plagiat merupakan tindakan tidak terpuji plagiat

advertisement
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
HUBUNGAN ANTARA KONTROL DIRI DAN PERILAKU AGRESI
PADA REMAJA
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana
Psikologi Program Studi Psikologi
Disusun oleh :
Nunuk Putri Permatasari
119114075
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2016
i
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING
HUBUNGAN ANTARA KONTROL DIRI DAN PERILAKU AGRESI
PADA REMAJA
Oleh :
Nunuk Putri Permatasari
NIM : 119114075
Telah disetujui oleh :
Dosen Pembimbing
Tanggal………………
Dr. T. Priyo Widiyanto, M. Si
ii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PENGESAHAN SKRIPSI
HUBUNGAN ANTARA KONTROL DIRI DAN PERILAKU AGRESI
PADA REMAJA
Dipersiapkan dan ditulis oleh :
Nunuk Putri Permatasari
NIM : 119114075
Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji
Pada tanggal 26 Januari 2016
dan dinyatakan memenuhi syarat
Susunan Tim Penguji
Nama Lengkap
Tanda Tangan
Penguji I
: Dr. T. Priyo Widiyanto, M. Si.
Penguji II
: YB. Cahya Widiyanto, Ph. D.
Penguji III
: Drs. H. Wahyudi, M. Si.
Yogyakarta, ………………
Fakultas Psikologi
Universitas Sanata Dharma
Dekan,
Dr. T. Priyo Widiyanto, M. Si
iii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Halaman Motto
“Be yourself, you’ll be fine” (Honda Tohru’s Mom)
To get a success, your courage must be greater than your fear
janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab
Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau;
Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa
kemenangan (Yesaya 41 : 10)
iv
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Halaman Persembahan
Skripsi ini kupersembahkan bagi,
Tuhan Yesus Kristus yang selalu berada di sisiku untuk menguatkan dan
memberikan penghiburan,
Kedua orangtuaku yang sabar, Bapak Subandi & Ibu Eko Purwani,
Kakak laki-laki penyemangatku, Mas Nugroho Danang Sasongko,
Teman-teman yang membantu dan membuatku untuk tetap maju,
Dan bagi diriku sendiri yang sudah mengumpulkan niat dan menyelesaikan
proyek tertulis terbesar sepanjang hidup ini
v
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini
tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan
dalam daftar pustaka sebagaimana selayakya sebuah karya ilmiah.
Yogyakarta, 5 Januari 2016
Penulis
Nunuk Putri Permatasari
vi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
HUBUNGAN ANTARA KONTROL DIRI DAN PERILAKU AGRESI
PADA REMAJA
Nunuk Putri Permatasari
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh yang diberikan oleh kontrol diri pada
perilaku agresi pada remaja. Hipotesis dalam penelitian ini adalah kontrol diri mampu
memprediksi perilaku agresi pada remaja secara negatif. Untuk membuktikan hipotesis tersebut,
maka analisis hipotesis dilakukan dengan menggunakan SPSS 16.00. Subjek yang digunakan
dalam penelitian ini adalah remaja dengan rentang usia 11-24 tahun dan belum menikah, dengan
jumlah subjek laki-laki sebanyak 73 orang dan subjek perempuan sebanyak 164 orang. Dalam
penelitian ini digunakan dua skala, variabel kontrol diri diukur menggunakan Skala Kontrol Diri
berdasar pada teori kontrol diri Baumeister dan variabel perilaku agresi diukur menggunakan
Skala Perilaku Agresi berdasarkan teori agresi Buss & Perry. Koefisien reliabilitas dari Skala
Kontrol Diri sebesar 0,928, sedangkan reliabilitas Skala Perilaku Agresi sebesar 0,902.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05) dengan nilai B =
-0,496. Hasil tersebut menyatakan bahwa kontrol diri dapat menjadi prediktor perilaku pada
remaja secara negatif. Sedangkan kekuatan prediksi kontrol diri terhadap perilaku agresi sebesar
26,7%.
Kata kunci : kontrol diri, perilaku agresi, remaja, analisis regresi
vii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
THE CORRELATION BETWEEN SELF-CONTROL AND AGGRESSION
BEHAVIOR IN ADOLESCENT
Nunuk Putri Permatasari
ABSTRACT
The aim of this study is to know the influence of self-control to aggression behavior in
adolescent. The hypothesis of this study is that self-control can predict aggression behavior in
adolescent negatively. In order to prove the hypothesis, researcher used the hypothesis analysis in
SPSS 16.00. Subject in this study consist of adolescent in age range between 11-24 years old, 73
male subjects and 164 female subjects. This study used two scales. The first scale is self-control
variable that was measured using Self-control Scale that based on self-control theory by
Baumeister. And the second scale is aggression behavior variable that was measured using
Aggression Behavior Scale that based on aggression theory by Buss & Perry. Reliability
coefficient of Self-control Scale is 0,928, while Aggression Behavior Scale is 0,902. Based on the
study, researcher obtained significant value 0,000 (p < 0,05), B = -0,496. This result indicates
that self-control can predict aggression behaviornegatively in adolescent. Whereas the prediction
strength of self-control toward aggression behavior is 26,7%
Keyword : self-control, aggression behavior, regression analysis
viii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH
UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Yang bertandatangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma
Nama
: Nunuk Putri Permatasari
Nomor Mahasiswa
: 119114075
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan Kepada Perpustakaan
Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :
Hubungan antara Kontrol Diri dan Perilaku Agresi pada Remaja
Beserta perangkat diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan
Kepada Perpustakan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan,
mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya di internet atau media lain
untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun
memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai
penulis.
Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya
Dib uat di Yogyakarta
Pada tanggal : 5 Januari 2016
Yang menyatakan,
(Nunuk Putri Permatasari)
ix
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan pada Tuhan Yesus atas penyertaan dan
rahmat-Nya, sehingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan pembuatan skripsi
ini. Begitu banyak perjuangan dalam bertanding dengan diri sendiri sehingga
akhirnya mau untuk berjuang dalam pengerjaan skripsi ini. Tentu dalam
pengerjaan skripsi ini ada banyak pihak yang senantiasa membuat penulis merasa
terdukung karena cinta dan dukungannya. Oleh karena penulis ingin
mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1.
Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M. Si selaku dekan Fakultas Psikologi
Universitas Sanata Dharma dan dosen pembimbing penulis
2.
Ibu Ratri Sunar Astuti, M. Si selaku Kepala Program Studi Universitas Sanata
Dharma
3.
Ibu Dewi Soerna Anggraeni, M. Psi selaku dosen pembimbing akademik
penulis
4.
Mas Muji, Mas Doni, dan teman-teman (Vivi, Martha, Iyah, Ivana, dan
Natan) yang memberikan pengalaman berharga selama penulis menjadi
student staff laboratorium psikologi. Kalian memberikan canda dan tawa di
tengah-tengah tekanan dunia yang sangat luar biasa.
5.
Mas Gandung, Ibu Nanik, Pak Giek, dan teman-teman dari student staff
sekretariat (Sila, Arum, Netty, Yoan, dkk) yang selalu melayani dengan tulus
dan totalitas.
x
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
6.
Seluruh karyawan Bappeda Sleman yang mempermudahkan penulis dalam
hal perijinan. Pelayanan yang cepat, nyaman, dan ramah membuat penulis
merasa termotivasi untuk segera menyelesaikan skripsi ini.
7.
Kepala Sekolah SMPN 4 Depok dan Kepala Sekolah SMAN 1 Depok yang
telah bersedia membantu penulis dalam pengambilan data. Khususnya Ibu
Sum dan Ibu Wahyu yang dengan tulus hati mendampingi penulis dalam
pegambilan data.
8.
Kedua orangtua yang dengan susah payah dan tulus telah membesarkan,
Bapak Subandi dan Ibu Eko Purwani. Dukungan doa dan finansial yang
sangat luar biasa yang mampu membuat penulis mampu menyelesaikan masa
studinya dengan baik, walaupun mungkin tidak sesuai dengan harapan.
9.
The One and only my big brother, mamas Nugroho Danang Sasongko.
Pengertian yang sangat luar biasa, mampu mengerti perasaanyang dialami
penulis selama menjalani penulisan skrpsi dan tidak memberikan tekanan
tambahan. Greatful to have you as my big bro <3.
10. Teman-teman di kelompok yang kita sebut Cucok Rumpi.
a. Dara, sesama manusia bergologan darah B, terima kasih sudah mau
mengorbankan waktu untuk melihat kembali skripsi penulis dan
mengawal
pelaksanaannya.
Sudah
menjadi
tempat
sampah
dan
mendengarkan semua keluh kesah serta menjadi teman nonton
pertunjukkan tari dimana-mana
b. Rinta, yang juga mengorbankan waktunya di tengah impiannya yang
besar untuk mendukung penulis secara emosional. Berkat kecerdasanmu
xi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
dan kosmu yang dekat penulis merasa sangat terbantu dalam berbagai hal.
Pengalaman pacaranmu juga yang membuat penulis ingin segera
menenuaikan tugas perkembangan yang seharusnya diselesaikan.
c. Vivi the miss rempong, yang sudah mau berjalan beriringan bersamasama mengerjakan skripsi di kala teman-teman yang lain sudah di tahap
selanjutnya. Terima kasih untuk gossip-gosip terkini dan usahamu dalam
mencarikan penulis pasangan hidup. Pintu rumah nun jauh di sana-mu
yang selalu terbuka untuk penulis bagaikan rumah kedua.
d. Anita sang manager, terima kasih atas makanan gratis yang selalu kau
tawarkan. Ketulusan hatimu dalam memberikan bantuan tidak akan
pernah penulis lupakan. Semangat dalam meraih cita dan cintamu.
e. Hervy the sheilagenk, satu-satu anggota Cucok Rumpi yang mengerti
hatiku sebagai fansgirl. Terima kasih buat bantuan dan masukkan dalam
pembuatan skala. Tidak lupa juga atas jasa catring di awal-awal
kehidupan mahasiswa penulis. Semangatmu dalam meraih tujuan
membuat penulis tak berdaya.
11. Teman kos penulis selama menjalani masa studi, Mak Ghea. Terima kasih
telah menemani di lingkungan kos yang penuh dengan polusi suara. Dirimu
yang telah mengajarkan penulis untuk menjadi wanita yang kuat dan tegar.
Walaupun begitu dirimu tidak pernah menolak diriku yang datang dengan
penuh air mata.
xii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
12. Pipin sesama teman seperjuangan yang sudah memberikan bantuan besar
dalam pengambilan data. Terima kasih juga telah mengijinkan penulis untuk
menumpang mandi selama ini.
13. Breho Murti yang sudah mau bolak-balik Solo-Jogja untuk menghibur diriku.
Terima kasih sudah membantu menginput data penelitian. Teman fujoshi
satu-satunya tempat berbagi imajinasi liar.
14. Yang terkasih fandom-fandom penulis yang menemani dan selalu
memberikan keceriaan tersendiri kepada penulis. My ichiban yang tak lekang
oleh waktu, Reita. Dedek gemes, Brandon Salim yang sudah datang dan
menghibur. Abang Neita yang sudah saya ketahui wujud dan nama aslinya,
dirimu sangat menginspirasi supaya penulis segera menyelesaikan skripsinya.
Akhir kata penulis berharap dari penelitian ini dapat membuat kita menyadari
betapa pentingnya kontrol diri dalam kehidupa sehari-hari. Terutama kaitannya
dengan perilaku agresi. Dengan mengetahui hubungan keduanya diharapkan
mampu menciptakan kehidupan sosial yang harmonis. Meskipun begitu, penulis
masih mengharapkan kritik dan saran yang membangun, agar penelitian ini dapat
semakin menyumbang perkembangan ilmu pengetahuan kita ini. Terima kasih.
Yogyakarta, 5 Januari 2016
Penulis
xiii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
DAFTAR ISI
Halaman Judul.......................................................................................................... i
Halaman Persetujuan Pembimbing ......................................................................... ii
Halaman Pengesahan Skripsi ................................................................................. iii
Halaman Motto....................................................................................................... iv
Halaman Persembahan ............................................................................................ v
Halaman Pernyataan Keaslian Karya ..................................................................... vi
Abstrak .................................................................................................................. vii
Abstract ................................................................................................................ viii
Halaman Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah........................................................ ix
Kata Pengantar ........................................................................................................ x
Daftar Tabel ....................................................................................................... xviii
Daftar Gambar ....................................................................................................... xx
Daftar Lampiran ................................................................................................... xxi
BAB I Pendahuluan ................................................................................................ 1
A. Latar Belakang ............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 6
C. Tujuan Penelitian ......................................................................................... 6
D. Manfaat Penelitian ....................................................................................... 7
1.
Teoretis ..................................................................................................... 7
xiv
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
2.
Praktis ....................................................................................................... 7
BAB II Landasan Teori ........................................................................................... 8
A. Kontrol Diri .................................................................................................. 8
1.
Pengertian Kontrol Diri ............................................................................ 8
2.
Internal Locus of Control ......................................................................... 9
3.
Manfaat Kontrol Diri .............................................................................. 10
4.
Dampak Kontrol Diri .............................................................................. 11
5.
Aspek Kontrol Diri ................................................................................. 12
B. Perilaku Agresi ........................................................................................... 15
1.
Pengertian Perilaku Agresi ..................................................................... 15
2.
Teori Perilaku Agresi ............................................................................. 16
3.
Jenis Perilaku Agresi .............................................................................. 18
4.
Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Agresi ......................................... 20
5.
Aspek Perilaku Agresi ............................................................................ 24
C. Remaja........................................................................................................ 25
1.
Definisi Remaja ...................................................................................... 25
2.
Perkembangan Remaja ........................................................................... 26
D. Kontrol Diri pada Remaja .......................................................................... 29
E. Dinamika Hubungan Kontrol Diri dan Perilaku Agresi pada Remaja ....... 31
F.
Skema Hubungan antara Kontrol Diri dan Perilaku Agresi Pada Remaja . 35
xv
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
G. HIPOTESIS ................................................................................................ 35
BAB III Metode Penelitian ................................................................................... 36
A. Jenis Penelitian ........................................................................................... 36
B. Identitas Variabel Penelitiam ..................................................................... 36
c.
Definisi Operasional Variabel Penelitian ................................................... 37
1.
Kontrol Diri ............................................................................................ 37
2.
Perilaku Agresi ....................................................................................... 37
D. Subjek Penelitian........................................................................................ 38
E. Metode Pengumpulan Data ........................................................................ 38
F.
Uji Skala ..................................................................................................... 43
1.
Uji Validitas ........................................................................................... 43
2.
Seleksi Aitem ......................................................................................... 44
3.
Uji Reliabilitas ........................................................................................ 46
G. Uji Analisis Data ........................................................................................ 48
1.
Uji Asumsi .............................................................................................. 48
2.
Uji Hipotesis ........................................................................................... 49
BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan ........................................................... 50
A. Persiapan Penelitian ................................................................................... 50
B. Pelaksanaan Penelitian ............................................................................... 51
C. Gambaran Subjek Penelitian ...................................................................... 52
xvi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
1.
Data Demografis ..................................................................................... 52
2.
Hasil Rerata Subjek terhadap Skala ....................................................... 53
D. Hasil Penelitian .......................................................................................... 54
1.
Uji Asumsi .............................................................................................. 54
2.
Uji Hipotesis ........................................................................................... 57
E. Pembahasan ................................................................................................ 59
F.
