4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pemasaran 2.1.1 Definisi Pemasaran Dalam bukunya, Kotler (2002) menyatakan bahwa pemasaran (marketing) dapat di definisikan sebagai berikut “Pemasaran adalah suatu proses sosial yang di dalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain“ Sedangkan definisi pemasaran menurut American Marketing Association yaitu [Khasali,1998,53]:“Suatu proses perencanaan dan eksekusi, mulai dari tahapan konsepsi, penetapan harga, promosi, hingga distribusi barang-barang, ide-ide, dan jasa-jasa, untuk melakukan pertukaran yang memuaskan individu dan lembaga-lembaganya” Hal-hal pokok dalam definisi tersebut adalah: 1. Ada perencanaan dan eksekusi di lapangan. Hal ini menunjukkan bahwa pemasaran membutuhkan strategi (diungkapkan dalam rencana-rencana yang realistis yang dihubungkan dengan kemungkinan memperoleh keuntungan, kelancaran penerimaan pembayaran, investasi yang dibutuhkan, produk yang 5 ingin dibuat, dan sebagainya) dan eksekusi di lapangan (pengiriman barang, penagihan, penetapan, pramuniaga, dan sebagainya). 2. Ada tahapan-tahapan yang dirumuskan. Hal ini menunjukkan pemasaran dirumuskan dari awal yaitu pada saat konsepsi. Dengan kata lain, seluruh bagian harus duduk bersama-sama merumuskan produk dan memasarkannya. 3. Melibatkan produk, harga, promosi dan distribusi. Keempat variable ini dalam pemasaran disebut bauran pemasaran (marketing mix), atau sering disebut juga 4P, yaitu berasal dari kata-kata Product, Price, Place, dan Promotion. Keempat variable ini merupakan alat pemasaran yang dapat dikendalikan oleh marketer. 4. Barang yang dipertukarkan. Yang dipertukarkan tidaklah selalu berupa barang yang berwujud yang dapat dipegang (tangible goods), tetapi juga benda-benda yang tidak berwujud, seperti ide-ide (jasa konsultasi, proposal, disain), tempat, jasa-jasa, dan sebagainya. 5. Pertukaran. Hal yang lazim berlaku adalah bila seseorang menyerahkan sesuatu (barang, ide atau jasa) dan menerima pembayaran (uang). Dalam pemasaran modern, pertukaran tidak selalu melibatkan uang, misalnya bisa saja seseorang menerima imbalan dalam bentuk lain. Pertukaran terjadi karena pihak pembeli memperoleh suatu manfaat. 6. Memuaskan konsumen dan institusinya. Tujuan kegiatan pemasaran adalah memuaskan konsumennya. Maksud dari pentingnya upaya memuaskan konsumen dalam pemasaran adalah agar konsumen bersedian balik kembali mengulangi pembeliannya dan merekomendasikan orang lain untuk membeli. 6 2.2 Bauran Pemasaran (Marketing Mix) McCarthy (1960) mempopulerkan sebuah klasifikasi empat unsur dari alat-alat ini yang dikenal dengan empat P (four Ps): produk, harga, tempat, dan promosi (product, price, place, promotion). 2.2.1 Bauran Produk Alat bauran pemasaran yang paling mendasar adalah produk. Produk (product) adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke suatu pasar untuk memenuhi keinginan atau kebutuhan yang meliputi barang fisik, jasa layanan, orang, tempat, organisasi, gagasan, dan sebagainya. Produk yang ditawarkan mempunyai warna, ukuran, kemasan, dan jasa pelayanan dari perusahaan yang dapat diterima oleh konsumen sebagai alat pemuas kebutuhan. Hal-hal yang berhubungan dengan produk yaitu: 1. Merk yaitu isu yang penting dalam strategi produk karena dapat menambah nilai suatu produk. 2. Pengemasan yaitu kegiatan merancang dan memproduksi pembungkus suatu produk. 3. Label yang berfungsi untuk mengidentifikasi produk, menjelaskan tingkat mutu produk, dan menjelaskan beberapa hal tentang produk. 7 2.2.2 Bauran Harga Alat bauran pemasaran yang penting adalah harga. Harga (price) adalah jumlah uang yang pelanggan keluarkan untuk produk tertentu. Harga juga merupakan nilai dari barang atau jasa yang dinyatakan dalam satuan moneter. Harga harus sebanding dengan penawaran nilai kepada pelanggan. Jika tidak, pembeli akan berpaling ke produk pesaing. 