tugas sarjana - USU-IR - Universitas Sumatera Utara

advertisement
SKRIPSI
TURBIN GAS
PERANCANGAN TURBIN GAS
PENGGERAK GENERATOR PADA INSTALASI PLTG
DENGAN PUTARAN 3000 RPM DAN DAYA TERPASANG
GENERATOR 132 MW
OLEH :
BONAR M. ROBINTANG SIAHAAN
NIM : 05 0421 030
PROGRAM PENDIDIKAN SARJANA EKSTENSI
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
SKRIPSI
TURBIN GAS
PERANCANGAN TURBIN GAS
PENGGERAK GENERATOR PADA INSTALASI PLTG
DENGAN PUTARAN 3000 RPM DAN DAYA TERPASANG
GENERATOR 132 MW
OLEH :
BONAR M. ROBINTANG SIAHAAN
NIM : 05 0421 030
Disetujui Oleh :
Dosen Pembimbing,
(Ir. Isril Amir)
NIP : 130 517 501
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
SKRIPSI
TURBIN GAS
PERANCANGAN TURBIN GAS
PENGGERAK GENERATOR PADA INSTALASI PLTG
DENGAN PUTARAN 3000 RPM DAN DAYA TERPASANG
GANERATOR 132 MW
OLEH :
BONAR M. ROBINTANG SIAHAAN
NIM : 05 0421 030
Telah diperiksa dan diperbaiki dalam seminar periode ke-121
Tanggal 21 February 2009
Dosen Pembanding I,
Dosen Pembanding II,
(Ir. Mulfi Hazwi, MSc)
NIP. : 130 905 356
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK USU
AGENDA
: 199/ TS / 2008
DITERIMA :
MEDAN
PARAF
/
/ 2008
:
SKRIPSI
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
NAMA
: BONAR M. ROBINTANG SIAHAAN
NIM
: 050 421 030
MATA PELAJARAN : TURBIN GAS
SPESIFIKASI
: Rancangan Satu Unit Turbin Gas Pada Instalasi PLTG
dengan Putaran 3000 RPM dan Daya Terpasang pada
Generator 132 MW. Lakukan survey data pembanding
Rancangan Meliputi :
1. Kompresor (Rancangan sederhana)
2. Turbin dan Ruang Bakar
3. Gambar Teknik
DIBERIKAN TANGGAL
: 04 / 07 / 2008.
SELESAI TANGGAL : 06 / 02 / 2009.
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan Putaran 3000
Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan Putaran 3000
Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan Putaran 3000
Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan Putaran 3000
Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas
segala berkat-Nya yang memberi kesehatan, kesempatan seta pengetahuan kepada
penulis sehingga dapat menyelesaikan Tugas Skripsi ini.
Adapun laporan tugas skripsi yang berjudul “Perancangan Turbin Gas
Penggerak Generator Pada Instalasi PLTG Dengan Putaran 3000 RPM dan
Daya Terpasang Generator 132 MW” ini merupakan salah satu syarat dalam
menyelesaikan studi di Departemen Teknik Mesin, Program Studi Pendidikan
Sarjana Ekstensi Universitas Sumatera Utara, Medan.
Sesuai dengan judulnya, dalam laporan tugas skripsi ini akan dibahas
mengenai perhitungan analisa thermodinamika serta perancangan komponenkomponen utama pada sistem turbin gas.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada berbagai
pihak yang turut membantu penulis dalam menyelesaikan tugas skripsi ini yang
telah banyak memberi dukungan moril, materil, spiritual, tenaga dan waktu . Oleh
karena itu, sudah selayaknya penulis menyampaikan terimakasih banyak kepada :
1. Bapak Dr. Ing. Ikhwansyah Isranuri, sebagai Ketua Departemen Teknik Mesin
Fakultas Teknik USU;
2. Bapak Ir. Isril Amir, sebagai Koordinator PPSE Departemen Teknik Mesin
Fakultas Teknik USU dan juga sebagai Dosen Pembimbing Tugas Sarjana;
3. Bapak dan Ibu dosen dan seluruh pegawai administrasi Departemen Teknik
Mesin Fakultas Teknik USU;
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
4. Seluruh rekan-rekan mahasiswa khususnya Ekstensi stambuk 2005 Fakultas
Teknik USU serta teman-teman selaku mahasiswa pembanding;
5. Kedua orang tua penulis, A. Siahaan S.H (alm.) dan E. Br. Silalahi beserta
saudara-saudara penulis.
6. Buat teman-teman satu kost, Richson, David, Diego, Adi, Victor, Christian,
Erikson, dll.
Dalam penyusunan tugas skripsi ini, penulis telah berupaya dengan segala
kemampuan dalam pembahasan dan pengkajian dengan disiplin ilmu yang telah
diperoleh selama di perkuliahan, serta bimbingan dari dosen pembimbing. Penulis
menyadari masih banyak kekurangan-kekurangan dalam penyelesaian tugas
skripsi ini. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi kesempurnaan tugas skripsi ini.
Akhirnya penulis berharap semoga laporan tugas skripsi ini bermanfaat
bagi siapapun yang membacanya.
Medan,
February 2009
Hormat saya,
Bonar M. Robintang Siahaan
NIM : 05042130
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
DAFTAR ISI
Hal.
SPESIFIKASI TUGAS
KARTU BIMBINGAN
KATA PENGANTAR …………………………………………………….
i
DAFTAR ISI ………………………………………………………………
iii
DAFTAR NOTASI ………………………………………………………..
v
DAFTAR TABEL ….……………………………………………………...
ix
DAFTAR GAMBAR ………………………………………………………
x
BAB I.
PENDAHULUAN …...................................................................... 1
1.1. Latar Belakang Perencanaan …...……………………………. 1
1.2. Tujuan Perancangan …………………………………………. 2
1.3. Batasan Masalah ……………………………………………... 3
1.4. Metodologi Penulisan ………………………………………... 3
BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………… 4
2.1. Cara Kerja Instalasi Turbin Gas …………………………….. 4
2.2. Klasifikasi Turbin Gas ………………………………………. 5
2.3. Siklus kerja Turbin Gas ……………………………………… 11
2.4. Ruang Bakar …………………………………………………. 18
2.5. Generator …………………………………………………….. 19
2.5. Laju Aliran Massa Udara …………………………………….. 20
2.7. Perencanaan Turbin ………………………………………….. 22
BAB III. ANALISA TERMODINAMIKA ……………………………….. 29
3.1. Spesifikasi Teknis Perancangan ……………………………… 29
3.2. Kompresor ……………………………………………………. 30
3.2.1. Jenis-jenis Kompresor ………………………………….. 30
3.2.2. Analisa Termodinamika Kompresor …………………… 31
3.3. Ruang Bakar ………………………………………………….. 35
3.3.1. Analisa Bahan Bakar dan Reaksi Pembakaran ………… 38
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
3.4. Turbin ………………………………………………………… 42
3.4.1. Analisa Termodinamika Turbin ………………………... 42
3.5. Generator ……………………………………………………... 48
3.6. Laju Aliran Massa Udara …………………………………….. 49
BAB IV. PERANCANGAN BAGIAN-BAGIAN UTAMA …………….. 29
4.1. Unit Kompresor ………………………………………………. 52
4.1.1. Jumlah Tingkat Kompresor …………………………….. 52
4.1.2. Sudu Kompresor …………………..………….………… 58
4.1.3. Poros Utama (Tie Rod) …………………………………. 66
4.1.4. Disk Kompresor ………………………………………… 68
4.2. Unit Ruang Bakar (Combustion Chamber) .………………….. 70
4.2.1. Luas dan Diameter Casing ……………………………… 71
4.2.2. Tabung Api (Liner) Ruang Bakar ………………………. 72
4.3. Unit Turbin …………………………………………………… 74
4.3.1. Perencanaan Sudu Turbin dan Disk Turbin ……………. 74
4.3.2. Perencanaan Poros Penghubung ……………………….. 90
BAB V.
BANTALAN DAN PELUMASAN ……………………………... 92
5.1. Jenis Pembebanan ……………………………………………. 92
5.1.1. Pembebanan Aksial ……………………………………. 92
5.1.2. Pembebanan Radial …………………………………….. 93
5.2. Perencanaan Bantalan Luncur ………………………………... 94
5.2.1. Perencanaan Bantalan Luncur Turbin ………………….. 96
5.2.2. Perencanaan Bantalan Luncur Kompresor ……………... 99
5.2.3. Perencanaan Bantalan Aksial …………………………... 101
5.2.4. Putaran Kritis …………………………………………… 104
BAB VI. KESIMPULAN ………………………………………………….. 109
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………….. 111
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
DAFTAR NOTASI
1. Simbol dari abjad biasa
Simbol Latin
Arti
Satuan
A
Luasan yang ditempati gas
m2
Ab
Luas bidang normal
mm2
Ag
Luas bidang geser
mm2
AFR
Perbandingan udara dengan bahan bakar
kg/kg
C
Celah antara sudu
m
c
Panjang chord sudu
m
Ca
Kecepatan aksial
m/s
cp
Panas jenis pada tekanan konstan
Cx
Panjang chord arah aksial
m
Cw2
Kecepatan whirl masuk sudu gerak
m/s
Cw3
Kecepatan whirl keluar sudu gerak
m/s
C1
Kecepatan absolute gas masuk sudu gerak
m/s
C2
Kecepatan absolute
m/s
C3
Kecepatan absolute gas keluar sudu gerak
m/s
Fc
Faktor koreksi
-
Ft
Gaya tangensial
FAR
Perbandingan bahan bakar dengan udara
kg/kg
G
Kecepatan grafitasi
m/s2
Ar
kerja yang dilakukan untuk melawan gesekan
kJ/kg.k
kgf ; N
kg.m/det
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
h
Tinggi sudu
m
hm
Tinggi rata-rata sudu
m
h1
Enthalpy udara masuk kompresor
kJ/kg
h2
Enthalpy udara keluar kompresor
kJ/kg
h2’
Enthalpy udara keluar kompresor aktual
kJ/kg
h3
Enthalpy gas keluar ruang bakar ideal
kJ/kg
h4
Enthalpy gas keluar turbin ideal
kJ/kg
h4’
Enthalpy gas keluar turbin aktual
kJ/kg
Laju aliran massa udara
kg/s
Laju aliran massa udara bahan bakar
kg/s
Laju aliran massa udara pendingin
kg/s
mg
Laju aliran massa gas
kg/s
n
Putaran sudu
rpm
nc
Putaran kritis sistem
rpm
n
Jumlah tingkat turbin
-
Pk
Daya kompresor
Watt
Pt
Daya turbin
Watt
P01
Tekanan gas pada kondisi stagnasi
bar
P1
Tekanan pada kondisi statik
bar
P02
Tekanan gas setelah terjadinya proses
bar
pr
reduction pressure
-
qrb
Kalor ruang bakar
Watt
qin
Kalor masuk
kJ/kg
•
ma
•
mf
•
mP
•
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
qeff
Kalor efektif
kJ/kg
qout
Kalor keluar
kJ/kg
RR
Derajat reaksi tingkat
-
r
Radius jurnal
m
rP
Pressure ratio
-
rr
Jari-jari akar sudu
m
rm
Jari-jari tengah sudu
m
s
Panjang pitch sudu
m
s
Entropi
T1
Temperatur udara masuk kompresor
K
T1
Temperatur gas pada kondisi statik
K
T2
Temperatur udara keluar kompresor
K
T01
Temperatur gas pada kondisi stagnasi
K
T02
Temperatur pada P02
K
T2’
Temperatur udara keluar kompressor aktual
K
T3
Temperatur udara keluar ruang bakar ideal
K
T4
Temperatur udara keluar turbin ideal
K
T4’
Temperatur udara keluar turbin aktual
K
tm
Tebal rata – rata sudu
m
Ur
Kecepatan rotasi sudu
m/s
Um
Kecepatan tangensial rata - rata sudu
m/s
V
Volume
m3
V2
Kecepatan relative gas masuk sudu
m/s
V3
Kecepatan relative gas keluar sudu
m/s
kJ/kg.K
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
w
Tebal sudu gerak
m
Win
Kerja spesifik masuk
kJ/kg
Wout
Kerja spesifik keluar
kJ/kg
Wsg
Berat sudu gerak
N
Wk 1-2
Kerja kompressor ideal
kJ/kg
Wk 1-2’
Kerja kompressor aktual
kJ/kg
Wnett
Kerja bersih
kJ/kg
z
Jumlah sudu
-
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
DAFTAR TABEL
Tabel
Nama Tabel
Halaman
3.1
Komposisi bahan bahan bakar turbin gas
38
4.1
Perbandingan dasar dan puncak sudu
54
4.2
Kondisi udara tiap tingkat kompresor
57
4.3
Ukuran-ukuran utama kompresor
63
4.4
Berat dan diameter disk kompresor
70
4.5
Kondisi tiap tingkat turbin
82
4.6
Ukuran-ukuran sudu turbin
88
4.7
Ukuran-ukuran utama sudu turbin
88
4.8
Berat tingkat (stage) turbin
89
5.1
Defleksi pada poros
107
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
DAFTAR GAMBAR
Gambar
Nama Gambar
Halaman
2.1
A recuperative medium size industrial gas turbine
4
2.2
Instalasi turbin gas
5
2.3
Diagram alir turbin gas siklus terbuka
6
2.4
Skema instalasi gas siklus tertutup langsung
7
2.5
Bagan siklus turbin gas tertutupo tak langsung
7
2.6
Rotor Turbin Rasio Bertekanan Tinggi ALSTOM
9
2.7
Karakteristik turbin aliran radial
10
2.8
Diagram T – s siklus terbuka turbin gas
11
2.9
Grafik hubungan efisiensi dengan rasio tekanan
14
2.10
Diagram T-s siklus actual
15
2.11
Grafik variasi nilai efisiensi isentropik turbin
18
2.12
Daya pada generator
19
2.13
Penampang pada sudu turbin
25
2.14
Aksi gaya efektif pada cascade
28
3.1
Kaedaan stagnasi pada kompresor
31
3.2
Susunan ruang bakar unit turbin gas
36
3.3
Section burner combination
37
3.4
Turbin dengan Exhaust Difuser
43
3.5
Skema alur daya pada instalasi turbin gas
48
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
4.1
Grafik hubungan s/c
61
4.2
Profil sudu aerofoil
64
4.3
Penampang konstruksi turbin gas
68
4.4
50 Percent Reaction Design
75
4.5
Diagram kecepatan untuk derajat reaksi
76
4.6
Diagram h–s untuk satu tingkat turbin
77
4.7
Axial flow turbin stage
84
4.8
Nilai ‘optimum’ pitch/chord ratio
86
4.9
Profil sudu turbin gas dan T6 aerofoil section
87
4.10
Poros penghubung
90
5.1
Free body diagram poros
93
5.2
Bantalan luncur
95
5.3
Grafik koefisien kriteria beban, Φv
97
5.4
Grafik koefisien tahanan, Φv
97
5.5
Bantalan aksial kerah
101
5.6
Defleksi pada poros
105
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Perencanaan
Salah satu bentuk energi yang paling dibutuhkan manusia sekarang ini
adalah energi listrik. Manusia membutuhkan energi listrik untuk keperluan rumah
tangga, industri, transportasi dan lainnya. Kehidupan manusia dari dahulu sampai
sekarang yang terus berkembang dan semakin kompleks, selalu diiringi dengan
kebutuhan energi yang semakin meningkat. Energi listrik yang besar serta
penggunaannya secara terus menerus tidak tersedia secara alami di alam ini. Oleh
sebab itu dibutuhkan suatu alat yang dapat mengubah energi dari bentuk lain
menjadi energi listrik.
Cukup banyak sistem pembangkit yang digunakan pada saat ini untuk
memenuhi kebutuhan listrik, salahsatunya adalah turbin gas. Turbin gas sangat
luas dan beragam penggunaannya. Salah satu contoh penerapannya yang paling
banyak dikenal adalah sebagai mesin yang menghasilkan daya dorong pada
pesawat terbang. Di industri, turbin gas digunakan untuk menggerakkan
bermacam–macam peralatan mekanik misalnya pompa dan kompressor atau
generator listrik yang kecil. Turbin gas juga digunakan untuk menghasilkan daya
listrik untuk mengisi beban puncak dan terkadang juga beban menengah dan
beban dasar.
Turbin gas merupakan salah satu mesin konversi energi yang sesuai
sebagai salah satu alternatif karena dapat menghasilkan energi listrik dengan daya
yang cukup besar serta efisiensi yang tinggi. Untuk kebutuhan yang sama turbin
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
gas memiliki keunggulan dibandingkan instalasi sejenis yang lainnya seperti
dalam hal ukuran, massa dan satuan keluaran daya turbin gas juga dapat mencapai
beban pucak dalam waktu yang relatif singkat. Konstruksinya juga dapat dibuat
untuk menghasilkan daya rendah sampai daya tinggi
Berdasarkan hal–hal diatas maka sangat tepat jika instalasi turbin gas
dipilih sebagai instalasi pembangkit daya terutama sebagai penggerak generator
untuk menghasilkan daya listrik pada sebuah instalasi pembangkit tenaga listrik.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan utama dari tugas perancangan ini adalah untuk memenuhi
syarat memperoleh gelar Strata 1 dari Departemen Teknik Mesin Universitas
Sumatera Utara.
Sedangkan tujuan umum tugas perancangan ini adalah :
a. Untuk lebih mengetahui dan memahami aplikasi ilmu yang diperoleh di
bangku kuliah terutama mata kuliah Turbin Gas dan Sistem Pembangkit
Tenaga
b. Merancang sebuah turbin gas penggerak generator pada instalasi PLTG
dengan putaran 3000 RPM, dan daya terpasang pada generator 132 MW.
1.3 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah dari tugas skripsi ini adalah:
a. Perhitungan thermodinamika turbin gas
Yang meliputi: perhitungan daya dengan pemanfaatan kalor yang akan
terjadi pada turbin gas dan perhitungan laju aliran massa
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
b. Perhitungan komponen–komponen utama turbin gas
Yang meliputi perhitungan, sudu gerak, perhitungan ukuran cakram,
poros, bantalan dan pelumasan
c. Gambar penampang (gambar teknik) turbin gas.
1.4 Metodologi Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan tugas skripsi ini adalah
a. Survey lapangan, yakni berupa peninjauan langsung ke lokasi tempat unit
pembangkit itu berada
b. Studi literatur, yakni berupa studi kepustakaan, kajian dari buku-buku dan
tulisan-tulisan yang terkait
c. Diskusi, yakni berupa tanya jawab dengan dosen pembimbing, dosen
pembanding yang nantinya akan dihunjuk oleh pihak Departemen Teknik
Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara mengenai kekurangankekurangan didalam penulisan tugas skripsi ini.
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Cara Kerja Instalasi Turbin Gas
Turbin gas merupakan suatu penggerak mula yang mengubah energi
potensial gas menjadi energi kinetik dan energi kinetik ini selanjutnya diubah
menjadi energi mekanis dalam bentuk putaran poros turbin. Poros turbin secara
langsung atau dengan bantuan roda gigi reduksi dihubungkan dengan mekanisme
yang digerakkan. Turbin gas dapat digunakan pada berbagai bidang industri,
diantaranya pembangkit tenaga listrik dan untuk transportasi. Dalam perancangan
ini turbin gas digunakan untuk menggerakkan generator listrik pada PLTG.
Recuperator
Compressor
Turbine
Combustor
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Gambar 2.1 A recuperative medium–sized Industrial Gas Turbine (Courtesy Solar
Turbines Incorporated)
Turbin gas merupakan suatu unit yang menggunakan gas sebagai fluida
kerjanya. Sistem turbin gas paling sederhana terdiri atas kompresor, ruang bakar
dan generator.
Kompresor memampatkan udara dari luar menjadi udara yang bertekanan tinggi
dan diumpankan ke ruang bakar. Bersama-sama dengan udara yang bertekanan
tinggi, gas alam dibakar di ruang bakar. Gas panas yang keluar dari pembakar atau
reaktor dapat dipakai langsung sebagai fluida kerja yang dialirkan ke turbin untuk
menggerakkan rotor yang dihubungkan dengan generator listrik.
Udara
Gas
Buang
Ruang Bakar
Tenaga
Listrik
Poros
Kompresor
Turbin
Kopel
Generator
Gambar 2.2. Instalasi turbin gas
2.2 Klasifikasi Turbin Gas
2.2.1 Berdasarkan Siklus Kerja
2.2.2.i Turbin Gas Siklus Terbuka (open cycle gas turbine)
Pada siklus ini gas hasil pembakaran langsung dibuang ke udara
bebas setelah diekspansikan di dalam turbin. Instalasi ini memiliki struktur
yang sederhana yaitu terdiri dari kompresor, ruang bakar, dan turbin yang
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
berfungsi sebagai penggerak kompresor dan beban. Skema instalasi turbin gas
siklus ini ditunjukkan pada gambar sebagai berikut :
Bahan
Bakar
Udara
masuk
Gas
Buang
RB
K
T
Gambar 2.3.Diagram alir turbin gas siklus terbuka
2.2.1.ii Turbin Gas Siklus Tertutup (closed cycle gas turbine)
Turbin gas siklus tertutup terbagi atas dua jenis, yaitu turbin gas dengan
siklus tertutup langsung dan turbin gas dengan siklus tertutup tak langsung. Pada
turbin gas dengan siklus tertutup langsung (direct closed cycle), gas pendingin
dipanaskan di dalam reaktor dan berekspansi melalui turbin, didinginkan di dalam
penukar kalor dan dikompresi kembali ke reaktor. Siklus ini dapat juga
menggunakan gas lain yang bukan hanya udara. Tidak ada buangan gas radioaktif
yang dibuang ke atmosfer dalam operasi normal. Fluida yang paling cocok untuk
ini adalah helium. Sedangkan pada turbin gas dengan siklus tertutup tak langsung
(indirect closed cycle), turbin gas dengan siklus ini merupakan gabungan antara
turbin dengan siklus terbuka tak langsung dan turbin dengan siklus tertutup
langsung, karena reaktornya terpisah dari fluida kerja oleh suatu penukar kalor.
Sedangkan gas kerja itu membuang kalor ke atmosfer melalui penukar kalor.
Bahan pendingin primer biasanya air, atau gas helium.
Pada siklus tertutup ini fluida kerja tidak berhubungan dengan atmosfir
sekitarnya, dengan demikian dapat juga dijaga kemurniannya. Hal ini sangat
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
menguntungkan dari segi pencegahan kerusakan yang disebabkan oleh erosi dan
korosi. Pada sistem ini dapat juga digunakan dengan udara bertekanan tinggi
sampai 40 atm seperti pada instalasi uap, tetapi kerjanya tidak mengalami
perubahan fasa. Keuntungan pada siklus ini antara lain adalah :
1. Untuk daya yang sama turbin ini mempunyai ukuran yang lebih kecil
2. Dapat digunakan pada sistem bertekanan tinggi
3. Lebih menghemat penggunaan bahan bakar
Reaktor
3
2
Turbin
Kompresor
Beban
Penukar -Kalor
1
Gas Keluar
4
Gas masuk
Gambar 2.4 Skema instalasi gas siklus tertutup langsung
Reaktor
Pendingin
Primer`
2
Gas
3
Penukar -Kalor
Turbin
Kompresor
Penukar -Kalor
4
1
Udara atau
Air pendingin
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Gambar 2.5 Bagan siklus turbin gas tertutup tak langung
2.2.1.iii Siklus Kombinasi (combined cycle)
Siklus kombinasi pada umumnya adalah usaha untuk memanfaatkan gas
buang dengan cara menambahkan beberapa alat sehingga energi yang seharusnya
terbuang dapat dimanfaatkan lagi untuk suatu proses tertentu yang pada akhirnya
proses tersebut akan meningkatkan efisiensi sistem. Turbin gas dengan siklus ini
akan bermanfaat jika dijalankan untuk base load (beban dasar atau utama) dan
secara kontinyu.
2.2.2 Berdasarkan Konstruksi
2.2.2.i Turbin Gas Poros Tunggal
Turbin satu poros mempunyai kompresor, turbin, dan beban pada satu
poros yang berputar pada kecepatan tetap. Konfigurasi ini digunakan untuk
menggerakkan generator kecil dan generator besar untuk utilitas.
2.2.2.ii Turbin Gas Poros Ganda
Turbin ini digunakan untuk menahan beban dan torsi yang bervariasi
dimana poros pertama turbin dikopel langsung dengan poros aksial. Pada jenis ini,
turbin terdiri atas dua buah yaitu turbin tekanan tinggi dan turbin tekanan rendah.
Turbin dengan tekanan tinggi berfungsi menggerakkan kompresor dan mensuplai
gas panas untuk turbin bertekanan rendah. Turbin berporos ganda ini juga
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
digunakan untuk sentral listrik dan industri. Turbin ini direncanakan beroperasi
pada putaran yang berbeda tanpa menggunakan reduction gear.
2.2.3 Berdasarkan Aliran Fluida
2.2.3.i Turbin Aliran Axial
Adalah turbin dengan arah aliran fluida diperoleh pada arah sejajar dengan
dengan sumbu poros turbin.
Turbin aksial umumnya sering digunakan untuk kapasitas dan daya besar karena
mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan turbin jenis radial. Antara lain
yaitu:
1. Efisiensinya lebih baik
2. Perbandingan tekanan (rp) dapat dibuat lebih tinggi
3. Konstruksinya lebih ringan serta tidak membutuhkan ruangan yang besar.
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Gambar 2.6 Rotor turbin rasio bertekanan tinggi ALSTOM (Dikutip dari buku
Gas Turbine Engineering Hand book, Meherwan P. Boyce)
Bila ditinjau dari sistem konversi energinya, turbin aksial dibagi menjadi dua
bagian yaitu :
1. Turbin aksial reaksi
Turbin yang proses ekspansinya terjadi tidak saja pada laluan–laluan sudu
gerak, sehingga penurunan seluruh kandungan kalor pada semua tingkat
terdistribusi secara merata.
2. Turbin aksial aksi (impuls)
Merupakan turbin yang proses ekspansi (penurunan tekanan) fluidanya hanya
terjadi pada sudu diam dan energi kecepatan diubah menjadi energi mekanis
pada sudu–sudu turbin (tanpa terjadinya ekspansi pada sudu gerak itu).
2.2.3.ii Turbin Aliran Radial
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Adalah turbin dengan arah aliran fluida diperoleh pada arah tegak lurus
dengan sumbu poros turbin.
Gambar 2.7 Karakteristik turbin aliran radial
Pada turbin radial, ekspansi fluida dari tekanan awal ke tekanan akhir terjadi di
dalam laluan semua baris sudu–sudu yang berputar.
Turbin radial umumnya digunakan untuk aliran yang kecil, dimana
t urbin radial lebih murah dan sederhana untuk dibuat bila dibandingkan
dengan turbin aksial. Sebagai contoh pada instalasi turbin gas yang kecil
dalam bidang automotif dan pompa pemadam yang dapat dipindah–pindah.
Pada gambar 2.7 diatas diperlihatkan karakteristik turbin aliran radial.
2.3 Siklus Kerja Turbin Gas
Turbin gas secara thermodinamika bekerja dengan siklus Brayton (Brayton
cycle). Siklus ini merupakan siklus ideal untuk sistem turbin gas sederhana
dengan siklus terbuka. Siklus ini terdiri dari dua proses isobar (tekanan tetap) dan
dua proses adibatik mampu balik (isentropic). Siklus ideal adalah siklus dengan
asumsi :
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
1. Proses kompresi dan ekspansi terjadi secara isentropik
2. Perubahan energi kinetik dari fluida kerja antara sisi masuk dan sisi keluar
kompresor diabaikan
3. Tidak ada kerugian tekanan pada sisi masuk dan sisi keluar ruang bakar
4. Laju aliran massa gas dianggap konstan.
Adapun diagram T–s untuk siklus terbuka seperti terlihat pada gambar berikut
T
3
q in
W out
2
4
q out
1
s
Gambar 2.8 Diagram T – s siklus terbuka turbin gas
Dari gambar diagram T –s tersebut, proses yang terjadi adalah :
Proses 1 – 2 : Proses kompresi isentropik pada kompresor
Proses ini merupakan proses kerja kompresor. Kerja spesifik kompresor
itu sendiri adalah kalor spesifik yang dibutuhkan untuk menggerakkan kompresor
pada kondisi ideal.
WK
= Cp ( T2 – T1 )
= h2 – h1
(kJ/kg)
...(lit 2. hal 38)
dimana:
Cp
= panas jenis udara pada tekanan konstan (kJ/kg oK)
T1
= Temperatur udara masuk kompresor (oK)
T2
= Temperatur udara keluar kompresor (oK)
= Temperatur udara masuk ruang bakar
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
h1
= Entalpi udara spesifik masuk kompresor (kJ/kg)
h2
= Entalpi udara spesifik keluar kompresor (kJ/kg)
= Entalpi udara spesifik masuk ruang bakar
Proses 2 – 3 : Proses pembakaran pada tekanan konstan (isobar) dalam ruang
bakar. Proses ini merupakan proses terjadinya pemasukan panas yang juga berarti
besarnya kalor spesifik pada ruang bakar
Qin
= Cp ( T3 – T2 )
= h3 – h2
(kJ/kg)
...(lit 2. hal 38)
dimana:
T3
= Temperatur gas keluar ruang bakar (oK)
= Temperatur gas masuk turbin
h3
= Entalpi gas keluar ruang bakar atau Entalpi gas masuk turbin (kJ/kg)
Pada proses ini terjadi proses pembakaran bahan bakar dengan udara.
Udara dibutuhkan untuk reaksi stoikiometri pembakaran yang dapat diperoleh dari
persamaan umum
CxHy + nO2 → aCO2 + bH2O
Dimana :
a = x, b = (y /2) dan n = x + (y /4)
Proses 3 – 4 : Proses ekpansi isentropik pada turbin
Proses ini merupakan proses kerja turbin
WT
= Cp ( T3 – T4 )
= h3 – h4
(kJ/kg)
…(lit 2,hal. 38)
dimana:
T4
= Temperatur gas keluar turbin (oK)
h4
= entalpi gas keluar turbin (kJ/kg)
Proses 4 – 1 : Proses pembuangan kalor pada tekanan konstan
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Proses ini menyatakan besarnya kalor spesifik pada proses pembuangan kalor
Qout
= Cp ( T4 – T1 )
= h4 – h1
(kJ/kg)
Dari kerja spesifik yang terjadi pada setiap proses diatas maka diperoleh
1. Kerja Netto Siklus (Wnett)
Kerja netto siklus adalah selisih kerja yang dihasilkan turbin dengan kerja yang
dibutuhkan kompresor tiap kg gas
Wnett
= WT - WK
= Cp ( T3 – T4 ) - Cp ( T2 – T1 )
Wnett
= Cp [( T3 – T4 ) - ( T2 – T1 )]
…(Lit.2, hal. 39)
Gambar 2.9 Grafik hubungan efisiensi dengan rasio tekanan
2. Kalor Efektif (Qeff )
Adalah selisih antara pemasukan dan pembuangan kalor spesifik
Qeff
= Qin - Qout
= (h3 – h2) – (h4 – h1)
(kJ/kg)
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
3.Efisiensi siklus (η)
Adalah perbandingan antara kerja netto siklus dengan pemasukan energi,
η
=
Wnett C p (T3 − T4 ) − C p (T2 − T1 )
=
C p (T3 − T2 )
Qin
...(lit 2, hal. 39)
4.Pressure Ratio (rp)
Adalah perbandingan tekanan dikarenakan proses 1 – 2 dan 3 – 4 berlangsung
secara isentropis dimana, P1 = P4 dan P2 = P3 maka
( γ −1)
T
T2
γ
=r
= 3
T1
T4
Dimana r adalah rasio tekanan,
P
P2
=r= 3
P1
P4
Sehingga,
ηtotal
1
=1-  
r
(γ −1)
γ
Proses diatas merupakan proses secara teoritis. Pada kenyataannya terjadi
penyimpangan dari proses tersebut dimana proses inilah yang disebut proses
aktual. Proses aktual ini diakibatkan oleh :
a. Fluida kerja bukan merupakan gas ideal dengan panas spesifik konstan,
b. Laju aliran massa fluida kerja tidak konstan,
c. Proses yang terjadi disetiap komponen adiabatik,
d. Proses kompresi didalam kompresor tidak berlangsung secara isentropik,
e. Proses ekspansi didalam turbin tidak berlangsung secara isentropis,
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
f. Proses pembakaran tidak berlangsung secara adiabatik serta tidak
menjamin terjadinya proses pembakaran sempurna dan
g. Terjadinya penurunan tekanan pada ruang bakar dan turbin.
Penyimpangan yang terjadi dapat dilihat pada diagram T–s berikut,
Gambar 2.10 Diagram T-s siklus aktual
Adapun proses yang terjadi dari diagram T-s diatas adalah :
Proses 1 – 2’ : Proses kompresi secara aktual pada kompresor (kerja kompresor).
Proses ini merupakan proses kerja spesifik kompresor yaitu kalor spesifk yang
dibutuhkan untuk menggerakkan kompresor
WK
=
1
ηm
Cpa (T02 − T01 )
…(Lit.2 hal. 56)
Proses 2’ – 3 : Proses pemasukan kalor
Proses pemasukan kalor terjadi dalam ruang bakar pada tekanan konstan (isobar).
Q
= Cpa (T02 – T01)
…(Lit.2 hal. 46)
Proses 3 – 4’ : Kerja turbin
Proses ini merupakan proses ekspansi secara aktual pada turbin
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Dimana :
Wt
= Cpg (T03 – T04)
Cpg
= panas spesifik gas pada tekanan konstan
…(Lit.2 hal. 64)
= 1,148 kJ /kg.K
5. Efisiensi kompresor dan turbin
a. Efisiensi isentropik
Dengan menggunakan konsep enthalpy stagnasi atau temperatur untuk
memperoleh jumlah setiap perubahan dalam energi kinetik fluida diantara sisi
masuk dan buang. Untuk itu diperoleh efisiensi kompresor dan tubin dengan
menggunakan perbandingan temperatur stagnasi, yaitu:
Kompresor : ηc
=
T '−T
W'
= 02 01
W
T02 − T01
ηt
=
T − T04
W
= 03
W ' T03 − T04 '
Turbin :
…(Lit.2 hal. 49)
Pada perhitungan siklus, nilai untuk ηc dan ηt nantinya akan diasumsikan.
Sedangkan temperatur ekivalen dari transver kerja adalah untuk memberikan
perbandingan tekanan (ratio pressure), dengan persamaan
(γ −1)


