ABSTRACT Health law definitely states that food and beverages can

advertisement
ISSN : NO. 0854-2031
STUDI IMPLEMENTASI IZIN EDAR
PRODUK PANGAN INDUSTRI RUMAH TANGGA (PIRT)
DALAM MEWUJUDKAN KEAMANAN PANGAN YANG OPTIMAL
DI KOTA SEMARANG
Bambang Hermanu *
ABSTRACT
Health law definitely states that food and beverages can only be distributed in public
upon issuance of a distribution permit. Hence, prior to being permitted the food and
beverages are not allowed to be distributed in public. On the other hand, in line with
the development of society, the rapid distribution of processed food (food and
beverages), especially those produced as home industries, with or without
packaging, has caused much concerns due to violation of the distribution permit and
contamination of the products with its associated health risks in the short, medium,
and long term. Normative and empirical legal research method has been employed
for this research, using both primary and secondary data. The primary data were
collected in the field; whereas the secondary data came from primary, secondary,
and tertiary legal establishments, respectively. Results of this study showed that
implementation of a distribution permit of food and beverages produced by home
industries are in general the responsibility of the Office of Health in the City or
Regency, with the issuance of Induction Certificates and Home Industry Products
Certificates. These certificates are officially legal permits as a guarantee that the
food and beverages produced by home industries are safe; and as a protection
against food additives that could be detrimental to health. The implementation is
basically a persuasive action under the assumption of human dignity rather than
tough and normative legal procedures. Obstacles to the implementation included
factors such as economic condition, inadequate knowledge of both consumers and
producers, as well as the weak legal measures on food safety. A number of factors
were found to affect the food safety in Indonesia, i.e. food system, culture, food chain,
environment, nutrition and epidemiology. It was suggested that education for
consumers to raise awareness of food safety was of prime importance. Consumers
should be made aware and fully understand the food safety system and its associated
health risks due to insecure food safety.
Keywords : distribution permit of food and beverages, food safety, food system.
ABSTRAK
Undang-undang Kesehatan dengan tegas menentukan bahwa makanan dan
minuman hanya dapat diedarkan setelah mendapat izin edar sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan. Artinya sebelum mendapat izin edar, makanan dan
minuman tidak dapat diedarkan kepada
masyarakat. Sementara itu, dalam
* Bambang Hermanu, Dosen Fakultas Teknologi
Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian
perkembangannya di masyarakat,
Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Email :
menjamurnya peredaran produk pangan
[email protected]
HUKUM DAN DINAMIKA MASYARAKAT VOL.11 NO.2 APRIL 2014
149
Bambang Hermanu : Studi Implementasi Izin Edar Produk Pangan Industri Rumah Tangga
olahan (makanan dan minuman), khususnya yang diproduksi oleh masyarakat
sebagai usaha industri rumah tangga, baik dalam bentuk kemasan maupun non
kemasan, telah banyak menyisakan persoalan yang terkait dengan aspek
pelanggaran izin edar dan tercemarnya berbagai produk pangan olahan oleh zat-zat
yang dapat membahayakan kesehatan manusia dengan klasifikasi dampak jangka
pendek, menengah maupun jangka panjang.
Metode penelitian yang dipergunakan adalah penelitian yuridis normatif dan
empiris, dengan mempergunakan data sekunder berupa bahan hukum primer,
sekunder dan tersier serta data primer di lapangan.
Hasil penelitian yang diperoleh adalah : Bahwa implementasi izin edar
produk makanan dan minuman industri rumah tangga secara umum menjadi
tanggung jawab pihak Dinas Kesehatan Kota / Kabupaten, melalui penerbitan
Sertifikat Penyuluhan dan Sertifikat Produk Industri Rumah Tangga (PIRT).
Sertifikasi izin edar tersebut merupakan bentuk legalisasi yang dikeluarkan oleh
pihak yang berwenang untuk memberikan jaminan perlindungan kesehatan dan
keamanan pangan kepada konsumen pangan industri rumah tangga (PIRT) agar
terhindar dari bahan-bahan tambahan makanan yang berbahaya dan merugikan
kesehatan. Pelaksanaan Izin Edar Produk Makanan dan Minuman Industri Rumah
Tangga di Kota Semarang masih terbatas pada upaya-upaya pembinaan berdasarkan
prinsip-prinsip mengangkat harkat dan martabat manusia melalui pendekatan
humanis dan hati nurani, dan tidak bersifat penegakan hukum yang secara normatif
berlaku. Salah satu hal yang paling penting dilakukan dalam kaitan ini adalah
pendidikan keamanan pangan untuk konsumen guna meningkatkan kesadaran
masyarakat. Mereka harus tahu dan memahami tentang sistem keamanan pangan,
juga potensi-potensi penyakit yang membahayakan kesehatan, karena tidak terjamin
keamanan pangannya.
Kata kunci : Izin Edar PIRT, Keamanan Pangan, Sistem pangan
PENDAHULUAN
Makanan adalah kebutuhan dasar
manusia yang paling hakiki. Oleh karena itu
pemenuhan akan kebutuhannya merupakan
hak asasi setiap orang. Dalam hal ini yang
dimaksud dengan makanan adalah segala
sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan
air, baik yang diolah maupun tidak diolah,
yang diperuntukkan sebagai makanan
maupun minuman bagi manusia, termasuk
bahan makanan tambahan, bahan baku
makanan, dan bahan lain yang digunakan
dalam proses penyinaran, pengolahan dan
1 Sukiman Said Umar. Peraturan Perundangundangan Bidang Keamanan Pangan. Makalah
disampaikan pada Pelatihan TOT Keamanan
Pangan untuk Petugas Dinas Kesehatan se
Provinsi Sumatera Utara, tanggal 5 – 10 Mei
2003, hal 1
150
atau pembuatan makanan dan minuman1.
Suatu produk makanan dan
minuman untuk sampai kepada konsumen
tidak terjadi secara langsung tetapi melalui
jalur pemasaran yaitu pelaku usaha atau
media perantara. Akibat proses industriali
sasi dalam memproses produk makanan
dan minuman timbul permasalahan hukum
sehubungan dengan adanya barang-barang
atau produk makanan dan minuman yang
cacat dan berbahaya yang merugikan
konsumen, baik dalam arti finansial
maupun non finansial bahkan kerugian
jiwa2.
