KOMUNIKASI DAKWAH KH. HASYIM ASYARI DALAM FILM SANG

advertisement
KOMUNIKASI DAKWAH KH. HASYIM ASYARI
DALAM FILM SANG KIAI
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Untuk Memenuhi Sebagian Syarat-Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Strata I
Disusun Oleh :
Muji Rohmat
NIM 10210009
Pembimbing :
Dr. Hamdan Daulay, M.A., M.Si.
NIP 19661209 199403 1 004
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2014
KEIUENTRIAN AGAMA
UNTVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN I(ALIJAGA
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMTTNIKASI
QIo
Jl. Marsda Adi*sralpls Telp. (0274) -515856 Yoglrakarta 55281
STJRAT PERSETUJUAN SKRIPSI
Kepada.
Yth. Dekan Fakultas Dakwah dan Kornunikasi
UIN Sunan Kalrjaga Yogyakarta
di Yogyakarta
As.sul antual a i kum v,r.w h
Setelah membaca, meneliti, memberikan petunjuk dan mengoreksi serta
mengadakan perbaikan seperlunya, maka karni selaku pembimbing berpendapat
bahwa skripsi Saudara:
Muji Rohmat
: 10210009
Jurusan
: Komunikasi Dan Penyiaran Islam
Judul Skripsi : KOMIINTI(AST DAKWAH KH. HASYIM ASYARI DALAM
FILM SANG KIAI
Nama
:
NIM
Sudah dapat diajukan kembali kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Jurusan/Program Studi Komunikasi Dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga
Yoryaka'rta'sebagai'sal.ah-satu syarat mern.peroleh gelar sarjana Strata Satu dalarn
bidang Komunikasi Islam.
Dengan
ini kami mengharap
agar skripsi tersebut
di
atas dapat
segera
dimunaqasahkan. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Was
s
alamul
a
ikum,
w r.w b
Yogyakarta, 9 Juni 2014
Mengetahui,
Ketua Jurusan
Komunikasi Dan Penyiaran Islam
ffs{tAly
r|'-dii}
Dr. Hamdan Daulav. M.A.. M.Si.
NIP 19661209 199403 1 004
8 199703 2 001
e.,ffi
rrI
KEMENTERTA}{ AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NBGERI SUNAN KALIJAGA
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
Jl. Marsda Adisucipto, Telp. 0274-5 i 5856,Yog,akarta 55281, E-mail: ftl@uin-suka'ac'id
PENGESAHAN SKRIPSMUGAS AKHIR
liomot: UIN.02IDD,?P.0CI.9/ 1 I 51 i21114
SkripsTTugas Akhir dengan iudul:
KOMUNIKASI DAKWAH HASYIM ASI'HARIDALAM TILM SANG KYAI
yang dipersiapkan dan disusun oleh:
Nama
IVIUJI ROHh{AT
NIM/Jurtrsan
l0?l0009lKl'}l
Senin, l6 Juni 3014
90.7s (A -)
Telah dirnunaqasyahkan Pada
NilaiMunaqasyah
Yogyakarta'
dan dinvatakan diterirna oleh Fakultas Dakrvah clan Komurtikasi UIN Surran Kalijaga
TIM MUNAQASYAI{
Ketua
S
idarfi/Perrguj i l,
,''\r
Dr.Ilamdan DauIaY, M.A" M'$i.
MP 19661209 l99rt03 I 004
Penguji III,
Penguji II,
,Ar+fu
Prof.
Br.Il.
M.Hunt.
Faisal lsrnail, M.A.
NIP 19470515 19701t)
NIP 19700125 199903 I
1 001
Yogyakarta, 20 Juni 2014
Dekan.
6ffi*
M.Ag.
*ffi60
'
99903
1
002
001
STIRAT PtrNNYATAAN KEASLIA.N SKRIPSI
Yangbertandatangan di bawah ini:
Muji Rohmat
Nama
:
NIM
: 10210009
Jurusan
:
Komunikasi dan Penyiaran Islam
Fakultas
:
Dakwah danKomunikasi
Menyatakan dengan sesungguhnya, bahwa skripsi saya yang berjudul:
KO}ilTNIKASI DAKWAH
KIAI
lffi. HASYIM ASYABI DALAM FILM SAI\IG
adalah hasil karya pnbadi dan separ,jang pengetahuan penyusun tidak berisi
materi yang dipublikasikan atau ditulis oleh orarg lain, kecuali bagian-bagian
tertentu yang penyusun ambil sebagai acuan.
Apahila terhukti pemyatarm
ini tidak benar, maka sepenuhnya
meqiadi
tanggun gi awab penulis.
Yogyakarta, 9 Juni 2014
Muji Rohmat
NM:
lv
10210009
HALAMAN PERSEMBAHAN
Skripsi ini Kupersembahkan Untuk :
 Bapak Marjono dan Ibu Kartinah tercinta terimakasih
tiada terkira atas doa, nasihat, motivasi dan dukunganya
sehingga diriku mampu mewujudkan sebagian mimpi dan
cita-citaku
 Kakak-kakak dan ponakan kecilku tercinta, terimakasih
atas senyum semangat yang selalu diberikan kepadaku
 Almamaterku
Universitas
Kalijaga Yogyakarta
Islam
Negeri
Sunan
MOTTO
ُ‫ك ُُبِ ۡٲل ِح ۡك َم ُِة ُ َُو ۡٱل َم ۡى ِعظَ ُِة ُ ۡٱل َح َسنَ ُِة ُ َو ٰ َج ِد ۡلهمُُبِٲلَّتِي ُ ِه َي ُأَ ۡح َس ُۚه‬
َ ِّ‫ُرب‬
َ ‫يل‬
ِ ِ‫ۡٱدعُ ُإِلَ ٰى ُ َسب‬
ُ ُ٥٢١ُ‫يه‬
َُ ‫هُضلَُّ َعهُ َسبِيلِ ِۦُهُ َوه َىُأَ ۡعلَمُُبِ ۡٲلم ۡهتَ ِد‬
‫ُرب ََّكُه َىُأَ ۡعلَمُبِ َم‬
َ
َ ‫إِ َّن‬
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang
siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”
(QS. An Nahl: 125)1
1
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: CV
Penerbit J-Art, 2005), hlm.
vi
KATA PENGANTAR
ُُُ
 
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat beserta
InayahNya sehingga peneliti mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul:
“Komunikasi Dakwah KH. Hasyim Asyari dalam Film Sang Kiai”. Tak lupa
sholawat teriring salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada Nabi
Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya.
Atas izin Allah SWT dan bantuan dari berbagai pihak baik secra materiil
maupun spiritual, akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan. Untuk itu dalam
kesempatan ini peneliti mengucapkan banyak terimakasih kepada:
1. Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta: Bapak Prof. Dr. H. Musa
Asya’arie beserta seluruh stafnya.
2. Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi: Bapak Dr. H Waryono Abdul
Ghofur, M.Ag. beserta seluruh stafnya.
3. Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam: Ibu Khoiro Ummatin,
S.Ag,. M.Si.
4. Dosen Pembimbing Akademik: Ibu Dra. Hj. Evi Septiani TH, M.Si. yang
selama ini membimbing dan membantu permasalahan akademik yang saya
alami.
vii
5. Dosen pembimbing skripsi Dr. Hamdan Daulay, M.A., M.Si. yang telah
memberikan waktu, masukan-masukan sebagai wujud perhatian dalam
tahap-tahap penyempurnaan skripsi ini.
6. Seluruh Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam, staf dan karyawan TU di
Fakultas Dakwah dan Komunikasi.
7. Keluarga tercinta bapak, ibu, kakak, bibi dan saudara yang selalu yang
selalu memberikan doa dan semangat untukku.
8. Calon pendamping hidupku yang selalu dengan tulus mensuport,
memotivasi dan menemani hari-hariku.
9. Phointer ASSAFFA yang telah banyak memberikan pengalaman,
pengetahuan, inspirasi serta motivasi: Ika Nur Fitriani, Lailan Istiroah,
Septi Karisyati, Latifatussolikhah, Eko Budi Santoso, Fatkhurroji, dan
Deni Wahyudin.
10. Teman-teman praktikum media di Radio Angkringan : Taufik Umar,
Hilman Nur Rofiq, Fajar Agung S, Rio Ernaldo.
11. Keluarga Besar ASSAFFA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
12. Keluarga Besar KPM Bambu Runcing Temanggung- Yogyakarta
13. Seluruh keluarga besar KPI 2010 yang telah bersama-sama mengejar
impian dan cita-cita, terimakasih atas semua suka duka dan pengalaman
yang tak dapat dilupakan.
viii
Akhirnya penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak terdapat
kekurangan, oleh karena itu peneliti mengharap kritik dan saran yang
membangung dari semua untuk perbaikan selanjutnya. Semoga skripsi ini dapat
bermanfaat bagi keilmuan Komunikasi dan Penyiaran Islam
Yogyakarta, 9 Juni 2014
Penulis
Muji Rohmat
NIM: 10210009
ix
ABSTRAK
MUJI ROHMAT, 10210009. 2014. Skripsi: KOMUNIKASI DAKWAH
KH. HASYIM ASYARI DALAM FILM SANG KIAI, Jurusan Komunikasi
dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri
Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Film Sang Kiai merupakan film karya sutradara Rako Prijanto yang
diproduksi oleh rumah produksi Rapi Film. Film ini menceritakan tentang
perjuangan dan ketokohkan KH. Hasyim Asyari yang merupakan tokoh sentral
dalam pengerahan para santri dan pejuang dalam melawan penjajah baik pra
maupun paska kemerdekaan, khususnya di Jawa Timur. Penelitian ini mengambil
judul: “Komunikasi Dakwah KH. Hasyim Asyari Dalam Film Sang Kiai”. Peneliti
berusaha memahami adanya komunikasi dakwah yang di laksanakan tokoh KH.
Hasyim Asyari berdasarkan kajian teori semiotika. Rumusan masalah pada
penelitian ini adalah Bagaimana komunikasi dakwah yang di laksanakan tokoh
KH. Hasyim Asyari kepada tokoh lainya dalam film Sang Kiai?. Tujuan dari
penelitian ini untuk mengetahui komunikasi dakwah yang dilaksanakan oleh
tokoh KH. Hasyim Asyari dalam film Sang Kiai.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian
analisis isi (Content Analisis) melalui kajian semiotika sebagai pisau analisisnya.
Teknik analisis data menggunakan teori semiotika model Roland Barthes.
Berbagai tanda dan simbol dalam film Sang Kiai diterjemahkan melalui analisa
double signifikasi versi Barthes, yakni signifikasi tahap denotasi dan konotasi.
Hasil penelitian ini adalah komunikasi dakwah yang dilaksanakan KH.
Hasyim Asyari meliputi lima jenis diantaranya: qawlan adhima, qawlan baligha,
qawlan layyina, qawlan saddidan dan qawlan tsaqilah. Dan dari kelima jenis
komunikasi dakwah tersebut yang mendominasi adalah qawlan baligha.
Kata Kunci: Komunikasi Dakwah, Film Sang Kiai, Semiotika Roland Barthes
x
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL........................................................................................
i
HALAMAN PENGESAHAN ..........................................................................
ii
SURAT PERSETUJUAN SKRIPSI ...............................................................
iii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ...........................................................
iv
HALAMAN PERSEMBAHAN .....................................................................
v
MOTTO ..........................................................................................................
vi
KATA PENGANTAR ....................................................................................
vii
ABSTRAK ......................................................................................................
x
DAFTAR ISI ...................................................................................................
xi
DAFTAR TABEL ..........................................................................................
xiii
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................
xiv
BAB I: PENDAHULUAN .............................................................................
