Templat tugas akhir S1

advertisement
PENGARUH PROFITABILITAS DAN KEBIJAKAN DIVIDEN TERHADAP
HARGA SAHAM PERUSAHAAN PROPERTI DAN REAL ESTATE DI BURSA
EFEK INDONESIA
MUTOHAROH
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi berjudul Pengaruh Profitabilitas
dan Kebijakan Dividen Terhadap Perusahaan Properti dan Real Estate di Bursa
Efek Indonesia adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing
dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun.
Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun
tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan
dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, Agustus 2016
Mutoharoh
NIM H24120129
ABSTRAK
MUTOHAROH. Pengaruh Profitabilitas dan Kebijakan Dividen Terhadap
Harga Saham Perusahaan Properti dan Real Estate di Bursa Efek Indonesia.
Dibimbing oleh FARIDA RATNA DEWI
Sub sektor properti dan real estate merupakan salah satu sub sektor bisnis
yang memiliki peranan penting bagi perekonomian Negara. Bergeraknya bisnis
properti dan real estate memberikan multiplier effect yang cukup tinggi yang dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk; (1)
Menganalisis kondisi profitabilitas, kebijakan dividen serta harga saham
perusahaan sub sektor properti dan real estat di BEI (2) Menganalisis pengaruh
profitabilitas dan kebijakan dividen terhadap harga saham saham perusahaan sub
sektor properti dan real estat di BEI. Data penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini merupakan data sekunder berupa laporan tahunan 2010-2015 dengan
teknik pemilihan sampel purposive sampling yang dianalisis menggunakan
Structural Equation Modeling Smart PLS 3. Hasil penelitian menunjukan bahwa
profitabilitas memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap harga
saham perusahaan sub sektor properti dan real estate di Bursa Efek Indonesia.
Tingkat profitabilitas memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap
kebijakan dividen perusahaan. Sedangkan, kebijakan dividen memiliki pengaruh
yang positif dan signifikan terhadap harga saham perusahaan sub sektor properti
dan real estate di Bursa Efek Indonesia
Kata Kunci : Harga Saham, Kebijakan Dividen, Profitabilitas, Structural
Equation Modeling
ABSTRACT
MUTOHAROH. Influence of Profitability and Dividen Policy On Stock
Price Properti and Real Estate Company in the Indonesia Stock Exchange.
Supervised by FARIDA RATNA DEWI.
Sub sectors of properti and real estate is one of the businesses that have an
important role for the State's economy. The movement of the real estate properti
business provide a multiplier effect that is high enough to improve the welfare of
the society. The objectives of this research are: (1) to analyze the condition of
profitability, dividen policy and the company's stock price sub-sector properti and
real estate in BEI (2) to analyze the effect of profitability and dividen policy on
stock prices of companies sub-sector shares and real estate properti in BEI. Data
of the research uses secondary data of an annual report 2010-2015 with sample
selection purposive sampling technique. Those data analyzed using Structural
Equation Modeling SmartPLS 3. The results showed that the profitability has
negative and not significant on stock prices. The level of profitability has a
positive and significant effect on dividen policy. Meanwhile, dividen policy has a
positive and significant effect on stock prices of companies sub-sector properti
and real estate in the Indonesia Stock Exchange.
Keywords : Dividen Policy, Profitability, Stock Price, Structural Equation
Modeling
PENGARUH PROFITABILITAS DAN KEBIJAKAN DIVIDEN
TERHADAP HARGA SAHAM PERUSAHAAN PROPERTI DAN REAL
ESTATE DI BURSA EFEK INDONESIA
MUTOHAROH
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Ekonomi
pada
Departemen Manajemen
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karuniaNya, sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Judul yang dipilih dalam
penelitian yang dilaksanakan sejak bulan April 2016 ini adalah Pengaruh
Profitabilitas dan Kebijakan Dividen Terhadap Harga Saham Perusahaan Properti
dan Real Estate di Bursa Efek Indonesia.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Farida Ratna Dewi, SE, MM
selaku dosen pembimbing Skripsi atas bimbingan dan arahannya dalam
pelaksanaan penelitian ini. Selain itu, ungkapan terima kasih juga disampaikan
kepada ayah, ibu, kakak, dan seluruh keluarga penulis atas segala doa dan kasih
sayangnya. Ungkapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada seluruh temanteman, dosen, dan staff Departemen Manajemen Institut Pertanian Bogor atas
segala doa dan dukungannya.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Agustus 2016
Mutoharoh
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
PENDAHULUAN
Latarbelakang
Perumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Ruang Lingkup Penelitan
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Kebijakan Dividen
Penelitian Terdahulu
METODE PENELITIAN
Kerangka Pemikiran Penelitian
Lokasi dan Waktu Penelitian
Jenis dan Sumber Data
Pengolahan dan Analisis Data
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Sub Sektor Properti dan Real Estate
Kondisi Profitabilitas Sub Sektor Properti dan Real Estae
Kondisi Kebijakan Dividen Sub Sektor Properti dan Real Estate
Kondisi Harga Saham Sub Sektor Properti dan Real Estate
Pengujian Model SEM
Implikasi Manajerial
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
vi
vi
vi
1
1
4
4
4
5
5
5
6
8
8
9
9
9
11
11
12
14
16
18
23
23
23
24
24
27
30
DAFTAR TABEL
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Total Aset,Kewajiban dan Modal Perusahaan Properti dan Real Estate
Rasio pembayaran dividen pada sub sektor properti dan real estate
Rata-rata harga saham harian Sub Sektor Properti dan Real Estate
Nilai Faktor Loading Sebelum Dropping
Nilai Average Variance Extracted (AVE)
Hasil Composite Realibility and Cronbach Alpha
Hasil R-Square
Hasil Path Coefficients (Mean, STEDEV, T-Values, P-Values)
Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung
12
15
17
18
19
19
20
20
21
DAFTAR GAMBAR
1
2
3
4
5
6
7
Perkembangan Jumlah Penduduk Indonesia
Pertumbuhan Sektor Properti Real Estate dan Konstruksi
Pergerakan Harga Saham Sub Sektor Properti dan Real Estate
Kerangka pemikiran penelitian
Model Awal SEM
Rasio Profitabilitas Sub Sektor Properti dan Real Estate
Model SEM sebelum dan sesudah dropping DPR
1
2
3
8
11
13
19
DAFTAR LAMPIRAN
1
2
3
4
5
Daftar Perusahaan Sub Sektor Properti dan Real Estate Di Bursa Efek
Indonesia tahun 2010-2015
Rasio Profitabilitas Perusahaan Sub Sektor Properti dan Real Estate
di BEI tahun 2010-2015
Pembayaran Dividen Perusahaan Sub Sektor Properti dan Real Estate
di BEI tahun 2010-2015
Harga Saham Perusahaan Sub Sektor Properti dan Real Estate
di BEI tahun 2010-2015
Dividen Payout Ratio (DPR) Perusahaan Sub Sektor Properti
dan Real Estate di BEI 2010-2015
27
28
28
28
29
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara dengan jumlah penduduk terpadat yang
berada pada urutan ke empat setelah Tiongkok, India dan Amerika Serikat. Setiap
tahunnya jumlah penduduk Indonesia selalu mengalami peningkatan. Badan Pusat
Statistika (BPS) mencatat jumlah penduduk indonesia pada tahun 2015 mencapai
255461.70 ribu jiwa, meningkat 1.29% dari tahun sebelumnya dimana pada tahun
2014 jumlah penduduk Indonesia 252164.80 ribu jiwa.
260
255461.70
255
252164.80
248818.10
250
245
240
245425.20
241990.70
238518.80
235
230
225
2010
2011
2012
2013
2014
2015
Sumber : Badan Pusat Statistika, 2015
Gambar 1. Perkembangan Jumlah Penduduk Indonesia
Tercatat pada tahun 2015 saja penduduk yang tinggal di wilayah perkotaan
mencapai 136 443 226 juta jiwa atau sekitar 53,4 persen dari total penduduk
Indonesia, dan diperkirakan jumlah ini akan terus meningkat setiap tahunnya.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistika (BPS) pertumbuhan
penduduk perkotaan di Indonesia diproyeksikan akan terus meningkat setiap
tahunnya. Diramalkan penduduk Indonesia di wilayah perkotaan pada tahun 2025
akan mencapai 65 persen dari total penduduk di Indonesia. Dengan kata lain
kebutuhan atau permintaan akan hunian ini terbilang cukup tinggi, sehingga
prospek akan bisnis dalam bidang properti dan real estate cukup menarik untuk
dijadikan alternatif investasi yang dapat diambil.
Berdasarkan peluang-peluang tersebut maka pertumbuhan sub sektor
properti dan real estate dirasa akan terus mengalami peningkatan. Hal ini tentunya
membuat tawaran akan investasi dalam sub sektor properti dan real estate menjadi
menarik bagi investor. Investasi pada bisnis ini dapat dijadikan pilihan yang dapat
diambil mengingat investasi pada sektor properti bersifat jangka panjang dan
struktur modal yang dibutuhkan pada bisnis juga cukup tinggi untuk membiayai
bisnis ini terlebih harga atau biaya tanah saat ini cukup tinggi. Pada tahun 2013
sektor properti, konstruksi dan real estate merupakan sektor yang mengalami
pertumbuhan lebih baik jika dibandingkan dengan sektor lainnya. Pertumbuhan
pada sektor properti, konstruksi dan real estate mencapai 55.99 persen. Hal ini
dapat dilihat pada Gambar 2.
2
Agrikultur
Pertambangan
Industri Lainnya
18.19
Industri Dasar dan Bahan Kimia
18.77
Transportasi, Infrastruktur dan Utilitas
19.24
Manufaktur
22.49
Keuangan
22.9
Perdagangan, Jasa dan Investasi
38.01
Konsumsi
55.99
Properti, Konstruksi dan Real Estate
-20
-10
0
10
20
30
40
50
60
Sumber: www.kontan.co.id
Gambar 2. Pertumbuhan Sektor Properti, Konstruksi dan Real Estate
Investor yang menanamkan modalnya tentunya mengharapkan akan
adanya return atas investasi yang dilakukannya. Return ini dapat diperoleh dari
kebijakan dividen yang telah diputuskan sebelumnya oleh perusahaan atas posisi
investor sebagai pemegang saham. Kebijakan dividen ini menyangkut keputusan
apakah perusahaan akan membagi laba atau menahannya guna diinvestasikan
kembali di dalam perusahaan. Jika perusahaan bersangkutan menjalankan
kebijakan dividen untuk membagikan tambahan dividen tunai, maka hal ini akan
cenderung meningkatkan harga saham. Akan tetapi, jika dividen tunai meningkat,
maka akan semakin sedikit dana yang tersedia untuk reinvestasi pada perusahaan,
maka tingkat pertumbuhan yang diharapkan untuk masa mendatang akan rendah,
dan tentunya hal ini akan menekan harga saham perusahaan. Jadi, perubahan
besarnya dividen mengandung dua akibat yang saling bertentangan. Kebijakan
dividen yang optimal pada perusahaan adalah kebijakan untuk menciptakan
keseimbangan di antara dividen saat ini dan pertumbuhan di masa yang akan
datang sehingga memaksimumkan harga saham (Weston dan Brigham 1989).
