Cegukan atau hiccup yang istilah medisnya singultus adalah

advertisement
Cegukan (singultus)
Cegukan atau hiccup yang istilah medisnya singultus adalah kontraksi tiba-tiba yang tak disengaja pada
diafragma, dan umumnya terjadi berulang-ulang setiap menitnya. Istilah‘hiccup’ muncul dan digunakan orang
untuk
menirukan
suara
yang
dikeluarkan
saat
cegukan
(hik..hik..).
Sedangkan
nama
lainnya,
yaitu ‘singultus’ berasal dari bahasa latin singult yang berarti menarik nafas saat seseorang sedang terisak-isak.
Ketika seseorang cegukan, terjadi kontraksi otot-otot pernapasan, yaitu diafragma dan otot-otot di antara tulang
rusuk, yang menyebabkan gerakan menarik nafas namun tiba-tiba diikuti dengan menutupnya glotis (katup
saluran napas) secara tidak normal sehingga terdengarlah suara hik..hik…
Biasanya cegukan muncul 4-60 kali/menit dengan interval yang cukup teratur dan berlangsung beberapa menit
saja. Namun ada kalanya bertahan lebih dari 48 jam, dan bisa pula hingga berhari-hari (mau memecahkan rekor
dunia?). Tertutupnya katup atau epiglotis ini terjadi karena adanya gangguan di lengkung refleks, yaitu pada
susunan saraf pusat dan saraf tepi. Kedua saraf ini mengatur jalur pernafasan dalam tubuh manusia agar
berjalan lancar. Tertutupnya klep ini bukan merupakan kelainan susunan saraf pusat atau saraf tepi, namun
merupakan respon dari keduanya yang terganggu.
Oleh karena saraf tepi berukuran panjang dan berhubungan dengan organ-organ di dalam tubuh, maka
terkadang aktivitasnya terganggu oleh penyakit yang serius. Sehingga, cegukan dapat pula menjadi gejala adaya
radang di perut, penyakit di ginjal, masalah hati atau tumbuhnya tumor di leher yang mengganggu saraf, yang
kemudian mengirim respon sehingga muncullah cegukan.
Berbagai Penyebab
Menurut analisa medis, terjadinya cegukan melibatkan refleks pada saraf frenikus dan sarafvagus yang ada di
daerah diafragma (otot pernapasan utama yang terletak antara dada dan perut).
Penyebab cegukan yang bersifat sementara biasanya adalah, makan terlalu cepat, minum minuman
berkarbonasi, minum air dingin sesaat setelah makan makanan panas, makan makanan yang sangat panas atau
pedas, tertawa atau batuk terlalu keras, banyak menelan udara, kelebihan minuman beralkohol, atau karena
ketidakseimbangan elektrolit dalam darah, merokok, stress.
Iritasi pada saraf vagus dan frenikus merupakan penyebab tersering. Benda asing yang ada di daerah telinga
pun ternyata juga dapat menjadi pencetus, karena ada salah satu cabang saraf vagus di daerah tersebut.
Kelainan pada tenggorokan seperti peradangan dan tumor di daerah leher juga dapat menstimulasi serabut saraf
yang ada di daerah tersebut, yang juga merupakan cabang saraf vagus.
Cegukan dapat pula disebabkan karena tekanan saraf frenik oleh struktur anatomi yang lain, atau karena tumor
dan penyakit ginjal lainnya, meski hal ini jarang terjadi. American Cancer Society melaporkan bahwa 30% pasien
kemoterapi menderita cegukan sebagai efek samping perlakuan.
Berbagai kelainan diafragma juga bisa mendasari timbulnya cegukan, seperti misalnya hernia hiatus, reflux
gastroesofagus, abses subfenikus, serta manipulasi diafragma selama pembedahan. Penyebab lainnya lagi yang
juga mungkin adalah penyakit sistim saraf pusat yang mengganggu refleks cegukan, bisa berupa infeksi, tumor
maupun kelainan pembuluh darah. Kondisi uremia (meningkatnya kadar ureum dalam darah) yang dialami
pasien gagal ginjal juga dapat jadi penyebab.
Selain itu faktor psikogenik pun perlu dipertimbangkan.