2.2.3 Bauran Tempat Tempat (place), alat bauran pemasaran lainnya, termasuk berbagai kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk membuat produk dapat diperoleh dan tersedia bagi pelanggan sasaran. Perusahaan harus mengidentifikasi, merekrut, dan menghubungkan berbagai penyedia fasilitas pemasaran untuk menyediakan produk dan pelayanannya secara efisien kepada pasar sasaran. 2.2.4 Bauran promosi Promosi (promotion), alat bauran pemasaran keempat, meliputi semua kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya kepada pasar sasaran. Perusahaan harus memperkejakan, melatih, dan memotivasi tenaga penjualnya. Lima cara komunikasi utama yaitu iklan, promosi penjualan, hubungan masyarakat, serta pemasaran langsung dan penjualan pribadi. Iklan merupakan setiap pembayaran untuk setiap kegiatan presentasi dan promosi ide, barang maupun jasa melalui saluran non personal dengan sponsor yang diketahui secara umum. Promosi penjulan merupakan insentif jangka pendek untuk mendorong keinginan mencoba atau membeli suatu produk. Hubungan masyarakat yaitu berbagai 8 visi program yang dirancang untuk mempromosikan dan melindungi citra perusahaan atau produk individualnya. Pemasaran langsung berkaitan dengan penggunaan surat, telepon, dan alat penghubung nonpersonal lainnya untuk berkomunikasi dengan pelanggan atau calon pelanggan tertentu. Penjualan pribadi yaitu tatap muka dengan satu atau lebih calon pembeli dengan tujuan melakukan presentasi menjawab pertanyaan dan mendapat pesanan. 2.3 Karakteristik dan Perilaku Konsumen Dalam mengumpulkan data primer dengan tehnik penyebaran kuisioner, biasanya disertakan isian mengenai karakteristik responden. Dengan mengaitkan data responden dengan data permasalahan yang diteliti, maka akan menjadi hal yang sangat penting dalam suatu penelitian. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen antara lain : 1. Faktor sosial Yang termasuk dalam faktor sosial yaitu kelompok acuan, keluarga, peran dan status. Kelompok acuan yaitu kelompok yang memiliki pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang. Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat, dimana anggota keluarga merupakan kelompok acuan primer yang saling berpengaruh. Pemasar perlu menentukan anggota mana yang biasanya memiliki pengaruh yang paling besar dalam memilih bermacam produk. Peran meliputi kegiatan yang diharapkan akan dilakukan oleh seseorang, sedangkan setiap peran memiliki status yang berbeda- beda. 9 2. Faktor pribadi Yang termasuk dalam faktor ini adalah usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi, gaya hidup serta kepribadian dan konsep diri pembeli. • Usia dan tahap siklus hidup. Selera orang dan konsumsinya berhubungan dengan usia dan siklus hidup keluarga. • Pekerjaan • Keadaan ekonomi, terdiri dari penghasilan, tabungan, hutang, kemampuan untuk meminjam dan sikap atas belanja atau menabung. • Gaya hidup, yaitu pola hidup seseorang yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya. • Kepribadian dan konsep diri, yaitu karakteristik psikologis yang berbeda dari seseorang, yang menyebabkan tanggapan yang relatif konsisten terhadap lingkungannya dan cara seseorang memandang dirinya. 3. Faktor psikologis Yang termasuk dalam faktor ini adalah motivasi, presepsi, pengetahuan, serta keyakinan dan pendirian. • Motivasi yaitu kebutuhan yang cukup mendorong untuk bertindak. 