perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user BAB II

advertisement
9
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
2.1.1. Teori Triangle Fraud dan Kecurangan Laporan Keuangan
Menurut kamus Inggris-Indonesia, fraud diterjemahkan sebagai penipuan,
kecurangan atau penggelapan. Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai
Pustaka mendefinisikan kecurangan berarti ketidakjujuran dan keculasan.
(Karyono, 2013). Albrecht et al. (2009) mendefinisikan fraud sebagai satu istilah
umum dan mencakup semua cara yang dapat dirancang oleh kecerdasan manusia,
yang melalui satu individu, untuk memperoleh keuntungan dari orang lain dengan
penyajian yang salah. Tidak ada aturan yang pasti dan seragam untuk dijadikan
dasar dalam mendefinisikan fraud karena mencakup kejutan, penipuan, kelicikan
dan cara – cara lain dimana pihak lain dicurangi.
Arens et al. (2008) menjelaskan bahwa sebagai suatu konsep hukum yang
luas, fraud merupakan setiap ketidakjujuran yang disengaja untuk merampas hak
kepemilikan orang ataupun pihak lain. Dalam konteks audit atas laporan
keuangan, fraud atau kecurangan didefinisikan sebagi salah saji dalam laporan
keuangan yang dilakukan secara sengaja. Joseph Wells (2011) menjelaskan
definisi fraud sebagai hal-hal yang mencakup semua jenis kejahatan untuk
mendapatkan sesuatu yang menggunakan penipuan atau kecurangan sebagai
modus utama operasinya. Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat
commit to user
10
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
disimpulkan bahwa fraud adalah tindakan yang bertujuan untuk menguntungkan
diri sendiri maupun pihak tertentu dengan berbagai cara yang tidak benar.
Albrecht, et al (2009) menjelaskan ada tiga elemen kunci yang
menyebabkan seseorang melakukan fraud yang biasa dikenal dengan fraud
triangle. Ketiga komponen tersebut adalah:
Gambar 2.1
Fraud Triangle
a. Tekanan (pressure)
Tekanan atau tuntutan yang mendorong seseorang untuk melakukan
fraud dapat dibagi menjadi lebih spesifik, misalnya tekanan keuangan,
kebiasaan buruk, tekanan berkaitan dengan pekerjaan, dan tekanantekanan lainnya.
b. Peluang (opportunity)
Fraud tidak hanya terjadi jika ada tekanan, tetapi juga ketika calon
pelaku fraud melihat adanya peluang untuk melakukan kecurangan. Ada
beberapa faktor utama yang dapat meningkatkan peluang yang
mendorong seseorang untuk melakukan fraud yaitu:
 Kurangnya pengendalian untuk mencegah dan mendeteksi perilaku
yang menyimpang,
commit to user
11
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
 Ketidakmampuan untuk menilai kualitas kinerja dengan tepat,
 Kegagalan dalam mendisiplinkan pelaku fraud,
 Kurangnya informasi,
 Ketidak perdulian, apatis, dan ketidakmampuan ,
 Kurangnya jejak audit,
c. Rasionalisasi (rationalization)
Kecenderungan pelaku fraud adalah membenarkan tindakan yang
dilakukannya dengan pola pikir tertentu seperti “tidak akan ada yang
dirugikan,”,“organisasi berhutang kepada saya,”,“semua orang juga
melakukan hal yang sama,” dan alasan-alasan lain.
Menurut Karyono (2013), kecurangan (fraud) salah satu bentuknya berupa
kecurangan laporan keuangan (fraudulent financial statement). Kecurangan
laporan keuangan (fraudulent financial statement) dilakukan dengan menyajikan
laporan keuangan lebih baik dari sebenarnya (over statement) atau lebih buruk
dari sebenarnya (under statement). Definisi fraudulent financial statement
menurut Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) dalam Rezaee (2002):
“ The intentional, deliberate, misstatement, or omission of material facts, or
accounting data which is misleading and, when considered with all the
information made available, would case the reader to change or alter his or
her judgment or decision.”
