Mencari Asal-usul Kitab Suci

advertisement
Mencari Asal-usul Kitab Suci
(The Bible Came from Arabia)
Oleh Dr. Kamal Salibi
TENTANG PENULIS
Lahir di Beirut, Libanon 1929 Dr. Kamal Salibi dibesarkan di tengah-tengah keluarga terpelajar.
Sejak turun-temurun keluarga ini adalah penganut agama Kristen Maronit, dan yang menerjemahkan
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Arab yang sampai sekarang dipakai oleh
kalangan Kristen yang berbahasa Arab, adalah kakeknya dari pihak bapak. Selepas dari International
College, ia meneruskan studinya ke Universitas Amerika di Bairut hingga sarjana muda bidang
sejarah Eropa dan ilmu-ilmu politik. Setelah mengambil studi dalam bahasa-bahasa Semit,
dilanjutkannya ke Universitas London hingga mencapai Ph.D. dalam tahun 1953 di bidang sejarah
Islam dan sejarah Arab. Kemudian ia menjabat guru besar sejarah dan kepala departemen sejarah
dan kepurbakalaan di Universitas Amerika di Bairut. Dewasa ini ia tinggal di Amman, Yordania.
Buku kontroversial yang ditulis dalam bahasa Inggris ini pada mulanya menemui kesulitan dalam
mencari penerbit, karena hampir semua penerbit di Eropa menolaknya. Setelah sampai ke tangan
Der Spiegel di Jerman dan diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dengan syarat harus terlebih dulu
diteliti oleh sebuah tim yang terdiri dari para ilmuwan dan guru besar bahwa penelitiannya
didasarkan hanya pada ilmu semata, bukan pada sesuatu agama atau ras, akhirnya dalam tahun 1985
buku ini terbit, dan kemudian disusul dengan penerbitan bahasa Inggris dan diterjemahkan ke dalam
beberapa bahasa, di antaranya bahasa-bahasa Jerman, Perancis, Belanda, Denmark, Arab, Finlandia,
Jepang, Spanyol dll. Pada mulanya teori Dr. Salibi tentang asal-usul Bibel yang katanya berasal dari
Arabia dan bukan dari Palestina, cukup menghebohkan dan mendapat tantangan semua pihak!
Terjemahan bahasa Indonesia ini disajikan semata-mata untuk maksud yang sama.
PETA
Agar tidak jauh dari peta aslinya dalam buku The Bible Came from Arabia, peta dalam buku ini
direproduksi dari buku aslinya, dengan mengubah sebagian nama-nama tempat menurut ejaan
Indonesia.
KUNCI TRANSLITERASI IBRANI DAN ARAB
Catatan: Bahasa Ibrani Bibel secara resmi memiliki abjad konsonan yang terdiri dari dua puluh dua
huruf, termasuk semivokal w (w) dan y (y). Mengingat bahwa sebuah konsonan, yaitu s (s),
dianggap mewakili s (s, yang menurut ucapan bahasa Inggris sh, atau s (v), maka jumlah total hurufhuruf yang dikenal adalah dua puluh tiga. Tidak ada yang mengetahui bagaimana bahasa Ibrani
Bibel disuarakan, mungkin pemberian tanda vokal secara tradisional terhadap bahasa ini didasarkan
pada pemberian tanda vokal dari bahasa Aram (Arami). Nilai fonetik (atau nilai varian) orisinal dari
beberapa konsonan Ibrani pun, termasuk dua buah semi-vokal, masih belum dapat dipastikan.
Bahasa Arab klasik secara resmi memiliki dua puluh delapan huruf konsonan dalam abjadnya,
termasuk dua buah semi-vokal, yaitu w (wawu) dan y (ya). Sebagai tambahan adalah huruf t Arab
yang tak bersuara (ditulis ta' marbutoh, berbeda dengan ta', huruf t yang biasa). Huruf ini dikenal
sebagai sepadan dengan huruf h (?, dan dipergunakan khusus sebagai akhiran tunggal feminin. Ada
pula huruf y, diucapkan sebagai huruf vokal a (ditulis ?), yang juga digunakan khusus sebagai
akhiran feminin. Nilai fonetik konsonan dan semi-vokal bahasa Arab Klasik telah diketahui; begitu
pula dengan nilai fonetik varian konsonan-konsonan yang sama dan semi-vokal dalam bentuk bahasa
Arab dialek yang masih hidup, yang dapat dipergunakan untuk memeriksa vokalisasi Klasik.
KATA PENGANTAR
Ketika mula-mula saya mengira bahwa tempat asal Kitab Bibel itu Arabia Barat dan bukan
Palestina, saya merasa memerlukan dukungan untuk memperdalam penyelidikan ini, atau lebih tepat
lagi untuk memberanikan menulis sebuah buku tentang ini. Dukungan ini diberikan oleh sejumlah
teman dan rekan saya, dan saya bangga menyatakan bahwa saya berutang budi kepada mereka. Di
antara mereka, Dr. Wolfgang Koehler dan Prof. Gernot Rotter yang telah memberi kesempatan
pertama kepada saya untuk mengemukakan penemuan-penemuan saya yang awal kepada para
pendengar yang amat kritis di Deutche Orient Institut di Beirut. Prof. Rotter jugalah yang
membawa hasil penelitian saya kepada penerbit-penerbit Jerman. Merekalah yang kemudian
mempersiapkan penerjemahan buku ini, yang aslinya ditulis dalam bahasa Inggris, ke dalam
beberapa bahasa. Joseph Munro, Profesor Sastra Inggris di American University of Beirut, banyak
membantu saya sejak awal berjalannya penyelidikan ini. Dia pula yang mempersiapkan naskah saya
untuk diterbitkan, serta melonggarkan jalan pemikiran saya yang terkadang sangat ingin
menonjolkan keilmuan. Ia pun memperlembut sifat tegas saya yang sering dogmatis dengan bentukbentuk perumpamaan. Rasa gembira karena penemuan ini memaksa saya untuk mengabaikan sikap
berhati-hati.
Sebagai pendatang baru dalam bidang studi Semit dan Keinjilan, dalam tahap-tahap awal
penyelidikan ini saya mendapatkan bimbingan dari dua orang rekan saya, Ramzi Baalbaki, yang
membantu saya dalam memperlancar bahasa Ibrani saya, dan William Ward, yang menyisihkan
waktunya untuk memperkenalkan saya pada literatur bidang keilmuan yang relevan dan
memperingatkan saya akan adanya ke sulitan-kesulitan yang akan saya hadapi. Yang seorang rekan
lagi, yaitu Charles Abu Chaar, yang telah memberi pengarahan kepada saya dalam hal-hal yang
berkenaan dengan kehidupan flora Arabia. Profesor Otto Jastrow dari the University of Erlangen,
sangat berbaik hati terhadap saya dalam memberi dukungan dan pengarahan mengenai studi ini, dan
secara khusus saya mengucapkan terima kasih kepadanya. Ucapan terima kasih yang sebesarbesarnya juga saya tujukan kepada Volkhard Windfuhr dari Der Spiegel, atas perhatiannya yang
besar terhadap buku saya ini, dari awal sampai akhir. Peta-peta di dalam buku ini digambar oleh
Ahmad Shah Durranai, Dr. Elfried Soker dan Klaus Carstens, sedangkan naskah terakhir yang
diketik dipersiapkan oleh Mufida Yacoub, Sayidah Ni'mah, Leila Salibi dan Margo Matta.
Karena studi yang saya lakukan ini bersifat revolusioner, saya yakin segenap penasihat saya akan
gembira mendengar bahwa saya membebaskan mereka dari segala tanggung jawab dan dari apa pun
kesalahan serta kesalahpahaman yang didapati oleh para pembaca kritis. Meskipun demikian, saya
menghargai dukungan mereka selama buku ini ditulis. Saya hanya dapat berharap antusiasme
mereka yang tak kunjung padam itu telah diterjemahkan menjadi sebuah buku yang patut
mendapatkan kerjasama yang begitu besar itu dari mereka.
Akhirnya, saya harus berterima kasih kepada sumber-sumber informasi yang tercetak yang menjadi
studi saya ini sangat bergantung. Selain sebuah versi standar dari teks konsonan Injil Ibrani, saya
telah memanfaatkan katalog nama-nama tempat Arabia yang diterbitkan oleh Sheikh Hamad al-Jasir
dari Riyad, Arab Saudi, yang berjudul Al-Mu'jam al-Jiughrafi li'l-Bilad'l 'Arbiyyah as-Sa'udiyyah
(Riyad, 1977). Selain itu, saya telah memanfaatkan juga beberapa peta Jazirah Arabia yang lain:
'Atiq al-Baladi Mu'jam Ma'alim'l-Hijaz (Taif, 1978). Muhammad al-'Aqili: Al-Almu'jam al-Jiughrafi
li'l-Bilad'l 'Arabiyyah as-Sa'udiyyah; Muqata'at Jizan (Riyad, 1979); 'Ali ibn Salih as-Siluk azZahrani, Al-Mu'jam al-Jiughrafi ...; Bilad Ghamid wa Zahran (Riyad, 1978); Hamad al-Jasir,
Mu'jam, Qaba'il'l-Mamlakah al 'Arabiyyah as-Sa'udiyyah (Riyad, 1981); 'Atiq al-Baladi, Mu'jam
Qaba'il'l-Hijaz (Mekah, 1979). Karya-karya ahli ilmu bumi Arab klasik, terutama Mu'jam'l-Buldan
karya Yaqut dan Sifat Jazirat'l-Arab karya al-Hamdani, juga membantu saya. Sebagian besar
sumber-sumber lain tempat saya mendapatkan segala keterangan itu tertera dalam catatan teks.
Guna membantu pembaca yang bukan spesialis, saya telah, menyediakan beberapa catatan mengenai
transliterasi Ibrani dan Arab, dan mengenai perubahan bentuk konsonan yang sering dijumpai antara
kedua bahasa itu, yang terdapat tepat sebelum kata pengantar ini.
Beirut
24 April 1985
Kamal Salibi
PENDAHULUAN
Saya akan berbicara langsung mengenai pokok persoalan. Saya yakin bahwa saya telah mendapatkan
suatu penemuan penting yang seharusnya akan dapat mengubah pengertian kita tentang Bibel Ibrani,
atau apa yang disebut oleh kebanyakan orang sebagai Perjanjian Lama. Penemuan ini berupa dugaan
kuat bahwa Kitab Bibel itu berasal dari Arabia Barat, dan bukan dari Palestina, seperti yang sampai
kini diduga oleh para ahli, berdasarkan pada perkiraan geografis. Bukti yang saya dapati untuk
menentang pernyataan ini akan dibahas pada bab-bab yang berikut. Dugaan saya ini didasarkan pada
analisa linguistik dari nama-nama tempat yang tertera di dalam Kitab Bibel, yang menurut pendapat
saya sampai sekarang terus menerus telah diterjemahkan secara tidak benar. Prosedur ini secara
teknis disebut analisa onomastik, atau barangkali lebih tepat analisa toponimik. Saya terus-terang
mengakui bahwa penemuan ini masih bersifat teoritis, sebelum diperkuat oleh penyelidikanpenyelidikan arkeologis. Akan tetapi bukti-bukti yang saya dapati sangatlah besar sehingga hanya
akan disangsikan oleh orang-orang kolot saja, dan saya yakin kesangsian itu pun akan lenyap setelah
adanya dukungan selanjutnya oleh para ahli.
Tidak mengherankan, dalam membuka jalan baru, jika saya melakukan beberapa kesalahan yang
mungkin akan dijadikan kesempatan oleh para kritikus untuk menodai hasil-hasil penemuan saya ini.
Tetapi saya yakin bahwa kesalahan itu tidak akan begitu besar sehingga dapat mempengaruhi hasil
penemuan ini. Tidak diragukan lagi, banyak orang akan mengeluh bahwa referensi saya terhadap
kepustakaan yang luas mengenai geografi Bibel Ibrani itu hanya sepintas saja. Jawaban yang akan
saya berikan singkat saja, yaitu bahwa saya samasekali tidak setuju dengan apa yang telah tertulis
dan merasa tidak perlu membebani para pembaca dengan sanggahan-sanggahan mengenai
penemuan-penemuan yang lalu satu persatu. Sebenarnya saya khawatir juga bahwa daftar namanama tempat yang menjadi dasar pokok argumentasi buku ini akan menimbulkan kesulitan kepada
pembaca yang tidak begitu biasa dengan transliterasi abjad Ibrani dan Arab. Sementara saya
harapkan para spesialis akan ikut bersabar bersama saya, saya sarankan pembaca biasa melewati saja
bagian-bagian itu, dan memusatkan perhatian pada kesimpulan yang telah saya usahakan seringkas
dan sejelas mungkin, dengan harapan hal ini dapat saya kemukakan dengan sebaik-baiknya.
Untuk membantu pembaca umum, beberapa pengetahuan dasar baik mengenai bahasa dalam Bibel
Ibrani ataupun perbandingannya secara linguistik yang berhubungan dengan bahasa-bahasa Semit,
barangkali masih diperlukan. Ringkasnya, Kitab Bibel Ibrani kanonik itu terdiri dari tiga puluh
sembilan kitab yang dahulunya disusun dalam dua puluh empat buah gulungan. Lima kitab pertama,
yaitu Pentateuch (atau Torah dalam bahasa Ibrani, yang berarti 'pelajaran') terdiri dari Kejadian,
Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Selanjutnya, dua puluh satu kitab Kisah para Rasul:
empat karya bersejarah Yosua, Hakim-hakim, Samuel (2 kitab), Raja-raja (2 kitab); kitab-kitab Tiga
Rasul utama Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel; kemudian dua belas kitab mengenai para nabi-nabi,
yaitu: Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia dan
Maleakhi. Dan akhirnya tiga belas kitab puisi-puisi keagamaan dan kesusastraan mengenai
kebijaksanaan, Tulisan-tulisan, yang terdiri dari Mazmur, Amsal, Yob, Kidung Agung, Rut,
Ratapan, Pengkhotbah, Ester, Daniel, Ezra, Nehemia dan Tawarikh (2 kitab). Kecuali bagian-bagian
Aramaik dari kitab Daniel (2:4b - 7:28) dan kitab Ezra (4:8 - 6:18), semua karangan orisinalnya yang
sampai kepada kita tertulis dalam bahasa Ibrani.
Hal-hal yang bersangkutan dengan penanggalan dan penyusunan kitab-kitab Bibel Ibrani itu terlalu
rumit untuk dibahas secara rinci, dan tidaklah penting dalam argumentasi saya ini. Sejumlah kitabkitab itu, misalnya, sudah dapat dipastikan sebagai karya-karya baru yang disusun berdasarkan
naskah-naskah yang lebih tua, sehingga dapat diperkirakan baru tersusun pada sekitar abad ke-4
S.M., setelah runtuhnya kerajaan Israil kuno.
Yang sudah pasti ialah bahwa bahasa Ibrani dalam Bibel secara keseluruhan mempunyai bentuk
bahasa sehari-hari, tidak seperti halnya bahasa Ibrani yang dipakai oleh para rabbi (pendeta Yahudi)
yang berfungsi khusus sebagai bahasa kesarjanaan. Dengan kata lain, naskah-naskah Bibel Ibrani
yang kita kenal telah ada sebelum abad ke-5 S.M., pada waktu Kerajaan Israil kuno mengalami
kehancurannya dan sewaktu bahasa Ibrani dan berbagai bentuk bahasa Kanaan sudah tidak dipakai
lagi. Ini berarti kita dapat mempergunakan Bibel Ibrani itu, paling tidak dalam penelitian ini, sebagai
dokumen yang berhubungan langsung dengan sejarah Israil, lepas dari soal-soal penanggalan,
komposisi, atau siapa penulisnya.
Karena hampir seluruh argumentasi ini dititikberatkan pada perkiraan saya bahwa Bibel Ibrani terusmenerus diterjemahkan dengan tidak benar, maka patut diadakan suatu pembetulan. Singkatnya,
seperti yang akan saya jelaskan secara lebih mendalam pada Bab 2, bahasa Ibrani itu tidak lagi
dipergunakan sebagai bahasa sehari-hari pada sekitar abad ke-5 atau ke-6 S.M. Oleh sebab itu, jika
ingin memahami Bibel Ibrani kita harus memilih satu di antara dua metode. Cara yang pertama
ialah menerima saja terjemahan naskah-naskah yang diterjemahkan secara tradisional itu dalam
bahasa Ibrani, atau menyelidiki bahasa-bahasa Semit yang masih berhubungan erat dengan bahasa
Ibrani, seperti bahasa Arab dan bahasa Suryani. Bahasa Suryani merupakan peninggalan dari
suatu bentuk bahasa Aram kuno. Saya tidak menggunakan penterjemahan secara tradisional dalam
bahasa Ibrani, karena para ahli Yahudi yang menterjemahkan dan memberi bunyi vokal pada Bibel
Ibrani antara abad ke-6 dan ke-10 M. itu tidak dapat berbahasa Ibrani secara lisan dan mungkin
mendasarkan rekonstruksi mereka pada dugaan-dugaan saja. Jika memakai metode kedua, untuk
menafsirkan bahasa Ibrani yang dipergunakan di dalam Bibel Ibrani, kita harus melakukannya
berkenaan dengan fonologi dan morfologi perbandingan dari bahasa-bahasa Semit. Mengingat
banyak pembaca yang belum terbiasa dengan hal-hal seperti ini, sekali lagi saya akan memberikan
informasi dasar mengenai hal ini.
Bahasa Semit pada umumnya dianggap sebagai anggota keluarga besar bahasa-bahasa Afro-Asia
yang meliputi bahasa Mesir kuno dan bahasa Berber serta Hausa modern. Dari bahasa-bahasa ini,
yang termasuk dalam cabang bahasa Semit ialah bahasa Akkadia (bahasa kuno Babilonia dan
Asiria), bahasa Kanaan (bahasa Funisia kuno dan bahasa Ibrani kuno adalah suatu varian dari bahasa
ini), bahasa Aram (bahasa Suryani) dan bahasa Arab. Salah satu ciri khas yang dimiliki bahasabahasa ini adalah sistem mendapatkan akar suatu kata yang biasanya terdiri dari tiga konsonan.
Akar-akar kata ini biasanya dipahami sebagai kata kerja, dan ada seperangkat pola asal mula kata
kerja ini yang telah membentuk kata kerja lain, dan juga kata benda dan kata sifat yang beraneka
ragam. Ini melibatkan beberapa cara pemberian tanda vokal pada akar kata dengan menambahkan
huruf-huruf hidup, dan juga penambahan satu atau lebih konsonan pada akar kata yang asli. Dalam
kamus-kamus standar bahasa-bahasa Semit, kita biasanya mencari akar kata tertentu, yang kemudian
diikuti oleh serangkaian kata jadian yang berasal dari akar kata itu. Sejumlah akar kata yang sama
terdapat di beberapa bahasa Semit, dengan arti yang sama atau dengan arti yang berdekatan. Kalau
kita telah menguasai sebuah bahasa Semit, akan lebih mudah mempelajari yang lain.
Terkadang, sebuah akar kata yang ada pada dua atau lebih bahasa Semit tidak mudah dikenali
sebagai akar kata yang sama oleh seseorang yang tidak berbahasa Semit sebagai bahasa ibu. Ini
disebabkan karena satu atau lebih konsonan dalam akar kata itu dapat berubah dari satu bahasa ke
bahasa yang lain. Dalam bahasa Ibrani, contohnya, akar kata yang berarti 'mendiami' adalah hsr,
sedangkan dalam bahasa Arab akar kata itu adalah hdr. Penjelasannya adalah bahwa pemakai bahasa
Semit secara naluriah mengenai hubungan fonologis antara pelbagai konsonan, yang dapat ditukar
tempatnya di antara berbagai bahasa-bahasa Semit. Misalnya, 'g' di dalam satu bahasa atau dialek
(yang dapat diucapkan seperti huruf 'g' atau sebagai huruf 'j') dapat berubah menjadi huruf 'q' (qaf)
atau 'g' (ghayn) dalam bahasa atau dialek yang lain. Maka kata Negeb dalam bahasa Ibrani (sebagai
sebuah nama tempat) berubah menjadi Naqab atau Nagab dalam bahasa Arab.
Perubahan konsonan di antara bahasa-bahasa Semit ini nampaknya mengikuti peraturan-peraturan
tertentu, dan untuk mudahnya saya telah tabulasikan perubahan-perubahan tersebut dari bahasa
Ibrani ke bahasa Arab di bagian tepat sebelum Kata Pengantar buku ini. Ada pula masalah metatesis,
atau perubahan dalam penempatan konsonan-konsonan dalam akar kata yang sama antara pelbagai
bahasa Semit, misalnya akar kata acb, dapat berubah menjadi cab atau bca. Metatesis bukanlah suatu
fenomena linguistik yang hanya ditemui dalam bahasa-bahasa Semit. Kita dapat juga menjumpainya
dalam bahasa-bahasa yang lain , walaupun metatesis sangat biasa terjadi di antara bahasa-bahasa
Semit yang sama. Dalam sebuah dialek Arab, contohnya, zwg (diucapkan zawj), yang berarti
'sepasang' dapat berubah menjadi gwz (diucapkan jawz), yang terakhir adalah bentuk yang biasa
terdapat pada dialek Libanon yang saya pakai.
Sama pentingnya, kalau tidak lebih, untuk mengingat bahwa bahasa-bahasa Semit ditulis dalam
bentuk konsonan tanpa huruf hidup. Namun, pada terjemahan-terjemahan Kitab Bibel dalam bahasa
Inggris dan dalam bahasa-bahasa lainnya, nama-nama menurut Bibel itu dikemukakan dalam bentuk
yang telah diberi huruf vokal, yang berasal dari penyuaraan kaum 'Masoret' atau dari tradisi Kitab
Bibel Ibrani, yang seperti telah saya katakan, mungkin salah, sepanjang ahli-ahli Masoret itu perlu
menyusun kembali bahasa Ibrani, yang sudah dipergunakan lagi secara umum. Agar membantu para
pembaca, yang telah saya lakukan adalah memberikan baik kata Ibrani yang diberi vokal secara
tradisional maupun yang belum diberi vokal, dan saya berusaha untuk menunjukkan bagaimana kata
yang sama itu, jika diberi vokal dengan cara yang berbeda, dapat mempunyai arti selain yang telah
ditentukan menurut tradisi kaum Masoret. Mengenai kata-kata --terutama nama-nama tempat yang
berasal dari catatan-catatan kuno Mesir, mustahil untuk mengetahui bagaimana semua itu
disuarakan. Maka dari itu, apa yang telah saya lakukan dalam contoh-contoh yang seperti itu adalah
mengemukakannya dalam bentuk konsonan mereka dan juga membuat agar mereka dapat
dibandingkan dengan bentuk-bentuk konsonan Ibrani. Seperti itu pula, jika saya mengutip kalimatkalimat lengkap dari Bibel Ibrani, saya telah menuliskan kata-kata Ibrani yang tidak diberi vokal ke
dalam bentuk Latin yang belum diberi tanda vokal pula. Ini agaknya tidak banyak membantu dalam
pembacaannya, tetapi berkenaan dengan argumentasi saya, saya tidak melihat adanya alternatif lain
yang lebih baik.
Untuk meringkaskan: apa yang sama dalam perbendaharaan kata dari berbagai bahasa Semit adalah
sejumlah besar akar kata konsonan dan bentuk-bentuk kata yang berasal dari situ; yang terakhir ini
tidak mempunyai perbedaan yang besar antara satu bahasa dengan bahasa yang lain. Guna
membandingkan kata-kata dalam berbagai bahasa Semit, kita perlu mengeja kata-kata itu hanya
dalam bentuk konsonannya, kalau tidak demikian maka seluruh maknanya akan hilang. Maka dari
itu saya harus memohon kepada pembaca agar mereka bersabar jika terdapat perbandinganperbandingan seperti itu, dan agar mereka percaya bahwa perbandingan-perbandingan ini dibuat
menurut peraturan yang pantas bagi ilmu bahasa perbandingan.
Berpaling pada metodologi, karena alasan-alasan yang kini telah jelas, saya mendasarkan studi saya
ini pada teks konsonan Bibel Ibrani, membanding-bandingkan sebutan tertentu dengan nama-nama
tempat di Arabia Barat guna memberikan alternatif bagi penterjemah tradisional. Kita tidak perlu
membahasnya lebih jauh dari itu, karena masalah-masalah yang seperti ini akan saya bahas dalam
Bab 2. Namun, saya hanya ingin menambahkan bahwa selain meneliti buku-buku dan peta-peta,
saya telah pula melakukan sebuah perjalanan ke Arabia Barat, yang saya yakin adalah tanah asal
Kitab Bibel, guna menjadi lebih akrab dengan lokasi-lokasi utama yang disebutkan di dalam studi ini
dan secara langsung mengamati bagaimana pelbagai lokasi yang telah saya sebutkan tadi itu
berhubungan, baik secara geografis maupun secara topografis.
Di atas dasar-dasar inilah argumentasi buku saya ini berdiri. Apakah saya berhasil atau tidak
meyakinkan para ahli Bibel Ibrani itu masih harus disangsikan dahulu. Yang dapat saya katakan
adalah bahwa saya yakin sepenuhnya atas hasil-hasil penemuan yang dihasilkan oleh analisa
toponimis saya, dan saya menanti-nanti datangnya saat para arkeolog menggali beberapa tempat
peninggalan zaman purbakala yang telah saya sebutkan, dan semoga menghasilkan bukti-bukti yang
lebih lanjut bahwa tanah asal Kitab Bibel Ibrani adalah Arabia, Barat, bukan Palestina.
1. DUNIA YAHUDI KUNO (1/4)
Asal mula penyelidikan ini datang secara tidak sengaja. Pada suatu hari saya menerima sebuah copy
cetakan indeks ilmu bumi Arab Saudi, diterbitkan di Riyad pada tahun 1977, dan ketika saya sedang
memeriksanya untuk nama-nama tempat yang tidak berasal dari bahasa Arab yang terletak di Arabia
Barat, ketika itulah saya menyadari bahwa nama-nama tempat di Arabia Barat juga merupakan
nama-nama tempat yang tertera di dalam Kitab Perjanjian Lama, atau yang saya sebut Bibel Ibrani.
Pada mulanya saya meragukan persamaan ini, tetapi setelah bukti-bukti yang memperkuat itu
terkumpul, saya merasa yakin bahwa persamaan antara nama-nama itu bukanlah suatu kebetulan
belaka. Hampir semua nama tempat kuno yang saya dapati di dalam Bibel berpusat pada daerah
dengan panjang sekitar 600 kilometer dan selebar 200 kilometer, yang pada zaman ini meliputi Asir
(bahasa Arabnya 'Asir) dan bagian selatan Hijaz (al-Higaz). Semua koordinat tempat-tempat yang
disebutkan di dalam Kitab Bibel Ibrani dapat dicocokkan dengan sebuah tempat di wilayah ini, suatu
fakta yang sangat penting, sedangkan belum ada bukti-bukti yang mencocokkan koordinat-koordinat
tersebut dengan lokasi tempat-tempat di Palestina, tempat yang diduga sebagai tanah asal Kitab
Bibel. Saya tidak menemukan sekelompok nama tempat kuno, dalam bentuk Ibraninya yang masih
asli di daerah-daerah lain di Timur Dekat. Saya merasa berkewajiban untuk memikirkan adanya
sebuah kemungkinan yang sangat menakjubkan: yaitu bahwa Yudaisme bukan berasal dari Palestina,
melainkan dari Arabia Barat, dan bahwa seluruh sejarah bangsa Israil kuno berlangsung di daerah
ini, bukan di tempat lain.
Sudah tentu, jika menganggap bahwa dugaan saya ini benar, bukan berarti bahwa tidak ada orang
Yahudi yang tinggal menetap di Palestina pada zaman Bibel itu atau di negara lain di luar wilayah
ini. Yang dimaksud ialah bahwa Kitab Bibel Ibrani itu pada dasarnya ialah suatu catatan mengenai
sejarah pengalaman bangsa Yahudi di Arabia Barat. Sayangnya tidak ada catatan sejarah yang dapat
menjelaskan bagaimana Yudaisme dapat didirikan di Palestina pada zaman dahulu itu. Tetapi kita
dapat saja memberikan suatu perkiraan berdasarkan bukti-bukti yang ada.
Di antara agama-agama Timur Dekat yang diketahui, agama Yahudi berada dalam golongan
tersendiri; belum ada usaha-usaha yang berhasil menjelaskan asal usulnya dalam pengertian agamaagama kuno Mesopotamia, Suria atau Mesir, kecuali dalam tingkat bayangan mitos-mitos. Salah satu
contoh yang demikian ini ialah kisah air bah, yang mungkin juga terdapat dalam kitab 'Epik
Gilgamesh' dari mesopotamia kuno, dan mitos-mitos kuno lainnya, bahkan salah satu di antaranya
berasal dari Cina. Walaupun dengan adanya contoh-contoh ini, kita tidak dapat memastikan asalmulanya mitos-mitos ini serta apa yang dibawa dan dari siapa. Tetapi, seperti yang akan kita lihat
dalam Bab 12, sangat masuk di akal untuk mengandaikan bahwasanya asal mula agama Yahudi
mungkin terbentuk karena adanya kecenderungan terhadap monoteisme di Asir kuno tempat
sejumlah dewa-dewa gunung seperti Yahweh, El Sabaoth, El Shalom, El Shaddai, El Elyon dan
yang lain entah bagaimana yang akhirnya diakui sebagai dewa tertinggi, mungkin dengan adanya
pembauran di antara suku-suku setempat. Karena kemudian diadopsi oleh suku Israil, sebuah suku
lokal, monoteisme dasar Arabia Barat ini lambat-laun berkembang menjadi sebuah agama dengan
jalan pemikiran yang tinggi, yang mempunyai sebuah kitab keagamaan tetap, yang mengandung
gagasan yang rumit tentang sifat ketuhanan dan mempunyai tema kemasyarakatan dan etika
tersendiri. Agama itu dengan mudah menarik peminat-peminat dari luar daerah asalnya, khususnya
dari daerah-daerah yang telah mengenal ketatasusilaan dan yang telah mempunyai tingkat pemikiran
yang cukup tinggi. Karena agama itu mempunyai kitab dan dikembangkan oleh orang-orang yang
dapat menulis dan membaca, agama itu mudah untuk disebarluaskan.
Bahasa yang dipakai dalam kitab-kitab Yahudi ini biasanya disebut Ibrani, dan agaknya merupakan
dialek sebuah bahasa Semit yang dahulunya merupakan bahasa sehari-hari yang dipakai di pelbagai
daerah di Arabia Selatan, Barat dan Suria (termasuk Palestina). [1] Seseorang dapat menyimpulkan
hal ini melalui penyelidikan etimologis dan dari nama-nama tempat di wilayah Timur Dekat,
mempertimbangkan pula distribusi geografis mereka. Karena memerlukan kata yang lebih tepat,
maka bahasa kuno ini kini disebut bahasa Kanaan, menurut nama sebuah bangsa menurut Bibel yang
menggunakan bahasa ini. [2]
Di samping bahasa Kanaan, ada satu lagi bahasa yang dipakai di jazirah Arab dan Suria, bahasa ini
adalah bahasa Aram, diberi nama ini menurut nama bangsa Aram dari Bibel. Tanpa memperdulikan
siapa itu sebenarnya bangsa Kanaan dan Aram, suatu topik yang akan saya bicarakan dalam Bab 4,
[3] dapat dipastikan bahwa bahasa Kanaan (atau bahasa Ibrani) dan bahasa Aram pernah dalam
waktu yang bersamaan digunakan oleh berbagai masyarakat Arab dari wilayah Barat, seperti halnya
di Suria. Sebuah ayat pendek dari Kitab Bibel, jika dilihat kembali dari segi nama-nama tempat di
Arabia Barat yang masih ada sejak dari zaman kuno, jelas mengungkapkan hal ini.
Sebutan ini adalah Kejadian 31:47-49. Di sini dapat kita baca mengenai sebuah timbunan tanah yang
disebut 'timbunan batu', didirikan untuk menjadi saksi atas persetujuan antara Yakub, seorang
Yahudi, dengan paman dari pihak ibunya, seorang bangsa Aram dan ayah mertuanya, yaitu Laban.
Laban menyebutnya 'Yegar-sahadutha' (dalam bahasa Aram adalah ygr shdwt'), tetapi Yakub
menyebutnya 'Galed' (dalam bahasa Ibraninya gl'd) dan 'Mizpah' (Ibraninya hmsph), yang berarti
menara penjagaan. Ketiga nama ini kini masih dipakai oleh tiga buah desa yang tidak begitu
terkenal, yang letaknya berdekatan, di daerah maritim Asir, di kawasan Rijal Alma' (Rigal Alma'), di
sebelah barat Abha (Abha). Nama-namanya adalah: Far'at Al-Shahda ('l shd'), yang berarti 'Tuhan
adalah saksi' atau 'Tuhan dari saksi', dalam bahasa Arabnya pr't atau pr'h, yang berarti bukit atau
timbunan, sama artinya dengan kata Aram ygr; al-Ja'd ('l-g'd), yang merupakan sebuah metatesis
yang telah diarabkan dari kata gl'd; dan al-Madhaf (mdp; bandingkan dengan msph).
Begitulah persamaan antara pemakai bahasa Kanaan dengan pemakai bahasa Aram di Arabia Barat
menurut Bibel, sehingga menurut hemat saya orang-orang Israil itu bingung dari kelompok mana
mereka berasal. Walau mereka menganggap sebagai bangsa Ibrani (lihat Bab 13), tetapi menurut
Ulangan 26:5 leluhur mereka adalah seorang yang berasal dari suku Aram. Pertentangan ini telah
lama membingungkan para ahli, tetapi jika anggapan saya benar, hal itu memang masuk akal.
Kemungkinan besar awal tersebarnya agama Yahudi dari tanah asalnya di Arabia Barat ke Palestina
dan ke daerah-daerah lain itu ialah dengan mengikuti jalur (route) kafilah perdagangan antar Arabia.
Pada zaman kuno, wilayah Asir di Arabia Barat merupakan tempat pertemuan kafilah-kafilah yang
membawa barang-barang dagangan dari berbagai negara di kawasan teluk Samudera Hindia seperti
India, Arabia Selatan serta Afrika Timur, dari satu arah, dan dari Persia-Mesopotamia, dan negaranegara di Laut Tengah bagian Timur, terutama Suria, Mesir dan dunia Aegea, dari arah yang lain
(lihat Peta 1).
Palestina, yang terletak di sudut Selatan Suria, dekat Mesir, merupakan ujung penghabisan dari jalur
perdagangan kuno Arabia Barat pertama yang bertolak menuju arah ini. Penduduk Yahudi yang
pertama mestinya adalah pedagang-pedagang dan kafilah-kafilah dari Arabi Barat yang terlibat
dalam perdagangan ini. Penduduk baru ini kemudian dengan mudah menarik penduduk lokal untuk
memasuki agama mereka, yang dalam hal kecanggihan intelektualnya jauh lebih tinggi dibandingkan
dengan cara-cara pemujaan setempat dan bahkan agama-agama tinggi kerajaan Mesir dan
Mesopotamia. Cara yang persis seperti inilah yang dipergunakan oleh pedagang-pedagang Islam di
berbagai tempat di Asia dan Afrika Timur pada waktu-waktu yang kemudian. Mereka menarik umat
baru untuk memeluk agama Islam di mana pun mereka singgah di antara penduduk itu yang
memandang agama Islam sebagai suatu agama yang lebih baik daripada agama mereka sendiri.
Bukan maksud saya untuk mengatakan bahwa orang-orang Yahudi itulah yang merupakan penduduk
pertama Arabia Barat di Palestina. Mestinya bangsa Filistin yang menurut Bibel (lihat Bab 14) dari
Arabia Barat itulah yang terlebih dahulu menetap di daerah itu sebelum mereka, mengingat bahwa
merekalah yang memberi nama kepada negara ini. Begitupun halnya dengan bangsa Kanaan dari
Arabia Barat (lihat catatan 3) yang tampaknya telah 'tersebar' (Kejadian 10:18) sejak dahulu, dan
memberi nama pada tanah Kanaan (kn'n) yang terletak di sepanjang pantai Suria, di sebelah utara
Palestina. Daerah ini disebut Phoenicia oleh bangsa Yunani (mengenai Faniqa atau 'Phoenicia' di
Asir, lihat Bab 14 ). Bahwasanya Phoenicia sebenarnya disebut Kanaan oleh penduduknya dapat
diketahui dari sekeping uang logam Yunani dari Beirut yang menceritakan dalam bahasa Funisia
(Phoenicia), bahwa kota ini terletak 'di Kanaan' (b-kn'n), dan dalam bahasa Yunani bahwa kota ini
terletak 'di Phoenicia'. [4] Menulis mengenai 'bangsa Phoenicia' dan 'bangsa Suria dari Palestina'
pada abad ke-5 S.M., sejarawan Yunani Herodotus yakin bahwa mereka berasal dari Arabia Barat. Ia
menulis tentang kedua bangsa itu: 'Negara ini, menurut cerita mereka sendiri, dahulunya terletak di
Laut Merah, tetapi dari sana mereka menyeberang dan menetapkan diri di pesisir Suria, dan di sana
mereka masih menetap' (7:89; lihat juga ibid. 1:1). [5]
Berapa pun umurnya perkampungan orang-orang dari Arabia Barat yang tertua di daerah pesisir
Suria,[6] migrasi orang-orang Filistin dan Kanaan ke sana mestinya bertambah besar. Menurut kitabkitab dalam Bibel Ibrani, kerajaan Israil sudah dipastikan berdiri di Arabia Barat, yang dihuni antara
lain oleh bangsa Filistin dan Kanaan, antara akhir abad ke-11 dan awal abad ke-10 S.M., yang
sebagian besar merugikan bangsa Filistin dan Kanaan. Karena patah semangat dan berturut-turut
dikalahkan oleh bangsa Israil, maka orang-orang Filistin dan Kanaan ini kemungkinan memperderas
arus migrasi mereka ke daerah pesisir Suria pada waktu yang sama. Di Palestina, nampaknya bangsa
Filistin menamakan perkampungan-perkampungan mereka (seperti Gaza dan Askalon) menurut
kota-kota di Arabia Barat yang mereka tinggalkan. Dusun Bayt Dajan di Palestina ('kuil' dgn, atau
'dagon') di Palestina, dekat Jaffa, masih memakai nama dewa agama yang mereka anut sewaktu di
Arabia Barat (lihat Bab 14). Di sebelah utara Palestina, bangsa Kanaan juga memberi nama-nama
yang berasal dari Arabia Barat kepada perkampungan-perkampungan mereka - nama-nama seperti
Sur (Tyre), Sidon, Gebal (dalam bahasa Yunani = Byblos), Arwad (dalam bahasa Yunani = Arados),
atau Libanon.[7] Pada saat orang-orang Israil dari Arabia Barat (dan mungkin kaum Yahudi dari
Arabia Barat lainnya) memulai migrasi mereka ke arah Utara untuk menetap di Palestina, yang tak
dapat ditentukan tahunnya, mereka juga memberikan nama-nama yang berasal dari daerah mereka
yang dahulu kepada tempat-tempat pemukiman mereka atau kepada tempat-tempat pemujaan
penduduk setempat yang diambil alih oleh mereka dan menggabungkannya dengan kuil-kuil Yahudi
mereka. Di antara yang paling kentara dan yang paling terkenal adalah: Yerusalem (yrwslm, lihat
Bab 9), Bethlehem (byt lhm, lihat Bab 8), Hebron (hbrwn, lihat Bab 13? Carmel (krml),[8] dan
kemungkinan Galilee (glyl),[9] Hermon (hrmwn)[10] dan Yordan (h-yrdn, lihat Bab 7), semuanya
membenarkan hal ini. Di kebanyakan tempat di dunia, pada suatu waktu, imigran-imigran yang rindu
sering menamakan kota-kota, daerah-daerah, pegunungan, sungai-sungai, atau bahkan suatu negara
atau pulau-pulau dengan nama-nama yang mereka bawa dari tanah yang mereka tinggalkan.
Mengingat pada zaman dahulu bahasa yang dipergunakan di daerah Suria dan Arabia Barat adalah
sama, kita tidak dapat meniadakan adanya kemungkinan besar bahwa beberapa tempat di kedua
wilayah itu dahulunya mempunyai nama-nama yang sama, terutama jika berkenaan dengan ciri-ciri
topografis, hidrologis atau ekologis tertentu, atau berkenaan dengan pemujaan terhadap dewa yang
sama. Dalam corak kebudayaan tradisional, seperti dalam halnya bahasa, Suria dan Palestina tidak
pernah jauh berbeda.
1. DUNIA YAHUDI KUNO (2/4)
Dalam setiap tahap, emigrasi dari Arabia Barat menuju Suria dan Palestina (dan mungkin juga
daerah-daerah lain) didukung oleh faktor-faktor luar. Sebagai daerah yang kaya akan bahan baku
alam, dan lagi pula sebagai daerah yang menguasai salah satu bandar perdagangan pada zaman kuno
(lihat Bab 3), Arabia Barat sudah semestinya merupakan sebuah target untuk penjajahan ke kerajaan
sejak masa lampau. Dalam Bab 11, akan dibuktikan, melalu bukti-bukti toponimik, bahwa ekspedisi
yang dilakukan oleh raja Mesir Sheshonk I terhadap Yudah, pada akhir abad ke-10 S.M., seperti
yang dikisahkan dalam Bibel Ibrani dan didukung oleh bukti-bukti dari catatan-catatan kuno Mesir,
ditujukan kepada Arabia Barat, bukan terhadap Suria dan Palestina seperti yang sampai kini
diperkirakan. Sebuah penyelidikan yang dilakukan secara mendalam atas sebuah lagi ekspedisi
kerajaan Mesir yang disebut dalam Bibel Ibrani, yaitu ekspedisi Raja Necho II pada akhir abad ke-7
S.M., mengungkapkan bahwa ekspedisi yang melibatkan seorang Raja Yudah dan orang-orang
Babilonia, juga diarahkan ke Arabia Barat. Pertempuran Karchemis (krkmys, Tawarikh 2 - 35:20;
Yesaya 10:9; Yeremia 46:2), antara pasukan Mesir dan Babilonia, terjadi di dekat Taif, di sebelah
Selatan Hijaz, di tempat itu dua buah pedesaan yang berdekatan, Qarr (qr) dan Qamashah (qms),
masih berdiri.
Dengan demikian, saya yakin 'Karchemis' yang tertulis dalam Bibel itu bukanlah Kargamesa bangsa
Hittit, yang sekarang merupakan Jerablus di tepi sungai Furat (Efrat) seperti yang sampai kini
diperkirakan.[11]
Ekspedisi-ekspedisi militer pertama kerajaan Mesir sejak 2000 tahun S.M., yang selama ini
diketahui sebagai penyerangan terhadap Suria dan Palestina, jika kita teliti kembali melalui catatancatatan kuno Mesir dengan bantuan nama-nama tempat dari Arabia Barat yang masih terdapat di
sana [12], akan terlihat bahwa tindakan-tindakan militer itu lebih cenderung ditujukan kepada Arabia
Barat. Sebagai bangsa kerajaan, orang-orang Mesir kuno benar-benar tertarik untuk menguasai
Arabia Barat dan jalur-jalur perdagangannya,[13] seperti halnya bangsa Assyria dan Babilonia pada
masa kejayaan mereka. Mestinya, setelah setiap penjajahan kerajaan atas tanah mereka, dari arah
mana pun, sebuah gelombang migrasi baru bertolak dari Arabia Barat ke daerah-daerah seperti
Palestina.
Persis pada saat kerajaan Mesir menyudahi masa penghematan antara akhir abad ke-11 dan awal
abad ke-10 S.M., kerajaan Israil berdiri di bukit-bukit daerah pesisir Asir (lihat Bab 8-10), di bawah
pimpinan Saul, kemudian dikembangkan oleh Daud dan mencapai puncak kejayaan dan
kemakmurannya di bawah raja Sulaiman (Salomo). Andaikata Daud dan Sulaiman pada masa
mereka benar-benar memimpin sebuah kerajaan Suria yang menguasai daerah strategis yang
memisahkan Mesir dan Mesopotamia, seperti yang diduga (lihat 1 Raja-raja 4:21 dalam terjemahan
standar mana pun), maka catatan-catatan Mesir dan Mesopotamia sudah semestinya paling tidak
menyinggung nama-nama mereka, tetapi hal ini tidak terlihat. Sewaktu kerajaan Mesir bangkit
kembali pada abad ke-10, intervensi baru yang dilakukannya di Arabia Barat menyebabkan
terpecahnya kerajaan Israil menjadi dinasti 'Yudah' dan dinasti 'Israil' yang saling bersaingan (lihat
Bab 10). Perang saudara antara Israil ini, yang berkobar pada dasawarsa terakhir abad itu,
kemungkinan besar mengakibatkan migrasi secara besar-besaran yang pertama ke negara-negara
lain, terutama Palestina. Penjajahan yang dilangsungkan oleh bangsa Mesopotamia atas Arabia Barat
antara abad ke-9 dan ke-6 S.M., pertama-tama oleh bangsa Assyria dan kemudian oleh orang-orang
Babilonia (yang sudah merupakan bangsa Neo-Babilonia), hanya memperbesar arus migrasi ini.
Pada tahun 721 S.M. kerajaan 'Israil' di Arabia Barat itu dihancurkan oleh Raja Assyria, Sargon II,
yang menduduki ibukotanya, yaitu Samaria, (smrwn, yang kini masih berdiri dengan nama Shimran,
lihat Bab 10) dan membawa penduduk terkemukanya ke Persia sebagai tawanan.[14] Kemudian,
pada tahun 586 S.M., penguasa Babilonia, Nebuchadnezzar, memusnahkan kerajaan 'Yudah' di
Arabia Barat dan membawa ribuan penduduknya kembali ke Babilonia sebagai tawanan. Begitu
besar hasrat orang-orang Babilonia untuk menjaga kekuasaan mereka atas Arabia Barat dan untuk
mempertahankan tanah jajahan mereka itu dari usaha-usaha perebutan kembali kekuasaan atas
koloni itu oleh kerajaan Mesir (seperti yang pernah dicoba oleh Necho II, seperempat abad
sebelumnya), sampai-sampai pengganti Nebuchadnezzar, yaitu Nabodinus, memindahkan
ibukotanya dari Babilonia ke Teima (Tayma') di Hijaz Utara dan seperti yang kita ketahui, ia lebih
lama menjalankan pemerintahannya di daerah itu.
Sampai pada waktu itu, kemungkinan kehadiran orang-orang Yahudi di Palestina telah bersifat
permanen. Keadaan orang-orang Israil yang menyedihkan di Arabia Barat mungkin mendatangkan
harapan kaum Yahudi di sana akan hidup lebih baik di koloni Yahudi yang baru - di 'putri Zion' dan
'putri Yerusalem' (dengan kata lain, Zion dan Yerusalem baru di Arabia Barat, lihat Bab 9) seperti
halnya orang-orang Eropa yang pada abad ke-17 dan ke-18 kecewa akan kehidupan mereka di
daratan Eropa, dan mengharapkan akan kehidupan yang lebih baik di koloni mereka yang baru, yaitu
Amerika. Pengharapan orang-orang Eropa pada waktu itu dikemukakan oleh Goethe dalam kalimatkalimatnya yang sering dikutip:
Amerika, engkau memiliki yang lebih baik
Daripada yang dimiliki benua kami, yang lama.
Jauh sebelumnya, mungkin orang-orang Yahudi di Arabia Barat menyuarakan pengharapan yang
serupa, pada suatu waktu antara abad ke-8 dan ke-5 S.M., membicarakan, barangkali, tentang dunia
baru mereka di Palestina, seperti yang berikut ini:
Dan engkau, wahai Menara Kawanan Domba,
Hai Bukit putri Zion,
Kepadamu akan datang
Dan akan kembali pemerintahan
Yang dahulu,
Kerajaan putri Yerusalem.
(Mikha 4:9)[15]
Dan juga dalam kata-kata ini:
Putri gadis Zion
Membencimu,[16] memperolok-olokkan engkau
Dan putri Yerusalem
Menggeleng-gelengkan kepala di belakangmu
Dan orang-orang yang terluput di antara kaum Yudah
Yaitu orang-orang yang tertinggal,
Akan berakar ke bawah,
Dan menghasilkan buah ke atas;
Sebab dari Yerusalem akan keluar orang-orang yang tertinggal,
Dan dari Gunung Zion orang-orang yang terluput;
Semangat Penguasa Sabaoth,[17] akan melakukan hal ini.
(Yesaya 37:22b, 31-32; juga 2 Raja-raja 19:21b, 30-31)
Dan mungkin dalam ini pula:
Bergembiralah, wahai putri Zion;
Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai putri Yerusalem
Lihat, rajamu datang kepadamu;
Ia jaya dan menang,
Ia rendah hati dan mengendarai seekor keledai,
Seekor keledai beban yang muda.[18]
(Zakharia 9:9)
Jika ada harapan yang tertinggal untuk mendirikan kembali sebuah pemerintahan Israil yang mampu
bertahan seusainya penjajahan oleh bangsa-bangsa Assyria dan Babilonia, maka harapan ini pudar
secara tidak langsung dengan munculnya kerajaan Persia, Achaemenes, pada akhir abad ke-6 S.M.
Pada tahun 538 S.M., bangsa Persia menaklukkan Babilonia; dan pada tahun 525, mereka telah
mengalahkan Suria dan menduduki Mesir dan untuk pertama kalinya mempersatukan semua negara
yang terletak di kawasan Timur Dekat kuno, di bawah sebuah pemerintahan kekerajaan yang efisien.
Kekuasaan bangsa Persia ini juga kemudian meliputi hampir seluruh, bahkan mungkin semua,
daerah Semenanjung Arabia, tetapi aksi-aksi penjajahan mereka di Utara sangat merugikan
perdagangan kafilah antar-Arabia yang merupakan aliran utama komunitas Israil dan komunitaskomunitas kuno lainnya di Arabia Barat. Jalan-jalan besar yang diawasi, dibuat oleh Achaemenes
guna menghubungkan Persia dan Mesopotamia dengan Mesir melalui Suria, berakibatkan secara
langsung tergesernya jalur-jalur utama perdagangan menjauhi Arabia, hingga menyebabkan
kemacetan ekonomi wilayah Jazirah Arab beserta jaringan perdagangannya. Pada awal abad
berikutnya, didirikannya sebuah terusan oleh orang-orang Persia guna menghubungkan Laut Merah
dengan sungai Nil, membantu perdagangan maritim secara merugikan perdagangan kafilah Arabia
yang menuju ke arah sana. Akibat kesemuanya ini, secara menyeluruh, berkenaan dengan Arabia
Barat, mestinya sangat merusak.
Agaknya bangsa Persia sama sekali tidak bersifat memusuhi kaum Yahudi; malah kita mengetahui
bahwa mereka membela kaum itu. Maka dari itu, dengan mendapatkan izin dari pemerintah Persia,
sekitar 40.000 orang keturunan tawanan-tawanan Israil di Persia dan Mesopotamia kembali ke
Arabia Barat dengan membawa perabot rumah tangga mereka, dengan tujuan untuk membangun
kembali perkampungan mereka di sana. Tetapi malang bagi mereka, orang-orang Israil ini kecewa
dengan apa yang mereka temukan di sana, di mana-mana sekeliling mereka terdapat kemiskinan dan
kehancuran yang menyedihkan. Yang terjadi selanjutnya hanya dapat menurut perkiraan saja, karena
sampai di sini Kitab Bibel Ibrani itu tidak melanjutkan lagi kisah-kisah yang bersejarah. Tetapi ada
suatu hal yang dapat dipastikan, yaitu belum ada perkampungan Israil yang berhasil didirikan
kembali di tanah asal mereka di Arabia Barat, meskipun agama Yahudi tetap ada di sana dan di
Arabia Selatan, bahkan sampai kini. Sebagian besar orang-orang Israil yang kembali pada periode
Achaemenid mestinya berhasil kembali ke Mesopotamia dan Suria, atau berpencar. Sejak saat itu
sampai dengan dihancurkannya Yerusalem di Palestina oleh bangsa Rumawi pada tahun 70 M., arus
utama sejarah kaum Yahudi terpusatkan di sekitar Palestina. Mengenai asal mulanya Yudaisme di
Arabia Barat agaknya telah dilupakan.
1. DUNIA YAHUDI KUNO (3/4)
Kemungkinan besar terhapusnya kenangan mengenai sejarah mereka di Arabia Barat dalam jangka
waktu yang relatif singkat --mungkin tak lebih dari dua atau tiga abad-- disebabkan oleh adanya
suatu perubahan bahasa, yang pada abad ke-6 S.M. telah menguasai Arabia, Suria dan Mesopotamia.
Seperti kita ketahui, dialek-dialek bahasa Kanaan sebagai bahasa Bibel Ibrani, telah banyak dipakai
di Arabia Barat dan Suria masa itu bersama-sama dengan dialek-dialek bahasa Aram. Kitab-kitab
suci Yahudi, kecuali beberapa bagian kitab-kitab karangan nabi-nabi yang kemudian, ditulis dalam
bahasa Ibrani, bukan bahasa Aram. Tetapi, setelah kira-kira tahun 500 S.M., bahasa Kanaan telah
jarang dipergunakan, bahkan mungkin telah punah di Arabia dan Suria; tergeser oleh ballasa Aram
yang telah menyebar sampai ke Mesopotamia. Di bawah Achaemenes bahasa Aram bahasa resmi
pemerintahan kerajaan Persia dan menjadi lingua franca wilayah Timur Dekat. Pergantian bahasa di
kawasan ini terus berlanjut sampai pada abad-abad berikutnya, yang sebegitu jauh sebagai logat
bahasa Semit yang mulai bersaing dengan bahasa Aram di berbagai kawasan di Timur Dekat.[19]
Sampai pada abad-abad permulaan zaman penyebaran agama Nasrani, bahasa Arab, yang pada
mulanya merupakan bahasa suku-suku penggembala padang pasir Syro-Arabia, telah menggantikan
bahasa Aram di sebagian besar Arabia dan Suria serta Mesopotamia, dan pada abad ke-7 atau ke-8
M. hanya tinggal beberapa tempat saja yang masih memakai bahasa di daerah itu. Di Arabia Barat
kedua penggeseran bahasa itu dapat dilihat melalui beberapa nama tempat, terutama kota kuno
Zeboiim (sbym atau sbyym, bentuk jamak sby, dalam bahasa Ibrani, yang berarti 'gazelle' (semacam
kijang), tergantung pada penyuaraannya). Kota Zeboiim, seperti yang akan dibahas pada Bab 4,
menandakan dua kota kembar di daerah pesisir Jizan (Gizan) di daerah pantai sebelah Asir selatan.
Kedua kota ini kini masih ada dengan nama Sabya (sby) dan Al-Zabyah (zby). Sabya adalah bentuk
bahasa Aram yang telah ditambah akhiran. Sedangkan Al-Zabyah adalah bentuk bahasa Arab dari
kata yang sama (sby) dengan kata sandang tertentu bahasa Arab yang telah diberi akhiran. Dengan
demikian itulah nama-nama tempat itu menghentikan segala proses sejarah.
Suatu hal yang sama pentingnya dengan kesimpulan yang telah saya tarik mengenai identitas namanama tempat di Arabia Barat dan di negeri-negeri yang dijangkau Bibel ialah dengan punahnya
bahasa Bibel Ibrani sebagai bahasa lisan maka pembacaan kitab-kitab suci Yahudi itu menjadi suatu
problema. Bahasa Ibrani, seperti kebanyakan bahasa Semit, ditulis dalam bentuk konsonan dan harus
diberi tanda-tanda vokal jika kita hendak memahaminya, seperti sudah saya sebutkan. Suatu
kekecualian adalah bahasa Akkadia, yaitu bahasa Mesopotamia kuno, yang tulisan kuneiformnya
ditulis menurut suku kata bukan menurut alfabet. Perlu diingatkan bahwa bahasa Ibrani kuno harus
dimengerti terlebih dahulu sebelum diberi vokal menggunakan tanda-tanda vokal yang tepat dan
dengan menggunakan konsonan-konsonan ganda. Oleh sebab itu, pada permulaan era Achaemenid
orang-orang Yahudi Palestina dan Babilonia, karena mereka tidak mengetahui bagaimana tulisantulisan Ibrani itu seharusnya dibaca, tampaknya mereka mendasarkan penambahan-penambahan
vokal terhadap tulisan-tulisan itu kepada bahasa Aram yang mereka pakai.[20] Di dalam teks-teks
yang mereka akui terdapat banyak nama tempat yang berhubungan dengan lokasi-lokasi di Arabia
Barat yang asing bagi mereka. Terlebih lagi, di Arabia Barat sendiri, kaum Yahudi pada sekitar
tahun 500 S.M. telah mengalami kemunduran, sehingga tidak ada lagi orang-orang yang cukup
terpelajar di antara mereka untuk membenarkan sesama kaum Yahudi dari Palestina dan Babilonia
dalam tafsiran geografis mereka. Pula, orang-orang Yahudi dari Arabia Barat ini hanya beragama
Yahudi saja dan tidak merupakan kelompok etnis ataupun mempunyai pandangan politik orangorang Israil; dan mereka tidak lagi berbahasa Ibrani kuno, dan dalam waktu yang singkat bahasa
mereka berubah menjadi bahasa Arab. Sudah pasti orang-orang Yahudi di Arabia Barat masih
mempunyai kenangan mengenai kehidupan mereka yang dahulu sebagai bangsa Israil; [21] akan
tetapi menjelang akhir era Achaemenid, hubungan mereka dengan kaum Yahudi lainnya di luar
Arabia tidak teratur dan mereka mengalami kesulitan dalam menyampaikan secara efisien apa yang
mereka ingat. Pada waktu umat-umat Yahudi Palestina dan Babilonia menetapkan bentuk-bentuk
pembacaan Kitab Bibel Ibrani dengan mempergunakan tanda-tanda vokal, yang dimulai pada sekitar
abad ke-16 M. (lihat Bab 2), telah lama orang meninggalkan pemakaian bahasa Ibrani atau dialekdialek bahasa Kanaan lainnya, dan asal mula Yudaisme di Arabia pun telah lama dilupakan.
Faktor lain yang mungkin menyebabkan kaum Yahudi melupakan sejarah mereka di Arabia Barat
bersangkutan dengan perkembangan politik di Arabia Barat dan juga di Palestina setelah runtuhnya
kerajaan Israil kuno. Di Arabia Barat, kemunduran yang dialami kerajaan Achaemenid yang sudah
mulai terlihat pada tahun 400 S.M., mendorong munculnya perkumpulan-perkumpulan politik baru,
terutama perkumpulan politik bangsa Minaean (Ma'in), di daerah tempat kerajaan Israil pernah
berjaya. Karena tersebar di antara perkumpulan-perkumpulan politik baru ini, yang beberapa di
antaranya dibentuk secara politis sebagai kerajaan-kerajaan, kaum-kaum Yahudi Arabia Barat
kehilangan sifat nasionalisme mereka. Perkembangan di Palestina agaknya berbeda dengan yang
terjadi di Arabia Barat. Sampai pada tahun 330 S.M., penjajahan Alexander Agung telah
menghancurkan kerajaan Persia; setelah wafatnya Alexander panglima-panglimanya mendirikan
kerajaan-kerajaan baru di daerah yang dahulunya merupakan wilayah-wilayah kekuasaan kerajaan
Achaemenid. Salah satu dari kerajaan Hellenis ini adalah kerajaan Ptolemi dengan pusatnya di Mesir
yang beribukotakan Alexandria. Satu lagi kerajaan yang terbentuk adalah kerajaan Seleucid, yang
akhirnya berpusatkan di daerah Suria dan ibukotanya di Antioch. Penguasaan atas Palestina pada
mulanya diperebutkan antara, kerajaan Ptolemi dan Seleucid, dan akhirnya jatuh ke tangan kerajaan
Seleucid; akan tetapi kerajaan Ptolemi tidak putus harapan dalam tekadnya untuk menguasai kembali
atau mempengaruhi negara itu. Pada abad ke-2 S.M., orang-orang Yahudi Palestina mempergunakan
kesempatan yang ada selagi adanya pertikaian atas tanah mereka, dan mereka mengadakan suatu
pemberontakan (yang dimulai pada tahun 167 S.M.) dan berhasil memerdekakan negara mereka dari
kekuasaan pemerintahan kerajaan Seleucid pada tahun 142 atau 141 S.M. Para pemimpin
pemberontakan ini, yang berasal dari perkumpulan kependetaan Hasmonia (Hasmonaean),
mengambil alih kekuasaan atas Yerusalem Palestina; di tempat ini terdapat kuil yang pada waktu itu
mungkin sudah dianggap kaum Yahudi sedunia sebagai tempat perlindungan yang tersuci. Dengan
bergerak melalui serangkaian aksi-aksi militer yang sukses, orang-orang Hasmonia ini juga
memperluas wilayah kekuasaan kaum Yahudi di Palestina, sehingga akhirnya tidak hanya seluruh
negeri itu saja yang dikuasainya, bahkan juga bagian Selatan Galilee di Utara dan daerah perbukitan
sebelah Timur sungai Yordan dan Laut Mati.
Orang-orang Hasmonia ini, pada era mereka, menganggap diri mereka sebagai keturunan sah bangsa
Israil kuno, dan kerajaan mereka bertahan sampai pada kedatangan bangsa Rumawi pada tahun 37
S.M., yang menyusun kembali daerah kekuasaan mereka sebagai 'client-kingdomnya' kerajaan
Rumawi dengan nama 'Judaea' yang artinya 'tanah kaum Yahudi', dengan Herod Agung (wafat pada
tahun 4 S.M.) sebagai raja. Herod ini kemudian memperbaiki kuil Yerusalem Palestina, yang
kemudian dihancurkan oleh bangsa Rumawi sewaktu mereka merampok kota itu pada tahun 70 M.,
dan mengakibatkan tersebarnya penduduk Judaea. Tak lama kemudian, bangsa Rumawi, di bawah
pimpinan Hadrian, membangun kembali kota ini dan menamakannya Aelia Capitolina, nama Aelius
diambil dari salah satu nama Hadrian. Akan tetapi ada pula kemungkinan bahwa nama ini adalah
bentuk Semit dari nama Aelia, yang merupakan nama asli tempat ini sebelum diberi nama
Yerusalem, untuk mengingatkan kembali pada kota Yerusalem di Arabia Barat. Aelia, dalam bentuk
Semit aslinya dapat berarti 'benteng' (bandingkan dengan kata 'yl dalam bahasa Ibrani, yang berarti
kekuatan), walaupun ini belum dapat dipastikan. Namun, yang dapat dipastikan adalah bahwa orangorang Arab pada zaman dahulu mengenal kota ini bukan dengan nama Yerusalem, melainkan Iliya
('yly') sebelum mereka memanggilnya 'tempat suci', Bayt al-Muqqadas, Bayt al-Maqdis ataupun
hanya al-Quds.
Tanpa mempermasalahkan nama asli kota Yerusalem Palestina, kota ini kemudian telah dikenal
sebagai kota Yerusalem Daud dan Sulaiman yang asli pada era Hasmonia dan bahkan mungkin jauh
sebelumnya. Sama halnya dengan Palestina yang pada waktu yang sama telah dikenal sebagai tanah
asal Bibel Ibrani. Dan pada saat itu pun sudah ada anggapan yang kuat bahwa lokasi-lokasi geografis
dari cerita-cerita bersejarah dalam Kitab Bibel sebagian besar hanya mencakup bagian Utara dari
daerah Timur Dekat, yaitu Mesopotamia Suria dan Mesir, bukan Arabia Barat.
Ada kemungkinan sebuah kerajaan Yahudi di Arabia pada era orang-orang Hasmonia, yaitu kerajaan
Himyar di Yaman yang mengalami kemakmuran dari tahun 115 S.M. sampai abad ke-6 M. Dua
orang raja Himyar terakhir diketahui sebagai penganut-penganut agama Yahudi, tetapi kesalahan
mereka sampai kini belum dapat dijelaskan secara meyakinkan. Tidak ada bukti-bukti bahwa mereka
adalah umat Yahudi, seperti apa yang dikatakan oleh tradisi kuno Arab. Sejarawan Flavius Josephus,
akan kita bicarakan nanti, sadar akan adanya orang-orang Yahudi kuno di Arabia, tetapi ia tidak
memberi penjelasan mengenai hal ini. Orang-orang Hasmonia mungkin sengaja menafsirkan
kembali lokasi-lokasi geografis dalam Bibel berkenaan dengan Palestina guna mengesahkan status
mereka sebagai orang Yahudi, jika status mereka diragukan oleh para raja Yahudi Arabia di Himyar.
Tentu saja ini hanya merupakan sebuah dugaan saja, akan tetapi berkenaan dengan argumentasi
saya, hal ini sangat mungkin terjadi.
Apakah adanya sebuah kerajaan Yahudi di Yaman atau tidak, bukanlah hal yang amat penting, tetapi
dari kitab Septuaginta, yaitu terjemahan kitab-kitab Yahudi ke dalam bahasa Yunani yang dibuat
pada era kerajaan Yunani Kuno dan pada awal era kerajaan Rumawi, jelas terbukli bahwa pada
zaman Hasmonia itu Arabia Barat tidak lagi dipandang sebagai tanah asal Kitab Bibel Ibrani. Ini
jelas terlihat dalam bagaimana nama-nama topografis Arabia Barat seperti ksdym, nhrym, prt dan
msrym, berubah masing-masing menjadi Kaldia (Chaldaean), Mesopotamia, Efrat dan Mesir. [22]
Lebih lagi, kita dapat mendapatkan bukti-bukti tambahan untuk memperkuat dugaan ini melalui
gulungan-gulungan kertas dari Laut Mati (Dead Sea scrolls). Di sini kita menemukan suatu karya
orang Aram yang mendetil dari sebuah tulisan di dalam Kitab Bibel yang menyebutkan nama-nama
tempat di sebelah Utara daerah Timur Dekat.
1. DUNIA YAHUDI KUNO (4/4)
Karena begitu besar kesuksesan politik kaum Yahudi di Palestina, yang berlangsung selama 200
tahun, maka dalam waktu yang singkat saja telah terhapus semua kenangan mengenai tanah Arabia
Barat sebagai tanah asal Israil. Josephus, dalam karyanya The Antiquities of the Jews --yang
merupakan bangsanya sendiri-- tidak lama setelah tahun 70 M., menganggap Palestina adalah tanah
asal mereka, dan sejak waktu itu tidak ada yang menyimpang dari dugaan ini yang agaknya memang
masuk akal. Berabad-abad kaum Yahudi dan Kristen yang berziarah mengikuti jejak pengembaraan
para nabi dan nenek moyang Israil mereka melintasi tanah bagian Utara Timur Dekat, antara sungai
Furat dan sungai Nil, dan mengenali lokasi-lokasi bersejarah menurut Bibel dengan kota-kota atau
reruntuhan di Palestina. Saat ini arkeologi Bibel didasarkan pada daerah yang sama, dan para
sejarawan masih melanjutkan penelitian mereka terhadap sejarah dunia Bibel pada zaman Bibel -yang bertentangan dengan sejarah kaum Yahudi, di Palestina dan bukan di Arabia Barat.