T01  P02  γ


T02 – T01 =
− 1

η C  p 01 


Dan,


1
T03 – T04 = ηt .T03 1 − 
  p 03 / p 04




(γ −1)
γ




…(Lit.2 hal. 49)
b. Efisiensi politropik
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Dengan pertimbangan yang membawa kepada konsep politropic (small-stage)
efficiency yang didefenisikan sebagai efisiensi isentropik yang berkenaan dengan
tigkat dalam proses, adalah konstan pada keseluruhan proses. Dalam perhitungan
siklus akan dituliskan dengan persamaan
( n −1)


n


p
T02 – T01 = T01  02 
− 1
 p 01 



Dimana (n – 1)/n = (γ − 1) / γη ∞C
Dan,


1
T03 – T04 = T03 1 − 

  p 03 / p 04




( n −1)
n




…(Lit.2 hal. 53)
Dimana (n – 1)/n = η ∞ (γ − 1) / γ
Untuk turbin gas pada industri diambil p 01 = p a dan T01 = Ta , dimana untuk gas
buang turbin ke atmosfir luar p 04 akan diambil sama dengan p a .
Jika nilai efisiensi isentropik yang diperoleh bervariasi dengan kompresi atau
rasio ekspansi, maka akan ditampilkan pada grafik sebagai berikut,
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Gambar 2.11. Grafik variasi nilai efisiensi isentropic turbin dan kompresor dengan
rasio tekanan untuk efisiensi politropik 85%
2.4 Ruang Bakar
Suatu reaksi kimia dimana suatu bahan bakar dioksidasi dan sejumlah
besar energi dilepaskan, disebut pembakaran. Hal tersebut terjadi di dalam ruang
bakar atau combustion chamber. Pengoksidasi yang paling sering digunakan di
dalam proses pembakaran adalah udara karena pertimbangan udara dapat
diperoleh bebas dan siap tersedia. Kalor spesifik yang masuk (qin) pada ruang
bakar adalah gas hasil pembakaran. Pembakaran ini menaikkan temperatur gas
sekaligus menaikkan enthalpinya dan secara teoritis terjadi pada tekanan konstan.
Seperti yang telah disebutkan diatas, udara dibutuhkan untuk reaksi stoikiometri
pembakaran yang dapat diperoleh dari persamaan umum
CxHy + nO2 → aCO2 + bH2O
Dimana :
a = x, b = (y /2) dan n = x + (y /4)
2.5 Generator
Pada proses pembebanan arus bolak balik, unsur yang terlihat dalam konversi
energi daya adalah :
1. Daya nyata (V.I.cosφ) dalam Watt merupakan besaran yang terlibat dalam
konversi daya
2. V.I.cosφ merupakan daya reaktif yang juga merupakan suatu kebutuhan yang
harus dilayani. Daya reaktif hanya membebani biaya investasi bukan biaya
operasi
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Beban membutuhkan daya reaktif karena,
1. Karakteristik beban itu sendiri yang tidak bisa dielakkan
2. Proses konversi daya didalam alat itu sendiri.
Dari hal diatas disimpulkan bahwa daya yang harus disuplai oleh turbin
kepada generator harus dapat memenuhi kebutuhan daya nyata atau daya reaktif
seperti digambarkan pada gambar berikut ini
Dimana :
PG
φ
PG = daya berguna
PB = daya semu
PE = daya reaktif
PB
PE
Gambar 2.12. Daya pada generator
Dalam hal transmisi daya dan putaran ke generator akan terjadi kerugian mekanis.
Sehingga daya yang dibutuhkan generator adalah daya semu
PB
Dimana :
=
PG
cos ϕ
Cosφ = Faktor daya
Sedangkan daya reaktifnya yaitu :
PE
Dimana :
=
PB
η g .η m
ηg = Efisiensi generator
ηm = Efisiensi mekanis generator (0,9)
2.6. Laju Aliran Massa Udara
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Dalam menentukan laju aliran massa udara dan bahan bakar maka keadaan
yang dihitung adalah pada temperatur rata–rata udara atmosfer yang dihisap
kompresor. Hal ini berguna untuk mendapatkan perbedaan daya keluaran sistem
agar tidak terlalu besar bila sistem bekerja pada temperatur udara atmosfer rendah
ataupun temperatur udara atmosfer tinggi.
Laju aliran massa udara dan bahan bakar dapat dihitung dengan menggunakan
prinsip kesetimbangan energi dan instalasi :
PE
= PT - PK
PE
= (( ma + m f ). WTa - ma . WKa
o
o
o
Dimana :
o
ma =
o
ma =
PE