Willingham dan Elliott (1980) mendefinisikan kecurangan laporan
keuangan berfokus pada tindakan melanggar hukum yang disengaja dilakukan
oleh perusahaan publik yang merugikan secara materiil menyesatkan pengguna
melalui laporan keuangan. Laporan keuangan palsu dapat digunakan untuk
commit to user
12
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
pembenaran dalam menjual saham,
memperoleh pinjaman atau
kredit
perdagangan, dan / atau memperbaiki kompensasi agerial manusia dan bonus.
2.1.2. Lingkungan Pengendalian dalam Sistem Pengendalian Internal
Pemerintah (SPIP)
Adanya kemajuan di bidang ekonomi dan bisnis berakibat pada kemajuan
pemahaman atas pengendalian internal (Karyono, 2013). Semakin memasuki era
globalisasi, maka tuntutan untuk transparansi anggaran semakin tinggi maka
pemerintah membuat beberapa regulasi mengenai sistem pengendalian internal.
Sistem pengendalian internal pemerintah diatur penuh dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008. Peraturan Pemerintah ini membahas mengenai
seluruh proses kegiatan audit, review, evaluasi, pemantauan, dan kegiatan
pengawasan lain terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi, dalam
rangka memberikan keyakinan yang memadai bahwa kegiatan telah dilaksanakan
sesuai dengan tolok ukur yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien untuk
kepentingan pimpinan dalam mewujudkan kepemerintahan yang baik. Pada
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 Pasal 2 ayat 1 tercantum bahwa
pengendalian penyelenggaraan kegiatan pemerintahan dilakukan untuk mencapai
pengelolaan keuangan negara yang efektif, efisien, transparan dan akuntabel.
Sistem pengendalian internal pemerintah memiliki tujuan untuk mencapai
pengelolaan keuangan baik di pemerintah daerah maupun pemerintah pusat
sehingga dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Arens et al. (2008) menyatakan pengendalian internal yang baik harus
commit
to user
memiliki lingkungan pengendalian
yang baik.
Lingkungan pengendalian (control
perpustakaan.uns.ac.id
13
digilib.uns.ac.id
environment) yang menetapkan suasana suatu organisasi, yang mempengaruhi
kesadaran akan pengendalian dari orang-orangnya. Lingkungan pengendalian
merupakan fondasi dari semua komponen pengendalian internal lainnya, yang
menyediakan disiplin dan terstruktur.
2.1.3. Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ)
Dalam Bab I penjelasan awal Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban
(LKPJ) Kota Surakarta disebutkan bahwa laporan keterangan pertanggung
jawaban (LKPJ) merupakan suatu manifestasi pelaksanaan Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah sebagaimana telah diubah
melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 yang dijabarkan melalui
Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Laporan Penyelenggaraan
Pemerintah Daerah kepada Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggung
Jawaban Kepala Daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan Informasi
Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah kepada masyarakat. Sebagai salah
satu bentuk pertanggung jawaban Pemerintah Daerah dalam melaksanakan
pembangunan, LKPJ dapat digunakan sebagai sarana sinergitas bagi pihak
eksekutif dan legislatif dalam penyelenggaraan pemerintah daerah, serta menjadi
media evaluasi kinerja terhadap pelaksanaan program dan kegiatan yang telah
dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah selama 1 (satu) tahun.