Keterbatasan Penelitian .............................................................................. 62
BAB V Kesimpulan dan Saran ............................................................................. 63
A. Kesimpulan ................................................................................................ 63
B. Saran ........................................................................................................... 63
Daftar Pustaka ....................................................................................................... 66
Lampiran ............................................................................................................... 71
xvii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Blueprint dan Rancangan Skala Kontrol Diri Sebelum Uji Coba........... 40
Tabel 2. Sebaran Aitem Skala Kontrol Diri .......................................................... 41
Tabel 3. Skor Aitem untuk Skala Kontrol Diri ..................................................... 41
Tabel 4. Blueprint dan Rancangan Skala Perilaku Agresi Sebelum Uji Coba...... 42
Tabel 5. Sebaran Aitem Skala Perilaku Agresi ..................................................... 42
Tabel 6. Skor Aitem untuk Skala Perilaku Agresi ................................................ 43
Tabel 7. Distribusi Aitem Skala Kontrol Diri ....................................................... 45
Tabel 8. Distribusi Aitem Skala Perilaku Agresi .................................................. 46
Tabel 9. Hasil Uji Reliabilitas Alpha Cronbach Skala Kontrol Diri .................... 47
Tabel 10. Hasil Uji Reliabilitas Alpha Cronbach Skala Perilaku Agresi ............. 47
Tabel 11. Tabel Analisis Deskriptif Variabel Kontrol Diri................................... 53
Tabel 12. Tabel Analisis Deskriptif Variabel Perilaku Agresi ............................. 53
Tabel 13. Tabel Hasil Uji Normalitas ................................................................... 55
Tabel 14. Tabel Uji S Staistik ............................................................................... 56
Tabel 15. Tabel Hasil Uji Linearitas ..................................................................... 57
Tabel16. Tabel Nilai Unstandardized Coefficient (B) .......................................... 58
xviii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Tabel 17. Tabel Nilai Koefisien Determinasi ....................................................... 58
xix
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Bagan Teori I3 pada Perilaku Agresi ................................................... 16
Gambar 2. Bagan dan Deskripsi Dinamika antarvariabel ..................................... 35
Gambar 3. Grafik Normal Q-Q Plot Unstandardized Residual ............................ 55
Gambar 4.Sacatterplot Hasil Uji Homogenitas .................................................... 56
xx
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran A. Data Sebaran Usia Subjek ............................................................... 72
Lampiran B. Data Sebaran Jenis Kelamin Subjek ............................................... 72
Lampiran C. Data Sebaran Tingkat Pendidikan Subjek........................................ 73
Lampiran D. Hasil Reliabilitas Skala Kontrol Diri ............................................... 73
Lampiran E. Hasil Reliabilitas Skala Perilaku Agresi .......................................... 75
Lampiran F. Skala yang Digunakan dalam Penelitian .......................................... 87
xxi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Tingkat
kriminalitas
di
Indonesia
masih
tergolong
tinggi
(regional.kompasiana.com, 2014). Bambang Widodo Umar, kriminolog dari
Universitas Indonesia, juga berpendapat bahwa angka kriminal di Indoneisa
masih tinggi dan akan ada banyak tindakan kejahatan (news.liputan6.com,
2013). Menurut Kepala Polisi Republik Indonesia Jendral Pol Sutarman,
tindak pidana pada tahun 2011 mencapai 347.605 kasus. Angka tersebut
sempat mengalami penurunan sebanyak 1,85% pada tahun 2012. Namun pada
tahun 2013 mengalami kenaikan sebanyak 0,22 % (republika.co.id, 2013).
Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Inspektur Jendral Polisi Saud
Usman mengatakan bahwa setiap 91 detik terjadi sebuah kejahatan di
Indonesia sepanjang tahun 2012 (nasional.kompas.com, 2012).
Pada tahun 2015, Indonesia dihebohkan dengan maraknya kasus
pembegalan. Arti kata pembegalan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
adalah perampasan di jalan. Di Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri telah
dilakukan Operasi Curat Progo Polda DIY 2015 untuk meminimalisir
terjadinya kasus pembegalan. Dari 45 pelaku yang telah ditangkap, 20
diantaranya merupakan anak di bawah umur dan 12 orang memiliki status
sebagai pelajar (sorotjogja.com, 2015). Menurut Wadir Reskrimum Polda
DIY AKBP Djuhandani, perbandingan pelaku kriminalitas di DIY hampir
1
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
2
mencapai 50% untuk remaja. Meskipun usianya masih tergolong muda
namun tingkat kejahatan yang dilakukannya sama dengan pelaku kejahatan
lainnya (jogja.tribunnews.com, 2015). Selain kasus pembegalan, terjadi pula
kasus penyekapan dan penganiayaan. Salah satunya terjadi di daerah Bantul,
Yogyakarta. Korban disekap dan dianiaya oleh lima pelaku karena
menyandingkan tato hello kitty miliknya dan pelaku di media sosial instagram
(jogja.solopos.com, 2015). Pelaku yang masih di bawah umur ini mengikat
korban dan menganiaya korban dengan menyulutkan puntung rokok, bahkan
sampai melukai daerah kemaluan korban (nasional.republika.co.id, 2015).
Perbuatan yang dilakukan para remaja tersebut merupakan perilaku agresi.
Menurut Elliot Aronson, perilaku agresi merupakan perilaku yang melukai
individu lain dengan maupun tanpa tujuan (Koeswara, 1988). Sedangkan
Moore dan Fine mendefinisikan perilaku agresif sebagai tindak kekerasan
yang ditujukan kepada individu lain maupun objek-objek secara fisik maupun
verbal (Koeswara, 1988). Hal yang serupa juga dikemukakan oleh Robert
Baron. Baron memandang perilaku agresi sebagai tingkah laku melukai atau
mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan perilaku tersebut terjadi
pada dirinya (Koeswara, 1988). Sedangkan kekerasan merupakan tipe paling
berat dari agresi fisik. Kekerasan sering kali mengakibatkan luka fisik yang
serius (Shaver & Mikulincer, 2011).
Salah satu penyebab terjadinya perilaku agresi adalah faktor fisiologis.
Beberapa penelitian menyatakan bahwa laki-laki memiliki kecenderungan
lebih tinggi dalam melakukan perilaku agresi secara fisik (Onukwufor, 2013).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
3
Hal ini dipengaruhi oleh produksi hormon ACTH, adrenalin, testosteron, dan
campuran senyawa androgenik pada sistem limbik (Brown & Schuster, 1986).
Sedangkan pada remaja, waktu terjadinya kematangan seksual yang
dipengaruhi oleh kinerja hormon dapat menjadi penyebab perilaku agresi.
Remaja laki-laki dan perempuan yang mencapai masa pubertas lebih awal
dibanding dengan teman-teman sebayanya akan cenderung terlibat dalam
aktivitas yang menyimpang atau antisosial, seperti membolos, kenakalan, dan
mengonsumsi alkohol. Remaja laki-laki yang mencapai pubertas lebih awal
akan lebih matang secara fisik dan berteman dengan anak laki-laki lain yang
lebih tua. Pertemanan ini akan mengarahkan mereka untuk melakukan
kegiatan-kegiatan yang menyimpang (Steinberg, 2002).
Masa remaja juga tekenal dengan istilah masa badai dan stres. Masa badai
dan stres ini dapat dilihat dari karakter remaja yang tidak stabil. Hal ini
disebabkan perubahan-perubahan yang terjadi pada diri remaja, baik secara
fisiologis maupun psikologis. Perubahan hormon yang sangat signifikan
membuat remaja memiliki perasaan tidak nyaman. Selain itu remaja juga
merasa kurang yakin terhadap dirinya sendiri, terhadap kemampuan dan
keinginannya. Ditambah lagi mereka mendapatkan peran baru yang sangat
membingungkan. Mereka sudah tidak dianggap sebagai anak-anak lagi dan
dituntut bersikap layaknya orang dewasa. Akan tetapi tak jarang ketika
mereka bertindak sesuai dengan keinginannya banyak diremehkan karena
dianggap
belum
dewasa.
Hal
ini
menjadi
salah
satu
penyebab
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
4
ketidakbahagiaan pada remaja dan mendorong mereka untuk berperilaku
agresi (Hurlock, 1973; Hurlock, 1953).
Penelitian mengenai agresi pada remaja sering mengaitkan perilaku agresi
dengan variabel eksternal, seperti tingkatan sekolah (Onukwufor, 2013),
hukuman fisik (Simons, Wu, Lin, Gordon, Conger, 2000), keanggotaan pada
geng (Gordon, Lahey, Kawai, Loeber, Lober, Farrington, 2004), status
ekonomi sosial, lingkungan kriminal, dan suku (Heimer, 1997). Sedangkan
variabel internal yang biasa dikaitkan dengan perilaku agresi adalah kadar
hormon, jenis kelamin (Brown & Schuster, 1986), kemampuan coping stress
(Anggaraningtyas & Nugroho, 2013), dan self-esteem (Thomaes, Bushman,
de Castro, Cohen, & Denissen, 2009). Namun jika dilihat dari karakteristik
remaja yang tidak stabil, hal ini dapat dilihat sebagai kurangnya kemampuan
kontrol diri pada remaja. Oleh karena itu peneliti melihat pentingya peran
kontrol diri dalam mengendalikan perilaku agresi pada remaja.
Kontrol diri merupakan kemampuan individu untuk mengendalikan emosi,
dorongan-dorongan dari dalam dirinya untuk mengatur proses-proses fisik,
psikologis,
perilaku
dalam
menyusun,
membimbing,
mengatur
dan
mengarahkan bentuk perilaku yang positif agar dapat diterima dalam
lingkungan sosial (Schulz, 2004). Kontrol diri yang kuat terasosiasikan
dengan perilaku yang tidak bermasalah (Woessner& Schneider, 2013).
Kebanyakan teori dari agresi tidak menghiraukan peran dari regulasi diri
dalam perilaku agresi (Denson, DeWall, & Finkell, 2012). Ketika dorongan
agresif muncul, kontrol diri dapat membantu individu dalam merespons dan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
5
berkompromi dengan standar personal maupun sosial dalam memperingatkan
agresi yang akan muncul. Penelitian yang dilakukan oleh Halloran, Doumas,
John, & Margolin pada tahun 1999 menyatakan bahwa internal locus of
control memiliki hubungan dengan perilaku agresi. Hal ini disebabkan karena
kurangnya locus of control menimbulkan kemarahan dan frustasi yang
mengarah pada perilaku agresi (dalam Denson, DeWall, & Finkell, 2012).
Pada penelitian yang lain ditemukan bahwa impulsivitas merupakan faktor
penting dalam mengembangkan perilaku agresif (dalam Deming & Lochman,
2008). Impusivitas merupakan keadaan ketika seseorang kekurangan kontrol
diri (Tochkov, 2010). Studi mengenai impulsivitas juga menunjukkan bahwa
impulsivitas merupakan prediktor dari perilaku agresi pada masa kanakkanak. Selain itu impulsivitas juga menjadi prediksi perilaku kekerasan di
sekolah (dalam Denson, DeWall, & Finkell, 2012).
Penelitian ini dilakukan mengacu pada penelitian sebelumnya yang
meninjau perilaku agresi dari tingkat kematangan emosi pada mahasiswa
(Guswani & Kawuryan, 2011). Penelitian tersebut menyarankan untuk
meneliti hubungan antara kontrol diri dan perilaku agresi. Selain itu dalam
penelitian lain telah melihat pengaruh kontrol diri pada remaja dalam
menghadapi konflik sebaya dan pemaknaan gender (Praptiani, 2013).
Penelitian ini memberikan batasan dalam beberapa hal. Pertama, penelitian
ini memandang agresivitas hanya sebagai perilaku melawan atau melakukan
serangan balasan akibat terprovokasi. Dengan kata lain stimulus yang
memicu perilaku agresi hanyalah provokasi. Kedua, subjek penelitian yang
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
6
digunakan bukan remaja secara umum namun diseleksi terlebih dahulu
menggunakan Peer Conflict Scale. Sehingga subjek yang didapat adalah
subjek yang sedang mengalami konflik dengan teman sebaaya.
Sejalan dengan pemikiran tersebut, penulis terdorong untuk mengeahui
kedudukan kontrol diri dalam memprediksi perilaku agresi pada remaja.
Dengan itu kecenderungan berperilaku agresi pada remaja bisa lebih
dipahami. Subjek yang dipilih peneliti adalah remaja karena masa remaja
merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang
biasanya menimbulkan banyak masalah (Hurlock, 1990).
B. RUMUSAN MASALAH
Apakah kontrol diri dapat memprediksi secara empirik perilaku agresi
pada remaja?
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah mengetahui kedudukan kontrol
diri dalam memprediksi perilaku agresi pada remaja secara empirik
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
7
D. MANFAAT PENELITIAN
1. Teoretis
Penelitian ini bermanfaat dalam pengembangan ilmu Psikologi,
terutama Psikologi Forensik dan Psikologi Remaja. Hasil penelitian ini
memperjelas hubungan antara kontrol diri dan perilaku agresi pada remaja
di Indonesia.
2. Praktis
Hasil penelitian ini akan memberikan informasi kepada orangtua
mengenai pentingnya peran mereka dalam mengembangkan kontrol diri
pada anak. Ketika orangtua dapat membangun kontrol diri yang baik pada
anaknya maka kemungkinan perilaku agresi pada remaja juga akan
berkurang. Selain itu, penelitian ini juga memberikan informasi kepada
pihak sekolah dan pihak kepolisian dalam mencegah dan menangani
perilaku agresi pada remaja. Pihak sekolah dapat mengadakan kegiatan
sekolah terkait dengan kontrol diri untuk menekan kemungkinan
munculnya perilaku agresi pada remaja. Sedangkan pihak kepolisian
dapat mengembangkan program intervensi bagi para pelaku agresivitas
yang telah melanggar hukum, khususnya remaja, yang terkait pula dengan
kontrol diri. Dengan adanya program intervensi tersebut, tingkat perilaku
agresi dengan pelaku remaja menjadi berkurang karena tingkat kontrol
dirinya meningkat.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
8
BAB II
LANDASAN TEORI
A. KONTROL DIRI
1. Pengertian Kontrol Diri
Kontrol diri dapat didefinisikan sebagai tendensi untuk meregulasi
impuls dan menahan atau menolak godaan diberi penghargaan secara
langsung untuk tujuan jangka panjang (Duckworth, Kim, & Tsukuyama,
2013). Menurut Rodin kontrol diri merupakan perasaan bahwa seseorang
dapat membuat keputusan dan mengambil tindakan yang efektif untuk
menghasilkan akibat yang diinginkan dan menghindari akibat yang tidak
diinginkan (dalam Widiana, Retnowati, & Hidayat, 2004). Dalam Kamus
Psikologi, kontrol diri didefinisikan sebagai kemampuan mengendalikan
impulsivitas dengan menghambat hasrat-hasrat jangka pendek yang
muncul spontan (Reber & Reber, 2010).
Selain itu kontrol diri merupakan kapasitas seseorang yang
memampukannya mengubah keadaan dan respon dalam dirinya.
Seseorang yang memiliki kontrol diri mampu menolak respon yang baru
terjadi di dalam dirinya dan menggantinya dengan respon yang baru.
Perilaku yang tidak teregulasi dan menghasilkan dorongan yang tidak
terencana merupakan perilaku impulsif. Baumeister, dalam penelitiannya,
menyamakan istilah kontrol diri dan regulasi diri (Baumeister, 2002).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
9
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kontrol diri adalah
kemampuan seseorang untuk menahan atau menolak godaan dan
menahan hasrat jangka pendek yang menimbulkan penghargaan segera
dan mengubahnya menjadi respon yang diinginkan supaya mengindari
akibat yang tidak diinginkan dan mencapai tujuan jangka panjang.
2. Internal Locus of Control
Istilah yang sering kali disejajarkan dengan kontrol diri adalah
internal locus of control. Locus of control merupakan keyakinan individu
mengenai seberapa besar kontrol yang dimilikinya dalam menjalani
kehidupan sehari-hari. Sedangkan internal locus of control sendiri
merupakan keyakinan individu bahwa perilaku dan karakteristik yang
dimilikinyalah yang akan menentukan peristiwa yang terjadi dalam
hidupnya. Individu yang memiliki internal locus of control merasa
memiliki kontrol akan hal-hal yang terjadi dalam hidupnya (Passer &
Smith, 2007; Rotter, 1990; Tsai & Hsieh, 2014).
Ketika individu telah memiliki suatu keyakinan maka ia akan
mengembangkan sebuah kompetensi yang mendukung keyakinannya.
Sama halnya ketika individu memiliki internal locus of control, yaitu
keyakinan bahwa ia memiliki kontrol, maka ia akan mengembangkan
kemampuan mengontrolnya (Franken, 2002). Dalam penelitian ini
kemampuan tersebut merupakan kemampuan kontrol diri.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
10
3. Manfaat Kontrol Diri
Individu yang memiliki kontrol diri maka ia juga meyakini bahwa
dirinya merupakan penentu peristiwa yang akan terjadi. Hal ini
menyebabkan
individu
tersebut
berjuang
lebih
keras
untuk
mengembangkan kemampuan yang ada dalam dirinya. Oleh karena itu,
individu yang memiliki kontrol diri akan menjadi pekerja keras (Franken,
2002; Morris, 1990).
Selain itu individu yang memiliki kontrol diri juga keteguhan hati
yang kuat. Hal ini juga dipengaruhi oleh keyakinan dalam dirinya bahwa
segala sesuatu merupakan hasil dari perbuatannya. Individu yang
memiliki kontrol diri juga mampu beradaptasi dengan baik. Indivdu
mampu mengendalikan dorongan-dorongan dalam dirinya sehingga
mampu menempatkan dirinya dengan baik di lingkungan yang baru
(Franken, 2002; Myers, 2013).
Individu yang memiliki kontrol diri juga akan memiliki tujuan
jangka panjang. Tujuan ini memberikan arahan yang jelas bagi individu.