Pada umumnya dividen yang dibagikan perusahaan merupakan dividen tunai.
Investor dalam memilih emiten untuk menanamkan modalnya perlu
mempertimbangkan bagaimana kondisi atau keadaan perusahan, hal ini dapat
dilihat dari profitabilitas yang diperoleh perusahaan. Semakin tinggi tingkat
profitabilitas yang diperoleh, maka akan semakin efektif dalam pemanfaatan
aktiva yang dimiliki perusahaan. Hal ini tentunya mengakibatkan peningkatan
terhadap harga saham perusaahaan, karena perusahaan dinilai memiliki kinerja
dan prosek bisnis yang baik, sehingga layak untuk dijadikan tempat berinvestasi.
Tingginya profit yang diperoleh juga akan berimbas pada keputusan manajemen
dalam hal kebijakan dividen, dimana dividen yang dibagikan pun akan meningkat,
secara tidak langsung tentunya hal ini akan berimbas pada meningkatnya harga
saham perusahaan.
Pergerakan harga saham pada sub sektor properti mengalami peristiwa yang
cukup fluktuatif. Tercatat bahwa pada tahun 2013 harga saham mengalami
penurunan pada pertengahan tahun, hal ini dikarenakan Bank Indonesia
3
melakukan pengetatan kebijakan yaitu meningkatkan persyaratan untuk uang
muka dan melarang bank untuk memberikan pinjaman untuk properti yang masih
dalam proses pembangunan. Fluktuasi yang terjadi disebabkan oleh beberapa
faktor diantaranya meliputi tingkat inflasi, kondisi perekonomian Indonesia,
tingkat suku bunga, kebijakan pemerintah. Pada awal tahun 2015 harga saham
mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, yang diikuti fluktuasi harga
saham pada bulan-bulan berikutnya. Namun, pada kuartal 1 tahun 2015 penjualan
properti hunian mengalami penurunan dibandingkan kuartal tahun sebelumnya.
Hal ini dikarenakan kondisi perekonomian yang melambat pada tingkat terendah
dalam kurum waktu enam tahun terakhir. Pergerakan fluktuasi dapat dilihat pada
Gambar 3 berikut ini.
700
600
500
400
300
200
100
0
2013
2014
2015
Sumber: www.finance.yahoo.co.id
Gambar 3 Pergerakan Harga Saham Sub Sektor Properti dan Real Estate
Keputusan manajemen terhadap kebijakan dividen yang diambil perlu
adanya peninjauan sehingga keputusan tersebut dapat menguntungkan bagi
semua pihak yang bersangkutan. Menurut Merton dan Modigliani, apabila
kebijakan dividen yang diambil berupa pembagian dividen dengan nilai yang
cukup tinggi, hal ini memberikan sinyal bagi investor bahwa perusahaan
memperoleh laba lebih besar di masa depan. Selain itu, risiko yang ditanggung
oleh investor lebih kecil jika dibandingkan dengan capital gain. Hal ini tentunya
akan berdampak pada pergerakan harga saham yang semakin meningkat, karena
sinyal pembagian dividen ini akan menarik minat investor untuk menanamkan
modalnya pada perusahaan. Hal ini juga berlaku untuk keadaan sebaliknya,
dimana pembayaran dividen dengan nilai yang rendah akan membuat harga
saham perusahaan menurun, karena hal ini menunjukan bahwa pihak manajemen
merasa pesimistis terhadap laba yang diperoleh di masa depan (Weston dan
Brigham 1989).
Tingkat profitabilitas yang diperoleh perusahaan memiliki banyak peranan
penting bagi existensi perusahaan itu sendiri. Tingkat profitabilitas dapat
mencerminkan bagaimana pergerakan harga saham perusahaan yang dapat
menarik minat calon investor untuk menanamkan modalnya. Selain itu, tingkat
profitabilitas juga dapat digunakan dalam menentukan kebijakan dividen yang
akan diambil oleh perusahaan, secara tidak langsung hal ini juga dapat
mempengaruhi harga saham perusahaan. Berdasarkan latar belakang tersebut,
4
maka peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian dengan judul “ Pengaruh
Profitabilitas dan Kebijakan Dividen Terhadap Harga Saham Perusahaan Sub
Sektor Properti dan Real Estate di BEI”.
Perumusan Masalah
Sektor properti dan real estate merupakan salah satu sektor yang
memberikan kontribusinya bagi pertumbuhan perekonomian Negara. Oleh karena
itu, pengelolaan atas manajemen internal perusahaan perlu diperhatikan terutama
dalam hal perolehan laba atau profit perusahaan dan kebijakan dividen yang
diambil terhadap pemegang saham. Meningkatnya laba yang diperoleh
perusahaan, maka memberikan kemungkinan yang lebih besar pula akan
meningkatnya jumlah dividen yang dibagikan.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka dapat ditarik
sebuah rumusan masalah sebagai berikut:
a) Bagaimana kondisi tingkat profitabilitas dan kebijakan dividen pada
perusahaan sub sektor properti dan real estate di Bursa Efek Indonesia?
b) Bagaimana pengaruh tingkat profitabilitas terhadap harga saham pada
perusahaan sub sektor properti dan real estate di Bursa Efek Indonesia?
c) Bagaimana pengaruh kebijakan dividen terhadap harga saham pada
perusahaan sub sektor properti dan real estate di Bursa Efek Indonesia?
d) Bagaimana pengaruh tingkat profitabilitas terhadap kebijakan dividen
pada perusahaan sub sektor properti dan real estate di Bursa Efek
Indonesia?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang telah diuraiakan diatas, maka tujuan
dari penelitian ini adalah:
a) Menganalisis kondisi tingkat profitabilitas dan kebijakan dividen pada
perusahaan sub sektor properti dan real estate di Bursa Efek Indonesia?
b) Menganalisis pengaruh tingkat profitabilitas terhadap harga saham pada
perusahaan sub sektor properti dan real estate di Bursa Efek Indonesia.
c) Menganalisis pengaruh kebijakan dividen terhadap harga saham pada
perusahaan sub sektor properti dan real estate di Bursa Efek Indonesia.
d) Menganalisis pengaruh tingkat profitabilitas terhadap kebijakan dividen
pada perusahaan sub sektor properti dan real estate di Bursa Efek
Indonesia.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manafaat bagi berbagai pihak
yang di antaranya sebagai berikut:
a) Bagi Perusahaan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi
perusahaan untuk dapat mengelola laba yang dihasilkan dan menentukan
5
kebijakan dividen yang tepat sehingga dapat memberikan keuntungan baik
kepada pemegang saham maupun terhadap perusahaan itu sendiri.
b) Bagi Investor
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pandang dan gambaran
kepada para investor dan calon investor untuk dapat memilih perusahaanperusahaan pada sub sektor properti dan real estate yang memiliki prospek
bisnis yang baik sehingga dapat memberikan keuntungan atas investasi
yang dilakukan.
Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup analisis dan pembahasan yang dilakukan dalam penelitian
ini adalah perusahaan-perusahaan yang bergerak pada bisnis properti dan real
estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Analisis yang dilakukan
dalam penelitian ini menggunakan data sekunder berupa laporan keuangan
tahunan pada periode 2010 sampai 2015.
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Kebijakan Dividen
Menurut Sartono (1994) kebijakan dividen adalah keputusan apakah laba
yang akan diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai
dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi
di masa yang akan datang. Apabila perusahaan memilih untuk membagikan laba
sebagai dividen, maka akan mengurangi laba yang ditahan dan selanjutnya
mengurangi total sumber dana intern atau internal financing. Sebaliknya jika
perusahaan memilih untuk menahan laba yang diperoleh, maka kemampuan
pembentukan dana intern akan semakin besar. Dengan demikian kebijakan
dividen yang diambil erusahaan harus dianalisis dalam kaitannya dengan
keputusan pembelanjaan atau penentuan struktur modal secara keseluruhan.
Dividen tunai yang diharapkan merupakan variabel pengembalian utama
yang akan menentukan nilai saham bagi pemilik dan investor. Dividen tunai
adalah sumber dari aliran kas untuk pemegang saham yang memberikan informasi
tentang kinerja perusahaan saat ini dan akan datang. Laba ditahan merupakan
pendapatan yang tidak dibagikan sebagai dividen karena merupakan bentuk
pembiayaan intern. Keputusan dividen dapat mempengaruhi secara signifikan
kebutuhan pembiayaan eksternal perusahaan. Dengan kata lain jika perusahaan
membutuhkan pembiayaan, maka semakin besar dividen tunai yang dibayarkan,
semakin besar jumlah pembiayaan yang harus diperoleh dari eksternal melalui
pinjaman atau melalui penjualan saham biasa atau saham preferen (Sundjaja dan
Barlian 2003).
Relevansi kebijakan dividen menjelaskan ada atau tidaknya hubungan
kebijakan dividen mempengaruhi nilai saham. Menurut Sundjaja dan Barlian
(2003) terdapat tiga teori yang menjelaskan kerelevansian kebijakan dividen.
Pertama, teori residu dividen menjelaskan bahwa para investor lebih menyukai
perusahaan menahan keuntungannya untuk diinvesstasikan kembali daripada jika
keuntungan itu dibayarkan berupa dividen, diaman re-investasi akan
6
menghasilkan lebih banyak laba dibandingkan dengan saham-saham lain yang
risikonya kira-kira seimbang. Teori ini menjelaskan bahwa dividen yang
dibayarkan oleh perusahaan merupakan sisa laba stelah dilakukan pembayaran
atas kesempatan peluang investasi yang dilakukan.
Teori irrelevansi dividen menjelaskan bahwa dalam pasar yang sempurna
(ada kepastian, tidak ada pajak, tidak ada biaya transaksi, dan tidak ada pasar
yang lebih sempurna) nilai perusahaan tidak dipengaruhi oleh distribusi dividen.
Nilai perusahaan ditentukan oleh kemampuan menghasilkan laba dan risiko dari
aktiva (investasi) dan cara ini yang memisahkan antara dividen dan dana internal
yang ditahan yang tidak mempengaruhi nilai perusahaan. Apabila dividen
mempengaruhi nilai perusahaan, maka hal ini disebabkan oleh kandungan
informasi yang terdapat dalam dividen itu sendiri yang menunjukan bahwa
harapan manajemen akan pendapatan perusahaan. Selain itu, dalam teori ini juga
terdapat „efek klien‟ yang menunjukan bahwa pemegang saham menerima dividen
yang mereka harapkan. Investor lebih menyukai laba capital dibandingkan
dengan pola pembayaran dividen yang tidak stabil, oleh karena itu, nilai saham
perusahaan tidak dipengaruhi oleh kebijakan dividen. Pandangan ini merupakan
teori yang dikemukakan oleh Merton H. Miller dan Franco Modigliani atau yang
sering disebut dengan teori “M dan M”.