Dalam penjelasan penyelenggaraan tugas umum pemerintahan, LKPJ
terdiri dari LKPJ Akhir Tahun Anggaran dan LKPJ Akhir Masa Jabatan. LKPJ
Akhir Tahun Anggaran disampaikan kepala daerah kepada DPRD paling lambat 3
commit
to user
(tiga) bulan setelah tahun anggaran
berakhir,
sedang LKPJ Akhir Masa Jabatan
14
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
disampaikan bersamaan atau berjarak satu bulan dari LKPJ Akhir Tahun
Anggaran. Muatan LKPJ yang disampaikan kepala daerah memuat atas hal-hal
yang berkaitan dengan arah kebijakan umum pemerintahan daerah, pengelolaan
keuangan
daerah
penyelenggaraan
secara
tugas
makro,
pembantuan
penyelenggaraan
dan
urusan
penyelenggaraan
desentralisasi,
tugas
umum
pemerintahan.
2.2. Penelitian Terdahulu
Penelitian untuk mendeteksi terjadinya kecurangan pada laporan keuangan
dengan menggunakan fraud risk factors pada triangle fraud sebelumnya
dilakukan oleh Lou dan Wang (2009) dan penelitian mengenai pengaruh
pengendalian internal terhadap pendeteksian awal fraud dilakukan oleh
Mayangsari dan Wilopo (2002) dan Thoyibatun (2009). Lou dan Wang (2009)
melakukan penelitian untuk menguji faktor resiko dari fraud triangle. Hasilnya
mengindikasikan bahwa kecurangan pelaporan berhubungan dengan salah satu
kondisi, antara lain tekanan keuangan dari suatu perusahaan atau supervisor
perusahaan, persentase yang lebih tinggi dari transaksi yang kompleks suatu
perusahaan, lebih dipertanyakannya integritas manajer sebuah perusahaan, atau
penurunan hubungan antara perusahaan dengan auditornya.
Mayangsari dan Wilopo (2002) meneliti pengaruh pengendalian internal dan
perilaku tidak etis terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi. Variabel yang
digunakan adalah pengendalian internal, perilaku tidak etis, dan kecenderungan
kecurangan akuntansi. Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa pengendalian
commit to user
15
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
internal dan perilaku tidak etis berpengaruh terhadap kecenderungan kecurangan
akuntansi.
Penelitian lainnya dilakukan oleh Thoyibatun (2009), meneliti pengaruh
keefektifan pengendalian internal dan kesesuaian kompensasi terhadap perilaku
tidak etis dan kecenderungan kecurangan akuntansi. Thoyibatun (2009)
menggunakan variabel pengaruh keefektifan pengendalian internal, kesesuaian
kompensasi, perilaku tidak etis dan kecenderungan kecurangan akuntansi,
penelitian tersebut berhasil membuktikan bahwa keefektifan pengendalian internal
berpengaruh negatif terhadap perilaku tidak etis dan kecenderungan kecurangan
akuntansi. Lain halnya dengan sistem kompensasi yang tidak memiliki pengaruh
terhadap perilaku tidak etis tetapi berbengaruh positif terhadap kecenderungan
kecurangan akuntansi.
Tabel 2.1.
Penelitian Terdahulu
No.
Peneliti
Judul Penelitian
1.
Lou dan Wang
(2009)
Fraud Risk Factor
Of The Fraud
Triangle Assesing
The Likelihood Of
Fraudulent
Financial
Reporting
Hasil Penelitian
Menguji faktor resiko dari fraud
triangle. Hasilnya mengindikasikan
bahwa kecurangan pelaporan
berhubungan dengan salah satu
kondisi berikut: tekanan keuangan
dari suatu perusahaan atau
supervisor perusahaan, persentase
yang lebih tinggi dari transaksi yang
kompleks suatu perusahaan, lebih
dipertanyakannya integritas manajer
sebuah perusahaan, atau penurunan
hubungan antara perusahaan dengan
auditornya. Sebuah model logistik
sederhana berdasarkan contoh faktor
risiko kecurangan ISA 240 dan SAS
99 mengukur kemungkinan
kecurangan pelaporan keuangan dan
commit to user
dapat menguntungkan praktisi.
16
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
2.