Tujuan juga membuat individu mampu membangkitkan usaha dan
membuat individu gigih dalam berjuang (Franken, 2002).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
11
4. Dampak Kontrol Diri
Individu dengan kontrol diri yang tinggi akan memiliki hubungan
interpersonal yang baik, keluarga yang bersatu dengan ikatan yang kuat,
lebih sedikit masalah dan simptom psikologis, penerimaan serta harga diri
yang lebih tinggi, dan mengalami masalah emosional lebih sedikit
(Tangney, Baumeister, & Boone 2001). Sedangkan bagi siswa yang
memiliki kontrol diri tinggi cenderung memiliki peringkat lebih baik
daripada siswa yang lain. Bawahan yang memiliki pemimpin dengan
kontrol diri tinggi akan menilai pemimpinnya sebagai individu yang lebih
adil dan terpercaya dibanding pemimpin yang lain.
Tanpa
rasa
untuk
mengontrol,
individu
akan
kehilangan
kemampuan mereka untuk mengatasi secara efektif kesulitan-kesulitan
yang kecil (Franken, 2002). Kekurangan kontrol diri menimbulkan
impulsivitas dan ketidaksabaran untuk memenuhi keinginan seseorang
tanpa menunda (Tochkov, 2010). Dengan kata lain, individu yang
kekurangan kontrol diri kurang dapat melihat tujuan secara jangka
panjang.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
12
5. Aspek Kontrol Diri
Kontrol diri memliki tiga buah aspek yang penting (Baumeister,
2002; 2013). Aspek ini merupakan bagian penting dari kontrol diri
sehingga kontrol diri dapat dimunculkan dengan baik. Aspek-aspek
tersebut adalah :
a. Standar-standar (Standards)
Standar mengacu pada tujuan, teladan, norma, dan pedoman lain
yang menentukan respon yang diinginkan. Dalam forensik, standar
yang dimiliki individu biasanya bersifat legal, perilaku yang dapat
diterima oleh sosial. Beberapa individu mungkin tahu hal yang legal
dan pantas secara sosial namun tidak peduli. Mereka memiliki standar
alternatif yang lain, yaitu hal-hal yang mereka anggap benar.
Terjadinya konflik pada tujuan yang membuat tujuan tersebut tidak
jelas dapat merusak dasar dari kontrol diri dan membuat orang
menjadi lebih rentan untuk terpengaruh. Oleh karena itu tujuan yang
jelas dapat menolong individu untuk menentukan standar dalam
dirinya. Secara umum, individu ingin merasa senang. Ketika sedang
sedih atau kacau, kita akan berfokus pada perilaku yang dapat
membuat individu tersebut senang. Dalam keadaan stres secara emosi
(emotional distress), kontrol diri akan mengalami gangguan.
Normalnya individu mengontrol perilakunya supaya dapat mengejar
standar yang tinggi atau tujuan jangka panjang yang diinginkan.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
13
Sedangkan dalam keadaan kacau atau sedih individu akan mencari
kepuasan yang bisa segera ia dapatkan.
b. Pengawasan (Monitoring)
Aspek kedua dalam kontrol diri adalah proses pengawasan.
Pengawasan merupakan menjaga atau mengawasi perilaku yang
relevan. Ketika seseorang tidak mampu mengawasi perilakunya atau
keluar jalur maka kontrol dirinya juga akan hancur. Hal ini disebabkan
karena tanpa memantau perilaku mengontol diri merupakan pekerjaan
yang sulit. Perhatian yang terfokus pada diri merupakan hal yang
penting dalam mengawasi diri sendiri.
c. Kapasitas untuk Berubah (The Capacity to Change)
Aspek ketiga dari kontrol diri adalah kapasitas seseorang untuk
mengubah dirinya sendiri. Kedua aspek yang lain tidak akan berguna
tanpa aspek ketiga ini. Hal ini melibatkan penyusunan tenaga dalam
mengubah atau membatasi perbuatan yang tidak pantas. Individu yang
tidak memiliki kapasitas untuk berubah sama saja dengan individu
yang telah mengerti dengan pasti namun tidak mampu membuat
dirinya melakukan aksi untuk mencapai tujuannya tersebut.
Terdapat tiga cara dalam melakukan suatu perubahan. Cara
pertama dengan kemauan yang kuat atau kekuatan. Individu
menggunakan kekuatan yang setara atau bahkan melebihi kekuatan
dari impuls atau dorongan. Cara ini beranggapan bahwa individu akan
menggunakan energi pada tindakan kontrol diri yang pertama
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
14
sehingga menyebabkan efektivitas kontrol diri akan berkurang dari
normalnya pada tindakan kontrol diri yang kedua dan selanjutnya.
Cara yang kedua melibatkan kemampuan kognitif individu seperti
pengetahuan
mengenai
diri
dan
memikirkan
kemungkinan-
kemungkinan. Cara ini mengibaratkan kontrol diri seperti perangkat
lunak (software) yang bisa terus menerus diisi. Berbeda dengan cara
yang pertama, cara yang melibatkan kemampuan kognitif ini
memprediksi kemudahan. Tindakan kontrol diri yang pertama akan
mengisi “perangkat lunak” atau melengkapinya dengan skema kontrol
diri yang relevan. Dengan begitu tindakan kontrol diri akan semakin
meningkat atau menjadi lebih baik. Kontrol diri digambarkan sebagai
suatu ketrampilan atau keahlian pada cara yang ketiga. Cara ini
memandang kontrol diri pada esensinya sama, dari tindakan kontrol
diri pertama, kedua, dan seterusnya. Akan tetapi dalam jangka waktu
yang lama, kontrol diri akan menunjukkan kemajuan secara
berangsur-angsur.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
15
B. PERILAKU AGRESI
1. Pengertian Perilaku Agresi
Pengertian perilaku agresi menurut Arnold Buss (dalam Berkowitz,
1995) adalah stimulus berbahya yang dikirimkan kepada orang lain.
Sedangkan menurut Berkowitz, kontrol diri adalah segala perilaku yang
bertujuan untuk menyakiti orang lain secara fisik maupun mental
(Berkowitz, 1995). Baron (dalam Koeswara, 1988) memiliki pendapat
yang serupa, yaitu perilaku yang bertujuan untuk melukai atau
mencelakakan orang lain yang tidak menginginkan datangnya perilaku
tersebut. Elliot Aronson (dalam Koeswara, 1988) mendefinisikan perilaku
agresi sebagai perilaku yang dijalankan dengan tujuan melukai atau
mencelakakan orang lain dengan atau tanpa tujuan tertentu. Pendapat
yang serupa dikemukakan oleh Dollard, Doob, Miller, Mowrer, & Sears
(dalam Bandura, 1973) yang mengatakan bahwa perilaku agresi
merupakan rangkaian perilaku yang bertujuan untuk melukai orang yang
perilaku tersebut ditujukan. Sedangkan Moore & Fine (dalam Koeswara,
1988) secara spesifik mengatakan perilaku agresi sebagai perilaku
kekerasan secara fisik maupun verbal terhadap orang maupun objek lain.
Dari kumpulan pengertian yang sudah diuraikan, terdapat
persamaan mengenai pengertian perilaku agresi. Perilaku agresi memiliki
tujuan untuk melukai, menyakiti, atau mencelakakan.Sasaran dari
perilaku agresi ini adalah individu maupun objek benda mati. Selain itu
perilaku agresi yang dilakukan seseorang dapat bersifat secara fisik,
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
16
verbal, maupun mental. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa
perilaku agresi adalah perilaku yang bertujuan untuk melukai, menyakiti
atau mencelakakan orang maupun objek benda mati yang menjadi sasaran
baik secara fisik, verbal, maupun mental.
2. Teori Perilaku Agresi
Teori I3 (dibaca I-cubed) merupakan teori yang mencoba
menjelaskan perilaku agresi seseorang tidak hanya berdasarkan variabel
tertentu, namun teori ini memberikan struktur untuk memahami
bagaimana faktor resiko mempengaruhi perilaku agresi dan hubungan
antara faktor resiko dalam memperburuk atau mengurangi perilaku agresi.
Teori I3 menyatakan tiga faktor resiko yang mempengaruhi perilaku
agresi, yaitu instigating trigger, impelling forces, dan inhibiting forces
(Shaver & Mikulincer, 2011; Denson, DeWall, & Finkel, 2012).
Gambar 1. Bagan Teori I3 pada Perilaku Agresi
Instigating
Trigger
Impelling
Forces
Inhibiting
Forces
(Kontrol
Diri)
Perilaku
Agresi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
a.
17
Instigating Trigger
Instigating trigger merupakan peristiwa atau keadaan yang
dapat menstimulus perilaku agresi seseorang. Tanpa adanya
peristiwa maupun keadaan yang dapat memicu maka perilaku agresi
tidak akan muncul, meskipun individu tersebut memiliki agresivitas
yang tergolong tinggi. Teori I3 juga melihat bahwa perilaku agresi
juga akan muncul ketika individu memiliki tujuan instrumental,
contohnya ketika individu diberikan upah untuk menghajar orang
lain. Salah satu contoh instigating trigger adalah provokasi. Ejekan
dari orang lain dapat menjadi stimulus dari perilaku agresi individu.
b. Impelling Forces
Impelling forces adalah faktor situasonal atau disposisi yang
meningkatkan kemungkinan individu dalam mengalami dorongan
agresif ketika menanggapi instigating trigger. Sifat agresif pada
individu merupakan salah satu contoh dari impelling forces. Faktor
resiko ini menentukan seberapa besar dorongan agresif yang akan
dialami oleh individu. Perilaku agresi akan semakin tinggi ketika
instigator trigger bertemu dengan impelling forces. Individu yang
memiliki impelling forces yang lemah akan cenderung rendah
perilaku agresinya dibanding dengan yang kuat ketika menghadapi
instigator trigger yang sama. Ketika provokasi menjadi instigator
trigger, sifat agresif seseorang bisa menjadi salah satu contoh dari
impelling forces. Individu yang diprovokasi akan menunjukkan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
18
perilaku agresi yang sangat tinggi jika ia memiliki sifat agresif.
Meskipun individu tersebut tidak memiliki sifat agresif, namun
ketika sebelum terprovokasi mengalami kejadian seperti bertengkar
dengan ibunya maka kecenderungan berperilaku agresi individu
tersebut akan tinggi juga.
c.
Inhibiting Forces
Inhibiting forces merupakan faktor situasional maupun
disposisi individu yang mampu meningkatkan kemungkinan bahwa
individu dapat melampaui atau bahkan menolak dorongan untuk
beragresi yang muncul dalam dirinya. Jika dorongan untuk
berperilaku agresi tinggi maka individu harus memiliki kekuatan
inhibiting forces yang lebih tinggi daripada dorongan tersebut
supaya perilaku agresi tidak muncul. Kontrol diri merupakan salah
satu contoh dari inhibiting forces.
3. Jenis Perilaku Agresi
Berkowitz membagi perilaku agresi menjadi dua jenis (Berkowitz,
1995; Koeswara, 1988), yaitu :
a. Agresi Instrumental
Agresi instrumental merupakan perilaku agresi yang memiliki
tujuan lain selain menyakiti korban. Bagi pelaku, jauh lebih penting
dalam meraih tujuan tersebut dari pada rasa sakit yang dialami oleh
korban. Contoh dari perilaku agresi instrumental adalah seorang
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
19
tentara yang membunuh musuhnya. Hal ini belum tentu dilakukan
oleh tentara tersebut untuk membuat musuhnya kesakitan, namun bisa
karena rasa patriotisme kepada negaranya.
b. Agresi Emosional
Jenis agresi ini juga biasa disebut agresi jahat. Hal ini disebabkan
karena tujuan utama pelaku melakukan perilaku ini adalah berbuat
jahat. Agresi emosional biasanya terjadi karena seseorang tersinggung
dan berusaha menyakiti orang lain.
Sedangkan menurut Dollar & Sear (dalam Berkowitz, 1995),
perilaku agresi dibagi menjadi empat jenis :
a. Agresi Fisik
Perilaku agresi fisik melibatkan tindakan yang secara terangterangan bermaksud untuk mencelakakan atau menyakiti orang lain
dengan segala cara.
b. Agresi Verbal
Perilaku agresi verbal merupakan usaha untuk mencelakakan atau
menyakiti orang lain melalui kata-kata. Terkadang hal ini berdampak
pada stress psikologis, kecemasan, dan jatuhnya harga diri korban.
c. Agresi Langsung
Perilaku agresi langsung merupakan perilaku yang mencelakakan
atau menyakiti orang lain yang disampaikan secara langsung kepada
korban.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
20
d. Agresi Tidak Langsung
Perilaku agresi tidak langsung adalah usaha untuk mencelakakan
atau menyakiti orang lain melalui aksi perantara atau dengan
menyerang orang atau subjek yang berharga bagi korban.
4. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Agresi
Faktor dari perilaku agresi merupakan hal yang dapat menyebabkan
atau mempengaruhi terjadinya perilaku agresi. Faktor perilaku agresi
dibagi menjadi dua bagian, yaitu faktor personal dan faktor situasional.
Faktor personal meliputi semua karakteristik yang seseorang bawa.
Sedangkan faktor situasional meliputi semua ciri-ciri dari sebuah situasi
(dalam Anderson & Bushman, 2002).
a. Faktor Personal
1) Trait (Sifat)
Beberapa sifat tertentu mempengaruhi seseorang kepada agresi
tingkat tinggi. Sifat individu yang lebih mudah melakukan agresi
kepada orang lain karena kecurigaan kepada atribusi bermusuhan
(hostile attribution), persepsi, dan ekspektasi yang bias. Teori lain
mengatakan tipe A yang memiliki self-esteem yang tinggi akan
cenderung melakukan perilaku agresi.
2) Sex (Jenis Kelamin)
Laki-laki dan perempuan memiliki tendensi dalam berperilaku
agresif yang berbeda. Penelitian mengenai pembunuhan yang
dilakukan oleh FBI di Amerika Serikat menunjukkan bahwa
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
21
banyaknya pelaku laki-laki sepuluh kali lipat lebih banyak dari
pada perempuan. Tipe dari perilaku agresi yang dilakukan oleh
laki-laki dan perempuan juga berbeda. Laki-laki cenderung untuk
melakukan agresi secara langsung sedang perempuan sebaliknya.
3) Belief (Kepercayaan)
Banyak tipe kepercayaan yang berperan penting dalam
terjadinya perilaku agresi. Bagi mereka yang percaya bahwa
mereka dapat berperilaku agresi dan hasilnya akan memuaskan
bagi mereka maka akan cenderung melakukan perilaku agresi
dibandingkan dengan mereka yang tidak percaya kesuksesan dari
perilaku agresi. Perilaku agresi yang berhubungan dengan
kepercayaan diyakini mampu memprediksi tingkat agresivitas
seseorang di masa depan.
4) Attitude (Sikap)
Sikap adalah evaluasi umum seseorang mengenai dirinya
sendiri, orang lain, objek-objek, dan isu-isu. Ketika seseorang
memiliki sikap yang positif mengenai kekerasan maka secara
umum orang tersebut cenderung akan berperilaku secara agresif.
5) Value (Nilai)
Nilai adalah kepercayaan mengenai sesuatu yang seseorang
seharusnya atau seharusnya lakukan. Nilai juga sangat berperan
penting dalam menentukan tingkat dari perilaku agresi seseorang.
Bagi beberapa orang, kekerasan merupakan salah satu cara untuk
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
22
mengatasi konflik interpersonal yang sedang dihadapi. Sebagai
contoh, kekerasan yang dilakukan oleh sebuah geng atau kelompok
didasari untuk mempertahankan kehormatan yang ada dalam
kelompok tersebut.
6) Long-term Goal (Tujuan Jangka Panjang)
Tujuan jangka panjang sangatlah penting dalam memprediksi
perilaku agresi seseorang. Tujuan jangka panjang yang dimiliki
seseorang akan mempengaruhi persepsi, nilai, dan kepercayaan
mengenai seberapa penting ia melakukan perilaku agresi tersebut.
b. Faktor Situasional
1) Aggressive Cue (Isyarat Agresif)
Isyarat agresif adalah objek utama dalam agresi yang
berhubungan dengan konsep dalam ingatan. Sebagai contohnya,
ketika seseorang dihadapkan pada sebuah senjata maka hal tersebut
akan meningkatkan agresivitas seseorang. Hal ini disebabkan
gambaran mengenai senjata secara otomatis memunculkan pikiran
agresi.
2) Provocation (Provokasi)
Provokasi terdiri dari mencela, meremehkan, bentuk lain dari
agresi verbal, agresi fisik, interfensi terhadap usaha seseorang
dalam mencapai tujuan. Provokasi merupakan faktor penyebab
agresi yang sangat penting. Salah satu studi yang dilakukan Baron
(2006) di tempat kerja menghasilkan bahwa ketika seseorang
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
23
mendapat perlakuan yang tidak adil di tempat kerja maka ia akan
cenderung melakukan agresi.
