BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1 Pengertian Pemasaran dan Manajemen Pemasaran 2.1.1 Pengertian Pemasaran Pemasaran merupakan salah satu fungsi perusahaan yang tidak kalah pentingnya dengan fungsi-fungsi perusahaan lainnya. Pemasaran sering kali menjadi tolak ukur keberhasilan suatu perusahaan. Terdapat banyak definisi pemasaran yang dikeluarkan oleh para ahli, namun jika dibandingkan satu dengan defisnisi lainnya, pengertian dan tujuan pemasaran memiliki arti yang sama. Dalam memberikan pengertian pemasaran, penulis mengutip beberapa definisi pemasaran dari beberapa ahli, yaitu sebagai berikut : Pemasaran telah didefinisikan dalam berbagai pengertian untuk lebih memahami pengertian pemasaran, penulis akan menguraikan pemasaran yang dikemukakan dalam berbagai cara yang berbeda oleh beberapa ahli pemasaran. Kotler dan Keller (2009:5) mengemukakan bahwa pemasaran adalah sebuah kemasyarakatan dimana individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan orang lain. Menuru American Marketing Association ( AMA) dalam Kotler dan Keller (2009:45) bahwa pemasaran adalah “marketing is an 6 organization function and a set processes for ceareating communicating, and delivering value to customers and for managing custumer relontionship in ways that benefit the organization it stakeholders”. Menurut Kotler dan Keller (2009:45) devinisi pemasaran dapat dibedakan antara definisi pemasaran secara manajerial dan social. Devinisi secara manajerial pemasaran sering digambarkan sebagai seni jual produk, sedangkan devinisi pemasaran secara sosial adalah suatu proses sosial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan menawarkan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa bernilai dengan pihak lain. Berdasarkan definisi permasalahan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pemasaran adalah fungsi organisai dan satu set proses untuk menciptakan mengkomunikasikan dan menyampaikan nilai kepada pelanggan untuk membangun hubungan pelanggan yang memberikan keuntungan organisasi dan pihak-pihak yang berkepentingan kepada organisasi. Devinisi diatas menjadi tujuan dari suatu kegiatan pemasaran adalah untuk mengetahui dan memahami pelanggan dengan baik sehingga produk atau jasa itu cocok dengan pelanggan dan selanjutnya mampu menjual diri sendiri dengan mengetahui tujuan dari pemasaran tersebut maka setiap perusahaan dapat menciptakan produk yang sesuai kebutuhan konsumen. 7 Inti dari pemasaran adalah mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia dan sosial. Salah satu definisi yang baik dan singkat mengenai pemasaran adalah memenuhi kebutuhan dengan cara yang menguntungkan. 2.1.2 Pengertian Manajemen Pemasaran Manajemen pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan pemikiran, penetapan harga, promosi serta penyaluran gagasan, barang, dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memenuhi sasaran-sasaran individu dan organisasi. Pemasaran diarahkan pada suatu proses pertukaran antara produsen dan konsumen dengan memberikan kepuasaan pada konsumen serta imbalan yang wajar di terima oleh produsen. Segala langkah dan usaha tersebut merupakan suatu proses yang didalam manajemen pemasaran disebut sebagai suatu proses manajemen pemasaran. Manajemen pemasaran terjadi apabila sekurang-sekurangnya satu pihak dari pertukaran potensial memikirkan cara untuk mendapatkan tanggapan dari pihak lain sesuai dengan yang di kehendaki. Mengelola pemasaran diperlukan sejumlah upaya dan keterampilan penting. Untuk lebih jelasnya dapat diperhatikan definisi-definisi manajemen pemasaran berikut ini : manajamen pemasaran adalah seni dan ilmu memilih pasar sasaran dan meraih, mempertahankan, serta menumbuhkan pelanggan dengan menciptakan, mengantarkan dan 8 mengkomunikasikan nilai pelanggan yang unggul (Kotler dan Keller, 2009:5) Definisi tersebut menguraikan bahwa manajamen pemasaran adalah proses yg melibatkan analisa, perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian; yang mencakup barang, jasa, dan gagasan; yang tergantung pada pertukaran; dan dengan tujuan menghasilkan kepuasaan bagi pihak pihak yang terlibat. Manajemen pemasaran mempengaruhi tingkat, waktu dan komposisi permintaan sehingga membantu perusahaan mencapai tujuannya. 