State of the Art

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Sebelumnya ( State of the Art )
Tabel 2.1. Judul – judul Penelitian Sebelumnya
Judul
Peran Produser di
Teori
Teori Umum:
Metodologi
Pendekatan
:
“Provocative Active” di
-
Komunikasi Massa
Kualitatif
87,6 Hard Rock FM
-
Media Massa
Metode : wawancara
Oleh Satya Dimas
-
Karakteristik Radio dan observasi
Permana, Universitas Bina
Nusantara 2013
dan Televisi
Teori Khusus:
-
Informan :
-
Teori Peran
Boim
(Produser
Program
Provocative
Proactive
87.6
Hard
Rock FM)
-
Indah
(Asisten
Produser
Provocative
Proactive
87.6
Hard
Rock FM)
-
Pandji
(Announcer
dan Produser
Provocative
Proactive
87.6 Hard
Rock FM)
7
8
Pengaruh Radio Streaming Teori Umum :
Pendekatan
BEU
Radio
:
Terhadap
-
Komunikasi Massa
Kuantitatif
Minat Membeli Produk
-
Media Massa
Metode : penyebaran
Clothing
Line
Bloop
-
Radio
kuisioner
Endorse
Urbie
Pada
-
Radio Streaming
Informan
Komunitas
Komunitas Remaja Ceria
Teori Khusus :
Jakarta Pusat 2013
Oleh Sadam Husen,
Universitas
Bina
Nusantara 2013
Produksi Program “Slagi
Teori
:
Remaja
Ceria Jakarta Pusat
Uses
and 2013
Gratification
-
Teori Minat
Teori Umum:
Pendekatan :
Ada” di Motion Radio
-
Komunikasi Massa
Kualitatif
97,5 FM
-
Media Massa
Metode : wawancara
Oleh Andreas Kristiono,
-
Radio
Informan :
Universitas Bina
Nusantara 2011
Teori Khusus:
-
Angie Rasidy
-
Program Radio
(Produser
-
Elemen Program
Program
Radio
“Slagi Ada”
Motion
Radio)
Tuning In: Key Audience
Teori Umum:
Pendekatan:
issues for Public Service
-
Sejarah Radio
Broadcaster, RTE Radio
-
Radio
School of Media, College
Teori Khusus:
-
of Arts and Tourism
Dublin Institute of
Technology 2013
The Metode: wawancara
–
Medium’s Effect
(1995 – 2012)
Oleh Patrick Hannon,
Kualitatif
-
Informan:
-
Adrian
The Public Service
Moynes. MD
Broadcasting Model
of
Irish
Radio
independent-
commercial
broadcasters’
RTE
Eithne Hand,
Head of RTE
first
call for change
Radio 1
-
John
(Engineer)
9
Using Radio for Advocacy
Teori Umum:
Pendekatan:
and Communication of
-
Radio
Kuantitatif
Issues Affecting Farm
-
Community,
Metode: Penyebaran
Communities in
Community Media, kuisioner
Zimbabwe,
Mass Media
Oleh Clever Maputseni,
Teori Khusus:
International Masters in
-
Advocacy
Communication for
-
Communicztion for
Development course
at Malmo University’s
School of Arts and
Communication (K3) 2006
Development
Informan:
Komunitas Petani di
ZImbabwe
10
2.2
Teori Umum
2.2.1
Komunikasi
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide,
gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnya, komunikasi
dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah
pihak.
Komunikasi mengandung makna bersama – sama (common). Istilah
komunikasi
atau
communication
berasal
dari
bahasa
latin,
yaitu
communicatio yang berarti pemberitahuan atau pertukaran. Kata sifaynya
communis, yang bermakna umum atau bersama.Para ahli mendifinisikan
komunikasi menurut sudut pandang mereka masing – masing. Ingat bahwa
sejarah ilmu komunikasi, ia dikembangkan dari ilmuwan yang berasal dari
berbagai disiplin ilmu. Trenholm dan Jensen mendefinisikan komunikasi
demikian: “A process by which a source transmits a message to a receiver
through some channel.”(Komunikasi adalah suatu proses dimana sumber
mentransmisika pesan kepada penerima melalui beragam saluran). (Wiryanto,
2008:5)
Untuk memahami pengertian komunikasi tersebut sehingga dapat
dilancarkan secara efektif, bahwa para peminat komunikasi sering kali
mengutip paradigm yang dikemukakan oleh Lasswell dalam karyanya, The
Structure and Fungtion of Cummonicatin in society. Lasswell mengatakan
bahwa cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi ialah dengan menjawab
pertanyaan sebagai berikut : Who Says What in Which Channel To Whom
With What Effect? (Siapa mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa
dengan efek bagaimana?) (Wiryanto, 2008:7)
11
2.2.1.1 Proses Komunikasi
Proses komunikasi adalah setiap langkah mulai dari saat menciptakan
informasi sampai dipahami oleh komunikan. Komunikasi adalah sebuah
proses, sebuah kegiatan yang berlangsung kontinu.Joseph De Vito (1996)
mengemukakan komunikasi adalah transaksi. Hal tersebut dimaksudkan
bahwa komunikasi merupakan suatu proses, dimana komponen – komponen
saling terkait. Bahwa para pelaku komunikasi beraksi dan beraksi sebagai
suatu kesatuan dan keseluruhan.
Dalam setiap transaksi, setiap elemen berkaitan secara integral dengan
elemen yang lain, artinya elemen – elemen komunikasi saling bergantung,
tidak pernah independen, masing – masing komponen saling mengait dengan
komponen yang lain. Dalam aplikasinya, langkah – langkah dalam proses
komunikasi adalah sebagai berikut : (Suprapto, 2011:7-8)
Gambar 2.1 Proses Komunikasi
IDE
ENCODING
PENGIRIMANG
DECODING
BALIKAN
1. Langkah pertama, ide / gagasan diciptakan oleh sumber /
komunikator.
2. Langkah
kedua,
ide
yang
diciptakan
tersebut
kemudian
dialihbentukkan menjadi lambang- lambang komunikasi yang
mempunyai makna dan pengiriman.
12
3. Lankah ketiga, pesan yang telah di – encoding tersebut selanjutnya
dikirimkan melalui saluran / media yang sesuai dengan karakteristik
lambang – lambang komunikasi ditunjukkan kepada komunikan.
4. Langkah keempat, penafsiran isi pesan sesuai dengan persepsinya
untuk mengartikan maksud pesan tersebut disebut dengan decoding.
5. Langkah kelima, apabila pesan tersebut telah berhasil di – decoding,
2.2.1.2 Karakteristik Komunikasi
Rogers dalam Wiryanto (2008 : 22) membedakan karakteristik
komunikasi berdasarkan pada faktor – faktor arus informasi, segmentasi
khalayak, derajat interakti dan control terhadap arus inormasi, sebagai
berikut:
-
Komunikasi antarpribadi
-
Komunikasi interaktif
-
Komunikasi media massa
Komunikasi interaktif adalah bentuk komunikasi melalui media massa
yang memiliki arus informasi bersifat dua arah dan segmentasi khalayaknya
bersifat demassifikasi (tinggi). Demassifikasi berarti arus informasi yang
diterima oleh khalayak bersifat pribadi. Asynchronicity diartikan sebagai
proses komunikasi terus berlangsung, meskipun pihak penerima tidak berada
di tempat, seperti pengirim e-mail, SMS, atau pemakaian answering machine
pada peswat telpon. (Wiryanto, 2008:22)
13
Tabel 2.2 Karakteristik Komunikasi
Sifat Saluran
Komunikasi
Komunikasi
Komunikasi
Komunikasi
Antarpribadi
Interaktif
Media Massa
Arus Informasi
One to few
Many to many
One to many
Sumber Khalayak
induvidu
Peserta komunikasi Organisasi media
interaktif
Segmentasi
Tinggi
Tinggi
Rendah
Khalayak
(demassifikasi)
(demassifikasi)
(massifikasi)
Target Interaktif
Tinggi
Tinggi
Rendah
Arus Balik
Cepat
Bisa
cepat,
bisa Cepat / tunda
tunda
Asynchronicity
Rendah
Tinggi untuk media Rendah / tinggi
baru
Emosi Sosial vs
Tinggi
Task – Related
sosial
emosional Rendah
Rendah
Content
Non – Verbal
Sulit
Bisa untuk media Media visual bisa,
baru
Kontrol Arus
Oleh
Informasi
komunikasi
Kebebasan
Rendah
Pribadi
peserta Peserta komunikasi
media audio bisa
Konrol
kecil
Biasanya rendah
Tinggi
khalayak
14
2.2.2
Komunikasi Massa
Kemampuan untuk menjangkau ribuan, atau bahkan jutaan orang merupakan
ciri dari komunikasi massa, yang dilakukan melalui medium massa seperti
televisi atau koran. Komunikasi massa dapat didefinisikan sebagai proses
penggunaan sebuah medium massa untuk mengirim pesan kepada audien yang
luas untuk tujuan memberi informasi, menghibur, atau membujuk.
