pernyataan mengenai tesis dan sumber informasi

advertisement
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis dengan judul Efektivitas
Komunikasi Program Optimalisasi Lahan Pekarangan (Kasus Program Kawasan
Rumah Pangan Lestari di Desa Mulyasari Kecamatan Ciampel Kabupaten
Karawang Jawa Barat) adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing
dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun.
Sumber informasi yang berasal atau yang dikutip dari karya yang diterbitkan
maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan
dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, Juli 2012
Restiawan Permana
NRP I352080141
i
ABSTRACT
RESTIAWAN PERMANA. Effectiveness Communications of Optimalization
Backyards Program (Case of Sustainable Food Home Area Program in the
Mulyasari Village Ciampel District Karawang of West Java). Under the
supervision: SARWITITI SARWOPRASODJO, DJOKO SUSANTO, and
AMIRUDDIN SALEH.
For change and renewal in society, effectiveness communications is needed so as
to produce a change in the rate of cognitive, affective, and conative. In the
Sustainable Food Home Area (KRPL) program, effectiveness communications is
absolutely essential for their future as a program participant is able to adopt and
implement the optimalization of their backyards so as not to let it alone. The
purpose of this study were to (1) analyze the effectiveness communications KRPL
program in the Mulyasari Village Ciampel District Karawang of West Java, (2)
analyze the relationship between individual characteristics variable and external
factors variable to the effectiveness communications variable of KRPL program in
the Mulyasari Village Ciampel District Karawang of West Java, and (3) analyze
the relationship between the effectiveness communications variable of KRPL
program with the optimalization of backyard variable in the Mulyasari Village
Ciampel District Karawang of West Java. The study were designed to use
quantitative survey methods explanation research. These results indicate that (1)
KRPL program conducted in the Mulyasari Village District Ciampel Karawang of
West Java is quite effective at the level of cognitive, affective, and conative. It is
evident that most participants KRPL program can understand the information they
get from the instructor of the program, they also want to implement this
optimalization program of their backyards, and they also run the program from
The Ministry of Agriculture in optimize their yards that they have, (2) individual
characteristics significantly and positively related to the effectiveness
communication is an indicator of education and yard area. The external factor
significantly and positively related to the effectiveness communication is an
access to information, public policy, and the illumination intensity, and (3)
effectiveness communications (cognitive, affective, conative) of KRPL program
significantly and positively related to optimalization of their utilization backyards.
Keywords: effectiveness communication, backyard optimalization
ii
RINGKASAN
RESTIAWAN PERMANA. Efektivitas Komunikasi Program Optimalisasi Lahan
Pekarangan (Kasus Program Kawasan Rumah Pangan Lestari di Desa Mulyasari
Kecamatan Ciampel Kabupaten Karawang Jawa Barat). Di bawah bimbingan:
SARWITITI SARWOPRASODJO, DJOKO SUSANTO, dan AMIRUDDIN
SALEH.
Sempitnya lahan pekarangan yang dimiliki masyarakat di wilayah perdesaan
bahkan perkotaan, belum memasyarakatnya pengetahuan warga tentang
optimalisasi manfaat pekarangan meskipun luasnya terbatas, serta terbatasnya
informasi tentang optimalisasi lahan pekarangan yang tidak hanya berfungsi untuk
memanfaatkan yang luasnya sempit tetapi juga sekaligus juga dapat meningkatkan
gizi dan kesejahteraan keluarga merupakan masalah yang cukup kompleks yang
perlu dipecahkan. Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) merupakan
sarana diseminasi yang mengedepankan inovasi teknologi spesifik lokasi untuk
mendukung pembangunan pertanian. Optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan
atau ruang terbuka menjadi sangat penting untuk sumber pendapatan, mengurangi
beban belanja rumah tangga, membuka kesempatan kerja, dan agrowisata.
Untuk terjadinya perubahan dan pembaharuan dalam masyarakat diperlukan
komunikasi efektif. Untuk berhasilnya tujuan dalam program KRPL perlu adanya
pembinaan. Keberhasilan ini sangat bergantung pada efektivitas komunikasi yang
terjadi antara pemandu lapang sebagai pembawa atau sumber pesan (source) dan
masyarakat sebagai penerima pesan (receiver). Dalam kaitan itu, perlu dilakukan
suatu kajian dan analisis untuk mengetahui apakah proses komunikasi yang terjadi
antara sumber pesan dengan penerima pesan mampu menghasilkan perubahan
dalam tataran kognitif, afektif, dan konatif pada masyarakat peserta program
tersebut sehingga pada akhirnya mereka mampu mengadopsi dan
mengaplikasikan sebuah inovasi teknologi yang diperkenalkan dalam rangka
pencapaian sasaran utama, yaitu untuk meningkatkan produktivitas pangan yang
dampaknya dapat meningkatkan perekonomian rumah tangga.
Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) menganalisis efektivitas komunikasi
program KRPL di Desa Mulyasari Kecamatan Ciampel Karawang Jawa Barat; (2)
menganalisis hubungan antara karakteristik individu dan faktor eksternal dengan
efektivitas komunikasi program KRPL di Desa Mulyasari Kecamatan Ciampel,
Karawang Jawa Barat; dan (3) menganalisis hubungan antara efektivitas
komunikasi program KRPL dengan optimalisasi lahan pekarangan di Desa
Mulyasari Kecamatan Ciampel, Karawang Jawa Barat. Penelitian ini dilaksanakan
di Desa Mulyasari Kecamatan Ciampel Kabupaten Karawang Jawa Barat.
Penelitian dilakukan selama satu bulan, yaitu mulai April sampai dengan Mei
2012. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 110 orang yang terdiri dari ibu-ibu
yang memiliki lahan pekarangan di Desa Mulyasari Kecamatan Ciampel
Kabupaten Karawang Jawa Barat. Sedangkan penentuan sampel dilakukan secara
proporsional stratified random sampling. Adapun jumlah sampel dalam penelitian
ini adalah sebanyak 50 orang. Data primer yang dikumpulkan dibuat dalam
bentuk kuesioner dengan teknik wawancara secara terstruktur, penelusuran lokasi
dan observasi partisipatif. Data sekunder diperoleh dari data pada instansi
pemerintah terkait.
iii
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Program KRPL yang dilaksanakan
di Desa Mulyasari Kecamatan Ciampel Karawang Jawa Barat berlangsung cukup
efektif pada tataran kognitif, afektif, dan konatif. Hal ini dibuktikan bahwa
sebagian peserta program KRPL dapat memahami informasi yang mereka
dapatkan dari penyuluh tentang program tersebut, mereka juga ingin menerapkan
program optimalisasi lahan pekarangan ini, serta mereka juga menjalankan
program Kementerian Pertanian ini karena mampu mengoptimalkan lahan
pekarangan yang mereka miliki; (2) karakteristik individu yang berhubungan
nyata positif dengan efektivitas komunikasi adalah pendidikan dan luas lahan.
Faktor eksternal yang berhubungan nyata positif dengan efektivitas komunikasi
adalah akses informasi, kebijakan publik, dan intensitas penyuluhan; dan (3)
efektivitas komunikasi program KRPL (kognitif, afektif, konatif) yang
berhubungan nyata dengan optimalisasi lahan pekarangan adalah pemanfaatan
pekarangan.
Adapun saran dalam penelitian ini adalah (1) untuk meningkatkan
efektivitas komunikasi pada program KRPL di Desa Mulyasari ini, sebaiknya
sumber pesan dalam hal ini adalah penyuluh secara aktif memberikan treatment
komunikasi demi meningkatkan motivasi peserta program KRPL di Desa
Mulyasari agar mereka yakin bahwa lahan pekarangan yang dimilikinya dapat
dioptimalkan secara baik agar tidak dibiarkan begitu saja tanpa adanya manfaat
yang dapat diraih. (2) sebaiknya penyuluh lebih menekankan lagi pemanfaatan
lahan pekarangan yang dimiliki oleh setiap peserta program KRPL. Program
KRPL tidak hanya diperuntukkan bagi peserta yang berusia sekitar 40-50 tahun
dan berpenghasilan rendah saja, tetapi berlaku untuk siapa pun yang sekiranya
memiliki lahan pekarangan kosong. Selain itu, ketersediaan sarana produksi juga
agar lebih ditingkatkan lagi agar peserta program KRPL mudah untuk
mendapatkan segala hal yang berkaitan dengan pengoptimalan lahan pekarangan
mereka seperti bibit, pupuk, dan saprodi lainnya, dan (3) untuk meningkatkan
optimalisasi lahan pekarangan, efektivitas komunikasi dalam program KRPL ini
sebaiknya perlu lebih ditingkatkan melalui proses sosialisasi, pendampingan, dan
pelatihan-pelatihan (pendidikan informal) yang aktif agar melalui program
optimalisasi lahan pekarangan ini mampu menciptakan peluang usaha agrobisnis
bagi peserta program KRPL.
iv
©Hak Cipta milik IPB 2012
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa
mencantumkan atau menyebutkan sumbernya.
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan
karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan
masalah.
b. Pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.
2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya
tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB.
v
EFEKTIVITAS KOMUNIKASI PROGRAM OPTIMALISASI
LAHAN PEKARANGAN
(Kasus Program Kawasan Rumah Pangan Lestari di Desa Mulyasari
Kecamatan Ciampel Kabupaten Karawang Jawa Barat)
RESTIAWAN PERMANA
Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains pada
Mayor Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012
vi
Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Dr. Ir. Basita Ginting Sugihen, MA
vii
Judul Tesis
Nama
NRP
Mayor
: Efektivitas Komunikasi Program Optimalisasi Lahan Pekarangan
(Kasus Program Kawasan Rumah Pangan Lestari di Desa
Mulyasari Kecamatan Ciampel Karawang Jawa Barat)
: Restiawan Permana
: I352080141
: Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan
Disetujui
Komisi Pembimbing
Dr. Ir. Sarwititi Sarwoprasodjo, MS
Ketua
Prof. (Ris) Dr. Ign. Djoko Susanto, SKM
Anggota
Dr. Ir. Amiruddin Saleh, MS
Anggota
Diketahui
Koordinator Mayor
Komunikasi Pembangunan
Pertanian dan Pedesaan
Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr. Ir. Djuara P. Lubis, M.S
Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc Agr
Tanggal Ujian: 17 Juli 2012
Tanggal Lulus:
viii
PRAKATA
Alhamdulillahirobbil„alamin, puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat
Allah SWT atas nikmat dan karunia-Nya, sehingga penulis berhasil
menyelesaikan tesis yang berjudul “Efektivitas Komunikasi Program Optimalisasi
Lahan Pekarangan (Kasus Program Kawasan Rumah Pangan Lestari di Desa
Mulyasari Kecamatan Ciampel Kabupaten Karawang Jawa Barat)” dengan baik.
Ucapan terima kasih dan penghargaan penulis ucapkan kepada Ibu Dr. Ir.
Sarwititi Sarwoprasodjo, MS, Bapak Prof. (Ris) Dr. Ign. Djoko Susanto, SKM,
dan Bapak Dr. Ir. H. Amiruddin Saleh, MS sebagai Komisi Pembimbing yang
selalu meluangkan waktu membimbing dan berbagi ilmu demi penyempurnaan
tesis ini. Tidak lupa, penulis juga ingin berterima kasih kepada:
1. Keluarga tercinta: (Alm) Ayahanda H. Ambang Djamaludin, Ibunda Tintin
Sriyatin, serta kakak-kakak Tiara Chandra Dewi, Harimulya Aditya, dan (Alm)
Tiar Lesmana atas segala do‟a, dukungan, dan bantuan yang diberikan kepada
penulis selama menempuh pendidikan.
2. Bapak Dr. Djuara P. Lubis, MS selaku Koordinator Mayor Komunikasi
Pembangunan Pertanian dan Pedesaan.
3. Dinas lingkup terkait di Kabupaten Karawang.
4. Masyarakat dan aparat pemerintah Desa Mulyasari yang telah bekerjasama
selama masa penelitian.
5. Ikhsan Fuady, Ali Kusumadinata, dan Bapak Nandang Mulyasantosa atas
segala bantuan dan saran-sarannya, serta dukungan moral yang diberikan
kepada penulis, serta untuk teman-teman KMP 2008 yang tidak dapat penulis
sebutkan satu persatu.
6. Seluruh sivitas akademik di lingkungan Institut Pertanian Bogor, khususnya di
Fakultas Ekologi Manusia.
7. Seluruh kerabat di lingkungan Akademi Bina Sarana Informatika.
8. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan, namun telah membantu
penulis baik secara langsung maupun tidak langsung.
Penulis berharap nantinya karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Penulis sangat menyadari bahwa karya ilmiah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh sebab itu, kritik dan saran bagi penyempurnaan karya ilmiah ini sangat
penulis harapkan.
Bogor, Juli 2012
Restiawan Permana
ix
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 15 Mei 1983, sebagai anak
keempat dari empat bersaudara pasangan (Alm) H. Ambang Djamaludin dan
Tintin Sriyatin.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar hingga Sekolah Menengah Umum
di Jakarta, dan melanjutkan pendidikan S-1 di Universitas Sahid Jakarta pada
Fakultas Ilmu Komunikasi jurusan Hubungan Masyarakat. Pada tahun 2008
penulis berkesempatan melanjutkan pendidikan S-2 di Program Studi Komunikasi
Pembangunan Pertanian dan Pedesaan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian
Bogor.
Mulai dari tahun 2008 hingga sekarang, penulis adalah dosen tetap di
Akademi Komunikasi Bina Sarana Informatika Jakarta jurusan Public Relations.
x
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL .......................................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xiv
PENDAHULUAN . .........................................................................................
Latar Belakang .........................................................................................
Perumusan Masalah .................................................................................
Tujuan Penelitian ......................................................................................
Kegunaan Penelitian ................................................................................
1
1
4
6
6
TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................
Komunikasi .... .........................................................................................
Efektivitas Komunikasi ............................................................................
Karakteristik Individu ..............................................................................
Ketersediaan Informasi dan Sarana Produksi ..........................................
Kebijakan Publik ......................................................................................
Penyuluhan Pertanian ...............................................................................
Optimalisasi Lahan Pekarangan ...............................................................
Penelitian Terdahulu ................................................................................
9
9
10
16
17
19
21
22
23
KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS ............................................ 37
Kerangka Pemikiran ................................................................................. 37
Hipotesis ........ ......................................................................................... 40
METODE PENELITIAN ................................................................................
Desain Penelitian .....................................................................................
Lokasi dan Waktu Penelitian ...................................................................
Populasi dan Sampel ................................................................................
Data dan Instrumentasi ............................................................................
Definisi Operasional ................................................................................
Validitas dan Reliabilitas Instrumentasi ..................................................
Pengumpulan Data ...................................................................................
Analisis Data .. .........................................................................................
41
41
41
41
43
43
46
48
48
HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................................
Gambaran Umum Lokasi Penelitian ........................................................
Gambaran Umum Program KRPL ...........................................................
Tujuan dan Sasaran Program KRPL ........................................................
Organisasi Pelaksana Program KRPL .....................................................
Mekanisme Sosialisasi Program KRPL ...................................................
Karakteristik Individu ..............................................................................
Faktor Eksternal .......................................................................................
Efektivitas Komunikasi Program KRPL ..................................................
Optimalisasi Lahan Pekarangan ...............................................................
Hubungan Karakteristik Individu dengan Efektivitas Komunikasi .......
51
51
54
55
56
57
59
62
65
67
68
xi
Hubungan Faktor Eksternal dengan Efektivitas Komunikasi ................ 72
Hubungan Efektivitas Komunikasi dengan Optimalisasi Lahan ........... 73
KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................................... 77
Kesimpulan .... ....................................................................................... 77
Saran .............. ....................................................................................... 77
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 79
LAMPIRAN .......... ....................................................................................... 85-102
xii
DAFTAR TABEL
Nomor Tabel
Halaman
1. Hubungan karakteristik karakteristik individu (penelitian terdahulu) ....... 24
2. Hubungan faktor internal dengan efektivitas komunikasi (penelitian
terdahulu .................................................................................................... 26
3. Hubungan faktor eksternal dengan efektivitas komunikasi (penelitian
terdahulu .................................................................................................... 27
4. Hubungan faktor internal dengan efektivitas komunikasi (penelitian
terdahulu .................................................................................................... 28
5. Hubungan karakteristik individu dengan keberdayaan petani (penelitian
terdahulu .................................................................................................... 30
6. Hubungan faktor eksternal dengan keberdayaan petani (penelitian terdahulu ............................................................................................................ 32
7. Hubungan efektivitas komunikasi dengan keberdayaan petani (penelitian
terdahulu .................................................................................................... 34
8. Koefisien Cronbach alpha hasil uji coba kuesioner ................................... 47
9. Jumlah penduduk di Kecamatan Ciampel .................................................. 52
10. Luas lahan wilayah Desa Mulyasari .......................................................... 53
11. Pendidikan di Desa Mulyasari ................................................................... 54
12. Kegiatan usaha Desa Mulyasari ................................................................. 54
13. Distribusi responden menurut karakteristik indvidu .................................. 59
14. Rataan skor faktor eksternal ....................................................................... 62
15. Rataan skor efektivitas komunikasi ............................................................ 65
16. Rataan skor optimalisasi lahan pekarangan ................................................ 67
17. Koefisien korelasi karakteristik individu dengan efektivitas
komunikasi ................................................................................................. 69
18. Koefisien korelasi faktor eksternal dengan efektivitas komunikasi .......... 72
19. Koefisien korelasi efektivitas komunikasi dengan optimalisasi lahan
pekarangan ................................................................................................. 74
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
Halaman
1. Kuesioner penelitian ............................................................................ 85
2. Uji validitas dan reliabilitas ................................................................. 95
3. Uji korelasi .......................................................................................... 101
xiv
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pengembangan
pertanian
memiliki
tantangan
dalam
ketersediaan
sumberdaya lahan. Di samping itu, tingkat alih fungsi lahan pertanian ke non
pertanian (perumahan, perkantoran, dan lain-lain) di Indonesia diperkirakan
106.000 hektar per lima tahun, sehingga menyebabkan lahan pertanian di
Indonesia semakin sempit. Analisis RT/RW oleh BPN pada tahun 2004
memperoleh indikasi bahwa di masa datang akan terjadi perubahan lahan sawah
beririgasi 3,1 juta hektar untuk penggunaan non pertanian, dimana perubahan
terbesar di pulau Jawa – Bali seluas 1,6 hektar atau 49,2 % dari luas lahan sawah
beririgasi.
Sempitnya lahan pekarangan yang dimiliki masyarakat di wilayah
perdesaan bahkan perkotaan, belum memasyarakatnya pengetahuan warga tentang
optimalisasi manfaat pekarangan meskipun luasnya terbatas, serta terbatasnya
informasi tentang optimalisasi lahan pekarangan yang tidak hanya berfungsi untuk
memanfaatkan yang luasnya sempit tetapi juga sekaligus juga dapat meningkatkan
gizi dan kesejahteraan keluarga merupakan masalah yang cukup kompleks yang
perlu dipecahkan.
Pekarangan adalah lahan terbuka yang terdapat di sekitar rumah tinggal.
Lahan ini jika dipelihara dengan baik akan memberikan lingkungan yang menarik,
nyaman dan sehat, serta menyenangkan. Pekarangan rumah dapat dimanfaatkan
dengan selera dan keinginan masing-masing sesuai kebutuhan apa yang
dibutuhkan. Dengan menanam tanaman produktif di pekarangan maka akan
memberi keuntungan ganda, salah satunya adalah kepuasan jasmani dan rohani.
Pada kenyataannya, masih banyak lahan-lahan pekarangan yang
didiamkan begitu saja (nganggur) tanpa adanya upaya untuk mengoptimalkan
lahan tersebut untuk ditanami berbagai tanaman yang bermanfaat. Stagnansi
produksi ini disebabkan oleh lambatnya penemuan dan pemasyarakatan inovasi,
serta rendahnya insentif finansial untuk menerapkan teknologi secara optimal.
Melemahnya sistem penyuluhan juga merupakan kendala lambatnya adopsi
teknologi oleh petani. Petani di Indonesia yang umumnya berskala kecil (kurang
dari 0,5 hektar) yang berjumlah 13,7 juta Kepala Keluarga (KK) menyebabkan
2
aksesibilitasnya terbatas terhadap sumber permodalan, teknologi dan sarana
produksi sehingga sulit meningkatkan efisiensi dan produktivitasnya tanpa
difasilitasi oleh pemerintah. Peningkatan kapasitas kelembagaan petani serta
peningkatan kualitas penyuluhan merupakan tantangan ke depan.
Dalam menyikapi hal demikian, masyarakat harus memiliki inisiatif dan
kreativitas dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah untuk memenuhi
ketersediaan (supply) makanan sehari-hari di samping makanan pokok atau nasi.
Dalam
rangka
membantu
masyarakat
untuk
meningkatkan
optimalisasi
penggunaan lahan pekarangan yang sempit maupun yang didiamkan begitu saja,
perlu dilakukan usaha yang dapat meningkatkan daya guna pekarangan. Manfaat
yang diharapkan adalah masyarakat dapat memanfaatkan pekarangan dengan
menanam tanaman sayur-sayuran, toga, budidaya ikan dan ternak di pekarangan.
Masyarakat bisa memilih makanan dan mengonsumsi makanan yang bergizi,
beragam, berimbang dan aman dari bahan–bahan kimia berbahaya pada sayuran,
buah-buahan, dan aneka produk ternak.
Dalam
memanfaatkan
lahan
pekarangan,
pemerintah
berupaya
menggerakkan kembali budaya menanam di lahan pekarangan melalui program
Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Kementerian Pertanian Republik
Indonesi melalui Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
(BBP2TP) dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) mengajak
masyarakat agar pekarangan rumah dimanfaatkan untuk berbudidaya. Artinya
pekarangan rumah jangan sampai nganggur, tidak harus mengandalkan polibag
dari kantong plastik, namun karung bekas yang sudah tidak dipakai lagi bisa
dimanfaatkan untuk berbudidaya atau bercocok tanam, tergantung inisiatif dan
kreativitas serta kemauan pemilik lahan.
Program KRPL merupakan sarana diseminasi yang mengedepankan
inovasi teknologi spesifik lokasi untuk mendukung pembangunan pertanian.
Optimasi pemanfaatan lahan pekarangan atau ruang terbuka menjadi sangat
penting untuk ketahanan pangan, sumber pendapatan, kesempatan kerja, dan
agrowisata.
Program KRPL bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas
dalam pengelolaan lahan pekarangan untuk ditanami sayuran, tanaman obat,
3
tanaman pangan sehingga kemandirian pangan dapat tercapai. Selain itu juga
dapat meningkatkan konsumsi rumah tangga dalam sayuran maupun protein
hewani, dan juga dapat mengurangi belanja harian. Prinsipnya adalah dilarang
membiarkan lahan-lahan kosong, bila akses pangan terhadap keluarga terpenuhi
sebagai bentuk pengejawantahan konsep ketahanan pangan maka ketahanan
pangan nasional bukanlah suatu hal yang tidak mungkin untuk dicapai.
Upaya pengembangan program ini harus terus dilanjutkan bahkan
ditingkatkan, sehingga KRPL dapat dikenali, dipahami dan dikembangkan oleh
seluruh lapisan masyarakat baik di perdesaan maupun di perkotaan. Agar
masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga, dan masyarakat
secara lestari dalam suatu kawasan, mengembangkan kegiatan ekonomi produktif
keluarga, menciptakan lingkungan hijau yang bersih, dan sehat secara mandiri.
Oleh karena itu, kiranya perlu konsep KRPL atau rumah pangan yang
dibangun dalam suatu kawasan dusun, desa, kecamatan, dan sebagainya dengan
prinsip pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan untuk pemenuhan
pangan, gizi keluarga, dan peningkatan pendapatan yang pada akhirnya akan
meningkatkan kesejahteraan melalui partisipasi masyarakat.
Untuk menumbuhkan keterlibatan dan partisipasi individu, serta kelompok
dalam masyarakat melalui program pemberdayaan diperlukan sumberdaya
komunikasi apapun tema pembangunan tersebut. Seperti yang dikatakan Pearce
(1986) bahwa komunikasi memegang peran penting dalam proses pembangunan.
Komunikasi
dalam
konteks
pembangunan
adalah
bagian
integral
dari
pembangunan, dan komunikasi sebagai peubah penting yang diterima dalam
mewujudkan pembangunan (an integral part of development, and communication
as accept of variables instrumental in bringing about development).
Hal utama yang dilakukan komunikasi pembangunan adalah membuka
pemahaman, wawasan berpikir, pengayaan pengetahuan dan keterampilan, serta
pemberdayaan masyarakat secara menyeluruh. Secara pragmatis, menurut Quebral
dalam Dilla (2007), komunikasi pembangunan dapat dirumuskan sebagai
komunikasi yang dilakukan untuk melaksanakan pembangunan suatu bangsa.
Sebagai
proses
membutuhkan
perubahan
kontribusi
dan
pembaharuan
komunikasi.
Untuk
masyarakat
terjadinya
pembangunan
perubahan
dan
4
pembaharuan dalam masyarakat diperlukan komunikasi efektif. Secara sederhana,
komunikasi
efektif
apabila
orang
berhasil
menyampaikan
apa
yang
dimaksudkannya (Goyer dalam Tubbs & Moss, 2005).
Untuk berhasilnya tujuan dalam program KRPL perlu adanya pembinaan.
Keberhasilan ini sangat bergantung pada efektivitas komunikasi yang terjadi
antara pemandu lapang sebagai pembawa atau sumber pesan (source) dan
masyarakat sebagai penerima pesan (receiver). Dalam kaitan itu, perlu dilakukan
suatu kajian dan analisis untuk mengetahui apakah proses komunikasi yang terjadi
antara sumber pesan dengan penerima pesan mampu menghasilkan perubahan
dalam tataran kognitif, afektif, dan konatif pada masyarakat peserta program
tersebut
sehingga
pada
akhirnya
mereka
mampu
mengadopsi
dan
mengaplikasikan sebuah inovasi teknologi yang diperkenalkan dalam rangka
pencapaian sasaran utama, yaitu untuk meningkatkan produktivitas pangan yang
dampaknya dapat meningkatkan perekonomian rumah tangga.