2.2 Bauran Pemasaran Tugas pemasar adalah merencanakan aktivitas-aktivitas pemasaran dan membentuk program yang terintegrasi penuh untuk menciptakan, mengkomunikasikan, dan menghantarkan nilai kepada pelanggan. Kotler dan Keller (2009:24) menggklasifikasikan aktivitas-aktivitas ini sebagai saran bauran pemasaran dari empat jenis yang luas, yang di sebut empat P dari pemasaran: produk (product), harga (price), tempat (place) dan promosi (promotion). Empat P melambangkan pandangan penjual terhadap perangkat pemasaran yang tersedia untuk mempengaruhi pembeli. Dari sudut pandang pembeli, setiap perangkat pemasaran dirancang untuk memberikan manfaat bagi pelanggan. Jadi dengan demikian elemen bauran pemasaran (marketing mix) terdiri dari empat hal, antara lain : 9 a. Produk (product) Produk adalah merupakan keseluruhan konsep objek atau proses yang memberikan sejumlah nilai manfaat kepada konsumen. Yang perlu diperhatikan dalam produk adalah konsumen tidak membeli fisik dari produk itu saja tetapi membeli benefit atau value dari produk tersebut yang di sebut “the offer”. Terutama pada produk jasa yang kita kenal tidak menimbulkan beralih kepemilikan dari penyedia jasa kepada komsumen. b. Harga (price) Strategi penentuan harga sangat signifikan dalam pemberian value kepada konsumen dan mempengaruhi image produk, serta keputusan konsumen untuk membeli. Pricing juga berhubungan dengan pendapatan dan turut mempengaruhi supply atau marketing channels. Akan tetapi, yang paling penting adalah keputusan pricing harus konsisten dan strategi pemasaran secara keseluruhan. c. Tempat (place) Place dalam jasa merupakan gabungan antara lokasi dan keputusan atas saluran distribusi, dalam hal ini berhubungan dengan bagaimana cara penyampaian jasa kepada konsumen dan dimana lolaki yang strategis. Lokasi berarti berhubungan dengan dimana perusahaan harus bermarkas dan melakukan operasi. 10 d. Promosi (promotion) Yang perlu di perhatikan dalam promosi adalah bauran promosi (promotion mix). Yang terdiri dari : 1) Periklanan (Advertising) 2) Tenaga penjualan (Personal selling) 3) Promosi penjualan (Sales promotion) 4) Hubungan masyarakat (Public relation) 5) Berita dari mulut ke mulut (Word of mouth) 6) Pemasaran langsung (Direct marketing) Komponen bauran pemasaran yang paling terlihat nyata adalah promosi, yang mengacu pada teknik-teknik mengkomunikasikan informasi mengenai suatu produk. 2.3 Kualitas Produk 2.3.1 Pengertian Kualitas Pengertian kualitas yang menurut American Society For Quality Control yang di kutip oleh Kotler dan Keller (2009:143) adalah totalitasfiture dan karakteristik produk atau jasa yang bergantung pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang di nyatakan atau tersirat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penjual telah mengantarkan kualitas ketika produk atau jasanya memenuhi atau melebihi ekstetaksi pelanggan. Perusahaan yang memuaskan sebagaian besar kebutuhan pelanggannya sepanjang waktu disebut perusahaan 11 berkualitas kualitas jelas merupakan kunci untuk menciptakan nilai dan kepuasan pelanggan. Kualitas jelas merupakan kunci untuk menciptakan nilai dan kepuasaan pelanggan. Kualitas total adalah tugas semua orang, seperti halnya perusahaan parah pemasar memainkan beberapa peran dalam membantu perusahaan mendefinisikan dan memberikan barang dan jasa yang bermutu tinggi kepada pelangan sasaran. 