1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Proses

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Proses akuntansi dalam pemerintah daerah sangat berpengaruh dalam
menjalankan atau pengeoperasian sistem keuangan daerah. Akuntansi adalah
suatu seni mencatat, menggolongkan, mengikhtisarkan data kuantitatif yang
bersifat keuangan suatu entitas (pemerintah daerah) serta melaporkannya kepada
pihak yang berkepentingan untuk pengambilan keputusan (SIKDATA,2003).
Sementara dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005 tentang Standar
Akuntansi Pemerintahan, Akuntansi adalah proses pencatatan, pengukuran,
pengklasifikasian,
pengikhtisaran
transaksi
dan
kejadian
keuangan,
penginterpretasian atas hasilnya, serta penyajian laporan (PP No.24/2005 pasal 1)
Fungsi akuntansi bagi pemerintah menyediakan data akuntansi yang
digunakan untuk memberikan informasi mengenai transaksi ekonomi dan
keuangan pemerintah kepada pihak eksekutif, legislatif dan masyarakat.
Akuntansi bagi Pemerintah memiliki peranan yang sangat penting karena:
•
Menyediakan informasi kuantitatif terutama yang bersifat keuangan dari
entitas pemerintah guna pengambilan keputusan ekonomi bagi pihak-pihak
yang berkepentingan
•
Untuk menciptakan good governance yang terbebas dari tindakan korupsi,
kolusi, dan nepotisme
Pada akuntansi pemerintah, salah satu unsur penting dalam laporan
keuangan nya adalah neraca daerah. Dalam penyusunan neraca daerah beberapa
1
2
tahap dilakukan oleh pemerintah daerah, yaitu melakukan pengumpulan data
(inventarisasi) dan pengelompokan aset tetap, penilaian aset dan penyajian dalam
neraca daerah.
1) Pengumpulan data (inventarisasi) dan pengelompokan aset tetap
Aset tetap yang meliputi seluruh Barang Milik/Kekayaan Daerah
(BM/KD) yang dimiliki pemerintah daerah dihitung kembali melalui kegiatan
inventarisasi aset. Kegiatan inventarisasi dilakukan dengan mengacu kepada
Keputusan Menteri Dalam Negeri nomor 152 tahun 2004 dengan
mencatumkan atribut masing-masing barang inventaris yaitu tipe, merk, tahun
perolehan, kondisi (baik, rusak ringan atau rusak berat). Hasil inventarisasi aset
daerah diolah dengan aplikasi program inventaris untuk menghasilkan laporan
hasil inventarisasi.
Aset tetap pada neraca dalam Kepmendagri nomor 11 tahun 2002
dikelompokkan menjadi 19 kelompok dan untuk keperluan penyajian, aset
tetap pada Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005 dikelompokkan ulang
menjadi beberapa pos, yaitu:
•
Tanah
•
Gedung dan Bangunan
•
Jalan, Irigasi, dan Jaringan
•
Peralatan dan Mesin
•
Aset Tetap Lainnya
•
Konstruksi dalam Pengerjaan
2) Penilaian aset tetap
Sesuai Keputusan Menteri Dalam Negeri nomor 12 tahun 2003 tentang
3
Pedoman Penilaian Barang Daerah, pada prinsipnya penilaian aset tetap
berdasarkan biaya perolehan. Apabila penilaian aset tetap dengan menggunakan
biaya perolehan tidak memungkinkan maka nilai aset tetap didasarkan pada nilai
wajar atau nilai pengganti pada saat perolehan. Untuk mendapatkan nilai wajar
atau nilai pengganti banyak metode penilaian yang dapat digunakan, antara lain
pendekatan nilai pasar (market data approach), kalkulasi biaya (cost approach),
biaya pengganti (replacement cost) dan pendekatan kapitalisasi pendapatan
(income capitalization approach).
3) Penyajian aset tetap
Aset tetap pada neraca daerah disajikan sesuai dengan kelompoknya dan
penjelasan kebijakan akuntansi, dasar penilaian, mutasi, dan informasi
penyusutan sesuai Peraturan Pemerintah nomor 24 tahun 2005 tentang Standar
Akuntansi Pemerintahan.
Peraturan yang baru untuk pengelolaan barang daerah adalah Peraturan
Pemerintah Nomor 06 tahun 2006 tetapi belum ada Petunjuk Pelaksanaan/Teknis
dari Departemen Dalam Negeri. Jadi selama belum ada aturan baru yang berlaku,
Kepmendagri 152/2004 dan 12/2003 tetap berlaku di Lingkungan Depatemen
Dalam Negeri. Kedua Kepmendagri tersebut diterapkan dalam penyusunan neraca
Pemda karena PP 24/2005 tentang SAP tidak/belum ada petunjuk teknisnya.