2 Sukiman Said Umar. Peraturan Perundang-
undangan Bidang Keamanan Pangan. Makalah
disampaikan pada Pelatihan TOT Keamanan
Pangan untuk Petugas Dinas Kesehatan se
Provinsi Sumatera Utara, tanggal 5 – 10 Mei
2003, hal 1
HUKUM DAN DINAMIKA MASYARAKAT VOL.11 NO.2 APRIL 2014
Bambang Hermanu : Studi Implementasi Izin Edar Produk Pangan Industri Rumah Tangga
Para pakar kesehatan mengatakan,
bahwa kesehatan seseorang ditentukan oleh
apa yang ia makan dan minum. Pernyataan
tersebut sulit dibantah, karena secara nyata
memang membuktikan apa yang kita
makan dan minum menentukan kualitas
kesehatan kita. Jika makanan dan minuman
tidak memenuhi standar dan/atau persyarat
an kesehatan, maka tidak diragukan lagi
kualitas kesehatan kita buruk. Sebaliknya
jika kita selalu mengkonsumsi makanan
dan minuman yang memenuhi standar
kesehatan, dapat dipastikan kualitas
kesehatan kita terjamin3.
Dalam pasal 111 Undang-undang
Nomor. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
lebih ditegaskan, bahwa :
1. Makanan dan minuman yang diperguna
kan untuk masyarakat harus didasarkan
pada standar dan/atau persyaratan
kesehatan.
2. Makanan dan minuman hanya dapat
diedarkan setelah mendapat izin edar
sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Dengan demikian, Undang-undang
Kesehatan dengan tegas menentukan
bahwa makanan dan minuman hanya dapat
diedarkan setelah mendapat izin edar sesuai
dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Artinya sebelum mendapat izin
edar, makanan dan minuman tidak dapat
diedarkan kepada masyarakat.
Industri rumah tangga makanan
dan minuman merupakan salah satu
industri yang sangat potensial dan memiliki
prospek yang baik untuk ditumbuh
kembangkan. Hal ini dibuktikan dengan
banyaknya industri rumah tangga yang
tersebar secara luas di seluruh pelosok
tanah air meski dalam jenis dan skala usaha
yang berbeda-beda.
Faktor yang mendukung tumbuh
kembangnya industri rumah tangga adalah
bahwa industri tersebut hampir 100%
menggunakan bahan baku yang tersedia di
dalam negeri, dipasarkan dalam negeri,
dikonsumsi oleh masyarakat secara luas
d an memberikan konstribusi bagi
pengembangan ekonomi masyarakat kecil
dan menengah.
Dalam upaya menumbuh kembang
kan industri tersebut, maka pemerintah
melalui berbagai instansi terkait melakukan
berbagai upaya pembinaan, baik yang
bersifat teknis produksi, manajemen
pemasaran maupun melalui peraturan yang
ada untuk menjamin tersedianya pangan
bagi masyarakat.
Berdasarkan Undang-undang RI
Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan
mengatur bahwa tujuan pengaturan,
pembinaan dan pengawasan pangan adalah
untuk tersedianya pangan yang memenuhi
persyaratan keamanan, mutu dan gizi bagi
kepentingan kesehatan manusia. Meng
ingat hal tersebut diatas maka SP-IRT
(Sertifikat Produksi Industri Rumah
Tangga) dan izin Dinas Kesehatan sangat
dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas
Industri Rumah Tangga pangan, meletak
kan Industri Rumah Tangga pangan dalam
posisi strategis dan sehat.
Undang-undang Nomor 8 Tahun
1999 tentang Perlindungan Konsumen
(selanjutnya disebut Undang-undang
Perlindungan Konsumen) ini dapat
dijadikan payung (umbrella act) bagi
perundang-undangan lain yang bertujuan
untuk melindungi konsumen, baik yang
sudah ada maupun yang masih akan dibuat
4
nanti .
Menurut Nurmadjito, larangan
yang dimaksudkan untuk mengupayakan
agar setiap barang dan/atau jasa yang
beredar di masyarakat merupakan produk
yang layak edar, antara lain asal usul,
kualitas sesuai dengan informasi pengusaha
baik melalui label, etiket, iklan, dan lain
sebagainya5.
3 Muhammad Eggi H. Suzetta. Pengetahuan
Hukum Untuk Konsumen, http://www.pikiran
rakyat.com/cetak/1204/20/teropong/konsulhukum.htm. 2003-2004, hal 1
4 Janus Sidabalok. Hukum Perlindungan Konsumen di
Indonesia. PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2010, hal
50
HUKUM DAN DINAMIKA MASYARAKAT VOL.11 NO.2 APRIL 2014
151
Bambang Hermanu : Studi Implementasi Izin Edar Produk Pangan Industri Rumah Tangga
Adanya undang-undang yang
mengatur perlindungan konsumen tidak
dimaksudkan untuk mematikan usaha para
pelaku usaha. Undang-undang Perlindung
an Konsumen justru bisa mendorong iklim
usaha yang sehat serta mendorong lahirnya
perusahaan yang tangguh dalam meng
hadapi persaingan yang ada dengan
menyediakan barang/jasa yang berkualitas.
Dalam penjelasan umum Undang-undang
Perlindungan Konsumen disebutkan bahwa
dalam pelaksanaannya akan tetap memer
hatikan hak dan kepentingan pelaku usaha
kecil dan menengah6.
Dalam kondisi sekarang ini,
masyarakat sering dikejutkan dengan
adanya pemberitaan di berbagai media
massa bahwa banyak produk, terutama
makanan yang sering dikonsumsi seharihari mengandung bahan-bahan yang
berbahaya bagi kesehatan, seperti adanya
kandungan formalin atau bahan pengawet
makanan lainnya. Keamanan pangan di
Indonesia masih jauh dari keadaan aman,
yang dapat dilihat dari peristiwa keracunan
makanan yang banyak terjadi beberapa
waktu terakhir ini.
Dalam kondisi demikian konsumen
pada umumnya belum mem punyai
kesadaran tentang keamanan makanan
yang mereka konsumsi, sehingga belum
banyak konsumen yang menuntut produsen
makanan tersebut. Hal ini pula yang
menyebabkan produsen makanan semakin
mengabaikan keselamatan konsumen demi
memperoleh keuntungan yang sebesarbesarnya.
Selanjutnya secara lebih khusus,
menu rut P er at uran Kepal a Badan
Pengawas Obat dan Makanan Republik
Ind onesi a, t ahun 200 9, Nom or :
HK.00.05.1.23.3516 tentang Izin Edar
produk obat, obat tradisional, kosmetik,
Suplemem Makanan dan makanan yang
5 Miru, Ahmadi dan Sutarman Yodo. Hukum
Perlindungan Konsumen. PT. Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 2008.hal 65
6 Happy Susanto. Hak-hak Konsumen Jika
Dirugikan. Visi Media, Jakarta, 2008, hal 4
152
bersumber, mengandung dari bahan
tertentu dan atau mengandung alkohol,
ditegaskan pada pasal 6, yaitu :
(1) Produk makanan dan minuman yang
bersumber, mengandung, atau berasal
dari bahan tertentu tidak diberikan izin
edar.
