Hubungan Antara Emotional Intelligence Dan Self Concept

advertisement
1
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Perilaku asertif sebagai perilaku yang menunjukkan atau
menampilkan perilaku untuk jujur dan terbuka dalam menyatakan
kebutuhan, pikiran, dan perasaan secara langsung, jujur dan terbuka.
Dengan perilaku asertif tersebut maka dibutuhkan suatu kecerdasan
emosi yang
baik,
stabil,
kuat
dan memiliki
kemampuan
mengendalikan diri yang baik. Selain itu juga dibutuhkan suatu
konsep diri yang baik tentang gambaran dirinya yang baik, sehingga
mahasiswa dapat melakukan perilaku asertifnya dengan lebih baik
di lingkungan perkuliahan maupun diluar.
2.1. Perilaku Asertif
2.1.1 Definisi Perilaku Asertif
Dalam suatu kesempatan Prabowo (2001; 4) menyatakan
bahwa perilaku asertif adalah perilaku yang menampilkan
perilaku untuk jujur dan terbuka dalam menyatakan kebutuhan,
perasaan dan pikirannya secara apa adanya tampa menyakiti
perasaan orang lain. Demikian juga Rimm dan Masters (dalam
Rakos, 1991; 8) mengatakan bahwa perilaku asertif adalah
perilaku dalam hubungan interpersonal yang bersifat jujur
dalam
mengeksspresikan pikiran dan perasaan dengan
memperhitungkan kondisi sosial yang ada.
Selain itu, menurut Setiono dan pramadi (2005; 149-168)
perilaku asertif adalah satu cara yang dapat dilakukan untuk
menciptakan dan mengembangkan kemampuan komunikasi
2
serta penyesuaian diri yang baik dan efektif. Kemampuan
berkomunikasi dan penyesuaian diri yang baik dan efektif
sangat
diperlukan
oleh
mahasiswa
pada
masa
perkembangannya dan interaksinya dengan teman-teman
sebaya.
Pengertian lainnya tentang asertif dikemukakan oleh Rakos
(1991; 72), perilaku asertif adalah perilaku hubungan antar
pribadi yang menyertakan kejujuran dan berterus terang secara
sosial dalam mengekspresikan pemikiran dan perasaan serta
mempertimbangkan perasaan dan kesejahteraan orang lain.
Sementara itu, Corey (2007; 98) memaparkan definisi dari
perilaku asertif sebagai ekspresi langsung, jujur, dan pada
tempatnya dari pikiran, perasaan, kebutuhan, atau hak-hak
seseorang tanpa kecemasan yang beralasan. Langsung artinya
pernyataan tersebut dapat dinyatakan tanpa berbelit-belit dan
dapat terfokus dengan benar. Jujur berarti pernyataan dan
gerak-geriknya
sesuai
dengan
apa
yang
diarahkannya.
Sedangkan pada tempatnya berarti perilaku tersebut juga
memperhitungkan hak-hak dan perasaan orang lain serta tidak
melulu mementingkan dirinya sendiri.
Dari berbagai pengertian di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa definisi perilaku asertif yaitu; tingkah laku atau ekspresi
yang ditunjukkan untuk mengekspresikan perasaan, pendapat,
dan kebutuhan secara proporsional, dan juga dan pada
tempatnya dari pikiran, perasaan, kebutuhan, atau hak-hak
seseorang tanpa kecemasan yang beralasan, serta tanpa ada
3
maksud
untuk
memanipulasi,
memanfaatkan
atau
pun
merugikan pihak lainnya.
2.1.2 Teori Tentang Perilaku Asertif
Pada suatu kesempatan, Alberti dan Emmons (dalam
Herni, 2009; 4) mengemukakan perilaku asertif adalah
perilaku
yang
membuat
seseorang
mempromosikan
kesetaraan dalam hubungan manusia, bertindak menurut
keputusan sendiri, membela diri, mengekspresikan perasaan
dengan jujur dan nyaman dan juga menerapkan hak-hak
pribadi.
Menurut Jakubowski (dalam Zulkaida, 2005) perilaku
asertif adalah usaha untuk mengemukakan pikiran, perasaan
dan pendapat secara langsung, jujur dan dengan cara yang
sesuai yaitu tidak menyakiti dan merugikan diri sendiri
maupun orang lain.
Menurut
Awaluddin
(dalam
Herni,
2009;
5)
menjelaskan perilaku asertif adalah perilaku interpersonal
dari seseorang yang berupa pernyataannya mengenai
perasaannya, hal itu dinyatakan dengan jujur dan secara
langsung serta tidak berbelit-belit.
Lange dan Jakubowski‟s (dalam Nipsaniasri, 2004; 2),
menyatakan
asertif
adalah
kemampuan
seseorang
mempertahankan hak-hak pribadi dan mengekspresikan
pikiran, perasaan, keyakinan secara langsung, jujur dan
4
dengan cara yang layak atau tidak meanggar hak-hak orang
lain.
Dari
berbagai
pengertian
di
atas,
maka
dapat
disimpulkan bahwa pengertian perilaku asertif yaitu;
perilaku
hubungan
antar
pribadi
yang
menyertakan
kejujuran, berani mengutarakan pendapat, menampilkan diri
sendiri, dapat mengekspresikan pikiran, perasaan, dan
keyakinan yang diungkapkan secara langsung, jujur, tepat,
terbuka, dan kritis.
Aspek-aspek perilaku asertif menurut Alberti &
Emmons (dalam Herni, 2009; 6) antara lain adalah:
a. Mempromosikan kesetaraan dalam hubungan manusia
Berarti remaja mampu menempatkan dirinya dan orang
lain dengan setara dan semua
pihak memiliki kesempatan untuk menang maupaun
rugi.
b. Bertindak menurut keputusan sendiri
Berkaitan dengan kesanggupan remaja untuk membuat
keputusan sendiri tentang karir dan hidup,kesanggupan
remaja untuk memiliki inisiatif dalam mengawali dan
mengakhiri pembicaraan, mempercayai penilaian sendiri
untuk menentukan tujuan dan berusaha mencapai tujuan
tersebut, kesanggupan remaja untuk bantuan dari orang
lain serta berpartisipasi dalam pergaulan.
c. Membela diri
5
Meliputi
perilaku
menanggapi
remaja
kritik,
untuk
hinaan
atau
berkata
tidak,
amarah,
serta
mengekspresikan atau membela suatu gagasan yang
dianggap benar
d. Mengekspresikan perasaan dengan jujur dan nyaman
Berarti
kesanggupan
remaja
untuk
menyatakan
ketidaksetujuan, memperlihatkan
amarah, kasih sayang dan persahabatan, mengakui
perasaan takut dan cemas, mengekspresikan persetujuan
atau dukungan dan bersikap tanpa disertain perasaan
cemas.
e. Menerapkan hak-hak pribadi
Berhubungan dengan kesanggupan remaja sebagai
anggota organisasi atau sekolah untuk mengekspresikan
opini dan menanggapi adanya pelanggaran terhadap hak
orang lain.
Menurut Rakos (1991; 75-77) aspek-aspek perilaku
asertif dapat dibagi dalam 4 kategori yaitu:
a. Content (isi), yaitu : perilaku verbal atau apa yang
dikatakan oleh seseorang kepada orang lain dalam
mengungkapkan hak dan kesungguhan. Misalnya:
menggunakan “pernyataan saya”, mengungkapkan hak
dengan langsung, jelas dan penuh hormat, mampu untuk
menyatakan
“tidak”,
memberikan
pujian
atau
berkomentar positif kepada orang lain, mengakui
6
kesalahan dan meminta maaf, menyampaikan kritik yang
membangun
dengan
tidak
menyalahkan
dan
berprasangka, dan respek dengan pemikiran, pendapat
dan keinginan orang lain.
Dalam content dibagi menjadi beberapa bagian yaitu:
1) ekspression of rights yaitu, kemampuan untuk
meminta maaf, sopan dan kemampuan untuk
mempersilahkan orang lain.
2) ekspression of elaborations yaitu, kemampuan untuk
berempati kepada orang lain.
b. Paralinguistic, adalah pesan non-verbal berupa suara
atau
vokal
yang
merupakan
aspek-aspek
dari
percakapan. Dalam paralinguistik, suara atau vokal yang
digunakan pada waktu mengucapkan pesan-pesan verbal
tersebut terlihat dari aspek-aspek seperti, kecepatan
berbicara, volume, ritme, resonansi dan bentuk-bentuk
vokal seperti tertawa, pekikan, rintihan, rengekan dan
tinggi rendahnya suara. Jadi paralingustik berkaitan
dengan cara menggunakan vokal atau suara pada saat
seseorang yang berbicara.
