Jurnal PENELITIAN HUKUM - Repository | UNHAS

advertisement
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
JURNAL PENELITIAN HUKUM
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN
Diterbitkan oleh:
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN
©2013
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Jurnal
PENELITIAN HUKUM
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN
Penanggung Jawab:
Dekan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin
Dewan Penyunting:
Ketua:
Irwansyah
Anggota:
Abrar Saleng
Muhammad Ashri
M. Guntur Hamzah
Abdul Razak
Achmad Ruslan
Aminuddin Ilmar
Anshori Ilyas
Slamet Sampurno Suwondo
Mitra Bestari:
Prof. Dr. Suparto Wijoyo (Universitas Airlangga, Surabaya)
Prof. Dr. Arief Zudan Fakhrulloh (Universitas Borobudur, Jakarta)
Dr. Zainul Daulay (Universitas Andalas, Padang)
Dr. David Sondakh (Universitas Sam Ratulangi, Manado)
Dr. Andi Irman Putra Sidin (Universitas Esa Unggul, Jakarta)
Penyunting:
M. Zulfan Hakim; Mohammad Aswan; Sakka Pati;
Tri Fenny Widayanti; Muh. Ilham Arisaputra;
Fajlurrahman Jurdi; Wiwin Suwandi; Ahsan Yunus.
Staf:
Andi Murlikanna; Saparuddin; Alfiah Firdaus.
Desain Grafis & Layout:
Ahsan Yunus
Jurnal Penelitian Hukum ini diterbitkan oleh Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.
Dimaksudkan sebagai sarana publikasi hasil-hasil penelitian bidang hukum. Penelitian
yang dimuat merupakan pendapat pribadi penelitinya dan bukan merupakan pendapat
redaksi dan/atau Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.
Terbit setiap bulan September, Januari, dan Mei.
Tulisan dapat diantar langsung atau dikirim ke:
Alamat Redaksi:
JURNAL PENELITIAN HUKUM
Ruang Dapur Jurnal Lt. 1 Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin
Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10, Tamalanrea, 90245, Makassar.
Tel: +62811442470 +6281342439090 Fax: +62411-584686
E-mail: [email protected]
ii
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Jurnal
PENELITIAN HUKUM
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN
ISSN: 2087-2291
Volume 2 Nomor 3, Mei 2013
Halaman 333-496
Daftar Isi
Penerapan Double Track System dalam Pemidanaan Anak
di Kabupaten Takalar
Muhammad Deniardi, M. Syukri Akub, Syamsuddin Muchtar..........
333-352
Izin Persetujuan Bupati dalam Proses Penyidikan Perkara
Tindak Pidana yang Dilakukan oleh Kepala Desa terhadap
Stakeholder di Sulawesi Selatan
Rudy Talanipa, M. Said Karim, Faisal Abdullah..............................
353-369
Independensi Penuntut Umum dalam Penyusunan Surat
Tuntutan
Rizal F, Slamet Sampurno Soewondo, Wiwie Heryani......................
371-390
Perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) terhadap Hak
Tersangka dalam Lembaga Praperadilan
Takkas Marudut, Aswanto, Alma Manuputty....................................
391-418
Implementasi Kewenangan Intelijen Yustisial Kejaksaan
dalam Melakukan Penyelidikan Tindak Pidana Korupsi
Zainal Abidin, M. Said Karim, Slamet Sampurno Soewondo............
419-433
Wujud Tindak Pidana Korupsi dalam Penyidikan di Kejaksaan
Tinggi Sulawesi Tenggara
Tenriawaru, M. Syukri Akub, Muhadar............................................
435-452
Fungsi Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP)
dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi di Kejaksaan Tinggi
Sulawesi Selatan dan Barat
Mudazzir Munsyir, Marthen Arie, Hamzah Halim............................
453-473
Fungsi Badan Lingkungan Hidup Daerah terhadap
Pemberian Proper dalam Bidang Pertambangan
di Provinsi Sulawesi Selatan
Ghina Mangala Hadis Putri, M. Yunus Wahid, Irwansyah............... 575-496
Biodata Penulis
Indeks Penulis (Author Index)
Indeks Subjek (Subject Index)
Ucapan Terima Kasih
Persyaratan Penulisan
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
iii
Dari Redaksi
Salam hormat,
“Konsistensi”, kata yang tepat untuk mewakili penerbitan Jurnal Penelitian Hukum
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013 yang saat ini kembali hadir di hadapan para pembaca.
Konsistensi untuk tak lelah dalam berkarya, keinginan untuk terus memperkaya khazanah
keilmuan dengan isu-isu baru, serta tanggung jawab moral-intelektual kepada masyarakat
luas, mendorong kami menyelesaikan Jurnal Penelitian Hukum sebagai edisi terakhir di
tahun kedua ini. Pada edisi kali ini, secara khusus redaksi mengangkat tema seputar hukum
pidana. Tidak berbeda dari edisi sebelumnya, pada edisi kali ini, Jurnal Penelitian Hukum
memuat 8 (delapan) hasil penelitian dari beberapa Jaksa yang saat ini sedang menempuh
pendidikan Strata Dua (S2) pada Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin dan dari
seorang mahasiswa Strata Satu (S1) Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.
Tidak lupa dalam kesempatan ini, kembali redaksi mengucapkan terima kasih dan
penghargaan setinggi-tingginya kepada para pakar yang telah meluangkan waktunya
sebagai mitra bestari Jurnal Penelitian Hukum Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.
Mencapai tahun kedua penerbitan ini, tentu tidak terlepas dari peran serta para mitra bestari
yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk menelaah setiap naskah pada
volume sebelumnya. Begitu pula kepada seluruh pihak yang selama ini mendukung, baik
dalam penyusunan hingga pada penerbitan Jurnal Penelitian Hukum Volume 2 Nomor 3
Mei 2013 ini.
Juga, redaksi mengucapkan terima kasih kepada para peneliti yang tulisannya dimuat
dalam terbitan ini. “Intelektual, adalah mereka yang berpikir dengan tangannya”, kalimat
yang pernah diucapkan oleh begawan hukum Prof.Satjipto Rahardjo (alm) ini kiranya pas
ditujukan bagi peneliti yang berpartisipasi menulis dalam jurnal ini. Akhir kata, semoga
kehadiran jurnal ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Untuk itu, demi perbaikan di edisiedisi berikutnya, masukan serta kritik yang membangun dari semua pihak senantiasa
kami harapkan.
Selamat membaca.
Redaksi
iv
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
PENERAPAN DOUBLE TRACK SYSTEM
DALAM PEMIDANAAN ANAK
Muhammad Deniardi, M. Syukri Akub, Syamsuddin Muchtar
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
PENERAPAN DOUBLE TRACK SYSTEM
DALAM PEMIDANAAN ANAK
Oleh: Muhammad Deniardi1*, M. Syukri Akub2, Syamsuddin Muchtar2
Kejaksaan Negeri Makassar
Jl. Amanna Gappa No. 29, 90111, Makassar
2
Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin
Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10, Tamalanrea, 90245, Makassar
*
E-mail: [email protected]
1
Abstract
This study aims to determine and analyze the application of the judge in double
track system based on Act Number 3 Year 1997 concerning Juvenile Court, because to
juvenile delinquency based on the act have choice to apply punishment or treatment
when those choice have same positions on judikative policy. This is legal research, the
type of research is an empiric research focused on the research apply, with support from
the results of interviews from various sources related to this research. Research sites in
the Gowa Regency and Pare-Pare City. The result shows that this type of punishment is
still use as a sanction ”primadonna” by judge on juvenile court. Vonis by judge about
sanction to a childrens and how long the sanction based on many more the reason such as
savevity of punishment, condition of the child, parent agreement/condition of the parent,
case study, requisitoir and condition of the society/justice in society.
Keywords: Double Track System, Juvenile Court
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis sejauh mana
kecenderungan Hakim menerapkan double track system yang dianut oleh UndangUndang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, mengingat terhadap anak
pelaku tindak pidana berdasarkan undang-undang tersebut terdapat pilihan sanksi yaitu
pidana atau tindakan yang menempatkan kedua sanksi tersebut pada posisi sejajar dalam
kebijakan yudikatif. Penelitian ini merupakan penelitian hukum, yang tipe penelitiannya
merupakan penelitian empiris, menitikberatkan pada penelitian lapangan yang didukung
data dan hasil wawancara dengan informan yang berhubungan dengan penelitian ini.
Lokasi penelitian di Kabupaten Gowa dan Kota Pare-Pare. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa jenis sanksi pidana masih merupakan primadona bagi Hakim dalam penerapannya
artinya Hakim lebih banyak memilih sanksi pidana dalam menjatuhkan putusannya di
pengadilan anak. Putusan hakim mengenai sanksi yang akan dijatuhkan kepada anak
baik berupa jenis sanksi dan lamanya sanksi didasarkan atas beberapa pertimbangan
yaitu berat ringannya tindak pidana, keadaan anak, pernyataan orang tua/keadaan orang
tua, hasil penelitian kemasyarakatan, tuntutan penuntut umum dan keadaan masyarakat/
rasa keadilan masyarakat.
Kata Kunci: Double Track System, Pengadilan Anak
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
PENDAHULUAN
Pembaruan hukum pidana (penal reform) merupakan bagian dari kebijakan atau politik
hukum pidana. Makna dan hakikat dari pembaruan hukum pidana berkaitan erat dengan
berbagai aspek kebijakan, berupa kebijakan sosial, kebijakan kriminal serta kebijakan
penegakan hukum. Pembaruan hukum pidana pada hakikatnya juga merupakan perwujudan
dari perubahan dan pembaruan terhadap berbagai aspek, serta kebijakan yang melatar
belakanginya, yaitu aspek sosiopolitik, sosiofilosofis, dan sosiokultural.
Salah satu tuntutan yang paling mendasar gerakan reformasi yang terjadi di
Indonesia yang berujung runtuhnya pemerintahan Orde Baru tahun 1998 adalah terjadinya
amendemen UUD NRI 1945. Terjadinya reformasi itu sendiri ditujukan untuk membangun
kehidupan bangsa yang lebih demokratis, berkeadilan dan menjunjung tinggi Hak Asasi
Manusia (HAM) dengan menempatkan hukum sebagai pemegang peran utama dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Menurut Mahfud MD,1 politik hukum adalah legal policy (sebagai kebijakan resmi
negara) tentang hukum yang akan diberlakukan atau tidak diberlakukan dan hal-hal lain
yang terkait dengan itu untuk mencapai tujuan negara. Senada dengan Padmo Wahyono yang
mengatakan bahwa politik hukum adalah kebijakan dasar yang menentukan arah, bentuk
maupun isi dari hukum yang akan dibentuk. Bahkan pada tulisan lainnya ia menjelaskan
lebih lanjut, bahwa politik hukum adalah kebijakan penyelenggara negara tentang apa yang
dijadikan kriteria untuk menghukum sesuatu yang di dalamnya mencakup pembentukan,
penerapan dan penegakan hukum. Dengan demikian, politik hukum mengandung dua sisi
yang tidak terpisahkan yakni sebagai arahan pembuatan hukum (legal policy) lembagalembaga negara, dalam pembuatan hukum dan sekaligus sebagai alat untuk menilai dan
mengkritisi apakah sebuah hukum yang dibuat sudah sesuai atau tidak dengan kerangka
pikir legal policy tersebut untuk mencapai tujuan negara.
Bila diamati perkembangan hukum pidana dewasa ini di Indonesia, khususnya
dalam wacana pembaharuan hukum pidana terdapat suatu kecenderungan penggunaan
sistem dua jalur dalam stelsel sanksinya yang berarti sanksi pidana dan sanksi tindakan
diatur sekaligus. Menurut Muladi,2 hukum pidana modern yang bercirikan orientasi pada
perbuatan pelaku, stelsel sanksinya tidak hanya meliputi pidana yang bersifat penderitaan,
tetapi juga tindakan tata-tertib yang secara relatif lebih bermuatan pendidikan.
Salah satu undang-undang yang menganut hal ini adalah Undang-Undang Nomor
3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak yang disahkan dan diundangkan pada tanggal 3
1 Moh. Mahfud MD. Politik Hukum di Indonesia. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010), hlm. 3.
2 Muladi. Lembaga Pidana Bersyarat. (Bandung: Alumni, 1997), hlm. 151.
336
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Januari 1997 dan pemberlakuannya satu tahun setelah diundangkan. Di dalam ketentuan
undang-undang ini, terutama Bab III sangat jelas mengatur secara ekspilisit tentang sanksi
pidana dan sanksi tindakan yang dapat diterapkan bagi terdakwa anak. Sebagaimana
diketahui bahwa sebelum berlakunya undang-undang ini, pedoman penjatuhan sanksi
bagi anak yang melakukan tindak pidana diatur dalam Pasal 45, 46 dan 47 KUHP.
Anak sebagai generasi penerus bangsa memiliki peran yang sangat strategis untuk
melanjutkan kemajuan bangsa dan negara di masa yang akan datang. Untuk itu agar
setiap anak kelak mampu memikul tanggung jawab tersebut, maka ia perlu mendapatkan
kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal,
demi perbaikan fisik, mental maupun kehidupan sosialnya. Pengembangan potensi
anak merupakan hal yang sangat strategis karena masa depan suatu bangsa tergantung
pada kemampuan anak-anak di masa mendatang untuk membangun, mengelola dan
memanfaatkan negeri yang dicintainya bersama. Mereka juga perlu dilindungi agar
kesejahteraan mereka dapat terwujud, disamping itu anak harus memperoleh jaminan
mendapatkan hak-haknya tanpa diskriminasi.
Perlindungan hukum bagi anak dapat diartikan sebagai upaya perlindungan hukum
terhadap berbagai kebebasan dan hak asasi anak (fundamental right and freedoms of
children), serta berbagai kepentingan yang berhubungan dengan kesejahteraan anak.
Dengan demikian, masalah perlindungan hukum bagi anak mencakup ruang lingkup yang
sangat luas. Perhatian kepada anak dalam masyarakat internasional memang tidak sedikit
dan dapat dilihat dari ditetapkannya sejumlah instrument internasional yang berkenaan
dengan anak.
Secara khusus, perhatian dunia terhadap perlindungan anak memang telah dimulai
sejak munculnya Deklarasi Jenewa tentang Hak-hak Anak pada tahun 1924. Deklarasi itu
telah diakui pula dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human
Right) tahun 1948. Berawal dari peristiwa tersebut, dalam perkembangan selanjutnya
pada tanggal 20 Nopember 1959 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
mengesahkan Deklarasi Hak-hak Anak (Declaration of the Right of the Child) yang
memuat sepuluh prinsip Hak-hak Anak.
Adanya Deklarasi Hak-hak Anak ditindak lanjuti dengan Konvensi Hak-hak Anak
(Convention on the Right of the Child) yang termuat dalam Resolusi PBB No. 40/25
tanggal 20 Nopember 1989. Dalam upaya memberikan perlindungan hukum bagi anak,
Konvensi Perlindungan Anak, menyatakan secara tegas jaminan-jaminan hukum yang
harus diberikan oleh negara-negara peserta terhadap anak pelaku tindak pidana. Dalam
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
337
Pasal 37 Convention on the Right of the Child dikatakan bahwa seorang anak tidak boleh
mengalami perlakuan yang tidak manusiawi. Perampasan kemerdekaan, penangkapan dan
penahanan, termasuk dalam menjatuhkan hukuman merupakan upaya terakhir.
Secara psikologis, “anak” bukan “orang dewasa dalam ukuran mini”, melainkan
“anak” merupakan subjek yang masih rawan dalam tahap perkembangan kapasitas, yang
sangat erat kaitannya dengan kausalitas antara pemenuhan dan perlindungan atas hak
hidup dan hak kelangsungan hidupnya, hak atas tumbuh dan berkembang anak serta hak
atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Dalam keadaan konkret, misalnya
gangguan tumbuh dan berkembang anak yang terpenjara akibat putusan pidana, maka
terjadilah kerugian konstitusional anak untuk kelangsungan hidup dan hak tumbuh dan
berkembang anak, walaupun sah menurut hukum formil.
Banyak kasus tindak pidana yang dilakukan oleh anak, salah satu yang mungkin
cukup menarik perhatian masyarakat luas adalah “kasus sandal jepit” yang terjadi di Palu
pada awal tahun 2012 silam. Dimana AAL yang saat itu masih berusia 15 tahun digiring
ke pengadilan karena mencuri sandal jepit, sehingga mengundang rasa simpati masyarakat
yang beramai-ramai mengumpulkan sandal sebagai bentuk dukungan kepadanya. Dan
pada akhirnya. hakim menyatakan ia terbukti bersalah melakukan tindak pidana pencurian
dan dijatuhi hukuman berupa dikembalikan kepada orang tuanya.
Bertolak dari latar belakang masalah tersebut di atas maka peneliti merasa sangat
tertarik untuk mengkaji dalam penelitian ini mengenai penerapan double track system
dalam undang-undang peradilan anak. Hal ini tentunya akan sangat berhubungan erat
dengan penegak hukum khususnya Hakim sebagai bagian dari sistem peradilan pidana.
RUMUSAN MASALAH
Bertolak dari latar belakang sebagaimana diuraikan di atas, maka peneliti merumuskan
masalah yakni, bagaimanakah kecenderungan Hakim menerapkan double track system
yang dianut oleh Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tetang Pengadilan Anak?
METODE PENELITIAN
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di dua tempat, yaitu Kabupaten Gowa Propinsi Sulawesi
Selatan dengan sasaran Pengadilan Negeri Sungguminasa dan Kota Pare-Pare Propinsi
Sulawesi Selatan dengan sasaran Pengadilan Negeri Pare-Pare. Pengadilan Negeri
Sungguminasa dan Pengadilan Negeri Pare-Pare dari segi kuantitas penanganan perkara
cukup banyak yang ditangani, terutama penanganan perkara pidana.
338
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Jenis dan Sumber Data
Berdasarkan objek penelitian yang berfokus pada penerapan prinsip double track
system dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, maka
penelitian ini merupakan penelitian hukum empiris. Jenis dan sumber data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.
a. Data primer, yakni data empirik yang sumbernya diperoleh secara langsung di
lapangan atau di lokasi penelitian. Data diperoleh dari responden dan informan yang
berkaitan dengan penelitian yang ada di Kabupaten Gowa dan Kota Pare-Pare, yaitu
hakim pada Pengadilan Negeri Sungguminasa dan hakim pada Pengadilan Negeri
Pare-Pare. Penelitian lapangan dalam penelitian ini diarahkan pada penelitian data
yang sifatnya mendukung data sekunder.
b. Data sekunder, yakni data yang diperoleh dan bersumber dari kajian-kajian
kepustakaan berupa literatur, karya ilmiah (hasil penelitian), peraturan perundangundangan, majalah, surat kabar, referensi-referensi hukum pidana, putusan-putusan
pengadilan, dokumentasi dari instansi terkait, dan sumber lainnya yang berkaitan
dengan permasalahan yang diteliti.
Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, peneliti melakukan
pengumpulan data melalui teknik dan instrumen sebagai berikut:
1. Data primer, dilakukan dengan menggunakan teknik dan instrumen sebagai berikut:
a. Wawancara, yaitu teknik pengumpulan data dalam bentuk tanya jawab yang
dilakukan secara langsung kepada responden dengan menggunakan pedoman
wawancara yang bersifat terbuka, dalam arti bahwa peneliti bebas dalam
mengembangkan pertanyaan selain dari yang telah disiapkan/disusun, apabila
memang dianggap perlu. Responden pun mempunyai kebebasan untuk memberi
jawaban dan mengeluarkan pendapatnya.
b. Kuesioner, yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan sejumlah daftar
pertanyaan yang nantinya akan diisi dan dijawab secara tertulis oleh responden.
Daftar pertanyaan dibuat secara berstruktur dalam bentuk pertanyaan terbuka,
tertutup, atau kombinasi. Kuesioner bentuk tertutup merupakan pertanyaan yang
jawabannya telah dipersiapkan terlebih dahulu. Sedangkan kuesioner dalam
bentuk terbuka, merupakan pertanyaan yang jawabannya belum tersedia tetapi
memberikan kesempatan kepada responden untuk memiliki jawaban sendiri.
c. Dokumentasi, yaitu pengumpulan data yang diambil dari instansi yang terkait
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
339
dengan permasalahan penelitian. Dokumen tersebut bersifat sebagai bahan kajian
yang relevan dengan penelitian.
2. Data sekunder, diperoleh dengan cara menelaah secara kritis referensi-referensi
di bidang hukum yang menyangkut masalah pidana dan pemidanaan bagi anak,
mengadakan polarisasi dan kategorisasi dari dokumen yang diperoleh dari instansi
pengadilan, serta menganalisis kasus-kasus yang pernah diputus dan telah memperoleh
kekuatan hukum tetap, pada Pengadilan Negeri Sungguminasa.
Analisis Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian hukum
yuridis normatif, oleh karenanya analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif
dan kuantitatif. Analisis kualitatif sifatnya berupa menganalisis secara kualitatif dokumendokumen dan peraturan perundang-perundangan, menganalisis penerapan sanksi pidana
dan sanksi tindakan bagi terdakwa anak, dan menganalisis secara kualitatif kasus-kasus
yang sudah diputuskan pada Pengadilan Negeri Sungguminasa dan Pengadilan Negeri
Pare-Pare.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Implementasi Double Track System dalam Pemidanaan Berdasarkan UndangUndang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak
Membicarakan mengenai implementasi double track system dalam pemidanaan
menurut Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak sudah barang
tentu kita berbicara dalam lingkup sistem penegakan hukum (law enforcement). Penegakan
hukum yang dimaksud dalam hal ini adalah penegakan hukum pidana, khususnya
penegakan stelsel sanksi yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997
tentang Pengadilan Anak, yang pada intinya menempatkan kedua sanksi tersebut pada
posisi sejajar dalam kebijakan yudikatif.
Pengadilan sebagai salah satu lembaga penegakan hukum merupakan tempat
berkumpulnya orang-orang yang ingin menyelesaikan berbagai persoalan hukum yang
dihadapinya. Sebagai salah satu bagian dari sub sistem penegakan hukum, maka hakim
pada pengadilan diharapkan senantiasa dapat menjatuhkan putusan dari berbagai persoalan
hukum, melalui putusannya yang mencerminkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan.
Pengadilan merupakan tempat terakhir dilaksanakannya proses penanganan
perkara dan di pengadilanlah diputuskan bersalah atau tidaknya seorang terdakwa dan
konsekuensinya. Apabila terdakwa diputus bersalah, maka konsekuensi yang timbul antara
340
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
lain adanya pidana bagi terdakwa, adanya perbuatan atau tindakan yang harus dilakukan
terdakwa ataupun adanya perbuatan atau tindakan yang tidak boleh dilakukan terdakwa.
Proses penegakan hukum pidana khususnya penegakan stelsel sanksi yang diatur dalam
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak bermuara pada Putusan
Hakim.
Penerapan Double Track System oleh Pengadilan Negeri Sungguminasa
Berdasarkan data hasil penelitian yang dilakukan penulis di Pengadilan Negeri
Sungguminasa, maka diperoleh kesimpulan bahwa prinsip double track system dalam
pemidanaan menurut Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak
belum berjalan maksimal. Hal ini dapat dilihat dari pemaparan data berikut ini:
Tabel 1.
Persentase Jenis sanksi yang diterapkan bagi terdakwa anak pada Pengadilan Negeri
Sungguminasa tahun 2010-2012
Jumlah (f)
Jumlah (N)
Persentase
P
19
19
95%
2010
20
T
1
1
5%
P
30
30
2011
100%
30
T
0%
P
18
18
69,23%
2012
26
T
8
8
30,77%
Keterangan :
P = sanksi pidana
T = sanksi tindakan
Sumber data: Pengadilan Negeri Sungguminasa
Pada Tabel 1 di atas, terlihat bahwa pada tahun 2010 persentase putusan hakim
yang menerapkan sanksi pidana adalah sebesar 95 persen dari 20 jumlah kasus yang
diselesaikan oleh Pengadilan Negeri Sungguminasa dan 5 persen untuk sanksi tindakan.
Selanjutnya untuk tahun 2011, dari 30 kasus yang diselesaikan oleh Pengadilan Negeri
Sungguminasa seluruhnya 100 persen diterapkan sanksi pidana. Sedangkan untuk tahun
2012 persentase putusan hakim yang menerapkan sanksi pidana adalah sebesar 69,23
persen dari 26 jumlah kasus yang diselesaikan oleh Pengadilan Negeri Sungguminasa
dan 30,77 persen untuk sanksi tindakan.
Berdasarkan data pada Tabel 1, tergambar dengan jelas bahwa persentase jenis
sanksi yang diterapkan kepada terdakwa anak oleh hakim pada Pengadilan Negeri
Sungguminasa untuk tahun 2010-2012 tetap lebih mengutamakan sanksi pidana dibanding
sanksi tindakan.
Sehubungan dengan kenyataan dari data yang penulis peroleh, dan untuk
memperoleh kesesuaian dengan pemahaman hakim anak. Maka dengan itu penulis
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
341
mengedarkan kuesioner kepada 5 orang responden yang kesemuanya adalah hakim anak
guna menemukan korelasi dari data pada Tabel 1.
Berikut data yang akan memberikan gambaran tentang bagaimana pemahaman
responden tentang Prinsip double track system dalam pemidanaan menurut UndangUndang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak (Tabel 2).
Tabel 2.
Pengetahuan responden (hakim anak) tentang prinsip double track system dalam
pemidanaan menurut UU No.3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak
No.
1
2
Kategori
Tahu
Tidak
Jumlah
F
5
0
5
P (%)
100
0
100
Sumber data: Pengadilan Negeri Sungguminasa
Tabel 2 di atas memperlihatkan bahwa, dari 5 responden yang diberikan kuesioner
ternyata keseluruhannya atau 100 persen responden mengatakan mengetahui tentang
prinsip double track system khususnya di dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997
tentang Pengadilan Anak.
Selanjutnya, pada Tabel 3, 4 dan 5, akan memperlihatkan lebih rinci mengenai jenis
kejahatan serta jenis sanksi yang diterapkan bagi terdakwa anak.
Tabel 3.
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
Jenis kejahatan dan jenis sanksi yang diterapkan bagi terdakwa anak oleh PN
Sungguminasa tahun 2010
Umur
17 th
17 th
16 th
17 th
17 th
17 th
17 th
16 th
14 th
16 th
16 th
14 th
16 th
14 th
14 th
16 th
14 th
17 th
17 th
17 th
Putusan
Penjara 3 bulan
Penjara 3 bulan MP 6 bulan
Penjara 2 bulan MP 6 bulan
Penjara 6 bulan
Penjara 2 bulan
Penjara 2 bulan 20 hari
Penjara 4 bulan
Penjara 7 bulan
Penjara 3 bulan MP 6 bulan
Penjara 2 bulan 20 hari
Penjara 2 bulan 20 hari
Penjara 3 tahun
Penjara 6 bulan
Penjara 4 bulan
Dikembalikan kepada Ortu
Penjara 4 bulan
Penjara 5 bulan
Penjara 2 bulan 15 hari
Penjara 3 bulan
Penjara 3 bulan
Jenis Kejahatan
Pencurian
Penyalahgunaan psikotropika
Kekerasan thd orang/barang
Pencurian
Kekerasan terhadap anak
pencurian
Pencurian
Penyalahgunaan narkotika
Kealpaan menyebabkan mati
Pencurian
Pencurian
Percabulan/perkosaan anak
Pencurian
Pencurian
Kekerasan terhadap anak
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Sumber data: Pengadilan Negeri Sungguminasa.
342
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Pada Tabel 3 menunjukkan bahwa dari 20 kasus yang di selesaikan pada Pengadilan
Negeri Sungguminasa tahun 2010 jenis sanksi yang diterapkan adalah sanksi pidana
berupa penjara sebanyak 19 kasus, sanksi tindakan 1 kasus. Untuk jenis kejahatan
yang dilakukan oleh terdakwa anak untuk tahun 2010 jenis kejahatan pencurian
(biasa, pemberatan, kekerasan) yang paling sering dilakukan yakni sebanyak 13 kasus,
penyalahgunaan narkotika dan psikotropika 2 kasus, kekerasan terhadap anak 2 kasus,
kekerasan terhadap orang/barang 1 kasus, kealpaan menyebabkan kematian 1 kasus dan
percabulan/pemerkosaan anak 1 kasus.
Tabel 4.
Jenis kejahatan dan jenis sanksi yang diterapkan bagi terdakwa anak oleh PN
Sungguminasa tahun 2011
No.
Umur
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
17 th
14 th
15 th
16 th
15 th
17 th
17 th
16 th
16 th
17 th
16 th
15 th
16 th
11 th
17 th
15 th
17 th
14 th
17 th
16 th
17 th
17 th
14 th
17 th
16 th
17 th
15 th
13 th
16 th
16 th
Putusan
Penjara 7 bulan
Penjara 2 bulan
Penjara 2 bulan
Penjara 2 bulan 15 hari
Penjara 3 bulan
Penjara 2 bulan MP 4 bulan
Penjara 3 bulan
Penjara 3 bulan MP 6 bulan
Penjara 4 bulan
Penjara 1 tahun
Penjara 6 bulan
Penjara 1 bulan 21 hari
Penjara 1 bulan 21 hari
Penjara 1 bulan 17 hari
Penjara 2 bulan 15 hari
Penjara 4 bulan MP 10 bulan
Penjara 3 bulan MP 6 bulan
Penjara 6 bulan
Penjara 1 bulan 15 hari
Penjara 1 bulan 15 hari
Penjara 25 hari
Penjara 1 bulan 11 hari
Penjara 3 bulan
Penjara 1 bulan 10 hari
Penjara 3 bulan 15 hari
Penjara 3 bulan
Penjara 1 bulan MP 2 bulan
Penjara 1 bulan MP 2 bulan
Penjara 1 bulan MP 2 bulan
Penjara 1 bulan MP 2 bulan
Jenis Kejahatan
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Perjudian
Pencurian
Kealpaan menyebabkan mati
Pencurian
Kealpaan menyebabkan mati
Pengrusakan
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Kealpaan menyebabkan mati
Kealpaan menyebabkan mati
Pencurian
Kekerasan thd orang/barang
kekerasan thd orang/barang
Penganiayaan
Pencurian
Pencurian
Penganiayaan
Penyalahgunaan narkotika
Penganiayaan
Percabulan/perkosaan anak
Percabulan/perkosaan anak
Percabulan/perkosaan anak
Percabulan/perkosaan anak
Sumber data: Pengadilan Negeri Sungguminasa
Pada Tabel 4 di atas memperlihatkan bahwa pada tahun 2011, hakim anak pada
Pengadilan Negeri Sungguminasa sama sekali tidak menerapkan prinsip double track
system. Untuk jenis kejahatan yang dilakukan oleh terdakwa anak untuk tahun 2011 jenis
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
343
kejahatan pencurian (biasa, pemberatan, kekerasan) yang paling sering dilakukan yakni
sebanyak 14 kasus, kealpaan menyebabkan kematian 4 kasus, percabulan/pemerkosaan
anak 4 kasus, penganiayaan 3 kasus, kekerasan terhadap orang/barang 2 kasus, perjudian
1 kasus, pengrusakan 1 kasus dan penyalahgunaan narkotika/ psikotropika 1 kasus.
Dalam Tabel 4 di atas terlihat fakta yang sangat menarik, dimana pada satu kasus
yang dilakukan oleh anak berumur 11 tahun yang diputus pada 12 Mei 2011 terjadi
kekeliruan menerapkan hukum oleh Hakim yang tetap memeriksa, mengadili dan memutus
perkara tersebut dengan menjatuhkan pidana penjara selama 1 bulan 17 hari. Hal ini
bertentangan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 1/PUUVIII/2010 tanggal 2 Pebruari 2011 yang menyatakan bahwa terhadap Undang-undang
Nomor 3 Tahun 1997 khususnya Pasal 1 angka 1, Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 5 ayat (1) yang
merumuskan batasan usia anak nakal adalah setelah mencapai 8 tahun dinyatakan tidak
mempunyai hukuman mengikat secara bersyarat (conditionally unconstitutional) kecuali
dimaknai 12 tahun.
Tabel 5.
Jenis kejahatan dan jenis sanksi yang diterapkan bagi terdakwa anak oleh PN
Sungguminasa tahun 2012
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
Umur
13 th
17 th
15 th
16 th
13 th
16 th
17 th
17 th
13 th
17 th
16 th
17 th
15 th
16 th
16 th
14 th
17 th
15 th
16 th
17 th
15 th
16 th
15 th
17 th
25.
26.
15 th
16 th
Putusan
Diserahkan kpd Panti Sosial
Diserahkan kpd Panti Sosial Diserahkan
kpd Panti Sosial
Penjara 4 bulan
Dikembalikan kpd Ortu
Penjara 2 bulan
Penjara 1 bulan
Penjara 1 tahun
Dikembalikan kpd Ortu
Penjara 5 bulan
Penjara 2 tahun 6 bulan
Penjara 7 bulan
Penjara 3 bulan
Penjara 3 bulan
Penjara 3 bulan
Diserahkan kpd Panti Sosial Diserahkan
kpd Panti Sosial
Penjara 25 hari
Penjara 1 bulan MP 3 bulan
Penjara 7 bulan
Penjara 7 bulan
Penjara 9 bulan
Penjara 6 bulan
Penjara 4 tahun + Denda 300 jt sub 1
bln kurungan
Penjara 2 bulan
Penjara 2 bulan
Sumber data: Pengadilan Negeri Sungguminasa.
344
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Jenis Kejahatan
Percabulan/perkosaan anak
Pencurian
Perjudian
Kekerasan terhadap anak
Percabulan/perkosaan anak
Pencurian
Penganiayaan
Pencurian
Kekerasan thd orang/barang
Pencurian
Kekerasan terhadap anak
Melarikan perempuan
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Penyalahgunaan narkotika
Pencurian
Penganiayaan
Pencurian
Pencurian
Kealpaan menyebabkan mati
Kealpaan menyebabkan mati
Percabulan/perkosaan anak
Pencurian
Pencurian
Pada Tabel 5 di atas memperlihatkan bahwa pada tahun 2012, hakim anak pada
Pengadilan Negeri Sungguminasa mulai menerapkan prinsip double track system. Untuk
jenis kejahatan yang dilakukan oleh terdakwa anak untuk tahun 2011 jenis kejahatan
pencurian (biasa, pemberatan, kekerasan) yang paling sering dilakukan yakni sebanyak 13
kasus, percabulan/pemerkosaan anak 3 kasus, kekerasan terhadap anak 2 kasus, kealpaan
menyebabkan kematian 2 kasus, penganiayaan 2 kasus, kekerasan terhadap orang/barang
1 kasus, perjudian 1 kasus, melarikan perempuan 1 kasus dan penyalahgunaan narkotika/
psikotropika 1 kasus.
Berdasarkan Tabel 5 tersebut menggambarkan bahwa pada tahun 2012 hakim pada
Pengadilan Negeri Sungguminasa mulai menerapkan prinsip double track system, namun
pada satu kasus yang dilakukan oleh anak berumur 17 tahun terjadi kekeliruan menerapkan
hukum oleh Hakim yang memeriksa, mengadili dan memutus perkara tersebut dengan
menjatuhkan pidana penjara selama 4 tahun dan denda sebesar 300.000.000,- (tiga ratus
juta rupiah) yang apabila denda tersebut tidak mampu dibayar diganti dengan kurungan
pengganti denda selama 1 bulan. Hal ini adalah keliru dan bertentangan dengan Pasal
28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, yang
menyatakan:
Apabila pidana denda sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ternyata tidak dapat
dibayar maka diganti dengan wajib latihan kerja.
Menurut Yoga Dwi Ariastomo Nugroho,3 hakim yang juga menjabat Humas
pada Pengadilan Negeri Sungguminasa, menanggapi data yang penulis peroleh beliau
menyatakan bahwa penerapan sanksi pidana lebih banyak diterapkan di perkara anak
karena ada beberapa hal. Pertama, di dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang
Pengadilan Anak tidak memberikan batasan atau standar kepada hakim untuk menentukan
apakah seorang terdakwa anak mesti dijatuhi sanksi pidana atau tindakan, sehingga pada
akhirnya pertimbangan hakim anak dalam menentukan jenis sanksi yang dijatuhkan
dilihat dari beberapa pertimbangan yang ada. Kedua, penerapan sanksi tindakan sulit
untuk diterapkan karena kurangnya sarana dan prasarana mengenai tempat pelaksanaan
sanksi tindakan. Ketiga, sifat penjeraan oleh sanksi pidana lebih besar dari pada sanksi
tindakan.
Ketika ditanya mengenai adanya satu kasus anak yang belum mencapai umur 12
belas tahun yang menurut Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 1/
PUU-VIII/2010 tanggal 2 Pebruari 2011 batasan usia anak nakal adalah setelah mencapai
8 tahun dinyatakan tidak mempunyai hukuman mengikat secara bersyarat (conditionally
3 Wawancara tanggal 5 April 2013.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013 345
unconstitutional) kecuali dimaknai 12 tahun. Demikian pula dengan satu kasus anak yang
dijatuhi dengan kurungan pengganti denda selama 1 bulan.
Dari keseluruhan data yang penulis paparkan mulai Tabel 1-5 dan hasil wawancara
dengan responden memperlihatkan korelasi yang sangat signifikan, karena sebenarnya
hakim anak memahami akan prinsip double track system dalam pemidanaan menurut UU
Pengadilan Anak. Dengan demikian, mereka lebih cenderung menerapkan sanksi pada
stelsel sanksi yang ada pada KUHP. Hal ini pun menunjukkan bahwa implementasi double
track system dalam pemidanaan menurut Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang
Pengadilan Anak belum berjalan maksimal di institusi Pengadilan Negeri Sungguminasa,
walaupun pada data tahun 2012 sudah mulai banyak terdakwa anak yang dijatuhi sanksi
berupa tindakan.
Penerapan double track system oleh Pengadilan Negeri Pare-Pare
Berdasarkan data hasil penelitian yang dilakukan penulis di Pengadilan Negeri ParePare, maka diperoleh kesimpulan bahwa prinsip double track system dalam pemidanaan
menurut Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak tidak berjalan
sama sekali. Hal ini dapat dilihat dari pemaparan data berikut ini:
Tabel 6.
Persentase jenis sanksi yang diterapkan bagi terdakwa anak pada Pengadilan Negeri
Pare-Pare tahun 2010-2012
2010
2011
2012
P
T
P
T
P
T
30
27
28
Jumlah (f)
30
27
28
Jumlah (N)
30
27
28
Persentase
100%
0%
100%
0%
100%
0%
Keterangan :
P = Sanksi Pidana
T = Sanksi Tindakan
Sumber data: Pengadilan Negeri Pare-Pare
Pada Tabel 6 terlihat bahwa pada tahun 2010-2012 persentase putusan hakim
yang menerapkan sanksi pidana adalah sebesar 100 persen dari 85 jumlah kasus yang
diselesaikan oleh Pengadilan Negeri Pare-Pare. Sehubungan dengan kenyataan dari data
mengejutkan yang penulis peroleh, dan untuk memperoleh kesesuaian dengan pemahaman
hakim anak. Maka dengan itu penulis mengedarkan kuesioner kepada 5 orang responden
yang kesemuanya adalah hakim anak guna menemukan korelasi dari data pada Tabel 6.
Berikut ini Tabel yang akan memberikan gambaran tentang bagaimana pemahaman
responden tentang Prinsip Double Track System dalam Pemidanaan Menurut Undangundang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak.
346
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Tabel 7.
Pengetahuan responden (hakim anak) tentang prinsip double track system dalam
pemidanaan menurut UU Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak
No.
1
2
Kategori
Tahu
Tidak
Jumlah
F
5
0
5
P (%)
100
0
100
Sumber data: Pengadilan Negeri Pare-Pare
Tabel 7 di atas memperlihatkan bahwa, dari 5 responden, ternyata keseluruhannya
atau 100 persen responden mengatakan mereka sebenarnya mengetahui tentang prinsip
double track system, khususnya terhadap UU Pengadilan Anak.
Pada Tabel 8, 9 dan 10 berikut ini akan memperlihatkan lebih rinci mengenai jenis
kejahatan serta jenis sanksi yang diterapkan bagi terdakwa anak.
Tabel 8.
Jenis kejahatan dan jenis sanksi yang diterapkan bagi terdakwa anak oleh PN ParePare tahun 2010
No.
Umur
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
14 th
15 th
16 th
13 th
15 th
17 th
17 th
15 th
17 th
13 th
15 th
16 th
16 th
16 th
15 th
17 th
17 th
16 th
17 th
13 th
17 th
16 th
16 th
14 th
15 th
17 th
16 th
15 th
16 th
16 th
Putusan
Penjara 3 bulan 15 hari
Penjara 3 bulan 15 hari
Penjara 4 bulan 15 hari
Penjara 4 bulan 15 hari
Penjara 2 bulan 15 hari
Penjara 2 bulan MP 4 bulan
Penjara 5 bulan
Penjara 5 bulan
Penjara 10 bulan
Penjara 10 bulan
Penjara 6 bulan
Penjara 6 bulan
Penjara 6 bulan
Penjara 6 bulan
Penjara 4 bulan
Penjara 4 bulan
Penjara 2 bulan 15 hari
Penjara 2 bulan 15 hari
Penjara 2 bulan 15 hari
Penjara 6 bulan
Penjara 4 bulan
Penjara 3 bulan
Penjara 2 bulan
Penjara 3 bulan
Penjara 9 bulan
Penjara 7 bulan
Penjara 3 bln MP 6 bulan
Penjara 4 bln MP 8 bulan
Penjara 3 bulan
Penjara 4 bulan
Jenis Kejahatan
Penadahan
Penadahan
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Kealpaan menyebabkan mati
Kekerasan thd orang/barang
Kekerasan thd orang/barang
Pencurian
Pencurian
Kekerasan thd orang/barang
Kekerasan thd orang/barang
Kekerasan thd orang/barang
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Penyalahgunaan narkotika
Kekerasan terhadap anak
Membawa/memiliki sajam
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Kealpaan menyebabkan mati
Kealpaan menyebabkan mati
Pencurian
Pencurian
Sumber data: Pengadilan Negeri Pare-Pare.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
347
Pada Tabel 8 menunjukkan bahwa dari 30 kasus yang di selesaikan pada Pengadilan
Negeri Pare-Pare tahun 2010 jenis sanksi yang diterapkan adalah 100 persen sanksi
pidana berupa penjara. Untuk jenis kejahatan yang dilakukan oleh terdakwa anak untuk
tahun 2010 jenis kejahatan pencurian (biasa, pemberatan, kekerasan) yang paling sering
dilakukan yakni sebanyak 17 kasus, kekerasan terhadap orang/barang 5 kasus, kealpaan
menyebabkan kematian 3 kasus dan penadahan 2 kasus, penyalahgunaan narkotika dan
psikotropika 1 kasus, kekerasan terhadap anak 1 kasus dan membawa/memiliki senjata
tajam 1 kasus.
Tabel 9.
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
Jenis kejahatan dan jenis sanksi yang diterapkan bagi terdakwa anak oleh PN ParePare tahun 2011
Umur
18 th
18 th
14 th
15 th
17 th
17 th
16 th
15 th
14 th
14 th
16 th
17 th
15 th
17 th
15 th
15 th
17 th
14 th
13 th
13 th
12 th
13 th
14 th
12 th
17 th
16 th
15 th
Putusan
Penjara 3 bulan
Penjara 3 bulan
Denda 2 jt sub 15 hari kurungan
Penjara 4 bulan
Penjara 3 bulan
Penjara 3 bulan
Penjara 1 bulan 15 hari
Penjara 5 bulan
Penjara 5 bulan
Penjara 2 bulan 15 hari
Penjara 3 bulan
Penjara 3 bulan
Penjara 2 bulan
Penjara 2 bulan 15 hari
Penjara 4 bln
Penjara 4 bln
Penjara 4 bulan
Penjara 2 bulan
Penjara 2 bulan
Penjara 2 bulan
Penjara 2 bulan
Penjara 2 bulan
Penjara 2 bulan
Denda 100rb sub 3 hr kurungan
Penjara 2 bulan
Penjara 2 bulan
Penjara 4 bulan
Jenis Kejahatan
Kekerasan thd orang/barang
Kekerasan thd orang/barang
Kekerasan terhadap anak
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Kekerasan terhadap anak
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Kekerasan terhadap anak
Kekerasan terhadap anak
Kekerasan terhadap anak
Kekerasan terhadap anak
Kekerasan terhadap anak
Kekerasan terhadap anak
Kekerasan terhadap anak
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Sumber data: Pengadilan Negeri Pare-Pare.
Pada Tabel 9 menunjukkan bahwa dari 27 kasus yang di selesaikan pada Pengadilan
Negeri Pare-Pare tahun 2011 jenis sanksi yang diterapkan adalah 100 persen sanksi pidana
berupa penjara untuk 25 kasus dan pidana denda untuk 2 kasus. Untuk jenis kejahatan yang
dilakukan oleh terdakwa anak untuk tahun 2011 ada 3 jenis kejahatan berupa pencurian
(biasa, pemberatan, kekerasan) yang masih tetap menjadi kejahatan yang paling sering
348 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
dilakukan yakni sebanyak 16 kasus, kekerasan terhadap anak terjadi peningkatan pada
tahun ini yaitu sebanyak 9 kasus dan kekerasan terhadap orang/barang 2 kasus.
Dalam Tabel 9 di atas terlihat fakta yang sangat menarik, yaitu ada 2 kasus yang
terjadi kekeliruan menerapkan hukum oleh hakim yang memeriksa, mengadili dan
memutus perkara yang masing-masing menjatuhkan pidana denda sebesar 2.000.000,(dua juta rupiah) yang apabila denda tersebut tidak mampu dibayar diganti dengan
kurungan pengganti denda selama 15 hari dan pidana denda sebesar 100.000,- (seratus
ribu rupiah) yang apabila denda tersebut tidak mampu dibayar diganti dengan kurungan
pengganti denda selama 3 hari. Hal ini adalah keliru dan bertentangan dengan Pasal 28
ayat (2) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak.
Tabel 10.
Jenis kejahatan dan jenis sanksi yang diterapkan bagi terdakwa anak oleh PN
Pare-Pare tahun 2012
No.
Umur
Putusan
Jenis Kejahatan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
17 th
16 th
17 th
16 th
16 th
17 th
16 th
Penganiayaan
Pencurian
Kekerasan thd anak
Pencurian
Kealpaan menyebabkan mati
Kealpaan menyebabkan mati
Percabulan/perkosaan anak
8.
9.
15 th
17 th
10.
11.
12.
16 th
17 th
15 th
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
16 th
16 th
16 th
15 th
14 th
15 th
16 th
17 th
17 th
17 th
17 th
17 th
17 th
15 th
17 th
13 th
Penjara 3 bulan 15 hari
Penjara 3 bulan 15 hari
Penjara 2 bulan 15 hari
Penjara 7 bulan
Penjara 3 bulan MP 10 bulan
Penjara 3 bulan MP 10 bulan
Penjara 3 tahun + Denda 30 jt sub 1
bulan kurungan
Penjara 3 bulan 15 hari
Penjara 2 thn 8 bln + Denda 30 jt sub 2
bulan kurungan
Penjara 3 bulan 15 hari
Penjara 2 bulan 10 hari
Penjara 1 thn 10 bln + Denda 400 jt sub
1 bulan kurungan
Penjara 3 bln 15 hari
Penjara 4 bulan
Penjara 2 bulan 20 hari
Penjara 2 bulan
Penjara 2 bulan
Penjara 2 bulan 20 hari
Penjara 6 bulan
Penjara 6 bulan
Penjara 6 bulan
Penjara 4 bulan
Penjara 5 bulan
Penjara 5 bulan
Penjara 1 bulan
Penjara 6 bulan
Penjara 2 bulan 10 hari
Penjara 3 bulan
Pencurian
Kekerasan thd anak
Pencurian
Pencurian
Penyalahgunaan narkotika
Pencurian
Pencurian
Kekerasan thd orang/barang
Kekerasan thd anak
Kekerasan thd anak
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Pencurian
Kekerasan thd anak
Kealpaan menyebabkan mati
Penganiayaan
Penganiayaan
Sumber data : Pengadilan Negeri Pare-Pare.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
349
Tabel 10 menunjukkan bahwa dari 28 kasus yang di selesaikan pada Pengadilan
Negeri Pare-Pare tahun 2012 jenis sanksi pidana masih tetap menjadi primadona yang
diterapkan yaitu 100 persen yang terbagi atas pidana penjara saja untuk 26 kasus dan
pidana penjara beserta denda untuk 2 kasus. Untuk jenis kejahatan yang dilakukan oleh
terdakwa anak untuk tahun 2012 berupa pencurian (biasa, pemberatan, kekerasan) yang
masih tetap menjadi kejahatan yang paling sering dilakukan yakni sebanyak 14 kasus,
kekerasan terhadap anak 5 kasus, penganiayaan 3 kasus, kealpaan mengakibatkan mati
3 kasus, percabulan/perkosaan anak 1 kasus, penyalahgunaan narkotika/psikotropika 1
kasus dan kekerasan terhadap orang/barang 1 kasus.
Tabel 9 di atas terlihat fakta yang sangat menarik, yaitu ada 3 kasus yang kembali
terjadi kekeliruan menerapkan hukum oleh hakim yang memutus perkara yang masingmasing menjatuhkan pidana penjara beserta pidana denda dalam jumlah tertentu yang
apabila denda tersebut tidak mampu dibayar diganti dengan kurungan.
Menurut Khusnul Khatimah,4 salah seorang hakim senior pada Pengadilan Negeri
Pare-Pare, menanggapi data yang penulis peroleh beliau menyatakan bahwa penerapan
sanksi pidana lebih popular diterapkan di perkara anak karena beberapa alasan yang
penulis anggap sama dengan alasan yang diberikan oleh responden di Pengadilan
Negeri Sungguminasa. Pertama, di dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997
tentang Pengadilan Anak tidak memberikan batasan atau standar kepada hakim untuk
menentukan apakah seorang terdakwa anak mesti dijatuhi sanksi pidana atau tindakan,
sehingga pada akhirnya pertimbangan hakim anak dalam menentukan jenis sanksi yang
dijatuhkan berdasarkan beberapa pertimbangan. Kedua, penerapan sanksi tindakan sulit
untuk diterapkan karena kurangnya sarana dan prasarana mengenai tempat pelaksanaan
sanksi tindakan. Ketiga, sifat penjeraan oleh sanksi pidana lebih besar dari pada sanksi
tindakan.
Selanjutnya ketika penulis mewawancarai hakim lainnya, Rubianti,5 mengenai
adanya beberapa kasus anak yang dijatuhi dengan kurungan pengganti denda, beliau
mengatakan bahwa hal itu karena ketidaktahuan hakim akan adanya ketentuan tersebut.
Keseluruhan data yang penulis paparkan mulai Tabel 6-10 dan hasil wawancara
dengan responden memperlihatkan korelasi yang sangat signifikan, karena sebenarnya
hakim anak memahami akan prinsip double track system dalam pemidanaan menurut
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, akan tetapi mereka tidak
menerapkan ketentuan tersebut. Sehingga dengan demikian, mereka lebih cenderung
4 Wawancara, Selasa, 9 April 2013.
5 Wawancara, Jumat, 12 April 2013.
350 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
menerapkan sanksi pada stelsel sanksi yang ada pada KUHP. Hal ini pun menunjukkan
bahwa implementasi double track system dalam pemidanaan menurut Undang-Undang
Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak tidak berjalan sama sekali di institusi
Pengadilan Negeri Pare-Pare.
PENUTUP
Kesimpulan
Penerapan Double Track System dalam pemidanaan menurut Undang-Undang
Nomor 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak pada dua Pengadilan Negeri tempat
penelitian belum berjalan secara maksimal dan sanksi pidana khususnya pidana penjara
masih menjadi primadona. Pada Pengadilan Negeri Sungguminasa sudah terdapat
kemajuan dalam penerapan prinsip double track system, ini terlihat dari putusan yang
diterapkan bagi terdakwa anak, hakim pada Pengadilan Negeri Sungguminasa sudah
mulai terbuka terhadap penerapan jenis sanksi lain. Sedangkan pada Pengadilan Negeri
Pare-Pare putusannya masih mengacu kepada stelsel sanksi yang terdapat di dalam
KUHP dan belum menerapkan sanksi tindakan yang diatur oleh Undang-Undang Nomor
3 Tahun 1997.
Saran
Peraturan untuk masa mendatang (ius constituendum) hendaknya lebih
menekankan bahwa sanksi tindakan lebih diutamakan daripada sanksi pidana. Dengan
kata lain, sanksi pidana hanya akan digunakan sebagai upaya terakhir (last resort).
Selain itu, dalam mengambil putusan mengenai jenis sanksi dan lamanya sanksi yang
akan dijatuhkan kepada anak, hakim hendaknya memahami napas/roh dari peraturan
perundang-undangan yang mengatur tentang anak dan benar-benar mempertimbangkan
kepentingan terbaik bagi anak.
DAFTAR PUSTAKA
Ariyanto. 2006. Implementasi Double Track System dalam Pemidanaan menurut
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. Tesis. Makassar:
Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin.
Maidin Gultom. 2010. Perlindungan Hukum terhadap Anak (Dalam Sistem Peradilan
Pidana Anak di Indonesia). Bandung: Refika Aditama.
