KEBIJAKAN MONETER PERIODE PRA KRISIS EKONOMI 1997

advertisement
KEBIJAKAN FISKAL DAN MONETER
KEBIJAKAN MONETER DAN
IMPLEMENTASINYA DI INDONESIA
1
2
Review Konsep dan Teori Moneter
Kebijakan Moneter di Indonesia
 Kebijakan moneter merupakan bagian integral dari kebijakan ekonomi makro
 Tujuan kebijakan ekonomi makro umumnya adalah mencapai kemakmuran
masyarakat (social welfare)
Gambaran Umum Kebijakan Moneter
• Kebijakan moneter merupakan kebijakan bank sentral atau otoritas
moneter dlm bentuk pengendalian besaran moneter (JUB, uang
primer, kredit perbankan) atau suku bunga untuk mencapai stabilitas
ekonomi makro.
• Stabilitas ekonomi makro tercermin dari: stabilitas harga (rendahnya
laju inflasi), membaiknya pertumbuhan ekonomi, serta cukup luasnya
kesempatan kerja yg tersedia.
• Kebijakan moneter dilakukan dgn mempertimbangkan: siklus
kegiatan ekonomi, sifat perekonomian (terbuka atau tertutup), &
faktor-faktor fundamental ekonomi lainnya. Strategi kebijakan
moneter tergantung dari tujuan yg ingin dicapai & mekanisme
transmisi yg diyakini berlaku pada perekonomian yg bersangkutan.
Berdasarkan strategi & transmisi yg dipilih, maka dirumuskan
kerangka operasional kebijakan moneter.
3
Kebijakan Moneter &
Siklus Kegiatan Ekonomi
• Perkembangan ekonomi mengalami pasang surut (siklus). Pada periode
tertentu tumbuh pesat, tetapi pada periode tertentu lain tumbuh lambat.
Untuk itu, pemerintah dan atau otoritas moneter melakukan kebijakan
stabilisasi ekonomi makro agar perekonomian dapat tumbuh
berkesinambungan. Intinya, sisi permintaan dan sisi penawaran dikelola
sedemikian rupa shg mengarah pada keseimbangan (ekuilibrium).
• Kebijakan moneter, sbg bagian dari pengelolaan stabilisasi ekonomi
makro, diterapkan sejalan dgn siklus ekonomi (business cycle).
Kebijakan moneter pada saat boom tentunya berbeda dgn pada saat
perekonomian melambat (depression atau slump). Pada saat boom,
kebijakan moneter biasanya cenderung kontraktif, sementara pada saat
depresi, kebijakan moneter biasanya cenderung ekspansif.
• Efektivitas kebijakan moneter tergantung pada hubungan antara uang
beredar dengan variabel ekonomi utama, seperti pertumbuhan ekonomi
dan inflasi.
4
Kebijakan Moneter &
Siklus Kegiatan Ekonomi
• Dari sejumlah literatur, hubungan antara uang beredar, inflasi, dan
pertumbuhan ekonomi adalah bahwa dalam jangka panjang hubungan
antara pertumbuhan uang beredar dan inflasi adalah sempurna,
sedangkan hubungan antara pertumbuhan uang beredar atau inflasi dan
pertumbuhan ekonomi adalah nol. Temuan ini menunjukkan adanya
suatu konsensus bhw dalam jangka panjang, kebijakan moneter hanya
akan berdampak pada inflasi, dan tidak banyak pengaruhnya terhadap
ekonomi riil.
• Konsensus dari temuan empiris dlm literatur mengenai pengaruh jangka
pendek dari uang beredar menunjukkan bhw kebijakan moneter
menyebabkan pergerakan aktivitas ekonomi riil yg sedikit menaik dan
kemudian menurun (hump-shaped). Artinya, pelonggaran (pengetatan)
kebijakan moneter dpt sedikit meningkatkan (menurunkan) pertumbuhan
ekonomi riil dalam jangka sangat pendek dan kemudian pengaruhnya
akan menghilang dlm jangka panjang.
5
6
Kebijakan Moneter & Siklus Kegiatan Ekonomi
G
Output
Fase Ekspansif
trend
C
BC Ekonomi dalam resesi
sehingga kebijakan moneter
ekspansif supaya mempercepat
recovery
CD Ekonomi boom sehingga
kebijakan moneter kontraktif
untuk menghindari overheating
A
E
D
Fase Kontraktif
B
F
Kebijakan moneter ini disebut
counter-cyclical monetary
policy dengan tujuan untuk
mengarahkan pertumbuhan
ekonomi berada pada trendnya.