1
A. Penegasan Judul ...........................................................................
1
B. Latar Belakang Masalah ...............................................................
3
C. Rumusan Masalah .........................................................................
8
D. Tujuan Penelitian...........................................................................
8
E. Manfaat Penelitian ........................................................................
9
F. Kajian Pustaka ..............................................................................
9
G. Kerangka Teori ..............................................................................
13
1. Tinjauan Tentang Komunikasi .................................................
13
2. Tinjauan Tentang Dakwah .......................................................
16
3. Tinjauan Tentang Komunikasi Dakwah ...................................
18
4. Tinjauan Tentang Film .............................................................
32
H. Metode Penelitian .........................................................................
35
I. Sistematika Pembahasan ...............................................................
39
xi
BAB II: GAMBARAN UMUM FILM SANG KIAI.......................................
41
A. Tinjauan Tentang Film Sang Kiai ................................................
41
B. Sinopsis Film Sang Kiai ...............................................................
44
C. Karakter Tokoh KH. Hasyim Asyari dalam Film Sang Kiai ........
49
D. Pemeran dan Tim Produksi ...........................................................
54
BAB III: KOMUNIKASI DAKWAH KH. HASYIM ASYARI ANTARA
KEWAJIBAN DAN PERJUANGAN .............................................
57
A. Qawlan Adhima .......................................................................
57
B. Qawlan Baligha .......................................................................
61
C. Qawlan Layyina .......................................................................
81
D. Qawlan Saddidan .....................................................................
86
E. Qawlan Tsaqilah ......................................................................
88
BAB IV: PENUTUP ........................................................................................
105
A. Kesimpulan....................................................................................
105
B. Saran-Saran ..................................................................................
106
C. Penutup .........................................................................................
106
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................
107
LAMPIRAN-LAMPIRAN
xii
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Peta Semiotika Roland Barthes ..........................................................
39
Tabel. 2. Pemeran Dalam Film Sang Kiai .......................................................
54
xiii
DAFTAR GAMBAR
Cover Film Sang Kiai ....................................................................................
41
Gambar 1.1. Saat Bung Tomo datang meminta restu KH. Hasyim Asyari .....
58
Gambar 2.1. Situasi Pendaftaran santri baru di Tebu Ireng .............................
62
Gambar 2,2. KH. Hasyim Asyari berbincang dengan Harun di Sawah ...........
65
Gambar 2.3. Saat KH. Hasyim Asyari berbincang dengan Husein ................
69
Gambar 2.4. Husen datang ke rumah KH. Hasyim Asyari ..............................
72
Gambar 2.5. Para santri mencuri dengar pembicaraan KH. Hasyim Asyari....
76
Gambar 2.6. Saat KH. Hasyim Asyari memberi nasihat kepada anak dan para santri.
....................................................................................................
79
Gambar 3.1. KH. Hasyim Asyari dan KH.Wahid Hasyim bertemu A. Hamid Ono
(Perwira Jepang) .........................................................................
82
Gambar 4.1. KH. Hasyim Asyari minta diajarin menmbak .............................
86
Gambar 5.1. KH. Hasyim Asyari berdiskusi dengan anak dan menantunya ...
89
Gambar 5.2. KH. Hasyim Asyari di markas tentara Jepang ............................
93
Gambar 5.3. KH. Hasyim Asyari berbincang dengan KH.Wahid Hasyim ......
97
Gambar 5.4. Kedatangan utusan Bung Karno kepada KH. Hasyim Asyari dan
peristiwa Resolusi Jihad..............................................................
xiv
100
BAB I
PENDAHULUAN
A. Penegasan Judul
Untuk memperjelas dan menghindari kesalah pahaman dalam
memahami skripsi yang berjudul: Komunikasi Dakwah KH. Hasyim Asyari
Dalam Film Sang Kiai maka perlu ada penegasan judul sebagai berikut :
1. Komunikasi Dakwah
Komunikasi merupakan akativitas penyampaian pesan (messages) baik
berupa simbol maupun kode dari suatu pihak kepada pihak lain. Dalam
kehidupan sehari - hari pesan disampaikan bisa dalam bentuk bahasa tutur,
tulisan, gambar atau gerakan bagian – bagian tubuh (verbal dan
nonverbal).1 Dan dalam pelaksanaanya komunikasi dapat dilakukan secara
primer (langsung) maupun secara skunder (tidak langsung).2
Dakwah memiliki arti menyampaikan, menyeru atau mengajak
manusia kejalan Allah, dengan terlebih dahulu memperbaiki diri sendiri
sebelum memperbaiki orang lain, hal ini mutlak diperlukan karena dakwah
memerlukan keteladanan.3 Keberhasilan dalam berdakwah tidak terlepas
dari kualitas seorang da’i yang bisa memahami mad’u (sasaran dakwah).
1
Hamidi, Teori Komunikasi dan Strategi Dakwah, (Malang : UMM Press, 2010), hlm. 2
.
2
3
Wahyu Ilaihi, Komunikasi Dakwah, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 4.
Bambang Syaiful Ma’arif, Komunikasi Dakwah Paradigma Untuk Aksi, (Bandung:
Simbiosa Rekatama Media, 2010), hlm. 34.
2
Sehingga dengan memahami mad’u seorang da’i bisa menentukan materi
dan media apa yang tepat yang dapat digunakan dalam dakwahnya.
Menurut
Wahyu
Ilaihi
komunikasi
dakwah
adalah
proses
penyampaian informasi atau pesan dari seseorang atau sekelompok orang
kepada seseorang atau sekelompok orang lainya yang bersumber dari Al
Qur’an dan hadis dengan menggunakan lambang – lambang baik secar
verbal maupun nonverbal dengan tujuan untuk mengubah sikap, pendapat,
atau perilaku orang lain yang lebih baik sesuai ajaran islam, baik langsung
secara lisan maupun tidak langsung melalui media.4
2. Film Sang Kiai
Film adalah salah satu media komunikasi massa yang membentuk
konstruksi masyarakat terhadap suatu hal serta merekam realitas yang
tumbuh
dan
berkembang
dalam
masyarakat
dan
kemudian
memproyeksikan ke layar.5
Film Sang Kiai merupakan sebuah film yang bertemakan
drama,
perang, dan religi. Film ini diangkat dari kisah perjuangan seorang tokoh
islam yaitu KH. Hasyim Asyari yang merupakan pendiri pesantren Tebu
Ireng, Jombang dan juga merupakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Film ini
merupakan kreasi dari Rapi Film yang disutradarai oleh Rako Prijanto dan
dibintangi oleh artis – artis kawakan Indonesia seperti Ikra Negara, Christine
4
Wahyu Ilaihi, Komunikasi Dakwah, hlm. 26.
5
Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hlm.127.
3
Hakim, Agus Kuncoro, Adipati Dolken, Meryza Batubara, Norman Akuwen,
Dimas Aditya dan Suzuki Naburo. Secara umum film ini berkisah tentang
perjuangan
rakyat
Indonesia
dalam merebut dan mempertahankan
kemerdekaan NKRI.
Film Sang Kiai dirilis pada tanggal 30 Mei 2013 (pertama). Kemudian
karena film ini mendapat respon yang luar biasa dari masyarakat dan juga
beberapa
penghargaan di
Festifal
Film Indonesia (FFI) di antaranya;
kategori film terbaik, sutradara terbaik, pemeran pembantu terbaik dan tata
suara terbaik. Ahirnya film ini di rilis ulang pada tanggal 09 Januari 2014
untuk dipertontonkan kembali ke masyarakat.
Yang akan menjadi fokus pada penelitian ini adalah proses komunikasi
dakwah yang dilaksanakan oleh K.H Hasyim Asyari kepada tokoh - tokoh
lainya dalam film Sang Kiai. Baik komunikasi yang dilaksanakan secara
langsung maupun komunikasi yang dilaksanakan melalui media. Jadi maksud
dari judul skipsi Komunikasi Dakwah KH. Hasyim Asyari dalam Film Sang
Kiai adalah proses komunikasi dakwah yang dilaksanakan
KH. Hasyim
Asyari kepada tokoh - tokoh lain dalam film Sang Kiai.
B. Latar Belakang
Manusia tidak bisa lepas dengan proses komunikasi. Karena komunikasi
merupakan kebutuhan dasar manusia. Dengan komunikasi manusia bisa
mencukupi kebutuhan hidupnya dan dengan komunikasi pula manusia bisa
menjaga keberlangsungan hidupnya. Kebutuhan manusia akan komununikasi
4
juga dipengaruhi oleh kodrat manusia sebagai mahluk sosial atau manusia
yang tidak dapat hidup sendiri.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia akan komunikasi, berbagai
cara dilakukan agar pesan atau ide dapat sampai dan dipahami orang lain.
Mulai dari gerak tubuh, bahasa lisan, alat tradisional sampai teknologi yang
canggih. Cara - cara tersebut dilakukan agar komunikasi yang mereka jalin
dapat berjalan secara efektif dan efisien. Dan dalam hal ini teknologii
mempunyai andil besar dalam kesuksesan komunikasi yang dijalin manusia.
Karena dengan teknologi-teknologi tersebut manusia dapat menyampaikan
ide atau pesan kepada orang lain tanpa terhalang jarak, ruang dan waktu.
Salah satu dari teknologi tersebut adalah Film. Film merupakan karya
seni yang merupakan kolaborasi kreatif dari berbagai disiplin ilmu yang
dikemas secara menarik dalam bentuk audio visual. Film juga merupakan
salah satu media komunikasi yang cukup efektif untuk menyampaikan pesan
dari para pembuat film. Bahkan dalam sejarahnya film digunakan untuk media
propaganda dan komunikasi sosial untuk mendukung visi – misi dari para
pembuatnya.6 Dan ini menjadi bukti bahwa film merupakan salah satu media
yang cukup efektif yang dapat digunakan untuk berkomunikasi.
Komunikasi dengan menggunakan film yaitu dilakukan dengan cara
menyisipkan pesan atau nilai yang akan disampaikan kepada para penonton
6
Khoo Gaik Cheng, Mau Dibawa ke Mana Sinema Kita?, (Jakarta: Salemba Humanika,
2011), hlm. 10.
5
kedalam sebuah dialog, alur cerita, tokoh, setting, ataupun unsur lain yang ada
dalam sebuah film. Sehingga pesan tersebut dapat diterima oleh penontok baik
secara langsung ataupun tidak. Dengan berbagai macam latar belakang tujuan
yang berbeda maka banyak film bermuatkan pesan sosial, moral, agama, kritik
ataupun pesan lainya hadir ditengah kita. Hal itu tentu saja dipengaruhi oleh
tujuan dari sang pembuat film dalam mengemas pesan yang akan disampaikan
kepada penonton. Namun tidak jarang hanya untuk mengejar pasar ataupun
rating, film dibumbuhi dengan adegan seksual ataupun adegan yang
memancing kontroversi. Sehingga membuat fungsi film tidak berjalan secara
seimbang. Karena fungsinya selain sebagai media hiburan film juga
mempunyai fungsi sebagai media pendidikan. Dalam satu sisi film juga bisa
ikut berpartisipasi dalam transformasi kehidupan masyarakat karena film
adalah potret dari masyarakat itu sendiri dimana film itu dibuat, film selalu
merekam realitas yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat dan
kemudian memproyeksikan kedalam layar.7
Berbicara fungsi film yang mendidik dan menghibur, film religi bisa
dijadikan alternatif pilihan untuk ditonton. Karena film religi biasanya syarat
akan pesan positif seperti; pesan aqidah, pesan moral, ketokohan, sejarah
ataupun yang lainya. Sehingga hal tersebut bisa bermanfaat bagi penonton
yang menyaksiakanya. Pesan positif dalam film religi biasanya dibungkus
7
Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, hlm. 127.