10 • Presepsi yaitu proses bagaimana seseorang individu memilih, mengorganisasi, dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan gambaran dunia yang memiliki arti. • Pengetahuan meliputi perubahan dalam perilaku seseorang yang timbul dari pengalaman. • Keyakinan dan sikap. Keyakinan adalah pemikiran deskriptif yang dianut seseorang tentang sesuatu hal. Sikap adalah evaluasi, perasaan emosional dan kecenderungan tindakan terhadap beberapa objek atau gagasan. 2.4 Segmentasi Definisi segmentasi pasar yang paling sering diucapkan para ahli (kotler,1991) adalah : “suatu proses untuk membagi-bagi atau mengelompok-kelompokkan konsumen ke dalam kotak-kotak yang lebih homogen.” Karena pasar sifatnya sangat heterogen, maka akan sulit bagi produsen untuk melayaninya. Oleh karena itu, pemasar harus memilih segemen-segmen tertentu saja dan meninggalkan bagian pasar lainnya. Bagian atau segmen yang dipilih itu adalah bagian yang homogen yang memiliki ciri-ciri yang sama dan cocok dengan kemampuan perusahaan untuk memenuhi tuntutan-tuntutannya. 11 Khasali (1998) dalam bukunya menyatakan segmentasi didefinisikan sebagai : “Proses menkotak-kotakkan pasar (yang heterogen) ke dalam kelompok-kelompok “potential customer” yang memiliki kesamaan kebutuhan dan/atau kesamaan karakter yang memiliki respons yang sama dalam membelanjakan uangnya. ” Meski para marketer mempunyai maksud yang berbeda-beda dalam melakukan segmentasi pasar, segmentasi pasar mempunyai tujuan yang sama, yaitu [Khasali,1998,122]: “to improve your company’s competitive position and better serve the needs of your costumers” (melayani konsumen lebih baik dan memperbaiki posisi kompetitif perusahaan anda). Setidaknya ada 5 keuntungan yang dapat diperoleh dengan melakukan segmentasi pasar, yaitu: 1. Mendisain produk-produk yang lebih responsif terhadap kebutuhan pasar. Hanya dengan memahami segmen-segmen yang responsif terhadap suatu stimuli maka perusahaan dapat mendisain produk yang sesuai dengan kebutuhan/keinginan segmen-segmen ini. 2. Menganalisis pasar. Segmentasi pasar membantu perusahaan mendeteksi siapa saja yang akan menggerogoti pasar produknya. 12 3. Menemukan peluang. Setelah menganalisis pasar, pemasar yang menguasai segmentasi dengan baik akan sampai pada ide untuk menemukan peluang. Peluang ini tidak selalu sesuatu yang besar, tetapi pada masanya ia akan menjadi besar. 4. Menguasai posisi yang superior dan kompetitif. Pemasar yang menguasai segmen dengan baik umumnya adalah mereka yang paham betul konsumennya. Mereka mempelajari pergeseran-pergeseran yang terjadi di dalam segmennya. 5. Menentukan strategi komunikasi yang efektif dan efisien. Kalau pemasar tahu persis siapa yang menjadi segmennya, maka ia akan tahu bagaimana berkomunikasi yang baik dengan mereka. Sebelum suatu segmen dimasuki, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi yaitu [Khasali,1998,138]: 1. Apakah segmen itu cukup besar ? Segmen yang dipilih hendaknya cukup potensial dalam arti besar pasarnya dapat menjamin kontinuitas produksi sesuai dengan harga yang bersedia dibayar konsumen. 13 2. Apakah ada daya belinya ? Populasi yang besar dalam sebuah segmen belum menjamin keberhasilan. Pertanyaanya adalah apakah pasar itu memiliki daya beli yang memadai dan kesediaan membeli. 3. Apakah dapat dibedakan dengan segmen lainnya ? Sebuah segmen yang baik harus dapat dibedakan dengan jelas dengan segmensegmen lainnya di sisi kiri dan kanannya. 4. Apakah sudah ada pesaing lain yang menguasai segmen ini ? Sebuah segmen yang menarik tidak selalu terbuka untuk semua pendatang baru. Mereka yang sudah ada lebih dahulu disana umumnya sudah membentuk rintangan-rintangan kepada calon-calon pendatang baru. 5. Apakah pasar ini dapat dijangkau? Bagaimana menjangkaunya? Adakah media yang dapat menjangkau segmen ini dengan efektif? Pertanyaan-pertanyaan ini mendasarkan bahwa segmen yang baik harus dapat dijangkau baik secara fisik (distribusi) maupun nonfisik (komunikasi-promosi). 