Perumusan Masalah
Pelaksanaan program KRPL bertujuan untuk meningkatkan kesadaran
masyarakat dalam pengelolaan lahan pekarangannya untuk ditanami sayuran,
tanaman obat, budidaya ikan dan ternak sehingga optimalisasi lahan pekarangan
dapat tercapai. Selain itu juga dapat meningkatkan konsumsi rumah tangga
terhadap sayuran dan buah-buahan maupun protein hewani, sehingga dapat
mengurangi belanja harian.
Dalam realitasnya, tidak ada perubahan dalam masyarakat tanpa peran
komunikasi. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa komunikasi hadir pada
semua upaya bertujuan membawa ke arah perubahan. Meskipun dikatakan bahwa
komunikasi hadir dengan tujuan membawa perubahan, namun ia bukan satusatunya alat dalam membawa perubahan sosial. Dengan kata lain, komunikasi
hanya salah satu dari banyak faktor yang menimbulkan perubahan masyarakat.
Littlejohn (1996) menjelaskan hal ini dalam genre interactionist theories.
Dalam teori ini, dijelaskan bahwa memahami kehidupan sosial sebagai proses
interaksi. Komunikasi (interaksi) merupakan sarana kita belajar berperilaku.
Komunikasi merupakan perekat masyarakat. Masyarakat tidak akan ada tanpa
5
komunikasi. Struktur sosial diciptakan dan ditopang melalui interaksi. Bahasa
yang dipakai dalam komunikasi adalah untuk menciptakan struktur-struktur
sosial.
Secara sederhana komunikasi dapat dikatakan berhasil apabila terjadinya
kesamaan makna antara orang-orang yang terlibat dalam berinteraksi. Kesamaan
makna ini dapat dikatakan bahwa komunikasi dikatakan efektif. Dengan kata lain,
orang-orang yang saling berinteraksi tersebut (komunikator dan komunikan)
memiliki rangsangan dan respons yang sama-sama dapat dipahami oleh mereka.
Perubahan dalam masyarakat dan individu banyak faktor yang mempengaruhinya.
Selain komunikasi itu sendiri, efektivitas dan tingkat keberdayaan masyarakat
juga dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti adanya kebijakan publik dari
pemerintah, adanya intensitas penyuluhan, informasi dan ketersediaan sarana
produksi yang bisa mendukung aktivitas petani dan masyarakat.
Menurut Effendy (2003), komunikasi efektif jika dapat menimbulkan
dampak: (1) kognitif, yaitu meningkatkan pengetahuan komunikan; (2) afektif,
yaitu perubahan sikap dan pandangan komunikan; serta (3) konatif, yaitu
perubahan perilaku atau tindakan yang terjadi pada komunikan. Efek pada arah
kognitif meliputi peningkatan kesadaran, belajar dan tambahan pengetahuan.
Perubahan pada afektif meliputi efek yang berhubungan dengan emosi, perasaan,
dan sikap. Adapun efek pada konatif berhubungan dengan perilaku dan niat untuk
melakukan sesuatu dengan cara tertentu.
Desa Mulyasari Kabupaten Ciampel Karawang Jawa Barat merupakan
salah satu daerah yang menjadi sasaran program KRPL, atau satu dari empat desa
yang telah melaksanakan program ini. Desa tersebut memiliki kondisi lingkungan
perumahan penduduk yang pada umumnya belum dimanfaatkan dengan baik.
Pekarangan mereka dibiarkan kosong tanpa dioptimalkan pengelolaannya, baik
untuk tanaman pangan, sayuran, maupun ternak. Apalagi saat musim kemarau,
hampir seluruh pekarangan tampak gersang tanpa ada pertanaman. Mereka hanya
mengandalkan air hujan untuk pertanaman, sementara ada sumber air lainnya,
baik dari situ/danau maupun dari sungai atau parit yang mengalir di dekat rumah
mereka beelum dimanfaatkan dengan baik. Melalui program KRPL ini, desa
tersebut cukup berhasil mengoptimalkan pekarangan rumah tangga sehingga
6
menghasilkan suatu kawasan pekarangan yang produktif yang hasilnya dapat
menciptakan kemandirian pangan rumah tangga.
Sejalan dengan uraian di atas, untuk mengetahui sejauh mana efektivitas
komunikasi pada tataran pemandu lapang dengan masyarakat (peserta program
KRPL) sebagai salah satu prasyarat utama kesuksesan program KRPL perlu
dilakukan kajian dan analisis secara mendalam dan terarah. Beberapa
permasalahan pokok yang dijadikan fokus dalam penelitian ini meliputi:
1. Sejauh mana efektivitas komunikasi program KRPL di Desa Mulyasari
Kecamatan Ciampel Karawang Jawa Barat?
2. Sejauh mana hubungan antara karakteristik individu dan faktor eksternal
dengan efektivitas komunikasi program KRPL pada keluarga di Desa
Mulyasari Kecamatan Ciampel Karawang Jawa Barat?
3. Sejauh mana hubungan antara efektivitas komunikasi program KRPL dengan
optimalisasi lahan pekarangan di Desa Mulyasari Kecamatan Ciampel,
Karawang – Jawa Barat?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan permasalahan yang telah
dikemukakan, maka penelitian ini bertujuan untuk:
1. Menganalisis efektivitas komunikasi program KRPL di Desa Mulyasari
Kecamatan Ciampel Karawang Jawa Barat.
2. Menganalisis hubungan antara karakteristik individu dan faktor eksternal
dengan efektivitas komunikasi program KRPL di Desa Mulyasari Kecamatan
Ciampel Karawang Jawa Barat.
3. Menganalisis hubungan antara efektivitas komunikasi program KRPL dengan
optimalisasi lahan pekarangan di Desa Mulyasari Kecamatan Ciampel
Karawang Jawa Barat.
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini mencoba menggambarkan efektivitas komunikasi dalam
penyelenggaraan program KRPL dan analisis hubungan antarpeubah yang
mempengaruhinya. Hasil yang diperoleh diharapkan akan memberikan manfaat
sebagai berikut:
7
1. Hasil penelitian ini dapat dijadikan rujukan oleh pihak terkait dalam
merumuskan kebijakan maupun pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
2. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumbangan pemikiran bagi pemerintah
daerah setempat untuk mempercepat proses sosialisasi inovasi-inovasi yang
akan didesiminasikan kepada masyarakat setempat.
TINJAUAN PUSTAKA
Komunikasi
Kata atau istilah komunikasi dari bahasa Inggris adalah communication.
Secara etimologis atau menurut asal katanya adalah dari bahasa Latin
communicatus, dan perkataan ini bersumber pada kata communis. Dalam kata
communis ini memiliki makna „berbagi‟ atau „menjadi milik bersama‟ yaitu suatu
usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna.
Komunikasi
secara
terminologis
merujuk
pada
adanya
proses
penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Jadi dalam
pengertian ini yang terlibat dalam komunikasi adalah manusia. Merujuk pada
pengertian Ruben dan Stewart (1988) mengenai komunikasi manusia, yaitu proses
yang melibatkan individu-individu dalam suatu hubungan, kelompok, organisasi
dan masyarakat yang merespons dan menciptakan pesan untuk beradaptasi dengan
lingkungan satu sama lain (process through which individuals-in relationships,
groups, organizations and societies-respond to and create messages to adapt to
the environment and one another).
Menurut Berlo (1960), komunikasi merupakan proses penyampaian pesan,
akan tetapi perlu dipahami bahwa komunikasi tidak hanya sampai pada batas
penerima tetapi juga bagaimana pesan itu disampaikan dan diterima. Berlo
menyebutnya sebagai model linier atau searah. Dalam model linier, komunikasi
dikatakan efektif jika penerima mampu menerima pesan sesuai dengan apa yang
dikehendaki oleh sumber. Model komunikasi linier sering juga disebut sebagai
model S-M-C-R-E (Source, Message, Channel, Receiver, and Effect).
Menurut Schramm dan Kincaid (1977), komunikasi adalah proses saling
membagi atau menggunakan informasi secara bersamaan dan bertalian antara
pelaku dengan proses komunikasi informasi. DeVito (1997) memberikan batasan
bahwa komunikasi mengacu pada suatu tindakan oleh dua orang atau lebih, yang
mengirim dan menerima suatu pesan yang terdistorsi oleh suatu gangguan (noise),
terjadi dalam konteks tertentu, dengan pengaruh tertentu dan ada kesempatan
untuk melakukan umpan balik. Selain itu, dikenal juga komunikasi yang sifatnya
umum (komunikasi universal).
10
Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari komunikator kepada
komunikan. Komunikasi dilakukan oleh seseorang kepada orang lain, dengan
tujuan agar orang lain tersebut mengetahui dan mempunyai makna yang sama
tentang hal yang dikomunikasikan, sehingga orang tersebut dapat menerima dan
melaksanakan pesan yang disampaikan. Untuk itu, di antara orang-orang yang
berkomunikasi harus tercapai kesamaan pengertian. Apabila kesamaan pengertian
tidak tercapai, maka dapat dikatakan komunikasi tidak terjadi (Effendy, 2000).
Wood (2004) mengartikan komunikasi sebagai sebuah proses yang
sistemik di mana individu-individu berinteraksi dengan dan melalui simbolsimbol untuk menciptakan dan menginterpretasikan arti. Pengertian ini
mempunyai empat kata kunci, yakni: proses, sistemik, simbol, dan arti. Pendapat
ini juga dipertegas oleh West dan Turner (2008), yaitu komunikasi adalah proses
sosial di mana individu-individu menggunakan simbol-simbol untuk menciptakan
dan menginterpretasikan makna dalam lingkungan mereka.
Efektivitas Komunikasi
Efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti tercapainya yang telah
ditetapkan. Effendy (2001) menyatakan bahwa komunikasi dapat dikatakan
efektif, jika dapat menimbulkan dampak seperti (1) kognitif, yaitu meningkatnya
pengetahuan komunikan; (2) afektif, yaitu perubahan sikap dan pandangan
komunikan, karena hatinya tergerak akibat komunikasi; dan (3) konatif, yaitu
perubahan perilaku atau tindakan yang terjadi pada komunikan. Efek pada arah
kognitif meliputi peningkatan kesadaran, belajar dan tambahan pengetahuan. Pada
afektif meliputi efek yang berhubungan dengan emosi, perasaan dan sikap;
sedangkan efek pada konatif berhubungan dengan perilaku dan niat untuk
melakukan sesuatu dengan cara tertentu (Jahi, 1988).
Suatu komunikasi dikatakan efektif apabila komunikator berhasil
menyampaikan apa yang dimaksudkannya kepada komunikan (penerima).
Komunikasi dinilai efektif bila stimuli yang disampaikan dan dimaksudkan oleh
pengirim pesan berkaitan erat (identik) dengan stimuli yang ditangkap dan
dipahami oleh penerima pesan. Menurut Tubb dan Moss (2005) ada lima hal yang
menjadikan ukuran bagi komunikasi efektif, yaitu pemahaman, kesenangan,
pengaruh pada sikap, hubungan yang makin baik, dan tindakan.
11
1. Pemahaman
Arti pokok pemahaman adalah penerimaan yang cermat atas kandungan stimuli
seperti yang dimaksud oleh pengirim pesan (komunikator) dan dikatakan
efektif, bila penerima (komunikan) memperoleh pemahaman yang cermat atas
pesan yang disampaikan.
2. Kesenangan
Komunikasi tidak semua ditujukan untuk menyampaikan maksud tertentu,
karena adakalanya berkomunikasi hanya sekedar untuk bertegur sapa dan
menimbulkan kebahagiaan bersama.
3. Mempengaruhi sikap
Tindakan mempengaruhi orang lain dan berusaha agar orang lain memahami
ucapan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Pada waktu menentukan
tingkat keberhasilan berkomunikasi ternyata kegagalan dalam mengubah sikap
orang lain belum tentu karena orang lain tersebut tidak memahami apa yang
dimaksud. Dalam hal ini kegagalan dalam mengubah pandangan seseorang
jangan disamakan dengan kegagalan dalam meningkatkan pemahaman, karena
memahami dan menyetujui adalah dua hal yang sama sekali berlainan.
4. Memperbaiki hubungan
Komunikasi yang dilakukan dalam suasana psikologis yang positif dan penuh
kepercayaan akan sangat membantu terciptanya komunikasi yang efektif.
Apabila hubungan manusia dibayang-bayangi oleh ketidakpercayaan, maka
pesan yang disampaikan oleh komunikator yang paling kompeten dapat
mengubah makna.
5. Tindakan
Mendorong orang lain untuk melakukan tindakan sesuai dengan yang
diinginkan, merupakan hasil yang paling sulit dicapai dalam berkomunikasi.
Lebih mudah mengusahakan agar pesan dapat dipahami orang lain daripada
mengusahakan agar pesan tersebut disetujui sebagai tindakan “feedback” dari
komunikasi paling tinggi yang diharapkan oleh pemberi pesan.
12
Effendy (2000) mengatakan supaya terjadi komunikasi yang efektif, maka
komponen-komponen komunikasi perlu diperhatikan, mulai dari komunikator,
pesan, saluran dan komunikan sebagai sasaran komunikasi.
1. Komunikator
Faktor penting pada diri komunikator dalam melancarkan komunikasi adalah
daya tarik dan kredibilitas. Seorang komunikator akan mampu mengubah
sikap, opini dan perilaku komunikan melalui mekanisme daya tarik. Apabila
komunikan merasa ada kesamaan dengan komunikator, maka komunikan
bersedia taat pada isi pesan yang dilancarkan oleh komunikator. Adapun
kredibilitas berhubungan dengan profesi atau keahlian yang dimiliki seorang
komunikator. Dengan kata lain, seorang komunikator akan mendapat
kepercayaan, bila membahas suatu persoalan sesuai dengan profesi atau
keahliannya. Faktor heteropily dapat menyebabkan komunikasi menjurus ke
komunikasi yang tidak efektif.
2. Pesan
Pesan komunikasi terdiri dari isi pesan dan lambang. Isi pesan komunikasi
dapat satu, tetapi lambang yang digunakan dapat bermacam-macam, lambang
yang paling banyak digunakan dalam komunikasi adalah bahasa. Oleh karena
itu, komunikasi bahasa memegang peranan sangat penting. Tanpa penguasaan
bahasa, hasil pemikiran yang bagaimanapun baiknya tidak akan dapat
dikomunikasikan kepada orang lain secara tepat.
3. Saluran
Saluran komunikasi adalah media yang dilalui pesan untuk sampai kepada
komunikan (sasaran). Media komunikasi banyak macamnya dalam mencapai
sasaran komunikasi, yaitu dengan cara memilih salah satu atau gabungan dari
beberapa media. Pemilihan media tergantung pada tujuan yang akan dicapai,
pesan yang akan disampaikan dan teknik yang akan digunakan. Masing-masing
media komunikasi mempunyai kelebihan dan kekurangan.
4. Komunikan
Pengenalan komunikan merupakan ketentuan utama yang harus dilaksanakan
oleh komunikator dalam komunikasi. Ditinjau dari komponen komunikan,
13
seseorang dapat dan akan menerima pesan kalau terdapat empat kondisi secara
simultan, yaitu:
a. Komunikan benar-benar dapat mengerti pesan komunikasi.
b. Pada saat mengambil keputusan, komunikan sadar bahwa keputusannya
sesuai dengan tujuan.
c. Pada saat mengambil keputusan, komunikan sadar bahwa keputusannya itu
bersangkutan dengan kepentingan pribadinya.
d. Komunikan mampu untuk menepatinya, baik secara mental maupun secara
fisik.
Menurut Berlo (1960), komunikasi akan berjalan efektif apabila
ketepatannya dapat ditingkatkan dan gangguannya dapat diperkecil. Oleh karena
itu, meningkatkan ketepatan dan mengurangi gangguan harus terjadi pada setiap
unsur komunikasi. Hal tersebut dapat terjadi apabila:
1. Seorang
komunikator
harus
memiliki
keterampilan
berkomunikasi
(communication skills), pengetahuan yang luas mengenai apa yang dibahasnya
(knowledge), sikap jujur dan bersahabat (attitude), serta mampu beradaptasi
dengan sistem sosial dan budaya (social and cultural system).
2. Seorang komunikan harus memiliki kemampuan berkomunikasi, bersikap
positif kepada komunikator dan pesan yang disampaikan, memahami isi pesan
yang disampaikan, serta perilaku kebiasaan dalam menerima dan menafsirkan
pesan.
3. Pesan yang disampaikan harus memenuhi persyaratan kode atau bahasa pesan,
kesesuaian isi pesan dengan tujuan komunikasi, serta pemilihan dan pengaturan
bahasa dan isi pesan.
4. Media komunikasi harus sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, sesuai
dengan isi pesan sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat, serta efisien
dalam memilih media. Prinsip media harus dapat dilihat, didengar, disentuh,
dicium dan dirasakan.
Metode komunikasi adalah cara penyampaian informasi secara timbal
balik yang digolongkan ke dalam komunikasi perseorangan (interpersonal) dan
komunikasi kelompok. DeVito (1997) mengelompokkan komunikasi ke dalam
tujuh bentuk komunikasi, yaitu:
14
1. Komunikasi intrapersonal atau komunikasi dengan diri sendiri. Beberapa
tujuan yang lazim dalam komunikasi intrapersonal adalah berpikir, melakukan
penalaran, menganalisis dan merenung. Dalam komunikasi intrapersonal
tersebut dikembangkan teori-teori tentang konsep diri. Konsep komunikasi
intrapersonal yang berhubungan dengan keterampilan, antara lain memperkuat
diri, meningkatkan kesadaran diri, meningkatkan kemampuan memecahkan
masalah dan menganalisis masalah, meningkatkan pengendalian diri,
mengurangi stres, mengatasi konflik, dan lain-lain.
2. Komunikasi interpersonal atau komunikasi antar pribadi. Tujuannya untuk
mengenal, berhubungan, membantu, dan lain-lain. Beberapa teori yang
diaplikasikan dalam konsep komunikasi ini antara lain mengapa orang
mengembangkan hubungan, apa yang menyatukan sahabat, kerabat, keluarga
dan apa yang memisahkannya, bagaimana hubungan dapat diperbaiki. Aplikasi
keterampilan dari konsep komunikasi ini adalah meningkatkan efektivitas
komunikasi satu lawan satu, mengembangkan dan memelihara hubungan yang
efektif, meningkatkan kemampuan penyelesaian konflik.
3. Komunikasi kelompok kecil. Bertujuan berbagi informasi, mengembangkan
gagasan, memecahkan masalah, membantu. Teori yang dapat diaplikasikan
adalah apa yang membuat seseorang menjadi pemimpi, tipe kepemimpinan
mana yang paling berhasil, apa peran anggota kelompok, apa yang berhasil
dikerjakan kelompok dan apa yang gagal dilakukan kelompok, bagaimana
kelompok dapat dibuat lebih efektif. Keterampilan yang diperlukan dalam
komunikasi kelompok kecil adalah meningkatkan efektivitas sebagai anggota
kelompok, meningkatkan kemampuan sebagai pemimpin, dan lain-lain.
4. Komunikasi organisasi atau komunikasi dalam suatu organisasi formal.
Tujuannya meningkatkan produktivitas, meningkatkan semangat kerja,
memberi informasi dan meyakinkan. Hal yang menyangkut teori adalah apa
yang membuat organisasi efektif, apa kebutuhan yang harus dipenuhi
organisasi, bagaimana komunikasi organisasi dapat ditingkatkan. Hal-hal yang
berhubungan dengan keterampilan adalah meningkatkan efisiensi komunikasi
ke atas dan ke bawah, serta lateral, menggunakan komunikasi untuk
meningkatkan semangat kerja, dan lain-lain.
15
5. Komunikasi dengan publik atau khalayak. Tujuannya memberi informasi,
mempengaruhi dan menghibur. Hal yang menyangkut teori adalah bagaimana
khalayak dapat dianalisis dan diadaptasi secara efektif. Keterampilan yang
diperlukan adalah mengkomunikasikan informasi secara lebih efektif,
meningkatkan kemampuan persuasif, mengembangkan, mengorganisasikan,
dan lain-lain.
6. Komunikasi antarbudaya atau komunikasi antar orang dari budaya yang
berbeda. Tujuannya mengenal, berhubungan, mempengaruhi, bermain dan
membantu. Teori yang dikembangkan adalah bagaimana budaya yang berbeda
memandang komunikasi, apa yang menghambat komunikasi yang bermakna di
antara orang-orang yang budayanya berlainan. Dalam hal ini diperlukan
kemampuan menghindari hamabatan-hambatan utama dalam komunikasi
antarbudaya.
7. Komunikasi massa atau komunikasi yang diarahkan kepada khalayak yang
sangat luas. Tujuannya untuk menghibur, meyakinkan, mengukuhkan status,
mengubah, mengaktifkan, memberi informasi dan menciptakan rasa persatuan.
Teori yang dikembangkan adalah apa fungsi yang dijalankan media dan
bagaimana media mempengaruhi kita, bagaimana kita dapat mempengaruhi
media, dengan cara apa informasi disensor oleh media. Hal-hal yang
berhubungan dengan keterampilan komunikasi bermedia massa adalah
meningkatkan kemampuan menggunakan media agar lebih efektif.
Dibandingkan dengan bentuk-bentuk komunikasi lainnya, komunikasi
interpersonal dinilai lebih efektif dalam kegiatan mengubah sikap, kepercayaan,
opini, dan perilaku komunikan. Alasannya komunikasi interpersonal berlangsung
secara tatap-muka (face to face), sehingga terjadi kontak pribadi dan umpan balik
berlangsung seketika. Komunikator dapat mengetahui secara langsung tanggapan
komunikan terhadap pesan yang disampaikan. Komunikasi interpersonal
seringkali dipergunakan untuk melancarkan komunikasi persuasif, yaitu agar
orang lain (komunikan) bersedia menerima suatu paham atau keyakinan
melakukan suatu perbuatan atau kegiatan.
Selanjutnya Schramm dan Kincaid (1977) menyatakan bahwa komunikasi
akan berhasil (terdapat kesamaan makna) apabila pesan yang disampaikan oleh
16
komunikator cocok dengan kerangka acuan (frame of reference), yakni paduan
pengalaman dan pengertian (collection of experiences and meanings) yang
diperoleh oleh komunikan. Jika bidang pengalaman komunikator sama dengan
bidang pengalaman komunikan, komunikasi akan berlangsung lancar. Sebaliknya,
apabila bidang pengalaman komunikan tidak sama dengan bidang pengalaman
komunikator, akan timbul kesukaran untuk mengerti satu sama lain.
Pembahasan mengenai beberapa teori dan pengertian-pengertian di atas
dapat dijelaskan bahwa komunikasi dan efektivitas komunikasi dapat dikatakan
berjalan dengan baik jika pesan yang disampaikan oleh pengirim berkaitan erat
dengan pesan yang ditangkap dan diterima oleh penerima. Pemahaman,
kesenangan, mempengaruhi sikap, memperbaiki hubungan, dan tindakan positif
merupakan tujuan dari efektivitas komunikasi.
Karakteristik Individu
Rakhmat (2007) menyatakan bahwa karakteristik manusia terbentuk oleh
faktor-faktor biologis dan faktor-faktor sosiopsikologis. Faktor biologis mencakup
komponen genetik, sistem syaraf, dan sistem hormonal. Faktor sosiopsikologis
terdiri dari komponen-komponen konatif (tindakan) yang berhubungan dengan
kebiasaan dan afektif (faktor emosional). Selanjutnya Sampson dalam Humaedah
(2007), mengemukakan bahwa faktor internal individu merupakan ciri-ciri yang
dimiliki oleh seseorang yang berhubungan dengan semua aspek kehidupan dengan
lingkungannya. Karakteristik tersebut terbentuk oleh faktor-faktor biologis dan
sosiopsikologis. Karakteristik individu merupakan salah satu faktor penting untuk
diketahui dalam rangka mengetahui perilaku suatu masyarakat.
Soekartawi (2005) mengemukakan lebih rinci mengenai perbedaan
individu yang mempengaruhi cepat-lambatnya proses adopsi inovasi, yaitu: (1)
umur, (2) pendidikan, (3) status sosial ekonomi, (4) pola hubungan (lokalit atau
kosmopolit), (5) keberanian mengambil resiko, (6) sikap terhadap perubahan
sosial, (7) motivasi berkarya, (8) aspirasi, (9) fatalisme (tidak adanya kemampuan
mengontrol masa depan sendiri), dan (10) dogmatisme (sistem kepercayaan yang
tertutup).
Berdasarkan beberapa uraian di atas, maka dapat dikatakan bahwa dalam
menjelaskan karakteristik individu dan bagaimana hubungannya dengan
17
efektivitas komunikasi tergantung kepada tujuan penelitian yang dilakukan.
Dalam penelitian ini diarahkan untuk melihat hubungan antara karakteristik
individu dengan efektivitas komunikasi,
dan efektivitas komunikasi dengan
keberdayaan rumah tangga atau masyarakat. Karakteristik individu yang
dimaksud dalam penelitian ini adalah usia, pendidikan, pendapatan, pekerjaan
utama, dan luas pekarangan.
Ketersediaan Informasi dan Sarana Produksi
Ketersediaan informasi bagi masyarakat sangat tergantung pada di mana
dia bertempat tinggal. Hal ini akan sangat mempengaruhi aspek komunikasi atau
aksesibilitas masyarakatnya. Akses petani pada suatu daerah dengan daerah
lainnya tidak selalu sama. Hal ini sangat terkait dengan ketersediaan sumber
informasi serta keragaman informasi yang diperlukannya. Tubbs dan Moss (2005)
dan Purwasito (2003), mengatakan bahwa globalisasi yang dipicu oleh kemajuan
teknologi komunikasi telah mendorong semua bangsa ke arah komunikasi massa.
Pada kondisi seperti inilah kerapatan dan keterbukaan komunikasi menjadi relatif
karena dipengaruhi oleh eksistensi fasilitas komunikasi. Fasilitas seperti radio,
televisi, surat kabar, majalah, buku-buku, internet, pusat informasi publik, dan
kelompok atau kelembagaan masyarakat.
Menurut van den Ban dan Hawkins (1999), dengan teknologi komunikasi
modern memungkinkan petanu dapat dengan cepat memperoleh informasi dan
menyeleksi yang paling tepat dengan menggunakan model tertentu untuk
pengambilan keputusan.