Moh. Mahfud MD. 2010. Politik Hukum di Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Muladi. 1997. Lembaga Pidana Bersyarat. Bandung: Alumni.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
351
Nandang Sambas. 2010. Pembaruan Sistem Pemidanaan Anak di Indonesia. Bandung:
Graha Ilmu.
Nashriana. 2011. Perlindungan Hukum Pidana bagi Anak di Indonesia. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Sholehuddin. 2004. Sistem Sanksi Dalam Hukum Pidana (Ide Dasar Double Track System
dan Implementasinya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
352
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
IZIN PERSETUJUAN BUPATI DALAM PROSES
PENYIDIKAN PERKARA TINDAK PIDANA YANG
DILAKUKAN OLEH KEPALA DESA
Rudy Talanipa, M. Said Karim, Faisal Abdullah
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
IZIN PERSETUJUAN BUPATI DALAM PROSES
PENYIDIKAN PERKARA TINDAK PIDANA YANG DILAKUKAN
OLEH KEPALA DESA
Oleh: Rudy Talanipa1*, M. Said Karim2, Faisal Abdullah2
Kejaksaan Negeri Singaraja
Jl. Dewi Sartika No. 23, Singaraja, 80114, Bali
2
Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin
Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10, Tamalanrea, 90245, Makassar
*
E-mail: [email protected]
1
Abstract
The research almed at examining juridically the legas position of Article 23 verse (1)
of the Government Regulation Number 72 Year 2005 concerning the Village viewed from
acts hierarchy and the application of the equality before the law principle in the criminal
judicature system, then investigating the legal effort process on the decision of Amurang
Count of First Instance on behalf of the defendant Bonny Novi Lobot Monde. This was a
normative legal research. i.e the research which laid the law as a norm system structure
by examining the object i.e. Article 23 verse (1) of the Government Regulation Number 72
Year 2005 concerning the Village viewed from the systematic aspect based on the obedience
on the legal structure hierarchically. The research result indicates that the existence of
the Article 23 verse (1) of the Government Regulation Number 72 Tear 2005 concerning
Village violates the stipulation of acts hierarchically, and its formation regulation as well
as the equality before the law principle in the criminal judicature system in Indonesia. It is
expected that the law as the basis in the community and state life implementation realized
in the form of the regulation of acts must be adjusted with the object level regulated based
on the regulations hierarchy.
Keywords: Justice, Hierarchy, Investigation Process
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara yuridis perihal kedudukan hukum
Pasal 23 ayat (1) PP No. 27 tahun 2005 tentang Desa dari tinjauan hierarki perundangundangan serta penerapan asas equality before the law dalam system peradilan pidana
selanjutnya untuk mengetahui proses upaya hukum terhadap putusan PN Amurang
An.Terdakwa Bonny Novi Lobot Monde. Metode penelitian yang dilakukan adalah
penelitian normatif (Legal Research), yakni penelitian hukum yang meletakkan hukum
sebagai suatu bangunan sistem norma dengan mengkaji objek yakni Pasal 23 ayat (1)
PP No. 72 Tahun 2005 tentang Desa dari sistematika berdasarkan ketaatan pada struktur
hukum secara hierarkis. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa eksistensi Pasal 23 ayat (1)
PP No. 72 Tahun 2005 tentang Desa menyalahi ketentuan undang-undang secara hierarki
serta peraturan pembentukannya, demikian halnya dengan asas equality before the law
dalam sistem peradilan pidana di Indonesia. Diharapkan penempatan hukum sebagai
dasar pijak dalam penyelenggaraan kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan yang
diwujudkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan harus disesuaikan dengan
tingkatan objek yang diaturnya berdasarkan hierarki perundang-undangan.
Kata Kunci: Keadilan, Hierarkis, Proses Penyidikan
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
PENDAHULUAN
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945)
mengamanatkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang
berkedaulatan rakyat yang dalam pelaksanaannya menganut prinsip kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
Untuk melaksanakan amanat tersebut, dibentuklah lembaga-lembaga yang mampu
mengejawantahkan nilai-nilai demokrasi serta dapat menyerap dan memperjuangkan
aspirasi rakyat agar sesuai dengan tuntutan perkembangan kehidupan berbangsa dan
bernegara. Lembaga-lembaga tersebut merupakan lembaga penyelenggara negara yang
mewakili kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Lembaga penyelenggara negara dalam operasionalisasinya “diawaki” oleh para
penyelenggara negara yang mempunyai peran penting dalam mewujudkan cita-cita
perjuangan bangsa. Penyelenggara negara adalah pejabat negara yang menjalankan fungsi
eksekutif, legislatif, atau yudikatif, dan pejabat lain yang fungsi dan tugas pokoknya
berkaitan dengan penyelenggaraan negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku .
Presiden adalah penyelenggara negara dalam fungsi eksekutif yang dalam
menjalankan tugas serta fungsinya dibantu oleh wakil presiden, dan para menteri Negara
sedangkan penyelenggara daerah adalah pemerintah daerah dan DPRD. Untuk pemerintah
daerah propinsi dipimpin oleh seorang kepala daerah yang disebut Gubernur yang
dibantu oleh satu orang wakil kepala daerah yang disebut Wakil Gubernur sedangkan
untuk pemerintah kabupaten atau kota dipimpin oleh seorang Bupati atau Walikota yang
dibantu oleh satu orang Wakil Bupati atau Wakil Walikota. Dalam pemerintahan daerah
kabupaten atau kota dibentuk pemerintahan desa yang terdiri dari pemerintah Desa yang
dipimpin oleh seorang kepala desa dan Badan Permusyawaratan Desa.
Penyelenggaraan pemerintahan oleh para penyelenggara pemerintah diliputi oleh
asas-asas yaitu: kepastian hukum, tertib penyelenggaraan negara, kepentingan umum,
keterbukaan, proporsionalitas, profesionalitas, akuntabilitas, efisiensi dan efektifitas.1
Para penyelenggara pemerintahan diharapkan dapat melaksanakan tugas melaksanakan
tugas dengan penuh rasa tanggung jawab dan tidak melakukan perbuatan tercela, tanpa
pamrih baik untuk kepentingan pribadi, keluarga, kroni, maupun kelompok, dan tidak
mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun yang bertentangan dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Implementasi asas-asas penyelenggaraan
pemerintahan tersebut diharapkan dapat mewujudkan penyelenggara pemerintahan yang
1 Lihat, Pasal 20 UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
356
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
bersih dan bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Pada Pasal 27 UUD NRI 1945 secara tegas menyatakan bahwa “segala warga negara
bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung
hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”. Oleh karena itu, terhadap
para penyelenggara pemerintahan yang melakukan tindak pidana tetap harus berhadapan
dengan “hukum sebagai panglima” di negeri ini, namun dalam implementasinya, berlaku
suatu “aturan khusus” bagi para penyelenggara pemerintahan yang diduga terlibat atau
melakukan tindak pidana, yaitu: adanya suatu mekanisme birokrasi perijinan yang harus
dilakukan apabila penyidik akan melakukan rangkaian tindakan penyidikan terhadap
mereka.
Mekanisme birokrasi tersebut sampai pada tingkat penyelenggara pemerintah
desa yang antara lain disebutkan secara “gamblang” dalam Pasal 23 ayat (1) Peraturan
Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa yang menjelaskan bahwa tindakan
penyidikan terhadap kepala desa, dilaksanakan setelah ada persetujuan tertulis dari
Bupati/walikota.2
Peraturan Pemerintah ini diterbitkan untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang No. 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas UU No. 32 Tahun
2004 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 216 ayat (1). Selain sudah sangat ditunggutunggu, keberadaan PP Nomor 72 Tahun 2005 ini juga amat strategis. Kestrategisan PP
terletak pada substansi materi yang dikandungnya. PP No 72 Tahun 2005 mengatur tentang
desa, di mana pemerintahan desa merupakan struktur pemerintahan terbawah yang secara
langsung berinteraksi dengan masyarakat. Di era otonomi, di tingkatan Desalah potensipotensi masyarakat ideal untuk dikembangkan.
Sebagai aparat penegak hukum, Polri berwenang melakukan penyelidikan dan
penyidikan tindak pidana terhadap semua warga negara Indonesia yang melakukan atau
terlibat tindak pidana maupun seluruh warga negara asing yang melakukan atau terlibat
tindak pidana pidana di wilayah hukum NKRI. Peraturan pemerintah tersebut telah
secara jelas menentukan suatu mekanisme khusus berupa birokrasi perizinan yang harus
ditempuh oleh penyidik Polri apabila tindak pidana yang terjadi diduga dilakukan atau
melibatkan para kepala desa.
Sebagai implementasi dari penerapan mekanisme tersebut, salah satunya tertuang
dalam putusan Pengadilan Negeri Amurang No. 51/Pid.B/2009/PN.Amg tanggal 21
Desember 2009 dalam perkara tersangka Bonny Novi Lobot Monde. Oleh karena proses
penyidikan terhadap tersangka yang merupakan kepala Desa Karowa I, Kec. Tompaso
2 Lihat Pasal 23 ayat (1) PP No. 72 tahun 2005 tentang Desa
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
357
Baru, Kab. Minahasa Selatan tidak diserta dengan izin persetujuan dari Bupati kabupaten
Minahasa Selatan, maka majelis hakim Pengadilan Negeri Amurang dalam pertimbangan
putusannya menyatakan setelah majelis hakim memeriksa berkas Perkara terdakwa,
sebagaimana pelimpahan Penuntut Umum pada Pengadilan Negeri Amurang tertanggal
3 Juli 2009, tidak ditemukan adanya persetujuan tertulis dari Bupati untuk dilakukan
Penyidikan terhadap terdakwa, sehingga apabila tata cara pemeriksaan yang dilakukan
tidak memenuhi syarat yang ditentukan atau yang diminta ketentuan Undang-undang
(cacat formil) mengakibatkan Tuntutan Penuntut Umum tidak dapat diterima. Dengan
demikian, Penyidik dalam tingkat Kepolisian serta Penuntut Umum telah lalai dalam
memenuhi syarat yang diminta ketentuan undang-undang (vornverzium).3
Meskipun telah diatur secara tegas, implementasi mekanisme birokrasi perijinan
tersebut masih perlu kajian yuridis baik menurut tehnis penyusunan aturan perundangundangan maupun kaitannya dengan system peradilan pidana, mengingat ketentuan
tersebut merupakan salah satu faktor penghambat atau gangguan terhadap penegakkan
hukum yang berasal dari undang-undang, yang mungkin disebabkan oleh karena tidak
diikutinya asas-asas berlakunya sebuah undang-undang dalam penegakkan hukum, salah
satunya bahwa undang-undang yang dibuat oleh penguasa yang lebih tinggi, mempunyai
kedudukan yang lebih tinggi pula.4
Mekanisme tersebut telah menimbulkan disparitas dengan penyelenggara
pemerintahan atau pejabat Negara lainnya yang jauh lebih tinggi dan terhormat
kedudukannya dibandingkan dengan jabatan kepala desa, oleh karena tidak semua
penyelenggara pemerintahan atau pejabat negara memerlukan ‘ijin’ sebelum diperiksa
terkait dengan perkara pidana, sebab tidak ada satupun ketentuan yang mengharuskan
adanya ijin sebelum ‘memeriksa’ Presiden, Wakil Presiden, Para Menteri dan Pejabat
setingkat Menteri. Hal ini sungguh tidak logis, sebab untuk kepala desa selaku pemerintah
desa dengan kedudukan yang jauh lebih rendah di bawah Presiden diberlakukan prosedur
ijin, tetapi untuk Presiden tidak ada ketentuannya. Padahal personifikasi utama dari
sebuah negara adalah kepala negara, yaitu Presiden. Tidak ada jaminan seorang Presiden
pasti tidak akan melakukan tindak pidana 5.
Jika dikaitkan dengan asas-asas dalam sistem peradilan pidana di Indonesia,
maka mekanisme permohonan izin tersebut bertolak belakang diantaranya dengan asas
3 Salinan Putusan PN. Amurang No. 51/Pid.B/2009/PN.Amg, tanggal 9 Des 2009, Hal 18.
4 Soerjono Soekanto. Factor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum. (Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2011). hlm.12.
5 Pusat Litbang Kejaksaan Agung R.I. Studi tentang Ijin Pemeriksaan Terhadap Pejabat Negara
dalam Proses Penegakan Hukum. Jakarta: Kejaksaan Agung R.I. 2008.
358
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
perlakuan yang sama dimuka hukum, tanpa diskriminasi (equality before the law), asas
peradilan yang harus dilakukan dengan cepat, sederhana dan biaya ringan serta bebas,
jujur dan tidak memihak yang harus diterapkan secara konsekuen dalam seluruh tingkat
peradilan6 serta asas independensi kekuasaan kehakiman.7
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, penulis mencoba meringkas
permasalahan yang timbul ke dalam beberapa rumusan masalah. Adapun beberapa
rumusan permasalahan yang ingin penulis ungkapkan adalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah kedudukan hukum Pasal 23 ayat (1) PP No. 27 tahun 2005 tentang
Desa sebagai peraturan pelaksanaan dari Pasal 216 ayat (1) UU No. 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah dari tinjauan penerapan asas equality before the law
dalam sistem peradilan pidana?
2. Bagaimanakah proses upaya hukum terhadap putusan Pengadilan Negeri Amurang
An.Terdakwa Bonny Novi Lobot Monde yang mensyaratkan ketentuan formal yuridis,
sebagaimana Pasal 23 ayat (1) PP No. 72 Tahun 2004 tentang Desa?
METODE PENELITIAN
Jenis dan Tipe Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian hukum dengan tipe penelitiannya merupakan
penelitian normatif (Legal Research), yakni penelitian hukum yang meletakkan hukum
sebagai suatu bangunan system norma dengan mengkaji objek yakni Pasal 23 ayat (1)
PP No. 72 Tahun 2005 tentang Desa dari sistematika berdasarkan ketaatan pada struktur
hukum secara hierarkis untuk memberikan sebuah pendapat hukum dalam bentuk
justifikasi (preskriptif).
Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yang dipilih adalah Pengadilan Negeri Amurang Kab. Minahasa
Selatan. Alasan utama penulis mengambil lokasi penelitian di Pengadilan Negeri Amurang,
selain karena faktor pertimbangan penulis pernah bertugas di Kejaksaan Negeri Amurang
dan tempat menyidangkan perkara adalah di Pengadilan Negeri Amurang. Penulis juga
berpandangan bahwa Pengadilan Negeri Amurang sudah pernah memutus perkara pidana
sehubungan dengan penerapan Pasal 23 Ayat (1) PP No. 72 Tahun 2005 tentang Desa.
6 Romli Atmasasmita. Sistem Peradilan Pidana Kontemporer. (Jakarta: Kencana Prenada Media
Group, 2011), hlm. 70-71.
7 Lihat, Pasal 3 ayat (2) UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
359
Teknik Pengumpulan Data
Data dan informasi dikumpulkan melalui penelitian kepustakaan atau legal Research
yaitu pengkajian teori-teori yang berhubungan atau menjadi landasan penelitian melalui
data atau literatur hukum sebagai berikut: 1) Data hukum primer, bahan yang terdiri atas
peraturan perundangan, risalah resmi, putusan pengadilan dan dokumen resmi Negara;
dan 2) Data hukum sekunder, bahan hukum yang terdiri atas buku atau jurnal hukum
yang berisi mengenai prinsip-prinsip dasar (asas hukum), pandangan para ahli hukum
(doktrin), hasil penelitian hukum, kamus hukum dan ensiklopedia hukum.
Analisa Data
Analisis data dilakukan dengan melakukan pengolahan data hukum primair maupun
sekunder serta bahan hukum lainnya yang berujud kegiatan
untuk mengadakan sistematisasi terhadap bahan-bahan hukum tertulis tersebut kemudian
melakukan klasifikasi menurut penggolongan bahan hukum dan menyusun data hasil
penelitian tersebut secara sistematis untuk mendapatkan gambaran umum dari hasil
penelitian.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Mekanisme Izin Persetujuan Bupati/Walikota Sebelum Tindakan Penyidikan
terhadap Kepala Desa
Implementasi mekanisme birokrasi perizinan dari Pasal 23 ayat (1) Peraturan
Pemerintah No. 72 Tahun 2005 tentang Desa, salah satunya tertuang dalam Putusan
Pengadilan Negeri Amurang No. 51/Pid.B/2009/PN.Amg tanggal 21 Desember 2009
dalam perkara tersangka Bonny Novi Lobot Monde. Oleh karena proses penyidikan
terhadap tersangka yang merupakan kepala Desa Karowa I, Kec. Tompaso baru, Kab.
Minahasa Selatan tidak diserta dengan izin persetujuan dari Bupati Kabupaten Minahasa
Selatan, maka majelis hakim Pengadilan Negeri Amurang dalam pertimbangan putusannya
menyatakan tuntutan Penuntut Umum tidak dapat diterima karena cacat formil. Dengan
demikian, Penyidik dalam tingkat Kepolisian serta Penuntut Umum telah lalai dalam
memenuhi syarat yang diminta ketentuan Undang-undang (vornverzium).8
Menurut penulis mekanisme birokrasi izin atau persetujuan tersebut menjadi
salah satu faktor penghambat atau gangguan terhadap penegakan hukum yang berasal
dari undang-undang yang mungkin disebabkan oleh factor tidak diikutinya asas-asas
berlakunya undang-undang,9 di antaranya adalah hirarki perundang-undangan atau
8 . Salinan Putusan PN. Amurang No. 51/Pid.B/2009/PN.Amg, tanggal 27 Mei 2011, Hal 18.
9 Soerjono Soekanto, Op.cit., hlm.17.
360
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
dikenal dengan asas lex Superiori de rogat lex inferiori (peraturan hukum yang lebih
tinggi membatalkan peraturan hukum yang lebih rendah) sebagai asas dalam penerapan
peraturan perundang-undangan dan asas Equality before the law (persamaan kedudukan
setiap orang di depan hukum) sebagai salah satu asas dalam sistem peradilan pidana di
Indonesia.
Penerapannya terkait asas equality before the law dalam sistem peradilan pidana
Asas equality before the law adalah pengakuan kedudukan tiap individu di muka
hukum ditempatkan dalam kedudukan yang sama tanpa memandang status sosial (social
stratum). Keberlakuan prinsip equality before the law dalam Sistem Peradilan Pidana di
Indonesia di jabarkan dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP. Asas
persamaan dimuka hukum tidak secara eksplisit tercantum dalam ketentuan Kitab Undang
Undang Hukum Acara Pidana. Asas ini hanya dicantumkan dalam penjelasan resmi Kitab
Undang Undang Hukum Acara Pidana. Walau demikian, merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari Kitab Undang Undang itu sendiri. Asas ini dijabarkan dalam kalimat,
“Perlakuan yang sama atas diri setiap orang di muka hukum dengan tidak mengadakan
pembedaan perlakuan”.10 Ditempatkannya asas ini sebagai asas kesatu menunjukkan
betapa pentingnya asas ini dalam tata kehidupan hukum (acara) pidana di Indonesia.11
Adanya asas ini dalam Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana merupakan suatu
arah pembaruan dalam sistem peradilan pidana di Indonesia. Bahkan hal ini menunjukkan
adanya sikap politik pemerintah orde baru dalam masalah penanganan perkara pidana
yang terbuka dan bertujuan menegakkan hukum di mana “supremasi hukum” tidak lagi
akan merupakan slogan belaka.12
Asas perlakukan yang sama atas diri setiap orang di hadapan hukum secara ekslusif
diatur didalam UUD NRI 1945 yang merupakan hukum dasar dalam peraturan perundangundangan yang secara tegas dalam Pasal 27 UUD NRI 1945 menyatakan bahwa “Segala
warga Negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib
menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”. Selanjutnya, pada
Pasal 28 D ayat (1) yang menyebutkan, “setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan,
perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakukan yang sama dihadapan
hukum”.
Dalam praktik peradilan berdasarkan Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48
Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman juga menyatakan bahwa Pengadilan mengadili
10 Lihat Penjelasan Umum KUHAP.
11 Romli Atmasasmita, Op.cit., hlm. 73.
12 Ibid, hlm. 74.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013 361
menurut hukum dengan tidak membeda-bedakan orang. Hal itu artinya setiap orang yang
dihadapkan di pengadilan harus diadili secara adil oleh pengadilan yang bebas, tidak
memihak dan tidak sewenang-wenang.
Sebenarnya tujuan Hukum tidak semata-mata menegakkan legalitas hukum dalam
bingkai formal yuridis semata sebagaimana Putusan Pengadilan Negeri Amurang No.
51/Pid.B/2009/PN.Amg tanggal 21 Desember 2009 dalam perkara tersangka Bonny
Novi Lobot Monde. Akan tetapi juga bagaimana hukum itu bisa memberi keadilan serta
kemanfaatan bagi masyarakat sebagaimana tujuan hukum menurut Gustav Radbruch
(1878-19489) lahir di Lubeck, Jerman, ia mengemukakan bahwa ada tiga tujuan hukum,
yaitu Keadilan, Kemanfaatan dan Kepastian hukum. Radbruch mengajarkan bahwa kita
harus menggunakan asas prioritas, dimana prioritas pertama adalah keadilan, kedua
adalah kemanfaatan dan terakhir barulah kepastian hukum. Kemanfaatan dan kepastian
hukum tidak boleh bertentangan dengan keadilan, demikian juga kepastian hukum tidak
boleh bertentangan dengan kemanfaatan 13
Hal tersebut sangat relevan dengan realitas hukum bahwa Negara Indonesia
adalah Negara yang berdasar atas hukum dan tidak berdasar pada kekuasaan belaka, jika
dikaitkan dengan keberadaan Pasal 23 ayat (1) PP No. 72 Tahun 2005 tentang Desa, maka
penerapan pasal tersebut adalah cerminan dari simbol kekuasaan semata dikarenakan
pemberlakuan izin persetujuan bupati terhadap proses penyidikan terhadap kepala desa
dikarenakan semata-mata karena jabatan Kepala Desa yang melekat kepadanya.
Amandemen ketiga UUD 1945 pada 2001, kembali menyantumkan secara tegas
konsepsi tentang negara hukum Indonesia dalam materi muatan undang-undang dasar.
Penegasan tersebut sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1 ayat (3), “Negara Indonesia
adalah Negara Hukum.” Menurut Jimly Ashiddiqie,14 dalam naskah tersebut setidaknya
mengandung pengertian sebagai berikut: Adanya pengakuan terhadap supremasi hukum
dan konstitusi, dianutnya prinsip pemisahan dan pembatasan kekuasaan menurut sistem
konstitusional yang diatur dalam Undang-Undang Dasar, adanya jaminan hak asasi
manusia dalam Undang-Undang Dasar, adanya prinsip peradilan yang bebas dan tidak
memihak yang menjamin persamaan setiap warga negara dalam hukum, serta menjamin
keadilan bagi setiap orang termasuk terhadap penyalah gunaan wewenang oleh pihak
yang berkuasa. 13 Achmad Ali. Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicial Theory)
Termasuk Interpretasi Undang-Undang, (Jakarta: Prenada Media Group, 2010), hlm.181-182.
14 Jimmly Asshiddiqie. Teori Hans Kelsen Tentang Hukum, (Jakarta: Sekjen & Kepaniteraan MK,
2006).
362
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Analisis Putusan Pengadilan Tinggi Manado Nomor 19/PID/2010/PT.MDO terhadap
Terdakwa An. Bonny Novi Lobot Monde
Di dalam Pasal 87 KUHAP dinyatakan bahwa Pengadilan Tinggi berwenang
mengadili perkara yang di putus oleh Pengadilan Negeri dalam daerah hukumnya yang
dimintakan banding. Acara pemeriksaan banding didalam KUHAP diatur dalam Pasal
233 sampai dengan Pasal 243.
Pemeriksaan tingkat banding pada dasarnya adalah pemeriksaan ulangan dari
pemeriksaan yang telah dilakukan oleh Pengadilan Negeri, sehingga pengadilan tinggi
kadang-kadang disebut pengadilan ulangan. Dalam pemeriksaan tingkat banding tersebut
Pengadilan Tinggi memeriksa kembali semua fakta-fakta yang ada, sehingga sama halnya
dengan Pengadilan Negeri, maka pengadilan tinggi disebut sebagai judex factie.
Pasal 67 KUHAP menyatakan bahwa terdakwa atau penuntut umum berhak untuk
minta banding terhadap putusan pengadilan tingkat pertama kecuali terhadap putusan
bebas, lepas dari segala tuntutan hukum yang menyangkut masalah kurang tepatnya
penerapan hukum dan putusan pengadilan dalam acara cepat.
Adapun yang menjadi alasan dalam mengajukan banding tidak dirinci di dalam
Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP, berbeda dengan permintaan kasasi
sebagaimana Pasal 253 ayat (1) KUHAP yang merinci alasan yang dapat dikemukakan
oleh pemohon kasasi. Akan tetapi kalau kita kembali pada makna pemeriksaan tingkat
banding yaitu memeriksa dan memutus pada tingkat terakhir putusan pengadilan tingkat
pertama, maka hal tersebut dikarenakan adanya “keberatan” dan “tidak setuju” atas
putusan yang dijatuhkan oleh pengadilan tingkat pertama.15
Putusan pengadilan Tinggi Manado Nomor19/PID/2010 /PT.MDO tanggal 11
Maret 2010 dalam perkara pidana atas nama terdakwa Bonny Novi Lobot Monde atas
permintaan banding PU dalam pertimbangan hukumnya hal 5 s/d 7, majelis hakim
menyatakan tidak sependapat dengan pertimbangan hakim pengadilan Negeri Amurang
dengan alasan-alasan sebagai berikut :
Bahwa mengacu pada Pasal 156 ayat (2) KUHAP, Pengertian Eksepsi adalah
tangkisan atau pembelaan yang tidak mengenai atau tidak ditujukan terhadap
“materi pokok” surat dakwaan tetapi keberatan atau pembelaan ditujukan terhadap
cacat “formil” yang melekat pada surat Dakwaan. Jika hakim menerima keberatan
terdakwa atau penasihat hukum maka perkara tidak diperiksa lebih lanjut dan
pemeriksaan materi pokok perkara dihentikan karena Surat Dakwaan Jaksa
Penuntut Umum tidak memenuhi syarat sebagaimana ditentukan dalam Pasal 143
15 M. Yahya Harahap. Pembahasan permasalahan dan penerapan KUHAP, pemeriksaan sidang
pengadilan, Banding, Kasasi dan Peninjauan Kembali, Cet. II (Jakarta: PT. Ikrar Mandiriabadi, 2001),
hal.452-453.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
363
ayat (2) huruf b KUHAP (cacat formil) dan surat dakwaan adalah batal demi hukum
apabilan penyidik dan Penuntut Umum telah lalai dalam memenuhi syarat yang
ditentukan Undang-Undang.
Bahwa dalam pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Amurang tidak
menguraikan terurai satupun bukti formil/tertulis yang menjadi pertimbangan
majelis hakim perihal Surat Keputusan Bupati Minahasa Selatan tentang
pengesahan pengangkatan terdakwa sebagai hukum tua/kepala desa Karowa yang
seharusnya melekat pada diri terdakwa, padahal sesuai ketentuan Pasal 50 ayat
(5) dan Pasal 51 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 2005 tentang
Desa menerangkan bahwa Kepala Desa Terpilih dilantik oleh Bupati/Walikota
paling lama 15 hari terhitung tanggal penerbitan keputusan Bupati/Walikota dan
Bupati/Walikota menerbitkan Keputusan Bupati/Walikota tentang Pengesahan
Pengangkatan Kepala Desa Terpilih dan dalam ketentuan Pasal 23 ayat (1) dan
ayat (2) Peraturan Pemerintah nomor: 72 tahun 2005 tentang Desa menerangkan
bahwa tindakan penyidikan terhadap Kepala Desa dilaksanakan setelah adanya
persetujuan tertulis dari Bupati/Walikota terkecuali tertangkap tangan melakukan
tindak pidana kejahatan atau diduga telah melakukan tindak pidana kejahatan yang
diancam dengan pidana mati. Kalimat “dilaksanakan setelah” pada uraian diatas
secara redaksional mengandung pengertian tidak secara tegas bersifat harus/wajib
mengingat tindakan penyidikan sebagaimana Pasal 1 ayat (2) UU RI No. 8 tahun
1981 tenang KUHAP adalah serangkaian tindakan Penyidik dalam hal dan menurut
cara yang diatur dalam Undang-Undang ini untuk mencari serta mengumpulkan
bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan
guna menemukan tersangkanya selanjutnya tindakan penyidik sebagaimana Pasal 7
ayat (1) UU RI No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP maka apabila kalimat “bahwa
tindakan penyidikan terhadap Kepala Desa dilaksanakan setelah adanya persetujuan
tertulis dari Bupati/Walikota ” dianalogikan bersifat “harus/wajib” berarti proses
penyidikan harus diulang kembali karena secara redaksional penyidikan terhadap
kepala desa dilaksanakan setelah ada persetujuan dari Bupati/walikota yang berarti
proses penyidikan harus diulang kembali karena secara redaksional penyidikan
terhadap kepala desa dilaksanakan setelah ada persetujuan terlebih dahulu baru bisa
disidik; yang meminta Surat persetujuan tersebut harus Penyidik dan surat persetujuan
dari Bupati yang dimintakan/dikeluarkan setelah proses penyidikan apalagi proses
penuntutan tentunya tidak dapat berlaku surut: Jika demikian apakah seorang
tersangka harus ditangkap, ditahan, digeledah dll untuk kedua kalinya terhadap
perbuatan/tindak pidana yang sama ? tentunya tidak demikian, karena tindakan
Penyidik adalah dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam UU RI No. 8 Tahun
1981 tentang KUHAP) yang tentunya sudah sesuai dengan instrumen hukum UU
RI. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dengan
tata urutan (a) UUD 1945; (b) Undang-undang/peraturan pemerintah pengganti
UU; (c) peraturan pemerintah; (d) peraturan presiden dan; (e) peraturan daerah
dan berdasar pada teori hierarki hukum, peraturan perundang-undangan di bawah
Undang-undang misalnya Peraturan Pemerintah, tidak boleh bertentangan dengan
Undang-undang yang lebih tinggi, dalam hal ini undang-undang yang melandasi
suatu Tindakan Penyidikan adalah Undang-undang RI No. 8 Tahun 1981 tentang
Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana yang didalam ketentuan pasalnya tidak
364 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
ada menyebutkan” tindakan penyidikan terhadap kepala desa dilaksanakan setelah
adanya persetujuan tertulis dari Bupati/Walikota” karena didalam KUHAP tersebut
terdapat asas “Equal before the law” yang mengandung makna perlakuan yang sama
di depan hukum sehingga tidak ada pengecualian terhadap seseorang yang diperiksa
dalam tingkat penyidikan untuk mendapatkan izin dari atasannya.16
Dari pertimbangan majelis hakim Pengadilan tinggi Manado tersebut, menurut
penulis sudah mencakup dan melingkupi uraian dan argumen penulis pada awal bab
pembahasan. Bahwa eksistensi pasal 23 ayat (1) PP No. 72 tahun 2005 tentang Desa
bertentangan dengan asas lex Superiori de rogat lex inferiori (peraturan hukum yang lebih
tinggi membatalkan peraturan hukum yang lebih rendah) sebagai asas dalam penerapan
peraturan perundang-undangan, dan asas Equality before the law ( persamaan kedudukan
setiap orang didepan hukum) sebagai salah satu asas dalam sistem peradilan pidana di
Indonesia.
Jika melihat pertimbangan hukum majelis hakim pengadilan tinggi manado, maka
menurut penulis sudah sesuai dengan maksud dan tujuan dari pemeriksaan tingkat
banding yaitu memperbaiki kekeliruan putusan tingkat pertama, oleh karena hakim yang
memutus perkara pada peradilan tingkat pertama adalah manusia biasa yang tidak luput
dari kesalahan, kelalaian dan kekhilafan. Agar kesalahan dan kelalaian tidak melekat
pada putusan yang dijatuhkan peradilan tingkat pertama, undang-undang membuka upaya
hukum yang bertujuan untuk “mengoreksi” kesalahan dan kelalaian tersebut. Koreksi
atau perbaikan atas kesalahan peradilan tingkat pertama, diperbaiki oleh peradilan tingkat
banding dalam pemeriksaan banding, supaya pemeriksaan dan putusan peradilan tingkat
pertama itu dikembalikan kearah ketentuan hukum dan undang-undang sebenarnya,
sehingga pemeriksaan dan putusan peradilan tingkat pertama benar-benar akomodatif dan
proporsional dengan hukum dan undang-undang yang berlaku. 17
Dari karakteristik cara berhukum yang ketiga dijelaskan bahwa sebaiknya kita
tidak berpegang secara mutlak kepada teks formal suatu peraturan, menurut penulis hal
tersebut sangat relevan dengan tujuan hukum itu sendiri sebagaimana pandangan dari
Gustav Radbruh, yang mengutamakan keadilan baru kemudian kemanfaatan dan terakhir
kepastian hukum.
Pengujian Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang Melalui
Pemeriksaan Tingkat Kasasi Kaitannya dengan Putusan MA Nomor 446 K/
Pid/2011 tanggal 27 Mei 2011
Sebagaimana ketentuan Pasal 24 ayat (2) UUD 1945, bahwa pengorganisasian
16 Salinan Putusan PT.Manado No.19/PID/2010/PT.MDO, tanggal 11Maret 2010, Hal. 5-7
17 M. Yahya Harahap. Op.cit., Hal. 451.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
365
kekuasaan kehakiman diberikan kepada dua lembaga Negara yaitu Mahkamah Agung
dan Mahkamah Konstitusi. Untuk membedakan posisi, tugas, fungsi dan wewenang
kedua lembaga kekuasaan kehakiman tersebut diatur secara limitative dalam Pasal 24 A
ayat (1) dan Pasal 24 C ayat (1) UUD NRI 1945. Dalam Pasal 24 A ayat (1) UUD NRI
1945 dijelaskan bahwa, MA berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan
perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang.
Penjabaran dari ketentuan-ketentuan tentang tugas dan fungsi dari Mahkaman
Agung khususnya tentang kewenangan menguji peraturan perundang-undangan di bawah
undang-undang terhadap undang-undang tersebut selanjutnya diatur dalam Pasal 20
ayat (2) huruf b UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasan Kehakiman dan Pasal 31
UU No. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. Dalam perspektif pengujian peraturan
perundang-undangan pada intinya Mahkamah Agung diberikan wewenang untuk
melakukan pengujian peraturan perundang-undangan dibawah undang-undang terhadap
undang-undang, dimana MA menyatakan tidak sah peraturan perundang-undangan di
bawah undang-undang atas alasan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan
yang lebih tinggi atau pembentukannya tidak memenuhi ketentuan yang berlaku.
Putusan Mahkamah Agung tersebut dapat diambil baik berhubungan dengan
pemeriksaan pada tingkat kasasi maupun berdasarkan permohonan langsung pada
Mahkamah Agung. Selanjutnya hak uji tersebut dapat dilakukan baik terhadap materi
muatan ayat, pasal dan/atau bagian dari peraturan perundang-undangan tersebut yang
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi maupun terhadap
pembentukan peraturan perundang-undangan. Adapun sasaran dan tujuan dari hak uji
adalah untuk melakukan pengawasan terhadap tindakan pemerintah agar tidak menerbitkan
ketentuan-ketentuan peraturan per UU yang merugikan kepentingan masyarakat.18
Pada Putusan Mahkamah Agung Nomor 446 K/Pid/2011 tanggal 27 Mei 2011
dalam perkara An. Terdakwa Bonny Novi Monde Lobot, salah satu pertimbangannya
menerangkan bahwa alasan pemohon kasasi dari pemohon kasasi/Terdakwa yang intinya
Pengadilan Tinggi Manado tidak menerapkan ketentuan hukum tentang tata cara tindakan
kepolisian terhadap Hukum Tua/Kepala Desa sebagaimana diatur dalam Peraturan
Pemerintah No. 72 tahun 2005 tentang Desa serta Asas Pre-requisite yaitu mengenai
syarat-syarat yang seharusnya dipenuhi sebelum dilakukan pemeriksaan terhadap perkara
ini tidak dapat dibenarkan, karena Judex factie (Pengadilan Tinggi) tidak salah menerapkan
hukum dan tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, untuk selanjutnya
18 M. Yahya Harahap, Kekuasaan MA, Pemeriksaan Kasasi Dan Pk Perkara Perdata, (Jakarta: Sinar
Grafika, 2009), Hal 97.
366
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
MA mengadili menolak permohonan kasasi dari pemohon Kasasi/Terdakwa Bonny Novi
Monde Lobot.19
Dari pertimbangan putusan Mahkamah Agung tersebut diatas, menurut penulis apa
yang dimintakan oleh pihak pemohon Kasasi/terdakwa adalah menyangkut kewenangan
MA sebagaimana Pasal 253 ayat (1) huruf a KUHAP, yaitu apakah benar suatu peraturan
hukum tidak diterapkan atau diterapkan tidak sebagaimana mestinya selanjutnya Pasal
30 ayat (1) huruf b dan c, yaitu MA dalam tingkat kasasi membatalkan putusan atau
penetapan pengadilan-pengadilan dari semua lingkungan peradilan karena dan salah
menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku. Lalai memenuhi syarat-syarat yang
diwajibkan oleh peraturan perundang- yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya
putusan yang bersangkutan. Hal mana telah diputuskan oleh MA yang intinya menegaskan
bahwa proses penyidikan terhadap Kepala Desa tanpa adanya izin persetujuan bupati/
walikota sebagaimana ketentuan Pasal 23 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun
2005 tentang Desa tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang.
Jika dikorelasikan antara Putusan Mahkamah Agung Nomor 446 K/Pid/2011
tanggal 27 Mei 2011 dalam perkara An. Terdakwa Bonny Novi Monde Lobot dengan
Pasal 31 ayat (3) UU No. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung, serta Pasal 20 ayat
(3) UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, maka menurut penulis makna
atau pengertian pemeriksaan Kasasi dalam Putusan Mahkamah Agung tersebut adalah
sama sebagaimana makna dan pengertian pemeriksaan kasasi dalam Pasal 31 ayat (3)
UU No. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung serta Pasal 20 ayat (3) UU No. 48
Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, oleh karena Putusan Mahkamah Agung
tersebut menurut penulis secara tidak langsung menyatakan tidak berlaku lagi peraturan
perundang-undangan khususnya Pasal 23 ayat (1) PP Np. 72 Tahun 2005 tentang Desa
yang mensyaratkan agar tindakan penyidikan terhadap kepala desa dilaksanakan setelah
adanya izin persetujuan tertulis dari bupati/walikota.
Putusan tingkat Kasasi oleh Mahkamah Agung dalam perkara an. Terdakwa
Bonny Novi Monde Lobot, setidaknya telah menciptakan dan membentuk hukum baru
sebagaimana tujuan Kasasi yakni bahwa tindakan koreksi dari MA sekaligus menciptakan
“hukum baru” dalam bentuk yurisprudensi, berdasarkan jabatan dan wewenang yang ada
padanya dalam bentuk “judge making law”, sering MA mencipta hukum baru yang disebut
“hukum kasus” atau case law, guna mengisi kekosongan hukum, maupun dalam rangka
menyejajarkan makna dan jiwa ketentuan UU sesuai dengan “elastisitas” pertumbuhan
kebutuhan lajunya perkembangan nilai dan kesadaran masyarakat. Kadang-kadang dalam
19 Salinan Putusan MA No.446 K/Pid/2011, tanggal 27 Mei 2011, Hal 4-6
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
367
upayanya menciptakan hukum baru, adakalanya mengambil putusan yang bersifat contra
legem. Maksudnya hukum baru yang dicipta itu secara nyata benar-benar “bertentangan
dengan undang-undang”.20
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan temuan pada hasil penelitian dan pembahasan di atas, penulis menarik
kesimpulan sebagai berikut:
1. Kedudukan hukum Pasal 23 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 72 tahun 2005
tentang Desa perihal mekanisme izin Bupati/Walikota terhadap proses penyidikan
Kepala Desa tidak menjalankan ketentuan Pasal 216 ayat (1) dan Pasal 208 UndangUndang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah yang mengisyaratkan
tentang Asas umum Penyelenggaran pemerintahan, yakni “Asas Kepastian Hukum”
yang maknanya adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan
peraturan perundang-undangan, kepatutan, dan keadilan dalam setiap kebijakan
Penyelenggara Negara.
2. Proses upaya hukum banding maupun kasasi terhadap putusan PN Amurang
An.Terdakwa Bonny Novi Lobot Monde yang mensyaratkan ketentuan formal
yuridis sebagaimana pasal 23 ayat (1) PP No. 72 tahun 2004 tentang Desa, oleh
Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Manado dalam pertimbangan putusan Nomor
19/PID/2010 /PT.MDO tanggal 11 Maret 2010 dalam perkara pidana atas nama
terdakwa BONNY NOVI LOBOT MONDE menegaskan bahwa eksistensi pasal 23
ayat (1) PP No. 72 tahun 2005 tentang Desa bertentangan dengan asas lex superiori
de rogat lex inferiori (peraturan hukum yang lebih tinggi membatalkan peraturan
hukum yang lebih rendah) sebagai asas dalam penerapan peraturan perundangundangan, dan asas equality before the law ( persamaan kedudukan setiap orang di
depan hukum) sebagai salah satu asas dalam sistem peradilan pidana di Indonesia
sebagaimana penjelasan KUHAP. Oleh karenanya, Putusan Mahkamah Agung
tersebut menurut penulis secara tidak langsung menyatakan tidak berlaku lagi
peraturan perundang-undangan khususnya Pasal 23 ayat (1) PP Np. 72 Tahun 2005
tentang Desa.
Saran
1. Penempatan hukum sebagai dasar pijak dalam penyelenggaraan kehidupan
kemasyarakatan dan kenegaraan yang diwujudkan dalam bentuk peraturan
20 . M. Yahya Harahap. 2001. Op.cit., hlm. 539-542.
368
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
perundang-undangan harus disesuaikan dengan tingkatan objek yang diaturnya
berdasarkan hierarki perundang-undangan, agar dalam penerapannya tidak
berbenturan dengan asas-asas dalam proses pembuatan peraturan perundangundangan serta asas-asas dalam sistem peradilan pidana di Indonesia.
2. Agar aparat penegak hukum dalam hal ini Polisi, Jaksa dan hakim kiranya dapat
mempedomani putusan Mahkamah Agung Nomor 446/K/Pid/2011 tanggal 27 Mei
2011dalam perkara An. Terdakwa Bonny Novi Monde Lobot dalam pelaksanaan
tugas serta wewenangnya yang menyangkut penerapan Pasal 23 ayat (1) Peraturan
Pemerintah No. 72 Tahun 2005 tentan Desa.
DAFTAR PUSTAKA
Achmad Ali. 2010. Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicial
Theory) Termasuk Interpretasi Undang-Undang. Jakarta: Prenada Media Group.
Jimmly Asshiddiqie. 2006. Teori Hans Kelsen Tentang Hukum. Jakarta: Sekjen &
Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi.
M. Yahya Harahap. 2001, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP,
Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi dan Peninjauan Kembali,
Cetakan Kedua. Jakarta: PT. Ikrar Mandiriabadi.
_______________. 2009. Kekuasaan MA, Pemeriksaan Kasasi dan PK Perkara Perdata.
Jakarta: Sinar Grafika.
Pusat Litbang Kejaksaan Agung Republik Indonesia. 2008. Studi tentang Ijin Pemeriksaan
Terhadap Pejabat Negara dalam Proses Penegakan Hukum. Jakarta: Kejaksaan
Agung R.I.
Romli Atmasasmita. 2011. Sistem Peradilan Pidana Kontemporer. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.
Soerjono Soekanto. 2011. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum. Jakarta:
PT RajaGrafindo Persada.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
369
370 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
INDEPENDENSI PENUNTUT UMUM DALAM
PENYUSUNAN SURAT TUNTUTAN
Rizal F, Slamet Sampurno Soewondo, Wiwie Heryani
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
INDEPENDENSI PENUNTUT UMUM DALAM PENYUSUNAN
SURAT TUNTUTAN
Oleh: Rizal F1*, Slamet Sampurno Soewondo2, Wiwie Heryani2
Kejaksaan Negeri Makassar
Jl. Amanna Gappa No. 29, 90111, Makassar
1
Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin
Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10, Tamalanrea, 90245, Makassar
*
E-mail: [email protected]
2
Abstract
Attorney General as the holder of the control task in the prosecution of The Criminal
Justice System to make the policy known as the Prosecution Plan (Rentut). However
“Rentut” mechanism that requires Prosecutors to follow the leaders opinion in the fields
of criminal charges can interfere with the independence of the Prosecutors, especially in
the preparation of the letter. This study aims to determine the existence of SEJA which
require mechanisms in the preparation of the prosecution plans and its influence on the
independence of The Public Prosecutor in preparing the procetution. To answer these
problems, The Authors conducted a study on some of The Prosecutor’s Office in the
jurisdiction of The State Prosecutor in South Sulawesi, The State Prosecutor’s office in
South Sulawesi, Makassar District Attorney, The District Attorney of Maros, The District
Attorney of Pangkajene, The District Attorney of Barru and The District Attorney of
Parepare.
Keywords: Independence, The Public Prosecutor, The Letter Demands
Abstract
Jaksa Agung selaku pemegang kendali tugas penuntutan dalam sistem peradilan
pidana membuat kebijakan yang dikenal dengan istilah rencana tuntutan (rentut). Namun
adanya mekanisme rentut yang mengharuskan Penuntut Umum mengikuti pendapat
pimpinan dalam hal penentuan tuntutan pidana dapat mengganggu kemandirian Penuntut
Umum khususnya dalam penyusunan Surat Tuntutan. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui eksistensi SEJA yang mengharuskan adanya mekanisme rencana tuntutan
dalam penyusunan surat tuntutan serta pengaruhnya terhadap independensi Penuntut
Umum dalam menyusun Surat Tuntutan. Untuk menjawab permasalahan tersebut, Penulis
melakukan penelitian pada beberapa kantor kejaksaan dalam wilayah hukum Kejaksaan
Tinggi Sulawesi Selatan, yaitu kantor Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, Kejaksaan
Negeri Makassar, Kejaksaan Negeri Maros, Kejaksaan Negeri Pangkajene, Kejaksaan
Negeri Barru dan Kejaksaan Negeri Parepare.
Kata Kunci: Independensi, Penuntut Umum, Surat Tuntutan
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
PENDAHULUAN
Negara Republik Indonesia adalah negara hukum yang menjamin setiap orang berhak atas
pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang
sama dihadapan hukum. Demikian diamanatkan dalam Pasal 28D Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945).
Salah satu komponen penting dalam penegakan hukum adalah lembaga Kejaksaan
Republik Indonesia, Kejaksaan R.I. adalah lembaga negara yang melaksanakan kekuasaan
negara, khususnya di bidang penuntutan. Sebagai badan yang berwenang dalam penegakan
hukum dan keadilan, Kejaksaan R.I. dipimpin oleh Jaksa Agung yang dipilih oleh dan
bertanggung jawab kepada Presiden. Kejaksaan Agung, Kejaksaan Tinggi, dan Kejaksaan
Negeri merupakan kekuasaan negara khususnya di bidang penuntutan, dimana semuanya
merupakan satu kesatuan yang utuh yang tidak dapat dipisahkan.1
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia
(selanjutnya disebut UUKRI) mengisyaratkan bahwa lembaga Kejaksaan berada pada
posisi sentral dengan peran strategis dalam pemantapan ketahanan bangsa. Karena
Kejaksaan berada di poros dan menjadi filter antara proses penyidikan dan proses
pemeriksaan di persidangan serta juga sebagai pelaksana penetapan dan keputusan
pengadilan. Sehingga, Lembaga Kejaksaan sebagai pengendali proses perkara (dominus
litis), karena hanya institusi Kejaksaan yang dapat menentukan apakah suatu kasus dapat
diajukan ke pengadilan atau tidak berdasarkan alat bukti yang sah menurut hukum acara
pidana.
Perlu ditambahkan, Kejaksaan juga merupakan satu-satunya instansi pelaksana
putusan pidana (executive ambtenaar). Selain berperan dalam perkara pidana, Kejaksaan
juga memiliki peran lain dalam hukum perdata dan tata usaha negara, yaitu dapat mewakili
pemerintah dalam perkara perdata dan tata usaha negara sebagai Jaksa Pengacara Negara.
Jaksa sebagai pelaksana kewenangan tersebut diberi wewenang sebagai Penuntut Umum
serta melaksanakan putusan pengadilan, dan wewenang lain berdasarkan undang undang.
Berbicara mengenai pelaksanaan penegakan hukum di Indonesia, pada kenyataannya
dirasakan belum memperlihatkan hasil yang memuaskan, salah satunya disebabkan
oleh kinerja para aparat penegak hukum yang belum menunjukkan profesionalitas dan
integritas. Berdasarkan hasil survei Indonesia Network Elections Survey (INES) terhadap
6.000 responden pada periode 5-21 Oktober 2012, sebanyak 83,2 persen responden
1 Dikutip pada laman website: http://zulakrial.blogspot.com/2010/10/kemerdekaan-profesionalismejaksa-sebagai-penuntut-umum:analisis-terhadap-kebijakan-rencana-tuntutan, diunduh pada Kamis, 1
Nopember 2012.
374 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
menyatakan tidak puas, 11,6 persen responden menyatakan sangat tidak puas dan 5,2
persen puas terhadap penegakan hukum dan pemberantasan korupsi era SBY-Boediono.2
Direktur Data INES Sudrajat Sacaawitra,3 mengatakan:
Rendahnya tingkat kepuasan masyarakat tersebut disebabkan lemahnya efek
jera dalam penegakan hukum kasus korupsi yang disebabkan salah satunya oleh
buruknya integritas penegak hukum. Menurutnya, keterlibatan aparat penegak
hukum dalam berbagai praktik korupsi seperti pembekingan aktivitas ilegal,
pemerasan, pungli, setoran, suap menyuap, jual beli kasus, jual beli besar kecilnya
tuntutan dan penggunaan pasal tuntutan di KPK dan Kejaksaan terhadap para
koruptor menjadikan fungsi penindakan menjadi tidak berjalan.
Sebelumnya, penilaian masyarakat terhadap kinerja pemerintah dalam penegakan
hukum pada bulan Desember 2008 mencapai 77 persen atau baik, namun memasuki
bulan Desember 2011 di bawah 50 persen yaitu hanya 44 persen. LSI (Lembaga Survei
Indonesia) menilai penurunan itu sangat drastis.4 Sementara pada 2009 mencapai 59
persen dan 2010 mencapai 52 persen. Populasi survei dilakukan pada responden yang
sudah berumur 17 tahun atau lebih. Jumlah sampel 1.220 dengan margin of error sebesar
lebih kurang 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Wawancara dilakukan
random sebesar 20 persen dari total sampel. Waktu wawancara lapangan dilakukan pada
8-17 Desember 2011.5
Kembali mengenai instansi Kejaksaan R.I, bahwa terkait dengan pelaksanaan tugas
penuntutannya, tidak terlepas dengan proses penyusunan surat tuntutan. Berdasarkan
Pasal 182 ayat (1) huruf c KUHAP, surat tuntutan dibuat secara tertulis dan dibacakan di
persidangan. Surat tuntutan mencantumkan tuntutan Penuntut Umum terhadap terdakwa
baik berupa penghukuman atau pembebasan dan disusun berdasarkan pemeriksaan saksisaksi, ahli, surat dan keterangan terdakwa, hal ini berbeda dengan surat dakwaan yang
disampaikan di awal persidangan, belum ada ancaman pidananya dan disusun berdasarkan
berita acara penyidik.6 Apabila dari hasil pemeriksaan di muka sidang penuntut umum
berpendapat bahwa kesalahan terdakwa sebagaimana diuraikan dalam surat dakwaan
dinilai telah terbukti secara sah dan meyakinkan, sebaliknya apabila penuntut umum
menilai kesalahan terdakwa tidak terbukti maka penuntut umum akan menuntut agar
terdakwa dibebaskan dan apabila perbuatan terdakwa dinilai bukan merupakan tindak
2 Data sebagaimana dikutip pada laman website: http://rri.co.id/index.php/detailberita/detail/36067#.
UKyHsWePSWY, diunduh pada tanggal 20 Nopember 2012.
3 Ibid
4 Lembaga Survei Indonesia, sebagaimana dikutip pada laman website: http://nasional.inilah.com/
read/detail/1816764/survei-lsi-buktikan-buruknya-polri-kejaksaan, diunduh pada tanggal 20 Nopember
2012.
5 Ibid
6 Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2010), hlm 75.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
375
pidana, maka dilepaskan dari segala tuntutan hukum. Tuntutan Penuntut Umum menjadi
dasar bagi hakim untuk menjatuhkan putusan. Putusan hakim tanpa adanya tuntutan
Penuntut Umum berakibat putusan batal demi hukum.7
Sebelum mengajukan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terlebih dahulu harus
mengajukan rencana tuntutan (rentut) kepada atasannya secara berjenjang, rentut telah
mulai dikenal dan diberlakukan serta diterapkan oleh Kejaksaan sejak tahun 1985,
yaitu berdasarkan Surat Edaran Jaksa Agung (SEJA) Nomor 9 Tahun1985 tanggal 14
Desember 1985 tentang Pedoman Tuntutan Pidana, istilah resmi rentut berdasarkan
SEJA tersebut adalah Pedoman Tuntutan Pidana. Selama ini, Kejaksaan menggunakan
pedoman tuntutan pidana yang mengatur tentang tata cara pengajuan tuntutan pidana,
dalam pedoman berupa SEJA yang dikeluarkan tahun 1985, bahwa sebelum mengajukan
tuntutan, JPU harus mengajukan rencana tuntutan.