Sebagai akibat, jika seseorang meneliti kembali kepustakaan yang telah dibuat oleh para sarjana dan
ahli-ahli purbakala dalam 100 tahun belakangan ini, kita sadar akan adanya suatu ironi: beberapa
teks Bibel Ibrani tetap diperdebatkan, namun geografinya tidak diganggu gugat lagi. Jadi
kenyataannya, biarpun daerah Utara wilayah Timur Dekat telah diselidiki dengan seksama oleh
serangkaian generasi ahli-ahli purbakala, dan setelah adanya penemuan, penelitian dan penanggalan
atas peninggalan-peninggalan dari berbagai peradaban yang telah dilupakan, belum ada bukti yang
jelas yang diketemukan yang berhubungan langsung dengan sejarah dunia Bibel.[24] Lagi pula dari
ribuan nama tempat yang tertera dalam Kitab Bibel Ibrani, hanya beberapa di antaranya yang secara
linguistik dapat diidentifikasikan. Ini sangatlah luar biasa, mengingat nama-nama tempat di sana,
seperti di seluruh Suria, selama sebagian besar zaman kuno adalah dalam bentuk bahasa Kanaan dan
Aram dan bukan dalam bentuk bahasa Arab. Bahkan dalam beberapa kasus tempat-tempat di
Palestina memakai nama-nama menurut Bibel, koordinat tempat-tempat tersebut menurut
perhitungan jarak atau letaknya pun tidak cocok dengan lokasi-lokasi di Palestina. Sebuah kejadian
yang patut diperhatikan berkenaan dengan Beersheba di Palestina (lihat Bab 4), sebuah kota yang
namanya terkemuka di dalam kisah-kisah kitab Kejadian, dan karena itu asal mula kota ini mestinya
paling tidak dari akhir Zaman Perunggu, tempat penggalian arkeologis menemukan persis di tempat
itu barang-barang kuno yang bertanggal paling tidak dari akhir periode kerajaan Rumawi.
Karena seluruh sejarah Timur Dekat kuno sebagian besar diselidiki berhubungan dengan penelitian
atas Bibel Ibrani, maka sejarah ini sampai sekarang masih banyak mengandung ketidakpastian,
seperti halnya dengan 'Ilmu Pengetahuan Bibel' modern. Catatan-catatan kuno Mesir dan
Mesopotamia, jika dibaca dengan bantuan teks-teks Kitab Bibel yang kiasan-kiasan topografisnya
dianggap berhubungan dengan Palestina, Suria, Mesir atau Mesopotamia, telah secara teliti
disesuaikan dengan prasangka-prasangka para ahli sejarah Kitab Bibel. Cara yang sama seperti itu
juga diterapkan dalam penterjemahan catatan-catatan kuno (seperti catatan-catatan kuno dari Ibla, di
sebelah utara Suria), yang oleh para arkeolog masih ditemukan di negara-negara di Timur Dekat.
Bangsa-bangsa kuno Timur Dekat seperti bangsa Filistin, bangsa Kanaan, bangsa Aram, bangsa
Amorite, bangsa Horite, bangsa Hittit (berbeda dengan bangsa kuno dari Suria Utara dengan nama
yang sama) dan bangsa-bangsa lainnya, tanpa adanya bukti-bukti yang kuat telah ditentukan secara
geografis pada daerah-daerah yang bukan merupakan wilayah-wilayah mereka. Lebih lagi, sejumlah
bangsa ini, yang namanya berasal dari teks-teks Bibel, di tentukan secara tidak benar sebagai
pemakai bahasa-bahasa yang sebenarnya tidak mereka pakai, atau sebaliknya. Sarjana-sarjana
modern tetap bersikeras, misalnya, bahwa bangsa Filistin dalam Bibel merupakan orang-orang laut
'non-Semit' yang misterius, dan hal ini sangatlah aneh mengingat bahwa nama-nama kepala suku dan
bahwa dewa mereka, Dagon, (dgn, yang berarti 'jagung, padi') di dalam teks-teks Bibel adalah namanama 'Semit' (yang jelas merupakan nama-nama Ibrani).
Walaupun banyak masalah seperti di atas yang masih kurang jelas dan masih dapat diperdebatkan,
namun ada dua hal yang sudah dapat dipastikan. Pertama, belum diketemukan bukti-bukti mengenai
asal mulanya orang-orang Iberani di Mesopotamia dan dugaan mengenai adanya migrasi orangorang ini dari Mesopotamia menuju ke Palestina dengan jalan melewati Suria Utara. Kedua, sampai
kini belum ada tanda-tanda yang ditemukan mengenai adanya tawanan orang-orang Israil di Mesir,
walaupun pernah adanya dalam sejarah, suatu emigrasi besar-besaran orang-orang Israil dari Mesir.
[25] Kita juga dapat mencatat, secara sepintas, bahwa para ahli Bibel itu masih memperdebatkan
masalah keluarnya kaum Israil dari Mesir menuju ke Palestina melewati Sinai yang belum terbukti
secara memuaskan (mengenai hal ini, lihat observasi terhadap Gunung Horeb, Bab 2).
Dengan penemuan-penemuan yang telah saya dapati, ini bukanlah suatu hal yang mengagetkan. Para
ahli Bibel telah mencari bukti-bukti di tempat yang salah. Mereka menganggap geografi Bibel Ibrani
benar dan meragukan kebenarannya sebagai kitab sejarah. Menurut hemat saya, cara yang lebih
produktif ialah dengan membenarkan isi sejarah Bibel Ibrani dan meragukan isi geografinya, seperti
yang telah saya lakukan pada halaman-halaman yang berikut. Di antara golongan-golongan orang
Timur Dekat, nampaknya hanya kaum Israil saja yang mempunyai kesadaran tajam akan sejarah,
atau setidak-tidaknya merupakan satu-satunya yang memahami dan menceritakan sejarah mereka
secara lengkap dan mudah dimengerti. Kitab-kitab suci mereka, pada hakekatnya merupakan potret
diri bersejarah yang digambarkan secara jelas dan mendetil. Memang benar bahwa kisah-kisah
dalam kitab Kejadian lebih bersifat proto-historikal daripada historikal, dan lebih merupakan
catatan-catatan tentang orang Israil dan anggapan mereka sebagai bangsa itu daripada tentang asal
mula mereka. Tapi tidaklah mustahil bahwa leluhur Ibrani orang-orang Israil itu pada suatu waktu
berasal dari sebuah suku yang terperangkap dan dipaksa kerja di suatu tempat yang bernama msrym
--yang mungkin bukan Mesir; kalau mereka mengadakan migrasi besar-besaran dari tempat itu, di
bawah seorang pemimpin yang bernama Musa yang mengatur mereka dalam suatu kelompok
keagamaan dan memberi mereka hukum-hukum yang harus diperhatikan oleh mereka; kalau mereka
melintasi sebuah tempat yang bernama h-yrdn --yang mungkin bukan sungai Yordan-- di bawah
pimpinan seseorang yang bernama Yosua, untuk menetap di suatu tempat dan di situ mereka
akhirnya mencapai suatu penguasaan politik atas daerah itu; kalau mereka tinggal di sana untuk
beberapa waktu sebagai suatu konfederasi yang longgar dari suku-suku di bawah pimpinan kepalakepala suku yang disebut 'Hakim-hakim', dan terus menerus berperang dengan suku-suku dan
kelompok-kelompok lain yang tinggal di antara mereka, kalau mereka pada akhirnya tersusun secara
politis menjadi sebuah 'kerajaan' di bawah pimpinan Saul; kalau kerajaan ini dikembangkan dan
diberi suatu penyusunan dasar oleh Daud, yang selain seorang prajurit yang ulung juga merupakan
seorang penyair, dan mencapai puncak kejayaannya di bawah Sulaiman anak Daud, seseorang yang
terkenal akan kearifan dan kepandaiannya. Memang semestinya jika tidak ada orang yang
meragukan bahwa seluruh sejarah Israil, setelah wafatnya Sulaiman, berjalan seperti yang tertulis
dalam Kitab Bibel Ibrani. Tetapi jika kita menganggap bahwa segenap kejadian dalam sejarah ini
berlangsung di Palestina, dan mempelajari Bibel menurut anggapan ini, maka akan timbul
kebingungan dan sejumlah pertanyaan yang tak mampu terjawab akan tak terhitung lagi banyaknya.
Kalau saja kita menggeser geografi dalam Bibel dari Palestina ke Arabia Barat, maka tidak banyak
kesukaran yang akan tersisa. Kalau kita menimbang kembali catatan-catatan kuno Mesir, Babilonia
dan Suria menurut konteks geografi ini, maka semuanya akan cocok pada tempat mereka. Panorama
sejarah dalam Bibel Ibrani yang sendirinya menceritakan kisah lengkap sebuah bangsa Timur Dekat,
menjadi petunjuk terhadap penyelesaian teka-teki rumit sejarah Timur Dekat kuno,[26] dan bukan
panorama sejarah itu sendiri yang merupakan sebuah teka teki yang rumit.
Seluruh argumentasi dalam bab pengenalan ini berpusat pada dalil yang menyatakan bahwa tanah
asal Israil dan tanah kelahiran Yudaisme adalah Arabia Barat, bukan Palestina. Dalam buku ini
contoh teks-teks dari Kitab Bibel akan diuraikan dengan cara menyelidiki nama-nama tempat secara
toponimis guna membuktikan kebenaran dalil ini --suatu fakta yang semoga sewaktu-waktu akan
dapat diperkuat oleh penemuan-penemuan arkeologis pada lokasi-lokasi tersebut. Secara ideal,
seluruh teks Bibel Ibrani seharusnya diuraikan dengan cara yang sama seperti di atas, akan tetapi ini
memerlukan jangka waktu yang sangat lama sekali. Andaikata para pembaca bingung dengan apa
yang dikatakan oleh buku ini, perlu dijelaskan bahwa walaupun Bibel Ibrani menceritakan sejarah
orang-orang Israil kuno di Arabia Barat, bukan berarti agama Yahudi tidak mempunyai dasarnya di
Palestina, karena sebenarnya dasarnya adalah di sana. Kitab Bibel Ibrani yang ditulis di Arabia Barat
lebih banyak berkenaan dengan urusan-urusan kaum Israil di daerah itu, dan bukan dengan kaum
Yahudi di tempat-tempat lain.
Seperti yang telah dikatakan tadi, ada petunjuk-petunjuk dari Kitab Bibel mengenai tumbuhnya
sebuah pemukiman Yahudi yang kuat di Palestina yang dimulai pada sekitar abad ke-10 S.M. Ada
pula bukti-bukti yang berupa dokumentasi-dokumentasi yang didapat dari luar Bibel Ibrani yang
membuktikan adanya orang-orang Yahudi di negara-negara Timur Dekat --seperti daerah Utara
Mesir[27]-- sejak zaman kuno. Teks-teks kanonik Bibel Ibrani, yang mereka membicarakan cukup
mendetil tentang orang-orang Yahudi di luar Arabia Barat, hanya melakukannya sehubungan dengan
penawanan orang-orang Israil oleh kerajaan Babilonia. Rekonstruksi sejarah Yahudi yang mulamula di Palestina tidak mungkin didapat melalui teks-teks ini, ataupun melalui catatan-catatan lain
yang ada sampai sekarang.
2. MASALAH METODE
Dalam mempelajari sesuatu kita harus belajar melupakan; didalam bidang penyelidikan Kitab Bibel
ini sangat mutlak. Karena bahasa yang dipakai dalam Bibel Ibrani telah lama tidak dipergunakan
lagi, beberapa waktu setelah abad ke-6 atau ke-5 S.M., maka tidak mungkin kita mengetahui
pengucapan serta pemberian tanda vokal aslinya seperti yang dipergunakan orang-orang dahulu itu.
Kita pun tidak mengetahui apa-apa tentang orthografi, tatabahasa, sintaksis serta langgam suaranya.
Perbendaharaan kata di Kitab Bibel Ibrani yang kita ketahui sangat terbatas pada kata-kata yang
tertera dalam teks-teks Kitab Bibel itu.
Memang benar, bahasa Ibrani para rabbi (pendeta Yahudi) telah memperlengkapi kita dengan
perbendaharaan kata dari Bibel Ibrani yang sebagian didasarkan pada perbendaharaan kata kuno
Kitab Bibel dan sebagian lagi dipinjam dari bahasa Aram dan bahasa-bahasa lain. Akan tetapi kita
harus mengingat bahwa bahasa Ibrani para rabbi Yahudi itu bukanlah suatu bahasa lisan; bahasa ini
merupakan suatu bahasa kesarjanaan saja. Lagi pula, banyak kata di dalam Kitab Bibel yang hanya
timbul sekali atau dua kali saja sehingga arti kata-kata itu masih dapat diperdebatkan.[1] Oleh sebab
itu, untuk membaca dan mengerti Bibel Ibrani kita harus melakukannya menurut tradisi para pendeta
Yahudi atau dengan cara mempelajari bahasa-bahasa Semit lainnya yang masih dipakai. Saya telah
memakai cara yang kedua, mendasarkan penafsiran saya pada bahasa Arab, dan dalam beberapa hal
pada bahasa Suryani, yang merupakan bentuk modern bahasa Aram kuno. Pendeknya, saya telah
memperlakukan bahasa Ibrani sebagai bahasa yang sebenarnya sudah tak dikenal lagi dan yang perlu
diungkapkan kembali, bukan lagi sebagai bahasa yang teka-teki dasarnya telah dipecahkan.
Berkat kejujuran kesarjanaan kaum Masoret atau tradisional Yahudi, teks-teks dalam bentuk
konsonan Bibel Ibrani itu telah diturunkan kepada kita dari zaman kuno dalam keadaan yang hampir
dalam keadaan utuh. Sayang, sarjana-sarjana modern jarang yang menghargai hal ini. Seringkali,
bila mereka gagal dalam memahami sebuah kutipan dari Kitab Bibel, karena prasangka-prasangka
terhadap konteks geografisnya, mereka dengan salah menganggap bahwa teks-teks itu telah diubah,
seperti halnya seorang pekerja yang tidak terampil menyalahkan alat-alatnya. Memang benar,
beberapa kitab dalam Bibel Ibrani itu merupakan kumpulan sumber naskah yang lebih tua dan yang
telah disusun kembali. Ini tidak diragukan lagi. Tetapi mungkin saja berbagai kitab teks Bibel
kanonik yang ada pada kita, telah dalam bentuknya yang sekarang ini sebelum runtuhnya kerajaan
Israil, yaitu paling lambat pada abad ke-5 atau ke-6 S.M. Dugaan ini timbul dengan adanya
kenyataan bahwa Bibel Ibrani telah diterjemahkan secara keseluruhan ke dalam bahasa Aram (kitabkitab Targum) pada zaman Achaemenid, dan ke dalam bahasa Yunani (kitab Septuaginta) pada awal
periode Hellenis. Gulungan kertas Laut Mati, yang telah begitu banyak menarik perhatian dalam
dasawarsa belakangan ini, jauh lebih muda dibandingkan dengan kedua terjemahan itu. Oleh sebab
itu gulungan kertas Laut Mati mungkin dapat berguna dalam studi mengenai agama Yahudi
Palestina pada zaman Rumawi; akan tetapi tidak akan dapat banyak menolong dalam pemecahan
teka-teki Kitab Bibel Ibrani.
Kita kini mengetahui bahwa Bibel Ibrani yang mula-mula ditulis dalam bentuk konsonan. Kemudian
diberi vokal, dengan mempergunakan tanda-tanda vokal khusus, oleh kaum Masoret Palestina dan
Babilonia antara abad ke-6 dan ke-9 atau ke-10 tahun Masehi. Dengan kata lain, mereka yang
melakukan ini sebenarnya menyusun kembali sebuah bahasa yang telah tidak dipergunakan lagi
selama seribu tahun atau lebih. Kaum Masoret ini apakah mereka berbahasa Aram atau tidak,
melakukan tugas mereka dengan seluruh pengetahuan yang mereka miliki. Karena mereka
menghormati Bibel sebagai kitab suci, maka dapat dipastikan bahwa mereka berhati-hati agar tidak
mengubahnya, dan membiarkan teks konsonannya seperti apa adanya, sekalipun mereka menemukan
sebuah kutipan yang menurut mereka tidak masuk akal. Mereka hanya mencatat bilamana ada atau
sepertinya ada kejanggalan-kejanggalan dalam ejaan atau tata bahasa, dan tampaknya tidak ada
usaha-usaha yang disengaja untuk membetulkan kejanggalan-kejanggalan itu. Ironisnya, jika para
ahli Bibel modern berhati-hati seperti halnya para leluhur Masoret mereka, maka Ilmu Pengetahuan
Bibel modern tidak akan membingungkan seperti sekarang ini, dan proses mempelajari yang
sebenarnya bidang ini tidak perlu begitu banyak melupakan apa yang telah diketahui.
Teks-teks suci, pada umumnya, dipelihara dalam bentuk aslinya oleh mereka yang taat dan setia
dalam agama apa pun, sehingga hampir tidak berubah. Diturunkan melalui tradisi, seperti halnya
teks-teks suci, nama-nama tempat juga jarang berubah, paling tidak dalam struktur dasarnya,
beberapa pun lamanya proses penurunan ini berlangsung. Jarang sekali nama-nama itu diubah, akan
tetapi jika ini terjadi, nama-nama tua itu tetap dikenang oleh masyarakat, dan lebih sering
dipergunakan kembali pada suatu saat.
Bertahannya nama-nama tempat inilah yang memungkinkan saya untuk melakukan suatu analisa
toponimis, dan terkadang memberi lebih banyak informasi mengenai geografi Bibel Ibrani daripada
yang dapat kita peroleh melalui arkeologi. Dalam hal-hal tertentu, studi mengenai nama-nama
tempat dan arkeologi mempunyai tujuan yang sama kecuali dalam satu perbedaan yang penting.
Kalau penemuan-penemuan arkeologis itu bisu, jika terdapat inskripsi-inskripsi apa pun adanya,
maka nama-nama tempat dapat berbicara dengan jelas. Maksud saya, bukan hanya memberitahu kita
apa sebenarnya nama-nama tempat itu, bagaimana diucapkan, apa arti dan dari bahasa atau jenis
bahasa mana asalnya. Tanpa adanya inskripsi, penemuan-penemuan arkeologi sangatlah sulit untuk
ditafsirkan, begitu sulitnya sampai-sampai pertengkaran di antara para arkeolog, mengenai arti
sejarah suatu penemuan tertentu, seringkali memburuk menjadi permusuhan pribadi. Walaupun
nama-nama tempat tidak memberikan informasi sebanyak yang dihasilkan oleh penggalianpenggalian arkeologis, namun apa yang diberikan paling tidak merupakan suatu kepastian yang
relatif atau mutlak.
Saya akan mengemukakan sebuah contoh. Kalau seseorang menemukan sekelompok nama-nama
tempat di Arabia Barat yang berasal dari sebuah bahasa yang bentuk konsonannya sama dengan
bahasa Yahudi yang dipakai dalam Bibel atau bahasa Aram yang dipakai dalam Bibel, maka orang
itu dapat menyimpulkan bahwa bahasa-bahasa yang sama atau serupa dengan bahasa Aram atau
Yahudi Bibel pernah dipergunakan di Arabia Barat, meskipun bahasa Arablah yang merupakan
bahasa sehari-hari di sana selama 2000 tahun. Kalau dapat lebih jauh lagi dibuktikan bahwa namanama tempat menurut Bibel, apa pun asal linguistiknya, terdapat pula di Arabia Barat yang sampai
kini masih ada, sedangkan hanya sedikit yang tertinggal di Palestina, maka dapat dimaklumi jika kita
bertanya: apakah Bibel Ibrani lebih merupakan catatan mengenai perkembangan sejarah di Arabia
Barat daripada di Palestina?
Dalam suatu usaha untuk menjawab pertanyaan itu, strategi yang saya pergunakan pada halamanhalaman berikutnya adalah dengan membandingkan sekelompok nama-nama tempat Semit kuno,
yang dalam Kitab Bibel ditulis dalam ejaan Ibrani, dengan nama-nama tempat yang benar-benar ada
di Asir dan selatan Hijaz, yang oleh kamus-kamus geografi Arab Saudi modern ditulis dalam ejaan
Arab. Kira-kira sudah 3000 tahun waktu yang memisahkan bentuk Bibel itu dari nama-nama tempat
ini dengan persamaannya yang kini masih ada. Ini merupakan jangka waktu yang sangat lama, lebih
dari satu pergeseran bahasa yang mestinya terjadi di daerah-daerah di Timur Dekat, apalagi dengan
adanya peralihan dialek-dialek pada setiap tahap. Maka dari itu, bagi saya yang mengherankan
adalah bukan kenyataan bahwa nama-nama tempat menurut Bibel telah mengalami perubahan; tetapi
bahwasanya nama-nama itu tetap ada dalam bentuk Arab yang mudah dikenali.
Adalah wajar jika nama-nama tempat menurut Bibel di Arabia Barat telah mengalami perubahan
pada fonologi dan morfologinya, setelah hampir 3000 tahun. Pada awal buku ini, sebuah catatan
yang berjudul 'Perubahan bentuk Konsonan, menunjukkan bagaimana konsonan-konsonan tertentu
dalam bahasa Ibrani dapat menjadi konsonan-konsonan lain dalam bahasa Arab dan sebaliknya.
Catatan yang sama memperlihatkan pula seringnya terjadi metatesis (pindahnya huruf-huruf
konsonan dalam suatu kata) antara bahasa-bahasa Semit dan bahkan antara dialek-dialek dalam
bahasa yang sama. Sebagai tambahan dari perubahan yang disebabkan oleh peralihan-peralihan
bahasa dan dialek-dialek ini, kita perlu memperhatikan pula distorsi yang disebabkan oleh ditulisnya
nama-nama tempat tersebut dalam bahasa Ibrani Bibel dan dalam bahasa Arab modern.
Bahasa tulisan (dengan cara menggunakan huruf-huruf abjad atau dengan cara lain) hanya dapat
mengira-ngira saja fonetik dari sebuah percakapan saja. Inilah sebabnya mengapa para ahli bahasa
berpaling pada penggunaan begitu banyak simbol-simbol yang bukan abjad dalam pekerjaan mereka,
karena mereka tahu benar bahwa simbol-simbol yang ruwet ini pun tidak dapat mewakili dengan
akurat bunyi-bunyi yang sebenarnya.
Bagaimana nama-nama tempat, yang ada dalam bab ini dan ditempat lain sebenarnya diucapkan
pada zaman Bibel, tidak dapat diketahui. Untuk mengetahui persis bagaimana diucapkan sekarang
akan memerlukan penelitian lapangan yang sangat luas. Akan tetapi dalam memperbandingkan
bentuk-bentuk tertulis nama-nama ini, baik dalam bahasa Ibrani Bibel maupun dalam bahasa Arab
modern, kita harus mengingat tabiat abjad Semit itu. Pada mulanya abjad ini mengenal tidak lebih
dari 22 konsonan (termasuk glottal stop yang menurut bahasa-bahasa Semit merupakan sebuah
konsonan, dan dua buah semi-vokal, yaitu w dan y), walaupun bahasa lisan Semit yang sebenarnya
sejak dahulu memakai lebih dari ini. Dalam bahasa Ibrani yang dipakai para rabbi Yahudi, sebuah
konsonan tambahan ditambahkan pada abjad aslinya dengan cara memberi titik pada huruf sin, yang
dapat disuarakan sebagai s atau s (dengan topi atas). Maka (s) mewakili huruf s, dan v menandakan s
(dengan topi atas). Bahasa Arab, yang meminjam tulisannya dari bahasa Semit lainnya,
menggunakan 22 abjad dasar mereka, pada awalnya. Tetapi lama kelamaan enam huruf lagi
ditambahkan pada huruf-huruf yang telah ada. Maka t (ta') diberi satu lagi titik menjadi huruf t (tsa');
h (ha) diberi titik menjadi huruf h (kho'); d (dal) diberi titik menjadi huruf d (dzal); s (shod) diberi
titik menjadi huruf s (dlod); t (tho') diberi titik menjadi huruf z (dho'); dan 'ayn (ain) diberi titik
menjadi huruf g (ghoin) (lihat 'Kunci Transliterasi bahasa Ibrani dan Arab' pada awal buku ini).
Dalam keenam contoh di atas, huruf-huruf baru yang ditambahkan ini mewakili konsonan-konsonan
yang secara fonologis berhubungan dengan konsonan-konsonan yang diwakili oleh huruf-huruf yang
lama.
Maka, dalam bahasa Arab, seperti yang tertulis aslinya, tidak semua konsonan yang terdengar dalam
percakapan mempunyai huruf tersendiri dalam abjad untuk mewakili mereka. Saya yakin bahwa
begitu juga halnya dengan bahasa Ibrani Bibel, yang dalam bahasa lisan dalam berbagai dialeknya
mestinya terdapat konsonan-konsonan yang dalam tulisan diwakili oleh huruf-huruf yang mewakili
konsonan lain. Contohnya, tidak ada alasan untuk menganggap pemakai bahasa Ibrani di Arabia
Barat atau ditempat lain untuk tidak mengucapkan h maupun h yang masih saling berhubungan,
sambil menggunakan h untuk mewakili kedua konsonan itu di dalam tulisan. Dalam pengucapan
bahasa Ibrani rabbi (yang mencerminkan pengaruh bahasa Aram), b dapat diucapkan sebagai b dan
v; g sebagai g dan g (dengan titik di atas); k sebagai k dan h; sebagai p dan p (atau f); t sebagai t dan
t. Ada kemungkinan besar para pemakai bahasa Ibrani kuno (paling tidak dalam beberapa dialek)
juga mengucapkan konsonan-konsonan seperti d, d dan z yang tidak mempunyai huruf-huruf yang
mewakili mereka dalam abjad Ibrani.
Bagaimana pemakai-pemakai bahasa Ibrani kuno dapat membedakan dalam percakapan antara s (s,
atau sin) dan s (j, atau samek) adalah suatu pernyataan yang bagus sekali. Kemungkinan, s mewakili
sebuah gabungan bunyi s, s dan z.
Mengingat semua ini, persamaan antara pengucapan nama-nama tempat di Arabia Barat dalam
bahasa Ibrani kuno dan bentuk Arab modern mungkin lebih dekat daripada yang kita duga. Sebuah
studi lapangan secara mendalam mengenai bagaimana nama-nama Arab itu sebenarnya diucapkan
sekarang ini pasti akan dapat membantu memecahkan persoalan ini. Namun yang sudah pasti ialah
bahwa abjad Arab, dengan enam buah huruf tambahannya, telah diperlengkapi untuk menghasilkan
perkiraan yang lebih dekat kepada bentuk asli konsonan nama-nama itu daripada abjad Ibrani.
Sudah tentu, suatu persesuaian yang dapat diperlihatkan antara nama-nama tempat Bibel dengan
nama-nama tempat di Arabia sendiri tidak akan cukup untuk membuktikan bahwa Arabia Barat
adalah tanah asal Kitab Bibel Ibrani. Pertama-tama kita harus memastikan bahwa persetujuan
toponimis yang sama tidak terdapat di daerah-daerah lain di jazirah Arabia atau di bagian-bagian lain
di Timur Dekat. Kalau hal ini sudah dapat dipastikan, kita harus mencoba untuk mengetahui benar
tidaknya koordinat-koordinat dalam Bibel yang diberikan kepada tempat-tempat yang kini masih
ada, atau yang sepertinya masih ada di Arabia, cocok dengan tempat-tempat pasangannya di Arabia
Barat. Dengan kata lain, jika kita mengenali sebuah tempat di Arabia Barat yang namanya sepertinya
cocok dengan Beer-lahai-roi (b'r lhy r'y) dalam Bibel, kita harus kemudian menentukan apakah
tempat ini terletak di sebuah jalan yang menuju ke suatu tempat yang bernama Shur (swr), antara
sebuah tempat yang bernama Kadesh (qds) dan sebuah lagi yang bernama Bered (brd) (lihat
Kejadian 16:7, 14). [2] Dari sini, kita dapat menyerahkan prosedur selanjutnya pada arkeologi, yang
akan mencoba untuk menentukan apakah lokasi di Arabia Barat yang namanya diambil dari Kitab
Bibel itu mungkin dihuni pada periode Bibel itu layak, dan dengan kebudayaan materi apa tempat ini
diasosiasikan. Karya yang sekarang ini hampir seluruhnya berdasarkan toponimik. Tetapi sebelum
tesis ini kemajuan-kemajuannya dapat dipandang sebagai pasti, kita harus dapat menganggap bahwa
arkeologi perlu memastikan penemuan-penemuan itu yang telah dijadikan dasar arkeologi itu.
Sebagai tambahan pada arkeologi, ada cara-cara lain untuk memastikan benar tidaknya sejarah Bibel
itu berlangsung di Arabia Barat dan bukan di Palestina. Hal-hal yang berhubungan dengan topografi,
geologi dan mineral, hidrologi, flora dan fauna perlu diperhatikan. Dengan kata lain, jika seseorang
menemukan sebuah sungai atau anak sungai di Arabia Barat yang bernama Pishon, misalnya
kemungkinan besar sungai itu bukan sungai Pishon dalam Kitab Bibel kecuali jika mengelilingi
suatu daerah tempat emas dapat diketemukan, atau yang pada zaman dahulu terdapat emas (lihat
Kejadian 2:11-12). Suatu tanda kepastian bahwa kota-kota dalam Bibel Sodom dan Gomorrah tidak
mungkin merupakan kota-kota kuno di kawasan Laut Mati, karena di daerah itu tidak terdapat
sebuah gunung berapi yang dahulunya menghancurkan kota-kota tersebut (lihat Kejadian 19:24-28).
Jika seseorang menemukan sebuah kota yang bernama Sodom dan Gomorrah di Arabia Barat, orang
itu harus mencari sebuah gunung berapi atau mencari puing-puing vulkanis di sekitar daerah itu.
Begitu pula, jika istana Sulaiman terbuat dari 'batu-batu mahal' yang 'dipahat menurut ukuran,
digergaji dengan menggunakan gergaji, dari depan dan belakang', dan ada pula 'batu-batu besar,
batu-batu yang besarnya delapan sampai sepuluh hasta' (1 Raja-raja 7:9-10), bahan bangunan
tersebut tidak mungkin batu kapur Palestina biasa. Batu itu kemungkinan adalah batu granit, yang
masih dapat ditemukan dan digali di Arabia Barat. Bahan yang sama mestinya dipergunakan untuk
mendirikan bangunan di sekeliling tembok-tembok kuil Sulaiman, mengingat bahwa bangunan ini
terbuat dari batu 'yang telah disiapkan di penggalian', sehingga 'tak kedengaran palu atau kapak
selama masa pembangunannya' (1 Raja-raja 6:7).[3] Walaupun kata 'salju' atau slg dalam Bibel
Ibrani kadang-kadang berarti tumbuhan soapwort (bukan tumbuhan Saponaria officinalis, tetapi
mungkin tumbuhan Gypsophila arabica, lihat Catatan 1), [4] dan terkadang berarti salju yang
sebenarnya. Jika keadaannya begitu, maka kita harus memastikan adanya salju yang turun dan
menetap di pegunungan Arabia Barat --dan kenyataannya memang demikian-- sebelum memulai
menduga bahwa tanah asal Bibel Ibrani itu terletak di sana.[5] Minyak yang disebutkan dalam Kitab
Bibel mungkin saja minyak wijen dan bukan minyak zaitun, mengingat bahwa wijen sampai kini
merupakan produk utama daerah Asir. Namun kenyataan bahwa tumbuhan zaitun liar masih tumbuh
di Arabia Barat, menunjukkan bahwa buah zaitun yang tertera di dalam Kitab Bibel mungkin saja
dibudidayakan di sana pada zaman dahulu, bersamaan dengan tumbuhan tin, buah badam, delima
dan anggur, yang semua tertulis dalam Bibel Ibrani dan masih tetap dibudidayakan di sana sampai
kini. Pula, buah zaitun masih dapat ditemukan pada dua bagian jazirah Arab, di sebelah Utara Hijaz
dan di Oman. Oleh sebab itu, agaknya masih masuk di akal jika kita menganggap bahwa minyak
yang disebut-sebut di dalam Kitab Bibel adalah minyak Zaitun, bukan minyak wijen. Dalam Imamat
11:29, 'kadal besar' (sb) termasuk dalam kelompok reptil-reptil yang diharamkan untuk dimakan.
'Kadal monitor' atau bengkarung dari Palestina dan Sinai disebut waral (wrl) atau waran (wrn). Sb
yang tertera dalam Kitab Bibel sudah pasti adalah biawak gurun pasir Arabia atau dabb (db).[6]
Namun walaupun Bibel Ibrani berbicara mengenai berbagai jenis burung, kitab ini samasekali tidak
pernah menyebut-nyebut tentang ayam maupun angsa. Menurut ahli geografi kuno Strabo (16:4:2),
daerah-daerah Arabia di seberang Laut Merah dari Etiopia aneh karena di sana terdapat 'burungburung ... dari semua jenis, kecuali angsa dan keluarga gallinaceous'.
Semua ini membuktikan perlunya untuk mempertimbangkan kembali lokasi geografis tanah asal
Kitab Bibel, terlebih lagi karena semuanya mendukung bukti-bukti lain yang relevan.
Kembali pada ilmu toponimik, yang menjadi dasar buku ini, perlu diperhatikan bahwa sebuah
pengenalan secara benar atas nama-nama tempat menurut Bibel dapat memperdalam dan terkadang
mengubah samasekali pengetahuan yang ada tentang bahasa Ibrani. Bagi bahasa Ibrani Bibel, namanama tempat, jika diperlakukan sebagai sebuah bahasa yang hendak dibaca dan dimengerti, sifatnya
mirip dengan nama-nama keningratan atau kedewaan pada tulisan-tulisan pajangan pada zaman
Mesir kuno, yang memberi petunjuk untuk membaca dan mengerti sebuah bahasa yang telah
mati.[7] Kalau kita nmengakui nama-nama tempat menurut Bibel dalam bentuk yang telah ada,
maka seluruh sebutan yang membawa nama tersebut akan mengungkapkan misterinya sehingga
dapat dimengerti. Kenyataannya adalah bahwa banyak kata biasa (kata-kata kerja, nama-nama
benda, kata-kata tambahan dan kata-kata sifat, terkadang dengan kata depan b, l atau m) yang secara
tradisional telah dibaca dengan salah dalam konteks Bibel mereka sebagai nama-nama tempat.
Sebaliknya, sudah tidak terhitung lagi banyaknya nama-nama tempat menurut Bibel, yang tidak
diduga sebagai nama-nama tempat, dianggap sebagai kata-kata kerja, kata-kata benda, kata-kata
tambahan atau sebagai kata-kata sifat. Perbedaan yang benar antara sesuatu yang sebenarnya
merupakan sebuah nama tempat dan yang bukan dalam teks Bibel dapat membuat banyak
pembacaan tradisional (dan tentunya juga penterjemahan-penterjemahan standar) kacau.
Catatan-catatan Mesir dan Mesopotamia kuno, jika pembacaan atas mereka dipertimbangkan
kembali (seperti yang seharusnya, lihat Bab 1), dapat banyak membantu dalam mengungkapkan
letak geografi Bibel. Dalam catatan-catatan itu, nama-nama tempat lainnya masih ada di Arabia
Barat. Yang juga sangat membantu adalah karya-karya para sejarawan dan ahli-ahli geografi dari
zaman Klasik. Dalam Bab sebelumnya, bukti-bukti yang didapat dari karya Herodotus disebutkan
berhubungan dengan emigrasi orang-orang Filistin dan Kanaan dari Arabia Barat menuju ke pantai
Suria; dalam Bab 4, bukti-bukti dari geografi Strabo akan dipergunakan untuk mengenali lokasi
persis kota Beersheba di Arabia Barat, yang berbeda dengan kota Beersheba di Palestina. Apa yang
terdapat di dalam Qur'an mengenai hal-hal yang berhubungan dengan geografi dan sejarah dalam
Bibel, yang ternyata sangat banyak, harus benar-benar diperhatikan pula, tetapi kenyataannya belum
begitu sampai sekarang.
Teks Qur'an dikumpulkan pada waktu yang hampir bersamaan dengan saat kaum Masoret memulai
memberi vokal dan membanding-bandingkan secara teliti teks-teks Kitab Bibel Ibrani. Menurut
tradisi Islam, edisi Qur'an yang terakhir, yang seperti ada pada kita sekarang, dibuat pada zaman
kekuasaan Khalifah Usman, atau antara tahun 644 dan 655 M. Bilamana kitab suci ini
membicarakan mengenai para leluhur Ibrani, tentang Israil, atau mengenai para nabi kaum Yahudi,
Qur'an menyebut beberapa nama tempat yang dapat dipastikan berasal dari Arabia Barat. Persamaan
antara nama-nama tempat di dalam Qur'an pada suatu konteks, dengan nama-nama tempat di dalam
Bibel dalam konteks yang sama, kadang-kadang sangat menarik. Contohnya, bilamana Bibel
menyebut nama sebuah gunung di Arabia Barat, Qur'an sebaliknya tidak, tetapi menurut Qur'an
nama itu merupakan nama sebuah lembah, kota atau suatu lokasi lain di daerah yang sama. Maka
Nabi Musa, menurut Kitab Injil (Keluaran 3:1f), dipanggil oleh malaikat Yahweh dari sebuah
belukar yang bernyala-nyala di Gunung Horeb (hrb). Menurut Qur'an (20:12, 79:16), panggilan
terhadap Nabi Musa tersebut terjadi di 'lembah suci' Tuwa (tw). Sampai saat ini Gunung Horeb
dalam Bibel ini telah dicari-cari di Sinai, namun namanya belum berhasil ditemukan. 'Belukar yang
bernyala-nyala, namun tidak musnah terbakar' telah diperkirakan oleh para ahli sebagai suatu
referensi terhadap sebuah gunung berapi, akan tetapi belum ada tanda-tanda kegiatan vulkanis yang
dapat dijumpai di Sinai. Hal ini telah membuat sejumlah penyelidik berpaling dari Sinai guna
mencari Horeb di daerah-daerah vulkanis di bagian Utara Hijaz (lihat Kraeling pada halamanhalaman 108-110), tetapi sekali lagi tanpa hasil. Namun Qur'an memberitahukan kita letak persis
Horeb: sebuah punggung bukit yang terasingkan di daerah pantai Asir, suatu tempat yang bernama
Jabal Hadi. Di Jabal Hadi sampai kini masih berdiri sebuah dusun yang bernama Tiwa (tw), yang
mestinya memberikan namanya kepada sebuah anak lembah Wadi Baqarah yang berdekatan
dengannya - yaitu 'lembah suci' dalam Qur'an tempat Nabi Musa menerima panggilannya. Di Wadi
Baqarah sampai kini masih berdiri sebuah desa yang bernama Harib (hrb), di mana punggung bukit
Jabal Hadi yang berdekatan mestinya mendapatkan nama Bibelnya. Seluruh daerah tersebut dipenuhi
oleh ladang-ladang lahar dan di sana gunung-gunung berapi mungkin pernah aktif.[8]
Yang berkenaan dengan kisah-kisah dalam Bibel, Qur'an tidak sekadar mengulang bahan-bahan
Bibel itu dalam bentuk yang berlainan, yang pada saat ini pandangan yang umumnya dipegang oleh
para ahli. Isinya, yang sejalan dengan Kitab Bibel Ibrani (di sini tidak termasuk kitab-kitab Injil
Perjanjian Baru Kristen) saya yakin merupakan versi yang berdiri sendiri menurut tradisi kuno Arab
Barat yang sama, dan memang harus diperlakukan demikian. Kalau Bibel mewakili versi bahasa
Ibrani Israil menurut tradisi di atas, yang bertarikh sejak sebelum abad ke-4 Pra-Masehi, maka
Qur'an yang juga memperlakukan tradisi serupa, mewakili versi bahasa Arab menurut tradisi itu
juga, berasal dari periode ketika bahasa Arab telah menggantikan bahasa Aram dan bahasa Ibrani
sebagai bahasa lisan yang dipakai di Arabia Barat. Sepintas lalu, perbedaan-perbedaan antara kedua
versi tersebut mungkin kelihatannya membingungkan; tetapi setelah penyelidikan yang lebih
mendalam, kitab-kitab itu akan menjadi lebih informatif.
Sampai kini, yang telah kita peroleh adalah sebagai berikut: sebuah teks konsonan Ibrani yang dapat
kita anggap akurat, yang harus dibaca kembali dengan teliti tanpa memikirkan tentang pengucapan
tradisionalnya; catatan-catatan Mesir kuno, Mesopotamia kuno dan catatan-catatan lainnya yang
menyebutkan nama-nama tempat menurut Bibel dan harus dibaca kembali tanpa berkonsultasi
dengan penafsiran geografis ataupun topografisnya yang ada; karya-karya para sejarawan dan ahli
geografi zaman Klasik yang dapat membantu; teks-teks konsonan Qur'an yang tidak beruhah sejak
pertama kalinya dikumpulkan dan disusun; dan akhirnya suatu gambaran tentang Arabia Barat yang
penuh dengan nama-nama menurut Bibel yang sebagian besar bentuk Bibelnya belum berubah, atau
paling tidak masih dapat dikenali dengan mudah dalam bentuk-bentuk yang ada sekarang. Pada bab
berikutnya, bagian dari Arabia Barat tempat nama-nama menurut Bibel berpusat akan digambarkan
secara lebih mendetil lagi. Kemudian, saya akan meneliti teks-teks Bibel tertentu untuk
memperlihatkan betapa cocoknya geografi teks itu dengan geografi Arabia Barat. Para pembaca
akan dapat menilai sendiri adakan argumentasi utama buku ini cukup meyakinkan atau tidak. Tetapi
kita perlu mengingat, apa pun kesimpulannya, Bibel tetap Bibel, tanpa peduli di mana letak tanah
asalnya.
3. TANAH ASIR
Tanah asal Bibel Ibrani, seperti yang telah saya tegaskan, ialah Asir. Sebenarnya, pemakaian nama
itu berlangsung belum lama, yaitu sejak abad ke-19 untuk menandakan tanah dataran tinggi Arabia
Barat yang membentang dari utara ke selatan, dari Nimas (al-Nimas, 19° Lintang Utara dan 42°
Bujur Timur) sampai Najran (nagran, 17° Lintang Utara dan 44°10'' Bujur Timur) dan juga daerah
perbukitan dan gurun pasir pesisir daerah yang disebut Tihamah (Tihamah) antara kota pesisir
Qahmah (al-Qahmah, 18° Lintang Utara dan 41° Bujur Timur) dan perbatasan sekarang dengan
Yaman (16°25" dan 42°45" Bujur Timur.[1] Kini Asir merupakan sebuah propinsi di Kerajaan Arab
Saudi, yang ibukotanya merupakan sebuah kota dataran tinggi, yaitu Abha (18°15" Lintang Utara
dan 42°30" Bujur Timur). Dari timur ke barat, Asir membentang dari ujung Gurun Pasir Arabia
Tengah sampai ke Laut Merah (lihat Peta 3).
Ciri-ciri nyata Asir ialah bentangan dataran tinggi yang bernama Sarat (al-Sarat, bentuk jamak sari,
yang berarti 'gunung' atau 'ketinggian',[2] ketinggiannya berkisar antara 1700 sampai 3200 meter,
membentuk ujung barat dataran tinggi Arabia yang bernama Najd (Nagd) antara Taif dan perbatasan
Yaman. Di sebelah utara Taif, dataran tinggi Arania berakhir dengan pegunungan rendah dan
perbukitan Hijaz, dengan ketinggian antara 1200 sampai dengan 1500 meter. Namun, di sebelah
selatan Taif, dataran tinggi ini tiba-tiba berakhir pada apa yang disebut Ngarai Arabia Barat. Ini
merupakan jurang curam yang jatuh sedalam 100 meter, 80-120 kilometer dari pantai Laut Merah
yang membentang sepanjang 700 kilometer dari Taif di utara, dan bergabung dengan pegunungan
tinggi Yaman di selatan. Di atas tebing curam ini dataran tinggi Sarat mencapai puncak
ketinggiannya dekat Abha; lebih jauh ke arah selatan, ngarai ini berakhir beberapa kilometer dari
kota Dhahran (disebut Dhahran Selatan, Zahran al-Ganub, 17°40'' Lintang Utara dan 43°30" Bujur
Timur). Di sebelah utara, dataran tinggi Sarat berakhir di Taif, di sebelah timur kota Mekah,
bergabung pada sekitar 21° Lintang Utara dengan punggung Taif.
Maka dari itu, nama Asir itu sendiri dapat dipergunakan dalam pengertian geografi yang luas, untuk
menandakan seluruh kawasan bentangan Sarat, dari Taif di utara sampai ke Dhahran dan perbatasan
Yaman di selatan, mengingat bahwa bagian-bagian kawasan ini di sebelah utara wilayah Nimas
biasanya dianggap sebagai bagian Hijaz. Sepanjang bentangan Sarat, wilayah Nimas membentuk
sebuah pelana antara daerah-daerah yang lebih tinggi, wilayah Abha di sebelah selatan, dan wilayahwilayah Bahah (al-Bahah) yang meliputi daerah-daerah Ghamid (Bilad Gamid) dan Zahran (Bilad
Zahran) di sebelah utara. Sebuah daerah yang lebih rendah yang memisahkan ketinggian Zahran dari
punggung bukit Taif, di tempat itu Sarat (dan begitupun daerah geografis Asir) dapat dikatakan
berakhir.
Sepanjang pesisir Tihamah di Asir menurut geografis terdapat sejumlah kota dan pelabuhan, yang
sampai sekarang paling jelas, di utara dan di selatan, ialah Lith (al-Lit), Qunfudhah (al-Qunfudhah);
Birk (al-Birk); Qahmah (lihat di atas); Shuqayq (al-Suqayq) dan Jizan. Dataran itu timbul tiba-tiba di
tepi padang pasir pesisir Tihamah, di sejumlah jalan bertangga di pegunungan yang terjal, hingga
mencapai lereng yang curam dan saluran Sarat yang membelah di depannya. Tepi pantai Asir ini
sebenarnya merupakan daratan yang sangat berbukit-bukit dan depresi-depresinya (dalam bahasa
Arab wahd atau wahdah, dengan bentuk konsonannya whd atau whdh; bandingkan dengan yhwdh di
dalam Bibel untuk 'Yudah'), yang tentunya adalah sebab mengapa nama 'Yudah' diberikan kepada
daerah pada zaman Bibel dahulu (lihat Bab 8). Beberapa tempat di sana sampai kini benar-benar
bernama Wahdah, memakai nama-nama yang berasal dari akar kata yang sama (kata whd,
'merendah, tertekan'). Sampai kini, lembah-lembah dan jurang-jurang di bagian Asir ini, telah
menjadi tempat perkembangbiakan belalang-belalang, yang mungkin merupakan penyebab
'kelaparan di tanah ini' pada zaman Bibel (lihat Bab 13).
Kalau bagian-bagian Asir di sebelah barat tebing curam itu penuh dengan lembah-lembah dan
jurang-jurang yang letaknya malang-melintang, sebaliknya, dari atas tebing curam, Sarat tebingnya
landai dan menurun menuju ke daerah pedalaman. Di propinsi Asir, di sebelah selatan Nimas,
tebing-tebing di sana menuruti zona-zona pecahan alami menuju ke arah selatan, dan tanah di sini
didominasi, dari selatan sampai ke utara, oleh dua sistem pengaliran yaitu Wadi Tathlith (tatlit) dan
Wadi Bishah, masing-masing dengan cabang-cabangnya tersendiri. Aliran-aliran utama kedua wadi
ini akhirnya berubah haluan menuju ke timur untuk menuangkan air bah di Wadi Dawasir (alDawasir), yang mengalir menuju ke pedalaman padang pasir. Namun dari dataran tinggi Ghamid dan
Zahran, daratannya menurun ke arah timur, didominasi oleh sistem pengaliran Wadi Ranyah. Aliran
utama Wadi ini bergabung dengan aliran Wadi Bishah, sebelum aliran Wadi Bishah ini menuju ke
timur untuk bergabung dengan Wadi Tathlith di dekat tepian gurun pasir.
Dari semua wilayah jaziran Arabia, Asir menerima curah hujan terbanyak. Bertempat tidak jauh di
sebelah selatan garis balik sartan (utara), dataran tinggi Sarat menampung curah hujan dari dua
iklim: angin barat daya pada musim hujan Monsoon dari barat daya pada musim panas. Jatuhnya
hujan di wilayah itu berkisar antara 300 dan 500 mm per tahun, cukup untuk tetap memenuhi
persediaan permukaan air di bawah tanah di daerah-daerah ketinggian yang lebih gersang di
sekelilingnya. Di daerah ketinggian yang lebih tinggi, hujan musim dingin terkadang turun, untuk
jangka waktu yang singkat sebagai salju. Tidak jarang terdapat air terjun pada bagian-bagian tertentu
Sarat dan sungai-sungai kecil yang musiman maupun abadi yang berasal dari ketinggiannya
mengalir di wadi-wadi ini pada bagian-bagian pedalaman dan pesisirnya. Hutan-hutan tanaman
jenever yang lebat adalah ciri khas Sarat dan bagian-bagian yang lebih tinggi daerah pedalaman
pantai Tihamah, sedangkan hutan-hutan pohon butun, tamarisk, akasia, saru dan pohon-pohon hutan
lainnya terdapat di banyak tempat di daerah itu. Di mana tidak terdapat hutan, dataram tinggi Asir
secara tradisional diteraskan untuk membudidayakan padi dan berbagai kacang-kacangan (terutama
buah badam) dan juga buah-buahan, termasuk anggur. Padi dan sayuran dibudidayakan di tanahtanah yang luas dan dapat ditanami di lembah-lembah dan dataran rendah daerah pesisir; padi dan
buah kurma dibudidayakan di daerah-daerah pedalaman, terutama di daerah-daerah oase lembah
sungai Wadi Bishah. Gradasi iklim di daerah ini antara daerah pesisir yang panas, dataran tinggi
yang sedang dan gurun pasir di pedalaman, tercermin pada kekayaan akan banyaknya macam dan
jenis flora; oleh karena itu madu dari Asir berkwalitas tinggi. Di sekitar daerah-daerah yang
dibudidayakan, di mana-mana terdapat padang rumput yang luas dan di sana bangsa Badui bertahuntahun secara tradisional menggembalakan ternak mereka berupa sapi, biri-biri, kambing, keledai,
himar dan unta.[3]
Bagian pedalaman Asir sejak dahulu diketahui mempunyai sejumlah kekayaan mincral. Emas, timah
hitam dan bcsi pernah ditambang pada zaman dahulu - terutama emas di daerah Wadi Ranyah - dan
pencarian mineral-mineral masih tetap dilakukan di sana, begitu juga di bagian utara di Mahd alDhahab (yang harfiahnya berarti 'Buaian Emas'), d; sebelah timur laut Taif. Ada sebuah cabang
Wadi Bishah yang kenyataannya bernama Wadi Dhahab (harfiahnya berarti 'Lembah Emas'), yang
menandakan bahwa daerah itu mungkin salah satu daerah tempat emas pernah diketemukan pada
zaman dahulu.[4]
Di sebelah selatan Asir, ketinggian Dhahran terbelah menjadi dua daerah yang mempunyai ciri-ciri
yang berbeda. Satu di antaranya berisi lembah-lembah subur daerah pesisir Jizan, ke arah barat dan
barat daya; dan yang satu lagi merupakan daerah oase Najran, ke arah timur. Dari seluruh wilayah di
Asir, daerah Wadi Najran-lah yang terbentang ke arah timur dan berakhir di Bilad Yam (Bilad Yam)
di sepanjang pinggiran gurun pasir luas Al-Rub'al Hali, mungkin yang paling subur. Di sana sebuah
perkampungan masyarakat Yahudi berkembang sampai kini, sebuah bangsa yang menurut keyakinan
saya merupakan sisa-sisa terakhir dari agama Yahudi di tanah asalnya. Membentang sejajar dengan
Wadi Najran di utara, adalah cabang-cabang lembah yang kurang subur, yaitu Wadi Habuna
(Habuna) dan Wadi Idimah (Idimah)[5] dengan perkampungan oase mereka. Kedua lembah ini
seperti halnya Wadi Najran, berakhir di daerah Yam.
Padang pesisir Jizan di seberang ketinggian Dhahran dari Wadi Najran juga sangat subur, karena
diairi oleh air dari berbagai lembah seperti Wadi Khulab (Hulab), Wadi Jizan, Wadi Dhamad
(Damad), Wadi Sabya (Sabya) dan Wadi Baysh (Bays). Akan tetapi yang menjadi ciri khas wilayah
Jizan ialah lingkaran punggung bukit yang indah, yang memisahkan gurun pasir dari daerah tinggi
Dhahran. Juga ada tiga kelompok kerucut-kerucut vulkanis (yaitu Umm al-Qumam, Al-Qari'ah dan
'Ukwah) yang mengelilingi padang pesisir dn bagian daratan. Letusan terakhir salah satu gunung
berapi ini - yaitu al-Qariah diduga terjadi pada tahun 1820.[6] Di bagian-bagian Asir lainnya juga
terdapat daerah-daerah vulkanis, terutama lebih jauh ke arah selatan di Yaman. Di antara punggung
bukit yang terpencil yang mengelilingi daerah Jizan ini adalah Jabal Harub (Harub), Jabal Faifa
(Fayfa) dan Jabal Bani Malik (Bani Malik).
Sejak zaman lahirnya Islam, Asir secara menyeluruh, walaupun dengan kesuburan dan kekayaan
alaminya, bukan merupakan daerah yang penting dalam sejarah tanah Arabia. Akan tetapi, pada
zaman kuno, seperti yang telah saya katakan pada Bab 1, mestinya tanah ini sangat penting, karena
terletak pada persimpangan jalur-jalur utama perdagangan dunia kuno. Di seberang Laut Merah,
kapal-kapal dapat saja pulang-pergi antara bandar-bandar Asir dan bandar-bandar Abisinia, Nubia
dan Mesir. Jalan-jalan raya kafilah bertolak ke arah utara dari pesisir dan pedalaman Asir, melalui
Hijaz menuju Suria, atau melalui Wilayah Tengah dan utara Arabia menuju Mesopotamia. Jalanjalan raya kafilah lainnya membentang ke selatan menuju Yaman, dan berakhir di bandar-bandar
Arabia bagian selatan; atau ke timur menuju pesisir Arabia di teluk Persi melalui Yamamah (alYamamah). Ini merupakan bentangan oase yang panjang, yang meneruskan arah aliran Wadi AlDawasir dan berjalan di sebelah utara al-Rub'al Hali, yang bermula dari pinggiran gurun pasir Asir
bagian selatan.
Oleh sebab itu sejak bermulanya perdagangan antara negara-negara di Samudera Hindia dan bagian
timur lembah Laut Tengah, seperti halnya perdagangan antara negara-negara di Teluk Persi dan
lembah-lembah Laut Merah, Asir kuno mestinya berkembang sebagai pusat terpenting untuk
perdagangan perantara, dan pelayanan-pelayanan perdagangan dan transaksi. Kota-kota
pedalamannya tumbuh dengan subur menjadi stasiun-stasiun kafilah; pedagang-pedagang
berdatangan dari berbagai penjuru untuk menjajakan barang-barang mereka. Kota-kota yang
terpenting di antara kota-kota pedalaman itu terletak di sepanjang jalan raya kafilah utama yang
mengikuti puncak pegunungan Sarat, antara Dhahran al-Janub dan Taif. Di antara kota-kota dan
bandar-bandar ini, jalan-jalan yang tidak rata menyeberangi jalan-jalan punggung pegunungan Sarat,
menghubungkan perdagangan maritim dengan perdagangan yang menuju ke daerah pedalaman (lihat
Peta 5).
Pendeknya, tidak diragukan kalau Asir dahulunya merupakan daerah perdagangan yang makmur
yang juga kaya akan produksi pertanian, peternakan dan hasil mineral. Walaupun kota-kota
perdagangan besarnya mestinya menonjol sebagai pusat-pusat peradaban kota yang cukup canggih,
namun peradaban Asir kuno berpusatkan pada kelompok- kelompok oase, yang terpisah dari oaseoase lain dan juga dari bagian-bagian lain Arabia oleh daerah hutan belantara atau gurun pasir yang
sangat luas. Walaupun ada hubungan dengan negara-negara lain melalui perdagangan dara dan
maritim, negara ini secara geografis terisolasi. Dalam pemerintahannya tidak terdapat kesatuan, dan
bagian-bagiannya memilih jalan yang berbeda-beda, tidak saja dalam hal-hal politis, tetapi juga
dalam hal-hal yang lain juga demikian. Di Asir kuno, bangsa-bangsa yang berbeda-beda tinggal di
daerah-daerah yang berbeda pula, berbicara menggunakan berbagai dialek yang berlainan, bahkan
kadang-kadang memakai bahasa yang berbeda pula, dan menyembah dewa-dewa yang berbeda
dengan cara yang berbeda-beda. Beberapa bangsa ini nanti akan kita kenali melalui nama-nama
seperti yang tertera dalam Bibel Ibrani.
Namun perhatian utama saya tertuju pada sebuah bangsa Asir kuno yang dikenal sebagai orangorang Israil, bangsa yang mengalami sebuah pengalaman sejarah yang kaya di dataran tinggi Sarat
dan di lereng bagian baratnya - tanah Yudah - pada suatu waktu antara abad ke-10 dan ke-5 S.M.
Kita beruntung mempunyai catatan di dalam Bibel Ibrani yang kaya dan tajam mengenai sejarah
mereka yang penuh dengan kejadian-kejadian, sebuah teks yang menggambarkan dengan jelas
harapan-harapan dan kekhawatiran mereka, kemenangan dan kesialan mereka, yang terjadi tidak
hanya di Palestina tetapi juga di Arabia Barat.
4. MENCARI GERAR (1/2)
Sebelum beranjak pada sebuah penyajian bukti-bukti secara sistematis untuk mendukung
argumentasi saya bahwa Kitab Bibel berasal dari Arabia, saya ingin menunjukkan kesesuaian yang
sempurna antara geografi Bibel Ibrani dengan geografi Arabia Barat, dan kesesuaian yang
meragukan antara geografi Bibel Ibrani dengan Palestina. Yang paling membuka pikiran berkenaan
dengan masalah ini ialah pertanyaan mengenai Gerar (grr), sebuah tempat yang menurut kebanyakan
ahli Bibel pernah mengalami kemakmuran sebagai sebuah kota di daerah pedalaman Gaza, di pesisir
Palestina, tidak jauh dari Bir al-Sab' (atau 'Beersheba'), walaupun di sana namanya tidak bertahan.
Dalam mempertimbangkan lokasi Gerar, perhatian kita terpusat pada beberapa pertanyaan, termasuk
yang berhubungan dengan tanah Kanaan dan Beersheba menurut Bibel, yang berbeda dengan
Beersheba di Palestina (lihat Peta 6).
Ada empat buah bagian yang berbeda dalam Kitab Bibel yang berhubungan dengan Gerar. Dalam
penggambarannya mengenai luas daerah kekuasaan orang-orang Kanaan pada mulanya, (h-kn'ny),
Kejadian 10:19 menyebut tempat itu sehubungan dengan sydn (biasanya dimengerti sebagai Sidon di
Phoenicia) dan 'zh (umumnya dimengerti sebagai Gaza di Palestina). Dalam hal ini teks ini
mengatakan bahwa perbatasan tanah orang-orang Kanaan, di satu bagian, membentang dari sydn
sampai ke 'zh, dan menambahkan bahwa 'zh terletak searah dengan Gerar, walaupun tidak
memperinci lebih lanjut ke arah mana persisnya. Teks ini juga tidak mengatakan apakah Gerar
terletak antara sydn dan 'zh, atau apakah tempat ini terletak melewati 'zh dari sydn, dan tidak pula
terdapat tanda-tanda yang jelas mengenai jarak antara Gerar dan sydn. Sebaliknya, Kejadian
menjelaskan apa bentuk perbatasan tanah Kanaan di bagian yang lain, bermula dari sydn, akan tetapi
ini pun tidak menjelaskan ke arah mana (lihat di bawah). Dalam Kejadian 20:1f, Gerar disebut
sehubungan dengan 'rs h-ngb; yang dapat diartikan sebagai 'tanah ngb', yang biasanya ditafsirkan
sebagai Naqab di Palestina atau gurun pasir 'Negeb', atau 'tanah selatan' (bandingkan dengan kata
Arab gnb, disuarakan sebagai ganub), juga ditafsirkan sebagai Palestina bagian selatan, dan di sana
terletak gurun pasir Negeb. Di sini, Gerar dilukiskan sebagai terletak di antara qds (ditulis Kadesh)
dan swr (ditulis Shur) dan mempunyai seorang 'raja' yang bernama, 'bymlk (by mlk, ditulis sebagai
Abimelech). Dalam konteks ini tidak ada referensi terhadap kota 'zh.
Dan lagi, dalam Kejadian 26:1f, Abimelech dari Gerar digambarkan sebagai seorang 'raja' plstym
(ditulis sebagai orang-orang Filistin), sebuah deskripsi yang dihilangkan dalam Kejadian 20. Sebuah
nhl grr (diterjemahkan sebagai 'lembah Gerar') juga disebutkan dalam Kejadian 26, berhubungan
dengan lokasi empat buah sumur yang dikenal sebagai 'sq (ditulis sebagai Esek), stnh (ditulis sebagai
Sitnah), rhbwt (ditulis Rehoboth) dan sb'h atau b'r sb' (ditulis Shibah atau Beersheba). Di sini kota
'zh tidak disebut-sebut.
Berpaling pada Tawarikh II (14:8f, atau 14:9f dalam kitab Septuaginta dan terjemahan-terjemahan
standar), Gerar disebutkan berhubungan dengan peperangan antara 'Zerah dari Cushite' atau 'Zerah
dari Etiopia' (zrh h-kwsy) dan Raja Asa dari Yudah (pada sekitar tahun 908-867 S.M.).[1] Dalam
pertempuran tersebut orang-orang 'Cushite' atau 'Etiopia' (h-kwsym) konon menyerbu Yudah dan
berhasil maju sampai ke mrsh (ditulis Mareshah), sebelum terkalahkan oleh Raja Asa di gy' spth
(lembah Zephathah) di dekat Mareshah. Setelah mendapat kemenangan ini, Raja Asa mengejar para
penyerbunya yang telah terpukul mundur ke Gerar, merampoki kota ini dan sekeliling tanah-tanah
pertanian beserta ternaknya. Kita kemudian dapat menganggap bahwa Gerar dan daerah
sekelilingnya merupakan bagian tanah kekuasaan orang-orang 'Cushite'.
Dalam upaya mereka mencari Gerar, para ahli Bibel dan para arkeolog tidak memiliki petunjukpetunjuk lain yang dapat diselidiki selain dari referensi-referensi dari Bibel ini; mereka pun hanya
memiliki bahan-bahan dari Bibel untuk mengenali daerah kekuasaan bangsa Kanaan atau daerah
kekuasaan bangsa Filistin ataupun bangsa Cushite. Nama-nama tempat sydn dan 'zh, yang muncul
dalam Kejadian 10, selalu dianggap menunjuk pada Sidon dan Gaza di Suria. Dengan sendirinya ini
mengakibatkan timbulnya prasangka bahwa 'tanah bangsa Kanaan' dalam Kitab Bibel tertera pada
bagian-bagian lain di dalam Kitab Bibel Ibrani sebagai sebuah kota bangsa Filistin (lihat Bab 14),
maka para ahli Bibel juga telah menganggap bahwa tanah bangsa Filistin ini terdiri dari daerah
pesisir Gaza. Mereka menerima selaku benar bahwa tanah ini tidak meliputi kawasan lainnya diluar
daerah pesisir Palestina, terutama sekali karena daerah ini dengan jelas menyandang nama mereka
(mengenai nama Palestina, Suria dan Kanaan lihat Bab 1). Disebutnya Gerar dalam Kejadian 26
berhubungan dengan plstym (yang selalu dianggap berarti 'bangsa Filistin'), ditambah dengan
disebutnya Gerar dalam Kejadian 10 berhubungan dengan 'zh atau Gaza bagi mereka nampaknya
cukup untuk membuktikan bahwa tempat itu hanya dapat terletak di daerah pesisir Palestina.
Selanjutnya, selain dari kenyataan bahwa sydn dan 'zh dalam Kejadian 10 tampaknya dapat dengan
mudah disamakan dengan Sidon Suria dan Gaza, kebanyakan dari para ahli juga menganggap bahwa
h-ngb dalam Bibel tidak lain adalah gurun pasir Negeb di Palestina (bahasa Arabnya al-Naqab, atau
nqb), walau terkadang mengakui bahwa ungkapan Ibrani 'rs h-nqb mungkin hanya berarti 'negara
selatan', yang meskipun demikian, mereka tetap saja menganggapnya sebagai Palestina bagian
selatan. Beersheba, atau b'r sb' (alias sb'h, atau 'Shibah') rupa-rupanya hanya menunjuk pada Bir alSab', di daerah yang sama. Namun sewaktu para arkeolog Bibel menggali Bir al-Sab' di Paletina yang sudah jelas merupakan nama Arab - penemuan yang paling kuno yang mereka temukan, seperti
yang telah diketahui, berasal dari akhir periode Rumawi atau Bizantin, yang sebagian pedusunannya
di Suria telah mulai diarabkan dengan pesat. Benteng-benteng yang dengan lemah diduga sebagai
benteng-benteng Israil, dan mungkin berasal dari zaman Bibel baru-baru ini ditemukan di daerah itu
beberapa kilometer dari kota itu.
Dalam bahasa Arab, Bir al-Sab' berarti 'Sumur Binatang Buas', walaupun dapat pula diartikan
sebagai 'Sumur Tujuh'. Arti yang terakhir dapat diperkirakan sebagai terjemahan bahasa Arab dari
kata Ibrani b'r sb', yang dengan janggal berarti 'Tujuh Sumur' (bukan 'Sumur Tujuh' atau b'r h-sb').
Lebih mungkin lagi, nama Ibrani itu berarti 'Sumur Kelimpahan'. Nama alternatif yang diberikan
kepada tempat yang sama di Kejadian 26, yaitu sb'h (dalam bentuk feminin) dapat juga berarti
'Kelimpahan, kekenyangan'. Untuk memberi arti 'Sumur Kelimpahan', bentuk Arab dari b'r sb' harus
diubah menjadi Bir Shaba' (b'r sb') atau Bir Shaba'ah (b'r sb'h) dan bukan Bir al-Sab' (b'r sb'). Hal
ini, ditambah dengan bukti negatif penemuan arkeologi itu, menentang prasangka bahwa Bir al-Sab'
Palestina itulah yang merupakan Beersheba yang tertera dalam Bibel Ibrani. Namun untuk lebih
adilnya, kebanyakan para ahli Bibel mengakui bahwa menempatkan Gerar antara Gaza Palestina dan
Bir al-Sab' merupakan suatu persoalan. Suatu karya standar geografi menurut Bibel (Kraeling,
halaman 80) melukiskan keadaannya sebagai berikut:
Di mana persisnya Gerar terletak masih belum dapat dipastikan dan masih tergantung pada
bagaimana seseorang menempatkan kota-kota lain di kawasan daerah ini.... Pada akhir zaman
Rumawi ada sebuah distrik, yaitu Geraritike, jelas dinamakan demikian karena sebagian besar terdiri
dari wilayah lama Gerar, dan pada waktu itu Beersheba termasuk dalam wilayahnya. Tell Jemeh,
sebuah bukit penting di sebelah selatan Gaza, yang sebagian besar telah digali oleh Flinders Petrie
pada tahun 1927, olehnya dikenali sebagai Gerar. Sejumlah ahli meragukan akan hal ini.... dan lebih
suka memilih Tell esh-Sheri'a di barat laut Beersheba sebagai Gerar. Namun menurut sebuah laporan
pada tahun 1961, arkeolog-arkeolog Israil telah menemukan sebuah bukit tidak jauh dari tempat itu,
di jalan antara Beersheba dan Gaza, Tell Abu Hureira, dengan peninggalan-peninggalan pra-Hyksos,
lebih penting dari kedua tell itu, dan mempunyai persamaan dengan Gerar (bandingkan dengan
Simons, alinea 369).