(2) Dikecualikan dari ketentuan sebagai
mana dimaksud pada ayat (1), produk
makanan dan minuman yang ber
sumber, mengandung, atau berasal dari
babi, dapat diberikan izin edar dengan
ketentuan harus memenuhi persyaratan
tentang keamanan, mutu, gizi dan
persyaratan label makanan
Dari kedua ketentuan tersebut di
atas, dapat dianalogikan bahwa setiap
mengedarkan produk makanan dan minum
an (pangan olahan) termasuk produk
industri rumah tangga untuk kepentingan
dijual (dikonsumsi masyarakat luas), maka
atas dasar kepentingan keamanan pangan
dan perlindungan konsumen, harus
memiliki surat izin edar produk makanan
dan minuman dimaksud.
Salah satu masalah yang timbul
dalam masyarakat yakni banyaknya
beredar produk industri rumah tangga yang
tidak memiliki izin dari Dinas Kesehatan.
Kebanyakan dari pelaku usaha industri
rumah tangga menyadari hal tersebut tetapi
karena usaha mereka sudah berjalan maka
banyak pelaku usaha industri rumah tangga
mengelabuhi aparat kepolisian dan BPOM.
Sehingga banyak ditemui produk pangan
yang tidak memenuhi persyaratan mutu dan
keamanan pangan (Bahan Tambahan
Pangan, cemaran mikroba, tanggal
kadaluarsa), masih banyak kasus ke
racunan, masih rendahnya pengetahuan,
keterampilan dan tanggungjawab produsen
pangan tentang mutu dan keamanan pangan
serta rendahnya kepedulian konsumen itu
sendiri. Untuk itu suatu produk industri
rumah tangga khususnya produk pangan
harus sesuai dengan standar agar aman
dikonsumsi.
Produk industri rumah tangga yang
HUKUM DAN DINAMIKA MASYARAKAT VOL.11 NO.2 APRIL 2014
Bambang Hermanu : Studi Implementasi Izin Edar Produk Pangan Industri Rumah Tangga
telah memiliki izin dari Dinas Kesehatan
berarti produk tersebut telah sesuai standar
atau persyaratan, keamanan, mutu, serta
manfaat dari produk tersebut. Sebaliknya,
produk industri rumah tangga yang tidak
memiliki izin Dinas Kesehatan baik itu
berupa produk makanan maupun minuman
tentu saj a bel um melewati tahap
pemeriksaan oleh pihak yang berwenang
memeriksanya.
Produk industri rumah tangga yang
tidak memiliki izin edar dari Dinas
Kesehatan jika dikonsumsi oleh konsumen
dapat menyebabkan kerugian, baik
kerugian secara materi maupun psikis. Hal
ini tentu saja merugikan konsumen sebagai
pihak yang membutuhkan dan meng
konsumsi produk industri rumah tangga.
Berdasarkan data dari BPOM
sampai tahun 2012 diindikasikan masih
banyak ditemukan produk pangan olahan
dalam negeri, khususnya produk industri
rumah tangga yang tidak berizin. Produkproduk pangan ilegal tersebut, setelah
dilakukan pemeriksaan ternyata tidak
terdaftar dan tidak memiliki izin edar.
Artinya, bahwa produk-produk tersebut
tidak melalui proses evaluasi keamanan,
manfaat dan mutu, dan hal ini sangat
berbahaya bagi konsumen. Oleh karena itu
kecermatan konsumen diperlukan agar
tidak membeli dan mengkonsumsi produk
pangan tanpa nomor izin edar dari BPOM7.
Berdasarkan uraian latar belakang
di atas, perlu dilakukan penelitian dengan
judul Studi Implementasi Izin Edar Produk
Pangan Industri Rumah Tangga (Pirt)
Dalam Mewujudkan Keamanan Pangan
Yang Optimal Di Kota Semarang.
Dari latar belakang yang telah
diuraikan di atas, dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimanakah implementasi izin edar
7 Data diperoleh berdasarkan sumber dari: Unit
Layanan Pengaduan Konsumen BPOM, dengan
nomor telp. 021 – 4263333, 32199000, sms ke
N o . H P 0 8 1 5 11 9 9 7 7 7 2 a t a u e m a i l
[email protected] dan ulpkbada npom@
yahoo.com.
produk makanan dan minuman industri
rumah tangga dalam mewujudkan
keamanan pangan ?
2. Bagaimanakah implementasi izin edar
produk makanan dan minuman industri
rumah tangga serta pengawasannya
dalam mewujudkan keamanan pangan
di Kota Semarang ?
3. Faktor-faktor apa saja yang menjadi
kendala dalam implementasi izin edar
produk makanan dan minuman guna
mewujudkan keamanan pangan ?
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian
hukum yang menggunakan pendekatan
yuridis normatif dan yuridis empirik guna
m el ihat kondi si riil y ang terj ad i
berdasarkan fakta yang diambil dari
sumbernya, untuk mengetahui ketentuan
yang berkaitan dengan implementasi izin
edar produk makanan dan minuman dalam
mewujudkan keamanan pangan.
Adapun populasi yang dijadikan
sampel adalah sebanyak 50 orang pelaku
usaha tempe, aneka kerupuk/keripik, aneka
kue basah/kering, aneka manisan, di Kota
Semarang.
Data yang telah tersusun secara
sistematik akan dianalisis dengan meng
gunakan metode analisis normatif kuali
tatif, sedangkan analisis empiris kualitatif
adalah melakukan analisis terhadap
implementasi izin edar produk makanan
d an minuman dalam mewujudkan
keamanan pangan.
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Pengertian Implementasi, Izin Edar dan
Keamanan Pangan
Menurut Nurdin Usman dalam
b u k u n y a y a n g b e r j ud u l K o n t e k s
Impl ementasi Berbasis Kurikulum
HUKUM DAN DINAMIKA MASYARAKAT VOL.11 NO.2 APRIL 2014
153
Bambang Hermanu : Studi Implementasi Izin Edar Produk Pangan Industri Rumah Tangga
mengemukakan pendapatnya mengenai
implementasi atau pelaksanaan sebagai
berikut : “Implementasi adalah bermuara
pada aktivitas, aksi, tindakan, atau adanya
mekanisme suatu sistem. Implementasi
bukan sekedar aktivitas, tetapi suatu
kegiatan yang terencana dan untuk
mencapai tujuan kegiatan”9.
Pengertian implementasi yang
dikemukakan di atas, dapat dikatakan
bahwa implementasi adalah bukan sekedar
aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang
terencana dan dilakukan secara sungguhsungguh berdasarkan acuan norma tertentu
untuk mencapai tujuan kegiatan. Oleh
karena itu implementasi tidak berdiri
sendiri tetapi dipengaruhi oleh objek
berikutnya. Menurut Guntur Setiawan,
Implementasi adalah perluasan aktivitas
yang saling menyesuaikan proses interaksi
antara tujuan dan tindakan untuk
mencapainya serta memerlukan jaringan
pelaksana, birokrasi yang efektif 10.
