat 56 jenis burung dari 46 marga
yang ada di Kebun Raya Bogor, dengan kelimpahan 10 – 50 individu tiap jenisnya
(Tirtaningtyas, 2004). Burung – burung tersebut memanfaatkan pepohonan yang
terdapat di KRB sebagai tempat melakukan aktivitas sehari-hari. Salah satu pohon
yang dimanfaatkan burung adalah Ficus sp. Berdasarkan hasil pengamatan
Tirtaningtyas (2004) terhadap aktivitas burung di KRB, Ficus sp memiliki nilai
fungsi jenis tumbuhan untuk aktivitas burung sebagai tempat makan sebesar
5.21%, sebagai tempat istirahat 5.88%, sebagai tempat gerak berpindah sebesar
5.21%, sebagai tempat bersosialisasi sebesar 4.54% dan tempat vocal sebesar
22.83%. Pohon albasia (Paraserianthes falcataria) memiliki nilai fungsi sebagai
tempat bersosialisasi dan sebagai tempat vocal sebesar 4.54%.
Kebun Raya Bogor juga merupakan tempat tinggal beberapa jenis kalong,
salah satunya adalah Kalong Kapauk (Pteropus vampyrus). Berdasarkan hasil
inventarisasi Rukmana (2003) di Kebun Raya Bogor terdapat 13 pohon dari tujuh
spesies yang dihuni oleh Kalong Kapauk. Salah satu pohon yang menjadi tempat
tinggal jenis kalong ini adalah Ficus elastica.
Dari hasil pengamatan, Ficus
25
elastica dihuni oleh 269 ekor kalong pada pagi hari dan 284 ekor pada sore hari
(Rukmana, 2003). Berdasarkan penelitian Tirtaningtyas (2004) dan Rukmana
(2003), diduga burung dan kalong merupakan media penyebar propagul biji
F.elastica dan P.falcataria yang kemungkinan termakan kemudian disebarkan
melalui kotoran atau menempel pada tubuh kalong dan burung.
Selain melalui media angin dan hewan, aktivitas pengunjung diduga
memberikan peran dalam penyebaran beberapa jenis gulma yang ada di KRB.
Pengunjung KRB (Tabel 4) dapat secara sengaja ataupun tidak sengaja membawa
dan memindahkan propagul gulma dari satu tempat ketempat yang lain.
Tabel 4. Jumlah Pengunjung Kebun Raya Bogor Berdasarkan
Kewarganegaraan
Wisatawan
Total
Asing
Domestik
2003
16 183
1081 221
1 097 404
2004
13 913
928 425
942 338
2005
13 209
944 270
957 479
2006
12 408
896 905
909 313
2007
16 055
939 757
955 812
2009
17 538
779 510
797 048
2010
20 218
824 803
845 021
Sumber: Laporan Tahunan PKT Kebun Raya Bogor (2003- 2010)
Tahun
Pada mulanya empat diantara tujuh spesies gulma tersebut adalah tanaman
koleksi di Kebun Raya Bogor yaitu Dioscorea bulbifera L., Cissus sicyoides
Blume., Cissus nodosa Blume. dan Paraserianthes falcataria. Keempat spesies
gulma tersebut memiliki kemampuan perbanyakan diri yang cepat, sehingga lamakelamaan menyebar dan menyerang tanaman koleksi lain yang ada di KRB. Tiga
jenis gulma lainnya tidak berasal dari KRB, seperti misalnya Mikania micrantha
yang juga merupakan gulma umum di wilayah pertanian. Spesies Ficus elastica
Roxb. dan Cecropia adenopus Mart. ex Miq yang saat ini masih belum diketahui
asal mula penyebarannya di KRB.
Dioscorea bulbifera L.
Dioscorea bulbifera L merupakan spesies gulma dengan tingkat serangan
paling tinggi (Deskripsi spesies disajikan pada Lampiran 1). Jenis Dioscorea ini
26
merupakan jenis tanaman merambat dengan bentuk daun yang lebar. Spesies ini
merupakan tanaman koleksi yang kemudian menyebar di sebagian wilayah KRB.
D.bulbifera L menjadi masalah di Kebun Raya Bogor karena perbanyakan dan
pertumbuhannya sangat cepat, mampu tumbuh baik dalam kondisi ternaungi atau
dalam kondisi terbuka.
Selain sifat-sifat tersebut gulma D.bulbifera L juga
merugikan tanaman koleksi yang menjadi inangnya. Mekanisme serangan spesies
ini awalnya melilit pada batang tanaman inangnya. Lama-kelamaan tumbuh
semakin ke atas dan menutup seluruh tajuk (Gambar 6).
Berdasarkan
pengamatan, serangan D.bulbifera L pada Vak XX.B sudah terjadi dalam kurun
waktu yang cukup lama. Apabila hal ini dibiarkan akan menyebabkan tanaman
inang tidak mampu berfotosintesis dan pada akhirnya akan mati. Secara agronomi,
Dioscorea merupakan tanaman pangan kelompok umbi-umbian. Hidajat (1993)
menggolongkan D.bulbifera L sebagai sumber pangan. Umbi udara D.bulbifera L
juga berperan sebagai organ perbanyakan.
Gambar 6. Serangan Dioscorea bulbifera L pada Vak XX.B
Serangan paling parah dari jenis Dioscorea ini terdapat pada vak XI.D ,
XII.B , XII.C, XVII.G dan XX.B . Koleksi pada vak XI.D yang diserang antara
lain famili Burseraceae, Meliaceae, Sapotaceae. Vak XII.B dan XII.C koleksi
yang diserang antara lain famili Anacardiaceae, Annonaceae, Apocynaceae,
Caesalpiniaceae, Dipterocarpaceae, Euphorbiaceae, Lecythidaceae, Magnoliaceae,
Meliaceae, Moraceae, Myrtaceae, Papilionaceae, Rubiaceae, Sapindaceae,
Saptaceae, Sterculiaceae, Ulmaceae, Urticaceae, Verbenaceae. Pada vak XVII.G
famili yang diserang antara lain Celastraceae, Ebenaceae dan Rhamnaceae. Pada
vak XX.B koleksi famili yang diserang adalah Annonaceae, Lauraceae,
Proteaceae, Verbenaceae. Gulma D.bulbifera L lebih dominan pada sisi Tenggara
27
Wilayah KRB. Hal tersebut dikarenakan gulma ini merupakan tanaman koleksi
yang berasal dari wilayah tersebut yaitu tepatnya berasal dari vak XV.B
(Gambar 7).