Suatu problema dalam pencarian Gerar antara Beersheba dan Gaza timbul dari kenyataan bahwa
kota ini digambarkan pada Kejadian 20 sebagai terletak antara Kadesh (qds) dan Shur (swr). Tetapi
tidak ada tempat yang menyandang nama-nama seperti itu yang dapat dikenali di daerah GazaBeersheba pada masa ini, kalau kita menganggap daerah ini mungkin merupakan Geraritike dari
zaman Rumawi. Sebenarnya, pengenalan terhadap kedua tempat yang disamakan dengan lokasilokasi di Palestina bagian selatan dan di semenanjung Sinai sangat lemah. Kraeling menyimpulkan:
Titik Kadesh mungkin merupakan sebuah titik tetap (hal. 69)... Kadesh terletak di segitiga el 'Arish Raphia - Qoseimeh, yang jelas merupakan suatu distrik tunggal di seluruh daerah Sinai. Di sini
sebuah kelompok suku pengembara yang besar pun dapat menetap untuk waktu yang tak terbatas.
Survei terhadap daerah Negeb di Israil oleh Nelson Glueck... sejak tahun 1951, telah membuktikan
kenyataan bahwa tempat ini pernah dihuni oleh orang-orang dalam jumlah yang cukup besar pada
pertengahan Zaman Perunggu dan lagi pada Zaman Besi II, dan kemudian pada Zaman Nabataea
dan pada akhir zaman Rumawi... Sebuah tempat yang bernama 'Ain Qedeis telah ditemukan pada
tempat yang layak pada tahun 1842, oleh J. Rowlands... Tempat itu kemudian ditemukan kembali
oleh H.C. Trumbull yang mengumumkannya pada tahun 1884. Di dekatnya, sebuah tempat yang
bernama 'Ain el-Qhudeirat, yang merupakan sebuah mata air yang lebih melimpah, terdapat sebuah
bukit yang menandakan sebuah perkampungan dengan pecahan-pecahan barang tanah dari Zaman
Besi. Menurut Glueck, ini merupakan lokasi utama dari Zaman Besi di seluruh daerah itu (hal.
117)... Shur dianggap sebagai kata Ibrani untuk garis pertahanan Mesir di Genting Tanah Suez,
meskipun kata itu, yang berarti 'tembok', tidak menggambarkan pertahanan ini secara tepat. Menurut
arkeolog Perancis Cledat, yang menyelidiki daerah itu, tampaknya terdiri dari pos-pos pertahanan
yang tidak saling menyambung. Bagaimanapun juga, jalan menuju Shur (drk _wr, Kejadian 16:7)
mungkin merupakan jalur transportasi kuno ke Mesir dari Beersheba, dinamakan Darb el Shur oleh
Wooley dan Lawrence, dan melewati Khalasa, Ruheibeh, Bir Birein', Muweileh ke arah selatan (hal.
69).
Pendeknya, terletaknya Kadesh dan Shur di selatan Palestina dan Sinai merupakan tidak lebih dari
suatu dugaan saja, hanya sebuah dugaan yang mengasal. Perlu pula dicatat bahwa tidak ada Gerar
yang dapat ditemukan antara 'Ayn Qudays dan daerah genting Suez. Kalaupun Gerar terletak di sana,
bagaimanapun juga letaknya mestinya jauh dari Gaza dan bir al-Sab', yang samasekali tidak
menolong kita.
Kesulitan dalam menempatkan Gerar di Palestina dilipatgandakan oleh referensi mengenai tempat
ini dalam Tawarikh II 14. Di sini kota ini nampaknya dimiliki oleh bangsa Kusy (h-kwsym), yang
biasanya disamakan dengan bangsa 'Etiopia', terutama karena teks-teks Bibel sering menghubungkan
Kusy, atau kws dengan msrym, yang selama ini dianggap berarti 'Mesir' (mengingat bahwa Etiopia
adalah tetangga Mesir di sebelah selatan). Dalam Septuaginta Yunani kata Ibrani kws terkadang
diubah melalui transliterasi, dan terkadang diterjemahkan secara bebas sebagai Aithiopia atau
Aithiopes, dan hal ini mendorong para ahli Bibel modern untuk menyamakan tempat ini dengan
Etiopia. Andaikata bangsa Kusy benar-benar adalah bangsa Etiopia, adalah lazim bila seseorang
bertanya bagaimana mereka dapat menguasai suatu daerah di Palestina yang jauh itu? Mungkinkah
bangsa Etiopia tersebut merupakan bangsa Mesir pada abad ke-duapuluhlima atau dinasti 'Etiopia'
(716-656 S.M.)? Rasanya ini tak boleh jadi, mengingat bahwa mereka memerangi Asa, yang
kekuasaannya sebagai raja telah berakhir sekitar satu setengah abad sebelumnya. Di sini Kraeling
lagi (hal. 217) menggambarkan bagaimana kesulitan ini yang sejauh kini telah terpecahkan:
Kisah dalam Tawarikh... menegaskankan pengetahuan (sic) tentang sebuah pendudukan pada zaman
pemerintahan Asa oleh Zerah dari Kusy atau Zerah dari Etiopia... Bangsa Etiopia tidak memegang
kekuasaan di Mesir sebelum ada berikutnya, maka orang Kusy ini tentunya bukan seorang Fir'aun,
namun mungkin ia adalah seorang gubernur Mesir dari kerajaan 'Sungai kecil Mesir'[2] dan daerah
dalam kekuasaan Mesir di sebelah utaranya sampai sejauh Gerar. Kita juga mendengar dari tempat
lain bahwa 'putra-putri Ham' (dengan kata lain, Kusy) tinggal bersebelahan dengan suku Simeon[3]
di daerah selatan. (Tawarikh I 4:3a) dan Gedor (mengenai penyangkalan hal yang belakangan ini,
lihat Simons, alinea 322).
Perlu ditambahkan pula di sini bahwa Mareshah (atau mrsh) dan dari sini 'Zerah dari Etiopia'
mencapai serangannya terhadap Yudah, telah dikenali dengan sebuah Tall Sandahannah di Palestina
bagian selatan, 'yang juga menandakan Maris Greco Rumawi... di sebelah timur hirbet mer'ash, yang
nama kunonya masih ada' (Simons, alinea 318). Sebenarnya 'Mer'ash' (mr's) dan 'Mareshah' (mrsh)
samasekali tidak merupakan nama yang sama, dan hanya mungkin terlihat sama oleh mereka yang
bukan pemakai bahasa Semit, yang mengabaikan desahan tekak yang disuarakan pada nama yang
pertama, karena mereka tidak dapat mengucapkannya. 'Lembah Zephathah' (gy' spth) telah membuat
pengenalan atasnya begitu sulit sampai-sampai tidak ada yang mencoba untuk menerka lokasinya -betapa pun ngawur terkaan itu. Salah satu penjelasan mengenai hal ini ialah bahwa bentuk Ibrani
dari nama yang sama mungkin tidak lebih dari suatu ketidak jelasan teks (Simons, alinea 254),
penjelasan yang bukan merupakan pemecahan yang memuaskan bagi problema ini.
Untuk meringkaskan, kita dapat menyimpulkan yang berikut ini:
1. Pengenalan terhadap Gerar menurut Injil di Palestina belum memberikan hasil yang
memuaskan, dan tidak ada tempat-tempat di sana yang masih memakai nama itu.
2. Telah ada dugaan bahwasanya mestinya Gerar terletak di Palestina bagian selatan, karena
Kejadian 10 menyebutkan tempat itu berhubungan dengan sebuah 'zh, yang diperkirakan
adalah Gaza di Palestina, sedangkan Kejadian 26 menyebutnya berhubungan dengan sebuah
sb'h atau b'r sb', yang diperkirakan adalah Bir al-Sab' di Palestina, yang sekarang biasa
disebut Beersheba.
3. Kalau kita menganggap bahwa Kadesh menurut Bibel adalah oase 'Ayn Qudays di dekat
Wadi Al-'Arish, dan bahwa Shur metinya terletak lebih jauh ke arah barat Sinai, di dekat
genting tanah Suez, maka Gerar tidak mungkin terletak di antara Beersheba dan Gaza, dan
juga antara Kadesh dan Shur, sebagaimana ditegaskan dalam Kejadian 20.
4. Kalau bangsa Kusy benar-benar adalah orang-orang Etiopia, dan Gerar terletak di selatan
Palestina, maka kekuasaan atas Gerar oleh bangsa 'Kusy' sebagaimana dijelaskan dalam
Tawarikh II 14, tidak dapat dijelaskan dengan mudah.
Guna membongkar misteri Gerar, mungkin paling baik jika kita memulai dengan bukti-bukti yang
diberikan oleh Tawarikh II 14, dengan cara memastikan siapa sebenarnya bangsa Kusy itu. 'Kusy'
seperti telah dikatakan tadi dihubungkan dengan msrym, yang jelas berarti Mesir dalam beberapa
sebutan menurut Bibel (contohnya Raja-raja I 14:25f; Tawarikh II 12:2f; dan juga Raja-raja II 23:29;
Tawarikh II 35:20f; Yeremia 46:2). Di tempat-tempat lain dalam Bibel, seperti yang akan kita lihat
(pada Bab 13 dan 14), nama msrym dapat menandakan satu di antara lokasi di Arabia Barat,
termasuk dusun Misramah (msrm) di dataran tinggi Asir, antara Abha dan Khamis Mushait, atau
dusun Masr (msr) di Wadi Bishah, di pedalaman Asir. Jika mencari kws (atau 'Kusy') di daerah itu,
seseorang dapat dengan mudah menemukannya sebagai Kuthah (kwt), dekat Khamis Mushait. Ini
merupakan sebuah oase yang terletak di hulu Wadi Bishah, dan oleh karena itu di daerah itu Masr
dapat dijumpai. Di daerah Khamis Mushait yang sama terdapat oase Qararah (qrr) dan Ghurayrah
(gryr, atau grr) salah satu dari Gerar-gerar dalam Bibel. Di dekatnya terdapat pula oase Shaba'ah
(sb'h atau sb'), yang mestinya adalah 'Shibah' atau 'Beersheba' yang tertera dalam Bibel. Kalau
pembaca menganggap bahwa hal ini sukar untuk dipercaya, pertimbangkanlah hal yang berikut ini,
yang tampaknya membereskan argumentasi saya.
4. MENCARI GERAR (2/2)
Seperti yang telah saya sebutkan, kata Ibrani b'r sb' mungkin berarti 'Sumur Kelimpahan',[4]· tetapi
dapat juga dengan salah diartikan sebagai 'Sumur Tujuh'. Dalam laporannya mengenai perjalanan
balik jenderal Rumawi, Aelius Gallus, dari ekspedisinya ke Arabia pada tahun 245 S.M., Strabo
(16:4:24) secara rinci menggambarkan tahap-tahap yang diambil oleh Gallus sewaktu ia keluar dari
'Negrana' (Najran) untuk mencapai pelabuhan 'Negra' (Nujayrah dekat bandar Umm Lajj masa ini) di
Laut Merah. Di sana, pasukan-pasukan Rumawi menaiki kapal-kapal Y.; g membawa mereka
kembali ke Mesir. Strabo melaporkan bahwa sebelas hari setelah meninggalkan Najran, Gallus
sampai pada sebuah tempat yang bernama 'Tujuh Sumur,' jelas suatu upaya untuk menterjemahkan
b'r sb' atau b'r sb'h. Dalam mempelajari teks-teks Strabo yang berkenaan dengan eksplorasi Arabia
yang dilakukannya, H.St.J.B. Philby (Arabian Highlands, Ithaca, N.Y., 1952, hal. 257; selanjutnya
disebut Philby) menafsirkan bahwa 'Tujuh Sumur' itu mestinya adalah Khamis Mushait yang terletak
sejauh 260 kilometer dari Najran. Philby mengamati adanya desa Shaba'ah di antara pedusunan di
hilir Khamis Mushait, di daerah 'yang sebagian mendapat pengairan dari luapan air sungai, dan
sebagian lagi dari sumur-sumur yang kebanyakan bermulut lebar...' (hal. 132). Namun, yang luput
dari pengamatannya ialah bahwa nama Shaba'ah merupakan sb'h di dalam Bibel, yang dikenali
dalam Kejadian 26 sebagai tempat yang sama dengan b'r sb'. Dugaannya ialah bahwa Khamis
Mushait itu sendiri pernah bernama 'Bir saba'' (hal. 257).
Menurut Strabo, Gallus memerlukan waktu 40 hari untuk menyelesaikan perjalanan dari 'Tujuh
Sumur' ke 'Negra', yang ia lukiskan terletak dengan laut; jalan yang ia ambil melewati 'Chaalla' dan
'Malothas', yang terakhir ini terletak di sebuah 'sungai'. Tanpa mempertimbangkan kenyataan bahwa
'Negra' hanya dapat terletak di sepanjang pesisir Laut Merah, mengingat bahwa pasukan-pasukan
Rumawi menaiki kapal-kapal mereka di sana, Philby sementara mengenalinya dengan daerah
pedalaman di Mada'in Salih di sebelah utara Medinah, dan melakukan identifikasi yang tidak tepat
terhadap 'Chaalla' dan 'Malothas'. Ia menduga 'Chaalla' adalah Qal'at Bishah, di Wadi Bishah, dan
menduga 'Malothas' adalah Turabath atau Khurma, di pedalaman Hijaz (hal. 257). Sebenarnya, jalan
dari Khamis Mushait menuju ke pesisir mengikuti aliran 'sungai, Wadi al-Dila', di daerah Rijal
Alma', dan dua buah pedesaan bernama Qal'ah (Chaalla) dan Maladah (Malothas) masih terdapat di
sana. Jalan ini kemudian menuruni bukit menuju Darb; dan di sana menyambung dengan sebuah
jalan lagi yang menuju ke utara melewati gurun pasir pesisir Arabia Barat sejauh Umm Lajj dan
Nujayrah (Negra). Inilah yang persis dikatakan oleh Strabo: 'Jalannya (Aelius) dari sini melewati
padang pasir, yang hanya terdapat beberapa tempat pengambilan air'. Sepanjang jalan yang
disebutkan tadi, jarak total dari wilayah Khamis Mushait sampai pada Umm Lajj atau Nuiayrah kirakira adalah 1.100 kilometer, yang dapat dengan mudah ditempuh dalam waktu 40 hari berjalan kaki.
Pendeknya, bangsa 'Kusy' (yang pasti mereka dalam Tawarikh II 14) bukanlah orang-orang 'Etiopia,'
melainkan orang-orang suku daerah sekitar Kuthah (dengan kata lain, orang-orang dataran tinggi
Khamis Mushait), di ketinggian Wadi Bishah, tidak jauh di hulu Shaba'ah, kota dalam Bibel b'r sb'
atau Beersheba. 'Yudah' yang mereka jajah, seperti yang akan kita saksikan pada Bab 8, meliputi
lereng-lereng sebelah barat Asir. Sewaktu mereka menuju 'Yudah' ini, Zerah dari Kuthah mencapai
'Mareshah' atau mrsh yang kini merupakan satu di antara dua buah desa: Mashar (msr) atau Mashari
(msr), di pedalaman Qunfudhah. Di daerah yang sama terdapat lembah Wadi Hali, dan di sana
sedikitnya terdapat sebuah desa yang bernama Sifah (dengan akhiran feminin, spt), sebuah kamus
ilmu bumi menyebutkan dua buah pedesaan, mungkin secara tidak disengaja. Maka dari itu, 'lembah
Zephathah, yang ada dalam Bibel (gy' spth), merupakan referensi kepada aliran utama Wadi Hali,
atau kepada anak lembah ini tempat dua buah Sifah kini berada. Zerah harus menyeberangi tebing
utama Asir dari Wadi Bishah guna mencapai Mashar (atau Mashari) dan wadi Hali di pedalaman
Qunfudhah. Setelah menderita kekalahan di sana, ia mundur menyeberangi tebing curam itu menuju
ke Wadi Bishah, dikejar oleh Raja Asa dan pasukannya: mereka melakukan perampokan terhadap
kota Gerar dan daerah sekitarnya yang makmur itu.
Menurut Kejadian 20, seperti yang telah diketahui, Gerar terletak antara Kadesh dan Shur. Gerar ini
(yang tampaknya sama dengan Gerar yang tertera di dalam Kejadian 26 dan Tawarikh II 14)
mestinya dahulu adalah Qararah, bukan Ghurayrah, di daerah sekitar Khamis Mushait, karena
Qararah ini sebenarnya terletak di jalan utama antara Kadas (kds, bandingkan dengan kata Ibrani
qds), di Rijal Alma', dan Al Abu Thawr (twr, bandingkan dengan kata Ibrani sur), di Wadi Bishah.
Di sini tidak ada kebingungan mengenai koordinat, atau setidaknya kesulitan dalam mengenali
Kadesh dan Shur dengan nama mereka masing-masing. Tentunya, seseorang tidak harus terpaksa
menduga-duga atau memaksakan sebuah penafsiran atas penemuan-penemuan arkeologi yang belum
mencukupi dalam usahanya untuk membuktikan sesuatu. Lebih lagi, baik dalam Kejadian 20
maupun 26, seorang 'raja' Gerar disebut sebagai bernama Abimelech ('by mlk), yang dilukiskan
dalam Kejadian 26 sebagai seorang raja dari orang-orang 'Filistin' (plstym, tunggal plsty, bentuk
genitif dari plst). Di sini ada dua pengamatan yang perlu dilakukan. Pertama, seluruh daerah yang
terletak di atas pembagi perairan di sebelah barat laut Khamis Mushait, termasuk daerah Wadi
Bishah tempat Qararah terletak, memakai nama kesukuan Bani Malik (mlk). Begitu pula halnya
dengan sebuah desa di daerah yang sama. Ini dapat berarti bahwa 'Abimelech' (secara harfiahnya
'Ayah dari Malik') dalam Kejadian 20 dan 26 belum tentu merupakan namanya, tetapi mungkin
adalah sebuah referensi terhadap serangkaian kepala-kepala suku Malik di daerah itu, yang juga
merupakan 'raja-raja' Qararah. Mengingat akan celah-celah generasi antara kisah-kisah yang
diceritakan dalam Kejadian 20 dan 26, 'Abimelech' dalam kedua kisah itu agaknya tidak mungkin
orang yang sama. Pengamatan saya yang kedua ialah mengenai Gerar (atau Qararah) dan bangsa
Filistin (lihat Bab 14). Di utara Qararah, di lembah sungai Wadi Bishah, masih ada sebuah desa yang
bernama Falsah (plst), yang jika memang demikian, penduduknya tentunya disebut plstym dalam
bahasa Ibrani. Desa Falsah ini mudah saja merupakan bagian wilayah Qararah pada suatu waktu,
yang dapat menjelaskan mengapa nama-nama 'Abimelech' yang tertera dalam Kejadian digambarkan
sebagai 'raja-raja' Gerar dan juga sebagai raja-raja bangsa 'Filistin.'
Berpaling pada Kejadian 10, kita dapat melihat bahwa koordinat-koordinat yang diberikan untuk
Gerar di sana sama sekali berbeda dengan koordinat-koordinat untuk Gerar dalam Kejadian 20,
Kejadian 26 dan Tawarikh II 14. Di sini Gerar disebutkan scarah dengan salah satu perbatasan tanah
bangsa Kanaan atau kn'ny, membentang dari sydn sampai pada 'zh, sedangkan sebuah perbatasan
lagi yang juga bertolak dari sydn, dan membentang ke arah sdm (Sodom), 'mrh (Gomorrah), 'dmh
(Admah) dan sbym (Zeboiim) sampai pada ls' (Lasha).
Sydn yang dimaksud di sini jelas bukan bandar Sidon, Libanon (sekarang Sayda, atau syd' di
Libanon). Dari keempat Sidon yang bernama Zaydan atau Al Zaydan (zydn) yang masih ada sampai
saat ini di berbagai daerah Asir yang tertera dalam Kejadian 10 mestinya Al Zaydan, di ketinggian
Jabal Shahdan - sebuah puncak Jabal Bani Malik, di pedalaman Jizan yang menguasai sebuah jalan
gunung yang strategis di sepanjang perbatasan antara daerah Jizan dan Yaman. Dari Al Zaydan ini,
perbatasan kedua tanah Kanaan yang disebut dalam Kejadian 10 membentang ke barat ke arah
pesisir Laut Merah berakhir di deretan pedesaan terakhir di tepi gurun pasir pesisir, antar Wadi
Sabya dan daerah Bahr di sebelah utara Wadi 'Itwad. Seperti yang akan kita lihat pada Bab 7, nama
suatu kota yang hilang, yaitu Sodom (sdm), masih ada sampai kini sebagai Wadi Damis (dms),
sebuah cabang Wadi Sabya, yang mengalir tepat di sebelah utara gunung berapi kembar Jabal
'Akwah, dan masih terletak di dalam ladang lahar itu. Gomorrah ('mrh) mungkin merupakan sebuah
kota yang hilang di Wadi Damis yang terkubur, seperti halnya Sodom, di bawah lahar yang
disemburkan oleh gunung berapi setempat, atau mungkin Ghamr (gmr) masa ini, yang terletak di
lerengan Jabal Harub, di atas Wadi Damis. Saling berhadapan, masing-masing di tepian yang
berbeda dari aliran utama Wadi Sabya, kota kembar Sabya (sby', dalam bahasa Ibrani sby, 'gazelle,'
dengan kata sandang tertentu yang berakhiran) dan al-Zabyah (zby, bentuk Arab dari kata yang sama
dengan kata sandang tertentu yang berawalan) mestinya kota Zeboiim menurut Bibel (sbym, bentuk
ganda atau jamak dari sby) jauh di sebelah utaranya adalah Lasha (ls') di lembah sungai Wadi
Bishah, yang namanya telah diubah dalam bentuk Arab masa ini, yaitu al-'Ashshah ('l-'s, dengan l
yang diucapkan sebagai kata sandang tertentu Arab). Lebih jauh lagi di utara, Admah ('dmh) terletak
di seberang Wadi 'Itwad di wilayah Bahr, dan namanya masih bertahan sebagai al-Dumah dengan
akhiran feminin (dmh, dengan hamzah pertama pada bentuk asli nama itu dibuang, seperti yang
biasanya dilakukan).
Kalau perbatasan tanah Kanaan kedua, seperti yang digambarkan dalam Kejadian 10, membentang
dari Al Zaydan sampai ke gurun pasir pesisir Laut Merah di sebelah barat, perbatasan yang pertama
membentang ke utara, mengikuti garis pembagi perairan, dan sampai pada 'zh -- bukan 'Gaza' tetapi
Al 'Azzah ('zh). Ini merupakan sebuah dusun indah yang bertengger terasing di puncak sebuah
punggung bukit di daerah Ballahmar di Sarat, di selatan Nimas. Sesungguhnya, di Asir ada sejumlah
tempat lain yang memakai nama yang sama, tetapi hanya ada satu di pesisir Palestina, yaitu Gaza,
atau gzh.
Ini membawa kita pada permasalahan Gerar (grr) dalam Kejadian 10, yang disebutkan di sana untuk
menunjukkan arah terbentangnya perbatasan Kanaan dari sydn ke 'zh. Gerar pertama yang kita
jumpai di sana ialah Ghurar (grr), di Jabal Bani Malik. Yang kedua, lebih jauh di utara, ialah al-Jarar
(grr), di Jabal Harub. Yang ketiga, masih lebih jauh lagi di utara, ialah Ghirar (grr) di seberang Wadi
'Itwad, di Rijal Alma'. Yang keempat, masih lebih jauh lagi di utara dan lebih dekat pada Al 'Azzah,
ialah al Qararah (qrr), yang terletak di sepanjang puncak Sarat di daerah sekitar Tanumah. Meskipun
tidak ada Gerar di Libanon ataupun di Palestina, antara Sidon dan Gaza, atau melewati Gaza dari
Sidon, terdapat tidak kurang dari empat buah Gerar di dataran tinggi Asir, antara Al Zaydan dengan
Al 'Azzah, yang membuat kita bertanya-tanya yang mana di antara mereka adalah Gerar sebenarnya
yang dimaksudkan itu, dan Gerar yang mana yang terletak di sepanjang perbatasan Kanaan itu.
Mengingat yang tertera di atas, tanah bangsa Kanaan dalam Bibel di Arabia Barat mestinya meliputi
lereng-lereng pesisir Asir dari daerah sekitar wilayah Ballahmar di utara sampai pada sebagian
wilayah Jizan di Selatan. Di sini kita menjumpai dua buah pedusunan yang bernama Qina' (qn',
bandingkan dengan kn', asal kata kn'n) di Majaridah bagian utara, wilayah Ballahmar, yang terdapat
pula sebuah dusun yang bernama 'Azzah. Di samping itu, ada sebuah desa yang bernama Al-Qina';
yang satu disebut Dhi al-Qina', dan satu lagi bernama al-Qana'at (qn't, bentuk jamak feminin dari
qnn'). Dua desa yang bernama Qan'ah (qn't, bentuk jamak feminin qn') terletak di wilayah Jizan,
belum lagi tiga buah nama tempat dengan akar kata yang sama di bagian-bagian lain Asir dan Hijaz
bagian selatan. Yang terakhir adalah sebuah desa yang bernama Al Kun'an ('l kn'n, secara harfiahnya
berarti 'dewa Kanaan') di Wadi Bishah, di seberang pembagi perairan dari wilayah Majaridah.
Pendeknya, bukti toponimis mengenai penempatan bangsa Kanaan (yang berbeda dengan bangsa
Kanaan di Suria) di Arabia Barat menghendaki agar kita mempertimbangkan kembali dengan cermat
prasangka-prasangka yang umumnya dipegang mengenai masalah ini (lihat Bab 14 dan 15;
mengenai bangsa Kanaan Suria, lihat Bab 1).
Yang jelas terlihat adalah bahwa Gerar dalam Kejadian 10 tidak mungkin sama dengan Gerar yang
tertera dalam Kejadian 20, Kejadian 26 ataupun dalam Tawarikh II 14. Inilah sebabnya mengapa
hanya Kejadian 10 saja yang menyebutkan grr berhubungan dengan 'zh -- Al 'Azzah di wilayah
Ballahmar, dan bukan 'Azzah di wilayah Majaridah ataupun 'Azzah lainnya yang terletak lebih jauh
di utara di Wadi Adam (lihat Bab 14). Sedangkan Gedor (gdr) dalam Tawarikh I 4:39f, namanya
jelas bukan merupakan suatu kesalahan dalam membaca Gerar (grr). Terletak di wilayah selatan
Simeon (lihat Lampiran), mestinya Gedor merupakan apa yang kini adalah desa Ghadr (gdr) di
pedalaman Jizan, walaupun masih ada beberapa kemungkinan lain.
Mengingat akan semua ini, lokasi 'rs h-nqb menurut Bibel antara Kadesh dan Shur, yang disebut
dalam Kejadian 20 berhubungan dengan Gerar, hanya dapat berarti wilayah sekitar al-Naqb (nqb,
dengan kata sandang tertentu Arab), di Rijal Alma', jauh di seberang pembagi perairan dari Qararah.
Seharusnya sampai di sini duduk perkaranya sudah jelas: tidak ada tempat yang bernama Gerar di
dekat Gaza, di Palestina. Namun di antara sejumlah tempat yang dijumpai di Asir, sebuah, yaitu alQararah ialah Gerar yang disebutkan dalam Kejadian 20, 26 dan Tawarikh II 15, dan yang satu lagi
(salah satu dari empat buah tempat yang bernama Ghurar, al-Jarar, Ghirar atau al-Qararah) ialah
Gerar dalam Kejadian 10 (lihat Peta 7). Akhirnya, perlu dicatat bahwa pengenalan terhadap Gerar
yang pertama dengan menggunakan bukti-bukti toponimis dan Bibel berjalan sejajar dengan
pengenalan terhadap Kusy, Filistin, Beersheba, Esek, Sitnah, Rehoboth, Kadesh, Shur, Mareshah,
Zepathah dan Nageb di sekitar daerah yang sama, antara wilayah Khamis Mushait dan bagian-bagian
Asir di seberang pembagi perairan ke arah barat. Pengenalan terhadap Gerar yang kedua berjalan
sejajar dengan pengenalan atas kota-kota dalam Bibel Sodom, Gomorrah, Admah, Zeboiim, dan
Lasha di satu arah, dan dua buah tempat yang sampai kini diperkirakan sebagai 'Sidon' dan 'Gaza' di
arah yang lain. Di samping itu, perlu dicatat pula mengenai adanya bukti-bukti untuk mengenali
Kanaan menurut Bibel di lereng-lereng maritim Asir, antara daerah-daerah Majaridah dan Jizan.
Para arkeolog belum menggali daerah-daerah tersebut, ataupun daerah-daerah lain di Asir; jika
mereka melakukannya, mereka akan menemukan banyak hal yang menakjubkan. Sebagaimana
dikatakan Gerald de Gaury, salah seorang Inggris-Arab yang terakhir (Arabia Phoenix ... London,
1964, halaman 119):
Di lembah-lembah Asir, Yaman, dan Hijaz, terdapat reruntukan-reruntukan yang pada suatu hari
akan mengungkapkan kepada para sejarawan dan kepada dunia lebih banyak mengenai negeri-negeri
tua ... dan ... kerajaan-kerajaan Arabia yang lebih awal, dan akan menunjukkan dengan jelas arti-arti
yang terkandung dalam kitab-kitab Bibel yang lebih awal serta mengenai kiasan-kiasan bersejarah
dalam Qur'an. Siapa yang mengetahui akan adanya harta karun yang terpendam di antara kekusutan
puing-puing Asir?
Yang akan menyusul adalah sebuah upaya yang sederhana guna menggali beberapa di antaranya.
7. MASALAH YORDAN (1/2)
Dengan menyatakan bahwa Yordan (h-yrdn) dalam Kitab Bibel Ibrani samasekali bukan merupakan
sebuah sungai (bahasa Ibrani dan Arabnya nhr) tentu nampaknya seperti perbuatan yang semenamena bahkan mungkin menghina Tuhan. Tetapi seperti yang diketahui oleh semua ahli Bibel, tidak
ada sebutan dalam Bibel yang sebenarnya menyatakan bahwa Yordan adalah sebuah sungai.[1]
Bagaimana sungai Palestina yang termasyhur itu mendapatkan nama itu sendiri merupakan suatu
pertanyaan, namun bukan pertanyaan tersebut yang akan dibahas di sini.[2] Tujuan saya adalah
untuk menentukan apa sebenarnya Yordan dalam Bibel Ibrani itu, kalau bukan sebuah sungai, dan
untuk menunjukkan bagaimana kebingungan itu timbul.
Secara etimologis, yrdn menurut Bibel ini merupakan kata benda jadian dari asal kata yrd (kata Arab
rdy, disuarakan rada), yang berarti 'turun, jatuh, jatuh ke bawah'. Dari asal kata yang sama ini
terbentuk pula kata benda Arab yrd (rayd) dan bentuk femininnya rydh atau rydt (raydah), yang
pertama merupakan istilah umum yang menunjukkan 'bayangan sebuah gunung, lereng gunung yang
curam', dan yang kedua sebuah istilah khusus yang menunjukkan sebuah 'tonjolan gunung atau
punggung bukit'. Pemakaian kedua istilah ini berhubungan dengan daerah pegunungan, meskipun
secara teoritis merupakan umum, penggunaannya terbatas pada wilayah barat dan selatan Arabia. Di
sini Raydah dan Raydan (rydn, yaitu ryd dengan kata sandang kuno yang berakhiran, yaitu n,
bandingkan dengan kata menurut Bibel, yrdn) merupakan nama-nama tempat yang umum, atau
istilah-istilah topografis yang masuk dalam pembentukan nama-nama tempat gabungan. Di Asir
sendiri, sedikitnya ada lima desa pegunungan di pelbagai wilayah yang bernama Raydah (atau
Raydat dengan nama lain sesudahnya); sedikitnya ada dua pedesaan yang bernama Raydan; dan
sedikitnya ada satu dengan nama Ridan (rdn, kemungkinan adalah sebuah kependekan yrdn).
Dalam penggunaan Bibel, h-yrdn yang secara tradisional dianggap sebagai nama sebuah sungai
tertentu di Palestina, tidak selalu merupakan sebuah nama tetapi (seperti dalam bahasa Arab) sebuah
istilah topografis yang berarti 'lereng yang curam' atau 'punggung bukit'. Dalam pembentukan 'br h-
yrdn ('di seberang' atau 'melewati' yrdn), sampai kini dianggap berarti 'Trans-jordania' (dengan kata
lain, wilayah di sebelah timur Yordan Palestina), h-yrdn selalu menunjukkan pada tebing curam
Sarat (lihat Bab 3), yang membentang dari Taif di Hijaz sebelah selatan, sampai pada wilayah
Dhahran, dekat perbatasan Yaman. Dalam kebanyakan hal, 'br h-yrdn berkenaan dengan daerah
pedalaman Asir yang berbeda dengan daerah pesisir Asir, yang dulu merupakan tanah Yudah bangsa
Israil (lihat Bab 8). Namun, tanpa kata 'br, h-yrdn' dapat dikaitkan dengan daerah mana saja di tebing
curam Asir; sering pula h-yrdn menunjuk pada salah satu di antara punggung-punggung bukit
terpencil yang tidak terhitung jumlahnya di sisi maritim pegunungan curam di tempat lain,
(contohnya, seperti di Jabal Abu Hamdan di wilayah Najran; lihat Bab 15). Ini jelas diketahui dari
pembentukan kata seperti yrdn yrhw, bukan 'Yordan di Yericho' (RSV), (melainkan) 'punggung
bukit di yrhw, yrhw ini kini merupakan desa Warakh (wrh) di dataran tinggi Zahran (lihat di bawah).
Kenyataan bahwa ada lebih dari satu yrdn (bukan 'Yordan') yang dibicarakan, ditandai pula oleh
ungkapan h-yrdn hzh ('tebing curam ini', bukan 'Yordan ini'), yang timbul tidak kurang dari enam
kali pada Hexateuch (Kejadian 32:11; Ulangan 3:27, 32:2; Yosua 1:2, 11, 4:22). Kalau h-yrdn benarbenar merupakan sebuah sungai tertentu atau sebuah tebing curam tertentu, agaknya bagi kita sulit
untuk menemukan suatu alasan yang menjelaskan mengapa h-yrdn seringkali dikhususkan sebagai
'yrdn ini', terkecuali kalau ada sungai-sungai dan tebing-tebing curam lainnya dengan nama yang
sama.[3] Sebenarnya, ungkapan h-yrdn hzh hanya berarti 'tebing curam ini' atau 'punggung bukit ini',
guna membedakannya dari punggung bukit atau punggung-punggung bukit yang lain.
Untuk menunjukkan kenyataun bahwa 'Yordan' menurut Bibel bukan merupakan sebuah sungai
dengan nama ini, melainkan hanya sebuah istilah geografis yang berkenaan dengan tebing-tebing
curam dan punggung-punggung bukit pegunungan di Hijaz bagian selatan dan Asir, marilah kita
saksikan, bagaimana istilah ini timbul bersama pelbagai kelompok nama tempat. Arabia Barat dalam
pelbagai sebutan dalam Bibel. Contoh pertama yang saya ambil ialah dari laporan mendetil
mengenai penyeberangan 'Yordan' tersebut oleh orang-orang Israil di bawah pimpinan Yosua, dari
saat orang-orang Israil berangkat untuk penyeberangan itu dari Shittim sampai pada pengkhitanan
masal 'orang-orang Israil' di Gibeath-Haaraloth (Yosua 3:15:3). Pertama-tama, marilah kita tetapkan
tempat persis pemberangkatan dan kedatangan mereka. Tempat pemberangkatan mereka yaitu
Shittim (ejaan Bibel h-stym), tampaknya merupakan sebuah punggung bukit di sekitar daerah Wadi
Wajj (mungkin sekarang Jabal Suwayqah, tepat di sebelah utara Taif), yang namanya diperlihatkan
dalam kesusastraan Arab kuno sebagai Jabal Shatan (stn).[4] Lokasi Shittim di sana dapat didukung
lebih jauh lagi dengan pengenalan atas daerah itu, tempat orang-orang Israil telah tiba di bawah
pimpinan Nabi Musa, yang jelas termasuk bagian-bagian wilayah Taif, di sebelah timur pembagi
perairan.[5] Tempat kedatangan mereka, di tempat dilaksanakan sebuah pengkhitanan masal
terhadap kaum pria Israil yang belum dikhitankan, sekarang merupakan desa Dhi Ghulf (bahasa
Arabnya d glp) secara harfah berarti 'kepunyaan kulit khatan'. Nama menurut Bibel tempat itu,
Gibeath Haaraloth (bahasa Ibraninya gb't h-'rlwt), berarti 'bukit kulit khatan'. Kalau Jabal Shatan
terletak di sebelah timur pembagi perairan Arabia Barat, Dhi Ghulf terletak di sebelah baratnya, di
lembah Wadi Adam yang terletak di daerah-daerah tinggi wiIayah Lith. Untuk mencapai Dhi Ghulf
dari Jabal Shatan, seseorang harus menuju ke arah selatan dan kemudian menuju ke arah barat guna
menyeberangi pembagi perairan di daerah rendah Wadi Buqran di sebelah selatan Taif.
Dari Jabal Shatan menuju Dhi Ghulf, penyeberangan Yordan, oleh orang-orang Israil ini, seperti
yang dilukiskan dalam Kitab Yosua, dapat ditelusuri kembali sampai detil-detil yang terakhir dalam
lingkungan Arabia Barat-nya. Kita harus pula mengingat bahwa ini belum pernah berhasil diikuti
kembali sehubungan dengan lingkungan yang secara tradisional dianggap sebagai Palestina (lihat
Kraeling, halaman 132-134). Orang-orang Israil itu dikabarkan bertolak untuk penyeberangan itu
pada musim panen (mestinya akhir musim semi), sewaktu wadi-wadi di kanan kiri yrdn, atau 'tebing
curam' mengalir dengan amat deras (3:15).[6] Waktu mereka sampai di tempat mereka dapat
menyeberang, air itu menyusut (atau disusutkan dengan cara yang bijaksana, yaitu dengan cara
membuat sebuah bendungan) agar orang-orang Israil dapat menyeberanginya (3:16). Dari bahasa
Ibrani, kejadian itu dilaporkan dalam terjemahan-terjemahan standar sebagai berikut:
Air yang mengalir dari atas (m-l-m'lh) terdiam dan bangkit membentuk suatu timbunan jauh (nd 'hd
h-rhq m'd) di Adam ('dm) kota yang terletak di sebelah Zarethan (srtn), dan yang mengalir menuju
lautan Arabah ('l ym 'rbh), Laut Garam (ym h-mlh) sama sekali terputus hubungan; dan orang-orang
pun melintas di hadapan Yericho (yryhw) (RSV).
Secara tradisional ungkapan Ibrani ym 'rbh ym h-mlh yang diterjemahkan dengan salah sebagai 'Laut
Arabah, Laut Garam' dianggap menunjuk pada Laut Mati Palestina. Tetapi dalam bahasa Ibrani ym
dapat berarti baik 'laut' maupun 'barat'. Maka dari itu penterjemahan yang benar atas seluruh ucapan
ym 'rbh ym h-mlh seharusnya adalah 'di sebelah barat 'rbh (sebuah tempat), di sebelah barat h-mlh
(sebuah tempat pula). Lokasi-lokasi yang bersangkutan adalah Ghurabah (grbh) di Wadi Buqran,
sedikit ke timur pembagi perairan dan sebuah desa di dekatnya, yaitu al-Milhah (mlh, dengan kata
sandang tertentu Arab). Terjemahan-terjemahan yang salah lainnya dalam sebutan yang baru saja
dikutip adalah sebagai berikut:
1. Ungkapan Ibrani m-l-m 'lh merupakan suatu cara yang sangat janggal untuk mengatakan 'dari
atas', karena secara harfiah itu mempunyai arti 'dari atas'. Secara benar seharusnya ia
berbunyi m-lm'lh, yang berarti 'dari lm'lh', nama sebuah tempat yang sekarang merupakan alMa'lah ('l-m'lh), di wilayah Taif, dekat Ghurabah dan al-Milhah.
2. Ungkapan Ibrani nd 'hd, menurut konteks seharusnya diterjemahkan sebagai 'satu bendungan'
dan bukan 'suatu timbunan'. Sebenarnya di sini ungkapan itu timbul sebagai suatu susunan
kata-kata keterangan yang berarti 'dalam satu bendungan'.
3. Ungkapan Ibrani h-rhq m'd, jika dibaca seperti itu, berarti 'jarak banyak', itulah sebabnya
ungkapan tersebut diterjemahkan sebagai 'jauh'. Tetapi kalau dibaca h-rhq m-'d, akan berarti
'yang membentang dari 'd', nama sebuah tempat yang kini merupakan Wadd (wd), di bagian
sama pada wilayah Taif seperti halnya Ghurabah, al-Milhah dan al-Ma'lah.
Tempat-tempat yang masih perlu dikenali adalah Adam, Zarethan dan Yericho, mengingat jarak
yang dilaporkan antara kedua kota yang pertama itu. Seharusnya Adam sekarang merupakan Adam
('dm, bentuk ubahan dari 'dm dalam Bibel), desa yang terletak di sebelah barat pembagi perairan
Taif, yang memberi namanya pada lembah Wadi Adam. Zarethan (srtn) mestinya kini merupakan
desa Raznah (rznt), juga di Wadi Adam. Sedangkan Yericho (di sini yryhw bukan yrhw), tidak
diragukan lagi kini adalah desa Rakhyah (rhy), di Wadi Adam. Mengingat semua ini, Yosua 3:16
seharusnya diterjemahkan seperti berikut:
Air yang mengalir dari al-Ma'lah terdiam, mereka bangkit dalam satu bendungan yang terbentang
dari Wadd, di Adam, kota yang letaknya di sebelah Raznah, dan mereka yang mengalir di sebelah
barat Ghurabah di sebelah barat al-Milhah sama sekali terputus hubungan; dan orang-orang pun
melintas di hadapan Rakhyah.
Jelas, air yang surut (agaknya karena dibendung) yang memungkinkan orang-orang Israil
menyeberangi tebing curam di daerah Buqran itu berasal dari Wadi Adam yang mengalir dari
pembagi perairan ke arah barat, dari ketinggian wilayah Taif menuju ke laut. Dengan diterjemahkan
secara ini, titik penyeberangan ditetapkan dengan ketepatan yang mengagumkan.
Sewaktu mereka menyeberangi daerah rendah Buqran antara Ghurabah dan Adam, kaum pria Israil
(jika teks Ibrani dibaca dengan benar) 'mengambil dua belas buah batu' dari tebing curam itu (hyrdn), 'sesuai dengan jumlah suku-suku bangsa Israil' (4:18). Ketika mereka sampai di Gilgal (glgl),
Yosua mengambil keduabelas batu itu dan mendirikan sebuah tanda peringatan penyeberangan hyrdn hzh ('tebing curam ini', atau 'punggung bukit ini'). Anekdot ini, seperti yang dilaporkan, pasti
merupakan suatu usaha untuk menjelaskan berdirinya bukit kecil Jabal Juljul (glgl) di padang Sahl
Juljul (juga glgl), di Wadi Adam. Padang dan bukit kecil itu keduanya sampai kini masih ada di
sana, dengan ciri-ciri nama Bibelnya yang serupa tidak berubah.
Agar dapat mencapai padang Juljul, atau 'Gilgal', orang-orang Israil menuruni Wadi Adam 'di
hadapan Yericho (yryhw)' (3:16), dengan kata lain di hadapan desa Rakhyah yang secara geografis
adalah benar. Juljul (atau 'Gilgal') tempat mereka berkemah terletak di perbatasan timur Yericho,
seperti yang ditegaskan oleh terjemahan tetap dari ungkapan Ibrani b-qsh m-zrh yryhw (4:19). Di
sini kata Ibrani qsh yang dianggap berarti 'perbatasan' dan zrh yang dianggap berarti 'timur',
sebenarnya merupakan dua buah nama desa di Wadi Adam: Qasyah (qsy) dan Sarhah (srh). Desa
yang kedua yaitu Sarhah dikenali sehubungan dengan desa Rakhyah (seperti zrh yryhw) di dekatnya,
guna membedakannya dari sebuah desa lain yang bernama Sarhah di daerah yang sama. Maka
terjemahan ayat tersebut yang benar seharusnya adalah: 'mereka berkemah di Juljul, di Qasyah, dari
Sarhah Rakhyah'. Maka luas perkemahan tersebut telah ditandai.
Serupa dengan cerita mengenai keduabelas batu Juljul atau 'Gilgal' itu, kisah mengenai pengkhitanan
masal terhadap semua pria Israil yang belum dikhitankan di Gibeath-Haaraloth (sekarang Dhi Ghulf,
lihat di atas) haruslah menandakan suatu usaha untuk menjelaskan suatu fenomena yang aneh -dalam hal ini nama aneh sebuah tempat yang bernama 'bukit kulit khatan'. Mengapa tempat ini
sebenarnya diberi nama ini bukanlah hal yang penting di sini.[7] Yang penting adalah kini bahwa
desa Dhi Ghulf di Arabia Barat --seperti halnya Rakhyah (atau 'Yericho'), Juljul (atau 'Gilgal'),
Qasyah dan Sarhah-- terletak di Wadi Adam, yang cocok sekali dengan tafsiran geografis dari
penyeberangan 'Yordan' orang-orang Israil di bawah pimpinan Yosua. Kebetulan, koordinatkoordinat tempat penyeberangan itu di sepanjang daerah rendah Wadi Buqran di sebelah selatan Taif
adalah 21° LU dan 40°30" BT.
Kalau 'Yordan'nya Yosua merupakan sebuah daerah rendah pegunungan di Hijaz bagian selatan di
sepanjang tebing curam utama Arabia Barat, 'Yordan'nya Lot (Kejadian 13:10-12) merupakan
punggung bukit Jabal Harub, kira-kira 450 km ke arah selatan-barat daya di wilayah pesisir Jizan,
dan di tempat ini masih terdapat desa Raydan (bandingkan dengan h-yrdn Ibrani). Dari titik tolaknya
di 'Negeb' (h-ngb), antara 'Bethel' (byt 'l) dan 'Ai' (h-'y) (Kejadian 13:2), Lut kabarnya berpisah
dengan pamannya, yaitu Abram orang Ibrani (lihat Bab 12, 13, dan 15) dan pergi untuk menetap di
sebuah daerah yang dilukiskan sebagai kkr h-yrdn, biasanya diartikan dalam terjemahan-terjemahan
sebagai 'lingkaran Yordan', atau 'Lembah Yordan'. Kalau kkr berarti 'lingkaran', yang nampaknya
memang demikian, maka kkr h-yrdn mestinya menunjuk pada lembah-lembah subur yang diairi
dengan cukup menyebar dari punggung bukit Harub yang nama aslinya adalah h-yrdn, nampaknya
masih bertahan dalam nama desa Raydan.
Bahwasanya kkr h-yrdn meliputi lembah-lembah di kaki Jabal Harub, di wilayah Jizan di Asir
bagian selatan, dan bukan 'lembah Yordan' di Palestina, dibuktikan oleh rencana perjalanan Lut
seperti diceritakan dalam Kejadian. 'Negeb' (ngb) tempat Lut bertolak menuju kkr h-yrdn sudah jelas
bukan gurun pasir Negeb di Palestina bagian selatan melainkan 'Negeb' itu adalah desa al-Naqb
(nqb), yang sampai kini masih berdiri di lerengan Rijal Alma' di sebelah barat kota Abha (lihat Bab
4). Di sini sampai kini masih terdapat pedesaan Batilah (btl); kota dalam Bibel Bethel, dan al-Ghayy
(gy), dengan kata sandang Arab, bandingkan dengan h'y-nya Ibrani) yaitu kota dalam Bibel Ai.[8]
Untuk sampai pada kkr h-yrdn, Lut pertama-tama harus pergi ke Jabal Harub, dan dari sana menurun
menuju ke lembah-lembah. Dalam Kejadian 13:11, sebenarnya disebutkan bahwa Lut melakukan
perjalanan 'dari qdm' (Ibraninya m-qdm) guna mencapai tujuannya, qdm kini merupakan tempat
pengambilan air yang bernama Ghamad (gmd) dekat Raydan di punggung bukit Harub. Kini
Ghamad merupakan tempat Pengambilan air utama suku lokal Raydan (atau 'Yordan'). Para
penterjemah Kitab Bibel tidak mungkin mengetahui bahwasanya qdm ialah sebuah nama tempat dan
oleh sebab itu beralasan kuat untuk menterjemahkannya secara harfiah sebagai 'timur'. Akan tetapi
kalau kita anggap Lut bertolak dari Palestina dan bahwa ia harus menuju ke timur untuk mencapai
sebuah kkr h-yrdn, yang kiranya adalah lembah Yordan, para penterjemah ini tampaknya salah
menanggapi kata Ibrani m-qdm sebagai 'ke arah timur' atau 'timur' (RSV), waktu mereka mengetahui
bahwa 'm-qdm' hanya dapat berarti 'dari timur', kalau memang benar qdm itu berarti 'timur'. Bukan
karena ketidakjujuran namun hanya karena ketidaktahuan sajalah mereka menterjemahkan kisah
dalam Kejadian 13:10-12 sedikit banyak seperti berikut:
Dan Lut pun mengangkat matanya dan melihat betapa Lembah Yordan (kkr h-yrdn) di mana-mana
mendapatkan pengairan yang baik (klh msqh) seperti Taman Tuhan (k-gn yhwh), seperti tanah Mesir
ke arah Zoar (k-'rs msrym b-'kh s'r); ini sebelum Tuhan menghancurkan Sodom dan Gomorrah (lpny sht yhwh 't sdm w-'t 'mrh). Maka Lut memilih untuk dirinya Lembah Yordan, dan Lut pun
melakukan perjalanan ke timur (m-qdm) ... Lut tinggal di kota-kota di lembah itu (ry h-kkr) dan
memindahkan tendanya sampai sejauh Sodom (w-y'hl 'd sdm) (RSV).
7. MASALAH YORDAN (2/2)
Di samping secara sewenang-wenang menganggap kkr h-yrdn sebagai lembah Yordan, dan
menterjemahkan m-qdm dengan salah sebagai 'timur' dan bukan 'dari timur' (m-qdm sebenarnya
berarti 'dari Ghamad') para penterjemah ayat ini sebagai bentuk imperfek kuno dari kata kerja 'be'
(dalam bahasa Inggris) (lihat Bab 6, Catatan 9), sebagai nama Tuhan Israil (Yahweh, biasanya
diterjemahkan sebagai 'Tuhan'). Demikian pula, mereka telah menganggap kata Ibrani sht sebagai
sebuah kata kerja dalam bentuk yang menunjukkan bahwa pekerjaan itu sudah dilakukan (perfect
tense), yang berarti 'telah dimusnahkan', padahal kata itu sebenarnya timbul dalam konteks sebagai
sebuah nama tempat (lihat di bawah). Walaupun orisinalnya yang tertulis dalam bahasa Ibrani masuk
di akal dalam bentuk itu, para ahli Bibel yang bekerja di dalam kerangka struktur geografis yang
telah dibentuk sebelumnya telah memindahkan ungkapan l-pny sht yhwh 't sdm w-'t 'mrh dari
tempatnya yang benar. Dalam ungkapan yang asli ungkapan itu terletak persis sesudah klh msqh
atau 'seluruhnya mendapat pengairan', tetapi mereka telah mengubah urutannya dan menempati
ungkapan tersebut sesudah k-'rs msrym b-'kh s'r, yang bukan pada tempatnya. Selanjutnya, mereka
telah menganggap selaku benar bahwa 'rs msrym berarti 'tanah Mesir'. Pada ayat terakhir, mereka
telah selalu menganggap bahwa 'ry h-kkr berarti 'kota-kota di lembah, lingkaran, padang, distrik'.
Akan tetapi, orisinalnya dalam bahasa Ibrani menunjukkan pada 'gua-gua' (Arabnya gr, diucapkan
gar, 'gua') atau 'lembah-lembah' (dalam bahasa Arab gwr, diucapkan gawr, 'kedalaman, lembah')
pada tempat tersebut. 'Gua-gua' agaknya lebih cocok di dalam konteks ini, karena Lut digambarkan
bermukim di sebuah gua, dalam hal ini sebuah m'rh,[9] pada Kejadian 19:30. Inilah penterjemahan
kembali yang saya buat dari teks yang sama, dengan membiarkan nama-nama tempat yang disebut
dalam bentuk Ibrani, aslinya untuk pengenalan selanjutnya.
Dan Lut pun mengangkat matanya dan melihat bahwa kkr h-yrdn diairi dari arah sht (l-pny sht); ia
terletak di samping sdm dan mrh (yhwh 't sdm w-'t 'mrh). Tampaknya seperti sebuah taman (k-gn
yhwh); seperti tanah msrym ke arah s'r. Maka Lut memilih untuk dirinya seluruh kkr h-yrdn dan Lut
melakukan perjalanan dari qdm ... Lut tinggal di gua-gua kkr, dan mendirikan kemahnya sampai
sejauh sdm.
Yang dikemukakan oleh terjemahan baru teks konsonan Ibrani ini adalah dua buah kelompok nama
tempat, yang sebuah berkenaan dengan tiga buah lokasi dalam 'lingkaran Raydan' (kkr h-yrdn
dengan kata lain di lembah-lembah sekitar punggung bukit Jabal Harub) yaitu sht, sdm dan 'mrh, dan
yang sebuah lagi berkenaan dengan dua lokasi di tempat lain, msrym dan s'r, lokasi-lokasi yang ada
pada kelompok pertama dengan baik dibandingkan dengan msrym dalam hal kesuburannya. Kelima
tempat lokasi itu namanya masih bertahan di Asir modern: ketiga tempat pertama terletak di wilayah
Jizan, tempat yang memang disangka sebagai lokasinya, dan yang dua lainnya terletak di daerah
yang sangat subur di sekitar wilayah Abha yaitu bagian dari Sarat yang diberkahi dengan curah
hujan terbesar. Ini adalah kelima nama tempat yang dikenali melalui nama mereka sekarang:
1. Sht, kini Shakit (sht) di Jabal Bani Malik, di sebelah timur tenggara Jabal Harub, dan persis
di sebelah timur tenggara Jabal Harub, dan persis di sebelah timur Wadi Sabya.
2. Sdm, atau 'Sodom': namanya tetap bertahan dalam bentuk metatesis, yaitu Wadi Damis
(dms), cabang Wadi Sabya yang paling jauh di barat (lihat Bab 4)
3. 'Mrh, atau 'Gomorrah': Ghamr (gmr), di lerengan Jabal Harub di atas Wadi Damis.
4. Msrym: di sini jelas bukan 'Mesir', melainkan Misramah (msrm) desa yang kini terletak di
dekat Abha (lihat Bab 4).
5. S'r, atau 'Zoar': tidak diragukan lagi adalah al-Sa'ra' (s'r), juga dekat Abha, ada pula 'Zoar'
lainnya di Asir.
Guna mendukung pengalihan tempat kejadian cerita Lut dalam Kejadian, saya memberi bukti yang
jenisnya berbeda. Sodom dan Gomorrah dalam daftar itu menurut Kejadian 19:24 dimusnahkan pada
zaman Lut masih hidup oleh suatu hujan 'batu belerang' sebuah 'api kematian dari surga' (lihat Bab 6,
Catatan 9). Ini seperti menunjukkan pada sebuah letusan gunung berapi. Ada beberapa Sodom di
Asir yang kemungkinannya merupakan Sodom dalam Bibel. Salah satu diantaranya adalah Sudumah
(persis sdm), di wilayah Bani Shahr; namun tidak satu pun yang terletak di dekat sebuah gunung
berapi. Tidak begitu halnya dengan Wadi Damis yang aliran rendahnya mengalir di tengah-tengah
padang lahar gunung berapi 'Akwah. Para ahli Bibel yang masih mencari-cari peninggalanpeninggalan Sodom (atau peninggalan-peninggalan Gomorrah) di daerah sekitar Laut Mati di
Palestina perlu mengingat bahwa belum pernah ditemukan sisa-sisa kegiatan-kegiatan vulkanis kuno
di daerah itu. Kedua kota itu mestinya terpendam dibawah lahar Wadi Damis di wilayah Jizan
dibawah Jabal Harub, walaupun ada sebuah desa yang bernama Ghamr (gmr) yang mungkin
dahulunya merupakan kota menurut Bibel adalah Gomorrah di lerengan Jabal Harub.[10] Yrdn atau
'Yordan', dua tempat yang diasosiasikan dengannya dalam kisah migrasi Lut, tidak mungkin kalau
bukan punggung bukit Harub yang nama Bibelnya (yang artinya 'punggung bukit') masih digunakan
oleh desa Raydan. 'Lingkaran' (kkr) mestinya merupakan istilah kolektif yang dipakai guna
menunjukkan lembah-lembah yang menyebar dari pelbagai sisi punggung bukit Harub, membentuk
lembah-lembah (sungai) Wadi Sabya dan Wadi Baysh; juga qdm Lut bukanlah 'timur', melainkan
anak sungai Ghamad di dekat Raydan.[11]
Mengenai nama tempat msrym, harus ditegaskan bahwa kota ini jarang digunakan didalam Bibel
Ibrani untuk menunjuk pada Mesir, seperti yang biasa diduga.[12] Dimana msrym tidak berkenaan
dengan Misramah dekat Abha (lihat Bab 4 dan 13), ia berkenaan dengan Masr di Wadi Bishah atau
dengan Madrum (mdrm) di dataran tinggi Ghamid (lihat Bab 14). 'Pharaoh' (pr'h) dalam Bibel,
seperti yang akan dikemukakan kemudian, bukanlah Fir'aun Mesir, melainkan seorang dewa orangorang Arabia Barat yang diasosiasikan dengan Misramah dan Masr disamping beberapa tempat
lainnya,[13] dan mungkin juga tanda pangkat kepala-kepala sebuah suku di daerah itu. Kata menurut
Bible msr dapat juga merupakan nama sebuah suku di Arabia Barat yang dalam bahasa Arabnya
bernama Mudar (mdr, 'susu yang diasamkan'). Kenyataan menunjukkan bahwa sebuah suku
'Pharaoh' yang bernama Far'a (pr'), kini masih ada di Wadi Bishah, memakai nama dewa kuno atau
kepala-kepala suku daerah itu.
Kalau sudah dikenali h-yrdn dalam Bibel ini, atau 'Yordan' bukanlah sebuah sungai, melainkan
sebuah istilah yang berarti 'punggung bukit, tebing curam', atau sebuah nama tempat seperti Raydan
yang mempunyai arti sama, maka mudahlah untuk memahami ungkapan-ungkapan gabungan
menurut Bibel lainnya yang menggunakan istilah itu. Telah diamati bahwa yrdn yrhw (Bilangan
26:3, 63; 31:12; 33:48, 50; 35:1; 36:13) bukanlah 'Yordan di Yericho' (RSV), melainkan 'punggung
bukit Warakh' di dataran tinggi Dhahran. Disamping yrdn yrhw adapula ungkapan-ungkapan
menurut Bibel lainnya yang menonjolkan istilah yrdn yang perlu diperhatikan. M'brwt h-yrdn,
misalnya, bukanlah 'benteng-benteng Yordan' (RSV), melainkan 'jurang-jurang tebing curam'.[14]
Spt h-yrdn (Raja-raja II 2:13) bukanlah 'tepian sungai Yordan' (RSV), melainkan 'tepi tebing curam'
(bandingkan dengan kata Arab sph atau sp', 'tepi jurang'). Bahkan orang-orang Arab yang tinggal di
Arabia Barat masih menunjuk pada tebing curam Arabia Barat dengan cara ini. Glylwt h-yrdn
(Yosua 22:11) bukanlah 'wilayah sekitar Yordan', melainkan 'sisi yang bertingkat-tingkat (dalam
bahasa Arab gl, 'tingkat', dari kata gll) dari tebing curam', kecuali kalau referensinya kepada
beberapa pedesaan yang kini bernama al-Jallah (gl) di bagian tebing curam Asir.
Akhirnya, g'wn h-yrdn (Yeremia 12:5, 49:19; 50:44; Zakaria 11:3) jelas bukan 'rimba Yordan'. Kata
Ibrani g'wn dibuktikan berarti 'tinggi'. Hanya suatu daya khayal yang tinggi saja yang dapat
mengartikannya sebagai 'pohon-pohon tinggi', sehingga ditafsirkan sebagai 'rimba'. Sebagai sebuah
istilah, g'wn h-yrdn dapat berarti 'ketinggian, tebing curam'. Tetapi secara kebetulan ada dua buah
lembah yang bernama Wadi Ghawwan (gwn) di wilayah Jizan di Asir. Yang pertama adalah sebuah
lembah pesisir yang menuju ke laut ke kota pelabuhan Shuqayq. Namun yang kedua, lebih jauh ke
selatan, merupakan sebuah di antara hulu Wadi Baysh yang bermula di ujung utara tebing curam
Harub atau jaringan yrdn (yrdn atau Raydan-nya Lut) dan bergabung dengan hulu-hulu lainnya di
sana. Guna membedakan antara 'Ghawwan tebing curam' ini atau 'Ghawwan Raydan' dengan Wadi
Ghawwan di daerah pesisir ke arah utara, teks-teks Bibel tersebut menyebutnya g'wn h-yrdn.
Jika kita mempertimbangkan kembali sebuah teks Bibel yang berkenaan dengan g'wn h-yrdn ini,
maka kita akan menemukan suatu alternatif yang menarik dari pembacaan standar. Dalam
terjemahan-terjemahan konvensional dari Zakaria 11:1-3 (di sini RSV) kita dapat membaca yang
berikut ini:
Bukalah pintu-pintumu, wahai Libanon (lbnwn), agar api itu dapat melahap pohon-pohon arasmu
(w-t'kl 's b'rzyk): Merataplah, wahai pohon saru, karena pohon aras ('rz) telah tumbang, karena
pohon-pohon agung itu telah rusak (sr drym sddw): Merataplah, pohon-pohon ek (tunggalnya 'lwn)
dari Bashan (bsn), karena hutan yang lebat telah ditebangi (ky yrd y'r h-bswr): Dengarlah (qwl)
ratapan gembala-gembala itu ('llt h-r'ym) karena keagungan mereka ('drtym) telah dirusak (sddh):
Dengarlah qwl auman singa-singa itu (s'gt kpyrym), karena rimba Yordan (g'wn h-yrdn) dirusak
(sdd).
Ini jelas indah; namun sayangnya samasekali tidak akurat. Yang terkandung dalam teks Ibrani ini
bukanlah dua buah tetapi sedikitnya tujuh buah nama tempat. Lbnwn yang dimaksudkan bukanlah
Gunung Libanon, tetapi dataran tinggi dan lembah Lubaynan (lbynn) yang membatasi wilayah Jizan
dari arah tenggara dan kini jatuh di wilayah Yaman (lihat Bab 1). Tumbuhan 'rz dari Lubaynan tidak
mungkin pohon aras, melainkan tanaman jenever raksasa setempat. Bsn yang diterjemahkan sebagai
Bashan bukan al-Bathaniyyah, yaitu wilayah dataran tinggi di sebelah timur Sungai Yordan, seperti
yang telah lama diduga, melainkan al-Bathanah (btn) di Jabal Faifa yang memandang ke bawah
lembah-lembah wilayah Jizan. Tumbuhan 'lwn di Bathanah bukan pohon ek tetapi tumbuhan lokal,
yaitu pohon butun. Terjemahan standar yang telah saya kutip tadi mengenali lbnwn dan bsn dalam
Zakaria sebagai nama-nama tempat, namun tidak dapat mengenali nama-nama yang lain. Salah satu
di antaranya ialah g'wn (g'wn h-yrdn) yang disebut sebagai Wadi Ghawwan zaman sekarang, di yrdn
yang kini merupakan Jabal Harub. Dan inilah keempat nama-nama lainnya:
1. 'Drym: bukan 'pohon-pohon yang agung', tetapi bentuk jamak kata 'dr, di sini berarti 'puncak'
(bandingkan dengan kata Arab drw; dalam dialek daerah pedalaman wilayah Jizan adalah
dry, dalam maskulinnya diucapkan sebagai dari). Di sini referensinya adalah kepada kerucutkerucut vulkanis atau 'puncak-puncak' Jabal Hattab di utara Yaman, di sebelah timur dataran
tinggi Lubaynan.[15] Di ujung selatan Jabal Hattab sampai kini berdiri sebuah desa yang
bernama Darwan (drwn, bandingkan dengan kata Ibrani 'drym, 'puncak-puncak'). Ini
mungkin merupakan nama lama 'puncak-puncak' di daerah tersebut.
2. Bswr: bukan berarti 'ditebangi' (dari kata bsr, 'mengiris'), namun kini merupakan desa Sabir
(sbr) di distrik Bani Ghazi, di pedalaman Jizan, di kaki Jabal Harub.
3. R'ym: belum tentu berarti 'gembala-gembala' (seperti dalam bentuk jamaknya r'y), namun
lebih tepat kalau berkenaan dengan para penghuni Ri' (r'ym, seperti dalam bentuk jamaknya
genitif r') di distrik Bani Ghazi wilayah Jizan, di lerengan jabal Masidah. 'Dr ('drtm) atau
'puncak' 'mereka' (bukan 'keagungan mereka') tentunya adalah Jabal Masidah tersebut.
4. Kpyrym: belum tentu berarti 'singa-singa' (jamak kpyr), namun lebih tepat kalau merupakan
sebuah nama tempat dalam bentuk maskulin jamak yang menandakan desa al-Rafaqat
(bentuk feminin jamak rpq, bandingkan dengan kpyr-nya bahasa Ibrani) kini terletak di
lerengan Jabal Harub; dengan kata lain di sekitar daerah Wadi Ghawwan (atau g'wn h-yrdn)
yang sama.
Maka dari itu, dalam mempertimbangkan kembali teks Zakaria sehubungan dengan gagasan-gagasan
baru ini, saya mengusulkan
Penterjemahan kembali teks tersebut sebagai berikut:
Bukalah pintu-pintumu, wahai Lubaynan, dan api itu akan memakan pohon-pohon jenever-mu;[16]
Merataplah, wahai pohon saru, karena pohon jenewer yang dirusak Darwan telah tumbang;
Merataplah, wahai pohon-pohon butun Bathanah, karena hutan Sabir telah tumbang;[17] Dengarlah
ratapan orang-orang Ri', karena puncak mereka telah hancur; Dengarlah auman al-Rafaqat, karena
Ghawwan Raydan telah hancur.
Para pembaca bersedia atau tidak menerima penterjemahan kembali yang diusulkan di atas, ada satu
hal yang sudah dapat dipastikan: Bibel Ibrani tidak mengatakan sesuatu pun mengenai 'rimba
Yordan' di daerah tempat kelimpahan pepohonan ini diduga keras berada. Ini merupakan suatu salah
penterjemahan yang seharusnya akan membuat ragu para pengunjung yang kurang cermat sekalipun.
Bagaimana dengan Yordan (juga h-yrdn) tempat Naaman dari Aram 'menyelam sebanyak tujuh kali'
untuk menyembuhkan dirinya dari penyakit kusta (Raja-raja II 5:14)? Mungkinkah seseorang
menyelam tidak ke dalam air, melainkan ke dalam bebatuan tebing curam atau punggung bukit?