Berdasarkan Peraturan Kepala
Badan Pengawas Obat dan Makanan
Nomor. HK. 00.05.1.23.35.3516 tentang
Izin Edar Produk Obat, Obat Tradisional,
Kosmetik, Suplemen Makanan dan
Makanan yang Bersumber, Mengandung
dari Bahan Tertentu dan atau Mengandung
Alkohol. Pasal 1 (1), bahwa Izin Edar
adalah bentuk persetujuan registrasi bagi
produk obat, obat tradisional, kosmetik,
suplemen makanan, dan makanan yang
dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat
dan Makanan Republik Indonesia agar
produk tersebut secara sah dapat diedarkan
di wilayah Indonesia.
Produk menurut Kotler : “A product
9
Nurdin Usman. Konteks Implementasi Berbasis
Kurikulum. Rosda Karya, Bandung, 2002. hal
70.
10 Guntur Setiawan. Implementasi Dalam
Birokrasi Pembangunan. Ghalia Indonesia.
Jakarta, 2004, hal 39.
154
is anything that can be offered to a market
for attention, acquisition, use or
consumption and that might satisfy a want
or need”, yang berarti produk adalah apa
saja yang dapat ditawarkan ke dalam pasar
untuk memperoleh suatu perhatian,
permintaan, pemakaian atau konsumsi yang
mungkin dapat memuaskan dan memenuhi
sebuah keinginan atau pun kebutuhan.
Sedangkan jika dikaitkan dengan makanan
dan minuman, maka pengertian produk
makanan dan minuman dapat diartikan
sebagai hasil olahan yang berasal dari
bahan baku makanan dan atau minuman
yang dapat ditawarkan ke dalam pasar
untuk memperoleh suatu perhatian,
permintaan, pemakaian atau konsumsi yang
mungkin dapat memuaskan dan memenuhi
sebuah keinginan atau pun kebutuhan.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2004
tentang keamanan, mutu, gizi dan pangan
Pasal 1 angka 16 dijelaskan mengenai
Industri Rumah Tangga bahwa, Industri
Rumah Tangga pangan adalah perusahaan
pangan yang memiliki tempat usaha di
tempat tinggal dengan peralatan pengolah
an pangan manual hingga semi otomatis.
Adapun pengertian Keamanan
Pangan adalah kondisi dan upaya yang
diperlukan untuk mencegah pangan dari
kemungkinan cemaran biologis, kimia dan
benda lain yang dapat mengganggu,
merugikan dan membahayakan kesehatan
manusia. Pangan yang aman serta bermutu
dan bergizi tinggi penting perannya bagi
pertumbuhan, pemeliharaan dan peningkat
an derajat kesehatan serta peningkatan
11
kecerdasan masyarakat .
Tinjauan Izin Edar Produk Makanan
dan Minuman Industri Rumah Tangga
11 A. Nasution. Analisa Kandungan Boraks pada
Lontong di Kelurahan Padang Bulan Kota
Medan Tahun 2009. Dipublikasi. Fakultas
Kesehatan Masyarakat. Universitas Sumatra
Utara. Medan. 2009, hal 6
HUKUM DAN DINAMIKA MASYARAKAT VOL.11 NO.2 APRIL 2014
Bambang Hermanu : Studi Implementasi Izin Edar Produk Pangan Industri Rumah Tangga
Berdasarkan Peraturan Kepala
Badan Pengawas Obat dan Makanan
Republik Indonesia Nomor :
HK.00.05.1.23.3516, tahun 2009 tentang
Izin Edar Produk Obat, Obat Tradisional,
Kosmetik, Suplemen Makanan dan
Makanan yang Bersumber, Mengandung,
dari Bahan Tertentu dan atau Mengandung
Alkohol, dapat dikemukakan sebagai
berikut :
Dasar pertimbangan diterbitkannya
peraturan tersebut adalah :
a. Bahwa masyarakat perlu dilindungi
dari penggunaan obat, obat tradisional,
kosmetika, suplemen makanan, dan
makanan yang secara ilmiah tidak
memenuhi persyaratan keamanan,
mutu, dan manfaat;
b. Bahwa ada produk obat, obat· tradisi
onal, kosmetik, suplemen makan an
dan makanan yang bersumber,
mengandung atau berasal dari bahan
tertentu yang secara syariah meng
andung unsur bahan tidak halal dan
tidak lazim digunakan oleh masyarakat
Indonesia yang mayoritas beragama
Islam;
c. Bahwa untuk melaksanakan peng
awasan obat dan makanan perlu
dilakukan pengaturan izin edar ter
hadap produk obat, obat tradisional,
kosmetik, suplemen makanan dan
makanan yang bersumber, meng
andung atau berasal dari bahan tertentu
dan atau mengandung alkohol;
d. Bahwa Keputusan Kepala Badan
Pengawas Obat dan Makanan Nomor
HK.00.05.23.0131 Tahun 2003 tentang
Pencantuman Asal Bahan Tertentu,
Kandungan Alkohol, dan Batas
Kadaluwarsa Pada Penandaan/Label
Obat, Obat Tradisional, Suplemen
Makanan, dan Pangan sudah tidak
sesuai lagi dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi sehingga
perlu disempurnakan;
e. Bahwa berdasarkan pertimbangan
sebagaimana dimaksud dalam huruf a,
huruf b, huruf c dan huruf d, perlu
menetapkan Peraturan Kepala Badan
Pengawas Obat dan Makanan tentang
Izi n Edar Produk Obat, Obat
Tradisional, Kosmetik, Suplemen
Mak ana n, da n Ma kanan yang
Bersumber, Mengandung, dari Bahan
Tertentu dan atau Mengandung
Alkohol;
Pelanggaran terhadap ketentuan
dalam peraturan ini dapat dikenai sanksi
Administratif berupa:
a. peringatan tertulis sebanyak 3 (tiga)
kali;
b. penghentian sementara kegiatan
produksi dan distribusi;
c. pembekuan dan/atau pembatalan Surat
persetujuan;
d. penarikan produk dari peredaran dan
pemusnahan.
Selain dapat dikenai sanksi
adminstratif sebagaimana dimaksud, dapat
pula dikenai sanksi pidana sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan yang
berlaku ( pasal 7 ayat 1 dan 2).
Undang-Undang Nomor 18 Tahun
2012 tentang Pangan, pada dasarnya
mengatur tentang pangan, khususnya yang
terkait dengan kesehatan pangan dan
keselamatan manusia. Di samping itu
undang-undang tersebut juga memberikan
rambu-rambu tentang bagaimana suatu
bahan pangan diproduksi dan diperdagang
kan. Selain obat-obatan, makanan juga
dapat memiliki dua fungsi yaitu sebagai
makanan, tetapi dalam hal lain dapat
menyebabkan keracunan, walaupun tidak
separah akibat salah penggunaan obat.