Teori relevansi dividen yang dinyatakan oleh Gordon dan Lintner (1989)
menjelaskan bahwa pemegang saham menyukai dividen sekarang dan terdapat
hubungan langsung antara kebijakan dividen dan nilai pasarnya. Dasar pemikiran
dalam teori ini adalah bahwa investor umumnya menghindari risiko dan dividen
yang diterima sekarang mempunyai risiko yang lebih kecil daripada dividen yang
akan diterima di masa yang akan datang. Pembayaran dividen sekarang dipercaya
dapat mengurangi ketidakpastian investor. Sebaliknya jika dividen dikurangi atau
tidak dibayarkan, tingkat ketidakpastian investor akan meningkat dan
menyebabkan peningkatan pengembalian yang diinginkan serta akan mengurangi
nilai saham. Setiap perusahaan harus dapat mengembangkan kebijakan dividen
untuk dapat memenuhi sasaran dari pemilik dan dapat memaksimalisasi kekayaan
yang dicerminkan dengan harga saham perusahaan.
Penelitian Terdahulu
Penelitian yang dilakukan oleh Priatinah dan Kusuma (2012) mengenai
Pengaruh ROI, EPS, dan DPS Terhadap Harga Saham Perusahaan Pertambangan
Yang Terdaftar di BEI pada periode 2008 sampai 2010. Objek penelitian
dilakukan pada perusahaan pertambangan yang terdaftar dalam Bursa Efek
Indonesia (BEI) dengan pemilihan sampel menggunakan metode purposive
sampling. Penelitian ini menggunakan teknik analisis berupa regresi sederhana
dan regresi berganda. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa secara parsial
baik itu ROI, EPS, maupun DPS memberikan pengaruh positif dan signifikan
terhadap harga saham. Selain itu, secara simultan juga menunjukan hal yang
serupa di mana ROI, EPS, maupun DPS memberikan pengaruh positif dan
signifikan terhadap harga saham.
Penelitian yang dilakukan oleh Bakti (2014) terkait Pengaruh Kebijakan
Dividen dan Profitabilitas Terhadap Shareholders Wealth Pada Perusahaan
Transportasi Yang Terdaftar di BEI pada periode 2007 sampai 2012. Metode yang
7
digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan data hasil
documenter, sedangkan teknik analisis yang digunakan yaitu menggunakan
asumsi klasik, koefisien determinasi, dengan Uji F dan Uji t. Hasil penelitian
menunjukan bahwa secara simultan variable Dividen Per Share (DPS) dan Net
Profit Margin memiliki pengaruh terhadap shareholders whealth. Sedaangkan
secara parsial variable Dividen Per Share (DPS) dan Net Profit Margin (NPM)
tidak memiliki pengaruh terhadap shareholders wealth.
Penelitian yang dilakukan oleh Hutami (2012) yang berjudul Pengaruh
Dividen Per Share (DPS), Return On Equity (ROE), dan Net Profit Margin
(NPM) terhadap Harga Saham Perusahaan Industri Manufaktur yang Tercatat Di
Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan periode waktu dari 2006 sampai 2010. Jumlah
sampel pada penelitian ini sebanyak 31 perusahaan dari 152 perusahaan industri
manufaktur yang tercatat dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam periode 2006
sampai 2010. Sampel dalam penelitian ini diambil menggunakan teknik purposive
sampling. Sedangkan alat analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis
regresi linier sederhana dan berganda. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa
baik secara parsial maupun simultan DPS, ROE, dan NPM berpengaruh positif
dan signifikan terhadap harga saham perusahaan dalam industri manufaktur yang
tercatat dalam Bursa Efek Indonesia (BEI).
Penelitian lainnya dilakukan oleh Ramli (2010) dengan judul Ownership
Structure and Dividen Policy: Evidence from Malaysian Companies. Penelitian
ini menggunakan data perusahaan pada periode 2002 sampai 2006. Penelitian ini
menggunakan perusahaan yang terdaftar di Bursa Malaysia (Malaysian Stock
Exchange) dan menggunakan sistem random sampling dalam menentukan sampel
penelitian. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari annual report
perusahaan yang telah diterbitkan pada website Bursa Malaysia. Hasil dari
penelitian ini menyatakan bahwa terdapat hubungan antara pemegang saham dan
kebijakan dividen yang dilakukan oleh perusahaan yang terdaftar di Bursa
Malaysia, dimana pemegang saham dengan proporsi terbesar mendapatkan
dividen payout yang jauh lebih tinggi. Pemegang saham terbesar kedua juga
memiliki efek yang signifikan dan positif pada pembayaran dividen perusahaan.
Jadi semakin besar kepemilikan saham maka akan semakin tinggi pula besarnya
dividen yang dibayarkan.
Penelitian yang dilakukan oleh Masum (2014) dengan judul Dividend
Polices and Its Impact On Stock Price: A Study on Commercial Banks Listed In
Dhaka Stock Exchange. Penelitian ini menggunakan data sekunder 30 perusahaan
perbankan Bangladesh yang terdaftar di Bursa Efek Dhaka dengan data selama
periode tahun 2007 sampai 2011. Metode penelitian dalam penelitian
menggunakan regresi linier berganda. Berdasarkan fix effect dan random effect,
model dalam penelitian ini menunjukan hubungan yang negative signifikan antara
dividen yield dan harga saham, sementara retention ratio memiliki hubungan
negatif namun tidak signifikan terhadap harga saham. Sedangkan return on equity
dan laba per saham memiliki dampak positif yang signifikan secara statistik
terhadap hrga saham. Selain itu, laba setelah pajak memiliki dampak negatif
yang signifikan terhadap harga saham pada bank komersial di Bangladesh.
Penelitian lain yang lain dilakukan oleh Arslan (2014) dengan judul Impact
of Dividen Yield and Price Earning Ratio on Stock Returns: A Study NonFinancial Listed Firms of Pakistan. Penelitian ini menggunakan data sekunder
8
dari 111 perusahaan non keuangan. Data yang digunakan dalam penelitian ini
berupa data dengan periode waktu 1998 sampai 2009. Berdasarkan model fix
effect yang digunakan dalam penelitian ini menunjukan hahwa Price Earning
Ratio dan ukuran perusahaan memiliki dampak positif yang signifikan terhadap
harga saham. Sementara itu, dividen yield menunjukan hubungan negatif yang
signifikan terhadap harga saham. Selain itu, penelitian ini menyarankan kepada
investor dapat menerapkan kriteria investasi berupa ukuran perusahaan dan
anomali price earning ratio untuk mendapatkan return.
METODE
Kerangka Pemikiran Penelitian
Struktur populasi penduduk di Indonesia memiliki kerangka yang
berbentuk piramida, dimana berkisar 50 % dari total penduduk Indonesia berada
di usia di bawah 30 tahun. Selain itu, lebih dari 50 persen pula penduduk
Indonesia mendominasi wilayah perkotaan. Hasil survey Indonesia Properti
Sentiment Survey menyatakan bahwa 65 persen kelompok usia 21 sampai 30
tahun termotivasi untuk memiliki rumah sendiri. Terlebih mengingat hunian
merupakan salah satu kebutuhan yang mendasar dalam hidup manusia.
Pertumbuhan Sektor Properti dan Real Estate di Indonesia
Perusahaan Properti dan Real Estate yang Terdaftar Di BEI
Investor
Laporan Keuangan Perusahaan
DPR
DPS
EPS
Kebijakan Dividen
ROE
ROA
NPM
Profitabilitas
Harga Saham
Pengaruh Profitabilitas dan Kebijakan Dividen Terhadap Harga Saham
Perusahaan Properti dan Real Estate Di BEI
Structural Equation Modeling (SEM)
Rekomendasi
Gambar 4. Kerangka Pemikiran Penelitian
9
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada perusahaan-perusahaan yang bergerak di
sektor properti dan real estate. Perusahaan yang digunakan dalam penelitian ini
merupakan perusahaan yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jangka
waktu penelitian ini dimulai pada bulan Maret sampai bulan Mei 2016.
Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh dari
laporan keuangan tahunan perusahaan yang bergerak di sektor properti dan real
estate. Laporan keuangan yang digunakan merupakan laporan telah
dipublikasikan oleh perusahaan yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia (BEI).
Data yang diambil didasarkan pada periode waktu tertentu sesuai dengan data
yang dibutuhkan. Selain itu, data juga dengan didukung oleh berbagai literatur
baik itu studi pustaka, artikel ilmiah, jurnal nasional dan internasional maupun
penelitian terdahulu. Metode sampling yang digunakan adalah dengan
menetapkan kriteria-kriteria tertentu atau yang biasa disebut dengan purposive
sampling. Kriteria yang ditentukan meliputi:
a) Listing dan tidak pernah keluar dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) pada
periode 2010 sampai 2015.
b) Tersedianya data laporan keuangan pada periode 2010 sampai 2015.
c) Perusahaan membagikan dividen pada periode 2010 sampai 2015.
Pengolahan dan Analisis Data
Rasio Profitabilitas
Menurut Harmono (2009), konsep profitabilitas merupakan indikator
kinerja fundamental perusahaan yang mewakili kinerja manajemen. Umumnya
dimensi profitabilitas memiliki hubungan kausalitas terhadap nilai perusahaan.
sedangkan nilai perusahaan secara konsep dapat dijelaskan oleh nilai yang
ditentukan oleh harga saham yang diperjualbelikan di pasar modal. Hubungan
kausalitas ini menunjukan bahwa apabila kinerja perusahaan yang diukur
menggunakan dimensi profitabilitas baik, maka akan memberikan dampak positif
terhadap keputusan investor untuk menanamkan modalnya.
1. Return on Equity (ROE)
Return on Equity atau return on net worth merupakan rasio yang
mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba yang tersedia bagi
pemegang saham perusahaan.
ROE =
10
2. Return on Asset (ROA)
Return on Asset merupakan rasio yang menjadi tolok ukur
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan asset yang
digunakan.
ROA =
3. Net Profit Margin (NPM)
Net Profit Margin (NPM) merupakan tolok ukur yang digunakan
untuk menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
keuntungan bersih.
NPM =
Kebijakan Dividen
Menurut Sundjaja (2003) dividen tunai yang diharapkan merupakan variabel
pengembalian utama yang akan menentukan nilai saham bagi pemilik dan
investor. Dividen tunai adalah sumber dari aliran kas untuk pemegang saham
yang memberikan informasi tentang kinerja perusahaan saat ini dan yang akan
datang. Sedangkan laba ditahan merupakan pendapatan yang tidak dibagikan
sebagai dividen karena merupakan bentuk pembiayaan intern. Rasio pembayaran
dividen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Dividen per Share (DPS)
Menurut Syahrul (2008), Dividen Per Share (DPS) merupakan
rasio yang menjadi tolok ukur untuk mengetahui seberapa besar
dividen yang dibagikan dibandingkan dengan jumlah saham yang
beredar pada periode tertentu. Rasio ini memberikan gambaran
mengenai seberapa besar laba yang dibagikan dalam bentuk dividen
tunai kepada pemegang saham untuk setiap lembar saham.