6
dengan tema-tema yang menarik yang tidak kalah menariknya dengan filmfilm pada umumnya. Film religi atau film yang bertamakan islam umumnya
bercerita tetntang tiga hal antara lain: satu; menemukan pasangan hidup,
dimana inti dari cerita itu mengangkat konsep ta’aruf sebagi alternatif
pengganti pacaran karena bertentangan dengan ajaran islam. Kedua;
Identifikasi diri intinya karakter kuat yang dimiliki tokoh. Ketiga; pencapaian
pribadi bisa berbentuk ketaatan, ekonomi yang lebih tinggi, pendidikan yang
lebih tinggi.8
Namun terkadang film islami juga bercerita tentang figur seorang
tokoh muslim yang menjadi pahlawan yang kemudian dikaitkan dengan isu
sosial dan politik.9 Salah satunya adalah film Sang Kiai. Film yang
disutradarai oleh Rako Prijanto ini diangkat dari kisah seorang pejuang
kemerdekaan sekaligus salah satu pendiri Nahdlatul Ulama dari Jombang
Jawa Timur yakni KH. Hasyim Asyari. Film yang dirilis tahun 2013 ini
sukses baik secara kualitas ataupun pemasaran. Hal itu dibuktikan dengan
diperolehnya empat kategori penghargaan dari Festival Film Indonesia (FFI).
Yang kemudian film ini pun dirilis ulang di tahun 2014 untuk dipertontonkan
kembali kepada masyarakat. Film ini juga dilengkapi dengan unsur drama,
perang dan dakwah. Namun secara umum film ini bercerita tentang perjalanan
8
Khoo Gaik Cheng, Mau Dibawa, hlm. 68.
9
Ibid,., hlm. 60.
7
perjuangan umat islam saat melawan penjajah dan mempertahankan
kemerdekaan NKRI
Film Sang Kiai ini membawa kita kembali kejaman dahulu yaitu ketika
para penjajah masih menduduki bumi pertiwi. Dibalut dengan nuansa
tradisional film ini menceritakan ketokohan dan kepahlawanan KH. Hasyim
Asyari dalam mempertahankan aqidah islam dan berjihad memerangi
penjajah bersama santri dan para pejuang lainya. Beliau adalah salah satu
tokoh dalam peletakkan dasar batu kemerdekaan Negara Indonesia. Di tahun
1942-1947 beliau menjadi sosok sentral dan panutan dalam menentukan arah
serta pengerahan santri dan pejuang dalam melawan para penjajah. Dengan
fatwanya Resolusi Jihad KH. Hasyim Asyari menghimbau dan mengajak
para santri dan pejuang untuk berjihad fisabillilah melawan penjajah yang
kemudian melahirkan peristiwa perang besar di Surabaya yang kemudian hari
itu kita peringati sebagai Hari Pahlawan 10 November 1945. Nuansa
pesantren juga kental dalam film ini. Karena disamping KH. Hasyim Asyari
adalah seorang pemimpin pesantren Tebuireng, dimasa itu pesantren juga
digunakan sebagai basis kekuatan untuk melawan para penjajah. Film ini
juga menyuguhkan kondisi sosial dan budaya masyarakat di masa itu.
Ditambah dengan adegan – adegan perang saat merebut dan mempertahankan
kemerdekaan, film ini semakin menarik untuk di saksikan.
Alasan peniliti mengambil tema ini adalah karena ketokohan dari KH.
Hasyim Asyari dalam berjuang mempertahankan aqidah islam dan berjihad
8
melawan para penjajah. Di tahun 1942-1947 beliau juga menjadi sosok sentral
dan berpengaruh, dengan resolisi jihad nya beliau manpu menggerakkan
serta mengarahkan santri dan para pejuang untuk berjihad melawan para
penjajah dan mempertahankan kemerdekaan NKRI. Disamping itu beliau
juga merupakan seorang kiai besar dan seorang pemimpin pesantren yang
menjadi panutan masyarakat. Kesuksesan beliau dalam memimpin dan
menjadi tokoh panutan tentu saja tidak terlepas dari komunikasi yang baik
yang dibangun oleh beliau. Sebuah komunikasi yang bermuatkan pesan –
pesan dakwah dan semuanya itu sedikit banyak tergambarkan dalam film sang
kiai. Dan itulah yang menjadi alasan peneliti tertarik meneliti tentang proses
komunikasi dakwah yang dilaksanakan KH. Hasyim Asyari dalam film sang
kiai.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maslah diatas, maka disusun rumusan
masalah
sebagai
berikut:
Bagaimanakah
komunikasi
dakwah
yang
dilaksanakan oleh KH. Hasyim Asyari kepada tokoh-tokoh lain dalam Film
Sang Kiai?
D. Tujuan Penelitian
Sesuai latar belakang dan permasalahan, maka penelitian akan
difokuskan untuk mengetahui komunikasi dakwah yang dilaksanakan oleh
KH. Hasyim Asyari kepada tokoh – tokoh lainya dalam Film Sang Kiai.
9
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi bahan referensi bagi para
peneliti khususnya dibidang Komunikasi dan Penyiaran Islam untuk
mengembangkan teori dan metodologi penelitian yang berkaitan
dengan Komunikasi dan penyiaran islam.
b. Penulis juga barharap kiranya hasil penelitian ini dapat menambah
bahan pustaka sehingga bisa menjadi tambahan referensi tulisan –
tulisan ilmiah lainya khususnya yang berkaitan dengan komunikasi
dakwah.
2. Manfaat Praktis
a. Penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukan dan pertimbangan
dalam memimilih film – film yang berkulitas.
b. Penelitian ini juga diharapkan menjadi bahan tambahan pengetahuan
bagi mahasiswa ataupun masyarakat dalam memahami bagaimana
komunikasi dakwah itu terjadi.
c. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberi manfaat kepada
masyarakat sebagai konsumen film. Ataupun kepada para produsen
film sehingga kedepanya
mampu menghasilkan film – film yang
berkualitas dan syarat akan pesan – pesan yang bermanfaat.
F. Kajian Pustaka
10
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam proses penelitian
tentang “Komunikasi Dakwah KH. Hasyim Asyari Dalam Film Sang Kiai”
ada beberapa pijakan yang sudah dilakukan sebelumnya yang relevan dengan
komunikasi dakwah, sehingga skripsi ini kiranya dapat melangkapi dari
penelitian sebelumnya.
Pertama, skripsi yang disusun oleh Arnita 2006, yang berjudul
“Komunikasi Dakwah Pada Remaja Putri (Studi Terhadap Majalah Pelita Di
Madrasah Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta)”. Dalam penelitian
tersebut, Arnita meneliti tentang bagaimana komunikasi dakwah yang
digunakan majalah Pelita pada remaja putri di Madrasah Muallimat
Muhammadiyah Yogyakarta agar pesan yang disampaikan dapat menarik
minat remaja putri yang membacanya. Dalam penelitian ini juga membahas
tentang karakteristik pesan dakwah di dalam majalah Pelita. Adapun hasil
penelitianya adalah metode yang digunakan untuk menyampaikan pesan
ajaran islam dlam majalah pelita adalah dengan menggunakan tulisan di rubrik
– rubrik remaja yang ada pada majalah pelita. Dan karakteristik pesan atau
materi dakwah yang disuguhkan dalam majalah pelita adalah materi tentang
aqidah, ibadah, akhlak, dan ilmu pengetahuan.10
10
Arnita, Komunikasi Dakwah Pada Remaja Putri (Studi Terhadap Majalah Pelita di
Madrasah Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta), (Yogyakarta: Fak. Dakwah dan Komunikasi UIN
SUKA, 2006).
11
Kedua, skripsi yang disusun Dede Ariyanto 2012, yang berjudul
“Komunikasi Dakwah dalam Novel Bumi Cinta Karya Habiburrahman El
Shirazy”. Dalam penelitian tersebut, Dede Ariyanto meneliti tentang
bagaimana komunikasi dakwah antar tokoh yang terjadi dalam novel Bumi
Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. Penelitian tersebut difokuskan pada
proses terjadinya komunikasi dengan memperhatikan unsur
– unsur
terpenuhinya proses komunikasi itu sendiri. Adapun hasil penelitianya adalah
bahwa proses komunikasi dakwah yang terjadi dalam novel Bumi Cinta karya
Habiburrahman El Shirazy, tidak sebatas hanya secara resmi saja namun juga
bisa dilakukan di saat – saat santai bahkan meja makan sekalipun.11
Ketiga, skripsi yang disusun Drs. HM. Sagiman Sukiyo 2013, yang
berjudul “Komunikasi Dakwah Partai Persatuan Pembangunan Dalam
Membangun Kader Partai Di-DIY”. Dalam penelitian tersebut, Drs. HM.
Sagiman meneliti tentang bagaimana pembangunan kararkter kader PPP serta
bagaimana proses komunikasi dakwah yang dilaksanakan dalam pembanguna
karakter kader PPP. Adapun hasil penelittianya adalah pertama, bahwa
komunikasi yang terjadi dalam internal PPP berjalan secara praktis,
demokratis, dan tidak rumit sehingga memudahkan dalam mekanisme kerja
dan koordinasi. Kedua, bahwa dalam membangun kader partainya, PPP
melakukan komunikasi dakwah yang direalisasikan dalam pendidikan formal
11
Dede Ariyanto, Komunikasi Dakwah dalam novel Bumi Cinta Karya Habiburrahman El
Shirazy, (Yogyakarta: Fak. Dakwah dan Komunikasi UIN SUKA, 2012).
12
dan informal. Ketiga, masih kurangnya pembinaan kader khususnya dibidang
ekonomi, hukum dan komunikasi.12
Keempat, skripsi yang disusun oleh Nur Istiqomah 2013, yang
berjudul “Gaya Bahasa Dakwah Dan Konsep Gender Dalam Novel Xie Xie
De AI Karya Mell Shaliha Terbitan Diva Press (Anggota IKAPI) Yogyakarta
Tahun 2011”.13 Dalam penelitian tersebut, Nur Istiqomah meneliti tentang
bahasa dakwah yang terdapat dalam novel, bahasa dakwah yang mendominasi
dalam novel, serta konsep gender yang terdapat dalam novel tersebut. Adapun
hasil penelitinya adalah pertama, bahwa dalam novel Novel Xie Xie De AI
Karya Mell Shaliha memuat lima gaya bahasa dakwah yaitu taklim dan
tarbiyah, tazkir dan tanbih, tarhib dan inzar, qashash dan riwayat, amar dan
nahi. Kedua, dalam novel tersebut didominasi oleh gaya bahasa dakwah
taklim dan tarbiyah. Ketiga, konsep gender tentang persamaan anatara laki –
laki dan perempuan menganut pemikiran progresif, untuk konsep gender
tentang kodrat dan persamaan peran anatara laki – laki dan perempuaN
menganut moderat, sedangkan tentang kepemimpinan anatara laki – laki dan
perempuan menganut literalis.
Adapun penelitian yang dilkukan penulis yang berjudul “Komunikasi
Dakwah KH. Hasyim Asyari Dalam Film Sang Kiai” berbeda dengan
12
HM. Sagiman Sukiyo, Komunikasi Dakwah Partai Persatuan Pembangunan Dalam
Membangun Kader Partai Di-DIY, (Yogyakarta: Fak. Dakwah dan Komunikasi UIN SUKA, 2013).