Informasi sangat penting dalam membangun hubungan antarmanusia dan
melakukan interaksi dalam kehidupan bermasyarakat. Informasi dapat dilakukan
dengan jalan komunikasi secara kontinu sebagai upaya kebersamaan dan
membangun jaringan. Hal ini dapat dilakukan secara formal maupun nonformal,
yang salah satu modelnya dapat dikembangkan melalui diskusi (Ruben & Stewart,
1988).
Cangara (2000) menjelaskan bahwa informasi baru tentang pertanian yang
dikomunikasikan melalui berbagai macam saluran, secara umum dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
18
1. Media massa, terdiri dari majalah pertanian, surat kabar, siaran pertanian
melalui radio dan televisi.
2. Sumber informal, terdiri dari tetangga petani/peternak dan teman, kelompok
usaha, kelompok profesi dan kelompok sosial.
3. Sumber komersial, terdiri dari hubungan petani/peternak dengan pedagang dan
dealer, demonstrator dan buletin komersial.
4. Sumber agen pemerintah, terdiri dari buletin, pertemuan dan hubungan
petani/peternak dengan penyuluh dan ahli.
Selanjutnya Lionberger dan Gwin (1982), mengatakan bahwa proses
penyebaran informasi pertanian dilakukan melalui empat tahapan, yaitu: (1)
melalui penelitian, (2) pengujian lokal, (3) penyebaran informasi, dan (4)
bimbingan kepada petani atau peternak. Depari dan McAndrews (1998)
menambahkan bahwa peranan media massa dalam pembangunan nasional adalah
sebagai agen pembaru (agent of social change). Letak peranannya adalah dalam
membantu mempercepat proses peralihan masyarakat yang tradisional menjadi
masyarakat modern.
Berbicara tentang sumber informasi, setiap orang atau lembaga apa saja di
mana saja masing-masing berperan sebagai sumber informasi. Sesama petani,
aparat desa, penyuluh, fasilitator, televisi, radio, majalah, koran, dan sumber
lainnya.
Sebagai
sumber
informasi,
sudah
seharusnya
mengedepankan
kredibilitasnya, karena ini berkaitan dengan metode komunikasi dan pesanpesannya. Menurut Rakhmat (2007), kredibilitas itu tidak secara inheren ada
dalam diri komunikator, namun kredibilitas itu juga terletak pada khalayak yang
menerima sumber informasi tersebut.
Di beberapa negara Asia, terdapat banyak organisasi petani seperti
kelompok tani yang sudah mampu berperan dalam banyak hal, termasuk dalam
penyediaan dan pengelolaan informasi. Malaysia, Thailand, dan India telah ada
kelompok tani yang mampu berperan dalam penyediaan dan mengelola informasi,
pengadaan saprotan perkreditan, pemasaran hasil-hasil pertanian, pengelolaan
pascapanen dan pemberian pelayanan penyuluhan pertanian (Shah & Shah, 1994
dalam Sutawan 2000). Ketersediaan sarana produksi juga sangat berpengaruh
19
terhadap perkembangan perilaku efisiensi dan daya saing petani (Sumardjo,
1999).
Uraian di atas menjelaskan bahwa setiap informasi dan sarana produksi
selayaknya memiliki nilai inovasi. Ketidaktersediaan sumber informasi dan sarana
produksi tersebut akan sangat mempengaruhi tingkat perkembangan dan
perubahan
sosial,
berkomunikasi
serta
tingkat
keberdayaan,
tingkat
berkomunikasi, serta tingkat keberdayaan petani tersebut.
Kebijakan Publik
Dalam perkembangannya, kebijakan publik (pemerintah) menjadi ilmu
yang mempelajari proses pengambilan keputusan dengan menganalisis berbagai
informasi yang terkait, tujuannya untuk menghasilkan nilai-nilai otoritatif. Nilainilai ini dicakup dalam legislasi untuk kemudian diterjemahkan dalam rencana
atau program, sebagai wujud akuntabilitas pemerintah. Keberhasilan kebijakan ini
sangat ditentukan oleh aktor-aktor kunci yang intinya adalah tepat dan bijak
dalam mengambil keputusan pada saat mengimplementasikan kebijakan tersebut.
Kebijakan pemerintah dapat didefinisikan dalam arti luas dan sempit.
Dalam arti luas kebijakan pemerintah adalah segala sesuatu atau apapun yang
dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan atau tidak dilakukan (whatever
governments choose to do or not to do). Dalam arti sempit atau khusus adalah
suatu arah aksi yang tetap yang diikuti oleh pelaku-pelaku atau aturan dalam
menangani masalah atau keprihatinan (a purposive course of action followed by
an actor or set actors in dealing with a problem or matter of concern) (Young &
Quinn, 2002).
Anderson pada tahun 1975 dalam Tangkilisan (2003) memberikan definisi
tentang kebijakan publik sebagai kebijakan-kebijakan yang dibangun oleh badanbadan dan pejabat-pejabat pemerintah, di mana implikasi dari kebijakan tersebut
adalah: (1) kebijakan publik selalu mempunyai tujuan tertentu atau mempunyai
tindakan-tindakan yang berorientasi pada tujuan, (2) kebijakan publik berisi
tindakan-tindakan pemerintah, (3) kebijakan publik merupakan apa yang benarbenar dilakukan oleh pemerintah, jadi bukan merupakan apa yang masih
dimaksudkan untuk dilakukan, (4) kebijakan publik yang diambil bisa bersifat
20
positif dalam arti merupakan tindakan pemerintah mengenai segala sesuatu
masalah tertentu, atau bersifat negatif dalam arti merupakan keputusan pemerintah
untuk tidak melakukan sesuatu, (5) kebijakan pemerintah setidak-tidaknya dalam
arti yang positif didasarkan pada peraturan perundangan yang bersifat mengikat
dan memaksa.
Dye 1978 dalam Hosio (2007) mendefinisikan kebijakan publik sebagai
segala sesuatu atau apapun yang dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan atau
tidak dilakukan (whatever governments choose to do or not to do). Kebijakan
publik sebagai suatu upaya untuk mengetahui apa sesungguhnya yang dilakukan
oleh pemerintah, mengapa mereka melakukannya, dan apa yang menyebabkan
mereka melakukannya secara berbeda-beda. Dye juga mengatakan bahwa apabila
pemerintah memilih untuk melakukan suatu tindakan, maka tindakan tersebut
harus memiliki tujuan. Kebijakan publik tersebut harus meliputi semua tindakan
pemerintah, bukan hanya merupakan keinginan atau pejabat pemerintah saja.
Di samping itu, sesuatu yang tidak dilaksanakan oleh pemerintah pun termasuk
kebijakan publik. Hal ini disebabkan karena sesuatu yang tidak dilakukan oleh
pemerintah akan mempunyai pengaruh yang sama besar dengan sesuatu yang
dilakukan oleh pemerintah.
Oxford English Dictionary dalam Parsons (2006), memberikan definisi
tentang kebijakan publik sebagai kebijaksanaan politik, tata negara, perilaku yang
bijak, tipu daya, tindakan yang diadopsi oleh pemerintah, partai, dll (political
sagacity, statecraft, prudent conduct, craftiness, course of action adopted by
government, party, etc). Salah satu kamus sinonim yang memberikan definisi
sebagai berikut: kebijakan, kenegarawanan, administrasi, kebijaksanaan, rencana,
peran, tindakan, taktik, strategi, kebijaksanaan. Maksudnya ialah kebijakan
politik, keterampilan suatu negara bagian, pemimpin yang bijaksana, kecakapan
sebagai negarawan, kebijaksanaan, administrasi, rencana, aturan
main,
aksi/tindakan, taktik-taktik, strategi, merupakan arah suatu tindakan yang diadopsi
oleh pemerintah atau partai (policy, statesmanship, administration, wisdom, plan,
role, action, tactics, strategy, sagacity). Selanjutnya Topatimasang et al. (2000),
kebijakan publik merupakan suatu kebijakan tertentu dari pemerintah yang
menyangkut kepentingan umum.
21
Menurut Mosher (1978) kebijakan (policies) dan tindakan-tindakan
pemerintah mempunyai pengaruh yang sangat besar atas kecepatan pembangunan
pertanian. Perencanaan nasional adalah proses memutuskan apa yang hendak
dilakukan oleh pemerintah mengenai tiap kebijakan dan kegiatan yang
mempengaruhi pembangunan pertanian selama jangka waktu tertentu. Syarat
mutlak perlu mendapat prioritas tertinggi, syarat pelancar dapat membantu apabila
syarat mutlak telah tersedia. Memberikan prioritas kepada syarat mutlak bukan
berarti bahwa usaha-usaha terhadap syarat pelancar harus ditangguhkan sampai
semua telah terpenuhinya syarat-syarat mutlak. Pengaruh dari semua syarat
mutlak dan pelancar itu terletak dalam fasilitas-fasilitas yang tersedia bagi para
petani serta mengubah kondisi cara berusahatani. Syarat mutlak yang dicari
tersebut di antaranya: (1) keberadaan pasar, (2) teknologi, (3) saprodi lokal, (4)
perangsang produksi dan (5) aspek pengangkutan. Syarat pelancar yang dilihat
meliputi aspek: (1) pendidikan pembangunan, (2) kredit produksi, (3) kegiatan
gotong-royong, (4) aspek lahan dan tanah pertanian dan (5) perencanaan nasional.
Jadi, kebijakan pemerintah merupakan rencana kegiatan, pernyataan suatu
tujuan yang ideal yang dibuat oleh pemerintah, partai politik atau kegiatan usaha.
Kebijakan pemerintah merupakan hasil rumusan pola intervensi atau pengaturan
pemerintah berdasarkan ketetapan legislatif, aturan main administrasi publik, serta
adanya dukungan publik yang berpengaruh bagi masyarakat luas. Dalam negara
yang demokratis kebijakan dibuat berdasarkan kebutuhan publik. Jadi sebelum
pemerintah menetapkan kebijakan, terlebih dahulu menampung aspirasi dari
masyarakat.
Penyuluhan Pertanian
van den Ban dan Hawkins (1999) mengartikan penyuluhan sebagai
keterlibatan seseorang untuk melakukan komunikasi informasi secara sadar
dengan tujuan membantu sesamanya memberikan pendapat sehingga bisa
membuat keputusan yang benar. Secara sistematis pengertian penyuluhan tersebut
adalah proses untuk: (1) membantu petani menganalisis situasi yang sednag
dihadapi dan melakukan perkiraan ke depan; (2) membantu petani menyadarkan
terhadap kemungkinan timbulnya masalah dari analisis tersebut; (3) meningkatkan
22
pengetahuan dan mengembangkan wawasan terhadap suatu masalah, membantu
menyusun kerangka berdasarkan pengetahuan yang dimiliki petani; (4) membantu
petani memperoleh pengetahuan yang khsusus berkaitan dengan cara pemecahan
masalah yang dihadapi serta akibat yang ditimbulkannya sehingga mereka
mempunyai berbagai alternatif tindakan; (5) membantu petani memutuskan
pilihan yang tepat yang menurut pendapat mereka sudah optimal; (6)
meningkatkan
motivasi
petani
untuk
mengevaluasi
dan
meningkatkan
keterampilan mereka dalam membentuk pendapat dan mengambil keputusan.
Menurut Mardikanto (1993), penyuluhan dapat dipahami sebagai sebuah
proses, yakni: (1) proses penyebaran informasi, (b) sebagai proses penerangan; (c)
proses perubahan perilaku; dan (d) proses pendidikan. Sementara Slamet (2003)
mengatakan bahwa penyuluhan adalah program pendidikan luar sekolah yang
bertujuan memberdayakan sasaran, meningkatkan kesejahteraan sasaran secara
mandiri dan membangun masyarakat; sistem yang berfungsi secara berkelanjutan
dan tidak bersifat adhoc, serta program yang menghasilkan perubahan perilaku
dan tindakan sasaran yang menguntungkan sasaran dan masyarakatnya.
Secara singkat penyuluhan dapat diartikan sebagai suatu pendidikan
nonformal yang bertujuan untuk membantu masyarakat atau petani mengubah
perilakunya dalam hal pengetahuan, keterampilan dan sikap agar mereka dapat
memecahkan masalah yang dihadapinya guna mencapai kehidupan yang lebih
baik.
Optimalisasi Lahan Pekarangan
Optimalisasi ialah suatu proses untuk mencapai hasil yang ideal atau
optimal (nilai efektif yang dapat dicapai). Dalam hal ini, optimalisasi juga
digunakan dalam penggunaan pekarangan. Pekarangan, sebagai lahan yang berada
di sekitar rumah dengan batas dan pemilikan yang jelas merupakan lahan yang
potensial sebagai salah satu lahan untuk produksi pertanian, sumber plasma
nutfah, dan sebagai ruang terbuka hijau yang dapat menyerap Carbon yang efektif.
Pemberdayaan pekarangan yang didasari oleh kearifan lokal, diperkirakan dapat
diandalkan sebagai lahan produktif baik untuk subsistem maupun berskala
ekonomis. Karena itu pekarangan berperan dalam ketahanan pangan masyarakat
23
desa selain untuk konservasi keragaman jenis biologi. Selain itu, luas pemilikan
pekarangan di desa yang ideal secara ekologis dan ekonomis diharapkan dapat
dijadikan
pegangan
bagi
Badan
Pertanahan
Nasional
(BPN)
dalam
mengimplementasikan kegiatan Reformasi Agraria dengan basis pendistribusian
lahan pekarngan bagi masyarakat landless di Pulau Jawa (Arifin et al, 2007).
Menurut Danoesastro (1976) pemanfaatan pekarangan adalah pekarangan
yang dikelola melalui pendekatan terpadu berbagai jenis tanaman, ternak dan
ikan, sehingga akan menjamin ketersediaan bahan pangan yang beraneka ragam
secara terus menerus guna pemenuhan gizi keluarga. Di pekarangan bisa ditanam
dengan beraneka jenis tanaman yang menghasilkan yang dibutuhkan sehari-hari
seperti tanaman buah-buahan, sayur-sayuran, bunga-bungaan, tanaman obatobatan, bumbu-bumbuan, rempah-rempah, kelapa dan lain-lain.
Secara garis besar, pemanfaatan lahan pekarangan menurut lokasinya
dikelompokkan menjadi tiga kategori (Rukmana, 2005), yaitu:
1. Di daerah pedalaman, pekarangan pada umumnya dimanfaatkan sebagai
sumber pangan dan gizi, obat-obatan, dan rempah-rempah serta unttk
pelestarian lingkungan.
2. Di daerah perdesaan yang dekat dengan pusat konsumsi, pekarangan
dimanfaatkan sebagai penghasil buah-buahan, sumber penghasilan, dan
pelestarian lingkungan.
3. Di daerah perkotaan, pekarangan dimanfaatkan sebagai sumber pangan untuk
perbaikan gizi, memberikan kenyamanan dan keindahan, serta melestarikan
lingkungan.
Penelitian Terdahulu
Menurut Indra (2011) yang melihat pengaruh karakteristik individu dengan
efektivitas komunikasi kelompok tani dalam mewujudkan keberdayaan petani di
Kabupaten Aceh Singkil, didapat hasil sebagai berikut:
24
Tabel 1. Hubungan karakeristik individu dengan efektivitas komunikasi
Efektivitas
Komunikasi
Karakteristik
Individu
Umur (X1)
Pendidikan Formal
(X2)
Pendidikan
Non
Formal (X3)
Pendapatan (X4)
Pengalaman (X5)
Luas Garapan (X6)
Kekosmopolitan
(X7)
Pemahaman
(Y1)
Kesenangan
(Y2)
Mempengaruhi
Sikap
(Y3)
Hubungan
yang Makin
Baik (Y4)
Tindakan
Positif (Y5)
Nyata
Tidak Nyata
Nyata
Nyata
Tidak Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Tidak Nyata
Nyata
Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Nyata
Nyata
Tidak Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Sumber: Indra (2011)
Pada Tabel 1, pendidikan formal sangat berhubungan nyata dengan
indikator kesenangan, mempengaruhi sikap, hubungan yang baik dan tindakan
positif. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi pendidikan seorang petani,
maka semakin bagus juga tingkat efektivitas komunikasinya. Efektifnya
komunikasi sangat tergantung pada siapa yang memberikan pesan dan penerima
pesan, jadi pelaku komunikasi sangat berperan penting. Sebagai pelaku
komunikasi diutamakan adanya kesamaan makna dalam menginterpretasikan
pesan-pesan yang dimunculkan dan hal ini sangat dipengaruhi oleh tingkat
pengetahuan pribadi. Namun dalam hasil analisis ini pendidikan formal tidak
berhubungan nyata dengan indikator pemahaman, ini dikarenakan tingkat
pemahaman seseorang bukan berdasarkan pada tingkat pendidikan formalnya
seorang petani, tetapi juga dipengaruhi oleh pendidikan non formal seperti
pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh PPL.
Berdasarkan uraian di atas, karakteristik individu berhubungan dengan
tingkat efektivitas komunikasi. Keberagaman karakteristik tersebut sebagai fakta
yang bisa mempengaruhi tingkat efektivitas individu sebagai pribadi dan makhluk
sosial, jelas tidak dapat dipisahkan dari faktor eksternalnya. Karena sebagai
makhluk sosial maupun sebagai pelaku utama di sektor pertanian, petani jelas
tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh lingkungannya. Kesulitan petani bukan
25
karena pemalas atau tidak bekerja keras, tetapi lebih banyak ditentukan oleh
faktor luar yang membuat petanu menjadi semakin termarjinalkan.
Pendidikan nonformal berhubungan nyata dengan tingkat pemahaman. Ini
menjelaskan bahwa tingginya pengaruh pelatihan yang pernah diikuti oleh petani
terhadap tingkat pemahaman. Pelatihan yang pernah diikuti oleh petani lebih
mengedepankan kepada praktek di lapangan dan ini sangat memudahkan petani
dalam meniru dan mengingat kegiatan tersebut. Berbeda dengan pendidikan
formal yang mengedepankan teori dengan cara mendengar saja. Namun pada
hasil analisis yang dilakukan, pendidikan nonformal tidak berhubungan nyata
dengan tingkat kesenangan, sikap, hubungan baik dan tindakan positif.
Kemungkinan disebabkan tingkat motivasi petani yang rendah. Rendahnya
motivasi dikarenakan oleh ketidakmampuan secara finansial dan kepentingan
yang lain, sehingga pelatihan yang pernah diikuti tidak memberikan dampak
positif terhadap petani itu sendiri.
Pendapatan petani berhubungan nyata dengan indikator kesenangan, sikap,
hubungan baik dan tindakan positif. Artinya, semakin tinggi pendapatan maka
tingkat indikator kesenangan, sikap, hubungan baik dan tindakan positif akan
cenderung menurun. Kecenderungan seperti ini pada dasarnya berhubungan
dengan sikap dan watak individu manusia yang pada saat mendapatkan kelebihan
atau pendapatan kemungkinan seseorang untuk individualis bisa saja muncul. Hal
ini bisa menyebabkan interaksi di kelompok akan terabaikan dan dapat
menjadikan efektivitas komunikasi dalam kelompok bisa terkendala.
Pengalaman berorganisasi dan luas lahan garapan tidak berhubungan nyata
dengan
semua
indikator
efektivitas
komunikasi,
disebabkan
efektivitas
komunikasi itu didasarkan atas pesan-pesan yang disampaikan itu mengalami
kesamaan makna antara komunikan dan komunikator.
Kekosmopolitan berhubungan nyata dengan sikap dan hubungan baik. Hal
ini menggambarkan bahwa semakin tinggi tingkat kemampuan petani dalam
mencari sumber informasi maka berhubungan dengan sikap dan hubungan baik.
Sikap di sini adalah secara kognitif petani mampu dengan cepat mengadopsi
informasi secara cepat dan tercipta motivasi. Begitu juga dengan terjadinya
hubungan yang baik, yang menerangkan tentang bagaimana seorang petani
26
mampu berhubungan baik dengan sesama anggota maupun pada sumber
informasi.
Menurut Indra (2011), efektivitas komunikasi dipengaruhi karakteristik
individu,
seperti:
umur,
pendidikan
formal,
pendidikan
nonformal,
kekosmopolitan. Selain itu, efektivitas komunikasi juga dipengaruhi faktor
eksternal, seperti: ketersediaan informasi, kebijakan publik, intensitas penyuluhan
dan ketersediaan sarana produksi. Dalam penelitian ini juga menunjukkan adanya
hubungan yang nyata positif antara efektivitas komunikasi dengan keberdayaan
petani. Penelitian Suwanda (2008), yang melihat pengaruh faktor internal dengan
efektivitas komunikasi Model Prima Tani Usahatani Padi, didapat hasil sebagai
berikut:
Tabel 2. Hubungan faktor internal dengan efektivitas komunikasi model
prima tani usahatani padi
Efektivitas
Komunikasi
Karakteristik
Individu
Umur (X1)
Pendidikan Formal (X2)
Pendidikan Non Formal (X3)
Pengalaman (X4)
Pendapatan (X5)
Pola Usaha Tani (X6)
Status Lahan (X7)
Luas Lahan (X8)
Orientasi Usahatani (X9)
Status Petani (X10)
Kognitif (Y1)
Afektif
(Y2)
Konatif
(Y2)
Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Tidak Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Tidak Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Sumber: Suwanda (2008)
Tabel 2 menunjukkan bahwa sebagian besar faktor internal, seperti umur,
tingkat pendidikan formal, tingkat pendidikan non-formal, pengalaman bertani,
pendapatan rata-rata, status lahan, luas lahan garapan, orientasi usahatani dan
status petani berhubungan nyata dengan tingkat efektivitas komunikasi petani
responden pada ranah kognitif dan konatif. Tidak terdapat hubungan yang
signifikan pada pola usahatani dengan efektivitas komunikasi ranah afektif petani,
hal ini disebabkan karena petani tidak sepenuhnya mendukung model prima tani
usahatani padi dengan alasan program yang dijalankan ini tergolong singkat
sehingga manfaat yang didapat relatif sedikit. Pada korelasi hubungan antara
umur, tingkat pendidikan formal, tingkat pendidikan non-formal, pengalaman
27
bertani, pendapatan rata-rata, pola usahatani, status lahan, luas lahan garapan,
orientasi usahatani, dan status petani dengan afektif petani dalam efektivitas
komunikasi model Prima Tani tidak terdapat hubungan yang signifikan. Dengan
demikian hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan nyata antara faktor
internal dengan efektivitas komunikasi model Prima Tani usahatani padi, sebagian
besar diterima.
Secara umum, karakteristik personal seseorang mempengaruhi tingkat
efektivitas komunikasi. Keberagaman karakteristik-karakteristik personal sebagai
fakta yang mempengaruhi tingkat efektivitas individu sebagai pribadi maupun
sebagai mahluk sosial, jelas tidak dapat dipisahkan dari faktor eksternalnya.
Karena sebagai mahluk sosial maupun sebagai pelaku utama di sektor pertanian,
petani jelas tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh lingkungannya. Kesulitan
petani bukan karena petani menjadi pemalas atau tidak bekerja keras, tetapi lebih
banyak ditentukan oleh faktor luar yang membuat petani menjadi makin tidak
menguntungkan sehingga berada di luar jangkauan petani.
Penelitian Indra (2011) melihat pengaruh faktor eksternal dengan efektivitas
komunikasi kelompok tani dalam mewujudkan keberdayaan petani di Kabupaten
Aceh Singkil, didapat hasil sebagai berikut:
Tabel 3. Hubungan faktor eksternal dengan efektivitas komunikasi
Efektivitas
Komunikasi
Mempengaruhi Sikap
(Y3)
Hubungan
yang Makin
Baik (Y4)
Tindakan
Positif (Y5)
Faktor
Eksternal
Pemahaman
(Y1)
Kesenangan
(Y2)
Kebijakan
Publik (X1)
Intensitas
Penyuluhan (X2)
Ketersediaan
Sarana Produksi
(X3)
Ketersediaan
Informasi (X4)
Tidak Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak
Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Sumber: Indra (2011)
Pada Tabel 3, faktor eksternal menunjukkan bahwa secara umum semua
indikator berhubungan nyata dengan indikator efektivitas komunikasi. Namun ada
beberapa indikator yang tidak berhubungan nyata dengan indikator lainnya, di
28
antaranya adalah kebijakan publik dengan pemahaman dan tindakan positif,
intensitas penyuluhan dengan pemahaman, ketersediaan sarana produksi dengan
pemahaman, kesenangan, mempengaruhi sikap dan hubungan baik. Hal ini
mengindikasikan bahwa kebijakan publik, intensitas penyuluhan, ketersediaan
sarana produksi dan ketersediaan informasi sangat mempengaruhi tingkat
efektivitas komunikasi.
Dari penjelasan hubungan antara karakteristik individu dan faktor
eksternal dengan efektivitas komunikasi, beserta juga penjelasan indikatorindikatornya maka dapat dikatakan terdapat hubungan yang nyata positif antara
karakteristik individu, faktor eksternal dengan efektivitas komunikasi.
Pada karakteristik individu, secara umum terdapat hubungan nyata pada
hampir semua indikator kecuali pada indikator pendapatan petani, pengalaman
organisasi dan luas lahan garapan. Pada indikator pendapatan petani berhubungan
nyata negatif dengan semua indikator efektivitas komunikasi. Hal ini
menunjukkan bahwa semakin tinggi pendapatan petani efektivitas komunikasi
dalam kelompok tani cenderung menurun, sedangkan pada indikator pengalaman
berorganisasi, terdapat hubungan nyata negatif dengan indikator pemahaman dan
mempengaruhi sikap. Sementara itu, pada indikator luas lahan garapan memiliki
hubungan nyata negatif dengan indikator kesenangan dan mempengaruhi sikap.
Hasil penelitian Anas (2003) tentang keefektivan komunikasi program
pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir, melihat hubungan faktor internal
dengan efektivitas komunikasi program pemberdayaan ekonomi masyarakat
pesisir, didapat hasil sebagai berikut:
Tabel 4. Hubungan faktor internal dengan efektivitas komunikasi
program pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir
Efektivitas
Komunikasi
Karakteristik
Nelayan
Umur (X1)
Pendidikan Formal (X2)
Pendidikan Non Formal (X3)
Jenis Usaha (X4)
Jumlah Tanggungan Keluarga (X5)
Pendapatan Keluarga (X6)
Pengeluaran Keluarga (X7)
Anas: 2003
Kognitif
(Y1)
Afektif
(Y2)
Konatif
(Y3)
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Nyata
Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Nyata
Nyata
Tidak Nyata
29
Tabel 4 menunjukkan bahwa faktor umur, pendidikan formal, dan
pengeluaran keluarga tidak mempunyai hubungan yang nyata dengan efektivitas
komunikasi baik dalam meningkatkan pengetahuan, menentukan sikap maupun
dalam mengambil tindakan.