3) Frustation (Frustasi)
Frustrasi
dapat
didefinisikan
sebagai
penghalang
dari
pencapaian tujuan. Sebagian besar provokasi dapat dilihat sebagai
salah satu tipe frustrasi yang diidentifikasi individu sebagai agen
yang menggagalkan seseorang untuk mencapai suatu tujuan.
Frustasi telah dipercaya dapat meningkatkan agresi seseorang.
4) Pain and Discomfort (Rasa Sakit dan Ketidaknyamanan)
Beberapa penelitian menunjukkan ketidaknyamanan dapat
menimbulkan perilaku agresi, begitu pula dengan rasa sakit.
Contoh dari kondisi yang tidak nyaman adalah suhu tinggi, asap
rokok, bau tidak enak, dan pemandangan yang menjijikan. Namun
perilaku agresi yang dilakukan tidak hanya untuk menghentikan
atau mengurangi kondisi yang tidak menyenangkan maupun rasa
sakit yang dirasakan. Perilaku agresi bisa ditunjukkan meski objek
tidak melakukan apapun yang membuat pelaku mengalami rasa
sakit atau ketidaknyamanan (Berkowitz, 1995).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
24
5. Aspek Perilaku Agresi
Menurut Buss & Perry (1992) perilaku agresi dipengaruhi oleh empat
aspek. Aspek ini merupakan bagian pernting dari perilaku agresi sehingga
perilaku agresi dapat muncul. Aspek pertama dan kedua dilihat dari jenis
perilakunya, yaitu agresi fisik dan agresi verbal. Agresi fisik maupun
agresi verbal dilihat dari segi motorik atau konatif. Aspek ketiga adalah
kemarahan (anger) yang dilihat dari segi emosional atau afektif. Dan
aspek terakhir adalah kebencian (hostility) yang merupakan perwakilan
dari sisi kognitif.
a. Agresi Fisik
Agresi fisik merupakan perbuatan melukai atau menyakiti orang
lain atau objek langsung secara fisik. Agresi fisik meliputi memukul,
menendang, menampar, dan menggigit (Ivory & Kaestle, 2013;
Kawabata, Tseng, & Crick, 2014).
b. Agresi Verbal
Agresi verbal menggunakan kata-kata untuk menyakiti orang lain
secara langsung dan sengaja. Contoh perilaku dari agresi verbal adalah
menghina dan mengejek orang lain dengan sebutan (Coyne, Robinson,
& Nelson, 2010).
c. Kemarahan (Anger)
Kemarahan
merupakan
keadaan
perasaan
emosional
yang
bervariasi intensitasnya dari rasa jengkel yang ringan sampai amukan
yang intens (dalam Johansson, Santtila, Corander, Jern, Pahlen,
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
25
Varjonen, & Sandnabba, 2011). Individu dengan tingkat kemarahan
yeng tinggi akan mudah marah dan tersinggung (dalam Reyna, Lello,
Sanchez, Brussino, 2011).
d. Permusuhan (Hostility)
Permusuhan bisa dikonsepkan sebagai sikap bermusuhan secara
interpersonal (dalam Haney, Maynard, Houseworth, Scherwitz,
William, & Barefoot, 1996). Individu yang memiliki permusuhan
akan cenderung memiliki keyakinan negatif mengenai orang lain,
seperti prasangka yang buruk, perasaan curiga, iri hati, sinisme,
paranoid, dan mencela. Selain itu individu dengan sikap permusuhan
akan memiliki perasaan jengkel dan dendam (Reyna, et al, 2011; )
C. REMAJA
1. Definisi Remaja
Masa remaja adalah sebuah periode transisi secara biologis, psikologis,
sosial, dan ekonomi (Steinberg, 2002). Masa remaja merupakan tahap
kedua dalam perkembangan manusia. Remaja dibedakan menjadi tiga
kelompok, yaitu remaja awal, remaja tengah, dan remaja akhir. Usia
remaja awal berkisar dari 10 tahun sampai 13 tahun, remaja tengah dari 14
tahun sampai 18 tahun, dan remaja akhir dari 19 tahun sampai 22 tahun.
Sedangkan menurut Sarwono (2008), rentang usia yang termasuk dalam
kategori remaja adalah 11 – 24 tahun dan belum menikah.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
26
2. Perkembangan Remaja
a. Perkembangan Fisik
Salah satu perubahan yang terjadi pada tubuh remaja adalah
perubahan hormonal. Tiap jenis kelamin mengalami perubahan hormon
yang berbeda. Pada laki-laki akan didominasi oleh hormon testosteron
sedangkan esterogen untuk perempuan. Perkembangan hormon inilah
yang mampu mempengaruhi cara kerja otak sehingga menimbulkan
perilaku yang berbeda antara remaja laki-laki dan perempuan
(Steinberg, 2002).
b. Perkembangan Kognitif
Perkembangan otak pada masa remaja menjadi kunci untuk mereka
mengembangkan
regulasi
emosi
dan
perilakunya.
Selain
itu
perkembangan otak pada masa remaja juga semakin memampukan
remaja untuk mempersepsi dan mengevaluasi resiko dan penghargaan
yang akan mereka terima (Steinberg, 2005). Perkembangan berpikir
remaja yang semakin maju dibandingkan ketika mereka kanak-kanak
juga digambarkan dalam 5 hal menurut Keating (dalam Steinberg,
2002) :
1. Kemampuan remaja lebih baik dalam memperkirakan kemungkinankemungkinan. Mereka tidak terbatas pada hal-hal yang mereka lihat
saja
2. Remaja lebih mampu berpikir mengenai hal abstrak.
3. Remaja lebih sering memikirkan tentang proses berpikir.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
4. Cara
berpikir
remaja
lebih
luas.
Mereka
berpikir
27
secara
multidimensional.
5. Remaja melihat segala sesuatu secara relatif dan tidak absolut.
Menurut Piaget (dalam Steinberg, 2002) remaja memasuki tahap
cara berpikir operasional formal. Ciri khas dari cara berpikir
operasional
formal
adalah
remaja
mampu
berpikir
tentang
kemungkinan, berpikir secara multidimensi, dan mampu berpikir
mengenai konsep-konsep abstrak.
c. Perkembangan Emosi
Remaja sangat terkenal dengan istilah storm and stress (badai dan
stres). Oleh karena keadaan ini remaja identik dengan kemarahan dan
emosi yang meledak-ledak. Salah satu penyebabnya adalah perubahan
hormonal
(Steinberg,
2002).
Selain
itu
penyesuaian
terhadap
lingkungan yang baru juga dapat membuat remaja mengalami keadaan
emosi yang berlebihan. Hal ini disebabkan remaja kurang siap ketika
meninggalkan dunia kanak-kanaknya dan mengalami kebingungan
dengan peran mereka yang baru.
Harapan sosial akan perilaku yang lebih matang dari remaja juga
memberikan tekanan tersendiri. Lingkungan sosial menuntut mereka
untuk berperilaku seperti orang dewasa. Selain itu remaja harus
menyesuaikan diri pula dengan lawan jenis mereka. Remaja harus
belajar hal-hal apa saja yang bisa dibicarakan dengan lawan jenis,
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
28
bagaimana cara bersikap di depan lawan jenis, dan bagaimana cara
untuk popular diantara lawan jenis.
Tidak hanya lingkungan sosial namun keluarga juga mempengaruhi
keadaan emosi remaja. Remaja akan mengalami ketegangan emosi
ketika memiliki orangtua yang sangat keras dan memberikan kebebasan
yang sangat terbatas bagi remaja untuk berkembang.
Di sisi lain remaja mulai menyadari pentingnya pendidikan bagi
kehidupannya di masa depan dan menimbulkan perasaan cemas yang
tidak pernah timbul ketika masa kanak-kanak. Kecemasan tersebut
berlanjut ketika remaja dihadapkan pada kehidupan setelah sekolah,
ketika mereka harus bekerja atau menentukan jurusan di perguruan
tinggi. Cita-cita tidak realistis yang dibawanya sejak masa kanak-kanak
akan memberikan kesulitan remaja untuk menentukan pilihannya di
masa depan. Meskipun remaja mampu menentukkan apa yang
diinginkan belum tentu hal tersebut akan mereka dapatkan. Keadaan
ekonomi keluarga dan izin dari orangtua yang biasanya menjadi
penghalang antara remaja dan keinginannya sehingga membuat remaja
merasa frustasi (Hurlock, 1973). Meskipun demikian dari tahun ke
tahun cenderung terjadi perbaikan perilaku emosional pada remaja
(Hurlock, 1990).
Salah satu tugas perkembangan remaja di wilayah emosi adalah
pencapaian kematangan emosi. Remaja yang matang secara emosi bila
emosi remaja tersebut tidak meledak-ledak di hadapan orang lain. Akan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
29
tetapi, remaja akan menunggu waktu dan tempat yang tepat untuk
mengungkapkan emosinya dan dengan cara yang lebih dapat diterima
secara sosial. Hal ini disebabkan remaja yang sudah mencapai
kematangan emosi dapat melihat situasi secara kritis dan berpikir
terlebih dahulu sebelum bereaksi (Hurlock, 1990).
D. Kontrol Diri pada Remaja
Kontrol diri yang dimiliki remaja tidak muncul begitu saja. Kontrol diri
ini dibangun individu sejak kecil. Ketika anak-anak usia prasekolah mampu
untuk menunda kepuasan (delay of gratification) terhadap suatu hadiah yang
nyata dan tanpa distraksi maka kontrol diri akan sedikit demi sedikit
terbangun. Oleh karena itu kontrol diri merupakan kemampuan individu
untuk mentoleransi penundaan kepuasaan. Keinginan untuk menunda
kepuasan (delay of gratification) pada anak dapat dipelajari dengan
mengobservasi model. Mengajarkan anak untuk dapat menunda kepuasan
(delay of gratification) di awal-awal kehidupannya akan sangat berguna di
tahap perkembangan berikutnya (Hergenhahn & Olson, 2007).
Menurut para orangtua, anak-anak mereka yang mampu menunda
kepuasan lebih lama ketika masa prasekolah dinilai lebih positif pada
berbagai kemampuan sosial dan akademik ketika mereka sudah SMA. Bagi
mereka, remaja yang mampu menunda kepuasan lebih lama ketika masa
prasekolah cenderung untuk menunjukkan kontrol diri ketika frustrasi,
mampu mengatasi masalah yang penting, melakukan tugas secara akademis
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
30
dengan baik ketika termotivasi, mengejar tujuan ketika termotivasi,
menunjukkan kecerdasan, serta mampu mempertahankan pertemanan dan
dapat bergaul dengan teman sebaya. Sedangkan kecil kemungkinannya untuk
teralihkan oleh rintangan yang kecil, menyerah pada godaan, mudah
terdistraksi ketika berusaha berkonsentrasi, dan kehilangan kontrol diri ketika
frustrasi (Hergenhahn & Olson, 2007).
Erik Erikson dalam tahapan psikososialnya juga menjelaskan bahwa
kemampuan kontrol diri seseorang mulai dikembangkan sejak masa kanakkanak. Kontrol diri mulai berkembang pada usia 2 – 3 tahun ketika anak
memasuki tahap autonomy vs shame & doubt. Pada usia 2 tahun, kemampuan
motorik anak mulai berkembang dan mereka bisa melakukan banyak hal
tanpa bantuan orangtuanya. Suasana suportif dan tidak terlalu mengekang
dari orangtua dapat mengembangkan kemampuan kontrol diri pada anak.
Selain itu, pada tahapan selanjutnya, initiative vs guilt, kemampuan kontrol
diri anak juga semakin berkembang. Pada usia 4 tahun, anak mulai
mengembangkan inisiatif dalam memulai suatu kegiatan. Terkadang anak
ingin melakukan sesuatu yang terlalu berbahaya sehingga orangtua harus
membatasi mereka. Dari sinilah anak mulai belajar untuk mengontrol dirinya
(Erikson, 1963; Miller, 2011).
Kemampuan kontrol diri yang dikembangkan ketika kanak-kanak ini
sangat mempengaruhi pencapaian mereka di tahapan selanjutnya. Pada tahap
industry vs inferiority individu diharapkan dapat mengembangkan suatu
kompetensi tertentu. Kemampuan anak dalam mengontrol diri sangat penting
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
31
ketika mereka mengalami kegagalan. Anak yang kemapuan kontrol dirinya
rendah akan mudah frustrasi sehingga memungkinkan mengembangkan rasa
inferior dalam dirinya. Selanjutnya pada tahap identity vs role diffusion,
kemampuan kontrol diri ini dapat membantu individu dalam mencapai suatu
identitas tertentu (Erikson, 1963; Miller, 2011).
E. DINAMIKA
HUBUNGAN
ANTARA
KONTROL
DIRI
DAN
PERILAKU AGRESI PADA REMAJA
Masa remaja merupakan tahap kedua dalam perkembangan hidup manusia.
Dalam masa ini individu mengalami peralihan dari masa kanak-kanak ke
masa dewasa. Ketika individu memasuki masa remaja ia akan mengalami
perubahan secara biologis, psikologis, sosial, dan ekonomi. Secara kognitif,
remaja
mulai
memiliki
kemampuan
untuk
berpikir
abstrak
dan
memperkirakan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.
Selain itu remaja sudah mampu berpikir secara multidimensional sehingga
dapat melihat suatu kenyataan secara lebih relatif (Steinberg, 2002). Selain itu
remaja mengalami perubahan fisik yang disebabkan oleh kematangan seksual.
Perubahan fisik yang signifikan ini tak jarang menyebabkan perasaan tidak
nyaman. Secara sosial mereka akan mendapatkan peran baru dan
membingungkan. Mereka sering dianggap masih kanak-kanak sehingga
tindakan mereka sering diremehkan. Namun di sisi lain mereka dituntut untuk
berpikir dan berperilaku seperti orang dewasa. Hal ini menimbulkan perasaan
yang tidak bahagia pada remaja (Hurlock, 1973).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
32
Selain itu remaja terkadang belum siap dalam menghadapi perubahan
dalam dirinya maupun tuntutan yang baru dari lingkungan sekitar.
Lingkungan yang menuntut perilaku yang lebih matang dari remaja memiliki
tekanan tersendiri. Belum lagi masalah hubungan mereka dengan lawan jenis.
Semua tuntutan tersebut membuat remaja menjadi frustrasi (Hurlock, 1973).
Hasil dari rasa frustrasi tersebut biasanya berupa amarah dan emosi yang
meledak-ledak. Hal ini membuat masa remaja terkenal dengan istilah storm
and stress (Steinberg, 2002). Rasa frustrasi atau ketegangan emosi yang
dirasakan remaja diekspresikan salah satunya dalam perilaku agresi. Perilaku
agresi remaja sering kali ditujukan pada orang-orang di sekitar mereka yang
telah membuat mereka marah atau frustrasi, yaitu orangtua, saudara, atau
bahkan teman sebayanya (Hurlock, 1973).
Dalam upaya menjelaskan perilaku agresi, teori I3 mencoba menjelaskan
bagaimana perilaku agresi bisa terjadi. Menurut teori I3 sebelum perilaku
agresi dimunculkan oleh individu pasti akan didahului oleh instigating
trigger. Instigating trigger merupakan peristiwa atau keadaan sekitar individu
yang menjadi stimulus atau pemicu individu tersebut dalam beragresi.
Instigating trigger sendiri bisa menimbulkan perilaku agresi pada individu
jika memiliki kekuatan yang besar. Akan tetapi ada hal lain yang mampu
mendorong perilaku agresi muncul semakin kuat, yaitu impelling forces.
Impelling forces ini dapat berupa disposisi dalam diri individu maupun
keadaan situasional. Perilaku agresi akan semakin kuat ketika instigating
trigger muncul bersamaan dengan impelling forces, apalagi masing-masing
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
33
memiliki dorongan yang kuat. Untuk menekan atau mengurangi kekuatan
beragresi individu, dibutuhkan faktor situasional atau disposisi seseorang
yang disebut inhibiting forces. Salah satu disposisi individu yang dirasa
cukup efektif untuk menghambat perilaku agresi seseorang adalah kontrol diri
(Shaver & Mikulincer, 2011).