Makanan yang busuk dapat menimbulkan
akibat yang fatal seperti muntah, buangbuang air bahkan dapat menimbulkan
kematian. Oleh karena itu, perlu adanya izin
dari Kementerian Kesehatan bagi produsen
yang memproduksi bahan pangan/
makanan, agar tidak beredar makanan yang
tidak baik/buruk kualitasnya untuk
dikonsumsi oleh masyarakat.
HUKUM DAN DINAMIKA MASYARAKAT VOL.11 NO.2 APRIL 2014
155
Bambang Hermanu : Studi Implementasi Izin Edar Produk Pangan Industri Rumah Tangga
Tinjauan Yuridis Izin Edar Produk
Makanan dan Minuman
Berdasarkan Pasal 46 Undangundang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan, menyatakan bahwa untuk
mewujudkan derajat kesehatan yang
setinggi-tingginya bagi masyarakat, di
selenggarakan upaya kesehatan yang
terpadu dan menyeluruh dalam bentuk
upaya kesehatan perseorangan dan upaya
kesehatan masyarakat.
Pasal 47 menegaskan pula upaya
kesehatan diselenggarakan dalam bentuk
kegiatan dengan pendekatan promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang
dilaksanakan secara terpadu, menyeluruh,
dan berkesinambungan. Sedangkan pada
pasal 48 ayat (1) menekankan penyeleng
garaan upaya kesehatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 47 dilaksanakan
melalui kegiatan yang salah satunya adalah
pengamanan makanan dan minuman,
sebagaimana disebutkan dalam huruf o.
Selanjutnya pada bagian keenam
belas Undang-undang Nomor 36 Tahun
2009 tentang Kesehatan, yang secara
khusus mengatur tentang Pengamanan
Makanan dan Minuman, lebih ditegaskan
dalam pasal 109 sampai dengan 112,
sebagai berikut :
a. Pasal 109, menyatakan bahwa : Setiap
orang dan/atau badan hukum yang
memproduksi, mengolah, serta men
distribusikan makanan dan minuman
yang diperlakukan sebagai makanan
dan minuman hasil teknologi rekayasa
genetik yang diedarkan harus men
jamin agar aman bagi manusia, hewan
yang dimakan manusia, dan
lingkungan.
b. Pasal 110, menyatakan bahwa : Setiap
orang dan/atau badan hukum yang
memproduksi dan mempromosikan
produk makanan dan minuman
dan/atau yang diperlakukan sebagai
makanan dan minuman hasil olahan
156
teknologi dilarang menggunakan katakata yang mengecoh dan/atau yang
disertai klaim yang tidak dapat
dibuktikan kebenarannya.
c. Pasal 111 ayat (1) menyebutkan :
Makanan dan minuman yang diper
gunakan untuk masyarakat harus
didasarkan pada standar dan / atau
persyaratan kesehatan; ayat (2)
Makanan dan minuman hanya dapat
diedarkan setelah mendapat izin edar
sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan ; sedangkan ayat
(3) secara lebih khusus menekankan
pada setiap makanan dan minuman
yang dikemas wajib diberi tanda atau
label yang berisi : Nama produk, Daftar
bahan yang digunakan, Berat bersih
atau isi bersih, Nama dan alamat pihak
yang memproduksi atau memasukkan
memasukan makanan dan minuman
kedalam wilayah Indonesia serta
Tanggal, bulan dan tahun kadaluwarsa.
Ayat (4) : Pemberian tanda atau label
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus dilakukan secara benar dan
akurat. Ayat (5) Ketentuan lebih lanjut
mengenai tata cara pemberian label
sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
dilakukan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundangundangan. Ayat
(6) Makanan dan minuman yang tidak
m e m e nu h i k e t e n t ua n s t a n d a r,
persyaratan kesehatan, dan/atau
membahayakan kesehatan sebagai
mana dimaksud pada ayat (1) dilarang
untuk diedarkan, ditarik dari peredaran,
dicabut izin edar dan disita untuk
dimusnahkan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
d. Pasal 112, menegaskan bahwa
Pemerintah berwenang dan ber
tanggung jawab mengatur dan meng
awasi produksi, pengolahan, pen
distribusian makanan, dan minuman
sebagaimana dimaksud dalam Pasal
109, Pasal 110, dan Pasal 111.
Sementara itu, UU No. 18 Tahun
HUKUM DAN DINAMIKA MASYARAKAT VOL.11 NO.2 APRIL 2014
Bambang Hermanu : Studi Implementasi Izin Edar Produk Pangan Industri Rumah Tangga
2012 tentang Pangan pasal 10 ayat (1)
menjelaskan bahwa setiap orang yang
memproduksi pangan untuk diedarkan
dilarang menggunakan bahan apa pun
sebagai bahan tambahan pangan yang
dinyatakan terlarang melampaui ambang
batas maksimal yang ditetapkan. Ketentuan
pasal 10 ayat (1) ini, jika dihubungkan
dengan pasal 16 ayat (1) memiliki substansi
pernyataan yang hampir sama, hanya saja
berbeda pada objek larangan berupa
penggunaan bahan tambahan pangan dan
kemasan pangan yang dinyatakan terlarang
karena berbahaya bagi kesehatan.
Akhirnya, pasal 20 ayat (1)
menegaskan bahwa setiap orang yang
memprodukasi pangan untuk diperdagang
kan wajib menyelenggarakan sistem
jaminan mutu, sesuai dengan jenis pangan
yang diproduksi. Pernyataan tersebut lebih
menegaskan pada ketentuan yang harus
dilaksanakan sebagai suatu kewajiban dari
para pelaku usaha dalam merealisasikan
komitmen tentang jaminan mutu pangan.
Gambaran Umum tentang Keberadaan
Pangan dan Peredarannya di Indonesia
Dewasa Ini
Penyediaan makanan dan minuman
yang aman, bergizi dan cukup merupakan
strategi yang penting untuk mencapai
sasaran dalam bidang kesehatan. Mutu dan
keamanan pangan tidak hanya berpengaruh
langsung terhadap produktivitas ekonomi
dan perkembangan sosial baik individu,
masyarakat dan negara, Selain itu
persaingan internasional yang semakin
ketat dalam bidang perdagangan makanan
menuntut diproduksinya makanan yang
lebih bermutu, aman dan sehat, dalam
rangka meningkatkan kesadaran, kemauan
dan kemampuan hidup sehat secara adil dan
merata12.
Belajar dari beberapa kasus yang
terjadi dewasa ini, menunjukkan bahwa
banyaknya produk pangan olahan industri
rumah tangga yang tidak memiliki izin edar,
produsen cenderung semakin tidak
mempedulikan kepentingan kesehatan
konsumen karena tidak adanya kontrol
mutu dan keamanan produk pangan olahan
yang dibuatnya. Standar pembuatan
makanan yang dijual bebas kepada anakanak khususnya juga tidak diketahui,
sehingga kita tidak tahu tingkat kebersihan
dan higinitasnya, karena tidak adanya
perhatian dari konsumen, produsen
maupun para penjual. Sebagai konsumen,
mereka seakan-akan menerima begitu saja
semua yang dijajakan oleh para pedagang,
sementara pedagang juga tidak mem
pedulikan segala resiko yang terjadi13.