Mayangsari
dan Wilopo
(2002)
Konservatisme
Akuntansi, Value
Relevance dan
Discretionary
Accruals:
Implikasi Empiris
Model FelthamOlhson (1996)
Menunjukan bahwa pengendalian
internal dan perilaku tidak etis
berpengaruh terhadap
kecenderungan kecurangan
akuntansi.
3.
Thoyibatun
(2009)
Faktor-Faktor
yang Berpengaruh
terhadap Perilaku
Tidak Etis dan
Kecendurungan
Akuntansi.
Membuktikan bahwa keefektifan
pengendalian internal berpengaruh
negatif terhadap perilaku tidak etis
dan kecenderungan kecurangan
akuntansi. Lain halnya dengan
sistem kompensasi yang tidak
memiliki pengaruh terhadap
perilaku tidak etis tetapi
berbengaruh positif terhadap
kecenderungan kecurangan
akuntansi.
Sumber : Berbagai literatur pendukung penelitian
2.3. Perumusan Hipotesis Penelitian
Karyono (2013) menyatakan bahwa tindakan fraud didorong atau dipicu
oleh suatu kondisi dan perilaku penyebab terjadinya. Arens et al. (2008) dan
Karyono (2013), menyebutkan adanya teori segitiga fraud (fraud triangle theory)
yang menjelaskan faktor pendukung perilaku fraud oleh 3 unsur yaitu adanya
tekanan (pressure), kesempatan (opportunity), dan pembenaran (rationalization).
Saat ini unsur pembenaran (rationalization) jarang diangkat di Indonesia karena
banyak persepsi masyarakat bahwa unsur ini berkaitan dengan budaya masyarakat
Indonesia sendiri sehingga lebih dianggap tabu untuk diangkat menjadi suatu
penelitian.
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada faktor risiko
commit to user
kecurangan dan The 2013 COSO Framework & SOX Compliance (2013) yang
17
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
terintegrasi dengan lingkungan pengendalian dalam Peraturan Pemerintah Nomor
60 Tahun 2008. Faktor-faktor tersebut tidak dapat secara langsung diteliti
sehingga diperlukan variabel proksi agar lebih mudah diteliti (Skousen et al.,
2009). Proksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah unsur pendorong
adanya fraud berkaitan pula dengan efektivitas lingkungan pengendalian.
Menurut Mulyadi (2009), unsur-unsur sistem pengendalian internal meliputi
struktur organisasi yang memisahkan tanggungjawab fungsional secara tegas,
sistem wewenang dan tanggung jawab, praktik yang sehat dalam melaksanakan
tugas dan fungsi setiap unit organisasi, karyawan yang mutunya sesuai dengan
tanggungjawabnya. Hampir sama dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun
2008 yang menjabarkan lingkungan pengendalian berupa pembentukan struktur
organisasi yang sesuai dengan kebutuhan, pendelegasian wewenang dan tanggung
jawab yang tepat, penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang
pembinaan sumber daya manusia. Dalam The 2013 COSO Framework & SOX
Compliance (2013), prinsip lingkungan pengendalian terdiri dari menunjukkan
komitmen terhadap integritas dan nilai-nilai etika, menunjukkan komitmen untuk
berkompetensi, menetapkan struktur organisasi, wewenang serta tanggung jawab,
tanggung jawab pengawasan pelatihan, dan meningkatkan akuntabilitas.
Akuntabilitas
pengelolaan
keuangan
daerah
dapat
diwujudkan
dalam
pengembangan kapasitas sumber daya manusia dalam pemerintah daerah (Zetra,
2009).
Melihat unsur-unsur sistem pengendalian internal, lingkungan pengendalian,
dan prinsip lingkungan pengendalian dalam kerangka konseptual COSO maka
commit to user
18
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
dapat disimpulkan terdapat beberapa kesamaan. Struktur organisasi dan
peningkatan akuntabilitas yang berupa kebijakan sumber daya manusia menjadi 2
hal yang selalu ada dalam lingkungan pengendalian. Faktor pembenaran
(rationalization) dalam efektivitas lingkungan pengendalian diproksikan dengan 2
(dua) variabel struktur organisasi dan kebijakan sumber daya manusia.