Jelas tidak. Tempat yang disebut yrdn tempat Naaman 'menyelam sebanyak tujuh kali' tersebut
mustahil kalau bukan merupakan sebuah sungai kecil atau kolam air. Jika halnya demikian, maka
istilah yrdn berasal dari akar kata Semit yang sama yaitu yrd -- di sini bukan berarti 'turun, jatuh ke
bawah', namun dalam pengertian kata Arab wrd yang berarti 'pergi ke air'. Sambil mengingat bahwa
Naaman melakukan penyembuhan 'Yordan'-nya di dekat 'Samaria, (swrwn) yang kini adalah desa
Shimran (smm) di pedalaman Qunfudhah di pesisir Asir (lihat Bab 10), 'Yordan' yang satu ini
sebagai sebuah 'sungai kecil' atau 'kolam air', tentunya merupakan bagian anak sungai Wadi Nu's
yang mengalir di daerah ini. Tanah asal Naaman yang bernama Aram 'rm kini mestinya adalah Wadi
Waram wrm di daerah-daerah rendah Rijal Alma' di sebelah selatan Shimran atau 'Samaria'. Di
tempat itu 'Damaskus'-nya dmsq atau d-msq) jelas tidak mungkin Damaskus yang terletak di Suria,
Damaskus ini kini adalah desa lokal yang bernama Dhat Misk (dt msk). Tidak ada sungai-sungai
yang bernama Pharphar prpr dan Abana (bn') yang mengalir di daerah sekitar Damaskus Suria.
'Sungai-sungai' di tanah asal Naaman yang ia bandingkan secara yakin dengan 'Yordan' atau yrdn
tempat ia melakukan penyembuhannya (Raja-raja II 5:12), memakai nama-nama yang kini
dipergunakan pedesaan Rafrafah (rprp) dan al-Bana (bn). Jalan air utama di wilayah tersebut adalah
lembah Wadi Hali. Oleh sebab itu kita dapat menganggap bahwa Pharphar dan Abana menurut Bibel
merupakan dua di antara sejumlah anak sungai Wadi Hali yang sama ini.
8. YUDAH ARABIA (1/2)
Kalau para pembaca sudi mengakui bahwa Yordan menurut Bibel itu mungkin saja merupakan
sebuah tebing curam pegunungan yang penting di Arabia Barat, maka mereka akan mendapatkan
sedikit kesulitan dalam menerima pra-anggapan bahwa Yudah menurut Bibel paling-paling adalah
daerah perbukitan yang mengapit sisi maritim Asir. Lebih jelasnya saya mempunyai pendapat bahwa
Yudah milik orang-orang Israil kuno terletak di sebuah daerah yang terbentang dari pembagi
perairan di pegunungan Sarat (yrdn yang utama, atau 'Yordan' dalam Bibel Ibrani) sampai pada
gurun pasir Tihamah di daerah pesisir (Tehom dalam Bibel).
Menurut Bibel Ibrani Yudah adalah salah satu nama di antara keduabelas suku Israil. Yudah juga
merupakan nama yang dipakai untuk menandakan wilayah yang dihuni oleh suku tersebut dan juga
untuk menandakan salah satu di antara dua kerajaan pecahan dari 'Seluruh Israil' yang pecah setelah
wafatnya Sulaiman. Pada zaman Achaemenid, nama ini lebih umum dipakai guna menunjukkan
seluruh tanah bangsa Israil yang pada saat itu telah tidak merdeka lagi.
Tanah suku Yudah tampaknya terletak di Wadi Adam di Hijaz bagian selatan (lihat Lampiran).
Daud, pendiri kerajaan 'Seluruh Israil', berasal dari Yudah, dan kota asalnya adalah 'Bethlehem' (byt
lhm), sebuah desa yang kini dikenal sebagai Umm Lahm ('m lhm). Tidak mengherankan apabila
dinasti yang ia dirikan dikenal sebagai 'Keluarga Kerajaan Yudah', mencerminkan asal-usulnya,
mungkin yang lebih penting lagi adalah apa yang kita kenal sebagai agama atau adat istiadat Yahudi
(Yudaisme) kemungkinan besar mengambil namanya dari kerajaan --bukan dari suku atau tanah
kesukuan-- Yudah yang bertahan terus di bawah keluarga kerajaan Daud sampai kerajaan itu
dihancurkan oleh orang-orang Babilonia pada tahun 586 S.M.
Yang kita kenal sebagai Yudaisme yang dikembangkan oleh para nabi, atau nby'ym yang hidup di
bawah perlindungan raja-raja Yudah (lihat Bab 1), dan Kitab Bibel Ibrani yang kita ketahui pada
hakekatnya merupakan hasil karya kerajaan Yudah dan bukan kerajaan saingannya, yaitu Israil.
Setelah hancurnya kedua kerajaan itu, Yudahlah yang lebih banyak menetap dalam ingatan orang.
Paling tidak agar kita dapat menganggap dari kenyataan itu bahwa nama Yudah diberikan kepada
seluruh bekas wilayah kekuasaan orang-orang Israil pada zaman Achaemenid. Kaum Yahudi sebagai
suatu masyarakat keagamaan mendapatkan namanya dari Yudah (Yehudim dalam Bibel, tunggalnya
Yehudi, dari Yehudah), bukan Israil yang masih kita kenal sampai saat ini.
Hampir sudah dapat dipastikan bahwa Yudah merupakan sebuah nama geografis sebelum menjadi
nama sebuah suku Israil. Bentuk Ibraninya, yhwdh, adalah kata benda jadian dari yhd --yaitu
padanan kata Arab whd yang berarti 'terletak rendah, tertekan', yang tidak berkenaan dengan orang,
melainkan dengan tanah. Dalam bahasa Arab, whd menghasilkan kata benda wahd (whd) dan
wahdah (whdh, dengan akhiran feminin) yang berarti 'daerah tanah datar, tanah yang berbaring
rendah; jurang', sedangkan yhwdh dalam Kitab Bibel, berasal dari kata yhd, yang mestinya
merupakan suatu istilah topografis Semit kuno yang kira-kira mempunyai arti yang sama.
Sebenarnya daerah perbukitan yang mengapit sisi maritim Asir ini, yang menurut keyakinan saya
adalah Yudah, ialah suatu bentangan daratan yang bukan hanya terdiri dari punggung-punggung
bukit yang saling terjalin yang beberapa di antaranya menonjol keluar dari barisan utamanya dan
yang lain berdiri terasingkan di sana sini, namun juga terdiri dari tanah wahd atau wahdah yang
letaknya rendah. Agaknya Yudah kuno mendapatkan namanya dari kata yang terakhir ini.[1]
Dalam teks-teks Bibel tak terhitung lagi jumlah referensi pada Yudah yang mendukung pernyataan
saya bahwa Yudah adalah wilayah kekuasaan Israil sebagai suatu bangsa dan bukan wilayah
kekuasaan sebuah suku Israil tertentu (lihat Lampiran). Sebagian besar juga memperkuat pernyataan
saya bahwa sebagian besar tanah mereka terdiri dari lerengan maritim Asir geografis, di samping
Hijaz bagian selatan sampai sejauh punggung bukit Taif. Sebuah contoh yang baik didapati dari dua
buah kisah yang menceritakan kembalinya keturunan-keturunan orang Israil buangan dari Babilonia
ke Yudah pada zaman Achaemenid, ditemukan dalam Ezra 2:3-63 dan Nehemia 7:8-65. Kedua teks
tersebut, dengan variasi-variasi yang tidak jauh berbeda, menuliskan kelompok atau masyarakat
Israil menurut kota-kota dan desa-desa asal mereka, bukan menurut suku-suku atau keluarganya,
seperti yang sampai kini diduga.[2] Jika meneliti kedua teks tersebut dengan menggunakan sebuah
peta Jazirah Arab yang baik dan sebuah kamus nama-nama tempat di Arabia guna memberi
bimbingan yang lebih jauh --serta lebih dari satu kamus tersebut agar memudahkan pekerjaan ini
sehingga tak dapat terjadi kesalahan-kesalahan-- seseorang dengan mudah dapat menempatkan
hampir semua kota dan pedesaan yang disebutkan dalam Ezra dan Nehemia.
Terkadang itu merupakan daerah-daerah yang masih memakai nama yang sama. Dan terkadang
berada dalam bentuk-bentuk yang sama yang dapat dikenali. Semuanya selalu dapat dijumpai di
bagian-bagian kira-kira dari wilayah Taif dan daerah pedalaman Luth di sebelah utara, sampai ke
daerah pedalaman Jizan di sebelah selatan. Bahkan istilah-istilah yang sampai kini diperkirakan
menandakan 'para pendeta', 'para Levit', 'para penyanyi', 'para penjaga gerbang', 'para pelayan kuil',
atau 'para pelayan Sulaiman' jika diteliti kembali dengan lebih cermat nampaknya lebih berkenaan
dengan kelompok-kelompok yang berasal dari daerah-daerah tertentu di wilayah umum yang sama
dan dari lingkungan Arabia yang lebih luas (terutama wilayah Najran; lihat bawah).
Untuk menetapkan fakta-fakta mengenai hal ini, baiklah saya memulainya dengan meneliti
kelompok yang terakhir. Mengingat kemustahilan dalam jumlah 'para pendeta' yang sangat besar
tersebut, adalah aneh juga penafsiran secara tradisional atas kelompok ini dan juga kelompokkelompok lainnya tidak diperiksa selama ini. Bagaimanapun juga, pertimbangkanlah yang berikut
ini:
a. 'Para pendeta' (h-khnym) konon berjumlah 4.289 orang (kira-kira sepersepuluh dari jumlah orangorang Israil yang kembali, yang berjumlah sekitar 40.000 orang), dan dibagi seperti berikut ini (Ezra
2:36-39; Nehemia 7:39-42):
1.
2.
3.
4.
'Putra-putra' Yedaiah (yd'yh)
'Putra-putra' Immer ('mr)
'Putra-putra' Pashhur (pshwr)
'Putra-putra' Harim (hrm)
Kata menurut Bibel khnym tidak dapat ditafsirkan sebagai bentuk jamak kata Ibrani khn, atau
'Pendeta' karena itu akan berarti bahwa setiap satu orang di antara sepuluh orang Israil yang kembali
merupakan seorang pendeta. Khnym lebih tepat dianggap sebagai bentuk jamak khny, genitif khn
sebagai sebuah nama tempat, sehingga berarti 'orang-orang khn'. Tanah asal khnym tampaknya kini
berupa oase Qahwan (qhwn, pada hakekatnya qhn, bentuk kata dalam Bibel khn yang telah
diarabkan) di Wadi Najran di sekitar oase Salwah. Anggapan ini didukung oleh distribusi geografis
khnym yang kota-kota asalnya atau wilayah-wilayah asalnya (bukan keluarga-keluarganya) tertulis
dalam Ezra dan Nehemia seperti berikut:
1. Yedaiah (yd'yh) yang kini jelas merupakan daerah kesukuan Wadi'ah (wd'h) di Wadi Najran.
Ezra (2:36) dan Nehemia (7:39) berbicara mengenai bny yd'yh l-byt ysw' biasanya
diterjemahkan sebagai 'putra-putra Yedaiah dari Keluarga Kerajaan Yosua', namun
sebenarnya berarti 'orang-orang Wadi'ah ke byt ysw' (sebuah nama tempat)', karena l yang
berpreposisi dalam bahasa Ibrani berarti 'ke', bukan 'dari'. Masyarakat yang dibicarakan
mestinya jelas ialah penghuni-penghuni sebuah daerah yang membentang dari Wadi'ah
ditengah-tengah Wadi Najran, sampai (bukan 'dari') oase Wasi' (wsy', bandingkan ysw' dalam
Bibel) di selatan Riyadh, dan di ujung timur wilayah Yamamah di Arabia Tengah.
2. Immer ('mr), kini merupakan oase Al-Amar ('mr) di wilayah Yamamah di Arabia Tengah, di
sebelah timur laut daerah Wadi Najran yang lebih luas.
3. Pashhur (pshwr), kini jelas merupakan oase Wadi Harshaf (hrsp) di Wadi Habuna, di sebelah
utara Wadi Najran.
4. Harim (hrm), kini bentangan oase Wadi Harim (hrm) di ujung barat wilayah Yamamah di
Arabia Tengah.
Dari semua ini jelas bahwa khnym tentunya merupakan sebuah masyarakat yang mempunyai tanah
asal yang membentang dari Wadi Najran ke arah utara sampai ke Wadi Habuna, dan ke arah timur
laut memasuki wilayah Yamamah di Arabia Tengah. Luas wilayah tersebut mungkin dapat
menjelaskan mengapa para khnym yang kembali itu, menurut Ezra dan Nehemia, berjumlah sangat
besar. Karena terletak di pedalaman, tanah khnym merupakan tambahan tanah Yudah dan bukan
suatu bagian integral darinya.
b. 'Para Levit' (h-lwym) dibagi sebagai berikut (Ezra 2:40; Nehemia 7:43):
1. 'Putra-putra' Yeshua (ysw').
2. 'Putra-putra' Kadmiel (qdmy'l atau qdmy 'l).
3. 'Putra-putra' Hodaviah (hwdwyh dalam Ezra; hwdwh, atau 'Hodevah' dalam Nehemia.
Para lwym (jamak lwy, genitif lw atau lwh) bukanlah orang-orang ulama 'Levit', melainkan mereka
mestinya merupakan sebuah masyarakat yang berasal dari Lawah (lw atau lwh) di Wadi Adam. Di
Wadi Adam yang sama kini masih terdapat sebuah desa yang bernama Hudayyah (hdyh) yang tak
lain adalah Hodaviah dalam Ezra dan Hodevah dalam Nehemia. Dalam teks-teks Ezra dan Nehemia
orang-orang Hudayyah di Wadi Adam dibedakan dari kedua kelompok lwym lainnya yang secara
bersamaan disebut 'putra-putra Yeshua dan Kadmiel'. Ini dikarenakan 'Yeshua' dan 'Kadmiel'
merupakan tempat-tempat yang terletak saling berdekatan di pedalaman Lith tak jauh dari daerah
yang terletak lebih rendah dari Wadi Adam di sekitar daerah yang kini bernama Ghumayqah. Di sini
'Yeshua' kini ditandakan oleh desa Sha'yah (s'y, bandingkan dengan ysw' dalam Bibel), sedangkan
'Kadmiel' ditandakan oleh desa Al-Qadamah ('l-qdm, tampaknya 'l qdm, 'dewa' qdm, bandingkan
dengan qdmy 'l dalam Bibel).
c. 'Para penyanyi' (h-msrrym, termasuk penyanyi-penyanyi 'Asaph' ('sp) (Ezra 2:41; Nehemia 7:44).
Jelas mereka mestinya merupakan sebuah masyarakat yang berasal dari desa Masarrah (msr, atau
msrr), di wilayah Bariq (Bariq): di sebelah barat wilayah Majaridah. Di sebelah timur Masarra di
wilayah Ballasmar terdapat desa Al-Yusuf (ysp) yang sampai kini memakai nama menurut Bibel
'Asaph'.
d. 'Para penjaga gerbang' (h-s'rym) dibagi sebagai berikut (Ezra 2:42; Nehemia 7:45):
1.
2.
3.
4.
5.
6.
'Putra-Putra' Shallum (slwm).
'Putra-Putra' Ater ('tr).
'Putra-Putra' Talmon (tlmn).
'Putra-Putra' Akkub ('qwb).
'Putra-Putra' Hatita (htyt').
'Putra-Putra' Shobai (sby).
Para s'rym tersebut samasekali bukan 'para penjaga gerbang', melainkan mereka adalah sebuah
masyarakat di wilayah Taif yang berasal dari sebuah tempat yang kini merupakan Sha'ariyah (s'ry).
Seluruh kampung halaman s'rym, seperti yang tertera dalam Ezra dan Nehemia masih dapat dijumpai
di sekitar daerah yang sama. Kampung-kampung halaman tersebut adalah Shumul (smwl, dalam
Bibel slwm, 'Shallum'); Watrah (wtr, dalam Bibel 'tr, 'Atter,); Mantalah (mntl, dalam Bibel tlmn,
'Talmon'); 'Uqub ('qwb dalam Bibel 'qwb juga, 'Akkub'); al-Huwayyit (hwyt, tampaknya merupakan
bentuk Arab dari htyt' yang ada dalam Bibel, 'Hatita'); dan Thawabiyah (twby, bandingkan dengan
sby dalam Bibel).
e. 'Para pelayan kuil' (ntynym) ditulis sebagai 'putra-putra' atau orang-orang dari 35 tempat yang
berbeda (bukan keluarga-keluarga; Ezra 2:43-45; Nehemia 7:46-56).
Tentunya mereka bukanlah 'para pelayan kuil'. Saya yakin mereka adalah sebuah masyarakat di
wilayah Jizan dan wilayah-wilayah Bahr dan Birk di Rijal Alma' yang saling berdekatan. Tempat
asal mereka adalah satu di antara dua buah pedesaan yang kini bernama Tanatin (tntn) di wilayah
Jizan. Inilah ketigapuluhlima pedesaan yang merupakan tempat asal mereka:
1.
2.
3.
4.
Ziha (syh' dalam Ezra; sh' dalam Nehemia): Sakhyah (shy) atau Sakhi (shy) di Rijal Alma'.
Hashupa (hswp'): Hashafah (hsp) di wilayah Birk.
Tabbaoth (tb'wt): 'Atiyyah (tbyt) di wilayah Jizan.
Keros (qrs): Kirs (krs) satu di antara sembilan pedesaan yang memakai nama yang sama di
wilayah Jizan; kecuali kalau itu adalah Kurus (krs) di wilayah yang sama.
5. Siaha (sy'h' dalam Ezra; sy', dalam Nehemia; keduanya memakai kata sandang tertentu Arab
yang berakhiran dan membiarkan nama itu sebagai sy'h atau sy'): al-Sa'i (s'y, dengan kata
sandang tertentu Arab yang berakhiran) di wilayah Jizan.
6. Padon (pdwn): Fadanah (pdn) di wilayah Jizan.
7. Lebanah (lbnh): Lubanah (lbnh) di wilayah Jizan.
8. Hagabah (hgbh): Huqbah (h) di wilayah Jizan.
9. Akkub ('qwb): Al 'Aqibah ('qb) di wilayah Jizan, (berbeda dengan 'Uqub di wilayah Taif,
lihat di atas).
10. Haqab (hqb): Huqbah (hqb) di wilayah Jizan, kecuali kalau itu Huqbah di Rijal Alma' yang
terletak di dekatnya.
11. Shamlai (smly): Shamula' (sml') satu di antara dua pedesaan dengan nama yang sama di
wilayah Jizan.
12. Hanan (hnn): Haninah (hnn), atau mungkin Hanini (hnn), di wilayah Jizan.
13. Giddel (gdl): Jadal (gdl) di wilayah Bahr.
14. Gahar (ghr): Juhr (ghr) atau mungkin Juhrah (ghr) di wilayah Jizan.
15. Reaiah (r'yh): Rayah (ryh', harus ditulis sebagai r'yh) di wilayah Jizan.
16. Rezin (rsyn): dari beberapa alternatif, yang paling besar kemungkinannya adalah Radwan
(rdwn) di wilayah Jizan; kecuali kalau itu adalah Razinah (rzn) di Rijal Alma'.
17. Nekoda (nqwd' atau nqwd kalau kata sandang tertentu Arab yang berakhiran diabaikan):
Najid (ngd) di wilayah Jizan.
18. Gazzam (gzm): Jazayim (gzym) di wilayah Jizan, kecuali kalau merupakan nama Jizan itu
sendiri.
19. Uzza ('z'): Ghazawah (gzw) di wilayah Jizan; kecuali kalau itu 'Uzz ('z) di wilayah Jizan.
20. Pasea (psh): Safah (sph), satu di antara dua pedesaan yang bernama Safah di wilayah Jizan.
21. Besai (bsy): Baswah (bsw) di wilayah Jizan.
22. Asnah ('snh): Wasan (wsn) di wilayah Bahr.
23. Meunim (m'wnym, umumnya diberi vokal sebagai sebuah kata jamak, namun mungkin saja
sebagai bentuk ganda m'wn atau m'wny): Ma'ani (m'n) dua pedesaan dengan nama yang
sama di Rijal Alma'; kecuali kalau referensinya adalah pada lembah Wadi Ma'ayin (bentuk
jamak Arab m'yn, disuarakan ma'yan) di wilayah Jizan yang kemungkinannya lebih kecil.
24. Nephisim (npysym bentuk jamak genitif npys): Nasifan (nspn, bentuk tunggal Arabnya nsp)
di Wadi Adam. Penghuni-penghuni Israil desa ini tentunya dahulu berasal dari sebuah tempat
di wilayah Jizan yang kini telah tiada lagi.
25. Bakbuk (bqbwq): Jubjub (gbgb) di wilayah Jizan
8. YUDAH ARABIA (2/2)
1. Hakupha (hqpw', dengan kata sandang tertentu Arab berakhiran): al-Hajfah (hgp, dengan
kata sandang tertentu Arab berawalan) di wilayah Jizan.[3]
2. Harhur (hrhwr): tidak dapat dikenali sebagai suatu nama tempat tertentu, namun ada
kemungkinan kalau tempat itu adalah Kharr (hr) menurut Bibel yang dikenali sehubumgan
dengan Khirah (hr) di dekatnya, di Rijal Alma.
3. Bazluth (bslwt): mungkin sebuah nama kesukuan dari tipe feminin jamak, sangat umum
dipergunakan dalam bahasa Arab, berasal dari nama tempat bsl; bandingkan dengan al-Balas
(bls) di Rijal Alma. Ada pula wilayah suku Sulab (slb) di Rijal Alma. Atau ada juga Sulbiyah
(slbyt) di wilayah Jizan.
4. Mehida (mhyd'): Hamidah (hmyd, mungkin asalnya sebagai Hamida, atau hmyd', dengan
kata sandang tertentu Arab yang berakhiran, seperti nama menurut Bibel, di wilayah Jizan.
5. Harsha (hrs dengan kata sandang tertentu Arab yang berawalan); al-Khursh (hrs, dengan kata
sandang tertentu Arab yang berakhiran), di wilayah Jizan.
6. Barkos (brqws): satu di antara Kirbas (krbs) atau Karbus (krbs) di wilayah Jizan.
7. Sisera (sysr): paling-paling ialah Sirr Zahra (sr zhr', suatu pengubahan dari nama aslinya,
namun dengan membiarkan kata sandang tertentu Aram yang berakhiran) di wilayah Jizan.
8. Tamah (tmh): Tamahah (tmh) di wilayah Jizan.
9. Neziah (nsyh): Naduh (ndh) di Rijal Alma'.
10. Hatipha (htyp'): Khatfa (htp', membiarkan kata sandang tertentu bahasa Aram di wilayah
Jizan.
Menilai dari pengenalan terhadap kampung halaman para ntynym ini, yang terpusat pada suatu
daerah di Asir bagian selatan dan sebagian besar di Jizan, jelaslah bahwa mereka bukanlah 'para
pelayan kuil', melainkan mereka adalah suatu masyarakat yang namanya berasal dari suatu lokasi di
daerah sekitar itu (lihat di atas). Hal yang sama berlaku pada masyarakat-masyarakat yang berikut
ini.
f. 'Para pelayan Sulaiman' ('bdy slmh), ditulis sebagai 'putra-putra', atau orang-orang dari 10 tempat
yang berbeda (bukan keluarga-keluarga).
Bny' 'bdy slmh atau 'putra-putra 'bdy(m) slmh bukanlah 'para pelayan Sulaiman' tetapi mereka adalah
sebuah masyarakat yang berasal dari sebuah desa yang kini merupakan desa Abdan ('bdn) di wilayah
Jizan, dalam Bibel desa ini dikenali berkenaan dengan desa Silamah (slmh) di dekatnya. Yang
berikut ini adalah tempat-tempat asal mereka:
1. Sotai (sty): Al Sut (st) di wilayah Jizan.
2. Hassophereth (h-sprt): Rasafah (rspt) di wilayah Jizan, yang berkenaan dengan teks,
nampaknya dikelirukan dengan Al-Safarah (sprt) di wilayah Ballasmar.
3. Peruda (prwd', dengan kata sandang tertentu bahasa Aram yang berakhiran): mungkin adalah
al-Fardah (prd dengan kata sandang tertentu Arab yang berawalan) di Rijal Alma; lebih besar
kemungkinan kalau itu adalah al-Rafda (rpd, juga membiarkan kata sandang tertentu bahasa
Aram yang berakhiran) di wilayah Ballasmar.
4. Jaalah (y'lh): mungkin 'Aliyah ('lyh) satu di antara dua buah pedesaan dengan nama yang
sama di wilayah Jizan; sangat mungkin kalau tempat ini adalah al-Wa'lah (w'lh) di daerah
pedalaman Qunfudhah
5. Darkon (drqwn): paling-paling adalah al-Darq (drq) di wilayah Jizan, yang berkenaan dengan
teks, dikelirukan dengan Qardan (qrdn) di wilayah Taif.
6. Giddel (gdl): Jadal (gdl) di wilayah Bahr (lihat di atas).
7. Shephatiah (sptyh): Shutayfiah (stypyh) satu di antara tiga buah pedesaan di dekatnya dengan
nama yang sama di wilayah Jizan.
8. Hattil (htyl): tampaknya Sahil Al-Huluti (hlt) ditulis sebagai nama varian dari Sahil Abi
'Allut di wilayah Jizan.
9. Pocheret-hazebaim (pkrt h-sbym, sbym secara tradisional diberi vokal sebagai bentuk ganda
sby, 'gazelle' (semacam rusa), lihat Bab 4): Faqarah (pqrt), dikenali sehubungan dengan kota
kembar Sabya (sby', bentuk h-sby yang telah diaramkan dan al-Zabyah (zby, bentuk h-sby
yang telah diarabkan), ketiga tempat tersebut berdekatan di wilayah Jizan).
10. Ami ('my dalam Ezra; 'mwn dalam Nehemia): kekeliruan terjadi antara Yamiyah (ymy) dan
Yamani al- Marwa (ymn) keduanya di wilayah Jizan.
Menurut hemat saya pengenalan terhadap kota-kota atau pedesaan asal orang-orang yang sampai
kini dianggap sebagai 'putra-putra' 'para pendeta', 'para Levit', 'para penyanyi', 'para penjaga
gerbang', 'para pelayan kuil' dan 'para pelayan Sulaiman', namun sebenarnya merupakan enam buah
kelompok kesukuan yang dikenali menurut tempat asal masing-masing, sudah cukup untuk
menunjukkan di mana sebenarnya terletak Yudah menurut Bibel itu. Meskipun demikian, buktibukti yang lebih jauh telah diberikan melalui pengenalan-pengenalan terhadap tempat-tempat yang
masih tersisa dalam Ezra 2 dan Nehemia 7 sebagai tempat-tempat asal orang-orang Israil yang
kembali dari Babilonia, seluruhnya terletak di Arabia Barat. Untuk mudahnya, tempat-tempat
tersebut akan dikenali menurut wilayah, dari selatan ke utara:
a. Wilayah Jizan
1. Arah ('rh): Rah (rh); kecuali kalau ini adalah Raha (rh) atau Warkhah (wrh) di wilayah Taif.
2. Zattu (ztw', dengan kata sandang tertentu bahasa Aram yang berakhiran): mungkin adalah alZawiyah (metatesis dari ztw', dengan kata sandang tertentu Arab yang berawalan).
3. Ater ('tr, hanya terdapat dalam Ezra): watar (wtr); kecuali kalau ini adalah Watrah (wrt) atau
Watirah (wtr) di wilayah Taif.
4. Bezai (bsy): Baswah (bsw), Basah (bs) atau Buzah (bz, satu diantara dua pedesaan dengan
nama yang sama); kecuali kalau itu adalah Bada (bd') di wilayah Taif.
5. Harim (hrm): Khurm (hrm); kecuali kalau itu adalah 'Arabat Harim ('anak sungai' hrm), di
distrik Muhayil.
6. Tel-harsha (tl hrsh, 'bukit'nya hrsh) dan Tel-melah (tl mlh): Jabal al-Hashr ('gunung'nya hsr)
dan tanjung (tl) Hamil (hml) yang terakhir ini di daerah perbukitan Hurrath.
7. Adan ('dn, dalam Ezra) atau Addon ('dwn, dalam Nehemia): kebingungan tampaknya terjadi
antara dua buah pedesaan di distrik-distrik yang berdekatan yang bernama Udhn ('dn) dan
yang sebuah lagi bernama Wadanah (wdn).
8. Hariph (hryp, hanya dalam Nehemia): Harf (hrp), satu di antara lima buah pedesaan dengan
nama yang sama. Ada pula sebuah Harf di Rijal Alma'; sebuah lagi di wilayah Ballasmar;
dan masih ada sebuah lagi di wilayah Qunfudhah. Juga merupakan kemungkinan adalah
Kharfa (hrp) di wilayah Taif.
9. Anathoth ('ntwt): 'Antutah ('ntwt).
10. Azmaveth ('zmwt, dalam Ezra) atau Beth-azmaveth (byt 'zmwt, 'kuil' 'zmwt, dalam
Nehemia): al-'Usaymat ('smt, atau 'smyt) di daerah perbukitan Hurrath.
11. Adonikam ('dnyqm, tampaknya 'dny qm, 'tuanku' dari qm): satu di antara sejumlah pedesaan
di wilayah yang bernama al-Qa'im (q'm) agaknya nama seorang dewa kuno.
b. Wilayah Rijal Alma'
1.
2.
3.
4.
Netophah (ntph): Qa'wat Al Natif ('bukit' 'dewa' ntp).
Bethel (byt 'l): Batilah (btl), telah dikenali dalam Bab 7.
Ai (h-'y): Al-Ghayy (gy), telah dikenali dalam Bab 7.
Barzillai dari Gileadit (brzly h-gl'dy, keduanya dalam bentuk genitif, nama-namanya yang
ada dalam nominatif adalah brzl dan gl'd): al-Barsah (nampaknya 'l brs, yaitu metatesis dari
brzl), dikenali sehubungan dengan al-Ja'd yang terletak di dekatnya ('l-g'd, yaitu gl'd; lihat
Bab 1).
c. Wilayah Bahr dan Birk
1. Azgad ('zgd, nampaknya 'z gd): kemungkinan besar adalah 'Azz ('z), di wilayah Birk,
dikenali sehubungan dengan Habis al-Qad (qd) di dekatnya, yang terletak di wilayah kuno
Muhayil, sebuah daerah yang letaknya berdekatan.
2. Hebaiah (dalam Ezra atau Hobaiah dalam Nehemia, keduanya tertulis sebagai hbyh):
Habwah (hbwh) di wilayah Bahry kecuali kalau itu adalah sebuah desa yang memakai nama
yang sama di wilayah Bani Shahr, atau Khabyah (hbyh) di wilayah Jizan. Habwa (hbw) dan
Khabwa (hbw) di Wadi Adam kemungkinannya kecil sebagai tempat-tempat asal orangorang tersebut.
d. Wilayah Muhayil
1. Adin ('dyn): 'Adinah ('dyn).
2. Elam ('ylm): 'Alamah ('lm); kecuali kalau itu adalah Al 'Alam ('lm) di wilayah Tanumah
pegunungan Sarat.
e. Wilayah Ballahmar-Ballasmar
1. Cherub (krwb): Kharbah (krb); kecuali kalau tempat itu adalah al-Qaribah (qrb) di wilayah
Jizan, atau sebuah Qaribah lagi di wilayah Taif.
2. Bebai (bby): Bab (bb), di punggung bukit Jabal Dirim.
3. Thummim (tmym): Al Tammam (tmm).
f. Wilayah Bariq
1. Parosh (pr's), mungkin al-Ja'afir (g'pr, metatesis dari pr's, menyuarakan bunyi desah s
menjadi g); kecuali kalau itu adalah al-Ja'afir di wilayah Qunfudhah di dekatnya; 'Ajrafah
('grp) di wilayah Bahr; atau al-'Arafijah (rpg) di dataran tinggi Ghamid.
g. Wilayah Majaridah
1. Gibeon (gb'wn, hanya dalam Nehemia): Al Jab'an (gb'n).
2. Nebo (nbw): Nibah (nb); kecuali kalau itu adalah Nabah (nb), yaitu Nebo-nya Nabi Musa
(Gunung Nebo) di wilayah Taif (lihat Bab 7, Catatan 5), atau sebuah Nabah lagi di punggung
bukit yang terasingkan di Jabal Dirim di wilayah Ballasmar.
h. Wilayah Qunfudhah
1. Gibbar (gbr, hanya dalam Ezra): Qabar (qbr); kecuali kalau itu adalah Jubar (gbr) di wilayah
yanug sama, atau satu di antara beberapa tempat-tempat dengan nama yang sama atau
berbagai bentuk dari nama ini di bagian-bagian lain di Arabia Barat.
2. Hadid (hdyd): Hadhidh (hdd, harus ditulis sebagai hdyd); kecuali itu juga Hadad (hdd), di
daerah Taif, atau Wadi Hadid (hdd, harus ditulis sebagai hdyd), di wilayah Jizan.
3. Urim ('wrym): al-Riyam (rym); kecuali kalau itu adalah Al-Riyamah (rym) di wilayah Bani
Shahr.
4. Kiriath-Jearim (qryt y'rym), Chephirah (kpyrh) dan Beeroth (b'rwt): konteks Yosua 9:17
yang menyebut ketiga nama tempat tersebut secara bersamaan dan berhubungan dengan
Gibeon (lihat di atas, di bawah Wilayah Majaridah), jelas menunjuk pada wilayah pedalaman
Qunfudhah yang lebih luas. Di sekitar daerah ini terdapat Kiriath-Jearim (Qaryat 'Amir, atau
qryt 'mr) dan Chephirah (Qifarah, atau qprh) dan Rabthah (rbt) yang mungkin adalah
Beeroth.
i. Wilayah Wadi Adam
1. Pahath-moab (pht mw'b): Fatih (pth) dikenali sehubungan dengan Umm al-Yab ('m yb) di
dekatnya, yaitu Moab yang tertera dalam Bibel (lihat Bab 5).
2. Yeshua (ysw', ditulis dalam Ezra dan Nehemia sebagai tanah jajahan Pahath-moab): Sha'yah
(s'y) (mengenai tanah jajahan yang lain, yaitu 'Joab', lihat di bawah wilayah Taif).
3. Yorah (ywrh, hanya dalam Ezra): Waryah (wryh).
4. Bethlehem (byt lhm, atau 'kuil' lhm, secara harfiah berarti 'roti, makanan, perbekalan';
nampaknya nama dewa perbekalan): Umm Lahm ('m lhm) yang berarti 'ibu', dengan kata lain
'dewi' 'roti, makanan, perbekalan').[4]
5. Ramah (h-rmh, dengan kata sandang tertentu): Dha al-Ramah (yang 'satu' dari rmh, di sini
dengan kata sandang tertentu Arab yang berarti 'dewa' 'bukit').[5]
6. Geba (gb', ditulis dalam Ezra dan Nehemia sehubungan dengan 'Ramah'): Jab' (gb').
7. Michmas (mkms): Maqmas (mqms).[6]
8. Magbish (mgbys, hanya terdapat dalam Ezra): Mashajib (msgb).
j. Daerah pedalaman Lith yang lebih luas
1. Tobiah (twbyh): mungkin Buwayt (bwyt) di Wadi al-Jayizah.
2. Ono ('wnw): Awan ('wn); kecuali kalau itu adalah Waynah (wyn) di wilayah Bani Shahr.
3. Joab (yw'b): al-Yab (yb) di wilayah Ghamid, di dekat Baljurshi. Tertulis dalam Ezra dan
Nehemia sebagai sebuah tanah jajahan dari Pahath-moab (lihat di bawah Wadi Adam), alYab terletak di dataran tinggi di sebelah timur Wadi Adam. Sebuah Joab lagi terletak lebih
dekat di Pohath-moab, yaitu Buwa' (bw'), di wilayah Taif. Namun nama-nama Joab (yw'b)
dan al-Yab jelas adalah sama.
4. Elam 'yang lain' (ylm 'hr): referensinya adalah kepada dua buah lembah yang berdekatan di
dataran rendah Zahran yang bernama Wadi al-'Alma' ('lm) dan Wadi Yahar (yhr). Tidak ada
Elam 'yang lain' yang dipermasalahkan.
k. Wilayah Taif
1. Zaccai (zky): Qasya (qsy); kecuali kalau itu adalah Wadi Qisi (qsy) di wilayah Jizan.
2. Bani (bny, dalam Ezra) atau Binnui (bnwy dalam Nehemia): kekeliruannya adalah antara
kedua buah tempat di wilayah Taif, yaitu pedesaan Binni (bny) dan Banya' (bny').
3. Lod (ld): Lidd (ld); kecuali kalau itu adalah Liddah (ld) di Wadi al-Ja'izah di pedalaman Lith.
4. Yericho (yrhw): Warkhakh (wrh); kecuali kalau itu sama dengan Yericho (yrhw) yang
dibahas dalam Bab 7, yang merupakan Warakh (juga wrh) di dataran tinggi Zahran.
Keseluruhannya, dari 130 nama tempat yang dikenali dalam daftar-daftar Ezra dan Nehemia yang
telah saya hubungkan dengan kota-kota di Arabia Barat yang disebutkan di atas, hanya pengenalan
terhadap beberapa saja yang masih diragukan. Namun yang mungkin lebih penting adalah bahwa
hanya sedikit di antara nama-nama yang telah dikenali dengan lokasi-lokasi di Palestina (dalam
Simons hanya ada 10); lagi pula hanya dalam beberapa kasus saja (terutama Bethlehem, Lod, Nebo
dan Yericho) nama-nama Palestinanya cocok dengan nama-nama menurut Bibel mereka yang asli
tanpa menimbulkan pertanyaan-perlanyaan yang belum dapat terjawab (lihat Simons, alinea 1011f).
Ini saja seharusnya sudah cukup untuk membawa kita pada suatu kesimpulan bahwa tanah menurut
Bibel Yudah, yang berbeda dengan Yudaea di Palestina (atau 'tanah kaum Yahudi') pada zaman
Rumawi, dapat ditemui di Arabia Barat dan bukan di tempat-tempat lain. Sebenarnya Yudah
menurut Bibel adalah wilayah yang terdiri dari lereng-lereng maritim Hijaz bagian selatan dan Asir,
dari pedalaman Lith di utara sampai pada wilayah Jizan di selatan, bersamaan dengan wilayah Taif,
di seberang pembagi perairan dari pedalaman Lith. Memang saya dapat memberikan bukti-bukti
yang mendukung pendapat saya dengan jalan mengidentifikasikan nama-nama tempat yang tertera
sebagai terletak di Yudah dalam teks-teks yang lain, namun saya kira maksud saya telah dimengerti.
Lagi pula, saya tidak ingin lebih jauh mengganggu kesabaran para pembaca.
Kalau teks-teks Bibel yang relevan dibaca sebagaimana mestinya, yaitu dalam bentuk konsonan
Ibraninya, tanpa memandang pada tradisi-tradisi yang menyesatkan tentang itu, samasekali tidak ada
bukti-bukti yang menyatakan bahwa Yudah kuno tidak terletak di lokasi lain di luar yang sudah saya
simpulkan. Bukti-bukti onomastiknya begitu hebat, sampai-sampai agaknya tidak perlu lagi
dukungan-dukungan arkeologis. Meskipun demikian, seperti yang telah saya kemukakan
sebelumnya, persoalan ini tidak mungkin terpecahkan dengan memuaskan semua pihak sehelum
adanya bukti-bukti arkeologis untuk mendukung gagasan saya. Dalam pada itu, agaknya patut untuk
mengusulkan bahwasanya dengan berdasarkan informasi yang telah saya sebutkan, Yudah paling
tidak jauh lebih besar kemungkinannya jika terletak di Arabia Barat daripada di Palestina.
9. YERUSALEM DAN KOTA DAUD (1/2)
Mengatakan bahwa Yerusalem yang suci bagi umat-umat Yahudi, Kristen dan juga umat Islam
sebenarnya bukanlah tempat yang dikira oleh kebanyakan orang, nampaknya seperti sebuah
pernyataan yang lancang dan pasti akan membakar hati segenap penganut yang taat dari ketiga
agama besar tersebut. Saya tentunya tidak menyangkal bahwa kota Yerusalem seperti yang kita
ketahui sekarang ini berhak mempunyai reputasi sebagai Kota Suci. Namun saya ingin
mengemukakan bahwa ada sebuah Yerusalem lagi yang terletak di Arabia Barat, yang
keberadaannya mendahului Yerusalem yang terdapat di Palestina, dan bahwa sejarah 'Yerusalem'
sudah selayaknya bermula dari sini.
Kitab Bibel Ibrani mengatakan pada kita bahwa kerajaan 'Seluruh Israil' pada zaman Raja Sulaiman
membentang 'dari Dan, bahkan sampai pada Beersheba' (Raja-raja I 4:25). Sudah nmenjadi
anggapan umum bahwa Beersheba kini sebenarnya merupakan kota Bir Sab' di Palestina bagian
selatan, dan kota Dan telah dikenali terletak di lokasi yang sama dengan reruntukan Tall al-Qadi,
dekat hulu sungai Yordan yang sebagian besar berdasarkan pendapat bahwa kata qadi dalam bahasa
Arab berarti 'hakim' (bahasa Ibraninya dn). Namun seperti yang telah saya tunjukkan pada Bab 4,
Beersheba kemungkinan besar terletak di lokasi yang sama dengan desa Shaba'ah, kini di dataran
tinggi Asir, di dekat kota Khamis Mushait. Mengenai kota Dan yang tertera dalam Bibel, palingpaling namanya bertahan di Arabia Barat dalam bentuk desa Danadinah (bentuk jamak dn dalam
bahasa Arab) di dataran rendah Zahran dan di sebelah selatan Wadi Adam, seperti yang akan saya
tunjukkan lebih jauh lagi pada Bab 10 dan 14.
Ibukota Sulaiman, yaitu Yerusalem, mestinya terletak antara kedua pemukiman tersebut,
kemungkinan besar sebuah desa yang kurang dikenal, dengan nama Al Sharim ('l srym), di dekat
kota Nimas, di sepanjang puncak Sarat Arabia Barat. Kemungkinan lain tempat tersebut juga dapat
terletak beberapa kilometer lebih jauh ke arah selatan, di sekitar daerah Tanumah. 'Yerusalem'
mungkin dapat bertahan terus sebagai nama desa Arwa ('rw) yang dikenali sehubungan dengan desa
Al Salam (slm) di dekatnya, yang menghasilkan nama gabungan Arwa-Salam ('rw slm); bandingkan
dengan yrwslm dalam Bibel, yang dimaksud sebagai Yerusalem).
Setelah Sulaiman wafat, kerajaan 'Seluruh Israil'-nya. Dibagi-bagikan kepada para keturunannya
yang terus berkuasa di Al Sharim sebagai raja-raja 'Yudah'; serangkaian penguasa-penguasa lainnya
dengan jelas menyebut diri mereka sebagai raja-raja 'Israil'. Akhirnya raja-raja 'Israil' tersebut
mendirikan ibukota mereka di Samaria (dalam Bibel adalah Shomeron, atau smrwn) yang telah saya
kenali sebagai desa Shimran (smrn) di dataran rendah wilayah Qunfudhah, dekat kaki Sarat. Dari
ibukota mereka raja-raja 'Israil' itu menguasai sebuah wilayah yang mencakup bagian utara wilayah
'Yudah' sampai sejauh Taif.
Tetapi untuk sementara waktu perhatian saya terpusat pada Yerusalem; masalah yang lebih rumit
mengenai penempatan 'Yudah' dan 'Israil' akan dibahas dalam bab berikutnya. Kitab Bibel Ibrani
mengatakan bahwa Daud merampas Yerusalem dan 'benteng' Zion dari orang-orang Yebusit, dan
memindahkan ibukotanya ke sana dari Hebron pada tahun kedelapan kekuasaannya sebagai raja
Yudah (Samuel II 5:5-10). Dari kelima Hebron (hbrwn) yang kini masih ada dengan nama Khirban
(hbrn, secara metatesis) di lerengan maritim Asir, saya kira ibukota Daud yang pertama
kemungkinan besar adalah Khirban di wilayah Majaridah yang sekali waktu pernah merupakan
Hebron-nya Abram, atau Abraham (lihat Bab 13). Hebron-nya Daud tak mungkin terletak di
Palestina, karena di sana tampaknya tak terdapat tempat semacam itu.
Memang benar umat Yahudi dan Kristen secara tradional telah menempatkan Hebron menurut Bibel
pada kota al-Khalil di daerah perbukitan di sebelah selatan Yerusalem Palestina. Apalagi karena
tempat tersebut dihubungkan dengan karir Ibrahim (Abraham) yang disebut di dalam Qur'an (4:25)
sebagai teman (bahasa Arabnya hlyl, disuarakan halil, atau 'Khalil) Tuhan, kaum Muslimin juga
telah menerima penyamaan kalangan Yahudi dan Kristen terhadap al-Khalil dengan Hebron Ibrahim.
Bagaimanapun juga, sama sekali tidak mungkin jika nama tempat al-Khalil berarti 'teman'.
Kemungkinan besar al-Khalil adalah sebuah bentuk nama tempat Semit yang lebih tua yang telah
diarabkan, yaitu hlyl (dari kata Ibrani hll, 'melubangi', bandingkan dengan kata Arab hll, 'menembus,
melubangi, masuk ke dalam') yang berarti 'gua'. Dengan demikian kota di Palestina tersebut
mestinya mengambil namanya dari sebuah gua yang terkenal di sekitar daerah itu (disebut oleh para
ahli geografi Arab) yang ditahbiskan oleh tradisi-tradisi yang mendatang sebagai makam keramat
Ibrahim. Namun di Asir kita menjumpai dukungan yang lebih jauh bahwasanya Khirban di wilayah
Majaridah, di daerah pedalaman Qunfudhah, merupakan ibukota pertama Daud karena di sana kita
menjumpai sejumlah nama tempat yang berhubungan dengannya. Nama-nama itu adalah: Gibeon
(gb'wn), kini al-Jib'an (gb'n) dan Helkath-hazzurim (hlqt h-srym), kini al-Halq (hlq) dan al-Siram
(srm'), semuanya terletak di sekitar daerah yang sama (lihat Samuel II 2:16).
Semua persamaan di atas dengan tepat mendukung pendapat saya bahwa Yerusalem mestinya adalah
Al-Sharim yang terletak cukup jauh dari Khirban menuju puncak bukit ke arah timur di ketinggian
Nimas, hanya terletak di seberang tebing curam Asir. Dalam halnya orang-orang Yebusit (h-ybw sy,
genitif ybws) yang semula memegang kota tersebut, kemungkinan besar mereka adalah satu di
antara sejumlah suku yang menghuni Arabia Barat kuno (lihat Bab 15). Tiga buah tempat di sana, di
antara yang lain, jelas terus memakai nama-nama itu: desa Yabasah (ybsh) di Wadi Adam; lembah
Wadi Yabs (ybs) atau Yubays (ybs) di sisi maritim wilayah Ghamid; dan desa Yabs (ybs) di wilayah
Qunfudhah.
Jika saya telah berhasil membawa para pembaca sampai sejauh ini dalam masalah perubahan tempat
menurut Bibel Ibrani dari Palestina ke Arabia Barat, ini sebagian besar karena saya telah dapat
mengenali tidak hanya satu tetapi beberapa tempat yang disebutkan dalam sebutan-sebutan tertentu
dalam Bibel sebagai terletak saling berdekatan di wilayah yang sama dengan tempat yang menurut
keyakinan saya adalah lokasi berlangsungnya sejarah menurut Bibel. Namun mengenai masalah
Yerusalem pembaca mungkin akan menuntut lebih banyak bukti-bukti yang lebih meyakinkan
daripada yang dapat dihasilkan oleh studi toponimik. Maka dari itu, marilah kita memulai dengan
pedudukan oleh Daud atas Yerusalem seperti yang dikisahkan dalam teks Ibrani Samuel II 5:6-10.
Sampai kini para ahli Bibel belum puas dengan informasi yang diberikan oleh teks tersebut yang
mereka anggap terlalu terbatas, mengingat bahwa teks tersebut membicarakan suatu kejadian
sepenting sejarah bangsa Israil (contohnya, lihat Kraeling, hal 195-197). Namun kesalahannya bukan
terletak pada cara yang secara tradisional dipergunakan guna membaca dan menafsirkannya. RSV,
misalnya, menterjemahkannya sebagai berikut:
Dan raja itu beserta pasukannya pergi ke Yerusalem melawan orang-orang Yebusit ('l h-ybwsy),
penghuni-penghuni tanah itu, yang berkata kepada Daud, 'Engkau tak akan masuk ke dalam, hanya
mereka yang buta dan pincang saja yang akan mengusirmu' - sambil berpikir, 'Daud tidak dapat
masuk ke dalam' (l' tbw' hnh 'm hsyrk h-'wrym w-h-pshym l-'mr l' ybw' dwd hnh). Walaupun
demikian, Daud merebut benteng Zion (w-ylkd dwd 't msdt sywn), yaitu Kota Daud. Dan Daud pun
berkata pada hari itu 'Barangsiapa yang akan memukul orang-orang Yebusit, hendaklah ia menaiki
terowongan air untuk menyerang mereka yang buta dan yang pincang, yang dibenci oleh jiwa Daud'
(w-y'mr dwd b-ywm h-hw' kl mkh ybwsy w-yg b-snwr w-'t h-pshym w-'t h-'wrym sn'w nps dwd).
Maka konon, 'mereka yang buta dan yang pincang tidak akan masuk ke dalam rumah' ('l kn y'mrw
'wr w-psh l' ybw' 'l h-byt). Dan Daud pun menempati benteng itu (b-msdh), dan menamakannya
Kota Daud. Dan Daud pun mendirikan kota itu (sbyb) secara berputar dari Millo menuju ke dalam
(mn hmlw' w-byth, secara konvensional dibaca mn h-mlw' w-byth). Dan Daud pun menjadi lebih
besar, karena Tuhan, Dewa dari semua tuan rumah berada bersamanya (w-yhwh 'lhy sb'wt 'mw).
Berbeda dengan terjemahannya, versi Ibrani yang orisinal tidak menyebutkan bahwa Daud dan
pasukannya pergi ke Yerusalem 'melawan' orang-orang yang ada di sana; versi ini hanya
mengatakan bahwa mereka pergi 'ke' orang-orang Yebusit ('l h-ybwsy). Ini mungkin menunjukkan
bahwa Daud belum tentu menaklukkan Yerusalem; karena kota tersebut telah ditundukkan oleh
orang-orang Israil sebelumnya, pada zaman 'Hakim-hakim'. Pada waktu penjajahan, orang-orang
Yebusit yang tinggal di Yerusalem diperbolehkan menetap di sana, dan mereka masih tetap berada
di tempat itu sewaktu kitab Hakim-hakim ditulis, yang terjadi lama sesudah zaman Daud (lihat
Hakim-hakim 1:8, 21, 21:25). Maka yang ditaklukkan oleh Daud setelah ia pergi 'ke' (bukan
'melawan') Yerusalem samasekali bukan Yerusalem. Tempat tersebut merupakan tempat lain, sebuah
tempat yang dalam bahasa Ibrani bernama msdt sywn, biasanya diterjemahkan sebagai 'benteng'
Zion. Kota msdh inilah, dan bukan Yerusalem, yang namanya diganti menjadi Kota Daud. Kini
jelaslah bahwa msdh ini merupakan bagian wilayah kekuasaan Yebusit. Setelah ia mendudukinya
Daud berkata, 'pada hari ini pendudukan atas orang-orang Yebusit telah dilaksanakan' (harfiahnya
'pada hari ini semua orang-orang Yebusit kalah'). Ini jelas merupakan arti teks Ibrani yang orisinal:
w-ylkd dwd 't msdt sywn w-ymr dwd b-ywm h-hw'kl mkh ybwsy).
Sebenarnya orang-orang Israil sebelum zaman Daud, setelah menduduki Yerusalem, telah mencoba
untuk menundukkan daerah 'Selatan' (h-nqb), dan juga 'daerah perbukitan' (h-hr) dan 'dataran rendah'
(h-splh) milik orang-orang Kanaan (Hakim-hakim 1:9), namun tanpa hasil. Dalam teks tersebut
samasekali tidak dibahas mengenai penaklukkan atas daerah-daerah ini pada waktu itu. Inilah
sebabnya mengapa Daud, sewaktu ia menduduki msdh, dapat mengumumkan 'pada hari ini
pendudukan atas orang-orang Yebusit telah dilaksanakan'. Msdh yang dipermasalahkan ini timbul
dalam teks-teks Bibel lainnya sebagai hr sywn (Gunung Zion, atau 'bukit' Zion). Menurut pendapat
saya tempat tersebut tidak mungkin kalau bukan punggung bukit wilayah Rijal Alma', di sebelah
barat Abha dan di sebelah selatan Nimas, yang namanya sampai kini masih dipakai oleh satu di
antara sejumlah pedesaannya, yaitu Qa'wat Siyan ('bukit' syn, dieja pada hakekatnya seperti dalam
bentuk Bibelnya). Pada punggung bukit yang sama tersebut kini terdapat dua buah pedesaan, sebuah
bernama Samad (smd) dan sebuah lagi bernama Umm Samdah ('m smdh, 'm yang pertama adalah
kata sandang tertentu yang telah disahkan dari dialek Arab setempat). Msdh-nya sywn yang
kemudian menjadi Kota Daud kemungkinan besar adalah desa yang kedua. Pada punggung bukit itu
pula terdapat sebuah desa lagi yang kini bernama al-Hamil (hml). Ini tentunya adalah 'Millo' (hmlw')
dalam teks yang sedang kita bahas ini, dengan kata sandang tertentu bahasa Aram yang berakhiran
dari nama menurut Bibel tempat tersebut diarabkan menjadi kata sandang tertentu yang berawalan,
dari bentuk nama yang sama sekarang.
Dalam terjemahan RSV yang disebutkan di atas, ungkapan Ibrani w-ybn dwd sbyb mn hmlw' w-byth
diterjemahkan sebagai 'dan Daud pun mendirikan kota itu secara berputar dari Millo menuju ke
dalam'. Millo biasanya dimengerti sebagai 'Akropolis'-nya Yerusalem Palestina, seperti halnya Zion
secara umum dimengerti sebagai 'benteng' Yerusalem yang sama tersebut, 'benteng' di sini adalah
terjemahan standar msdh. Namun kata Ibrani sbyb sebenarnya berarti 'tembok', bukan 'kota itu secara
berputar'. Yang didirikan Daud, setelah menduduki apa yang kini merupakan Umm Samdah di
punggung bukit Siyan di Rijal Alma', adalah 'sebuah tembok hmlw'', dengan perkataan lain sebuah
tembok yang membentang menuju 'ke dalam' (w-byth) dari desa yang kini adalah al-Hamil.
Mungkin juga tembok itu didirikan 'dari al-Hamil dan byth', dan byth merupakan sebuah tempat lain
di dekat al-Hamil yang namanya kini tidak ada lagi (bandingkan dengan al-Ba'thah, atau b'th, di
wilayah Madinah; al-Batah, atau b'th di Wadi Adam; Bathyah atau btyh di sebelah timur laut Lith);
seraya menantikan bukti-bukti yang lebih jauh, mustahil untuk lebih tepat dari ini. Jelaslah bahwa
Daud bermaksud menjadikan desa Umm Samdah yang kini terletak di punggung gunung Qa'wat
Siyan (atau Gunung Zion), sebagai ibukota kedua yang merupakan cabang Yerusalem --sebuah
kompleks pertahanan yang meliputi Umm Samdah dan al-Hamil guna mempertahankan kerajaannya
dari selatan. Inilah gambaran mengenai tempat tersebut dalam Mazmur 4S:13-14:
Kelilingilah Zion dan edarilah dia, hitunglah menaranya, perhatikanlah temboknya, jalanilah puripurinya, supaya kamu dapat menceritakannya kepada angkatan yang kemudian.[1]
Di sini saya perlu menegaskan bahwa berlawanan dengan kesan yang telah ada, Kitab Bibel Ibrani
samasekali tidak mengatakan bahwa Zion atau Kota Daud, yang jelas terdapat di sana, merupakan
bagian dari Yerusalem.
Disebutkannya Zion secara bersamaan dengan Yerusalem dalam sejumlah sebutan menurut Bibel
(contohnya Mazmur 102:21; 125:1, 2; 135:21; 147:12) tidak berarti menunjukkan jarak ataupun
persamaan identitas geografis antara mereka.
Dari teks-teks Mazmur yang berbeda-beda (misalnya 65:1; 74:2; 76:2; 132: 13, 135:21) kita dapat
menyimpulkan bahwa Zion atau 'Gunung Zion' di samping terletak pada punggung bukit yang sama
dengan kota Daud, juga ditetapkan oleh Daud sebagai tempat suci, agaknya untuk menggantikan
tempat suci 'Salem' (slm, lihat Bab 12, bukan 'Yerusalem'; lihat Mazmur 76:2). Maka dari itu lokasi
tempat suci Zion, berbeda dengan kota Daud, mestinya ada pada ketinggian desa Qa'wat Siyan kini
terdapat.
Akhirnya saya ingin mempertimbangkan sebuah alternatif dari pembacaan 'wr dan 'wrym pada
Samuel 5:6-10 yang biasanya diartikan sebagai 'buta' dan psh dan pshym sebagai 'pincang'. Menurut
terjemahan standar Bibel, orang-orang Yebusit mengejek Daud dengan sesumbar mengatakan bahwa
mereka akan menyerahkan pertahanan Yerusalem pada mereka yang buta dan yang pincang di antara
mereka; yang memberi kesan seolah-oleh Yerusalem benar-benar dipertahankan oleh orang-orang
cacat saja. Kemudian Daud memerintahkan sebuah penyerangan terhadap mereka melalui
terowongan air (b-snwr) dan kita diberitahu lebih jauh bahwa Daud menaruh kebencian terhadap
orang-orang buta dan pincang, yang merupakan penyebab mengapa mereka dilarang masuk ke
dalam 'rumah' (dianggap berarti tempat pemujaan Yerusalem) --sebuah regulasi yang tidak disahkan
dalam teks-teks Bibel Ibrani lainnya. Akal pikiran yang sehat sendiri akan membuat kita ragu
terhadap pembacaan tersebut, maka tidak mengherankan jika teks Ibrani yang bersangkutan
menceritakan hal ini dengan cara yang lain. 'Wrym dan pshym paling tidak di dalam konteks ini
bukanlah orang-orang 'buta' dan orang-orang 'pincang', melainkan mereka merupakan penghunipenghuni suku di dua distrik pegunungan di bagian utara wilayah Jizan di sebelah selatan Rijal
Alma' --nampaknya mereka adalah suku-suku yang sama yang gagal ditaklukkan oleh orang-orang
Israil setelah pendudukan mereka atas Yerusalem sebelum zaman Daud (lihat di atas). Selanjutnya di
wilayah orang-orang 'wrym, yang tentunya bernama 'wr, yang kini merupakan punggung bukit Jabal
'Awara, ('wr), di sebelah utara Jabal Harub, kini terdapat sebuah desa yang bernama Sarran (srn,
yaitu metatesis dari kata Bibel snwr) sebuah kata yang dengan salah diartikan sebagai 'terowongan
air' oleh para penterjemah. Selanjutnya wilayah orang-orang pshym yang mestinya bernama psh
adalah daerah di sekitar desa yang kini bernama Suhayf (shyp) di punggung Jabal al-Hashr, di
sebelah selatan Jabal Harub. Dengan demikian kita harus menafsirkan kejadian-kejadian yang
berlangsung setelah datangnya Daud ke Yerusalem sebagai berikut:
Sewaktu Daud datang ke Yerusalem, orang-orang Yebusit setempat mengatakan padanya agar ia
tidak menetapkan diri di sana sebelum ia menaklukkan suku-suku wilayah 'Awra' dan Suhayf di
Rijal Alma'. Yang mereka berikan kepadanya adalah sebuah nasihat yang bijaksana, dan bentuk
orisinalnya, yang tertulis dalam bahasa Ibrani tampaknya dituliskan dalam bentuk syair:
Mereka mengatakan pada Daud, 'Jangan datang ke mari; Jika engkau tidak mengenyahkan orangorang wrym dan pshym, Daud tidak diperbolehkan datang ke mari'.[2]
Ini mendorong Daud untuk bergerak ke arah selatan guna melengkapi pendudukan atas wilayah
Yebusit dengan jalan menduduki tempat yang kini bernama Umm Samdah di punggung Siyan di
Rijal Alma'. Dari sana ia terus menuju ke selatan 'dan sampai di Sarran (w-yg' b-snwr)
berdampingan dengan pshym dan 'wrym (w-'t h-pshym w-'t h-'wrym)'. Dari kedua suku pengacau ini
tampaknya ada sebuah ungkapan populer yang bersifat mencela yang mengatakan bahwa mereka
'tidak diperbolehkan masuk ke dalam rumah' (harfiahnya, 'wr dan psh tidak akan memasuki rumah':
dalam bahasa Ibraninya 'wr w-psh l' ybw' 'l h-byt). Menurut teks Ibrani, agaknya mereka tidak
menyenangi Daud:
'Mereka membenci orang yang bernama Daud itu (s'nw nps dwd); Oleh sebab itu itu konon ('l kn
y'mrw) 'wr dan psh tidak diperkenankan masuk rumah'.
9. YERUSALEM DAN KOTA DAUD (2/2)
Sehubungan dengan itu, teks tersebut juga berbicara mengenai pendirian Kota Daud dan
pembangunan kubu-kubu pertahanan Kota itu di Gunung Zion tepat setelah menceritakan ekspedisi
Daud melawan orang-orang 'wrym dan orang-orang pshym, dengan kata lain melawan suku-suku
daerah perbukitan Jabal 'Awra' dan Suhayf di selatan Rijal Alma'. Ini menunjukkan bahwa
ekspedisinya ke daerah tersebut merupakan suatu unjuk kekuatan yang tidak langsung berakhir
dengan penjajahan atas daerah mereka. Tak disangkal lagi, Daud mendirikan ibukota yang kedua di
Rijal Alma' untuk dirinya sendiri guna membuat waspada suku-suku yang keras kepala dari daerah
selatan. Kini kekuatan Daud menjadi 'lebih besar'. Tuhannya sb'wt (bukan 'semua tuan rumah',
melainkan sebuah desa yang kini bernama Sabayat atau sbyt di wilayah Nimas, lihat Bab 12) 'berada
bersamanya' [w-yhwh (di sini 'berada' bukan 'Yahweh' atau 'Tuhan') ... 'mw].
Sehubungan dengan penafsiran ini, kita perlu mencari Yerusalem yang tertera dalam Bibel
(Ibraninya yrwslm, diuraikan menjadi yrw slym)[3] di daerah ke arah utara punggung Siyan
(Gunung Zion) di Rijal Alma'. Kemungkinan besar Yerusalem ini (berbeda dengan Yerusalem
Palestina, lihat Bab I) merupakan suatu pemukiman kira-kira 35 kilometer di utara kota Nimas, di
sepanjang puncak pegunungan Asir dan di sebelah utara Abha. Bahkan menurut hemat saya
Yerusalem adalah sebuah desa yang kini bernama Al Sharim ('l srym) yang namanya mengalami
perubahan kecil ke dalam bahasa Arab dari bentuk aslinya, yaitu yrw slym (pengalihan r dan l antara
kedua bagian nama gabungan tersebut).[4] Pada ketinggian kira-kira 2,500 meter, wilayah Nimas
sebagai lokasi yang diperkirakan merupakan Yerusalem menurut Bibel, terletak pada posisi yang
strategis, baik untuk menguasai lerengan di sisi daratan maupun di sisi laut Asir. Lebih lagi, sebuah
jalan raya kuno yang terbentang di atas tebing curam sepanjang pembagi air Sarat
menghubungkannya dengan Abha Khamis Mushait di selatan, dan dengan Ghamid, Zahran serta
wilayah-wilayah Taif di utara, dengan kata lain sepanjang tanah Israil dan Yudah. Sebagai
tambahan, daerah ini sangat kaya akan peninggalan-peninggalan arkeologis yang masih perlu diteliti.
Di tempat ini pada zaman Bibel berdiri kuil-kuil pemujaan yang tak terhitung lagi jumlahnya (lihat
Bab 12), di antara mereka ada tempat pemujaan yang dikenal sebagai 'Tuhan dari semua tuan rumah'
(Tuhannya Sabayat, lihat di atas). Untuk mencapai Yerusalem tersebut di wilayah Nimas dari
ibukota aslinya Hebron di wilayah Majaridah (lihat di atas), Daud tidak perlu berjalan jauh mendaki
bukit di sepanjang lembah Wadi Khat. Sebagai sebuah ibukota kerajaan yang mencakup sebagian
besar Asir, Yerusalem secara strategis merupakan tempat yang jauh lebih baik daripada Hebron.
Walaupun Daud tampaknya menganggap Yerusalem yang terletak dekat tempat pemujaan Sabaoth
yang dimuliakan itu (kini Sabayat lihat di atas) sebagai ibukota yang resmi, mungkin ia lebih banyak
menetap di ibukotanya yang kedua, yaitu Kota Daud, dan benar-benar menjaga perbatasanperbatasannya di sebelah selatan dengan teliti. Ia wafat di tempat tersebut, atau paling tidak di
sanalah ia dimakamkan (Raja-raja I 2:10). Putranya dan penggantinya, yaitu Sulaiman, yang
nampaknya mendampinginya pada saat ia wafat, tetap tinggal di Kota Daud (dengan perkataan lain
Umm Samdah di Rijal Alma') 'sampai ia selesai mendirikan rumahnya sendiri dan rumah Tuhan dan
tembok-tembok di sekeliling Yerusalem' (Raja-raja I 3:1). Hanya kemudianlah ia pergi untuk
memberi pengorbanan-pengorbanan di Gibeon (kini Al Jib'an, atau gb'n di wilayah Majaridah) dan
setelah itu dia memasuki Yerusalem (Raja-raja I 3:4, 15). Kebetulan saja perjalanan Sulaiman dari
Kota Daud menuju Yerusalem dengan jalan melewati Gibeon secara geografis masuk di akal.
Sebuah jalan yang bertolak dari Rijal Alma' menuju ke wilayah Nimas memang melewati wilayah
Majaridah yang kini terdapat desa Al Jib'an.