2. Dividen Payout Ratio (DPR)
Menurut Paramitha (2012), rasio pembayaran dividen (Dividen
Payout Ratio) menentukan jumlah laba yang di bagi dalam bentuk
dividen kas dan laba yang ditahan sebagai sumber pendanaan. Rasio
ini menunjukkan persentase laba perusahaan yang dibayarkan kepada
pemegang saham biasa perusahaan berupa dividen kas.
11
Analisis Structural Equation Modeling (SEM)
Pengolahan dan analisis data dalam penelitian menggunakan metode
Structural Equational Modeling (SEM). Model SEM dari penelitian ini pada
Gambar 3 berikut.
Gambar 5. Model SEM
Model SEM ini terdiri dari Dividen Payout Ratio (DPR), Net Profit
Margin (NPM), Return On Equity (ROE), Return on Asset (ROA) dan harga
saham. Berdasarkan indikator diatas, maka hipotesis penelitian ini meliputi:
H1 : Profitabilitas (ROE, ROA dan NPM) berpengaruh signifikan terhadap harga
saham perusahaan
H2 :Profitabilitas (ROE, ROA dan NPM) berpengaruh signifikan terhadap
kebijakan dividen perusahaan
H3 : Kebijakan dividen berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan
H4 : Profitabilitas dan Kebijakan dividen berpengaruh signifikan terhadap harga
saham perusahaan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Sub Sektor Properti dan Real Estate
Sub sektor properti dan real estate merupakan bagian dari sektor properti,
real estate dan konstruksi. Perusahaan sub sektor properti dan real estate yang
terdaftar (listing) di Bursa Efek Indonesia hingga saat ini tercatat telah mencapai
50 perusahaan. Daftar semua perusahaan yang listing di Bursa Efek dapat dilihat
pada Lampiran 1. Selama periode 2010 sampai 2015 tercatat terdapat 11
perusahaan properti dan real estate yang melakukan initial public offering (IPO)
sehingga tidak dapat digunakan dalam penelitian ini. Dalam kurun tahun 2010
sampai 2015 perkembangan sub sektor properti dan real estate mengalami
berbagai fluktuasi yang menyebabkan tidak semua perusahaan sub sektor properti
dan real estate membayarkan deviden tunai nya kepada pemegang saham setiap
tahunnya. Tercatat hanya 9 perusahaan yang rutin melakukan pembayaran dividen
setiap tahunnya selama periode 2010 sampai 2015, perusahaan tersebut
diantaranya adalah perusahaan Alam Sutera Reality Tbk (ASRI), Ciputra Properti
Tbk (CTRP), Goa Makassar Tourism Development Tbk (GMTD), Jaya Real
12
Properti Tbk (JRPT), Jakarta Setiabudi Internasional Tbk (JSPT), Lippo Karawaci
Tbk (LPKR), Metroplitan Kentjana Tbk (MKPI), Pudjiati Prestige Tbk (PUDP),
Summarecon Agung Tbk (SMRA).
Kegiatan perusahaan yang menghasilkan laba tentunya tidak luput dari
komponen dasar yang menjadi fondasi berjalannya bisnis tersebut. Komponen
dasar ini berada pada neraca yang terdiri dari total asset, total kewajiban, serta
modal yang dimiliki. Tabel 1 memperlihatkan jumlah dari asset, kewajiban serta
modal yang dimiliki oleh perusahaan sub sektor properti dan real estate.
Tabel 1. Total Aset,Kewajiban dan Modal Perusahaan Properti dan Real Estate
Selama 2010-2015
Perusahaan
Total Asset
Total Ekuitas
Total Kewajiban
ASRI
10,656,543,300,916
5,026,330,116,849
43,563,715,578
CTRP
40,411,265,473,447
25,741,300,852,880
14,567,649,661,432
GMTD
5,852,831,855,888
2,161,504,825,771
3,691,327,030,117
JRPT
32,804,286,028,000
15,772,846,996,000
17,031,439,032,000
JSPT
19,338,620,114,512
11,693,430,453,759
5,178,764,866,441
LPKR
169,775,144,884,383
79,809,746,733,290
90,010,541,246,465
MKPI
19,374,413,261,904
11,366,617,475,688
8,007,795,786,216
PUDP
2,201,685,947,534
1,588,473,906,968
612,879,285,524
27,393,914,269,000
46,607,221,811,000
SMRA
74,001,136,070,000
Sumber : data diolah (2016)
Berdasarkan Tabel 1, diketahui bahwa perusahaan Lippo Karawaci Tbk
(LPKR) merupakan perusahaan yang memiliki total asset dan total ekuitas
tertinggi. Sedangkan perusahaan Pudjiati Prestige Tbk (PUDP) merupakan
perusahaan yang memiliki total asset dan ekuitas terendah namun memiliki total
kewajiban yang harus dibayarkan paling tinggi diantara perusahaan lainnya.
Kondisi Profitabilitas Perusahaan Sub Sektor Properti dan Real Estate
Rasio profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini meliputi Return
on Asset (ROA), Return on Equity (ROE), dan Net Profit Margin (NPM). Rasiorasio ini menjelaskan seberapa besar kemampuan perusahaan dapat memperoleh
keuntungan, baik itu melalui asset yang digunakan, equity yang dimiliki, maupun
dari hasil penjualan yang dilakukan perusahaan. Rasio profitabilitas yang dimiliki
oleh perusahaan sub sektor properti dan real estate dapat dilihat pada Grafik 3
berikut ini.
13
0.45
0.4
0.35
0.3
0.25
PM
0.2
ROE
ROA
0.15
0.1
0.05
0
ASRI
CTRP GMTD JRPT
JSPT
LPKR
MKPI PUDP SMRA
Sumber : data diolah (2016)
Gambar 6. Rasio Profitabilitas Perusahaan Sub Sektor Properti dan Real
Estate 2010-2015
Berdasarkan Gambar 6, Net Profit Margin (NPM) tertinggi ditempati oleh
perusahaan Jaya Real Properti Tbk (JRPT) sebesar 0.385515, yang artinya sebesar
38.55 % laba bersih yang dihasilkan perusahaan berasal dari kegiatan penjualan
produk perusahaan. Tingginya persentase Net Profit Margin (NPM) dikarenakan
perusahaan Jaya Real Properti Tbk (JRPT) terus melakukan upaya peningkatan
penjualan produk yang diiringi dengan peningkatan laba yang dihasilkan setiap
tahunnya. Jika dibandingkan dengan perusahaan lain, perusahaan Jaya Real
Properti Tbk (JRPT) menghasilkan laba yang terus meningkat. Perusahaan lain
memiliki kecenderungan akan fluktuasi laba yang dihasilkan dengan tingkat
penjualan yang cukup tinggi, sehingga menghasilkan rasio perbandingan laba
bersih terhadap penjualan yang lebih rendah jika dibandingkan perusahaan Jaya
Real Properti Tbk (JRPT).
Sedangkan nilai Return on Equity (ROE) terbesar ditempati oleh
perusahaan Goa Makassar Tourism Development Tbk (GMTD) sebesar 23.23%,
hal ini mengindikasikan bahwa sebesar 23.23% laba bersih yang dihasilkan
berasal dari pemanfaatan modal yang dimiliki perusahaan. Selain itu, hal ini juga
menggambarkan seberapa besar tingkat kepemilikan yang dimiliki terhadap
perusahaan. Gambar 6 menunjukan nilai rata-rata Return on Asset (ROA)
terbesar ditempati oleh perusahaan Metroplitan Kentjana Tbk (MKPI) sebesar
13.73%. Nilai Return on Asset (ROA) yang tinggi mengindikasikan bahwa
perusahaan Metroplitan Kentjana Tbk (MKPI) mampu memanfaatkan asset yang
dimiliki untuk menghasilkan laba bagi perusahaan. Meskipun terjadi gejolak
perekonomian, perusahaan Metroplitan Kentjana Tbk (MKPI) mampu
membuktikan bahwa perusahaan dapat tetap bertahan dan menghasilkan laba
bersih yang terus meningkat disetiap tahunnya.
Tingkat profitabilitas tertinggi baik itu NPM, ROE maupun ROA ini
dimiliki oleh perusahaan yang berbeda-beda dalam satu jenis sub sektor, sehingga
dapat diketahui bahwa perusahaan yang menghasilkan ROA ataupun ROE yang
tinggi belum tentu akan menghasilkan nilai NPM yang tinggi pula, dan begitu
14
pula sebaliknya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhinya
diantaranya seperti total modal, asset dan kewajiban yang dimiliki oleh
perusahaan.
Gambar 6 juga menunjukan nilai Net Profit Margin (NPM) terendah yang
ditempati oleh perusahaan Jakarta Setiabudi Internasional Tbk (JSPT) sebesar
0.188912 atau 18.89%. . Peningkatan jumlah asset dan modal pada perusahaan ini
setiap tahunnya tidak diimbangi dengan peningkatan laba yang dihasilkan, hal ini
mengindikasikan bahwa perusahaan tidak mampu mengoptimalkan modal dan
asset yang dimiliki untuk menghasilkan laba bagi perusahaan. Peristiwa ini
mencerminkan bahwa perusahaan tidak cukup mampu berkompetisi dengan
perusahaan lain ditengah kondisi ekonomi global yang sedang mengalami pasang
surut pada beberapa tahun terakhir. Rendahnya rasio profitabilitas perusahaan ini
juga disebabkan karena tidak optimalnya penyerapan capital expenditure
(CAPEX) pada tahun 2015 sesuai dengan apa yang telah dianggarkan. Oleh
karena itu, dengan adanyanya hal tersebut dan ditambah dengan adanya
perekonomian yang melambat, perusahaan ini terpaksa mengalihkan dana belanja
modal pada tahun 2015 untuk tahun depan.
Sedangkan nilai Return on Equity (ROE) dan Return on Asset (ROA)
terendah ditempati oleh perusahaan Ciputra Properti Tbk (CTRP) yaitu sebesar
6.947% dan 4.531%, namun perusahaan ini memiliki nilai NPM yang cukup
tinggi diatas nilai rata-rata secara keseluruhan. Hal ini mengindikasikan bahwa
perusahaan Ciputra Properti Tbk (CTRP) lebih mengandalkan penjualan untuk
menghasilkan laba dibandingkan dengan asset dan modal yang dimiliki. Sehingga
pendanaan atas kegiatan perusahaan ini lebih mengandalkan pada lialibility, baik
itu jangka pendek maupun jangka panjang. Total asset dan modal yang cukup
tinggi (Tabel 1) tidak menjamin dihasilkannya laba yang tinggi atas asset dan
modal yang dimiliki.