Penelitian ini akan menggunakan proksi faktor risiko kecurangan
rationalization dengan menggunakan komponen lingkungan pengendalian The
2013 COSO Framework & SOX Compliance (2013) dan Peraturan Pemerintah
Nomor 60 Tahun 2008, yaitu sebagai berikut:
2.3.1. Struktur Organisasi,
Dalam peraturan BPK 1391 Tahun 2011, terdapat tahapan dalam
pelaksanaan SPIP antara lain perencanaan/persiapan, implementasi dan pelaporan.
Untuk melakukan semua tahapan dalam SPIP tersebut maka diperlukan wadah
untuk menampung kegiatan tersebut yang dinamakan struktur organisasi
(Mulyadi, 2009). The 2013 COSO Framework & SOX Compliance (2013)
menyebutkan
bahwa
salah
satu
komponen
penting
dalam
lingkungan
pengendalian adalah struktur organisasi. Wexley dan Yuki (2005) menyatakan
bahwa struktur organisasi adalah perencanaan formal guna mencapai pembagian
tugas yang efisien dan efektif dalam pengkoordinasian aktifitas seluruh anggota
organisasi. Struktur organisasi haruslah sesuai dengan visi, misi dan tujuan
organisasi. Struktur organisasi yang baik adalah struktur yang selaras dan mampu
mempermudah pencapaian visi, misi dan tujuan organisasi.
commit to user
19
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Dalam pasal 8 Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2008 disebutkan
pembentukan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan sebagaimana
dimaksud pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2008 dilakukan dengan:
a. menyesuaikan dengan ukuran dan sifat kegiatan instansi pemerintah,
b. memberikan kejelasan wewenang dan tanggung jawab dalam instansi
pemerintah,
c. memberikan kejelasan hubungan dan jenjang pelaporan intern dalam instansi
pemerintah,
d. melaksanakan evaluasi dan penyesuaian periodik terhadap struktur organisasi
sehubungan dengan perubahan lingkungan strategis, dan
e. menetapkan jumlah pegawai yang sesuai, terutama untuk posisi pimpinan.
Berdasarkan uraian diatas, maka akan diajukan hipotesis sebagai berikut:
H1: Struktur organisasi berpengaruh positif dalam ketepatan waktu pelaporan
LKPJ
2.3.2. Kebijakan Sumber Daya Manusia dan Pelaksanaannya.
Lingkungan pengendalian menjadi salah satu unsur penting dalam
pembentukan budaya dan perilaku manusia. Unsur manusia merupakan penggerak
dan menjadi landasan dalam segala aktivitas. The 2013 COSO Framework & SOX
Compliance (2013) menyebutkan lingkungan pengendalian meliputi unsur
peningkatan
akuntabilitas.
Untuk
mewujudkan
akuntabilitas
pengelolaan
keuangan daerah dapat dilakukan strategi pengembangan kapasitas sumber daya
manusia pemerintah daerah (Zetra, 2009).
commit to user
20
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Setiap manusia dalam suatu organisasi memiliki sifatnya masing-masing
sehingga akan memunculkan berbagai respon yang berbeda dalam setiap
organisasi. Penerapan sistem pengendalian intern pemerintah (SPIP) beserta
lingkungan pengendaliannya akan memunculkan reaksi yang berbeda pada tiap
personel. Agar SPIP dapat berjalan secara maksimal maka pemerintah harus
melakukan kebijakan sumber daya manusia dan praktiknya yang sehat. Dalam
pasal 10 Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2008, penyusunan dan penerapan
kebijakan yang sehat tentang pembinaan sumber daya manusia sebagaimana
dalam pasal 4 dilaksanakan dengan memperhatikan sekurang-kurangnya hal-hal
sebagai berikut:
a. Penetapan kebijakan dan prosedur sejak rekuitmen sampai pada pemberhentian
pegawai,
b. Penelusuran latar belakang calon pegawai dalam proses rekuitmen, dan
c. Supervisi periodik yang memadai terhadap pegawai.
