5473 - UPT Perpustakaan Universitas Ngudi Waluyo

advertisement
UJI EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN JATI
BELANDA (Guazuma ulmifolia Lamk.)TERHADAP BAKTERI
Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli
ARTIKEL
Oleh
MUHAMMAD FAJAR AWALLUDIN
050112A057
PROGRAM STUDI FARMASI
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO
UNGARAN
2017
HALAMAN PENGESAHAN
Artikel berjudul :
UJI EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN JATI BELANDA
(Guazuma ulmifolia Lamk.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus
DAN Escherichia coli
Disusun oleh :
MUHAMMAD FAJAR AWALUDIN
NIM. 050112a057
PROGRAM STUDI FARMASI
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO
Telah diperiksa dan disetujui oleh pembimbing dan telah diperkenankan untuk
diujikan.
Ungaran, Januari 2017
Pembimbing utama
Sikni Retno Karminingtyas.,S.Farm.,M.Sc.,Apt
NIDN : 0606068303
UJI EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN JATI BELANDA
(Guazuma ulmifolia Lamk.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus
DAN Escherichia coli
Sikni Retno Karminingtyas, Niken Dyahariesti, Muhammad Fajar Awaludin
[email protected]
INTISARI
Latar Belakang : Daun jati belanda (Guazuma Ulmifolia Lamak.) mengandung
senyawa flavonoid, saponin, tanin yang diduga dapat menghambat dan
membunuh bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak daun jati
blanda (Guazuma Ulmifolia Lamak) mempunyai daya anti bakteri terhadap
bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.
Metode : Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental murni dengan
desain post eksperimental. Dengan melihat kadar bunuh minimum ekstrak daun
jati blanda pada bakteriStaphylococcus aureus dan Escherichia coli.
Hasil : Hasil menunjukan pada kosentrasi 12,5% merupakan kadar hambat
minimum karena sudah dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus
aureus dan Escherichia coli. Sedangkan kadar bunuh minimum bakteri
Staphylococcus aureus adalah 25%dan bakteri Escherichia coli 12,5%. Hal ini
menunjukkan bahwa efektifitas ekstrak daun jati belanda (Guazuma ulmifolia
Lamak.) lebih efektif pada bakteri Escherichia coli.
Simpulan :Ekstrak daun jati blanda (Guazuma ulmifolia Lamak.) mempunyai
efek antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.
Saran : Perlu dilakukan penelitian tentang aktivitas antibakteri dari bagian
tumbuhan lain daun jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamak.).
Kata kunci : Ekstrak. daun jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamak.).
Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.
Kepustakaan : 38 (1978-2014)
ANTIBACTERIAL EFFECTIVENESS TEST OF EXTRACTED JATI
BELANDA LEAVES (Guazuma ulmifolia Lamk.) AGAINST BACTERIA
Staphylococcus aureus AND Escherichia coli
Sikni Retno Karminingtyas, Niken Dyahariesti, Muhammad Fajar Awaludin
[email protected]
ABSTRACT
Background: Jati Belanda Leaves (Guazuma ulmifolia Lamak.) contain
flavonoids, saponins, tannins which can inhibit and kill bacteria Staphylococcus
aureus and Escherichia coli.
Objective: This study aimed to determine whether the extract ed Jati Belanda
(Guazuma ulmifolia Lamak) has an antibacterial against Staphylococcus aureus
and Escherichia coli.
Methods: This study was purely experimental research with post experimental
design by looking at the minimum levels of extracted Jati Belanda leaves on
Staphylococcus aureus and Escherichia coli.
Results: The results showed that the concentration of 12.5% was the minimum
inhibitory concentration because it inhibited the growth of Staphylococcus aureus
and Escherichia coli. While the minimum levels of killing Staphylococcus aureus
bacteria were 25% and 12.5% against bacteria Escherichia coli. This showed that
the effectiveness of the extracted Jati Belanda leaves (Guazuma ulmifolia Lamak.)
was more effective to kill bacteria Escherichia coli.
Conclusion: Extracted jati belanda leavres (Guazuma ulmifolia Lamak.) has an
antibacterial effect against Staphylococcus aureus and Escherichia coli.
