BAB 2 LANDASAN TEORI dan KERANGKA

advertisement
BAB 2
LANDASAN TEORI dan KERANGKA PEMIKIRAN
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Manajemen
Manajemen merupakan alat yang digunakan oleh perusahaan dalam rangka
mencapai tujuan. Manajemen yang baik akan memudahkan perusahaan untuk mencapai
tujuan.
Pengertian
manajemen
menurut
Robbins
(1999,
p.8)
adalah
proses
mengkoordinasi dan mengintegrasikan kegiatan-kegiatan kerja agar diselesaikan secara
efisien dan efektif. Proses ini tidak lepas dari peran organisasi sebagai bagian dari
sebuah perusahaan. Organisasi adalah individu-individu atau kelompok yang dibentuk
untuk mencapai tujuan tertentu.
Menurut Hasibuan (2002, p.1), manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses
pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan
efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
2.1.1.1 Fungsi Manajemen
Menurut Robbins (1999, p.11) fungsi manajemen yang dilakukan oleh
seorang manajer dalam suatu perusahaan terbagi menjadi empat, dimana setiap
fungsinya saling berkaitan. Empat fungsi tersebut yaitu :
ƒ
Planning (Perencanaan)
Yaitu penentuan program personalia yang akan membantu
tercapainya sasaran yang telah di tetapkan.
ƒ
Organizing (Pengorganisasian)
Yaitu suatu kegiatan untuk merancang struktur hubungan antar
pekerja, personalia, dan faktor-faktor fisik.
ƒ
Directing (Pengarahan)
Yaitu kegiatan mengarahkan semua karyawan agar mau bekerja
sama dan bekerja secara efektif serta efisien dalam membantu
tercapainya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.
ƒ
Controlling (Pengendalian)
Yaitu fungsi manajerial yang terdiri dari tindakan-tindakan untuk
mengetahui apakah prestasi yang dicapai sudah sesuai dengan yang
di rencanakan.
Disamping fungsi-fungsi manajemen diatas, menurut Sedarmayanti (2001,
p.9) dalam perusahaan terdapat pula fungsi-fungsi operasional diantaranya yaitu :
ƒ
Procurement (Pengadaan Tenaga Kerja)
Adalah proses penarikan, seleksi, dan penempatan agar terdapat
karyawan yang cocok dengan kebutuhan.
ƒ
Development (Pengembangan)
Yaitu merupakan peningkatan keterampilan teknis, kedisiplinan dan
moral karyawan melalui pendidikan dan pelatihan.
ƒ
Compensation (Kompensasi)
Yaitu pemberian balas jasa secara langsung kepada karyawan
sebagai imbalan jasa yang diberikannya kepada perusahaan.
ƒ
Integration (Pengintegrasian)
Yaitu usaha untuk mempersatukan kepentingan perusahaan dan
kebutuhan karyawan agar tercipta kerjasama yang serasi dan saling
menguntungkan.
ƒ
Maintenance (Pemeliharaan)
Yaitu kegiatan untuk memelihara atau meningkatkan kondisi fisik,
mental dan loyalitas karyawan.
ƒ
Kedisiplinan
Kedisiplinan merupakan salah satu fungsi manajemen SDM yang
penting dan merupakan kunci terwujudnya tujuan, karena tanpa
adanya disiplin, maka sulit mewujudkan tujuan yang maksimal.
Kedisiplinan merupakan keinginan dan kesadaran untuk menaati
peraturan organisasi dan norma sosial. Kedisiplinan dikenal juga
dengan istilah penilaian kinerja.
ƒ
Separation (Pemutusan Hubungan Kerja)
Yaitu pemutusan hubungan kerja oleh perusahaan yang di sebabkan
oleh keinginan karyawan, keinginan perusahaan, kontrak kerja
berakhir, pensiun, meninggal dunia dan lain sebagainya.
2.1.1.2 Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM)
Peranan Sumber Daya Manusia (SDM) semakin mendapat perhatian. SDM
merupakan faktor yang paling mendasar dalam meningkatkan pembangunan di
berbagai sektor, dengan melibatkan seluruh departemen yang didalamnya
terdapat pengelolaan manusia. Mengelola manusia merupakan suatu hal yang
tidak mudah karena manusia selalu berkembang dengan pikiran dan akal, serta
memiliki peranan sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Pengelolaan ini
sering disebut juga dengan MSDM.
Berdasarkan pendapat Cushway (2002, p.4-6), MSDM merupakan bagian
dari proses organisasi dalam mencapai tujuan. Setelah arah dan strategi umum
ditentukan, maka langkah berikutnya adalah merumuskan tujuan yang lebih tegas
dan mengembangkan dalam bentuk rencana kerja. Tujuan tidak dicapai tanpa
adanya sumber yang diperlukan, termasuk sumber daya manusia. MSDM harus
merupakan bagian dari proses yang menentukan apa yang diperlukan oleh
manusia, bagaimana menggunakan manusia, bagaimana memperolehnya, dan
bagaimana mengatur mereka. MSDM harus diintegrasikan secara penuh dengan
proses-proses manajemen yang lain.
Menurut pendapat Hasibuan (2002, p.10), MSDM adalah ilmu dan seni
mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu
terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.
Menurut Dessler (2003, p.2) Human Resource Management (HRM) the
policies and practices involved in carrying out the ”people” or human resource
aspects of management position, including recruiting, screening, training, rewarding,
and appraising.