Pasal 182 ayat (1) huruf a KUHAP memang tidak menyinggung adanya kewajiban
penyampaian rentut kepada atasan penuntut umum, rumusan pasal tersebut menyebutkan
“Setelah pemeriksaan dinyatakan selesai, penuntut umum mengajukan tuntutan pidana”.
Dari redaksi Pasal 182 KUHAP ini, maka dapat dikatakan bahwa sesungguhnya prosedur
rentut merupakan kebijakan internal kejaksaan. Menurut mantan wakil jaksa agung
Basrief Arief,8 sehubungan dengan rentut dalam praktiknya alur rentut diawali dengan
pendapat Jaksa Penuntut Umum selaku pihak yang terjun langsung ke lapangan sehingga
mengetahui dinamika persidangan, kemudian rentut secara berjenjang mengalir terus
hingga ke Jaksa Agung setelah melalui Kepala Seksi bidang teknis, apakah bidang pidana
umum atau khusus pada Kejaksaan Negeri dan Kejaksaan Tinggi. Jadi ketika sudah di
tangan Jaksa Agung, tentunya sudah dipertimbangkan tidak hanya aspek yuridisnya tetapi
juga dilihat sosiologis, kultural dan bahkan ekonomi.
Pengajuan rentut tersebut dilakukan secara berjenjang, dari Jaksa kepada Kepala
Seksi di Kejaksaan dan seterusnya, akibatnya pemberian besaran hukuman menjadi sangat
subyektif di setiap tingkatan, subyektifitas inilah yang membuka peluang terjadinya
penyalahgunaan wewenang. Berangkat dari pemikiran tersebut, sehingga wacana untuk
menghilangkan prosedur rentut tersebut mulai dibicarakan dan didiskusikan, bahkan Jaksa
Agung Basrief Arief pun sendiri setuju dengan rencana penghapusan atau peniadaan rentut,
namun harus dilakukan secara bertahap agar nantinya tidak kaget. Dengan meniadakan
mekanisme yang mengharuskan JPU menanti rentut dari pimpinan Kejaksaan sebelum
menyusun surat tuntutan, maka alur pembuatan tuntutan bisa diperpendek dan lebih
7 H.M.A. Kuffal, Penerapan KUHAP Dalam Praktik Hukum, (Malang: UMM Press, 2005), hlm
376.
8 Pada saat penulisan, Basrief Arief menjabat sebagai Jaksa Agung.
376 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
menghemat waktu. Selain itu, para JPU nantinya bisa lebih mandiri dalam mengangani
suatu kasus.9
Penghapusan rentut, maka proses peradilan akan berjalan lebih cepat, artinya
jadwal persidangan akan dapat diatur, sebab selama ini rentut sangat menghambat proses
persidangan. Karena biasanya sebelum sidang pembacaan tuntutan, JPU harus meminta
atasannya menyetujui tuntutan terlebih dahulu, bahkan ada sidang yang sampai tertunda
karena rentut sepuluh kali bolak-balik dari JPU ke atasannya.
Pada tahun 2010, Jaksa Agung menerbitkan SEJA Nomor 003/A/JA/2010 tanggal
25 Februari 2010 tentang Pedoman Tuntutan Pidana Perkara Tindak Pidana Korupsi, yang
pada intinya dibuat untuk mencegah atau meminimalisir disparitas tuntutan pidana perkara
tindak pidana korupsi sehingga diatur mengenai tolak ukur tuntutan pidana berdasarkan
jumlah kerugian negara yang ditimbulkan oleh perbuatan Terdakwa serta pengembalian
kerugian negara tersebut. Selanjutnya pada tahun 2011, diterbitkan pula SEJA Nomor:
SE-013/A/JA/12 /2011 tanggal 29 Desember 2011 tentang Pedoman Tuntutan Pidana
Perkara Tindak Pidana Umum, yang pada intinya memberikan pedoman kepada Jaksa
sebagai Penuntut Umum dalam memberikan tuntutan pidana.
Surat edaran tersebut memberikan delegasi kepada Kepala Kejaksaan Negeri dalam
mengendalikan rencana tuntutan pidana. Walaupun terdapat penyederhanaan karena
terhadap perkara kecuali tuntutan bebas/lepas dari segala tuntutan, percobaan, seumur
hidup atau pidana mati, dan terhadap perkara tindak pidana umum tertentu jenjang
pengajuan rentutnya hanya sampai pada tingkat Kepala Kejaksaan Negeri, namun hal
tersebut masih mengandung unsur intervensi pihak lain (pimpinan) terhadap Jaksa yang
menangani suatu perkara.
Dari aspek normatif, tidak mengenal atau tidak diatur tentang adanya mekanisme
pengajuan rentut, mengenai surat tuntutan hanya diatur pada Pasal 182 ayat (1) huruf
a dan c KUHAP, mekanisme rentut adalah kebijakan yang dibuat oleh Jaksa Agung
selaku pemegang kendali tugas penuntutan dalam sistem peradilan pidana. Kewenangan
penuntutan oleh Jaksa Agung kemudian didelegasikan oleh jajaran di bawahnya, yaitu
Kepala Kejaksaan Tinggi dan Kepala Kejaksaan Negeri, sehingga mekanisme pengajuan
rentut dari Penuntut Umum harus kepada Kepala Kejaksaan Negeri dan pada perkaraperkara tertentu, kepada Kepala Kejaksaan Tinggi atau Jaksa Agung. Adanya intervensi
pimpinan terhadap penentuan Tuntutan Pidana tersebut, merupakan gangguan terhadap
independensi Penuntut Umum dalam dalam penyusunan Surat Tuntutan.
9 Sebagaimana dikutip pada laman website: http://www.detiknews.com/basrief-peniadaan-rentutakan-dilakukan-secara-bertahap diunduh pada Senin, 5 Nopember 2012.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
377
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka selanjutnya Penulis
merumuskan permasalahan yakni, bagaimanakah pengaruh mekanisme rencana tuntutan
terhadap independensi penuntut umum dalam menyusun surat tuntutan?
METODE PENELITIAN
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan beberapa kantor kejaksaan negeri dalam wilayah hukum
Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, yaitu Kejaksaan Negeri Makassar, Kejaksaan Negeri
Maros, Kejaksaan Negeri Pangkajene, Kejaksaan Negeri Barru dan Kejaksaan Negeri
Parepare. Pemilihan lokasi tersebut dilakukan untuk mempermudah Peneliti melakukan
penelitian pada area populasi yang luas.
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi penelitian ini adalah profesi Jaksa (Penuntut umum) pada wilayah hukum
Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan. Metode pengambilan sampel akan dilakukan secara
probability sampling jenis area/cluster sampling10 dengan pertimbangan bahwa dapat
mewakili populasi yang ada.
Jumlah populasi Jaksa pada wilayah hukum Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan
adalah 393 orang.11 Peneliti mengambil sampel kurang lebih sebanyak 10% dari populasi,
sehingga jumlah responden yang akan dimintai keterangan kurang lebih sebanyak 40
orang. Sedangkan informan yang dibutuhkan sebagai pemberi tanggapan berasal dari
profesi Hakim dan Pengacara yang mewakili Terdakwa.
Jenis dan Sumber Data
Adapun jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a) Data primer,
adalah informasi/data yang diperoleh langsung melalui wawancara kepada para responden
dan informan; dan b) Data sekunder, adalah data yang diperoleh melalui literatur-literatur
hukum dan perundang-undangan, internet atau bahan yang erat kaitannya dengan
permasalahan yang di kaji. Sedangkan sumber data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah: a) Penelitian pustaka, yaitu menelaah berbagai buku pustaka. Karya ilmiah
yang ada hubungannya dengan obyek penelitian; b) Peraturan perundang-undangan
10 Teknik ini didasarkan bahwa semua elemen dalam populsi mendapat kesempatan yang sama dengan
kondisi area yang luas. Bambang Sunggono. Metodelogi Penelitian Hukum, (Jakarta. PT. Raja Grafindo
Persada, 2006), hlm. 31.
11 Jumlah Jaksa lingkup wilayah Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan Periode Desember 2012, Data
diperoleh dari Kejaksaan Tinggi Sulsel Bidang Pembinaan.
378 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
yang berlaku; c) Penelitian lapangan yaitu pengumpulan data dengan mengamati secara
sistematis terhadap fenomena-fenomena yang berhubungan dengan penelitian; dan d)
Internet research, yaitu mengumpulkan data-data maupun tulisan-tulisan kritis yang
memiliki hubungan dengan materi penulisan ini.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut: a) Wawancara, yaitu pengumpulan data secara langsung dalam bentuk tanya jawab
dengan responden berdasarkan suatu pedoman wawancara; dan b) Studi dokumentasi,
yaitu pengumpulan data dengan mempelajari berbagai dokumen, peraturan perundangundangan dan penelaahan literatur-literatur yang relevan dengan penelitian ini.
Analisis Data
Dari semua data yang terkumpul, baik dari data primer maupun dari data sekunder
diolah dan dianalisis serta disajikan secara deskriptif untuk menjawab permasalahan
penelitian, sekaligus solusinya.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pengaruh Mekanisme Rencana Tuntutan terhadap Independensi Penuntut Umum
dalam Menyusun Surat Tuntutan
Prinsip Kemandirian Penuntut Umum
Pelaksanaan penegakan hukum dalam lingkup Criminal Justice System tidak
terlepas dari Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan dan Lembaga Pemasyarakatan. Khusus
mengenai kewenangan di bidang penuntutan, adalah Kejaksaan sebagai lembaga satusatunya yang mempunyai kewenangan tersebut dalam sistem hukum nasional kita,
keberadaan Kejaksaan sebagai lembaga penuntutan dapat dilihat pada:
a. Pasal 24 ayat (2) dan (3) UUD NRI 1945 yang mengatur secara implisit keberadaan
Kejaksaan RI dalam sistem ketatanegaraan sebagai badan yang terkait dengan
kekuasaan kehakiman.
b. Pasal 41 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman,
yang menyatakan, “Badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan
kehakiman meliputi Kepolisian Negara Republik Indonesia, Kejaksaan Republik
Indonesia, dan badan-badan lain diatur dalam undang-undang”.
c. Pasal 1 butir (13) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana yang menegaskan bahwa Penuntut Umum adalah
Jaksa yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk melakukan penuntutan.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
379
d. Pasal 2 UUKRI yang menempatkan posisi dan fungsi Kejaksaan dengan karakter
spesifik dalam sistem ketatanegaraan yaitu sebagai lembaga pemerintah yang
melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan secara bebas dari pengaruh
kekuasaan pihak manapun.
Tujuan penuntutan dari hukum acara pidana adalah untuk mencari dan mendapatkan
atau setidak-tidaknya mendekati kebenaran materiil, ialah kebenaran yang selengkaplengkapnya dari suatu perkara pidana dengan menempatkan ketentuan hukum acara pidana
secara jujur dan tepat dengan tujuan untuk mencari siapakah pelaku yang didakwakan
melakukan tindak pidana dan selanjutnya meminta pemeriksaan dan putusan dari
pengadilan guna menentukan apakah orang yang didakwa itu dapat dinyatakan bersalah,
disamping hukum acara pidana khususnya dalam penuntutan juga bertujuan melindungi
hak asasi tiap individu baik yang menjadi korban maupun si pelanggar hukum.
Berkaitan dengan tugas yang diemban oleh Jaksa sebagai Penuntut Umum,
maka eksistensi Surat Tuntutan merupakan bagian penting dalam proses hukum acara
pidana. Putusan hakim di dalam perkara pidana dibatasi pula oleh apa yang didakwakan
Penuntut Umum. Idealnya ialah hakim tidak boleh memutus di luar yang didakwakan
oleh Penuntut Umum, perbuatan yang sungguh-sungguh terjadi didakwakan dan itu pula
yang dibuktikan, oleh karena itu kebebasan atau kemerdekaan hakim memutus perkara
pidana tergantung pula pada bebas atau merdeka tidaknya penuntut umum.12 Jika jaksa
tidak independen dalam penuntutan, maka hakimpun menjadi tidak independen, karena
putusannya tergantung apa yang didakwakan jaksa.13
Kemandirian dibutuhkan untuk menghindari intervensi pemerintah dalam kebijakan
penuntutan, karena itu kebijakan harus murni dilandasi oleh kepentingan law enforcement.
Sebagaimana diungkapkan ahli hukum tata negara Belanda Thorbecke bahwa penuntutan
hukum pidana tidak boleh merupakan sebilah pedang dalam tangan pemerintahan
politis atau administrasi, yang menurut pandangan pemerintahan itu harus diayunkan
atau ditinggalkan dalam sarungnya.14 Menurut Simarsita,15 ruang lingkup kemandirian
kejaksaan terdiri atas tiga, yaitu:
1. Kemandirian institusional, yaitu kemandirian yang berkaitan dengan Kejaksaan
sebagai suatu lembaga.
2. Kemandirian personal, yaitu kemandirian yang behubungan dengan Jaksa Agung
12 Andi Hamzah, Kemandirian dan kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman. Makalah. Disampaikan
dalam seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII, BPHN, Depkumham, Denpasar, 14-18 Juli 2003.
13 Ibid.
14 BD. Simarsita. Posisi Kejaksaan dalam Sistem Peradilan Pidana yang Lebih Menjamin Perwujudan
Keadilan dan Kepastian Hukum. (Jakarta: Puslitbang Kejaksaan Agung RI, 2000), hlm. 71.
15 Ibid
380
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
sebagai pimpinan institusi.
3. Kemandirian fungsional, yaitu kemandirian berkenaan dengan tugas Jaksa sebagai
Penuntut Umum.
Kemandirian institusional memposisikan Kejaksaan bukan lagi berada di bawah
eksekutif, karena itu kejaksaan bukan lagi lembaga pemerintahan, tetapi sebagai lembaga
negara yang independen yang melaksanakan kekuasaan negara terutama di bidang
penuntutan.
Kemandirian personal menjadikan Jaksa Agung tidak lagi berada di bawah
kontrol kekuasaan eksekutif, dengan demikian pengangkatan, pemberhentian dan
pertanggungjawaban bukan kepada presiden. Sebaiknya pengangkatan dan pemberhentian
Jaksa Agung dilakukan oleh Kepala Negara atas usul Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
serta bertanggungjawab kepada DPR pula. Kemandirian ini harus dijamin oleh konstitusi
dan undang-undang.
Kemandirian fungsional menjadikan Jaksa bebas dalam melaksanakan fungsinya
sebagai Penuntut Umum. Jaksa tidak lagi sebagai tukang yang hanya menjalankan perintah
atasannya, untuk mencegah adanya penyimpangan, maka perlu dilakukan pengawasan
yang ketat dan sanksi yang berat. Dengan demikian akan terbentuk Jaksa yang profesional
dan bertanggung jawab.
Penulis sependapat dengan apa yang dikemukakan oleh BD. Simarsita, kemandirian
lembaga Kejaksaan bukan hanya mengenai kemandiriannya sebagai lembaga ataupun
kemandirian Jaksa Agung sebagai pimpinannya, tapi yang tidak kalah penting adalah
kemandirian jaksa dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, bukan hanya bebas
dari pengaruh luar tapi dalam konteks pelaksanaan fungsionalnya juga harus bebas
dari pengaruh atau intervensi dari dalam institusinya termasuk Pimpinannya. Adanya
mekanisme rencana tuntutan yang mengatur tuntutan pidana ditentukan oleh Pimpinan
adalah merupakan bentuk intervensi nyata terhadap kemandirian Penuntut Umum dalam
melakukan Tuntutan Pidana.
Mekanisme Rencana Tuntutan sebagai Intervensi Pimpinan terhadap Penuntut Umum
Pendapat Responden mengenai setuju atau tidaknya penghapusan mekanisme rentut
sebagaimana pada uraian dalam sub bab sebelumnya, berbanding lurus dengan pendapat
responden tentang pengaruhnya terhadap independensi mereka, yang dapat dilihat dari
tabel berdasarkan hasil penelitian berikut:
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
381
Tabel 3. Pengaruh Rentut terhadap independensi Penuntut Umum dalam menyusun
Surat Tuntutan
No.
Pengaruh Rentut
Jumlah
Persentase (%)
1.
Rentut mempengaruhi independensi
5
11,9
2.
Rentut tidak mempengaruhi independensi
37
88,1
Total
42
100
Sumber: Hasil olah data primer, April 2013.
Dari jumlah sampel 42 orang Penuntut Umum, 37 orang diantaranya atau 88,1 %
menyatakan rentut mempengaruhi independensi mereka dalam menyusun Surat Tuntutan,
sedangkan selebihnya yaitu 5 orang atau 11,9 % menyatakan rentut tidak mempengaruhi
independensi mereka dalam menyusun Surat Tuntutan. Salah satu penyebab Penuntut
Umum merasa mekanisme rentut mempengaruhi independensi adalah karena hal tersebut
dinilai merupakan bentuk intervensi pimpinan terhadap pelaksanaan tugas Penuntut
Umum, hal ini disebabkan karena:
a. Adanya kepentingan pimpinan dalam perkara tersebut;
b. Pimpinan terkadang mengabaikan pertimbangan Penuntut Umum, saran dan
pendapat Penuntut Umum tidak diakomodir;
c. Adanya moral pimpinan yang tidak percaya dan selalu mencurigai Penuntut Umum
apabila menuntut dengan tuntutan pidana yang ringan.
Berat ringannya Tuntutan Pidana seharusnya menjadi kewenangan Penuntut Umum
karena Penuntut Umumlah yang mengetahui jalannya persidangan serta hal-hal yang
berkembang dalam perkara tersebut, tetapi justru tuntutan pidananya ditentukan oleh
Pimpinan. Sebagai pembanding, peneliti juga mengambil keterangan dari pihak lain dalam
hal ini adalah profesi Hakim yang merupakan satu kesatuan dengan Penuntut Umum
dalam Sistem Peradilan Pidana. Yuswardi,16 selaku Ketua Pengadilan Negeri Parepare
memberikan pendapatnya mengenai mekanisme rentut ini:
Penuntut Umum dalam melaksanakan tugas penuntutan sejatinya harus mandiri,
lepas dari bentuk pengaruh dari luar maupun dalam (instansinya), adanya
mekanisme rentut yang kami pahami sebagai penentuan tuntutan pidana oleh
pimpinan Jaksa sebagai Penuntut Umum adalah bentuk intervensi yang mengganggu
kemandiriannya, karena Penuntut Umumlah yang mengetahui jalannya persidangan,
bukan pimpinannya. Jika kemandirian Penuntut Umum dalam membuat Tuntutan
Pidana telah dimiliki otomatis juga menciptakan kemandirian Hakim dalam
menjatuhkan Putusan karena Putusan Hakim mempertimbangkan Tuntutan Pidana
oleh Penuntut Umum.
16 Wawancara, tanggal 10 April 2013 di Kantor Pengadilan Negeri Parepare.
382 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Selanjutnya, salah seorang responden Penuntut Umum dalam wawancara dengan
Penulis pada April 2013 di salah satu kantor Kejaksaan Negeri menuturkan:
Saya pernah menangani suatu perkara kepemilikan senjata tajam, pada saat selesai
proses pemeriksaan persidangan, kemudian Saya menimbang masak-masak dengan
seadil-adilnya mengenai tuntutan pidana yang layak untuk Terdakwa, waktu itu
Saya berpendapat untuk menuntut pidana penjara 2 bulan, namun setelah pengajuan
rentut ke Kajari, beliau berpendapat 2 bulan sangatlah ringan dengan alasan biasanya
di tempat tugas beliau sebelumnya perkara sejenis dituntut 6 bulan ke atas.
Fenomena bahwa mekanisme rentut mempengaruhi independensi Penuntut Umum
khususnya dalam menyusun Surat Tuntutan terjadi karena dalam prakteknya memang
dengan adanya mekanisme tersebut, Tuntutan Pidana ditentukan oleh Pimpinan, bukan
oleh Penuntut Umum yang justru lebih mengetahui latar belakang perkara dan hal – hal
yang menjadi pertimbangan untuk berat ringannya tuntutan pidana yang akan diberikan
kepada Terdakwa.
Mekanisme Rencana Tuntutan Tidak Sejalan dengan Nurani Penuntut Umum
Kemandirian seseorang berhubungan langsung dengan pendapat dari hati nuraninya,
ketika yang dilakukan tidak sesuai dengan apa yang akan dilakukan yang berasal dari hati
nurani, maka disaat itulah kemandirian tidak ada lagi.
Salah seorang Responden dari Penuntut Umum yang diwawancarai Penulis pada
sekitar bulan April 2013 di salah satu kantor Kejaksaan Negeri, mengungkapkan bahwa
pedoman tuntutan pidana perkara tindak pidana umum yang diatur dalam SEJA nomor
013 /A /JA /12 /2011 tanggal 29 Desember 2011 tidak sesuai dengan nilai-nilai keadilan
yang berasal dari hati nurani, Responden mencontohkan tentang aturan tuntutan pidana
untuk tindak pidana pengrusakan barang yang diancam dan diatur dalam Pasal 406
KUHP, dalam praktek selama ini untuk perkara pengrusakan barang terutama apabila nilai
kerugian terbilang kecil maka Penuntut Umum akan menuntut dengan pidana percobaan
tanpa mengajukan rentut ke tingkat Kejati atau Kejagung. Namun dalam SEJA No. 013/A/
JA/12/2011 telah ditentukan bahwa pidana percobaan hanya boleh dilakukan dengan izin
pimpinan (Kajati atau Jaksa Agung), pidana penjara yang boleh diterapkan untuk tindak
pidana ini adalah paling ringan sampai dengan 5 bulan, itupun dengan catatan tidak ada
hal yang memberatkan.
Namun dalam praktiknya, sangat kecil kemungkinan mendapati Terdakwa tanpa hal
yang memberatkan, berdasarkan aturan tersebutlah Responden Penuntut Umum tersebut
terpaksa mengabaikan pertimbangan hati nuraninya, dengan memberikan tuntutan pidana
penjara kepada Terdakwa karena walaupun seandainya Penuntut Umum akan menuntut
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
383
hukuman percobaan maka dia harus mengajukan rentut setidaknya ke tingkat Kajati yang
tentu saja menyita waktu lama, dengan mengajukan dalil-dalil yang dapat meyakinkan
pimpinan yang tidak menutup kemungkinan Penuntut Umum akan dicurigai melakukan
“permainan”.
Pengalaman di atas menunjukkan bahwa mekanisme rentut pada umumnya telah
mengganggu kemandirian Penuntut Umum dalam menyusun Surat Tuntutan karena
Penuntut Umum terpaksa mengabaikan hati nuraninya demi mematuhi perintah atasan.
Sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa amar tuntutan pidana yang
dibacakan Penuntut Umum adalah hasil persetujuan atau pendapat dari pimpinan dengan
melalui mekanisme rentut, yang ada kalanya pimpinan sependapat dengan pendapat
Penuntut Umum (confirm) tetapi tidak jarang juga pimpinan tidak sependapat dengan
pendapat Penuntut Umum, berdasarkan hasil penelitian dengan mewawancarai responden
Penuntut Umum, adanya perbedaan pendapat tersebut disebabkan karena beberapa faktor,
yaitu:
1. Pimpinan yang kurang memahami latar belakang perkara serta kebiasaan yang
berkembang di masyarakat setempat,
2. Kecurigaan pimpinan terhadap penuntut umum, bahwa Penuntut Umum melakukan
manipulasi pendapat atau penyalahgunaan wewenang,
3. Pimpinan terlalu kaku menjalankan aturan atau pedoman tuntutan pidana.
Melengkapi penelitian ini, Penulis juga mengumpulkan keterangan dari Para
Responden mengenai kendala-kendala yang terjadi dalam pelaksanaan mekanisme rentut
tersebut, yaitu:
1. Mekanisme rentut membutuhkan waktu yang lama, bila rentut pada tingkat Kajari
mulai dari Penuntut Umum menghadap pimpinan dan menunggu pimpinan memberi
pendapat apabila pimpinan kebetulan tidak berada di kantor, sedangkan untuk
tingkat Kajati atau Jaksa Agung akan memakan waktu yang lebih lama lagi karena
setelah melewati proses sampai Kajari, Penuntut Umum mengirimnya ke Kajati /
Jaksa Agung melalui faximile kemudian hasilnya ditunggu, menurut pengalaman
para responden biasa memakan waktu 2 minggu lebih;
2. Mekanisme rentut merupakan bentuk intervensi pimpinan terhadap kemandirian
Penuntut Umum, hal ini disebabkan karena:
a. Adanya kepentingan pimpinan dalam perkara tersebut;
b. Pimpinan terkadang mengabaikan pertimbangan Penuntut Umum, saran dan
pendapat Penuntut Umum tidak diakomodir;
384 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
c. Adanya moral pimpinan yang tidak percaya dan selalu mencurigai Penuntut
Umum apabila menuntut dengan tuntutan pidana yang ringan;
3. Berat ringannya Tuntutan Pidana seharusnya menjadi kewenangan Penuntut
Umum karena Penuntut Umumlah yang mengetahui jalannya persidangan serta
hal-hal yang berkembang dalam perkara tersebut, tetapi justru tuntutan pidananya
ditentukan oleh pimpinan;
4. Pedoman tuntutan pidana yang diatur dalam SEJA Nomor 013/A/JA/12/2011 yang
tidak sesuai dengan hati nurani Penuntut Umum, misalnya apabila Penuntut Umum
akan menuntut dengan pidana percobaan maka harus meminta persetujuan Kajati
atau Jaksa Agung, demikian juga pengkategorian penentuan tuntutan yang dinilai
Penuntut Umum sangat berat bila diterapkan.
Berdasarkan data tersebut di atas, maka mekanisme rentut yang pada awalnya
dimaksudkan untuk memperbaiki kinerja Penuntut Umum dan mencegah terjadinya
penyimpangan-penyimpangan dalam penyusunan tuntutan pidana pada kenyataan dan
pelaksanaannya menyebabkan Penuntut Umum tidak independen yang menurut Penulis
independensi atau kemandirian itu sendiri menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan
pelaksanaan suatu penuntutan.
Tidak menutup kemungkinan akan terjadi masalah baru manakala seandainya
mekanisme rentut ini dihilangkan, salah satunya adalah abuse of power oleh oknum
Penuntut Umum karena hal tersebut dapat dijadikan celah oleh oknum untuk mengadakan
tawar menawar Tuntutan Pidana dengan Terdakwa, namun menurut Penulis, terhadap
hal tersebut perlulah dilakukan penelitian yang lebih mendalam tentang mengapa terjadi
Penuntut Umum yang bermental demikian (hal ini di luar ruang lingkup penelitian
Penulis), sehingga dapat ditemukan solusi untuk mengatasi hal tersebut tetapi dengan
tidak mengusik independensi yang sejatinya melekat pada diri seorang Penuntut Umum.
Dalam teori peranan sistem hukum yang dikemukakan oleh Lawrence M. Friedmann,
bahwa setiap sistem hukum mengandung tiga unsur yang mempengaruhi, yaitu structure
(struktur), substance (substansi) dan legal culture (budaya hukum) dalam sebuah
masyarakat.
Selanjutnya, dijelaskan oleh Friedmann bahwa struktur dari sistem hukum juga terdiri
dari lembaga hukum yang dimaksudkan untuk menjalankan perangkat hukum yang ada,
dengan kata lain, struktur sistem hukum adalah diibaratkan sebagai mesin penggerak bagi
majunya roda-roda yang hendak digerakkan. Banyak yang harus dibenahi dalam kerangka
reformasi terhadap struktur hukum, misalnya menyangkut pembenahan kedudukan
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013 385
Hakim, Jaksa dan Pengacara, meskipun hanya menyangkut gaji dan tunjangan yang perlu
dinaikkan. Ada pula yang mengusulkan untuk memulainya dari institusi hukum yang
paling tinggi yaitu Makhamah Agung.17 Sedangkan menurut Yudi Kristianadi, mengenai
aspek struktur atau kelembagaan hukum adalah UUKRI dan peraturan internal Kejaksaan
dengan karakter yaitu bercorak birokratis, sentralistik, manganut pertanggungjawaban
hierarkis dan berlaku sistem komando.18
Mekanisme rentut yang berlaku saat ini dalam internal Kejaksaan adalah sebagai imbas
karakteristik lembaga Kejaksaan yang tersentralisasi dengan sistem pertanggungjawaban
secara hierarkis terkomando, yang merupakan ciri dari lembaga Kejaksaan pada sistem
peradilan Eropa Kontinental. Jaksa Agung adalah sebagai pimpinan dan penanggungjawab
tertinggi dalam kebijakan penuntutan, karena sesungguhnya yang mempunyai wewenang
penuntutan adalah Jaksa Agung yang sepenuhnya merumuskan dan mengendalikan arah
dan kebijakan penanganan perkara. Jaksa dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya
bertindak untuk dan atas nama negara serta bertanggungjawab hierarkinya, sehingga
tidaklah salah apabila Jaksa Agung berwenang untuk dapat sepenuhnya merumuskan dan
mengendalikan arah serta kebijakan penanganan perkara untuk keberhasilan penuntutan
dalam hal ini mekanisme rentut. Sehingga kedudukan lembaga Kejaksaan sebagai elemen
dalam struktur pada sistem penegakan hukum harus terjaga profesionalitas maupun
kemandiriannya baik kemandiriannya sebagai suatu lembaga, kemandirian Jaksa Agung
sebagai pimpinan institusi serta kemandirian fungsional yang ada pada Jaksa sebagai
Penuntut Umum.
Adapun yang dimaksud dengan substansi adalah aturan, norma dan pola perilaku
nyata manusia yang berada dalam sistem itu. Jadi substansi dalam sistem hukum
menyangkut peraturan perundang-undangan yang berlaku yang memiliki kekuatan yang
mengikat dan menjadi pedoman bagi aparat penegak hukum. Substansi hukum juga dapat
berupa produk yang dihasilkan oleh orang yang berada dalam sistem tersebut, mencakupi
keputusan yang mereka keluarkan dan aturan baru yang mereka susun. Substansi juga
mencakupi living law (hukum yang hidup) dan bukan hanya aturan yang ada dalam kitab
undang-undang (law in the books).19
Substansi yang dimaksud dalam bahasan Penulis adalah produk yang dihasilkan
oleh orang yang berada dalam sistem hukum dalam hal ini aturan mengenai mekanisme
17 Lawrence M. Friedmann, American Law an Introduction, Hukum Amerika Sebuah Pengantar,
sebagaimana disadur oleh Wishnu Basuki, (New York: WW. Norton and Company, 1984), hlm. 189-190.
18 Yudi Kristiana. Independensi Kejaksaan dalam Penyidikan Korupsi, (Bandung: PT. Citra Aditya
Bakti, 2006), hlm. 171.
19 Adang & Anwar Yesmil, Pembaharuan Hukum Pidana, Jakarta: Kompas Gramedia, 2008, hlm. 202
386 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
rentut, bahwa mekanisme rentut adalah salah satu kebijakan yang dikeluarkan oleh Jaksa
Agung sebagai pemegang kendali tugas penuntutan, tentunya aturan tersebut dibuat
dengan harapan dapat menunjang keberhasilan penuntutan demi tercapainya keadilan
dalam penegakan hukum. Harapan tersebut dapat tercapai dengan baik manakala ditunjang
dengan pelaksanaan yang profesional.
Budaya hukum merupakan sikap manusia (termasuk budaya hukum aparatur
penegak hukumnya) terhadap hukum dan sistem hukum. Sebaik apapun penataan struktur
dalam sistem hukum untuk menjalankan aturan hukum yang telah di tetapkan dan sebaik
apapun kualitas substansi hukum yang dibuat tanpa didukung dengn budaya hukum oleh
elemen-elemen dalam sistem hukum tersebut, maka penegakan hukum tidak akan berjalan
ideal.
Keberhasilan suatu penegakan hukum sangat ditentukan oleh budaya hukum aparatur
penegaknya, demikian pula dalam menjalankan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan
oleh Jaksa Agung untuk keberhasilan tugas penuntutan dalam hal ini adalah mekanisme
rentut sangat ditentukan oleh cara bertindak jajarannya, yaitu pimpinan-pimpinan di
setiap tingkatan juga termasuk Jaksa sebagai Penuntut Umum. Dalam hal ini perilaku
pimpinan-pimpinan yang “berkepentingan” mengintervensi Tuntutan Pidana Penuntut
Umum, budaya pimpinan yang selalu mencurigai bawahannya (Jaksa sebagai Penuntut
Umum) “bermain” manakala Penuntut Umum memberikan Tuntutan Pidana yang ringan,
demikian pula perilaku Penuntut Umum yang menyalahgunakan kewenangannya untuk
meraup keuntungan, adalah budaya hukum yang sangat tidak diharapkan karena dapat
merusak sistem hukum yang telah ditata dengan baik untuk menegakkan keadilan dalam
sistem peradilan.
PENUTUP
Kesimpulan
Bertolak dari perumusan masalah serta uraian hasil penelitian yang dikemukakan di
atas, maka Penulis menyimpulkan sebagai berikut:
1. Surat Edaran JaksaAgung (SEJA) yang mengharuskan mekanisme rentut sebagaimana
diatur dalam SEJA Nomor 9 Tahun 1985 sebagaimana telah disempurnakan dalam
SEJA Nomor 003/A/JA/2010 tanggal 25 Februari 2010 tentang Pedoman Tuntutan
Pidana Perkara Tindak Pidana Korupsi dan SEJA Nomor 013/A/JA/12/2011 tanggal
29 Desember 2011 tentang Pedoman Tuntutan Pidana Perkara Tindak Pidana
Umum, dibuat dengan maksud sebagai kontrol dan pengawasan pelaksanaan
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
387
pedoman tuntutan pidana oleh Penuntut Umum agar tercipta tuntutan pidana yang
adil dan layak bagi Terdakwa sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Namun dalam
pelaksanaannya, tujuannya untuk menciptakan tuntutan pidana yang adil dan layak
belum sepenuhnya terwujud. Secara yuridis, mekanisme rentut tidak diatur dalam
perundang-undangan, bukan merupakan hukum, melainkan adalah suatu himbauan
pimpinan dalam hal ini Jaksa Agung kepada bawahannya, sehingga keberadaannya
tidak menjadi kewajiban untuk diikuti tetapi menjadi suatu pedoman. Namun secara
sosiologis, keberadaannya menjadi suatu perintah pimpinan yang harus dipatuhi,
karena posisi Jaksa Agung sebagai pemegang kendali tugas penuntutan dalam
hierarki kelembagaan serta prinsip een en ondelbaar “Kejaksaan satu dan tidak
terpisahkan”.
2. Kemandirian lembaga Kejaksaan bukan hanya mengenai kemandiriannya sebagai
lembaga ataupun kemandirian Jaksa Agung sebagai pimpinannya, tapi juga
kemandirian jaksa dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, bukan hanya
bebas dari pengaruh luar tapi dalam konteks pelaksanaan fungsionalnya juga harus
bebas dari pengaruh atau intervensi dari dalam institusinya termasuk Pimpinannya.
Mekanisme rencana tuntutan mempengaruhi independensi Penuntut Umum dalam
penyusunan Surat Tuntutan karena dalam pelaksanaannya menjadi intervensi
pimpinan terhadap Penuntut Umum yang idealnya harus independen karena dalam
penanganan suatu perkara, Penuntut Umumlah yang mengetahui seluk beluk perkara
serta jalannya persidangan sehingga lebih dapat menilai tuntutan pidana yang
layak dan adil untuk Terdakwa. Selain itu mekanisme rentut itu sendiri terkadang
tidak sesuai dengan hati nurani Penuntut Umum. Dengan demikian keadilan serta
independensi Penuntut Umum dalam penyusunan Surat Tuntutan dapat terwujud.
Saran
Menanggapi permasalahan dan hasil penelitian ini, Penulis menyampaikan beberapa
saran, yaitu:
1. Pendelegasian kewenangan penuntutan hendaknya langsung kepada Penuntut
Umum agar independensi tugas penuntutan dapat terwujud.
2. Untuk mendukung pelaksanaan keberhasilan tugas penuntutan yang independen
tersebut, perlu dilakukan peningkatan kualitas terhadap Jaksa, baik secara
intelektual maupun akhlak. Dimulai dari kuaalitas proses penerimaan calon Jaksa,
kualitas pendidikan, pelatihan dan pembentukan Jaksa serta pelaksanaan pelatihanpelatihan teknis yang berkualitas yang berkaitan dengan tugas penuntutan.
388
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
3. Mekanisme rentut ditiadakan dengan membuat kebijakan baru yang fungsinya tetap
untuk mengontrol dan mengawasi kinerja Jaksa sebagai Penuntut Umum tetapi
tanpa melakukan intervensi terhadap berat ringannya tuntutan pidana yang akan
dijatuhkan, misalkan yang selama ini telah berjalan yaitu gelar perkara terbuka
secara internal sehingga pimpinan mempunyai tolak ukur dan penilaian terhadap
tuntutan pidana dalam perkara tersebut, ketika terindikasi ada penyimpangan oleh
Penuntut Umum, langsung diperiksa dan diberi sanksi tegas yang memberi efek
jera.
4. Pedoman Tuntutan Pidana, sebagaimana yag telah tertuang dalam SEJA tetap
diperlukan sebagai tolak ukur pemberian Tuntutan Pidana dari Penuntut Umum dan
menghindari disparitas, sehingga menghasilkan Tuntutan Pidana yang layak dan
adil kepada Terdakwa.
5. Kalaupun mekanisme rentut tidak dapat dihapuskan, maka:
a. Pemegang delegasi kewenangan penuntutan yang saat ini masih ada pada Kepala
Kejaksaan Negeri ataupun Kepala Kejaksaan Tinggi, tidak lagi melakukan
intervensi terhadap penentuan berat ringannya tuntutan pidana, fungsinya hanya
sebatas fungsi kontrol dan pengawasan
b. Untuk menghindari mekanisme rencana tuntutan yang berlarut-larut dan
memakan waktu yang tidak singkat, maka perlu dilakukan penyederhanaan
birokrasi yang lebih efesien dan efektif dengan memanfaatkan kemajuan
teknologi dan informasi.
DAFTAR PUSTAKA
Adang dan Anwar Yesmil, 2008. Pembaharuan Hukum Pidana, Jakarta: Kompas
Gramedia.
Andi Hamzah, 2010. Hukum Acara Pidana Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika.
Bambang Sunggono. 2006. Metodelogi Penelitian Hukum, Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
BD. Simarsita. 2000. Posisi Kejaksaan dalam Sistem Peradilan Pidana yang Lebih
Menjamin Perwujudan Keadilan dan Kepastian Hukum. Jakarta: Puslitbang
Kejaksaan Agung RI.
H.M.A. Kuffal, 2005. Penerapan KUHAP dalam Praktik Hukum, Malang: Universitas
Muhammadiyah Malang Press.
Lawrence M. Friedmann, 1984. American Law an Introduction, Hukum Amerika Sebuah
Pengantar, sebagaimana disadur oleh Wishnu Basuki, New York: WW. Norton and
Company.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
389
Yudi Kristiana. 2006. Independensi Kejaksaan dalam Penyidikan Korupsi, Bandung: PT.
Citra Aditya Bakti.
Sumber lainnya:
Andi Hamzah, 2003. Kemandirian dan kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman. Makalah.
Disampaikan dalam seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII, BPHN,
Depkumham, Denpasar, 14-18 Juli 2003.
Detik News. 2012. Dikutip pada laman website: http://www.detiknews.com/basriefpeniadaan-rentut-akan-dilakukan-secara-bertahap diunduh pada Senin, 5 Nopember
2012.
Kemerdekaan Profesionalisme Jaksa sebagai Penuntut Umum: Analisis Terhadap
Kebijakan Rencana Tuntutan. Dikutip pada laman website: http://zulakrial.
blogspot.com/2010/10/kemerdekaan-profesionalisme-jaksa-sebagai-penuntutumum:analisis-terhadap-kebijakan-rencana-tuntutan, diunduh pada Kamis, 1
Nopember 2012.
Lembaga Survei Indonesia. Dikutip pada laman website: http://nasional.inilah.com/
read/detail/1816764/survei-lsi-buktikan-buruknya-polri-kejaksaan, diunduh pada
tanggal 20 Nopember 2012.
Radio Republik Indonesia. Dikutip pada laman website: http://rri.co.id/index.php/
detailberita/detail/36067#.UKyHsWePSWY, diunduh pada tanggal 20 Nopember
2012.
390 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
PERLINDUNGAN HAK ASASI MANUSIA (HAM)
TERHADAP HAK TERSANGKA DALAM
LEMBAGA PRAPERADILAN
Takkas Marudut, Aswanto, Alma Manuputty
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
PERLINDUNGAN HAK ASASI MANUSIA (HAM)
TERHADAP HAK TERSANGKA DALAM LEMBAGA
PRAPERADILAN
Oleh: Takkas Marudut1, Aswanto2, Alma Manuputty2
Kejaksaan Tinggi Papua
Jl. Anggrek No. 6 Tanjung Ria, 99117, Jayapura
1
Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin
Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10, Tamalanrea, 90245, Makassar
2
*
E-mail: [email protected]
Abstract
The research aimed to: 1) Describe the implementation of the human rights principles
of the suspects in the pre-judicature; (2) Analyse the factors that affect human rights of
the suspects in pre-judicature. This was a normative-empirical research. Respondents are
judge, suspect, investigator, public prosecutor. The primary data were derived from the
interview result. The secondary data were derived from the primary, secondary, tertiary
legal materials. The data were collected by an interview and documentation. The data were
analysed qualitatively. The research result indicates that the implementation principles
human rights sch as the principles of openness, principles of fairness, principles of legal
certainty guarantee, principles of security and orderliness guarantee and principles of
freedom in the human rights protection of suspects in pre-judicature in Merauke Distrct
Court jurisdiction has not been effective. Factors that affected the protection human
rights of the suspects in pre-judicature are the behavior and competence of the judges,
a conflict of interest between investigator and prosecutor, conflict of interest and legal
policy or legislation.
Keywords: Freedom, Security and Orderliness, Prejudicature
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menjelaskan implementasi prinsip-prinsip hak
asasi manusia terhadap hak tersangka pada lembaga pra peradilan; 2) menganalisis
faktor-faktor yang mempengaruhi perlindungan hak asasi manusia terhadap tersangka
pada lembaga praperadilan. Tipe penelitian adalah normatif-empiris. Data primer
bersumber dari hasil wawancara. Data sekunder bersumber dari bahan hukum primer,
sekunder dan tersier. Teknik pengumpulan data adalah wawancara dan dokumentasi.
Teknik analisis data adalah kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi
prinsip-prinsip hak asasi manusia berupa prinsip keterbukaan, prinsip keadilan, prinsip
jaminan kepastian hukum, prinsip jaminan keamanan dan ketertiban, serta prinsip
kebebasan dalam perlindungan hak asasi manusia terhadap tersangka pada Lembaga
Praperadilan di wilayah hukum Polresta Merauke belum efektif. Faktor-faktor yang
mempengaruhi perlindungan hak asasi manusia terhadap tersangka pada Lembaga
Praperadilan adalah perilaku, kompetensi, pengadministrasian, konflik kepentingan dan
kebijakan hukum serta wewenang.
Kata Kunci: Kebebasan, Keamanan Dan Ketertiban, Praperadilan
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
PENDAHULUAN
Hukum dan Manusia, Manusia dan Hukum, senantiasa menuntut keterpaduan atau
sinergitas dalam berbagai aktivitas penegakan dan perlindungan hukum serta perlindungan
hak asasi manusia (HAM). “Hukum adalah Untuk Manusia”, bukan sebaliknya. Hukum
tidak ada untuk dirinya sendiri, melainkan untuk sesuatu yang lebih luas dan lebih besar.1
Del Vasechio dalam A.Masyhur Efendi menyatakan bahwa manusia adalah ius
iurdicus (manusia hukum), karena hukum dan manusia sepanjang hidupnya tidak akan
pernah dapat dipisahkan, kalau manusia ingin hidup aman, tentram, damai, adil dan
makmur.2 Hukum dalam arti yang luas menerobos masuk ke dalam seluruh kehidupan
manusia, baik dalam hal-hal yang paling elementer, sederhana maupun ke dalam hal - hal
yang paling dalam dan mendasar. 3
Kaitan HAM dengan hukum sangat erat, karena sekalipun HAM merupakan hak
negatif (negative rights) karena sifatnya yang kodrati dan universal sehingga tidak
memerlukan pengesahan, namun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara yang semakiin kompleks, pengaturan hukum terhadap HAM (positivization
rights) akan memperkuat posisi Indonesia sebagai negara hukum.
Sikap bangsa Indonesia sudah jelas, bahwa yang dianut adalah pandangan
Partikularistik-relatif, dengan berusaha untuk menemukan titik dialogis di antara empat
pandangan tersebut atas dasar Pancasila dan UUD NRI 1945, tanpa mengesampingkan
substansi dokumen - dokumen internasional tentang HAM4. Hal ini sesuai dengan
pandangan komprehensif-integral yang dianut atas dasar Asas kekeluargaan, yang harus
mengacu pada pendekatan sistemik (system approach).
Pandangan hidup dan kepribadian bangsa Indonesia sebagai kristalisasi nilai-nilai
luhur bangsa Indonesia, menempatkan manusia pada keluhuran harkat dan martabat
makhluk Tuhan Yang Maha Esa dengan kesadaran mengembangkan kodratnya sebagai
makhluk pribadi dan juga makhluk sosial, sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD
NRI 1945.
Permasalahannya bahwa, kedudukan Indonesia sebagai Negara Hukum belum
sepenuhnya mampu mensinergikan antara penegakan dan perlindungan hukum serta
perlindungan hak asasi manusia (HAM). Dalam konteks tersebut, seperti dikatakan Bank
1 Santos, dalam Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum. PT Citra Aditya Bhakti,2006. h. 223
2 Del Vasechio dikutif A.Masyhur Effendi, Hak Asasi Manusia dalam Hukum Nasional dan
Internasional. PT Ghalia Indonesia, 1994.h.126.
3 Ibid
4 A.Masyhur Effendi, Hak Asasi Manusia dan Aplikasinya Dalam Negara Hukum RI, Alumni
Bandung, 1980.h.76-81.
394 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Dunia5 bahwa kejujuran, empati dan dedikasi dalam menjalankan hukum menjadi sesuatu
yang makin langka dan mahal. Hampir dimana-mana kerendahan budi merajalela dan
rakyat serta bangsa makin tidak bahagia.
Salah satu aspek dalam sistem peradilan pidana yang memerlukan penerapan prinsipprinsip HAM tersebut adalah perlindungan HAM terhadap tersangka pada Lembaga
Praperadilan. Terkait dengan eksistensi Lembaga Praperadilan tersebut sudah diterapkan di
berbagai Negara, termasuk di Indonesia. Di Eropa, seperti di Belanda, dikenal fungsi Hakim
Komisaris (Rechter commisaris) yang fungsinya melakukan pemeriksaan pendahuluan; di
Francis, dikenal dengan Judge d’ Instruction, yang fungsinya selain menentukan sah tidaknya
penangkapan, penahanan, penyitaan, juga melakukan pemeriksaan pendahuluan atas suatu
perkara.6
Dalam pandangan KUHAP Indonesia, Praperadilan tidak mempunyai wewenang
seluas itu. Hakim komisaris hanya berwenang untuk menilai sah tidaknya suatu
penangkapan, penahanan namun tidak memiliki kewenangan untuk menilai sah atau
tidaknya suatu penyitaan yang dilakukan oleh Jaksa. Hal ini tercermin pada Pasal 77
KUHAP yang mengatur bahwa, Praperadilan merupakan kewenangan Pengadilan Negeri
untuk memeriksa dan memutus sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam ketentuan
undang-undang ini tentang: (a) sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian
penyidikan atau penghentian penuntutan; (b) ganti kerugian dan/atau rehabilitasi bagi
seorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan.
Hal tersebut juga selaras dengan Pasal 1 butir 10 KUHAP yang mengatur bahwa,
Praperadilan adalah wewenang Pengadilan Negeri untuk memeriksa dan memutus sah atau
tidaknya suatu penangkapan atau penahanan, sah atau tidaknya penghentian penyidikan
atau penghentian penuntutan, permintaan ganti rugi atau rehabilitasi oleh tersangka atau
keluarganya atau pihak lain atau kuasanya yang perkaranya tidak diajukan ke pengadilan.
Permasalahannya bahwa, di dalam KUHAP, tidak ada ketentuan dimana Hakim
Praperadilan melakukan pemeriksaan pendahuluan atau memimpinnya. Hakim
Praperadilan tidak melakukan penggeledahan, penyitaan dan seterusnya yang bersifat
pemeriksaan pendahuluan. Ia tidak pula menentukan apakah suatu perkara cukup alasan
ataukah tidak untuk diteruskan ke pemeriksaan sidang pengadilan. Penentuan diteruskan
ataukah tidak suatu perkara tergantung kepada Jaksa Penuntut Umum, bahkan tidak ada
kewenangan Hakim Praperadilan untuk menilai sah tidaknya suatu penggeledahan dan
5 Bank Dunia, Menciptakan Peluang Keadilan (Laporan atas studi”Village Study in Indonesia
dan Terobosan dalam Penegakan Hukum dan Aspirasi Reformasi Hukum di Tingkat Lokal), Jakarta: Bank
Dunia, 2005. Lihat juga Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum. PT Citra Aditya Bhakti,2006. h.114
6 Oemar Seno Adji, Hukum, Hakim Pidana, Erlangga, Jakarta, 1980, h. 88.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013 395
penyitaan yang dilakukan oleh jaksa dan penyidik. Padahal kedua hal itu sangat penting
dan merupakan salah satu asas dasar hak asasi manusia. Penggeledahan yang tidak sah
merupakan pelanggaran terhadap ketentraman rumah tempat kediaman seseorang. Begitu
pula penyitaan yang tidak sah merupakan pelanggaran serius terhadap hak milik orang.
Ditinjau dari segi struktur dan susunan peradilan, Praperadilan bukan lembaga
pengadilan yang berdiri sendiri, dan bukan pula sebagai instansi tingkat peradilan
yang mempunyai wewenang memberi putusan akhir atas suatu kasus peristiwa pidana.
Praperadilan hanya suatu lembaga baru yang ciri dan eksistensinya: berada dan merupakan
kesatuan yang melekat pada Pengadilan Negeri, dan sebagai lembaga pengadilan, hanya
dijumpai pada tingkat Pengadilan Negeri sebagai satuan tugas yang tidak terpisah dari
Pengadilan Negeri, dengan demikian, Praperadilan bukan berada di luar atau disamping
maupun sejajar dengan Pengadilan Negeri, tetapi hanya merupakan divisi dari Pengadilan
Negeri.
Secara administratif yustisial, personil, peralatan dan finansial bersatu dengan
Pengadilan Negeri dan berada di bawah pimpinan serta pengawasan dan pembinaan
Ketua Pengadilan Negeri, tata laksana fungsi yustisialnya merupakan bagian dari fungsi
yustisial Pengadilan Negeri itu sendiri.7 Hal ini menggambarkan bahwa eksistensi
Praperadilan bukan merupakan lembaga tersendiri, tetapi hanya merupakan pemberian
wewenang dan fungsi baru yang dilimpahkan KUHAP kepada setiap pengadilan negeri,
sebagai wewenang dan fungsi tambahan Pengadilan Negeri yang telah ada selama ini.
Terlepas dari kelemahan tersebut, namun secara esensial maksud dan tujuan yang
hendak diwujudkan dari lembaga Praperadilan adalah demi tegak dan dilindunginya
hukum serta perlindungan hak asasi tersangka dalam tingkat pemeriksaan penyidikan dan
penuntutan. Hal ini berarti bahwa, Lembaga Praperadilan bukan sekedar untuk menilai sah
atau tidak sahnya penahanan dan penangkapan, melainkan juga berperan sebagai penegak
prinsip-prinsip HAM bagi para pencari keadilan, termasuk tersangka atau terdakwa.
Sehubungan dengan hal tersebut, dalam berbagai kasus, khususnya pada Perkara
Nomor 01/Pid.Pra/ 2012/ PN Mrk., permohonan praperadilan tersangka atau terdakwa
ditolak, dibatalkan, dihentikan atau digugurkan oleh Hakim di Pengadilan Negeri Merauke.
Secara umum, ada dua alasan utama dikemukakan oleh Hakim yang mendasari putusan
atau penetapan penolakannya tersebut, yaitu: Pertama, menggunakan Pasal 82 ayat (1)
KUHAP8 yaitu permintaan praperadilan gugur jika suatu perkara sudah dilimpahkan atau
7 M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP Pemeriksaan Sidang
Pengadilan, Banding, Kasasi dan Peninjauan Kembali, Edisi Kedua,Sinar Grafika, Jakarta, 2006.h 1.
8 Pasal 82 ayat (1) huruf (d) KUHAP, menentukan dalam hal suatu perkara sudah dimulai diperiksa
oleh PN, sedangkan pemeriksaan permintaan Praperadilan belum selesai, maka permintaan tersebut Gugur.