Suggestion: Itneeds to do research on the antibacterial activity of other parts of
Jati Belanda leaves (Guazuma ulmifolia Lamak.).
Keywords: Extracted Jati Belanda Leaves (Guazuma ulmifolia Lamak.).
Staphylococcus aureus and Escherichia coli.
Bibliographies: 38 (1978-2014)
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Penyakit infeksi merupakan salahsatu masalah dalam bidangkesehatan
yang terus berkembang. Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri yang dapat
menyerang seluruh tubuh.Infeksi yang sering terjadi yaitu infeksi yang
disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan Escherichia coli (Rasyid, 2000).
Antibakteri adalah zat yang dapat mengganggu pertumbuhan atau
bahkan mematikan bakteri dengan cara mengganggu metabolisme mikroba
yang merugikan. Salah satu zat antibakteri yang banyak digunakan adalah
antibiotik. Antibiotik adalah senyawa kimia khas yang dihasilkan atau
diturunkan oleh organisme hidup termasuk struktur analognya yang dibuat
secara sintetik, yang dalam kadar rendah mampu menghambat proses penting
dalam kehidupan satu spesies atau lebih mikroorganisme. Antibiotik
merupakan obat yang paling banyak digunakan pada infeksi yang disebabkan
oleh bakteri(Siswando dan Soekardjo, 1995).
Daunjatibelanda(Guazuma ulmifolia Lamk.)merupakan salah satu
tanaman yang belum dimanfaatkan secara maksimal.Kandungan kimia daun
dan kulit batang jati belanda adalah saponin, tanin, alkaloid, dan flavonoid,
dengan kandungan utama pada daunnya adalah tanin. Penggunaan tanaman
jati belanda secara tradisional adalah bagian daun sebagai pelangsing tubuh,
biji sebagai obat mencret, sembelit, karminatif,kulit batang sebagai diaforetik,
bengkak kaki, dan bagian buah/daun untuk obat diare, batuk, nyeri perut,
tonik, astringen (Departemen Kesehatan, 1985). Berdasarkan hal tersebut,
maka perlu dilakukan penelitian tentang efektivitas antibakteri ekstrak daun
jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.)sebagai antibakteri.
Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang
efektivitas antibakteri ekstrak daun jati belanda (Guazuma ulmifolia
Lamk.)sebagai antibakteri.
2. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Mengetahui efek antibakteri ekstrak daunjatibelanda(Guazuma
ulmifolia Lamk.).
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui efek antibakteri ekstrak daun jati belanda (Guazuma
ulmifolia Lamk.) terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan
Escherichia coli.
b. Mengetahui konsentrasi ekstrak daun jati belanda (Guazuma ulmifolia
Lamk.) yang dapat menghambat dan membunuh bakteri
Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dibandingkan dengan
ciprofloxacin.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental murni dengan
desain post eksperimental. Penelitian ini dilakukan dengan melihat kadar
hambat minimum dan kadar bunuh minimum ekstrak daun jati belanda
konsentrasi 12,5% b/v, 25% b/v, 50% b/v.
Variabel Penelitian
1. Variabel bebas
Ekstrak daun jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.) dengan
konsentrasi 12,5% b/v, 25% b/v, dan 50% b/v.
2. Variabel tergantung
Kadar hambat minimum dan kadar bunuh minimum terhadap
bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.
3. Variabel terkendali
Media biakan bakteri, suhu inkubasi yaitu 37oC dan waktu inkubasi
selama 24 jam.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Determinasi daun jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.)
Determinasi daun jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.) dilakukan
di Laboratorium Ekologi dan Biosistematik Jurusan Biologi Fakultas SAINS
dan Matematika Universitas Diponegoro Semarang. Hasil determinasi daun
jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.) adalah sebagai berikut :
Determinasi
1b, 2b, 3b, 4b, 12b, 13b, 14b, 17b, 18b, 19b, 20b, 21b, 22b, 23b, 24b, 25b,
26b, 27a, 28b, 29b, 30b, 31a, 32a, 33a, 34a, 35a, 36d, 37b, 38b, 39b, 41b,
42b, 44b, 45b, 50a, ………. Famili 94. Sterculiacea ………. 1b, 6b, 10b, 12b,
15b, 17a, 18b, ………. Genus 10. Guazuma ………. Spesies 1. Guazuma
ulmifolia lamk.
