Strategi Peningkatan Loyalitas Konsumen Dengan Diferensiasi STRATEGI PENINGKATAN LOYALITAS KONSUMEN DENGAN DIFERENSIASI Limsanny [email protected] abstract : Intense competition and market changes that occur, requires the manufacturer to apply an appropriate strategy to survive and improve customer loyalty. Differentiation strategy is an alternative strategy that can be applied by manufacturers in all conditions. To achieve these objectives, the company requires a variety of businesses for purposes that have been planned to be achieved. Implementation of this strategy should be based on the understanding of success in the competition will be met if the company can create and retain customers. Maintaining all existing customers will generally be more profitable than the turnover of customers because the cost to attract new customers can cost five times more than maintaining an existing customer. Thus, maintaining the same customer will indirectly maintain the viability of the company. Keyword : consumers, differentiation, customer loyalty. Abstrak : Ketatnya persaingan pasar dan perubahan–perubahan yang terjadi, mengharuskan produsen menerapkan sebuah strategi yang tepat untuk dapat bertahan dan meningkatkan loyalitas konsumen. Strategi diferensiasi merupakan salah satu alternatif strategi yang dapat diterapkan oleh produsen dalam semua kondisi. Untuk mencapai tujuan tersebut maka perusahaan memerlukan berbagai usaha agar tujuan yang telah direncanakan dapat tercapai. Penerapan strategi ini harus dilakukan dengan berlandaskan pada pemahaman akan kesuksesan dalam persaingan akan dapat dipenuhi apabila perusahaan bisa menciptakan dan mempertahankan pelanggan. Mempertahankan semua pelanggan yang ada umumnya akan lebih menguntungkan dibandingkan dengan pergantian pelanggan karena biaya untuk menarik pelanggan baru bisa lima kali lipat dari biaya mempertahankan seorang pelanggan yang sudah ada. Dengan demikian, mempertahankan pelanggan sama secara tidak langsung akan mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan. Kata kunci : konsumen, diferensiasi, loyalitas konsumen Pendahuluan Saat ini, tingkat persaingan antar perusahaan semakin ketat baik pada tingkat regional maupun global. Perusahaan dituntut untuk mempunyai keunggulan untuk dapat bersaing. Keunggulan bersaing (Competitive Advantage) pada dasarnya tumbuh dari nilai atau manfaat yang dapat diciptakan perusahaan bagi para pembelinya yang lebih dari biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk menciptakannya.Saat ini situasi persaingan semakin ketat, konsumen semakin kritis dalam memutuskan untuk membeli produk atau jasa apapun. Diferensiasi merupakan salah satu strategi jangka panjang untuk perusahaan yang dapat memberikan nilai lebih besar bagi konsumen. Diferensiasi merupakan proses menambahkan serangkaian perbedaan yang bernilai guna membedakan tawaran perusahaan itu dari perusahaan pesaing (Kotler, 2005). Tinjauan Teoritis Menurut Porter (1996) terdapat 3 strategi generik, yaitu strategi keunggulan biaya menyeluruh, strategi diferensiasi dan strategi fokus. Dari ketiga strategi generik tersebut, startegi diferensiasi merupakan startegi yang paling menguntungkan. McMillon & Mc Grath (1997) dalam penelitiannya berpendapat, bahwa strategi diferensiasi dibuat 24 berdasarkan perbedaan dan menawarkan kepada para pembeli sesuatu yang bernilai yang tidak dimiliki oleh para pesaing. Selanjutnya Kutcher (2000) menyatakan, bahwa diferensiasi tidak sekedar melibatkan produk saja tetapi merupakan proses multi fungsi yang meliputi empat bagian kunci dari perusahaan yaitu : produk, kualitas layanan, personal dan citra perusahaan. Perusahaan sering merasa puas dan merasa berhasil menerapkan strategi diferensiasi bila telah menciptakan suatu keunikan tanpa melihat apakah keunikan tersebut bernilai atau tidak dimata para pembeli. Diferensiasi menurut Kotler (2001) mengemukakan bahwa: “Differentiation is the act of designing a set of meaningful differences to distinguish the company’s offering from competitor’s offering’s.” Engel, Blackwell dan Miniard (2001) mendefinisikan kepuasan sebagai evaluasi pasca konsumsi dimana suatu alternatif yang dipilih setidaknya memenuhi atau melebihi harapan. Singkat kata, alternatif tersebut setidaknya terlaksana sebaik yang anda harapkan. Menurut