Dalam Paralinguistic ada beberapa aspek-aspek seperti:
1) Response latency; merupakan respon non-verbal
yang tersembunyi (pasif), seperti berbicara “ya atau
tidak”.
7
2) Response duration; merupakan respon non-verbal
yang dalam cara berbicara membutuhkan waktu yang
lama dalam penyampaian responnya.
3) Response fluency; merupakan respon non-verbal
yang mempertimbangkan volume dan intonasi suara
dalam berbicara.
4) Voice volume; merupakan elemen dari paralinguistic
yang melihat tinggi rendahnya suara atau vokal
dalam berbicara.
c. Perilaku non verbal, yaitu terbuka dan gerak-gerik alami,
ekspresi wajah yang menarik, kontak mata langsung,
percaya diri dan volume suara yang sesuai,meliputi:
1) kontak mata yang wajar saat melakukan pembicaraan
dengan orang lain
2) ekspresi wajah yang positif pada saat berkomunikasi
dengan orang lain
3) gesture (gerak, isyarat dan sikap)
4) bahasa tubuh yang sesuai
d. Kemampuan berinteraksi yang baik dengan lingkungan:
aspek ini berkaitan dengan, cara seseorang untuk
bersosialisasi dan berhubungan dengan orang lain di
lingkungan sekitarnya.Meliputi:
1) dapat berkomunikasi dengan semua orang secara
terbuka dan penuh percaya diri, baik dengan orang
yang sudah dikenal maupun dengan orang yang
belum dikenal.
8
2) memberikan respon minimal yang efektif sesuai
dengan situasi dan kondisi.
3) memiliki
kemampuan
mengontrol
tindakannya
sendiri dan menyadari konsekuensi atas tindakannya.
Dari penjelasan sebelumnya, penulis menggunakan
aspek-aspek perilaku asertif menurut Rakos (1991), yaitu: isi
(content), paralinguistic, perilaku non verbal, kemampuan
berinteraksi yang baik dengan lingkungan. Alasan penulis
menggunakan aspek-aspek dari Rakoos (1991; 75-77)
karena, aspek-aspek tersebut terdapat indikator-indikator
yang sesuai dengan penelitian tentang perilaku asertif, dan
aspek-aspek telah diuji oleh beberapa penelitian tentang
perilaku asertif pada siswa sehingga, peneliti berpendapat
dapat dipergunakan pada mahasiswa.
2.1.3 Faktor-faktor yang Memengaruhi Perilaku Asertif
Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku asertif.
Rakos (1991; 79-81), bagi Rakos faktor-faktor tertentu yang
mempengaruhi terbentuknya perilaku asertif pada individu
adalah:
a. Pola Asuh
Terdapat tiga jenis pola asuh orang tua, yaitu pola
asuh otoriter, pola asuh demokratis, dan pola asuh
permisif.
9
1) Pada pola asuh yang otoriter, orang tua mendidik
anak secara keras, penuh dengan disiplin yang tidak
dapat diterima anak tetapi dipaksakan, penuh dengan
larangan yang membatasi ruang kehidupan anak.
Anak yang diasuh dengan pola otoriter akan tumbuh
menjadi anak yang merasa dirinya rendah (inferior).
2) Pada pola asuh yang demokratis, orang tua
mengasuh anak mereka dengan penuh kasih sayang
tetapi tidak memanjakan, sehingga anak tumbuh
menjadi
individu
yang
penuh
percaya
diri,
mempunyai pengertian yang benar tentang hak
mereka, dapat mengkomunikasikan segala keinginan
dengan wajar, dan tidak memaksakan kehendak dan
menghargai hak orang.
3) Sedangkan pada pola asuh permisif, orang tua
mendidik anak tanpa adanya batasan atau aturan
yang bersifat mengikat, bahkan terkesan bebas.
Anak-anak dengan pola asuh permisif akan tumbuh
menjadi remaja yang mudah kecewa dan mudah
marah karena ia terbiasa mendapatkan segala sesuatu
dengan cepat dan mudah.
b. Kebudayaan
Kebudayaan mempunyai peran yang besar dalam
mendidik perilaku asertif. Biasanya ini berhubungan
dengan norma-norma.
10
c. Usia
Usia merupakan salah satu faktor yang turut
menentukan munculnya perilaku asertif. Pada anak
kecil perilaku asertif belum terbentuk, pada masa
remaja dan dewasa perilaku asertif berkembang,
sedangkan
pada
usia
tua
tidak
begitu
jelas
perkembangan atau penurunannya.
d. Jenis Kelamin
Jenis kelamin berpengaruh terhadap perilaku asertif.
Umumnya kaum pria cenderung lebih asertif daripada
wanita
karena
tuntutan
masyarakat.
Perbedaan
kemampuan asertif pada pria dan wanita, misalnya pria
lebih mampu berterus terang dalam menyatakan
pendapat, walaupun yang bersifat negatif kepada orang
lain, karena mereka tidak menganggap bahwa hal itu
dapat menyakiti orang lain. Selain itu pria juga, lebih
berani, emosional, pria dapat menerima pendapatpendapat
sementara
wanita
kurang
baik
dalam
menerimanya.
Namun sejalan dengan perkembangan jaman,
kemungkinan besar akan mempengaruhi budaya dan
norma-norma yang berlaku di masyarakat "wanita
sama/ sederajat dengan pria" karena itu, anggapan
bahwa pria lebih asertif dibandingkan wanita patut diuji
kembali kebenarannya.
11
e. Strategi Coping
Strategi coping adalah bentuk penyesuaian diri yang
melibatkan unsur-unsur
kognisi dan afeksi dari
seseorang guna mengatasi permasalahan yang datang
pada dirinya.
2.2 Emotional Intellegence
2.2.1 Definisi Emotional Intellegence
Menurut Dusseldorp, dkk (2010; 558) kecerdasan
emosional / emotional intelligence merupakan syarat atau
kunci untuk mencapai/ memiliki rasa sensitivity, empati,
kreativitas, self-awareness, self-control and assertiveness
(assertivitas).
Mc Clelland (dalam Goleman, 2007; 45) mendefinisikan
kecerdasan emosi sebagai seperangkat kecakapan khusus
seperti empati, disiplin diri dan inisiatif yang akan
menghasilkan orang-orang yang sukses dan memiliki kinerja
yang tinggi.
Schwartz (dalam Bang & Montgomey, 2010; 4)
mendifinisikan kecerdasan emosi sebagai keajaiban dalam
pemikiran yang memperlihatkan bagaimana keberhasilan
tidak hanya ditentukan oleh ukuran besar kecil otak
seseorang tetapi lebih kepada gagasan atau pemikiran
seseorang dalam mengamati, memahami dirinya dan
berinteraksi dengan orang lain.
12
Menurut Patton (2002; 5) kecerdasan emosi adalah
dasar-dasar
pembentukan
emosi
yang
mencakup
keterampilan seseorang untuk mengadakan impuls-impuls
dan menyalurkan emosi yang kuat secara efektif.
Dari beberapa pendapat sebelumnya, maka dapat
disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kecerdasan
emosi yaitu, suatu kecakapan kusus seperti empati, disiplin,
dan inisiatif, dan juga merupakan kemampuan seseorang
untuk mengenal, terampil dan mengendalikan diri sendiri
dan dilakukan secara efektif.
2.2.2 Teori Emotional Intellegence
Goleman (2006; 51) kecerdasan emosional adalah
kecakapan emosional yang meliputi kemampuan untuk
mengendalikan diri sendiri dan memiliki daya tahan ketika
menghadapi rintangan, mampu mengendalikan impuls dan
tidak cepat merasa puas, mampu mengenali emosi,
mengelola, dan berempati, serta mampu mengatur suasana
hati
dan
mampu
mengganggu
mengelola
kemampuan
kecemasan
berpikir,
mampu
agar
tidak
membina
hubungan dengan orang lain.
Pada dasarnya kecerdasan emosi adalah dorongan untuk
bertindak, rencana seketika untuk mengatasi masalah yang
telah ditanamkan secara berangsur-angsur (evolusi), dan
emosi juga sebagai perasaan dan pikiran-pikiran khas,
13
suatu keadaan biologis, dan psikologis serta serangkaian
kecenderungan untuk bertindak, oleh Goleman (2006; 51).