Ketika individu memiliki kontrol diri yang baik maka ia akan memiliki
standar yang sesuai dengan lingkungan, mampu mengawasi perilakunya, dan
memiliki kapasitas untuk berubah. Standar merupakan tujuan, norma, dan
pedoman yang dimiliki seseorang. Standar yang baik adalah standar yang
sesuai dengan lingkungan sosial (Baumeister, 2013). Sedangkan perilaku
agresi merupakan perilaku antisosial (Shaver & Mikulincer, 2011). Oleh
karena itu individu yang memiliki standar yang baik akan memiliki
kecenderungan berperilaku agresi yang rendah. Selain itu individu yang
mampu mengawasi perilakunya merupakan individu yang memiliki kontrol
diri. Ketika individu lengah dalam mengawasi perilakunya maka ia akan lepas
kendali (Baumeister, 2002). Sama seperti ketika individu yang sedang
beragresi, ia tidak mampu mengawasi perilakunya yang mengarah pada
perilaku agresi. Ketika individu sudah memiliki standar yang baik dan
mampu mengawasi perilakunya, ia harus memiliki kapasitas untuk berubah
supaya perilaku agresi tersebut tidak muncul. Kemampuan ini membutuhkan
energi untuk dapat membatasi perbuatan atau respon individu yang dapat
mengarah pada perilaku agresi (Baumeister, 2002; 2013).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
34
Oleh karena itu, meskipun masa remaja lekat dengan perubahan emosi
yang cukup intens serta cenderung ditekan dan dituntut oleh lingkungan
mereka, akan tetapi remaja yang memiliki kontrol diri tinggi akan mampu
mengurangi atau bahkan menekan perilaku agresi yang akan muncul.
Sebaliknya remaja yang memiliki kontrol diri rendah kurang mampu dalam
menghadapi perubahan yan terjadi dalam dirinya maupun tekanan dari
lingkungannya. Oleh karena itu, remaja yang memiliki kontrol diri rendah
akan cenderung memiliki perilaku agresi yang tinggi.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
35
F. SKEMA HUBUNGAN ANTARA KONTROL DIRI DAN PERILAKU
AGRESI PADA REMAJA
Gambar 2. Bagan dan Deskripsi Dinamika Antar Variabel
Kontrol
Diri
Tinggi
Standar baik
Tujuan & prinsip
sesuai norma sosial
Pengawasan baik
Menyadari
perubahan diri
memiliki kapasitas
berubah
Mampu mengubah
respon
Kontrol
Diri
Kontrol
Diri
Rendah
Standar buruk
Tujuan & prinsip
bertentangan
dengan norma
sosial
Pengawasan buruk
Tidak menyadari
perubahan diri
Tidak memiliki
kapasitas berubah
Tidak mampu
mengubah respon
Perilaku
Agresi
Rendah
Perilaku
Agresi
Tinggi
G. HIPOTESIS
Menurut penjabaran di atas, peneliti menarik hipotesis penelitian, yaitu
kontrol diri dapat memprediksi perilaku agresi pada remaja secara negatif.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
36
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. JENIS PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Hal ini disebabkan
masalah dalam penelitian ini sudah diidentifikasi dan dibatasi. Selain itu
penelitian ini menggunakan teori untuk menjawab masalah yang diungkapkan
(Sugiyono, 2014). Penelitian ini juga merupakan penelitian yang bersifat
korelasional yang bertujuan menunjukkan hubungan antara dua variabel atau
lebih. Jenis hubungan pada penelitian ini adalah hubungan kausal atau sebabakibat. Penelitian dengan jenis hubungan kausal ditandai dengan adanya
variabel independen (variabel yang mempengaruhi) dan variabel dependen
(variabel yang dipengaruhi) (Sugiyono, 2014; Taniredja & Mustafidah, 2011).
B. IDENTIFIKASI VARIABEL PENELITIAN
1. Variabel dependen
Variable dependen dalam penelitian ini adalah perilaku agresi.
2. Variable independen
Variabel independen dalam penelitian ini adalah kontrol diri.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
37
C. DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL PENELITIAN
Definisi operasional dibuat untuk mempermudah peneliti dalam melihat
hubungan antara dua variabel penelitian. Hal ini disebabkan variabel yang
akan diteliti masih bersifat konseptual. Definisi operasional adalah definisi
suatu variabel berdasarkan karakteristik variabel tersebut yang dapat diamati
(Sarwono, 2006). Definisi operasional variabel-variabel yang akan diteliti
adalah sebagai berikut :
1. Kontrol Diri
Kontrol diri adalah kemampuan seseorang untuk menahan atau
menolak
godaan
dan
menahan
hasrat
jangka
pendek
yang
menimbulkan penghargaan segera dan mengubahnya menjadi respon
yang diinginkan supaya mengindari akibat yang tidak diinginkan dan
mencapai
tujuan
jangka
panjang.
Kontrol
diri
akan
diukur
menggunakan skala kontrol diri. Skala tersebut akan disusun
berdasarkan ketiga aspek yang telah diutarakan Baumeister (2002;
2013), yaitu standar-standar, pengawasan, dan kapasitas untuk berubah
2. Perilaku Agresi
Perilaku agresi adalah perilaku yang bertujuan untuk melukai,
menyakiti atau mencelakakan orang maupun objek benda mati yang
menjadi sasaran baik secara fisik, verbal, maupun mental. Perilaku
agresi akan diukur menggunakan skala kecenderungan berperilaku
agresi. Skala tersebut akan disusun berdasarkan keempat aspek yang
telah diutarakan Buss & Perry (dalam Reyna, Lello, Sanchez,
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
38
Brussino, 2011), yaitu agresi fisik, agresi verbal, kemarahan (anger),
dan permusuhan (hostility).
D. SUBJEK PENELITIAN
Subjek penelitian ini dipilih dengan cara nonprobability sampling, teknik
pengambilan sampel yang tidak memberi peluang yang sama besar terhadap
anggota populasi yang sudah ditentukan. Teknik yang digunakan adalah
quota sampling. Peneliti telah menentukan jumlah (kuota) sampel yang
diinginkan dari suatu populasi (Sugiyono, 2014). Karakteristik subjek yang
digunakan dalam penelitian ini adalah subjek merupakan remaja yang berusia
11-24 tahun dan belum menikah dan remaja berjenis kelamin laki-laki dan
perempuan. Rentang usia yang cukup besar ini digunakan peneliti untuk
melihat remaja secara keseluruhan, baik remaja awal, tengah, maupun akhir.
E. METODE PENGUMPULAN DATA
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala Likert. Skala
Likert biasanya digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, maupun persepsi
seseorang (Sugiyono, 2014; Sarwono, 2006). Penelitian ini menggunakan
lima buah pilihan jawaban, yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Netral (N),
Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai (STS). Istilah sesuai dipilih
karena kata istilah tersebut dirasa lebih tepat untuk mengukur keadaan diri
subjek. Hal ini diharapkan membuat subjek untuk berpikir dahulu sejauhmana
aitem yang akan diisi sesuai dengan dirinya (Azwar, 2013). Jumlah pilihan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
39
jawaban yang ganjil biasanya akan membuat subjek untuk cenderung memilih
jawaban yang di tengah. Akan tetapi menurut Azwar (2013) hal tersebut
dapat dihindari dengan menuliskan aitem dengan benar. Kecenderungan
memilih jawaban tengah bisa terjadi karena aitem yang ditulis tidak cukup
sensitif untuk memancing respon yang berbeda dari setiap subjek. Selain itu
ketika pilihan jawaban tengah ditiadakan akan membuat subjek merasa sulit
apabila dirinya merasa berada di antara dua pilihan jawaban yang telah
disediakan. Dan yang terakhir Azwar mengatakan belum adanya bukti secara
empirik mengenai kekhawatiran peneliti akan respon subjek yang cenderung
memilih jawaban di tengah.
Azwar menyarankan untuk memberikan istilah netral dan bukan ragu-ragu
pada pilihan jawaban yang berada di tengah. Menurutnya istilah netral lebih
tepat karena ketika subjek memilih pilihan netral, mereka percaya bahwa
dirinya memang menjawab karena netral dan bukan karena mereka ragu-ragu
akan pilihan yang dibuatnya.
Skala yang digunakan terdiri dari jenis aitem favorable dan aitem
unfavorable. Aitem favorable merupakan aitem yang isinya mendukung atau
sesuai pada indikatornya. Sedangkan aitem unfavorable merupakan aitem
yang isinya tidak mendukung atau tidak sesuai dengan indikator aitemnya
(Azwar, 2013). Pada jenis aitem favorable diberikan skor 1 untuk pilihan
Sangat Tidak Sesuai (STS), 2 untuk Tidak Sesuai (TS), 3 untuk Netral (N), 4
untuk Sesuai (S), dan 5 untuk pilihan Sangat Sesuai (SS). Sedangkan jenis
aitem unfavorable nilai bergerak dari 5 untuk Sangat Tidak Sesuai (STS), 4
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
40
untuk Tidak Sesuai (TS), 3 untuk Netral (N), 2 untuk Sesuai (S), dan 1 untuk
Sangat Sesuai (SS).
Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan Skala Kontrol Diri
dan Skala Perilaku Agresi. Kedua skala tersebut akan dijadikan satu dalam
sebuah angket.
1. Skala Kontrol Diri
Skala ini digunakan untuk mengukur kemampuan seseorang untuk
menahan atau mengubah responnya dalam menghadapi situasi tertentu.
Skala ini disusun berdasarkan aspek-aspek yang diutarakan Baumeister
(2002; 2013), yaitu :
a. standar-standar
b. pengawasan
c. kapasitas untuk berubah
Tabel 1
Blueprint dan Rancangan Skala Kontrol Diri Sebelum Uji Coba
No.
1.
2.
3.
Aspek Kontrol
Diri
Standar-standar
Pengawasan
Kapasitas untuk
berubah
Jumlah
Jenis Aitem
Favorable
Unfavorable
Jumlah
Aitem
8
8
8
8
16
16
33,33 %
33,33 %
8
8
16
33,33 %
24
24
48
100 %
Bobot
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
41
Tabel 2
Sebaran Aitem Skala Kontrol Diri
No.
Aspek
Favorable
1.
Standar-standar 4, 12, 24, 30, 35,
42, 44, 47
2.
Pengawasan
7, 25, 28, 31, 37,
38, 43, 45
3.
Kapasitas
3, 16, 17, 22, 33,
untuk berubah 36, 46, 48
Unfavorable
Jumlah
2, 5, 10, 13, 26,
16
27, 32, 40
6, 11, 15, 18, 20,
16
21, 29, 34
1, 8, 9, 14, 19,
16
23, 39,41
Skala Kontrol Diri terdiri dari pernyataan-pernyataan dengan lima
buah pilihan jawaban, yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Netral
(N), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai (STS). Subjek akan
diminta memilih salah satu dari lima pilihan jawaban tersebut.
Penilaian untuk pernyataan yang dipilih adalah sebagai berikut :
Tabel 3
Skor Aitem untuk Skala Kontrol Diri
Respon
Sangat Sesuai (SS)
Sesuai (S)
Netral (N)
Tidak Setuju (TS)
Sangat
Tidak
Setuju
(STS)
Skor
Favorable
5
4
3
2
Unfavorable
1
2
3
4
1
5
2. Skala Perilaku Agresi
Skala ini digunakan untuk mengukur kecenderungan seseorang
dalam menyakiti atau melukai orang lain. Skala disusun berdasarkan
keempat aspek yang telah diutarakan Buss & Perry (dalam Reyna,
Lello, Sanchez, Brussino, 2011), yaitu :
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
42
a. agresi fisik
b. agresi verbal
c. kemarahan (anger)
d. permusuhan (hostility)
Tabel 4
Blueprint dan Rancangan Skala Perilaku Agresi Sebelum Uji Coba
No.
1.
2.
3.
4.
Aspek Perilaku
Agresi
Agresi Fisik
Agresi Verbal
Kemarahan
(anger)
Permusuhan
(hostility)
Jumlah
Jenis Aitem
Favorable
Unfavorable
Jumlah
Aitem
Bobot
6
6
6
6
12
12
25 %
25 %
6
6
12
25 %
6
6
12
25 %
24
24
48
100 %
Tabel 5
Sebaran Aitem Skala Perilaku Agresi
No.
Aspek
1.
Agresi Fisik
2.
Agresi Verbal
3.
Kemarahan
(anger)
Permusuhan
(hostility)
4.
Favorable
Unfavorable
Jumlah
3, 11, 6, 19, 22, 7, 9, 32, 33, 42,
12
44
45
5, 12, 13, 25, 36, 17, 18, 21, 23,
12
37
39, 47
4, 8, 26, 31, 35, 1, 14, 20, 24, 27,
12
38
48
6, 10, 28, 29, 30, 2, 15 40, 41, 43,
12
34
46
Skala Perilaku Agresi terdiri dari pernyataan-pernyataan dengan
lima buah pilihan jawaban, yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Netral
(N), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai (STS). Subjek akan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
43
diminta memilih salah satu dari lima pilihan jawaban tersebut. Penilaian
untuk pernyataan yang dipilih adalah sebagai berikut :
Tabel 6
Skor Aitem untuk Skala Perilaku Agresi
Respon
Sangat Sesuai (SS)
Sesuai (S)
Netral (N)
Tidak Setuju (TS)
Sangat
Tidak
Setuju
(STS)
Skor
Favorable
5
4
3
2
Unfavorable
1
2
3
4
1
5
F. UJI SKALA
1. Uji Validitas
Validitas adalah sejauh mana suatu alat ukur dapat mengukur apa
yang seharusnya diukur (Siregar, 2014). Alat ukur yang memiliki validitas
yang tinggi dapat diartikan bahwa alat ukur tersebut memiliki eror yang
kecil. Dengan kata lain skor untuk tiap subjek yang didapat melalui
pengukuran tidak jauh berbeda dengan skor aslinya (Azwar, 2007).
Validitas skala yang digunakan dalam penelitian ini dilihat menggunakan
validitas isi. Validitas isi merupakan kemampuan alat ukur dalam
mengukur isi (konsep) yang hendak diukur. Untuk melihat validitas
dengan menggunakan validitas isi diperlukan akal sehat untuk
memutuskan apakah aitem sudah sesuai dengan tujuan dibuatnya alat
ukur. Oleh karena itu peneliti meminta pendapat ahli (professional
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
44
judgement) yang merupakan dosen pembimbing peneliti (Azwar, 2013).
Ahli (dosen pembimbing) diminta untuk memastikan bahwa aitem-aitem
pada skala dalam penelitian ini sudah sesuai dengan tujuan penelitian.
2. Seleksi Aitem
Seleksi aitem digunakan untuk menentukkan aitem-aitem yang
dianggap baik dan layak untuk digunakan dalam sebuah penelitian. Hal
yang perlu diperhatikan dalam menyeleksi aitem adalah daya diskriminasi
aitem. Daya diskriminisasi aitem ini dapat membedakan respons yang
diberikan dari tiap individu. Pada aplikasi SPSS 16.00 daya diskriminasi
aitem dapat dilihat pada kolom Corrected Item-Total Correlation atau
koefisien korelasi aitem-total (rix). Besaran koefisien korelasi aitem-total
bergerak dari nilai 0 sampai 1,00 dengan tanda positif dan negatif.
Batasan kriteria seleksi aitem dengan menggunakan koefisien korelasi
aitem-total adalah rix> 0,30. Oleh karena itu aitem yang memiliki
koefisiean korelasi aitem-total lebih atau sama dengan 0,30 dianggap
memiliki daya diskriminasi yang baik. Sebaliknya aitem yang memiliki
koefisien korelasi
aitem-total
kurang dari
0,30 dianggap daya
diskriminasinya rendah (Azwar, 2013).
a. Skala Kontrol Diri
Berdasarkan hasil uji coba yang telah dilakukan terhadap 61
subjek, skala kontrol diri memiliki 31 aitem yang lolos seleksi dari 48
aitem awal dengan koefisien korelasi aitem-total (rix) > 0.30. Melalui
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
45
uji diskriminasi aitem pada skala kontrol diri, didapatkan koefisien
korelasi aitem-total tertinggi adalah 0,656 dan koefisien korelasi
aitem-total terendah adalah -0,363. Distribusi aitem skala kontrol diri
setelah melalui seleksi aitem dapat dilihat sebagai berikut :
Tabel 7
Distribusi Aitem Skala Kontrol Diri
No.
Aspek
Favorable
Unfavorable
Jumlah
1.
Standar-standar 4, 12, 24, 30, 35, 2, 5, 10, 13, 26,
11
42, 44, 47
27, 32, 40
2.
Pengawasan
7, 25, 28, 31, 37, 6, 11, 15, 18, 20,
9
38, 43, 45
21, 29, 34
3.
Kapasitas
3, 16, 17, 22, 33, 1, 8, 9, 14, 19,
11
untuk berubah 36, 46, 48
23, 39,41
Jumlah
31
Keterangan : aitem yang dicetak tebal adala aitem yang gugur.
b. Skala Perilaku Agresi
Berdasarkan hasil uji coba yang telah dilakukan terhadap 61
subjek, skala perilaku agresi memiliki 33 aitem yang lolos seleksi dari
48 aitem awal dengan koefisien korelasi aitem-total (rix) > 0.30.