Kotler (2005), kepuasan konsumen adalah suatu perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesan terhadap hasil suatu produk terhadap harapan yang dimilikinya. Kepuasan konsumen merupakan suatu hal yang sangat berharga untuk mempertahankan suatu bisnis. Pelayanan yang diberikan kepada Jurnal Psikologi Vol 7 No 1, Juni 2009 Strategi Peningkatan Loyalitas Konsumen Dengan Diferensiasi konsumen akan memberikan dampak terhadap puas atau tidak puasnya seorang konsumen atas pelayanan yang diberikan. Beberapa perusahaan telah lama menyadari bahwa dengan memproduksi produk yang baik tidak cukup untuk menarik pelanggan. Jadi ada faktor lain yaitu konsumen. Bagaimana caranya membuat para pelanggan kembali membeli produk itu (Armistead dan Clark, 1996). Menurut Aaker (2000) terdapat beberapa pendekatan untuk mengukur loyalitas konsumen seperti : behavior measures, switching costs, measuring satisfaction, liking of the brand dan commitment: 1. Behavior measures Merupakan suatu cara langsung untuk mengukur loyalitas terutama terhadap perilaku yang dilakukan karena kebiasan adalah untuk mempertimbangkan pada pembelian yang benar-benar dilakukan (actual purchase pattern). Terdapat 3 cara dalam pengukuran perilaku yang dapat digunakan yaitu : a. Repurchase rates yaitu pengukuran terhadap prosentase pembelian konsumen terhadap merek yang sama pada pembelian berikutnya. b. Percent of purchase yaitu pengukuran terhadap pembelian merek yang telah dibeli dibandingkan dengan merek-merek lain dari suatu jumlah pembelian tertentu yang terakhir. c. Number of brands purchased yaitu pengukuran terhadap prosentase konsumen tersebut menggunakan satu merek, dua merek atau lebih. 2. Switching costs Pendekatan dalam mengukur loyalitas dengan mengukur perbedaan pengorbanan atau risi-ko kegagalan, biaya energi dan fisik yang dikeluarkan konsumen karena ia memilih salah satu alternatif. Apabila switching costs besar maka seorang konsumen akan lebih berhati-hati dalam berpindah ke merek lain karena risiko kegagalan yang dihadapi juga besar, begitu pula sebaliknya, switching costs kecil maka seorang konsumen akan lebih mudah dalam berpindah ke merek lain karena risiko kegagalan yang dihadapi kecil pula. Dengan demikian pendekatan ini digunakan untuk mengukur loyalitas seorang konsumen. 3. Measuring satisfaction Dalam mengukur loyalitas dengan cara mengukur kepuasan yang diperoleh dari suatu merek tertentu. Apabila setelah menggunakan suatu merek tertentu dan konsumen tersebut merasa puas atau sudah merasa mendapat manfaat sesuai dengan harapannya, hal ini akan menyebabkan ia berhenti menggunakan merek lain dan memutuskan untuk membeli merek tersebut secara konsisten sepanjang waktu, yang artinya telah tercipta loyalitas konsu-men terhadap suatu merek. 4. Liking of the brand Pendekatan ini diukur melalui tingkat kesukaan konsumen terhadap merek secara umum. Hal ini dapat diukur melalui timbulnya kesukaan terhadap suatu merek baik suka pada badan usaha sebagai produsen, persepsi dan atribut merek yang bersangkutan, maupun pada kepercayaan terhadap merek tersebut. Konsumen dikatakan loyal apabila pembelian tyerhadap merek tersebut bukan karena adanya penawaran khusus, tetapi karena konsumen percaya pada kualitas merek tersebut. 5. Commitment Pendekatan ini diukur dari komitmen konsumen terhadap suatu merek tertentu. Loyalitas konsumen dapat timbul bila ada kepercayaan dari konsumen terhadap merek sehingga ada komunikasi dan interaksi diantara konsumennya yaitu dengan membicarakan, merekomendasikan dan bahkan menganjurkan pada orang lain dengan menjelaskan mengapa ia membeli dan menggunakan produk tersebut. Apabila cocok dengan apa yang diharapkan, maka akan timbul loyalitas konsumen terhadap suatu merek. Dengan mengetahui pengukuran loyalitas ini diharapkan tingkat loyalitas konsumen dapat diketahui secara lebih jelas. Selanjutnya adalah upayaupaya untuk mempertahankannya. Menurut Philip Kotler (2001), loyalitas konsumen berdasarkan pola pembeliannya dapat dibagi menjadi empat golongan: 1. Golongan Fanatik, konsumen yang selalu membeli satu merek sepanjang waktu. 2. Golongan Agak Setia, konsumen yang setia pada dua atau tiga merek. 