Phaleria macrocarpa

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tumbuhan Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa)
2.1.1 Klasifikasi tumbuhan
Menurut Herbarium Medanense (2016), mahkota dewa diklasifikasikan
sebagai berikut:
Kingdom
: Plantae
Divisi
: Spermathophyta
Subdivisi
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledoneae
Bangsa
: Malvales
Suku
: Malvaceae
Marga
: Phaleria
Spesies
: Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl.
Nama Lokal
: Mahkota dewa
2.1.2 Morfologi tumbuhan
Tanaman mahkota dewa berbentuk perdu yang berumur tahunan. Tinggi
tanaman umumnya 1-3 m, tetapi ada yang bisa mencapai 5 m. Kulit batang
mahkota dewa berwarna coklat kehijauan, sementara kayunya berwarna putih.
Batangnya bulat dan bergetah dengan diameter batang tanaman dewasa mencapai
15 cm. Tanaman ini akan mengeluarkan bunga dan diikuti dengan munculnya
buah setelah 9-12 bulan kemudian. Buahnya berwarna hijau saat muda dan
7
Universitas Sumatera Utara
menjadi merah marun setelah berumur 2 bulan. Buahnya berbentuk bulat dengan
ukuran bervariasi mulai dari sebesar bola pingpong sampai sebesar buah apel.
Bagian tumbuhan yang digunakan adalah daun. Daun mahkota dewa
merupakan daun tunggal bentuknya lonjong, memanjang dan berujung lancip
dengan letak daun berhadapan, bertangkai pendek, ujung dan pangkal runcing,
tepi rata, pertulangan menyirip, permukaan licin, warnanya hijau tua, panjang
7-10 cm, dan lebar 2-5 cm (Harmanto, 2001).
2.2 Khasiat
Secara tradisional mahkota dewa mempunyai beberapa khasiat yang secara
empiris mampu menyembuhkan beberapa penyakit, seperti hepatitis, kanker,
tumor, reumatik, alergi, asma (Harmanto, 2001), penyakit diabetes melitus,
hipertensi, mengurangi rasa sakit jika terjadi pendarahan atau pembengkakan,
asam urat (arthritis gout), penyakit jantung, gangguan ginjal, eksim (penyakit
kulit), jerawat dan luka gigitan serangga (Tone, 2013).
2.3 Sistem Imun
Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh adalah mekanisme pertahanan
tubuh yang bertugas merespon atau menanggapi serangan dari luar tubuh kita.
Saat terjadi serangan, biasanya antigen pada tubuh akan mulai menstimulasi
sistem kekebalan tubuh. Mekanisme inilah yang akan melindungi tubuh dari
serangan berbagai mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur, dan berbagai
kuman penyebab penyakit (Djauzi, 2003).
8
Universitas Sumatera Utara
Fungsi sistem imun bagi tubuh ada tiga. Pertama sebagai pertahanan tubuh
yakni menangkal benda asing. Kedua, untuk keseimbangan fungsi tubuh terutama
menjaga keseimbangan komponen yang tua, dan ketiga, sebagai pengintai
(surveillence immune system), untuk menghancurkan sel-sel yang bermutasi atau
ganas. Pada prinsipnya jika sistem imun bekerja optimal, maka tidak akan mudah
terkena penyakit dan sistem keseimbangannya normal (Djauzi, 2003).
Bila sistem imun bekerja pada zat yang diangap asing, maka ada dua jenis
respon imun yang mungkin terjadi, yaitu respon imun nonspesifik dan respon
imun spesifik (Kresno, 2001).
2.3.1 Komponen sistem imun
Adapun komponen dari sistem imun terdiri dari komponen humoral dan
komponen seluler.
2.3.1.1 Komponen Seluler
Komponen seluler ini terdiri dari:
1. Sel Limfoid
Sel limfoid bertugas untuk mengenali antigen. Terdapat beberapa sel limfoid
yang terkait dalam mengenali antigen, yaitu limfosit T, limfosit B, dan sel natural
killer (NK). Kecuali sel NK, limfosit dilengkapi dengan molekul reseptor untuk
mengenali antigen (Subowo, 2009).
a. Limfosit T
Limfosit T atau sel T memegang peranan penting dalam mengontrol respon
imun secara keseluruhan (Kresno, 2001). Sel T adalah sel yang berperan dalam
sistem imun spesifik seluler. Sel T terdiri atas beberapa subpopulasi sel yang
mempunyai fungsi yang berlainan (Sherwood, 2001).