Pendidikan nonformal dan jenis usaha tidak mempunyai hubungan yang
nyata dengan efektivitas komunikasi dalam meningkatkan pengetahuan dan
mengambil tindakan. Pendidikan nonformal hanya berhubungan nyata positif
dalam menentukan sikap. Jenis usaha hanya berhubungan nyata negatif dengan
sikap. Jumlah tanggungan keluarga berhubungan nyata negatif dengan efektivitas
komunikasi yang dilakukan nelayan, baik yang mencakup aspek pengetahuan,
sikap, maupun tindakan. Nilai koefisien korelasi negatif menunjukkan adanya
hubungan yang negatif pula. Artinya, nelayan dengan tanggungan keluarga kecil,
akan lebih efektif berkomunikasi dalam meningkatkan pengetahuan, menentukan
sikap dan tindakan terhadap program yang disampaikan. Pendapatan keluarga
berhubungan sangat nyata positif dengan efektivitas komunikasi, baik yang
mencakup aspek pengetahuan, sikap, maupun tindakan. Ini berarti bahwa semakin
besar pendapatan nelayan semakin efektif mereka berkomunikasi dalam
meningkatkan pengetahuan, menentukan sikap dan mengambil keputusan.
Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa karakteristik individu juga
berkaitan dengan efektivitas komunikasi, yaitu Djunaedi (2003) yang meneliti
tentang efektivitas komunikasi dalam Program Imbal Swadaya di Kecamatan
Dramaga, menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara karakteristik individu
dengan tingkat efektivitas komunikasi tentang bagaimana Program Imbal
Swadaya bisa diterima oleh masyarakat. Hasilnya menunjukkan bahwa semakin
tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin tinggi pula tingkat efektivitas
komunikasi seseorang.
Astuti (2003) dalam penelitiannya tentang keefektivan komunikasi dalam
pelaksanaan
program
penanggulangan
kemiskinan
menunjukkan
adanya
hubungan yang nyata antara faktor situasional dengan keefektivan komunikasi,
yaitu hubungan dalam persepsi anggota terhadap P4K, dukungan anggota
terhadap kelompok P4K, dan kesesuaian syarat pinjaman kepada anggota
kelompok.
30
Hasil penelitian Anas (2003) tentang keefektivan komunikasi program
pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir menunjukkan bahwa karakteristik
individu yang merupakan faktor penentu dalam membentuk efektivitas
komunikasi adalah pendapatan dan jumlah tanggungan keluarga. Masyarakat
dengan tanggungan keluarga kecil dan pendapatan lebih besar, akan lebih efektif
berkomunikasi dalam meningkatkan pengetahuan, menentukan sikap dan
mengambil suatu tindakan terhadap suatu program yang disampaikan.
Penelitian yang dilakukan Suwanda (2008) hubungan antara faktor internal
dengan efektivitas komunikasi model usahatani padi untuk: umur, tingkat
pendidikan, pendapatan, dan luas lahan dengan ranah kognitif berhubungan sangat
nyata.
Dalam penelitian Indra (2011) juga ditemukan adanya hubungan antara
karakteristik individu dengan keberdayaan petani, menunjukkan bahwa sebagian
besar indikator karakteristik individu berhubungan positif dengan keberdayaan
petani, didapat hasil sebagai berikut:
Tabel 5. Hubungan karakteristik individu dengan keberdayaan petani di
Kabupaten Aceh Singkil
Karakteristik
Individu
Umur (X1)
Pendidikan
Formal (X2)
Pendidikan
Non Formal
(X3)
Pendapatan
Petani (X4)
Pengalaman
Berorganisasi
(X5)
Luas Lahan
Garapan (X5)
Kosmopolitan
(X6)
Keberdayaan
Petani
Mempunyai
Kesadaran
Aset (Y3)
Hak dan
Kewajiban
(Y4)
Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Mandiri
(Y1)
Berwawasan (Y2)
Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Tidak
Nyata
Tidak
Nyata
Tidak Nyata
Nyata
Nyata
Tidak
Nyata
Tidak
Nyata
Nyata
Saling
Ketergantungan
(Y5)
Nyata
Nyata
Kemampuan
Mendapat
Peluang Pasar
(Y5)
Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Nyata
Tidak Nyata
Nyata
Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak
Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Nyata
Tidak
Nyata
Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Sumber: Indra (2011)
Tabel 5 menunjukkan bahwa secara umum umur berhubungan nyata
dengan keseluruhan indikator-indikator keberdayaan petani. Ini memberikan
gambaran bahwa semakin bertambahnya umur maka semakin tinggi juga tingkat
31
keberdayaannya. Kemandirian sangat ditentukan dari tingkat kematangan atau
kedewasaan seseorang; bagaimana petani bisa mampu memilih jalan hidupnya
dan menentukan pilihan dalam aktivitas bertaninya. Mengenai wawasan juga
sangat ditentukan oleh tingkat umur, apalagi ditambah dengan tingkat
pengalaman hidup yang banyak. Pengalaman hidup bisa dilihat dari tingkatan
umur, semakin tinggi maka pengalaman hidupnya juga semakin banyak dan ini
akan berdampak secara kognitif kepada individu seseorang. Semakin tinggi umur
petani maka semakin produktif juga dalam mengumpulkan aset produksinya,
selain didukung oleh kebutuhan pribadi juga didukung oleh anggota keluarga
lainnya. Umur juga meningkatkan kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai
warga negara, pemahaman akan hal ini akan meningkatkan tingkat keberdayaan
secara individu. Semakin tinggi umur akan meningkatkan saling ketergantungan
dengan orang lain, hal ini sesuai dengan hakikat sebagai manusia bahwasanya
tidak akan berdiri sendiri tanpa ada bantuan orang lain. Lain halnya dengan hasil
analisis yang menyatakan bahwa umur berhubungan nyata dengan kemampuan
petani dalam mendapatkan peluang pasar, artinya semakin tinggi umur seseorang
maka kemampuan mendapatkan peluang pasar juga akan semakin mudah, ini
mungkin didukung oleh tingkat pengalaman petani dalam melakukan hubungan
jual beli dengan pihak lain dalam menjual hasil panennya.
Pendidikan formal berhubungan sangat nyata dengan indikator mandiri,
berwawasan, mempunyai aset, kesadaran hak dan kewajiban dan saling
ketergantungan.
Ini
menggambarkan
bahwa
pendidikan
formal
sangat
berhubungan dengan keberdayaan seseorang. Pendidikan biasanya menciptakan
manusia dengan berbagai kemampuan baik secara pengetahuan, sikap dan
tindakan. Berbagai kemampuan ini menjadi dasar petani dalam beraktivitas dan
akan meningkatkan keberdayaannya. Lain halnya dengan pendidikan nonformal,
dari hasil analisis menunjukkan bahwa adanya hubungan yang nyata dengan
kemandirian dan saling ketergantungan. Ini menunjukkan bahwa pendidikan
nonformal dengan pendidikan formal memiliki fungsi yang sama, karena dapat
meningkatkan keberdayaan petani itu sendiri.
Tabel tersebut juga menunjukkan adanya hubungan yang nyata negatif
antara indikator pendapatan dengan indikator mandiri, berwawasan, mempunyai
32
aset, kesadaran hak dan kewajiban. Ini berarti bahwa semakin meningkat
pendapatan petani maka tingkat keberdayaan petani akan menurun. Untuk
menyatakan bahwa seseorang itu berdaya, banyak ukuran yang bisa dijadikan
patokan, tidak hanya melihat pada tingkat pendapatan seseorang yang tinggi.
Pengalaman organisasi dan luas lahan garapan dari Tabel 5 di atas
menunjukkan bahwa secara umum tidak ada hubungan yang nyata dengan
keberdayaan petani. Tidak adanya hubungan nyata ini dikarenakan bahwa petani
dalam berorganisasi tidak terlalu serius mengikutinya dan hanya kegiatankegiatan formal saja yang diikuti sehingga hubungan dengan orang lain semakin
sedikit dan akan menjadikan petani menjadi obyek dari organisasi. Lain halnya
dengan luas lahan garapan yang tidak mempunyai hubungan nyata dengan tingkat
keberdayaan petani, ini jelas menunjukkan bahwa seluas apapun petani memiliki
lahan garapan, tidak berhubungan nyata dengan tingkat wawasan, kemandirian,
dan lainnya.
Pada indikator kekosmopolitan terlihat bahwa terdapat hubungan yang
sangat nyata dengan semua indikator keberdayaan petani seperti kemandirian,
berwawasan,
mempunyai
aset,
kesadaran
hak
dan
kewajiban,
saling
ketergantungan dan kemampuan mendapat peluang pasar. Ini menunjukkan
bahwa semakin tinggi tingkat kemampuan petani dalam mencari informasi maka
semakin tinggi
juga
tingkat
keberdayaannya.
Ini
menunjukkan
betapa
strategisnya makna informasi bagi keberdayaan petani.
Tabel 6. Hubungan faktor eksternal dengan keberdayaan petani di
Kabupaten Aceh Singkil
Keberdayaan
Petani
Mempunyai
Kesadaran
Aset (Y3)
Hak dan
Kewajiban
(Y4)
Nyata
Nyata
Faktor
Eksternal
Mandiri
(Y1)
Berwawasan (Y2)
Kebijakan
Publik (X1)
Intensitas
Penyuluhan
(X2)
Ketersediaan
Sarana
Produksi (X3)
Ketersediaan
(X4) Informasi
Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Tidak Nyata
Tidak
Nyata
Nyata
Nyata
Sumber: Indra (2011)
Saling
Ketergantungan
(Y5)
Nyata
Kemampuan
Mendapat
Peluang Pasar
(Y6)
Tidak Nyata
Nyata
Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Tidak Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Tidak Nyata
33
Tabel 6 menjelaskan bahwa secara umum hubungan antara faktor eksternal
dengan keberdayaan petani positif. Faktor eksternal yang berhubungan postif
adalah indikator kebijakan publik, intensitas penyuluhan dan ketersediaan
informasi. Walaupun kebijakan publik adalah program-program bantuan dari
pemerintah, ini sangat membantu petani baik secara individual maupun kelompok
dalam hal aktivitas bertani. Begitu juga dengan intensitas penyuluhan yang
berhubungan sangat nyata dengan indikator keberdayaan petani kecuali pada
indikator kemampuan mendapatkan peluang pasar. Ini sejalan dengan Slamet
(2003) yang berpendapat bahwa pemberdayaan masyarakat adalah ungkapan lain
dari tujuan penyuluhan pembangunan. Pengertian pemberdayaan mayarakat
adalah bagaimana membuat masyarakat mampu membangun dirinya sendiri,
mampu membangun/memperbaiki kehidupan sendiri, atau masyarakat yang
mampu meningkatkan kualitas hidupnya sendiri, tidak tergantung dari “belas
kasih” pihak lain.
Hasil analisis tersebut yang menghasilkan hubungan yang sangat nyata
didukung oleh tingkat intensitas penyuluhan di kabupaten tersebut yang aktif.
Sehingga akan menciptakan keberdayaan petani yang baik. Penelitian Sumardjo
(1999) di Jawa Barat, mengungkapkan bahwa pelaksanaan penyuluhan akan
menempatkan martabat petani secara lebih layak, keberadaan petani dengan aspek
kepentingan dan kemampuannya menjadi lebih dikenali dan dihargai sehingga
lebih mendorong terjadinya partisipasi masyarakat yang lebih tinggi. Ketersediaan
informasi yang didapat oleh petani sebagian besar diperoleh dari media televisi,
tenaga penyuluh pertanian dan pedagang. Walaupun ketersediaan informasi
masih terbatas, namun tingkat keberdayaan petani cukup baik. Begitu juga dengan
ketersediaan informasi yang sangat mendukung tingkat keberdayaan petani.
Dengan demikian informasi dapat dikatakan sebagai faktor yang sangat berperan
dalam proses pemberdayaan petani.
Secara umum dari penjelasan hubungan antara karakteristik individu dan
faktor eksternal dengan keberdayaan petani, beserta juga penjelasan indikatorindikatornya maka dapat dikatakan terdapat hubungan nyata positif antara
karakteristik individu, faktor eksternal dengan keberdayaan petani.
34
Dilihat dari karakteristik individu, secara umum terdapat hubungan nyata
positif pada indikator umur, pendidikan formal dan kekosmopolitan, sedangkan
pada indikator pendapatan petani memiliki hubungan nyata negatif dengan
indikator mempunyai aset, kesadaran hak dan kewajiban dan kemampuan
mendapatkan peluang pasar. Indikator pendidikan nonformal, pengalaman
organisasi dan luas lahan garapan memiliki hubungan nyata negatif dengan
indikator berwawasan, mempunyai aset, kesadaran hak dan kewajiban dan
kemampuan mendapat peluang pasar.
Tabel 7. Hubungan efektivitas komunikasi dengan keberdayaan petani
di Kabupaten Aceh Singkil
Efektivitas
Komunikasi
Pemahaman
(X1)
Kesenangan
(X2)
Mempengaruhi Sikap (X3)
Hubungan
(X4)Baik
Tindakan
Positif (X5)
Mandiri
(Y1)
Berwawasan (Y2)
Nyata
Nyata
Tidak
Nyata
Nyata
Nyata
Keberdayaan
Petani
Mempunyai
Kesadaran
Aset (Y3)
Hak dan
Kewajiban
(Y4)
Nyata
Tidak Nyata
Saling
Ketergantungan (Y5)
Nyata
Kemampuan
Mendapat
Peluang Pasar
(Y6)
Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Tidak Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Tidak Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Tidak Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Nyata
Tidak Nyata
Sumber: Indra (2011)
Pemahaman secara umum berhubungan berhubungan nyata dengan
mandiri, dan berhubungan nyata dengan indikator mempunyai aset, saling
ketergantungan dan kemampuan mendapat peluang pasar. Pemahaman tidak
memiliki hubungan nyata dengan berwawasan dan kesadaran hak dan kewajiban.
Hal ini menggambarkan bahwa pentingnya pemahaman dalam berkomunikasi
baik antara komunikan maupun komunikator, dan ini dapat dikatakan bahwa
komunikasi bisa efektif. Pada saat tingkat pemahaman antara pelaku komunikasi
tersebut terjadi maka pada titik itulah petani dikatakan berdaya, karena sudah
mampu memahami potensi dirinya dan memiliki kebebasan mengemukakan
pendapat.
Berani dalam mengemukakan pendapat ini terjadi karena adanya umpan
balik dari proses komunikasi yang berlangsung selama diskusi atau rapat
yang dilaksanakan. Berkaitan dengan hubungannya dengan tingkat kemandirian,
35
mempunyai aset, saling ketergantungan dan mampu mendapatkan peluang
pasar, terbangun ketika terjadi pertukaran pesan-pesan seperti informasi-informasi
pasar, informasi penggunaan modal usaha tani.
Pada indikator kesenangan terlihat bahwa terdapat hubungan yang
nyata dengan indikator mandiri, berwawasan, mempunyai aset, kesadaran hak dan
kewajiban dan saling ketergantungan, kecuali pada indikator kemampuan
mendapat peluang pasar. Ini menggambarkan bahwa selain pemahaman
pelaku komunikasi yang mencerminkan seseorang berdaya, indikator kesenangan
juga dapat mempengaruhi keberdayaan seseorang. Adanya tingkat kesenangan
pada pelaku komunikasi ini akan menggambarkan bahwa petani merasa
terbebaskan dan lepas dari tekanan pihak lain dalam berkomunikasi. Berkaitan
dengan hasil penelitian yang ada hubungannya dengan indikator-indikator di atas
menunjukkan bahwa dengan kesenangan yang baik maka akan meningkatkan
keberdayaan petani.
Mempengaruhi sikap berhubungan nyata dengan indikator mandiri,
berwawasan,
mempunyai
aset, kesadaran hak dan kewajiban dan saling
ketergantungan, kecuali pada indikator kemampuan mendapat peluang pasar.
Ini menggambarkan
bahwa
semakin tinggi komunikasi bisa efektif dalam
mempengaruhi sikap maka akan meningkatkan keberdayaan petani. Adanya
tindakan mempengaruhi orang lain dalam kelompok itu sering terjadi. Namun,
bagaimana seseorang bisa mempengaruhi orang lain tergantung pada sejauh mana
komunikator bisa menyampaikan pesan yang dengan mudah dipahami oleh
komunikan. Jika dihubungkan pada tingkat keberdayaan petani, pada saat
seseorang bisa mempengaruhi sikap orang lain dan sebaliknya maka pesan yang
disampaikan itu bisa dikatakan efektif (saling memahami) dan ada umpan balik
di antara keduanya. Jika terjadi seperti ini maka secara individual petani mampu
menonjolkan dirinya yang tidak bisa dipengaruhi oleh orang lain secara cepat.
Tabel tersebut juga memperlihatkan adanya hubungan yang sangat
nyata antara hubungan yang baik dengan tingkat keberdayaan petani terutama
sekali pada indikator mandiri, berwawasan, mempunyai aset, kesadaran hak
dan kewajiban dan saling ketergantungan. Ini menggambarkan
bahwa
komunikasi yang efektif dapat dilihat ketika pesan yang disampaikan oleh pelaku
36
komunikasi dapat menciptakan hubungan yang baik. Dalam komunikasi hal
yang seperti ini mencerminkan keharmonisan di antara anggota kelompok tani,
begitu juga dengan adanya hubungan yang baik ini juga memperlihatkan bahwa
komunitas di kelompok masyarakat dapat dikatakan berdaya.
Tindakan positif juga sangat berhubungan nyata dengan tingkat
keberdayaan petani. Komunikasi yang efektif bisa dilihat sejauh mana pesan yang
dimunculkan ketika berkomunikasi dalam kelompok bisa mempengaruhi orang
lain dan menghasilkan tindakan positif bagi pelaku komunikasi. Tindakan positif
sangat
mencerminkan
tingkat
keberdayaan
petani,
karena
berdayanya
seseorang bukan hanya dilihat dari aspek ekonominya saja tetapi juga bisa dilihat
dari aspek perilaku individual yang positif.
Dari penjelasan hubungan antara efektivitas komunikasi
dengan
keberdayaan petani, beserta juga penjelasan indikator-indikatornya maka dapat
katakan bahwa terdapat hubungan nyata antara efektivitas komunikasi dengan
keberdayaan petani.
Faktor internal yang mempengaruhi efektivitas komunikasi adalah
karakteristik personal atau karakteristik individu, karakteristik demografi dan
karakteristik psikografi. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi
efektivitas komunikasi adalah gangguan komunikasi. Sebagaimana dikemukakan
oleh Gibson dan Ivancevich (1997) terdapat sejumlah hambatan komunikasi yang
menyebabkan komunikasi tidak efektif, di antaranya perbedaan frame of
references dan frame of experiences di antara komunikator dan komunikan,
informasi yang terlalu banyak (overload information), stereotype, perbedaan
status, bahasa kelompok, kata putus nilai, gangguan, perbedaan persepsi dan
faktor bahasa.
37
KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS
Kerangka Pemikiran
Tujuan
komunikasi
pembangunan
secara
umum
adalah
untuk
meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat. Tujuan tersebut
hanya akan tercapai bila komunikasi pembangunan efektif. Komunikasi dinilai
efektif bila rangsangan yang disampaikan dan yang dimaksudkan oleh pengirim
atau sumber berkaitan dengan rangsangan yang ditangkap dan dipahami oleh
penerima. Dalam konteks komunikasi efektif, faktor-faktor komunikasi sangat
mempengaruhi tujuan pesan yang disampaikan dan dapat diwujudkan secara nyata
dalam serangkaian kegiatan komunikasi yang terencana. Oleh karena itu perlu
dilakukan identifikasi, analisis serta penetapan masalah dan kebutuhannya.
Rangkaian kegiatan komunikasi dimaksud
meliputi unsur:
who (siapa
sasarannya), why (apa latar belakang dan tujuannya), what (apa pesannya), when
(kapan pelaksanaannya), where (dimana tempat pelaksanaannya) dan how
(bagaimana cara/metode/format penyampaian pesannya). Schramm (1977)
menyatakan bahwa terdapat empat syarat pesan yang harus dipenuhi agar
komunikasi menjadi efektif, yaitu: (1) pesan harus dibuat sedemikian rupa
sehingga dapat menumbuhkan perhatian, (2) pesan harus dirumuskan sedemikian
rupa sehingga mencakup pengertian yang sama dan lambang-lambang yang
dimengerti, (3) pesan harus dapat menimbulkan kebutuhan pribadi dan
menyarankan bagaimana kebutuhan itu dapat dipenuhi dan (4) pesan harus sesuai
dengan situasi penerima.
Kawasan Rumah Pangan Lestari merupakan salah satu program
Kementerian Pertanian dalam rangka mengoptimalisasi pemanfaatan pekarangan
guna meningkatkan ketahanan pangan keluarga. Rumah pangan lestari merupakan
rumah yang memanfaatkan pekarangan secara intensif melalui pengelolaan
sumberdaya alam lokal secara bijaksana, yang menjamin kesinambungan
persediaan pangan dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas, nilai dan
keanekaragamnya.
Program KRPL ini merupakan forum pembelajaran bagi petani yang
dilakukan secara langsung di pekarangan yang dikelola masyarakat, dimana pada
lokasi tersebut semua teknologi pertanian yang dihasilkan lembaga-lembaga
38
penelitian diterapkan. Teknologi pertanian dimaksud meliputi: (1) penataan dan
pemanfaatan lahan pekarangan; (2) pemilihan komoditas; (3) pembuatan kebun
bibit desa; dan (4) diversifikasi pangan.
Sasaran akhir dari program ini adalah membentuk rumah tangga-rumah
tangga yang mampu memenuhi pangan dan gizi keluarga, meningkatkan
kemampuan keluarga dalam pemanfaatan pekarangan untuk budidaya tanaman
pangan,
buah,
sayur,
tanaman
obat
keluarga,
ternak
dan
perikanan,
mengembangkan sumber bibit/benih untuk menjaga keberlanjutan pemanfaatan
pekarangan, dan mengembangkan ekonomi produktif keluarga sehingga mampu
meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Komunikasi merupakan alat yang digunakan dalam penyampaian program
KRPL. Efektivitas komunikasi merupakan indikator kegiatan komunikasi suatu
program dapat berjalan dengan baik atau sebaliknya. Indikator-indikator dari
efektivitas komunikasi ini adalah melihat sejauh mana tingkat pemahaman
(kognitif), sikap (afektif), dan perilaku (konatif) komunikan (receiver) dalam
penataan dan pemanfaatan lahan pekarangan, pemilihan komoditas, pembuatan
kebun bibit desa, dan diversifikasi pangan.
Dalam penelitian ini, peubah-peubah yang dipandang memiliki hubungan
kuat dengan efektivitas komunikasi program KRPL di Desa Mulyasari Kecamatan
Ciampel Kabupaten Karawang adalah faktor karakteristik individu yang meliputi
umur, tingkat pendidikan, pendapatan, luas pekarangan garapan, dan pekerjaan
utama memiliki pengaruh terhadap perubahan perilaku dalam mengaplikasikan
program KRPL oleh suatu kelompok masyarakat. Peubah lain yang mempunyai
peran dalam kegiatan komunikasi adalah faktor eksternal seperti akses informasi,
sarana produksi, dukungan pemerintah, dan intensitas penyuluhan. Selanjutnya
untuk mengukur tingkat keefektivan komunikasi program KRPL, indikator yang
diamati meliputi unsur pengetahuan (kognitif) petani tentang teknologi inovatif
yang dikomunikasikan oleh penyuluh, pendapat atau sikap petani (afektif)
terhadap teknologi tersebut, serta perubahan perilaku (konatif) petani terhadap
teknologi inovatif. Data parameter-parameter di atas dikumpulkan melalui
wawancara langsung dengan petani di area penelitian.
39
Komunikasi yang efektif yang ditandai dengan adanya perubahan perilaku
untuk mengoptimalkan lahan pekarangan diharapkan adanya peningkatan
kemandirian masyarakat
kesejahteraan
(ekonomi).
dalam aspek ketahanan pangan keluarga dan
Pada
penelitaian
ini,
sebagai
outcome
dari
mengaplikasikan program KRPL adalah kemandirian keluarga dalam pemenuhan
kebutuhan pangan dan kemampuan menciptakan peluang bisnis dengan
memanfaatkan pekarangan yang ada.
Berdasarkan uraian di atas, kerangka alur pikir penelitian ini disajikan
pada Gambar 1.
Karakteristik
Individu (X1)
X1.1. Umur
H1
X1.2. Pendidikan
X1.3. Pendapatan
X1.4. Luas pekarangan
Efektivitas Komunikasi
Program KRPL (Y1)
H3
Y1.1. Kognitif
Faktor Eksternal (X2)
Y1.2. Afektif
X2.1. Akses informasi
Y1.3. Konatif
X2.2. Sarana produksi
X2.3. Kebijakan
publik/pemerintah
X2.4. Intensitas
penyuluhan
H2
Gambar 1. Kerangka pemikiran penelitian
Optimalisasi Lahan
Pekarangan (Y2)
Y2.1. Pemanfaatan
lahan pekarangan
Y2.2. Kemampuan
menciptakan
peluang bisnis
40
Hipotesis Penelitian
1. Terdapat hubungan nyata antara karakteristik individu dengan efektivitas
komunikasi
2. Terdapat hubungan nyata antara faktor eksternal dengan efektivitas komunikasi
3. Terdapat hubungan nyata antara efektivitas komunikasi dengan optimalisasi
lahan pekarangan
41
METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Penelitian ini didesain dalam bentuk metode survei yang bersifat
explanatory research, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan
peubah-peubah yang diamati, kemudian mengevaluasi dan menjelaskan hubungan
antar peubah-peubah penelitian melalui pengujian hipotesis (Singarimbun &
Effendi, 2006). Metode survei merupakan metode pelaksanaan penelitian, satu
informasi dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner, dengan dibatasi pada
pengertian survei sampel sebagai informasi dari sebagian populasi yang mewakili
seluruh populasi yang ada.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Desa Mulyasari Kecamatan Ciampel Kabupaten
Karawang Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian ini ditentukan secara sengaja
(purposive) dengan pertimbangan bahwa desa ini merupakan salah satu desa yang
melakukan program KRPL binaan Kementerian Pertanian. Penentuan lokasi
penelitian ditetapkan bahwa Desa Mulyasari merupakan salah satu lokasi uji coba
program KRPL yang berhasil dalam mendiseminasikan program yang dapat
mengoptimalkan lahan pekarangan. Selain itu secara geografis, lokasi penelitian
mudah dijangkau, secara ekonomis tidak memerlukan anggaran yang besar.