Lagi pula kisah mengenai kenaikan tahta Sulaiman jelas menandakan bahwa Kota Daud dan
Yerusalem merupakan dua buah tempat yang berbeda yang berjarak agak jauh antara satu dengan
lainnya. Sebenarnya jarak antara Umm Samdah di Rijal Alma' dan Al Sharim di wilayah Nimas
dengan pesawat terbang adalah 80 atau 90 km, dan jarak perjalanan melalui pelbagai jalan
pegunungan antara kedua kota tersebut sangat lebih-jauh. Berbeda dengan ayahnya, yaitu Daud,
Sulaiman menghiasi dan memperkuat pertahanan Yerusalem dan membuat kota itu tempat
kediamannya. Berkenaan dengan kenyataan bahwa Kota Daud dan Yerusalem merupakan dua buah
tempat yang berbeda, 'tangga-tangga' di Yerusalem yang 'turun dari Kota Daud' (h-m'lwt h-ywrdwt
m-'yr dwd) tidak boleh mengacaukan masalah ini karena 'tangga-tangga' tersebut sebenarnya adalah
'altar-altar' atau 'mimbar-mimbar' (m'lwt) yang telah 'diangkut, dipindahkan' (ywrdwt) dari Kota
Daud ke Yerusalem (Nehemia 3:15) kemungkinan pada zaman pemerintahan Sulaiman. Maka dari
itu jika kita menganggap bahwa Yerusalem menurut Bibel tersebut bukanlah Yerusalem yang
terletak di Palestina tetapi kemungkinan besar adalah desa Al Sharim yang kini terletak di wilayah
Nimas di Asir atau tempat lain di dekat daerah itu (lihat Catatan 4), maka ini akan memungkinkan
kita untuk mengenali dengan kadar kepastian yang berbeda-beda banyak hal-hal yang berhubungan
dengan Yerusalem yang ada dalam teks-teks Bibel. 'Gerbang-gerbang' (dalam bahasa Ibrani,
tunggalnya adalah s'r) Yerusalem adalah sebuah contoh dari masalah ini; gerbang-gerbang tersebut
dapat dikenali melalui tempat-tempat yang memberi namanya pada mereka, yang tentunya
menunjukkan arah-arah ke mana gerbang-gerbang tersebut dibuka:
1. Gerbang 'Benyamin' (bn ymn) (Yeremia 37:13; 38:7; Zakaria 14:10): di antara beberapa
kemungkinan yang ada, mungkin ini adalah Dhat Yumn (ymn) di wilayah BallasmarBallahmar.
2. Gerbang 'Sudut' (h-pnh) (Raja-raja II 14:13, bandingkan dengan Tawarikh II 15:23; 26:9;
Yeremia 31:38; Zakaria 14:10): nampaknya ini adalah al-Nayafah (nyph, dengan kata
sandang tertentu Arab) di wilayah Banu 'Amr di Sarat.
3. Gerbang 'Kotoran' (h-'spt) (Nehemia 2:13; 3:13, 14; 13:1): di antara beberapa kemungkinan
yang ada, tempat ini mungkin adalah Fatish (pts) di Wadi Adam atau Shatfah (stp) di wilayah
Taif.
4. Gerbang 'Timur' (mzrh, dibaca m-zrh, 'dari tempat kebangkitan') (Nehemia 3:29): Al Muhriz
(mhrz), satu di antara dua buah pedesaan yang memakai nama ini di wilayah Bani Shahr dan
Ballahmar di sebelah barat Nimas.
5. Gerbang 'Ephraim' ('prym) (Raja-raja II 14:13, bandingkan dengan Tawarikh II 25:23;
Nehemia 8:16; 12:39): Wafrayn (wpryn, seperti 'prym dalam bentuk ganda) di wilayah Bani
Shahr.
6. Gerbang 'Ikan' (h-dgym) (Tawarikh II 33:14; Nehemia 3:3; Zefanya 1:10): diantara beberapa
kemungkinan yang ada, kemungkinan besar Al Qadim (qdm) di sisi barat Wadi Bishah tepat
di sebelah timur Sarat.
7. Gerbang 'Air Mancur' (h-'yn) (Nehemia 2:14; 3:15; 12:37): referensi ini mungkin adalah
kepada mata air setempat di sana; atau pada desa yang kini adalah al-'Ayn ('yn, dengan kata
sandang tertentu) di Sarat, di wilayah Ballasmar yang merupakan desa terdekat dengan
Nimas yang memakai nama ini.
8. Gerbang 'Kuda' (h-swsym) (Nehemia 3:26; Yeremia 31:40): referensi ini mungkin adalah
pada desa al-Susiyyah (bentuk jamak Arab sws) kini di wilayah Zahran; lebih cocok dengan
al-Masus (mss, metatesis dari swsym, juga dengan kata sandang tertentu) di Rijal Alma'.
9. Gerbang 'Inspeksi' (h-mpqd) (Nehemia 3:31): kemungkinan besar adalah pelabuhan alQunfudhah (qnpd, dengan kata sandang tertentu) yang kini merupakan pelabuhan terdekat di
wilayah Nimas dan sekitarnya, yang namanya agaknya merupakan bentuk h-mpqd yang telah
diubah ke dalam bahasa Arab.
10. Gerbang 'Tengah' (h-twk) (Yeremia 39:3): al-Tuq (tq, dengan kata sandang tertentu) di Rijal
Alma'.
11. Gerbang 'Yeshanah' (h-ysnh) (Nehemia 3:6; 12:39): Yasinah (ysnh) di daerah pedalaman
Qunfudhah, di sebelah barat wilayah Nimas.
12. Gerbang 'Penjara' atau 'Penjaga' (h-mtrh) (Nehemia 3:1, 32; 12:39): nampaknya Matir (mtr)
di wilayah Muhayil.
13. Gerbang 'Biri-biri' (h-swn) (Nehemia 3:1, 32; 12:39): Al Zayyan (zyn, secara fonologis sama
dengan swn) di wilayah Ballahmar.
14. Gerbang 'Benyamin Atas' (bn ymn h-'lywn) (Yeremia 20:2): tak diragukan lagi adalah Al
Yamani (ymn) di wilayah Balqran, di sebelah utara Nimas yang dikenali sehubungan dengan
'Alyan ('lyn) yang terletak di dekatnya.
15. Gerbang 'Lembah' (h-qy') (Tawarikh II 26:9; Nehemia 2:13, 15; 3:13): di antara beberapa
kemungkinan yang ada, kemungkinan besar al-Jiyah (gy, dengan kata sandang tertentu) di
wilayah Nimas; kecuali kalau itu adalah al-Jaww (gy, dengan kata sandang tertentu), di
wilayah Ballasmar di sebelah Nimas.
16. Gerbang 'Air' (h-mym) (Ezra 8:1; Nehemia 3:26; 8:1, 3, 16; 12:37): ada kemungkinan kalau
itu merupakan al-Mumiyah (mmy, dengan kata sandang tertentu) di wilayah Bahr, di kaki
bukit Rijal Alma'; mungkin juga al-Mayayn (myyn, ganda dari kata Arab my, 'Air') di
wilayah Madinah di sepanjang jalan besar kafilah utama Arabia Barat yang menuju ke Suria;
kecuali kalau referensinya sebenarnya adalah pada sebuah 'perairan' lokal.
17. Gerbang 'di belakang para penjaga akan menjaga tempat ini' ('hr h-rsym w-smrm 't msmrt hbyt msh, Raja-raja II 11:6): kalau diterjemahkan dengan lebih tepat sebagai hr-nya h-rsym
dan smrtm di sebelah menara penjagaan byt msh, akan diperoleh suatu referensi mengenai
empat buah tempat. Mereka adalah sebagai berikut, yang semuanya terletak di pedalaman
Qunfudhah: Yuhur (yhr); Sarum (srm, metatesis dari rsym); Samarah 'mereka' (smrt, m yang
terakhir dalam smrtm yang tertera dalam Bibel adalah kata ganti kepunyaan orang ketiga
jamak); dan Hillat Maswa ('pemukiman', dan karena itu ada kata Ibrani byt, atau 'rumah',
msw, bandingkan dengan kata dalam Bibel msh).
18. Gerbang 'di belakang dua tembok' (byn h-hmtym, Raja-raja II 25:4, bandingkan dengan
Yeremia 39:4; 52:7): referensinya adalah pada 'wilayah' (terbukti sebagai arti kuno kata Arab
byn, disuarakan btn) Al Hamatan (hmtn), di dataran tinggi Zahran (seperti kata Ibrani
hmtym, tunggalnya adalah hmt, bentuk dari nama itu yang telah diarabkan adalah dalam
bentuk ganda).[5]
19. Gerbang 'Shallecheth' (slkt, Tawarikh I 26:16): Shaqlah (sqlt' di pedalaman Qunfudhah.
20. Gerbang 'Sur' (h-yswr, Raja-raja II 11:6; Tawarikh II 23:5): Al Yasir ('l ysr) di wilayah
Tanumah, di sebelah selatan Nimas menuju Abha.
21. Gerbang 'Yosua gubernur kota' (yhws' sr h-'yr, Raja-raja II 23:8): di sini kini desa Shu'ah
(sw') di wilayah Bahr tampaknya dikenali sehubungan dengan pedesaan al-Sirr (sr) dan alGhar (gr, secara fonologis sama dengan 'yr) di Rijal Alma' di dekatnya (baca 'Shu'ah dari Sirr
'al-Ghar').
22. Gerbang 'Pecahan barang tanah' (h-hsrwt, Yeremia 19:2): al-Kharizat (hrzt, metatesis dari
hsrwt, juga dalam bentuk feminin jamak) di daerah sekitar Hali di wilayah Qunfudhah.
23. 'Gerbang baru Yahweh' (s'r yhwh h-hds, Yeremia 26:10) atau 'gerbang baru rumah Yahweh'
(s'r byt yhwh h-hds, Yeremia 36:10): referensinya tampaknya adalah kepada sebuah tempat
pemujaan Yahweh kuno di desa al-Hadithah (hdt dengan kata sandang tertentu yang
merupakan terjemahan bahasa Arab dari kata Ibrani h-hds, 'baru'), kini di wilayah
Qunfudhah.
24. 'Gerbang atas rumah Yahweh, (s'r byt yhwh h-'lwyn, Tawarikh II 27:3, terjemahan yang lebih
baik adalah 'gerbang rumah Yahweh h-'lwyn'): tempat pemujaan yang dibicarakan adalah Al
'Alyan ('l 'lyn, 'Tuhan'-nya 'lyn) di wilayah Nimas (lihat Bab 12).
25. Gerbang 'Lama' (s'r h-r'swn, Zakaria 14:10): kemungkinan besar adalah Rawshan (rwsn) di
Wadi Bishah; kemungkinannya kecil kalau itu adalah Rishan (rsn) atau Rusan (rsn) di
wilayah Taif.[6]
Kita dapat meneruskan lebih jauh lagi mengenali banyak tempat yang namanya tertera dalam Bibel
Ibrani sehubungan dengan Yerusalem (bagian-bagian tembok, menara-menara, sejumlah mata air,
ladang-ladang, bangunan-bangunan atau tempat-tempat pemakaman) berkenaan dengan nama-nama
lokasi yang masih terdapat di sana yang sebagian terletak dekat Al Sharim di wilayah Nimas di Asir.
Namun saya tidak ingin mengganggu para pembaca dengan tambahan-tambahan yang nampaknya
adalah informasi yang berlebihan dan tak bermanfaat. Dengan demikian, hanya ada sebuah tempat
yang tidak dapat saya tempatkan melalui namanya, dan tempat tersebut adalah 'Gunung Zaitun' (hr
h-zytym) yang terletak di sebelah timur Yerusalem (Zakaria 14:4, yang merupakan tafsiran
tradisionalnya). Sebaliknya, ada dua buah tempat lain yang namanya diasosiasikan dalam teks Bibel
dengan Yerusalem yang letaknya tidak di sekitar ibukota itu, akan tetapi perlu diperhatikan bahwa
teks-teks tersebut yang menyebutkan mereka pun tidak mengatakan bahwa mereka terletak di sekitar
kota:
1. Lembah Hinnom atau lembah 'anak' Hinnom (gy'bn hnm). Jika membaca nama itu sebagai h-nm,
dengan h yang pertama sebagai kata sandang tertentu, dan nama 'lembah' (dalam bahasa Ibrani gy')
ini pun dapat dikenali sebagai al-Namah (nm, dengan kata sandang tertentu Arab), di wilayah
Ballahmar antara wilayah Bani Shahr dan Rijal Alma'. Tepat di sinilah teks Yosua 15:8
menempatkan tempat tersebut; 'di puncak sebelah selatan Yebusit (yaitu Yerusalem)' (RSV).
Menurut Raja-raja II 23:10, di lembah ini ada sebuah tempat yang bernama Topheth (htpt, dibaca
dengan salah menjadi h-tpt). Kini tempat tersebut tidak lain adalah desa al-Hatafah (htpt), di sekitar
daerah yang sama (bandingkan dengan Simons, alinea 36).
2. Kali kecil Kidron (nhl qdrwn): ini tentunya adalah lembah Bani al-Asha'ib di lerengan maritim
wilayah Zahran yang sampai kini masih berdiri sebuah desa yang bernama Qidran (qdrn). Dalam
Raja-raja II 23:4, 6, ungkapan dalam bahasa Ibrani yang berbunyi m-hws l-yrwslym b-sdmwt qdrwn,
dan m-hws l-yrwslym 'l nhl qdrwn, secara tradisional diterjemahkan menjadi 'di luar Yerusalem di
ladang-ladang Kidron', dan 'di luar Yerusalem sampai pada kali kecil Qidran'. Namun di sini hws
adalah nama sebuah tempat yang kini merupakan desa Hawwaz (hwz) di lembah yang sama, di
wilayah Zahran letak Qidran dapat dijumpai. Jika dipertimbangkan kembali berkenaan dengan ini,
kutipan Ibrani dari Raja-raja II 23 yang tertera di atas akan berbunyi: 'dari Hawwaz sampai ke
Yerusalem, di ladang-ladang Qidran', dan 'dari Hawwaz sampai ke Yerusalem, sampai ke kali kecil
Qidran'. Terjemahan yang dipertimbangkan kembali ini cocok dengan konteksnya: atas perintah Raja
Yosiah, semua jimat-jimat yang musyrik, tidak hanya Yerusalem, tetapi dari seluruh daerah Hawwaz
dan Yerusalem dikumpulkan dan dibawa ke ladang-ladang di Qidran, atau ke kali kecil Qidran, di
sana semua itu dibakar (untuk pengenalan tradisional atas Kidron di luar Yerusalem Palestina, lihat
Simons, alinea 139).
Suatu hari arkeologi akan dapat memperkuat pengenalan yang dikemukakan bahwa Yerusalem
menurut Bibel adalah desa Al Sharim yang kini terletak di dataran tinggi Nimas. Namun yang jelas
adalah bahwa Kota Daud yang kini adalah Umm Samdah di Rijal Alma' bukanlah Yerusalem yang
kita sangka tetapi sebuah tempat lain samasekali. Seperti yang telah saya katakan tadi, Kota Daud
didirikan sebagai sebuah kota-kubu guna menjaga perbatasan selatan kerajaan Daud. Di samping
sebuah benteng pegunungan, Al Sharim, yaitu Yerusalem-nya Daud menduduki posisi di tengah
antara Wadi Adam dan wilayah Taif di utara, dan Rijal Alma' di selatan, karena wilayah kekuasaan
kerajaan tersebut membentang di antara kedua daerah ini. Maka dari itu kota tersebut sangat cocok
sebagai ibukota Daud. Harus pula dicatat bahwa lokasi kota itu di sepanjang jalan raya pegunungan
utama di sebelah timur tebing curam Asir di beberapa tempat menghubungkannya dengan jalur-jalur
pedalaman kafilah, baik yang menuju ke timur maupun yang menuju ke jalur pesisir di sebelah barat.
Jalan raya ini kini masih ada sebagai saluran perhubungan utama wilayah itu. Setelah ia menetapkan
dirinya di 'Yerusalem' tersebut, Daud tidak hanya berkuasa atas Yudah saja namun juga atas 'Seluruh
Israil' (Samuel II 5:5 , seperti halnya anaknya, Sulaiman, sesudahnya.
10. ISRAIL DAN SAMARIA
Kalau Yudah atau yhwdh, benar-benar adalah tanah yang mengandung jurang-jurang di sepanjang
sisi maritim Hijaz selatan dan Asir, maka Israil (ysr'l) tentu mulanya adalah tanah di dataran yang
lebih tinggi pada daerah yang sama. Sudah banyak yang ditulis orang mengenai etimologi ysr'l, atau
'Israil' namun hasilnya lebih banyak membingungkan daripada menjelaskan. Gagasan dalam
Kejadian 32:28 bahwa kata itu berarti 'dia bergumul melawan Tuhan', atau 'Tuhan berjuang' (ysrh 'l),
adalah etimologi rakyat yang khas. Bahwa nama itu merupakan kependekan ysrh 'l sudah jelas;
tetapi di sini ysrh bukanlah bentuk imperfek srh dalam pengertian bahasa Ibrani 'bergumul,
berkelahi' yang telah disahkan, tetapi merupakan kata benda kuno dari kata kerja yang sama dalam
pengertian kata Arab srw atau sry (disuarakan sara), 'tinggi, ditinggikan, diletakkan tinggi-tinggi,.
Maka nama itu, yang berarti 'ketinggian Tuhan', berhubungan langsung dengan Sarat (bentuk jamak
gabungan srw atau sry, disuarakan saru atau sari, ('ketinggian gunung'), yang sampai kini masih
bertahan sebagai nama daratan tinggi Arabia Barat, terutama di tempat yang kini adalah Asir (lihat
Bab 3).
Sebagai ungkapan yang berarti 'ketinggian Tuhan', nama ysr'l atau 'Israil', mestinya merupakan nama
geografis sebelum kata tersebut menjadi nama sebuah bangsa, dan akhirnya menjadi nama sebuah
kerajaan Arabia Barat yang berbeda dengan kerajaan dengan nama yang sama di Yudah.[1]
Sebenarnya ysrh 'l yang sebagian besar ada dalam pelbagai varian dari bentuk 'l ysrh yang terbalik,
'dewa ketinggian', masih bertahan sebagai nama tempat, tidak hanya di Asir tetapi di pelbagai tempat
di Hijaz. Inilah daftarnya:
1. Al-Yasr (l-ysr) di distrik Muhayil.
2. Al-Yasra ('l-ysr) di wilayah Nimas.
3. Al-Yasra (juga l-ysr) di wilayah Taif.
4. Yasrah (ysrh) di daerah sekitar Abha.
5. Al Yasir ('l ysr) di daerah sekitar Tanumah.
6. Al-Yasirah ('l-ysrh) di wilayah Madinah (al-Madinah) sebagai nama dua buah pedesaan.
7. Yasir (ysr) di wilayah Mekah.
8. Al Yasir ('l ysr) di wilayah Qunfudhah.
9. Al Sirah ('lsrh, mempertahankan bentuk Ibrani dari asal katanya) di wilayah Abha.
10. Al-Saryah ('l-sry) di Khamis Mushait, di sebelah timur Abha
11. Abu Saryah ('b sry) di wilayah Taif.
12. Al-Sari ('l-sry), lokasinya belum dipastikan/ditentukan.
Nama-nama yang lain yang berasal dari srw sebagai bentuk sry, dapat ditambahkan pada daftar di
atas dalam pengertian yang hampir sama persis dengan kata Ibrani ysr'l (dengan 'l-nya yang
berakhiran) dapat diwakili oleh Suraywil (srywyl tampaknya sebuah pengubahan dari sry 'l), nama
sebuah desa Arab di Najd (Nagd) yang pernah menjadi bagian wilayah Yamamah.[2]
'Bani Israil' menurut Bibel (bny ysr'l) mestinya pada mulanya merupakan sebuah konfederasi sukusuku di dataran tinggi Arabia Barat. Konon, suku-suku ini berjumlah duabelas buah: Reuben (r'bwn),
Simeon (sm'wn), Levi (lwy), Yudah (yhwdh), Gad (gd), Asher ('sr), Issachar (ysskr), Zebulun
(zblwn, pada hakekatnya adalah zbl), Dan (dn), Naphtali (nptly), Yosef (ywsp) dan Benyamin (bn
ymyn, pada hakekatnya ymyn). Dua nama di antaranya terdapat dalam bentuk Arab yang dapat
dikenali, menandakan dua buah suku Arabia Barat kuno yang bernama Lu'ayy (l'y, bandingkan
dengan lwy, atau Levi) dan Yashkur (yskr, bandingkan dengan ysskr, atau Issachar). Sepuluh suku
lainnya masih dapat dikenali sebagai nama-nama suku Arabia bagian selatan yang sampai kini masih
bertahan. Mereka adalah: Rawabin (rwbn, atau Reuben); Sama'inah (sm'n, atau Simeon);[3]
Wahadin (tunggalnya adalah Wahadi, atau whd, yaitu Yudah); Zabbalah atau Zubalah (keduanya
zbl, yaitu Zebulun); Duwaniyah, Danaywi atau Dandan (ketiganya pada hakekatnya dn, yaitu Dan);
Falatin (pltn, yaitu Naphtali); Judan (tunggalnya Judi), Judah, Judi atau Jadi (keempatnya gd, yaitu
Gad); Dhawi Shari (orang-orang Shari, atau sr; yaitu Asher); Banu Yusuf (ysp, yaitu Yusuf);
Yamna, Yamanah atau Yamani (ketiganya ymn, yaitu Benyamin).
Selain itu, di antara keduabelas suku Israil tersebut suku Yusuf (Yoseph) konon mempunyai dua
cabang: (Ephraim ('prym) dan Manasseh (mnsh). Anehnya kini suku Arabia Barat Banu Yusuf
sebenarnya bernama 'dua cabang (ranting)' (bahasa Arabnya al-Far'ayn). Nama kesukuan Ephraim
bertahan di Arabia Barat sebagai Firan (prn) dan Manasseh sebagai Mansi (mns). Bukti onomastik
yang lebih mendetil berkenaan dengan asal mula keduabelas suku itu di Arabia Barat disajikan pada
lampiran.
Bibel Ibrani mengatakan bahwa keduabelas suku ini akhirnya menetap di Yudah, di sisi maritim Asir
geografis, dan pada akhir abad kesebelas dan permulaan abad kesepuluh S.M., mereka telah
mendirikan sebuah kerajaan di daerah itu. Situasi politik dan ekonomi pada waktu itu sangat
mendukung timbulnya kerajaan semacam itu di Arabia Barat. Setelah sekitar tahun 1200 terjadilah
sebuah penurunan pada jumlah pendudukan kerajaan di Arabia dari arah Mesopotamia, Suria utara
dan Mesir, yang menyebabkan timbulnya negara-negara bagian di jazirah Arabia itu. Suatu waktu
antara tahun 1300 dan 100 S.M., terjadilah pula suatu peningkatan yang drastis atas perdagangan
dengan kafilah di Arabia, yang tampak dengan adanya gejala diperkenalkannya secara besar-besaran
unta untuk mengganti keledai sebagai binatang beban. Tetapi kerajaan 'seluruh Israil' (lihat Bab 9)
tidak sanggup mempertahankan persatuan poliliknya untuk lebih lama lagi. Sampai pada akhir abad
ke sepuluh S.M., wilayah kekuasaannya telah berada di bawah pimpinan sederetan raja-raja saingan:
yaitu raja-raja 'Yudah', dengan ibukota mereka di Al Sharim (yang dianggap sebagai lokasi
'Yerusalem' menurut Bibel), dan raja-raja (Israil). Usaha-usaha baru untuk memperebutkan
kekuasaan atas Arabia Barat, pertama kali oleh Mesir, kemudian oleh Mesopotamia, sudah pasti
mengambil peranan penting dalam menimbulkan dan mengabadikan perpecahan ini (lihat Bab 1).
Ahli-ahli Bibel yang berpikir dalam konteks Palestina, secara tradisional mengatakan bahwa mereka
kerajaan-kerajaan yang bersaingan yaitu 'Yudah' dan 'Israil', masing-masing terletak di selatan dan
utara, dan yang terakhir diperkirakan berpusat di sekitar kota Nablus di Palestina. Sebenarnya,
seperti yang akan kita lihat nanti, di Arabia Barat pusat kekuatan 'Israil' memang terletak di sebelah
utara 'Judah'. Akan tetapi wilayah-wilayah mereka bukanlah wilayah-wilayah yang mempunyai
batas-batas yang jelas di antara keduanya. Melainkan mereka terpisah melalui suatu perbedaan
politik dalam wilayah yang sama, berdasarkan kesetiaan-kesetiaan yang bersaingan yang diperdalam
oleh perpecahan keagamaan. Raja-raja 'Yudah' dan 'Israil', tampaknya menguasai kota-kota dan
pedesaan pada wilayah-wilayah yang sama, terkadang letaknya saling berdekatan. Di wilayahwilayah tengah Yudah, yaitu di daerah pedalaman Qunfudhah sudah jelas begini keadaannya. Lebih
jauh ke utara di wilayah Lith dan Taif begitu pula keadaannya (lihat di bawah).
Orang pertama yang menetapkan dirinya sebagai raja 'Israil' setelah wafatnya Sulaiman, adalah
'Yeroboam putra Nebat' yang digambarkan sebagai seorang 'prty mn h-srdh, yang secara tradisional
di anggap berarti 'seorang Ephraim dari Zaredah' (Raja-raja I 11:26). Begitu pula Daud, pendiri
dinasti itu, yang terus menguasai 'Yudah', juga digambarkan sebagai putra seorang 'prty dari
'Bethlehem'. Bahwasanya 'prty itu bukan berarti 'orang Ephraim' itu sudah jelas; seorang 'Ephraim'
dalam bahasa Ibraninya adalah 'prymy, dari kata 'prym (bentuk ganda 'pr), kini Wafrayn (wpryn,
bentuk ganda wpr) di Bani Shahr. Sebenarnya 'prth (yang bentuk genitifnya adalah 'prty) kini masih
bertahan sebagai nama desa Firt (prt), di Wadi Adam, di wilayah Lith. Bethlehem, seperti yang telah
dikatakan, adalah sebuah desa lain di Wadi Adam itu pula, yang kini adalah Umm Lahm
(dihubungkan dengan 'prth, juga dalam Mikha 5:2; Rut 1:2; 4:11). 'Zaredah', kota asal Yeroboam di
daerah sekitar Firt, kini adalah al-Sadrah (sdrh, dengan kata sandang tertentu seperti dalam bahasa
Ibraninya), juga di wilayah Lith. Pertengkaran antara Yeroboam dan keluarga kerajaan Daud tidak
diragukan lagi berasal dari kecemburuan yang telah lama ada antara keluarga-keluarga kepala Firt di
Wadi Adam yang bersaingan, yang kemudian dilakukan dalam skala politik yang lebih besar.
Yeroboam memulai karir politiknya dengan bertugas di bawah Salomo dan kemudian memberontak
sebelum dipaksa lari ke Mesir, tempat ia mencari perlindungan di bawah Raja Sheshonk I (lihat Bab
11). Setelah wafatnya Sulaiman, ia kembali ke Yudah untuk menantang pengganti Sulaiman, yaitu
Rehoboam, anaknya dan menetapkan diri sebagai saingan raja 'Israil' (lihat Raja-raja I 11:26; 12:30).
Setelah mengangkat dirinya sebagai raja, Yeroboam mendirikan Schechem (skm) di daerah
perbukitan Ephraim ('prym) dan menetap di sana (Raja-raja I 12:25). Mengingat bahwa 'Ephraim'
menurut Bibel, seperti yang telah dibahas tadi kini adalah Wafrayn, di distrik Bani Shahr pedalaman
Qunfudhah, kota 'sechem' yang ia dirikan dan dijadikan ibukota (Sechem-sechem menurut Bibel)
mungkin kini adalah kota Suqamah (sqm), di Wadi Suqamah (sqm), di Wadi Suqamah di barat daya
lerengan wilayah Zahran dan tidak jauh di utara dari Bani Shahr. Tetapi kemungkinan besar
'Shechem' itu adalah al-Qasim (qsm) di pedalaman Qunfudhah.
Tidak lama setelah itu, Yeroboam kemudian 'memperkuat' kota 'Penuel' (pnw'l) seperti yang
digambarkan dalam Raja-raja I 12:25, dan kemungkinan besar adalah al-Naflah (npl) di wilayah
Taif, atau mungkin al-Nawf ('l-nwp) yang namanya kini diberikan pada sebuah hutan yang terletak
di punggung bukit di dataran tinggi Zahran. Untuk mencegah pengikut-pengikutnya pergi beribadah
ke 'Yerusalem', maka ia mendirikan tempat-tempat suci yang baru di 'Bethel' dan di 'Dan' (Raja-raja
I 12:29f). 'Bethel' hampir dapat dipastikan tempat yang sekarang dikenal sebagai Butaylah (btyl) di
dataran tinggi Zahran (lihat di bawah). 'Dan' tidak diragukan lagi kini adalah Danadinah di dataran
rendah maritim wilayah Zahran yang bentuk Arab dari namanya adalah jamak dny genitif dn (lihat
Bab 14).
Walaupun ibukotanya terletak di 'Shechem', tampaknya Yeroboam terkadang menetap di 'Tirzah'
(Raja-raja I 14:7) yang terletak di atas bukit sebuah tempat yang bernama 'Gibbethon' (Raja-raja I
16:15f). 'Gibbethon' (gbtwn) mestinya adalah salah satu di antara pedesaan yang terletak di tempat
yang kini adalah pegunungan al-Naqabat (nqbt), di dataran tinggi Ghamid. Pada ketinggian yang
lebih jauh lagi ke arah utara, ada sebuah dusun kecil yang bernama al-Zir (zr) yang mungkin
dahulunya adalah Tirzah. Daerah disana sangat kaya akan peninggalan-peninggalan
sejarah/arkeologi. Raja-raja 'Israil' yang menggantikan Yeroboam, mendirikan ibukota-ibukota bagi
mereka sendiri pertama kali di 'Tirzah', yang kemudian 'Yezreel' ('Esdraelon' dalam bahasa
Septuaginta Yunani), kemudian di 'Samaria' (Raja-raja I 15:33f; 18:45f; 20:43f) --yang terakhir,
'Samaria' merupakan sebuah kota yang didirikan oleh mereka sendiri di sebuah bukit dekat 'Yizreel'
(kalau diuraikan menjadi yzr' 'l, 'semoga Tuhan menaburkan', atau 'pentaburan Tuhan') kini mestinya
adalah Al al-Zar'i ('l zr') di daerah rendah di Wadi al-Ghayl, tidak jauh di sebelah timur tenggara
Qunfudhah. Maka 'Padang Esdraelon' yang terkenal itu, yang jelas bukan daerah rendah yang
memisahkan Palestina dari Galilee di Suria, tidak mungkin kalau bukan merupakan nama kuno Wadi
al-Ghayl. 'Shemer' (smr), pemilik asli bukit di mana 'Samaria' (Ibraninya Shomeron, atau smrwn),
didirikan, kemungkinan besar bukanlah nama seseorang melainkan sebuah suku yang namanya
hidup terus di Arabia bagian selatan sebagai Shimran (tepatnya smrn). Kini wilayah Shimran
meliputi pedalaman Qunfudhah dan membentang menyeberangi tebing curam dan pembagi perairan
sampai pada Wadi Bishah. 'Samaria' dahulunya sudah dapat dipastikan adalah desa yang kini
bernama Shimran di daerah pedalaman Qunfudhah, agak jauh di atas bukit dari Al al-Zar'i, atau
'Yizreel'. Dan kenyataannya memang Shimran kini dengan jelas terletak di sebuah bukit.
Kita tidak perlu mengamati semua nama tempat-tempat menurut Bibel itu yang disebut sebagai
kepunyaan Raja-raja 'Israil'. Untuk menggambarkan bagaimana raja-raja ini dan para saingan mereka
dari 'Yudah' menguasai kota-kota dan pedesaan di wilayah yang sama, kiranya cukup kalau
menunjukkan saja bagaimana kebanyakan nama-nama kota yang konon diperkuat Rehoboam guna
mempertahankan kerajaan 'Yudah'nya, bertahan di daerah pedalaman Qunfudhah sampai ke utara,
yang terdapat pusat-pusat utama raja-raja 'Israil' itu (lihat Tawarikh 11:6-9).
Nama-nama tersebut adalah sebagai berikut:
1. 'Bethlehem', telah dikenali sebagai Umm Lahm di Wadi Adam, wilayah Lith (lihat di atas).
2. 'Etam' ('ytm), sangat mungkin Ghutmah (gtm) di wilayah Lith. Tetapi ada beberapa 'Etam'
lainnya sebagai kemungkinan di Asir geografis.
3. 'Tekoa' (tqw', bentuk kata benda kuno qw'): Waq'ah (wq't) di Wadi Adam; Yaq'ah (yq't) atau
Qa'wah (q'wt) di Rijal Alma'.
4. 'Beth-zur' (byt swr, 'rumah' atau 'kuil' swr): sangat mungkin Al Zuhayr ('l zhyr)-nya Rijal
Alma', atau Al Zuhayr-nya wilayah Ballasmar; mungkin juga al-Sar (sr) atau al-Sur (sr) di
wilayah Lith; al-Sur atau al-Sura (keduanya sr) di wilayah Qunfudhah; atau al-Surah (juga sr)
di sekitar daerah Bahr.
5. 'Soco' (swkw): Sikah (sk), di wilayah Taif. Kemungkinan-kemungkinan lain adalah Saq (sq),
Shaqah (sq) dan Suqah (sq), di wilayah Lith, yang terakhir terletak di Wadi Adam; juga
Shaqah dan Shaqiyah (sqy), di wilayah Jizan.
6. 'Adullam' ('dlm): Da'alimah (d'lm), di wilayah Taif.
7. 'Gath' (gt): al-Ghat (gt), di wilayah Jizan.
8. 'Mareshah' (mrsh): Mashar (msr), di wilayah Bani Shahr; Masharah (msrh) di Rijal Alma';
atau Mashar satu lagi di pedalaman Qunfudhah, tidak jauh dari Shimran.
9. 'Ziph' (zpy): sangat mungkin Sifa (syp), di wilayah Qunfudhah; kemungkinan adalah Siyafah
(juga syp), di wilayah Nimas.
10. 'Adoraim' ('dwrym, secara tradisional disuarakan sebagai ganda dari 'dwr): al-Darayn (dryn
bentuk ganda Arab dr), nama tiga buah pedesaan di wilayah Taif, dan nama sebuah desa di
dataran tinggi Zahran.
11. 'Lachish' (lkys): Jelas bukan Tall al-Duwayr Palestina (lihat Bab 5). Asosiasi tempat ini
dengan gb'wn, mqdh, hbrwn, dan 'glwn ('Gibeon', 'Makkedah', 'Hebron', dan 'Eglon', dalam
Yosua 10 adalah passim), yang kini adalah Al Jib'an (gb'n), Maqdi (mqd), Khirban (hrbn)
dan 'Ajlan ('gln), di pedalaman Qunfudhah (keempatnya adalah penyalinan huruf Ibrani ke
dalam huruf abjad Latin yang tepat), menunjuk dengan jelas pada Al Qayas ('l qys) di daerah
yang sanma.
12. 'Azekah' ('zqh): 'Azkah ('zqh), di wilayah Qunfudhah.
13. 'Zorah' (sr'h): di antara beberapa alternatif, paling besar kemungkinannya adalah Zar'ah
(zr'h), di lerengan maritim wilayah Zahran.
14. 'Aijalon' ('ylwn): Alyan ('lyn), di wilayah Lith, atau Ayla ('yl), di wilayah Qunfudhah.
15. 'Hebron' (hbrwn): Khirban (hrbn), di wilayah Majaridah (lihat Bab 9 dan 13).
Jelas, kerajaan-kerajaan 'Israil' dan 'Yudah' meliputi sampai tingkat tertentu sebuah wilayah
kekuasaan. Mereka juga terdiri dari satu bangsa, terpisah karena kesetiaan mereka yang berbeda
terhadap raja-raja keluarga kerajaan Daud di Al Sharim (atau 'Yerusalem') dan serangkaian dinasti
yang bersaingan yang terdapat di daerah-daerah lain yang kadang-kadang terletak dekat Al Sharim,
ketika pemimpin-pemimpin mereka menentang legitimasi keluarga kerajaan Daud dengan menyebut
diri mereka raja-raja 'Israil'. Seiring dengan perpecahan politik ini, seperti yang telah dikatakan,
tampaknya terdapat perpecahan keagamaan yang mengadu ortodoksi 'Yudah', yang bertahan sebagai
agama Yahudi, dan heterodoksi agama 'Israil' yang diabadikan oleh sektarianisme kaum 'Samaritan'.
Di antara kaum Yahudi 'Yudah', kultus pemujaan atas Tuhan Yahweh dikembangkan menjadi
sebuah agama dunia yang canggih oleh serangkaian nabi (nby'ym). Namun, kekuasaan keagamaan
nabi-nabi ini umumnya ditentang oleh raja-raja 'Israil' dan para pengikutnya, yang gambarannya
terhadap agama Israil tampaknya tetap berpandangan kesukuan. Oleh karena itu mereka kabarnya
selalu bersedia untuk menerima kedewaan beberapa dewa suku-suku dan bangsa-bangsa lain yang
hidup bersama-sama mereka. Bagaimana heterodoksi kaum 'Israil' dapat berkembang menjadi
'Samaritanisme' di Yaman yang mendatang bukanlah masalah yang akan dibahas di sini. Cukup
dikatakan bahwa orang-orang Samaritan, sebagai suatu sekte, terus menyebut diri mereka bn ysr'l,
'orang-orang (bani) Israil' atau h-smrym (disuarakan Shomerim). Ini biasanya dianggap berarti
(orang-orang smr), referensinya di sini adalah kepada wilayah kesukuan Arabia Barat kuno (yang
kini masih ada), yaitu Shimran. Di antara kaum Yahudi ortodoks, mereka dikenal sebagai hsmrwnym (disuarakan Shomeronim), 'mereka dari Shomeron' atau 'Samaria', yang pernah menjadi
ibukota raja-raja 'Israil' yang kini ada sebagai desa Shimran di Arabia Barat.
Sewaktu agama Yahudi menyebar dari Arabia Barat ke Palestina dan tempat-tempat lain, agama
tersebut baik dalam bentuk ortodoks maupun bentuk Samaritannya. Di Palestina, kaum Samaritan
mendirikan bagi mereka sebuah 'Samaria' yang baru di daerah yang kini bernama Sabastiyah
(Sabastiyah, dalam bahasa klasiknya Sebaste) dekat Nablus sekarang; di sana mereka mengakui dua
buah bukit di daerah itu sebagai Gunung Gerizim (grzym) menurut Bibel dan Gunung Ebal ('ybl),
yang mereka anggap suci. Dari teks-teks Bibel yang membicarakan kedua bukit ini kita mendapat
kesan bahwa kedua bukit itu saling berdekatan.
Gunung Gerizim dan Gunung Ebal dibicarakan di dalam Yosua 8:33f setelah kisah pendudukan
orang-orang Israil atas yryhw dan h-'y ('Yericho' yang kini adalah Rakhyah, di Wadi Adam (lihat
Bab 7); dan 'Ai' yang kini adalah 'Uya' ('y), di dataran tinggi antara wilayah Zahran dan wilayah
Taif, bukan al-Ghayy di Rijal Alma' (lihat Bab 7 dan 13). By't 'l atau 'Bethel', yang dengan h'y dalam
pertalian ini adalah Butaylah (bytl) di dataran tinggi Zahran dan bukan Batilah yang ada di Rijal
Alma'. Butaylah ini menguasai salah satu penyeberangan utama tebing curam (atau yrdn) di daerah
itu. Menurut Ulangan 11:30, Gunung Gerizim dan Gunung Ebal terletak 'di luar yrdn, di sebelah
barat jalan (kini jalan raya Taif-Abha), menuju terbenamnya matahari'. Turun bukit dari Butaylah di
lerengan Barat wilayah Zahran, berdiri punggung bukit kembar Jabal Shada. Punggung yang
tertinggi, ke arah utara, mestinya adalah Gerizim menurut Bibel, yang namanya masih dipakai oleh
desa Suqran yang terletak tinggi pada lerengannya (sqrn adalah metatesis dari grzym, yang telah
mengalami perubahan, dengan akhiran jamak Ibrani yang telah diarabkan di dalam bentuk masa kini
nama itu). Punggung bukit yang lebih rendah, ke arah selatan, mestinya adalah Ebal --sebuah nama
yang sebenarnya tidak diketemukan di sana, akan tetapi yang hidup terus di sekitar daerah Zahran
seperti halnya Wadi 'Ilyab ('lyb); juga pedesaan 'Abalah ('bl), 'Abla ('bl) dan 'Ablah ('bl), dan desa
dan punggung bukit berpasir Bil'ala' (bl'l), di mana di sana terdapat pula sebuah desa yang bernama
La'ba' (l'b). Punggung bukit berpasir Bil'ala' (bl'l) tidak mungkin Gunung Ebal menurut Bibel, karena
ia terletak lebih ke arah timur daripada ke arah barat dari tebing curam dan jalan itu.
Menurut Ulangan 11:29, Gunung Gerizim adalah gunung yang diberkahi oleh orang-orang Israil,
dan Gunung Ebal adalah gunung yang dikutuk oleh mereka. Sebenarnya punggung bukit utara Jabal
Shada lebat ditumbuhi pepohonan dan secara tradisional biasanya dibuat bertingkat-tingkat agar
dapat ditanami, sedangkan punggung bukit selatannya gersang. Hakim-hakim 9:7 menghubungkan
Gunung Gerizim dengan Shechem (skm). Kini adalah desa Suqamah (sqm), di Wadi Suqamah yang
mengalir di kaki sebelah timur punggung utara Jabal Shada. Pada punggung bukit yang sama ini
(lihat Bab 7, Catatan 5) kita dapat menjumpai 'sebuah altar yang terbuat dari batu-batu yang masih
utuh, yang belum pernah tersentuh perkakas besi manusia' (Yosua 9:31; bandingkan dengan Ulangan
27:2-8). Altar-altar yang seperti ini juga ditemukan di bagian-bagian lain wilayah Zahran, dan paling
tidak ada satu di antaranya yang terdapat inskripsi yang belum terpecahkan (bandingkan dengan
Yosua 8:32). Orang-orang Asir dan Yaman secara tradisional telah menganggap altar yang terletak
di punggung bukit Shada Utara (dengan perkataan lain, punggung bukit Gerizim menurut Bibel)
sebagai altar pemujaan yang mempunyai kesucian tersendiri. Dahulu mereka pergi ke sana untuk
suatu ziarah khusus dan sengaja tidak berhenti di desa-desa yang ada di sepanjang perjalanan. Akan
tetapi pada abad ini kebiasaan tersebut telah berkurang. Apa pun sebenarnya kedua bukit suci kaum
Samaritan Palestina dari Nablus tersebut, mereka jelas bukanlah Gunung Gerizim dan Gunung Ebal
yang sebenarnya.
11. RENCANA PERJALANAN EKSPEDISI SHESHONK
Begitu pentingnya Bibel Ibrani bagi manusia modern sampai-sampai seluruh Timur Dekat telah
diselidiki guna membuktikan kebenaran sejarahnya. Akan tetapi seperti yang telah saya kemukakan,
penafsiran tradisional yang salah mengenai geografi menurut Bibel, telah menimbulkan salah
pengertian atas sejarah geografi Timur Dekat kuno pada umumnya. Sebuah contoh yang layak dari
kebingungan yang timbul akibat kesalahan dalam penempatan yang kritis ini, diberikan oleh sebuah
analisa atas catatan-catatan Mesir yang telah banyak diteliti berkenaan dengan ekspedisi Raja
Sheshonk I.[1]
Sheshonk I ialah seorang raja Mesir dari dinasti ke-22 yang berkuasa dari sekitar tahun 945 sampai
tahun 924 S.M., dan memimpin sebuah kampanye militer melawan kota-kota Yudah yang
disebutkan secara singkat dalam Raja-raja I 14:25-26; Tawarikh II 12:2-9. Sampai sejauh ini daftar
nama-nama tempat yang telah ia taklukkan atau kunjungi telah dipelajari dengan berdasarkan
anggapan bahwa mereka adalah kota-kota Palestina (lihat Peta 9). Secara sepintas lalu ini bukanlah
suatu hal yang tidak masuk di akal, karena Sheshonk, seperti halnya para penguasa Mesir kuno
lainnya tentunya banyak berurusan dengan Palestina dan Suria. Sebuah pecahan dari sebuah stela
(pilar tegak yang biasanya berinskripsi dan bergambar) Mesir yang ditemukan di pesisir Palestina
memuat namanya, atau apa yang dianggap para ahli adalah namanya, tetapi bukti seperti ini tidak
harus berarti bahwa ia benar-benar berada di sana pada waktu ekspedisinya melawan Yudah, yang
tercatat ini, dilakukan. Inskripsi-inskripsi Mesir kuno dan barang-barang hasil kecerdasan manusia
yang memuat nama raja-raja Mesir kuno telah ditemukan di pelbagai daerah di Timur Dekat, namun
hanya beberapa ahli saja yang memandang bahwa dengan adanya barang-barang tersebut di sana
mutlak menunjukkan bahwa raja-raja itu pernah sekali waktu melewati sekitar daerah barang-barang
tersebut ditemukan.
Terus-terang saja, pendapat saya adalah bahwa pada ekspedisinya melawan Yudah, Sheshonk tidak
pergi ke Palestina. Bertolak untuk ekspedisinya dari satu pelabuhan laut Mesir di sepanjang pantai
Laut Merah, Sheshonk mendarat di suatu tempat di sepanjang pantai Hijaz, nampaknya di dekat
Lith. Tujuannya di sana agaknya adalah untuk melakukan suatu unjuk kekuatan militer besarbesaran guna mengingatkan raja-raja Yudah dan para penguasa Arabia Barat lainnya bahwasanya
wilayah mereka masih terletak dalam jangkauan kerajaan Mesir yang kuat itu. Setelah mendapat
tempat berpijak di pedalaman Lith, Fir'aun Mesir ini meneruskan perjalanannya ke arah selatan
menuju ke pusat Yudah, mungkin dengan melalui jalan pesisir atau dengan mengambil jalan lain
lebih jauh di pedalaman yang menyusuri barisan perbukitan pertama. Dalam perjalanannya menuju
tempat itu sekali-kali melakukan serangan-serangan tiba-tiba ke wilayah pegunungan dan sekali
waktu ia berhasil menembus tebing curam Sarat sampai sejauh Al Sharim yang menurut hemat saya
mungkin adalah lokasi 'Yerusalem'-nya Bibel Ibrani. Mungkin tergejolak dengan keberhasilannya di
daerah tersebut, ia memberanikan diri untuk bergerak lebih jauh ke selatan memasuki wilayah Jizan,
yang operasi-operasi militernya tampaknya agak terbatas, mungkin disebabkan oleh perlawanan
berat yang ia dapatkan dari suku-suku pegunungan di wilayah itu. Dari tempat itu Sheshonk kembali
ke daerah sekitar Lith, dan ia menundukkan tidak saja pelbagai tempat di sisi maritim tebing curam,
tetapi juga banyak tempat lain di wilayah Taif, dan terus melakukan penaklukan-penaklukannya ke
arah pedalaman sampai batas padang pasir.
Begitulah kira-kira dugaan saya, berdasarkan penafsiran kembali ekspedisi Sheshonk seperti yang
tertera dalam Kitab Bibel Ibrani dan dalam catatan topografis Sheshonk sendiri. Tak perlu saya
katakan lagi bahwa rencana perjalanan ekspedisi yang telah saya selidiki tersebut tidak cocok
dengan apa yang telah dikemukakan oleh para ahli Bibel tradisional, yang menurut hemat saya telah
melakukan suatu tipu daya yang membingungkan dalam upaya mereka untuk memaksakan suatu
logika atas kisah Sheshonk guna menempatkannya di dalam kawasan perbatasan Palestina. Namun
versi mereka tidak dapat ditanggapi secara bersungguh-sungguh karena versi tersebut berdasarkan
pada dugaan yang aneh, yaitu bahwa ahli-ahli penulis Mesir yang bertanggung jawab dalam
merekam kisah-kisah tersebut tidak tahu bagaimana cara menterjemahkan nama-nama tempat dalam
kisah-kisah tersebut ke dalam bahasa dan tulisan mereka. Mengingat bahwa bahasa Mesir kuno
masih berhubungan dekat dengan bahasa-bahasa Semit lainnya, ini nampaknya tidak mungkin
terjadi. Kalaupun kita menerima hipotesa yang begitu meragukan, yaitu menempatkan nama-nama
semua tempat yang ada dalam daftar-daftar Sheshonk di Palestina, ini hanya dapat dilakukan dengan
sikap acuh tak acuh samasekali terhadap teks-teks Mesir yang orisinal. Maka dari itu tidaklah
mengherankan jika ada perselisihan pendapat di antara para ahli Bibel mengenai apa yang
sebenarnya terjadi dalam ekspedisi Sheshonk. Namun kalau kita membaca kisah ini sambil
memikirkan tetapi geografi Arabia Barat, banyak --atau bahwa mungkin semua-- kesulitan yang ada
dapat terpecahkan, sehingga apa yang tertinggal hanyalah rencana perjalanan yang jelas ekspedisi
raja Mesir tersebut. Saya menegaskan kalau daftar-daftar topografi Mesir lainnya dan juga daftardaftar topografi Mesopotamia yang seperti ini diteliti dengan cara yang sama, maka hasilnya akan
mengejutkan (lihat, contohnya, komentar saya mengenai Charchemish dan Karkara dalam Bab 1,
Catatan 11, dan mengenai penaklukan-penaklukan Sargon II dan Surat-surat Amarna, dalam Bab 5).
Memang benar bahwa kisah-kisah menurut Bibel mengenai ekspedisi Sheshonk (dalam Bibel swsq
atau sysq, 'Shishak') melawan Yudah tidak diceritakan secara mendalam. Yang terpanjang di antara
keduanya --yaitu dalam Tawarikh II 12:2-9-- hanya mengabarkan bahwa raja Mesir itu datang
dengan sebuah pasukan yang besar, 'menduduki kota-kota kubu Yudah dan maju sampai sejauh
Yerusalem', tanpa merampasnya. Raja 'Yudah', yaitu Rehoboam, putra Sulaiman, tampaknya
berhasil menyuap para penjajah itu dengan 'harta karun dari Rumah Tuhan (dengan kata lain 'kuil')
dan harta karun dari rumah raja'. Mungkin inilah sebabnya mengapa 'Yerusalem' tidak terdapat di
antara nama-nama yang dapat terbaca di dalam daftar-daftar Sheshonk. Mungkin juga, tentunya,
nama kota tersebut ada dalam bagian-bagian yang telah hilang dari daftar tersebut, atau yang ada
dalam bentuk pecahan-pecahan yang tak dapat terbaca dan diuraikan.
Seperti yang telah saya katakan, Sheshonk mestinya menyeberangi Laut Merah dan mendarat di
pantai Hijaz bagian selatan di dekat Lith. Dari sana ia meneruskan perjalanannya mendaki bukit dan
menaklukkan enam tempat di pedalaman Lith (nomor 10-15 dalam daftar besar Sheshonk di kuil
Amon di Karnak), empat di antaranya masih dapat terbaca. Tempat-tempat ini adalah, seperti yang
diberi nomor pada daftar topografi Sheshonk yang orisinal:
10. mtt': Muti' (mt') di Wadi Adam, atau al-Mat'ah (mt') di Wadi al-Ja'izah lebih jauh di selatan.
13. rbt: Ribat (rbt) di dataran rendah Zahran, atau Ribat yang lain, lebih jauh di selatan di Wadi alShaqqah.
14. t'kni',[2] Taanach dalam Bibel, atau t'nk; kini Ka'nah (k'nt) di dataran rendah Zahran.[3]
15. snmi:[4] al-Mashniyyah (msny) di dataran tinggi Zahran.
Dalam serangan pertamanya menuju ke pedalaman, Sheshonk tampaknya berhasil menaklukkan
sebuah tempat di Wadi Ranyah, yang hulunya terdapat di wilayah Zahran:
16. snri':[5] Sharyaniyyah (sryny):
Ia kemudian kembali ke pedalaman Lith tempat ia merampas sebuah tempat lagi:
17. rhbi': Wadi Rahabah (rhb), suatu kelompok pedesaan di dataran rendah Zahran; atau Ruhbah
(rhb) di Wadi Adam.
Kemudian Sheshonk melanjutkan perjalanannya ke arah selatan menuju ke daerah-daerah tengah
Yudah, di pedalaman Qunfudhah dan Birk. Ia dapat saja mengambil jalan pantai atau jalan yang
terletak lebih jauh di pedalaman yang menyusuri barisan bukit pertama. Dalam perjalanannya
menuju tempat itu ia berhenti di berbagai tempat untuk melakukan serangan-serangan ke dalam
wilayah-wilayah pegunungan (lihat Bab 10). Di antara ketujuhbelas tempat yang ia serang namanama limabelas tempat dapat dikenali dengan tingkat kepastian yang berbeda:
18. hprmi' (diuraikan sebagai hpr mi'): Hafar (hpr), dikenali sehubungan dengan Muwayh (mwy)
yang terletak di dekatnya di sekitar daerah Qunfudhah guna membedakannya dari Hfar yang lain
yang terletak di daerah yang sama dan di daerah-daerah yang lain.[6] Hafar kini adalah desa di
distrik administratif Muwayh.
19. idrm, juga dibaca 'drm: al-Marda (mrd') di wilayah Majaridah.
21. swd: al Dish (dys) di pedalaman Hali.
22. mhnm: jelas sebuah metatesis kota dalam Bibel 'Mahanaim' (mhnym) yang kini mestinya adalah
Umm Manahi (jamak Arab dari mnh, metatesis mhn yang bentuk jamak Ibraninya adalah mhny) di
wilayah Qunfudhah.[7]
23. qb'n: Al Jub'an (gb'n), dalam Bibel adalah 'Gibeon' (gb'wn) di wilayah Majaridah.
24. bt h(w)rn: al-Rawhan (rwhn), dalam Bibel adalah 'Beth-horon (byt hwrwn) di wilayah
Qunfudhah; kecuali kalau yang terakhir itu adalah Khayran (hyrn) di Wadi Adam.
25. qdtm: mungkin makdah (mkdt) di wilayah Bahr.
26. iyrn: al-Rawn (rwn) di pedalaman Hali.[8]
27. mkdi': Maqdi (mqd) di wilayah Qunfudhah, satu di antara tiga 'Meggido' (mgdw) yang tertera di
dalam Bibel, yang dua lainnya adalah Maghdah (mgd) di wilayah Taif (lihat Catatan 3), dan Shu'ayb
Maqdah ('lembah mqd) di Wadi Adam.
28. idr: Wadhrah (wdr) di wilayah Bahr.
29. id hmrk (diuraikan sebagai h-mrk): id dalam nama ini (Ibraninya adalah yd) adalah padanan kata
dari kata Arab wadi (wd) atau 'lembah'; h-mrk, dengan kata sandang tertentu Arab) di wilayah
Qunfudhah. Desa al-Marakah sebenarnya terletak di salah satu wadi atau lembah utama daerah
tersebut.
31. hinm, juga dibaca h'y'nm: Hawman (hwmn) di wilayah Qunfudhah; Al-Hawman di wilayah
Ballasmar; atau Hawman di wilayah Muhayil.
32. 'rn: 'Arin ('rn), 'Eran' ('rn) yang tertera dalam Bibel di wilayah Qunfudhah; kecuali kalau yang
terakhir ini adalah Al Ghurran (grn) wilayah Bani Shahr.
33. brn, juga dibaca brm: Barmah (brm) di wilayah Qunfudhah; kecuali kalau itu adalah Burran (brn)
di dataran rendah Zahran.
34. dt ptr, juga dibaca d dptr:[9] mungkin al-Fatrah ('l-ptr) di Rijal Alma', atau al-Dafrah ('l-dprt) di
wilayah Bahr; kecuali kalau referensinya adalah kepada al-Dafrah yang lain di distrik Faifa di
wilayah Jizan (lihat di bawah).
Mestinya pada tahap ini, dari kampanye militernya, Sheshonk menyeberangi tebing curam dan
menggempur Al Sharim, dengan kata lain kota yang dianggap Yerusalem di wilayah Nimas, tanpa
memasuki kota itu. Tetapi setibanya ia di dt ptr atau d dptr, Sheshonk telah jalan menuju ke arah
selatan untuk melakukan penyerangan-penyerangan yang cepat di pedalaman Jizan atau mungkin ia
telah berada di sana pada waktu itu (lihat no. 34). Keempat tempat yang mestinya ditaklukkannya di
daerah tersebut adalah yang berikut ini:
35. ihm: Wahm (whm) di distrik Masarihah.
36. bt'rm: 'Umar ('mr), nama lengkapnya Qaryat 'Umar Maqbul (harfiahnya berarti 'desa 'Umar yang
kepadanya doa, atau ziarah ditujukan', yang menjelaskan makna kata bt, atau 'kuil' pada nama yang
tertera dalam daftar Sheshonk) di distrik Madaya.
37. kgri: Gharqah (grq) di distrik Abu 'Arish; tampaknya merupakan tempat asal orang-orang 'Arki'
('rqy, genitif 'rq atau 'rqh) dalam Kejadian 10:17, yang sampai kini dianggap sebagai 'Arqa di
Libanon bagian utara, di pedalaman Tripoli.
38. sik: Kus (kws) di distrik Masarihah atau Kis (kys) di distrik 'Aridah.
Sepulangnya dari wilayah Jizan, Sheshonk singgah di bt tpw(h) ('Beth-Tappuah' atau dalam
Bibelnya byt tpwh, Yosua 15:33), kini al-Fatih (pth) di wilayah Bahr. Dari sana ia langsung kembali
menuju pedalaman Lith dan melakukan penaklukan-penaklukan baru di sana (terutama di Wadi
Adam), ia kemudian melanjutkan serangan-serangannya, kali ini menyeberangi daerah rendah
Buqran guna menaklukkan tempat-tempat di wilayah Taif. Di antara tempat-tempat baru yang ia
jajah di Wadi Adam adalah yang sebagai berikut:
40. ibri': Wabir (wbr).
55. p'ktt: Qatit (qtt).[10]
56. idmi': Wadmah (wdm).
58. (m)qdr: Maqdhar (mqdr).
67. inmr: Namirah (nmr); kecuali kalau itu adalah Namirah lain, atau Namir (nmr) di luar Wadi
Adam, tetapi dekat dengan pedalaman Lith.
69. ftisi': Fatish (pts).
74. (h)bri: Khabirah (hbr).
78. 'dit: Adyah ('dyt).
112 dan 119. irhm: al-Rahm (rhm), nampaknya dua kali diserang.
113. ir (i'): Waryah (wryh), 'Yorah'-nya Bibel (ywrh, lihat Bab 8).
Di luar Wadi Adam tampaknya Sheshonk berhasil menduduki Yarar ('l yrr) di wilayah Banu 'Amr di
Sarat. Nama ini ditulis dalam daftar (no. 70) sebagai irhrr atau 'r hrr (diuraikan sebagai h-rr), 'r
bahasa Mesir mewakili 'l bahasa Semit (Arabnya Al), karena orang-orang Mesir kuno menulis l
sebagai r (dan terkadang sebagai n). Di daerah pedalaman Lith yang lebih luas tempat-tempat berikut
ini juga diserang:
45. bt dbi: Umm Zabyah ('m zby).
54. (q)dst: Kadisah (kdst).
57. dmrm (diuraikan sebagai d mrm): Al Maryam ('l mrym, dalam Bibel adalah 'Merom', atau mrwm
Yosua 11:5, 7).
59. yrdi': Yaridah (yrd).
89. hq(q) (diuraikan sebagai h-qq): al-Quqa' (qq, dengan kata sandang tertentu Arab).
Di seberang daerah rendah Buqran Sheshonk melakukan penyerangan-penyerangan terhadap 14
buah tempat di wilayah Taif, yang namanya tertulis dalam daftar besar Sheshonk:
60. p' 'mq: lembah Wadi 'Amq ('mq).
72. ibrm: Barmah (brm), sebuah desa di dekat Wadi Turabah dan gurun basal Harrat al Buqum.
76. wrkyt: al-Wiraq (wr'q, bentuk jamak Arab dari wrq; bandingkan dengan wrkyt sebagai bentuk
jamak feminin dari wrk).
80. dpki' (diuraikan sebagai d pki'), juga dibaca dpk (d pk): Al Faqih ('l pqh) kecuali kalau itu adalah
al-Faqih ('l pqh) di Wadi Adam.
86. tsdn(w): Shadanah (sdnt), kecuali kalau itu adalah Dashnah (dsnt) di pedalaman Lith.
91. wht wrki': Wahat (wht), dikenali sehubungan dengan Dar al-Arakah ('rk) yang terlelak di
dekatnya, disebut dalam kesusastraan Arab sebagai terletak di wilayah Taif guna membedakannya
dari Wahat di wilayah Ballasmar di Asir.
93. ysht: Shuhut (sht), nama dari sebuah wadi kecil di wilayah Taif.
95 dan 99. hnmi, dan hnni: bukan satu tempat, tetapi dua tempat yang berlainan, Al Human (hmn)
dan Hananah (hnn).
107. hqrm: al-Mihraq (mhrq), satu di antara dua pedesaan yang memakai nama ini di sekitar daerah
yang sama.
108 dan 110. 'rdi': 'Aradah ('rd).
111. nbt: Nabah (nb, dengan akhiran feminin nbt).[11]
118. (p'?) byy': Buwa' (bw').
150. irdn: al-Darayn (dryn; bukan 'Yordan', lihat Bab 7): satu di antara tiga buah pedesaan dengan
nama ini; kecuali kalau itu adalah al-Darayn di dataran tinggi Zahran lebih jauh ke arah selatan.
Kita dapat saja mengenali tempat-tempat lain yang diserang oleh Sheshonk di Asir utara dan Hijaz
selatan, tetapi saya kira masalahnya sudah jelas: kampanye militernya dilakukannya di Arabia Barat
dan bukan di Palestina. Tepatnya, tampaknya penjajah dari Mesir itu mendesak ke arah pedalaman
dalam penyerangan-penyerangannya sampai sejauh gurun basal Harrat al-Buqum, dan ia menyerang
oase Barmah (lihat no. 72), dan juga ibr (no. 122) yang kini merupakan oase Wabr (wbr). Ia
tampaknya juga melanjutkan perjalanannya ke arah selatan menyeberangi hulu Wadi Ranyah (srnri',
no. 104, diuraikan sebagai srnri': Al Siyar (syr), di dataran tinggi Ghamid dan di sini terdapat sumber
air Wadi Ranyah (rny) untuk menjajah Wadi Bishah. Di sini rupanya dalam dua peristiwa yang
berbeda ia menggempur irqd (no. 97) yang kini mungkin adalah Al Qirad (qrd); idmn (no. 98 dan
128) mungkin adalah Wadi Adamah ('dm); dan inn (no. 140) yang kini adalah Wanan (wnn).
Dalam kata pendahuluan daftar besarnya di Karnak, Sheshonk mengatakan bahwa ia telah
menaklukkan 'bala tentara Mitanni' --mungkin kini desa Mathani (mtny), atau lebih mungkin lagi
daerah sekitar Wadi Mathan (mtn) di wilayah Taif di mana ia merampas begitu banyak pedesaan,
seperti yang telah saya katakan. Jelas Mitanni yang dibicarakan ini bukanlah sebuah kerajaan di
Mesopotamia utara; misalkan Mitanni adalah sebuah kerajaan di Mesopotamia utara maka akan
melibatkan suatu anakronisme yang menyolok.[12] Dalam daftar Sheshonk yang lebih pendek di
kuil Amon di El Hibeh, nhrn (no.4) jelas bukanlah 'Mesopotamia', seperti yang sampai kini diduga,
melainkan kini adalah desa Naharin (nhrn), dekat dengan Wadi Mathan atau desa Mathani di
wilayah Taif. Tak diragukan lagi tempat ini mestinya adalah 'Naharaim' dalam Kitab Bibel (nhrym)
(Kejadian 24:10; Ulangan 23:5; Hakim-hakim 3:8; Mazmur 60:2; Tawarikh I 19:6) yang kemudian
oleh Septuaginta (diikuti oleh kesarjanaan Bibel) dikenali sebagai 'Mesopotamia, (lihat Bab 1).
Demikian juga, iss(wr) dalam daftar yang sama (no. 9) bukanlah 'Assyria' tetapi di antara pelbagai
kemungkinan, yang masuk akal adalah Yasir (ysr) di daerah Mekah, dekat pelabuhan laut Rabigh.
Menghiraukan ketidaktentuan semacam itu, yang tampaknya jelas adalah bahwa tidak hanya sejarah
menurut Bibel saja yang harus dinilai kembali, tetapi juga sejarah kuno seluruh wilayah Timur
Dekat. Daftar-daftar nama tempat dalam Kitab Perjanjian Lama Ibrani yang sepertinya menarik itu,
saya yakin akan sangat bermanfaut bagi suatu generasi ahli-ahli yang, jika mereka dapat membuang
gagasan tradisional bahwa nama-nama tersebut terdapat di Palestina, mungkin dapat menjelaskan
sebagian besar dari sejarah kuno yang sampai kini masih diselimuti ketidakpastian.
12. MELCHIZEDEK: PETUNJUK-PETUNJUK PADA SEBUAH PANTEON
Dengan adanya referensi yang tegas mengenai seorang pendeta raja yang bernama Melchizedek
(Melkisedek) dalam versi Inggris standar Kitab Perjanjian Lama, maka agaknya tidak senonoh jika
seseorang menanyakan apa benar ia pernah hidup. Namun kalau memang benar-benar ada orang
tersebut, Kitab Bibel Ibrani samasekali tidak mengatakan apa-apa mengenai dirinya. Memang benar,
suatu susunan dari konsonan-konsonan yang terbaca sebagai mlky sdq tertera dalam dua buah teks
Bibel (Kejadian 14:18 dan Mazmur 110:4) dan telah diterjemahkan sebagai 'Rajaku adalah
kebenaran'. Akan tetapi dalam keduanya nampaknya tidak mungkin mlky sdq adalah nama
seseorang. Dalam Kejadian 14:18 mlky sdq tampaknya merupakan istilah ungkapan. Dalam Mazmur
110:4 mlky sdq sudah hampir dapat dipastikan sebagai suatu referensi terhadap 'raja-raja' (mlkym,
dengan m yang terakhir merupakan jamak yang dibuang dalam struktur genitifnya) suatu tempat
tertentu.
Marilah kita pertimbangkan seluruh teks Kejadian 14:18. Dalam bentuk konsonan, ia terbaca sebagai
berikut: w-mlky sdq slm hwsy' lhm w-yyn w-hw khn l-'l 'lywn. Secara tradisional ini diberi vokal
sehingga menghasilkan pengertian yang berikut ini: 'dan Melchizedek raja Salem (slm)
mengeluarkan roti dan anggur dan ia adalah pendeta El 'Elyon atau ("Tuhan Maha Tinggi'', RSV)'.
Namun dalam konteksnya mlk dalam kata mlky tidak mungkin merupakan sebuah kata Ibrani untuk
'raja' guna membuat mlky sdq sebuah nama perorangan yang berarti 'Rajaku adalah Kebenaran'.
Lebih mungkin kalau kata itu merupakan bentuk jamak mlk sebagai bentuk singkat mlwk yang
berarti 'sesuap' --suatu partisip sebuah kata kerja yang diakui dalam bahasa Arab (tetapi dalam
bahasa Ibrani tidak) sebagai 'lk, 'kunyah'. Kamus-kamus Arab menyebutkan 'lwk sdq (diucapkan
aluk sidq, secara harfiah berarti 'sesuap sajian') sebagai sebuah ungkapan pelembutan untuk
'makanan', terutama makanan yang disuguhkan kepada seorang tamu. Maka pengertian yang
sebenarnya Kejadian 14:18 tampaknya adalah: 'dan raja Salem mengeluarkan makanan (secara
harfiahnya, 'beberapa suap sajian'), roti dan anggur dan ia adalah pendeta El 'Elyon'. Sintaksis aneh
teks Ibrani yang asli dalam halnya Kejadian 14 secara menyeluruh memberi kesan bahwa ini tertulis
dalam bentuk sajak sebagai kisah epik mengenai prestasi militer gemilang Abram orang Ibrani (lihat
Bab 13). Kata demi kata, ungkapan ini kalau diterjemahkan akan berbunyi: 'dan makanan oleh raja
Salem dikeluarkan, roti dan anggur; dan ia adalah pendetanya El 'Elyon'.