3. Golongan Berpindah Kesetiaan, konsumen yang bergeser dari satu merek ke merek lain. 4. Golongan Selalu Berpindah-pindah, konsumen yang sama sekali tidak setia pada merek apapun. Pembahasan Diferensiasi dapat dilakukan berdasarkan bentuknya (product differentiation) meliputi fitur, performance dan desain, dan lain-lainnya. Lalu berdasarkan servisnya (service differentiation) meliputi kecepatan, kemudahan, keramahan, dll. Berdasarkan kemampuan saluran distribusinya (channel differentiation) meliputi kemampuan menjual, pelayanan pelanggan, dll. Selanjutnya berdasarkan SDM nya (People differentiation) meliputi budaya kerja, kemampuan, dll atau diferensiasi berdasarkan image (image differentiation) meliputi merek, logo, dll. Selanjutnya Kartajaya (2004) merumuskan diferensiasi berdasarkan pada tiga dimensi diferensiasi Jurnal Psikologi Vol 7 No 1, Juni 2009 25 Strategi Peningkatan Loyalitas Konsumen Dengan Diferensiasi yaitu konten (what to offer), konteks (how to offer) dan infrastruktur (enabler). Kebanyakan perusahaan memiliki keunggulan di satu atau dua komponen diferensiasi ini, walaupun ada beberapa perusahaan yang kuat di ketiganya. Konten adalah dimensi diferensiasi yang menunjukkan pada nilai apa yang berbeda yang ditawarkan kepada konsumen. Konteks merupakan yang menunjukkan cara yang ditawarkan kepada konsumen yang membedakan dari pesaing lainnya. Ini merupakan bagian intangible dari diferensiasi. Infrastruktur (enabler) adalah faktor pendukung yang memungkinkan terealisasinya diferensiasi konten maupun konteks. Faktor ini terfokus pada pembedaan terhadap pesaing berdaarkan kemampuan teknologi, kapasitas SDM dan kepemilikan fasilitas yang mendukung terciptanya diferensiasi konten dan konteks tersebut. Diferensiasi adalah upaya untuk menciptakan perbedaan. Akan tetapi, dalam penentuan diferensiasi ada beberapa syarat diantaranya : 1. Diferensiasi harus mampu mendatangkan excellent value kepada pelanggan, dalam arti produk yang diproduksi bukan saja berbeda dari produk pesaing, tapi perbedaan itu memang dibutuhkan dan berguna bagi konsumen. 2. Diferensiasi harus merupakan suatu keunggulan dari produk tersebut dibandingkan dengan produk lain, sehingga dalam penjualan terlihat bahwa produk yang diproduksi berada diatas rata-rata pencapaian dari produk pesaing. 3. Diferensiasi harus bersifat unik, dalam arti tidak mudah ditiru oleh pesaing. Selain itu perusahaan harus selalu melakukan pengembangan secara berkesinambungan. Tahap-tahap membangun diferensiasi : 1. Lakukan segmentasi, targeting dan positioning. Positioning adalah bagaimana persepsi konsumen terhadap produk. Biasanya dalam positioning diperlukan beberapa kata ampuh di benak konsumen. Selain itu, Hal terpenting dalam positiong adalah bagaimana caranya perusahaan dapat menempatkan diri di benak konsumen. Oleh karena itu perlunya melakukan segmentasi terlebih dulu. Segmentasi dilakukan dengan melakukan pemetaan pasar dan konsumen baik dari kelompok umur, gender, sosial ekonomi. 2. Dari positioning tersebut, analisa sumber diferensiasi yang memungkinkan, baik yang sudah ada maupun potensi untuk masa yang akan datang. Selanjutnya bandingkan dengan kemampuan yang ada dari dalam perusahaan, sehingga perusahaan selalu dapat menentukan keunggulan bersaingnya serta mengukur sebe26 rapa jauh keunggulan atau kekurangannya dibandingkan perusahaan pesaing. 3. Uji diferensiasi, yaitu tahapan pengujian apakah diferensiasi yang dimiliki bersifat unik, tidak mudah ditiru oleh perusahaan pesaing, kemudian diferensiasi ini dapat digunakan dalam jangka waktu panjang. Selain itu tentunya inovasi selalu diperlukan secara berkelanjutan. 4. Komunikasikan diferensiasi. Faktor ini adalah faktor yang sangat menentukan keberhasilan, karena suatu produk yang sangat bagus sekali pun tidak akan dapat berhasil dengan baik jika tidak adanya pemasaran yang baik dari perusahaan. Jadi faktor komunikasi sebagai faktor kunci. Selanjutnya perusahaan harus fokus pada diferensiasi utama. Perusahaan dapat melakukan ekstensi merek untuk mengeksploitasi pasar tapi tidak boleh meninggalkan diferensiasi utama selain itu perusahaan tidak pernah boleh merasa puas dengan pencapaian yang sudah ada, jadi perusahaan harus terus melakukan pengembangan dan inovasi secara terus menerus. Faktor lain yang menunjang diferensiasi adalah faktor harga. Harga memiliki faktor psikologis. Faktor ini muncul karena dalam proses pembelian, konsumen tidak hanya