Penelitian dilakukan selama satu bulan, yaitu mulai April sampai dengan
Mei 2012. Waktu pelaksanaan penelitian diawali dengan tahapan pra-survei
kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan data penelitian.
Populasi dan Sampel
Populasi merupakan jumlah keseluruhan dari unit-unit analisis yang
memiliki ciri-ciri yang diduga (Iskandar, 2008). Singarimbun dan Effendi (2006)
menyatakan bahwa populasi adalah keseluruhan dari unit analisis yang ciri-cirinya
akan diduga. Menurut Rakhmat (2005), kumpulan obyek penelitian adalah
populasi. Dalam penelitian ini, jumlah populasi yang ditetapkan sebanyak 110
orang yang terdiri dari ibu-ibu yang memiliki lahan pekarangan dan ibu-ibu yang
42
telah mengikuti program KRPL di Desa Mulyasari Kecamatan Ciampel
Kabupaten Karawang Jawa Barat.
Sampel adalah sebagian dari populasi yang diambil secara representatif
untuk mewakili populasi yang ada. Adapun penentuan sampel dilakukan secara
proporsional stratified random sampling, yaitu pengambilan sampel dengan
jumlah sampel tiap sel/strata ditentukan secara proporsional (Wirartha, 2006).
Strata pengambilan sampel dibedakan menjadi tiga strata, yaitu:
1. Ibu-ibu dengan kepemilikan pekarangan sempit (kurang dari 120 meter
persegi).
2. Keluarga dengan kepemilikan pekarangan sedang (120 meter persegi sampai
200 meter persegi).
3. Keluarga dengan kepemilikan pekarangan luas (lebih dari 200 meter persegi).
Penetapan jumlah responden berdasarkan teknik pengambilan contoh
menurut Slovin dalam Sevilla et al (1993), yaitu:
Keterangan:
n = jumlah contoh
N = jumlah populasi
d2 = presisi (α = 5%)
Jumlah sampel yang diambil adalah sebanyak 50 responden dengan
sebaran pengambilan sampel disesuaikan dengan proporsional luas kepemilikan
pekarangan.
Pengambilan sampel penelitian ini dinilai sudah mengacu pada konsep
keterwakilan. Menurut Mantra dan Kasto (1995), suatu metode pengambilan
sampel yang ideal mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: (1) dapat menghasilkan
gambaran yang dapat dipercaya dari seluruh populasi yang diteliti, (2) dapat
menentukan presisi dari hasil penelitian dengan menentukan simpangan baku
(standar) dari taksiran yang diperoleh, (3) sederhana, sehingga mudah
dilaksanakan, dan (4) dapat memberikan keterangan sebanyak mungkin dengan
biaya serendah-rendahnya.
43
Data dan Instrumentasi
Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data
sekunder. Data primer digali dan diambil melalui teknik wawancara secara
terstruktur dari responden dengan alat bantu kuesioner yang di dalamnya berisi
pertanyaan atau pernyataan yang berhubungan dengan peubah-peubah yang
diamati dalam penelitian. Data sekunder diperoleh dari data yang telah
dikumpulkan oleh berbagai instansi yang ada seperti Balai Penyuluhan Pertanian,
Balai Besar Pengembangan dan Penelitian Teknologi Pertanian, dan Balai Desa
Mulyasari Kecamatan Ciampel Kabupaten Karawang Jawa Barat.
Kuesioner sebagai instrumentasi yang dibangun dalam penelitian ini terdiri
dari lima bagian, yaitu:
1. Bagian pertama berisi pertanyaan dan pernyataan mengenai karakteristik
individu.
2. Bagian kedua berisi pertanyaan dan pernyataan mengenai faktor eksternal yang
terdiri atas: (a) akses informasi; (b) sarana produksi; (c) kebijakan publik; dan
(d) intensitas penyuluhan.
3. Bagian ketiga berisi pertanyaan dan pernyataan mengenai efektivitas
komunikasi.
4. Bagian keempat berisi pertanyaan dan pernyataan tentang optimalisasi lahan
pekarangan di Desa Mulyasari Kecamatan Ciampel Karawang Jawa Barat.
Definisi Operasional
Definisi operasional merupakan spesifikasi kegiatan penelitian dalam
mengukur suatu peubah yang diinvestigasi. Tujuannya adalah agar terbentuk
persamaan persepsi terhadap konsep dan konstruk, serta dapat dilakukan
pengukuran dengan jelas terhadap peubah-peubah yang diteliti. Definisi
operasional dan pengukuran terhadap masing-masing peubah penelitian dilakukan
dengan cara sebagai berikut:
1. Karakteristik individu adalah suatu ciri atau keadaan seseorang yang
bersumber dari unsur keturunan dan kemudian berkembang sesuai dengan
perkembangan lingkungan.
44
a. Umur adalah lama hidup responden dihitung sejak tahun kelahiran sampai
waktu penelitian dilakukan (dalam satuan tahun), diukur dengan
menggunakan skala rasio dan diordinalkan menjadi tiga kategori.
b. Tingkat pendidikan adalah lamanya jenjang sekolah tertinggi yang pernah
diikuti oleh responden pada saat penelitian dilakukan, diukur dengan
menggunakan skala rasio (dalam satuan tahun) dan kemudian diordinalkan
menjadi tiga kategori.
c. Pendapatan adalah jumlah penghasilan responden dalam setiap bulan dalam
satuan rupiah. Pendapatan dijadikan sebagai gambaran kemampuan modal
yang bersumber dari responden itu sendiri, diukur dengan menggunakan
skala rasio dan kemudian diordinalkan menjadi tiga kategori.
d. Luas pekarangan adalah sebidang tanah atau area pekarangan yang dimiliki
oleh responden yang digunakan untuk budidaya tanaman dalam satu tahun
terakhir (dalam satuan luas meter persegi), diukur dengan menggunakan
skala rasio dan kemudian diordinalkan menjadi tiga kategori.
e. Status pekarangan adalah posisi responden terhadap lahan pekarangan,
diukur dengan menggunakan skala nominal.
2. Faktor eksternal adalah faktor-faktor di luar karakteristik individu yang
mempunyai hubungan dengan efektivitas komunikasi dan keberdayaan. Faktor
eksternal yang diamati adalah akses informasi, sarana produksi, kebijakan
publik, dan sumber informasi. Indikator-indikator ini diukur secara ordinal
dengan kategori rendah (skor 1), sedang (skor 2), dan tinggi (skor 3).
a. Akses informasi adalah tingkat kemudahan responden untuk memperoleh
informasi tentang berbagai aspek pemanfaatan pekarangan secara optimal,
diukur dengan skala ordinal.
b. Ketersediaan sarana produksi (saprodi) adalah tingkat kemudahan untuk
menjangkau dan memperoleh sarana produksi (seperti benih, pupuk,
pestisida, alat-alat pertanian, dan lain-lain), diukur dengan skala ordinal.
c. Kebijakan publik adalah keterlibatan atau campur tangan pemerintah dalam
menyukseskan program KRPL menurut pandangan responden, diukur
dengan menggunakan skala ordinal.
45
d. Intensitas penyuluhan adalah banyaknya atau jumlah kegiatan penyuluhan
yang dilakukan untuk mengubah perilaku (pengetahuan, sikap, dan
keterampilan) yang dilakukan oleh penyuluh kepada petani maupun
masyarakat dalam satu tahun terakhir saat penelitian ini dilakukan.
Pengukuran dilakukan dengan menghitung frekuensi penyuluhan, jenis
kegiatan, tidaknya manfaat dari kegiatan menyuluh, dan keterlibatan petani
dalam kegiatan penyuluhan.
3. Keefektivan komunikasi dalam kegiatan transfer teknologi KRPL adalah
perubahan pengetahuan, sikap, perilaku yang terjadi pada diri seorang
responden
setelah
menerima
suatu
informasi.
Pengukuran
dengan
menggunakan skala ordinal, dengan kategori: rendah (skor 1), sedang (skor
2) dan tinggi (skor 3). Pengukuran menggunakan tiga indikator perilaku
mencakup perubahan pengetahuan (kognitif), sikap (afektif). dan tindakan
(konatif).
a. Aspek kognitif adalah tingkat pengetahuan responden tentang teknologi
inovatif yang didiseminasikan dalam kegiatan transfer teknologi KRPL
sebagai pesan.
b. Aspek afektif adalah sikap responden terhadap teknologi inovatif yang
dikomunikasikan dalam kegiatan transfer teknologi KRPL.
c. Aspek konatif adalah tindakan responden untuk menggunakan teknologi
inovatif yang diberikan.
4. Optimalisasi lahan pekarangan adalah suatu proses untuk mencapai hasil yang
ideal atau optimal (nilai efektif yang dapat dicapai) terhadap lahan pekarangan
dalam menghasilkan produk yang optimal baik secara kualitas maupun
kuantitas, dan mampu untuk menciptakan usaha agribisnis. Pengukuran
menggunakan skala ordinal, dengan kategori: rendah (skor 1), sedang (skor 2),
dan tinggi (skor 3). Indikatornya adalah:
a. Pemanfaaatan lahan pekarangan
adalah tingkat penggunaan lahan
pekarangan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
b. Kemampuan mendapat peluang pasar adalah tingkat kesanggupan
responden dalam melihat seberapa besar potensi pasar untuk memasarkan
produk hasil budidaya pekarangannya.
46
Validitas dan Reliabilitas Instrumentasi
Validitas Instrumen
Validitas berhubungan dengan ketepatan alat ukur untuk melakukan
tugasnya mencapai sasarannya. Validitas berhubungan dengan kenyataan
(actually). Validitas juga berhubungan dengan tujuan pengukuran. Pengukuran
dikatakan valid jika mengukur tujuannya dengan nyata atau benar. Validitas
berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya
diukur (Sugiyono, 2008).
Validitas dalam penelitian ini menggunakan teknik validitas konstruk
(construct validity). Validitas konstruk dimaksudkan untuk mengukur sampai
seberapa jauh butir-butir pertanyaan atau pernyataan mampu mengukur apa yang
benar-benar hendak diukur sesuai dengan konstruk atau definisi operasional yang
telah ditetapkan dalam penelitian (Djaali, 2004).
Uji validitas dilakukan dengan uji korelasi antar skor masing-masing butir
pertanyaan dengan skor total pada setiap peubah. Untuk mengukur validitas
instrumen pernyataan ini, diukur dengan angka korelasi antara skor butir dan skor
keselutuhan dari hasil uji coba melalui teknik korelasi product moment Pearson,
dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
ri = korelasi antara butir pertanyaan ke-i dengan total skor
xij = skor responden ke-j pada butir pertanyaan i
x = rata-rata skor butir pertanyaan i
tj = total skor seluruh pertanyaan untuk responden ke-j
t = rata-rata total skor
Berdasarkan hasil uji statistik terhadap instrumen pertanyaan yang
digunakan dengan menggunakan SPSS versi 19, maka dapat disimpulkan bahwa
secara keseluruhan item pertanyaan valid. Hal ini dapat dilihat dari nilai corrected
item total correlation lebih besar dari r tabel (0,514).
47
Reliabilitas Instrumen
Reliabilitas instrumentasi menunjukkan akurasi dan ketetapan dari
pengukurnya. Reliabilitas berhubungan dengan konsistensi dari pengukur. Suatu
pengukur dikatakan reliabel (dapat diandalkan) jika dapat dipercaya, maka hasil
dari pengukuran harus akurat dan konsisten. Reliabilitas adalah instrumen yang
bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan
menghasilkan data yang sama. Indeks yang menunjukkan sejauhmana suatu alat
pengukur dapat dipercaya atau diandalkan (Sugiyono, 2008). Uji reliabilitas
instrumen dalam penelitian ini menggunakan uji reliabilitas Cronbach alpha.
Formula untuk menghitung koefisien Cronbach alpha (α) adalah sebagai berikut:
Keterangan:
α = koefisien reliabilitas Cronbach alpha
k = banyaknya butir pertanyaan
Si2 = ragam skor butir pertanyaan ke-i
ST2 = ragam skor total
Berdasarkan hasil analisis statistik dengan menggunakan SPSS versi 19
terhadap seluruh instrumen yang diujicobakan di Desa Mulyasari Kecamatan
Ciampel Kabupaten Karawang terhadap 15 orang responden yang bukan sampel
penelitian, tetapi memiliki karakteristik yang relatif serupa dengan responden
sampel. Nilai koefisien uji reliabilitas cronbach alpha berada pada kisaran 0,848
sampai dengan 0,970 seperti yang tersaji pada Tabel 8 di bawah ini.
Tabel 8. Koefisien Cronbach Alpha Hasil Uji Coba Kuesioner
Peubah
Penelitian
Akses informasi
Faktor eksternal
Efektivitas komunikasi
Optimalisasi lahan pekarangan
Koefisien
Cronbach alpha
0,932
0,848
0,970
0,909
Pengujian reliabilitas dengan menggunakan uji Cronbach Alpha untuk
menentukan apakah setiap instrumen reliabel atau tidak, yakni dengan skala 0
sampai dengan 1. Interpretasi reliabilitas instrumen menurut Arikanto (2009)
adalah sebagai berikut:
48
1. Nilai alpha Cronbach 0,00 - 0,20 = kurang reliabel/diabaikan
2. Nilai alpha Cronbach 0,21 - 0,40 = agak reliabel
3. Nilai alpha Cronbach 0,41 - 0,60 = cukup reliabel
4. Nilai alpha Cronbach 0,61 - 0,80 = reliabel
5. Nilai alpha Cronbach 0,81 - 1,00 = sangat reliabel.
Dari tabel di atas terlihat bahwa nilai Cronbach Alpha dari semua peubah
lebih besar dari 0,8. Ini berarti bahwa semua peubah yang digunakan pada
kuesioner sangat reliabel.
Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data menggunakan alat kuesioner, dilengkapi dengan
berbagai informasi yang dikumpulkan dari berbagai sumber, sebagai penjelasan
terhadap upaya-upaya pengambilan dan penggalian data yang dibutuhkan pada
penelitian. Pengambilan data melalui langkah-langkah:
1. Pengkajian dan penelaahan naskah
Menelaah data berupa catatan, dokumen, sebagai pelengkap data primer yang
tidak ditemukan di lapangan, serta laporan-laporan ilmiah, literatur dan studi
kepustakaan. Ditambah lagi dengan bahan peraturan daerah, bahan laporan
arsip-arsip baik di kantor pemerintah kabupaten maupun di kantor kecamatan,
kantor kepala desa, dan dokumentasi lainnya.
2. Wawancara
Metode yang digunakan adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan
secara langsung kepada responden yakni masyarakat yang menjadi peserta
program KRPL, dengan panduan daftar pertanyaan (kuesioner). Data yang
diperoleh ini nantinya dipergunakan sebagai data primer.
3. Data yang terkumpul dari kuesioner kemudian diberi kode responden,
selanjutnya ditabulasi dalam master tabel (data mentah) dengan program
Microsoft Excel.
Analisis Data
Penelitian ini menggunakan analisis statistik deskriptif dan statistik
inferensial. Pendekatan statistik inferensial digunakan untuk menganalisis
keterkaitan peubah-peubah yang diduga terjadinya efektivitas komunikasi, juga
49
untuk melihat hubungan antar peubah-peubah bebas, peubah antara dan peubah
terikat, yang diuji secara statistik non-parametrik dengan menggunakan korelasi
rank Spearman. Data diolah dengan menggunakan program komputer perangkat
lunak (software) Statistical Package for Social Science (SPSS) versi 19.0.
Adapun rumus korelasi rank Spearman menurut Irawan (2007) adalah
sebagai berikut:
r=1–
6∑di2
N(N2 – 1)
Keterangan
r
= Koefisien korelasi rank Spearman
di
= Beda antara dua pasangan
N
= berpasangan
Total pengamatan
51
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Kecamatan Ciampel
Kecamatan Ciampel merupakan bagian wilayah dari 30 Kecamatan di
Kabupaten Karawang yang dahulunya termasuk ke wilayah Kecamatan
Telukjambe, diresmikan menjadi Kecamatan pada tanggal 11 Agustus 1999 oleh
Gubernur Jawa Barat berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1999,
tanggal 26 Mei 1999, tentang Pembentukan Kecamatan di Kabupaten Serang,
Tangerang, Pandeglang, Bogor, Subang, Karawang, Ciamis dan Majalengka.
Wilayah Pemerintahan Kecamatan Ciampel meliputi tujuh desa, antara lain:
Desa Kutapohaci, Desa Kutanegara, Desa Kutamekar, Desa Parungmulya, Desa
Mulyasari, Desa Mulyasejati dan Desa Tegallega. Dengan batas wilayah sebagai
berikut:
1. Sebelah Utara
: berbatasan dengan Kecamatan Klari
2. Sebelah Timur
: berbatasan dengan Kecamatan Klari
3. Sebelah Selatan
: berbatasan dengan Kabupaten Purwakarta
4. Sebelah Barat
: berbatasan dengan Kecamatan Telukjambe Timur dan
Kecamatan Pangkalan
Kecamatan Ciampel, memiliki luas wilayah yaitu 11.013 ha dengan rincian
sebagai berikut:
1. Tanah Darat seluas 10.161 ha terdiri dari:
a. Luas lahan bukan sawah seluas 4.653 ha, yaitu:
1) Hutan Rakyat
: 2.505 ha
2) Tegal
: 25 ha
3) Huma/Ladang
: 613 ha
4) Perkebunan
: 20 ha
5) Kolam Empang
: 4 ha
6) Lain-lain
: 1.486 ha
b. Luas lahan bukan pertanian seluas 5.508 ha, yaitu :
1) Rumah Bangunan : 368 ha
2) Hutan Negara
: 4.826 ha
3) Lain-lain
: 314 ha
52
2. Tanah Sawah seluas 852 ha, yaitu:
a. Sawah Teknis
: 481 ha
b. Sawah Non Teknis
: 9 ha
c. Sawah Tadah Hujan : 362 ha
Selain itu, Kecamatan Ciampel berada di ketinggian ± 15 m dari
permukaan laut, dengan suhu maksimum 40ºC dan minimum 17ºC, sedangkan
suhu panas rata-rata 37ºC pertahun dengan curah hujan ± 21.17 mm setiap tahun
dan tiupan angin rata-rata 10 km/jam. Adapun jarak tempuh ke Pusat
Pemerintahan Kecamatan Ciampel yaitu:
1. Desa Terjauh
: 10 km
2. Ibukota Kabupaten
: 12 km
3. Ibukota Propinsi
: 105 km
4. Ibukota Negara
: 78 km
Jumlah penduduk di Kecamatan Ciampel adalah sebanyak 34.533 jiwa,
yang tersebar di tujuh desa, dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 9. Jumlah penduduk di Kecamatan Ciampel
No
Jumlah Penduduk
Jumlah Kepala Keluarga
(jiwa)
(jiwa)
Desa
Lakilaki
Perempuan Jumlah
Lakilaki
Perempuan Jumlah
1
Kutapohaci
3.310
3.376
6.686
1.859
150
2.009
2
Kutanegara
1.926
1.836
3.762
1.079
57
1.136
3
Kutamekar
2.153
2.058
4.211
1.169
112
1.281
4
Mulyasari
2.426
2.502
4.928
1.240
195
1.435
5
Mulyasejati
3.346
3.252
6.598
1.649
262
1.911
6
Parungmulya
2.915
2.805
5.720
2.215
108
2.323
7
Tegallega
1.355
1.273
2.628
657
105
762
Jumlah
17.431
17.102
34.533 9.868
989
10.857
Sumber : Kasi Kependudukan Kecamatan Ciampel, 2012
53
Desa Mulyasari
Desa Mulyasari merupakan salah satu desa dari tujuh desa yang berada di
wilayah administratif Kecamatan Ciampel. Desa Mulyasari memiliki dua dusun
yang keseluruhannya memiliki luas 526 hektar. Desa Mulyasari juga memiliki 2
Rukun Warga (RW) dan 15 Rukun Tetangga (RT). Secara administratif Desa
Mulyasari memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:
1. Sebelah Utara
: berbatasan dengan Desa Cimahi Kecamatan Klari
2. Sebelah Timur
: berbatasan dengan Desa Mulyasejati Kecamatan Ciampel
3. Sebelah Selatan
: berbatasan dengan Desa Kutanegara Kecamatan Ciampel
4. Sebelah Barat
: berbatasan dengan Desa Kutapohaci dan Desa Kutanegara
Kecamatan Klari
Tabel 10. Luas lahan wilayah Desa Mulyasari
No
Lahan
Luas (ha)
1
Pemukiman
254
2
Sawah Irigasi
100
3
Sawah ½ Irigasi
40
4
Sawah Tadah Hujan
3
5
Tanah Ladang
200
6
Tambak/Kolam
2
Sumber: Balai Desa Mulyasari, 2012
Jumlah penduduk di Desa Mulyasari adalah sekitar 5.382 jiwa, terdiri dari
2.662 jiwa laki-laki dan 2.720 jiwa perempuan. Desa Mulyasari juga memiliki
1.781 Kepala Keluarga dan 906 Kepala Keluarga Miskin.
Tingkat pendidikan penduduk di Desa Mulyasari sangat beragam, mulai
dari yang berpendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Namun ada sebagian
masyarakat di Desa Mulyasari yang sama sekali tidak berpendidikan, bahkan yang
tidak bisa membaca dan menulis. Rincian besarnya jumlah penduduk yang
memiliki pendidikan atau tidak dijelaskan pada Tabel 11 berikut:
54
Tabel 11. Pendidikan di Desa Mulyasari
No
Tingkat Pendidikan
Jumlah (orang)
1
Tamat SD Sederajat
500
2
Tamat SLTP Sederajat
1880
3
Tamat SLTA Sederajat
2490
4
Tamat S1 Sederajat
50
5
Tak Tamat SD Sederajat
300
6
Tak Tamat SLTP Sederajat
100
7
Tak Tamat SLTA Sederajat
300
8
Buta Huruf
80
Sumber: Balai Desa Mulyasari, 2012
Adapun kegiatan usaha yang dilakukan oleh penduduk Desa Mulyasari
diuraikan pada Tabel 12 berikut:
Tabel 12. Kegiatan Usaha Desa Mulyasari
No
Kegiatan Usaha
Jumlah (orang)
1
Pertanian
200
2
Peternakan
70
3
Industri Rumah Tangga
10
4
TNI/POLRI
5
5
Buruh/Karyawan
900
6
PNS
32
7
Jasa
10
8
Pedagang
300
9
Lain-lain
2500
Sumber: Balai Desa Mulyasari, 2012
Gambaran Umum Program Kawasan Rumah Pangan Lestari
Dalam masyarakat perdesaan, pemanfaatan lahan pekarangan untuk
ditanami tanaman kebutuhan keluarga sudah berlangsung dalam waktu yang lama
dan masih berkembang hingga sekarang meski dijumpai berbagai pergeseran dan
belum dirancang dengan baik terutama dalam menjaga kelestariannya.
55
Diversifikasi pangan sangat penting perannya dalam mewujudkan
ketahanan pangan dengan mempertimbangkan bahwa kualitas konsumsi pangan
yang dilihat dari indikator skor Pola Pangan harapan (PPH) nasional masih relatif
rendah. Pada tahun 2010 PPH mencapai 86,4 dan harus ditingkatkan terus untuk
mencapai sasaran tahun 2014 PPH sebesar 93,3. Agar mampu menjaga
keberlanjutannya, maka perlu dilakukan pembaruan rancangan pemanfaatan
pekarangan dengan memperhatikan berbagai program yang telah berjalan seperti
Desa Mandiri Pangan, Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP),
dan Gerakan Perempuan Optimalisasi Pekarangan (GPOP).
Model Kawasan Rumah Pangan Lestari merupakan himpunan dari Rumah
Pangan Lestari (RPL), yaitu rumah tangga dengan prinsip (1) pemanfaatan
pekarangan yang ramah lingkungan dan dirancang untuk pemenuhan kebutuhan
pangan dan gizi keluarga; (2) diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal; (3)
konservasi sumberdaya genetik tanaman pangan; serta (4) menjaga kelestariannya
melalui kebun bibit desa menuju peningkatan pendapatan dan kesejahteraan
masyarakat. Untuk menjaga keberlanjutannya dan mendapatkan nilai ekonomi,
maka pemanfaatan pekarangan dalam konsep program ini dilengkapi dengan unit
pengolahan serta pemasaran untuk penyelamatan hasil yang melimpah dan
peningkatan nilai tambah produk.
Total dana untuk melaksanakan program KRPL ini adalah sebesar Rp
200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) untuk setiap desanya. Anggaran ini diperoleh
dari Kementerian Pertanian melalui BBP2TP dan BPTP.
Tujuan dan Sasaran Program KRPL
Adapun tujuan dilaksanakannya progran Kawasan Rumah Pangan Lestari
antara lain adalah:
1. Memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga dan masyarakat melalui
optimalisasi pemanfaatan pekarangan secara lestari.
2. Meningkatkan kemampuan keluarga dan masyarakat dalam pemanfaatan lahan
pekarangan di perkotaan maupun perdesaan untuk budidaya tanaman pangan,
buah, sayuran dan tanaman obat keluarga (toga), pemeliharaan ternak dan ikan,
pengolahan hasil serta pengolahan limbah rumah tangga menjadi kompos.
56
3. Mengembangkan
sumber
benih/bibit
untuk
menjaga
keberlanjutan
pemanfaatan pekarangan dan melakukan pelestarian tanaman pangan lokal
untuk masa depan.
4. Mengembangkan kegiatan ekonomi produktif keluarga sehingga mampu
meningkatkan kesejahteraan keluarga dan menciptakan lingkungan hijau yang
bersih dan sehat secara mandiri.
Sasaran yang ingin dicapai dari program ini adalah berkembangnya
kemampuan keluarga dan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan dan
gizi secara lestari melalui pemanfaatan pekarangan, menuju keluarga dan
masyarakat yang sejahtera serta terwujudnya diversifikasi pangan dan pelestarian
tanaman pangan lokal.