Sedangkan menurut Merda (2012; 2) kecerdasan
emosional adalah kemampuan mengindra, memahami dan
dengan efektif menerapkan kekuatan dan ketajaman emosi
sebagai sumber energi, informasi dan pengaruh.
Selain itu, Tsaosis (2008; 200) kecerdasan emosi adalah
kemampuan untuk
membangkitkan
mengenali
perasaan
perasaan,
untuk
meraih dan
membantu
pikiran,
memahami perasaan dan maknanya serta mengendalikan
perasaan
secara
mendalam
sehingga
membantu
perkembangan emosional dan intelektual.
Dari
berbagai
pengertian
di
atas,
maka
dapat
disimpulkan bahwa pengertian emotional intellegence yaitu;
kemampuan seseorang untuk mengenal, mengendalikan diri
sendiri, dapat berinteraksi dengan orang lain secara efektif
menerapkan daya dan kepekaan emosi, mampu mengatur
suasana hati dan mampu mengelola kecemasan, dan mampu
mengelola kecemasan agar tidak mengganggu kemampuan
berpikir dan mengendalikan emosi.
Menurut Goleman (2007; 403), aspek-aspek dalam
kecerdasan emosi yaitu :
a. Mengenali emosi diri
Kesadaran diri dengan mengenali perasaan sewaktu
perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosi
14
dan kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu ke
waktu merupakan hal penting bagi wawasan psikologi
dan pemahaman diri. Ketidakmampuan untuk mencermati
perasaan diri sendiri yang sesungguhnya membuat
seseorang berada dalam kekuasaan perasaan.
b. Mengelola emosi
Menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap
dengan baik adalah kecakapan yang bergantung pada
kesadaran diri merupakan kemampuan untuk menghibur
diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau
ketersinggungan dan akibat-akibat yang timbul karena
gagalnya keterampilan emosi ini.
c. Memotivasi diri sendiri
Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan
adalah hal yang sangat penting dalam kaitan untuk
memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri dan
menguasai diri sendiri serta untuk berkreasi. Kendali diri
emosional adalah menahan diri terhadap kepuasan dan
mengendalikan dorongan hati sehingga terciptalah suatu
keberhasilan dalam berbagai bidang serta mampu
menyesuaikan diri dalam mewujudkan kinerja yang
tinggi dalam segala bidang.
d. Mengenali emosi orang lain atau berempati
Mengenali emosi orang lain berarti kemampuan
menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang
mengisyaratkan apa yang dibutuhkan atau dikehendaki
15
orang lain atau lebih dikenal dengan empati. Empati
merupakan kemampuan yang bergantung pada kesadaran
diri emosional dan merupakan keterampilan dasar dalam
bergaul.
e. Membina hubungan dengan orang lain
Seni membina hubungan, sebagian besar merupakan
keterampilan mengelola emosi orang lain. Ini merupakan
keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan
dan keberhasilan antar pribadi. Orang-orang yang hebat
dalam keterampilan ini akan sukses dalam bidang apapun
yang baik dengan orang lain.
Aspek-aspek lain dari kecerdasan emosional menurut
Tsaosis, (2008; 217) yaitu;
a.
Mengenali emosi diri (use of emotion for facilitating
thinking)
Mengetahui apa yang dirasakan pada suatu saat dan
menggunakannya untuk memandu dalam pengambilan
keputusan serta menjadi tolak ukur yang realistis atas
kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat.
b.
Mengelola emosi (control of emotions)
Menangani emosi dalam diri sedemikian rupa sehingga
berdampak positif kepada pelaksanaan tugas, peka
terhadap kata hati dan sanggup menunda kenikmatan
sebelum tercapainya suatu sasaran dan mampu pulih
kembali dari tekanan emosi.
16
c.
Memotivasi diri sendiri (expression & recognition of
emotions)
Menggunakan hasrat diri yang paling dalam untuk
menggerakan dan menuntun menuju sasaran, membantu
diri dalam mengambil inisiatif dan bertindak sangat
efektif, dan untuk bertahan menghadapi kegagalan dan
frustasi.
d.
Mengenali emosi orang lain atau empati (caring &
empathy)
Merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, mampu
memahami
perspektif
orang
lain,
menumbuhkan
hubungan saling percaya dan menye laraskan diri
dengan bermacam-macam orang.
Dari penjelasan sebelumnya, penulis menggunakan
aspek-aspek dari emotional intellegence menurut Tsaosis,
(2008; 217): mengenali emosi diri,
mengelola emosi,
memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain atau
empati.
Alasan
peneliti
menggunakan
aspek-aspek
emotional intelligence dari Tsaosis karena merupakan
pengembangan dari aspek-aspek Goleman (2007; 403), dan
juga dalam jurnal terdapat indikator dan questionnaire
diadaptasi dari Greek Emotional Intelligence Scale (GEIS)
yang digunakan dalam pengambilan data penelitian yaitu
yang peneliti lakukan.
17
2.2.3 Efek-Efek Atau Peran Emotional Intellegence
Kecerdasan emosi merupakan kemampuan yang dimiliki
seseorang dalam mengenali emosi diri dan emosi orang lain
serta mampu mengelolanya dengan baik sehingga tercapai
tujuan-tujuan hidupnya dan memiliki hubungan yang baik
dengan orang lain. Menurut Ciarrochi, Forgas, dan Mayer
(2001; 12) seseorang yang memiliki kecerdasan emosi akan
mampu mencapai aktualisasi diri, berguna dalam hubungan
sosial, berguna dalam segala aspek pekerjaan yang berkaitan
dengan kelompok kerja, berguna untuk membantu seseorang
menjadi lebih sehat dan sejahtera dalam kehidupannya.
Meskipun
kecerdasan
banyak
emosi,
manfaat
pada
yang
kenyataannya
diperoleh
tidak
dari
sedikit
ditemukan seseorang yang tidak berhasil dalam kehidupan
pribadi
maupun kehidupan sosialnya,
seperti sering
membuat kesal orang lain, gagal dalam pekerjaannya, tidak
mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini
disebabkan karena seseorang tersebut kurang memiliki
kecerdasan emosi, maka dari itu diperlukan kemampuan
mengendalikan perasaan secara mendalam untuk berhasil
mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan (Stein dan Book,
2004; 52).
Kecerdasan emosi dibagi ke dalam lima area, salah
satunya adalah area intrapribadi. Area kecerdasan emosi ini
merupakan kemampuan seseorang untuk mengenal dan
mengendalikan diri sendiri. Area ini meliputi perilaku
18
asertif, kesadaran diri, kemandirian, penghargaan diri, dan
aktualisasi diri Bar-On (dalam Stein dan Book, 2004; 52).
Sehingga, hal itu berefek pada perilaku assertif dan menurut
Dusseldorp., dkk (2010; 559) kecerdasan emosi (emotional
intellegence) merupakan syarat atau kunci untuk mencapai /
memiliki rasa sensitivity, empati, kreativitas, kesadaran diri
(self-awareness), kontrol diri (self-control) and asertivitas
(assertiveness).
2.3 Self – Concept
2.3.1 Definisi Self – Concept
Konsep diri merupakan kesan individu terhadap diri
secara keseluruhan, mencakup pendapatnya tentang diri
sendiri, pendapat tentang gambaran diri di mata orang lain,
dan pendapat tentang hal-hal yang dapat dicapai (Burns,
1998; 75).
Sementara itu Chaplin (2006; 101), mengatakan bahwa
konsep diri merupakan evaluasi individu mengenai diri
sendiri; penilaian atau penaksiran mengenai diri sendiri oleh
individu yang bersangkutan. Sementara itu, Fitts (dalam
Agustiani, 2006; 42) mengemukakan bahwa konsep diri
merupakan aspek penting dalam diri seseorang, karena
konsep diri seseorang merupakan kerangka acuan (frame of
referance) dalam berinteraksi dengan lingkungan.
Dari beberapa pendapat sebelumnya, maka dapat
disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan konsep diri
19
dalam penelitian ini adalah semua ide, pikiran, kepercayaan,
kesan, gambaran diri, dan pandangan terhadap diri dalam
berhubungan dengan orang lain.
2.3.2 Teori Self-Concept
Stuart dan Sundeen (dalam Keliat, 1992; 9), konsep diri
adalah semua peran, identitas, harga diri seseorang dan
kepercayaan, dan juga gambaran diri serta ideal diri tentang
bagaimana ia harus berperilaku yang mempengaruhi
individu dalam berhubungan dengan orang lain.
