Bencana Air, Kekalahan Cara Pandang Ekologis

advertisement
Bencana Air, Kekalahan Cara Pandang Ekologis
Rabu, 31 Maret 2010 | 02:59 WIB
Budi Widianarko
Andai naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace, menyaksikan kehancuran ekosistem Daerah Aliran
Sungai Citarum, mungkin dia akan meratap pilu.
Hampir satu setengah abad yang lalu (1869), Wallace dalam bukunya, The Malay Archipelago,
begitu memuji Pulau Jawa. Begitu kagumnya kepada pulau ini, ia menulis ”Secara keseluruhan,
ditilik dari sudut mana pun, Jawa boleh jadi pulau tropis yang paling indah dan menawan di dunia.
..Seluruh permukaannya secara menakjubkan dihiasi oleh pemandangan gunung dan hutan. Hujan
yang melimpah dan suhu tropis yang hangat membuat gunung-gunung itu diselimuti oleh
tetumbuhan nan lebat, tak jarang hingga ke puncak-puncaknya, hutan dan perkebunan menutup
lereng-lereng yang lebih landai”.
Hutan rakyat seluas 718.269,5 hektar, hampir 80 persen luasan DAS Citarum, sepanjang 268
kilometer yang melintasi delapan kabupaten/kota rusak parah karena ekspansi lahan pertanian
(tanaman semusim), galian pasir, dan pemukiman penduduk (Kompas, 26/3/2010). Akibatnya,
ketika hujan mengguyur deras, Sungai Citarum meluap dan merendam kawasan hilir, termasuk
rumah penduduk dan hampir seribu hektar sawah di Kabupaten Karawang. Potensi kerugian bisa
mencapai puluhan triliun rupiah jika kegagalan pembangkit listrik dan perikanan ikut diperhitungkan.
Padahal, DAS ini hanya satu dari 116 (80 persen) DAS di Pulau Jawa yang kritis (Kompas,
29/3/2010).
Semua pihak seolah baru terjaga ketika bencana tiba, dan mulai melantunkan nada-nada
penyesalan mengapa tidak mencegah kerusakan kawasan hulu sejak dini. Penyesalan yang datang
terlambat itu sama sekali bukan karena absennya pengetahuan tentang daur air. Pelajaran tentang
siklus hidrologi telah diberikan sejak tahun-tahun awal sekolah dasar. Namun, kita rupanya gagal
menghubungkan pengetahuan tentang daur air dengan perilaku kita terhadap air.
Kegagalan mengubah kognisi tentang air jadi tindakan yang tepat, bisa jadi akibat terbatasnya
pengetahuan itu sendiri. Jangan- jangan yang diperlukan adalah ”melek” air (water literacy) yang
lebih tinggi. Seseorang yang melek air diandaikan dapat membuat keputusan dan tindakan yang
mengarah pada keberlanjutan sumber daya air.
Cara pandang ekologis
Manusia cenderung selalu bersikap ambigu terhadap alam. Alam dipandang sebagai ”sang pemberi”
sekaligus ”musuh”. Manusia bukannya tak mengerti bahwa perusakan ekosfir secara terus-menerus
akan mengakibatkan planet Bumi tidak layak huni, tetapi mereka memilih merusak atau setidaknya
membiarkan perusakan terus terjadi. Jawabnya terletak pada keinginan manusia untuk terus
memacu kemajuan ekonomi.
Keinginan untuk terus memaksa alam demi kemajuan ekonomi adalah buah dari cara pandang
(worldview) dominan, yaitu cara pandang modernisme. Cara pandang ini tercermin kuat pada dua
paradigma turunan, yakni paradigma ekonomi dan paradigma keilmuan. Dua prinsip utama cara
pandang modernisme dan paradigma turunan adalah pertama, semua manfaat, kesejahteraan, dan
kemakmuran yang nyata adalah buatan manusia sebagai produk ilmu pengetahuan, teknologi, dan
industri melalui pembangunan ekonomi.
Kedua, untuk memaksimalkan kesejahteraan dan kemakmuran, kita harus memaksimalkan
pembangunan atau kemajuan ekonomi. Yang dilupakan adalah daya dukung ekosfir. Tanpa
dukungan lingkungan hidup tidak ada satu manusia pun yang dapat bertahan hidup. Terlalu sedikit
bukti yang dapat mendukung bahwa manusia dapat terus ada tanpa hubungan yang mutualistik
dengan alam. Dengan kata lain, manusia sebenarnya sedang melakukan ”bunuh diri ekologis”
dengan bertingkah tak ramah terhadap alam. Kegagalan mengakomodasi ekologi dalam konstruksi
etika modern akan menginisiasi katastrofi global yang maha dahsyat.
Tidak ada pilihan lain bagi umat manusia selain harus mengubah haluan kehidupannya. Dalam
relasinya dengan air, manusia masih terjebak dalam fase kritis , sulit keluar dari paradigma lama.
Banyak pemikir (a.l. Capra, 1982, 1996, 2002; Goldsmith, 1998, Cairns, 2002; Bordeau, 2004) yang
menumpukan harapan pada cara pandang ekologis sebagai pijakan untuk keluar dari kebuntuan
krisis lingkungan. Pandangan ekologis dianggap sebagai paradigma baru untuk memecahkan
persoalan-persoalan dalam masyarakat (Capra, 1982; Goldsmith, 1998).
Sebenarnya, kesadaran akan perlunya pergeseran paradigma dari mekanistik ke sistem, dari
reduksionis keholistik sudah tak perlu diperdebatkan lagi. Namun, sayangnya, pergeseran
paradigma ini belum mewujud dalam kehidupan nyata, termasuk dalam pengelolaan sumber daya
air. Pengelolaan sumber daya air masih terjebak dalam pola Cartesian. Di Indonesia, masih sangat
sulit, untuk tidak mengatakan mustahil, untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya air secara
terpadu. Wewenang pengelolaan sumber daya air dikapling-kapling menurut masing-masing
lembaga yang menanganinya.
Sumber daya air tidak dikelola dalam suatu kesatuan siklus hidrologi, melainkan di-”mutilasi”
menjadi beberapa bagian. Pengelolaan sumber daya air masih sangat kurang memerhatikan relasi
intim antara air, ekosistem, dan manusia. Hal ini dapat terjadi karena paradigma dominan dalam
pengelolaan sumber daya air adalah pendekatan manajemen dan ekonomi. Dominasi epistemologi
yang ekonomistik cenderung menafikan kenyataan bahwa air adalah entitas ekologis, bukan
sekadar benda ekonomi.
Budi Widianarko Guru Besar Toksikologi Lingkungan, Unika Soegijapranata
Download