Jatib belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.) memiliki kandungan
tanin,lendir,damar,alkaloid (kafein, β sistosterol,friedelin 3α-al,terpen),
caryophyllene, cetechins, farnesol, friedelin, kauenoic acid, precocene i,
procyanidin B-2, procyanidin B-5, procyanidin C-1, dan sistosterol. Daun jati
beland berksiat sebagai obat pelangsing tubuh, bijinya sebagai obat mencret.
Habitus tumbuhan berupa semak atau pohon, tinggi 10 m sampai
m,bercabang ramping. Akar tunggang, putih kecoklatan. Btang keras, bulat,
permukaan kasar, banyak alur, berkayu, bercabang, berwarna hijau keputihputihan. Daun tunggal bentuk bulat telur sampai lenset, panjang helai daun 422,5 cm,lebar 2-10 cm, pangkal daun menyerong berbentuk jantung yang
kadang-kadang tidak setangkup, bagian ujung meruncing dan tajam,
permukaan daun bagian atas berambut jarang, permukaan bgian bawah
beramut rapat.
B. Pembuatan ekstrak daun jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.)
Pembuatan ekstrak etanol daun jati belanda (Guazuma ulmifolia
Lamk.) dilakukan di Laboratorium Universitas Ngudi Waluyo Fakultas
Kesehatan Program Studi Farmasi menggunakan metode maserasi. 500 gram
serbuk simplisia diekstrak dengan etanol sebanyak 5000 ml. Hasil ekstrak
etanol daun jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.) yang diperoleh berbentuk
kental, berwarna coklat pekat dan berbau khas.
Pembuatan ekstrak daun jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.)
menggunakan metode maserasi. Metode maserasi dipilih karena merupakan
metode pemisahan yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara
merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan penyari akan
menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat
aktif dan zat aktif akan larut. Sedangkan kekurangannya adalah waktu yang
dibutuhkan untuk ekstraksi cukup lama.
Pembuatan ekstrak dilakukan dengan 500 gram serbuk daun jati
belanda diekstrak dengan menggunakan etanol sebagai pelarut sebanyak 5000
ml yang menghasilkan ekstrak kental sebanyak 98 gram dengan persentase
rendemen ekstrak sebesar 19,6%. Persentase rendemen menunjukkan
kemaksimalan dari pelarut yang digunakan untuk menyari. Pelarut yang
digunakan etanol 70% karena bersifat polar sehingga dapat menarik flavonoid,
tanin dan saponin yang terkandung didalam daun jati belanda. Selain itu,
etanol bersifat antimikroba sehingga dapat mencegah pertumbuhan jamur baik
pada saat ekstraksi maupun pada hasil ekstrak yang didapatkan.
Ekstrak yang diperoleh sebanyak 98 gram dari 500 gram serbuk
dengan persentase rendemen ekstrak sebesar 19,6%.
C. Pengujian Zat Bioaktif
1. Identifikasi senyawa flavonoid
a. Sebanyak 0,1 g ekstrak ditambahkan metanol sampai terendam
dipanaskan dan filtratnya ditambahkan H2SO4 sehingga menghasilkan
senyawa flavonoid yang ditandai perubahan warna dari kuning
menjadi merah.
b. Sebanyak 3 tetes ekstrak ditambahkan 1 tetes FeCl3 sehingga
menghasilkan senyawa flavonoid ditandai perubahan warna menjadi
ungu.
2. Identifikasi senyawa tanin
Sebanyak 0.1 g ekstrak ditambahkan 10 ml air panas, didihkan,
selama 5 menit dan disaring. Sebagian filtrat yang diperoleh ditambah
larutan FeCl3 1%. Hasil positif ditunjukkan oleh terbentuknya warna hijau
kehitaman.