6. Apakah anda memiliki sumber daya yang memadai ? Pertanyaan ini menandaskan bahwa segmen yang baik harus kompatibel dengan SDM dan ketrampilan yang dimiliki perusahaan. 14 Pendekatan-pendekatan yang dapat dilakukan dalam segmentasi : • Segmentasi berdasarkan demografis, seperti usia, gender, jumlah anggota dalam rumah tangga, family life cycle, pekerjaan, pendidikan, agama, suku, pendapatan, dan kebangsaan. • Segmentasi berdasarkan geografis, seperti wilayah dalam suatu negara, negara bagian, wilayah, profinsi, dan kota. • Segmentasi berdasarkan geodemografis, merupakan gabungan dari segmentasi geografis dan demografis. Penganut konsep ini percaya bahwa mereka yang menempati geografis yang sama cenderung memiliki karakter demografis yang sama pula. • Segmentasi berdasarkan psikografis, mengenai kelas sosial, gaya hidup dan kepribadian manusia. • Segmentasi berdasarkan manfaat yang diperoleh konsumen (Benefit Segmentation, dikembangkan dengan mempelajari atribut-atribut produk yang dianggap penting oleh konsumen. • Segmentasi berdasarkan pemakaian produk (Product Usage), beberapa jenis produk dapat dikelompokkan menurut tingkat pemakaian oleh konsumennya. Misalnya pecandu (heavy users), pemakai rata-rata (medium users), pemakai ringan (light users), dan bukan pemakai (non users). • Segmentasi berdasarkan generasi (Cohort), contohnya : 15 • - Kelompok Kemerdekaan (lahir antara 1921-1935) - Kelompok Tritura (lahir antara 1936-1950) - Kelompok perang dingin (lahir antara 1951-1960) - Kelompok komputer (lahir antara 1961-1970) - Kelompok internet (lahir setelah 1970) Segmentasi berdasarkan teknografi, dikembangkan untuk mempelajari konsumen barang-barang teknologi, seperti komputer, telepon seluler, dan sebagainya. • Segmentasi berdasarkan tingkat kesetiaan (loyalitas), penting untuk dipahami oleh produsen yang sering diganggu oleh pendatang baru yang sering menggoda konsumen dengan berbagai hadiah atau bonus. Konsumen yang sangat setia adalah konsumen yang sama sekali tidak akan terpengaruh terhadap penawaran hadiah oleh pendatang baru. Sedangkan konsumen yang sangat tidak setia adalah konsumen yang selalu berpindah-pindah dari satu merk ke merk yang lain. • Segmentasi berdasarkan evolusi keluarga, digunakan untuk memasarkan asuransi, mobil, dan produk-produk yang kepuasan konsumennya ditentukan oleh ada atau tidaknya waktu yang dimiliki oleh konsumen. Segmentasi itu sendiri terbagi atas 2 macam, yaitu [Khasali,1998,348]: 1. Segmentasi A-priori • Segmentasi A-priori adalah pendekatan yang dilakukan sebelum suatu survei dilakukan. 16 • Segmentasi A-priori: “ Saya sudah tahu segmen-segmen yang ada.” • Dasar dari segmen ini adalah demografi, geografi, psikografi. • Pada dasarnya, pendekatan segmentasi ini berdasarkan atribut-atribut konsumen. 2. Segmentasi Post-Hoc Dalam pendekatan ini, segmen-segmen dibuat setelah data dikumpulkan dan dianalisis sesuai dengan atribut-atribut yang dianggap penting. Jadi pendekatan Post-Hoc adalah pendekatan yang berorientasi pada riset dan dikembangkan untuk produk-produk spesifik pada suatu jangkauan waktu tertentu. Dengan demikian, tidak menggunakan segmen-segmen standar yang dapat diakses oleh seluruh marketer. • Segmentasi Post-Hoc: “Saya ingin agar data-data konsumen saya menunjukkan segmen-segmen itu. “ • Dasar dari segmen ini adalah demografi atau perilaku, survei-survei tentang sikap, kebutuhan-kebutuhan, psikografi atau manfaat, dan preferensi atau pilihan. • Pendekatan Post-Hoc lebih menekankan pada atribut-atribut produk. 