 mf 
1 + o .WT − WK

m a 

o
…(Lit.2 hal 232)
PE
(1 + FAR ).WT − WK
o
o
m f = FAR . ma
o
Dimana :
ma
= Laju aliran massa udara (kg/s)
o
mf
= Laju aliran massa bahan bakar (kg/s)
PT
= Daya bruto turbin (kW)
WTa
= Kerja turbin aktual (kJ/kg)
WKa
= Kerja kompresor aktual (kJ/kg)
Dengan ketentuan persamaan gas untuk mendapatkan laju aliran massa
udara dan bahan bakar
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
o
Qudara
=
m udara
…(m3/s)
ρ udara
o
Qbahan bakar
=
m b.bakar
…(m3/s)
ρ b.bakar
Kapasitas berbeda pada kondisi yang berbeda yang ditentukan karena perbedaan
rapat jenis fluida akibat perbedaan suhu
ρ
dimana :
=
P
R.T
P
= Tekanan (Pa)
R
= Konstanta gas (287 J/kg oK)
T
= Temperatur (oK).
Dengan diperolehnya massa aliran fluida maka dapat diperoleh besaran
daya setiap komponen yaitu ;
1. Daya kompresor
o
PK
= ( ma ). WK
PT
= ( ma + m f ). WT
…(MW)
2. Daya turbin
o
o
…(MW)
3. Panas yang disuplai ruang bakar
o
QRB
o
= ( ma + m f ). Qin
…(MW)
2.7. Perencanaan Turbin
Dalam perencanaan turbin ini akan dibahas mengenai jumlah tingkat
turbin, kondisi gas dan dimensi sudu.
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
2.7.1 Jumlah Tingkat Turbin
Jumlah tingkat turbin dihitung berdasarkan total penurunan temperatur dan
penurunan temperatur tiap tingkat.
Penurunan tiap tingkat turbin adalah :
ψ
dimana:
=
2.C pg .∆Tos
...(Lit. 2, hal 274)
U2
ψ
= Koefisien pembebanan sudu
Cpg
= Panas jenis gas pada tekanan konstan (kJ/kg K)
ΔTos = Penurunan temperatur tiap tingkat turbin (K)
U
= Kecepatan tangensial rata–rata sudu (m/s)
Sedangkan total penurunan temperatur gas adalah :
ΔTo
dimana:
= T3 – T4’
ΔTo
= total penurunan temperatur (K)
T3
= temperatur gas masuk turbin (K)
T4’
= temperatur gas keluar turbin (K)
ΔT0s
(γ −1)

γ


1
= ηtT03 1 − 

  p 01 / p 03 

Dan,
Dimana :




...(Lit. 2, hal 274)
ΔTos = Penurunan temperatur tiap tingkat turbin (K)
ηt
= Efisiensi turbin
γ
= Berat molekul = 1,333 untuk gas
Jumlah tingkat turbin diperoleh dari persamaan :
Zt
dimana:
=
∆To
∆Tos
Zt
= jumlah tingkat turbin
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
2.7.2 Kondisi Gas pada Sudu
Kondisi gas dianalisa pada keadaan stagnasi dan statis. Keadaan stagnasi
adalah kondisi gas yang dianalisa dalam keadaan tanpa memperhitungkan
kecepatan. Sedangkan keadaan statis yaitu kondisi gas yang dianalisa dengan
memperhitungkan kecepatan.
Persamaan–persamaan stagnasi menurut literatur 2 hal 144 :
γ
.P01
P02
  ∆T .R  γ −1
= 1 −  os 
  η st .T01 
dimana:
P01
= tekanan gas sebelum proses (bar)
P02
= tekanan gas setelah proses (bar)
R
= derajat reaksi tingkat
ηst
= efisiensi statik
T02
= temperatur pada P02 (K)
Persamaan–persamaan statik menurut literatur 2 hal. 257:
2
T1
Co
= T01 2.C pg
P1
T
= P01 -  2
 T02
dan,
γ
 γ −1


dimana :
T1
= kondisi gas pada kondisi statik (K)
T01
= kondisi gas pada kondisi stagnasi (K)
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
P1
= tekanan gas pada kondisi statik (bar)
P01
= tekanan gas pada kondisi stagnasi (bar)
Dari persamaan gas ini dapat dicari massa jenis gas yang mengalir yaitu:
ρ
=
P.100
R.T
...(Lit. 2, hal 283)
dimana :
ρ
= massa jenis (Kg/m3)
Dengan menghitung laju aliran massa gas maka dapat dicari luasan yang ditempati
gas yaitu:
A
=
m
ρ .C a
...(Lit. 2, hal 284)
dimana :
A
= luasan yang ditempati gas (m2)
m
= massa gas, dimana dalam hal ini untuk tiap tingkat berbeda karena
pengaruh laju aliran massa perbandingan sudu (Kg/s)
2.7.3 Tinggi Sudu
Persamaan ukuran pada sudu turbin, dapat dilihat pada gambar berikut:
3
2
1
Stator
Rotor
h
rt
rm rr
Gambar 2.13 Penampang pada sudu turbin
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Tiiggi sudu (h) adalah :
h
A.N
Um
=
…(Lit.2 hal, 285)
dimana :
h
= tinggi sudu (m)
N
= putaran sudu (rpm)
Um
= kecepatan tangensial rata–rata sudu (m/s)
2.7.4 Jari–jari Sudu
Pada penentuan jari-jari sudu, jari-jari rata–rata sudu yang dimaksud
adalah jarak dari pusat cakram ke pitch sudu yaitu :
dimana:
60.U m
2.π .n
rm
=
…(Lit.2 hal, 285)
rm
= Jejari rata–rata sudu (m)
Um
= kecepatan tangensial rata–rata sudu (m/s)
Jari–jari dasar sudu dan puncak sudu pada tiap tingkat turbin adalah :
rr
= rm -
rt
= rm +
h
2
h
2
…(Lit.2 hal, 290)
dimana:
rr
= Jari–jari dasar sudu tiap tingkat turbin (m)
rt
= Jari–jari puncak sudu tiap tingkat turbin (m)
h
= tinggi sudu (m)
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Tebal sudu celah antara sudu besarnya dapat dilihat dari persamaan :
h
3
w
=
c
= 0,25 .w
…(Lit.2 hal, 285)
dimana:
w
= tebal sudu (m)
c
= celah antara sudu (m)
2.7.5 Diagram Kecepatan Gas
Untuk menggambarkan kecepatan aliran gas perlu dihitung besar sudut
kecepatan sudut masuk dan kecepatan sudut keluar relative gas yang besarnya
adalah:
ψ
= 4. φ .tan β2 + 2
ψ
= 4. φ .tan β3 – 2
…(Lit.2, hal 276)
dimana:
φ
= Koefisien aliran gas
Β2
= sudut relatif kecepatan gas masuk sudu
Β3
= sudut relatif kecepatan gas keluar sudu
2.7.6 Putaran Kritis
Putaran kritis adalah putaran dimana terjadinya resonansi yang tinggi. Hal
ini diakibatkan oleh frekwensi yang ditimbulkan oleh rotor sama dengan
frekwensi natural dari komponen tersebut. Putaran kritis dipengaruhi oleh gaya–
gaya yang membebani poros yang menyebabkan defleksi atau lendutan.
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Putaran kritis poros dapat dihitung setelah didapat lendutan maksimum.
Kecepatan sudut putaran kritis adalah :
ωc
=
C.G
YMAX
dimana:
ωc
= kecepatan sudut putaran kritis (rad/s)
C
= koefisien untuk dua bantalan pendukung, yaitu 1 : 1,2685
g
= kecepatan gravitasi.
Putaran kritis sistem adalah :
ηc
= putaran kritis sistem (rpm)
ωc
= kecepatan sudut putaran kritis (rad/s)
2.7.7 Perhitungan Performa Tingkat
Gambar 2.14 Aksi gaya efektif pada cascade
Bedasarkan diagram aksi gaya pada cascade seperti yang dihunjuk pada gambar
diatas, kenaikan tekanan statisnya adalah :
Δp
= p2 – p1
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
= (p02 –
1
1
ρV22 ) – (p01 - ρV22 )
2
2
…(Lit.2, hal 276)
Gaya aksial per_unit panjang tiap sudu adalah Δp dan dari pertimbangan
perobahan momentum, aksi gaya sepanjang cascade adalah :
F
= s. ρ. Va × perobahan komponen kecepatan sepanjang cascade
F
= s. ρ. Va2 (tan α1 – tan α2)
…(Lit.2, hal 276)
Koefisien CL dan CDP didasarekan pada vektor kecepatan rata-rata (Vm) dibagi
dengan segitiga kecepatan, maka :
Vm
= Va. sec αm
Dimana :
αm adalah,
1
tan αm = [ (Va tan α1 – Va tan α2) + Va tan α2]/ Va
2
=
1
(tan α1 + tan α2)
2
…(Lit.2, hal 276)
BAB III
ANALISA TERMODINAMIKA
3.1 Spesifikasi Teknis Perancangan
Dengan mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan setiap jenis turbin
serta pertimbangan pada daya dan putaran yang akan dihasilkan, maka dalam
perancangan ini dipilih jenis turbin aksial reaksi.
Adapun spesifikasi teknis dalam perancangan ini adalah mengacu pada hasil data
survey :
Daya Maksimum
= 132 MW
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Bahan bakar
= Gas Alam Cair (LNG)
Fluida kerja siklus
= Udara /Gas
Pressure Ratio (pr)
= 10,04
Temperatur Inlet Turbin
= 1004 ºC
Putaran Turbin
= 3000 rpm
Tipe Turbin
= Turbin Axial
Tipe Kompresor
= Kompresor Axial
Tekanan Barometer
= 1,013 bar
Menurut pesamaan umum gas ideal m =
p.v
, dimana bila temperatur gas
R.T
rendah, maka massa aliran gas akan naik dan sebaliknya. Hal ini berarti bila
temperatur atmosfir turun maka daya efektif sistem akan naik dan sebaliknya.
Temperatur udara yang dihisap kompresor mempunyai pengaruh yang besar
terhadap daya efektif yang dapat dihasilkan pembangkit, sebab laju aliran massa
udara yang dihisap oleh kompresor akan berubah sesuai dengan persamaan umum
gas ideal.
3.2 Kompresor
3.2.1 Jenis-jenis Kompresor
3.2.1.i Dynamic compressor
Pada jenis kompresor ini pemampatan udara terjadi secara kontinyu. Jenis
kompresor ini antara lain :
a. Centrifugal flow compressor
b. Axial flow compressor
c. Mixed flow compressor
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
3.2.1.ii Positve Displacement Compressor
Untuk jenis kompresor ini proses pemampatan udara terjadi secara
periodik, fluida dikompresikan dengan mengurangi volume jenis. Kompresor ini
terdiri dari :
a. Reciprocating compressor
b. Rotary compressor
c. Membrane compressor.
Dalam pemilihan jenis kompresor yang sesuai pada sistem turbin gas, dibutuhkan
kompresor yang memiliki efisiensi tinggi, berkapasitas besar serta memiliki
kemampuan menghasilkan mass flow rate udara yang besar. berdasarkan hal
tersebut, kompresor tipe aksial sangat cocok digunakan dalam sistem turbin gas
yang akan direncanakan. Disamping hal tersebut, kompresor tipe axial memiliki
susunan tingkat sudu yang lebih banyak dibanding tipe lainnya dengan tujuan
untuk dapat menghasilkan perbandingan tekanan yang tinggi.
susunan tingkat sudu yang lebih banyak dibanding tipe lainnya dengan tujuan
untuk dapat menghasilkan perbandingan tekanan yang tinggi.
3.2.2 Analisa Termodinamika Kompresor
Pada analisa perhitungan termodinamika dimaksudkan untuk menentukan
kondisi udara masuk dan keluar kompresor serta besarnya daya yang digunakan
untuk menggerakkan kompresor.
3.2.2.i Kondisi Udara Masuk Kompresor (kondisi 1)
Ta
= Temperatur Lingkungan
Pa
= Tekanan Barometer yaitu 1,013 bar
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
γ
= Konstanta Adiabatik yaitu 1,4 (untuk udara)
dimana :
Ta
= 30 ºC + 273,16
= 303,16 K
Gambar 3.1. Kondisi stagnasi pada kompresor
Pada gambar diatas diperlihatkan proses kompresi pada kompresor
a. Kondisi Stagnasi
P01
= Pa - Pf
Pf
= Penurunan tekanan pada filter udara
dimana :
= 0,02 bar
maka :
P01
= Pa - Pf
P01
= 1,013 – 0,02
= 0,993 bar
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
T01
=
Ta
 Pa 


 P01 
( γ −1)η pf
γ
dimana :
ηpf
= efisiensi politropik filter udara = 0,9
untuk udara (Lit. 2, hal 57)
Cpa
 λ 
= 1,005 kJ /kg K, γ = 1,4 (untuk udara), atau 
 = 3,5
 γ −1 
Pa
P01
=
T01
=
dan,
1,013
= 1,020 bar
0,993
sehingga :
303,16
1,020
T01
(1, 4 −1).0 , 9
1, 4
= 301,65 K
atau
≈ 28,49 ºC
b. Kondisi Statik
2
T1
Ca
= T012.C pa
dimana :
Ca
= Kerapatan axial udara antara 150 s/d 200 (m/s)
Cpa
= panas udara masuk kompresor (1,005 kJ /kg K.udara)
sehingga :
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
T1
150 2
2 × (1,005 × 10 3 )
= 301,65 -
≈ 17,29 ºC
= 290,455 K atau
P1
= P01
 T1 


 T01 
( γ −1)
γ
 290,455 
= 0,993 

 301,65 
3, 5
= 0,869 bar
3.2.2.ii Kondisi Udara Keluar Kompresor (Kondisi 2)
a. Kondisi Stagnasi
P02
= rp × P01
= 10,04 × 0,993
= 10,01 bar
dimana :
ηpk
= Efisiensi politropik = 0,9
maka :
γ −1
T02
= T01 (rp )γ .η pk
= 301,65 × 10,04
T02
= 626,70 K atau
(1, 4 −1)
(1, 4×0 , 9 )
≈ 353,53 ºC
b. Kondisi Statik
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
2
Ca
2.C pa
T2
= T02 -
T2
= 626,70 -
150 2
2 × 1,005 × 10 3
atau ≈ 342,16 ºC
= 615,32 K
P2
T
= P02 -  2
 T02
γ
 γ −1


1, 4
 615,32  1, 4−1
= 10,01 - 

 626,52 
= 9,072 bar
Kerja yang dibutuhkan untuk menggerakkan kompresor per_unit mass flow (Wtc)
adalah :
Wtc
=
Cpa (T02 − Ta )
ηm
dimana :
ηm
= Efisiensi mekanik = 0,9 (Lit.2 hal 50)
Temperatur ekivalen untuk kerja kompresor ΔT02 atau T02 – Ta adalah :
T02 – Ta

Ta  P02

=
η k  Pa




( γ −1)
γ

− 1


(1, 4 −1)