3. Identifikasi senyawa saponin
Uji fitokimia saponin dilakukan dengan cara sampel dimasukkan
ke dalam tabung reaksi ditambah aquades didihkan selama 2-3 menit,
dinginkan setelah dingin dikocok dengan kuat. Uji positif ditandai dengan
adanya busa yang stabil 2-3 cm selama 5 menit.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.Hasil
Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak daun jati belanda (Guazuma
ulmifolia Lamk.) dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tabel 1. Zona hambat bakteri
Kelompok
ZonaHambat (mm)
Perlakuan
(mean±SD)
Staphylococcus aureus
Escherichia coli
Kontrol positif
33
32
12,5%
29 ± 1
32,33 ± 0,58
25%
33,67 ± 1,53
33,67 ± 1,53
50%
37 ± 2
37,33 ± 1,53
Kelompok
Perlakuan
Tabel 2. Zona bunuh minimum
ZonaBunuh
Staphylococcus aureus
Escherichia coli
Kontrol positif
Membunuh
Membunuh
12,5%
Tidak Membunuh
Membunuh
25%
Membunuh
Membunuh
50%
Membunuh
Membunuh
kadar bunuh minimum dari bakteri Staphylococcus aureus adalah 25% dan
kadar bunuh minimum dari bakteri Escherichia coli adalah 12,5%.
Tabel 3. Uji normalitas
Kelompokperlakuan
Staphylococcus aureus
p-value
Keterangan
Kontrolpositif
1.000
Terdistribusi Normal
Konsentrasi 12,5%
1.000
Terdistribusi Normal
Konsentrasi 25%
.637
Terdistribusi Normal
Konsentrasi 50%
1.000
Terdistribusi Normal
Kelompokperlakuan
Kontrolpositif
Konsentrasi 12,5%
Konsentrasi 25%
Konsentrasi 50%
Bakteri
Staphylococcus
aureus
Escherichia coli
Tabel 4.Uji normalitas
Escherichia coli
p-value
keterangan
.637
Terdistribusi Normal
1.000
Terdistribusi Normal
.637
Terdistribusi Normal
.637
Terdistribusi Normal
Tabel 5. Uji levene statistik
Sig.
Keterangan
.670
Homogen
.802
Homogen
Berdasarkan tabel diatas bakteriStaphylococusaureusdapat
diketahui bahwa hasil uji homogenitas varian menggunakan Lavene Test
diperoleh p-value 0,670 > α (0,05), sedangkanbakteriEscherichiae coli
didapatkanhasilujihomogenitasvariasimenggunakanLaveneTastdiperoleh
P-value 0.802 >α (0,05), ini menunjukkan bahwa data-datayang diperoleh
memiliki varian yang homogen.
Tabel6.Uji anava
Bakteri
Sig.
Keterangan
Staphylococcus
.001
Berbedasignifikan
aureus
Escherichia coli
.009
Berbedasignifikan
Tabel 7.Uji LSD
a. Bakteri Staphylococcus aureus
Kelompokperlakuan
Kontrol (+) dankonsentrasi 12,5%
Kontrol (+) dankonsentrasi 25%
Kontrol (+) dankonsentrasi 50%
konsentrasi 12,5% dankonsentrasi 25%
konsentrasi 12,5% dankonsentrasi 50%
konsentrasi 25% dankonsentrasi 50%
Sig.
.009
.587
.009
.004
.000
.022
Keterangan
Berbedabermakna
Berbedatidakbermakna
Berbedabermakna
Berbedabermakna
Berbedabermakna
Berbedabermakna
Berdasarkan tabel di atas diperoleh bahwa dari hasil uji LSD
diperoleh bahwa ekstrak daun jati Belanda konsentrasi 12,5% memiliki
efek membunuh bakteri S. Aureus lebih rendah secara signifikan dengan
kontrol positif dengan p-value 0,009 < α (0,05). Sedangkan ekstrak daun
jati Belanda konsentrasi 25% memiliki efek membunuh bakteri S. Aureus
sebanding (berbeda tidak signifikan) dengan kontrol positif dengan p-value
0,587 > α (0,05). Kemudian ekstrak daun jati Belanda konsentrasi 50%
memiliki efek membunuh bakteri S. Aureus lebih tinggi secara signifikan
dengan kontrol positif dengan p-value 0,009 < α (0,05).
Tabel 8.Uji LSD
b. Bakteri Escherichia coli
Kelompokperlakuan
Sig.