2.5 Targeting Tahap selanjutnya dalam analisa segmentasi adalah targeting atau menetapkan target pasar. Hasil dari targeting adalah target market (pasar sasaran), yaitu satu atau 17 beberapa segmen pasar yang akan menjadi fokus dalam kegiatan-kegiatan pemasaran. Kadang-kadang targeting juga disebut selecting karena marketer harus menyeleksi. Menyeleksi disini berarti marketer harus memiliki keberanian untuk memfokuskan kegiatannya pada beberapa bagian saja (segmen) dan meninggalkan bagian lainnya. Setidaknya ada tujuh pertanyaan yang perlu diketahui dalam targeting, yaitu [Khasali,1998,372]: 1. Apakah pasar sasaran telah berubah dalam beberapa waktu terakhir ini? Apakah anda tetap membidik sasaran yang sama yang sesungguhnya sudah ditinggalkan konsumen anda? 2. Apakah konsumen anda yang sesungguhnya sudah sesuai dengan yang direncanakan atau didasarkan? Mengapa berbeda? 3. Apa landasannya atau alasannya anda memilih target segmen tersebut? Mengapa bukan segmen lain? 4. Apakah yang menbedakan segmen ini dengan segmen yang lain? Proses apa yang anda gunakan untuk menemukan segmen ini? 5. Dapatkah anda membuktikan bahwa segmen ini cukup potensial dan menguntungkan? Berapa lama anda membutuhkan waktu untuk menggerakkan segmen sasaran ini untuk memberi respons? Apakah lingkungan ekonomi tidak berubah ketika anda merasa yakin itulah saatnya memetik hasil? 6. Apa yang akan anda lakukan kalau segmen sasaran itu tidak memberikan respons? Mengapa mereka tidak merespons? 18 7. Apakah ada sasaran pasar lain yang lebih menguntungkan? Ada empat kriteria yang harus dipenuhi untuk mendapatkan sasaran yang optimal. Keempat kriteria itu adalah sebagai berikut [Khasali,1998,375] : 1. Responsif. Pasar sasaran harus responsif terhadap produk dan program-program pemasaran yang dikembangkan. Kalau pasar tidak merespon, tentu marketer harus mencari tahu mengapa hal itu terjadi. Tanpa pasar sasaran yang jelas, produsen menanggung resiko yang terlalu besar. 2. Potensi penjualan. Potensi penjualan harus cukup luas. Semakin besar pasar sasaran, semakin besar nilainya. Besarnya bukan hanya ditentukan oleh jumlah populasi, tetapi juga daya beli dan keinginan pasar untuk memiliki produk tersebut. 3. Pertumbuhan memadai. Pasar tidak dapat dengan segera bereaksi. Pasar tumbuh perlahan-lahan sampai akhirnya meluncur dengan pesat dan mencapai titik pendewasaannya. 4. Jangkauan media. Pasar sasaran dapat mencapai dengan optimal kalau marketer tepat memilih media untuk mempromosikan dan memperkenalkan produknya. Adakalanya marketer gagal menjangkau pasar karena tidak memiliki pengetahuan yang baik tentang media planning dan karakter-karakter media yang ada. 19 2.6 Positioning Kotler (1991) mendefinisikan positioning sebagai : “Tindakan merancang produk, dan bauran pemasaran agar dapat tercipta kesan tertentu di ingatan konsumen “ Sehingga dengan demikian, konsumen segmen memahami dan menghargai apa yang dilakukan perusahaan dalam kaitannya dengan para pesaingnya. Yang belum tercakup dalam definisi di atas adalah hubungan antara produk dengan keadaan persaingan. Harus diingat, positioning justru dilakukan karena adanya persaingan, baik dalam kategori produk yang sejenis, maupun antara produk berbeda kategori. Dengan demikian positioning juga harus membangun presepsi produk di dalam pasar sasaran relatif terhadap persaingan. Jadi, definisi positioning yang disarankan yaitu [Khasali,1998,527] : “Positioning adalah strategi komunikasi untuk memasuki jendela otak konsumen, agar produk/merk/nama anda mengandung arti tertentu yang dalam beberapa segi mencerminkan keunggulan terhadap produk/merk/nama lain dalam bentuk hubungan asosiatif.