9
Universitas Sumatera Utara
i. Sel Th (T helper)
Sel Th adalah sel yang membantu meningkatkan perkembangan sel B aktif
menjadi sel Plasma, memperkuat aktivitas sel T sitotoksik dan sel T supresor yang
sesuai, dan mengaktifkan makrofag. Sel Th dapat dibedakan menjadi sel Th1 dan
Th2. Sel Th1 berperan sebagai limfosit yang akan melepaskan sitokin yang
bersifat proinflamasi, sedangkan sel Th2 berperan dalam memproduksi antibodi
dengan menstimulasi sel B menjadi sel plasma (Sherwood, 2001).
ii. Sel Ts (T suppresor)
Sel Ts adalah sel yang berperan dalam membatasi reaksi imun melalui
mekanisme “check and balance” dengan limfosit yang lain. Sel Ts menekan
aktivitas sel T lainnya dan sel B. Sel Th dan Ts akan berinteraksi dengan adanya
metode umpan balik. Sel Th membantu sel Ts beraksi dan sel Ts akan menekan
sel T lainnya. Dengan demikian sel Ts dapat menghambat respon imun yang
berlebihan dan bersifat antiinflamasi (Sherwood, 2001).
iii. Sel Tc (T cytotoxic)
Sel Tc mempunyai kemampuan untuk menghancurkan sel alogenik, sel
sasaran yang mengandung virus dan sel kanker. Dalam fungsinya, sel Tc
memerlukan rangsangan dari sel Th1 (Baratawidjaja, 2012).
iv. Sel Tdh (delayed hypersensitivity)
Sel Tdh adalah sel yang berperan pada pengerahan makrofag dan sel inflamasi
lainnya ke tempat terjadinya reaksi lambat. Dalam fungsinya, memerlukan
ransangan dari sel Th1 (Baratawidjaja, 2012).
10
Universitas Sumatera Utara
b.
Limfosit B
Sel B terdapat kurang lebih 25% dari jumlah limfosit total. Pada membran sel
B terdapat reseptor khas untuk mengikat antigen. Aktivitas sel B distimulasi
dengan adanya sel Th2 menjadi plasma dan akan membentuk antibodi
(Tjay dan Rahardja, 2007).
Limfosit B adalah sel yang dapat membentuk imunoglobulin (Ig)
(Kresno, 2001). Pada saat distimulasi oleh antigen, limfosit B akan merespon
dengan cara sekresi antibodi yang mampu mengikat antigen spesifik
(Rantam, 2003). Bila sel B dirangsang oleh benda asing, maka sel tersebut akan
berproliferasi dan berkembang menjadi sel plasma yang dapat membentuk
antibodi.
Antibodi
yang
dilepas
dapat
ditemukan
di
dalam
serum
(Baratawidjaja, 1991).
c. Sel NK
Sel Natural Killer (NK) memegang peranan penting dalam pertahanan
alamiah terhadap pertumbuhan sel kanker dan berbagai penyakit infeksi, tanpa
sensitisasi sebelumnya (Kresno, 2001). Sel NK diperkirakan dapat mengenal
struktur-struktur glikoprotein yang muncul pada permukaan sel terinfeksi virus
sehingga dapat dibedakan dari sel-sel normal. Pengenalan ini mungkin terjadi
melalui reseptor serupa lektin pada permukaan sel NK yang menghantar sel
pembunuh dan sasaran saling berhadapan pada jarak yang dekat (Roitt, 2002).
1.
Sel fagosit
Sel fagosit merupakan sel yang mempunyai kemampuan intrinsik untuk
mengikat mikroorganisme secara langsung. Sel utama yang berperan dalam
11
Universitas Sumatera Utara
pertahanan non spesifik adalah sel mononuklear (monosit dan makrofag) dan sel
polimorfonuklear atau granulosit (Baratawidjaja, 1991).
2.3.1.2 Komponen Humoral
Komponen humoral ini terdiri dari:
a.
Komplemen
Komplemen merupakan mediator terpenting dalam reaksi antigen-antibodi,
dan terdiri atas sekitar 20 jenis protein yang berbeda satu dengan yang lain baik
dalam sifat kimia maupun dalam fungsi imunologik. Jika komplemen diaktifkan
akan memberikan proteksi terhadap infeksi dan berperan dalam respon inflamasi.