2.3.2 Pengertian Produk Dalam bisnis produk adalah barang atau jasa yang dapat di perjual belikan. Dalam marketing, produk adalah apapun yang bisa ditawarkan kesebuah pasar dan bisa memuaskan sebuah keinginan atau kebutuhan. Dalam tingkat pengecer produk sering disebut sebagai merchandise. Dalam manufaktur, produk dibeli dalam bentuk barang mentah dan dijual sebagai barang jadi. Banyak orang menganggap produk adalah suatu penawaran yang nyata, tetapi produk bisa lebih dari itu. Secara luas, produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar untuk memuaskan suatu keinginan atau kebutuhan (Kotler dan Keller 2009:4) Konsep produk menurut Kotler dan Keller dalam buku “manajemen pemasaran” (2009:19) berpendapat bahwa konsumen menyukai produk yang menawarkan kualitas, kinerja atau fitur inovasi terbaik. Manajer pada organisasi ini berfokus untuk membuat produk yang unggul dan senantiasa memutakhirkannya. Namun suatu produk baru tidak 12 akan sukses jika tidak didukung oleh harga, distribusi , iklan dan penjualan yang tepat. Inti merek yang hebat adalah produk yang hebat. Produk adalah elemen kunci dalam penawaran pasar. Pemimpin pasar biasanya menawarkan produk dan jasa bermutu tinggi yang memberikan nilai pelanggan yang paling unggul. Perencanaan pemasaran dimulai dengan merumuskan dengan sebuah penawaran untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan sasaran, pelanggan akan menilai penawaran berdasarkan tiga elemen dasar: fitur dan kualitas produk, bauran dan kualitas layanan, serta harga. Ketiga elemen ini harus digabungkan ke dalam suatu penawaran menarik yang kompetitif. 2.3.3 Tingkatan Produk Dalam merencanakan penawaran pasarnya, pemasar harus liat 5 tingkat produk. Setiap tingkat menambah nilai pelanggan yang lebih besar, dan kelimanya merupakan hirarki nilai pelanggan. Tingkat produk menurut Kotler dan Keller (2009:4) yaitu : a. Pada tingkat dasar adalah manfaat inti (core benefit) : manfaat mendasar yang benar benar di beli pelanggan. b. Pada tingkat ke dua, pemasar harus mengubah manfaat inti menjadi produk dasar (basic product). c. Pada tingkat ketiga, pemasar mempersiapkan produk yang di harapkan (extected product). 13 d. Pada tingkat ke empat, pemasar mempersiapkan produk tambahan (augumented product) yang melebihi harapan pelanggan. e. Tingkat kelima adalah product pontesial (pontesial product) yang mencakup semua kemungkinan tambahan dan tranformasi yang mungkin dialami sebuah produk atau penawaran dimasa depan. 2.3.4 Klasifikasi produk Pemasar mengklasifikasikan produk berdasarkan keberwudjudan dan kegunaan (Kotler dan Killer 2009:5) . a. Ketahanan (durability) dan keberwujudan (tangibility) Produk dapat di klasifikasikan menjadi 3 kelompok antara lain: 1) Barang yang tidak tahan lama (non durable goods) adalah barang barang berwujud yang biasa nya di komsumsi dalam satu atau beberapa kali penggunaan. 2) Barang tahan lama (durable goods) adalah barang berwujud yang biasa digunakan untuk waktu lama. 3) Jasa (service) adalah produk produk yang tidak berwujud , bervariasi dan dapat musnah b. Klasifikasi barang konsumen 1) Barang sehari hari (confenience goods) adalah barang-barang yang biasanya sering dibeli konsumen dengan segera dan dengan usaha minimum. 14 2) Belanja (shopping goods) adalah barang-barang yang secara krakteristik di banding kan berdasarkan kecocokan, kualitas, harga dan gaya. 3) Barang khusus (specialty goods) mempunyai ciri ciri atau identifikasi merek yang unik dimana ada cukup banyak pembeli bersedia melakukan upaya pembelian yang khusus . 4) Barang yang tidak di cari (unsought goods) adalah barang yang tidak dikenal konsumen atau biasanya mereka tidak terpikirkan untuk dibeli. 