(Vivian,
2008:450)
Pada dasarnya komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa
(media cetak dan elektronik). Sebab, awal perkembangannya saja komunikasi
massa berasal dari pengembangan kata media of mass communication. Media
massa atau saluran.
Menurut John D. Barrow (1998:3) mengenai kajian teori komunikasi massa
yang menarik “ sebuah dunia yang cukup sederhana untuk dikenal secara utuh
akan menjadi terlalu sederhana bagi para pengamat yang sadar dan mungkin telah
mengenalnya.Ketika sebuah organisasi menggunakan teknologi sebagai sebuah
media untuk berkomunikasi dengan khalayak yang besar, maka akan terjadi
komunikasi massa dan biasanya sebuah organisasi menggunakan teknologi untuk
berkomunikasi dengan khalayak yang besar.
Para ahli komunikasi berpendapat bahwa yang dimaksud dengan komunikasi
massa (mass commnuication) adalah komunikasi melalui media massa, jelasnya
merupakan singkatan dari komunikasi media massa (mass media) dari
pemabahasan ini dapat dilihat pengertian komunikasi massa pada komunikasi
dengan menggunakan media massa baik media cetak maupun media elektronik.
Menurut Prof. Onong Uchajana, komunikasi massa adalah komunikasi
melalui media massa modern, yang meliputi surat kabar yang mempunyai
sirkulasi luas, siaran radio dan televisi yang ditujukan kepada umum, dan film
yang dipertunjukkan di gedung-gedung bioskop. (Prof. Onong Uchjana Effendy.,
2003:79)
15
Dari ketiga definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa komunikasi massa
selalu bertujuan untuk menyampaikan informasi kepada banyak orang,
menggunakan semua media yang ada. Dan komunikasi massa selalu mengikuti
perkembangan zaman yang ada dalam penyampaiannya.
Jika di zaman dulu menggunakan cara-cara konvensional, yang kemudian
berkembang menggunakan media cetak dan elektronik, sekarang sudah
bertambah dengan menggunakan internet. Tak bisa dipungkiri bahwa komunikasi
menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bahkan, hingga
menjadi suatu usaha bisnis yang menjanjikan. Maka, sebagai makhluk yang mau
tidak mau harus berkomunikasi, penting bagi kita untuk bisa menguasai teknik
komunikasi dengan baik dan benar.
2.2.2.1
Ciri – Ciri Komunikasi Massa
Adapun ciri-ciri komunikasi massa tersebut, dijabarkan oleh Nurudin
sebagai berikut: (Nurudin, 2011:19)
1) Komunikator dalam Komunikasi Massa Melembaga
Komunikator dalam komunikasi massa bukan satu orang, tetapi kumpulan
orang. Artinya, gabungan antar berbagai macam unsur dan bekerja satu sama
lain dalam sebuah lembaga. Lembaga yang dimaksud disini menyerupai
sebuah sistem. Sebagaimana yang kita ketahui sistem itu adalah “sekelompok
orang, pedoman, dan media yang melakukan suatu kegiatan mengolah,
menyimpan, menuangkan ide, gagasan, simbol, lambang menjadi pesan
dalam membuat keputusan untuk mencapai satu kesepakatan dan saling
pengertian satu sama lain dengan mengolah pesan itu menjadi sumber
informasi. Dalam sistem sebagai sebuah lembaga dalam komunikasi massa
ada beberapa unsur yang membentuk sesuatu yang akhirnya disebut sebagai
lembaga. Suatu unsur saling bekerja sama, berkaitan satu dengan yang lain
dan juga saling melengkapi.
2) Komunikan dalam Komunikasi Massa bersifat Heterogen
Komunikan dalam komunikasi massa sifatnya heterogen/beragam. Artinya,
penonton televisi beragam pendidikan, umur, jenis kelamin, status sosial
16
ekonomi, memiliki jabatan yang beragam, memiliki agama atau kepercayaan
yang tidak sama. Namun mereka adalah komunikan televisi.
3) Pesannya Bersifat Umum
Pesan-pesan dalam komunikasi massa tidak ditujukan kepada satu orang atau
satu kelompok masyarakat tertentu. Kita bisa melihat televisi, misalnya.
Karena televisi ditujukan untuk dinikmati oleh orang banyak, pesannya harus
bersifat umum. Misalnya dalam pemilihan kata-katanya sebisa mungkin
memakai kata-kata populer bukan kata-kata ilmiah. Sebab kata ilmiah
merupakan monopoli kelompok tertentu.
4) Komunikasinya Berlangsung Satu Arah
Dalam media cetak seperti koran, hanya berlangsung satu arah. Kita tidak
bisa langsung memberikan respons kepada komunikatornya (media massa
yang bersangkutan). Kalaupun bisa sifatnya tertunda. Misalnya, kita
mengirimkan ketidaksetujuan pada berita itu melalui rubrik surat pembaca.
Jadi, komunikasi yang hanya berjalan satu arah akan memberi konsekuensi
umpan balik (feedback) yang sifatnya tertunda atau tidak langsung (delayed
feedback).
5) Komunikasi Massa menimbulkan Keserempakan
Dalam komunikasi massa ada keserempakan dalam proses penyebaran pesanpesannya. Serempak berarti khalayak bisa menikmati media massa tersebut
hampir bersamaan. Bersamaan tentu juga bersifat relatif. Contohnya majalah
atau media. Komunikator dalam media massa berupaya menyiarkan
informasinya secara serentak, walaupun ada wilayah jangkauannya yang
berbed, yang memungkinkan terjadi perbedaan penerimaan.
6) Komunikasi Massa Mengandalkan Peralatan Teknis
Media massa sebagai alat utama dalam menyampaikan pesan kepada
khalayaknya sangat memerlukan bantuan peralatan teknis. Peralatan teknis
yang dimaksud misalnya pemancar untuk media elektronik (mekanik atau
elektronik). Peralatan teknis merupakan sebuah sarana yang sangat
17
dibutuhkan media massa, dikarenakan agar proses pemancaran atau
penyebaran pesannya bisa lebih cepat dan serentak kepada khalayak tersebar.
7) Komunikasi Massa Dikontrol oleh Gatekeeper
Gatekeeper atau yang sering disebut penapis informasi/penjaga gawang,
adalah orang yang sangat berperan dalam penyebaran informasi melalui
media massa. Gatekeeper ini berfungsi sebagai orang yang ikut menambah
atau mengurangi, menyederhanakan, mengemas agar semua informasi yang
disebarkan lebih mudah dipahami. Tidak semua data atau bahan-bahan yang
akan disampaikan oleh media bisa disiarkan begitu saja, oleh karena itu perlu
ada pemilihan dan penyesuaian dengan media yang bersangkutan.