13
Nur Istiqomah, Gaya Bahasa Dakwah Dan Konsep Gender Dalam Novel Xie Xie De AI
Karya Mell Shaliha Terbitan Diva Press (Anggota IKAPI) Yogyakarta Tahun 2011, (Yogyakarta: Fak.
Dakwah dan Komunikasi UIN SUKA, 2013).
13
penelitian yang pernah dilaksanakan sebelumnya. Dalam penelitian ini,
penulis meneliti tentang
bagaiman proses komunikasi dakwah yang
dilaksanakan tokoh KH. Hasyim Asyari, serta gaya bahasa dakwah yang
digunakan oleh tokoh KH. Hasyim Asyari dalam film Sang Kiai.
G. Kerangka Teori
1. Tinjauan Tentang Komunikasi
a. Pengertian Komunikasi
Komunikasi merupakan suatu hal yang sangat penting bagi
kehidupan kita. Karena hampir setiap saat kita melakukan komunikasi
untuk memenuhi kebutuhan dan mendukung keberlangsungan hidup
kita. Adapun pengertian komunikasi itu sendiri masing – masing ahli
tentu mempunyai pendapat sendiri – sendiri bergantung pada kapasitas
dan kapabilitas mereka. Secara sederhana komunikasi dapat diartikan
sebagai suatu proses penyampaina pesan dari komunikator kepada
komunikan melalui media tertentu dengan tujuan untuk mempunyai
kesamaan makna.
Menurut Prof. Dr. Hamidi, M. Si komunikasi adalah Proses
penyampaian pesan dalam bentuk simbol atau kode dari suatu pihak
kepada pihak lain dengan efek untuk mengubah sikap, atau tindakan.14
Sedangkan menurut Lasswell: Komunikasi adalah proses penyampain
14
Hamidi, Teori Komunikasi, hlm.6.
14
pesan oleh kominkator kepada komunikan melalui media yang
menimbulkan efek tertentu. Paradigma Lasswell tersebut menunjukkan
bahwa
komunikasi
meliputi
lima
unsur
yaitu:
Komunikator
(communicator, source, sender), pesan (massage), media (channel,
media), komunikan (communicant, communicate, receiver, receipent),
dan efek (effect, impact, influence). 15
b. Proses Komunikasi
Proses komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari
komunikator kepada komunikan baik secara langsung maupun tidak.
Sedangkan pendapat lain mendefinisikan bahwa proses komunikasi
adalah proses berbagi atau menggunakan informasi secara bersama dan
memiliki kesamaan makna dalam proses komunikasi.16 Proses
komunikasi terjadi ketika komunikator memformulasikan ide, pikiran
atau perasaanya kedalam sebuah simbol atau lambang (bahasa) yang
dipahami oleh komunikan. Kemudian komunikan menerjemahkan
simbol atau lambang yang mengandung pikiran ataupun perasaan dari
komunikator tersebut, sehingga terjadilah kesamaan makna diantara
keduanya.
15
Onong Uchyana Effendy, Dinamika Komunikasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993),
16
Ismi Hadad, dkk., Asas- asas Komunikasi Antar Manusia, (Jakarta: LP3ES, 1981), hlm. 6.
hlm. 4.
15
Proses komunikasi sendiri terbagi kedalam dua tahap yaitu:
komunikasi secara primer dan komunikasi secara skunder.
Proses komunikasi secra primer
adalah proses penyampaian
pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan
menggunakan lambang (symbol) sebagai media. Lambang sebagai
media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, kial, isyarat,
gambar, warna, dan lain sebagainya yang secara langsung mampu
“menerjemahkan” pikiran dan atau perasaan komunikator kepada
komunikan.17 Dalam komunikasi secara primer atau yang sering
disebut juga komunikasi secara langsung komunikator lebih sering
menggunakan bahasa sebagai media dalam berkomunikasi. Karena
bahasa mampu “menerjemahkan” ide, pikiran, pendapat, perasaan dari
seseorang kepada orang lain.
Sedangkan proses komunikasi secara sekunder adalah proses
penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan
menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai
lambang sebagai media pertama.18 Komunikasi sekunder ini sering
disebut juga komunikasi tidak langsung. Dalam proses komunikasi ini
terdapat kelemahan yaitu tertundanya umpan balik (delayed feedback).
17
Onong Uchyana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2011), hlm. 11.
.
18
Ibid., hlm. 16.
16
Hal itu disebabkan oleh reaksi dari kamunikan yang tidak bisa diterima
secara langsung oleh komunikator karena dibutuhkanya tenggang
waktu agar reaksi itu sampai kepada komunikator.
2. Tinjuan Tentang Dakwah
a. Pengertian Dakwah
Secara etimologi dakwah berasal dari kata da’a, yad’u, da’watan
yang berarti menyeru atau mengajak. Sedangkan secara terminologi
dakwah adalah mengajak kejalan Allah SWT dengan nasihat yang baik
yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadits, untuk mencapai
kebahagiaan dunia dan ahirat. Sedangkan menurut Kustadi Suhandang
dakwah adalah mengkomunikasikan ajaran islam, dalam arti mengajak
atau memanggil umat manusia agar menganut ajaran islam, memberi
informasi mengenai amar ma’ruf dan nahi mungkar, agar dapat
tercapai kebahagiaan di dunia dan akhirat serta melaksanakan
ketentuan Allah SWT.19
b. Metode Dakwah
Secara sederhana metode dakwah adalah cara yang digunakan
oleh para da’i dalam menyampaikan pesan dakwahnya. Sehingga
dengan cara tersebut pesan yang disampaikan oleh sang da’i bisa
diterima, dipahami dan dilaksanakan oleh mad’u. Berdasarkan QS. An
Nahl ayat 125 bentuk-bentuk metode dakwah ada tiga yaitu:
19
Kustadi Suhandang, Ilmu dakwah, , (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013), hlm. 12.
17
1.
Hikmah, adalah merupakan kemampuan dan ketepatan da’i dalam
memilih, memilah dan menyelaraskan teknik dakwah dengan
kondisi objektif mad’u. Al hikmah merupakan kemampuan da’i
dalam menjelaskan doktrin-doktrin Islam serta realitas yang ada
dengan argumentasi logis dan bahasa yang komunikatif. 20
2.
Mauidhah Hasanah, adalah dakwah dengan menggunakan katakata yang masuk kedalam kalbu dengan penuh kasih sayang dan
kedalam perasaan dengan penuh kelembutan.
21
sehingga dengan
demikian pesan yang disampaikan akan mudah diterima oleh
mad’u.
3.
Mujadalah, adalah metode dakwah dengan jalan tukar menukar
pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis, yang
tidak melahirkan permusuhan dengan tujuan agar lawan menerima
pendapat yang diajukan denagn memberikan argumentasi dan
bukti yang kuat.22
c. Media Dakwah
Media dakwah adalah alat-alat yang digunakan oleh da’i untuk
menyampaikan ajaran islam atau pesan dakwah. dengan adanya alat
atau media tersebut dakwah yang dilaksanakan bisa menjangkau para
20
M. Munir, Metode Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2006), hlm. 11
21
Ibid,. hlm.17.
22
Ibid,. hlm.19.
18
mad’u secara luas yang tidak terbatas jarak, ruang dan waktu. Hamzah
Ya’qub membagi media dakwah menjadi lima, diantaranya yaitu: 23
1. Lisan, inilah media dakwah yang paling sederhana yang
menggunakan lidah dan suara. Media ini dapat berbentuk pidato,
ceramah, kuliah, bimbingan, penyuluhan, dan sebagainya.
2. Tulisan, berupa buku majalah, surat kabar, korespodensi (surat, email, sms), spanduk dan lain-lain.
3. Lukisan berupa gambar, karikatur, dan sebagainya.
4. Audio visual yaitu alat dakwah yang dapat merangsang indera
pendengaran atau penglihatan dan kedua-duanya. Bisa berbentuk
televisi, slide, ohp, internet, dan sebagainya.
5. Akhlak, yaitu perbuatan-perbuatn nyata yang mencerminkan ajaran
islam, yang dapat dinikmato dan didengarkan oleh mad’u.
3. Tinjauan Tentang Komunikasi Dakwah
a. Pengertian Komunikasi Dakwah
Menurut Wahyu Ilaihi dalam bukunya Komunikasi Dakwah
berpendapat bahwa komunikasi dakwah adalah proses penyampaian
informasi atau pesan dari seseorang atau sekelompok orang kepada
seseorang atau sekelompok
orang lainya yang bersumber dari Al
Qur’an dan Hadits dengan menggunakan lambang – lambang baik
secara verbal maupun nonverbal dengan tujuan untuk mengubah sikap,
23
Wahyu Ilaihi, Komunikasi Dakwah. hlm. 20.
19
pendapat, atau perilaku orang lain yang lebih baik sesuai ajaran Islam,
baik langsung secra lisan maupun tidak langsung melalui media.24
Komunikasi merupakan inti dari kegiatan dakwah, yaitu proses
penyampaian pesan dari sang komunikator atau da’i kepada mad’u
atau komunikan melalui media tertentu untuk perubahan kearah yang
lebih baik. Komunikasi merupakan satu cara untuk menyebarluaskan
pesan – pesan kebaikan yang bisa dikemas semenarik mungkin yang
disesuaikan dengan kondisi komunikanya. Dengan komunikasi itu pula
da’i akan mengetahui materi apa yang dapat ditulis dan sesuai dengan
pembaca (mad’u). 25
Kegiatan berdakwah juga merupakan kegiatan berkomunikasi,
karena pada intinya komunikasi dan dakwah merupakan kegiatan yang
sama – sama mengharap perubahan sikap dari komunikan atau mad’u
sesuai
pesan yang disampaikanya. Perbedaan diantara keduanya
nyaris tidak kelihatan kerena memang tidak begitu mencolok. Hal itu
ada benarnya karena memang komunikasi dakwah pada dasarnya
memiliki persamaan dengan bentuk komunikasi yang lain yang sama –
sama berlandaskan prinsip – prinsip yang diajarkan oleh teori
24
25
Wahyu Ilaihi, Komunikasi Dakwah, hlm. 26.
Zaini Muchtarom, Dasar – dasar Manajemen Dakwah, (Jakarta: Al – Amin dan IKFA,
1996), hlm. 88.
20
komunikasi.26 Namun dakwah adalah komunikasi yang khas yang bisa
dibedakan dengan komunikasi lainya. Perbedaan itu dapat dilihat
dalam beberapa hal antara lain :27
a. Siapakah Pelakunya (communicator)
b. Apakah pesan – pesanya (massage)
c. Bagaimana caranya (approach)
d. Apakah tujuanya (destination)
Jadi, dapat dikatakan bahwa dakwah merupakan kegiatan
komunikasi yang khas yang beda dari komunikasi lain pada umumnya.
Dan perbedaan itu khususnya terletak pada sumber (source),
komunikator, pesan (massage), cara (approach) dan tujuanya
(destination).28
b. Komunikasi Dakwah Yang Sesuai dengan Al Qur’an
Menurut Wahyu Ilaihi komunikasi dakwah yang sesuai dengan
Al Qur’an setidaknya ada delapan, diantaramya:
1. Qawlan Adhima
Qawlan Adhima adalah sebuah pelajaran pada dai untuk tidak
mengungkapkan kata-kata yang mengandung kebohongan dalam
26
Wahyu Ilaihi, Komunikasi Dakwah, hlm. 24.
27
Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1987), hlm. 39.