Ishak, dkk (2010; 787) konsep diri yaitu penilaian
individu terhadap dirinya sendiri. Penilaian ini akan
menentukan tingkat harga diri seseorang. Istilah harga diri
mengacu pada seberapa jauh seseorang meyakini dirinya
sendiri mampu, penting, atau berharga, yang diekspresikan
melalui sikap-sikap individu tersebut di dalam suatu
lingkungan sosial.
Dari
berbagai
pengertian
di
atas,
maka
dapat
disimpulkan bahwa pengertian self-concept yaitu; semua
ide, pikiran, kepercayaan, penerimaan diri yang baik, harga
diri tinggi, mampu, penting, atau berharga, sehingga dapat
menerima segala kelebihan dan kekurangannya yang
diekspresikan
melalui
sikap-sikap
individu
dalam
berhubungan dengan orang lain dalam suatu lingkungan
sosial.
20
Menurut Stuart dan Sundeen, (dalam Keliat, 1992; 1214), konsep diri terbagi menjadi 5 komponen yaitu
gambaran diri (body image), ideal diri, harga diri, peran, dan
identitas.
a. Gambaran diri (body image)
Gambaran diri adalah sikap seseorang terhadap
dirinya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup
persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk, fungsi
penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu
yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan
pengalaman baru setiap individu.
b. Ideal diri
Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana
ia harus berperilaku berdasarkan standar, aspirasi, tujuan
atau penilaian personal tertentu. Ideal diri mulai
berkembang pada masa kanak-kanak yang dipengaruhi
orang yang penting pada dirinya yang memberikan
keuntungan dan harapan pada masa remaja ideal diri
akan dibentuk melalui proses identifikasi pada orang tua,
guru dan teman.
c. Harga diri
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil
yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku
memenuhi ideal diri Frekuensi pencapai tujuan akan
menghasilkan harga diri yang rendah atau harga diri
yang tinggi. Jika individu sering gagal, maka cenderung
21
harga diri rendah. Harga diri diperoleh dari diri sendiri
dan orang lain. Aspek utama adalah dicintai dan
menerima penghargaan dari orang lain.
d. Peran
Peran adalah sikap dan perilaku nilai serta tujuan
yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di
masyarakat. Peran yang ditetapkan adalah peran dimana
seseorang tidak punya pilihan, sedangkan peran yang
diterima adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh
individu. Posisi dibutuhkan oleh individu sebagai
aktualisasi diri.
e. Identitas
Identitas adalah kesadaran akan diri sendiri yang
bersumber dari observasi dan penilaian yang merupakan
sintesa dari semua aspek konsep diri sendiri sebagai satu
kesatuan yang utuh.
Seseorang yang mempunyai perasaan identitas diri
yang kuat akan yang memandang dirinya berbeda
dengan orang lain. Kemandirian timbul dari : perasaan
berharga
(aspek
penyesuaian diri.
diri
sendiri),
Seseorang
kemampuan
yang
mandiri
dan
dapat
mengatur dan menerima dirinya. Identitas diri terus
berkembang sejak masa kanak-kanak bersamaan dengan
perkembangan konsep diri. Hal yang penting dalam
identitas adalah jenis kelamin.
22
Pendapat
lain
dari
Ishak,
dkk
787)
(2010;
mengungkapkan aspek-aspek konsep diri, yaitu :
a.
Aspek
fisik
(physical
menggambarkan
self-concept).
bagaimana
Aspek
pandangan
ini
individu
terhadap dirinya tentang kodisi kesehatantanya atau
citra diri dan penampilan fisiknya. Seorang mahasiswa
dengan konsep diri yang positif merasa nyaman
dengan kondisi atau citra dirinya dan menerimanya,
sedangkan individu dengan konsep diri secara fisik
yang negatif akan merasa tidak senang atau tidak
nyaman dengan citra diriatau penampilannya.
b.
Aspek akademik (academic self-concept). Aspek ini
terkait dengan kinerja dan pencapaian selama fase
pendidikan. Individu / siswa dengan konsep diri secara
akademis yang positif akan merasa bahwa dengan
upaya yang tepat, mereka dapat melakukan dengan
baik dalam pendidikan atau studi mereka sedangkan
individu atau siswa dengan konsep diri secara
akademik yang negatif akan memiliki keraguan bahwa
mereka
dapat
melakukan
dengan
baik
dalam
pendidikan atau studi mereka dan tidak akan mampu
secara maksimal dalam peningkatan kinerja akademis
mereka.
c.
Aspek
sosial
(social
self-concept).
Aspek
ini
menggambarkan bagaimana siswa dapat percaya pada
diri ketika mereka berada diantara teman-teman
23
mereka. Hal ini mencerminkan kemampuan siswa
untuk bersosialisasi diantara teman-teman mereka
sendiri dan bagaimana berhubungan dengan orang lain.
Dari penjelasan sebelumnya, Penulis menggunakan aspekaspek dari konsep diri menurut Ishak., dkk (2010; 787):
physical self-concept, academic self-concept,
social self-
concept. Alasan menggunakan aspek-aspek dari Ishak., dkk
(2010; 787) karena merupakan pengembangan dari Flitts
(dalam Agustiani, 2006) tentang konsep diri dimana Flitts
menggunakan 5 skala konsep diri yaitu: aspek fisik, aspek
psikis, aspek sosial, aspek moral dan aspek keluarga. Selain
itu, Ishak., dkk (2010; 787) telah mengembangkan indikator
dan questionnaire diadaptasi dari various self-concept scales
and CoPs (Cognitive Psycho-social profile of the Malaysian
Instruments) yang digunakan dalam pengambilan data
penelitian yaitu yang peneliti lakukan.
2.3.3 Efek-Efek Atau Peran Self - Concept
Menurut Sullivan dalam Wrightsman (dalam Eliana,
2003; 3) konsep diri adalah bagaimana kita melihat diri kita
sebagaimana
orang
lain
melihat
kita.
Konsep
diri
mearupakan hal yang penting artinya dalam kehidupan
seseoarng, karena konsep diri menentukan bagaimana
seseorang bertindak dalam berbagai situasi. Jika kita
memahami konsep diri seseorang kita akan mampu
24
memahami tindakan dan juga dapat meramalkan tingkah
lakunya dikemudian hari. Konsep diri berkatian dengan
dengan kesehatan mental seseorang. Dengan kata lain jika
konsep
diri
seseorang
positif
maka
hal
ini
akan
mempengaruhi kesehatan mentalnya juga.
Hurlock (1985; 75) mengatakan bahwa seseorang yang
mempunyai konsep diri positif adalah jika ia berhasil
mengembangkan sifat-sifat percaya diri, harga diri dan
mampu melihat dirinya secara realistik. Dengan adanya
sifat–sifat
seperti
ini
orang
tersebut
akan
mampu
berhubungan dengan orang lain secara akurat dan hal ini
akan mengarah pada penyesuaian diri yang baik di
lingkungan sosial. Orang yang mempunyai konsep diri
negatif sebaliknya akan merasa rendah diri, inadekuat,
kurang percaya diri. Diprediksi bahwa orang yang
mempunyai konsep diri negatif akan mengalami hambatan
dalam proses penyesuaian dirinya di lingkungan baru.
Evaluasi terhadap diri berkaitan dengan konsep diri,
orang yang mempunyai penilaian positif mengenai dirinya
akan mempunyai konsep diri yang tinggi, sebaliknya orang
yang mempunyai penilaian yang negatif mengenai dirinya
akan mempunyai konsep diri yang negatif, Deaux (dalam
Eliana, 2003; 6).
25
2.4 Jenis Kelamin
2.4.1 Pengertian Jenis Kelamin
Pengertian jenis kelamin dalam kamus besar bahasa
Indonesia (2008), mengandung sifat jasmani atau rohani yang
membedakan dua makhluk sebagai betina dan jantan atau
wnita dan pria, jenis laki-laki atau perempuan.
Sementara itu, menurut Reid, dkk (2004) menjelaskan
bahwa istilah jenis kelamin dipakai untuk pembagian struktur
sosial berdasarkan jenis dan juga pada tanda-tanda emotional
dan psikologi yang diharapkan oleh suatu budaya dengan
bentuk fisik pria dan wanita.