303,16  10,01  1, 4
=
− 1



0,85  1,013 


= 320,665 K
maka :
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Wtc
=
1,005 × 320,665
0,99
= 325,524 kJ /kg
3.3 Ruang Bakar
Ruang bakar merupakan tempat proses pembakaran yaitu proses
pemasukan kalor yang diharapkan berlangsung pada tekanan konstan serta dapat
menghasilkan gas hasil pembakaran dengan temperatur tinggi. Proses pembakaran
terjadi secara kontinyu sehingga temperatur gas pembakaran harus dibatasi sesuai
dengan kekuatan material yang digunakan, terutama material sudu turbin. Hal
tersebut perlu dilaksanakan mengingat kekuatan material akan turun dengan
naiknya termperatur (lelah thermal pada material)
Tipe ruang bakar yang digunakan dalam perancangan ini adalah tipe ruang
bakar Tubular Chamber yang tediri dari suatu silinder linier yang terpasang
konsentris di dalam casing.
Turbin ini memiliki dua buah ruang bakar dan masing–masing ruang bakar
tersebut dilengkapi 8 buah burner (pembakar) yang memiliki lobang injeksi bahan
bakar dan Diagonal swirler untuk menghasilkan campuran udara dan bahan bakar
yang optimal.
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Gambar 3.2. Susunan ruang bakar unit turbin gas
Keterangan gambar :
A. Ruang saluran udara (Annular space for combustion air supply)
B. Saluran gas hasil pembakaran (hot gas duct)
1. Selubung tekanan (pressure shell)
2. Kombinasi pembakar (Burner combination)
3. Lokasi untuk inspeksi (Platform include railing)
4. Tabung api (Flame tube)
5. Selubung turbin (Turbin casing)
6. Pipa–pipa buang (Blow-off pipes)
7. Rotor
8. Lobang masuk orang (Man hole)
Sedangkan gambar untuk penampang potongan kombinasi pembakar (Burner
combination) yang dipasang disekeliling ruang bakar dengan jumlah seluruhnya
16 buah (masing–masing ruang bakar 8 buah), sebagai berikut
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Gambar 3.3. Section burner combination
Keterangan gambar :
1. Saluran masuk bahan bakar minyak (fuel oil inlet)
2. Saluran masuk udara pendingin (cooling air inlet)
3.
Fuel oil burner
4.
Busi (spark plug)
5.
Ignition gas inlet
6. Dudukan pembakar (burner support)
7. Sumber nyala (igniter)
8. Saluran udara masuk (air inlet)
9. Fuel gas burner
10. Pengaduk diagonal (diagonal swirl)
11. Sekat udara dengan pengaduk axial (air buffle with axial swirler)
12. Daerah pembakaran (combustion zone)
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
13. Pengaduk axial (axial swirler)
14. Saluran–saluran keluar gas (gas outlet ducts)
15. Saluran masuk bahan bakar gas (fuel gas inlet)
16. Saluran keluar bahan bakar minyak (fuel oil outlet) atau return
3.3.1 Analisa Bahan Bakar dan Reaksi Pembakaran
Dalam perhitungan analisa ini dimaksudkan untuk menentukan jumlah
perbandingan udara, bahan bakar dan temperatur gas yang dihasilkan. Bahan
bakar yang digunakan adalah gas alam cair (Liquid Natural Gas) dengan
komposisi sebagai berikut :
Tabel 3.1. Komposisi bahan bakar turbin gas
Komposisi Gas Alam
Metana
Etana
Propana
Butana
Pentana
Xenana
CO2
(N2 + H2S)
(CH4)
(C2H6)
(C3H8)
(C4H10)
(C5H12)
(C6H14)
Total
% Volume
74,44
5,66
2,42
1,22
0,47
0,52
14,90
0,39
100,00
Sumber : Operation Manual, Vol 12. Fuel Gas System JCC. Corporation
Pertamina Arun LNG
Low Heating Value (LHV) bahan bakar untuk tiap kilogram bahan bakar adalah =
47.320 kJ /kg.
Untuk proses pembakaran gas–gas dengan 100 % udara teoritis adalah sebagai
berikut :
a. Metana (CH4) :
CH4 + O2
→ CO2 + 2 H2O
1 lb CH4 + 2 mol O2
→ 1 mol CO2 + 2 mol H2O
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
16 lb CH4 + 64 lb O2
→ 44 lb CO2 + 36 lb H2O
1 lb CH4 + 4 lb O2
→ 2,75 lb CO2 + 2,25 lb H2O
jadi :
1 lb CH4 membutuhkan 4 lb O2, karena O2 = 23 %
1 lb CH4 membutuhkan (100/23) × 4 lb udara, atau
1 lb CH4 membutuhkan 17,39 lb udara
b. Ethana (C2H6) :
C2H6 + 7O2
→ 4 CO2 + 6 H2O
60 lb C2H6 + 224 lb O2
→ 176 lb CO2 + 108 lb H2O
jadi :
1 lb C2H6 membutuhkan (224/60) lb O2, maka :
1 lb C2H6 membutuhkan (100/23) × 108 lb udara, atau
1 lb C2H6 membutuhkan 16,23 lb udara
c. Propana (C3H8) :
C3H8 + 5O2
→ 3 CO2 + 4 H2O
44 lb C3H8 + 160 lb O2
→ 132 lb CO2 + 72 lb H2O
1 lb C3H8 + 3,64 lb O2
→ 3 lb CO2 + 1,64 lb H2O
jadi :
1 lb C3H8 membutuhkan 3,64 lb O2, maka :
1 lb C3H8 membutuhkan (100/23) × 3,64 lb udara
1 lb C3H8 membutuhkan 15,82 lb udara
d. Butana (C4H10)
C4H10 + 13 O2
→ 8 CO2 + 10 H2O
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
116 lb C4H10 + 416 lb O2
→ 264 lb CO2 + 144 lb H2O
1 lb C4H10 + 3,59 lb O2
→ 2,28 lb CO2 + 1,24 lb H2O
jadi :
1 lb C4H10 membutuhkan (100/23) × 3,59 lb O2 udara
1 lb C4H10 membutuhkan 15,60 lb udara
e. Pentana (C5H12) :
C5H12 + 8 O2
→ 5 CO2 + 6 H2O
72 lb C5H12 + 256 lb O2
→ 220 lb CO2 + 108 lb H2O
1 lb C5H12 + 3,59 lb O2
→ 3.06 lb CO2 + 1,5 lb H2O
jadi :
1 lb C5H12 membutuhkan 3,56 lb udara, maka :
1 lb C5H12 membutuhkan (100/23) × 3,56 lb O2 udara
1 lb C5H12 membutuhkan 15,47 lb udara
f. Hexana (C6H14)
C6H14 + 8 O2
→ 5 CO2 + 6 H2O
172 lb C6H14 + 608 lb O2
→ 528 lb CO2 + 252 lb H2O
1 lb C6H14 + 3,54 lb O2
→ 3.07 lb CO2 + 1,47 lb H2O
jadi :
1 lb C6H14 membutuhkan 3,54 lb udara, maka :
1 lb C6H14 membutuhkan (100/23) × 3,54 lb O2 udara
1 lb C6H14 membutuhkan 15,37 lb udara.
Berdasarkan reaksi dari persamaan diatas maka untuk 1 lb gas alam akan
membutuhkan sebanyak,
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Metana
Etana
Propana
Butana
Pentana
Hexana
CO2
(N2 + H2S)
74,44 %
5,66 %
2,42 %
1,22 %
0,47 %
0,52 %
14,90 %
0,37 %
×
×
×
×
×
×
×
×
17,39
16,23
15,81
15,60
15,46
15,37
-
1 lb (100%) Gas alam membutuhkan
= 12,95
= 0,92
= 0,38
= 0,19
= 0,07
= 0,08
= = = 14,59 lb Udara
Maka diperoleh perbandingan massa bahan bakar dan udara (mf /ma) adalah 1 :
14,59 atau mf /ma = 0,0685. Untuk pembakaran dengan menggunakan 400 %
udara teoritis
mf
ma
= 1 : (4 × 14,59)
= 0,0172 = fteoritis
sehingga :
faktual
=
f teoritis
η rb
dimana efisiensi ruang bakar ditentukan 98 %. Menurut (lit 2 hal 246), besarnya
kisaran efisiensi ini diambil adalah untuk ketepatan dalam pengukuran temperatur
dan kecepatan laju gas. Dalam kerja turbin biasanya pengukuran temperatur
tersebut diukur dengan thermocouples.
maka :
faktual
=
0,0172
= 0,01755
0,98
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Menurut (lit.3 hal 55) untuk membatasi temperatur gas pembakaran keluar dari
ruang bakar, maka turbin gas memerlukan jumlah udara berkelebihan.
Perbandingan berat bahan bakar–udara dapat berkisar antara f = 1
50
s/d 1
200
3.4 Turbin
Dalam perencanaannya, direncanakan suatu sistem turbin gas dengan
kapasitas besar. Maka dalam perencanaan ini dipilih turbin jenis axial mengingat
turbin tipe ini memiliki keuntungan yang lebih baik dibanding tipe lain.
Disamping konstruksinya yang ringan, turbin ini tidak membutuhkan ruangan
yang besar. Turbin tipe axial juga mempunyai efisiensi yang baik serta cocok
untuk pemakaian multi stage.
3.4.1 Analisa Termodinamika Turbin
Untuk melengkapi data dalam perhitungan, maka diberikan beberapa data
lainnya yaitu :
a. Derajat reaksi (Λ) dipilih 50% artinya pada masing–masing sudu, rotor dan
stator terjadi penurunan entalpi (enthalpy drop) yang sama besar
b. Kecepatan keliling sudu keliling (U) = 350 m/s
c. Efisiensi mekanis turbin (ηT) = 0,95
d. Efisiensi politropik (ηpt) = 0,9.
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Gambar 3.4 Turbin dengan exhaust difuser
Pada perhitungan termodinamika untuk turbin gas ini dimaksudkan untuk dapat
menentukan kondisi gas masuk dan keluar sudu turbin. Didalam unit turbin terjadi
proses perubahan energi kinetis dari gas hasil pembakaran menjadi energi
mekanis. Dengan cara mengekspansikan gas tersebut pada sudu–sudu turbin
kemudian dibuang ke atmosfir melalui diffuser dan ke cerobong (stack) atau dapat
dimanfaatkan lagi ke sistem berikutnya.
3.4.1.i Kondisi gas masuk turbin (kondisi 3)
a. Kondisi Stagnasi
P03
= P02 (1 – PLrb)
PLrb
= Pressure Loss di ruang bakar
Dimana :
= 0,02
maka :
P03
= 10,01 (1 – 0,02)
= 9,80 bar
T03
= 1004 ºC
atau ≈ 1277,16 K
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
b. Kondisi Statis
2
Ca
2.C pg
T3
= T03 -
Ca
= Kecepatan aksial udara = 150 m /s
Cpg
= Panas spesifik gas = 1,148 kJ /kg K
γg
= 1,33 atau
Dimana :
γ
γ −1
= 4,0
...(Lit.2 hal 57)
Maka diperoleh temperatur pada kondisi statis yaitu :
T3
= 1277,16 -
150 2
2 × 1,148 × 10 3
= 1267,36 K atau ≈ 994,20 ºC
γ
P3
= P03
 T3  γ −1


 T03 
 1267,36 
= 9,80 

 1277,16 
4, 0
= 9,502 bar
3.4.1.ii Kondisi gas keluar turbin (kondisi 4)
a. Kondisi Stagnasi
Menurut (Lit.3, hal 37), untuk pressure ratio at ambient (perbandingan tekanan
ambient) dengan tekanan gas keluar turbin siklus terbuka yang baik berkisar
antara 1,1 s/d 1,2. Maka untuk perencanaan ini dipakai 1,2
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Maka :
P04
= 1,2 × Pa
= 1,2 × 1,013
= 1,2156 bar
sehingga pressure ratio at exit (ER) adalah :
ER
=
P03
P04
=
9,80
1,2156
= 8,061 bar
T04
T03
=
( γ −1).η pt
ER
γ
Dimana :
ηpt
= Efisiensi politropik = 0,9
T04
=
sehingga :
1277,16
8,061
=
(1, 33−1).0 , 9
1, 33
1277,16
1,59
= 803,24 K
atau ≈ 530,08 ºC
b. Kondisi Statis
2
T4
C
= T04 - a
2C pg
150 2
= 803,24 2 × 1,148 × 10 3
= 793,44 K
atau ≈ 520,28 ºC
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
P4
= P04
 T4

 T04
γ
 γ −1


1, 33
 793,44  1,33−1
= 1,2156 

 803, ,24 
= 1,156 bar
Sedangkan temperatur ekivalen dari total kerja turbin ΔT034 atau T03 – T04 adalah :
ΔT034 = ηt . T03
(γ −1)


γ



 

1

 


1 −   P


   03 P  
04  

  
  1 
= 0,95 × 1277,16 1 − 

  8,061 
1, 33−1
1, 33
= 491,386 K
c. Kerja total turbin per unit mass flow (Wt) adalah :
Wt
= Cpg (T034)
= 1,148 × 491,386
= 564,111 kJ /kg
d. Kerja spesifik output (Wt – Wtc) adalah :
Wt – Wtc = (564,111 – 325,524) kJ /kg
= 238,587 kJ /kg
Dengan diperolehnya perbandingan massa bahan bakar–udara mf/ ma = 0,0172
sehingga, fakt =
0,0172
0,98
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
maka :
a. Konsumsi spesifik ruang bakar (SFC) adalah :
SFC
=
f
Wt − Wtc
=
3600 × 0,01755
238,587
= 0,264 kg /Kwh
b. Efisiensi thermal siklus adalah :
ηth
=
3600
( SFC ).( LHV )
=
3600
= 0,288
(0,264).(47.320)
= 28,8 %
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
3.5 Generator
Pada perencanaan ini, direncanakan generator listrik dengan kapasitas
daya output sebesar 132 MW.
karena daya yang diperlukan oleh generator adalah daya semu (NB) maka
besarnya daya semu tersebut adalah :
Normal faktor daya (cos φ) = 0,8 s/d 0,9
NB
=
Daya generator
cos ϕ
=
132000
0,9
= 146667 KW
Efisiensi generatornya (ηg) adalah 98 %
Dengan demikian daya efektif turbin (NE) adalah :
NE
=
NB
ηg
=
146667
0,98
= 149659,86 KW
Gas
Buang
Udara
Ruang Bakar
Tenaga Listrik
132 MW
Poros
Kopel
Kompresor
Turbin
Generator
NB = 146667 KW
NE = 149659,86 KW
Gambar 3.5 Skema alur daya pada instalasi turbin gas
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
3.6 Laju Aliran Massa Udara
Laju aliran massa udara dan bahan bakar dapat dihitung dengan
menggunakan prinsip kesetimbangan energi pada turbin yaitu :
Daya Netto
atau :
dimana :
Ne
Nt
= Daya Turbin – Daya Kompresor
= Nt – Nk
= ma . (1 + f) . Wt
= ma . (1 + 0,01755) . 550,18
= ma 559,83
Nk
= ma . (Wtc)
= ma 311,35
sehingga :
Ne
= 559,83 ma – 311,35 ma
= 248,49 ma
Dengan demikian diperoleh :
A. Laju aliran massa udara kompresor (ma) yaitu :
ma
=
149659,86
248,49
= 602,277 kg /s
B. Pemakaian bahan bakar (mf) adalah :
mf
= ma . f
= 602,277 × 0,01755
= 10,56 kg /s.
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Dalam perhitungan laju massa udara sangat perlu diperhatikan pendinginan
komponen–komponen pada sistem turbin gas, dimana untuk mendinginkan
komponen tersebut digunakan udara dari kompresor.
Dari (Lit. 2, hal. 322) diperoleh data sebagai berikut :
Annulus walls = 0,016
Nozzle blades = 0,025
Rotor blades = 0,019
Rotor disc
= 0,005
= 0,065
distribusi khusus pendinginan udara dibutuhkan untuk tingkat turbin yang didisain
beroperasi pada 1500 K. Nilai tersebut dituliskan pada data di atas sebagai fraksi
dari laju massa gas masuk.
C. Laju massa udara yang harus disuplai oleh kompresor adalah :
mac
= ma + (ma × 0,065)
= 602,277 + (602,277 × 0,065)
= 641,425 kg /s
D. Daya yang digunakan untuk menggerakkan kompresor adalah :
Nk
= mac × (T02 – T01)
= 641,425 (626,52 – 301,65)
= 208379,73 KW
E. Daya yang harus dibangkitkan oleh turbin adalah :
Nt
= (1 + f) . mac . (T03 – T04)
= (1 + 0,01755) × 641,425 × (1277,16 – 803,24)
= 309319,05 KW
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
F. Presentase daya yang digunakan untuk menggerakkan kompresor adalah :
ηNK
=
Nk
× 100 %
Nt
=
208379,73
× 100%
309319,05
= 67,3 %.
Dari data-data yang diperoleh di atas dapat disimpulkan bahwa pada
instalasi turbin gas, daya yang dihasilkan oleh turbin harus dibagi yaitu
sebahagian untuk menggerakkan kompresor udara dan sebahagiannya lagi untuk
menggerakkan generator listrik. Perbandingan daya tersebut kurang lebih 3 : 2 : 1
(Lit. 12 halaman 154).
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
BAB IV
PERANCANGAN BAGIAN–BAGIAN UTAMA
4.1. Unit Kompresor
Adapun perencanaan perancangan bagian–bagian utama dalam unit
kompresor yang akan dibahas meliputi :
1.
Jumlah Tingkat Kompresor
2.
Sudu Kompresor
3.
Poros Utama/ Tie Rod
4.
Disk Kompresor.
4.1.1. Jumlah Tingkat Kompresor
Menurut (Lit.2 hal. 182) bahwa kenaikan temperatur seluruh tingkat
adalah selisih antara temperatur udara keluar dengan temperatur udara masuk
kompresor. Sedangkan banyaknya jumlah tingkat kompresor dinyatakan sebagai
perbandingan antara kenaikan temperatur seluruh tingkat dengan kenaikan
temperatur setiap tingkatnya.
Dari diagram h–s dapat dilihat kenaikan temperatur untuk seluruh tingkat
kompresor yaitu :
ΔTα
= T02 – T01
Sedangkan kenaikan temperatur untuk setiap tingkatnya menurut (Lit.2 hal 166)
yaitu :
∆Tos =
λ.U .C a (tan β1 − tan β 2 )
Cp
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Dimana :
λ
= Faktor kerja setiap tingkat, besarnya antara 0,80 s /d 0,98
= 0,80 (dipakai)
U = Kecepatan keliling sudut rata–rata (m/s)
β1 = Sudut kecepatan masuk axial
β2 = Sudut kecepatan keluar axial
Kerapatan udara pada titik 1 dan 2 dari diagram h–s adalah :
P01
Rair .T01
ρ1
=
Rair
= 0,287 kJ /kg K
ρ1
=
Dimana :
0,993 × 10 2
0,287 × 301,65
= 1,147 kg /m3
dan,
ρ2
=
0,996 × 10 2
0,287 × 626,52
= 5,544 kg /m3
maka jari–jari puncak kompresor adalah :
mac
 r
π .ρ1 .C a 1 −  r
  rt
rt2
=
rr
rt
= Perbandingan dasar dan puncak sudu



2



Dimana :
= 0,4 s /d 0,6
........(Lit.2, hal 180)
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
rt2
=
rt2
=
595,727
 r
π × 1,147 × 150 1 −  r
  rt