Menurut Robert dan Jackson (2003, p.4-5), Human Resource (HR)
Management the design of formal system in an organization to ensure effective
and effecient use of human talent to accomplish organizational goals. MSDM
merupakan perancangan sistem formal dari suatu organisasi, yang digunakan
untuk memastikan keefektifan dan keefisienan dari kemampuan karyawan dalam
memenuhi tujuan organisasi.
Letak MSDM dalam hubungannya dengan aktivitas organisasi yang lain
digambarkan dalam gambar berikut :
Sumber : Cushway, MSDM (2002, p.5)
Gambar 2.1 Letak MSDM dalam hubungannya dengan aktivitas organisasi
2.1.1.3 Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM)
Berdasarkan pendapat Cushway (2002, p.6-7), tujuan dari MSDM
bervariasi antara satu organisasi dengan organisasi lain, tergantung pada tingkat
perkembangan organisasi, yang mencakup hal-hal berikut :
ƒ
Memberikan sasaran kepada manajemen tentang kebijakan SDM
guna memastikan organisasi memiliki tenaga kerja yang bermotivasi
dan berkinerja tinggi, serta dilengkapin dengan sarana untuk
menghadapi
perubahan
dan
dapat
memenuhi
kebutuhan
pekerjanya.
ƒ
Melaksanakan dan memelihara semua kebijakan dan prosedur SDM
yang diperlukan untuk memastikan pencapaian tujuan organisasi.
ƒ
Membantu perkembangan arah dan strategi organisasi secara
keseluruhan, terutama dengan memperhatikan segi-segi SDM.
ƒ
Menyediakan bantuan menciptakan kondisi yang dapat membantu
manajer lini dalam mencapai tujuan mereka.
ƒ
Mengatasi krisis dan situasi sulit dalam hubungan antar pegawai
untuk memastikan tidak adanya gangguan dalam pencapaian tujuan
organisasi.
ƒ
Menyediakan
sarana
komunikasi
antara
karyawan
dengan
manajemen organisasi.
ƒ
Bertindak sebagai penjamin standar dan nilai organisasi dalam
pengelolaan SDM.
2.1.1.4 Aktivitas Utama Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM)
Berdasarkan pendapat Cushway (2002, p.7-9), MSDM adalah kegiatan
mendapatkan, mengelola, dan melepaskan sumber-sumber, dalam hal ini adalah
manusia. Dibawah ini penjelasan mengenai aktivitas MSDM adalah sebagai berikut
:
ƒ
Mendapatkan Sumber Daya
Merupakan langkah dalam proses penentuan persyaratan organisasi
mengenai sumber yang ingin diperoleh dengan memperhatikan
kualitas, tipe, dan kualitas.
ƒ
Mengelola Sumber Daya
Setelah organisasi mendapatkan semua tenaga yang diperlukan
untuk mencapai tujuannya, prioritas berikutnya adalah memastikan
bahwa tenaga kerja tersebut akan tinggal cukup lama di organisasi,
sehingga efektif dan dapat menunjukkan kinerja yang baik selama
mereka disana. Salah satunya adalah : Menasehati dan menetapkan
strategi pengupahan yang dapat menunjang tujuan organisasi dan
rencana bisnis, yaitu strategi pengupahan yang dapat menarik dan
mempertahankan pegawai sesuai dengan kemampuannya
ƒ
Pemutusan Sumber Daya
Akan tiba masanya dimana pegawai harus melepaskan diri dari
organisasi. Alasannya bisa karena pensiun, mengundurkan diri,
selesai kontrak, berakhir kontrak pelatihan, pemecatan, redundasi,
dan sebagainya.
2.1.1.5 Manajemen Mutu
Dalam buku Sistem Penjaminan Mutu di Perguruan Tinggi karangan Rinda
Hedwig (2007, p.1-2), mutu adalah agenda utama dan meningkatkan mutu
merupakan tugas yang paling penting. Mutu adalah sebuah konsep. Mutu
merupakan suatu hal yang membedakan antara yang baik dan yang sebaliknya.
Mutu merupakan masalah pokok yang akan menjamin perkembangan universitas
dalam meraih status ditengah-tengah persaingan dunia pendidikan yang semakin
ketat. Binus University memiliki persaingan dalam hal mutu. Sumber mutu dalam
pendidikan, misalnya gedung yang bagus, dosen yang berkualitas, nilai moral yang
tinggi, hasil ujian yang memuaskan, aplikasi teknologi, metode belajar yang
memadai, dan kombinasi faktor-faktor tersebut. ISO (International Organization
for Standardization) 9001 yang telah diterima oleh Binus University merupakan
bagian dari penghargaan dan standar mutu untuk mempromosikan mutu dan
keunggulannya. Peningkatan mutu menjadi semakin penting bagi institusi yang
digunakan untuk memperoleh kontrol yang lebih baik melalui usahanya sendiri.
Universitas harus mampu memberikan pendidikan yang bermutu.
Penjaminan mutu pendidikan tinggi di perguruan tinggi adalah proses
penerapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan dan pendidikan tinggi
secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga memperoleh kepuasan. Sasaran
mutu yang ada dalam ISO 9001 memiliki beberapa tahapan. Evaluasi merupakan
tahapan pertama, untuk mengetahui tantangan dan hambatan yang dihadapi.
Kemudian melakukan tinjauan terhadap kesesuaian visi dan misi dalam menjawab
tantangan dan hambatan tersebut. Tahap berikutnya adalah dengan menerapkan
manajemen mutu yang kemudian diikuti proses evaluasi dan revisi dari standar
mutu, melalui tolak ukur secara berkelanjutan. Penjaminan mutu merupakan
pekerjaan rutin yang berkesinambungan dan harus terus menerus dilakukan.