2.3.5 Pengertian Kualitas Produk Menurut Kotler dan Keller (2009:143) mengemukakan bahwa : “kualitas produk atau jasa adalah produk atau jasa yang telah memenuhi atau melebihi ekspektasi pelanggan”. Menurut Kotler dan Keller (2009:354) mengemukakan bahwa: “Kualitas produk adalah kemampuan suatu produk untuk melaksanakan fungsinya, meliputi kehandalan, daya tahan, ketepatan, kemudahan operasi, dan perbaikan produk, serta atribut berniali lainnya”. Kualitas produk menurut Kotler dan Amstrong (2006:225) “ The ability of a product to perform its function” atau kemampuan suatu produk dalam memberikan kinerja sesuai fungsinya. Kualitas baik akan membangun kepercayaan konsumen sebagai penunjang kepuasaan konsumen. Setiap perusahaan harus memilih tingkat kualitas yang akan membantu atau menunjang usaha untuk meningkatkan atau 15 mempertahankan posisi produk itu dalam pasar sasarannya. Kualitas merupakan suatu alat utama untuk mencapai posisi produk dan juga kualitas menyatakan tingkat kemampuan dari suatu produk tertentu dalam melaksanakan fungsi yang di harapkan. Dari pengertian kualitas produk di atas penulias dapat simpulkan bahwa kulitas produk adalah kemampuan suatu produk dalm menjalankan fungsi, kegunaan, ketahanan yang dapat memberikan kepuasan kepada konsumen seperti yangtelah di janjikan dan dapat memenuhi ekspektasi pelangan. 2.3.6 Pengukuran Kualitas Produk Menurutu Kotler dan Amstrong (2004:345) mengemukakan bahwa kualitas suatu produk memiliki 8 dimensi pengukuran yang terdiri dari aspek aspek berikut : a. Performance (performansi) Dimensi ini berkaitan dengan aspek fungsional dari produk itu dan merupakan karakteristik utama yang dipertimbangkan pelanggan ketika ingin membeli suatu produk. b. Features (ciri-ciri) Merupakan aspek kedua dari performansi yang menambah fungsi dasar, berkaitan dengan pilihan-pilihan dan pengembangannya. 16 c. Realibility ( kehandalan) Dimensi ini berkaitan dengan probabilitas atau kemungkinan suatu produk melaksanakan fungsinya secara berhasil dalam periode waktu tertentu di bawah kondisi tertentu. d. Conformance ( konfirmasi ) Dimensi ini berkaitan dengan tingkat kesesuaian produk terhadap spesifikasi yang telah ditetapkan berdasarkan keinginan pelanggan. e. Durability ( daya tahan) Merupakan ukuran masa pakai suatu produk f. Serviceability ( kemampuan pelayanan ) Merupakan karakteristik yang berkaitan dengan kecepatan, keramahan, kesopanan, kompetensi, kemudahan dalam melakukan reparasi, penanganan keluhan yang memuaskan. g. Aesthetics (estetika) Merupakan karakteristik yang bersifat subjektif sehingga berkaitan dengan pertimbangan pribadi dan refleksi dari preferensi atau pilihan individu. h. Perceive quality (kualitas yang di rasakan) Bersifat subjektif, berkaitan dengan perasaan pelanggan dalam mengkonsumsi produk itu. 17 2.4 Persepsi Harga 2.4.1 Pengertian Persepsi Harga Harga dari sudut pandang pemasaran merupakan suatu moneter atau ukuran lainnya (termasuk barang dan jasa lainnya) yang ditukarkan agar memperoleh hak kepemilikan atau penggunaan suatu barang dan jasa (Dinawan, 2010). Harga dalam persepsi konsumen adalah sesuatu yang diberikan atau dikorbankan untuk memperoleh suatu produk (Zeitham dalam Dinawan, 2010). Dalam arti sempit, harga adalah jumlah yang ditagihkan atas produk dan jasa. Harga merupakan satu-satunya elemen lainnya melambangkan biaya. Harga juga merupakan eleman bauran pemasaran yang paling fleksibel, tidak seperti fitur produk dan komitmen penyalur, harga adapat berubah dengan cepat (Kotler dan Armstrong, 2009). Dinawan (2010) mengatakan bahwa persepsi harga terlihat dari beberapa hal, yaitu: 1. Perbandingan harga dengan produk lain, yaitu bagaimana perbandingan harga produk dengan produk pesaingnya. 2. Kesesuaian harga dengan kualitas produk, yaitu apakah harga yang ditawarkan sudah sesuai dengan kualitas produk yang didapatkan. 3. Keterjangkauan harga, yaitu adalah keterjangkauan harga yang ditawarkan produsen kepada konsumen. 