Organisasi Pelaksana Program KRPL
Program KRPL dibangun dengan melibatkan semua elemen masyarakat
dan instansi
terkait
baik
pusat maupun daerah,
yang masing-masing
bertanggungjawab terhadap sasaran atau keberhasilan kegiatan. Secara rinci,
peran setiap elemen tersebut adalah sebagai berikut:
1. Masyarakat, terdiri dari kelompok sasaran dan Pamong Desa (RT, RW, Kadus)
dan tokoh masyarakat yang berperan sebagai pelaku utama dan pendamping,
yang bertugas untuk monitoring dan evaluasi.
2. Pemerintah Daerah (Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas
Perikanan, Badan Ketahanan Pangan Daerah, Kantor Kecamatan, Kantor
Kelurahan dan lembaga terkait lainnya), yang berperan sebagai penanggung
jawab keberlanjutan kegiatan dan bertugas melakukan pembinaan dan
pendampingan kegiatan oleh petugas lapang, serta melakukan replikasi
kegiatan ke lokasi lainnya.
3. Pokja 3, PKK, dan Kantor Ketahanan Pangan yang berperan sebagai
koordinator lapangan.
4. Ditjen Komoditas/Badan Lingkup Kementerian Pertanian, yang bertugas
melakukan pengembangan model sesuai tupoksi instansi.
5. Badan Litbang Pertanian, yang berperan sebagai narasumber dan pengawalan
inovasi teknologi dan kelembagaan, dan melakukan membangun model KRPL.
57
6. Perguruan Tinggi/Swasta/LSM, yang bertugas memberikan dukungan dan
pengawalan.
7. Pengembang perumahan, yang bertugas memfasilitasi pemanfaatan lahan
kosong di kawasan perumahan.
Mekanisme Sosialisasi Program KRPL
Dalam rangka percepatan (akselerasi) dan perluasan (eskalasi) penerapan
program KRPL tersebut, maka BBP2TP telah melaksanakan koordinasi,
sosialisasi dan advokasi, baik melalui pertemuan (rapat koordinasi dan workshop),
maupun diskusi bersama para penanggungjawab kegiatan KRPL di BPTP melalui
berbagai media komunikasi, seperti brosur maupun penyuluhan.
Upaya percepatan dan perluasan dilaksanakan selain didasarkan pada
Pedoman Umum (Pedum) KRPL yang disusun oleh Tim Badan Litbang
Pertanian, juga dilengkapi dengan Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan berbagai
jenis leaflet, poster, dan banner KRPL yang disusun/dicetak oleh Tim KRPL
BBP2TP. Suatu percontohan (display) penerapan program KRPL juga dibuat baik
di lingkungan/pekarangan kantor BBP2TP. Display ini merupakan miniatur
implementasi program KRPL, dengan tujuan agar seluruh staf lingkup BBP2TP
dan pemangku kepentingan (stakeholders) dapat secara langsung memahami
penerapan program KRPL, dan harapannya dapat diimplementasikan di
lingkungan rumah atau kantornya masing-masing.
Informasi awal mengenai program KRPL pertama kali diperoleh warga
pada dasarnya melalui sosialisasi oleh Tim KRPL Badan Litbang Kementerian
Pertanian termasuk BBP2TP dan sosialisasi Penyuluh Pertanian Lapang (PPL)
yang dilakukan di salah satu rumah warga dan balai desa. Salah satu sumber
informasi tentang adanya program ini yaitu dengan melihat langsung program
KRPL ini di Kebun Benih Desa (KBD). Namun demikian, sebagian kecil
masyarakat mengetahui program ini karena mendengar dari tetangganya.
Pelaksanaan program KRPL terdiri dari beberapa tahap, yaitu: (1) tahap
persiapan; (2) tahap pelaksanaan; (3) tahap pengamatan; dan (4) tahap evaluasi.
Yang dilakukan pada tahap persiapan terdiri dari pertemuan di tingkat desa yang
mengikutsertakan tokoh masyarakat, penyuluh pertanian, masyarakat desa untuk
58
mendiskusikan lahan mana yang akan digarap, menetapkan komoditas apa yang
ingin dihasilkan, dan menetapkan jadwal pertemuan untuk penyuluhan.
Tahap selanjutnya yaitu pelaksanaan, di mana pada tahap ini terdiri dari
kegiatan penyuluhan yang dilakukan oleh PPL yang dilakukan di rumah warga
dan balai desa; kegiatan pendampingan yang terdiri dari aktivitas pengelolaan
hama dan penyakit tanaman/ikan/ternak; dan juga dengan dibuatnya display yang
dilakukan oleh penyuluh bersama-sama masyarakat. Seluruh kegiatan ini
merupakan proses belajar yang dilakukan secara periodik di lahan pekarangan.
Pertemuan yang dilakukan secara periodik dimulai beberapa minggu sebelum
melakukan penanaman untuk melihat potensi, kendala, dan peluang komoditas
yang akan dibudidayakan. Pertemuan berikutnya dilakukan pada saat pengolahan
tanah, pembuatan persemaian, pemupukan, serta pengendalian hama.
Tahap selanjutnya adalah pengamatan, yaitu suatu pertemuan non reguler
jika ada masalah yang mendesak untuk dipecahkan, misalnya adanya serangan
hama dan penyakit tanaman. Kemudian tahap terakhir adalah kegiatan yang
dilakukan secara bersama-sama untuk mengevaluasi semua kegiatan yang dimulai
dari pengelolaan tanah, penanaman hingga penanganan pascapanen.
Adapun materi-materi yang diseminasikan pada program KRPL ini
meliputi empat aspek yaitu:
1. Penataan dan pemanfaatan lahan pekarangan
Materi diseminasi
yang disampaikan meliputi bagaimana melakukan
penanaman yang baik dengan pemanfaatan polibag, vertikultur, bedengan, pot,
pagar, budidaya ikan pada kolam, dan budidaya ternak di kandang.
2. Pemilihan komoditas
Materi diseminasi yang disampaikan kepada masyarakat pada aspek pemilihan
komoditas adalah informasi tentang pertimbangan kebutuhan pangan dan gizi
keluarga, keanekaragaman pangan, pelestarian sumber pangan lokal yang
memiliki nilai ekonomis yang menguntungkan dan peluang pasar yang besar.
3. Pembuatan kebun bibit desa
Materi diseminasi yang disampaikan kepada masyarakat pada aspek pembuatan
kebun bibit desa adalah informasi tentang proses perbanyakan dan pengelolaan
bibit dan benih untuk memenuhi kebutuhan anggota RPL maupun kawasan.
59
4. Diversifikasi pangan
Materi diseminasi yang disampaikan kepada masyarakat pada aspek
diversifikasi pangan ini meliputi informasi peningkatan konsumsi aneka ragam
pangan lokal dengan prinsip gizi seimbang.
Karakteristik Individu
Karakteristik individu dalam penelitian ini adalah umur, pendidikan,
pendapatan, pekerjaan, dan luas lahan.
Tabel 13. Distribusi responden menurut karakteristik individu
Karakteristik Individu
Umur
Muda (< 44 tahun)
Sedang (44 – 51 tahun)
Tua (> 51 tahun)
Pendidikan
SD
SMP
SMU – keatas
Pendapatan
Rendah (< Rp 800.000,00)
Sedang (Rp 800.000,00 – Rp 1.500.000,00)
Tinggi (> Rp 1.500.000,00)
Pekerjaan
Ibu Rumah Tangga
Guru
Wiraswasta
Pembantu
Petani
Buruh
Luas Pekarangan
Sempit (< 120 m2)
Sedang (120-200 m2)
Luas (> 200 m2)
Total
Jumlah (orang) Persentase (%)
15
18
17
30
36
34
46
2
2
92
4
4
45
3
2
90
6
4
25
2
9
3
8
3
50
4
18
6
16
6
33
15
2
66
30
4
n=50 orang
Umur
Umur seseorang merupakan salah satu karakteristik internal individu yang
ikut mempengaruhi fungsi biologis dan psikologis individu. Berdasarkan hasil
wawancara dengan peserta program KRPL menunjukkan bahwa struktur umur
responden di lokasi penelitian berkisar antara usia 31 – 65 tahun. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa berdasarkan proporsi umur paling banyak berada pada
60
kisaran 44-51 tahun (36%). Dalam hubungannya dengan produktivitas, jika
mengacu pada usia produktif 20 – 55 tahun, para responden umumnya tergolong
produktif. Kondisi umur produktif ini akan sangat berpengaruh terhadap motivasi
individu untuk berperan aktif dalam suatu kegiatan atau aktivitas. Hal ini sejalan
bahwa kisaran umur produktif seseorang berada pada puncak kematangan
produktivitas terutama sekali untuk pekerjaan yang bersifat pencurahan tenaga
kerja. Soekanto (2000) menyatakan bahwa masyarakat usia muda selain lebih
mudah menerima ide baru juga cenderung lebih cepat mengambil keputusan
tentang obyek yang diminati.
Pendidikan
Tingkat pendidikan merupakan cerminan tingkat penguasaan seseorang
terhadap suatu pengetahuan yang penerapannya terlihat pada perilakunya dalam
hidup bermasyarakat. Tingkat pendidikan juga memiliki peranan yang sangat
besar dalam proses penerapan teknologi dan inovasi. Umumnya semakin tinggi
tingkat pendidikan, maka semakin cepat kemampuan penyesuaian terhadap suatu
perubahan. Pendidikan responden dalam penelitian ini cukup bervariasi mulai dari
tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Dari hasil wawancara dengan
peserta program KRPL, menggambarkan bahwa tingkat pendidikan responden
masih tergolong rendah, hal ini dapat dilihat dari tingkat pendidikan masyarakat di
lokasi penelitian sebagian besar berpendidikan Sekolah Dasar. Tabel 13
menggambarkan dari seluruh responden, yang berpendidikan SD memiliki tingkat
tertinggi yaitu sebesar 92%. Kondisi ini dikarenakan ketidakmampuan mereka
untuk membiayai keperluan sekolah. Selain itu, keterbatasan sarana pendidikan
juga menjadi alasan mereka tidak menempuh pendidikan yang lebih tinggi lagi.
Dari data ini, jika dikaitkan dengan tingkat partisipasi dalam program KRPL ada
kecenderungan bahwa pendidikan berpengaruh terhadap motivassi berpartisipasi.
Menurut Soekartawi (2005) pendidikan merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi seseorang untuk berpikir lebih baik dan rasional, memilih
alternatif dan cepat untuk menerima dan melaksanakan suatu inovasi.
Pendapatan
Tingkat
pendapatan
rata-rata
responden
perbulan
diperhitungkan
berdasarkan seluruh pendapatan yang diperoleh keluarga responden dalam satu
61
bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 90% peserta program
KRPL memiliki pendapatan rendah, yaitu di bawah Rp 800.000,00. Rendahnya
pendapatan mengindikasikan bahwa sebagian besar dari mereka tidak memiliki
pekerjaan tetap (formal), rata-rata mereka hanya berprofesi sebagai ibu rumah
tangga saja tanpa melakukan pekerjaan lainnya.
Menurut hasil penelitian Hermawanto (1993), variasi pendapatan seseorang
tergantung oleh beberapa faktor antara lain:
a. Faktor yang berhubungan dengan luas penguasaan lahan garapan
b. Status kepemilikan lahan pertanian
c. Jenis usaha atau cabang usahatani yang dikerjakan
d. Macam pekerjaan tambahan, baik dari sektor pertanian maupun non pertanian.
Pekerjaan
Pekerjaan adalah bidang atau profesi yang dijalankan responden sebagai
mata pencaharian utama. Tabel 13 menunjukkan bahwa sebanyak 50% responden
tidak memiliki pekerjaan formal (tetap), melainkan hanya berprofesi sebagai ibu
rumah tangga saja. Hal ini dikarenakan responden bukanlah satu-satumya tulang
punggung keluarga yang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan rumah
tangganya. Selain menjadi ibu rumah tangga, profesi lain yang juga dijalankan
oleh responden adalah menjadi guru, buruh, pedagang, dan petani.
Luas Pekarangan
Lahan pekarangan merupakan salah satu faktor produksi yang sangat
penting dalam pengembangan program KRPL. Luas pemilikan lahan pekarangan
atau luas lahan garapan merupakan faktor penentu jumlah produksi, produktivitas,
pendapatan, dan kesejahteraan rumah tangga. Tingginya pertumbuhan penduduk,
berpengaruh terhadap tingginya penggunaan lahan, minimal untuk perumahan.
Sehingga terjadi konversi lahan yang terus menerus setiap waktu, akibatnya
keadaan fungsi lahan bergeser dari lahan pekarangan menjadi perumahan atau
kawasan industri. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa 33% responden
memiliki luas pekarangan sempit, yaitu kurang dari 120 m2.
62
Faktor Eksternal
Faktor-faktor eksternal yang dijelaskan di bawah ini merupakan suatu hal
yang mempengaruhi efektivitas komunikasi, di antaranya adalah akses informasi,
ketersediaan sarana produksi, kebijakan publik, dan intensitas penyuluhan.
Tabel 14. Rataan skor faktor eksternal
Faktor Eksternal
Rataan Skor*
Akses Informasi
1,93
Ketersediaan Saprodi
2,10
Kebijakan Publik
1,86
Intensitas Penyuluhan
2,57
Total Rataan Skor
2,12
Keterangan: *Kisaran skor 1-1,85 = rendah; 1,86-2,30 = sedang; 2,31-3 = tinggi
Dilihat pada Tabel 14, jumlah rataan faktor-faktor eksternal masuk ke dalam
kategori sedang (2,12). Ini berarti bahwa indikator-indikator akses informasi,
ketersediaan sarana produksi, kebijakan publik, dan intensitas penyuluhan relatif
baik.
Akses Informasi
Gabriel (1991) menyatakan bahwa saran teknis dan informasi dapat
menawarkan berbagai keuntungan petani dalam tugas mereka menjalani hidup.
Informasi harga, informasi kredit atau informasi pemasaran membantu petani
mengambil tindakan saat kondisi yang paling menguntungkan bagi mereka. Saran
yang tepat waktu tentang masukan teknis seperti aplikasi pupuk juga dapat
membantu meningkatkan hasil panen. Dengan demikian informasi memegang
peranan sentral dalam pengembangan petani termasuk kelompok tani di
dalamnya.
Berhasil atau tidaknya untuk menerapkan suatu teknologi dapat dipengaruhi
oleh seberapa besar informasi ittu bisa diakses. Informasi ini bisa didapat dari
penyuluh ataupun pihak-pihak lain yang mentransformasi pengetahuannya kepada
khalayak sasaran yang dituju. Dalam analisis ketersediaan informasi bagi peserta
program KRPL ini melihat tentang ketersediaan informasi dan kesesuaian
informasi yang didapat dan yang dibutuhkan.
Pada Tabel 14 di atas, memperlihatkan bahwa tingkat ketersediaan
informasi bagi responden masuk dalam kategori sedang (1,93). Ini memberikan
arti bahwa tingkat ketersediaan informasi bagi peserta program KRPL di Desa
63
Mulyasari relatif baik, namun ada juga faktor yang menyebabkan responden
memiliki keterbatasan dalam mengakses informasi. Hal ini dikarenakan
manajemen sistem informasi di tingkat desa belum dikelola secara terpadu,
sehingga responden kurang termotivasi dan aktif untuk mencari informasi, dan
kondisi ini yang menyebabkan responden sebagai peserta program KRPL selalu
tertinggal dalam memperoleh informasi.
Ketersediaan Sarana Produksi
Secara umum tersedianya faktor produksi akan meningkatkan efisiensi
produksi. Dengan efisiensi ini akan diperoleh keuntungan yang maksimal. Dalam
masalah pemaksimuman keuntungan (profit maximization), dapat dilakukan
melalui dua pendekatan, yaitu: (1) memaksimumkan keuntungan dengan cara
memperbesar total penerimaan dan (2) memaksimumkan keuntungan dengan cara
menekan biaya (cost minimization) (Soekartawi 2005); Ketersediaan sarana
produksi dalam program KRPL tentu akan memberikan kontribusi dengan
menekan biaya produksi. Dalam hal tingkat kemudahan peserta program KRPL
dalam mendapatkan sarana produksi untuk keperluan pengoptimalan lahan
pekarangan, seperti ketersediaan, kesesuaian, dan keterjangkauan harga.
Tabel 14 memperlihatkan bahwa tingkat ketersediaan sarana produksi bagi
peserta program KRPL di Desa Mulyasari masuk dalam kategori sedang (2,10).
Ini berarti bahwa ketersediaan sarana produksi di Desa Mulyasari relatif baik.
Ketersediaan sarana produksi sangat berpengaruh terhadap perkembangan
perilaku efisiensi dan daya saing peserta program KRPL. Dari hasil wawancara
dengan peserta program KRPL, dikatakan bahwa ketersediaan sarana produksi
seperti benih, pupuk, pestisida, dan alat-alat pertanian sangat terbatas, sehingga
mereka sangat sulit untuk mendapatkannya. Selain sangat terbatas, harga sarana
produksi ini juga sulit dijangkau bila disesuaikan dengan pendapatan mereka.
Sulitnya keterjangkauan harga ini terutama sekali pada harga benih dan pupuk,
karena kedua saprodi ini sangat rutin dibutuhkan.
Kebijakan Publik
Kebijakan publik yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keterlibatan
atau campur tangan pemerintah untuk menyukseskan program KRPL. Tabel 14
menunjukkan bahwa kebijakan publik terhadap program KRPL di Desa Mulyasari
64
masuk dalam kategori sedang (1,86). Ini berarti bahwa program yang bertujuan
untuk meningkatkan optimalisasi lahan pekarangan rumah tangga relatif baik.
Program KRPL ini tidak hanya dijalankan oleh suatu instansi pemerintah saja,
melainkan beberapa instansi juga bertanggung jawab atas kelangsungan program
ini, seperti BBP2TP, BPTP, Pemerintah Daerah (Dinas Pertanian Tanaman
Pangan dan Hortikultura, Dinas Perikanan, Badan Ketahanan Pangan Daerah,
Kecamatan, dan Balai Desa.
Penilaian terhadap hasil dilakukan untuk melihat pengaruh atau dampak
kebijakan, sejauh mana kebijakan mampu mengurangi atau mengatasi masalah.
Berdasarkan evaluasi ini, dirumuskanlah kelebihan dan kekurangan kebijakan
yang akan dijadikan masukan bagi penyempurnaan kebijakan berikutnya atau
perumusan kebijakan baru (Suharto, 2008).
Intensitas Penyuluhan
Intensitas penyuluhan adalah banyaknya atau jumlah kegiatan penyuluhan
yang dilakukan oleh penyuluh kepada petani maupun masyarakat untuk
memberikan edukasi agar mau dan mampu menerapkan sebuah inovasi teknologi.
Dilihat dari fungsi penyuluhan pertanian terhadap perubahan perilaku
peserta program KRPL di Desa Mulyasari akan menjadi ideal, karena semakin
banyak program penyuluhan yang dilakukan maka perubahan perilaku peserta
program KRPL di Desa Mulyasari dalam mengoptimalkan lahan pekarangannya
akan semakin tinggi pula. Oleh karena itu, semakin sukses pula program ini
diterapkan.
Tabel 14 menunjukkan bahwa intensitas penyuluhan di Desa Mulyasari
masuk dalam kategori tinggi (2,57). Ini berarti bahwa kegiatan penyuluhan di
daerah tersebut berjalan dengan baik sesuai dengan tugas dan fungsi tenaga
penyuluh. Berjalannya kegiatan penyuluhan di Desa Mulyasari ini tidak hanya
dinilai dari materi penyuluhannya saja, namun dinilai juga bagaimana ragam
kegiatan yang dilakukan, kebermanfaatannya, dan tidak kalah pentingnya adalah
keterlibatan peserta program KRPL dalam kegiatan-kegiatan penyuluhan. Hal-hal
seperti inilah yang menjadikan penilaian kegiatan penyuluhan dikategorikan baik.
65
Efektivitas Komunikasi Program KRPL
Komunikasi dikatakan efektif apabila pesan atau informasi yang
disampaikan oleh komunikator dimengerti dan diterima oleh komunikan.
Sebaliknya, komunikator mengerti dan menerima apa yang disampaikan oleh
komunikan dalam bentuk umpan balik. Komunikator dapat menerima umpan
balik dari komunikan sangat tergantung pada konteks komunikasi yang sedang
berlangsung. Oleh karena itu, seringkali dikemukakan dalam beberapa literatur
bahwa komunikasi akan efektif apabila komunikator dan komunikan memiliki
frame of references dan frame of experiences yang sama. Kedua hal ini sangat
dipengaruhi oleh faktor pengetahuan yang dimiliki atau kognitif, sikap atau
afektif, dan perilaku atau konatif. Oleh karena itu, dalam penelitian ini ketiga
faktor tersebut menjadi fokus penelitian untuk mengetahui tingkat efektivitas
komunikasi program KRPL.
Komunikasi yang efektif adalah penting dan merupakan suatu kebutuhan
bagi setiap orang, termasuk dalam aktivitas program KRPL di Desa Mulyasari.
Hal ini disebabkan karena program KRPL adalah sebuah program pengoptimalan
lahan pekarangan yang diharapkan dapat menciptakan keberdayaan rumah tangga.
Efektivitas komunikasi dalam penelitian ini mencakup aspek kognitif, afektif, dan
konatif dari responden (peserta progtam KRPL) dalam mengoptimalkan lahan
pekarangan.
Tabel 15. Rataan skor efektivitas komunikasi
Efektivitas Komunikasi
Rataan Skor*
Kognitif
2,07
Afektif
1,83
Konatif
1,79
Total Rataan Skor
1,89
Keterangan: *Kisaran skor 1-1,69 = rendah; 1,70-2,09 = sedang; 2,10-3 = tinggi
Kognitif
Kognitif atau tingkat pengetahuan peserta program tentang pengoptimalan
lahan pekarangan yang didiseminasikan dalam kegiatan transfer teknologi. Tabel
15 menunjukkan bahwa efektivitas komunikasi pada peserta program KRPL di
Desa Mulyasari masuk dalam kategori sedang (1,89). Ini berarti bahwa efektivitas
komunikasi yang terjadi pada peserta program KRPL relatif baik. Hal ini
menunjukkan bahwa peserta program KRPL di Desa Mulyasari memiliki tingkat
66
pemahaman yang cukup baik. Dengan kata lain, peserta program memahami
teknologi KRPL yang diperkenalkan melalui tenaga penyuluh pertanian.
Menurut Lasswell dalam Effendy (2007) komunikasi adalah Siapa
Mengatakan Apa Melalui Media Apa Kepada Siapa Dengan Efek Seperti Apa
(Who Says What in Which Channel to Whom and With What Effect). Pada kata
“Says What” itu merupakan makna tersirat dari pesan, yaitu apa yang
dikomunikasikan oleh sumber kepada penerima. Pesan merupakan seperangkat
simbol verbal atau non verbal yang mewakili perasaan, nilai gagasan, atau
maksud sumber.
Hasil penelitian menunjukkan responden yang menyatakan paham atau
memahami dan mengerti apa yang dimaksud dengan program KRPL sebesar 2,07.
Hal tersebut ditunjang dengan pengetahuan masyarakat tentang program KRPL,
seperti bagaimana menata pekarangan yang baik, menciptakan media tanam,
menentukan jenis komoditas, memperbanyak dan mengelola benih dan bibit,
sampai bagaimana cara meningkatkan konsumsi aneka ragam pangan dengan
prinsip gizi seimbang.
Afektif
Afektif adalah sikap responden terhadap teknologi inovatif yang
dikomunikasikan dalam kegiatan transfer teknologi melalui program KRPL.
Untuk mengetahui apakah afektif merupakan faktor atau bagian yang
mempengaruhi efektivitas komunikasi program KRPL, maka dalam penelitian ini
aspek afektif dilihat dari daya dukung, menerima, menyukai dan antusias. Hasil
penelitian
menunjukkan
bahwa
sebagian
besar
responden
menyatakan
mendukung, menerima, menyukai, dan antusias bahwa kegiatan yang dilakukan
melalui program KRPL ini telah mampu meningkatkan pengetahuan, merubah
sikap, dan merubah perilaku masyarakat dalam mengoptimalkan lahan
pekarangannya.
Skor
penilaian
responden
terhadap
inovasi
teknologi
pengoptimalan lahan pekarangan dilihat dari aspek afektif masuk dalam kategori
sedang (1,83), yang artinya program KRPL ini mampu merubah keyakinan,
pengetahuan dan sikap responden dalam mengoptimalkan lahan pekarangannya.
67
Konatif
Konatif adalah tindakan atau perilaku yang dihasilkan untuk menerapkan
teknologi inovasi yang diberikan. Berdasarkan aspek konatif atau perilaku,
responden menyatakan bahwa mereka menerima dan telah menerapkan teknologi
KRPL yang dianjurkan oleh para penyuluh. Hal tersebut terlihat dari skor yang
diberikan responden terhadap penerapan program KRPL termasuk kategori
sedang (1,79). Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan, responden
menerapkan program KRPL ini dikarenakan mereka percaya bahwa program ini
dapat membantu menghasilkan keberdayaan rumah tangga mereka karena
kebutuhan pangannya dapat tercukupi, walaupun hasilnya tidak terlalu banyak.
Berdasarkan uraian di atas, dari beberapa parameter kognitif, afektif, dan
konatif yang diamati, dapat disimpulkan bahwa komunikasi atau diseminasi
teknologi program KRPL dikatakan efektif, jika penerima paham, mengerti,
mendukung, menerima, menyukai, antusias, dan sudah menerapkan serta puas
karena sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh sumber.
Optimalisasi Lahan Pekarangan
Untuk meningkatkan kesejahteraan rumah tangga, pengoptimalan lahan
pekarangan merupakan suatu hal yang sangat penting. Tingkat kepemilikan
pekarangan di Desa Mulyasari Kecamatan Ciampel Karawang Jawa Barat dapat
dikatakan tergolong belum optimal. Program KRPL merupakan salah satu
program yang diharapkan mampu meningkatkan optimalisasi lahan pekarangan
oleh masyarakat guna memenuhi kebutuhan sehari-hari serta menciptakan peluang
bisnis. Secara umum gambaran optimalisasi lahan pekarangan di Desa Mulyasari
Kecamatan Ciampel Karawang Jawa Barat ditunjukkan pada Tabel 16.