Dalam konteks kisah yang diceritakan dalam Kejadian 14 raja Salem menghormati 'Abram orang
Ibrani' yang sedang dalam perjalanannya kembali dari sebuah tugas militer yang berbahaya dengan
membawa keberhasilan, membawa barang-barang rampasan yang banyak. Setelah mengeluarkan
'roti dan anggur'-nya, raja Salem mempersilakan Abram makan; berkenaan dengan idiom, ia
'memberinya sepotong makanan' (w-ytn lw m'sr mkl, Kejadian 14:20). Ini semakin menjelaskan
bahwa mlky sdq dalam Kejadian 14:18, seperti halnya mkl (Arabnya m'kl, disuarakan ma'kal) dalam
Kejadian 14:20 berkenaan dengan makanan dan bukanlah sebuah nama perorangan, 'Melchizedek'.
Menurut tradisi, ungkapan m'sr mkl dibaca sebagai m'sr mkl, yang berarti 'sepersepuluh dari
semuanya', karena m'sr dapat berarti 'sepersepuluh' dan 'sepersepuluh bagian' dan juga 'sebagian'.
Lebih lagi, pokok kalimat w-ytn lw, 'dan ia memberinya', secara tradisional dianggap sebagai Abram
dan bukan raja Salem, meskipun raja Salem adalah pokok kalimat dua kalimat sebelumnya. Maka
dari itu secara menyeluruh ayat itu telah dimengerti bukan bahwa raja Salem mengundang makan
Abram, tetapi bahwa Abram memberinya sepersepuluh barang-barang rampasannya yang ia bawa -sebuah anggapan palsu dari pembenaran atas ecclesiastical tithing (pemberian sepersepuluh
penghasilan seseorang kepada gereja), mengingat bahwa raja Salem juga merupakan pendeta 'Tuhan
Maha Tinggi'. Di sini menurut pendapat saya menunjukkan betapa tidak tepatnya pembacaan
terhadap Bibel Ibrani yang telah diperlakukan sampai kini.
Kembali pada teks konsonan Mazmur 110:4, kita menjumpai yang berikut ini: 'th khn l-'wlm 'l dbrty
mlky sdq, secara tradisional diberi vokal sehingga dapat diterjemahkan menjadi: 'engkau adalah
pendeta untuk selamanya dari golongan Melchizedek', orang yang dibicarakan mestinya adalah raja
Daud. Namun pertimbangkanlah yang berikut ini:
1. Kata Ibrani l-'wlm tentu dapat berarti 'selamanya', tetapi dapat juga berarti 'kepada 'Olam' -dewa atau tempat pemujaan, atau sebuah julukan bagi Yahweh, yaitu Tuhan Israil (lihat di
bawah), yang berarti 'abadi' atau 'kekal'. Mengingat bahwa tak ada manusia yang dapat
menjadi pendeta atau apa pun untuk selamanya, maka penafsiran yang kedua dari kata Ibrani
l-'wlm dilihat dalam hubungannya dengan kalimatnya lebih masuk di akal.
2. Kata Ibrani dbrty tidak mungkin berarti 'golongan' karena kata ini bukanlah sebuah kata
dalam bentuk tunggal. Kata ini hanya mungkin merupakan bentuk ganda kata dbrh (dbrtym,
berbeda dengan bentuk feminin jamaknya, yaitu dbrwt) dengan m yang terakhir dalam
akhiran ganda ditanggalkan dalam struktur genitifnya dbrty(m) mlky(m) sdq. Kata Ibrani
dbrh adalah kata benda feminin yang merupakan kata benda lisan (verbal noun) dari kata dbr,
di sini jelas dalam pengertian kata Arab yang telah diberi vokal, yaitu dabara (juga dbr) yang
berarti 'mengikuti'. Oleh karena itu kata ini harus diterjemahkan sebagai 'pengikut' (dengan
kata lain, 'daerah yurisdiksi', atau lebih tepat lagi 'jemaah') sehingga dbrty(m) berarti 'kedua
pengikut' atau 'kedua jemaah'. Kenyataan bahwa ada tempat-tempat yang bernama sdq di dua
bagian Arabia Barat yang berlainan juga perlu dipertimbangkan di sini (lihat di bawah).
3. Kata Ibrani mlky(m) sdq dalam konteks berdiri sebagai sebuah susunan genitif yang berarti
'raja-raja Sedeq'. Tentunya kata ini dapat pula dibaca sebagai nama perorangan, yaitu
'Melchizedek'. Namun dua buah referensi dari Kitab Qur'an mengatakan bahwa sdq
(disuarakan sidq, dan ditafsirkan berarti 'kebenaran') sebenarnya merupakan sebuah tempat:
di sini orang-orang Israil dipaksa menetap (10:93); juga merupakan pusat kekuasaan seorang
'raja yang sangat kuat' (54:55). Ini dengan kuat mendukung tafsiran yang pertama. Perlu
dicatat bahwa 'Salem' atau El 'Elyon samasekali tidak disinggung dalam teks Mazmur.
Berhubungan dengan pengamatan-pengamatan ini pembacaan atas Mazmur 110:4 seharusnya
dikoreksi sehingga berbunyi: 'engkau adalah pendeta 'Olam yang memimpin kedua kelompok (atau
dua daerah) raja-raja Sedeq'. Di sini seperti halnya dalam Kejadian 14:18 tidak ada persoalan
mengenai seseorang yang bernama 'Melchizedek'.
Apa yang sebenarnya dibicarakan dalam kedua sebutan yang telah saya teliti tersebut adalah dua
kelompok pendeta raja yang berbeda: para pendeta-raja 'Salem' dan El 'Elyon, serta para pendeta-raja
Sedeq (sdq) dan 'Olam ('wlm). Sementara raja-raja 'Salem' (sdq) adalah pendeta-pendeta El 'Elyon ('l
'lwyn), raja-raja Sedeq (sdq) merupakan pendeta-pendeta 'Olam ('wlm). Yang selama ini diduga
sebagai sebuah kota di Palestina dan terkadang dikenali sebagai Yerusalem, 'Salem' yang tertera
dalam Kejadian 14 tidak mungkin kalau bukan apa yang kini merupakan desa Al Salamah ('l slm,
'dewa slm' atau desa keselamatan, perlindungan, kesejahteraan, kedamaian'), di wilayah Nimas di
pedalaman Asir. Di dekatnya, pada wilayah yang sama berdiri desa Al 'Alyan (bandingkan dengan 'l
'lywn dalam Bibel) yang sampai kini masih memakai nama dewa tempat mengabdi raja 'Salem'
sebagai pendeta. Juga di wilayah Nimas yang sama dan di dataran tinggi Tanumah tidak jauh di
sebelah tenggara berdiri pedesaan Al al-A'lam ('l 'lm) dan Al al-'Alam ('l 'lm), yang sampai kini
memakai nama dewa ('wlm yang ada dalam Bibel) tempat raja-raja Sedeq, sebagai pendeta-pendeta,
mengabdi. Kedua 'jemaah' atau 'daerah-daerah yurisdiksi' (Ibrani dbrtym) para pendeta-raja yang
berlainan tersebut (andaikata benar-benar tidak ada dua tempat dengan nama yang sama) mungkin
berpusat di sekitar dataran tinggi Zahran di ujung utara Asir dan wilayah Jizan serta Najran di ujung
selatan. Kemungkinan besar pusat kekuasaan raja-raja Sedeq yang mengabdi kepada dewa 'Olam
kini adalah desa Bayt al-Sadiq (byt 'l-sdq, 'kuil' dewa sdq) di wilayah Zahran. Di dekatnya berdiri
sebuah desa lagi yang bernama Sidaq (sdq). Dua pedesaan lagi yang bernama Sidaqah (sdq) dan
Siddiqah (sdq) masih dapat dijumpai di wilayah Jizan, bersamaan dengan sebuah desa yang bernama
Sadaqah (sdq) di daerah sekitar Wadi Najran. Kalau benar seperti yang telah saya tegaskan bahwa
raja Daud berasal dari Wadi Adam, dekat Bayt al-Sadiq di wilayah Zahran, dan bahwa ia akhirnya
berkuasa sebagai raja di 'Zion'-nya (atau Siyan) Rijal Alma' dekat Sidaqah di wilayah Jizan,
penjelasan terhadap dbrtym ganda itu mungkin terletak di sana.
Selanjutnya, yang berikut ini perlu dipertimbangkan:
1. Tuhan orang-orang Israil, Yahweh, dengan jelas dikenali sebagai Shalom (slwm, suatu
bentuk slm, atau 'Salem') dalam nama sebuah altar yang konon dibuat oleh Gideon di
'Ophrah' ('prh), suatu tempat yang konon milik seseorang dari 'Ezer' ('by h-'zry, 'Bapak orang
Ezrit' seperti yang ditulis dalam Hakim-hakim 6 24). 'Ophrah' yang dipermasalahkan tersebut
2.
3.
4.
5.
mestinya kini adalah 'Afra ('pr), sebuah desa di wilayah Nimas, tidak jauh dari 'Adhrah ('dr,
bandingkan dengan nama Ibrani 'zr) yang pasti adalah 'Ezer' dalam Bibel, di dekat Bani
Shahr. Tentu, altar Yahweh Shalom adalah tidak lain dari Al Salamah di wilayah Nimas 'Salem'-nya Kejadian 14.
Messiah yang kelahirannya diramalkan dalam Yesaya 9:6 bernama 'l gbwr 'by 'd slwm,
biasanya diterjemahkan menjadi 'Tuhan Maha Besar, Bapak yang kekal, Pangeran
Kedamaian' (RSV). Sr slwm-nya bahasa Ibrani di sini tentunya berarti 'pangeran dari
Shalom', dengan kata lain, dari kota penyembahan 'Salem' atau Al Salamah. Jelas bahwa 'by
'd merupakan nama dewa yang kini masih bertahan dalam nama desa Abu al-'Id ('b 'd, atau 'b
'l-'d) di wilayah Jizan. Jelas pula bahwa 'l gbwr adalah nama dewa yang bertahan terus dalam
nama-nama dari tiga buah pedesaan yang bernama Al Jabbar ('l gbr): sebuah di wilayah
Tanumah; sebuah di wilayah 'Abidah; sebuah lagi di distrik Majaridah; ketiganya terletak di
Asir. Dalam Yesaya, nama-nama ketiga dewa Arabia Barat diberikan kepada Messiah orang
Israil yang akan duduk di singgasana Daud.
Pembacaan secara tradisional atas Kejadian 14:22 telah lama menganggap bahwa Abram
orang Ibrani, dalam suatu sumpahnya, mengenali tuhannya sendiri, Yahweh, dengan El
'Elyon-nya raja 'Salem'. Teks Ibrani dari sumpah Abram, hrmty ydy 'l 'lywn, biasanya
diterjemahkan 'Saya telah bersumpah (secara harfiahnya, telah mengangkat tangan saya)
kepada Yahweh El 'Elyon' (dalam RSV, 'kepada Tuhan Maha Tinggi'). Sebenarnya kata
Ibrani Yahweh di sini (seperti dalam contoh-contoh sebelumnya) harus dibaca sebagai
imperfek kuno dari kata kerja hyh - 'adalah'. Sehingga sumpahnya akan berbunyi: 'Saya telah
bersumpah, El 'Elyon adalah dewa', atau 'saya telah bersumpah, (karena) El 'Elyon adalah
dewa ('l yhw 'l 'lywn)', pengakuan terhadap kedewaan El 'Elyon dipersembahkan sebagai
kesaksian dari kebenaran sumpah itu. Namun dalam Mazmur 7:18 'Elyon dengan tegas
disebut sebagai Yahweh (sm yhwh 'lywn, 'nama Yahweh adalah 'Elyon'). Yahweh juga
disebut 'Elyon dalam Mazmur 47:3. Lebih lagi, 'Elyon dan bukan Yahweh tertulis sebagai
nama Tuhan Israil dalam lebih dari duapuluh sebutan lama dalam teks-teks Bibel yang
umumnya diterjemahkan sebagai 'Maha Tinggi.'
Yahweh dikenali sebagai El 'Olam ('l 'wlm) dalam Kejadian 21:33, dan sebagai 'lhy(m) 'wlm
(harfiahnya 'dewa-dewa 'Olam') dalam Yesaya 40:28. Ia juga disebut raja 'Olam (mlk 'wlm)
dalam Yeremia 10:10.
Dalam Mazmur 7:18 kalimat dalam bahasa Ibrani yang berbunyi 'wdh yhwh b-sdqw sampai
kini dianggap berarti 'Saya akan menyatakan terima kasih kepada Yahweh (atau 'Tuhan') atau
Kebenarannya'. Namun b dalam b-sdqw berarti 'di' atau 'pada', dan mustahil dapat berarti
'atas' atau 'karena'. Pembacaan yang terakhir seharusnya memerlukan preposisi Ibrani, yaitu l,
dalam hal ini sebagai l-sdqw. Maka penterjemahan yang benar teks Ibraninya adalah: 'Saya
akan menyatakan terima kasih kepada Yahweh di Sedeq-nya' yaitu di kuilnya di sebuah
tempat yang bernama sdq, yang mungkin adalah Sidaqah atau Siddiqah-nya Jizan.[1] Tentu
kita dapat saja meneliti segenap sebutan-sebutan Keinjilan dimana kata sdq timbul dan
menentukan, menurut konteksnya, sebab sdq membuat suatu referensi pada sebuah tempat
pemujaan yang bernama Sedeq dan kata itu hanya berarti 'kebenaran'.
Kini mestinya sudah jelas: kemungkinan tidak pernah ada seorang pendeta-raja 'Salem' yang diakui
kebenarannya menurut Bibel, dengan nama 'Melchizedek' yang mengepalai sebuah 'golongan'.
Kesimpulan semacam ini sangatlah menarik, tetapi apa yang lebih penting ialah bahwa penyelidikan
terhadap masalah Melchizedek menyuguhkan petunjuk-petunjuk yang membantu membongkar suatu
misteri sejarah yang besar: asal mula monoteisme di Arabia Barat kuno yang telah terlupakan.
Pertama-tama kita harus mengingat bahwa kata untuk 'Tuhan' yang Esa, dalam bahasa Ibrani adalah
Elohim ('lhym) yang merupakan bentuk jamak maskulin dari eloh ('lh) atau 'Tuhan'.
Tak ada salahnya jika kita mengatakan bahwa apa yang nantinya dikenal di Arabia Barat, pada suatu
waktu, sebagai Tuhan yang Esa yang pada mulanya adalah sebuah panteon (dunia dewata) yang
terdiri dari dewa-dewa setempat atau dewa-dewa kesukuan. Sebuah penghitungan atas nama-nama
tempat di Arabia Barat dimulai dengan Al ('l, bandingkan dengan 'l-nya bahasa Ibrani,
'Tuhan/Dewa'), mengesampingkan nama-nama tempat yang tak terhitung lagi yang memakai kata
sandang tertentu Arab al yang mungkin adalah 'l-nya bahasa Ibrani yang masih bertahan sampai kini,
dapat langsung menunjukkan bahwa dunia dewata Arabia Barat kuno pada mulanya terdiri dari
ratusan dewa, mungkin termasuk dewa-dewa yang mempunyai beberapa nama yang berbeda. Di
antara dewa-dewa tersebut adalah Al Salamah (yaitu slm atau slwn di dalam Bibel), Al 'Alyan ('l
'lywn dalam Bibel), Al al-A'lam atau Al al-'Alam (yaitu 'wlm dalam Bibel), dan Sidq (dalam Bibel
adalah sdq, juga diakui sebagai sdq dan sdyq dalam inskripsi-inskripsi Arab). Di dalam Bibel Ibrani,
Al Salamah, Al 'Alyan, dan Al al-A'lam (atau al-'Alam) dengan jelas disamakan dengan Tuhan
orang-orang Israil, yaitu Yahweh (yhwh, lihat di bawah), dan sebuah sdq dituliskan sebagai sebuah
tempat pemujaan Yahweh. Juga disamakan dengan Yahweh adalah beberapa dewa Arabia Barat
lainnya, yang namanya bertahan di tanah asal mereka dalam bentuk nama-nama tempat. Di antara
mereka adalah Al Sadi ('l sdy, dalam Bibel 'l sdy, atau El Shaddai, sering diterjemahkan sebagai
'Tuhan yang Maha Kuasa'); Al Rahwah (rhw, 'lubang air, sumur', dalam Bibel 'l r's diucapkan El
Ro'i, ditafsirkan dengan salah sebagai 'Dewa penglihatan'); al-Sabayat (sbyt, 'gazelle', sejenis rusa),
nama tempat dari sebuah kuil; dalam bibel sb'wt atau 'Sabaoth', juga berarti 'gazelle-gazelle', namun
secara tradisional ditafsirkan dalam pengertian 'pasukan-pasukan, tuan rumah-tuan rumah' -sehingga penterjemahan atas yhwh sb'wt, sebagai 'Tuhan para tuan rumah' yang sebenarnya berarti
'Yahweh-nya Sabayat'). Seperti yang telah dicatat, nama-nama dua dewa Arabia Barat lainnya, yaitu
Al Jabbar (dalam Bibel 'l gbwr) dan Abu al-'Id (dalam Bibel adalah 'b 'd), dikenali dalam Yesaya 9:6
sebagai nama-nama Messiah orang-orang Israil; kedua dewa tersebut mungkin juga disamakan
dengan Tuhan orang-orang Israil.[2]
Mengenai nama Yahweh sendiri, namanya juga hidup terus di Arabia Barat, tidak hanya sebagai yh
atau yhw dalam inskripsi Thamud dan Lihyan dari Hijaz bagian utara (yang telah menjadi suatu
fakta yang telah diakui), tetapi juga dalam sejumlah nama tempat. Satu di antaranya adalah nama
sebuah punggung gunung, Jabal Tahwa (thw) di pesisir Asir. Lainnya adalah nama-nama pedesaan
seperti al-Haw ('l hw) di dekat Mekah; al-Hawa, ('l-hw), Abu Hiya' dan Hiyah (hyh) di dekat Taif;
Al Hiyah ('l hyh) di wilayah Nimas (kemungkinan nama kuil utama Yahweh, mengingat letaknya
yang berdekatan dengan Al 'Alyan dan Al al-A'lam, lihat di atas), dan Hiyah (hyy) dekat Dhahran, di
ujung selatan ketinggian Asir yang terletak paling jauh di selatan (mungkin dt zhrn yang tertera
dalam inskripsi-inskripsi Arab). Lebih mungkin dari tidak, Yahweh, seperti El 'Elyon, pada mulanya
adalah dewa ketinggian pegunungan. Namanya telah menjadi pokok bahasan dari kontroversi yang
telah banyak dipelajari, namun nama tersebut dapat dengan mudah dijelaskan sebagai sebuah kata
benda kuno dari kata kerja hwh (bukan apa yang biasanya diduga berarti 'adalah'), bukan dalam
pengertian Ibrani dan bahasa Arab 'jatuh', melainkan dalam pengertian bahasa Arab (belum diakui
kebenarannya dalam bahasa Ibrani), yaitu 'naik, diangkat'. Namanya sendiri, dalam pengertian
tersebut, mestinya mengakibatkan ia diakui sebagai dewa yang tertinggi.
Kita tak dapat menyebutkan kapan Yahweh disamakan dengan dewa-dewa lain dalam panteon
Arabia Barat sebagai Elohim ('lhym, 'Tuhan', berbeda dengan h-'lhym, 'dewa-dewa') Israil. Yang
dapat kita katakan adalah bahwa identifikasi ini dilakukan secara selektif. Kalau nama-nama
beberapa dewa Arabia Barat, seperti halnya dewa-dewa yang telah disebutkan di atas nantinya
disamakan dengan Yahweh, lainnya tidak demikian. Begitulah dengan nama dewa 'Succoth' (skwt,
Amos 5:26) yang bertahan di daerah sekitar Abha di dataran tinggi Asir sebagai nama desa Al Skut
('l skwt). Begitu pula halnya dengan pelbagai dewa lainnya yang bernama 'Baal' (b'l mungkin
kependekan dari 'l 'l, 'bapak panen', atau 'yang satu panen', seperti 'Baal-Zebub' (b'l zbwb, Raja-raja
II 1:2) yang namanya bertahan terus sebagai nama pelbagai dewa di Asir seperti Dhabub (dbwb) dan
Dhubabah (dbb) di wilayah Jizan, dan Al Dhubabah ('l dbb) dekat Khamis Mushait. Kita dapat
langsung mengerti mengapa Baal-Zebub tersebut (nama ini biasanya dianggap berarti 'Majikan lalatlalat') tidak pernah disamakan dengan Yahweh. Menilai arti zbb yang bertahan dalam bahasa Arab,
namanya menunjukkan bahwa ia merupakan 'bapak panen-panen dengan zakar yang sangat besar'.
Akan tetapi sebuah inventaris yang lengkap mengenai dewa-dewa Arabia Barat yang nantinya
disamakan dengan Yahweh dan yang tidak, adalah di luar jangkauan penelilian ini. Yang tampaknya
lebih penting ialah bahwa sebuah penafsiran kembali dari sebutan-sebutan tertentu dalam Bibel
Ibrani dapat memberi kita bukti-bukti yang mungkin dapat berguna dalam membantu para ahli
merumuskan sebuah teori baru yang dapat menjelaskan bagaimana monoteisme berkembang di
Arabia Barat. Sekali lagi ilmu onomastik menunjukkan jalan yang terlalu berbelit-belit bagi saya,
dan hanya berguna bagi mereka yang berpengetahuan sangat luas dalam hal ini .
Perkenankan saya hanya menambah ini saja, sambil menyimpulkan: ada sebuah cerita yang menarik
dalam Kejadian 22:1-4 yang kalau dibaca dengan teliti nampaknya membantu dalam transisi di
Arabia Barat antara politeisme dan monoteisme (atau paling tidak pemujaan terhadap Yahweh
sebagai tuhan yang tertinggi). Dalam sebutan tersebut kita diberitahu bahwa Ibrahim diperintahkan
oleh 'tuhan- tuhan' (h-'lhym yang dibedakan dari 'lhym) untuk membawa anaknya, yaitu Ishak, ke
tanah 'Moriah' (h-mryh, kini al-Marwah, atau mrwhm juga dengan kata sandang tertentu, di Rijal
Alma'; lihat geografi cerita Ibrahim dalam Bab 13). Di sana ia harus menjadikan anaknya kurban di
sebuah gunung, yang kemudian dikenal dengan nama yhwh yr'h, atau 'Yahweh Yireh' (kini Yara',
atau yr', juga di Rijal Alma'). Ibrahim dengan teliti mengikuti perintah 'tuhan-tuhan' itu (h-'lhym
diulang dalam 22:1, 3, 9),[3] namun sewaktu ia mempersiapkan altar bagi pengorbanan anaknya,
Ishak bertanya dimana anak kambing yang akan dikurbankan, Ibrahim menjawab bahwa 'Tuhan'
dalam bentuk tunggal ('lhym bukan h-'lhym), akan menyediakan anak kambing itu (22:8).
Mendengar ini Yahweh mengalangi mereka dengan cara menyediakan sebuah kambing jantan yang
akan menggantinya sebagai kurban, setelah puas bahwa Ibrahim takut terhadap 'Tuhan' (lagi 'lhym
bukan h-'lhym), seperti yang disebutkan dalam Kejadian 22:11f. Apakah terlalu fantastis untuk
menganggap bahwa kisah ini pada mulanya diceritakan guna menjelaskan asal mulanya
monoteisme?
13. ORANG-ORANG IBRANI HUTAN ASIR
Istilah 'Ibrani' ('bry, jamaknya adalah 'brym, 'bryym, bentuk femininnya adalah 'bryt) muncul tujuh
kali dalam Kitab Bibel Ibrani dan tiga kali dalam kitab-kitab Nasrani (Perbuatan-perbuatan 6:1;
Orang-orang Korintia II 11:22; Orang-orang Philipi 3:5). Dalam teks-teks Nasrani tersebut kata ini
digunakan untuk membedakan umat Kristen yang secara kesukuan adalah Yahudi dengan yang lain,
terutama umat 'Hellenis' (Perbuatan-perbuatan 6:1). Dalam teks-teks Ibrani penggunaannya agak
kurang jelas; namun pembacaan teks-teks tersebut memberi kesan bahwa orang-orang Israil dahulu
kala mulanya dipandang sebagai suku-suku 'Ibrani'.
Apa yang dapat dikatakan mengenai orang-orang 'Ibrani'? Sejauh ini telah banyak usaha yang
dilakukan guna menyamakan 'brym menurut Bibel dengan ha-pi-ru dalam teks-teks kuniform,
dengan 'prm-nya Ugarit, 'pr-nya orang Mesir dan habiru yang tertulis dalam Surat-surat Amarna
(mengenai Surat-surat Amarna tersebut, lihat Bab 5). Orang-orang seperti ini pada umumnya
dipercaya lebih merupakan suatu golongan sosial daripada suatu kelompok etnis yang tidak
mematuhi pihak yang berwajib dan hidup di luar hukum dan peraturan yang ada seperti halnya
bandit-bandit, prajurit-prajurit bayaran, orang-orang gelandangan atau penjual keliling. Kalau
memang kaum ha-pi-ru ini benar-benar bangsa 'brym menurut Bibel di dalam teks-teks kuniform,
yang ditulis dalam bahasa yang masih serumpun dengan bahasa Ibrani Bibel, mestinya mengeja
nama mereka dengan benar tanpa membuat satu atau lebih perubahan-perubahan yang mendasar.
Dari hasil penyelidikan terhadap daftar-daftar topografis Mesir kuno juga menyalin susunan
konsonan dari nama-nama tempat Semit dengan benar, jelas mereka tidak pernah menyalin b sebagai
p. Maka dari itu, 'pr-nya Mesir tidak mungkin merupakan suatu salah penterjemahan dari 'br-nya
bahasa Ibrani --akar kata asal kata 'brym.
Untuk mengetahui secara lebih mendalam siapa sebenarnya orang-orang 'Ibrani' pada mulanya, kita
dapat melihat pada kisah tentang Ibrahim (Abraham) dalam Kejadian, yang dikenal dengan dua
nama, Abram ('brm) sampai Kejadian 17, dan Abraham ('brhm) mulai dari Kejadian 18. Tanpa
menghiraukan apakah Abram dan Abraham (Ibrahim) adalah orang yang sama atau bukan, kisah
Kejadian ini memperlakukannya dengan demikian. Dalam Kejadian 14:13, Abraham, yang
dipandang sebagai leluhur orang Israil dan bangsa-bangsa serumpun lainnya, diberi nama 'Abram
orang Ibrani' ('brm h-'bry). Ia juga dikatakan menetap 'di samping pohon-pohon ek (lebih tepat lagi,
hutan) Mamre' (b-'lny mmr', secara harfiah 'di dalam' bukan 'di samping' hutan Mamre). Abram yang
sama ini dikatakan bertempat tinggal 'di dalam hutan' Mamre (sama dengan di atas) dalam 13:8.
Hutan Mamre muncul lagi sebagai tempat tinggal Abraham (Ibrahim) dalam Kejadian 18:1, tepat
pada waktu pergantian namanya terjadi.
Jelas orang yang dianggap sebagai leluhur orang-orang Israil ini, seperti digambarkan dalam
Kejadian, ialah orang 'Ibrani', atau 'bry, seseorang yang menetap di dalam hutan. Istilah 'bry itu
sendiri mungkin menunjukkan akan hal tersebut. Sampai kini dianggap sebagai padanan kata dari
kata kerja Arab 'br (diucapkan 'abara) yang berarti 'menyeberangi, melintasi',[1] kata Ibrani 'br dalam
'bry, atau bentuk jamaknya 'brym, mungkin pula padanan kata dari kata benda jamak gabungan Arab
gbr (diucapkan gabar, tunggalnya gabarah, atau gbrhn) yang berarti 'hutan'. Bangsa 'Ibrani' pada
mulanya mungkin merupakan sebuah masyarakat Arabia Barat yang tinggal di dalam hutan. Di
wilayah Dhahran, di ujung selatan ketinggian Asir, sampai kini masih berdiri sebuah desa yang
bernama Al al-Ghabaran ('l gbrn 'Dewa Kehutanan'). Mungkinkah dewa dengan nama ini adalah 'lhy
h-'brym (Tuhan orang-orang Ibrani, RSV) yang disamakan dengan Yahweh, Tuhan Israil di dalam
enam buah sebutan Keluaran (3:18; 5:3; 7:16; 9:1 13; 10:3)?[2]
Untuk mengetahui di mana masyarakat hutan 'Ibrani, Arabia Barat diperkirakan berasal, kita dapat
dapat mengikuti perjalanan 'Abram orang Ibrani' itu, seperti yang dituturkan dalam Kejadian 11:31;
13:18. Konon Abram dan rekan-rekan sebangsanya pada mulanya berasal dari Ur Kasdim, atau 'wr
ksdym. Penterjemahan Ur Kasdim yang tradisional sebagai 'Ur orang Chaldea' yang diperkirakan
terletak di Mesopotamia, terdapat dalam Septuaginta Yunani, dan yang demikian ini menunjukkan
suatu salah penafsiran geografis pada zaman Hellenis. Sebenarnya kampung halaman Abram pada
mulanya mestinya kini adalah Waryah (wry, bandingkan dengan 'wr) di Wadi Adam, yang secara
Bibel dikenali berhubungan dengan Maqsud (mqsd, bandingkan dengan ksdym), sebuah tempat yang
masih ada di sana di wilayah yang sama. Dari sana Abram dan rekan-rekan sebangsanya pindah ke
'Haran' (hrn) - agaknya kini adalah Khayran (hyrn), juga di Wadi Adam. Di sini Abram berpisah
dengan para rekannya dan melakukan perjalanan ke arah selatan menuju daerah sekitar 'Shechem'
(skm) kini al-Kashmah (ksm) di Rijal Alma', dan di sini ia menetapkan diri di hutan 'Moreh' -agaknya kini Marwah (mrwh, satu di antara dua buah pedesaan dengan nama yang sama di Asir,
yang satu lagi adalah 'Moriah', dalam Bibel, lihat Bab 12). Kemudian Abram pindah ke 'gunung'
(dengan kata lain, punggung bukit) di sebelah timur 'Bethel' (byt 'l), kini Batilah (btl) di Rijal Alma'
(lihat Bab 4) dan berkemah di sebelah baratnya dan 'Ai' (h-y, kini al-Ghayy, di wilayah yang sama,
lihat Bab 7) terletak di sebelah timurnya.[3] Memang ada sebuah Bethel yang bernama Bayt Ula
(byt'l) di Palestina, di wilayah al-Khalil (atau 'Hebron'). Agak jauh ke arah timur, melewati Laut
Mati, ada sebuah Ai yang bernama Khirbat 'Ayy ('y) di wilayah al-Karak. Namun kedua wilayah
tersebut saling terpisah bukan oleh sebuah gunung, tetapi oleh sebuah lembah Laut Mati yang sangat
dalam. Mungkin karena alasan inilah para ahli Bibel belum mengenali tempat-tempat tersebut
sebagai Bethel dan Ai-nya Abram, dan memang sepantasaya demikian. Namun perkiraan mereka
bahwa Bethel yang dibicarakan ini adalah Baytin di Palestina, dan bahwa Ai adalah al-Tall yang
terletak di dekatnya (lihat Bab 7, Catatan 8) samasekali tak dapat dipertahankan.
Langkah Abram selanjutnya ditujukan ke arah 'Negeb' (h-ngb, kini al-Naqab, atau nqb, juga di Rijal
Alma'). Dari sini ia pergi ke msyrm - bukan 'Mesir', seperti yang dikatakan oleh identifikasi
tradisional tetapi Misramah (msrm) kini di dekat Abha, dan di sini ia konon mendapat kesulitan
dengan 'Pharaoh' - pr'h yang nampaknya adalah dewa lokal di sana.[4] Setelah menetap di daerah itu,
yang konon memberinya kekayaan yang melimpah, mungkin melalui perdagangan ternak, Abram
kembali ke Rijal Alma' --pertama-tama ke 'Negeb' atau al-Naqab; kemudian ke tempat ia berkemah
dahulu antara 'Bethel', atau Batilah, dan 'Ai', atau al-Ghayy. Dari sinilah dia akhirnya pergi untuk
menetap di hutan 'Mamre' (mmr'), di dekat 'Hebron' (hbrwn) - kini Namirah (mzmr) dekat Khirban
(hrbn) di daerah perbukitan pedalaman Qunfudhah. Di daerah sekitar Namirah dan di wilayah
Qunfudhah yang sama itu di sana sampai kini masih terdapat empat buah pedesaan yang berdekatan
yang bernama Qaryat Al Silan, Qaryat al-Shiyan, Qaryat 'Asiyah, dan Qaryat 'Amir --yang tak
diragukan lagi adalah 'Kiriath-arba (qryt 'rb', 'desa empat' atau 'pedesaan empat', mungkin empat
dewa) dan di sini istri Abram wafat yang dikenali dalam konteks yang sama dengan 'Hebron'. Di
sekitar daerah yang sama juga berdiri desa Maqfalah (mqplh), yang sampai kini memakai nama gua
Machpelah (mkplh) yang ia peroleh di luar 'Hebron' sebagai makam keluarganya (Kejadian 23:9f).
Begitulah ketelitian geografis kisah Kejadian tersebut. Secara lebih umum kita dapat menambahkan
bahwa nama Abram ('brm) bertahan sebagai nama dua buah lokasi di daerah-daerah tempat ia
menetap selama sebagian besar hidupnya: desa Sha'b Baram ('lembah' brm) di Rijal Alma'; dan
Barmah (brm) di wilayah Qunfudhah.
Jelas karir Abram berpusat di sekitar wilayah Rijal Alma' dan daerah perbukitan di sebelah utara, di
pedalaman Qunfudhah --daerah-daerah yang terdapat hutan-hutan tanaman jenever dan pohon saru
di ketinggian yang lebih tinggi, dan padang-padang pohon butun, akasia serta pohon-pohon hutan
lainnya pada ketinggian yang lebih rendah, diselang-selingi oleh padang-padang rumput dan tanahtanah subur. Secara kebetulan, 'hutan' 'Mamre'-nya Ibrahim kini ditandai oleh sekelompok pohon
akasia dan tumbuhan tamarisk di sekitar daerah Namirah dan Khirban, di pedalaman Qunfudhah.
Yang dibicarakan bukanlah 'pohon-pohon ek' (seperti dalam terjemahan-terjemahan Bibel lama)
maupun 'pohon-pohon butun' (seperti dalam terjemahan-terjemahan yang lebih baru). Akan tetapi
Misramah, tempat Ibrahim menetap untuk beberapa waktu, tak diragukan lagi adalah sebuah kota
pasar yang penting, seperti kota-kota tetangganya, yaitu Abha dan Khamis Mushait yang mestinya
merupakan kota-kota pasar yang penting pula sesudah zaman Abraham. Dataran tinggi di sana
ditanami secara intensif dan terletak di sebuah persimpangan jalur niaga yang penting. Konon
Abram pergi ke sana sewaktu 'terjadi kelaparan di tanah itu', yang mungkin disebabkan oleh
belalang-belalang, karena sampai baru-baru ini wadi-wadi di sisi maritim Asir penuh dengan hama
yang rakus tersebut.
Apakah semua orang Israil pada mulanya merupakan orang-orang 'Ibrani', atau masyarakat kesukuan
dari hutan-hutan Asir? Kemungkinan besar tidak. Di antara keduabelas 'putra-putra' Israil yang
dianggap sebagai leluhur keduabelas suku Israil (kalau memang benar ada duabelas), hanya Yusuf
yang dengan jelas dibicarakan dalam Kejadian sebagai orang 'Ibrani'- seorang 'ys 'bry, atau 'pria
Ibrani'; seorang 'bd 'bry, atau 'pelayan Ibrani, budak'; seorang n'r 'bry, atau 'anak Ibrani' (Kejadian
39:14, 17: 4l:12). Di antara saudara-saudara laki-lakinya tidak ada yang dikhususkan sebagai orang
Ibrani, walaupun secara bersama mereka disebut sebagai orang-orang Ibrani (contohnya 43:32).
Yusuf konon dijual sebagai budak di 'Mesir' (msrym) --mungkin Misramah dekat Abha, atau Masr
(msr, tunggal dari msrym), di Wadi Bishah. Sebelum itu ia tinggal di 'Hebron' yang telah dikenali
sebagai Khirban di wilayah Qunfudhah, sedangkan 'saudara-saudara laki-laki'nya menggembala
ternak mereka dekat 'Shechem', atau al-Kashmah (lihat di atas), di Rijal Alma' (Kejadian 37:13-14).
Diperintahkan untuk memanggil saudara-saudaranya di 'Shechem' dan gagal mengejar mereka,
Yusuf mengikuti mereka ke 'Dothan' (dieja dtyn dan dtn, Kejadian 37:17) --mungkin Dathanah (dtn)
di sekitar daerah Jabal Faifa, di daerah pedalaman Jizan yang bergunung-gunung.[5] Di kaki Jabal
Faifa terbentang barisan pegunungan yang menghubungkan wilayah pantai Jizan dengan pedalaman
Asir. Ini menjelaskan mengapa orang-orang kafilah lewat dekat 'Dothan' dalam perjalanan mereka
menuju Misramah atau ke Masr, dan mengambil Yusuf dari 'saudara-saudara laki-laki'nya dan
membawanya bersama mereka untuk dijual sebagai budak di sana. Kemudian 'saudara-saudara lakilaki' Yusuf (dan juga 'ayah'nya) menyusulnya ke Misramah atau Masr guna menghindari kelaparan
yang terjadi di tanah asal mereka, seperti yang dilakukan oleh leluhurnya, Abram, beberapa waktu
sebelumya.
Keunggulan unsur ke'Ibrani'an di antara orang-orang Israil ditunjukkan oleh peranan kuat yang
diberikan pada Yusuf di antara 'saudara-saudara laki-laki'nya setelah mereka semua pindah ke
wilayah Misramah atau Masr (mungkin Masr, karena ungkapan Ibrani 'rs msrym paling tepat
diterjemahkan sebagai 'tanah orang-orang msr', kata msry, yang jamaknya adalah msrym, adalah
genitif msr). Setelah mereka menetap di sana, semua 'saudara-saudara laki-laki' Israil itu dan para
keturunan mereka kemudian dikenal sebagai orang-orang Ibrani (Kejadian 43:32; Keluaran 1:15f,
19; 2:6, 7, 11, 13; 21:2), dan Tuhan Yahweh mereka dipandang sebagai 'Tuhan orang-orang Ibrani',
seperti yang telah dikatakan. Namun setelah timbulnya orang-orang Israil sebagai suatu masyarakat
politik, istilah 'Ibrani' hanya kadang-kadang saja digunakan untuk menunjuk kepada mereka, selalu
untuk membedakan mereka secara kesukuan dari bangsa-bangsa lain yang hidup di antara mereka
(Samuel I 4:6, 9; 13:3, 19; 14:11; Yunus 1:6).
Akhirnya, bahasa yang kemudian dikenal sebagai bahasa 'Ibrani' jelas bukanlah bahasa orang-orang
'Ibrani' atau bahasa suku-suku Israil itu sendiri. Pada zamannya, bahasa ini dipergunakan secara luas
tidak hanya di Arabia Barat saja, tetapi juga di tempat- tempat lain. Akan tetapi orang-orang Israil di
Arabia Barat lah, yang mengaku sama-sama mempunyai leluhur orang 'Ibrani', yang mengabadikan
bahasa tersebut dalam karya-karya tulisan mereka yang menakjubkan Kitab Bibel Ibrani, yang
geografinya merupakan pokok bahasan studi ini. Adakah nama yang lebih baik untuk bahasa ini,
yang pada dasarnya ekspresif tetapi diperkaya dan diubah menjadi suatu alat yang mengandung ideide abadi oleh para genius bangsa yang agung, yang dapat diberikan padanya?
14. ORANG-ORANG FILISTIN ARABIA
K.A. Kitchen, seorang ahli Bibel yang terkemuka menulis: 'Di antara bangsa-bangsa yang terdapat di
dalam Kitab Perjanjian Lama, bangsa Filistin adalah sekaligus yang paling dikenal dan yang paling
sukar untuk dipahami'.[1] Tidaklah mengherankan jika mereka sukar untuk dipahami, karena para
ahli bersikeras untuk mencari tanah asal mereka pada tempat yang tidak semestinya. Karena bangsa
Filistin disebut dalam beberapa sebutan menurut Bibel sebagai bangsa 'Cherethit' (krty, bentuk
genitif krt), sudah menjadi suatu kepercayaan bahwa mereka pada mulanya adalah 'Orang-orang
Laut' yang misterius dari pulau Crete (Kreta) di Laut Tengah yang kemudian menempati barat daya
Palestina. Bagaimana Palestina mendapatkan namanya setelah ditempati oleh bangsa Filistin yang
disebut dalam Bibel Ibrani tidak menetap di sana, dan mereka tidak datang dari Crete. Nama krt
dalam Bibel (Samuel I 30:14; Zefanya 2:4-5; Yehezkiel 25:15-16) mestinya adalah Wadi Karith
(krt), sebuah cabang dari Wadi Tayyah di ketinggian Rijal Alma'. Ada pula tiga buah tempat di Asir
yang bernama Falsah (plst, bandingkan dengan plst dalam bahasa Ibrani yang bentuk jamak
maskulin genitifnya adalah plstym, 'orang-orang Filistin'); satu di dekat Ghumayqah, di wilayah
Lith; dan sebuah lagi di Wadi Adam, juga di wilayah Lith, dan di sana terdapat pula sebuah desa
yang bernama Fasilah (plst, metatesis plst, dengan s (dengan topi di atas) diubah dalam pengucapan
menjadi sebuah s (dengan titik di bawah) dan bukan s standar).
Daripada kesal bertentangan dengan ilmu pengetahuan Bibel mengenai masalah orang-orang Filistin,
lebih mudah jika saya mengatakan siapa mereka itu sebenarnya. 'Tabel Bangsa-bangsa' yang terkenal
dalam Kejadian 10 menggolongkan mereka sebagai para keturunan Ham, putra Nabi Nuh. 'Tabel
Bangsa-bangsa' ini sebenarnya adalah sejumlah daftar suku-suku dan masyarakat Arabia Barat
seperti yang akan segera kita lihat. Kenyataannya, Kejadian adalah tidak lebih dari sebuah cerita
mengenai legenda Arabia Barat. Dugaan bahwa tabel-tabel tersebut berusaha untuk menjelaskan asal
mulanya dunia yang lebih luas (yaitu dunia Timur Dekat kuno secara keseluruhan) adalah tidak sah,
dan perlu dihapus. Tabel 2, berdasarkan Kejadian 10:6, 13-14, menunjukkan bagaimana konon
bangsa Filislin menurut Bibel berasal dari Ham.
Mengingat bahwa bangsa Filistin menurut Bibel bertetangga dengan bangsa Israil, dan bahwa
bangsa Israil telah dibuktikan sebagai orang-orang Arabia Barat, maka nama-nama yang terdapat
pada tabel di atas dapat dikenali dalam pengertian geografi Arabia Barat sebagai berikut:
Tabel 2. Orang-orang Filistin dalam "Tabel Bangsa-bangsa"
1.Ham
(hm)
|
|
.----------+------+----+-------------.
|
|
|
|
|
|
|
|
2.Cush
3.Mesir
4.Put
5.Kanaan
(kws)
(msrym)
(pwt)
(kn'n)
|
|
.---+------+-+--+--------------+-------.
|
|
|
|
|
|
6.Ludim | 8.Lehabim | 10.Pathrusim | 12.Capthorim
(lwdym) | (lhbym) |
(ptrsym) |
(kptrym)
|
|
|
7.Ananim 9.Naphtuhim
11.Casluhim
('nmym)
(npthym)
(kslhym)
|
|
13.Filistin
(plstym)
1. 'Ham' (hm): mungkin Hamm (hm ) di wilayah Qunfudhah; mungkin pula Hamm di distrik
Bahr lebih jauh di selatan.
2. 'Cush' (kws): Kuthah (kwt) di sekitar daerah Khamis Mushait (lihat Bab 4).[2]
3. 'Mesir' (msrym): di sini mungkin Madrum (mdrm) di dataran tinggi Ghamid. Kemungkinan
yang lain termasuk Misramah, dekat Abha, dan Masr, di Wadi Bishah (lihat Bab 10); Al
Masri (msry, 'yang satu dari msr') di wilayah Taif (suatu kemungkinan yang kuat); atau
Madir (mdr) di distrik Muhayil. Kemungkinam juga ada hubungan antara msrym dalam
Bibel, sebagai bentuk jamak maskulin msr atau msry, dan nama kesukuan Arab yang telah
disahkan, yaitu Mudar (mdr).
4. 'Put' (pwt): Fatiyah (ptw), di wilayah Qunfudhah; atau Fawayit (jamak Arab Fut, atau ptw) di
Rijal Alma'.
5. 'Kanaan' (kn'n): Al Kun'an ('l kn'n, 'Tuhan Kanaan'), di Wadi Bishah. Bangsa Kanaan, seperti
yang disebutkan satu demi satu dalam Kejadian 10:15-16, semua memakai nama yang
merupakan genitif nama-nama tempat di pelbagai daerah di Asir yang tidak akan dikenali di
sini; kota-kota orang Kanaan yang disebutkan dalam Kejadian 19 untuk menetapkan
perbatasan wilayah kekuasaan bangsa Kanaan juga bertahan namanya, dan sebuah suku
setempat memakai nama al-Qin'an (qn'n). Ungkapan yang kurang jelas dalam Kejadian 10:18
bahwa 'Kemudian keluarga-keluarga orang-orang Kanaan berpencar sampai ke luar negeri'
mungkin dapat menjelaskan mengapa nama-nama dua kota Kanaan di Arabia Barat (Sidon
dan Gaza, belum lagi yang lainnya yang tidak disebutkan di sini seperti Sur, atau 'Tyre') juga
ditemukan sebagai nama kota-kota pesisir kuno di Suria. Sewaktu Herodotus (1:1), menulis
pada abad ke-5 S.M., menyatakan bahwa bangsa Funisia (Phoenicia, bangsa dari pesisir Suria
yang menggunakan bahasa yang secara konsonan hampir serupa dengan bahasa Ibrani Bibel)
dahulunya menetap di pantai-pantai Laut Merah, setelah mereka berpindah tempat ke Laut
Tengah dan menetap di tempat-tempat 'yang masih mereka diami', ia tanpa menyadari setuju
dengan pernyataan mengenai bangsa Kanaan yang 'berpencar ke luar negeri' dalam Kejadian
10:18. Apa pun asal-usul nama Funisia (Phoenicia), yang merupakan suatu penyalinan abjad
dari suatu pemakaian Yunani kuno, nama ini masih bertahan di Arabia Barat sebagai nama
desa Faniqa (pnq) di Wadi Bishah, dan di sini berdiri pula desa Al Kun'an. Masalah Kanaan
yang tertera dalam Bibel telah disentuh dalam Bab 1 dan 4.
6. 'Ludim' (lwdym): Ludhan (ldn) di Rijal Alma'; Lawdhan (lwdn) di wilayah pedalaman alQasim; Lidan (atau Liddan, bentuk ganda ld), di wilayah Taif, dan Lidah (atau Liddah, ld) di
wilayah Lith, dan lwdym dapat merupakan jamak dari bentuk genitif ld).
7. 'Anamim' ('nmyn, jamak genitif 'nm): Ghanamin (jamak Arab gnm), nama dua pedesaan di
wilayah Taif dan di sini terdapat pula dua buah pedesaan dengan nama Ghunam (gnm), dan
sebuah yang bernama Ghanamah (gnm). Dua desa lainnya yang bernama Ghanamah juga
dapat dijumpai di Rijal Alma'.
8. 'Lehabim' (lhbym): Lahban (lhbn, lhb, dengan kata sandang tertentu kuno) di wilayah Taif.
Ada pula sebuah desa yang bernama Abi Lahab ('b lhb 'bapak' atau 'Tuhan' lhb) di wilayah
Jizan. Banu Luhabah (lhb) adalah sebuah suku gurun pasir Buqum, di sebelah timur Taif.
9. 'Naphtuhim, (npthym, ganda atau jamak npth): Mafatih (mpth, disuarakan sebagai bentuk
jamak Arab dari nama yang sama), di wilayah Taif. Ada pula sebuah desa yang bernama
Miftah (mpth, dalam bentuk tunggal) di wilayah Lith. Sebagai nama kesukuan Arabia Barat,
'Naphtuhim' nampaknya bertahan dengan cara yang lain yaitu sebagai nama suku Fatahin
(ithm) di wilayah Taif.
10. 'Pathrusim' (ptrsym, jamak genitif ptrs): Sharfat (srpt), nama lengkapnya adalah Hajib Bani
al-Sharfat (sebuah nama kesukuan) di wilayah Birk. Ada pula sebuah suku, yaitu suku Farsat
(prst) yang kini dapat ditemukan di Hijaz sebelah utara. Seperti dalam halnya ptrsym-nya
bahasa Ibrani, baik Sharfat dan Farsat terdapat dalam bentuk jamak Arab.
11. 'Casluhim' (kslhym, jamak genitif kslh): mengikuti pula pola pengubahan yang gl'd (Gilead)
dalam Bibel berubah menjadi 'l-g'd (al-Ja'd, lihat Bab 1), dengan cara menaruh l, yang
sebenarnya terletak di tengah-tengah kata itu, di luar, sehingga menjadi sebuah kata sandang
tertentu Arab, kslh kini mestinya adalah al-Husaki ('l-hsk) di Arabia Utara; atau al-Qash ('lqsh) di Wadi Adam. Sebuah suku wilayah Taif kini memakai nama al-Huskan ('l-hskn,
dengan n yang terakhir sebagai akhiran jamak Arab).
12. 'Capthorim' (kptrym, jamak kptr atau kptry): rupanya al-Faqarat (jamak Arab dari pqrt, yang
merupakan metatesis dari kptr) di Wadi Bishah; atau al-Rafaqat (jamak Arab rpqt) di wilayah
Jizan. Kedua nama- nama tempat ini mempunyai struktur nama kesukuan.
13. 'Filistin' (konon keturunan 'Casluhim', dan oleh sebab itu kemungkinan berasal dari wilayah
Wadi Adam, dari sana mereka menyebar ke daerah-daerah lainnya; bahasa Ibraninya adalah
plstym, ganda atau jamak plst atau genitif kata itu, plsty): Falsah (plst) di wadi Bishah;
Shalfa (slp', mungkin pada mulanya adalah slpt, hanya diucapkan sebagai slph), dekat Abha;
Faslah (pslt), di wilayah Qunfudhah; dan empat buah pedesaan yang bernama yang bernama
Fas'lah (pslt), dua di dataran tinggi Zahran, dan sebuah lagi di Wadi Adam wilayah Lith,
serta sebuah lagi di Bani Shahr, di sebelah tenggara dari Qunfudhah.
Berkenaan dengan bukti ini, tampaknya bangsa Filistin dalam Bibel merupakan salah satu di antara
sejumlah bangsa Arabia Barat yang tinggal bersama orang-orang Israil, tidak hanya di sepanjang
pesisir Laut Merah, tetapi mungkin juga di wilayah pedalaman Wadi Bishah. Bahwa mereka
mempergunakan bahasa yang sama seperti bangsa Ibrani atau Israil dapat dilihat dengan jelas dalam
nama-nama perorangan kepala-kepala suku atau 'raja-raja' mereka, seperti yang dikatakan dalam
teks-teks Bibel, misalnya 'Abimelech' ('b mlk, dari mlk, 'memiliki, mempunyai' atau 'raja');
'Ahuzzath' ('hzt: mungkin adalah jamak 'hzh, bahasa Arabnya ialah 'hdh, 'milik, tanah milik'); 'Phicol'
(pykl, Kejadian 26:26, bandingkan dengan kata Arab Afkah, atau 'pkl, 'bergetar' diakui sebagai nama
lama kesukuan dan perorangan Arab).[3] Bangsa Filistin jelas berbeda dengan bangsa Israil dalam
hal agama, dan juga dalam hal adat istiadat, Kitab Bibel Ibrani menyebut mereka dengan cara yang
khusus sebagai orang-orang yang 'tidak dikhitankan' (Hakim-hakim 14:3; 15:18; Samuel I 14:16;
17:26, 36; 31:4; Samuel II 1:20; Tawarikh I 10:4). Mereka memuja pelbagai dewa di tanah itu, tetapi
dewa khusus mereka adalah 'Dagon' (dgwn, dari dgn, 'jagung, butir padi'), yang mempunyai tempattempat pemujaannya di 'Gaza' dan 'Ashdod' adalah dua di antara lima kota utama orang-orang
Filistin di pesisir Asir, dan nama kuil-kuil 'Dagon' masih bertahan di sekitar daerah mereka, seperti
yang ditunjukkan pada pengenalan berikut ini terhadap lima buah kota:
1. 'Gaza' ('zh): 'Azzah ('zh) di Wadi Adam (wilayah Lith). Di sekitar daerah yang sama berdiri
desa Daghma (bentuk dari dgm dalam bahasa Aram; dengan kata sandang tertentu bahasa
Aram yang berakhiran; bandingkan dengan kata dgn, atau dgwn di dalam Bibel) juga lima
pedesaan lainnya yang bernama Duqum (dqm), salah satu di antara mereka terletak di Wadi
Adam. 'Gaza' yang lainnya terdapat di pesisir Asir adalah 'Azzah di distrik Majaridah; Al
'Azzah ('l 'zh, 'Dewa Gaza', tentunya 'Dagon'), di distrik Ballasmar; dan 'Azz ('z, tanpa
akhiran feminin), di dekat Birk.
2. 'Ashdod' ('sdwd): Sudud (sdwd) di Rijal Alma', dan di sini terdapat pula desa Dharwat Al
Daghmah yang terletak di puncak bukit (Dharwat Al Daghmah berarti 'puncak dewa dgm',
atau 'Dagon'). 'Ashdod' lainnya di Arabia Barat adalah Sidad (sdd) di wilayah Jizan, dan
Shadid (sdd) di wilayah Mekah. Ada desa yang bernama Daghumah (dgm) di dekat Sidad di
wilayah Taif.
3. 'Ashkelon' ('sqlwn): mungkin Shaqlah (sql) di sekitar daerah Qunfudhah, atau Thaqalah (tql)
disekitar daerah yang sama; mungkin keduanya. Tqln (disuarakan taqalan) yang tertera dalam
Qur'an 55:31 mungkin adalah sebuah referensi pada kedua tempat tersebut. Ascalon
Palestina, 'Ascalan ('sqln) mungkin merupakan nama yang sama, hanya saja 'Asqalan dimulai
dengan bunyi desahan tekak yaitu 'ayn dan bukan dengan hamzah 'sqlwn.
4. 'Gath' (gt): al-Ghat di wilayah Jizan (lihat Bab 10). Di antara beberapa Gath yang lain di
Arabia terdapat al-Ghati (gt) di wilayah Zahran, di sini terdapat pula sebuah desa yang
bernama Al Dughman ('l dgmn, 'Dewa Dagon', di sini dgmn memakai kata sandang tertentu
kuno Semit).
5. 'Ekron' ('qrwn): 'Irqayn ('rqyn), di wilayah Wadi 'Itwad antara Rijal Alma' dan wilayah Jizan;
kecuali kalau itu adalah Jar'an (gr'n, metatesis dari 'qrwn), di Rijal Alma'.
Walaupun mereka dapat dijumpai di tempat-tempat lain di Arabia Barat, kota-kota utama bangsa
Filistin dalam Bibel ini jelas terletak di sisi pesisir Asir, agaknya dipusatkan di daerah pedalaman
pelabuhan-pelabuhan Lith, Qunfudhah, Birk dan Jizan. Di sini wilayah mereka bertemu dengan
wilayah orang-orang Israil dan masyarakat-masyarakat setempat lainnya. Dalam Bibel Ibrani sama
sekali tidak ada sesuatu pun yang menunjukkan bahwa mereka adalah pada mulanya penetappenetap asing di negara itu yang datang sebagai 'Orang-orang Laut' dari luar negeri.
Untuk menunjukkan sampai sedekat mana orang-orang Filistin menurut Bibel itu dan orang-orang
Israil dari pesisir Asir hidup berdampingan, inilah sebuah analisa topografis mengenai kisah Samson,
yang hampir seluruhnya berlangsung di pedalaman Lith, di Hijaz bagian selatan (bacalah kisah
lengkapnya sebagaimana dikisahkan dalam Hakim-haknm 13:17):
Samson dilahirkan di daerah perbukitan pesisir wilayah Zahran, di desa al-Zar'ah (zr'h, bandingkan
dengan sr'h dalam Bibel atau 'Zorah'). Keluarganya adalah anggota suku Dan (dn) yang memakai
nama apa yang kini adalah Danadinah (genitif dn, 'Danit') di wi.layah yang sama. 'Roh Yahweh'
pertama kali menggerakkannya di al-Mahna (mhn) dekat Danadinah (dalam Bibel adalah nhnh dn,
'Mahaneh dari Dan', bukan 'Mahaneh-dan', antara Zar'ah dan al-Ishta ('l-'st, suatu inversi dari 'st'l
atau 'st 'l, l yang merupakan bentuk aslinya, 'Eshtaol', yang berarti 'wanita, istri Tuhan'). Ia mencari
seorang istri di antara orang-orang Filistin 'Timnah' (tmnh), agaknya kini adalah al-Mathanah
(mtnh), juga di wilayah Zahran yang sama. Penyerangan pertamanya terhadap orang-orang Filistin
ditujukan kepada Shaqlah atau Thaqalah, dekat Qunfudhah ('Ashkelon', lihat di atas). Ia kemudian
pergi menuju ke utara untuk menetap di Ghutmah (gtm, 'ytm atau 'Etam' dalam Bibel), di Wadi
Adam.
Dalam pembalasan mereka, orang-orang Filistin menyerang dan merampas 'Lehi' (lhy) di tanah
'Yudah, yang kini adalah Lakhyah (lhy), juga di Wadi Adam. Di dekatnya sampai kini masih berdiri
desa Dha al-Ramah (rmh) dan Dha al-Hamirah (hmyr). Konon Samson membunuh seribu orang
Filistin yang menyerang b-lhy h-hmwr yang dapat berarti 'dengan tulang rahang seekor keledai' dan
juga 'di Lakhyah-nya Hamirah (dengan kata lain, Lakhyah di daerah sekitar Hamirah). Jelas kisah ini
bertujuan untuk menjelaskan asal mula kedua nama tersebut. Tempat kejadian peperangan ini,
menurut kisahnya, kemudian dinamakan 'Ramath-lehi' (rmt lhy), yang berarti 'bukit tulang rahang'
dan juga dapat berarti 'Ramah di Lakhyah'. Mata air tempat Samson menyegarkan diri, yang
bernama 'En-hakkore' ('yn h-qwr'), adalah lokasi apa yang kini merupakan desa al-Qara (qr', dengan
kata sandang tertentu Arab), juga di Wadi Adam.
Wanita Filistin, Delilah, yang menjadi istri muda Samson, dan yang pada akhirnya membawa
Samson kepada kehancurannya, berasal dari lembah 'Sorek' (nhl swrq) --kini kemungkinan besar
adalah Shuruj (swrq) di Wadi Adam; kecuali kalau itu adalah Shariqah (srq) atau Shark (srk), di
wilayah Qunfudhah. Samson, tentunya, menemui ajalnya di 'Gaza' ('zh) --'Azzah di Wadi Adam
(lihat di atas). Ia dikebumikan di antara Zar'ah (Zorah) dan al-Ishta' (Eshtaol), di wilayah Zahran.
Sampai di sini kita mendapatkan sedikit hiburan, yaitu memecahkan 'teka-teki' Samson yang terkenal
itu. Teka-teki itu, menurut keyakinan saya, tidaklah lebih dari kisah-kisah atau teka-teki yang
berdasarkan kata-kata yang ditulis guna menjelaskan asal mula nama-nama tempat, dan untuk
mengabadikan kenangan-kenangan rakyat akan hubungan kesukuan antara satu masyarakat dengan
yang lain. Seperti yang telah kita lihat, kisah mengenai 'tulang rahang seekor keledai, milik Samson
diciptakan guna menjelaskan dua buah nama tempat, yaitu nama tempat-tempat yang kini adalah
Lakhyah dan Hamirah. Kisah mengenai bagaimana ia mengambil 'madu dari bangkai singa' (mgwyt h-'ryh rdh h-dbs, Hakim-hakim 14:9) menandakan, pada suatu tingkatan, etimologi-etimologi
untuk nama-nama tiga buah tempat, yaitu Jaww (gw, bandingkan dengan gwyt, 'di dalam', di sini 'di
dalam' sebuah bangkai) dan Waryah (wryh, bandingkan dengan 'ryh, 'singa') di Wadi Adam; dan
Dabash (dbs) di dekat Hali di wilayah Qunfudhah. Pada tingkat yang lain, kisah ini memberi
petunjuk-petunjuk bahwa Dabash di wilayah Qunfudhah, pada mulanya merupakan suatu
pemukiman yang didirikan oleh emigran-emigran dari Jaww, di dekat Waryah, mungkin atas usaha
Samson. Kata demi kata kalimat dalam bahasa Ibrani ini dapat diterjemahkan dalam dua cara: yang
pertama, 'dari dalam singa itu ia mengambil (mengeruk) madu itu'; dan yang kedua, 'dari Jaww di
Waryah ia mengambil Dabash'.
Teka-teki Samson mengenai 'madu' yang ia ambil dari 'dalam' 'singa itu' membahas sekumpulan lagi
dua masyarakat asal/utama dan koloni-koloni mereka masing-masing: 'Dari yang pemakan (m-h-'kl)
datang makanan (m'kl); dari yang kuat (m-'z) datang sesuatu yang manis (mtwq)' (Hakim-hakim
14:14). Teka-teki ini dapat pula dibaca sebagai teka-teki yang berdasarkan kata-kata (conundrum)
sehingga dapat mempunyai arti: 'Dari al-Kulah (kl, di wilayah Qunfudhah) datang Makilah (mkl, di
distrik Bahr); dari 'Azz ('z, 'Gaza' dekat Birk, lihat di atas) datang Mathqah (mtq, di wilayah
Qunfudhah)'. Melalui teka-teki yang berdasarkan nama ini kebudayaan rakyat Timur Tengah dapat
terus mengingat akan kejadian-kejadian dan perkembangan-perkembangan pada zaman yang telah
silam. Ada gejala yang sebanding di dalam kebudayaan Eropa seperti yang dapat kita lihat dari
komentar-komentar mengenai sejumlah kata-kata kepala dalam The Oxford Dictionary of Nursery
Rhymes.
Sewaktu orang-orang Filistin, sasaran Samson menanyakan teka-tekinya, dapat menjawabnya,
karena istrinya orang Filistin itu secara diam-diam memberi jawabannya kepada mereka, ia
membalas teka-teki yang berikut ini: 'Jika kalian tidak membajak dengan anak sapi saya ('glh, disini
'glty, dalam bentuk orang pertama posesif), kalian tidak akan dapat memecahkan teka-tcki saya
(hydh, di sini hydty, juga dalam bentuk orang pertama posesif' (Hakim-Hakim 14:18). Menurut
kisah tersebut, Samson telah menduga bahwa orang-orang Filistin telah 'membajak' istri yang
ditunangkan kepadanya guna mendapatkan jawaban yang benar dari teka-tekinya. Namun pengertian
yang lain dari teka-teki yang berdasarkan kata itu dapat diterjemahkan dengan bebas dalam kata-kata
yang berikut ini: 'Jika kalian tidak berasal dari 'Ajlat ('glt, di Bani Shahr), kalian tidak mungkin dapat
mengetahui Haydah (hydy, juga di Bani Shahr)'. Yang terlihat di sini jelas adalah suatu pepatah,
yang berarti bahwa seseorang harus berasal dari suatu tempat untuk mempunyai pengetahuan yang
mendalam dari keadaan sekelilingnya. Pada tingkat kiasannya, pepatah tersebut juga mengatakan
bahwa seseorang tidak dapat benar-benar mengetahui apa-apa tanpa mengetahui tentang hal-hal lain
yang berhubungan dengannya yang mungkin bertindak sebagai suatu prasasti bagi penelitian ini.
Untuk mempertimbangkan dan menafsirkan kembali semua referensi Bibel pada bangsa Filistin
adalah di luar bidang saya yang terbatas ini. Akan tetapi dalam Samuel I 6:18 terdapat suatu
pernyataan mengenai luas wilayah orang-orang Filistin ini ditemukan, yang sudah sepantasnya jika
diberi komentar. Dalam bahasa Ibrani, pernyataan tersebut terbaca sebagai berikut: kl 'ry-plstym ...
m-'yr mbsr w-'d kpr h-przy. Dalam RSV, ini diterjemahkan sebagai 'semua kota bangsa Filistin ...
baik kota-kota kubu (m-'yr mbsr) maupun desa-desa yang dikelilingi oleh tembok (w-'d kpr h-przy)'.
Tidak dapat dibayangkan suatu penterjemahan yang lebih tidak akurat daripada ini. Sebenarnya m'yr mbsr hanya dapat berarti 'dari kota mbsr', kota yang dibicarakan adalah sebuah desa, yaitu Midbar
(mdbr), yang kini terletak di daerah perbukitan Hurrath di ujung selatan wilayah Jizan. Dalam halnya
'd kpr h-przy, ini hanya dapat berarti 'sampai pada desa przy', prz yang dibicarakan kini adalah dusun
kecil al-Firdah (prd) di Wadi Adam (przy dalam bahasa Ibrani adalah genitif prz, dan berkenaan
dengan penghuni daerah-daerah tersebut). Maka dari itu menurut definisi geografis tanah Filistin,
wilayah mereka membentang dari ujung selatan wilayah Jizan sampai ke Wadi Adam. Pendeknya,
tidak ada perbatasan geografis yang ditentukan antara wilayah-wilayah bangsa Israil dan Filistin
pada daerah yang dibicarakan, yang agaknya sangat membantu dalam menjelaskan tidak hanya kisah
Samson, tetapi juga sebutan-sebutan menurut Bibel tempat orang-orang Filistin dibahas.
15. TANAH HARAPAN
Adakalanya suatu penyelidikan kesarjanaan yang tidak hati-hati dapat menimbulkan akibat-akibat,
yang gemanya begitu jauh melampaui batas-batas disiplin akademis seseorang, terutama bila
ditampilkan hendak menantang praanggapan yang menjadi pusat kepercayaan agama yang sudah
berakar dalam hati dan dihormati sepanjang sejarah. Mengatakan bahwa tanah harapan, bukan
terletak di tempat yang umumnya dianggap sebagai lokasinya, tidak mungkin ditanggapi dengan
sungguh-sungguh oleh mereka yang menganggap bahwa pendirian negara Israil dalam tahun 1948
merupakan terkabulnya sebuah impian yang berusia berabad-abad. Namun, setelah memulai dalam
analisa onomastik saya atas Kitab Bibel Ibrani, begitulah kesimpulan yang diberikan oleh
penyelidikan saya dan saya percaya penuh akan kesimpulan ini.