28
Ibid., hlm.39
21
misi dakwahnya.29 Adapun kata-kata ini terdapat dalam QS Al Isra
ayat 40:
َٰٓ
ۡ َ ‫أَفَأ‬
ۡ‫ُن‬
َ ُ‫ٍهۡ ۡ ََۡٱتَّ َخ َۡر ۡ ِم َه ۡ ۡٱى َم ٰيَئِ َن ِةۡ ۡإِ ٰوَثً ۚب ۡإِوَّ ُنمۡ ۡىَتَقُُى‬
َ ِ‫صفَ ٰى ُنمۡۡ ۡ َزبُّ ُنم ۡۡبِ ۡٲىبَى‬
٠ٓۡ‫قَ ُۡ ًًلۡ َع ِظ ٍٗمب‬
Artinya : Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak
laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak
perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu
benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya)
(QS. Al Isra’ : 40)30
Jika dilihat dari ayat dan pengerian tersebut, maka ciri-ciri dari
qawlan adhima adalah :
a. Kata yang diungkapkan mempunyai dasar atau sumber yang
jelas dan dapat dipertanggung jawabkan kebenaranya.
b. Kata yang diungkapkan juga tidak menuduh atau tidak
mengandung prasangka.
c. Penggunaan kata ini untuk mengindarkan kita dari kata bohong
yang sering diungkapkan oleh orang-orang kafir.
d. Kata ini bisa diungkapkan untuk semua tingkatan mad’u atau
komunikan.
29
30
Wahyu Ilaihi, Komunikasi Dakwah, hlm. 172.
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: CV
Penerbit J-Art, 2005), hlm. 287
22
e. Kata ini juga bisa diterapkan dalam segala jenis materi atau
pesan.
2. Qawlan Baligha
Dalam bahasa arab kata baligha diartikan sebagai sampai,
mengenai sasaran, atau mencapai tujuan. Dan jika dikaitkan dengan
kata qawl (ucapan atau komunikasi) baligh berarti fasih, jelas
maknanya, tepat mengungkap apa yang dikehendaki, dan tepat.
Adapun pengertian dari qawlan baligha itu sendiri adalah
hendaknya dai harus seimbang dalam melakukan sentuhan terhadap
mad’u yaitu antara otak dan hatinya. Jika kedua komponen tersebut
dapat terakomodasi dengan baik maka akan menghasilkan umat
yang kuat, karena terjadi penyatuan antara hati dan fikiran.31
Qawlan Baligha ini terdapat dalam QS. An Nisa ayat 63:
َٰٓ
َّ ۡ ‫ٌهۡ ٌَۡ ۡعيَ ُم‬
ۡ ‫ٱّللُۡ ۡ َمب ۡفًِ ۡقُيُُبِ ٍِمۡ ۡفَأ َ ۡع ِس‬
َۡ ِ‫أُ َْ ٰىَئ‬
ۡ ۡ‫َۡ ِع ۡظٍُم‬
َ ‫ل ۡٱىَّ ِر‬
َ ۡ‫ض ۡ َع ۡىٍُم‬
ۡ ۡ٣٦ۡ‫ََقُوۡىٍَُّمۡ ۡفِ ًَٰٓۡأَوفُ ِس ٍِمۡ ۡقَ ُۡ ا ًَلۡبَيِ ٍٗغب‬
Artinya : Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui
apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah
kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan
31
Wahyu Ilaihi, Komunikasi Dakwah, hlm. 176.
23
katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas
pada jiwa mereka (QS An Nisaa: 63)32
Dan jika di tengok dari pngertian dan ayat diatas, maka ciri-ciri
dari qawlan baligha ini adalah:
a. Kata-kata yang disampaikan tepat sasaran atau membekas di hati
dan fikiran mad’u atau komunikan.
b. Tertampungnya semua pesan dalam kalimat yang disampaikan.
c. Kalimat tidak bertele-tele, tetapi juga tidak pula singkat sehingga
bisa mengaburkan pesan. Artinya kalimat tersebut cukup, tidak
berlebihan atau kurang.
d. Kosakata yang merangkai kalimat tidak asing bagi pendengaran
dan pengetahuan dari lawan bicara.
e. Kesesuaian dengan bahasa dan sifat mad’u atau komunikan.
3. Qawlan Karima
Qawlan Karima dapat diartikan sebagai perkataan yang baik.
Jika dikaji lebih jauh, komunikasi dakwah yang menggunkan
qawlan karima lebih kesasaran (mad’u) dengan tingkatan umur
yang lebih tua. Sehingga pendekatan yang sifatnya santun, lembut,
dengan tingkatan dan sopan santun yang dutamakan. Dalam artian,
memberikan penghormatan dan tidak menggurui dan retorika yang
32
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya, hlm. 89.
24
berapi-api.33 Qawlan karima ini terdapat dalam QS. Al Israa ayat 23
yang berbunyi :
َٰٓ َّ ِ‫ۡزب َُّلۡأَ ًَّلۡتَ ۡعبُ ُد ََٰٓ ْاۡإ‬
ۡ‫هۡإِ ۡح ٰ َسىً ۚبۡإِ َّمبٌَۡ ۡبيُ َغ َّه‬
ِۡ ٌۡ ‫َۡۡبِ ۡٲى ٰ َُىِ َد‬
َۡ َ‫۞َق‬
َ ‫ض ٰى‬
َ ُ‫ًلۡإٌَِّبي‬
َ
ّ ّٖ ُ‫ك ۡ ۡٱى ِنبَ َسۡ ۡأَ َح ُدٌُ َمبَٰٓ ۡأَ َۡ ۡ ِم ََلٌُ َمب ۡفَ ََل ۡتَقُو ۡىٍَُّ َمبَٰٓ ۡأ‬
ۡ‫َۡ ًَل‬
َ ‫ِعى َد‬
َ ‫ف‬
ۡ ۡ٣٦ۡ‫بَۡقُوۡىٍَُّ َمبۡقَ ُۡ ًٗلۡ َم ِس ٌٗمب‬
َ ‫تَ ۡىٍَ ۡسٌُ َم‬
Arintinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan
menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik
pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah
seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai
berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali
janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan
"ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan
ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia(QS Al
Isra: 23).34
Adapun ciri-ciri dari qawlan karima ini adalah :
a. Kata yang diungkapkan adalah kata-kata yang baik.
b. Kata ini digunakan untuk konteks mad’u dengan tingkatan umur
yang lebih lebih tua.
33
34
Wahyu Illaihi, Komunikasi Dakwah, hlm. 176
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya, hlm. 285.
25
c. Kata-kata yang diungkapkan bersifat sopan, santun, lembut, dan
tidak terkesan menggurui.
4. Qawlan Layyina
Qawlan
Layyina
secara
terminologi
diartikan
sebagai
perkataan yang lembut. Dan pendekatan ini digunkan pada dua
karakter mad’u. Pertama adalah pada mad’u tingkat penguasa
dengan perkataan yang lemah lembut menghindarkan atau
menimbulkan sikap konfrontatif. Kedua adala pada mad’u yang
tataran budayanya masih rendah. Yang akan berimbas pada sikap
simpati dan sebaliknya akan menghindarkan atau menimbulkan
sikap antipati.
35
Qawlan layyina ini terdapat dalam QS. Thaha ayat
43-44 yang berbunyi:
ُۡۡ‫ًُل ۡىَ ًۡۥُ ۡقَ ُۡ ًٗل ۡىٍَّ ِّٗىب ۡىَّ َعيًَّۥ‬
ۡ َ ُ‫ ۡفَق‬٠٦ۡ ‫ۡ ۡٱذٌَبَبَٰۡٓ ۡإِىَ ٰى ۡفِ ۡس َع ُۡ َن ۡإِوَّ ۥًُۡ ۡطَ َغ ٰى‬
ۡ ۡ٠٠ۡ‫ٌَتَ َر َّمسُۡأَ ٌََۡۡ ۡخ َش ٰى‬
Artinya: Pergilah kamu berdua kepada Fir´aun, sesungguhnya dia
telah melampaui batas (44) maka berbicaralah kamu berdua
kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudahmudahan ia ingat atau takut" (QS Tha ha: 43-44)36
Adapun ciri-ciri dari qawlan layyina adalah sebagai berikut:
35
Wahyu Illaihi, Komunikasi Dakwah, hlm. 181
36
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya, hlm. 315
26
a. Kata yang digunkan adalah kata yang lemah lembut
b. Kata disampaikan sesuai dengan situasi dan kondisi mad’u atau
komunikan.
c. Kata ini digunakan dalam konteks mad’u adalah seorang
penguasa sehingga dengan kata lemah lembut tersebut dapat
menghindarkan dari sikap konfrontatif dan anarkis
d. Kata ini juga tepat digunakan dalam konteks mad’u yang kondisi
tingkat budayanya masih rendah, sehingga dengan kata yang
lemah lembut akan menimbulkan sikap simpati.
5. Qawlan Maisura
Secara terminologi qawlan maisura berarti mudah. Lebih
lanjut dalam komunikasi dakwah dengan menggunakan qawlan
maisura diartikan bahwa dalam menyampaikan pesan dakwah, dai
harus menggunakan bahasa ringan, sederhana, pantas atau yang
mudah diterima oleh mad’u secara spontan tanpa melalui pemikiran
yang berat.37 Adapun qawlan maisura ini terdapat dalam QS Al
Israa ayat 28:
ۡ ۡ‫ض َّه ۡ َع ۡىٍُ ُم ۡ ۡٱبتِ َغبَٰٓ َۡء ۡ َز ۡح َم ّٖة ۡ ِّمهۡ َّزب َِّل ۡتَ ۡسجٌَُُبۡفَقُوۡىٍَُّم‬
َ ‫ََإِ َّمب ۡتُ ۡع ِس‬
ٗ ‫قَ ُۡ ًٗلۡ َّم ٍۡس‬
ۡ ۡ٣٢ۡ‫ُُزا‬
37
Wahyu Illaihi, Komunikasi Dakwah, hlm. 181
27
Artinya : Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh
rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka
katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas. (QS Al
Israa : 28)38
Dari pengertian serta ayat diatas maka ciri-ciri dari qawlan
maisura ini adalahsebagai berikut:ۡ
a. Bahasa atau kata yang digunakan adalah bahasa yang ringan,
sederhana, pantas sehingga mad’u dapat menerima tanpa
mealalui pemikiran yang berat.
b. Kata atau bahasa ini cocok untuk mad’u yang kondisinya sudah
tua atau sekelompok orang tua yang merasa dituakan, yang
sedang menjalani kesedihan lantaran kurang bijaknya perlakuan
anak terhadap orang tua atau sekelompok yang lebih muda
c. Kata ini juga cocok untuk mad’u yang terdzolimi hak-haknya
oleh orang-orang yang lebih kuat.
d. Kata ini juga cocok digunakan untuk mad’u yang secara sosial
berada dibawah garis kemiskinan.
6. Qawlan Ma’rufan
Ungkapan qawlan ma’rufan dapat diartikan sebagai ungkapan
atau ucapan yang pantas dan baik. Adapun penerapan frasa qawlan
38
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya,, hlm. 286.
28
ma’rufan dalam komunikasi dakwah yaitu terlihat pada bagaimana
berkomunikasi secara etis dan berlaku pada konteks komunikan
yaitu: pertama, orang-orang kuat (komunikator yang memiliki
power) kepada kaum lemah seperti orang miskin, anak yatim, dan
lain sebagainya. Kedua, orang-orang yang masih belum sempurna
menggunakan akalnya (anak-anak) yang mengedepankan emosi
dari pada akalnya. Ketiga, para perempuan, ditujukan untuk
menghindarkan dan mencegah perkataan yang lemah lembut dalam
konteks dapat menimbulkan fitnah. Akan tetapi kata-kata tersebut
boleh
diucapkan
hanya
ditujukan
kepada
muhrimnya.39
Sebagaimana yang terdapat dalam QS An Nisa ayat 4 dan QS Al
Ahzab ayat 32.