2.1.1.6 Prinsip Manajemen Mutu
ISO 9001 : 2000 disusun berlandaskan pada delapan prinsip manajemen
kualitas yang dapat digunakan oleh manajemen senior sebagai suatu kerangka
kinerja ( framework ) yang membimbing organisasi menuju peningkatan kinerja.
Menurut Vincent (2001, p.75-84) dalam buku Rinda Hedwig (2007) terdapat
delapan prinsip manajemen kualitas. Delapan prinsip manajemen kualitas yang
menjadi landasan penyusunan ISO 9001 : 2000 itu adalah :
ƒ
Prinsip 1 : Fokus Pada Pelanggan
Organisasi/perusahaan tergantung pada pelanggan mereka, yang
merupakan kunci untuk meraih keuntungan dan pandangan mereka
menentukan kelangsungan hidup organisasi. Oleh karena itu,
organisasi harus mengerti keinginan pelanggan sekarang dan yang
akan
datang,
berusaha
memenuhi
kebutuhan
(persyaratan)
pelanggan dan berusaha melebihi harapan (ekspektasi) pelanggan.
ƒ
Prinsip 2: Kepemimpinan
Pemimpin organisasi menetapkan kesatuan tujuan dan arah dari
perusahaan
(organisasi).
Mereka
harus
menciptakan
dan
memelihara lingkungan internal agar orang-orang dapat menjadi
terlibat secara penuh dalam mencapai tujuan organisasi. Prinsip
kepemimpinan berkaitan erat dengan manajemen yang saling
melengkapi, dala arti bahwa kepemimpinan berkaitan dengan
inovasi, inisiatif, dan bagaimana memotivasi perusahaan untuk
mencapai
tujuan-tujuan
perusahaan.
Sedangkan
manajemen
berkaitan dengan sistem, pengendalian, prosedur, kebijakan, dan
struktur. Dengan demikian, kinerja pemimpin (leader) adalah
memiliki kemampuan memotivasi orang lain, untuk terlibat dalam
pencapaian sasaran perusahaan.
ƒ
Prinsip 3 : Keterlibatan Personel
Keterlibatan personel pada semua tingkatan membawa manfaat bagi
perusahaan
dimana
karyawan
diberi
kesempatan
dalam
merencanakan, menerapkan rencana dan mengendalikan rencana
pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya sehingga dengan
adanya kebebasan dan kewenangan dalam melakukan pekerjaan,
karyawan akan memiliki ’rasa memiliki perusahaan’ dan tanggung
jawab dalam memecahkan masalah. Hal ini bukan berarti karyawan
dibiarkan memutuskan caranya dalam melakukan segala sesuatu,
melainkan pemberian kebebasan sesuai dengan standar lingkup
kerja karyawan yang akan memicu karyawan untuk aktif dalam
melihat peluang untuk peningkatan kompetensi, pengetahuan, dan
pengalaman. Hal ini dapat dilakukan dengan perekrutan SDM
(Sumber Daya Manusia)
yang
tepat, memberikan pelatihan,
kemudian memberikan tingkat tanggung jawab dan wewenang yang
sesuai
ƒ
Prinsip 4 : Pendekatan Proses
Standar ISO mengembangkan pemakaian pendekatan proses pada
masa pembuatan, penerapan, dan peningkatan sistem manajemen
mutu yang efektif. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan
kepuasan pelanggan dengan memenuhi berbagai persyaratan
pelanggan. Suatu hasil yang diinginkan akan tercapai secara lebih
efisien, apabila aktivitas dan sumber-sumber daya yang berkaitan
dikelola sebagai suatu proses. Suatu proses dapat didefinisikan
sebagai integrasi sekuensial dari orang, material, metode, mesin,
dan peralatan dalam suatu lingkungan guna menghasilkan nilai
tambah output bagi pelanggan. Suatu proses mengkonversi input
terukur kedalam output terukur melalui sejumlah langkah sekuensial
yang terorganisasi.
ƒ
Prinsip 5 : Pendekatan Sistem Terhadap Manajemen
Pendekatan sistem terhadap manajemen baru dapat dilakukan jika
pendekatan proses telah diterapkan, dengan kata lain, pendekatan
sistem terhadap manajemen adalah kumpulan pendekatan proses
yang merupakan indentifikasi, pemahaman, pengelolaan, sistem dari
proses
ƒ
Prinsip 6 : Peningkatan Berkesinambungan
Pada peningkatan berkesinambungan (cultural improvment) berbeda
dengan peningkatan terus-menerus (continious Improvment), pada
peningkatan berkesinambungan peningkatan dilakukan pertama kali
kemudian distabilkan
terlebih dahulu dan dibuatkan standar
sehingga mampu memasuki peningkatan kedua dan seterusnya,
pada peningkatan terus-menerus peningkatan dilakukan terus
menerus setelah terjadi penyempurnaan melalui revisi.
ƒ
Prinsip 7 : Pembuatan Keputusan Berdasarkan Fakta
Keputusan yang efektif adalah keputusan yang berdasarkan analisis
data
dan
informasi
yang
dipertangggung
jawabkan
untuk
menghilangkan akar penyebab masalah, sehingga masalah-masalah
mutu dapat terselesaikan dengan efektif dan efisien.