18 Dalam memandang suatu harga, konsumen mempunyai beberapa pandangan yang berbeda. Hal yang ppenting perlu diingat bahwa “nilai yang baik” tidak sama dengan “harga yang murah” (Kotler dan Armstrong, 2009). Pada umumnya konsumen akan menyadari bahwa dengan kualitas produk yang didapatkan mestinya harus mengeluarkan harga yang sesuai. Jika harga yang ditetapkan tidak sesuai, konsumen pun akan cepat menyadari hal tersebut. 2.4.2 Tahap-tahap Penetapan Harga Menurut Swastha (2009:150), tahap- tahap dalam penetapan harga antara lain : 1. Mengestimasikan permintaan untuk barang tersebut. Pada tahap ini penjual membuat estimasi permintaan barangnya secara total. Pengestimasian permintaan barang tersebut dapat dilakukan dengan : a. Menentukan harga yang diharapkan (expected price), yaitu harga yang diharapkan dapat diterima oleh konsumen. b. Mengestimasikan volume penjualan pada berbagai tingkat harga. 2. Mengetahui lebih dulu reaksi dalam persaingan. Kondisi persaingan sangat mempengaruhi kebijaksanaan penentuan harga perusahaan atau penjual. Oleh karena itu, penjual perlu mengetahui reaksi persaingan yang terjadi di pasar serta sumbersumber penyebabnya. 19 Adapun sumber- sumber persaingan yang ada dapat berasal dari : a. Barang sejenis yang dihasilkan dari perusahaan lain. b. Barang pengganti atau substitusi. c. Barang- barang lain yang dibuat oleh eperusahaan lain yang smasama menginginkan uang konsumen. 3. Menentukan market share yang dapat diharapkan. Perusahaan yang agresif selalu menginginkan market share yang lebih besar. Kadang- kadang, perluasan market share harus dilakukan dengan mengadakan periklanan dan bentuk lain dari persaingan bukan harga, disamping dengan harga tertentu. Market share yang diharapkan tersebut akan dipengaruhi oleh kapasitas produksi yang ada, biaya ekspansi, dan mudahnya memasuki persaingan. 4. Memilih strategi harga untuk mencapai target pasar. Dalam hal ini penjual dapat memilih diantara dua macam strategi harga yang dianggap paling ekstrim, yaitu : a. Skim-the-cream-pricing Skim-the-cream-pricing atau skimming pricing merupakan strategi penetapan harga yang setinggi- tingginya. Harga yang tinggi tersebut dimaksudkan untuk menutup biaya penelitian, pengembangan dan promosi. 20 b. Penetration pricing Penetration pricing merupakan strategi penetapan harga yang serendah-rendahnya, yang bertujuan untuk mencapai volume penjualan sebesar- besarnya dalam waktu yang relatif singkat. Dibandingkan skim-the-cream-pricing, strategi ini lebih agresif dan dapat memperkuat kedudukan perusahaan dalam persaingan. 5. Mempertimbangkan politik pemasaran perusahaan. Tahap selanjutnya dalam prosedur penetapan harga adalah mempertimbangkan politik pemasaran perusahaan dengan melihat pada barang, sistem distribusi, dan program promosinya. Perusahaan tidak dapat menentukan harga suatu barang tanpa mempertimbangkan barang lain yang dijualnya. Demikian pula dengan saluran distribusinya, harus diperhatikan ada atau tidaknya penyalur yang juga menerima sebagian dari harga jual. Bilamana tanggungjawab promosi dilimpahkan pada penyalur, maka yang akan diterima produsen menjadi lebih tinggi. 2.4.3 Tujuan Penetapan Harga Harga ditetapkan oleh perusahaan padadasarnya ditunjukan untuk memberi nilai atas produk yang telah diciptakan. Harga ditentukan oleh perusahaan melalui berbagai pertimbangan yang matang atas dasar besarnya biaya produksi dan berbagi faktor dengan tujuan agar perusahaan memperoleh laba. 21 Ada empat tujuan penetapan harga menurut Swasta (2009), yaitu: a. Mencegah atau mengurangi persaingan Seiring dengan semakin ketatnya persaingan dunia bisnis, maka diperlukan aturan dan batasan-batasan dalam persaingan, salah satunya adalah dengan penetapan harga. Melalui kebujakan para pelaku usaha tidak