Gatekeeper berfungsi untuk menginterpretasikan pesan, menganalisis,
menambah data, dan mengurangi psean – pesan lainnya. Intinya Gatekeeper
merupakan pihak yang ikut menentukan pengemasan sebuah pesan dari
media massa. Semakin kompleks sistem yang dimiliki, semakin banyak pula
Gatekeeping yang dilakukan. Gatekeeper sangat menentukan berkualitas
tidaknya informasi yang akan disebarkan. Baik buruknya dampak pesan yang
disebarkannya pun tergantung pada fungsi penapisan informasi tersebut.
2.2.2.2 Fungsi Komunikasi Massa
Banyak ahli yang mengemukakan sejumlah fungsi komunikasi massa
kendati dalam setiap item fungsi terdapat persamaan dan perbedaan. Karlinah
mengemukakan fungsi komunikasi massa secara umum sebagai berikut
(Ardianto & Erdinayah, 2004: 19):
1. Fungsi Informasi
Fungsi memberikan informasi ini diartikan bahwa media massa adalah
penyebar informasi bagi pembaca, pendengat atau pemirsa. Berbagai
informasi dibutuhkan oleh khalayak media massa yang bersangkutan sesuai
dengan kepentingan khalayak. Khalayak sebagai manusia social akan selalu
merasa haus informasi tentang segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya.
Sebagian informasi didapat bukan dari sekolah atau tempat bekerja melainkan
dari media.
18
2. Fungsi Pendidikan
Media massa merupakan sarana pendidikan bagi khalayaknya (mass
education). Karena media massa banyak menyajikan hal-hal yang sifatnya
mendidik. Salah satu cara mendidik yang dilakukan media massa adalah
melalui pengajaran nilai, etika, serta aturan-aturan yang berlaku kepada
pemirsa atau pembaca.
3. Fungsi Mempengaruhi
Fungsi mempengaruhi dari media massa secara implisit terdapat pada
tajuk/editorial, features, iklan, artikel dan sebagainya. Fungsi mempengaruhi
ini dapat dilihat antara lain dalam ruang atau kolom khusus, iklan atau artikel
yag disusun sedemikian rupa sehingga tidak terlihat sebagai suatu artikel
yang isinya mempromosikan suatu produk. Artikel tersebut biasanya memuat
tulisan tentang suatu analisis produk tertentu. Khalayak terpengaruh oleh
pesan-pesan dalam tulisan tersebut sehingga tanpa sadar khalayak melakukan
tindakan sesuai dengan yang diinginkan oleh media tersebut.
4. Fungsi Proses Pengembangan Mental
Untuk mengembangkan wawasan, kita membutuhkan berkomunikasi dengan
orang lain. Dengan berkomunikasi, manusia akan bertambah pengetahuannya
dan berkembang intelektualitasnya. Hal tersebut diperoleh dari pengalaman
pribadinya dan dari orang lain. Pengalaman dapat membantu manusia untuk
memahami betapa besar ketergantungan manusia kepada komunikasi, karena
komunikasi dapat membantu manusia dalam perkembangan mentalnya.
5. Fungsi Adaptasi Lingkungan
Setiap manusia berusaha untuk menyesuaikan diri dengan dunianya untuk
dapat bertahan hidup. Proses komunikasi membantu menusia dalam proses
penyesuaian tersebut. Proses pengiriman pesan oleh komunikator dan
penerimaan pesan oleh komunikan dapat membantu kita dalam berhubungan
dengan orang lain, saling menyesuaikan diri, sehingga menimbulkan
kesamaan di antara komunikator dan komunikan.
19
6. Fungsi Memanipulasi Lingkungan
Manipulasi di sini bukanlah diartikan sebagai sesuatu yang negatif.
Memanipulasi lingkungan artinya berusaha untuk mempengaruhi. Setiap
orang berusaha untuk saling mempengaruhi dunia dan orang-orang yang
berada di sekitarnya. Dalam fungsi manipulasi, komunikan digunakan
sebagai kontrol utama dan pengatur lingkungan.
2.2.3
Media Massa
2.2.3.1 Definisi Media Massa
Istilah ‘media massa’ memberikan gambaran mengenai alat komunikasi
yang bekerja dalam berbagai skala, mulai dari skala terbatas hingga dapat
mencapai dan melibatkan siapa saja dimasyarakat, dengan skala yang sangat
luas. Istilah media massa mengacu kepada sejumlah media massa mengacu
kepada sejumlah media yang telah ada sejak puluhan tahun yang lalu dan
tetap dipergunakan hingga saat ini, seperti surat kabar, majalah, film, radio,
televisi, internet dan lain-lain.
Dalam kehidupan dewasa ini, informasi tentang kejadian disekeliling tidak
lagi menjadi pintu rapat yang sulit untuk diketahui oleh banyak orang di luar
sana. Hal ini terwujud dengan adanya media massa yang menjadi saluran
komunikasi secara massa yang dapat menjangkau banyak orang dimanapun
tanpa terbatas ruang gerak dan waktu. Media massa secara umum mempunyai
definisi sebagai alat penyebarluasan.
Media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan
pesan dari komunikator kepada khalayak, sedangkan pengertian media massa
sendiri adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan dari sumber
kepada khalayak (penerima) dengan menggunakan alat-alat komunikasi
mekanis, seperti surat kabar, film, radio dan televisi. (Cangara, 2008:134).
Media
massa
adalah
alat-alat
dalam
komunikasi
yang
bisa
menyebarkanpesan secara serempak, cepat kepada audience yang luas dan
heterogen. Kelebihan media massa dibanding dengan jenis komunikasi lain
adalah bisa mengatasi hambatan ruang dan waktu. Bahkan media massa
20
mampu menyebarkan pesan hampir seketika pada waktu yang tak terbatas.
(Nurudin,2011:9)
Media massa dapat menumbuhkan bermacam – macam rangsangan atau
stimulus sehingga tanggapan audience yang dihasilkan juga akan berbedabeda. Hal ini dapat diuraikan ke dalam empat perumusan khusus yang
merupakan ringkasan pemikiran kontemporer tentang pengaruh media massa.
Seperti yang dikatakan oleh Fleur dalam Suprapto (2011: 21), yaitu :
2.2.4
-
Teori perbedaan induvidu
-
Teori kategori sosial
-
Teori hubungan social
-
Teori norma – norma budaya
Pengertian Radio
Radio tepatnya radio siaran merupakan salah satu jenis media massa
yang bersifat auditif, yakni dikonsumsi telinga atau pendengaran. Apa yang
dilakukan radio adalah memperdengarkan suara manusia untuk mengutarakan
sesuatu. Radio dituntut untuk bias mengutarakan secara jelas agar pendengar
bias mengerti dengan maksud dan tujuan dari apa yang disampaikan kepada
pendengar.
Stokkink dalam bukunya yang berjudul The Profesional Radio
Presenter, menyatakan bahwa :
Radio adalah media yang buta, maka pendengarnya mencoba untuk
mengevaluasikan
apa
yang
didengarnya
dan
mencoba
untuk
memvisualisasikan apa yang didengarnya dan mencoba menciptakan si
pemilik suara dalam bayangan mereka sendiri. (Stokkink, 1997 : 101)
Dengan demikian radio itu bersifat visual karena yang dilakukan radio
adalah mendengarkan suara manusia untuk menyampaikan sesuatu, sehingga
21
radio sering disebut sebagai “theater of mind” yaitu menciptakan gambar
dalam imajinasi pendengar.