Waktu
7
PERIODISASI
KEBIJAKAN MONETER DI INDONESIA
8
NERACA OTORITAS MONETER & NERACA SISTEM MONETER
N er a c a O to r ita s M o n e te r
A k tiv a
P a s iv a
A k tiv a L u a r N e g e ri B e r sih
A k tiv a D alam N e g e ri B e rsih
- T a g iha n b e rsih p a d a p em e rinta h p us at
- T a g iha n p a da se k to r sw a sta d o m es tik
- T a g iha n p a da b a n k um um
A k tiv a L a in n y a B e rsih
U a n g k a rta l
- d i m a sy a ra k a t
- d i ba n k um um
S a ld o g iro
- m ilik b an k um um
- m ilik m a sy a ra k a t
(u a n g k a rta l )
(c a d a n g a n b a n k )
------------------------U a n g P rim e r (M 0)
Neraca Sistem Moneter
Aktiva
Pasiva
1. Aktiva Luar Negeri Bersih
Uang Beredar (M2)/ Likuiditas Perekonomian
2. Tagihan Bersih pada Pemerintah Pusat
1. M1
3. Tagihan pada Lembaga
dan Perusahaan Pemerintah
4. Tagihan pada Perusahaan
- Uang Kartal
- Uang Giral
2. Uang Kuasi
dan Perorangan
5. Lainnya Bersih
Keterangan: format standar penyusunan neraca analitis ini adalah seperti yang dipublikasikan
kepada masyarakat dalam Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia
9
KEBIJAKAN MONETER PERIODE PRA KRISIS EKONOMI 1997
Periode 1945 - 1952
Kondisi Ekonomi
 Mata uang Hindia Belanda & Jepang masih
digunakan
 Belum terdapat bentuk bank sentral secara
formal
Kebijakan Moneter
 BNI, BRI sebagai bank sirkulasi ORI yg
menggantikan peran uang Hindia Belanda
& Jepang
 ORI ditarik diganti dgn uang De Javasche
Bank yg ditunjuk sbg bank sirkulasi
 UUD 1945 Ps.23: perlunya dibentuk
sebuah bank yg disebut Bank Indonesia,
yg mengeluarkan & mengatur uang kertas
 De Javasche Bank ditetapkan sebagai
 UU nasionalisasi De Javasche Bank
6/12/51 disahkan
 Tindakan moneter sanering pada 1950
 Dominasi dinamika perkembangan politik
terhadap permasalahan ekonomi
bank sentral pada pemerintah RIS
(Gunting Sjafruddin)
KEBIJAKAN MONETER PERIODE PRA KRISIS EKONOMI 1997
Periode 1953 - 1967
Kondisi Ekonomi
 Telah banyak mata uang yang beredar dan
berbeda-beda di berbagai wilayah di
Indonesia
Kebijakan Moneter
 Bank Indonesia sbg bank sirkulasi
menerbitkan mata uang baru, rupiah, sbg
satu2nya alat pembayaran yg sah di
wilayah negara Indonesia
 Lahir UU No.11/1953 tentang Pokok Bank
Indonesia sbg pengganti Javasche Bank
Wet 1922
 Pemerintah membangun proyek2 ‘mercu
suar’ dan pengeluaran besar untuk militer
 Dibentuk Dewan Moneter tdr dr Menkeu
(ketua), Menteri Ekonomi, dan GBI.
 BI jg sbg bank komersial dgn memberi
kredit kpd swasta, pemerintah, yayasan
pem., dll.
 Jumlah uang beredar berlebihan
menyebabkan hyperinflation (+/- 600%)
pada pertengahan tahun 1960-an.
 BI sbg agen pembangunan: (1). Cetak
uang u/ menutup defisit fiskal (2).
Pembiayaan scr lgs dlm keg. ekonomi
10
KEBIJAKAN MONETER PERIODE PRA KRISIS EKONOMI 1997
Periode 1968 - 1972
- Periode Stabilisasi dan Rehabilitasi Ekonomi -
Kondisi Ekonomi
 Pemerintah sebelumnya kurang
memegang prinsip kehati2an dalam
pelaksanaan kebijakan moneter dan fiskal
 Lahir UU No.13/1968 tentang Bank Sentral
 Laju inflasi turun drastis hingga di bawah
10%
 Kegiatan perekonomian nasional secara
berangsur2 mulai tertata & mengalami
peningkatan.