akan menetapkan harga dengan seenaknya. Dengan demikian harga atas produk barang atau jasa yang memiliki persamaan akan mempunyai harga yang sama ataupun jika berbeda hanya memiliki perbedaan yang sedikit. b. Mempertahankan atau memperbaiki merket share Dengan adanya penetapan harga, maka market share dapat terjaga Mempertahankan market share dapat dilakukan apabilakemampuan dan kapasitas produksi masih cukup longgar, selain itu kondisi keuangan harus benar-benar baik dan juga adanya kemampuan yang tinggi dalam bidang pemasaran. c. Mencapai target pengembalian investasi Pada dasarnyapenetapan harga yang dilakukan oleh perusahaan adalah untuk memperoleh laba dan sekaligus untuk menutupibiaya operasional. Harga yang telah ditentukan dimaksud untuk menutupi investasi secara berangsur-angsur, dimana dana yang digunakanuntuk mengembalikan invetasi hanya bisa diambil dari laba perusahaan. Dengan adanya 22 investasi tersebut diharap perusahaan dapat bertahan dan usahaakan bertambah besar. d. Mencapai laba maksimal Harga ditetapkan atas dasar pertimbangan untung/rugi yang akan diderita oleh perusahaan. Dalam penetapan harga, perusahaan tentunnya akan mengutamakan laba dan kemampuan atau daya beli konsumennya. Penetapan harga dengan pertimbangan laba yang bagus disertai daya beli masyarakata yang besar , maka akan mudahlah bagi pengusaha dalam memperoleh keuntungan yang maksimal. 2.2.4 Aspek-aspek Penetapan Harga Dalam penentuan harga haruslah memlalui berbagai tahap pertimbangan. Hal ini dikarenakan agar harga harus sesuai dengan kondisi atau keadaan atas produksi yang ingin diberi harga. Menurut tjiptono (2008) ada sembilan aspek yang perlu diperhatikan dalam mengukur harga, yaitu : a. Kemampuan para pelanggan untuk membeli b. Kemauan pelanggan untuk membeli c. Posisi atau produk dalam gaya hidup pelanggan d. Manfaat yang diberikan produk tersebut kepada pelanggan. e. Harga produk-produk subtitusi f. Pasar fotensial bagi produk tersebut g. Sifat persaingan non-harga 23 h. Perilaku konsumen secara umum i. 2.5 Segmen-segmen dalam pasar Keputusan Pembelian Menurut Kotler dan Keller (2009), bahwa keputusan pembelian adalah sebuah proses pendekatan penyelesaian masalah yang terdiri dari pengenalan masalah, mencari informasi, beberapa penilaian alternative, membuat keputusan pembelian dan perilaku setelah membeli yang di lalui konsumen. Keputusan merupakan bagian atau salah satu elemen penting dari perilaku konsumen disamping kegiatan fisik yang melibatkan konsumen dalam menilai, mendapatkan dan mempergunakan barang-barang serta jasa ekonomis. Perspektif pemecahan masalah mencakup semua jenis perilaku pemenuhan kebutuhan dan jajaran luas dari faktor-faktor yang memotivasi dan mempengaruhi keputusan konsumen. Pengambilan keputusan konsumen berbeda-beda, bergantungan pada jenis keputusan pembelian. Keputusan yang lebih kompleks mungkin melibatkan partisipasi yang lebih banyak dan kebebasan membeli yang lebih besar. Menurut Kotler dan Kleller (2009) keputusan pembelian adalah suatu tindakan yang dilakukan konsumen untuk membeli suatu produk tertentu, setelah mendapat rangsangan-rangsangan pembelian. Pengambilan keputusan merupakan suatu kegiatan konsumen yang secara 24 langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang yang ditawarkan. 