396 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
diperiksa di Pengadilan; Kedua, untuk menghindari terjadinya putusan yang berbeda.
Permasalahannya, alasan yang digunakan oleh Hakim tersebut terkesan menyesatkan
atau manipulatif, sebab di satu sisi pihak panitera atau administrasi di Pengadilan
menerima pendaftaran permohonan praperadilan tersangka atau terdakwa dan disisi lain
juga sudah menerima pelimpahan berkas perkara (BAP) tersangka atau terdakwa. Jika
memang pihak Pengadilan sudah menerima pelimpahan BAP dari Jaksa Penuntut Umum
(JPU) lalu mengapa harus menerima permohonan praperadilan tersangka atau terdakwa
yang bersangkutan. Hal ini mengisyaratkan adanya sistem pengadministrasian perkatra
yang tidak tertib.
Selanjutnya, pada alasan kedua, adalah untuk menghindari terjadinya putusan yang
berbeda. Alasan ini juga terkesan absurd dan ambigu serta multitafsir bahkan kriminogen
dan viktimogen. Dikatakan demikian sebab, mana mungkin akan timbul dualisme putusan
jika Hakim mendahulukan dan menyelesaikan permohonan praperadilan tersangka atau
terdakwa; dan mana mungkin Pengadilan dapat memeriksa perkara pokok sebelum
menyelesaikan pemeriksaan pendahuluan.
Realitas tersebut mengindikasikan bahwa, Hakim di Lembaga Praperadilan
cenderung lebih mengedepankan atau mengutamakan kepentingan administrasi dan
kelembagaannya untuk menolak, membatalkan, menghentikan atau menggugurkan
permohonan praperadilan tersangka atau terdakwa. Bahkan, alasan yang dikemukakan
oleh Hakim yang mendasari sikapnya menyiratkan adanya kepentingan lain yang
mempengaruhi putusan penolakannya tersebut.
Menyelami lebih jauh, Hakim cenderung mengesampingkan amanat Pasal 77
KUHAP, yang pada intinya menghendaki pemeriksaan terhadap sah atau tidaknya
penangkapan dan penahanan tersangka atau terdakwa yang meminta praperadilan.
Ketentuan ini menekankan aspek pidana materiil atau keadilan substansial yang
seharusnya menjadi perhatian oleh Hakim. Namun kenyataannya, Hakim lebih cenderung
mengutamakan aspek keadilan prosedural sehingga hanya memilih Pasal 82 ayat (1) huruf
d KUHAP.
Dari kasus tersebut menyiratkan pula bahwa, Hakim diperhadapkan pada konflik
kepentingan, yakni antara memenuhi hak dan kepentingan tersangka atau terdakwa dan
memenuhi kepentingan penyidik, JPU serta Ketua Pengadilan bahkan pihak korban dan
pihak lainnya yang berkepentingan. Hakim menghadapi risiko yang berat jika memilih
memenuhi kepentingan tersangka atau terdakwa, dan karenanya menentukan pilihannya
pada non kepentingan tersangka atau terdakwa. Hakim lebih memilih cara aman dan
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
397
menguntungkan bagi diri serta kariernya.
Berpangkal tolak dari uraian tersebut maka aspek penegakan hukum dan pelaksanaan
prinsip - prinsip HAM (seperti prinsip keterbukaan, keadilan, jaminan kepastian hukum,
keamanan dan ketertiban, dan prinsip kebebasan) dalam proses praperadilan terhadap
tersangka perlu dikaji dengan hukum positif, yang dikemukakan oleh Hans Kelsen dengan
Teori Stufenbau mengatakan, bahwa hukum positif perlu didudukkan sebagai objek studi.
Hukum positif sebagai tatanan hukum mulai dari hukum dasar sampai kepada peraturanperaturan yang paling konkrit atau individual.9
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas, maka dirumuskan pokok
permasalahan, yakni bagaimanakah implementasi prinsip-prinsip hak asasi manusia
(HAM) terhadap hak tersangka pada lembaga praperadilan?
METODE PENELITIAN
Tipe dan Desain Penelitian
Tipe penelitian ini adalah Normatif-Empiris. Tipe Normatif digunakan untuk
mengkaji dasar-dasar teori hukum yang ada dan bahan hukum (perundang-undangan)
dalam memecahkan permasalahan, yakni perlindungan HAM terhadap tersangka pada
lembaga praperadilan. Tipe Empiris digunakan untuk menggambarkan temuan penelitian
secara utuh atas kondisi riil yang terjadi di lapangan.
Desain penelitian adalah studi kasus, yakni mengkaji permasalahan pokok secara
mendalam dari aspek normatif atau hukum pidana dan sosiologi hukum, yang dirancang
untuk tujuan analisis secara normatif dan empiris berdasarkan logika dan argumentasi
hukum, menemukan fakta-fakta hukum yang terjadi di lapangan yang selanjutnya
dianalisis solusinya.10
Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan yakni April 2013 di Pengadilan Negeri
Merauke Kabupaten Merauke Provinsi Papua. Pemilihan lokasi penelitian ini didasarkan
pada pertimbangan bahwa, tidak jarang hak-hak tersangka untuk mengajukan praperadilan
ditolak tanpa alasan yang jelas.
Jenis dan Sumber Data
Menyangkut jenis dan sumber data yang digunakan untuk menjadi bahan analisis,
9 Hans Kelsen. Reine Rechtskehre, Wien: (Terjemahan Satjipto Rahardjo, 2006) Franz Deuticke,1976
10 Soekanto, Soerjono. 2005. Pengantar Penelitian Hukum. Air Langga,1988. h.31
398 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
yaitu:
1. Data Primer yang bersumber dari hasil wawancara mendalam dengan sejumlah
informan.
2. Data Sekunder yang bersumber dari bahan hukum primer, sekunder dan tersier.
a. Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang mengikat dan bersumber dari
dokumen resmi, seperti: peraturan perundang­-undangan.
b. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan
mengenai bahan hukum primer; yang bersumber dari bahan pustaka atau karya
tulis ilmiah di bidang hukum.
c. Bahan hukum tersier, yakni bahan hukum yang memberi petunjuk atau
penjelasan (sistem dan prosedur) terhadap bahan hukum primer dan sekunder
yang bersumber dari kamus hukum.
Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui 2 (dua) prosedur: 1)
Wawancara, yakni melalui wawancara langsung dan berstruktur serta mendalam (in
depth interview) dengan informan untuk menggali informasi mengenai perlindungan
HAM terhadap tersangka pada lembaga praperadilan. Wawancara dilakukan dengan
menggunakan pedoman wawancara; dan 2) Dokumentasi, yaitu melalui kajian literatur,
dokumen, laporan hasil penyidikan dan pemeriksaan perkara pidana.
Analisis Data
Data yang terkumpul, diolah dan kemudian dianalisis dengan menggunakan
pendekatan deskriptif kualitatif. Untuk menjawab pokok permasalahan yang diajukan
dalam penelitian ini, dilakukan analisis deskriptif kualitatif. Data yang terkumpul, diolah
kemudian dianalisis. Dalam pengolahan data, data primer yang berasal dari jawaban
informan, diinterpretasikan dan dianalisis secara kualitatif. Penarikan kesimpulan dengan
menggunakan metode induktif, yakni dari hal khusus ke hal umum.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Impelementasi Prinsip-Prinsip Hak Asasi Manusia terhadap Tersangka pada
Lembaga Praperadilan
Kebutuhan perlindungan hak asasi manusia (HAM) dalam sistem dan proses peradilan
pidana khususnya pada Lembaga Praperadilan semakin urgen, vital dan strategis terutama
dalam memenuhi hak-hak tersangka. Lembaga Praperadilan sebagai suatu fasilitas dalam
berhukum acara pidana, perlu memainkan peranannya secara maksimal dalam memenuhi
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
399
keadilan bagi tersangka baik keadilan prosedural maupun keadilan substantif.
Kasus
Sehubungan dengan hal tersebut, berdasarkan hasil penelitian di wilayah hukum
Pengadilan Negeri Merauke, diperoleh gambaran mengenai kasus atau perkara pidana
dengan Tersangka yang ditolak permohonan praperadilannya oleh Pengadilan Negeri.
Berdasarkan Penetapan Nomor : 01/Pid.Pra/ 2012/ PN Mrk., Tersangka Rama
Rossy Jhon Butiop dan Richard Kupumim mengajukan permohonan pra-peradilan
kepada Pengadilan Negeri Merauke atas penangkapan dan penahanannya. Untuk
tujuan itu, Ketua Pengadilan membuat Penetapan Nomor : 01/Pen.Pra/ 2012/ PN Mrk.
tertanggal 30 Mei 2012 tentang Penunjukkan Hakim Tunggal yang memeriksa dan
mengadili perkara, Penetapan Hakim Nomor : 01/Pen.Pra/ 2012/ PN Mrk. tertanggal
30 Mei 2012 tentang Persidangan Pertama, Risalah Panggilan masing-masing
tertanggal 31 Mei 2012 dan tertanggal 01 Juni 2012 yang ditandatangani oleh Jurusita
Pengganti Pengadilan Negeri Merauke, Pelimpahan Perkara / Turunan Nomor : TAR –
507/T.1.115/EP.2/06/2012 tertanggal 13 Juni 2012, dan Surat Dakwaan No.PDM-84/
Mrk/Ep.2/06/2012 tertanggal 13 Juni 2012.
Selanjutnya Penetapan Ketua Pengadilan Negeri Nomor : 83-VI/Pen.Pid.B/
2012/ PN Mrk. tertanggal 13 Juni 2012 tentang Penunjukkan Hakim Majelis yang
menyidangkan dan mengadili perkara Pasal 152 ayat (1) jo. Pasal 56 UU No.8 Tahun
2004 jo. Pasal 17 ayat (1), ayat (2), ayat (3) UU No. 4 Tahun 2004.
Jawaban Kuasa Termohon
“Kuasa Termohon dalam jawabannya menolak dalil para Pemohon dan menyatakan
Penahanan atas diri para Pemohon adalah Sah dan Berdasar Hukum.”
Pertimbangan Hakim
Terlepas dari terbukti tidaknya apa yang didalilkan para Pemohon dalam Surat
Permohonan Praperadilan maupun bantahan dari Kuasa Termohon, Hakim mempunyai
pertimbangan hukum tersendiri, seperti diuraikan berikut:
a. Pengadilan Negeri Merauke telah menerima pelimpahan berkas perkara pidana
dari Kepala Kejaksaan Negeri Merauke No. : TAR – 507/T.1.115/EP.2/ 06/2012
tertanggal 13 Juni 2012 atas nama terdakwa Rama Rossy Jhon Butiop dan Richard
Kupumim (para Pemohon Praperadilan) dan para Terdakwa ditahan oleh Kepala
Kejaksaan Negeri Merauke dengan Surat Perintah Penahanan Tingkat Penuntutan
Nomor : Print-509/T.1.15/Ep.2/06/2012 tertanggal 11 Juni 2012 atas nama Rama
Rossy Jhon Butiop dan Richard Kupumim selama 20 (duapuluh hari) sejak tanggal
11 Juni 2012 sampai tanggal 01 Juli 2012 di Rutan Kelas IIIB Merauke.
b. Berdasarkan pelimpahan berkas perkara Pemohon Praperadilan dari Kejaksaan
Negeri Merauke, Pengadilan Negeri Merauke telah mencatat dan memberikan
nomor perkara pidana dengan Nomor 83/ Pid.B/2012/PN Mrk.
400
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
c. Pasal 82 ayat (1) huruf (d) KUHAP, menentukan dalam hal suatu perkara sudah
dimulai diperiksa oleh Pengadilan Negeri, sedangkan pemeriksaan mengenai
Permintaan kepada Praperadilan belum selesai, maka permintaan tersebut Gugur.
d. Apa yang dimaksudkan dalam Pasal tersebut mempunyai pengertian apabila Berkas
Perkara atas nama para Pemohon Praperadilan telah dilimpahkan ke Pengadilan
Negeri maka permintaan Praperadilan harus dinyatakan Gugur.
e. Sejak Pengadilan Negeri menerima berkas perkara atas nama para Pemohon
Praperadilan, maka sejak saat itu pula kewenangan Penahanan atas Terdakwa/ para
Pemohon Praperadilan beralih kepada Pengadilan Negeri dalam hal ini Majelis
Hakim yang ditunjuk atau dengan kata lain Terdakwa tidak lagi ditahan oleh
Penyidik atau Penuntut Umum tetapi ditahan berdasarkan Penetapan Hakim.
f. Sejak dilimpahkannya berkas perkara ke Pengadilan maka sejak saat utu pula
pemeriksaan telah dilakukan. Jadi pemeriksaan yang dimaksud dalam Pasal 82 ayat
(1) huruf (d) KUHAP bukan pemeriksaan persidangan, tetapi Pemeriksaan atas
Berkas Perkaranya. Pemeriksaan tersebut meliputi Pemeriksaan terpenuhi tidaknya
Syarat Formil maupun Materiil.
g. Berdasarkan ketentuan Pasal 82 ayat (1) huruf (d) KUHAP dan pertimbanganpertimbangan tersebut maka Permohonan para Pemohon Praperadilan haruslan
dinyatakan Gugur.
h. Dengan digugurkannya Praperadilan Para Pemohon, maka pokok-pokok
pembahasan yang selain dan selebihnya tidak perlu dipertimbangkan lagi dan
dengan dinyatakan Gugurnya Permohonan Praperadilan para Pemohon juga untuk
menghindari terjadinya penjatuhan Putusan yang berbeda dan oleh karena itu
lebih tepat pemeriksaan Praperadilan dihentikan dengan jalan menggugurkannya
permintaan dan sekaligus semua hal yang berkenaan dengan perkara tersebut
ditarik dalam Kekuasaan / Kewenangan Pengadilan Negeri untuk menilai dan
memutuskannya.
Putusan Hakim
“Permohonan Praperadilan yang diajukan oleh Para Pemohon Gugur”
Sehubungan dengan hal tersebut, Rama Rossy Jhon Butiop, memberikan
pandangannya bahwa:
Sebenarnya saya dan Richaed sangat kecewa pada saat itu, karena kami ditangkap
dan ditahan secara paksa tanpa ada Surat Perintah dan Penahanan. Kami ditangkap
begitu saja oleh empat orang polisi kemudian kami juga diancam dan disiksa. Jadi
menurut kami, Polisi asal main tangkap saja. Karena itu kami dengan Kuasa Hukum
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
401
kami Bu Betzy, Pa Beksi dan Pa Efrem sepakat untuk mengajukan permohonan
praperadilan. Setelah satu bulan lebih menunggu eh ternyata permohonan kami
ditolak atau dianggap gugur. Katanya Hakim sih bahwa permohonan praperadilan
kami tidak bisa diteruskan dan harus dihentikan karena berkas perkara kami sudah
dilimpahkan ke Pengadilan. Padahal sepengetahuan kami baru beberapa hari kami
ditangkap dan ditahan, maksud saya penahanan kami belum berakhir dalam 20
hari, kok begitu cepat dilimpahkan ke Pengadilan. Saya jadi curiga saat itu pihak
keluarga korban dan pengacaranya yang menekan atau berusaha menyogok Hakim
agar menggugurkan permohonan praperadilan kami. Pengacara saya waktu itu juga
sempat marah dan berdebat dengan penyidik dan JPU dan juga oknum Hakim,
padahal ada juga Jaksa dan Hakim lainnya bilang kalo Berkas Perkara kami belum
pernah dilimpahkan. Kami bingung saat itu. Kami sengaja dikorbankan, dtangkap
dan ditahan lalu disiksa padahal kami tahu kami belum tentu bersalah.11
Hal senada juga diungkapkan oleh Betzy, salah seorang Penasihat Hukum terdakwa
bahwa:
Waktu menangani perkara Rama Rossy Jhon Butiop dan Richard Kupumim itu
kami dari penasihat hukum ada tiga orang, saya, Pa Efrem dan Pa Beksi. Kami
sepakat mengajukan permintaan praperadilan ke Pengadilan karena kami melihat
ada keganjilan dalam proses penangkapan klien kami. Pertama, tidak ada surat
perintah, kedua, alat buktinya tidak jelas. Saya sendiri sempat marah kepada
Pa Ignatius (Hakim) karena secara sepihak menghentikan atau menggugurkan
permohonan praperadilan klien kami. Saya Tanya ke Penyidik dan JPU, katanya
belum dilimpahkan perkara ke pengadilan, lalu saya bilang kenapa Hakim bilang
sudah dilimpahkan. Pengajuan permintaan prapradilan jauh lebih duluan daripada
pemeriksaan di persidangan. Setelah saya telusuri, oh ternyata ada oknum pejabat
tinggi yang menekan pa Hakim. Kami tidak bisa berbuat banyak.12
Dalam kaitan itu, Ignatius, salah seorang Hakim di Pengadilan Negeri Merauke
mengungkapkan bahwa :
Saya sebenarnya oke-oke saja mau mengabulkan permohonan praperadilan
terdakwa dan penasihat hukumnya, tapi terkadang saya tidak bisa berbuat banyak
karena sudah ada perintah dari Ketua Pengadilan untuk mengambil keputusan atau
tindakan tertentu. Tapi memang, seperti pada Pasal 82 ayat (1) huruf (d) KUHAP
sudah cukup jelas dikatakan bahwa kalau berkas perkara sudah dilimpahkan ke
pengadilan maka tidak boleh ada lagi praperadilan. Artinya, permintaan praperadilan
itu harus dibatalkan atau dihentikan alias digugurkan, begitu aturan mainnya.13
Adapun tanggapan Ketua Pengadilan Negeri Merauke, bahwa :
Saya selaku Ketua Pengadilan tidak berhak mencampuri atau mengintervensi Hakim
yang menangani atau memeriksa suatu perkara pidana. Saya hanya membuat surat
perintah tertentu yang diperlukan untuk kelancaran proses peradilan. Walaupun
11 Wawancara, Kamis, 25 April 2013
12 Wawancara, Kamis, 25 April 2013.
13 Wawancara, Kamis, 25 April 2013.
402 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
sulit juga saya pungikiri bahwa terkadang kita mendapat tekanan dari luar.14
Selanjutnya, Stephanus, salah Jaksa Penutut Umum di Kejaksaan Negeri Merauke
mengungkapkan bahwa:
Kita di Kejaksaan tidak boleh menghalangi ataupun menghambat bilamana
ada terdakwa atau penasihat hukumnya yang hendak mengajukan permohonan
praperadilan. Kami selalu membuka jalan kepada tersangka atau terdakwa untuk
memperoleh hak-haknya. Dalam kasus terdakwa Rama Rossy Jhon Butiop
dan Richard Kupumim tahun kemarin, memang berkas perkaranya baru mau
dilimpahkan ke pengadilan. Memang ada permintaan dari pihak-pihak tertentu pada
saat itu agar segera dilimpahkan BAP ke pengadilan agar permohonan praperadilan
terdakwa dapat dibatalkan, karena memang Pasal 82 ayat (1) huruf (d) KUHAP
sudah mengatur bahwa kalau berkas perkara sudah dilimpahkan ke pengadilan
maka praperadilan harus dihentikan. Jadi itu yang terjadi.15
Markus, salah seorang Penyidik di Polresta Merauke mengungkapkan bahwa:
Selama ini, kami penyidik cukup berhati-hati menangkap dan menahan orang,
sebab kalau kita salah menangkap pelaku atau tersangka kan kita bisa malu bahkan
kita bisa dituntut balik. Tahun lalu memang ada tersangka yang kami tangkap
lalu ditahan. Setelah dimintai keterangannya dan juga keterangan saksi kemudian
disusun dan dilengkapi BAPnya, lalu kami serahkan kepada JPU. Dibelakangan
kami dengar ada permohonan praperadilan, tapi untung Hakim menggugurkannya
sehingga kami bisa lega.16
Dari uraian tersebut di atas, menggambarkan bahwa, tersangka atau terdakwa telah
berusaha menggunakan fasilitas untuk memenuhi hak-haknya memperoleh keadilan
dengan mengajukan permohonan praperadilan kepada Pengadilan Negeri, namun Hakim
di Pengadilan menolak atau menggugurkan permintaan permohonan praperadilan tersebut
karenanya adanya ketentuan Pasal 82 ayat (1) huruf (d) KUHAP yang mengatur bahwa
dalam hal suatu perkara sudah dimulai diperiksa oleh Pengadilan Negeri, sedangkan
pemeriksaan mengenai Permintaan kepada Praperadilan belum selesai, maka permintaan
tersebut Gugur.
Analisis Implementasi Prinsip-Prinsip Hak Asasi Manusia
Praperadilan telah menjelma menjadi salah satu fasilitas hukum pidana positif yang
menggembirakan bagi para pencari keadilan dalam sistem peradilan pidana di Indonesia
yang memungkinkan tersangka atau terdakwa untuk memperoleh hak-haknya atas keadilan
atau perlakuan (treatment) hukum yang adil, sebelum menjalani proses pemeriksaan dan
penyelesaian perkara pidananya lebih lanjut.
14 Wawancara, Rabu, 1 Mei 2013.
15 Wawancara, Jumat, 3 Mei 2013.
16 Wawancara, Kamis, 25 April 2013.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
403
Adanya fasilitas praperadilan tersebut kiranya cukup beralasan, sebab menentukan
seorang tersangka atau terdakwa bukanlah perkara mudah bagi penyidik, terlebih penyidik
adalah juga manusia-manusia yang bisa keliru. lalai atau alpa yang dapat menyebabkan
terjadinya tindakan salah tangkap, ataukah bahwa ada kemungkinan suatu skenario
sengaja dilakukan oleh pihak-pihak tertentu untuk menjebak atau mengkriminalisasi
seseorang atau lebih menjadi tersangka atau terdakwa karena kepentingan tertentu.
Lembaga Pengadilan yang berwenang terhadap tersangka atau terdakwa selain
mempunyai hubungan hukum juga memiliki hubungan perlindungan hak asasi manusia
(HAM), sehingga kedua hubungan tersebut sulit dilepaskan dan atau tidak dapat dipisahkan
satu sama lain. Berdasarkan skema tersebut, dapat dianalisis lebih lanjut mengenai
implementasi prinsip-prinsip HAM dalam proses praperadila pidana sebagaimana
diuraikan berikut:
Prinsip Keterbukaan
Prinsip keterbukaan dalam proses peradilan pidana termasuk proses praperadilan
menjadi salah satu hak tersangka atau terdakwa. Keterbukaan juga berarti bahwa antara
antara subyek hukum dengan penegak hukum harus senantiasa terbangun hubungan
komunikasi yang baik dan transparan satu sama lain.
Tersangka atau terdakwa, adakalanya mengalami banyak hal yang mungking kurang
jelas atau tidak dipahami sebab musababnya secara baik, seperti mengapa ia ditangkap
dan ditahan, atas dasar apa dan bukti permulaan apa yang mendasari penangkapan dan
penahanannya oleh penyidik17 . Demikian pula halnya masalah seperti mengapa tersangka
atau terdakwa ditekan, diintimidasi, diancam, ataukah tidak diberikan kesempatan untuk
didampingi penasihat hukum dan saksi meringankan, padahal hak-hak tersangka sudah
dijamin oleh Undang-Undang untuk memperoleh perlakuan yang manusiawi seperti yang
dikemukakan oleh H.M.A Kuffal18, ataupun yang diatur dalam Pasal 117 KUHAP. 19
17 Hak Tersangka pada dasarnya adalah hak konstitusional seorang baik yang didapat sejak lahir
maupun hak yang diberikan oleh UU, terutama dalam hal statusnya sebagai tersangka. Di dalam KUHAP,
beberapa hak Tersangka, di antaranya: a) Hak untuk mengetahui dasar alasan penggunaan upaya paksa;
b) Hak untuk memperoleh perlakuan yang manusiawi; c) Hak untuk mengungkapkan pendapat baik
lisan maupun tertulis; d) Hak untuk diam, dalam artian tidak memberikan pengakuan atau pernyataan; e)
Hak untuk memperoleh bantuan hukum; f) Hak untuk mengajukan saksi A De Charge mulai dari proses
penyidikan.
18 H.M.A Kuffal, dalam Yesmil Anwar dan Adang, (2009), hlm. 65. Menurutnya, hak-hak tersangka
diatur dalam Pasal 50-68, antara lain: hak untuk segera mendapat pemeriksaan, hak untuk diberitahukan
dengan bahasa yang dapat dimengerti, hak untuk memberikan keterangan secara bebas, hak untuk
mendapatkan bantuan juru bahasa dan bantuan penasihat hukum, pejabat penegak hukum wajib menunjuk
penasihat hukum, hak untuk menghubungi penasihat hukum, Hak untuk mendapat kunjungan dokter pribadi
dan keluarga, dan hak untuk mengajukan saksi yang menguntungkan baginya.
19 Pasal 117 ayat (1) KUHAP mengatur bahwa keterangan tersangka dan atau saksi yang diberikan
kepada penyidik harus diberikan tanpa tekanan dari siapa pun dan atau dalam bentuk apapun. Karena
404 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Berbagai hal yang menimbulkan tanda tanya pada diri tersangka atau terdakwa
tersebut seringkali tidak memperoleh penjelasan dari penyidik ataupun penuntut
umum padahal penyidik memiliki kewajiban untuk menyampaikan berbagai hal terkait
perlakuannya terhadap subyek hukum yang bersangkutan. Namun demikian, walaupun
penyidik mempunyai kewajiban memberitahukan kepada tersangka atau terdakwa
mengenai hak-haknya di samping hal-hal lainnya, namun tidak ada sanksi hukum kepada
oknum penyidik yang mengabaikan kewajiban hukumnya tersebut.
Kondisi perlakuan yang dialami tersangka atau terdakwa yang kurang menguntungkan
atau kurang menggembirakan demikian dapat menjadi alasan untuk mengajukan proses
praperadilan ke Pengadilan Negeri karena sesuai Pasal 77 KUHAP20 bahwa Pengadilan
Negerilah yang mempunyai kewenangan untuk memeriksa dan memutus perkara dalam
praperadilan. Jadi, permintaan praperadilan oleh tersangka atau terdakwa kiranya cukup
beralasan yakni untuk meminta perlindungan hukum atas berbagai perlakuan yang diterima
atas hak-haknya yang kurang atau tidak terpenuhi, ataukah karena adanya pelanggaran
kewajiban oleh penyidik. Kekosongan hukum yang mengatur sanksi bagi penyidik yang
melakukan pemeriksaan dengan melanggar kewajiban atau tanggungjawabnya semakin
memperjelas pentingnya praperadilan bagi tersangka atau terdakwa.
Dari temuan hasil penelitian menunjukkan bahwa, tersangka atau terdakwa Rama
Rossy Jhon Butiop dan Richard Kupumim bersama penasihat hukumnya mengajukan
permohonan praperadilan karena menerima sejumlah perlakuan dari oknum penyidik
yang tidak atau kurang jelas dasar atau alasannya. Permasalahannya bahwa, dalam proses
praperadilan, permintaan atau permohonan praperadilan yang diajukan oleh tersangka
atau terdakwa di Pengadilan Negeri Merauke dinyatakan gugur oleh Hakim.
Secara umum, ada dua alasan yang dikemukakan oleh Hakim, yaitu Pertama,
karena berkas perkara terdakwa sudah dilimpahkan ke pengadilan (dengan mengacu
kepada Pasal 82 ayat (1) KUHAP), dan Kedua, penghentian permohonan praperadilan
tersebut untuk menghindari terjadinya putusan berbeda.
Mencermati lebih jauh hal tersebut, menyiratkan adanya suatu hak yang tidak
dikomunikasikan oleh Hakim maupun Penyidik dan JPU kepada terdakwa bersama
penasihat hukumnya. Hak tersebut adalah keterbukaan atas alasan-alasan yang
dikemukakan oleh Hakim dalam pertimbangan hukumnya menolak atau menghentikan
tersangka dan atau saksi wajib memperoleh perlindungan hak asasi.
20 Pasal 77 KUHAP: Praperadilan merupakan kewenangan Pengadilan Negeri untuk memeriksa
dan memutus sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam ketentuan undang-undang ini tentang : (a) sah
atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan ; (b) ganti
kerugian dan/atau rehabilitasi bagi seorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan
atau penuntutan.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013 405
permohonan praperadilan.
Antara
tersangka
atau
terdakwa
dan
penasihat
hukumnya
mengalami
miscommunication dengan JPU, Penyidik dan Hakim di Pengadilan Negeri mengenai
status BAP. Tersangka atau terdakwa dan penasihat hukum-nya tidak mengetahui kalau
Berkas Perkara (BAP)-nya sudah dilimpahkan oleh Penuntut Umum kepada Pengadilan
Negeri (seperti yang dijadikan alasan oleh Hakim dalam menggugurkan permohonan
praperadilan).
Ketidaktahuan tersangka atau terdakwa dan penasihat hukumnya atas status BAP
menimbulkan suatu spekulasi bahwa, Pertama, seharusnya Penasihat Hukum terdakwa
melakukan crosscheck lebih dahulu ke JPU dan Penyidik atau di Pengadilan Negeri untuk
memastikan status BAP kliennya sebelum mengajukan permohonan praperadilan; Kedua,
ada kemungkinan Penasihat Hukum sudah melakukan crosscheck namun karena suatu
alasan tertentu sehingga JPU tiba-tiba melimpahkan BAP ke Pengadilan; Ketiga, ada
kemungkinan Penasihat Hukum sudah melakukan crosscheck, namun tidak mendapat
penjelasan yang jelas dari pihak JPU atau pihak di Kejaksaan mengenai status BAP atau
pelimpahannya ke Pengadilan. Keempat, ada kemungkinan JPU sengaja merahasikan
status BAP terdakwa; Kelima, ada kemungkinan pihak Panitera di Pengadilan Negeri
tidak memberitahukan kepada Hakim atau sengaja merahasikan status BAP terdakwa
kepada Penasihat Hukum terdakwa; Keenam, ada kemungkinan JPU, pejabat Panitera
dan Hakim sengaja merahasikan status BAP terdakwa.
Terlepas dari berbagai kemungkinan-kemungkinan tersebut, pada kenyataannya
bahwa ada dua peristiwa hukum yang saling berkontradiksi. Di satu sisi, ada tindakan
pengajuan permohonan praperadilan oleh tersangka atau terdakwa, dan disisi lain ada
pelimpahan berkas perkara di Pengadilan Negeri yang tidak diketahui oleh Terdakwa
dan Penasihat Hukumnya. Hal ini mengisyaratkan bahwa, masih terjadi kesenjangan
hubungan komunikasi antara subyek hukum dengan aparat penegak hukum dan lembaga
pengadilan.
Mencermati lebih jauh, terkesan ada kelalaian ataupun kesengajaan dari pihak
penegak hukum (khususnya JPU, Panitera dan Hakim atau Lembaga Pengadilan) untuk
mengesampingkan atau mengabaikan hak-hak tersangka atau terdakwa untuk memperoleh
informasi mengenai status BAP-nya. Hal ini berarti bahwa, Lembaga Peradilan yang
menolak atau membatalkan atau menggugurkan permohonan praperadilan tersangka atau
terdakwa dengan alasan BAP terdakwa sudah dilimpahkan dan diperiksa di pengadilan
adalah suatu tindakan kriminogen dan viktimogen.
406 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Tidak adanya pemberitahuan kepada tersangka atau terdakwa beserta penasihat
hukumnya mengenai status BAP yang menyebabkan mereka mengajukan permohonan
praperadilan, mengisyaratkan bahwa hak-hak asasi tersangka atau terdakwa atas
keterbukaan masih cenderung dilanggar oleh Lembaga Peradilan dalam proses prapradilan.
Penolakan atau pembatalan atau penghentian atau pengguguran permohonan
praperadilan terdakwa karena Hakim di Pengadilan Negeri khawatir akan terjadi putusan
yang berbeda. Pada satu sisi, alasan tersebut dapat dibenarkan sebab Hakim yang
memeriksa dan memutus perkara di tingkat praperadilan akan membuat putusan tertentu,
dan Hakim yang memeriksa perkara pada persidangan di pengadilan juga akan membuat
putusan yang lain. Namun di sisi lain, putusan berbeda tersebut tidak akan pernah terjadi,
jika Penyidik atau JPU dan Pengadilan memberitahu lebih dahulu secara terbuka kepada
terdakwa atau Penasihat Hukumnya bahwa BAP-nya telah dilimpahkan di Pengadilan.
Menurut hemat penulis, putusan berbeda tidak akan pernah terjadi dalam satu
perkara pidana dalam satu Pengadilan, sebab jika Hakim mendahulukan untuk memeriksa
perkara dalam praperadilan, kemudian memutus bahwa status penangkapan dan
penahanan ataupun penggeledahan serta penyitaan atas tersangka sudah benar atau sudah
sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka tidak ada putusan apapun, dan
pemeriksaan di persidangan dapat dilanjutkan untuk penyelesaian perkara.
Sebaliknya, jika Hakim mendahulukan untuk memeriksa perkara dalam praperadilan,
kemudian memutus bahwa status penangkapan dan penahanan ataupun penggeledahan
serta penyitaan atas tersangka tidak sah dan tidak sesuai peraturan perundang-undangan
yang berlaku maka tentu pemeriksaan di persidangan tidak dapat dilanjutkan, dan untuk
itu berlaku ketentuan Pasal 77 huruf b KUHAP, yakni ganti kerugian dan/ atau rehabilitasi
bagi seorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan.
Jadi, asumsi Hakim bahwa akan terjadi putusan yang berbeda adalah menyesatkan
serta mengkriminalisasi hak-hak tersangka atau terdakwa untuk mendapatkan informasi
mengenai praperadilan. Dengan perkatan lain bahwa, ada kesan untuk menghambat
terdakwa memperoleh informasi mengenai hak-haknya dalam proses praperadilan.
Secara keseluruhan dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan
prinsip keterbukaan dalam hubungan penegakan hukum dan perlindungan HAM atas hakhak tersangka atau terdakwa mengajukan permohonan praperadilan, adalah tidak optimal.
Prinsip Keadilan
Secara umum, hukum positif senantiasa menghendaki ‘keadilan’ sebagai output dari
suatu proses peradilan pidana. Demikian pula halnya bahwa, keadilan menjadi salah satu
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
407
prinsip paling mendasar dalam perlindungan HAM. Hal ini berarti bahwa baik hukum
maupun HAM sama -sama menghendaki tegaknya prinsip keadilan.
Sehubungan dengan proses praperadilan sebagai salah satu hak tersangka, temuan
hasil penelitian menunjukkan bahwa, pada Perkara Nomor : 01/Pid.Pra/ 2012/ PN
Mrk, tersangka atau terdakwa ditolak atau dibatalkan atau dihentikan atau digugurkan
permohonan praperadilannya oleh Pengadilan Negeri Merauke, dengan menggunakan
dua alas an, yaitu pada Pasal 82 ayat (1) KUHAP dan menghindari terjadinya putusan
yang berbeda.
Tersangka atau terdakwa mengalami suatu kondisi yang tidak menguntungkan dan
oknum penyidik melakukan pelanggaran atas kewajibannya memberikan perlindungan
hak asasi; oknum penyidik melakukan penangkapan dan penahanan dengan metode
taktis yaitu menangkap dan menahan dulu tersangka baru mengumpulkan alat bukti,
menggeledah dan menyita barang milik tersangka yang tidak ada kaitannya dengan
perkara, serta cara-cara pemeriksaan tersangka dengan tekanan, intimidasi, pemaksaan
untuk mengakui suatu perbuatan yang belum tentu dilakukan, ancaman kekerasan fisik
dan psikis.
Dalam perkara tersebut, ketidakadilan terutama tercermin pada sikap dan tindakan
Hakim menetapkan putusan yang menggugurkan permohonan praperadilan dengan alasan
yang manipulatif dan menyesatkan untuk menghambat terdakwa memperoleh keadilan
atas proses penangkapan dan penahanan serta penggeledahan dan penyitaan.
Perlakuan yang tidak adil ditahap penyidikan dan di tingkat penuntutan cenderung
semakin diperparah di lembaga praperadilan dengan dimentahkannya permohonan
praperadilan tersangka atau terdakwa yang bersangkutan. Kondisi tersebut bertentangan
dengan Pasal 18 UU No.39 Tahun 1999.
Pasal 18 ayat (1) UU No. 39 Tahun 1999 cukup jelas menekankan mengenai
keharusan Penyidik dan Penutunt Umum serta Hakim di Pengadilan untuk berlaku adil
kepada tersangka atau terdakwa dengan tetap mengedepankan asas praduga bersalah dan
menjamin pembelaannya sampai Lembaga Peradilan ataukah Sidang Pengadilan dapat
membuktikan kesalahan.
Harapan tersangka atau terdakwa untuk memperoleh keadilan atas perlakuan yang
kurang menyenangkan atau menguntungkan pada saat ditangkap dan ditahan maupun
digeledah ternyata semakin membuat tersangka atau terdakwa kecewa. Harapan tersangka
atau terdakwa agar oknum penyidik yang melakukan penangkapan secara sewenangwenang tanpa surat perintah, melakukan tekanan dan intimidasi serta ancaman dan tindak
408
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
kekerasan, serta melalaikan kewajibannya memberikan perlindungan hak asasi, dapat
terbayar dengan dikabulkannya permohonan praperadilan, namun kenyataannya jauh
panggang dari api
Realitas tersebut mengisyaratkan bahwa, proses praperadilan sebagai fasilitas bagi
tersangka atau terdakwa untuk memperoleh keadilan masih cenderung menimbulkan
permasalahan dalam penegakan hukum dan implementasi prinsip – prinsip HAM
khususnya keadilan, disebabkan masih adanya penolakan permohonan praperadilan
dengan alasan yang bersifat asumtif, ambigu dan primordialisme.
Kondisi demikian bertentangan dengan Pasal 7, Pasal 8 dan Pasal 36 TAP MPR No.
XIV/MPR/1998 dan Pasal 3 ayat (2) UU No.39 Tahun 1999 mengenai hak setiap orang
termasuk tersangka atau terdakwa atas pengakuan, jaminan perlindungan, dan perlakuan
hukum yang adil atau yang sama di hadapan hukum dan kepastian hukum serta memenuhi
tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, keamanan, dan ketertiban umum
dalam suatu masyarakat demokratis dalam proses praperadilan.
Proses praperadilan sebagai hak tersangka atau terdakwa yang cenderung kurang
atau tidak adil tersebut juga sejalan dengan Pasal 5 ayat (1) (2) UU No.39 Tahun 1999
mengenai perlakuan dan perlindungan yang sama sesuai dengan martabat kemanusiannya
di depan hukum serta mendapat bantuan dan perlindungan yang adil dari pengadilan yang
objektif dan tidak berpihak.
Dalam berbagai perkara pidana termasuk dalam Perkara Nomor 01/Pid.Pra/ 2012/
PNMrk, perlakuan atas hak mengajukan prapradilan tidak jarang dalam praktiknya
masih bersifat diskriminatif. Artinya, ada tersangka atau terdakwa yang dikabulkan
permohonannya namun adapula yang ditolak atau dibatalkan atau dihentikan atau
digugurkan baik alasan yang tidak jelas maupun dengan alasan yang manipulatif.
Perilaku diskriminatif tersebut bertentangan dengan amanat Pasal 38 dan Pasal 39
TAP MPR RI No. XVI/MPR/199821 mengenai hak setiap orang termasuk tersangka atau
terdakwa untuk memperoleh perlindungan dan bebas dari perlakuan yang diskriminatif,
serta berhak mendapatkan perlakuan dan perlindungan yang sama.
Terkait dengan diskriminasi tersebut, sudah disinggung dalam Pasal 1 UU No.
39 Tahun 1999, yakni tindakan pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung
ataupun tak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar status sosial budaya
dan ekonomi tertentu yang berakibat pengurangan, penyimpangan atau penghapusan
21 Ketetapan MPR RI No.XVI/MPR/1998. Pasal 38 mengatur bahwa setiap orang berhak bebas dari
dan mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif. Pasal 39: dalam pemenuhan
Hak Asasi Manusia, laki-laki dan perempuan berhak mendapatkan perlakuan dan perlindungan yang sama.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
409
pengakuan, pelaksanaan atau penggunaan Hak Asasi Manusia dan kebebasan dasar dalam
kehidupan baik individual maupun kolektif khususnya dalam hukum.
Adanya praktik diskriminasi terhadap tersangka atau terdakwa dalam proses
praperadilan bertentangan dengan Pasal 1 angka 2 dan angka 6 UU No.39 Tahun 1999
mengenai kewajiban dasar manusia dan pelanggaran HAM. Kewajiban dasar dalam hal
ini adalah kewajiban yang diemban oleh penyidik, JPU dan Hakim di Pengadilan untuk
memperlakukan tersangka atau terdakwa atas hak-haknya untuk mengajukan permohonan
praperadilan. Atas pengabaian kewajiban dasar tersebut maka prinsip keadilan dalam
perlindungan HAM sulit ditegakkan atau dipenuhi.
Adanya praktek diskriminasi dengan cara menghambat, menghalangi, sengaja
mengabaikan hak-hak tersangka atau terdakwa untuk memperoleh keadilan melalui
praperadilan selain bertentangan dengan Pasal 17 UU No.39 Tahun 1999, terutama
mengenai hak untuk memperoleh keadilan dengan mengajukan permohonan praperadilan
dihadapan Hakim yang jujur dan adil, yang bebas dan tidak memihak, sesuai dengan
hukum acara yang menjamin pemeriksaan yang objektif oleh penyidik yang jujur dan adil.
Tuntutan perlakuan yang adil bagi tersangka atau terdakwa dalam proses
praperadilan sejalan dengan Pasal 18 UU No.39 Tahun 1999, bahwa setiap orang termasuk
dan tersangka tanpa diskriminasi berhak untuk memperoleh keadilan dengan mengajukan
permohonan, pengaduan, dan gugatan dalam perkara pidana melalui proses praperadilan
yang bebas dan tidak memihak, sesuai dengan hukum acara yang menjamin pemeriksaan
yang objektif, jujur dan adil untuk memperoleh putusan yang adil dan benar.
Secara keseluruhan dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan
prinsip keadilan dalam hubungan penegakan hukum dan perlindungan HAM atas hakhak tersangka atau terdakwa mengajukan permohonan praperadilan, adalah tidak optimal.
Prinsip Jaminan Kepastian Hukum
Jaminan kepastian hukum menjadi salah satu prinsip dasar dari perlidungan HAM
dalam proses penegakan hukum dan peradilan pidana, khususnya praperadilan. Jaminan
kepastian hukum juga berarti bahwa para pencari keadilan khususnya tersangka atau
terdakwa senantiasa mendapatkan perlindungan, dan tidak ragu menghadapi setiap
langkah proses hukum, karena ia yakin dan percaya pada adanya keadilan.
Di Lembaga Peradilan, jaminan kepastian hukum terhadap tersangka atau terdakwa
bersifat urgen, vital dan strategis sebab pemeriksaan pendahuluan terhadap tersangka atau
terdakwa sangat menentukan langkah atau tahap pemeriksaan selanjutnya di persidangan.
Dengan adanya jaminan kepastian hukum atas pemeriksaan pendahuluan tersebut,
410 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
memungkinkan Hakim dapat memenuhi Pasal 77 huruf a KUHAP, yakni memeriksa
dan memutus sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau
penghentian penuntutan.
Permasalahannya seperti yang ditemukan dari hasil penelitian bahwa, permintaan atau
permohonan praperadilan yang diajukan oleh tersangka atau terdakwa bersama penasihat
hukumnya belum sepenuhnya menunjukkan pelaksanaan asas jaminan kepastian hukum.
Sikap Hakim Pengadilan Negeri menolak permintaan atau permohonan praperadilan
tersangka atau terdakwa dengan menggunakan alasan dogmatis dan manipulatif membuat
terdakwa merasa ragu, tidak percaya pada lembaga praperadilan. Tersangka atau terdakwa
tetap yakin bahwa dirinya tidak bersalah tapi dipaksakan penangkapan dan penahanannya
tanpa alat bukti yang cukup.
Tersangka atau terdakwa berharap dapat memperoleh jaminan kepastian hukum
melalui praperadilan, namun harus kecewa, bingung, sedih, gelisah, stress dan frustrasi
karena ternyata Hakim Pengadilan Negeri memberikan alasan yang kurang meyakinkan,
bahkan alasan itu dipandang manipulatif karena tidak ada informasi mengenai status
pelimpahan BAP-nya. Permasalahan lainnya bahwa, harapan tersangka atau terdakwa
agar permohonan praperadilannya dikabulkan sehingga penyidikan dan penuntutan dapat
segera dihentikan serta berharap mendapat ganti kerugian dan rehabilitasi sesuai amanat
Pasal 77 huruf b KUHAP, namun harapan itu juga tidak pernah pasti.
Fenomena yang berkembang, terkesan ada upaya konspiratif dari oknum penegak
hukum maupun pihak lain di luar lembaga peradilan untuk menolak permohonan
praperadilan tersangka atau terdakwa agar kepentingannya untuk memenjarakan terdakwa
dapat tercapai. Hal ini juga berarti bahwa, penolakan permohonan praperadilan tersangka
atau terdakwa masih sulit dilepaskan dari adanya pengaruh intervensi dan konflik
kepentingan untuk mengkriminalisasi hak-hak tersangka atau terdakwa.
Perkembangan yang terjadi bahwa sangat ada jarang permohonan praperadilan
tersangka atau terdakwa dikabulkan oleh Hakim di Pengadilan Negeri. Hal ini juga
mengisyaratkan bahwa, pihak-pihak di Lembaga Penegak Hukum atau Lembaga Peradilan
seolah ingin selalu memberikan kesan bahwa proses penangkapan dan penahanan tersangka
atau terdakwa selalu benar; seolah penyidik dianggap tidak pernah melakukan kesalahan
dalam menangkap dan menahan orang; seolah penyidik dianggap selalu menjalankan
ketentuan perundang-undangan dengan benar; seolah penuntutan selalu dianggap benar,
padahal tidak selamanya benar.
Seringnya permohonan praperadilan tersangka atau terdakwa ditolak dan
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
411
jarangnya permohonan praperadilan tersangka atau terdakwa dikabulkan, sudah cukup
mengisyaratkan bahwa Lembaga Penegak Hukum atau Lembaga Peradilan masih sulit
dilepaskan dari praktik kriminogen dan viktimogen, dan hal ini juga berarti bahwa jaminan
kepastian hukum terhadap para pencari keadilan khususnya tersangka atau terdakwa
masih rentan menimbulkan permasalahan.
Timbulnya masalah dalam hal jaminan kepastian hukum terhadap para pencari
keadilan khususnya tersangka atau terdakwa dalam proses praperadilan tersebut secara
nyata belum sesuai dengan Pasal 36 Ketetapan MPR No. XIV/MPR/199822, terutama
mengenai jaminan pengakuan serta penghormatan terhadap hak dan kebebasan tersangka
atau terdakwa untuk memperoleh perlindunga hukum atas perlakuan yang diterima pada
proses penyidikan.
Penolakan permohonan praperadilan tersangka atau terdakwa dengan alasan yang
dogmatis yang dikemukakan oleh Hakim Pengadilan Negeri bertentangan dengan amanat
Pasal 7, 8 TAP MPR No. XIV/MPR/1998 dan Pasal 3 ayat (2) UU No. 39 Tahun 1999,
mengenai hak atas pengakuan, jaminan perlindungan, dan perlakuan hukum yang adil
atau yang sama di hadapan hukum dan kepastian hukum, termasuk Pasal 5 ayat (1) (2)
UU No.39 Tahun 1999 mengenai jaminan kepastian hukum bantuan dan perlindungan
yang adil dan objektif, Pasal 17 UU No.39 Tahun 1999, mengenai hak mengajukan
permohonansesuai dengan hukum acara yang menjamin pemeriksaan yang objektif, jujur
dan adil untuk memperoleh putusan yang adil dan benar.
Secara keseluruhan dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan
prinsip jaminan kepastian hukum dalam hubungan penegakan hukum dan perlindungan
HAM atas hak-hak tersangka atau terdakwa dalam proses praperadilan, adalah tidak
optimal.
Prinsip Keamanan-Ketertiban
Salah satu hak asasi yang melekat pada diri setiap orang atau manusia termasuk
tersangka atau terdakwa dan menjadi kebutuhan pokok adalah rasa aman, tentram,
keselamatan dan kenyamanan serta ketertiban. Hak asasi tersebut juga mutlak dibutuhkan
oleh tersangka atau terdakwa dalam proses praperadilan.
Permasalahannya seperti yang ditemukan dari hasil penelitian menunjukkan bahwa,
penolakan permohonan praperadilan tersangka atau terdakwa dengan alasan yang kabur
22 Ketetapan MPR RI No.XVI/MPR/1998 Pasal 36: Di dalam menjalankan hak dan kebebasannya
setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan-pembatasan yang ditetapkan oleh undang-undang dengan
maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain,
dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, keamanan, dan ketertiban
umum dalam suatu masyarakat demokratis.
412
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
(absurd) cenderung semakin membuat tersangka atau terdakwa menjadi tidak nyaman
atau kurang tentram, tertekan, merasa terancam akan dipenjarakan secara paksa.
Bertolak dari alasan Hakim Pengadilan Negeri yang menyatakan bahwa penghentian
permohonan praperadilan sengaja dilakukan karena pertimbangan untuk menghindari
putusan yang berbeda dan karena berkas perkara terdakwa telah dilimpahkan di Pengadilan
serta sedang dalam proses pemeriksaan, memberikan implikasi fisik dan psikis terhadap
tersangka atau terdakwa.
Penolakan Hakim atas permohonan praperadilan dengan alas an-alasan tersebut
tidak membuat tersangka atau terdakwa menjadi tenang dan tentram, malahan sebaliknya
semakin gelisah dan tertekan karena merasa terancam akan dipidanakan atau dimasukkan
ke dalam bui secara paksa. Tersangka atau terdakwa mengalami penyiksaan fisik dan
batin bukan karena permohonan praperadilannya ditolak tetapi karena alasan- alasan yang
dikemukakan oleh Hakim membingungkan.
Tersangka atau terdakwa akan terus memikirkan nasibnya di rumah tahanan
(Rutan) karena sudah menerima perlakuan yang sewenang-wenang dari oknum penyidik
dalam proses penangkapan dan penahanannya kemudian ditambah lagi dengan perlakuan
sewenang-wenang dari oknum Hakim yang membuat alasan yang irrasional, sehingga
tersangka atau terdakwa benar-benar merasa didzalimi atau dikriminalisasi yang membuat
hati dan fikirannya tidak tentram, gelisah, dihantui rasa takut dan mengalami gangguan
keseimbangan mental. Gangguan potensial dan terstruktur serta tersistematis atas rasa
aman rentan dialami tersangka atau terdakwa ketika permohonan praperadilannya ditolak
oleh Hakim Pengadilan Negeri dengan berdasarkan pada alasan-alasan yang ambigu dan
overlapping atau tidak tertib.
Ironinya, bagaimana mungkin ada dua peristiwa pengadministrasian dalam satu
kasus perkara pidana di Pengadilan Negeri, yaitu administrasi penerimaan pendaftaran
permohonan praperadilan dan administrasi pelimpahan BAP yang terjadi dalam waktu
bersamaan. Jika Pengadilan Negeri sudah mencatat dan mengadministrasikan pelimpahan
BAP lalu mengapa harus menerima pendaftaran permohonan praperadilan terdakwa jika
diketahui hal itu tidak boleh terjadi. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan yang serius
bahwa ada apa dengan sistem pengadministrasian perkara yang demikian.
Sehubungan dengan adanya kecenderungan tindakan-tindakan konspiratif untuk
menolak permohonan praperadilan tersangka atau terdakwa dalam proses praperadilan
agar terdakwa yag bersangkutan dapat dijatuhi pidana dan dipenjara, menimbulkan rasa
cemas dan ketakutan serta siksaan batin pada diri tersangka atau terdakwa, dan hal itu
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
413
sudah masuk kategori penyiksaan sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka 2 dan Pasal
4 angka 2 UU No. 39 Tahun 1999. Sebagaimana terungkap dari temuan hasil penelitian
bahwa, terkadang ada unsur kesengajaan oknum-oknum tertentu di Pengadilan ataupun di
Tingkat Penyidikan dan Penuntutan untuk menolak permohonan praperadilan tersangka
atau terdakwa karena khawatir tersangka akan bebas, sementara mereka sangat ingin agar
tersangka masuk penjara dan dipenjara lebih lama. Hal ini mengindikasikan bahwa, di
kalangan penegak hukum (Polisi, Jaksa, Hakim) sebenarnya terjadi konflik kepentingan
yang menciptakan rasa kurang aman dan nyaman serta tidak tentram di dalam jiwa dan
fikiran diantara mereka.
Konflik batin terkadang sulit dihindarkan pada diri oknum Penegak hukum (JPU,
Penyidik dan Hakim) karena di satu sisi ingin memaksakan kemauan atau keinginannya
untuk merekayasa arus perkara dengan adanya intervensi dari pihak lain namun disisi
lain harus mematuhi ketentuan hukum yang ada dalam proses praperadilan dan tuntutan
penegakan HAM. Penolakan permohonan praperadilan tersangka atau terdakwa dengan
alasan yang hanya berdasar pada Pasal 82 ayat (1) KUHAP justeru cenderung mengabaikan
atau mengesampingkan ketentuan Pasal 9 ayat (2) UU No.39 Tahun 1999 mengenai hak
hidup tenteram, aman, damai, bahagia, sejahtera lahir dan batin.