Kondisi Dividen Perusahaan Sub Sektor Properti dan Real Estate
Kebijakan dividen secara penuh merupakan keputusan internal manajemen
perusahaan, biasanya pembayaran dividen diputuskan melalui rapat umum
pemegang saham (RUPS). Tidak semua perusahaan dalam sub sektor properti dan
real estate memutuskan untuk melakukan pembayaran dividen setiap tahun nya.
Tercatat dari 50 perusahaan properti dan real estate yang terdaftar dalam Bursa
Efek Indonesia (BEI) hanya 9 perusahaan yang membayarkan dividen selama
periode 2010 sampai 2015. Hal ini mencerminkan tingkat kestabilan kinerja
perusahaan dalam menghadapi tantangan persaingan ditengah fluktuasi
perekonomian yang terjadi di Indonesia.
Kebijakan dividen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi Earning
per Share (EPS), Dividen per Share (DPS), Dividen Payout Ratio (DPR).
Kebijakan dividen ini menggambarkan seberapa besar laba yang ditahan
dialokasikan untuk pembayaran dividen kepada pemegang saham, selain itu juga
untuk melihat rasio pembayaran dividen atau kemampuan perusahaan dalam
membayarkan dividennya. Besarnya dividen yang dibagikan kepada pemegang
saham secara rutin setiap tahunnya pada sub sektor properti dan real estate dapat
dilihat dalam Lampiran 3. Sedangkan Tabel 2 menunjukan rasio pembayaran
dividen pada sub sektor properti dan real estate.
15
Tabel 2. Rasio pembayaran dividen pada sub sektor properti dan real estate.
Kode
Dividen
Dividen(%)
EPS
DPS
DPR(%)
ASRI
127,335,787,166
13.73
40
7
15
CTRP
57,714,607,271
6.22
48
10
19.55
GMTD
4,721,517,000
0.51
777
47
7.2
JRPT
136,172,097,500
14.68
93
22.7
24.45
JSPT
25,506,096,000
2.75
73
11
15.07
LPKR
216,209,432,218
23.31
50
10
24.155
MKPI
154,666,244,633
16.675
464
163
37.824
PUDP
3,194,240,000
0.34
66
10
15.67
21.78
73
21
29.09
SMRA
201,998,047,667
Sumber : data diolah (2016)
Jumlah dividen rata-rata yang dibayarkan paling tinggi ditempati oleh
perusahaan Lippo Karawaci Tbk (LPKR) dengan presentase pembayaran dividen
terhadap total dividen yang dibayarkan sebesar 23.31%. Dividen yang dibayarkan
perusahaan ini setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan meskipun laba yang
dihasilkan pada tahun 2015 mengalami penurunan. Hal ini dimungkinkan karena
perusahaan lebih memilih untuk melakukan pembayaran dividen lebih besar
dibandingkan dengan dana cadangan yang disimpan perusahaan. Namun
perusahaan Lippo Karawaci Tbk (LPKR) memiliki nilai Earning per Share (EPS)
yang cukup rendah yaitu hanya sebesar 50, jauh lebih rendah dari nilai rata-rata
EPS secara keseluruhan. Rendahnya nilai EPS perusahaan Lippo Karawaci Tbk
(LPKR) disebabkan oleh jumlah saham yang beredar dari perusahaan ini memiliki
jumlah yang paling banyak dibandingkan dengan saham yang dimiliki perusahaan
lainnya. Sedangkan rasio pembayaran dividen (DPR) yang dimiliki perusahaan
bukanlah rasio terbesar dalam sub sektor properti dan real estate, namun masih
dapat dikatakan cukup baik karena rasio pembayaran dividen perusahaan ini
diatas rata-rata rasio perbandingan secara keseluruhan. Apabila dilihat dari Grafik
3, nilai Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE), dan Net Profit Margin
(NPM) perusahaan Lippo Karawaci Tbk (LPKR) memiliki nilai yang tidak cukup
besar. Meskipun demikian, perusahaan ini masih dapat membagikan dividen tunai
kepada pemegang saham dengan total pembayaran tertinggi dibandingkan dengan
perusahaan lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan Lippo Karawaci
Tbk (LPKR) cukup memperhatikan posisi investor dalam perusahaan.
Pembayaran dividen terendah ditempati oleh perusahaan Pudjiati Prestige
Tbk (PUDP) dengan rasio pembayaran dividen (DPR) yang cukup rendah yaitu
sebesar 15.67% dibawah rata-rata (DPR) secara keseluruhan. Selain itu, nilai
Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE), dan Net Profit Margin (NPM)
yang dihasilkan perusahaan ini tidaklah cukup tinggi dan masih dibawah rata-rata
secara keseluruhan. Laba yang dihasilkan perusahaan ini pun cukup berfluktuatif.
Namun demikian, perusahaan tetap membagikan dividen sesuai dengan hasil
keputusan yang diambil pada rapat umum pemegang saham (RUPS). Selain itu,
perusahaan ini juga sedang melakukan penganggaran modal belanja untuk
melakukan perbaikan dan perawatan terhadap asset yang dimiliki, selain itu
perusahaan juga sedang melakukan beberapa proyek pembangunan yang ada di
16
daerah Banten dan Cikarang. Oleh sebab itu, perusahaan sedang membutuhkan
dana untuk membiayai hal tersebut. Pendanaan ini salah satunya bersumber dari
dana internal perusahaan yang dapat diambil dari laba ditahan, sehingga
mengurangi jumlah dividen yang dibagikan oleh perusahaan. Berdasarkan track
record pembayaran dividen yang dilakukan selama 6 tahun terakhir ini,
perusahaan Pudjiati Prestige Tbk (PUDP) diduga menganut kebijkaan dividen
rendah teratur, dimana perusahaan membayarkan dividen dalam jumlah yang
kecil namun teratur dibayarkan dalam setiap periode nya. Hal ini dilakukan
perusahaan untuk memberikan investor pendapatan yang stabil yang digunakan
untuk membangun kepercayaan kepada perusahaan.
Nilai rasio pembayaran dividen (DPR) terbesar ditempati oleh perusahaan
Metroplitan Kentjana Tbk (MKPI) sebesar 37.8%, mengingat bahwa jumlah
dividen yang dibayarkan setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan dengan
nilai dividen per share (DPS) yang dimiliki perusahaan ini merupakan DPS
tertinggi dibandingkan dengan perusahaan lainnya. Selain itu, nilai DPS
perusahaan ini selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini
memungkinkan bahwa jumlah dividen yang dibagikan kepada pemegang saham
lebih besar jika dibandingkan dengan dana cadangan yang disimpan perusahaan.
Apabila dilihat dari nilai Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE), dan
Net Profit Margin (NPM) pada Lampiran 2 menunjukan bahwa nilai ROA, ROE,
dan NPM perusahaan berada diatas rata-rata nilai secara keseluruhan, bahkan
ROA perusahaan ini memiliki nilai terbesar dibandingkan dengan perusahaan
lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan Metroplitan Kentjana Tbk
(MKPI) memiliki prosepek bisnis yang baik, selain menghasilkan laba yang terus
meningkat, perusahaan Metroplitan Kentjana Tbk (MKPI) juga sangat
memperhatikan kepentingan dari pemegang saham.
Sedangkan nilai rasio pembayaran dividen (DPR) terendah ditempati oleh
perusahaan Goa Makassar Tourism Development Tbk (GMTD) sebesar 7.2 %.
Hal ini dikarenakan bahwa perusahaan ini memiliki nilai earning per share (EPS)
terbesar jika dibandingkan dengan perusahaan lainnya. Apabila dilihat dari nilai
Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE), dan Net Profit Margin (NPM)
pada Lampiran 2 menunjukan bahwa nilai ROA, ROE, dan NPM perusahaan Goa
Makassar Tourism Development Tbk (GMTD) berada diatas rata-rata nilai secara
keseluruhan, bahkan ROE perusahaan ini memiliki nilai terbesar dibandingkan
dengan perusahaan lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan lebih
mengutamakan dana internal bagi pembiayaan perusahaan. Perusahaan Goa
Makassar Tourism Development Tbk (GMTD) diduga menggunakan kebijakan
dividen konstan atau naik secara mantap mengingat jumlah dividen yang
dibayarkan pada beberapa tahun terakhir konstan (Lampiran 3).
Kondisi Harga Saham Perusahaan Sub Sektor Properti dan Real Estate
Indikator dari harga saham dalam penelitian ini menggunakan rata-rata
harga saham harian perusahaan dalam tahunan. Tabel 3 menunjukan rata-rata
harga saham harian perusahaan dalam tahunan sub sektor properti dan real estate
selama periode 2010 sampai 2015. Sedangkan pergerakan harga saham
perusahaan setiap tahunnya dapat dilihat pada Lampiran 4.
17
Tabel 3. Rata-rata harga saham harian perusahaan sub sektor properti dan real
estate selama 2010-2015
Kode
ASRI
Perusahaan
Alam Sutera Reality Tbk
Harga Saham (Rp)
CTRP
Ciputra Properti Tbk
GMTD
Goa Makassar Tourism Development Tbk
3,620
JRPT
Jaya Real Properti Tbk
1,663
JSPT
Jakarta Setiabudi Internasional Tbk
725
LPKR
Lippo Karawaci Tbk
909
MKPI
Metroplitan Kentjana Tbk
PUDP
Pudjiati Prestige Tbk
SMRA
Summarecon Agung Tbk
477
608
7,591
460
1,341
Sumber : data diolah (2016)
Harga saham tertinggi dalam sub sektor properti dan real estate adalah
perusahaan Metroplitan Kentjana Tbk (MKPI) yaitu sebesar 7591, apabila dilihat
nilai Dividen Payout Ratio (DPR) perusahaan ini memiliki rasio dengan nilai
paling besar diantara perusahaan lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa para
investor lebih melihat besarnya dividen yang dibayarkan dalam menanamkan
modalnya pada perusahaan properti dan real estate. Semakin banyak investor yang
tertarik untuk berinvestasi maka akan semakin meningkatnya harga saham. Pada
umumnya semakin meningkatnya jumlah dividen yang dibayarkan, semakin
tinggi pula harga saham perusahaan, hal ini dapat dilihat pada Lampiran 3 dan 4.
Namun, terdapat pula peningkatan dividen yang tidak diikuti dengan
meningkatnya harga saham seperti yang terjadi pada perusahaan Jaya Real
Properti Tbk (JRPT) tahun 2014, perusahaan Lippo Karawaci Tbk (LPKR) tahun
2014 dan perusahaan Summarecon Agung Tbk (SMRA) tahun 2014, dimana
harga saham perusahaan justru mengalami penurunan. Hal ini diduga karena
terdapat penurunan pada nilai dividen payout ratio (DPR) pada tahun 2014 dari
tahun sebelumnya. Penurunan ini memberikan signal negatif kepada investor atau
memberikan gambaran terkait kinerja perusahaan, sehingga menyebabkan harga
saham mengalami penurunan.