ƒ
Prinsip 8 : Hubungan Saling Menguntungkan Dengan Pemasok
Suatu organisasi dengan pemasoknya adalah saling tergantung, dan
pada
suatu
meningkatkan
hubungan
yang
saling
kemampuan bersama
menguntungkan
dalam menciptakan
akan
nilai
tambah.
2.1.2 Kuesioner Yang Efektif
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
memberikan seperangkat pernyataan atau pertanyaan tertulis secara terperinci dan
lengkap kepada responden untuk dijawab dengan alternatif jawaban sesuai denga jenis
kuesioner yang dipergunakan dalam pengumpulan data. Kuesioner merupakan teknik
pengumpulan data yang efisien bila mengetahui dengan pasti variabel yang akan diukur
dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden. Kuesioner biasa dilakukan apabila
responden yang ada cukup besar dan tersebar di wilayah yang luas. Dengan
menggunakan kuesioner sebagai alat ukur, maka akan tercipta suatu kondisi yang cukup
baik, sehingga data yang diberikan bersifat obyektif dan cepat. Dalam membuat
kuesioner ada beberapa hal yang menjadi prisip dan harus diperhatikan. Dalam modul
metode penelitian bisnis (2007), dibawah ini berikut penjelasan mengenai kuesioner
yang efektif.
2.1.2.1 Tahapan Untuk Membuat Suatu Kuesioner
Tahapan untuk membuat suatu kuesioner yang baik adalah sebagai berikut :
ƒ
Menetapkan tujuan
Menetapkan tujuan dilakukan untuk memperoleh informasi yang
relevan dengan tujuan penelitian.
ƒ
Memilih jenis pertanyaan yang baik dan cocok, ada 3 jenis
pertanyaan yang dapat digunakan dalam merancang kuesioner yaitu
:
-
Pertanyaan terbuka, merupakan pertanyaan yang tidak
menggiring responden ke jawaban yang sudah ditentukan
yang tinggal dipilih alternatif jawaban. Jenis ini meminta
responden untuk menuliskan jawaban atas macam sejumlah
pertanyaan yang ada pada kuesioner tersebut.
-
Pertanyaan tertutup, merupakan pertanyaan yang sudah
menggiring responen ke jawaban yang sudah ditentukan
terlebih dahulu, contohnya setuju atau tidak setuju.
-
Kombinasi pertanyaan terbuka dan tertutup, merupakan
kombinasi dari penggunaan kedua macam pertanyaan
terbuka dan tertutup.
ƒ
Mengikuti aturan dalam membuat pertanyaan yang baik. Terdapat
sembilan aturan dalam membuat pertanyaan yang baik, yaitu :
-
Gunakan
kata-kata
yang
sederhana,
kata-kata
yang
sederhana dapat diketahui oleh semua responden. Hindari
istilah
yang
tidak
lazim
digunakan
sehingga
mudah
dimengerti oleh seluruh responden.
-
Pertanyaan jelas dan khusus.
-
Pertanyaan berlaku bagi semua responden.
-
Berkaitan
pertanyaan
dengan
masalah
dan
sasaran
harus
berkaitan
dengan
penelitian dan sasaran-sasaran penelitian.
penelitian,
masalah-masalah
-
Tidak
ambigu,
pertanyaan
harus
jelas
dan
tidak
menimbulkan tafsir majemuk.
-
Tidak menggiring, pertanyaan tidak boleh menggiring
responden untuk memberikan alternatif jawaban tertentu.
-
Tidak memuat informasi yang tidak dimiliki oleh responden.
-
Tidak memuat hal-hal yang bersifat pribadi dan peka,
pertanyaan tidak boleh memuat hal-hal yang bersifat pribadi
dan
peka,
sehingga
responden
mungkin
menolak
menjawabnya.
-
Tidak bersifat klise, pertanyaan tidak boleh klise, sehingga
jawabannya juga cenderung klise (stereotip).
2.1.2.2 Prinsip Penulisan Kuesioner
ƒ
Isi pertanyaan dalam kuesioner harus sesuai dengan tujuan dan
disusun dengan skala pengukuran dan jumlahnya dapat mewakili
variabel yang akan diteliti.
ƒ
Penggunaan bahasa dalam kuesioner harus disesuaikan dengan
kemampuan bahasa responden.
ƒ
Pertanyaan dalam kuesioner dapat bersifat tertutup maupun
terbuka. Pertanyaan tertutup akan lebih memudahkan responden
dalam mengisi kuesioner.
ƒ
Kalimat-kalimat dalam kuesioner perlu dibuat negatif dan positif.
ƒ
Tidak
diperkenankan
memberikan
pertanyaan
ganda
dalam
kuesioner.
ƒ
Tidak memberikan pertanyaan yang sulit dimengerti oleh reponden.
ƒ
Pertanyaan dalam kuesioner juga tidak hanya kearah yang buruk
saja tapi juga harus kearah yang baik.
ƒ
Pertanyaan dalam kuesioner juga tidak boleh terlalu panjang.
ƒ
Penyusunan pertanyaan dalam kuesioner sebaiknya dimulai dari
pertanyaan umum menuju ke hal yang khusus.
2.1.2.3 Jenis Pertanyaan
Jenis pertanyaan yang digunakan dalam penyusunan kuesioner terdapat
bebrapa jenis, yaitu :
ƒ
Pertanyaan tertutup, kemungkinan jawabannya sudah ditentukan
lebih dahulu dan responden tidak diberi kesempatan untuk
memberikan jawaban lain.
ƒ
Pertanyaan terbuka, kemungkinan jawabannya tidak ditentukan
lebih dahulu dan responden bebas untuk memberikan jawaban lain.