Komplemen juga berperan sebagai opsonin yang dapat meningkatkan fagositosis
(Kresno, 2001).
b.
Interferon
Interferon merupakan sitokin berupa glikoprotein yang diproduksi oleh
makrofag yang diaktifkan, sel NK dan berbagai sel tubuh yang mengandung
nukleus dan dilepaskan sebagai respon terhadap infeksi virus. Interferon
mempunyai sifat anti virus dengan menginduksi sel-sel sekitar sel yang terinfeksi
virus sehingga menjadi resisten terhadap virus (Roitt, 2002). Interferon dihasilkan
sel T (interferon-gamma) atau sel darah putih lain (interferon-alfa) atau fibroblas
(interferon-beta) (Corwin, 2009).
c.
C-Reactive Protein (CRP)
CRP merupakan zat yang dibentuk oleh tubuh pada saat infeksi. Perannya
adalah sebagai opsonin (zat yang dapat meningkatkan proses fagositosis) dan
dapat mengaktifkan komplemen (Roitt, 2002).
12
Universitas Sumatera Utara
d.
Antibodi
Antibodi adalah immunoglobulin (Ig) yang merupakan golongan yang
dibentuk oleh sel plasma yang berasal dari proliferasi sel B akibat adanya kontak
dengan antigen (Rantam, 2003) sehingga membentuk kompleks antigen-antibodi
yang akan mengaktivasi komplemen dan mengakibatkan hancurnya antigen
tersebut (Kresno, 2001).
Fungsi utama antibodi adalah sebagai pertahanan terhadap infeksi
ekstraselular, virus dan bakteri serta menetralisasi toksinnya (Rantam, 2003).
Struktur dasar antibodi berbentuk seperti “Y” memiliki 4 rantai protein yang
tersusun dari dua rantai polipeptida ringan (light-chain) dan dua rantai polipeptida
berat (heavy-chain) yang identik. Setiap rantai-rantai ini akan dihubungkan oleh
ikatan disulfida (Elfidasari, 2014). Struktur antibodi dapat dilihat pada gambar 2.1
Gambar 2.1 Struktur molekul antibodi (Haryana, 1981)
13
Universitas Sumatera Utara
Menurut perbedaan struktur dan aktivitas biologis, antibodi dibedakan
menjadi 5 jenis dan dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut:
Tabel 2.1 Pembagian jenis Imunoglobulin
Struktur
Subkelas
Keterangan
Miu (μ)
IgM
- Merupakan molekul paling besar
- Berfungsi sebagai reseptor permukaan sel B
untuk tempat antigen melekat dan disekresikan
dalam tahap-tahap awal respon sel.
Gamma (γ)
IgG
- Merupakan immunoglobulin yang paling
banyak di dalam darah, dihasilkan dalam jumlah
besar ketika tubuh terpajan ulang ke antigen
yang sama
Epsilon (ε)
IgE
- Merupakan mediator antibodi untuk respon
alergi
- Mampu melekat pada sel mastosit atau basofil
yang melepaskan mediator histamin, heparin,
prostaglandin yang dapat menimbulkan reaksi
hipersensitivitas tipe cepat
Alpha (α)
IgA
- Ditemukan dalam sekresi sistem pencernaan,
pernafasan, dan genitouria, serta dalam air susu
dan air mata.
Delta (δ)
IgD
- Terdapat di permukaan sel B, tetapi fungsinya
masih belum jelas.
Sumber: Sherwood (2001)
2.4 Respon Imun
Respon imun adalah tanggapan sistem imun terhadap zat asing, setelah
terjadi proses pengenalan oleh sel-sel pengenal (limfosit). Secara umum
dinyatakan bahwa respon imun seseorang terhadap patogen terdiri atas respon
14
Universitas Sumatera Utara
imun alami atau respon imun non spesifik dan respon imun adaptif atau respon
imun spesifik (Subowo, 2009).
2.4.1 Respon Imun Non Spesifik
Respon imun non spesifik merupakan pertahanan tubuh terdepan dalam
menghadapi serangan berbagai mikroorganisme, oleh karena dapat memberikan
respons langsung terhadap antigen (Baratawidjaja, 1991). Respon imun non
spesifik (innate immunity) merupakan imunitas alamiah yang telah ada sejak lahir.