ْ ُ‫ًل ۡتُ ۡؤت‬
ۡ َ ََ
ۡۡۡ‫بَۡۡ ۡٱز ُشقٌُُُم‬
َّۡ ۡ ‫ُا ۡٱى ُّسفٍََبَٰٓ َۡء ۡأَمۡ ٰ َُىَ ُن ُم ۡٱىَّتًِ ۡ َج َع َو‬
َ ‫ٱّللُۡىَ ُنمۡ ۡقِ ٍَٰ ٗم‬
ْ ُ‫بَۡ ۡٱمسٌُُُمۡۡۡ ََقُُى‬
ٗ ‫ُاۡىٍَُمۡ ۡقَ ُۡ ًٗلۡ َّم ۡعس‬
ۡ ۡ٥ۡ‫َُفب‬
َۡ ٍٍَِ‫ف‬
Artinya: Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang
belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam
kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok
kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil
39
Wahyu Illaihi, Komunikasi Dakwah , hlm. 187
29
harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang
baik (QS An Nisa : 5)40
ۡ‫ض ۡع َه‬
َّۡ ۚ ُ‫ً ۡىَ ۡستُ َّه ۡ َمأ َ َح ّٖد ۡ ِّم َه ۡٱىىِّ َسبَٰٓ ِۡء ۡإِ ِن ۡٱتَّقَ ٍۡت‬
ِّۡ ِ‫ٌَٰىِ َسبَٰٓ َۡء ۡٱىىَّب‬
َ ‫ه ۡفَ ََل ۡتَ ۡخ‬
ٗ ‫َۡقُ ۡي َهۡقَ ُۡ ًٗلۡ َّم ۡعس‬
ٞ ‫هۡفٍََ ۡط َم َعۡٱىَّ ِريۡفًِۡقَ ۡيبِ ًِۡۦۡ َم َس‬
ۡ ۡ٦٣ۡ‫َُفب‬
ِۡ ُۡ َ‫ۡبِ ۡٲىق‬
َ ‫ض‬
Artinya: Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti
wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah
kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah
orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah
perkataan yang baik (QS Al Ahzab: 32)41
Dari pengertian dan kedua ayat di atas maka ciri-ciri dari
qawlan ma’rufa adalah sebagai berikut:
a. Kata yang digunakan merupakan kata yang pantas dan baik.
b. Kata ini bisa juga digunakan oleh konteks komunikator seorang
penguasa.
c. Digunakan pada konteks mad’u adalah seorang yang lemah,
miskin, anak yatim dan lain sebagainya
d. Bisa digunakan pada konteks mad’u adalah seorang anak-anak.
40
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya, hlm. 78.
41
Ibid,. 423.
30
e. Kata ini bisa juga digunkan pada konteks mad’u (komunikan)
adalah muhrim dari komunikator, yaitu biasanya digunakan atau
diucapkan kepada sang istri.
7. Qawlan Saddidan
Ungkapan
qawlan
saddidan
dapat
diartikan
sebagai
pembicaraan yang benar, jujur, tidak bohong, lurus dan tidak
berbelit-belit.42 Kata ini sebagaimana terkandung dalam QS An
Nisa ayat 9 yaitu;
ْ ُ‫بۡخبف‬
ْ ‫ٌهۡ ۡىَ ُۡ ۡتَ َس ُم‬
َ ً‫ۡض ٰ َعف‬
َ ‫ُا ۡ ِم ۡه‬
ۡ ۡ‫ُا ۡ َعيَ ٍۡ ٍِم‬
َۡ ‫ََ ۡىٍَ ۡخ‬
َ ‫ش ۡٱىَّ ِر‬
ِ ‫ۡخ ۡيفِ ٍِمۡ ۡ ُذزِّ ٌ َّٗة‬
ْ ُ‫ٱّللَۡۡ ََ ۡىٍَقُُى‬
ْ ُ‫فَ ۡيٍَتَّق‬
َّ ۡ‫ُا‬
ۡ ۡ٩ۡ‫ُاۡقَ ُۡ ًٗلۡ َس ِدٌدًا‬
Artinya: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang
seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak
yang
lemah,
yang
mereka
khawatir
terhadap
(kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka
bertakwa
kepada
Allah
dan
hendaklah
mereka
mengucapkan perkataan yang benar (QS An Nisa: 9)43
Adapun ciri-ciri dari qawlan saddidan ini adalah :
a. Kata yang diungkapkan adalah kata-kata yang benar, jujur dan
tidak berbelit-belit.
42
Wahyu Illaihi, Komunikasi Dakwah, hlm. 187
43
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya, hlm. 79
31
b. Bisa juga digunakan untuk mengungkapkan sebuah kritik yang
membangun.
c. Ada kalanya kata juga di iringi dengan perbuatan dari
komunikator. Karena kata yang diungkapkan merupakan
pengalaman atau gambaran hati serta fikiranya.
d. Kata ini digunkan untuk menghindari penggunaan bahasa yang
abstrak dan ambigu, sehingga bisa menutupi kebenaran yang
sesungguhnya.
8. Qawlan Tsaqilah
Qawlan Tsaqilah dalam penafsiran komunikasi adalah katakata yang mantap, sehingga tidak akan mengalami perubahan. Dan
penerapanya yaitu saat komunikator dalam menyampaikan pesan
dakwahnya haruslah berat dan mantap. Dalam artian kata – kata
tersebut mengandung nilai kebenaran dan tidak ada keraguan di
dalamnya
dan tidak dapat dipengaruhi oleh apapu.44 Kata ini
terdapat dalam QS Al Muzammil ayat 3:
ً ِ‫لۡقَ ُۡ ًٗلۡثَق‬
ۡ ۡ٥ۡ‫ٍَل‬
َ ٍۡ َ‫إِوَّبۡ َسىُ ۡيقًِۡ َعي‬
Artinya: Sesungguhnya
Kami akan menurunkan kapadamu
perkataan yang berat (Qs Al Muzammil: 5)45
44
Wahyu Illaihi, Komunikasi Dakwah. hlm. 193
45
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya, hlm. 575.
32
Adapun ciri-ciri dari qawlan tsaqilah ini adalah:
a. Kata yang digunkan adalah kata-kata yang tegas, berat dan
mantab.
b. Digunkan untuk mengungkapkan sesuatu yang bersumber dari
Al Qur’an ataupun hadits.
c. Digunkan untuk menegaskan sesuatu hal yang sudah pasti
sehingga tidak dapat dipengaruhi oleh apapun.
d. Digunakan untuk menghilangkan keragu-raguan.
4. Tinjauan Tentang Film
a. Pengertian Film
Film merupakan serangkaian gambar – gambar yang diambil dari
objek yang bergerak memperlihatkan suatu peristiwa – peristiwa
gerakan yang berlaku secara berkesinambungan, yang berfungsi
sebagai media hiburan pendidikan dan sebagai salah satu media
informasi. Dan secara otomatis film akan membawa dampak, baik
dampak positif maupun dampak negatif kepada para penontonya.
Film juga merupakn kolaborasi antara seni teater atau sandiwara
yang dikemas melalui unsur – unsur filmis. Unsur inilah yang
membuat cerita lebih menarik
dan berwarna dari pada sandiwara
dipanggung.46 Dilihat dari jenisnya film terdiri dari film cerita, film
46
Marselli Sumarno, Dasar -Dasar Apresiasi film, (Jakarta: Grasindo, 1996), hlm. 47.
33
documenter, film animasi dan film berita. Sedangkan jika dilihat dari
isinya film terdiri dari film action, film komedi, film drama, dan film
propaganda.47
b. Unsur – Unsur Yang Berkaitan Dengan Film
1. Skenario : rencana untuk penokohan film berupa naskah. Skenario
berupa sinopsis, deskripsi treatmen (deskripsi peran), rencana shot
dan dialog.48
2. Sutrdara : pengarah adegan sesuai scenario
3. Sinopsis : Ringkasan cerita dan penggambaran singkat alur sebuah
film.
4. Plot : Plot atau alur cerita. Plot merupakan cerita pada sebuah
scenario, plot hanya terdapat dalam film cerita.
5. Scene : Biasa disebut adegan. Scene adalah aktifitas kecil dalam
film yang merupakan rangkaian shot dalam satu ruang dan waktu,
serta memiliki kesamaan gagasan.49
6. Scene : Biasa disebut adegan. Scene adalah aktifitas kecil dalam
film yang merupakan rangkaian shot dalam satu ruang dan waktu,
serta memiliki kesamaan gagasan.50
47
Heru Affendi, Mari Membuat Film: Panduan Menjadi Produser, (Jakarta : Konfiden,
2002), hlm. 24.
48
Marselli Sumarno, Dasar- Dasar, hlm. 15.
49
Budi Irwanto, Film, Ideologi, dan Militer, (Yogyakarta: Media Pressindo, 1999), hlm. 4.
34
7. Penokohan : Pelukisan atau penggambaran tokoh cerita. Mulai dari
sifat, kondisi fisik, sikap dan lain sebaginya.
8. Shot : Satu bidikan kamera terhadap sebuah objek dalam
penggarapan film. Dan ada beberapa cara atau teknik dalam
pengambilan gambar terhadap objek, yaitu diantaranya:51
a. Close Up (C.U)
Cara pengambilan gambar lewat kamera terhadap objek dalam
jarak yang dekat sehingga detail objek tertangkap dengan jelas.
b. Medium Close Up (M.C.U)
Cara pengambilan gambar lewat kamera terhadap objek dalam
jarak yang relative dekat, namun lebih jauh dibanding Close
Up.
c. Medium Shot (M.S)
Cara pengambilan gambar lewat kamera terhadap objek yang
berada pada ketinggian pandangan mata biasa. Medium Shot
lazimnya digunakan untuk menunjukan betapa intim penonton
dengan objek yang tertangkap kamera.
d. Long Shot (L.S)
50
Ibid,. hlm. 4.
51
Ibid., hlm. 4.
35
Cara pengambilan gambar lewat kamera terhadap objek dalam
jarak yang relatif jauh sehingga konteks (lingkungan) objek itu
bisa dikenal.
c. Film Sebgai Objek Analisis Semiotik
Dalam sebuah film banyak kita jumpai tanda – tanda yang
digunakan oleh para pembuat film untuk berkomunikasi dengan para
penonton. Sehingga pesan yang ingin disampaikan oleh pembuat film
dapat dibaca oleh para penonton. Film amat relevan dengan analisis
semiotik. Seperti yang dikmeukakan oleh Art Van Zoest, film
dibangun dengan tanda – tanda semata. Tanda – tanda itu termasuk
berbagai sistem tanda yang bekerjasama dengan baik untuk mencapai
efek yang diharapakan. Berbeda dengan tanda
fotografi statis,
rangkaian tanda dalam film menciptakan imajinasi atau sistem
penanda. Pada film digunakan tanda – tanda ikonis yaitu tanda – tanda
yang menggambarkan sesuatu. Gambar yang dinamis pada sebuah
film merupakan ikonis bagi realitas yang dinotasikanya.52
H. Metode Penelitian
Metode penelitian digunakan sebagai pedoman dan dasar dalam
kegiatan penelitian. Sehingga dengan sebuah metode peneliti
bisa
mendapatkan data yang akurat dan hasilnya bisa dipertanggung jawabkan.
52
Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, hlm. 128.