ƒ
Kombinasi tertutup dan terbuka, jawabannya sudah ditentukan
tetapi kemudian disusul dengan pertanyaan terbuka.
ƒ
Pertanyaan semi terbuka, pada pertanyaan jenis ini jawabannya
sudah tersusun tetapi masih ada kemungkinan tambahan jawaban.
2.1.2.4 Klasifikasi Kuesioner
Berdasarkan buku merancang kuesioner karangan Paul Hague (1993),
dibawah ini terdapat tebel yang menunjukkan klasifikasi kuesioner.
Tabel 2.1 Klasifikasi Kuesioner
Tipe Kuesioner
Cakupan Penggunaan Kuesioner
Terstruktur
Digunakan dalam program wawancara
Pelaksanaan
Telepon/tatap muka/diisi sendiri
besar (lebih dari 50 wawancara).
Khususnya digunakan apabila
kemungkinan responden dapat
diantisipasi
Semi-terstruktur
Digunakan secara luas dalam riset
tatap muka/ Telepon
pasar dimana berbagai respon
seluruhnya ditampung. Juga
digunakan jika respon tidak dapat
diantisipasi
Tidak-terstruktur
Dasar dari banyak studi teknis atau
riset pasar yang sempit. Juga
digunakan dalam wawancara
mendalam dan kelompok diskusi.
Mengijinkan penyelidikan dan
pencarian lebih jauh karena periset
tidak dapat mengantisipasi respon
sebelum wawancara dilakukan
Sumber : Hague Paul, Merancang Kuesioner (1993, p.18)
Kelompok diskusi/wawancara kunjungan
survei/wawancara telepon mendalam
2.1.3 Kinerja
Menurut pendapat Sagala (2007 p.271), performansi/kinerja adalah perilaku yang
menunjukkan kompetensi yang relevan dengan tugas yang realistis dan gambaran
perilaku
difokuskan
pada
konteks
pekerjaan
yaitu
perilaku
diwujudkan
untuk
memperjelas deskripsi-deskripsi kerja menentukan kinerja yang akan memenuhi
kebutuhan organisasi yang diinginkan
Dalam buku Cara Menggunakan dan Memaknai Analisis Jalur (Path Analysis)
karangan Riduwan dan Engkos Achmad Kuncoro (2007, p.189-190), kinerja adalah hasil
atau tingkat keberasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam
melaksanakan tugas dibandingan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil
kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah
disepakati bersama. Jika dilihat dari asal katanya, kata kinerja adalah terjemahan dari
kata performance, yang menurut The Scribner-Bantam English Dictionary, terbitan
Amerika Serikat dan Canada (1979), berasal dari kata “to perform” dengan beberapa
“entries” yaitu :
ƒ
Melakukan, menjalankan dan melaksanakan (to do or carry out, execute ).
ƒ
Memenuhi atau melaksanakan kewajiban suatu niat atau nazar (to discharge
of fulfill; as vow).
ƒ
Melaksanakan atau menyempurnakan tanggung jawab (to execute or
complete an understahing ).
ƒ
Melakukan sesuatu yang diharapkan oleh seseorang atau mesin (to do what
is expected of a person machine).
Dibawah ini terdapat beberapa pengertian dari kinerja dalam Riduwan dan Engkos
(2007, p.189), diantaranya yaitu :
Menurut Griffin (1987), kinerja merupakan salah satu kumpulan total dari kerja
ƒ
yang ada pada diri pekerja.
Menurut Mitchel, T. R. dan Larson (1987, p.343) mengemukakan dalam suatu
ƒ
area of performance tentang aspek-aspek kinerja (performance) meliputi :
ƒ
-
Kualitas hasil kerja (Quality of Work)
-
Kemampuan (Capability)
-
Prakarsa/inisiatif (Iniciative)
-
Komunikasi (Communication)
-
Ketepatan waktu (Promtness)
Menurut Schermerhorn, Hunt dan Osborn (1991), kinerja sebagai kualitas dan
kuantitas dari pencapaian tugas-tugas, baik yang dilakukan individu, kelompok
maupun perusahaan.
ƒ
Menurut Casio (1992), kinerja merujuk kepada pencapaian tujuan karyawan
atas tugas yang diberikan.
ƒ
Menurut Stolovitch dan Keeps (1992), kinerja merupakan seperangkat hasil
yang dicapai dan merujuk pada tindakan pencapaian serta pelaksanaan
sesuatu pekerjaan yang diminta.
ƒ
Menurut Mondy dan Premeaux (1993), kinerja dipengaruhi oleh tujuan.
ƒ
Menurut Hersey dan Blanchard (1993), kinerja merupakan suatu fungsi dari
motivasi dan kemampuan. Untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan,
seseorang harus memiliki derajat kesediaan dan tingkat kemampuan tertentu.
Kesediaan
dan
keterampilan
seseorang
tidaklah
cukup
efektif
untuk
mengerjakan sesuatu tanpa pemahaman yang jelas tentang apa yang akan
dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya.
ƒ
Menurut Donnelly, Gibson dan Ivancevich (1994), kinerja merujuk kepada
tingkat keberhasilan dalam melaksanakan tugas serta kemampuan untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kinerja dinyatakan baik dan sukses
jika tujuan yang diinginkan dapat tercapai dengan baik.