Pengertian diatas dapat diartikan bahwa siaran radio pada dasarnya
tidak disajikan secara visual, tetapi menggunakan media verbal dan dengan
suara pula membawa imajinasi para pendengarnya untuk membayangkan halhal yang sedang dikemukakan oleh penyiar agar si pendengar dapat mengerti
maksud dan tujuan dari apa yang diungkapkan tersebut.
2.2.4.1 Karakteristik Radio
Dibandingkan dengan media massa lain, radio memiliki karakteristik
yang khas. Romli dalam bukunya Broadcast Journalism, karakteristik radio
adalah :
1. Auditori. Radio adalah “suara”, untuk didengar, karena isi siaranya
bersifat “sepintas lalu” dan tidak dapat diulang. Pendengar tidak
mungkin akan “menoleh kebelakang” sebagaimana pembaca Koran
bias kembali kepada tulisan yang sudah dibaca atau mengulang
bacaan.
2.
Transmisi.
Proses
penyebarluasannya
disampaikan
kepada
pendengar melalui pemancar.
3. Mengandung gangguan. Seperti timbul tenggalam (fading) dan
gangguan teknis “channel noise factor”.
4. Theater of mind. Radio menciptakan gambar (make picture) dalam
imajinasi pendengar dengan kekuatan suara dan kata.
5. Identik dengan musik. Radio adalah sarana hiburan termurah dan
tercepat sehingga menjadi media paling utama yang digunakan untuk
mendengarkan musik. (Romli, 2005 : 22-23)
22
Pernyataan di atas, radio memiliki karakteristik yang berbeda dengan
media massa lainnya. Jelas berbeda dengan surat kabar yang juga merupakan
media cetak, juga dengan film yang bersifat mekanik optic, dan dengan
televisi. Kalaupun ada persamaan dalam sifatnya yang elektronik, tetapi juga
terdapat perbedaan, yaitu radio sifatnya audio, sedangkan televisi sifatnya
audiovisual. Penyampaian pesan melalui radio siaran dilakukan dengan
menggunakan bahasa lisan.
2.2.4.2 Radio Sebagai Bentuk Media Massa
Radio sebagai media komunikasi yang memiliki banyak jenis,
tetapi hanya radio siaran (radio broadcast) yang merupakan media
massa, tidak demikian dengan radio telegrafi, radio telefono seperti
radio CB (Citizen Band) dan lain-lainnya yang bersifat interpersonal.
Radio dalam hal ini, radio siaran sebagai media massa yang
sifatnya khas dibandingkan dengan media lain. Kelebihan radio siaran
dari media massa lainnya adalah pesan yang disiarkan oleh
komunikan dapat ditata menjadi suatu kisah yang dihiasi dengan
musik sebagai ilustrasi dengan efek suara sebagai unsur dramatisasi
dan oleh khalayak dapat dinikmati dalam segala situasi.
Radio tepatnya radio siaran (broadcast radio) merupakan
salah satu jenis media massa (mass media), yakni sarana atau saluran
komunikasi massa (channel of mass communication), seperti halnya
surat kabar, majalah, atau televisi.
Komunikasi yang dilakukan radio seperti halnya di media
massa lain komunikasi massa (mass communication),
yakni
komunikasi kepada orang banyak (mass public) dengan menggunakan
media (communicating with media).
23
Romli dalam buku Broadcast journalism, karena termasuk media
massa, radio juga memiliki karakteristik media massa sebagai berikut :
1. Publisitas, yakni disebarluaskan kepada publik, khalayak, atau
orang banyak.
2. Universalitas, pesannya bersifat umum.
3. Periodisitas, tetap atau berkala.
4. Kontinuitas, berkesinambungan atau terus menerus sesuai periode
mengudara atau jadwal terbit.
5. Aktualitas, berisi hal-hal baru. (Romli, 2005 : 22)
Definisi ini membuktikan bahwa radio merupakan bagian dari media
massa karena radio juga emiliki karakteristik yang sama dengan media massa
dimana radio itu memiliki sebuah karakteristik publisitas, universalitas,
perioderitas, kontinuitas, dan aktualitas dan karakteristik yang ada pada radio
itu pun ada pada media massa.
2.2.4.3 Keunggulan dan Kelemahan Radio
Radio sebagai salah satu media elekronik memiliki ciri khas tersendiri
dibandingkan dengan media lainnya. Keanekaragaman tawaran program
radio siarannya menjadikan radio sebagai media massa yang paling
dipopulerkan.
Radio saat ini banyak memberikan sesuatu yang baru karena saat ini
radio sebagai media tidak hanya memberikan informasi berupa berita tetapi
juga hiburan yang dapat dinikmati oleh khalayak tanpa adanya iuran. Romli
dalam buku Broadcast Journalism, radio memiliki keunggulan diantaranya :
1. Cepat dan Langsung. Sarana tercepat, lebih cepat dari Koran
ataupun TV, dalam menyampaikan informasi kepada public tanpa
melalui proses yang rumit dan butuh waktu banyak, seperti siaran
televisi atau sajian media cetak.
2. Akrab. Radio adalah alat yang akrab dengan pemiliknya.
3. Dekat. Suara penyiar hadir di rumah atau di dekat pendengar.
24
4. Hangat. Panduan kata-kata, musik, dan efek suara dalam siaran
radio mampu mempengaruhi emosi pendengar.
5. Sederhana. Tidak rumit, tidak banyak pernik, bagi pengelola
maupun pendengar.
6. Tanpa batas. Siaran radio menembus batas-batas geografis,
demografis, SARA (suku, agama, ras, antar golongan), dan kelas
sosial.
7. Murah. Dibandingkan dengan berlangganan media cetak atau harga
pesawat televisi, pesawat radio relatif jauh lebih murah.
8. Bisa Mengulang. Radio memiliki kesetaraan alami (transient
nature) sehingga berkemampuan mengulang informasi yang sudah
disampaikan.
9. Fleksibel. Siaran radio bisa dinikmati sambil mengerjakan hal lain
atau tanpa mengganggu aktifitas yang lain. (Romli, 2005 : 23-25).
Penjelasan di atas maka bisa kita lihat bahwa radio memiliki
keunggulan yang berbeda dengan media massa lainnya. Radio adalah media
yang sangat sederhana, murah dan dapat digunakan dimana dan kapan saja.
Hal inilah yang membuat menjadi media yang paling popular dikalangan
masyarakat. Selain memiliki keunggulan, adapun memiliki kelamahan seperti
yangt dijelaskan Romli dalam bukunya yang berjudul Broadcast Journalism
bahwa kelemahan radio adalah :
1. Selintas. Siaran radio cepat hilang dan gampang dilupakan.
Pendengarnya, tidak bias seperti pembaca Koran yang bias mengulang
bacaanya dari awal tulisan.
2. Global. Sajian informasi radio bersifat global, tidak detail,
karenanya angka-angka pun dibulatkan. Misalnya penyiar akan
menyebutkan seribu lebih untuk angka 1.053.
3. Batsan Waktu. Waktu siaran relative terbatas, hanya 24 jam sehari,
berbeda dengan surat kabar, yang bias menambah jumlah halaman
dengan bebas. Waktu 24 jam sehari tidak bias ditambah menjadi 25
jam atau lebih.
25
4. Beralur linier. Program disajikan dan dinikmati pendengar
berdasarkan urutan yang sudah ada, tidak bias meloncat-loncat. Beda
dengan surat kabar, pembaca bias langsung ke halaman tengah, akhir
atau langsung ke rubric yang ia sukai.
5. Mengandung gangguan. Seperti timbul tenggelam (fading) dan
gangguan teknis “channel noise factor”. (Romli, 2005 : 25-26).