Imunitas ini tidak ditujukan hanya untuk satu jenis antigen, tetapi untuk berbagai
macam antigen, jadi bukan merupakan pertahanan khusus untuk antigen tertentu
(Kresno, 2001).
Respon imun non spesifik dapat mendeteksi adanya antigen dan
melindungi tubuh dari kerusakan yang diakibatkannya, tetapi tidak mampu
mengenali dan mengingat kembali antigen tersebut (Kresno, 2001).
Komponen-komponen utama respon imun non spesifik adalah pertahanan
fisik dan kimiawi. Pertahanan ini meliputi epitel dan zat-zat antimikroba yang
diproduksi pada permukaannya, berbagai jenis protein dalam darah termasuk
komponen-komponen sistem komplemen, mediator inflamasi lainnya dan
berbagai sitokin, sel-sel fagosit yaitu sel-sel polimorfonuklear, makrofag dan sel
natural killer (NK). Salah satu upaya tubuh untuk mempertahankan diri terhadap
masuknya antigen adalah dengan menghancurkan antigen yang bersangkutan
secara nonspesifik dengan proses fagositosis. Manifestasi respon imun
nonspesifik dapat berupa kulit, epitel mukosa, selaput lendir, gerakan silia saluran
nafas, batuk dan bersin, lisozim, IgA, pH asam lambung. Selain fagositosis,
15
Universitas Sumatera Utara
manifestasi respon imun non spesifik yang lain adalah reaksi inflamasi
(Kresno, 2001).
Pemeran utama pada respon imun ini adalah makrofag, dibantu oleh
neutrofil dan monosit. Sel-sel ini membuat kontak pertama dengan antigen.
Fungsinya adalah menghancurkan antigen dengan cara fagositosis dan
mengeluarkan reaksi akhir dari respon imun seperti reaksi peradangan saat kulit
terluka, pelepasan mediator saat alergi, dan demam saat terjadi infeksi
mikroorganisme (Tjay dan Rahardja, 2007).
2.4.2 Respon Imun Spesifik
Berbeda dengan respon imun non spesifik, respon imun spesifik
membutuhkan waktu untuk mengenal antigen terlebih dahulu sebelum dapat
memberikan responsnya. Benda asing yang pertama kali muncul dalam tubuh
segera dikenal oleh sistem imun spesifik sehingga terjadi sensitisasi sel-sel sistem
imun tersebut. Bila sel sistem imun tersebut terpapar kembali dengan benda asing
yang sama, maka benda asing yang terakhir ini akan dikenal lebih cepat,
kemudian dihancurkan olehnya (Baratawidjaja, 1991).
Dalam respon imun spesifik, limfosit merupakan sel yang memainkan
peranan penting karena sel ini mampu mengenali setiap antigen yang masuk ke
dalam tubuh, baik yang terdapat pada intraseluler maupun ekstraseluler. Respon
imun spesifik dimulai dengan aktivitas makrofag atau antigen presenting cell
(APC) yang memproses antigen sehingga menimbulkan interaksi dengan sel-sel
sistem imun spesifik. Setelah itu sel-sel sistem imun berproliferasi dan
berdiferensiasi sehingga menjadi sel-sel yang memiliki kompetensi imunologik
dan mampu bereaksi dengan antigen (Kresno, 2001).
16
Universitas Sumatera Utara
Limfosit T dan B (sel T dan B) berasal dari sel induk yang sama yaitu di
sumsum tulang belakang. Pada masa janin dan anak-anak, limfosit imatur
bermigrasi ke timus dan mengalami pengolahan lebih lanjut menjadi limfosit T.
limfosit yang matang di tempat lain selain timus akan menjadi limfosit B
(Sherwood, 2001).
2.5 Respon Hipersensitivitas
Respon hipersensitivitas yaitu reaksi imun yang patologik, terjadi akibat
respon imun yang berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan jaringan tubuh.
Reaksi hipersensitivitas dibagi dalam 4 tipe reaksi berdasarkan kecepatan dan
mekanisme imun yang terjadi, yaitu tipe I, II, III dan IV (Baratawidjaja, 1991).