Sementara istilah gender merujuk pada kualitas yang
berbeda antara laki-laki dan perempuan yang diciptakan oleh
budaya. Abbot (dalam Eviandaru, 2003) membedakan antara
gender dengan jenis kelamin, dimana jenis kelamin
didefinisikan sebagai yang kodrati karena ciri biologisnya.
Sedangkan gender adalah peran sosial.
2.4.2 Teori Mengenai Perbedaan Jenis Kelamin
Budaya
memiliki
konstribusi
yang
besar
dalam
menciptakan perbedaan jenis kelamin, bukan hanya pada
tugas-tugas yang berhubungan dengan kodrat seperti yang
hanya dapat dilakukan oleh perempuan untuk melahirkan
anak dan menyusui. Menurut Atkinson, dkk (1994) setiap
budaya memiliki cara yang berbeda dalam mengharapkan
bagaimana laki-laki dan perempuan berperilaku. Selain itu,
26
pemahaman mengenai perilaku yang diangap sesuai untuk
jenis kelamin dalam suatu budaya, bisa berubah sejalan
dengan berjalannya waktu.
Terdapat juga bentuk-bentuk diskriminasi antara lakilaki dan perempuan, dimana tingkah laku kesusialaan dan
kelayakan anak perempuan lebih ditekankan dari pada pada
anak laki-laki di indoneaia, oleh Monks, dkk (1998).
Sedangkan Menurut Hurlock (1997), perbedaan prestasi
antara anak laki-laki dan perempuan disebabkan oleh
perbedaan sikapnya terhadap aktivitas sekolah. Keadaan
inilah yang membawa perempuan berada di posisi tidak
terlalu menguntungkan, mengingat sebagian besar budaya
didominasi oleh kaum laki-laki, oleh Brettel & Sargent,
(2005).
Stereotip sosial sebagai penentu bagaimana laki-laki dan
perempuan bertindak muncul dari lingkungan,
yang
memperlakukan anak laki-laki dan perempuan secara
berbeda. Menurut Gunarsa & Gunarsa, (1991) tuntutan
peran antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat
berbeda. Pada umumnya, para orang tua lebih cenderung
menekankan kemandirian, persaingan, dan hasil kerja dalam
mendidik dan membesarkan anak laki-laki, sedangkan anak
perempuan dididik dengan tekanan agar menjadi orang yang
dapat dipercaya, sensitif, dan ikut memikirkan kesejahteraan
orang lain, oleh Block (dalam Atkinson, dkk, 1994).
27
2.5 Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu
2.5.1 Hasil-Hasil Penelitian Tentang Hubungan Emotional
Intelligence Dengan Perilaku Asertif
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Agestin
dan Widyarini, (2006) menunjukan bahwa terdapat hubungan
yang significant dengan arah positif hal ini terlihat dari hasil
penelitian yang menunjukkan terdapat sumbangan kecerdasan
emosi terhadap remaja di SMA di semarang yaitu 82% remaja
dan terdapat 17% yang menunjukkan tidak ada hubungan yang
berarti antara kecerdasan emosi dengan perilaku asertif.
Semakin tinggi kecerdasan emosi semakin tinggi pula perilaku
asertif pada remaja SMA di Semarang.
Studi yang dilakukan Petrides, dkk (2006) menunjukkan
bahwa peran kecerdasan emosional dalam peningkatan perilaku
asertif dalam hubungan teman sebaya di sekolah. Sebanyak 160
siswa (83 anak perempuan; rata-rata umur 10.8 tahun) dilakukan
pengukuran dengan kuesioner daftar sifat kecerdasan emosi dan
sesudah itu di minta untuk menominasikan teman sekelasnya
masing-masing yang cocok ke dalam tujuh deskripsi perilaku
yang berbeda („kooperatif‟,‟pengganggu‟, „pemalu‟, „agresif‟,
„dependen‟, „pemimpin‟, dan„pengintimidasi‟).
Para guru diminta untuk menominasikan seluruh siswa yang
cocok ke dalam tujuh deskripsi. Hasil yang diperoleh
menunjukkan siswa-siswa dengan skor sifat kecerdasan emosi
yang tinggi lebih masuk nominasi untuk „kooperatif‟ dan
„kepemimpinan‟,
serta
lebih rendah
nominasinya untuk
28
„pengganggu‟, „agresif‟, dan „dependen‟. Analisis faktor dari
nominasi para guru menunjukkan dua faktor orthogonal
meliputi masing-masing deskripsi prososial dan antisosial.
Siswa-siswa dengan skor sifat kecerdasan emosi yang tinggi ada
dalam faktor prososial.
Penelitian lainnya dari Auslander, (2007) mengungkapkan
dengan kemampuan berprilaku asertif yang baik, 70% remaja
perempuan mampu untuk menolak penyimpangan seksual serta
mampu mencegah Pregnancy-STD. Dalam penelitian dari
Auslander (2007) dikatakan bahwa remaja yang memiliki
kecerdasan emosional yang rendah akan memperlihatkan emosi
yang meledak-ledak, rendahnya toleransi terhadap rasa frustrasi,
kurang mampu dalam memecahkan masalah kurang mampu
menerima kritik,
hal ini menunjukkan bahwa perilaku
assertifnya rendah. Berbeda dengan remaja yang memiliki
kecerdasan emosional yang tinggi menunjukkan kemampuan
untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri
sendiri, mengenali emosi orang lain dan membina hubungan
dengan orang lain.
Sejalan dengan itu, penelitian dari Shabgard, dkk. (2011)
menunjukkan bahwa ada korelasi yang potsif antara Emotional
intellegence mempengaruhi self-assertive. Kecerdasan emosi
yang baik dapat menunjukkan self-assertive yang kuat, hal itu
dapat dilihat dari hasil validitas = 0.76 dan reliabilitas = 0.88,
persentasi positif di mana ada 83% yang menunjukkan memiliki
emotional intellegence yang kuat. Hal ini menunjukkan bahwa
29
kecerdasan emosi
dapat
mempengaruhi
perilaku
asertif
seseorang, karena seseorang yang mampu menampilkan dirinya
secara bebas, langsung dan jujur tanpa menyakiti diri sendiri
maupun orang lain dapat meningkatkan kecerdasan emosinya
dengan cara lebih mengenali emosi diri, mengelola emosi serta
membina hubungan baik dengan orang lain. Begitu pula
sebaliknya, seseorang yang tidak mampu menampilkan dirinya
secara bebas, langsung dan jujur tanpa menyakiti diri sendiri
maupun orang lain tidak mampu mengenali emosi diri,
mengelola emosi serta membina hubungan baik dengan orang
lain.
Hasil penelitian lain, dari Merda, (2012) dapat diketehui
bahwa kecerdasan emosi memberikan kontribusi yang rendah
terhadap asertif pada remaja. Kontribusi yang diberikan sebesar
25% sedangkan 75% kemungkinan dipengaruhi oleh faktor
lainnya seperti faktor pribadi, lingkungan keluarga, lingkungan
kelompok
sebaya,
lingkungan
sekolah,
dan
lingkungan
masyarakat. Hasil penelitian juga menunjukkan
bahwa
kecerdasan emosi subjek penelitian yang berjenis kelamin lakilaki lebih tinggi dibandingkan perempuan demikian juga dengan
assertifnya, subjek berjenis kelamin laki lebih tinggi daripada
perempuan.
Penelitian lainnya dari Siti dan Felix, (2010) tentang rendah
atau kurangnya kontribusi kecerdasan emosional terhadap
perilaku asertif pada remaja. Hasil analisis data penelitian
menunjukkan adanya sumbangan efektif kecerdasan emosi
30
terhadap perilaku asertif sebesar
30,3 %
sebagaimana
ditunjukkan oleh R squared 0,303. Hal ini dapat diartikan masih
terdapat 69,7% faktor lain yang mempengaruhi asertivitas selain
kecerdasan emosi, seperti faktor jenis kelamin, dan usia. Dari
analisis juga diketahui bahwa nilai rerata empirik kecerdasan
emosi sebesar 91,48 yang berarti kecerdasan emosi pada subyek
penelitian tergolong sedang dan perilaku asertif subyek
penelitian tergolong tinggi.
Berdasarkan hasil-hasil penelitian sebelumnya, belum
banyak yang meneliti hubungan antara emosional intelligence
dengan perilaku asertif, kususnya pada lingkungan akademis di
kampus dan juga pada mahasiswa. Selain itu juga penelitianpenelitian sebelumnya belum banyak yang meneliti perbedaan
pada pria dan wanita dan masih secara umum pada siswa
sekolah dan remaja saja.