Dalam kerangka inilah, maka
diperlukan suatu lembaga pendidikan dan
penelitian, mutu, gizi dan keamanan
pangan yang mumpuni. Lembaga ini
diharapkan bisa melakukan kajian-kajian
resiko dalam kaitannya dengan mutu dan
keamanan pangan, sehingga hasilnya bisa
digunakan untuk keperluan pengambilan
keputusan yang sahih. Lembaga demikian
bisa diarahkan untuk berperan aktif dalam
mengembangkan sistem kemitraan antara
semua pemangku kepentingan (peme
rintah, industri dan masyarakat) khususnya
untuk membangun basis ilmiah tentang
mutu dan keamanan pangan.
a. Masalah Keamanan Pangan
Makanan olahan yang dipasarkan
dengan harga sangat murah di sekolahsekolah dan di warung-warung serta
pedagang asongan di wilayah miskin dapat
dipastikan sebagian besar tidak aman. Bagi
para petugas gizi dan kesehatan, masalah
makanan dan jajanan yang tidak aman di
12 Soekirman, Beberapa Masalah Upaya
Meningkatkan Mutu, Gizi dan Keamanan
Pangan, Depatemen Gizi Masyarakat, Fakultas
Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor
(IPB). 2009, hal 9.
13 Winiati Pudji Rahayu dan Roy Sparingga,
Tantangan Keamanan Pangan Indonesia,
Strategi dan Program Surveilan Keamanan
Pangan, Prosiding Widyakarya Nasional
Pangan dan Gizi VIII, LIPI Jakarta, 2004. hal.
57.
HUKUM DAN DINAMIKA MASYARAKAT VOL.11 NO.2 APRIL 2014
157
Bambang Hermanu : Studi Implementasi Izin Edar Produk Pangan Industri Rumah Tangga
wilayah miskin seperti buah simalakama,
jika diungkapkan dan ditindak akan
dianggap salah, karena akan menyangkut
kehidupan ekonomi rakyat miskin yang
berdampak luas. Namun jika kondisi
tersebut dibiarkan dalam pengertian tidak
dilakukan pengungkapan dan penindakan
secara tegas juga dianggap salah, karena
dapat membahayakan kesehatan
konsumen, khususnya yang berkaitan
dengan keamanan pangan karena peng
gunaan pengawet, pewarna dan bahanbahan logam berbahaya. Dalam kondisi
yang demikian ini, seharusnya diperlukan
penelitian yang lebih agresif dan inovatif
un tuk m enggant ikan bah an- bahan
berbahaya tersebut dengan bahan-bahan
lain yang tidak berbahaya dan terjangkau
oleh kemampuan produsen kecil maupun
konsumen miskin. Di samping itu,
pendidikan dan pelatihan kepada produsen
usaha kecil agar tidak menggunakan bahan
yang tidak berbahaya tidak akan efektif,
jika tanpa dibarengi solusi alternatif
pengganti yang terjangkau daya beli
mereka14.
Masalah keamanan pangan bagi
golongan masyarakat menengah ke atas,
yang antara lain sudah di atur dalam
peraturan perundangan tentang label,
terletak lebih banyak pada tindakan hukum
atau “ law enforcement”, di samping
pendidikan dan penyuluhan.
b. Tugas dan Fungsi Badan POM
Fungsi pengawasan Badan POM
terhadap peredaran produk pangan olahan
meliputi keseluruhan jenis produk pangan,
termasuk produk PIRT yang izin edarnya
dikelola kewenangannya oleh Dinas
Kesehatan Kota/Kabupaten.
Jadi, secara operasional di lapangan
meskipun kewenangan dalam menerbitkan
izin edar dalam bentuk sertifikat produk dan
14 Winarno, F.G. Kimia Pangan dan Gizi,
Gramedia Pustaka, Jakarta, 1997. hal 13
158
sertifikat penyuluhan ada pada pihak Dinas
Kesehatan Kota/Kabupaten, namun dalam
hal pelaksanaan pengawasan maupun
pemeriksaan produk PIRT menjadi
tanggung jawab bersama-sama secara
sinergis dalam rangka untuk mengoptimal
kan kinerja secara efektif. Beberapa temuan
yang diperoleh oleh Badan POM yang
terkait dengan PIRT akan dikoordinasikan
dengan Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten,
demikian pula sebaliknya.
Badan POM Kota Semarang, yang
merupakan institusi setingkat provinsi
dalam membantu dan bekerjasama dengan
Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten,
misalnya dalam rangka pembinaan para
petugas/pegawai DKK guna lebih
meningkatkan keahliannya di bidang
penguasaan materi keamanan pangan untuk
kepentingan penyuluhan yang harus
dipahami oleh pelaku usaha PIRT sebagai
syarat untuk mendapatkan sertifikat
penyuluhan. Para petugas/pegawai DKK
tersebut setelah mendapat pembinaan dari
Badan POM, selanjutnya akan bertugas
sebagai penyuluh keamanan pangan di
lingkungan DKK Kota/Kabupaten masing15
masing .
c. Sistem Keamanan Pangan Terpadu
(SKPT)
Penjaminan ketahanan pangan
suatu negara akan tercermin dari
dipenuhinya beberapa indikator ketahanan
pangan. Indikator tersebut antara lain
adalah faktor ketersediaan, kemudahan,
kenyamanan dan keamanan pangannya.
M enda pat kan panga n ya ng am a n
merupakan hak asasi setiap individu
(WHO, 1992). Pangan adalah segala
sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan
air, baik yang diolah maupun yang tidak
15 Hasil wawancara dengan Ibu Rustyawati, Kabid
Pengawasan dan Penyidikan pada Balai Besar
Badan POM Kota Semarang, tanggal 12
September 2012.
HUKUM DAN DINAMIKA MASYARAKAT VOL.11 NO.2 APRIL 2014
Bambang Hermanu : Studi Implementasi Izin Edar Produk Pangan Industri Rumah Tangga
diolah, yang diperuntukkan sebagai
makanan atau minuman bagi konsumsi
manusia, termasuk bahan tambahan
pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain
yang digunakan dalam proses penyiapan,
pengolahan dan atau pembuatan makanan
atau minuman (PP No. 28 tahun 2004,
tentang Keamanan Pangan, Mutu dan Gizi
Pangan). Dengan demikian penjaminan
keamanan pangan harus dimulai sejak
pangan diproduksi di lahan hingga siap
dikonsumsi. Hal ini tentu saja bukan
merupakan sesuatu yang mudah dilakukan
kecuali bila penanganannya dilakukan
berdasarkan strategi penanganan pangan
yang tepat. Sistem Keamanan Pangan
Terpadu adalah forum komunikasi antar
instansi baik pemerintah, produsen maupun
konsumen yang dikembangkan berdasar
kan analisis resiko. Dalam sistem
keamanan pangan terpadu terdapat 3
jejaring yaitu Jajaring Intelijen Pangan,
Jejaring Pengawasan Pangan dan Jejaring
Promosi Keamanan Pangan16.
d. Izin Edar Produk PIRT (Pangan
Industri Rumah Tangga)
Untuk memperoleh sertifikasi
sistem mutu produk pada industri makanan
dan minuman rumah tangga, tahapan yang
perlu dilakukan adalah mengurus izin edar
sebagai jaminan bahwa usaha makanan dan
minuman rumahan yang akan dijual
memenuhi standar keamanan makanan.