Pernyataan diatas menggambarkan bahwa radio sebagai media massa
elekronik yang memiliki fungsi mendidik, menghibur serta memberikan
informasi tercepat kepada khalayak selain memiliki keunggulan dan juga
memiliki klemahan.namun tidak dapat dipungkiri dari banyaknya kelebihan
yang dimiliki radio juga memiliki kelemahan dalam proses penyiarannya oleh
karena itu dibutuhkan adanya sebuah evaluasi agar segala kekurangan ini
tidak mengurangi fungsi dari media (radio) itu sendiri.
2.2.4.4 Sifat Pendengar Radio
Pendengar merupakan hal terpenting dalam hadirnya suatu stasiun
radio, dimana dapat berjalan dengan efektif atau tidaknya komunikasi yang
terjalin antara pendengar dan penyiar tergantung dari sifat pendengar, seperti
apa yang diungkapkan oleh Effendy dalam bukunya Kamus Ilmu Komunikasi
adalah sebagai berikut :
a. Heterogen pendengar radio adalah massa, sejumlah orang yang
sangat banyak yang sifatnya heterogen terpencar-pencar di
berbagai tempat, terdapat perbedaan antara pendengar satu dengan
pendengar lainnya yaitu berbeda dalam jenis kelamin, umur,
tingkat pendidikan dan taraf kebudayaan.
b. Pribadi, karena pendengar berada dalam keadaan heterogen,
terpencar-pencar di berbagai tempat umumnya di rumah-rumah,
maka suatu isi pesan dapat dimengerti jika sifatnya pribadi
(personal) sesuai dengan situasi dimana pendengar itu berada.
26
c. Selektif, pendengar radio siaran sifatnya selektif maksudnya
mereka akan memilih program siaran yang disukainya. (Effendy,
1989 : 90-92)
Dari pengertian di atas diketahui bahwa sifat pendengar adalah
heterogen, terdapat banyak perbedaan di antara satu sama lainnya, perbedaan
jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan dan taraf kebudayaan. Selain itu sifat
dari pendengar radio adalah pribadi (personal) maksudnya isi pesan akan
dapat lebih dimengerti jika sifatnya lebih pribadi sesuai dengan situasi, dan
sifat selektif mereka akan memilih program siaran yang disukainya.
2.2.4.5 Program Radio
Pringle – Starr – McCavitt dalam Morissan (2011 : 230)
menjelaskan bahwa : The programming of most stasion is dominated
by one principal content element or sound, known as format (Program
sebagian besar stasiun radio didominasi oleh satu elemen isi atau
suara yang utama yang dikenal format). Dengan kalimat ini dapat
dikatakan bahwa format adalah penyajian program dan musik yang
memiliki ciri – ciri tertentu oleh stasiun radio.Secara lebih sederhana
dapat dikatan format stasiun penyiaran atau format siaran radio dapat
didefinisikan
sebagai
upaya
pengelola
stasiun
radio
untuk
memproduksi program siaran yang dapat memenuhi kebutuhan
audiennya.
Tujuan penentuan format adalah untuk memenuhi sasaran
khalayak lebih spesifik dan untuk kesiapan berkompetisi dengan
media lainnya di suatu lokasi penyiaran. Menurut Dominick
sebagaimana dikutip Morissan (2011 : 231) format stasiun penyiaran
radio ketika diterjemahkan kedalam kegitan siaran harus tampil dalam
empat wilayah, yaitu :
-
Kepribadian (personality) penyiar dan repoter
-
Pilihan musik dan lagu
27
-
Pilihan musik dan gaya bertutur (talk)
-
Spot atau kemasan iklan, jinggle, dan bentuk – bentuk promosi
acara radio lainnya.
Keith sebagaimana dikutip Morissan
(2011 : 231) kemudian
menyusun karakteristik empat format siaran utama yang popular di dunia
sebagai berikut :
Tabel 2.3 Program Radio
Adult Contemporary (AC)
Untuk Kaum muda dan dewasa dengan
rentang umur sangat luas antara 20 – 50
tahun, berdaya beli tinggi,. Menyiarkan
musik pop masa kini, softrock, balada.
Menyiarkan berita olahraga, ekonomi,
politik,. Format ini berkembang pula
kedalam format lain seperti Middle of the
Road, Album Oriental Rock, dan Easy
Listening
Contemporary Hit Radio (CHR) atau
Untuk ABG dan muda belia berumur
TOP 40 Radio
antara 12 – 20 tahun. Format yang paling
popular yang berisi lagu – lagu top 40 /
top30dan tips praktis. Sebelum menjadi
CHR awalnya disebut TOP 40 Radio.
CHR merupaka radio yang sering
memutarkan 30 rekaman terkini, bukan
album lama, tidak memutar ulang sebuah
lagu yang sama secara berdekatan,
perpindahan anatar lagu sangat cepat.
All News / All Talk
All Talks lebih dahulu hadir pada tahun
1960 di Los Angeles dengan konsep
siaran Talk Show interkatif mengupas isu
– isu lokal. All News hadir kemiudian
tahun 1964 dimotori Gordon McClendon
28
di Chicago dengan konsep berita buletin
20 menit berisi berita lokal, regional, dan
dunia. Sasaran radio ini kaum muda dan
dewasa berumur 20 – 50 tahun, berdaya
beli tinggi. Berita dan bincang ekonomi
politik menjadi primadona.
sumber : Morissan (2011 : 231)
Dari
aspek
karakterisitiknya
jenis
siaran
dibagi
menjadi
2
:
(Triartanto,2010:144)
-
Siaran Karya artistik.
Siaran yang diproduksi melalui pendekatan artisitik, yaitu proses produksi
mengutamakan segi keindahan.
-
Siaran karya jurnalistik.
Siaran yang diproduksi melalui pendekatan jurnalistik yaitu suatu proses
produksi yang mengutamamkan segi kecepatan, termasuk dalam proses
penyajian kepada khalayak.
Perbedaan antara karya artistik dan karya juranalistik menurut Wahyudi
sebagaimana dikutip oleh Triartanto (2010 : 144), sebagai berikut :
Tabel 2.4 Karya Artistik dan Karya Jurnalistik
Karya Artistik
Karya Jurnalistik
-
Sumber: ide /gagasan
-
Sumber : permasalahan hangat
-
Mengutamakan keindahan
-
Mengutamakan kecepatan / aktualitas
-
Isi pesan bisa fiksi dan non – fiksi
-
Isi pesan harus faktual
-
Penyajian
tidak
terikat
(perencanaan)
waktu -
Penyajian terikat waktu
Sasaran kepercayaan dan kepuasaan
-
Sasaran kepuasan pendengar
pendengar
-
Memenuhi rasa kagum / menghargai -
Memenuhi rasa ingin tahu pendengar
seseorang
Improvisasi terbatas
-
29
-
Improvisasi tidak terbatas
-
Isi pesan terikat pada kode etik
-
Isi pesan terikat pada kode moral
-
Menggunakan
-
Penggunaan bahasa bebas (dramatis)
-
Refleksi daya khayal kuat
-
Refleksi penyajian kuat
-
Isi pesan tentang realitas social
-
Isi pesan menyerap realitas / faktual
bahasa
jurnalistik
(ekonomi kata dan bahasa)
sumber : Triartanto (2010 : 144)
2.2.4.6 Format Radio
Format berarti susunan item program dalam satu – satuan waktu atau
biasa disebut format clock, terdiri dari narasi penyiar, siklus musik, termin
iklan, promo radio dan promo program, laporan lalu lintas, laporan cuaca,
reportase, dan lain – lain. Format clock membedakan aktivitas pagi, siang,
sore hingga malam hari. Susunanya disesuaikan dengan prediksi mengenai
lifestyle pendengar pada jam – jam tersebut.