2



1,1027
 r
1 −  r
  rt



2



Kecepatan relativ sudu (Ut) direlasikan pada rt oleh persamaan Ut = 2π.rt.N dan
karena itu nilai untuk Ut = 350 m/s
sehingga diperoleh besarnya putaran poros rotor adalah :
N
=
Ut
2π .rt
=
350
2π ⋅ rt
Kisaran nilai rt dan N terlihat pada tabel dibawah ini. Perhitungan harga rt dan N
dilakukan dengan memasukkan harga–harga (rr /rt) yaitu :
Tabel 4.1. Perbandingan dasar dan puncak sudu
rr /rt
rt
(m )
( s)
0,40
0,45
0,50
0,55
0,60
1,145
1,181
1,212
1,257
1,312
48,67
47,19
45,98
44,33
42,47
N
rev
Berdasarkan data yang telah diperoleh diatas, nilai yang mendekati putaran poros
3000 rpm = 50 rev /s adalah pada data
rr
= 0,40. Untuk itu dapat diperoleh jari–
rt
jari tengah sudu rata–rata (rm) yaitu :
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
rm
=
rr + rt
2
=
0,458 + 1,145
= 0,801 m
2
Kenaikan temperatur keseluruhan kompresor pada keadaan stagnasi yaitu :
ΔTα
= T02 – T01
= 626,70 – 301, 665
= 325,05 K
Kecepatan keliling sudu rata–rata (U) adalah :
U
= 2π × rm × N
= 2π × 0,801 × 50
= 251,5 m /s
Sudut kecepatan masuk axial udara pada tingkat pertama menurut (Lit 2, hal. 183)
adalah :
tan β1 =
251,5
U
=
150
Ca
= 59,17 º
Kecepatan relativ udara masuk (V1) adalah :
V1
=
Ca
150
=
cos 59,17°
cos β1
= 292,96 m /s
Agar estimasi kemungkinan defleksi maksimum dalam rotor diaplikasikan kriteria
de Haller, V2 /V1 ≤ 0,72 atas dasar nilai minimum yang diperbolehkan.
Untuk itu,
V2
= V1 × 0,72
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
V2
= 292,96 × 0,72
= 210,93 m /s
Sudut kecepatan axial keluar adalah :
cos β2 =
Ca
150
=
= 44,69 º
210,93
V2
Untuk itu kenaikan temperatur setiap tingkatnya adalah :
ΔTos
=
=
λ.U .C a .(tan β1 − tan β 2 )
Cp
0,8 × 251,5 × 150(tan 59,17° − tan 44,68°)
1,005 × 10 3
= 20,63 K
atau ≈ 21 K
Kenaikan temperatur 21 K untuk setiap tingkatnya secara tidak langsung
menyatakan
T02
T01
=
325,05
= 15,75
20,63
Sepertinya dari data diatas kompresor akan membutuhkan 15 atau 16 tingkat dan
dalam beberapa pengaruh dari faktor kerja (work_down factor), pada perancangan
ini dipilih 16 tingkat.
Dengan 16 tingkat dan kenaikan temperatur keseluruhan sebesar 325,05 K, ratarata kenaikan temperatur adalah 20,31 K per tingkat kompresor. Hal tersebut
adalah normal dirancang untuk mengurangi kenaikan temperatur diawal dan
diakhir tingkat.
Sedangkan perbedaan tekanan untuk setiap tingkatnya adalah :
Δp
= (rp )
1
n
= (10,04)1/16
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
=1,1550 Bar
Volume spesifik tiap tingkat (v) adalah :
= 1
v
ρ
= 1
1,147
= 0,872 m3 /kg
Untuk selanjutnya dihitung besarnya tekanan dan temperatur setiap tingkat
sebagai berikut :
Tingkat I :
Tingkat II :
Masuk Kompresor :
Keluar Kompresor :
P = 1 Bar
P = 1,155 × 1 = 1,155 Bar
T = 303.16 K
T = 303,16 + 20 = 323,16 K
Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel 4.2 sebagai berikut :
Tabel 4.2 Kondisi udara tiap tingkat kompresor
Tingkat
Udara Masuk
Udara Keluar
v
ρ
P (Bar)
T (K)
P (Bar)
T (K)
(m³/kg)
(kg/m³)
I
1.000
303.16
1.155
323.16
0.872
1.147
II
III
IV
V
VI
1.155
1.334
1.541
1.780
2.055
323.16
345.16
367.16
389.16
411.16
1.334
1.541
1.780
2.055
2.374
345.16
367.16
389.16
411.16
433.16
0.743
0.684
0.628
0.574
0.524
1.347
1.462
1.593
1.742
1.910
VII
VIII
2.374
2.742
433.16
455.16
2.742
3.167
455.16
477.16
0.476
0.432
2.099
2.313
IX
X
3.167
3.658
477.16
499.16
3.658
4.225
499.16
521.16
0.392
0.354
2.553
2.825
XI
XII
XIII
XIV
XV
XVI
4.225
4.880
5.636
6.510
7.519
8.684
521.16
543.16
565.16
587.16
609.16
631.16
4.880
5.636
6.510
7.519
8.684
10.030
543.16
565.16
587.16
609.16
631.16
653.16
0.319
0.288
0.259
0.233
0.209
0.180
3.130
3.475
3.863
4.301
4.794
5.544
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
4.1.2. Sudu Kompresor
Setelah menentukan distribusi sudut udara yang akan dibutuhkan oleh
tingkat kerja (work stage), kini saatnya dibutuhkan penjabaran kedalam distribusi
sudut sudu, dimana berasal dari ketelitian mengukur susunan sudu yang akan
ditentukan. Dalam perencanaannya akan dihitung dimensi utama sudu kompresor
serta faktor–faktor yang mempengaruhinya.
1. Perhitungan Annulus Kompresor
Massa aliran dalam annulus adalah tetap konstan. Luas annulus pada sisi
masuk kompresor atau tingkat I (AI) adalah :
AI
=
m
ρ .C a
Dimana :
m = Mac = massa aliran udara
= 595,7 kg /s
sehingga :
AI
=
m
ρ1 .C a
=
595,7
= 3,46 m2
1,147 × 150
dan luas annulus sisi keluar kompresor atau tingkat 16 (A16) adalah :
A16
=
m
ρ 2 .C a
=
595,7
= 0,71 m2
5,554 × 150
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Mengacu pada data dari tabel 4.1 diperoleh hubungan puncak dan dasar sudu
 rr  = 0,40 dengan r = 1,145 m, maka :
t
 r
 t
rr
rt
= 0,40
maka diperoleh radius dasar sudu yaitu :
rr
= 1,145 × 0,40
= 0,458 m
Jari-jari rata-rata annulus (rm) adalah :
rm
=
rr + rt
2
=
0,458 + 1,145
2
= 0,801 m
2. Tinggi sudu gerak kompresor tingkat I (h1) adalah :
h1
=
A1
2π .rm
=
3,46
2π × 0,801
= 0,687 m
3. Jari–jari puncak (rt) dan dasar (rr) sudu gerak tingkat I :
rt
= rm +  h1 
 2
= 0,801 +  0,687 
2

= 0,275 m
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
rr
= rm -  h1 
 2
= 0,801 -  0,687 
2

= 0,457 m
4. Tinggi sudu gerak kompresor tingkat 16 (h16) adalah :
h16
=
A16
0,71
=
2π × 0,801
2π .rm
= 0,141 m
5. Jari–jari puncak (rt) dan dasar (rr) sudu gerak tingkat 16 adalah :
rt
= rm +  h1  = 0,801 +  0,141 
2

 2
= 0,871 m
rr
= rm -  h1  = 0,801 -  0,141 
2

 2
= 0,730 m
6. Perancangan sudu (Blade Design)
Sudu kompresor terdiri dari dua bagian yaitu :
a) Sudu Gerak (moving blade)
b) Sudu Tetap (guide Blade)
Agar loses pada sudu gerak adalah sama dengan loses pada sudu tetap maka
direncanakan derajat reaksinya sebesar 50%. Hal tersebut dimaksudkan agar
bentuk konstruksi sudunya akan sama pada tingkat yang sama.
Dari data yang telah diperoleh sebelumnya yaitu :
α1 = β1 = 59,17º
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
α2 = β2 = 44,68º
sehingga air deflektion (ε) diperoleh :
ε
= α1 - α2
= 59,17º - 44,68º
= 14,49º
Dari (Lit. 2, grafik 5.26 hal. 204) kurva desain defleksi yaitu untuk β2 = 44,68º
dan ε = 14,49º diperoleh s
c
= 0,99. (s = pitch dan c = chord)
Gambar 4.1 Grafik hubungan s/c
7. Direncanakan Aspect Ratio, h/c = 3. Maka selanjutnya jarak pitch dan
Chord untuk setiap tingkat sudu dapat diperoleh yaitu :
c
=
h
3
Dari persamaan diatas dapat dicari untuk tingkat 1 dan 16 yaitu :
h1
0,687
=
= 0,229 m
3
3
c1
=
s1
= 0,99 . c1
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
= 0,99 × 0,229 = 0,226 m
dan,
h16
0,141
=
= 0,047 m
3
3
c16
=
s16
= 0,99 × c16
= 0,99 × 0,047 = 0,0465 m
8. Tebal sudu (t)
Pada perencanaan ini, direncanakan tebal sudu maksimum adalah 10 % chord.
Jadi tebal sudu gerak tingkat 1 dan 16 dari kompresor adalah :
t1
= 10 % . c1 = 0,10 × 0,229 = 0,0229 m
t16
= 10 % . c2 = 0,10 × 0,047 = 0,0047 m
9. Berat sudu (Ws)
Pada perencanaan ini, material yang digunakan untuk sudu kompresor adalah
Titanium Alloys Ti–35A dengan berat jenis material sudu (γ) 0,163 lb/cu in
atau 4511,84 kg/m3 dan kekuatan tarik material adalah 145 × 103 psi, atau
101,935 kg/mm (Lit. 4 hal. 194).
Ws = Vs × γ
Keterangan :
dimana,
Ws = Berat sudu (kg)
Vs
= Volume sudu (m3)
γ
= Berat jenis material sudu (kgf/m3)
Vs
=h.c.t
γ
= 4511,84 kgf /m3
maka perhitungan volume sudu tingkat 1 dan 16 adalah :
Vs1
= h1 . c1 . t1
= 0,687 × 0,229 × 0,0229
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
= 3,602 × 10-3 m3
Vs16
= h16 . c16 . t16
= 0,141 × 0,047 × 0,0047
= 3,114 × 10-5 m3
dengan diperolehnya perhitungan tebal sudu, maka perhitungan untuk berat
sudu adalah :
Ws1
= Vs1 × γ
= 3,602 × 10-3 × 4511,84 = 16,25 kg
Ws16
= Vs16 × γ
= 3,114 × 10-5 × 4511,84 = 0,14 kg
Berdasarkan hasil data perhitungan dan data dari hasil survey, maka
ukuran–ukuran utama kompresor adalah sebagai berikut :
Tabel 4.3 Ukuran–ukuran utama kompresor
Tingkat
I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
IX
X
XI
XII
XIII
XIV
XV
XVI
Jumlah
Annulus
Volume
Berat
Tinggi
Tebal
Pitch
Chord
Z
A (m²)
V (m³)
W (kg)
h (cm)
t (cm)
S (cm)
c (cm)
29
3.462
0.003623
16.35
0.69
0.0229
0.227
0.229
33
2.948
0.002237
10.09
0.59
0.0195
0.193
0.195
37
2.716
0.001749
7.89
0.54
0.0180
0.178
0.180
41
2.492
0.001352
6.10
0.50
0.0165
0.164
0.165
43
2.280
0.001035
4.67
0.45
0.0151
0.150
0.151
43
2.080
0.000785
3.54
0.41
0.0138
0.136
0.138
43
1.892
0.000591
2.67
0.38
0.0125
0.124
0.125
53
1.717
0.000442
1.99
0.34
0.0114
0.113
0.114
53
1.555
0.000328
1.48
0.31
0.0103
0.102
0.103
53
1.406
0.000243
1.09
0.28
0.0093
0.092
0.093
65
1.269
0.000178
0.80
0.25
0.0084
0.083
0.084
65
1.143
0.000130
0.59
0.23
0.0076
0.075
0.076
65
1.028
0.000095
0.43
0.20
0.0068
0.067
0.068
79
79
0.923
0.828
0.000069
0.000050
0.31
0.22
0.18
0.16
0.0061
0.0055
0.061
0.054
0.061
0.055
79
0.716
0.000032
0.14
0.14
0.0047
0.047
0.047
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
10. Perhitungan performa tingkat kompresor
Gambar 4.2 Profil sudu aerofoil
Gaya axial per unit panjang pada tiap sudu adalah Δp dan dari pertimbangan
momentum, aksi gaya sepanjang cascade per unit panjang adalah :
F
= s . ρ . Va2 × perobahan komponen kecepatan sepanjang cascade
F
= s . ρ . Va2 × (tan α1 – tanα2)
...(Lit.2 hal 209)
Dimana :
Va
= Ca = kecepatan axial = 150 m/s
ρ
= 1,147 kg/m3
α1
= 59,17º
α2
= 44,68º
S
= Blade pitch = Δp . s = 1,155 × 0,226
= 0,26
untuk itu,
F
= 0,26 × 1,147 × 1502 (tan 59,17º – tan 44,68º)
= 4609,73 kg
atau = 4610 kg
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Koefisien CL dan CDp didasarkan pada vektor kecepatan rata–rata (Vm) dibagi
oleh segitiga kecepatan. Maka,
Vm
= Va . sec αm
dimana αm adalah :
tan αm =
=
1
(tan α1 – tanα2)
2
1
(tan 59,17º – tan 44,68º)
2
=1,33221
αm
= 53,12º
Vm
= Va . sec αm
untuk itu,
= 150 . sec 53,12º
= 119,98 m/s
Jika D dan L adalah gaya angkat (tarikan) dan gaya dorong sudu, dan tegak
lurus terhadap arah vektor kecepatan rata–rata
maka :
1
ρ .Vm2 .c .CDp
2
D
=
D
= F .sin αm – s .Δp .cos αm
...(Lit.2, hal. 209)
atau,
= 4610 .sin 53,12º – 0,26 cos 53,12º
= 3687,34 kg
sehingga,
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
CDp
=
=
D
1
2
× ρ × c × Vm
2
3687,34
0,5 × 1,147 × 0,26 × 119,98 2
= 1,717
Merubah ketegaklurusan terhadap vektor rata–rata
1
ρ .Vm2 .c .CL
2
L
=
L
= F .cos αm + s .Δp .sin αm
atau,
= 4610 .cos 53,12º + 0,26 .sin 53,12º
= 2766,85 kg
Sehingga diperoleh koefisien gaya dorong (lift forces coefficient), CL yaitu :
CL
=
CL
=
L
1
2
× ρ × c × Vm
2
2766,85
1
× 1,147 × 0,26 × 119,98 2
2
= 1,28
4.1.3 Poros Utama (Tie Rod)
Fungsi dari poros utama (tie rod) adalah sebagai pengikat disk kompresor,
poros penghubung dan disk turbin menjadi satu. Bahan poros direncanakan adalah
Stainless Steels AISI 440 C Hardened and Tempered condition, (Lit. 4 hal. 85)
dengan kekuatan tarik σB = 285 kpsi = 200,355 kg /mm2.
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Untuk pemakaian umum pada poros menurut (Lit.5,hal. 8) bahwa
tegangan geser yang diizinkan τa (kg /mm2) untuk bahan poros dapat dihitung
dengan rumus :
τa
=
σB
Sf1 × Sf 2
dimana :
Sf1
= Safety factor untuk batas kelelahan puntir sebesar 18 % dari kekuatan tarik
σB, maka diambil sebesar 1/0,18 =5,6
Sf2
= Safety factor karna pengaruh konsentrasi tegangan yang cukup besar serta
pengaruh kekasaran permukaan dengan harga sebesar 1,3 sampai 3,0
(2,50 diambil)
Maka tegangan geser yang diizinkan adalah :
τa
=
200,335
5,6 × 2,50
= 14,309 kg /mm2
Momen torsi yang terjadi pada poros adalah :
dimana :
Nt
N
Mp
= 9,74 × 105 ×
Nt
= Daya yang harus dibangkitkan oleh turbin
= 287281,777 KW
N
= Putaran poros
= 3000 rpm
Untuk itu,
Mp
= 9,74 × 105 ×
287281,777
3000
= 93270816,93 Kg /mm2
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Maka dapat dihitung diameter poros menurut (Lit. 5 hal. 8) yaitu :
atau,
dS
 5,1

=  ⋅ Kt ⋅ Cb ⋅ T 
τ a

dS
=
3
1
3
5,1
× 1,0 × 1,2 × 93270816,93
14,309
= 341,68
≈ 355 mm (diambil sesuai dengan tabel)
4.1.4. Disk Kompresor
Disk kompresor merupakan piringan tempat menanam cakar sudu.
Diameter disk merupakan diameter dasar sudu pada tiap–tiap tingkat dengan
ketebalan disk dibuat sama dengan jumlah tingkat kompresor. Disamping
fungsinya sebagai tempat kedudukan sudu–sudu, disk kompresor juga berfungsi
sebagai rotor. Adapun tampilan disk kompresor terlihat pada gambar sebagai
berikut :
Compressor
Turbin
: 16 Stage
: 4 Stage
Ket :
A. Front Hollow Shaft
B. Central Hollow Shaft
C. Rear Hollow Shaft
D. Central Tie Bolt
E. Disk
Gambar 4.3 Penampang konstruksi turbin gas
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
1. Diameter Disk Kompresor
Dari gambar diatas untuk disk kompresor dapat dihitung besar diameternya
sebagai berikut :
DdK
= 2 × rr
dimana : rr adalah root radius atau jari–jari dasar sudu kompresor
Dengan demikian dapat dihitung diameter disk kompresor tingkat 1 dan 16
yaitu:
DdK 1 = 2 × rr
DdK 1 = 2 × 0,457
= 0,914 m
≈ 91,4 cm
dan,
DdK 16 = 2 × rr
DdK 16 = 2 × 0,730
= 1,46 m
≈ 146 cm
2. Berat Disk Kompresor
Berat disk kompresor adalah berat sudu kompresor setiap tingkat dikurang
dengan berat total sudu setiap tingkatnya atau ;
WdK
= Wstn - Wskn
Wstn
= Berat sudu kompresor tingkat n
Wskn
= Berat total sudu kompresor tingkat n
dimana :
Pada gambar 4.3 diatas, untuk sudu tingkat I langsung dijoint dengan front
hollow shaft. Dari data survey di lapangan diperoleh berat total front hollow
shaft tersebut (Wst 1) = 4273 kg. Sehingga berat untuk disk front hollow shaft
adalah :
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
WdK
= Wst 1 - Wsk 1
= 4273 – 798,66
= 3474,34 kg
Hasil dari disk kompresor selengkapnya ditabelkan pada tabel sebagai berikut :
Tabel 4.4 Berat dan diameter disk kompresor
Compressor
Stage
Compressor
Wheel
Dia. Disk
(cm)
Berat Disk
(kg)
Tinggi
H (cm)
I
4273
1584
1388
1311
1401
1124
1135
905
902
1051
719
719
690
599
597
599
91.4
101.6
106.2
110.7
114.9
118.9
122.6
126.1
129.3
132.3
135.0
137.5
139.8
141.8
143.7
146.0
3474.34
1023.00
896.27
889.93
1063.02
867.29
941.93
726.92
769.50
953.48
631.25
654.65
643.20
557.92
566.98
580.04
68.83
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
IX
X
XI
XII
XIII
XIV
XV
XVI
58.61
53.99
49.55
45.32
41.34
37.61
34.14
30.92
27.95
25.22
22.72
20.44
18.36
16.47
14.24
4.2. Unit Ruang Bakar (Combustion Chamber)
Tipe ruang bakar yang dipakai adalah jenis Tubular chamber. Dalam
perhitungan perancangan unit ruang bakar ini akan dibahas :
1.
Luas dan diameter casing
2.
Tabung api (Liner) ruang bakar
4.2.1. Luas dan Diameter Casing
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Menurut (Lit 2 hal 230), luas penampang casing ruang bakar dapat
ditentukan dengan persamaan berikut :
Ac
 m . T
R
=   ac 02
 2  P02



 .PLF . ∆P0 

P02 


2
1
2
Dimana :
R
= Konstanta gas = 287 Nm/kg.K
mac
= massa udara keluar kompresor = 595,727 kg/s
T02
= 626,69 K
P02
= 9,969 Bar = 9,969 × 105 N/m2 = 101655,50 kg/m2
PLF
= Pressure Loss Factor = 35
∆P0
P02
= 0,02
maka :