Keseluruhan kondisi yang dialami oleh oknum Penegak hukum (JPU, Penyidik dan
Hakim) demikian, mengindikasikan bahwa mereka menghadapi tantangan yang berat
untuk menegakkan hukum dan HAM, sehingga mereka tidak jarang diperhadapkan pada
pilihan keputusan dan tindakan dalam melaksanakan prinsip-prinisip perlindungan HAM
khususnya terkait dengan aspek ketertiban dan keamanan.
Dari konsepsi tersebut, maka oknum Penegak hukum (JPU, Penyidik dan Hakim)
dalam melaksanakan tugas dan fungsinya khususnya dalam proses praperadilan senantiasa
dituntut membebaskan diri dari fikiran dan perilaku atau jahat sebagaimana dikemukakan
JE Sahtetapy (2005) bahwa tujuan hukum pidana adalah untuk membebaskan manusia
dari fikiran dan perbuatan jahat, dan sebaliknya diharapkan untuk senantiasa mampu
menciptakan ketertiban dan kedamaian, sebagaimana diamanatkan pada Pasal 33, 34, 35
UU No.39 Tahun 1999.
Secara keseluruhan dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa, implementasi
prinsip-prinsip HAM berupa keamanan dan ketertiban dalam proses praperadilan
masih bermasalah atau belum efektif. Hakim di Pengadilan Negeri cenderung lebih
mengutamakan keadilan prosedural dalam menolak permohonan praperadilan tersangka
atau terdakwa, namun sebaliknya mengesampingkan keadilan substantif terdakwa yakni
414
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
gangguan rasa aman, rasa tentram dan damai. Hakim di Pengadilan Negeri cenderung lupa
bahwa tersangka atau terdakwa adalah manusia yang memerlukan pemenuhan kebutuhan
dasar berupa rasa aman, tentram dan kedamaian serta ketertiban, sehingga melanggar
prinsip-prinsip keamanan dan ketertiban dalam perlindungan HAM.
Prinsip Kebebasan
Sebagaimana diketahui bahwa praperadilan merupakan fasilitas yang bersifat pilihan
dan accidental yang memungkinkan tersangka atau terdakwa dapat menggunakan fasilitas
tersebut secara bebas dan dengan akses yang mudah untuk mengajukan permintaan atau
permohonan praperadilan guna memperoleh keadilan yang diinginkan.
Kebebasan bukan hanya menjadi salah satu kebutuhan dasar setiap manusia namun
juga menjadi salah satu prinsip dalam perlindungan HAM. Kebebasan yang dimaksud
adalah ditinggalkannya tindakan-tindakan yang sifatnya menekan, memaksa ataupun
upaya rekayasa terhadap proses praperadilan. Dalam konteks kebebasan, tersangka atau
terdakwa dapat leluasa mengemukakan perasaan, fikiran dan menyampaikan pengalaman
atas perlakuan yang tidak menguntungkan selama proses penangkapan dan penahanannya
secara demokratis dan bertanggung jawab.
Sehubungan dengan hal tersebut, temuan hasil penelitian menunjukkan bahwa,
tersangka atau terdakwa cenderung belum dipenuhi kebebasannya untuk mengakses
informasi mengenai status BAP-nya sebelum mengajukan permintaan atau permohonan
praperadilan di Pengadilan Negeri. Pasal 118 KUHAP23 mengatur bahwa sebelum BAP
ditandatangani maka tersangka atau terdakwa harus diberikan kesempatan membaca isi dari
BAP serta meminta persetujuan untuk menandatanganinya. Ketentuan ini juga seharusnya
diberlakukan ketika BAP hendak dilimpahkan ke Pengadilan yakni memberitahukan
secara lisan atau tertulis kepada tersangka atau terdakwa dan penasihat hukumnya agar
mereka dapat mempertimbangkan pengajuan permohonan praperadilannya.
Adalah benar bahwa pada penyidikan, titik berat tekanannya diletakkan pada
tindakan “mencari serta mengumpulkan bukti” supaya tindak pidana yang ditemukan dapat
menjadi terang, serta menemukan dan menentukan pelakunya. Namun permasalahannya,
terkadang tersangka lebih dulu ditangkap dan ditahan baru kemudian dikumpulkan alat
buktinya. Hal inilah yang memungkinkan tersangka atau terdakwa dapat mengambil
pilihan untuk mengajukan permohonan praperadilan agar cara-cara atau metode taktis
23 Pasal 118 KUHAP, menyebutkan: Keterangan tersangka dan atau saksi dicatat dalam berita acara
yang ditandatangi oleh penyidik dan oleh yang memberi keterangan itu setelah mereka menyutujui isinya
(Ayat 1). Dalam rangka dan atau saksi tidak mau membubuhkan tandatangannya, penyidik mencatat hal itu
dalam berita acara dengan menyebut alasanya (Ayat 2).
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
415
yang dilakukan oleh penyidik dalam proses penangkapan dan penahanan tersangka dapat
diminimalsir di masa akan datang.
Penulis sependapat dengan pandangan Harahap24 bahwa, prinsip adanya dugaan
keras sebagai pelaku tindak pidana berdasarkan bukti yang cukup merupakan prinsip yang
sangat hakiki yang dianut dalam KUHAP. Namun demikian, kecenderungan perilaku
yang terjadi adalah ditemukan dan kumpulkan dulu alat bukti yang cukup baru dilakukan
penahanan, bukan menggunakan metode taktis tangkap dan tahan dulu, kemudian
tersangka diperas agar mengaku, baru cari bukti yang cukup. Sikap demikian, jika terlalu
dipaksakan maka harapan menemukan kebenaran materil sulit diperoleh. Kesannya,
seolah - olah hendak mengubah arus perkara (melanggar Pasal 6 huruf (n) PP No. 2 Tahun
2003 Tentang Disiplin Anggota Kepolisian Negara RI).25
Permasalahan lainnya bahwa hak-hak tersangka berupa kebebasan yang seharusnya
dapat diperoleh, namun seringkali terhambat karena kuatnya hubungan patron klien.
Dalam hal ini, penyidik yang selalu mengendalikan tersangka, sedangkan tersangka atau
terdakwa berada pada posisi yang lemah atau tidak berdaya menolak keinginan atau
kemauan oknum penyidik dan penuntut umum. Atas kondisi tersebut maka permohonan
praperadilan sangat memungkinkan untuk dikabulkan.
Selanjutnya, menyimak lebih seksama, persoalan kebebasan terutama yang berkaitan
dengan proses praperadilan pada dasarnya sudah diatur dalam UU Perlindungan HAM,
seperti Pasal 33 ayat (1) UU No. 39 Tahun 1999 terutama mengenai hak untuk bebas dari
penyiksaan, penghukuman atau perlakuan yang kejam, tidak manusiawi, merendahkan
derajat dan martabat kemanusiaannya,
Jaminan atas kebebasan dalam proses praperadilan cukup jelas diatur pada Pasal 70,
73 UU No.39 Tahun 1999, terutama kebebasan disertai kewajiban tersangka dan kewajiban
penyidik, JPU dan Hakim Pengadlan tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan oleh
undang-undang, menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang
lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, keamanan,
dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis. Secara keseluruhan dapat
disimpulkan bahwa, implementasi prinsip-prinsip HAM berupa kebebasan dalam proses
praperadilan belum efektif.
24 M. Yahya Harahap 2007. Op.Cit. 55
25 M. Yahya Harahap 2007. Op.Cit. 55 - 56
416
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan uraian hasil penelitian dan pembahasan, dapat dikemukakan kesimpulan
bahwa implementasi prinsip-prinsip HAM berupa prinsip keterbukaan, prinsip keadilan,
prinsip jaminan kepastian hukum, prinsip jaminan keamanan dan ketertiban, serta prinsip
kebebasan dalam perlindungan HAM terhadap tersangka pada Lembaga Praperadilan di
wilayah hukum Polresta Merauke belum efektif. Hal ini terutama proses praperadilan
belum disertai perhatian terhadap hak-hak asasi tersangka untuk memperoleh informasi
mengenai status BAP-nya. Tersangka menerima perlakuan yang tidak adil karena
penolakan permohonan praperadilannya oleh Hakim dilakukan dengan alasan-alasan
manipulatif, yang tidak memberikan perlindungan hukum atas perlakuan yang diterima
di tingkat penyidikan dan penuntutan, tersangka merasa terancam akan dipenjara secara
paksa, dan aksesnya untuk bebas memperoleh keadilan dihambat.
Saran
Sehubungan dengan uraian kesimpulan tersebut, diharapkan kepada Hakim di
Pengadilan Negeri khususnya di Lembaga Praperadilan untuk mengedepankan penegakan
hukum dengan pelaksanaan prinsip-prinsip HAM terhadap tersangka atau terdakwa. Selain
itu, meningkatkan pengawasan terhadap Hakim di Lembaga Praperadilan, meningkatkan
kompetensi SDM Hakim melalui pendidikan dan pelatihan, serta mengoptimalkan sistem
pengadministrasian perkara.
DAFTAR PUSTAKA
A. Masyhur Effendi. 1994. Hak Asasi Manusia dalam Hukum Nasional dan Internasional.
Jakarta: PT Ghalia Indonesia.
________________. 1980. Hak Asasi Manusia dan Aplikasinya dalam Negara Hukum
RI. Bandung: Alumni.
Bank Dunia. 2005. Menciptakan Peluang Keadilan (Laporan atas studi”Village Study in
Indonesia dan Terobosan dalam Penegakan Hukum dan Aspirasi Reformasi Hukum
di Tingkat Lokal), Jakarta: Bank Dunia.
Hans Kelsen. 1976. Reine Rechtskehre, Wien: (Terjemahan Satjipto Rahardjo, 2006)
Franz Deuticke.
M. Yahya Harahap. 2006. Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP
Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi dan Peninjauan Kembali, Edisi
Kedua. Jakarta: Sinar Grafika.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
417
Oemar Seno Adji. 1980. Hukum, Hakim Pidana, Jakarta: Airlangga.
Satjipto Rahardjo. 2006. Ilmu Hukum. Bandung: PT Citra Aditya Bhakti.
Soerjono Soekanto. 2005. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: Airlangga.
Yesmil Anwar dan Adang, 2009. Sistem Peradilan Pidana (Konsep, Komponen dan
Pelaksanaannya dalam Penegakan Hukum di Indonesia). Bandung: Widya
Padjadjaran.
418
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
IMPLEMENTASI KEWENANGAN INTELIJEN
YUSTISIAL KEJAKSAAN DALAM MELAKUKAN
PENYELIDIKAN TINDAK PIDANA KORUPSI
Zainal Abidin, M. Said Karim, Slamet Sampurno Soewondo
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
IMPLEMENTASI KEWENANGAN INTELIJEN YUSTISIAL
KEJAKSAAN DALAM MELAKUKAN PENYELIDIKAN TINDAK
PIDANA KORUPSI
Oleh: Zainal Abidin1*, M. Said Karim2, Slamet Sampurno Soewondo2
Kejaksaan Negeri Makassar
Jl. Amanna Gappa No. 29, 90111, Makassar
2
Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin
Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10, Tamalanrea, 90245, Makassar
*
E-mail: [email protected]
1
Abstrak
The study aims to describe the ideal role of the judicial intelligence authority of the district
attorney of the republic of Indonesia in investigating corruption, examine the obstacles
against the invetigation of the crime faced by the investigating attorney, and discuss the
endeavours made by the judicial intelligence attorney to overcome them. The study reveals
that (a) the investigation of corruption crime should ideally start from intelligence cycle to
insure its successful achievement which involves four stages: to perform a data collection
plan, to process data, and to make use of data; (b) the Indonesian District Attorney’s office
should ideally not be a government/executive institution under the president in equivalence
with the state ministry but an independent legal institution free from pressure of any parties.
The obstacles of the investigation come from (a) the rules and laws themselves and the
weaknesses of the article and paragraph explanations; (b) unprofessional investigating
district attorney lacking of integrity and morality of the district attorney; (c) the limitation
of funding and infrastructure allocated for the investigation; and (d) the lack of support
and participation by the community in the corruption eradication movement.
Keywords: Attorney, Intelligence, Investigation, Law Enforcement
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran ideal otoritas intelijen yustisial
Kejaksaan Republik Indonesia dalam menyelidiki tindak pidana korupsi, memeriksa
hambatan terhadap invetigation kejahatan yang dihadapi​​
, dan mendiskusikan upaya
yang dilakukan oleh intelijen yustisial kejaksaan untuk mengatasinya. Hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa idealnya, kegiatan penyelidikan tindak pidana korupsi harus
bertitik tolak pada siklus intelijen untuk menjamin keberhasilan dalam melaksanakan
kegiatan penyelidikan tersebut, yaitu meliputi 4 (empat) tahap kegiatan: 1) Menyusun
rencana pengumpulan data (renpul data); 2) Pengumpulan data itu sendiri (pul data); 3)
Pengolahan data (lah data); dan 4) Penggunaan data (gun data). Hambatan pelaksanaan
penyelidikan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh Jaksa Penyelidik meliputi: (a)
hambatan dari segi peraturan perundang-undangan ditemukan adanya kelemahan
dalam pengaturan substansi kewenangan penyelidikan tindak pidana korupsi diantara
3 (tiga) Lembaga Penegak Hukum di negeri ini yaitu Kejaksaan RI, Kepolisian RI dan
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI; (b) ketidakprofessionalan Jaksa Penyelidik;
(c) keterbatasan biaya dan sarana dalam kegiatan operasi intelijen; dan (d) kurangnya
dukungan dan partisipasi masyarakat.
Kata Kunci: Jaksa, Intelijen, Penyelidikan, Penegakan Hukum
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
PENDAHULUAN
Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD
NRI 1945) menyebutkan, “Negara Indonesia adalah Negara hukum”. Hal ini mengandung
arti bahwa di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia ini hukum adalah merupakan
“panglima” dan urat nadi pada segala aspek kehidupan bernegara maupun masyarakat.
Hukum mempunyai posisi strategis dan dominan dalam kehidupan masyarakat berbangsa
dan bernegara. Hukum sebagai suatu sistem dapat berperan dengan baik dan benar di tengah
masyarakat jika instrumen pelaksanaannya dilengkapi dengan kewenangan-kewenangan
dalam bidang penegakan hukum. Salah satu diantara kewenangan-kewenangan penegakan
hukum tersebut dimiliki oleh Lembaga Kejaksaan RI.
Hukum sebagai suatu sistem mempunyai peran yang strategis dan dominan. Menurut
Lawrence M. Friedman,1 hukum sebagai suatu sistem hukum akan dapat berperan dengan
baik dalam masyarakat jika intstrumen pelaksanaannya dilengkapi dengan kewenangankewenangan di bidang penegakan hukum. Untuk mewujudkan prinsip-prinsip negara
hukum, diperlukan baik norma-norma hukum atau peraturan perundang-undangan, juga
aparatur pengemban dan penegak hukum yang professional, berintegritas, dan disiplin
yang didukung oleh sarana dan prasarana hukum serta perilaku hukum masyarakat. Oleh
karena itu, idealnya setiap negara hukum termasuk Negara Indonesia harus memiliki
lembaga/institusi/aparat penegak hukum yang berkualilifikasi demikian.2
Pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia tentunya tidak terlepas dari
upaya Aparat Penegak Hukum sebagai bagian dari Struktur hukum dalam melakukan
upaya penegakan hukum. Sebagai salah satu lembaga yang diberikan kewenangan dalam
melakukan penegakan hukum dalam hal pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, ialah
Kejaksaan RI. Sebagaimana disebutkan didalam Pasal 39 Undang-Undang Nomor 31
Tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Disebutkan bahwa Jaksa Agung RI
mengkoordinasikan dan mengendalikan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak
pidana korupsi yang dilakukan bersama-sama oleh orang yang tunduk pada peradilan
umum dan peradilan militer.
Proses penyidikan dalam penanganan tindak pidana korupsi haruslah dimulai dari
proses “penyelidikan” karena penyelidikan sendiri merupakan sub fungsi dari penyidikan.
Sebagai “penyelidik” dalam tindak pidana korupsi maka Intelijen Yustisial Kejaksaan RI
1 Lawrence M. Friedman, The Legal System ; A Social Science Perspective, New York Russel Sage
Foundation, 1975, hal.11
2 Marwan Effendi, Kejaksaan RI Posisi dan Fungsinya dari Perspektif Hukum, Jakarta: PT. Gramedia
Pusaka Utama, 2005, hal.1.
422
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
berwenang untuk mengadakan penyelidikan dan peran Jaksa Penyelidik sebagai organ
Intelijen Yustisial Kejaksaan RI dalam melakukan penyelidikan terhadap informasi
adanya dugaan Tindak Pidana Korupsi sangatlah besar. Jaksa penyelidik bertugas sebagai
pencari dan pengolah informasi awal dalam menemukan adanya dugaan tindak pidana
korupsi untuk dapat menjalankan “fungsi intelijen yustisial” berupa intelijen penegakan
hukum. Tugas yang diemban oleh Jaksa Penyelidik dalam melakukan penyelidikan tindak
pidana korupsi yakni mengumpulkan data serta bahan-bahan keterangan terhadap pihakpihak yang dianggap terkait pada peristiwa tersebut.
Permasalahan yang sering timbul sejalan dengan kewenangan Jaksa Penyelidik
di dalam tahap penyelidikan tindak pidana korupsi ialah ketidak profesionalan Jaksa
Penyelidik berupa kekurangcermatan dan kinerja yang lambat dalam mencari serta
mengumpulkan bukti-bukti awal dan data awal yang diperlukan dalam penyelidikan
yang dilakukannya, karena tak jarang Jaksa Penyelidik mengumpulkan data dan bahan
keterangan dari pihak-pihak yang tidak ada keterkaitannya dengan dugaan tindak pidana
korupsi yang sedang diselidikinya.
Selain itu, Jaksa Penyelidik terkesan lambat dalam melakukan penyelidikan karena
hanya “pasif” menunggu data dan keterangan dari pihak-pihak yang dipanggil untuk
dimintai keterangan tanpa mau aktif mencari data dan bahan keterangan yang dianggap
terkait dengan penyelidikan yang dilakukkannya sehingga tak jarang dalam penanganan
tindak pidana korupsi data dan bahan-bahan keterangan dimiliki Jaksa Penyelidik sangat
minim dan tidak akurat sehingga akan mempengaruhi kegagalan penyidikan dan penuntutan
selanjutnya terhadap pembuktian perkara tindak pidana korupsi di depan persidangan. Di
sisi lain, faktor integritas dan moralitas Jaksa Penyelidik kerap dipertanyakan mengingat
masih ada beberapa perkara dugaan tindak pidana korupsi yang sedang diselidiki Intelijen
Yustisial Kejaksaan RI tidak jelas arahnya apakah akan dilanjutkan ke penyidikan ataukah
dihentikan penyelidikannya sehingga lama sekali mengendap bertahun-tahun tanpa
memberi kejelasan kepada masyarakat.
Pada faktor kelemahan lainnya yang ditemukan ialah anggaran dan sarana/prasarana
operasional Intelijen Yustisial Kejaksaan RI yang tidak memadai sehingga tak jarang
Jaksa Penyelidik mengalami keterbatasan biaya dan sarana/prasarana dalam melakukan
operasi Intelijen termasuk didalam melakukan penyelidikan tindak pidana korupsi, yang
memerlukan biaya operasional,seperti biaya akomodasi dan transportasi bagi kegiatan
pengumpulan data dan bahan keterangan di lapangan.
Dari segi peraturan perundang-undangan yang berlaku, ditemukan adanya kelemahan
dalam pengaturan substansi kewenangan penyelidikan tindak pidana korupsi di antara
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
423
3 (tiga) kewenangan lembaga penegak hukum ,yaitu Kejaksaan RI, Kepolisian RI dan
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tak jarang terjadi rebutan perkara terhadap suatu
perkara yang sama-sama ditangani oleh 3 (tiga) atau diantara lembaga penegak hukum
tersebut,
Permasalahan lain yang timbul ialah intervensi politik dan kekuasaan yang mewarnai
penegakan hukum di Indonesia juga sering menerpa Aparat Penegak Hukum termasuk
pada Jaksa Penyelidik yang sedang menyelidik suatu perkara tindak pidana korupsi,
Institusi Kejaksaan RI sebagai Lembaga Pemerintahan di bawah kekuasaan Presiden
RI dan sejajar/sederajat dengan Kementerian Negara bukanlah Lembaga Independen
sehingga seluruh kebijakan penanganan perkara termasuk perkara tindak pidana korupsi
pengendaliannya harus berlaku menyeluruh dari atas ke bawah (top down), sehingga
Jaksa Penyelidik yang tergabung di dalam Intelijen Yustisial Kejaksaan RI tidak memiliki
independensi dalam menentukan arah suatu perkara tindak pidana korupsi yang sedang
diselidikinya jika diduga akan bersentuhan dengan politik dan kekuasaan.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan
permasalahan, yaitu bagaimanakah implementasi kewenangan intelijen yustisial kejaksaan
RI pada peranan idealnya dalam melakukan penyelidikan tindak pidana korupsi?
METODE PENELITIAN
Lokasi Penelitian
Penulis memilih lokasi penelitian pada kota Makassar. Penulis ingin meneliti
pandangan masyarakat kota Makassar mengenai peranan Intelijen Yustisial Kejaksaan
RI, khususnya Kejaksaan Negeri Makassar dalam melakukan penyelidikan tindak pidana
korupsi serta upaya yang dapat dilakukan untuk penguatan Institusi Kejaksaan RI ke
depan secara menyeluruh, khususnya dalam melakukan penyelidikan tindak pidana
korupsi yang efektif dan profesional.
Tipe Penelitian
Penulis dalam penelitiannya menggabungkan dua model penelitian tersebut yaitu
penelitian normatif empiris dimana penulis ingin mengkaji norma-norma yang ada di
dalam undang-undang, asas-asas yang berlaku maupun teori-teori yang ada serta melihat
fakta secara langsung yang terjadi di lapangan dan bagaimana implementasi di dalam
pelaksanaannya.
424 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Jenis dan Sumber Data
Adapun jenis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah: 1) Data primer,
data yang diperoleh dari penelitian di lapangan dengan mengadakan wawancara (interview)
dan kuesioner kepada responden; 2) Data sekunder, data yang diperoleh melalui studi
kepustakaan dan data telaah dari beberapa tulisan kritis dan artikel hukum yang sangat
update serta peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan Kejaksaan RI,
Intelijen Negara dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi serta Peraturan Pemerintah,
Peraturan Presiden yang mengatur Organisasi dan Tata Kerja Kejaksaan RI, Peraturan
Jaksa Agung RI yang mengatur Standard Operasional Prosedur Intelijen Kejaksaan RI; dan
3) Penelitian lapangan (field research), yaitu pengumpulan data dengan mengamati secara
sistematis terhadap fenomena beberapa kasus tindak pidana korupsi di kota Makassar.
Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah masyarakat kota Makassar dengan berbagai profesi.
Metode pengambilan sampel akan dilakukan secara purposive sampling dengan
pertimbangan bahwa penulis ingin mengambil secara acak dari tiap golongan masyarakat.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini guna memperoleh
data dan informasi adalah sebagai berikut:
1. Wawancara, pengumpulan data yang dilakukan peneliti secara langsung dengan
mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan penelitian kepada
para nara sumber atau responden.
2. Studi dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data dengan cara mencatat dokumendokumen yang berkaitan dengan institusi kejaksaan. Menghubungkan pendapatpendapat, opini-opini hukum dari pakar hukum serta dari beberapa hukum dengan
peraturan perundang-undangan.
3. Sistem angket atau questioner, merupakan rangkaian-rangkaian pertanyaan yang
terstruktur sesuai atau relevan dengan penelitian yang kemudian oleh peneliti
diajukan dalam bentuk tertulis kepada narasumber. Hal ini dilakukan oleh peneliti
agar kiranya didapat hasil penelitian yang lebih kompleks.
Analisis Data
Berbagai data yang diperoleh oleh penulis akan dituangkan dalam tulisan ini
menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hal ini dimaksudkan agar penulis dapat
menggambarkan keseluruhan hasil data yang diperoleh baik melalui wawancara, studi
kepustakaan, penggunaan sistem questioner serta hasil pengamatan atau observasi.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
425
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Peranan Ideal Intelijen Yustisial Kejaksaan RI dalam Penyelidikan Tindak Pidana
Korupsi
Di dalam ketentuan UU No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan RI, menyebutkan
bahwa salah satu kewenangan lain sebagaimana dimaksud di dalam Pasal 2 ayat (1) UU
No. 16 Tahun 2004 tersebut ialah di bidang Intelijen sebagaimana dijelaskan di dalam
Pasal 9 UU No.17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara, Penyelenggara Intelijen Negara
terdiri atas:
a. Badan Intelijen Negara;
b. Intelijen Tentara Nasional Indonesia;
c. Intelijen Kepolisian Negara Republik Indonesia;
d. Intelijen Kejaksaan Republik Indonesia; dan
e. Intelijen kementrian/lembaga pemerintah non kementrian
Selanjutnya, dalam Pasal 13 ayat (1) UU No. 17 Tahun 2011 Tentang Intelijen
Negara, “Intelijen Kejaksaan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal
9 huruf d menyelenggarakan fungsi Intelijen penegakan hukum”.
Fungsi Intelijen
sebagaimana dimaksud di dalam Pasal 13 ayat (2) UU No. 17 Tahun 2011 ialah Fungsi
Intelijen sebagaimana yang diatur pada Pasal 6 UU No. 17 Tahun 2011 yang menyebutkan:
(1) Intelijen Negara menyelenggarakan fungsi penyelidikan, pengamanan dan
penggalangan.
(2) Penyelidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas serangkaian upaya,
pekerjaan, kegiatan, dan tindakan yang dilakukan secara terencana dan terarah
untuk mencari, menemukan, mengumpulkan dan mengolah informasi menjadi
Intelijen, serta menyajikannya sebagai bahan masukan untuk perumusan kebijakan
dan pengambilan keputusan.
(3) Pengamanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas serangkaian kegiatan
yang dilakukan secara terencana dan terarah untuk mencegah dan/atau melawan
upaya, pekerjaan, kegiatan Intelijen, dan/atau pihak lawan yang merugikan
kepentingan dan keamanan nasional.
(4) Penggalangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas serangkaian upaya,
pekerjaan, kegiatan, dan tindakan yang dilakukan secara terencana dan terarah untuk
mempengaruhi sasaran agar menguntungkan kepentingan dan keamanan nasional.
(5) Dalam menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2),
ayat (3) dan ayat (4) harus menghormati hukum, nilai-nilai demokrasi dan hak asasi
manusia.
426 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Idealnya, dalam implementasi kewenangan Intelijen Yustisial Kejaksaan RI pada
kegiatan penyelidikan tindak pidana korupsi harus bertitik tolak pada siklus intelijen untuk
menjamin keberhasilan dalam melaksanakan kegiatan penyelidikan tersebut, Jaksa harus
berpedoman kepada Roda Perputaran Penyelidikan (RPP) yang pada dasarnya meliputi 4
(empat) tahap kegiatan, yaitu:
1. Menyusun rencana pengumpulan data (renpul data);
Renpul data ini terdiri dari:
a. Penentuan
Menentukan terlebih dahulu UUK ialah unsur utama keterangan, atau membuat
DIM yaitu daftar inventarisasi masalah. UUK adalah data yang relevan, faktual,
aktual, dan kontektual, dengan masalah yang dihadapi.
b. PIL (Pilihan Informasi Lain)
Kemungkinan diperlukan adanya pilihan informasi lain yang dapat dipakai sebagai
indikasi, petunjuk atau sebagai data pelengkap.
c. Atas Dasar Perintah
Didasarkan suatu perintah dari atasan, permintaan user atau atas dasar inisiati
petugas sendiri.
d. Analisis Kebutuhan
Sebaiknya suatu renpul data didasarkan pada analisis kebutuhan, baik kebutuhan
organisasi, kebutuhan pimpinan maupun kebutuhan tuntutan lingkungan strategis
dan kebutuhan urgensinya masalah yang dihadapi.
e. Matriks (materi ringkas).
Untuk menyederhanakan dan memudahkan dalam menyusun renpul data tersebut
sebaiknya menggunakan metoda matriks yang terdiri dari kolom dan baris.
Setelah kelima tahap diatas terlaksana sebelum memasuki tahap pengumpulan
data (pul data) digelar pra-ekspose yaitu berupa pemaparan hasil pelaksanaan Surat
Perintah Tugas yang dituangkan dalam bentuk laporan dan matriks.
2. Pengumpulan Data (pul data);
Atas dasar renpul data, maka dimulailah kegiatan pengumpulan data itu sendiri,
yang mencakup:
a. S (subjek) pengumpul data
Pilihlah subjek/petugas pul data yang BIP, yaitu: Badan pengumpul (bapul),
Informan; atau Partisipan.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
427
b. O (objek) pengumpulan data
Tentukan objek, sasaran atau sumber data yang akan dikumpulkan atas dasar analisa
sasaran (ansas), yaitu antara lain:
i. Sifat sumber data terbuka berupa : berita media massa, internet, brosur dan
makalah dan sifat sumber data tertutup berupa : laporan rahasia, hasil sensor,
hasil penyadapan.
ii. Jenis sumber data berupa : responden, nara sumber, saksi, ahli, barang, benda,
dokumen/informasi, kegiatan/operasi, TKP/lapangan.
c. M (Metode) pengumpulan data
Tentukan metode pengumpulan data atas dasar antug, yaitu antara lain: dengan cara
terbuka melalui wawancara, orientasi, observasi, monitoring, pemotretan, penelitian
(lapangan, kepustakaan) atau dengan cara tertutup melalui investigasi, penjejakan,
pelacakan, penyadapan, sensor, klandestein, infiltrasi dan penetrasi.
3. Pengolahan data (lah data);
Data yang berhasil dikumpulkan tersebut perlu diolah melalui suatu proses pengolahan
data, antara lain meliputi kegiatan:
a. Pencatatan yang dilakukan pada buku kerja intelijan (BKI), peta.
b. Menilai data baik dari sumber data maupun isi data tersebut.
c. Integrasi, yaitu hasil dari penilaian data ditarik kedalam suatu kesimpulan.
d. Kesimpulan, yaitu berisi bentuk perkiraan keadaan atau estimasi.
4. Penggunaan data (gun data);
Penggunaan data adalah pemanfaatan data yang telah diolah menjadi informasi
siap pakai untuk berbagai kepentingan dan data/informasi tersebut didistribusikan
kepada pimpinan atau user terkait. Jika dalam penyelidikan tindak pidana korupsi,
Jaksa Penyelidik diwajibkan menggelar ekspose untuk memaparkan hasil pelaksanaan
penyelidikan di depan pimpinan dan unsur pembantu pimpinan lain serta peserta
ekspose untuk kiranya segera dapat menentukan apakah dugaan tindak pidana korupsi
yang telah diselidiki oleh Jaksa tersebut layak atau tidak untuk dapat ditingkatkan ke
tahap penyidikan.
Apakah perkara tersebut juga diindikasikan dapat menimbulkan akibat yang
luas dan sistematis bagi perekonomian dan hajat hidup masyarakat? Apakah dugaan
perkara tindak pidana korupsi tersebut telah memenuhi unsur pasal-pasal yang akan
dipersangkakan terhadap calon tersangka sebagaimana tertuang di dalam UU No.31
Tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU No. 20 Tahun 2001?
428 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Apakah Jaksa Penyelidik telah dapat mengumpulkan minimal bakal 2 (dua) alat bukti
yang sah sebagaimana ditentukan Pasal 184 ayat (1) KUHAP dan Pasal 26 A UU No.
20 Tahun 2001?
Pertanyaan-pertanyaan di atas akan mengemuka pada saat gelar perkara atau
ekspose digelar dan jika dari hasil pemaparan ekspose terhadap perkara dugaan tindak
pidana korupsi tersebut seluruh pimpinan, jaksa penyelidik dan peserta ekspose sepakat
menyetujui semua unsur pasal yang akan dipersangkakan telah dipenuhi dengan
didukung minimal bakal 2 (dua) alat bukti yang sah sesuai KUHAP dan Pasal 26 A
UU No. 20 Tahun 2001, maka kemudian ditentukan siapakah yang akan menjadi calon
tersangkanya dan langsung menentukan perhitungan sementara kerugian Negara yang
telah terjadi akibat tindak pidana korupsi tersebut. Selanjutnya dugaan perkara tindak
pidana korupsi yang telah diselidiki tersebut dapat ditingkatkan lebih lanjut ke tahap
penyidikan dengan membuat berita acara hasil ekspose yang ditandatangi pimpinan
dan seluruh peserta ekspose. Kemudian Jaksa Penyelidik dengan segera membuat
Laporan Hasil Operasi Intelijen Yustisial (L.IN.4) yang berisikan uraian hasil operasi
intelijen yustisial yang disusun secara lengkap, sistematis, jelas mengenai informasi,
data, bukti-bukti sesuai tujuan dan sasaran informasi diakhiri dengan kesimpulan dan
saran tindak agar dugaan perkara korupsi tersebut kiranya dapat ditingkatkan ke tahap
penyidikan.
Selanjutnya, jika Laporan Hasil Operasi Intelijen Yustisial (L.IN.4) telah dibuat
dan ditandatangani oleh Jaksa Penyelidik dan Pimpinan maka untuk selanjutnya Laporan
Hasil Operasi Intelijen Yustisial (L.IN.4) tersebut diserahkan kepada Bidang Tindak
Pidana Khusus Kejaksaan RI disertai Berita Acara Penyerahan dari Bidang Intelijen
ke Bidang Tindak Pidana Khusus untuk segera dapat dilanjutkan kemudian ke tahapan
penyidikan yang akan dilaksanakan oleh Bidang Tindak Pidana Khusus Kejaksaan RI.
Namun sebaliknya, jika dari dari hasil pemaparan ekspose terhadap perkara dugaan
tindak pidana korupsi tersebut seluruh pimpinan, jaksa penyelidik dan peserta ekspose
sepakat menyetujui bahwa unsur pasal yang akan dipersangkakan tidak terpenuhi, dan
tidak didukung minimal bakal 2 (dua) alat bukti yang sah sesuai KUHAP dan Pasal
26 A UU No. 20 Tahun 2001, maka untuk selanjutnya dugaan perkara tindak pidana
korupsi yang telah diselidiki tersebut tidak dapat ditingkatkan lebih lanjut ke tahap
penyidikan dengan membuat berita acara hasil ekspose yang ditandatangi pimpinan
dan seluruh peserta ekspose, dan kemudian Jaksa Penyelidik dengan segera membuat
Laporan Hasil Operasi Intelijen Yustisial (L.IN.4) yang berisikan uraian hasil operasi
intelijen yustisial yang disusun secara lengkap, sistematis, jelas mengenai informasi,
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013 429
data, bukti-bukti sesuai tujuan dan sasaran informasi diakhiri dengan kesimpulan dan
saran tindak agar dugaan perkara korupsi tersebut kiranya dapat dihentikan.
Jika Laporan Hasil Operasi Intelijen Yustisial (L.IN.4) tentang penghentian
hasil penyelidikan tersebut telah dibuat dan ditandatangani oleh Jaksa Penyelidik dan
Pimpinan, maka untuk selanjutnya Laporan Hasil Operasi Intelijen (L.IN.4) tersebut
disimpan dan dicatat di dalam registrasi Laporan Hasil Operasi Intelijen Yustisial untuk
kemudian dilaporkan secara berjenjang keatas secara hirarki dalam struktur organisasi
Intelijen Kejaksaan RI.3
Implementasi Kewenangan Intelijen Yustisialnya dalam melakukan penyelidikan
tindak pidana korupsi, seharusnya Kejaksaan RI adalah Lembaga Hukum yang mandiri,
bebas dari pengaruh pemerintah, presiden dan pihak manapun karena intervensi politik
dan kekuasaan di Indonesia sering menerpa aparat penegak hukum termasuk pada
Jaksa Penyelidik yang sedang menyelidik suatu perkara tindak pidana korupsi, Institusi
Kejaksaan RI saat ini adalah Lembaga Pemerintahan di bawah kekuasaan Presiden
RI dan sejajar/sederajat dengan Kementrian Negara sehingga seluruh kebijakan
penanganan perkara termasuk perkara tindak pidana korupsi pengendaliannya harus
berlaku menyeluruh dari atas ke bawah (top down), sehingga Jaksa Penyelidik yang
tergabung di dalam Intelijen Yustisial Kejaksaan RI tidak memiliki independensi dan
kewenangan penuh dalam menentukan arah suatu perkara tindak pidana korupsi yang
sedang diselidikinya jika diduga akan bersentuhan dengan politik dan kekuasaan di
negeri ini.
Hambatan Penyelidikan Tindak Pidana Korupsi yang Dilakukan Jaksa Penyelidik
Dari segi peraturan perundang-undangan
Peraturan perundang-undangan yang berlaku saat ini belum dirasa memadai dalam
pengaturan substansi kewenangan penyelidikan tindak pidana korupsi terutama diantara
3 (tiga) kewenangan Lembaga Penegak Hukum yaitu Kejaksaan RI, Kepolisian RI dan
Komisi Pemberantasan (KPK) Korupsi dan tak jarang terjadi perebutan perkara terhadap
suatu perkara korupsi yang sama-sama ditangani oleh 3 (tiga) atau diantara lembaga
penegak hukum tersebut karena merasa lembaganya masing-masing yang paling berwenang
melakukan penyelidikan tindak pidana korupsi, walau sebelumnya telah diatur didalam
UU No.16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan RI, UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian
Negara RI, UU No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi RI (KPK RI),
UU No.8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP),
3 Lihat, Peraturan Jaksa Agung RI Nomor PER-037/A/JA/09/2011 Tentang Standard Operasional
Prosedur Intelijen Kejaksaan RI
430 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
dan Surat Kesepakatan Bersama (MOU) Tentang Penanganan Perkara Tindak Pidana
Korupsi antara Jaksa Agung Republik Indonesia, Kepala Kepolisian Negara Republik
Indonesia dan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Nomor KEP- 49/A/J.A/03/2012,
Nomor B-23/III/2012 dan Nomor SP-39.3/01/03/2012 tanggal 29 Maret 2012.
Peraturan perundang-undangan yang berlaku juga dilihat belum memadai dalam
pengaturan substansi penjelasan pasal demi pasal yang ada dalam undang-undang tersebut
sehingga menimbulkan penafsiran yang beraneka ragam di kalangan akademisi, ilmuwan,
praktisi hukum dan masyarakat sehingga hambatan ini seringkali didapati oleh Jaksa
Penyelidik dalam aktualisasi kegiatan penyelidikan tindak pidana korupsi di lapangan.
Dari segi profesionalitas aparatur
Hal ini merupakan kenyataan yang tak bisa dipungkiri dalam realitas penanganan
perkara tindak pidana korupsi, bahwa penguasaan teoritis di bidang hukum wajib
diimbangi oleh kemampuan teknik intelijen di lapangan dan integritas serta moralitas
yang harus dimiliki oleh Jaksa Penyelidik. Bagi seorang Jaksa Penyelidik disamping
pengetahuan hukum yang luas, haruslah juga mempunyai intelijensi yang tinggi dalam
mempelajari dan mengamati indikasi tindak pidana korupsi yang terjadi.
Permasalahan yang sering timbul sejalan dengan kewenangan Jaksa Penyelidik
di dalam tahap penyelidikan tindak pidana korupsi ialah ketidak profesionalan Jaksa
Penyelidik berupa kekurang cermatan dan kinerja yang lambat dalam mencari serta
mengumpulkan bukti-bukti awal dan data awal yang diperlukan dalam penyelidikan
yang dilakukannya, karena tak jarang Jaksa Penyelidik mengumpulkan data dan bahan
keterangan dari pihak-pihak yang tidak ada keterkaitannya dengan dugaan tindak pidana
korupsi yang sedang diselidikinya.
Selain itu, Jaksa Penyelidik terkesan lambat dalam melakukan penyelidikan karena
hanya “pasif” menunggu data dan keterangan dari pihak-pihak yang dipanggil untuk
dimintai keterangan tanpa mau aktif mencari data dan bahan keterangan yang dianggap
terkait dengan penyelidikan yang dilakukkannya sehingga tak jarang dalam penanganan
tindak pidana korupsi data dan bahan-bahan keterangan dimiliki Jaksa Penyelidik
sangat minim dan tidak akurat sehingga akan mempengaruhi kegagalan penyidikan dan
penuntutan selanjutnya terhadap pembuktian perkara tindak pidana korupsi di depan
persidangan.
Di sisi lain, faktor integritas dan moralitas Jaksa Penyelidik kerap dipertanyakan
mengingat perkara dugaan tindak pidana korupsi yang sedang diselidiki Intelijen Yustisial
Kejaksaan RI tidak jelas arahnya apakah akan dilanjutkan ke penyidikan ataukah
dihentikan penyelidikannya sehingga lama sekali mengendap bertahun-tahun tanpa
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013 431
memberi kejelasan kepada masyarakat dan negara.
Dari segi anggaran dan sarana
Dari segi Anggaran dan Sarana Operasional Intelijen Yustisial Kejaksaan RI tidak
memadai untuk mendukung kegitatan operasi intelijen dalam penyelidikan tindak pidana
korupsi sehingga tak jarang Jaksa Penyelidik mengalami keterbatasan biaya dan sarana/
prasarana dalam melakukan operasi Intelijen melakukan penyelidikan tindak pidana
korupsi, yang memerlukan biaya operasional. Seperti, biaya akomodasi, transportasi dan
penggalangan bagi kegiatan pengumpulan data, bukti-bukti awal, dan bahan keterangan
di lapangan dan sarana operasional, contoh : alat-alat penyadapan, alat-alat deteksi
komunikasi seperti GPS dan alat komunikasi sandi.
Dari segi dukungan partisipasi masyarakat
Dari segi dukungan partisipasi masyarakat terlihat bahwa saat ini masyarakat umum
kurang perduli terhadap upaya pemberantasan korupsi di negeri ini, masyarakat seakan
telah apatis dan sudah pesimis untuk berjuang melawan korupsi karena penegakan hukum
terhadap tindak pidana korupsi yang tak jua kunjung mencapai keadilan sebagaimana
yang diharapkan masyarakat, atau ada sebagian masyarakat yang tidak mau tahu tentang
korupsi yang terpenting siapa yang memberikannya uang dan barang-barang kepadanya
menurutnya sudah tentu orang yang sangat baik tanpa melihat siapa sebenarnya orang
tersebut dan apa latar belakang pekerjaannya, sehingga di lapangan Intelijen Yustisial
Kejaksaan RI sering mengalami kesulitan bila ingin menggali data dan fakta di tengahtengah masyarakat jika ada dugaan tindak pidana korupsi di sekitar masyarakat tersebut.
PENUTUP
Kesimpulan
Dari uraian hasil penelitian dan pembahasan di atas, penulis menarik kesimpulan
sebagai berikut:
1. Implementasi kewenangan Intelijen Yustisial Kejaksaan RI pada peranan idealnya
dalam melakukan penyelidikan tindak pidana korupsi ialah kegiatan penyelidikan
tindak pidana korupsi haruslah bertitik tolak pada siklus intelijen untuk menjamin
keberhasilan kegiatan penyelidikan tersebut bagi tolak ukur keberhasilan penyidikan
dan penuntutan di tahapan selanjutnya.
2. Implementasi kewenangan Intelijen Yustisial Kejaksaan RI mengalami hambatan
pada tataran pelaksanaan penyelidikan tindak pidana korupsi yang dilakukan
oleh Jaksa Penyelidik ialah dikarenakan hambatan dari segi peraturan perundangundangan, kurangnya integritas dan moralitas Jaksa Penyelidik, serta keterbatasan
432
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
biaya dan sarana dalam kegiatan operasi intelijen dalam melakukan penyelidikan
tindak pidana korupsi.
Saran
Dari kesimpulan tersebut, maka dengan ini penulis menyarankan beberapa hal
sebagai berikut:
1. Sudah sepantasnya DPR RI membuat undang-undang yang mengatur secara rinci,
tegas dan jelas tentang penanganan perkara tindak pidana korupsi dimulai dari
tahap penyelidikan, penyidikan sampai penuntutan, agar tidak terjadi tumpang
tindih kewenangan, perebutan perkara dugaan tindak pidana korupsi yang akan
atau sedang diselidiki serta ketidaksesuaian peraturan-peraturan yang ada dalam
memberantas tindak pidana korupsi di antara ketiga lembaga penegak hukum di
negeri ini, Kejaksaan RI, Kepolisian RI dan Komisi Pemberantasan Korupsi RI.
2. Sudah saatnya Kejaksaan RI lebih meningkatkan pembinaan dan pendidikan
khusus yang berkualitas untuk para jaksa yang memiliki bakat, minat dan mampu
untuk menjadi Jaksa Penyelidik dan kemudian melakukan pendidikan pelatihan
berupa kecerdasan, agama, moral, mental serta Ilmu Pengetahuan Intelijen yang
tinggi yang menitikberatkan pada teknik penyelidikan serta diimbangi dengan
Ilmu Pengetahuan Ekonomi dan Perbankan agar dapat terbentuk Jaksa-Jaksa yang
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Profesional dengan Integritas.
DAFTAR PUSTAKA
Achmad Ali. 2009. Menguak Teori Hukum dan Teori Peradilan, Jakarta: Kencana Prenada
Media Group.
Baharuddin Lopa. 2001. Kejahatan Korupsi dan Penegakan Hukum, Jakarta: Kompas
Media Nusantara.
Lawrence M. Friedman.1975. The Legal System; A Social Science Perspective, New
York: Russel Sage Foundation.
Marwan Effendi. 2005. Kejaksaan RI Posisi dan Fungsinya dari Perspektif Hukum.
Jakarta: Gramedia Pusaka Utama.
Sumber lainnya:
Peraturan Jaksa Agung RI Nomor PER-037/A/JA/09/2011 tentang Standar Operasional
Prosedur Intelijen Kejaksaan RI.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
433
434
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
WUJUD TINDAK PIDANA KORUPSI
DALAM PENYIDIKAN DI KEJAKSAAN TINGGI
SULAWESI TENGGARA
Tenriawaru, M. Syukri Akub, Muhadar
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
WUJUD TINDAK PIDANA KORUPSI DALAM PENYIDIKAN
DI KEJAKSAAN TINGGI SULAWESI TENGGARA
Oleh: Tenriawaru1*, M. Syukri Akub2, Muhadar2
Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara
Jl. Jend. Ahmad Yani No. 4, Mandonga, 93117, Kendari
2
Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin
Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10, Tamalanrea, 90245, Makassar
1
*
E-mail: [email protected]
Abstract
Manifestation of corruption in criminal offences under investigate in high
prosecutor of South East of Sulawesi is corruption that caused state finacial loss which
is contain corruption crimes in abusing the authority related to duplicated the documents
administration and financial; Corruption on contracting parties and corruption based on
greediness. As mentioned under article 2, 3, 7 point (1) a, and b, article 9, article 12 point
e of the Law of Corruption Criminal Offences, which is generally happen in providing
good and service in government sectors: sector of financial management of APBD /APBN
which was covered the spending and using the financial budget of area together with
acquisition of local budgeting/ State from the tax sector and mining and the managing of
local budget sector.
Keywords: Corruption, Investigation
Abstrak
Wujud tindak pidana korupsi dalam penyidikan di Kejaksaan Tinggi Sulawesi
Tenggara adalah Korupsi yang merugikan keuangan negara yang di dalamnya terdapat
tindak pidana korupsi penggelapan jabatan terkait pemalsuan administrasi dokumendokumen pemeriksaan keuangan; Korupsi pada pemborongan, leveransir/rekanan dan
korupsi yang bersifat kerakusan, sebagaimana yang diatur dalam dalam Pasal 2, Pasal
3, Pasal 7 ayat (1) huruf a dan b, Pasal 9, Pasal 12 huruf e Undang-undang Tindak
Pidana Korupsi, yang pada umumnya terjadi pada sektor pengadaan barang dan jasa
pemerintahan; sektor pengelolaan keuangan APBD/APBN yang meliputi pengeluaran
dan penggunaan dana keuangan daerah serta penerimaan keuangan daerah/negara dari
sektor pajak dan pertambangan, dan pada sektor pengelolaan aset daerah.
Kata Kunci: Korupsi, Penyidikan
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
PENDAHULUAN
Korupsi yang dikategorikan sebagai kejahatan luar biasa (extra ordinary crime), kini selalu
menjadi fokus dan mendapat perhatian yang berlebih. Korupsi dalam perkembangannya
sudah hampir mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat yang tidak hanya saja
menyangkut persoalan ekonomi, sosial, tetapi juga politik.
Persoalan korupsi di Indonesia dari tahun ketahun mengalami peningkatan baik
dari jumlah kasus maupun jumlah kerugian keuangan negara yang ditimbulkan dari
tindak pidana korupsi tersebut, sehingga tidak mengherankan apabila masalah korupsi
itu akan terus menjadi persoalan besar bagi bangsa ini. Korupsi yang terjadi saat ini tidak
hanya terjadi dipusat saja tetapi juga sudah melanda pejabat-pejabat publik di daerah
bahkan sampai pada elemen perangkat di desa, dari korupsi yang bernilai trilyunan
hingga korupsi bernilai hanya dari ratusan ribu rupiah, sehingga tanpa disadari caracara demikian terakumulasi menjadi prilaku-prilaku koruptif yang kemudian menjadi
semacam kebiasaan yang susah untuk dapat dicegah atau diberantas.
Beberapa pakar bahkan memandang bahwa korupsi yang terjadi di Indonesia
sendiri sudah seperti membudaya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Robert Klitgard,1
bahwa korupsi yang melanda bangsa Indonesia dipandang sebagai budaya karena prilaku
tersebut sudah dianggap biasa terjadi seperti dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saja
untuk mempercepat satu urusan, seseorang biasa memberikan uang pelicin atau kebiasan
memberikan uang rokok, serta memberikan fasilitas dan hadiah. Kondisi demikian,
menjadi berkembang karena selama ini masyarakat dalam interaksi tersebut mendapat
faedah bagi dirinya, hal ini pula yang menyebabkan keengganan sebagian besar warga
masyarakat untuk melaporkan oknum pejabat negara, birokrat, konglomerat dan oknum
aparat hukum yang melakukan korupsi.
Meski demikian, istilah ini rasanya kurang tepat karena bukan berarti bahwa korupsi
sudah seperti menjadi tradisi dengan menyamakan bahwa penduduk Indonesia pada
umumnya sudah biasa melakukan korupsi sehingga dianggap sudah seperti budaya atau
ciri khas masyarakat Indonesia dengan kebiasan tersebut.
Ada banyak faktor mengapa masyarakat terlibat dalam praktik korupsi, antara lain
sifat tamak dan keserakahan, ketimpangan penghasilan sesama pegawai negeri/pejabat
negara, gaya hidup yang konsumtif, penghasilan yang tidak memadai, kurang adanya
keteladanan dari pimpinan, tidak adanya kultur organisasi yang benar, sistem akuntabilitas
1 Marwan Effendi. Korupsi dan Mensikapi Metoda Baru dalam Sistem Pembuktian yang Dilematis
(Makalah yang disampaikan pada kuliah umum di Universitas Tadulako, 15 Juni 2011) dihimpun dalam
buku “Sistem Peradilan Pidana , Tinjauan terhadap beberapa Perkembangan Hukum Pidana. (Jakarta:
Referensi, 2012). Hal.79.
438
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
di instansi pemerintah kurang memadai, sanksi yang tidak setimpal dengan hasil korupsi,
hingga kurang atau tidak adanya pengendalian dalam proses kegiatan perencanaan
anggaran menjadi sedikit dari sekian faktor-faktor penyebab praktik korupsi.2
Dalam skala nasional, persoalan korupsi itu sendiri juga timbul seiring dengan
upaya pemerintah dalam melaksanakan pembangunan, peningkatan ekonomi dan dalam
rangka perbaikan kesejahteraan masyarakat Indonesia, yang pada disisi lain berdampak
pada timbulnya perbuatan atau tindakan koruptif yang menyebabkan kerugian negara
yang sangat besar yang pada gilirannya dapat berakibat pada timbulnya krisis yang cukup
parah, yang merembet ke berbagai bidang serta bersifat multi dimensi di negara ini,
sehingga oleh Romli Atmasasmita, menyebutnya:
Memberantas korupsi bukanlah pekerjaan membabat rumput karena memberantas
korupsi adalah layaknya mencegah dan menumpas virus suatu penyakit, yaitu
penyakit masyarakat. Diperlukan diagnosa dan kesimpulan serta “treatment” yang
tepat agar virus penyakit tersebut bukan hanya dapat di cegah akan tetapi di kemudian
hari tidak akan terjadi lagi. Menghadapi korupsi adalah menghadapi sosok manusia
yang sedang sakit parah yaitu manusia psikopat bukan hanya kleptoman karena si
sakit sangat bahagia atau memperoleh kesenangannya di atas penderitaan orang
(masyarakat) lain yang sebagian terbesar berada dalam garis kemiskinan.3 Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2001
tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi (selanjutnya disebut Undang-Undang Tipikor), ditinjau dari segi
materiil muatannya, membawa perubahan yang cukup substansial, belum lagi instrumen
hukum pidana lainnya yang tersebar dalam bentuk perundang-undangan di luar undangundang korupsi yang juga mengatur hal-hal yang berpotensi menyebabkan terjadinya
korupsi, sehingga dapat dijerat dengan pasal-pasal yang ada dalam undang-undang tindak
pidana korupsi, seperti Undang-Undang Kehutanan, pertambangan, money laundring,
dan peraturan perundang-undangan lainnya yang memenuhi unsur-unsur delik korupsi.