2.5.1 Proses Keputusan Pembelian Konsumen Prsoses pembelian yang spesifik terdiri dari urutan kejadian berikut: Pengenalan masalah kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternative, keputusan pembelian, dan perilaku pasca pembelian. Lihat gambar berikut : Mengenali masalah Pencarian informasi Evaluasi alternatif Keputusan pembelian Perilaku pasca pembelian Sumber : Kotler dan Keller (2009) Gambar 2.1 proses pengambilan keputusan pembelian Periset pemasaran telah mengembangkan model tingkat proses keputusan pembelian konsumen. Tahap-tahap dalam keputusan pembelian konsumen menurut Kotler dan Keller (2009:184-190) dalam bukunya “Manajemen pemasaran” adalah sebagai berukut : a. Pengenalan masalah Proses pembelian dimulai ketika pembeli menyadari suatu masalah atau kebutuhan yang dipicu oleh rangsangan internal dan eksternal. Pemasar perlu mengidentifikasi keadaan yang memicu kebutuhan tertentu, dengan mengumpulkan informasi dari sejumlah konsumen. Lalu mereka dapat mengembangkan strategi pemasaran yang memicu minat konsumen. 25 b. Pencarian informasi Konsumen yang terangsang kebutuhannya akan terdorong untuk mencari informasi yang lebih banyak. Kita dapat membaginya ke dalam dua level rangsangan. Situasi pencarian informasi yang lebih ringan dinamakan penguatan perhatian. Pada level ini, orang ini mungkin mulai aktif mencari informasi antara lain dengan mencari bahan bacaan, menelpon, dan mengunjungi toko untuk mempelajari produk tertentu. c. Penilaian (Evaluasi) alternatif Tidak ada proses evaluasi tunggal sederhana yang digunakan oleh semua konsumen atau oleh konsumen dalam semua sutuasi pembeli. Terhadap beberapa proses evaluasi keputusan, dan modelmodel terbaru yang memandang proses evaluasi konsumen sebagai proses yang berorientasi kognitif. Model tersebut menganggap konsumen membentuk penilaian atas produk dengan sangat sadar dan rasional. d. Keputusan pembelian Dalam tahap evaluasi, para konsumen membentuk preferensi atas merek-merek yang ada di dalam kumpulan pilihan. Konsumen juga dapat membentuk niat untuk memilih merek yang paling disukai. Dalam melaksanakan maksud pembelian, konsumen mengambil lima sub keputusan yaitu merek, dealer, kuantitas, waktu dan metode pembayaran. 26 Model pengambialn keputusan konsumen terdiri dari dua macam aktivitas setalah pengambialn keputusan yang berhubungan erat yaitu perilaku pembelian dan evaluasi setelah pembelian. Jika konsumen puas maka ia mungkin mengulang pembelian. Pembelian ulang biasanya menandakan penerimaan akan produk. Bagi produk yang relative tahan lama seperti komputer, yang di lakukan mungkin sekali mendakan produk tersebut diterima dengan baik oleh konsumen. 1. Pembelian percobaan Ketika konsumen membeli suatu produk untuk pertama kalinya dengan jumlah yang lebih sedikit dari biasanya, pembelian ini akan dianggap suatu percobaan. Jadi pembelian percobaan merupakan tahap perilaku pembelian yang bersifat penjajakan dimana konsumen berusaha menilai produk melalui pemakaian langsung. 2. Pembelian ulang Jika suatu merek baru dalam kategori produk yang sudah mapan berdasarkan pembelian percobaan dirasakan lebih memuaskan dari pada merem-merek lain, maka konsumen mungkin melakukan pembelian. Pembelian ulang biasanya menandakan bahwa produk memenuhi persetujuan konsumen dan bahwa ia bersedia memakainya lagi dalam jumlah yang lebih besar. 27 e. Perilaku pasca pembelian Tingkat evaluasi setelah pembelian yang dilakukan para konsumen tergantung pada pentingnya keputusan produk dan pengalaman yang diperoleh dalm memakai produk tersebut. Jika produk tersebut berfungsi sesuai dengan harapan, konsumen mungkin akan membelinya lagi. Tetapi jika kinerja produk mengecewakan atau tidak memenuhi harapan, konsumen akan mencari berbagai alternative yang lebih sesuai. Jadi, dalam evaluasi setalah pembelian, konsumen memberikan umpan balik seperti pengalaman terhadap psikologis dan membantu mempengaruhi keputusan yang berkaitan diwaktu yang akan datang. 2.6 Penelitian Terdahulu 1. Purwati (2012) dalam jurnalnya yang berjudul “pengaruh harga dan kualitas produk terhadap keputusan pembelian motor Honda matic beat (studi kasus pada PT. Nusantara Surya Bakti )”. Hasilnya penelitian ini menujukan bahwa: Nilai uji t pengaruh varibel harga terhadap keputusan pembelian sepeda Motor Matic Beat sebesar 2,21728 lebih besar dari nilai t table sehingga korlasi antara variabel harga dan pengambialn keputusan pembelian sepeda motor matic Honda Beat dinyatakan signifikan. 