Seorang sejarawan tentunya dapat mengusulkan sebuah penjelasan dalam penulisan sejarah, bukan
keagamaan, mengenai janji menurut Bibel yaitu suatu wilayah yang telah ditentukan bagi keturunan
Ibrani dari Abram (Kejadian 15), dan pengikut-pengikut Israil dari Musa (Bilangan 34). Sewaktu
kisah-kisah mengenai kedua janji itu, seperti yang kemudian dicatat dalam Bibel, diceritakan dalam
bentuk aslinya, orang-orang Israil telah mendiami tanah harapan mereka, sehingga kisah-kisah
mengenai kedua janji itu telah merupakan penjelasan ex post facto (berlaku surut). Tetapi yang
penting bagi kita adalah janji-janji itu sebagai geografi sejarah, bukan sebagai sejarah ataupun
agama.
Dalam terjemahan-terjemahan konvensional, tanah yang dijanjikan Yahweh kepada Abram orang
Ibrani (Kejadian 15:18) konon membentang 'dari sungai Mesir (nhr msrym) sampai ke sungai besar,
sungai Efrat (nhr prt)'. Bertentangan dengan anggapan yang telah diterima, saya mengusulkan bahwa
tanah yang ditunjukkan dalam janji asli yang tertulis dalam bahasa Ibrani sebenarnya terdiri dari
tanah kuno Yudah (Bab 8), di Asir geografis, dari wilayah Jizan di selatan sampai pada Wadi Adam,
di pedalaman Lith di utara. 'Sungai Mesir'y (nhr msrym) dalam janji ini jelaslah bukan sungai Nil,
tetapi sungai kecil Wadi 'Itwad yang bersumber di dekat desa Misramah masa ini, di dataran tinggi
Asir, dan membentuk perbatasan zaman kini antara wilayah Jizan dan Rijal Alma'. Nhr msrym
mungkin juga adalah Wadi Liyah, yang memisahkan wilayah Jizan dari Yaman dan sebuah desa
yang bernama Masram (msrm) masih dapat dijumpai di sana. Di Wadi Adam yang membentuk
sebagian lembah utama wilayah Lith terdapat sebuah desa yang bernama Firt (prt) dan sebuah lagi
yang bernama Farat (juga prt), sehingga saya percaya bahwa janji kepada Abram itu seharusnya
berbunyi seperti yang berikut ini: 'Kepada keturunanmu saya akan berikan tanah ini, dari sungai
kecil Misramah (atau Masram, nhr msrym) sampai ke sungai besar (h-nhr h-gdwl), yaitu sungai Firt
(atau Farat, nhr prt)', sungai ini terletak di Wadi Adam, bukan 'sungai Efrat'.
Tanah yang dijanjikan kepada Abram dan orang-orang 'Ibraninya', tentunya telah dihuni
(berpenghuni). Janji Yahweh mencatat penghuninya yang seluruhnya berjumlah sepuluh bangsa
(Kejadian 15-19-21), lima di antaranya adalah rakyat 'Kanaan', menurut Kejadian 10:15-18 (lihat
Bab 14). Nama bangsa-bangsa ini bertahan sampai kini sebagai nama-nama tempat di pelbagai
bagian di Asir, dan sebagian besar di 'Yudah'. Mereka adalah:
1. Bangsa 'Kenit' (qyny, genitif qyn): sebagai sebuah nama kesukuan, qyny bertahan sebagai
nama Qawayinah masa ini (tunggalnya adalah Qawni, atau qwny, dari qwn), di selatan Taif.
Nama-nama yang berhubungan dengannya adalah Qani (qn), di wilayah Jizan; Qann (qn), di
distrik Ballasmar; Qana (qn), seluruhnya berjumlah empat buah desa, sebuah di distrik Bahr,
sebuah di dataran tinggi Dhahran, sebuah di wilayah Qunfudhah, dekat Hali, dan sebuah di
Wadi Adam; Qanan (qnn), di distrik Majaridah; Qanwah (qwn), di Rijal Alma'; Qannah
(qnn), seluruhnya berjumlah lima buah pedesaan, sebuah di distrik Muhayil, sebuah dekat
Khamis Mushait, sebuah di wilayah Jizan, dan dua buah di Wadi Adam: Al Qaninah ('l qnyn)
di dataran tinggi 'Abidah; Qanyah (qny) di Wadi Adam.
2. Bangsa 'Kenizzit' (qnzy, genitif qnyzyz atau qnz) di wilayah Jizan. Sebuah suku Arab masih
dapat ditemukan di sana yang bernama al-Qunaysat (tunggalnya adalah Qunaysn, atau qnysy,
dari qnys).
3. Bangsa 'Kadmonit' (qdmny, genitif qdmn): Damjan (dmgn, metatesis dari qdmwn) di wilayah
Taif. Qadamah (qdm) di wilayah Lith, dan Kawadimah (kwdm) di wilayah Jizan, keduanya
kecil kemungkinannya, tetapi masuk di akal. Sebuah suku Arab di utara Hijaz kini adalah
Qidman (qdmn).
4. Bangsa 'Hittit' (hty, genitif ht, dituliskan sebagai bangsa Kanaan dalam Kejadian 10): Hathah
(ht), di wilayah Lith; Hat (ht) di distrik Ballasmar; Hatwah (htw), di Rijal Alam'; Hittayy
(hty), di pesisir Zahran; lebih lagi Al-Hatahit (jamak Arab dari hty) diakui dalam
kesusastraan Arab sebagai sebuah nama kesukuan Arab.
5. Bangsa 'Perizzit' (przy, genitif dari prz): Al Farzan ('l przn, prz dengan kata sandang tertentu
kuno Semit), di Bani Shahr; Furdah (prd, bandingkan dengan prz), nama dari empat buah
desa, sebuah di wilayah Jizan, dua di Wadi Adam, dan sebuah di wilayah Majaridah.
Mungkin juga merupakan nama-nama suku masa ini, yaitu Safarin (tunggalnya adalah Safari,
atau spry), di selatan Asir; Zawafirah (tunggalnya adalah Zafiri, atau zpry), di Hijaz bagian
selatan; dan Farasat (tunggalnya adalah Farsi, atau prsy), di utara Hijaz.
6. Bangsa 'Rephaim' (rp'ym, ganda atau jamak rp' atau dari genitifnya, yaitu rp'y): Rafah (rp), di
wilayah Jizan, dan Rafyah (rpy), di Rijal Alma'. Kesusastraan Arab berbicara mengenai suku
Yarfa (yrp, kata benda kuno rp) di Arabia baratdaya.
7. Bangsa 'Amorit' ('mry, genitif 'mr, dituliskan sebagai bangsa Kanaan dalam Kejadian 10):
Amarah ('mr), di pesisir Zahran; Wamrah (wmr), di Wadi Adam; mungkin juga Maru (mrw,
dengan w yang terakhir sebagai kata sandang tertentu Aram yang berakhiran), semuanya
berjumlah tiga buah desa, dua di Wadi Adam dan satu di distrik Bahr. Sebagai sebuah nama
kesukuan, 'mry mungkin masih terdapat di sana nama Banu Murrah (mr) yang terdapat di
mana-mana, atau nama Maru (mrw) di Hijaz bagian selatan.
8. Bangsa 'Kanaan' (kn'ny, genitif kn'n): Al Kun'an ('l kn'n), di Wadi Bishah; juga nama suku
al-Qin'an (qn'n), di Asir (lihat Bab 14). Untuk lebih jelasnya, lihat Bab 1 dan 4.
9. Bangsa 'Girgashite' (grgsy, genitif grgs, penghebat atau kata pengecil grs; ditulis sebagai
bangsa Kanaan dalam Kejadian 10): Juraysh (grys, kata pengecil grs) dan Quraysh (qrys,
kata pengecil qrs), di wilayah Qunfudhah; juga Quraysh, dua buah desa di wilayah Taif;
Qaryat Quraysh, di wilayah Qunfudhah; Dar Bani Quraysh, di Wadi Adam; Quraysh al
Hasan, di dataran tinggi Zahran. Nama kesukuan Arabia Barat kuno Quraysh tidak mungkin
lain dari nama yang ini sendiri.
10. Bangsa 'Yebusit' (ybwsy, genitif ybws; ditulis sebagai bangsa Kanaan dalam Kejadian 10):
Yabasah (ybs), di Wadi Adam; Yabs (ybs), di lerengan maritim wilayah Ghamid; dan Yabs,
dekat Mudhaylif, di sebelah utara Qunfudhah (lihat Bab 9). Yubbas (ybs) dan Yabis (ybs)
kini masih tetap bertahan sebagai nama-nama suku di Arabia Barat.
Kalau kita menganggap bahwa identifikasi saya terhadap kesepuluh bangsa itu benar, maka
penelitian menurut Bibel atas sejarah mereka telah sama sekali salah haluan.[1] Maka tidaklah
mengherankan jika hanya ada sedikit bukti-bukti arkeologis dan paleografis yang tertulis guna
mendukung sumber mereka, karena penyelidikan apa pun yang telah dilakukan dalam hal ini telah
dikerjakan sehubungan dengan tempat yang salah --Palestina dan Suria kuno, bukan Arabia Barat.
Menurut Kejadian, tanah asal suku-suku Arabia Barat kuno inilah yang dijanjikan oleh Yahweh
kepada Abram dan para keturunannya. Tanah asal tersebut juga termasuk dalam wilayah yang
dijanjikan oleh Yahweh kepada Nabi Musa (Bilangan 34:1-12), yang kenyataannya bukan lebih
kecil dari wilayah yang dijanjikan kepada Abram, seperti yang dikira sampai kini, tetapi sebenarnya
lebih luas. Tanah ini terdiri dari 'seluruh tanah Kanaan' (34:2) dan termasuk baik pedalaman maupun
pesisir Asir, dan juga wilayah Taif di Hijaz, dari pantai Laut Merah sampai pinggiran gurun Arabia
Tengah.
Dalam upaya mereka untuk melakukan suatu penafsiran geografis dari perbatasan-perbatasan tanah
harapan ini dalam pengertian Palestina, para ahli Bibel selalu menemui kesulitan-kesulitan yang juga
tidak mengherankan, mengingat wilayah itu bukanlah pada tempatnya. Membaca teks Ibrani
mengenai 'janji' itu, seperti yang ditafsirkan dan disuarakan secara tradisional, kata ym dalam Bibel
selama ini telah dianggap berarti 'laut', walaupun kata ym yang sama itu juga diakui berarti 'barat'.
Para ahli juga telah menganggap ym h-mlh berarti 'lautan garam', sebuah referensi kepada Laut Mati
Palestina. Walaupun mlh dalam bahasa Ibrani dan bahasa Arab memang berarti 'garam', kata ini juga
berarti 'pasir' dalam dialek Arab sekarang dari daerah pedalaman Asir. Maka dari itu meski h-ym hgdwl dalam Bibel memang berarti 'Lautan Besar' (berkenaan dengan Arabia Barat, bukan Laut
Tengah, tetapi Laut Merah), ym h-mlh dalam konteks 'janji' yang sedang dibahas ini bukan berarti
'lautan garam', tetapi 'di sebelah barat pasir'. Referensi ini seperti yang akan dilihat, adalah kepada
Bilad Yam (ym), yang secara harfiah berarti 'negara barat', yang sebenarnya mengapit 'pasir-pasir'
(mlh) Ar Rab'al Khali, dari sebelah 'barat' (ym). Begitu pula, ym knrt berarti 'sebelah barat Quraynat'
(sebuah tempat, lihat di bawah), dan bukan 'Lautan Chinnereth', yang dikira --tanpa berdasarkan apa
pun-- adalah nama menurut Bibel dari Danau Tiberias di Palestina. Selanjutnya, penyusunan ktp ym
knrt bukan berarti 'pundak (ktp) Lautan Chinnereth' (RSV), tetapi 'Qatf di sebelah barat Quraynat',
Qatf (qtp) sebenarnya adalah sebuah tempat di Arabia Barat yang terletak di sebelah 'Barat' Quraynat
(lihat di bawah).
Dalam menafsirkan Tanah Harapan Musa, para ahli Bibel telah bingung bukan saja terhadap arti
kata Ibrani ym, tetapi juga terhadap h-yrdn, yang mereka anggap adalah tidak lain dari 'Yordan'
Palestina. Mereka selanjutnya dibuat bingung oleh sebuah tempat yang bernama qds brn' (atau
'Kadesh-Barnea'), yang secara tidak benar sejak tahun 1948 dikenali sebagai oase 'Ayn Qudays, di
Palestina sebelah selatan (lihat Bab 4). Pengenalan ini hanya berdasarkan kenyataan bahwa Qudays
Arab, atau qdys, adalah pengecilan Quds, atau qds, yang merupakan padanan kata qds dalam bahasa
Ibrani. Sebenarnya, qds brn', diuraikan sehingga terbaca qds b-rn' (di sini tampaknya b adalah
pemendekan dari 'b, 'ayah', dengan kata lain 'Tuhan'), hanya berarti 'tempat suci', 'kuil', 'tempat
pemujaan' 'Tuhan' rn', yang namanya secara metatesis bertahan dalam dua nama tempat di Arabia
bagian timur sebagai Abu 'Arinah ('b 'rn), dan di dataran tinggi Asir di sebelah selatan Khamis
Mushait sebagai Al 'Arinah ('l 'rn). 'Kadesh-Barnea' mestinya dulu adalah sebuah 'kota suci' kuno,
yang kini masih ada sebagai desa Al 'Arinah, seperti yang akan kita lihat. Kebetulan nama dewa
Arabia Barat rn' masih bertahan melalui metatesis yang lain, sebagai r'n, dalam inskripsi-inskripsi
Lihyan dan Dedan dari utara Hijaz.
Yang berikut ini adalah perbatasan-perbatasan tanah yang dijanjikan kepada pengikut-pengikut Israil
Musa, seperti yang digambarkan dalam Bilangan 34 dan berkenaan dengan geografi Arabia Barat:
1. Perbatasan barat adalah 'Lautan Besar' (h-ym h-gdwl, 34:6), dengan kata lain, Laut Merah
(lihat di atas).
2. Perbatasan selatan dimulai dari gurun pasir Zin, atau zn (sn dalam Bibel, 'Zin'), sebuah oase
di wilayah Najran yang secara tepat digambarkan terletak 'di sisi' ('l ydy) Wadi Idimah, atau
'dm (dalam Bibel adalah 'dwm, 'Edom'), yang sebenarnya terletak ke arah selatan; tepatnya,
'dari Quziyyah (qzyh), di sebelah barat pasir ke arah timur' (m-qsh ym h-mlh qdmh),
Quziyyah (dalam Bibel adalah qsh) adalah sebuah oase di Bilad Yam, ke arah hulu Zin di
Wadi Najran, dan tepat di perbatasan barat pasir Ar Rab'al Khali. Dari sana perbatasan itu
membentang ke arah barat 'di selatan lereng Akrabbim ('qrbym)', kini merupakan sebuah
desa di Sarat 'Abidah, di atas Wadi Najran, yang bernama al-Jarabi' (jamak bahasa Arab
grb'), metatesis 'qrb dalam Bibel, (jamak bahasa Ibrani dari 'qrb adalah 'qrbym).[2] Lebih
jauh ke arah barat, perbatasan ini melintasi satu lagi Zin (sn dalam Bibel) di wilayah Dahran,
yang sebenarnya adalah 'di sebelah selatan' Al 'Arinah (atau 'Kadesh-Barnea', lihat di atas),
persis seperti yang tertera dalam teks. Kemudian perbatasan ini melintasi apa yang
digambarkan oleh bahasa Ibrani Bibel sebagai hsr 'dr ('Hazzar-addar'), yang paling-paling
menunjukkan 'tanah pemukiman' (hsr) sebuah suku yang bernama 'dr, yang namanya masih
dipakai oleh suku Adhar ('dr) di Sarat 'Abidah dan daerah sekitar Dhahran al-Janub.
Kemudian perbatasan ini menembus Al 'Asman ('l 'smn, bandingkan dengan nama Ibrani
'zmn atau 'zmwn, 'Azmon,), di wilayah Dhahran, dan sampai di Wadi 'Itwad (nhl msyrm,
yang berarti 'pohon palem Misramah' atau 'hulu Misramah' lihat di atas, bukan 'sungai kecil
Mesir' seperti yang diterjemahkan secara tradisional; untuk melihat kebingungan antara
Misramah ini dengan 'Mesir', lihat di atas). Dari sini, perbatasan ini mengikuti aliran Wadi
'Itwad (atau mungkin juga Wadi Liyah, lihat di atas) sampai ke laut (34:3-5).
3. Perbatasan utara bermula di pantai Laut Merah dan kemudian menuju ke atas bukit, melintasi
'Gunung Hor' (hr h-hr), yang telah dikenali sebagai sebuah puncak gunung (hr) al-Harrah (hr
dengan kata sandang tertentu bahasa Arab), di ujung utara dataran tinggi Zahran (lihat Bab 7,
Catatan 5). Dari sini perbatasan itu membelok ke utara dan sampai di wilayah Taif di Dhawi
Himat (hmt) atau Himatah (hmt, bandingkan dengan hmt dalam Bibel, 'Hamath'), dan Sidad
(sdd, bandingkan dengan sdd dalam Bibel, 'Zedad'). Dari sini perbatasan itu terus melintasi
zprn ('Ziphron', mungkin kini adalah Safra', atau spr tanpa kata sandang tertentu berakhiran,
yaitu n),[3] dan berakhir di hutan belantara Harrat al-Buqum, di 'oase' atau 'perkampungan'
(Ibraninya hsr) 'Aynin ('ynn, bandingkan dengan hsr 'ynn dalam Bibel, hsr atau
'perkampungan' 'ynn yang biasanya diterjemahkan sebagai 'Hazar-enan', (34:7-9).
4. Perbatasan timur, mulai dari 'Aynin (lihat di atas), dan terus membentang ke selatan, rupanya
ke al-Thafan (tpn, bandingkan dengan spm dalam Bibel, 'Shepam'), di Wadi Tathlith (nama
lengkapnya Hadayir al-Thafan, atau pemukiman-pemukiman al-Thafan). Kemudian
perbatasan ini terus menuju ke selatan menerobos 'Riblah' (rblh), di sebelah timur 'Ayn' ('yn),
yang kini mungkin adalah al-Rabiyah ('l-rbyh),[4] di pelosok terjauh Wadi Habuna, yaitu
Yam, di sebelah timur laut oase 'Ayn, di wilayah Najran. Dari sini perbatasan itu melintasi
'Qatf (qtp), di sebelah barat Quraynat (qrynt)' (ktp ym krnt, lihat di atas), Quraynat adalah
oase Wadi al-Dawasir, dan Qatf terletak di sebelah baratdaya Quraynat ini di Bilad Yam.
Dari sini perbatasan itu menyeberangi 'punggung bukit' (h-yrdn), yang tidak diragukan lagi
adalah apa yang disebut Philby sebagai 'jenggul granit besar' (the great granite boss) Jabal
Abu Hamdan di wilayah Najran, dan berakhir di 'sebelah barat pasir' (ym h-mlh) Ar Rab'al
Khali (34: 10-12).
Jika kita memproyeksikan perbatasan-perbatasan Tanah Harapan Musa seperti yang ditafsirkan di
sini di atas peta Arabia Barat, hasilnya samasekali tidak menimbulkan pertanyaan-pertanyaan apa
pun. Gambarannya lengkap hampir sampai pada detil-detil yang terakhir.
16. KUNJUNGAN KE EDEN
Menurut standar orang-orang Barat Junaynah di Wadi Bishah tidak pantas di sebut taman; namun
sebagai sebuah oase di pinggiran gurun pasir tempat ini mempunyai daya tarik yang tersendiri.
Tempat ini merupakan 'desa Bishah yang paling rendah' tulis H. St. J. B. Philby yang mengunjungi
Junaynah di sekitar awal 1930-an; tempat ini merupakan 'sebuah oase di gurun pasir', 'tanpa pohonpohon palem' di luarnya. Seperti yang dilukiskan oleh Philby, oase ini terdiri dari 'sebuah lingkaran
belukar pohon-pohon palem yang anggun', dengan 'tanaman gerst dan gandum yang sudah mulai
mematang di sana sini' di ujung timurnya, dengan 'perkebunan' tamarisk yang 'lebat', dan semak
belukar yang 'sangat lebat' di sekitar puing-puing yang terlantar, dengan sebuah desa kecil di
dekatnya --pada keseluruhannya 'sebuah gambaran oase yang ideal', terutama di bawah sinar bulan
(Arabian Highlands, Ithaca, N.Y., 1952, hal. 29-31). Sebagai desa Bishah yang paling terpencil,
Junaynah, walaupun bukan sebuah desa yang penting, ada pada sebagian besar peta-peta jazirah
Arab (20°20" lintang utara dan 40°55" bujur timur). Philby mengunjungi tempat itu dan
menggambarkannya tanpa mengetahui bahwa tempat ini adalah Taman Firdaus (Eden). Bagaimana
ia dapat mengetahui dengan adanya tradisi yang mendukung sepenuhnya bahwa lokasi taman ini
terletak di sebuah tempat di Mesopotamia yang sangat jauh itu?
Kini saya mengharapkan pembaca dapat menerima gagasan bahwa Kitab Bibel Ibrani ditulis oleh
penulis-penulis Israil yang tinggal di daerah perbukitan di pantai Asir. Dalam Kejadian 2:8-14, salah
seorang penulis ini, yang namanya tidak akan diketahui, melukiskan tentang keadaan Taman Firdaus
sebagai berikut:
Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman (gn) di Eden, di sebelah timur; di situlah ditempatkanNya manusia yang dibentuk-Nya itu. Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari
bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan (hyym) di tengahtengah taman itu, seperti pohon pengetahuan (d'h) tentang yang baik dan yang jahat. Ada suatu
sungai (nhr, 'sungai, sungai kecil') mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ
sungai itu terbagi menjadi empat cabang (r'sym, jamak dari r's, 'mata air sungai'). Yang pertama,
namanya Pison (pyswn), yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Hawila (hwylh), tempat
emas ada. Dan emas dari negeri itu baik; di sana ada damar bedolah dan batu krisopras. Nama sungai
yang kedua adalah Gihon (gyhwn), yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Kusy (kws).
Nama sungai yang ketiga adalah hdql [secara tradisional diterjemahkan sebagai 'Tigris', yang
mengalir di sebelah timur 'swr, secara tradisional diterjemahkan sebagai 'Assyria, (Suryani)]. Dan
sungai yang keempat adalah Efrat (prt).
Setelah itu, selagi pembicaraan mengenai Adam, manusia yang pertama dan keluarganya, penulis
yang sama memberikan dua informasi tambahan mengenai lokasi Eden serta tamannya. Sewaktu
Adam beserta istrinya, Hawa, dikeluarkan dari surga, Yahweh menempatkan cherubim (krbym,
ganda atau jamak krb, harfiahnya 'pendeta') 'di sebelah timur taman itu' guna menjaga jalan yang
menuju pohon kehidupan (3:24). Waktu Kain, anak pertama Adam dan Hawa membunuh adiknya,
Abel, dan dihukum dengan cara dibuang dari penglihatan Yahweh, ia pergi dan menetap 'di tanah
Nod (nwd), di sebelah timur Eden' (4:16).
Informasi yang diberikan oleh semua ini mengenai lokasi geografis Eden dan tamannya dapat
disimpulkan sebagai berikut:
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
ï‚·
Pertama, Eden terletak di sebelah timur kampung halaman penulis teks Bibel yang
dibicarakan ini, adalah tanah Yudah, di sisi pantai Asir.
Kedua, Eden beserta tamannya terletak di sebuah jaringan pengaliran yang terdiri dari empat
anak sungai yang telah dikenal, yang dikenali dengan nama-namanya.
Ketiga, taman (gn) Eden ('dn) terletak ke arah hulu sungai Eden, yang diairi oleh sebuah
sungai kecil yang 'mengalir ke luar' (ys') Eden.
Keempat, taman itu diasosiasikan dengan dua pohon yang penting, yaitu pohon 'kehidupan'
(hyym) dan pohon 'pengetahuan' (d'h).
Kelima, dua atau lebih cherub-cherub (krbym, jamak krb) berarti 'pendeta' ditugaskan di
sebelah timur Taman Eden guna menjaga jalan yang menuju ke Pohon Kehidupan.
ï‚·
Keenam, di sebelah timur daerah sekitar letaknya Eden terdapat tanah Nod (nwd).
Dari semua informasi yang tertera di atas, kita dapat mengambil kesimpuIan bahwa Taman Eden
terletak di sebuah wilayah oase yang subur yang terletak antara Tanah Yudah, di pesisir Asir, dan
sebuah daerah pedalaman yang bernama nwd. Bahwasanya wilayah ini tidak lain daripada lembah
sungai Wadi Bishah tampaknya jelas, berkenaan dengan pengenalan yang lebih lanjut dari 'keempat
sungai' Eden:
1. Sungai 'Pison' (pyswn, pada hakekatnya psn), yang mengalir mengelilingi tanah 'Hawila'
(hwylh) dan di sana terdapat emas. Kini ini adalah Wadi Tabalah, cabang Bishah yang
terletak paling jauh di barat. Wadi ini mengambil nama yang dipakainya kini dari satu di
antara sejumlah oase-oase yang terletak di sepanjang alirannya. Nama Bibelnya bertahan
sebagai nama desa Shufan (spn, metatesis dari nama Ibrani pyswm), dekat hulu sungainya di
dataran tinggi Nimas. Pengarang cerita Eden mestinya menganggap Wadi Tabalah (atau
'Pison') sebagai sungai utama di jaringan Wadi Bishah, mengingat cara yang ia pakai dalam
menggambarkan alirannya. 'Hawila' , yang katanya dikelilingi oleh 'Pison', kini adalah
Hawalah (hwlh), di dataran tinggi wilayah Ghamid, di sebelah utara Nimas. Aliran utama
Wadi Bishah sebenarnya mengitari wilayah Ghamid di sisi pedalamannya setelah
pertemuannya dengan cabang-cabang utamanya. Bahwa ini merupakan tanah 'emas' adalah
benar; emas benar-benar ditemukan di sana pada zaman dahulu, dan masih dicari di sana
sampai kini. Ini mungkin merupakan tanah 'emas fosil ... bukan dalam bentuk emas urai,
tetapi dalam gumpalan', tulis Strabo dalam gambarannya mengenai Arabia (lihat Bab 3). Di
sebelah timur wilayah Ghamid mengalir sebuah anak sungai Wadi Bishah, yang sebenarnya
bernama Wadi Dhahab, 'Lembah Emas' (lihat lagi di Bab 3). Di sana juga dapat ditemukan
batu carnelia (h-shm), umumnya disalahterjemahkan sebagai batu 'onyx'. Bahkan sampai kini
pun, para jemaah haji yang kembali dari Mekah biasanya membawa manik-manik yang
terbuat dari batu-batu setengah mulia ini. Bdellium (bdlh), atau damar bedolah, yang
dibicarakan adalah getah yang berharga yang dihasilkan oleh sejenis pohon lokal
(commiphora mukul), yang khusus terdapat di Arabia Barat, kini disebut Balsem Mekah.
Walaupun namanya sama, 'Pison' dalam Bibel jelas bukan anak sungai aliran utama Wadi
Bishah yang kini dikenal dengan nama Wadi Shaffan (spn).
2. Sungai 'Gihon' (gyhwn, pada hakekatnya ghn), yang mengalir mengitari tanah 'Kusy' (kws).
Ini merupakan sungai kecil utama Wadi Bishah, yang merupakan namanya kini, salah satu
dari hulu sungainya masih bernama Wadi Juhan (ghn). Wadi ini terletak di antara Khamis
Mushait dan Abha, dan di sana terdapat pula sebuah desa yang bernama Al Jahun (juga ghn).
Nama sekarang Wadi Bishah diambil dari desa Bishah, dekat persimpangan cabang-cabang
utama jaringan wadi ini. Orang-orang 'Kusy' yang tanahnya dikelilingi oleh 'Gihon' kini
adalah desa Kuthah (kwt, lihat Bab 4), di daerah sekitar Khamis Mushait, yang sebenarnya
mengapit Wadi Juhan.
3. Sungai hdql, yang secara tradisional dianggap sebagai sungai Tigris Mesopotamia. Kalau
saja nama 'sungai' ini h-dql (kini diarabkan menjadi al-Dijlah, atau dglh, didahului oleh kata
sandang tertentu), mungkin saja sungai ini adalah Tigris. Namun kenyataannya nama sungai
ini, seperti yang tertera dalam Kejadian, jelas adalah hdql, dengan h sebagai huruf awal
bukan h- yang bedanya dapat sejauh beratus-ratus kilometer. Kini, nama hdql bertahan
sebagai nama desa Al Jahdal (ghdl), di dataran tinggi Sarat 'Abidah, dan di sini terdapat hulu
sungai Wadi Tindahah. Sarat 'Abidah terletak di sebelah timur tengah Khamis Mushait, dan
Wadi Tindahah bergabung dengan aliran utama Wadi Bishah di sebelah utara Khamis
Mushait. Pada zaman Bibel, Wadi Tindahah mestinya bernama hdql menurut nama desa
tempat terdapatnya mata air. Seperti halnya hdql bukan Tigris, melainkan kini Wadi
Tindahah, begitu pula 'swr di sebelah timur alirannya bukanlah 'Assyria'. Sebenarnya Wadi
Tindahah mengalir tepat di timur 'swr yang kini adalah desa Bani Thawr (twr), juga dikenal
sebagai Al Abu Thawr. Seperti yang telah kita buktikan beberapa kali sebelumnya, hampir
tidak terdapat suatu kesalahan topografis di dalam Bibel Ibrani.
4. Sungai prt, yang secara tradisional dianggap sebagai sungai Efrat ini tidak mungkin kalau
bukan apa yang kini adalah Wadi Kharif yang mengalir dari ketinggian wilayah Zanumah, di
sebelah utara Abha, dan merupakan salah satu anak sungai utama aliran Wadi Bishah. Nama
Bibelnya, yaitu prt mestinya berasal dari nama sebuah desa di hulunya yang kini bernama alTafra' (tpr, sebuah metatesis prt). Dalam teks-teks Bibel lainnya, seperti yang telah kita
saksikan, prt adalah Wadi Adam (lihat Bab 1, Catatan 11), yang bukan demikian halnya di
sini.
Menurut kisah Genesis, sungai (nhr) Eden membelah menjadi empat hulu sungai (r'sym) di sekitar
Eden dan tamannya. Sebenarnya, r'sym dalam Bibel ini bertahan sebagai nama oase Rawshan (rwsn)
yang terletak dekat tempat Wadi Tabalah (Pison) bergabung dengan aliran utama Wadi Bishah.[1]
Di dekatnya, menuju ke arah hulu, terdapat sebuah oase yang bernama 'Adanah ('dn), yang sampai
kini memakai nama Eden ('dn) yang terdapat dalam Bibel. Oase Junaynah (gnyn, pengecilan gn,
bandingkan dengan kata Ibrani gn, 'taman') terletak tidak jauh di hilir dari Rawshan, diairi oleh air
yang mengalir dari 'Adanah. Tampaknya aneh, tetapi di situlah letaknya taman Eden, bertahan
melalui namanya (lihat Peta 8).
Di sebelah timur pertemuan Wadi Bishah, yaitu di sekitar daerah Eden menurut Bibel, terdapat tanah
'Nod' --sebuah 'negara ketunawismaan' (Ibraninya nwd), tepat sebagaimana digambarkan dalam
kamus-kamus standar bahasa Ibrani Bibel (dari kata kerja nwd, 'tuna wisma, berjalan tanpa tujuan').
Ini merupakan sebuah hamparan gurun pasir pedusunan yang kering, yang memisahkan Asir dan
Arabia Tengah. Di luar tanah Nod ini, di sana 'tidak terdapat apa-apa kecuali ketandusan yang tiada
akhirnya' --gurun batu kerikil, atau 'hamparan datar mati' Ar Rab'al Khali (Arabian Highlands, hal.
221).
Di sebelah timur tenggara Wadi Bishah terdapat oase al-Qarban (qrbn, dengan kata sandang tertentu;
bandingkan dengan kata Ibrani h-krbym, 'pendeta-pendeta'). Ini mungkin adalah 'pendeta' yang
ditugaskan di sebelah 'timur' Taman Eden setelah Adam dan Hawa dikeluarkan dari taman itu.
Namun dalam konteks cerita ini, kata h-krbym sebenarnya dapat berarti 'pendeta-pendeta' (lihat di
bawah). Mengenai pohon kehidupan (hyym) dan pohon pengetahuan (d'h) di taman itu, mereka
sudah pasti adalah dua buah pohon keramat yang dipersembahkan kepada dua desa lokal kuno. Desa
yang sekarang Al Hi ('l hy) di Wadi Bishah, masih menggunakan dewa 'kehidupan' Arabia Barat
yang sudah dilupakan. Begitu juga perkampungan Al Hi ('l hy) dan Al Ibn Hi (juga hy) di dataran
tinggi Asir ke arah Barat; dan Al Hayat (hyt) di wilayah Dhahran, dan Hiyin (hyyn, bandingkan
dengan kata Ibrani hyym, dalam bentuk jamak), di wilayah Jizan. Begitu pula, desa yang sekarang
Al Da'yah ('l d'y, bandingkan dengan kata Ibrani d'h), di dataran tinggi di sebelah barat Wadi Bishah,
sampai hari ini mengabadikan nama dewa 'pengetahuan' Arabia Barat yang telah terlupakan.
Apakah dahulunya Taman Eden dalam Bibel merupakan sebuah belukar keramat --sebuah pusat
pemujaan Dewa Kehidupan lokal dan Dewa Pengetahuan-- sebelum taman ini menjadi taman
kepunyaan Yahweh sendiri? Bukti toponimis yang ada jelas menunjukkan ke arah ini. Diteliti dalam
susunan referensi ini, kisah menurut Bibel mengenai taman ini mungkin dapat menghasilkan
pengertian-pengertian baru yang, seperti penelitian atas masalah Melchizedek, dapat memberikan
pengetahuan yang lebih mendalam tentang asal mula monoteisme di Arabia Barat kuno. Namun
penelitian yang semacam itu atas cerita ini tidak akan dilakukan di sini.
Akan tetapi yang patut diperhatikan adalah bahwa Qur'an tidak berbicara mengenai sebuah Taman
Eden saja, tetapi mengenai 'Taman-taman Eden', dalam bentuk bentuk jamak, dan juga mengenai
'sungai-sungai' (anhar), bukan hanya sebuah 'sungai' (nahr) saja, yang mengalir di bawah tamantaman itu. Secara menyeluruh, ada sebelas referensi di dalam Qur'an mengenai 'Taman-taman Eden'
ini, dan bukan hanya mengenai sebuah taman saja, sehingga kita menduga-duga berapa sebenarnya
taman-taman yang ada. Lebih penting lagi, ada dua buah sebutan Qur'an yang memberi petunjuk
tentang adanya hubungan yang erat antara taman-taman dan pemujaan-pemujaan keagamaan
tradisional yang mungkin merupakan penjelasan terhadap penyebutan dalam Bibel mengenai
pengangkatan 'cherubim', atau 'pendeta-pendeta', sebagai pengawas-pengawas taman Eden itu.
Menurut teks Qur'an, Nabi Muhammad diberitahu oleh 'kebanyakan orang' bahwa mereka tidak sudi
mengakui tugas keagamaannya kecuali kalau ia dapat menunjukkan bahwa ia mempunyai 'sebuah
kebun pohon-pohon palem dan anggur dengan sungai-sungai yang deras' (17:89-91). Menurut
sebuah teks yang lain, orang-orang bertanya-tanya bagaimana Nabi Muhammad dapat mengakui
dirinya sebagai seorang rasul kalau ia memakan makanan biasa, dan berjalan-jalan di pasar-pasar,
dan tidak memiliki sebuah 'kebun khusus ia mendapatkan makanannya' (25:7-8).
Dari taman-taman di Arabia Barat kuno ini, yang Taman Eden dalam Bibel dan 'cherubim'-nya
merupakan purwa rupa, kita hanya mengetahui secara langsung satu di antaranya yang masih pada
dasawarsa permulaan abad ke-7 Masehi. Taman ini ialah taman milik pendeta tinggi Maslamah dari
Yamamah, seorang monoteis Arab, yang sezaman, tetapi bukan pengikut Nabi Muhammad. Taman
ini disebut Hadiqat al-Rahman, al-Rahman (rhmn, 'Yang Maha Pengampun'), yaitu nama Tuhan Esa
di beberapa pemujaan monoteisme Arab pada zaman pra-lslam. Sewaktu Nabi Muhammad masih
hidup, Maslamah bersedia mencapai persetujuan dengannya. Namun setelah wafatnya Nabi
Muhammad, ia bertengkar dengan pengganti-pengganti Nabi Muhammad, dan Khalifah yang
pertama, yaitu Abu Bakr (632-634 M.), mengerahkan pasukan-pasukannya guna menundukkannya.
Menurut sejarawan-sejarawan Arab, seruan perang Maslamah dan para pengikutnya adalah: 'Ke
Taman! Ke Taman!'. Kenyataannya, konon pertahanan terakhirnya melawan pasukan-pasukan Islam
adalah di balik tembok-tembok tamannya tempat ia dan sepuluh ribu pengikutnya melakukan
perlawanan sampai mereka terbunuh.
Suatu pikiran yang menarik: mungkinkah Maslamah, dengan taman keramatnya, merupakan
cherubim Arabia Barat yang terakhir?
17. NYANYIAN DARI PEGUNUNGAN JIZAN
Idealisasi kehidupan pedesaan tampaknya dahulu sama populernya di istana Yerusalem Arab dengan
di Versailles pada zaman kekuasaan keluarga Bourbon yang belakangan. Kita harus tetap mengingat
ini sewaktu mempertimbangkan sifat 'Kidung Agung' yang merupakan (syr h-syrym 'sr l-slmh)
Sulaiman, sebuah bunga rampai lagu-lagu rakyat yang membicarakan percintaan antara para
gembala dan para pemelihara kebun anggur, rupanya disusun oleh salah seorang raja Yudah yang
belakangan, walaupun memakai nama Sulaiman. Bunga-rampai ini dipelihara di antara ktwbym
(atau 'kitab-kitab') Ibrani dan akhirnya menjadi bagian Bibel sejajar dengan 'kitab-kitab' pepatah dan
kearifan lain yang dihubungkan dengan Sulaiman.
Secara tradisional umat Yahudi telah menafsirkan bahan erotik yang berani yang ada dalam 'Kidung
Agung' sebagai suatu rangkaian bunga-rampai yang menunjukkan cinta Tuhan terhadap Israil. Umat
Kristen memandang sebutan-sebutan yang sama itu sebagai ramalan dalam bentuk bunga-rampai
yang berkenaan dengan cinta Kristus terhadap gereja. Namun bagi pendengaran telinga Arab, makna
lirik-lirik yang termasuk dalam 'Kidung Agung' itu adalah jauh lebih ringan: lirik-lirik itu
mempunyai arti tepat seperti yang dikatakannya, yaitu merupakan contoh-contoh awal gaya sastra
erotik yang kini masih sangat populer.
Nyanyian yang mirip dengan itu banyak terdapat dalam kesusastraan Arab klasik, dan kita dapat
mendengarkan bentuk modern daripadanya di seluruh pelosok Timur Dekat. Pada pertemuanpertemuan ramah-tamah di mana saja terdapat hiburan musik. Peniruan nyanyian-nyanyian ini,
seperti halnya lagu-lagu rakyat dari seluruh dunia, telah mendapat tempat di ruang-ruang musik dan
gramofon-gramofon otomat di kalangan Arab dan popularitas mereka membuktikan semangat tradisi
mereka.
Dalam lagu-lagu rakyat Arab yang hidup ini, seperti dalam 'Kidung Agung' dalam Bibel, muda-mudi
yang sedang dimabuk asmara berubah menjadi rusa-rusa jantan dan betina yang gemar akan janjijanji rahasia untuk bertemu di perkebunan anggur dan tenda-tenda orang Badwi. Mengetuk pintu
atau memasuki sebuah perkebunan anggur guna memetik buah (terutama buah delima dan anggur),
atau mengambil dengan bebas madu atau susu, merupakan petunjuk-petunjuk yang cukup cerdik
kepada perayuan erotik yang kita semua tahu apa itu sebenarnya.
Dalam 'Kidung Agung', yang jatuh cinta adalah Sulaiman (shlomoh atau slmh), dan yang
dicintainya, yang dikenali melalui namanya, adalah Shulammite (swlmyt), bentuk feminin slmh atau
Salomo (lihat di bawah). Dalam lagu tradisional Arab, gadis yang dicintai sering disebut Salma
(bentuk feminin nama Salman, yang merupakan padanan kata Arab dari nama Ibrani shlomoh, atau
Salomo). Seperti halnya Shulammite dalam Bibel, Salma Arab dipuji dalam puisi klasik dan dalam
lagu modern karena kecantikannya yang kehitaman; ia sejak dahulu digambarkan sebagai 'hitam
tetapi molek'.
Tentunya kesamaan yang erat antara 'Kidung Agung' dan puisi cinta Arab sebelumnya telah
dikomentari oleh para ahli. Baru-baru ini, Morris Seale menulis:
Menurut hemat saya, Kidung ini paling mudah dimengerti kalau dibandingkan bersama puisi erotik
yang berasal dari Arabia. Yang langsung menarik perhatian pelajar-pelajar puisi cinta Arab kuno
adalah kesamaan yang besar antara puisi kaum pengembara seperti ini dengan curahan-curahan
dalam Kidung Agung. Kesamaan ini adalah pada pokok pembicaraan, gaya sastra dan pada
tamsilnya. Shulammit yang dicintai dalam Kidung Agung adalah saudara perempuan dari sejumlah
wanita cantik yang dikenal oleh para pecinta-penyair (seorang penyair sekaligus pandai bercinta).
Penyair-penyair ini tinggal di kota tetapi pikiran mereka mengembara di padang pasir. Bahasa Arab
modern penuh dengan contoh-contoh semacam ini. Kumpulan puisi yang berhawa nafsu ini (dengan
kata lain Kidung Agung) menunjukkan pada jiwa khas suatu bangsa pada zaman liar dan kehidupan
bebas. Begitu saja, ini merupakan suatu monumen sejarah pengembaraan kaum Ibrani pada waktu
kenikmatan dan penyelenggaraan percintaan badaniah lebih penting dari rasa takut terhadap
Tuhan.[1]
Namun pertanyaannya tetap adalah tepatnya dari mana adat dan pengetahuan erotik yang diabadikan
dalam Kidung Agung itu berasal? Seperti yang saya harapkan, tempat asalnya adalah tidak lain dari
tanah Bibel yang asli, yaitu Asir.
Menilai dari nama-nama tempat yang disebutkan di dalam lagu-lagu percintaan ini, mereka pada
mulanya mestinya berasal dari pegunungan dan bukit-bukit di pedalaman Jizan --sebuah setengah
lingkaran punggung pegunungan yang indah sekali, sebagian gersang dan sebagian berhutan lebat
dan sebagian lagi bertingkat-tingkat untuk ditanami, yang memandang ke bawah lembah-lembah
subur gurun pesisir Jizan yang luas. Sewaktu Philby mengunjungi tempat ini, ia terpesona akan
keindahan pemandangannya. Lebih lagi, perasaan sadarnya digetarkan oleh alunan lagu dari sisi
gunung yang dimainkan oleh tiupan suling seorang gembala (Arabian Highlands hal. 488), dan ia
pun menyesali karena tidak membawa 'sebuah alat yang dapat merekam lagu-lagu rakyat yang
merdu' penduduk setempat itu (hal. 503) --sesuatu yang tidak dikatakan Philby yang berkenaan
dengan bagian-bagian di Asir lainnya. Juga pada zaman Bibel, tidak ada cara yang dapat merekam
lagu-lagu rakyat setempat agar dapat mengabadikannya. Namun, sebagian dari lirik-lirik itu berhasil
dipertahankan.
Bagaimana, kapan dan mengapa Kidung Agung disusun adalah di luar jangkauan studi ini; dan
pengetahuan sejarah tekstual Bibel saya pun tidak cukup untuk mengerjakannya. Akan tetapi, yang
saya yakin adalah bahwa pengetahuan adat istiadat yang terkandung di dalam Kidung Agung hanya
mungkin berasal dari pegunungan Jizan. Di negara mana saja, lagu-lagu rakyat seringkali diciptakan
oleh penyanyi-penyanyi pengembara yang telah mengunjungi berbagai tempat, dan kadang-kadang
ingin sekali menunjukkan keakraban mereka dengan tempat-tempat yang telah mereka kunjungi.
Lebih lagi, dengan jalan menyebutkan nama-nama pelbagai distrik dalam lagu-lagu mereka, para
penyanyi pengembara ini membuat lagu-lagu mereka langsung dapat dimengerti oleh para
pendengarnya di mana pun mereka berada. Seorang penyanyi pengembara bahkan dapat menukarkan
nama-nama tempat dalam sebuah lagu tertentu selagi menyanyikannya di suatu distrik satu atau yang
lain guna menyenangkan hati pelbagai pendengarnya. Yang berikut ini adalah tempat-tempat yang
disebut di tempat lain yang semuanya terletak di distrik-distrik wilayah Jizan. Ini penting, karena
pengenalan semacam itu dapat menjelaskan banyak sebutan-sebutan dalam teks-teks Ibrani bunga
rampai puisi-puisi cinta kuno yang sangat menarik ini, yang kalau tidak demikian tetap akan tidak
jelas.
Pertimbangkanlah yang berikut ini:
1. 'Saya hitam sekali, tetapi elok, hai putri-putri Yerusalem, bagaikan tenda-tenda Kedar (qdr),
bagaikan tirai Salomo (yry'wt slmh)' (RSV 1:5). Di sini Kedar mungkin adalah al-Ghadir
(gdr), di daerah perbukitan 'Aridah. 'Tenda-tenda' Kedar disebut sebagai 'hly(m); yry'wt-nya
slmh, di sebutkan bersamaan dengan 'tenda-tenda' Kedar sebagai sangat gelap (dengan kata
lain, hitam), tidak mungkin 'tirai-tirai Sulaiman'. Kata Ibrani yry'wt berarti 'kain tenda', dan
slmh di sini bukanlah 'Salomo', tetapi mungkin desa al-Salamah (pengubahan abjad
lengkapnya slmh), di distrik Abu 'Arish, atau Al Salamah (juga slmh), di ketinggian Dhahran
al-Janub di luar daerah perbukitan Jizan. Maka, baris ini seharusnya berbunyi: 'saya hitam
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
sekali, tetapi elok, hai putri-putri Yerusalem, bagaikan tenda-tenda al-Ghadir, bagaikan kain
tenda al-Salamah'.
'Kekasihku bagi saya adalah kumpulan bunga di perkebunan anggur En-gedi ('yn gdy, 'mata
air' gdy)' (1:14). Referensinya di sini tampaknya adalah kepada 'mata air' al-Jiddiyyin (jamak
Arab dari gdy, atau gdy sebagai genitif gd), sebuah oase yang terkenal di distrik Sabya.
'Saya adalah sekuntum mawar (hbslt, 'asphodel') Sharon (hsrwn), sekuntum bunga bakung
dari lembah-lembah' (2:1). Di sini 'asphodel' Sharon dikenali sebagai sebuah bunga bakung
dari 'lembah-lembah'. Sebenarnya dalam konteks ini Sharon adalah sebuah lembah yang kini
berada di Wadi Sharranah (srn) di daerah perbukitan Hurrath.
'Wahai burung merpatiku, di celah-celah batu (b-hgwy h-sl'), tersembunyi di jurang-jurang
(b-str h-mdrgh) ...' (2:14). Kata Ibrani hgwy h-sl' dapat berarti 'celah-celah batu'. Namun di
sini tampaknya berkenaan dengan sebuah desa di dataran tinggi Rijal Alma' yang kini
bernama Jarf Sala' (grp sl'). Dalam namanya yang sekarang, kata Arab grp adalah sebuah
terjemahan kata Ibrani hgw, yang bertahan dalam dialek Jizan sebagai hqw (disuarakan
haqu), kini dipakai guna menunjukkan kaki punggung sebuah gunung. Kata Ibrani mdrgh,
diakui hanya dalam dua sebutan teks Bibel (yang kedua adalah Yesaya 38:20) dan
diterjemahkan menjadi 'jurang', di sini jelas merupakan sebuah nama tempat - kini alMadrajah (tepatnya mdrgh), di Jabal Harub. Bagi seseorang di wilayah Jizan, dataran tinggi
Rijal Alma' terletak 'di belakang' (b-str, 'tersembunyi') Jabal Harub. Maka baris ini
seharusnya berbunyi: 'wahai burung merpatiku di Jarf Sala', di belakang Madrajah ...'
'Berpalinglah, kekasihku, jadilah seperti seekor rusa, atau seekor rusa jantan di pegunungan
yang tidak rata tanahnya' (hry btr) (2:17). Walaupun btr di sini dianggap berarti 'tidak datar',
kata ini tidak mungkin merupakan sebuah deskripsi dari hry(m), yang berarti 'pegunungan'
atau 'bukit-bukit' (jamak hr), karena btr adalah dalam bentuk tunggal. Referensinya hanya
dapat pada 'pegunungan' atau 'bukit-bukit' Jabal Bani Malik, dan di sini sebuah desa yang
bernama Batar (btr) masih berdiri.
'Rambutmu bagaikan kawanan kambing jantan, yang sedang menuruni lerengan Gilead (hr
gl'd, atau 'Gunung Gilead)' (4:1). Gunung Gilead yang dibicarakan ini mestinya adalah
tonjolan gunung al-Ja'dah ('l-g'd), di Rijal Alma', di seberang Wadi 'Itwad di wilayah Jizan.
'Gigi-gigimu bagaikan kawanan biri-biri betina yang telah dicukur (k-'dr h-qswbwt) yang
telah datang dari pencucian' (4:2). Di sini h-qswbwt jelas adalah nama sebuah tempat, kini alQusaybat (qsybt, dalam bentuk jamak feminin, dan dengan kata sandang tertentu, seperti
dalam bahasa Ibraninya), di perbukitan Hurrath. Tidak ada 'biri-biri betina' yang dapat
ditemukan pada aslinya, dan 'kawanan yang telah dicukur' dalam bahasa Ibrani adalah 'dr
qswb, bukan 'dr qswbwt, dan kata bendanya adalah dalam bentuk tunggal maskulin dan
ajektifnya dalam bentuk jamak feminin. Sehingga: 'gigi-gigimu seperti kawanan Qusaybat
yang telah datang dari pencucian'.
'Saya akan pergi cepat ke gunung myrrh (hnr h-mwr) dan ke bukit menyan (gb't h-lbwnh)'
(4:6). Sebenarnya tidak ada apa-apa yang figuratif dalam baris ini. 'Bukit h-lbwnh, jelas
adalah bukit Jabal al-Lubayn; (lbyny), di distrik Hurrath. 'Gunung myrrh' adalah suatu
referensi kepada salah satu punggung bukit di dataran tinggi Mawr (mwr), kini berada di
Yaman, dan di sana terdapat hulu Wadi Mawr.
'Datanglah bersamaku dari Libanon (lbnwn), istriku ... Berangkat (tepatnya 'turun') dari
puncak Amana ('mnh), dari puncak Senir (snyr) dan Hermon (hrmwn), dari liang-liang singa
(hrry h-nmrym), dari pegunungan macan tutul (hrry h-nmrym)' (4:8). 'Libanon', 'Amana',
'Senir' dan 'Hermon' di sini adalah dataran-dataran tinggi. Lubaynan (lbynn), di selatan
perbatasan Yaman; Yamani (ymn), di distrik 'Aridah; al-Sarran (srn), di Jabal Harub; dan
Khimran (hmrn), di distrik Hurrath. 'Liang-liang singa' adalah sebuah desa masa ini, yaitu al-
Ma'ayin (jamak Arab m'yn) di Jabal Harub, dikenali sehubungan dengan distrik al-Rayth
yang bersebelahan dengannya (al-Rayth diucapkan ar-Rayth, atau 'ryt, bandingkan dengan
kata Ibrani 'rywt). 'Pegunungan macan tutul' jelas adalah punggung-punggung Jabal Dhu
Nimr (nmr, 'macan tutul'), di distrik Hurrath, kecuali kalau referensinya adalah kepada alNumur (jamak bahasa Arab nmr), di distrik Rubu'ah yang bertetangga dengannya.
10. 'Engkau cantik bagaikan Tirzah, kasihku, elok seperti Yerusalem, mengerikan seperti sebuah
pasukan yang membawa panji-panji ('ymh k-ndglwt)' (6:4). Kata Ibrani ndglwt di sini,
diterjemahkan sebagai 'panji-panji' dan ditafsirkan secara bebas menjadi 'sebuah pasukan
yang membawa panji-panji', tidak diakui kebenarannya dalam sebutan-sebutan lainnya di
dalam Bibel. Kata ini jelas merupakan jamak feminin ndgl, yang dianggap sebagai partisip
bentuk np'l dari dg'l, 'mengangkat panji'. Sebenarnya kata ini mestinya berkenaan dengan
suatu barisan bukit di ujung selatan wilayah Jizan yang kini bernama al-Janadil (jamak Arab
dari gndl, 'batu besar', dan ndgl merupakan suatu metatesis). Dapat ditambahkan di sini
bahwa 'ymh k-ndglwt mungkin berarti 'mengagumkan seperti al-Janadil' dan bukan
'mengerikan seperti al-Janadil', karena pegunungan dan bukit-bukit di pedalaman Jizan
benar-benar megah sekali. Untuk 'Tirzah' dan 'Yerusalem' di dalam Bibel, masing-masing
lihat Bab 9 dan 10.
11. 'Saya pergi ke kebun kacang (gnt 'gwz), untuk melihat bunga-bunga lembah, untuk melihat
apakah tanaman-tanaman anggur telah berpucuk, melihat apakah pohon-pohon delima telah
berbunga' (6:11). Di sebuah perkebunan kacang, seseorang mestinya mengira akan dapat
melihat pohon-pohon kacang, bukan kumpulan bunga-bunga, pohon anggur dan pohonpohon delima. Lebih lagi, 'kebun kacang', dalam bahasa Ibrani, mestinya diterjemahkan
sebagai gnt h-'gwz, sekalipun 'gwz berarti 'kacang', atau 'pohon kacang' (istilah ini tidak
diakui kebenarannya di tempat-tempat lain dalam Bibel Ibrani, dan dianggap berarti 'kacang'
sebagian besar dibandingkan dengan kata Arab gwz). Namun, yang dipermasalahkan di sini
adalah nama sebuah tempat, kini desa al-Janat (gnt) di distrik Bal-Ghazi (atau Bani al-Ghazi,
gzy, bandingkan dengan 'gwz dalam Bibel --suatu daerah dan di sini kaki-kaki bukit Jabal
Faifa dan Jahal Bani Malik bergabung dengan gurun pasir pesisir Jizan. 'Lembah' di sana
mungkin sebuah di antara beberapa cabang Wadi Sabya atau Wadi Damad yang subur.
12. 'Kembalilah, kembalilah, wahai Shulammite (h-swlmyt), kembali, kembali, agar kita dapat
memandangmu (w-nhzh bk). Mengapa engkau harus memandang Shulammite (mh thzw bswlmyt), seperti memandang sebuah tarian di depan dua buah pasukan (k-mhlt h-mhnym)?'
(RSV 6:13; Bibel Ibrani 7:1). Di sini, swlmyt, bentuk feminin genitif swlm, mungkin
berkenaan dengan seorang gadis dari sebuah desa yang kini adalah desa al-Shamla (sml), di
wilayah suku Salamah (slm), di Jabal Bani Malik. Beberapa di antara para ahli berpendapat
bahwa ada kemungkinan ini sebenarnya merupakan nama seorang gadis, yang menurut
hemat saya lebih masuk akal, mengingat bahwa nama ini disebutkan dalam baris yang serupa
sekali waktu dengan, dan sekali waktu lagi tanpa kata sandang tertentu (sebuah ciri yang
biasa dari beberapa nama perorangan Arab sampai kini). Begitu saja, nama ini mungkin
merupakan padanan kata Salma (slm', bentuk feminin dari slmn) -- purwa-rupa puitis dari
sang kekasih yang begitu sering disanjung-sanjung dalam lagu lagu Arab kuno dan modern.
Dalam baris yang dibicarakan, diterjemahkan seperti biasanya, Shulammite ini dibandingkan
dengan tarian antara dua buah pasukan (atau dua perkemahan, mhlt h-mhnym), yang tidak
masuk di akal. Akan tetapi, akar kata kerja mhl, adalah hlh, yang dalam bahasa Arab diakui
sebagai (hly) dalam pengertian 'menghiasi'; sehingga kata Arab (dan juga Ibrani) hly sebagai
sebuah kata benda yang berarti 'perhiasan wanita'. Sebagai kata benda hlh, mhlh dapat juga
berarti 'perhiasan'. Maka baris itu dapat diterjemahkan kembali menjadi: 'Kembalilah,
kembalilah, wahai Shulammite ... agar kita dapat memandangmu. Mengapa engkau
memandang (mh thzw) Shulammite sebagai perhiasan perkemahan-perkemahan?'
13. 'Lehermu bagaikan menara gading (mgdl h-sh). Matamu bagaikan kolam-kolam di Heshbon
(hsbwn), di dekat gerbang Bath-rabbim ('l s'r bt-rbym). Hidungmu bagaikan menara Libanon
(mgdl h-lbnwn), yang melihat ke bawah Damsyik (Damaskus) (swph pny dmsq). Engkau
bermahkotakan kepalamu yang seperti Carmel (r'sk 'lyk k-krml), dan gumpalan rambutmu
yang panjang (dlt r'sk) bagaikan ungu; seorang raja ditawan di dalam rambutmu (k-'rgmn mlk
'swr b-rhtym)' (RSV 7:4-5); Bibel Ibrani 7:5-6). Di antara nama-nama tempat yang dikenali
di sini, Heshbon dan Bath-rabbim yang tidak dapat disamakan dengan nama-nama tempat
yang bertahan yang dikenal di wilayah Jizan atau di daerah-daerah sekelilingnya, kecuali
kalau Heshbon adalah punggung-punggung bukit (dan bukan mata air) Shihb (shb, metatesis
hsb tanpa kata sandang kuno tertentu yang berakhiran, yaitu n) di Rijal Alma', dan Bathrabbim adalah Sha'b al-Baram (brm, metatesis rbym) di wilayah yang sama. 'Libanon' atau
Lubaynan di Yaman Utara telah dikenali; ia terletak di seberang wilayah Jizan dari Jabal
Bani Malik dan di sini terdapat sebuah 'Damsyik' (kini desa Dha Misk, atau dmsk,
bandingkan dengan dmsq dalam Bibel). 'Carmel', atau Kirmil (krml) disebutkan oleh ahli-ahli
geografi Arab sebagai sebuah punggung bukit di wilayah Jizan, nama masih tetap dipakai
oleh Karamilah (orang-orang krml), sebuah suku Wadi Jizan. Yang tidak dikenal sebagai
nama sebuah tempat adalah h-sn (mgdl h-sn, dianggap berarti 'menara gading'), yang
kemungkinan besar berkenaan dengan al-Sinn (sn), di wilayah Muhayil, atau al-Shanu (sn),
sebuah desa di punggung bukit yang terpisah di Jabal Dirim, di wilayah Ballasmar yang
bertetangga dengannya. Kalimat dalam bahasa Ibrani dlt r'sk k-'rgmn mlk 'swr b-rhtym, yang
sampai kini diperlakukan sebagai dua kalimat yang terpisah ('gumpalan rambutmu yang
panjang seperti ungu; seorang raja ditawan di dalam rambutmu'), sebenarnya adalah satu
kalimat. Di sini dlt berarti 'rambut yang kusut', atau hanya 'rambut' saja, dan bukan 'gumpalan
rambut'; 'rgmn berarti 'kain wil', atau 'kain wol yang dicelup', dan bukan 'ungu' (lagi pula
adakah rambut yang berwarna ungu?); 'swr adalah sebuah nama tempat, Al Yasir (ysyr), di
wilayah Tanumah di Sarat, dan bukan sebuah kata benda biasa yang berarti 'tawanan'; rhtym
(jamak rht), adalah padanan kata dari kata Arab rihat (jamak gabungan rht), yang diakui
dalam pengertian permadani, kain pembalut, perabot tekstil, dan tidak mempunyai arti
'rambut'. Penterjemah-penterjemah Kitab Bibel sebenarnya telah mengakui bahwa mereka
ragu-ragu akan penterjemahan atas kalimat ini, yang seharusnya berbunyi: 'Rambut kepalamu
bagaikan permadani-permadani Raja Asur (Al Yasir)' yang masuk di akal. Permadanipermadani wol, diwarnai dengan bahan celup dari sayur-sayuran setempat (kini makin
bertambah diwarnai dengan bahan celup buatan) masih tetap dibuat di Sarat dan dijual di
pasar-pasar Abha dan Khamis Mushait.
14. 'Sulaiman mempunyai sebuah perkebunan anggur di Baal-hamon (b'l hmwn)' (8:11). Kalau
kita menganggap b'l sebagai b-'l, maka kata ini akan berarti 'di atas', atau 'di ketinggian',
bukan 'Baal'. Hamon (hmwn) mestinya adalah Wadi Haman (hmn), di distrik Hurrath. Maka
kalimat itu seharusnya berbunyi: 'Sulaiman mempunyai sebuah perkebunan anggur di daerah
ketinggian Haman'.
15. 'Bergegaslah, kekasihku, seperti seekor rusa jantan muda di pegunungan rempah-rempah (hry
bsmym)' (8:14). Referensinya di sini mungkin kepada dua tempat yang bernama Bashamah
(bsm) di wilayah Jizan, satu di daerah perbukitan al-'Aridah, dan yang satu lagi di daerah
perbukitan yang membatasi Wadi 'Itwad. Kalau saja kedua Bashamah ini terlihat, maka hry
bsmym seharusnya dibaca dalam bentuk ganda dan bukan dalam bentuk jamak.
Kidung Agung bukanlah satu-satunya contoh cerita rakyat pegunungan Jizan yang dapat ditemukan
dalam Bibel Ibrani. Satu lagi terdiri dari Mazmur yang berhubungan dengan 'putra-putra' Korah (bny
qrh, lihat Catatan 1 Bab 9). Seperti yang telah dikatakan, 'putra-putra Korah' ini merupakan sebuah
suku pedalaman pegunungan Jizan. Namanya bertahan di sana sebagai nama desa al-Qarhah (qrhn),
di Jabal Faifa, dan nama desa al-Qarhan (qrhn), di Jabal Bani Malik, nama yang belakangan ini
adalah padanan kata Arab qrhym (jamak Ibrani qrh), yang berarti rakyat qrh, atau suku qrh.
Isi Kidung Agung, seperti yang telah dikatakan, mestinya disusun bukan pada zaman Sulaiman,
tetapi di bawah pengganti-penggantinya. Sebenarnya ada sebuah bukti yang menunjukkan bahwa
Kidung Agung ini dikumpulkan beberapa waktu setelah wafatnya Sulaiman dan terpisahnya
kerajaannya, pada saat keturunan-keturunannya memerintah sebagai raja-raja Yudah di 'Yerusalem',
sewaktu saingan-saingannya, yaitu raja-raja Israil, tinggal di 'Tirzah'. Dalam baris yang berbunyi
'Engkau cantik bagaikan Tirzah, kekasihku, elok bagaikan Yerusalem', disebutkannya kedua nama
ini secara sejajar di dalam satu kalimat menandakan bahwa kedudukan kedua kota ini dianggap
berada pada tingkat yang sama. Persamaan kedudukan semacam ini tidak mungkin ada pada zaman
Raja Sulaiman, sewaktu 'Tirzah' masih merupakan sebuah tempat yang kurang dikenal di dataran
tinggi Ghamid (lihat Bab 10), sedangkan 'Yerusalem' sudah merupakan ibukota 'Seluruh Israil'.
Kalau pengubahan Kidung Agung dari Palestina ke Asir agaknya hanya sedikit membantu dalam
pengertian kita terhadap Bibel --salah penterjemahan nama-tempat menjadi bunga-bunga padang
pasir-- tidak begitu banyak mengubah makna Kidung Agung; bagaimanapun juga, contoh-contoh
yang telah saya pilih dapat membuka pikiran. Bukan hanya bahwa lirik Ibrani Kuno ini menambah
ketepatan geografis; tetapi lebih penting lagi lirik-lirik ini mendorong kita untuk mengakui bahwa itu
tegas-tegas berasal dari suatu tempat. Inilah yang tidak dibedakan oleh kebanyakan pembaca Bibel,
sisa-sisa ikatan kekeluargaan yang menyebabkan mereka meremehkan sampai sejauh mana teks-teks
ini ditulis dalam sebuah bahasa yang benar-benar dipergunakan oleh suatu bangsa yang benar-benar
ada, tinggal di suatu tempat tertentu pada suatu zaman tertentu.
Yang ditunjukkan secara jelas oleh pembacaan kembali Kidung Agung dalam Bibel Ibrani adalah
bahwa walaupun sebutan-sebutan yang nampaknya secara puitis benar, pengaruhnya lebih bersifat
prosa meskipun ditafsirkan secara benar. Lebih cepat lagi kita mengakui bahwa tanah Asir yang
kuno dan subur itu ialah tempat asalnya beberapa kepercayaan sebagian umat manusia yang paling
dihargai, lebih cepat pula kita dapat mengerti bagian peninggalan yang penting itu.
EPILOG
Tentunya seseorang dapat terus-menerus menafsirkan kembali geografi Bibel Ibrani dalam
pengertian Arabia Barat dan bukan Palestina. Namun bagi penelitian ini jumlah masalah yang
dibahas sudah cukup banyak. Suatu saat jika ada generasi ahli Bibel baru yang memutuskan untuk
menanggalkan apa yang saya anggap tradisi-tradisi kuno di dalam keahlian mereka yang sudah tak
terpakai lagi maka keseluruhan teks Bibel Ibrani akan ditafsirkan dengan benar. Kata-kata yang
sampai kini dianggap sebagai kata kerja, kata sifat, kata benda, dan gerund bahkan beberapa kata
tambahan, akan dikenal; sebagai nama-nama tempat, sedangkan kata-kata yang sampai kini
dianggap sebagai nama-nama tempat mungkin sebenarnya mempunyai arti yang lain. Jika
dimasukkan ke dalam komputer bersamaan dengan berbagai nama-nama tempat di Arabia Barat
yang telah terdaftar, nama-nama tempat menurut Bibel yang telah diketahui maupun yang belum,
semua --atau hampir semua-- akan dikenali dengan benar. Atlas-atlas Bibel yang baru, yang sama
sekali lain dari yang kita kenal sekarang, akan disusun dan diterbitkan sebagai petunjuk-petunjuk
yang benar bagi para pembaca Bibel.
Sampai sejauh ini saya telah menahan diri untuk menghadapi pertanyaan yang mau tidak mau timbul
dari penelitian saya atas geografi Bibel: Apakah semua ini akan mempengaruhi Bibel sebagai sebuah
kitab keagamaan? Tentu jawabannya adalah 'ya', dalam pengertian bahwa hasil penelitian ini akan
memperkuat kebenaran sejarah menurut Bibel sampai suatu tingkat yang tak terduga. Alhasil kita
dapat memperoleh pengertian yang mendalam terhadap asal mula, perkembangan serta ciri khas
agama Yahudi dan Kristen --pengertian yang berdasarkan ketepatan ilmiah, bukan atas dugaan, yang
jika dibandingkan dengan apa yang sampai kini telah ditulis mengenai masalah ini akan membuat
karya-karya lama tersebut tampak tak akan dapat dipertahankan lebih lama lagi, kalau tidak akan
dikatakan tidak bermutu. Jika dipelajari dengan benar berkenaan dengan geografinya yang benar,
Bibel akan berdiri sebagai sebuah kitab sejarah yang tidak lagi perlu dibuktikan kesejarahannya
melalui kelicikan-kelicikan --dan jelas tidak melalui arkeologi Bibel yang bersikeras mencari tanah
Bibel pada tempat yang salah. Sejarah lama seluruh Timur Dekat jika dipelajari kembali berkenaan
dengan penafsiran Bibel yang lebih tepat dalam lingkungan geografi yang semestinya akan lebih
masuk akal.