 Pengaturan kelembagaan, positif krn
kebijakan moneter-fiskal terintegrasi &
terkoordinir, tp negatif krn tdk ada check &
balance kebijakan2 ekonomi
Kebijakan Moneter
 Kebijakan moneter difokuskan pada
pengendalian inflasi. Pencetakan uang
utk pembiayaan defisit anggaran
dihentikan
 Koordinasi kebijakan fiskal-moneter
ditingkatkan shg stabilitas ekonomi cepat
pulih
 Kebijakan moneter dirumuskan oleh
Dewan Moneter dan BI melakukan tugas
kebijakan moneter sesuai dgn keputusan
Dewan Moneter
 ∆M0 ke NCG dibatasi  JUB terkendali
11
KEBIJAKAN MONETER PERIODE PRA KRISIS EKONOMI 1997
Periode 1973 - 1982
- Periode Pertumbuhan Ekonomi dengan Hasil Minyak -
Kondisi Ekonomi
 Awal dekade 70-an ditemukan ladang2
minyak baru secara signifikan shg
penerimaan negara meningkat
 Pengeluaran rutin dan pembangunan oleh
pemerintah meningkat shg mendorong
kegiatan ekonomi riil
 Kebijakan kredit selektif membuat sektor
perbankan kurang bergairah krn sumber
dana yang langka dan penyaluran kredit
sangat dibatasi
Kebijakan Moneter
 Penerimaan devisa hasil minyak
menyebabkan ekspansi jumlah uang
primer (M0) shg BI melakukan
penyerapan ekspansi moneter dari sisi
fiskal tersebut utk meredam tekanan
inflasi
 Kebijakan kredit selektif diluncurkan thn
1974 utk mengendalikan JUB terutama
dgn mengatur besarnya ekspansi kredit
bank. Pagu kredit individual bank setiap
tahun ditentukan oleh BI
 ∆NFA   M0   Kredit dipagu
 RR diturunkan dr 30% mjd 15% thn 1978
terutama utk mendorong pemberian
kredit kpd sektor swasta
12
KEBIJAKAN MONETER PERIODE PRA KRISIS EKONOMI 1997
Periode 1983 - 1997
- Periode Deregulasi, Debirokratisasi, dan Liberalisasi Ekonomi -
Kondisi Ekonomi
 Awal dekade 80-an harga minyak merosot
krn kecenderungan tjdnya resesi dunia.
Penerimaan negara utk pembiayaan APBN
semakin terbatas. Peran swasta dalam
kehidupan ekonomi perlu ditingkatkan.
 Pakjun 1983 menandai era liberalisasi
sektor perbankan dan keuangan. Jml bank,
mobilisasi dana, bentuk kredit, jenis
pembiayaan, vol. transaksi dan jenis
produk keuangan meningkat.
 Pakto 1988 mendorong kegiatan ekonomi
DN dlm menghadapi persaingan global.
Scr umum mrp paket penyempurnaan
kebijakan di bidang keu., moneter, &
perbankan
Kebijakan Moneter
 Stl Pakjun 1983, kebijakan moneter
langsung melalui selective credit policy
diganti dgn kebijakan moneter tidak
langsung melalui OPT. SBI diterbitkan thn
1984 sbg instrumen utama OPT ditambah
dgn intervensi di pasar uang rupiah (1
s.d. 7 hari).
 ∆M0 dikendalikan  M1& M2
 Pakto 1988 menurunkan RR dr 15% mjd
2%, pelonggaran izin pendirian bank shg
perbankan tumbuh pesat.
 RR ↓  ∆M0   M1 & M2 
13
KEBIJAKAN MONETER PERIODE PRA KRISIS EKONOMI 1997
Periode 1983 - 1997
(Lanjutan...)
- Periode Deregulasi, Debirokratisasi, dan Liberalisasi Ekonomi -
Kondisi Ekonomi
 Pengendalian JUB (M1& M2) makin sulit
krn operasi & produk perbankan makin
beragam (CDs, CPs, promissory notes,
ATMs) . Produk pasar modal jg
berkembang pesat baik dalam bentuk vol.
transaksi maupun SSB yg
diperdagangkan. Tjd decoupling
(pemisahan) sektor keuangan & sektor riil.
 Liberalisasi sektor keuangan
menyebabkan aliran dana LN khususnya
pinjaman LN swasta jgk pendek semakin
besar dan pesat.
 Pinjaman ini tidak dilindungi dr risiko nilai
tukar, dimanfaatkan utk proyek jgk
panjang & tdk menghasilkan devisa.
Kebijakan Moneter
 Besar dan mobilitas aliran dana LN
mempersulit pelaksanaan kebijakan
moneter oleh BI shg BI melakukan
penyerapan likuiditas dlm perekonomian.
Hal ini mendorong suku bunga naik.
 Suku bunga tinggi semakin mendorong
aliran modal masuk khususnya dlm
bentuk SSB berjangka pendek.
 Prinsip good corporate governance tdk
dijalankan dgn baik shg mjd penyebab
utama krisis thn 1997.