D.bulbifera L.
Gambar 7. Peta Penyebaran D.bulbifera L. di Kebun Raya Bogor
Mikania micrantha H.B.K
Mikania micrantha H.B.K merupakan gulma yang umum menyerang areal
pertanian (Deskripsi spesies disajikan pada Lampiran 4). Gulma ini mendapat
perhatian khusus pada perkebunan karet karena spesies ini mempunyai senyawa
allelopati yang menekan pertumbuhan karet (Nasution, 1986). Mikania micrantha
H.B.K merupakan tumbuhan herba yang merambat, sering dijumpai pada kondisi
lahan yang sedikit terganggu. Di KRB gulma ini lebih sering ditemukan pada sisa
batang pohon yang telah mati atau pada tumpukan serasah. Selain itu sering juga
ditemukan pada daerah ruderal seperti tepi kolam, tepi sungai dan juga tumbuh
28
merambat di pagar-pagar. Meskipun biasa dijumpai pada areal ruderal, di
beberapa vak serangan M. micrantha cukup parah bahkan hampir menutup tajuk
sejumlah tanaman koleksi sehingga menghambat proses fotosintesis (Gambar 8).
Gulma M. micrantha menyerang tanaman koleksi Agave vivivara yang terdapat di
vak II.O. Pada beberapa titik penyebaran gulma ini juga ditemukan berasosiasi
dengan gulma merambat lainnya dalam menyerang tanaman koleksi.
Gambar 8. Serangan Mikania micrantha H.B.K pada Vak II.O
Gulma Mikania micrantha kurang mendapat perhatian dalam pengendalian
gulma di KRB karena menyerang lebih banyak pada lingkungan ruderal
dibandingkan di lingkungan koleksi. Kerugian yang lebih sering ditimbulkan
Mikania micrantha adalah mengurangi keindahan lanskap di KRB. Namun
demikian gulma ini berpotensi besar dapat menyerang tanaman inang secara luas
karena Mikania micrantha mudah berkembang biak baik melalui biji maupun dari
potongan batangnya. Pengendalian manual yang efektif adalah melalui
pendongkelan dan harus diiringi dengan pengayapan dan penyingkiran dari
permukaan tanah agar tidak tumbuh kembali (Nasution, 1986).
Beberapa vak mengalami serangan Mikania micrantha yang cukup
dominan pada bagian-bagian tertentu antara lain vak II.Q, II.O, XVII.B, XXIV.A,
dan XXV.A (Gambar 9). Pada vak II.Q gulma ini menyebar dan mendominasi
wilayah di tepi kolam II.Qc serta menyerang beberapa pohon palem yang berada
di sekitar kolam. Pada vak II.O gulma ini mengelompok pada satu sisi yaitu
sebelah selatan wilayah vak II.O. Beberapa jenis koleksi yang diserang antara
lain tanaman Agave vivivara dan koleksi dari famili Cactaceae. Pada vak XVII.B
gulma ini menutupi sebagian tajuk pada sejenis tanaman pagar, tumbuh pada sisa
tanaman yang mati dan menyebar di sepanjang tepi sungai. Pada vak XXIV.A
29
gulma ini tumbuh pada sisa batang pohon yang mati, pada tumpukan serasah dan
yang paling dominan tumbuh di sepanjang pagar KRB. Pada vak XXV.A gulma
ini tumbuh mengelompok pada pagar yang berada di tepi aliran sungai.
M.micrantha H.B.K
Gambar 9. Peta Penyebaran M.micrantha H.B.K di Kebun Raya Bogor
Cecropia adenopus Mart. ex Miq
Cecropia adenopus Mart. ex Miq adalah tanaman pengganggu berhabitus
pohon di KRB (Deskripsi spesies disajikan pada Lampiran 11).
Gulma ini
merupakan tipe tumbuhan pioneer yang tumbuh secara acak baik pada lingkungan
ruderal dan diantara tanaman koleksi yang ada di KRB.
Namun demikian
pertumbuhan gulma ini lebih baik pada lingkungan ruderal. Pada lingkungan
ruderal gulma ini banyak dijumpai di pagar-pagar, tepi sungai dan beberapa di tepi
jalan setapak. Pada beberapa vak gulma ini tumbuh diantara sela-sela batang
utama pohon yang berukuran besar (Gambar 10) dan juga tumbuh diantara
tanaman koleksi yang berhabitus semak. Kerugian yang ditimbulkan memberikan
30
dampak lebih besar pada aspek visual lingkungan ruderal dibanding kompetisinya
dengan tanaman koleksi yang ada di KRB.Penyebaran gulma ini dapat dilihat
pada Gambar 11. Penyebaran gulma ini merata hampir di semua bagian KRB.
(b)
(a)
Gambar 10. Serangan C.adenopus Mart. ex Miq di Kebun Raya Bogor
(a) C. adenopus yang Telah Berumur Kurang Lebih 5 Tahun
(b) C. adenopus Berumur Kurang dari 1 Tahun yang Menempel
pada Pohon Bungur (Lagestroemia loudinii)
C.adenopus Mart. ex Miq
Gambar 11. Peta Penyebaran C.adenopus Mart. ex Miq di Kebun Raya Bogor
31
Ficus elastica Roxb
Ficus elastica Roxb merupakan tanaman pengganggu di KRB dan
termasuk dalam keluarga beringin (Moraceae) yang tumbuh epifit (Deskripsi
spesies disajikan pada Lampiran 5). Gulma ini memiliki sifat yang merugikan
inangnya yaitu melilit batang tanaman inang sehingga terlihat seperti mencekik
yang mengakibatkan laju respirasi terganggu. Gulma ini memiliki beberapa tahap
mekanisme serangan pada tanaman inang. F. elastica Roxb muda awalnya hidup
epifit diantara percabangan batang utama tanaman inangnya (Sastrapradja, 1984).
Secara perlahan akar F. elastica Roxb muda mulai tumbuh menuju permukaan
tanah. Akar-akar tersebut membelit batang utama tanaman inang hingga rapat dan
mulai menutupi seluruh permukaan batang (Gambar 12).
elastica Roxb
Pada tahap ini F.
tidak lagi tumbuh secara epifit, karena akar-akarnya mampu
mengambil nutrisi dari tanah. Selanjutnya, akar-akar yang membelit batang utama
inangnya mulai menyatu kemudian menjadi satu kesatuan batang yang solid dan
kokoh. Kanopi F. elastica Roxb dewasa mampu menutup tajuk tanaman inang,
sehingga menghambat masuknya cahaya matahari. Pada akhirnya F. elastica
Roxb akan mengakibatkan kematian pada tanaman inang.