2.5.1 Reaksi Hipersensitivitas tipe I
Reaksi tipe I yang disebut juga reaksi cepat atau reaksi alergi, timbul
segera sesudah badan terpapar dengan alergen. Pada reaksi ini alergen yang
masuk ke dalam tubuh menimbulkan respon imun dengan dibentuknya IgE.
Fase reaksi tipe I adalah sebagai berikut :
1. Fase sensitisasi yaitu waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan igE
sampai diikatnya oleh reseptor spesifik pada permukaan sel mastosit dan
basofil.
2. Fase aktivasi yaitu waktu selama terjadi pemaparan ulang dengan antigen
yang spesifik, mastosit melepas isinya yang berisikan granul yang
menimbulkan reaksi.
17
Universitas Sumatera Utara
3. Fase efektor yaitu waktu terjadi respon yang kompleks sebagai efek
bahan–bahan yang dilepas mastosit dengan aktivitas farmakologik
(Baratawidjaja, 1991). Fase reaksi tipe I dapat dilihat pada gambar 2.2
Gambar 2.2 Reaksi Hipersensitivitas tipe I (Elsevier, 2002).
Antigen merangsang sel B untuk membentuk IgE dengan bantuan sel Th2.
IgE kemudian diikat oleh mastosit/basofil melalui reseptor Fc. Apabila tubuh
terpapar ulang dengan antigen yang sama, maka antigen tersebut akan diikat oleh
IgE yang sudah ada pada permukaan mastosit/basofil. Akibat ikatan antigen-IgE,
mastosit/basofil mengalami degranulasi dan melepaskan mediator antara lain
histamin, yang menimbulkan gejala pada reaksi hipersensitivitas tipe I
(Baratawidjaja, 1991).
2.5.2 Reaksi Hipersensitivitas tipe II
Reaksi tipe II, disebut juga reaksi sitotoksik, terjadi karena dibentuknya
antibodi jenis IgG atau IgM terhadap antigen yang merupakan bagian sel pejamu.
18
Universitas Sumatera Utara
Antibodi tersebut dapat mengaktifkan sel K, selanjutnya ikatan antibodi-antigen
dapat mengaktifkan komplemen yang melalui reseptor C3b memudahkan
fagositosis dan menimbulkan lisis. Contoh reaksi tipe II ialah reaksi transfusi
darah (Baratawidjaja,1991).
2.5.3 Reaksi Hipersensitivitas tipe III
Reaksi tipe III disebut juga reaksi imun kompleks, terjadi bila kompleks
antigen-antibodi ditemukan dalam jaringan atau sirkulasi dan mengaktifkan
komplemen. Antibodi disini biasanya jenis IgM atau IgG. Komplemen yang
diaktifkan kemudian melepas Macrophage Chemotactic Factor. Makrofag yang
dikerahkan ke tempat tersebut melepaskan enzim yang dapat merusak jaringan
sekitarnya. Contoh reaksi tipe III ialah Sistemic Lupus Eritematosus, artritis
reumatoid dan infeksi lain (Baratawidjaja, 1991)
2.5.4 Reaksi Hipersensitivitas tipe IV
Reaksi tipe IV, juga disebut reaksi hipersensitivitas lambat, cell mediated
immunity (CMI), Delayed Type Hypersensitivity (DTH) atau reaksi tuberkulin
yang timbul lebih dari 24 jam setelah tubuh terpapar dengan antigen. Reaksi
terjadi karena respons sel T yang sudah disensitisasi terhadap antigen tertentu.
Disini tidak ada peranan antiodi. Akibat sensitisasi tersebut, sel T melepaskan
limfokin, antara lain macrophage inhibition factor (MIF) dan macrophage
activation factor (MAF). Makrofag yang diaktifkan dapat menimbulkan kerusakan
jaringan (Baratawidjaja, 1991).
19
Universitas Sumatera Utara
2.6 Imunomodulator
Imunomodulator
merupakan
substansi
ataupun
obat
yang
dapat
memodulasi fungsi dan aktivitas sistem imun baik dengan cara merangsang
ataupun memperbaiki fungsi sistem imun (Baratawidjaja, 2012).
Imunomodulator adalah senyawa tertentu yang dapat meningkatkan
mekanisme pertahanan tubuh baik secara spesifik maupun non spesifik. Fungsi
imunomodulator adalah memperbaiki sistem imun dengan cara menekan atau
menormalkan reaksi imun yang abnormal (imunosupresan) dan stimulasi
(imunostimulan) (Subowo, 2009).
