NERACA SUMBER DAYA ENERGI DAN CADANGANNYA DI PROVINSI RIAU Oleh : Rini Dayanti Penyedian energi di masa depan merupakan permasalahan yang senantiasa menjadi perhatian semua bangsa karena bagaimanapun juga kesejahteraan manusia dalam kehidupan modern sangat terkait dengan jumlah dan mutu energi yang dimanfaatkan. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang memerlukan ketersediaan energi di masa depan untuk mendorong pembangunannya. Pertumbuhan pembangunan terutama di sektor industri, ekonomi dan penduduk barang tentu akan berbanding lurus dengan kebutuhan energinya. Demikian halnya pada Provinsi Riau, permintaan energi di Provinsi ini semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik. Perhitungan neraca energi di Provinsi Riau menggunakan parameter .dasar berupa sosioekonomi dengan base year pada tahun 2011 dan end year 2030 yaitu proyeksi jumlah penduduk 2011 adalah 5.738.543 jiwa dengan kenaikan jumlah penduduk 3,49% serta pertumbuhan ekonomi sebesar 7,08 % pada 2012. Hasil perhitungan di peroleh permintaan energi listrik untuk provinsi riau proyksi tahun 2030 sebesar 14.079,82 juta KWh dengan pertumbuhan rata –rata 8,9%. Permintaan untuk energi migas sebesar 18.758,7 ribu SBM dengan pertumbuhsn rata – rata 10.50 %. Sedangkan untuk energi batubara sebesar 1.916, 1 ribu STB dengan rata – rata 7.30%. Untuk energi lainya 1.630,2 juta megajoule. Ketersediaan sumberdaya energi di Provinsi Riau untuk memenuhi permintaan energi tersebut berasal dari energi listri sebesar 114 MW ( primer ) , dan 716 MW ( Sekunder ). Untuk minyak bumi sebesar 1,8 Milyar barel, gas alam 205.860 MWH/tahun. maka di perlukan penghematan penggunaan energi fosil serta peningkatan penggunaan energi non – fosil seperti limbah sawit. Seiring dengan meningkatnya pembangunan terutama pembangunan di sektor industri, pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk, kebutuhan akan energi terus meningkat. Hingga saat ini, minyak bumi masih merupakan sumber energi yang utama dalam memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Menyadari ketergantungan yang sangat besar kepada minyak bumi, maka sejak beberapa waktu yang lalu telah telah dilakukan upaya untuk menekan pertumbuhan penggunaan bahan bakar minyak ( BBM) dengan menggunakan bahan bakar non minyak untuk memenuhi energi di dalam negeri. Penyediaan energi non – minyak untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam dalam negeri terus di kembanagkan, namun sampai saat ini belum banyak berperan. Pemanfaatan energi non – minyak yang sudah berhasil antara lain adalah batubara, gas bumi dan minyak nabati sebagai sumber bahan energi. Selain untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri, minyak bumi juga berperan sebagai komoditi penghasil penerimaan negara dan devisa. Peranan minyak bumi yang besar tersebut terus berlanjut, sedangkan cadangan semakin menipis. Di lain pihak harga minyak bumi sangat sulit untuk diperkirakan, sebagai akibat banyaknya faktor tak menentu yang berpengaruh. Keterbatasan sumberdaya energi indonesia, terutama cadangan minyak bumi, sementara belum optimalnya program konservasi dan diversifikasi bahan bakar minyak, dan belum optimalnya pemanfaatan sumber energi baru ( new energy), maka dalam waktu dekat Indonesia di perkirakan kan menjadi net- importer minyak. Neraca energi juga merupakan titik awal penyusunan berbagai indikator konsumsi energi ( misalnya konsumsi per kapita atau per satuan GDP ) serta efisiensi energi. Ahli statistik juga menggunakan neraca energi untuk memeriksa keakuratan data yang terkumpul, karena energi yang bertambah atau energi yang hilang dalam jumlah besar dalam proses konversi dapat mengindikasikan adanya permasalahan dalam data. ( RD) Sumber : Balitbang Provinsi Riau, penelitian ; Neraca Sumber Daya Energi Dan Cadangan di Provinsi Riau Tahun 2013, Pekanbaru. BPS, 2010, Riau Dalam Angka Tahun , 2009, Badan Pusat Statistik Povinsi Riau, Pekanbaru BPS, 2011, Riau Dalam Angka Tahun , 2010, Badan Pusat Statistik Povinsi Riau, Pekanbaru BPS, 2012, Riau Dalam Angka Tahun , 2011, Badan Pusat Statistik Povinsi Riau, Pekanbaru