Gambar 12. Serangan Ficus elastica Roxb pada Vak IV.F
Penyebaran gulma ini merata di seluruh kawasan KRB.
Lokasi
penyebaran Ficus elastica Roxb di KRB hanya pada wilayah yang memiliki
banyak koleksi pohon-pohon besar yang ditunjukkan pada Gambar 13. Gulma F.
elastica Roxb memiliki kecenderungan terhadap tanaman yang akan dijadikan
32
inangnya diantaranya memilih pohon besar dengan tinggi lebih dari 10 m
,memiliki kulit kayu yang kasar dan mempunyai ruang diantara percabangan
batang utamanya.
Sifat pohon yang demikian mendukung benih dari Ficus
elastica Roxb untuk berkecambah dan bertahan hidup. F. elastica Roxb sering
dijumpai hidup secara soliter dalam setiap satu pohon yang dijadikan inangnya.
Beberapa koleksi pohon yang diserang oleh gulma Ficus elastica Roxb
diantaranya famili Anacardiaceae, Arecaceae, Burseraceae, Fabaceae, Lauraceae,
Meliaceae, Moraceae, Myrtaceae, Protaceae, Sabiaceae, Sapindaceae dan
Sapotaceae.
F.elastica Roxb
Gambar 13. Peta Penyebaran F. elastica Roxb di Kebun Raya Bogor
33
Paraserianthes falcataria
Paraserianthes falcataria atau yang lebih dikenal dengan Albasia,
merupakan tanaman berhabitus pohon (Deskripsi spesies disajikan pada Lampiran
3). Di KRB pohon besar ini merupakan koleksi di Vak II.C. Pohon ini menjadi
gulma karena penyebaran bijinya yang banyak cukup mengganggu pada koleksi
lain yang berada di sekitarnya. Gangguan yang ditimbulkan tumbuhan Albasia
muncul diantara tanaman koleksi, apabila tajuk pohon semakin lebar dan
mengurangi cahaya matahari bagi tanaman di bawahnya. Namun demikian hingga
saat ini belum ada kerugian yang signifikan terhadap tanaman inang. Kerugian
yang ditimbulkan lebih berdampak kepada penurunan kualitas visual lanskap pada
beberapa vak di Kebun Raya Bogor.
Penyebaran Albasia hanya mencakup wilayah vak yang berada tidak
terlalu jauh dengan sumber inokulum. Penyebaran biji yang dibantu oleh angin
menyebabkan tumbuhan ini menyebar acak. Kondisi di lapang menunjukan
semakin dekat lokasi vak dengan sumber inokulum, maka semakin tinggi jumlah
individu Albasia yang tumbuh. Lokasi vak yang cukup banyak mendapat
gangguan dari spesies ini antara lain vak II.O dan vak II.D. Jenis koleksi yang
terganggu pada umumnya berhabitus semak atau perdu (Gambar 14). Seperti
misalnya pandan (Pandanaceae) dan Cycadanaceae.
Gambar 14. Serangan Paraserianthes falcataria pada Vak II.D
Tingginya penyebaran Albasia ini diduga bukan dianggap tanaman
pengganggu oleh pengelola KRB.
Kerugian yang ditimbulkan lebih kepada
dampak visual lanskap vak yang diserang. Gulma ini juga kurang mendapatkan
perhatian dalam pengendalian gulma di KRB karena pertumbuhannya yang
lambat dan penyebarannya tidak luas (Gambar 15) . Kayu Albasia memiliki nilai
34
ekonomi dan pada waktu-waktu tertentu pohon tersebut ditebang untuk diambil
kayunya. Selain itu daun-daun Albasia yang berguguran diharapkan akan
menyuburkan lahan.
P.falcataria
Gambar 15. Peta Penyebaran P.falcataria di Kebun Raya Bogor
Cissus sicyoides Blume. dan Cissus nodosa Blume.
Cissus sicyoides Blume dan Cissus nodosa Blume merupakan spesies
berhabitus liana dari suku Vitaceae (Deskripsi spesies disajikan pada Lampiran 2
dan 12). Ciri khusus yang membedakan keduanya adalah pada Cissus sicyoides
Blume memiliki daun sedikit lebih tebal, bergerigi dan batangnya memiliki
lapisan lilin, sedangkan Cissus nodosa Blume memiliki warna daun yang lebih
gelap, daun tidak bergerigi dan tidak memiliki lapisan lilin pada batangnya.
Gulma Cissus sicyoides Blume dan Cissus nodosa Blume menjadi perhatian di
KRB karena kedua jenis gulma ini sangat mudah berkembang biak. Gulma jenis
35
cissus mampu memperbanyak diri hanya melalui potongan kecil dari bagian
batang atau akar hawanya. Sifat yang merugikan dari tanaman ini antara lain lebih
menyukai tempat di bagian atas tajuk pohon, sehingga dapat menghambat
masuknya sinar matahari dan mengakibatkan terganggunya proses fotosintesis
yang menyebabkan kematian pada tanaman inang (Agustin, 2005). Pola serangan
C.sicyoides berbeda dengan serangan C.nodosa. C.sicyoides menyerang tanaman
inang dengan menutup bagian atas tajuk tanaman, sedangkan
C.nodosa
menyerang dengan menggantung dari bagian atas tajuk hingga mecapai ke
permukaan tanah (Gambar 16).
(a)
(b)
Gambar 16. Serangan Cissus spp di Kebun Raya Bogor
(a) Serangan Cissus sicyoides Blume pada Vak II.O
(b) Serangan Cissus nodosa Blume pada Vak II.F
Berdasarkan Roemantyo dan Purwantoro (1990), kecenderungan Cissus
sicyoides Blume. sebagai gulma pada pohon, tercatat telah merambati 38 suku, 97
genus, dan 117 jenis pohon di KRB. Suku Fabaceae merupakan yang paling
banyak ditumbuhi oleh Cissus. Terdapat 15 jenis yang tergolong dalam 12 genus.