ƒ
Menurut Edward dan Sallies (1994, p.21) mengutip pendapat Pfeffer dan
Coote yang menyebut “kualitas (mutu) sebagai konsep yang licik (“a slippery
concept”)”. Perbedaan terjadi karena konsep kualitas yang bertolak dari
standar absolut beranggapan bahwa kualitas merupakan suatu keindahan,
kebenaran yang pasti dan tanpa kmpromi. Sementara yang standar relatif
bertolak dari pikiran bahwa kualitas merupakan sesuatu yang “not be
expansive and exclusive ,...)
2.1.3.1 Indikator Kinerja
Indikator kinerja adalah ukuran kuantitatif maupun kualitatif untuk dapat
menggambarkan tingkat pencapaian sasaran dan tujuan, baik pada tahap
perencanaan (ex-ante), tahap pelaksanaan (on-going) dan tahap setelah kegiatan
selesai (ex-post).
Pada umumnya ada lima indikator kinerja yaitu :
ƒ
Indikator kinerja input (masukan) adalah pelaksanaan kegiatan yang
dibutuhkan untuk dapat menghasilkan keluaran. Misal : dana, SDM,
informasi dan lain-lain.
ƒ
Indikator kinerja output (keluaran) adalah kegiatan yang diharapkan
langsung dicapai berupa fisik maupun non fisik. Misal : jumlah
karyawan yang tersedia.
ƒ
Indikator kinerja outcome (hasil) adalah kegiatan pada jangka
menengah yang mencerminkan berfungsinya keluaran. Misal :
kualitas produk lebih baik.
ƒ
Indikator kinerja benefit (manfaat) adalah penilaian yang terkait
dengan tujuan akhir dari pelaksanaan kegiatan. Misal : tingkat
penerapan ISO 9001 : 2000.
ƒ
Indikator
kinerja
impact
(dampak)
adalah
pengaruh
yang
ditimbulkan baik positif atau negatif pada tingkat indikator. Misal :
tingkat kepuasan pelanggaran.
Standar kinerja adalah ukuran tingkat kinerja yang tercapai dan
dinyatakan dalam suatu pernyataan kuantitatif. Persyaratan standar kinerja yang
baik dapat dilihat sebagai berikut :
ƒ
Dapat di capai dalam kondisi yang ada
ƒ
Ekonomis
ƒ
Mudah di terapkan (Applicable)
ƒ
Mudah di mengerti (Understandable )
ƒ
Terukur (Measurable) dan presisi
ƒ
Stabil dalam kurun waktu yang cukup lama
ƒ
Dapat diatasi dalam berbagai kegiatan
ƒ
Didukung ketentuan atau peraturan yang berlaku
ƒ
Fokus pada pelanggan
ƒ
Dapat diterima sebagai ukuran pembanding oleh pihak-pihak yang
terkait
2.1.3.2 Kinerja Dosen
Kinerja dosen dalam suatu lembaga, menurut pandangan teori perilaku
organisasi ditentukan oleh faktor-faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang
mempengaruhi
kinerja
dosen
adalah
kompetensi
profesional,
motivasi,
kemampuan dan status sosial ekonomi sedangkan faktor eksternal adalah iklim
organisasi, akreditasi dan hubungan antar lembaga Perguruan Tinggi (PT).
Sedangkan
dari
sudut pandang
organisasi, dengan
konsep
yang
dikemukakan oleh Mitchel, T.R. dan Larson (1987, p.343) mengatakan bahwa
dalam melaksanakan tugasnya sebagai dosen tentunya banyak faktor yang dapat
mempengaruhi kinerjanya, yaitu :
ƒ
Penguasaan bahan
ƒ
Mengelola program belajar mengajar
ƒ
Mengelola kelas
ƒ
Menggunakan media dan sumber
ƒ
Menggunakan micro teaching dalam program pengalaman lapangan
Kinerja dosen adalah kualitas hasil kerja dosen yang
diperoleh
berdasarkan pengajaran (proses belajar mengajar) yang mencakup :
ƒ
Kemampuan (penguasaan materi dan metode pengajaran)
ƒ
Prakarsa/inisiatif (berpikir positif yang lebih baik, mewujudkan
kreativitas dan pencapaian prestasi)
ƒ
Ketepatan waktu (waktu datang dan pulang)
ƒ
Kualitas hasil kerja (kepuasan mahasiswa, pemahaman mahasiswa
dan prestasi mahasiswa)
ƒ
Komunikasi (mutu penyampaian materi dan penguasaan keadaan
kelas)
Kinerja dosen adalah hasil kerja seorang dalam mewujudkan tujuan
strategik, kebutuhan mahasiswa dan kontribusinya terhadap perkembangan
pendidikan masyarakat. Dalam kinerja diperlukan evaluasi yang dimaksudkan agar
tercapainya keseimbangan antara keluaran (output) dan hasil (outcome ) secara
efektif serta juga untuk menghemat anggaran (efisiensi). Evaluasi kinerja di
lakukan untuk tujuan agar dapat mengetahui secara pasti hasil, kemajuan dan
kendala yang dijumpai dalam pelaksanaan kegiatan. Fungsi dari evaluasi adalah
untuk mengetahui tingkat keberhasilan, kegagalan dan memberi masukan untuk
mengatasi permasalahan, strategi, kebijakan, pengambilan keputusan, perbaikan
input, proses dan output. Indikator kinerja dosen merupakan acuan yang
mengarah pada efisiensi proses. Indikator-indikator tersebut hanya memberikan
ukuran yang belum sempurna tentang kualitas belajar, atau tentang efektifitas
universitas dalam memenuhi kebutuhan mahasiswanya.