Tabel 16. Rataan skor optimalisasi lahan pekarangan
Optimalisasi Lahan Pekarangan
Rataan Skor*
Pemanfaatan Lahan Pekarangan
2,24
Menciptakan Peluang Bisnis
2,25
Total Rataan Skor*
2,24
Keterangan: *Kisaran skor 1-1,83 = rendah; 1,84-2,67 = sedang; 2,68-3 = tinggi
68
Pemanfaatan Lahan Pekarangan
Pemanfaatan lahan pekarangan merupakan tingkat penggunaan lahan
pekarangan di dalam menghasilkan hasil panen dengan jumlah yang besar.
Pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan ini dirancang untuk pemenuhan
kebutuhan pangan dan gizi keluarga, serta untuk meningkatkan pendapatan dan
kesejahteraan masyarakat. Melalui program KRPL ini dilengkapi dengan unit
pengolahan untuk penyelamatan hasil yang melimpah dan peningkatan nilai
tambah produk.
Tabel 16 menunjukkan bahwa optimalisasi lahan pekarangan di Desa
Mulyasari melalui program KRPL termasuk ke dalam kategori sedang (2,24). Hal
tersebut menandakan bahwa program ini relatif baik. Berdasarkan hasil
wawancara dengan responden, program KRPL ini dapat meningkatkan
kemampuan keluarga dan masyarakat dalam pemanfaatan lahan pekarangan untuk
budidaya tanaman pangan, buah, sayuran dan toga.
Menciptakan Peluang Bisnis
Menciptakan peluang bisnis merupakan kemampuan mendapatkan peluang
pasar. Dalam hal ini adalah kemampuan responden dalam melihat seberapa besar
kesempatan mendapatkan keuntungan dari tanaman yang dijual. Tabel 16
menunjukkan bahwa indikator menciptakan peluang bisnis secara keseluruhan
masuk ddalam kategori sedang (2,54). Hal ini mengindikasikan bahwa
kemampuan responden untuk menciptakan peluang bisnis tidak terlalu baik.
Sebagian besar hasil panen yang bisa dijual adalah jenis sayur-sayuran
seperti selada, caysim, cabe dan tomat. Walaupun tidak dalam jumlah yang cukup
besar, tetapi paling tidak hasil penjualan ini cukup untuk mengurangi beban
belanja keluarga.
Hubungan Karakteristik Individu dengan Efektivitas Komunikasi
Karakteristik individu merupakan peubah yang biasanya diukur dalam
setiap penelitian. Menunjukkan suatu ciri atau keadaan seseorang yang bersumber
dari unsur keturunan dan kemudian berkembang sesuai dengan perkembangan
lingkungan. Terdiri dari beberapa indikator, yaitu umur, tingkat pendidikan,
pendapatan, pekerjaan, luas pekarangan dan status pekarangan. Peubah
69
karakteristik individu ini akan diuji dengan metode analisis statistik dengan
peubah efektivitas komunikasi. Efektivitas komunikasi itu sendiri adalah sejauh
mana terjadi perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku yang terjadi pada diri
seseorang. Keberhasilan komunikasi bukan hanya diukur dari jumlah kata-kata
yang diucapkan, tetapi sejauh mana kualitas seseorang berkomunikasi. Dapat
dikatakan bahwa berkomunikasi adalah terlibat dalam makna-makna dengan
harapan mencapai pemahaman bersama. Pengertian ini berarti komunikasi yang
sangat penting adalah keefektivan di dalam memahami substansi pesan termasuk
manfaat dan dampak pesan yang dikomunikasi atas perubahan sosial, ekonomi,
teknis, kelembagaan dan lingkungan sekitarnya. Jadi efektivitas komunikasi
merupakan salah satu tujuan yang ingin dicapai dalam berkomunikasi, bahkan
merupakan tingkat pencapaian keberhasilan seseorang. Efek pesan yang diamati
dalam penelitian ini meliputi pemahaman, sikap dan tindakan.
Untuk mengetahui hubungan antara peubah tersebut, dilakukan pengujian
statistik dengan menggunakan uji korelasi rank Spearman dengan program SPSS
19. Hasil uji rank Spearman terhadap korelasi antara peubah karakteristik individu
dan peubah efektivitas komunikasi dalam menerapkan teknologi KRPL disajikan
pada di bawah ini.
Tabel 17. Koefisien korelasi karakteristik individu dengan efektivitas
komunikasi
Karakteristik
Individu
Umur
Pendidikan
Pendapatan
Luas Lahan
Kognitif
0,052
0,318*
0,150
0,487**
Efektivitas Komunikasi
Afektif
0,31
0,314*
0,097
0,293*
Konatif
0,122
0,285*
0,044
0,352*
Keterangan: *berhubungan nyata pada p<0,05 **berhubungan sangat nyata pada p<0,01
Berdasarkan hasil analisis statistik pada Tabel 17, indikator dari peubah
karakteristik individu yaitu pendidikan dan luas lahan berhubungan nyata positif
(p<0,05) dengan efektivitas komunikasi. Hal ini menunjukkan bahwa semakin
tinggi pendidikan responden maka semakin baik juga tingkat efektivitas
komunikasinya. Artinya, responden memiliki pemahaman, keinginan, dan
perilaku yang sesuai dan yang diharapkan oleh sumber pesan dalam
menginterpretasi pesan yang mereka terima. Dengan tingkat pendidikan yang
70
tinggi, sebagian besar responden lebih mudah memahami isi pesan tentang
program pemanfaatan pekarangan atau program KRPL. Selain itu, responden
yang memiliki pendidikan tinggi cenderung untuk menerapkan program KRPL
guna meningkatkan kesejahteraan rumah tangga. Sementara itu, untuk responden
yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah cenderung kurang ingin untuk
menerapkan program ini dikarenakan mereka belum memahami manfaat yang
dihasilkan dari program KRPL ini. Chaudri (1979) dalam Soekartawi (2005)
menyatakan bukan hal yang baru bahwa pendidikan dinilai sebagai sarana
meningkatkan pendidikan atau pengetahuan tentang teknologi pertanian baru.
Indikator lain dari peubah karakteristik individu yang juga memiliki
hubungan nyata positif dengan peubah efektivitas komunikasi adalah luas
pekarangan. Tingkat kepemilikan luas pekarangan memiliki hubungan yang
sangat nyata postitif (p<0,01) dengan indikator kognitif. Hal ini dikarenakan
semakin luas pekarangan yang dimiliki responden, semakin besar keinginan
responden
untuk
mendapatkan
pengetahuan
tentang
bagaimana
cara
mengoptimalkan lahan pekarangan tersebut. Hal ini dapat dilihat dari responden
yang memiliki luas pekarangan yang tinggi memiliki antusias yang besar dalam
memperoleh informasi tentang program KRPL, baik dengan mengikuti setiap
kegiatan penyuluhan yang dilakukan BPTP maupun dengan mencari informasi
dari pihak-pihak yang terkait.
Untuk indikator luas pekarangan berhubungan nyata postitif (p<0,05)
dengan indikator afektif dan konatif. Tingginya antusias responden dalam
memperoleh informasi tentang program KRPL juga diikuti keinginan untuk
menerapkan tentang bagaimana caara mengoptimalkan pemanfaatan pekarangan
seperti menanam tanaman sayuran, toga, serta budi daya hewan ternak dan ikan.
Akan tetapi, faktor lain seperti keterbatasan waktu luang responden untuk fokus
dalam mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan menjadi suatu kendala.
Hal ini dikarenakan kesibukan responden, baik yang berprofesi sebagai ibu rumah
tangga, guru, maupun yang berprofesi sebagai wiraswasta.
Sedangkan indikator dari peubah karakteristik individu yang tidak
berhubungan nyata dengan efektivitas komunikasi adalah indikator umur dan
pendapatan. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman, sikap dan tindakan
responden tidak tergantung umur responden. Bahwa ada responden yang masih
71
muda biasanya mempunyai semangat untuk ingin tahu apa yang belum mereka
ketahui, sehingga dengan demikian mereka berusaha untuk lebih cepat untuk
mencari informasi tentang pengoptimalan lahan pekarangan walaupun sebenarnya
mereka masih belum berpengalaman dalam hal tersebut. Pada responden yang
umurnya dalam kategori tua masih mau untuk berusaha mengembangkan
teknologi tersebut dengan meningkatkan pemahaman, bersikap kritis terhadap
teknologi dan mau melakukan teknologi yang sifatnya menguntungkan dan
mudah untuk dilaksanakan. Soekartawi (2005) menyatakan bahwa petani yang
lebih tua tampaknya kurang cenderung melakukan difusi inovasi pertanian
daripada mereka yang relatif umur muda, namun bukan berarti bahwa mereka
tidak mau menerima perubahan untuk orang lain.
Indikator yang juga tidak berhubungan nyata peubah efektivitas komunikasi
adalah pendapatan. Hal ini berarti bahwa pendapatan responden yang berbeda
(tinggi atau rendah) tidak mempengaruhi tingkat efektivitas komunikasinya.
Responden yang pendapatan tinggi ada perasaan puas atau merasa cukup terhadap
pendapatan
setiap
bulannya
sehingga
mengabaikan
teknologi
tentang
pengoptimalan lahan pekarangan melalui program KRPL yang dikenalkan, karena
mereka menganggap bahwa program ini tidak mampu meningkatkan ekonomi
keluarga. Adapula dengan pendapatan yang tinggi tetap menginginkan hasil yang
tinggi karena dengan hasil pendapatan yang tinggi dari pekerjaannya baik dalam
mengoptimalkan lahan pekarangannya dan pekerjaan lainnya dijadikan sebagai
investasi kapital untuk menerapkan program pemberdayaan selanjutnya.
Sebaliknya pendapatan rendah menyebabkan ada responden lambat dalam
menerapkan program KRPL ini, disebabkan karena kekurangan modal, karena
dalam penerapan teknologi ini dibutuhkan biaya sehingga menyebabkan adanya
rasa kurang tertarik terhadap teknologi KRPL. Di sisi lain, ada pula responden
walaupun berpenghasilan rendah dengan mengambil resiko meminjam untuk
dijadikan modal agar bisa menerapkan program KRPL ini.
Reijntjes et al. (1999) menyatakan bahwa beberapa pengetahuan tertentu
bisa terkait dengan peran ekonomi dan budaya dalam masyarakat dan tidak
diketahui oleh anggota komunitas lainnya. Individu-individu atau kelompok
berbeda memiliki jenis pengetahuan yang berbeda pula, tergantung pada fungsi
ekonomi mereka dalam masyarakat.
72
Umur dan pendapatan tidak berhubungan nyata dengan efektivitas
komunikasi pada aspek pemahaman, sikap dan tindakan. Dengan kata lain,
komunikasi yang efektif tidak tergantung kepada umur dan pendapatan.
Dari penjelasan tentang hubungan antara karakteristik individu dengan
efektivitas komunikasi, beserta juga penjelasan indikator-indikatornya maka dapat
dikatakan bahwa hipotesis satu (H1) yang menyatakan terdapat hubungan yang
nyata positif antara karakterisitk individu dengan efektivitas komunikasi, maka
secara umum dapat diterima.
Hubungan Faktor Eksternal dengan Efektivitas Komunikasi
Hasil uji rank Spearman terhadap korelasi antara peubah faktor eksternal
dan efektivitas komunikasi dalam menerapkan teknologi KRPL disajikan pada
Tabel 18.
Tabel 18. Koefisien korelasi
komunikasi
Faktor
Eksternal
Akses Informasi
Sarana Produksi
Kebijakan Publik
Intensitas Penyuluhan
faktor
Kognitif
0,248
0,216
0,391**
0,403**
eksternal
dengan
Efektivitas Komunikasi
Afektif
0,272
0,065
0,309*
0,337*
efektivitas
Konatif
0,321*
0,231
0,381*
0,314*
Keterangan: *berhubungan nyata pada p < 0,05
**berhubungan sangat nyata pada p < 0,01
Berdasarkan Tabel 18, indikator akses informasi berhubungan nyata positif
(p<0,05) dengan peubah efektivitas komunikasi. Hal ini dikarenakan responden
mudah untuk mendapatkan informasi tentang program KRPL dari pihak terkait
(stakeholder). Kondisi ini juga didukung karena penyuluh (PPL) adalah warga
Desa Mulysari, sehingga setiap saat apabila responden membutuhkan informasi
dapat menemui langusng PPL tersebut. Selain itu, pihak BPTP Jawa Barat juga
sering turun langsung ke lapangan untuk memberikan informasi atau penyuluhan.
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa peubah sarana produksi tidak
memiliki hubungan nyata dengan efektivitas komunikasi, hal ini disebabkan
sarana produksi (pupuk, benih, dan lain-lain) sudah disediakan langsung oleh
BPTP, sehingga masyarakat tidak perlu lagi mencari dan membeli sarana produksi
ini
73
Indikator kebijakan publik memiliki hubungan yang sangat nyata (p<0,01)
dengan peubah efektivitas komunikasi. Dikarenakan program KRPL ini
merupakan salah satu program Kementerian Pertanian yang bertujuan membantu
masyarakat dalam mengoptimalkan lahan pekarangannya sehingga mampu
menghasilkan kemandirian dan keberdayaan pada masyarakat itu sendiri.
Berdasarkan juga pada uji korelasi rank Spearman antara peubah intensitas
penyuluhan dengan efektivitas komunikasi secara kognitif, didapatkan hasil
bahwa di antara kedua peubah tersebut memiliki hubungan yang sangat nyata
(p<0,01) didukung oleh intensitas penyuluhan tentang program KRPL di desa
tersebut dilakukan secara aktif. Selain itu, hal ini juga dipengaruhi karena
penyuluh memberikan informasi tentang program KRPL secara baik dan jelas,
penyuluh dikenal baik karena dia adalah warga Desa Mulyasari sendiri, dan
penyuluh mudah ditemui apabila ada responden yang mengalami masalah dalam
melaksanakan program KRPL ini. Sementara hubungan antara peubah intensitas
penyuluhan dengan efektivitas komunikasi secara afektif dan konatif memiliki
hubungan yang nyata (p<0,05). Dengan alasan, intensitas penyuluhan merupakan
salah satu faktor yang menstimulus adanya perubahan sikap responden agar ingin
mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang program KRPL dan kemudian
menerapkan program tersebut sebagai upaya untuk mencukupi kebutuhan rumah
tangganya melalui pengoptimalisasian lahan pekarangan yang mereka miliki.
Secara umum dari penjelasan tentang hubungan antara faktor eksternal
dengan efektivitas komunikasi, beserta juga penjelasan indikator-indikatornya
maka dapat dikatakan bahwa hipotesis dua (H2) yang menyatakan terdapat
hubungan yang nyata positif antara faktor eksternal dengan efektivitas
komunikasi, maka secara umum dapat diterima.
Hubungan Efektivitas Komunikasi dengan Optimalisasi Lahan Pekarangan
Hasil uji rank Spearman terhadap korelasi antara peubah efektivitas
komunikasi dan optimalisasi lahan pekarangan disajikan pada Tabel 19.
74
Tabel 19. Koefisien korelasi efektivitas komunikasi dengan optimalisasi
lahan pekarangan
Efektivitas
Optimalisasi Lahan Pekarangan
Komunikasi
Pemanfaatan Pekarangan
Menciptakan Peluang Bisnis
Kognitif
0,300*
0,103
Afektif
0,348*
0,040
Konatif
0,358*
0,017
Keterangan: *berhubungan nyata pada p < 0,05
Berdasarkan Tabel 19, indikator-indikator pada peubah efektivitas
komunikasi memiliki hubungan nyata (p<0,05) dengan indikator pemanfaatan
pekarangan. Hal ini disebabkan sebagian besar responden menilai bahwa
pemanfaatan lahan pekarangan itu dapat dilakukan dengan mudah apabila
diberikan informasi secara benar dan jelas, serta dipandu oleh penyuluh mengenai
cara menerapkannya, serta didukung dengan fasilitas (sarana) yang sesuai.
Efektivitas komunikasi ini ditandai dengan kondisi responden yang paham, setuju,
serta mau melakukan tindakan untuk memanfaatan lahan pekarangan sebaikbaiknya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan (juklak) program KRPL yang
disampaikan penyuluh. Hal ini didukung dengan hasil penelitian Nurhayati (2011)
bahwa
efektivitas
komunikasi
yang disampaikan oleh penyuluh
dapat
mempengaruhi perubahan perilaku, terutama dalam pemahaman dan mengarahkan
sikap meskipun belum optimal. Responden melihat adanya peluang yang hasilnya
nanti bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan mereka sehari-hari. Sebaliknya,
indikator-indikator pada efektivitas komunikasi seperti kognitif, afektif, dan
konatif tidak memiliki hubungan nyata dengan indikator peluang bisnis. Hal ini
dikarenakan optimalisasi lahan pekarangan hasilnya hanya mampu untuk
mencukupi kebutuhan serta mengurangi beban belanja responden saja,
dikarenakan jumlah hasil panen lahan pekarangan mereka jumlahnya terbatas. Hal
ini juga didukung oleh hasil penelitian Indra (2011) yang menemukan bahwa
efektivitas komunikasi tidak memiliki hubungan nyata terhadap kemampuan
petani dalam mendapatkan peluang pasar.
Hasil penelitian Arifin et al (2007) menunjukkan bahwa optimalisasi lahan
pekarangan dapat dilakukan usahatani tanaman jenis-jenis berpotensi (buahbuahan, sayuran, dan tanaman hias) dan ternak yang berpotensi (ayam kampung,
domba, kambing dan sapi), juga dilakukan bisnis non-pertanian, yaitu bengkel,
75
kios, kerajinan anyaman, industri kecil rumahan, menjahit, dan lain sebagainya.
Meskipun prosentasi kontribusi hasil pekarangan terhadap tambahan pangan
keluarga di perdesaan (energi, protein, dan vitamin) relatif kecil terhadap
kebutuhan total, tetapi hal tersebut sangat berarti sebagai tambahan pangan
keluarga.
Dari penjelasan hubungan antara efektivitas komunikasi dengan
optimalisasi lahan pekarangan, beserta juga penjelasan indikator-indikatornya
maka dapat dikatakan bahwa hipotesis penelitian yang menyebutkan “terdapat
hubungan nyata positif antara efektivitas komunikasi dengan optimalisasi lahan
pekarangan” secara umum dapat diterima.
77
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diambil
beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Program optimalisasi lahan pekarangan yang dilaksanakan di Desa Mulyasari
Kecamatan Ciampel Karawang Jawa Barat berlangsung cukup efektif pada
tataran kognitif, afektif, dan konatif. Hal ini dibuktikan bahwa sebagian peserta
program KRPL dapat memahami informasi yang mereka dapatkan dari
penyuluh tentang program tersebut, mereka juga ingin menerapkan program
optimalisasi lahan pekarangan ini, serta mereka juga menjalankan program
Kementerian Pertanian ini agar mampu mengoptimalkan lahan pekarangan
yang mereka miliki.
2. Karakteristik individu yang berhubungan nyata positif dengan efektivitas
komunikasi adalah pendidikan dan luas lahan. Faktor eksternal yang
berhubungan nyata positif dengan efektivitas komunikasi adalah akses
informasi, kebijakan publik, dan intensitas penyuluhan.
3. Efektivitas komunikasi (kognitif, afektif, konatif) program KRPL yang
berhubungan nyata dengan optimalisasi lahan pekarangan adalah optimalisasi
pemanfaatan pekarangan.
Saran
1. Untuk meningkatkan efektivitas komunikasi pada program KRPL di Desa
Mulyasari ini, sumber pesan dalam hal ini adalah penyuluh secara aktif perlu
memberikan treatment komunikasi demi meningkatkan motivasi peserta
program KRPL di Desa Mulyasari agar mereka yakin bahwa lahan pekarangan
yang dimilikinya dapat dioptimalkan secara baik agar tidak dibiarkan begitu
saja tanpa adanya manfaat yang dapat diraih. Selain itu, komitmen pemerintah
untuk melibatkan rumah tangga dalam mewujudkan kemandirian pangan,
diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal, konservasi tanaman pangan,
dan keberlanjutannya melalui kebun bibit desa, perlu diaktualisasikan dalam
menggerakkan lagi budaya menanam di lahan pekarangan, baik di perkotaan
maupun di perdesaan.
78
2. Penyuluh pertanian perlu lebih intensif melakukan penyuluhan tentang
pemanfaatan lahan pekarangan yang dimiliki oleh setiap peserta program
KRPL. Karena program KRPL ini bukan hanya diperuntukkan bagi peserta
yang berusia sekitar 40-50 tahun dan yang memiliki penghasilan rendah saja,
tetapi ini juga berlaku untuk siapa pun yang sekiranya memiliki lahan
pekarangan kosong. Selain itu, ketersediaan sarana produksi juga agar lebih
ditingkatkan lagi agar peserta program KRPL mudah untuk mendapatkan
segala hal yang berkaitan dengan pengoptimalan lahan pekarangan mereka
seperti bibit, pupuk, dan saprodi lainnya.
3. Untuk meningkatkan optimalisasi lahan pekarangan, efektivitas komunikasi
dalam program KRPL perlu lebih ditingkatkan melalui proses sosialisasi,
pendampingan, dan pelatihan-pelatihan (pendidikan informal) yang aktif agar
melalui program optimalisasi lahan pekarangan ini mampu menciptakan
peluang usaha agrobisnis bagi peserta program KRPL.
79
DAFTAR PUSTAKA
Anas, P. 2003. Efektivitas Komunikasi Program Pemberdayaan Ekonomi
Masyarakat Pesisir (Kasus Cilincing dan Kepulauan Seribu). [tesis]
Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Arifin, H. S, A. Munandar, W.Q. Mugnisjah, T. Budiarti, NHS Arifin, Q.
Pramukanto. 2007. Homestead Plot Survey on Java. Research Report.
Department of Landscape Architecture IPB & Rural Development Institute
(RDI) Seattle USA.
Arikanto, S. 2009. Metode Penelitian Deskriptif. Remaja Rosda Karya. Jakarta.
_________. 2010. Peran Komunikasi Pembangunan dalam Pemberdayaan
Masyarakat Pesisir. Jurnal Penyuluhan Nomor: 1, Volume: 08. Tahun
2010. Mayor Penyuluhan Pembangunan FEMA. Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Astuti, D. W. 2003. Keefektivan Komunikasi dalam Pelaksanaan Program
Penanggulangan Kemiskinan (Kasus Pembinaan Peningkatan Pendapatan
Petani Nelayan Kecil di Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu
Utara, Provinsi Bengkulu). [tesis] Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Berlo, D. K. 1960. The Process of Communication: An Introduction to Theory and
Practice. Hort, Rinehart and Winston. New York.
Cangara, H. 2000. Pengantar Ilmu Komunikasi. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Danoesastro, H. 1976. Pekarangan. Yayasan Pembinaan Fakultas Pertanian.
Universitas Gajah Mada. Yogyakarta
Depari, E., dan McAndrews C. 1998. Peranan Komunikasi Massa dalam
Pembangunan. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
DeVito, J. A. 1997. Komunikasi Antar Manusia: Professional Book Hunter
College of The City. University of New York. New York.
Dilla, S. 2007. Komunikasi Pembangunan Pendekatan Terpadu. Simbiossa
Rekatama Media. Bandung.
Djaali, M. 2004. Pengukuran dalam Bidang Pendidikan. Program Pascasarjana
Universitas Negeri Jakarta. Jakarta.
Djunaedi. 2003. Efektivitas Komunikasi di dalam Program Swadaya di
Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor. [tesis] Sekolah Pascasarjana.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
80
Effendy, O. U. 2000. Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi. Citra Aditya Bakti.
Bandung.
____________. 2001. Dinamika Komunikasi. Remaja Rosdakarya. Bandung.
____________. 2003. Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi. Citra Aditya Bakti.
Bandung.
Ernawati, E. 2011. Efektivitas Komunikasi dalam Sosialisasi Kegiatan Program
Posdaya di Desa Binaan IPB. [tesis] Sekolah Pascasarjana. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Gabriel, T. 1991. The Humas Factor in Rural Development. Belhaven Press.
London.
Gibson, LL, Incevich MJ, Donnely HJ. 1997. Organisasi dan Manajemen:
Perilaku Struktur dan Proses. Erlangga. Bandung.
Hermawanto VR. 1993. Hubungan Karakterstik Petani yang Menanam Varietas
Padi Unggul Lokal dan Persepsi Mereka Tentang Varietas Tersebut di
Desa Gledek Kabupaten Klaten Jawa Tengah dan Desa Jambudipa
Kabupaten Cianjur Jawa Barat. [tesis] Sekolah Pascasarjana Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Humaedah, U. 2007. Peranan Kontak tani dalam Difusi dan Inovasi (Kasus
Penyebaran Benih Padi Bersertifikat di UPT BPP Menes Kabupaten
Pandeglang Provinsi Banten). [tesis] Sekolah Pascasarjana Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Hosio, J. E. 2007. Kebijakan Publik dan Desentralisasi (Esai-Esai Dari Serong).
Laksbang. Yogyakarta.
Indra, R. 2011. Efektivitas Komunikasi Kelompok Tani dalam Mewujudkan
Keberdayaan Petani di Kabupaten Aceh Singkil. [tesis] Sekolah
Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Irawan, P. 2007. Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif Untuk Ilmu-Ilmu Sosial.
FISIP UI. Jakarta.
Iskandar. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan Pada Sosial Kuantitatif dan
Kualitatif. Gaung Persada Press. Ciputat Jakarta.
Jahi, A. 1998. Komunikasi Massa dan Pembangunan Pedesaan di Negara-Negara
Dunia Ketiga. Gramedia. Jakarta.
81
Khush, G. S. 2002. Food Security By Design: Improving The Rice Plant in
Partnership with NARS. Makalah disampaikan Pada Seminar IPTEK padi
Pekan Padi Nasional di Sukamandi 22 Maret 2002
Lionberger, H. F., dan Gwin, P. H. 1982. Communication Strategic: A Guide For
Agricultural Change Agents. The Interstate Printers and Publisher Inc.
Columbia Campus. Denville Illionis.
Littlejohn, S. W. 1996. Theories of Human Communication. Wadsworth
Publication. New Jersey.
Mardikanto, T. 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Sebelas Maret
University Press. Surakarta.
Mantra IB, Kasto. 1995. Penentuan Sampel. Dalam Singarimbun M, Effendi S.