Famili lain adalah Arecaceae (12 jenis, 9 genus), Apocynaceae (6 jenis, 6 genus),
Dipterocarpaceae (8 jenis, 5 genus), Lauraceae (8 jenis, 5 genus) dan Verbenaceae
(6 jenis, 5 genus). Selain bentuk pohon, Cissus juga menyerang koleksi perdu
seperti bambu (Poaceae), Agavaceae, Pandanaceae dan koleksi tumbuhan
merambat seperti Araceae. Bila dibandingkan dengan jumlah spesimen koleksi
tanaman yang berbentuk pohon, sekitar 2.66% pohon koleksi telah dijalari oleh
gulma Cissus sicyoides Blume. Cissus sicyoides Blume tidak hanya menjadi
masalah di KRB saja. Berdasarkan database Seameo Biotrop tahun 2011 saat ini
Cissus sicyoides Blume telah menjadi spesies invasif yang umum di Indonesia
terutama di Jawa Barat, Bali dan Sulawesi (SEAMEO, 2011).
36
Cissus sicyoides Blume dan Cissus nodosa Blume adalah tanaman koleksi
yang sebelumnya hanya berada di vak XVII.F dan XI.B. Penyebaran spesies ini
cukup cepat, sehingga mendominasi pada beberapa vak di KRB, antara lain II.O
(Taman Mexico), II.P, II.F, XVII.I, XX.B dan sebagian XXIV.B (Gambar 17 dan
18). Koleksi yang diserang pada vak II.O adalah jenis kaktus atau termasuk
dalam famili Cactaceae. Beberapa koleksi yang terserang Cissus pada vak II.P
diantaranya famili Acanthaceae, Caesalpiniaceae, Euphorbiaceae, Myrtaceae, dan
Papilionaceae.
Araceae
Pada vak II.F jenis koleksi yang diserang antara lain famili
dan Icacinaceae. Pada vak XVII.I menyerang koleksi Annonaceae,
Clusiaceae, Ebenaceae, Icacinaceae, Lauraceae, Lecthdaceae, Rutaceae dan
Meliaceae. Pada vak XX.B menyerang sebagian pohon pinus dan tumbuh
sepanjang pagar KRB. Pada vak XXIV.B menyerang jenis palem dan tumbuh
sepanjang pagar pembatas vak XXIV.B dan XXIV.C.
C. sicyoides Blume
Gambar 17. Peta Penyebaran C. sicyoides di Kebun Raya Bogor
37
C. nodosa Blume
Gambar 18. Peta Penyebaran C. nodosa Blume di Kebun Raya Bogor
Pengelompokan Gulma Invasif
Pengelompokan gulma dilakukan dengan metode skoring (penilaian) yang
dikembangkan oleh Hiebert dan Stubbendieck (1993), dan dimodifikasi oleh
Tjitrosoedirdjo (2010).
Terdapat 20 kriteria penilaian untuk masing-masing
gulma dengan total nilai maksimal yang mungkin adalah 100 poin. Menurut
Stubbendieck et al. (1992) spesies gulma yang memiliki poin lebih dari 50 dapat
memberikan dampak signifikan yang mengganggu dan memerlukan pengendalian
yang cermat.
Pada Tabel 5 menunjukkan peringkat gulma invasif di KRB. Spesies
gulma yang dianggap mengganggu dan memerlukan pengendalian yang cermat,
secara berurutan dari peringkat pertama adalah Mikania micrantha H.B.K total
38
nilai 78 poin, Cissus sicyoides L total nilai 75 poin, Dioscorea bulbifera L total
nilai 69 poin, Cissus nodosa L total nilai 67 poin, Ficus elastica Roxb total nilai
56 poin. Sedangkan spesies gulma yang dianggap tidak membahayakan
biodiversitas di KRB adalah Paraserianthes falcataria total nilai 48 poin dan
Cecropia adenopus total nilai 45 poin. Nilai masing-masing gulma kemudian
diolah menggunakan program Minitab 14 untuk melihat pengelompokkan
(Gambar 19).
Tabel 5. Penilaian Gulma Invasif di Kebun Raya Bogor
Spesies
C.
D.
C.
F.
Kriteria M.
P.
C.
micrantha sicyoides bulbifera nodosa elastica
falcataria adenopus
H.B.K
L.
L.
L.
Roxb.
1
2
2
1
2
1
4
3
2
1
2
3
2
1
2
3
3
4
5
6
7
8
9
10
11
2
5
5
5
3
5
3
5
3
4
5
5
5
5
5
3
5
0
4
3
5
5
3
5
3
0
3
4
5
5
5
5
5
3
5
0
0
3
5
3
0
5
5
5
3
2
0
5
3
0
5
5
5
3
2
0
5
3
0
5
3
5
3
12
13
14
15
16
17
18
19
3
5
5
3
5
3
5
5
3
5
5
0
3
5
5
4
3
5
5
0
3
5
5
0
3
5
5
0
3
3
5
0
3
3
3
0
3
0
5
0
3
3
3
0
3
0
0
0
0
3
3
0
3
0
0
0
20
∑
5
5
5
5
5
5
5
78
75
69
67
56
48
45
39
Hasil Analisis Pengelompokkan menggunakan Minitab 14 menunjukan
tingkat kemiripan tujuh spesies gulma dan proses aglomerasi antar spesies gulma
penting di KRB (Tabel 6). Secara umum, tingkat agresifitas gulma memiliki
kesamaan yaitu sekitar 73%. Cecropia adenopus Mart. ex Miq dan
Paraserianthes falcataria memiliki tingkat kemiripan tertinggi sebesar 94.2051%.
Kedua spesies tersebut merupakan gulma yang memiliki nilai terkecil dan
dianggap tidak berbahaya. Gulma dengan skor terbesar Mikania micrantha H.B.K
memiliki tingkat kemiripan tertinggi dengan gulma Cissus sicyoides Blume dan
Cissus nodosa Blume sebesar 82.2538%. Pada tingkat persamaan 80%, spesies
invasif tergabung dalam tiga grup.