Karena usaha ini dimulai dari rumah maka
yang perlu dilakukan adalah mendaftarkan
PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) ke
Dinas Kesehatan di masing-masing
wilayah kabupaten / Kota atau Provinsi.
Selanjut nya, setelah men gisi
formulir pendaftaran, pihak Dinas
Kesehatan akan mengadakan survei secara
langsung ke lokasi tempat pembuatan
makanan kecil yang didaftarkan. Setelah
survei dilakukan dan semuanya berjalan
16 Sudaryatmo, Masalah Perlindungan Konsumen
di Indonesia, Grafika, Jakarta. 1996, hal 34
dengan lancar maka surat PIRT akan
dikeluarkan dalam waktu dua minggu.
Selain itu akan diberikan penyuluhan
kepada pengusaha, bagaimana cara
pengawetan makanan dan cara penulisan
nomor registrasi serta informasi yang
lainnya.
KESIMPULAN
Bahwa implementasi izin edar
produk makanan dan minuman industri
rumah tangga secara umum menjadi
tanggung jawab pihak Dinas Kesehatan
Kota / Kabupaten, melalui penerbitan
Sertifikat Penyuluhan dan Sertifikat Produk
Industri Rumah Tangga (PIRT). Sertifikasi
izin edar tersebut merupakan bentuk
legalisasi yang dikeluarkan oleh pihak yang
berwenang untuk memberikan jaminan
perlindungan kesehatan dan keamanan
pangan kepada konsumen pangan industri
rumah tangga (PIRT) agar terhindar dari
bahan-bahan tambahan makanan yang
berbahaya dan merugikan kesehatan.
Keuntungan dengan diterbitkannya
sertifikasi tersebut di atas adalah bahwa
produk pangan hasil usaha industri rumah
tangga yang akan dipasarkan menjadi lebih
terjamin keamanannya untuk dikonsumsi.
Konsekuensi sebagai produk pangan
olahan IRT dalam kemasan yang sudah
bersertifikasi adalah dengan mencantum
kan nomor PIRT dan logo halal dalam
kemasan, yang bisa diketahui oleh
konsumen secara jelas.
Dalam memproduksi makanan,
minuman maupun obat-obatan, pada
dasarnya yang paling penting adalah
memiliki Izin Edar dari Dinas Kesehatan,
karena berdasarkan Keputusan dari Kepala
Badan Pengawas Obat dan Makanan
(BPOM) dan Peraturan Daerah setempat
(jika ada), untuk seluruh produksi makanan
dan minuman yang diedarkan secara luas
harus memiliki Izin edar produk. Walaupun
itu bentuknya adalah industri rumah tangga.
Untuk melindungi masyarakat dari produk
HUKUM DAN DINAMIKA MASYARAKAT VOL.11 NO.2 APRIL 2014
159
Bambang Hermanu : Studi Implementasi Izin Edar Produk Pangan Industri Rumah Tangga
pangan olahan yang membahayakan
ke se h at an kons um e n, p em e ri n t ah
Indonesia telah mengeluarkan berbagai
peraturan perundang-undangan yang
berkaitan dengan keamanan pangan.
Pelaksanaan Izin Edar Produk
Makanan dan Minuman Industri Rumah
Tangga di Kota Semarang masih terbatas
pada upaya-upaya pembinaan berdasarkan
prinsip-prinsip mengangkat harkat dan
martabat manusia melalui pendekatan
humanis dan hati nurani, dan tidak bersifat
penegakan hukum yang secara normatif
berlaku. Namun dalam proses implemen
tasi izin edar dimaksud lebih banyak
menerapkan pertimbangan-pertimbangan
kemanusiaan, etis dan moral. Sehingga jika
dilihat dari aspek penegakan hukumnya
secara normatif, belum bisa dilaksanakan
secara efektif. Pihak Dinas Kesehatan Kota
Semarang maupun BPOM sebagai pihak
yang berweanang dan bertanggung jawab
terhadap peredaran produk pangan,
khususnya PIRT, dituntut untuk bersikap
hati-hati dalam menjalankan peraturan dan
ketentuan hukum yang berlaku. Satu sisi
peraturan hukum harus ditegakkan, namun
di sisi lain masyarakat pelaku usaha PIRT
yang sebagian besar adalah pengusaha
ekonomi lemah yang sedang berusaha
bangkit untuk berwirausaha sebagai mata
pencaharian pokok, harus diperlakukan
secara adil dan berusaha menghindari
konflik, apalagi sampai mematikan usaha
mereka hanya karena mereka tidak
mematuhi peraturan izin edar PIRT. Oleh
karena itu melalui pendekatan hati nurani
tersebut, sampai saat ini pihak Dinkes dan
BPOM masih terkesan “membiarkan”
terhadap produsen PIRT yang belum/tidak
berizin. Langkah-langkah yang ditempuh
adalah dengan cara himbauan dan
pengawasan pembinaan untuk diarahkan
secara bertahap guna akhirnya dengan
kesadaran sendiri berniat untuk melakukan
sertifikasi produk PIRT nya, demi
kepentingan kesehatan dan keamanan
pangan bersama.
160
Faktor-faktor yang menjadi kendala
dalam implementasi izin edar produk
pangan industri rumah tangga di Kota
Semarang adalah sebagai berikut :
a. Selain faktor ekonomi, kurangnya
pengetahuan konsumen dan produsen
serta lemahnya penegakan aturan
hukum dalam hal keamanan pangan,
beberapa faktor yang diidentifikasi
mempengaruhi keamanan pangan di
Indonesia antara lain : sistem pangan,
sosial budaya, mata rantai teknologi
makanan, faktor lingkungan, aspek
nutrisi dan epidemologi.
b. BPOM dan Dinas Kesehatan Kota
Sem arang, sebagai pihak yang
menjalankan fungsi pengawasan
produk PIRT, masih terkendala pada
keberadaan sumber daya manusia yang
masih belum mampu dan menjangkau
kompleksnya permasalahan yang ada
dalam PIRT. Sistem pengawasannya,
meskipun dalam pelaksanaannya di
lapangan dilakukan secara sinergis dan
lintas sektoral dengan instansi terkait,
namun hasilnya masih terkendala,
karena penerapan sistem pengawasan
yang terbatas dan belum bisa secara
holistik menjangkau terhadap per
masalahan akar rumput. Sehingga
sampai sekarang pun permasalahan izin
edar dan keamanan pangan masih
menjadi kekhawatiran bersama, karena
penegakan hukumnya yang bisa
dianggap masih setengah hati dan
sangat dilematis.