Metode Penelitian Survai. LP3ES. Jakarta
Nurhayati, 2011. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Komunikasi di
dalam Sekolah Lapang Padi (Kasus di Kelurahan Cikarawang Kecamatan
Bogor Barat Kota Bogor). [tesis] Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Parsons, W. 2006. Public Policy: Pengantar Teori dan Praktik Analisis
Kebijakan. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.
Pearce, B. 1986. Development As Communication: A Perspective on India. Illinois
University Press. Carbonale Southern.
Purwasito, A. 2003. Komunikasi Multikultural. Muhammadiyah University Press.
Yogyakarta.
Rakhmat, J. 2005. Metode Penelitian Komunikasi. Remaja Rosdakarya. Jakarta.
_________. 2007. Psikologi Komunikasi. Remaja Rosdakarya. Bandung.
Reijntjes C, Haverkort B, Water-Bayer. 1999. Pertanian Masa Depan. Pengantar
Untuk Pertanian Berkelanjutan Dengan Input Luar Daerah. Kanisius.
Yogyakarta.
Ruben, B. D. and Stewart L, P. 1988. Communication and Human Behaviour.
MacMillian Publishing. New York.
Rukmana, R. 2004. Temu-temuan, Apotek Hidup di Pekarangan. Kanisius.
Yogyakarta
Schramm, W dan Kincaid, D. L. 1977. Azas-azas Komunikasi Antar Manusia.
LP3ES. Jakarta.
82
Sevilla, C. G., Jesus A. O., Twila G. P., Bella P. R., Gabriel G. U. 1993.
Pengantar Metoda Penelitian. Terjemahan Alimudin Tuwu. Universitas
Indonesia Press. Jakarta.
Singarimbun, M., Effendi, S. 2006. Metode Penelitian Survei. LP3ES. Jakarta
Slamet, M. 2003. Membentuk Pola Perilaku Pembangunan: Paradigma Baru
Penyuluhan Pertanian di Era Otonomi Daerah. Penyunting Ida Yustina
dan Adjat Sudrajat. IPB Press. Bogor.
Soekanto, S. 2000. Sosiologi: Suatu Pengantar. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Soekartawi. 2005. Prinsip Dasar Komunikasi Pertanian. UI Press. Jakarta.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif R & D. Alfabeta.
Bandung.
Suharto, E. 2008. Analisis Kebijakan Publik, Panduan Praktis Mengkaji Masalah
Kebijakan Sosial. Alfabeta. Bandung.
Sumardjo. 1999. Transformasi Model Penyuluhan Pertanian Menuju
Pengembangan Kemandirian Petani. Kasus di Provinsi Jawa Barat.
[disertasi] Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sutawan, N. 2000. Mengembangkan Organisasi Ekonomi Petani Berbasiskan
Subak: Corporate Farming Ataukah Ada Alternatif Lain? Jurnal VISI,
Nomor: 17 Tahun 1998. Pusat Studi Irigasi, Sumberdaya Air, Lahan dan
Pembangunan Universitas Andalas. Padang.
Suwanda, F. N. 2008. Analisis Efektivitas Komunikasi Model Prima Tani Sebagai
Diseminasi Teknologi Pertanian di Desa Citarik Kabupaten Karawang
Jawa Barat. [tesis] Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Tangkilisan, H. N. 2003. Kebijakan Publik yang Membumi. Lukman Offset &
YPAPI. Yogyakarta.
Topatimasang, R., Fakih M, Raharjo T. 2000. Merubah Kebijakan Publik. Pustaka
Pelajar (anggota IKAPI). Yogyakarta.
Tubbs, S. L, Moss, S. 2005. Human Communication: Prinsip-Prinsip Dasar.
Remaja Rosdakarya. Bandung.
van den Ban, A. W., Hawkins, H. S. 1999. Penyuluhan Pertanian. Kanisius.
Yogyakarta.
Wirartha, I. M. 2006. Metodologi Penelitian Sosial Ekonomi. Andi Yogyakarta.
83
West, R dan Turner, L. H. 2008. Pengantar Teori Komunikasi, Analisis dan
Aplikasi. Salemba Humanika. Jakarta.
Wood, J. 2004. Communication Theories in Action an Introduction. Third Edition.
Thomson Wadsworth. USA.
Young, E., Quinn, L. 2002. Writing effective Public Policy Paper: A Guide of
Advisers in Central and Eastern Europe. Local Government and Public
Service Reform Initiative. Budapest.
95
Lampiran 2: Uji Validitas dan Reliabilitas
Validitas dan Reliabilitas Peubah Akses Informasi
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha
N of Items
.932
10
Item-Total Statistics
akses2
akses3
akses4
akses5
akses6
akses7
akses8
akses9
akses10
akses11
Scale
Corrected
Scale Mean if Variance
if Item-Total
Item Deleted Item Deleted Correlation
Cronbach's
Alpha if Item
Deleted
16.6667
16.8000
17.6667
17.4000
17.6000
17.5333
17.6000
17.6667
16.9333
16.9333
.919
.940
.917
.917
.933
.932
.922
.922
.919
.925
23.381
25.171
22.381
20.543
24.257
24.267
22.114
22.952
22.067
22.781
.906
.410
.889
.881
.564
.579
.796
.784
.848
.729
96
Validitas dan Reliabilitas Peubah Sarana Produksi, Kebijakan Publik, dan
Intensitas Penyuluhan
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha
N of Items
.848
11
Item-Total Statistics
saprodi1
saprodi2
saprodi3
publik1
publik2
publik3
penyuluhan1
penyuluhan2
penyuluhan3
penyuluhan4
penyuluhan5
Scale
Corrected
Scale Mean if Variance
if Item-Total
Item Deleted Item Deleted Correlation
Cronbach's
Alpha if Item
Deleted
24.6000
24.4667
24.4667
24.1333
25.5333
24.8667
24.2000
24.2000
23.9333
24.0667
24.2000
.825
.808
.821
.844
.828
.840
.834
.849
.842
.827
.855
13.543
13.124
14.267
15.695
15.267
13.410
15.600
16.457
16.781
14.924
16.886
.646
.808
.694
.411
.649
.548
.556
.325
.536
.633
.214
97
Validitas dan Reliabilitas Peubah Efektivitas Komunikasi
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha
N of Items
.970
42
Item-Total Statistics
kognitif1
kognitif2
kognitif3
kognitif4
kognitif5
kognitif6
kognitif7
kognitif8
kognitif9
kognitif10
kognitif11
kognitif12
kognitif13
kognitif14
afektif1
afektif2
afektif3
afektif4
afektif5
afektif6
afektif7
afektif8
afektif9
afektif10
afektif11
afektif12
afektif13
afektif14
konatif1
Scale
Corrected
Scale Mean if Variance
if Item-Total
Item Deleted Item Deleted Correlation
Cronbach's
Alpha if Item
Deleted
82.0667
82.6000
82.5333
82.2000
82.3333
83.2667
83.0000
83.0667
83.2000
82.6667
82.8000
82.8000
82.1333
83.0000
82.1333
82.7333
83.0667
82.1333
82.0667
83.2000
82.8667
83.2667
83.3333
82.4667
83.0000
83.0000
83.1333
83.0000
82.2000
.969
.968
.971
.969
.969
.969
.970
.969
.970
.969
.968
.968
.970
.969
.969
.969
.968
.970
.969
.970
.970
.970
.970
.969
.968
.968
.968
.968
.969
413.210
392.686
410.838
407.029
412.095
406.924
419.286
413.495
413.743
392.810
387.314
391.314
413.124
401.286
409.838
391.067
392.495
411.267
413.352
416.600
403.552
419.067
417.381
408.981
389.429
389.429
391.124
389.429
410.886
.609
.836
.366
.853
.591
.842
.312
.593
.521
.788
.926
.820
.574
.658
.742
.798
.823
.441
.601
.381
.575
.256
.336
.787
.857
.857
.846
.857
.662
98
konatif2
konatif3
konatif4
konatif5
konatif6
konatif7
konatif8
konatif9
konatif10
konatif11
konatif12
konatif13
konatif14
82.4000
83.0667
82.1333
82.0667
83.4667
83.2000
83.2000
83.4000
83.0000
83.0000
82.9333
82.5333
83.1333
403.686
408.638
414.981
418.781
409.267
413.600
410.457
411.829
391.857
391.857
393.781
413.695
400.838
.813
.429
.479
.307
.772
.528
.683
.615
.859
.859
.763
.582
.711
.969
.970
.970
.970
.969
.970
.969
.969
.968
.968
.969
.970
.969
99
Validitas dan Reliabilitas Peubah Optimalisasi Lahan Pekarangan
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha
N of Items
.909
10
Item-Total Statistics
optimal1
optimal2
optimal3
optimal4
optimal5
optimal6
bisnis1
bisnis2
bisnis3
bisnis4
Scale
Corrected
Scale Mean if Variance
if Item-Total
Item Deleted Item Deleted Correlation
Cronbach's
Alpha if Item
Deleted
19.8667
19.8000
19.7333
20.4000
20.0667
19.9333
20.0000
20.0000
20.0000
20.0000
.911
.899
.903
.911
.914
.909
.884
.884
.884
.884
29.267
27.600
28.067
29.686
29.495
27.638
22.286
22.286
22.286
22.286
.451
.756
.649
.450
.379
.507
.895
.895
.895
.895
100
Lampiran 3. Uji korelasi karakteristik individu dengan efektivitas
komunikasi
Kognitif
Umur
Afektif
Correlation
.052
.031
Coefficient
Sig. (2-tailed)
.719
.832
N
50
50
Pendidikan Correlation
.318*
.314*
Coefficient
Sig. (2-tailed)
.024
.026
N
50
50
Pendapatan Correlation
.150
.097
Coefficient
Sig. (2-tailed)
.297
.504
N
50
50
Luas lahan Correlation
.487**
.293*
Coefficient
Sig. (2-tailed)
.000
.039
N
50
50
* Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Konatif
.122
.401
50
.285*
.045
50
.044
.763
50
.352*
.012
50
101
Lampiran 3. Uji korelasi karakteristik individu dengan efektivitas
komunikasi
Umur
Pendidikan
Pendapatan
Luas lahan
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Kognitif
Afektif
Konatif
.052
.031
.122
.719
50
.832
50
.401
50
.318*
.314*
.285*
.024
50
.026
50
.045
50
.150
.097
.044
.297
50
.504
50
.763
50
.487**
.293*
.352*
.000
50
.039
50
.012
50
102
Uji Korelasi Faktor Eksternal dengan Efektivitas Komunikasi
Akses Informasi
Sarana Produksi
Kebijakan Publik
Intensitas Penyuluhan
Correlation Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Correlation Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Correlation Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Correlation Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Kognitif
.248
.083
50
.216
.132
50
.437**
.002
50
.403**
.004
50
Afektif
.272
.056
50
.065
.653
50
.392**
.005
50
.337*
.017
50
Konatif
.321*
.023
50
.231
.107
50
.422**
.002
50
.314*
.026
50
Uji Korelasi Efektivitas Komunikasi dengan
Optimalisasi Lahan Pekarangan
Pemanfaatan
Pekarangan
Kognitif
Pearson Correlation .300*
Sig. (2-tailed)
.034
N
50
Afektif
Pearson Correlation .348*
Sig. (2-tailed)
.013
N
50
Konatif
Pearson Correlation .358*
Sig. (2-tailed)
.011
N
50
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
Menciptakan
Peluang Bisnis
.103
.477
50
.040
.784
50
.017
.908
50
85
Lampiran 1: Kuesioner Penelitian
EFEKTIVITAS KOMUNIKASI PROGRAM KAWASAN RUMAH PANGAN
LESTARI DALAM RANGKA MENINGKATKAN KEBERDAYAAN
RUMAH TANGGA
(Kasus Desa Mulyasari Kecamatan Ciampel, Karawang – Jawa Barat)
Nama Responden
Jenis Kelamin
Umur
Tingkat Pendidikan
Luas Pekarangan
Status Pekarangan
Tanggal Pengisian
: ....................................................................
: Laki-laki/Perempuan (coret yang bukan)
: ....................................................................
: ....................................................................
: ....................................................................
: ....................................................................
: ....................................................................
Oleh
Restiawan Permana
I 352080141
MAYOR KOMUNIKASI PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN PEDESAAN
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012
86
X.1. Karakteristik Individu
Berapakah jumlah pendapatan Bapak/Ibu sesuai dengan pekerjaan yang digeluti?
No
Pekerjaan
Harian (Rp)
1
Petani:
a. Tanaman Pangan:
1. ...................
2. ...................
b. Hortikultura:
1. ...................
2. ...................
c. Ternak Hewan
1. ....................
2. ....................
d. Ternak Ikan
1. ....................
2. ....................
e. Perkebunan
1. ....................
2. ....................
2
Selain bertani (isi
menurut Anda)
................................
Pendapatan
Bulanan (Rp)
Tahun (Rp)
X.2. Faktor Eksternal
1. Bapak/Ibu mendapatkan informasi tentang pemanfaatan lahan pekarangan
melalui...
a. Penyuluh/petugas pertanian
b. Tetangga
c. Media massa
d. Pemerintah daerah
e. Lain-lain.........
2. Di bawah ini adalah pernyataan Bapak/Ibu tentang bagaimana keterbukaan dalam
menerima dan mencari sumber informasi.
No
Pernyataan
1
Bapak/Ibu mendapatkan informasi tentang
program KRPL dari penyuluh pertanian.
Bapak/Ibu mendapatkan informasi tentang
program KRPL dari tetangga atau sesama
peserta.
2
Pilihan Jawaban
Tidak
Kadang- Selalu
Pernah
Kadang
87
3
4
5
6
7
Bapak/Ibu mendapatkan informasi tentang
program KRPL dari media massa: surat
kabar, radio, televisi atau lainnya.
Bapak/Ibu mendapatkan informasi tentang
program KRPL dari pemerintah desa.
Bapak/Ibu mendapatkan informasi tentang
program KRPL dari distributor saprodi.
Bapak/Ibu mendapatkan informasi tentang
tentang pertanian setiap hari
Bapak/Ibu aktif dalam mendatangi atau
mencari informasi
3. Selama mengusahakan budidaya usaha pertanian/perikanan di pekarangan, apakah
Bapak/Ibu mencari informasi dari media massa?
No
Jenis Media Massa
1
Surat kabar/Koran
2
Radio
3
Televisi
4
Media lainnya .................
Ya
Tidak
4. Berapa kali dalam sebulan Bapak/Ibu memanfaatkan media massa tersebut:
No
3
Jenis Media Massa
Surat kabar/Koran
Radio
Televisi
Lama Pemanfaatan
……………… kali/bulan
……………… kali/bulan
……………… kali/bulan
4
Media lainnya
……………… kali/bulan
1
2
Kebijakan Publik, Intensitas Penyuluhan, Ketersediaan Sarana Produksi, dan
Ketersediaan Informasi
1. Bapak/Ibu dalam memanfaatkan pekarangan sering bertanya dengan pihak luar?
a. Ya,
b. Tidak
2. Jika ya, dari mana Bapak/Ibu mendapatkannya?
a. Penyuluh Pertanian
b. Dinas
c. LSM
d. Peneliti/dosen
e. Lainnya ................
3. Berikut pernyataan yang berkaitan dengan kebijakan publik, intensitas
penyuluhan, ketersediaan sarana produksi, dan ketersediaan informasi
88
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
Pernyataan
Pilihan Jawaban
Tidak
Kadang- Selalu
Pernah Kadang
Bapak/Ibu pernah mendapatkan bantuan dari
pemerintah berupa bibit, pupuk, saprodi
lainnya dari pemerintah.
Bapak/Ibu pernah mendapatkan bantuan dari
pemerintah berupa kredit/modal usaha tani.
Bapak/Ibu selalu mendapatkan pembinaan
atau dukungan lainnya dari desa atau
kecamatan
Bapak/Ibu mengenal tenaga penyuluh
pertanian yang ditugaskan.
Selama penyuluh oertanian bertugas, mereka
mengunjungi Bapak/Ibu.
Kegiatan yang dilakukan penyuluh pertanian
selalu bermanfaat bagi Bapak/Ibu
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan penyuluh
pertanian melibatkan Bapak/Ibu.
Penyuluh pertanian memberikan ceraah
sebagai salah satu metode penyuluhan.
Sangat mudah bagi Bapak/Ibu dalam
mendapatkan sarana produksi (saprodi).
Saprodi yang dibutuhkan tersedia di pasaran.
Harga saprodi sangat murah dan terjangkau
bagi Bapak/Ibu
Bapak/Ibu mudah dalam mendapatkan
informasi.
Informasi yang didapat sesuai dengan yang
dibutuhkan Bapak/Ibu.
4. Berapa kali dalam sebulan Bapak/Ibu berkomunikasi dengan pihak luar untuk
memperoleh informasi tentang pemanfaatan pekarangan?
No
1
2
3
4
5
Komunikasi Interpersonal
Komunikasi dengan penyuluh pertanian
Komunikasi dengan LSM
Komunikasi dengan petugas instansi terkait
Komunikasi dengan peneliti/dosen
Komunikasi dengan pihak lainnya
Frekuensi Pertemuan
Tiap Bulan
kali/bulan
kali/bulan
kali/bulan
kali/bulan
kali/bulan
89
Y1.
Keefektivan Komunikasi
Sejauh mana Bapak/Ibu memahami materi KRPL ini:
Y.1.1. Aspek Kognitif
No
Pernyataan
1
Dalam penataan pekarangan, Bapak/Ibu paham
bagaimana melakukan penanaman dan penataan yang
baik dengan menggunakan polibag.
Dalam penataan pekarangan, Bapak/Ibu paham
bagaimana melakukan penanaman yang baik dengan
menggunakan model vertikultur (model gantung,
tempel, tegak, rak).
Dalam penataan pekarangan, Bapak/Ibu paham
bagaimana melakukan penanaman yang baik dengan
menggunakan model bedengan.
Dalam penataan pekarangan, Bapak/Ibu paham
bagaimana melakukan penanaman yang baik dengan
memanfaatkan pot media tanam.
Dalam penataan pekarangan, apakah Bapak/Ibu
paham bagaimana melakukan penanaman yang baik
dengan mengoptimalkan pagar tanaman.
Dalam penataan pekarangan, Bapak/Ibu paham
bagaimana melakukan penataan dan pemanfaatan
kolam untuk budidaya ikan.
Dalam penataan pekarangan, Bapak/Ibu paham
bagaimana melakukan pengelolaan budidaya ternak
di kandang.
Untuk menentukan jenis komoditas yang diusahakan,
Bapak/Ibu paham tentang pemilihan bibit komoditas
yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Dengan pekarangan yang Bapak/Ibu miliki,
Bapak/Ibu paham materi tentang cara memanfaatkan
kolam untuk budidaya ikan.
Untuk menentukan jenis komoditas yang diusahakan,
Bapak/Ibu paham tentang pemilihan bibit yang tepat
guna memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga.
Untuk menentukan jenis komoditas yang diusahakan,
Bapak/Ibu paham tentang keanekaragaman tanaman
pangan yang bisa dikonsumsi.
Bapak/Ibu paham tentang jenis pangan lokal yang
sesuai untuk ditanam di pekarangan.
Bapak/Ibu paham tentang bagaimana cara
memperbanyak dan mengelola benih dan bibit.
Bapak/Ibu paham tentang bagaimana meningkatkan
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Pilihan Jawaban
Tidak Sedang Paham
Paham
90
konsumsi aneka ragam pangan dengan prinsip gizi
seimbang.
Y1.2. Aspek Afektif
No
Pernyataan
1
Dalam penataan pekarangan, Bapak/Ibu ingin
melakukan penanaman dan penataan yang baik
dengan menggunakan polibag.
Dalam penataan pekarangan, Bapak/Ibu ingin
melakukan penanaman
yang baik
dengan
menggunakan model vertikultur (model gantung,
tempel, tegak, rak).
Dalam penataan pekarangan, Bapak/Ibu ingin
melakukan penanaman
yang baik
dengan
menggunakan model bedengan.
Dalam penataan pekarangan, Bapak/Ibu ingin
melakukan penanaman
yang baik
dengan
memanfaatkan pot media tanam.
Dalam penataan pekarangan, Bapak/Ibu ingin
melakukan penanaman
yang baik
dengan
mengoptimalkan pagar tanaman.
Dalam penataan pekarangan, Bapak/Ibu ingin
memanfaatkan kolam untuk budidaya ikan.
2
3
4
5
6
7
Dalam penataan pekarangan, Bapak/Ibu ingin
melakukan pengelolaan budidaya ternak di kandang.
8
Untuk menentukan jenis komoditas yang diusahakan,
Bapak/Ibu ingin memilih bibit komoditas yang
memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Dengan pekarangan yang Bapak/Ibu miliki,
Bapak/Ibu ingin memanfaatkan untuk kolom ikan.
Untuk menentukan jenis komoditas yang diusahakan,
Bapak/Ibu ingin memilih bibit yang tepat guna
memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga.
Untuk menentukan jenis komoditas yang diusahakan,
Bapak/Ibu ingin melakukan budidaya dengan
komoditas yang beragam yang bisa dikonsumsi.
Bapak/Ibu ingin menanam jenis pangan lokal yang
sesuai untuk ditanam di pekarangan.
Bapak/Ibu ingin mengetahui cara memperbanyak dan
mengelola benih dan bibit.
Bapak/Ibu ingin meningkatkan konsumsi aneka
ragam pangan dengan prinsip gizi seimbang.
9
10
11
12
13
14
Pilihan Jawaban
Tidak
RaguIngin
Ingin
Ragu
91
Y1.3. Aspek Konatif
No
Pernyataan
1
Dalam penataan pekarangan, Bapak/Ibu melakukan
penanaman dan penataan yang baik dengan
menggunakan polibag.
Dalam penataan pekarangan, Bapak/Ibu melakukan
penanaman yang baik dengan menggunakan model
vertikultur (model gantung, tempel, tegak, rak).
Dalam penataan pekarangan, Bapak/Ibu melakukan
penanaman yang baik dengan menggunakan model
bedengan.
Dalam penataan pekarangan, Bapak/Ibu melakukan
penanaman yang baik dengan memanfaatkan pot
media tanam.
Dalam penataan pekarangan, Bapak/Ibu melakukan
penanaman yang baik dengan mengoptimalkan
pagar tanaman.
Dalam
penataan
pekarangan,
Bapak/Ibu
memanfaatkan kolam untuk budidaya ikan.
2
3
4
5
6
7
Dalam penataan pekarangan, Bapak/Ibu melakukan
pengelolaan budidaya ternak di kandang.
8
Untuk menentukan jenis komoditas yang
diusahakan, Bapak/Ibu memilih bibit komoditas
yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Dengan pekarangan yang Bapak/Ibu miliki,
Bapak/Ibu memanfaatkan kolam untuk budidaya
ikan.
Untuk menentukan jenis komoditas yang
diusahakan, Bapak/Ibu memilih bibit yang tepat
guna memenuhi kebutuhan pangan dan gizi
keluarga.
Untuk menentukan jenis komoditas yang
diusahakan, Bapak/Ibu melakukan budidaya dengan
komoditas yang beragam yang bisa dikonsumsi.
Bapak/Ibu menanam jenis pangan lokal yang sesuai
untuk ditanam di pekarangan.
Bapak/Ibu mengetahui cara memperbanyak dan
mengelola
benih
dan
bibit,
kemudian
menerapkannya.
Bapak/Ibu mengkonsumsi aneka ragam pangan
dengan prinsip gizi seimbang.
9
10
11
12
13
14
Pilihan Jawaban
Tidak Kadang- Selalu
Pernah Kadang
92
Y.2.
Optimalisasi Lahan Pekarangan
Y.2.1. Pemanfaatan Lahan Pekarangan
No
Pernyataan
1
Dengan pemanfaatan pekarangan yang Bapak/Ibu lakukan
dapat membantu keluarga dalam memenuhi kebutuhan
makanan pokok sehari-hari.
Dengan pemanfaatan pekarangan yang Bapak/Ibu lakukan
dapat mengurangi belanja Bapak/Ibu dari luar untuk
kebutuhan sehari-hari.
Dengan pemanfaatan pekarangan yang Bapak/Ibu lakukan
dapat membantu keluarga dalam memenuhi kebutuhan
bumbu dapur sehari-hari.
Dengan pemanfaatan pekarangan yang Bapak/Ibu lakukan
dapat membantu keluarga dalam memenuhi kebutuhan lauk
pauk sehari-hari.
Dengan pemanfaatan pekarangan yang Bapak/Ibu lakukan
dapat bermanfaat dalam menyediakan tanaman obat
keluarga.
Dengan pemanfaatan pekarangan ini, Bapak/Ibu merasa
dapat mengurangi beban belanja rutin keluarga.
2
3
4
5
5
Pilihan Jawaban
Tidak Kadang- Selalu
Pernah Kadang
Y.2.2. Kemampuan Menciptakan Peluang Bisnis
No
Pernyataan
1
Bapak/Ibu merasa dengan pemanfaatan pekarang yang ibu
lakukan dapat membantu menambah pendapatan keluarga
Bapak/Ibu merasa selama pemanfaatan pekarangan dalam
rangka program KRPL ini ibu dapat membuat sumber
pendapatan keluarga
Bapak/Ibu merasa dengan pemanfaatan pekarangan sesuai
dengan peluang pasar
Bapak/Ibu memanfaatkan pekarangan untuk menjadikan
usaha agrobisnis
2
3
4
Pilihan Jawaban
Kurang
Tidak
Setuju
Setuju
Setuju
93
Informasi Tambahan
Nama tamanan, ternak, ikan apa saja yang Bapak/Ibu budidayakan?
No
Jumlah
komoditas
Jenis Komoditas
1
2
3
4
5
Pemasaran
a. Seberapa mudah bapak/ibu memasarkan hasil pekarangan?
b. Bisanyanya berapa banyak yang dihasilkan dari pemanenen budidaya
pekarangan?
No
1
2
3
4
5
Komoditas
Sayuran
a. …………………….
b. …………………….
c. …………………….
Tanaman Obat
a. ……………………….
b. ……………………….
c. ……………………….
Tanaman Hias
a. ………………………
b. ………………………
c. ………………………
Perikanan
a. ………………………
b. ………………………
c. ………………………
Ternak
a. ………………………
b. ………………………
c. ………………………
Dikonsumsi
Jumlah
Dipasarkan
Jumlah
Harga
Download