Tabel 6. Analisis Pengelompokkan Minitab 14 dari Variabel: D. bulbifera
L., F. elastica Roxb., C. sicyoides L., M. micrantha H.B.K., C.
adenopus, C. nodosa L. dan P. falcataria
Langkah
1
Tingkat
Nomor
Nomor
Tingkat Kelompok Kelompok
Kemiripan
Kelompok
Kelompok
Jarak
Tergabung
Baru
(%)
Baru
6
94.2051 0.115897
5 7
5
2
2
5
91.7379
0.165242
2
3
2
2
3
4
86.3497
0.273006
4
5
4
3
4
3
82.2538
0.354925
2
6
2
3
5
2
76.6799
0.466402
1
2
1
4
6
1
73.1352
0.537297
1
4
1
7
Analisis
Pengelompokkan
kemudian
ditampilkan
dalam
bentuk
dendogram menggunakan program Minitab 14. Gambar 19 menunjukan bahwa
ketujuh gulma tersebut mengelompok menjadi tiga grup. Grup 1 dengan garis
merah memiliki satu anggota yaitu Dioscorea bulbifera L. Grup 2 dengan garis
hijau memiliki tiga anggota yaitu Cissus sicyoides Blume, Cissus nodosa Blume
dan Mikania micrantha H.B.K. Grup 3 dengan garis biru memiliki tiga anggota
yaitu Ficus elastica Roxb, Cecropia adenopus Mart. ex Miq dan Paraserianthes
falcataria.
40
Gambar 19. Dendogram Pengelompokkan Tingkatan Gulma Invasif di
Kebun Raya Bogor
Grup 1 dan 2 merupakan kelompok gulma dengan total nilai tinggi yaitu
diatas 50 poin. Artinya kelompok gulma ini mempunyai dampak yang signifikan
terhadap kestabilan habitat di Kebun Raya Bogor. Terkait hal tersebut perlu
adanya suatu metode yang tepat untuk pengendalian kelompok gulma tersebut.
Anggota Grup 1 dan 2 merupakan golongan tumbuhan kayu pemanjat (woody
climber). Menurut Herklots (1976) ada dua karakteristik penting yang dimiliki
oleh tumbuhan pemanjat. Pertama, mempunyai kemampuan yang lebih cepat
untuk tumbuh, dengan melihat bentuknya yang lemah dan tipis tapi sangat kuat.
Kedua, mekanisme yang aman bagi pertumbuhannya untuk mencegah penyelipan
pada tumbuhan lain.
Menurut Putz dan Mooney (1991), tumbuhan kayu pemanjat dapat
dibedakan menjadi empat jenis berdasarkan ekologi dan morfologinya antara lain,
liana, vines, hemiepifit dan herbaceus epifit. Gulma Grup 1 dan Grup 2 termasuk
jenis vines yaitu tumbuhan merambat yang memiliki batang yang lentur dan tipis.
Umumnya tanaman pemanjat ini mulai tumbuh dari semaian bibit terestrial dan
biasanya berkembang pada suatu tempat di tepi hutan. Melvinda (2005)
menambahkan tumbuhan ini memerlukan banyak sinar matahari, hawa yang tidak
terlalu lembab dan tidak ada gangguan angin yang cukup kencang untuk
pertumbuhannya. Dengan mengikuti aturannya bahwa tumbuhan ini dikenal
41
sebagai tanaman herbaceus, meskipun sebagian termasuk dalam golongan
subwoody.
Terdapat empat tipe tanaman memanjat berdasarkan cara memanjatnya
diantaranya twiners, stickers, clingers dan hookers (Menninger, 1970). Kelompok
gulma Grup 1, Dioscorea bulbifera L termasuk kedalam tipe twiners yaitu
pertumbuhan batangnya melilit pada batang tanaman inang dan tumbuh secara
vertikal.
Pada spesies Dioscorea bulbifera L arah lilitanya adalah ke kiri.
Kelompok gulma pada Grup 2, Cissus sicyoides Blume, Cissus nodosa Blume
dan Mikania micrantha H.B.K termasuk ke dalam tipe clingers yaitu tumbuh
memanjat pada tanaman inangnya dengan menggunakan bantuan sulur atau akar
hawanya.
Berdasarkan pembagian jenis tanaman memanjat oleh Putz dan Mooney
(1991), Ficus elastica Roxb sebenarnya dapat juga dimasukan ke dalam kelompok
hemiepifit, namun kategori tumbuhan hemiepifit tidak terlalu jelas jenis
pemanjatannya. Beberapa jenisnya ada yang mulai tumbuh sebagai epifit dan
setiap jenisnya dapat berbeda, mungkin epifit atau bukan. Tumbuhan ini juga
memiliki bagian seperti batang yang merambat dan sebenarnya bagian tersebut
adalah akar.
Dominasi Gulma
Perhitungan Nisbah Jumlah Dominasi (NJD) dilakukan berdasarkan
pengamatan visual (visual estimation) pada semua vak (petak) yang ada di KRB
tanpa menggunakan petak contoh. Nilai penting diperoleh dengan menjumlahkan
dua komponen yaitu Kerapatan Relatif dan Frekuensi Relatif. Kerapatan Relatif
dihitung dari banyaknya titik penyebaran spesies gulma tertentu dibagi total titik
penyebaran semua spesies. Titik penyebaran digunakan untuk menggantikan
kerapatan nisbi pada perhitungan NJD yang baku. Hal tersebut dikarenakan pada
beberapa titik penyebaran terdapat lebih dari satu jenis gulma yang berasosisasi.
Titik penyebaran dianggap sebagai potensi sumber penyebaran gulma di KRB.
Perhitungan Frekuensi Relatif diperoleh dari jumlah vak yang berisi spesies
tertentu dibagi dengan jumlah seluruh vak yaitu 192. Hal ini karena pengamatan
yang dilakukan tidak menggunakan petakan contoh.
42
Pada Tabel 7 ditunjukan bahwa spesies Dioscorea bulbifera L. yang
termasuk ke dalam golongan tumbuhan pemanjat merupakan gulma paling
dominan di KRB, dengan NJD sebesar 27.66%. Gulma dominan peringkat dua
dan tiga merupakan golongan pohon berkayu, yaitu Ficus elastica Roxb. dengan
NJD 18.23% dan Cissus sicyoides Blume. dengan NJD 17.30 %.
Selisih NJD
Dioscorea bulbifera L. terpaut cukup jauh apabila dibandingkan dengan gulma
peringkat kedua dan ketiga.
Apabila dibandingkan dengan urutan peringkat
penilaian gulma pada tabel 4 spesies gulma dengan nilai diatas 50 poin, rata-rata
memiliki NJD diatas 10%. Namun Mikania micrantha H.B.K yang menempati
urutan pertama dengan nilai tertinggi yaitu 78 poin, pada perhitungan NJD berada
pada urutan keenam dengan NJD sebesar 7.27%.