Kontrol (+) dankonsentrasi 12,5%
.282
Kontrol (+) dankonsentrasi 25%
.780
Kontrol (+) dankonsentrasi 50%
.009
konsentrasi 12,5% dankonsentrasi 25%
.187
konsentrasi 12,5% dankonsentrasi 50%
.002
konsentrasi 25% dankonsentrasi 50%
.013
Keterangan
Berbedatidakbermakna
Berbedatidakbermakna
Berbedabermakna
Berbedatidakbermakna
Berbedabermakna
Berbedabermakna
Berdasarkan tabel di atas diperoleh bahwa dari hasil uji LSD
diperoleh bahwa ekstrak daun jati Belanda konsentrasi 12,5% memiliki
efek membunuh bakteri E. Coli sebanding (tidak signifikan) dengan
kontrol positif dengan p-value 0,282 > α (0,05). Sedangkan ekstrak daun
jati Belanda konsentrasi 25% juga memiliki efek membunuh bakteri E.
Coli sebanding (berbeda tidak signifikan) dengan kontrol positif dengan pvalue 0,780 > α (0,05). Kemudian ekstrak daun jati Belanda konsentrasi
50% memiliki efek membunuh bakteri E. Coli lebih tinggi secara
signifikan dengan kontrol positif dengan p-value 0,009 < α (0,05).
2.Pembahasan
Hasil pengamatandaritabel 1. menunjukkan bahwa hasil zona daya bunuh
pada S. Ureus untuk ekstrak daun jati Belanda konsentrasi 50% memiliki
hasil rata-rata yang paling tinggi sebesar 37,0 ± 2,0, paling tinggi kedua
pada konsentrasi 25% sebesar 33,7 ± 1,5, kemudian ketiga kontrol positif
sebesar 33,0 ± 1,0, dan diikuti oleh konsentrasi 12,5% sebesar 29,0 ± 1,0,
dan yang terakhir kontrol negatif tidak memiliki zona bunuh karena
memiliki nilai 0 semua, danbakteriE. Coli untuk ekstrak daun jati Belanda
konsentrasi 50% memiliki hasil rata-rata yang paling tinggi sebesar 37,3 ±
1,5, paling tinggi kedua pada konsentrasi 25% sebesar 33,7 ± 1,5,
kemudian diikuti kontrol positif sebesar 33,3 ± 1,5, dan diikuti oleh
konsentrasi 12,5% sebesar 32,0 ± 1,0, dan yang terakhir kontrol negatif
tidak memiliki zona bunuh karena memiliki nilai 0 semua.
Berdasarkan tabel 3.dapat diketahui bahwa hasil uji normalitas
variabel zona bunuh bakteri untuk kelompok kontrol negatif tidak muncul
karena hasil memiliki nilai 0 semua (konstan). Kemudian hasil uji
normalitas variabel zona bunuh bakteri S. Aureus untuk kelompok kontrol
positif, ekstrak daun jati Belanda konsentrasi 12,5%, konsentrasi 25%, dan
konsentrasi 50% masing-masing didapatkan p-value 1,000, 1,000, 0,637,
dan 1,000. Ini menunjukkan bahwa data-data yang diperoleh dapat
dinyatakan berdistribusi normal.
Kontrol positif dihapuskan dari analisis karena memiliki nilai 0
semua (konstan) untuk ketiga replikasi. Sehingga kelompok perlakuan
yang diikutkan dalam uji ANOVA adalah kontrol positif, ekstrak daun jati
Belanda konsentrasi 12,5%, konsentrasi 25%, dan konsentrasi 50%.
Berdasarkan tabel 4. dapat diketahui bahwa hasil uji normalitas
variabel zona bunuh bakteri untuk kelompok kontrol negatif tidak muncul
karena hasil memiliki nilai 0 semua (konstan). Kemudian hasil uji
normalitas variabel zona bunuh bakteri E. Coli untuk kelompok kontrol
positif, ekstrak daun jati Belanda konsentrasi 12,5%, konsentrasi 25%, dan
konsentrasi 50% masing-masing didapatkan p-value 0,637, 1,000, 0,637,
dan 0,637. Ini menunjukkan bahwa data-data yang diperoleh dapat
dinyatakan berdistribusi normal.