Kinerja dosen selama ini terkesan kurang optimal. Dosen melakukan tugas
hanya sebagai kegiatan rutin, ruang kreativitas. Pelatihan yang diberikan kepada
dosen belum menunjukkan daya kerja yang berbeda dengan sebelum ada
pelatihan.
Kinerja adalah manifestasi hasil karya yang dicapai. Unsur penting dari
kinerja adalah pihak individu dalam hal ini dosen, tujuan dan instrument yang
digunakan.
2.1.4 Kualitas Belajar Mengajar
Pendidikan bukanlah merupakan barang publik, sehingga perguruan tinggi yang
jumlah pemakainya dalam hal ini mahasiswa melebihi batas maka akan berpengaruh
pada kualitasnya. Belajar adalah kegiatan individu dalam memperoleh pengetahuan,
perilaku dan keterampilan dengan cara mengolah bahan ajar. Belajar merupakan
komponen ilmu pendidikan yang berkenaan dengan proses pelaksanaan interaksi, baik
bersifat eksplisit maupun implisit (tersembunyi). Kegiatan atau tingkah laku belajar terdiri
dari kegiatan psikis dan fisik yang saling bekerjasama secara terpadu. Sedangkan
mendidik dan mengajar, yang merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan
dengan proses pelaksanaan interaksi dengan menyampaikan bahan pelajaran dan
melaksanakan beberapa kegiatan dengan tujuan yang jelas. Sehingga terjadi proses
belajar mengajar yang komprehensif. Disamping itu, kegiatan belajar yang dirancang
secara sistematis dalam suatu
sistem pendidikan
mampu
mempelajari proses
terbentuknya kepribadian.
Mahasiswa berbeda satu sama lainnya dan mereka belajar dengan model yang
cocok dengan kebutuhan dan kecendrungan mereka masing-masing. Universitas yang
menggunakan prosedur pengawasan mutu terpadu harus menangkap secara serius isuisu tentang gaya dan kebutuhan pembelajaran untuk meciptakan strategi individualisasi
dan diferensiasi dalam pembelajaran. Apabila model pembelajaran tidak dapat
memenuhi kebutuhan mahasiswa, maka itu berarti bahwa universitas belum mencapai
pengawasan mutu terpadu.
Universitas memiliki kewajiban untuk membuat para mahasiswa sadar terhadap
variasi metode pembelajaran yang diberikan kepada mereka. Universitas juga harus
memberikan kesempatan kepada mahasiswanya untuk mencontoh pembelajaran dalam
variasi model yang berbeda karena
beberapa mahasiswa juga suka pada kombinasi
beberapa gaya belajar.
Sebagai langkah awal dimulai dari kerjasama antara mahasiswa dengan dosen
dalam menetapkan “misi”mereka. Misi disini berarti gaya pembelajaran dan pengajaran
yang telah disepakati bersama. Mahasiswa dapat merundingkan dengan dosen untuk
mendapatkan motivasi dan arahan.
Aspek penting dari peran dalam pendidikan adalah memberdayakan para dosen
dan memberikan mereka wewenang yang luas untuk meningkatkan pembelajaran para
mahasiswa. Dosen merupakan pihak yang terlibat langsung dalam proses belajar
mengajar. Para dosen juga diberikan wewenang untuk mengambil keputusan, sehingga
mereka memiliki tanggung jawab yang besar.
Dalam proses pendidikan, dosen memiliki peranan sangat penting dan strategis
dalam membimbing mahasiswa kearah kedewasaan, kematangan dan kemandirian
sehingga dapat dikatakan dosen merupakan ujung tombak pendidikan. Dalam
melaksanakan tugasnya, dosen tidak hanya menguasai bahan ajar dan memiliki
kemampuan teknis edukatif, tetapi harus juga memiliki kepribadian dan integritas pribadi
yang dapat diandalkan sehingga menjadi panutan bagi mahasiswanya, keluarga maupun
masyarakat. Peran dosen semakin bermakna strategis dalam mempersiapkan sumber
daya manusia yang berkualitas dalam menghadapi era global. Secara sederhana,
peranan dosen dalam menyelenggarakan proses belajar mengajar, adalah membantu
dan memfasilitasi mahasiswa agar mengalami dan melaksanakan proses pembelajaran
yang berkualitas. Dengan begitu akan terjadi proses pembelajaran yang efektif dan
efisien.
Dalam melaksanakan perannya sebagai dosen, pada dasarnya dosen dibekali
kemampuan professional, yang hanya mungkin dilaksanakan secara baik apabila fasilitas
untuk keperluan tersebut tersedia dan dapat digunakan. Fasilitas tersebut berkenaan
dengan tingkat kesejahteraan dosen, yang hanya mampu mendorong dan meningkatkan
pengabdian, dedikasi, loyalitas yang tinggi dalam melaksanakan tugas dan tanggung
jawab profesionalnya.
Proses
pembelajaran
merupakan
proses
yang
mendasar
dalam aktivitas
pendidikan. Proses pembelajaran pada awalnya meminta dosen untuk mengetahui
kemampuan dasar yang dimiliki mahasiswa yang meliputi kemampuan dasarnya,
motivasinya, latar belakang akademisnya, latar belakang sosial ekonominya, dan lain
sebagainya.
Berikut beberapa pendapat mengenai pembelajaran, yaitu :
ƒ
Menurut Arief S Sadiman (dalam M Sobry Sutikno, 2005 p.27) pembelajaran
adalah suatu usaha-usaha yang terencana dalam manipulasi sumber-sumber
belajar agar terjadi proses belajar dalam diri peserta didik.