Menurut Vivian (2008 : 159) dalam arti yang luas, format bisa berarti
susunan program radio secara keseluruhan, yang menjadi semacam penanda
identitas yang terkemas dalam pelbagi program radio. Sejarah radio mencatat,
di awal pemunculannya, radio tidak punya sasaran atau target tertentu, early
mass programing.Program Talk Show baru dimulai kira – kira menjelang
decade 1930-an, ketika sebuah program berjudul Grand Ole Opry mulai
disiarkan WSM di Nashville. Musik tidak lagi menjadi atraksi utama.
Pada era talk show, radio berhasil meraih massa dalam jumlah yang
signifikan. Kretivitas orang – orang radio pun mengalir tanpa henti. Pada
dekade 1950-an, ketika TV mulai meraih popularitas, format mass
programing perlahan – lahan ditinggalkan.Saatnya kini radio beralih ke
format spesifik untuk melayani khalayak yang juga lebih spesifik.
Saat ini format radio semakin beragam, karena sasaran targetnya juga
semakin banyak. Music radio, old time radio, all-news, sports radio, talk
radio, religious radio, dan radio ramalan cuaca adalah jenis format – format
30
yang disusun berdasarkan genre music tertentu, misalnya top 40, country,
jazz, rock, new age, adaukt contemporary, oldies, adult, standarts, hispanik,
dangdut, campur sari, dan lain – lain.
Menurut Pringle – Starr – McCavitt, seperti dikutip Morissan
(2005:108) the programming of most stasions is dominted by one principle
content element or sound, known as format (program sebagian besar stasiun radio
didominasi oleh satu elemen isi atau suara yang utama yang dikenal dengan
format). Secara garis besar format stasiun dapat dibagi, yakni :
-
Format berita.
Format berita mengandung pengertian bahwa stasiun radio itu menyajikan
porsi dominan siarannya adalah berita dan informasi.
-
Format musik.
Format musik mengandung pengertian bahwa stasiun radio itu
menyajikan sajian utama siarannya lagu dan musik.
-
Format khusus.
Format
khusus
mengandung
pengertian
sebagai
stasiun
radio
bersangkutan mencirikan siarannya pada materi tertentu dan khas.
(Triartanto, 2010:138)
Triartanto (2010:139) mengugkapkan bahwa pengertian format
program mengacu pada perencanaan penyajian suatu program yang didasari
isi materi siarannya. Format produksi mengandung pengertian bagaimana
suatu program disajikan secara tekniknya.Sedangkan format siaran atau lebih
dikenal dengan format stasion dapat dimaknai sebagai bentuk kepribadian
suatu stasiun penyiaran radio sebagaimana dapat didengarkan dari program
siarannya.
Format program musik seluruh program terbesarnya adalah musik
atau lagu sebagai ciri khasnya sebagai representasi dari format stasiunnya
(format musik). Menurut Triartanto (2010 : 140) format musik stasiun
memiliki kategorisasinya, antara lain :
-
Adult contempory
31
-
Beautiful music
-
Country
-
CHR (Contemprory Hits Radio) atau top 40
-
Cross Over
-
Middle of the road
-
Album oriented rock
-
Hispanic atau latin
-
Oldies
-
Pop Indonesia
-
Dangdut
-
Campur sari, dan lain lain.
Program Ngopi Hangat di radio 100,2 Amirah FM termasuk dalam program
musik di radio yang mengusung lagu terkini dengan format Contempory Hit Radio
(CHR) atau Top 40 dengan segmentasi lagu terbaru lokal dan mancanegara.
2.2.4.6.1 Format Musik
Format program musik seluruh program terbesarnya adalah musik
atau lagu sebagai ciri khasnya sebagai representasi dari format stasiunnya
(format musik). Menurut Triartanto (2010:140) format musik stasiun
memiliki kategorisasinya, antara lain :
-
Adult contempory
-
Beautiful music
-
Country
-
CHR (Contemprory Hits Radio) atau top 40
-
Cross Over
-
Middle of the road
-
Album oriented rock
-
Hispanic atau latin
-
Oldies
-
Pop Indonesia
-
Dangdut
-
Campur sari, dan lain lain.
32
Gambar 2.2 Pembagian Format Radio Menurut Peter Pringle (Morissan, 2011:235)
Musik
adult Contemporary
album Oriental Rock
beautiful music
contemporary hit radio (CHR)
classical
Format radio
Khusus
classic rock
country
allnews
jazz
middle of road
all talks
nostalgia
news talks / talk news
oldies
urban contemporary
Informasi
etnik
agama
campuran
33
2.3 Teori Khusus
2.3.1 Definisi Peran
Banton – Katz & Kahn – dalam Bauer (2003:54) mengatakan teori
peran (role theory) mendefinisikan “peran” atau “role” sebagai “the
boundaries and sets of expectations applied to role incumbents of a
particular position, which are determined by the role incumbent and the role
senders within and beyond the organization’s boundaries” (batas-batas dan
rangkaian harapan diterapkan untuk kewajiban peran pada posisi tertentu,
yang ditentukan oleh kewajiban peran dan pengirim peran dalam dan di luar
batas-batas organisasi).
Selain itu, Robbins (2001: 227) mendefinisikan peran sebagai “a set
of expected behavior patterns attributed to someone occupying a given
position in a social unit” (satu set pola perilaku yang diharapkan dikaitkan
dengan seseorang menduduki posisi tertentu dalam suatu unit sosial).
Ketika istilah peran digunakan dalam lingkungan pekerjaan, maka
seseorang yang diberi (atau mendapatkan) sesuatu posisi, juga diharapkan
menjalankan perannya sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pekerjaan
tersebut. Karena itulah ada yang disebut dengan role expectation. Harapan
mengenai peran seseorang dalam posisinya, dapat dibedakan atas harapan
dari si pemberi tugas dan harapan dari orang yang menerima manfaat dari
pekerjaan/posisi tersebut.
Peranan adalah suatu konsep prihal apa yang dapat dilakukan individu
yang penting bagi struktur sosial masyarakat, peranan meliputi norma-norma
yang dikembangkan
dengan
posisi
atau
tempat
seseorang
dalam
masyarakat, peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturanperaturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan
(Soekanto, 1982 : 238).
Menurut Biddle dan Thomas, peran adalah serangkaian rumusan yang
membatasi perilaku-perilaku yang diharapkan dari pemegang kedudukan
34
tertentu.Misalnya dalam keluarga, perilaku ibu dalam keluarga diharapkan
bisa memberi anjuran, memberi penilaian, memberi sangsi dan lain-lain.
Menurut Kozier Barbara peran adalah seperangkat tingkah laku yang
diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam,
suatu sistem. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun
dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang
diharapkan dari sesesorang pada situasi sosial tertentu. Peran adalah deskripsi
sosial tentang siapa kita dan kita siapa. Peran menjadi bermakna ketika
dikaitkan dengan orang lain, komunitas sosial atau politik. Peran adalah
kombinasi adalah posisi dan pengaruh.
Menurut Horton dan Hunt (1993:129-130), peran (role) adalah
perilaku yang diharapkan dari seseorang yang memiliki suatu status. Dalam
kerangka besar, organisasi masyarakat, atau yang disebut sebagai struktur
sosial, ditentukan oleh hakekat (nature) dari peran-peran ini, hubungan antara
peran-peran tersebut, serta distribusi sumberdaya yang langka di antara
orang-orang yang memainkannya. Masyarakat yang berbeda merumuskan,
mengorganisasikan, dan memberi imbalan (reward) terhadap aktivitasaktivitas mereka dengan cara yang berbeda, sehingga setiap masyarakat
memiliki struktur sosial yang berbeda pula. Bila yang diartikan dengan peran
adalah perilaku yang diharapkan dari seseorang dalam suatu status tertentu,
maka perilaku peran adalah perilaku yang sesungguhnya dari orang yang
melakukan peran tersebut.Perilaku peran mungkin berbeda dari perilaku yang
diharapkan karena beberapa alasan.