Walaupun demikian, alangkah baiknya jika kita mengingatkan diri kita sendiri bahwa Bibel Ibrani
adalah suatu warisan umat manusia yang sangat berharga, dan akan tetap demikian tanpa
menghiraukan apakah kitab ini ditulis di Palestina atau di Arabia Barat. Bangsa Israil kuno akan
tetap dipandang selayaknya sebagai suatu bangsa agung yang merupakan penyumbang utama pada
peradaban manusia, di mana pun mereka dahulu menetap, apakah itu Palestina atau Asir, atau
apakah Yerusalem mereka Yerusalem sekarang atau sebuah desa di Arabia Barat yang bernama AlSharim. Geografi dapat membuat sejarah berbeda, tetapi tidak dapat membuat ketetapan bersejarah
berbeda, apalagi agama dan kepercayaan yang merupakan masalah-masalah yang samasekali berada
dalam golongan yang berbeda. Maka dari itu, sekalipun tesis saya mungkin akan menimbulkan
kekhawatiran --dan lebih mungkin lagi kesangsian-- yang saya mohon hanyalah agar bukti-bukti
yang telah saya kemukakan seharusnya dipelajari dengan teliti berkenaan dengan penelitian ilmiah
yang tidak memihak pada suatu pendapat. Bibel bagaimanapun juga adalah tetap Bibel, dan tak akan
ada yang dapat mengurangi pentingnya Bibel sebagai sebuah kitab yang mengabadikan kearifan
yang telah menentukan jalannya peradaban dan telah meneruskan kepercayaan semua pengikutpengikut yang taat. Yang penting adalah artinya bagi umat manusia, bukan konteks geografis dengan
peristiwa-peristiwa yang digambarkannya sebenarnya terjadi.
Catatan Kaki:
1. DUNIA YAHUDI KUNO
1. Istilah 'Semit', dipakai untuk menggambarkan bangsa yang berhubungan dengan bangsa Ibrani dan bahasabahasa mereka, pertama kali diperkenalkan oleh A. L. Schlozer dalam tahun 1781. Istilah ini berasal dari kata
Shem (sm) dalam Bibel, putra Nabi Nuh dan yang dianggap sebagai leluhur orang-orang Israil dan bangsa-bangsa
lain menurut Bibel. Bibel Ibrani berbicara mengenai bangsa-bangsa keturunan Shem tanpa menggambarkan
mereka sebagai orang-orang 'Semit'.
2. Bahasa tersebut mungkin disebut dengan nama ini pada masa silam. Sebuah sebutan Bibel, yaitu Yesaya 19:18,
menyebutkan 'bahasa Kanaan' (spt kn'n), agaknya berarti bahasa Ibrani.
3. Kemudian akan ditunjukkan melalui analisa toponimis bahwa tanah Kanaan menurut Bibel terletak di sisi
maritim Asir, bukan di Palestina dan pesisir Suria, seperti yang biasanya diduga. Mendasarkan hampir sebagian
besar argumentasi mereka pada bukti-bukti dalam Bibel, yang ditafsirkan dengan salah, para ahli telah
menganggap bahwa bangsa Aramaea (Aram) pada mulanya merupakan penghuni daerah Suria bagian utara di
sebelah barat sungai Efrat. Namun, sebuah penelitian kembali atas bukti-bukti menurut Bibel menunjukkan
kepada kita bahwa yang disebut oleh Bibel Ibrani sebagai Aram (konsonan 'rm) sebenarnya adalah Arabia Barat.
Aram Naharim ('rm nhrym, Kejadian 28:2 dan sebagainya), contohnya, jelas bukan Mesopotamia, tetapi
merupakan Naharin (nhryn) kini di dekat Taif (al-Ta'if), di Hijaz bagian selatan. Maka dari itu, kita harus
menyimpulkan bahwa Paddan-aram (pdn 'rm, Kejadian 28:2 dan sebagainya) adalah Dafinah (dpn) di dekatnya,
di daerah sekitar Mekah, bukan Mesopotamia. Begitu pula beberapa nama yang lain yang oleh Bibel Ibrani
diasosiasikan dengan Aram Beth-rehob, Aram Zobah dan bahkan Damaskus (Dha Misk di Arabia Barat, atau d
msk, bandingkan dengan kata Ibrani dmsq) - mungkin kini dapat ditemui namanya di Hijaz dan Asir. Wadi
Waram (wrm) juga memakai nama Aram kuno di sana. Kebetulan juga, Iram ('rm, Qur'an 89:7) di dalam Qur'an,
sebagai nama tempat, secara konsonan sama dengan Aram dalam Bibel, yang juga adalah 'rm. Qur'an
menghubungkan tempat ini dengan Dhat al-'Imad. Al-'Imad kini merupakan sebuah desa di dataran tinggi Zahran
(Zahran), sebuah daerah di sebelah selatan Taif, dan di sini sebuah daerah Aram setempat bertahan sebagai desa
Aryamah ('rym). Terus-terang saja, kita tidak dapat mengatakan dengan pasti sampai seberapa jauh luas tanah di
Arabia Barat menurut Bibel itu, tetapi tanah ini jelas mencakup daerah-daerah selatan Hijaz.
4. Zellig S. Harris, A Grammar of the Phoenician Language (New Haven, Conn., 1936), halaman 7, catatan 29.
Harris menyebutkan bukti-bukti selanjutnya yang menandakan bahwa bangsa Funisia (Phoenicia), di sepanjang
pantai Suria dan di tempat-tempat lain, sebenarnya menyebut diri mereka bangsa Kanaan.
5. Bukti Herodotus mengenai hal ini, seperti mengenai hal-hal lain yang berkenaan dengan sejarah Timur Dekat
kuno, biasanya tidak ditanggapi dan dianggap tidak berharga oleh para sejarawan dan para ahli purbakala modern
di daerah itu. Tentunya mereka secara sombong memperlakukannya dengan demikian, karena bukti-bukti ini
tidak cocok dengan anggapan-anggapan mereka yang sebagian besar berdasarkan pada penafsiran yang salah atas
bahan-bahan geografis dan topografis Bibel Ibrani. Gagasan bahwa Laut Merah Herodotus bukanlah Laut Merah,
melainkan Teluk Parsi tidak perlu dipercaya, karena hanya sedikit sekali bukti yang ada guna mendukungnya.
6. Herodotus (2:44) melaporkan, mengenai kekuasaan pendeta-pendeta kota Funisia Tyre pada zamannya, bahwa
kota ini didirikan 2.300 tahun sebelumnya.
7. Tyre menurut Bibel (bahasa Ibrani sr) bukanlah sebuah kota di tepi 'laut' (bahasa Ibrani ym), tetapi apa yang
kini merupakan oase utama Zur (zr), yang bernama Zur al-Wadi'ah, di wilayah Najran, berdiri di ujung daerah
Yam (ym), berbatasan dengan gurun Arabia Tengah. 'Kapal-kapal'-nya (bahasa Ibraninya ialah 'wnywt)
sebenarnya adalah kafilah-kafilah binatang beban (bahasa Arabnya 'nyt, 'kantung-kantung pelana'), dan tempattempat mereka berdagang dapat dikenali melalui nama-nama mereka di pelbagai bagian Arabia. Kitab Bibel
berbicara mengenai Raja Hiram (hyrm) dari sr, atau 'Tyre'; tidak ada raja kuno dengan nama ini yang diakui
untuk kota Tyre di Libanon, karena nama Phoenicia Ahiram (hrm bukan hyrm) adalah seorang raja Byblos, yang
merupakan tempat yang lain samasekali Gebal (gbl atau qbl) termasuk dalam nama-nama tempat yang sering
dipakai di Arabia Barat, sebuah Gebal tertentu, dekat Tyre Bibel, adalah Al-Qabil (qbl), di wilayah Najran.
Arwad di Arabia Barat kini adalah Riwad (rwd), di dataran tinggi Asir; Sidon dalam Bibel dibahas dalam Bab 4.
Menurut para ahli Geografi Arab, Lubaynan (lbynn, tanpa vokal lbnn, atau 'Libanon') adalah nama dataran tinggi
yang kini berada di tengah-tengah perbatasan antara Asir dan Yaman. Di kaki perbukitan pantai daerah ini,
sebuah desa yang bernama Lubayni (lbyny) masih tetap ada. Pohon-pohon araz (cedar) Libanon yang tertulis
dalam Bibel mestinya adalah tumbuhan jenever raksasa Lubaynan di Arabia Barat, dan salju Libanon yang
dikatakan dalam Kitab itu, tidak disangkal lagi adalah salju setempat (lihat Bab 2).
8. Carmel di Arabia Barat adalah Kirmil (juga krml), yang disebutkan dalam kamus geografi Arab Yaqut (4:448)
sebagai sebuah punggung bukit pesisir di ujung selatan Asir, berbatasan dengan Yaman, sehingga terletak tepat di
sebelah barat Libanon Arabia Barat (lihat Catatan 7). Ini menjelaskan mengapa Gunung Carmel kadang-kadang
disebutkan sehubungan dengan Gunung Libanon dalam teks-teks Bibel, salah satu di antaranya yang tidak
terduga adalah Yesaya 29:17, sb lbnwn l-krml, yang dianggap berarti 'Libanon akan diubah menjadi ladang yang
subur', tetapi sebenarnya berarti 'Libanon akan berubah (atau kembali) menjadi Carmel'.
9. Nama-nama tempat yang sepadan dengan kata Ibrani glyl (berarti 'lerengan yang berteras-teras') adalah biasa di
dataran tinggi Arabia Barat. Salah satu di antaranya adalah Wadi Jalil (glyl) di Hijaz Selatan, di sebelah Tenggara
Taif.
10. Hrmwn dalam Bibel (dalam metatesis dari hrmn atau hmrn) bertahan sebagai nama tidak kurang dari lima
tempat di Hijaz bagian selatan dan Asir yang bernama Hamran atau Khamran.
11. Wadi Adam, yang bersumber di dataran tinggi mengalir ke arah Laut Merah, kadang-kadang disebut di dalam
Bibel Ibrani sebagai nhr prt, yang membuatnya mudah dikelirukan dengan Furat (Efrat) Mesopotamia.
Kebingungan ini diperbesar oleh deskripsi nhr prt sebagai h-nhr h-gdwl, 'sungai besar' dalam Kitab Bibel, dan
Wadi Adam merupakan salah satu wadi yang mengalir ke laut yang terbesar di Arabia Barat. Sebenarnya nama
menurut Bibel Wadi ini berasal dari nama desa yang kini adalah Firt (prt), di wilayah yang sama. Seperti halnya
pertempuran Karchemis, pertempuran Karkara (atau lebih tepatnya Qarqara), yang dilakukan oleh bangsa Assyria
melawan raja-raja Amat dan Imerisu dan sekutu mereka Gindibu' dari Aribi dan Ahab dari Israil (Ahabu Sir'ila)
di pertengahan abad kesembilan S.M., sebenarnya terjadi di Arabia Barat, bukan di sepanjang sungai Orontes di
Suria seperti yang biasanya diduga. Amat, yang hingga kini dianggap merupakan sebuah referensi kepada Hamah
di lembah Orontes, di utara Suria, sebenarnya kini adalah desa Amt ('mt), dekat Taif, dan tidak jauh dari
Karchemis dalam Bibel. Imerisu bukanlah Damaskus Suria, seperti yang diduga tanpa berdasarkan pada alasan
apa pun. Di antara beberapa alternatif lainnya di Arabia Barat, diperkirakan Marasha (mrs), di dataran tinggi
selatan Asir lah (wilayah Dhahran al-Janub, lihat Bab 3) yang paling besar kemungkinannya. Gindibu' dari Aribi
biasanya dianggap sebagai seorang kepala suku Arab dari gurun pasir Suria. Sebenarnya sebuah suku yang
bernama Banu Jundub (gndb) masih menempati dataran tinggi Asir Tengah, dan Aribi mestinya kini merupakan
'Arabah ('rbh), sebuah desa di dataran tinggi tempat Banu Jundub masih dapat dijumpai. Karkara sendiri, dalam
hal ini, mestinya adalah Qarqarah atau Qarqara (qrqr) masa ini, di pesisir Asir, di pedalaman Qunfudhah, di
sebelah Selatan Lith. Ada tiga tempat lainnya yang bernama Qarqar (qrqr) juga di Arabia Barat, dan tidak satu
pun yang terletak di wilayah Orontes di Suria. Jika ada kesangsian sehubungan dengan onomastics (ilmu asal kata
dan nama) yang berkenaan dengan Pertempuran Karkara, seperti yang telah ditafsirkan secara geografis, lihat
catatan-catatan dalam James B. Pritchard, ed., Ancient Near Eastern Texts Relating to the Old Testament
(Princeton, 1969; dari sini disebut Pritchard), hal 278-279.
12. Penterjemahan catatan-catatan Mesir (seperti catatan-catatan dalam Pritchard) membingungkan masalah ini
dengan jalan mengenali secara tidak teliti nama-nama yang disebutkan dengan nama-nama tempat Palestina dan
Suria yang telah diketahui, dan bukan menterjemahkan aslinya, seperti yang seharusnya dilakukan. Sama halnya
(seperti dalam Pritchard) dengan catatan-catatan Mesopotamia dan yang lain-lain. Pencarian tempat-tempat yang
dibicarakan harus dilakukan dengan bantuan catatan-catatan asli, bukan terjemahannya.
13. Bangsa Mesir juga tertarik untuk menggunakan kayu jenever Asir (bukan kayu jenis cemara (cedar) Libanon)
sebagai bahan bangunan, dan guna membangun kapal-kapal mereka, karena kayu cemara (cedar) tidak begitu
cocok untuk pekerjaan ini. Untuk melihat kebingungan antara cedar dan jenever, lihat sebutan-sebutan yang
relevan dalam Alessandra Nibbi, Ancient Egypt and Some Eastern Neighbours (ParkRidge, N.J. 1981).
14. Perlu dicatat di sini bahwa para sejarawan Arab pada zaman permulaan Islam, yang karya-karya mereka
mengabadikan tradisi-tradisi Arab yang berhak menerima perhatian serius, menegaskan bahwa Nebuchadnezzar
adalah penakluk Arabia dan menceritakan kisah-kisah penaklukannya di sana.
15. Dinilai melalui Mikha 1:1, ungkapan harapan di 'putri Yerusalem' bertanggalkan abad kedelapan S.M. Sampai
kini, ahli-ahli Bibel telah menganggap ungkapan-ungkapan puitis pada Zion dan Yerusalem, sehingga
meniadakan keharusan adanya informasi bersejarah yang lebih jauh lagi.
16. Kata-kata itu ditujukan kepada Sennacherib, raja Assyria (704-681 S.M.).
17. Mengenai Sabaoth menurut Bibel sebagai kuil pemujaan Yahweh utama di dataran tinggi Asir (kini desa alSabayat, bandingkan dengan 'lhy sb'wt atau yhwh sb'wt dalam bahasa Ibrani), lihat Bab 12.
18. Karir kenabian Zakaria bertepatan dengan awal kekuasaan raja Achaemenid Darius I (522-486 S.M.), ini jelas
diketahui dengan disebutnya Darius dan tahun-tahun kekuasaannya dalam teks ramalan-ramalan Zakaria. Karena
Zakaria 9:13 berbicara mengenai ywn, yang dianggap sebagai suatu referensi pada Yunani (bahasa Yunani
laones), bab ini dan bab-bab berikutnya dalam Zakaria dihubungkan oleh para kritikus dengan seorang penulis
lain dari zaman yang lebih baru (akhir zaman Achaemenid atau awal zaman Hellenis). Sebenarnya, kata Ibrani
ywn hanya dapat merupakan sebuah referensi pada Yunani dalam Daniel. Di tempat lain dalam Bibel Ibrani, kata
ini berkenaan dengan apa yang kini adalah desa-desa Yanah (yn), dekat Taif, di sebelah selatan Hijaz. atau desa
Waynah (wyn) di lereng barat Asir, di wilayah Bani Shahr. Zakaria tampaknya adalah salah seorang Israil yang
kembali dari Persia atau Babilon ke Arabia Barat pada awal zaman Achaemenid (lihat teks). Kecewa dengan apa
yang ia temukan di sana, mungkin menyebabkan ia mengalihkan perhatiannya dari Zion dan Yerusalem lama di
Arabia Barat ke suatu impian sebuah Zion dan Yerusalem yang baru di Palestina yang lebih menguntungkan.
19. Pergeseran bahasa yang berturut-turut, yang mempengaruhi negara-negara di Timur Dekat yang mengelilingi
gurun Suria-Arabia yang luas itu, mestinya berhubungan dengan serangkaian gelombang pendudukan oleh sukusuku pengembara dari gurun tengah di daerah-daerah tetap di sekelilingnya. Bahasa Kanaan, tampaknya, adalah
bahasa populasi kesukuan dan tetap yang asli di dataran tinggi Barat di tepian gurun Suria-Arabia, di Suria,
seperti halnya di Arabia. Penduduk baru gurun, sejak dahulu, memperkenalkan bahasa Aram di sana, dan juga di
Mesopotamia. Perkampungan-perkampungan yang menyusul di daerah-daerah sama yang didirikan oleh berbagai
suku gurun yang berbahasa Arab memperkenalkan bahasa Arab. Sebagai sebuah bentuk bahasa induk Semit,
bahasa Kanaan, bahasa Aram dan bahasa Arab dapat dipandang sebagai bahasa-bahasa yang sama tuanya,
walaupun secara linguistik bahasa Arab dipandang sebagai yang tertua di antara ketiganya.
20. Sebuah tanda dari ini (di samping bunyi-bunyi vokal) adalah pemakaian pelunakan dari k tidak bersuara
dalam bahasa Aram, jika didahului oleh sebuah vokal, menjadi bunyi desahan h (dgn topi bawah) tidak bersuara,
yang tidak pernah diakui kebenarannya oleh penyuaraan yang sebenarnya dari nama-nama tempat menurut Bibel
di Arabia Barat yang bertahan, yang menempatkan h (dgn topi bawah) selalu merupakan suatu pengucapan
alternatif dari bunyi desahan yang lain, yaitu h (dgn titik bawah).
21. Sejumlah suku Arabia Barat, yang kini bukan merupakan kaum Yahudi, menegaskan bahwa kemungkinan
kecil mereka pada mulanya merupakan orang-orang Yahudi, dan ada keyakinan setempat bahwa tanah Bibel para
nabi terletak di sana. Adat dan pengetahuan kesukuan Arab mengingatkan bahwa kaum Yahudi menempati
pegunungan Hijaz (sic) sewaktu bangsa Arab masih berada di gurun pasir, dan bahwa kaum Yahudi-lah yang
pertama kali memelihara unta. Lihat Alois Musil, The Manners and Customs of the Rwala Bedouins (New York,
1928), hal. 329-330.
22. Mengenai nhrym dan prt, lihat di atas, Catatan 3 dan 11. Mengenai ksdym, lihat Bab 13. Walaupun msrym
dalam Bibel kadang-kadang menunjukkan Mesir, lebih sering kata ini menandakan sebuah kota atau wilayah di
Arabia Barat, di pedalaman Asir, lihat Bab 4, 13 dan 14.
23. Lihat Diskusi ringkasan dari isi topografi surat gulungan di Emil 6. Kraeling, Rand McNally Bible Atlas
(New York, 1962; selanjutnya disebut Kraeling), halaman. 66-68.
24. Pekerjaan para ahli purbakala Keinjilan di Palestina sebenarnya menjadi sasaran kecaman-kecaman keras.
Menulis pada tahun 1965, Frederick V. Winnet mengatakan bahwa 'fondasi dari beberapa gedung besar yang
didirikan oleh para sarjana Perjanjian Lama baru-baru ini ... berada dalam keadaan yang buruk dan memerlukan
reparasi yang ekstensif'. (Journal of Biblical Literature, 84 (1965); halaman 1-19). Pandangan Profesor Winnet
didukung oleh beberapa ahli Keinjilan ternama lainnya seperti J. Maxwell Miller dan H.J. Franken.
25. Goshen (gsn), Pithon (ptm), dan Raamses (r'mss) yang disebut dalam kitab Kejadian dan kitab Keluaran
sehubungan dengan menetapnya masyarakat Israil di tanah msrym belum pernah ditempatkan secara memuaskan
di Mesir (lihat catatan dalam J. Simons, The Geographical annd Topographical Texts of the Old Testament...
(Leiden, 1959; seterusnya disebut Simons), yang melakukan beberapa pengenalan percobaan). Ada dua
kemungkinan untuk Goshen (Ghatan, gtn, dan Qashanin, qsnn, jamak dari qsn), sebuah Pithom (Al Futaymah,
ptym, tanpa vokal ptm) dan sebuah Raamses (Masas, mss) masih dapat dijumpai di pedalaman Asir, di wilayah
msrym Arabia Barat. R' yang pertama dalam r'mss (Raamses) mungkin adalah nama seorang dewa. Dalam bentuk
Ra' atau Ra'i, r' itu tampil sebagai bagian pertama dari sejumlah nama tempat Arabia Barat.
26. Lain dari Bibel Ibrani, yang mengisahkan cerita lengkap kaum Israil kuno dari asal mulanya yang legendaris
sampai pada abad ke-5 S.M., catatan-catatan bersejarah lainnya dari pelbagai negara di Timur Dekat hanya
menceritakan potongan-potongan sejarah --daftar-daftar para raja, kisah-kisah ekspedisi militer tertentu,
perjanjian-perjanjian perdamaian dan hal-hal yang seperti itu-- dan tak pernah mengisahkan cerita-cerita lengkap
mengenai suatu bangsa, negara atau kerajaan tertentu.
27. Lihat terjemahan papirus-papirus Aram dari abad ke-5 S.M. yang berkenaan dengan masyarakat Yahudi
Elephantine (nampaknya sebuah koloni militer dari zaman Achaemenid) dalam Pritchard, hal. 491-493, 548-549.
Sejumlah papirus tersebut menyinggung masalah orang-orang Yahudi yang berbahasa Aram yang menetap di
sana pada zaman purbakala. Yang menarik adalah bahwasanya papirus-papirus ini berbicara mengenai orangorang Yahudi, bukan orang-orang Israil.
2. MASALAH METODE
1. Slg dalam Bibel contohnya, yang timbul tidak kurang dari 18 kali dalam pelbagai teks Bibel, biasanya
dianggap berarti 'salju', kecuali dalam Ayub 9:30, kata ini tidak jarang diterjemahkan sebagai bahan pembersih
atau obat pemutih, mungkin sejenis tanaman (soapwort). Yang terakhir ini kemungkinan adalah konotasi dari slg
dalam sebutan-sebutan Bibel yang lain, terutama dalam Mazmur 51:9. Dalam konteks ini, 'Bersihkanlah aku
dengan Hyssop, dan aku akan menjadi lebih putih dari salju (tkbsny w-m-slg 'lbyn)' mungkin seharusnya secara
lebih tepat diterjemahkan menjadi: 'Engkau akan membersihkan aku dengan hyssop, dan aku akan menjadi
bersih; engkau akan memandikan aku, dan dari tanaman 'soapwort' aku akan menjadi putih'. Dua buah pembersih
--pembersih hyssop dan akar-akar pencuci dari tanaman 'soapwort'-- jelas adalah apa yang dibicarakan baris ini.
Mengenai tanaman 'soapwort' Arab, lihat di bawah.
2. Nama b'r lhy r'y dalam Bibel berarti 'sumur jurang r'y', bukan 'sumur dia yang hidup yang melihatku' (l-hy r'y),
seperti nama ini biasanya ditafsirkan. Walaupun lhy dalam nama itu dibaca l-hy, ini akan berarti 'kepada dia yang
hidup', bukan 'dia yang hidup' Sebenarnya lhy dalam bentuk bahasa Arab yang diberi vokal, yaitu lahi, berarti
'jurang'. Nama jurang yang dibicarakan tersebut adalah r'y; diberi vokal sehingga terbaca seperti kata bahasa Arab
rawi (rwy), kata ini akan mempunyai arti 'dia yang diairi', bukan 'dia yang melihat' ataupun 'yang melihatku',
yaitu arti yang diberikan oleh bentuk bahasa Ibrani dari kata tersebut. Rwy ini mungkin adalah tidak lain dari apa
yang kini merupakan oase Rawiyyah (rwy) di Wadi Bishah (Bishah), di pedalaman Asir. Oase yang memakai
nama ini sebenarnya terletak di sepanjang jalan yang menuju ke Shur --Al Abu Thawr (twr, bandingkan dengan
twr dalam bahasa Ibrani). Oase ini juga terletak di antara satu dari dua buah tempat yang bernama Kadas (kds,
bandingkan dengan kata Ibrani qds) di lerengan barat Asir, dan sebuah oase Wadi Bishah lagi yang bernama alBaridah (brd). Mengenai usaha yang dipaksakan guna menempatkan Beerlahai-roi di Palestina Selatan, lihat
Simons, alinea 367, 368; juga Kraeling, hal. 69-70.
3. Perhatian saya dialihkan kepada hal ini oleh Dr. Ahmad Chalabi, seorang ahli matematika dan seorang bankir,
yang juga merupakan seorang amatir dalam bidang studi geologi dan Kitab Bibel.
4. Lihat Ahmad Khattab et alias, 'Hasil-hasil ekspedisi botani ke Arabia pada tahun 1944-1945' ('Result of a
Botanic Expedition to Arabia in 1944-1945') (Publication of the Cairo University Herbarium, no. 4, 1971), hal.
27.
5. Salju jarang turun di pegunungan Yaman, di baratdaya Arabia, yang musim hujannya terjadi pada musim
panas, yaitu pada waktu musim hujan dari baratdaya. Namun di Asir, pegunungan di sana menadah curah hujan
musim hujan dari baratdaya pada musim panas maupun curah hujan angin baratlaut pada musim dingin, sehingga
elevasi yang lebih tinggi di sana mendapatkan dan terkadang menyimpan salju musim dingin (lihat Bab 3).
6. Menurut tradisi Islam, Nabi Muhammad tidak melarang dabb untuk dimakan, walaupun ia sendiri pantang
memakannya. Kini beberapa kalangan Arab Suni memakan dabb, sedangkan Syiah mengharamkannya. Setahu
saya, dabb tidak dapat ditemukan di negara-negara bagian utara Timur Dekat.
7. Contohnya, kita dapat menyimpulkan dari bagaimana nama-nama tempat Arabia yang tertera dalam bentuk
Ibrani sebenarnya diucapkan, bahwa bunyi k umumnya tidak diperhalus menjadi h (dgn topi bawah), sedangkan h
sering diucapkan sebagai h (dgn topi bawah). Begitu pula, t diperhalus menjadi t (dgn strip bawah), namun
tampaknya juga merupakan bentuk dialek lain dari s. 'Ayn (') sering tidak diucapkan sebagai g, dan hamzah (')
seringkali disuarakan sebagai semi-vokal w atau y, dan sebaliknya kedua semi-vokal ini dapat saling
dipertukarkan, dan seringkali disuarakan sebagai vokal terbuka â.
8. Ada pula bukti-bukti Bibel bagi pengenalan atas Jabal Hadi di pesisir Asir sebagai Horeb dalam Bibel.
Menurut Ulangan 1:1, Nabi Musa 'berbicara kepada seluruh Israil' di 'hutan, di Arabah ('rbh) di atas Suph (swp),
antara Paran (p'rn) dan Tophel (tpl), Laban (lbn), Hazeroth (hsrt) dan Dizahab (dy zhb)'. Lokasi itu adalah dataran
rendah Wadi Ghurabah (grbh) yang memisahkan wilayah-wilayah Ghamid dan Zahran. Sebuah desa yang
bernama al-Safa (sp, bandingkan dengan swp) melihat ke bawah Wadi Ghurabah dari arah utara. Wadi ini juga
terletak di antara sebuah p'rn (Jabal Faran, atau prn) ke arah timur; sebuah tpl (Wadi Tufalah, atau tpl) ke arah
selatan, sebuah lbn, kini desa al-Bunn ('l-bn) ke arah utara; sebuah desa yang bernama dy zhb (Al Dhuhayb, atau
dhyb) juga ke arah utara; dan sebuah hsrt, kini al-Hazirah (hzrt) ke arah barat (kecuali kalau ini Jabal Khudayrah,
atau hdrt, yang juga terletak ke arah utara). Nama Nabi Musa dalam Bibel sebenarnya bertahan di sekitar daerah
yang sama sebagai nama desa al-Musa. Ulangan 1:2 mengatakan bahwa tempat ini terletak sejauh 'sebelas hari'
perjalanan dari Horeb. Jarak melalui jalan darat antara Jabal Hadi dan Wadi Ghurabah adalah sekitar 200-250
kilometer, dan dengan mudah dapat ditempuh dalam sebelas hari berjalan kaki dengan berjalan sejauh 20
kilometer sehari.
3. TANAH ASIR
1. Sebenarnya nama Asir ('sr atau 'syr) menandakan dataran tinggi kesukuan di sekitar Abha, walaupun kemudian
nama ini diterapkan oleh pemakaian administratif untuk daerah yang lebih luas seperti yang telah saya tunjukkan.
Nama tersebut tampaknya adalah metatesis dari 'Seir' dalam Bibel, atau 'Gunung Seir' (s'yr, Kejadian 14:6, 36:8f,
dan sebagainya). Mengenai korelasi antara nama Tihamah dan 'Tehom' dalam Bibel, lihat Bab 6.
2. Mengenai korelasi antara nama Sarat dan 'Israil' dalam Bibel, lihat Bab 10.
3. Mengenai sebuah studi modern dari geografi dan ekologi Asir, lihat Kamal Abdul-Fattah, Mountain Farmer
and Fellah in ... (Erlangen, 1981). Mengenai kehidupan flora Asir, lihat Western Arabia and the Red Sea
(London, H.M.S.O., 1946), Lampiran D, halaman 590-602. Telah dilakukan referensi atas kemungkinan bahwa
unta pertama kali dipelihara sebagai binatang beban di Asir. Lihat Michael Ripinsky, 'Camel Ancestry and
Domestication in Egypt and the Sahara', dalam Archeology, 36:3 (1983), halaman 21-27.
4. Strabo berbicara mengenai emas Arabia Barat, yang digambarkannya negeri itu terletak antara Hijaz dan
Yaman (16:4:18): 'Di dekat orang-orang ini terdapat sebuah negeri yang lebih tinggi peradabannya, menempati
sebuah distrik dengan iklim yang lebih sedang; karena negara ini diairi dengan baik, dan sering mendapatkan
hujan. Emas fosil ditemukan di sana, bukan dalam bentuk debu, namun dalam bongkahan, yang tidak
memerlukan banyak proses pemurnian lagi. Potongan-potongan yang terkecil adalah sebesar kacang, yang sedang
sebesar buah apel kecil, dan yang terbesar sebesar sebuah kenari ...'. Referensi Strabo kepada 'iklim sedang' dan
'sering mendapat hujan' di negara Arabia yang ia gambarkan jelas menunjukkan bahwa ia sedang membicarakan
Asir.
5. Idimah ini ('dm) adalah sebuah lokasi Arabia Barat yang mungkin disebut dalam Bibel sebagai Edom ('dm).
Sebuah lagi, yang biasa disebut-sebut adalah Wadi Iddam ('dm), di sebelah selatan Mekah. Yang ketiga yang
diwakili oleh desa Admah ('dm) di wilayah Wadi Bishah.
6. Mengenai kegiatan gunung-gunung berapi di wilayah Jizan di Asir, lihat M. Neumann Van Padang, Catalogue
of the Active Volcanoes and Solfatara Fields of Arabia and the Indian Ocean (Napoli, International Association
of Vulcanology, 1963), halaman 12-13.
4. MENCARI GERAR
1. Penanggalan atas sejarah menurut Bibel didasarkan pada sinkronisme-sinkronisme bersejarah, seperti halnya
yang melibatkan ekspedisi raja Mesir Sheshonk I melawan Yudah pada zaman kekuasaan putra Sulaiman,
Rehoboam (lihat Bab 11). Maka ini dapat dianggap kurang lebih tepat.
2. Pengenalan yang biasa dari nama Ibrani nhl msrym adalah Wadi al-'Arish, yang memisahkan Palestina dari
Sinai. Mengenai pengenalan nhl msrym, lihat Bab 15.
3. Mengenai suku Simeon dan wilayah mereka di Arabia Barat, lihat Lampiran.
4. Dari ketiga sumur (bentuk tunggalnya adalah b'r) yang disebutkan bersamaan dengan Shibah (alias Beersheba
atau b'r šb') dalam Kejadian 26, Esek ('sq) bertahan sampai kini sebagai Akas ('ks) dekat Abha, di sebelah barat
Khamis Mushait. Dua sumur lainnya nampaknya terletak di seberang ngarai, di sisi maritim Asir. Di sana kita
sampai kini dapat menemukan Rehoboth (rhbwt) yaitu Rahabat (rhbwt), di wilayah Bani Shahr; juga Sitnah (stnh)
yaitu Umm Shatan (stn, kata Arab yang berarti 'tali sebuah sumur air') di wilayah Majaridah yang terletak di
dekatnya.
6. BERMULA DARI TEHOM
1. Mengenai diskusi tentang masalah Yudah dalam Bibel, lihat Bab 8.
2. Penyuaraan thwm sebagai tehom adalah suatu tradisi Masoret; kata ini mungkin pada mulanya disuarakan
secara lain.
3. Semi-vokal y dan w dalam bahasa-bahasa Semit dapat dipertukarkan.
4. Akhiran feminin h (t tanpa suara) dalam kata Arab thmh (yang selalu diucapkan sebagai thm) menekankan
jenis kelamin feminin dari thwm dalam Bibel.
5. Para ahli tampaknya mempunyai anggapan yang salah mengenai hal ini karena mereka terpengaruh oleh
kenyataan bahwa kata thwm' (tehoma) dalam bahasa Suryani (Syriac) berarti 'kekacauan, jurang yang dalam,
lubang yang tak mempunyai dasar' dan sebagainya, kemungkinan besar berasal dari kata hwm dalam pengertian
'hilang'.
6. Dalam kata thmt, t ini dapat juga merupakan akhiran tunggal feminin.
7. M, yang merupakan preposisi 'dari' dalam m-mgd dan m-thwm, dengan baik sekali dihapuskan dalam
terjemahannya di sini, tentunya karena preposisi tersebut membingungkan penterjemahnya. Sebuah catatan dalam
RSV mengakui bahwa m-tl berarti 'dengan embun' (sebenarnya, 'dari embun') dan bukan 'di atas'. Di sini tl (kata
benda tll, 'menutupi, langit-langit', atau sebuah salah-eja dari kata tl, 'bukit, puncak') agaknya berkenaan dengan
salah satu punggung bukit Samayin.
8. Akar kata brk, yang berarti 'memberkahi', juga merupakan sebuah kata Ibrani untuk 'berlutut'; secara figuratif
berarti 'menetap'. Dalam bahasa Arab, pengertian utama brk adalah 'menetap'.
9. Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan dalam pembacaan tradisional dari Bibel melibatkan
kekeliruan atas kata yhwh dalam pengertian 'ia adalah', atau 'ia akan' (juga 'akan') dengan yhwh sebagai nama
Tuhan orang-orang Israil, yaitu Yahweh. Contohnya, sebuah ungkapan yang tidak masuk akal yang berbunyi:
'Tuhan (yhwh) menghujani Sodom dan Gomorrah dengan batu belerang dan api dari Tuhan ('s m-'t yhwh) dari
surga' (Kejadian 19:24), sebenarnya berbunyi: 'Tuhan (yhwh) menghujani Sodom dan Gomorrah dengan batu
belerang, dan ini merupakan api kematian ('s m-'t yhwh) dari surga'. Kata Ibrani m't di sini seharusnya dibaca
sebagai suatu varian dari kata mwt, sehingga berarti 'kematian'. Dalam bahasa-bahasa Semit, 'ayn dan semi-vokal
w dan y dapat dipertukarkan.
7. MASALAH YORDAN
1. Lihat Simons, alinea 137. Sambil mengingat bahwa 'Sungai terbesar di Palestina' tidak pernah disebut dalam
Bibel Ibrani sebagai sebuah nhr, Simons menambahkan dalam sebuah catatan bawah bahwa 'masalah asal mula
dan arti "Yordan", yang menimbulkan pendapat-pendapat yang berlainan telah dikemukakan mengenainya,
sampai kini belum terpecahkan'.
2. Para ahli geografi Arab pada mulanya memakai nama Urdun ('rdn) guna menandakan wilayah Galilee dan
bagian-bagian lembah sungai Yordan yang bersebelahan dengannya, bukan sungai Yordan itu sendiri. Nama ini
dapat merupakan padanan kata Ibrani yrdn tetapi tidak mutlak demikian. Kamus-kamus Arab mengambil nama
itu dari akar kata rdn 'mengisut, mengerut, mengeras', yang menandakan bahwa kata tersebut berarti 'kasar, kuat'.
Mengenai asal mula kata yrdn, lihat di bawah.
3. Sungai-sungai musiman dan tetap yang tak terhitung lagi banyaknya, bermata air di pelbagai bagian ngarai
Asir, yang menjelaskan istilah menurut Bibel my h-yrdn, atau mymy h-yrdn ('air' atau 'perairan' yrdn, lihat di
bawah). Namun dalam beberapa contoh, istilah yrdn timbul dalam Bibel sebagai mempunyai arti 'kali' atau
'kolam'. Dalam pengertian ini, kata tersebut bermula dari yrd dalam pengertian Arab 'pergi ke air'. Lihat kisah
Naaman pada akhir bab ini.
4. Menurut para sejarawan Arab, Nabi Muhammad pergi dari Madinah ke Mekah pada ibadah hajinya yang
terakhir melalui Jabal Shatan dan desa Kada' yang bertetangga dengannya, kini masih terdapat di sana.
5. Menurut Bilangan 33:41-49, Nabi Musa memimpin orang-orang Israil pada tahap terakhir pengembaraan
mereka dari Gunung Hor (hr h-hr) menuju Zalmonah (slmnh); kemudian ke Punon (pwnn), Oboth ('bt); Iyeabarim ('yy h-'brym) di wilayah Moab (mw'b); Dibon-gad (dbyn gd); Almon-diblathaim ('lmn dbltym);
pegunungan Abarim (hry 'brym), menghadap ke Nebo (nbw); 'padang' Moab ('rbt mw'b), 'di samping Yordan di
Yericho' ('l yrdn yrhw, harfiahnya 'di atas' yrdn), antara Beth-Yeshimoth (byt ysmt) dan Abel-shittim ('bl h-stym),
di 'padang' Moab ('rbt mw'b). Delapan tempat pertama yang disebut di sini terletak di wilayah Ghamid dan
Zahran. Mereka kini disebut 'tanjung' (Ibraninya hr) al-Harrah (hr dengan kata sandang tertentu Arab
menggantikan kata sandang tertentu Ibrani dalam namanya yang sekarang); Salaman (slmn); Jabal al-Nawf
(nwp); Wadi Bat (bt); 'tumpukan bebatuan' ('yym) al-'Arba' ('rb, bandingkan dengan 'brym, jamak genitif 'br), di
Jabal Shada, masih ada di sana sebagai sebongkah batu datar berbentuk segitiga yang terletak di atas tiga buah
batu yang lebih besar dan dipuja sebagai kuil Abraham; pedesaan Badwan (bdwn) dan al-Ghadhi (gd) yang
bertetangga dengannya; dekat kota Qilwah; dua buah pedesaan lainnya di sekitar daerah Qilwah, yang bernama
'Amlah ('ml, bandingkan dengan 'lmn) dan al-Badlah (bdlt, bandingkan dengan dbltym sebagai jamak nama itu
atau jamak genitifnya); dan akhirnya ketinggian Jabal Gharib (grb), di Sarat Zahran, yang sebenarnya menghadap
Nabah (nb), yaitu Nebo dalam Bibel di tonjolan paling selatan pundak bukit Taif ke arah utara. Sedangkan 'rbt
mw'b bukanlah 'padang' Moab, melainkan desa Ghurabah (grbt, atau grbh, lihat teks), kini terletak tepat di
sebelah timur pembagi perairan antara wilayah Zahran dan Taif, di seberang yrdn, atau 'ngarai' Umm al-Yab ('m
yb) atau Moab dalam Bibel. Ghurabah ini sebenarnya terletak di bentangan yrdn yang sama, atau 'ngarai', tempat
terdapat desa Warakh, atau wrh ('Yericho' dalam Bibel, lihat teks). Daerah tempat bangsa Israil, di bawah Nabi
Musa, akhirnya menetap adalah bentangan dataran tinggi antara al-Athimah ('tm) di wilayah Zahran, dan 'aliran
air' ('bl) Jabal Shatan (stn), kini bernama Wadi Wajj di wilayah Taif. Mengenai upaya yang lemah untuk
menjelaskan geografi Bilangan 33:41-49 dalam pengertian Transyordania, lihat Kraeling, halaman 124-125.
6. Sungai Yordan di Palestina tidak meluap pada musim panas. Namun di Asir Geografis, ini merupakan musim
hujan yang sangat lebat yang dapat mengakibatkan banjir besar. Saya telah mengunjungi daerah ini pada akhir
bulan Mei dan telah membuktikan hal ini, yang memuaskan bagi saya.
7. Para pengunjung yang datang ke pesisir Asir, sampai akhir abad ini pun, mengabarkan bahwa pemuda-pemuda
dibawa ke sebuah bukit kecil di luar desa mereka untuk dikhitankan di depan umum. Istilah 'khitan' dalam
pemakaian setempat adalah 'alla ('l'), yang harfiahnya berarti berarti 'mengangkat, membawa ke sebuah tempat
yang tinggi'. Dhi Ghulf, yang pernah disebut Gibeath-haarloth, mungkin lokasi sebuah bukit kecil dan di tempat
itu upacara pengkhitanan dahulunya dilaksanakan terhadap para pemuda setempat.
8. Para ahli Bibel telah pula dengan salah mengenali 'Bethel' dalam Bibel sebagai desa Baytin (bytn), di Palestina,
berdasarkan persamaan-persamaan yang kurang jelas antara kedua nama ini, tak lebih dari itu. Mereka
mengusulkan bahwa 'Ai' mungkin kini adalah al-Tall, di dekat Baytin. Mengenai diskusi yang lebih mendalam,
lihat Bab 13, Catatan 3.
9. Sebenarnya 'r (bukan 'yr, 'kota'), tunggal dari 'ry, (atau 'rym) di dalam teks, dan m'rh berasal dari kata yang
sama, tak diakui dalam bahasa Ibrani, tetapi padanan kata Arabnya merupakan gwr, yang berarti 'tenggelam,
memasuki, bersembunyi, menepis di tanah'. Padanan kata Arab m'rh adalah mgrh, disuarakan magarah, dan
seperti gar (lihat teks) berarti 'gua' dan berasal dari akar kata yang sama, yaitu gwr.
10. Ghamr ini kemungkinan besar terletak di luar jangkauan jatuhan vulkanis 'Akwah; dan juga sebuah
'Gomorrah' lagi di wilayah Jizan, yaitu Ghamrah (gmrh, dengan akhiran feminin seperti dalam 'mrh), di Jabal
Bani Malik. Berbagai 'Gomorrah' Asir (sebagai gmr atau 'mr, gmrh atau 'mrh) berjumlah terlalu besar untuk
dihitung.
11. Para ahli Bibel telah menciptakan istilah 'Pentapolis' untuk menunjukkan 'lima kota' di 'padang Yordan', yang
terdiri dari 'Sodom' dan 'Gomorrah' dan juga 'Admah' dan 'Zeboiim' (lihat Bab 4) dan 'Bela-Zoar' (Kejadian 15),
walaupun mereka belum dapat menemukan ke 'lima kota' tersebut di lembah Yordan Palestina. Lihat Simons,
alinea 271.
12. Mengenai kesangsian yang lebih awal atas msrym dalam Bibel yang selalu merupakan sebuah referensi
terhadap Mesir, lihat Zeitschrift fur Assyriologie, 37:76, Reallexikon der Assyriologie (ed. E. Ebelling dan B.
Meissner, Berlin 1928), I, 255a; Harry Torczyner, Die Bundeslade und die Anfange der Religion Israils (Berlin,
1930), halaman 67f.
13. Dewa ini jelas adalah 'l msry (harfiahnya, 'dewa rakyat msr'), yang namanya bertahan sebagai nama desa Al
Masri, di wilayah Taif. Menilai distribusi nama-nama tempat yang berkenaan dengan akar kata msr di Arabia
Barat, kita dapat menegaskan bahwa 'rs msrym dalam Bibel membentang dari hulu Wadi Bishah, dekat Abha,
sampai hulu Wadi Ranyah, di sebelah tenggara Taif.
14. Fu'ad Hamzah, yang mengunjungi Asir pada tahun 1934, menghitung 24 barisan semacam itu yang
menyeberangi ngarai tersebut dari Nimas ke arah selatan, di samping barisan-barisan antara Nimas dan Taif.
Lihat Fi Bilad 'Asir (Riyadh, 1968), halaman 91-93.
15. Seperti yang dilukiskan dalam Van Padang, halaman 14-16, gunung-gunung berapi ini terdapat pada
ketinggian sekitar 2.900 m di atas permukaan laut, dan kini terdiri dari kira-kira enampuluh kerucut yang
sebagian besar belum berumur tua. Kawah-kawah dan padang-padang lahar itu menyebar ke sekeliling Jabal
Hattab ke segala penjuru. Van Padang menunjukkan, atas wewenang para ahli geografi Arab klasik, bahwa
letusan gunung berapi yang dilukiskan dalam Qur'an 68:17-33 terjadi di distrik ini, yang memang benar demikian
kenyataannya. Dalam teks Qur'an, yang musnah oleh letusan ini digambarkan sebagai sebuah 'tanaman' (68:17)
dan penghuni-penghuni 'taman' ini, menurut penafsiran yang berwenang atas Qur'an oleh al-Fakhr ar-Razi,
'disebut sebagai orang-orang Israil'.
16. Ini yang sebenarnya adalah terjemahan dari ungkapan Ibrani w-t'kl's b-rzyk, yang bagaimanapun juga tak
dapat berarti 'bahwa api itu dapat memusnahkan tanaman-tanaman jenevermu'.
17. Bahasa Ibraninya yrd
8. YUDAH ARABIA
1. Menurut Kejadian 29:35; 49:8, nama yhwdh, seperti nama leluhur pemberi nama dari suku Yudah (salah satu
di antara keduabelas suku Israil, lihat Lampiran), berarti 'puja dan puji bagi Yahweh' (yhwdh ydh). Ini jelas
adalah etimologi rakyat, dan hanya menarik jika ditanggapi sebagai itu saja. Sampai sejauh ini, nama tersebut
belum berhasil dijelaskan dan biasanya dianggap, pada mulanya, sebagai nama sebuah suku dan bukan nama
suatu wilayah. Umumya suku-suku diberi nama menurut wilayah-wilayah mereka, meskipun ada kasus-kasus
wilayah-wilayah itu memakai nama-nama suku yang menempatinya.
2. Sampai sejauh ini, para ahli Bibel lebih condong untuk mengira bahwa nama dalam kedua daftar yang
didahului oleh bny, atau 'putra dari', umumnya merupakan nama-nama kesukuan atau nama-nama keluarga,
sedangkan nama-nama yang didahului oleh 'nswy, atau 'rakyat dari', sebagian besar adalah nama-nama tempat.
Dalam bahasa Ibrani kuno, seperti dalam pemakaian bahasa Arab modern, kita dapat saja berbicara baik
mengenai 'putra-putra' dari suatu tempat, maupun mengenai 'rakyat' dari suatu tempat. Pemakaian kedua istilah
ini dalam teks yang sama, jelas untuk memberikan variasi yang anggun saja.
3. Hajfah ini, bersamaan dengan Qihafah (qhp) dan Qihf (qhp) di wilayah Rijal Alma', di sebelahnya, mestinya
adalah Ahqaf (jamak dari hqp) dalam Qur'an 46:21, biasanya dianggap sebagai gurun pasir di wilayah Hadramut,
di Arabia selatan.
4. Yang membuat pengenalan atas Bethlehem menurut Bibel dengan Umm Lahm di Wadi Adam mutlak dapat
dipastikan adalah hubungannya dalam pelbagai sebutan menurut Bibel dengan nama tempat 'Ephrathah' ('prth),
yang kini adalah Firt (prt), dekat Umm Lahm, di Wadi Adam yang sama. Pertimbangkanlah, misalnya, Mikha
5:2: 'Tetapi kalian, wahai Bethlehem dari Ephrathah, yang kecil di antara marga-marga Yudah ...' Lihat pula Bab
9.
5. Ini adalah Ramah, dekat Bethlehem, tempat Rachel dimakamkan, yang disebut oleh para nabi, contohnya
Yeremia 31:35: 'Sebuah suara terdengar di Ramah, ratapan dan isak tangis. Rachel meratapi putra-putranya...'
Mengenai Rachel, lihat Lampiran.
6. Perhatikan asosiasi Geba dan Michmas dengan Ramah (lihat Catatan 5) dalam Yesaya 10:28-29).
9. YERUSALEM DAN KOTA DAUD
1. Mazmur ini berhubungan dengan 'putra-putra Korah' (bny qrh) yang namanya bertahan dengan utuh sebagai
nama pedesaan al-Qarhah (qrh) di Jabal Faifa, dan al-Qarhan (qrhn) di Jabal Bani Malik, keduanya di wilayah
Jizan, jauh ke arah selatan Rijal Alma'. Dalam baris yang lebih awal dari Mazmur yang sama (48:2), 'Gunung
Zion' sebenarnya digambarkan sebagai terletak 'jauh di utara'.
2. Ini hanyalah satu di antara beberapa terjemahan yang mungkin, dari kalimat aslinya dalam bahasa Ibrani: wywmr l-dwd l-'mr l' tbw hnh ky 'm hsyrk h-'wrym w-h-pshym l-'mr l' ybw dwd hnh.
3. Nama yrwslm sejak itu dianggap membingungkan. Lebih besar kemungkinannya jika nama itu berarti 'tempat
tinggal' (substantif yrw, bandingkan dengan akar kata kerja Arab 'ry, 'menempati') slym (bandingkan dengan
nama kesukuan Arab yang bertahan, yaitu Sulaym, atau slym di dataran tinggi Asir). Akar kata 'ry diakui
kebenarannya pada nama-nama tempat lainnya di Arabia Barat, seperti Arwa, ('rw) dan Arwa ('rw). Jika ini bukan
merupakan nama sebuah suku (mungkin sebuah cabang dari suku Yebusit), slym mungkin merupakan nama
seorang dewa setempat --mungkin sebuah bentuk dari slm (lihat Bab 12).
4. Ada pula kemungkinan bahwa nama yrwslym menggabungkan nama-nama sekarang dari dua buah pedesaan,
yaitu Arwa ('rw) dan Al Salam (slm) di wilayah Tanumah Sarat, tak jauh ke arah selatan wilayah Nimas (lihat di
atas).
5. Bentuk tunggal nama ini, yaitu hmt (seperti dalam Bilangan 13:21 dan dalam duapuluhsembilan tempat lainnya
di Bibel Ibrani), juga bertahan di Hijaz bagian selatan dan Asir sebagai nama sebuah desa yang bernama Dhawi
Hamal dan enam buah pedesaan yang bernama Hamatah (hmh atau hmt). Kacaunya nama tempat menurut Bibel
dengan Hamah (hmh atau hmt) yang terletak di lembah Orontes di Suria telah membuat pengertian atas geografi
Bibel tidak tepat. Konotasi nama yang sama, seperti yang muncul pada catatan-catatan kuno Mesir dan
Mesopotamia, perlu dipertimbangkan kembali secara cermat.
6. Bandingkan pengenalan nama-nama gerbang Yerusalem di sini dengan nama-nama gerbang dalam J. Simons,
Yerusalem in the Old Testament (Leiden, 1952), yang didasarkan pada penemuan-penemuan purbakala di
Yerusalem Palestina, tanpa bukti-bukti toponimis yang mendukungnya.
10. ISRAIL DAN SAMARIA
1. Saya pribadi yakin bahwa t'ntr (atau 'Tanah Tuhan') milik bangsa Mesir tidak lain adalah ysr'l (atau 'Dataran
Tinggi Tuhan') dalam Bibel dengan kata lain, Sarat di Asir geografis dengan hutannya yang lebat, kekayaan
mineralnya dan lain-lainnya. Namun sebuah penelitian yang lebih mendalam jelas perlu dilakukan guna
mendukung gagasan tersebut.
2. Nama ini secara lokal ditafsirkan sebagai kependekan nama Arab sirwal, 'celana panjang', yang merupakan
suatu penafsiran yang sangat tidak meyakinkan. Najd merupakan nama tradisional dataran tinggi Arabia Tengah.
Mengenai bukti tentang adanya Bani Israil pada zaman Bibel, lihat identifikasi atas khnym sebagai pemukiman
orang-orang Israil di Wadi Najran dan wilayah Yamamah (Bab 8).
3. Sama'inah (atau Sama'in, juga sm'n) kini terdapat di Palestina bagian selatan. Namun pada mulanya mereka
nampaknya berasal dari sebuah tempat yang bernama al-Sim'aniyyah (sm'n) di Yaman, dari mana suku mereka
mendapatkan namanya. Menurut kisah Bibel mengenai suku mereka, orang-orang Simeonit adalah sebuah suku
'selatan' di tanah Bibel orang-orang Israil.
11. RENCANA PERJALANAN EKSPEDISI SHESHONK
1. Mengenai catatan-catatan ini, lihat J. Simons, Handbook for the Study of Egyptian Topographical Lists
Relating to Western Asia (Leiden, 1973), halaman 178-187; bandingkan dengan K.A. Kitchen, The Third
Intermediate Period in Egypt, 1100-650 S.M. (Warminster, 1973), halaman 293-300, 432-447, yang memiliki
resensi lengkap kepustakaan yang relevan sampai kini. Dalam penelitian yang sekarang ini, saya akan
mentransliterasikan ejaan konsonan Mesir dari nama-nama tempat dalam daftar Sheshonk menurut sistem sama
seperti yang telah saya pergunakan berkenaan dengan transliterasi nama-nama tempat Ibrani dan Arab, atau
paling tidak sedekat mungkin dengan itu. Guna memudahkan hal ini bagi pembaca umum, saya telah membiarkan
perbedaan antara berbagai semi-vokal yang biasanya dibedakan antara satu dengan yang lain melalui transliterasi
dalam bahasa Mesir kuno sebagai sebuah i dan sebuah y.
2. Di sini i' yang terakhir, seperti yang tertera dalam nama-nama lain yang berikut, nampaknya terkadang
menggantikan akhiran feminin h Ibrani dan Arab (yang merupakan t tanpa suara). Seperti yang telah diketahui,
sejumlah nama tempat menurut Bibel yang memakai akhiran ini kini bertahan di Arabia Barat tampaknya,
sedangkan nama-nama tempat menurut Bibel yang berada dalam bentuk maskulin sering bertahan di Arabia Barat
kini dalam bentuk feminin, dengan tambahan akhiran h (t tanpa suara).
3. Dalam Hakim-hakim 1:27; 5:19-21, 'Taanach' ini secara geografis diasosiasikan dengan Beth-shean (byt s'n),
Dor (dwr), Ibleam ('bl'm), Meggido (mgdw), dan 'aliran air yang deras' Kishon (nhl qyswn). Dari kelima tempat
ini, hanya Ibleam-lah yang belum dapat dikenali dengan sebuah desa di Hijaz selatan. Mungkin ini adalah Bil'um
(bl'm) kini sebuah oase di wilayah Qasim, agak jauh dari Taif ke arah timur laut. Mungkin juga ini adalah Bani
Walibah (wlb) di wilayah Ghamid, dikenali sehubungan dengan al-Amiyah ('my) di wilayah Zahran yang
berdekatan dengannya. Keempat tempat lainnya, semuanya di wilayah Taif, kini adalah desa Shanyah (sny), satu
di antara beberapa pedesaan yang bernama Dar (dr), Maghdah (mgd), dan Qaysan (qysn). Ta'nuq yang disebut
dalam kepustakaan geografis Arab tidak mungkin merupakan 'Taanach' yang dimaksud di sini, karena tempat ini
terletak di utara dan bukan di selatan Hijaz.
4. Bukan apa yang sampai kini dianggap sebagai 'Shunem' dalam Bibel (swnm), yang kini mungkin adalah
Sanumah (snm) di Rijal Alma'; kemungkinan-kemungkinan lain adalah Nasham (nsm) atau Nashim (nsm) di
wilayah Jizan dan Dhi Nisham (nsm) di wilayah Ballasmar.
5. Bukan apa yang sampai kini dianggap sebagai 'Beth-shean' dalam Bibel, yang telah dikenali dalam Catatan 3.
Bt (Ibraninya byt, 'rumah') di sini, seperti dalam nama-nama lain dalam daftar-daftar Sheshonk, berarti 'kuil', yang
sering ditanggalkan dalam varian-varian dari nama-nama ini yang telah diarabkan.
6. Bukan apa yang sampai kini dianggap sebagai 'Haphraim' dalam Bibel (hprym, Yosua 19:19), yang kini
mestinya adalah al-Harfan (bentuk ganda hrp, karena hprym Ibrani adalah bentuk ganda hpr) di Rijal Alma'.
7. Nama Ibrani ini berarti 'dua perkemahan' atau (dengan pemberian vokal yang lain) 'perkemahan-perkemahan'.
Nama Arabnya mungkin bukanlah suatu pengubahan melainkan suatu usaha untuk menterjemahkan nama itu,
karena kata Arab manahi adalah sebuah bentuk manha, yang berarti 'perkemahan'.
8. Bukan apa yang sampai kini dianggap sebagai 'Aijalon' ('ylwn) yang telah dikenali dalam Bab 10.
9. Kata dt (Arabnya d't, disuarakan dat) atau d (nominatif Arab dw, disuarakan du) dalam nama ini seperti dalam
nama-nama yang lain berarti 'dia yang berasal dari', dengan kata lain 'dewi' (bentuk feminin dt) atau 'dewa'
(bentuk maskulin d); dalam bentuk nama tersebut yang telah diarabkan, biasanya nama ini timbul sebagai 'l, yang
terakhir ini dalam hal ini tak dapat dibaca sebagai suatu kata yang dapat berdiri sendiri yang, seperti juga Al (juga
'l), berarti 'Tuhan' atau 'dewa'.
10. P' di sini, seperti dalam nama-nama lain pada daftar-daftar Sheshonk, adalah kata Arab fay' (py'), yang berarti
'distrik', 'daerah sekitar'; bandingkan dengan kata Ibrani ph, 'di sini, ke mari, bagian ini'.
11. Ini sudah pasti 'Nebaioth' dalam Bibel (nbywt, atau nbyt) yang tertera di antara 'putra-putra' Ismail dalam
Kejadian 25:13 bersamaan dengan 'Kedar', dan dikenali sebagai 'Nebaioth dari Kedar' dalam Yesaya 60:7. Nabah
dapat dijumpai di distrik Bajilah di wilayah Taif; begitu pula desa al-Qidarah (qdr), 'Kedar' dalam Bibel. Maka
'Nebaioth' bukanlah orang-orang Nabataea dari Petra, seperti yang sampai kini diduga Nabah agaknya juga 'Nebo'
menurut Bibel.
12. Karena catatan-catatan mengenai penjajahan-penjajahan Mesir telah dibaca sehubungan dengan geografi yang
keliru, para ahli mengambil kesimpulan bahwa ada sejumlah pembualan di dalam catatan-catatan tersebut.
Mengingat bahwa kerajaan Mesopotamia (Mitanni) telah runtuh sekitar empat abad sebelum zaman Sheshonk,
pernyataan penguasa Mesir ini bahwa ia berhasil menaklukan Mitanni telah dipandang sebagai salah satu bualan
tersebut, yang tentunya tidak demikian kenyataannya, karena Mitanni merupakan nama sebuah tempat di Arabia
Barat. Bandingkan dengan Pritchard, halaman 263-264, berkenaan dengan literaturnya.
12. MELCHIZEDEK: PETUNJUK-PETUNJUK PADA SEBUAH PANTEON
1. Judul Mazmur 7 mengasosiasikan penyusunannya dengan sebuah tempat --bukan dengan seseorang-- yang
bernama 'Cush' ('Kush') (kws), yang mungkin kini adalah Kus (kws) atau Kisah (kys), keduanya terdapat di
wilayah Jizan. Perlu dicatat di sini bahwa nomor-nomor baris yang disebutkan bagi Mazmur adalah nomor-nomor
dari baris-baris dalam bahasa Ibrani, bukan terjemahannya.
2. Di samping dewa sdq, nama-nama dewa slm (sebagai slmn, dengan akhiran penghebat), 'wlm (sebagai 'lm) dan
mungkin 'bd (sebagai b'dn atau b-'dn dengan kata sandang tertentu kuno), diakui kebenarannya dalam inskripsiinskripsi Arabia.
3. Kata kerja-kata kerja dengan h-'lhym (dewa-dewa) merupakan pokok kalimat dalam sebutan ini timbul dalam
teks Ibrani tanpa akhiran kata ganti w. Ini mungkin ditanggalkan oleh para redaktur yang dibuat bingung oleh
teks tersebut. Di pihak lain, mereka nampaknya tidak berhasil menanggalkan kata sandang tertentu dalam h'lhym.
13. ORANG-ORANG IBRANI HUTAN ASIR
1. Kita tak dapat mengesampingkan adanya kemungkinan bahwa orang-orang 'Ibrani' mendapatkan nama mereka
dari 'br, dalam arti kata 'penyeberangan', berkenaan dengan jurang-jurang pegunungan (m'brwt h-yrdn, lihat Bab
7) di ketinggian Sarat Arabia Barat, yang mungkin merupakan tempat asal mula mereka.
2. 'Dewa hutan', yang namanya masih dipakai oleh desa Al al-Ghabaran di wilayah Dhahran, mungkin dahulunya
disebut Abu Ghabar, kini nama sebuah desa di Wadi Najran. Pedesaan lain dengan nama-nama yang berasal dari
gbr dapat pula ditemui di pelbagai bagian daratan tinggi Asir.
3. Dalam kisah Abraham (Nabi Ibrahim), seperti yang dikisahkan dalam Kejadian, mungkin saja timbul
kekeliruan antara 'Bethel' dengan 'Ai' di Rijal Alma' dan 'Bethel, dengan 'Ai' yang terletak di wilayah Zahran di
Taif (Butaylah dan 'Uya') lebih dekat pada Wadi Adam (lihat Bab 10).
4. Ada tidak kurang dari dua puluh delapan buah pedesaan di Arabia barat yang masih memakai nama pr'h ini
sebagai Far'ah (p'rh) atau al-Far'ah ('l-prh). Bahwa ini adalah nama dewa sudah jelas diketahui dari nama desa Al
Fira'ah ('l pr'h) di distrik Ballasmar. Ada pula dua pedesaan yang bernama al-Far'ah dekat Abha, di sini Misramah
dapat dijumpai. 'Rumah kerajaan' pr'h yang tertimpa 'wabah penyakit yang besar disebabkan oleh Sarai, istri
Abram' (12:17), tentunya adalah kuil pemujaan dewa tersebut di Misramah, tempat Sarai, yang dianggap kakak
perempuan Abram dan bukan istrinya, dipaksa menetap.
5. Berbagai ragam ejaan nama ini mungkin disebabkan oleh adanya kekeliruan antara Dathanah (dtn) tersebut
dengan apa yang kini merupakan desa Dathinah (dtyn), di Wadi Adam, yang merupakan wilayah suku Yusuf
(Yoseph) (lihat Bab 8 dan Lampiran).
14. ORANG-ORANG FILISTIN ARABIA
1. K.A. Kitchen, 'The Phillistines', dalam D.J. Wiseman, ed., Peoples of Old Testament Times (Oxford, 1973),
halaman 53.
2. Nama kws dapat juga ditulis sebagai Kisah (ksy) dan Kus (kws) di wilayah Jizan dan sebagai Kiwath (kwt)
dekat Ghumayqah, di wilayah Lith.
3. 'Phicol' sampai kini dianggap sebagai suatu nama 'non-Semit'; sehingga K.A. Kitchen berkomentar: 'Akhirnya,
dalam taraf linguistik, bercampurnya bahasa Semit (Abimelech, Ahuzzat) dan bahasa non-Semit (Phicol) ...
menunjukkan suatu asimilasi orang-orang asing ke dalam lingkungan pergaulan Semit'.
15. TANAH HARAPAN
1. Mengenai apa yang telah dikatakan oleh para ahli Bibel mengenai bangsa-bangsa dalam Bibel tersebut, lihat
pelbagai catatan D.J. Wiseman, ed., Peoples of Old Testament Times, yang telah dibicarakan pada Bab 14.
2. Kekeliruan antara pengalihan ke dalam bahasa Arab dari nama ini adalah antara 'qrb ('kalajengking' dalam
bahasa Arab dan Ibrani) dengan kata Arab grb', disuarakan garbu' (sejenis tikus gurun, yaitu gerboa).
3. Kemungkinan-kemungkinan lain adalah Zafar (zpr) dan Dharif (drp), juga di wilayah Taif. Jika kata Ibrani
zprn dibaca sebagai z-prn ('dia' yang berasal dari prn, atau 'dewa', dengan kata lain kuil prn), tempat yang
dibicarakan ini mungkin adalah Faran, di dataran tinggi Zahran, yang berbatasan dengan gurun basal Harrat alBuqum. Bagaimanapun juga, Faran ini tak disangkal lagi adalah Paran dalam Bibel (p'rn, Kejadian 21:21;
Bilangan 10:12; 12:16; 13:3, 26; Ulangan 1:1; 33:2; Samuel I 25:1; Rajaraja 11:18; Habakuk 3:3). Di lain pihak,
El Paran, atau Al Farwan ('l prwn), di sebelah selatan Khamis Mushait.
4. Di sini, seperti dalam halnya gl'd (Gilead) menjadi al-Ja'd (Bab 1) dan kslh menjadi al-Hasakah (Bab 14),
sebuah l yang terletak di tengah-tengah kata mungkin diletakkan di ujung kata tersebut dalam pengubahannya
sehingga menjadi kata sandang tertentu Arab yang berakhiran. Namun pengenalan terhadap 'Riblah', tetap tidak
dapat dipastikan.
16. KUNJUNGAN KE EDEN
1. Wadi Harjab, satu di antara tiga anak sungai utama Wadi Bishah, bergabung dengan pertemuan ini lebih
kurang pada titik yang sama. Pengarang Kejadian nampaknya memandangnya sebagai sebuah tambahan dari
Wadi Tindahah, seperti Wadi Harjab, bergabung dengan aliran utama Wadi Bishah dari sisi timur.
17. NYANYIAN DARI PEGUNUNGAN JIZAN
1. Morris S. Seale, The Desert Bible (London, 1974), diringkas dari halaman 54-74.
Mencari Asal-usul Kitab Suci
(The Bible Came from Arabia)
Kamal Salibi
Penerbit Pustaka Litera AntarNusa
Jln. Arzimar III, Blok B No.7, Tel.(0251) 329026 Bogor 16152
Disalin dari http://media.isnet.org
Download