28 Nilai uji t variabel kualitas produk terhadap pengambilan keputusan pembelian sepeda motor matic Honda Beat sebesar 4,7454 lebih besar dai nilai ttabel sehingga kolerasi antara variabel kualitas produk dan pengambilan keputusan pembelian sepeda motor matic Honda Beat dinyatakan signifikan. 2. Zulfikar putra pratomo (2013) dalam penelitiannya yang berjudul “ pengaruh kualitas produk, harga dan promosi terhadap keputusan pembelian konsumen blackberry”. Hasil yang diperoleh dari uji maisng-masing hipotesis adalah kualitas produk memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian, harga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian, dan promosi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian. 3. Basrah Saidani (2013) dalam jurnalnya yang berjudul pengaruh kualitas produk dan desain produk terhadap keputusan pembelian sepatu olahraga futsal adidas di wilayah jakarta timur. Hasil penelitiannya menunjukan: kualitas produk berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen sepatu futsal adidas, desain produk berpangaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen sepatu futsal adidas, kualitas produk dan desain produk secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen sepatu futsal adidas. 4. Irawan (2013) melakukan penelitian yang berjudul mengenai pengaruh persepsi harga dan citra merek terhadap keputusan pembelian produk 29 yamaha scorpio z. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Sedangkan citra merek tidak berpengaruh terhadap keputusan pembelian. 2.7 Kerangka Pemikiran Dalam menentukan pokok permasalahan, penulis berinisiatif untuk membuat kerangka pemikiran yang berdasarkan pada variabel yang di teliti yaitu kualitas produk dan persepsi harga terhadap keputusan pembelian Sepatu Adidas Pada Adidas Store Cabang Mall Ciputra Jakarta. Dalam hal tersebut, penulis menyajikan dalam gambar sebagai berikut : Kualitas Produk (X1) Keputusan Pembelian (Y) Persepsi Harga (X2) Sumber: Konsep yang dikembangkan untuk penelitian ini, 2014 Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran 30 2.8 Hipotesis Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan yang diteliti, yang kebenarannya perlu diuji secara emperis. Dalam penelitian ini penulis menggunakan hipotesis sebab akibat adalah jawaban sementara terhadap permasalahan yang diteliti yang kebenarannya diuji secara emperis, jawaban tersebut adalah dasar penelitian yang dilakukan penulis yang kemungkinan besar menjadi suatu kebenaran. Aritonang (2007) menjelaskan bahwa hipotesis berfungsi sebagai jawaban sementara atas permasalahan penelitian sebagai jawaban, hipotesis dirumuskan dalam kalimat pernyataan. Disebut sebagai jawaban sementara karena kebenarannya masih harus diverifikasi secara empiris, yaitu dengan pengumpulan data empiris mengenai tiap variabel yang tercakup pada permasalahan maupun hipotesis penelitian. Dari variabel yang dimaksud, peneliti memberikan jawaban sementara bahwa diduga kualitas produk dan persepsi harga sepatu Adidas akan berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen. Berdasarkan model penelitian yang dikembangkan pada poin sebelumnya, penulis membuat hipotesisi sebagai berikut : a. Hipotesis 1 : Kualitas produk berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian sepatu Adidas pada Adidas Store Cabang Mall Ciputra Jakarta 31 b. Hipotesis 2 : Persepsi Harga berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian sepatu Adidas pada Adidas Store Cabang Mall Ciputra Jakarta c. Hipotesis 3 : Kualitas produk dan persepsi harga berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian sepatu Adidas pada Adidas Store Cabang Mall Ciputra Jakarta 32