Namun banyaknya produk hukum yang telah dikeluarkan tersebut belum juga dapat
memberikan jaminan bahwa korupsi di Indonesia akan berkurang, dan hingga saat ini
korupsi tidak saja menunjukkan semakin tingginya jumlah sektor-sektor publik yang
dikorupsi tetapi juga keseragaman pelaku dan bentuk-bentuk korupsi semakin bervariasi
mulai dari pejabat lingkup pemerintahan sampai dengan staf biasa, pelaku pada pihak
swasta, dan para elit politik yang identik dengan kekuasaan .
2 Surachman & Suhandi Cahaya. Strategi dan Teknik Korupsi. (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), Hal. 91.
3 Romli Atmasasmita. 2004. Sekitar Masalah Korupsi Aspek Nasional dan Aspek Internasional.
Mandar Maju. Bandung. Hal. 22.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
439
Berdasarkan data perkara korupsi yang ditangani oleh Kejaksaan RI sejak Tahun
2007 sampai dengan Tahun 2010 selalu mengalami peningkatan. Tahun 2007 perkara
tindak pidana korupsi yang ditangani sebanyak 636 perkara, Tahun 2008 sebanyak 1.348
perkara, Tahun 2009 sebanyak 1.609 perkara, dan Tahun 2010 sebanyak 2.297 perkara.4
Analisis studi yang dilakukan oleh Badan Pengawas Pembagunan dan Keuangan
(BPKP) terhadap upaya penanggulangan korupsi, yaitu dengan mengindentifikasi jenisjenis penyelewengan yang berpeluang dikategorikan sebagai tindak pidana korupsi
dan yang pada umumnya banyak terjadi, antara lain: pembayaran fiktif; manipulasi
perjalanan dinas; pelelangan dengan menciptakan peserta tender fiktif; meninggikan
harga pembebasan tanah untuk pembangunan; harga kontrak pengadaan yang terlalu
tinggi; kelebihan pembayaran pengadaan pekerjaan dari yang seharusnya; ketekoran kas
karena meminjam uang proyek untuk kepentingan pribadi namun dibuat seolah-olah
untuk kepentingan dinas; penggunaan dana yang tidak sesuai dengan kebutuhan, yaitu
dana digunakan diluar kepentingan dinas; komisi dari rekanan yang menerima proyek,
pemalsuan dokumen administrasi, dan pungutan liar.5
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi penanganan kejahatan korupsi, namun
salah satu faktor yang sering terlupakan di Indonesia sehingga dianggap menjadi bagian
dari kurang optimalnya program antikorupsi yaitu bermula dari kurangnya pemahaman
terhadap wujud atau bentuk korupsi yang terjadi saat ini. Pemahaman mengenai hal
tersebut sangat perlu karena akan berakibat pada cara penanganan yang dilakukan oleh
aparat hukum terhadap kejahatan tindak pidana korupsi, terutama dalam mengumpulkan
bukti-bukti terkait tindak pidana korupsi, mengingat di dalam sistem peradilan pidana
mengenai penanganan tindak pidana korupsi selalu terbentur pada masalah pembuktian
karena tindak pidana korupsi tersebut mempunyai kesulitan pembuktian yang cenderung
berbeda dengan tindak pidana pada umumnya.
Dengan demikian, memang diperlukan cara-cara yang sangat luar biasa pula untuk
menindak semua bentuk-bentuk korupsi dengan perangkat undang-undang yang cukup
baik yang tidak hanya dalam materiil tetapi juga mencakup persoalan hukum formilnya
atau hukum acaranya. Selain itu, didukung oleh aparat penegak hukum yang mempunyai
pemahaman, pengetahuan dan keahlian serta komitmen komitmen dalam melakukan
langkah-langkah atau upaya pemberantasan tindak pidana korupsi yang terjadi saat ini,
4 Sumber: Sunproglapnil Pidsus Kejaksaan Agung, sebagaimana dikutip oleh Marwan Effendi, 2012,
Kapita Selekta Hukum Pidana, Perkembangan dan Isu-isu aktual dalam Kejahatan Finansial dan Korupsi.
Referensi. Jakarta. hal.7
5 Sudirman Said dan Nizar Suhendra. Tanpa Tahun. Korupsi dan Masyarakat Indonesia, dihimpun
dalam buku Mencuri Uang Rakyat 16 Kajian Korupsi di Indonesia. Penerbit Kemitraan. Jakarta. Hal.106110.
440 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
yang diharapkan dapat berimplikasi terhadap upaya preventif maupun represif terhadap
tindak pidana korupsi.
Pemahaman terhadap wujud atau jenis tindak pidana korupsi sebagai kejahatan
yang multidimensi yang terjadi saat ini sangat berpengaruh terhadap bekerjanya sistem
peradilan pidana dalam rangka penegakan hukum aturan-aturan pidana terkait kejahatan
korupsi, yakni mulai dari tahap penyelidikan, penyidikan, penuntutan sampai dengan
pelaksanaan putusan.
Tindakan atau proses penyidikan tindak pidana korupsi pada dasarnya tidak lain
merupakan kunci dari keberhasilan dari proses penegakan hukum pidana untuk menentukan
apakah penerapan aturan normatif telah sesuai, apakah proses tersebut berjalan sesuai
dengan koridor yang ada tanpa dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya, karena kesalahan
penerapannya ketentuan pidana dan pelaksanaan hukum yang menyimpang dalam proses
tersebut dapat berimplikasi pada tumpulnya penegakan hukum dan atau merajalelanya
kejahatan sehingga penegakan supremasi hukum akan jauh dari harapan.
Namun dalam pelaksanaannya, adalakanya penanganan perkara tindak pidana
korupsi tersebut menemui berbagai macam kendala dan hambatan, baik itu dari sistem
hukum maupun di luar sistem hukum antara lain terkait dengan wujud atau jenis tindak
pidana korupsi yang terjadi, sehingga apa yang seharusnya berjalan dengan baik tidak
sesuai dengan apa yang diharapkan atau direncanakan sehingga dalam pelaksanaannya
tidak dapat berjalan secara optimal.
Bertolak dari uraian tersebut di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian
terhadap lembaga Kejaksaan, khususnya di Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara terhadap
wujud tindak pidana korupsi yang ditangani dalam proses penyidikan, meskipun wilayah
hukumnya tidak begitu luas namun tingkat penanganan penyidikan terhadap tindak
pidana korupsi yang terjadi di wilayah Sulawesi Tenggara dan respon masyarakat
terhadap penanganan yang dilakukan oleh pihak Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara
cukup tinggi. Untuk kurun waktu sejak Tahun 2005 sampai dengan Tahun 2009 terdapat
430 jumlah temuan/indikasi tindak pidana korupsi pada wilayah Sulawesi Tenggara dan
yang kemudian ditindaklanjuti oleh Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara yaitu sebanyak
213 Kasus.6
6 Syaifuddin Kasim, 2010. Dalam rangkuman disertasinya “ Optimalisasi Tugas dan Wewenang
Kejaksaan dalam Penanganan Tindak Pidana Korupsi.”. tidak diterbitkan. Pascasarjana-UNHAS. Hal.
100-101.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
441
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dirumuskan permasalahan,
yaitu bagaimanakah wujud, sektor atau objek tindak pidana korupsi yang ditangani oleh
penyidik Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara?
METODE PENELITIAN
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada Kantor Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara di
Jalan Ahmad Yani No. 4 Kendari, khususnya pada bidang Tindak Pidana Khusus.
Populasi dan Sampel
Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah jaksa pada Kejaksaan Tinggi
Sulawesi Tenggara baik yang menduduki jabatan struktural maupun jabatan fungsional
yang aktif dalam penanganan tindak pidana korupsi yang terdiri dari 18 orang jaksa.
Jenis dan Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu data
yang diperoleh secara langsung dari sumber data melalui wawancara; dan data Sekunder
yaitu data yang diperoleh dari penelitian kepustakaan dan undang-undang yang merupakan
hasil penelitian dan pengolahan lain yang sudah tersedia dalam bentuk buku-buku dan
data-data dari instansi terkait yang berhubungan dengan materi yang penulis kaji.
Teknik Pengumpulan Data
Untuk menjaring data yang diperlukan, maka dilakukan pengumpulan data dengan
teknik atau cara sebagai berikut: a) Menggunakan kuesioner daftar tanya; b) Wawancara
dengan teknik wawancara secara tidak terarah atau tidak teratur yaitu dengan mengadakan
komunikasi langsung kepada informan sehubungan dengan objek yang diteliti; c)
Observasi yaitu peneliti melakukan pengamatan langsung dilapangan pada waktu
terjadinya pemeriksaan (penyidikan) tindak pidana korupsi di Kejaksaan Tinggi Sulawesi
Tenggara; d) Studi dokumentasi yaitu peneliti mempelajari dokumen yang ada dalam
perkara tindak pidana korupsi, seperti Berita Acara Pemeriksaan, Surat Dakwaan,Putusan
Pengadilan, dan lain-lain.
Analisis Data
Data yang diperoleh dari studi pustaka, hasil wawancara maupun kuisioner akan
dianalisa secara deskriptif kualitatif. Analisa deskriptif kualitatif, yaitu mendeskripsikan
data yang diperoleh dengan mengelompokkan dan menyeleksi data yang diperoleh baik
442 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
dari data primer maupun data sekunder kemudian dihubungkan dengan teori-teori, asasasas, kaidah-kaidah hukum yang diperoleh dari studi kepustakaan sehingga diperoleh
jawaban atas permasalahan yang dirumuskan.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Wujud Tindak Pidana Korupsi dalam Penyidikan di Kejaksaan Tinggi Sulawesi
Tenggara
Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara dalam melakukan penanganan tindak pidana
korupsi sejak tahun 2008 sampai dengan tahun 2012, maka dapat dilihat dan identifikasi
wujud atau jenis tindak pidana korupsi. Adapun masing-masing penyidikan tindak pidana
korupsi yang ditangani oleh Penyidik Kejaksaan Tinggi Sultra pada Tahun 2008 sampai
dengan Tahun 2012 masing-masing dapat diuraikan pada tabel berikut ini:
Tabel 1. Data Penyidikan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara Tahun 2008
No.
Kasus Posisi
1.
Pelaksanaan pekerjaan pengadaan Travo dan
Pamasangan Sambungan Instalasasi pada PDAM
yang tidak sesuai
Kab.Kolaka Tahun 2007
spesifikasi
Penyimpangan terhadap Item Pekerjaan dan
penggunaan
bahan
material
yang
tidak
dilaksanakan sesuai dengan dokumen kontrak pada
pembangunan Kantor di TA.2006.
 Rekanan
Pelaksana
 Konsultan
Pengawas
 Rekanan
Pelaksana
 Konsultan
pengawas
 Pasal 2 UU
Tipikor
 Pasal 3 UU
Tipikor
 Pasal 7 ayat
(1) huruf a,
b UU
Tipikor
Penyimpangan terhadap kekurangan volume fisik
pekerjaan pada Pembangunan jembatan di Kec.
Wawonii Utara Kab. Konawe TA.2007 yang
menyebabkan jembatan rusak dan tidak dapat
digunakan.
 Rekanan
pelaksana
 Kabag
/PPTK
 Kadin
 Pasal 7 ayat
(1) huruf a
UU Tipikor
Pengalihan aset daerah menjadi milik pribadi
melalui Surat Keputusan Walikota Kendari Tahun
2007 yang dilakukan tanpa prosedur pengalihan
aset milik Negara/daerah kepada pihak lain sesuai
yang
dengan
ketentuan/perundang-undangan
berlaku
 Mantan
Walikota
 Pasal 2 UU
Tipikor
 Pasal 3 UU
Tipikor
2.
3.
4.
Jumlah Penyidikan
Tersangka
Pasal
Jumlah
2
2
3
1
8
Sumber Data:
Sulawesi
Tenggara
Sumber
Data:Kejasaan
KejasaanTinggi
Tinggi
Sulawesi
Tenggara
Berdasarkan Tabel 1 di atas, jelas tergambar bahwa untuk tahun 2008 terdapat 8
perkara penyidikan dengan wujud atau jenis tindak pidana korupsi yang pada umumnya
ditangani adalah adalah tindak pidana korupsi terkait pemborongan, leveransir dan
rekanan sebanyak 5 perkara, sedangkan 3 perkara merupakan korupsi yang merugikan
keuangan negara.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
443
Tabel 2. Data Penyidikan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara Tahun 2009
No.
Kasus Posisi
Tersangka
Pasal
Jumlah
1.
Penerimaan pajak retribusi daerah yang  Kepala Dinas  Pasal 2 UU Tipikor
dikelola oleh Dinas Pendapatan Daerah  Bendahara
 Pasal 3 UU Tipikor
Propinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2007-2009 Penerimaan
 Pasal 9 UU Tipikor
yang tidak disetorkan ke kas daerah.
 Bendahara
Pengeluaran
2
2.
Penyimpangan terhadap pencairan dan
penggunaan dana APBD pada kas daerah
Kab.Bombana TA.2008 yang dikeluarkan
untuk
kepentingan
pribadi
melalui
persetujuan/memo Bupati.
 Pasal 2 UU Tipikor
Pihak
penerima dana  Pasal 3 UU Tipikor
1
3.
Penunjukan rekanan tunggal untuk pengadaan
sarana pada sekolah Madrasah Aliyah seSulawesi Tenggara
melalui Dana Block
Grant.
Kasubag
Perencanaan
 Pasal 2 UU
Tipikor
 Pasal 3 UU Tipikor
1
4.
Penerimaan iuran pertambangan yang dikelola  Sekda
oleh Sekretariat Daerah Kabupaten Bombana
Tahun 2007-2008 yang tidak disetor ke kas
daerah.
 Pasal 2 UU
Tipikor
 Pasal 3 UU
Tipikor
1
5.
Penyimpangan Pengelolaan Dana ruitn dan
Perjalanan dinas fiktif yang dilakukan oleh
anggota DPRD Propinsi Sulawesi Tenggara
dalam rangka Studi Banding TA. 2004.
 Pasal 2 UU Tipikor
 Pasal 3 UU Tipikor
6
6.
Penyimpangan terhadap pekerjaan fiktif  Rekanan
pengadaan 1 unit tronton pada Dinas PU dan Pelaksana
Perhubungan Kabupaten Wakatobi TA.2008.  Kabag/PPTK
 Pasal 2 UU Tipikor
 Pasal 3 UU Tipikor
1
7.
Penyimpangan
terhadap
pelaksanaan  Rekanan
 Pasal 2 UU Tipikor
Pekerjaan Pembagunan jalan Sandi dan Jalan Pelaksana
 Pasal 3 UU Tipikor
Tampara pada dinas PU dan Perhubungan  Kabag/PPTK
Kab.Wakotobi TA.2007-2008.
 Kepala Dinas
3
8
Penyimpangan
terhadap
pelaksanaan  Rekanan
 Pasal 2 UU Tipikor
pekerjaan pelaksanaan pekerjaan Pembukaan Pelaksana
 Pasal 3 UU Tipikor
Jalan, pengerasan dan pengaspalan jalan  Kabag/PPTK
Haruo pada dinas PU dan Perhubungan  Kepala Dinas
Kab.Wakotobi TA.2007-2008
3
9
Penyimpangan
terhadap
pelaksanaan  Rekanan
 Pasal 2 UU Tipikor
pekerjaan pelaksanaan pekerjaan Pembukaan Pelaksana
 Pasal 3 UU Tipikor
Jalan, pengerasan dan pengaspalan jalan  PPTK
Lingkar Walobu, Peropa pada dinas PU dan  Kepala Dinas
Perhubungan Kab.Wakotobi TA.2007-2008
3
10.
Penyimpangan pengelolaan dana Iuran PSDH  Kepala Dinas  Pasal 2 UU Tipikor
dan DR pada Dinas Kehutanan kab.Konawe
 Pasal 3 UU Tipikor
TA.2003
1
Para Mantan
Anggota
DPRD
Prop.Sultra
Jumlah Penyidikan
22
Sumber Data: Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara
Data di atas menggambarkan bahwa untuk tahun 2009 terdapat 22 perkara
penyidikan dengan wujud atau jenis tindak pidana korupsi yang ditangani keseluruhannya
merupakan tindak pidana korupsi yang merugikan keuangan negara, namun dari 22
444
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Perkara yang merupakan tindak pidana korupsi yang merugikan keuangan negara tersebut
terkait pula tindak pidana korupsi yang dikategorikan sebagai penggelapan dalam jabatan
yang berhubungan dengan adanya pemalsuan surat-surat atau dokumen dilakukan guna
pemeriksaan administrasi yang dijadikan dasar atau syarat pencairan dana, yaitu sebanyak
8 perkara.
Tabel 3. Data Penyidikan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara Tahun 2010
No.
Kasus Posisi
Tersangka
Pasal
Jumlah
Pelaksana
Kabag/PPT
K
Kepala
Dinas
Rekanan
 Pasal 2 UU Tipikor
 Pasal 3 UU Tipikor
 Pasal 9 UU Tipikor
1
1.
Penyimpangan
terhadap
pelaksanaan pekerjaan Pembangunan Jalan Lingkar Kaledupa pada dinas PU dan Perhubungan
Kab.Wakotobi TA.2009.
-
2
Penyimpangan terhadap Pekerjaan fiktif
Pengadaan 1 Unit alat berat pada Dinas PU
dan Perhubungan Kabupaten Wakatobi TA.
2009.
Penyimpangan dalam pelaksanaan proses - Rekanan
pengadaan dan pekerjaan/pembuatan 10 unit Pelaksana
kapal gae pada Dinas Kelautan dan Perikanan - Kabag/ PPTK
Kab.Wakatobi TA.2007 yang tidak sesuai - Kepala Dinas
spesifikasi
 Pasal 2 UU Tipikor
 Pasal 3 UU Tipikor
- Pasal 9 UU Tipikor
1
 Pasal 2 UU Tipikor
 Pasal 3 UU Tipikor
4
4.
Penerimaan pajak retribusi daerah yang Wakil Kepala
dikelola oleh Dinas Pendapatan Daerah Dinas
Propinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2008
yang tidak disetorkan ke kas daerah
 Pasal 2 UU
Tipikor
 Pasal 3 UU
Tipikor
1
5.
Pembayaran fiktif dalam kegiatan pelatihan
kompetensi tenaga pendidikan SD,SMP,SMA Kepala Dinas
serta Pembayaran biaya kelebihan jam
mengajar guru-guru SD Tahun 2008 pada
Dikbudpar Kab. Konawe Utara.
- Pasal 2 UU Tipikor
 Pasal 3 UU Tipikor
 Pasal 9 UU Tipikor
1
6.
Penyimpangan penggunaan dana perjalanan Bendahara
dinas keluar daerah pada Sekretariat Daerah
Kab.Konawe tahun 2008.
 Pasal 2 UU
Tipikor
 Pasal 3 UU Tipikor
1
7.
Penyimpangan
penyalahgunaan
dana Kepala Bagian
intensifikasi
dan
ekstensifikasisumbersumber pendapatan pada dinas Pendapatan
Pengelolaan Keuangan dan aset daerah
Kab.Konawe Utara Tahun 2008
Penyimpangan terhadap pencairan dan Bupati
penggunaan dana APBD pada kas daerah
Kab.Bombana TA.2008 yang dikeluarkan
untuk
kepentingan
pribadi
melalui
persetujuan/memo Bupati
 Pasal 2 UU Tipikor
 Pasal 3 UU Tipikor
1
 Pasal 2 UU
Tipikor
 Pasal 3 UU
Tipikor
1
3.
8.
Jumlah Penyidikan
11
Sumber data: Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara
Pada tahun 2010 terdapat 11 perkara penyidikan dengan wujud atau jenis tindak
pidana korupsi yang ditangani keseluruhannya juga merupakan tindak pidana korupsi
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
445
yang merugikan keuangan Negara. Demikian pula halnya sebagaimana penyidikan tahun
2009 maka pada tahun 2010 dari 11 Perkara yang merupakan tindak pidana korupsi
yang merugikan keuanga negara tersebut terkait pula tindak pidana korupsi yang
dikkategorikan sebagai penggelapan,yaitu berhubungan dengan adanya pemalsuan suratsurat atau dokumen dilakukan guna pemeriksaan administrasi yang dijadikan dasar atau
syarat pencairan dana,sebanyak 3 perkara.
Tabel 4. Data Penyidikan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara Tahun 2011
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Kasus Posisi
Tersangka
Penyimpangan pengelolaan dana rutin pada  Kepala Dinas
Dinas Kependudukan dan catatan sipil
Kab.Konawe Utara TA.2009 Tahun Anggaran
2010.
Penyimpangan Proses Pengadaan dan  Rekanan
pelaksanaan pekerjaan Kendaraan bermotor Pelaksana
Roda 4 pada Sekretariat Daerah Prop.Sultra  Kabag/Ketua
Panitia
TA.2008.
Pengadaan
Penyimpangan Pekerjaan pembuatan kapal  Rekanan
penyebrangan Lintas lasusua – Siwa Type Pelaksana
Roro pada Kantor Dinas Perhubungan Prov.
Sultra TA.2007.
Penyimpangan pengadaan tanah untuk lokasi  Sekot
pengembangan kawasan bumi praja kantor  Kepala
Kantor
Gubernur Sultra TA. 2010.
Penyimpangan penggunaan dana Hibah  BUD
bantuan pemerintah prop.Sultra kepada Pemda
Konawe Utara TA 2009.
Penyimpangan penggunaan dana bantuan desa  Sekda
 Bendahara
TA. 2008- 2010 di kab.Bombana
 Kep. Cabang
 BPD
Penyimpangan
penggunaan
dana  Kabag
Tunjangan/Honorarium aparat desa
pada
Bagian Umum Sekda kab.Konawe Utara
TA.2009.
Penyimpangan penggunaan dana bantuan  Sekda
untuk kegiatan pengurusan hak-hak pemda  Bendahara
 Wakil Angg.
TA.2007-2008 pada Sekda Bombana.
DPRD
Penerimaan dana terkait izin usaha  Kepala Kantor
pertambangan pada Kantor BPN Kab.Konsel
Tahun 2010.
Jumlah Penyidikan
Pasal
Jumlah
 Pasal 2 UU Tipikor
 Pasal 3 UU Tipikor
2
 Pasal 2 UU Tipikor
 Pasal 3 UU Tipikor
 Pasal 9 UU Tipikor
2
 Pasal 2 UU Tipikor
 Pasal 3 UU Tipikor
1
 Pasal 2 UU Tipikor
 Pasal 3 UU Tipikor
1
 Pasal 2 UU Tipikor
 Pasal 3 UU Tipikor
1
 Pasal 2 UU Tipikor
 Pasal 3 UU Tipikor
3
 Pasal 2 UU Tipikor
 Pasal 3 UU Tipikor
 Pasal 9 UU Tipikor
1
 Pasal 2 UU Tipikor
 Pasal 3 UU Tipikor
3
 Pasal 12
Tipikor
1
e
UU
15
Sumber data: Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara
Pada tahun 2011 dari terdapat 15 perkara penyidikan wujud atau jenis tindak
pidana korupsi yang ditangani pada umumnya merupakan tindak pidana korupsi yang
merugikan keuangan negara, yaitu sebanyak 14 perkara , dan terdapat 1 perkara yang
446
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
merupakan tindak pidana korupsi yang bersifat kerakusan. Demikian pula halnya pada
penyidikan tahun 2009 maka pada tahun 2010 dari 14 Perkara yang merupakan tindak
pidana korupsi yang merugikan keuangan negara tersebut , terkait pula tindak pidana
korupsi yang dikategorikan sebagai penggelapan yaitu berhubungan dengan adanya
pemalsuan surat-surat atau dokumen dilakukan guna pemeriksaan administrasi yang
dijadikan dasar atau syarat pencairan dana sebanyak 1 perkara.
Tabel 5. Data Penyidikan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara Tahun 2012
No.
Kasus Posisi
1.
Penyimpangan Penggunaan dana perjalana
dinas pada Dinas PPKAD Kab.Konawe
TA.2009
Bendahara
Penyimpangan Penggunaan dana perjalanan
dinas pada Sekretariat DPRD Kab. Konawe
TA.2009
Bendahara
Penyimpangan dalam pengelolaan dan
penggunaan dana anggaran tahun 2007 pada
Dinas Kimpraswil kab.Muna yang ditransfer
ke rekening pribadi
Bendahara
Penyimpangan pengelolaan dana Block grant
pada badan Pemberdayaan Masyarakat BPM
Prov.Sultra TA.2010
Kabag
2.
3.
4.
5.
Penyalahgunaan
dana
kontribusi
pertambangan pada Dinas Pertambangan dan
Energi kab.Konawe Utara TA.2011
Jumlah Penyidikan
Tersangka
Pasal










Pasal
UU
Tipikor
Pasal
UU
Tipikor
Pasal
UU
Tipikor
Pasal
UU
Tipikor
Pasal
UU
Tipikor
Pasal
UU
Tipikor
Pasal
UU
Tipikor
Pasal
UU
Tipikor
Pasal
UU
Tipikor
Pasal
UU
Tipikor
Jumlah
2
1
3
2
1
3
2
1
3
2
1
3
2
1
3
5
Sumber data: Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara
Pada tahun 2012, terdapat 5 perkara penyidikan dengan wujud tindak pidana korupsi
yang ditangani keseluruhannya merupakan tindak pidana korupsi yang merugikan
keuangan negara.
Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat diidentifikasi wujud atau jenis tindak
pidana korupsi yang pada umumnya ditangani dalam proses penyidikan oleh penyidik
pada Kejaksaan Tinggi Sultra sejak tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 sebagaimana
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
447
pada tabel 6 berikut:
Tabel 6. Wujud Tindak Pidana Korupsi dalam Penyidikan di Kejaksaan Tinggi Sulawesi
Tenggara Tahun 2008-2012
No.
1
Tahun
Wujud Tindak Pidana Korupsi
2008
Korupsi yang Merugikan Keuangan
3
negara
(Pasal 2 dan Pasal 3 UU Tipikor)
2009 2010
2
11
2011 2012
14
5
Jumlah
55
2.
Korupsi
terkait
Pemboronan/
Laverensir/Rekanan
(Pasal 7 ayat (1) UU Tipikor )
5
-
-
-
-
5
3.
Korupsi penggelapan dalam jabatan
terkait
pemalsuan
administrasi
dokumen-dokumen
(Pasal 9 UU Tipikor)
-
8
3
3
-
14
4.
Korupsi yang bersifat kerakusan
(Pasal 12 huruf e UU Tipikor)
-
-
-
1
-
1
8
22
11
15
5
61
Jumlah penyidikan
Sumber data: Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa wujud atau jenis tindak pidana korupsi
yang pada umumnya disidik oleh penyidik Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara adalah
Korupsi yang merugikan keuangan negara, diikuti dengan tindak pidana korupsi
penggelapan jabatan terkait pemalsuan adminstrasi dokumen-dokumen pemeriksaan
keuangan; korupsi pada pemborongan, leveransir/rekanana; dan korupsi yang bersifat
kerakusan.
Adapun bentuk-bentuk penyimpangan pada masing-masing sektor sebagaimana
tersebut di atas berdasarkan tabel 1 sampai dengan 6 di atas, dapat penulis uraikan masingmasing sebagai berikut:
1. Terhadap pengadaan barang dan jasa , meliputi :
a. Pekerjaan yang dilaksanakan tidak sesuai dengan bestek dan spesifikasi yang
ditentukan dalam kontrak, serta terdapat kekurangan volume fisik pekerjaan yang
dilaksanakan, yaitu sebanyak 23 Perkara
b. Pekerjaan yang telah dibayarkan berdasarkan dokumen kontrak namun tidak
dilaksanakan (fiktif) sebanyak 2 perkara
c. Pembayaran pelaksanaan kegiatan pengadaan yang dilakukan kepada pihak-pihak
yang tidak berhak sebanyak 1 perkara
d. Penunjukan rekanan tunggal dan penunjukan rekanan secara langsung tanpa
448 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
melalui prosedur lelang yang dilakukan melalui intervensi pejabat yaitu sebanyak
dua perkara.
Penyimpangan pada sektor pengadaan barang dan jasa yang terjadi diwilayah
Propinsi Sulawesi Tenggara adalah pada umumnya terjadi diwilayah merupakan daerah
pemakaran diantaranya Kabuapten Wakatobi dan Kabupaten Bombana masing-masing
merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Buton yang berdiri sejak tahun 2003,
serta daerah kabupaten Konawe yang terjadi pada pemekaran wliayah kecamatan,
sehingga banyak dana yang dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur, terutama
pembangunan jalan dan jembatan sebagai sarana penghubung dan mobilisasi kegiatan
masyakarat, mengingat daerah yang masuk pada wilayah pemakaran tersebut sangat
jauh. Pemantauan maupun pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan dilapangan
jarang dilakukan sehingga pihak rekanan dalam melaksanakan pekerjaan cenderung
melakukan penyelewengan-penyelewengan yang di dalamnya rawan terjadi korupsi,
sehingga kondisi bangunan menjadi terbengkalai.7
2. Terhadap pengeluaran dan penggunaan dana keuangan daerah, meliputi:
a. Pengeluaran dan penggunaan dana keuangan daerah yang tidak sesuai peruntukannya
sebanyak 14 perkara
b. Pengeluaran dan pembayaran dana dari kas daerah tanpa ada kegiatan (fiktif)
sebanyak 11 perkara
Penyimpangan terhadap dana keuangan daerah antara lain yaitu berupa penggunaan
dana yang tidak sesuai peruntukannya yang dalam hal ini meliputi: penggunaan dana
kas daerah yang digunakan untuk kepentingan pribadi yang seharusnya dialokasikan
untuk kegiatan-kegiatan dalam rangka pelaksanaan pembangunan dan kegiatan rutin
kedinasan pemerintahan, yaitu sebanyak 6 perkara dan penggunaan dana keuangan
daerah pada kegiatan yang sama sekali tidak dianggarkan sebanyak 8 perkara .
Adapun terhadap penggunaan dana yang dibayarkan untuk kegiatan yang fiktif
antara lain meliputi kegiatan perjalanan dinas yang tidak dilaksakan namun dibuatkan
pertanggungjawaban SPPD (Surat Perintah Perjalanan Dinas) fiktif sebanyak 9 perkara,
dan penggunaan dana untuk kegiatan rutin instansi yang dibayarkan namun tidak ada
bentuk kegiatan yang dapat dipertanggungjawabkan, yaitu sebanyak 2 perkara.
3. Terhadap penerimaan keuangan daerah/negara dari sektor pajak, meliputi:
a. Penerimaan pajak retribusi daerah yang digunakan langsung tanpa disetorkan ke
kas daerah sebanyak 3 perkara
7 Berdasarkan wawancara dengan Jaksa Djainuddin Rasjid, Jaksa Penyidik pada Kejaksaan Tinggi
Sulawesi Tenggara.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
449
b. Penerimaan Iuran PSDH dan DR pada Dinas kehutanan tanpa disetorkan ke kas
negara sebanyak 1 perkara
Sedangkan dari sektor pertambangan, meliputi:
a. Penerimaan Iuran pertambangan yang digunakan langsung yang seharusnya di setor
ke kas daerah sebanyak 2 perkara
b. Penerimaan dari pihak investor pertambangan terkait inventarisasi lahan Hak Guna
Usaha sebanyak 1 perkara
Propinsi Sulawesi Tenggara juga merupakan salah satu daerah yang akhir-akhir
ini banyak dikelola potensi sumber daya alamnya khususnya dari sektor pertambangan
antara lain daerah Kabupaten Kolaka, Kabupaten Bombana, Kabupaten Konawe
Utara,dan Kabupaten Konawe Selatan. Sektor pertambangan ini juga merupakan sektor
yang rawan korupsi dan oleh Penyidik pada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara telah
melakukan penyidikan terkait hal tersebut (sebagaimana pada tabel 1 sampai dengan
tabel 5) antara lain, penerimaan iuran pertambangan emas yang dikelola Sekda Bombana
yang seharusnya disetor ke kas daerah sebagai sumber pendapatan daerah tapi digunakan
langsung dan diantaranya digunakan untuk kepentingan pribadi.
Demikian pula dalam hal pengurusan izin pertambangan juga rawan terjadi korupsi
hal ini, sebagaimana pula disidik oleh Kejaksaaaan Tinggi Sulawesi Tenggara yang terjadi
didaerah Kabupaten Konawe Selatan sebagai lokasi pertambangan nikel, yang dilakukan
oleh Pihak Badan Pertanahan Nasional terkait inventarisasi lahan Hak Guna Usaha yang
diajukan pihak investor untuk selanjutnya diajukan sebagai dasar untuk diterbitkan Surat
Iziun Usaha Pertambangan oleh Kepala daerah setempat dengan melakukan pemungutan
pembayaran kepada pihak investor yang tidak ada dasar hukumnya.8
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
wujud tindak pidana korupsi dalam penyidikan di Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara
adalah Korupsi yang merugikan keuangan negara yang didalamnya terdapat tindak
pidana korupsi penggelapan jabatan terkait pemalsuan adminstrasi dokumen-dokumen
pemeriksaan keuangan; Korupsi pada pemborongan, leveransir/rekanan dan korupsi
yang bersifat kerakusan. Tindak pidana korupsi tersebut merupakan tindak lanjut dari
hasil laporan pengaduan masyarakat maupun temuan intelijen Kejaksaan Tinggi Sulawesi
8 Berdasarkan wawancara dengan Jaksa Muh. Zuhri, Kepala Seksi Penyidikan pada Asisten Tindak
Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara.
450
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Tenggara berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh dari hasil penyelidikan yang dilanjutkan
ke tahap penyidikan sesuai dengan penerapan ketentuan pidana yang diatur dalam Pasal
2, Pasal 3, Pasal 7 ayat (1) huruf a dan b, Pasal 9, Pasal 12 huruf e Undang-Undang
Tindak Pidana Korupsi. Pada umumnya terjadi pada sektor pengadaan barang dan jasa
Pemerintahan; sektor Pengelolaan keuangan APBD/APBN yang meliputi pengeluaran
dan penggunaan dana keuangan daerah serta Penerimaan keuangan daerah/negara dari
sektor pajak dan pertambangan, dan pada sektor pengelolaan aset daerah.
Saran
Berdasarkan kesimpulan tersebut di atas, maka dapat dikemukakan saran-saran
sebagai berukut:
1. Penanganan perkara tindak pidana korupsi yang dilakukan terkait wujud maupun
sektor-sektor dalam proses penyidikan yang selama ini dilakukan di Kejaksaan
Tinggi Sulawesi Tenggara diharapkan dapat dikembangkan penanganannya
pada sektor-sektor lain yang lebih strategis, khususnya menyangkut hajat hidup
orang banyak. Dalam rangka upaya penegakan hukum tindak pidana korupsi
yang dilakukan tersebut diharapkan tidak saja terfokus upaya represif tetapi juga
dapat berdampak pada upaya preventif, antara lain dengan melakukan sosialisasi
penyuluhan hukum dan kerjasama dengan terhadap intansi terkait khususnya
dalam melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pengadaan barang dan jasa
serta kegiatan pengelolaan keuangan baik yang terkait dana APBN maupun APBD,
sehingga dapat meminimalisir bahkan mencegah bentuk-bentuk penyelewangan
yang berpotensi terjadi tindak pidana korupsi.
2. Untuk mengoptimalkan kinerja Kejaksaan dalam penegakan hukum pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi agar melengkapi kewenangan Institusi tersebut untuk dapat
menerobos ketentuan atau prosedur yang ada yang selama ini menghambat proses
penyidikan dan penambahan anggaran yang memadai untuk dapat membiayai
operasional penyidikan dan penuntutan sebagaimana halnya yang dilakukan
terhadap lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi yang tentunya harus pula
didukung dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia aparatur jaksa dengan
secara kontinyue melakukan pelatihan dan pendidikan teknis sehubungan dengan
penanganan tindak pidana korupsi.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
451
DAFTAR PUSTAKA
Marwan Effendi. 2012. Sistem Peradilan Pidana, Tinjauan terhadap beberapa
Perkembangan Hukum Pidana. Jakarta: Referensi.
Surachman dan Suhandi Cahaya. 2011. Strategi dan Teknik Korupsi. Jakarta: Sinar
Grafika.
Romli Atmasasmita. 2004. Sekitar Masalah Korupsi Aspek Nasional dan Aspek
Internasional. Bandung: Mandar Maju.
Marwan Effendi. 2012. Kapita Selekta Hukum Pidana, Perkembangan dan Isu-isu aktual
dalam Kejahatan Finansial dan Korupsi. Jakarta: Referensi.
Sudirman Said dan Nizar Suhendra. Tanpa Tahun. Korupsi dan Masyarakat Indonesia,
dihimpun dalam buku Mencuri Uang Rakyat 16 Kajian Korupsi di Indonesia.
Jakarta: Penerbit Kemitraan.
Syaifuddin Kasim. 2010. Optimalisasi Tugas dan Wewenang Kejaksaan dalam
Penanganan Tindak Pidana Korupsi. Disertasi. tidak diterbitkan. Makassar:
Pascasarjana Universitas Hasanuddin.
452 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
FUNGSI BADAN PEMERIKSA KEUANGAN DAN
PEMBANGUNAN (BPKP) DALAM PERKARA TINDAK
PIDANA KORUPSI DI KEJAKSAAN TINGGI
SULAWESI SELATAN DAN BARAT
Mudazzir Munsyir, Marthen Arie, Hamzah Halim
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
FUNGSI BADAN PEMERIKSA KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN
(BPKP) DALAM PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI
DI KEJAKSAAN TINGGI SULAWESI SELATAN DAN BARAT
Oleh: Mudazzir Munsyir1*, Marthen Arie2, Hamzah Halim2
Kejaksaan Negeri Bantaeng
Jl. Raya Lanto Dg. Pasewang No.86, 92411, Bantaeng
2
Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin
Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10, Tamalanrea, 90245, Makassar
*
E-mail: [email protected]
1
Abstract
This research is aimed to determine: (1) the results of investigation perfomed by
State Audit Bureau and Devolopment (SABP) in proving system of criminal act Indonesia,
(2) the function of SABP in revealing the corruption criminal act in provincial attorney
general’s jurisdiction office of south sulawesi and West Sulawesi, (3) obstacles faced in
conducting the SABP’s function related to attorney. The method used was social legal,
i.e. primary and secondary data were analyzed with positive-normative norms. Then the
data were processed with indentification, classification, systematical, and analytical then
descriptively presented to express the problems and gave solution to the problems. The
results of this research indicate that the audit results discovered by SABP can be used
as latter evidence based on the article 184 of KUHP and article 187 c latter of KUHP
and SABP’s Auditor can give expertise testimony which cans strengs then the evidence to
convice the judges. The obstacles found in performing the function of SABP in revealing
the calculation of the state’s loss are financing. Auditors do not have tehnical ability, and
lack of cooperation with other institutions to report the existence criminal acts.
Keywords: Corruption Criminial Act, State Audit Bureau and Devolopment
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) bagaimana hasil audit investigative
yang dilakukan oleh BPKP dalam system pembuktian tindak pidana di Indonesia; (2)
bagaimana fungsi BPKP dalam pengungkapan tindak pidana korupsi di wilayah hukum
Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dan Barat, dan (3) kendala yang dihadapi dalam
pelaksanaan fungsi BPKP dalam hubungannya dengan Kejaksaan. Metode penelitian
yang digunakan oleh sosial legal, yaitu dengan mengkaji atau menganalisa data primer
dan sekunder yang serupa bahan-bahan hukum dengan memahami hukum sebagai
perangkat peraturan atau norma-norma positif di dalam system perundang-undangan
yang mengatur mengenai kehidupan manusia. Kemudian diproses secara deskriptif untuk
menjawab permasalahan dan solusinya. Hasil penelitian yang dilakukan adalah bahwa
hasil audit yang dilakukan BPKP dapat digunakan sebagai alat bukti surat berdasarkan
Pasal 184 KUHAP dan Pasal 187 huruf c KUHAP dan bukan hanya itu, Auditor BPKP
dapat memberikan keterangan ahli sehingga memperkuat pembuktian guna meyakinkan
hakim yang didapatkan dari dua alat bukti yakni alat bukti surat dan alat bukti keterangan
ahli. Fungsi BPKP dalam pengungkapan tindak pidana korupsi memberikan bantuan
dalam perhitungan kerugian negara dan dalam melaksanakan fungsi tersebut terdapat
kendala-kendala yang dihadapi yakni pembiayaan dalam penanganan tindak pidana
korupsi, kemampuan teknis tidak dimiliki Auditor serta kurang optimsl kerjasama dengan
instansi lain untuk melaporkan adanya tindak pidana korupsi.
Kata Kunci: Tindak Pidana Korupsi, Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
PENDAHULUAN
Pada era globalisasi ini good governance merupakan tuntutan dalam setiap sendi
kehidupan. Istilah good governance dapat diartikan terlaksananya tata ekonomi, politik
dan sosial yang baik. Untuk mencapai good governance hal yang harus dipenuhi adalah
adanya transparansi atau keterbukaan dan akuntabilitas dalam berbagai aktivitas baik
ekonomi, politik, sosial dan penegakan hukum. Dari sisi ekonomi, menurut penulis salah
satu indikator adanya keterbukaan dan akuntabilitas tersebut adalah tingkat korupsi, kolusi
dan nepotisme (KKN) yang terjadi dalam aktivitas ekonomi pada berbagai tingkatan
pelaku ekonomi.
Secara objektif harus diakui bahwa pemerintah Indonesia telah berupaya untuk
menuju terciptanya good governance. Upaya tersebut dapat dilihat dari kebijakan
deregulasi dan debiroktisasi sejak pertengahan tahun 1980-an. Deregulasi diarahkan
dengan mengurangi dan atau menghilangkan berbagai peraturan yang dirasa menghambat
kegiatan perekonomian. Secara khusus pemerintah menghilangkan berbagai peraturan
yang menghambat kegiatan ekspor. Berbagai kebijakan deregulasi di bidang ekonomi
nampak jelas menunjukkan orientasi pemerintah yang berubah dari inward oriented
menuju outward oriented. Sejalan dengan kebijakan tersebut maka pengembangan sektor
industri juga diarahkan untuk produk-produk bertujuan ekspor.1
Kebijakan debirokratisasi dilakukan dengan cara mengurangi atau memangkas proses
birokrasi. Sebagai contoh proses perijinan diperpendek dan atau dipermudah. Dengan
kebijakan tersebut masyarakat atau investor diharapkan memperoleh kemudahan untuk
memperoleh ijin untuk melakukan kegiatan ekonomi. Pemerintah juga mengembangkan
sistem administrasi satu atap sehingga masyarakat memperoleh pelayanan yang lebih
baik dari pihak birokrasi.2
Kelemahan yang sangat mencolok dalam proses tercapainya good governance
selama ini adalah tingginya korupsi yang terjadi. Korupsi dapat dikatakan merajalela
terutama di kalangan birokrasi pada instansi publik atau lembaga pemerintah baik
departemen maupun non departemen. Korupsi biasanya terjadi disertai dengan tindakan
kolusi dan nepotisme, kemudian di Indonesia dikenal dengan nama istilah KKN (korupsi,
kolusi dan nepotisme).
Praktik KKN yang terjadi diantaranya dapat dilihat dari hasil pemeriksaan reguler
BPKP perwakilan Propinsi Sulawesi Selatan. Hasil pemeriksaan tersebut menyebutkan
1 Y. Sri Susilo,”Mampukah Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Menjadi Salah Satu Pillars of
Integrity”,(http:/www.transparansi.or.id/artikel/artikel pk/artikel 02.html., diakses, 7 Januari 2013).
2 Ibid.
456
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
bahwa sebanyak 107 (seratus tujuh) laporan hasil perhitungan kerugian negara yang
menyebabkan kerugian negara senilai milyaran rupiah. Menurut BPKP indikasi KKN
pada instansi pemerintah tersebut dapat diketahui dari adanya penyimpangan prosedur
pengadaan barang dan jasa, pembayaran yang melebihi prestasi kerja, pekerjaan fiktif,
mark up dan pemberian pekerjaan pada pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa.3
Pertanyaan yang muncul adalah mengapa penyelewengan korupsi begitu merajalela.
Secara teoritis, terjadinya korupsi dipengaruhi oleh faktor permintaan dan faktor
penawaran. Dari sisi permintaan dimungkinkan karena adanya (1) regulasi dan otorisasi
yang memungkinkan terjadinya korupsi, (2) karakteristik tertentu dari sistem perpajakan
dan (3) adanya provisi atas barang dan jasa di bawah harga pasar. Sedangkan dari sisi
penawaran dimungkinkan terjadi karena (1) tradisi birokrasi yang cenderung korup, (2)
rendahnya gaji di kalangan birokrasi, (3) kontrol atas institusi yang tidak memadai, (4)
transparansi dari peraturan dan hukum.
Untuk dapat memberantas korupsi sehingga upaya terwujudnya good governance
dapat lebih cepat tercapai maka perlu dukungan dan upaya dari berbagai pihak. Untuk itu
perlu diciptakan sistem akuntabilitas yang efektif. Dalam hal ini pengambil kebijakan harus
memfokuskan usaha mereka mencapai tujuan-tujuan sebagai berikut: 1) Para pemegang
posisi kunci di lembaga eksekutif dan pelayanan masyarakat harus memperkuat institusi
publik; 2) Para politisi dan pegawai negeri harus secara kolektif bertanggungjawab atas
pelaksanaan tugas dan komitmen pemerintah; 3) Para politisi dan birokrat pada umumnya
harus lebih responsif terhadap kebutuhan perusahaan-perusahaan milik swasta maupun
milik negara; dan 4) Seluruh warga negara, sektor swasta, media dan masyarakat sipil
harus di didik dan diberdayakan untuk meningkatkan akuntabilitas sektor publik.
Selanjutnya, agar akselerasi sistem akuntabilitas publik dapat lebih cepat tercapai,
maka diperlukan komitmen dan integritas dari berbagai pihak yang terkait dengan upaya
pemberantasan korupsi. Pemberantasan korupsi merupakan salah satu upaya untuk
menegakkan paradigma good governance.
The Economic Development Institute (EDI) of the World Bank dengan berbagai
pihak dalam rangka memberantas korupsi, telah memperkenalkan konsep yang disebut
“Pillars of Integrity”.4 Termasuk ke dalam pilar lembaga-lembaga pengawas antara lain
kantor-kantor auditor, lembaga anti korupsi dan ombudsman. Sedangkan yang termasuk
pilar sektor swasta antara lain kamar dagang, asosiasi industri dan asosiasi profesional.
3 Lakip BPKP Sulsel tahun 2010/2011
4 Asian Development Bank (ADB), “Good Governance and Anticorrution : The Road Forward For
Indonesia”, Paper, Presented at Eight Meeting of The Colsultative Group On Indonesia, 27-28 july 1999,
Paris, France.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
457
Organisasi kemasyarakatan, lembaga keagamaan dan LSM termasuk dalam pilar
masyarakat sipil. Pilar tersebut tentunya bisa diperluas menurut kondisi masing-masing
negara. Di Indonesia misalnya, mahasiswa tentu dapat dimasukkan sebagai salah satu
pilar integritas.
Auditor BPKP termasuk pilar yang manakah? Auditor BPKP dapat masuk ke
lembaga-lembaga pengawas karena pada umumnya auditor merupakan anggota Internal
Auditor Indonesia (IAI). Organisasi IAI merupakan organisasi profesional karena itu
dapat masuk pula ke pilar sektor swasta. Dengan demikian salah satu anggota IAI adalah
Auditor BPKP. IAI mempunyai potensi yang besar untuk menjadi pilar ke-9 dari “Pillars of
Integrity” di Indonesia.5 Anggota IAI merupakan auditor yang profesional yang tergabung
dalam kantor auditor atau akuntan publik. Ada atau tidaknya korupsi dalam suatu kegiatan
ekonomi dapat diketahui dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Auditor keuangan.
Dengan demikian, ada tidaknya suatu penyelewengan keuangan sangat tergantung dari
pekerjaan dan kesimpulan yang direkomendasikan oleh lembaga auditor. Di Indonesia,
ada tidaknya korupsi pada institusi pemerintah secara formal diketahui dari laporan yang
dikeluarkan oleh BPKP atau kantor akuntan publik yang ditunjuk.
Adapun kedudukan BPKP dalam “Pillars of Integrity” tersebut dapat dimasukkan
dalam pilar keempat yaitu lembaga-lembaga pengawas, hal ini disebabkan BPKP
berkedudukan sebagai auditor internal Pemerintah. Sebagai auditor internal pemerintah,
BPKP menekankan fokus kinerja pada tiga hal besar yaitu pemerintah (governance),
manajemen resiko (risk management) dan kontrol internal (internal control). BPKP sudah
mengembangkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dan sejauh ini
telah diimplementasikan dan disosialisasikan di berbagai pemerintahan. BPKP telah
mengembangkan konsep manajemen resiko termasuk melakukan sosialisasi melalui
workshop dan media lainnya, serta membantu implementasi manajemen resiko lainnya
di beberapa BUMN. BPKP juga selalu peduli pada pentingnya pengendalian internal di
berbagai kegiatan misalnya dalam proses pengadaaan barang dan jasa.
Publik seringkali menganggap bahwa kinerja lembaga pengawasan yang efektif
adalah jika banyak kasus korupsi diungkap dan pelakunya ditangkap dan dijebloskan
ke penjara. Perlu diketahui bahwa lembaga pengawasan internal pemerintah hakikatnya
merupakan usaha preventif berupa mengawal pemerintah secara intensif melalui
pengembangan tata kelola pemerintahan yang baik, penanganan resiko yang akurat dan
5 Ibid., hlm.13. Konsep mengenai sistem integritas nasional tersebut setidaknya melibatkan 8
(delapan) lembaga yaitu: 1) Lembaga eksekutif; 2) Lembaga parlemen; 3) Lembaga kehakiman; 4)
Lembaga-lembaga pengawas; 5) Media; 6) Sektor Swasta; 7) Masyarakat sipil; dan 8) Lembaga-lembaga
penegakan hukum.
458
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
implementasi pengendalian internal yang baik disetiap kegiatan pemerintahan.
Audit yang dilakukan BPKP yang temuannya terdapat indikasi merugikan negara.
Hal tersebut sudah memenuhi salah satu unsur korupsi dimana perbuatan tersebut terdapat
unsur memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi dan unsur lain,
seperti unsur melawan hukum dan unsur merugikan keuangan negara atau perekonomian
negara. Jadi tinggal mencari apakah pada perbuatan tersebut terdapat unsur sebagaimana
disebutkan sebelumnya.
Berhubungan dengan hasil audit investigatif diwilayah hukum Propinsi Sulawesi
Selatan. Jumlah pelaksanaan audit sesuai dengan permintaan penyidik Kejaksaan Tinggi
Sulawesi Selatan dan Barat pada BPKP perwakilan Propinsi Sulawesi Selatan selama tahun
2010 sampai tahun 2011 adalah sebanyak 22 kasus dan total nilai kerugian negara adalah
Rp. 9.076.301.663,86.6 Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, BPKP juga mengklaim
mendorong optimalisasi anggaran. Upaya ini mampu menyelamatkan anggaran negara
mencapai Rp. 17.356.095.547,17.
Peran Kejaksaan sebagai penyidik tindak pidana korupsi pada hakikatnya merupakan
fungsionalisasi hukum pidana, artinya fungsionalisasi memegang peranan penting dalam
suatu penegakan hukum, Barda Nawawi Arief menyatakan bahwa fungsionalisasi hukum
pidana dapat berfungsi, beroperasi atau bekerja dan terwujud secara nyata. Fungsionalisasi
hukum pidana identik dengan operasionalisasi atau konkretitasi hukum pidana, yang
hakikatnya sama dengan penegakan hukum.7 Dalam fungsionalisasi ini terdapat tiga
tahapan kebijakan yaitu tahap kebijakan formulatif sebagai suatu tahap perumusan hukum
pidana oleh pihak pembuat perundang-undangan, tahap kebijakan aplikatif sebagai tahap
penerapan hukum pidana oleh penegak hukum, tahap kebijakan administratif, yaitu
merupakan tahap pelaksanaan oleh aparat eksekusi hukum.8
Suatu hal yang dipahami dari uraian diatas adalah sangat urgennya kedudukan
penyidik Kejaksaan dalam mengungkapkan suatu tindak pidana korupsi. Akan tetapi
selain sumber daya manusia dari Kejaksaan yang terbatas serta dibutuhkannya alat bukti
dalam mengungkapkan tindak pidana korupsi maka penyidik Kejaksaan membutuhkan
lembaga lain yang memiliki kompetensi dalam melakukan tugas audit investigasi. Salah
satu lembaga yang memiliki kompetensi di bidang audit investigasi tersebut adalah BPKP.