 287  595,727. 626,69 

 × 35 × 0,02
= 


 2  101655,50



2
Ac
1
2
= 1,470 m2
Besarnya diameter setiap casing ruang bakar adalah :
Dc
=
=
4. Ac
π
4 × 1,470
π
= 1,36 m
4.2.2. Tabung Api (Liner) Ruang Bakar
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Luas tiap liner ruang bakar dapat ditentukan dengan persamaan
AL.in
= Ac . k
dimana :
k
= Perbandingan diameter liner dengan diameter casing
sedangkan untuk nilai k, dapat dihitung dengan persamaan
1
 (1 − m sn )2 − λ  3
= 
2 
 PLF − λ.r 
k
dimana :
msn
= Perbandingan saluran udara masuk dengan udara total, harga
optimalnya = 0,12
λ
= koefisien penurunan tekanan udara masuk, harga optimalnya
adalah 0,5
r
= Perbandingan luas casing dengan luas penampang masuk ruang
bakar, harga optimalnya = 6,0
maka :
1
k
 (1 − 0,12 )2 − 0,5  3
=
2 
 35 − 0,5 × (6,0) 
= 0,75 m
sehingga diperoleh luas penampang setiap liner adalah :
AL.in
= Ac . k
= 1,470 × 0,75
= 1,102 m2
Diameter liner adalah :
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
DL.in
4. AL.in
=
π
=
4 × 1,102
π
= 1,184 m
Luas annulus ruang bakar (ruang diantara casing dan liner) adalah :
Aan
=
=
π
4
π
4
.( Dc 2 − DL.in )
2
.(1,36 2 − 1,184 2 )
= 0,35 m2
Panjang liner dapat ditentukan dengan persamaan (Lit. 7 hal.148) yaitu :
PL.in
= DL.in
 ∆PL  1
. ln
 A.
 q ref
 1 − pf



−1
dimana :
A
= Konstanta = 0,07 untuk ruang bakar jenis tubular
∆PL
q ref
= PLF = 35
pf
= Pattern factor, dapat dihitung dengan persamaan :
pf
=
Tmax − T03
[(1,07 × 1277,16) − 1277,16]
=
1277,16 − 626,69
T03 − T02
= 0,137
maka panjang linernya adalah :
PL.in

1


= 1,3 0,07 × 35 × ln

 1 − 0,137 

−1
= 2,1 m
4.3. Unit Turbin
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Adapun perencanaan perancangan bagian–bagian utama pada unit turbin
gas tipe axial reaksi yang akan dibahas meliputi :
1)
Perencanaan sudu turbin dan disk turbin
2)
Perencanaan poros penghubung (Central Hollow Shaft).
4.3.1. Perencanaan Sudu Turbin dan Disk Turbin
Menurut (Lit.2, hal. 249) untuk turbin dengan d erajat reak si (Λ) =5 0 %
ditentukan bahwa :
1
φ
= tan β3 – tanβ2
Perbandingan langsung
β3 = α2 dan β2 = α3
dan diagram kecepatan akan menjadi simetris. Selanjutnya untuk multi stage c3 =
c1 dalam arah sebagai besarnya, α1 = α3 = β2 dan sudu stator dan rotor memiliki
sudut sisi masuk dan keluar yang sama.
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Gambar 4.4 50 Percent Reaction Design
Untuk flow coefficient ( φ ) = 0,8 dan nilai optimum temperatur drop coefficient
(ψ) yaitu dari 3 ke 5, sehingga besarnya sudut gas (α) adalah :
ψ
= 4 φ tan α2 – 2
dan,
tan α2 =
Ψ+2
3+ 2
=
4φ
4 × 0,8
= 1,5625
α2
= 57,38º
Kemudian untuk sudut putaran angin (swirl angle), α3 adalah :
ψ
= 4 φ tan α2 + 2
tan α3 =
3−2
Ψ−2
=
4 × 0,8
4φ
= 0,3125
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
α3
=17,35º
Dari geometri diagram kecepatan diperoleh :
Ca
= Ca2 = Ca3 = U . φ = 350 × 0,8
= 280 m/s
Kecepatan gas absolut (C2) adalah :
C2
= V3 =
350
0,8
= 437,5 m/s
Ca1
= C1 = C3 =
Ca 3
cos α 3
=
280
cos17°35'
= 293,35 m/s
Dikarenakan α3 = β2 = 17,35º maka bentuk diagram kecepatan adalah simetrical
seperti gambar berikut :
Gambar. 4.5 Diagram kecepatan untuk derajat reaksi
Maka dari gambar diatas dapat diperoleh data-data sebagai berikut:
C3 = V2 = 293,35 m/s
V3 = C2 = 437,35 m/s
α3 = β2 = 17,35º
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
α2 = β3 = 57,38º
4.3.1.i Kondisi gas pada tingkat turbin
a. Kondisi sudu tetap turbin tingkat I
Gambar. 4.6 Diagram h–s untuk satu tingkat turbin
Pada gambar 4.1.6 diatas ditunjukkan diagram sederhana untuk satu tingkat turbin
Enthalpy Drop actual pada tingkat I menurut (Lit. 8, hal 149) yaitu :
C 2 − (σ ⋅ C 2 ) 2 (1 + φ 2 − 2φ cos α )
2 ⋅ C pg ⋅ g ⋅ J
2
(Δha)1t =
Dimana :
σ
= koefisien kecepatan sudu yaitu 0,7 – 0,8 (dipakai 0,8)
Cpg
= panas spesifik gas = 1,148 kJ/kg K
φ
= flow coefficient = 0,8 (dipakai)
J
= mechanical equivalent in engineering units
= 778,2 ft-lb /Btu
C2
= 437,5 m/s, atau =1435,43 ft/s
α
= 17,35º
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
sehingga :
(Δha)1t =
1435,43 2 − (0,8 × 1435,43) 2 (1 + 0,8 2 − 2 × 0,8 cos17,35  )
2 × 1,148 × 32,2 × 778,2
= 33,06 BTU /lb atau ≈ 76,91 kJ /kg
Kondisi gas keluar sudu tetap tingkat I (pada titik 2t) adalah :
h2t
= h1t – (Δha)1t
h1t
= h03, dari tabel gas untuk T03 = T1t
dimana :
= 1004ºC = 1839,2 ºF
h1t
= 588,49 BTU /lb = 1368, 92 kJ /kg
Pr3
= Pr1t = 307,25 psi
h2t
=1368,92 – 76,91
maka :
=1292,01 kJ/kg
≈ 555,46 BTU /lb
Dari tabel ideal properties untuk h2t = 555,46 BTU /lb diperoleh :
T2t
= 1722,27 ºF =1212,2 K
Pr2t
= 248,18 psi
Maka tekanan pada titik 2t adalah :
Dimana :
Pr2t
× P1t
Pr1t
P2t
=
P1t
= P03 = 9,769 bar =141,65 psi
P2t
=
248,18
× 141,68 = 7,89 bar ≈114,44 psi
307,25
Efisiensi isentropis turbin (ηs) adalah 0,9. Untuk itu penurunan enthalpi isentropis
(Δhs)1t adalah :
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
(Δhs)1t =
=
(∆ha )1t
0,9
76,91
= 85,45 kJ /kg
0,9
Enthalpy isentropis gas keluar sudu tetap tingkat I adalah :
h2ts
= h1t – (Δhs)1t
= 1368,92 – 85,45
= 1283,47 kJ /kg
≈ 551,76 BTU /lb
Dari tabel ideal gas properties diperoleh untuk h2ts = 551,76 BTU /lb yaitu :
Pr2ts
= 242,17 psi
T2ts
= 1709,31 ºF
≈ 1205 K
Volume spesifik gas keluar sudu tetap tingkat I (ν2t) adalah :
ν2t
dimana :
= R
T2t
P2t
R = konstanta gas = 287 J /kg K
ν2t
= 287 ×
1212,2
7,89 × 10 5
= 0,44 m3 / kg
Kapasitas aliran gas (Q2t) adalah :
Dimana :
mt = massa campuran bahan bakar, (mf) + udara, (mac)
= 9,816 + 595,727
= 605,51 kg /s
maka :
Q2t
= 605,51 × 0,44
= 266,42 m3 /s
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
b. Kondisi sudu gerak turbin tingkat I
Tinggi sudu gerak dibuat lebih tinggi dari sudu tetap agar pancaran aliran
gas yang keluar dari sudu tetap dapat ditampung oleh sudu gerak, karena pancaran
gas tersebut menyebar kearah seksi keluar.
Enthalpy drop actual sudu gerak tingkat I adalah :
(Δha)2t = (Δha)1t = 76,91 kj /kg
Seksi keluar sudu gerak tingkat I diberi notasi 3t sehingga enthalpi aktual sudu
gerak tingkat I adalah :
h3t
= h2t – (Δha)2t
= 1292,01 – 76,91
= 1215,1 kj /kg
≈ 522,37 BTU /lb
Dari tabel ideal properties untuk h3t = 522,37 BTU /lb diperoleh :
T3t
= 1604,19 ºF = 1146,6 K
Pr3t
= 197,75 psi
Tekanan gas aktual keluar sudu gerak tingkat I adalah :
P3t
=
Pr3t
197,75
× 114,44
× P2t =
248,18
Pr2t
= 91,18 psi
≈ 6,28 bar
Enthalpi isentropis keluar sudu gerak tingkat I adalah :
h3ts
= h2ts -
(∆hs ) 2t
ηs
= 1283,47 -
85,45
0,9
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
= 1188,52 kj /kg
≈ 510,94 BTU /lb
Dari tabel ideal gas properties diperoleh untuk h3ts = 510,94 BTU /lb :
T3ts
= 1563,15 ºF = 1123,8 K
Pr3ts
= 182,24 psi
Volume spesifik gas keluar Dari sudu gerak tingkat I adalah :
ν3t
=R.
T3t
P3t
= 287 ×
1146,6
6,28 × 10 5
= 0,52 m3 /kg
Kapasitas aliran gas (Q3t) adalah :
Q3t
= mt . ν3t
= 605,51 × 0,52
= 314,86 kg /s
c. Jumlah tingkat (stage) turbin direncanakan adalah :
Zt
=
h1t − h4t
h1t − h3t
dimana : h4t = h04
Dari tabel ideal gas properties diperoleh untuk T04 = 803,24 K ≈ 986,144 ºF :
h04
= 354,98 BTU /lb
Zt
=
≈ 825,69 kj /kg
maka :
1368,92 − 825,69
1368,92 − 1215,1
= 3,531
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
= 4 tingkat (diambil)
Maka untuk turbin gas dengan derajat reaksi (Λ) = 0,5, penurunan entalpi
(enthalphy drop) adalah sama pada sudu tetap dan sudu geraknya. Untuk kondisi
setiap tingkatnya ditabulasikan pada tabel sebagai berikut:
Tabel 4.5. Kondisi tiap tingkat turbin
Tingkat Turbin
Kondisi
Gas
M
A
S
U
K
K
E
L
U
A
R
I
II
III
IV
ST
SG
ST
SG
ST
SG
ST
SG
h (kj /kg)
1368.92
129.,01
1215.1
1138.19
1061.28
984.37
907.46
830.55
Pr (psi)
307.25
248.18
197.75
155.43
120.29
91.51
68.2
49.68
T (K)
1277.16
1212.2
1146.6
1080.4
1013.4
945.8
877.4
808
P (psi)
141,68
114.44
91.18
71.67
55.46
42.18
31.44
22.90
ν (m³ /kg)
0.37
0.44
0.52
0.63
0.76
0.94
1.17
1.48
Q (m³ /s)
224.03
226.42
314.86
380.07
461.02
566.77
705.91
894.37
h (kj /kg)
129.,01
1215.1
1138.19
1061.28
984.37
907.46
830.55
753.64
Pr (psi)
248.18
197.75
155.43
120.29
91.51
68.2
49.680
35.05
T (K)
1212.2
1146.6
1080.4
1013.4
945.8
877.4
808
737.5
P (psi)
16.15
114.44
91.18
71.67
55.46
42.18
31.44
22.90
ν (m³ /kg)
0.44
0.52
0.63
0.76
0.94
1.17
1.48
1.91
Q (m³ /s)
226.42
314.86
380.07
461.02
566.77
705.91
894.37
1154.63
Dalam penentuan ukuran–ukuran sudu turbin, maka terlebih dahulu ditentukan
besarnya kerapatan gas (ρ) pada sisi masuk dan keluar sudu, dimana :
ρ1
=
1
ν1
=
1
0,37
= 2,70 kg /m3
Luas Annulus :
dimana : mt = massa udara (mf) + massa bahan bakar (mac)
= 9,816 + 595,777
= 605,51 kg /s
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
A1
=
mt
605,51
=
= 0,764 m2
2,70 × 293,5
ρ1 ⋅ Ca1
Untuk mengatasi akibat adanya boundary layers (Lit. 6 hal. 451, 452), maka
diambil harga–harga koreksi yaitu :
Ka = 0,997 ; Kv = 0,983
maka luas annulus terkoreksi (A1t) adalah :
A1t
=
A1
0,764
=
= 0,779 m2
0,997 × 0,983
Ka ⋅ Kv
Tinggi sudu notasi I dapat diproleh dari persamaan :
dimana :
A1t ⋅ N
Um
h1
=
N
= putaran kerja = 3000 rpm = 50 rps
Um
= kecepatan keliling sudu rata–rata = 350 m/s
h1
=
A1t ⋅ N
0,779 × 50
=
= 0,111 m
350
Um
Radius annulus rata–rata (rm) adalah :
rm
=
Um
350
=
= 1,115 m
2π × 50
2π ⋅ N
Ratio radius annulus (rt /rr) adalah :
rt
rr
1,115 +  0,111 
2
rm + (h / 2)

=
=
= 1,104
rm − (h / 2) 1,115 −  0,111 
2

Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Gambar 4.7 Axial flow turbin stage
Pada titik 2
1
1
= 2,27 kg /m3
0,44
-
ρ2
=
-
A2
=
mt
605,51
=
= 0,952 m2
2,27 × 280
ρ 2 ⋅ Ca 2
A2t
=
A2
0,952
=
= 0,971 m2
0,98
Ka ⋅ Kv
h2
=
A2t ⋅ N
0,971 × 50
=
= 0,139 m
350
Um
rt/rr
1,115 +  0,139 
2

=
= 1,132
0
,
139


1,115 − 
2 

ρ3
=
-
-
ν1
=
Pada titik 3
-
1
ν3
=
1
= 1,923 kg /m3
0,52
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
-
-
-
A3
=
mt
605,51
=
= 1,124 m2
ρ 3 ⋅ C a 3 1,923 × 280
A3t
=
A3
1,124
=
= 1,146 m2
0,98
Ka ⋅ Kv
h3
=
A3t ⋅ N
1,146 × 50
=
= 0,163 m
350
Um
rt/rr
1,115 +  0,163 
2

=
= 1,157
0
,
163


1,115 − 
2 

Untuk turbin ini kita peroleh tinggi sudu tetap tingkat I (hNI) yaitu :
hNI
= 1 (h1 + h2) = 1 (0,111 + 0,139)
2
2
= 0,125 m
= 12,5 cm
Radius puncak (tip radius), rt adalah :
rt
= 1,115 +  hNI  = 1,115 +  0,125 
2
2


= 1,177 m
Radius dasar (root radius), rr adalah :
rr
= 1,115 -  hNI  = 1,115 -  0,125 
2
2


= 1,052 m
Tinggi sudu gerak tingkat I (hRI) adalah :
hRI
= 1 (h2 + h3) = 1 (0,139 + 0,163)
2
2
= 0,151 m
= 15,1 cm
Radius puncak (tip radius), rt adalah :
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
rt
= 1,115 +  hRI  = 1,115 +  0,151 
2
2