bersikap rasional tetapi juga bersikap irasional. Para ritel seringkali menggunakan taktik lost merchandising, yaitu beberapa produk sengaja dibuat sangat murah dan bila perlu harganya di bawah harga pokok. Produk ini kemudian dipajang di depan dan diberi label yang besar, sehingga konsumen akan masuk dan akan mempersepsikan bahwa ritel tersebut menawarkan harga yang murah. Selain itu aspek psikologis kedua berhubungan dengan mata uang. Ini terutama untuk produk-produk yang segmen pasarnya adalah menengah ke bawah. Aspek psikologis dalam penetapan harga yang efektif dapat dilakukan dalam penjualan semua produk. Cara penetapan harga yang sering digunakan adalah metode value pricing, yaitu penetapan harga yang berfokus pada pelanggan. Beberapa keuntungan dari penetapan metode value pricing, produsen harus terus berpikir mengenai pelanggan. Sehingga budaya customer oriented lebih mudah dibentuk. Cara lain dapat pula dilakukan price customization yaitu dengan menetapkan harga yang berbeda bagi konsumen di waktu yang berbeda. Perbedaan ini terjadi karena nilai suatu produk atau pelayanan berbeda dari waktu ke waktu. Praktek diskriminasi harga bersar waktu banyak digunakan perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan untuk meratakan fluktuasi permintaan. Sistem bundling atau paket adalah salah satu alternatif diferensiasi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan penjualan dan loyalitas Jurnal Psikologi Vol 7 No 1, Juni 2009 Strategi Peningkatan Loyalitas Konsumen Dengan Diferensiasi konsumen. Dalam konteks system bundling ada 2 jenis yang sering digunakan yaitu price bundling dan product bundling. Loyalitas konsumen tidak dapat dibangun dalam waktu sehari, namun harus diusahakan secara perlahan-lahan namun pasti. Kesalahpahaman sering terjadi di dunia maya dengan menganggap “hit rate” sebagai system utama loyalitas konsumen terhadap sebuah situs. Di dalam system e-commerce, prinsip loyalitas yang dipergunakan berpedoman pada aspek “customers retention”, atau dengan kata lain seberapa mampu perusahaan memelihara konsumennya untuk selalu datang kembali membeli produk atau jasa yang ditawarkan dan melakukan mekanisme pembelian melalui situs terkait. Jika dilihat dari seberapa lama pengalaman seorang konsumen “berkenalan” dengan dunia internet, paling tidak mereka dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok besar: Beginners, Intermediates, dan Experts (Siegel, 1999). Loyalitas konsumen berbeda dengan perilaku pembelian berulang (repeat purchasing behavior). Perilaku pembelian berulang adalah tindakan pembelian berulang pada suatu produk atau merek yang lebih dipengaruhi oleh faktor kebiasaan. Dalam loyalitas konsumen, tindakan berulang terhadap merek tersebut dipengaruhi oleh kesetiaan terhadap merek. Faktor utama yang mempengaruhi perilaku konsumen adalah : psikologis, pribadi, sosial dan budaya. Pengaruh psikologi mencakup motivasi, persepsi, kemampuan belajar, dan sikap perseorangan. Pengaruh pribadi mencakup gaya hidup, kepribadian, dan status ekonomi. Pengaruh sosial mencakup keluarga, pendapat pemimpin, dan kelompok referensi lainnya seperti teman, rekan sekerja atau seprofesi. Pengaruh budaya mencakup budaya, subkultur, dan kelas sosial. Kartajaya, Hermawan; Yuswohady; Sumardy, “4-G MARKETING: A 90 Year Journey of Creating Everlasting Brands”, MarkPlus & Co, Jakarta, 2004 Kotler, P, “Principles of Marketing, 9th edition, Prentice-Hall Inc, New Jersey, 2001 Kutcher, Kevin, “Differentiation; Telecomunications, 19 (1) : 14, 2000 Rural Kotler, P,, Amstorong, G, Silva, G, “Marketing: An introduction: An, Asian Perspective”, Jurong, Prentice Hall, Singapore, 2005 MacMillan, I, C, & McGrath, R, 1997, “Discovering new points of differentiation”, Harvard Business Review, 75(4): 133-145, 1997 Daftar Pustaka Aaker, David A, V, Kumar, “Marketing Research 7th Ed”, John Willey & Sons, New York, 2000 Armistead, C,G,, dan G, Clark, “Customer Service and Support (Layanan dan Dukungan Kepada Pelanggan)”, PT Elex Media Komputindo-Kelompok Gramedia, Jakarta, 1996 Engel, J,F, R, Blackwell, dan C, Minnard, “Consumer Behaviour, 9th edition”, The Dryden Press, Fort Worth, 2001 Kartajaya H, “Hermawan Kertajaya on Marketing”, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2002 Jurnal Psikologi Vol 7 No 1, Juni 2009 27