Melalui uji diskriminasi aitem pada skala perilaku agresi, didapatkan
koefisien korelasi aitem-total tertinggi adalah 0,683 dan koefisien
korelasi aitem-total terendah adalah -0,254. Distribusi aitem skala
perilaku agresi setelah melalui seleksi aitem dapat dilihat sebagai
berikut :
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
46
Tabel 8
Distribusi Aitem Skala Perilaku Agresi
No.
Aspek
1.
Agresi Fisik
Favorable
Unfavorable
Jumlah
3, 11, 6, 19, 22, 7, 9, 32, 33, 42,
8
44
45
2.
Agresi Verbal
5, 12, 13, 25, 36, 17, 18, 21, 23,
9
37
39, 47
3.
Kemarahan
4, 8, 26, 31, 35, 1, 14, 20, 24, 27,
10
(anger)
38
48
4.
Permusuhan
6, 10, 28, 29, 30, 2, 15 40, 41, 43,
6
(hostility)
46
34
Jumlah
33
Keterangan : aitem yang dicetak tebal adala aitem yang gugur.
3. Uji Reliabilitas
Reliabilitas merupakan kosistensi hasil pengukuran suatu alat ukur
(Suyabrata, 2008). Alat ukur diangap reliabel jika alat tersebut dapat
mengukur gejala yang sama dari waktu ke waktu dengan konsisten
(Siregar, 2014). Selain itu alat ukur yang reliabel juga menunjukkan
seberapa tinggi kecermatan pengukuran oleh alat ukur tersebut. Koefisien
reliabilitas (rxx’) berada dari 0 sampai 1,00. Semakin koefisien reliabilitas
mendekati angka 1,00 maka semakin reliabel alat ukurnya (Azwar, 2013).
Uji reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan analisis Alpha
Cronbach. Alat ukur dianggap reliabel ketika koefisien alpha cronbach
menunjukkan angka > 0,60 dan semakin baik ketika koefisien alpha
cronbach
medekati angka 1,00 (Sujarweni & Endrayanto, 2012).
Penghitungan reliabilitas menggunakan aplikasi SPSS 16.00.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
47
a. Skala Kontrol Diri
Koefisien reliabilitas pada skala kontrol diri setelah dilakukan uji
coba didapatkan sebesar 0,906. Setelah dilakukan seleksi aitem
didapatkan 31 aitem yang akan digunakan untuk pengambilan data.
Dari 31 aitem tersebut diperoleh koefisien alpha cronbach sebesar
0,928.
Tabel 9
Hasil Uji Reliabilitas Alpha Cronbach Skala Kontrol Diri
Cronbach’s
Alpha
0.928
N of Items
31
b. Skala Perilaku Agresi
Koefisien reliabilitas pada skala perilaku agresi setelah dilakukan
uji coba didapatkan sebesar 0,873. Setelah dilakukan seleksi aitem
didapatkan 33 aitem yang akan digunakan untuk pengambilan data.
Dari 33 aitem tersebut diperoleh koefisien alpha cronbach sebesar
0,902.
Tabel 10
Hasil Uji Reliabilitas Alpha Cronbach Skala Perilaku Agresi
Cronbach’s
Alpha
0.902
N of Items
33
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
48
G. UJI ANALISIS DATA
Pada penelitian ini, uji analisis data akan dilakukan mulai dari uji asumsi
sampai dengan uji hipotesis. Pengujian analisis ini akan dilakukan dengan
menggunakan aplikasi SPSS 16.00.
1. Uji Asumsi
a. Uji Normalitas
Uji normalitas memiliki tujuan untuk melihat data sampel yang
telah diambil apakah mengikuti sebaran distribusi normal. Sebaran
dapat dilihat dari tabel histogram maupun plot datanya. Data yang
dikatakan berdistribusi normal merupakan data yang mengikuti atau
berada di sekitar garis normal. Normalitas ini penting untuk membuat
generalisasi atas data sampel (Ariyanto,2005).
b. Uji Homogenitas
Uji Homogenitas bertujuan untuk sampel yang diteliti memiliki
varian yang sama. Jika sampel yang digunakan untuk penelitian tidak
memiliki varian yang sama maka uji ANOVA tidak dapat diberikan
(Siregar, 2014).
c. Uji Linearitas
Tujuan dari uji linearitas adalah memastikan data sampel sesuai
dengan garis linear atau tidak. Linearitas suatu data dapat dilihat dari
plot data linearnya (Ariyanto, 2005).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
49
2. Uji Hipotesis
Pegujian hipotesis menggunakan regresi analisa dengan aplikasi
SPSS 16.00. Analisa ini bertujuan agar peneliti dapat mengetahui
kekuatan hubungan antarvaribel secara keseluruhan dan juga peneliti
dapat melihat arah hubungan dari kedua variabel yang telah ditentukan.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
50
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. PERSIAPAN PENELITIAN
Sebelum melakukan penelitian, peneliti membuat skala untuk mengukur
kontrol diri dan perilaku agresi. Skala yang dibuat didasari oleh blueprint
yang digunakan untuk menentukan jumlah aitem pada masing-masing skala
penelitian. Setelah itu, peneliti membuat aitem untuk setiap variabel
penelitian berdasarkan definisi operasional yang sudah dibentuk sebelumnya.
Peneliti melakukan konsultasi pada professional judgement yang merupakan
dosen pembimbing sebelum peneliti melakukan uji coba.
Oleh karena subjek pada penelitian ini remaja, peneliti berencana untuk
mengambil sampel yang merupakan siswa-siswi SMPN 4 Depok, SMAN 1
Depok, dan mahasiswa. Untuk itu peneliti meminta surat pengantar ijin
penelitian kepada Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma untuk
selanjutnya dimintakan surat ijin kepada Bappeda Kabupaten Sleman supaya
dapat melakukan penelitian pada SMPN 4 Depok dan SMAN 1 Depok.
Setelah mendapatkan ijin, peneliti melakukan uji coba skala pada siswasiswi SMPN 4 Depok pada Hari Jumat, 30 Oktober 2015. Pelaksanaan uji
coba dilakukan di dalam ruangan kelas dan menggunakan subjek sebanyak 63
orang siswa. Uji coba dilakukan mulai dari pukul 09.30 – 12.00 WIB yang
dilakukan pada dua kelas. Setelah uji coba dilaksanakan ternyata terdapat 2
data subjek yang tidak lengkap pengisiannya atau tidak mengisi semua
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
51
pernyatan sehingga gugur. Pada akhirnya data yang digunakan sebagai data
uji coba sebanyak 61 subjek. Lalu peneliti melihat reliabilitas alat ukur
dengan menggunakan alpha cronbach dan melakukan seleksi item. Untuk
proses secara lengkap telah diuraikan pada bagian uji skala bab III.
Dari hasil reliabilitas dan seleksi didapatkan jumlah aitem total yang pasti.
Untuk skala kontrol diri yang semula sebanyak 48 aitem menjadi 31 aitem.
Sedangkan skala agresi yang semula berjumlah 48, setelah dilakukan seleksi
aitem masih bertahan sebanyak 33 aitem. Oleh karena itu, jumlah keseluruhan
aitem pada alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 64 aitem.
B. PELAKSANAAN PENELITIAN
Data penelitian yang pertama diambil pada Hari Selasa, 17 November
2015 di SMAN 1 Depok. Pengambilan data dilakukan mulai dari pukul 07.00
– 12.00 WIB. Dari pengambilan data yang dilakukan di SMAN 1 Depok
didapatkan data dari 83 subjek. Selanjutnya peneliti mengambil data
penelitian yang kedua dengan sasaran mahasiswa. Pengambilan data ini
dilaksanakan pada tanggal 18 – 29 November 2015 dan didapatkan data
sebanyak 125. Lalu pengambilan data yang ketiga dilakukan di SMPN 4
Depok pada tanggal 28 November 2015. Pengambilan data dilakukan pada
pukul 09.00 – 09.45 WIB. Pengumpulan data dari SMPN 4 Depok diperoleh
data sebanyak 29 buah. Total keseluruhan jumlah subjek adalah sebesar 237
subjek.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
52
Selama proses pengambilan data, administrasi dilakukan secara klasikal
maupun individual. Administrasi klasikal dilakukan pada saat pengambilan
data di SMPN 4 Depok dan SMAN 1 Depok. Hal ini disebabkan tempat
pengambilan data yang berupa kelas. Sedangkan administrasi secara
individual dilakukan ketika pengambilan data dengan sasaran subjek
mahasiswa. Para subjek dipersilahkan mengerjakan tanpa diberi batas waktu
tertentu. Subjek juga diberikan kebebasan untuk bertanya kepada peneliti jika
ada hal yang belum dipahami selama waktu pengerjaan. Perbedaan antara
administrasi klasikal dan individual hanya terletak pada pembacaan petunjuk
pengerjaan yang dilakukan oleh peneliti dan disimak oleh para subjek.
C. GAMBARAN SUBJEK PENELITIAN
1. Data Demografis
Data subjek yang akan dianalisis berjumlah 237 orang dengan
jumlah subjek laki-laki sebanyak 73 orang (30,8%) dan jumlah subjek
perempuan sebanyak 164 (69,2%). Rata-rata usia subjek adalah 17,93 (SD
= 3,408). Subjek yang sedang menempuh pendidikan di SMP sebanyak 29
orang (12,2%), subjek yang duduk di bangku SMA sebanyak 83 orang
(35%), dan subjek yang berstatus sebagai mahasiswa sebanyak 125 orang
(52,7%).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
53
2. Hasil Rerata Subjek terhadap Skala
a. Kontrol Diri
Tabel 11
Tabel Analisis Deskriptif Variabel Kontrol Diri
N
237
Min
70
Max
150
M
112.4995
SD
14.27251
Dari hasil analisis deskriptif pada variabel kontrol diri dapat dilihat
bahwa respon minimum yang diberikan subjek sebesar 70 dan respon
maksimum adalah sebesar 150. Sedangkan secara teoretis nilai
minimumnya sebesar 31 dan nilai maksimum sebesar 155. Rata-rata
respon yang diberikan oleh subjek sebesar 112,4995 (SD = 14,27251).
Dibandingkan dengan nilai rata-rata teoretis, respon yang diberikan
subjek tergolong dalam tinggi karena berada di atas rata-rata teoretis
yang sebesar 93.
b. Perilaku Agresi
Tabel 12
Tabel Analisis Deskriptif Variabel Perilaku Agresi
N
237
Min
36
Max
116
M
82.4868
SD
13.73537
Dari hasil analisis deskriptif pada variabel perilaku agresi dapat
dilihat bahwa respon minimum yang diberikan subjek sebesar 36 dan
respon maksimum adalah sebesar 116. Sedangkan secara teoretis nilai
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
54
minimumnya sebesar 33 dan nilai maksimumnya 165. Rata-rata
respon yang diberikan oleh subjek sebesar 82,4868 (SD = 13,73537).
Dibandingkan dengan nilai rata-rata teoretis, respon yang diberikan
subjek tergolong dalam rendah karena berada di bawah rata-rata
teoretis yang sebesar 99.
D. HASIL PENELITIAN
1. Uji Asumsi
a. Uji Normalitas
Berdasarkan gambar no 3 Grafik Normal Q-Q Plot Unstandardized
Residual, dapat dikatakan bahwa data normal karena tersebar dengan
mendekati garis normal. Selain itu peneliti juga melihat hasil
normalitas dengan metode Kolmogorov-Smirnov dari tabel 13 Tabel
Hasil Uji Normalitas. Dari tabel tersebut didapatkan nilai signifikansi
sebesar 0,200. Oleh karena 0,200 > 0,05 maka dapat disimpulkan
bahwa data berdistribusi dengan normal (Santoso, 2010).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
55
Gambar 3. Grafik Normal Q-Q Plot Unstandardized Residual
Tabel 13
Tabel Hasil Uji Normalitas
Unstandardized
Residual
Statistic
Kolmogorov-Smirnov
Df
Sig.
.51
158
.200
b. Uji Homogenitas
Menurut
gambar
3
yaitu
gambar
Scatterplot
Hasil
Uji
Homogenitas pola grafik tesebut acak dan tidak membentuk pola
megafon. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa data tidak
menunjukkan pelanggaran homogenitas residu. Untuk memperkuat uji
asumsi, peneliti juga melakukan perhitungan statistik untuk uji
homogenitas dengan menhitung nilai S pada uji S Statistik. Nilai S
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
56
merupakan nilai Sum of Square yang dibagi 2, yaitu 0,2215 (Tabel
14). Dengan df = 1 maka nilai chi square-nya adalah 3,841. Oleh
karena itu menurut uji S Statistik data dianggap homogen karena S <
chi square.
Gambar 4. Scatterplot Hasil Uji Homogenitas
Tabel 14
Tabel Uji S Statistik
Model
Regresion
Resdual
Total
Sum of
Squares
.443
294.178
294.621
df
1
156
157
Mean
Square
.443
1.886
F
Sig.
.235
.629
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
57
c. Uji Linearitas
Berdasarkan tabel 15 Tabel Hasil Uji Linearitas didapatkan nilai
signifikansi linearity sebesar 0,00. Oleh karena linearity 0,00 < 0,05
maka data yang diolah merupakan data yang linear.
Tabel 15
Tabel Hasil Uji Linearitas
Sum of
Square
TS_Perilaku_
Agresi
TS_Kontrol_
Diri
df
Mean
Square
F
Sig.
Between
(Combined)
16712.256
53
315.326
2.814
.000
Groups
Linearity
7563.662
1
7563.662
67.509
.000
9148.594
52
175.934
1.570
.026
11652.023
28364.279
104
157
112.039
Deviation
from
Linearity
Within Groups
Total
2. Uji Hipotesis
Uji hipotesis dilakukan dengan analisa regresi menggunakan
program SPSS 16.00. Analisis ini digunakan untuk menguji hipotesis
yang telah ditentukan sebelumnya yaitu kontrol diri dapat memprediksi
secara negatif perilaku agresi pada remaja. Pada analsis regresi, untuk
dapat melihat hubungan antarvariabel dan seberapa besar sumbangan
variabel independen untuk memprediksi variabel dependen, maka perlu
dilihat beberapa hal, yaitu unstandardized coefficients (B) dan besarnya
koefisien determinasi (R2). Berikut ini adalah hasil perhitungan regresi :
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
58
Tabel 16
Tabel Nilai Unstandardized Coefficients (B)
Model
(Constant)
TS_Kontrol_Diri
Unstandardized
Coefficients
Std.
B
Error
138.683
7.521
-.498
.066
Standardized
Coefficient
t
Sig.
18.39
-7.532
.000
.000
Beta
-.516
Berdasarkan uji signifikansi parameter individual pada tabel 16,
dapat dilihat bahwa nilai korelasi signifikan. Hal ini dilihat dari nilai
signfikansi yang diperoleh dari nilai p = 0,000 dengan p < 0,05. Dapat
disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kontrol diri terhadap
perilaku agresi pada remaja. Selain itu, dapat diketahui bahwa terdapat
hubungan yang negatif antara kontrol diri dan perilaku agresi (B = 0,496).
Tabel 17
Tabel Nilai Koefisien Determinasi
Model
R
R Square
1
.516
.267
Adjusted R
Square
.262
Std. Error of the
Estimate
11.54718
Tabel 17 menyajikan data seberapa besar sumbangan yang dapat
diberikan variabel kontrol diri untuk memprediksi perilaku agresi.
Besarnya sumbangan dapat dilihat dari nilai R Square (R2). Dapat dilihat
bahwa kekuatan prediksi dari kontrol diri terhadap perilaku agresi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
59
sebesar 0,267. Kontrol diri memberikan kontribusi sebesar 26,7% untuk
memprediksi perilaku agresi pada remaja.
E. PEMBAHASAN
Uji hipotesis yang sudah dilakukan dalam penelitian ini menunjukkan
bahwa kontrol diri dapat menjadi prediktor terhadap perilaku agresi pada
remaja (p < 0,05). Selain itu, kontrol diri juga mampu memprediksi perilaku
agresi pada remaja secara negatif (B = -0,496). Hal tersebut menunjukkan
bahwa ketika remaja memiliki kontrol diri yang rendah maka ia akan
berperilaku secara agresif. Sebaliknya remaja yang memiliki kontrol tinggi
tidak memiliki kecenderungan untuk memunculkan perilaku agresi.
Hasil penelitian ini juga sesuai dengan beberapa penelitian yang sudah
dilakukan sebelumnya. Beberapa penelitian yang telah dilakukan (Denson,
DeWall,& Finkel, 2012; Raymond, 2009) menyatakan bahwa kontrol diri
mampu mereduksi perilaku agresi seseorang. Penelitian lain juga mengatakan
bahwa remaja dengan kontrol diri yang rendah lebih sering terlibat dalam
perilaku antisosial (Kuhn & Laird, 2013), dimana perilaku agresi termasuk ke
dalam perilaku antisosial karena tidak sesuai dengan norma sosial. Selain itu
teori I3 (Shaver & Mikulincer, 2011; Denson, DeWall, & Finkel, 2012) juga
mendukung hasil penelitian ini. Menurut teori I3 ketika inhibiting forces, yang
dalam penelitian ini berupa kontrol diri, dapat menekan atau mengurangi
perilaku agresi individu. Meskipun instigating trigger dan impelling forces
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
60
muncul bersamaan, namun kontrol diri mampu menahan dorongan beragresi
ketika memiliki kekuatan yang lebih besar.