36
Adapun dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian
kualitatif yaitu penelitian yang tidak mengadakan perhitungan, maksudnya
data yang dikumpulkan tidak berwujud angka tetapi kata – kata.53
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
kualitatif. Dengan jenis penelitian bersifat analisis isi kualitatif (kritis),
yang memungkinkan peneliti menelaah lebih jauh tentang isi dari suatu
informasi baik dimedia cetak ataupun elektronik. Adapun model yang
digunakan adalah analisis isi kritis model semiotik.
a. Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah sumber data dari penelitian dimana
data itu diperoleh.54Adapun subjek dalam penelitian ini adalah film
Sang Kiai.
b. Objek Penelitian
Objek penelitian yaitu masalah apa yang hendak diteliti dalam
sebuah penelitian. Adapun dalam penelitian ini yang menjadi objek
penelitianya adalah Proses Komunikasi Dakwah yang dilaksanakan
KH. Hasyim Asyari dan gaya bahasa dakwah yang digunakan KH.
Hasyim Asyari dalam film Sang Kiai.
53
Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya,
2002), hlm. 6.
54
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hlm. 102.
37
2. Metode Pengumpulan data
Metode yang digunakan penulis dalam mengumpulkan data pada
penelitian ini adalah metode dokumentasi yaitu mengumpulkan data
dengan melihat atau mencatat suatu laporan atau dokumen yang sudah
tersedia. Metode ini dilakukan dengan melihat dokumen – dokumen resmi
seperti; monografi, catatan – catatan serta buku – buku peraturan yang
ada.55 Dan dalam hal ini data dikumpulkan melalui pengamatan terhadap
film Sang Kiai, sesuia dengan masalah yang akan diteliti. Adapun
langkah-langkah yang akan dilakukan dalam pengumpulkan data pada
penelitian ini antara lain:
a. Mengidentifikasi Film Sang Kiai melalui Video compact disk (VCD).
b. Mengamati dan memahami scenario film Sang Kiai sesuai dengan
permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini. Lebih tepatnya film
akan di bagi dalam beberapa scene khususnya scene yang terdapat
aktivitas komunikasi dakwah tokoh KH. Hasyim Asyari.
c. Setelah scene ditentukan dan diklasifikasikan, maka langkah
Selanjutnya adalah menyajikan data dalam bentuk tabel dan cuplikan
frame dari adegan yang dimaksud.
3. Sumber Data
55
Ahmad Tanzeh, Pengantar Metode Penelitian, (Yogyakarta: Teras, 2009), hlm.66.
38
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan
mencari data primer dan data sekunder. Yang dijadikan data primer
adalah film Sang Kiai karya Rako Prijanto. Sedangkan data sekundernya
adalah literatur – literatur islam seperti: al – Qur’an dan terjemahnya, al –
Hadits dan referensi lainya yang relevan untuk memberikan penjelasan
tentang data yang di analisis.
4. Metode Analisis Data
Dalam menganalisis data yang telah diperoleh dan kemudian
dituangkan dalam bentuk skripsi, penulis menggunakan analisi isi kritis
model semiotik. Adapun analisis semiotik yang digunakan adalah
semiotik Roland Barthes. Studi semiotik mengambil fokus penelitian
pada seputar tanda baik tanda verbal ataupun nonverbal. Tanda verbal
meliputi ucapan lisan atau kata-kata sedangkan nonverbal meliputi
ekspresi wajah, gesture (gerakan tubuh) dan lain sebagainya. Adapun
yang diteliti dalam penelitian ini adalah tanda baik verbal maupun
nonverbal yaitu ucapan atau kata – kata (lisan), ekspresi wajah dan
gesture. Dan menurut Barthes peta bagai mana tanda bekerja adalah
sebagai berikut:
39
1. Signifier
2. Signified
(penanda)
(petanda)
3. Denotatif signifier (tanda
denotative)
4. Connotative Signifier
5.
(petanda Konotatif)
Connotative Signified
(penanda Konotatif)
6. Connotative Sign (tanda Konotatif)
Tabel 1. Peta Semiotika Roland Barthes
Dalam menafsirkan sebuah tanda Barthes mengemukakan sebuah
teori semiosis atau proses signifikasi. Signifikasi merupakan suatu proses
yang memadukan penanda dan petanda sehingga menghasilkan tanda.56
Sebagai mana terlihat dalam peta tersebut bahwa tanda denotative (3)
terdiri atas penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi dalam saat yang
bersamaan tanda denotative juga menjadi petanda konotatif. Dengan kata
lain hal tersebut merupak unsur
material. Yang ikut menjadi dasar
terbentuknya makna konotasi. Makna konotatif menurut Barthes biasanya
mengacu pada makna yang menempel pada suatu tanda kerena sejarah
pemakaianya, tidak hanya pada konteks.57
I. Sistematika Pembahasan
Skripsi yang baik salah satu syaratnya yaitu harus disusun secara
sistematis sehingga memudahkan dalam memahami isi skripsi tersebut.
56
Kris Budiman, Kosa Semiotika, (Yogyakarta: Lkis, 1999), hlm. 62.
57
St. Sunardi, Semiotika Negativa, (Yogyakarta: Kanal, 2002), hlm. 24.
40
Adapun sistematika pembahasan pada skripsi ini diawali dengan halaman
judul, halaman penegasan, halaman motto, halamn persembahan dan daftar
isi. Selanjutnya diikuti oleh empat bab dimana setiap bab terdapat beberapa
sub bab.
BAB I, berisi penegasan judul, latar belakang masalah, rumusan
masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kajian pustaka, kerangka teori,
metode penelitian, dan sistematika pembahasan. Bab ini merupakan rujukan
dasar untuk penelitian dan penulisan bab – bab selanjutnya.
BAB II, akan membahas tentang gambaran umum film Sang Kiai, yang
terdiri dari: Tinjuan tentang film Sang Kiai, sinopsis film Sang Kiai, karakter
tokoh KH. Hasyim Asyari dalama film Sang Kiai, pemeran dan tim produksi
film Sang Kiai.
BAB III, merupakan pemaparan hasil penelitian tentang komunikasi
dakwah KH. Hasyim Asyari dalam film Sang Kiai
BAB IV, merupakan bab penutup yang terdiri berisi kesimpulan dari
keseluruhan pembahasan mengenai komunikasi dakwah KH. Hasyim Asyari
dalam film Sang Kiai, serta saran yang perlu disampaikan yang relevan
dengan tema penelitian, dan terahir penutup.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan dengan menggunkan teori
Semiotika Roland Barthes sebagai pisau analisisnya. Maka dapat ditarik
kesimpulan dari rumusan masalah penelitian ini mengenai komunikasi dakwah
KH. Hasyim Asyari dalam Film Sang Kiai. Yaitu bahwa hanya terdapat lima dari
delapan jenis komunikasi dakwah menurut Wahyu Ilaihi yang sesuai dengan Al
Qur’an. Diantaranya yaitu: qawlan adhima, qawlan baligha, qawlan layyina,
qawlan saddidan dan qawlan tsaqilah. Dan komunikasi dakwah yang
dilaksanakan KH. Hasyim Asyari dalam film sang kiai didominasi oleh qawlan
baligha. Hal ini menggambarkan bahwa komunikasi dakwah yang dilaksanakan
KH. Hasyim Asyari dalam film Sang Kiai ini adalah komunikasi dakwah yang
efektif.
B. Saran
Setelah melakukan penelitian dan menganalisis film Sang Kiai. Peniliti
mendapatkan wawasan baru mengenai film. Namun disamping itu peneliti juga
mempunyai beberapa catatan yang kiranya bisa menjadi saran bagi para sineas di
Indonesia dan para peneliti lainnya:
1. Kepada Para Sineas
106
Teruslah membuat film baik. Baik dalam segi kualitas dan baik dalam
segi pemasaran. Karena hal itulah yang akan menghidupkan sebuah film.
Dengan kualitas yang baik sebuah film tidak hanya sekedar menghibur,
namun juga akan mendidik dan ikut berpartisipasi dalam mencerdaskan
masyarakat. Begitu pula dengan baik dalam segi pemasaran, karena itulah
yang menjadi salah satu imabalan dari hasil kerja keras, dan tolak ukur dari
suksesnya sebuah film.
2. Kepada Peneliti Selanjutnya
Untuk peneliti selanjutnya apabila ingin meneliti film Sang Kiai.
Peneliti sarankan untuk menganalisis teknik videografi dalam pembuatan film
ini. Karena peniliti tidak membahasnya dalam penelitian ini.
C. Penutup
Syukur Alhamdulillah, segala puji senantiasa peneliti panjatkan pada Allah
SWT karena berkat
limpahan rahmat dan hidayahNya peneliti
bisa
menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Tidak lupa juga bagi semua pihak yang
telah ikut membantu dalam penyusunan skripsi ini.
Dalam skripsi ini tentunya banyak kekurangan dan kelemahan. Untuk itu
peneliti
menerima
kritik
dan
saran
yang
bersifat
membangun
dan
menyempurnakan skripsi ini. Ahirnya semoga skripsi ini bermanfaat dan bisa
memberikan pengetahuan bagi para pembacanya. Dan bisa menjadi pijakan bagi
penelitian silanjutnya.
107
DAFTAR PUSTAKA
Rujukan Buku:
Ahmad Tanzeh, Pengantar Metode Penelitian, Yogyakarta, Teras, 2009.
Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2006.
Bambang Syaiful Ma’arif, Komunikasi Dakwah Paradigma Untuk Aksi,
Bandung, Simbiosa Rekatama Media, 2010.
Budi Irwanto, Film, Ideologi, dan Militer, Yogyakarta, Media Pressindo, 1999.
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya,
Bandung, CV Penerbit J-Art, 2005
Hamidi, Teori Komunikasi dan Strategi Dakwah, Malang, UMM Press, 2010.
Heru Affendi, Mari Membuat Film: Panduan Menjadi Produser, Jakarta,
Konfiden, 2002.
HM. Rifa’I, Fiqih Islam Lengkap, Semarang, PT. Karya Toha Putra, 1978.
Ismid Hadad, dkk., Asas – asas Komunikasi Antar Manusia, Jakarta, LP3ES,
1981.
Khoo Gaik Cheng, Mau Dibawa ke Mana Sinema Kita?, Jakarta, Salemba
Humanika, 2011.
Kris Budiman, Kosa Semiotika, Yogyakarta, Lkis, 1999.
Kustadi Suhandang, Ilmu dakwah, , Bandung, Remaja Rosdakarya, 2013
Lexy J.Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung, PT. Remaja
Rosdakarya, 2002.
M. Munir, Metode Dakwah, Jakarta, Kencana, 2006.
108
Marselli Sumarno, Dasar – Dasar Apresiasi film, Jakarta, Grasindo, 1996.
Mubasyaroh, Psikologi Dakwah, Yogyakarta, Idea Press, 2012.
Onong Uchyana Effendy, Dinamika Komunikasi, Bandung,
Rosdakarya, 1993.
Remaja
, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, Bandung,
Remaja Rosdakarya, 2011.
St. Sunardi, Semiotika Negativa, Yogyakarta, Kanal, 2002.
Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian, Jakarta, Rineka Cipta, 1991.
Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah, Jakarta, Gaya Media Pratama, 1987.
Wahyu Ilaihi, Komunikasi Dakwah, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 2002.
Zaini Muchtarom, Dasar – dasar Manajemen Dakwah, Jakarta, Al – Amin
dan IKFA, 1996.
Rujukan Skripsi
Arnita, Komunikasi Dakwah Pada Remaja Putri (Studi Terhadap Majalah
Pelita di Madrasah Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta), skripsi
diajukan kepada jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas
Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam negeri Sunan kalijaga
Yogyakarta, 2006.