Penerapan lingkungan pengendalian yang baik dapat diketahui dengan
memahami kebijakan sumber daya manusia dan praktiknya. Pemerintah daerah
wajib melakukan pembinaan yang sehat bagi personel yang bertanggung jawab
dalam manajamen dan fungsional dari kegiatan organisasi pemerintah daerah
serta dapat menilai bagaimana pengendalian yang dilaksanakan. Berdasarkan
uraian diatas, maka akan diajukan hipotesis sebagai berikut:
H2: Kebijakan sumber daya manusia berpengaruh positif dalam ketepatan
waktu pelaporan LKPJ
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
21
digilib.uns.ac.id
2.4. Kerangka Pemikiran Teoritis
Penyelenggaraan pemerintah daerah yang baik dapat dicapai dengan
pengelolaan keuangan daerah dengan baik. Optimalisasi tugas pemerintahan
dengan penerapan prinsip-prinsip good governance, antara lain mencakup aspek
penguatan penerapan sistem pengendalian intern menuju tata pemerintahan yang
baik. Seluruh kegiatan dalam penyelenggaraan pemerintah selalu terintegrasi
dengan sistem pengendalian intern pemerintah (SPIP). Maraknya berbagai kasus
fraud seperti korupsi di Indonesia karena SPIP yang lemah. Fraud dalam laporan
keuangan mengindikasikan bahwa penyelenggaraan pemerintah dinilai kurang
baik.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi adanya indikasi fraud
pada
laporan keuangan pemerintah kota Surakarta, dengan memfokuskan pada faktor
rasionalisasi dari fraud triangle theory. Rasionalisasi diproksikan dengan unsur
lingkungan pengendalian dalam kerangka pengendalian COSO dan unsur
lingkungan pengendalian dalam PP No. 60 Tahun 2008 yaitu struktur organisasi
dan peningkatan akuntabilitas berupa kebijakan sumber daya manusia.
Untuk variabel dependen berupa pendeteksian awal fraud diproksikan
dengan ketepatan pelaporan laporan keterangan pertanggung jawaban (LKPJ).
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007, terdapat siklus mekanisme
tahunan dalam pelaporan LKPJ yang menjadi suatu sistem berkala yang dilakukan
pemerintah daerah. Setiap satuan kerja pemerintah daerah (SKPD) wajib
melaporkan seluruh kegiatan kerjanya yang mencakup penyelenggaraan urusan
desentralisasi, tugas pembantuan, dan tugas umum pemerintah akhir tahun
commit to user
22
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
anggaran kepada bagian Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah sesuai
waktu yang telah ditetapkan. Jika ada SKPD yang tidak tepat waktu dalam
melaporkan maka akan mempengaruhi pelaporan LKPJ secara keseluruhan.
Ketidaktepatan waktu pelaporan juga mengindikasikan adanya kecurangan karena
semakin lama waktu suatu SKPD melakukan pelaporan maka semakin besar pula
SKPD tersebut melakukan manipulasi data pelaporan tersebut. berdasarkan
landasan teori yang telah disebutkan sebelumnya, kerangka konseptual dalam
penelitian ini tercantum pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2
Kerangka Penelitian
Variabel Dependen
Variabel Independen
Rationalization
Indikasi Kecurangan pada
Laporan Keuangan
Struktur Organisasi
Kebijakan Sumber
Daya Manusia
Ketepatan Waktu
Pelaporan Laporan
Keterangan
Pertanggung Jawaban
(LKPJ)
commit to user
Download