Perusahaan yang memiliki pergerakan harga saham yang cukup baik selain
perusahaan Metroplitan Kentjana Tbk (MKPI) adalah perusahaan Goa Makassar
Tourism Development Tbk (GMTD), karena memiliki pergerakan harga saham
yang terus meningkat meskipun dividen yang dibagikan tidak selalu mengalami
peningkatan di setiap tahunnya bahkan perusahaan cenderung melakukan
pembayaran dividen konstan pada beberapa periode waktu tertentu.
Sedangkan harga saham terendah ditempati oleh perusahaan Pudjiati
Prestige Tbk (PUDP) dengan nilai dividen payout ratio (DPR) nya sebesar
15.68%. Perusahaan ini juga merupakan perusahaan yang menghasilkan nilai
NPM, ROE dan ROA tergolong rendah, sehingga wajar jika dividen yang
dibayarkan dalam jumlah yang kecil,ini merupakan jumlah pembayaran dividen
paling rendah dibandingkan dengan perusahaan lainnya. Rendahnya harga saham
pada perusahaan ini mencerminkan bahwa investor tidak cukup tertarik
menanamkan modalnya dan menganggap menanamkan modalnya pada
perusahaan ini hanya memberikan sedikit keuntungan.
18
Pengujian Model SEM
Model Pengukuran (Outer Model)
Model pengukuran atau outer model merupakan model pengukuran
menggunakan convergent validity yang refleksif indikator dinilai berdasarkan
korelasi antar item score/component score dengan construct score yang dihitung
menggunakan SmartPLS. Ukuran refleksif individual dikatakan tinggi apabila
bernilai lebih dari 0.70 terhadap konstruk yang diukur (Ghazali, 2008) . Namun,
untuk penelitian awal korelasi bernilai 0.5 sampai 0.6 dianggap cukup (Chin,
1998).
Penelitian ini menggunakan batas model pengukuran atau batas outer
model lebih dari 0,7. apabila terdapat nilai loading dibawah 0,7 maka indikator
akan dihilangkan atau didrop. Tabel 6 menunjukan hasil outer loading sebelum
dilakukan dropping.
Tabel 4. Nilai Faktor Loading Sebelum Dropping
Profitabilitas
Kebijakan Dividen Harga Saham
NPM
0.755
ROA
0.9
ROE
0.935
DPR
0.275
DPS
0.926
EPS
0.815
HS
1
Sumber : data diolah (2016)
Berdasarkan Tabel 6, nilai DPR kurang dari batas outer model yang telah
ditentukan (> 0,7), sehingga indikator DPR harus dihilangkan atau didrop. Oleh
karena itu dilakuka kembali re-calculate dan menghasilkan nilai faktor loading
yang baru seperti pada Gambar 4.
Model Awal SEM
19
Model Akhir Setelah Dropping
Gambar 7. Model SEM
Discriminant Validity
Discriminant Validity merupakan tolok ukur yang digunakan untuk
melihat tingkat validitas setiap variabel atau konstruk. Discriminant Validity
dapat dilihat melalui nilai Average Variance Extracted (AVE) variabelnya atau
dengan melihat cross-loading pada discriminant validity disetiap indikatornya.
Konstruk dikatakan valid apabila nilai Average Variance Extracted (AVE) lebih
besar dari 0,5.
Tabel 5. Nilai Average Variance Extracted (AVE)
Average Variance Extracted
(AVE)
Profitabilitas
0.751
Kebijakan Dividen
0.778
Harga Saaham
1
Sumber : data diolah (2016)
Tabel 5 menunjukan bahwa semua variabel yang digunakan dalam
penelitian ini dapat dikatakan valid, hal ini dikarenakan setiap variabel bernilai
lebih dari batas yang ditentukan (> 0,5).
Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas merupakan tolok ukur yang digunakan untuk melihat
tingkat konsistensi sebuah alat ukur yang digunakan dalam penelitian. Uji
reliabilitas dapat dilihat melalui nilai composite reliability dan cronbachs alpha
dari masing-masing variabel. Sebuah variabel dapat dikatakan reliabel apabila
nilai keduanya > 0,7.
Tabel 6. Composite reliability dan cronbachs alpha
Composite Reliability Cronbachs Alpha
Profitabilitas
0.9
0.833
Kebijakan Dividen
0.875
0.716
Harga Saham
1
1
Sumber : data diolah (2016)
20
Semua variabel yang digunakan dalam penelitian ini memiliki nilai lebih
besar dari 0,7 sehingga variabel tersebut dapat dikatakan reliable.
Model Struktural (Inner Model)
Menurut Abdillah dan Jogiyanto (2015) model struktural dalam PLS
dievaluasi dengan menggunakan R-square untuk konstruk dependen. Nilai Rsquare digunakan untuk mengukur tingkat variasi perubahan variabel independen
terhadap variabel dependen. Semakin tinggi nilai R-square berarti semakin baik
model prediksi dari model penelitian yang dilakukan. Total nilai R-square dapat
digunakan untuk menghitung secara manual goodness of-fit (GOF) model karena
PLS tidak menyediakan menu khusus untuk menghitung GOF.
Tabel 7. R-square
Profitabilitas
Kebijakan Dividen
Harga Saham
R-Square
0
0.427
0.816
Sumber : data diolah (2016)
Tabel 7 menjelaskan bahwa variabilitas konstruk Kebijakan dividen yang
dapat dijelaskan oleh variabilitas konstruk profitabilitas sebesar 42.7 %,
sedangkan 57.3% dijelaskaan oleh variabel lain yang tidak disebutkan dalam
penelitian ini. Variabilitas konstruk harga saham yang dapat dijelaskan oleh
variabilitas konstruk profitabilitas sebesar 81.6%, sedangkan 18.4% dijelaskan
oleh variabel lain diluar penelitian ini.
Tingkat signifikan pengaruh setiap variabel dalam penelitian ini dapat
dilihat melalui nilai uji t-statistik variabel yang dihasilkan dari calculate
bootsrapping SmartPLS pada Tabel 7. Sebuah variabel dikatakan signifikan atau
berpengaruh nyata terhadap indikator apabila nilai dari uji t-statistik lebih dari ttabel yaitu 1.96 pada selang kepercayaan 5% (Ghazali, 2008).
Tabel 8. Path Coefficients (Mean, STDEV, T-Values)
Original
Sample (O)
Profitabilitas -> Harga
Saham
Profitabilitas -> Kebijakan
Dividen
Kebijakan Dividen ->
Harga Saham
Sumber : data diolah (2016)
Sample
Mean (M)
Standard
Deviation
(STDEV)
T Statistics
(|O/STERR|)
-0.109
-0.109
0.061
1.792
0.654
0.655
0.082
8.004
0.971
0.968
0.049
19.68
Tabel 8 menunjukan adanya pengaruh negatif antara variabel profitabilitas
terhadap harga saham sebesar 0.109, atau dapat dikatakan bahwa dengan
meningkatnya profitabilitas akan menurunkan harga saham. Nilai dari hasil uji t
pengaruh profitabilitas terhadap harga saham yang menunjukan nilai dari uji t
sebesar 1.792. Karena nilai dari uji t ini kurang dari 1.96 maka variabel
profitabilitas tidak signifikan terhadap harga saham. Oleh karena itu hipotesis
21
yang menyatakan “profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap harga saham
perusahaan” ditolak.
Tabel 8 juga menunjukan adanya pengaruh positif antara variabel
profitabilitas terhadap kebijakan dividen sebesar 0.654, yang artinya dengan
meningkatkan nilai profitabilitas maka peningkatan ini juga akan meningkatkan
dividen yang dibayarkan. Nilai dari hasil uji t memperlihatkan pengaruh
profitabilitas terhadap kebijakan dividen yang menunjukan nilai dari uji t sebesar
8.004. Karena nilai dar uji t ini lebih dari 1.96 maka variabel profitabilitas
signifikan terhadap kebijakan saham. , hal ini mengindikasikan bahwa hipotesis
“Profitabilitas (ROE, ROA dan NPM) berpengaruh signifikan terhadap kebijakan
dividen perusahaan” diterima.
Tabel 8 menunjukan adanya pengaruh positif antara variabel kebijakan
dividen terhadap harga saham sebesar 0.971, yang artinya dengan meningkatkan
nilai dividen yang dibayarkan maka peningkatan ini juga akan meningkatkan
harga saham. Nilai dari hasil uji t-statistik memperlihatkan pengaruh kebijakan
dividen terhadap harga saham menunjukan nilai dari uji t-statistik sebesar 19.68.
Karena nilai dar uji t ini lebih dari 1.96 maka variabel kebijakan dividen
signifikan terhadap harga saham. Hal ini mengindikasikan bahwa hipotesis
“Kebijakan dividen berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan”
diterima.
Tabel 9. Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung
Pengaruh
Pengaruh Langsung
Kebijakan Dividen -> Harga Saham
0.971
Profitabilitas -> Kebijakan Dividen
0.654
Profitabilitas-> Harga Saham
Sumber : data diolah (2016)
-0.109
Pengaruh Tidak Langsung
Melalui Kebijakan Dividen
0.971*0.654 = 0.635
Tabel 9 menjelaskan pengaruh secara langsung antara variabel kebijakan
dividen terhadap harga saham sebesar 0.971 dan variabel profitabilitas terhadap
kebijakan dividen sebesar 0.654. Hal ini menunjukan bahwa adanya hubungan
positif secara langsung diantara kedua variabel. Sedangkan variabel profitabilitas
berpengaruh negatif secara langsung terhadap harga saham dengan nilai -0.109,
namun berpengaruh positif secara tidak langsung melalui kebijakan dividen, hal
ini dibuktikan dengan nilai positif hasil perkalian kebijakan dividen terhadap
harga saham dengan variabel profitabilitas terhadap kebijakan dividen.
Pada analisis Structural Equation Modeling (SEM) terdapat aktivitas
penghilangan atau dropping indikator. Berdasarkan tiga konstruk yang dianalisis
terdapat satu indikator dari kebijakan dividen yaitu indikator dividen payout ratio
(DPR) yang harus dihilangkan, hal ini dikarenakan nilai DPR saat calculate
yaitu hanya sebesar 0.275 kurang dari 0.7, sehingga indikator tersebut harus
didropping. Hal ini dimungkinkan karena indikator DPR tidak secara kuat
menjelaskan konstruk kebijakan dividen. Pengaruh DPR diduga tidak kuat
dikarenakan aspek perilaku korporat atau peran manajemen internal terhadap laba
ditahan, dimana perilaku manajemen yang lebih memilih untuk memaksimalkan
kepentingan perusahaan, dengan mengutamakan besarnya laba ditahan sebagai
modal utama sebagai sumber pembiayaan perusahaan dibandingkan dengan
22
peningkatan pembayaran dividen. Oleh karena itu, rata-rata dari rasio pembayaran
dividen (DPR) bernilai kecil. Peran dari manajemen internal perusahaan sangatlah
berpengaruh terhadap kebijakan dividen yang akan diambil, termasuk dengan
melakukan perubahan kebijakan dividen sebagai tanggapan atas strategi yang
digunakan perusahaan (Keown A J, 2008).