Dede Ariyanto, Komunikasi Dakwah dalam novel Bumi Cinta Karya
Habiburrahman El Shirazy, ), skripsi diajukan kepada jurusan
Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Universitas Islam negeri Sunan kalijaga Yogyakarta, 2012.
HM. Sagiman Sukiyo, Komunikasi Dakwah Partai Persatuan Pembangunan
Dalam Membangun Kader Partai Di-DIY, ), skripsi diajukan kepada
jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan
109
Komunikasi Universitas Islam negeri Sunan kalijaga Yogyakarta,
2013.
Nur Istiqomah, Gaya Bahasa Dakwah Dan Konsep Gender Dalam Novel Xie
Xie De AI Karya Mell Shaliha Terbitan Diva Press (Anggota IKAPI)
Yogyakarta Tahun 2011, ), skripsi diajukan kepada jurusan
Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Universitas Islam negeri Sunan kalijaga Yogyakarta, 2013.
Rujukan Internet
http://filmsangkyai.com/, Di akses pada hari selasa 13 Mei 2014, Pukul 20. 30
WIB
http://www.21cineplex.com/exclusive/film-sang-kyai-jawaban-rako-prijantotentang-asli-indonesia,149.htm Di akses pada hari selasa 13 Mei 2014.
Pukul 20. 49 WIB.
http://www.pesona.co.id/refleksi/refleksi/belajar.sejarah.dari.film.sang.kiai/001/
001/101, Di akses pada hari Selasa 13 Mei 2014. Pkul 20.30 WIB.
iF
Lruirmm"Lryfumtl
KEMENTERIAN AGAMA
UNIVESITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
Ltio
PENELITIAN DAN
PTNcRBDIAN KTpNDA MESyIRAKAT
LTTTNgAGA
ctly
c5€r$ikat
:
Nomor
LemLraga Penelitian
dan
UlN.02/1.2/PP.06/ 2885/ 2013
kepada Masyarakat (LPPM) UIN Sunan Kalijaga
Pengabdian
Yogyakarta memberikan sertifikat kepada
Nama
MujiRohmat
Tempat, dan Tanggal Lahir
Temanggung, 24 Juni 1991
Nomor lnduk Mahasiswa
10210009
Fakultas
Dakwah dan Komunikasi
yang telah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) lntegrasi-lnterksneksi Tenratik Posdaya
Berbasis Masjid Semester Khusus, Tahun Akademik 201212013 (Angkatan ke-80), di
: Suryodinirrgratan
: Mantrijeron
: Yogyakarta
Lokasi
Kecamatan
Kabupaten/Kota
:
7
Daeralr lstimelva Yogyakarla
daritanggal 16 Julisld,9 September 20'13 dan dinyatakan LULUS dengan nilai
95.79 ( A
)
Sertifikat ini diberikan sebagai bukti yang bersangkutan telah melaksanakan Kuliah Kerya Nyata
(KKN) dengan status intrakurikuler dan sebagai syarat untuk dapat mengikuti ujian Munaqasyah
Skripsi.
,i
'
r'.i
'
.
1-. 't',
Yogyakarta, 16 Oktober 2013
Ketua,
;
:'l
.
i
Afandi, M.Ag., Ph,D
9631111 199403 1 002
rr{
{,
,**
-,
q fii*'€
s.!r'ci
.*?*.
-,**
i lF-:q F
q 4
!-q1
4r!-i;
d -ia" !'1.$_j
* Jr 'lJl- ,- ,r J :
,{&b}+s .7 _,r+d44+
H'
fr%sffi
ax*ry#
.wtr*#
KEMENTRIANAGAMA RI
UNTVERSITAS ISIAM NEGERT SIJNAN KALIJAGA
FAKUL'TAS DAINTAH DAhI KOMI"INIKASI
Jl. Marsda Adisucipto Telp. (027a) 515856 Fax, 552230 Yogyakarra 55281
trffi&wxtrsH{,&w
Nomor : UIN.02/Prakma KPI/PP.{}0.9
1930
l20l3
Panitia pelaksana Praktikum Media Mahasiswa Jurusan Komunikasi Dan
Penyiaran Islam Fakultas Dalnnrah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta angkatan ke-28 tahun akademik h0rcnB1,4, Menyatakan
Nama
NIM
:
M$I
:
ROHMAT
: 10210009
Fakultas : I)f,IEIilAII
DEN KOMIINIELSI
Jurusan ; EOMtlNItf;$I
I,.EIE
PEItffI,fRf,N ISLEIVI
Telah melaksauakan Praktikum Media Jurusan Komunikasi dan Penyiaran
Islam semester ganjil tahun akademik 2}rc/2014 di nadio dan Bulstin
f,rrgkdnga dgngan nilai B+
Dernikian sertifikat ini diberikan sernoga dapat dimanfaatkan semestinya.
Yogyakarta, 2? Desember A0l3
KPI
Ketua Panitia pelalaana
ct.{
S.Ag, M.Si
NIP. I 97 10328 199703200r
Nanang
t2
Miarat
NIP. 19840307201
l0l t0t3
L
(5
(5
lh
=
tn
(o
(o
o
a
N
o
9l
-o
j*J
,s
*J
t-
(5
L(5
oo
I
B=
b$
*F=R.Ez.6E
t
h*
iZ*
\*
TH
er*
E=3
<-jEl
g;r
vzg
E37
axl
TJ
g9=
tr
*l
9911
z-rlJ
m
i<IE
xf Ea
,
;i
E
$gf$
q#Ea
=
o)
O
=
e
P O
EY'-L
t-J
Fl
i =Hs
I
=
'c
O
nqJtie
=v
E
E
:
1-
Eo.=E
9-i.g
F
-r^r
G-Sc,
/
O
E]
sEgE
Ee
-<
tE!
i
E<=;
oJo*
i^^U
IrI
o
rf;: E=H
;=s ;1fp
83
e'l
.E
,r;
-+
oo
c.l
o\
c
P
g
e
c..l
z
lr
H
z
vt
on
o
qJ
e
rrl
o
><
C
(g
!
dI
r-
**
E
L/
N
o
o
r
rfi
o
€
o\
o)o
xc!
=5
5g
Gr=
o6
RA
ll
'tE
oE
lC
o)
Oo)
-Y. e
o6
l-
to
€E
-o
o
3fi
L
l./l
c.l
N
+
r\
bl d-o
N
MY
i|.r
R3
\s
oo
\o
N?
!\
C\I
ET
oo
9E
s
]'-{ DP
e:{. Oc
g ap
oo
q
1O
?*#;
Ei5 fi
4)' I
;6E$
33XE
&27, a
E*,*
A5J€
Ha D =g
f;Ex=
C\
L.
J
SZ.
rEO
o)
C
_bB
z-O
E
u
c
o
C
:)
lr',
Z
=
a
g
,,,,r
-c
5.;
5o
oE
P5
-E
t-
-I
r
soi
oo
fr2,
sEs
OE
E=5
zza
U€
-o
oo
tro
^:
€,Y
q,5
C
-lL-
p,i
L_-
A
.z-
-
-l-
:f
€9
.Y ll
())o
(1)0
ll
tra
€I
o
-c.3
a9R
9'E
-r
o
-cO
:-e e
o
c h-
3
IZ
o
a/,
o
=)
IZ
o
LL
oo
EEi
.lJco
ooo
>o g
.t-.t3 X
o15 x
-c
C)
o
c\ lz
;
o
o o =
C
f
o
C t/, rt
o
0)
o
-}
o
=
-t lz) f
o +C
uo C
#
o o
sz.
o
o)
o
\o
q8
EA
-:O(o
lOor
Eo'
o:tab
j1r)
{(-.86
\!it'.50
E"r*r
a.l, '--
)
h s,1i
za,
.s".=f
*{lc
rl"*,t --- ^ * - '-. -'.-.--
i
;ffi
:F,ffiT
:tffi
1
$
=dilisi
.
-
MIT{ISYTRY OF RELIGIOUS ATTAINSI
STATE ISfuTMIC UNTYERSITYSI.JNAN KALL}AGA YOGYAKARTA
n
jf
...i,":.4
'r
l'
i
(E{rmffiL{${tAGEffiBmffir
JL
l{at&
Adis*iSo , Plwe, {ozZq} SpZzZ YqyaJ<e?ta i;1zAr
rlfr sr ffGil$t ffitrrfffi{r ffiscJHn
t{o : UIt{.02fl-SPP.00.gr{4S5 .bnB1,l.
Herewith the undersrgned certifies that
Name
: tuji Rohmat
Date of Birth : June 2d l$lt
Sex
: [ilale
took TOEC {Teet of Englis*".Comfi } held,ibn April 24, zAM by Center
for Language Development
Sunan Kalilaga State Islamic University
Yryyakarta and got the following ie$ult'"
oJ
CON\TERTED SCORE
Listening Comprehension
Structure & Written Expression
Reading Comprehension
Total Seore
*Yffiily :
2 years
sirre fre cartflkata's fucued
1109 199103 1 002
r;
=fJ
ujbss++ t*.rs.,
*r, H*Sl'#
fos*33tfo*eelt
i#:.'*:i
:;ltilr::;
&p Qiff
6rrej
UlN.. Y/L.o/PP,.
..1f\ t 1o.a fY . \ t :pJt
r Jt{ ;r-JilJl ;,,*Cr
Ff
6.1lr!
"t..6"},J
Muji Rohmat
t
,
t.tt
lt
1 .5r3*
Y
f-Xl
t : ^:)tolt GJU
.rhrt g rJ.;u 't!
! e,", .,te Ja?J
,L;t-,Y !',,$, a,,p.y'l ,$fJ,''i,*rif
1i"-.tt
4*rr* r .rragl
r-9 Ar-J+=:J
gel
Il=ftJ:Jt
,.lytl rrd
CrLr.;.dl
,t.re!t gl$etr,tt*, i-tl lttP b\"rJt 4'i'*
!.!t &Jlr.
.
j:..7tlt .yi fu
\11f \ \.1
l4,j
\1t\.f \ ' '\ ' 'itL:rll t'l
.'t
rl
r-{
o
c!
\o
o
a
*i
c\
.n
\z
O)
o
q
oo-
z:)
an
j
C\
o
Z
f
lL
5
I
o
V
o
C
o
=
z
-l-J
z
N
o
J
Z
\z
IIJ
f
E
()
C
o
o
o
o
O o
@
oo
@
F{
LN
@
E
(u
3
C
(o
L
(U
'=
c
0)
oC
l,
(o
0)
P
(o
Icn
C
'o
rE
.:Z
V5*'=
Y -'i
-O
r t
icvJ
-
<
2
o-
E
o
c
==49
=o
qJ
U
x
o)
3
o
LU
o-
o
vl
P
o
L
o
v1
o
L
.9
.9
#
P
:s
o-
z
tr
(U
(o
F-
I
c(o
-\Z
r^
.V
-.{
a
m
z
o
(J o
Jl
o
6
00
(o
Aro
({-t a_e
O=
u- '=ty
rp{
+J Z- _oo
OE
{.{
cct
r!1
o
.9
Z.
::tnO)
elc
AEro
l==J=c L
oE*
zzd<o
(E
0
C
=
L
OJ
c
Z
r{
c\
cn
s
=
V
qJ
E
o
o)
C
OJ
o
v
z :
E
(E
:
(E
P
o
F
o)
o
L
cO
ul c)
v) O
o o
-t
IIJ
H rf)
o-
(l
o
3 O
N
\(d co
o
c)
t\
N
o\
l*:E
l::!li::
::::iil::l,
'I
l:ri!:
,.:r:iit
.liillirl
'i+1'
Download