2.6.1 Imunosupresor
Imunosupresor adalah senyawa yang dapat menurunkan respon imun yang
berlebihan. Imunosupresor mampu menghambat transkripsi dari sitokin dan
memusnahkan sel T (Tjay dan Rahardja, 2007). Kegunaannya secara klinis
terutama pada transplantasi dalam usaha mencegah reaksi penolakan dan berbagai
penyakit inflamasi yang menimbulkan kerusakan, mengatasi penyakit autoimun.
Imunosupresor yang banyak digunakan adalah steroid, azatioprin siklosporin-A
dan globulin antilimfosit (Baratawijdaja, 1991).
2.6.2 Imunostimulator
Imunostimulator adalah senyawa yang dapat meningkatkan respon imun.
Imunostimulator dapat mereaktivasi sistem imun dengan berbagai cara seperti
meningkatkan jumlah dan aktivitas sel T, NK-cells dan makrofag serta
melepaskan
interferon
dan
interleukin
(Tjay
dan
Rahardja,
2007).
Imunostimulator banyak digunakan untuk menjaga kondisi tubuh saat terjadinya
20
Universitas Sumatera Utara
defisiensi imunitas, pada terapi AIDS, infeksi kronik, dan keganasan terutama
yang melibatkan sistem limfatik (Nafrialdi, 2007).
Imunostimulan memiliki kemampuan untuk meningkatkan perlawanan
terhadap infeksi penyakit terutama oleh sistem fagositik dan merangsang
pertumbuhan sel pertahanan tubuh secara alami (Subowo, 2009). Beberapa contoh
imunostimulan biologi adalah sitokin, hormon timus, limfokin, interferon,
antibodi monoklonal, ekstrak leukosit (transfer factor), jamur, dan tanaman obat
(herbal). Sedangkan imunostimulan sintetik yaitu levamisol, isoprinosin, dan
muramil dipeptida (Djauzi, 2003).
2.6.3 Levamisol
Levamisol
adalah
derivate
tetramizol,
obat
cacing
yang
dapat
meningkatkan proliferasi sitotoksisitas sel T serta mengembalikan anergi pada
beberapa penderita dengan kanker (imunostimulasi nonspesifik). Levamisol dapat
meningkatkan efek antigen, mitogen, limfokin, dan faktor kemotaktik untuk
merangsang limfosit, granulosit dan makrofag (Baratawidjaja, 1991).
Levamisol suatu obat imunomodulasi yang sedang diteliti untuk
menentukan kemanjurannya dalam berbagai kanker, penyakit autoimun, infeksi
bakteri menahun dan keratitis herpetika. Ia mempengaruhi pertahanan hospes
dengan mengatur respon imun seluler, termasuk fungsi leukosit polimononuklear,
makrofag dan sel T. Reaktivitas imun segera meningkat setelah pemberian hanya
satu dosis dan dianggap menetap beberapa hari sampai beberapa bulan
(Katzung, 1989).
21
Universitas Sumatera Utara
2.7 Metode Pengujian Efek Imunomodulator
Ada beberapa metode yang digunakan dalam pengujian efek imunomodulator. Beberapa di antaranya adalah metode bersihan karbon, uji respon
hipersensitivitas tipe lambat, pengukuran antibodi (titer antibodi) (Roit, 1989).
2.7.1 Uji respon hipersensitivitas tipe lambat
Uji respon hipersensitivitas tipe lambat merupakan pengujian efek
imunomodulator terkait dengan respon imun spesifik. Respon hipersensitivitas
tipe lambat merupakan respon imun seluler yang melibatkan aktivasi sel Th yang
akan melepaskan sitokin dan meningkatkan aktivitas makrofag sehingga dapat
meningkatkan reaksi inflamasi yang ditandai dengan pembengkakan kaki hewan
uji (Roitt, 2002).
2.7.2 Titer antibodi
Penilaian titer antibodi merupakan pengujian terhadap respon imun
humoral yang melibatkan pembentukan antibodi. Peningkatan nilai titer antibodi
terjadi karena peningkatan aktivitas sel Th yang menstimulasi sel B untuk
pembentukan antibodi dan peningkatan aktivitas sel B dalam pembentukan
antibodi (Roitt, 2002).
22
Universitas Sumatera Utara
Download