Penerapan Kepmendagri 152/2004 terutama dalam hal inventarisasi dimaksudkan
untuk mendapatkan data inventaris (aset) Pemda secara benar baik dari segi
keberadaannya dan tertib administrasi dalam pengelolaan aset. Sementara secara
khusus Penilaian Aset Daerah yang paling operasional ada di Kepmnedagri 12
tahun 2003 dengan kriteria yang telah ditetapkan dalam peraturan tersebut. Pada
4
penelitian ini data sampling yang di olah yaitu tahun 2005, sehingga tidak tepat
kalau diterapkan PP No.06 tahun 2006 tetang Pengelolaan Barang Negara. Untuk
Aset Tetap telah dilakukan penilaian oleh PT Indoprofita Konsultama, Jakarta
(Professional Appraisers and Consultants) sesuai dengan Laporan Hasil Penilaian
Aset Nomor Ref.030/IK-PPNT/XI/2005 tanggal 19 Desember 2005.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian dengan mengangkat judul “Analisis Implementasi Keputusan
Menteri Dalam Negeri nomor 152/2004 dan nomor 12/2003 serta Peraturan
Pemerintah nomor 24/2005 pada Aset Tetap : Studi Kasus pada Pemda
Provinsi Nusa Tenggara Timur “.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis merumuskan pokok permasalahan
sebagai berikut:
1. Apakah inventarisasi aset tetap dilakukan sesuai dengan Keputusan
Menteri Dalam Negeri No.152/2004 dengan mencantumkan seluruh
atributnya?
2. Apakah penilaian aset tetap dilakukan sesuai dengan Keputusan
Menteri Dalam Negeri No.12/2003 dengan mempertimbangkan
atributnya?
3. Apakah penyajian aset tetap pada neraca daerah telah berpedoman
pada Peraturan Pemerintah No.24/2005?
5
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui apakah Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara
Timur sudah menerapkan Keputusan Menteri Dalam Negeri
No.152/2004
dan
No.12/2003
serta
Peraturan
Pemerintah
No.24/2005 yang sudah berlaku atau belum dilaksanakan.
2. Mengeksplorasikan hal–hal yang menghambat Pemerintah Provinsi
Nusa Tenggara Timur dalam penerapan Sistem Akuntansi Keuangan
dari Pemerintah Pusat jika belum terlaksananya penerapan tersebut.
3. Mengeksplorasikan hal–hal yang dianggap sebagai penghambat atau
kendala dalam penerapan Sistem Akuntansi Keuangan dari
Pemerintah Pusat.
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat yang ingin dicapai dari penelitian ini antara lain sebagai berikut :
1. Bagi penulis
Sebagai sarana untuk menerapkan teori-teori yang diperoleh penulis
di bangku perkuliahan, dalam realita kehidupan melalui penelitian
dan untuk memenuhi syarat memperoleh gelar Strata 1 (satu) di
Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Kristen
Duta Wacana Yogyakarta.
2. Bagi Pemerintah Daerah sebagai obyek penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan bantuan
perbaikan berupa solusi dalam mengatasi masalah atau yang menjadi
6
kendala bagi Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam
penyusunan aset tetap pada neraca daerah sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.
3. Bagi Pembaca
Sebagai bahan refrensi atau masukan bagi para pembaca untuk
melakukan penelitian lebih lanjut khususnya yang berkaitan dengan
pengimplementasian Standar Akuntansi Pemerintah.
1.5. Batasan Masalah
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis membatasi pembahasan masalah pada
beberapa hal sebagai berikut:
1. Obyek penelitian adalah Implementasi inventarisasi, penilaian, dan
penyajian aset tetap pada neraca di Pemda Provinsi Nusa Tenggara
Timur.
2. Tempat pengambilan data mengenai Kepmendagri No.152/2004,
Kepmendagri No.12/2003 dan Peraturan Pemerintah No.24/2005
dilakukan di biro keuangan dan biro perlengkapan pada kantor
Gubernur Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur.
3. Waktu observasi dilakukan dari bulan september 2006 sampai bulan
oktober 2006.
4. Jenis laporan keuangan yang akan diteliti adalah neraca dengan
elemennya yaitu aset tetap, karena aset tetap merupakan komponen
terbesar dari neraca yang mempunyai manfaat lebih dari 1 (satu)
periode akuntansi.
7
5. Peraturan
yang
digunakan
pada
penelitian
ini
adalah
KEPMENDAGRI No. 152/2004 mengenai inventarisasi aset tetap
dengan sampel peralatan kantor, alat rumah tangga, peralatan
komputer, mebelair pejabat, alat kedokteran, alat laboratorium
umum, alat laboratorium peraga, alat laboratorium kimia, alat
laboratorium proteksi radiasi, alat laboratorium radiasi, alat
laboratorium lingkungan pada dinas kesehatan, dinas kimpraswil,
dan sekretariat daerah, dan aset tetap lainnya seperti barang bercorak
seni budaya pada dinas pendidikan, buku perpustakaan, hewan ternak
dan tanaman pada dinas peternakan, buku perpustakaan, barang
bercorak seni budaya, dan alat persenjataan pada kantor penghubung.
KEPMENDAGRI No.12/2003 mengenai penilaian aset tetap dengan
sampel sapi bali dan Sapi ongole yang menggunakan metode data
pasar dan yang menggunakan metode kalkulasi biaya adalah kursi
sofa sudut, kursi putar, kursi pimpinan. PP No. 24/2005 mengenai
penyajian aset tetap dengan sampel tanah, peralatan dan mesin,
gedung dan bangunan, jalan, jembatan dan jaringan, aset tetap
lainnya dan kontruksi dalam pengerjaan.
Download