Tabel 7. Nisbah Jumlah Dominasi (NJD) Gulma Invasif di Kebun
Raya Bogor
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Spesies Gulma
Dioscorea bulbifera L.
Ficus elastica Roxb.
Cissus sicyoides Blume.
Cecropia adenopus Mart. ex Miq.
Cissus nodosa Blume.
Mikania micrantha H.B.K
Paraserianthes falcataria
Total
NJD (%)
27.66
18.23
17.30
13.45
12.48
7.27
3.59
100
Peringkat NJD tujuh spesies gulma di KRB tidak sama dengan peringkat
penilaian gulma berdasarkan dua puluh kriteria Hiebert dan Stubbendieck (1993).
NJD pada Tabel 6 dihitung menggunakan dua komponen data yaitu jumlah relatif
dan frekuensi relatif.
Kedua komponen data ini diperoleh dari pengamatan
langsung keberadaan gulma yang terdapat di KRB.
Besarnya NJD menunjukan
eksistensi ketujuh spesies gulma yang menyebar di wilayah KRB.
Penilaian
gulma berdasarkan metode Hiebert dan Stubbendieck (1993) dihitung berdasarkan
total poin yang diperoleh dari dua puluh karakteristik gulma.
Secara umum
karakteristik tersebut dapat dibagi menjadi dua yaitu diamati dari dampak
langsung dan tak langsung terhadap lingkungan. Karakteristik yang diamati dari
dampak langsung pada lingkungan diantaranya kelimpahan populasi, dampak
43
visual terhadap lanskap, kemampuan membentuk naungan dan sebagainya.
Karakteristik yang diamati dari dampak tak langsung diantaranya tingkat usaha
pengendalian yang dibutuhkan, dampak yang ditimbulkan di daerah lain, media
penyebaran biji dan sebagainya. Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan
spesies gulma yang memiliki nilai NJD kecil, berpotensi untuk menjadi spesies
invasif yang mengancam biodiversitas di KRB. Nilai NJD kecil dapat disebabkan
gulma tersebut merupakan spesies baru yang sengaja diintroduksi atau menyebar
secara alami ke lingkungan KRB.
Manajemen Gulma di Kebun Raya Bogor
Unit kebersihan tanaman koleksi di KRB bertugas merawat tanaman
koleksi dengan membersihkan gulma. Pembagian kerja unit kebersihan di Kebun
Raya Bogor dibagi dalam 12 lingkungan. Pada setiap lingkungan terdapat 4 – 8
orang pekerja yang bertanggung jawab dalam lingkungan tersebut. Banyaknya
pekerja pada setiap lingkungan tergantung pada luasan pada setiap lingkungan.
Kondisi di lapang menunjukan jumlah tenaga kerja tersebut masih kurang dan
perlu adanya tambahan tenaga kerja untuk pengendalian gulma. Kekurangan
tenaga tersebut saat ini di atasi dengan melakukan sistem gorol, yaitu semua
pekerja secara bersama-sama membersihkan satu lingkungan ke lingkungan
berikutnya secara bergiliran.
Pada tahun 2007 terjadi perubahan sistem pembagian kerja menjadi divisi
khusus seperti penyapu, pembersih rumput, dan koleksi.
Setiap divisi
melaksanakan tugasnya masing-masing untuk seluruh wilayah KRB. Sistem ini
dinilai kurang efektif, sehingga hanya berjalan selama satu tahun kemudian
dirubah kembali seperti semula hingga saat ini. Selain dengan sistem gorol,
pengendalian gulma juga dilakukan rutin setiap hari Jumat yaitu kerja bakti oleh
seluruh karyawan KRB. Lokasi kerja bakti ditentukan dengan memilih vak yang
mengalami serangan gulma cukup parah, informasi serangan gulma berdasarkan
laporan dari penanggung jawab pada masing-masing vak. Pengendalian gulma
juga dilakukan setiap satu tahun sekali pada bulan Agustus yaitu perlombaan
untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Hadiah diberikan
kepada karyawan yang berhasil mengumpulkan gulma paling banyak.
44
Pembersihan gulma dilakukan secara rutin 10 – 14 hari.
Penyiangan
dilakukan sebagai salah satu usaha untuk mencegah persaingan antara tanaman
dan gulma terhadap unsur hara dan air. Penyiangan antara tanaman dan gulma
dilakukan secara manual meliputi pembersihan gulma dan tumbuhan penggangu
lainnya serta pembuatan bokoran pada tanaman koleksi (Melvinda, 2005).
Pengendalian gulma juga dilakukan di sepanjang jalan setapak yang ditumbuhi
oleh rumput liar.
Metode pengendalian tanaman pengganggu seperti jenis D. bulbifera L.,
F. elastica Roxb., C. sicyoides L., M. micrantha H.B.K., C. adenopus, C. nodosa
L. dan P. falcataria masih dilakukan secara konvensional. Pengendalian gulma D.
bulbifera L. dan jenis Cissus lebih mendapat perhatian khusus karena gulma ini
termasuk yang paling sulit dikendalikan. D. bulbifera L. perlu digali umbinya dan
buah yang jatuh di tanah harus diambil satu per satu, umbi dan buah dicacah
kemudian dibakar. Pengendalian gulma M. micrantha H.B.K. dan jenis Cissus
lebih diperhatikan untuk tidak meninggalkan sisa-sisa tanaman. Terutama untuk
jenis Cissus yang mampu memperbanyak diri melalui akar nafasnya, perlu ekstra
hati-hati. Hal tersebut karena bila secara tidak sengaja menjatuhkan bagian akar
hawa ini diatas tanah maka akar tersebut akan menjadi individu baru.
Tanaman penggangu yang berhabitus pohon seperti F. elastica Roxb., C.
adenopus, P. falcataria dapat langsung ditebang. Pengendalian F. elastica Roxb.
mungkin yang dirasa paling sulit dibandingkan C. adenopus dan P. falcataria.
Ficus memiliki sifat epifit pada pohon-pohon yang cenderung tinggi, sehingga
jika pekerja akan memotongan batang F. elastica Roxb. harus memanjat keatas
pohon inangnya (Gambar 20).
Kenyataan di lapang menunjukan permasalahan gulma di KRB masih
belum bisa tertangani seluruhnya. Hal ini dikarenakan selain masalah jumlah
tenaga kerja dan metode pengendalian juga disebabkan persepsi setiap pekerja
terhadap gulma yang berbeda – beda. Kegiatan perawatan kebun yang dilakukan
cenderung bersifat mempertahankan estetika yaitu dengan memberikan kesan vak
yang bersih dan rapi. Tindakan tersebut dilakukan untuk menjaga kenyamanan
dan memudahkan pengunjung mendapatkan akses ke semua tanaman koleksi yang
ada di Kebun Raya Bogor.