Sedangkan, Abu Ahmadi (1982:50) mendefinisikan peran sebagai
suatu kompleks pengharapan manusia terhadap caranya individu harus
bersikap dan berbuat dalam situasi tertentu berdasarkan status dan fungsi
sosialnya.
2.3.1.1 Teori Peran
Teori peran adalah perspektif dalam sosiologi dan psikologi sosial yang
menganggap sebagian besar kegiatan sehari-hari menjadi pemeran dalam
35
kategori sosial (misalnya ibu, manajer, guru). Setiap peran sosial adalah
seperangkat hak, kewajiban, harapan, norma dan perilaku seseorang untuk
menghadapi dan memenuhi. Model ini didasarkan pada pengamatan bahwa orang
berperilaku dengan cara yang dapat diprediksi, dan bahwa perilaku individu
adalah konteks tertentu, berdasarkan posisi sosial dan faktor lainnya.
2.3.1.2 Ketidakberhasilan Peran
Dalam kaitannya dengan peran yang harus dilakukan, tidak semuanya
mampu untuk menjalankan peran yang melekat dalam dirinya. Oleh karena
itu, tidak jarang terjadi kekurangberhasilan dalam menjalankan perannya.
Dalam
ilmu
sosial,
ketidakberhasilan
ini
terwujud
dalam role
conflict dan role strain.
1. Role Conflict
Setiap orang memainkan sejumlah peran yang berbeda, dan kadangkadang
peran-peran
tersebut
membawa
harapan-harapan
yang
bertentangan. Menurut Hendropuspito (1989:105-107), konflik peran
(role conflict) sering terjadi pada orang yang memegang sejumlah peran
yang berbeda macamnya, kalau peran-peran itu mempunyai pola kelakuan
yang saling berlawanan meski subjek atau sasaran yang dituju sama.
Dengan kata lain, bentrokan peranan terjadi kalau untuk menaati suatu
pola, seseorang harus melanggar pola lain. Setidaknya ada dua macam
konflik peran. Yakni, konflik antara berbagai peran yang berbeda, dan
konflik dalam satu peran tunggal. Pertama, satu atau lebih peran (apakah
itu peran independen atau bagian-bagian dari seperangkat peran) mungkin
menimbulkan kewajiban-kewajiban yang bertentangan bagi seseorang.
Kedua, dalam peran tunggal mungkin ada konflik inheren.
2. Role Strain
Adanya harapan-harapan yang bertentangan dalam satu peran
yang sama ini dinamakan role strain. Satu hal yang menyebabkan
terjadinya role strain adalah karena peran apapun sering menuntut adanya
interaksi dengan berbagai status lain yang berbeda. Sampai tingkatan
tertentu, masing-masing interaksi ini merumuskan peran yang berbeda,
36
karena membawa harapan-harapan yang berbeda pula. Maka, apa yang
tampak sebagai satu peran tunggal mungkin dalam sejumlah aspek
sebenarnya adalah beberapa peran. Misalnya, status sebagai karyawan
bagian pemasaran (sales) eceran di sebuah perusahaan, dalam arti tertentu
sebenarnya membawa beberapa peran: sebagai bawahan (terhadap atasan
di perusahaan itu), sebagai sesama pekerja (terhadap karyawan-karyawan
lain di perusahaan itu), dan sebagai penjual (terhadap konsumen dan
masyarakat yang ditawari produk perusahaan tersebut).
2.3.1.3 Stres Peran
Posisi dimasyarakat dapat merupakan stresor terhadap peran karena
struktur sosial yang menimbulkan kesukaran, atau tuntutan posisi yang tidak
mungkin dilaksanakan. Stres peran terdiri dari :
a. Konflik peran, dialami jika peran yang diminta konflik dengan sistem
individu atau dua peran yang konflik satu sama yang lain.
b. Peran yang tidak jelas, terjadi jika individu yang diberi peran yang
tidak jelas dalam hal perilaku dan penampilan yang diharapkan.
c. Peran yang tidak sesuai, terjadi jika individu dalam proses transisi
merubah nilai dan sikap. Misalnya, seseorang yang masuk dalam satu
profesi, dimana terdapat konflik antara nilai individu dan profesi.
d. Peran berlebih, terjadi jika individu menerima banyak peran misalnya,
sebagai istri, mahasiswa, perawat, ibu. Individu dituntut melakukan
banyak hal tetapi tidak tersedia waktu untuk menyelesaikannya.
(Keliat:1992)
2.3.1.4 Faktor-faktor Penyesuaian Peran
Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam menyesuaikan diri
dengan peran yang harus dilakukan, yaitu :
a. Kejelasan perilaku dan pengetahuan yang sesuai dengan peran
b. Konsistensi respon orang yang berarti terhadap peran yang dilakukan
c. Kesesuaian dan keseimbangan antar peran yang diemban
d. Keselarasan budaya dan harapan individu terhadap perilaku peran
37
e. Pemisahan perilaku yang akan menciptakan ketidaksesuaian perilaku
peran
f. Proses yang umum untuk memperkecil ketegangan peran dan
melindungi diri dari rasa bersalah.
Menurut Horton dan Hunt (1993:), seseorang mungkin tidak
memandang suatu peran dengan cara yang sama sebagaimana orang lain
memandangnya. Sifat kepribadian seseorang mempengaruhi bagaimana
orang itu merasakan peran tersebut. Tidak semua orang yang mengisi
suatu peran merasa sama terikatnya kepada peran tersebut, karena hal ini
dapat bertentangan dengan peran lainnya. Semua faktor ini terpadu
sedemikian rupa, sehingga tidak ada dua individu yang memerankan satu
peran tertentu dengan cara yang benar-benar sama.
Ada beberapa proses yang umum untuk memperkecil ketegangan
peran dan melindungi diri dari rasa bersalah, yaitu antara lain:
1. Rasionalisasi
Rasionalisasi yakni suatu proses defensif untuk mendefinisikan kembali
suatu situasi yang menyakitkan dengan istilah-istilah yang secara sosial dan
pribadi dapat diterima.
Rasionalisasi menutupi kenyataan konflik peran, yang mencegah
kesadaran bahwa ada konflik. Misalnya, orang yang percaya bahwa “semua
manusia sederajat” tapi tetap merasa tidak berdosa memiliki budak, dengan dalih
bahwa budak bukanlah “manusia” tetapi “benda milik.”
2. Pengkotakan (Compartmentalization)
Pengkotakan (Compartmentalization) yakni memperkecil ketegangan
peran dengan memagari peran seseorang dalam kotak-kotak kehidupan yang
terpisah, sehingga seseorang hanya menanggapi seperangkat tuntutan peran pada
satu waktu tertentu. Misalnya, seorang politisi yang di acara seminar bicara
berapi-api tentang pembelaan kepentingan rakyat, tapi di kantornya sendiri ia
terus melakukan korupsi dan merugikan kepentingan rakyat.
38
3. Ajudikasi (Adjudication)
Ajusikasi yakni prosedur yang resmi untuk mengalihkan penyelesaian
konflik peran yang sulit kepada pihak ketiga, sehingga seseorang merasa bebas
dari tanggung jawab dan dosa.
4. Kedirian (Self)
Kadang-kadang orang membuat pemisahan secara sadar antara peranan
dan “kedirian” (self), sehingga konflik antara peran dan kedirian dapat muncul
sebagai satu bentuk dari konflik peran. Bila orang menampilkan peran yang tidak
disukai, mereka kadang-kadang mengatakan bahwa mereka hanya menjalankan
apa yang harus mereka perbuat. Sehingga secara tak langsung mereka
mengatakan, karakter mereka yang sesungguhnya tidak dapat disamakan dengan
tindakan-tindakan mereka itu.