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan menggunakan Structural
Equation Modeling (SEM), dihasilkan bahwa variabel profitabilitas memiliki
pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap harga saham, yang artinya
profitabilitas tidak mempengaruhi harga saham (Tabel 8). Sehingga keputusan
investasi dalam membeli atau menjual saham sektor properti tidak dipengaruhi
oleh profitabilitas perusahaan. Profitabilitas perusahaan yang tinggi belum tentu
akan dialokasikan untuk pembayaran dividen bagi pemegang saham. Keputusan
investor dalam melakukan pembelian dan penjualan dipengaruhi oleh beberapa
variabel seperti kondisi perekonomian yang sedang terjadi, tingkat inflasi, tingkat
suku bunga, serta kebijkaan yang dikeluarkan pemerintah. Tingginya tingkat
inflasi yang terjadi cenderung membuat pemerintah mengeluarkan pengetatan
kebijakan, sehingga membuat penjualan dan profitabilitas perusahaan menurun,
hal ini tercermin dalam sub sektor properti dan real estate pada tahun 2013.
Selain itu, harga saham merupakan variabel yang tidak dapat dikendalikan oleh
perusahaan, salah satu yang mempengaruhi harga saham adalah bagaimana sikap
pasar baik itu penjual maupun pembeli serta seberapa besar informasi terkait
kinerja perusahaan diperoleh investor. Perbedaan aksesibilitas informasi antara
perusahaan dan investor atau biasa disebut asimetri informasi menyebabkan
variabel profitabilitas tidak berpengaruh terhadap harga saham, hal ini sejalan
dengan prinsip 7 dalam 10 aksioma keuangan, yaitu masalah keagenan, di mana
manajer tidak akan bekerja bagi pemilik perusahaan jika tidak selaras dengan
kepentingan mereka.
Namun secara indirect profitabilitas berpengaruh positif terhadap harga
saham melalui kebijakan dividen yang diambil perusahaan, hal ini lebih logis
mengingat semakin tinggi nilai laba bersih yang dihasilkan, maka kemungkinan
akan bertambahnya jumlah dividen semakin meningkat, hal ini dapat menjadi
daya tarik baik bagi investor maupun calon investor untuk membeli saham.
Semakin banyak investor yang tertarik untuk membeli saham pada sebuah
perusahaan maka harga saham akan semakin meningkat, karena perusahaan
dinilai memiliki kinerja perusahaan yang baik yang akan
memberikan
keuntungan bagi investor. Hal ini sesuai dengan teori relevansi yang dikemukakan
oleh Gordon dan Lintner (1989) yang menyatakan bahwa dividen yang tinggi
meningkatkan harga saham, karena pendapatan berupa dividen dinilai lebih tinggi
bagi investor dibandingkan dengan capital gain, ini disebabkan mudah
diramalkan dan memiliki tingkat ketidakpastian yang rendah, sehingga risiko
yang ditanggung lebih rendah. Teori ini juga biasa disebut dengan bird in the
hand. Hal ini juga sesuai dengan prinsip 2 dalam 10 aksioma keuangan, yaitu nilai
waktu uang, di mana uang yang diterima saat ini akan lebih berharga dari pada
uang yang diterima di masa yang akan datang. Namun, pembayaran dividen yang
tinggi belum tentu menunjukan rasio pembayaran dividen yang tinggi pula, hal ini
dikarenakan rasio pembayaran dividen tidak hanya dipengaruhi oleh dividen yang
dibayarkan saja, namun juga dipengaruhi oleh earning per share (EPS) atau total
laba yang dihasilkan. Investor yang tertarik untuk berinvestasi pada perusahaan
23
dalam sub sektor ini hanya didasarkan pada bagaimana perusahaan mengambil
keputusan dalam penetapan kebijakan dividen perusahaan seperti besarnya
dividen yang dibayarkan dan besarnya laba yang dihasilkan pada setiap lembar
sahamnya atau earning per share (EPS).
Laba perusahaan hendaknya dikelola dengan baik sehingga dapat
menciptakan keseimbangan bagi kepentingan stakeholder baik itu untuk
pemegang saham maupun perusahaan itu sendiri. Selain itu, perusahaan
diharapkan dapat menciptakan kebijakan dividen yang optimal, dimana
perusahaan menciptakan keseimbangan diantara dividen saat ini dan
meningkatkan tingkat pertumbuhan dimasa yang akan datang , sehingga dapat
meningkatkan harga saham. Hal ini karena, tingginya harga saham sebuah
perusahaan akan mencerminkan kinerja perusahaan yang baik dan menunjukan
citra baik perusahaan, tentunya hal ini memberikan dampak positif karena
investor semakin yakin dan tertarik untuk berinvestasi pada perusahaan tersebut.
Implikasi Manajerial
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dijelaskan diatas, maka
dapat diajukan rekomendasi yang ditujukan bagi manajemen perusahaan, bahwa
perusahaan harus berhati-hati dalam menetapkan kebijakan dividen yang optimal,
hal ini dikarenakan keputusan investasi dalam membeli dan menjual saham pada
sub sektor properti dan real estate tidak dipengaruhi oleh tingkat profitabilitas,
namun investor lebih tertarik pada pembayaran dividen yang dilakukan
perusahaan. Namun perusahaan harus tetap memperhatikan profitabilitas yang
dihasilkan.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
1. Tingkat profitabilitas yang ditunjukan melalui nilai NPM, ROA, dan ROE
menunjukan bahwa terdapat 5 perusahaan yang memiliki tingkat
profitabilitas dengan nilai NPM dan ROE yang cukup baik dan hanya 3
perusahaan yang memiliki nilai ROA yang cukup baik. Hal ini dilihat
berdasarkan nilai NPM, ROA, dan ROE berada diatas nilai rata-rata dala
sub sektor properti dan real estate. Hanya 9 perusahaan yang melakukan
pembayaran dividen secara rutin selama tahun 2010 hingga 2015 dari
keseluruhan perusahaan properti dan real estate yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia(BEI).
2. Tingkat profitabilitas memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan
terhadap harga saham perusahaan sub sektor properti dan real estate di
Bursa Efek Indonesia. Profitabilitas tidak mempengaruhi harga saham,
sehingga keputusan investasi dalam membeli dan menjual saham pada
sektor properti dan real estate tidak dipengaruhi oleh profitabilitas
perusaahaan.
3. Tingkat profitabilitas memiliki pengaruh yang positif dan signifikan
terhadap kebijakan dividen perusahaan sub sektor properti dan real estate
di Bursa Efek Indonesia.
24
4. Kebijakan dividen memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap
harga saham perusahaan sub sektor properti dan real estate di Bursa Efek
Indonesia.
Saran
1. Perusahaan harus dapat mencermati bagaimana sikap yang diambil oleh
investor terhadap kebijakan yang akan diambil perusahaan, sehingga
keputusan yang diambil dapat menguntungkan kedua pihak.
2. Investor dapat melakukan penanaman modalnya pada perusahaan yang
memiliki persentase pembayaran dividen yang tinggi, namun tetap selektif
karena presentase yang tinggi belum tentu menjamin pembayaran yang
tinggi pada setiap periodenya.
DAFTAR PUSTAKA
Abdillah W, Jogiyanto H. 2015. Partial Least Square (PLS) Alternatif Structural
Equation Modeling (SEM) Dalam Penelitian Bisnis. Yogyakarta (ID).
ANDI.
Arslan MZR. 2014. Impact of Dividen Yield and Price Earning Ratio on Stock
Returns: A Study Non-Financial Listed Firms of Pakistan. Islamabad
(PK): Bahria University Islamabad.
Bakti JP. 2014. Pengaruh Kebijakan Dividen an Profitabilitas Terhadap
Shareholders Wealth Pada Perusahaan Transportasi Yang Terdaftar di BEI
pada periode 2007 sampai 2012 [skripsi]. Surabaya (ID): Universitas
Surabaya.
[BEI] Bursa Efek Indonesia. 2016. Laporan Keuangan dan Tahunan [internet].
[ diunduh pada 2016 13 April]. Tersedia pada:http://www.idx.co.id
[BPS] Badan Pusat Statistika. 2015. Kebutuhan Data Ketenaga kerjaan Untuk
Pembangunan Berkelanjutan [internet]. Jakarta (ID): BPS [ diunduh pada
2016
Maret
].
Tersedia
pada:http://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/@asia/@robangkok/@ilo-jakarta/documents/presentation/wcms_346599.pdf
[BPS] Badan Pusat Statistika. 2015. Pertumbuhan Penduduk Berdasarkan Hasil
Sensus Penduduk 2010 [internet]. Jakarta (ID): BPS. Tersedia pada:
http://bps.go.id
Denies P. 2012. Pengaruh ROI, EPS, dan DPS Terhadap Harga Saham
Perusahaan Pertambangan Yang Terdaftar di BEI pada periode 2008
sampai 2010 [skripsi]. Yogyakarta (ID): Universitas Negeri Yogyakarta.
Ghozali I. 2008. Structural Equation Modeling Metode Alternatif Dengan Partial
Least Square (PLS), Ed ke-2. Semarang (ID): Universitas Diponegoro.
Harmono. 2009. Manajemen Keuangan Berbasis Balanced Scorecard. Jakarta
(ID). Bumi Aksara.
Husnan,Suad.2001. Dasar-Dasar Teori Portofolio Dan Analisis Sekuritas.
Yogyakarta. UPP AMP YKPN.
25
Hutami RP. 2012. Pengaruh Dividen Per Share (DPS), Return On Equity (ROE),
dan Net Profit Margin (NPM) Terhadap Harga Saham Perusahaan Industri
Manufaktur Yang Tercatat Di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan periode
waktu dari 2006 sampai 2010 [skripsi]. Yogyakarta (ID): Universitas
Negeri Yogyakarta.
[IPB] Institut Pertanian Bogor. 2014. Panduan Peulisan Karya Ilmiah, Ed Ke-3
Tahun 2014. Bogor (ID) : IPB Pr.
Keown AJ, Martin JD, Petty JW,Scott DF. 2005. Manajemen Keuangan, Ed Ke10 Jilid 2. Jakarta(ID): indeks.
Masum AA. 2014. Dividen Polices and Its Impact On Stock Price: A Study on
Commercial Banks Listed In Dhaka Stock Exchange. Bangladesh (BD):
ASA University Bangladesh.
Paramitha IP. 2012. Pengaruh EPS, DER, Kebijakan Deviden, dan Resiko
Sistematis terhadap Harga Saham Perusahaan yang Terdaftar di BEI (Studi
Pada perusahaan yang masuk dalam Indeks LQ45 di Bursa Efek Indonesia
periode 2009-2011) [skripsi]. Malang (ID): Universitas Brawijaya Malang
Pitoko RA. 2015. Rumah Rp 300 Jutaan Diincar Anak Muda Usia 21-30 Tahun.
Alexander H B, editor. Kompas [Internet]. Tersedia pada:
http://properti.kompas.com/read/2015/11/03/150000021/Rumah.Rp.300.Ju
taan.Diincar.Anak.Muda.Usia.21-30.Tahun.