45
Upaya yang dapat dilakukan saat ini adalah dengan melakukan
penyempurnaan metode yang sudah ada.
Sistem pembagian wilayah KRB
menjadi 12 lingkungan dinilai relevan. Permasalahan ketersediaan tenaga kerja
dapat diatasi dengan perekrutan tenaga honorer atau dengan menambah peralatan
mekanis.
Metode pengendalian gulma dengan cara manual dan dipadukan
dengan metode kultur teknis dinilai paling tepat untuk diterapkan saat ini.
Pengendalian manual memiliki keunggulan mudah dalam pelaksanaannya dan
hasilnya cepat terlihat. Pengendalian gulma dengan kultur teknis dapat dilakukan
dengan pembuatan bokoran pada tanaman koleksi, pemupukan tepat dosis, dan
lain sebagainya. Upaya tersebut diharapkan akan menjadi sistem pengendalian
gulma terpadu yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi.
Gambar 20. Kegiatan Pengendalian Gulma F. elastica Roxb. pada Vak II.C
Pengendalian
gulma secara kimia tidak dilakukan untuk gulma yang
berada di dalam vak atau gulma yang bersifat epifit. Bahan kimia dikhawatirkan
akan berpengaruh atau bersifat racun terhadap tanaman koleksi di Kebun Raya
Bogor. Pengendalian kimia hanya dilakukan pada rumput liar yang berada di tepi
jalan atau lokasi-lokasi yang cukup jauh dengan tanaman koleksi.
Harapan
mendatang dapat dilakukan pengendalian secara biologis untuk jenis-jenis gulma
invasif yang ada mengingat pentingnya penerapan pengendalian gulma terpadu.
46
Manajemen Gulma Invasif Berkelanjutan
Melihat kerugian dan ancaman bagi kelangsungan habitat yang
ditimbulkan oleh gulma invasif di KRB, perlu dilakukan tindakan manajemen
gulma invasif yang berkelanjutan demi menjaga kestabilan ekosistem KRB dan
lingkungan di sekitarnya. Menurut Larson et al. (2011), terdapat tiga pilar penting
dalam manajemen gulma invasif berkelanjutan yaitu lingkungan, sosial dan
ekonomi. Ketiga faktor tersebut akan berpengaruh terhadap penyebab, dampak
serta kontrol pada gulma invasif.
Gambar 21 menunjukkan permasalahan pengendalian gulma di Kebun
Raya Bogor. Sasaran yang ingin dicapai dari pertimbangan faktor lingkungan
terhadap manajemen gulma invasif berkelanjutan adalah dapat mengetahui sejauh
mana tahapan invasi yang telah terjadi. Pengetahuan tersebut berguna untuk
tindakan pengendalian lebih lanjut. Hal tersebut karena sebagian gulma yang
berbahaya di KRB, pada mulanya merupakan tanaman koleksi, namun berubah
status menjadi gulma karena pertumbuhannya yang tidak terkendali.
Tidak
menutup kemungkinan keberadaan spesies gulma yang ada di KRB menjadi
ancaman atau bahkan telah menyebar di lingkungan sekitar wilayah KRB.
Gambar 21. Bagan Permasalahan Pengendalian Gulma di Kebun Raya Bogor
Selain berfungsi sebagai taman kota, KRB merupakan lokasi wisata yang
ramai dikunjungi wisatawan baik lokal maupun mancanegara.
Hal ini
dikarenakan lokasi KRB yang berada di tengah Kota Bogor dan akses yang
47
mudah untuk menuju kesana (Kebun Raya Bogor pada Lampiran 14). Kegiatan
pengunjung yang keluar masuk wilayah KRB serta tingginya aktivitas manusia di
sekitar wilayah KRB diduga menjadi media penyebaran propagul gulma.
Setiap hari, wilayah KRB yang bersebelahan dengan Pasar Bogor
menjadi lokasi berjualan sayuran asal berbagai daerah. Tidak mustahil, propagul
gulma yang berasal dari KRB dapat terangkut secara tidak langsung termasuk
tersebar ke areal pembuangan sampah milik publik. Dengan demikian, peluang
propagul gulma menyebar keluar wilayah KRB cukup besar. Lodge et al. (2006)
menyatakan bahwa luasnya penyebaran dan masalah waktu sejak gulma tersebut
mulai menjadi ancaman membuat eradikasi menjadi sulit atau bahkan tidak
mungkin untuk dilakukan. Hal yang dapat ditekankan adalah mencegah
penyebaran dan mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh gulma tersebut.
Tindakan
eradikasi
perlu
dilakukan
untuk
mengurangi
kemungkinan
terdegradasinya spesies asli karena eradikasi yang dilakukan mungkin juga
bedampak kepada ekosistem.
Dukungan sosial dari stakeholder merupakan hal yang sangat penting
dalam manajemen gulma invasif berkelanjutan. Stakeholder – stakeholder yang
terlibat dalam kasus ini antara lain pihak manajemen KRB, Dinas Pertamanan,
Lembaga Peneliti dan Individu yang terlibat. Seluruh stakeholder diharapkan
dapat saling berkoordinasi dengan baik dalam satu sistem yang berbasis ilmu
pengetahuan (Moser et al., 2009). Pihak manajemen KRB memberikan informasi
beserta data pendukung tentang jenis gulma yang menjadi ancaman kepada
lembaga penelitian.
Lembaga penelitian yang terkait dapat melakukan riset
berdasarkan data dari pihak KRB. Hasil riset tersebut dapat dijadikan pedoman
oleh pihak
yang terkait untuk melakukan tindakan pengendalian di wilayah
publik. Dinas terkait juga memberikan informasi yang sama kepada individu
yang terkait untuk pengendalian lahan pribadi. Pada akhirnya, proses tersebut
perlu melibatkan elemen masyarakat sehingga akan menghilangkan beragam
persepsi tentang pengertian dan dampak dari gulma invasif (Callaham et al.,
2006), serta turut membangun pemahaman ekologi dan apresiasi terhadap
biodiversitas (Gobster, 2005).
48
Hingga saat ini belum ada data yang pasti tentang kerugian material di
KRB yang disebabkan oleh gulma invasif.