2.5.2 Hasil-Hasil Penelitian Tentang Hubungan Self-Concept
Dengan Perilaku Asertif
Penelitian lainnya dari Hergina, (2012) menunjukkan bahwa
ada hubungan positif yang sangat signifikan antara konsep diri
dengan perilaku asertif pada siswa MAN Wonokromo. Semakin
tinggi konsep diri pada siswa maka semakin tinggi perilaku
asertif yang dimiliki, sebaliknya semakin rendah konsep diri
pada siswa maka semakin rendah perilaku asertif yang dimiliki.
Konsep diri memberi sumbangan efektif sebesar 11,8% dalam
mempengaruhi perilaku asertif siswa MAN Wonokromo,
31
sedangkan sisanya 88,2% faktor-faktor lain yang mempengaruhi
perilaku asertif. Berdasarkan kategori kedua variabel penelitian
dapat disimpulkan bahwa mayoritas skor subyek penelitian,
pada perilaku aserti terdapat mayoritas subyek (89,21%)
termasuk dalam kategori sedang dan pada variabel konsep diri
terdapat mayoritas subyek (58,82%) termasuk dalam kategori
sedang.
Hasil penelitian lain dari Landazabal, (1999) kepada anakanak di SMA di Provinsi Guipúzcoa, Spanyol Utara tentang
dampak perilaku asertif pada perilaku membantu atau menolong
pada teman sekelas dikucilkan dan
apakah perilaku asertif
dipengaruhi oleh konsep diri anak tersebut. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa; terdapat peningkatan secara signifikan
terhadap konsep diri (82 % dari jumlah anak-anak dalam kelas),
terutama dalam kaitannya dengan karakteristik afektif dan
karakteristik sosialisasi, dan terdapat penurunan yang signifikan
(79% tingkat penurunan) dalam perilaku yang pasif, dan
meningkatnya perilaku asertif dalam berinteraksi dengan
sahabat lain dalam segala situasi sosial.
Akan tetapi, penelitian lain dari Partosuwido (1993),
individu yang memiliki perasaan rendah diri, cemas, dan mudah
terpengaruh dikatakan memiliki konsep diri yang negatif. Hal
ini terlihat dari hasil penelitiannya yang menunjukkan konsep
diri tidak terlalu atau tidak signifikan mempengaruhi perilaku
asertif (hanya 23%). Konsep diri dapat mempengaruhi
perkembangan perilaku asertif individu. Individu dengan konsep
32
diri negatif memiliki kecemasan ketika mengungkapkan apa
yang dirasakan sehingga akan menghambat individu tersebut
untuk berperilaku asertif kepada orang lain. Individu dengan
konsep diri negatif akan merasa dirinya tidak berharga dan tidak
diterima oleh lingkungan, sehingga cenderung tidak berani
mengambil resiko, oleh Partosuwido, (1993).
Penelitian lain dari Coulhoun, (1990) menunjukkan hasil
bahwa konsep diri yang negatif seringkali menunjukkan
perilaku yang tidak asertif dan menunjukkan penyangkalanpenyangkalan informasi tentang dirinya yang tidak dapat
diterimanya dengan baik dan juga mengancam konsep dirinya.
Berdasarkan hasil-hasil penelitian sebelumnya, belum
banyak yang meneliti hubungan antara self-concept dengan
perilaku asertif pada mahaiswa, masih secara umum meneliti
pada individu dan tidak spesifik pada pria dan wanita. Sehingga
peneliti ingin meneliti lebih spesifik kepada mahasiswa pria dan
wanita.
2.5.3. Hasil-Hasil Penelitian Tentang Hubungan jenis kelamin
Dengan Perilaku Asertif
Hasil penelitian dari Kaplan dan Sedney (dalam Tanggela,
2012) mengemukakan bahwa pria lebih mempunyai perilaku asertif
dari pada wanita, hal ini disebabkan oleh adanya tuntutan
masyarakat yang membuat pria lebih aktif, mandiri, kompetitif.
Sementara wanita menjadi pasif, tergantung pada konformis.
33
Sejalan dengan itu, penelitian dari Wilen dan Liod (dalam
Tanggela, 2012) yang mengemukakan bahwa kesulitan
untuk
berperilaku lebih banyak terjadi pada wanita (berdasarkan
penelitian pada siswa tentang pengembangan perilaku asertif yang
positif), karena secara sosial wanita telah dibentuk untuk submisif
(tunduk dan mengalah), bersiakap baik dan tidak membuat masalah.
Beberapa pandangan tentang pria dan wanita lebih cenderung
menunjukkan sifat pasivitas, sangat emosional atau tempramental
dan subjektivitas. Pria dipandang
menunjukkan sifat-sifat
maskulin, seperti; mandiri, bertindak secara aktif, kecendrungan
agresi dan pola pikir analitis.
Berdasarkan
hasil-hasil
penelitian
diatas,
perbedaan
kemampuan untuk berperiaku asertif pada pria dan wanita, misalnya
pria lebih berterus terang dalam menyampaikan pendapat, walaupun
yang bersifat negatif kepada orang lain, karena mereka tidak
menganggap bahwa hal itu dapat menyakiti orang lain. Namun
sejalan dengan perkembangan jaman, kemungkinan besar akan
mempengaruhi budaya dan norma-norma yang berlaku di
masyarakat "wanita sama/ sederajat dengan pria" karena itu, peneliti
beranggapan bahwa pria lebih asertif dibandingkan wanita patut
diuji kembali kebenarannya.
2.6 Hubungan Emotional Intelligence Dan Self Concept Terhadap
Perilaku Asertif Mahasiswa (laki-laki dan perempuan) Di
UKSW
Sumber daya manusia merupakan bagian dari sumber daya
alam dan lingkungan, atau dengan kata lain bahwa sumber daya
34
manusia sangat erat hubungannya dengan sumber daya alam.
Kualitas sumber daya manusia ditentukan oleh kualitas sumber
daya alam dan lingkungan. Peningkatan kualitas sumber daya
manusia diupayakan melalui pembangunan, baik fisik maupun
non-fisik. Pembangunan non-fisik meliputi pendidikan dan
peningkatan kemauan dan kesadaran. Peningkatan pembangunan
pendidikan umumnya, dan pendidikan, akan menghasilkan produk
– produk teknologi untuk digunakan mengelola sumber – sumber
alam lingkungan dalam rangka pembangunan fisik sumber daya
manusia, seperti yang dikatakan oleh Gade, (2013).
Sementara itu, Hisyam, (2007: 3) mengatakan bahwa
pengembangan sumber daya manusia secara global, sebenarnya
dapat dilihat dari dari dua aspek, yaitu kuantitas dan kualitas.
Pengertian kuantitas menyangkut jumlah sumber daya manusia.
Kuantitas sumber daya manusia tanpa disertai dengan kualitas
yang baik akan menjadi beban organisasi. Hal tersebut sejalan
dengan Gade, (2013: 2), yang menjelaskan bahwa mutu sumber
daya manusia mempunyai berbagai kualitas seperti kemampuan,
baik kemampuan fisik maupun kemampuan non fisik (kecerdasan
dan mental.
Berdasarkan survei The Political and Economic Risk
Gonsultancy (PERC) disimpulkan bahwa sistern pendidikan di
Indonesia berada di urutan ke 12 di Asia (paling bawah di ASIA).
Urutan pertama dan kedua masing - masing diduduki Korea
Selatan dan Singapura. Di Indonesia dalam hal peningkatan
kualitas
SDM
yang
beracuan
pada
MDG‟s
(Millennium
35
Development Goals). Hal tersebut dikenal Sasaran Pembangunan
Millenium, pemerintah menfokuskan membuat program-program
untuk peningkatkan pendidikan seperti anggaran yang ditingkatkan
hingga 20% dari APBN. Ada dua strategi untuk peningkatan
kualitas SDM Indonesia menjadi SDM yang unggul yang di mana
kedua strategi tersebut nantinya saling interaktif satu sama lain
sehingga
tidak
dapat
dipisahkan;
Pertama,
menciptakan
pendidikan yang berkualitas, yang dimanifestasikan dengan
pemerataan pendidikan, perluasan akses ke perguruan tinggi, dan
penyediaan infrastruktur pendidikan yang layak. Kedua, perbaikan
status kesehatan untuk terwujudnya SDM Indonesia yang
produktif. Hal ini dilakukan dengan memberikan pelayanan
kesehatan mendasar yang merata terhadap seluruh masyarakat
Indonesia, oleh Gade, (2013: 3).
Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas sumber daya
manusia menjadi suatu hal yang penting dan harus menjadi
perhatian dari semua pihak. Pengembangan sumber daya manusia
kususnya pada mahasiswa yang dilakukan di indonesia menurut,
Kwik Kian Gie (dalam Ruhana, 2012) yang menekankan perlunya
Indonesia memberikan prioritas investasi yang lebih tinggi pada
upaya pembangunan manusia, hal ini dapat dimulai dari sekolah
dasar sampai kampus.
Dalam perkuliahan terdapat juga berbagai masalah yang
dialami oleh mahasiswa. Antara lain mahasiswa yang kesulitan
dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Ketika
berinteraksi dengan orang lain, mahasiswa merasa tidak diterima di
36
lingkungannya, dikucilkan, karena pola pikirnya berbeda dengan
orang lain atau merasa tidak bisa mengungkapkan apa yang ada
dalam pikirannya sehingga individu tersebut merasa terasingkan.
Lemah dalam berkomunikasi dan gagal untuk mengungkapkan
pendapat atau apa yang ada di pikiran seseorang akan membuat
individu tersebut merasa tertekan dan menimbulkan masalah dalam
berhubungan sosial dengan orang lain. Kemampuan berkomunikasi
dan penyesuaian diri yang baik dan efektif terutama sangat
diperlukan oleh para mahasiswa. Hal ini sesuai dengan salah satu
tugas perkembangan pada masa mahasiswa yang tersulit yaitu yang
berhubungan dengan penyesuaian sosial, dalam Hurlock dkk,
(1980).
Terdapat beberapa pandangan tentang pria dan wanita,
menurut Bosman (dalam Hadi, 1994) menyatakan bahwa wanita
lebih kohesif, lebih terbuka, dan tampa malu - malu berhubungan
dengan sesama anggota dibandingkan dengan pria. Selaras dengan
pendapat tersebut, menurut Nashori (2003) wanita lebih cenderung
menunjukkan sifat pasivitas, sangat emosional atau tempramental
dan subjektivitas, sedangkan pria dipandang menunjukkan sifat sifat maskulin, seperti mandiri, bertindak secara aktif, dan pola
pikir analitis.
Sementara itu, Rakos (1991) berpendapat bahwa perilaku
asertif yaitu kemampuan seseorang menyatakan diri, pandanganpandangan dalam dirinya, keinginan dan perasaannya secara
langsung, spontan, bebas, dan jujur tanpa merugikan diri sendiri
dan melanggar hak-hak orang lain. Seseorang yang berperilaku
37
asertif mampu menghargai hak diri sendiri dan orang lain, bersikap
aktif dalam kehidupannya untuk mencapai apa yang diinginkan.
Sementara itu, Fensterheim & Baer (dalam Furham, 2000)
mengungkapkan beberapa karateristik individu yang memiliki
perilaku asertif yang tinggi, antara lain merasa bebas untuk
menampilkan dirinya, dapat berkomunikasi dengan baik secara
terbuka, langsung, jujur, dan tepat, memiliki orientasi aktif dalam
kehidupan untuk mencapai apa yang diinginkan, dan memiliki
kecerdasan emosi yang baik.
Sementara itu, perilaku asertif menurut Rini (dalam Herni,
2009: 5) merupakan suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan
apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan oleh orang lain.
Namun, dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta
perasaan pihak lain. Saat bersikap asertif, seseorang dituntut untuk
jujur terhadap dirinya dan jujur pula dalam mengekspresikan
perasaan, pendapat, dan kebutuhan secara proporsional, tanpa ada
maksud untuk memanipulasi, memanfaatkan atau pun merugikan
pihak lainnya.
Ciri – ciri individu yang memiliki perilaku asertif menurut
Sumihardja (dalam Prabowo, 2000) mempunyai pengucapan verbal
yang jelas, spesifik dan langsung mampu mengungkapkan pikiran,
perasaan, pendapat kepada orang lain tanpa menyinggung perasaan
orang lain, mampu menempatkan diri pada tingkat yang sesuai dan
mampu mengontrol diri yang sehat dan wajar. Sebaliknya, orang
yang kurang asertif adalah mereka yang memiliki ciri - ciri a).
terlalu mudah mengalah/ lemah, b). mudah tersinggung, cemas, c).
38
kurang yakin pada diri sendiri, d). sukar mengadakan komunikasi
dengan orang lain.
Mahasiswa dituntut untuk mengembangkan perilaku asertif
secara efektif dalam interaksi sosial di dalam lingkungannya,
terutama dalam interaksi sosialnya dalam situasi akademis.
Ninggalih, (2011), akibat dari non-asertifan individu antara lain:
membiarkan orang lain mengambil manfaat dari kondisi yang
sedang di alami, berperilaku agresif terhadap orang lain bahkan
tidak menerima kehadiran orang lain dengan sikap terbuka, kedua
belah pihak yang berkomunikasi tidak merasa nyaman ada yang
merasa ingin menyakiti lawan bicaranya dan tidak ada yang merasa
disakiti hatinya, akan ada pihak yang merasa disalahkan dan dihina
oleh keberadaan emosi negatif yang dirasakan oleh lawan
bicaranya.
Pentingnya meneliti perilaku asertif pada mahasiswa karena
apabila seorang mahasiswa tidak dapat berperilaku asertif, maka
dimasa yang akan datang (dalam pekerjaan atau organisasi
kemasyarakatan) mahasiswa tersebut akan merasa merasa rendah
diri dan tidak berani mengemukakan perasaanya dan pendapat
kepada orang lain. Menurut Made & Awaluddin (2008) karena
perilaku asertif sangat penting bagi mahasiswa, apabila seorang
mahasiswa tidak memiliki keterampilan untuk berperilaku asertif
atau bahkan tidak dapat berperilaku asertif, disadari ataupun tidak,
mahasiswa ini akan kehilangan hak-hak pribadi sebagai individu
dan cenderung tidak dapat menjadi individu yang bebas dan akan
selalu berada dibawah kekuasaan orang lain. Alasan seorang
39
mahasiswa tidak dapat berperilaku asertif adalah karena mereka
belum menyadari bahwa mereka memiliki hak untuk berperilaku
asertif.
Penelitian - penelitian tentang perilaku asertif menunjukkan
adanya perbedaan antara yang asertif dan yang tidak asertif hal ini
menurut
Shosheva,
(2010)
menyebutkan
adanya
perbedaan
mekanisme pertahanan diri yang dipakai oleh kelompok asertif dan
tidak asertif. Menurut Shosheva, (2010) kelompok asertif lebih
banyak mernakai intelektualisasi, rasionanilasi yang menandakan
bahwa mereka lebih mampu mengatasi konflik dan kecemasan
dengan cara yang efektif dan dapat diterima oleh lingkungan,
sedangkan pada kelompok tidak asertif cenderung menggunakan
mekanisme pertahanan diri yang primitif, tidak efektif dan tidak
adaptif yaitu proyeksi, denial, represi, tidak melakukan sesuatu,
dan kompensasi berupa perusakan objek atau perusakan diri
sendiri. Sehingga, dengan penyesuaian sosial yang baik dengan
sendirinya akan membawa seseorang pada kualitas hidup yang
baik pula, karena dengan perilaku asertif akan meningkatkan
penyesuaian sosial yang baik, di samping itu perilaku asertif akan
mengurangi kemungkinan seseorang untuk ierserang hipertensi.
Hasil penelitian lainnya dari Kaplan dan Sedney (dalam
Tanggela, 2012) mengemukakan bahwa pria lebih mempunyai
perilaku asertif dari pada wanita, hal ini disebabkan oleh adanya
tuntutan masyarakat yang membuat pria lebih aktif, mandiri,
kompetitif. Sementara wanita menjadi pasif, tergantung pada
konformis. Sejalan dengan itu, Wilen dan Liod (dalam Tanggela,
40
2012) yang mengemukakan bahwa kesulitan untuk berperilaku
asertif lebih banyak terjadi pada wanita (berdasarkan penelitian
pada siswa tentang pengembangan perilaku asertif yang positif),
karena secara sosial wanita telah dibentuk untuk submisif (tunduk
dan mengalah), bersiakap baik dan tidak membuat masalah.