ƒ
Menurut Iskandar (dalam M Sobry Sutikno, 2005 : p.27), pembelajaran
adalah suatu upaya untuk membelajarkan siswa.
ƒ
Pembelajaran adalah setiap kegiatan yang dirancang oleh dosen untuk
membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan atau nilai yang
baru dalam suatu proses yang sistematis melalui tahap rancangan,
pelaksanaan dan evaluasi dalam konteks kegiatan belajar mengajar.
Dalam pembelajaran harus terdapat suatu usaha yang terencana dengan
memanipulasi sumber-sumber belajar untuk membuat suatu rangkaian proses belajar
kepada peserta didik yang baik.
Pembelajaran memiliki unsur penting, yaitu upaya belajar atau dengan kata lain
adalah usaha yang terencana dalam melakukan proses belajar. Unsur penting lainnya
yaitu adanya siswa atau yang disebut dengan peserta didik. suatu proses belajar tidak
mungkin terjadi jika tidak melibatkan peserta didik
2.1.5 Uji Validitas dan Reliabilitas
2.1.5.1 Uji Valditas
Menurut Simamora (2004, p.58-59), validitas merupakan suatu ukuran
yang menunjukan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu
instrumen dianggap valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan. Dengan
kata lain, mampu memperoleh data yang tepat dari variabel yang diteliti. Misalnya,
meteran dapat mengukur tinggi badan dengan tepat (dalam hal ini tinggi badan
adalah variabel penelitian)
Dalam menyusun kuesioner, pertanyaan yang ingin diajukan perlu
dipastikan. Untuk menentukannya, sebelumnya harus sudah jelas variabel apa
yang diukur. Variabel masih bisa dipecah menjadi sub variabel atau indikator.
Apabila penyusunannya dilakukan sesuai dengan prosedur, sebenarnya kuesioner
telah memenuhi validitas logis. Oleh karena itu validitas logis sangat dipengaruhi
oleh kemampuan peneliti dalam memahami masalah penelitian, mengembangkan
variabel penelitian, serta menyusun kuesioner.
Validitas logis belum memiliki bukti empiris. Sebuah kuesioner yang
disusun secara hati-hati dan dapat dipertimbangkan valid logis, ada baiknya diuji
untuk mengetahui validitas empirisnya.
Untuk menguji tingkat validitas empiris instrumen, peneliti dapat
melakukan try – out dengan memakai responden tebatas dahulu. Dan try – out ini,
ada dua macam validitas sesuai dengan pengujiannya, yaitu validitas eksternal dan
validitas internal.
ƒ
Validitas Eksternal
Validitas instrumen dapat dicapai apabila data yang dihasilkan dari
instrumen tersebut sesuai dengan data atau informasi lain mengenai
variabel yang diteliti. Menurut Umar (2005, p.185), validitas
eksternal
adalah
validitas
yang
diperoleh
dengan
cara
mengkorelasikan alat pengukur baru dengan tolak ukur eksternal,
yang berupa alat ukur yang sudah valid.
ƒ
Validitas Internal
Menurut Simamora (2004, p.59-60), validitas internal dapap dicapai
apabila terdapat kesesuaian antara bagian-bagian kuesioner dengan
kuesioner secara keseluruhan. Dengan kata lain, apabila setiap
bagian di dalam setiap kuesioner mendukung “misi”kuesioner secara
keseluruhan, yaitu mengungkap variable penelitian yang telah
ditentukan sebelumnya. Bagian kuesioner dapat berupa butir-butir
pertanyaan secara sendiri-sendiri, dapat pula berupa faktor, yaitu
kumpulan beberapa butir yang memiliki keterkaitan. Sehubungan
dengan kenyataan ini, maka dikenal adanya validitas butir dan
validitas faktor.
2.1.5.2 Uji Reliabilitas
Menurut Umar (2005, p.194), reliabilitas adalah suatu angka indeks yang
menunjukkan suatu konsistensi suatu alat pengukur dalam mengukur suatu gejala
yang sama. Setiap alat pengukur seharusnya memiliki kemampuan untuk
memberikan hasil pengukuran yang konsisten.
Menurut Simamora (2004, p.63-69), reliabilitas adalah tingkat keandalan
kuesioner. Kuesioner yang reliabel adalah kuesioner yang apabila dicobakan secara
berulang-ulang kepada kelompok yang sama akan menghasilkan data yang sama.
Asumsinya, tidak terdapat perubahan psikologis pada responden. Ada dua jenis
reliabilitas, yaitu reliabilitas eksternal dan reliabilitas internal.
ƒ
Reliabilitas Eksternal
Secara garis besar, reliabilitas eksternal adalah reliabilitas yang
diperoleh dengan membandingkan hasil dua kelompok data. Ada
dua jenis cara unutk menguji reliabilitas eksternal, yaitu teknik
paralel dan teknik ulang.
ƒ
Reliabilitas Internal
Reliabilitas internal diperoleh dengan menganalisis data yang berasal
dari satu kali pengujian kuesioner.
2.2 Kerangka Pemikiran
KERANGKA PEMIKIRAN
Komitmen
Kompetensi
Kehadiran dalam kelas, kehadiran
dalam rapat serta ketepatan waktu
penyerahan nilai
Kuesioner proses pembelajaran
IKAD (Indeks Kinerja Akademis Dosen)
Kinerja Dosen
Kualitas Belajar Mengajar
Sumber : Data 2007
Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran
Download