SARAN
Berdasarkan fenomena yang terjadi
sampai saat ini tentang pemberlakuan izin
edar PIRT yang masih belum optimal
karena faktor kendala yang dilematis,
kiranya perlu memperluas jangkauan
informasi terhadap keberadaan perusahaan
PIRT yang belum/tidak berizin oleh Dinkes
m aupu n BP OM sam pai ke d es adesa/kelurahan-kelurahan melalui pe
HUKUM DAN DINAMIKA MASYARAKAT VOL.11 NO.2 APRIL 2014
Bambang Hermanu : Studi Implementasi Izin Edar Produk Pangan Industri Rumah Tangga
nyuluhan dan sosialisasi intensif, guna
lebih memotivasi kesadaran warga
masyarakat yang memiliki usaha PIRT
untuk melakukan izin edar PIRT.
Salah satu hal yang paling penting
dilakukan dalam kaitan ini adalah
pendidikan keamanan pangan untuk
konsumen guna meningkatkan kesadaran
masyarakat. Mereka harus tahu dan
memahami tentang sistem keamanan
pangan, juga potensi-potensi penyakit yang
membahayakan kesehatan, karena tidak
terjamin keamanan pangannya.
Produsen pangan untuk selalu
mengendalikan produknya agar mutu dan
keamanan pangannya terjamin, dan
menghimbau para konsumen untuk selalu
kritis dalam memilih produk pangan yang
dibutuhkannya dan selalu menghindari
produk pangan yang tidak sesuai dengan
persyaratan keamanan pangan.
Koordinasi dari berbagai instansi
terkait dan penegakan aturan hukum (law
enforcement) masih perlu ditingkatkan
pelaksanaannya agar program keamanan
pangan di Indonesia berjalan dengan baik.
Pemerintah harus lebih memperhati
kan kualitas, mutu, serta keamanan pangan
terutama pada kawasan pasar bebas yang
berkembang pesat di Indonesia saat ini
sehingga banyak negara tetangga yang
mengimport barang produksinya ke
Indonesia dan para pedagang yang
menerima pasokan barang import tersebut
tidak memperdulikan mutu dan keamanan
bahan pangan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
A A Oka Mahendra, Mengedarkan
Makanan dan Minuman Harus
Dengan Ijin Edar, Pustaka Internet,
Jakarta, 2010.
Adrianus Meliala, Praktik Bisnis Curang,
Pustaka Sinar Harapan, Jakarta,
1993.
Fardiaz, S, Food Control Strategy, WHO
National Consultant Report.
Directorate General of Drug and
Food Control, Ministry of Health.
Jakarta, 2006.
Gandi, “Perlindungan Konsumen Dilihat
dari Sudut Pengaturan Standarisasi
Hasil Industri”, makalah pada
Simposium Aspek-aspek Hukum
Perlindungan Konsumen, BPHNBinacipta, Jakarta. 1990.
Guntur Setiawan, Implementasi Dalam
Birokrasi Pembangunan, Ghalia
Indonesia, Jakarta, 2004.
Hanifah Harsono, Implementasi Kebijakan
dan Politik, Sumur, Bandung. 2002.
Janus Sidabalok, Hukum Perlindungan
Konsumen di Indonesia. PT. Citra
Aditya Bakti, Bandung. 2010.
Muhammad Eggi H. Suzetta. Pengetahuan
Hukum Untuk Konsumen,
http://www.pik iran
rakyat.com/cetak/1204/20/teropon
g/konsul-hukum.htm. 2003-2004.
Mazmanian dan Paul Sabatier, Implementa
tion and Public Policy, Horizon,
Jakarta. 1983.
Nurdin Usman, Konteks Implementasi
Berbasis Kurikulum, Rosda Karya,
Bandung. 2002.
Ronny Hanitijo Soemitro, Permasahan
Hukum di dalam Masyarakat,
Alumni, Bandung. 1990.
Sukiman Said Umar, “Peraturan Perundang
undangan Bidang Keamanan
Pangan”, Makalah disampaikan
pada Pelatihan TOT Keamanan
Pangan untuk Petugas Dinas
Kesehatan se Provinsi Sumatera
Utara, tanggal 5 – 10 Mei 2003.
Saefullah H. E, 'Tanggung jawab Produsen
Terhadap Akibat Hukum yang
Ditimbulkan dari Produk Dalam
Menghadapi Era Perdagangan
Bebas', Makalah Seminar Nasional
Perspektif Hukum Perlindungan
Konsumen Dalam Sistem Hukum
Nasional Menghadapi Era
Perdagangan Bebas, Fakultas
Hukum UNISBA, Bandung. 1999.
HUKUM DAN DINAMIKA MASYARAKAT VOL.11 NO.2 APRIL 2014
161
Bambang Hermanu : Studi Implementasi Izin Edar Produk Pangan Industri Rumah Tangga
Sajogjo Goenardi, dkk, Menuju Gizi yang
Merata di Pedesaan dan di Kota.
Gajah Mada University Press,
Jakarta. 1993.
Soekirman, Beberapa Masalah Upaya
Meningkatkan Mutu, Gizi dan
Keamanan Pangan, Depatemen
Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi
Manusia, Institut Pertanian Bogor
(IPB). 2009.
Soerjono Soekanto, Kesadaran Hukum
dan Kepatuhan Hukum, CV
Radjawali, Jakarta. 1982.
Satjipto Rahardjo, Sisi-sisi lain dari Hukum
di Indonesia, Penerbit Kompas,
Jakarta. 2003.
Susanto, Happy. Hak-hak Konsumen Jika
Dirugikan, Visi Media, Jakarta.
2008.
Widjaja Gunawan dan Ahmad Yani, Hukum
Tentang Perlindungan Konsumen,
162
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
2008.
Winarno F.G, Kimia Pangan dan Gizi,
Gramedia Pustaka, Jakarta. 1997.
Winiati Pudji Rahayu dan Roy Sparingga,
Tantangan Keamanan Pangan
Indonesia, Strategi dan Program
Surveilan Keamanan Pangan,
Prosiding Widyakarya Nasional
Pangan dan Gizi VIII, LIPI Jakarta,
2004.
Yuliarti Nurheti, Awas Bahaya Di Balik
Lezatnya Makanan, Andi,
Yogyakarta. , 2007.
Yanit Zulian, Manajemen Kualitas Produk
dan Jasa. Ekonisia, Jakarta. 2008.
HUKUM DAN DINAMIKA MASYARAKAT VOL.11 NO.2 APRIL 2014
Download