Ada 2 jenis cegukan, yaitu :
1. Cegukan yang bersifat ringan, yang hanya berlangsung selama 1 - 2 jam saja. Penyebab paling sering pada
kategori ini karena adanya regangan pada lambung. Selain itu, juga karena perubahan cuaca mendadak
(misalnya dari dingin ke panas atau sebaliknya),makan tergesa-gesa, makan makanan yang terlalu panas atau
dingin, meminum minuman beralkohol atau berkarbonasi, merokok terlalu banyak, atau mengalami stres.
2. Cegukan yang bersifat tetap/permanen (persistance). Cegukan jenis ini biasanya terjadi terus-menerus, tak
hanya berhari-hari tapi bisa berbulan-bulan. Cegukan jenis ini merupakan gejala adanya gangguan di otak
(misalnya gejala tumor di batang otak), gejala stroke (pada penderita stroke sering timbul cegukan), infeksi di
susunan saraf pusat (otak), adanya herpes di dada sehingga mengganggu saraf tepi, selain itu juga karena
gangguan metabolik seperti pada penderita diabetes, atau penderita kelainan ginjal karena uremia. Juga karena
gangguan elektrolit (kurang kalium), termasuk pengaruh obat-obatan seperti steroid atau obat tidur.
Tips Menghentikan Cegukan :
Kadar
karbon
dioksida
yang
tinggi
dalam
darah
akan
menekan
aktivitas
saraf
di
otak yang bertanggungjawab atas terjadinya cegukan.
• Caranya, adalah dengan bernapas dalam sebuah kantong kertas. Tiup dan hirup sebanyak 10 kali dengan
cukup kuat sampai wajah memerah. Lakukan dengan cepat, dan usahakan kantong kertas tertutup rapat
sehingga tidak ada udara yang masuk ke dalamnya…jadi udara yang dihirup adalah udara yang banyak
mengandung karbondioksida.
• Tehnik lain meningkatkan kadar karbondioksida adalah dengan menahan napas selama mungkin, lalu menelan
ketika cegukan dirasakan akan datang. Lakukan sebanyak 2-3 kali kemudian tarik napas dalam dan mulai lagi.
• Ada pula yang menyarankan menahan napas selama mungkin kemudian keluarkan dan tahan selama
mungkin. Atau dengan menahan napas dengan kepala tengadah.
• Menelan satu sendok teh gula pasir kering dapat menghentikan cegukan dalam beberapa menit. Diduga, gula
dalam mulut akan mengirimkan sinyal melalui serabut saraf yang akan mengganggu lengkung refleks cegukan.
• Tidur berbaring dengan kedua lutut ditekuk ke arah perut. Lakukan beberapa saat hingga cegukan hilang.
• Membungkuk sampai jari tangan dapat menyentuh ibu jari kaki selama 60 menit.
• Bisa juga minum air dingin sedikit demi sedikit dan mengeluarkannya dari sisi gelas yang salah. Semua itu
dimaksudkan untuk mempengaruhi sistem saraf, sehingga menghentikan ritme cegukan.
• Peganglah lidah dengan jempol dan jari telunjuk Anda dan tariklah ke depan secara perlahan.
Bila cegukan tak hilang juga dalam beberapa jam atau bahkan hari, maka pertolongan medis seperti
penggunaan obat-obatan sudah diperlukan. Beberapa obat yang dapat digunakan untuk menghilangkan
cegukan diantaranya adalah chlorpromazin, metoclopramid, baclofen, antikonvulsan (fenitoin, asam valproat,
carbamazepin) juga obat lain seperti quinidine, amitriptilin dan marijuana.
Bila dengan obat-obatan cegukan tetap bertahan juga, dapat pula dicoba terapi hipnotis dan akupuntur. Lebih
jauh lagi…anestesi dengan ventilasi tekanan positif dan pelumpuh otot dilaporkan dapat menghentikan cegukan.
Nah, akhirnya… sebagai senjata terakhir yang dapat dilakukan…… tindakan pembedahan menghancurkan atau
memblok nervus frenikus juga telah dilakukan pada beberapa kasus cegukan yang tidak teratasi dengan
berbagai cara…..
Download