= 1,1905 m
Radius dasar (root radius), rr adalah :
rr
= 1,115 -  hRI  = 1,115 2

 0,151 
2

= 1,0395 m
4.3.1.ii Aspect ratio (h/c)
Aspect ratio merupakan perbandingan antara tinggi sudu dengan panjang
chord. Menurut (lit. 2 hal. 296) bahwa nilai h/c yang baik digunakan adalah
berada diantara 3 dan 4. Maka dalam perencanaan ini dipakai h/c = 3
CNI
=
hNI
0,125
=
= 0,041 m = 4,1 cm
3
3
CRI
=
hRI
0,151
=
= 0,050 m = 5,0 cm
3
3
4.3.1.iii Pitch/chord ratio (s/c)
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Gambar 4.8 Nilai ‘optimum’ pitch/chord ratio
Dari grafik optimum pitch /chord ratio, untuk α2 = 57,38º dan α 3 = 17,35º
diperoleh nilai s/c = 0,9
dimana :
s = space atau pitch antar sudu
Untuk sudu tetap dan sudu gerak tingkat I besarnya ”s” adalah :
SNI
SRI
= 0,9 . CNI
= 0,9 × 0,046
= 0,041 m
atau = 4,1 cm
= 0,9 . CRI
= 0,9 × 0,051
= 0,045 m
atau = 4,5 cm
Menurut (Lit. 2 hal. 285), dalam menggambarkan sudu ditetapkan harga–harga
sebagai berikut :
W
= Width (lebar) sudu min h/3. Untuk tip dan root dipakai h/3 dan h/25
t/c
= 0,1 s/d 0,2. Untuk tip dan root dipakai tt = 0,25 dan tr =0,12
LER
= Leading Edge Radius = 0,12 . t
TER
= Trailing Edge Radius = 0,06 . t
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
CLL
= Camber Line Length max = 0,4 . c
i
= Angle of incidence = 5º
Gambar 4.9 Profil sudu turbin gas dan T6 aerofoil section
Hasil selengkapnya dari ρ1, A, At, rt/rr dan h untuk setiap bagian dari turbin (lihat
gambar 4.1.7) , ditabelkan sebagai berikut :
Tabel 4.6. Ukuran–ukuran sudu turbin
Bagian
Notasi
1
2
3
4
5
6
7
8
9
ρ (kg /m³)
2.7
2.27
1.923
1.593
1.313
1.068
0.858
0.677
0.524
A (m²)
0.764
0.952
1.124
1.295
1.571
1.931
2.405
3.047
3.94
At (m²)
0.779
0.971
1.146
1.321
1.603
1.97
2.454
3.109
4.021
rr/rt
1.104
1.132
1.157
1.185
1.229
1.289
1.373
1.497
1.694
h (m)
0.111
0.139
0.163
0.189
0.229
0.281
0.351
0.444
0.574
Dengan demikian dapat pula ditabelkan ukuran–ukuran sudu turbin
keseluruhan sebagai berikut :
Tabel 4.7. Ukuran–ukuran utama sudu turbin
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Tingkat Turbin
Satuan
ukuran
I
II
III
IV
ST
SG
ST
SG
ST
SG
ST
SG
h (m)
0.125
0.151
0.176
0.209
0.255
0.316
0.397
0.509
rt (m)
rr (m)
c (m)
S (m)
h/t (m)
Wt (m)
Wr (m)
tt (m)
tr (m)
LER (m)
TER (m)
CLL (m)
1.178
1.053
1.191
1.04
1.203
1.027
1.219
1.011
1.243
0.987
1.273
0.957
1.314
0.916
1.37
0.86
0.042
0.05
0.059
0.07
0.085
0.105
0.132
0.17
0.038
0.042
0.045
0.05
0.053
0.059
0.063
0.07
0.077
0.085
0.095
0.105
0.119
0.132
0.153
0.17
0.05
0.005
0.01
0.005
0.0013
0.0006
0.004
0.06
0.006
0.013
0.006
0.0015
0.0008
0.005
0.07
0.007
0.015
0.007
0.0018
0.0009
0.006
0.084
0.008
0.017
0.008
0.0021
0.001
0.007
0.102
0.01
0.021
0.01
0.0026
0.0013
0.009
0.126
0.013
0.026
0.013
0.0032
0.0016
0.011
0.159
0.016
0.033
0.016
0.004
0.002
0.013
0.204
0.02
0.042
0.02
0.0051
0.0025
0.017
4.3.1.iv Berat Sudu Tiap Tingkat Sudu Turbin
Berat Sudu
atau,
Gs
= Volume sudu × Berat jenis material sudu
= Vs × γ
Volume sudu = Tinggi sudu × Tebal sudu × chord
atau,
Vs
= h × ts × c
Perhitungan volume sudu tingkat I yaitu :
Vs
= h1 × ts1 × c1
= 15,1 × 0,93 × 5
= 70,21 cm3
≈ 70 cm3
berat jenis sudu tingkat I (γ) = 0,025 kgf /cm3 (dipakai) maka berat per_sudu
gerak Tingkat I adalah :
Gs
= 70 × 0,025 = 1,755 kg
Jumlah sudu gerak tingkat I dari hasil survey adalah Z1 = 88 buah. Sehingga berat
tingkat I sudu gerak adalah : 1,755 × 88 = 154,46 kg
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Dari data survey lapangan, berat stage (tingkat I) + ring adalah 2688 kg. Sehingga
berat disc turbin tingkat I adalah : 2688 – 154,46 = 2533,54 Kg.
Diameter disc turbin tingkat I adalah jari–jari dasar turbin (rr) dikali dua
= 2 × 1,040
Dd1
= 2,08 cm
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil survey lapangan dan perhitungan,
diperoleh berat sudu dan disc turbin pada tabel sebagai berkut :
Tabel 4.8. Berat tingkat (stage) turbin
Tingkat (stage)
Satuan
Ukuran
I
II
III
IV
Z
88
89
62
44
V (cm³)
70
189
647
2717
γ (kg /cm³)
0.025
0.02
0.017
0.0076
Gs (kg)
1.76
3.77
11
20.65
Gs tot (kg)
154.5
335.9
681.9
908.6
Dd (cm)
208
202.2
191.4
172
Gstage (kg)
2688
3065
3560
3346
Gd (kg)
2533.5
2729.1
2878.1
2437.4
4.3.2. Perencanaan Poros Penghubung (Central Hollow Shaft)
Poros yang berfungsi sebagai penghubung antara disk kompresor dan disk
turbin dinamakan Central hollow shaft. Dikatakan Central hollow shaft karena
poros ini terletak ditengah dan bentuknya adalah poros bolong serta berada
diantara disk kompresor dan disk turbin.
Adapun perencanaan poros penghubung ini terlihat pada gambar sebagai berikut :
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Gambar 4.10 Poros penghubung
Berdasarkan survey di lapangan, diperoleh data-data sebagai berikut:
t1
= t2 = t3 = t4 = 7 cm
L
= 160 cm
r3
= 73 cm
r2
= 67 cm
r1
= 35,5 cm
Berat poros penghubung yaitu:
W
= π. r2. t. γ
Dimana :
γ
= Berat jenis poros = 7,6 .10-3 kgf /cm3
Bagian 1 :
W1
= π(r22 – r12) t1. γ
= π.(672 – 35,52)7. 7,6 × 10-3
= 539,4 kg
Bagian 2 :
W2
= W3 = W4 = W1 = 539,4 kg
Bagian 5 :
W5
= π(r32 – r22) L. γ
= π.(732 – 672)160. 7,6 x 10-3
= 3207,3 kg
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Dengan demikian berat total poros penghubung adalah:
WTP
= (W1 + W2 + W3 + W4) + W5
= 2157,6 + 3207,3
= 5364,9 kg.
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
BAB V
BANTALAN DAN PELUMASAN
5.1.
Jenis Pembebanan
Poros utama turbin menerima dua jenis pembebanan yaitu pembebanan
aksial dan pembebanan radial. Hal ini dikarenakan adanya tekanan gas pada sudusudu turbin serta berat rotor turbin dan kompresor.
5.1.1. Pembebanan Aksial
Pembebanan aksial terjadi disepanjang arah sumbu rotor dimana
pembebanan ini terjadi karena adanya perubahan momentum dari fluida kerja.
Pada perhitungan sebelumnya telah diperoleh besar gaya aksial dari kompresor
yaitu, FAK = 4610 kg.
Diperoleh besarnya gaya aksial pada turbin yaitu :
FAT
Dimana :
= Sm. ρ. Ca2. (tan α2 - tan α1)
Sm
= Pitch space rata-rata
ρ
= kerapatan gas masuk turbin = 2,70 kg /m3
Ca
= kecepatan aksial gas = 280 m/s
α1 = α2 = sudut gas masuk = 17,35º
Maka :
FAT
= 0,0975 × 2,70 × 2802 (tan 57,38º – tan 17,35º)
= 25799,15 kg.
Gaya aksial yang terjadi pada sistem turbin gas dapat dipreoleh yaitu :
FTG
= FAT - FAK
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
=25799,15 – 4610 = 21189,15 kg
5.1.2. Pembebanan Radial
Beban radial ini merupakan berat dari komponen-komponen rotor turbin
gas yaitu berupa berat poros, berat rotor turbin, berat rotor kompresor, berat
central hollow shaft, dan komponen lainnya yang termasuk dalam bagian rotor
turbin gas.
Wk
Wp
Wt
Wsp
A
B
2195
2150
200
1500
2645
8690
Dimana :
WK
= Berat total kompresor
= 18997 kg
WP
= Berat poros (Tie rod)
= 3143 kg
WSP
= Berat poros penghubung
= 5365 kg
WT
= Berat total turbin
= 15545 kg
Reaksi-reaksi yang terjadi yaitu:
 Reaksi pada bantalan A
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
ΣMB
=0
RA
=
=
[(6495 × Wk ) + (4345 × Wp ) + (4145 × Wsp ) + (2645 × Wt )]
8690
[(6495 × 8997 ) + (4345 × 3143) + (4145 × 5365) + (2645 × 15545)]
8690
= 15586,45 kg
 Reaksi pada bantalan B
ΣMA
=0
RB
= (Wk + Wp +Wsp +Wt) – RA
= (18997 + 3143 + 5365 + 15545) – 15586,45
= 27463,55 kg
5.2.
Perencanaan Bantalan Luncur
Bantalan luncur dapat diklasifikasikan menurut beberapa cara. Menurut
bentuk dan letak bagian poros yang ditumpu bantalan yaitu bagian yang disebut
jurnal. Macam-macam bentuk bantalan adalah sebagai berikut :
a) Bantalan radial, yang dapat berbentuk silinder, belahan silinder, elips, dll.
b) Bantalan aksial, yang dapat berbentuk engsel, kerah, michel, dll.
c) Bantalan khusus, yang berbentuk bola, dll.
Adapun bahan untuk bantalan luncur secara umum adalah :
a) Paduan tembaga,
b) Logam putih.
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Secara umum bantalan luncur digambarkan sebagai berikut :
Gambar 5.2 Bantalan luncur
Pada perencanaan ini direncanakan bantalan luncur dengan data-data sebagai
berikut :
1. Diameter poros (ds) = 355 mm
2. Putaran poros (N) = 3000 rpm
3. Ruang bebas antara permukaan poros dan bantalan, a = 0,6
4. Bantalan logam putih
5. Panjang bantalan, L = (0,5-2,0)d ,dimana pada perencanaan ini direncanakan,
L/d
= 1,50
L
= 1,50 ds
maka,
= 1,50 × 355
= 532,5 mm
6. Kecepatan keliling poros (U) yaitu ;
U
=
=
π ⋅ ds ⋅ N
60
π × 355 × 3000
60
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
= 55735 mm/s
7.
≈ 55,735 m/s
Minyak pelumas
Adapun jenis minyak pelumas yang digunakan pada pereencanaan ini adalah
jenis TD 32 yang sesuai dengan data survey dilapangan, dengan karakteristik
sebagai berikut :
a) Temperatur minyak masuk bantalan (t1) = 40 ºC
b) Temperatur minyak keluar bantalan (t2) = 52 ºC
c) Rapat massa (ρ)
= 0,9 kg/l
d) Panas spesifik minyak (Cpo)
= 0,5 kkal/kg
e) Viskositas (μ)
= 32 × Cp
= 3,2 × 1,02 × 10-10
= 32,64 × 10-10 kgs/mm.
5.2.1. Perencanaan Bantalan Luncur Turbin
Menurut (Lit.9 hal. 278) perhitungan untuk beban bantalan luncur
diperoleh dengan persamaan :
Φv
a
RB ⋅  
 ds 
=
L ⋅U ⋅ µ
2
2
 0,6 
27463,55

355 

= 0,809
=
532,5 × 55735 × 32,64 × 10 −10
Dan,
ε
=
355
ds
=
= 0,66
532,5
L
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Gambar 5.3 Grafik koefisien kriteria beban, Φv
Pada gambar grafik 5.3, diperoleh harga eksentrisitas relatif bantalan pada Φv =
0,809 dan ε = 0,66 adalah sebesar, χ = 0,27
Maka harga eksentrisitas (e) antara sumbu poros dan sumbu bantalan yaitu :
e
=
χ ⋅a
2
=
0,27 × 0,6
2
= 0,081 cm
Sedangkan harga koefisien bantalan dapat diperoleh dari gambar 5.4 pada χ = 0,27
dan ε = 0,66, yaitu Φv = 3,2
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Gambar 5.4 Grafik koefisien tahanan, Φv
a. Koefisien gesekan (f) untuk bantalan diperoleh sebesar :
f
=
0,6 × 3,2
a ⋅ Φs
=
355 × 0,809
ds ⋅ Φv
= 6,68 × 10-3
b. Kerja yang dilakukan untuk melawan gesekan sebesar :
Ar
=
f ⋅ RB ⋅ U
6,68 ⋅ 10 −3 ⋅ 27463,55 ⋅ 55,735
=
100
100
= 102,24 kg.m/detik
c. Ekivalensi kalor kerja pada bantalan, Qr :
Qr
=
f ⋅ RB ⋅ U
102,24kg.m / s
=
427 kkal / kg.m
427 kkal / kg.m
= 0,239 kkal/ detik
d. Bila kerugian akibat radiasi diabaikan, maka jumlah minyak yang diabaikan
untuk menyerap kalor yang dihasilkan oleh gesekan akan sebesar,
qo
=
Qr
γc(t 2 − t1 )
=
0,239
0,9 × 0,5 × (50 − 35)
= 3,5 × 10-2 l/detik
e. Tebal lapisan minyak adalah :
ho
=
a
(1 − χ )
2
=
0,6
(1 − 0,27)
2
= 0,219 mm
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
5.2.2 Perencanaan Bantalan Luncur Kompresor
Telah diketahui pada perhitungan sebelumnya, bahwa beban bantalan
luncur pada poros kompresor (RA) = 15586,45 kg. Koefisien (kriteria beban)
beban bantalan (Qv) dapat diperoleh dengan persamaan,
Φv
a
RB ⋅  
 ds 
=
L ⋅U ⋅ µ
2
2
 0,6 
15586,45 ⋅ 