“ Sehubungan dengan definisi tersebut, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan : 1. Positioning adalah strategi komunikasi. Komunikasi dilakukan untuk menjembatani produk/merk/nama anda dengan calon konsumen. Meski positioning bukan sesuatu yang anda lakukan terhadap produk, komunikasi 20 berhubungan dengan atribut-atribut yang secara fisik maupun nonfisik melekat pada produk anda. 2. Positioning bersifat dinamis. Ingatlah bahwa persepsi konsumen terhadap suatu produk/merk/nama bersifat relatif terhadap struktur pasar/persaingan. Begitu keadaan pasar berubah, begitu sebuah pemimpin pasar jatuh, atau begitu pendatang baru berhasil menguasai tempat tertentu, maka positioning produk anda pun berubah. Oleh karena itu, patut dipahami bahwa positioning adalah strategi yang harus terus menerus dievaluasi, dikembangkan, dipelihara, dan dibesarkan. 3. Positioning berhubungan dengan event marketing. Karena positioning berhubungan dengan citra di benak konsumen, marketer harus mengembangkan strategi marketing public relations (MPR) melalui event marketing yang dipilih sesuai dengan karakter produk anda. 4. Positioning berhubungan dengan atribut-atribut produk. Konsumen pada dasarnya tidak membeli produk, tetapi mengkombinasikan atribut. Barang itu memiliki karakteristik, dan karakteristik-karakteristik itulah yang membangkitkan utility. Karakteristik itulah yang dalam positioning kita sebut atribut. Atribut-atribut itulah yang ditonjolkan produsen dalam positioning. 5. Positioning harus memberi arti dan arti itu harus penting bagi konsumen. Jadi pertama-tama marketer harus mencari tahu atribut-atribut apa yang dianggap penting oleh konsumen (pasar sasarannya) dikombinasikan itu harus mengandung arti. dan atribut-atribut yang 21 6. Atribut-atribut yang dipilah harus unik. Selain unik, atribut-atribut yang hendak ditonjolkan harus dapat dibedakan dengan yang sudah diakui milik para pesaing. 7. Positioning harus diungkapkan dalam bentuk suatu pernyataan (positioning statement). Pernyataan ini selain memuat atribut-atribut yang penting bagi konsumen, harus dapat dinyatakan dengan mudah, enak didengar, dan harus dapat dipercaya. Selain menggunakan atribut sebagai alat untuk mengembangkan pernyataan positioning, marketer juga dapat menggunakan cara-cara lain yaitu [Khasali,1998,539] : 1. Positioning berdasarkan perbedaan produk. Marketer dapat menunjukkan kepada pasarnya dimana letak perbedaan produknya terhadap pesaing. 2. Positioning berdasarkan manfaat produk. Manfaat produk dapat pula ditonjolkan sebagai positioning sepanjang dianggap penting oleh konsumen. 3. Positioning berdasarkan pemakaian. Disini atribut yang ditonjolkan yaitu pemakaina produk tersebut. Contohnya : shampo selsun menunjukkan bahwa shampo tersebut adalah shampo anti ketombe. 22 4. Positioning berdasarkan kategori produk. Positioning ini biasanya dilakukan oleh produk-produk baru yang muncul dalam suatu kategori produk. 5. Positioning kepada pesaing. Dalam periklanan modern, positioning berdasarkan pesaing adalah hal yang mulai menjadi biasa di mana-mana. Contohnya : perusahaan Avis mengatakan “we are number 2, so we try harder”. 6. Positioning melalui imajinasi. Positioning memang merupakan hubungan asosiatif. Perusahaan bisa mengembangkan positioning produknya dengan menggunakan imajinasi seperti tempat, orang, benda-benda, situasi, dan lain sebagainya. 7. Positioning berdasarkan masalah. Terutama untuk produk-produk atau jasa-jasa baru yang belum begitu dikenal. Produk (barang atau jasa) baru biasanya diciptakan untuk memberi solusi kepada konsumennya. Masalah yang dirasakan dalam masyarakat atau dialami konsumen diangkat ke permukaan, dan produk yang ditawarkan diposisikan untuk memcahkan persoalan tersebut.