 ∆NFA   ∆M0   OPT  ∆M0 ↓ ,i  
∆NFA 
14
KEBIJAKAN MONETER PERIODE SELAMA KRISIS EKONOMI 1997
Periode 1997 - 1998
Kondisi Ekonomi
 Spekulasi thd Baht menjalar ke Rupiah
(contagion effect) shg investor asing
menarik dananya scr tiba2. Timbul
kepanikan di pasar valas dan tjd aksi
borong devisa yg menyebabkan Rupiah
merosot tajam dlm wkt singkat. Ini mrp
awal dr krisis ekonomi thn 1997.
 Pemerintah menutup sejumlah bank shg
tjd krisis kepercayaan thd bank dan
rupiah, tjd bank run.
 Tjd excess likuiditas, laju inflasi mencapai
77,63% tahun 1998, dan suku bunga SBI 1
bulan mencapai 38,44% pd tahun yg sama.
Kebijakan Moneter
 Di bawah sistem NT managed floating pd
saat itu, kebijakan2 yg diambil adl
melakukan intervensi di pasar valas &
melebarkan band (rentang) intervensi.
Tekanan begitu kuat & cadangan devisa
menurun shg sistem NT floating diadopsi.
Pemerintah memutuskan ikut program
IMF (awal 1998).
 Bank run & penutupan bank diatasi dgn
penyediaan dana talangan oleh
pemerintah melalui BI (BLBI) di bawah
program penjaminan pemerintah atas
seluruh kewajiban bank.
 Kebijakan suku bunga tinggi untuk
menghadapi tekanan inflasi akibat
kelebihan likuitas dlm perekonomian.
15
KEBIJAKAN MONETER PERIODE PASCA KRISIS EKONOMI 1997
Periode 1999 - 2004
Kondisi Ekonomi
 Stl berada di bawah program IMF, NT
rupiah masih rentan dan tekanan inflasi
masih tinggi.
 Kebijakan yg diambil scr berangsur2
mampu menstabilkan nilai tukar rupiah
dan mengendalikan tekanan inflasi. NT
menguat dr rata2 Rp9.316/dolar thn 2002
mjd rata2 Rp8.572/dolar thn 2003. Inflasi
turun dr 10,03% thn 2002 mjd 5,06% thn
2003. Suku bunga SBI turun dr 13,02% thn
2002 mjd 7.34% pd Juni 2004.
 Lahir UU No.23/1999 tentang Bank
Indonesia sbg penguatan BI scr
kelembagaan sbg bank sentral, dgn fokus
mencapai dan memelihara kestabilan nilai
rupiah. BI mrp bank sentral yg
independen, namun transparan &
accountable.
Kebijakan Moneter
 Pengendalian JUB melalui pencapaian
sasaran operasional uang primer yg
ditetapkan sesuai dgn program yg
disepakati antara Pemerintah dan IMF
 Suku bunga diturunkan stl NT rupiah
stabil dan tekanan inflasi terkendali.
 Tugas pokok BI menurut UU No.23/99 adl
(1) menetapkan & melaksanakan
kebijakan moneter (2) mengatur &
menjaga kelancaran sistem pembayaran
(3) mengatur & mengawasi sistem
perbankan. Ketiga tugas ini saling terkait
dalam upaya mencapai kestabilan rupiah.
 Menurut UU No.24/99, BI diberi wewenang
utk melaksanakan kebijakan NT dan
pengelolaan cad. devisa sesuai dgn
sistem NT dan sistem devisa yg
ditetapkan.
10
KEBIJAKAN MONETER PERIODE PASCA KRISIS EKONOMI 1997
Periode 1999 - 2004
Kondisi Ekonomi
 Tugas pokok yg telah ditetapkan dalam
UU, menuntut BI untuk juga responsif
terhadap dinamika yg terjadi dalam bidang
tugasnya.
 Terdapat tuntutan untuk melakukan
amandemen thd UU No.23/1999 ttg BI sbg
upaya untuk menyesuaikan dengan
perkembangan kondisi ekonomi, sosial,
dan politik.
 UU No.23/1999 diamandemen dengan UU
No.3/2004
Kebijakan Moneter
 Munculnya paradigma baru kebijakan
bank sentral di bidang moneter,
perbankan dan sistem pembayaran yaitu
Inflation Targeting Framework (ITF),
Arsitektur Perbankan Indonesia (API), dan
Real Time Gross Settlement (RTGS).
 Amandemen UU ttg BI dalam UU
No.3/2004, dgn pokok2 antara lain: (1)
penetapan sasaran inflasi oleh
pemerintah stl berkoordinasi dgn BI, (2)
pengalihan fungsi pengawasan bank pada
2010, (3) penyediaan Financial Safety
Nets, (4) pembentukan Badan Supervisi,
(5) Keanggotaan DG: internal/eksternal,
dan (6) Aspek2 transparansi,
akuntabilitas, dan kredibilitas.
17
Download