Hal tersebut disebabkan individu dengan kontrol diri tinggi memiliki nilai
maupun prinsip yang sesuai dengan norma sosial. Sedangkan perilaku agresi
merupakan perilaku yang tidak sesuai dengan norma sosial. Selain itu kontrol
diri yang tinggi akan membuat individu menyadari perubahan perilaku pada
dirinya dan mampu merubah respon yang akan dimunculkan. Dengan
kemampuan ini, individu mampu menekan atau mengurangi perilaku agresi
yang akan muncul (Baumeister, 2002; 2013).
Di sisi lain, perilaku agresi merupakan respon individu yang spontan dan
individu juga cenderung tidak memikirkan konsekuensi jangka panjang dari
perilaku agresinya (Anderson & Bushman, 2002). Individu yang berperilaku
secara agresif cenderung mengejar kepuasan sesaat. Sedangkan individu yang
memiliki kontrol diri yang baik cenderung memikirkan tujuan jangka
panjang. Oleh karena itu individu yang memiliki kontrol diri yang baik
cenderung tidak merespons secara spontan (Tochkov, 2010).
Sedangkan kekuatan kontrol diri dalam memprediksi perilaku pada remaja
sebesar 26,7 %. Terdapat 73, 3% variabel lain yang dapat memberikan
kontribusi pada perilaku agresi remaja. Pola asuh orangtua bisa menjadi salah
satu prediktor perilaku agresi pada remaja. Remaja yang tumbuh dalam
keluarga yag kasar dan orangtua yang mengabaikan anaknya cenderung
melakukan perilaku yang menyimpang (Steinberg, 2002).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
61
Tingkat intelegensi remaja nampaknya juga mempengaruhi perilaku agresi
pada remaja. Hal ini dikarenakan remaja yang memiliki intelegensi rendah
dibanding dengan teman sebayanya cenderung terlbat dalam perilaku
antisosial. Pengaruh teman sebaya juga dapat mempengaruhi tingkat perilaku
agresi pada remaja. Remaja yang memiliki masalah atau konflik dengan
teman
sebayanya
akan
cenderung
mengembangkan
perilaku
yang
menyimpang (Steinberg, 2002).
Berdasarkan uji asumsi yang telah dilakukan, hasil uji normalitas
menunjukan bahwa data penelitian bersifat normal. Hal ini berarti hasil dari
penelitian ini dapat digeneralisasikan pada remaja di luar subjek penelitian
ini.
Data penelitan juga menunjukkan subjek penelitian memiliki tingkat
kontrol diri yang tinggi. Sedangkan tingkat perilaku agresinya rendah. Hal ini
mungkin disebabkan jumlah subjek yang cenderung banyak pada tahap
remaja akhir karena dengan seiring bertambahnya usia kontrol diri akan
semakin membaik (Baumeister, 2002) dan perilaku agresi akan semakin
menurun. Selain itu remaja akhir sudah mulai mempunyai tujuan-tujuan yang
ingin mereka capai. Tujuan tersebut memberikan arah yang jelas bagi remaja
sehingga remaja juga lebih gigih dalam mencapai tujuan yang sudah
ditetapkannya. Dengan tingkat kontrol diri yang baik, remaja akhir juga sulit
untuk dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya sehingga dorongan perilaku
agresi secara eksternal juga mampu ditahan (Franken, 2002)
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
62
F. KETERBATASAN PENELITIAN
Penelitian ini tidak lepas dari adanya keterbatasan akan penelitian.
Keterbatasan tersebut meliputi :
1. Subjek penelitian yang sebagian besar merupakan remaja akhir dan remaja
awal yang sedikit sehingga kurang dapat menggambarkan remaja pada
secara keseluruhan.
2. Subjek penelitian yang tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan
sehingga hasil penelitian tidak bisa membandingkan tingkat kontrol diri
maupun perilaku agresi berdasarkan jenis kelamin.
3. Data demografis dalam penelitian ini hanya menyantumkan usia, jenis
kelamin, dan pendidikan. Hal ini dirasa kurang memperkaya hasil
penelitian.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
63
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis bisa ditarik kesimpulan bahwa hipotesis yang
menyatakan bahwa kontrol diri dapat memprediksi perilaku agresi pada
remaja secara negatif diterima. Remaja yang memiliki kontrol diri tinggi akan
cenderung memiliki perilaku agresi yang rendah. Di sisi lain, remaja dengan
kontrol diri yang rendah cenderung berperilaku secara agresif. Kekuatan
prediksi kontrol diri terhadap perilaku agresi pada remaja sebesar 26,7%.
B. SARAN
1. Bagi Remaja
Penelitian ini mengungkapkan betapa pentingnya kontrol diri
dalam kehidupan remaja, terutama dalam mengontrol perilaku agresi.
Masa remaja merupakan masa peralihan yang tak jarang membuat remaja
melakukan hal-hal negatif, seperti perilaku agresi. Melalui penelitian ini
remaja diajak untuk mengembangkan kontrol diri yang baik. Dengan
begitu perilaku negatif, seperti perilaku agresi, dapat dihindari dan
membuat remaja lebih mengenali dirinya.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
64
2. Bagi Para Guru dan Pihak Sekolah
Dari hasil penelitian ini, peneliti berharap bagi para guru maupun
pihak di sekolah untuk lebih mengembangkan lagi kegiatan-kegiatan
untuk meningkatkan kontrol diri remaja. Program seperti character
building bisa menjadi salah satu contoh. Dengan demikian diharapkan
terjadi keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan pengembangan pribadi
remaja.
3. Bagi Orangtua
Dalam mendidik anaknya, peneliti menyarankan agar orangtua
mengajarkan cara mengontrol diri sedini mungkin. Hal ini disebabkan
kontrol diri individu dibentuk oleh orangtua. Mengajarkan kontrol diri
pada anak sejak dini merupakan bekal yang sangat penting baginya di
masa depan ketika memasuki masa remaja.
4. Bagi Peneliti Berikutnya
Berdasarkan penelitian ini, kekuatan prediksi kontrol diri terhadap
perilaku agresi sebesar 26,7%. Terdapat 73,3% di luar kontrol diri yang
dapat memprediksi perilaku agresi. Oleh karena itu peneliti selanjutnya
bisa mengembangkannya dengan prediktor-prediktor yang lain, seperti
jenis kelamin, status ekonomi-sosial, dan tingkat pendidikan. Selain itu
peneliti selanjutnya disarankan untuk meneliti pada tiap tahapan masa
remaja supaya dapat menjelaskan dengan lebih dalam perkembangan
yang terjadi pada remaja. Berkaitan dengan perilaku agresi, peneliti
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
65
selanjutnya juga bisa meneliti jenis-jenis perilaku agresi dengan lebih
mendalam.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
66
DAFTAR PUSTAKA
Anderson, C. A., & Bushman, B. J. (2002). Human Aggression.Annu. Rev.
Psychol, 53, 27-51
Anggaraningtyas, Y., Lilik, S., & Nugroho, A. A. (2013). Hubungan antara
Koping Stres dan Persepsi Pola Asuh Otoriter dengan Kecenderungan
Perilaku Agresi pada Remaja yang dimoderasi oleh Konformitas Teman
Sebaya pada Siswa Kelas XI SMK Muhammadiyah 4 Boyolali. Jurnal
Ilmiah Psikologi Candrajiwa, 1(4)
Ari, Santo. (2015, Maret 14). Remaja Pelaku Kejahatan di DIY Meningkat Tajam.
Diambil
tanggal
7
Maret
2015,
dari
http://jogja.tribunnews.com/2015/03/14/remaja-pelaku-kejahatan-di-diymeningkat-tajam
Ariyanto.(2005). Pengembangan Analisis Multivariate dengan SPSS 12. Jakarta :
Salemba Infotek.
Azwar, S. (2007). Dasar-dasar Psikometri. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Bandura, A. (1973). Aggression : A Social Learning Analysis. New Jersey :
Prentice-Hall, Inc
Baron, R. A., Byrne, D., & Branscombe, N. R. (2006). Social Psychology.Boston :
Pearson Education, Inc
Baumeister, R. F. (2002). Yielding to Temptation: Self‐Control Failure, Impulsive
Purchasing, and Consumer Behavior.Journal of Consumer Research, 28,
670-676
Baumeister, R. F. (2013), Self-control, fluctuating willpower, and forensic
practice, The Journal of Forensic Practice, 15, 85-96
Berk, L. E. (2006). Seventh Edition Child Development. Boston : Pearson
Education, Inc
Berkowitz, L. (1995). Agresi I : Sebab dan Akibatnya. Jakarta : Pustaka Binaman
Pressindo
Buss, A. H.& Perry, M. (1992). The Aggression Questionnaire.Journal of
Personality and Social Psychology. 63(3), 452-459
Coyne, S. M., Robinson, S. L., & Nelson, D. A. (2010). Does Reality Backbite?
Physical, Verbal, and Relational Aggression in Reality Television Program.
Journal of Broadcasting & Electronic Media. 54(2), 282-292
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
67
Brown, P., & Schuster, I. (1986). Introduction : Culture and Aggression.
Anthropological Quarterly, 59(4), 155-204
Deming, A. M. & Lochman, J. E. (2008). The Relation of Locus of Control,
Anger, and Impulsivity to Boys' Aggressive Behavior. Behavioral
Disorders, 33(2), 108-119
Denson, T. F., DeWall, C. N, & Finkel, E. J. (2012). Self-Control and Aggression.
Current Directions in Psychological Science, 21(1), 20-25
Duckworth, A. L., Kim, B. & Tsukuyama, E. (2013). Life Stress Impairs SelfControl in Early Adoloscence. Frontiers in Psychology, 3, 1-12
Erikson, E. H. (1963). Childhood and Society. New York : W. W. Norton &
Company
Franken, R. E. (2002). Human Motivation. California : Wadsworth Group
Gordon, R. A., Lahey, B. B., Kawai, E., Loeber, R., Loeber, M. S., Farrington, D.
P. (2004). Antisocial Behavior and Youth Gang Membership : Selection and
Socialization. Criminology, 42(1), 55-87
Guswani, A. M. & Kawuryan, F. (2011). Perilaku Agresi pada Mahasiswa
Ditinjau dari Kematangan Emosi. Jurnal Psikologi Pitutur, 1 (2), 86-92
Haney, T. L., Maynard, K. E., Houseworth, S. J., Scherwitz, L. W., William, R.
B., Barefoot, J. C. (1996). Interpersonal Hostility Assessment Technique :
Description and Validation Against the Criterion of Coronary Artery
Disease. Journal of Personality Assesment, 66(2), 386-401
Heimer, K. (1997). Socioeconomic Status, Subcultural Definitions, and Violent
Deliquency. Social Forces, 75(3), 799-833
Hergenhahn, B. R. & Olson, M. H. (2007). An Introduction to Theories of
Personality 7th. New Jersey : Pearson Education, Inc.
Hurlock, E. B. (1953). Development Psychology. USA : McGraw-Hill, Inc
Hurlock, E. B. (1973). Adolescent Development.Kogakusha : McGraw-Hill, Inc
Hurlock, E. B. (1990). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan 5th. Jakarta : Penerbit Erlangga
Ilham. (2015, Februari 18). Siswa Pelaku Kasus Tato Hello Kitty Menyerahkan
Diri.
Diambil
tanggal
7
Maret
2015,
dari
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/15/02/18/njyownsiswi-pelaku-kasus-tato-hello-kitty-menyerahkan-diri
Ivory, A. H. & Kaestle, C. E. (2013). The Effect of Profanity in Violent Video
Games on Players’ Hostile Expectation, Aggressive Thoughts and Feelings,
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
68
and Other Responses. Journal of Broadcasting and Electronic Media. 57(2),
224-241
Johansson, A., Santtila, P., Corander, J., Jern, P., Pahlen, B. V. D., Varjonen, M.,
& Sandnabba, K. (2011). Controlling Anger in Self-reported Sober and
Alcohol Intoxicated States : Moderating Effects of Trait Anger and Alcohol
Consumption. Scandinavian Journal of Psychology, 52, 382-388
Kawabata, Y., Tseng, W. L., & Crick, N. R. (2014). Adaptive, Maladaptive,
Mediational, and Bidirectional Processes of Relation and Physical
Aggression, Relational and Physical Victimation, and Peer Liking.
Aggressive Behavior. 40, 273-280
Koeswara, E. (1988). Agresi Manusia. Bandung : PT ERESCO
Kuhn, E. S. & Laird, R. D. (2013). Parent and Peer Restrictions of Opportunities
Attenuate the Link between Low Self-Control and Antisocial Behavior.
Social Development, 22(4), 813-830
Miller, P. H. (2011). Theories of Development Psychology. New York : Worth
Publisher
Muhammad, D. (2013, Desember 27). Kapolri Klaim Kriminalitas 2013 Menurun.
Diambil
tanggal
7
Maret
2015,
dari
http://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/13/12/27/mygtns-kapolriklaim-kriminalitas-2013-menurun
Morris, C. G. (1990). Psychology : An Introduction Seventh Edition. New Jersey :
Prentice-Hall. Inc
Myers, D. G. (2013). Social Psychology, Eleventh Edition. New York : McGrawHill
Nursiyono, J. A. (2014, Oktober 24). Tindak Pidana di Indonesia Masih Tinggi,
Ini
Penyebabnya.
Diambil
tanggal
7
Maret
2015,
dari
http://regional.kompasiana.com/2014/10/24/tindak-pidana-di-indonesiamasih-tinggi-ini-penyebabnya-697771.html
Onukwufor, J. N. (2013). Physical and Verbal Aggression Among Adolescent
Secondary School Students in River State of Nigeria. British Journal of
Education, 1(2), 67-73
Passer, M. W. & Smith, R. E. (2007). Psychology : The Science of Mind and
Behavior. New York : McGraw-Hill
Piquero, A. R., Gibson, C. L., & Tibbetts, S. G. (2002). Does Self-Control
Account for The Relationship Between Binge Drinking and AlcoholRelated Behaviours?. Criminal Behaviour and Mental Health, 12, 135-154
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
69
Praptiani, S. (2013). Pengaruh Kontrol Diri terhadap Agresivitas Remaja dalam
Menghadapi Konflik Sebaya dan Pemaknaan Gender. Jurnal Sains dan
Praktik Psikologi, 1(1), 01-13
Rastika, I. (2012, Desember 26). Setiap 91 Detik, Terjadi Satu Kejahatan di
Indonesia.
Diambil,
dari
http://nasional.kompas.com/read/2012/12/26/15260465/Setiap.91.Detik.Terj
adi.Satu.Kejahatan.di.Indonesia
Raymond, A. T. (2009). Self-Control and Early Adolescent Antisocial Behavior :
A Longitudinal Analysis. Journal of Early Adolescence. 29(4), 497-517
Reber, A. S. & Reber, E. S. (2010). Kamus Psikologi. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar
Reyna, C., Lello, M.G., Sanchez, A., Brussino, S., (2011). The Buss-Perry
Aggression Questionnaire: Construct validity and gender invariance among
Argentinean adolescents. International Journal of Psychological Research,
4(2), 30-37
Rotter, J. B. (1990). Internal Versus External Control of Reinforcement : A Case
History of a Variable. American Psychologist, 45(4), 489-493
Santi, P. (2013). Pengaruh Kontrol Diri terhadap Agresivitas Remaja dalam
Menghadapi Konflik Sebaya dan Pemaknaan Gender. Jurnal Sains dan
Praktik Psikologi. 1(1), 1-13
Santoso, A. (2010). Statistik untuk Psikologi dari Blog menjadi Buku. Yogyakarta
: Penerbit Universitas Sanata Dharma
Sarwono, J. (2006). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta :
Graha Ilmu
Sarwono, S. W. (2008). Psikologi Remaja. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada
Shaver, P. R. & Mikulincer, M. (2011). Human Aggression and Violence :
Causes, Manifestations, and Consequences. Washington : American
Psychological Association
Simons, R. L., Wu, C. I., Lin, K. H., Gordon, L., & Conger, R. D. (2000). A
Cross-Cultural Examination of The Link between Corporal Punishment and
Adolescent Antisocial Behavior. Criminology, 38(1), 47-79
Siregar,S. (2014). Statistik Parametrik untuk Penelitian Kuantitatif : Dilengkapi
degan Peritungan Manual dan Aplkasi SPSS Versi 17. Jakarta : PT Bumi
Angkasa
SJ, Renna. (2015, Maret 14). Sungguh Mengejutkan, Banyak Pelaku Kejahatan
Masih Berstatus Pelajar!. Diambil tanggal 7 Maret 2015, dari
http://sorotjogja.com/sungguh-mengejutkan-banyak-pelaku-
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
70
Steinberg, L. (2002). Adolescence, Sixth Edition. New York : McGraw-Hill
Steinberg, L. (2005). Cognitive and Affective Development
Adolescence.TRENDS in Cognitive Science, 9(2), 69-74
in
Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung :
Alfabeta
Sujarweni, V. W. & Endrayanto, P. (2012).Statistka untuk Penelitian. Yogyakarta
: Graha Ilmu
Suryani, Bhekti. (2015, Maret 23). Pelaku Penganiayaan 'Hello Kitty' Dituntut 4
Tahun.