Ada kemungkinan karena proses
degradasi tanaman inang akibat gulma invasif tersebut berlangsung lambat dan
memerlukan proses bertahun-tahun sehingga pengaruh langsung pada kerugian
koleksi tidak segera diketahui. Oleh karena itu, gulma invasif perlu dilihat dalam
kerangka jangka panjang. Langkah pertama yang dapat diambil adalah dengan
menghitung berapa biaya operasional yang dibutuhkan untuk pengendalian gulma
dalam satu periode. Biaya operasional diantaranya upah tenaga kerja, biaya
pengadaan peralatan dan mesin, kebutuhan bahan bakar, kebutuhan Round up
Diasumsikan permasalahan gulma di KRB dapat teratasi dengan baik sehingga
ada penghematan sebesar biaya operasional untuk pengendalian gulma. Satu hal
yang pasti dalam manajemen gulma invasif berkelanjutan adalah harus
mempertimbangan dari segi ekonomi.
Pilihan yang paling efisien adalah dengan mempertimbangkan waktu
dimana suatu spesies mulai menjadi ancaman bagi lingkungan.
Tentu saja
prediksi harus dilakukan dengan tepat waktu pada ambang ekonominya. Prediksi
yang terlalu lama maka akan menimbulkan kerugian akibat serangan gulma yang
sudah melewati ambang batas, tetapi apabila terlalu cepat maka merupakan
pemborosan. Pertimbangan yang dapat diambil adalah melihat hubungan antara
kepadatan populasi dan dampak ekonomi, sehingga manajer dapat membuat
prioritas dan mengindari biaya pengendalian yang sia-sia (Yokomizo et al., 2009).
Manajemen gulma invasif berkelanjutan merupakan program jangka panjang.
Termasuk tindakan pemantauan untuk mencegah terjadi re-invasi yang artinya
manajemen harus mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk pengendalian gulma
yang sama.
Tabel 8 menunjukan sensus kematian tanaman koleksi di KRB. Pada
tahun 2011 jumlah tanaman yang mati sekitar 240 tanaman yang terdiri atas 58
famili. Sebagian besar kematian disebabkan oleh busuk, tumbang, cendawan dan
faktor lain. Dari data tersebut terlihat bahwa proses kematian tidak secara spesifik
diketahui. Tidak menutup kemungkinan bahwa kematian tersebut merupakan
akumulasi dari dampak faktor agronomis seperti keberadaan gulma. Koleksi KRB
nilainya sangat tinggi, oleh karena itu, perlu ada metode penghitungan kerugian
49
ekonomi sehingga dapat menjadi alasan ilmiah untuk meningkatkan alokasi
anggaran untuk pemeliharaan koleksi.
Kesuksesan manajemen gulma invasif berkelanjutan tidak dilihat
berdasarkan banyaknya jenis gulma invasif yang berhasil dikendaliakan atau
luasan yang telah dikerjakan. Kesuksesan lebih dilihat apabila setiap stakeholder
memiliki arti penting satu dengan yang lainnya. Program yang realistis dan dapat
terlaksana merupakan alasan yang kuat bagi setiap stakeholder untuk terus
memberikan dukungannya.
Selain gulma daratan, terdapat juga gulma-gulma perairan. Walaupun saat
ini tidak menjadi masalah serius di KRB, tetapi metode pengendalian yang
dilakukan diduga dapat mempengaruhi eksistensi gulma tersebut di perairan
sekitar KRB. Hal tersebut karena ada dua sungai yang mengalir melewati KRB.
gulma tersebut adalah Limnocharis flava, Bacopa caroliniana, Pistia stratiotes,
Sagittaria sagittifolia dan Oryza barthii (Deskripsi pada Lampiran 6, 7, 8, 9 dan
10). Dengan demikian upaya pengendalian gulma di KRB baik gulma spesifik
maupun gulma umum perlu dilakukan secara terintegrasi. Hal tersebut untuk
meminimalisasi penyebaran gulma di dalam KRB dan keluar KRB. mendukung
hal tersebut, perlu dilakukan kegiatan yang lebih mendalam tentang keberadaan
gulma di KRB terhadap kestabilan agroekologi di dalam maupun di luar KRB.
Tabel 8. Sensus Kematian Tanaman di Kebun Raya Bogor Tahun 2011
Penyebab Kematian
Famili
Busuk Tumbang Cendawan Kering
Acrostichaceae
Anacardiaceae
Annonaceae
√
Apocynaceae
Araceae
Araliaceae
√
Arecaceae
√
√
Aspidiaceae
Aspleniaceae
Asteraceae
Bignoniaceae
√
Sumber : Data Arsip Kebun Raya Bogor 2011
Lainlain
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
50
Tabel 8. (Lanjutan) Sensus Kematian Tanaman di Kebun Raya Bogor
Tahun 2011
Penyebab Kematian
Famili
Busuk
Tumbang Cendawan Kering
Blechnaceae
Burseraceae
Caesalpiniaceae
√
√
Clusiaceae
Combretaceae
√
Connaraceae
Cyatheaceae
Davalliaceae
Dennstaedtiaceae
Dryopteridaceae
Ebenaceae
√
Euphorbiaceae
√
Gentianaceae
Lauraceae
√
Loganiaceae
√
Malpighiaceae
Marattiaceae
Menispermaceae
Mimosaceae
√
Monimiaceae
√
Moraceae
Myrtaceae
√
Nymphaeaceae
√
√
Ochnaceae
Oleaceae
√
Ophioglossaceae
Papilionaceae
√
√
Pittosporaceae
√
Podocarpaceae
√
Polygonaceae
√
Polypodiaceae
Rhamnaceae
Rhizophoraceae
√
Rubiaceae
√
Rutaceae
Sabiaceae
Sumber : Data Arsip Kebun Raya Bogor 2011
√
Lainlain
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
√
51
Tabel 8. (Lanjutan) Sensus Kematian Tanaman di Kebun Raya Bogor
Tahun 2011
Penyebab Kematian
Famili
Busuk
Tumbang
Cendawan
Salvadoraceae
Sapindaceae
Schizaeaceae
Selaginellaceae
Sterculiaceae
Taenitidaceae
Thelypheridaceae
Thymelaeaceae
√
Vitaceae
Woodsiaceae
Sumber: Data Arsip Kebun Raya Bogor 2011
Kering
Lainlain
√
√
√
√
√
√
√
√
√
Download