Selain bertugas memberikan bantuan penyelidikan dan penyidikan indikasi kerugian
negara, maka hasil audit investigasi yang dilakukan auditor BPKP juga berfungsi sebagai
6 Lakip BPKP Sulsel tahun 2010/2011, hlm.50.
7 Barda Nawawi Arief, Teori-Teori Kebijakan Pidana. (Bandung : Alumni, 1994), hlm. 157.
8 Barda Nawawi Arief, Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum Pidana,
(Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 1998), hlm.30.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
459
alat bukti bagi penyidik Kejaksaan. Hal ini disebabkan karena hasil audit investigasi
tersebut merupakan suatu surat yang menjelaskan tentang telah terjadinya suatu tindak
pidana korupsi dan dibuat oleh lembaga yang benar-benar kualifait di bidangnya. Selain
hasil audit yang dapat dijadikan sebagai alat bukti, maka keberadaan auditor BPKP juga
dapat dimintakan keterangannya dan dapat dijadikan sebagai alat bukti.
Kenyataan ini memberikan konstribusi bahwa kerjasama antara Kejaksaan dengan
BPKP amat sangat penting dalam menemukan kebenaran terhadap suatu hal yang
diperkirakan berindikasi merugikan keuangan negara atau telah terjadi suatu peristiwa
tindak pidana korupsi. Dengan demikian, sistem peradilan pidana dalam rangka
penyelenggaraannya sebagaimana dimkasud oleh KUHAP harus merupakan kesatuan
yang bergerak secara terpadu.9 Dalam hal usaha-usaha untuk menanggulangi tindak
pidana yang sesungguhnya terjadi di dalam masyarakat.
Penulis dalam suatu persidangan perkara tindak pidana korupsi di Kabupaten
Bantaeng Propinsi Sulawesi Selatan, pernah menghadirkan Auditor BPKP Perwakilan
Propinsi Sulawesi Selatan untuk memberikan keterangan Ahli, dimana pada saat itu
Hakim Ketua bertanya mengenai perbedaan antara BPKP dan BPK, kemudian Auditor
BPKP menjelaskan fungsi BPKP, sehingga penelitian ini dianggap menarik karena penulis
ingin melihat bagaimana fungsi Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP)
Perwakilan Propinsi Sulawesi Selatan dalam pengungkapan tindak pidana korupsi di
wilayah hukum Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dan Barat.
Bentuk koordinasi dan kerjasama antara Kejaksaan dan BPKP dalam menentukan
unsur kerugian keuangan negara untuk kasus tindak pidana korupsi. Beberapa kasus
memberikan fakta akan adanya koordinasi yang harus dibangun antara BPKP dengan
Kejaksaan, karena seringkali ada kesan bahwa beberapa kasus hanya mengakui BPKP
sebagai satu-satunya alat bukti yang dapat menentukan besarnya kerugian negara. Hal
ini terbukti dari banyaknya perkara korupsi di Kejaksaan yang berkas perkaranya belum
lengkap karena menunggu hasil audit BPKP.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan apa yang telah di uraikan di atas, maka penulis merumuskan masalah
pokok yang akan diteliti, sebagai berikut yaitu, bagaimanakah fungsi BPKP perwakilan
Propinsi Sulawesi Selatan dengan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dan Barat dalam
penyelesaian perkara tindak pidana korupsi di Sulawesi Selatan dan Barat?
9 Mardjono Reksodiputro, Kriminologi dan Sistem Peradilan Pidana, (Jakarta: Pusat Pelayanan
Keadilan dan Pengabdian Hukum, Lembaga Kriminologi, Universitas Indonesia, 1994), hlm.140.
460 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
METODE PENELITIAN
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dititik beratkan pada pelaksanaan fungsi BPKP, maka dipilih BPKP
perwakilan Propinsi Sulawesi Selatan dan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dan Barat
di Kota Makassar.
Tipe Penelitian
Tipe penelitian empiris yaitu studi hukum dengan pendekatan secara sosial legal
yang melihat hukum sebagai gejala pranata sosial, artinya hukum tidak dikonsepkan
sebagai gejala normatif tetapi sebagai sarana pranata sosial yang secara kenyataan akan
dikaitkan dengan kenyataan sosial yang lain dengan mengungkapkan secara empiris
dalam praktik fungsi BPKP dalam penyelesaian perkara tindak pidana korupsi dalam
wilayah hukum Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dan Barat. Oleh karenanya penelitian
ini membutuhkan populasi dan sampel.
Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu data yang
diperoleh di lapangan dan data sekunder, yaitu penelitian kepustakaan. Namun penelitian
ini terutama difokuskan pada data sekunder karena sifat penelitian ini adalah normatif,
sedangkan data primer dipakai sebagai penunjang untuk mempertajam analisis.
Sumber data yang digunakan terdiri atas data primer dan data sekunder. Untuk data
sekunder diperoleh melalui bahan-bahan primer yaitu perundang-undangan yang berlaku
di Indonesia. Adapun bahan-bahan hukum sekunder digunakan berupa pendapat para
ahli, hasil karya ilmiah, artikel, makalah dan hasil penelitian.
Untuk data primer diperoleh melalui wawancara dengan aparat penegak hukum
dalam hal ini Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dan Barat C.q Asisten Tindak
Pidana Khusus, Kepala Seksi Penuntutan Kejati Sulselbar serta Kepala BPKP Perwakilan
Propinsi Sulawesi Selatan.
Teknik Pengumpulan Data
Berdasarkan pendekatan dan data dalam penelitian ini, maka metode pengumpulan
data yang dipakai adalah melalui studi kepustakaan dan wawancara serta kuesioner
diproses secara identifikasi, klasifikasi, sistematis dan analisis. Sesuai dengan metode
pendekatan sosio yuridis yang menekankan pada data primer.
Analisis Data
Dari semua data yang terkumpul, baik dari data primer maupun dari data sekunder
diolah dan dianalisis, serta disajikan secara deskriptif untuk menjawab permasalahan
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
461
penelitian, sekaligus solusinya.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Fungsi BPKP Perwakilan Propinsi Sulawesi Selatan dalam Penyelesaian Perkara
Tindak Pidana Korupsi
Diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun 1983 Tanggal 30 Mei 1983,
maka Direktorat Jendral Pengawasan Keuangan Negara (DJPKN) ditransformasikan
menjadi BPKP. Sebuah lembaga non departemen yang berada dibawah dan
bertanggungjawab langsung kepada Presiden. Salah satu pertimbangan dikeluarkannya
Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun 1983 tentang BPKP adalah diperlukannya badan
atau lembaga pengawasan yang dapat melaksanakan fungsinya secara leluasa tanpa
mengalami kemungkinan hambatan dari unit orgnanisasi pemerintah yang menjadi obyek
pemeriksaannya.
Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun 1983 tersebut menunjukkan bahwa Pemerintah
telah meletakkan struktur organisasi BPKP sesuai dengan proporsinya dalam konstelasi
lembaga-lembaga Pemerintah yang ada. BPKP dengan kedudukannya yang terlepas dari
semua departemen atau lembaga sudah barang tentu dapat melaksanakan fungsinya secara
lebih baik dan obyektif.
Tahun 2001 dikeluarkan Keputusan Presiden Nomor 103 tentang Kedudukan,
tugas, fungsi, kewenangan, susunan organisasi dan tata kerja lembaga pemerintah non
departemen sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden
Nomor 64 Tahun 2005. Dalam pasal 52, 53 dan 54 disebutkan, BPKP mempunyai tugas
melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengawasan keuangan dan pembangunan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam
melaksanakan tugas, BPKP menyelenggarakan fungsi :
a. Penyiapan rencana dan program kerja pengawasan.
b. Pengawasan terhadap pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja negara dan
pengurusan barang milik kekayaan negara.
c. Pengawasan terhadap pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja daerah dan
pengurusan barang milik kekayaan daerah.
d. Pengawasan terhadap penyelenggaraan tugas pemerintahan yang bersifat strategis
dan/atau lintas departemen lembaga wilayah.
e. Pemberian asistensi penyusunan laporan akuntabilitas kinerja pemerintah pusat dan
daerah.
f. Evaluasi atas laporan akuntabilitas kinerja pemerintah pusat dan daerah.
g. Pemeriksaan terhadap badan usaha milik daerah, pertamina, cabang usaha
462 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
h.
i.
j.
k.
pertamina, kontraktor bagi hasil dan kontrak kerja sama, badan-badan lain yang
di dalamnya terdapat kepentingan pemerintah, pinjaman bantuan luar negeri yang
diterima pemerintah pusat dan badan usaha milik daerah atas permintaan daerah
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Evaluasi terhadap pelaksanaan good corporate governance dan laporan akuntabilitas
kinerja pada badan usaha milik negara, pertamina, cabang usaha pertamina,
kontraktor bagi hasil dan kontrak kerja sama, badan-badan lain yang di dalamnya
terdapat kepentingan pemerintah.
Investigasi terhadap indikasi penyimpangan yang merugikan negara, badan
usaha milik negara dan badan-badan lain yang di dalamnya terdapat kepentingan
pemerintah, pemeriksaan terhadap hambatan kelancaran pembangunan, pemberian
bantuan pemeriksaan terhadap instansi penyidik dan instansi pemerintah lainnya.
Pelaksanaan analisis dan penyusunan laporan hasil pengawasan serta pengendalian
mutu pengawasan.
Pelaksanaan administrasi perwakilan BPKP.
Dalam menyelenggarakan fungsi tersebut, BPKP mempunyai kewenangan sebagai
berikut:
a. Penyusunan rencana nasional secara makro di bidangnya.
b. Perumusan kebijakan di bidangnya untuk mendukung pembangunan secara makro.
c. Penetapan sistem informasi di bidangnya.
d. Pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan otonomi daerah yang meliputi
pemberian pedoman, bimbingan, pelatihan, arahan dan supervisi di bidangnya.
e. Penetapan persyaratan akreditasi lembaga pendidikan dan sertifikasi tenaga
profesional/ahli serta persyaratan jabatan di bidangnya.
f. Kewenangan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku, yaitu :
i. Memasuki semua kantor, bengkel, gudang, bangunan, tempat-tempat
penimbunan dan sebagainya.
ii. Meneliti semua catatan, data elektronik, dokumen, buku perhitungan, suratsurat bukti, notulen rapat panitia dan sejenisnya, hasil survei laporan-laporan
pengelolaan dan surat-surat lainnya yang diperlukan dalam pengawasan.
iii. Pengawasan kas, surat-surat berharga, gudang persediaan dan lain-lain.
iv. Meminta keterangan tentang tindak lanjut hasil pengawasan, baik hasil
pengawasan BPKP sendiri maupun hasil pengawasan badan pemeriksa
keuangan dan lembaga pengawasan lainnya.
Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) adalah lembaga
pemerintah non departemen yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung
kepada Presiden dan Wakil Presiden. Tugas utama BPKP adalah membantu Presiden dan
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
463
Wakil Presiden mengawasi pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan Negara dan
Pembangunan agar sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, sekaligus
memberikan masukan bagi pembuatan kebijakan terkait dengan itu.
Sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 2004 tentang perubahan atas
Keputusan Presiden Nomor 103 tahun 2001, dalam Pasal 52 disebutkan, BPKP mempunyai
tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengawasan keuangan dan pembangunan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kewenangan BPKP
tidak hanya sampai disitu saja, BPKP juga dapat melakukan pemeriksaan khusus atau
audit investigasi untuk membongkar kasus-kasus yang terkait dengan penyalahgunaan
wewenang yang mengakibatkan kerugian negara atau menguntungkan sebagian orang.
Bila ada indikasi terjadinya tindak pidana korupsi, maka acuan yang digunakan BPKP
dalam melakukan audit investigasinya adalah Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999
tentang Pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah
dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan Undang-Undang
Nomor 31 Tahun 1999. Berdasarkan fungsi dan wewenangnya, disini terlihat bahwa
peran BPKP dalam upaya pemberantasan korupsi dapat dijadikan modal dasar yang kuat
dalam memerangi kejahatan korupsi yang sudah mewabah di negeri ini.
Saat ini, BPKP boleh dibilang adalah lembaga pemerintahan yang paling canggih
dalam fungsi pengawasan pemerintahan. Bagaimana tidak, BPKP telah didukung tata
kerja organisasi yang cukup mapan dalam perencanaan, penugasan, pertanggung jawaban.
Tidak Cuma itu, BPKP juga memiliki kapasitas besar dalam hal audit investigasi yang
kiranya dapat diandalkan untuk melacak berbagai penyimpangan dan kebocoran dalam
pengelolaan keuangan negara.
Berdasarkan kapasitas yang dimiliki, BPKP berperan khususnya dalam
pengungkapan tindak pidana korupsi sebagai berikut:
1. BPKP berperan sebagai auditor internal pemerintah dengan tugas memanfaatkan
hasil kerja ITJEN, BAWASDA dan aparat pengawasan pemerintah lainnya.
Kemudian mengolah temuan dan rekomendasi serta memantau pelaksanaan tindak
lanjutnya. Hal ini memungkinkan BPKP dapat melakukan pemeriksaan lapangan
secara langsung, jika dipandang perlu. Dengan demikian BPKP dapat menjadi mitra
kerja dan memberikan dukungan kepada BPK.
2. BPKP sebagai analis kebijakan dengan memanfaatkan hasil pemeriksaan aparat
pengawasan lainnya sebagai bahan analisis kebijakan publik, kemudian memberikan
rekomendasi perbaikan atas berbagai kebijakan publik.
3. Sebagai lembaga investigasi, yaitu menjadi pendukung utama bagi KPK, Kejaksaan
Agung dan Kepolisian dalam upaya pemberantasan korupsi.
464 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Dari dua peran pertama di atas, dapat diposisikan BPKP memainkan peran strategis
dalam pemberantasan tindak pidana korupsi di tingkat pencegahan. Sedangkan peran ketiga
lebih diberdayagunakan untuk peran penyelidikan dan penyidikan tindak pidana korupsi.
Peran-peran ini tentu saja harus didukung dengan langkah-langkah pembenahan terhadap
BPKP sendiri. Salah satu langkah penting yang harus dilakukan adalah menegaskan dasar
hukum bagi BPKP agar tidak rentan setiap terjadi pergantian pemerintah. Karena seperti
diketahui selama ini BPKP memiliki peran dan kewenangan yang sangat bergantung pada
“selera” dan kebutuhan Presiden yang berkuasa.
BPKP adalah internal auditor pemerintah yang menekankan kinerja pada tiga hal
besar yakni governance, risk management dan internal control. Hal ini menjelaskan juga
bahwa BPKP adalah forensic accountant (fraud auditor). Forensik auditing mengandalkan
pada pengetahuan akuntansi dan auditing yang dibantu dengan kemampuan melakukan
penyidikan. Forensic accountant dibekali dengan pengetahuan audit yang termasuk dalam
akuntansi. Orang yang ahli adalah orang yang dengan keterampilannya mengerjakan
suatu pekerjaan dengan cara mudah, cepat, menggunakan intuisinya dan sangat jarang
melakukan kesalahan.
Di bidang auditing, beberapa ahli menyamakan keahlian audit dengan pengalaman
audit, dan beberapa peneliti lain menggunakan pengalaman ini sebagai variabel pendukung
keahlian. Keahlian audit adalah pengetahuan dan keahlian procedural yang luas yang
ditunjukkan dalam pengalaman audit. Ada 5 kategori atribut personal yang ahli yaitu :
(1) komponen pengetahuan, (2) ciri-ciri psikologis, (3) kemampuan berpikir, (4) strategi
penentuan keputusan, dan (5) analisis tugas.
Pertama, komponen pengetahuan (knowledge component). Komponen pengetahuan
terhadap fakta-fakta, prosedur-prosedur dan pengalaman. Kedua, ciri-ciri psikologis
(psychological traits). Atribut ini merupakan aspek lahiriah seseorang yang memiliki
hal-hal personal dari seseorang, yang meliputi kemampuan dalam berkomunikasi,
kreatifitas, dapat bekerja sama dengan orang lain dan kepercayaan terhadap keahlian.
Ketiga, kemampuan berpikir (cognitive abilities). Atribut ini merupakan kemampuan
dalam mengakumulasikan dan mengolah informasi. Salah satu contoh dari kemampuan
berpikir adalah kemampuan untuk beradaptasi pada situasi yang baru dan ambiguous yaitu
memberikan perhatian terhadap fakta yang relevan serta kemampuan untuk mengabaikan
fakta yang tidak relevan yang dapat secara efektif digunakan untuk menghindari tekanan.
Keempat, strategi penentuan keputusan (decision strategies). Strategi penentuan keputusan
baik formal maupun informal akan membantu membuat keputusan yang sistematis dan
membantu keahlian dalam mengatasi keterbatasan manusia. Kelima, analisis tugas (task
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
465
analysis). Analisis tugas dipengaruhi oleh kompleksitas tugas.
Seorang anggota BPKP juga harus memiliki keahlian teknis (technical skills),
keahlian teknis merupakan kemampuan dasar seorang auditor berupa pengetahuan
prosedural dan pengetahuan teknik lainnya dalam lingkup akuntansi secara umum dan
auditing. Keahlian mencakup tiga bentuk yaitu,1) Pengetahuan akuntansi dan auditing;
2) Pengetahuan subspesial (derifative contract); dan 3) Pengetahuan bisnis secara umum.
Termasuk dalam keahlian teknis adalah: a. komponen pengetahuan dengan faktor-faktornya
yang meliputi pengetahuan umum dan khusus, berpengalaman, mendapat informasi yang
cukup relevan, selalu berusaha untuk tahu dan mempunyai visi. b. Analisis tugas yang
mencakup ketelitian, tegas, profesional dalam tugas, keterampilan teknis, menggunakan
metode analisis, kecermatan, loyalitas dan idealisme.
Sedangkan strategi BPKP dalam pemberantasan tindak pidana korupsi ada tiga
yakni :
1. Pendekatan preventif, yaitu strategi yang diupayakan untuk mencegah, menangkal
dan mendeteksi terjadinya korupsi antara lain :
a. Mengembangkan lingkungan pengendalian yang kondusif.
b. Mengembangkan kajian resiko (risk assesment).
c. Mengembangkan aktivitas pengendalian (fraud control plan).
d. Melaporkan kejadian tindak pidana korupsi.
e. Mendidik dan melatih pegawai.
f. Mendorong dan memelihara standar perilaku yang tinggi.
g. Melaporkan kegiatan pengendalian atas kecurangan (fraud).
h. Mengembangkan aktivitas pengawasan yang tepat.
i. Kemitraan dengan instansi penyidik dan instansi pengawasan lainnya.
2. Pendekatan investigatif, yaitu strategi yang dilakukan dalam mengungkap kasus
tindak pidana korupsi yang sudah terjadi, antara lain :
a. Pengembangan saluran pelaporan/pengaduan.
b. Pengembangan keahlian investigasi bagi pegawai organisasi.
c. Pelaksanaan audit investigatif.
d. Pelaksanaan tugas perbantuan kepada penyidik (Kejaksaan, KPK dan Polri).
e. Pengembangan statistik investigasi.
f. Penerapan sistem berbasis teknologi.
3. Pendekatan edukatif, yaitu strategi untuk meningkatkan kepedulian masyarakat agar
dapat berpean dalam menyelesaikan permasalahan korupsi atau untuk menumbuhkan
kepedulian masyarakat terhadap tindak pidana korupsi di lingkungannya, anatara lain:
466 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
a. Melakukan sosialisasi kepada masyarakat umum melalui media cetak dan media
elektronik.
b. Melakukan sosialisasi kepada pengambil keputusan dan profesional meliputi politisi,
anggota parlemen, PNS, penegak hukum, akademisi dan media cetak.
c. Melakukan sosialisasi dengan generasi muda meliputi pelajar, mahasiswa dan
organisasi kepemudaan.
Hubungan Kerja antara BPKP Perwakilan Propinsi Sulawesi Selatan dengan
Kejaksaan Tinggi Sulselbar dalam Penanganan Tindak Pidana Korupsi
Hubungan kerja antara BPKP perwakilan propinsi Sulawesi Selatan dengan
Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dan Barat dalam penyidikan perkara tindak pidana
korupsi, dimunculkan dari efektivitas penyidikan terhadap indikasi korupsi itu sendiri.
Adanya kerjasama tersebut, akan lebih meningkatkan kinerja instansi terkait dalam
hubungannya dengan penyidikan korupsi.
Suatu hal yang harus dipahami dalam sistem ketatanegaraan Indonesia adalah
adanya pembagian tugas dan wewenang bagi suatu lembaga negara sehingga tugas dan
wewenang tersebut dapat secara baik dilaksanakan, serta adanya hambatan-hambatan
dalam pelaksanaan tugas tersebut seperti kurangnya tingkat kemampuan sumber daya
sehingga dibutuhkan pihak lain untuk mengurusnya. Demikian juga halnya di bidang
penyidikan korupsi, maka penyidik kejaksaan tentunya mengalami hambatan dalam
hal mengaudit catatan, angka-angka yang akan disidiknya tentang suatu tindak pidana
korupsi, maka berdasarkan keadaan tersebut Kejaksaan membutuhkan instansi yang
memiliki kompeten terhadap pengelolaan dan pengolahan angka-angka tersebut. Salah
satu instansi yang kompeten untuk hal tersebut adalah auditor BPKP.
Sesuai SE-853/D/VII/1995 tanggal 16 Juni 1995 tentang Bantuan Pemeriksaan/
Bantuan Tenaga Pemeriksaan BPKP kepada instansi penyidik, ditetapkan bahwa apabila
permintaan bantuan dari instansi penyidik berupa :
1. Permintaan bantuan menghitung jumlah kerugian negara
Pelaksanaan dan hasilnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab instansi penyidik,
baik dalam hal penerbitan surat tugas maupun penyusunan laporannya. Petugas
BPKP yang diperbantukan cukup menyerahkan secara tertulis hasil perhitungannya
dengan sebuah nota/surat pengantar kepada instansi penyidik. Petugas BPKP juga
menembuskan nota/surat pengantar tersebut kepada atasan di BPKP yang memberi
penugasan perbantuan, sebagai tanggungjawab telah berakhirnya penugasan.
Sedangkan atasan yang bersangkutan tidak perlu meneruskan surat tersebut ke
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
467
instansi manapun.
2. Permintaan bantuan untuk melakukan pemeriksaan
Pelaksanaan dan hasilnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab BPKP, baik dalam
hal penerbitan surat tugas maupun dalam penyusunan laporan hasil pemeriksaannya.
Oleh karena itu, sebelum memenuhi permintaan instansi penyidik, harus diteliti
dengan seksama dan harus dipertimbangkan apakah objek yang akan diperiksa
tersebut benar-benar masih dalam kewenangan BPKP untuk memeriksanya. Jika
berada di luar kewenangan BPKP, kepada instansi penyidik agar dimintakan
perlakuan yang sama sebagaimana dijelaskan di atas.
Agar pelaksanaan tugas sebagaimana dijelaskan di atas dapat berjalan lebih efisien
dan terarah, Deputi Kepala BPKP Bidang Pengawasan Khusus/Kepala Perwakilan
BPKP terlebih dahulu meminta data kepada instansi penyidik: 1) Resume permasalahan;
2) Kasus posisi dan modus operandi beserta uraiannya; dan 3) Bukti pendukung untuk
menghitung kerugian keuangan negara.
Di samping itu, petugas pemeriksa BPKP harus mempunyai kebebasan penuh untuk
menentukan alat/barang bukti yang perlu diperiksa dan tidak membatasi diri hanya pada
alat/barang bukti yang diperoleh dari pihak instansi penyidik. Ruang lingkup kerjasama
antara Kejaksaan dan BPKP, meliputi :
1. Penerusan kasus penyimpangan yang berindikasi tindak pidana korupsi hasil audit
BPKP untuk ditindaklanjuti oleh Kejaksaan.
2. Permintaan bantuan audit investigasi dari Kejaksaan kepada BPKP guna memperjelas
adanya tindak pidana yang berkaitan dengan kerugian keuangan negara.
3. Permintaan keterangan ahli dari Kejaksaan kepada BPKP dalam penyidikan tindak
pidana korupsi.
4. Permintaan bantuan tenaga auditor dari Kejaksaan kepada BPKP untuk menghitung
kerugian keuangan negara dalam rangka penyelidikan dan penyidikan tindak pidana
korupsi.
5. Kerjasama lain yang disepakati oleh Kejaksaan dan BPKP sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.
Penyidik Kejaksaan yang menerima laporan dan atau mengetahui tentang adanya
suatu perbuatan yang diduga korupsi, melakukan serangkaian tindakan penyelidikan
dengan mencari dan mengumpulkan fakta-fakta dan bukti-bukti tentang tindak pidana
korupsi tersebut. Setelah mendapat dan memperoleh bukti/fakta tentang dugaan perbuatan
merugikan keuangan dan perekonomian negara, maka penyidik Kejaksaan meminta
bantuan kepada auditor BPKP untuk melakukan audit untuk mengetahui apakah terdapat
468 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
kerugian keuangan negara atau perekonomian negara.
Pihak BPKP setelah menerima surat permintaan bantuan dari penyidik Kejaksaan
kemudian meminta kepada penyidik untuk melakukan ekspose/paparan tentang kasus
dan bukti/fakta yang sudah diperoleh. Setelah menerima penjelasan dan gambaran kasus
didukung bukti/fakta yang diperoleh penyidik, maka tim auditor BPKP datang ke tempat
instansi penyidik yang meminta melakukan audit atas bukti/fakta yang ada dan melihat
ke lokasi apabila dianggap perlu.
Setelah melakukan audit, maka auditor mengkaji dan kemudian membuat laporan
hasil audit investigasi (LHAI) dan perhitungan kerugian keuangan negara dan menyerahkan
kepada penyidik yang bersangkutan. Penyidik akan mempelajari hasil laporan auditor dan
apabila hasil audit menyimpulkan terdapat kerugian keuangan negara maka penyidik akan
menetapkan siapa yang bertanggung jawab atas kerugian negara atau dengan kata lain
menetapkan tersangkanya, dan apabila hasil audit dari auditor menyatakan tidak terdapat
kerugian negara, berarti perbuatan tersebut bukan tindak pidana korupsi.
Laporan hasil audit dari auditor akan berfungsi sebagai salah satu dari lima alat
bukti sebagaimana diatur dalam pasal 184 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 yakni
alat bukti surat dan peranannya sangat menentukan dalam pengungkapan tindak pidana
korupsi. Apabila hasil audit belum ada maka suatu kasus tidak bisa disimpulkan perbuatan
tersebut merupakan suatu tindak pidana korupsi dan juga tidak bisa ditetapkan seseorang
sebagai tersangkanya.
Setelah penyidik menerima laporan hasil audit dari auditor BPKP, kemudian
penyidik meminta keterangan saksi dari auditor yang bersangkutan untuk memperkuat
dan menjelaskan temuannya atau hasil auditnya dan keterangan tersebut dibuat dalam
Berita Acara Pemeriksaan Ahli dan berfungsi sebagai salah satu dari alat bukti pada Pasal
184 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara
Pidana yaitu sebagai alat bukti keterangan ahli.
Sehingga dari auditor BPKP akan diperoleh dua alat bukti ditambah dengan
keterangan saksi, sehingga dengan adanya tiga alat bukti maka sudah dapat menggiring
seseorang menjadi terdakwa untuk disidangkan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi,
karena menurut Pasal 183 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana bahwa dengan dua alat bukti saja ditambah dengan
keyakinan Hakim sudah dapat menjatuhkan pidana kepada seseorang.
Berikut ini akan dipaparkan hasil dari rekapitulasi investigasi BPKP atas permintaan
penyidik Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dan Barat tahun 2008 sampai dengan 2012.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
469
Tabel 1. Permintaan Audit Investigasi dari penyidik Kejaksaan Tinggi Sulselbar
kepada Auditor BPKP Perwakilan Propinsi Sulsel tahun 2008-2012.
No.
Tahun
Audit Investigasi (AI)
Perhitungan Kerugian
Keuangan Negara (PKKN)
Jumlah
1
2
3
4
5
2008
2009
2010
2011
2012
4
6
5
6
8
7
7
15
11
11
11
13
20
17
19
29
51
80
Jumlah
Sumber: Data Bidang Tindak Pidana Khusus Kejati Sulselbar
Tabel 2. Realisasi audit invetigasi BPKP atas permintaan penyidik Kejaksaan Sulselbar
tahun 2008-2012
No.
Tahun
1
2
Nilai Temuan Kerugian Negara
Jumlah
2008
2009
Audit Investigasi (Rp)
1.012.354.090,12
2.326.678.099,16
PKKN (Rp)
2.342.143.778,20
5.953.115.784,15
3.354.496.868,32
8.279.793.883,31
3
4
2010
2011
1.177.127.800,58
3.070.017.242,38
7.899.173.863,28
3.166.034.474,31
9.076.301.663,86
6.236.051.716,69
5
2012
722.489.745,80
11.148.101.034,44
11.870.590.780,24
8.308.666.978,04
30.508.568.934,38
38.817.235.912,42
Jumlah
Sumber: Data Bidang Tindak Pidana Khusus Kejati Sulselbar
Dari tabel di atas, dapat dilihat audit investigasi yang dilakukan oleh BPKP
perwakilan Sulawesi Selatan telah sesuai dengan jumlah permintaan Kejaksaan Tinggi
Sulselbar. Sedangkan rata-rata permintaan audit investigasi yang ditujukan kepada
BPKP perwakilan Sulawesi Selatan mengalami pasang surut. Hal tersebut terlihat dari
perubahan jumlah permintaan audit investigasi yang diajukan oleh Kejaksaan Tinggi
Sulselbar kepada auditor BPKP perwakilan propinsi Sulawesi Selatan dimana pada tahun
2010 mengalami kenaikan dari tahun 2009 begitu juga tahun 2012 diperbandingkan tahun
2011 tetapi permintaan investigasi kembali mengalami penurunan pada tahun 2008 dan
diikuti pula dengan tahun 2009.
Setelah BPKP melakukan pekerjaan audit maka auditor membuat laporan hasil audit,
kemudian hasil audit tersebut diserahkan kepada penyidik. Apabila laporan audit BPKP
menjelaskan tidak ada kerugian negara maka penyidik akan menghentikan penyelidikan
karena tidak ada indikasi korupsi. Dan apabila laporan hasil audit menyatakan terjadi
470 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
kerugian negara, maka penyidik menindaklanjuti hasil audit tersebut ke tahap penyidikan.
Selain hasil audit dapat dijadikan alat bukti maka auditor juga dapat dihadirkan sebagai
Ahli.
Berdasarkan wawancara dengan penyidik tindak pidana korupsi pada bidang
tindak pidana khusus Kejaksaan Tinggi Sulselbar dikatakan bahwa dalam rangka
pengungkapan tindak pidana korupsi sudah menjadi keharusan bahwa setelah penyidik
melakukan penyelidikan terhadap suatu kasus yang diduga ada indikasi tindak pidana
korupsi, penyidik wajib meminta bantuan kepada auditor BPKP untuk melakukan audit
investigasi yang ditujukan untuk mengetahui apakah telah terdapat kerugian negara
dengan mencantumkan angka-angka/nilai nominal kerugian negara, maka penyidik akan
meningkatkan kasus ke tahap penyidikan sehingga peranan auditor BPKP sangatlah
strategis dan sangat menentukan dimana suatu kasus yang sedang diselidiki dapat
dikatakan ada indikasi tindak pidana korupsi hanyalah sesudah auditor menyatakan dalam
laporan hasil audit bahwa atas kasus yang sedang diselidiki oleh penyidik ada ditemukan
kerugian keuangan negara.
Kerjasama antara BPKP dengan penyidik yang sudah berjalan sejak lama sangat
efektif dimana seluruh permintaan penyidik Kejaksaan Tinggi Sulselbar kepada BPKP
Propinsi Sulawesi Selatan untuk mengaudit selalu dipenuhi dan hasilnya diserahkan
kepada penyidik Kejaksaan Tinggi Sulselbar.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, maka penulis menarik
kesimpulan sebagai berikut :
1. Hasil audit auditor BPKP dapat digolongkan kepada alat bukti surat dalam hukum
pembuktian berdasarkan KUHAP. Karena surat hasil audit tersebut adalah surat yang
dibuat oleh seseorang ahli yang isinya berupa pendapat mengenai hal tertentu dalam
bidang keahliannya itu yang hal tersebut berhubungan dengan suatu perkara pidana.
Surat ini dibuat memenuhi permintaan penyidik secara resmi, seperti pada permintaan
untuk melakukan audit invetigasi. Keberadaan alat bukti surat yang dihasilkan dari
hasil audit tersebut akan diikuti pula dengan alat bukti keterangan saksi. Berdasarkan
hal tersebut maka dari auditor BPKP akan diperoleh 2 alat bukti yaitu hasil audit
sebagai alat bukti surat dan keterangan ahli auditor BPKP sendiri.
2. Hubungan kerja antara auditor BPKP perwakilan propinsi Sulawesi Selatan dengan
Penyidik Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dan Barat adalah hubungan permintaan
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
471
bantuan untuk mengetahui ada tidaknya kerugian keuangan negara atas suatu kasus
yang diselidiki oleh penyidik Kejaksaan. Dimana adanya tindak pidana korupsi yang
diduga dilakukan seseorang pelaku haruslah dibuktikan terlebih dahulu apakah ada
kerugian negara yang pengauditannya dilakukan oleh auditor BPKP. Kerjasama
antara penyidik Kejaksaan dengan auditor BPKP mutlak adanya dan hal ini sudah
diatur dalam MOU antara Kejaksaan Republik Indonesia dan BPKP Pusat yang
pelaksanaannya telah dilaksanakan di tingkat propinsi dan kabupaten.
Saran
1. Diharapkan adanya penyempurnaan-penyempurnaan perihal pengaturan tindak
pidana korupsi, khususnya berkaitan dengan keberadaan hukum yang satu dengan
hukum lainnya dan menjadi dasar kewenangan bagi aparat penegak hukum khususnya
Kejaksaan untuk menangani tindak pidana korupsi dan juga kewenangan lembagalembaga negara seperti BPKP sehingga tidak ada tumpang tindih tugas antar lembaga
negara. Di samping itu, diperlukan sesegera mungkin perangkat hukum yang dapat
dijadikan landasan untuk meminta pertanggungjawaban pidana korporasi dalam hal
korupsi.
2. Pada penanganan tindak pidana korupsi diperlukan pemahaman yang konfrehensif bagi
penyidik Kejaksaan dengan tetap memperhatikan keterpaduan sistem penanggulangan
tindak pidana pada sistem peradilan pidana (criminal justice system) khususnya dalam
membina hubungan kerja dengan auditor BPKP, sehingga hasil kerjasama tersebut
dapat benar-benar dipergunakan sebagai suatu dasar pengungkapan kasus tindak
pidana korupsi.
DAFTAR PUSTAKA
Asian Development Bank (ADB), “Good Governance and Anticorrution : The Road
Forward For Indonesia”, Paper, Presented at Eight Meeting of The Colsultative
Group on Indonesia, 27-28 July 1999, Paris, France.
Barda Nawawi Arief, 1994, Teori-Teori Kebijakan Pidana, Bandung; Alumni.
________________, 1998, Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan
Hukum Pidana, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.
Mardjono Reksodiputro, 1994, Kriminologi dan Sistem Peradilan Pidana,
Pusat
Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum, Lembaga Kriminologi, Universitas
Indonesia.
472 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Sri Susilo Y, 2013, ”Mampukah Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Menjadi Salah Satu
Pillars of Integrity”, Dikutip pada laman website: http:/www.transparansi.or.id/
artikel/artikel pk/artikel 02.html. Diakses, 7 Januari 2013.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013 473
474
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
FUNGSI BADAN LINGKUNGAN HIDUP DAERAH
TERHADAP PEMBERIAN PROPER DALAM BIDANG
PERTAMBANGAN DI PROVINSI SULAWESI SELATAN
Ghina Mangala H.P, M. Yunus Wahid, Irwansyah
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
FUNGSI BADAN LINGKUNGAN HIDUP DAERAH TERHADAP
PEMBERIAN PROPER DALAM BIDANG PERTAMBANGAN DI
PROVINSI SULAWESI SELATAN
Oleh: Ghina Mangala H.P*, M. Yunus Wahid, Irwansyah
Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin
Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10, Tamalanrea, 90245, Makassar
*
E-mail: [email protected]
Abstract
This research aimed at finding disposition and implementation mechanism of “Company’s
Environmental Management Performance Rating Program” (PROPER) by Local Environmental agency of South Sulawesi Province. This research also aimed at finding the
influence of giving PROPER to environmental management to the mining companies at
south Sulawesi. This research used collecting primary data and secondary data method.
The researcher used qualitative descriptive in data analyzing. The researcher described
the problems appropriate with the facts through some relevant factors in this research.
Then, the researcher concluded that PROPER is an effort that ministry of environment do
to encourage the companies regulation in environmental management through information
instrument. Ministry of environment gives implementation authority of PROPER to the
province government that is governor as decocentration of PROPER which then be given
to Local environmental agency (BLHD). One of indicator of PROPER performance is
the degree of compliance of companies toward the regulation. In facts, PROPER gives
positive influence toward mining companies which listed as PROPER participant 2012 to
south Sulawesi territory that are PT. Indomarmer Kuari Utama in Pangkep and PT Vale
Indonesia Tbk in east Luwu.
Keywords: Proper, Environmental, Mining
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaturan dan mekanisme pelaksanaan
Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) oleh Badan Lingkungan
Hidup Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, serta untuk mengetahui pengaruh pemberian
PROPER terhadap pengelolaan lingkungan hidup pada perusahaan-perusahaan di
Provinsi Sulawesi Selatan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
adalah dengan mengumpulkan data primer dan data sekunder. Teknik analisa data yang
akan penulis gunakan adalah teknik deskriptif kualitatif berlandaskan materi dan data
yang berhubungan dengan topik pembahasan. Penulis menggambarkan dan menjelaskan
permasalahan sesuai dengan fakta yang terjadi melalui sejumlah faktor yang relevan
dengan penelitian ini, lalu ditarik sebuah kesimpulan. PROPER merupakan salah
satu upaya yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup untuk mendorong
penaatan perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup melalui instrumen informasi.
Kementerian Lingkungan Hidup memberikan kewenangan pelaksanaan PROPER kepada
pemerintah provinsi yakni Gubernur selaku wakil pemerintah sebagai bentuk dekosentrasi
PROPER yang kemudian diberikan kepada Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD)
Provinsi. Salah satu indikator kinerja PROPER adalah tingkat ketaatan perusahaan
terhadap peraturan. Dalam faktanya, PROPER memberikan pengaruh positif terhadap
perusahaan pertambangan yang terdaftar sebagai peserta PROPER untuk wilayah Sulsel
yaitu PT Indomarmer Kuari Utama, Pangkep dan PT Vale Indonesia Tbk, Luwu Timur.
Kata Kunci: Proper, Lingkungan Hidup, Pertambangan
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
PENDAHULUAN
Manusia sejak dilahirkan di dunia ini telah berada pada suatu lingkungan hidup tertentu.
Lingkungan hidup menjadi bagian mutlak yang tidak dapat terlepas dari kehidupan
manusia. Namun terkadang, campur tangan manusia itu ada yang berdampak negatif dan
ada yang berdampak positif terhadap lingkungan.
Perkembangan pembangunan, teknologi, industrialisasi, dan pertumbuhan penduduk yang semakin pesat, semakin memperbesar risiko kerusakan lingkungan hidup.
Keberadaan industrialisasi, nyatanya menjadi salah satu penyumbang terbesar terjadinya
pencemaran lingkungan hidup yaitu dengan adanya perusahaan-perusahaan besar.
Dahulu perusahaan dianggap telah memberikan kontribusi yang cukup bagi
lingkungannya melalui pemberian kesempatan kerja, penyediaan barang dan jasa bagi
masyarakat, serta pembayaran pajak. Beberapa tahun terakhir, kesadaran masyarakat
dunia akan pentingnya lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial,
membuat masyarakat memberikan perhatian lebih serius tidak hanya terhadap dampak
positif/manfaat adanya suatu perusahaan tetapi juga dampak negatif/kerugian yang
ditimbulkannya di lingkungan masyarakat yang bersangkutan.1
Perhatian serius yang ditunjukkan masyarakat akibat berbagai dampak negatif
keberadaan sebuah perusahaan mengakibatkan timbulnya tekanan-tekanan terhadap
perusahaan untuk tidak berlebihan mengeksplorasi sumber daya alam, memproduksi
produk yang berkualitas, melakukan perbaikan teknik dan proses produksi serta
meminimalkan limbah beserta dampak limbah yang dihasilkan.
Dalam hal ini perusahaan tidak hanya dihadapkan pada tanggung jawab yang
berpijak pada single botton line, yaitu nilai perusahaan yang direfleksikan pada kondisi
keuangan perusahaan semata, namun perusahaan juga harus memperhatikan aspek sosial
dan lingkungan. Aspek sosial dan lingkungan inilah oleh John Elkington disebut dengan
istilah triple bottom line. Perusahaan tidak lagi sekadar menjalankan kegiatan ekonomi
untuk menciptakan profit (keuntungan), melainkan juga memiliki tanggung jawab
terhadap masyarakat dan lingkungannya.2
Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan merupakan suatu
hal wajar apabila didasarkan pada pemahaman bahwa perusahaan merupakan organ
masyarakat yang juga memiliki tanggung jawab untuk berperan serta dalam mewujudkan
1 Dampak negatif ini berupa penurunan sumberdaya tak terbaharui dan peningkatan limbah (padat,
cair, dan udara), yang pada gilirannya menimbulkan permasalahan sosial bagi masyarakat dan lingkungan
hidup, seperti risiko kesehatan dan kerusakan lingkungan.
2 Abdul Rauf. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan BUMN terhadap Stakeholder di
Sulawesi Selatan. Jurnal Penelitian Hukum Fak. Hukum Univ. Hasanuddin Vol. 2 No. 1, September 2012,
hlm. 2
478 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
kesejahteraan sosial dan peningkatan kualitas hidup masyarakat, bukan hanya sebagai
tanggung jawab pemerintah semata. Namun persoalannya kemudian menjadi rumit,
karena tidak semua pihak, baik perusahaan maupun pemangku kepentingan dengan sadar
untuk selalu bertanggung jawab atas setiap akibat dari tindakan yang telah dilakukannya.3
Khusus di Indonesia sendiri, perhatian pemerintah terhadap keberadaan perusahaanperusahaan yang berorientasi pada aspek lingkungan diberikan melalui serangkaian
kebijakan dan regulasi tentang lingkungan hidup. Diantaranya adalah dengan UndangUndang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup yang di dalamnya membahas tentang Analisis Dampak Mengenai Lingkungan
(Amdal) yang wajib dimiliki oleh perusahaan sebagai wujud tanggung jawab sosialnya.4
Selain Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas pada pasal 74 juga menekankan kewajiban perusahaan untuk
melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan.5
Kebijakan dan regulasi yang ada, tidak serta merta membuat perusahaan-perusahaan
di Indonesia khususnya di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) melakukan tanggung jawab
sosial dan lingkungan di sekitarnya. Olehnya itu, pada awal tahun 1990-an, pemerintah
mengeluarkan sebuah kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja perusahaanperusahaan dalam pengelolaan lingkungan yang baik khususnya di bidang pengelolaan
limbah. Kebijakan ini dinamakan PROKASIH (Program Kali Bersih). Namun,
seiring perkembangan zaman PROKASIH kemudian terus dikembangkan menjadi
Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) dengan kriteria penilaian
lebih ditingkatkan dan menggunakan pendekatan “multimedia”, yaitu pengendalian
pencemaran air, Udara, dan pengolahan Limbah B3.6 Selain itu, PROPER merupakan
tools Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang telah ada sejak tahun 1995
yang terus berinovasi sesuai dengan perkembangan zaman.7 Prinsip dasar dari pelaksanaan
PROPER adalah mendorong penataan perusahaan dalam pengelolaan lingkungan melalui
instrumen insentif reputasi/citra bagi perusahaan yang mempunyai kinerja pengelolaan
lingkungan yang baik dan instrumen disinsentif reputasi/citra bagi perusahaan yang
mempunyai kinerja pengelolaan lingkungan yang buruk.
PROPER merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Kementerian
Lingkungan Hidup untuk mendorong penaatan perusahaan dalam pengelolaan lingkungan
3 Ibid., hlm. 3.
4 Lihat Pasal 22 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup
5 Lihat Pasal 74 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
6 Sekretariat PROPER Kementerian Lingkungan Hidup. 2012. PROPER Periode 2011-2012. hlm. 2
7Ibid., hlm. 2.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
479
hidup melalui instrumen informasi. Perusahaan-perusahaan yang menjadi target peserta
PROPER adalah perusahaan yang menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan,
tercatat di Pasar bursa, mempunyai produk yang berorientasi ekspor atau digunakan
masyarakat luas.
Pelaksanaan PROPER dari tahun ke tahun semakin meningkat. Sehingga
Kementerian Lingkungan Hidup memberikan kewenangan pelaksanaan PROPER
kepada pemerintah provinsi yakni Gubernur selaku wakil pemerintah sebagai bentuk
dekosentrasi PROPER. Hal ini juga sebagai bentuk implementasi Undang-Undang Nomor
32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. Dalam pengelolaan lingkungan hidup
oleh pemerintah provinsi diberikan kepada Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD)
Provinsi. Pada tahun 2012 yang lalu jumlah perusahaan yang ikut serta menjadi peserta
PROPER dari seluruh Indonesia mencapai 1317 perusahaan,8 30 (tiga puluh) diantaranya
merupakan perusahaan-perusahaan yang berdomisili di Provinsi Sulsel.
Untuk Provinsi Sulsel sendiri, hadirnya PROPER rupanya tidak menjadi alasan
semakin membaiknya pola perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang
dilakukan oleh beberapa perusahaan yang terdaftar sebagai peserta PROPER termasuk
di dalamnya perusahaan yang bergerak dalam bidang pertambangan.9 Sebagaimana
diketahui, bahwa pertambangan masih saja menjadi polemik yang sering diperbincangkan
di masyarakat pada umumnya. Tak bisa dipungkiri, keberadaan perusahaan-perusahaan
pertambangan yang ada sangat mempengaruhi kualitas lingkungan yang berada di sekitar
lokasi pertambangan. Kedua perusahaan tambang di Sulsel yang menjadi peserta PROPER
yaitu PT Indomarmer Kuari Utama, Pangkep dan PT Vale Indonesia Tbk, Luwu Timur,
menjadi contoh perusahaan tambang yang memperhatikan perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup di area sekitar tambang melalui PROPER.
Hal inilah yang kemudian menjadi dasar bagi penulis untuk mengkaji secara objektif
dan mengedepankan nilai-nilai intelektual serta berusaha melihat dengan perspektif yuridis,
sehingga dalam penelitian ini jelas terlihat keterkaitan antara keberadaan perusahaan
dengan penilaian PROPER ini terhadap pengelolaan lingkungan hidup terutama bagi
perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang pertambangan di Provinsi Sulawesi
Selatan.
8 Ibid., hlm. 2.
9 Lihat Kepmen-LH Nomor 273 Tahun 2012 tentang Hasil Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan
dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup Tahun 2011-2012
480 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dirumuskan permasalahan sebagai
berikut:
1. Bagaimanakah pengaturan dan mekanisme pelaksanaan Program Penilaian
Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) oleh Badan Lingkungan Hidup Daerah
Provinsi Sulawesi Selatan?
2. Bagaimanakah pengaruh pemberian Program Penilaian Peringkat Kinerja
Perusahaan (PROPER) terhadap pengelolaan lingkungan hidup pada perusahaan
dalam bidang Pertambangan di Provinsi Sulawesi Selatan?
METODE PENELITIAN
Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yang dipilih dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Sulawesi Selatan,
2. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lingkungan yakni Wahana Lingkungan
Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan, dan
3. Perusahaan tambang yang menjadi peserta PROPER 2011-2012 yakni PT Vale
Indonesia (Tambang Mineral-Luwu Timur) dan PT Indomarmer Kuari Utama
(Tambang Batu Bara-Pangkep).
Populasi dan Sampel
Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh perusahaan yang berada
di Provinsi Sulawesi Selatan dan mengikuti PROPER. Untuk memudahkan pengambilan
sample dari populasi tersebut, maka dilakukan penarikan sample dengan teknik non
probability sampling, yaitu dengan menggunakan purposive sampling berdasarkan
kriteria dan pertimbangan tertentu. Dalam hal ini yang menjadi pertimbangan adalah
mengidentifikasi perusahaan-perusahaan dalam bidang pertambangan yang terdaftar
sebagai peserta PROPER.
Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penulisan penelitian
ini adalah: 1) Wawancara (Interview) yang dilakukan pada narasumber yang terdapat pada
lokasi penelitian; 2) Pengamatan (Observasi) langsung di lokasi penelitian; 3) Telaah
pustaka (Library research), pengumpulan intisari dari dokumen, buku, jurnal, majalah,
surat kabar dan sumber yang berasal dari internet atau laporan-laporan yang berhubungan
dengan topik permasalahan yang diteliti.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
481
Jenis dan Sumber Data
Adapun jenis dan sumber data dalam penelitian penelitian ini, penulis menggunakan
dua jenis data yang bersumber dari :
1. Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh penulis secara
langsung dari sumber datanya. Data primer tersebut disebut juga sebagai data asli
atau data baru yang memiliki sifat up to date.
2. Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan penulis dari berbagai
sumber yang telah ada. Data sekunder ini, penulis peroleh berbagai literature-literatur
yang ada yang terkait dengan permasalahan lingkungan hidup dan PROPER.
Analisis Data
Teknik analisa data yang akan penulis gunakan adalah teknik deskriptif kualitatif
berlandaskan materi dan data yang berhubungan dengan topik pembahasan. Penulis
menggambarkan dan menjelaskan permasalahan sesuai dengan fakta yang terjadi melalui
sejumlah faktor yang relevan dengan penelitian ini, lalu ditarik sebuah kesimpulan.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pengaturan dan Mekanisme Pelaksanaan PROPER oleh Badan Lingkungan Hidup
Daerah Provinsi Sulawesi Selatan
PROPER atau Program Penilaian Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan
Lingkungan Hidup, merupakan upaya yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup
bersama Pemerintah Daerah untuk mendorong penaatan perusahaan dalam pengelolaan
lingkungan hidup secara kontinyu melalui penyebarluasan informasi tingkat penaatan
peraturan perundang-undangan lingkungan kepada public (public information discloure).
Dengan mekanisme penyebarluasan informasi, maka alternatif penegakan hukum
berlangsung, dengan vonisnya adalah reputasi perusahaan tersebut di mata stakeholders.
Dekosentrasi dan Tugas Perbantuan sebagai bagian dari sistem penyelenggaraan
Pemerintah di Indonesia, pada hakekatnya dimaknai sebagai bentuk kepedulian
Pemerintah Pusat terhadap Daerah melalui pendelegasian kewenangan yang dimiliki
dalam rangka mengurangi kesenjangan pembangunan antar daerah agar terpeliharanya
keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Berdasarkan penjelasan umum Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah, Pemerintah daerah dalam hal ini berwenang untuk mengatur dan
mengurus sendiri urusan Pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.
Pemberian otonomi luas kepada daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya
kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran
482 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
serta masyarakat.10 Dalam pelaksanaan urusan pemerintah di bidang lingkungan hidup,
Menteri memandang perlu untuk menyelenggarakan dekosentrasi bidang lingkungan
hidup kepada Gubernur selaku wakil pemerintah.
Dekosentrasi bidang lingkungan hidup tersebut diharapkan dapat meningkatkan
kapasitas daerah dalam pengelolaan lingkungan hidup dan menjunjung pencapaian
sasaran prioritas nasional yang termuat dalam Program Pengelolaan Sumberdaya Alam
dan Lingkungan Hidup yang diukur berdasarkan indikator kinerja utama meningkatnya
pengawasan ketaatan pengendalian pencemaran air limbah dan emisi; menurunnya
pencemaran lingkungan pada air, udara, sampah dan limbah B3; memastikan penghentian
kerusakan lingkungan di daerah aliran sungai (DAS); tersedianya kebijakan bidang
perlindungan atmosfir dan pengendalian dampak perubahan iklim; dan meningkatnya
kapasitas pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup.
Pengawasan pengendalian pencemaran air dan udara serta limbah B3 melalui
mekanisme PROPER merupakan salah satu dari Program Nasional yang dilaksanakan
secara dekosentrasi. Melalui dekosentrasi PROPER inilah, Kementerian Lingkungan
Hidup (KLH) membentuk jaringan pengawasan dengan 22 Provinsi dan 4 Pusat
Pengelolaan Ekoregion.11 Dengan dekosentrasi PROPER ini, sebagian besar pengawasan
dilaksanakan oleh Provinsi. Pengawasan langsung yang dilakukan oleh KLH kepada 274
Perusahaan, 67% pengawasan oleh Provinsi dan 12% oleh Pusat Pengelolaan Ekoregion
(Gambar 1).12
Gambar 1. Diagram pembagian pengawasan dalam program dekosentrasi PROPER
tahun 2011-2012
Sumber: Data sekunder, 2013
10 Suparto Wijoyo, Hukum Lingkungan: Kelembagaan Pengelolaan Lingkungan di Daerah,
(Surabaya:Airlangga University Press,2005), hlm. 165
11 PROPER Periode 2012-2013, Sekretariat PROPER Kementerian Lingkungan hidup. Hlm.6
12 Ibid,.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
483
Dengan demikian, untuk penyelenggaraan dekosentrasi di Provinsi Sulsel, Gubernur
sebagai penerima dekosentrasi dalam bidang lingkungan, menyerahkan kepada Badan
Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Provinsi Sulsel untuk melaksanakan dekosentrasi
PROPER tersebut.