Konflik-konflik nyata antara peran dan kedirian itu dapat dianalisis
dengan konsep jarak peran (role distance) yang dikembangkan Erving Goffman.
“Jarak peran” diartikan sebagai suatu kesan yang ditonjolkan oleh individu
bahwa ia tidak terlibat sepenuhnya atau tidak menerima definisi situasi yang
tercermin dalam penampilan perannya. Ia melakukan komunikasi-komunikasi
yang tidak sesuai dengan sifat dari peranannya untuk menunjukkan bahwa ia
lebih dari sekadar peran yang dimainkannya. Seperti, pelayan toko yang
mengusulkan pembeli untuk pergi ke toko lain karena mungkin bisa
mendapatkan harga yang lebih murah. Ini merupakan tindakan mengambil jarak
dari peran yang mereka lakukan dalam suatu situasi.
Penampilan “jarak peran” menunjukkan adanya perasaan kurang terikat
terhadap peranan. Pada sisi lain, “penyatuan diri” dengan peranan secara total
merupakan kebalikan dari “jarak peran”. Penyatuan diri terhadap peran tidak
dilihat dari sikap seseorang terhadap perannya, tetapi dari tindakan nyata yang
dilakukannya. Seorang individu menyatu dengan perannya bila ia menunjukkan
semua kemampuan yang diperlukan dan secara penuh melibatkan diri dalam
penampilan peran tersebut.
39
2.3.2
Tahapan Produksi Program Radio
Tahapan produksi didalam program radio memiliki tiga tahapan,
karena sebuah program baru yang ingin dicetuskan haruslah terlebih dahulu
melewati tiga tahapan ini, tahapan produksi program radio yaitu:
1.
Pra Produksi
Tahapan
ini
dikatakan
sebagai
tahapan
perencanaan.
Perencanaan yang dimaksud disini memiliki pengertian yaitu
sejumlah persiapan yang dilakukan dalam membuat program.
Persiapan itu meliputi waktu-waktu yang dilakukan, yaitu seperti
berapa lama waktu yang dipersiapkan atau dibutuhkan sebelum
program radio tersebut disiarkan, siapakah saja sumber daya manusia
yang turut mengambil bagian dalam proses perencanaan dan
persiapan tersebut, dan juga kegiatan apa saja yang akan dilakukan,
seperti mengadakan rapat untuk mencari konsep apa yang diinginkan
untuk di udarakan, membuat naskah, mencari materi siaran dan lain
sebagainya. (Wibowo, 2009,39).
2.
Produksi
Tahapan kedua ialah tahapan produksi, yaitu tahapan dimana
program radio disiarkan. Kegiatan yang dilakukan pada tahapan ini
meliputi pemeriksaan kembali berupa materi yang telah dipersiapkan
sebelumnya, pemeriksaan dari segi teknis, sampai proses siaran itu
berlangsung. (Wibowo, 2009:40).
3.
Pasca Produksi
Tahapan terakhir adalah tahapan pasca produksi, yaitu
melakukan evaluasi dan perbaikan dari apa yang telah disiarkan di
udara. Tahapan ini dilakukan setelah tahapan produksi siaran radio
selesai dilakukan. Kegiatan yang dilakukan meliputi rapat untuk
melakukan evaluasi hasil siaran, evaluasi kepada announcer, dan
lainnya. (Wibowo, 2009:42-44).
40
2.3.3 Produser
Singkatnya, tugas produser dalam empat bagian: teknis dan
operasional, editorial, administratif, dan manajerial. Bagian teknis harus
dilakukan dengan penggunaan yang tepat dari alat-alat, tahu kapan dan
bagaimana menggunakan peralatan program pembuatan. Fungsi editorial
tentang ide-ide dan keputusan. Hal ini harus dilakukan dengan membuat
penilaian tentang apa yang bisa dan tidak sesuai untuk program tertentu . Ini
adalah tentang dukungan firasat dan mengambil risiko , tentang memilih dan
mengolah materi.
Bagian administratif adalah prosedural - mengikuti sistem yang
disepakati dokumen hubungannya dengan kontrak , penilaian risiko, perintah
berjalan dan naskah, biaya dan pembayaran, lembur, cuti, pemesanan studio,
pengembalian hak cipta, transmisi logging, memverifikasi lalu lintas,
kesalahan pelaporan , kembali memposisikan musik dan Fx, membalas suratsurat, dan lainnya.
Produser adalah juga seorang manajer, mengelola proyek yang disebut
program. Ini berarti pengaturan tujuan untuk orang lain, memonitor kemajuan
mereka, mengendalikan, mengorganisir dan memotivasi mereka dalam
pekerjaan mereka. Produser akan menjadi orang yang mendisiplinkan yang
memiliki
kebiasaan
terlambat,
yang
menyelesaikan
konflik
antara
kontributor, dan menyemangati orang baru dan yang tidak pasti.
Wartawan dan DJ, presenter dan pelaku, sering menganggap diri
mereka sebagai komponen unggulan di urutan campur. Produser sebagai
manajer harus membuat tim mana masing-masing cukup percaya diri untuk
mendukung yang lain. Sebagai manajer , produser mengakui tanggung jawab
keuangan dari pekerjaan - menyetujui anggaran , pemantauan pengeluaran
dan mengambil tindakan untuk tetap dalam alokasi. Pada kesempatan
tertentu, mungkin perlu untuk berdebat mengenai kasus tertentu, tapi aspek
editorial dan manajerial tidak dapat dipisahkan . Keputusan redaksi adalah
keputusan sumber daya.
41
Seperti setiap manajer lainnya, produser terutama bertanggung jawab
atas kualitas dari suatu program; intinya adalah standar program - produser
adalah orang yang akhirnya mengatakan apa yang cukup baik dan apa yang
tidak. Pada akhirnya produser memutuskan dan meberitahukan apa yang
harus dilakukan , seperti apa standarnya, kapan, oleh siapa, berapa biayanya.
Itulah manajemen editorial .
Setelah menyelesaikan program ini , produser sudah bekerja pada
program atau episode berikutnya. Bagi beberapa orang itu adalah bagian
putaran konstan setiap hari untuk melaporkan fakta-fakta baru dan
menemukan ketertarikan yang baru. Bagi orang lain mungkin kemajuan yang
melelahkan dari satu epik yang lain. Berbeda dengan seniman murni kreatif,
produser tidak bisa tetap terisolasi, menghasilkan bahan hanya dari dalam.
Peran adalah bahwa dari komunikator, penafsir yang mencoba untuk
membawa tentang bentuk kontak yang menjelaskan dunia lebih banyak .
Untuk sebagian besar itu adalah hubungan sementara yang meninggalkan
jejak substansial . Radio bekerja sangat banyak di masa sekarang; reputasi
sulit untuk dibangun dan bahkan lebih sulit untuk dipertahankan. Produser
jarang dianggap sebagai bagian yang lebih baik daripada program
terakhirnya. ( McLeish, 2005:5)
42
2.3 Kerangka Pemikiran
Gambar 2.3 Kerangka Pemikiran
PENYIAR
PRODUSER
PRODUKSI
PRA
PRODUKSI
PRODUKSI
PASCA
PRODUKSI
PROGRAM
PENDENGAR
Alur yang ada di dalam program Ngopi Hangat 100,2 FM Amirah Radio
sangat sederhana dikarenakan kru yang ada di dalam program Ngopi Hangat hanya
terdiri dari tiga orang saja, yaitu produser, penyiar, dan peorduksi. Tiga darri tahap
pra produksi hingga pasca produksi, hampir secara keseluruhan dikerjakan secara
bersama – sama sebagai satu kesatuan agar program dapat terus berjalan lancar dan
dapat didengar oleh pendengar.
Download