Beberapa pandangan tentang pria dan wanita lebih cenderung
menunjukkan sifat pasivitas, sangat emosional atau tempramental
dan subjektivitas. Pria dipandang
menunjukkan sifat-sifat
maskulin, seperti; mandiri, bertindak secara aktif, kecendrungan
agresi dan pola pikir analitis.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya perilaku
asertif, salah satunya emotional intellegence (kecerdasan emosi).
Dusseldorp, dkk (2010) kecerdasan emosional atau emotional
intelligence merupakan syarat atau kunci untuk mencapai/
memiliki rasa sensitivity, empati, kreativitas, self-awareness, selfcontrol and
assertiveness
(assertivitas).
Kecerdasan emosi
merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mengenali
emosi diri dan emosi orang lain serta mampu mengelolanya dengan
baik sehingga tercapai tujuan-tujuan hidupnya dan memiliki
hubungan yang baik dengan orang lain. Cooper dan Sawaf (dalam
Nurita, 2012: 3) berpendapat bahwa kecerdasan emosional adalah
kemampuan
merasakan,
memahami,
dan
secara
efektif
menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi,
informasi, koneksi, dan pengaruh yang manusiawi.
Menurut Ciarrochi, Forgas, dan Mayer (dalam Retnaningsih
dan Nugrohowati, 2007: 4) seseorang yang memiliki kecerdasan
41
emosi akan mampu mencapai aktualisasi diri, berguna dalam
hubungan sosial, berguna dalam segala aspek pekerjaan yang
berkaitan dengan kelompok kerja, berguna untuk membantu
seseorang menjadi lebih sehat dan sejahtera dalam kehidupannya.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Agestin dan
Widyarini, (2006) menunjukan bahwa terdapat hubungan yang
significant dengan arah positif hal ini terlihat dari hasil penelitian
yang menunjukkan terdapat sumbangan kecerdasan emosi terhadap
remaja di SMA di semarang yaitu 82% remaja dan terdapat 17%
yang menunjukkan tidak ada hubungan yang berarti antara
kecerdasan emosi dengan perilaku asertif. Semakin tinggi
kecerdasan emosi semakin tinggi pula perilaku asertif pada remaja
SMA di Semarang.
Selain itu, terdapat faktor lain yang mempengaruhi munculnya
perilaku asertif, salah satunya yaitu konsep diri. Menurut Rathus
dan Nevid (1983), yaitu, pola asuh orang tua, jenis kelamin,
kebudayaan, konsep diri, self esteem, usia. Oleh karena itu, konsep
diri mempunyai peranan penting dalam menentukan perilaku
individu, termasuk dalam perilaku asertif. Seseorang yang
memiliki konsep diri yang baik akan lebih asertif dalam
berinteraksi dalam lingkungannya.
Dalam suatu kesempatan, Stuart dan Sundeen (dalam Keliat,
1992: 9), konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan
pendirian
yang
diketahui
individu
tentang
dirinya
dan
mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain.
Konsep diri merupakan kesan individu terhadap diri secara
42
keseluruhan, mencakup pendapatnya tentang diri sendiri, pendapat
tentang gambaran diri di mata orang lain, dan pendapat tentang
hal-hal yang dapat dicapai (Burns, 1998: 75).
Hasil penelitian dari Hergina, (2012: 9) menunjukkan bahwa
ada hubungan positif yang sangat signifikan antara konsep diri
dengan perilaku asertif pada siswa MAN Wonokromo. Semakin
tinggi konsep diri pada siswa maka semakin tinggi perilaku asertif
yang dimiliki, sebaliknya semakin rendah konsep diri pada siswa
maka semakin rendah perilaku asertif yang dimiliki. Konsep diri
memberi sumbangan efektif sebesar 11,8% dalam mempengaruhi
perilaku asertif siswa MAN Wonokromo, sedangkan sisanya
88,2% faktor-faktor lain yang mempengaruhi perilaku asertif.
Berdasarkan kategori kedua variabel penelitian dapat disimpulkan
bahwa mayoritas skor subyek penelitian, pada perilaku aserti
terdapat mayoritas subyek (89,21%) termasuk dalam kategori
sedang dan pada variabel konsep diri terdapat mayoritas subyek
(58,82%) termasuk dalam kategori sedang.
Hasil penelitian lain dari Landazabal, (1999) kepada anak-anak
di SMA di Provinsi Guipúzcoa, Spanyol Utara tentang dampak
perilaku asertif pada perilaku membantu atau menolong pada
teman sekelas dikucilkan dan apakah perilaku asertif dipengaruhi
oleh konsep diri anak tersebut. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa; (1)terdapat peningkatan secara signifikan terhadap konsep
diri (82 % dari jumlah anak-anak dalam kelas), terutama dalam
kaitannya dengan karakteristik afektif dan karakteristik sosialisasi,
dan (2)Terdapat penurunan yang signifikan (79% tingkat
43
penurunan) dalam perilaku yang pasif, dan meningkatnya perilaku
asertif dalam berinteraksi dengan sahabat lain dalam segala situasi
sosial.
Akan tetapi, penelitian lain dari Partosuwido (1993), individu
yang memiliki perasaan rendah diri, cemas, dan mudah
terpengaruh dikatakan memiliki konsep diri yang negatif. Hal ini
terlihat dari hasil penelitiannya yang menunjukkan konsep diri
tidak terlalu atau tidak signifikan mempengaruhi perilaku asertif
(hanya 23%). Konsep diri dapat mempengaruhi perkembangan
perilaku asertif individu. Individu dengan konsep diri negatif
memiliki kecemasan ketika mengungkapkan apa yang dirasakan
sehingga akan menghambat individu tersebut untuk berperilaku
asertif kepada orang lain. Individu dengan konsep diri negatif akan
merasa dirinya tidak berharga dan tidak diterima oleh lingkungan,
sehingga cenderung tidak berani mengambil resiko,
oleh
Partosuwido, (1993).
Berdasarkan
hasil-hasil
penelitian
sebelumnya
tentang
emosional intelligence dengan perilaku asertif, belum banyak yang
meneliti hubungan antara emosional intelligence dengan perilaku
asertif, kususnya pada lingkungan akademis di kampus dan juga
pada mahasiswa. Selain itu juga penelitian-penelitian sebelumnya
belum banyak yang meneliti perbedaan pada pria dan wanita dan
masih secara umum pada siswa sekolah dan remaja saja.
Sejalan denga itu, berdasarkan hasil-hasil penelitian tentang
self-concept dengan perilaku asertif, belum banyak yang meneliti
hubungan antara self-concept dengan perilaku asertif pada
44
mahaiswa, masih secara umum meneliti pada individu dan tidak
spesifik pada pria dan wanita. Sehingga peneliti ingin meneliti lebih
spesifik kepada mahasiswa pria dan wanita.
Berdasarkan hasil-hasil penelitian tentang perilaku asertif dan
jenis kelamin, perbedaan kemampuan untuk berperiaku asertif pada
pria dan wanita, misalnya pria lebih berterus terang dalam
menyampaikan pendapat, walaupun yang bersifat negatif kepada
orang lain, karena mereka tidak menganggap bahwa hal itu dapat
menyakiti orang lain. Namun sejalan dengan perkembangan jaman,
kemungkinan besar akan mempengaruhi budaya dan norma-norma
yang berlaku di masyarakat "wanita sama/ sederajat dengan pria"
karena itu, peneliti beranggapan bahwa pria lebih asertif
dibandingkan wanita patut diuji kembali kebenarannya.
2.7 Kaitan Antara Variabel
(4) perbedaan
Jenis kelamin
(2) pengaruh
emotional intellegence
?
Perilaku asertif
(1) korelasi
self-concept
(3) pengaruh
Jenis kelamin
(5) perbedaan
(6) perbedaan
45
2.8 Hipotesis
1. ada hubungan yang positif antara emotional intelligence dan
self concept terhadap perilaku asertif pada mahasiswa
Fakultas Psikologi di UKSW
2. ada pengaruh interaksi antara emotional intelligence dan
jenis kelamin terhadap perilaku asertif pada mahasiswa
Fakultas Psikologi di UKSW
3. ada pengaruh interaksi self concept dan jenis kelamin
terhadap perilaku asertif pada mahasiswa
Fakultas
Psikologi di UKSW
4. ada perbedaan yang signifikan emotional intelligence
ditinjau dari jenis kelamin
5. ada perbedaan yang signifikan self concept ditinjau dari
jenis kelamin
6. ada perbedaan perilaku asertif ditinjau dari jenis kelamin
Download