Kontrol positif dihapuskan dari analisis karena memiliki nilai 0
semua (konstan) untuk ketiga replikasi. Sehingga kelompok perlakuan
yang diikutkan dalam uji ANOVA adalah kontrol positif, ekstrak daun jati
Belanda konsentrasi 12,5%, konsentrasi 25%, dan konsentrasi 50%.
Berdasarkan tabel6.bakteri S. Aureusdiketahui bahwa dari hasil uji
ANOVA diperoleh F hitung = 15,520 dengan p-value 0,001. Oleh karena F
hitung 15,521 > F tabel 3,01 atau p-value 0,001< α (0,05), danbakteri
E.Coli dapat diketahui bahwa dari hasil uji ANOVA diperoleh F hitung =
15,639 dengan p-value 0,009. Oleh karena F hitung 15,639 > F tabel 3,01
atau p-value 0,009< α (0,05), maka disimpulkan bahwa ada perbedaan
secara signifikan efek dari keempat kelompok perlakuan yang
diberikanterhadap zona bunuh padabakteri S. Aureusdan bakteri E.Coli.
Untuk mengetahui perlakuan-perlakuan mana yang memiliki zona bunuh
yang berbeda, dilakukan uji Post Hoc Tests menggunakan uji LSD yang
disajikan berikut ini.
Berdasarkan tabel 7.diperoleh bahwa dari hasil uji LSD diperoleh
bahwa ekstrak daun jati Belanda konsentrasi 12,5% memiliki efek
membunuh bakteri S. Aureus lebih rendah secara signifikan dengan
kontrol positif dengan p-value 0,009 < α (0,05). Sedangkan ekstrak daun
jati Belanda konsentrasi 25% memiliki efek membunuh bakteri S. Aureus
sebanding (berbeda tidak signifikan) dengan kontrol positif dengan p-value
0,587 > α (0,05). Kemudian ekstrak daun jati Belanda konsentrasi 50%
memiliki efek membunuh bakteri S. Aureus lebih tinggi secara signifikan
dengan kontrol positif dengan p-value 0,009 < α (0,05).
Berdasarkan tabel di atas diperoleh bahwa dari hasil uji LSD
diperoleh bahwa ekstrak daun jati Belanda konsentrasi 12,5% memiliki
efek membunuh bakteri E. Coli sebanding (tidak signifikan) dengan
kontrol positif dengan p-value 0,282 > α (0,05). Sedangkan ekstrak daun
jati Belanda konsentrasi 25% juga memiliki efek membunuh bakteri E.
Coli sebanding (berbeda tidak signifikan) dengan kontrol positif dengan pvalue 0,780 > α (0,05). Kemudian ekstrak daun jati Belanda konsentrasi
50% memiliki efek membunuh bakteri E. Coli lebih tinggi secara
signifikan dengan kontrol positif dengan p-value 0,009 < α (0,05).
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan yaitu Pengaruh
Konsentrasi ekstrak daun jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.) terhadap
bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dapat disimpulkan sebagai
berikut :
1. Ekstrak daun jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.) mempunyai efek
antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.
2. Ekstrak daun jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.) dengan konsentrasi
12,5% dapat menghambat bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia
coli, sedangkan kadar bunuh minimum dari bakteri Staphylococcus aureus
adalah 25% dan kadar bunuh minimum dari bakteri Escherichia coli
adalah 12,5%.
UCAPAN TERIMA KASIH
Seluruh civitas akademik Universitas Ngudi Waluyo Ungaran, Ketua Program
Studi Ilmu Kesehatan Ngudi Waluyo Ungaran dan kepada semua yang tidak bisa
disebutkan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia., 1985. Cara Pembuatan
Simplisia. Jakarta.
2. Rasyid, Roslaili, and Suheimi K., 2000. Prevalensi Infeksi Nasokomial Pada
Pasien Pasca Sectio Sesaria Pada Bagian Kebidanan & Penyakit Kandungan
Rsup Dr. M. Djamil Padang. Majalah Kedokteran Andalas No.2 Vol. 24
3. Siswandono and Soekardjo., 1995. Kimia Medisinal. Surabaya: Penerbit
Airlangga University Press. Halaman 544.
Download