Diambil,
dari
http://jogja.solopos.com/baca/2015/03/23/penganiayaan-bantul-pelakupenganiayaan-hello-kitty-dituntut-4-tahun-587547
Syah, M. S. (2013, Desember 28). Pengamat : Tahun 2014 Angka Kriminal
Diprediksi Masih Tinggi. Diambil tanggal 7 Maret 2015, dari
http://news.liputan6.com/read/786420/pengamat-tahun-2014-angkakriminal-diprediksi-masih-tinggi
Tangney, J. P., Baumeister, R. F., & Boone, A. L. (2004). High Self-Control
Predicts Good Adjustment, Less Pathology, Better Grade, and Interpersonal
Success. Journal of Personality, 72(2), 271-322
Taniredja, T & Mustafidah, H. (2011). Penelitian Kuantitatif (Sebuah Pengantar).
Bandung : Alfabeta
Teng, Z., Li, Y., & Liu, Y. (2004). Online Gaming, Internet Addiction, and
Aggression in Chinese Male Students: The Mediating Role of Low SelfControl. International Journal of Psychological Studies, 6, 89-97
Thomaes, S., Bushman, B. J., de Castro, B. O., Cohen, G. L., & Danissen, J. J. A.
(2009). Reducing Narcisstic Aggression by Buttressing Self-Esteem : An
Experimental Field Study. Psychology Science, 20(12), 1536-1542
Tochkov, Karin (2010). Self-Control Deficits and Pathological Gambling.
International Journal of Psychological Studies, 2, 62-69
Tsai, J. J. & Hsieh, C. J. (2015). Development of The Children's Sport Locus of
Control Scale. Social Behavior and Personality, 43(2), 315-326
Widiana, H. S., Retnowati, S., & Hidayat, R. (2004). Kontrol Diri dan
Kecenderungan Kecanduan Internet. Humanitas : Indonesian Psychological
Journal, 1, 6-16
Woessner, G. & Schneider, S. (2013). The Role of Self-Control and Self-Esteem
and The Impact of Early Risk Factors among Violent Offenders. Criminnal
Behaviour and Mental Health, 23, 99-112
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
LAMPIRAN
71
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Lampiran A
Data Sebaran Usia Subjek
Usia
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
11
1
.4
.4
.4
12
26
11.1
11.1
11.5
13
2
.9
.9
12.3
15
9
3.8
3.8
16.2
16
55
23.4
23.4
39.6
17
19
8.1
8.1
47.7
18
7
3.0
3.0
50.6
19
19
8.1
8.1
58.7
20
24
10.2
10.2
68.9
21
35
14.9
14.9
83.8
22
32
13.6
13.6
97.4
23
6
2.6
2.6
100.0
235
100.0
100.0
Total
Lampiran B
Data Sebaran Jenis Kelamin Subjek
Jenis_Kelamin
Cumulative
Frequency
Valid
laki-laki
Percent
Valid Percent
Percent
72
30.6
30.6
30.6
perempuan
163
69.4
69.4
100.0
Total
235
100.0
100.0
72
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Lampiran C
Data Sebaran Tingkat Pendidikan Subjek
Pendidkan
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
SMP
29
12.3
12.3
12.3
SMA
82
34.9
34.9
47.2
S1
124
52.8
52.8
100.0
Total
235
100.0
100.0
Lampiran D
Hasil Reliabilitas Skala Kontrol Diri
Case Processing Summary
N
Cases
Valid
a
Excluded
Total
%
61
100.0
0
.0
61
100.0
a. Listwise deletion based on all variables in the
procedure.
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha
N of Items
.928
31
Item-Total Statistics
Cronbach's
Scale Mean if
Item Deleted
Scale Variance if Corrected ItemItem Deleted
Total Correlation
Alpha if Item
Deleted
no2
104.1967
223.161
.574
.925
no3
104.5902
227.479
.534
.926
no5
104.4918
216.754
.625
.924
73
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
no7
104.6230
226.039
.570
.925
no9
105.0164
223.050
.573
.925
no10
103.9836
226.950
.441
.927
no11
103.9836
229.283
.339
.928
no12
104.5082
231.021
.381
.927
no13
104.2787
219.804
.691
.924
no14
104.8033
223.227
.607
.925
no15
105.1148
227.937
.372
.928
no17
104.8033
224.227
.658
.925
no19
104.1639
225.806
.475
.926
no20
104.4590
216.319
.596
.925
no21
104.0164
225.683
.459
.927
no22
104.0656
225.529
.433
.927
no24
104.3279
222.791
.629
.925
no26
104.7541
223.089
.521
.926
no27
104.2459
220.122
.616
.925
no29
105.1148
225.470
.465
.927
no30
104.1475
226.728
.494
.926
no33
103.8361
227.706
.457
.927
no36
104.0328
221.899
.573
.925
no37
104.5082
226.354
.505
.926
no38
104.9016
219.090
.648
.924
no39
104.2295
224.113
.496
.926
no41
104.3607
221.201
.675
.924
no44
104.2295
230.146
.354
.928
no45
105.0000
222.767
.518
.926
no47
104.8525
224.328
.434
.927
no48
104.3934
224.243
.563
.925
74
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Lampiran E
Hasil Reliabilitas Skala Perilaku Agresi
Case Processing Summary
N
Cases
Valid
a
Excluded
Total
%
61
100.0
0
.0
61
100.0
a. Listwise deletion based on all variables in the
procedure.
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha
N of Items
.902
33
Item-Total Statistics
Cronbach's
Scale Mean if
Item Deleted
Scale Variance if Corrected ItemItem Deleted
Total Correlation
Alpha if Item
Deleted
no1
77.2295
226.780
.243
.902
no3
77.3279
221.057
.381
.900
no4
76.9344
219.229
.465
.899
no6
76.3607
222.434
.287
.902
no8
76.8689
217.516
.466
.899
no9
77.8033
221.461
.466
.899
no10
76.9508
214.114
.566
.897
no11
77.5574
218.251
.578
.897
no12
77.4918
214.487
.653
.895
no13
76.4918
216.887
.455
.899
no16
77.1967
216.594
.506
.898
no18
76.8361
220.039
.471
.899
no19
77.2787
222.671
.307
.901
no20
76.8197
222.917
.473
.899
no21
77.0984
220.890
.418
.899
no22
77.9180
225.577
.349
.900
75
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
no23
76.7541
227.122
.268
.901
no24
77.6230
222.005
.454
.899
no25
76.3279
220.524
.425
.899
no26
77.4262
222.049
.410
.899
no28
76.9344
217.129
.531
.897
no29
76.5246
223.154
.348
.900
no31
77.2295
220.413
.484
.898
no33
77.1148
219.137
.455
.899
no35
77.1311
210.083
.676
.894
no36
76.7377
216.463
.586
.897
no37
77.2951
217.578
.537
.897
no38
77.1148
217.103
.508
.898
no40
77.2623
227.763
.213
.902
no44
76.9016
211.590
.641
.895
no46
76.9836
225.416
.268
.902
no47
76.6230
219.905
.405
.900
no48
77.0656
224.929
.282
.901
76
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Lampiran F
Skala yang Digunakan dalam Penelitian
ANGKET
DIRI REMAJA
77
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
78
PENJELASAN DAN PERNYATAAN KESEDIAAN
Perkenalkan nama saya Nunuk Putri Permatasari dari Fakultas Psikologi
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Saya ingin lebih memahami dinamika
psikologis yang terjadi pada diri teman-teman. Untuk itu saya meminta temanteman untuk mengisi angket yang sudah saya sediakan. Dengan mengisi angket
ini, teman-teman telah memberikan sumbangsih pada pemahaman mengenai
remaja.
Informasi yang teman-teman berikan merupakan informasi yang sangat
berharga ketika teman-teman menjawab dengan jujur, spontan, dan apa adanya.
Di sini tidak ada jawaban benar atau salah. Jawaban yang tepat ialah jawaban
yang paling sesuai dengan diri teman-teman. Saya tahu bahwa informasi yang
teman-teman berikan sangatlah bersifat pribadi. Oleh karena itu, saya menjamin
kerahasiaan informasi yang sudah teman-teman berikan.
Saya sangat berterima kasih atas kesedian teman-teman dalam mengisi
angket ini. Jika teman-teman sudah merasa jelas dan bersedia mengisi angket ini,
silahkan memberikan tanda tangan di bawah sebagai tanda kesediaan temanteman dalam mengisi angket ini.
Saya telah membaca serta memahami penjelasan tentang angket ini, dan saya
bersedia mengisi angket ini.
Yogyakarta, ___________________2015
_______________________________
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
79
IDENTITAS DIRI
Inisial
: ___________
Usia
: ___________
Jenis Kelamin
: Laki-laki / Perempuan (coret yang tidak perlu)
Pendidikan
: ___________
PETUNJUK PENGERJAAN
Di bawah ini teman-teman akan menemui bermacam-macam pernyataan
yang dibagi menjadi dua bagian. Teman-teman diminta menjawab pernyataanpernyataan tersebut sesuai dengan keadaan diri teman-teman. Bacalah setiap
pernyataan dengan teliti dan seksama. Silahkan teman-teman mengisi dengan
memberikan tanda silang (X) pada kolom pilihan jawaban yang sudah disediakan.
Tidak ada jawaban yang benar ataupun salah. Jawablah sesuai kenyataan yang
terjadi pada diri teman-teman. Jika teman-teman ingin mengganti jawaban,
silahkan mencoret tanda silang di jawaban sebelumnya (X). Terdapat 5 pilihan
jawaban untuk setiap pernyataan, yaitu :
STS
: Sangat Tidak Sesuai
TS
: Tidak Sesuai
N
: Netral
S
: Sesuai
SS
: Sangat Sesuai
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
80
Contoh pengerjaan :
No.
1.
Pernyataan
Saya lebih suka pakaian berwarna merah
daripada hijau
STS
TS
X
N
S
SS
X
Setelah selesai mengerjakan periksalah kembali supaya tidak ada
pernyataan yang terlewatkan atau belum dijawab. Pastikan teman-teman sudah
mengisi semua pernyataan yang ada.
Selamat Mengerjakan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
81
BAGIAN I
No.
1.
Pernyataan
STS
Saya dengan semangat menjalankan rencana
yang sudah ditetapkan
2.
Saya akan terus mencoba sampai rencana saya
terwujud
3.
Saya merasa bingung mengapa saya mengikuti
atau melakukan suatu kegiatan
4.
Saya mudah lupa akan tujuan semula jika
diganggu oleh orang lain
5.
Meskipun saya gagal melakukan rencana yang
sudah saya buat namun saya tidak menyerah
6.
Gangguan dari lingkungan dapat mengganggu
pola hidup yang sudah saya terapkan
7.
Saya
mudah
menyerah
jika
mengalami
kegagalan
8.
Saya mengerti dengan jelas tujuan dari
kegiatan yang saya lakukan
9.
Saya mudah terpengaruh terhadap ajakan
orang lain meskipun saya tahu hal tersebut
salah
10.
Saya mampu menjalankan apa yang sudah
saya rencanakan
11.
Saya mampu melakukan kewajiban meski
mendapat gangguan dari lingkungan
12.
Dalam mengambil keputusan, saya selalu
mempertimbangkan prinsip-prinsip yang saya
yakini
TS
N
S
SS
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
No.
13.
Pernyataan
Saya
belajar
dari
STS
kegagalan
dan
memperbaikinya
14.
Meskipun berada dalam dilema, saya mampu
memilih sesuai dengan prinsip yang saya anut
15.
Saya merasa tidak memiliki kontrol akan apa
yang saya lakukan
16.
Saya tahu apa yang akan saya raih di masa
depan
17.
Saya bisa mengikuti pola hidup yang sudah
saya tetapkan
18.
Saya bingung apa yang akan saya lakukan di
masa depan
19.
Rencana yang saya buat kalah dengan
kegiatan di lingkungan
20.
Saya memiliki beberapa prinsip yang saya
pegang dan terapkan dalam kehidupan seharihari
21.
Saya telah menetapkan jadwal untuk kegiatan
yang saya miliki
22.
Saya
merasa
apa
yang
saya
lakukan
bertentangan dengan hati nurani
23.
Saya akan melupakan tanggung jawab ketika
merasa sangat senang atau sangat sedih
24.
Saya merasa enggan melakukan rencana yang
sudah saya buat
25.
Saya mengingat atau mencatat apa saja yang
harus saya lakukan setiap hari
26.
Saya memiliki banyak rencana tapi hanya
sedikit yang terlaksana
TS
N
S
82
SS
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
No.
27.
Pernyataan
Saya
merasa
terombang-ambing
STS
dalam
menjalani kehidupan sehari-hari
28.
Rencana yang saya buat hanya sebatas wacana
dan tidak terlaksana
29.
Jika sedang merasa sedih atau kecewa, saya
lupa akan prinsip yang saya miliki
30.
Saya terlalu sibuk mengurusi orang lain
sampai lupa dengan diri sendiri
31.
Kebanyakan rencana yang saya buat berhasil
saya lakukan
TS
N
S
83
SS
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
84
BAGIAN II
No.
1.
Pernyataan
STS
Saya sering memanggil orang-orang di sekitar
dengan julukan tertentu
2.
Saya
merasa
orang
lain
memiliki
keberuntungan lebih dibanding dengan diri
saya
3.
Saya mampu menyelesaikan masalah dengan
kepala dingin
4.
Jika tidak suka suatu hal, saya dapat dengan
mudah mengkritiknya
5.
Saya dinilai oleh orang sekitar sebagai seorang
pemarah
6.
Kesalahan kecil dapat membuat emosi saya
memuncak
7.
Saya merasa emosi saya mudah meledak
sewaktu-waktu
8.
Jika saya dipukul maka saya akan memukul
kembali orang tersebut
9.
Saya naik darah ketika rencana berjalan
dengan tidak lancar
10.
Saya merasa lebih sering berkelahi dibanding
teman-teman saya
11.
Jika keinginan tidak tercapai, saya mudah
panas hati
12.
Meskipun disakiti orang lain, saya tidak akan
membalasnya secara fisik
13.
Saya merasa perlu berkelahi ketika membela
hak-hak saya
TS
N
S
SS
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
No.
Pernyataan
STS
14.
Saya berusaha memilih kata yang halus untuk
menjaga perasaan orang lain
15.
Ketika merasa emosi, saya bisa merusak
benda-benda di sekitar saya
16.
Saya merasa iri dengan kesuksesan orang lain
17.
Meskipun
sedang
kesal,
saya
bisa
mengendalikan perkataan saya
18.
Ketika dihina, saya menanggapinya dengan
berkelahi
19.
Saya mudah merasa iri terhadap orang lain
20.
Saya merasa sulit mengendalikan amarah
21.
Di belakang saya teman-teman membicarakan
saya
22.
Saya mampu memaafkan kesalahan orang lain
23.
Saya merasa senang ketika teman saya sukses
24.
Meskipun dipanggil dengan nama julukan,
saya tetap memanggil orang lain dengan nama
aslinya
25.
Saya langsung mengatakan apa saja yang ada
dalam pikiran saya
26.
Menurut orang di sekitar, saya adalah orang
yang suka berdebat
27.
Saya berpikir dua kali sebelum mengatakan
apa yang saya pikirkan
28.
Membalas kemarahan orang lain dengan penuh
emosi merupakan hal yang sia-sia
29.
Saya
merupakan
perdebatan
orang
yang
menikmati
TS
N
S
85
SS
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
No.
Pernyataan
STS
30.
Saya merasa permasalahan bisa diselesaikan
TS
tanpa berkelahi
31.
Saya
yakin teman-teman tulus berteman
dengan saya
32.
Saya bisa berlapang dada menghadapi masalah
33.
Ketika
terancam,
saya
akan
menyerang
(memukul) terlebih dahulu
 Terimakasih atas partisipasi teman-teman 
N
S
86
SS
Download