355 

=
532,5 × 55735 × 32,64 × 10 −10
= 0,459
Dan,
ε
=
355
ds
=
= 0,66
L 532,5
Harga eksentrisitas relatif bantalan untuk Φv = 0,45 dan ε = 0,66 adalah χ = 0,22
Sedangkan harga eksentrisitas bantalan (e) adalah :
e
=
=
χ ⋅a
2
0,22 × 0,6
2
= 0,066 cm
Harga koefisien bantalan untuk χ = 0,22 dan ε = 0,66 adalah Φs = 3,2
a. Harga koefisien gesekan bantalan adalah :
f
=
a ⋅ Φs
ds ⋅ Φv
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
=
0,6 × 3,2
355 × 0,45
= 1,2 × 10-2
b. Kerja yang dilakukan untuk melawan gesekan adalah :
Ar
=
f ⋅ RA ⋅U
100
=
6,68 × 10 −3 × 15586,55 × 55,735
100
= 58,03 kg.m/det
c. Ekivalensi kerja untuk bantalan adalah :
Qr
=
f ⋅ RA ⋅U
58,03kg.m / det
=
427 kkal / kg.m
427 kkal / kg.m
= 0,135 kkal/s
d. Bila kerugian akibat radiasi diabaikan, maka jumlah minyak yang diabaikan
untuk menyerap kalor yang dihasilkan oleh gesekan akan sebesar,
qo
=
Qr
γc(t 2 − t1 )
=
0,135
0,9 × 0,5 × (50 − 35)
= 2 × 10-2 l/detik
e. Tebal lapisan minyak adalah :
ho
=
a
(1 − χ )
2
=
0,6
(1 − 0,22)
2
= 0,234 mm
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
5.2.3 Perencanaan Bantalan Axial
Pada perencanaan ini, bantalan yang dipakai adalah bantalan tipe axial
kerah (Collar Thrust Bearing). Adapun bantalan axial kerah, digambarkan sebagai
berikut :
Gambar 5.3. Bantalan aksial kerah
Dari gambar diatas, dimensi bantalan aksial dapat dihitung menurut (Lit. 5 hal.
125) yaitu:
1. Tinggi kerah (b)
Dalam praktek, tinggi kerah b (mm) adalah (0,1-0,15)d. Maka dalam
perencanaan ini diambil b = 0,15 ds.
Untuk itu,
b
= 0,15 × 355 mm
= 53,25 mm
2. Diameter kerah (dn)
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Sedangkan diameter kerah, dn (mm) adalah (1,2-1,3)d. Maka dalam
perencanaan ini diambil dn = 1,3 ds.
dn = 1,3 × 355 mm
Untuk itu,
= 461,5 mm
3. Tebal kerah (t)
Tebal kerah t dan jarak kerah t’ masing-masing adalah (1-1,5)b. Maka dalam
perencanaan ini diambil nilai untuk t dan t’ adalah 1,5 b.
Untuk itu,
t
= 1,5 × 53,25
= 79,87 mm
t’
dan,
= 1,5 × 355
= 79,87 mm.
Dengan pertimbangan keamanan dan ketahanan suatu material, maka dalam
perencanaan ini direncanakan bahan material bantalan yang akan digunakan
adalah besi cor kelas tinggi dengan kekuatan tariknya adalah 30-50 kgf/mm2
(Lit.11 hal 4) dan tekanan yang diizinkan (Pa) berkisar 0,5-0,75 kg/mm2. Dengan
demikian,
1. Perhitungan tekanan rata-rata pada bantalan dengan persamaan :
P =
FTG
z ⋅ (π / 4) ⋅ (dn 2 − ds 2 )
Dimana :
FTG = Gaya aksial yang terjadi pada sistem turbin gas
= 21189,15 kg
Z = Jumlah kerah (seperti pada gambar 5.3 diatas, direncanakan 2
buah)
Maka :
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
P
=
21189,15
2 ⋅ π / 4 ⋅ (461,5 2 − 355 2 )
= 0,1552 kg/mm2
Dari perhitungan diatas dapat disimpulkan bahwa konstruksi sangat aman
karena tekanan rata-rata yang terjadi pada bantalan lebih kecil dari tekanan
yang diizinkan, atau P< Pa.
2. Dari persamaan (Lit.5 hal 111), diperoleh gaya gesekan pada bantalan (fg),
yaitu :
dimana,
µ ⋅ A⋅v
fg
=
μ
= Viskositas = 3,264 × 10-9 kg.s/mm2
A
= Luas yang akan dilumasi
ho
= Z × π/4 × (dn2-ds2)
= 2 × π/4 × (461,52-3552)
= 136522,88 mm2
v
= Kecepatan keliling poros
=
π ⋅ (dn + ds ) ⋅ N
2 ⋅ 60
=
π ⋅ (461,5 + 355) ⋅ 3000
2 ⋅ 60
= 64095,25 mm/s
ho
= tebal lapisan minyak = 0,2
sehingga diperoleh :
fg
=
3,264 × 10 −9 × 136522,88 × 64095,25
0,2
= 142,81 kg
3. Ekivalensi kalor untuk kerja bantalan (Qr) adalah :
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Qr
=
fg × v
142,81 × 64095,25
=
427 × 1000
427000
= 21,.44 kkal/s
4. Laju aliran minyak pelumas yang diperlukan (qo) adalah :
Qo
=
Qr
ρ × Cpo × (t 2 − t1 )
=
21,44
0,9 × 0,5 × (52 − 40)
= 3,97 l/s
5.2.4 Putaran Kritis
Putaran kritis adalah suatu keadaaan dimana poros mengalami getaran yang
sangat besar dikarenakan oleh perubahan putaran. Putaran kritis yang ideal
berkisar antara 20 - 40 persen dari putaran kerja. Menurut (lit.9 hal 322), adapun
perhitungan untuk mengetahui putaran kritis ini dapat diperoleh dengan
persamaan :
nkr =
dimana :
60ωkr
P⋅ y
≈ 300
2π
P ⋅ y2
P = poros yang dibebani dengan beban terpusat
y
= lendutan yang disebabkan oleh beban-beban.
Dalam perencanaan ini, direncanakan konstruksi rotor sistem turbin gas dengan
cakam bertingkat banyak yang saling berhubungan. Pertambahan kekuatan poros
akibat adanya cakram-cakram yang ditempa dalam satu kesatuan dengan poros
dapat diandaikan dengan memperbesar diameter poros sebesar 1 2 . (lit 9 hal 322).
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Adapun pertambahan kekuatan poros akibat adanya cakram-cakram tersebut yaitu
1.
Diameter poros (ds)
= 355 mm
2.
Diameter rata-rata poros penghubung (dSP)
= 1460 mm
3.
Diameter rata-rata disk kompresor (ddk)
= 1248 mm
4.
Diameter rata-rata disk turbin (ddt)
= 1934 mm
Karena adanya cakram-cakram tersebut, sehingga besarnya diameter poros adalah,
dst
=
=
ds + d dk + d sp + d dt
4
355 + 1248 + 1460 + 1394
4
= 1114,25 mm
Sebelum pada perhitungan putaran kritis, terlebih dahulu ditentukan :
1.
Modulus elastisitas material poros yaitu Stainless Steel,
E
2.
= 2,9 × 104 kg/mm2
Momen inersia penampang poros, I
= π 64 × dst 4
= π 64 × (1114,25) 4
= 7,562 × 1010 mm4.
Perhitungan deleksi pada poros dengan mengasumsikan pembebanan tiap titik
adalah pembeban terpusat yang mewakili beban keseluruhan tiap unit.
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
a
b
A
B
y
L
Gambar 5.6 Defleksi pada poros
Untuk itu perhitungan defleksi pada poros menurut (Lit. 10 hal 190) yaitu :
Untuk x ≥ a, maka persamaannya adalah :
Y =
P ⋅b⋅ x
P( x − a) 3
( L2 − b 2 − x 2 ) +
6⋅ L⋅ E ⋅ I
6⋅ E ⋅ I
…(pers. I)
Untuk x ≤ a, persamaannya adalah :
Y =
P ⋅b⋅ x
( L2 − b 2 − x 2 )
6⋅ L⋅ E ⋅ I
…(pers. II)
Untuk persamaan I, jika x ≥ a diperoleh harga x yaitu :
x
=
L2 − b 2
3
dari gambar 5.1 (free body diagram poros), dapat dilihat besarnya jarak L dan b
yaitu, L = 8690 dan b (jarak beban kompresor,Wk) = 6495 mm.
dengan demikian diperoleh harga x,
x =
8690 2 − 6495 2
3
= 3333,220 mm
Untuk itu,
Y =
P ⋅b⋅ x
P( x − a) 3
, dimana P = Wk
( L2 − b 2 − x 2 ) +
6⋅ L⋅ E ⋅ I
6⋅ E ⋅ I
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
=
18997 × 6495 × 3333,220
(8690 2 − 6495 2 − 3333,22 2 ) +
4
10
6 × 8690 × 2,9 × 10 × 7,562 × 10
18997(3333,220 − 2195) 3
6 × 2,9 × 10 4 × 7,562 × 1010
= 0,0799 mm.
Dengan demikian (lih. Gambar 5.1), dapat dihitung keseluruhan defleksi pada
poros untuk P = Wp ;P = Wst ;P = Wt, yaitu :
Yx=1/2; a=b =
=
Yx=1/2; a>b =
=
P ⋅l3
48 ⋅ E ⋅ I
3143 × 8690 3
= 0,01959 mm
48 × 2,9 × 10 4 × 7,562 × 1010
P ⋅b
(3L2 − 4b 2 )
48 ⋅ E ⋅ I
5365 × 4345
× (3 × 8690 2 − 4 × 4145 2 )
48 × 2,9 × 10 4 × 7,562 × 1010
= 0,0482 mm
Yx=1/2; a<b =
=
P ⋅b
(3l 2 − 4b 2 )
48 ⋅ E ⋅ I
15545 × 2645
× (3 × 8690 2 − 4 × 2645 2 )
4
10
48 × 2,9 × 10 × 7,562 × 10
= 0,07756 mm.
Hasil perhitungan defleksi pada poros, selengkapnya ditabelkan sebagai berikut :
Tabel 5.1. Defleksi pada poros
Beban (P)
Defleksi (Y)
P.Y
P.Y²
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Kg
mm
18997
0.0799
1517.86
121.28
3143
0.01959
61.57
1.21
5365
0.0482
258.59
12.46
15545
0.07756
1205.67
93.51
3043.69
228.46
Jumlah
Dengan demikian diperoleh besar putaran kritis rotor, yaitu :
nkr
=
P ⋅Y
60ωkr
≈ 300
2π
P ⋅Y 2
= 300 ×
3043,69
228,46
= 1095,0056 rpm
= 1095 rpm.
Dari hasil perhitungan diatas, diperoleh putaran kritis rotor adalah nkr =
1095 rpm atau berkisar 36,5 % dibawah putaran kerja.
Menurut (Lit.9 hal 318), bahwa poros yang bekerja dengan putaran kritis berkisar
20 s d 40 % diatas atau dibawah putaran kerja, adalah aman untuk beroperasi.
Dengan demikian pada perancangan ini, poros dinyatakan aman untuk beroperasi.
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
BAB VI
KESIMPULAN
Dari hasil analisa dan perhitungan-perhitungan pada perancangan sistem
turbin gas untuk instalasi PLTG sebagai penggerak generator serta hasil survey
lapangan untuk menghasilkan daya terpasang sebesar 132 MW, maka dapat
diperoleh data-data sebagai berikut :
A. Kompresor
1. Type
: Aliran aksial
2. Jumlah tingkat
: 16 tingkat
3. Perbandingan kompresi
: 10,04
4. temperatur udara masuk
: 30 ºC
5. temperatur udara keluar
: 353,53 ºC
6. Tekanan udara masuk
: 0,993 bar
7. Tekanan udara keluar
: 10,01 bar
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
B. Ruang bakar
1. Type
: Tubular Combustion Chamber
2. Jumlah ruang bakar
: 2 buah
3. Tekanan udara masuk
: 10,01 bar
4. Tekanan gas keluar
: 9,80 bar
5. Temperatur udara masuk
: 353,53 ºC
6. Temperatur gas keluar
: 1004 ºC
C. Turbin
1. Type
: Aliran aksial
2. Jumlah tingkat
:4
3. Temperatur gas masuk
: 1004 ºC
4. Temperatur gas keluar
: 530,08 ºC
5. Tekanan gas masuk
: 9,80 bar
6. Tekanan gas keluar
: 1,215 bar
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
DAFTAR PUSTAKA
1. Arismunandar, Wiranto. 1982. Penggerak Mula Turbin. Bandung : Penerbit
ITB Bandung.
2. H. Cohen, G. F. C. Rogers, H. I .H. Saravanamutto. Gas Turbine Theory.
Cetakan ke-3 dan 4. Jhon Willey and Sons, inc. New York : 1987, 1996.
3. Jain, J. K. 1979. Gas Turbine Theory and Jet Propultion. New Delhi : Khana
Publisher.
4. Gackenbach, R. E. 1960. Materials Selection for Process Plants. Cetakan ke-1
New York, N.Y. : Reinhold Publishing Corporation New York.
5. Sularso, dan Suga, Kiyokatsu. 2002. Dasar Perencanaan dan Pemilihan
Elemen Mesin. Cetakan ke-10. Jakarta: P.T. Pradnya Paramita.
6. Lee, Jhon F. 1954. Theory and Design of Steam and Gas Turbine. Revised and
Impression.USA : Mc. Grow Hill Book Company.
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
7. Harman, Rihard Tc. 1983. Gas Turbine Appliccation, Cycles and
Characteristic. London : The Mc. Millan Press Ltd.
8. Jennings, Burges H. dan Rogers, Willard L. 1983. Gas Turbine Analysis and
Practice. USA : Mc. Grow Hill Book Company, kogakhusa Ltd.
9. Shlyakhin, P. 1990. Teori dan Rancangan Turbin Uap. Jakarta : Erlangga
10. Timoshenko, S. Dasar-dasar Perhitungan Kekuatan Bahan. Cetakan ke-1.
Jakarta : Restu Agung
11. Surdia, Tata, dan Chijiiwa, Kenji. 1986. Teknik pengecoran logam. Cetakan
ke-5. Jakarta : PT Pradnya Paramitha.
12. Dietzel, Fritz, dan D. Sriyono. 1983. Turbin, pompa dan kompresor. Cetakan
ke-4. Jakarta : Erlangga.
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan Putaran 3000
Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan Putaran 3000
Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
LAMPIRAN 4 : Tabel Temperatur dan Enthalpi untuk Udara
Tabel 1.a Ideal Gas Properties of Air
T (K)
h (kJ/kg)
Pr
U (kJ/kg)
Vr
Sº (kJ/kg.K)
200
210
220
230
240
250
260
270
280
285
290
295
300
305
310
315
320
325
330
340
350
360
370
380
390
400
410
420
431
440
450
460
470
480
490
500
510
520
530
199,97
209,97
219,97
230,02
240,02
250,05
260,09
270,11
280,13
285,14
290,16
295,17
300,19
305,22
310,24
315,27
320,29
325,31
330,34
340,42
350,49
360,58
370,67
380,77
390,88
400,98
411,12
421,26
431,43
441,61
451,8
462,02
472,24
482,49
492,74
503,02
513,32
523,63
533,98
0,3363
0,3987
0,469
0,5477
0,6355
0,7329
0,8405
0,959
1,0889
1,1584
1,2311
1,3068
1,386
1,4686
1,5546
1,6442
1,7375
1,8345
1,9352
2,149
2,379
2,626
2,892
3,176
3,481
3,806
4,153
4,522
4,915
5,322
5,775
6,245
6,742
7,268
7,824
8,411
9,031
9,684
10,37
142,56
149,69
156,82
164
171,13
178,28
185,45
192,6
199,75
203,33
206,91
210,49
214,07
217,67
221,25
224,85
228,42
232,02
235,61
242,82
250,02
257,24
264,46
271,69
278,93
286,16
293,43
300,69
307,99
315,3
322,62
329,97
337,32
344,7
352,08
359,49
366,92
374,36
381,84
1707
1512
1346
1205
1084
979
887,8
808
738
706,1
676,1
647,9
621,2
596
572,3
549,8
528,6
508,4
489,4
454,1
422,2
393,4
367,2
343,4
321,5
301,6
283,3
266,6
251,1
236,8
223,6
211,4
200,1
189,5
179,7
170,6
162,1
154,1
146,1
1,29559
1,34444
1,39105
1,43557
1,47824
1,51917
1,55848
1,59634
1,63279
1,65055
1,66802
1,68515
1,70203
1,71865
1,73498
1,75106
1,7669
1,78249
1,79783
1,8279
1,85708
1,88513
1,91313
1,94001
1,96633
1,99194
2,01699
2,04142
2,08533
2,0887
2,11161
2,13407
2,15604
2,1776
2,19876
2,21952
2,23993
2,25997
2,27967
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Tabel 1.b Ideal Gas Properties of Air
T (K)
h (kJ/kg)
Pr
U (kJ/kg)
Vr
Sº (kJ/kg.K)
540
550
560
570
580
590
600
610
620
630
640
650
660
670
680
690
700
710
720
730
740
750
760
780
800
820
840
860
880
900
920
940
960
980
1000
1020
1040
1060
1080
1100
1120
1140
1160
544,35
555,74
565,17
575,59
586,04
596,52
607,02
617,53
628,07
683,63
649,22
659,84
670,47
681,14
691,82
702,52
713,27
724,04
734,82
745,62
756,44
767,29
778,18
800,03
821,95
843,98
866,08
888,27
910,56
932,93
955,38
977,92
1000,55
1023,25
1046,04
1068,89
1091,85
1114,86
1137,89
1161,07
1184,28
1207,57
1230,92
11,1
11,86
12,66
13,5
14,38
15,31
16,28
17,3
18,36
19,84
20,64
21,86
23,13
24,46
25,85
27,29
28,8
30,38
32,02
33,72
35,5
37,35
37,27
43,35
47,75
52,59
57,6
63,09
68,98
75,29
82,05
89,28
97
105,2
114
123,4
133,3
143,9
155,2
167,1
179,7
193,1
207,2
389,34
396,86
404,42
411,97
419,55
427,15
434,78
442,42
450,09
457,78
465,5
473,25
481,01
488,81
496,62
504,45
512,33
520,23
528,14
536,07
544,02
551,99
560,01
576,12
592,3
608,59
624,95
641,4
657,95
674,58
691,28
708,08
752,02
741,98
758,94
776,1
793,36
810,62
827,88
845,33
862,79
880,35
897,91
139,7
133,1
127
121,2
115,7
110,6
108,8
101,2
96,92
92,84
88,99
85,34
81,89
78,61
75,5
72,56
69,76
67,07
64,53
62,13
59,82
57,63
55,54
51,64
48,08
44,84
41,85
39,12
36,61
34,31
32,18
30,22
28,4
26,73
25,17
23,72
23,29
21,14
19,98
18,896
17,886
16,946
16,064
2,29906
2,31809
2,33685
2,35531
2,37348
2,3914
2,40602
2,42644
2,44356
2,46048
2,47716
2,49364
2,50985
2,52589
2,54175
2,55731
2,57277
2,5881
2,60319
2,61803
2,6328
2,64737
2,66176
2,69013
2,71787
2,74504
2,7717
2,79783
2,82344
2,84856
2,87324
2,89748
2,92128
2,94468
2,9677
2,99034
3,0126
3,03449
3,05608
3,07732
3,09825
3,11883
3,13916
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Tabel 1.c Ideal Gas Properties of Air
T (K)
h (kJ/kg)
Pr
U (kJ/kg)
Vr
Sº (kJ/kg.K)
1180
1254,34
222,2
915,57
15,241
3,15916
1200
1277,79
238
933,33
14,47
3,17888
1220
1301,31
254,7
951,09
13,747
3,19834
1240
1324,93
272,3
968,95
13,069
3,21751
1260
1348,55
290,8
986,9
12,435
3,23638
1280
1372,24
310,4
1004,76
11,835
3,2551
1300
1395,97
330,9
1022,82
11,275
3,27345
1320
1419,76
352,5
1040,88
10,747
3,2916
1340
1443,6
375,3
1058,94
10,247
3,30959
1360
1467,49
399,1
1077,1
9,78
3,32724
1380
1491,44
424,2
1095,26
9,337
3,34474
1400
1515,42
450,5
1113,52
8,919
3,362
1420
1539,44
478
1131,77
8,526
3,37901
1440
1563,51
506,9
1150,13
8,153
3,39586
1460
1587,63
537,1
1168,49
7,801
3,42147
1480
1611,79
568,8
1186,95
7,468
3,42892
1500
1635,97
601,9
1205,41
7,152
3,44516
1520
1660,23
636,5
1223,87
6,854
3,4612
1540
1654,51
672,8
1242,43
6,569
3,47712
1560
1708,82
710,5
1260,99
6,301
3,49276
1580
1733,17
750
1279,65
6,046
3,50829
1600
1757,57
791,2
1298,3
5,804
3,52364
1620
1782
834,1
1316,96
5,574
3,53879
1640
1806,46
878,9
1335,72
5,355
3,55381
1660
1830,96
925,6
1354,48
5,147
3,56867
1680
1855,5
974,2
1373,24
4,949
3,58335
1700
1880,1
1025
1392,7
4,761
3,5979
1750
1641,6
1161
1439,8
4,328
3,6336
1800
2003,3
1310
1487,2
3,994
3,6684
1850
2065,3
1475
1534,9
3,601
3,7023
1900
2127,4
1655
1582,6
3,295
3,7354
1950
2189,7
1852
1630,6
3,022
3,7677
2000
2252,1
2068
1678,7
2,776
3,7994
2050
2314,6
2303
1726,8
2,555
3,8303
2100
2377,7
2559
1775,3
2,356
3,8605
2150
2440,3
2837
1823,8
2,175
3,8901
2200
2503,2
3138
1872,4
2,012
3,9191
2250
2566,4
3464
1921,3
1,864
3,9474
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
LAMPIRAN 5 : KONVERSI SATUAN
Satuan Panjang
1 mil
1 yard
: 1760 yards
1 pound (lb)
: 5280 feet
: 7000 grains
: 1,609 km
: 0,454 kg
: 3 feet
1 ounches (oz) : 0,0625 pound
: 0,914 meter
1 foot
: 16 ounches
: 12 inches
: 28,35 gr
1 grain
: 308,4 mm
: 64,8 mgr
: 0,0023 ounches
1 inch
: 25,4 mm
1 lb/ft
: 1,488 kg/m
100 ft/ min
: 0,508 m/det
1 metric ton
: 1000 kg
1 km
: 1000 meter
: 0,984 long ton
: 1094 yard
: 2205 lbs
: 3281 feet
1 kilogram
: 0,621 mil
1 meter
1 micron
: 1000 mm
: 1000 gram
: 2,205 pounds
1 gram
: 1000 mgr
: 39,37 inches
: 0,03527 ounches
: 0,001 mm
: 15,43 grains
: 0,000039 inch
1 kg/m
: 0,672 lbs/ft
: 196,9 ft/min
1 US short
: 2000 lbs
: 907 kg
Satuan Berat
1 US long ton : 2240 lbs
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
: 1016 kg
Satuan Luas
1 mil2
1 acre
: 640 acres
: 3,785 liter
: 4840 sq yards
: 231 cu inches
1 sq foot
1 hectare
1 m2
1 US Barrel
: 9 sq feet
: 0,836 m2
1 km2
: 0,833 Imp Gallon
: 659 hectare
: 0,4047 hectare
1 sq yard
1 US Gallon
: 42 US Gallon
: 35 Imp Gallon
1 m3
: 1000 liter
: 100 hectare
: 1,308 cu yards
: 0,3861 sq mil
: 35,31 cu feet
: 144 sq inch
1 liter
: 1000000 cc
: 0,0929 m2
: 0,22 Imp Gallon
: 10000 m2
: 0,2642 US Gallon
: 2,471 acres
: 61 cu inches
: 10000000 mm2
1 cu ft/min
: 1,669 m3/jam
: 1,196 sq yards
1 m3/jam
: 0,589 cu ft/min
: 10,76 sq feet
Satuan Volume
Satuan Kerapatan
1 cu yard
: 27 cu feet
1 lb/cu ft : 16,02 kg/mm3
: 0,766 m3
1 m3/kg
: 16,02 cu ft/lb
: 1728 cu inches
1 kg/m3
: 0,0624 lb/cu ft
: 28,32 liter
1 g/m3
: 0,437 grain/cu ft
1 cu foot
1 cu inches
: 16039 mm3
1 Imp Galoon
: 277,4 cu inches
: 4,55 liter
: 0,0584 grain/US
Gallon
1 g/liter
: 58,4 grain/US Gallon
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Satuan Panas dan Energi
1 BTU
: 778 ft.lb
1 DK metrik : 32550 ft.lbs/sec
: 107,6 kg.m
: 542 ft.lbs/sec
: 0,252 KKal
: 75 kg.m/det
1 BTU/lb
: 0,556 KKal/kg
: 0,735 kW
1 BTU/cu ft
: 8,9 KKal/m3
: 0,986 HP
1 Kilokalori
: 3088 ft.lbs
1 KKal/kg
1 BTU/hr.ft2.F/ft : 1,488 KKal/j.m2.C/m
1 Kilokalori
1 Kilojoule
1 KW
1 HP
: 3088 ft.lbs
: 1,8 BTU/lb
: 4,187 Kj/m3
1 KKal
: 427 kg.m
: 427 kg.m
: 4187 N.m
: 3,968 BTU
: 4187 joule
: 4,1868 Kj
: 4187 Watt.sec
: 0,2388 KKal
: 0,001163 KWH
: 0,948 BTU
: 0,001582 DK jam
: 738 ft.lbs/det
1 N.m
: 1 Joule
: 102 kg.m/det
: 1 Watt.sec
: 1,341 HP
: 0,0002388 KKal
: 1,36 DK (metrik)
: 0,10194 kg.m
: 33000ft.lbs/det
: 2,778.10-4 Watt.jam
: 550 ft.lbs/sec
1 WH
: 3412,14 BTU
: 76,04 kg.m/det
: 860 KKal
: 0,746 KW
: 3600000 joule
: 1,36 DK (metric)
: 3600000 Watt.jam
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
: 367000 kg.mm
1 kg.m
: 0,002342 KKal
: 9,81 N.m
: 9,81 Joule
: 9,81 Watt.sec
: 0,002724 Watt.jam
: 0,0000037 DK.jam
1 Watt.jam
: 0,8599 KKal
: 367 kg.m
: 3600 Joule
: 3600 Watt.sec
: 0,001 KWH
: 0,00136 DK.jam
1 DK.jam
: 632,1 KKal
: 270000 kg.m
: 2650000 N.m
: 2650000 joule
: 0,736 KWH
Bonar M. Robintang Siahaan : Perancangan Turbin Gas Penggerak Generator Pada Instalasi Pltg Dengan
Putaran 3000 Rpm Dan Daya Terpasang Generator 132 Mw, 2009.
USU Repository © 2009
Download