Ramli NM. 2010. Ownership Structure and Dividen Policy: Evidence from
Malaysian Companies. Victoria (AU): School Economics and Finance.
Ritonga R. 2015. Kebutuhan Data Ketenagakerjaan untuk Pembangunan
Berkelanjutan[Internet].Jakarta(ID):ILO.Tersedia
pada
:http://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/@asia/@robangkok/@ilo-jakarta/documents/presentation/wcms_346599.pdf.
Rudiyanto. 2013. Apakah Investasi Syariah Sama dengan Investasi Komoditas?.
Kontan [Internet]. [diunduh 2016 Maret 24]. Tersedia pada:
http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2013/05/19/apakah-investasi-syariahinvestasi-komoditas.
Sartono RA. 2001. Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi Edisi Keempat.
Yogyakarta (ID). BPFE-Yogyakarta.
Satriagung E. 2013. Properti Menggerakan Ekonomi. Kanalsatu [Internet].
Tersedia pada: http://kanalsatu.com/id/post/48203/properti-menggerakkanekonomi/properti-menggerakkan-ekonomi.
Steel RGD, Torrie JH. 1991.Prinsip Dan Prosedur Statistika Suatu Pendekatan
Biometrik. Volume Ke-2.Bambang S, penerjemah. Jakarta (ID): Gramedia
Pustaka Utama. Terjemahan dari: Principles And Procedures Of Statistics.
Sundjaja, Ridwan S. 2003.Manajemen Keuangan 2, Ed ke-4. Jakarta (ID).
Literata Lintas Media.
Syahrul T. 2008. Pengaruh Earnings Per Share dan Dividen Per Share terhadap
harga saham pada perusahaan Perkebunan yang terdaftar di BEIC [skripsi].
Van der Schaar RMA. 2015. Analisis Pasar Properti Indonesia; Overview &
Kepemilikan Asing [Internet]. Jakarta (ID): Indonesia-Investments. Tersedia
pada:http://www.indonesia-investments.com/id/berita/kolom-berita/analisispasar-properti-indonesia-overview-kepemilikan-asing/item5728.
26
Weston JF, Brigham EF. 1989. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Sirait A,
penerjemah; Ivone P , Suryadi S, editor. Jakarta (ID) : Erlangga.
Terjemahan dari : Essential Of Managerial Finance. Ed ke-9.
27
Lampiran 1. Perusahaan Sub Sektor Properti dan Real Estate di Bursa Efek
Indonesia Tahun 2010-2015
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
Kode
APLN
ASRI
BAPA
BCIP
BEST
BIKA
BIPP
BKDP
BKSL
BSDE
COWL
CTRA
CTRP
CTRS
DART
DILD
DMAS
DUTI
ELTY
EMDE
FMII
GAMA
GMTD
GPRA
GWSA
JRPT
JSPT
KIJA
LAMI
LCGP
LPCK
LPKR
MDLN
MKPI
MMLP
MTLA
MTSM
NIRO
OMRE
PPRO
PLIN
PUDP
PWON
RBMS
RDTX
RODA
SCBD
SMDM
SMRA
TARA
Nama Perusahaan
Agung Podomoro Land Tbk
Alam Sutera Reality Tbk
Bekasi Asri Pemula Tbk
Bumi Citra Permai Tbk
Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk
Binakarya Jaya Abadi Tbk
Bhuawantala Indah Permai Tbk
Bukit Darmo Properti Tbk
Sentul City Tbk
Bumi Serpong Damai Tbk
Cowell Development Tbk
Ciputra Development Tbk
Ciputra Properti Tbk
Ciputra Surya Tbk
Duta Anggada Reality Tbk
Intiland Development Tbk
Puradelta Lestari Tbk
Duta Pertiwi Tbk
Bakrieland Development Tbk
Megapoltan Development Tbk
Fortune Mate Indonesia Tbk
Gading Development Tbk
Goa Makassar Tourism Development Tbk
Perdana Gapura Prima Tbk
Greenwood Sejahtera Tbk
Jaya Real Properti Tbk
Jakarta Setiabudi Internasional Tbk
Kawasan Industri Jababeka Tbk
Lamicitra Nusantara Tbk
Eureka Prima Jakarta Tbk
Lippo Cikarang Tbk
Lippo Karawaci Tbk
Mobkdernland Reality Tbk
Metroplitan Kentjana Tbk
Mega Manunggal Properti Tbk
Metropolitan Land Tbk
Metro Reality Tbk
Nirvana Development Tbk
Indonesia Prima Properti Tbk
PP Properti Tbk
Plaza Indonesia Reality Tbk
Pudjiati Prestige Tbk
Pakuwon Jati Tbk
Rista Bintang Mahkota Sejati Tbk
Roda Vivatex Tbk
Pikko Land Development Tbk
Dadanayasa Arthatama Tbk
Suryamas Dutamakmur Tbk
Summarecon Agung Tbk
Sitara Propertindo Tbk
28
Lampiran 2. Rasio Profitabilitas Perusahaan Sub Sektor Properti dan Real Estate
di Bursa Efek Indonesia Tahun 2010-2015
Perusahaan
PM
ROE
ROA
ASRI
0.352123
0.176623
0.073767
CTRP
0.315594
0.06947
0.045306
GMTD
0.302649
0.232323
0.081835
JRPT
0.385515
0.19639
0.093802
JSPT
0.188912
0.115988
0.069365
LPKR
0.203753
0.103145
0.048861
MKPI
0.362332
0.224
0.137305
PUDP
0.215294
0.075441
0.054403
SMRA
0.21152
0.180969
0.065749
PROFITABILITAS
0.281966
0.152705
0.074488
Lampiran 3. Pembayaran Dividen Perusahaan Sub Sektor Properti dan Real Estate
di Bursa Efek Indonesia Tahun 2010-2015
Perusah
aan
201
0
2011
2012
2013
2014
2015
Rata-Rata
ASRI
9,602,348,38
7
71,988,300,609
120,450,895,00
0
286,881,413,000
137,545,883,0
00
137,545,883,
000
127,335,787,
166
CTRP
24,600,000,0
00
43,050,000,000
47,681,308,000
95,362,616,000
125,163,433,5
00
10,430,286,1
25
57,714,607,2
71
GMTD
3,858,444,00
0
3,858,444,000
3,858,444,000
5,076,900,000
5,076,900,000
6,599,970,00
0
4,721,517,00
0
JRPT
63,360,000,0
00
87,123,300,000
113,520,000,00
0
139,920,000,000
177,748,218,0
00
235,361,067,
000
136,172,097,
500
JSPT
13,912,416,0
00
18,549,888,000
23,187,360,000
27,824,832,000
32,462,304,00
0
37,099,776,0
00
25,506,096,0
00
LPKR
49,830,196,8
93
99,926,396,416
177,500,000,00
0
270,000,000,000
320,000,000,0
00
380,000,000,
000
216,209,432,
218
MKPI
104,301,340,
000
118,524,250,00
0
142,229,100,00
0
156,452,010,000
194,379,770,0
00
212,110,997,
800
154,666,244,
633
PUDP
560,000,000
1,400,000,000
5,600,000,000
3,696,000,000
3,954,720,000
3,954,720,00
0
3,194,240,00
0
SMRA
54,647,222,0
00
68,731,408,000
158,082,239,00
0
310,175,806,000
331,815,978,0
00
288,535,633,
000
201,998,047,
667
Lampiran 4. Harga Saham Perusahaan Sub Sektor Properti dan Real Estate di
Bursa Efek Indonesia Tahun 2010-2015
Perusahaan
2010
2011
2012
2013
2014
2015
Rata-Rata
ASRI
198.3633
350.1016
538.3846
759.3103
518.1111
499.8276
477
CTRP
337.0622
430.8143
647.7134
895.2131
757.6842
579.516
608
GMTD
151.746
601.5447
660
5239.77
7103.831
7960.536
3,620
29
JRPT
903.7295
1539.472
2670.481
2969.368
922.3372
972.682
1,663
JSPT
699.7758
641.4228
740.3846
750
750
769.1379
725
LPKR
533.7793
660.2439
841.9615
1192.375
1048.525
1178.908
909
MKPI
2791.324
2838.866
3304.615
7134.483
13578.74
15900.67
7,591
PUDP
288.0695
440.5285
610.4038
544.1379
465.7011
411.2912
460
SMRA
915.444
1110.081
1579.365
1608.161
1202.203
1629.1
1,341
Lampiran 5. Dividen Payout Ratio (DPR) Perusahaan Sub Sektor Properti dan
Real Estate di Bursa Efek Indonesia Tahun 2010-2015.
ASRI
CTRP
GMTD
JRPT
JSPT
LPKR
MKPI
PUDP
SMRA
2010
0.05
0.16
0.140
0.230
0.130
0.095
0.397
0.055
0.230
2011
0.12
0.269
0.079
0.242
0.131
0.137
0.367
0.067
0.175
2012
0.10
0.16
0.060
0.255
0.133
0.168
0.392
0.253
0.191
2013
0.26
0.229
0.055
0.246
0.171
0.222
0.43
0.145
0.563
2014
0.16
0.323
0.042
0.231
0.127
0.125
0.449
0.279
0.240
2015
0.23
0.032
0.056
0.264
0.211
0.702
0.237
0.142
0.337
30
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama Mutoharoh, lahir pada 4 Juli 1994 di Kebumen, Jawa
Tengah merupakan anak ketiga dari pasangan Bapak Turijo dan Ibu Siti
Khaeriyah. Penulis memulai pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 2 Tanahsari
Kebumen pada tahun 2000 hingga tahun 2006. Selanjutnya penulis melanjutkan
pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 06 Kebumen pada tahun 2006
hingga tahun 2009. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan Sekolah
Menengah Atas Negeri 02 Kebumen dengan jurusan Ilmu Pengetahuan Alam
pada tahun 2009 dan lulus pada tahun 2012. Pada tahun 2012 penulis diterima di
Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian
Bogor (IPB) melalui jalur Ujian Talenta Mandiri (UTM).
Selama menuntut ilmu di Institut Pertanian Bogor (IPB), penulis pernah
mengikuti ajang Pekan Kreativitas Mahasiswa bidang Kemasyarakatan (PKM-M)
pada tahun 2013 dan didanai oleh DIKTI. Pada tahun 2015, penulis pernah
mendapat juara 3 pada ajang Penggalian Ide Mahasiswa Manajemen (PIMMAN).
Selain itu, penulis mendapat amanah untuk menjadi bendahara dalam klub asrama
Garden and Decoration Club pada periode 2012 sampai 2013. Pada tahun 2013,
penulis menjadi staff magang atau on the job training (OJT) di departemen
finance himpunan profesi Centre of Management (COM@), dan pada periode
2013 sampai 2014 penulis menjadi staff tetap himpunan profesi Centre of
Management (COM@). Penulis juga mendapat beasiswa Bidikmisi pada 2012
hingga lulus.
Download