PROPER sendiri merupakan salah satu program pengawasan yang dilakukan oleh
pihak BLHD Provinsi Sulsel. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Kasubid Pengawasan
dan Pemantauan Lingkungan BLHD Provinsi Sulsel, Agus Dina,13 mengatakan:
“Proper adalah salah satu program pengawasan. Jadi memang pengawasan program
proper itu cuma satu dari sekian kegiatan pengawasan. Proper ini adalah program
yang dicanangkan dari pusat, namun provinsi tetap terlibat dalam pengawasan,
begitu pula dengan kabupaten.”
Pelaksanaan PROPER inipun tidak terlepas dari regulasi yang ada. Untuk penilaian
tahun 2011-2012, digunakan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup (PERMENEGLH) Nomor 05 Tahun 2011 tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan
dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai landasan untuk melakukan pemeringkatan
kepada perusahaan-perusahaan yang terdaftar sebagai peserta. Dalam PERMENEG-LH
tersebut mengatur tentang mekanisme dan kriteria penilaian PROPER. PERMENEG-LH
Nomor 05 Tahun 20011 ini telah digantikan oleh PERMENEG-LH Nomor 06 Tahun 2013
tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan
Hidup untuk penilaian PROPER Tahun 2012-2013.
Kriteria penilaian PROPER ini sendiri terdiri dari dua kategori, yaitu kriteria
penilaian ketaatan dan kriteria penilaian lebih dari yang dipersyaratkan dalam peraturan
(beyond compliance). Adapun beberapa peraturan lingkungan hidup yang digunakan
sebagai dasar penilaian saat ini adalah peraturan yang berkaitan dengan :
a. Persyaratan dokumen lingkungan dan pelaporannya
Perusahaan dianggap memenuhi kriteria ini jika seluruh aktivitasnya
sudah dinaungi dalam dokumen pengelolaan lingkungan baik berupa dokumen
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), Dokumen Pengelolaan dan
Pemantauan Kualitas Lingkungan (UKL/UPL) atau dokumen pengelolaan lain
yang relevan. Selanjutnya dilakukan penilaian terhadap ketaatan perusahaan dalam
melakukanpelaporan terhadap pengelolaan lingkungan yang dipersyaratkan dalam
AMDAL dan UKL/UPL.
b. Pengendalian Pencemaran Air
Pada prinsipnya ketaatan terhadap pengendalian pencemaran air dinilai
13 Wawancara di kantor BLHD Provinsi Sulsel, Kamis, 17 April 2013
484 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
berdasarkan ketentuan bahwa semua pembuangan air limbah kelingkungan harus
memiliki izin. Air limbah yang dibuang ke lingkungan harus melalui titik penaatan
yang telah ditetapkan. Pada titik penaatan tersebut berlaku baku mutu kualitas air
limbah yang diizinkan untuk dibuang ke lingkungan.
Untuk memastikan air limbah yang dibuang setiap saat tidak melampaui baku
mutu maka perusahaan berkewajiban melakukan pemantauan dengan frekuensi dan
parameteryang sesuai dengan izin atau baku mutu yang berlaku. Untuk menjamin
validitas data, maka pemantauan harus dilakukan oleh laboratorium terakreditasi.
Perusahaan juga harus taat terhadap persyaratan-persyaratan teknis seperti pemasangan
alat pengukur debit yang diatur dalam izin atau ketentuan peraturan baku mutu yang
berlaku.
c. Pengendalian Pencemaran Udara
Ketaatan terhadap pengendalian pencemaran udara didasarkan atas prinsip bahwa
semuasumber emisi harus diidentifikasi dan dilakukan pemantauan untuk memastikan
emisi yang dibuang ke lingkungan tidak melebihi bakumutu yang ditetapkan. Frekuensi
dan parameter yang dipantau juga harus memenuhi kentuan dalam peraturan. Untuk
memastikan bahwa proses pemantauan dilakukan secara aman dan valid secara ilmiah,
maka prasarana sampling harus memenuhi ketentuan peraturan.
d. Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
Ketaatan pengelolaan limbah B3 dinilai sejak tahapan pendataan jenis dan
volumenya. Setelah dilakukan pendataan, maka dilakukan pengelolaan lanjutan.
Pengelolaan lanjutan harus dilengkapi dengan izin pengelolaan limbah B3. Ketaatan
terhadap ketentuan izin pengelolaan limbah B3, merupakan komponen utama untuk
menilai ketaatan perusahaan.
e. Pengendalian Pencemaran Air Laut
Untuk aspek ini, ketaatan utama dilihat dari kelengkapan izin pembuangan air
limbah dan ketaatan pelaksanaan pembuangan air limbah sesuai dengan ketentuan
dalam izin.
f. Potensi Kerusakan Lahan
Kriteria potensi kerusakan lahan hanya digunakan untuk kegiatan pertambangan.
Kriteria ini pada dasarnya adalah implementasi best mining practices, seperti
kesesuaian pelaksanaan kegiatan dengan rencana tambang, sehingga dapat dihindari
bukaan lahan yang tidak dikelola. Mengatur ketinggian dan kemiringan lereng/jenjang
agar stabil. Acuan adalah kestabilan lereng. Mengidentifikasi potensi pembentukan
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
485
Air Asam Tambang setiap jenis batuan dan penyusunan strategi pengelolaan batuan
penutup. Membuat dan memelihara sarana pengendali erosi. Membuat sistem
pengaliran (drainase) yang baik supaya kualitas air limbah memenuhi baku mutu.
Memilih daerah timbunan dengan risiko kebencanaan paling kecil.
Kriteria beyond compliance ini lebih bersifat dinamis karena disesuaikan dengan
perkembangan teknologi, penerapan praktik-praktik pengelolaan lingkungan terbaik
dan isu-isu lingkungan yang bersifat global. Penyusunan kriteria yang terkait dengan
pelaksanaan PROPER dilakukan oleh tim teknis dengan mempertimbangkan masukan
dari berbagai pihak, antara lain: pemerintah kabupaten/kotamadya, asosiasi industri,
perusahaan, LSM, Universitas, instansi terkait, dan Dewan Pertimbangan PROPER.
Adapun aspek-aspek yang dinilai dalam kriteria beyond compliance ini adalah
sebagai berikut:
a. Penerapan Sistem Manajemen Lingkungan, termasuk di dalamnya bagaimana
perusahaan memiliki sistem yang dapat mempengaruhi supplier dan konsumennya
untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan dengan baik.
b. Upaya Efisiensi Energi dengan mencakup empat ruang lingkup efisiensi energi, yaitu
peningkatan efisiensi energi dari proses produksi dan utilitas pendukung, penggantian
mesin atau proses yang lebih ramah lingkungan, efisiensi dari bangunan dan sistem
transportasi.
c. Upaya penurunan emisi, baik berupa emisi kriteria polutan maupun emisi dari gas
rumah kaca dan bahan perusak ozon. Termasuk dalam lingkup penilaian ini adalah
persentase pemakaian energi terbarukan dalam proses produksi dan jasa, pemakaian
bahan bakar yang ramah lingkungan.
d. Implementasi Reduce, Reuse dan Recycle limbah B3. Penekanan kriteria ini adalah
semakin banyak upaya untuk mengurangi terjadinya sampah, maka semakin tinggi
nilainya. Selain itu, semakin besar jumlah limbah yang dimanfaatkan kembali, maka
semakin besarpula nilai yang diperoleh perusahaan.
e. Implementasi Reduce, Reuse dan Recycle limbah padat non B3 kriteria sama dengan
3R untuk limbah B3.
f. Konservasi Air dan Penurunan Beban Pencemaran Air Limbah. Semakin kecil
intensitas pemakaian air per produk, maka akan semakin besar nilai yang diperoleh.
Demikian juga semakin besar upaya untuk menurunkan beban pencemaran di dalam
air limbah yang dibuang ke lingkungan maka akan semakin besar nilai yang diperoleh.
g. Perlindungan Keanekaragaman Hayati. Pada dasarnya, bukan jumlah pohon
yang dinilai, tetapi lebih diutamakan pada upaya pemeliharaan dan perawatan
486 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
keanekaragaman hayati. Salah satu bukti bahwa perusahaan peduli dengan
keanekaragaman hayati adalah perusahaan memiliki sistem informasi yang
dapat mengumpulkan dan mengevaluasi status dan kecenderungan sumberdaya
keanekaragaman hayati dan sumberdaya biologis yang dikelola dan memiliki data
tentang status dan kecenderungan sumberdaya keanekaragaman hayati dan sumber
daya biologis yang dikelola.
h. Program Pengembangan Masyarakat. Untuk memperoleh nilai yang baik dalam aspek
ini perusahaan harus memiliki program strategis untuk pengembangan masyarakat
yang didesain untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Program ini didasarkan atas
pemetaan sosial untuk menggambarkan jaringan sosial yang memberikan penjelasan
tentang garis-garis hubungan antar kelompok/individu. Pemetaan Sosial memberikan
informasi mengenai siapa, kepentingannya, jaringannya dengan siapa, dan posisi
sosial dan analisis jaringan sosial dan derajat kepentingan masing-masing pemangku
kepentingan. Identifikasi masalah sosial, identifikasi potensi (modal sosial) perumusan
kebutuhan masyarakat yang akan ditangani dalam program community development
dan identifikasi kelompok rentan yang akan menjadi sasaran program pengembangan
masyarakat. Rencana strategis pengembangan masyarakat harus bersifat jangka
panjang dan dirinci dengan program tahunan, menjawab kebutuhan kelompok rentan
dan terdapat indikator untuk mengukur kinerja capaian program yang terukur dan
tentu saja proses perencanaan melibatkan anggota masyarakat.
Berdasarkan kriteria-kriteria tersebut, maka dilakukanlah penilaian PROPER
dengan mekanisme sebagaimana pada Gambar 2 berikut:14
Gambar 2. Diagram Mekanisme PROPER
Sumber: Data sekunder, 2013
14 Website resmi PROPER http://www.proper.menlh.go.id/portal/?view= 3&desc=0&iscollps=0&capt
Diakses pada hari Senin, 3 Juni 2013 pkl.02.30 wita)
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
487
Mekanisme Pelaksanaan PROPER ini diawali oleh: (1) Tahap Persiapan. Pada tahap
ini diawali dengan pemilihan peserta15, dimana perusahaan yang menjadi target peserta
PROPER adalah perusahaan yang menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan,
tercatat di Pasar bursa, mempunyai produk yang berorientasi ekspor atau digunakan
masyarakat luas. Setelah tahap persiapan selesai dan peserta ditetapkan; (2) Verifikasi
Lapangan. Dilakukan pengumpulan data dengan jalan mengevaluasi laporan pelaksanaan
pengelolaan lingkungan yang disampaikan perusahaan. Selain pengumpulan data tersebut,
juga dilakukan pengumpulan data primer dengan jalan melakukan pengawasan langsung
ke lapangan secara rutin yang dilaksanakan oleh Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup
(PPLH) gabungan dari Tim Teknis PROPER Pusat dan Provinsi.
Setelah informasi terkumpul kemudian (3) Penilaian Rapor Sementara oleh PPLH.
Rapor sementara tersebut berisi evaluasi kinerja perusahaan di bidang pengelolaan air,
udara, limbah B3 dibandingkan dengan kriteria penilaian PROPER yang ditetapkan.
Rapor sementara ini sudah mengindikasikan peringkat kinerja perusahaan berdasarkan
kriteria peringkat PROPER. Rapor sementara ini kemudian dibahas melalui mekanisme
peer review oleh tim teknis. Hasil pembahasan dilaporkan kepada pejabat Eselon I
Kementerian Negara Lingkungan Hidup untuk mendapat komentar dan pertimbangan.
Setelah itu, rapor dilaporkan kepada Dewan Pertimbangan untuk mendapat pendapat dan
persetujuan Dewan. Ketika telah mendapatkan persetujuan dari dewan pertimbangan maka
(4) Rapor Sementara Perusahaan. Rapor hasil pembahasan dengan Dewan ini kemudian
ditetapkan sebagai Rapor Sementara yang akan disampaikan kepada perusahaan dan
pemerintah daerah.
Setelah diterbitkan rapor sementara, Perusahaan dan pemerintah daerah diberi
kesempatan untuk menyampaikan keberatan dengan didukung data-data baru yang sahih
pada tahapan (5) Masa sanggah. Setelah masa sanggah dilewati,maka hasilnya dilaporkan
kepada Dewan Pertimbangan. Dewan akan memberikan pendapat terakhir mengenai status
kinerja perusahaan sebelum dilaporkan kepada Menteri. (6) Proses penilaian Peringkat
PROPER oleh Kementerian Lingkungan Hidup.
Menteri memeriksa, memberikan
kebijakan dan menetapkan status peringkat kinerja perusahaan dengan mempertimbangkan
laporan dari Dewan Pertimbangan. Setelah semua proses dilewati maka tahapan paling
akhir adalah (7) pengumuman hasil peringkat PROPER. Pengumuman ini disampaikan
kepada publik dan juga kepada perusahaan serta pemerintah daerah.
15 Pemilihan peserta pada program dekosentrasi PROPER ini dilakukan oleh Tim Pelaksana PROPER
Provinsi yang telah memperoleh pelatihan pengawasan PROPER yang diadakan oleh KLH.(Sumber:
Petunjuk Teknis 2013 Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan, Sekretariat Proper Kementerian
Lingkungan Hidup, 2013)
488 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Untuk menghasilkan penilaian yang baik dalam pelaksanaan PROPER , maka
digunakan beberapa langkah-langkah strategis yaitu16 :
a. Memudahkan langkah-langkah proaktif para pemangku kepentingan melalui
penerapan kategorisasi dengan peringkat warna;
b. Dilakukan oleh lembaga yang bersifat independen dan kredibel di mata para
pemangku kepentingan;
c. Diarahkan pada perusahaan yang peduli pada reputasi/citranya;
d. Dilakukan bersama dengan instrument penataan lainnya, seperti instrument ekonomi
dan penegakan hukum;
e. Melibatkan semakin banyak perusahaan sehingga mencerminkan penataan
perusahaan secara keseluruhan, tercapainya konsistensi dan keadilan pengelolaan
lingkungan di Indonesia; dan
f. Meningkatkan peran aktif pemerintah provinsi dan kab/kota agar pelaksanaan
PROPER lebih efektif dan efisien.
Dalam pelaksanaannya, PROPER memberikan beberapa keuntungan bagi
pemerintah, perusahaan peserta PROPER dan para stakeholder baik LSM maupun
investor (Tabel 1).17
Tabel 1. Daftar Keuntungan PROPER
Pemerintah
Perusahaan
Stakeholder
Instrumen penaatan yang
cost effective
Alat benchmarking non
financial
Clearing House untuk kinerja
Perusahaan
Media untuk mengukur
keberhasilan program
Pendorong untuk Produksi
bersih “Citra Perusahaan”
Ruang untuk pelibatan
masyarakat dalam pengelolaan
Lingkungan Hidup
Pendorong untuk penerapan
basis data yang modern
Media untuk mengukur
kinerja panaatan perusahaan
-
Instrumen untuk mendorong
kea rah lebih dari penaatan
Instrumen untuk mendorong
kea rah Eco Efficiency
-
Sumber: Hasil olahan Data Sekunder., 2013
Terkait tanggapannya tentang PROPER, Kurniawan Sabar,18 Deputi Eksekutif
Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan, menyatakan:
“Perihal upaya ini, WALHI melihat ini adalah upaya yang positif yang dilakukan
16 Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Hari Lingkungan Hidup 5 Juni 2008 Ubah Perilaku
dan Cegah Pencemaran Lingkungan CO2 : Kick The Habit! Towards A Law Carbon Economy.
(Jakarta:Kementerian Negara Lingkungan Hidup,2008), hlm. 34-35
17 Tim Penyusun Deputi Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup.
Sekilas PROPER, Dulu, Sekarang, dan Masa Mendatang, 2005
18 Wawancara, Kamis, 18 April 2013.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
489
oleh pemerintah namun terkait dengan bagaimana pelaksanaannya atau
implementasinya terus bagaimana hasil yang dicapai kita(WALHI) mungkin
akan melakukan perdebatan dalam hal itu. Sehingga WALHI sekalipun awalnya
memberikan apresiasi yang positif dengan upaya kementerian lingkungan hidup
terkait dengan penilaian proper, di satu sisi kita juga tetap melakukan kritik agar
ini tidak menjadi satu-satunya aspek untuk bagaimana melihat perusahaan atau
mengontrol perusahaan supaya perusahaan tersebut memperhatikan keberlanjutan
lingkungan hidup.”
Kurniawan menilai, dalam penilaian PROPER masih banyak perihal lain yang
harus diperhatikan. Termasuk bahwa proper secara langsung juga tidak memberikan
dampak yang lebih luas terhadap upaya keberlanjutan lingkungan hidup seperti yang
diamanahkan dalam Permen lingkungan hidup dalam hal kriteria penilaian PROPER.
Sebagai LSM di bidang lingkungan, WALHI Sulsel mengungkapkan beberapa
harapannya terkait dengan PROPER. Di antaranya: 1) PROPER tidak dijadikan sebagai
satu-satunya alat atau upaya untuk mengontrol kegiatan usaha yang ada di Indonesia.
Tetapi jadikan PROPER sebagai salah satu aspek yang akan didukung dengan upayaupaya yang lain guna mengkongkritkan bahwa perusahaan ataupun kegiatan usaha yang
ada di Indonesia menaati aturan dan bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup; 2)
Untuk meningkatkan objektivitas dalam upaya PROPER maka perlu adanya penilaian
langsung dari masyarakat ataupun stakeholder yang terkait begitupun dengan lembagalembaga yang memiliki kompetensi khususnya di bidang lingkungan hidup dan sosial;
dan 3) PROPER tidak hanya dijadikan penilaian formalitas tetapi pemerintah juga harus
melakukan upaya kontrol terhadap seluruh kegiatan usaha yang ada di Indonesia khususnya
usaha yang ada di Sulawesi Selatan, sebelum dan sesudah melakukan PROPER sehingga
bisa mengontrol secara signifikan apakah perusahaan tersebut menjalankan kewajibannya
terkhusus misalnya dalam kriteria penilaian PROPER yang dimaksud.
Pengaruh Pemberian PROPER terhadap Pengelolaan Lingkungan Hidup pada
Perusahaan dalam Bidang Pertambangan di Provinsi Sulawesi Selatan
Salah satu indikator kinerja PROPER adalah tingkat ketaatan perusahaan terhadap
peraturan. Dalam bidang pertambangan, terbukti di Sulawesi Selatan pada penilaian
tahun 2011-2012, terdapat dua perusahaan yang terdaftar sebagai peserta proper yakni
PT Indomarmer Kuari Utama, Pangkep yang bergerak pada sub sektor tambang batu bara
dan PT Vale Indonesia Tbk, Luwu Timur yang bergerak pada sub sektor tambang mineral.
Kedua perusahaan tersebut merupakan perusahaan dalam bidang pertambangan
yang turut berpartisipasi dalam PROPER. Penilaian PROPER itu sendiri mulai terasa
490 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
pada tahun 2009 dengan peserta PROPER dari Provinsi Sulsel berjumlah satu perusahaan,
yaitu PT Energy Sengkang, Wajo yang bergerak pada sub sektor Energi PTGU. Pada tahun
2010, jumlah peserta PROPER dari Provinsi Sulsel meningkat menjadi 15 Perusahaan
dan salah satunya adalah PT Vale Indonesia Tbk (dahulu PT INCO).19 Peningkatan jumlah
peserta tidak hanya terjadi pada tahun 2010 saja, tetapi pada tahun 2011 jumlah peserta
PROPER untuk Provinsi Sulsel menjadi 30 Perusahaan. Untuk perusahaan dalam bidang
pertambangan, peningkatan jumlah peserta PROPER tidak terlalu signifikan, karena dari
jenjang waktu 2010-2012 hanya ada dua perusahaan yang terdaftar. Berikut adalah tabel
keikutsertaan perusahaan tambang sebagai peserta PROPER di Sulsel.
Tabel 2. Daftar Perusahaan Pertambangan Peserta PROPER Provinsi Sulsel Periode
2010-2011 sampai Periode 2011-2012
No.
Peringkat PROPER
2010 – 2011
2011 - 2012
1
EMAS
-
-
2
HIJAU
-
-
3
BIRU
-
PT Vale Indonesia Tbk
(Dahulu PT INCO),
Luwu Timur
4
MERAH
PT Vale Indonesia Tbk
( Dahulu PT INCO),
Luwu Timur
PT Indomarmer Kuari
Utama, Pangkep
5
HITAM
-
-
Sumber: Kepmen-LH 259/2011 dan Kepmen-LH 273/2012
Pada tabel di atas jelas tergambar bahwa keikutsertaan perusahaan tambang di
Sulsel sebagai peserta PROPER dari tahun ke tahun makin meningkat. PT Vale Indonesia
Tbk yang merupakan perusahaan tambang pertama yang ikut serta sebagai peserta
PROPER untuk Provinsi Sulsel dan telah dua kali memperoleh penilaian PROPER
inipun. merasakan pengaruh dari pemberian PROPER ini. Saat dilakukan wawancara di
Kantor EHS PT Vale Indonesia Tbk Luwu Timur, General Manager Environment PT Vale
Indonesia Tbk, Sunarso,20 mengungkapkan:
“Melihat Proper secara proporsional, saya pribadi melihatnya baik. Membuat
perusahaan minimal merespon terhadap regulasi yang ada. Sebetulnya, tanpa
adanya Proper pun PT Vale sudah komitmen karena kami juga merupakan
perusahaan terbuka jadi apapun yang terjadi di perusahaan, kami selalu terbuka.
Nah, dampaknya dari proper itu yah dari sisi pemilihan modal, dari sisi pemangku
kepentingan, hal itu sangat berpengaruh secara signifikan.”
19 Lihat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 259 Tahun 2011
20 Wawancara, Rabu, 27 April 2013.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
491
Sunarso juga menambahkan, bahwa selain membawa pengaruh positif, menurutnya
PROPER masih memiliki beberapa kekurangan. Di antaranya terkait dengan regulasi yang
ada. Bagi Sunarso, regulasi terkait PROPER yang ada harus benar-benar memperhatikan
jangka waktu untuk mengkongkritkan regulasi tersebut di dalam pelaksanaan PROPER
kepada perusahaan. Lagi, ia menambahkan bahwa selama ini proper hanya melihat dari
segi hasilnya saja tetapi tidak melihat upaya penanganan atau proses dari pengkonkritan
regulasi yang ada.
Lebih lanjut, Sunarso mengungkapkan bahwa auditor atau tim audit PROPER
yang diturunkan tidak memiliki kompetensi dan standarisasi yang baik terkait dengan
penilaian perusahaan Tambang sehingga terkadang kriteria penilaiannya masih cenderung
disamaratakan pada setiap perusahaan.
“Kompetensi dari si Auditor yang mengaudit. Kompetensi dan standarisasi. Jadi
kami selaku objek disini ya, merasakan itu. Nah, kemudian dari tahun ke tahun
timnya misalkan berbeda, temuannya jadi beda lagi. Jadi, yang kita mau ada
standarisasi prosedur dan standarisasi kompetensi dari si auditor sehingga dari
tahun ke tahun itu penilaian bisa meningkat.”
Sunarso berharap, untuk Auditor ke depannya bisa lebih fleksibel, dan lebih pada
Open For Discussion dalam hal penilaian PROPER. Senada dengan Sunarso, General
Manager PT Indomarmer Kuari Utama, Pangkep, Dany Sukarsa,21 saat diwawancara juga
mengungkapkan kekurangan dari PROPER, yaitu dalam parameter penilaiannya yang
masih disamakan antara perusahaan tambang.
“Proper ini semacam kontrol dalam bentuk nyata jadi selama ini memang ada
pengawasan-pengawasan yang dilakukan oleh dinas atau badan lingkungan dari
pemda setempat. Cuma parameter penilaiannya itu masih disamaratakan untuk
penanganan lingkungan tambang marmer dengan tambang batu bara misalnya atau
tambang nikel, itu masih disamakan. Misalnya untuk pengolahan dari pembuangan
limbah cair atau limbah air hujan itu masih mereka samakan padahal berbeda.
Tiap tambang itu tidak pernah sama dari mulai bahan bakunya itu khan sudah
beda, marmer, nikel, batubara, jadi cara nambangnya pun akan berbeda dan cara
penanganan untuk lingkungannya pun itu pasti berbeda. Sementara proper ini
parameter penilaiannya sama. Otomatis ini gak bisa diterapkan, sehingga hasil
penilaiannya pasti hitam atau pasti hasil penilaiannya minimal merah.”
Dalam hal pengelolaan lingkungan hidup, kedua perusahaan ini memiliki program
yang berbeda. PT Indomarmer Kuari Utama misalnya, sebagai perusahaan penghasil
marmer, perusahaan ini kini telah berusaha untuk memperbaiki pola penyimpanan Limbah
B3nya. Untuk Tahun 2012 yang lalu, PT Indomarmer yang merupakan perusahaan
21 Wawancara, Jumat, 19 April 2013.
492 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
penghasil marmer mendapatkan PROPER peringkat Merah. Hal ini disebabkan oleh
ketidakpatuhannya dalam pengelolaan Limbah B3. Perusahaan yang untuk pertama
kalinya bergabung dengan PROPER pada tahun 2012 ini nyatanya terus berupaya untuk
memperbaiki pola pengelolaan lingkungan hidup. Mulai dari penanganan Limbah B3,
saluran air, sampai pada izin-izin pengelolaan limbah B3.
“Jadi hasil dari penilaian PROPER, itu dianggap kami sudah melakukan beberapa
perubahan termasuk untuk izinnya yang masih dalam proses di BLHD Kab. Pangkep.
Kemudian yang terkait dengan limbah B3 sekarang sudah tertata rapi artinya sudah
disimpan sesuai dengan peraturan yang ada. Lalu teknis penambangan itu juga kami
benahi, terus saluran air itu juga mulai diperbaiki.”
Dany menambahkan bahwa Keuntungan dalam mengikuti PROPER ini banyak,
diantaranya adalah perusahaan jadi lebih tahu parameter-parameter yang menjadi standar
untuk pengawasan mengenai lingkungan. Selain itu, bagi Dany yang paling utama dari
PROPER ini adalah kontrol dari pihak pemerintah untuk perusahaan-perusahaan terkait
tentang lingkungan.
PT Vale Indonesia Tbk, sebagai perusahaan tambang pada sub sektor tambang batu
bara ini, memiliki program yang berbeda dengan PT Indomarmer Kuari Utama. Perbedaan
sektor tambang tentunya membawa pengaruh pada program-program pengelolaan
lingkungan hidup di sekitar area tambang. Bagi PT Vale Indonesia Tbk, lingkungan
merupakan salah satu aspek penting dalam perusahaan. Perusahaan yang menghasilkan
produk nikel ini,22 memiliki beberapa kebijakan lingkungan yang mengarah pada pola
pengelolaan lingkungan yang baik di area tambang.
Kebijakan lingkungan yang diterapkan oleh PT Vale ini, berupa pengintegrasian
seluruh tahapan kegiatan operasi dengan pengelolaan lingkungan serta memperhitungkan
dampak lingkungan, terutama upaya pemulihan maupun pelestariannya. Tahapan ini
dimulai dari eksplorasi, penambangan, pengolahan, hingga penutupan tambang.23
Dari upaya kebijakan lingkungan yang diterapkan oleh PT Vale ini, maka peringkat
PROPER yang diterimapun berubah menjadi biru pada periode penilaian 2011-2012,
yang pada periode sebelumnya peringkat yang diperoleh oleh PT Vale adalah Merah.
22 Nikel yang diolah oleh PT Vale Indonesia Tbk adalah dalam matte yang memiliki kandungan ratarata 78% nikel, 1% kobal, 20% sulfur dan logam lainnya. Nikel adalah logam mengkilat berwarna putih
keperakan yang pertama kali ditemukan pada tahun 1751. (Sumber : Company Profile PT Vale Indonesia
Tbk, Nikel dalam keseharian (Nickel in daily life)).
23 Company Profile PT Vale Indonesia Tbk, Lingkungan (Environment)
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
493
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan temuan hasil penelitian dan pembahasan di atas, maka penulis menarik
kesimpulan sebagai berikut:
1. Pengaturan mengenai PROPER terdapat dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 05 Tahun 2011 tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja
Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup untuk penilaian PROPER 20112012 yang kemudian digantikan oleh Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor 06 Tahun 2013 tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan
dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup untuk PROPER 2012-2013. Tidak terdapat
perubahan berarti dari kedua Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup tersebut,
karena sama-sama mengatur tentang mekanisme dan kriteria penilaian PROPER. Di
lingkup regional Sulawesi Selatan, program dekosentrasi PROPER yang dilakukan
oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), membuat Badan Lingkungan Hidup
Daerah Provinsi Sulsel sebagai penerima kewenangan dari Gubernur selaku
Pemimpin Daerah Provinsi, melakukan mekanisme pemberian PROPER yang
dilaksanakan berdasarkan Mekanisme yang telah ditetapkan oleh KLH. Mekanisme
tersebut meliputi (1) Tahap Persiapan; (2) Verifikasi Lapangan; (3) Penilaian Rapor
Sementara oleh PPLH; (4) Rapor Sementara Perusahaan; (5) Masa sanggah; (6)
Proses penilaian Peringkat PROPER oleh Kementerian Lingkungan Hidup; dan (7)
Pengumuman hasil peringkat PROPER.
2. Pengaruh pemberian Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER)
terhadap pengelolaan lingkungan hidup pada perusahaan dalam bidang Pertambangan
di Provinsi Sulawesi Selatan nyatanya membawa dampak positif. Dalam faktanya,
perusahaan pertambangan yang terdaftar sebagai peserta PROPER untuk wilayah
Sulsel yaitu PT Indomarmer Kuari Utama, Pangkep dan PT Vale Indonesia Tbk,
Luwu Timur terbukti terus meningkatkan upaya pengelolaan lingkungan hidup di
area sekitar pertambangan. Diantaranya PT Indomarmer Kuari Utama yang berupaya
untuk terus meningkatkan pengelolaan Limbah B3 yang dihasilkan dari proses
produksi marmer dalam hal penyimpanan limbahnya. Sementara untuk PT Vale
Indonesia Tbk, telah melakukan kebijakan-kebijakan lingkungan mulai dari awal
penambangan sampai pada pasca penambangan.
494 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Saran
Dari uraian kesimpulan yang dihasilkan, penulis menarik beberapa saran sebagai
berikut:
1. Pengaturan dan regulasi terkait dengan PROPER terus berkembang seiring dengan
perkembangan kondisi lingkungan, namun hal ini tidak sejalan dengan proses untuk
mengikuti regulasi tersebut. Sehingga dalam hal ini Pemerintah melalui Kementerian
Lingkungan Hidup perlu memberikan rentan waktu untuk setiap perusahaan sebagai
objek dari PROPER ini untuk berproses dalam rangka mewujudkan pengkongkritan
regulasi mengenai PROPER.
2. Dibutuhkan konsistensi dari perusahaan sebagai peserta PROPER untuk terus
meningkatkan pola pengembangan pengelolaan lingkungan hidup agar PROPER
dapat menjadi salah satu upaya bagi perusahaan untuk meningkatkan penaatan
terhadap regulasi.
3. Dibutuhkan kerjasama dari berbagai elemen masyarakat seperti LSM Lingkungan,
Stakeholder, juga pemerintah dalam hal pengawasan bersama pengelolaan lingkungan
hidup yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan peserta PROPER khususnya di
Provinsi Sulawesi Selatan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Rauf. 2012. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan BUMN terhadap
Stakeholder di Sulawesi Selatan. Jurnal Penelitian Hukum Fak. Hukum Univ.
Hasanuddin Vol. 2 No. 1, September 2012,
Jimly Asshiddiqie. 2009. Green Constitution: Nuansa Hijau UUD NRI Tahun 1945.
Jakarta: Rajawali Pers.
Kementerian Negara Lingkungan Hidup. 2008. Hari Lingkungan Hidup 5 Juni 2008 Ubah
Perilaku dan Cegah Pencemaran Lingkungan CO2 : Kick The Habit! Towards A
Law Carbon Economy. Jakarta: Sekretariat Proper Kementerian Lingkungan Hidup.
________________________________. 2013. Petunjuk Teknis 2013 Program Penilaian
Peringkat Kinerja Perusahaan. Jakarta: Sekretariat Proper Kementerian Lingkungan
Hidup.
Suparto Wijoyo. 2005. Hukum Lingkungan: Kelembagaan Pengelolaan Lingkungan di
Daerah, Surabaya: Airlangga University Press.
Tim Penyusun Deputi Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan Kementerian
Lingkungan Hidup. 2005. Sekilas PROPER, Dulu, Sekarang, dan Masa Mendatang,
Kementerian Negara Lingkungan Hidup.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
495
Zulkifli Aspan. 2010. Konstitusionalisasi Hak Atas Lingkungan Dalam Perkembangan
Hak Asasi Manusia. Jurnal Ilmu Hukum AMANNA GAPPA Vol. 18 Nomor 4,
Desember 2010.
Peraturan Perundang-undangan:
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengeloaan
Lingkungan Hidup.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup.
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 127 Tahun 2002 tentang Program
Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 273 Tahun 2012 tentang Hasil
Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup Tahun
2011-2012
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 148 Tahun 2004 tentang Pedoman
Pembentukan Kelembagaan Lingkungan Hidup Daerah
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 18 Tahun 2010 tentang Program
Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2011 tentang Program
Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan
496 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Biodata Penulis
Muhammad Deniardi, S.H
Lahir di Tenggarong, 12 Juni 1982. Menyelesaikan pendidikan Strata Satu (S1) pada Fak.
Hukum Universitas Lambung Mangkurat tahun 2004. Saat ini, penulis sedang menempuh
pendidikan Magister Hukum pada Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin. Saat
ini, penulis menjabat sebagai Jaksa Fungsional Kejaksaan Negeri Makassar sejak tahun
2012.
Prof. Dr. M. Syukri Akub, S.H., M.H
Lahir di Soppeng, 24 November 1953. Meraih gelar Sarjana Hukum pada Fakultas
Hukum Unhas tahun 1978. Menyelesaikan pendidikan Magister Hukum pada Program
Pascasarjana Unhas tahun 1998. Gelar Doktor dalam bidang Ilmu Hukum diraih pada
tahun 2006 pada Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin. Pada tahun 2007 diangkat
sebagai Guru Besar Hukum Pidana pada Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.
Dr. Syamsuddin Muchtar, S.H., M.H
Lahir di Beutang, Polewali Mandar, 24 Oktober 1963. Menyelesaikan studi S-1 Ilmu
Hukum di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin tahun 1987. Gelar Magister dan
Doktor Ilmu Hukum diperoleh pada Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin.
Peserta Sandwich Program dalam rangka Research Doctoral di Utrecht University,
Belanda. Penulis pernah menjabat sebagai Sekretaris pada Bagian Hukum Pidana
Fakultas Hukum Unhas periode 2004-2008 dan periode 2008-2012.
Rudy Talanipa, S.H
Lahir di Kendari, 26 Juli 1974. Meraih gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum
Universitas Sam Ratulangi, Manado di tahun 1998. Penulis menjabat sebagai Kasi
Pidsus Kejaksaan Negeri Singaraja, Bali. Saat ini, penulis sedang menempuh pendidikan
Magister Hukum pada Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Makassar.
Prof. Dr. M. Said Karim, S.H., M.H
Lahir di Pare-Pare, 11 Juli 1962. Menyelesaikan pendidikan S1 pada Fak. Hukum Univ.
Hasanuddin tahun 1986. Melanjutkan pendidikan Magister Hukum pada Fak. Hukum
Univ. Hasanuddin dan meraih gelar Doktor Ilmu Hukum pada PPs Universitas Hasanuddin
tahun 2002. Diangkat sebagai Guru Besar Bidang Hukum Pidana sejak tahun 2005.
Prof. Dr. Faisal Abdullah, S.H., M.S., DFM
Lahir di Pare-Pare, 24 Juni 1963. Menyelesaikan pendidikan S1 pada Fakultas Hukum
Unhas tahun 1987. Meraih Magister Kependudukan tahun 1993 pada Program Pascasarjana
Universitas Gadja Mada Yogyakarta. Gelar Doktor dalam bidang Ilmu Hukum diraih
tahun 2007 pada Program Pascasarjana Unhas. Mengikuti Program Diploma Forensic
and Human Rights tahun 2003 di Belanda. Sejak tahun 2008 diangkat sebagai Guru
Besar Hukum Tata Negara pada Fakultas Hukum Unhas. Saat ini, penulis menduduki
tugas lain sebagai Staf Ahli Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Rizal F, S.H
Lahir di Pangkajene, 3 Juli 1979. Menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum pada
Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin di tahun 2002. Menjabat sebagai Jaksa
Fungsional Kejaksaan Negeri Makassar sejak tahun 2011.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013 570
Biodata Penulis
Prof. Dr. Slamet Sampurno Soewondo, S.H., M.H., DFM
Lahir di Makassar, 11 April 1968. Gelar Sarjana Hukum diraih pada Fak. Hukum
Universitas Hasanuddin tahun 1991. Menyelesaikan pendidikan Magister Hukum dan
Doktor Ilmu Hukum pada Program Pascasarjana Universitas Airlangga, Surabaya. Meraih
Diploma in Forensic Medicine, Netherlands di tahun 2004. Guru Besar Bidang Hukum
Kesehatan sejak tahun 2010.
Dr. Wiwie Heryani, S.H., M.H
Lahir di Makassar, 25 Januari 1968. Menyelesaikan program studi Ilmu Hukum pada
Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin pada tahun 1994. Meraih gelar Magister Ilmu
Hukum pada PPs Universitas Hasanuddin tahun 2002. Menyelesaikan studi Doktor Ilmu
Hukum pada PPs Universitas Hasanuddin di tahun 2008. Saat ini, penulis juga menjabat
sebagai Sekretaris pada Bagian Hukum Masyarakat dan Pembangunan Fakultas Hukum
Universitas Hasanuddin.
Takkas Marudut, S.H
Lahir di Jayapura, 5 April 1982. Pendidikan Strata Satu (S1) diraih pada Fakultas Hukum
Universitas Cenderawasih di tahun 2004. Selain menempuh pendidikan Magister Hukum
pada PPs Universitas Hasanuddin, penulis menjabat sebagai Jaksa Fungsional Kejaksaan
Tinggi Papua.
Prof. Dr. Aswanto, S.H., M.Si., DFM
Lahir di Larompong, Luwu. Menyelesaikan pendidikan Strata Satu (S1) pada Fakultas
Hukum Universitas Hasanuddin tahun 1986. Melanjutkan pendidikan Magister bidang
Pengkajian Ketahanan Nasional pada Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada
tahun 1991. Gelar Doktor Ilmu Hukum diraih pada Program Pascasarjana Universitas
Airlangga tahun 1999. Maraih gelar Guru Besar bidang Hukum Pidana sejak tahun 2001.
Saat ini, penulis menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.
Prof. Dr. Alma Manuputty, S.H., M.H
Lahir Pati, Jawa Tengah, 12 Maret 1946. Gelar Sarjana Hukum diperoleh pada Fakultas
Hukum Universitas Hasanuddin. Menyelesaikan pendidikan Magister Hukum pada
PPs Universitas Padjajaran. Gelar Doktor bidang Ilmu Hukum diraih pada Program
Pascasarjana Universitas Hasanuddin. Meraih gelar Guru Besar bidang Hukum laut
Internasional sejak tahun 2006.
Zainal Abidin, S.H
Lahir di Binjai, 8 Februari 1974. Menyelesaikan pendidikan S1 pada Fakultas Hukum
Universitas Djuanda, Bogor tahun 2003. Saat ini, penulis sedang menempuh pendidikan
Magister Hukum pada Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin. Penulis menjabat
sebagai Jaksa Fungsional Kejaksaan Negeri Makassar sejak tahun 2010.
Tenriawaru, S.H
Lahir di Muara Sampara, 18 Desember 1976. Menyelesaikan pendidikan Sarjana
Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin tahun 2000. Saat ini, penulis
sedang menempuh pendidikan Magister Hukum pada Program Pascasarjana Universitas
Hasanuddin. Menjabat sebagai Kasi II pada Asisten Intelijen Kejaksaan Tinggi Sulawesi
Tenggara.
583 Jurnal PENELITIAN HUKUM |
Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Prof. Dr. Muhadar, S.H., M.Si
Lahir di Raha, 17 Maret 1959. Selain sebagai dosen sejak tahun 1987, penulis juga
menjabat Ketua Bagian Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.
Menyelesaikan pendidikan Magister Kajian Ketahanan Nasional (S-2) pada Program
Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pendidikan Doktor Hukum (S-3)
diraih pada Program Pascasarjana Universitas Airlangga, Surabaya.
Mudazzir Munsyir, S.H
Lahir di Makassar, 12 April 1979. Meraih gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum
Universitas Hasanuddin tahun 2001. Saat ini sedang menempuh pendidikan Magister
Hukum pada Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin. Menjabat sebagai Kepala
Seksi Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Bantaeng.
Prof. Dr. Marthen Arie, S.H., M.H
Lahir di Palopo, 30 April 1957. Guru Besar Bidang Hukum Tata Negara Fakultas
Hukum Universitas Hasanuddin sejak tahun 1998. Menyelesaikan pendidikan S1 pada
Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (1983). Magister Hukum diraih pada Program
Pascasarjana Universitas Indonesia (1993). Menyelesaikan program Doktor pada
Universitas Hasanuddin (2006). Saat ini, penulis menjabat sebagai Ketua Program Studi
(KPS) Ilmu Hukum (S2) Universitas Hasanuddin.
Dr. Hamzah Halim, S.H., M.H
Lahir di Kanang, 15 Januari 1974. Menyelesaikan pendidikan pada jenjang Strata Satu
(S1), Strata Dua (S2), dan Doktor Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas
Hasanuddin. Saat ini menjabat sebagai Penasihat/Konsultan Hukum Pemprov. Sulawesi
Selatan. Delegasi Indonesia pada General Assembly and Governing Council Meeting
ASEAN Law Association di Hanoi, Vietnam tahun 2009.
Ghina Mangala Hadis Putri
Lahir di Wamena, 27 September 1991. Penulis adalah mahasiswa Fakultas Hukum
Universitas Hasanuddin. Berikut beberapa karya ilmiah yang pernah dihasilkan, di
antaranya: Peran Negara dalam Upaya Pemenuhan Hak Asasi Manusia Masyarakat
Hukum Adat di Indonesia (2010); dan Strategi Penanganan Pencemaran Lingkungan
Melalui Penerapan Green Zone sebagai Upaya Optimalisasi Ruang Terbuka Hijau di
Wilayah Perkotaan Indonesia (2012).
Prof. Dr. M. Yunus Wahid, S.H., M.Si
Lahir di Bone, 1 Agustus 1957. Dosen pada Bagian Hukum Tata Negara Fakultas Hukum
Universitas Hasanuddin sejak tahun 1985. Menyelesaikan pendidikan S2 pada Prodi
Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Diangkat
sebagai Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin di tahun 2007.
Prof. Dr. Irwansyah, S.H., M.H
Lahir di Sinjai, 18 Oktober 1966. Guru Besar Hukum Lingkungan Fakultas Hukum
Universitas Hasanuddin sejak tahun 2009. Menyelesaikan pendidikan Strata Satu (S1)
pada Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin di tahun 1989. Meraih Gelar Magister
Hukum pada Program Pascasarjana Universitas Airlangga, tahun 1998. Meraih gelar
Doktor Ilmu Hukum pada Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin di tahun 2007.
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
584
Indeks Penulis
(Author Index)
Setiap penulis yang hasil penelitiannya telah diterbitkan oleh Jurnal Penelitian
Hukum Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin Volume 2 Nomor 1 s/d 3,
dituliskan pada daftar berikut yang diurut secara abjad dilengkapi dengan
nomor dan halaman.
Abbas, N___(2) 307-332
Abdullah, F___(2) 173-186; (3) 353-369
Abidin, Z___(3) 419-433
Akub, M.S___(2) 187-205; (2) 291-306;
(3) 333-352; (3) 435-452
Alwy, S___(2) 173-186
Ansary, M.G___(2) 187-205
Arie, M___(1) 19-40; (3) 453-473
Ashri, M___(2) 207-226
Asis, A___(1) 157-172
Aswanto___(3) 391-418
Azisa, N___(1) 157-172
Bohari, N___(1) 111-139
Burhamzah, O.D___(2) 249-268
Darajat, Z___(2) 227-248
Deniardi, M___(3) 333-352
Hakim, M.Z___(1) 41-55
Halim, H___(3) 453-473
Hamzah, M.G___(1) 57-80
Haris, I___(2) 207-226
Heryani, W___(1) 81-109; (2) 249-268;
(3) 371-390
Ilmar, A___(1) 141-156
Irwansyah___(1) 1-18; (1) 19-40; (2)
207-226; (3) 575-496
Karim, M.S___(3) 353-369; (3) 419-433
Kotandengan, A___(2) 307-332
Latif, B___(1) 1-18
Manuputty, A___(3) 391-418
Maramis, R.A___(1) 141-156
176
Marlang___(1) 141-156
Marudut, T___(3) 391-418
Maskun___(1) 1-18
Muchtar, S___(2) 187-205; (3) 333-352
Muhadar___(1) 157-172; (3) 435-452
Munsyir, M___(3) 453-473
Muthaharah___(2) 269-289
Putri, G.M.H___(3) 575-496
Rafiuddin___(1) 57-80
Rahail, E___(2) 291-306
Rapy, I___(1) 1-18
Rastiawaty___(1) 81-109
Ratnawati___(1) 81-109
Rauf, A___(1) 19-40
Razak, A___(2) 227-248
Rizal, F___(3) 371-390
Said, N___(2) 307-332
Saidi, M.D___(2) 269-289
Salam, M.N___(1) 111-139
Saleng, A___(1) 57-80
Soewondo, S.S___(3) 371-390; (3) 419433
Sopyan, A___(2) 291-306
Susanto, R___(2) 173-186
Talanipa, R___(3) 353-369
Tenriawaru___(3) 435-452
Thaha, A.R___(2) 227-248
Valda, L___(2) 249-268
Wahid, M.Y___(1) 41-55; (2) 269-289;
(3) 575-496
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Indeks Subjek
(Subject Index)
Berikut adalah indeks subjek masing-masing artikel yang telah diterbitkan
oleh Jurnal Penelitian Hukum Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin
Volume 2 Nomor 1 s/d 3, yang diurut secara abjad dilengkapi dengan nomor
dan halaman.
Badan Pemeriksa Keuangan dan
Pembangunan___(3) 453-473
Badan Usaha Milik Negara___(1) 19-40
Bentuk Perlindungan___(2) 291-306
Doktrin___(2) 249-268
Double Track System___(3) 333-352
Efektivitas Regulasi___(1) 1-18
Hierarkis___(3) 353-369
Independensi___(3) 371-390
Intelijen___(3) 419-433
Investasi___(1) 111-139; (1) 141-156
Jaksa___(3) 419-433
Keadilan___(3) 353-369
Keamanan___(3) 391-418
Kebebasan___(3) 391-418
Kebijakan Lingkungan___(1) 1-18
Kehutanan___(1) 41-55
Kesehatan___(2) 227-248
Ketertiban___(3) 391-418
Korban___(2) 187-205
Korupsi___(3) 435-452
KTAR___(2) 227-248
Limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun___(2) 207-226
Lingkungan___(1) 19-40; (1) 141-156; (1)
157-172
Lingkungan Hidup___(3) 575-496
LPSK___(2) 187-205
Obat Tradisional___(2) 173-186
Partisipatif___(1) 57-80
Pemerintahan Daerah___(1) 57-80
Penegakan Hukum___(1) 41-55; (1) 157-
172; (3) 419-433
Penegakan Hukum Lingkungan___(2)
207-226; (2) 269-289
Pengadilan Anak___(3) 333-352
Pengalihan___(2) 307-332
Pengawasan___(2) 173-186; (2) 269-289
Pengolahan Limbah Cair___(2) 269-289
Penuntut Umum___(3) 371-390
Penyelidikan___(3) 419-433
Penyidikan___(3) 435-452
Peraturan Daerah___(1) 111-139
Peredaran___(2) 173-186
Perikanan___(1) 157-172
Perizinan___(1) 111-139
Perjanjian Kredit___(2) 307-332
Perkelahian Kelompok___(1) 81-109
Perlindungan Hukum___(2) 187-205
Pertambangan___(1) 57-80; (1) 141-156;
(3) 575-496
Perusahaan___(1) 19-40; (2) 249-268
Piercing___(2) 249-268
Praperadilan___(3) 391-418
Proper___(3) 575-496
Proses Penyidikan___(3) 353-369
Remaja___(1) 81-109
Rumah Sakit___(2) 269-289
Saksi___(2) 187-205
Sinkronisasi Hukum___(1) 1-18
Surat Tuntutan___(3) 371-390
Tempat Umum___(2) 227-248
Tindak Pidana Korupsi___(3) 453-473
Upaya Hukum___(2) 291-306
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Ucapan Terima Kasih
JPH Vol. 2 No. 1 Sepetember 2012
JPH Vol. 2 No. 2 Januari 2013
JPH Vol. 2 No. 3 Mei 2013
Ucapan terima kasih dan penghargaan diberikan kepada para pakar yang telah
bersedia menjadi mitra bestari dalam menelaah Jurnal Penelitian Hukum Fakultas
Hukum Universitas Hasanuddin pada Volume 2 Nomor 1 s/d 3.
Berikut ini adalah daftar nama mitra bestari yang berpartisipasi:
Prof. Dr. Suparto Wijoyo
(Universitas Airlangga, Surabaya)
Prof. Dr. Arief Zudan Fakhrulloh
(Universitas Borobudur, Jakarta)
Dr. Zainul Daulay
(Universitas Andalas, Padang)
Dr. David Sondakh
(Universitas Sam Ratulangi, Manado)
Dr. Andi Irman Putra Sidin
(Universitas Esa Unggul, Jakarta)
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
PERSYARATAN PENULISAN
JURNAL PENELITIAN HUKUM
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN
1. Naskah merupakan laporan penelitian orisinal yang dibuat secara mandiri atau
berkelompok dan belum pernah diterbitkan sebelumnya.
2. Isi tulisan harus relevan dengan disiplin ilmu hukum dan ditulis dalam tata bahasa
Indonesia atau bahasa Inggris yang baik dan benar.
3. Sistematika penulisan sedapatnya memuat: Judul (tidak lebih dari 12 kata; Nama Penulis
(tanpa gelar akademik); Abstrak maksimal 100 kata yang dibuat dalam Bahasa Indonesia
dan Bahasa Inggris, yang berisi tujuan, metode dan hasil penelitian, serta kata kunci.
4. Sistematika penulisan terdiri dari: PENDAHULUAN; RUMUSAN MASALAH;
METODE PENELITIAN; HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN; PENUTUP;
serta Daftar Pustaka (tersusun secara alpabetis).
5. Setiap naskah menggunakan teknik pengutipan Footnote.
6. Daftar pustaka atau rujukan sedapatnya bersumber dari jurnal ilmiah lain atau sejenisnya,
dengan kisaran waktu terbit kurang dari 10 tahun terakhir.
7. Penulisan dilakukan dengan aplikasi pengolah kata MS Word dengan menggunakan
Font Times New Roman ukuran 12 dengan jarak spasi 1,5 pada kertas ukuran A4.
8. Jumlah halaman minimal 20 dan maksimal 25 halaman (termasuk daftar pustaka).
Ketentuan margin yaitu: top dan left margin 4 cm, right dan bottom margin 3 cm. Tulisan
diserahkan kepada redaksi berupa satu rangkap print-out dan soft copy dalam bentuk
CD-RW, berisi file tulisan dalam format doc.
9. Penulisan tidak menggunakan pemisahan bab dengan angka. Pembagian antara Judul,
Sub Judul, Sub Anak Judul dilakukan dengan urutan sebagai berikut:
CAPITAL BOLD;
CAPITAL;
Bold;
Bold Italic; dan
Italic.
10.Tabel (jika ada) dbuat dengan model terbuka (tanpa garis vertikal).
11.Penulis melampirkan curriculum vitae singkat yang meliputi nama lengkap, gelar
akademik, tempat dan tanggal lahir, pendidikan terakhir, lembaga tempat bertugas,
jabatan yang dipangku (jika ada) alamat lengkap (lembaga, rumah serta nomor telepon
kantor, rumah dan HP) serta alamat e-mail.
12.Setiap tulisan akan ditelaah oleh mitra bestari dan jika diperlukan, redaksi akan mengirim
kembali tulisan untuk diperbaiki sebelum dimuat. Pengiriman naskah perbaikan
dilakukan melalui e-mail kepada alamat e-mail redaksi.
13.Tulisan yang tidak dimuat dapat diambil kembali pada redaksi.
Jurnal Penelitian Hukum terbit setiap bulan Januari, Mei dan September.
Tulisan dapat diantar langsung atau dikirim ke:
Alamat Redaksi:
JURNAL PENELITIAN HUKUM
Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin
Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10, Tamalanrea, Makassar, 90245.
Telepon: (0411) 584686 / 0811442470 / 081342439090
E-mail: [email protected]
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Jurnal PENELITIAN HUKUM | Volume 2 Nomor 3 Mei 2013
Download